Manajemen Mutu Terpadu dalam Bidang Pendidikan Di lingkungan organisasi non profit, khususnya pendidikan, penetapan kualitas produk

dan kualitas proses untuk mewujudkannya, merupakan bagian yang tidak mudah dalam pengimplementasian Manajemen Mutu Terpadu (TQM). Kesulitan ini disebabkan oleh karena ukuran produktivitasnya tidak sekedar bersifat kuantitatif, misalnya hanya dari jumlah lokal dan gedung sekolah atau laboratorium yang berhasil dibangun, tetapi juga berkenaan dengan aspek kualitas yang menyangkut manfaat dan kemampuan memanfaatkannya. Masih menurut Hadari Nawawi (2005 : 47), bagi organisasi pendidikan, adaptasi manajemen mutu terpadu dapat dikatakan sukses, jika menunjukkan gejala – gejala sebagai berikut : 1. Tingkat konsistensi produk dalam memberikan pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM terus meningkat. 2. Kekeliruan dalam bekerja yang berdampak menimbulkan ketidakpuasan dan komplain masyarakat yang dilayani semakin berkurang. 3. Disiplin waktu dan disiplin kerja semakin meningkat 4. Inventarisasi aset organisasi semakin sempurna, terkendali dan tidak

berkurang/hilang tanpa diketahui sebab – sebabnya. 5. Kontrol berlangsung efektif terutama dari atasan langsung melalui pengawasan melekat, sehingga mampu menghemat pembiayaan, mencegah penyimpangan dalam pemberian pelayanan umum dan pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 6. Pemborosan dana dan waktu dalam bekerja dapat dicegah. 7. Peningkatan ketrampilan dan keahlian bekerja terus dilaksanakan sehingga metode atau cara bekerja selalu mampu mengadaptasi perubahan dan perkembangan ilmu

Komitmen ini sangat penting karena berpengaruh langsung pada setiap pembuatan keputusan dan kebijakan. beberapa di antara sumber – sumber kualitas tersebut adalah sebagai berikut : 1. Di samping itu Cassio juga mengutip pengertian kualitas dari The Federal Quality Institute yang menyatakan “quality as meeting the customer’s requiremet the first time and every time. berarti kualitas di lingkungan organisasi profit ditentukan oleh pihak luar di luar organisasi yang disebut konsumen.pengetahuan dan teknologi. manusia. pemilihan dan pelaksanaan program dan proyek. Senada dengan itu Goetsh dan Davis seperti yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (1996) yang mengatakan : “kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan produk. Cassio dalam bukunya Hadari Nawawi mengatakan : “Quality is the extent to which product and service conform to customer requirement”. dan pelaksanaan kontrol. Tanpa komitmen ini tidak mungkin diciptakan dan dikembangkan pelaksanaan fungsi – fungsi manajemen yang berorentasi pada kualitas produk dan pelayanan umum. Berkenaan dengan kualitas dalam pengimplementasian TQM. efisien dan produktif. Di lingkungan organisasi yang kondisinyan sehat. Komitmen Pucuk Pimpinan (Kepala Sekolah) terhadap kualitas. proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”. terdapat berbagai sumber kualitas yang dapat mendukung pengimplementasian TQM secara maksimal. . sehingga kualitas produk dan pelayanan umum terus meningkat. sebagai cara bekerja yang paling efektif. Dilihat dari pengertian kualitas yang terakhir seperti tersebut di atas. pemberdayaan SDM. juga selalu berubah dan berkembang secara dinamis. jasa. where costumers can be internal as wellas external to the organization”. Wayne F. Menurut Hadari Nawawi (2005 : 138 – 141). Manajemen Mutu Terpadu di lingkungan suatu organisasi non profit termasuk pendidikan tidak mungkin diwujudkan jika tidak didukung dengan tersedianya sumber – sumber untuk mewujudkan kualitas proses dan hasil yang akan dicapai. yang selain berbeda – beda.

sangat tergantung pada ketersediaan informasi dan data yang akurat. 5. sehingga saling menunjang satu dengan yang lainnya. Kualitas pelaksanaan tugas pokok sangat ditentukan oleh potensi yang dimiliki oleh SDM. Dengan kata lain sumber kualitas ini harus ditransformasikan pada filsafat kualitas yang berkesinambungan dalam merealisasikan TQM. Sehubungan dengan itu. realiasi TQM tidak boleh digantungkan pada individu kepala sekolah sebagai sumber kualitas. Untuk itu semua fungsi harus dilibatkan secara maksimal. 4. yang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. baik yang telah diwujudkan dalam prestasi kerja maupun yang masih bersifat potensial dan dapat dikembangkan. . karena tergantung pada kondisi pucuk pimpinan (kepala sekolah). Disamping itu SDM juga merupakan potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi (sekolah) untuk mewujudkan eksistensinya. sama pentingnya satu dengan yang lainnnya. Sistem Informasi Manajemen Sumber ini sangat penting karena usaha mengimplementasikan semua fungsi manajemen yang berkualitas. 3. yang selalu menghadapi kemungkinan dipindahkan.2. Filsafat Perbaikan Kualitas secara Berkesinambungan Sumber – sumber kualitas yang ada bersifat sangat mendasar. Sumberdaya manusia yang potensial SDM di lingkungan sekolah sebagai aset bersifat kuantitatif dalam arti dapat dihitung jumlahnya. Keterlibatan semua Fungsi Semua fungsi dalam organisasi sebagai sumber kualitas. cukup/lengkap dan terjamin kekiniannya sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas pokok organiasi. karena sikap dan perilaku individu terhadap kualitas dapat berbeda. atau dapat memohon untuk dipindahkan.

guru. Berangkat dari visi. penyediaan sumber daya dan pengeloaan kurikulum termasuk indikator pencapaian peningkatan mutu tersebut. personil sekolah/madrasah. valid dan secara sistimatis menyangkut berbagai aspek akademis. maka melalui partisipasi aktif dan dinamis dari orang tua. maka program yang disusun harus mendukung pengembangan kurikulum dengan memperhatikan kurikulum nasional yang telah ditetapkan. Karena fokus kita dalam mengimplementasian konsep manajemen ini adalah mutu siswa. misi dan tujuan adalah bagaimana siswa belajar. sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dimungkinkan bahwa program tertentu . 4. langkah untuk menyampaikannya di dalam proses pembelajaran dan siapa yang akan menyampaikannya. misi. administratif (siswa. siswa. Penyusunan basis data dan profil sekolah/madrasah lebih presentatif. 3. Berdasarkan analisis tersebut sekolah/madrasah harus mengidentifikasikan kebutuhan sekolah/madrasah dan merumuskan visi. kinerja dalam mengembangkan dan mencapai target kurikulum dan hasil-hasil yang dicapai siswa berkaitan dengan aspek-aspek intelektual dan keterampilan. dsb). perolehan prestasi dalam bidang keterampilan. Hal penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan identifikasi kebutuhan dan perumusan visi. dan tujuan dalam rangka menyajikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya sesuai dengan konsep pembangunan pendidikan nasional yang akan dicapai. misi dan tujuan peningkatan mutu tersebut sekolah/madrasah bersama-sama dengan masyarakatnya merencanakan dan menyusun program jangka panjang atau jangka pendek (tahunan termasuk anggarannnya). dan keuangan. Melakukan evaluasi diri (self assesment) utnuk menganalisa kekuatan dan kelemahan mengenai sumber daya sekolah/madrasah. olah raga.Strategi pelaksanaan TQM di tingkat sekolah/madrasah Dalam rangka mengimplementasikan konsep manajemen peningkatan mutu yang berbasis sekolah/madrasah ini. 2. akurat. Perencanaan program sekolah/madrasah ini harus mencakup indikator atau target mutu apa yang akan dicapai dalam tahun tersebut sebagai proses peningkatan mutu pendidikan (misalnya kenaikan NEM rata-rata dalam prosentase tertentu. Oleh karena itu. staf). guru dan staf lainnya termasuk institusi yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan sekolah/madrasah harus melakukan tahapan kegiatan sebagai berikut : 1. Program tersebut memuat sejumlah program aktivitas yang akan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional yang telah ditetapkan dan harus memperhitungkan kunci pokok dari strategi perencanaan tahun itu dan tahun-tahun yang akan datang. maupun aspek lainnya. 5. Program sekolah/madrasah yang disusun bersama-sama antara sekolah/madrasah. Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah kondisi alamiah total sumber daya yang tersedia dan prioritas untuk melaksankan program. orang tua dan masyarakat ini sifatnya unik dan dimungkinkan berbeda antara satu sekolah/madrasah dan sekolah/madrasah lainnya sesuai dengan pelayanan mereka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

oleh karena itu sekolah/madrasah harus membuat strategi perencanaan dan pengembangan jangka panjang melalui identifikasi kunci kebijakan dan prioritas. yaitu : (i) mampu mengidentifikasi perubahan pokok di sekolah/madrasah sebagai hasil dari kontribusi berbagai program sekolah/madrasah dalam periode satu tahun. Demikian aktifitas tersebut terus menerus dilakukan sehingga merupakan suatu proses peningkatan mutu yang berkelanjutan. Melakukan monitoring dan evaluasi untuk menyakinkan apakah program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan. E. Seringkali prioritas ini dikaitkan dengan pengadaan peralatan bukan kepada output pembelajaran. Seringkali evaluasi tidak selalu bermanfaat dalam kasus-kasus tertentu. maka kegiatan monitoring dan evaluasi harus memenuhi kebutuhan untuk mengetahui proses dan hasil belajar siswa. oleh karenanya selain hasil evaluasi juga diperlukan informasi lain yang akan dipergunakan untuk pembuatan keputusan selanjutnya dalam perencanaan dan pelaksanaan program di masa mendatang. Hambatan dalam peningkatan kualitas . sementara urutan dan logika pengembangan juga telah disesuaikan. Sementara persetujuan dari proses pendanaan harus bukan semata-mata berdasarkan pertimbangan keuangan melainkan harus merefleksikan kebijakan dan prioritas tersebut. Karena fokus kita adalah mutu siswa. apakah tujuan telah tercapai. Anggaran harus jelas terkait dengan program yang mendukung pencapaian target mutu. Aspek penting dari strategi perencanaan ini adalah program dapat dikaji ulang untuk setiap periode tertentu dan perubahan mungkin saja dilakukan untuk penyesuaian program di dalam kerangka acuan perencanaan dan waktunya. Perencanaan jangka panjang ini dapat dinyatakan sebagai strategi pelaksanaan perencanaan yang harus memenuhi tujuan esensial. dan sejauh mana pencapaiannya. Secara keseluruhan tujuan dan kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk meneliti efektifitas dan efisiensi dari program sekolah/madrasah dan kebijakan yang terkait dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.lebih penting dari program lainnya dalam memenuhi kebutuhan siswa untuk belajar. Prioritas seringkali tidak dapat dicapai dalam rangka waktu satu tahun program sekolah/madrasah. 7. tetapi mereka disediakan waktu yang representatif untuk melaksanakannya. Kondisi ini mendorong sekolah/madrasah untuk menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program tersebut. 6. dan (ii) keberadaan dan kondisi natural dari strategi perencanaan tersebut harus menyakinkan guru dan staf lain yang berkepentingan (yang seringkali merasakan tertekan karena perubahan tersebut dirasakan harus melaksanakan total dan segera) bahwa walaupun perubahan besar diperlukan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran siswa. Oleh karena itu dalam rangka pelaksanaan konsep manajemen tersebut sekolah/madrasah harus membuat skala prioritas yang mengacu kepada program-program pembelajaran bagi siswa. Hal ini memungkinkan terjadinya perubahan pada perencanaan sebelum sejumlah program dan pendanaan disetujui atau ditetapkan.

Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain: 1. dan 4. adanya „Job Hope‟ (mengharapkan jabatan). Kurang konstannya tujuan. adanya pemikiran jangka pendek. 3. empat yang paling mematikan yaitu: 1. 3.Hal penting yang perlu diperhatian dalam mengimplementasikan TQM adalah hambatanhambatan yang mungkin akan ditemui. ada pula beberapa kesalahan yang secara umum dilakukan pada saat organisasi memulai inisitaif perbaikan kualitas. 5. Proses penyebarluasan (deployment) 4. adanya evaluasi individual yang hanya dilakukan melalui skala pertimbangan atau laporan tahunan. Delegasi dan kepemimpinan yang tidak baik dari menejemen senior. Menurut Deming. sehingga organisasi terhambat untuk mengadopsi kualitas sebagai manajemen. penjadwalan yang tidak memadai. lingkungan kerja yang buruk. system dan prosedur yang tidak sesuai. ada “tujuh penyakit yang mematikan” sebagai hambatan dalam peningkatan kualitas. 2. gedung sekolah/madrasah yang kurang terawat. Team mania. Deming juga mengutarakan penyebab gagalnya kualitas dalam pendidikan disebabkan oleh sumber-sumber pendidikan itu sendiri. termasuk design kurikulum. Menggunakan pendekatan yang terbatas dan dogmatis. Harapan yang terlalu berlebihan . 2. kurangnya sumber-sumber yang penting dan pengembangan staf yang tidak memadai. Kegagalan TQM dapat juga diakibatkan oleh usaha pelaksanaan yang setengah hati dan harapanharapan yang tidak realistis.