Embriologi hidung Perkembangan rongga hidung secara embriologi yang mendasari pembentukan anatomi sinonasal dapat dibagi menjadi

dua proses. Pertama, embrional bagian kepala berkembang membentuk dua bagian rongga hidung yang berbeda ; kedua adalah bagian dinding lateral hidung yang kemudian berinvaginasi menjadi kompleks padat, yang dikenal dengan konka (turbinate), dan membentuk ronga-rongga yang disebut sebagai sinus. Sejak kehamilan berusia empat hingga delapan minggu , perkembangan embrional anatomi hidung mulai terbentuk dengan terbentuknya rongga hidung sebagai bagian yang terpisah yaitu daerah frontonasal dan bagian pertautan prosesus maksilaris. Daerah frontonasal nantinya akan berkembang hingga ke otak bagian depan, mendukung pembentukan olfaktori. Bagian medial dan lateral akhirnya akan menjadi nares (lubang hidung). Septum nasal berasal dari pertumbuhan garis tengah posterior frontonasal dan perluasan garis tengah mesoderm yang berasal dari daerah maksilaris. Ketika kehamilan memasuki usia enam minggu, jaringan mesenkim mulai terebentuk, yang tampak sebagai dinding lateral hidung dengan struktur yang masih sederhana. Usia kehamilan tujuh minggu, tiga garis axial berbentuk lekukan bersatu membentuk tiga buah konka (turbinate). Ketika kehamilan berusia sembilan minggu, mulailah terbentuk sinus maksilaris yang diawali oleh invaginasi meatus media. Dan pada saat yang bersamaan terbentuknya prosesus unsinatus dan bula ethmoidalis yang membentuk suatu daerah yang lebar disebut hiatus emilunaris. Pada usia kehamilan empat belas minggu ditandai dengan pembentukan sel. etmoidalis anterior yang berasal dari invaginasi bagian atap meatus media dan sel ethmoidalis posterior yang berasal dari bagian dasar meatus superior. Dan akhirnya pada usia kehamilan tiga puluh enam minggu , dinding lateral hidung terbentuk dengan baik dan sudah tampak jelas proporsi konka. Seluruh daerah sinus paranasal muncul dengan tingkatan yang berbeda sejak anak baru lahir, perkembangannya melalui tahapan yang spesifik. Yang pertama berkembang adalah sinus etmoid, diikuti oleh sinus maksilaris, sfenoid , dan sinus frontal.

yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan 2. 2) prosesus frontalis os maksila dan 3) prosesus nasalis os frontal . 2) batang hidung (dorsum nasi). yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis . struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian : 1.Anatomi hidung luar Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Kerangka tulang terdiri dari : 1) tulang hidung (os nasal) . 3) puncak hidung (hip). dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge). jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung. Hidung bagian luar menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas . Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit. di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan 3. 4)ala nasi. dan 6) lubang hidung (nares anterior). 5) kolumela.

konka media. premaksila dan kolumela membranosa. Anatomi hidung dalam Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os. .superior. Septum nasi Septum membagi kavum nasi menjadi dua ruang kanan dan kiri. dinding lateral terdapat konka superior. Kavum nasi dibagi oleh septum.olfaktorius yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius berjalan menuju bagian teratas septum nasi dan permukaan kranial konka superior. korpus os etmoid. krista maksila . 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor dan 3) tepi anterior kartilago septum. Atap hidung Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior. Bagian posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior. Krista palatine serta krista sfenoid. Kavum nasi Kavum nasi terdiri dari: Dasar hidung Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatine os maksila dan prosesus horizontal os palatum. bagian posterior dan inferior oleh os vomer.internum di sebelah anterior hingga koana di posterior. dan konka inferior. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh lamina kribrosa yang dilalui oleh filament-filamen n. . . prosesus frontalis os maksila. yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. bagian anterior oleh kartilago septum (kuadrilateral) . os nasal. berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka media disebut meatus superior. dan korpus os sphenoid.

Dinding Lateral Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus frontalis os maksila. celah antara konka inferior dengan dasar hidung disebut meatus inferior . Konka suprema. Meatus superior Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara septum dan massa lateral os etmoid di atas konka media. Di balik bagian anterior konka media yang letaknya menggantung. Meatus media Meatus media Merupakan salah satu celah yang penting yang merupakan celah yang lebih luas dibandingkan dengan meatus superior. Kelompok sel-sel etmoid posterior bermuara di sentral meatus superior melalui satu atau beberapa ostium yang besarnya bervariasi. dan konka media berasal dari massa lateralis os etmoid. Di sini terdapat muara sinus maksila. Di atas belakang konka superior dan di depan korpus os sfenoid terdapat resesus sfeno-etmoidal. celah antara konka media dan inferior disebut meatus media. konka inferior. tempat bermuaranya sinus sfenoid. lamina perpendikularis os platinum dan lamina pterigoideus medial. Kadang-kadang didapatkan konka keempat (konka suprema) yang teratas. konka superior dan konka media yang merupakan bagian dari os etmoid. Ada suatu muara atau fisura yang berbentuk bulan sabit yang menghubungkan meatus medius dengan infundibulum yang dinamakan hiatus semilunaris. konka superior. sedangkan konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada maksila bagian superior dan palatum. sinus frontal dan bahagian anterior sinus etmoid. Konka Fosa nasalis dibagi menjadi tiga meatus oleh tiga buah konka . Dinding inferior . pada dinding lateral terdapat celah yang berbentuk bulan sabit yang dikenal sebagai infundibulum. os lakrimalis. dan di sebelah atas konka media disebut meatus superior.

Ostium sinus frontal.dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Adakalanya sel-sel etmoid dan kadangkadang duktus nasofrontal mempunyai ostium tersendiri di depan infundibulum. frontalis dan sphenoid. antrum maksila. . Sinus-sinus tersebut terbentuk oleh pseudostratified columnar epithelium yang berhubungan melalui ostium dengan lapisan epitel dari rongga hidung. Di bagian atap dan lateral dari rongga hidung terdapat sinus yang terdiri atas sinus maksila. Sinus paranasal adalah rongga-rongga di dalam tulang kepala yang berisi udara yang berkembang dari dasar tengkorak hingga bagian prosesus alveolaris dan bagian lateralnya berasal dari rongga hidung hingga bagian inferomedial dari orbita dan zygomatikus. bagian atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid dan bagian luar oleh lamina pterigoideus. Tiap nares posterior bagian bawahnya dibentuk oleh lamina horisontalis palatum. yang berbentuk piramid yang irregular dengan dasarnya menghadap ke fossa nasalis dan puncaknya menghadap ke arah apeks prosesus zygomatikus os maksilla. Nares Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara kavum nasi dengan nasofaring. Sinus maksilaris merupakan sinus paranasal terbesar di antara lainnya. Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di bagian anterior atas. berbentuk oval dan terdapat di sebelah kanan dan kiri septum. mempunyai muara duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3 sampai 3. dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di infundibulum. etmoid.5 cm di belakang batas posterior nostril. dan sinus maksila bermuara di posterior muara sinus frontal. Di atas infundibulum ada penonjolan hemisfer yaitu bula etmoid yang dibentuk oleh salah satu sel etmoid. Sel-sel epitelnya berisi sejumlah mukus yang menghasilkan sel-sel goblet. Meatus Inferior Meatus inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus. bagian dalam oleh os vomer.

labialis superior. di antaranya adalah ujung a. Sedangkan pada sinus frontal sekret akan keluar melalui celah sempit resesus frontal yang disebut sebagai serambi depan sinus frontal. Pada potongan koronal sinus paranasal gambaran KOM terlihat jelas yaitu suatu rongga di antara konka media dan lamina papirasea. Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang a. Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma.karotis interna.etmoid anterior.sfenopalatina.oftalmika yang . oftalmika dari a. etmoid anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung di belakang ujung posterior konka media. infundibulum etmoid. Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arterinya . agger nasi dan ressus frontal. a. sehingga sering menjadi sumber epistaksis(pendarahan hidung) terutama pada anak. maksilaris interna. Dari resesus frontal drainase sekret dapat langsung menuju ke infundibulum etmoid atau ke dalam celah di antara prosesus unsinatus dan konka media. hiatus semilunaris.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama n. Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari cabang – cabang a. Perdarahan hidung Bagian atas hidung rongga hidung mendapat pendarahan dari a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach (Little’s area). bula etmoid.palatina mayor dan a.a. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v. Serambi depan dari sinus maksila dibentuk oleh infundibulum karena sekret yang keluar dari ostium sinus maksila akan dialirkan dulu ke celah sempit infundibulum sebelum masuk ke rongga hidung.fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a. Struktur anatomi penting yang membentuk KOM adalah prosesus unsinatus. dan a.Kompleks ostiomeatal (KOM) Kompleks ostiomeatal (KOM) adalah bagian dari sinus etmoid anterior yang berupa celah pada dinding lateral hidung.

sinus etmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior). yang terbesar.V-2). Rongga hidung lannya. sinus maksila. kanan dan kiri disebut Antrum Highmore dan sinus sfenoidalis kanan dan kiri.etmoidalis anterior. sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (N. Saraf ini turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung. Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok . sehingga merupakanfaktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intracranial.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n. yang berasal dari n. sehingga terbentuk rongga di dalam tulang.oftalmikus (N. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala. Semua rongga sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung.maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media. sinus frontalis kanan dan kiri. empat buah pada masing-masing sisi hidung . berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing. Nervus olfaktorius.petrosus profundus. Anatomi Sinus Paranasal Sinus paranasal dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Persarafan hidung Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. serabut parasimpatis dari n.nasosiliaris.V-1).berhubungan dengan sinus kavernosus. yang merupakan cabang dari n. Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ada empat pasang (delapan) sinus paranasal. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup.

Perkembangan sinus paranasal dimulai pada fetus usia 3-4 bulan. diperkirakan pembentukan . kecuali sinus sphenoid dan sinus frontal. berupa tonjolan atau resesus epitel mukosa hidung setelah janin berusia 2 bulan. Sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Sinussinus ini pada umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun. sinus maksila. Pneumatisasi sinus sphenoidalis dimulai pada usia 8 – 10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Embriologi sinus paranasal Secara embriologik. dan sel-sel anterior sinus etmoid. terdiri dari sinus frontal. Sinus maksila Sinus maksila atau Antrum Highmore. saat itu sinus maksila sudah terbentuk dengan sangat baik dengan dasar agak lebih rendah daripada batas atas meatus inferior. Kelompok anterior bermuara di bawah konka media. pada atau di dekat infundibulum. Garis perlekatan konka media pada dinding lateral hidung merupakan batas antara kedua kelompok.yaitu bagian anterior dan posterior. merupakan sinus paranasal yang terbesar. Proctor berpendapat bahwa salah satu fungsi penting sinus paranasal adalah sebagai sumber lender yang segar dan tak terkontaminasi yang dialirkan ke mukosa hidung. resesus inilah yang nantinya akan berkembang menjadi ostium sinus. Setelah usia 7 tahun perkembangannya ke bentuk dan ukuran dewasa berlangsung dengan cepat. Merupakan sinus pertama yang terbentuk. sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat anak lahir. Kelompok posterior bermuara di berbagai tempat di atas konka media terdiri dari sel-sel posterior sinus etmoid dan sinus sphenoid.

celah ini akan lebih kea rah lateral sehingga terbentuk rongga yang berukuran 7 x 4 x 4 mm. pada buku anatomi tubuh manusia. Celah ini kemudian akan berkembang menjadi tempat ostium sinus maksila yaitu di meatus media. Ostium ini biasanya terbentuk dari membran. Dinding medial atau dasar antrum dibentuk oleh lamina vertikalis os palatum. dinding medialnya ialah dinding lateral rongga hidung. yang terlihat berupa celah kecil di sebelah medial orbita. yaitu . prosesus unsinatus os etmoid.dinding posteriornya adalah permukaan infra-temporal maksila. dan 3 mm anteroposterior tiap tahun. ukuran rata-rata sinus maksila pada bayi baru lahir 7-8 x 46 mm dan untuk usia 15 tahun 31-32 x 18-20 x 19-20 mm. Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah : 1) dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas . lantai sinus maksila ini akan turun. Dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus alveolaris dan palatum. Menurut Morris. Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Jadi ostium tulangnya berukuran lebih besar daripada lubang yang sebenarnya. Perluasan rongga tersebut akan berlanjut setelah lahir. dan sebagaian kecil os lakrimalis. dan akan setinggi dasar hidung dan kemudian berlanjut meluas ke bawah bersamaan dengan perluasan rongga. yang kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal yaitu 15 ml pada saat dewasa. yaitu ostium maksila yang terdapat di bagian anterior atas dinding medial sinus. yang merupakan rongga sinus maksila. prosesus maksilaris konka inferior. Antrum mempunyai hubungan dengan infundibulum di meatus medius melalui lubang kecil. Dinding anterior sinus ialah permukaan fasial os maksila yang disebut fosa kanina. Saat lahir sinus maksila bervolume 6-8 ml. dan berkembang sebesar 2 mm vertical. Perkembangan sinus ini akan berhenti saat erupsi gigi permanen. Hal ini mempermudah untuk keperluan tindakan irigasi sinus. Dalam perkembangannya. Pada waktu lahir sinus maksila ini mulanya tampak sebagai cekungan ektodermal yang terletak di bawah penonjolan konka inferior.sinus tersebut terjadi pada hari ke 70 masa kehamilan. Mula-mula dasarnya lebih tinggi dari pada dasar rongga hidung dan pada usia 12 tahun. Sinus maksila berbentuk piramid ireguler dengan dasarnya menghadap ke fosa nasalis dan puncaknya ke arah apeks prosesus zigomatikus os maksila. Perkembangan maksimum tercapai antara usia 15 dan 18 tahun.

3) Ostim sinus maksila lebih tinggi letaknya dari dasar sinus. 2) sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita. Tidak adanya gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto rontgen menunjukkan adanya infeksi sinus. sedangkan pencabutan gigi ini dapat menimbulkan hubungan dengan rongga sinus yang akan mengakibatkan sinusitis. dan drainase harus melalui infundibulum yang sempit. Bentuk sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris.premolar (P1 dan P2) . berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sinus frontal Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke emapat fetus. Ukuran rata-rata sinus frontal : tinggi 3 cm. sehingga drainase hanya tergantung dari gerak silia. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang. hanya tertutup oleh mukosa saja. Proses supuratif yang terjadi di sekitar gigi-gigi ini dapat menjalar ke mukosa sinus melalui pembuluh darah atau limfe. sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun. Gigi premolar kedua dan gigi molar kesatu dan dua tumbuhnya dekat dengan dasar sinus. bahkan akar-akar gigi tersebut tumbuh ke dalam rongga sinus. molar (M1 dan M2). Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.5 cm. hanya tertutup oleh mukosa saja. Sesudah lahir. dan isi rata-rata 6-7 ml. kadang-kadang juga ada sinus yang rudimenter. Bahkan kadang-kadang tumbuh ke dalam rongga sinus. lebar 2-2. kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar (M3) . dan seringkali juga sangat berbeda bentuk dan ukurannya dari sinus dan pasangannya. satu lebih besar dari pada lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Bentuk dan ukuran sinus frontal sangat bervariasi . sehingga infeksi dari sinus frontal . dalam 1. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior.5-2 cm.

5 cm di bagian posterior. berasal dari meatus superior dan suprema yang membentuk kelompok sel-sel etmoid anterior dan posterior. Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit.mudah menjalar ke daerah ini. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita.4 cm. volume sinus kira-kira 14 ml. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid dengan dasarnya di bagian posterior. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan infundibulum. Sinus etmoid sudah ada pada waktu bayi lahir kemudian berkembang sesuai dengan bertambahnya usia sampai mencapai masa pubertas. yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid. sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm. tinggi 2. Sinus etmoid Sel-sel etmoid. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sphenoid. Sinus frontal berdrainase melalui ostiumnya yang terletak di ressus frontal yang berhubungan dengan infundibulum etmoid. yang terletak di antara konka media dan dinding medial orbita. tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Perkembangannya berjalan . dan lebarnya 0. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid.5 cm di bagian anterior dan 1. yang berhubungan dengan sinus frontal. Berdasarkan letaknya. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila. Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa. dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sinus etmoid berongga – rongga terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon. Sinus sfenoid Sinus sfenoid terbentuk pada janin berumur 3 bulan sebagai pasangan evaginasi mukosa di bagian posterior superior kavum nasi. disebut resesus frontal. mula-mula terbentuk pada janin berusia 4 bulan.

sehingga salah satu sinus akan lebih besar daripada sisi lainnya.7 cm.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons. Sepasang sinus ini dipisahkan satu sama lain oleh septum tulang yang tipis.3 cm. dan lebarnya 1. namun telah berkembang sempurna pada usia 12 sampai 15 tahun.5 ml. sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a. Volumenya berkisar dari 5 sampai 7. Ukurannya adalah tinggi 2 cm. . Sebelum anak berusia 3 tahun sinus sfenoid masih kecil. pembuluh darah dan nervus bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus sfenoid.lambat. Saat sinus berkembang. sampai pada waktu lahir evaginasi mukosa ini belum tampak berhubungan dengan kartilago nasalis posterior maupun os sfenoid. (Ballenger JJ. Letaknya di dalam korpus os etmoid dan ukuran serta bentuknya bervariasi. dalamnya 2. sebelah inferiornya adalah atap nasofaring. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Batas-batasnya adalah : sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa. yang letakya jarang tepat di tengah.1994) Letak os sfenoid adalah di dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful