P. 1
Kumpulan Materi Fisika Inti

Kumpulan Materi Fisika Inti

|Views: 1,406|Likes:
Published by Evi Masyur
Tugas Akhir Fisika Inti, sebagai syarat ikuti ujian akhir Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo Program Studi Pendidikan Fisika
Tugas Akhir Fisika Inti, sebagai syarat ikuti ujian akhir Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo Program Studi Pendidikan Fisika

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Evi Masyur on Jun 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2014

pdf

text

original

KUMPULAN MATERI

DISKUSI :






FISIKA INTI








PROGRAM STUDI FISIKA
PPs UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
TAHUN 2011













SUSUNAN INTI ATOM











1
BAHASAN

HIPOTESIS PROTON- ELEKTRON
Istilah atom pertama kali muncul pada tahun 1808 ketika seorang ilmuwan yang
bernama John Dalton menyatakan bahwa materi tersusun atas partikel – partikel kecil
yang tidak dapat dibagi-bagi yang dinamakan atom . Teori atom Dalton ini hanya bertahan
hingga tahun 1896 , karena pada tahun tersebut para ilmuwan lainnya sudah menemukan
partikel-partikel sub atomik yang menyusun atom.
Pada tahun 1897 ditemukanlah adanya elektron dalam atom oleh Joseph John
Thomson melalui percobaannya yang menggunakan tabung sinar katoda yang ditemukan
olah William Crookers.
J.J. Thomson meneliti lebih lanjut tentang sinar katode dan dapat dipastikan bahwa
sinar katode merupakan partikel, sebab dapat memutar baling-baling yang diletakkan diantara
katode dan anode. Percobaan J.J. Thomson menghasilkan informasi bahwa sinar katoda
memiliki sifat-sifat :
1. Sinar katoda dihasilkan akibat adanya aliran listrik bertekanan tinggi yang melewati
plat logam.
2. Sinar katoda berjalan lurus menuju anoda.
3. Sinar katoda menimbulkan efek fluoresens (pendar) sehingga keberadaannya
terdeteksi.
4. Sinar katoda bermuatan negatif sehingga dapat dibelokkan oleh medan listrik dan
medan magnet.
5. Sinar katoda yang dihasilkan tidak tergantung dari bahan pembuat plat logam.

















Dari hasil percobaan ini, Thomson menyatakan bahwa sinar katode merupakan
partikel penyusun atom (partikel sub atom) yang bermuatan negatif dan selanjutnya disebut
elektron.
Atom merupakan partikel yang bersifat netral, oleh karena elektron bermuatan
negatif, maka harus ada partikel lain yang bermuatan positif untuk menetralkan muatan
negatif elektron tersebut. Dari penemuannya tersebut, Thomson memperbaiki kelemahan dari
teori atom Dalton dan mengemukakan teori atomnya yang dikenal sebagai Teori Atom
Thomson yang menyatakan bahwa:
“Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan didalamya tersebar muatan
negatif elektron”
Model atom Thomson ini disebut juga model ”plum-pudding” (roti kismis).













HAMBURAN RUTHERFORD

Pada tahun 1910 Ernest Rutherford bersama kedua orang asistennya Hans Geiger dan
Ernest Marsden, melakukan serangkaian percobaan untuk mengetahui lebih banyak tentang
susunan atom.
Ernest Rutherford melakukan penelitian dengan menggunakan sinar alfa untuk
menembak plat tipis emas (0,01sampai0,001mm). Detektor yang digunakan berupa plat seng
sulfida (ZnS) yang berpendar apabila sinar alfa mengenainya.








Hasil yang diperoleh adalah bahwa sebagian besar sinar alfa diteruskan atau dapat
menembus plat tipis emas. Sinar alfa dalam jumlah yang sedikit juga dibelokkan dan
dipantulkan. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian besar sinar alfa
diteruskan memberikan kesimpulan bahwa sebagian besar atom merupakan ruang kosong.
Sedangkan sebagian kecil sinar alfa yang dipantulkan juga memberikan kesimpulan bahwa
dalam atom Terdapat benda pejal dan bermuatan besar. Adanya benda pejal yang bermuatan
besar didasarkan pada kenyataan bahwa sinar alfa yang bermuatan 4 sma dapat dipantulkan
apabila mengenai plat tipis emas.
Hal ini berarti massa benda pejal dalam atom emas jauh lebih besar daripada massa
sinar alfa. Selanjutnya Rutherford menyebut benda pejal tersebut sebagai inti atom yang
merupakan pusat massa atom.
Penelitiannya juga menunjukkan bahwa sinar alfa dibelokkan kearah kutub negatif
apabila dimasukkan kedalam medan listrik. Hal ini berarti sinar alfa menolak sesuatu
yang bermuatan positif dalam atom emas dan lebih mendekati sesuatu dengan muatan yang
berlawanan. Rutherford selanjutnya menyimpulkan bahwa inti atom bermuatan positif.
Berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dari percobaan tersebut, Rutherford
mengusulkan model atom yang dikenal dengan Model Atom Rutherford yang menyatakan
bahwa Atom terdiri dari inti atom yang sangat kecil dan bermuatan positif, dikelilingi oleh
elektron yang bermuatan negatif.
Model atom Rutherford dapat digambarkan sebagai beriukut:







HIPOTESIS PROTON- NEUTRON
Rutherford menduga bahwa didalam inti atom terdapat partikel netral yang berfungsi
mengikat partikel-partikel positif agar tidak saling tolak menolak.
Eugene Goldstein pada tahun 1886 melakukan percobaan dan menemukan partikel
baru yang disebut sebagai sinar kanal atau sinar positif. PeralatanGoldstein tersusun atas:
Elektroda negatif (katoda) yangmenutup rapat tabung sinar katoda sehingga ruang
dibelakang katoda gelap Tabung katoda dilubangi dan diisi dengan gas hidrogen bertekanan
rendah Radiasi yang keluar dari lubang tabung katoda akibat aliran listrik bertegangan tinggi
menyebabkan gas yang berada dibelakang katoda berpijar. Radiasi tersebut disebut radiasi
sinar kanal atau sinar positif





Sinar kanal secara mendetail dihasilkan dari tahapan berikut yakni ketika sinar katoda
menjalar dari katoda ke anoda maka sinar katoda ini menumbuk gas hidrogen yang berada di
dalam tabung sehingga elektron gas hidrogen terlepas dan membentuk ion positif. Ion
hidrogen yang bermuatan positif selanjutnya bergerak menuju kutub negatif (katoda) dengan
sebagian ion hidrogen lolos dari lubang katoda . Berkas sinar yang bermuatan positif
disebut sinar kanal atau sinar positif.
Penelitian selanjutnya mendapatkan hasil bahwa gas hidrogen menghasilkan sinar
kanal dengan muatan dan massa terkecil. Ion hidogen ini selanjutnya disebut sebagai proton.
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa sinar kanal merupakan
partikel dasar yang bermuatan positif dan berada dalam inti atom dan massa proton sama
dengan massa ion hidrogen dan berharga 1sma.
Rutherford berikutnya menembak gas nitrogen dengan sinar alfa untuk membuktikan
bahwa proton berada didalam atom dan ternyata proton juga dihasilkan dari proses tersebut.
Reaksi yang terjadi adalah :





PENEMUAN NEUTRON

Penelitian yang dilakukan Rutherford selain sukses mendapatkan beberapa hasil yang
memuaskan juga mendapatkan kejanggalan yaitu massa inti atom unsur selalu lebih besar
daripada massa proton didalam inti atom. Rutherford menduga bahwa terdapat partikel lain
didalam inti atom yang tidak bermuatan karena atom bermuatan positif disebabkan adanya
proton yang bermuatan positif. Adanya partikel lain didalam inti atom yang tidak bermuatan
dibuktikan oleh James Chadwick pada tahun 1932. Chadwick melakukan penelitian dengan
menembak logam berilium menggunakan sinar alfa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
suatu partikel yang tak bermuatan dilepaskan ketika logam berilium ditembak dengan sinar
alfa dan partikel ini disebut sebagai netron. Reaksi yang terjadi ketika logam berilium
ditembak dengan sinar alfa adalah :


Neutron tak bermuatan dan bermassa 1sma (pembulatan).
Dari beberapa penemuan partikel sub atomik tersebut maka para ahli
berkesimpulan bahwa :
Atom dibangun oleh tiga partikel yaitu elektron , proton dan netron. Elektron adalah
partikel yang bermuatan listrik negatif dan diberi lambang
dengan huruf (e), memiliki muatan sebesar -1.6 × 10
-19
Coulomb, tanda negatif pada
angka (-) untuk menunjukkan bahwa elektron bermuatan negatif. Elektron memiliki massa
sebesar 9.10 ×10
-31
Kg.
Proton merupakan partikel dasar kedua, yang terletak di dalam inti atom dan
bermuatan positif. Muatan proton sama dengan muatan elektron sebesar 1.6 × 10
-19
Coulomb
bertanda positif. Dengan adanya besar muatan yang sama dengan elektron, namun berbeda
dalam muatannya menyebabkan setiap atom bersifat netral. Berdasarkan hasil perhitungan
diketahui massa sebuah proton adalah1.673 ×10
-27
Kg. Hal ini mengindikasikan bahwa
massa proton lebih besar sekitar 1800 kali massa sebuah elektron. Netron, merupakan
partikel dasar yang ketiga, dan terletak di inti atom bersama-sama dengan proton. Netron
tidakbermuatanlistrik, namun netron memiliki massa yaitu 1.675 ×10
-27
Kg, massa ini setara
denganmassa proton.
Untuk lebih memperjelas lagi tentang kedudukan partikel dasar dalam sebuah atom,
kita ambil contoh jika sebuah unsur memilik 6 proton, 6 elektron dan 6 netron maka di
dalam inti atom akan terdapat 6 proton dan 6 netron yang dikeliling 6 elektron lihat Gambar
berikut :





Penulisan lambang atom mencerminkan adanya proton, elektron netron seperti
dibawah ini. Secara umum penulisan tanda atom adalah :


dimana X adalah nama usur, A : nomor massa merupakan jumlah proton dan
netron dan Z :nomor atom merupakan jumlah proton atau jumlah elektron.






TRANSMUTASI INTI
Transmutasi inti atau transmutasi nuklir adalah perubahan suatu unsur kimia atau
isotop menjadi unsur kimia atau isotop lain melalui reaksi nuklir. Di alam berlangsung
transmutasi nuklir natural yang terjadi pada unsur radio aktif yang secara spontan meluruh
selama kurun waktu bertahun-tahun dan akhirnya berubah menjadi unsur yang lebih setabil.
Transmutasi nuklir buatan dapat dilakukan dengan menggunakan reaktor fisi, reaktor fusi
atau alat pemercepat partikel (particle accelerator). Transmutasi nuklir buatan dilakukan
dengan tujuan mengubah unsur kimia atau radioisotop dengan tujuan tertentu. Limbah
radioaktif yang dihasilkan dari reaktor nuklir yang mempunyai umur sangat panjang dapat
saja ditransmutasikan menjadi radio isotop yang lebih stabil dan memancarkan radioaktivitas
dengan umur yang lebih pendek.
Reaksi fisi dan reaksi fusi sebenarnya juga dapat digolongkan sebagai transmutasi inti
, karena dalam kedua reaksi nuklir tersebut terjadi perubahan inti atom yang dapat
menyebabkan perubahan unsur kimia atau isotop.
Salah satu contoh transmutasi nuklir buatan yang menunjukkan bahwa suatu unsur
kimia dapat diubah menjadi unsur kimia baru lainnya dibuktikan oleh Lord Rutherford
padatahun 1919, yaitu dengan cara membombardir unsur nitrogen dengan sinar alfa yang
menghasilkan unsur oksigen dan partReaksi dari transmutasi ini dapat ditulis sebagai:


Berbagai transmutasi nuklir terjadi dalam sebuah reaktor nuklir , dari transmutasi nuklir
tersebut ada beberapa transmutasi yang disengaja dan diperhitungkan kejadiannya untuk
tujuan tertentu misalnya untuk mengubah bahan yang tidak dapat membelah menjadi bahan
fisil , atau mengubah radioisotop berumur sangat panjang menjadi radio isotop yang lebih
pendek umurnya atau bahkan menjadi unsur stabil yang tidak memancarkan radioaktif.

Bahan yang dapat diubah menjadi bahan fisil disebut sebagai bahan fertil. Reaksi nuklir
transmutasi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut : Transmutasi bahan fertil (thorium-
232 dan uranium-238) menjadi bahan fisil (U-233 dan Pu-239):


Transmutasi limbah radioaktif berumur panjang dari kelompok aktinida minor yaitu
amerisium-241 ( ) menjadibahanfisil kurium-243( )agar dapat berfisi di dalam
reaktor nuklir dari pada meluruh sebagai limbah nuklir :


Contoh transmutasi nuklir lain yang digunakan untuk mengubah bahan-bahan produk reaksi
fisi nuklir (atau produk fisi) radioaktif berumur sangat panjang menjadi unsur stabil yang
tidak memancarkan radioaktif adalah transmutasi teknesium-99 ( ) dengan umur paruh
2,13 x 10
5
tahun dan yodium-129( ) dengan umur paruh 1,6 x10
7
tahun.





Transmutasi nuklir natural terjadi pada unsur berat, yang melakukan transmutasi dengan
memancarkan radioaktif untuk menuju ke unsur ringan yang lebih stabil. Contoh dari
transmutasi nuklir natural adalah peluruhan uranium-238 menuju unsur timbal(Pb).































SIFAT- SIFAT INTI ATOM











2
BAHASAN
ISOTOP
Isotop adalah bentuk dari unsur yang nukleusnya memiliki nomor atom yang
sama - jumlah proton di nukleus - tetapi dengan massa atom yang berbeda karena
mereka memiliki jumlah neutron yang berbeda.
Kata isotop, berarti di tempat yang sama, berasal dari fakta bahwa seluruh isotop
dari sebuah unsur terletak di tempat yang sama dalam tabel periodik.
Secara bersama, isotop-isotop dari unsur-unsur membentuk suatu set nuklida.
Sebuah nuklida adalah satu jenis tertentu nukleus atom, atau lebih umum sebuah
aglomerasi proton dan neutron. Lebih tepat lagi untuk mengatakan bahwa sebuah
unsur seperti fluorine terdiri dari satu nuklida stabil dan bukan dia memiliki satu isotop
stabil.
Dalam nomenklatur ilmiah, isotop (nuklida) dispesifikasikan berdasarkan nama
unsur tertentu oleh sebuah "hyphen" dan jumlah nukleon (proton dan neutron) dalam
nukleus atom (misal, helium-3, karbon-12, karbon-14, besi-57, uranium-238). Dalam
bentuk simbolik, jumlah nukleon ditandakan sebagai sebuah prefik naik-ke-atas
terhadap simbol kimia (misal,
3
He,
12
C,
14
C,
57
Fe,
238
U).
Isotop yang berbeda dari suatu unsur tertentu yang sama memiliki nomor atom
tetapi nomor massa yang berbeda karena mereka memiliki jumlah neutron yang
berbeda. Sifat kimia dari isotop yang berbeda dari suatu elemen adalah identik, tetapi
mereka sering akan memiliki perbedaan besar dalam stabilitas nuklir. Untuk isotop
stabil dari unsur cahaya, jumlah neutron akan hampir sama dengan jumlah proton,
tetapi tumbuh kelebihan neutron adalah karakteristik dari elemen berat stabil. Unsur
timah (Sn) memiliki isotop yang paling stabil dengan 10, rata-rata menjadi sekitar 2,6
per elemen isotop stabil.


Informasi tentang isotop dari setiap elemen dan kelimpahan mereka dapat
ditemukan dengan pergi ke tabel periodik dan memilih elemen. Kemudian mengambil
link ke data nuklir.
Hal ini penting untuk dicatat bahwa tiga isotop hidrogen dalam perubahan
massal dengan faktor tiga, tapi sifat kimia mereka hampir identik. Perbedaan kecil
dalam frekuensi spektral hidrogen dan deuterium berasal dari sumber dasarnya
mekanik, perubahan kecil dalam " massa berkurang "terkait dengan elektron yang
mengorbit. Tetapi untuk tujuan praktis perilaku kimia dari isotop elemen apapun
adalah identik.
Kontributor dominan interaksi antara atom dan lingkungan adalah gaya
elektromagnetik . Seharusnya tidak mengherankan bahwa neutron tambahan atau dua
inti hampir tidak berpengaruh pada interaksi dengan dunia. Pemeriksaan dari model
skala atom membuat jelas bahwa inti sangat kecil dibandingkan ot ukuran atom. Jari-
jari nuklir karbon-12 adalah 2,7 x 10
-15
m sedangkan ukuran dari atom dari tabel
periodik adalah sekitar 0,9 x 10 m
-10,
sekitar 33.000 kali lebih besar!
SPEKTROMETER MASSA
Prinsip dasar
Apabila ada sebuah benda sedang bergerak lurus dan diberikan gaya luar ke arah
samping maka benda itu tidak akan bergerak lurus, melainkan ia akan bergerak
membelok ke arah samping karena adanya gaya luar tersebut.
Misalkan anda sedang menghadapi sebuah bola meriam yang sedang melewati
anda dan anda mau membelokkannya pada saat tepat lewat di depan anda. Dan alat
yang anda punya hanyalah sebuah selang penyemprot air yang dihubungkan dengan
sebuah pompa jet. Sejujurnya, apa yang anda lakukan itu tidak akan berpengaruh
banyak. Karena bola meriam itu sangat berat dan ia tidak akan membelok dari jalur
lurusnya.
Tapi coba kita pikir lagi, anda mencoba membelokan sebuah bola tenis yang
sedang bergerak dengan kecepatan yang sama dengan bola meriam tersebut dengan
menggunakan selang penyemprot air yang sama. Karena bola tenis ini sangat ringan,
maka ia akan membelok dengan amat sangat.
Berapa besar penyimpangan yang akan terjadi karena gaya luar itu, tergantung
pada massa benda tersebut (dalam hal ini bola). Apabila kecepatan bola dan besarnya
gaya luar itu diketahui、anda bisa menghitung massa bola tersebut jika sudah
diketahui bagaimana pola pembelokan yang terjadi pada bola tersebut. Semakin kecil
pembelokan yang terjadi, berarti semakin berat massa bola tersebut.(Perhitungan yang
sebenarnya tidaklah terlalu sulit) Prinsip diatas tersebut dapat juga diterapkan pada
benda atau partikel seukuran atom.
Garis besar tentang apa yang terjadi dalam alat spektrometer massa
Atom dapat dibelokkan dalam sebuah medan magnet (dengan anggapan atom
tersebut diubah menjadi ion terlebih dahulu). Karena partikel-partikel bermuatan
listrik dibelokkan dalam medan magnet dan partikel-partikel yang tidak bermuatan
(netral) tidak dibelokkan.
Urutannya adalah sebagai berikut:

Tahap pertama : Ionisasi
Atom di-ionisasi dengan ‘mengambil’ satu atau lebih elektron dari atom tersebut
supaya terbentuk ion positif. Ini juga berlaku untuk unsur-unsur yang biasanya
membentuk ion-ion negatif (sebagai contoh, klor) atau unsur-unsur yang tidak pernah
membentuk ion (sebagai contoh, argon). spektrometer massa ini selalu bekerja hanya
dengan ion positif.
Tahap kedua : Percepatan
Ion-ion tersebut dipercepat supaya semuanya mempunyai energi kinetik yang
sama.
Tahap ketiga : Pembelokan
Ion-ion tersebut dibelokkan dengan menggunakan medan magnet, pembelokan
yang terjadi tergantung pada massa ion tersebut. Semakin ringan massanya, akan
semakin dibelokan. Besarnya pembelokannya juga tergantung pada besar muatan
positif ion tersebut. Dengan kata lain, semakin banyak elektron yang ‘diambil’ pada
tahap 1, semakin besar muatan ion tersebut, pembelokan yang terjadi akan semakin
besar.
Tahap keempat : Pendeteksian
Sinar-sinar ion yang melintas dalam mesin tersebut dideteksi dengan secara
elektrik.
Diagram lengkap dari spektrometer massa:





MASSA INTI
- Inti atom

Energi pengikatan yang diperlukan oleh nukleon untuk lolos dari inti pada
berbagai isotop.
Inti atom terdiri dari proton dan neutron yang terikat bersama pada pusat atom.
Secara kolektif, proton dan neutron tersebut disebut sebagai nukleon (partikel
penyusun inti). Jari-jari inti diperkirakan sama dengan fm, dengan A adalah jumlah
nukleon. Hal ini sangatlah kecil dibandingkan dengan jari-jari atom. Nukleon-nukleon
tersebut terikat bersama oleh gaya tarik-menarik potensial yang disebut gaya kuat
residual. Pada jarak lebih kecil daripada 2,5 fm, gaya ini lebih kuat daripada gaya
elektrostatik yang menyebabkan proton saling tolak menolak.


Atom dari unsur kimia yang sama memiliki jumlah proton yang sama, disebut
nomor atom. Suatu unsur dapat memiliki jumlah neutron yang bervariasi. Variasi ini
disebut sebagai isotop. Jumlah proton dan neutron suatu atom akan menentukan
nuklida atom tersebut, sedangkan jumlah neutron relatif terhadap jumlah proton akan
menentukan stabilitas inti atom, dengan isotop unsur tertentu akan menjalankan
peluruhan radioaktif.
Neutron dan proton adalah dua jenis fermion yang berbeda. Asas pengecualian
Pauli melarang adanya keberadaan fermion yang identik (seperti misalnya proton
berganda) menduduki suatu keadaan fisik kuantum yang sama pada waktu yang sama.
Oleh karena itu, setiap proton dalam inti atom harusnya menduduki keadaan kuantum
yang berbeda dengan aras energinya masing-masing. Asas Pauli ini juga berlaku untuk
neutron. Pelarangan ini tidak berlaku bagi proton dan neutron yang menduduki
keadaan kuantum yang sama.
Untuk atom dengan nomor atom yang rendah, inti atom yang memiliki jumlah
proton lebih banyak daripada neutron berpotensi jatuh ke keadaan energi yang lebih
rendah melalui peluruhan radioaktif yang menyebabkan jumlah proton dan neutron
seimbang. Oleh karena itu, atom dengan jumlah proton dan neutron yang berimbang
lebih stabil dan cenderung tidak meluruh. Namun, dengan meningkatnya nomor atom,
gaya tolak-menolak antar proton membuat inti atom memerlukan proporsi neutron
yang lebih tinggi lagi untuk menjaga stabilitasnya. Pada inti yang paling berat, rasio
neutron per proton yang diperlukan untuk menjaga stabilitasnya akan meningkat
menjadi 1,5.

Gambaran proses fusi nuklir yang menghasilkan inti deuterium (terdiri dari satu
proton dan satu neutron). Satu positron (e
+
) dipancarkan bersamaan dengan neutrino
elektron.
Jumlah proton dan neutron pada inti atom dapat diubah, walaupun hal ini
memerlukan energi yang sangat tinggi oleh karena gaya atraksinya yang kuat. Fusi
nuklir terjadi ketika banyak partikel atom bergabung membentuk inti yang lebih berat.
Sebagai contoh, pada inti Matahari, proton memerlukan energi sekitar 3–10 keV untuk
mengatasi gaya tolak-menolak antar sesamanya dan bergabung menjadi satu inti. Fisi
nuklir merupakan kebalikan dari proses fusi. Pada fisi nulir, inti dipecah menjadi dua
inti yang lebih kecil. Hal ini biasanya terjadi melalui peluruhan radioaktif. Inti atom juga
dapat diubah melalui penembakan partikel subatom berenergi tinggi. Apabila hal ini
mengubah jumlah proton dalam inti, atom tersebut akan berubah unsurnya.
Jika massa inti setelah terjadinya reaksi fusi lebih kecil daripada jumlah massa
partikel awal penyusunnya, maka perbedaan ini disebabkan oleh pelepasan pancaran
energi (misalnya sinar gamma), sebagaimana yang ditemukan pada rumus kesetaraan
massa-energi Einstein, E = mc
2
, dengan m adalah massa yang hilang dan c adalah
kecepatan cahaya. Defisit ini merupakan bagian dari energi pengikatan inti yang baru.
Fusi dua inti yang menghasilkan inti yang lebih besar dengan nomor atom lebih
rendah daripada besi dan nikel (jumlah total nukleon sama dengan 60) biasanya
bersifat eksotermik, yang berarti bahwa proses ini melepaskan energi. Adalah proses
pelepasan energi inilah yang membuat fusi nuklir pada bintang dapat dipertahankan.
Untuk inti yang lebih berat, energi pengikatan per nukleon dalam inti mulai menurun.
Ini berarti bahwa proses fusi akan bersifat endotermik.



PELURUHAN INTI

Neutron dan proton yang menyusun inti atom, terlihat seperti halnya partikel-
partikel lain, diatur oleh beberapa interaksi. Gaya nuklir kuat, yang tidak teramati pada
skala makroskopik, merupakan gaya terkuat pada skala subatomik. Hukum Coulomb
atau gaya elektrostatik juga mempunyai peranan yang berarti pada ukuran ini. Gaya
nuklir lemah sedikit berpengaruh pada interaksi ini. Gaya gravitasi tidak berpengaruh
pada proses nuklir.

Interaksi gaya-gaya ini pada inti atom terjadi dengan kompleksitas yang tinggi.
Ada sifat yang dimiliki susunan partikel di dalam inti atom, jika mereka sedikit saja
bergeser dari posisinya, mereka dapat jatuh ke susunan energi yang lebih rendah.
Mungkin bisa sedikit digambarkan dengan menara pasir yang kita buat di pantai: ketika
gesekan yang terjadi antar pasir mampu menopang ketinggian menara, sebuah
gangguan yang berasal dari luar dapat melepaskan gaya gravitasi dan membuat tower
itu runtuh.

Peluruhan membutuhkan energi aktivasi tertentu. Pada kasus menara pasir,
energi ini datang dari luar sistem, bisa dalam bentuk ditendang atau digeser tangan.
Pada kasus peluruhan inti atom, energi aktivasi sudah tersedia dari dalam. Partikel
mekanika kuantum tidak pernah dalam keadaan diam, mereka terus bergerak secara
acak. Gerakan teratur pada partikel ini dapat membuat inti seketika tidak stabil. Hasil
perubahan akan memengaruhi susunan inti atom; sehingga hal ini termasuk dalam
reaksi nuklir, berlawanan dengan reaksi kimia yang hanya melibatkan perubahan
susunan elektron diluar inti atom.

(Beberapa reaksi nuklir melibatkan sumber energi yang berasal dari luar, dalam
bentuk "tumbukkan" dengan partikel luar misalnya. Akan tetapi, reaksi semacam ini
tidak dipertimbangkan sebagai peluruhan. Reaksi seperti ini biasanya akan dimasukan
dalam fisi nuklir/fusi nuklir.

MODEL PELURUHAN




Kita asumsikan permasalahan peluruhan ini dengan model kotak, dimana kotak
sebelah kiri merupakan kotak untuk inti mula-mula dengan jumlah 100 inti dan kotak
sebelah kanan merupakan kotak untuk inti yang telah meluruh.
Diantara kedua kotak tersebut terdapat batas pemisah, dimana terdapat celah
kecil sebagai jalan inti untuk meluruh. Asumsikan kembali bahwa celah kecil tersebut
hanya akan terlewati oleh satu inti per satuan waktu atau dipengaruhi oleh nilai
peluang inti yang tidak sbatil (kotak kiri) menjadi inti stabil (kotak kanan).
Sehingga ketika jumlah inti di kotak kanan mendekati jumlah inti di kotak kiri,
maka inti terseut mengalami kestabilan. Jika waktu untuk meluruh diperpanjang, maka
inti akan mengalami peluruhan total.

Analogi grafik fungsi Eksponensial Turun untuk Peluruhan Inti

Jika inti mula-mula berjumlah 100 inti maka inti yang akn meluruh sekitar 50
inti untuk waktu maksimum sekitar 100 sekon. Karena peluruhan inti menggunakan
sembarang inti tidak stabil, maka disetiap sekon aka nada lebih dari satu nilai
peluruhan inti (ditandai dengan titik-titik kuning pada grafik). Jumlah nilai peluruhan
inti tersebut tergantung pada masukan jumlah inti peluruhan yang akan dicoba setiap
satu sekon. Dalam permasalahan ini jumlah inti yang akan dicoba akan divariasi. Jumlah
yang akan dicoba tersebut didefinisikan sebagai Ntrial 10, 20, 50, 100 dan 200.

Formulasi Numerik
Dalam peluruhan inti, kita mengenal yang namanya aktivitas. Aktivitas sebuah
sapel inti radioaktif adalah laju peluruhan inti atom pembentuknya, jika N menyatakan
banyaknya inti dalam sampel pada suatu saat, maka aktivitas R adalah sebagai berikut :

……………… (1)

Tanda minus dipakai supaya R menjadi kuantitas positif karena tentu saja
secara intrinsik berharga negative. Pengukuran eksperimental aktivitas sampel
radioaktif menunjukkan bahwa aktifitas menurun secara eksponensial terhadap waktu.
Jika pengukuran eksperimental kita dapat menyatakan informasi empiris mengenai
perubahan aktivitas terhadap waktu dalam bentuk :
Hukum Aktivitas
R – R0 exp (-ìt) …………………. (2)
dengan ì disebut konstanta peluruhan yang mempunyai harga berbeda untuk
setiap radioisotope. Hubungan antara konstanta peluruhan dan umur paro adalah
ketika t = T1/2, maka aktivitas R telah menurun menjadi ½ R0 jadi :
R = R0 exp (-ìt)
½ R0 = R0 exp (-ìT1/2)
exp (-ìT1/2) = 2
ìT1/2 = ln 2
Sehingga ;
ì = …………………. (3)
Dari permasalahan peluruhan inti dengan model kotak, kita asumsikan laju
perubahan di ruang kiri akan dinyatakan dengan ;
………………….. (4)
Dimana adalah peluang partikel inti pindah dari kotak kiri ke kotak kanan
dan t adalah waktu rata-rata inti meluruh.
Dalam permasalah peluruhani inti, tujuan untuk mensimulasikan peluruhan inti
dari tidak stabil menjadi inti stabil. Dalam mensimulasikan kita memerlukan proses
random, dimana proses random merupakan proses acak yang didefinisikan oleh
METLAB dengan intruksi :
R = rand (n)
Pada penyelesaian peluruhan inti ini, kita menggunakan bilangan random 0 < r <
1, sehingga kita dapat definisikan pada program simulasi dengan r = round (rand).
Setiap hasil simulsi yang telah dijalankan dengan variasi Ntrial, maka akan
mendapatkan nilai Nrata berkisar ½ dari jumlah inti tidak stabil yang belum meluruh
dengan tmax = 100 s. Karena yang digunakan adalah bilangan ranom, maka setiap Ntrial
dicoba kembali untuk disimulasikan dengan nilai yang sama akan menghasilkan nilai
Nrata yang berbeda, begitu seterusnya. Akan tetapi jika waktu peluruhan semakin lama,
maka inti yang meluruh lebih dari ½ inti yang belum meluruh. Semakin lama lagi waktu
yang digunakan maka Nrata akan memiliki nilai yang berkisar dengan nilai nol atau inti
tersebut telah meluruh total atau mungkin inti suatu unsur tertentu akan berubah jika
inti tersebut meluruh menjadi inti unsur lain.
























RADIOAKTIVITAS ALAM








3
BAHASAN
RADIOAKTIVITAS
Peristiwa pemancaran sinar-sinar radioaktif dari sebuah inti atom yang tidak
mantap secara spontan disebut radioaktivitas. Proses perubahan ini disebut peluruhan
dan inti atom yang takstabil disebut radionuklida. Materi yang mengandung radionuklida
disebut zat radioaktif. Gejala radiokativitas sangat berperan dalam pengembangan
Fisika nuklir.
Radioaktivitas ditemukan oleh ahli fisika Prancis bernama H. Becquerel pada
tahun 1896. Becquerel menamakan radiasi dengan uranium. Dia menemukan bahwa
bila garam Uranium bersentuhan dengan lempengan fotografik terjadi penghitaman
sama seperti pada sinar-X. Dua tahun setelah itu, Marie Curie meneliti radiasi uranium
dengan menggunakan alat yang dibuat oleh Pierre Curie, yaitu pengukur listrik piezo
(lempengan kristal yang biasanya digunakan untuk pengukuran arus listrik lemah), dan
Marie Curie berhasil membuktikan bahwa kekuatan radiasi uranium sebanding dengan
jumlah kadar uranium yang dikandung dalam campuran senyawa uranium. Disamping
itu, Marie Curie juga menemukan bahwa peristiwa peluruhan tersebut tidak dipengaruhi
oleh suhu atau tekanan, dan radiasi uranium dipancarkan secara spontan dan terus
menerus tanpa bisa dikendalikan. Marie Curie juga meneliti campuran senyawa lain, dan
menemukan bahwa campuran senyawa thorium juga memancarkan radiasi yang sama
dengan campuran senyawa uranium,dan sifat pemancaran radiasi seperti ini diberi
nama radioaktivitas.
Pada tahun 1898, ia menemukan unsur baru yang sifatnya mirip dengan bismut.
Unsur baru ini dinamakan polonium diambil dari nama negara asal Marie Curie, yaitu
Polandia. Setelah itu H. Becquerel dan Marie Curie melanjutkan penelitiannya dengan
menganalisis pitch blend (bijih uranium). Mereka berpendapat bahwa di dalam pitch
blend terdapat unsur yang radioaktivitasnya lebih kuat daripada uranium atau polonium.
Pada tahun yang sama mereka mengumumkan bahwa ada unsur radioaktif yang
sifatnya mirip dengan barium. Unsur baru ini dinamakan radium (Ra), yang artinya benda
yang memancarkan radiasi.
Ada tiga aspek radioaktivitas yang luar biasa jika dipandang dari segi fisika klasik:
1. Bila inti mengalami peluruhan alfa dan beta, bilangan atomik Z berubah dan
menjadi unsur yang berbeda. Jadi unsur tidak tetap.
2. Energi yang dikeluarkan selama peluruhan radioktif timbul dari inti individual
tanpa eksitasi eksternal, bukan seperti radiasi atomik. Bagaimana hal ini terjadi
setelah Einstein mengusulkan kesetaraan massa dan energi, barulah teka-teki ini
dapat dipahami.
3. Peluruhan radioaktif adalah proses statistik yang memenuhi teori kemungkinan,
tidak ada hubungan sebab akibat, yang terkait dalam peluruhan inti, hanya
kemungkinan persatuan waktu. Fisika klasik tidak dapat menjelaskan prilaku
seperti itu, walaupun hal ini dapat masuk dengan baik dalam kerangka fisika
kuantum.
Berdasarkan sumbernya, radioaktivitas dibedakan atas radioaktivitas alam dan
radioaktivitas buatan. Radioaktivitas Alam adalah unsur-unsur radioaktif yang ditemukan
di alam sebagai bahan tambang, yaitu Uranium (U), Aktinium (At), dan Thorium (Th).
Radioaktivitas Buatan adalah zat-zat radioaktif yang diproduksi dengan sengaja dalam
reaktor atom, antara lain Neptunium (Np), Polonium (Po), Radium (Ra). Radioaktivitas
buatan banyak digunakan di berbagai bidang.
PELURUHAN RADIOAKTIF
Mengapa Inti Atom Meluruh?
Jika jumlah proton lebih besar dari jumlah netron (N < P), maka gaya elektrostatis
akan lebih besar dari gaya inti, hal ini akan menyebabkan inti atom berada dalam
keadan tidak stabil. Jika jumlah netron yang lebih besar dari jumlah protonnya (N > P)
akan membuat inti berada dalam keadaan stabil. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa
inti atam paling berat yang stabil adalah Bismuth yaitu yang mempunyai 83
proton dan 126 netron. Inti atom yang mempunyai jumlah proton lebih besar dari 83
akan berada dalam keadaan tidak stabil. Inti yang tidak stabil ini akan berusaha menjadi
inti stabil dengan cara melepaskan partikel bisa berupa proton murni , partikel
helium yang memiliki 2 proton atau partikel lainnya. Inti atom yang tidak stabil
ini memiliki sifat dapat melakukan radiasi spontan atau mampu melakukan aktivitas
radiasi sehingga dinamakan inti radioaktif. Unsur yang inti atomnya mampu melakukan
aktivitas radiasi spontan berupa pemancaran sinar-sinar radioaktif dinamakan unsur
(zat) radioaktif. Pemancaran sinar-sinar radioaktif (berupa partikel atau gelombang
elektromagnetik) secara spontan oleh inti-inti berat yang tidak stabil menjadi inti-inti
yang stabil disebut Radioaktivitas. Inti yang memancarkan sinar radioaktif disebut inti
induk dan inti baru yang terjadi disebut inti anak. Ditinjau dari perbandingan gaya-gaya
penyusun inti, inti atom yang tidak stabil akan memiliki gaya elektrostatis yang lebih
besar dari gaya inti (gaya pengikat). Pada awalnya tampak bentuk radiasi yang baru
ditemukan ini mirip dengan penemuan sinar-X. Akan tetapi, penelitian selanjutnya yang
dilakukan oleh Becquerel, Marie Curie, Pierre Curie, Ernest Rutherford dan ilmuwan
lainnya menemukan bahwa radiaktivitas jauh lebih rumit ketimbang sinar-X. Beragam
jenis peluruhan bisa terjadi. contoh, ditemukan bahwa medan listrik atau medan
magnet dapat memecah emisi radiasi menjadi tiga sinar. Demi memudahkan
penamaan, sinar-sinar tersebut diberi nama sesuai dengan alfabet yunani yakni alpha,
beta, dan gamma, nama-nama tersebut masih bertahan hingga kini. Kemudian dari arah
gaya elektromagnet, diketahui bahwa sinar alfa mengandung muatan positif, sinar beta
bermuatan negatif, dan sinar gamma bermuatan netral. Dari besarnya arah pantulan,
juga diketahui bahwa partikel alfa jauh lebih berat ketimbang partikel beta. Dengan
melewatkan sinar alfa melalui membran gelas tipis dan menjebaknya dalam sebuah
tabung lampu neon membuat para peneliti dapat mempelajari spektrum emisi dari gas
yang dihasilkan, dan membuktikan bahwa partikel alfa kenyataannya adalah sebuah inti
atom helium. Percobaan lainnya menunjukkan kemiripan antara radiasi beta dengan
sinar katoda serta kemiripan radiasi gamma dengan sinar-X.

Peluruhan Alpha (α)
Peluruhan alpha adalah bentuk radiasi partikel dengan kemampuan mengionisasi
atom sangat tinggi dan daya tembusnya rendah. Pertikel alpha terdiri atas dua buah
proton dan dua buah netron yang terikat menjadi suatu atom dengan inti yang sangat
stabil, dengan notasi atom atau Partikel α diradiasikan oleh inti atom
radioaktif seperti uranium atau radium dalam suatu proses yang disebut dengan
peluruhan alpha. Sering terjadi inti atom yang selesai meradiasikan partikel alpha akan
berada dalam eksitasi dan akan memancarkan sinar gamma untuk membuang energi
yang lebih. Setelah partikel alpha diradiasikan , massa inti atom akan turun kira-kira
sebesar 4 sma, karena kehilangan 4 partikel. Nomor atom akan berkurang 2, karena
hilangnya 2 proton sehingga akan terbentuk inti atom baru yang dinamakan inti anak.
Pada peluruhan α berlaku :
1. Hukum kekekalan nomor massa : nomor massa (A) berukuran 4 dan
2. Hukum kekekalan nomor atom : nomor atom (Z) berkurang 2
Dalam peluruhan α berlaku persamaan peluruhan

contoh :

Reaksi peluruhan alpha dapat ditulis sebagai

Peluruhan Beta Plus dan Beta Min ( ß
+
dan ß
-
)
peluruhan Beta adalah merupakan radiasi partikel beta (elektron atau positron)
dengan kemampuan ionisasi lebih rendah dari partikel α. Radiasi beta dapat berupa
pemancaran sebuah elektron disebut peluruhan beta minus(ß
-
), dan pemancaran
positron disebut sebagai peluruhan
beta plus (ß
+
). Peluruhan beta minus

-
) disertai dengan pembebasan
sebuah neutrino (v) dan dinyatakan
dengan persamaan peluruhan.

Elektron yang dipancarkan dalam peluruhan ini
bukanlah elektron orbital (elektron yang
bergerak mengelilingi inti) melainkan elektron
yang ditimbulkan oleh inti atom itu sendiri dari
energi yang tersedia di dalam inti. Hadirnya
elektron (ß
-
) dan (ß
+
) di dalam inti melalui proses



1. sebuah netron memancarkan positron dan sebuah neutrino (v)


2. sebuah proton memancarkan sebuah netron dan sebuah neutrino :




Spesifikasi peluruhan beta plus adalah adanya pemberian energi dalam proses
"penciptaan” massa, karena massa netron (sebagai inti anak) ditambah massa
positron dan neutrino lebih besar daripada massa proton (sebagai inti
induk).Sebagai contoh :

(beta minus)

(beta plus)

Peluruhan Gamma ( γ)
• Peluruhan gamma dapat terjadi pada peluruhan alpha dan beta ketika inti akhir
masih berada pada keadaan eksitasinya.
• Peluruhan gamma adalah peristiwa pemancaran sinar gamma (foton) yang terjadi
ketika suatu inti yang berada dalam keadaan tereksitasi kembali ke keadaan
dasar (ground state).
• Energi sinar gamma yang dipancarkan sama dengan perbedaan energi antara
dua tingkat energi dikurangi dengan energi kinetik inti yang terpental
Salah satu sifat unik dari inti atom adalah kemampuannya bertransformasi seacara
spontan dari satu inti dengan nilai Z dan N tertentu ke inti yang lain. Ada tiga jenis
radiasi yaitu radiasi α,β dan γ.
- Partikel- partikel α adalah atom helium yang terionisasi rangkap yaitu atom-atom
helium tanpa kedua elektron. Jadi suatu partikel α bermuatan dua kali muatan
inti atom hidrogen dan diberi simbol
- Sinar-sinar β terdiri dari elektron-elektron biasa dengan massa sama dengan dari
massa suatu proton. Partikel β membawa suatu muatan negatif dan massanya
dapat diabaikan dan diberi simbol
- Sinar-sianr γ adalah gelombang-gelombang elektromagnetik yang mempunyai
frekuensi lebih tinggi dari sinar x dan tidak bermuatan.



TETAPAN PELURUHAN
Jika peluang untuk meluruh disebut tetapan paluruhan (lambang λ ), maka aktivitas
bahan bergantung pada banyak inti radioaktif dalam bahan ( N ) dan λ. Secara
matematis ditulis
λ=A/N
A = λ N
Aktivitas Radiasi juga didefinisikan sebagai laju berkurangnya inti yang belum meluruh
terhadap waktu.
A = -dN/dt
Sehingga
λ N = -dN/dt

Kenyataan kita tidak dapat mengukur banyaknya inti yang meluruh, yang dapat diukur
adalah aktivitas radiasi (A), maka kita kalikan kedua ruas dengan λ dan didapat :
Kenyataan kita tidak dapat mengukur banyaknya inti yang meluruh, yang dapat diukur
adalah aktivitas radiasi (A), maka kita kalikan kedua ruas dengan λ dan didapat :

Keterangan :
No = Banyaknya inti awal yang belum meluruh, t= 0 s
N(t) = Banyaknya inti yang belum meluruh, t= t s
A0 = Aktivitas radiasi awal , t = 0 s
A(t) = Aktivitas radiasi setelah t = t s
λ = tetapan peluruhan
T = waktu peluruhan dari t = 0 s sampai t =t s
Karena inti mengalami peluruhan, suatu saat mengalami sisa inti yang belum
meluruh tinggal separo dari banyaknya inti semula.Waktu yang diperlukan suatu inti
sehingga banyaknya inti yang tersisa tinggal separo dari inti mula-mula disebut waktu
paro atau waktu paruh, dilambangkan T1/2
TRANSFORMASI RADIOAKTIF BERURUTAN
Berbagai cara transformasi radioaktif ditentukan oleh dua faktor yaitu
1. Ketidakstabilan inti. Yaitu apakah rasio netron terhadap proton terlalu tinggi atau
terlalu rendah.
Secara elektrostatis proton-ptoton dalam inti atom akan saling tolak dengan gaya
tolak menolak Coulomb (gaya elektrostatis) yang akan makin besar jika jarak dua buah
proton makin dekat. Fakta menunjukkan bahwa proton-proton bersatu di dalam inti
atom pada jarak yang sangat dekat ( sekitar 2x 10
-15
m ), di mana secara elektrostatis
proton-proton tidak mungkin bersatu. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan penting yaitu:
Bagaimana proton-proton dapat saling berikatan di dalam inti atom? Bagaimana pula
netron terikat dalam kumpulan tersebut? Berapakah besarnya energi yang mengikat
partikel-partikel tersebut? Selain gaya elektrostatis antara partikel penyusun inti bekerja
pula gaya Gravitasi, namun besarnya sangat kecil karena massa partikelnya juga sangat
kecil. Sehingga dapat dipastikan bahwa gaya Gravitasi bukan faktor dominan dalam
mengikat partikel-partikel inti. Untuk itu para ahli Fisika mengusulkan teori tentang Gaya
Inti yaitu gaya tarik menarik antara partikel penyusun inti dengan sifat-sifat:
1. Gaya inti tidak disebabkan oleh muatan partikel atau bukan merupakan gaya
listrik.
2. Gaya harus sangat kuat atau harus jauh lebih besar daripada gaya elektrostatis
3. Gaya inti merupakan gaya dekat artinya gaya ini hanya bekerja jika kedua partikel
dalam inti cukup dekat (berada pada jarak tertentu sekitar 10-15 m). Jika gaya
inti bekerja juga sampai jarak yang jauh, maka seluruh partikel di jagad raya akan
berkumpul menjadi satu, sesuatu yang belum pernah terjadi.
4. Gaya inti tidak bekerja pada jarak yang sangat dekat sekali, karena pada
keadaan ini akan berubah menjadi gaya tolak. Jika gaya inti bekerja juga pada
jarak yang sangat dekat, maka semua netron akan menjadi satu.
5. Gaya inti antara dua partikel tidak tergantung pada jenis partikelnya. Artinya gaya
inti terjadi pada proton-proton, proton-netron, dan netron-netron. Ilustrasi yang
paling mendekati untuk menggambarkan gaya inti adalah menggunakan dua
buah bola yang dihubungkan permanen sebuah pegas, Berdasarkan pemikiran
jangkauan gaya inti sekitar 10
-15
m maka dapat diperkirakan energi diam partikel
yang dipertukarkan adalah Energi inilah yang dinamakan
Energi ikat inti.
Bagaimana zat radioktif terjadi? Di atas telah dijelaskan tentang gaya inti yang terjadi
pada inti atom. Dengan demikian di dalam inti atom sekurang-kurangnya terdapat tiga
gaya yang penting yaitu Gaya elektroststis, Gaya Gravitasi dan Gaya Inti. Karena nilai
gaya gravitasi sangat kecil maka pengaruhnya relatif kecil sehingga dapat
dikesampingkan. Secara garis besar inti atom akan berada dalam dua keadaan dasar
yaitu Keadaan Stabil dan Keadaan Tidak Stabil yang ditentukan oleh komposisi partikel
penyusun inti. Keadaan stabil di capai apabila jumlah proton (Z) lebih sedikit atau sama
banyak dengan jkumlah netron. Keadaan ini memungkinkan gaya inti lebih besar
dibandingkan dengan gaya elektrostatis. Keadaan tidak stabil dicapai apabila jumlah
proton (Z) lebih besar dari jumlah netron (N). Hal ini akan menyebabkan gaya
elektrostatis jauh lebih besar di bandingkan dengan gaya inti. Mengapa gaya
elektrostatis pada keadaan Z > N lebih besar? Karena gaya elektrostatis memiliki
jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan gaya inti, sehingga dapat pada partikel
proton yang berdekatan dan berseberangan sekalipun. Inti atom seperti inilah yang akan
melakukan aktivitas radiasi secara spontan sampai tercapai keadaan stabil. Keadaan
inti dengan jumlah proton (Z) lebih besar dari jumlah netron (N) akan menghasilkan zat
radioaktif. Gambar berikut menunjukkan karakteristik gaya inti dan gaya elektroststis di
dalam inti atom.
Suatu zat (unsur) akan menjadi radioaktif jika memimilik inti atom yang tidak
stabil. Suatu inti atom berada dalam keadaan tidak stabil jika jumlah proton jauh
lebih besar dari jumlah netron. Pada keadaan inilah gaya elektrostatis jauh lebih
besar dari gaya inti sehingga ikatan atom-atom menjadi lemah dan inti berada
dalam keadaan tidak stabil.

Garis Kestabilan Inti Atom
Hingga saat ini telah diketahui 1500 inti
atom (nuklida), 1100 nuklida
diantaranya merupakan inti tidak stabil.
Grafik berikut ini menunjukkan distribusi
kestabilan inti atom berdasarkan jumlah
neutron dan protonnya.Grafik kestabilan
inti memetakan jumlah netron dan
proton dari inti atom. Inti stabil terletak
pada garis N =Z atau N/Z = 1. Atom-
atom yang terletak pada garis ini
memiliki jumlah proton = jumlah netron.
Atom-atom yang berada pada garis ini
merupakan inti stabil. Namun demikian

kebanyakan inti atom tidak memiliki jumlah netron (N) = jumlah proton (Z) tetapi tetap
dalam keadaan stabil sehingga titik-titik yang menunjukkan inti stabil terlihat berada di
atas garis kestabilan.
Grafik kestabilan inti menunjukkan bahwa
jumlah netron menjadi lebih besar dari
jumlah proton begitu nomor atom Z
meningkat.
Bila jumlah proton dalam sebuah inti terus meningkat, maka pada suatu titik
keseimbangan gaya elektrostatis dan gaya inti tidak dapat dipertahankan lagi
sekalipun jumlah netron terus meningkat. Inti stabil dengan jumlah proton paling
banyak adalah (Z = 83, dan N = 126). Semua inti atom dengan Z > 83 akan
akan berad
2. Hubungan massa – energi antara inti atom induk (parent nucleus), inti atom
anakan (daughter nucleus) serta partikel yang dipancarkan
KESETIMBANGAN RADIOAKTIF
1. Kesetimbangan Transien (Transient Equilibrium)
ì1 < ì2 : umur rerata unsur induk daripada unsur anak luruh. ì2 < ì1 : setelah
waktu tertentu, unsur anak (daughter) akan meluruh dengan laju peluruhannya
sendiri.
2. Kesetimbangan Sekuler/Permanen (Permanent or Secular Equilibrium)
Berdasarkan peluruhan berturutan :
maka persamaan di atas tereduksi menjadi :
Sebab : ì2 - ì1 ~ ì2 , dan e
-
ì
1
t
~ 1
3. Kesetimbangan Secular
Persamaan kesetimbangan sekuler menjadi ;
Yang berarti jumlah N2 atau keberadaan inti anak konstan. Unsur anak luruh
disebut dalam keadaan “ kesetimbangan permanen/sekuler” dengan unsur
induk. Apabila umur paro unsur anak sangat lama, maka jumlahnya hampir
konstan, yaitu N10 = N1, sehingga :
Dalam keadaan kesetimbangan secular, maka berlaku : Artinya, karena ì1 sangat
kecil, maka produk ì1N1 ~ 0.Untuk peluruhan berturutan juga berlaku :
4. Cara Menentukan Half Life
- Umur paro pendek (Short Half-Lives): dalam orde menit, jam, hari, dan bulan) y ln
N, dan ln No = a (konstan),dy/dt , = ì = slope garis lurus
- Umur paro sangat lama/panjang (Very Long Half-Lives) : dapat diaplikasikan
untuk umur paro sampai dengan 10
10
tahun.
Secara eksperimen, jumlah peluruhan per unit waktu, ì dapat ditentukan sebagai
berikut:
Apabila dua buah isotop telah mencapai kesetimbangan secular, maka :
- Umur paro dari unsur campuran (A Mixture of Activities) Dalam investigasi
peluruhan karakteristik beberapa radioisotop, dijumpai plot aktivitas versus
waktu pada kertas semi-logaritmik bukan berupa garis lurus.
Cara menentukan umur paro yang berbeda-beda :
- Plot hasil eksperimen laju pencacahan sebagai fungsi waktu pada kerta semi
logaritmik (bulatan tebal)
- Pada harga waktu yang besar (dekat ujung kurva), akan diperoleh garis lurus.
Tarik garis lurus melalui titik-titik tersebut dan perpanjangannya sampai t = 0.
Garis ini menyatakan peluruhan isotop yang half life-nya paling lama.
- Kurangkan hasil eksperimen dengan akivitas yang tertinggi, kemudian diplot dan
tarik garis lurus.
- Lakukan cara yang sama, untuk isotop yang terakhir.
DERET RADIOAKTIF
• Unsur radioaktif bisa berubah menjadi unsur radioaktif baru dan seterusnya
sampai dihasilkan unsur yang stabil, dan membentuk suatu deret radioaktif.
• Unsur-unsur dengan Z > 83 bersifat radioaktif yang digolongkan dalam 4 deret
yaitu:
• Uranium : 4n + 2
• Aktinium : 4n + 3
• Torium : 4n
• Neptunium : 4n + 1
Sebagai contoh inti induk uranium ( mengalami peluruhan berantai hingga
mencapai inti stabil . Selisih nomor massa inti induk A = 238 dan nomor massa
inti stabil A’ = 206 adalah 32, dan selisih nomor atomnya 10. Ini menunjukkan pola
radiasi sinar radioaktif yang dihasilkan adalah 4n + 2, dengan adalah bilangan bulat.
Dengan demikian akan diperoleh empat deret peluruhan yang paling mungkin mengikuti
aturan 4n, 4n+1, 4n+2, 4n+3. Dari Pola radiasi ini diketahui 4 buah deret radioaktif
yang terkenal, yaitu adanya deret radioaktif di alam memungkinkan lingkungan hidup
kita secara konstan dilengkapi unsur-unsur radioaktif yang seharusnya sudah musnah,
seperti yang memiliki waktu paruh 1600 tahun. Jika dibandinghkan dengan
umur bumi 5,0 x 10
9
tahun seharusnya sudah musnah. Tetapi karena adanya deret
Uranium dengan waktu paruh 4,47 x 10
9
tahun yang hampir sama dengan umur
bumi, dalam beberapa langkah peluruhan menghasilkan unsur maka sampai
saat ini masih ditemui di alam.

SATUAN RADIOAKTIF
Satuan internasional (SI) untuk pengukuran peluruhan radioaktif adalah
becquerel (Bq). Jika sebuah material radioaktif menghasilkan 1 buah kejadian peluruhan
tiap 1 detik, maka dikatakan material tersebut mempunyai aktivitas 1 Bq. Karena
biasanya sebuah sampel material radiaktif mengandung banyak atom,1 becquerel akan
tampak sebagai tingkat aktivitas yang rendah; satuan yang biasa digunakan adalah
dalam orde gigabecquerels.












PELURUHAN ALFA ( )











4
BAHASAN
PELURUHAN ALFA
Peluruhan alfa dominan terjadi pada inti-inti tidak stabil yang relatif berat (nomor atom lebih
besar dari 80). Dalam peluruhan ini akan dipancarkan partikel alfa (α) yaitu suatu partikel
yang terdiri atas dua proton dan dua neutron, yang berarti mempunyai massa 4 sma dan
muatan 2 muatan elementer positif. Partikel α secara simbolik dinyatakan dengan simbol
2
He
4
.
Radionuklida yang mengalami peluruhan akan kehilangan dua proton dan dua neutron
serta membentuk nuklida baru. Peristiwa peluruhan α ini dapat dituliskan secara simbolik
melalui reaksi inti sebagai berikut:

Contoh peluruhan partikel Alfa yang terjadi di alam adalah:

Sifat Radiasi Alfa
a. Daya ionisasi partikel alfa sangat besar, kurang lebih 100 kali daya ionisasi partikel β
dan 10.000 kali daya ionisasi sinar γ.
b. b. Jarak jangkauan (tembus)nya sangat pendek, hanya beberapa mm udara,
bergantung pada energinya.
c. Partikel α akan dibelokkan jika melewati medan magnet atau medan listrik.
d. Kecepatan partikel α bervariasi antara 1/100 hingga 1/10 kecepatan cahaya.

A. Interaksi Zarah Alfa Dengan Materi
Interaksinya akan menimbulkan tiga efek yaitu:
1. Ionisasi : peristiwa tertariknya positron oleh elektron
2. Eksistasi :peristiwa terganggunya struktur atom materi
3. Absorbsi : peristiwa terserapnya zarah radiasi oleh materi


IONISASI
Ionisasi bisa terjadi pada saat radiasi berinteraksi dengan atom materi yang dilewatinya.
Radiasi yang dapat menyebabkan terjadinya ionisasi disebut radiasi pengion. Termasuk
dalam katagori radiasi pengion ini adalah partikel alpha, partikel beta, sinar gamma, sinar-X
dan neutron. Pada saat menembus materi, radiasi pengion dapat menumbuk elektron orbit
sehingga elektron terlepas dari atom. Akibatnya timbul pasangan ion positif dan ion negatif.
Menurut sifat kejadiannya, ionisasi dikelompokkan ke dalam ionisasi-langsung dan ionisasi-
tak-langsung. Ionisasi-langsung terjadi jika radiasi menyebabkan ionisasi pada saat itu juga
ketika berinteraksi dengan atom materi, dan proses ini bisa disebabkan oleh partikel
bermuatan listrik seperti alpha dan beta. Berbeda dengan yang terjadi pada interaksi partikel
bermuatan, interaksi radiasi yang berupa gelombang elektromagnetik (sinar gamma atau
sinar-X) ataupun partikel yang tidak bermuatan listrik (neutron) tidak secara langsung
menimbulkan ionisasi. Partikel yang dihasilkan dalam interaksi yang pertama ini kemudian
menyebabkan terjadinya ionisasi. Proses seperti ini dikenal sebagai ionisasi-tak-langsung.
EKSISTASI
Apabila radiasi yang berinteraksi dengan atom tidak cukup energinya untuk menghasilkan
ionisasi langsung, maka dapat mengakibatkan suatu elektron orbit tertentu berpindah ke
tingkat energi yang lebih tinggi, atau ke keadaan tereksitasi. Energi eksitasi tersebut akan
dilepaskan kembali dalam bentuk radiasi elektromagnetis, pada saat elektron tersebut kembali
ke orbit dengan tingkat energi yang lebih rendah.




ABSORBSI
Radiasi pengion yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium.
Dalam hal ini medium menyerap radiasi. Untuk mengetahui banyaknya radiasi yang terserap
oleh suatu medium digunakan satuan dosis radiasi terserap atau Radiation Absorbed Dose
yang disingkat Rad. Jadi dosis absorbsi merupakan ukuran banyaknya energi yang diberikan
oleh radiasi pengion kepada medium.
Dosis absorbsi sebesar 1 Rad sama dengan energi yang diberikan kepada medium sebesar
0,01 Joule/kg. Bila dikaitkan dengan radiasi paparan maka akan diperoleh hubungan antara
Rontgen (R) dan Rad sebagai berikut : Kalau 1 R = 0,00869 Joule/kg. udara, maka 1 R akan
memberikan dosis absorbsi sebesar 0,00869/0,01 Rad atau sama dengan 0,869 Rad. Jadi 1 R
= 0,869 Rad.
Bila medium yang dikenai radiasi adalah jaringan kulit manusia, harga 1 R = 0,0096
Joule/kg. jaringan, sehingga 1 R akan memberikan dosis absorbsi pada jaringan kulit sebesar
0,0096/0,01 Rad = 0,96. Jadi dosis serap untuk jaringan kulit dengan paparan radiasi sebesar
1 R = 0,96 Rad.
Kedua harga konversi dari Rontgen ke Rad tersebut diatas tidak begitu besar perbedaannya,
sehingga dalam beberapa hal dianggap sama. Untuk keperluan praktis dan agar lebih mudah
mengingatnya seringkali dianggap bahwa 1 R = 1 Rad.
Dalam satuan SI, satuan dosis radiasi serap disebut dengan Gray yang disingkat Gy. Dalam
hal ini 1 Gy sama dengan energi yang diberikan kepada medium sebesar 1 Joule/kg. Dengan
demikian maka : 1 Gy = 100 Rad. Sedangkan hubungan antara Rontgen dengan Gray adalah
: 1 R = 0,00869 Gy
Dibandingkan dengan radiasi yang lain, partikel α secara fisik maupun elektrik relatif
besar. Selama melintas di dalam bahan penyerap, partikel α ini sangat mempengaruhi
elektron-elektron orbit dari atom-atom bahan penyerap karena, adanya gaya Coulomb.
Oleh karena itu, radiasi α sangat mudah diserap di dalam materi atau daya tembusnya
sangat pendek. Radiasi α yang mempunyai energi 3,5 MeV hanya dapat menembus 20 mm
udara atau hanya dapat menembus 0,03 mm jaringan tubuh.
lnteraksi radiasi α dengan materi yang dominan adalah proses ionisasi dan eksitasi. lnteraksi
lainnya dengan probabilitas jauh lebih kecil adalah reaksi inti, yaitu perubahan inti atom
materi yang dilaluinya menjadi inti atom yang lain, biasanya berubah menjadi inti atom
yang tidak stabil.
1. Proses Ionisasi
Ketika radiasi α (bermuatan positif) melalui materi maka terdapat beberapa elektron
(bermuatan negatif) yang akan terlepas dari orbitnya.

Energi radiasi setelah melakukan sebuah proses ionisasi (E0) akan lebih kecil dibandingkan
dengan energi mula-mula (Ei), berkurang sebesar energy yang dibutuhkan untuk
melangsungkan proses ionisasi. Setelah terjadi ionisasi maka atomnya akan bermuatan positif
dan disebut sebagai ion positif. Setelah melalui beberapa kali (beribu-ribu) proses ionisasi,
maka energi radiasinya akan habis.
2. Proses Eksitasi
Proses ini mirip dengan proses ionisasi, perbedaannya dalam proses eksitasi,
elektron tidak sampai lepas dari atomnya hanya berpindah ke lintasan yang lebih luar.

Proses eksitasi ini selalu diikuti oleh proses de-eksitasi yaitu proses transisi
elektron dari kulit yang lebih luar ke kulit yang lebih dalam dengan memancarkan
radiasi sinar-X karakteristik.

B. Spectrum Zarah Alfa
Deret Balmer ditandai oleh elektron transisi dari n ≥ 3 ke n, dimana n = 2 mengacu pada
bilangan kuantum radial atau bilangan kuantum utama dari elektron. Transisi yang dinamai
secara berurutan oleh huruf Yunani: n = 3 ke n = 2 disebut H-α, 4-2 adalah H-β, 5-2 adalah
H-γ, dan 6-2 adalah H-δ. Sebagai garis spektrum pertama yang dikaitkan dengan seri ini
terletak di bagian terlihat dari spektrum elektromagnetik , garis-garis ini secara historis
disebut sebagai "H-alpha", "H-beta", "H-gamma" dan seterusnya, di mana H adalah elemen
hidrogen.
Transisi
dari n
3 → 2
4 →
2
5 →
2
6 →
2
7 → 2 8 → 2 9 → 2 →2
Nama H-α H-β H-γ H-δ H-ε H-ζ H-η
Panjang
gelombang
(nm)
2

656.3 486.1 434.1 410.2 397.0 388.9 383.5 364.6
warna merah cyan biru violet ultraviolet ultraviolet ultraviolet ultraviolet

Merah akrab H-alpha garis spektrum gas hidrogen, yang merupakan transisi dari n = 3 shell
ke shell Balmer seri n = 2, adalah salah satu warna mencolok alam semesta. Ini menyumbang
garis merah cerah untuk spektrum emisi nebula atau ionisasi, seperti Nebula Orion , yang
sering H II daerah ditemukan di daerah membentuk bintang.






C. Tingkat-Tingkat Energi Inti
Struktur kulit atom didapatkan dari suatu deret pendekatan yang berurutan. Pertama kita
asumsikan bahwa tingkat-tingkat energi untuk suatu inti bermuatan Ze telah terisi penuh oleh
elektron-elektron Z dan seolah-olah tidak terjadi interaksi satu dengan yang lain. Kemudian
dibuat koreksi untuk menghitung efek-efek interaksi yang terjadi. Efek utama, yang
menghasilkan pendekatan pertama terhadap tingkat-tingkat kulit, memunculkan suatu
keadaan bahwa secara rata-rata elektron bergerak independen di dalam medan Coulomb inti.
Jika pendekatan yang sama digunakan untuk mengembangkan gambaran kulit inti, potensial
yang berbeda harus digunakan untuk merepresentasikan gaya-gaya inti. Salah satu
pendekatannya adalah dengan megasumsikan bahwa nukleon-nukleon bergerak di dalam
suatu rata-rata potensial osilator harmonik.

Setelah dihitung dengan mekanika kuantum, maka tingkat-tingkat energinya diberikan oleh:







D. Teori Peluruhan Alfa
Peluruhan alfa merupakan salah satu peristiwa efek trobosan (tunneling
effect), seperti dibahas dalam mekanika kuantum.
Diasumsikan dua netron dan dua proton yang berada dalam inti membentuk
partikel alfa. Dua proton dan dua netron ini bergerak terus di dalam inti, yang kadang-
kadang bergabung dan terkadang berpisah. Di dalam inti partikel alfa terikat oleh
gaya inti yang sangat kuat. Tetapi jika partikel alfa inti bergerak lebih jauh dari jari-
jari inti ia akan segera merasakan tolakan gaya Coulomb.





Gambar 5.1 Potensial Inti dan Proses Efek Trobosan Oleh Partikel Alfa
Tinggi potensial halang dalam inti berat sekitar 30 MeV sampai 40 MeV,
sementara partikel alfa hanya memiliki energi sekitar 4 sampai 8 MeV. Jadi, secara
klasik partikel alfa tidak akan mengkin menerobos potensial Coulomb yang begitu
besar.
Namun, dalam mekanika kuantum, penerobosan seperti itu diijinkan. Terdapat
peluang partikel alfa untuk menerobos “dinding yang begitu tebal dan kuat”
Probabilitas persatuan waktu λ .bagi partikel alfa untuk muncul adalah
probabilitas menerobos potensial halang dikalikan banyaknya partikel alfa menumbuk
penghalang per detik dalam usahanya untuk keluar. Jika partkel alfa bergerak dengan
laju ν di dalam sebuah inti berjari-jari R, maka selang waktu yang dibutuhkan untuk
menumbuk penghalang bolak-balik dalam inti sebesar 2R/v . Inti berat nilai R sekitar
6 fm, maka partikel alfa menumbuk dinding inti berat sebesar 10
22
kali per detik.
Taksiran kasar probabiltas peluruhan alfa, berdasarkan mekanika kuantum
adalah


Dengan , VB merupakan tinggi maksimum
penghalang atau merupakan energi Coulomb partikel alfa pada permukaan inti atom,
yang besarnya . Jika
persamaan diatas dihitung, maka akan didapatkan nilai antara 10
5
/s hingga 10
-21
/s,
lumayan sama dengan hasil eksperimen.
Berdasarkan data eksperimen, usia paro peluruhan alfa ada ketergantungan
dengan energi artikel alfa. Semakin besar energi partikel alfa, waktu paro nya semakin
cepat dan sebaliknya.
Tabel 5.1 Hubungan Energi Kinatik Alfa Dengan Waktu Paro



































PELURUHAN BETA ( β)






5
BAHASAN
PELURUHAN BETA ()
PENDAHULUAN
Peluruhan beta terjadi pada inti tidak stabil yang relatif ringan. Dalam peluruhan ini
akan dipancarkan partikel beta yang mungkin bermuatan negatif (ß
-
) atau bermuatan positif

+
). Pada peluruhan beta, yang paling utama adalah sebuah netron meluruh menjadi sebuah
proton dan sebuah elektron :
Ketika proses peluruhan ini pertama kali dipelajari, partikel yang dipancarkan disebut
partikel beta, kemudian baru diketahui bahwa partikel itu adalah elektron. Elektron yang
dipancarkan pada peluruhan beta bukanlah elektron kulit atom dan juga bukan elektron yang
semula berada dalam inti. Tetapi elektron ini diciptakan oleh inti dari energi yang ada. Jika
ada beda energi diam sekurang-kurangnya m
e
c
2
maka penciptaan elektron sangat mungkin
terjadi. Partikel ß
-
identik dengan elektron sedangkan partikel ß
+
identik dengan elektron
yang bermuatan positif (positron).

A. Sifat-sifat zarah beta
a. Daya ionisasinya di udara 1/100 kali dari partikel alfa.
Ionisasi spesifik (I
s
) partikel beta di udara bervariasi dari 60 sampai 7.000 pasangan
ion per cm. Ionisasi spesifik bernilai besar untuk partikel beta berenergi rendah, selanjutnya
berkurang secara cepat untuk energi yang makin besar, hingga mencapai minimum pada
energi sekitar 1 MeV. Ionisasi spesifik ini berlahan-lahan naik untuk energi lebih besar dari 1
MeV. Persamaan ionisasi spesifik ditulis:

b. Jarak jangkauannya lebih jauh daripada partikel alfa , di udara dapat beberapa cm.
Perumusan matematis yang menunjukkan hubungan antara jangkauan d dan energi t (MeV)
adalah sebagai berikut:


Contoh :
Berapakah jangkauan linier partikel beta (dalam cm) dengan energi maksimum 2,86 MeV yang
dipancarkan dari inti yang melewati aluminum
56
25
Mn.
Jawab :


c. Kecepatan partikel ß berkisar antara 1/100 hingga 99/100 kecepatan cahaya.
d. Karena sangat ringan, maka partikel ß mudah sekali dihamburkan jika melewati medium.
e. Partikel ß akan dibelokkan jika melewati medan magnet atau medan listrik.
B. Teori Peluruhan Beta
Dalam peluruhan sinar beta, terdapat 3 jenis proses dalam peluruhan sinar beta
tersebut, yakni, (i) Peluruhan inti akibat emisi elektron, disimbolkan sebagai β- , (ii)
Peluruhan inti akibat emisi positron, disimbolkan sebagai β+ , dan yang terakhir (iii)
Penangkapan electron inti oleh inti yang disebut dengan penangkapan electron. Semua 3 jenis
proses yang termasuk dalam proses peluruhan beta sering disebut dengan perubahan isobar
karena semua proses tersebut tidak membuat perubahan dalam nomor massa A, yakni
perubahan nomor massa sama dengan nol. Tetapi selalu terjadi peristiwa yang mengakibatkan
perubahan dalam muatan inti. Karena sebuah inti selalu terdiri dari neutron dan proton, maka
konservasi perubahan listrik yang dibutuhkan dapat diambil dari proses emisi β- , sebuah
neutron yang ada pada inti dikonversikan menjadi sebuah proton. Ketika inti radioaktif
mengalami peluruhan beta, maka anak inti memiliki jumlah yang sama dengan nukleon
seperti inti sebelumnya.
Pada diagram N-Z, peluruhan ß
-
terjadi bila nuklida tidak stabil berada di atas kurva
kestabilan sedangkan peluruhan ß
+
terjadi bila nuklidanya berada di bawah kurva kestabilan.










(1). Peluruhan ß
-

Dalam proses peluruhan ß
-
terjadi perubahan neutron menjadi proton di dalam inti
atom sehingga proses peluruhan ini dapat dituliskan sebagai berikut:
n ÷ p + e
-
Q = + 0,78 Mev
t γ
o
e N N
÷
=
t γ
o
e A A
÷
=
(2). Peluruhan ß
+
Dalam proses peluruhan ß
+
terjadi perubahan proton menjadi neutron di dalam inti
atom sehingga proses peluruhan ini dapat dituliskan sebagai berikut :
n ÷ p + e
+
Q = - 1,80 Mev
(3). Tangkapan elektron ( Electron Capture)
Salah satu proses peluruhan inti adalah tangkapan elektron (Electron capture, EC). Proses
reaksinya adalah p Di sini sebuah proton menagkap elektron dari orbitnya beralih menjadi
sebuah netron ditambah sebuah neutrino. Elektron yang ditangkap ini adalah elektron
terdalam sebuah atom, dan proses ini dicirikan dengan kulit asal elektronnya: tangkapan kulit
K, kulit L, dan seterusnya. Tangkapan elektron ini tidak terjadi pada proton bebas, tetapi
hanya proton yang ada di dalam inti.
Persamaan peluruhan ini dapat di tuliskan sebagai berikut :
p + e
-
÷ n Q
EC
= - 0,78 Mev
Selanjutnya ada beberapa point yang perlu diketahui dalam peristiwa peluruhan Beta
yaitu :
(1) Peluruhan dari keadaan tereksitasi adalah mengikuti hukum eksponensial :
atau
No : Ao ; adalah banyaknya inti yang belum meluruh ; besar aktivitas radiasi
mula-mula yaitu pada t = 0 s
Nt ; At adalah sisa inti setelah meluruh ; besar aktivitas radiasi setelah
peluruhan selama t = t s
γ : adalah konstanta peluruhan (s-1)
t ; adalah lamanya peristiwa peluruhan
(2) Konstanta peluruhan melibatkan perhitungan dari sebuah momen dipol listrik , muatan
bergerak dalam atom dapat menghasilkan radiasi elektromagnetik.
(3) Konstanta peluruhan tergantung pada energi yang tersedia untuk proses radiasi
(4) Transisi dapat diklasifikasikan menurut tingkat energi terlarang . konstanta peluruhan
lebih kecil dari orde ( r/ λ)
2
.
(5) Pada aturan seleksi menentukan "tingkat terlarang " suatu radiasi melibatkan momentum
sudut dan paritas menyatakan ciri khas keadaan akhir dari sistem.
Perlu diketahui massa proton dan neutron berbeda , perkiraan Bethe tentang waktu hidup
dari neutron bebas adalah sekitar 15 menit .


C. Neutrino
Dari eksperimen yang telah dilakukan berkaitan dengan peluruhan beta ini, yaitu:

1. Spin intrinsik proton , netron dan elektron masing-masing bernilai ½. Jika terjadi
peluruhan netron (spin ½), gabungan spin proton dan elektron hasil peluruhan bisa
sejajar (spin total = 1) atau berlawanan (spin total 0), dan tidak ada kemungkinan
spin totalnya ½. Oleh karena itu, proses peluruhan ini tampaknya melanggar hukum
kekekalan momentum sudut dan energi .

2. Persoalan energi beta. Dari pengukuran elektron yang dipancarkan didapatkan
bahwa spektrum energinya kontinyu dari 0 hingga nilai maksimum K
e
(max) .
Menurut perhitungan dalam peluruhan netron, nilai . Q = ( m
n
-m
p
-m
e
) c
2
= 0,782
Mev . Persoalan distribusi energi
yang kontinyu ini (karena adanya beberapa energi yang hilang), dicoba dipecahkan
oleh para fisikawan eksperimen sebelum tahun 1930, tapi semuanya tidak berhasil.







Gambar : Grafik Distribusi Energi Partikel Beta
Pemecahan terhadap fenomena yang tampak melanggar hukum kekekalan
momentum sudut dan energi ini ditemukan oleh Wolfgang Pauli. Ia mengusulkan bahwa ada
partikel ketiga yang dipancarkan pada peluruhan beta ini. Partikel ketiga ini bermuatan
elektrik nol dan memiliki spin ½. Hilangnya energi ini tidak lain adalah energi yang diambil
partikel ini. Partikel ini tidak tidak bermassa, tidak terlihat dan bergerak dengan kecepatan
cahaya. Empat tahun kemudian, Enrico Fermi menamakan partikel ini, neutrino ( artinya
“little neutral one”). Tahun 1956 Reines dan Cowan menemukan neutrino dalam eksperimen
di dalam reaktor nuklir (Reines meraih hadiah nobel fisika tahun 1995). Neutrino
dilambangkan ν . Neutrino ini juga memiliki anti partikel yang dinamakan antineutrino (ν).
Dengan demikian proses peluruhan beta secara lengkap adalah:
(1) Peluruhan Beta Negatif (ß
-
)

Apabila terjadi pada suatu inti atom dengan Z proton dan N neuton mengalami peluruhan
beta negatif maka reaksinya adalah :


Contoh :


(2) peluruhan Beta

Positif / Positron (ß
+
)


Apabila terjadi pada suatu inti atom dengan Z proton dan N neuton mengalami peluruhan
beta negatif maka reaksinya adalah :


Contoh :



(3) tangkapan tangkapan elektron ( EC) :
Persamaan reaksinya :


Contohnya :
K
40
19
+ e
-
÷ Ar
40
18
+ ν



D. SPEKTRUM ZARAH BETA (  )
Spektrum energi zarah ß (elektron dan positron) bersifat kontinu, seperti ditampilkan
pada Gambar 1, yang berarti bahwa besarnya energi mempunyai rentang dari harga terkecil
tertentu sampai harga terbesar tertentu. Hal ini pertama kali ditemukan oleh Chadwick pada
tahun 1914.
Pada tahun 1927, C.D. Ellis dan W.A. Wooster memasukkan RaE (Bi-210) ke dalam
pengukur panas, dan mengukur energi semua radiasi yang mengandung partikel ß yang
dipancarkan. Hasilnya menunjukkan bahwa besarnya energi 1 inti atom RaE yang
dipancarkan rata-rata sebesar 350 ± 40 keV. Besarnya energi ini lebih kecil dari nilai
maksimum spektrum energi partikel ß yang dipancarkan oleh RaE, yaitu sebesar 1050
keV, tetapi hampir sama dengan nilai rata-rata spektrum
yaitu 390 ± 40 keV. Dengan kenyataan ini, dapat disimpulkan bahwa partikel ß
yang dipancarkan mempunyai spektrum energi yang kontinu.








Gambar-1

Energi radiasi ß (Q ) adalah energi gerak dari elektron dan neutrino.
Q = Ee + Eν (1)
Ee dan Eν dari masing-masing partikel ß tidak selalu sama, dan seperti
ditampilkan pada Gambar 1, Ee akan mencapai maksimum pada waktu Eν = 0.
- Peluruhan beta terjadi pada sebuah inti atom. Pada saat pemancaran e
-
, sebuah inti
atom dengan Z proton dan N netron meluruh ke inti atom lain dengan Z + 1 proton
dan N – 1 netron.

Nilai Q dari peluruhan ini, dihitung dengan mengurangi massa-massa elektron (Zm
e
)


Massa elektron saling menghapuskan dalam perhitungan Q. Energi yang dilepas
dalam peluruhan ini sebagai energi kinetik antineutrino, energi kinetik elektron
dan sejumlah kecil energi kinetik inti. Elektron memiliki energi kinetik
maksimum jika energi antineutrino hampir nol.
- Sedangkan dalam pemancaran,proton inti berubah menjadi netron. Reaksinya e
+
dapat digambarkan

Nilai Q pada proses ini


- Sedang untuk tangkapan elektron, reaksinya

Dan nilai Q-nya



Contoh :
Berapakah energi maksimum elektron yang teremisi dari peluruhan e
-
di dalam H
Jawab :
Reaksi peluruhan :



Energi kinetik inti He bisa diabaikan karena terlalu kecil sehingga E
e
terjadi pada saat
E
ν
= 0, maka K
e
= 0,0186 MeV .











PELURUHAN GAMMA ( γ)








6
BAHASAN
PELURUHAN GAMMA

Menyusul peluruhan alfa dan beta, inti akhir dapat berada pada suatu keadaan eksitasi.
Seperti halnya atom, inti akhir itu akan mencapai keadaan dasar setelah memancarkan satu
atau lebih foton, yang dikenal dengan sinar gamma inti. Energi tiap foton adalah beda antara
energi antara keadaan asal dan akhir inti, dikurangi pula dengan sejumlah koreksi kecil bagi
energi pental inti. Energi-energi ini khasnya berada dalam rentang 100 keV hingga beberapa
MeV. Inti dapat pula dieksitasikan dari keadaan dasar ke duatu keadaan eksitasi dengan
menyerap foton dengan energi yang tepat, dalam proses serupa dengan penyerapan resonans
oleh keadaan-keadaan atom.










Gambar di atas memperlihatkan suatu diagram tingkat energi yang khas dari keadaan
eksitasi inti dan beberapa transisi sinar gamma yang dapat dipancarkan. Usia-paruh khas bagi
tingkat eksitasi inti adalah 10
-9
hingga 10
-12
s, dengan umur yang relative pendik terhadap
peluruhan gamma. Adakalanya perhitungan terinci menghasilkan nilai usia paruh yang sangat
lama, beberapa jam atau bahkan hari. Keadaan inti yang bersifat seperti ini dikenal dengan
keadaan isomeric atau isomer.
Kajian pemancaran sinar gamma inti merupakan alat penting bagi para fisikawan inti.
Energi sinar gamma dapat diukur dengan ketelitian yang tinggi, yang memberikan suatu cara
ampuh bagi kita untuk menyimpulkan energi berbagai keadaan eksitasi inti.
Dalam menghitung energi partikel alfa dan beta yang dipancarkan pada peluruhan
radioaktif, kita telah menganggap bahwa sinar gamma dipancarkan. Jika ada sinar gamma
yang dipancarkan, maka energi yang tersecia (nilai Q) harus dibagi bersama antara partikel
dan sinar gamma.


|
-
|
-
¸
1

¸
2

¸
3


1,088 MeV
0

0,412 MeV
A. INTERAKSI SINAR GAMMA DENGAN MATERI
Tiga cara utama sinar-x dan sinar gamma dapat kehilangan energinya ketika melewati
materi, yaitu :
1. Efek fotolistrik. Foton datang mentransfer seluruh energinya pada electron atomic
material penyerap
2. Hamburan Compton. Foton datang memberikan sebagian energinya pada electron atomik;
foton baru yang muncul memiliki frekuensi lebih rendah.
3. Produksi pasangan. Foton datang yang berenergi sekurang-kurangnya 1,02 MeV (karena
m
0
c
2
untuk electron ialah 0,51 MeV) dapat melakukan materialisasi menjadi pasangan
electron-positron ketika melewati dekat inti; kehadiran inti diperlukan supaya kekelan
momentum dipenuhi.


Dalam semua kasus itu energi foton ditransfer pada electron yang diikuti dengan
kehilangan energi terutama disebabkan oleh proses eksitasi atau ionisasi atom dalam
penyerap. Pada energi foton yang rendah efek fotolistrik merupakan mekanisme utama dari
kehilangan energy. Pentingnya efek fotolistrik berkurang dan bertambahnya energy, diganti
oleh hamburan Compton. Lebih beras nomor atomic penyerapna, lebih tinggi pula energy
ketika efek fotolistrik memegang peranan penting. Dalam unsur ringan, hamburan Compton
berperan utama pada energy foton beberapa puluh keV, sedangkan pada unsur berat peranan
utamanya baru terlihat pada energy hampir 1 MeV.
Produksi pasangan peluangnya lebih meningkatt lebih besar energinya dari energy
ambang 1,02 MeV. Lebih besar nomor atomic penyerapnya, lebih rendah energi ketika
produksi pasangan mengambil alih mekanisme utama dari kehilangan energi oleh sinar
gamma. Dalam unsur terberat energy persilangan ini ialah sekitar 4 MeV. Jadi sinar gamma
dalam daerah energy yang bisa terjadi dalam peluruhan radioaktif berinteraksi dengan materi
terutama melalui hamburan Compton.

B. EFEK FOTOLISTRIK
Dalam eksperimennya, Hertz memperhatikan bahwa latu pada celah transmitter terjdi
bila cahaya ultra-ungu diarahkan pada salah satu bola logamnya. Ia tidak melanjutkan
percobaan tersebut, tetapi ahli fisika lainnya meneruskan eksperimen tersebut. Mereka
menemukan bahwa penyebabnya adalah electron yang terpancar bila frekuensi cahaya cukup
tinggi. Gejala ini dikenal dengan efek fotolistrik. Ini merupakan salah satu ironi sejarah
bahwa kerja yang sama untuk menampilkan cahaya itu terdiri dari gelombang
elektromagnetik, juga dijelaskan bahwa petunjuk sebelumnya bukanlah merupakan cerita
keseluruhan.

Gambar di atas memberikan ilustrasi jenis alat yang dipakai dalam eksperimen serupa
itu. Tabung yang divakumkan berisi dua electrode yang dihubungkan dengan rangkaian
eksternal, dengan dua keeping logam yang permukaannya mengalami iradasi yang dipakai
sebagai anode. Sebagian daeri fotoelektron yang muncul dari permukaan mengalami radiasi
mempunyai energy yang cukup untuk mencapai katode walaupun muatannya negative, dan
electron srupa itu membentuk arus yang dapat diukur oleh ammeter dalam rangkaian itu.
Ketika potensial perintang V ditambah, lebih sedikit electron yang mencapai katode dan
arusnya menurun. Akhirnya, ketika V sama dengan atau melebihi suatu harga V
o
yang
besarnya dalam orde beberapa volt, tidak ada electron yang mencapai katode dan arusnya
terhenti.
Terdapatnya efek fotolistrik tidak mengherankan, kita ingat bahwa gelombang cahaya
membawa energy, dan sebagian energy yang diserap oleh logam dapat terkonsentrasi pada
electron tertentu dan muncul kembali sebagai energy kinetik. Jika kita memaksa data yang
ada lebih teliti, kita akan mendapatkan bahwa efek fotolistrik tidak dapat ditafsirkan
sedemikian sederhana.
Salah satu sifat khususnya menimbulkan pertanyaan pengamat ialah distribusi energy
electron yang dipancarkan (yang disebut fotoelektron), ternyata tak bergantung dari intensitas
cahaya. Berkas cahaya yang menghasilkan fotoelektron lebih banyak daripada berkas yang
lemah berfrekuensi sama, tetapi electron rata-rata sama saja. Dan juga dalam batas ketelitian
eksperimen (10
-9
s) tidak terdapat kelambatan waktu antara datangnya cahaya pada
permukaan logam dan terpancarnya electron. Pengamatan serupa itu tidak dapat dimengerti
dengan memaknai teori elektromagnetik cahaya.
Menurut teori gelombang cahaya, sebuah atom akan menyerap energy dari gelombang
electromagnet datang yang sebanding dengan luasnya yang menghadap ke gelombang
datang. Dan sebagai tanggapan terhadap medan elektrik gelombang, electron atom akan
bergetar, hingga tercapai cukup energy untuk melepaskan sebuah electron dari ikatan dengan
atomnya. Penambahan kecemerlangan sumber cahaya memperbesar laju penyerapan energy,
karena medan elektriknya bertambah, sehingga laju pemancaran electron juga akan
bertambah, yang sesuai dengan hasil pengamatan percobaan. Tetapi, penyerapan ini terjadi
pada semua panjang gelombang, sehingga keberadaan panjang gelombang pancung sama
sekali bertentang dengan gambaran gelombang cahaya. Panjang gelombang yang lebih besar
daripada ì
c
pun, teori gelombang mengatakan bahw seharusnya masing mungkin bagi suatu
gelombang electromagnet memberikan energy yang cukup guna melepaskan electron.
Cahaya yang jatuh di permukaan zat natrium, pada gambar di atas memiliki dengan
arus fotolistrik terdeteksi jika energy elektromagnetik 10
-6
W/m
2
, terserap oleh permukaan.
Sekitar 10
19
atom terdapat pada lapisan natrium setebal 1 atom yang luasnya 1 m
2
, sehingga
jika kita anggap cahya datang diserap pada lapisan teratas daeri atom-atom natrium, masing-
masing atom akan menerima energy rata-rata dengan kelajuan 10
-25
W. Pada laju ini 1,6 x 10
6

s – sekitar dua minggu diperlukan oleh sebuah atom untuk mengumpulkan energy sekitar 1
eV energy yang biasa dimiliki fotoelektron, dan jika kita memasukkan beberapa elektronvolt
yang diperlukan untuk menarik elekstron ke luar dari permukaan natrium, waktu yang
diperlukan menjadi sekitar 2 bulan. Dalam waktu maksimum yang diperbolehkan 10
-9
s, teori
elektromagnetik menyatakan bahwa atom natrium rata-rata hanya mengumpulkan 10
-15
eV
untuk diberikan pada satu elektronnya.
Sama anehnya bila dipandang dari teori gelombang ialah fakta bahwa energy
fotoelektron bergantung pada frekuensi cahaya yang dipakai, sebagaimana yang dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.




Pada frekuensi di bawah frekuensi kritis yang merupakan karakteristik dari logam,
tidak terdapat electron apapun yang dipancarkan. Di atas frekuensi ambang ini fotoelektron
mempunyai selang energy dari 0 sampai suatu harga maksimum tertentu, dengan harga
maksimum ini bertambah secara linear terhadap frekuensi. Frekuensi yang lebih tinggi
menghasilkan energy fotoelektron maksimum yang lebih tinggi pula. Jadi cahaya biru yang
lemah menimbulkan electron dengan energy lebih tinggi daripada yang ditimbulkan oleh
cahaya merah yang kuat, walaupun cahaya merah menghasilkan jumlah yang lebih besar.
Gambar di bawah ini merupakan plot energy fotoelektron maksimum K
maks
terhadap
frekuensi v dari cahaya yang datang untuk beberapa eksperimen. Jelaslah bahwa hubungan
antara K
maks
dan frekuensi v mengandung tetapan pembanding yang dapat dinyatakan dalam
bentuk
K
maks
= h (v - v
0
) = hu - hv
0
……………….. (1)

Disini v
0
menyatakan frekuensi ambang, di bawah frekuensi tersebut tidak terdapat
pancaran foto dan h menyatakan tetapan. Penting untuk diperhatikan harga h adalah 6,626 x
10
34
Js selalu sama, walaupun v
0
berubah untuk logam yang berlainan.
Menurut Einstein, tiga suku dalam persamaan (1) dapat ditafsirkan sebagai berikut
K
maks
= energy fotoelektron maksimum
hv = isi energy dari masing-masing kuantum cahaya datang
hv
0
= energy minimum yang diperlukan untuk melepaskan sebuah electron dari
permukaan logam yang disinari
Harus ada energy minimum yang diperlukan oleh electron untuk melepaskan diri dari
permukaan logam, jika tidak demikian, tentu electron akan terlepas walaupun tidak ada
cahaya yang datang (gambar 3). Energy hv
0
merupakan karakteristik dari permukaan itu yang
disebut fungsi kerja. Jadi persamaan (1) menyatakan bahwa
Energy kuantum = energy electron maksimum + fungsi kerja permukaan
Ada beberapa alsan yang memungkinkan mengapa tidak semua fotoelektron
mempunyai energy yang sama sekalipun frekuensi cayaha yang digunakan. Misalnya, tidak
semua energy foton hv bisa diberikan pada sebuah electron, dan suatu electron mungkin akan
hilang dari energy awalnya dalam interaksinya dengan electron lainnya di dalam logam
sebelum ia lenyap dari permukaan.







Gambar 3

C. HAMBURAN COMPTON
Menurut teori kuantum cahaya, foton berlaku sebagai partikel, hanya foton tidak
mempunyai massa diam. Jika hal ini benar maka harus bisa dianalisis tumbukan antara foton
dengan electron, misalnya, dengan cara yang sama seperti tumbukan bola billiard dianalisis
dalam mekanika pendahuluan.
Gambar 4 menunjukkan bagaimana tumbukan serupa itu digambarkan, dengan foton
sinar-x menumbuk electron (yang mula-mula dalam keadaan dian terhadap sistem koordinat
laboratorium) dan kemudian mengalami hamburan dari arahnya semula sedangkan
electronnya menerima impuls dan mulai bergerak.

Gambar 4
Dalam tumbukan ini foton dapat dipandang sebagai partikel yang kehilangan seumlah
energy yang besarnya sama dengan energy kinetic K yang diterima oleh electron, walaupun
sebenarnya kita mengamati dua foton yang berbeda. Jika foton semula mempunyai frekuensi
v, maka foton hambur mempunyai frekuensi yang lebih rendah v’, sehingga
Kehilangan energy foton = energy yang diterima electron
hv - hv’ = K ……… (2)
Momentum partikel tak bermassa berkaitan dengan energy menurut rumus E = pc.
Karena energy foton ialah hv, momentumnya adalah
…………………. (3)
Momentum, tidak seperti energy, merupakan kuantitas vector yang mempunyai arah
dan besaran, dan dalam tumbukan momentum harus kekal dalam masing-masing sumbu dari
kedua sumbu yang saling tegak lurus. (Bila lebih dari dua benda yang bertumbukan, tentu
saja momentum harus kekal pada masing-masing sumbu dari ketiga sumbu yang saling tegak
lurus). Arah yang dipilih di sini ialah arah foton semula dan satu lagi tegak lurus pada bidang
yang mengandung electron dan foton hambur.
Momentum foton semula ialah hv/c, momentum foton hambur ialah hv’/c, dan
momentum electron awal sector akhir ialah, berurutan 0 dan p. Dalam arah foton semula
Momentum awal = momentum akhir
= …………………. (4)
Dan tegak lurus pada arah ini
Momentum awal = momentum akhir
0 = ……………………(5)
Sudut | menyatakan sudut antara arah mula-mula dan arah foton hambur, dan u ialah
sudut antara arah foton mula dan arah electron yang tertumbuk. Dari persamaan (2), (4), dan
(5) kita mendapatkan rumus yang menghubungkan beda panjang gelombang antara foton
mula dan foton hambur dengan sudut | antara arah masing-masing, kedua besaran itu
merupakan kuantitas yang dapat diukur.
Langkah awalnya ialah mengalikan persamaan (4) dan (5) dengan c dan
menuliskannya kembali sebagai berikut.
pc cos  = hv – hv’ cos 
pc sin  = hv’ sin 
Dengan mengkuadratkan masing-masing persamaan ini dan menambahkannya, sudut
u dapat dieliminasi, tinggi
p
2
c
2
= (hv)
2
(hv’) cos +(hv’)
2
………………………. (6)
kemudian kita samakan kedua rumus untuk energy total partikel
E = K + m
0
c
2

E =
=
= K + 2m
0
c
2
K
Karena K = hv – hv’, maka
p
2
c
2
= (hv)
2
– 2 (hv)(hv’) + (hv’)
2
+ 2m
0
c
2
(hv-hv’) …………………………… (7)
substitusikan harga untuk p
2
c
2
ini dalam persamaan (6), akhirnya kita mendapatkan :
2m
0
c
2
(hv-hv’) = 2 (hv) (hv’) (1 – cos  )…………………………………………(8)
Hubungan ini akan lebih sederhana jika dinyatakan dalam panjang gelombang sebagai
pengganti frekuensi. Bagi persamaan (8) dengan 2h
2
c
2
,

dan karena v/c = 1/ dan v/c’ = 1/’,

…………………… (9)
Persamaan (9) merupakan persamaan yang diturunkan oleh Arthur H. Compton pada awal
tahun 1920, dan gejala yang diperikannya yang pertama kali diamatinya, dikenal sebagai efek
Compton. Gejala ini menunjukkan bukti kuat yang mendukung teori kuantum radiasi.
Persamaan (9) memberikn perubahan panjang gelombang yang diharapkan terjadi
untuk foton yang terhambur dengan sudut | oleh partikel yang bermassa diam m
0
; dan
perbedaan ini tidak bergantung dari panjang gelombang foton datang ì. Kuantitas
………………. (10)
disebut panjang gelombang Compton dari partikel penghambur; Untuk electron besarnya
ì
c
= 2,426 x 10
-12
m, dengan 2,246 pm (1 pm = 1 picometer = 10
-12
m). Dalam ì
c
persamaan
(9) menjadi
…………… (11)
Dari persamaan (11) dapat dilihat bahwa perubahan panjang gelombang terbesar yang dapat
terjadi ialah pada | = 180
o
, ketika itu perubahan panjang gelombang menjadi dua kali
panjang gelombang Compton ì
c
. Karena panjang gelombang Compton untuk electron ialah
ì
c
= 2,426 pm, dan lebih kecil lagi untuk partikel lain karena massanya lebih besar, maka
perubahan panjang gelombang maksimum dalam efek Compton adalah 4,852 pm. Perubahan
sebesar itu atau lebih kecil lagi hanya bisa teramati untuk sinar-x karena pergeseran panjang
gelombang cahaya tampak kurang dari 0,01 persen dari panjang gelombang awal sedangkan
untuk sinar-x dengan ì = 0,1 nm, bearan itu menjadi beberapa persen.
Demonstrasi eksperimental efek Compton dapat dilakukan secara langsung. Pada
gambar 5 di bawah ini, seberkas sinar-x dengan panjang gelombang tunggal yang diketahui
diarahkan pada target (sasaran), dan panjang gelombang sinar-x hambur juga ditentukn untuk
berbagai sudut |.

Gambar 5
Hasilnya ditunjukkan pada gambar 6; hasil ini menunjukkan pergeseran gelombang seperti
yang diramalkan pada persamaan (9), tetapi pada masing-masing sudut sinar-x hambur
termasuk juga sinar-x dengan panjang gelombang awal. Hal ini tidak terlalu sukar untuk
dimengerti. Dalam penurunan persamaan (9) dianggap bahwa partikel hambur dapat bergerak
bebas, suatu anggapan yang nalar, karena banyak electron dalam materi terikat lemah pada
atom induknya.

Gambar 6
Namun, ada electron lainnya yang terikat kuat dan jika electron ini ditumbuk oleh sebuah
foton, seluruh atom bergerak, bukan hanya electron tunggalnya. Dalam kejadian ini seperti
besar m
0
yang dipakai dalam persamaan (9) ialah massa seluruh atom yang besarnya
beberapa puluh kali besar dari massa elekron, sehingga hasil pergeseran Comptonnya
sedemikian kecil sehingga tidak terdeteksi.

PRODUKSI PASANGAN
Foton dapat menyerahkan seluruh atau sebagian energy hv pada sebuah electron.
Mungkin juga terjadi foton menjelma menjadi sebuah electron dan positron (electron positif),
suatu proses perubahan energy elektromagnetik menjadi energy diam. Pada peristiwa ini
seluruh energy foton hilang dan terdapat dua partikel yang massanya sama dengan electron
dengan massa electron, tetapi memiliki muatan positif. Proses ini merupakan contoh
penciptaan energy massa. Elektronnya tidak ada sebelum foton menumbuk atom.
Di sini tidak ada hukum kekekalan yang dilanggar bila pasangan electron positron
tercipta dekat inti atomic.

Gambar 7
Jumlah muatan electron (q = -e) dan positron (q = +e) adalah nol, seperti juga
muatan, energy total, termasuk energy massa dari electron dan positron sama dengan energy
foton; dan momentum linear kekal dengan pertolongan inti yang mengambil cukup banyak
momentum foton supaya proses itu terjadi, tetap karena massa relative sangat besar, inti
hanya menyerap bagian energy foton yang dapat diabaikan. (Energi dan momentum linear
tidak dapat keduanya kekal jika produksi pasangan terjadi dalam ruang hampa, sehingga
proses ini tidak terjadi disini.
Energy diam m
o
c
2
dari electron atau positron ialah 0,51 MeV; jadi produksi pasangan
memerlukan energy foton sekurang-kurangnya 1,02 MeV. Setiap tambahan energy foton
akan menjadi energy kinetic electron dan positron. Panjang gelombang foton maksimum
bersesuaian dengan itu ialah 1,2 pm. Gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang
sebesar itu disebut sinar gamma dan didapatkan di alam sebagai pancaran dari inti radioaktif
dan dalam sinar kosmik.
Kebalikan produksi pasangan terjadi bila positron berdekatan dengan electron dan
keduanya saling mendekati di bawah pengaruh gaya tarik-menarik dari muatan yang
berlawanan. Kedua partikel tersebut musnah pada saat yang sama dan massa yang musnah
tersebut terjadi energy foton dan sinar gamma tercipta :
e
+
+ e
-
  + 
Massa total positron dan electron setara dengan 1,02 MeV, dn foton berenergi hv = 0,51 MeV
ditambah dengan setengah kali energy partikel relative terhadap pusat massanya. Arah
penjalaran foton adalah sedemikian sehingga kekekalan energy dan momentum linear
terpenuhi, dan tak ada inti atau partikel lain diperlukan supaya peristiwa tersebut terjadi.

D. PENGUKURAN ENERGI GAMMA
Spektrometer Gamma-A Ray, atau (GRS), adalah alat untuk mengukur distribusi (atau
spektrum -lihat gambar ) dari intensitas radiasi gamma versus energi setiap foton . Sinar
Gamma merupakan radiasi elektromagnetik di pendek panjang gelombang , atau tinggi-
frekuensi , akhir elektromagnetik (EM) spektrum, yang berkisar dari sinar gamma (pendek)
radio (panjang). Studi dan analisis spektrum sinar gamma untuk penggunaan ilmiah dan
teknis disebut spektroskopi gamma, dan sinar gamma spektrometer adalah instrumen yang
mengamati dan mengumpulkan data tersebut. Karena energi dari masing-masing foton radiasi
EM sebanding dengan frekuensinya, sinar gamma memiliki energi yang cukup bahwa mereka
biasanya diamati dengan menghitung foton individu.
Atom inti memiliki struktur tingkat energi agak analog tingkat energi atom, sehingga
mereka dapat memancarkan (atau menyerap) foton energi tertentu, seperti halnya atom
lakukan, tapi pada energi yang ribuan sampai jutaan kali lebih tinggi daripada yang biasanya
dipelajari dalam spektroskopi optik. (Perhatikan bahwa panjang gelombang pendek energi
tinggi akhir, dari rentang energi spektroskopi atom (beberapa eV untuk beberapa ratus keV ),
umumnya disebut sinar X , tumpang tindih dengan ujung agak rendah kisaran sinar gamma
nuklir (~ 10 MeV untuk ~ 10 keV) sehingga terminologi yang digunakan untuk membedakan
sinar X dari sinar gamma dapat sewenang-wenang atau ambigu di wilayah tumpang tindih)
Seperti dengan atom., tingkat energi tertentu dari inti merupakan karakteristik dari setiap
spesies, sehingga foton energi dari sinar gamma yang dipancarkan, yang sesuai dengan
perbedaan energi inti, dapat digunakan untuk mengidentifikasi elemen tertentu dan isotop.
Membedakan antara gamma-sinar energi yang sedikit berbeda adalah suatu pertimbangan
penting dalam analisis spektra kompleks, dan kemampuan dari GRS untuk melakukannya
adalah dicirikan oleh instrumen resolusi spektral , atau keakuratan yang energi dari foton
masing-masing diukur. Semi-konduktor detektor, berdasarkan didinginkan germanium atau
silikon unsur mendeteksi, telah tak ternilai untuk aplikasi tersebut. Karena tingkat energi
spektrum inti biasanya mati di atas sekitar 10 MeV, sinar gamma instrumen mencari untuk
energi masih lebih tinggi umumnya hanya mengamati spektrum kontinum, sehingga resolusi
spektral moderat sintilasi (sering natrium iodida (NaI) atau iodida cesium, ( CSI)
spektrometer), sering cukup untuk aplikasi tersebut.
Sejumlah investigasi telah dilakukan untuk mengamati spektrum sinar gamma dari
Sun dan lain sumber astronomi , baik galaksi dan ekstra-galaksi. Para X-ray/Low-Energy
percobaan Gamma-ray Drive (A-4) pada HEAO 1 , Burst dan Percobaan Spektrometri
Transient (BATSE) dan OSSI (scintillation Percobaan Spektrometer Berorientasi) pada
CGRO , C1 germanium (Ge) gamma -ray instrumen di HEAO 3 , dan Ge spektrometer sinar
gamma (SPI) pada ESA INTEGRAL misi adalah contoh dari spektrometer kosmis, sementara
GRS pada SMM dan pencitraan Ge spektrometer pada satelit RHESSI telah dibuka untuk
pengamatan matahari.
Spektrometer sinar gamma telah banyak digunakan untuk analisis unsur dan isotop
tubuh pengap di Tata Surya , terutama Bulan dan Mars . Permukaan ini dikenakan pemboman
terus-menerus energi tinggi sinar kosmik, yang membangkitkan inti di dalamnya untuk
memancarkan sinar gamma karakteristik yang dapat dideteksi dari orbit. Jadi instrumen yang
mengorbit dapat pada prinsipnya peta distribusi permukaan elemen untuk seluruh planet.
Contohnya meliputi pemetaan 20 elemen diamati dalam eksplorasi Mars, asteroid Eros dan
Bulan . [1] Mereka biasanya berhubungan dengan detektor neutron yang dapat mencari air
dan es di tanah dengan mengukur neutron . Mereka mampu mengukur kelimpahan dan
distribusi dari sekitar 20 elemen utama dari tabel periodik, termasuk silikon , oksigen , besi ,
magnesium , potasium , aluminium , kalsium , belerang, dan karbon. Mengetahui apa elemen
berada pada atau dekat permukaan akan memberikan informasi rinci tentang bagaimana
tubuh planet telah berubah dari waktu ke waktu. Untuk menentukan susunan unsur dari
permukaan Mars, Mars percobaan menggunakan sinar gamma spektrometer dan dua detektor
neutron.
GRS data suplai instrumen pada distribusi dan kelimpahan unsur-unsur kimia,
sebanyak Lunar Prospector melakukan misi di bulan. Dalam hal ini, unsur kimia torium
dipetakan, dengan konsentrasi yang lebih tinggi ditunjukkan dengan warna kuning / oranye /
merah pada gambar di sisi kiri muncul di kanan.
Beberapa konstruksi counter sintilasi dapat digunakan sebagai spektrometer sinar
gamma. Energi foton gamma adalah dilihat dari intensitas dari flash dari sintilator , sejumlah
rendah energi foton yang dihasilkan oleh energi tinggi tunggal satu. Pendekatan lain
bergantung pada menggunakan detektor Germanium - kristal dari hyperpure germanium yang
menghasilkan pulsa sebanding dengan energi foton yang ditangkap, sedangkan lebih sensitif,
itu harus didinginkan ke suhu yang rendah, membutuhkan besar kriogenik aparat.
Laboratorium spektrometer genggam dan banyak gamma karena itu jenis sintilator, sebagian
besar dengan talium - doped natrium iodida , thallium-doped cesium iodida , atau, baru-baru,
serium doped bromida lantanum . Spektrometer untuk misi ruang angkasa sebaliknya
cenderung menjadi jenis germanium.
Bila terkena sinar kosmik (partikel bermuatan dalam ruang yang berasal dari bintang-
bintang, termasuk matahari kita), unsur-unsur kimia dalam tanah dan batuan memancarkan
tanda tangan unik diidentifikasi energi dalam bentuk sinar gamma. Spektrometer sinar
gamma melihat signature ini, atau energi, berasal dari elemen hadir dalam tanah target.
Dengan mengukur sinar gamma yang berasal dari tubuh sasaran, adalah mungkin
untuk menghitung kelimpahan dari berbagai unsur dan bagaimana mereka didistribusikan di
seluruh permukaan planet. Sinar gamma, yang dipancarkan dari inti dari atom , muncul
setajam garis emisi pada output spektrum instrumen. Sementara energi diwakili dalam
menentukan emisi yang unsur-unsur yang hadir, intensitas spektrum mengungkapkan
konsentrasi elemen. Spektrometer diharapkan untuk menambahkan signifikan terhadap
pemahaman tumbuh dari asal dan evolusi planet seperti Mars dan proses membentuk mereka
hari ini dan di masa lalu.

Masuk sinar kosmis - beberapa dari partikel energi tertinggi-bertabrakan dengan inti
atom dalam tanah. Ketika inti yang memukul dengan energi seperti, neutron dilepaskan, yang
tersebar dan berbenturan dengan inti lain. Inti mendapatkan "bersemangat" dalam proses, dan
memancarkan sinar gamma untuk melepaskan energi ekstra sehingga mereka dapat kembali
ke keadaan normal mereka beristirahat. Beberapa elemen seperti kalium, uranium , dan
thorium secara alami radioaktif dan mengeluarkan sinar gamma karena mereka peluruhan ,
tetapi semua elemen bisa senang dengan tabrakan dengan sinar kosmik untuk menghasilkan
sinar gamma. Para Hend dan Spektrometer Neutron pada GRS langsung mendeteksi neutron
tersebar, dan sensor gamma mendeteksi sinar gamma.
Dengan mengukur neutron, adalah mungkin untuk menghitung kelimpahan hidrogen,
sehingga menyimpulkan keberadaan air. Para detektor neutron sensitif terhadap konsentrasi
hidrogen dalam meter atas permukaan. Ketika sinar kosmik menghantam permukaan Mars,
neutron dan gamma-sinar keluar dari tanah. energi tertentu yang dihasilkan oleh hidrogen.
Karena hidrogen paling mungkin hadir dalam bentuk air es, spektrometer dapat mengukur
langsung jumlah es tanah permanen dan bagaimana perubahan dengan musim. Seperti sekop
virtual "menggali" permukaan, spektrometer akan memungkinkan para ilmuwan untuk
mengintip ke bawah permukaan yang dangkal ini Mars dan mengukur keberadaan hidrogen.
GRS akan memasok data yang sama dengan yang dari Lunar Prospector sukses misi,
yang mengatakan kepada kami berapa banyak hidrogen, dan dengan demikian air,
kemungkinan di Bulan. Spektrometer sinar gamma digunakan pada pesawat ruang angkasa
Odyssey terdiri dari empat komponen utama: sensor gamma kepala, spektrometer neutron,
detektor neutron energi tinggi, dan perakitan elektronik pusat. Kepala sensor dipisahkan dari
sisa pesawat ruang angkasa dengan ledakan 6,2 meter (20 kaki), yang diperpanjang setelah
Odyssey memasuki orbit pemetaan di Mars. Manuver ini dilakukan untuk meminimalkan
gangguan dari sinar gamma yang berasal dari pesawat ruang angkasa itu sendiri. Kegiatan
spektrometer awal, abadi antara 15 dan 40 hari, dilakukan sebuah kalibrasi instrumen
sebelum boom dikerahkan. Setelah sekitar 100 hari misi pemetaan, boom ditempatkan dan
tetap dalam posisi ini selama misi. Dua detektor neutron-neutron dan spektrometer neutron
energi tinggi detektor-sudah terpasang pada struktur pesawat ruang angkasa utama dan
dioperasikan terus-menerus sepanjang misi pemetaan.

Pada bulan Juli 2003, di sebuah konferensi di California, penemuan sejumlah besar air
di daerah yang luas Mars diumumkan. Mars memiliki cukup hanya es di bawah permukaan
untuk mengisi Danau Michigan dua kali. Dalam kedua belahan , dari 55 derajat lintang ke
kutub, Mars memiliki kepadatan tinggi es di bawah permukaan. Dekat dengan khatulistiwa,
hanya ada 2 sampai 10% air dalam tanah. Para ilmuwan percaya bahwa banyak air ini
terkunci dalam struktur kimia dari mineral. Tanah Liat dan sulfat mengandung air dalam
struktur mereka. Penelitian sebelumnya dengan spectroscopes inframerah telah memberikan
bukti sejumlah kecil air secara fisik kimia atau terikat. Para pendarat Viking terdeteksi tingkat
rendah air kimia terikat di tanah Mars. Hal ini diyakini bahwa meskipun permukaan atas
hanya berisi persen atau lebih dari air, es mungkin terletak hanya beberapa meter lebih dalam.
Beberapa daerah, Saudi Terra , Amazonis segi empat , dan segi empat Elysium mengandung
sejumlah besar air. Analisis data menunjukkan bahwa belahan bumi selatan mungkin
memiliki struktur berlapis. Kedua kutub menunjukkan terkubur es, tapi kutub utara telah
tidak dekat dengan itu karena ditutupi oleh karbon dioksida musiman (es kering). Ketika
pengukuran dikumpulkan, saat itu musim dingin di kutub utara. Instrumen kapal Mars
Odyssey hanya mampu mempelajari meteran atas atau lebih dari tanah. Perkiraan jumlah
total air yang mungkin terkubur di kisaran tanah sampai lapisan global 0,5 sampai 1,5 km
dalam.
Para pendarat Phoenix mengkonfirmasi temuan sebelumnya dari Mars Odyssey
dengan menemukan es beberapa inci di bawah permukaan dan es tersebut setidaknya 8 inci.
Ketika es terkena atmosfer Mars perlahan sublimates. Bahkan, beberapa es itu terungkap oleh
roket pendaratan pesawat itu.
Tak perlu dikatakan, penemuan Mars Odyssey air luas begitu banyak di Mars
menimbulkan harapan penemuan bentuk kehidupan masa lampau atau sekarang. Juga,
kolonis masa sekarang dapat yakin bahwa mereka dapat menemukan jumlah yang cukup air
untuk mendirikan sebuah peradaban.

E. KONVERSI ENERGI DALAM
Dalam proses konversi internal, fungsi gelombang dari sebuah elektron dalam kulit
menembus inti (yaitu ada kemungkinan terbatas elektron dalam sebuah s orbital atom yang
ditemukan dalam nukleus) dan ketika hal ini terjadi, pasangan elektron mungkin ke
bersemangat negara dan mengambil energi dari transisi nuklir secara langsung, tanpa
perantara sinar gamma yang diproduksi pertama.
Sebagai proses kuantum elektromagnetik, proses menyampaikan energi untuk
elektron dapat dilihat sebagai terjadi melalui suatu foton maya , tetapi dalam arti bahwa foton
yang terlibat dapat dianggap sebagai "sinar gamma virtual", yang tidak pernah muncul
kecuali sebagai fitur dari sebuah persamaan, daripada partikel secara langsung terukur.
Energi kinetik dari elektron yang dipancarkan adalah sama dengan energi transisi dalam
nukleus, dikurangi dengan energi ikat elektron.
Elektron konversi yang paling internal yang berasal dari kulit K (kedudukan 1s , lihat
elektron shell ), karena ini dua elektron memiliki probabilitas tertinggi yang ditemukan di
dalam nukleus. Lubang ini akan diisi dengan elektron dari salah satu kerang yang lebih tinggi
dan kemudian suatu karakteristik x-ray atau elektron Auger akan dipancarkan.
Internal konversi disukai ketika celah energi antara tingkat nuklir adalah kecil, dan
juga modus utama dari de-eksitasi untuk 0 + 0 + → (yaitu E0) transisi (yaitu, di mana inti
bersemangat mampu membebaskan diri dari energi tanpa mengubah momen listrik dan
magnetik dalam cara tertentu) dengan energi yang cukup untuk pembusukan oleh produksi
pasangan., but the multi-polarity rules for nonzero initial and final spin states do not
necessarily forbid the emission of a gamma ray in such a case. Ini adalah modus utama dari
de-eksitasi setiap kali keadaan awal dan akhir spin adalah sama, tetapi polaritas multi-aturan
untuk kedudukan awal dan akhir spin bukan nol tidak selalu melarang emisi sinar gamma
dalam kasus seperti itu.

Kecenderungan ke arah konversi internal dapat ditentukan oleh koefisien konversi
internal , yang secara empiris ditentukan oleh rasio emisi elektron tereksitasi dengan emisi
gamma yang dipancarkan keluar.

Kompetisi ini diukur dalam bentuk koefisien konversi internal yang didefinisikan
sebagai α = e / γ dimana e adalah elektron tingkat konversi dan γ adalah tingkat emisi sinar
gamma diamati dari inti peluruhan . Misalnya, dalam peluruhan dari sebuah keadaan
tereksitasi dari inti dari 125 I , 7% dari meluruh memancarkan energi sebagai sinar gamma,
sementara 93% melepaskan energi sebagai elektron konversi. Oleh karena itu, keadaan
tereksitasi dari
125 I memiliki koefisien konversi internal dari α = 13,6. Koefisien konversi internal diamati
untuk meningkatkan untuk meningkatkan nomor atom (Z) dan mengurangi energi sinar
gamma. Sebagai salah satu contoh, koefisien IC dihitung secara eksplisit untuk 55 Fe , 67 Ga
, 99m Tc , 111 Dalam , 113m In, 115m In, 123 saya, saya 125, 193m Pt , 201 Tl dan 203 Pb
oleh Howell (1992) menggunakan Metode Monte Carlo (untuk 55 Fe koefisien IC adalah
nol).

Energi dari sinar gamma yang dipancarkan dianggap sebagai ukuran yang tepat dari
perbedaan energi antara keadaan tereksitasi dari inti yang meluruh. Namun, hal ini tidak
benar dalam kasus elektron konversi. Energi dari sebuah elektron konversi diberikan sebagai
E = (E i - E f) - E B di mana E i dan E f adalah energi inti di negara-negara yang awal dan
akhir, masing-masing, sedangkan E B adalah energi ikat elektron.
Proses konversi internal juga tidak menjadi bingung dengan yang serupa efek
fotolistrik , yang juga mungkin terjadi dengan radiasi gamma yang terkait emisi elektron, di
mana sebuah foton gamma yang dipancarkan dari insiden inti berinteraksi dengan elektron,
mengusir elektron dari atom. Jadi, gamma efek fotolistrik emisi elektron juga dapat
menyebabkan kecepatan tinggi elektron akan dipancarkan dari atom radioaktif tanpa
peluruhan beta . Namun, dalam konversi internal, inti tidak memancarkan sinar gamma , dan
karenanya tidak membutuhkan perubahan momentum sudut atau saat listrik.

Juga, elektron dari efek fotolistrik menunjukkan gamma menyebar dalam energi,
tergantung pada seberapa banyak energi telah diberikan ke elektron dikeluarkan oleh sinar
gamma yang berinteraksi dengan itu-jumlah yang bervariasi tergantung pada sudut hamburan
foton gamma dari elektron (lihat hamburan Compton ). Selanjutnya, sinar gamma yang
dipancarkan masih dalam proses fotolistrik, tapi satu yang memiliki sebagian kecil dari
energi dari sinar gamma yang meninggalkan nukleus. Sebaliknya, dalam konversi internal,
seperti telah disebutkan, tidak ada sinar gamma yang dipancarkan sama sekali dan energi
elektron tetap pada nilai tunggal yang khas.

Elektron Auger , yang juga dapat diproduksi setelah konversi internal, muncul dari
suatu mekanisme yang berbeda dari konversi internal, tetapi analog untuk itu. Elektron
konversi internal timbul ketika sebuah medan dipol listrik yang intens di dalam nukleus
mempercepat elektron yang menembus inti, untuk menghapusnya dari atom. Elektron Auger
yang sama muncul ketika sebuah medan listrik yang dihasilkan dalam sebuah atom awan
elektron karena kehilangan elektron lain, dan bidang ini lagi menginduksi percepatan dan
penghapusan lain dari atom atom orbital elektron. Seperti elektron konversi internal, elektron
Auger juga muncul di puncak energi yang tajam.
Pada proses menangkap elektron (EC) juga melibatkan sebuah elektron shell dalam ,
yang dalam hal ini akan disimpan dalam inti (mengubah nomor atom) dan meninggalkan
atom (bukan inti) dalam keadaan tereksitasi. Atom dapat bersantai sinar-X dan emisi / atau
dengan emisi elektron Auger. Inti tidak stabil biasanya dapat pembusukan melalui kedua IC
dan proses EC.


F. TEORI PELURUHAN GAMMA
Peluruhan gamma adalah sebuah proses radioaktif di mana inti atom kehilangan
energi dengan memancarkan sinar gamma (aliran foton energi tinggi). Ketika sebuah elemen
mengalami peluruhan gamma nomor atom dan nomor massa tidak berubah. Peluruhan
gamma adalah satu dari tiga jenis utama dari peluruhan radioaktif. Dua lainnya adalah alpha
dan beta. Dalam peluruhan gamma, partikel yang dikenal sebagai sinar gamma yang
dipancarkan. Sinar gamma sebenarnya adalah foton energy tinggi, partikel analog gelombang
elektromagnetik.
Kita bisa mulai dengan mengatakan bahwa zat radioaktif sangat tidak stabil. Dengan
demikian, mereka berusaha untuk mencapai stabilitas dan dalam proses, menjalani apa yang
dikenal sebagai peluruhan radioaktif. Anda dapat memikirkan suatu zat radioaktif terdiri dari
inti yang sangat stabil (terdiri dari proton dan neutron). Sebenarnya inti ini yang mengalami
peluruhan radioaktif.
Ketika meluruh setiap inti tidak stabil, ia kehilangan sejumlah besar energi. Energi ini
bisa datang dalam bentuk baik partikel alfa (inti Helium), partikel beta (elektron atau
positron), atau partikel gamma (juga dikenal sebagai sinar gamma). Ketika sebuah partikel
gamma yang dipancarkan, maka peluruhan ini dikenal sebagai peluruhan gamma.
Sementara alfa dan beta meluruh terjadi karena ada neutron terlalu banyak
dibandingkan dengan proton atau proton terlalu banyak dibandingkan dengan neutron di
dalam inti (ini adalah mengapa inti tidak stabil), peluruhan gamma hanya terjadi karena inti
ini dalam daerah yang sanga kuat gerakannya, karenanya harus dalam keadaan yang sedikit
kuat gerakannya.
Ketika inti ini melompat ke keadaan kurang energik, ia melepaskan energi yang tidak
diinginkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang, seperti yang dinyatakan
sebelumnya, adalah sinar gamma. Di antara semua tiga partikel yang dipancarkan dalam
proses peluruhan radioaktif, partikel-partikel gamma yang paling menembus. Sementara
partikel alfa dapat dihentikan dengan selembar kertas dan partikel beta, oleh plat aluminium,
partikel gamma hanya dapat dihentikan oleh bahan padat yang tebal seperti timah.
Karena kemampuan penetrasi yang tinggi dari partikel nya yang dipancarkan,
peluruhan gamma dianggap sebagai ancaman terbesar di antara ketiga sinar radioaktif
tersebut. Zat radioaktif di laboratorium disimpan di dalam lemari Timbal-disegel. Beberapa
bahkan memiliki kamar Timbal dan disegel di laboratorium. Desain ini dibuat khusus untuk
tujuan mencegah sinar gamma dapat melewatinya.
Sinar gamma yang menyerang sel-sel manusia dapat mengeluarkan elektron dari atom
yang terdiri dari sel-sel karena properti ionisasi sinar '. Hal ini dapat meninggalkan atom
dengan muatan positif, menyebabkan itu untuk berinteraksi dengan atom lain di sampingnya
dan kemudian merusak sel.














BAHASAN






REAKSI NUKLIR






7
REAKSI NUKLIR
Reaksi nuklir adalah sebuah proses di mana dua nuklei atau partikel nuklir
bertubrukan, untuk memproduksi hasil yang berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya
sebuah reaksi dapat melibatkan lebih dari dua partikel yang bertubrukan, tetapi kejadian
tersebut sangat jarang. Bila partikel-partikel tersebut bertabrakan dan berpisah tanpa berubah
(kecuali mungkin dalam level energi), proses ini disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi.
Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi
nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan
energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan
inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang
bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi
sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Contoh reaksi fusi nuklir adalah reaksi yang terjadi di hampir semua inti bintang di
alam semesta. Senjata bom hidrogen juga memanfaatkan prinsip reaksi fusi tak terkendali.
Contoh reaksi fisi adalah ledakan senjata nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fisi nuklir adalah Plutonium dan Uranium
(terutama Plutonium-239, Uranium-235), sedangkan dalam reaksi fusi nuklir adalah Lithium
dan Hidrogen (terutama Lithium-6, Deuterium, Tritium).

1. ENERGETIKA DARI REAKSI NUKLIR
Untuk menghitung energi yang dihasilkan, perubahan massa isotop sebelum dan
sesudah reaksi nuklir diperhitungkan. Jumlah massa yang hilang, dikalikan dengan kuadrat
kecepatan cahaya; hasilnya sama dengan energi yang dilepaskan dalam reaksi itu.
massa isotop Lithium-6 : 6,015122795
massa isotop Deuterium : 2,0141017778
massa isotop Helium-4 : 4,00260325415

Lithium-6 + Deuterium → Helium-4 + Helium-4
6,015122795 + 2,0141017778 → 4,00260325415 + 4,00260325415
8,0292245728 → 8,0052065083

Massa yang hilang: 8,0292245728 - 8,0052065083 = 0,0240180645 u (0,3%
(dibulatkan)

E = mc
2

E = mc
2
= 1u x c
2

= 1,660538782×10
−27
kg x (299.792.458 m/s)
2

= 149241782981582746,248171448×10
−27
Kg m
2
/s
2

= 149241782981582746,248171448×10
−27
J
= 931494003,23310656815183435498209 ev
= 931,49 Mev (dibulatkan)
Jadi, massa 1u = 931,49 Mev

E = mc
2
= 1 Kg x c
2

= 1 kg x (299.792.458 m/s)
2

= 89875517873681764 Kg m
2
/s
2

= 89875517873681764 J
= 89,875 PJ (dibulatkan)
Jadi, massa 1 Kg = 89,875 PJ

Jadi energi yang dapat dihasilkan = 89,875 PJ/kg = 21,48 Mt TNT/kg
=149,3 pJ/u = 931,49 MeV/u

E = 0,0240180645 u x 931,49 MeV

E = 22,372586901105 MeV (dengan keakuratan 1%)
E = 22,4 Mev (dibulatkan)

Jadi, persamaan reaksinya:


6
Li + D ->
4
He (11.2 MeV) +
4
He (11.2 MeV)


6
Li + D -> 2
4
He + 22,4 MeV

massanya hilang sebanyak 0,3 % (dibulatkan dari 0,2991330517938 %)

0,3 % x 21,48 Mt TNT/kg = 64 Kt/kg (dibulatkan)

jadi, Jumlah energi yang bisa dihasilkan (dengan 100 % efisien )
melalui reaksi fusi nuklir berbahan materi:

Lithium-6 + Deuterium = 64 Kt/kg (dibulatkan)

Berikut adalah jumlah energi nuklir yang bisa dihasilkan per kg materi:
Fisi nuklir:
Uranium-233: 17,8 Kt/kg = 17800 Ton TNT/kg
Uranium-235: 17,6 Kt/kg = 17600 Ton TNT/kg
Plutonium-239: 17,3 Kt/kg = 17300 Ton TNT/kg

Fusi nuklir:
Deuterium + Deuterium: 82,2 Kt/kg = 82200 Ton TNT/kg
Tritium + Deuterium: 80,4 Kt/kg = 80400 Ton TNT/kg
Lithium-6 + Deuterium: 64,0 Kt/kg = 64000 Ton TNT/kg

ENERGI REAKSI NUKLIR
- Reaksi nuklir seperti halnya reaksi kimia biasa selalu disertai dengan pengeluaran dan
penyerapan energi (Q).
- Nilai Q positif ( memerlukan energi) merupakan reaksi endoergik dan nilai Q negatif (
membebaskan energi) merupakan reaksi eksoergik
- Energi yang menyertai reaksi nuklir diberiken per inti yang mengalami transformasi
Cara Menentukan Q reaksi nuklir
1. Melalui pengukuran energi partikel penembak dan energi partikel atau photon yang
dibebaskan.
Untuk reaksi :
7
Li +
1
H + Q
1
2
4
He + Q
2

Q reaksi = Q
2
– Q
1

2. Melalui perhitungan massa dari produk dan reaktan (s.m.a). Di mana, Q reaksi = (massa
reaktan-massa produk) x 931 MeV
. Energi kinetik partikel merupakan energi yang harus disediakan partikel supaya reaksi
nuklir berlangsung, disebut juga energi ambang reaksi (Ekp)
. E kp = (1 + m/M)|Q|,
m =massa partkl dan M=massa target
Jadi nilai E kp > Q

2. PENAMPANG REAKSI NUKLIR
Penampang nuklir dari sebuah inti adalah probabilitas bahwa sebuah reaksi nuklir
yang melibatkan inti tersebut dapat terjadi. Penampang ini semacam luas efektif yang
dihadangkan inti sasaran pada proyektil.Tinjau sebuah partikel yang ditembakkan ke
sebidang lembaran tipis bahan tertentu dengan luas A yang mengandung n inti atom. Secara
statistik atom-atom dalam lembaran terdistribusi secara merata di seluruh bidang. Misalnya
luas penampang efektif masing-masing inti adalah σ = πr
2
, dimana r dapat dianggap sebagai
jari-jari atom, maka probabilitas terjadinya reaksi adalah sebesar (nπr
2
) / A. Radius nuklir
tipikal berada dalam orde sekitar 10
−12
cm. Dengan demikian kita dapat mengharapkan
bahwa penampang nuklir untuk sebuah reaksi berada dalam orde πr
2
atau sekitar 10
−24
cm
2
.
Orde ini digunakan oleh para fisikawan inti sebagai satuan pengukuran penampang nuklir,
dan dikenal sebagai satu barn (b). Jadi 1barn = 10
− 24
cm
2
= 10
− 28
m
2
.
Penampang (cross section) adalah nilai kemungkinan (probabilitas) terjadinya sebuah
reaksi nuklir misalnya reaksi pembelahan inti. Seluruh rekayasa nuklir yang berkaitan dengan
reaktor pembelahan adalah upaya untuk memperbesar penampang dari reaksi pembelahan
tersebut.
Perhitungan tampang lintang reaksi nuklir secara teori berdasar model reaksi nuklir telah
digunakan untuk evaluasi data nuklir, yang mana parameter model reaksi nuklir harus dipilih
dan disesuaikan dengan data-data eksperimen. Tampang lintang reaksi-reaksi neutron
terhitung hampir berkorelasi satu sama lain karena kompetisinya sedemikian sehingga
parameter-parameter di dalam formula model tidak dapat ditentukan untuk hanya jenis
tunggal tampang lintang reaksi.
Penampang Lintang
Merupakan kebolehjadian sebuah partikel penembak akan menghasilkan suatu reaksi
nuklir
Satuan dari penampang lintang :barn (1 barn = 10
-24
cm
2
).
Penampang lintang merupakan fungsi dari: inti target, macam dan energi penembak.
Pada target tipis, maka R
i
= o I n x
– R = Jumlah total dari proses-proses tertentu yang terjadi dalam target per satuan waktu
– I = Jumlah pertikel penembak per satuan waktu
– n = Jumlah inti target per senti meter kubik
– X = Tebal target dalam senti meter
o = Penampang lintang untuk proses tertentu dinyatakan dalam senti meter kuadrat
Tampang Lintang
- Tampang lintang (o): Kebolehjadian berlangsungnya reaksi nuklir, dengan dimensi: cm
2

- Suatu reaksi nuklir mempunyai fluks n per cm
2
per detik, mengandung c inti atom per
cm
3
dan jangkauan (jarak tembus) dx cm, maka mengikuti persamaan diferensial:
-dn = n o c dx
}-dn/n = }o c dx
ln (n
x
/n
o
)= - o c x
atau n
x
= n
o
exp (- o c x)
n
x
= intensitas radiasi nuklir setelah menembus sasaran
n
o
= intensitas radiasi nuklir sebelum menembus sasaran
c = jumlah inti per cm
3
materi

o = tampang lintang reaksi nuklir
x = tebal sasaran
Banyaknya radiasi nuklir yang berinteraksi dengan inti atom materi sasaran adalah:
n
o
- n
x
= n
o
(1- exp (- o c x))
Jari-jari inti nuklida berat = 10
-12
cm, maka luas tampang geometri inti berat = 10
-24
cm
2
(=1
barn). Setiap reaksi nuklir mempunyai penampang lintang reaksi tersendiri yang tergantung
pada: jenis partikel, jenis nuklida dan energi radiasi
3. RESONANSI DAN MODEL INTI MAJEMUK
a. Resonansi
Setiap inti atom memiliki tingkat energi alamiah yang telah berhasil diketahui setelah
penelitian panjang para ahli fisika. Tingkat energi ini sangat berbeda antara satu atom dan
atom yang lain, namun dalam beberapa kejadian yang sangat jarang dapat diamati adanya
resonansi di antara beberapa inti atom. Ketika resonansi tersebut terjadi, gerakan inti atom
saling selaras seperti halnya pada contoh ayunan dan biola. Hal yang penting dari kejadian ini
adalah resonansi mendorong reaksi nuklir yang mempengaruhi inti atom.
Ketika menyelidiki bagaimana karbon dibuat oleh raksasa merah, Edwin Salpeter
menyarankan adanya resonansi antara inti atom helium dan berilium yang mendorong reaksi
tersebut. Resonansi ini, menurutnya, membuat atom-atom helium lebih mudah berfusi
menjadi berilium, dan ini menyebabkan reaksi di raksasa merah. Namun, penelitian
selanjutnya gagal untuk mendukung gagasan ini
Hoyle mengembangkan gagasan Salpeter lebih lanjut, dengan memperkenalkan
gagasan "resonansi ganda". Hoyle menyebutkan harus terdapat dua resonansi: satu yang
menyebabkan dua helium berfusi menjadi berilium, dan satu lagi menyebabkan helium ketiga
bergabung dengan formasi yang tidak stabil ini. Sungguh-sungguh terjadi resonansi ganda
pada raksasa merah. Tepat pada saat dua atom helium beresonansi untuk bergabung, atom
berilium muncul dalam satu per-juta-miliar detik yang diperlukan untuk menghasilkan
karbon. George Greenstein menjelaskan mengapa resonansi ganda merupakan mekanisme
yang luar biasa yaitu:
“Terdapat tiga struktur yang sama sekali terpisah dalam cerita ini-helium, berilium dan
karbon dan dua resonansi yang sama sekali terpisah. Sulit untuk melihat mengapa inti-inti
atom ini harus bekerja sama dengan mulus.Reaktor nuklir lain tidak berlangsung dengan
serangkaian kebetulan yang luar biasaIni seperti menemukan resonansi yang dalam dan rumit
antara mobil, sepeda, dan truk. Mengapa struktur yang sama sekali berbeda dapat bersatu
dengan begitu sempurna? Keberadaan kita, dan seluruh bentuk kehidupan di alam semesta,
bergantung pada proses ini.”
Pada tahun-tahun berikutnya, ditemukan bahwa unsur lain seperti oksigen juga
terbentuk dari resonansi yang begitu mengagumkan. Temuan penganut materialis tulen Fred
Hoyle atas "transaksi luar biasa" ini memaksanya untuk mengakui dalam bukunya Galaxies,
Nuclei and Quasar, bahwa resonansi ganda seperti itu pastilah hasil rancangan dan bukan
kebetulan. Dalam makalah lain, dia menulis:
Jika Anda ingin menghasilkan karbon dan oksigen dalam jumlah yang hampir sama dengan
cara sintesis-inti bintang, ini adalah dua tingkat yang harus Anda tetapkan, dan penetapan
Anda harus tepat pada tingkat di mana tingkat ini ditemukan. Penafsiran yang masuk akal
atas fakta ini menyarankan bahwa kecerdasan super telah mempermalukan para ahli fisika,
juga ahli kimia dan biologi, dan bahwa tidak ada kekuatan buta yang layak disebutkan di
alam. Angka yang dihitung dari fakta itu begitu menyesakkan saya sehingga hampir tidak
mungkin mengeluarkan kesimpulan ini.
b. Model Inti Majemuk
Banyak reaksi nuklir sebenarnya berkaitan dengan dua langkah terpisah.Pertama
partikel datang menumbuk inti target dan keduanya bergabung untuk membentuk inti baru
yang disebut inti majemuk yang nomor atomik dan nomor massanya merupakan penjumlahan
dari nomor atomik partikel-partikel semula dan penjumlahan nomor-nomor massanya. lnti
majemuk tidak memiliki “ingatan" bagaimana terbentuknya, karena nukleonnya tercampur
tidak tergantung pada asalnya dan energi yang membawanya menjadi keadaan tersebut oleh
partikel-partikel datang dibagi bagi diantara nukleon-nukleon tersebut. Jadi suatu inti
majemuk tertentu dapat terbentuk melalui berbagai cara.






Tabel 5-1 menunjukkan enam reaksi yang menghasilkan inti majemuk N*, tanda bintang
menyatakan keadaan eksitasi ; inti majemuk biasanya tereksitasi dengan jumlah energi ikat
partikel-partikel yang datang. Inti N
13
7
dan C
11
6
adalah radioaktif beta dengan umur paro
yang sangat pendek sehingga tak memungkinkan penelitian terinci dan reaksinya untuk
membentuk * N
14
7
, namun tidak ada kesangsian bahwa reaksi tersebut dapat terjadi.
lnti majemuk mempunyai umur paro dalam orde 10
-16
, waiaupun cukup pendek untuk
benar-benar mengamati inti sepérti itu, namun relatif besar terhadap waktu 10-
21
yang
diperlukan untuk sebuah partikel nuklir dengan energi beberapa MeV melewati sebuah inti.
Suatu inti majemuk tertentu dapat meluruh melalui satu cara atau lebih, tergantung
pada energi eksitasinya. Jadi * N
14
7
dengan energi eksitasinya , misa 12 MeV dapat meluluh
melalui contoh reaksi, atau hanya memancarkan



satu dua sinar gama yang berenergi total 12 MeV, tetapi tidak bisa meluruh dengan
memancarkan triton ( H
3
1
) atau helium -3 ( He
3
2
), karena inti tersebut tidak memiliki cukup
energi untuk membebaskan partikel seperti itu.
Pembentukan dan peluruhan inti majemuk mempunyai tafsiran yang sangat menarik
berdasarkan model nuklir tetes cairan . Menurut model ini , inti tereksitasi memiliki
keserupaan dengan tetes cairan panas dengan energi ikat partikel yang dipancarkan
bersesuaian dengan kalor penguapan molekul cairan. Tetes cairan seperti itu Dada akhirnya
akan menguapkan sebuah atau lebih molekulnya sehingga mendinginkanya. Proses
penguapan terjadi jika fluktuasi acak dalam distribusi energi dalam tetesan menyebabkan
molekul tertentu atau sekelompok nukleon teretentu dalam sesaat ternyata bisa memiliki
fraksi yang cukup besar dari energi cukup untuk melepaskan diri. Inti majemuk
mempertahankan keadaan eksitasinya sampai suatu nukleon tertentu atau sekelompok
nukleon tertentu dalam sesaat ternyata bisa memiliki fraksi yang cukup besar dari energi
eksitasi untuk melepaskan diri dari inti tersebut.












GAYA NUKLIR
DAN
MODEL INTI







8
BAHASAN
A. GAYA NUKLIR
Gaya nuklir (atau interaksi nukleon-nukleon atau gaya kuat residual) adalah gaya
antara dua atau lebih nukleon. Gaya ini bertanggung jawab atas ikatan proton dan neutron
menjadi inti atom. Gaya ini dapat dipahami sebagai pertukaran meson ringan virtual, seperti
pion. Kadang-kadang gaya nuklir disebut sebagai gaya kuat residual, dibandingkan dengan
interaksi kuat lainnya yang saat ini dipahami sebagai akibat kromodinamika kuantum (
quantum chromodynamics, atau biasa disingkat QCD). Peristilahan ini muncul pada
dasawarsa 1970-an saat QCD sedang dikembangkan. Sebelum masa itu gaya kuat nuklir
merujuk pada potensial internukleon. Setelah model quark diverifikasi, interaksi kuat
diartikan sebagai QCD.Karena nukleon tidak punya muatan warna, gaya nuklir tidak
langsung melibatkan pembawa gaya QCD, yaitu gluon. Namun, seperti atom yang bermuatan
netral (yang terdiri dari partikel bermuatan listrik yang saling menetralkan) saling menarik
satu sama lain melalui efek orde kedua dari polarisasi listrik, maka analoginya nukleon yang
bermuatan warna netral dapat menarik satu sama lain melalui sejenis polarisasi yang
membolehkan efek yang dihantarkan gluon dibawa dari satu nukleon berwarna netral ke
nukleon lainnya, lewat meson virtual yang menghantarkan gaya tersebut yang juga disatukan
oleh gluon virtual. Sifat yang mirip dengan gaya van der Waals inilah yang menyebabkan
timbulnya istilah 'residual' pada istilah "gaya kuat residual". Gagasan dasarnya adalah
meskipun nukleon berwarna netral, seperti atom juga bermuatan netral, di dalam kedua kasus
efek polarisasi yang ada antara dua partikel netral memungkinkan efek muatan "residual"
untuk mengakibatkan gaya tarik-menarik antara dua partikel tidak bermuatan, meskipun jauh
lebih lemah dan tidak langsung dibandingkan gaya dasar yang beraksi di dalam partikel
tersebut.
ENERGI IKAT INTI
Einstein memberikan teori berupa teori relativitas berhubungan dengan reaksi inti pada suatu
atom dengan bunyi pernyataannya adalah, "Energi ikatan inti adalah energi yang dibutukan
untuk memisahkan nukleus menjadi komponen - komponennya (Neutron dan Proton)."
Persamaan Energi Ikat Inti oleh Einstein:
∆E = ∆m c
2

Dengan:
∆E = Energi ikat inti (J)
∆m = Cacat massa / Perubahan massa atom (kg)
c = Kecepatan Cahaya
Perlu kita ketahui bahwa massa proton adalah 1,007825 sma, massa neutron adalah 1,008665
sma, dan massa elektron adalah 5,4859 x 10
-4
sma. Dan 1 kg adalah 6,022 x 10
26
sma.
Energi ikat inti juga dapat dinyatakan dalam satuan MeV (Mega elektron volt) dengan
mengganti persamaan menjadi:

∆E = ∆m x 931
Dan 1 MeV setara dengan 1,602 x 10
-3
J.

GAYA - GAYA INTI
Gaya inti merupakan gaya tarik menarik antar nuekleon dan merupakan gaya terkuat di
bandingkan gaya grafitasi dan gaya eletrostatis. Hal ini yang menyebabkan nuekleon-
nuekleon tetap terikat dalam inti atom walaupun terjadi gaya tolak menolak antara proton dan
neutron. Karakteristik gaya inti ini antara :
1. Gaya inti merupakan gaya tarik menarik , lebih besar dari gaya coulom dalam inti
atom.
2. Gaya inti bekerja pada kisaran jarak yang sangat pendek, nuklida-nuklida berinteraksi
hanya dengan nuklida terdekatnya.
3. gaya inti bekerja di antara dua proton,dua neutron atau antara proton dan neutron.
Untuk mengamati gaya inti maka di adakan pemisahan-pemisahan:
1. Gaya inti dapat di nyatakan dengan suatu interaksi antara dua benda.
2. Interaksi tersebut dapat di nyatakan dengan suatu potensial.
3. Pengaruh relativitas dapat di abaikan.
1. Gaya Nuklir Kuat atau Gaya Inti Kuat (strong nuclear force)
Gaya nuklir kuat atau gaya inti kuat adalah gaya yang menjaga inti tetap utuh, yang
merupakan gaya yang paling dahsyat menurut hukum-hukum fisika. Gaya ini menjaga proton
dan neutron dalam inti atom tetap di tempatnya. Gaya ini sangat kuat sehingga nyaris
menyebabkan proton dan neutron dalam inti atom saling berikatan. Jarak gaya nuklir kuat
sangat pendek, bahkan tidak dapat dirasakan pada jarak lebih dari garis tengah inti atom
sehingga sepanjang itulah ukuran garis tengan inti atom. Kekuatan ikatan tersebut
disesuaikan dengan sangat teliti. Kemampuan gaya nuklir kuat lebih kuat dari pada gaya
elektromagnetik (sekitar seratus kali) dan gaya gravitasi. Intensitas gaya ini pun telah diatur
secara spesifik oleh Rabbul ‘Izzati agar proton dan neutron tetap berada pada jarak tertentu.
Dengan kata lain akan terjadi tabrakan ataupun saling bertolakan antar proton yang
bermuatan positif dan neutron yang tidak bermuatan jika besar gaya tersebut tidak sesuai
dengan yang dibutuhkan untuk membentuk inti atom. Dan tentunya alam raya ini pun tidak
akan terbentuk sempurna seperti sekarang ini jika porsi yang diberikan gaya nuklir kuat tidak
sesuai untuk membentuk inti atom.
2. Gaya Nuklir Lemah atau Gaya Inti Lemah (weak nuclear force)
Gaya nuklir lemah atau sering disebut juga interaksi inti lemah adalah gaya yang bertanggung
jawab atas keseimbangan antara proton dan neutron dalam inti atom ketika terjadi proses
peluruhan radioaktif saat inti atom yang tidak stabil membelah (fisi) menjadi dua atau lebih
sehingga tidak tiba-tiba terurai atau memancarkan radisi yang berbahaya. Dinamakan
interaksi lemah karena kemampuan gaya ini lebih lemah dari pada gaya nuklir kuat dan
keelektromagnetan serta lebih kuat dari pada gaya gravitasi sekitar 10
25
kali. Interaksi inti
lemah juga menjadi pendorong proses peluruhan beta. Yaitu proses yang terjadi apabila
sebuah neutron terasing secara tiba-tiba (menurut sains manusia dan secara sistematis serta
sempurna menurut Maha Luasanya Ilmu Allah Rabbul ‘Izzati) memancarkan sebuah elektron
yang dahulu dikenal sebagai sinar beta bersama antineutrino elektron yang kemudian beralih
bentuk menjadi proton. Walaupun banyak elektron yang terjaga karena antineutrino elektron
yang menyeimbangkan neraca. Hal ini boleh dan bisa terjadi dalam aturan kuantum.
3. Gaya Elektromagnetik (electromagnetic force)
Gaya elektromagnetik adalah gaya yang diakibatkan oleh medan elektromagnetik terhadap
partikel-partikel yang bermuatan listrik. Gaya inilah yang Gaya inilah yang membuat
partikel-partikel yang bermuatan listrik berlawanan saling tarik-menarik dan partikel-partikel
bermuatan sama akan saling tolak-tolak menolak. Sehingga menjaga elektron-elektron dan
proton-proton tetap bersama dalam sebuah atom serta menjaga atom-atom tetap bersama
dalam sebuah molekul. Perubahan kekuatan sekecil apa pun pada gaya ini dapat
menyebabkan atom tidak terbentuk dikarenakan elektron-elektron terlepas jauh dari inti atom
atau sebaliknya. Dan konsekwensinya alam raya ini pun tidak akan terbentuk.

4. Gaya Gravitasi (gravity)
Gravitasi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi antara semua partikel yang mempunyai
massa dialam semesta. Fisika modern mendeskripsikan gravitasi menggunakan Teori
Relativitas Umum dari Einstein (Teori yang melihat gravitasi bukan sebagai gaya, tetapi lebih
sebagai manifestasi dari kelengkungan ruang dan waktu), namun hukum gravitasi universal
Newton yang lebih sederhana merupakan paparan yang cukup akurat dalam kebanyakan
kasus. Gaya inilah yang menyebabkan galaksi-galaksi, planet-planet dan bintang-bintang
yang berada di alam semesta ini tetap pada orbitnya masing-masing. Perubahan sekecil
apapun pada gaya ini dapat menyebabkan benda-benda langit menjadi saling bertabrakan atau
keluar dari orbitnya masing-masing.
B. MODEL INTI

Meskipun rincian kekuatan nuklir masih belum sepenuhnya dipahami, beberapa model nuklir
dengan parameter disesuaikan telah diusulkan, dan telah membantu kita memahami berbagai
fitur data eksperimen nuklir dan mekanisme yang bertanggung jawab mengikat energi inti.
Model-model yang akan kita akan membahas adalah :
(1) model tetesan cair, yang menyumbang energi ikat nuklir;
(2) model independen-partikel, yang menyumbang lebih rinci pada aspek membangun
struktur inti, termasuk perbedaan besar dalam stabilitas antara inti dengan Z dan A yang sama
nilai, dan (3) model kolektif.

1.Model tetesan cairan

Model tetesan cairan , yang diusulkan oleh CF von Weizsächer pada tahun 1935,
memperlakukan nukleon seolah-olah mereka adalah molekul dalam setetes cair. nukleon
berinteraksi kuat dengan satu sama lain dan sering mengalami tabrakan saat mereka goncang
sekitar dalam inti.Gerak bergoyang ini analog dengan gerakan molekul molukel akibat
pemanasan dalam setetes cairan.
Tiga efek besar mempengaruhi energi ikat inti dalam model tetes cairan :
- Efek volume. Sebelumnya kami menunjukkan bahwa energi ikat per nukleon
adalah kira-kira konstan, ini menunjukkan bahwa gaya nuklir jenuh (Gambar
13.10). Oleh karena itu, energi ikat inti total sebanding dengan A dan volume
nuklir. Kontribusi terhadap energi ikat dari efek volume C
1
A, di mana C adalah
konstana disesuaikan .

- Efek permukaan. Karena nukleon di permukaan tetesan tetangga lebih sedikit
dibandingkan di pedalaman, nukleon permukaan mengurangi energi ikat dengan
jumlah yang sebanding dengan jumlah permukaan inti. Karena jumlah nukleon
permukaan adalah sebanding dengan luas permukaan inti adalah 4 r
2
dan r
2
≈ A
2/3

. Istilah luas permukaan dapat dinyatakan dengan C
2
A
2/3
, dimana C
2
adalah
konstan .
- Efek tolakan Coulomb. Setiap proton menolak setiap proton pada inti. Energi
potensial yang sesuai per pasang dari partikel berinteraksi adalah ke
2
/ r, di mana k
adalah konstanta Coulomb. Total energi Coulomb merupakan Usaha yang
diperlukan untuk menyusun Z proton dari tak terhingga pada lingkup volume V.
Energi ini adalah proporsional dengan jumlah pasangan proton Z (Z -1) / 2 dan
terbalik sebanding terbalik dengan jari-jari nuklir. Akibatnya, penurunan energi
yang hasil dari efek Coulomb adalah C
3
Z (Z 1) / A
1/3
, di mana C
3
adalah
konstanta. Dengan demikian kita mendapatkan energi yang mengika sebagai
jumlah :



Persamaan ini sering disebut sebagai persamaan rumus energi Weizsächer semiempirical,
karena memiliki beberapa justifikasi teoritis tetapi berisi empat konstanta yang disesuaikan
agar sesuai dengan ungkapan ini dengan data eksperimen. untuk
inti dengan A ≥ 15, konstanta memiliki nilai :

C
1
15.7MeV C
2
17.8MeV

C
3
0.71MeV C
4
23.6MeV

Persamaan tersebut , bersama-sama dengan konstanta ini, dikenal cocok mengikat-nuklir dan
memiliki nilai energi yang sangat baik. Namun, model tetesan –cairan tidak
memperhitungkan untuk beberapa rincian halus struktur nuklir, seperti aturan stabilitas
tertentu dan momentum sudut. Di sisi lain, itu tidak memberikan ciri-ciri kualitatif dari fisi
nuklir, yang ditunjukkan secara skematik pada Gambar berikut :



Tahapan menuju fisi nuklir sesuai model inti tetes cairan
2. Model Partikel Independen

Model partikel independen , yang sering disebut model kulit, dikembangkan secara
independen oleh Maria Goeppert-Mayer (1906-1972, Fisikawan Jerman- Amerika) dan Hans
Jensen (1907-1973, fisikawan Jerman), yang berbagi hadiah Nobel pada tahun 1963 untuk
prestasi ini. Model shell didasarkan pada asumsi bahwa setiap nukleon bergerak dalam
keadaan yang didefinisikan dengan baik orbital dalam inti di bidang rata yang dihasilkan oleh
nukleon lainnya. Model ini mirip dengan model kulit atom kecuali untuk karakter istilah
kekuatan. Dalam model kulit, nukleon-nukleon ada pada kedudukan di energi terkuantisasi ,
dan ada beberapa tabrakan antara nukleon. Jelas, asumsi model ini sangat berbeda dari yang
dibuat dalam model tetes cairan . Setiap kedudukan orbit terkuantisasi untuk proton atau
neutron analog dengan salah satu dari orbital kedudukan dari sebuah elektron dalam
subkulit atom, dengan pengecualian bahwa urutan keadaan nuklir dalam energi lebih erat
dimodelkan oleh bentuk bola baik potensial dari dengan potensi Coulomb yang sesuai untuk
atom elektron atom . Untuk menyatakan terkuantisasi diduduki oleh nukleon dapat
digambarkan oleh satu set nomor kuantum. Karena kedua proton dan neutron memiliki spin,
kita dapat menerapkan prinsip eksklusi Pauli untuk menggambarkan kedudukan
diperbolehkan. Artinya, setiap kedudukan orbital dapat berisi hanya dua proton (atau dua
neutron) yang memiliki spin berlawanan :










3. Model kolektif

Sebuah model ketiga dari struktur nuklir, yang dikenal sebagai model kolektif,
menggabungkan beberapa fitur dari model tetes cairan dan model partikel mandiri .
Inti dianggap memiliki beberapa ekstra nukleon bergerak dalam orbit terkuantisasi di
samping inti diisi nukleon. Para nukleon tambahan yang tunduk pada bidang yang dihasilkan
oleh inti, seperti dalam skema partikel independen . Deformasi dapat diatur di inti sebagai
hasil dari interaksi yang kuat antara inti dan nukleon ekstra, sehingga memulai getaran dan
gerakan rotasi, seperti dalam model tetes –cairan . Model kolektif telah sangat berhasil dalam
menjelaskan banyak fenomena nuklir .

































FISI NUKLIR








9
BAHASAN
1. PENEMUAN FISI NUKLIR
Penemuan fisi nuklir oleh Otto Hahn dan F.Strasmann, pada Januari 1939, menandai
dimulainya era nuklir. Penemuan Otto Hahn dan F. Strasmann merupakan puncak dari
penemuan sebelumnya, oleh Enrico Fermi di Italia, Joliot-Curie dan Savitch di Prancis. Baik
E. Fermi maupun Joliot-Curie pada mulanya berharap membuat unsur Transuranium Z (> 92)
dari interaksi U-235 dengan netron. Hasil yang didapatkan bukannya unsur-unsur dengan Z
(> 92), melainkan unsur Lanthanium dengan Z= 57, sedangkan Otto Hahn dan F. Strasmann
mendapatkan Ba dengan Z= 56, dan Krypton dengan Z=36. ini adalah fisi nuklir, yang
ditunjukkan oleh pembelahan inti uranium (Z=92) kedalam dua fragmen yang massanya
relatif sama.

Keajaiban reaksi fisi adalah, bersama fisi dibebaskan energi yang sangat hebat, dan beberapa
netron. Fenomena ini kemudian dikembangkan menjadi senjata pemusnah masal (bom
nuklir), dan untuk peningkatan kesejahteraan maanusia melalui misi reaktor nuklir.

Setelah Otto Hahn dan F. Strasmann mengumunkan penemuannya, Lise Meitner dan O. R.
Frisch mengembangkan teori tentang proses fisi nuklir. Meitner menyatakan bahwa, bila inti
yang menangkap netron tereksitasi dan mengalami distorsi hingga suatu tingkat yang dapat
mengatasi energi permukaan, maka akan terjadi pembelahan inti kedalam dua fragmen yang
massanya sebanding. Sebagian inti yang tereksitasi dapat mengalami deeksitasi dengan cara
peluruhan o.
Pecahan-pecahan pembelahan berbeda-beda dalam nomor massa antara 75 dan 160, akan
tetapi reaksi pembelahan khas adalah


235
92
U +
1
0
n
236
92
U
95
38
Sr +
139
54
Xe + 2
1
0
n

Ada beberapa ciri penting tentang reaksi ini :
1. Inti
236
U terjadi untuk selama kurang dari 10
-12
s, sehingga proses pembelahan dapat
dianggap sebagai sesaat
2. Karena nisbah neutron terhadap proton dari
235
U lebih besar dari nisbahnya pada nuklida
mantap dalam daerah massa A = 125 pecahan belahan-inti mempunyai turah neutron dan
terletak diatas lengkungan kemantapan.pecahan-pecahan ini, dengan demikian, mereras
beta dalam sederatan langkah sampai nuklida mantap dengan nomor massa yang sama
terbentuk. Inti
236
U pecah dalam banyak cara yang berlainan, dan setiap pecahan
membentuk suatu deret dari tiga atau empat nuklida pecahan membentuk suatu deret dari
tiga atau empat nuklida radioktif, sehingga lebih dari 200 nuklida radioaktif yang
berlainan dihasilkan dari pembelahan inti. Sebagian besar daripadanya tidak muncul
secara alami di muka bumi.
3. Proses pembelahan inti, yang memerlukan neutron untuk memulai, melepaskan (secara
rerata) 2,5 neutron per pembelahan. Adalah kenyataan ini yang cepat menarik para
ilmuwan, karena itu berarti bahwa suatu rantai reaksi inti yang dapat berlangsung terus
dengan sendirinya menjadi mungkin jika neutron ekstra yang dilepaskan didalam suatu
pembelahan-inti dapat dibuat untuk memulai peristiwa pembelahan-inti tambahan.

Cacah rerata neutron yang dilepaskan didalam peristiwa pembelahan inti yang akan
meneruskan untuk memulai peristiwa pembelahan-inti yang lain dinamakan faktor pengali f.
Pemeliharaan suatu reaksi rantai mensyaratkan bahwa f lebih besar dari atau sama dengan 1.
Karena secara rerata 2,5 neutron dilepas pada setiap peristiwa belah-inti yang lain. Ini
menguntungkan, karena terdapat proses-proses yang bersaing menyingkirkan neutron dari
daerah reaksi.
2. PENAMPANG FISI
Reaksi fisi adalah suatu reaksi pembelahan, yang disebabkan oleh neutron yang secara umum
dapat ditulis sebagai:
X + n ——> X1 + X2 + (2 - 3) n + E.
Beberapa hal yang perlu diketahui dalam jenis reaksi tersebut adalah:
1) X disebut inti bahan fisil (fisile material), yang secara populer disebut "bahan bakar"
karena dalam reaksi ini dibebaskan sejumlah energi. Hanya beberapa inti dapat
bereaksi fisi yaitu 238U, 235U, 233U dan 239Pu di mana kedua unsur terakhir
merupakan unsur buatan manusia karena tidak terdapat di alam sebagai hasil dari
reaksi inti-inti 232Th dan dan 238U dengan neutron.
2) Keboleh jadian suatu inti berfisi dinyatakan dengan sf (fission microscopic cross
section = penampang fisi mikroskopik), di mana besaran tersebut tergantung dari
energi neutron yang bereaksi dengan suatu inti-tertentu. Sebagai contoh dapat
disebutkan bahwa nilai sf 238U besar pada energi neutron rendah (termal) tetapi kecil
pada energi tinggi. Sebaliknya nilai sf 238U kecil pada saat neutron berenergi besar.
Untuk 239Pu dan 233U mempunyai sf besar pada energi tinggi, oleh karena itu bahan
ini digunakan sebagai bahan bakar pada reaktor cepat.
3) Dari reaksi dihasilkan dua inti baru sebaga hasil fisi, X1 dan X2 yang berupa inti-inti
yang tidak stabil. Untuk menjadi stabil inti-inti tersebut meluruh (decay) dengan
mengeluarkan sinar-sinar maupun partikel.
4) Adanya neutron-neutron baru yang dihasilkan dari reaksi inti tersebut dapat
melanjutkan reaksi fisi hingga mungkin terjadi reaksi berantai, dan pada keadaan
tertentu bila tidak dikendalikan maka reaksi berantai tersebut dapat menjadi suatu
ledakan. Reaksi nuklir yang tidak terkendali merupakan prinsip kerja bom nuklir.
Neutron yang dihasilkan oleh fisi mempunyai energi yang tinggi, ± 2 MeV, jika fisii
diharapkan terjadi pada En rendah (energi termal 0,025 eV), maka neutron yang baru
lahir tersebut harus diturunkan energinya dahulu dengan jalan hamburan-hamburan.
Di dalarn reaktor neutron mempunyai kemungkinan-kemungkinan untuk:
a. diserap tanpa menimbulkan fisi
b. diserap mengakibatkan fisi
c. hilang dari sistim
d. hamburan
Jadi penurunan energi neutron berkompetisi dengan kemungkinankemungkinan yang lain,
dan untuk dapat menghitung masing-masing kemungkinan perlu diselidiki mekanisme reaksi
masing-masing.
3. PEMBEBASAN ENERGI PADA FISI
Reaksi fisi mengeluarkan energi total E, sebesar 200 MeV. Dengan menggunakan data
konversi satuan dan data fisika, dapat dihitung bahwa bila semua inti-inti 1 gram uranium
melakukan fisi maka kalor yang dikeluarkan setara dengan kalor yang dihasilkan oleh
pembakaran 1 ton batu bara. Jelas dari gambaran tersebut bahwa, kalor yang dikeluarkan dari
reaksi inti sangat besar.
Telah dijelaskan bahwa reaktor yang lazim dipakai saat ini bekerja atas dasar reaksi fisi
(pemecahan) inti atom. Sebagai bahan bakar umumnya digunakan Uranium 235U yang
kandungannya telah diperkaya. Uranium alam mempunyai kandungan 235U hanya sekitar 0,7
persen, selebihnya adalah 238U.
Untuk memecah inti isotop Uranium digunakan neutron lambat ('thermalneutron'). Uranium
yang menangkap neutron segera menjadi tidak stabil. Inti Uranium yang tidak stabil hanya
dapat bertahan selama kurang lebih sepertriliun detik (10-12 detik) sebelum mengalami
proses fisi menjadi inti-inti X1 dan X2 serta sekitar dua sampai tiga neutron yang siap untuk
memecah inti 235U lainnya. Kemudian ketiga neutron tadi diserap oleh inti-inti isotop
Uranium lain, tiga proses yang sama akan terjadi dengan produksi akhir sekitar sembilan
neutron. Proses berulang-ulang ini dinamakan reaksi berantai ('chain reaction') yang
merupakan prinsip kerja reaktor. Pada setiap proses pemecahan tadi, inti atom akan
melepaskan energi yang sesuai dengan hilangnya jumlah massa inti-inti di akhir proses rumus
E=mc2. Jadi jumlah energi yang dihasilkan akan sebanding dengan banyak proses yang
terjadi dan sebanding dengan jumlah neutron yang dihasilkan.









Beberapa contoh reaksi fisi dan energi yang dihasilkan dapat di lihat di bawah ini :
n + U-235 -> Ba-144 + Kr-90 + 2n + 179.6 MeV
n + U-235 -> Ba-141 + Kr-92 + 3n + 173.3 MeV
n + U-235 -> Zr-94 + Te-139 + 3n + 172.9 MeV
n + U-235 -> Zr-94 + La-139 + 3n + 199.3 MeV

Untuk mengendalikan atau mengatur reaksi berantai dalam reaktor nuklir digunakan bahan
yang dapat menyerap neutron misalnya Boron dan Cadmium, yang bertujuan untuk mengatur
populasi neutron. Dengan mengatur populasi neutron ini dapat ditentukan tingkat daya raktor,
bahkan reaksi dapat dihentikan sama sekali (tingkat daya mencapai titik 0) pada saat semua
neutron terserap oleh bahan penyerap. Perangkat pengatur populasi neutron pada reaktor ini
disebut batang kendali. Jika batang kendali disisipkan penuh diantara elemen bakar, maka
batang kendali akan menyerap neutron secara maksimum sehingga reaksi berantai akan
dihentikan dan daya serap batang kendali akan berkurang bila batang kendali ditarik
menjauhi elemen bakar.
4. TEORI FISI NUKLIR
Fisi Nuklir, yaitu memisahkan nukleus dari suatu atom menjadi dua bagian yang lebih kecil
dengan sebuah neutron. Biasanya metode ini menggunakan isotop-isotop uranium seperti U-
235 atau U-233 atau dapat pula menggunakan Plutonium-239.










Reaksi fisi merupakan reaksi pembelahan nuklida menjadi dua atau lebih nuklida yang
baru .
Misalnya untuk fisi uranium dituliskan sebagai : U(n,f) hasil-hasil fisi



dimana A
2
= 236 - A
1
- ν dan Z
2
= 92 – Z
1

Untuk hasil fisi berupa : energi kinetik netron dan hasil fisi , energi sinar gamma , dan
berupa energi peluruhan beta.



n X X n U
Z
A
Z
A
 + + ÷ +
2
2
1
1
235
92
Mo Nb Zr
97
42
97
41
97
40
÷÷ ÷ ÷÷ ÷
 
Ba Cs Xe I Te
37
56
37
55
37
54
37
53
37
52
÷÷ ÷ ÷÷ ÷ ÷÷ ÷ ÷÷ ÷
   













PEMBANGKIT
ENERGI NUKLIR











10
BAHASAN
PEMBANGKIT ENERGI NUKLIR
1. Fisi Nuklir Sebagai sumber Energi
Nuklir merupakan istilah yang berhubungan dengan inti atom yang tersusun atas dua
buah partikel fundamental, yaitu proton dan neutron. Di dalam inti atom terdapat tiga buah
interaksi fundamental yang berperan penting, yaitu gaya nuklir kuat dan gaya
elektromagnetik serta pada jangka waktu yang panjang terdapat gaya nuklir lemah. Gaya
nuklir kuat merupakan interaksi antara partikel quark dan gluon yang dibahas dalam teori
quantum chromodynamics (QCD) sedangkan gaya nuklir lemah adalah interaksi yang terjadi
dalam skala inti atom seperti peluruhan beta yang dibahas dalam elecroweak theory
Energi nuklir dihasilkan di dalam inti atom melalui dua buah jenis reaksi nuklir, yaitu
reaksi fusi dan reaksi fisi. Reaksi fusi adalah suatu reaksi yang menggabungkan beberapa
partikel atomik menjadi sebuah partikel atomik yang lebih berat. Reaksi fusi dapat
menghasilkan energi yang sangat besar seperti yang terjadi pada bintang. Salah satu reaksi
contoh reaksi fusi adalah penggabungan partikel deuterium (D atau
2
H) dan tritium (T atau
3
H) (Gambar 1.a). Langkah pertama, deuterium dan tritium dipercepat dengan arah yang
saling mendekati pada suhu termonuklir. Penggabungan antara dua buah partikel tersebut
membentuk helium-5 (
5
He) yang tidak stabil sehingga mengakibatkan peluruhan. Dalam
proses peluruhan ini, sebuah neutron dan partikel helium-4 (
4
He) terhambur disertai dengan
energi yang sangat besar, yaitu 14,1 MeV untuk penghamburan neutron dan 3,5 MeV untuk
penghamburan helium-4. Sampai saat ini, reaksi fusi belum dapat dirancang oleh manusia
karena membutuhkan suhu yang sangat tinggi. Hal ini menyebabkan pemanfaatan reaksi fusi
sebagai sumber energi listrik belum dapat direalisasikan.


Reaksi nuklir lain yang sudah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik
adalah reaksi fisi. Reaksi fisi merupakan kebalikan dari reaksi fusi, yaitu reaksi yang
membelah suatu partikel atomik menjadi menjadi beberapa partikel atomik lainnya dan
sejumlah energi. Salah satu contoh dari reaksi fisi adalah reaksi fisi pada partikel uranium-
235 (
235
U) yang ditumbuk oleh sebuah neutron yang bergerak pelan (Gambar 1.b). Proses
penyerapan neutron oleh uranium-235 mengakibatkan terbentuknya partikel uranium-236
(
236
U) yang tidak stabil sehingga terbelah menjadi partikel krypton-92 (
92
Kr), barium-141
(
141
Br), dan beberapa neutron bebas serta sejumlah energi. Reaksi fisi dapat berlangsung
secara terus menerus yang biasa disebut dengan reaksi rantai. Dalam reaksi rantai, neutron
yang telah terhambur dari reaksi fisi dapat mengakibatkan terjadinya reaksi fisi lain sama
baiknya dengan reaksi fisi sebelumnya. Energi yang dihasilkan dari reaksi ini dapat
dikonversi menjadi energi listrik pada sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Tiga hal menarik yang terjadi pada proses reaksi fisi adalah sebagai berikut:
- Peluang sebuah atom U-235 menangkap sebuah neutron bernilai sangat tinggi. Dalam
sebuah reaktor yang bekerja (dikenal dengan keadaan kritis), sebuah neutron yang
terhambur dari setiap reaksi fisi dapat menyebabkan terjadinya reaksi fisi yang
lainnya.
- Proses penyerapan dan penghamburan neutron terjadi dengan sangat cepat pada orde
pikosekon (1×10
-12
sekon)
- Jumlah energi yang dihasilkan berupa panas dan radiasi gamma luar biasa besar pada
sebuah reaksi fisi yang terjadi. Dalam reaksi ini terbentuk beberapa produk fisi dan
neutron dengan massa total yang lebih ringan dari partikel U-235 pada awal reaksi.
Perbedaan massa ini diubah menjadi energi dengan nilai yang dirumuskan dalam E =
mc
2
. Dalam satu kali peluruhan atom U-235 bisa dihasilkan energi sebesar 200 MeV
(1 eV = 1,6.10
-19
joule). U-235 dapat bekerja dalam sebuah sampel uranium yang
diperkaya menjadi 2 sampai 3 persen. Pada senjata nuklir, komposisi U-235 mencapai
90 persen atau lebih dari sebuah sampel uranium.





Pembangkit Listri Tenaga Nulir
Energi yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir terkendali di dalam reaktor nuklir dapat
dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Instalasi pembangkitan energi listrik semacam ini
dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

skema pembangkit listrik tenaga nuklir
Salah satu bentuk reaktor nuklir adalah reaktor air bertekanan (pressurized water
reactor/PWR) yang skemanya ditunjukkan dalam gambar. Energi yang dihasilkan di dalam
reaktor nuklir berupa kalor atau panas yang dihasilkan oleh batang-batang bahan bakar. Kalor
atau panas dialirkan keluar dari teras reaktor bersama air menuju alat penukar panas (heat
exchanger). Di sini uap panas dipisahkan dari air dan dialirkan menuju turbin untuk
menggerakkan turbin menghasilkan listrik, sedangkan air didinginkan dan dipompa kembali
menuju reaktor. Uap air dingin yang mengalir keluar setelah melewati turbin dipompa
kembali ke dalam reaktor.
Untuk menjaga agar air di dalam reaktor (yang berada pada suhu 300 derajat celcius)
tidak mendidih (air mendidih pada suhu 100 derajat celcius dan tekanan 1 atm), air dijaga
dalam tekanan tinggi sebesar 160 atm. Tidak heran jika reaktor ini dinamakan reaktor air
bertekanan.

2. Reaksi Rantai
Dalam reaksi yang sebenarnya tidak hanya ada satu uranium saja. Terdapat banyak
sekali uranium pada suatu bahan. Jika netron cepat tidak dikendalikan, netron hasil
pembelahan fisi sebelumnya akan menumbuk uranium berikutnya sehingga menghasilkan
reaksi fisi serupa. Dalam reaksi ini dihasilkan netron yang semakin banyak sehingga reaksi
akan terus berantai. Reaksi demikian dinamakan reaksi berantai. Energi yang dihasilkan
sangat besar.

Dalam bom nuklir, netron cepat ini sengaja tidak dikendalikan sehingga
menghasilkan ledakan yang sangat dasyat. Namun, pada reaktor nuklir (PLTN), netron cepat
dikendalikan, sehingga tidak terlalu banyak netron yang terlibat dalam reaksi inti.


Reaksi rantai proton-proton
Reaksi rantai proton-proton atau reaksi rantai pp adalah salah satu dari dua reaksi fusi
yang mengubah hidrogen menjadi helium di dalam inti bintang, reaksi lainnya adalah siklus
CNO. Reaksi rantai proton-proton terutama terjadi di dalam bintang-bintang seukuran
Matahari atau lebih kecil.
Umumnya fusi proton-proton hanya dapat terjadi pada temperatur yang sangat tinggi
untuk membuat proton-proton memiliki cukup energi kinetik dalam mengatasi tolakan
Coulomb. Temperatur yang tinggi ini adalah sebab reaksi seperti ini disebut sebagai reaksi
termonuklir. Teori bahwa reaksi proton-proton adalah dasar bagi Matahari dan bintang-
bintang lain bersinar diajukan oleh Arthur Eddington pada 1920-an, tetapi masalah timbul
karena temperatur Matahari didapati masih terlalu kecil untuk mengatasi penghalang gaya
Coulomb. Setelah berkembangnya mekanika kuantum, ditemukan bahwa efek terowongan
dalam fungsi gelombang proton-proton tersebut memungkinkan reaksi fusi terjadi pada
temperatur yang lebih rendah. Setiap rangkaian reaksi pp memakan waktu rata-rata 10
9
tahun
pada kondisi suhu inti Matahari. Karena lambatnya reaksi ini maka Matahari masih bersinar;
jika lebih cepat, Matahari sudah sejak lama menghabiskan hidrogennya.
Reaksi proton-proton merupakan reaksi berantai yang melibatkan tumbukan enam
proton dengan hasil akhir satu inti helium, dua proton, dua positron, dua neutrino, dan energi.
Dinamai reaksi proton-proton karena reaksi pertama dalam rangkaian reaksi rantai tersebut
melibatkan dua proton.
3. Reaktor Fisi
Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan
yang berguna. Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah
reaktor nuklir. Sebuah reaktor nuklir paling tidak memiliki empat komponen dasar, yaitu
elemen bahan bakar, moderator neutron, batang kendali, dan perisai beton. bakar, moderator
neutron, batang kendali, dan perisai beton.

skema reaktor nuklir
Elemen bahan bakar menyediakan sumber inti atom yang akan mengalami fusi nuklir.
Bahan yang biasa digunakan sebagai bahan bakar adalah uranium U. elemen bahan bakar
dapat berbentuk batang yang ditempatkan di dalam teras reaktor.Neutron-neutron yang
dihasilkan dalam fisi uranium berada dalam kelajuan yang cukup tinggi. Adapun, neutron
yang memungkinkan terjadinya fisi nuklir adalah neutron lambat sehingga diperlukan
material yang dapat memperlambat kelajuan neutron ini. Fungsi ini dijalankan oleh
moderator neutron yang umumnya berupa air. Jadi, di dalam teras reaktor terdapat air sebagai
moderator yang berfungsi memperlambat kelajuan neutron karena neutron akan kehilangan
sebagian energinya saat bertumbukan dengan molekul-molekul air.
Fungsi pengendalian jumlah neutron yang dapat menghasilkan fisi nuklir dalam reaksi
berantai dilakukan oleh batang-batang kendali. Agar reaksi berantai yang terjadi terkendali
dimana hanya satu neutron saja yang diserap untuk memicu fisi nuklir berikutnya, digunakan
bahan yang dapat menyerap neutron-neutron di dalam teras reaktor. Bahan seperti boron atau
kadmium sering digunakan sebagai batang kendali karena efektif dalam menyerap neutron.
Batang kendali didesain sedemikian rupa agar secara otomatis dapat keluar-masuk
teras reaktor. Jika jumlah neutron di dalam teras reaktor melebihi jumlah yang diizinkan
(kondisi kritis), maka batang kendali dimasukkan ke dalam teras reaktor untuk menyerap
sebagian neutron agar tercapai kondisi kritis. Batang kendali akan dikeluarkan dari teras
reaktor jika jumlah neutron di bawah kondisi kritis (kekurangan neutron), untuk
mengembalikan kondisi ke kondisi kritis yang diizinkan.
Radiasi yang dihasilkan dalam proses pembelahan inti atom atau fisi nuklir dapat
membahayakan lingkungan di sekitar reaktor. Diperlukan sebuah pelindung di sekeliling
reaktor nuklir agar radiasi dari zat radioaktif di dalam reaktor tidak menyebar ke lingkungan
di sekitar reaktor. Fungsi ini dilakukan oleh perisai beton yang dibuat mengelilingi teras
reaktor. Beton diketahui sangat efektif menyerap sinar hasil radiasi zat radioaktif sehingga
digunakan sebagai bahan perisai.
4. Ukuran Kritis
Ukuran kritis( Critical Size) adalah Dimensi fisik minimum teras reaktor atau perangkat
yang dapat membuat kekritisan untuk suatu susunan geometri dan komposisi bahan tertentu.
Berdasarkan kenyataan ini diperkenalkanlah ukuran kriris sistem uranium-moderator,
ukuran ketika jumlah neutron yang dihasilkan dalam reaksi fisi mengimbangi jumlah neutron
yang hilang karena kebocoran atau tertangkap oleh inti berat lain. Ukuran kritis bergantung
pada komposisi isotop uranium serta bahan moderator baik bentuk dan susunan bahan-
bahannya) dan adanya bahan-bahan lain yang dapat menyebabkan terjadinya tangkapan
neutron tambahan yang tak diinginkan.

Bila ukuran sistem uranium-moderator lebih kecil daripada ukuran kritis [subkritis], maka
neutron yang hilang akan lebih banyak daripada yang dihasilkan oleh fisi. Dalam hal ini,
reaksi fisi berantai tak akan berlangsung lama. Sebaliknya , ukuran Sistem yang sama atau
lebih besar daripada ukuran kritis ( super kritis) akan mempertahankan reaksi fisi
berlangsung lama .








Jika k <1, rata-rata, neutron terlalu sedikit menginduksi fisi lebih lanjut dan
sehingga reaksi berantai berhenti. Ini disebut keadaan subkritis .

jika k = 1, rata-rata, setidaknya salah satu neutron dilepaskan dari fisi inti masing-
masing menginduksi fisi inti lain. rantai reaksi akan berlangsung mandiri dan
menghasilkan energi pada tingkat yang stabil. ini disebut kondisi kritis.

Jika k> 1, rata-rata, neutron lebih menginduksi fisi lebih jauh dari yang
diserap atau hilang. Tingkat di mana proses menghasilkan energi akan
tumbuh secara eksponensial, reaksi ini berakhir hanya ketika fisil sumber daya
sistem telah habis. Ini disebut keadaan superkritis .

5. Reaksi Termonuklir

Sudah sejak lama orang memikirkan dari mana asal energi matahari yang begitu panas
dan setiap hari dipancarkan ke bumi, namun sampai saat ini belum juga habis sumber energi
tersebut. Sampai dengan pertengahan abad ke 19, pada saat orang belum mengenal reaksi
nuklir, orang masih menganggap bahwa energi matahari berasal dari bola api besar yang
sangat panas. Kalau benar bahwa matahari berasal dari bola api besar, lantas timbul
pertanyaan apa yang menjadi bahan bakar bola api tersebut? Para ilmuwan pada saat itu
belum bisa menjawab dengan tepat. Mungkinkah kayu, batubara, minyak atau bahan bakar
lainnya yang terdapat di matahari yang dibakar berdasarkan reaksi kimia biasa sehingga
timbul bola api besar tersebut? Kalau benar bahan-bahan tersebut dibakar untuk
menghasilkan energi matahari, maka berdasarkan perhitungan reaksi kimia, energi yang
dihasilkan hanya dapat bertahan beberapa ribu tahun saja. Setelah itu matahari akan padam.
Padahal matahari telah memancarkan energinya sejak ratusan juta bahkan orde milyard tahun
yang lalu. Dengan demikian maka anggapan bahwa sumber energi matahari tersebut berasal
dari kayu, batubara, minyak atau bahan bakar lainnya adalah tidak benar. Para ahli astronomi
dan juga astrofisika pada saat ini telah memperkirakan bahwa unsur-unsur kimia yang ada di
bumi juga terdapat di matahari. Akan tetapi sebagian besar unsur kimia yang terdapat di
matahari tersebut, sekitar 80% berupa gas Hidrogen. Sedangkan unsur kedua yang banyak
terdapat di matahari adalah gas Helium, kurang lebih sebanyak 19 % dari seluruh massa
matahari. Sisanya yang 1 % terdiri atas unsur-unsur Oksigen, Magnesium, Nitrogen, Silikon,
Karbon, Belerang, Besi, Sodium, Kalsium, Nikel serta beberapa unsur lainnya. Unsur-unsur
kimia tersebut bercampur menjadi satu dalam bentuk gas sub atomik yang terdiri atas inti
atom, elektron, proton, neutron dan positron. Gas sub atomik tersebut memancarkan energi
yang amat sangat panas yang disebut "plasma". Energi matahari dipancarkan ke bumi dalam
berbagai macam bentuk gelombang elektromagnetis, mulai dari gelombang radio yang
panjang maupun yang pendek, gelombang sinar infra merah, gelombang sinar tampak,
gelombang sinar ultra ungu dan gelombang sinar -x. Secara visual yang dapat ditangkap oleh
indera mata adalah sinar tampak, sedangkan sinar infra merah terasa sebagai panas. Bentuk
gelombang elektromagnetis lainnya hanya dapat ditangkap dengan bantuan peralatan khusus,
seperti detektor nuklir berikut piranti lainnya. Pada saat matahari mengalami plage yang
mengeluarkan energi amat sangat panas, kemudian diikuti terjadinya flare yaitu semburan
partikel sub atomik keluar dari matahari menuju ke ruang angkasa, maka pada sistem
matahari diperkirakan telah terjadi suatu reaksi thermonuklir yang sangat dahsyat. Keadaan
ini diduga pertama kali pada tahun 1939 oleh seorang ahli fisika Amerika keturunan Jerman
bernama Hans Bethe. Menurut Bethe, energi matahari yang amat sangat panas tersebut
disebabkan oleh karena terjadi reaksi fusi atau penggabungan inti ringan menjadi inti yang
lebih berat. Reaksi thermonuklir yang berupa reaksi fusi tersebut adalah penggabungan 4 inti
Hidrogen menjadi inti Helium, berdasarkan persamaan reaksi inti berikut ini:


(H1 + H1 -> H2 + Beta+ + v + 0,42 MeV) x 2
(H1 + H2 -> He3 + Gamma + 5,5 MeV) x 2
He3 + He3 -> He4 + 2H1 + 12,8 MeV
---------------------------------------- +
H1 -> He4 + 2Beta+ + 2Gamma + 2v + 24,64 MeV
Menurut Bethe, reaksi inti yang serupa reaksi fusi tersebut di atas, dapat
menghasilkan energi panas yang amat sangat dahsyat. Selain dari itu, karena sebagian besar
massa matahari tersebut tersusun oleh gas Hidrogen (80%) dan gas Helium (19%), maka
masih ada kemungkinan terjadinya reaksi fusi lain berdasarkan reaksi rantai proton-proton
sebagai berikut:
H1 + H1 -> H2 + Beta+ + v
H1 + H2 -> He3 + Gamma
He3 + He4 -> Be7 + Gamma
Be7 + Beta+ -> Li7 + Gamma + v
------------------------------------ +
Li7 + H1 -> He4 + He4
Terbentuknya gas Helium berdasarkan reaksi thermonuklir tersebut di atas juga
menghasilkan energi yang amat sangat panas. Kemungkinan lain, gas Helium juga dapat
terbentuk melalui reaksi nuklir berikut ini :
Be7 + H1 -> B8 + Gamma
B8 -> Be8 + Beta+ + v
Be8 -> He4 + He4
Walaupun reaksi inti tersebut di atas sudah dapat menghasilkan energi yang amat
sangat panas, ternyata masih ada kemungkinan lain untuk terjadinya reaksi thermonuklir
matahari yang menghasilkan energi yang jauh lebih dahsyat dan lebih panas lagi. Reaksi
thermonuklir tersebut akan mengikuti reaksi inti rantai Karbon - Nitrogen sebagai berikut :
C12 + H1 -> N13 + Gamma
N13 -> C13 + Beta+ + v
C13 + H1 -> N14 + Gamma
N14 + H1 -> O15 + Gamma
O15 -> N15 + Beta+ + v
N15 + H1 -> C12 + He4
Reaksi ratai Karbon - Nitrogen tersebut di atas, menghasilkan panas yang jauh lebih
panas dari pada reaksi rantai Proton - Proton maupun reaksi fusi Hidrogen menjadi Helium.
Reaksi-reaksi thermonuklir tersebut di atas dapat terjadi di matahari dan juga di bintang-
bintang yang tersebar di jagat raya ini. Reaksi thermonuklir sejauh ini dianggap sebagai
sumber energi matahari maupun energi bintang. Bintang yang bersinar lebih terang dari pada
matahari kita yang berarti pula bahwa suhunya jauh lebih panas, maka reaksi thermonuklir
yang terjadi pada bintang tersebut pada umumnya akan mengikuti reaksi rantai Karbon -
Nitrogen.
6. Partikel Elementer
Sifat – sifat atom dapat dipelajari cukup menggunakan tiga partikel penyusunnya,
yaitu proton, netron serta elektron. Saat itu dipercaya hanya ketiga partikel inilah yang
merupakan partikel terkecil penyusun materi. Namun demikian pandangan seperti ini menjadi
berubah ketika pada peluruhan b terlibat partikel lainnya yaitu positron, neutrino dan
antineutrino. Partikel – partikel ini menambah panjang daftar partikel elementer.
Pada pembahasan tentang gaya ikat inti telah dikemukakan bahwa inti atom terdiri
atas proton yang bermuatan listrik positif dan netron yang tidak bermuatan listrik. Nukleon
ini dapat bersatu di dalam inti atom karena adanya gaya ikat inti atau interaksi kuat. Hideki
Yukawa mengemukakan hipotesanya bahwa gaya ikat inti terjadi karena ada partikel yang
bertanggungjawab yaitu meson. Nama aslinya adalah mesotron berasal dari kata Yunani yang
artinya pertengahan (middle) karena diprediksi massa partikel ini antara massa elektron dan
massa proton.
Pada saat itu akselerator yang sudah dibuat belum ada yang mampu menghasilkan
partikel dengan energi yang cukup untuk membuktikan hipotesa Yukawa. Satu – satunya cara
membuktikan keberadaan meson adalah dengan mengamati partikel – partikel yang
dihasilkan oleh sinar kosmis ketika menumbuk atmosfir bumi. Hipotesa meson diakui
keberadaannya ketika teramati ada partikel dari sinar kosmis dengan massa sekitar 100
MeV/c
2
, sangat dekat dengan perkiraan Yukawa tetapi dengan jejak yang panjang di dalam
zat mampat. Menurut hipotesa meson memiliki jangkau yang pendek di dalam zat mampat
karena partikel ini berinteraksi sangat kuat dengan inti. Barulah tahun 1947 C. F. Powell dan
grupnya melaporkan keberadaan dua buah meson, meson berat dengan massa~ 150 MeV
meluruh menjadi meson ringan ~ 100 MeV. Meson berat adalah meson yang diprediksi oleh
Yukawa dan sekarang dinamakan p meson (pion) dan meson ringan dinamakan muon yang
nama aslinya adalah m-meson. Partikel – partikel ini melengkapi partikel elementer yang
telah disebutkan di muka. Perlu kiranya ditambahkan di sini bahwa interaksi elektromagnetik
memerlukan partikel elementer photon.
Jumlah partikel baru diketemukan bertambah pesat dengan tersedianya akselerator.
Partikel yang semula dikira elementer ternyata tersusun atas partikel – partikel yang lebih sub
elementer. Reaksi antara nucleon dapat menghasilkan partikel baru yang jumlahnya ratusan
jenis dan diyakini semuanya tersusun atas partikel subfundamental yang dinamakan quark.
Antara dua buah massa yang teripsah terdapat gaya interaksi gravitasi. Menurut
perhitungan Fisika Teori dipercaya bahwa interaksi gravitasi melibatkan partikel yang
dinamakan graviton walaupun partikel ini sampai sekarang belum dapat dibuktikan
kebenarannya melalui pengamatan. Dengan demikian graviton juga dapat dimasukkan
sebagai partikel elementer.
Klasifikasi Partikel
Semua partikel Fisika dipengaruhi oleh empat buah gaya yaitu :
a. Gaya kuat, yang bertanggung jawab pada ikatan inti.
b. Gaya elektromagnetik, dengan kekuatan sekitar 1/100 gaya kuat.
c. Gaya lemah, misalnya pada peluruhan b, kira – kira 10
-13
gaya kuat
d. Gaya gravitasi, kekuatannya sekitar 10
-38
gaya kuat.
Berdasarkan jenis interaksinya, partikel dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
Tabel Kelompok partikel berdasarkan jenis interaksi
Interaksi
lemah
Interaksi
elektromagnetik
Interaksi
kuat
e e p
m m K
n p p
p K n
K p L
p n
n L
L





You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->