P. 1
Pahlawanku Bilang

Pahlawanku Bilang

|Views: 1|Likes:

More info:

Published by: Anugerah Tasma Agung on Jun 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/08/2014

pdf

text

original

TUGAS KWN ANUGERAH TASMA AGUNG 97527/09 TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI

Pahlawanku Bilang “Jangan Pernah Malu Menjadi Bangsa Indonesia”

Sekitar 5 tahun yang lalu di sebuah emperan rumah… Senja itu, kakek menutup mataku dari belakang dengan kedua telapak tangannya yang sudah kasar. Mengagetkanku yang sedang merenung memandangi kibaran bendera merah putih yang sudah tak seputih dulu, kumal. Bendera yang dihempas angin kemarau di Agustus 2005 mengantarkan pikiranku pada pelajaran sejarah yang membosankan. “Hayoo tebak ini siapa?“. Kakek menantangku. “Ah kakeek.. “. Jawabku lantang. Dia kemudian memelukku, dan seolah tahu apa yang aku pikirkan. Aku lantas bertanya pada kakek tentang kisah perjuangan bangsa ini. Selama lebih dari 3,5 abad dijajah oleh negara barat dan Jepang, dan akhirnya memproklamasikan diri menjadi negara merdeka. Kakek bercerita tentang hidupnya yang dulu ikut berjuang memberontak penjajah. Panjang ceritanya yang intisarinya adalah mengungkapkan cerita dibalik segala keringat, darah dan harta yang dikorbankan untuk bangsa dan negara ini. Kakek adalah veteran pejuang kemerdekaan di tahun 40-an. Meskipun kini sudah renta, tapi semangatnya sangat luar biasa. Tak seperti kakek-kakek kebanyakan yang sudah berkorsi roda, dia justru sering menantangku berlari, bermain bulu tangkis dan yang lebih hebat, bercocok tanam di sawah. Namanya, Marto. Biasa dipanggil mbah Marto. Dia sangat ulet, dan memiliki ingatan tajam. Sampai dapat menceritakan segala apa yang dia alami di masa-masa penderitaan selama ini. Berlari membawa bambu runcing, senjata yang berkarat, dan menyelinap menghidari ranjauranjau. Siang malam dia tidak bisa tidur untuk mengurusi para tentara musuh yang sewaktuwaktu berseliweran memasuki gang-gang kampung. Dia sempat menjadi pegawai tanam paksa. Pekerja jalan raya besar Anyer-Panarukan. Dan pekerja romusha Nippon yang kejam. Namun dia selalu kuat sembari pasrah akan hidupnya kepada yang Maha Kuasa. Kini, sang kakek telah memiliki hidup baru. Punya istri yang akhirnya melahirkan keturunanketurunan hebat. Sayang, kini meskipun mantan tentara, dia tidak dapat menahan air matanya

ketika melihat nasib para veteran kini yang cenderung diabaikan di negeri ini. Kesejahteraan para pejuang Tanah Air ini kerap dikesampingkan. Penghasilan mereka pun bahkan di bawah UMR. Para veteran ini sudah mengabdi 30 tahun, tapi hanya mendapat pensiun Rp 700 ribu per bulan. Kakek sendiri hanya menjadi seorang pekerja serabutan selain petani sawah yang menjadi warisan orang tuanya dulu. Dulu tangannya untuk memegang senjata, kini memegang cangkul. Dulu kakinya bersepatu tentara, kini berlapis lumpur. Dulu kepalanya bertopi kupluk pejuang, kini caping yang agak tumpul. Namun, sekali lagi, kakek selalu bersyukur dan jarang mengeluh. Dia bangga menjadi bagian dari bangsa ini. Dia tidak malu memakai atribut perjuangannya dulu jika keluar rumah. Dia tidak banyak kritik terhadap pemerintah, tidak ikut demo kepada DPR menuntut kenaikan penghasilan, dan tidak menyesal menjadi veteran. Memiliki keluarga sedehana dan sakinah mawadah warohmah seperti sekarang sudah lebih dari cukup. Lebih-lebih dia bahagia memiliki cucu seperti aku ini. Mbah Marto menjadi sosok yang luar biasa dalam hidupku. Dia telah mengajariku banyak hal tentang bagaimana hidup berbangsa dan bernegara. “Rela Berkorban” yang menjadi topic bahasan mata pelajaran PPKN di SD dulu seharusnya tidak hanya dibaca dan dihafal, melainkan diwujudkan dalam realita. Berkorban demi bangsa ini di masa kini adalah dengan mengisi kemerdekaan. Bekerja sebagai PNS seperti aku kini dengan sepenuh hati, iklas dan bersahaja. Kembali ke emperan rumah… Kakek menunjukan paha kakinya. Terlihat bekas luka tembak. Dia mengisahkan kejadian sekitar 70 tahun yang lalu dimana dia lolos dari maut tatkala akan menyelamatkan adiknya. Peluru Belanda menyelonong ke gubugnya yang hampir runtuh. Kemudian dia bertanya : “Kamu diajari sama gurumu kalau Indonesia itu dijajah Belanda 3,5 abad ya le..?”. “Iya benar kek, emang segitu kan..?” sahutku. “Salah. Yang benar adalah Indonesia berperang melawan Belanda selama 3,5 abad lamanya dan Indonesia menjadi penemangnya…!” Jelasnya. Itulah kalimat luar biasa yang menyemangatiku kini dan untuk anak-anakku kelak. Bahwa kalimat “Indonesia Dijajah Belanda selama 3,5 abad” harus diubah menjadi “Indonesia berperang melawan Belanda selama 3,5 abad dan Indonesia menjadi pemenangnya..” Bukan merubah fakta sejarah, akan tetapi merubah paradigma, bahwa kakek tidak ingin kesan bahwa Indonesia lemah, bodoh, hina, miskin sampai bisa dijajah oleh Belanda sama sekali tidak benar. Karena kakek sendiri mengalami kekuatan yang luar biasa, kecerdaran yang hebat, dan persatuan yang tak terbantahakan menjadi senjata tajam perlawanan untuk berperang. Ya, Indonesia berperang, berjuang dan mengalahkan musuh. Sehingga generasi muda menjadi paham bahwa Indonesia adalah negara kuat dalam sejarah bangasanya. Penutup kalimat panjang lebarnya, dia menyematkan kepada dadaku : “JANGAN PERNAH MALU MENJADI BANGSA INDONESIA”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->