P. 1
Contoh Proposal Eksperimen

Contoh Proposal Eksperimen

|Views: 130|Likes:
Published by wedastama putu

More info:

Published by: wedastama putu on Jun 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/20/2015

pdf

text

original

JUDUL PENELITIAN EKSPERIMEN

Pengaruh Disiplin Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis
yang Menerapkan Model
Hasil Belajar TIK Siswa
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PROPOSAL
JUDUL PENELITIAN EKSPERIMEN
Pengaruh Disiplin Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis
yang Menerapkan Model Self Regulated Learning Terhadap
Hasil Belajar TIK Siswa Kelas VII Semester II di SMP N 3 Banjar
Tahun Pelajaran 2011/2012
Oleh
Putu Wedastama
NIM 0911021029
Dosen Pengampu Mata Kuliah:
Prof. Dr. A. A. Gede Agung, M.Pd.
Dr. I Made Tegeh, M.Pd.
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA/2012
1
JUDUL PENELITIAN EKSPERIMEN
Pengaruh Disiplin Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Website
Terhadap
I Semester II di SMP N 3 Banjar
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GANESHA
2
A. IDENTITAS MAHASISWA
Nama : Putu Wedastama
NIM : 0911021029
Program Studi/Jurusan : S1/Teknologi Pendidikan
Fakultas : Ilmu Pendidikan
No HP : 081936346355
B. JUDUL
Pengaruh Disiplin Belajar dan Media Pembelajaran Berbasis Website
yang Menerapkan Model Self Regulated Learning Terhadap Hasil Belajar
TIK Siswa Kelas VII Semester II di SMP N 3 Banjar Tahun Pelajaran
2011/2012.
C. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan adalah bantuan yang diberikan dengan sengaja oleh orang
dewasa yang bertanggung jawab kepada anak-anak yang belum dewasa dalam
arti jasmani maupun rohani agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat
(Purwanto, 2002:10) (dalam Permana, 2011:1). Pendidikan dengan kata lain
merupakan proses pendewasaan peserta didik agar dapat mengembangkan
bakat, potensi dan keterampilan yang dimiliki dalam menjalani kehidupan.
Memiliki arti seperti tersebut di atas seharusnya pendidikan mampu didesain
dengan baik guna memberikan sebuah pemahaman yang mampu menjadikan
kualitas pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Peningkatan kualitas
pendidikan merupakan isu yang sangat kuat dan mendasar di negara-negara
berkembang. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari penataan pendidikan.
Berbaagai upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan telah dan terus
dilakukan demi mencapai tujuan pendidikan nasional. Upaya tersebut dimulai
dari peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik,
perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, sampai dengan proses
pembelajaran. Selain untuk meningkatkan kualitas pendidikan hal tersebut
diperuntukkan dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM).
3
Sumber Daya Manusia yang memiliki kualias tinggi dapat tercapai dengan
melaksanakan pendidikan yang idealnya dengan tujuan pendidikan nasional
yang tercantum pada UUD 1945 nomor 20 tahun 2003, yang menyebutkan
bahwa usaha sadar untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya,
masyarakat dan bangsa. Namun pada kenyataannya belum terwujud, baik dari
segi kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, pengendalian diri, maupun
keterampilan yang digunakan untuk dirinya sendiri, masyarakat serta bangsa.
Pengembangan diri tersebut dapat ditempuh melalui proses pembelajaran baik
di sekolah atau juga di luar sekolah.
Secara umum pembelajaran adalah setiap perubahan prilaku yang relatif
permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman (Wikipedia, 2012), namun
dalam pendidikan pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi
proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat,
serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata
lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat
belajar dengan baik. Dalam kegiatan pembelajaran yang dituntut untuk belajar
adalah siswa yang mengikuti pendidikan, agar siswa mengetahui apa yang
belum diketahui.
Menurut Maria, (2010) (dalam Rasmi, 2011:1) belajar merupakan
pengembangan pengetahuan baru, keterampilan atau sikap sebagai seseorang
individu yang berinteraksi dengan sumber informasi dan lingkungan. Yang
merupakan lingkungan belajar adalah fasilitas fisik, atmosfir psikologi,
teknoloogi pendidikan, media dan metode. Dalam proses pembelajaran
terdapat proses mengajar yang dilakukan oleh pendidik. Mengajar menurut
Tyson dan Caroll (dalam Rasmi, 2011:2) merupakan sebuah cara dengan
proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa yang secara
bersamaan aktif melakukan kegiatan.
4
Kegiatan pembelajaran yang efekif memerlukan sebuah media yang
mendukung proses pembelajaran di sekolah. Media pembelajaran merupakan
suatu alat yang digunakan dalam proses pembelajaran. Sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini penggunaan media
pembelajaran khususnya website berbasis online sangat diperlukan, guna
pengefisienan waktu dan tempat. Media pembelajaran berbasis website
memiliki keunggulan dibandingkan dengan media lainnya. media
pembelajaran website dapat menampilkan video, gerak animasi, teks
pembelajaran dan gambar-gambar serta simbol-simbol yang berkaitan dengan
TIK.
Dalam meningkatkan hasil atau prestasi belajar peserta didik, alangkah
perlunya dalam sebuah media tersebut menerapkan sebuah model
pembelajaran. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
melukiskan prosedur sistematika dan mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model pembelajaran akan membantu
siswa mencari pengalaman belajarnya sendiri. Dengan adanya perpaduan
antara media pembelajaran dengan model pembelajaran yang digunakan
diharapakan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbicara
tentang mutu pendidikan tidak akan lepas dari kegiatan belajar. Hasil kegiatan
belajar yang diharapkan adalah prestasi belajar yang baik. Setiap orang pasti
mendambakan prestasi belajar yang tinggi, baik orang tua, siswa, dan lebih-
lebih bagi guru. Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal tidak lepas dari
kondisi-kondisi dimana kemungkinan siswa dapat belajar dengan efektif dan
dapat mengembangkan daya eksplorasinya.
Dalam rangka itu maka sesuai dengan tugas dan fungsinya, Pusat
Teknologi Informasi dan Komunikasi pendidikan telah mengembangkan
sejumlah program pembelajaran berbantuan komputer secara online (website)
yang ditujukan kepada siswa atau pebelajar tingkat SD, SMP, SMA/SMK dan
Sederajat. Program tersebut saat ini telah tersebar di beberapa sekolah-sekolah
di Indonesia. Namun kenyataannya di lapangan menunjukkan bahwa berbagai
media termasuk website belum dimanfaatkan secara optimal oleh peserta didik
maupun pendidik yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan kurangnya
5
persiapan dan pemanfaatan Sumber daya manusia yang ada di sekolah atau
instansi pendidikan terkait. Hasil belajar siswa di sekolah tidak hanya
ditentukan oleh media dan pendidik semata-mata, tetapi juga di tentukan oleh
faktor lain yakni berasal dari diri siswa yang bersangkutan. Faktor disiplin
belajar merupakan faktor yang sangat mendukung demi mencapai hasil belajar
yang maksimal. Timbulnya sikap disiplin bukan merupakan kejadian atau
peristiwa yang datang secara tiba-tiba atau seketika timbul tanpa adanya
pembiasaan diri. Pengenalan dan penanaman sikap disiplin pada peserta didik
dapat dilakukan dari pembiasaan di rumah serta lingkungan masyarakat
tempat tinggal peserta didik yang bersangkutan. Penanaman dan pembiasaan
sikap disiplin peserta didik seharusnya telah dilakukan sejak usia dini dengan
mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang merujuk kepada disiplin siswa
bersangkutan.
Penanaman disiplin yang dilakukan di rumah adalah penanaman dasar
disiplin yang harus dilakukan, namun di penanaman disiplin di sekolah
(disiplin belajar) sangat membantu proses belajar mengajar di sekolah.
Dengan menciptakan aturan dan tata tertib di sekolah siswa akan secara
langsung mendapat penanaman disiplin belajar. Terciptanya disiplin belajar
pada siswa akan memperlancar proses belajar mengajar, sehingga siswa dapat
memperoleh hasil belajar yang baik. Siswa yang memiliki disiplin belajar
tinggi akan dapat meningkatkan hasil belajarnya. Dari paparan di atas
mencerminkan betapa perlunya solusi dalam proses pembelajaran yang
mampu memecahkan masalah pembelajaran, yakni penggunaan media
pembelajaran yang diarengi dengan penerapan model pembelajaran yang
digunakan dan penanaman disiplin belajar kepada siswa agar menemui hasil
maksimal.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti terdorong untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Disiplin Belajar dan Media Pembelajaran
Berbasis Website yang Menerapkan Model Self Regulated Learning Terhadap
Hasil Belajar TIK Siswa Kelas VII Semester II di SMP N 3 Banjar Tahun
Pelajaran 2011/2012”.
6
D. RUMUSAN MASALAH
Bardasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang harus
dipecahkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar TIK antara kelompok belajar yang
menggunakan media pembelajaran berbasis website yang menerapkan
model Self regulated learning dengan kelompok siswa yang tidak
menggunakan media pembelajaran berbasis website?
2. Apakah terdapat pengaruh interaksi antara media pembelajaran dengan
disiplin belajar terhadap prestasi belajar?
3. Pada kelompok siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi, apakah
terdapat perbedaan hasil belajar TIK antara kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis
website yang menerapkan model Self regulated learning dengan kelompok
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional?
4. Pada kelompok siswa yang memiliki disiplin belajar rendah, apakah
terdapat perbedaan hasil belajar TIK antara kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis
website yang menerapkan model Self regulated learning dengan kelompok
siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional?
E. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, tujuan yang harus
dicapai dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut.
1. Mengetahui perbedaan hasil belajar TIK antara kelompok belajar yang
menggunakan media pembelajaran berbasis website yang menerapkan
model Self regulated learning dengan kelompok siswa yang tidak
menggunakan media pembelajaran dengan model konvensional.
2. Mengetahui pengaruh interaksi antara media pembelajaran dengan disiplin
belajar terhadap prestasi belajar?
3. Mengetahui hasil belajar TIK pada kelompok siswa yang memiliki disiplin
tinggi dalam kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan
media pembelajaran berbasis website yang menerapkan model Self
7
regulated learning dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran
dengan model konvensional.
4. Mengetahui hasil belajar TIK pada kelompok siswa yang memiliki disiplin
rendah dalam kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran
menggunakan media pembelajaran berbasis website yang menerapkan
model Self regulated learning dengan kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan model konvensional.
F. MANFAAT PENELITIAN
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap pengembangan kualitas pelajaran TIK. Secara lebih spesifik manfaat
ini dibedakan menjadi dua yaitu; 1) Manfaat Teoritis, dan 2) Manfaat Praktis
yaitu sebagai berikut.
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah khasanah ilmu
pengetahuan dalam bidang pendidikan. Hubungan antara media
pembelajaran berbasis website yang menerapkan model Self regulated
learning dengan metode konvensional, serta pengaruh disiplin belajar akan
menjadi suatu pembanding dalam pengembangan teori pembelajaran
selanjutnya dalam hal ini penyusunan kurikulum pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
Selain manfaat teoritis ada juga manfaat praktis dari penelitian ini, yaitu
sebagai berikut.
a. Bagi Siswa
Dengan terpakainya media pembelajaran berbasis website yang
menerapkan model Self regulated learning dalam pelajaran TIK dan
dibarengi dengan penanaman disiplin belajar, diharapkan siswa
mampu belajar lebih bervariasi. Yang tujuannya tiada lain untuk
meningkatkan hasil belajar siswa yang bersangkutan.
b. Bagi Guru
Menggunakan media pembelajaran berbasis website yang menerapkan
model Self regulated learning dan menanamkan disiplin belajar
8
terhadap peserta didik, akan lebih meningkatkan kualitas dan
kemampuan mengajar serta dalam pengelolaan kelas.
c. Kepala Sekolah
Hasil penelitian ini dapat dijadikan perbandingan dan memberikan
suatu hal yang positif yang nantinya dapat dijadikan sebagai
penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
d. Peneliti lain
Peneltian ini dapat digunakan sebagai kajian teori dalam melangkah ke
jenjang mata kuliah penelitian.
G. KETERBATASAN PENELITIAN
1. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Banjar yang melibatkan siswa
kelas VII 1 dan VII 2, sehingga hasil penelitian ini hanya diperuntukkan
pada siswa yang bersangkutan yaitu siswa yang disebutkan di atas.
2. Materi yang diangkat dalam penelitian ini adalah materi yang bersumber
dari mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
H. DEFINISI ISTILAH
1. Disiplin belajar adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui
proses dari serangkaian prilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,
kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah
menjadi bagian prilaku dalam kehidupannya. Prilaku itu tercipta melalui
proses binaan dalam keluarga, pendidikan dan pengalaman.
2. Media pembelajaran adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan
pesan (materi pelajaran) yang digunakan dalam proses pembelajaran.
3. Website adalah kumpulan halaman yang menampilkan informasi data, baik
teks, gambar, animasi maupun suara, baik bersifat statis atau dinamis yang
membentuk bangunan yang saling terkait dengan jaringan-jaringan
halaman (hyperlink), yang diakses atau dilihat melalui jaringan Internet
pada perangkat-perangkat yang bisa mengakses Internet itu sendiri seperti
Komputer, Handphone, dan sebagainya.
9
4. Model Self regulated learning adalah model pembelajaran yang
memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengelola pembelajarannya
sendiri dalam berbagai cara. Sehingga mencapai hasil belajar yang
optimal.
5. Hasil Belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai akibat
kegiatan belajar yang dapat diamati melalui penampilan siswa. Hasil
belajar dapat berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah
menyatu dalam diri siswa masing-masing.
6. Mata pelajaran TIK adalah singkatan dari Teknologi Informasi dan
Komunikasi yang mengandung arti luas tentang segala aspek yang terkait
dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan atau transfer
informasi antar media yang menggunakan teknologi tertentu yang
menekankan siswa untuk memahami konsep, pengetahuan dan operasi
dasar komputer.
I. KAJIAN PUSTAKA
1. Belajar
Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya (Slameto, 2003:2) (dalam http://blog. elearning.
unesa.ac.id/tag / pengertian- belajar-menurut-slameto).
Sedangkan menurut Anni (2004:4) mengatakan bahwa belajar
merupakan hal yang sangat penting bagi perubahan tingkah laku manusia
dan Ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakannya. Dan
Nasution (2000:34) mengatakan belajar adalah segala perubahan kelakuan
berkat pengalaman dan latihan.
Dari pendapat para ahli tersbut dapat ditarik kesimpulan, yaitu belajar
adalah aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga
menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda anatara sesudah
belajar dan sebelum belajar.
10
2. Disiplin Belajar
Disiplin merupakan istilah yang sudah menyatu dalam masyarakat, di
berbagai instansi pemerintah maupun swasta. Menurut Gerakan Disiplin
Nasional (GDN 1996:29-30) menyatakan “disiplin” adalah alat untuk
menciptakan prilaku dantata tertib manusia sebagai pribadi maupun
sebagai kelompok masyarakat. Disiplin disini berarti hukuman atau sanksi
yang berbobot mengatur dan mengendalikan prilaku. Kita mengenal
adanya disiplin kerja, disiplin lalu lintas, disiplin belajar dan macam istilah
disiplin yang lain. Masalah disiplin yang dibahas dalam penelitian ini
hanya difokuskan mengenai disiplin belajar.
a. Pengertian Disiplin Belajar
Disiplin berasal dari bahasa latin yaitu “Diciplina” yang menunjuk
pada kegiatan belajar dan mengajar, sedangkan istilah bahasa
inggrisnya yaitu “discipline” yang berarti 1) tertib, taat dalam
mengendalikan tingkah laku dan penguasaan diri, 2) latihan atau
membentuk, meluruskan atau menyempurnakan sesuatu sebagai
kemampuan mental dan karakter moral, 3) hukuman yang diberikan
guna melatih atau memperbaiki, dan 4) kumpulan atau sistem
peraturan bagi tingkah laku.
Dalam Depdikbud (1988:208) (dalam Dewiani, 2010:19) disiplin
merupakan tata tertib atau kepatuhan terhadap tata tertib. Disiplin
kerap menyatu atau terkait dengan istilah tata tertib dan ketertiban.
Menurut Priyanto (dalam Permana 2011:22) disiplin adalah suatu
kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian
prilaku yang menunjukkan nilai ketaatan kepada keteraturan dan
ketertiban dalam memperoleh ilmu.
Menurut Arikunto (1998:144) (dalam Permana, 2011:22) disiplin
belajar juga dapat diartikan kepatuhan seseorang dalam mengikuti
peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang
ada pada kata hatinya.
11
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa disiplin belajar adalah suatu kepatuhan, ketertiban dan ketaatan
siswa yang dilandasi kesadaran pribadi terhadap peraturan yang dibuat
oleh diri sendiri atau pihak lain.
b. Tujuan Disiplin Belajar
Disiplin atau kepatuhan akan tata tertib dalam mengikuti suatu
pekerjaan khususnya dalam belajar sangat penting. Sikap disiplin akan
membentuk pola hidup yang teratur, tertib, harmonis dan seimbang.
Sikap disiplin hendaknya ditanamkan sejak kecil yang harus dibina
dalam kehidupan rumah tangga. Tujuan terbentuknya disiplin tidak
lain untuk menghargai kesempatan dan waktu. Namun ada beberapa
ahli menyebutkan lain, yaitu sebagai berikut.
Menurut Charles Schaefer (dalam http://id.shvoong.com/social-
sciences/education/2183958-tujuan-disiplin/) tujuan disiplin dibagi
menjadi dua, yaitu:
a) Tujuan jangka pendek Tujuan jangka pendek disiplin adalah
membuat anak-anak terlatih dan terkontrol dengan mengajarkan
mereka bentuk bentuk tingkah laku yang tidak pantas atau yang
masih asing bagi mereka.b) Tujuan jangka panjang disiplin adalah
untuk perkembangan pengendalian diri (self control and self
direction) yaitu dalam halapa anak-anak dapat mengarahkan diri
sendiri tanpa pengaruh pengendalian dari luar. Pengendalian diri
berarti menguasai tingkah laku diri sendiri dengan berpedoman
pada norma-norma yang jelas standar-standar dan aturan-aturan
yang menjadi milik sendiri.
Menurut Omas Gordon (1996:34) tujuan membentuk sikap disiplin
pada anak sangat penting, tujuannya adalah sebagai berikut.
1) Membantu anak untuk menjadi matang pribadinya dan
mengambangkan dari sifat-sifat ketergantungan sehingga Ia
mampu berdiri sendiri atau tanggung jawab sendiri.
2) Membantu anak untuk mengatasi, mencegah timbulnya
masalah-masalah disiplin dan berusaha untuk menciptakan
situasi yang tertib bagi kegiatan belajar mengajar dimana
mereka mentaati segala peraturan yang telah ditetapkan.
Diharapkan sikap disiplin dapat memberi bantuan kepada siswa
agar mereka mampu berdiri sendiri.
12
Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari
disiplin belajar adalah membantu anak belajar mandiri, tertib dan
bertanggung jawab dalam kegiatan belajar. Selain itu disiplin
membantu siswa untuk mengatasi dan mencegah timbulnya kesulitan
saat belajar.
c. Fungsi Disiplin Belajar
Disiplin sangat penting dalam memahami konsep ilmu
pengetahuan. Disiplin merupakan prasyarat utama yang harus dimiliki
oleh pebelajar. Indikator dan fungsi disiplin belajar adalah 1)
pembentukan sikap, 2) pembentukan prilaku dan 3) tata kehidupan
berdisiplin di sekolah.
Menurut Tulus (2004:38) (dalam Dewiani, 2010:21) fungsi disiplin
yaitu sebagai berikut.
1) Menata kehidupan bersama, fungsi disiplin adalah mengatur tata
kehidupan manusia, dalam kelompok tertentu atau dalam
masyarakat. Dengan begitu hubungan antara individu atu dengan
yang lain menjadi baik dan lancar. 2) membangun kepribadian
lingkungan yang berdisiplin baik, sangat berpengaruh terhadap
kepribadian seseorang. Apalagi seorang siswa yang sedang tumbuh
kepribadiannya, tentu lingkungan sekolah yang tertib, teratur,
tenang, tenteram sangat berpengaruh dalam membangun
kepribadian yang baik. 3) melatih kepribadian sikap, prilaku dan
pola kehidupan yang baik dan tidak berbentuk serta merta dalam
waktu yang singkat. Namun terbentuk dari suatu proses yang
membutuhkan waku panjang. Salah satu proses untuk membantu
kepribadian tersebut dilakukan melalui pelatihan. 4) pemaksaan
dari pendapat itu, disiplin dapat terjadi karena kesadaran diri.
Disiplin dari kesadaran diri lebih baik dan kuat. 5) hukuman, tata
tertib sekolah yang berisi hal-hal positif yang harus dilakukan oleh
siswa. Sisi lainnya berisi sanksi atau hukuman yang melanggar tata
tertib tersebut.
Fungsi utama disiplin belajar adalah mengajar mengendalikan diri
dengan mudah, menghormati dan mentaati peraturan berkaitan dengan
hal tersebut diatas menerangkan sebagai berikut:
1) Menerapkan pengetahuan dan pengertian sosial antara lain
mengenal hak milik orang lain, 2) Mengerti dan segera menurut
untuk menjalankan kewajiban dan merasa mengerti larangan-
13
larangan, 3) Mengerti tingkah laku yang baik dan tidak baik, 4)
Belajar mengendalikan diri, keinginan dan berbuat sesuatu tanpa
merasa terancam oleh hukuman. 5) Mengorbankan kesenangan
sendiri tanpa peringatan dari orang lain (Singgi, 1985) (dalam
http://kabar- pendidikan. blogspot.com/ 2011/05/ pengertian-dan-
hakikat- disiplin- belajar.html).
Jadi dalam menanamkan pendidikan pada anak perlu menanamkan
pendidikan kedisiplinan, artinya menumbuhkan dan mengembangkan
pengertian-pengertian yang berasal dari luar yang merupakan proses
untuk melatih dan mengajarkan anak bersikap dan bertingkah laku
sesuai harapan.
Dari pendapat para ahli tersebut di atas maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa fungsi disiplin belajar tidak lain guna menata
kehidupan untuk mengendalikan diri sebagai rasa tanggung jawab
sebagai siswa dalam mengikuti pelajaran, sehingga hasil pelajaran
yang diperoleh akan menjadi lebih baik.
d. Unsur-unsur Disiplin Belajar
Bila disiplin diharapkan mampu mendidik siswa untuk berprilaku
sesuai denan standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka, maka
harus memenuhi unsur-unsur pokok dalam menegakkan disiplin.
Menurut Hurlock (1999:84) (dalam Sakdyah, 2006:43) ada empat
unsur disiplin, yaitu 1) peraturan, 2) hukuman, 3) penghargaan, dan 4)
konsistensi.
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk pembatasan tingkah
laku. Pola tersebut dapat dibuat oleh guru, kepala sekolah, orang tua
dan telah disepakati oleh pihak terkait. Tujuan peraturan adalah untuk
mewujudkan anak yang lebih bermoral dengan membekali pedoman
prilaku yang disetujui dalam situasi tertentu.
Hukuman dalam bahasa istilahnya adalah “punire”. Hukuman
adalah ganjaran atau pembalasan akibat dari perbuatan yang melanggar
peraturan yang telah disepakati.
14
Penghargaan adalah setiap bentuk pemberian untuk suatu hasil
yang baik. penghargaan tidak harus berupa materi, uang atau barang,
namun penghargaan dapat berupa senyuman atau kata-kata pujian.
Konsistensi adalah keseragaman atau stabilitas, keajegan atau
kecendrungan menuju kesamaan, Hurlock (1999:84) (dalam Sakdyah,
2006:43). Disiplin tidak mungkin terlaksana jika tidak adanya
konsistensi. Disiplin yang konstan akan mengakibatkan tiadanya
perubahan untuk menghadapi kebutuhan perkembangan yang berubah.
Menurut Tulus Tu’u (2004:33) (dalam Susilowati, 2005:20) unsur-
unsur disiplin adalah sebagai berikut.
1) mengikuti dan mentaati peraturan, nilai dan hukum yang
berlaku. 2) pengikutan dan ketaatan tersebut terutama muncul
karena adanya kesadaran diri bahwa hal itu berguna bagi kebaikan
dan keberhasilan dirinya. 3) sebagai alat pendidikan untuk
mempengaruhi, mengubah, membina, dan membentuk prilaku yang
sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan. 4)
hukuman yang diberikan bagi yang melanggar ketentuan yang
berlaku, dalam rangka mendidik, melatih, mengendalikan dan
memperbaiki tingkah laku. 5) peraturan-peraturan yang berlaku
sebagai pedoman dan ukuran prilaku.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur disiplin
adalah suatu peraturan, hukuman, penghargaan dan konsistesi yang
harus dilaksanakan oleh seseorang guna melatih, mengendalikan dan
mendidik prilaku yang sesuai dengan nilai ketentuan yang ada. Selain
itu dapat dijadikan sebagai pedoman dan ukuran prilaku seseorang.
3. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Gerlach & Ely (dalam Selamet, 2011:11) mengatakan bahwa media
apabila dTIKhami secara garis besar adalah manusia, materi, atau
kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap
Media pembelajaran adalah alat yang digunakan untuk
menyampaikan pesan (materi pelajaran) yang digunakan dalam proses
pembelajaran. Gagne (dalam http://blog.elearning.unesa.ac.id)
15
mengartikan media sebagai berbagai jenis komponen dalam
lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Jadi
menurut pernyataan para ahli tersebut di atas media dapat disimpulkan
merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk memberikan
semangat untuk merangsang siswa untuk belajar dan menyalurkan
pesan pembelajaran sehingga siswa mendapat pengetahuan,
ketrampilan atau sikap.
Sedangkan menurut Brigst (dalam Juniarta, 2009:17)
mengemukakan bahwa media adalah segala alat fisik yang menyajikan
pesan serta merangsang siswa untuk belajar, seperti buku, film, kaset
film bingkai dan lain-lain. Dalam NEA (National Education
Association) menyebutkan bahwa media merupakan bentuk-bentuk
komunikasi baik tercetak ataupun audio visual serta peralatannya.
Dari beberapa sumber di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan
informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi yang
dikemas dalam suatu alat atau bahan pengajaran yang mampu
memberikan rangsangan, semangat atau motivasi terhadap proses
pembelajaran.
b. Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum manfaat media pembelajaran dalam proses
pembelajaran adalah untuk mempermudah, memperlancar dan
mengefisienkan cakupan materi yang akan disampaikan oleh seorang
pendidik. Namun secara khusus ada beberapa manfaat media yang
lebih rinci, yaitu sebagai berikut.
Menurut Kemp dan Dayton (dalam Sudiarta, 2006:13) manfaat
media pembelajaran yaitu:
1) Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan, 2) Proses
pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, 3) Proses
pembelajaran menjadi lebih interaktif, 4) Efisien waktu dan tenaga,
5) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, 6) Media
memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan
kapan saja, 7) Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa
16
terhadap materi dan proses belajar, dan 8) Merubah peran guru ke
arah lebih positif dan produktif.
Secara detail Sudjana & Rivai (1992) (dalam Wiarsa, 2011:16)
mengemukakan bahwa manfaat media pembelajaran dalam proses
belajar siswa adalah:
1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar, 2) Bahan pelajaran akan lebih jelas
maknanya sehingga dapat lebih dTIKhami oleh siswa dan
memungkinkan menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran, 3)
Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh suru, sehingga
siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi guru
mengajar setiap jam pelajaran, 4) Siswa dapat lebih banyak
melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan
uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati,
melakukan, mendemonstrasi, memerankan, dan lain-lain.
Encyclopedia of Educational Research Hamalik (dalam Arsyad,
2005:25) merincikan manfaat media pendidikan sebagai berikut.
1) Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh
karena itu akan mengurangi verbalisme; 2) Memperbesar perhatian
siswa; 3) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk
perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih
mantap; 4) Memberikan pengalaman nyata yang dapat
menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa;
5)Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama
melalui gambar hidup; 6) Membantu tumbuhnya pengertian yang
dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa.
Dari uraian dan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan
beberapa manfaat media pembelajaran dalam proses pembelajaran,
sebagai berikut.
1) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan
informasi sehingga dapat memperlancardan meningkatkan
proses dan hasil belajar.
2) Media pembelajaran dapat mengatasi masalah yang dihadapi
oleh guru dan siswa.
3) Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman
kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan
mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung
17
dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui
karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun
binatang.
c. Pengembangan Media Pembelajaran
Menurut Sadiman dkk (2005, 100) tahap pengembangan media ada
enam tahap yaitu sebagai berikut. 1) penyusunan rancangan media, 2)
penulisan naskah atau alur media, 3) produksi media, dan 4) evaluasi
media.
Penyusunan rancangan media adalah hal yang harus dilaksanakan
sebelum mengembangkan media pembelajaran. Hal yang harus
diperhatikan dalam perumusan perencanaan adalah sebagai berikut. 1)
Kebutuhan dan karakteristik siswa, 2) Tujuan instruksional dengan
operasional pembelajaran, 3) Materi pelajaran, 4) Pengukur
keberhasilan, 5) Menulis naskah media, dan 6) Mengadakan tes atau
revisi.
Penyusunan perencanaan merupakan hal terpenting agar dalam
tahap selanjutnya dapat dilaksanakan secara sistematis. Penulisan
naskah atau alur media pembelajaran merupakan program kontrol
media yang akan diproduksi. Sebelum memproduksi media
pembelajaran hendaknya memperhatikan langkah ini, karena hasil
produksi akan lebih sitematis dan terperogram.
Produksi media pembelajaran adalah proses penciptaan media
pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik pengguna dan
naskah media pembelajaran yang direncanakan. Evaluasi media
pembelajaran merupakan tahap penilaian terhadap hasil produksi yang
dinilai oleh beberapa ahli media yang bersangkutan yang bertujuan
untuk menyempurnakan hasil produksi yang dibuat.
4. Website
a. Pengertian Website
Situs web (sering pula disingkat menjadi situs saja, website, site)
adalah sebutan bagi sekelompok halaman web (web page), yang
18
umumnya merupakan bagian dari suatu nama domain (domain name)
atau subdomain di World Wide Web (WWW) di Internet. (Wikipedia,
2010). Website adalah kumpulan halaman yang menampilkan
informasi data, baik teks, gambar, animasi maupun suara, baik bersifat
statis atau dinamis yang membentuk bangunan yang saling terkait
dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink), yang diakses atau
dilihat melalui jaringan Internet pada perangkat-perangkat yang bisa
mengakses Internet itu sendiri seperti Komputer, Handphone, dan
sebagainya.
b. Jenis-jenis Website
Secara umum ada dua jenis web, yaitu sebagai berikut.
1) Website Statis, adalah salah satu bentuk website yang isi didalam
website tersebut tidak dimaksudkan untuk di update secara berkala,
dan biasanya di perbaiki secara manual oleh beberapa orang yang
menggunakan software editor. Website statis adalah website yang
kontennya statis/tidak berubah-rubah. Website statis ini persis
seperti brosur. Bedanya, brosur di cetak dan disebarkan, sedangkan
website statis di host dan diakses melalui Internet (Enthusiast,
2009) (dalam Selamet, 2011:14).
2) Website Dinamis adalah website yang secara berkala, informasi
didalamnya berubah, atau website ini bisa berhubungan dengan
user dengan berbagai macam cara atau metode (HTTP cookies atau
Variabel Database, sejarah kunjungan, variabel sesi dan lain-lain)
bisa juga dengan cara interaksi langsung menggunakan form dan
pergerakan mouse. Ketika web server menerima permintaan dari
user untuk memberikan halaman tertentu, maka halaman tersebut
akan secara otomatis di ambil dari media penyimpanan sebagai
respon dari permintaan yang diminta oleh user. Sebuah situs dapat
menampilkan dialog yang sedang berlangsung diantara dua user,
memantau perubahan situasi, atau menyediakan informasi yang
berkaitan dengan sang user (Enthusiast, 2009) (dalam Selamet,
2011:14).
19
Namun secara khusus dalam fungsi dan kegunaannya ada
beberapa jenis website, yaitu sebagai berikut.
1) Web Perorangan, yaitu situs yang digunakan untuk menceritakan
tentang biografi diri, pengalaman pribadi, dan sebagainya, (contoh :
Blog Pribadi).
2) Web Komersial (Company Profile / Online Shop Website, biasa
menggunakan .com, .co.id, dan sebagainya), yaitu situs yang
dTIKkai untuk menunjukkan produk dan jasa suatu perusahaan,
atau juga dapat melakukan transaksi penjualan online (dengan
Shopping Cart System).
3) Web Pemerintahan (di Indonesia menggunakan .gov.id), situs jenis
ini hanya boleh dipakai untuk keperluan website pemerintahan
yang resmi.
4) Web Non-Profit (biasanya menggunakan oleh organisasi,
education, dan lain-lain), website jenis-jenis ini biasanya digunakan
hanya untuk yayasan atau sekolah-sekolah.
c. Komponen Website
Simamora (dalam Selamet, 2011:16) mendeskripsikan
komponen-komponen website, baik dalam interaksi langsung maupun
interaksi tidak langsung adalah sebagai berikut.
1) Interaksi secara tidak langsung dalam website dapat diwujudkan
dengan menggunakan:
a) Elektronik Mail (E-Mail), merupakan layanan yang paling
banyak digunakan dalam web. E-mail dapat dimanfaatkan siswa
sebagai media komunikasi pribadi untuk bertanya terhadap
materi yang diajarkan, meminta bantuan, menerima masukan
dan partisipasi lain.
b) News Group, merupakan media komunikasi antar siswa untuk
diskusi dan berkolaborasi.
2) Interaksi secara langsung (real time) melaui website dapat
dilakukan dengan menggunakan:
20
a) Chat, merupakan media komunikasi langsung antar siswa dalam
bentuk tulisan. Salah satu program yang dipakai untuk chat
adalah IRC (Internet Relay Chat) atau Unix Talk Program.
b) Application Sharing, menggunakan program aplikasi khusus
memungkinkan suatu group berkolaborasi secara langsung pada
suatu dokumen kerja dengan melakukan editing secara jarak
jauh.
c) Audio/Video Conference, menggunakan aplikasi perangkat
lunak khusus yang memungkinkan terjadinya komunikasi
audio/video conference beberapa aplikasi komersiil web
learning telah menyediakan fasilitas audio/video conference
melalui web.
d. Unsur-unsur Website
Untuk menciptakan website harus menerapkan unsur-unsur agar
web tersebut dapat dipublikasikan dan diakses dengan baik dan sesuai
dengan apa yang diharapkan. Menurut Susanto (dalam http: // agung
susanto. weebly. com/ 6/ post/ 2011/ 06 /- unsur-unsur websit e.html)
ada lima unsur yang harus diterapkan dalam mempublikasikan website,
yaitu sebagai berikut. 1) Nama domain (Domain name/URL – Uniform
Resource Locator); 2) Web hosting; 3) Bahasa Program (Scripts
Program); 4) Desain website; 5) Publikasi website.
Nama domain atau Domain Name atau URL adalah alamat unik di
dunia internet yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah website,
atau dengan kata lain domain name adalah alamat yang digunakan
untuk menemukan sebuah website pada dunia internet.
Web hosting adalah ruangan yang terdapat dalam harddisk tempat
menyimpan berbagai data, file-file, gambar dan lain sebagainya yang
akan ditampilkan di website. Besarnya data yang bisa dimasukkan
tergantung dari besarnya web hosting yang disewa/dipunyai, semakin
besar web hosting semakin besar pula data yang dapat dimasukkan dan
ditampilkan dalam website.
21
Web hosting adalah salah satu bentuk layanan jasa penyewaan
tempat di Internet yang memungkinkan perorangan ataupun organisasi
menampilkan layanan jasa atau produknya di web/situs Internet.
Bahasa Program (Scripts Program) adalah bahasa yang digunakan
untuk menerjemahkan setiap perintah dalam website yang pada saat
diakses. Jenis bahasa program sangat menentukan statis, dinamis atau
interaktifnya sebuah website. Semakin banyak ragam bahasa program
yang digunakan maka akan terlihat website semakin dinamis, dan
interaktif serta terlihat bagus. Beragam bahasa program saat ini telah
hadir untuk mendukung kualitas website. Jenis-jenis bahasa program
yang banyak dTIKkai para desainer website antara lain HTML, ASP,
PHP, JSP, Java Scripts, Java Applets dan sebagainya. Bahasa dasar
yang dTIKkai setiap situs adalah HTML sedangkan PHP, ASP, JSP
dan lainnya merupakan bahasa pendukung yang bertindak sebagai
pengatur dinamis, dan interaktifnya situs.
Desain website adalah jenis desain grafis yang ditujukan untuk
pengembangan dan styling obyek lingkungan informasi Internet untuk
menyediakan dengan fitur konsumen high-end dan kualitas estetika.
Unsur website yang penting dan utama adalah desain. Desain website
menentukan kualitas dan keindahan sebuah website. Desain sangat
berpengaruh kepada penilaian pengunjung akan bagus tidaknya sebuah
website. Serta mempengaruhi dengan kenyamanan konsumen atau
pembaca.
Publikasi website Keberadaan situs tidak ada gunanya dibangun
tanpa dikunjungi atau dikenal oleh masyarakat atau pengunjung
internet. Karena efektif tidaknya situs sangat tergantung dari besarnya
pengunjung dan komentar yang masuk. Untuk mengenalkan situs
kepada masyarakat memerlukan apa yang disebut publikasi atau
promosi. Cara yang biasanya dilakukan dan paling efektif dengan tak
terbatas ruang atau waktu adalah publikasi langsung di internet melalui
Search Engine-Search Engine.
22
5. Media Pembelajaran Berbasis Website
Seiring dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi dan
Komunikasi, maka dunia pendidikan juga telah banyak yang
memanfaatkan website sebagai media pembelajaran. Meskipun banyak
penelitian menunjukan bahwa efektifitas pembelajaran menggunakan
Internet (e-learning) cenderung sama bila dibanding dengan pembelajaran
konvensional atau klasikal, tetapi keuntungan yang bisa diperoleh adalah
dalam hal fleksibilitasnya. Melalui media pembelajaran berbasis website
materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan dari mana saja, di
samping itu materi juga dapat diperkaya dengan berbagai sumber belajar
termasuk multimedia.
Media pembelajaran berbasis website dapat dikembangkan dari
yang sangat sederhana sampai yang kompleks. Sebagian media
pembelajaran berbasis website hanya dibangun untuk menampilkan
kumpulan materi, sementara forum diskusi atau tanya jawab dilakukan
melalui e-mail atau milist.
Implementasi dengan cara tersebut terhitung sebagai media
pembelajaran berbasis website yang paling sederhana. Disamping itu ada
juga media pembelajaran berbasis website yang terpadu, berupa portal e-
learning yang berisi berbagai obyek pembelajaran yang diperkaya dengan
multimedia serta dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi,
komunikasi, diskusi, dan berbagai educatioanal tools lainnya (Surjono)
(dalam Selamet, 2011:18).
Menurut Sinamora (dalam Selamet, 2011:18) beberapa kelebihan
dari pemanfaatan pembelajaran berbasis website antara lain sebagai
berikut.
a) Kelas tidak membentuk fisik, semuanya dapat dibangun dalam
aplikasi website. b) Program website dapat dilaksanakan dan di-
update secara cepat. c) Dapat diciptakan interaksi yang bersifat real
time (chatting/video conference) maupun non real time (e-mail,
bulletin board, mailing list). d) Dapat mengakomodasi keseluruhan
proses belajar, mulai dari registrasi, penyampaian informasi,
diskusi, evaluasi, dan juga transaksi. e) Dapat diakses dari lokasi
mana saja dan bersifat global. f) Materi dapat dirancang secara
multimedia dan dinamis. g) Siswa dapat terhubung ke berbagai
23
perpustakaan maya ke seluruh dunia dan menjadikannya sebagai
media penelitian dalam meningkatkan pemahaman dan bahan ajar.
h) Guru dapat secara cepat menambah referensi bahan ajar yang
bersifat studi kasus, tren industri dan proyeksi teknologi kedepan
melalui berbagai sumber untuk menambah wawasan peserta
terhadap bahan ajar
6. Model Self Regulated Learning
Model pembelajaran sangat mempengaruhi pencapaian hasil belajar
yang diharapkan oleh seorang pendidik. Model pembelajaran sangat
membantu dalam proses belajar mengajar baik di kelas maupun di luar
kelas. Banyak model pembelajaran yang dapat diimplementasikan dalam
proses pembelajaran, di antaranya adalah model pembelajaran yang
mampu memberikan keleluasaan dalam mengelola materi pelajaran yang
disampaikan. Model pembelajaran tersebut adalah model self regulated
learning. Berikut adalah uraian tentang model self regulated learning.
a. Pengertian Model Self Regulated Learning
Menurut Wolters (dalam Sutiawan, 2009:16) model Self regulated
learning adalah suatu model pembelajaran yang memberikan
keleluasaan kepada siswa untuk mengelola secara efektif
pembelajarannya sendiri dalam berbagai cara sehingga mencapai hasil
belajar yang optimal.
Menurut Zimmerman (1989) (dalam Chen, halaman 13), “self-
regulated learners are individuals who are “metacognitively,
motivationally, and behaviorally active participants in their own
learning process” yang artinya pembelajaran yang didapat dapat diatur
sendiri, peserta didik adalah individu yang "metakognitif,
motivasional, dan prilaku aktif peserta dalam proses belajar mereka
sendiri. Menurut Katrhyn Dukworth, dkk (2009:2) SRL mengacu pada:
“Pikiran, perasaan dan aksi yang terencana dan diadaptasikan untuk
mencapai tujuan personal, termasuk dalamnya: 1) goal setting
untuk pembelajaran, 2) kosentrasi terhadap intruksi, 3)
menggunakan strategi efektif untuk mengorganisasikan ide-ide, 4)
menggunakan sumber-sumber belajar dengan efektif, 5)
memonitoring penampilan, 6) mengatur waktu dengan efektif, dan
24
7) memegang keyakinan positif tentang salah satu kemampuan
yang dimiliki.
Dari paparan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa model self
regulated learning adalah model pembelajaran yang memberikan
keleluasaan dalam menanggapi sebuah pembelajaran, yang mengacu
pada pikiran dan aksi yang terencana yang diadaptasikan untuk
mencapai tujuan personal.
b. Implementasi Model Self Regulated Learning untuk Meningkatkan
Hasil Belajar TIK
Menurut pandangan dan teori konstruktivisme, belajar merupakan
proses aktif dari subjek belajar untuk merkontruksi makna sesuatu,
entah itu teks, kegiatan dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain
(Sardiman, 2005) (dalam Yuliantini, 2010:31).
Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya menerima begitu
saja apa yang disajikan guru, melainkan juga membangun hubungan-
hubungan dari konsep dan prinsip yang dipelajari berdasarkan
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Implementasi model
SRL dalam upaya meningkatkan hasil belajar TIK dapat dilakukan
melalui tahap-tahap berikut (Philip, 2006) (dalam Yuliantini, 2010:31).
1) Analysis (penganalisaan), yaitu siswa menganalisa materi dan
tujuan pembelajaran.
2) Plan (perencanaan), yaitu siswa menyusun dan merancang semua
kegiatan pembelajarannya.
3) Implement (implementasi), yaitu siswa memilih dan
mengimplementasikan perencanaannya dalam proses
pembelajaran.
4) Comprehend (pengamatan terhadap pemahaman), yaitu siswa
mengamati pemahaman sendiri terhadap konsep-konsep yang telah
dipelajari.
5) Problem solving (pemecahan masalah), yaitu siswa memecahkan
masalah yang dihadapi serta konsep-konsep yang belum
dimengerti selama proses pembelajaran.
6) Evaluate (evaluasi), yaitu siswa mengukur mutu atau
kemampuannya sendiri tentang apa yang telah dikerjakan dalam
proses pembelajaran (self evaluation).
7) Modify (modifikasi), yaitu siswa mengelaborasi hasil evaluasi diri
tersebut dengan membuat kesimpulan terhadap pembelajaran.
25
Pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar, tentu saja
dipengaruhi oleh kesadaran diri masing-masing pebelajar. Siswa
memiliki siklus umpan balik selama proses pembelajaran. Dalam hal
ini siswa memotnitor derajat efektivitas metode pembelajaran atau
strategi belajar serta respon-respon yang dilakukan untuk mencapai
hasil belajar yang baik.
7. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Dalam melakukan proses pebelajaran tidak lepas dari hasil belajar.
Hasil belajar merupakan dampak dari proses pembelajaran baik hasil
belajar yang baik dan hasil belajar yang buruk. Dalam hal ini para ahli
mengungkapkan definisi hasil belajar, yaitu sebagai berikut.
Menurut Gagne dan Driscoll (1988:36) menyebutkan bahwa hasil
belajar adalah “kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai
akibat dari perbuatan belajar dan dapat diamati dari penampilan
siswa”. Penampilan yang dimaksudkan disini adalah perbuatan yang
dilakukan siswa dalam proses pembelajaran.
Hasil belajar menurut Darmansyah (2006:9) (dalam Purba,
2009:16) adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pembelajaran.
Hasil belajar dalam pengertian yang luas mncakup bidang kongnitif,
efektif dan psikomotor. Dalam hal ini yang dilihat adalah sejauh mana
keefektifan dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajaran atau
perubahan tingkah laku pada siswa. Oleh sebab itu hasil belajar saling
berkaitan satu sama lain sebab hasil merupakan akibat dari suatu
proses.
Hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang
dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Dari beberapa
pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar
merupakan suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki siswa
yang diperoleh melalui proses pembelajaran atau akivitas belajar
mengajar.
26
b. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar
siswa, yaitu faktor internal dan eksternal dari diri siswa yang
bersangkutan. Namun ada beberapa pendapat para ahli yang
mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu
sebagai berikut.
Menurut Selameto, (2003:54-72) (dalam http: // harminingsih.
blogspot.com /2008 /08 /faktor- faktor-yang- mempengaruhi- hasil
.html) faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada dua yaitu dalam diri
siswa dan yang datang dari luar diri siswa atau dengan kata lain adalah
faktor internal dan eksternal.
Ada beberapa jenis faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil
belajar, yaitu di antaranya:
1) Jasmani, faktor jasmani adalah faktor daya tahan tubuh, kesehatan
dan sebagainya. Dalam meningkatkan hasi belajar siswa
hendaknya dapat memperhatikan faktor kesehatan atau daya tahan
tubuh, agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
2) Psikologis, faktor psokologis meliputi minat, bakat, motif dan
kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. Dalam hal ini pendidik
harus menerapkan berbagai cara untuk menghindari hal yang tidak
diinginkan sehingga psikologis siswa terganggu dan hasil belajar
siswa jadi menurun.
Di bawah ini adalah jenis faktor eksternal yang mempengaruhi
hasil belajar siswa, di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Faktor keluarga, faktor keluarga sangat mempengaruhi dalam
memperoleh hasil belajar yang baik. dalam hal ini orang tua di
rumah hendaknya mengetahui cara mendidik anak, mengajarkan
relasi antar anggota keluarga, memperhatikan keadaan ekonomi di
rumah, dan lain-lain.
2) Faktor sekolah, dalam hal ini sekolah hendaknya menyikapi
kenyamanan dan keleluasaan siswa dalam belajar yang kurang
27
baik. sehingga apa yang diharapkan oleh seorang pendidik dapat
tercapai guna mencerdaskan kehidupan bangsa.
3) Faktor masyarakat, faktor ini harus sangat diperhatikan untuk
menghindari hal negatif yang ditimbulkan oleh lingkungan
masyarakat, antara lain dalam mencari teman, bergaul dalam
kehidupan bermasyarakat, hal ini harus disaring secara matang
untuk menghindari hal negatif tersebut di atas.
c. Fungsi Hasil Belajar
Secara umum fungsi hasil belajar adalah untuk mengukur
kemampuan pebelajar atau dalam arti lain mengetahui hasil dari proses
pembelajaran. Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dijadikan
indikator untuk mengikuti tingkat kemampuan, kesanggupan,
penguasaan tentang materi belajar. Sehingga hasil belajar dalam
pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Di
dalam pengertian tentang evaluasi pendidikan ialah untuk
mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di
mana kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan
kurikuler.
Namun dalam hal ini ada beberapa ahli mengatakan fungsi hasil
belajar adalah sebagai berikut.
Menurut Nasution (2000), fungsi belajar dapat digambarkan
sebagai berikut.
1) Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta
keberhasilan Siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan
belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil belajar dapat diperoleh
itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar
Siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi rapor atau Surat
Keterangan Hasil Ujian Nasional, yang berbarti pula untuk
menentukan kenaikan kelas atau lulus tidak hanya seorang Siswa
dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif). 2) Untuk
mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran
sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling
berkaitan satu sama lainnya. 3) Untuk keperluan bimbingan dan
konseling (BK). Hasil-hasil yang telah dilaksanakan terhadapa
Siswanya dapat dijadikan informasi atau data bagi pelayanan BK
28
oleh para konselor sekolah. 4) Untuk keperluan pengembangan dan
perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
Adapun menurut Winkel (1996) bahwa hasil belajar dapat
digunakan untuk :
1) Mendapatkan informasi tentang masing-masing Siswa, sampai
sejauh mana mereka telah mencapai tujuan-tujuan intruksional.
Hasil belajar pada tahap evaluasi formatif merupakan bahan untuk
memonitor kemajuan Siswa menyangkut pencapaian tujuan
intruksional untuk unit pelajaran tertentu, pada tahap evaluasi
sumatif dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk
menentukan tingkat keberhasilan Siswa dalam beberapa tujuan
instruksional yang diuji bersama-sama. 2) Mendapatkan informasi
tentang suatu kelompok Siswa sampai berapa jauh kelompok Siswa
mengenai tujuan-tujuan instruksional, misalnya satu satuan kelas di
bidang studi Bahasa Indonesia. Informasi ini diperoleh dengan
menerapkan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Hasil evaluasi
tersebut juga bersifat diagnostik yaitu membantu menentukan
faktor kesulitan dan kesukaran yang masih dialami Siswa dalam
mencapai tujuan instruksional tertentu, dimana faktor tersebut
mungkin terdapat pada pribadi Siswa dan mungkin juga terletak
dalam model proses belajar mengajar itu sendiri.
8. Mata Pelajaran TIK
TIK atau Teknologi Informasi dan Komunikasi, (bahasa
Inggris: Information and Communication Technologies; ICT) adalah
payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk
memproses dan menyampaikan informasi (Wikipedia, 2012). TIK
mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi.
Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.
Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari
perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan
teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi
Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu
segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan,
pemindahan informasi antar media.
29
Lebih lanjut badan penelitian dan pengembangan pusat kurikulum
Depdiknas (2007:6) (dalam Utami, 2011:22) mengemukakan,
Teknologi Informasi dan Komunikasi mempunyai pengertian dari
dua aspek, yaitu: Teknologi informasi dan teknologi komunikasi.
Teknologi komunikasi memiliki arti luas yang meliputi segala hal
yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu,
manipulasi dan pengelolaan informasi. Teknologi komunikasi
mempunyai pengertian segala hal yan berkaitan dengan
penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari
perangkat sau dengan yang lainnya. Karena itu teknologi
komunikasi dan komunikasi adalah suatu padanan yang tidak
terpisahkan yang mengandung pengrtian luas tentang segala aspek
yang berkaitan dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan
transfer/ pemindahan informasi antar media menggunakan
teknologi tertentu.
Selain itu, menurut Miarso (2007:302) (dalam Rahayu, 2011:22)
mengatakan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah teknologi
yang memanfaatkan komputer sebagai perangkat utama untuk mengolah
data menjadi informasi yang bermanfaat. Adapun standar kompetensi mata
pelajaran TIK menurut Syamsuardi (2004:1) yaitu sebagai berikut.
1) Mampu memahami konsep, pengetahuan dan operasi dasar
komputer. Dalam hal ini siswa mampu mengidentifikasi etika,
moral dan kesehatan serta keselamatan kerja (K3) dalam
menggunakan perangkat TIK, siswa mampu mengidentifikasi
komponen dasar perangkat keras, meliputi; internet, jaringan lokal,
dan komputer (setting peripheral), disamping itu, siswa mampu
memanipulasi perangkat lunak seperti sistem oprasi, program
pengolah kata, program lembar kerja, program presentasi, program
data base, bahasa pemrograman. 2) Siswa mampu mengolah
informasi dalam produktifitas. Dalam hal ini siswa mampu
menjalankan sistem operasi dan manajemen file, selain itu mampu
membuat dokumen dengan tabel, diagram, mail merge, presentasi,
data base, membua home page, interaktif, dan mengunakan bahas
pemrograman sebagai pengayaan.
Menurut Oka (2007:4) Teknologi Informasi dan Komunikasi
adalah “segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan alat sebagai
alat bantu, manipulasi pengelolaan informasi”. TIK merupakan media
untuk mendapatkan informasi dari berbagai media dan sarana yang ada.
30
TIK dapat membantu kita untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih
luas.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran TIK
mengandung arti luas tentang segala aspek yang terkait dengan
pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan atau transfer informasi
antar media yang menggunakan teknologi tertentu yang menekankan siswa
untuk memahami konsep, pengetahuan dan operasi dasar komputer.
J. KERANGKA BERPIKIR
Disiplin adalah hal yang sangat penting dan sangat mempengeruhi hasil
belajar, khususnya mata pelajaran TIK. Penerapan disiplin belajar harus
dilakukan oleh seorang guru guna meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Hasil belajar akan dicapai dengan baik oleh siswa ditentukan oleh aktivitas
guru, siswa dan kegiatan proses belajar mengajar di kelas. Proses belajar
mengajar dengan menggunakan model Self regulated learning merupakan
pembelajaran yang menekankan individualisme dalam belajar atau dengan kata
lain menemukan sendiri, berusaha sendiri dalam melakukan proses
pembelajaran. Dibarengi dengan implementasi media pembelajaran berbasis
website, maka hasil belajar akan mendekati sempurna.
Berdasarkan pemikiran diatas dapat disimppulkan bahwa disiplin belajar
dan media pembelajaran yang menerapkan model self regulated learning saling
mempengaruhi satu sama lain dalam menciptakan hasil belajar yang lebih baik
tentunya.
K. HIPOTESIS
Berdasarkan permasalahan dan kerangka teori yang melandasi penelitian
ini, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut.
1. Terdapat hasil belajar TIK antara kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis website
yang menerapkan model Self regulated learning dengan siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model konvensional.
31
2. Terdapat pengaruh interaksi antara media pembelajaran berbasis website
yang menerapkan model self regulated learning dengan disiplin belajar
terhadap hasil belajar TIK.
3. Pada kelompok siswa yang memiliki disiplin belajar tinggi, terdapat
perbedan hsail belajar TIK antara kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan media pembelajaran berbasis website yang
menerapkan model self regulated learning dengan kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model konvensional.
4. Pada kelompok siswa yang memiliki disiplin belajar rendah, terdapat
perbedan hsail belajar TIK antara kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan media pembelajaran berbasis website yang
menerapkan model self regulated learning dengan kelompok siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model konvensional.
L. METODE PENELITIAN
1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3
Banjar, yang bertempat di desa Labuhan Aji, kecamatan Banjar, kabupaten
Buleleng. Penelitian ini dirancang pada tahun ajaran 2012/2013.
2. Metode Penelitian dan Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah jenis eksperimen murni,
metode yang telah diuji kelayakannya dan telah memenuhi peryaratan.
Menrut Solso & Maclin (2002) (dalam http://navelmangelep.
wordpress.com /2012/02/27/ metode- penelitan- eksperimen/#more-680)
penelitian eksperimen adalah suatu penelitian yang di dalamnya ditemukan
minimal satu variabel yang dimanipulasi untuk mempelajari hubungan
sebab akibat. Oleh karena itu penelitian eksperimen erat kaitannya dalam
menguji suatu hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan
maupun perubahan terhadap kelompok yang dikenakan prilaku.
Dalam penelitian eksperimen ini desain penelitian yang diguanakan
adalah Posstest-Only Control Design. Dengan menggunakan desain ini,
32
penelitian yang dilaksanakan guna membandingkan kelompok yang
mendapatkan perlakuan (treatment) dengan kelompok kontrol. Kelompok
treatment diberikan media pembelajaran berbasis website yang menerapkan
self regulated learning dalam proses pembelajaran, sedangkan kelompok
kontrol diberikan pembelajaran dengan model konvensional. Model
konvensional adalah metode yang paling sering digunakan oleh guru di
sekolah tertentu. Oleh karena itu rancangan desain dari Posstest-Only
Control Design dapat digambarkan sebaga berikut.
Eksperimen X O
Kontrol O
Gambar 1. Rancangan desain penelitian Posstest-Only Control
Design
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII semester genap di
SMP N 3 Banjar. Dengan jumlah sampel 68 orang siswa yang terbagi
dalam dua kelompok, yaitu 34 siswa yang mendapat perlakuan
(eksperimen) dan 34 siswa kedua adalah kelompok kontrol, kelompok
siswa yang diberikan pembelajaran dengan model konvensional. Untuk
mengumpulkan data yang diperlukan, dalam penelitian ini digunakan
instrumen penelitian yang berupa tes konseptual dalam bentuk tes objektif
dan angket kedisiplinan belajar siswa.
3. Populasi dan Sampel Penelitian
a. Populasi
Populasi secara biologis merupakan kumpulan beberapa makluk
hidup. Namun dalam penelitian ini berbagai pendpat dikemukakan
oleh para ahli, di antaranya sebagai berikut.
Menurut Babbie, (dalam Sukardi 2003:53), populasi adalah elemen
penelitian yang hidup dan tinggal bersama-sama dan secara teoritits
menjadi target prestasi penelitian. Arikunto (2002:108) (dalam
Permana, 2006:27) mengatakan populasi merupakan keseluruhan objek
33
penelitian. Dari kedua pendapat para ahli di atas pengertian populasi
dalam penelitian adalah sekumpulan objek penelitian yang berada
dalam rumpun yang sama, yang secara teoritis merupakan target
prestasi belajar. Yang dimaksud populasi dalam penelitian ini adalah
siswa kelas VII 1 dan VII 2 di SMP N 3 Banjar, tahun pelajaran
2011/2012. Berikut ini adalah jumlah populasi yang dimaksudkan di
atas.
Tabel 1. Populasi Kegiatan Penelitian
No. Kelas Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 VII 1 24 10 34
2 VII 2 19 15 34
Jumlah 43 25 68
b. Sampel Penelitian
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah
menggunakan random sampling terhadap kelas. Berdasarkan
pertimbangan efisiensi, maka dalam penelitian ini tidak meneliti
seluruh anggota populasi, melainkan hanya meneliti sampel yaitu
sebagian dari populasi yang merupakan wakil-wakil representatif dari
populasi.
Menurut Arikunto (2002:109) (dalam Permana, 2006:28) sampel
adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Pengambilan
sampel dalam penelititan ini dilakukan dengan teknik random
sampling. Dalam hal ini yang dirandom adalah kelas, karena dalam
eksperimen tidak memungkinkan untuk merubah kelas yang ada. Dari
sepuluh kelas yang ada diambil dua kelas yang akan dijadilan subjek
penelitian. Dua kelas tersebut diundi kembali untuk menentukan kelas
sebagai kelompok eksperimen dan kelas kontrol. Dari dua kelas
tersebut (kelas eksperimen dan kontrol), satu kelas sebagai kelompok
eksperimen dengan menggunakan media pembelajaran berbasis
website dan satu kelas lainnya berfungsi sebagai kelompok kontrol
34
yang diberi pelajaran dengan model konvensional (tidak menggunakan
media pembelajaran).
Rancangan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu karena
tidak semua variabel dikontrol secara ketat. Dengan memperhatikan
variabel-variabel yang di atas, penelitian ini menggunakan desain
rancangan penelitian “Post Test Only Control Group Desain”.
Rancangan analisisnya menggunakan analisis varian dua jalur dengan
faktorial 2 x2.
Pelaksanaan eksperimen terdiri dari serangkaian eksperimen
sendiri dan serangkaian kegiatan, yaitu pengukuran disiplin belajar dan
pelaksanaan tes hasil belajar. Pengukuran disiplin belajar dalam
penelitian ini dilaksanakan sebelum perlakuan dimulai. Proses
pemberian perlakuan yang berupa pelaksanaan pengajaran untuk kedua
kelompok subjek dilakukan sebanyak dua kali pertemuan.
4. Prosedur dan Langkah-langkah Eksperimen
a. Prosedur Eksperimen
Peneltian ini dilakukan terhadap dua kelompok, yaitu kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol pada dua kelas dengan jumlah 68
siswa. Materi yang diajarkan adalah materi pada mata pelajaran
Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas VII semester II. Adapun
prosedur penelitian ini yang dibagi menjadi empat tahap. Yaitu sebagai
berikut.
1) Tahap Persiapan
Dalam tahap persiapan ada beberapa kegiatan yang harus
dilakukan guna memenuhi prosedur yang ada, yaitu sebagai
berikut.
a) Menentukan populasi dan sampel untuk menerapkan media
pembelajaran berbasis website.
b) Mengobservasi sarana dan prasarana sekolah untuk
mendukung pelaksanaan penelitian.
35
c) Merancang kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
d) Menyusun instrumen penelitian yang dikonsultasikan
dengan dosen pembimbing.
e) Melakukan judgemen instrumen penelitian oleh dosen dan
guru.
f) Melakukan analisis dan revisi instrumen penelitian.
2) Tahap Pelaksanaan Pembelajaran
Kegiatan belajar mengajar dilakukan sesuai RPP. Penelitia
ini menggunakan satu RPP. Alokasi waktu yang digunakan dalam
satu RPP adalah 2x40 menit. Pada tahap ini dilakukan
pembelajaran di laboratorium komputer dengan menerapkan
media pembelajaran yang telah disiapkan.
3) Tahap Posttest
Pada tahapan ini, kegiatan yang dilakukan tes hasil belajar
di kelas sampel yaitu kelas yang diterapkan media pembelajaran
berbasis website dan kelas yang mengggunakan metode
konvensional. Posttest dilakukan pada akhir pertemuan, untuk
mengukur kemampuan siswa setelah perlakuan. Soal posttest yang
digunakan berbentuk pilihan ganda atau multiple choise yang akan
mengukur aspek kognitif siswa.
4) Tahap Analisis Data
Di tahap ini dilakukan analisis data dengan menggunakan
metode statistik untuk mengetahui hasil akhir (posttest).
b. Langkah-langkah Eksperimen
Langkah-langkah eksperimen yang akan dilaksanakan oleh peneliti
adalah seperti tabel di bawah.
36
Tabel 2. Langkah-langkah Eksperimen.
No.
Komponen
Perlakuan
Kelompok
Eksperimen
Kelompok
Kontrol
1 Materi pelajaran
Pokok bahasan yang
disajikan adalah TIK
Pokok bahasan yang
disajikan adalah TIK
2 Waktu pembatasan
Pembelajaran
diberikan satu kali
seminggu, tiap
pertemuan dua jam
pelajaran selama
satu kali pertemuan
Pembelajaran
diberikan satu kali
seminggu, tiap
pertemuan dua jam
pelajaran selama
satu kali pertemuan
3 Proses pembelajaran
Guru mengajar
dengan media
pembelajaran
berbasis website
Guru mengajar
dengan
menggunakan model
konvensional
4 Tes disiplin belajar
Pemberian angket
disiplin belajar
Pemberian angket
disiplin belajar
5 Tes hasil belajar TIK
Tes objektif pilihan
ganda
Tes objektif pilihan
ganda
6
Jumlah butir
pertanyaan
30 butir tes objektif
pilihan ganda
30 butir tes objektif
pilihan ganda
M. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN
Penelitian ini melibatkan satu variabel bebas (independent variable). Satu
variabel moderator dan satu variabel terikat (dependent variable). Variabel
bebas itu meliputi media pembelajaran berbasis website yang menerapkan
Model Self regulated learning (X
1
), variabel moderatornya adalah disiplin
belajar (X
2
). Sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar TIK (Y).
37
N. DEFINISI VARIABEL PENELITIAN
1. Definisi Konsep
a. Hasil belajar adalah sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan prilaku
yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar mata pelajaran TIK.
Indikator empirisnya yaitu adanya perubahan hasil belajar TIK.
b. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan
informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi yang
dikemas dalam suatu alat atau bahan pengajaran yang mampu
memberikan rangsangan, semangat atau motivasi terhadap proses
pembelajaran.
c. Disiplin belajar adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk
melalui proses dari serangkaian prilaku yang menunjukkan nilai-nilai
ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban. Nilai-
nilai tersebut telah menjadi bagian prilaku dalam kehidupannya.
Prilaku itu tercipta melalui proses binaan melalui keluarga, pendidikan
dan pengalaman.
d. Model Self regulated learning adalah model pembelajaran yang
memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengelola
pembelajarannya sendiri dalam berbagai cara. Sehingga mencapai hasil
belajar yang optimal.
2. Definisi Operasional
a. Hasil Belajar
Salah satu upaya untuk mengukur kemampuan siswa dilihat dari
hasil belajar siswa itu sendiri. Hasil belajar merupakan bukti dari usaha
yang diakukan dalam proses belajar belajar. Bukti tersebut adalah hasil
belajar yang diukur melalui tes. Oleh karena itu, instrumen yang
digunakan dalam mengumpulkan data adalah tes pilihan ganda
berjumlah 30 butir soal. Tes ini mengungkapkan tentang penguasaan
siswa terhadap materi pelajaran dalam pelajaran TIK.
Setiap soal disertai dengan empat alternatif jawaban yang dipilih
oleh siswa (alternatif a, b, c, dan d). Setiap item akan diberi skor 1 bila
38
siswa menjawab dengan benar. Jika siswa tidak menjawab dengan
benar atau mengosongi lembar jawaban yang telah disediakan, maka
nilai yang diberikan adalah 0. Jawaban yang telah dikerjakan akan
dicocokkan dengan kunci jawaban yang telah disiapkan. Selanjutnya
skor dijumlahkan dan jumlah tersebut merupakan skor variabel hasil
belajar TIK. Skor hasil belajar TIK akan bergerak dari 0-30. Skor 0
merupakan minimal ideal dan skor 30 adalah skor maksimal ideal hasil
belajar TIK.
Dibawah ini meruapakan kisi-kisi tes hasil belajar mata pelajaran
TIK yang nanti akan diterapkan saat penelitian.
Tabel 3. Kisi-kisi Tes Hasil Belajar TIK
Isi/ Materi
Kompetensi Total
C1 C2 C3 C4 C5 C6 % Butir
Peralatan TIK 12 10 - 8 - - 100 30
Total % butir
12/
4
10/
3
- 8/3 - - 100 30
b. Disiplin Belajar
Kuesioner disiplin belajar TIK ini berjumlah 30 butir. Kuesioner
ini menggunakan skala likert, yaitu kuesioner/instrumen skala lima,
alternatif jawaban terhadap lima buah skor berkisar 1 sampai 5. Dalam
pengisian kuesioner disiplin belajar dengan mengisi tanda rumput (√)
pada salah satu kolom alternatif jawaban yang paling sesuai dengan
pilihan siswa atau responden. Dalam kuesioner ini alternatif jawaban
yang disediakan adalah 1) selalu (SL), 2) sering (SR), kadang-kadang
(KD), 3) jarang (JR), dan 4) tidak pernah (TP). Skor instrumen ini
bergerak dari 1 sampai 5. Skor 1 diberikan kepada siswa yang
menjawab tidak pernah, dan skor 5 diberikan kepada siswa yang
jawabannya selalu pada pertanyaan positif.
39
Disiplin belajar dalam penelitian ini dirinci melalui indikator, yaitu
1) disiplin dalam hubungannya dengan waktu belajar, 2) disiplin yang
ada hubungannya dengan tempat belajar, dan 3) disiplin yang ada
hubungannya dengan norma atau aturan dalam belajar yang diuji
menggunakan kuesioner. Berikut disajikan kisi-kisi dari kuesioner
disiplin belajar.
Tabel 4. Kisi-kisi Kuesioner Disiplin Belajar
Isi Materi
Kompetensi Total
C1 C2 C3 C4 C5 C6 % Butir
1. Disiplin dalam
hubungannya
dengan waktu
belajar
4 5 - 2 - - 37 11
2. Disiplin yang ada
hubungannya
dengan tempat
belajar.
4 4 - 2 - - 33 10
3. Disiplin yang ada
hubungannya
dengan norma
atau aturan dalam
belajar.
2 5 - 2 - - 30 9
Total % butir 10/3 14/5 - 6/2 - - 100 30
O. UJI COBA INSTRUMEN
Untuk mengetahui tingkat validitas dan reabilitas alat ukur, dilakukan uji
coba instrumen. Instrumen penelitian ini diuji terlebih dahulu apakah
instrumen tersebut sudah layak digunakan sebagai instrumen penelitian.
Instrumen dikatakan sesuai jika instrumen tersebut sudah memenuhi kriteria
validitas dan reliabilitas. Validitas tes ini ditinjau dari validitas isi, validitas
konstruk dan validitas item. Dalam menjaga validitas isi dan validitas
construct dilakukan dengan menjudgmens tes tersebut kepada tiga orang yaitu
40
dua orang dosen pembimbing dan satu orang guru TIK, sedangkan untuk
validitas butir item dilakukan dengan pengujian statistik. Untuk memperoleh
tujuan data terlebih dahulu dianalisis dengan menggunakan uji validitas tes,
dan reliabilitas tes.
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2003). Suatu item tes dikatakan valid
apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Suatu alat
evaluasi dikatakan valid jika alat tersebut mampu mengukur apa yang
seharusnya diukur oleh alat tersebut. Untuk mengukur validitas butir soal
digunakan rumus korelasi Point Biseral, rumusnya yaitu sebagai berikut.
q p
SD
M M
r
tot
pbis
/
2 1
÷
=
(Arikunto, 2002:79)
Keterangan :
rpbis : koefisien korelasi biseral
M 1 : rata-rata skor untuk menjawab benar
M 2 : rata-rata skor untuk seluruhnya
SDtot : standar deviasi total
p : proporsi yang menjawab benar
q : 1 – p
Hasil perhitungan kemudian dikonsultasikan ke r-kritis dengan taraf
signifikansi 5%. Kriteria butir soal dalam kategori valid jika
pbis
r - hitung
>
pbis
r - tabel pada taraf signifikan 5%. Soal yang valid kemudian dihitung
reliabilitasnya.
41
2. Uji Reliabilitas
Arikunto (2002) menyatakan reabilitas tes berhubungan dengan
kepercayaan dan keajegan hasil tes. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai
tingkat kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil
yang tetap. Untuk mengetahui reliabilitasnya digunakan Kuder Richhadson
20 (KR-20) yang rumusnya sebagai berikut.
r
1 , 1
=
|
|
.
|

\
| ÷
|
.
|

\
|
÷
¿
2
2
1 SD
pq SD
k
k
(A.A. Gde Agung, 2003: 50)
Keterangan :
r
1 . 1
: reliabilitas keseluruhan butir tes
p : proporsi testee yg menjawab benar
q : proporsi testee yg menjawab salah
k : jumlah butir tes
SD² : banyaknya testee
pq : pxq
Tabel 3.8 Konversi Uji Reliabilitas Tes
r
11
≤ 0,20 Derajat reliabilitas sangat rendah
0,20 < r
11
≤ 0,40 Derajat reliabilitas rendah
0,40 < r
11
≤ 0,60 Derajat reliabilitas sedang
0,60 < r
11
≤ 0,80 Derajat reliabilitas tinggi
0,80 < r
11
≤ 1,00 Derajat reliabilitas sangat tinggi
Untuk menguji validitas dan reabilitas instrumen digunakan bantuan
komputer yaitu dengan mengolah data dengan Excel dari Microsoft
Coorporation. Dari perhitungan dengan menggunakan rumus KR-20,
diperoleh harga reliabilitas tes hasil belajar TIK adalah sebesar 0,94.
Tes yang baik adalah tes yang memiliki harga reliabilitas lebih besar
0,80. Jadi reliabilitas tes hasil belajar
tinggi.
P. METODE ANALISIS DATA
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan
statistik inferensial dalam hal ini yaitu anava dua jalur. Dalam menggunakan
analisis varian harus dilakukan uji p
analisis data meliputi uji normalitas dan homogenitas.
1. Deskripsi Data
Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya
kualitas dari variabel
pembelajaran dan media pembelajaran. Untuk menentukan tinggi
rendahnya kualitas variabel
tiap-tiap variabel dikonversikan dengan menggunakan kreteria rata
ideal dan standar deviasi (SD) ideal masing
tersebut. Berikut kreteria rata
masing-masing variabel penelitian.
Tabel 3.6
X t

+ 1,S
X t

+ u,S
X t

− u,S
X t

− 1,S
X t

− S,u
Keterangan:
Tes yang baik adalah tes yang memiliki harga reliabilitas lebih besar
0,80. Jadi reliabilitas tes hasil belajar TIK tergolong reliabilitas sangat
METODE ANALISIS DATA
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan
statistik inferensial dalam hal ini yaitu anava dua jalur. Dalam menggunakan
analisis varian harus dilakukan uji persyaratan analisis terlebih dahulu. Uji
analisis data meliputi uji normalitas dan homogenitas.
Deskripsi Data
Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya
kualitas dari variabel-variabel penelitian yaitu hasil belajar TIK
pembelajaran dan media pembelajaran. Untuk menentukan tinggi
rendahnya kualitas variabel-variabel penelitian tersebut, skor rata
tiap variabel dikonversikan dengan menggunakan kreteria rata
ideal dan standar deviasi (SD) ideal masing-masing variabel penelitian
tersebut. Berikut kreteria rata-rata ideal dan standar deviasi ideal
masing variabel penelitian.
Pedoman Konversi dengan Menggunakan Rata
dan Standar Deviasi Skala Lima

S SBi X t

+ S,u SBi Sangat

S SBi X t

+ 1,S SBi Tinggi

S SBi X t

+ u,S SBi Sedang

S SBi X t

− u,S SBi Rendah

u SBi X t

− 1,SSBi Sangat Rendah
Keterangan:
= Rata-rata ideal, dihitung dengan rumus:
= (skor maksimal ideal + skor minimal ideal)
= Standar deviasi ideal dihitung dengan rumus:
= (skor maksimal ideal – skor minimal ideal)
42
Tes yang baik adalah tes yang memiliki harga reliabilitas lebih besar
tergolong reliabilitas sangat
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan
statistik inferensial dalam hal ini yaitu anava dua jalur. Dalam menggunakan
ersyaratan analisis terlebih dahulu. Uji
Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya
nelitian yaitu hasil belajar TIK, model
pembelajaran dan media pembelajaran. Untuk menentukan tinggi
variabel penelitian tersebut, skor rata-rata
tiap variabel dikonversikan dengan menggunakan kreteria rata-rata
variabel penelitian
rata ideal dan standar deviasi ideal
Pedoman Konversi dengan Menggunakan Rata-Rata Ideal
Sangat tinggi
Sedang
Rendah
Sangat Rendah
rata ideal, dihitung dengan rumus:
(skor maksimal ideal + skor minimal ideal)
Standar deviasi ideal dihitung dengan rumus:
skor minimal ideal)
43
a. Menghitung Mean
Untuk menghitung mean digunakan rumus sebagai berikut.
(Jampel, 2005: 120)
Keterangan:
M = mean
MT = mean terkaan
i = panjang kelas interval
χ' = simpangan pada daerah MT
f = frekuensi
n = banyaknya data
b. Menghitung Modus
Untuk menghitung modus digunakan rumus sebagai berikut.
(Jampel, 2005: 114)
Keterangan:
Mo = modus
B = batas bawah kelas interval yang mengandung modus
i = panjang kelas interval
b
1
= frekuensi tertinggi dikurangi frekuensi kelas interval
sebelumnya.
b
2
= frekuensi tertinggi dikurangi frekuensi kelas interval
berikutnya.
44
c. Menghitung Median
Untuk mengitung median rumus yang digunakan adalah sebagai
berikut.
H c= B +i _
1
2
n - ] k b
] m
_
(Jampel, 2005: 123)
Keterangan:
Me = median
B = batas bawah
i = panjang kelas interval
fkb = frekuensi komulatif di bawah kelas interval yang
mengandung median
fm = frekuensi pada daerah median
Q. UJI PRASYARATAN ANALISIS
1. Uji Normalitas
Uji normalitas sebaran data dilakukan untuk meyakinkan bahwa data
yang dihasilkan dalam penelitian benar-benar berdistribusi normal sehingga
uji hipotesis dapat dilakukan. Uji normalitas untuk skor hasil belajar TIK
siswa digunakan Uji Chi-Kuadrat dengan rumus sebagai berikut.
2
 = ∑
(]
0
- ]
c
)
]
c
(Koyan, 2007: 82)
keterangan :
2

= Chi-Kuadrat
f
o
= frekuensi yang diperoleh sampel
f
e
= frekuensi yang diharapkan
Kreteria pengujian data distribusi normal jika
2

hit
<
2

tabel
,
dengan taraf signifikansi 5% dan drajat kebebasan dk= k-2-1.
45
2. Uji Homogenitas Varians
Uji homogenitas pada analisis ini dimaksudkan untuk menguji bahwa
setiap kelompok yang akan dibandingkan memiliki variasi yang sama,
benar-benar berasal dari perbedaan antar kelompok, bukan akibat dari
perbedaan yang terjadi di dalam kelompok. Uji homogenitas varians untuk
semua kelompok digunakan Test Bartlett dengan menggunakan rumus
sebagai berikut.
2

(Koyan, 2007:87)
Pengujian dilakukan pada taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan
dk= k-1. Kreteria pengujian, jika
2

hit
<
2

tabel
, maka Ho diterima sampel
homogen dan jika
2

hit
>
2

tabel
, maka sampel tidak homogen.
3. Uji Hipotesis
Uji hipotesis untuk penelitian ini menggunakan Analisis varian
(ANAVA) dua jalur. Hipotesis statistik yang diajukan dan yang akan diuji
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) H
0
(1) : A
1
= A
2
H
1
(1) : A
1
≠ A
2
2) H
0
(2) : B
1
= B
2
H
1
(2) : B
1
≠ B
2
3) H
0
(2) : AB = 0
H
1
(2) : AB ≠ 0
Keterangan:
A
1
: Rata-rata hasil belajar siswa yang mengikuti model
pembelajaran kooperatif Tipe STAD.
46
A
2
: Rata-rata hasil belajar siswa yang mengikuti model
pembelajaran konvensional
B1 : Rata-rata hasil belajar siswa yang mengikuti
pembelajaran menggunakan media komputer.
B
2
: Rata-rata hasil belajar siswa yang mengikuti
pembelajaran menggunakan media sederhana.
AB : Interaksi antara model pembelajaran dengan media
pembelajaran.
Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dari
penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis varian (ANAVA) dua
jalur. Dengan rumus sebagai berikut.
Atau, JKD = JK
tot
– JK
A
– JK
B
- JK
AB
(Koyan, 2007: 38)
Keterangan :
JK
tot
: Jumlah kuadrat total
JK
A
: Jumlah kuadrat antar kolom
JK
B
: Jumlah kuadrat antar baris
JKD : Jumlah kuadrat dalam
JK
AB
: Jumlah kuadrat interaksi (kolom dan baris)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->