SEJARAH KELAHIRAN FAHAM NASIONALISME INDONESIA Berawal dari berbagai pergerakan yang berwawasan parokhial: 1.

Boedi Oetomo (1908) berbasis subkultural Jawa. 2. Sarekat Dagang Islam (1911) berbasis kaum entrepeneur Islam yang bersifat ekstrovert dan politis. 3. Muhammadiyah (1912) berbasis subkultural Islam yang bersifat introvert dan sosial. Pendiri Muhammadiyah K.H.A.Dahlan 4. Indische Party (1912) berbasis subkultural campuran Indo Belanda, Indo Chinese, Indo Arab, dan Indonesia Asli yang mencerminkan elemen politis nasionalisme non rasial yang berselogan: “ Tempat yang memberi nafkah yang menjadikan Indonesia sebagai tanah airnya”. 5. Indische Social Democratische Vereninging (1913) yang berwawasan nasionalisme politik radikal dan berorientasi marxis. 6. Trikora Dharmo (1915) sebagai embrio Jong Java (1918), dan Indonesia Muda (1931) yang berbasis subkultur jawa. 7. Nahdhatoel Oelama (1926) dari subkultur santri dan ulama’, yang memulai segala aktifitasnya dari pesantren dan bercorak Islam tradisional. 8. Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Celebes yang berbasis subkultural etnis. Yang melahirkan pergerakan inklusif yaitu pergerakan nasional yang berjati diri Indonesia, dengan mengaktualisasikanm tekad politiknya dalam “Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928. Mahasiswa Indonesia yang belajar di Negara Belanda juga mendeklarasikan “Menifesto Politik” pada tahun 1925. Dari keanekaragaman subkultural tersebut terkristalisasi suatu “Core Cultural” yang kemudian menjadi basis eksistensi “nastion-state’ Indonesia, yaitu Nasionalisme. Apapun subkulturalnya, mereka merasa bernusa satu, berbangsa satu, dan bernegara satu = Indonesia Epistemologi Nasionalisme Nasionalisme merupakan sebuah penemuan sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling tidak dalam seratus tahun terakhir. Tak ada satu pun ruang sosial di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, lajur sejarah manusia akan berbeda sama sekali. Berakhirnya Perang Dingin dan semakin merebaknya gagasan dan budaya globalisme (internasionalisme) pada dekade 1990-an hingga sekarang, khususnya dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang dengan sangat akseleratif, tidak dengan serta-merta membawa lagu kematian bagi nasionalisme. Sebaliknya, narasi-narasi nasionalisme menjadi semakin intensif dalam berbagai interaksi dan transaksi sosial, politik, dan ekonomi internasional, baik di kalangan negara maju, seperti Amerika Serikat (khususnya pascatragedi WTC), Jerman, dan Perancis, maupun di kalangan negara Dunia Ketiga, seperti India, China, Brasil, dan Indonesia.

Weber menunjukkan sikap pesimistis bahwa sebuah teori yang konsisten tentang nasionalisme dapat dibangun. teorisasi nasionalisme sering bersifat partikular. kata nation berasal dari kata Latin natio yang berakar pada kata nascor ’saya lahir’. seberapa pun besarnya paradoks dan ambivalensi yang dikandungnya. Konsekuensinya. Dalam studi semantik Guido Zernatto (1944). Kata nation mendapat makna baru yang lebih positif dan menjadi umum dipakai setelah abad ke-18 di Prancis. Namun. Kaca mata etnonasionalisme ini berangkat dari asumsi bahwa fenomena nasionalisme telah eksis sejak manusia mengenal konsep kekerabatan biologis. Besarnya implikasi nasionalisme dalam berbagai dimensi sosial mengundang para sarjana mencoba memahami dan sekaligus mencermati secara kritis konsep bangsa dan kebangsaan (nasionalisme). maupun nilainilai budaya. setiap upaya mencari esensi nasionalisme berada di lantai yang berbeda-beda. Dalam sebuah artikel pendek yang ditulis pada 1948. Dalam sudut pandang . seperti yang dikatakan Weber. Selama masa kekaisaran Romawi. Ketika itu Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai assemblee nationale yang menandai transformasi institusi politik tersebut. Begitu rumitnya pemahaman tentang nasionalisme membuat ilmuwan sekaliber Max Weber nyaris frustrasi ketika harus memberikan penjelasan sosiologis tentang fenomena nasionalisme. kata natio secara peyoratif dipakai untuk mengolok-olok orang asing.Sebagai konsep sosial. tidak universal seperti yang diinginkan Weber. dari sifat eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan ke sifat egaliter di mana semua kelas meraih hak yang sama dengan kaum kelas elite dalam berpolitik. Pesimisme Weber mungkin benar. Apa pun bentuk penjelasan tentang nasionalisme. etnisitas. Perkembangan nasionalisme sebagai sebuah konsep yang merepresentasikan sebuah politik bagaimanapun jauh lebih kompleks dari transformasi semantik yang mewakilinya. kata nation digunakan sebagai nama kelompok pelajar asing di universitas-universitas (seperti Permias untuk mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat sekarang). khususnya dalam paradigma pascamodernisme ketika pengetahuan tak lagi monolitik dan homogen. bahasa. Beberapa ratus tahun kemudian pada Abad Pertengahan. hanya akan berujung pada pemahaman yang tidak komprehensif. nasionalisme tidak muncul dengan begitu saja tanpa proses evolusi makna melalui media bahasa. Kekhawatiran Weber ini wajar mengingat komitmennya terhadap epistemologi modernisme yang mencari pengetahuan universal. Namun. begitu beragam faktor yang membentuk bangunan nasionalisme. ini tidak menjadi masalah. Andaikan nasionalisme sebuah gedung. itu tak berarti nasionalisme harus disikapi secara taken for granted dan diletakkan jauh-jauh dari telaah teoretis. Tidak adanya rujukan mapan yang dapat dijadikan pegangan dalam memahami nasionalisme hanya akan menghasilkan kesia-siaan. menurut Weber. baik itu dari dimensi kekerabatan biologis. Tentu saja upaya memecahkan teka-teki nasionalisme tidak mudah mengingat. Dari sinilah makna kata nation menjadi seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu negara. Beragamnya pandangan justru akan memperkaya pemahaman manusia akan fenomena di sekelilingnya.

teknologi. mitos. nasionalisme tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah proses dari atas ke bawah di mana kelas dominan memiliki peranan lebih penting dalam pembentukan nasionalisme daripada . Perancis. bukan sebaliknya. penjelasan yang sama tidak berlaku sepenuhnya ketika dipakai untuk menjelaskan nasionalisme bangsa multikultural seperti Amerika Serikat. Sebagai sebuah ideologi. konsep nasionalisme tidak hanya meliputi aspek-aspek kegemilangan dari gagasan modernitas yang ditawarkan oleh Pencerahan Eropa karena dia merupakan akibat (by-product) dari pengondisian modernitas bersamaan dengan transformasi sosial masyarakat Eropa pada saat itu. 1960). Perspektif etnonasionalisme yang membuka wacana tentang asal-muasal nasionalisme berdasarkan hubungan kekerabatan dan kesamaan budaya bagaimanapun tak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan. dan transformasi sosial. Itali. Yang ditawarkan oleh pendekatan etnonasionalis dapat dipakai untuk mengamati fenomena nasionalisme di negara "monokultur" seperti Jerman. Namun. ethnie merupakan sumber inspirasi yang mendefinisikan batas-batas budaya yang memisahkan satu bangsa dengan bangsa lain seperti sekarang. Tentu saja di bangsa multikultural ini ada dominasi etnik atau ras tertentu yang pada tingkat tertentu menjadi sumber utama inspirasi nasionalisme. 1983). dan Indonesia untuk menyebut beberapa. suatu revolusi berpikir yang membawa semangat egaliterianisme. Dengan kata lain. Kondisi-kondisi yang terbentuk ini tak lepas dari Revolusi Industri ketika urbanisasi dalam skala besar memaksa masyarakat pada saat itu untuk membentuk sebuah identitas bersama (Ernest Gellner. perkembangan nasionalisme berada di titik persinggungan antara politik. itu tak berarti bangunan nasionalisme menjadi homogen karena fondasi nasionalisme juga ditopang oleh ikatan-ikatan nonetnik. Singapura. Lepas dari konundrum tersebut. Dari sudut pandang deterministik ini Gellner sampai pada satu argumen bahwa nasionalismelah yang melahirkan bangsa. Namun. 1986). Namun. Namun. suatu kelompok sosial yang diikat oleh atribut kultural meliputi memori kolektif. nasionalisme memiliki kapasitas memobilisasi massa melalui janji-janji kemajuan yang merupakan teleologi modernitas. dan Jepang. SEBAGAI sebuah produk modernitas. Dalam argumen Smith. dan simbolisme. nasionalisme dilihat sebagai konsep yang alamiah berakar pada setiap kelompok masyarakat masa lampau yang disebut sebagai ethnie (Anthony Smith.ini. Ini bisa ditelusuri dari sejarah munculnya konsep bangsa-negara di Eropa sekitar abad ke-18 yang merupakan bagian dari gelombang revolusi kerakyatan dalam meruntuhkan hegemoni kelas aristokrat. melacak genealogi nasionalisme melalui jejak-jejak etnik mungkin terlalu jauh mengingat fenomena nasionalisme sebenarnya relatif baru. Pembacaan sejarah yang demikian memberi indikasi asal-muasal nasionalisme sebagai anak modernitas yang lahir dari rahim Pencerahan. khususnya jika kita mengamati batas-batas bangsa yang terbentuk dalam masyarakat kontemporer. Dari situ dapat dikatakan bahwa nasionalisme adalah penemuan bangsa Eropa yang diciptakan untuk mengantisipasi keterasingan yang merajalela dalam masyarakat modern (Elie Kedourie. nilai. nasionalisme dibentuk oleh kematerian industrialisme yang membawa perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat.

Kategorisasi ini mungkin kedengaran terlalu sederhana. nasionalisme Timur lahir dalam masyarakat yang terobsesi akan apa yang telah dicapai oleh Barat tetapi secara budaya mereka tidak . 1990). Anderson berargumen bahwa nasionalisme masyarakat pascakolonial di Asia dan Afrika merupakan hasil emulasi dari apa yang telah disediakan oleh sejarah nasionalisme di Eropa. bukan semata-mata fabrikasi ideologis dari kelompok dominan. Dalam perspektif melihat dari bawah ini Benedict Anderson (1991) melihat nasionalisme sebagai sebuah ide atas komunitas yang dibayangkan. identitas masa lalu. harapan.kelas yang terdominasi. Artinya. Keunikan konsep Anderson dapat ditarik lebih jauh untuk menjelaskan kemunculan nasionalisme di negara-negara pascakolonial. Di sini letak problematika dari pandangan Anderson karena menafikan proses-proses apropriasi dan imajinasi itu sendiri yang dilakukan oleh masyarakat pascakolonial dalam menciptakan bangunan nasionalisme yang berbeda dengan Eropa (Partha Chatterjee. Menurut Plamenatz. nasionalisme Barat bangkit dari reaksi masyarakat yang merasakan ketidaknyamanan budaya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi akibat kapitalisme dan industrialisme. sebuah batas yang dikonstruksi secara budaya melalui kapitalisme percetakan. dan kepentingan masyarakat pada umumnya terhadap ideologi nasionalisme memungkinkan ideologi tersebut meresap dan berakar secara kuat (Eric Hobsbawm. Bukan kebetulan jika konsep Anderson sebagian besar didasarkan pada pengamatan terhadap sejarah perkembangan nasionalisme di Indonesia. kebutuhan. Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa. walaupun Plamenatz cukup layak didengar. Para elite nasionalis di masyarakat pascakolonial hanya mengimpor bentuk modular nasionalisme bangsa Eropa. mereka beruntung karena budaya mereka memungkinkan mereka menciptakan sebuah kondisi yang dapat mengakomodasi standarstandar modernitas. Dalam bukunya. John Plamenatz (1976) membuat dikotomi antara nasionalisme Barat dan nasionalisme Timur. imagined communities. dan solidaritas sosial menjadi pengikat erat kekuatan nasionalisme. Pandangan konstruktivis yang dianut Anderson menarik karena meletakkan nasionalisme sebagai sebuah hasil imajinasi kolektif dalam membangun batas antara kita dan mereka. tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Pada level inilah elemen-elemen sosial seperti bahasa. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir di pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial. ada satu hal dalam karya seminal Anderson yang dapat menjadi subyek kritik orientalisme seperti yang ditengarai oleh Edward Said terhadap cara pandang ilmuwan Barat dalam merepresentasikan masyarakat non-Barat (lihat Simon Philpott. pemahaman komprehensif tentang nasionalisme sebagai produk modernitas hanya dapat dilakukan dengan juga melihat apa yang terjadi pada masyarakat di lapisan paling bawah ketika asumsi. 1993). Namun. Sebaliknya. bahkan bangsa yang terkecil sekalipun. kesamaan sejarah. Imagined Communities. Namun. Secara esensial nasionalisme masyarakat pascakolonial dibentuk berdasarkan suatu differance sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi kolonialisme. 2000).

Kedua dan yang lebih penting. ada beberapa poin yang problematis dengan klaim Soekarno di atas. ORIENTASI spiritualitas Timur mengilhami lahirnya konsep Pancasila yang dilontarkan oleh Soekarno kali pertama dalam rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. melainkan terus mengalami transformasi karena lewat media ini masyarakat pascakolonial dengan kreatif menghasilkan imajinasi tentang diri mereka yang berbeda dengan apa yang telah dibentuk oleh modernitas terhadap masyarakat Barat. tugasnya hanya menggali Pancasila dari bumi pertiwi dan mempersembahkannya untuk masyarakat Indonesia (Soekarno. Semakin besar kemampuan Timur mengimitasi kemampuan Barat dalam dunia materi. 1955).dilengkapi oleh prakondisi-prakondisi modernitas yang memadai. adalah sebuah "dunia dalam" yang membawa tanda esensial dari identitas budaya. pada sisi lain. melainkan sebuah konsep yang berakar pada budaya masyarakat Indonesia yang terkubur selama 350 tahun masa penjajahan. penuh dengan ambivalensi. Implikasi strategi ini dalam bangunan nasionalisme pascakolonial dapat dilihat dari upaya-upaya kaum elite nasionalis membangun sebuah ideologi nasionalisme yang memiliki kandungan spiritual yang tinggi sebagai representasi kekayaan budaya yang tidak dimiliki oleh peradaban Barat. Partha Chatterjee mencoba memecahkan dilema nasionalisme antikolonialisme ini dengan memisahkan dunia materi dan dunia spirit yang membentuk institusi dan praktik sosial masyarakat pascakolonial. Mitos ini menjadi strategi retorika untuk membakar sentimen anti-Belanda saat itu. Chatterjee menambahkan bahwa dunia spirit tidaklah statis. Walaupun demikian. Dunia spirit. Soekarno mengklaim bahwa Pancasila bukan hasil kreasi dirinya. Bagi Soekarno. dalam hal ini masyarakat pascakolonial. Di sisi lain dia juga menolak dominasi Barat. Di domain spiritual inilah nasionalisme masyarakat pascakolonial mengklaim kedaulatan sepenuhnya terhadap pengaruh-pengaruh dari Barat. di sisi lain ia menunjukkan bahwa penekanan dunia spirit dalam masyarakat pascakolonial adalah bentuk respons mereka terhadap penganaktirian dunia spirit oleh peradaban Barat. tata negara. Hasilnya berupa bangunan materi modernitas yang dibungkus oleh semangat spiritualitas Timur. Dalam pidatonya. Karena itu. Jika dicermati secara kritis. dia merupakan emulasi dari apa yang telah terjadi di Barat. 2003). serta sains dan teknologi. semakin besar pula keharusan melestarikan perbedaan budaya spiritnya. Pertama. masyarakat pascakolonial mencoba mengambil peluang tersebut untuk membangun sebuah jati diri yang autentik dan berakar pada apa yang telah mereka miliki jauh sebelumnya. Namun. Pada satu sisi. Karena itu. Hasil dari pendaulatan dunia spiritual ini membentuk sebuah kombinasi unik antara spiritualitas Timur dengan materialitas Barat yang mendorong masyarakat pascakolonial memproklamasikan budaya "modern" mereka yang berbeda dari Barat. Dunia materi adalah "dunia luar" meliputi ekonomi. nasionalisme Timur. Dikotomi antara dunia spirit dan dunia material seperti yang dijelaskan Chatterjee pada satu sisi mengikuti paradigma Cartesian tentang terpisahnya raga dan jiwa. Dalam domain ini superioritas Barat harus diakui dan mau tidak mau harus dipelajari dan direplikasi oleh Timur. masa penjajahan 350 tahun adalah sebuah mitos (Onghokham. apakah Pancasila merupakan konsep yang benar-benar produk .

Hanya saja patut kita sadari. tetapi jika ditelusuri ke belakang merupakan hasil konstruksi politik kolonialisme (John Bowen. Tentu saja kita bisa mengkritik apa yang dikatakan oleh Bowen maupun Pemberton sebagai pengamatan yang mengandung bias orientalisme. terlalu tergesa-gesa mengatakan nasionalisme Indonesia telah mencapai titik final. Dalam konteks politik saat itu. 1986). Ironisnya. domain spiritual dalam nasionalisme Indonesia bagaimanapun diisi oleh elemen-elemen yang melekat erat pada dan lahir dari proses dialektis dengan kolonialisme. Tentu saja kita tidak bisa menutup kemungkinan bahwa salah satu atau lebih dari prinsipprinsip Pancasila telah ada dalam masyarakat di Nusantara sebelumnya seperti yang diklaim Soekarno. Problematis karena ketika kita mencari akar spiritualitas Timur yang diklaim sebagai produk "alamiah". sosialisme. Namun. Ini menjadi jelas terlihat jika kita mengamati konsep gotong-royong yang oleh Soekarno disebut sebagai inti dari Pancasila. Indikasi lain dapat ditemui pada salah satu elemen pembentuk nasionalisme Indonesia. Kesimpulan demikian tentu saja memiliki implikasi politik. Yang ingin ditunjukkan dari pengamatan ini adalah bahwa penjelasan Chatterjee tentang spiritualitas Timur yang menjadi domain kedaulatan masyarakat pascakolonial menjadi problematis ketika dipakai untuk mencari akar spiritualitas itu di dalam Pancasila sebagai sebuah ideologi nasional. melainkan terbentuk dari proses asimilasi dengan budaya Eropa selama masa kolonialisme beberapa abad. Mengklaim bahwa nasionalisme Indonesia berakar secara "alami" pada budaya lokal tidak memiliki landasan historis yang cukup kuat. Pancasila ditawarkan sebagai upaya rekonsiliasi antara kaum nasionalis-sekuler dan nasionalis-Islamis. yang kita temukan-sekali lagi-adalah apropriasi konsep-konsep Barat yang secara retoris direpresentasikan sesuatu yang berakar pada budaya lokal. Dia masih terus berkembang mencari bentuknya dalam aliran sejarah yang terus mengalir secara dinamis. Dari sini kita bisa mengambil satu kesimpulan. . Klaim demikian menjadi goyah setelah kita membaca John Pemberton (1994) yang menunjukkan bagaimana budaya aristokrat Jawa itu sendiri tidak sepenuhnya bersifat lokal. kita tidak memiliki bukti yang "autentik" untuk mengklaim bahwa nasionalisme Indonesia dibentuk oleh warisan akar budaya lokal. nasionalisme. ini tak berarti membatalkan bangunan nasionalisme yang telah dibangun oleh para elite nasionalis selama beberapa dekade terakhir. dikombinasikan dengan Islamisme yang berasal dari gerakan Islam modern di Timur Tengah. Artinya. bahwa Indonesia baik sebagai konsep bangsa maupun ideologi nasionalisme yang menopangnya adalah produk kolonialisme yang sepenuhnya diilhami oleh semangat modernitas di mana budaya Barat menjadi sumber inspirasi utama. yaitu budaya (aristokrat) Jawa yang diklaim sebagai akar budaya bangsa Indonesia. Argumen di atas menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia sebagai sebuah model nasionalisme masyarakat pascakolonial jauh lebih kompleks dan ambivalen baik dari kategorisasi Plamenatz tentang nasionalisme Timur dan Barat maupun penjelasan Chatterjee tentang spiritualitas Timur sebagai satu-satunya wilayah di mana masyarakat pascakolonial mampu membangun autentitasnya. yang tentunya masih dapat diperdebatkan.indigenous? Dalam pidato Soekarno terlihat bahwa Pancasila merupakan hasil kombinasi dari gagasan pemikiran yang diimpor dari Eropa. yakni humanisme.

Ikatan ini terjadi saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. nasionalisme tidak lagi menjadi milik publik. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political legitimacy). kacamata Anderson yang melihat nasionalisme sebagai imajinasi kolektif menjadi kabur dan tidak lagi memadai untuk mengamati bagaimana wacana nasionalisme beroperasi dalam relasi kekuasaan. Para ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti nasional sosialisme. Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya". nasionalisme menjadi arena ekspresi sosial dan budaya masyarakat yang demokratis. yang notabene lemah dan bermutu rendah. Dalam perspektif ini. Saat itu. tempatnya hidup dan menggantungkan diri. wacana nasionalisme harus dilepaskan dari dominasi institusi negara. bila suasanya aman dari serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu. 1994). Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini. memiliki kapasitas mentransformasikan energi sosial ke dalam aksi-aksi politik otoriterianisme. Namun. Dengan demikian. Definisi Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. nasionalisme berada dalam sebuah relasi antara negara dan masyarakat yang menyediakan kekuasaan yang begitu besar dalam mengendalikan negara (John Breuilly. naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan negerinya. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri.Di sinilah titik kritis karena nasionalisme. Dalam kondisi demikian. Untuk menghindari jebakan ideologis ini. nasionalisme berevolusi menjadi alat manufacturing consent untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan ekonomi politik kelompok elite nasionalis. Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Dalam zaman modern ini. Dalam konteks ini. Dengan kata lain. nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan. pengasingan dan sebagainya. dalam mendefinisikan nasionalisme. seperti yang dinyatakan di bawah. Wacana nasionalisme harus diletakkan dalam ruang publik di mana setiap kelompok masyarakat dapat dengan leluasa mengaji secara kritis dan memberi kontribusi kreatif terhadap wacana nasionalisme. [sunting] Beberapa bentuk nasionalisme . melainkan hak eksklusif kaum elite nasionalis yang dengan otoritas pengetahuan mendominasi wacana nasionalisme. baik sipil maupun militer. sirnalah kekuatan ini. sebagai sebuah ideologi. atau gabungan kedua teori itu. debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat.

"perwakilan politik". selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Franquisme sayapkanan di Spanyol. Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik. Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit. budaya. dan nasionalis Basque atau Korsika. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Antara tulisan yang terkenal adalah buku berjudulk Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia "Mengenai Kontrak Sosial"). dan dalam bentuk yang lebih kecil. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat"). kisah tradisi yang telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. keagamaan dan ideologi. etnis. akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat. nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi ("organik") hasil dari bangsa atau ras. ras dan sebagainya. yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming. Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan. seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. serta nasionalisme Turki kontemporer. dan terhadap wilayah. Secara sistematis. Kategori tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau semua elemen tersebut. Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. serta sikap 'Jacobin' terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis. Contoh biasa ialah Nazisme. seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap . seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia. "kehendak rakyat".Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan (bukan negara) yang populer berdasarkan pendapat warganegara. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRT karena pemerintahan RRT berpaham komunisme. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder. Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang ulung. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. menurut semangat romantisme. bila mana nasionalisme kenegaraan itu kuat.

nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agama Protestan. bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. dan Corsica. Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Walaupun begitu. Justru itu. nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan. Misalnya pada abad ke-18. pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Sepanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque. . Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkan teologi semata-mata. Catalan.nasionalisme Kurdi. Misalnya. Namun demikian. di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik. lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan.