P. 1
makalah eutanasia

makalah eutanasia

|Views: 41|Likes:
Published by Aldhi Doank

More info:

Published by: Aldhi Doank on Jun 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/21/2013

pdf

text

original

Kamis, 23 Desember 2010

Makalah Euthanasia
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam perkembangan dunia yang semakin maju, peradaban manusia juga tampil gemilang sebagai refleksi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tegnologi, persoalan-persoalan norma dan hukum kemasyarakatan dunia bisa bergeser, sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang bersangkutan.
Di dalam masyarakat modern seperti Barat, kebutuhan dan aspirasi masyarakat menempati kedudukan yang tinggi, sehingga berdasarkan itu suatu produk hukum baru di buat. Dari sini dapat digambarkan bahwa apabila terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat, maka interprestasi terhadap hukum juga bisa berubah. Dari perbuatan yang dahulu di anggap tabu, pada waktu tertentu pandangan itu bisa saja berubah menjadi serba boleh. Kalau dahulu perbuatan mengakhiri hidup sendiri merupakan perbuatan tabu dan aneh, namun pada saat ini bukan lagi hal aneh bahkan sering terjadi, dan bisa melalui legalitas pengadilan seperti yang sering terjadi di beberaspa negara barat. Begitu juga dengan masalah Euthanasia yang telah lama dipertimbangkan oleh kalangan kedokteran dan para praktisi hukum di negara-negara Barat. Di indonesia masalah ini pernah diperbicangkan, seperti yang dilakukan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam seminarnya tahun 1955 yang melibatkan para ahli kedokteran dan ahli hukum positif serta para ahli hukum islam. Pro dan kontra terhadap Euthanasia itu masih berlangsung terutama ketika masalahnya dikaitkan dengan pertanyaan “b ahwa menentukan hak mati itu hak siapa dan dari sudut manakah harus dilihat”. Oleh sebab itu, melalui makalah ini diharapkan bisa mengungkap suatu pandangan yang komprehensif mengenai hukum Euthanasia menurut islam, akan tetapi tetap harus meninjau terlebih dahulu dari segi kedokteran dan hukum positif.

B. Rumusan Masalah 1. 2. 3. Apa definisi euthanasia dan apa saja macam-macamnya. Bagaimana kriteria mati menurut kedokteran. Bagaimana euthanasia menurut KUHP dan kode etik kedokteran.

Oleh karena itu. dan Thanatos yaitu mati. Euthanasia berasal dari kata Yunani Eu yang berati baik. Oleh karena itu. B. Sedangkan yang dimaksud Euthanasia Pasif adalah suatu tindakan membiarkan pasien atau penderita dalam keadaan tidak sadar (comma). Maksudnya adalah mengakhiri hidup dengan cara yang mudah dan tanpa merasakan sakit. Tujuan Pembahasan 1. jika kondisi pasien berdasarkan ukuran dan pengalaman medis masih menunjukkan adanya harapan hidup. Mengetahui hukum euthanasia dilihat dari perspektif islam. karena berdasarkan pengalaman maupun ukuran medis sudah tidak ada harapan hidup atau tanda-tanda kehidupan tidak terlihat lagi padanya. . Mengetahui Apa definisi euthanasia dan apa saja macam-macamnya. Hal ini disebabkan semakin majunya perkembangan ilmu pengatahuan.4. 2. Kriteria Mati. Pengertian Euthanasia dan Macam-macamnya. Dengan kata lain tanda-tanda kehidupan masih terdapat pada penderita ketika tindakan itu dilakukan. di daerah yang tidak mempunyai pengukur jantung biasanya cukup hanya dengan mengetahui gerak nadi. C. Dahulu ukuran kematian dilihat pada nafas kemudian ukuran itu ditanggalkan dan diganti bahwa kematian itu diukur dengan tidak berfungsinya jantung. Perbincangan Euthanasia berkaitan erat dengan masalah definisi mati. Bagaimana euthanasia dalam tinjauan hukum islam. Mengetahui kriteria mati menurut kedokteran. namun definisi tentang mati itu sendiri tampaknya mengalami perkembangan.[1] Dilihat dari kondisi pasien tindakan euthanasia bisa dikategorikan menjadi dua macam yaitu aktif dan pasif : 1. 2. Euthanasia Aktif adalah suatu tindakan mempercepat proses kematian. 3. Euthanasia sering disebut juga dengan Mercy Killing atau mati dengan tenang. BAB II PEMBAHASAN A. 4. Mengetahui euthanasia menurut KUHP dan kode etik kedokteran. terutama dibidang teknologi kedokteran.

dengan hukuman penjara selama-lamanya lima belas tahun”. apakah pupil (anak mata) masih memberi reaksi terhadap cahaya. maka dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun”. sehingga hak hidup secara wajar sebagaimana harkat kemanusiaannya menjadi terjamin. lebih-lebih terhadap jiwa manusia.[2] C. yang menurut ilmu dan pengalaman tidak mungkin ada sembuh lagi (Euthanasia). Mahar Madjono tidaklah terlalu sulit: “Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai alat Electro Enceflograf (EEG) yakni alat ditektor otak. Tindakan ini bisa dilakukan oleh setiap dokter. dihukum. Islam sangat menghargai jiwa. walaupun dengan peralatan rumah sakit yang sederhana”.Dan kini diketahui bahwa jantung ternyata digerakkan oleh pusat saraf penggerak yang terletak pada bagian batang otak dikepala. Diantara firman Allah yang menyinggung mengenai jiwa atau nafs ini adalah sebagai berikut : . yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh. maupun menurut etik kedokteran. [3] Dokter yang melakukan tindakan Euthanasia (aktif khususnya) bisa diberhentikan dari jabatannya karena melanggar kode etik kedokteran. Jadi. kemudian memeriksa reaksi motoriknya pada mata). Euthanasia Menurut KUHP dan Kode Etik Kedokteran.Kes / SK / X / 1983 yang di sebutkan pasal 10 : ”Setiap Dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup makhluk insani”. 1. Oleh karena itu. seorang manusia tidak sama sekali berwenang dan tidak boleh melenyapkannya tanpa kehendak dan aturan Allah sendiri. Bisa juga dengan memeriksa refleks vestibula okular (meneteskan 20cc air es ke telinga kiri dan kanan. Dan juga pasal 388 KUHP dinyatakan: “Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang mengharuskan kita untuk memelihara jiwa manusia (hifzhal al-Nafs). Euthanasia Dlam Tinjauan Hukum Islam. seorang dokter tidak diperbolehkan : a) b) Menggugurkan Kandungan (Abortus Provactus). Mengakhiri hidup seseorang penderita. Prinsip umum Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang berkaitan dengan masalah jiwa manusia adalah memberikan perlindungan. Kedudukan Jiwa Dalam Islam.[4] D. Di dalam pasal 344 KUHP dinyatakan: “Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Untuk menentukan kerusakan otak pada manusia menurut Prof. Jika batang otak beul-betul mati maka harapann hidup seseorang sudah terputus. Para ahli kedokteran tampaknya sepakat bahwa yang menjadi patokan dalam menentukan kematian adalah batang otak. Berarti bahwa baik menurut Agama dan Undang-undang Negara. karena makar mati. Di dalam kode etik kedokteran yang ditetapkan oleh Mentri Kesehatan nomor : 434 / Men. maka cukup dengan mengetes refleksi kornea mata. kalau hanya terjadi pendarahan pada otak belum tentu penderita mati.

...... Adapun pertimbangan ketiga....... maka balasannya adalah jahanam.... Sedangkan pertimbangan kedua.. atau karena tidak sanggup lagi menanggung biaya perawatan........[6] Tindakan menghilangkan jiwa milik orang lain maupun milik sendiri adalah perbuatan melawan hokum Allah.... Q.[5] b.... adalah refleksi dari kelemahan iman. tindakan menghilangkan jiwa hanya diberikan kepada lembaga peradilan (Pemerintah Islam) sesuai dengan aturan pidana islam.. Sementara aspek pelaku sudah jelas terdiri dari dokter........... yaitu dari pihak keluarga yang merasa kasihan kepada pasien yang masih termasuk bagian dari keluarga mereka.... al-Najm ayat 44 : .........”. “Dan bahwasannya Dialah yang mematikan dan menghidupkan ”.... sebagaimana dalam firman-Nya dalam Q... pasien dan keluarga...S... tidak ingin meningggalkan beban ekonomi. bahkan berdo’a meminta dimatikanpun tidak diper bolehkan.... sehingga perbuatan yang merusak atau menghilangkan jiwa manusia akan di ancam dengan hukuman yang setimpal (Qishash atau Diyat)..S an-Nisa’ ayat 93 :.......... islam tidak membenarkan dalam situasi apapun untuk melepaskan nyawanya.. dan mengutuknya serta menyediakannya azab yang besar baginya... Islam menghendaki setiap muslim untuk selalu optimis... “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja..a.. kekal didalamnya dan Allah murka kepadanya. maka yang bersangkutan terkena larangan Allah.. 2... maka tindakna ini jelas sekali sebagai penbunuhan sengaja. atau tidak punya harapan sembuh.. Bagaimana Islam Menghukumi Euthanasia. Begitu pula terjadinya Euthanisia aktif itu sendiri tidak terlepas dari alasan-alasan berikut ini : Alasan pertama.......... Dari segi Nash.. . al-Hijr ayat 23 : . Q.. islam secara tegas melarang pembunuhan. bahwa pasien sudah tidak tahan menanggung derita yang berkepanjangan. dan Allah mengancam pelakunya dengan azab neraka... maka apabila diselesaikan dengan euthanasia berarti perbuatan itu tergolong pembunuhan sengaja. Cara euthanasia yang ditempuh oleh pasien tersebut salah. Begitu besarnya penghargaan islam terhadap jiwa... “Dan sesungguhnya benar-benar kamilah yang menghidupkan dan mematikan … “...... bahwa keluarga atau salah seorang diantara mereka yang bekerjasama dengan dokter untuk melakukan Euthanasia...... karena biasanya upaya untuk mengurangi beban pasien dalam penderitaannya melalui suntikan dengan bahan pelemah fungi saraf dalam dosis tertentu (Neurasthenia)......S..... Akan tetapi apakah Euthanasia dengan begitu saja digolongkan sebagai pembunuhan? Sedangkan aspek tindakan sebagai unsur kedua sudah jelas ada............ yaitu sebagai tindakan bunuh diri dan termasuk mengingkari Rahmat Allah. dengan harapan agar segera memperoleh harta warisan dan sebagainya.

Apapun alasannya. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian terdahulu di atas. undang-undang hukum pidana. baik karena biaya yang amat terbatas maupun rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap terlalu jauh. bukan membunuh. baik dilihat dari segi kode etik kedokteran. Oleh karena itu. Hal itu hendaknya dihadapi dengan penuh . B. Yang berhak mengakhiri hidup seseorang hanya Allah SWT. Umat islam diharapkan tetap berpegang teguh terhadap kepercayaannya yang menganggap segala musibah (termasuk menderita sakit) sebagai ketentuan yang dating dari Allah. apabila tindakan itu berupa euthanasia aktif. perlu kiranya dikemukakan saran-saran berikut : 1. seperti Euthanasia Aktif adalah perbuatan bunuh diri. yang diharamkan dan diancam Allah dengan hukuman neraka selama-lamanya.H. 2. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. kalaupun tidak sanggup kembalikan kepada keluarga. artinya membawa pasien pulang kerumahnya. tugas dokter adalah menyembuhkan. yang berarti suatu tindakan mengakhiri hidup manusia pada saat yang bersangkutan masih menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan.K. b) Membiarkan pasien dalam perawatan seadanya tanpa ada maksud melalaikannya. orang yang mengakhiri hidup dengan cara atau alas an yang bertentangan dengan ketentuan Agama (Laisa bi al-haq). maka islam mengharamkannya. lebihlebih menurut islam yang menghukuminya haram. 3. manusia tidak mengetahui kapan kematian dating menyapanya. Jadi. Syukron Makmun berpendapat bahwa kematian itu adlah urusan Allah. Saran-saran Untuk menghadapi masalah yang berkaitan dengan adanya Euthansia ini. maka dapat dilakukan dua cara : a) Menghentikan perawatan atau pengobatan. Jika pertimbangan kemampuan untuk memperoleh layanan medis yang lebih baik tidak memungkinkan lagi. Euthana Aktif tetap dilarang. apalagi menghendaki kematiannya. yaitu sepanjang kondisi organ utama pesien beruoa batang otaknya sudah mengalami kerusakan fatal. 2. mempercepat kematian tidak dibenarkan. Euthanasia Pasif diperbolehkan.

hal 137 [4] Keputusan Mentri Kesehatan RI nomor : 434/Men.Kes/SK/X/1983 Tentang. hal 978 [2] Majalah Tempo.Erwan. 1987. Dan justru keadaan yang kritis tersebut merupakan masa penentuan kokoh dan tidaknya iman seseorang. Eksiklopedia Indonesia. Al qur’an dan terjemahnya. Vol 2. Topik Euthanasia. Himpunan Undang-undang dan Peraturan-peraturan Hukum Pidana. Al hidayah. hal 875 . Ikhtiar Baru.69 [3] Drs. 3.Cs. Para dokterk diharapkan tetap berpegang kepada kode etik kedokteran dan sumpah jabatannya. serta konsekuensi dari sikap yang di ambil akan dipertanggung jawabka dikemudian hari. [1] Van Hoeve. 1979. 06 April 1085.kesabaran dan tawakal. Jakarta. belakunya kode etik kedokteran indonesia bagi para dokter indonesia. sehingga tindakan yang mengarah kepada percepatan proses kematian bisa dihindari. 1988. Hal 392 [5] Departemen Agama RI. Jakarta.T. Jakarta:yayasan penerbit Ikatan Dokter Indonesia. Surabaya. No 06. Aksara Baru. hal 392 [6] Ibid. 19898. Hal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->