P. 1
RMDFK-FULDFK-2013

RMDFK-FULDFK-2013

|Views: 52|Likes:
Published by Masyithah Teta

More info:

Published by: Masyithah Teta on Jun 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/18/2014

pdf

text

original

Departemen Pengembangan LDFK dan Kaderisasi Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia 2012-2013

Ketua Umum Dewan Eksekutif Pusat FULDFK 2012-2013

Sekretaris Umum Dewan Eksekutif Pusat FULDFK 2012-2013

Kepala Departemen Pengembangan LDFK dan Kaderisasi Dewan Eksekutif Pusat FULDFK 2012-2013

Kepala Departemen Finansial Dewan Eksekutif Pusat FULDFK 2012-2013

Kepala Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat FULDFK 2012-2013

ii

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah mengkaruniakan nikmat yang berlimpah kepada hamba-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada suri tauladan umat manusia sepanjang masa Rasulullah SAW. Menyeru pada agama Allah adalah sebaik-baik pekerjaan sebagaimana firman Allah SWT: ”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’" – QS. Fushilat 41:33 Maka dalam melakukan kegiatan ini hendaknya para aktifis dakwah bersungguh-sungguh dengan mencurahkan tenaga dan pikiran terbaiknya. Sudah menjadi salah satu karakteristiknya, bahwa jalan dakwah itu panjang dan banyak tantangan. Untuk mengatasi hal ini maka metode dakwah yang efektif dan efisien pun perlu dikembangkan, terkhusus dalam lingkungan dakwah di kampus fakultas kedokeran. Alhamdulillah, saat ini hampir di seluruh fakultas kedokteran di Indonesia telah ada suatu lembaga dakwah fakultas kedokteran (LDFK) di dalamnya. Namun ternyata dalam keberjalanannya tetap banyak ditemui permasalahan dalam managemen lembaga dakwah fakultas kedokteran ini, hal ini terjadi baik pada pada LDFK yang relatif baru ataupun yang sudah cukup lama berdiri. FULDFK Indonesia dalam hal ini sebagai wadah LDFK se-Indonesia, merasa perlu untuk menyusun suatu Risalah Managemen Dakwah Fakultas Kedokteran (RMDFK) yang bisa dijadikan rujukan dan panduan dalam mengelola LDFK. Hal ini sejalan dengan Renstra FULDFK Indonesia yaitu ”LDFK Berjaya 2017” , dimana diharapkan 80% LDFK berstatus sebagai LDFK Mandiri, karena jika LDFK tersebut berstrata mandiri berarti kegiatan syiar islam, kaderisasi dan dakwah islam pada umumnya berjalan dengan produktif, sehingga diharapkan semakin banyak nantinya lulusan fakultas kedokteran yang berafiliasi kepada islam dan siap mendukung dakwah baik di dalam maupun diluar profesi. Setelah digagas lebih dari 2 tahun yang lalu, akhirnya sebuah panduan komprehensif untuk manajemen dakwah di kampus fakultas kedokteran yaitu Risalah Managemen Dakwah Fakultas Kedokteran (RMDFK) selesai dibuat. Dalam pembuatannya dihimpun berbagai pemikiran dan pengalaman dari para kader dakwah terbaik yang telah mendalami dan membaktikan dirinya di medan dakwah fakultas kedokteran. Di dalamnya dijelaskan bagaimana cara memanagemen LDFK dari berbagaimacam aspek. LDFK hendaknya dapat dengan bijak menerapkan isi dari RMDFK sesuai dengan kondisi di masing-masing LDFK, karena kondisi satu LDFK dengan LDFK yang lainnya tentulah tidak sama seluruhnya. Sehingga semoga kita para aktifis dakwah di lingkungan kampus iii

fakultas kedokteran dapat menjadi aktifis dakwah yang Profesional, yaitu bagian dari umat yang siap memberikan bakti terbaik untuk dakwah, sebagaimana firman Allah SWT “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.“ – QS. Ali Imran 3:104

Surakarta, 25 Mei 2013 Ketua Umum FULDFK Indonesia

Yasjudan Rastrama Putra

iv

Andri Adma Wijaya

Khadijah Nur Al Firdausi

Yasjudan Rastrama Putra

Muhammad Haydar

Reqgi First Trasia

Yasjudan Rastrama Putra

v

|

“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” – QS. Al Alaq : 1-5

S

ejarah tentang kesekretariatan dan sekretaris sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Aktivitas baca tulis telah berkembang di kalangan kaum muslimin setelah Islam memasuki fase hijrah. Seperti disebutkan pada shirah nabawiyah, Rasulullah membangun suatu pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam. Dalam menjalankan kepemerintahan ini sangat dibutuhkan suatu penopang yang kuat. Salah satu hal yang sangat penting sebagai penopang adalah sistem administrasi yang baik. Sistem administrasi dalam kepemerintahan Islam pada saat itu merupakan buah dari kepemimpinan Rasulullah yang menekankan pendidikan utamanya pada aktivitas baca tulis. Pada masa ini pula, lahirlah arsip pertama dalam tata pemerintah Islam, yaitu perjanjian yang kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Madinah. Sejarah telah membuktikan bahwa tata administrasi dan kesekretariatan merupakan piranti yang sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan Islam. Bahkan Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 282 tentang bagaimana Umat Islam diperintahkan untuk benar-benar memperhatikan tentang pentingnya kesekretariatan. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya

|
sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” – QS. Al Baqarah ayat 282 Sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu, pasti memiliki manfaat dan hikmah di dalamnya. Sudah saatnya perjuangan Islam seperti yang dilakukan dalam Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (LDFK) juga harus menerapkan sistem administrasi dan kesekretariatan yang rapi, lengkap, dan terorganisir dengan baik sesuai firman Allah dalam QS. Ash Shaff ayat 4. “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” – QS. Ash Shaff ayat 4

PENGELOLAAN SURAT PENGELOLAAN SISTEM ADMINISTRASI ORGANISASI SISTEM PENGARSIPAN DASAR ADMINISTRASI & KESEKRETARIATAN PENGATURAN SEKRETARIAT PENGELOLAAN FISIK SEKRETARIAT INVENTARISASI

|

Dalam suatu Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (LDFK), kesekretariatan dan administrasi merupakan salah satu elemen yang sangat penting untuk menunjang kehidupan berorganisasi. Secara garis besar Istilah administrasi memiliki makna membantu, melayani, atau memenuhi. Administrasi merupakan rangkaian kegiatan penataan melalui usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan kesekretariatan dapat diartikan sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan administrasi dan tugas-tugas bantuan lainnya dalam rangka menunjang kelancaran pencapaian tujuan organisasi. Administrasi Kesekretariatan dapat disebut juga dengan ketatausahaan. Tata Usaha berarti segenap rangkaian kegiatan menghimpun, mencatat, mengolah, mengendalikan, mengirim dan menyimpan informasi atau keterangan yang diperlukan dalam organisasi. Secara lebih khusus, kesekretariatan memiliki peran untuk pengelolaan administrasi, sistem manajemen pengarsipan data dan informasi, sampai bagaimana mengatur kerapian sekretariat sebagai ”rumah” bagi pengurus. Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (LDFK) yang merupakan suatu organisasi sebagai ujung tombak perjuangan dakwah Islam di lingkungan mahasiswa Fakultas Kedokteran, tentu sangat memerlukan adanya sistem kesekretariatan yang baik. Dengan semakin berkembang dan bertambahnya usia LDFK, tentu semakin banyak pengalaman, data, informasi, dan catatan sejarah yang diperoleh. Sejalan dengan ini, maka peran kesekretariatan dan administrasi semakin dibutuhkan pula. Jangan sampai karena sistem administrasi kesekretariatan yang kurang baik, ketercapaian tersebut hilang dan harus memulai dari nol kembali. Dengan demikian dapat dipahami bahwa segala kegiatan yang diselenggarakan dalam administrasi kesekretariatan adalah berhubungan dengan rangkaian kegiatan penataan yang berfungsi sebagai unsur penunjang kelancaran untuk mencapai tujuan Lembaga Dakwah Fakuktas Kedokteran (LDFK). Keseluruhan fungsi utama ketatausahaan tersebut haruslah dilaksanakan dalam suatu sistem yang telah disepakati bersama dalam suatu organisasi. Hal ini disebabkan prioritas betapa pentingnya peranan administrasi kesekretariatan dalam fungsi sebagai sumber informasi dan gambaran pertanggungjawaban kelak. Hendaknya juga dalam prakteknya kehidupan nyata suatu LDFK, kegiatan penunjang ini dilaksanakan dengan menerapkan prinsip efisien, efektif, rasional dan produktif. Secara umum, ada dua fungsi kesekretariatan, yaitu Pengelolaan sistem administrasi organisasi dan Pengelolaan fisik sekretariat. Fungsi Pengelolaan sistem administrasi organisasi terdiri atas pengelolaan surat, baik yang masuk maupun pembuatan surat keluar internal dan eksternal organisasi. Disamping itu, manajemen pengarsipan data dan informasi organisasi juga merupakan aspek dasar dalam menjalankan fungsi Pengelolaan Administrasi. Sedangkan pada fungsi yang kedua, diharapkan pengelolaan sekretariat sebagai basecamp bagi pengurus dapat meningkatkani koordinasi dan silaturahim. Bagaimana kerapian dan kenyamanan sekretariat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi berjalannya fungsi organisasi karena akan mempengaruhi kinerja organisasi. Sekretariat pun berfungsi sebagai pusat administrasi, sehingga kinerja fungsi pengelolaan sistem administrasi organisasi dipengaruhi oleh bagaimana fungsi pengelolaan sekretariat ini berjalan. Fungsi pengelolaan system administrasi biasanya dijalankan oleh

|
sekretaris, sedamgkan fungsi pengelolaan Biro/Divisi/Departemen Khusus kesekretariatan. secretariat biasanya dijalankan oleh

Di dalam bab ini akan dijabarkan empat hal mendasar dan penting untuk LDFK yang berhubungan dengan kesekretariatan. Empat hal tersebut antara lain : - Pengelolaan surat di LDFK - Sistem pengarsipan data dan informasi LDFK - Pengaturan ruang kesekretariatan LDFK - Inventarisasi

Sekretariat merupakan tempat kegiatan secara teratur, yang pada hakekatnya menjadi sentral (pusat) pengendalian organisasi, komunikasi, informasi organisasi, kegiatan administrasi, perencanaan kebijakan, serta penghubung dengan anggota. Sekretariat sebagai basecamp bagi pengurus diharapkan mampu menjadi piranti untuk meningkatkan koordinasi dan silaturahim serta bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Kerapian, kenyamanan, dan keteraturan sekretariat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi berjalannya fungsi sekretariat. Dengan adanya sekretariat yang baik diharapkan mampu mempengaruhi kinerja organisasi yang lebih baik pula. Sebuah LDFK sangat diharapkan memiliki tempat tersendiri sebagai basecamp atau sekretariat, yang berfungsi sebagai pusat administrasi serta tempat silaturahim, bekerja, dan berkoordinasi antar pengurus. Sekretariat formal juga memiliki peran tambahan yang menyokong eksistensi kelembagaan. Namun bagi LDFK yang belum memiliki sekretariat formal, bukanlah suatu masalah. Karena yang menjadi poin penting adalah bagaimana agar fungsi “basecamp” dari sebuah sekretariat bisa berjalan. Maka tidak mengapa ketika sebuah kontrakan, sebuah mihrab mushola/masjid, atau bahkan kosan seorang pengurus bisa menjadi sekretariat LDFK. Karena yang menjadi poin penting adalah berjalannya fungsi sebuah sekretariat Fungsi Sekretariat : - Menangani dan melayani fungsi perkantoran LDFK. - Melaksanakan administrasi LDFK. - Mengadakan dan melaksanakan persidangan/syuro rutin. - Mengorganisasikan tugas-tugas rutin dan insidental. - Mengorganisasikan pelaksanaan keputusan dan program. - Mengorganisasikan pendataan organisasi dan pelayanan informasi/ komunikasi organisasi. - Mengkoordinasi personalia.

Agar sekretariat dapat berfungsi secara optimal, maka perlu dibuat pengaturan tentang sekretariat yang meliputi letak, ruangan, dan sumber daya manusia. Letak Sekretariat sebisa mangkin berada di tempat yang strategis, mudah dijangkau, dan dengan keadaan lingkungan yang kondusif. Ruangan sekretariat hendaknya diusahakan dapat menampung seluruh kegiatan

|
administrasi dan lainnya. Untuk menjamin kelayakan ruangan sekretariat perlu diperhatikan halhal sebagai berikut : - Jumlah ruangan yang memadai - Kelengkapan peralatan - Kesehatan, kebersihan dan kerapian Beberapa peralatan yang dibutuhkan : - Meja + Kursi / Karpet - White board - Peralatan Kantor / Alat tulis - Mihrab - Lemari - Rak Buku - Komputer - Stempel, - Papan Pengumuman - Mading - Papan Nama LDFK - Alat-alat kebersihan (sapu, tempat sampah, dll) - Buku Organisasi LDFK - Arsip dan Dokumentasi LDFK - Barang-barang Inventaris LDFK lainnya

Salah satu faktor penting dalam pengelolan sekretariat adalah tenaga pengelola. Sangat baik apabila setiap tingkatan Pimpinan memiliki sekretaris eksekutif yang secara khusus bertugas melaksanakan pelayanan administratif keseharian. Namun bila tidak memungkinkan, maka diatur pembagian tugas dalam pengelolaan kantor, semisal diatur piket. Hal yang pada umumnya dilakukan untuk pengelolaan fisik sekretariat antara lain adalah dengan membuat jadwal piket bersih-bersih, membereskan sekretariat untuk setiap pengurus per hari (reguler). Dan juga sebaiknya ada satu waktu untuk membersihkan sekretariat secara total yang dilakukan secara berjama’ah (insidental). Pembuatan aturan dalam penggunaan sekretariat dan barang-barang yang ada di dalam sekretariatan juga perlu diupayakan.

Identitas organisasi merupakan tanda pengenal dasar atau ciri khusus dari suatu organisasi yang membedakannya dari organisasi lain. LFDK adalah wajah perwakilan Islam di Fakultas Kedokteran. Sudah barang tentu LDFK harus bisa meninggikan nama Islam yang pada hakikatnya memang mulia. LDFK menjadi salah satu elemen penyokong eksistensi suatu organisasi untuk mengharumkan nama islam, utamanya di Fakultas Kedokteran. Inilah mengapa identitas memiliki peran penting. Sekretariat sebagai basecamp pengurus adalah jantung atau center dalam memperkenalkan identitas LDFK, bahkan basecamp itu sendiri merupakan salah satu bentuk identitas adanya LDFK. Tugas kesekretariatan adalah bagaimana menggunakan identitas organisasi ke dalam perangkat-

|
perangkat organisasi yang ada, seperti kop surat, stempel, bendera, papan nama kesekretariatan, stiker, benner, spanduk, proposal, LPJ, kartu nama, pin,kaos/seragam, dll Identitas organisasi divisualisasikan dengan sebuah logo/lambang. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan logo identitas organisasi dalam hal ini LDFK adalah sebagai berikut : - Mudah dikenal - Tidak terlalu rumit - Dibuat sejak awal - tidak berubah-ubah - Memiliki Standart Standarisasi pembuatan logo biasanya terkait dengan : - Bentuk logo, misalnya bulat, kotak, persegi panjang, elips, dll. - Ukuran standar logo, biasanya dalam bentuk perbandingan - Bentuk tulisan pada logo, misalnya Times New Roman, Cambria, dll - Warna logo, biasanya juga memiliki makna - Makna logo, makna yang sesuai dengan nilai, visi , dan tujuan organisasi.

Inventaris organisasi adalah segala sesuatu yang dimiliki organisasi berupa harta kekayaan organisasi dalam hal ini adalah LDFK. Sedangkan Inventarisasi merupakan kegiatan pencatatan / pendaftaran harta kekayaan atau barang-barang milik organisasi yang diguanakan untuk kepentingan organisasi tersebut. Inventaris organisasi yang terdiri dari dua macam yaitu Inventaris Permanen dan inventaris Non-Permanen. Inventaris Permanen merupakan kekayaan organisasi yang dalam jangka relatif lama tidak mengalami perubahan, seperti gedung, lemari, white board, dan lainnya. Inventaris tidak permanen merupakan kekayaan organisasi yang dalam waktu singkat mengalami perubahan seperti kop surat, stiker, dll. Penyimpanan inventaris harus dilakukan dengan baik oleh personalia yang diberi amanah khusus sesuai dengan pembagian tugas. Penyimpanan harus dilaksanakan dan ditempatkan di sekretariat. Contoh kolom buku Inventaris sebagai berikut : No. Inventaris Nama Barang Bahan / Merk Asal Barang Jumlah Kondisi Barang

Peminjaman inventaris dilayani dengan mengisi berita acara peminjaman atau mengisi pada buku khusus. Contoh kolom buku peminjaman sebagai berikut : No Peminjam Nama Barang No.Inventaris Tgl Pinjam Tgl Kembali Tanda Tangan

|

Inventaris harus dipertanggungjawabkan kepada Ketua LDFK dan Musyawarah Besar anggota LDFK. Penelitian kebenaran inventarisasi dapat dilakukan oleh tim verifikasi. Hal lain yang perlu ada di dalam inventarisasi organisasi adalah Buku Organisasi. Buku organisasi biasanya digunakan sebagai penunjang kepentingan suatu organisasi. LDFK sebagai organisasi keislaman mahasiswa Fakultas Kedokteran tentu perlu menyusun tata buku organisasi ini dengan baik. Buku Organisasi yang biasa digunakan antara lain sebagai berikut : - Buku Tamu - Buku Agenda Surat - Buku Sidang / Notulen - Buku Presensi Kehadiran - Buku Surat - Buku Ekspedisi - Buku Inventaris - Buku Catatan Kegiatan - Buku Induk Pengurus - Buku Catan Kegiatan - Buku Komunikasi Internal - Buku Kas dan keuangan - Buku Standar Mutu Organisasi - Buku SOP dan Peraturan, dan lain lain

Penataan Arsip atau Berkas adalah proses pengelolaan naskah-naskah atau dokumen yang dihasilkan dan diterima dalam bentuk apapun, baik dalam keadaan tungal ataupun berkelompok yang disusun berdasarkan kesamaan urusan, kesamaan masalah, atau kesamaan jenis. Tujuan menata berkas adalah agar arsip dapat disimpan, menjamin kerahasiaan dan keutuhan dokumen, serta mencegah hal-hal yang mungkin dapat merusak atau menghilangkan arsip. Arsip pada dasarnya merupakan segala dokumen yang menyangkut kepentingan organisasi yang disimpan secara sistematis, karena memiliki nilai manfaat yang sewaktu-waktu akan digunakan kembali. Sistem pengarsipan/penyimpanan data dan informasi harus dilakukan secara berkesinambungan selama LDFK masih terus berjalan. Pengarsipan yang kacau dapat menghambat kemajuan LDFK yang bersangkutan. Oleh karena itu, menjadi penting agar tata kearsipan dilakukan dengan baik. Enam fungsi dari arsip adalah sebagai berikut : - Administratif Value, untuk melancarkan tugas pengambilan keputusan. - Legal Value, sebagai alat bukti hukum. - Fiscal Value, sebagai bukti yang berkaitan dengan kegiatan keuangan.

|
- Educational Value, untuk kepentingan pendidikan. - Reseach Value, sebagai sumber informasi data. - Documentary Value, merupakan nilai yang berhubungan dengan sejarah. Beberapa bentuk sistem tata penyimpanan arsip : - Sistem Abjad (Alphabetic Filing), suatu sistem penyusunan arsip berdasarkan urutan dari A-Z. - Sistem subjek (Subject Filing), suatu sistem penyusunan arsip berdasarkan permasalahan yang sering dihadapi, mungkin yang sesuai dengan program kerja, jenis data dan sebagainya. - Sistem tanggal (Cronological Filing); suatu sistem penyusunan arsip berdasarkan urutan tanggal dari datangnya surat/arsip. - Sistem nomor (Numerical Filing); suatu sistem penyusunan arsip berdasarkan susunan sesuai dengan nomor urut arsip. - Sistem Wilayah (Geographical Filing); suatu sistem penyusunan arsip beradasrkan wilayah kerja atau divisi/biro/departemen darimana dokumen berasal. Agar rawatan arsip dapat terjaga dengan baik maka perlu diperhatikan : - Tempat penyimpanan (map/lemari) arsip yang terbuat dari bagan yang baik dan awet (tahan). - Tempat penyimpanan terhindar dari bahan-bahan yang dapat merusak, seperti api, air, dan kelembaban. - Tempat penyimpanan dapat dijangkau dengan mudah. Bebarapa Dokumen yang penting disimpan/diarsipkan oleh LDFK, antara lain: - Arsip pendirian LDFK (AD/ART, bentuk dan struktur LDFK, job desk, dll.) - Sistem dan mekanisme standar LDFK. - Program kerja dan laporan pertanggungjawaban per periode kepengurusan. - Proposal dan laporan pertanggungjawaban per kegiatan/kepanitiaan. - Database pengurus/SDM. - Database pihak eksternal (lembaga, LDFK, donatur, dll.). - Administrasi sehari-hari (surat keluar/masuk, pengelolaan papan informasi/mading, catatan harian, dll) Beberapa hal yang penting dalam pengarsipan. Pengarsipan dokumen dalam bentuk hardcopy, sebisa mungkin dibikin atau di copy minimal 2 buah. Satu buah untuk dipinjam atau dipelajari, sedangkan satu lagi untuk arsip sejati. Sedangkan dokumen yang dalam bentuk softcopy sebaiknya disimpan dalam disket, CD, flashdisk, portable harddisk atau bentuk lainnya. Karena pengarsipan terkait erat dengan penyimpanan, maka kemudahan akses dan keamanan atas arsip perlu diperhatikan. Dokumen yang bersifat penting, rahasia, dan strategis disimpan pada fasilitas yang tertutup/terkunci yang hanya dapat diakses oleh bagian kesekretariatan dan pihak-pihak yang bersangkutan lainnya. Bila ada komputer, files harus menggunakan password atau sarana keamanan lainnya. Dokumen yang bersifat umum dan dibutuhkan sehari-hari, dapat ditempatkan pada fasilitas terbuka (accessable) dengan tetap dikontrol oleh bagian kesekretariatan agar tidak hilang dan tidak diubah. Setiap dokumen (terutama dokumen penting), baik dalam bentuk hardcopy ataupun softcopy, sebaiknya ada cadangannya/back up, sehingga bila hilang atau rusak, ada penggantinya. Untuk tujuan Kontrol terhadap pengarsipan, maka setiap akses terhadap dokumen organisasi sebaiknya diketahui oleh bagian kesekretariatan atau pengurus yang piket jaga setiap hari. Kelengkapan dokumen sebaiknya dicek secara periodik oleh bagian kesekretariatan, misalnya sebulan sekali. Termasuk di antaranya menindak pengurus yang menyalahi aturan kesekretariatan.

|

Surat adalah media tertulis yang berasal dari satu pihak dan ditujukan kepada pihak lain yang berfungsi untuk menyampaikan informasi berita dan alat komunikasi. Surat merupakan faktor utama kesekretariatan guna memperlancar tercapainya tujuan organisasi. Umumnya surat dari suatu organisasi bersifat resmi. Oleh karena itu, surat harus dibuat dengan baik agar tidak terjadi bias komunikasi dan salah informasi yang dapat merubah pandangan berbagai pihak terhadap organisasi, dalam hal ini LDFK. Fungsi-fungsi dari surat adalah sebagai berikut : - Sebagai alat komunikasi tertulis. - Pedoman untuk bertindak dan mengambil keputusan. - Duta perwakilan dari suatu organisasi. - Sebagai indikator pengukur kegiatan organisasi - Dokumentasi tertulis dari suatu organisasi. Dalam realitas kehidupan suatu organisasi yang ingin memiliki administrasi kesekretariatan yang baik, maka diperlukan penerapan prinsip surat (7C), yaitu : - Completeness : Lengkap - Conciseness : Ringkas - Consideration : Pertimbangan - Concreteness : Konkrit - Clarity : Jelas - Courtesy : Sopan - Corectness : Benar Adapun prasyarat surat yang baik adalah sebagai berikut : - Jelas siapa yang dituju dan siapa pengirimnya. - Terang dan jelas apa maksud surat tersebut. - Kalimat dan bahasanya harus tepat, yaitu bahasa Indonesia yang baku, gaya bahasa yang lugas, tegas, sopan dan hormat. - Menyajikan fakta yang benar dan lengkap. - Tidak menggunakan singkatan-singkatan yang tidak lazim. - Tidak menggunakan kata-kata yang tidak lazim dan kurang dimengerti. - Singkat, sederhana dan efisien

|

Surat yang dikeluarkan oleh LDFK merupakan surat resmi. Dikarenakan sifatnya yang resmi, dalam surat terdapat hubungan yang bersifat lugas dan seperlunya saja, serta langsung pada pokok pembicaraan atau permasalahan yang ingin disampaikan. Beberapa bagian-bagian dari surat akan dijelaskan sebagai berikut : Keterangan:

|
Ada pula surat resmi yang memiliki susunan lain. Surat resmi bentuk tersebut menampilkan judul surat. Biasanya bentuk ini digunakan untuk Surat Keputusan, Surat Mandat, Surat Tugas, Surat Keterangan, dsb. Contoh bentuknya sebagai berikut : Keterangan:

|

Surat resmi biasanya ditulis pada kertas yang memiliki kop surat yang disusun dengan lay-out yang menarik, tetapi harus tetap sesuai standar baku organisasi. Kepala surat terletak pada bagian atas kertas surat. Pada kepala surat dapat dicetak hal-hal yang merupakan identitas organisasi, yaitu : - Tulisan Nama Institusi dan LDFK Dalam kop surat, tipe huruf sebaiknya konsisten. - Logo / Lambang LDFK dan Institusi Umumnya Logo / Lambang organisasi terletak pada bagian kiri atau kanan atas kertas, disamping tulisan nama LDFK dan institusi. - Alamat sekretariat Biasanya dituliskan di bawah nama LDFK atau di bagian bawah kertas surat, termasuk mencantumkan nama kota, jalan, kode pos, nomor kontak (telp/hp), alamat email dll. Contoh:

Melalui rangkaian kode nomor surat dapat diketahui jenis dan klasifikasi surat tanpa perlu membaca isinya. Penomoran surat umumnya bervariasi sesuai dengan kebijaksanaan organisasi atau kepanitiaan tersebut. Umumnya rangkaian nomor surat terdiri atas nomor urut, kode internal atau eksternal, bulan, dan tahun pembuatan surat. Tujuan pemberian nomor surat adalah : - Memudahkan pengarsipan surat. - Memudahkan perhitungan jumlah surat keluar atau masuk dalam periode tertentu. - Menunjukan sumber dalam kegiatan surat-menyurat dengan merujuk nomor surat yang dibalas atau ditindak lanjuti. Secara umum penomoran surat memiliki empat bagian utama : - Nomor Urut Surat - Kode Surat (Biasanya mencantumkan kode divisi/kepanitiaan, Nama LDFK dan Institusi, serta kode surat internal atau eksternal) - Bulan (Dalam Angka Romawi) - Tahun

|
Adapun contoh penomoran surat adalah sebagai berikut :

Hal atau Perihal berfungsi sebagai petunjuk tentang masalah pokok surat yang identik dengan judul. Surat yang biasanya ditulis dengan sistem judul, misalnya surat keputusan, surat perjanjian, surat perintah, dan surat penugasan. Ada juga surat yang ditulis baik dengan sistem judul maupun perihal, misalnya surat permohonan, surat undangan, dan surat edaran. Adapun beberapa ketentuan penulisan perihal, yaitu : - Perihal surat tidak boleh ditulis dengan huruf kapital karena huruf kapital hanya dipakai untuk judul surat. Juga berperan menjadi pembeda antara surat yang memiliki perihal dengan surat yang memiliki judul. - Pada akhir perihal tidak diberi tanda titik. - Bila kalimat perihal lebih dari satu baris, maka jarak pengetikan antar baris adalah satu spasi.

Dokumen yang merupakan satu kesatuan dengan surat pengantarnya. Lampiran diletakkan di bagian kiri atas, dibawah nomor surat. Yang dicantumkan hanya jumlahnya (halaman atau eksemplar). Namun pada isi surat disampaikan juga bahwa surat tersebut ada lampirannya dan isi dari lampiran tersebut.


Biasanya diawali dengan kata “Yth.” (Yang terhormat) atau bisanya LDFK menggunakan singkatan “Ykh.” (Yang Kami Hormati). Singkatan ini biasa dipakai jika surat ditujukan kepada seseorang yang dihormati atau jika surat ditujukan kepada seseorang dengan menuliskan nama jabatannya yang diikuti nama organisasi. Tetapi bila ditujukan kepada suatu organisasi tidak perlu

|
dibubuhi Yth. Pada akhir setiap baris, termasuk baris terakhir yang berisi nama kota (daerah) tidak diberi tanda titik.

Isi surat mencakup: - Pendahuluan (kalimat pembukaan isi surat wajib ditulis singkat dan jelas) - Isi pokok (uraian lugas sebagai inti isi surat) - Penutup (kalimat yang mengakhiri isi surat)

Kaki surat mencakup: - Nama Jabatan Penandatangan. - Nama Terang Penandatangan, ditulis dengan cetak tebal dan digaris bawah, tanpa kurung buka dan tutup. - NIM (Nomor Induk Mahasiswa), seyogyanya diwajibkan keberadaannya sebagai identitas. - Cap (Stempel) Institusi atau Kepanitiaan - Tembusan, ditujukan pada pihak-pihak yang berwenang, memerlukan atau berhubungan dengan isi surat.

Penulisan tanggal untuk surat resmi yang memakai kepala surat adalah tidak wajib diawali dengan nama kota, karena telah tercantum pada kepala surat. Penulisan tanggal, bulan dan tahun mutlak tidak boleh disingkat atau divariasikan, dan nama bulan tidak boleh diganti dengan angka. Tanggal surat biasanya ditempatkan pada kiri atas di bawah kepala surat. Pada bentuk lain, tanggal surat bisa ditempatkan sebelum tandatangan. Tanggal dapat ditulis dengan penanggalan Hijriah dan/atau dengan penanggalan masehi.

Stempel atau cap merupakan bukti validitas/legalitas/keabsahan dari surat yang dikeluarkan LDFK. Stempel harus disimpan/tidak boleh dibawa keluar karena menyangkut nama suatu organisasi. Stempel hanya bisa digunakan atas persetujuan dari Ketua LDFK.

Amplop surat umumnya juga mencantumkan Logo/Lambang LDFK, Tulisan Nama LDFK, dan Alamat LDFK. Desain Amplop Surat sebaiknya didesain senada dengan kop surat, dengan ukuran standar amplop.

|

Penanganan surat adalah kegiatan pemrosesan surat yang dimulai dari penerimaan surat masuk, pengolahan atau penyelesaiannya sampai dengan surat tersebut disimpan sebagai arsip.

Keterangan : - Penyortiran Surat Surat masuk setelah diterima oleh petugas penerima surat selanjutnya surat dipilah-pilah sesuai jenisnya, kemudian diklasifikasikan berdasarkan sifat penting atau tidaknya guna tujuan prioritas. - Pengaagendaan Surat Surat diserahkan pada sekretaris untuk dilakukan pencatatan atau pengagendaan guna mengetahui kapan surat diterima. Adapun contoh kolom Buku Agenda Surat Masuk adalah sebagai berikut :

|

- Pendisposisisian Surat Surat dibaca pimpinan untuk didisposisikan. Dalam disposisi, pimpinan akan menginstruksikan bagaimana tindak lanjut terhadap surat tersebut yang biasanya dituliskan di bagian kiri bawah surat pada tempat yang kosong atau di bagian kiri atas sebelum salam pembuka surat. - Pendistribusian Surat Surat disalurkan kepada penerima surat / kepada siapa surat tersebut ditujukan, contoh kepada divisi, dll. - Penyimpanan / Pengarsipan Surat Selanjutnya surat diserahkan kepada Kesekretariatan untuk disimpan dan dicatat lagi dalam form arsip surat masuk. Adapun form arsip surat masuk adalah sebagai berikut :
No . 1. Tanggal Masuk 14 April 2013 Tanggal - No. Surat 8 April 2013 – 006/Syiar/ LKI/FKUB/ e/IV/2013 Pengirim Dep. Syiar LKI FK UB Tujuan Dep. Syiar LPIS FK UNISMA Perihal Undangan Silaturahim Departemen Syiar Se-Malang Raya Ket. 1 Lembar Lampiran susunan acara

|

Penanganan surat keluar dimulai dari perintah atau instruksi pembuatan surat sampai suratsurat tersebut dikirimkan dan penggandaannya disimpan.

Keterangan : - Perintah Pembuatan Surat Pimpinan memberikan instruksi kepada sekretaris untuk membuat surat. - Pembuatan Konsep Surat Setelah menerima perintah, sekretaris membuat dan menyusun konsep surat sesuai dengan permintaan dan persetujuan pimpinan. - Penomoran dan Pencatatan Surat Setelah konsep surat disetujui, sekretaris melakukan penomoran dan pencatatan surat pada buku agenda surat keluar. Adapun contoh kolom Buku Agenda Surat Keluar adalah sebagai berikut :

- Pengetikan Surat Konsep surat diserahkan pada bidang kesekretariatan untuk diketik - Pengecekan Surat Surat yang telah selesai diketik diserahkan pada sekretaris untuk dilakukan pengecekan kembali. Jika ada kesalahan, surat diserahkan kembali kepada kesekretariatan untuk diperbaiki - Penggandaan Surat Setelah dilakukan perbaikan, surat digandakan untuk kepentingan pegarsipan dan mungkin dibutuhkan untuk tembusan.

|
- Penandatanganan Surat dan Stempel Surat yang telah siap akan diserahkan kepada pimpinan untuk ditandatangani.Kemudian pada sebelah kanan Tandatangan pimpinan diberi Cap / Stempel. - Pengiriman Surat Surat yang telah ditandatangani dilipat dan dimasukkan ke sampul dan diserahkan kepada ekspeditor untuk dicatat dalam buku ekspedisi dan selanjutnya dikirim. Adapun contoh kolom Buku Ekspedisi adalah sebagai berikut :

- Penyimpanan / Pengarsipan Surat Surat diserahkan kepada kesekretariatan untuk disimpan dan dicatat dalam form arsip surat keluar. Adapun Form Arsip Surat Keluar adalah sebagai berikut :
No. 1. No. Surat Keluar 007/Humas/ LPIS/FKUNISMA/ e/IV/2013 Tanggal Surat 3 April 2013 Dari Dep. Humas LPIS FK UNISMA Tujuan Bank Mandiri Syari’ah Perihal Permohonan Kerjasama Ket. 1 buah sponsorship

|

I

zzah (kemuliaan) LDFK di mata massa FK bisa dinilai secara jelas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan dakwahnya, baik itu berupa event insidental ataupun yang sudah menjadi rutinitas. Tentunya event-event tersebut akan terlaksana dengan baik, bila terdapat dukungan yang baik dari segi SDM dan finansial. Keterbatasan dana adalah ironi besar yang membatasi ruang gerak dakwah kita. Salah satu hal yang harus disadari oleh LDFK adalah bahwa kebutuhan akan dana adalah hal yang sangat vital dan tidak dapat dipandang remeh. Memang untuk berdakwah tak selalu memerlukan dana, akan tetapi kita sudah mafhum bahwa tanpa dana yang cukup “acara -acara” dakwah kita tidak berjalan secara optimal. Sebagai lembaga dakwah yang mengusung nama kampus di dalamnya, akan sangat naif kalau kemudian terlihat “tidak cerdas” dalam mengumpulkan dan meng’create’ dana. Pencarian dana yang dimaksud dalam bab ini lebih dititikberatkan pada departemen finansial sebagai bagian organisasi yang bersifat profit dengan beberapa tambahan yang sifatnya kepanitiaan (proyek). Pertama, ide dasar dalam proses pencarian dana. Kedua, orang atau badan yang bertanggungjawab dan memiliki wewenang dalam pencarian dana baik secara operasional ataupun konsep. Ketiga, jenis-jenis penggalangan dana, meliputi usaha mandiri, sponsorship, dan pencarian donasi.

|

Aspek Sistem Keuangan

Level LDFK Pra-Mula Belum memiliki sistem yang baku, karena pemasukan hanya ditujukan untuk menutupi pengeluaran (berorientasi pada keseimbangan). Mula Sistem keuangan Memilki buku catatan keuangan yang sudah baku dan sederhana. Madya Memiliki APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Dakwah) untuk satu kepengurusan ke depan (minimal 1 tahun). Mandiri Alur keuangan yang telah terjadi selama kepengurusan, pada pelaporannya telah diaudit oleh suatu lembaga independen demi tercapainya akuntansibilitas dan transparansi keuangan. Sudah memiliki sumber pendanaan tepat yang sifatnya passive income, atau usaha mandiri yang omsetnya relatif besar (lebih dari cukup untuk membiayai anggaran).

Pendanaan

Pemasukan yang didapat berasal dari dana perorangan, yaitu dari kader atau anggotanya sendiri. Sunduquna juyubuna.

Sumber dana didapat dari internal LDFK, internal kampus, dan swadaya dari mantan anggota LDFK tersebut (alumni). Ditambah ada usaha mandiri dalam lingkup LDFK.

Sumber dana didapat dari eksternal kampus seperti perusahaanperusahaan, LSM, departemendepartemen pemerintah, yang sifatnya bisa donatur ataupun sponsorship.

Keberjalanan LDFK dalam segala aktivitas harus kita analogikan sebagai perusahaan atau lembaga profit yang memiliki pemasukan dan pengeluaran, dan dituntut adanya keseimbangan antara keduanya, bahkan diharapkan surplus dalam laporan neraca keuangannya, sehingga apapun level yang dicapai, hendaknya berorientasi pada neraca keuangan yang seimbang. Perusahaan bernama LDFK ini juga memiliki atasan, bawahan, dan mitra yang harus bisa diajak bekerja sama untuk mencapai tujuan LDFK. Oleh karena itu LDFK haruslah sangat kondusif dalam kerjanya.

|

Ide ibarat bahan bakar yang menentukan berjalan atau tidaknya suatu kendaraan. Bagi departemen finansial, ide adalah hal vital yang harus terus digali dan didapatkan tanpa mengikuti suatu acuan tertentu semisal program kerja. Ide bisa didapatkan di mana saja, di jalan, kampus, masjid, koran-koran, majalah, relasi, dosen, kawan sejurusan, tukang-tukang di jalanan, bahkan pada daun-daun yang berjatuhan di tanah. Ide bisa saja merupakan mimpi, because the biggest inspiration is dream! Bermimpilah, bermimpilah yang besar, karena hal yang besar dimulai dari ide yang besar. Jadi langkah paling awal dari finansial adalah “buka mata buka telinga”, cobalah cari ide sebanyak banyaknya untuk kemudian dituangkan dalam bentuk program kerja. Bila sedang berada di tengah kepengurusan, jangan ragu untuk mengambil suatu terobosan baru, demi tercapainya tujuan yang ditetapkan di awal. Keadaan atau peristiwa Penerimaan mahasiswa baru Peluang Usaha LDFK - Mengkoordinir adik-adik mahasiswa baru untuk dibuatkan jaket angkatan dan jas laboratorium. - Penjualan DVD e-book atau kumpulan bahan kuliah dan soal. - Penjualan merchandise beridentitas FK seperti pin, stiker, dan sejenisnya. - Penjualan Handscoon - Mengadakan try out Ujian Nasional - Mengadakan olimpiade biologi kedokteran tingkat SMA - Menjadi distributor penjualan peralatan kedokteran dan handbook - Memberikan jasa pemeriksaan tandatanda vital dan pemeriksaan sederhana lain, seperti Indeks Massa Tubuh, Golongan Darah, Kadar Glukosa Darah, dan sejenisnya.

Praktikum anatomi Siswa SMA

Skill Lab dan tutorial Berkumpulnya masyarakat di alun-alun kota atau kajian

Kelima contoh di atas merupakan secuil dari seabrek contoh yang dapat dicari dari sekeliling kita. Hanya melihat dari masalah yang kerap terjadi di sekitar kita. Departemen finansial haruslah update dengan kebutuhan pasar, mampu secara jeli menangkap peluang yang ada dan segera bertindak untuk merebut peluang itu. Aktif, kreatif dan inovatif!!

Siapa saja yang berwenang di dalam pelaksanaan fungsi keuangan? - Operasional LDFK Secara operasional LDFK, departemen finansial paling bertanggungjawab atas berjalannya LDFK. Namun tidak menutup kemungkinan adanya peran departemen lain. Misalnya dalam hal menutupi kebutuhan suatu departemen non finansial, maka bisa jadi departemen tersebut

|
punya program yang profit oriented dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal. Saat menjalankan program dengan profit oriented, pengurus dituntut untuk sabar, ulet, istiqomah, dan berusaha maksimal. Program profit oriented dengan laba sekecil apapun tidak boleh dipandang sebelah mata, karena tetap akan memberikan sumbangan dana untuk dakwah, namun akan lebih efektif bila program membutuhkan SDM yang sedikit, namun laba yang didapatkan bisa maksimal. - Kepanitiaan dalam LDFK Dalam hal kepanitiaan LDFK, bidang yang paling bertanggungjawab adalah seksi dana usaha. Bidang ini dituntut untuk serius mengejar target untuk memenuhi kebutuhan operasional pelaksanaan kegiatan kepanitiaan. Seksi dana usaha dibantu oleh Badan Pengurus Harian (BPH) yang bertugas menyupervisi dan membantu secara aktif.

Ada yang perlu LDFK sadari bersama sebelum masuk ke dalam jenis penggalangan dana, bahwa semua tujuan di bawah ini adalah tidak hanya untuk menggalang dana. Akan tetapi juga dapat digunakan untuk memupuk jiwa kewirausahaan bagi anggota LDFK. Ada beberapa bentuk pelaksanaannya, di antaranya:
No 1 Jenis Usaha mandiri Deskripsi Usaha mandiri haruslah usaha yang senantiasa bersifat kontinu, kreatif dan memberikan penghasilan yang sifatnya tetap bagi pemasukan LDFK. Usaha mandiri ini merupakan pemasok keuangan utama bagi LDFK. Usaha mandiri ini bisa berjangka panjang, atau bahkan hanya dalam rentang waktu yang pendek. Contoh Kegiatan Menjual jasa Event Organizing, seperti menjadi EO sekaligus tim medis untuk acara sirkum sisi, pengobatan massal, bakti sosial, dll. Selain itu, juga dapat membuka kios penjualan majalah, buku, usaha privat atau bimbingan belajar, jasa fotokopi, dan marchendise kreatif, kartu nama, kaos, kalender LDFK, LDFK album memori, membuat jaket angkatan, membuat Jaket LDFK, dll. Yang perlu iperhatikan berikutnya adalah bahwa sponsorship tidak selalu ekuivalen dengan uang. Bisa jadi bentuknya adalah natura (misalnya produk mereka), atau bentuk tawaran promosi lain yang bisa disepakati (mereka membantu proses publikasi acara kita), dan Tahapan Kerja 1. Pengumpulan informasi (dengan melihat peluang dan lain sebagainya). Brainstorming. 2. Realisasi dengan membuat business plan. 3. Mencari modal, baik lewat investor maupun sponsorship. 4. Memulai usaha dengan professional dan amanah. 5. Membuat evaluasi dan laporan pertanggungjawaban yang rutin secara periodi (khususnya laporan keuangan-bulanan). 1. Pembuatan proposal sponsorship dari even yang kita adakan lengkap dengan penawaran kontrapretasi yang bisa didapatkan oleh perusahaan atau lembaga (selanjutnya disebut mitra) yang akan LDFK tuju untuk menjalin kerjasama. Pastikan kontrapretasi yang LDFK tawarkan sudah pantas

2

Sponsorship kegiatan

Sesungguhnya setiap perusahaan membutuhkan pasar untuk mereka bidik sebagai konsumen. Selain itu mereka juga memerlukan citra baik yang akan meningkatkan kualitas produk mereka di pasar atau di benak konsumen. Oleh karena itu, mereka memerlukan medium untuk memastikan

|
informasi keberadaan dan kualitas produknya sampai di benak konsumen. Ketika target mereka adalah kampus, maka medium yang menjadi perpanjangan tangan mereka adalah lembaga intra kampus. Di sini LDFK bisa mengajukan diri untuk bersanding sebagai mitra yang membantu perusahaan dalam hubungan yang saling membantu dan saling menguntungkan. Keuntungan saling menguntungkan ada dalam bentuk kerjasama pemasaran yang bernama sponsorship, dimana sebuah perusahaan menjadi sponsor , dan LDFK menjadi pihak yang memfasilitasi. Yang menjadi masalah adalah proses mengusahakan sponsorship, mengingat belum ada kesepahaman antara dua pihak bahwa mereka saling membutuhkan. Untuk itulah perlu proses perkenalan melalui jaringan dan lain sebagainya. Namun ada alat pembuka yang menjadi senjata, yakni proposal. lain-lain. Dan perlu diingat, LDFK tidak hanya bisa mengajukan pengajuan terhadap perusahaan yang bersifat profit, tapi LDFK juga bisa memanfaatkan perusahaan-perusahaan, lembaga sosial, atau lembaga-lembaga lainnya yang sifatnya non-profit. harganya dengan apa yang nantinya perusahaan atau lembaga berikan.Winwin solution! 2. List-list mitra yang akan LDFK tuju. Lengkap dengan contact personnya, jabatannya dan alamat mitra tersebut. 3. Buatlah janji dengan contact person yang akan LDFK tuju, tentunya setelah dihubungi terlebih dahulu. Janji bertemu ini sangat penting karena pada pertemuan empat mata inilah LDFK bisa berbicara langsung menyampaikan maksud dan tujuan LDFK. 4. Bila dirasa sudah cukup, LDFK melakukan penawaran, penjelasan dari acara yang LDFK tawarkan, dan penjelasan tentang konsep kerjasama yang akan dilakukan dengan mitra, jangan ragu untuk mulai bernegosiasi. Kalau perlu, tanyakan saja, “Kira-kira bentuk kerjasama apa yang bisa perusahaan Bapak/ibu berikan dalam mendukung acara kami?”, jika ternyata tak ada satupun tawaran yang disetujui dari kontrapetasi awal yang tertulis dalam proposal yang kita ajukan. Cobalah bersifat fleksibel, dengan mempertimbangkan tawaran-tawaran langsung dari perusahaan atau lembaga tersebut. 5. Bila kesepakatan kerjasama telah didapat, jangan lupa langsung tuangkan dalam bentuk kontrak kerjasama atau perjanjian kerjasama

|
yang tertulis. Ini adalah cara LDFK bekerja profesional. Dan LDFK harus teliti dan seksama terhadap apa-apa yang tertulis dalam kontrak tersebut. Karena LDFK dan mitra harus menepati dan melaksanakan isi dari kontrak tersebut. 6. Bila tak ditemukan kesepakatan, atau dengan kata lain, mitra yang LDFK tuju belum bersedia untuk bekerja sama, jangan lupa ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan, dan jaga database-nya, mungkin suatu saat ketika LDFK akan melakukan even lagi, database tersebut bisa digunakan. 7. Bila kegiatan telah selesai, kemudian LDFK dan mitra telah selesai melakukan kerjasama, maka jangan lupa untuk memberikan laporan even tersebut atau LPJnya kepada pihak mitra tersebut. 8. Untuk penjagaan hubungan kerjasama, jangan lupa dijaga silaturahimnya antara LDFK dengan mitra tersebut untuk mempermudah kerjasama-kerjasama berikutnya. Secara Tidak terstruktur Bisa dilakukan secara spontan yakni melalui kunjungan silaturahim langsung dari individu (wakil LDFK) ke individu (pihak donasi). Secara Terstrukutur - Pengumpulan data alumni donatur dari berbagai sumber (rektorat, LDFK - sendiri, jaringan yang

3

Penjaringan Donasi

Sudah menjadi kebutuhan dari setiap lembaga untuk menjalin hubungan dengan lembaga lain atau perseorangan. Hal ini dikarenakan sebuah lembaga tidak bisa berdiri dan bekerja sendiri. Apalagi dalam sebuah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran sudah menjadi kewajiban untuk membangun hubungan dengan lembaga atau

Penjaringan donasi dari panitia sendiri, teman kuliah, teman dari lembaga dakwah lain, orang tua mahasiswa, dosen-dosen, rektorat, lembaga intra kampus, alumni-alumni, tokohtokoh penting, lembagalembaga sosial, dll. Penjaringan donasi ini bisa dilakukan atas nama individu ke individu atau dari lembaga ke

|
masyarakat sekitarnya. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah LDFK dalam berbagai bidang. Penjaringan donasi yang memanfaatkan jaringan bisa menjadi solusi dari penggalangan dana di LDFK, selain untuk mempererat tali silaturahim. lembaga. Bentuknya bisa melalui silaturahim langsung atau kunjungan. ada, dan lain-lain). - Pembuatan proposal yang berisi kegiatan LDFK selama satu tahun ke - depan. - Penyeleksian data, penyaringan melalui konfirmasi pada donatur. - Pengambilan keputusan. - Pengalokasian dana yang telah terkumpul. - Pembuatan LPJ dan progress report atas penggunaan data tersebut. - Penyampaian LPJ dan progress report kepada donatur.

Tips – Trik Pembuatan Proposal Proposal merupakan senjata yang vital bagi proses pengajuan sponsorship. Jadi akan dijelaskan mengenai proposal. Bagaimana proposal bisa menjadi alat perkenalan sekaligus menghasilkan “sesuatu”? Proposal yang bagus tidak harus mahal, namun setidaknya memiliki beberapa ciri mendasar: Tampilan luar - Menarik (eye catching), dilihat dari warna, design, ukuran, pemilihan jenis kertas dan cara menjilid serta tidak ‘norak’. - Bisa dipahami pada pandangan pertama, terutama terkait dengan judul utama acara atau kegiatan dan pelaksananya (perguruan tinggi). Tampilan dalam - Menarik (eye catching), dilihat dari design dalam, pemilihan font dan pemilihan jenis kertas. Jangan sampai tidak jelas dan tidak enak dilihat. - Bisa dipahami dalam waktu singkat (pastikan dalam waktu kurang dari 5 menit, pembaca proposal bisa memahami content acara, termasuk kontrapretasi. Teknik dan trik negosiasi dan presentasi sederhana Proses menjual proposal - Mendapatkan referensi - Orang-orang yang saya kenal. - Pendekatan - Telepon untuk mendapatkan pertemuan. - Professional sales presentation

|
Ice breaking.am me-list mitra yang Sell your self. Sell your LDFK. Create and sell the needs. Get customer commitment. Design and present proposal. Close the sales. Get refferal leads. Proses administrasi. Application proposal. Mengucapkan ‘selamat’. Menerangkan kembali program. Meminta referensi. Menjaga hubungan.

Professional Sales Presentation: bagaimana kita berhadapan dengan calon sponsor kita dengan menjual proposal secara profesional. Ice Breaking - Ucapkan salam yang bersifat positif! - Jabat tangan calon klien kita dengan hangat! - Berikan kartu nama Anda! - Berikan sedikit pujian kepada calon klien Anda! Sell your self - Buatlah penampilan anda meyakinkan (pastikan dari ujung kepala sampai dengan ujung sepatu terlihat profesional). - Persiapkan seluruh ‘sales tool’ dengan lengkap! - Jaga eye contact, body language, dan intonasi suara Anda! Sell your LDFK - Ceritakan mengenai latar belakang LDFK dengan baik, jelas dan ringkas! - Jelaskan kredibilitas LDFK Anda! - Jelaskan dengan detil kalau ada prestasi yang pernah dicapai LDFK! Create and sell the needs - Ceritakan mengenai program yang anda miliki! - Jelaskan benefit yang akan mereka dapatkan ketika mereka mengikuti program atau proposal yang kita tawarkan! Get customer commitment - Dengarkan pendapat calon klien Anda! - Jangan berdebat apabila calon klien Anda mengutarakan pendapatnya! - Tanyakan program atau kerjasama model apa yang dia inginkan! - Dapatkan komitmen! Design and Present Proposal

|
- Jelaskan program pada proposal sesuai dengan yang dibutuhkan/dimengerti klien! - Tanyakan pendapatnya mengenai proposal penawaran yang kita ajukan kepadanya! Close the Sales - Dapatkan data lengkap mengenai calon klien (untuk kepentingan administrasi)! - Usahakan sudah disiapkan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK), ketika sudah deal. - Insya Allah dapat pembayaran pertama. Get refferal leads.

|

D

alam Islam, istilah pendidikan disebut dengan tarbiyah. Menurut ilmu bahasa, tarbiyah berasal dari tiga pengertian kata -robbaba-robba-yurobbii- yang artinya memperbaiki sesuatu dan meluruskannya. Sedang arti tarbiyah secara istilah adalah menyampaikan sesuatu untuk mencapai kesempurnaan, dimana bentuk penyampaiannya satu dengan yang lain berbeda sesuai dengan tujuan pembentukannya. Tujuan itu ditentukan melalui persiapan yang sesuai dengan batas kemampuan untuk mencapai kesempurnaan. Tarbiyah merupakan sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik, selain itu juga dilakukan secara berkesinambungan – maksudnya tahapan-tahapannya sejalan dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas tertentu, terhitung dari buaian sampai liang lahad. Dalam pembahasan kali ini maka yang dimaksud tarbiyah itu adalah tarbiyah dalam lembaga dakwah kampus yang lebih simpelnya biasa disebut dengan kaderisasi. Manusia pada asalnya lahir di dunia tanpa sehelai benangpun dan juga tanpa ilmu. Kemudian seiring berjalannya waktu, ia mulai bisa melakukan berbagai macam hal, mulai dari berjalan, berlari, bersepeda, membaca bahkan samapai menghasilkan pemikirna revolusioner yang membawa pada perbaikkan ataupun kerusakkan, hal ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu. Dalam berdakwah di lingkup fakultas kedokteran, ilmu dasar yang jelas harus dikuasai selain tsaqofah diniyyah adalah ilmu tentang bagaimana membuat dakwah itu terus berlangsung secara berkesinambungan, disaat peran dan pengaruhnya semakin membesar. Dan hal ini tidak akan mungkin tercapai jika kita tidak mau mengusahakannya Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan dirinya…” – QS. Ar-Ra’du : 11

|
Dalam berdakwah, peran da’i memegang peranan yang sangat penting, karena darinya lah ilmu disebarkan, darinyalah akhlaq mulia dicontohkan, oleh sebab itu proses pencetakkan da’i -da’i unggulan harus terus berlangsung, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” – QS. Al Maidah : 54 Salah satu ciri orang yang dicintai Allah SWT adalah yang berjuang di jalan-Nya dengan barisan yang teratur lagi kokoh. “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” – QS. Ash Shaff : 4 Allah pun juga memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan dengan persiapan yang matang untuk menghadapi musuh-musuh Allah, dan penyiapan da’I yang unggul tentu sangat diperlukan untuk keberlangsungan dakwah “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” – QS. Al Anfal : 60

Komponen utama untuk yang melandasi suatu umat adalah konsep/manhaj/risalah yang menjadi dasar dari kehidupan umat tersebut. Dan mereka yang senantiasa mengajarkan dan menghidupkan manhaj ini adalah para kader-kader atau pemimpin-pemimpinnya, dimana kebaikankebaikan yang berserakan pada orang-orang ammah (umum) terkumpul dalam dirinya. Ketiga, basis massa yang mengikuti pemimpin-pemimpinnya, dan keempat adalah unsur waktu. Jadi, keberjalanan suatu umat bisa dijelaskan sebagai berikut. Para kader atau pemimpin datang dengan membawa suatu risalah tertentu dan kemudian mereka membina orang-orang di sekitarnya sehingga terbentuklah suatu basis massa pendukung risalah tersebut. Lantas umat tersebut berjalan dengan risalah tersebut selama rentang waktu tertentu. Saat umat tersebut mulai meninggalkan risalah yang semula menjadi landasan hidupnya dan berganti menjadi risalah yang lain, maka dapat dikatakan mereka sudah menjadi umat yang lain. Konsep ke-umat-an tersebut dapat diterjemahkan dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu masyarakat kampus. Tentunya skenario yang kita inginkan adalah begini, seorang atau sekelompok orang kader dakwah kampus membawa konsep Islam dan membina orang-orang di sekitarnya

|
sehingga terbentuklah sebuah komunitas yang shalih yang semakin berkembang dan kemudian menjelma menjadi kehidupan kampus yang didasarkan pada konsep dan nilai-nilai Islam. Dengan kata lain, kita ingin membangun masyarakat kampus yang islami, dimana Islam tegak di dalamnya dan Al-Qur’an hidup di dalamnya. Pentahapan dalam dakwah adalah sunnatullah. Dalam hal ini pun perlu diperhatikan tahapan-tahapan dalam membangun masyarakat kampus. Tahapan-tahapan tersebut adalah: 1. Membangun basis kader Tahap ini adalah tahap pembinaan para pemimpin, para kader yang ke depannya akan menjadi penggerak dakwah. Yang perlu dicermati adalah bahwa membina kader berbeda dengan membina masyarakat pada umumnya. Membina kader tidak cukup dengan hanya ta’lim, tabligh, training, dan seminar. Membina kader haruslah melalui medan amal yang nyata, menghadapkannya pada realitas. Pembinaannya bersifat intensif, memperhatikan seluruh aspek kehidupannya, untuk memenuhi standarstandar kepribadian seorang pemimpin. Karena itulah waktunya bisa panjang. Inilah yang disebut kaderisasi dan inilah yang akan dibahas secara lebih mendalam pada bagian berikutnya. Biasanya tidak sembarang orang bisa digembleng menjadi kader, ada seseorang yang terlihat meyakinkan, namun ketika mulai dilatih menjadi kader yang baik, sedikit demi sedikit mulai luntur keistiqomahannya. Maka untuk membangun basis kader dalam dakwah kampus fakultas kedokteran dapat dilakukan dengan cara melakukkan open recruitment menjadi pengurus LDFK secara terbuka, untuk kemudian dilihat bagaimana perkembangan kader tersebut, dilakukkan penilaian mana yang istiqomah, si A lebih cocok dengan bidang apa, untuk kemudian dilakukkan pendidikkan dan pembekalan lanjutan yang bisa dengan diikutkan pelatihan yang digelar oleh FULDFK (MMLC), BEM, ataupun yang lainnya. Hal prinsip dalam penggemblengan kader adalah kita harus meyakini bahwa semua orang mempunyai potensi menjadi “dasyat”, jadi tidak boleh membedakan seorang calon kader dengan seorang yang lainnya. Pembedaan perlakukan baru boleh diberikkan jika calon kader sudah melewati beberapa waktu untuk menunaikan amanahnya, bagi orang-orang yang menunaikan amanah dengan baik maka akan sangat layak jika hendak diberikan tindakkan khusus untuk mengembangkan potensinya (misal diikutkan pelatihan MMLC). 2. Membangun basis massa Prinsip dari pembangunan basis masa adalah kader dan aktifis LDFK tidak boleh bersifat eksklusif, berbaur namun tidak bercamppur, yaitu tidak bisa berbaur dengan masyarakat luas, serta ia bisa memberikan kontribusi positif bagi terbentukknya masyarakat islam di kampus fakultas kedokteran. Jika hal ini kader atau aktifis bersifat eksklusif maka tidak ada bedanya apakah ia adalah aktifis yang menguasai banyak ilmu atau yang kadang-kadang saja menjadi aktifis, karena jika tidak mau terjun diluar lingkungan dakwah, maka llingkungan dakwah itu tidak akan berkembang. Membina massa relatif lebih sederhana daripada membina kader. Ada dua poin penting yang harus dilakukan pada tahap ini. Yang pertama adalah memberikan kemanfaatan kepada massa kampus. Inilah yang membuat aktivitas syi’ar harus banyak mengandung unsur pelayanan. Contoh hal ini adalah memberikan leaflet, majalah atau sms tausyiah secara gratis kepada seluruh mahasiswa muslim. Kedua, berusaha menokoh di kalangan massa kampus. Hal ini dikarenakan masyarakat umumnya akan mengikuti orang-orang yang dianggapnya tokoh. Ini menuntut seorang kader

|
agar memiliki standar pengetahuan, ruhiyah, dan kepribadian lainnya yang mencukupi sehingga ia layak menokoh. Dengan kata lain, seorang kader akan menjadi magnet bagi orang-orang di sekitarnya. Apa lagi kultur akademis di fakultas kedokteran sangat kental, sehingga orang-orang yang dianggap “encer otaknya” relatif lebih memiliki pengaruh dari pada yang biasa-biasa saja. -Yang juga perlu diperhatikan adalah perlunya menjalin hubungan dengan dekanat dan karyawan di fakultas, ada beberapa macam cara yang bisa ditempuh, misal dengan secara rutin memberikan selebaran atau pamflet tausyiah, dan pada beberapa kondisi minta orang-orang dari dekanat atau karyawan menjadi pengisi materi atau kajian, insyaAllah hal ini akan menjadikan kerikatan dan kecintaan hati dengan dakwah. 3. Membangun basis institusi Inilah tahap dimana dakwah kampus fakultas kedokteran sudah resmi dan diakui. Hal ini bisa ditunjukkan dengan adanya surat keputusan dekan, atau bisa juga dengan surat keputusan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) jika LDFK berada di bawah BEM. Pada hakikatnya, bentuk institusi itu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan dakwah yang tidak berubah baik sebelum ataupun sesudah dakwah kampus melembaga. Dengan melembaga, dakwah kampus akan memperoleh beberapa manfaat. Di antaranya adalah kekuatan legalitas dan formalitas, mempercepat penyampaian syi’ar-syi’ar Islam, dan mempermudah dalam menjalankan programprogram dakwah. Selain itu juga bisa melakukkan intervensi kepada sistem. Perlu diingat bahwa dengan memperbaiki sistem akan mengekalkan kebaikkan, karena selama sistem itu masih ada selama itu pula kebaikkannya masih terlaksana. Hal ini bisa dicapai dengan melakukkan lobbying pada dekanat, semisal untuk mengesahkan hari wajib berjilbab dan berkoko untuk mahasiswa yang beragama islam, atau semisal menginisiasi dibangunnya mushalla atau masjid fakultas. 4. Membangun kampus secara keseluruhan dengan konsep Islam Inilah tahapan dimana yang menjadi target adalah terwarnainya seluruh elemen kampus – baik itu mahasiswa, staf pengajar, karyawan, semua warga kampus – dengan fikrah Islam. Hal ini tidak akan terwujud jika tidak dilakukkan dakwah islam dari bagian terkecil dari kampus itu, yaitu masing-masing diri kita.

Secara umum, proses kaderisasi dapat dibagi ke dalam dua tahapan besar. Yang pertama adalah proses merekrut orang. Inilah proses dimana seorang da’i berburu bakat. Dia mencari potensi potensi kebaikan yang tersebar di masyarakat, lalu kemudian dia memasukkannya ke dalam barisan dakwah. Yang kedua, setelah itu, adalah proses membina orang-orang tersebu, agar dapat memastikan tetap abadinya kereta dakwah. Proses membina adalah proses berinteraksi dengan fitrah manusia (tabiat dan semua unsur yang menyertainya) sehingga terjadi rekonstruksi kepribadian pada diri orang yang dibina. Seperti disebutkan sebelumnya, membina kader atau pemimpin itu tidak dapat dilakukan hanya lewat pengajian, ta’lim, dan seminar-seminar umum. Dibutuhkan perangkat-perangkat yang lebih khusus karena yang akan dibangun adalah kepribadian orang yang dibina secara integral. Selain itu, membina kader haruslah melalui alam realitas. Tidak cukup mengajarkan kejujuran, misalnya, hanya

|
dengan ta’lim. Karena tekanan-tekanan alam realitaslah yang paling baik mendidik jiwa seseorang. Inilah sebabnya tadribul amal menjadi sangat penting dan harus dipandang sebagai bagian yang integral dari proses pembinaan. Sebelum berlanjut, mari kita maknai kembali fase-fase dakwah kita. Kita ulas kembali secara singkat fase-fase tersebut. 1. Fase Tabligh dan Ta’lim Fase ini adalah fase pengenalan, penyebaran fikrah. Yang menjadi fokus amal adalah mengubah yang tadinya bodoh menjadi tahu (dari jahiliyah kepada ma’rifah) 2. Fase Takwin Fase ini adalah fase pembentukan, penyeleksian, dan latihan beramal. Yang menjadi fokus adalah mengubah yang tadinya tahu menjadi terstruktur pengetahuannya dan mulai berlatih melakukan amal-amal Islam yang nyata. 3. Fase Tandzhim Fase ini adalah fase pengorganisasian, penyusunan pasukan, dan pemobilisasi- an potensi untuk tujuan dakwah. 4. Fase Tanfidz Fase ini adalah fase pelaksanaan kerja dawah yang khusus. Terdapat relasi yang kuat antara fase-fase dakwah dengan amal-amal kaderisasi. -Dengan memaknai fase-fase dakwah di atas, amal-amal kaderisasi dapat dibuat menjadi alur sebagaimana berikut. 5. Rekruitmen Proses inilah yang menjadi tahapan pertama dalam dua tahapan besar kaderisasi. Proses ini berkaitan erat dengan fase tabligh dan ta’lim pada fase dakwah. 6. Pembentukan Proses ini dan seterusnya merupakan tahapan ke dua dari dua tahapan besar kaderisasi. Proses ini berkaitan dengan fase takwin dalam fase dakwah. 7. Menyediakan ladang amal Proses ini dan setelahnya memiliki relasi yang kuat dengan fase tandzhim pada fase dakwah. 8. Monitoring Melakukan penilaian dan pengawasan yang wajar terhadap kader yang telah disediakan lading amal baginya. Misalnya bagaimana kontribusinya dalam ladang amalnya. Contoh bagaimana kinerjanya dalam kepanitiaan yang mengadakan kajian. Untuk lebih memperdalam pembahasan tiap-tiap poin di atas, akan dijelaskan masing-masing poin secara terpisah.

Sebelum membahas lebih jauh, akan ditegaskan dahulu bahwa dalam bab ini, pengertian kader berbeda dengan pengertian pengurus. Yang dimaksud dengan kader adalah mereka yang mengikuti alur kaderisasi LDFK. Yang dimaksud dengan pengurus adalah mereka yang menjalankan kerja-kerja dakwah secara formal dan terkoordinasi dalam struktur LDFK sesuai dengan job description yang diberikan. Dalam pembahasan ini, yang dimaksud rekruitmen adalah rekruitmen kader.

|
Proses rekruitmen adalah proses menarik masuk seseorang ke dalam barisan dakwah untuk kemudian dibina dan menjadi sumber daya penggerak dakwah. Dengan kata lain kita merekrut seseorang menjadi kader LDFK untuk kemudian dibina dan akan bersama-sama beramal dakwah melalui LDFK. Ini berarti proses rekruitmen dapat dikatakan sebagai penyeleksian/penyaringan SDM yang siap dibentuk. Dalam proses merekrut ini, perlu dicermati pula siapa yang akan direkrut. Orang tersebut haruslah memenuhi dua syarat, yaitu berpotensi untuk mengubah diri dan mengubah orang lain. Hal ini perlu karena kita melihat pada kemanfaatan untuk dakwah secara umum. Dengan merekrut orang-orang yang memenuhi dua kriteria di atas, dakwah akan mengalami percepatan yang jauh lebih pesat daripada kita merekrut orang yang sulit mengubah orang lain apalagi jika orang tersebut sulit diubah kepribadiannya. Karena itulah, pada hakikatnya, objek perekrutan itu harus dicari. Tidak bisa hanya dengan menunggu. Kita harus mencari orang-orang yang memiliki bakat pemimpin, orang-orang yang simpati dengan Islam di kampus. Inilah implementasi hadits Rasulullah SAW : “Manusia itu seperti barang tambang, yang terbaik di masa jahiliyah terbaik juga dalam Islam”. Masih ingatlah kita bagaimana Rasulullah SAW berdoa : “Ya Allah, jadikanlah salah satu dari dua Umar ini seb agai kunci kemenangan Islam” ketika berdoa kepada Allah SWT agar salah satu di antara dua Umar (Umar bin Khaththab ra. dan Abu Jahal) masuk ke dalam barisan kaum Muslimin. Kedua orang ini merupakan tokoh pemimpin di masa jahiliyah. Kemudian Allah SWT mengabulkan doa Rasul-Nya dengan masuknya Umar bin Khaththab ra. Dan terbukti ketika Umar masuk Islam, dakwah Islam mengalami percepatan yang luar biasa. Metode yang umumnya digunakan oleh LDFK untuk merekrut kader adalah dengan membuka pendaftaran calon kader LDFK atau mengadakan ta’lim-ta’lim umum atau even-even syi’ar lainnya (program-program yang sifatnya pengenalan nilai-nilai Islam) dan kemudian merekrut orang-orang yang hadir untuk menjadi kader LDFK. Ini tidak salah karena proses seperti ini sama dengan menyeleksi unsur-unsur di masyarakat kampus yang mempunyai kecenderungan lebih besar kepada Islam dan unsur-unsur yang simpati dengan Islam. Dengan kata lain begini, orang yang sejak awal sudah simpati dengan Islam atau yang setelah mengikuti program syi’ar muncul rasa simpatinya terhadap Islam, itulah yang akan kita rekrut. Misalnya setelah seseorang mengikuti Seminar kedokteran islam, dia mulai mengetahui bahwa islam adalah agama yang kaffah dan berminat untuk memperdalah islam dan mempelajari kebesaran-kebesaran Allah yang dapat diungkap oleh ilmu kedokteran. Maka orang-orang seperti ini kita rekrut dan kita bina agar pengetahuannya berkembang menjadi pola pikir dan amalnya produktif untuk dakwah. Sebagaimana telah dikatakan, hal tersebut di atas tidaklah salah. Namun, sebenarnya tidak cukup. Perlu juga dipikirkan bagaimana para kader ini dapat melihat potensi-potensi di sekitarnya. Misalnya potesi kepemimpinan, pemikiran, keprofesian dan akademik, atau olah raga. Karena orangorang yang memiliki puncak-puncak potensi inilah yang nanti akan menjadi tokoh-tokoh di masyarakat kampus. Karena itulah kapasitas internal kader menjadi penting. Daya rekrut LDFK bergantung pada daya rekrut setiap kadernya, dan daya rekrut setiap kadernya bergantung pada kapasitas internal dirinya. Masih ingatlah kita bagaimana proses masuk Islamnya Rukanah. Dia hanya mau masuk Islam jika Rasulullah mengalahkannya bergulat. Dan ternyata Rasulullah lebih kuat. Atau bagaimana masuk

|
Islamnya Umar. Ini mengindikasikan bahwa untuk merekrut orang kuat harus dilakukan oleh orangorang yang sama kuatnya atau lebih kuat. Antara Kualitas dan Kuantitas Rekruitmen yang dilakukkan LDFK pada dasarnya untuk memnuhi dua hal, yaitu kuantitas dan kualitas. Kuantitas penting untuk menjamin terpenuhinya job sharing sedang kualitas menjamin terlaksanya tugas sesuai dengan yang diharapkan. Pada kenyataannya, fungsi rekruitmen yang dilakukan LDFK tidak hanya berorientasi pada pemenuhan basis kader (baca: kualitas), tetapi juga memiliki fungsi pemenuhan barisan pendukung dakwah atau simpatisan dakwah (baca: kuantitas). Dalam proses rekruitmen LDFK, ada dua hal yang perlu diperhatikan terkait dengan kedua fungsi di atas, yaitu: (1) Peran LDFK sebagai sarana dakwah umum yang harus menggulirkan proyek-proyek dakwah secara profesional, artinya LDFK memerlukan kader yang secara kualifikasi siap menanggung beban dakwah, dan (2) Peran LDFK sebagai sarana pemenuhan barisan pendukung/simpatisan dakwah. Dapatlah kita gambarkan peta masyarakat muslim seperti di bawah ini. Untuk melaksanakan peran pertamanya dengan baik, LDFK sebagai organisasi dakwah sangat membutuhkan calon-calon kader yang memiliki standar kompetensi tertentu sebagaimana telah ditetapkan sebelumnya oleh tim formatur LDFK setelah suksesi. Mereka diharapkan telah memiliki pengalaman untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, memiliki pemahaman Islam yang baik, mengenali medan, dan telah teruji komitmennya sehingga bisa dikategorikan sebagai SDM siap pakai (kader inti). SDM seperti inilah yang diharapkan menjadi motor penggerak aktivitas dakwah LDFK yang berperan mewarnai kampus dengan nilai-nilai Islam. SDM ini pula yang diharapkan dapat menjadi role of model bagi kader atau pengurus yang lain. Kader-kader inti ini sudah tinggi secara jenjang kederisasi dan biasanya menempati posisi yang strategis dalam struktur LDFK (top atau middle manager). Untuk melaksanakan peran keduanya dengan baik, LDFK sebagai organisasi dakwah diharapkan dapat merekut sebanyak mungkin mahasiswa/i muslim di kampus untuk bergabung bersama mengembangkan dan mengaktualisasi diri dalam bingkai dakwah Islam. Siapa pun, selama dia merupakan mahasiswa di kampus, yang memiliki motivasi untuk memperbaiki, mengembangkan, mengaktualisasi diri serta berdakwah/beramal islami di kampus, adalah caloncalon SDM yang potensial. Standar kompetensi tidak diberlakukan secara ketat untuk calon-calon SDM ini. Justru diharapkan melalui keikutsertaan dalam aktivitas dakwah LDFK dan interaksinya dalam lingkungan yang kondusif itulah maka SDM-SDM ini akan memiliki kesempatan yang sangat luas untuk transformasi diri ke arah yang lebih islami. Untuk memenuhi kedua fungsi tadi, dapat disiasati melalui penjenjangan kader. Jadi pembinaan dan penyeleksian berdasarkan kompetensi yang ketat tidak diterapkan pada semua tingkatan kaderisasi. Jadi tidak semua kader menjalankan fungsi kader sebenarnya, ada beberapa tingkatan yang sebenarnya merupakan simpatisan. Ini tidak menjadi masalah karena LDFK merupakan lembaga aktivitas yang sifatnya umum (wajihah ‘amal ‘aam). Namun, jangan sampai kita tejebak pada penyempitan makna simpatisan sekedar yang mendaftarkan diri pada LDFK saja. Kita harus mengklasifikasikannya berdasarkan tingkatan interaksi antara seseorang dengan LDFK/Islam. Yang termasuk simpatisan adalah mereka yang: 1. Mengikuti program-program dakwah yang dilakukan LDFK.

|
2. Mendukung Islam dan dakwah. Baik itu dalam hal finansial, tenaga, ataupun pemikiran. Karena itu orang yang kritis dan banyak menyampaikan kritik yang membangun terhadap LDFK harus kita pandang sebagai aset dan diposisikan sebagai orang yang peduli. 3. Orang-orang yang hanif kepribadiannya. Untuk memenuhi kebutuhan kader, LDFK dapat menjalankan dua mekanisme rekruitmen. Yaitu (1) masif dan (2) personal. Yang dimaksud dengan mekanisme rekruitmen masif adalah adalah rekruitmen terbuka bagi seluruh mahasiswa muslim di kampus. Dapat juga berupa rekruitmen sebagai follow-up kegiatankegiatan syi’ar, dll. Sedangkan yang dimaksud rekruitmen personal adalah rekruitmen yang dilakukan secara langsung oleh formatur LDFK dan pengelola SDM LDFK, atau bahkan oleh kader-kader LDFK terhadap individu-individu tertentu yang dianggap memiliki kecenderungan kepada Islam dan memiliki potensi yang besar untuk dakwah. Perekrutan secara personal ini dapat diikuti oleh proses pembinaan saja atau pun sekaligus menempatkannya pada struktur LDFK jika dirasa perlu dan standar kepribadian dan kompetensinya telah terpenuhi. Salah satu parameter berhasilnya kaderisasi adalah terbentuknya kaderkader dengan kapasitas yang ditargetkan secara konkret. Untuk itu, demi terciptanya LDFK yang mandiri, profesional, dan regeneratif maka perlahan-lahan setiap LDFK diharapkan mampu menghasilkan kader-kader inti secara mandiri melalui alur kaderisasi yang dijalankannya. LDFK harus mampu berperan sebagai “kawah candradimuka” yang dapat mentransformasi individu-individu yang pada awalnya belum memiliki kompetensi apa-apa menjadi individuindividu yang memiliki kompetensi keislaman yang tinggi, profesional, intelek, dan siap melakukan amal da’awi. Di situlah letak pentingnya alur kaderisasi berjenjang dalam sebuah LDFK. Jadi dapat kita lihat di sini bahwa kaderisasi tahap-tahap awal berorientasi pada kuantitas untuk membangun barisan pendukung dakwah. Namun, dalam proses setelahnya, pentahapan kaderisasi haruslah berorientasi pada kualitas kader-kadernya. Teknis : Langkah-langkah Rekruitmen Massif Dalam melakukan rekruitmen masif, secara teknis dapat mengikuti prosedur-prosedur berikut. Sosialisasi LDFK Tujuan: - Mengenalkan LDFK kepada seluruh civitas akademika kampus. - Menarik minat seluruh civitas akademika kampus khususnya mahasiswa/i muslim/ah untuk bergabung dengan LDFK. -Hal ini bisa dilakukkan sejak maru pertama kali datang ke kampus untuk melakukkan registrasi. Dari LDFK ada tim khusus un tuk melakukkan “sambut maru”, yang bertugas mengenalkan mereka pada LDFK, bisa dengan pembagian leaflet, menawarkan untuk pencarian kos, atau mungkin juga bisa dengan memberikan mereka souvenir sederhana namun akan tetep diingat, seperti stiker pembatas buku dll. Publikasi rekruitmen Tujuannya adalah memberikan informasi kepada seluruh civitas akademika kampus bahwa LDFK mengadakan rekruitmen untuk seluruh civitas akademika kampus. Penyebaran dan pengembalian formulir rekruitmen dan isian biodata calon kader Tujuan:

|
- Mengumpulkan data awal calon kader. - Mengenali karakteristik calon kader (biodata singkat, pengalaman organisasi, motivasi bergabung dengan LDFK, keterampilan khusus yang dimiliki, pilihan aktivitas yang diminati). Pengolahan data calon kader Tujuan: - Mendapatkan gambaran umum tentang karakteristik calon kader LDFK. - Mendapatkan database calon kader. Wawancara calon kader Tujuan: - Mengenali calon-calon pengurus secara baik dan lebih mendalam (pemahaman keislamannya, harapan-harapannya terhadap LDFK, motivasinya, pilihan aktivitas yang diminatinya kelak jika bergabung dengan LDFK, tingkat komitmennya dengan dakwah, pengalaman organisasinya, gaya kerjanya, tingkat pengetahuannya terhadap amanah yang akan dijalankannya, konsep diri dan manajemen pribadinya). - Memasukkan kader ke dalam kelompok-kelompok pembinaan yang sesuai. Publikasi pengurus Tujuannya adalah menginformasikan kader-kader LDFK baru yang akan menjalani alur kaderisasi kepada civitas akademika kampus. Hal-hal penting yang perlu digali dari calon kader pada saat proses rekruitmen, setidaknya adalah: - Data diri calon kader (nama, tempat/tanggal lahir, jenis kelamin, alamat tempat tinggal, nomor kontak, fakultas/jurusan, angkatan, motto hidup, dll.). - Riwayat pendidikan. - Pengalaman organisasi. - Keterampilan khusus yang dimiliki. - Pilihan aktivitas yang diminati. - Motivasi bergabung dengan LDFK. - Tujuannya bergabung dengan LDFK. - Tingkat pemahaman keislamannya secara umum. Inti dari pengenalan secara mendalam terhadap calon kader adalah mengetahui potensi, tipe kepribadian, pemahaman dan pola pikirnya sehingga kita dapat menentukan cara terbaik dalam membinanya. Misalnya, ketika akan dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok usrah, maka dengan mengenal calon kader secara mendalam kita dapat menentukan siapa naqib yang tepat untuknya dan mengumpulkannya dengan teman-temannya yang setaraf kadar pemahaman keislamannya. Beberapa bagian dalam proses rekruitmen yang terkait dengan sistem kaderisasi LDFK (berarti harus dibicarakan di awal kepengurusan jika LDFK yang bersangkutan belum memiliki sistem kaderisasi yang baku) antara lain: - Waktu pelaksanaan rekruitmen dan frekuensi rekruitmen dalam satu periode kepengurusan. - Sasaran dari rekruitmen tersebut (umum, siapapun asal berstatus mahasiswa dan beragama Islam, atau ada kriteria khusus lainnya, seperti berasal dari angkatan tertentu, memiliki standar kompetensi tertentu, dan sebagainya). - Mekanisme teknis pelaksanaannya. - Pelaksana rekruitmen (apakah hanya pengelola SDM, hanya tim formatur, atau keduanya?)

|

Setelah dilakukkan proses rekruitmen, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah pengenalan, agar para raw recruit yang ammah ini dapat memahami tugas dan fungsi yang akan diembannya adalah tugas dakwah yang memerlukkan persiapan diri. Pengenalan pertama yang harus dilakukan adalah perkenalan dengan dakwah. Pada tahap awal calon kader dijelaskan tentang karakteristik dakwah yang jalannya panjang, sedikit pendukungnya, banyak rintangannya, namun besar balasannya. Hal ini ditujukan agar mereka tidak mengambang dengan tugas yang akan mereka emban, sehingga setiap tugas memiliki ruh dan tujuan rabbani. Hal kedua yang perlu disampaikan adalah peraturan-peraturan standar, seperti antar kader ikhwan akhwat harus saling menjaga diri, dikenalkan dengan adab-adabnya. Peraturan yang bisa mendatangkan hukuman harus juga dikenalkan sebelumnya, misal saat syuro’ harus datang tepat waktu, atau jika tidak akan mendapat iqob, kapan seorang kader bisa diberhentikan, dan hal-hal yang semacam dengan ini. Setelah mereka memahami kedua hal ini kemudian dikenalkan dengan sistem dan struktur yang ada, misal dalam LDFK ada beberapa bidang atau departemen, yang dipimpin oleh kepala bidang dengan tugasnya masing-masing. Dan yang penting lagi adalah dikenalkan tentang statusnya sebagai kader ini menunjukkan bahwa ia adalah subyek dan obyek pembinaan keislaman yang utama. Kemudian apa tujuan pembinaan ini? Hal ini bisa dijawab dengan 10 muwashafat sebagai berikut: 1. Salimul ‘aqidah (aqidah yang selamat) 2. Shahihul ‘ibadah (ibadah yang benar) 3. Matinul khuluq (akhlaq yang tegar) 4. Qadirun ‘alal kasbi (mampu bekerja) 5. Mutsaqaful fikr (berwawasan luas) 6. Qawwiyul jism (fisik yang kuat) 7. Mujahidun li nafsi (etos kerja yang tinggi) 8. Munazhzham fi syu’unihi (tertata urusannya) 9. Haritsun ‘ala waqtihi (menjaga waktunya) 10. Nafi’ul li ghairihi (bermanfaat bagi yang lainnya)

Setelah melalui proses rekruitmen kader, maka yang harus diperhatikan berikutnya adalah bahwa kader adalah obyek dakwah yang utama, karena diharapkan mereka nanti akan menjadi penerus estafet perjuangan dakwah. Dalam hal tingkatan ini, kualitas jauh lebih penting dari kuantitias. Namun hal itu tidak bisa terjadi begitu saja, melainkan harus ada upaya yang tersistem dan berkelanjutan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

|
1. Usrah/mentoring Usrah secara bahasa berarti baju perisai yang melindungi, istri atau keluarga, jamaah yang diikat oleh kepentingan yang sama, kelompok. Maka definisi usrah adalah sarana pembinaan yang menghimpun semua makna di atas. Dia berfungsi sebagai pelindung karena di sana terdapat komunitas yang saling mengingatkan, berfungsi sebagai keluarga karena di sanalah ditanamkan dan dipraktekkannya nilai-nilai ukhuwah islamiyah, dengan dilandasi tujuan dan kepentingan yang sama, yaitu membina diri, dalam format dinamika kelompok dengan jumlah anggota maksimal 12 orang. -Usrah ini merupakan perangkat yang paling utama, karena di sinilah nilai-nilai pembinaan dapat disampaikan secara lengkap dan praktis. Selain itu, dengan metode ini, pembinaan dapat dilakukan secara intensif. Dalam istilah lain usrah dapat dinamakan mentoring, halaqah, asistensi, smart circle, dsb. Sasaran  Sarana pembinaan dasar-dasar aqidah, akhlaq, ibadah, dan tsaqafah.  Menanamkan nilai-nilai ukhuwah dan membiasakan beramal jama’i.  Sarana aktualisasi diri dalam merealisasikan nilai Islam. Unsur usrah Unsur minimal dalam pelaksanaan usrah adalah adanya seorang naqib/mentor dan para peserta. Naqib adalah seseorang yang berfungsi sebagai penanggung jawab usrah dan memiliki peran membina para peserta. Untuk menarik minat kader maka pertama-tama topic usrah bisa diambilkan tentang kedokteran islam. Misal bagaimana pandangan islam tentang euthanasia, aborsi, transplantasi organ dan lain sebagainnya, karena para mahasiswa baru biasanya cenderung antusias untuk mempejari hal-hal yang berhubungan dengan kedoktaran. Setelah terbentuk ikatan antara mentor dan menti, maka materi dapat lebih diarahkan tentang urusan agama dan dakwah. Sebelumnya menti harus di informed consent bahwa dalam usrah mereka dapat saling berdiskusi baik tentang masalah agama atau yang lainnya, mengeluarkan pendapat, dan rahasia mereka dijaga, serta yang penting mereka tetap diingatkan bahwa mengikuti kajian keislaman tetap sangat diperlukan untuk tercapainya pemahaman islam yang mendalam. Materi-materi dasar seperti aqidah, fiqih ibadah yang wajib, hendaknya disampaikan terlebih dahulu, agar menti memiliki dasar sebelum membahas tentang fiqih dakwah dan haroki. 2. Seminar, dialog, dan pelatihan Seminar adalah sarana pembinaan berupa pertemuan dengan lebih dari satu pembicara pakar untuk membahas permasalahan tertentu. Dialog adalah sarana pembinaan berupa pertemuan dengan satu atau lebih tokoh untuk mengkaji dan mendiskusikan permasalahan tertentu. Pelatihan adalah sarana pembinaan berupa penajaman atau pembekalan akan keahlian/skill tertentu. Sasaran  Memperluas wawasan.  Meningkatkan keterampilan-keterampilan tertentu.  Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis.

|
FULDFK maupun LDFK-LDFK biasanya memiliki seminar, pelatihan, maupun talkshow yang sifatnya tahunan. Maka kader dapat didelegasikan untuk mengikutinya, tentunya yang disesuikan dengan karakteristiknya. Misalnya ia berkarakter pemimpin, maka akan sangat tepat sekali jika didelegasikan untuk mengikuti pelatihan di MMLC, kalau ia tertarik dengan kedokteran islam maka bisa diberangkatkan untuk menghadiri Antibiotic. Yang perlu diperhatikan, karena kegiatan pendelegasian memerlukan dana, jika menggunakan dana LDFK maka kalau bisa dilakukan seleksi delegasi untuk mencegah terjadinya kecemburuan, serta yang penting kader yang diberangkatkan sebagai delegasi harus memberikan kemanfaatkan untuk kader yang berada di kampus, misalnya dengan menuliskan hasil kegiatannya untuk dipublikasikan di bulletin LDFK, melakukan presentasi tentang materi yang didapat serta beberapa hal lainnya. Jika dilingkungan sekitar kampus ada kegiatan pelatihan atau seminar, maka kader juga dapat dikirim untuk menjadi delegasi ke sana, karena relatif lebih murah, biasanya juga tetap bermanfaat, misal acara LKMM Fakultas, pelatihan pembuatan sms gate way dan lain sebagainya. 3. Rihlah Rihlah adalah sarana pembinaan yang dilaksanakan secara kolektif dan lebih tercurah pada aspek fisik. Dalam pelaksanaannya, peserta diberi keleluasaan untuk begerak dengan iklim yang bebas dengan ruang gerak yang luas untuk menerapkan nilai-nilai islami di kehidupan nyata. Kedudukan rihlah di antara sarana pembinaan yang lain sangatlah penting untuk menciptakan suasana ukhuwah islamiyah dan kedisiplinan secara fisik. Sasaran  Mempraktekkan nilai-nilai Islam, seperti mempererat ukhuwah sesama peserta yang lain, dll.  Mendalami pengenalan terhadap peserta yang lain.  Menanamkan suatu nilai penting dalam Islam seperti komitmen, disiplin, bersungguhsungguh, kecintaan, dan itsar.  Mendapatkan kebugaran, menghilangkan kejenuhan, dan memperbaharui semangat.  Melatih untuk bekerja sama, disiplin, dan kesiapan meanggung beban. Untuk acara rihlah bisa dipilih daerah pegunungan yang sejuk atau pantai yang memiliki medan yang menantang, persiapan segala sarana harus dimatangkan, karena segala sesuatu bisa terjadi saat rihlah. Dalam kegiatan ini aktifitas fisik lebih diutamakan, misal kader dapat diminta untuk memainkan game yang berisi hikmah tentang pentingnya teamwork, leadership, disiplin dan lain sebagainya. Yang menjadi masalah untuk rihlah adalah menentukan waktu yang tepat, karena biasanya mahasiswa fakultas kedokteran memiliki agenda yang padat, sedangkan jika sudah masuk jadwal libur maka banyak yang pulang kampung, untuk mengatasi hal ini diperlukan kejelian. 4. Mabit Mabit adalah sarana pembinaan ruhiyah dengan menginap bersama dan menghidupkan malam dengan ibadah.

|
Sasaran  Menguatkan hubungan kepada Allah SWT dan kecintaan kepada Rasulullah SAW baik secara fikri, ruhi, maupun amali.  Terteladaninya pola hidup Rsulullah SAW dan salafush shalih.  Membiasakan ibadah pada malam hari Mabit adalah salah satu agenda pembinaan yang dapat mencharge ruhiah, karena peserta dikondisikan dalam kondisi yang kondusif untuk beribadah maupun menerima berbagai materi. Pembuatan acara mabit bisa dibuat fleksibel ataupun protokoler. Fleksibel maksudnya tidak perlu ada rundown acara, mc dan hal-hal yang sifatnya protokoler lainnya. Yang perlu diperhatikan dalam mabit, terutama yang pesertanya ikhwan dan akhwat, adalah menjaga hubungan dan komunikasi agar tidak berlebihan, karena hal ini sangat rentan menjadi fitnah. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan area khusus ikhwan dan area khusus akhwat, pembatasan jam malam, adanya petugas yang mengawasi, serta jika bisa tempat menginapnya berjauhan. Acara mabit bisa diawali dengan kajian, kemudian dilanjutkan dengan tilawah quran, tidur terlebih dahulu, dan pada waktu 1/3 malam panitia membangunkan peserta untuk menunaikan qiyamul lail. Setelah shalat subuh bisa diisi dengnan renungan atau beberapa materi lagi, dan pagi harinya bisa diisi dengan riyadhoh (olahraga) bersama dengan ikhwan dan akhwat terpisah tentunya. Tantangan lain untuk mabit kurang lebih sama dengan rihlah yaitu pengaturan jadwal harus tepat, jika memungkinkan, buatlah komitmen bersama untuk menentukan jadwalnya, sehingga diharapkan adakan banyak kader yang bisa mengikutinya. 5. Daurah Daurah adalah sarana intensif untuk membekali peserta dengan metode dan pengalaman penting untuk mengembangkan keahlian, menambah pengetahuan yang sifatnya khusus dan medalam yang sulit disampaikan melalui usrah atau ta’lim -ta’lim umum. Sasaran  Meningkatkan pengetahuan untuk memenuhi muwashofat atau membekali kader dalam berdakwah di medan dakwah masing-masing.  Mengarahkan pada meningkatnya produktivitas amal peserta dalam dakwah dan pembinaan.  Menambah efektivitas dan efisiensi pencapaian muwashofat. Untuk materi-materi yang memang memerlukan keintensifan dalam penyampaiannya maka daurah bisa dijadikan sebagai sarananya, secara sekilah daurah memang mirip dengan training, bedanya dalam daurah lebih banyak transfer ilmu dari pada melibatkan keaktifan peserta. Dalam daurah diangkat satu topik yang dianggap penting, kemudian didatangkan para ahli di bidangnya sehingga bisa terjadi transfer ilmu. Contohnya adalah daurah qiyadah yang ditujukan untuk para pimpinan atau bisa juga calon pimpinan lembaga-lembaga kampus. Di sana selain disampaikan materi tentang kepemimpinan juga disampaikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan managemen organisasi seperti kadersasi, kesekretariatan, humas, jaringan, kebendaharaan, fund rising, dll.

|
6. Ta’lim Ta’lim merupakan sarana pembinaan berupa proses transfer ilmu dari ustadz/pembicara kepada peserta. Ta’lim merupakan sarana pembinaan yang sifatnya lebih umum. Sasaran  Meningkatnya kesenangan peserta dalam mempelajari Islam.  Tersampaikannya materi-materi umum tentang Islam.  Meningkatnya interaksi dan silaturahim antar peserta. Setiap LDFK, tidak bisa disebut telah berdiri kecuali jika sudah memiliki takllim rutin. Taklim merupakan kegiatan syiar yang sangat penting, karena disanalah terjadi proses belajar-mengajar ilmu agama. Yang perlu diingat wawasan keilmuan kader itu bermacammacam, maka tetap penting untuk mengajarkan hal-hal dasar dalam agama terlebih dahulu yaitu, aqidah, ibadah dan akhlaq. Dalam proses wawancara pada saat perekrutan hendaknya sudah dibuat komitmen bahwa kader harus senantiasa meningkatkan pemahaman keislamannya secara terus menerus. Pembuatan absensi pada kegiatan ta’lim bisa menjadi salah satu solusi untuk memantau keaktifan kader. Kader yang kurang aktif harus didekati kemudian ditanyakan sedang ada apa, atau mungkin sekarang ia telah aktif pada kegiatan ta’lim yang lain. Perlu kita ingat bahwa kita tidak bisa mengklaim bahwa ta’lim yang kita miliki adalah yang paling benar. Sehingga jika ada kader yang rajin mengikuti ta’lim dengan ustadz yang lain sepanjang beliau juga termasuk ahlus sunah wal jama’ah dan tidak mengajarkan materi yang membahayakan, maka biarkanlah. Semoga dengannya ia dapat memberi warna yang lebih untuk LDFK. 7. Camping/Mukhayyam Mukhayyam adalah sarana pembinaan jasadiyah melalui latihan fisik dan simulasi ketaatan untuk membekali peserta dengan nilai-nilai jundiyah. Sasaran  Membiasakan peserta hidup di alam terbuka dengan sarana dan prasarana sederhana.  Menumbuhkan ketaatan kepada pemimpin.  Meningkatkan kedisiplinan.  Membiasakan peserta hidup dalam suasana islami yang komprehensif dan universal. Dalam pelaksanaan mukhayyam biasanya dipilih daerah pegungungan dengan medan yang lumayan terjal. Disana kader dilakukan pelatihan fisik, misalnya dengan napak tilas melintasi daerah pegungungan. Hal yang perlu diperhatikan disini adalah sangat rentan terjadinya cidera pada kader maka persiapan pertolonga pertama harus senantiasa ada. Kegiatannya bisa diselipkan games-games kepemimpinan, kemudian penanaman nilai disiplin bisa dilakukan dengan pembuatan jadwal yang harus ditepati dan jika melanggar akan ada iqob yang diberikan.

Penyediaan ladang beramal melalui LDFK bagi para kadernya merupakan bagian yang integral dari proses pembinaan itu sendiri. Melalui proses inilah idealitas-idealitas yang dibangun lewat usrah,

|
daurah, ta’lim dipertemukan pada realitasnya di kehidupan nyata. Pada saat inilah LDFK mulai memberikan ruang-ruang beramal bagi para kadernya, yang juga berarti para kader mulai disusun barisannya, distrukturisasi bangunannya, ditempatkan pada posisi-posisi tertentu dalam struktur LDFK. Mulai sekarang kita akan menggunakan istilah pengurus yang artinya adalah SDM yang menjalankan kerja-kerja dakwah secara formal dan terkoordinasi dalam struktur LDFK sesuai dengan job description yang diberikan. LDFK pada umumnya merekrut pengurus dari kader-kadernya sendiri. Namun, ada pula LDFK yang memperbolehkan merekrut pengurus dari selain kadernya. Di samping itu, ada pula LDFK yang tidak membedakan antara kader dan pengurus. Hal ini tidak menjadi masalah karena implementasi di lapangan memungkinkan banyak penyesuaian. LDFK pada umumnya menyediakan ladang beramal di dalam strukturnya sendiri. Namun, tidak menutup kemungkinan ladang amal tersebut berada di luar struktur LDFK. Misalnya di Badan Eksekutif/Legislatif Mahasiswa, unit-unit kegiatan mahasiswa, dll. Untuk menjalankan misi dakwah di sana, terutama jika memang LDFK tersebut merupakan pengelola dakwah kampus secara keseluruhan, dengan berbagai lini/ranah dakwah yang ada. Dalam kaitannya dengan penyusunan SDM ke dalam struktur, maka diperlukan manajemen yang baik sehingga segala sumber daya dapat dioptimalkan dan menghasilkan amal yang produktif. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengorganisasian SDM 1. Penempatan Proses penempatan mirip dengan proses rekrutmen dalam hal memfirasati seseorang. Dalam hal ini, kita memfirasati seseorang kira-kira dia tepatnya ditempatkan di mana. Dalam melakukan penempatan, ada dua poin penting yang harus diperhatikan. Pertama adalah pelaksanaan kaidah “right man in right place”, artinya seseorang harus ditempatkan pada posisi yang tepat sesuai minat, kecenderungan, bakat, kapabilitasnya. Yang kedua adalah LDFK harus dapat menyediakan ladang amal sesuai dengan jumlah dan kapasitas internal kader-kadernya. Jumlah SDM yang ditempatkan pada suatu posisi (misal suatu departemen/divisi) tidak boleh melebihi kapasitas/kuota departemen/divisi tersebut. Dengan kata lain, jumlah orang yang “dipekerjakan” untuk suatu tugas tidak boleh terlalu banyak karena nanti akan membuat beberapa orang “menganggur” tidak kebagian “pekerjaan”. Ini akan berakibat buruk bagi tim secara keseluruhan karena “sisa kelebihan” tersebut akan menjadi beban bagi tim. Namun, dapat juga dibalik, jika jumlah kader banyak, perluas ladang amalnya. Sebelum membahas lebih jauh tentang hal ini, akan disepakati dulu beberapa istilah terkait dengan penjenjangan kepengurusan (jenjang karir) berikut ini.  Top management/manager Yang dimaksud dengan top-manager di sini adalah pengurus inti/formatur dan BPH (ketua, sekretaris, bendahara, ketua-ketua departemen). Merekalah yang berperan dalam penentuan kebijakan-kebijakan strategis LDFK.  Middle management/manager Yang dimaksud middle-manager adalah para staf yang memimpin eksekusi program-program dakwah di lapangan.

|
 Low management/manager Yang dimaksud dengan low-manager adalah mereka yang mengeksekusi programprogram dakwah pada tataran teknis. Yang termasuk pada tataran ini adalah maganger, tim kerja, dan yang lainnya yang sejenis dengan itu. Mekanisme Penempatan Pengurus pada Level Top-Management Tim formatur atau pengurus inti biasanya ditetapkan oleh mejelis syuro LDFK pada saat suksesi dengan pertimbangan-pertimbangan yang banyak dan kompleks. Jumlah formatur ini sedikit dan merupakan tim yang dimanahi langsung oleh majelis syuro untuk menjalankan kepengurusan LDFK. Penunjukan tim formatur ini sangat bergantung kepada mekanisme syuro masing-masing LDFK. Namun, secara umum hal-hal yang penting diperhatikan dalam penunjukan tim formatur adalah:  Kondisi akademik (apakah sudah lulus tingkat pertama, sedang menjalani sanksi, atau sedang memiliki kasus akademik, dll.).  Track record dalam kepengurusan sebelumnya.  Tingkatan kaderisasinya di LDFK.  Tingkat kesehatan program pembinaan keislamannya.  Standar ma’nawiyahnya, akhlaknya, ibadahnya, fisiknya yang tercermin dalam muwashofat kaderisasi.  Lain-lain. Untuk melakukan penempatan pengurus di BPH, perlu diperhatikan dua hal. Yang pertama adalah kualifikasi kapasitas seseorang berdasarkan jenjang kaderisasi LDFK. Misalnya, kualifikasi untuk menjadi koordinator suatu departemen adalah minimal sudah menyelesaikan proses kaderiasi hingga jenjang kesekian. Yang kedua adalah kualifikasi kompetensi seseorang untuk menjalankan amanahnya pada posisi tertentu. Ini dapat dilakukan melalui penelusuran potensi, penelusuran track record dalam kepengurusan, rekomendasi koordinator departemen kepengurusan sebelumnya, dsb. Penempatan pada level ini dapat dilakukan secara tertutup atau terbuka. Secara tertutup maksudnya tim formatur melakukan “hunting” SDM yang menurut mereka cocok dan layak menempati posisi tertentu secara personal. Penempatan secara terbuka maksudnya adalah membuka pendaftaran terbuka kepada kader yang nantinya para pendaftar ini akan diseleksi oleh tim formatur. Mekanisme Penempatan Pengurus pada Level Middle-Management  Menghitung kapasitas/kuota setiap departemen/divisi Pertama-tama haruslah dihitung berapa jumlah SDM optimal yang diperlukan uuntuk menjalankan fungsi sebuah departemen/divisi. Hal ini memerlukan pemahaman yang cukup dalam tentang fungsi dan job description dari suatu divisi/departemen. Karena itu sebaiknya pengelola SDM banyak melibatkan tataran middle-manager yang nantinya akan menjadi mas’ul/koordinator departemen/divisi.  Menentukan requirement calon pengurus Untuk level ini, penentuan requirement biasanya tidak ketat. Pada umumnya, yang menjadi syarat untuk level ini hanyalah tingkatan/jenjang kaderisasi.

|
 Penggalian motivasi, minat, kemampuan, dan potensi pengurus Sebelum melakukan penempatan pengurus, biro PSDM harus terlebih dahulu mengenali motivasi, minat, kemampuan, dan potensi yang dimiliki oleh pengurus. Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu. Minat adalah perasaan yang menyatakan bahwa sebuah aktivitas berharga atau berarti bagi seorang individu. Kemampuan adalah daya yang dimiliki seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. Potensi adalah nilai dan karakter positif yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan tertentu. Adanya sinergi dari komponen-komponen di atas (motivasi yang tinggi yang tidak semata bersumber pada kepentingan pribadi namun bersumber pada kesadaran penghambaan diri kepada Allah SWT, minat yang sesuai dengan aktivitas pekerjaan yang dilakukan dan kemampuan yang cukup dan terus-menerus diperbaiki) akan menghasilkan SDM yang tangguh dan siap menghadapi segala macam tantangan yang akan dihadapi di medan dakwah. Satu hal yang perlu dipahami oleh pengelola SDM, keempat komponen di atas bukanlah merupakan sebuah entitas yang statis namun senantiasa berubah dari waktu ke waktu sehingga harus terus menerus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Dari ketiga komponen tersebut, motivasi merupakan komponen yang memegang peranan terpenting. Namun, ada satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan, bahkan biasanya menjadi faktor yang paling menentukan keberjalanan suatu divisi/departemen, yaitu kecocokan antara calon staf dengan mas’ulnya secara subjektif, atau tingkat kenyamanan mas’ul bekerja dengan calon stafnya begitu juga sebaliknya. Karena itulah –yang paling baik untuk menentukan apakah seseorang akan ditempatkan di suatu departemen/divisi atau tidak– adalah mas’ul/koordinator dari departemen/divisi yang bersangkutan. Penggalian motivasi, minat, kemampuan, dan potensi pengurus dapat dilakukan melalui:  Wawancara terhadap calon pengurus.  Pengisian biodata pengurus yang disertakan bersama formulir pendaftaran.  Pengisian kuesioner-kuesioner penggalian minat, kemampuan, dan potensi yang dapat dikembangkan sendiri oleh pengelola SDM LDFK.  Pengolahan dan penyimpanan data Seluruh data hasil wawancara, biodata, maupun kuesioner-kuesioner dikumpulkan, diklasifikasi, dan disimpan dengan baik sebagai arsip baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy.  Melakukan penempatan pengurus Dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi (kriteria standar calon pengurus untuk biro/departemen tertentu) dan kebutuhan individu (motivasi, minat, kemampuan, dan potensi). Mengingat penempatan pengurus merupakan salah satu aktivitas yang sangat vital, sebaiknya aktivitas tersebut tidak hanya dilakukan oleh biro PSDM saja, namun juga melibatkan pihak BPH dan koordinator biro/departemen yang lain sebagai pihak yang paling mengetahui kebutuhan organisasi.

|
Mekanisme Penempatan Pengurus pada Level Low-Management Mekanisme penempatan pada tataran ini tidak jauh berbeda dengan mekanisme penempatan pada tataran middle-management. Hanya saja persyaratan-persyaratannya dibuat longgar. Ada satu hal yang penting diperhatikan terkait penentuan kuota departemen/divisi, yaitu penentuan nilai kuota tersebut selain mempertimbangkan besarnya pekerjaan departemen/divisi tersebut, juga mempertimbangkan jumlah middle-manager yang sehat (aktif dan menjalankan amanahnya dengan baik). Hal ini penting karena yang “menghandle” tataran low-management adalah para middle-manager. Semakin banyak middle-manager yang sehat secara aktivitas, semakin besar kuota bagi lowmanager. Berikut ini merupakan contoh penjenjangan pengurus LDFK dan relasinya dengan penjenjangan kadernya.

Gambar Penjenjangan pengurus dan kader Keterangan: Penguin = Pengurus Inti 2. Orientasi Orientasi adalah proses sosialisasi pengurus baru dengan LDFK. Orientasi dapat pula dimaknai sebagai proses pembekalan bagi pengurus baru, baik dari segi pemahaman, wawasan, maupun ruhi, dalam menjalankan tugas dakwahnya di LDFK. Orientasi bisa dilakukan dengan melakukan syuro’ perdana di tempat yang menyenangkan, misal sambil berlibur di kebun the sambil dijelaskan tentang hakikat dan teknis tugas yang akan dijalani oleh pengurus. Selain itu juga bisa pada kesempatan ketika pengurus melakukan kesalahan karena ketidak pahamannya maka, pada kondisi seperti ini bisa dilakukan teguran halus dan kemudian dijelaskan kemabali pada pengurus baru bagaimana seharusnya tindakan yang benar. Tujuan dari orientasi pada umumnya adalah:  Meningkatkan motivasi (khususnya yang bersifat ma’nawi) dan kebanggan pengurus serta memberikan kesan pertama yang baik tentang LDFK kepada pengurus baru.  Memberikan pemahaman kepada pengurus baru tentang visi, misi, nilai, target, norma, core competence, dan budaya kerja LDFK. Dengan kata lain, pengurus baru harus dapat melihat dengan jelas arah gerak LDFK ini mau ke mana dan bagaimana cara untuk sampai ke sana.  Memahamkan pengurus baru dengan tandzhim/struktur organisasi dan tugas serta fungsi setiap lini yang dimiliki oleh LDFK secara umum maupun mengenalkan pengurus dengan biro/departemen tertentu yang akan menjadi tempatnya beramal secara khusus. Termasuk pula mengenalkan dengan orang-orang yang menempati

|
posisi-posisi di struktur, baik yang berada pada tataran top-managemen, middlemanagement, maupun lowmanagement. Mengenalkan dan memahamkan para pengurus baru tenang kondisi medan dakwahnya (ma’rifatul maydan). Ini penting sehingga aktivis LDFK d apat memetakan kekuatan-kekuatan yang ada di kampus, simpul-simpul massa di kampus, tantangan dan hambatan yang akan ditemui, dan sebagainya. Sehingga diharapkan nantinya LDFK dapat bergerak dengan langkah-langkah yang strategis. Memahamkan pengurus baru akan fiqhud da’wah, sehingga nantinya mereka dapat berinteraksi dengan objek dakwah secara bijak serta terhindar dari fenomena istiknaf (menjauhi masyarakat/eksklusif). Merekatkan kembali ukhuwah dan menumbuhkan sense of in-group (team building).

Sasaran dari proses orientasi adalah seluruh pengurus LDFK. Orientasi dapat dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah orientasi umum dan tahap kedua adalah orientasi khusus. Orientasi umum biasanya dilakukan dalam satu waktu, diikuti oleh seluruh pengurus dengan tujuan sebagaimana yang telah disebutkan di atas dan biasanya dilakukan oleh BPH, pengelola SDM, dan semua koordinator departemen/divisi LDFK. Orientasi khusus adalah orientasi khusus yang dilakukan per biro/departemen/divisi, dengan waktu yang relatif fleksibel, dengan diikuti oleh anggota departemen/biro/divisi yang bersangkutan. Orientasi khusus memiliki tujuan yang lebih spesifik, terbatas pada ruang lingkup divisinya. Pelaksana orientasi khusus ini biasanya adalah masing-masing coordinator departemen/divisi. Materimateri yang dapat disampaikan pada saat orientasi umum adalah sebagai berikut.  Motivasi ma’nawi.  Urgensi dakwah kampus.  Sejarah singkat LDFK dan perananperanannya.  Visi misi jangka panjang dan pendek.  Target umum LDFK dalam satu periode kepengurusan.  Nilai-nilai, norma, dan budaya kerja LDFK.  Struktur organisasi dan deskripsi singkat masing-masing lini dalam organisasi beserta orang-orang yang menempati posisi tersebut.  Kondisi realitas kampus.  Fasilitas-fasilitas yang dimiliki organisasi, dll. Sebaiknya materi-materi di atas disampaikan dalam format acara yang menarik, ringkas, dinamis dan berisi. Bentuk-bentuk acara tersebut dapat berupa slide show, pemutaran film, diskusi, dialog tokoh, happening art, games, simulasi, out bond, penugasan dan dinamika kelompok, dsb. Materi-materi yang dapat disampaikan pada saat orientasi khusus adalah sebagai berikut:  Motivasi ma’nawi.  Peran dan fungsi biro/departemen/divisi berdasarkan visi dan misi LDFK.  Arahan target pencapaian biro/departemen pada periode kepengurusan ini.  Perumusan visi misi biro/departemen/divisi secara bersama-sama.

|
   Perumusan ground rules, budaya kerja biro/departemen/divisi. Pewarisan semangat dan pengalaman. Pengenalan individual secara lebih mendalam dan pernyataan visi misi pribadi.

3. Pemberdayaan Yang dimaksud pemberdayaan adalah mengerahkan potensi sumber daya yang ada untuk kepentingan dakwah. Kemampuan LDFK untuk dapat memberdayakan seluruh SDM di dalamnya merupakan syarat keberhasilannya. Walaupun SDM yang dimiliki LDFK sangat banyak, jika tidak mampu memberdayakan seluruh SDMnya secara optimal, maka tidak akan mempunyai pengaruh sama sekali bahkan langkahnya pun akan sangat terbatas. Sebaliknya, ada LDFK yang SDMnya hanya puluhan bahkan belasan, namun benarbenar dapat memberdayakan seluruh SDMnya secara optimal, maka LDFK tersebut akan memiliki pengaruh dan vitalitas yang besar di dalam masyarakat kampus. Ada beberapa poin yang sangat menentukan keberhasilan LDFK dalam memberdayakan kader-kadernya. Berikut ini adalah poin-poin yang terkait dengan proses-proses kaderisasi yang dibahas sebelumnya.  Proses pembentukan/pembinaan dan pembekalan yang matang. Karena keikutsertaan seseorang di LDFK haruslah dilandasi pemahaman dan kesadaran yang utuh. Jika tidak, maka ia hanya akan menjadi “zombie-zombie” yang tidak tahu alasan dan arah aktivitasnya.  Memahami semua anggotanya dengan benar, mengetahui potensi yang dimiliki, kecenderungan mereka, sisi positif dan negatifnya, dll. Dengan mengetahui semua ini, akan sangat membantu untuk menentukan tugas dan tanggung jawab masingmasing individu dan menempatkan pada posisi yang tepat, sehingga membuahkan hasil yang memuaskan. Berikut ini adalah poin-poin yang terkait dengan proses pemberdayaan secara khusus dan tidak terlalu terkait dengan proses-proses kaderisasi yang dibahas sebelumnya.  Mengerahkan seluruh anggota, dan bukan sebagian saja, atau hanya orang-orang yang berprestasi saja. Pemanfaatan semua personil, meskipun dalam masalah yang paling sederhana, bagaimanapun akan melipatgandakan hasil. Selain itu, akan menghindarkan LDFK dari fitnah yang ditimbulkan oleh para “penganggur” atau orang-orang yang tidak memiliki tugas dan peran dalam dakwah. Para penganggur ini walaupun mungkin di LDFK dianggap sudah tidak ada, namun dalam pandangan awam ia tetap bagian dari LDFK, jadi ketika ia melakukan hal-hal yang tidak syar’i (pacaran, suka menelantarkan amanah,dll) maka LDFK juga akan tercatut namanya. Penugasan kader/pengurus LDFK harus dilakukan secara kolektif dan bukan indiviual. Hal ini dikarenakan jika tugas dakwah diserahkan pada seseorang secara individu dan bukan kolektif, maka akan rawan terjadi kesalahan dan penyimpangan karena akan sangat terpengaruh pada persepsi dan pemahamannya sendiri. Selain itu, akan memungkinkan timbulnya rasa ghurur dan berbangga diri. Karena ia merasa bahwa posisinya tidak bisa digantikan oleh siapa pun, bahkan mungkin juga akan merasa bahwa dakwah sangat membutuhkannya bukan dia yang membtuhkan dakwah

|
Contoh jika LDFK memiliki pos kesehatan, maka tugaskanlah satu tim khusus untuk mengurusnya, dengan tetap ada 1 koordinator timnya. . Jadi penugasan secara kolektif berfungsi juga menjaga orang-orang yang ditugaskan dalam sebuah komunitas yang dapat saling mengingatkan. 4. Pengembangan Pengembangan pengurus bertujuan meningkatkan kinerja individu dalam organisasi melalui peningkatan keterampilan. Keterampilan dalam hal ini maknanya luas, dapat berupa softskill seperti kepemimpinan, manajerial, teamwork, dll. dan dapat pula berupa hardskill, misalnya kemampuan administrasi dan pengolahan data untuk sekretaris, kemampuan desain grafis untuk staf media dan publikasi, dll. Metode pengembangan pengurus yang umum digunakan adalah dengan pelatihan/training. Satu hal yang perlu dipahami, khususnya oleh pengelola SDM LDFK, tidak semua permasalahan yang berkenaan dengan buruknya kinerja pengurus dapat diselesaikan dengan pelatihan. Apabila pengelola SDM melihat adanya penurunan kinerja pengurus, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan diagnosa terhadap penyebab penurunan tersebut. Hal-hal yang dapat menjadi sebab menurunnya kinerja pengurus antara lain:  Hilangnya motivasi pengurus karena harapan atau tujuan pribadinya di awal ternyata tidak terpenuhi setelah bergabung dengan LDFK sehingga menyebabkan terjadinya disorientasi.  Visi, misi, target, budaya kerja organisasi tidak terinternalisasi dengan baik.  Pengurus ditempatkan tanpa mempertimbangkan minat dan kemampuannya.  Tidak ada prosedur kerja yang baku sehingga kerja menjadi tidak terarah.  Kepemimpinan yang tidak efektif.  Suasana kerja yang miskin masukan ruhiyah dan kering nuansa ukhuwah (terlalu berorientasi kerja).  Tidak ada pengakuan terhadap keberadaan individu pengurus maupun terhadap hasil kerjanya.  Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pengurus dalam melaksanakan tugasnya. Teknis : Tahap-tahap membuat pelatihan: a. Menentukan kebutuhan pelatihan Caranya:  Bertanya kepada pengurus tentang kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan tugas-tugas mereka.  Bertanya kepada koordinator biro/departemen tentang kesulitan yang dihadapi pengurus (ada/tidaknya kesenjangan antara actual performance dengan ideal performance).  Memberikan evaluasi langsung kepada pengurus (baik lisan maupun tulisan) untuk mengetahui actual performance-nya.  Bertanya kepada orang di luar organisasi.  Analisa terhadap penilaian kinerja pengurus.  Merujuk kepada parameter karakteristik yang harus dimiliki pengurus berdasarkan alur kederisasi.

|
b. Menentukan tujuan pelatihan Meliputi:  Hasil umum apa saja yang yang ingin dicapai dari pelatihan yang dilakukan.  Contoh: peningkatan kreativitas pengurus LDFK.  Perilaku apa yang ingin ditingkatkan dari pengurus.  Contoh: Meningkatnya ide-ide kreatif yang dikemukakan pengurus dalam rapatrapat.  Pengetahuan apa yang diperlukan untuk dapat menghasilkan perilaku tersebut.  Contoh: Pengetahuan tentang kreativitas, bagaimana cara meningkatkan kreativitas, hal-hal yang menghambat kreativitas, latihanlatihan yang dapat menghambat kreativitas, dsb. c. Menentukan isi materi pelatihan Contoh: Pelatihan keterampilan komunikasi dan organisasi. Materinya:  Definisi komunikasi  Jenis-jenis komunikasi dan masing-masing kegunaannya  Komunikasi dalam organisasi  Tips dan trik komunikasi efektif  Hambatan-hambatan dalam komunikasi  dll. d. Menentukan metode pelatihan yang tepat e. Menentukan jadwal pelatihan yang tepat f. Menentukan fasilitas (tempat pelaksanaan):  Indoor/outdoor  Kenyamanan  Meja-kursi  Kebersihan  Pencahayaan  Sirkulasi udara  dsb. g. Menentukan instruktur yang tepat. Beberapa karakter umum yang harus dimiliki:  Memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas tentang materi yang akan disampaikan  Mempunyai keinginan yang kuat untuk berbagi pengalaman  Memiliki kemampuan komunikasi dan menguasai audience yang baik  Berorientasi pada peserta (memahami kebutuhan peserta)  Memilih dan mempersiapkan alat bantu, contohnya: LCD projector, flipchart, OHP, papan tulis, hand out, dsb.

|
h. Melaksanakan pelatihan  Buatlah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pelatihan  Tentukan berapa panitia yang dibutuhkan dan deskripsi kerja mereka  Pengaturan waktu  Konsumsi  Biaya  dsb. i. Mengevaluasi pelatihan Mintalah peserta pelatihan untuk melakukan evaluasi terhadap:  Pelatih  Materi  Fasilitas (alat bantu dan tempat pelaksanaan pelatihan)  Jalannya acara pelatihan Pengelola SDM LDFK tidak diharuskan untuk mengadakan sendiri setiap pelatihan yang dibutuhkan pengurus. Mengingat pada saat ini begitu banyak lembaga-lembaga pelatihan profesional yang dapat diajak bekerja sama. Apabila kondisi memungkinkan (cukup tersedia dana untuk menyewa pelatih profesional) dan pengurus sangat membutuhkan pelatihan tersebut, serta pihak pengelola SDM tidak memiliki kapabilitas untuk melaksanakan pelatihan tersebut, maka pengelola SDM LDFK dapat bekerja sama dengan lembaga pelatihan atau pelatih profesional. Apabila pengelola SDM bekerjasama dengan lembaga pelatihan atau pelatih secara individual, maka beberapa hal yang perlu dilakukan hanyalah menentukan kebutuhan, menentukan tujuan pelatihan, dan kemudian mendiskusikannya dengan lembaga pelatihan atau pelatih yang dianggap kompeten untuk mengisi pelatihan tersebut.

Monitoring dalam sebuah organisasi termasuk di dalamnya LDFK, merupakan suatu elemen yang penting untuk menjamin seluruh sistem berjalan sesuai rencana sehingga dapat mencapai tujuan-tujuannya. Setidaknya ada tiga hal yang harus dimonitor/dipantau terkait dengan manajemen SDM. Pertama, distribusi amanah pengurus. Kedua, kinerja pengurus. Dan ketiga, ma’nawiyah pengurus. 1. Monitoring distribusi amanah pengurus Tujuan dari monitoring distribusi amanah pengurus adalah untuk menjamin tugas-tugas dakwah diberikan secara merata kepada seluruh pengurus sesuai kapasitasnya masingmasing. Jangan sampai ada sekelompok orang yang tugastugas menumpuk padanya, sementara di sisi lain ada juga orang-orang yang tidak mendapat tugas. Distribusi amanah yang tidak merata akan membuat seorang kader cepat futur dan merasa kesepian, merasa ditinggalkan oleh teman-temannya dalam menjalankan amanah dakwah. Di sisi lain, orang yang tidak mendapat amanah atau terlalu ringan akan berkurang sense in-group-nya, karena merasa tidak memiliki peran yang signifikan di dalam timnya. Hal ini akan membawa dampak negatif bagi LDFK secara keseluruhan. Yang paling efektif dalam menjalankan proses ini

|
adalah superordinat langsung dari pengurus (koordinator kepada staf, BPH kepada koordinator). 2. Monitoring kinerja pengurus Monitoring kinerja pengurus dalam sebuah organisasi memiliki beberapa tujuan penting, antara lain:  Memantau grafik kinerja pengurus secara berkala.  Memberikan feedback kepada pengurus tentang kinerjanya berdasarkan hasil penilaian tersebut sehingga diharapkan dapat terjadi peningkatan.  Mengidentifikasi kebutuhan training dan pengembangan.  Meningkatkan motivasi pengurus.  Dasar dalam memberikan reward kepada pengurus yang berprestasi. Monitor terhadap kinerja individu biasanya dilakukan terhadap tiga hal:  Hasil kerja akhir Contoh: Bagi staf media, misalnya, evaluasi kinerjanya dilakukan seberapa baik buletin yang dihasilkan, bagaimana keberjalanannya, frekuensinya, distribusi dan pemasarannya, dll.  Proses Contoh: Ketua biro/departemen bidang X memimpin rapat secara efektif, melakukan perencanaan dengan baik sebelum bekerja, memenuhi komitmen terhadap waktu, komunikasi dalam tim berjalan lancar, dsb.  Trait individu Contoh: Dapat dipercaya, kooperatif, disiplin, dsb. Siapa yang dapat memonitor kinerja individu?  Superordinat langsung dari pengurus (koordinator kepada staf, BPH kepada koordinator).  Rekan kerja (sesama staf, sesama koordinator, sesama BPH).  Diri sendiri.  Subordinat langsung (staf kepada koordinator, koordinator kepada BPH, staf kepada BPH). Metode evaluasi tertulis yang dapat dilakukan oleh pengelola SDM LDFK dalam memonitor kinerja pengurus antara lain:  Esai tertulis. Merupakan metode paling sederhana dimana evaluator diminta untuk menuliskan secara deskriptif kekuatan, kelemahan kinerja yang lalu, beserta potensi dan saran perbaikan ke depannya  Melakukan evaluasi secara kuantitatif, mendetil, dan per rentang waktu yang singkat. Semua parameter dibuat sedemikian sehingga dapat dikuantifikasi. Penilaian dilakukan dengan cara:  Menentukan tindakan apa saja yang harus dilakukan staf,  Menentukan kuota minimal tindakan,  Menentukan target keberhasilan,  Menghitung jumlah tindakan yang dilakukan, dan  Menghitung jumlah tindakan yang produktif.

|
Contoh: Beberapa orang staf LDFK ditugaskan untuk merekrut mahasiswa baru secara fardhiyah untuk menjadi kader LDFK. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tindakan apa saja yang harus dilakukan oleh staf. Misalkan hanya satu, yaitu menjelaskan profil singkat LDFK secara personal dan kemudian mengajaknya bergabung. Ini disebut direct selling dan kita singkat DS. Setelah itu, kita harus menentukan kuota minimal tindakan per hari. Misalnya setiap satu orang staf harus melakukan DS kepada 10 orang mahasiswa baru per hari. Selanjutnya, kita targetkan dari 10 DS yang dilakukan, minimal terekrut 1 orang kader baru. Setelah menentukan batasan dan target, kita evaluasi keberjalanannya. Misalnya ada kader yang dari ratarata 10 DS yang dilakukan per hari, berhasil merekrut 5 orang. Ini berarti prestasinya di atas rata-rata. Orang seperti ini harus dibuatkan standard operating procedure (SOP)-nya agar staf yang lain dapat belajar darinya. Dengan begitu, rata-rata keberhasilan seluruh tim akan meningkat. Jika ada staf yang memenuhi kuota tindakan tetapi rendah dari sisi produktivitas (misalnya dari rata-rata 10 DS yang dia lakukan tidak berhasil merekrut satu orangpun), maka orang ini harus diberi pelatihan secara khusus (misalnya training komunikasi efektif, dsb.). Jika ada staf yang ratarata jumlah tindakannya tidak mencapai kuota minimal, maka harus ditelusuri lebih lanjut apa penyebabnya dan diselesaikan permasalahannya. Evaluasi dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, misal per hari, dengan menggunakan tabel yang dapat dilihat semua anggota tim. Tujuannya agar mekanisme kontrol itu datang dari setiap anggota tim, tidak hanya pimpinannya saja. Berikut ini merupakan salah satu contoh tabel.

Mekanisme reward and punishment sangat baik diterapkan sesuai keperluan untuk memotivasi staf menjalankan tugasnya dengan baik.  Monitoring ma’nawiyah pengurus Buruknya kualitas ma’nawiyah pengurus dapat menurunkan kinerja dakwah LDFK dan mejauhkannya dari keberkahan Allah SWT. Yang dimaksud di sini adalah lemahnya keterlibatan jiwa dan pemaknaan aktivitas sebagai aktivitas yang memiliki visi dakwah. Suasana kerja yang miskin ruhiyah dan kering nuansa ukhuwah dapat menjadi penyebab hal di atas. Untuk menjaga ma’nawiyah pengurus dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:  Membudayakan saling menasehati dan mengingatkan “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” – QS. Adz Dzaariyat : 55

|
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orangorang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” – QS. Al ‘Ashr : 2-3  Mengontrol amalan ibadah harian pengurus Yang perlu dipahami di sini adalah, bahwa ibadah merupakan sarana penghambaan kita kepada Allah SWT. Jadi tidak cukup kita hanya bepikir kuantitas, tanpa memperhatikan kualitas pemaknaan ibadah-ibadah kita.  Mengentalkan nuansa ukhuwah yang dilandasi oleh keimanan kepada Allah SWT. Dapat pula dilakukan kegiatan-kegiatan rekreasi secara rutin.  Menerapkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam beraktivitas.

Pada bab ini akan dijelaskan bagaimana poin-poin penting untuk memenuhi kebutuhan akan kuantitias dan kualitas mentor/murabbi yang nantinya akan bertugas untuk menghandle salah satu pilar kaderisasi dan tarbiyah yang penting yaitu halaqoh. Dalam bab ini memang sengaja tidak dijelaskan tentang profil murabbi ideal, karena sudah banyak tulisan tentang hal ini. Pada prinsipnya kaderisasi mentor/murabbi dibagi menjadi 3 poin. Pertama kaderisasi/penjagaan untuk mentor itu sendiri yang sifatnya kontinyu atau bahasa lainnya pembinaan “mentoring untuk mentor” , yang kedua kaderisasi insidental yang bertujuan untuk menambah tsaqofah, softskill, ukhuwah, dll seperti halnya dauroh mentor atau madrasah mentor, dan yang ketiga ialah kaderisasi dalam bentuk regenerasi mentor baru (mentor berguna untuk mencetak mentor baru dari mentenya sendiri). Untuk mengatasi permasalahan kaderisasi jawaban utamanya ialah mentoring, jadi mentor/murabbi harus mengikuti mentoring/halaqah entah diisi oleh bapakbapak pembina atau oleh alumni LDFK yang tujuannya untuk saling mengingatkan antar sesama mentor, menambah tsaqofah mentor, menjalin ukhuwah, menjaga mentor agar tetap semangat dan berada dalam jalur kurikulum mentoring. Sebisa mungkin ini dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum mentoring dimulai, atau bisa juga di launching saat pelantikkan mentor/murabbi dengan bahasa yang lebih halus “pendampingan mentor” sebagai follow up dari program mentoring. Logikanya, jika mentor di LDFK persemester sekitar 50 ikhwan dan 60 akhwat, itu artinya kita hanya butuh 5 ikhwan pendamping mentor ikhwan dan 6 akhwat pendamping mentor akhwat. Ini merupakan hal baru dan butuh dikonsep lebih detail lagi terutama kurikulumnya. Poin yang kedua, sebuah kendala utama disetiap kali mengadakan kegiatan pembinaan mentor seperti Madrasah Mentor/Dauroh mentor adalah “kehadiran peserta”. Inilah mindset utama panitia pelaksana, bagaimana caranya bisa mendatangkan semua mentor ke Dauroh Mentor?. Ingat! Mentor tertarik hadir bukan karena makanan yang banyak, berlebih, ada snack, dsb. Tapi mereka akan hadir jika ada komunikasi yang intens dalam rangka publikasi kegiatan (sms), pembicara-pembicara yang mumpuni dalam bidangnya, pembicara terkenal, atau bisa dipancing dengan souvenir. Biasanya pengeluaran terbesar ada pada konsumsi, panitia daurah mentor harus bisa meminimalisir biaya konsumsi dan dialihkan ke yang lain yang lebih bermanfaat dan bisa menarik perhatian mentor. Misal: mendatangkan pembicara terkenal Satria Hadi Lubis, Salim A Fillah, Ust. Sholeh Drehem, Kang Abik, dll. Atau dengan memberi Souvenir pin gantungan kunci, stiker, buku, pulpen, dll. Selama ini yang terjadi di lapangan ialah konsumsi yang di pesan bermacam-macam (nasi dan snack) dan dalam jumlah yang sangat banyak, padahal mentor yang hadir tidak seberapa, sampai 50% saja sudah bersyukur. Pertanyaan besar bagi seluruh mentor, berapa persen mente yang bisa terekrut jadi mentor? Terutama dari satu kelompok saja. Inilah agenda ketiga yang harus kita terapkan, bahwa mentor

|
harus mencetak mentor penerusnya (dari mente kelompok mentoring) minimal satu saja. Dengan seperti itu, maka minimal semester depan jumlah mentornya sama dengan jumlah mentor semester sebelumnya atau bahkan bisa lebih jika satu mentor mencetak dua mentor baru. Solusi termudah ialah memahamkan kepada seluruh mentor (lewat salah satu materi di Daurah Mentor) tentang pentingnya kaderisasi berbasis pembinaan (tarbiyah), atau bisa lewat penekanan info via SMS, misalkan setiap 2 pekan mentor di ingatkan untuk melirik, memantau, dan menyiapkan mentenya untuk menjadi mentor (dengan memperhatikan kualitas mentor dalam hal tsaqofah, tilawah, softskill bicara). Atau bisa dengan memfasilitasi mente dengan sebuah kegiatan pembinaan, yang diikuti oleh mente dari berbagai kelompok, yang diadakan diakhir pekan mentoring yang bertujuan untuk memberi motivasi dan semangat mente untuk menjadi mentor dengan peserta mente yang didelegasikan oleh mentornya. Detailnya, Saat posisi sebagai mente, di dua pertemuan terakhir diadakan kegiatan khusus selama sehari untuk membekali mente (rekomendasi dari mentor) menjadi calon mentor dengan materi pentingnya berdakwah, karakter mahasiswa muslim sejati, gampangnya jadi mentor, muslim no apatis.

|

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." – Q S. Al Hajj : 32

D

akwah kampus merupakan amal jama’i yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat kampus yang menjunjung tinggi nilai dan norma Islam sebagai pedoman hidup. Dengan adanya dakwah kampus, diharapkan masyarakat kampus akan terus menerus terwarnai dengan Islam dan mempertahankannya sehingga tercipta identitas masyarakat kampus yang Islami. Dakwah sebagai sebuah upaya ajakan yang kontinyu tentu harus memperhatikan prinsip-prinsip penting sehingga tujuannya bisa dicapai. Dakwah adalah salah satu wujud aktivitas komunikasi, dimana komunikasi selalu melibatkan adanya Sender sebagai pengirim pesan, Message sebagai isi pesan, Channel dan Protocol sebagai media dan tata cara penyampaian pesan, Receiver sebagai penerima pesan, dan Feedback yaitu respon yang diberikan oleh Receiver. Dakwah adalah komunikasi, inilah prinsipnya. Sebagai komunikasi yang memiliki tujuan yang jelas, dakwah haruslah dilaksanakan dengan tata cara yang baik, dan benar. Di dalam dakwah kampus Fakultas Kedokteran (FK), peran yang paling banyak diambil oleh Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (LDFK) adalah Sender. Namun demikian, LDFK memang tak selalu mengambil peran Sender, karena dalam kondisi tertentu LDFK juga memainkan perannya sebagai Receiver - walaupun dalam bab ini memang tidak dibahas mendalam mengenai peran LDFK sebagai Receiver. Peran LDFK sebagai Sender dapat kita lihat dalam banyak kegiatan, misalnya adalah penyelenggaraan seminar, kajian rutin, majalah, mading, website, group, atau bahkan SMS taushiyah.

|
Dan tentu saja, sebagai penyelenggara dakwah yang baik, LDFK sang Sender tidak bisa mengabaikan berbagai hal penting yang menentukan tercapainya tujuan dakwah. Sebagai Sender di dalam dakwah, LDFK harus memperhatikan hal berikut ini: - Siapa saja yang termasuk dalam Receiver? - Apa saja Message yang harus disampaikan agar tujuan dakwah tercapai? - Apa saja Channel dan Protocol untuk menyampaikan Message kepada Receiver? - Apa Feedback yang diharapkan? Receiver utama dari LDFK adalah masyarakat kampus FK - dan ini adalah definisi minimal dari “Receiver dakwah LDFK”. Kenapa demikian? Karena dengan terciptanya kampus FK yang Islami akan menjadikan dakwah kampus bertahan dan berkembang dengan baik. Setelah definisi minimal dari Receiver dakwah kampus ini tertangani, LDFK bisa mengembangkan jangkauan dakwahnya ke segmen yang lebih luas dimana Receiver berikutnya adalah masyarakat, kemudian LDFK di universitas yang lain, dan yang terakhir adalah sistem. Untuk bisa bertahan hidup, LDFK harus mempertahankan keharmonisan antara LDFK dengan Receiver, terutama adalah masyarakat kampus. Ketika LDFK bisa mendapat dukungan dari pihak kampus, maka gerak dakwah LDFK akan makin kuat dan berani. Dukungan finansial, adanya pengarahan, dan fasilitas dari kampus merupakan salah satu pendukung utama dari dakwah kampus. Dengan adanya hal-hal tersebut, LDFK bisa terus berkembang dan berkembang, sampai akhirnya bisa mencapai tujuan utamanya. Selain pihak kampus, pendukung utama dari dakwah kampus adalah mahasiswa. Mahasiswa sebagai sumber daya yang menggerakkan dakwah kampus sangatlah penting untuk diperhatikan. Sistem kaderisasi yang baik untuk menciptakan sumber daya yang berkualitas merupakan salah satu wujud proses dakwah yang diharapkan. Di dalam sistem kaderisasi, LDFK sebagai Sender akan menyampaikan Message kepada mahasiswa sebagai Receiver, sehingga kemudian mahasiswa akhirnya memberikan Feedback dalam wujud kontribusi usaha dan pemikiran kepada dakwah kampus yang diselenggarakan oleh LDFK. Syarat munculnya sumber daya yang baik adalah dakwah yang baik pula. Sedangkan di tingkat masyarakat, peran dakwah LDFK adalah untuk membentuk identitas yang baik terhadap adanya aktivitas mahasiswa di dalam LDFK. Memberikan bukti-bukti yang nyata terlihat bahwa LDFK sangatlah bermanfaat bagi masyarakat, misalnya adalah penyelenggaraan seminar-seminar, kajian-kajian di daerah-daerah binaan, pengasuhan Taman Pendidikan Al-Quran bagi anak-anak, dan lain sebagainya. Dengan adanya opini publik yang baik terhadap LDFK, maka masyarakat pun menjadi sadar akan pentingnya keberadaan LDFK, sehingga proses penyampaian Message dari LDFK kepada masyarakat pun jadi lebih mudah. Di tingkat antar LDFK, dakwah yang perlu dilakukan adalah apa yang kita sebut sebagai tolongmenolong dan berlomba-lomba di dalam kebaikan. Adanya agenda forum silaturahmi antar LDFK, misalnya, sangat membantu LDFK-LDFK untuk bisa mengevaluasi program kerja dakwah mereka dan membenahi kekurangannya. Bahkan lebih dari itu, hal ini nantinya bisa menciptakan inovasi-inovasi cemerlang bagi dakwah kampus, terutama di Fakultas Kedokteran. Kesadaran akan pentingnya pengembangan dan perbaikan diri dengan cara belajar ke LDFK yang lain adalah kunci utamanya. Dari LDFK untuk LDFK. Dan yang terakhir, di tingkat sistem. Sistem yang dimaksud di dalam konteks dakwah profesi kedokteran adalah negara dan sistem kesehatannya. LDFK sebagai salah satu pengisi shaf terdepan

|
di dalam dakwah profesi kedokteran harus menyadari bahwa pengekalan dakwah profesi kedokteran hanya bisa dilakukan dengan mempropagandakannya sebagai sebuah sistem yang disahkan oleh negara dan diakui oleh masyarakat. Tanpa adanya pengekalan ini, maka dakwah profesi kedokteran hanya akan terdengar sebagai sebuah wacana publik saja, tanpa ada kekuatan dan konsekuensi hukum yang menaunginya. Dan inilah puncak dari dakwah profesi kedokteran, yaitu terciptanya sistem kesehatan negara yang selaras dengan nilai dan norma yang berdasarkan syariat Islam. Setelah mengetahui siapa saja Receiver dakwah kampus kedokteran, hal berikutnya adalah mengetahui Message yang harus disampaikan. Message di dalam dakwah profesi kedokteran hanya bisa tercapai dengan adanya pendalaman mengenai tsaqafah diniyah yang kontinyu di dalam LDFK. Untuk bisa menyampaikan Message dakwah Islam, LDFK harus mengenali Islam itu sendiri. Dan inilah inti aktivitas utama di dalam LDFK, yaitu kajian tsaqafah diniyah. Tanpa adanya kajian rutin di dalam LDFK, maka LDFK bisa dikatakan hanya sama saja dengan organisasi kampus lainnya yang bergerak di dalam masalah selain dakwah. Kemudian, hal yang perlu diketahui adalah Channel dan Protocol dakwah. Channel mengacu kepada media penyampaian Message, sedangkan Protocol mengacu kepada mekanisme penyampaiannya. Channel dakwah sangatlah banyak. Lalu bagaimana memilihnya? Pemilihan Channel dakwah harus memperhatikan Receiver, dan prinsip Marketing di dalam dakwah itu sendiri. Pertama, LDFK harus mengetahui siapakah Receiver. Kedua, mengetahui kebutuhan dan keinginan Receiver. Ketiga, menentukan Message yang memenuhi kebutuhan dan keinginan Receiver. Keempat, menentukan Channel yang memiliki daya tarik yang kuat. Contoh, LDFK ingin mengadakan kajian umum untuk kampus FK mengenai pandangan Islam terhadap rokok. Receivernya adalah mahasiswa dan pihak fakultas. Nah, apa Channel yang harus dipilih? Pertama, LDFK memilih pembicara dari pihak fakultas sendiri. Kebetulan salah satu jajaran dekan adalah orang yang memiliki tsaqafah diniyah yang baik. Dengan demikian, diharapkan Receiver bisa mengagendakan acara ini sebagai sebuah acara yang harus dihadiri. Kedua, LDFK memilih ruang sidang fakultas sebagai tempat pelaksanaan acara. Dengan demikian, diharapkan Receiver dari pihak fakultas maupun pihak mahasiswa tetap menganggap bahwa acara ini layak dihadiri. Setelah menentukan Channel yang sesuai, saatnya menentukan Protocol penyampaian pesan. Misalnya adalah menentukan bagaimana mekanisme penyampaian materi, apakah dengan talk show, seminar, atau diskusi. Setelah menentukan Channel dan Protocol, langkah berikutnya adalah pelaksanaan acara. Sederhana bukan? Setelah itu, hal yang harus diperhatikan adalah Feedback yang diharapkan. Identitas Sender, isi Message, jenis Channel dan Protocol, dan Receiver sangat menentukan seperti apa Feedback yang nantinya muncul. Jika komposisi dari Sender – Message – Channel dan Protocol – Receiver tepat, maka Feedback yang muncul pun akan sesuai dengan yang diharapkan pula, insya Allah. Namun jika komposisinya sudah tidak tepat, maka kemungkinan munculnya Feedback yang sesuai dengan harapan pun semakin kecil. Dengan memahami konsep dakwah sebagai sebuah diorama komunikasi, harapannya LDFK bisa menyusun gerakan dakwah yang lebih rapi, strategis, efektif, dan efisien. Dengan demikian, diharapkan Syiar LDFK akan berfungsi dengan baik dan mampu mengantarkan dakwah LDFK mencapai tujuannya.

|

Dapat kita lihat bahwa sebagian besar dakwah LDFK melibatkan departemen Syiar. Sebagai departemen utama yang memegang proses dakwah sebagai sebuah komunikasi kolosal, departemen Syiar menjadi penentu apakah tujuan dakwah nantinya bisa tercapai atau tidak. Pengelolaan Syiar yang baik adalah kuncinya. Tanpa pengelolaan yang baik, maka kemungkinan tujuan dakwah LDFK bisa dicapai pun menjadi kecil. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Syiar adalah sebuah sebuah diorama proses komunikasi. Tanpa pengelolaan yang baik, maka Syiar yang baik pun sulit untuk dicapai. Di dalam bab ini akan dibahas mengenai seluk beluk Syiar beserta agenda-agenda Syiar. Namun perlu dipahami bahwa pembahasan yang akan dijelaskan mengenai agenda-agenda Syiar adalah agenda Syiar sebagai media untuk mencapai tujuan dakwah profesi kedokteran, bukan hanya sebagai acara untuk ajang mencari dana. Berikut ini adalah pembahasan mengenai bagaimana cara agar Syiar yang baik bisa dicapai: - Analisis objek dan kebutuhan Untuk bisa menganalisis objek dan kebutuhan Syiar LDFK, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melihat program kerja tahun sebelumnya atau program kerja dari LDFK lainnya kemudian mengevaluasinya. Dengan melihat hal-hal itu, departemen Syiar bisa menentukan objek dan kebutuhan yang sesuai dengan kondisi LDFK di kepengurusan saat itu. Kondisi LDFK yang dimaksud mencakup jumlah pengurus, jumlah anggaran yang disetujui oleh keuangan fakultas, dan rekomendasi, rencana serta strategi yang diusulkan oleh kepengurusan sebelumnya kepada kepengurusan saat ini. - Trilogi LDFK – SC – OC Di dalam penyelenggaraan acara-acara Syiar, hal yang perlu diperhatikan juga adalah konsep acara dan pelaksana acara. LDFK adalah iron stock untuk Steering Committe (SC) dan Organizer Committee (OC) bagi acara-acara Syiar. Di dalam LDFK perlu dipahamkan bahwa setiap pengurus harus menyadari bahwa mereka adalah bagian dari setiap penyelenggaraan acara-acara Syiar. Dengan demikian, perekrutan SC dan OC pun juga menjadi lebih mudah. SC adalah orang-orang yang bekerja sebagai konseptor acara, SC adalah pembuat blue print acara. Menentukan latar belakang, tujuan, manfaat, dan indikator ketercapaian acara. Selain itu SC juga menentukan mengenai komposisi OC suatu acara beserta arahan kerjanya. Setelah blue print dari acara yang ingin diselenggarakan itu selesai dibuat, barulah kemudian OC sebagai eksekutor acara mengambil peran teknis di dalam pelaksanaan acara. SC bisa diambil dari alumni dan pengurus yang memiliki pengalaman di dalam acara yang akan diselenggarakan, serta ketua umum LDFK dan kepala departemen Syiar sendiri. Sedangkan OC bisa diambil dari semua pengurus yang ada. Blue print yang disusun oleh SC tidak harus disusun dari nol, tapi bisa disusun berdasarkan referensi dari kepengurusan sebelumnya dan dari LDFK lainnya. Yang termasuk di dalam blue print acara adalah:  Latar belakang, tujuan, manfaat, dan indikator keberhasilan acara.  Susunan kepanitiaan (komposisi OC)  SOP acara - Manajemen kepanitiaan Setelah blue print siap dieksekusi, langkah berikutnya bagi SC adalah melakukan pengarahan, pembimbingan, dan pemantauan terhadap OC. Di awal, dilakukan pengarahan oleh SC kepada OC mengenai arahan kerja OC. Setelah itu, OC akan membuat timeline pelaksanaan acara, dan SC akan melakukan pembimbingan intensif untuk masing-masing divisi di dalam OC. Dengan adanya pembimbingan, diharapkan SC mampu mengelola

|
gerakan OC sehingga tidak lepas dari blue print dan time line acara. Yang terakhir, adalah pemantuan kontinyu terhadap OC. Pemantauan kontinyu akan memudahkan SC dalam mendeteksi adanya masalah di dalam persiapan dan pelaksanaan acara. - Manajemen agenda regional – nasional – internasional Kelas acara akan menentukan komposisi SC dan OC yang dibutuhkan. Komposisi SC dan OC untuk acara tingkat regional berbeda tingkat nasional, pun antara nasional dengan internasional. Hal penting yang harus dilakukan adalah penyelarasan antara kebutuhan penyelenggaraan acara dengan komposisi OC. Misalnya, acara tingkat nasional akan membutuhkan keberadaan divisi Liaison Officer (LO) untuk menjamu delegasi-delegasi, sedangkan acara regional belum tentu membutuhkan keberadaan LO. Acara tingkat internasional membutuhkan keberadaan divisi Sponsorship yang harus memperhatikan profesionalitas yang baik, dan lain sebagainya. - SOP kepanitiaan Standard Operational Procedure (SOP) adalah kaidah-kaidah pelaksanaan acara yang merupakan bagian dari blue print acara. SOP berfungsi sebagai pemandu OC untuk bisa mempersiapkan dan melaksanakan acara sesuai time line dan supaya tujuan acara bisa dicapai. SOP harus mendefinisikan arahan kerja masing-masing divisi di dalam OC. Dengan demikian OC bisa melaksanakan arahan kerjanya sesuai time line yang disepakati. Selain itu SOP juga harus memberikan referensi time line yang diambil dari SOP di kepengurusan sebelumnya. - Grand Design Syiar Komposisi SC yang direkomendasikan:  Ketua Umum LDFK  Kepala departemen Syiar  Staf ahli acara  Alumni ahli acara Komposisi OC yang disarankan:  Ketua Panitia  Sekretaris  Bendahara I dan Bendahara II  Divisi Kesekretariatan  Divisi Sponsorship  Divisi Konsumsi  Divisi Acara  Divisi Publikasi dan Dokumentasi  Divisi Pemateri dan Pembicara  Divisi Liaison Officer (LO)  Divisi Transportasi dan Akomodasi  Divisi Humas dan Perijinan  Divisi Perlengkapan dan Dekorasi

Syiar Universal adalah syiar yang memilih Receiver dari kalangan masyarakat umum. Urgensi Syiar Universal adalah untuk menciptakan identitas LDFK terhadap publik, membentuk opini publik, dan menciptakan publik yang mendukung gerak dakwah LDFK. Identitas LDFK terhadap publik yang harus dibentuk adalah pengenalan LDFK terhadap publik dan pengakuan publik akan manfaat dari keberadaan LDFK. Setelah hal itu tercapai, maka LDFK dapat mengarahkan publik dengan opini-opini yang diwacanakan oleh LDFK mengenai suatu isu, dengan demikian diharapkan publik akan

|
menjadikan LDFK sebagai referensi yang diakui dalam menilai suatu isu. Dan yang terakhir, adalah terciptanya publik yang mendukung gerak dakwah LDFK. Dukungan ini bisa berbentuk dukungan nonfisik (misalnya rasa simpati), dukungan perijinan, dukungan finansial, dukungan keamanan, dan lain sebagainya. Dengan publik yang mendukung LDFK, maka diharapkan kinerja dakwah LDFK bisa pun berjalan dengan lebih baik. Lingkup kerja dari Syiar Universal adalah masyarakat, baik masyarakat lokal, nasional, ataupun internasional. Dengan demikian, handicap dari Syiar Universal memang sangat beragam, tergantung dari jenis Receiver-nya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa analisis Receiver di dalam Syiar Universal sangatlah penting. Di dalam Syiar Universal, tema yang dipilih sebagai Message haruslah memenuhi kebutuhan dan keinginan Receiver. Pilihan utama dalam menyusun tema di dalam Syiar Universal adalah dengan cara mengambil tema umum yang dibahas dalam ranah kedokteran dan Islam. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tema umum yang merupakan topik yang sedang booming di kalangan Receiver. Misalnya, LDFK ingin mengadakan seminar yang Receiver-nya adalah siswa SMA, tema yang dipilih adalah masalah pacaran. Kedua, menentukan tinjauan kedokteran dan tinjauan Islam yang sesuai dengan tema dan memiliki daya tarik yang kuat. Misalnya, LDFK kemudian memilih tinjauan kedokteran kejiwaan dan fiqih pergaulan dalam membahas tema ini. Setelah menentukan tema, langkah berikutnya adalah memilih Channel dan Protocol yang sesuai. Di dalam Syiar Universal, biasanya digunakan seminar, simposium, dan workshop sebagai Channel. Setelah dipilih Channel yang sesuai, langkah berikutnya adalah menentukan Protocol, yaitu memilih metode penyampaiannya, hal ini biasanya ditentukan oleh divisi Pemateri dan Pembicara.

Tentu saja, sebagai salah satu pengisi shaf terdepan di dalam dakwah profesi kedokteran, sebagian besar agenda Syiar LDFK adalah agenda-agenda yang termasuk di dalam Syiar Akademi dan Profesi. Syiar Akademi dan Profesi adalah metode syiar yang mengintegrasikan kajian Islam dengan hal-hal yang berbau akademik atau profesi dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Dengan adanya Syiar jenis ini diharapkan LDFK bisa ikut menggerakkan masyarakat akademika FK dan profesi kedokteran dalam mendukung upaya untuk mencapai tujuan dakwah profesi kedokteran. Lingkup kerja Syiar Akademi dan Profesi adalah mahasiswa FK, dokter muda, dokter, dokter spesialis, dan tenaga kesehatan. Feedback yang diharapkan adalah adanya sikap yang mendukung upaya untuk mencapai tujuan dakwah profesi kedokteran. Syiar Akademi tidak melulu hanya membahas masalah akademik saja. Perlu kita sadari bahwa salah satu tujuan Syiar Akademi adalah menciptakan simpatisan-simpatisan yang bisa membantu atau bahkan berkontribusi dalam dakwah LDFK. Agenda Syiar Akademi utama yang harus diselengggarakan LDFK adalah kajian rutin, yang memiliki kurikulum yang baik. Dengan demikian LDFK bisa memperkirakan pencapaian tsaqafah diniyah pengurus dari waktu kewaktu. Kurikulum ini harus mencakup tsaqafah diniyah secara umum, dan kedokteran Islam sebagai salah satu core competence pengurus LDFK. Adanya Kurikulum Kedokteran Islam (KKI) diharapkan bisa menjadikan seminimalnya pengurus LDFK memahami tentang Kedokteran Islam, dan tinjauan Islam terhadap

|
kesehatan dan sistem kesehatan. Dengan demikian LDFK diharapkan diakui oleh masyarakat akademika FK sebagai referensi untuk meninjau suatu masalah kedokteran dari sisi kedokteran Islam. Sedangkan pada Syiar Profesi, target utamanya adalah menciptakan masyarakat profesi kedokteran yang menjalankan tugas profesinya selaras dengan nilai dan norma Islam. Untuk Syiar jenis ini, bahan kajian yang direkomendasikan adalah tema-tema kesehatan atau sistem kesehatan. Tinjauan yang dipilih haruslah memperhatikan prinsip keilmiahan. Kemudian diperlukan pula tinjauan Islam yang sesuai, dan ilmiah. Jenis acara yang biasa dipilih untuk jenis Syiar Akademi adalah kajian, seminar lokal, diskusi, dan workshop. Sedangkan untuk Syiar Profesi adalah simposium dan workshop.

Syiar Media memiliki berbagai Channel untuk bisa dipilih. Pemilihan Channel di dalam Syiar Media cukup dengan melihat seberapa banyak Receiver yang memperhatikan Channel yang akan dipilih dan seberapa kuat perhatiannya. Contoh mudahnya, saat LDFK ingin melakukan dakwah di dunia internet, mana yang harus dipilih sebagai Channel, apakah media sosial atau blog? Nah, tinggal melihat perilaku Receiver terhadap Channel, kan? Lalu kenapa harus ada Syiar Media? Adanya Syiar Media diharapkan dapat memanfaatkan perilaku Receiver – dalam hal ini adalah intensitas dan frekuensi perhatian Receiver terhadap suatu Channel yang bisa dipilih. Misalnya, saat di ruang kuliah, departemen Syiar bisa mengedarkan sebuah buku tulis, yang di dalamnya mahasiswa bisa menulis pertanyaan-pertanyaan tentang masalah agama. Kemudian, setelah pertanyaan itu terkumpul, pertanyaan itu dikaji dan ditanyakan kepada ahlinya (misalkan Ustadz atau Ustadzah), dan jawaban pertannyaan tadi ditempelkan di mading mushalla atau mading kampus. Mudah kan? Contoh lain adalah memanfaatkan perilaku mahasiswa yang aktif di dalam media sosial seperti twitter. Akun twitter LDFK atau departemen Syiar bisa saja memberikan tweets yang menarik bagi mahasiswa FK. Pastikan memilih tweets yang isinya menarik, dan tidak terlalu mengkritis. Dengan bahasa yang mudah diserap, bersahabat, dan mengena. Dan lain sebagainya. Selain memiliki pilihan Channel yang sangat banyak, Syiar Media juga memiliki jenis Receiver yang sangat beragam. Yang harus diperhatikan adalah seberapa besar intensitas dan frekuensi perhatian Receiver terhadap Channel dan Message yang dipilih. Program kerja yang dipilih di dalam Syiar Media antara lain: - SMS Taushiyah - Mading - Majalah - Buletin (flyers) - Akun media sosial - Blog - Website resmi - Dan lain lain

|

Syiar Kemasjidan yang diupayakan oleh departemen Syiar LDFK adalah Syiar yang bertujuan untuk memakmurkan masjid dan memperkuat masjid sebagai basis kekuatan umat Islam. Adanya Syiar Kemasjidan oleh LDFK diharapkan bisa menjadi salah satu pilar utama di dalam menegakkan dakwah secara umum. Banyaknya masjid yang belum terberdaya dengan baik merupakan salah satu penyebab lemahnya kekuatan dan kesatuan umat Islam. Peran LDFK di dalam Syiar Kemasjidan bisa berupa pembinaan masjid, pengadaan masjid sebagai Taman Pendidikan Al Qur’an, pengadaan kajian rutin mingguan untuk ibu-ibu sekitar atau bapak-bapak, dan acara-acara hari raya.

Syiar Kemuslimahan merupakan salah satu ranah Syiar yang memerlukan perhatian khusus. Syiar Kemuslimahan menjadi perhatian khusus dikarenakan sebagian besar kepentingan kemuslimahan hanya bisa ditangani oleh para muslimah sendiri. Selain itu Syiar Kemuslimahan mengambil peranan yang tidak bisa dilaksanakan oleh Syiar secara umum. Perlu dita pahami bahwa adanya Syiar Kemuslimahan sangatlah penting untuk mendidik dan membimbing muslimah, khususnya di FK. Beberapa tujuan utama Syiar Kemuslimahan adalah untuk meningkatkan tsaqafah diniyah muslimah, menciptakan masyarakat muslimah yang baik, dan mempersiapkan muslimah untuk kelak bisa menjadi basis utama dalam pendidikan anak-anak Islam. Lingkup kerja Syiar Kemuslimahan sangatlah banyak. Jenis Channel dan Protocol yang beragam merupakan keuntungan bagi Syiar Kemuslimahan. Agenda-agenda Syiar Kemuslimahan bisa dilaksanakan dalam bentuk seminar kemuslimahan, workshop, talk show, diskusi kelompok kecil, dan lain sebagainya. Syiar Kemuslimahan tidak hanya bergerak di ranah Syiar saja. Syiar Kemuslimahan juga harus terintegrasi dengan tarbiyah dan manajemen kepengurusan. Untuk itu, Syiar Kemuslimahan harus memiliki blue print dan SOP yang baik yang mendefinisikan bagaimana Syiar Kemuslimahan itu dilaksanakan dan bagaimana ia terintegrasi dengan komponen yang lain, dengan demikian harapannya Syiar Kemuslimahan mampu berfungsi dengan baik dan mencapai tujuannya. Di dalam Syiar Kemuslimahan juga disarankan terdapat Kurikulum Kemuslimahan, yang di dalamnya terdapat core competence bagi seorang muslimah yang terlibat di dalam dakwah profesi kedokteran. Dengan demikian LDFK bisa memantau dan mengevaluasi pelaksanaan Syiar Kemuslimahan.

Hampir sama dengan Syiar Universal, Syiar Sosial dan Kemasyarakatan memiliki jenis Receiver yang hampir sama, yaitu masyarakat. Hanya saja, di dalam Syiar Sosial dan Kemasyarakatan Receiver yang diutamakan adalah masyarakat sekitar kampus. Syiar Sosial dan Kemasyarakatan bisa terintegrasi dengan Syiar Kemasjidan. Tujuan utama dari Syiar Sosial dan Kemasyarakatan adalah memberikan manfaat sosial kepada masyarakat sekitar, memberikan pembinaan-pembinaan keagamaan kepada masyarakat sekitar, dan menciptakan masyarakat sekitar yang Islami.

|
Lingkup kerja untuk Syiar jenis ini juga sangat banyak. Syiar jenis ini juga memiliki banyak Channel dan Protocol yang bisa dipilih. Untuk tahap pendekatan dengan sosial dan masyarakat bisa dimulai dengan acara-acara kemasyarakatan seperti pengobatan gratis, kerja bakti kampung, penyuluhan kesehatan, dan lain-lain. Kemudian, langkah berikutnya adalah melaksanakan Syiar Masjid. Setelah itu, LDFK bisa untuk memulai agenda-agenda Syiar yang lebih mengkerucut kepada pembinaan dan peningkatan tsaqafah diniyah masyarakat.

|

Aspek pra-Mula Fokus dan Lingkup Agenda Fokus Agenda Parameter Penguatan Kader Inti Dakwah Kultural Mula

Level LDK Madya Mandiri

Fungsi Da'awi

Optimalisasi Fungsi Da'awi Basis Mahasiswa

Ranah Amal Siyasi & Fanni Basis Civitas Akademika

Lingkup Agenda

Dakwah Struktural

Sumber Daya Manusia Kuantitas Kader Parameter Terdapat Inisiator Syarat Cukup Lembaga Formal Islamiyah Da'iyah Sebaran Kader setiap Fakultas Sebaran Kader setiap Lini

Kompetensi Kader

Islamiyah Da'iyah

Ketokohan Kampus

Kepemimpinan Kampus

|
Perangkat Organisasi Struktur Parameter Informal Terstruktur Al-Quran dan Sunnah Formal Sederhana AD/ART Struktur Fungsi Da'awi GBHD Struktur dalam Struktur Rencana Strategis

Pedoman Dakwah dan Organisasi

Kesekretariatan Sarana dan Prasarana Pengarsipan Belum Ada Sekretariat Informal Pendataan Administrasi Sekretariat Resmi Dokumentasi Arsip Sarana Memadai

Parameter

Belum Ada

Sistem Pengarsipan

Da'awi (Syi'ar dan Kaderisasi) Kaderisasi Parameter Pembentukkan Kader Inti Kultural dan Fardhiyah Kaderisasi Kualitas Struktural Kaderisasi Kuantitas Syi'ar Basis Spesialisasi Kaderisasi Opinion Leader

Syi'ar

Eksternal Lembaga Eksistensi Lembaga Parameter Belum Ada Skala Kampus Lingkungan Sekitar Elemen DK Skala Daerah Jaringan Nasional

Jaringan

Birokrat Kampus

Alumni, LDK, Jaringan Internal Kampus Regional

|
Keuangan dan Pendanaan Sistem Keuangan Parameter Belum Ada Sistem Keuangan Sederhana Swadaya Internal (Surplus) Sistem Keuangan Rinci Akuntabel dan Transparan

Sumber Dana

Sunduqu Juyubuna (Balance)

Eksternal (Surplus)

Passive Income (FF)

Puji syukur kahadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayahNya. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahcurahkan kepada Rosulullah SAW, keluarga, para sahabat dan para penegak risalah dakwah hingga akhir zaman. Dalam rangka memperbaiki pendataan LDFK yang menjadi anggota FULDFK, maka kami selaku pengurus Dewan Eksekutif Pusat (DEP) FULDFK membuat formulir ini untuk kelengkapan data keanggotaan. Formulir ini akan berlaku sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh LDFK untuk menjadi anggota FULDFK. Data ini juga akan digunakan oleh departemen terkait sebagai bahan pertimbangan untuk pengklasifikasian status LDFK dan juga sebagai bahan pertimbangan untuk pendampingan. Kami sangat berharap data-data yang kami peroleh akan dapat bermanfaat bagi kelangsungan dakwah kita bersama. Oleh karena itu kami memohon kepada pihak yang mengisi formulir ini untuk mengisi dengan sebaik-baiknya dan sejelas-jelasnya. Demikian atas perhatiaannya kami ucapkan jazakumullah khoiron katsiiron. Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh
Diisi, Pada hari / tanggal : Nama pengisi Jabatan : :

*Formulir ini diisi oleh ketua LDFK atau pihak yang diberi kuasa oleh ketua LDFK bersangkutan Tandatangan ( )

|
QUESIONER PROFIL LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN I. 1) 2) 3) IDENTITAS LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS Nama LDFK : Nama Universitas : Alamat LDFK : a. Kode pos : b. Telepon/Fax. : c. Email : d. Homepage/Website : Kabupaten/Kota : Provinsi : Pulau : Tahun berdiri : CONTACT PERSON Nama : Alamat : Amanah/Jabatan : No Kontak : Email : Homepage/Website : EKSISTENSI LEMBAGA Apakah LDFK Anda sudah diakui secara syah oleh pihak birokrasi kampus ditingkat Fakultas/Universitas ? □Sudah □Belum Keterangan: Bagaimana hubungan LDFK Anda dengan pihak birokrasi kampus? □Baik □Cukup □Kurang Keterangan: Bagaimana tingkat kemudahan LDFK Anda dalam memperoleh dana dari pihak birokrasi kampus? □Mudah □Cukup □Kurang Keterangan: Bagaimana tingkat kemudahan LDFK Anda dalam menggunakan fasilitas-fasilitas yang dimiliki pihak birokrasi kampus? □Mudah □Cukup □Kurang Keterangan: Bagaimana partisipasi dosen terhadap kegiatan LDFK Anda? □Baik □Cukup □Kurang Keterangan: Bagaimana partisipasi mahasiswa terhadap kegiatan LDFK Anda? □Baik □Cukup □Kurang Keterangan:

4) 5) 6) 7)

II. 8)

9)

10)

11)

12)

13)

|
III. SARANA DAN PRASARANA 14) Apakah LDFK Anda sudah memiliki sekretariat tetap? □Sudah □Belum 15) Fasilitas apa saja yang dimiliki LDK Anda? (boleh diisi lebih dari 1) □Komputer (jumlah… buah) □Faximile □Ruang rapat □Internet □Telepon □Ruang pertemuan □Lainnya, sebutkan… IV. JARINGAN 16) Apakah Anda mempunyai hubungan jaringan dengan organisasi intrafakultas yang mampu membantu Anda dalam mencapai tujuan organisasi? □Sudah (sebutkan:…………………) □Belum 17) Jika ya, bagaimana kualitas hubungannya? □Baik □Cukup □Kurang Keterangan: 18) Apakah ada program kerja Anda yang dikerjakan bersama-sama melalui konsolidasi bersama elemen intra fakultas lainnya? □Ada □Tidak 19) Jika ada, sebutkan contoh program kerja tersebut! Contoh: Khitana masal ………………………………………………. 20) Apakah ada program kerja Anda yang kerjakan bersama-sama melalui konsolidasi bersama elemen dakwah antar fakultas/kampus? □Ada □Tidak 21) Jika ada, sebutkan contoh program kerja tersebut! ……………………………………………. V. ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA ( AD / ART ) 22) Apakah LDFK Anda sudah memililki AD/ART? □Sudah □Belum 23) Jika belum, apa alasannya? ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… VI. STRUKTUR 24) Apakah LDFK Anda sudah memiliki struktur organisasi yang jelas? □Sudah □Belum 25) Jika belum, apa alasannya? ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… VII. KADERISASI 26) Apakah LDFK anda sudah memiliki alur kaderisasi yang tersusun dalam waktu tertentu? □Sudah □Belum 27) Jika belum, apa alasannya?

|
…………………………………………………………….. …………………………………………………………….. 28) apakah LDFK anda sudah memiliki pelatihan-pelatihan manajemen mahasiswa? □Sudah → Lanjut ke 29 □Belum → Lanjut ke 30 29) Apakah pelatihan manajemen yang dilakukan LDFK anda mempunyai konsep yang sistematis? □Ya □Tidak 30) Apakah untuk mengikuti suatu pelatihan manageman yang dilakukan LDFK Anda diperlukan syarat harus menempuh pelatihan manajeman pada tahap sebelumnya? □Ya □Tidak 31) Apakah LDFK Anda memiliki program untuk membina kualitas keislaman dari mahasiswa muslim? □Sudah □Belum Jika belum, apa alasannya? ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… 32) Untuk membina kualitas keislaman dari mahasiswa muslim, menurut Anda materi apa yang paling bagus untuk diberikan? a. ………………………………………………………… b. ………………………………………………………… c. ………………………………………………………… d. ………………………………………………………… e. ………………………………………………………… BILA LDFK ANDA MEMILIKI PROGRAM UNTUK MEMBINA KUALITAS KEISLAMAN DARI MAHASISWA MUSLIM 33) Apa bentuk program untuk pembinaan keislaman tersebut? (boleh diisi lebih dari 1) □Dauroh (training Islam) □Kajian-kajian umum □Lainnya Sebutkan…………………………………………… 34) Bagaimana respon mahasiswa terhadap program yang LDF anda berikan? ……………………………………………………………. …………………………………………………………… 35) Apakah Anda mempunya program mentoring (kajian keIslaman berbentuk kelompok dengan dipandu mentor)? □Sudah □Belum 36) Jika belum, apa alasannya? …………………………………………………………… …………………………………………………………… …………………………………………………………… 37) Apakah program mentoring tersebut sudah diakui oleh pihak birokrasi kampus? □Sudah → Lanjut ke 37

|
□Belum → Lanjut ke 39 Apakah program mentoring tersebut dikelola secara khusus oleh bidang atau departemen tertentu? □Ya □Tidak 39) Sebutkan bidang atau departemen yang mengelola mentoring tersebut! BILA LDFK ANDA TIDAK MEMILIKI PROGRAM MENTORING 40) Apakah ada rencana untuk mengelola program mentoring? □Ya □Tidak Apa alasan/kendala sehingga LDFK anda tidak memiliki program mentoring? Sebutkan,…………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… VIII. SYIAR 41) Apakah ada program yang dibuat untuk mahasiswa secara umum? □Ya □Tidak Apa alasan/kendala sehingga LDFK anda tidak memiliki program syiar? Sebutkan,…………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… 42) Sebutkan program syiar apa saja yang dilakukan oleh LDFK anda? (skala nasional/wilayah/universitas/fakultas) ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… Bagaimana respon mahasiswa terhadap program syiar yang LDF anda berikan? ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… 43) Apakah program yang dilaksanakan sudah terorganisasikan dengan baik? □Baik □Cukup □Kurang IX. KOMPETENSI 44) Apakah LDFK Anda sudah memiliki kegiatan yang sesuai dengan kompetensi keilmuan di fakultas Anda? □ Sudah □ Belum Jika sudah, bentuknya seperti apa? □ Insidental dan belum terorganisasi dengan baik □ Masih meminta bantuan dari luar untuk pengadaannya 38) □ Sudah ada bidang khusus di LDFK yang menangani Jika sudah ada bidang khusus yang menangani, seperti apakah bentuknya? (contoh : Tim Bantuan Medis, Kajian Kedokteran Islam, dll). Tolong dijelaskan secara singkat ! ……………………………………………………………… ………………………………………………………………

45)

|

43)

X. 46) 47) 48) XI. 49) 50) 51)

Apakah LDFK Anda memiliki afiliasi dengan organisasi kedokteran lainnya? (baik yang bersifat ke-Islaman seperti BSMI, Mer-C maupun yang lainnya). Tolong sebutkan ! ……………………………………………………………… ……………………………………………………………… POLA PERGANTIAN KEPENGURUSAN Apakah LDFK Anda telah memiliki alur pergantian kepengurusan yang jelas? □Sudah □Belum Berapa jumlah pengurus yang resmi tercatat dalam kepengurusan? Berapa persen dari jumlah total pengurus resmi tersebut yang aktif? PERMASALAHAN UMUM DAN PRIORITAS AKTIVITAS LDFK Apakah kendala utama yang dialami LDFK Anda dalam pergerakan dakwahnya ? Sebutkan hal mendesak dan penting yang LDFK Anda butuhkan saat ini ! Dari aktivitas di bawah ini isilah sesuai bobot prioritas aktivitas yang ada di LDFK Anda dengan melingkari angkanya. sangat prioritas sangat tidak prioritas

KETERANGAN :

1 2 3 4 5 6 Membuat konsep dan jenjang alur kaderisasi 1 2 3 4 5 6 b. Membuat pola rekruitmen yang baik dan sistematis 1 2 3 4 5 6 c. Memperjuangkan status legal formal LDK 1 2 3 4 5 6 d. Memperbanyak pengurus 1 2 3 4 5 6 e. Mengadakan aktivitas dakwah yang bervariatif 1 2 3 4 5 6 f. Memperluas jaringan eksternal kampus 1 2 3 4 5 6 g. Mengusahakan sekretariat tetap 1 2 3 4 5 6 h. Mengusahakan sarana komunikasi 1 2 3 4 5 6 i. Peningkatan kualitas pemahaman dan keislaman pengurus 1 2 3 4 5 6 j. Melibatkan birokrat kampus ke dalam kegiatan LDFK 1 2 3 4 5 6 44) Pada periode kepengurusan saat ini LDFK Anda sedang mengkonsentrasikan pada apa? NB : Harap di lampirkan : a. Sejarah singkat LDFK anda a.

|
b. c. d. e. f. Alur kaderisasi (jika ada, mulai dari perekrutan-pengurus-pengurus inti-pasca pengurus) Struktur LDFK dan Job Description Program kerja LDFK SK legalitas LDFK (jika ada ) SK legalitas Mentoring ( jika ada )

1. Belum memiliki LDFK
Parameter I Kader Ada kader penggerak Tidak ada yang mau diajak II Ada kader penggerak Level LDFK III Sudah ada forum kader

Objek Dakwah

Ada yang berminat

Ada yang berminat dan ke depannya bersedia menjadi pengurus Sudah ada program tetap

Program

Belum ada program Tidak ada dukungan

Program insidental, tapi tidak tetap Ada dukungan dari dosen non- birokrat

Dukungan dari civitas

Ada dukungan dari birokrat

2. Sudah memiliki LDFK
Parameter Pemula Lingkup Kerja Fokus Kegiatan Personal Penguatan kader inti Level LDFK Madya Antar Personal (tim) 1. 2. Menambah jumlah kader Syi’ar Mandiri Tim dan jaringan 1. Inovasi untuk syi’ar dan program-program LDK 2. Ekspansi da’wah (perluasan jaringan & lahan da’wah) Kader inti dan hampir semua segmen civitas akademika (mahasiswa, dosen, birokrat kampus)

Eksistensi lembaga (Basis sosial yang mendukung da’wah LDK)

Kader inti LDK

Kader inti dan beberapa segmen mahasiswa (pendukung, simpatisan)

|
Kuantitas kader Kuantitas : sejumlah kader inti Kuantitas : sejumlah kader inti dan mahasiswa muslim dari segmen pendukung da’wah 1. 2. 1. 2. Sudah memiliki sekretariat tetap Fasilitas terbatas Intra kampus : sudah ada Ekstra kampus : sudah ada namun kualitasnya belum baik Kuantitas : sejumlah kader inti dan mahasiswamuslim dari segmen pendukung da’wah

Sarana&prasarana

1. 2. 1.

Jaringan

2.

Belum memiliki sekretariat tetap Fasilitas terbatas Intra kampus : belum ada atau sudah ada tetapi kualitasnya belum baik Ekstra kampus : belum ada

1. 2. 1. 2.

Sudah memiliki sekretariat tetap Fasilitas memadai Intra kampus : sudah ada Ekstra kampus : sudah ada, kualitasnya baik

Struktur Kaderisasi

Masih sederhana Belum memiliki alur kaderisasi yang jelas

Cukup jelas Telah memiliki alur kaderisasi, namun belum sistematis dan belum stabil Ada dan sudah dikelola oleh bidang tersendiri

Jelas Telah memiliki alur kaderisasi yang jelas, sistematis dan stabil

Core Competence

Ada, namun belum terkoordinasi dengan baik

Ada dan sudah dikelola oleh bidang tersendiri serta sudah mampu untuk bekerja sama dengan pihak luar atau sudah menjadi ciri khas dari lembaga itu.

Dakwah kampus merupakan sarana yang mutlak diperlukan saat ini, dimana tantangan di dunia kampus memerlukan punggawa-punggawa dakwah yang berilmu, tangguh, dan progresif. Namun, seperti yang dikatakan oleh sayyidina Ali r.a. kebenaran yang tidak terkoordinir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terkoordinir maka pengorganisasian yang teratur dari Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (LDFK) yang notabenenya merupakan organisasi formal dalam bidang dakwah FK juga mutlak diperlukan. Untuk mencapai impian FULDFK mengembangkan kedokteran Islam di Indonesia, diperlukanlah targetan jelas tentang kaderisasi di setiap LDFK se-Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan Standar Mutu Kader (SMK) bersama dengan mengacu kepada SMK yang diterapkan Universitas Gadjah Mada. Latar belakang dibentuknya SMK bersama ini adalah adanya keberagaman mutu kader dimana muncul stigma bahwa kader SKI lebih ditekankan pada kompetensi dinniyah

|
sedangkan skill organisasi (profesionalisme lembaga) dirasakan masih kurang. Di sisi lain, Lembaga Dakwah terkenal dengan skill organisasi yang cukup mumpuni di samping kompetensi dinniyah yang juga baik. Muatan dalam alur kaderisasi masing-masing SKI pun masih cukup beragam. Ada yang sudah baik, namun ada juga yang sepertinya butuh pembenahan lagi. Di samping itu, jumlah kader yang tidak sebanding dengan banyaknya amanah dakwah di lapangan menjadi tantangan tersendiri di bidang kaderisasi masing-masing lembaga. Oleh karena itu, dengan adanya SMK ini diharapkan adanya sutau sistem kaderisasi yang efektif di tataran fakultas kedokteran se-Indonesia. Yang dimaksud efektif di sini adalah kondisi dimana setiap SKI memiliki suatu jalur kaderisasi yang baku dan mutu kader yang terstandardisasi. Namun, usaha-usaha ini dalam pelaksanaannya tetap menyesuaikan kultur dari masing-masing universitas / wilayah. Semoga dengan SMK ini menjadi salah satu jalan mewujudkan setiap LDFK di Indonesia yang memiliki peranan sentral dalam membentuk universitasnya diridhoi Allah SWT. Ini semua mustahil dapat terwujud kecuali dengan adanya kerja nyata bersama (amal jama’i) dari semua elemen yang peduli terhadap dakwah FK.

Dibentuknya SMK memiliki beberapa tujuan yaitu: 1. Adanya standar/target/acuan yang jelas seorang kader dakwah Fakultas Kedokteran dalam berproses menjadi da’i; 2. Membentuk kader-kader dakwah yang nantinya siap diterjunkan ke lahan-lahan dakwah kedokteran seluruh Indonesia; 3. Meminimalisir kesenjangan yang amat jauh antar kualitas seorang kader dengan kader lainnya; disuatu daerah dengan daerah lainnya; disuatu Universitas dengan Universitas lainnya. 4. Membantu pengembangan kualitas kader yang akan berpengaruh pada kualitas kerja dakwah di Fakultas Kedokteran masing-masing. Terdapat lima penjenjangan dalam setiap kader LDFK, yaitu: 1. Mahasiswa muslim, merupakan objek dakwah utama LDFK 2. Anggota Muda, merupakan setiap mahasiswa muslim yang mendaftar sebagai anggota LDFK dan diamanahkan pada program-program yang dilaksanakan LDFK 3. Kader Guna (Anggota I), merupakan setiap kader muda LDFK yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus Latihan Kepemimpinan I dan kemudian diamanahkan sebagai staff LDFK 4. Kader Karya (Anggota II), merupakan setiap kader guna (anggota I) LDFK yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus Latihan Kepemimpinan II dan kemudian akan diproyeksikan sebagai staff ahli maupun pengurus harian (PH) LDFK 5. Kader Strategis (Anggota III), merupakan setiap kader karya (anggota II) LDFK yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus Latihan Kepemimpinan III dan kemudian akan diproyeksikan sebagai pengurus harian (PH) maupun mas’ul (ketua) LDFK

|
Dalam perjalanan untuk menuju perjenjangan tersebut terdapat lima hal atau kegiatan yang harus dilakukan, yaitu: 1. Rekrutmen Rekrutmen merupakan metode perekrutan terhadap mahasiswa muslim sebagai calon anggota baru LDFK sebagai sarana untuk melanjutkan estafet perjuangan LDFK yang dilakukan baik secara terbuka (open recruitment) maupun secara tertutup (close recruitment). 2. Latihan Kepemimpinan I Latihan Kepemimpinan I merupakan latihan kepemimpinan formal yang ditujukan bagi anggota anggota muda LDFK dengan muatan dan alur muatan sebagai berikut:

Kons Problem ep atika Diri Umat 3. Latihan Kepemimpinan II

Konse p

Amal Jama’i

Wawas an
ke-LDFK-

Latihan Kepemimpinan II merupakan latihan kepemimpinan formal yang ditujukan bagi anggota anggota I LDFK dengan muatan dan alur muatan sebagai berikut:

Analisis Sirah Nabi

Analisis sosial

Desain Kegiatan

4. Latihan Kepemimpinan III Latihan Kepemimpinan III merupakan latihan kepemimpinan formal yang ditujukan bagi anggota anggota II LDFK dengan muatan dan alur muatan sebagai berikut:

Konsep Tauhid

Problemat ika Global Umat

Perancang an Renstra Lembaga

Sinergisit as Dakwah

5. Penjagaan dan Pembinaan Penjagaan dan pembinaan merupakan kegiatan yang dilakukan semenjak anggota LDFK mendaftarkan dirinya hingga pasca lembaga. Kedua hal ini dilakukan untuk mencapai standar mutu kader (SMK) dengan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi LDFK. Namun, ada stadardisasi minimum dalam muatan penjagaan dan pembinaan, yaitu: - Penjagaan dan pembinaan 1  Materi dasar Islam (Aqidah, Ibadah)  Training jasadiah  Materi akhlaq - Penjagaan dan pembinaan 2  Fiqh dakwah  Dakwah thulabiy  Dakwah Core Competence

|
- Penjagaan dan pembinaan 3  Leadership  Manajemen konflik  Ideologi, pemikiran Islam, Islam sesat, dan non Islam Agar proses kaderisasi dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, dibutuhkanlah beberapa perangkat/ sarana penjagaanaan dan pembinaan antara lain: 1. Internal LDFK - Struktur yang bertanggung jawab atas berjalannya kaderisasi LDFK, misal Biro Khusus Kaderisasi atau departemen PSDM. - Semua pengurus LDFK untuk menjalankan kaderisasi kolektif LDFK - Konsep Sistem Kaderisasi LDFK dan FULDFK serta semua produk turunannya - Semua perangkat hukum lain untuk menunjang proses kaderisasi ldfk, misal AD/ART - Program kerja LDFK 2. Eksternal - Kepanitiaan - Acara kaderisasi LDFK & FULDFK - Pembinaan LDFK yang mengundang anggota LDFK lain - Halaqah lembaga - Mantuba/ tugas baca - Kajian diluar LDFK  Kajian manhaj  Kajian Rutin di masjid/ pesantren terdekat  Dsb

|

U

ntuk mewujudkan kader dan pengurus yang memenuhi kriteria muwashshafat memang akan selalu menemui banyak tantangan. Agar ke 10 muwashafat itu dapat melekat pada kader dan pengurus memang harus ada komitmen dan tindakkan nyata baik dari LDFK maupun dari diri kader sendiri. Sekuat apapun LDFK berusaha namun jika kader tidak mau menginternalkan nilai-nilai muwashshafat ini maka hasilnya juga tidak akan bisa maksimal. Sebelum mengejawantahkan Muwashshafat maka kita perlu tahu dulu komponen-komponen muwashshafat.
No 1. Muwashshafat Salimul ‘aqidah (‘aqidah yang bersih) Kader Muda a. Memahami hakikat ilmu tauhid b. Selalu meluruskan niat dalam melakukan sesuatu c. Menjaga diri dari kemusyikan (tidak berhubungan dengan jin dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kemusyrikan) d. Mengingat Kader Madya a. Point Kader Muda b. Senantiasa bertaqarrub dengan Allah c. Merasakan ma’iyyatullah d. Dzikrullah di setiap waktu dan keadaan e. Memahami urgensi amal jama’i f. Mengetahui pergerakan organisasiorganisasi yang memusuhi Islam g. Memahami dan meyakini qadha dan qadar Kader Purna a. Point Kader Madya

|
adanya hari kiamat e. Mengenal Allah f. Mengenal Rasul g. Mengenal Al Qur’an h. Mengenal hakikat Manusia i. Memahami ma’na syahadatain j. Mengenal Dinul Islam k. Tidak ikut merayakan hari-hari besar agama lain dan acara-acara yang menjauhkan diri dari Allah SWT a. Melaksanakan shalat 5 waktu dan shaum Ramadhan b. Melaksanakan shalat berjama’ah min. 2x / hari c. Melaksanakan tilawah 10 hal / hari d. Melaksanakan shalat sunnat rawatib 3x / hari e. Melaksanakan shalat QL min. 1x / pekan f. Memiliki hapalan Qur’an min. surat Adh Dhuha- An Nas g. Melaksanakan shaum sunnat min. 3x / bulan h. Membaca Al Ma’tsuraat min. 2x / pekan h. Senantiasa berhusnudzon (berprasangka baik)

2.

Shahihul ‘ibadah (ibadah yang benar)

a. Point kader muda b. Membuat resume buku “tazkiyyatun nafs” c. Shalat berjama’ah (di masjid): 4 kali/hari untuk ikhwan d. Tilawah Al Qur’an 20 hal (1 juz)/hari e. Shalat sunnah rawatib 4 kali/hari f. Qiyamullail: 3 kali/pekan g. Al Ma’tsurat: 5 kali/pekan h. Menjaga hafalan Al Qur’an: 20 hal (1 juz) i. Mengikuti Tatsqif min. 1x / bulan j. Menjaga hafalan hadits Arba’in: 5 buah

a. Point Kader Madya b. Tilawah Al Qur’an dengan bacaan yang baik (tahsin): 1,5 juz/hari c. Shalat sunnah rawatib 5 kali/hari d. Qiyamullail: 6 kali/pekan e. Al Ma’tsurat: 7 kali/pekan f. Menjaga hafalan Al Qur’an: 40 hal (2 juz) g. Tiap 1 pekan sekali melakukan tadabbur Al Qur’an h. Menjaga hafalan hadits Arba’in: 10 buah i. Menjaga hafalan hadits Riyadhus Shalihin: 20 buah j. Mengikuti Tatsqif min. 2x / bulan k. Shalat berjama’ah (di

|
i. Melaksanakan shalat Dhuha min. 1x / pekan a. Tidak dusta b. Memenuhi janji c. Menjaga adab pergaulan Islami d. Menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan e. Menyayangi yang muda dan menghormati yang tua f. Menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah g. Tidak berkhalwat dengan yang bukan mahram h. Tidak pacaran i. Mengenal karakter temanteman sekelompoknya (usroh Gamais) j. Tidak takabbur k. Tidak ghibah l. Berani mengemukakan pendapat m. Rapih dalam berpakaian n. Birul Walidain a. Memiliki rekening pada Bank syari’ah b. Menjauhi sumber penghasilan yang haram seperti judi, lotere, togel, dsb. c. Menabung meskipun sedikit setiap bulan masjid): 5 kali/hari untuk ikhwan a. Point Kader Madya b. Memiliki contact person (jaringan) di lingkungan aktivitas da’wah dan kuliah, serta memilki kepercayaan c. Tidak panik/tenang ketika menghadapi masalah yang besar

3.

Matinul khuluq (akhlak yang tegar)

a. Point Kader Muda b. Berani memimpin majelis c. Memiliki Ruhul Istijabah (semangat menyambut tugas da’wah) yang baik d. Ihsanul ‘amal (ihsan dalam beramal) e. Memilki contact person (jaringan) di lingkungan aktivitas da’wah dan kuliah f. Menjadi teladan bagi level di bawahnya g. Menjadi pionir kebaikan h. Mengobati virus hati i. Menjaga keamniyahan da’wah j. Menundukkan pandangan k. Memahami ma’na qiyadah wal jundiyah l. Mengetahui adabadab majelis m. Mengaplikasikan rukun-rukun ukhuwah

4.

Qadirun ‘alal kasbi (kemampuan berpenghasilan)

a. Point Kader Muda b. Membaca buku kewirausahaan c. Membayar zakat d. Infaq setiap hari

a. Point Kader Madya b. Memiliki maisyah

|
d. Membiasakan berinfaq tiap pekan a. Mampu berkomunikasi dengan baik b. Memahami hukum-hukum Thaharah c. Memahami hukum-hukum Shalat d. Memahami hukum-hukum Shaum e. Memahami hukum-hukum Zakat f. Memahami urgensi da’wah g. Memahami syumuliyatul Islam h. Mengetahui kisah Rasul dan Sahabat secara umum i. Mengetahui perangkapperangkap musuh-musuh Islam j. Mengetahui ke-Gamais-an (visi misi, struktur, job desc tiap dept) k. Mengenal seluruh Kadept dan Korwat LDFK l. Mengenal 50 orang kader muda m. Memahami bagaimana harus bersikap terhadap non Muslim n. Membiasakan diri berfikir positif o. Memahami urgensi

5.

Mutsaqqaful fikri (pikiran yang intelek)

a. Point Kader Muda b. Ma’rifatul Maydan Kampus c. Memiliki wawasan yang baik tentang keIslaman, keIndonesiaan dan kemahasiswaan d. Memahami fungsi Gamais e. Mengenal 50 Kader Madya Gamais f. Mengetahui organisasorganisasi terselubung yang memusuhi Islam g. Memahami fiqh da’wah dan fiqh prioritas h. Berusaha membiasakan diri mencurahkan ide tiap pekan i. Berusaha membiasakan diri membaca buku di luar spesialisasinya j. Memilki perpustakaan pribadi sekecil apapun

Point Kader Madya b. Memiliki visi dan strategi hidup beserta perencanaan 10 tahun ke depan c. Mampu melakukan perencanaan strategis d. Cepat dan tepat dalam mengambil keputusan e. Memilki wawasan yang baik tentang berbagai gerakan ideologi dan sejarah gerakan Islam di dunia dan di Indonesia f. Memahami prinsip syuro dalam amal jama’i g. Menguasai teknik komunikasi efektif h. Terbiasa/berusaha membiasakan diri mencurahkan ide tiap hari i. Mampu mengaitkan isi antar bacaan j. Mampu berpikir secara logis dan terstruktur dengan baik k. Mengkuti perkembanagn politik kontemporer l. Memiliki kemampuan untuk menganalisis masalah dan menjadi problem solver

|
menuntut ilmu (kuliah) p. Memahami urgensi tarbiyyah q. Mengikuti perkembangan berita terkini m. Memahami fiqh ikhtilaf n. Mengenal anggota-anggota deptnya (termasuk kader muda dan kader madya) o. Mengenal selurh kader purna a. Point Kader Madya b. Memeriksakan kesehatan secara rutin

6.

Qawiyyul jism (fisik yang kuat)

7.

Mujahidun li Nafsihi bersungguhsungguh Terhadap dirinya)

a. Berolahraga: ½ jam/pekan b. Tidak merokok c. Tidak mengkonsumsi minuman keras dan Narkoba d. Bangun paling lambat ketika adzan shubuh a. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thoyib b. Menjauhi media informasi porno c. Tidak malas kuliah d. Menjauhi tempat maksiat e. Menjauhi seni yang tidak Islami f. Berusaha untuk senantiasa memperbaiki diri

a. Point Kader Muda b. Tidak begadang untuk hal yang siasia c. Olahraga: 1 jam/pekan d. Bangun sebelum adzan shubuh e. Tidak tidur setelah shubuh dan setelah ashar a. Point Kader Muda b. Tidak berlebihan dalam hal yang mubah c. Berusaha menjadi pendengar yang baik d. Tidak putus asa dalam menghadapi suatu masalah e. Menjauhi hiburan yang bersifat jahiliyah dan membuat kita menjauh dari Allah f. Mengurangi bacaan yang tidak bermanfaat g. Berhijab dengan baik h. Memiliki jiwa rabbani i. Pantang mengeluh j. Siap menjadi naqieb (pementor) k. Memprioritaskan kegiatan pembinaan l. Berkomitmen terhadap ibadahibadah

a. Point Kader Madya b. Memerangi dorongan hawa nafsu c. Selalu menyertakan niat jihad d. Menyesuaikan kata dan perbuatan e. Sabar f. Memenuhi janji g. Komitmen terhadap kesepakatan bersama h. Memilki citacita/keinginan untuk syahid i. Berani menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar

|
harian m. Bersemangat dalam berfastabiqul khairat

8.

Munazhzham fi syu’unihi (teratur dalam urusanurusannya)

a. Mengikuti min. 1 kepanitiaan di Gamais b. Berusaha tepat waktu dalam segala hal c. Merencanakan aktivitas harian d. Memenuhi batas kehadiran minimal, di setiap kuliah

a. Point Kader Muda b. Memilki catatan aktivitas c. Membaca buku mengenai manajemen, harokiyah, dan tanzhim d. Mengikuti tambahan kepanitiaan (di dalam / di luar Gamais)

9.

Haritsun ‘ala waqtihi (efisien menjaga waktu)

a. Bangun tidur max saat adzan shubuh b. Menyediakan waktu untuk menambah keilmuan / wawasan minimal 15 menit/hari c. Belajar materi perkuliahan: 1 jam/hari

10.

Nafi’un li ghairihi (bermanfaat bagi orang lain) Nafi’un li ghairihi (bermanfaat bagi orang lain)

a. Menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan orang tua b. Menunaikan beberapa dari hak muslim atas saudaranya: salam,

a. Bangun sebelum adzan Shubuh b. Memilki agenda perencanaan per hari c. Membiasakan mencari informasi terkini tiap hari d. Mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat dalam berbagai hal e. Membiasakan tidak tidur setelah shubuh dan setelah ashar f. Mengalokasikan waktu untuk membaca buku keIslaman min. 30 menit / hari a. Point Kader Muda b. Pernah mengisi ta’lim / taujih min. 1x c. Wajib memiliki min. 1 kelompok mentoring d. Mengunjungi tempat tinggal pengurus

a. Point Kader Madya b. Menjadikan shalat sebagai penata waktu c. Disiplin dalam segala hal d. Mampu menerapkan manajemen rapat dengan baik e. Menyediakan waktu khusus minimal 30 menit per hari untuk memutaba’ah Gamais a. Point Kader Madya (kecuali point f) b. Membaca buku Islami minimal 1 jam per hari c. Memilki perencanaan diri jangka panjang dan menengah d. Hiburan/relaksasi dengan murattal e. Mempersingkat semua urusan (tidak bertele-tele) f. Tidak berlebihan dalam tidur (5 - 6 jam) a. Point Kader Madya (kecuali point d,e,f) b. Memilki jiwa pelayanan c. Membiasakan memberikan penghargaan kepada staf minimal setiap selesai acara

|
mendoakan saat bersin, memenuhi undangan, ta'ziyah, menjenguk yang sakit dll. c. Menjaga hubungan baik dengan teman d. Mengunjungi tempat tinggal penguus Gamais min. 3 orang Gamais min. 10 orang (di luar kader muda) d. Mampu mengup grade anggota deptnya e. Dapat memberikan taujih dan muhassabah f. Menjadikan fiqh da’wah sebagai landasan amal/operasional g. Pernah mengisi ta’lim / taujih min. 1x / bulan h. Wajib memiliki min. 1 kelompok halaqoh i. Mengunjungi tempat tinggal pengurus Gamais min. 10 orang (di luar kader muda dan madya)

Level Kader Muda
No. 1 Materi Ma’rifatullah Muwashshafat (Output) 1d Arahan Umum 1. Memahami bahwa jalan mengenal Allah adalah melalui ayatayatNya 2. Mengerti sifatsifat pribadi manusia yang menjadi penghambat dari mengenal Allah 3. Mengerti dalil-dalil yang diaplikasikan untuk mengenal/menyedari eksistensi Allah 4. Termotivasi untuk men-tauhid-kan Allah karena menyadari kebesaran Allah 1. Memahami konsep tauhid rububiyyah, Referensi 1. Allah, Sa’id Hawwa 2. Adanya Allah, Yusuf Qardhawi 3. Kitab tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi Metode Ta’lim, baca/bedah buku

2.

Tauhid dan fenomena

1a,c,e

1. Pengantar Studi Aqidah

Ta’lim, baca/bedah

|
kemusyrikan asma’ wa shifat, mulkiyah, dan uluhiyah serta aplikasinya dalam kehidupan seharihari sesuai dengan manhaj salafush shalih 2. Termotivasi untuk melaksanakan sikap yang menjadi tuntutan utama empat tauhid tersebut 3. Mengetahui ragam fenomena kemusyrikan yang terjadi di tengah masyarakat dan termotivasi untuk merubahnya Islam, Dr. Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al Buraikan 2. Iman, Rukun, hakikat, dan yang Mmbatalkannya, D. Muhammad Nu’aim Yasin 3. Syahadatain dan Fenomena Kekufuran, Sa’id Hawwa 4. Tauhidullah dan Fenomena Kemusyrikan, Dr. Yusuf Qardhawi 5. Aqidah, Landasan Membangun Ummat, Dr. Abdullah Azzam Niyat dan Ikhlas, Dr. Yusuf Qardhawi buku

3.

Ikhlas

1b

4.

Ma’rifatur rasul

1d

1. Memahami hakikat ikhlas, kriteria keikhlasan, urgensi ikhlas dalam setiap amal 1. Memahami bahwa fitrah manusia memerluakn keyakinan tentang eksistensi Sang Pencipta, beribadah kepadanya, dan memiliki kehidupan yang benar 2. Memahami bahwa petunjuk Rasul satusatunya jalan untuk itu 3. Memahami definisi rasul dan dapat menjelaskan fungsinya secara umum 4. Termotivasi untuk membaca dan mengkaji sunnah serta mempelajari perjalanan hidup dan da’wah Rasulullah saw.

Taujih

1. Ar Rasul, Sa’id Hawwa 2. Sirah Nabawiyah, Shafiyurrahman Al Mubarakfuri 3. Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthi 4. Manhaj Haraki, Munir Muhammad Al Ghadban 5. Syarak Tsalatsatul Ushul Ma’rifatur Rasul, Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

|
5. Termotivasi untuk menepaki jalan yang telah dirintis oleh para Rasul, yaitu jalan da’wah 6. Menjadikan rasulullah sebagai qudwah dan uswah hasanah dalan hidup dan kehidupan 1. Memahami bahwa islam adalah tunduk kepada wahyu Allah yang diturunkan kepada para Nabi sebagai aturan (hukum) yang merupakan jalan lurus menuju keselamatan dunia dan akhirat 2. Meyakini bahwa Islam adalah pedoman hidup dari Allah Yang Mahatinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya 3. Memahami karakterstik Dinul Islam yang menjadi ciri khas penampilannya sepanjang sejarah 1. Memahami definisi, hakikat ibadah, badah yang diterima 1. Memahami kaifiyat ibadah wajib: thaharah, shalat, shaum, dll. 2. ihsanul ‘amal Memahami karakter munafiq dan menghindari dari sikap nifaq 1. Memahami adabadab keseharian dalam Islam: pergaulan, makan, minum, dll. 1. Memahami pengertian ghazwul fikri dan bahaya yang mengancam

5.

Al Islam

1d, 5e

1. Pengantar Kajian islam, Yusuf Qardhawi 2. Karakteristik Konsepsi Islam, Sayyid Quthb 3. Al Islam, Sa’id Hawwa 4. Prinsip-Prinsip Islam, Abul A’la Al Maududi 5. Prinsip-Prinsip Islam untuk Kehidupan, Abdullah Al Muslih, Salah Asy Syawi

Bedah buku

6.

Universalitas dan hakikat ibadah Fiqh sunnah

2i

Taujih

7.

2a,b,d,e,h,k, 5c

1. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq 2. Riyadush Shalihin, Imam Nawawi

Beletin, baca buku

8.

Bahaya nifaq

3a,b

Taujih

9.

Adab keseharian

3c,d,e,f,g,h, 10a,b

10.

Ghazwul fikri

5g,i, 7a,b,d,e

1. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq 2. Riyadush Shalihin, Imam Nawawi 1. Pengantar Memahami Ghazwul Fikri, Abu Ridha

Buletin

Bedah/baca buku

|
kaum muslimin 2. Memahami tahapan dan sarana ghazwul fikri sepanjang sejarah ummat Islam 3. Menyadari dan mewaspadai bahaya ghazwul fikri terhadap diri, keluarga, dan masyarakat 4. Termotivasi untuk meninggalkan segala bentuk kehidupan jahiliyah 1. Memahami dan mampu menerapkan hak-hak sesama muslim 1. Memahami keutaman seorang da’i 2. Mengetahui wajibnya berda’wah 2. Ghazwul Fikri, Marzuq 3. Jahiliyyah Abad 21, Muhammad Quthb 4. Invasi Pemkiran

11.

Hak sesama muslim

10d

Taujih, penugasan

12.

Ta’rif da’wah

1. Jalan Da’wah, Musthafa Masyhur 2. Untungnya Menjadi Seorang Da’i, Abdullah Nashih Ulwan Bedah/baca buku

13.

Peran pemuda dalam kebangkitan Islam

5d,k,n

14.

Urgensi tarbiyyah

5m

1. Mengetahui karakter seirang pemuda 2. Memahami peran pemuda dalam kebangkitan ummat Islam 3. Mengetahui bahwa pengibar peradaban dan ideologi adalah para pemuda 4. Termotivasi untuk tidak menyianyiakan masa muda 1. Memahami keterpurukan kondisi ummat saat ini 2. Memahami urgensi tarbiyah Islamiyah untuk membentuk generasi Islami, masyarakat muslim ideal, dan peradaban kemanusiaan yang tinggi 3. Memahami karakteristik, tujuan, dan bidan-bidang

1. Urgensi Tarbiyah dalam Islam, Abu Ridha 2. Tarbiyah Menjawab Tantangan

Taujih, diskusi

|
tarbiyah Islamiyah 1. Mengetahui hukum-hukum dalam mebaca Al Qur’an 2. Dapat membaca Al Qur’an dengan tartil 3. Termotivasi untuk berinteraksi dengan Al Qur’an setap saat

15.

Tahsin

2c,f,g

1. Kajian Ilmu Tajwid, Abdul Aziz Abdur Ra’uf

Pelatihan

16

Skill Managerial,dll AMT dan konsep diri Manajemen aktivitas

5j,o, 7e, 8a

17.

7, 8

18

Belajar efektif

5a,k,o, 8a,b,d, 9c

19

Proposal, surat, perizinan, dan publikasi Manajemen anggaran pribadi Komunikasi efektif

Skill

20.

4a,b,c,d, 10c

21.

5a,b

22.

Da’wah akademis

1. Mengenal diri, termotivasi untuk memperbaiki diri 1. Mengetahui prioritas aktivitas dan dapat mengatur semua aktivitas dengan seimbang 1. Memahami urgensi belajar dengan cara yang efektif dan efesien 2. Mampu belajar dengan pengaturan waktu yang efektif antara berbagai aktivitas 1. Terampil dalam membuat proposal kegatan, suratmenyurat, perizinan, dan publikasi efektif 1. Mampu mengelola dan memanfaatkan sumber keuangan 1. Mampu menyampaikan gagasan secara lisan dan tulisan yang efektif 2. Mengetahui etika berkomunikasi 1. Memahami integralitas aktivitas da’wah di mana pun dan kapan pun 2. Mampu menginternalisasikan aktivitas akademik sebagai bagian

Pelatihan

1. First Think First, Stephen Covey 2. Seven Habits, Stephen Covey 1. Quantum Learnin 2. Accelerated Learning

Pelatihan

Pelatihan

Pelatihan

|
23. Ke LDFK an 5h,l dari da’wah 1. Mengetahui visi dan misi LDFK 2. Mengetahui arahan dan garis perjuangan organisasi

Level Kader Madya
No. 1 Materi Syahadatain – al wala’ wal bara’ Muwashshafat (Output) 1b,c Arahan Umum 1. Memahami bahwa syahadatain adalah dasar seluruh ajaran Islam 2. Menyadari bahwa laa ilaaha illallaah mengandung konsekuensi menolak segala sembahan selain Allah 3. Menyadari bahwa memberikan loyalitas kepada Allah dan Rasul dengan beribadah yang ikhlas kepada Allah serta ittiba’ sunnah adalah wajib Referensi 1. Al Wala’ wal Bara’, Loyalitas Muslim terhadap Islam, Muhammad bin Sa’id bin Salim Al Qahthani 2. Pengantar Studi Aqidah Islam, Dr. Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al Buraikan 3. Syahadatain dan Fenomena Kemusyrikan, Sa’id Hawwa 1. Komitmen terhadap harakah Islamiyah, Fathi Yakan Metode Ta’lim, bedah buku, diskusi

2.

Komitmen terhadap Islam

1, 7d, 9a,d,e

3.

Tazkiyyatun nafs

5g

1. Memahami beberapa hal yang harus di-Islam-kan sebagai bukti komitmen 2. Memahami al wala’ wal bara’ 1. Memahami pengertian da’wah sesuai dengan yang difahami oleh salafus shalih 2. Memahami karakteristik da’wah Islamiyah 3. Memahami marhaliyah (tahapan) da’wah dan ahdaf (tujuan

Ta’lim

1. Jalan Da’wah, Musthafa Msyhur 2. Fiqh Da’wah, Jum’ah Abdul ‘Aziz 3. Dasardasar Da’wah, Abdul

Bedah buku, kajian tematis

|
antara) yang dicapai di setiap marhalah 4. Memahami pentingnya melakukan perencanaan da’wah 5. Mengetahui karakteristik seorang da’i dan termotovasi untuk mengimplementasikan dalam dirinya 4. Fiqh da’wah I 5g 1. Memahami pengertian da’wah sesuai dengan yang difahami oleh salafus shalih 2. Memahami karakteristik da’wah Islamiyah 3. Memahami marhaliyah (tahapan) da’wah dan ahdaf (tujuan antara) yang dicapai di setiap marhalah 4. Memahami pentingnya melakukan perencanaan da’wah 5. Mengetahui karakteristik seorang da’i dan termotovasi untuk mengimplementasikan dalam dirinya 1. Menyadari fitrah manusia untuk ber‘amal jama’i 2. Memahami urgensi ‘amal jama’i dalam merealisasikan sasaran Islam 3. Memahami syarat, unsur, dan sarana ‘amal jama’i 4. Termotivasi untuk terlibat dalam salahsatu ‘amal jama’i da’wah 1. Perbandingan ideologi Islam versus non-Islam 1. Mengetahui pengertian da’wah fardiyah dan kaistimewaannya Karim Zaidan 4. Sosok Da’i Militan, Abdullah Nshih ‘Ulwan 5. Da’i Militan Menghadang Tantangan, Fathi Yakan 6. Fiqh Da’wah, Sayyd Quthb 1. Jalan Da’wah, Musthafa Msyhur 2. Fiqh Da’wah, Jum’ah Abdul ‘Aziz 3. Dasardasar Da’wah, Abdul Karim Zaidan 4. Sosok Da’i Militan, Abdullah Nshih ‘Ulwan 5. Da’i Militan Menghadang Tantangan, Fathi Yakan 6. Fiqh Da’wah, Sayyd Quthb 1. Amal Jama’i, Musthafa Masyhur

Bedah buku, kajian tematis

5.

Amal jama’i

5d

Bedah buku

6.

7.

Gerakan pemikiran dunia I Da’wah fardiyah

5h

3b,j,k, 10b,d

1. Da’wah Fardiyah, Ali Abdul Halim

Pelatihan, penugasan

|
2. Memahami sasaran dan sarana da’wah fardiyah 3. Memahami syarat dan adab da’wah fardiyah 4. Memahami tahapan da’wah fardiyah 8. Qudwah hasanah 3c,d,f,g,h,i,l, 5e,h, 10b Mahmud 2. Da’wah Fardiyah, Musthafa Masyhur

9.

Fiqh prioritas

3e, 5g, 7e,f,g

1. Memahami urgensi memahami fiqh prioritas 2. Memahami prioritas-prioritas dalam setiap segi kehidupan 1. Mengetahui kondisi kontemporer dunia kemahasiswaan 2. Mampu memetakan kecenderungan elemen-elemen kemahasiswaan 3. Mampu menawarkan solusi praktis terhadap problematika kemahasiswaan 1. Memiliki hafalan Al Qur’an yang memadai 2. Konsisten menjaga hafalan yang telah dimiliki

1. Qudwah di Jalan Da’wah, Musthafa Masyhur 1. Fiqh Prioritas, Yusuf Qardhawi 2. Prioritas Gerakan Islam, Yusuf Qardhawi

Bedah buku

Ta’lim

10.

Kemahasiswaan

5b,c

Diskusi, penugasan

11.

Tahfizh

2h

1. Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah, Abdul Aziz Abdur Ra’uf

12.

Skill, Manajerial, dll Permberdayaan tim

3k, 10c,d,e

13.

Komunikasi empatik

5f, 7c

14.

Manajemen proyek

8b, 9b

1. Memahami bagaimana bekerja dalam tim 2. Memahami seni memaksimalkan potensi tim 1. Memahami prisipprinsip komunikasi empatik 2. Dapat melakukan komunikasi empatik 1. Mengetahui hal-hal yang diperlukan untuk suksesnya proyek kerja 2. Dapat mengelola potensi

Pelathan, penugasan

Pelathan, penugasan

Pelathan, penugasan

|
3. Dapat mengatasi berbagai persoalan dalam proyek 1. Mengetahui cara memimpin forum yang efektif 2. Dapat mengatasi kesulitan dalam forum 1. Mengetahui prinsip lobbying 2. Memahami manfaat lobbying 3. Dapat melakukan lobbying dengan efektif

15.

Manajemen forum

8c,e

Pelathan, penugasan

16

Lobbying

3k

Pelathan, penugasan

Level Kader Paripurna
No. 1 Materi Terapi mental aktivis da’wah Muwashshafat (Output) 3, 8, 9 Arahan Umum 1. Mengetahui penyakitpenyakit yang dapat merusak amal 2. Dapat mengidentifikasi penyebab timbulnya penyakit tersbut 3. Mengetahui terapi bagi penyakit tersebut 4. Termotivasi untuk senantiasa ikhlas, teguh dalam da’wah, dan ihsandalam beramal 1. Mengetahui urgensi gerakan Islam untuk mempertahankan eksistensi ummat dan mengembalikan kejayaan Islam 2. Mengetahui ciri harakah Islamiyah dulu dan masa depan 1. Memahami konsep qadha dan qadar sesuai dengan pemahaman salafush shalih Referensi 1. Terapi Mental Aktivis Harakah, Sayyid Muhammad Nuh 2. Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa Metode Taujih

2.

Urgensi pergerakan Islam

1d

1. Urgensi Harakah Islamiyah, Yusuf Qardhawi

Ta’lim, bedah buku

3.

Qadha dan qadr

1e

4.

Ma’iyyatullah

1a,b,c, 2a, 10d

1. Menyadari adanya pengawasan dan

1. Jawaban Tuntas Masalah Takdir, Abdullah Nashih ‘Ulwan 2. Takdir, Ibnul Qwayyim Al Jauziyah 1. Tarbiyah Ruhiyah,

Ta’lim

Taujih

|
kesertaan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan 2. Termotivasi untuk berniat dan beramal secara ihsan berdasarkan keyakinan adanya kesertaan dan pengawasan Allah. 1. Menumbuh suburkan semangat berjihad 2. Mengetahui hal-hal penting seputar peperangan besar Rasulullah dan dapat mengambil ibrahnya. Abdullah Nashih ‘ulwan

5.

Analisis perang Badar dan Uhud

7

6.

Sistem kaderisasi Rasulullah

10

7.

Fiqh ikhtilaf

5m

8.

Syuro’ dan pengambilan keputusan

5f, 7g

1. Mengetahui strategi Rasulullah dalam membentuk kader inti da’wah 2. Memahami fase-fase da’wah Rasulullah dan karakteristiknya. 1. Memahami prinsip2 dalam berdiskusi dan berbeda pendapat dalam Islam 2. Memahami wajibnya persatuan dan tercelanya perpecahan 3. Memahami bahwa perbedaan pendapat dalam hal furu adalah kemestian dan harus disikapi dengan bijaksana 1. Memahami landasan syar’i syuro’ 2. Memahami unsurunsur, adab dalam syuro’ 3. Memahami syaratsyarat keputusan yang dibuat dalam syuro’ dan konsekuensinya 4. Termotivasi untuk

1. analisis perang badar dan uhud 2. Ar-Rasul, Sa’id Hawa 3. Sirah Nabawiyah, Shafiyyur Rahman AlMubarakfury 4. Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan AlButy 1. Manhaj Haraki dalam Sirah Nabawiyah, Munir Ghodban 1. Etika Berdiskusi, WAMY 2. Fiqhul Ikhtilat, Yusuf Qardhawy

Bedah buku, diskusi

Ta’lim

Tugas baca

Ta’lim

|
menjadikan syuro’ sebagai kunci dalam pengambilan keputusan 9. Fiqh da’wah II 10e 1. Memahami kaidah da’wah 1. Memahami kaidah da’wah yang diambil dari ushul fiqh 2. Mampu mengimplementasikan prinsip dan kaidah tersebut dalam ruang lingkup da’wah kampus 1. Memahami keutamaan2 ibadah kepada Allah 2. Termotivasi untuk melaksanakan ibadah2 utama sehari2 3. Berusaha untuk meningkatkan kualitas ibadah 1. Memahami perang pemikiran yang sedang terjadi 2. Dapat menyikapi perang pemikiran dengan baik 3. Dapat terlibat memberikan sumbangan pemikiran

9.

Fiqh da’wah II

10e

Fiqh Da’wah Pasal 4, Jum’ah Amin Abdul Aziz

Tugas baca

10.

Keutamaan beramal

2

Riyadush sholihin, Imana AnNawamy

Tugas baca

11.

Gerakan pemikiran dunia II

5e

Tugas Baca

12.

Skill, Manajerial, dll Manajemen konflik

3m, 5l

14.

Entrepreneurship dalam Islam

4

15.

Perencanaan strategis

5b,d,e

16

Teknik berpikir

5h,i,j

Memahami penyebab timbulnya konflik dan dapat mencegah/mengatasinya Memahami definisi enterpreunership, enterpreunership menurut Islam 1. Dapat melakukan analisis masalah organisasi 2. Mampu membuat rencana strategis untuk mengatasi masalah 1. Dapat melakukan analasisi masalah dengan berpikir secara sistematis 2. mempelajari teknikteknik pemecahan masalah

Pelatihan

Kuliah umum

Pelatihan

Pelatihan

|

Kurikulum Kaderisasi Tambahan (Optional)
No. 1 Materi Ma’rifatul insan Muwashshafat (Output) 3 Arahan Umum 1. Memahami hakikat manusia, asal kejadiannya dan kedudukan dirinya sebagai manusia 2. Menyadari sifat2 umum dirinya sebagai manusia dan memahaminya sebagai buah potensi baik maupun buruk (fujur dan taqwa) 3. Memahami fungsi dasar penciptaannya, sebagai hamba Allah dan kholifah fil ardh, untuk kemudian menjalankannya sebagai satu kesatuan 1. Menyadari bahwa Islam itu membebaskan akal pikiran, menganjurkan untuk mengadakan penelitian tehadap alam, mengangkat derajat ilmu dan para ulama, dan menyambut kehadiran sesuatu yang baik dan bermanfaat. “ hikmah adalah barang hilang milik orang beriman, Referensi Metode

2.

Fiqh tafakkur

1. Fiqh Tafakkur, Malik Badri 2. Deep Thinking, Harun Yahya 3. Mencari ilmu dengan metode salafush Shalih

|
dimanapun didapatkannya ia adalah orang yang paling berhak atasnya.” 2. Memelihara akal dari hipotesa dan taklid kepada suatu teori tanpa argumentasi 3. Tidak terpengaruh oleh kondisi psikologis. Artinya ia harus komoitmen kepada sikap adil dan obyektif dalam menentukan keputusan, dalam kondisi apa pun. 1. Dapat menentukan pilihan terbaik dari berbagai maslahat 1. Mengetahui karakteristik generasi terbaik 2. Memahami sarana2 untuk mewujudkan generasi terbaik 3. Termotivasi untuk membentuk diri, keluarga, lingkungan mendekati karakteristik generasi terbaik 1. Memahami karakter akhakul karimah 2. Termotivasi untuk senantiasa menghiasi dirinya dengan kepribadian yang Islami

3.

Fiqh muwazzanat

4.

Karakteristik generasi terbaik

3,7,10

Fiqh Muwazzanat, Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi 1. Karakteristik 60 sahabat Rasulullah SAW, Khalid Muh, Khalid 2. Petunjuk Jalan, Sayyid Qutb 3. Pesan untuk Pemuda Islam, Abdullah Nashih Ulwan

5.

Syakhshiyyah islamiyyah

3

1. Riyadush Sholihin, Imam AnNawawy 2. Apakah Anda Berkepribadian Islam

|
6. Iman 1 Memahami definisi, hakikat, faktor penyubur iman Tiga Landasan Utama, Syeikh Utsaimin Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah, Kitab Tauhid, Syeikh Abdul Wahab Al Qiyadah Wal Jundiyah, Mustafa Mansyur

7.

Leadership

10

Memahami definisi kepemimpinan, kriteria pemimpin yang baik

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->