Cekungan Barito, Kalimantan Selatan

CEKUNGAN BARITO

ABSTRACT Cekungan Barito terletak bagian tenggara Kalimantan. Cekungan Barito disebelah barat dibatasi oleh dataran sunda, sebelah timur Pegunungan Meratus, sebelah utara dibatasi oleh Cekungan Kutai. Sedimen tersier dibawah cekungan ini relatif tipis. Cekungan ini khas asimetris. Dari sebelah barat dekat paparan sunda terdapat Cekungan Barito dengan kemiringan relatif datar, ke arah timur menjadi cekungan yang dalam yang dibatasi oleh sesar-sesar naik ke arah barat dari punggungan Meratus yang merupakan bongkah naik. STRATIGRAFI REGIONAL Secara umum stratigrafi Cekungan Barito dari muda ke tua secara berurut adalah sebagai berikut :

terpilah buruk. Facies Konglomerat terdiri dari Konglomerat alas. dan berumur Plio-Plistosen. terendapkan sekitar lingkungan fluviatil dengan tebal sekitar 250 meter. dan mempunyai ketebalan sekitar 1000 meter. b. setempat dijumpai lignit dan limonit. dan feldspar. Batupasir ini disusun terutama oleh butiran kuarsa dengan sedikit kepingan batuan vulkanik. berbentuk bulat sampai membulat tanggung. Facies Konglomerat lebih tebal dari yang di tepi timurnya. Spiroclypeus sp . Formasi Tanjung terdiri dari beberapa facies diantaranya : a. terendapkan di lingkungan fluviatil dengan ketebalan sekitar 400 meter. 3. Awal dan bersisipan napal. tebalnya berkisar antara 8 meter dan 15 meter. litologinya terdiri dari batupasir kuarsa berbutir sedang terpilah buruk. batulempung lunak. rijang. Facies ini berlapis tebal yaitu antara 50 cm dan 200 cm. batuan beku. dll yang menunjukkan umur Oligosen-Miocene 4. Di beberapa tempat di tepi timur ditemukan sisipan batupasir berbutir kasar dengan ketebalan antara 75 cm dan 100 cm. Komponennya berukuran dari 1 cm sampai 8 cm. Di tepi barat Pegunungan Meratus. Formasi Berai. konglomerat lepas dengan komponen kuarsa berdiameter 1-3 cm. 2. yang memperlihatkan structure sedimen lapisan silang-siur berskala menengah. Structure sedimennya adalah lapisan sejajar. Formasi Dahor. batupasir kuarsa dan batulempung sisipan batubara. batugamping dan kuarsa asap. litologinya terdiri dari batugamping mengandung fosil foraminifera besar seperti Spiroclypeus orbitodeus. Formasi Warukin. Facies ini merupakan bagian paling bawah dari Formasi Tanjung yang diendapkan tidak selaras diatas batuan alas Pra-Tersier. Adanya perbedaan ketebalan pada Facies Konglomerat dan structure perlapisan silang-siur pada batupasir menunjukkan arah arus purba dari barat. bermassa dasar batupasir kuarsa berbutir kasar.1. berumur Miocene Tengah sampai dengan Miocene Akhir. lapisan silang-siur dan lapisan tersusun. dengan komponen sebagian besar terdiri komponen seperti batuan malihan. Facies Batupasir Bawah terdiri dari batupasir berbutir sedang sampai kasar setempat konglomeratan. batuan klastika. Tebal facies ini terukur . terendapkan dalam lingkungan neritik.

Tebal facies ini berkisar dari 12 meter sampai 26 meter. d. sedangkan di bagian tengah dan tepi timurnya antara 30 meter dan 35 meter. c. Batubara berwarna hitam mengkilap terdapat sebagai sisipan dengan ketebalan berkisar antara 30 cm dan 200 cm. yang terlihat berupa lapisan pejal. Facies Batupasir Atas terdiri dari batupasir berbutir halus sampai sedang. dengan ketebalan perlapisan antara 3 cm dan 25 cm. . Structure sedimen di dalam batulempung. Facies Batulempung Bawah terdiri dari batulempung berwarna kelabu (kecoklatan sampai kehitaman). Ketebalan facies ini berkisar dari 28 meter sampai 68 meter. Sisipan batupasir berbutir halus sampai sedang dengan ketebalan perlapisan antara 5 cm dan 25 cm. Structure sedimennya adalah laminasi sejajar dan setempat laminasi silang-siur. berlapis baik. setempat berlaminasi silang-siur dengan ketebalan berkisar antara 3 cm sampai 5 cm. Setempat ditemukan pula sisipan tufa berwarna putih dengan ketebalan perlapisan antara 5 cm dan 15 cm. Setempat lapisan batubara berasosiasi dengan batulempung berwarna kehitaman. sebagian terubah menjadi kaolin. laminasi sejajar.di tepi barat Pegunungan Meratus antara 46 meter dan 48 meter. Structure sedimennya lapisan sejajar serta lapisan silang-siur pada batupasir berbutir sedang dan laminasi sejajar serta silang-siur pada batupasir berbutir halus dan yang terakhir adalah Facies Batulempung Atas terdiri dari batulempung berwarna kelabu kehijauan dan masif. dengan sisipan batubara dan batupasir. menyendiri atau berkelompok memiliki ketebalan mencapai 10 meter.

Gambar 2. dan periode tektonik pada Cekungan Barito.Gambar 1. Penampang cekungan Barito yang berarah Barat laut . paleofacies.Tenggara . Formasi-formasi.

Bagian utara dari blok ini mengalami gerak penurunan pada Paleogen dan tertutup oleh sedimen Tersier yang tidak terlipat. Lempeng Mikro Sunda merupakan pecahan atau fragmental Lempeng Eurasia yang terpisah ke bagian tenggara akibat tumbukan dengan kerak Benua Asia. yaitu tumbukan antara Paparan Sunda dengan lempeng benua. Blok ini hanya sebagian yang mengalami pengangkatan. yaitu Blok Schwaner. Bagian ini dikenal sebagai Pelataran Barito (Barito Platform). Faktor eksternal yang ikut berperan dalam perkembangan tatanan tektonik di Pulau Kalimantan adalah interaksi antara Lempeng Sunda dengan Lempeng Pasifik di sebelah timur. a. Dengan demikian perkembangan dan pola tektonik yang berkembang pada Cekungan Barito di Kalimantan ini mengikuti pola tektonik pada Lempeng Mikro. terdiri dari pelataran patenoister yang terletak di lepas pantai Kalimantan Tenggara dan sebagian daerah di daratan Kalimantan. . b. dan Lempeng Laut Cina Selatan. Blok Patenoister. Lempeng Hindia Australia di selatan. Berdasarkan teori-teori yang telah berkembang saat ini. Pada dasarnya pola tektonik yang terjadi pada Lempeng Mikro Sunda merupakan proses pemisahan akibat tekanan yang terjadi pada lempeng itu sendiri.TEKTONIK DAN STRUCTURE GEOLOGY Berdasarkan konsep tektonik lempeng. dan Tinggian Kuching. unsur-unsur tektonik yang berkembang di Pulau Kalimantan dapat dikelompokkan menjadi beberapa satuan tektonik. Pulau Kalimantan sendiri merupakan daerah tektonik yang stabil dimana merupakan bagian dari Lempeng Mikro Sunda yang mempunyai karakteristik dan tatanan structure yang cukup berbeda dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Dalam konteks ini. hampir semua kepulauan di Indonesia terletak pada zona subduksi. dimana batuannya terdiri dari batuan beku dan malihan berumur Pra-Tersier. Graben Meratus. Blok Schwaner Blok ini oleh Van Bemmelen dianggap sebagai bagian dari daratan Sunda yang mengalami pengangkatan sejak Zaman Kapur Akhir. Blok Patenoister Blok ini dianggap suatu daerah tektonik yang mantap.

Pengangkatan secara regional dan patahan yang bersifat kompresional muncul pada kala miocene tengah hingga plio-plistosen. Daerah ini dikenal sebagai bagian dari Cekungan Kutai. Tinggian Kuching merupakan sumber (source) untuk pengendapan di daerah baratlaut dan tenggara selama Neogen. Daerah ini terpisah dari Kalimantan Baratlaut yang mengalami suatu penurunan dengan cepat. yang merupakan daerah dengan pengendapan yang cukup tebal. structure yang terjadi berubah menjadi pengkerutan. Tinggian Kuching Tinggian Kuching atau Kuching high terbentuk akibat dari pengangkatan yang terjadi pada busur kepulauan dengan daerah perairan dangkal di sekitarnya. Graben Meratus Daerah ini terletak diantara Blok Schwaner dan Blok Patenoister. jika diurutkan sejarah structure ditandai oleh perbedaan yang jelas pada zaman Paleogen dan Neogen. Proses inversi dan pengaktifan kembali sesar tua secara extensional menghasilkan kenampakan yang sekarang terbentuk pada cekungan barito. yang merupakan bagian yang tinggi pada Zaman Paleogen di Kalimantan Utara. Pemekaran basement adalah awal mula pembentukan structure cekungan pada kala Paleo – Eosen. . d. Daerah ini mengalami perlipatan dan tersesarkan serta terangkat dengan kuat. Kondisi ini terus terjadi hingga kala Oligosen – Miocene dengan terjadi subsidence secara lokal dan regional serta proses peregangan lithosfer yang mempengaruhi cekungan pada pertengahan miocene.c. Pada cekungan barito.

bagaimanapun basement lebih jelas menunjukkan tipe batuan Meratus dibandingkan batuan kirstalin-asam di Barito platform. 1971). Distribusi tipe batuan di bawah permukaan tidak jelas terlihat. dibentuk mulai dari adanya proses rifting ( pemekaran ) yang membentuk basement yang merupakan pencampuran basement continental sebelah barat dan batuan zona akresi pada masa Mesozoikum dan awal Paleogen disebelah timur. Hal tersebut dapat dimaklumi. Ini membawa pada hal-hal yang diperkirakan terjadi kontak pada batuan tersebut yang mungkin disebabkan oleh patahan (Gaffney-Cline. dimulai dalam lingkungan fluviatil (Facies Konglomerat dan Facies Batupasir Bawah). Proses tektonik yang terjadi di bagian timur Cekungan Barito. Pada Paleogen akhir hingga Eosen tengah diendapkan formasi Tanjung Pengendapan Formasi Tanjung yang terdiri dari beberapa facies.GEOLOGI SEJARAH CEKUNGAN BARITO Cekungan barito Gambar 3. kemudian .

kemudian berubah menjadi lingkungan fluviatil dengan saluran sekunder (Facies Batupasir Atas). Source Rock Tahap pertama. Lingkung lacustrine dalam terbentuk pada bagian sumbu graben.berubah menjadi dataran banjir yang sebagian berawa (Facies Batulempung Bawah). . Hidrokarbon terjebak pada struktural trap yang mengandung lower Tanjung dan Upper Warukin sand. Setelah terjadi penurunan ( subsidence ) akibat pemekaran yang mempengaruhi cekungan mulai dari Eosen tengah sampai awal – tengah miocene. Lapisan source rock berupa Lacustrine alga dapat membentuk prolific oil. selama itu pula sedimen dari formasi Tanjung. Pengangkatan Daratan tinggi Kuching memberikan kontribusi sedimen ke cekungan yang lebih rendah. dan terakhir menjadi lingkungan Laguna (Facies Batulempung Atas). Kedua masa tektonik memulai proses structure inversi di cekungan Barito disertai dengan diendapkannya formasi warukin. PETROLEUM SYSTEM Pada area Tanjung raya hidrokarbon terbentuk dari source rock lower Tanjung dan lower Warukin. Di saat yang bersamaan. Lingkungan ini menghasilkan lingkungan reduksi yang baik bagi akumulasi algae. Pada pertengahan miocene lempeng laut cina selatan mengalami collision dengan Kalimantan Utara mengakibatkan Tinggian Kuching. Upper Tanjung dan Berai diendapkan. Sejumlah lapisan tipis batubara diduga diendapkan sepanjang tepi danau. Sedimen diendapkan di graben paleogen berupa alluvial channel dan fan mengalami progradasi hingga ke lingkungan lacustrine. tumbukan ke timur Sulawesi mengakhiri pemekaran selat Makasar dan pengangkatan Pegunungan Proto-Meratus. kemudian terjadi pengangkatan Proto-Meratus yang terjadi pada kala plio-pistosen yang memisahkan Cekungan Barito terhadap laut terbuka di daerah timur sehingga terjadi perubahan karakteristik sedimen dari proses transgresi menjadi regresi berupa endapan formasi dahor.

825 tipis dan diskontinyu ( melensa ) dengan ketebalan 3 – 5 meter. Maturasi Dari analisismaturasi Lower Tanjung source rock diketahui : Pada bagian baratlaut matursi hidrokarbonnya immature – early mature. 670 ).Carbonaceous clay/ shale dan lapisan tebal batubara lebih dari 10 meter di temukan sedimentasi tahap 2.Ketebalan maksimum dari batupasir.860.E ini 30 meter. Kebnyakan hidrokarbon di Tanjung raya field diduga terbentuk dari tahap 2 ini. Batupasir ini memiliki sorting yang bagus dan mineralogy maturity yang bagus. post rift sag fill tahap 2 dan 3. batupasir Z. Batupasir-E di endapakn pada pantai/ barrier bar pada lingkungan garis pantau yang terus mengalami regresi. Batupasir pada tahap 2 ( batupasir c dan d atau Z.860 ini lebih baik di bandingkan batupasir pada formasi Lower Tanjung. Memiliki ketebalan 30 – 50 meter. sedangkan dibagian tenggaranya maturasinya overmature ( bagian paling dalam basin ini). . Tahap 3 reservoarnya terdiri dari Batupasir – e ( Z. dengan nilai porisitas dan permeabilitas rata-rata yang bagus. ketbalan 25 – 30 meter. dan pada bagian tengahnya mature. Tidak seperti Z. batu pasir synrift pada tahap 1 ( disebut batupasir A dan B atau Z 1015 dan Z 950 ) diendapkan dilingkungan alluvial fan dan lingkungan delta front lacustrine. Reservoar properties pada batupasir Z. Reservoar Reservoar utama berupa synrift sand tahap 1.825 ) mewakili batupair alluvial fan.860 dan Z.710 dan Z.

Extensional faults merupakan media untuk migrasinya hydrocarbon yang terbentuk dibagian terbawah dari graben. Karena subsidence yang terus berlangsung dan rifted structure makin turun. Extensional tectonics pada early tertiary membentuk rifted basin. Kitchen utama terletak pada depocentre basin sekarang. migration. Barito basin merupakan contoh dari efek interaksi tektonik terhadap tempat pembentukan hydrocarbon (petroleum system). dan akan membentuk seal untuk reservoir yang ada dibawahnya. shale diendapkan semakin melebar. TRAPPING MECHANISM Hydrocarbon terbentuk. Tersusun atas 800 meter dengan dominasi neritic shale dan silty shale. dan grabennya diisi oleh lacustrine tanjung shales dan coals. dan pemerangkapan hydrocarbon terjadi sejak middle early miocene (20 Ma). Generation. dan lower warukin carbonaceous shales. Sealing rocks dihasilkan dari intra-formational shales. carbonaceous shales.SEALING ROCK. Lingkungan lacustrine inilah yang akan membentuk tanjung source rocks. bermigrasi dari Lower-middle tanjung coals. . Pase postrifting dari transgresi regional/ subsidence setelah pengendapan dari sag-fill sedimen menghasilikan shallow marine mudstone pada tahao 4 formasi Upper Tanjung. Kondisi ini juga yang menyebabkan penyebaran pengendapan reservoir rocks. Batuan mudstone marine ini menyediakan sealing yang efektif bagi reservoir Lower Tanjung.

P. Lower Warukin shales pada depocentre basin mencapai kedalaman dari oil window selama plio-pleistocene. B. Pada awal Pliocene.K.M memfokuskan pencarian ke bagian barat dari cekungan tersebut dimana telah ditemukan anomali gravitasi.M kembali mengalihkan fokus eksplorasinya ke arah barat. menghasilkan minyak. dengan pencarian ekstensif melalui survey geologi permukaan. Beberapa kolom stratigrafi yang dibor sepanjang Antiklin Tanjung yang terpatahkan. eksplorasi permukaan besar-besaran.M (Badan Eksplorasi Kerajaan Belanda) melakukan penelitian sistematik eksplorasi pertama di Cekungan Barito. sehingga tanjung source rocks semakin terkubur. dan menghasilkan kedalaman yang cukup bagi source rock untuk menjadi hydrocarbon.P. Penemuan minyak di sumur Tanjung-1 pada batupasir Formasi Tanjung bagian Bawah terjadi pada .P. membentuk asymmetric basin. pada akhir abad 19-an. sehingga membentuk gas dan bermigrasi mengisi jebakan yang telah ada. dimana banyak ditemukan daerah rembesan di daerah Tanjung Raya pada tahun 1930-an.Kahajan tanpa menghasilkan tanda-tanda adanya hidrokarbon. Pada 1937. B. B. basin mengalami permbalikan akibat naiknya Meratus. Minyak terbentuk dan bermigrasi ke structural traps dibawah warukin sand METODE EKSPLORASI Penelitian geologi pertama di Cekungan Barito dilakukan pada 1854. tapi hanya satu dari empat puluh lubang bor yang mengandung sedikit gas. Hydrocarbon mengisi jebakan melalui patahan dan melalui permeable sands.P.M (Badan Eksplorasi STANVAC) juga ikut melakukan pemboran di beberapa tempat di daerah barat.Selama late miocene. dan survey gravimetri. Tanjung source rocks kehabisan liquid hydrocarbon.M memulai pencarian lebih ekstensif di cekungan itu pada 1930-an yang meliputi pemetaan permukaan secara mendetail. Barito basin mengalami dipping kearah NW dan makin ke SE semakin curam.P. disekitar S. Ditemukan sejumlah kecil minyak di pengeboran sekitar permukaan Formasi Warkin. tapi tidak ada yang komersial. B. Akibatnya bagian tengah dari mengalami subsidence. Walupun banyak rembesan minyak di permukaan daerah Tanjung Raya. pengeboran shallow hand auger. N.

ini dibuktikan dengan sedikitnya keberhasilan dalam pemboran yang dilakukan. Jumlah kecil juga ditemukan pada struktur Kambitin di bagian barat. Pada tahun 1965. Tes pada kedua endapan delta Miosen Warukin dan Paringin. yang berstruktur ke timur.P. juga melakukan penyelidikan seismik untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang struktur bawah permukaan. sangat komersil. tidak menghasilkan hidrokarbon yang signifikan. B. Tahun 1972. Setelah perang. sayangnya. PERTAMINA melakukan pemboran besarbesaran yang melibatkan struktur-struktur yang mudah dikenali dari permukaan. dan berhasil melakukan pemetaan bawah permukaan regional menggunakan metode seismik pantul. Hanya karena terjadinya perang beberapa sumur yang ada di lapangan Tanjung beserta hasil penelitian foto udara dan foto geologi diambil alih.tahun 1938. sumur offset yang dibuat tidak mengarah ke reservoirnya.M berkonsentrasi untuk pengembangan pencarian di lapangan Tanjung. PERTAMINA melanjutkan pengembangan lapangan Tanjung dan Warukin. dan pembangunan jalur pipa ke Balikpapan. Secara umum Formasi Tanjung Bawah tidak memiliki banyak potensi hidrokarbon. dibatalkan karena adanya semburan minyak di Formasi Warukin Bawah. Pengujian di Dahor Selatan-1 yang terletak sebelah selatan struktur Lapangan Tanjung. PERTAMINA mengambil alih tanggung jawab eksplorasi di Cekungan Barito dari SHELL. Region Menunggul dan Hayub pada Formasi Tanjung Bawah juga tidak menghasilkan. Tes Miosen yang dilakukan selanjutnya dengan mengebor sepanjang lipatan antiklinal di Lapangan Warukin. minyak yang ditemukan melalui offset pada struktur Warukin yang berumur Miosen Bawah. melihat dari penenmuan minyak di Lapangan Tapian Timur tahun 1967. dan pada tahun 1965 telah berhasil melakukan 89 kali pemboran di lapangan tersebut. Formasi Tanjung Bawah yang juga di tes di struktur Bongkang tidak menghasilkan hidrokarbon. Lapisan pasir Formasi Tanjung . juga hanya menghasilkan sedikit minyak. Tantau-1 yang di bor di atas basemen tinggi Antiklin Tanjung bagian selatan. Dan pada akhir tahun 1965. struktur Kambitin pada tahun 1959-1964. Empat sumur tambahan yang mengikuti penemuan sejumlah kecil minyak di sumur Kambitin-1. beberapa titik minyak yang cukup menjanjikan didapat dari batugamping Formasi Berai yang berumur Oligosen.

Lima sumur dalam area laut dangkal gagal untuk mendapatkan biohermal build-up yang signifikan atau hidrokarbon. Pembentukan karbonat berhenti pada Awal Miosen dengan dimulainya komponen cebakan stratigrafi yang signifikan pada batupasir Tanjung Bawah. telah membuat 2 bagian yang terpisah dari proyek pilot waterflood. CONOCO menggarapkan ke PHILIPS yang berkonstrasi pada tipe pegunungan di depa struktur dari sesar mendatar. Pada tahun 1981. Pemboran pertama yang bertujuan untuk pada Tanjung Bawah menyilang dari sistem seismik meneyebar secara lateral pada dasar atas. tetapi perkembangan dari Tanjung Bawah kurang memuaskan dan tidak ada indikasi kedapatan dari hidrokarbon. Bagian dari struktural sub-thrust (Martapura-1x) menemui kenampakan minor dari minyak pada Tanjung bawah yang pengembangan batupasirnya. Bagok-1 dibor pada struktur Kambitin yang merupakan bagian dari Formasi Tanjung Bawah. CONOCO memperoleh hak eksplorasi untuk bagian yang luas dari cekungan arah utara dan memfokuskan usaha mereka pada pada Berai reef plays. hanya menghasilkan air tanah. Tahun 1986. Keterdapatan seismik dari 25 lipatan menuitupi daerah jauh lebih menghasilkan dari CONOCO dahulu yang hanya 6 lipatan. dan PHILIPS PSC merugi beberapa hektar. PEXAMIN mendapatkan hak untuk eksplorasi pada suatu area sekitar sumur Kamtibin sebelah utara pada tahun 1970. tetapi miskin akan pemahaman dari kompleksnya stratigrafi Tanjung Bawah yang membuat hasil yang mengecewakan. Dan AMOCO mengalami kerugian pada blok tersebut pada tahun 1984. Dua sumur dipisahkan untuk mengecek kenampakan dari antiklin. namun. Pada tahun 1968. target batupasir tidak ada dan sumet telah “sidetracked” untuk mengecek dari interpretasi dari Berai yang reefal build-up-nya dekat. penolakan akan produksi di lapangan Tanjung. .Bawah dengan kedalaman rendah juga menghasilkan gas alam dalam jumlah kecil di sumur Bongkang-2. Dua dari tiga sumur yang ditambahkan kemudian juga menyemburkan minyak dalam jumlah kecil. AMOCO mendapatkan Blok “C” mencakup daerah bagian barat shelfal dari cekungan dimana CONOCO telah kerja di situ terlebih dahulu.Tahun 1983. pada tahun 1972. tetapi yang dicek hanya berupa air biasa. Beberapa Karbonat Biohermal post-Berai yang terbatas didapatkan.

tetapi kualitas dari reservoir lagilagi sangat miskin. Bagamanapun. Pemboran pertama yang bernama Miyawa – 1 mengecek Tanjung Bawah pada sub-thrust fault trap. Konsep Awal Tersier pencelahan (rifting) didapatkan sepanjang 300 km dari seismik oleh TREND pada tahun 1988. sumur tersebut telah memasuki zona yang kompleks dari patahan dan interval dari tests gagal untuk menemukan sumber zat cair. Trend memfokuskan pada pegunungan depan (dimana indikasi sejumlah minyak telah ditemukan). Bangkau-1 diuji patahan yang sulit untuk dipisahkan dekat dengan rool-over dalam Formasi Warukin dan memperoleh sejumlah indikasi minyak yang baik didapt pada kenampakkan reservoir batupasir yang jelek. Sepanjang 1196 km dari 24 lipatan seismik ditemukan. Sejumlah kenampakan dari minyak telah ditemukan. dan mendapatkan hanya veneer tipis dari shaley Tanjung Bawah batupasir dengan kenampakan bagus dari minyak sebelum penetrasi volkanik andesit Paleosen dimana sumur telah terendapkan. TREND mendapatkan hak eksplorasi Blok “B” mengkover bagian selatan dan porsi utama dari Cekungan. Sumur kedua. Semuda-1 telah dibor untuk menguji penjabarans eismik dari basemen yang tinggi.Juga pada tahun 1981. dan mendapatkan lebih dari 600 indikasi bagus dari kenampakkan minyak. TREND lalu memasuki kedalam joint technical (kerjasama) selama 9 bulan untuk studi dengan PERTAMINA memanfaatkan kombinasi dari database dan lebih detail kerja lapangan dalam usaha untuk deskripsi yang lebih baik dari perkembangan dan distribusi dari Formasi Tanjung Bawah. Hasilnya juga menunjukkan bahwa interpretasi struktur telh memungkinkan artifak dari velocity untuk ketebalan lapisan dari konglomerat Darok. Lalu TREND memfokuskan pada pusat dari daerah cekungan dengan didapatkannya sejauh 1687 km dari seismik dan 1900 km gravitasi. Sumur telah disuspensi pada beberapa jenis tekanan dengan sejumlah besar perolehan minyak dari borehole pada lapisan tipis silt lamina pada Warukin Bawah yang pro-deltaics. . Birik-1 telah dibor untuk mengecek secara seismik penjabaran dari dalamnya sub-thrust rool-over pada Formasi Minosen Warukin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful