BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Salah satu wujud tata kepemerintahan yang baik ( good governance) itu terdapatnya citra pemerintahan yang demokratis. Prinsip demokrasi yang paling penting adalah meletakkan kekuasaan di tangan rakyat dimana pada tingkat terakhir rakyat memberikan ketentuan dalam masalah-masalah pokok mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijaksanaan pemerintah dan negara, oleh karena kebijakan itu menentukan kehidupan rakyat. Dalam sistem penyelenggaraan kenegaraan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) ditetapkan sebagai salah satu unsur penyelenggara pemerintahan Sebagaimana disebutkan pada Pasal 1 ayat (2) UU Nomor 32 Tahun 2004 adalah penyelenggara urusan DPRD dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksudkan dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Kedudukan DPRD sebagaimana yang diamanatkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004 implikasinya adalah antara kepala daerah dan DPRD benarbenar memiliki kesetaraan dan kesederajatan dan tidak ada dominasi salah satu diantara keduanya .

1

DPRD ditempatkan kedalam susunan pemerintahan daerah bersama kepala daerah, pola hubungan antara kepala daerah dan DPRD dilaksanakan secara sub ordinat dalam arti tidak adanya posisi tawar DPRD terhadap semua kebijakan yang diterbitkan oleh kepala daerah, sehingga eksistensi DPRD pada masa orde baru tidak lebih hanya sebagai stempel untuk melegalisasi setiap program dan kegiatan yang diajukan oleh kepala daerah, apalagi harus melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintah daerah. Setelah runtuhnya rezim orde baru, DPRD yang ditetapkan sebagai lembaga legislatif daerah dengan menguatnya peran dan fungsi DPRD terutama

fungsi kontrolnya terhadap pemerintah daerah. Hal ini terlihat dimana kepala daerah memiliki kewajiban untuk menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD setiap akhir tahun dan akhir masa jabatan. Ketentuan tersebut membuka peluang terjadinya penolakan oleh DPRD yang dapat berujung pada upaya pemberhetian (impeachment) terhadap Kepala Daerah. Dalam perkembangannya, supremasi DPRD atas Kepala Daerah tersebut ternyata menimbulkan instabilitasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. Melihat eksistensi lembaga DPRD di era otonomi daerah, maka sudah sepantasnya DPRD dapat melaksanakan fungsi-fungsi yang dimilikinya secara lebih optimal. Salah satu fungsi yang dimiliki oleh DPRD adalah fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan DPRD terhadap pemerintah daerah merupakan hal yang sangat penting untuk dioptimalkan. Hal ini didasari bahwa fungsi pengawasan DPRD terhadap pemerintah daerah memiliki
2

peran yang sangat penting dalam pengembangan demokrasi di Indonesia khususnya di daerah, karena bagaimanapun juga DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat yang berada di daerah untuk menyampaikan aspirasi dan sudah sepantasnya rakyat juga ikut serta dalam mengawasi jalannya pemerintahan daerah yang tercermin dengan pelaksanaan fungsi

pengawasan DPRD terhadap pemerintah daerah (eksekutif selaku pelaksana kebijakan). Dengan adanya pengawasan yang dilakukan oleh DPRD terhadap pemerintah daerah tentunya merupakan cerminan terlaksananya mekanisme checks and balances dalam pengelolaan tata pemerintahan

yang baik (good governace) di daerah. Salah satu ruang lingkup dari fungsi pengawasan DPRD adalah pengawasannya terhadap peraturan daerah, sebagaimana dijelaskan pada Pasal 42 ayat (1) huruf c Undang-undang Nomor 32 bahwa ruang lingkup pengawasan DPRD meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya, peraturan kepala daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah, dan kerjasama internasional di daerah. Mengingat bahwa Peraturan daerah merupakan kebijakan sekaligus sebagai produk hukum yang tertinggi di tingkat daerah yang dikeluarkan atas inisiatif DPRD maupun eksekutif merupakan cerminan arah penyelenggaraan pemerintahan daerah maka sudah sepantasnya setelah merumuskan dan mengesahkan suatu peraturan daerah, maka DPRD harus melaksanakan
3

fungsi pengawasannya atas implementasi peraturan daerah tersebut. maka salah satu Perda yang menjadi pusat kajian dalam penelitian ini adalah perda No 13 tahun 2008 tentang Peraturan Daerah Retribusi Pasar jumlah pasar yang berada di Kabupaten Sidenreng Rappang 17 pasar 4 . Dari sekian perda yang telah dikeluarkan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. apakah sudah sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama dan apakah sesuai dengan aspirasi masyarakat banyak. yang sudah sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati bersama dan memberi manfaat kepada rakyat. diharapkan DPRD senantiasa kritis terhadap pemerintah daerah sebagai pelaksana peraturan daerah. Dengan demikian. fungsi pengawasan DPRD terhadap peraturan daerah juga memberikan kesempatan kepada DPRD untuk lebih aktif dan kreatif menyikapi berbagai kendala terhadap pelaksanaan Perda. dari hasil pengawasan dewan akan diambil tindakan penyempurnaan memperbaiki pelaksanaan kebijakan tersebut. eksekutif sebagai pelaksana kebijakan akan terhindar dari berbagai penyimpangan dan penyelewengan. Melalui pengawasan dewan. DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sebagai bagian dari penyelenggara pemerintahan daerah khususnya melakukan fungsi pengawasan terhadap pemerintah daerah sebagai pelaksana kebijakan daerah (Perda) dengan sebaik-baiknya. Selain itu.

961.239 sedangkan target penerimaan Rp.377.tersebar hampir semua kecamatan akan tetapi ada tiga pasar yang terbesar dan produktif dan berpotensi dalam meningkatkan pendapatan asli daerah. khususnya dalam memanfaatkan retribusi tersebut dalam pembangunan di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Pasar tersebut adalah Pasar Pangkajena.400.279.160. Anggaran dalam pengembangan dan penataan pasar yang di Kabupaten Sidenreng Rappang adalah hasil pinjaman dari bank dunia. Dalam penelitian ini penulis mencoba melihat lebih jauh peran DPRD dalam fungsi pengawasannya di Kabupaten Sidenreng Rappang khususnya perda tentang retribusi pasar. 5 . dan Pasar Rappang yang memberikan retribusi ke pendapatan daerah. maka penulis memfokuskan penelitian ini pada Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Retribusi Pasar. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian diatas. Data yang terlihat setiap tahun khususnya tahu 2009 peneriman mencapai Rp. Dengan dasar ini dibutuhkan peran DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang dalam melaksanakan fungsi pengawasannya. terhadap Peraturan Daerah. begitun pula pada tahun 2010 belum mencapai target dalam pengelolahannya. 13.12. maka fokus penelitian ini berada pada fungsi pengawasan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Pasar Tanru Tedong. B.

Manfaat Teoritis a. khususnya politik kontemporer. b. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penenelitian Mendeskripsikan dan menganalisis pengawasan DPRD terhadap pelaksanaan Perda No 13 tahun 2008 Tentang Retribusi Pasar di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Dalam wilayah akademis. Manfaat Penelitian : 1. memperkaya khasanah kajian ilmu politik untuk pengembangan keilmuan. Adapun rumusan masalah penelitian sebagai berikut : Bagaimana pengawasan DPRD terhadap Perda No 13 tahun 2008 Tentang Retribusi Pasar di Kabupaten Sidenreng Rappang? C. Menunjukan secara ilmiah pengawasan DPRD terhadap peraturan daerah khususnya Perda tentang Retribusi Pasar. 2.disamping itu peraturan-peraturan lainya yang berkaitan dengan retribusi pasar. Manfaat Praktis 6 .

Sebagai salah satu prasyarat memperoleh gelar sarjana ilmu politik. 7 .a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi anggota DPRD dalam melaksanakan tugasnya sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah di Kabupaten Sidenreng Rappang . b. c. Memberikan bahan rujukan kepada masyarakat yang berminat dalam memahami fungsi pengawasan DPRD tentang Retribusi Pasar.

penyalahgunaan wewenang. dan mengarahkan seluruh kegiatan-kegiatan dalam rangka pelaksanaan dari pada suatu rencana sehingga dapat diharapkan suatu hasil yang maksimal. Dan Retribusi Pasar. 8 . konsep DPRD. Peraturan Daerah. Esensinya membantu agar sasaran dapat dicapai secara dini menghindari terjadinya penyimpangan. Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai konsep pengawasan. Otonomi daerah. Konsep Pengawasan Pengawasan pada dasarnya berupaya penegakan disiplin nasional dan mencegah deviasi sekaligus menanggulangi ekonomi biaya tinggi serta menciptakan efisiensi nasional. pemborosan dan pembocoran dana-dana pembangunan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka merupakan panduan penulisan dalam aspek konseptual dan teoritis. Dalam kaitan ini oleh Bohari (1995:5) menganggap bahwa tujuan utama pengawasan bermaksud untuk memahami apa yang salah demi perbaikan di masa datang. A.

Pengawasan memiliki urgensi dalam memaksimalkan tujuan. Dalam hubungan ini. Bagaimana mengusahakan agar aparatur pemerintah dapat meningkatkan mobilisasi dana pembangunan yang berasal dari sumbersumber dalam negeri. 2. 1995:25) bahwa pengawasan memang telah dilakukan oleh para pejabat yang berwenang yang diserahi tanggungjawab tetapi kemampuan sampai tingkat yang efektif belum dicapai. Bagaimana meningkatkan kemampuan perencanaan. namun seperti dikatakan Sumitro Djojohadikusumo (Salindeho. pelaksanaan dan pengendalian pembangunan pada aparatur pemerintah di tingkat daerah 9 . yaitu : 1. 4. Bagaimana meningkatkan sikap dan orientasi aparatur pemerintah terhadap pembangunan sehingga mampu bertindak sebagai pemrakarsa pembaharuan dan penggerak pembangunan. 3. pendayagunaan aparatur pemerintah terkait dengan aspek pengawasan disebabkan lima tantangan yang sering dihadapi. Bagaimana mewujudkan kemampuan aparatur pemerintah agar berhasil mempergunakan sumber-sumber yang tersedia dengan kapasitas dan produktivitas optimal dalam penyelenggaraan administrasi pelaksanaan program-program pembangunan .

1995 : 65) menyebutkan tiga langkah pokok dalam melakukan proses pengawasan yaitu Pertama. Sehubungan dengan kelima deretan tantangan di atas. Kedua. meningkatkan pendayagunaan pelaksanaan pengawasan dalam tubuh aparatur pemerintah. Oleh karena itu menurut Henry dengan mengutip Morris Janowitz menyarankan agar model lama dan tertutup dari gaya pengawasan dan otoritas militer tradisional (yang punya segi dominasi) sudah tidak cocok lagi karena sehubungan dengan pesatnya kemajuan teknologi.5. menetapkan beberapa jenis standar atau sasaran. meningkatkan disiplin aparatur pemerintah sehingga dapat mendukung terwujudnya disiplin nasional. Bagaimana aparatur pemerintah dapat meningkatkan dayaguna sejalan dengan upaya penyerasian antara pembangunan sektoral dan pembangunan nasional. maka tujuan peningkatan serta pembudayaan pengawasan dimaksud meliputi : Pertama. efektif dan efisien.menumbuhkan budaya pengawasan dan fungsi pengawasan serta membuat pengawasan berjalan secara wajar. Garry Dessler (Sujamto. pengawasan dan otoritas sesuai pandangan Nicholas Henry (1995:119) harus berbuat dengan mengikuti perubahan organisasi. Ketiga. Kedua mengukur dan membandingkan kenyataan 10 .

. Rangkaian tindakan yang tercakup dalam proses pengawasan tersebut merupakan tindakan untuk menetapkan standar pengawasan Standar pengawasan dimaksud yaitu suatu standar atau tolak ukur yang merupakan patokan bagi pengawas dalam menilai apakah objek atau pekerjaan yang diawasi berjalan dengan semestinya atau tidak. “pengawasan adalah suatu proses yang 11 . Sedangkan menurut Soekarno K. hasil pengawasan hanya mempunyai dua kemungkinan yaitu : berjalan sesuai dengan standar atau terjadi penyimpangan. Pengawasan dalam organisasi pemerintah diperlukan agar organisasi pemerintahan Pengawasan dapat disini bekerja secara unsur efisien.yang sebenarnya terhadap standar. Ketiga. Jadi dilihat dari tolak ukur ini. identifikasi penyimpangan dan pengambilan tindakan korektif. efektif untuk dan ekonomis. dimana beliau memberikan definisi tentang pengawasan sebagai “kegiatan manajer yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang dikehendaki”. Definisi tentang pengawasan yang lain juga diungkapkan oleh Sarwoto. merupakan penting meningkatkan pendayagunaan aparatur negara dalam melaksanakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan menuju terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

menentukan tentang apa yang harus dikerjakan, agar apa yang harus dikerjakan, agar apa yang diselenggarakan sejalan dengan rencana”. Kalau definisi pengawasan yang disampaikan oleh Sarwoto lebih menekankan kepada kegiatan manajer yang mengusahakan agar pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana, maka Soekarno K lebih menekankan pengawasan sebagai proses yang menentukan tentang apa yang harus dikerjakan, sebenarnya tidak jauh berbeda. Dari berbagai definisi dan pendapat yang dikemukakan oleh para ahli diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pengawasan pada dasarnya adalah suatu kegiatan yang dilakukan agar pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan rencana sehinga tujuan dapat tercapai. Dalam penggunaan pengawasan terdapat beberapa metode antara lain: a. Metode Pengawasan Preventif Pengawasan yang dilakukan pada tahap persiapan dan perencanaan suatu kegiatan terhadap sebuah lembaga. Pengawasan ini bertujuan pada aspek pencegahan dan perbaikan, termasuk pula pengusulan perbaikan atau pembentukan regulasi baru untuk berbaikan standar kualitas terhadap layanan publik. Pengawasan preventif dilakukan melalui pra audit sebelum pekerjaan dimulai. Misalnya dengan mengadakan pengawasan terhadap persiapan-persiapan kerja, rencana anggaran, rencana penggunaan tenaga, dan sumber-sumber lain.

12

b. Metode Pengawasan Refresif Pengawasan terhadap proses-proses aktivitas pada sebuah lembaga. Pengawasan bertujuan menghentikan pelanggaran dan mengembalikan pada keadaan semula, baik disertai atau tanpa sanksi. Bentuk pengawasan yang dilakukan melalui post-audit dengan melakukan pemeriksaan terhadap pelaksanaan ditempat (inspeksi), meminta laporan pelaksanaan, dan sebagainya. Selain kedua metode pengawasan diatas, masih ada dua metode pengawasan lainnya yang dapat dilakukan oleh lembaga pengawas. Kedua metode yang dimaksud adalah : c. Metode Pengawasan Langsung (direct control) Metode pengawasan langsung maksudnya pengawasan yang

dilakukan dengan mendatangi unit kerja yang bersangkutan. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan mempelajari dan menganalisa berbagai informasi dan data sebagai bahan masukan yang menggambarkan berbagai kegiatan yang hendak diketahui efektifitas dan efisiensi pelaksanaannya. Metode ini bisa juga dilakukan dengan wawancara langsung kepada pelaksana kegiatan atau orang lain yang dianggap mengetahui dengan baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Dengan demikian metode pengawasan ini dapat dilakukan dengan pendekatan formal dan informal. Hadari Nawawi (1994 : 5) Pengawasan formal adalah pengawasan yang dilakukan oleh pejabat instansi yang berwenang baik bersifat ekstern maupun intern. Sedangkan
13

pengawasan informal adalah pengawasan yang dilakukan masyarakat (sosial control), misalnya dengan media massa dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat ataupun melalui surat-surat pengaduan.

d. Metode Pengawasan Tidak Langsung Metode pengawasan tidak langsung artinya kegiatan pengawasan yang dilakukan tanpa mendatangi obyek yang diawasi. Caranya adalah dengan mempelajari dan menganalisa segala dokumen-dokumen yang menyangkut obyek yang diawasi, baik berupa laporan dari pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya berkala ataupun isidentil, laporan hasil pemeriksaan (LHP) yang diperoleh dari perangkat pengawasan langsung, surat-surat pengaduan, berita atau artikel di media massa, dan dokumen-dokumen lainnya. Menurut Nawawi (1991:59) macam-macam pengawasan antara lain : 1. Pengawasan Fungsional, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur yang ditugaskan melaksananakan pengawasan seperti BPKP, Irjenbang, Depertemen, dan aparat pengawasan fungsional lainnya di Lembaga Non Departemen dan Instansi Pemerintahan lainnya. 2. Pengawasan Politik, yang dilaksananakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

14

yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Lembaga Perwakilan Rakyat baik di tingkat DPR maupun DPRD. yaitu pengawasan yang dilakukan media massa. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat. Pengawasan Fungsional (wasnal). yaitu : 1. Inspektur Jendrak Departemen/Lembaga (Bawasda) pemerintah Negara. 4. seperti yang termuat dalam media massa. 5. provinsi. 2. individu. 15 . yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahan dan satuan kerja yang dipimpinnya. yakni pengawasan yang dilaksanakan oleh atasan langsung terhadap bawahannya. 3. Pengawasan melekat. Pengawasan Melekat (waskat). Pengawasan yang dilakukan oleh BPK dan BPKP sebagai pengawasan eksternal eksekutif. ormas-ormas. dimana macam-macam pengawasan dibedakan menjadi empat. Pengawasan Sosial. yaitu pengawasan yang dilakukan secara fungsional oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah. Badan Pengawasan serta Daerah Satuan kabupaten/kota. Sementara itu. 4.3. dan anggota masyarakat umumnya. Pengawasan masyarakat (wasmas). penggolongan macam-macam pengawasan menurut subyek yang melakukan pengawasan juga disampaikan oleh LAN (1996). seperti Badan Pemeriksa keuangan (BPK). Pengawasan Legislatif (wasleg). Pengawas Intern (SPI) BUMN/BUMD. Pengawasan ini merupakan pengawasan politik (waspol).

Dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang berguna untuk meningkatkan kinerja di masa depan dan memfokuskan pada kualitas hasil. tersedianya yang arahan yang dan memadai. juga di paparkan oleh Schermerhorn (2001). ketersediaan sumber daya dibutuhkan memfokuskan pada kualitas sumber daya. Pengawasan internal-external. Pengawasan concurrent (pengawasan bersamaan). Pengawasan ini dilakukan setelah aktivitas selesai dilaksanakan. 16 . Pengawasan feedforward (pengawasan umpan di depan). dimana Schermerhon membagi pengawasan menjadi empat jenis. Pengawasan ini memfokuskan pada apa yang terjadi selama proses berjalan yang bertujuan untuk memonitor aktivitas yang sedang berjalan untuk menjamin segala sesuatu sesuai rencana dan juga untuk mengurangi hasil yang tidak diinginkan. Pengawasan ini dilakukan sebelum aktivitas dimulai yang bertujuan untuk menjamin kejelasan sasaran.Konsep macam-macam pengawasan yang sedikit agak berbeda dibandingkan macam-macam pengawasan yang telah diutarakan diatas. yaitu : a. Pengawasan feedback (pengawasan umpan balik). c. b. Pengawasan internal memberikan kesempatan untuk memperbaiki sendiri sedangkan pengawasan eksternal melalui supervisi dan penggunaan administrasi formal. d.

Untuk mencari jalan keluar bila ternyata dijumpai kesulitan-kesulitan. peraturan keputusan kebijaksanaan dan ketentuan daerah itu sendiri. Tujuan pengawasan itu sendiri adalah agar hasil pelaksana kerja yang dilaksanakan dapat berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan rencana.Di dalam suatu sistem Pemerintahan Daerah. kelemahan-kelemahan. hal ini juga dikemukan oleh Ibrahim Lubis (1987:41) yang mengemukakan bahwa tujuan pengawasan terdiri atas : 1. Hasil pengawasan dapat dijadikan bahan informasi atau umpan balik dari penyempurnaan baik bagi rencana itu sendiri maupun dalam mewujudkan rencana itu sendiri. Untuk mengetahui apakah suatu rencana berjalan sesuai dengan yang digariskan. Sementara itu. dalam Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa tujuan pengawasan adalah mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan.kegagalan-kegagalan dalam atau kegagalan-kegagalan ke arah 17 .pemborosan. perbaikan. 3. pengawasan merupakan suatu usaha penertiban untuk menjamin terealisasinya segala ketentuan Undang-Undang. 4. Untuk mengetahui apakah segala sesuatu dilaksanakan sesuai dengan intruksi serta asas-asas yang telah diinstruksikan. Untuk mengetahui segala sesuatu apakah berjalan efisien. 2.

Untuk mencegah kemungkinan terjadi penyimpangan-penyimpangan kesalahan pelaksanaan kegiatan 2. serta siapa yang bertanggungjawab atas kesalahan tersebut. Dengan memenuhi berbagai sifat dalam pelaksanaan kontrol atau pengawasan maka upaya untuk mengantisipasi penyelenggaraan yang merugikan dan menghambat kelancaran pemantauan dapat diminimalkan termasuk hal-hal yang merusak citra pemerintah seperti Korupsi.mencapai tujuan. Untuk mengetahui di mana letak kelemahan-kelamahan. tetapi untuk mencari kebenaran terhadap pelaksanaan pekerjaannya. Ichwan Akuntan (1989: 130) bahwa tujuan pengawasan antara lain : 1. dan bagaimana cara memperbaharui di masa datang. sebabsebab terjadinya penyimpangan dan dampaknya. sedang sasaran pengawasan adalah untuk mewujudkan efisiensi dan efektivitas. dan Nepotisme (KKN) yang selama ini menjadi sorotan masyarakat secara menyeluruh yang memang sangat mendesak untuk ditanggulangi. Untuk mengupayakan agar pelaksanaan tugas dan pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan 3. Kolusi. Pengawasan dapat tercapai tujuannya sebagaimana yang diharapkan oleh M. kehormatan dan ketertiban pelaksanaan pengawasan maksud dari pengawasan bukan untuk mencari kesalahan terhadap orang yang berbuat. 18 .

19 . Untuk selanjutnya. Selanjutnya menurut Sujamto (1986:157) bahwa dalam merencanakan dan melaksanakan pengawasan perlu diperhatikan hal-hal berikut : a. memperkecil pemborosan dan efisiensi. yakni tujuan utama dari pengawasan adalah mengusahakan agar apa yang direncanakan dapat menjadi kenyataan bertitik tolak dari defenisi tersebut. 15 Tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan pada Pasal 1 Ayat (1) dinyatakan bahwa pengawasan bertujuan untuk mendukung kelancaran dan ketepatan pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan.4. maka semakin jelas dan nyata bahwa dalam setiap bentuk kerjasama manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Agar pelaksanaan tugas umum pemerintah dilakukan secara tertib berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta berdasarkan sendi-sendi kewajaran penyelenggaraan pemerintahan agar tercapai daya guna dan tepat guna yang sebaik-baiknya. maka sangat diperlukan adanya pengawasan sebagai alat pengamanan dari perencanaan dengan tujuan agar kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan hasil yang maksimal seperti yang menjadi harapan bersama. Manullang (1981:175) menegaskan pula apa yang menjadi tujuan pengawasan. Di dalam Instruksi Presiders No.

berwibawa. Dalam UU Nomor 27 Tahun 2009 juga dijelaskan bahwa DPRD 20 . uang dan perlengkapan milik negara. dan pelaksana tugas umum pemerintah dan pembangunan d. tenaga.b. Agar hasil-hasil pembangunan dapat dinilai seberapa jauh tercapai untuk memberi umpan balik berupa pendapat. kesimpulan. c. Agar sejauh mungkin mencegah terjadinya pemborosan. berdaya guna dan berhasil guna. bersih. Konsep DPRD Pada Pasal 40 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan bahwa “DPRD merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah”. sehingga proses-proses pembangunan atau yang terkait dapat berjalan secara maksimal. sehingga dapat terbina aparatur yang tertib. Pengertian dari rumusan-rumusan ataupun falsafah-falsafah pengawasan yang telah dikemukakan tadi mau tidak mau harus dipahami oleh semua pihak. baik pihak atau unsur pelaksana pengawasan maupun pihak yang diawasi. Agar pelaksanaan pembangunan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan program pemerintah serta peraturan perundangundangan yang berlaku sehingga tercapai sasaran yang ditetapkan. B. kebocoran dan penyimpangan dalam penggunaan wewenang.

c. merupakan fungsi DPRD untuk membentuk peraturan daerah bersama kepala daerah. Badan Anggaran. b. Badan Kehormatan. dan keputusan kepala daerah serta kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah daerah. Adapun alat kelengkapan DPRD terdiri atas . Selain itu. merupakan fungsi DPRD untuk melaksananakan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang. Susunan DPRD terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum. dan alat kelengkapan lainnya yang diperlukan dan dibentuk oleh rapat paripurna. merupakan fungsi DPRD yang bersama-sama dengan pemerintah daerah menyusun dan menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Badan musyawarah. Pengawasan. tugas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mempunyai fungsi : a. Dalam menjalankan tugasnya. yang di dalamnya termasuk anggaran untuk pelaksanaan fungsi. Legislasi. maka alat kelengkapan dibantu oleh sekretariat yang berasal dari pegawai negeri sipil (PNS). Anggaran. Badan Legislasi Daerah. Untuk wilayah provinsi maka disebut DPRD provinsi dan untuk wilayah kabupaten/kota maka disebut dengan DPRD kabupaten/kota. adapun tugas dan wewenang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah meliputi : 21 . peraturan daerah. pimpinan. Komisi.berkedudukan sebagai unsur penyelengara pemerintahan daerah. dan wewenang DPRD.

kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah/wakil kepala daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD provinsi dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur bagi DPRD kabupaten/kota. c. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan peraturan perundang-undangan lainnya. h. i. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian internasional di daerah. APBD. g. e. 22 . Membahas dan memberikan persetujuan rancangan peraturan daerah mengenai anggaran pendapatan dan belanja daerah yang diajukan oleh kepala daerah. Membentuk peraturan daerah yang dibahas dengan kepala daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama. peraturan kepala daerah. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerja sama internasional yang dilakukan oleh pemerintah daerah. d. Meminta laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan kerjasama internasional di daerah. b. Membentuk panitia pengawas pemilihan kepala daerah. f.a. Memilih wakil kepala daerah dalam hal terjadi kekosongan jabatan wakil kepala daerah.

negara yang diduga bertentangan dengan ketentuan peraturan perundangundangan. DPR. c. merupakan hak DPRD untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah daerah mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di daerah disertai dengan rekomendasi 23 . Hak menyatakan pendapat. merupakan hak DPRD untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat. Hak DPRD dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya antara lain : a. merupakan hak DPRD untuk meminta keterangan kepada kepala daerah mengenai kebijakan pemerintah daerah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat dan bernegara. Memberikan persetujuan terhadap rencana kerjaasama antar daerah dan dengan pihak ketiga yang membebani masyarakat dan daerah. Undang-Undang Nomor 27 tahun 2009 tentang MPR. untuk melaksanakan tugas dan wewenangnya kepada DPRD diberikan diberikan beberapa hak dan kewajiban. b. daerah. Hak Angket. Melakukan pengawasan dan meminta laporan KPUD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Hak Interpelasi. k.j. DPD dan DPRD.

d. d. Menyampaikan usul dan pendapat. Mengikuti orientasi dan pendalaman tugas h. b. Memegang teguh dan mengamalkan pancasila. b. Memilih dan dipilih. Melaksanakan Undang-undang Dasar 1945 dan menaati peraturan perundang-undangan c. dan golongan. Mengajukan pertanyaan. Imunitas g. Mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. e. Adapun kewajiban bagi anggota DPRD antara lain : a.penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keuangan dan administratif. kelompok. Protokoler i. Mengajukan rancangan peraturan daerah. e. Sementara itu bagi setiap anggota DPRD diberikan hak-hak sebagai berikut : a. Membela diri f. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. c. 24 .

peraturan kepala daerah. sebagai bagian dari pemerintahan daerah. Menjaga etika dan norma dalam hubungan kerja dengan lembaga lain dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. Tugas DPRD berkaitan dengan fungsi pengawasan pertama sebagai Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan peraturan perundang-undangan lainnya. Pengawasan DPRD melingkupi pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. APBD. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah dan kerjasama internasional (Pasal 78 (3) UU 22/2003 dan pasal 42 25 . Menaati prinsip demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.Menampung dan menindaklanjuti aspirasi dan pengaduan masyarakat.f. i. g. Bukan hanya itu. Manaati tata tertib dan kode etik. h. Menyerap dan menghimpun aspirasi konstituen melalui keunjungan kerja secara berkala. Memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihannya. keputusan walikota/bupati. APBD. dan kerja sama internasional di daerah. j. DPRD sesungguhnya juga bertanggungjawab melakukan pengawasan terhadap layanan publik.

yang dibuat oleh pihak 26 . Fungsi pengawasan sebagai agenda kerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat memberikan perhatian khususnya dalam mengawasi pencapaian target retribusi pasar dalam menunjang Pendapatan Asli Daerah (PAD). 32/2004). 22/2003). Preliminary Control. Pengawasan ini dapat dibagi dalam tiga bentuk pengawasan. badan hukum. preliminary Pengawasan anggota DPRD pada saat pembahasan anggaran. pejabat pemerintah kabupaten/kota. Dalam pengawasan pendahuluan ini anggota DPRD sangat diharapkan perannya dalam meneliti setiap usulan anggaran khususnya dari penyedia layanan publik. output maupun outcomes dari setiap jenis layanan. kedua Meminta laporan keterangan pertanggungjawaban bupati/walikota dalam pelaksanaan tugas desentralisasi (Pasal 78 (6) UU 22/2003 dan pasal 42 (8) UU No.(3) UU 32/2004). dan warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang sesuatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan bangsa dan negara (Pasal 82 UU No. Sangat diharapkan anggota DPRD melakukan pengawasan sejak tahap perencanaan. baik dari sisi harga layanan. ketiga DPRD berwenang meminta pejabat negara tingkat kabupaten/kota. sesuai dengan kebutuhan dan tujuannya yakni: a.

Tindakan penghentian proyek maupun program. Tindakan perbaikan. maupun pembuatan raperda baru. Ada beberapa kemungkinan tindak lanjut yang bisa dilakukan oleh anggota DPRD berdasarkan hasil-hasil pengawasan: a). Interim Control. Pengawasan juga bisa diarahkan terhadap pelaksanaan anggaran atas layanan publik atau masa perjalannya sebuah peraturan. c. memperbaiki atau meningkatkan kualitas layanan. Post Control.eksekutif. Dan dari alokasi anggaran untuk pelayanan publik juga bisa diketahui apakah pemerintah daerah akan memberikan pelayanan publik kepada masyarakat secara memadai atau tidak. b. rencana strategis. juga diperuntukkan atas evaluasi terhadap target yang direncanakan. b). Namun demikian tindakan tersebut tetap disertai dengan rekomendasi 27 . Interim control yaitu untuk memastikan layanan publik berjalan sesuai standar yang ditetapkan dan memenuhi harapan masyarakat selama pelayanan dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Pengawasan diharapkan akan menghasilkan rekomendasi mempertahankan. baik secara adminsitrasi. Post Control memastikan layanan publik berjalan sesuai harapan.

pengusulan perbaikan regulasi c). Tindak lanjut berupa tindakan hukum. Khusus untuk tindak lanjut secara hukum ini DPRD harus menyerahkan otoritas secara penuh pada otoritas yang berwenang yaitu kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan atau kepala lembaga-lembaga/komisi pelayanan publik bagi daerah yang memiliki lembaga ombudsman atau Komisi Pelayanan Publik, d). Menggunakan Hak ‘’Tindakan Politik’’ DPRD. Pasal 43 UU No. 32/2004 menyebutkan bahwa DPRD sesungguhnya memiliki hak legal yang sewaktu-waktu dapat digunakan sebagai tindakan politik dalam mengukur kinerja pemerintah daerah. Bahkan tindakan politik tersebut bisa berimplikasi terhadap tindakan penegakan hukum.

C. Otonomi Daerah Secara etimologi, istilah otonomi berasal dari bahasa latin, yaitu “autus’ yang artinya sendiri dan “nomos” yang artinya aturan. Dari sudut ini kemudian beberapa ahli memberi arti otonomi ini sebagai “ zelwetgeving”

atau pengundangan sendiri, mengatur atau memerintah sendiri atau pemerintahan sendiri.1 Beberapa penggiat otonomi di Indonesia menyampaikan pendapat yang berbeda-beda, misalnya Syarif Saleh yang menyimpulkan otonomi itu sebagai hak mengatur dan memerintah daerah sendiri. Atas inisiatif dan
1

Victor M. Situmorang, Hukum Administrasi Pemerintahan di Daerah Grafika, 1993), hal. 60

(Jakarta: Sinar

28

kemauan sendiri. Hak yang diperoleh dari pemerintah pusat. Sedangkan F. Sugeng Istanto menyatakan bahwa otonomi diartikan sebagai hak atau wewenang mengatur dan mengurus rumah tangga daerah. Kemudian Ateng Syafruddin berpendapat bahwa istilah “otonomi” mempunyai makna

kebebasan atas kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. 2 Menurut Widjaja (2004 : 76) otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 3 Sedangkan Undang-undang

otonomi daerah (1999 : 4) mendefinisikan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan asprirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari sekian banyak perumusan yang dikemukakan oleh beberapa penggiat otonomi di Indonesia tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan otonomi itu, pada prinsipnya selalu melihat otonomi itu sebagai hak dan kewenagan dari suatu daerah untuk mengatur daerahnya sendiri. Daerah yang mendapat hak otonomi disebut daerah otonom. Otonomi adalah penyerahan urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah yang bersifat operasional dalam rangka sistem birokrasi pemerintahan. Tujuan
2 3

Victor M. Situmorang, ibid, hal. 61 Haw Widjaja, Otonomi Daerah dan Daerah Otonom (Jakarta: Grafindo Persada, 2004),

29

otonomi adalah mencapai efisiensi dan efektivitas dalam pelayanan kepada masyarakat. Tujuan yang hendak dicapai dalam penyerahan urusan ini adalah antara lain : menumbuh kembangkan daerah dalam berbagai bidang, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menumbuhkan kemandirian daerah, dan meningkatkan daya saing daerah dalam proses pertumbuhan. Sejalan dengan penyerahan urusan, apabila urusan tersebut akan menjadi beban daerah, maka akan dilaksanakan melalui asas pembantuan. Proses dari sentralisasi ke desentralisasi ini pada dasarnya tidak sematamata desentralisasi administratif, tetapi juga bidang politik dan sosial budaya. Melaui otonomi diharapkan daerah akan lebih mandiri dalam menentukan seluruh kegiatannya dan pemerintah pusat diharapkan tidak terlalu aktif mengatur daerah. Pemerintah daerah diharapkan mampu memainkan

peranannya dalam membuka peluang memajukan daerah dengan melakukan identifikasi potensi sumber-sumber pendapatannya dan mampu menetapkan belanja daerah secara efisien, efektif, termaksud kemampuan perangkat daerah meningkatkan kinerja, mempertanggung-jawabkan kepada

pemerintah atasannya maupun kepada publik/masyarakat. 4 Menurut Mardiasmo, kebijakan pemberian otonomi daerah dan desentralisasi yang nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah

merupakan langkah strategis dalam dua hal. Pertama, otonomi daerah dan
4

Haw Widjaja, ibid, hal. 7

30

Terlepas dari ketidaksiapan daerah di berbagai bidang. Kedua. otonomi daerah langkah strategis bangsa dengan Indonesia globalisasi ekonomi memperkuat perekonomian daerah. 96 31 . peran pemerintahan daerah sangat menentukan keberhasilan daerah otonom menciptakan kemandirian untuk membangun daerahnya. Dengan pemberian otonomi seluas-luasnya. Otonomi dan manajemen keuangan daerah (Yogyakarta: ANDI offset. daerah diberikan kewenangan yang lebih besar untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. memudahkan 5 Mardiasmo. masyarakat. 2004). hidup ketidakmerataan dan masalah dan untuk basis pembangunan. yang tujuannya antara lain adalah untuk lebih mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. hal. pembangunan desentralisasi menyongsong rendahnya kualitas sumber daya merupakan era manusia.desentralisasi Indonesia merupakan jawaban atas permasalahan kemiskinan. namun otonomi daerah diyakini merupakan jalan terbaik dalam rangka mendorong pembangunan daerah menggantikan sistem pembangunan terpusat (sentralisasi) yang oleh banyak pihak dianggap sebagai penyebab lambannya pembangunan di daerah dan semakin besarnya ketimpangan sosial antara pemerintah pusat dengan daerah dan antar-daerah. lokal bangsa berupa ancaman bangsa.5 Berkaitan dengan hal tersebut.

Dengan demikian. Apabila pemerintah daerah melaksanakan fungsinya secara efektif. Dalam pelaksanaan otonomi daerah terdapat empat elemen penting yang diserahkan pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah. dan desentralisasi ekonomi ( Economic or Market Decentralization). desentralisasi administrasi (Administrative). dan diberikan kebebasan dalam 32 .masyarakat untuk memonitor dan mengontrol penggunaan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Keempatnya harus dibingkai dalam satu konsep grand design yang utuh dan dikelola secara efisien dan efektif. penyerahan kewenangan kepada pemerintah daerah dalam otonomi harus disertai dengan pelimpahan kewenangan di bidang keuangan (desentralisasi fiskal). Keempat elemen tersebut menurut Rondinelli adalah desentralisasi politik ( Political Decentralization). Desentralisasi fiskal merupakan salah satu komponen utama dari desentralisasi. Keempat elemen desentralisasi tersebut akan saling terkait dan tidak dapat terlepas antara satu dengan lainnya. Implikasi langsung dari kewenangan yang diserahkan kepada daerah adalah kebutuhan dana yang cukup besar. desentralisasi fiskal (Fiscal Decentralization). selain untuk menciptakan persaingan yang sehat antar-daerah dan mendorong timbulnya inovasi. sehingga dengan demikian akan terwujud kemampuan dan kemandirian suatu daerah untuk melaksanakan fungsinya sebagai daerah otonom.

pengambilan keputusan penyediaan pelayanan di sektor publik. maka mereka harus didukung sumber-sumber keuangan yang memadai baik berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) termasuk surcharge of taxes. Definisi lain tentang Perda berdasarkan ketentuan Undang-Undang tentang Pemerintah Daerah adalah “peraturan perundang-undangan yang dibentuk bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah baik di Propinsi maupun di Kabupaten/Kota”. yang dimaksud dengan Peraturan Daerah (Perda) adalah “peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah”. Peraturan Daerah Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. maupun dana perimbangan dari pemerintah pusat. Perda harus menjadi acuan seluruh kebijakan publik yang dibuat termasuk di dalamnya sebagai acuan daerah dalam menyusun program pembangunan 33 . Sebagai kebijakan publik tertinggi di daerah. Menurut Sadu Wasisitiono dan Yonatan Wiyoso (2009 : 59). E. Perda menentukan arah pembangunan dan pemerintahan di daerah. peranan dari Perda meliputi: 1. pinjaman.

Perda sebagai kontrak sosial di daerah Tiga hal perwujudan Perda sebagai kontrak sosial antara masyarakat dengan penyelenggara negara/daerah yaitu : 34 . keputusan kepala daerah maupun kebijakan teknis yang dibuat oleh para pemimpin Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Kebijakan publik tentang pengalokasian dan pemberdayaan sumber daya manusia. 2. baik berupa peraturan kepala daerah. Perda sebagai dasar perumusan kebijakan publik di daerah.daerah. Beberapa kebijakan publik yang harus mengacu pada peraturan daerah antara lain berupa : a. Perda harus menjadi acuan bagi seluruh kebijakan publik lainnya. Kebijakan tentang pelaksanaan sistem dan prosedur. 3. Kebijakan pelaksanaan keuangan dan anggaran. Sebagai kebijakan publik tertinggi di daerah. Kebijakan tentang teknik penyelesaian pekerjaan/program. Kebijakan publik tentang manajerial pelaksanaan program. f. b. e. Contoh konkritnya adalah Perda tentang Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah dan rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) atau Rencana Stratejik Daerah (Renstra). d. Kebijakan pembentukan struktur organisasi. c.

Kartasapoetra mengemukakan pendapatnya tentang peraturan daerah dengan melihat dari segi isi Perda tersebut.1. Ketentuanketentuan yang mengandung perintah. 4. Adapun peraturan daerah yang untuk berlakunya memerlukan pengawasan pejabat yang berwenang. Perda sebagai pendukung pembentukan perangkat daerah dan susunan organisasi perangat daerah. Kontrak sosial yang sudah konkrit seperti : Perda tentang penetapan strategi pembangunan daerah untuk kurun waktu duapuluh tahunan (RPJPD) atau untuk kurun waktu lima tahunan (RPJMD) 2. larangan. Menetapkan ketentuan-ketentuan yang mengikat rakyat. terjadi ketika masyarakat mempercayakan kepada seseorang untuk duduk sebagai penyelenggara pemerintah di daerah dengan cara memberikan suaranya berdasarkan program yang ditawarkannya. pada pokoknya adalah yang : 1. Kontrak yang yang mengatur hal-hal yang lebih mendesak dan lebih tegas. seperti kontrak sosial terjadi ketika Perda disusun melalui mekanisme yang mengikutsertakan partisipasi masyarakat. 35 . 3. Kontrak sosial yang mengatur hal-hal yang masih belum tegas dan dapat berubah.G. Lebih lanjut. keharusan untuk berbuat sesuatu dan lain-lain yang ditujukan langsung kepada rakyat. Misdayanti dan R.

dalam jangka waktu paling lambat 7 hari sejak tanggal persetujuan bersama. Mekanisme Pembentukan Perda Rancangan peraturan daerah (Raperda) dapat berasal dari DPRD atau kepala daerah (gubernur. Sedangkan Raperda yang disiapkan oleh DPRD disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada Kepala Daerah. Pembahasan bersama tersebut melalui tingkat-tingkat pembicaraan. misalnya : mengadakan hutang-piutang. atau walikota). Raperda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Gubernur atau Bupati/Walikota untuk disahkan menjadi Perda. Memberikan beban kepada rakyat. Pembahasan Raperda di DPRD dilakukan oleh DPRD bersama gubernur atau bupati/walikota. mengatur gaji pegawai dan lain-lain. dan dalam rapat paripurna. 1. misalnya pajak atau retribusi daerah. Mengadakan ancaman pidana berupa dengan atau kurungan atas pelanggaran ketentuan-ketentuan tertentu yang ditetapkan dalam peraturan daerah. menanggung pinjaman. dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani legislasi. bupati. mengadakan perusahaan daerah. 4. Raperda tersebut 36 . meletakkan dan mengubah anggaran pendapatan dan belanja daerah. 3. Raperda yang disiapkan oleh Kepala Daerah disampaikan kepada DPRD. Menetapkan segala sesuatu yang perlu diketahui oleh umum karena menyangkut kepentingan rakyat.2.

Tinjauan Mengenai Retribusi Pendapatan asli daerah yang dimiliki oleh daerah merupakan salah satu faktor pendukung dalam rangka mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah. dimana dalam pelaksanaannya ditetapkan melalui peraturan daerah. Salah satu sektor yang menjadi sumber pemasukan terhadap pendapatan asli daerah adalah berasal dari pemungutan retribusi daerah. Selanjutnya Perda Retribusi dibagi atas tiga golongan : 37 .disahkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota dengan menandatangani dalam jangka waktu 30 hari sejak Raperda tersebut disetujui oleh DPRD dan Gubernur atau Bupati/Walikota. dijelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan Retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi. 2. maka Raperda tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan. Dalam Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000. Jika dalam waktu 30 hari sejak Raperda tersebut disetujui bersama tidak ditandangani oleh Gubernur atau Bupati/Walikota. dengan demikian sangat dibutuhkan adanya peningkatan penerimaan dari sektor pendapatan asli daerah ini. adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

merupakan kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian izin kepada pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan. Retribusi Perizinan Tertentu. Retribusi Pasar Pasar dalam pengertian sehari . E. Ada pula yang mengartikan sebagai tempat terjadinya transaksi antara pembeli dan penjual. prasarana. Widarta mengemukakan bahwa pasar adalah : 1) Kelompok orang dan atau organisasi yang diidentifikasi oleh kebutuhan bersama dan dimana terdapat sumber-sumber daya guna memuaskan kebutuhan tersebut. barang. merupakan jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. b. namun pengertian pasar disini adalah pengertian pasar secara umum. penggunaan sumber daya alam. merupakan jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. 2) 38 .a. Retribusi Jasa Usaha. Retribusi Jasa Umum. pemanfaatan ruang.hari yang kita kenal sesbagai tempat jual beli barang-barang kehidupan sehari-hari. sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. c.

Dkk. 3) Memasarkan barang-barang atau jasa tertentu. 1996) 39 . (Jakarta :Bumi Aksara.Tempat para pembeli dan penjual berkumpul untuk melaksanakan jual beli. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Disatu pihak produsen menjual barangnya dan dipihak lain konsumen membeli barangnya. dan tempat hasil transaksi dan disampaikan pada waktu itu atau pada waktu yang akan datang berdasarkan harga yang telah disepakati ". Terjemahan oleh Jaka Wasanah. Zuraima. 8 Pengertian tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli atau produsen dan konsumen. Samuelson mengemukakan bahwa pasar adalah proses yang digunakan oleh pembeli dan penjual untuk berhubungan dalam menentukan harga dan jumlah. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. asal ekonomi dan uang. Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan. sedangkan permintaan adalah jumlah permintaan pasar. Penawaran adalah jumlah barang yang ditawarkan oleh penjual/produsen ke pasar pada setiap tingkat harga. HAS. 6 Moenir. (Jakarta: Airlangga. Ekonomi.1991) 8 Paul. baik secara langsung maupun perantara (makelar). A Samuelson. membeli dan menjual keuntungan berupa uang. 2000) 7 Bustaman. melaksanakan perniagaan. 7 Dalam teori ekonomi dikemukakan bahwa pasar adalah tempat pertemuan antara permintaan dan penawaran. 6 Pandangan lain mengenai pasar disampaikan oleh Bustaman yaitu: "Bahwa pasar adalah suatu perantara yang mengatur komunikasi dan interaksi antara penjual dan pembeli yang bertujuan untuk mengadakan transaksi pertukaran benda.

Retribusi pasar merupakan salah satu jenis retribusi daerah yang potensial untuk dikembangkan dalam rangka menunjang pendapatan asli daerah. Sejalan dengan makin meningkatnya pelaksanaan pembangunan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat serta perkembangan perekonomian maka perlu penyediaan 40 . kios. pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah yang bersumber dari pendapatan asli daerah. serta pelataran penjualan. Pengelolaan retribusi pasar harus dilakukan dengan baik dan profesional agar dapat memberikan kontribusi bagi pendapat asli daerah dengan memberikan pelayanan yang memuaskan bagi pengguna layanan pasar. pasar adalah sarana/prasarana untuk memungut retribusi daerah serta penerimaan lain yang merupakan pemasukan bagi suatu daerah. di jelaskan bahwa untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Selain fasilitas utama tersebut suatu unit pasar dapat juga didukung oleh fasilitas penunjang seperti pelataran parkir dan MCK yang dapat dipungut bayaran karena pemanfaatan sarana tersebut. Dalam upaya inilah suatu pasar harus memiliki fasilitas-fasilitas utama seperti lods. Nomor 13 Tahun 2008 tentang retribusi pasar. khususnya retribusi daerah dan lebih spesifik retribusi pasar pengaturannya perlu lebih ditingkatkan. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).Dalam konteks dengan penelitian. karena apabila retribusi pasar meningkat akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah. dan tempat penjualan.

Petugas pengelolah pasar merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kepuasan pengguna karena dapat penciptaan membebani pendapatan masyarakat asli daerah yang baru dengan bertambahnya 41 .sumber . serta peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat sehingga wajib retribusi pasar dapat dengan mudah memahami dan memenuhi kewajibannya dalam membayar retribusi pasar.sumber pendapatan asli daerah khususnya retribusi pasar. baik dad segi aksesbilitas penjual dan pembeli. Ada kecenderungan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya dengan berusaha menciptakan sumber pendapatan yang baru tanpa dibarengi dengan perubahan dan perbaikan pelayanan kepada masyarakat hal ini dapat menimbulkan keresahan di masyarakat kemungkinan pungutan. Upaya peningkatan penyediaan pelayanan maka perlu dilakukan penyederhanaan dan penyempurnaan serta peningkatan kinerja pemungutannya sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemungutan retribusi pasar. Berdasarkan hal tersebut. maka peran retribusi pasar haruslah berorientasi pada pelayanan yang baik dalam memuaskan pengguna fasilitas pasar. diperlukan penataan pasar yang memadai dan ditunjang oleh tingkat keamanan dan kenyamanan untuk menjual maupun untuk berbelanja. mengurangi biaya ekonomi tinggi.

DPRD sesungguhnya dapat menggunakan kewenangan yang semaksimal mungkin yang dimiliki demi untuk menjaga objektifitas penilaian dan pendapat DPRD dalam menilai pelaksanaan pengawasan. khususnya dalam mengelola sumber daya daerah. Pedoman ini terutama terkait dengan bentuk keterlibatan terhadap retribusi pasar DPRD. 32 tahun 2004 dan UU No. Dalam menjalankan fungsi pengawasan tersebut. Kerangka Pikir Otonomi daerah yang mendapatkan payung hukum pada UU No. F.fasilitas pasar. Dalam Pengawasan yang menjadi penting untuk memastikan bahwa pengawasan yang dijalankan lembaga Negara diharapkan berkualitas sesuai standar layanan yang ditetapkan.33 tahun 2004 sebenarnya sudah memberi acuan kepada pemerintah untuk meningkatkan layanan publik secara efektif dan efisien. Pengawasan Politik DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang Preliminary Control Interm Control Post Cntrol PERDA RETRIBUSI PASAR 42 . Apabila kepuasan pengguna pasar terpenuhi maka akan timbul kesadaran masyarakat untuk membayar retribusi pasar sehingga pada akhirnya retribusi pasar akan meningkat.

Tipe dan Dasar Penelitian Dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi kualitatif untuk menghasilkan temuan atau kebenaran yang didalam penelitian kualitatif disebut kebenaran “intersubjektif”. yakni pasar terbesar dan yang dapat memberikan kontribusi kebenaran yang dibangun dari jalinan berbagai faktor yang bekerja bersamasama. B. Kebenaran merupakan 43 . Lokasi Penelitian Penelitian dilaksananakan di wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan penghasilan masyarakat dari sektor hasil bumi dimana pusat penjualan terutama pada produksi hasil bumi dan juga produksi hasil ternak terdapat pada semua pasar khususnya PAD. seperti budaya dan sifat unik manusia.BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. maka realitas kebenaran adalah sesuatu yang dipresepsikan oleh yang melihat bukan sekedar fakta yang bebas konteks dan interpretasi apapun.

Penulis menggunakan dasar penelitian studi kasus. Penelitian dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada.bangunan (konstruksi) yang disusun oleh peneliti dengan mencatat dan memahami apa yang terjadi dalam interaksi sosial kemasyarakatan. dalam perkembangannya selain menjelaskan tentang situasi atau kejadian yang sudah berlangsung sebuah penelitian deskriptif juga dirancang untuk membuat komparasi maupun untuk mengetahui hubungan atas satu variabel kepada variabel lain. dimaksudkan untuk menyelidiki secara lebih mendalam/terfokus atas suatu fakta-fakta dan gejala-gejala yang ada tentang permasalahan yang diteliti. faktual.hal. 9 Prasetya Irawan.2006). Penelitian kwalitatif dan kwantitatif untuk ilmu-ilmu sosial (Jakarta: DIA FISIP UI. Namun demikian. ujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat penjelasan secara sistematis. Dalam penelitian ini penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif adalah tipe penelitian yang menggambarkan secara mendalam tentang situasi. 9 Tipe penelitian ini adalah deskriptif analisis yaitu penelitian diarahkan untuk menggambarkan fakta dengan argument yang tepat. atau proses yang penggambaran bagaimana DPRD kabupaten Sidrap menjalankan fungsi pengawasanya terhadap peraturan daerah dengan mangambil kasus pada Perda tentang Retribusi Pasar. dan akurat mengenai fakta-fakta. yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.5 44 .

C. Teknik ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data-data melalui buku-buku. Dari proses wawancara peneliti berharap akan mendapatkan data-data seperti pengawasan DPRD terhadap Perda Tentang Retribusi Pasar di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). seperti rekaman hasil wawancara dan foto kegiatan di lapangan. dokumen-dokumen. digunakan teknik pengumpulan data dengan 2 cara yaitu : 1. Data sekunder Data diperolah melalui studi pustaka (library research). Peneliti turun langsung ke daerah penelitian untuk mengumpulkan data dalam berbagai bentuk. Data primer Data primer adalah data yang diperoleh melalui lapangan atau daerah penelitian dari hasil wawancara mendalam dengan informan dan observasi langsung. 2. D.. Sumber Data Dalam memperoleh informasi yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. surat kabar. undang-undang dan media informasi lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini yaitu : Wawancara Mendalam dan Arsip / Dokumen. 45 .

Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas. Pedoman wawancara yang telah disusun. yakni: 1. Dengan pedoman tersebut interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya. pedoman wawancara (interview guide) agar wawancara tetap berada pada fokus penelitian. Pedoman wawancara ini berisi pertanyaan-pertanyaan mendasar yang nantinya akan berkembang dalam wawancara.a. ditunjukan kepada yang lebih ahli dalam hal ini adalah pembimbing penelitian untuk mendapat masukan mengenai isi pedoman wawancara. Setelah mendapat masukan dan koreksi dari 46 . meski tidak menutup kemungkinan terdapat pertanyaan-pertanyaan berlanjut. Tahap Persiapan Penelitian Pertama peneliti membuat pedoman wawancara yang disusun berdasarkan demensi kebermaknaan hidup sesuai dengan permasalahan yang dihadapi subjek. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung. Wawancara Mendalam Penulis dalam melakukan pengumpulan data dengan cara wawancara mendalam. juga menjadi daftar pengecek ( check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Proses pengumpulan data dengan wawancara mendalam penulis membaginya menjadi dua tahap.

peneliti memindahakan hasil rekaman berdasrkan wawancara dalam bentuk tertulis. Setelah subjek bersedia untuk diwawancarai. Setelah wawancara dilakukan. 2. peneliti membuat perbaikan terhadap pedoman wawancara dan mempersiapkan diri untuk melakukan wawancara. Tahap Pelaksanaan Penelitian Peneliti membuat kesepakatan dengan subjek mengenai waktu dan tempat untuk melakukan wawancara berdasarkan pedoman yang dibuat. peneliti membuat kesepakatan dengan subjek tersebut mengenai waktu dan tempat untuk melakukan wawancara. serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan pencatatan langsung yang dilakukan pada saat peneliti melakukan observasi.pembimbing. setelah itu. Namun apabila tidak memungkinkan maka peneliti sesegera mungkin mencatatnya setelah wawancara selesai. peneliti membuat analisa pembahasan berdasarkan data primer dan 47 . Peneliti selanjutnya mencari subjek yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian. Sebelum wawancara dilaksanakan peneliti bertanya kepada subjek tentang kesiapanya untuk diwawancarai. Tahap persiapan selanjutnya adalah peneliti membuat pedoman observasi yang disusun berdasarkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara. Selanjutnya peneliti melakukan analisis data dan interprestasi data sesuai dengan langkah-langkah yang dijabarkan pada bagian metode analisis data di akhir bab ini.

Informan yang penulis wawancarai Seketaris Komisi II DPRD Sidenreng Rappang. Arsip/Dokumen Arsip atau Dokumen mengenai berbagai informasi dan hal yang berkaitan dengan fokus penelitian merupakan sumber data yang penting dalam penelitian. tulisan ilmiah yang dapat memperkaya data yang dikumpulkan.Perpustakaan Daerah & DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. 48 . Data-data ini didapat di Dinas pendapatan daerah .sekunder dan membuat kesimpulan. peneliti memberikan saran-saran untuk penelitian selanjutnya. Dokumen yang dimaksud dapat berupa dokumen tertulis gambar atau foto. film audio-visual. E. b. beberapa Anggota komisi II dan beberapa Dinas pendapatan daerah. akan tetapi hanya sebagai pelengkap memperkuat analisa kualitatif demi pencapaian tujuan penelitian. Adapun angka-angka yang muncul dalam penelitian ini tidak dimaksudkan untuk dianalisa secara kuantitatif. Teknik Analisis Data Data dan informasi yang telah dikumpulkan dari informan akan diolah dan dianalisa secara kualitatif dengan melihat pelaksanaan pengawasan yang dilakukan DPRD kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). data statistik.

Sajian Data. membuat fokus dan membuang hal yang tidak penting dan mengatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan. dan pengamatan lainnya. penyederhanaan. dan pengabstraksian data dari field note dan transkrip hasil wawancara. peneliti melakukan transkrip data untuk mengubah data hasil wawancara. Langkah yang digunakan dalam analisis data adalah sebagai berikut : Reduksi Data. memusatkan tema. Pada tahap ini sekaligus dilakukan proses penyeleksian.Analisis data dilakukan bersamaan atau hampir bersamaan dengan pengumpulan data. Proses ini berlangsung selama penelitian dilakukan dengan membuat singkatan. menentukan batasbatas permasalahan. Reduksi data sperti ini diperlukan sebagai analisis yang akan menyeleksi. Pada tahap selanjutnya. pemfokuskan. Reduksi Data Pada tahap ini dilakukan proses pengumpulan data mentah. 49 . kategorisasi. mempertegas. serta observasi yang dilakukan penulis selama berada dilokasi penelitian. setelah memperoleh data hasil wawancara yang berupa rekaman MP3. catatan lapangan dalam bentuk tulisan yang lebih teratur dan sistematis. catatan lapangan. dan Penyimpulan Data 1. field note. dengan menggunakan alat-alat yang perlu seperti rekaman MP3.

Sajian data diperoleh dari hasil interpretasi. usaha memahami. peneliti membaca seluruh data tersebut dan mencari hal-hal yang perlu dicatat untuk proses selanjutnya yakni pengkategorisasian data agar data dapat diperoleh lebih sederhana sesuai dengan kebutuhan penelitian. matriks dan table. hal ini dilakukan untuk meningkatkan validitas data. dan analisis data secara mendalam terhadap data yang telah direduksi. Sajian data yang baik dan jelas sistematikanya akan mudah memahami dan mengerti. Dengan melihat sajian data penulis dapat lebih memahami berbagai hal yang terjadi dan memungkinkan untuk mengerjakan sesuatu pada analisis ataupun tindakan lain berdasarkan pemahaman tersebut. Pada tahap selanjutnya. Sajian data dapat meliputi deskriftif.Setelah seluruh data sudah dirubah dalam bentuk tertulis. 2. 50 . Sajian Data Sajian data adalah suatu informasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian dapat dilakukan. dan check and recheck antara saru sumber data dengan sumber yang lainnya. Sampai disini diperoleh kesimpulan sementara berdasarkan data-data yang telah ada. penulis melakukan triangulasi yakni check and recheck antara satu sumber data dengan sumber data yang lainnya. dikategorisasi. Apakah sumber data yang satu sesuai dengan data yang lainnya.

3. Penelitian berakhir ketika peneliti sudah merasa bahwa data sudah jenuh dan setiap penambahan data baru hanya berarti ketumpang tindihan BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 51 . Penyimpulan Data Dari hasil pengumpulan data yang telah diperoleh peneliti menemukan berbagai hal-hal penting yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. kesimpulan sementara yang masih berdasarkan data akan dipahami dan dikomentari oleh peneliti yang pada akhirnya akan mendeskripsikan atau menarik suatu kesimpulan akhir dari hasil penelitian yang telah diperoleh. Pada saat mengolah data peneliti sudah mendapat kesimpulan sementara.

eksitensi kerajaan ini turut memberi warna dalam percaturan ekonomi dan politik kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan. memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan Bugis yang cukup disegani di Sulawesi Selatan sejak abad XIV. Suppa. Sawitto.A. mereka membentuk persekutuan Aja’Tappareng (wilayah barat danau) untuk membendung dominasi Luwu. Soppeng. Dalam literatur lain. Berbagai literatur yang ada menyebutkan. Rappang disebutkan sebagai kerajaan yang menguasai Daerah Hilir Sungai Saddang di abad 15 M. Addatuang Sidenreng XII sekaligus Arung 52 . Sidenreng Rappang atau yang lebih akrab disingkat SIDRAP. Bersama dengan Sidenreng. berlangsung pada periode abad ke 11 dan 13 Masehi. Kerajaan Sidenreng dan Rappang mengalami pasang surut pemerintahan. dan Bacukiki. Alitta. dan Wajo. Sidenreng merupakan salah satu dari sedikit kerajaan yang tercatat dalam Kitab La Galigo yang amat melegenda. Sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang Sebelum ditetapkan menjadi sebuah Kabupaten. Dalam perjalanannya. Gowa. Ini berarti Sidenreng merupakan salah satu Kerajaan Kuno atau pertama di Sulawesi Selatan. Bone. Sementara masa La Galigo. disamping kerajaan Luwu. hingga pada Tahun 1906 kedua kerajaan yang ketika itu diperintah La Sadapotto. menurut Christian Pelras yang menulis buku Manusia Bugis. Persekutuan itu kemudian diikatkan dalam perkawinan antar keluarga raja-raja mereka.

akhirnya dipaksa tunduk kepada Kolonial Belanda setelah melalui perlawanan yang sengit. Onderafdeling Pinrang 3. Onderafdeling Barru. Ketika Parepare menjadi Daerah Swatanra Tingkat II berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1952. Onderafdeling Sidenreng Rappang 2. Keadaan ini berlangsung hingga masa pendudukan Pemerintahan Jepang yang pada masa itu berada dibawah pengawasan Bunken Kanrikan. Wilayah Kedua Kerajaan ini kemudian berstatus Distrik dalam Wilayah Onderafdeling Parepare. Sidenreng Rappang menjadi kewedanan yang di dalamnya terdapat Swapraja Sidenreng dan Swapraja Rappang yang 53 . dan 5. Maka dengan dukungan penuh seluruh masyarakat. Seiring Fajar Kemerdekaan yang menyingsing pada 17 Agustus 1945. Sidenreng Rappang menyatakan diri sebagai bagian dari negera kesatuan Republik Indonesia.Rappang XX. Onderafdeling Sidenreng Rappang di bawah pemerintahan Controleur yang berkedudukan di Rappang. gelora semangat persatuan Indonesia tak terbendung lagi.Selanjutnya pada Tahun 1917 kedua wilayah tersebut digabung menjadi satu. Onderafdeling Parepare 4. dengan membawahi Wilayah Administrasi Daerah adat yang disebut Regen. Onderafdeling Enrekang. sebagai bagian dari wilayah pemerintahan Afdeling Parepare yang meliputi : 1.

Kewedanan Sidenreng Rappang yang meliputi Swapraja Sidenreng dan Swapraja Rappang dibentuk menjadi Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang dengan pusat pemerintahannya berkedudukan di Pangkajene Sidenreng 10 yang meliputi 7 (tujuh) wilayah kecamatan masing-masing : 1. Seiring dengan itu pula.P. Andi Sapada Mappangile kemudian 10 Bapeda Kab Sidrap. Kecamatan Panca Lautang. Kecamatan Maritengngae. (Sidrap: Bapeda Kabupaten Sidenreng Rappang. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi. 4. Kecamatan Panca Rijang. 5. Kecamatan Watang Pulu. 6. Pada 18 Peberuari 1960. 3. terbit pula Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor U. dan 7. Kecamatan Tellu Limpoe.berotonomi sebagai lembaga pemerintahan adat berdasarkan Staatblat 1938 Nomor 529. 2.2006) hal 6 54 .7/73-374 tanggal 28 Januari 1960 yang menetapkan Andi Sapada Mappangile sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang yang Pertama. Kecamatan Dua Pitue. Selayang Pandang Kabupaten Sidenreng Rappang. Kecamatan Baranti.

Sejak itu berakhir sudah Pemerintahan Feodal Para Bangsawan To Manurung yang telah berlangsung berabad-abad. Atas dasar pelantikan Bupati tersebut . B. 410 sampai dengan 120. Topografi Kabupaten Sidenreng Rappang Secara geografis. (Sidrap: Bapeda Sidrap. Selayang Pandang Kabupaten Sidrap. tepatnya di antara titik koordinat : 3. maka ditetapkan tanggal 18 Pebruari 1960 sebagai hari jadi daerah Kabupaten Sidenreng Rappang yang diperingati setiap tahunnya. 090 Lintang Selatan.dilantik sebagai Bupati oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. kabupaten ini juga dikenal memiliki populasi unggas terbesar di Kawasan 11 Bapeda Kabupaten Sidenreng Rappang.2006) hal36 55 . yang jauh lebih penting adalah tumbuhnya rasa kebangsaan sebagai warga negara Indonesia yang memiliki persamaan hak dan derajat. Kabupaten yang beribukota Pangkajene ini terletak di sebelah Utara Kota Makassar. dan 119. 100 Bujur Timur. Sidrap pada sekarang dikenal sebagai Lumbung Beras Nasional. Selain itu. : Kabupaten Barru dan Soppeng. dan : Kabupaten Pinrang dan Kota Parepare.11 Sementara Posisi Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang berbatasan dengan langsung dengan: Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Kabupaten Pinrang dan Enrekang. Namun. 430 sampai dengan 4. : Kabupaten Luwu dan Wajo.

sekitar 185 km ke arah Utara Makassar. juga Pengekspor Daging Sapi/Ternak di Sulawesi Selatan.19 km2 atau sekitar 3% dari total luas wilayah Sulawesi Selatan dengan ketinggian antara 10 m – 1500 m dari permukaan laut. dan Altitude mencapai 100 – 150 m dpl.064 ha). Jumlah penduduknya sebanyak kurang lebih 250. dan Pohon Kapuk (141 ha) (BPS Sidrap 2004).326 ha Kerkebunan Kelapa.398 ha). Kacang Mente (2. Beras di Ekspor ke Negara-Negara Timur Tengah.Timur Indonesia. Suhu Udara mencapai 250 – 270 C.765 ha). Buah Kemiri (6. Saat ini tercatat sebanyak dua juta ekor lebih Unggas yang dikembangbiakkan di Sidenreng Rappang atau yang biasa juga disingkat SIDRAP adalah Daerah yang berlokasi di Propinsi Sulawesi Selatan.000 jiwa dengan kepadatan penduduk 126 jiwa/km2. Cengkeh (4.212 ha Sawah Irigasi.162 ha Padang Rumput.987 ha). 19. Peruntukan lahan di SIDRAP didominasi oleh 37.506. Kabupaten ini merupakan Produsen/Pengekspor BERAS paling besar. Luas wilayahnya 2. Musim hujan terjadi pada bulan AprilSeptember dan musim kemarau terjadi pada bulan Oktober-Maret.304 ha). Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki dua jenis musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Cokelat (6. Peruntukan lahan lainnya termasuk Sawah Tanah Kering (8. dan 15. Sidrap dianggap sebagai Produsen Utama Komoditas Pertanian. Lada Hitam (210 ha). Kopi (172 ha). dan pertumbuhan penduduk pertahun 56 . sedangkan Daging Sapi/Ternak di Ekspor ke Jakarta dan Kalimantan.

64 desa swakarsa. Sesuai dengan tuntutan perubahan dengan pertimbangan efektifitas pelaksanaan pemerintahan. S.H. Tabel Nama Bupati Kabupaten Sidenreng Rappang 57 . dan 30 desa swasembada. Data Daerah mengindikasikan bahwa pada tahun 2003 65% Penduduknya mampu Hidup Layak. secara administrasi pemerintahan Kabupaten Sidrap yang beribukota Pangkajene terdiri dari 11 kecamatan yang terdiri dari 38 kelurahan. S. serta Berpegang Teguh pada Prinsip Lokal “ Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata” (Hanya Dengan Kerja Keraslah Rahmat Tuhan Bisa Diperoleh). Politik Pemerintahan Kabupaten Sidenreng Rappang Kabupaten Sidrap dipimpin oleh seorang Bupati sebagai kepala daerah.sebesar 0. di era kepemimpinan H. Kondisi ekonomi makro yang positif mampu menutupi rendahnya kondisi ekonomi sebagian besar masyarakatnya. Masyarakat SIDRAP sangat Rajin dan Pekerja Keras. Parawansa. 67 desa. 10 desa swadaya.25%. Kebanyakan keluarga bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian mereka. dan 8% Hidup dibawah Garis Kemiskinan C. Ketujuh Kecamatan dimekarkan menjadi sebelas sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang Nomor 10 Tahun 2000 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan.

Salipolo Palalloi (1993 – 1998) H. Andi Ranggong (2003 – 2008) H. Fungsi DPRD ada tiga fungsi pengawasan. Parawansa. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang adalah lembaga perwakilan rakyat yang bertugas menampung segala aspirasi rakyat. Rusdi Masse (2008 – sekarang) Sumber BPS Kabupaten Sidenreng Rappang Tabel Kecamatan Kabupaten Sidenreng Rappang Kecamatan Kelurahan Panca Lautang 3 Tellu LimpoE 6 Watang Pulu 5 Baranti 5 Panca Rijang 4 Kulo Maritengngae 7 Sidenreng 3 Pitu Riawa 2 Dua PituE 2 Pitu Riase 1 Sumber BPS Sidenreng Rappang Desa 7 3 5 4 4 6 5 5 10 7 11 D. Opu Sidik (1978 – 1988) H. dalam artian DPRD membuat kebijakan dan mengawasi jalannya kebijakan (perda).H (1998 – 2003) H. 58 . S. M. S.Nama Masa Jabatan H. fungsi legislasi dan fungsi anggaran. Arifin Nu’mang (1966 – 1978) H. Yunus Bandu (1988 – 1993) Drs. Andi Sapada (1960 – 1966) Mappangile H. A.

Selanjutnya. dan Komisi Komisi II III merupakan merupakan Bidang Bidang Perekonomian Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat. Pimpinan DPRD merupakan kesatuan yang bersifat kolektif yang merupakan representasi seluruh anggota DPRD. adalah Andi Sukri Baharman. Komisi I merupakan Bidang dan Pemerintahan. Memimpin sidang DPRD dan menyimpulkan hasil sidang untuk diambil keputusan. Keuangan. 12 Peraturan Daerah No 01 tahun 2010 tentang Tatib II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 13 ibid 59 . DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki tiga komisi. badan kehormatan. terhitung sejak tanggal pengucapan janji. juga memiliki tiga Badan yakni: badan musyawarah. badan anggaran. a. Pimpinan DPRD terdiri dari 1 (satu) orang ketua dan 2 (dua) orang wakil ketua (Pasal 37 ayat 1) 13 dan masa jabatannya sama dengan masa keanggotaanya. pada Pasal 41 ayat (1) dijelaskan lebih lanjut mengenai tugas Pimpinan DPRD sebagai berikut :. SE.Ketua DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). 12 DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Pimpinan DPRD merupakan bagian dari alat kelengkapan DPRD yang telah dipilih dalam Rapat Paripurna dan ditetapkan dengan keputusan DPRD. badan legislasi daerah.

b. Mewakili DPRD dalam berhubungan dengan lembaga/instansi lainnya. Menyusun rencana kerja pimpinan dan mengadakan pembagian kerja antara ketua dan wakil ketua c. Adapun Fraksi sesuai Tata Tertib DPRD Kabupaten Sidrap Nomor 01 Tahun 2010. Melaksanakan dan memasyarakatkan keputusan DPRD. setiap anggota DPRD wajib menjadi salah satu fraksi :14 Sama halnya dengan pimpinan DPRD. Menyusun rencana anggaran DPRD bersama sekertariat DPRD yang pengesahannya dilakukan dengan rapat paripurna: dan k. Komisi juga merupakan bagian dari alat kelengkapan DPRD yang bersifat tetap dan dibentuk pada 14 Pasal 31 Tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 60 . Melaksanakan keputusan DPRD berkenaan dengan penetapan sangksi atau rehabilitasi anggota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan j. Mengadakan konsultasi dengan bupati dan pimpinan lembaga/ intansi lainnya sesuai dengan keputusan DPRD h. d. Menyampaikan laporan kinerja pimpinan DPRD dalam rapat paripurna DPRD yang khusus diadakan untuk itu. g. f. Mewakili DPRD di pengadilan i. Menjadi juru bicara DPRD e. Melakukan koordinasi dalam upaya menyinergikan pelaksanaan agenda dan materi kegiatan dari alat kelengkapan DPRD.

Komisi III : Bidang Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat `Yang meliputi bidan pekerajaan umum. koperasi. peternakan. keuangan daerah. penanaman modal dan dunia usaha. sosial politik. dan agama.permulaan masa keanggotaan DPRD. b. perindustrian. pemerintahan. organisasi masyarakat. badan usaha milik daerah. usaha kecil dan menengah. tata ruang. pengawasan. kehutanan. logistik. sumber daya alam. 61 . pemberdayaan masyarakat dan kesejahteraan sosial. perpajakan. c. pendidikan. kebudayaan. aset daerah. pertanahan. perumahan rakyat. pengadaan dan ketahanan pangan. kependudukan dan catatan sipil. kerja sama internasional dan antar daerah. pendapatan asli daerah. Komisi I : Bidang Pemerintahan Yang meliputi bidang bidang hukum. Komisi II : Bidang Perekonomian dan Keuangan Yang meliputi bidang-bidang perdagangan. kebersihan. retribusi. transmigrasi. pertamanan. pertambangan dan energi. perkebunan. kesehatan. pertanian. keamanan dan ketertiban umum. perundang-undangan. perijinan. sumber daya air. kepegawaian dan aparatur. DPRD Kabupaten Sidrap terdapat 3 komisi yang terdiri dari: a. penerangan dan pres. ketenagakerjaan. perbankan. perikanan.serta perhubungan dan pariwisata.

f. d. Sementara itu. ilmu pengetahuan dan teknologi.lingkungan hidup. dan pemberdayaan wanita. Mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah sesuai dengan peraturan perundang undangan. Melakukan pengawasan terhadap peraturan daerah dan APBD sesuai dengan ruang lingkup tugas komisi. 62 . i. b. h. Melakukan kunjungan kerja komisi yang bersangkutan atas persetujuan pimpinan DPRD. kepemudaan dan keolahragaan. Mengadakan rapat kerja dan rapat dengar pendapat. c. Mengajukan usul kepada pimpinan DPRD yang termasuk dalam ruang lingkup bidang tugas masing-masing komisi. keluarga berencana. adapun tugas dari pada komisi sebagaimana yang dijelaskan pada pasal 49 Tata Tertib DPRD antara lain. e. Melakukan pembahasan terhadap rancangan peraturan daerah dan rancangan keputusan DPRD. menampung. yaitu : a. dan j. dan membahas serta menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Membantu pimpinan DPRD untuk mengupayakan penyelesaian masalah yang disampaikan oleh bupati dan / atau masyarakat kepada DPRD. Memperhatikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah g. Memberikan laporan tertulis kepada pimpinan DPRD tentang hasil pelaksanaan tugas komisi. Menerima.

d. Menyiapkan masukan tentang bahan-bahan temuan kepada pansus LKPJ-KDH untuk dipertimbangkan sebagai bahan masukan dalam penyusunana dan catatan rekomendasi DPRD terhadap LKPJ-KDH tahun anggaran sebelumnya. 1 (satu) masa persidangan. Membahas dan menindak lanjuti hasil pemeriksaan BPK dan BPKP yang berkaitan dengan ruang lingkup tugasnya. APBD provinsi dan APBD kabupaten/kota serta peraturan pelaksanaan yang termasuk dalam ruang lingkup tugasnya. Melakukan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah. Menetapkan agenda DPRD untuk 1 (satu) tahun sidang.Tugas komisi di bidang pengawasan pasal 49 ayat 4: a. Badan musyawarah mempunyai tugas:15 a. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan peraturan daerah. dan jangka waktu penyelesaian 15 Pasal 47 tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 63 . perkiraan waktu penyelesaian suatu masalah. b. termasuk APBN. atau sebagian dari suatu masa sidang. c.

memiliki tugas: 16 a. dibentuk dalam rapat paripurna DPRD. f. c. b. dengan tidak mengurangi kewenangan rapat paripurna untuk mengubahnya. 2. Badan Legislasi Daerah merupakan alat kelengkapan DPRD bersifat tetap. Memberikan pendapat kepada pimpinan DPRD dalam menentuka garis kebijakan yang menyangkut pelaksanaan tugas dan wewenang DPRD. e. Menentapkan jadwal acara rapat DPRD. Perda yang sudah tidak berfungsi sebagai instrumen hukum untuk perda semacam ini diusulkan dan diganti dengan perda yang baru. g. Memberi saran/pendapat untuk memperlancar kegiatan. Menginterventaris seluruh perda yang ada untuk dibuat klasifikasinya kedalam tiga kelompok: 1. Melaksanakan tugas lain yang diserahkan oleh rapat paripurna kepada badan musyawarah. Perda yang sebagian materinya sudah tidak sesuai dengan kondisi sosiologis masyarakat atau bertentangan dengan peraturan 16 Pasal 50 tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 64 . Merekomendasikan panitia khusus dan. Meminta atau/ memberikan kesempatan kepada alat kelengkapan DPRD yang lain untuk memberikan keterangan/penjelasan mengenai pelaksanaan tugas masing-masing. d.rancangan peraturan daerah.

diluar prioritas rancangan peraturan daerah tahun berjalan atau diluar rancangan peraturan daerah yang terdaftar dalam program legislasi daerah. 3. g. Memberikan pertimbangan terhadap rancangan peraturan daerah yang diajukan oleh anggota komisi dan /atau gabungan komisi. d. Melakukan pengharmonisasian. Menyiapkan rancangan peraturan daerah usul DPRD berdasarkan program prioritas yang ditetapkan. b. pembulatan dan pemantapan konsepsi rancangan daerah yang diajukan anggota.komisi dan atau/ gabungan komisi sebelum rancangan peraturan daerah tersebut disampaikan kepada pimpinan DPRD. 65 . c. Perda yang berlaku secara efektif. Koordinasi untuk penyusunan program legislasi daerah antara DPRD dan pemerintah daerah. f.perundang-undangan yang berlaku. e. Menyusun rancangan program legislasi daerah yang termuat daftar urutan dan prioritas rancangan peraturan daerah beserta alasannya untuk setiap tahun anggaran dilingkungan DPRD. Mengikuti perkembangan dan melaukan evaluasi terhadap pembahasan materi muatan rancangan peraturan daerah melalui koordinasi dengan komisi dan /atau panitia khusus. perda kategori ini perlu diubah atau diganti.

Melakukan konsultasi yang dapat diwakili oleh anggotanya kepada komisi terkait untuk memperoleh masukan dalam rangka pembahasan rancangan kebijakan umum APBD serta prioritas dan plafon anggaran sementara. d. b.17 a.h. Membuat laporan kinerja pada masa akhir keanggotaan DPRD baik yang sudah maupun yang belum terselesaikan untuk dapat digunakan oleh badan legislasi pada masa keanggotaan berikutnya. Melakukan penyempurnaan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan daerah tentang pertanggung jawaban 17 Pasal 56 tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 66 . Memberikan saran dan pendapat berupa pokok-pokok pikiran DPRD kepada bupati dalam mempersiapkan rancangan APBD paling lambat 5 (lima) bulan sebelum ditetapkan APBD. Memberikan masukan kepada pimpinan DPRD atas rancangan peraturan daerah yang ditugaskan oleh badan musyawarah i. Badan Angaran memilik tugas. c. Memberikan saran dan pendapat kepada bupati dalam mempersiapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan daerah terntang pertanggung jawaban pelaksanaan APBD.

c. dan/atau masyarakat. Melakukan pembahasan bersama tim anggaran pemerintah daerah terhadap rancangan kebijakan umum APBD. Memantau dan mengevaluasi disiplin dan/atau peraturan tata terib DPRD dalam rangka menjaga martabat. Dalam melaksanakan penyelidikan. verifikasi. verifikasi dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) badan kehormatan dapat meminta bantuan dari ahli independen. 2. dan d.pelaksanaan APBD berdasarkan hasil evaluasi gubernur bersama tim anggaran pemerintah daerah.18 a. verifikasi. citra dan kredibilitas DPRD. Badan kehormatan mempunyai tugas. b. Melakukan penyelidikan. Melaporkan keputusan badan kehormatan atas hasil penyelidikan. serta f. 18 Pasal 58 tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 67 . danm klarifikasi atas pengaduan pimpinan DPRD. Meneliti dugaan pelanggaran yang dilakukan anggota DPRD terhadap peraturan tata tertib dan/atau kode etik DPRD. e.dan klarifikasi sebagaimana dimaksud pada huruf c kepada rapat paripurna DPRD. 1. kehormatan.anggota DPRD. Memberikan saran kepada pimpinan DPRD dalam penyusunan anggaran DPRD.

Pembicaraan awal mengenai muatan materi rancangan peraturan daerah dan/ atau rancangan kebijakan umum anggaran (KUA) serta prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS) dalam rangka penyusunan rancangan APBD.Konsultasi antara DPRD dengan pemerintah daerah dilaksanakan dalam bentuk pertemuan antara pimpinan DPRD dengan bupati. diterima oleh pimpinan DPRD dan/atau alat kelengkapan terkait. 20 Pada pasal 143 dikatakan: 1. baik secara perseorangan maupun kelompok. menampung. Permintaan penjelasan mengenai kebijakan atau program kerja tertentu yang ditetapkan atau dilaksanakan oleh bupati. Penerimaan pengaduan dan /atau aspirasi yang disampaikan langsung oleh masyarakat. Pimpinan DPRD didampingi oleh pimpinan alat kelengkapan DPRD yang terkait dengan materi konsultasi dan bupati didampingi oleh pimpinan perangkat daerah yang terkait. 19 a. menyerap. anggota DPRD atau fraksi DPRD menerima. dan menindaklanjuti 19 20 Pasal 140 tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang Pasal 142 tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 68 . alat kelengkapan DPR. Pembicaraan mengenai penanganan suatu masalah yang memerlukan keputusan/kesepakatan bersama DPRD dan pemerintah daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan: atau c. b. Pimpinan DPRD.

Rapat kerja alat kelengkapan DPRD dengan mitra kerjanya Tata cara penerimaan dan tindak lanjut pengaduan dan/atau aspirasi masyarakat diatur oleh sekertaris DPRD dengan persetujuan pimpinan DPRD. 5. alat kelengkapan DPRD yang terkait. 3. anggota DPRD atau fraksi di DPRD dapat menindak lanjuti pengaduan dan/ atau aspirasi sesuai kewenangannya. Pengaduan dan/ atau aspirasi sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan proses administrasi oleh sekretariat DPRD dan diteruskan oleh sekretariat DPRD dan diteruskan kepada pimpinan DPRD. Kunjungan kerja dan pemantauan lapangan:atau. fungsi dan wewenang DPRD. pengaduan dan/atau aspiarsi masyarakat dapat ditindaklajuti dengan: a. Rapat dengar pendapat umum b. Pimpinan DPRD kelengkapan DPRD yang terkait. Rapat dengar pendapat c. Dalam hal diperlukan. 2. sesuai dengan tugas. 4. d. anggota DPRD atau fraksi di DPRD. 69 . alat kelengkapan DPRD yang terkait atau fraksinya. Anggota DPRD dapat menindaklanjuti pengaduan dan/ atau aspirasi kepada pimpinan DPRD.pengaduan dan/atau aspirasi masyarakat yang disampaikan secara langsung atau tertulis tentang permasalahan.

Bagi DPRD 70 .BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengawasan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Terhadap Perda No 13 Tahun 2008 tentang Retribusi Pasar Pengawasan DPRD terhadap Peraturan daerah merupakan salah satu ruang lingkup dari fungsi pengawasan yang melekat pada DPRD.

SP : memberikan komentarnya mengenai Fungsi Pengawasan ini. Fungsi DPRD dalam bidang pengawasan merupakan tindak lanjut dari fungsi-fungsi yang diperankan DPRD sebelumnya yaitu fungsi legislasi dan fungsi anggaran.Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). oleh karena itu fungsi pengawasan merupakan sebuah kesatuan yang tak dapat dipisahkan dengan fungsi-fungsi lainnya. Dalam sebuah wawancara dengan Hamka. pada pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa DPRD memiliki fungsi legislasi. 21 21 Wawancara dengan Hamka SP anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. dalam fungsi pengawasan kami melakukan pengawasan perda yang telah kami buat”. Periode 2004-2009.Selasa tanggal 7 februari 2012 pukul 13. karena obyek-obyek yang diawasi DPRD kebanyakan merupakan kebijakan-kebijakan maupun program-program hasil dari fungsi legislasi maupun anggaran. dasar hukum yang menyebutkan tentang fungsi pengawasan DPRD termuat dalam Keputusan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang Nomor 01 Tahun 2010 tentang Tata Tertib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. serta pada ayat (4) disebutkan bahwa fungsi pengawasan sebagaimana yang dimaksud ayat (1) diwujudkan dalam bentuk pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah dan APBD. legislasi. anggaran. dan anggaran. dimana beliau mengatakan sebagai berikut : “DPRD memiliki tiga fungsi pokok yaitu pengawasan.45. Wita di Kantor DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 71 . dan pengawasan.

B. dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas dari perda-perda yang telah dilahirkan DPRD di lapangan.Pi selaku Seketaris Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).00 Wita di Kantor DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 72 .Dari wawancara di atas.Pi memberikan penjelasan tentang pentingnya fungsi pengawasan DPRD terhadap Peraturan daerah. maka tentunya kami akan menindak lanjuti berdasarkan temuan-temuan”22 22 Andi Fahcry. Dalam sebuah wawancara dengan Sekertaris Komisi II DPRD Kabupaten Sidrap yaitu Andi Fachry A. menjamin keterwakilan rakyat dan daerah dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya. secara tidak langsung memberikan penjelasan bahwa pengawasan DPRD terhadap Peraturan daerah dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan Perda yang telah dilahirkan.Rabu tanggal 8 februari 2012 pukul 10. Bila terdapat penyimpangan. A. B. serta mengembangkan mekanisme check and balances antara DPRD dan Pemerintah daerah sebagai sesama unsur penyelenggaran pemerintahan daerah demi terwujudnya tata pemerintahan yang baik. apakah mereka benar-benar telah melaksanakan dengan sebaik-baiknya perda yang telah ditetapkan. S. baik itu berasal dari inisiatif DPRD sendiri maupun yang berasal dari inisiatif eksekutif pada dasarnya pengawasan DPRD terhadap Peraturan daerah sebagai salah satu ruang lingkup dari fungsi pengawasan yang dilakukan DPRD. dimana beliau mengatakan : “kami juga mengawasi aparatur pelaksanan Perda baik itu Bupati maupun SKPD. Sejatinya fungsi pengawasan DPRD secara keseluruhan bertujuan untuk mengembangkan kehidupan demokrasi di daerah. S.

Hal ini dikarenakan Komisi merupakan alat kelengkapan DPRD yang sifatnya teknis. dapat diketahui maksud. setiap komisi akan melakukan pengawasan terhadap Peraturan daerah yang berada pada ranah tugas dan wewenang bidang masing-masing. 73 . sehingga bisa dilakukan tindakan penyempurnaan atas Perda tersebut bila ternyata dalam implementasinya berjalan kurang efektif. tujuan dan manfaat dari fungsi pengawasan yang dilakukan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang khususnya pengawasannya terhadap Peraturan daerah antara lain sebagai berikut : a. c. artinya komisi merupakan perpanjangan tangan dari DPRD dan lebih intensif melakukan pengawasan terhadap Peraturan daerah maupun kebijakan dan program lainnya yang dilahirkan DPRD.Berdasarkan hasil wawancara sebagaimana yang dipaparkan diatas. Mencegah terjadinya tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana dari Perda. Mengetahui efektifitas dari Perda yang telah dihasilkan DPRD. khususnya di DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang Komisi merupakan alat kelengkapan yang sering melakukan pengawasan termasuk pengawasan terhadap Peraturan daerah. baik itu Perda yang berasal dari inisiatif DPRD sendiri maupun yang berasal dari Bupati. Oleh karena itu. b. Menjamin agar pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya tidak bertentangan dengan aturan atau perda yang telah dibuat. Dari sekian alat kelengkapan yang ada.

dan aspek yang kedua adalah DPRD mengawasi lembaga/instansi yang terkait atas suatu Peraturan daerah. (pasal 49. Oleh karena itu tindak lanjut hasil pengawasan yang dilakukan DPRD Kabupaten 23 Perda No 01 tahun 2010 tentang Tatib DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (pasal 48.00 Wita di Kantor DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 74 . Hukum dan Politik.Pi selaku Seketaris Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang( Sidrap). komisi lebih banyak melaksanakan fungsi pengawasan”25 Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam hal pengawasan yang dilakukan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang terhadap Peraturan daerah. S. yaitu Andi Fachry A. dan APBD sesuai dengan ruang lingkup tugas komisi24 seperti juga dikatakan Sekertaris Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Komisi III melakukan pengawasan di bidang Pembangunan dan kesejahteraan rakyat. aspek pertama adalah DPRD mengawasi keefektifan dari pada Perda itu sendiri sebagai sebuah kebijakan maupun sebagai produk hukum yang bersifat pengaturan yang telah dihasilkan. Rabu tanggal 8 februari 2012 pukul 10. B.23 Satu tugas komisi adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah. ayat 3) 24 Ibid. S.Komisi 1 akan melakukan pengawasan di bidang Pemerintahan. B. ayat 1 c) 25 Andi Fahcry. A. komisi bersentuhan dengan masyarakat dan bekerja sesuai bidang yang ditetapkan. Komisi II melakukan pengawasan di bidang Ekonomi Keuangan. terdapat dua aspek yang termuat di dalamnya.Pi :“Komisi merupakan bagian utama DPRD.

yang ditemukan oleh komisi sebagai alat kelengkapan DPRD yang intens melakukan pengawasan dari kegiatan pengawasan yang dilakukan baik yang berupa kunjungan kerja atau kunjungan lapangan. sidak. dengar pendapat. tanggal 15 februari 2012 pukul 11. Seperti yang diungkapkan H. Zainuddin Sadide selaku Anggota komisi II DPRD Kab. temuan-temuan maupun indikasi-indikasi penyelewengan maupun penyalahgunaan yang dilakukan aparatur pelaksana atas sebuah Peraturan daerah. karena kami lembaga perwakilan rakyat. Wita di rumahnya Jalan Poros Pinrang 75 . kemudian akan ditindak lanjuti dengan 26 H. rapat koordinasi dan rapat konsultasi bersama instansi pemerintah yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang. Zainuddin Sadide selaku anggota komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang: “Jika ada aspirasi dari masyarakat kami akan menampungnya. Sidenreng Rappang.”26 Berdasarkan informasi yang didapatkan dari wawancara-wawancara dan studi pustaka yang dilakukan selama proses penelitian.Sidenreng Rappang akan berujung pada ke dua aspek tesebut dimana dapat berupa perbaikan regulasi yang ada maupun penyempurnaan kebijakan yang telah di hasilkan dan pencegahan tindakan penyelewengan atau penyalahgunaan yang dilakukan oleh aparatur pelaksana Peraturan daerah tersebut bahkan dapat berujung pada penyelesain ke proses hukum bila terbukti melakukan tindakan penyelewengan ataupun penyalahgunaan atas Peraturan daerah tersebut.00. selama kami bisa selesaikan langsung maka kami langsung selesaikan dengan kunjungan lapangan. namun tetap akan kami tindaklanjuti demi perbaikan perda yang sesuai dengan yang diharapkan.

sebaliknya bila rekomendasi tersebut diterima. 1. tergantung pada fraksi melalui pandangan akhir fraksi. masukan dan rekomendasi yang harus mendapat perhatian dan dilaksanakan lebih lanjut oleh pemerintah daerah. Rekomendasi komisi ini lahir dari rapat yang dilakukan komisi maupun rapat antar komisi bila permasalahan yang dihadapi melibatkan dua komisi atau lebih. saran. Keputusan DPRD dapat berupa perbaikan terhadap Peraturan daerah. maka melalui rapat paripurna ini akan dihasilkan Keputusan DPRD untuk menindak lanjuti rekomendasi yang disampaikan oleh komisi maupun gabungan komisi sebelumnya. karena pandangan akhir fraksi yang menentukan disetujui atau tidaknya rekomendasi tersebut. Ditolak atau diterimanya rekomendasi-rekomendasi yang telah disampaikan oleh komisi atas temuan-temuan hasil pengawasan yang diperoleh dilapangan.menyampaikan hasil temuan kepada Pimpinan DPRD yang disertai dengan rekomendasi-rekomendasi komisi. Pimpinan DPRD menyampaikan undangan kepada alat-alat kelengkapan DPRD yang ada untuk mengadakan rapat paripurna guna membahas rekomendasi yang telah disampaikan oleh komisi maupun gabungan komisi sebelumnya. maupun dapat berupa sikap. Preliminary Control Preliminary Control merupakan pengawasan awal anggota DPRD pada saat pembahasan anggaran. teguran. Selanjutnya. Dalam pengawasan pendahuluan ini 76 . bila sebagian besar fraksi menolak rekomendasi tersebut maka rekomendasi tersebut batal.

adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan Peraturan daerah tentang Retribusi Pasar merupakan salah satu dari sekian banyak Perda yang telah dilahirkan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang bersama dengan eksekutif. dan kerja sama internasional di daerah.anggota DPRD sangat diharapkan perannya dalam meneliti setiap usulan khususnya anggaran dari penyedia layanan masyarakat menyangkut tentang perda retribusi pasar ini diharapkan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang lebih melihat kesesuaian dengan tingkat pendapatan pedagang khususnya dari sisi biaya retribusi Dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah daerah disebutkan bahwa DPRD memiliki fungsi pengawasan. pelaksanaan APBD. Dalam Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000. yang terkait dengan penelitian ini dijelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan Retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi. Perda No 13 Tahun 2008 tentang Retribusi Pasar objek kajian sebagai langka awal pengawasan DRPD Kabupten Sidenreng 77 . yang harus diawasi sejak awal perencanaannya. fungsi pengawasan tersebut dilakukan terhadap beberapa hal antara lain pelaksanaan peraturan daerah. peraturan kepala daerah/Keputusan Bupati. kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan.

Wita di Kantor Dispenda Kabipaten Sidenreng Rappang 28 H.tanggal 13 februari 2012 pukul 13. sebagimana yang diungkapkan hasil wawancara dengan Ahmad D. tanggal 15 februari 2012 pukul 11. Wita di rumahnya Jalan Poros Pinrang 78 .00. yang merupakan bagian dari retribusi daerah yang menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD). SP mengatakan : “Perda retribusi Pasar merupakan usulan dari pemerintah Kabupaten Sidrap yang telah diproses dalam satu kepanitian yang melibatkan beberapa SKPD terkait dan membahas segala hal yang dianggap perlu dari perda terebut yang kemudian diusulkan ke dewan. Zainuddin Sadide dalam wawancaranya mengatakan : “Keterlibatan dewan ketika usulan perda tersebut dari pemerintah kabupaten Sidrap diserahkan ke dewan kemudian diserahkan ke Badan Legislasi untuk dikaji lebih lanjut jika dianggap sudah lengkap draf pembahasan baru diserahkan ke pimpinan Dewan untuk disetujui yang kemudian diserahkan ke Badan Musyawarah setelah dianggap sudah lengkap baru diplenokan dengan dihadiri DPRD dan mengundangkan pemerintah kabupaten dengan perwakilan SKPD yang terkait. Zainuddin Sadide selaku Anggota komisi II DPRD Kabupaten sidenreng Rappang. Msi selaku kepala bidang retribusi . SP.” 27 Perda Retribusi Pasar merupakan kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Sidenreng Rappang yang bersifat mengatur pengelolaan dalam hal retribusi pasar.45.” 28 Rapat dengar pendapat atau searing atas sebuah persoalan yang terjadi 27 berkaitan dengan kebijakan pemerintah merupakan bentuk Wawancara dengan Ahmad D.Rappang harus melihat draf yang diusulkan pemerintah daerah. Peran yang diambil dalam melakukan pengawasan DPRD Rappang setelah menerima usulan atau Kabupaten Sidenreng perda maka rancangan sebagaimana yang diungkapkan H.

keamanan. operasional.pengawasan politik dewan seperti pada perda retribusi pasar di Kabupaten Sidenreng Rappang pada saat rapat pleno dengan mendengarkan penjelasan pemerintah melalui SKPD terkait menyangkut perencanaan dalam pelaksanaan perda tersebut. dan pemeliharaan pengadaan karcis/kartu pasar dan uang pinjaman. kemampuan masyarakat dan aspek keadilan” dari penjelasan pasal ini beberapa partai menyoroti khususnya partai-partai kecil terutama Partai Gerindra yang merupakan misi perjuangan partai yaitu memperjuangan pedagang tradisional. makanya penetuan tarif pasar didasarkan pada tingkat kemapuan para pedagang dari berbagai golongan yang ada” Pemerintah menjelsakan dalam wawancara dengan Dispenda bahwa apa yang usulkan dewan sudah dijalankan sejak dulu ketika pemerintah menggunakan APBD dalam pengembangan pasar di Kabupaten Sidenreng Rappang hasil survey pemerintah para pedagang terlalu rendah 79 . Pada rapat pleno cukup alot membahas tentang penentuan tarif di dalam pasal 10 menjelaskan “ Prinsip penetapan struktur dan besarnya tarif didasarkan dengan memperhatikan biaya penyediaan fasilitas yang meliputi biaya investasi. kebersihan. mereka menuntut untuk menggganti pasal tersebut dengan redaksi bahwa penentuan tarif sebagaimana yang diungkapkan dari Bapak Muh Ali Hafid komisi II mengatakan : “Sekarang ini pola perencanaan pembangunan diarahkan dari bawah keatas atau buttonup. penyusutan.

B. A. tanggal 8 februari 2012 pukul 13. S. dengan melihat kondisi riil dilapangan pemerintah harus juga dapat mempertibangkan segala sesuatunya dalam menentukan tarif tersebut kemudian perlu diperhatikan bahwa pengembangan pasar ini merupakan bantuan pinjaman bank dunia yang harus dikembalikan oleh karena itu segala sesuatu pemerintah telah mempertimbangkanya Hasil pembahasan rancangan perda retribusi pasar disepakati dengan pertimbangan akan melihat kemajuan kemudian. Perda ini cukup diawasi dibandingkan Perda-perda lainnya.Pi selaku Seketaris Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang(Sidrap).45 Wita di Kantor DPRD Sidenreng Rappang 80 .Pi :Bahwa sebelum diundangkan menjadi lembaran Negara kabupaten Sidrap Dewan kembali untuk dievalusai kembali jika disetujui baru diundangkan yang tidak sama dengan perda lainnya yang nonretribusi. karena berkaitan juga dengan fungsi budgeting DPRD sebagai bahan untuk menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tiap tahunnya dan sangat berkaitan juga dengan fungsi legislasi dimana setiap Peraturan daerah yang akan dihasilkan haruslah memenuhi asas Pembentukan Perda dan asas materi muatan Perda. Oleh karena itu lebih lanjut dikatakan Andi Fachry A. B.” 29 29 Andi Fahcry.keinginannya terhadap tarif sewa/biaya sedangkan diketahui bahwa pada loslos dan kios-kios tertentu banyak memberikan keuntungan dalam pedagangnya dan termasuk juga mereka adalah pedangang besar yang menempati beberapa los. S.

Perda Retribusi Pasar tergolong dalam Retribusi Jasa Umum. Dalam klasifikasi pasar berdasarkan perda No 13 tahun 2008 tentang retribusi pasar. termasuk dalam hal penarikan atau pemungutan tarif retribusi pasar. dan Pasar Tanrutedong) 81 . Pasar Rappang. pasar di Kabupaten Sidenreng Rappang di bagi menjadi empat tipe yaitu: 1. Selanjutnya disetiap pasar yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Sidenreng Rappang pengelola pasar ini yang kemudian mengelola pasar dalam artian mengelola fasilitas pasar yang telah disediakan oleh Pemerintah Daerah yang diperuntukkan kepada masyarakat pengguna jasa tersebut.Disamping mengawasai Perda Retribusi Pasar sebagai kebijakan daerah yang telah disepakati bersama dengan pemerintah daerah dalam program legislasi daerah. Retribusi Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah daerah untuk tujuan dan kepentingan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Tipe A (Pasar Pangkajene. Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang dalam melakukan pengawasannya juga mengawasi pemerintah daerah yang terkait dengan Perda Retribusi Pasar tersebut Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang retribusi pasar berada pada ranah tugas dan wewenang Dinas Pendapatan Daerah karena retribusi pasar merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah.

2. SP. Interim Control Interim Control Pengawasan untuk memastikan retribusi pasar berjalan sesuai standar yang ditetapkan dan memenuhi harapan masyarakat selama dilakukan dalam jangka waktu tertentu. penyusutan. kebersihan. SP mengatakan: “struktur tarif terdiri dari kontrak tahunan dan harian berdasarkan tipe pasar. Pengawasan juga bisa diarahkan terhadap pelaksanaan kebijakan pada masa perjalannya sebuah peraturan. Tipe B (Pasar Amparita) 3. Pasar Massepe. Pasar Baranti. Pasar Wanio. dan pemeliharaan pengadaan karcis dan uang pinjaman. Pasar Otting) 4. Tipe C (Pasar Bilokka. Pasar EmpagaE. Pasar Batu) Prinsip penetapan struktur dan besarnya tarif didasarkan pada kebijaksanaan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan fasilitas. Pasar Manisa. keamanan. yang meliputi biaya investasi. Pasar WetteE.tanggal 21 februari 2012 pukul 13. Tipe D ( Pasar Lise. Wita 82 . Ahmad D. Pasar Lawawoi.”30 2. Msi selaku kepala bidang retribusi . Pasar Lacinrang.45.operasional. Pengawasan ini akan melihat pelaksanaan pengawasan DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang terhadap Aparatur pelaksana dari instansi 30 Wawancara dengan Ahmad D. Pasar Bila.serta kemampuan masyarakat dan aspek keadilan.

Zainuddin Sadide: “Perlu diktehui disini bahwa dalam pengelolahan pasar tersebut alokasi anggaranya bersumber dari pinjaman Bank dunia yang harus dikembaliakn sesuai dengan waktunya.00. 31 H. sebagaimana mengatakan bahwa sebenarnya dari segi kebijakan tidak terdapat masalah terhadap ketentuan-ketentuan yang telah disepakati dan diatur dalam Perda retribusi Pasar tersebut. makanya pemerintah sangat serius mengelolah retribusi tersebut.pemerintah daerah yang terkait dalam retribusi pasar dalam menjalankan Peraturan daerah. Wita di rumahnya Jalan Poros Pinrang 83 . tanggal 15 februari 2012 pukul 11. terutama pihak pengelola pasar. dari pengawasan yang dilakukan Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai alat kelengkapan teknis DPRD yang membidangi pajak dan retribusi. hanya saja dalam implementasinya dilapangan. dalam pengamatan penulis sebagaimana yang diungkapkan oleh H. Zainuddin Sadide selaku Anggota komisi II DPRD Kabupaten sidenreng Rappang. aparatur yang menjalankan secara teknis dari Perda tersebut dinilai sangat memaksakan dalam menjalankan tugasnya.” 31 ` Dalam pengawasan dewan pada perda ini sangat serius oleh karena merupakan tanggunjawab bersama dengan pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang mengingat dana yang digunakan pinjaman Bank Dunia dan pada tahun berjalan 2009 dapat dikatakan terselesaikan namun kelihatannya agak dipaksakan dalan pemungutannya. Berdasarkan hasil penelitian.

Selain itu. sehingga dapat dilakukan tindakan Wawancara dengan Muhammad Ali Hafid A. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa fungsi pengawasan merupakan tindak lanjut dari fungsi sebelumnya yaitu control internal Dalam aspek ini. melalui aspek ini juga DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang mencoba untuk mengetahui apakah Perda yang telah dihasilkan berjalan dengan efektif atau 32 tidak di lapangan. Md. pengawasan yang dilakukan oleh DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang bertujuan untuk mengetahui apakah kebijakan-kebijakan yang telah dihasilkan dari legislasi daerah. seperti Peraturan daerah sebagai sebuah kebijakan daerah yang bersifat pengaturan sebagaimana hasil wawan cara dengan bapak Muh.45. Pi selaku anggota Komisi II .Salah satu aspek yang menjadi penilaian DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang ketika melakukan pengawasan dengan pendekatan interim control terhadap Peraturan daerah adalah dengan menilai Peraturan daerah itu sendiri sebagai sebuah kebijakan pemerintah. namun dengan pertimbangan tertentu dari pemerintah dalam penentuan tarif “32 Dari wawancara tersebut terlihat bahwa mengambil jalan tengah dalam menampung aspirasi masyarakat yang juga telah memihak kepada kepentingan masyarakat yang dianggap sebagai konstituen mereka.tanggal 14 februari 2012 pukul 11. Ali Hafid komisi II mengatakan : “Dalam penentuan tarif biaya yang dibebankan para pedagang telah dilibatkan terhadap komunitas pedagang dan pada saat itu mereka namun tarif tersebut tidak sesuai dengan kesepakatan apa yang diharapkan pedagang. Wita di Kantor DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) 84 .

sedangkan gardu dan pelataran ini yang banyak bermasalah karena pajak retribusi bersifat harian yang ada aksi kucing-kucingan dengan petugas yang dilihat dari segi jumlahnya cukup besar yang menyediakan kebutuhan seharihari. Lebih lanjut dikatakan Hamka.tanggal 15 februari 2012 pukul 13. bahkan ada yang pihak ketigakan sehingga pihak petugas trkendala untuk menagih. dalam hal ini Komisi II. SP: “Kalau berjalannya tetap berjalan tetapi kalau dilihat dari efektifnya masih ada kendala yang dihadapi khusunya dalam pemugutan retribusi karena mau tidak mau masih banyak pedagang yang tidak membayar bahkan kuncing-kucingan dari petugas selain itu juga para tetugas kita tidak tahu apa dilaporkan atau tidak. Penjalasan ini diberikan pada Dispenda Peninjauan lapangan atas pelaksanaan perda tersebut merupakan pengawasan politik dalam pelaksnaan suatu kebijkan pemerintah sebagai tindak lanjut bentuk pengawasan yang sering dilakukan oleh DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang . tanggungjawab itu ada pada pemda” 33 Pemungutan retribusi pasar yang ada juga lihat pada tipe pasar sebagaimana yang diungkap diatas.penyempurnaan baik dari segi redaksi materi maupun substansi yang termuat dalam Perda tersebut. namun khusus tarif yang dapat terjadi kekurangan dapat dilihat pungutan retribusi diantaranya pada pedagang kios dan los yang sifatnya permanen hampir tidak ada kendala dalam penyelesaian pajak retribusi Cuma terkadang ada yang mencicil. adalah dengan 33 Wawancara dengan Hamka SP anggota Komisi II DPRD DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. Wita di Kantor DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) 85 .45.

Wita di Kantor DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. B.Kalau Perda Tentang Retribusi pasar saja contoh. ini kita lihat”. kadang kita bagi dua umpamanya ada yang ke timur ada yang ke barat.45. Pi selaku anggota Komisi II . B. 86 .tanggal 13 februari 2012 pukul 11.Naa jadi setiap tahun kita berkunjung ke pasar-pasar. kondisi pasar yang tidak kondusif pada musim hujan hal yang harus dilakukan bentuk tugas dan tanggungjawab dan beberapa hal lainya.Pi: “…. juga memberikan informasi mengenai pengawasan yang dilakukan terhadap Perda Retribusi Pasar Muhammad Ali Hafid : “…. Sebagaimana yang dipaparkan Andi Fachry A. tanggal 8 februari 2012 pukul 10. nah implementasi dari Perda ini kita juga langsung turun ke lapangan melihat sinkronisasi dengan fakta-fakta yang ada dilapangan. 35 Dalam pendekatan pengawasan oleh DPRD kabupaten Sidenreng Rappang setelah melakukan kujungan Lapangan ada beberapa keluhan pedagang diantaranya terutama tarif khusunya pedagang kecil yang teralu tinggi.00 Wita di Kantor DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 35 Wawancara dengan Muhammad Ali Hafid A. masuk ke pasar-pasar. disini kita juga melihat landasan dalam mengevaluasi awal apakah Perda Retribusi Pasar ini masih relevan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Md. DPRD selaku lembaga pengawasan politik dari hasil pengamatan perda 34 Andi Fahcry. S.” 34 Dalam kesempatan wawancara lainnya. S. adanya over los/kios kepada pihak lain yang tidak sepengatahuan pengelolah.Pi selaku Seketaris Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. kita mencoba sharing dengan pedagang-pedagang disitu tentang bagaimana pelaksanaan Retribusi yang berjalan selama ini.melakukan kunjungan lapangan. A.

”36 36 Wawancara dengan Ahmad D. Wita 87 . benar-benar telah sesuai dengan aturan yang ada dalam Perda Retribusi Pasar maupun Peraturan Perundangundangan yang mengatur tentang retribusi. SP. karena Perda retribusi Pasar merupakan kebijakan daerah yang sudah menjadi kesepakatan bersama antara DPRD dengan Pemerintah Daerah dalam proglam legislasi daerah. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah sebagai pelaksan kebijakan untuk benar-benar menjalankannya sesuai dengan apa yang telah disepakati bersama dan bagi DPRD pengawasannya terhadap aspek ini untuk memastikan hal tersebut terlaksana agar tidak terjadi penyimpangan maupun penyelewengan yang dilakukan oleh aparatur pemerintah daaerah. Sebagaimana yang diungkapkan Ahmad D.45.tanggal 21 februari 2012 pukul 13. Msi selaku kepala bidang retribusi .retribusi tersebut dalam implementasinya kelihatan tidak berjalan efektif oleh karena banyak keluhan-keluhan pedagang dan masyarakat pengguna pasar Pengawasan yang dilakukan oleh Komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang pada aspek ini bertujuan untuk mengontrol agar aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah daerah yaitu dinas pendapatan daerah dan pengelola pasar dalam hal retribusi pasar. SP : “Sesungguhnya program pengembangan dan peningkatan pasar yang ada di Kabupaten Sidrap merupakan program yang memang sudah lama dianggap berkelanjutan Cuma mendapat perhatian dari Bupati karena salah satu tujuan pemerintah yang diharapakan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah sendiri.

Penilaian atas selesainya sebuah kegiatan yang sudah direncanakan dalam program kerja pemerintah dalam hal ini melihat pengawasan hasil yang dicapai pada retribusi pasar tersebut yang menyangkut segala ketentuan mengenai hasil yang dicapai terhadap perda retribusi pasar dalam hasil penelitian terlihat bahwa DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang pada tahun 2009 melakukan evaluasi sebagai mana yang diharapkan dalam pendekatan post control 88 . bahkan terkadang ada kecendrungan untuk memaksakan setiap program harus berhasil” 3.Program-program pembangunan yang dijalankan Bupati diantaranya adalah peningkatan dan pengembangan Pasar yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang dimana setiap kecamatan terdapat pasar sekalipun demikian sesungguhnya apa yang dikerjakan Bupati dari setiap program pembangunan tidak lebih dari pencitraan politik dalam kepemimpinannya karena beliau sangat didukung kemampuan material secara pribadi dengan latar belakang pengusaha yang sukses di Kabupaten Sidenreng Rappang. Post Control Post Control merupakan evaluasi terhadap target yang direncanakan. sebagaimana yang dikatan kepala bidang Retribusi dispenda Ahmad . memperbaiki atau meningkatkan suatu peraturan daerah.SP. Pengawasan diharapkan akan menghasilkan rekomendasi mempertahankan.MSI “Soal kebijakan yang dikeluarkan bupati itu mengarah pada pengembangan potensi daerah termasuk pada pasar tersebut.

A. maka evaluasi sangat diperlukan baik dari segi pencapain dan penggunaan anggaran tersebut H.”37 Dari wawancara diatas.Laporan pemerintah terhadap Peraturan daerah yang menyangkut retribusi pasar dari hasil yang dicapai kususnya mengenai capaian target biaya kelihatan tidak mencapai target yaitu kurang dari 10% capaian yang telah ditargetkan sebagaimana yang tetulis dalam bab pedahuluan asumsi penulis jumlah 10% atau sekitar satu milliard adalah jumlah yang cukup besar pada tingkat daerah hal ini terindikasi penulis sebagai hipotesa awal bahwa ada penyelewengan anggaran retribusi pasar terhadap pemerintah sehinggan dibutuhkan pengawasan lebih lanjut Retribusi pasar tersebut merupakan salah satu yang memberikan kontribusi pemasukan terhadap pendapatan asli daerah yang cukup besar yang ada Kabupaten Sidenreng Rappang. Sebagai tindak lanjut DPRD pada 2011 mengeluarkan perda baru yang intinya perubahan tarif bagi pedagang yang kami turunkan sekita 10%-15% dari biaya yang terdahulu. S.00 Wita di Kantor II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang 89 . Sidenreng rappang.Pi selaku Seketaris Komisi II DPRD Kab. tanggal 8 februari 2012 pukul 10. B. diperoleh gambaran bahwa Perda retribusi pasar dianggap tidak efektif berjalan sebagaimana hasil yang didapatkan dalam penelitian ini. Zainuddin Sadide mengatakan: “Perda retribusi pasar tahun 2009 hasil evaluasi kami memeliki beberapa kekurangan khususnya pencapaian target sedangkan pada tahun 2010 terjadi peningkatan pendapatan sebesar 10% sebagai bahan pembanding masalanya terkait dalam penentuan tarif bagi pedagang. indikasinya adalah tidak dilakukannya studi kelayakan 37 Andi Fahcry.

Dalam perda retribusi khusus pada tahun 2011. dimana dalam penarikan retribusinya dilakukan oleh pihak Pengelola 90 . Perubahan ini didasarkan bahwa penyedian fasilitas oleh pemerintah daerah yang berupa kios. Retribusi pasar berada dibawah tanggung jawab Dinas Pendapatan daerah. sebagai tindak lanjutnya di kelurkan perda baru Np 13 tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan Pasar yang pada intinya adalah penyesuaian tarif dan hal-hal lain yang dianggap perlu.terhadap penentuan tarif bagi pedagang disemua kalangan yang mengakibatkan beban tarif bagi pedagang dianggap terlalu tinggi dampaknya ada beberapa kios atau los tdk tersewa dan mencicil bahkan ada yang mengalihkan ke pihak lain tanpa sepengatahuan petugas yang dapat menyulitkan penagihan sedangkan pada pedagang pelataran dan gardu yang jumlahnya cukup besar banyak yang menghindar dari petugas untuk menghindari pembayaran. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah bahwa fasilitas pasar yang disediakan oleh Pemerintah Daerah yang dikontrakkan kepada pengguna jasa pasar termasuk jenis retribusi pasar. hal ini sehingga pedagang pelataran terkadang berpindah-pindah tempat. mengalami perubahan. menjadi obyek dari retribusi pasar yang tergolong dalam retribusi jasa umum. melihat kondisi ini pemerintah bersama DPRD merevisi perda tersebut dan membentuk perda baru yang memuat penyempurnaan tarif biaya yang dibebankan pedagang dan masyarakat. dan kekurangan lainya.

Retribusi 38 H.Pi: “Perda retribusi pasar ini kan sebagai upaya kita untuk bersama-sama dengan penggunaan pasar untuk melakukan penggunaan secara optimal kemudian juga mereka bisa memanfaatkan fasilitas pemerintah secara baik dalam rangka meningkatkan pendapatan mereka kan. S.pasar yang yang telah dibentuk dan bertanggung jawab. Zainuddin Sadide selaku Anggota komisi II DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang. Secara garis besar Dinas Pendapatan Daerah Sidenreng Rappang secara panjang lebar menjelasakan bahwa retribusi daerah dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu Retribusi Jasa Umum. B. Begitu pula pada aparatur pelaksana dari instansi pemerintah daerah yang terkait dalam sebuah Peraturan daerah dilakukan untuk meminta keterangan atau untuk mengkonsultasikan maupun mengkoordinasikan atas permasalahanpermasalahan yang dihadapi dalam implementasi Peraturan daerah.” 38 Bentuk pengawasan dalam evaluasi memberikan penjelasan tentang keberhasilan dan kekurangan yang telah dialami yang dilakukan pemerintah yang sifatnya reaksional dalam mengawasi sebuah Peraturan daerah. dengan demikian dari hasil pengawasan ini Peraturan daerah dijalankan akan disempurnakan sebagaimana yang diungkapkan Andi Fachry A. DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang dalam mengawasi jalannya Peraturan daerah dapat mengetahui hasil atas Peraturan daerah ketika Perda tersebut diimplementasikan. Sesungguhnya fungsi pasar itu signifikan dengan pembiayaan pengelolaan pasar.00. tanggal 15 februari 2012 pukul 11. atau hal lain yang dianggap tidak relevan maka itu tugas kami dan pemerintah untuk membenahi. Wita di rumahnya Jalan Poros Pinrang 91 .

Retribusi Pelayanan Pasar. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi. h. f. Ada beberapa jenis retribusi yang menjadi bagian dari retribusi jasa umum. l. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akte Catatan Sipil. Retribusi Pelayanan Kesehatan. dan Retribusi Perizinan Tertentu. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum. 92 . j. Perda Retribusi Pasar tergolong dalam Retribusi Jasa Umum. m. e. c. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor. b. k. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran. i. dan n. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus. Retribusi Pelayanan Pendidikan. g. antara lain : a. d. Retribusi Pengolahan Limbah Cair. Sebagaimana yang dijelaskan pada Pasal 1 ayat (66) Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 bahwa Retribusi Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah daerah untuk tujuan dan kepentingan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang.Jasa Usaha. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta.

dan Fraksi. atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan. tidak semua daerah memilikinya. BAB IV PE N U T U P Pada bab ini. Panitia Anggaran. Komisi-komisi. Panitia Musyawarah. Namun dalam pelaksanaan pengawasan terhadap peraturan daerah khusus retribusi Pasar lebih intens dilakukan oleh oleh Komisi II yang membidangi Bidang Ekonomi. A. Keuangan 93 . Yang dimaksud dengan Jasa disini sebagaimana yang dijelaskan pada Pasal 1 ayat (65) Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 adalah kegiatan Pemerintah daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang. Kesimpulan Secara garis besar pengawasan DPRD Kabupaten Sidrap terhadap Peraturan Daerah dapat dilakukan oleh suluruh alat kelengkapan yang ada di DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang baik Pimpinan. tergantung dari jasa yang diberikan oleh Pemerintah Daerah. Sebagai bahan masukan dari penulis maka akan dikemukakan pula beberapa saran demi penyempurnaan pelaksanaan tugas-tugas pengawasan DPRD di masa yang akan datang.Jenis-jenis retribusi yang tergolong dalam retribusi jasa umum sebagaimana yang disebutkan diatas. fasilitas. penulis akan menarik beberapa kesimpulan berdasarkan dari pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya.

dan Industri sebagai alat kelengkapan teknis DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang begitu pula setiap Komisi akan melakukan pengawasan terhadap Peraturan daerah sesuai dengan ranah tugas masing-masing. b. Dalam melakukan pengawasan terhadap peraturan daerah maka ada tiga bentuk pengawasan politik yang telah diungkapkan dalam penelitian ini Preliminary control. Rapat dengar pendapat atau sharing atas sebuah persoalan yang terjadi berkaitan dengan kebijakan pemerintah merupakan bentuk pengawasan politik dewan yang terkait dengan pencapaian draf usulan perda retribusi pasar di Kabupaten Sidenreng Rappang pada saat rapat pleno dengan mendengarkan penjelasan pemerintah melalui SKPD terkait menyangkut perencanaan dalam pelaksanaan perda tersebut. Interim Control terhadap perda retribusi Pemungutan retribusi pasar yang ada juga lihat pada tipe pasar. namun khusus tarif yang dapat 94 . interim control dan post control dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa a. DRPD Kabupaten Sidenreng Rappang telah mekakukan pengawasan Preliminary Control (perencanaan) hal ini sejalan tugas yang harus lakukan oleh Dewan karena Perda retribusi Pasar yang merupakan usulan pemerintah program peningkatan pembangunan yang dilakukan Bupati yang merupakan program berkelanjutan.

dalam hal ini Komisi II. mengingat bahwa retribusi pasar memberikan kontribusi pemasukan terhadap pendapatan asli daerah yang cukup besar. ada yang tidak puas dengan posisi los dan kios. sedangkan gardu dan pelataran ini yang banyak bermasalah karena pajak retribusi bersifat harian yang ada aksi kucing-kucingan dengan petugas yang dilihat dari segi jumlahnya cukup besar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Penilaian atas selesainya sebuah kegiatan yang sudah direncanakan dalam program kerja pemerintah. maka hasil evaluasi dianggap perda tersebut tidak efektif berjalan oleh karena itu 95 . c. Peninjauan lapangan atas pelaksanaan sebuah kebijakan merupakan tindak lanjut bentuk pengawasan yang Sharing dilakukan oleh DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang . dengan melihat kekurangan-kekurangan yang terjadi dilapangan. Bentuk pengawasan pada bagian ini menyangkut segala ketentuan mengenai retribusi pasar diatur dalam Perda tersebut dalam hasilnya DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang pada tahun 2009 melakukan evaluasi sebagai mana yang diharapkan dalam post control terhadap Peraturan daerah trhadap retribusi pasar. dan bahkan ada yang pihak ketigakan sehingga pihak petugas terkendala untuk menagih.terjadi kekurangan dapat dilihat pemungutan retribusi diantaranya pada pedagang kios dan los yang sifatnya permanen hampir tidak ada kendala dalam penyelesai pajak retribusi hanya terkadang ada yang mencicil.

Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang dan DRPD sebagai mitra kerja sejalan dengan apa yang digariskan dalan pola pembagunan Kabupaten Sidenreng Rappang.sebagai tindak lanjut dikeluarkan perdan baru mengenai Retribusi Pelayan Pasar tahu 2011 yang pada dasrnya adalah penyesuaian tarif. Saran-saran Berikut ini akan diajukan beberapa saran dari penulis sebagai bahan perhatian dan masukan bagi anggota DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai wakilrakyat. peneliti melihat bahwa akselarasi bupati dalam menjalankan pembangunan sangat antusias oleh karena semangat yang tinggi sebagai bentuk pencitraan politik di mata masyarakat B. DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang diharapkan dapat menjalankan fungsi pengawasannya secara lebih optimal dan lebih efektif lagi karena fungsi yang dimiliki DPRD tidak hanya dalam hal pembentukan Peraturan daerah maupun penetapan anggaran daerah saja. tapi adalah yang lebih penting bagaimana DPRD melakukan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dihasilkannya. karena dengan pengawasan tersebut DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang dapat memastikan apakah kebijakan-kebijakan yang telah dihasilkan benar-benar telah berpihak pada rakyat dan benar-benar bertujuan untuk mensejahterakan rakyat sebagai konstituen mereka maka perlu diperhatikan 96 .

Studi. Utomo. LGSP. Perlu disusun pedoman pengawasan baik itu agenda pengawasan serta metodologi pengawasan yang akan dilakukan oleh DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang(Sidrap). b. Yogyakarta. Syamsudin. Muhammad. La Ode. Bandung. Jakarta. Jakarta. Idrus. 97 . Pengawasan DPRD Terhadap Pelayanan Publik – Panduan Untuk DPRD. Sebuah Skripsi. Demokrasi. LGSP. Haris. Komisi Pemberantasan Korupsi. Telaah Peran Anggota DPRD. dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah. 2005. Pelaksanaan Fungsi Pengawasan DPRD Terhadap Pelaksanaan Peraturan Daerah Di Kabupaten Selayar. 2007. 2007. Dasar-dasar Ilmu Politik. Hubungan Fungsi Pengawasan DPR Dengan BPK Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Gramedia. Perlunya diperhatikan aspirasi rakyat dalam mentukan isi satu perda yang akan dikeluarkan sehingga dalam penerapannya dapat berjalan dengan baik begitupula pengawasan jelas dilakukan oleh DPRD. Formappi dan AusAid. DAFTAR PUSTAKA Budiarjo. Jakarta. Miriam.a. UII Press. Lembaga Perwakilan Rakyat Indonesia. Masalah dan Solusi). 2005. Desentralisasi & OtonomiDaerah:Desentralisasi. Metode Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif). 2009. dan Analisis Sebelum dan Setelah Perubahan UUD 1945 (Kritik. Muhammad. UPI Press. 1981. Jakarta. Kurnia. CV. 2001. FORMAPPI. sehingga fungsi pengawasan tersebut dapat berjalan lebih terarah. 2005. Husen.

Jakarta. Yogyakarta. CV. UII Press. Irawan. Kapita Selekta Manajemen Pemerintahan Daerah. Dj. Sipayung. Himpunan Lengkap Undang-undang Tentang Pemerintah Daerah. Sentosa. 2000. Fokus Media. Pemerintahan Untuk Membawa Kesejahteraan Rakyat. Aspek-aspek Pengawasan di Indonesia. 2009. Bandung. Yogyakarta. LaksBang. 2008. 2009. Pustaka Cendikia Press. Sembiring. Jakarta Syueb. Nuansa Aulia. DPRD-Peran dan Fungsi dalam Dinamika Otonomi Daerah. cetakan kedua. Sinar Grafika. Sanit. Wasisitiono.. 2005. Arbi. Abdy. Wasistiono. Thaib. Sujamto. Sayuti. Sudomo. BN. 2002. Nihin. SETARA Press. Perwakilan Politik Di Indonesia. 2004. 2009. Sadu. Malang. 1994. Rajawali. Bandung. 1985. Dahlan. Syafiie. Jakarta. Sadu dan Yonatan W. Pengawasan DPRD Terhadap Implementasi Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati Di Kabupaten Serdang Begadai. DPRD – Pertumbuhan dan Cara Kerjanya. 1983. Liberty. Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Pergeseran Kekuasaan Pemerintahan Daerah Menurut Konstitusi Indonesia. Nurdin.Marbun. Yogyakarta. Aspek-aspek Pengawasan Di Indonesia. Fokusmedia. Yogyakarta. Dinamika Hukum Pemerintahan Daerah. Alqaprint. Sinar Grafika. 2006. Pengantar Ilmu Pemerintahan. 2002. Soejito. 2009. DPRD Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Jakarta. Reefika Aditama. dkk. 98 . Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Meningkatkan Kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Inu Kencana. Yuhana.. Una. Sebuah Tesis Sirajuddin. 2009. Bandung. Bandung.

dan DPRD.info/docs/konsep-pengawasan-dprd.kebumen.pdf 99 .id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/PDF/Sutaat.1.id/bitstream/123456789/4731/1/067005057. Internet http://www.net/DadangSolihin/konsep-dan-teoripengawasan/download http://konsepnegaraideal.php http://www.html http://www.blogspot.slideshare. DPR.html http://cetak. Peraturan-peraturan Undang-undang Dasar 1945 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Undang-undang Nomor 27 Tahun 2009 Tentang MPR.com/opini/read/187/Fungsi+Pengawasan+DPRD.pdf http://www.usu.depsos. DPD.docstoc.slideshare.com/2009/05/fungsi-pengawasan-dalammewujudkan.com/docs/25394264/Fungsi-DPRD-dalam-PengawasanKinerja-Pemerintahan-Daerah http://repository.go.s Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2004 Tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2.ac.net/DadangSolihin/peran-dprd-dalam-pembuatanperda-dan-pengawasannya http://blogger.bangkapos.

wordpress.com/2008/05/30/mekanisme-pengawasan-dprdterhadap-penyelenggaraan-retribusi-pasar-di-kecamatan-babakanciparay-kota-bandung/ 100 .http://intanghina.