KASUS KESEHATAN MASYARAKAT DAN KESEHATAN KERJA

DISKUSI 1 SESI 1

Kelompok 8
• 0302011166 Libry Selviana • 0302012016 Andhika Rezky • 0302012156 Maria Andriani • 0302012176 Muhamad Naufal

• 0302012036 Asfarul Anam
• 0302012056 Cindy Nafriani • 0302012076 Diajeng Tri • 0302012096 Faisal Haris

• 0302012196 Nuraliyah
• 0302012216 Putu Adi Kusuma • 0302012238 Rizky Yhulianti • 0302012258 Silviana Wulandika

• 0302012116 Ghaisania
• 0302012136 Jesika Merlin

• 0302012278 Wanda Junita Safitri
• 0302012298 Nur Liza

Skenario kasus
Anda adalah seorang dokter yang bertugas di daerah flores, Nusa tenggara Timur. Beberapa teman anda menginformasikan bahwa daerah tempat anda bertugas merupakan daerah endemis untuk suatu penyakit menular, dengan insiden yang cukup tinggi akhir-akhir ini.

Seorang pasien, Tn. B, usia 35 tahun dating ke puskesmas di daerah tempat anda bertugas dengan keluhan demam dan peradangan saluran serta kelenjar limfe yang hilang timbul berulang kali. Tn B adalah petani yang sehari-hari berkerja di sawah. Setelah dilakukan pemeriksaan darah, Tn. B dinyatakan menderita filariasis

epidemiologi • Prevalensi : Jumlah kasus baru dan lama dalam suatu populasi dalam periode tertentu • Prevalensi Rate : prevalensi dibagi populasi dikali konstanta • Insidens : jumlah kasus baru dalam suatu populasi dalam periode tertentu • Insidens Rate : insidens dibagi populasi beresiko dikali konstanta dlm jangka waktu tertentu .

Apa itu filariasis ?? Filariasis adalah penyakit yang mengenai kelenjar dan saluran limfe yang disebabkan oleh parasit golongan nematoda yaitu Wuchereria bancrofti. Brugia malayi dan Brugia timori yang ditularkan melalui nyamuk. .

terdapat lebih dari 8000 orang penderita klinis kronis filariasis yang tersebar di seluruh propinsi. Myanmar. Sedangkan di Asia filariasis menjadi penyakit endemik di Indonesia. Di Indonesia berdasarkan survei yang dilaksanakan pada tahun 2000-2004. . dengan 6 juta penduduk diantaranya telah terinfeksi. filariasis telah menginfeksi 120 juta penduduk di 83 negara di seluruh dunia. Secara epidemiologi. data ini mengindikasikan lebih dari 60 juta penduduk Indonesia berada di daerah yang beresiko tinggi tertular filariasis. penyakit kaki gajah (Filariasis) terdapat hampir di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan beberapa daerah sub tropis.Menurut survey nasional ? Menurut Widoyono (2008). Pada tahun 2004. India dan Srilanka.

Agen penyebab filariasis W. bancrofti Brugia malayi Brugia timori (Vektor) (Vektor) (Vektor) Nyamuk Culex quinquefasciatus Nyamuk Mansonia sp Nyamuk Anopheles barbostis .

Apa yang dimaksud daerah endemis ? • Daerah Endemis adalah adalah daerah dimana penyakit secara menetap berada dalam masyarakat pada suatu tempat / populasi tertentu. .

Provinsi yang termasuk daerah endemis filariasis di Indonesia 2500 2000 1500 1000 500 0 RIAU IRJABAR PAPUA NTT NAD .

mansonia.aedes dan armigeres .vektor:nyamuk • Genus:culex.Genus vektor filariasis • 5.anopheles.

kera.Hospes filariasis • Manusia transmigran lebih rentan daripada penduduk lebih banyak terdapat pada laki-laki • Hewan : lutung. kucing asli .

Sinar matahari 8). Suhu udara 3). lutung dan kucing) 1).Pemasangan kawat kasa .Faktor lingkungan filariasis • a. Hujan 5). Keadaan dinding 9). Angin 4). Lingkungan Fisik • Lingkungan dengan tumbuhan air di rawarawa dan adanya hospes reservoir (kera.

budaya. termasuk perilaku. Lingkungan Kimia Dari lingkungan ini yang baru diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perkembangbiakan. dan Budaya Lingkungan sosial. kebiasaan dan tradisi penduduk . Lingkungan Sosial. rawa-rawa. genangan air. adat istiadat. dan semak-semak c. d. Lingkungan Biologik Lingkungan biologik dapat menjadi faktor pendukung terljadinya penularan filariasis. Contoh lingkungan biologik adalah adanya tanaman air. Ekonomi. ekonomi dan kultur adalah lingkungan yang timbul sebagai akibat adanya interaksi antar manusia.Faktor lingkungan filariasis b.

PROSES INFEKSI FILARIASIS .

Fisik cacat fisik permanen ( pembengkakan kaki. Psikososial malu karena cacat fisik terjadinya perceraian kesulitan mendapatkan pasangan . tangan. Ekonomi tidak bisa bekerja hilangnya pendapatan biaya pengobatan cukup mahal 3.Dampak dari penyakit filariasis 1. dan alat kelamin) 2.

ELIMINASI FILARIASIS Kelompok 8 .

1582/MenKes/SK/XI/2005 tentang Pedoman Pengendalian Filariasis.Skenario Kasus Filariasis sesi 2 Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Di setiap kabupaten / kota yang mempunyai kasus kronis filariasis berkewajiban untuk melakukan survey darah jari. maka di wilayah endemis ditetapkan “Eliminasi Filariasis” sebagai salah satu prioritas Nasional Pemberantasan Penyakit Menular. terutama untuk wilayah dengan hasil survey massal didapatkan MF rate > 1%. .

) Memperkuat surveilans dan mengembangkan penelitian.Strategi Utama Program Eliminasi Filariasis 1. 4. 5. Tujuan Pengobatan Massal Tujuan umum • filariasis tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia pada tahun 2020.) Memutuskan rantai penularan filariasis melalui pengobatan massal di daerah endemis filariasis. • Merncegah dan membatasi kecacatan karena filariasis.)Pengendalian vektor secara terpadu. 2. 2.) Mencegah dan membatasi kecacatan melalui penatalaksanaan kasus klinis fliariasis. . 1.) Memperkuat kerjasama lintas batas daerah dan negara. Tujuan Khusus • menurunnya angka mikrofilaria (mf rate) menjadi 1% din setiap kabupaten/kota. 3.

Sasaran Pengobatan Massal Sasaran pengobatan massal dilaksanakan serentak terhadap terhadap semua penduduk yang tinggal di daerah endemis filariasis. tetapi pengobatan untuk sementara ditunda bagi : • Anak-anak berusia kurang dari 2 tahun • Ibu hamil • Orang yang sedang sakit berat • Penderita kasus kronis filariasis sedang dalam serangan akut • Balita dengan marasmus atau kwasiorkor .

. Jika wanita tersebut terlambat dua bulan tidak mendapat menstruasi maka dia dipertimbangkan sebagai wanita hamil dan tidak akan diberikan pengobatan. Mengisi Kartu Pengobatan Keluarga 2. Menuliskan umur 3. Orang tersebut harus minum obat langsung di depan petugas kesehatan atau anggota Tenaga Pembantu Eliminasi. 4. Menanyakan pada wanita usia produktif jika mereka hamil.Prosedur dan Cara Pemberian Pengobatan Massal 1. Memberikan dosis yang tepat sesuai dengan cara pengobatan 5.

Cara pemberian obat • Berdasarkan berat badan Berat Badan (kg) 10-16 17-25 26-33 • Berdasarkan usia DEC (100m g) tablet 1 2 3 DEC (100 mg) tablet 1 Albend Paracet azole amol (400mg (500mg ) tablet ) tablet 1 0.5 Usia (tahun) 2-4 2-14 >14 Parace Albend tamol azole(4 (500m 00mg) g) tablet tablet 1 1 1 0.5 1 1.5 5 5.5 2 2.5 3 3.25 0.5 1 1 1 1 1 0.5 1 1 1 1 34-40 41-50 51-58 59-67 68-75 76-83 >84 4 4.5 1 1 1 1 1 1 1 1 .

Survey Darah Jari ? Identifikasi mikrofilaria dalam darah tepi pada suatu populasi. yang bertujuan untuk menentukan endemisitas darah tersebut dan intensitas infeksinya Waktu Pengambilan Specimen ? dilakukan pada malam hari karena cacing penyebab filariasis adalah cacing nokturnal (aktif pada malam hari) .

diberi nomor dengan spidol waterproof sesuai dengan nomor penduduk yang telah didaftarkan dalam formulir pencatatan survei. INGAT: . 4. Selanjutnya darah tersebut dilebarkan dengan menggunakan salah satu ujung kaca benda lain sehingga membentuk sediaan darah tebal berbentuk oval berukuran 1×2 cm. sehingga permukaan kaca benda tetap bersih.Teknik Pengambilan Specimen 1.Selama proses pengambilan darah. Kaca benda (slide) yang sudah bersih dari lemak dan kotoran. Ujung jari kedua atau ketiga atau keempat dibersihkan dengan kapan alkohol 70% dan setelah kering ditusuk tegak lurus alur garis pada jari tangan dengan lanset sehingga darah menetes keluar (dengan penekanan ringan) Tetesan darah pertama yang keluar dihapus dengan kapas kering. . kemudian tetesan darah selanjutnya diteteskan sebanyak tiga tetes (diperkirakan 20 µL) pada kaca benda yang sudah disiapkan. 2. 3.Satu lanset hanya dipakai untuk satu orang . kecoa dan lain-lain. petugas harus memakai sarung tangan. Sediaan darah tersebut dikeringkan selama 1 malam pada suhu kamar dengan menyimannya di slide box dan tempat yang aman dari semut. Kaca benda dipegang pada tepi atau pada sudutnya.

yaitu pengobatan hanya di berikan pada penderita yang positif microfilaria beserta anggota keluarganya. • Bila mf rate <1% pada semua lokasi survey.Mikrofilaria Rate (Mf rate) Definisi: microfilaria rate(mf rate) bisa di hitung dengan cara membagi jumlah penduduk yang sediaan darahnya positif microfilaria dengan jumlah sediaan darah yang di periksa di kali 100%. .maka kabupaten/kota tersebut ditetapkan sebagai daerah nonendemis dan dilaksanakan pengobatan selektif. Guna: • Bila mf rate >1% di salah satu atau lebih lokasi survey maka kabupaten/kota tersebut ditetapkan sebagai daerah endemis yang harus dilaksanakan pengobatan massal.

agar berperan aktif dalam upaya eliminasi filariasis. Merancang dan menggandakan bahan-bahan promosi . 3. berperan aktif dalam upaya eliminisasi filariasis di daerahnya. Meningkatkan pengetahuan. 1. antara lain: Mengidentifikasi dan menentukan sasaran promosi. Penderita klinis filariasis bersedia memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan serta mampu merawat anggota tubuh yang sakit. Pengembangan pesan promosi yang mendukung peningkatan pengetahuan. Anggota masyarakat melaksanakan pengobatan massal filariasis secara teratur sekali setahun. antara lain : 1. 2. Menentukan metode promosi yang tepat. b. minimal selama lima tahun berturut-turut. 2. 3. sikap dan perilaku masyarakat. sikap dan perilaku masyarakat dalam upaya eliminasi filariasis.Promosi Kesehatan a.

dinas kesehatan propinsi membuat pemetaan kabupaten/kota endemis . Dinas kesehatan kabupaten/kota merekapitulasi seluruh hasil survei dan melaporkan ke dinas kesehatan propinsi. 3. 2.Alur Pelaporan 1. dinas kesehatan propinsi melakukan rekapitulasi dan analisis dari hasil survei kabupaten/kota.

penduduk bersedia datang dan diperiksa waktu dilakukan SDJ .penduduk bersedia minum obat secara teratur . Turunnya tingkat penularan penyakit sesudah dilakukan pengobatan . Perubahan perilaku masyarakat ke arah yang diharapkan. yaitu: .ada usaha penduduk untuk menghindari diri dari gigitan nyamuk dan bersihnya lingkungan pemukiman penduduk dari sarang nyamuk 2.Evaluasi Keberhasilan 1.

Dosis anak disesuaikan dengan BB b. albendazole dan parasetamol 1x setahun min. apabila penderita berada di daerah endemis. diberikan DEC 3x1 tablet 100mg selama 10 hari berturut-turut dan parasetamol 3x1 tablet 500mg dalam 3 hari perama untuk orang dewasa. . 5 tahun berturut-turut. Pengobatan Kasus Klinis untuk daerah endemis dan non-endemis a. maka pada tahun berikutnya baru boleh diikutsertakan dalam pengobatan massal dengan DEC. kasus klinis dengan serangan akut atau kronis yang sedang mengalami serangan akut harus diobati terlebih dahulu c.Penatalaksanaan Kasus Kronis Filariasis 1.

Limfedema • pencucian • pengobatan luka dan lesi di kulit • latihan • meninggikan tungkai atau lengan yang sakit • pemakaian alas kaki yang cocok • pemakaian verban elastik • pemakaian salep antibiotik dan antijamur • antibiotik sistemik • bedah kosmetik .2. Perawatan kasus kronis dilakukan berdasarkan kondisi medis masing-masing kasus a.

b. lymph scrotum • menjaga kebersihan buah zakar • perawatan luka dan lesi dikulit dengan salep antibiotik atau antijamur • bila ada serangan akut diobati dengan obat simtomatis • pengobatan individual DEC 100mg 3x1/hari selama 10 hari • luka di kulit dapat ditutup dengan verban steril c. Hidrokel • menjaga kebersihan buah zakar • • perawatan luka dan lesi jika ada dirujuk ke rumah sakit untuk terapi bedah .

Untuk itu kita sebagai warga Indonesia harus ikut melakukan tindakan pencegahan mulai dari hal-hal kecil. agar Indonesia bebas dari filariasis .Kesimpulan • Filariasis merupakan penyakit menular berbahaya yang penyebaran nya endemis di indonesia.

Pedoman Program Eliminasi Filariasis di Indonesia.com/2013/02/epidemiolodi-filariasis.%201582%20ttg%20Pedoman%20Pengendali an%20Filariasis%20(Penyakit%20Kaki%20Gajah). Pedoman Pengobatan Massal Penyakit Kaki Gajah. Pedoman Penentuan dan Evaluasi Daerah Endemis Filariasis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. . 2.hukor. Widoyono.depkes. 4. 9. Trop.. 1983.gov/dpdx DEPKES RI. Trans. S. 5.depkes. 2005.78: 9-12 Departemen Kesehatan RI. http://ejournal. 7. WHO. A. Departemen Kesehatan RI DirJen PPM & PL.indonesian-publichealth. Erlangga. Roy. Low dosage diethylcarbamazine administered by villagers for the control of timorian filariasis. 6. http://www. Soc. Penularan. and Oemijati. Jakarta. Lymphatic filariasis infection and disease :control stategis.cdc.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No. F. Pencegahan dan Pemberantasannya. 8.html http://www.go. Soewarto.dpd. Med.go. 2008.Daftar pustaka 1.php/vektorp/article/view/1168/757 http://www. Jakarta.2006.id/index. 4-5. Buku 4. 1994.pdf. Penyakit Tropis Epidemiologi. 2004 Partono.litbang. Purnomo. Hyg. 3. P.

THANK YOU .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful