Cekungan Barito, Kalimantan Selatan

CEKUNGAN BARITO

ABSTRACT Cekungan Barito terletak bagian tenggara Kalimantan. Cekungan Barito disebelah barat dibatasi oleh dataran sunda, sebelah timur Pegunungan Meratus, sebelah utara dibatasi oleh Cekungan Kutai. Sedimen tersier dibawah cekungan ini relatif tipis. Cekungan ini khas asimetris. Dari sebelah barat dekat paparan sunda terdapat Cekungan Barito dengan kemiringan relatif datar, ke arah timur menjadi cekungan yang dalam yang dibatasi oleh sesar-sesar naik ke arah barat dari punggungan Meratus yang merupakan bongkah naik. STRATIGRAFI REGIONAL Secara umum stratigrafi Cekungan Barito dari muda ke tua secara berurut adalah sebagai berikut :

konglomerat lepas dengan komponen kuarsa berdiameter 1-3 cm. Di tepi barat Pegunungan Meratus. bermassa dasar batupasir kuarsa berbutir kasar. rijang. Facies Konglomerat lebih tebal dari yang di tepi timurnya. Komponennya berukuran dari 1 cm sampai 8 cm. Facies ini merupakan bagian paling bawah dari Formasi Tanjung yang diendapkan tidak selaras diatas batuan alas Pra-Tersier. batugamping dan kuarsa asap. Adanya perbedaan ketebalan pada Facies Konglomerat dan structure perlapisan silang-siur pada batupasir menunjukkan arah arus purba dari barat. batuan klastika. batuan beku. dengan komponen sebagian besar terdiri komponen seperti batuan malihan. dan feldspar. tebalnya berkisar antara 8 meter dan 15 meter. Facies Batupasir Bawah terdiri dari batupasir berbutir sedang sampai kasar setempat konglomeratan. terpilah buruk. terendapkan di lingkungan fluviatil dengan ketebalan sekitar 400 meter. 2. Structure sedimennya adalah lapisan sejajar. Formasi Dahor. dll yang menunjukkan umur Oligosen-Miocene 4. batulempung lunak. Batupasir ini disusun terutama oleh butiran kuarsa dengan sedikit kepingan batuan vulkanik. yang memperlihatkan structure sedimen lapisan silang-siur berskala menengah. Formasi Warukin. b. litologinya terdiri dari batugamping mengandung fosil foraminifera besar seperti Spiroclypeus orbitodeus. 3. Facies Konglomerat terdiri dari Konglomerat alas. Spiroclypeus sp . lapisan silang-siur dan lapisan tersusun. Tebal facies ini terukur . batupasir kuarsa dan batulempung sisipan batubara. Awal dan bersisipan napal. Formasi Tanjung terdiri dari beberapa facies diantaranya : a. dan mempunyai ketebalan sekitar 1000 meter. Formasi Berai. terendapkan sekitar lingkungan fluviatil dengan tebal sekitar 250 meter. litologinya terdiri dari batupasir kuarsa berbutir sedang terpilah buruk. berbentuk bulat sampai membulat tanggung. berumur Miocene Tengah sampai dengan Miocene Akhir. Di beberapa tempat di tepi timur ditemukan sisipan batupasir berbutir kasar dengan ketebalan antara 75 cm dan 100 cm. Facies ini berlapis tebal yaitu antara 50 cm dan 200 cm. dan berumur Plio-Plistosen. setempat dijumpai lignit dan limonit.1. terendapkan dalam lingkungan neritik.

berlapis baik. dengan sisipan batubara dan batupasir. . Facies Batupasir Atas terdiri dari batupasir berbutir halus sampai sedang. yang terlihat berupa lapisan pejal. sedangkan di bagian tengah dan tepi timurnya antara 30 meter dan 35 meter. laminasi sejajar. menyendiri atau berkelompok memiliki ketebalan mencapai 10 meter. c. d. Structure sedimennya lapisan sejajar serta lapisan silang-siur pada batupasir berbutir sedang dan laminasi sejajar serta silang-siur pada batupasir berbutir halus dan yang terakhir adalah Facies Batulempung Atas terdiri dari batulempung berwarna kelabu kehijauan dan masif.di tepi barat Pegunungan Meratus antara 46 meter dan 48 meter. Batubara berwarna hitam mengkilap terdapat sebagai sisipan dengan ketebalan berkisar antara 30 cm dan 200 cm. Sisipan batupasir berbutir halus sampai sedang dengan ketebalan perlapisan antara 5 cm dan 25 cm. setempat berlaminasi silang-siur dengan ketebalan berkisar antara 3 cm sampai 5 cm. sebagian terubah menjadi kaolin. dengan ketebalan perlapisan antara 3 cm dan 25 cm. Ketebalan facies ini berkisar dari 28 meter sampai 68 meter. Tebal facies ini berkisar dari 12 meter sampai 26 meter. Structure sedimennya adalah laminasi sejajar dan setempat laminasi silang-siur. Setempat lapisan batubara berasosiasi dengan batulempung berwarna kehitaman. Facies Batulempung Bawah terdiri dari batulempung berwarna kelabu (kecoklatan sampai kehitaman). Setempat ditemukan pula sisipan tufa berwarna putih dengan ketebalan perlapisan antara 5 cm dan 15 cm. Structure sedimen di dalam batulempung.

Penampang cekungan Barito yang berarah Barat laut . Formasi-formasi. dan periode tektonik pada Cekungan Barito.Gambar 1. Gambar 2. paleofacies.Tenggara .

yaitu Blok Schwaner. Dalam konteks ini. Pada dasarnya pola tektonik yang terjadi pada Lempeng Mikro Sunda merupakan proses pemisahan akibat tekanan yang terjadi pada lempeng itu sendiri. Blok Patenoister Blok ini dianggap suatu daerah tektonik yang mantap. Dengan demikian perkembangan dan pola tektonik yang berkembang pada Cekungan Barito di Kalimantan ini mengikuti pola tektonik pada Lempeng Mikro. Berdasarkan teori-teori yang telah berkembang saat ini. terdiri dari pelataran patenoister yang terletak di lepas pantai Kalimantan Tenggara dan sebagian daerah di daratan Kalimantan. Bagian utara dari blok ini mengalami gerak penurunan pada Paleogen dan tertutup oleh sedimen Tersier yang tidak terlipat. Bagian ini dikenal sebagai Pelataran Barito (Barito Platform). Lempeng Mikro Sunda merupakan pecahan atau fragmental Lempeng Eurasia yang terpisah ke bagian tenggara akibat tumbukan dengan kerak Benua Asia. dan Lempeng Laut Cina Selatan. Faktor eksternal yang ikut berperan dalam perkembangan tatanan tektonik di Pulau Kalimantan adalah interaksi antara Lempeng Sunda dengan Lempeng Pasifik di sebelah timur. Pulau Kalimantan sendiri merupakan daerah tektonik yang stabil dimana merupakan bagian dari Lempeng Mikro Sunda yang mempunyai karakteristik dan tatanan structure yang cukup berbeda dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. . unsur-unsur tektonik yang berkembang di Pulau Kalimantan dapat dikelompokkan menjadi beberapa satuan tektonik. b.TEKTONIK DAN STRUCTURE GEOLOGY Berdasarkan konsep tektonik lempeng. Blok ini hanya sebagian yang mengalami pengangkatan. yaitu tumbukan antara Paparan Sunda dengan lempeng benua. dimana batuannya terdiri dari batuan beku dan malihan berumur Pra-Tersier. hampir semua kepulauan di Indonesia terletak pada zona subduksi. Blok Schwaner Blok ini oleh Van Bemmelen dianggap sebagai bagian dari daratan Sunda yang mengalami pengangkatan sejak Zaman Kapur Akhir. Blok Patenoister. a. Lempeng Hindia Australia di selatan. Graben Meratus. dan Tinggian Kuching.

Tinggian Kuching merupakan sumber (source) untuk pengendapan di daerah baratlaut dan tenggara selama Neogen. Proses inversi dan pengaktifan kembali sesar tua secara extensional menghasilkan kenampakan yang sekarang terbentuk pada cekungan barito. yang merupakan bagian yang tinggi pada Zaman Paleogen di Kalimantan Utara. Kondisi ini terus terjadi hingga kala Oligosen – Miocene dengan terjadi subsidence secara lokal dan regional serta proses peregangan lithosfer yang mempengaruhi cekungan pada pertengahan miocene.c. Pemekaran basement adalah awal mula pembentukan structure cekungan pada kala Paleo – Eosen. . Pengangkatan secara regional dan patahan yang bersifat kompresional muncul pada kala miocene tengah hingga plio-plistosen. Pada cekungan barito. Graben Meratus Daerah ini terletak diantara Blok Schwaner dan Blok Patenoister. Daerah ini terpisah dari Kalimantan Baratlaut yang mengalami suatu penurunan dengan cepat. Tinggian Kuching Tinggian Kuching atau Kuching high terbentuk akibat dari pengangkatan yang terjadi pada busur kepulauan dengan daerah perairan dangkal di sekitarnya. jika diurutkan sejarah structure ditandai oleh perbedaan yang jelas pada zaman Paleogen dan Neogen. structure yang terjadi berubah menjadi pengkerutan. d. Daerah ini dikenal sebagai bagian dari Cekungan Kutai. Daerah ini mengalami perlipatan dan tersesarkan serta terangkat dengan kuat. yang merupakan daerah dengan pengendapan yang cukup tebal.

GEOLOGI SEJARAH CEKUNGAN BARITO Cekungan barito Gambar 3. Ini membawa pada hal-hal yang diperkirakan terjadi kontak pada batuan tersebut yang mungkin disebabkan oleh patahan (Gaffney-Cline. Hal tersebut dapat dimaklumi. Distribusi tipe batuan di bawah permukaan tidak jelas terlihat. bagaimanapun basement lebih jelas menunjukkan tipe batuan Meratus dibandingkan batuan kirstalin-asam di Barito platform. Pada Paleogen akhir hingga Eosen tengah diendapkan formasi Tanjung Pengendapan Formasi Tanjung yang terdiri dari beberapa facies. Proses tektonik yang terjadi di bagian timur Cekungan Barito. kemudian . dimulai dalam lingkungan fluviatil (Facies Konglomerat dan Facies Batupasir Bawah). 1971). dibentuk mulai dari adanya proses rifting ( pemekaran ) yang membentuk basement yang merupakan pencampuran basement continental sebelah barat dan batuan zona akresi pada masa Mesozoikum dan awal Paleogen disebelah timur.

. Pada pertengahan miocene lempeng laut cina selatan mengalami collision dengan Kalimantan Utara mengakibatkan Tinggian Kuching. kemudian terjadi pengangkatan Proto-Meratus yang terjadi pada kala plio-pistosen yang memisahkan Cekungan Barito terhadap laut terbuka di daerah timur sehingga terjadi perubahan karakteristik sedimen dari proses transgresi menjadi regresi berupa endapan formasi dahor. Pengangkatan Daratan tinggi Kuching memberikan kontribusi sedimen ke cekungan yang lebih rendah. dan terakhir menjadi lingkungan Laguna (Facies Batulempung Atas).berubah menjadi dataran banjir yang sebagian berawa (Facies Batulempung Bawah). Lapisan source rock berupa Lacustrine alga dapat membentuk prolific oil. Hidrokarbon terjebak pada struktural trap yang mengandung lower Tanjung dan Upper Warukin sand. selama itu pula sedimen dari formasi Tanjung. kemudian berubah menjadi lingkungan fluviatil dengan saluran sekunder (Facies Batupasir Atas). Sedimen diendapkan di graben paleogen berupa alluvial channel dan fan mengalami progradasi hingga ke lingkungan lacustrine. tumbukan ke timur Sulawesi mengakhiri pemekaran selat Makasar dan pengangkatan Pegunungan Proto-Meratus. Source Rock Tahap pertama. Upper Tanjung dan Berai diendapkan. Setelah terjadi penurunan ( subsidence ) akibat pemekaran yang mempengaruhi cekungan mulai dari Eosen tengah sampai awal – tengah miocene. PETROLEUM SYSTEM Pada area Tanjung raya hidrokarbon terbentuk dari source rock lower Tanjung dan lower Warukin. Lingkungan ini menghasilkan lingkungan reduksi yang baik bagi akumulasi algae. Sejumlah lapisan tipis batubara diduga diendapkan sepanjang tepi danau. Kedua masa tektonik memulai proses structure inversi di cekungan Barito disertai dengan diendapkannya formasi warukin. Di saat yang bersamaan. Lingkung lacustrine dalam terbentuk pada bagian sumbu graben.

Tidak seperti Z. batu pasir synrift pada tahap 1 ( disebut batupasir A dan B atau Z 1015 dan Z 950 ) diendapkan dilingkungan alluvial fan dan lingkungan delta front lacustrine. post rift sag fill tahap 2 dan 3.860 ini lebih baik di bandingkan batupasir pada formasi Lower Tanjung. Batupasir pada tahap 2 ( batupasir c dan d atau Z. 670 ). Memiliki ketebalan 30 – 50 meter.860 dan Z. Batupasir ini memiliki sorting yang bagus dan mineralogy maturity yang bagus. Tahap 3 reservoarnya terdiri dari Batupasir – e ( Z. Maturasi Dari analisismaturasi Lower Tanjung source rock diketahui : Pada bagian baratlaut matursi hidrokarbonnya immature – early mature.710 dan Z.E ini 30 meter. sedangkan dibagian tenggaranya maturasinya overmature ( bagian paling dalam basin ini).860.Carbonaceous clay/ shale dan lapisan tebal batubara lebih dari 10 meter di temukan sedimentasi tahap 2. Kebnyakan hidrokarbon di Tanjung raya field diduga terbentuk dari tahap 2 ini. Reservoar properties pada batupasir Z.825 tipis dan diskontinyu ( melensa ) dengan ketebalan 3 – 5 meter. . dan pada bagian tengahnya mature.825 ) mewakili batupair alluvial fan. dengan nilai porisitas dan permeabilitas rata-rata yang bagus. batupasir Z. Reservoar Reservoar utama berupa synrift sand tahap 1. Batupasir-E di endapakn pada pantai/ barrier bar pada lingkungan garis pantau yang terus mengalami regresi. ketbalan 25 – 30 meter.Ketebalan maksimum dari batupasir.

Barito basin merupakan contoh dari efek interaksi tektonik terhadap tempat pembentukan hydrocarbon (petroleum system). Extensional tectonics pada early tertiary membentuk rifted basin. Tersusun atas 800 meter dengan dominasi neritic shale dan silty shale. Generation. . Kondisi ini juga yang menyebabkan penyebaran pengendapan reservoir rocks. Karena subsidence yang terus berlangsung dan rifted structure makin turun. Batuan mudstone marine ini menyediakan sealing yang efektif bagi reservoir Lower Tanjung.SEALING ROCK. TRAPPING MECHANISM Hydrocarbon terbentuk. Lingkungan lacustrine inilah yang akan membentuk tanjung source rocks. shale diendapkan semakin melebar. migration. dan grabennya diisi oleh lacustrine tanjung shales dan coals. bermigrasi dari Lower-middle tanjung coals. dan lower warukin carbonaceous shales. Kitchen utama terletak pada depocentre basin sekarang. Pase postrifting dari transgresi regional/ subsidence setelah pengendapan dari sag-fill sedimen menghasilikan shallow marine mudstone pada tahao 4 formasi Upper Tanjung. dan pemerangkapan hydrocarbon terjadi sejak middle early miocene (20 Ma). carbonaceous shales. dan akan membentuk seal untuk reservoir yang ada dibawahnya. Extensional faults merupakan media untuk migrasinya hydrocarbon yang terbentuk dibagian terbawah dari graben. Sealing rocks dihasilkan dari intra-formational shales.

dan menghasilkan kedalaman yang cukup bagi source rock untuk menjadi hydrocarbon. tapi hanya satu dari empat puluh lubang bor yang mengandung sedikit gas.M memulai pencarian lebih ekstensif di cekungan itu pada 1930-an yang meliputi pemetaan permukaan secara mendetail. sehingga membentuk gas dan bermigrasi mengisi jebakan yang telah ada. Ditemukan sejumlah kecil minyak di pengeboran sekitar permukaan Formasi Warkin. dimana banyak ditemukan daerah rembesan di daerah Tanjung Raya pada tahun 1930-an.M kembali mengalihkan fokus eksplorasinya ke arah barat. N.Selama late miocene. Pada awal Pliocene. dengan pencarian ekstensif melalui survey geologi permukaan. Minyak terbentuk dan bermigrasi ke structural traps dibawah warukin sand METODE EKSPLORASI Penelitian geologi pertama di Cekungan Barito dilakukan pada 1854. Tanjung source rocks kehabisan liquid hydrocarbon.P.K. B. pengeboran shallow hand auger.M (Badan Eksplorasi STANVAC) juga ikut melakukan pemboran di beberapa tempat di daerah barat. Barito basin mengalami dipping kearah NW dan makin ke SE semakin curam. menghasilkan minyak.P. Pada 1937. dan survey gravimetri. B. basin mengalami permbalikan akibat naiknya Meratus.P. pada akhir abad 19-an. Penemuan minyak di sumur Tanjung-1 pada batupasir Formasi Tanjung bagian Bawah terjadi pada .Kahajan tanpa menghasilkan tanda-tanda adanya hidrokarbon. B.P. B. membentuk asymmetric basin.M (Badan Eksplorasi Kerajaan Belanda) melakukan penelitian sistematik eksplorasi pertama di Cekungan Barito. Hydrocarbon mengisi jebakan melalui patahan dan melalui permeable sands. Akibatnya bagian tengah dari mengalami subsidence. Walupun banyak rembesan minyak di permukaan daerah Tanjung Raya. tapi tidak ada yang komersial.P. disekitar S. Lower Warukin shales pada depocentre basin mencapai kedalaman dari oil window selama plio-pleistocene. Beberapa kolom stratigrafi yang dibor sepanjang Antiklin Tanjung yang terpatahkan. eksplorasi permukaan besar-besaran.M memfokuskan pencarian ke bagian barat dari cekungan tersebut dimana telah ditemukan anomali gravitasi. sehingga tanjung source rocks semakin terkubur.

Tantau-1 yang di bor di atas basemen tinggi Antiklin Tanjung bagian selatan. Tahun 1972. Tes pada kedua endapan delta Miosen Warukin dan Paringin. dan pembangunan jalur pipa ke Balikpapan. yang berstruktur ke timur. Secara umum Formasi Tanjung Bawah tidak memiliki banyak potensi hidrokarbon. PERTAMINA melakukan pemboran besarbesaran yang melibatkan struktur-struktur yang mudah dikenali dari permukaan. Pada tahun 1965. Lapisan pasir Formasi Tanjung . tidak menghasilkan hidrokarbon yang signifikan. Empat sumur tambahan yang mengikuti penemuan sejumlah kecil minyak di sumur Kambitin-1. PERTAMINA mengambil alih tanggung jawab eksplorasi di Cekungan Barito dari SHELL. Region Menunggul dan Hayub pada Formasi Tanjung Bawah juga tidak menghasilkan. dan berhasil melakukan pemetaan bawah permukaan regional menggunakan metode seismik pantul. beberapa titik minyak yang cukup menjanjikan didapat dari batugamping Formasi Berai yang berumur Oligosen. dan pada tahun 1965 telah berhasil melakukan 89 kali pemboran di lapangan tersebut.tahun 1938.M berkonsentrasi untuk pengembangan pencarian di lapangan Tanjung. melihat dari penenmuan minyak di Lapangan Tapian Timur tahun 1967. sangat komersil. Formasi Tanjung Bawah yang juga di tes di struktur Bongkang tidak menghasilkan hidrokarbon. sumur offset yang dibuat tidak mengarah ke reservoirnya. sayangnya. dibatalkan karena adanya semburan minyak di Formasi Warukin Bawah. PERTAMINA melanjutkan pengembangan lapangan Tanjung dan Warukin. Jumlah kecil juga ditemukan pada struktur Kambitin di bagian barat. Hanya karena terjadinya perang beberapa sumur yang ada di lapangan Tanjung beserta hasil penelitian foto udara dan foto geologi diambil alih. Tes Miosen yang dilakukan selanjutnya dengan mengebor sepanjang lipatan antiklinal di Lapangan Warukin. juga melakukan penyelidikan seismik untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang struktur bawah permukaan. ini dibuktikan dengan sedikitnya keberhasilan dalam pemboran yang dilakukan. Dan pada akhir tahun 1965. B. Setelah perang. Pengujian di Dahor Selatan-1 yang terletak sebelah selatan struktur Lapangan Tanjung. struktur Kambitin pada tahun 1959-1964. minyak yang ditemukan melalui offset pada struktur Warukin yang berumur Miosen Bawah.P. juga hanya menghasilkan sedikit minyak.

Bagok-1 dibor pada struktur Kambitin yang merupakan bagian dari Formasi Tanjung Bawah. namun. Tahun 1986. Pada tahun 1981. Dan AMOCO mengalami kerugian pada blok tersebut pada tahun 1984. Pada tahun 1968. CONOCO memperoleh hak eksplorasi untuk bagian yang luas dari cekungan arah utara dan memfokuskan usaha mereka pada pada Berai reef plays. PEXAMIN mendapatkan hak untuk eksplorasi pada suatu area sekitar sumur Kamtibin sebelah utara pada tahun 1970. Pembentukan karbonat berhenti pada Awal Miosen dengan dimulainya komponen cebakan stratigrafi yang signifikan pada batupasir Tanjung Bawah. Pemboran pertama yang bertujuan untuk pada Tanjung Bawah menyilang dari sistem seismik meneyebar secara lateral pada dasar atas. Keterdapatan seismik dari 25 lipatan menuitupi daerah jauh lebih menghasilkan dari CONOCO dahulu yang hanya 6 lipatan. CONOCO menggarapkan ke PHILIPS yang berkonstrasi pada tipe pegunungan di depa struktur dari sesar mendatar. Bagian dari struktural sub-thrust (Martapura-1x) menemui kenampakan minor dari minyak pada Tanjung bawah yang pengembangan batupasirnya. penolakan akan produksi di lapangan Tanjung.Tahun 1983.Bawah dengan kedalaman rendah juga menghasilkan gas alam dalam jumlah kecil di sumur Bongkang-2. Dua dari tiga sumur yang ditambahkan kemudian juga menyemburkan minyak dalam jumlah kecil. hanya menghasilkan air tanah. Dua sumur dipisahkan untuk mengecek kenampakan dari antiklin. pada tahun 1972. tetapi yang dicek hanya berupa air biasa. AMOCO mendapatkan Blok “C” mencakup daerah bagian barat shelfal dari cekungan dimana CONOCO telah kerja di situ terlebih dahulu. telah membuat 2 bagian yang terpisah dari proyek pilot waterflood. tetapi perkembangan dari Tanjung Bawah kurang memuaskan dan tidak ada indikasi kedapatan dari hidrokarbon. target batupasir tidak ada dan sumet telah “sidetracked” untuk mengecek dari interpretasi dari Berai yang reefal build-up-nya dekat. dan PHILIPS PSC merugi beberapa hektar. Lima sumur dalam area laut dangkal gagal untuk mendapatkan biohermal build-up yang signifikan atau hidrokarbon. Beberapa Karbonat Biohermal post-Berai yang terbatas didapatkan. . tetapi miskin akan pemahaman dari kompleksnya stratigrafi Tanjung Bawah yang membuat hasil yang mengecewakan.

Lalu TREND memfokuskan pada pusat dari daerah cekungan dengan didapatkannya sejauh 1687 km dari seismik dan 1900 km gravitasi. Konsep Awal Tersier pencelahan (rifting) didapatkan sepanjang 300 km dari seismik oleh TREND pada tahun 1988. Pemboran pertama yang bernama Miyawa – 1 mengecek Tanjung Bawah pada sub-thrust fault trap. Sepanjang 1196 km dari 24 lipatan seismik ditemukan. Bangkau-1 diuji patahan yang sulit untuk dipisahkan dekat dengan rool-over dalam Formasi Warukin dan memperoleh sejumlah indikasi minyak yang baik didapt pada kenampakkan reservoir batupasir yang jelek. dan mendapatkan hanya veneer tipis dari shaley Tanjung Bawah batupasir dengan kenampakan bagus dari minyak sebelum penetrasi volkanik andesit Paleosen dimana sumur telah terendapkan. . Birik-1 telah dibor untuk mengecek secara seismik penjabaran dari dalamnya sub-thrust rool-over pada Formasi Minosen Warukin. tetapi kualitas dari reservoir lagilagi sangat miskin. Sumur telah disuspensi pada beberapa jenis tekanan dengan sejumlah besar perolehan minyak dari borehole pada lapisan tipis silt lamina pada Warukin Bawah yang pro-deltaics. Bagamanapun. sumur tersebut telah memasuki zona yang kompleks dari patahan dan interval dari tests gagal untuk menemukan sumber zat cair. Semuda-1 telah dibor untuk menguji penjabarans eismik dari basemen yang tinggi. Hasilnya juga menunjukkan bahwa interpretasi struktur telh memungkinkan artifak dari velocity untuk ketebalan lapisan dari konglomerat Darok. Sejumlah kenampakan dari minyak telah ditemukan.Juga pada tahun 1981. Sumur kedua. dan mendapatkan lebih dari 600 indikasi bagus dari kenampakkan minyak. TREND lalu memasuki kedalam joint technical (kerjasama) selama 9 bulan untuk studi dengan PERTAMINA memanfaatkan kombinasi dari database dan lebih detail kerja lapangan dalam usaha untuk deskripsi yang lebih baik dari perkembangan dan distribusi dari Formasi Tanjung Bawah. TREND mendapatkan hak eksplorasi Blok “B” mengkover bagian selatan dan porsi utama dari Cekungan. Trend memfokuskan pada pegunungan depan (dimana indikasi sejumlah minyak telah ditemukan).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful