P. 1
Hidung & Sinus

Hidung & Sinus

|Views: 39|Likes:
Published by Indra Pramana Putra
hidung dan sinus
hidung dan sinus

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Indra Pramana Putra on Jun 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2013

pdf

text

original

Embriologi hidung Perkembangan rongga hidung secara embriologi yang mendasari pembentukan anatomi sinonasal dapat dibagi menjadi

dua proses. Pertama, embrional bagian kepala berkembang membentuk dua bagian rongga hidung yang berbeda ; kedua adalah bagian dinding lateral hidung yang kemudian berinvaginasi menjadi kompleks padat, yang dikenal dengan konka (turbinate), dan membentuk ronga-rongga yang disebut sebagai sinus. Sejak kehamilan berusia empat hingga delapan minggu , perkembangan embrional anatomi hidung mulai terbentuk dengan terbentuknya rongga hidung sebagai bagian yang terpisah yaitu daerah frontonasal dan bagian pertautan prosesus maksilaris. Daerah frontonasal nantinya akan berkembang hingga ke otak bagian depan, mendukung pembentukan olfaktori. Bagian medial dan lateral akhirnya akan menjadi nares (lubang hidung). Septum nasal berasal dari pertumbuhan garis tengah posterior frontonasal dan perluasan garis tengah mesoderm yang berasal dari daerah maksilaris. Ketika kehamilan memasuki usia enam minggu, jaringan mesenkim mulai terebentuk, yang tampak sebagai dinding lateral hidung dengan struktur yang masih sederhana. Usia kehamilan tujuh minggu, tiga garis axial berbentuk lekukan bersatu membentuk tiga buah konka (turbinate). Ketika kehamilan berusia sembilan minggu, mulailah terbentuk sinus maksilaris yang diawali oleh invaginasi meatus media. Dan pada saat yang bersamaan terbentuknya prosesus unsinatus dan bula ethmoidalis yang membentuk suatu daerah yang lebar disebut hiatus emilunaris. Pada usia kehamilan empat belas minggu ditandai dengan pembentukan sel. etmoidalis anterior yang berasal dari invaginasi bagian atap meatus media dan sel ethmoidalis posterior yang berasal dari bagian dasar meatus superior. Dan akhirnya pada usia kehamilan tiga puluh enam minggu , dinding lateral hidung terbentuk dengan baik dan sudah tampak jelas proporsi konka. Seluruh daerah sinus paranasal muncul dengan tingkatan yang berbeda sejak anak baru lahir, perkembangannya melalui tahapan yang spesifik. Yang pertama berkembang adalah sinus etmoid, diikuti oleh sinus maksilaris, sfenoid , dan sinus frontal.

Anatomi hidung luar Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge). Hidung bagian luar menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas . 5) kolumela. 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal . struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian : 1. Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit. di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan 3. dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. dan 6) lubang hidung (nares anterior). 3) puncak hidung (hip). yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan 2. yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis . Kerangka tulang terdiri dari : 1) tulang hidung (os nasal) . sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung. 4)ala nasi. jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. 2) batang hidung (dorsum nasi).

Atap hidung Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior. os nasal. konka media. . dan korpus os sphenoid. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior. Septum nasi Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui oleh filament-filamen n. premaksila dan kolumela membranosa. . berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka media disebut meatus superior. korpus os etmoid.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior. dan konka inferior. bagian posterior dan inferior oleh os vomer. prosesus frontalis os maksila. Kavum nasi Kavum nasi terdiri dari: Dasar hidung Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus horizontal os palatum.superior. bagian anterior oleh kartilago septum (kuadrilateral) . 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum. Bagian posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid. Anatomi hidung dalam Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os. . dinding lateral terdapat konka superior. krista maksila . yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Kavum nasi dibagi oleh septum. Krista palatine serta krista sfenoid.internum di sebelah anterior hingga koana di posterior.

dan konka media berasal dari massa lateralis os etmoid. Meatus media Meatus media Merupakan salah satu celah yang penting yang merupakan celah yang lebih luas dibandingkan dengan meatus superior. Meatus superior Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara septum dan massa lateral os etmoid di atas konka media. konka inferior. os lakrimalis. Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk bulan sabit yang menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris. Kelompok sel-sel etmoid posterior bermuara di sentral meatus superior melalui satu atau beberapa ostium yang besarnya bervariasi. sedangkan konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada maksila bagian superior dan palatum. Di sini terdapat muara sinus maksila. Di balik bagian anterior konka media yang letaknya menggantung. Konka suprema. konka superior dan konka media yang merupakan bagian dari os etmoid. Kadang-kadang didapatkan konka keempat (konka suprema) yang teratas. tempat bermuaranya sinus sfenoid. sinus frontal dan bahagian anterior sinus etmoid. celah antara konka media dan inferior disebut meatus media. pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk bulan sabit yang dikenal sebagai infundibulum. konka superior.Dinding Lateral Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila. Konka Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka . Dinding inferior . celah antara konka inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior . lamina perpendikularis os platinum dan lamina pterigoideus medial. dan di sebelah atas konka media disebut meatus superior. Di atas belakang konka superior dan di depan korpus os sfenoid terdapat resesus sfeno-etmoidal.

Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinus maksila. Adakalanya sel-sel etmoid dan kadangkadang duktus nasofrontal mempunyai ostium tersendiri di depan infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di bagian anterior atas. frontalis dan sphenoid. yang berbentuk piramid yang irregular dengan dasarnya menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya menghadap ke arah apeks prosesus zygomatikus os maksilla. Di atas infundibulum ada penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh salah satu sel etmoid. bagian dalam oleh os vomer. berbentuk oval dan terdapat di sebelah kanan dan kiri septum. dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di infundibulum. dan sinus maksila bermuara di posterior muara sinus frontal. bagian atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid dan bagian luar oleh lamina pterigoideus.dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Sinus maksilaris merupakan sinus paranasal terbesar di antara lainnya. Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang berisi udara yang berkembang dari dasar tengkorak hingga bagian prosesus alveolaris dan bagian lateralnya berasal dari rongga hidung hingga bagian inferomedial dari orbita dan zygomatikus. Tiap nares posterior bagian bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis palatum. Nares Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan nasofaring. antrum maksila.5 cm di belakang batas posterior nostril. Ostium sinus frontal. Sel-sel epitelnya berisi sejumlah mukus yang menghasilkan sel-sel goblet. Sinus-sinus tersebut terbentuk oleh pseudostratified columnar epithelium yang berhubungan melalui ostium dengan lapisan epitel dari rongga hidung. Meatus Inferior Meatus inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus. etmoid. . mempunyai muara duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3 sampai 3.

Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.karotis interna.palatina mayor dan a.fasialis. oftalmika dari a.Kompleks ostiomeatal (KOM) Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang berupa celah pada dinding lateral hidung. dan a. Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh infundibulum karena sekret yang keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan dulu ke celah sempit infundibulum sebelum masuk ke rongga hidung. Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma. Perdarahan hidung Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a. sehingga sering menjadi sumber epistaksis(pendarahan hidung) terutama pada anak. Pada potongan koronal sinus paranasal gambaran KOM terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina papirasea. bula etmoid.etmoid anterior. Dari resesus frontal drainase sekret dapat langsung menuju ke infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara prosesus unsinatus dan konka media. di antaranya adalah ujung a.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Little’s area). Sedangkan pada sinus frontal sekret akan keluar melalui celah sempit resesus frontal yang disebut sebagai serambi depan sinus frontal.oftalmika yang . Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang – cabang a. hiatus semilunaris. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. agger nasi dan ressus frontal. a.a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus. maksilaris interna.labialis superior.sfenopalatina. infundibulum etmoid.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya .

petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n. yang terbesar. sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior. Anatomi Sinus Paranasal Sinus paranasal dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu.V-1). Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala. sehingga merupakanfaktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intracranial. yang merupakan cabang dari n. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup.maksila (N. Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok . yang berasal dari n. empat buah pada masing-masing sisi hidung .V-2). serabut parasimpatis dari n. kanan dan kiri disebut Antrum Highmore dan sinus sfenoidalis kanan dan kiri. Ada empat pasang (delapan) sinus paranasal. Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. sinus frontalis kanan dan kiri. Semua rongga sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung. Rongga hidung lannya.nasosiliaris. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.petrosus profundus. Persarafan hidung Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum. berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing.berhubungan dengan sinus kavernosus. sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Nervus olfaktorius.oftalmikus (N. sinus maksila. Saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media. sinus etmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior).

Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat anak lahir. pada atau di dekat infundibulum. Embriologi sinus paranasal Secara embriologik. berupa tonjolan atau resesus epitel mukosa hidung setelah janin berusia 2 bulan.yaitu bagian anterior dan posterior. sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung. Kelompok anterior bermuara di bawah konka media. resesus inilah yang nantinya akan berkembang menjadi ostium sinus. sinus maksila. Garis perlekatan konka media pada dinding lateral hidung merupakan batas antara kedua kelompok. Pneumatisasi sinus sphenoidalis dimulai pada usia 8 – 10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Proctor berpendapat bahwa salah satu fungsi penting sinus paranasal adalah sebagai sumber lender yang segar dan tak terkontaminasi yang dialirkan ke mukosa hidung. Kelompok posterior bermuara di berbagai tempat di atas konka media terdiri dari sel-sel posterior sinus etmoid dan sinus sphenoid. Sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Setelah usia 7 tahun perkembangannya ke bentuk dan ukuran dewasa berlangsung dengan cepat. diperkirakan pembentukan . terdiri dari sinus frontal. kecuali sinus sphenoid dan sinus frontal. Sinus maksila Sinus maksila atau Antrum Highmore. Perkembangan sinus paranasal dimulai pada fetus usia 3-4 bulan. saat itu sinus maksila sudah terbentuk dengan sangat baik dengan dasar agak lebih rendah daripada batas atas meatus inferior. Sinussinus ini pada umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun. dan sel-sel anterior sinus etmoid. merupakan sinus paranasal yang terbesar. Merupakan sinus pertama yang terbentuk.

Jadi ostium tulangnya berukuran lebih besar daripada lubang yang sebenarnya. dan akan setinggi dasar hidung dan kemudian berlanjut meluas ke bawah bersamaan dengan perluasan rongga. dan berkembang sebesar 2 mm vertical. yaitu ostium maksila yang terdapat di bagian anterior atas dinding medial sinus. lantai sinus maksila ini akan turun. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml. Celah ini kemudian akan berkembang menjadi tempat ostium sinus maksila yaitu di meatus media. Hal ini mempermudah untuk keperluan tindakan irigasi sinus. Menurut Morris. yaitu . Antrum mempunyai hubungan dengan infundibulum di meatus medius melalui lubang kecil. dan 3 mm anteroposterior tiap tahun. Perluasan rongga tersebut akan berlanjut setelah lahir. Pada waktu lahir sinus maksila ini mulanya tampak sebagai cekungan ektodermal yang terletak di bawah penonjolan konka inferior.dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksila. prosesus unsinatus os etmoid. yang terlihat berupa celah kecil di sebelah medial orbita. celah ini akan lebih kea rah lateral sehingga terbentuk rongga yang berukuran 7 x 4 x 4 mm. Perkembangan sinus ini akan berhenti saat erupsi gigi permanen. dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung. Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina vertikalis os palatum. yang merupakan rongga sinus maksila. Ostium ini biasanya terbentuk dari membran. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina. Mula-mula dasarnya lebih tinggi dari pada dasar rongga hidung dan pada usia 12 tahun. Dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. prosesus maksilaris konka inferior. ukuran rata-rata sinus maksila pada bayi baru lahir 7-8 x 46 mm dan untuk usia 15 tahun 31-32 x 18-20 x 19-20 mm. Dalam perkembangannya. Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah : 1) dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas . Sinus maksila berbentuk piramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya ke arah apeks prosesus zigomatikus os maksila. yang kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml pada saat dewasa.sinus tersebut terjadi pada hari ke 70 masa kehamilan. dan sebagaian kecil os lakrimalis. Perkembangan maksimum tercapai antara usia 15 dan 18 tahun. pada buku anatomi tubuh manusia.

dan isi rata-rata 6-7 ml. kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar (M3) . hanya tertutup oleh mukosa saja. Sinus frontal Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke emapat fetus.5-2 cm. sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. lebar 2-2. dan drainase harus melalui infundibulum yang sempit. Sesudah lahir. Tidak adanya gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto rontgen menunjukkan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior. Bentuk sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris. dan seringkali juga sangat berbeda bentuk dan ukurannya dari sinus dan pasangannya. Bahkan kadang-kadang tumbuh ke dalam rongga sinus. sehingga drainase hanya tergantung dari gerak silia. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis. hanya tertutup oleh mukosa saja. satu lebih besar dari pada lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. dalam 1. Ukuran rata-rata sinus frontal : tinggi 3 cm. Bentuk dan ukuran sinus frontal sangat bervariasi . Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang. sehingga infeksi dari sinus frontal . 3) Ostim sinus maksila lebih tinggi letaknya dari dasar sinus. sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan rongga sinus yang akan mengakibatkan sinusitis. bahkan akar-akar gigi tersebut tumbuh ke dalam rongga sinus.5 cm.premolar (P1 dan P2) . berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Proses supuratif yang terjadi di sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe. 2) sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita. kadang-kadang juga ada sinus yang rudimenter. molar (M1 dan M2). Gigi premolar kedua dan gigi molar kesatu dan dua tumbuhnya dekat dengan dasar sinus.

4 cm. Sinus etmoid Sel-sel etmoid. Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa. yang berhubungan dengan sinus frontal.5 cm di bagian anterior dan 1. sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. mula-mula terbentuk pada janin berusia 4 bulan. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm. Sinus etmoid sudah ada pada waktu bayi lahir kemudian berkembang sesuai dengan bertambahnya usia sampai mencapai masa pubertas. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. volume sinus kira-kira 14 ml. dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian posterior. tempat bermuaranya ostium sinus maksila.5 cm di bagian posterior. dan lebarnya 0. tinggi 2. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit. yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid. disebut resesus frontal. Perkembangannya berjalan . Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di ressus frontal yang berhubungan dengan infundibulum etmoid. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid.mudah menjalar ke daerah ini. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan infundibulum. berasal dari meatus superior dan suprema yang membentuk kelompok sel-sel etmoid anterior dan posterior. yang terletak di antara konka media dan dinding medial orbita. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila. Sinus etmoid berongga – rongga terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon. Berdasarkan letaknya. Sinus sfenoid Sinus sfenoid terbentuk pada janin berumur 3 bulan sebagai pasangan evaginasi mukosa di bagian posterior superior kavum nasi.

Volumenya berkisar dari 5 sampai 7. Ukurannya adalah tinggi 2 cm.lambat. Saat sinus berkembang. Sebelum anak berusia 3 tahun sinus sfenoid masih kecil.5 ml. namun telah berkembang sempurna pada usia 12 sampai 15 tahun. yang letakya jarang tepat di tengah.3 cm. dan lebarnya 1.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons. . Batas-batasnya adalah : sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa. (Ballenger JJ. Letaknya di dalam korpus os etmoid dan ukuran serta bentuknya bervariasi. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid.7 cm.1994) Letak os sfenoid adalah di dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. sebelah inferiornya adalah atap nasofaring. sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a. pembuluh darah dan nervus bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid. sehingga salah satu sinus akan lebih besar daripada sisi lainnya. dalamnya 2. sampai pada waktu lahir evaginasi mukosa ini belum tampak berhubungan dengan kartilago nasalis posterior maupun os sfenoid. Sepasang sinus ini dipisahkan satu sama lain oleh septum tulang yang tipis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->