©2003 Digitized by USU digital library 1 PENYAKIT KUSTA DAN MASALAH YANG DITIMBULKANNYA dr. ZULKIFLI, M.

Si Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Permasalahan penyakit kusta ini bila dikaji secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya. Masalah yang dihadapi pada penderita bukan hanya dari medis saja tetapi juga adanya masalah psikososial sebagai akibat penyakitnya. Dalam keadaan ini warga masyarakat berupaya menghindari penderita. Sebagai akibat dari masalahmasalah tersebut akan mempunyai efek atau pengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara, karena masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan penderita kusta menjadi tuna sosial, tuna wisma, tuna karya dan ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di lingkungan masyarakat. Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit, menurunkan angka kesakitan dan angka kematian serta mencegah akibat buruk lebih lanjut sehingga memungkinkan tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang masih merupakan masalah nasional kesehatan masyarakat, dimana beberapa daerah di Indonesia prevalens rate masih tinggi dan permasalahan yang ditimbulkan sangat komplek. Masalah yang dimaksud bukan saja dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan sosial. Pada umumnya penyakit kusta terdapat di negara yang sedang berkembang, dan sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut dalam memberikan pelayanan yang memadai di bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan social ekonomi pada masyarakat. Di Indonesia pengobatan dari perawatan penderita kusta secara terintegrasi dengan unit pelayanan kesehatan (puskesmas sudah dilakukan sejak pelita I). Adapun sistem pengobatan yang dilakukan sampai awal pelita III yakni tahun 1992, pengobatan dengan kombinasi (MDT) mulai digunakan di Indonesia. Dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikiari besarnya, sehingga menimbulkan keresahan yang sangat mendalam. Tidak hanya pada penderita sendiri, tetapi pada keluarganya, masyarakat dan negara. Hal ini yang mendasari konsep perilaku penerimaan periderita terhadap penyakitnya, dimana untuk kondisi ini penderita masih banyak menganggap bahwa penyakit kusta merupakan penyakit menular, tidak dapat diobati, penyakit keturunan, kutukan Tuhan, najis dan menyebabkan kecacatan. Akibat anggapan yang salah ini penderita kusta merasa putus asa sehingga tidak tekun untuk berobat. Hal ini dapat dibuktikan dengan kenyataan bahwa penyakit mempunyai kedudukan yang khusus diantara penyakitpenyakit lain. Hal ini disebabkan oleh karena adanya leprophobia (rasa takut yang berlebihan terhadap kusta). Leprophobia ini timbul karena pengertian penyebab penyakit kusta yang salah dan cacat yang ditimbulkan sangat menakutkan. Dari sudut pengalaman nilai budaya sehubungan dengan upaya pengendalian leprophobia ©2003 Digitized by USU digital library 2 yang bermanifestasi sebagai rasa jijik dan takut pada penderita kusta tanpa alas an yang rasional. Terdapat kecenderungan bahwa masalah kusta telah beralih dari masalah kesehatan ke masalah sosial. Leprophobia masih tetap berurat akar dalam seleruh lapisan masalah masyarakat karena dipengaruhi oleh segi agama, sosial, budaya dan dihantui dengan kepercayaan takhyul. Fhobia kusta tidak hanya ada di kalangan masyarakat jelata, tetapi tidak sedikit dokter-dokter yang belum mempunyai pendidikan objektif terhadap penyakit kusta dan masih takut terhadap penyakit kusta. Selama masyarakat kita, terlebih lagi para dokter masih terlalu takut dan menjauhkan penderita kusta, sudah tentu hal ini akan merupakan hambatan terhadap usaha

Penyebaran Penyakit Kusta Penyakit ini diduga berasal dari Afrika atau Asia Tengah yang kemudian menyebar keseluruh dunia lewat perpindahan penduduk ini disebabkan karena perang. penjajahan. b. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah: a. Akibat adanya phobia ini.2. mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion. Berdasarkan pemeriksaan kerangka-kerangka manusia di Skandinavia diketahui bahwa penderita kusta ini dirawat di Leprosaria secara isolasi ketat. dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang. Penyebab Penyakit Kusta Penyakit kusta disebabkan oleh kuman yang dimakan sebagai microbakterium. ekonomi. basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering. kulit dan jaringan tubuh lainnya.5. Kontak kulit dengan kulit. budaya. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial. diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam. Disamping itu faktor-faktor yang berperan dalam penularan ini adalah : . Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita.Usia : Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa .1. terlalu sedikit orang yang tertular penyakit kusta secara kontak kulit dengan kasus-kasus lepra terbuka. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun. Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Mocrobakterillm Leprae dan daya tahan tubuh penderita. sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Definisi Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta. II. II. perdagangan antar benua dan pulau-pulau. keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis. Melalui sekret hidung. Penyakit ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke IV-V yang diduga dibawa oleh orang-orang India yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agamanya dan berdagang.Jenis kelamin : Laki-laki lebih banyak dijangkiti . Sejarah Pendapat kusta adalah penyakit menular yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium Leprae) yang menyerang saraf tepi. Klinis ternyata kontak lama dan berulang-ulang ini bukanlah merupakan faktor yng penting. II. tidak membentuk spora. II. Penyakit ini sering kali menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Selain banyak membentuk safrifit. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen. Banyak hal-hal yang tidak dapat di terangkan mengenai penularan ini sesuai dengan hukum-hukum penularan seperti halnya penyakit terinfeksi lainnya. Menurut Cocrane (1959).Ras : Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti . Epidemiologi Penyakit Kusta Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. GAMBARAN UMUM PENYAKIT KUSTA II. ©2003 Digitized by USU digital library 3 II.3. dimana microbacterium ini adalah kuman aerob. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen. terdapat juga golongan organism patogen (misalnya Microbacterium tubercolose. berbentuk batang yang tidak mudah diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan asam”. maka tidak mengherankan apabila penderita diperlakukan secara tidak manusiawi di kalangan masyarakat. Penyakit kusta bukan penyakit keturunan atau kutukan Tuhan.penanggulangan penyakit kusta. yakni selaput lendir hidung. keamanan dan ketahanan nasional.4.

7. yang mendukung bahwa penyakit itu benar-benar kusta. Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma. Anoreksia. yang mengakibatkan cacat pada tubuh. Kadang-kadang disertai iritasi. Diagnosa kusta dan kelasifikasi harus dilihat secara menyeluruh dari segi : a. Untuk ini menular karena kelainan kulitnya mengandung banyak kuman.Lingkungan : Fisik. Diagnosa Penyakit Kusta Menyatakan (mendiagnosa seseorang menderita penyakit kusta menimbulkan berbagai masalah baik bagi penderita. hanya saja pengobatan mono terapi ini sering mengakibatkan timbul masalah resistensi.6. tetapi lama-lama semakin melebar dan banyak. reaksi : Panas dari derajat yang rendah sampai dengan menggigil. Orchitis dan Pleuritis. ©2003 Digitized by USU digital library 4 II. Cephalgia. Di dalam tulisan ini hanya akan disajikan tanda-tanda secara umum tidak terlampau mendetail. medianus. Bentuk ini tidak menular karena kelainan kulitnya mengandung sedikit kuman. Neuritis. Immunologis d. Hispatologis Namun untuk diagnosa kusta di lapangan cukup dengan ananese dan pemeriksaan klinis. nodul) yarig tersebar pada kulit Alis rambut rontok Muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa) Gejala-gejala umum pada lepra. Nepritis dan hepatospleenomegali. Nausea. sosial. Bentuk tuber koloid mempunyai kelainan pada jaringan syaraf. Tes-tes serologik bukan treponema untuk sifilis sering menghasilkan positif palsu pada lepra. Bakteriologis c. Pengobatan Penyakit Kusta Pengobatan penyakit kusta dilakukan dengan Dapson sejak tahun 1952 di Indonesia. keluarga atapun masyarakat disekitarnya).9. Kadang-kadang disertai dengan Nephrosia. yang kurang sehat II. yakni bentuk leproma mempunyai kelainan kulit yang tersebar secara simetris pada tubuh. memperhatikan hasil yang cukup memuaskan. Biopsi kulit atau saraf yang menebal memberikan gambaran histologis yang khas. biologi. Klinis b. kadang-kadang disertai vomitus.Kesadaran sosial :Umumnya negara-negara endemis kusta adalah Negara dengan tingkat sosial ekonomi rendah . II. hal ini disebabkan oleh karena : Dosis rendah pengobatan yang tidak teratur dan terputus akibat dari lepra reaksi . agar dikenal oleh masyarakat awam. Kerokan dengan pisau skalpel dari kulit. tergantung dari tingkat atau tipe dari penyakit tersebut. selaput lendir hidung bawah atau dari biopsi kuping telinga. Bila ada keraguanraguan sedikit saja pada diagnosa.. dibuat sediaan mikrokopis pada gelas alas dan diwarnai dengan teknis Ziehl Neelsen. Adanya pelebaran syaraf terutama pada syaraf ulnaris. yaitu: Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit. aulicularis magnus seryta peroneus. Diantara bentuk leproma dan tuber koloid ada bentuk peralihan yang bersifat tidak stabil dan mudah berubah-ubah. Kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat. Bentuk-bentuk Penyakit Kusta Penyakit kusta terdapat dalam bermacam-macam bentuk. II. Tanda-tanda Penyakit Kusta Tanda-tanda penyakit kusta bermacam-macam.8. Bila ada keraguan dan fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan pemeriksaan bakteriologis. penderita harus berada dibawah pengamatan hingga timbul gejala-gejala yang jelas.

Mencatat data tingkat cacat dan hasil pemeriksaan skin semar dibuku register. Dengan demikian penting sekali agar petugas kusta memberikan penyuluhan kusta kepada setiap orang. II. 3. ©2003 Digitized by USU digital library 5 * Kulit yang hilang atau kurang rasa terutama ditelapak kaki dan tangan. yang berarti tidak perlu lagi makan obat MDT dan dianggap sudah sembuh. Prednison. Sekurang-kurangnya 80 % dari semua orang tidak mungkin terkena kusta c. Sulfat Feros dan vitamin A (untuk menyehatkan kulit yarlg bersisik). ©2003 Digitized by USU digital library 6 c. Jadi faktor pengobatan adalah amat penting dimana kusta dapat dihancurkan. Rifanficin. Jadi dalam hal ini pentingnya sinar matahari masuk ke dalam rumah dan hindarkan terjadinya tempat-tempat yang lembab. Makin panas cuaca makin cepatlah kuman kusta mati. Tetapi kita tidak dapat menyembuhkan kasus-kasus kusta kecuali masyarakat mengetahui ada obat penyembuh kusta. Pencegahan Penularan Penyakit Kusta Hingga saat ini tidak ada vaksinasi untuk penyakit kusta. MASALAH-MASALAH YANG DITIMBULKAN AKIBAT PENYAKIT KUSTA Seseorang yang merasakan dirinya menderita penyakit kusta akan mengalami trauma psikis. Kasus-kasus menular tidak akan menular setelah diobati kira-kira 6 bulan secara teratur e. 2. Diagnosa dan pengobatan dini dapat mencegah sebagian besar cacat fisik III.10. materi penyuluhan berisikan pengajaran bahwa : a. Menyembunyikan (mengasingkan) diri dari masyarakat sekelilingnya. termasuk keluarganya. sehingga penularan dapat dicegah. Kuman kusta diluar tubuh manusia dapat hidup 24-48 jam dan ada yang berpendapat sampai 7 hari. si penderita antara lain sebagai berikut : a. yaitu : Pengobatan telah selesai. * Semua bercak masih nampak. Penderita harus memelihara tangan dan kaki dengan baik agar janga sampai luka. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa kuman kusta yang masih utuh bentuknya. Sebelum penderita dinyatakan RFT. b. Pada waktu menyatakan RFT kepada penderita. dan mereka datang ke Puskesmas untuk diobati.Waktu makan obat sangat lama sehingga membosankan. materi penyuluhan kusta kepada setiap orang. Disini letak salah satu peranan penyuluhan kesehatan kepada penderita untuk menganjurkan kepada penderita untuk berobat secara teratur. penderita harus segera datang untuk periksaan ulang. * Semua syaraf yang masih tebal. Mengambil skin semar (sesudah skin semarnya diambil maka penderita langsung dinyatakan RFT tidak perlu menunggu hasil skin semar). Enam dari tujuh kasus kusta tidaklah menular pada orang lain d. Mengisi dan menggambarkan dengan jelas pada lembaran tambahan RFT secara teliti. Sebagai akibat dari trauma psikis ini. Ada beberapa obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta. Bila ada tanda-tanda baru. . Pengobatan kepada penderita kusta adalah merupakan salah satu cara pemutusan mata rantai penularan. petugas kesehatan harus : 1. * Semua cacat yang masih ada. Dengan segera mencari pertolongan pengobatan. akibatnya penderita makan obat tidak teratur Selain penggunaan Dapson (DDS). Ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta b. petugas harus member penjelasan tentang arti dan maksud RFT. Mengulur-ulur waktu karena ketidaktahuan atau malu bahwa ia atau keluarganya menderita penyakit kusta. pengobatan penderita kusta dapat menggunakan Lamprine (B663). lebih besar kemungkinan menimbulkan penularan dibandingkan dengan yang tidak utuh. ini tergantung dari suhu dan cuaca diluar tubuh manusia tersebut. Setelah penderita menyelesaikan pengobatan MDT sesuai dengan peraturan maka ia akan menyatakan RFT (Relasif From Treatment).

merasa takut dan menyingkirkannya. najis dan menyebabkan kecacatan. 1990. 1988. Segan berobat karena malu. Masalah terhadap diri penderita kusta Pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri. rehabilitasi karya dan metode pemasyarakatan yang merupakan tujuan akhir dari rehabilitasi. penyakit keturunan. gelandangan dsb). metode rehabilitasi yang terdiri dari rehabilitasi medis. rehabilitasi sosial. Disertasi Pascasarjana. sehingga pendapat tentang kusta merupakan penyakit yang sangat menular. 4. IV. maka penderita sulit untuk diterima di tengah-terigah masyarakat. Jakarta. pada akhirnya si penderita bersifat masa bodoh terhadap penyakitnya. Metode penanggulangan ini terdiri dari : metode pemberantasan dan pengobatan. Pada umumnya masyarakat mengenal penyakit kusta dari tradisi kebudayaan dan agama. mandiri. Ngatimin Rusli HM. Masalah Terhadap Keluarga. Majalah Kesehatan Masyarakat. Sistem Kesehatan Nasional. 1996. ©2003 Digitized by USU digital library 7 DAFTAR PUSTAKA 1. berusaha menyembunyikan penderita agar tidak diketahui masyarakat disekitarnya. merasa tekan batin. dan mengasingkan penderita dari keluarga karena takut ketularan. Masyarakat mendorong agar penderita dan keluarganya diasingkan. Penderita kusta sebagai manusia yang juga mendapat perlakuan secara manusia. 3. Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin. Ujung Pandang. masyarakat menjauhi keluarga dari perideita. takut terhadap penyakitnya dan terjadinya kecacatan. FK-UI. Jakarta. 6. Jakarta. 1982. penyebaran penyakit. Oleh karena berbagai masalah. Ketiga metode tersebut merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Ngatimin Rusli HM. tidak dapat diobati.d. Hal ini dapat dilihat dengan penting peranan penyuluhan kesehatan kepada penderita dan keluarga serta masyarakat dimana dengan penyuluhan ini diharapkan penderita dapat berobat secara teratur. 2. jadi keluarga dan masyarakat tidak perlu mendorong untuk mengasingkan penderita kusta tersebut. keluarga merasa takut diasingkan oleh masyarat disekitarnya. karena kecacatan tidak dapat mandiri sehingga beban bagi orang lain (jadi pengemis. Kosasih. 3. produktif dan percaya diri. Masalah Terhadap Masyarakat. A. dan pengobatannya maka tidaklah perlu timbul lepraphobia. Keluarga menjadi panik. Ditjen PPM dan PLP. dan tidak perlu dijauhi oleh keluarga malahan keluarga sebagai pendukung proses penyembuhan serta masyarakat tidak perlu mempunyai rasa takut yang berlebihan. . takut mengahadapi keluarga dan masyarakat karena sikap penerimaan mereka yang kurang wajar. V. Sebagai akibat kurangnya pengetahuan/informasi tentang penyakit kusta. Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta. kutukan Tuhan. Depkes RI. Upaya Menciptakan Masyarakat Sehat di Pedesaan. PENUTUP Dengan megetahui penyebab. berubah mencari pertolongan termasuk dukun dan pengobatan tradisional. Kusta. dimana penderita dan masyarakat membaur sehingga tidak ada kelompok tersendiri. Leprophobia. 1987. Sebagai akibat dari hal-hal tersebut diatas timbullah berbagai masalah antara lain: 1. 1993. Ditjen PPM dan PLP. Tahun XXI. PENANGGULANGAN PENYAKIT KUSTA Penanggulangan penyakit kusta telah banyak diderigar dimana-mana dengan maksud mengembalikan penderita kusta menjadi manusia yang berguna. 2. apatis. Buku Pegangan Kader dalam Pemberantasan Penyakit Kusta. Nomor 5. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful