MATEMATIKA

Teknik Telekomunikasi 1A

1. 2.

Diferensiasi Parsial Persamaan Diferensial

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI POLITEKNIK NEGERI MALANG TAHUN 2012/2013
1

Kata Pengantar

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah, tugas ini dapat terselesaikan dengan baik, tepat pada waktunya. Dalam penyelesaian tugas ini, kami banyak mengalami kesulitan.Namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, tugas ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna perkembangan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Malang, Mei 2013

Penyusun

i

Daftar Isi

Kata Pengantar........................................................................................................................................i Daftar Isi................................................................................................................................................ii Direfensiasi Parsial.................................................................................................................................1 I.Turunan Parsial................................................................................................................................1 II.Pertambahan Kecil..........................................................................................................................7 III.Turunan Fungsi Implisit...............................................................................................................10 IV.Perubahan Variabel.....................................................................................................................13 V.Laju Perubahan.............................................................................................................................15 Persamaan Diferensial..........................................................................................................................21 I.Proses Pembentukan Persamaan Diferensial..................................................................................21 II.Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 1...........................................................................23 III.Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 2..........................................................................26 IV.Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 3..........................................................................29 V.Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 4...........................................................................34 VI.Persamaan Diferensial Bernouli..................................................................................................37 VII.Persamaan Diferensial Eksak.....................................................................................................40 Pembagian Tugas..................................................................................................................................42 Referensi...............................................................................................................................................42

ii

Direfensiasi Parsial
I. Turunan Parsial
Definisi
Jika f fungsi dua variable (x dan y) maka: (i)

Turunan parsial f terhadap x, dinotasikan

dengan atau fx(x,y),

didefinisikan sebagai

=

(ii)

Turunan parsial f terhadap y, dinotasikan dengan sebagai

atau fy(x,y), didefinisikan

=

∂ f ∂ x adalah turunan fungsi f(x,y) terhadap x dengan memperlakukan y sebagai

suatu tetapan, yang disebut turunan parsial fungsi f(x,y) terhadap x
∂ f ∂ y

adalah turunan fungsi f(x,y) terhadap x dengan memperlakukan y sebagai

suatu tetapan, yang disebut turunan parsial fungsi f(x,y) terhadap y
a. Fungsi dua peubah atau lebih Fungsi dua peubah atau lebih dapat ditulis dalam bentuk eksplisit atau implisit. Jika fungsi dua peubah dinyatakan dalam bentuk eksplisit, maka secara umum ditulis dalam bentuk z = F(x,y). Sebaliknya jika fungsi dituliskan dalam bentuk implisit, secara umum ditulis dalam bentuk F(x,y,z) = 0. Untuk menggambar fungsi dua peubah dapat dengan membuat sumbu-sumbu koordinat, yaitu sumbu x, sumbu y, dan sumbu z seperti gambar berikut:

Z

X Y

1

y dianggap tetap.b.y) adalah fungsi dua peubah yang terdefinisi pada interval tertentu. sedangkan x berubah-ubah. Karena x dan y variable bebas maka terdapat beberapa kemungkinan yaitu: 1. sedangkan y berubah-ubah 3. turunan parsial pertama z terhadap x dan y dinotasikan dengan ∂ z Lim F ( x + ∆x. Definisi Misal z = F(x. x dan y berubah bersama-sama sekaligus.y) adalah fungsi dengan variable bebas x dan y. z = x2 + y2 Jawab ∂ Z Lim F ( x + ∆x. sehingga fungsi tersebut dapat diturunkan dengan menggunakan definisi turunan pertama yang telah dipelajari pada kalkulus diferensial. y ) = ∆ y→ 0 ∂ y ∆y ∂ z ∂ z dan dan didefinisikan oleh ∂ y ∂ x Asalkan limitnya ada. y ) = ∆ x →0 ∂ x ∆x dan ∂ z Lim F ( x. y ) − F ( x. Contoh : Tentukan turunan parsial pertama dari a. Pada kasus 1 dan 2 diatas mengakibatkan fungsinya menjadi fungsi satu peubah. y + ∆y ) − F ( x. 2. Turunan Parsial Fungsi Dua dan Tiga Peubah Misal z = F(x. x dianggap tetap. y ) − F ( x. y ) = ∆ x →0 ∂ x ∆x Lim = ∆ x →0 ( x + ∆x) 2 + y 2 − x 2 + y 2 ∆x 2 .

y ) = ∆ x →0 ∂ x ∆x 3 . z = Sin (x+y) Jawab ∂ Z Lim F ( x + ∆x. ∆x ( x + ∆x) 2 + y 2 + x 2 + y 2 ( x + ∆x) 2 + y 2 + x 2 + y 2 2 2 2 2 Lim ( x + ∆x) + y − ( x + y ) = ∆ x →0 ∆x Lim = ∆ x →0 2 x∆x + ∆x 2 ∆x ( x + ∆x ) 2 + y 2 + x 2 + y 2 2 x + ∆x ( x + ∆x) 2 + y 2 + x 2 + y 2 Lim = ∆ x →0 = 2x 2 x2 + y 2 x x + y2 2 = ∂ Z Lim F ( x. y ) = ∆ y→ 0 ∂ y ∆y Lim = ∆ x →0 Lim = ∆ x →0 ( x 2 + ( y + ∆y ) 2 − x 2 + y 2 ∆y ( x 2 + ( y + ∆y ) 2 − x 2 + y 2 .Lim = ∆ x →0 ( x + ∆x) 2 + y 2 − x 2 + y 2 . y ) − F ( x. y + ∆y ) − F ( x. ∆y ( x 2 + ( y + ∆x) 2 + x 2 + y 2 ( x2 + ( y2 + x2 + y 2 2 2 2 2 Lim ( x + ∆x) + y − ( x + y ) = ∆ x →0 ∆x Lim = ∆ x →0 Lim = ∆ x →0 = 2 x∆x + ∆x 2 ∆x ( x + ∆x ) 2 + y 2 + x 2 + y 2 2 x + ∆x ( x + ∆x) 2 + y 2 + x 2 + y 2 2y 2 x2 + y 2 y x + y2 2 = b.

y ) = ∆ x →0 ∂ y ∆y Lim = ∆ x →0 sin( x + y + ∆y ) − sin( x + y ) ∆y Lim 2 cos 2 ( x + y + ∆y + x + y ) sin 2 ( x + y + ∆y − x − y ) = ∆ x →0 ∆y 1 1 Lim =2∆ x →0 cos( x + y + ∆x ∆x ) sin 2 2 ∆x ∆ x = 2 Lim cos (x+y+ ) ∆x →0 2 ∆ x = 2 Lim cos (x+ ) ∆x →0 2 = 2 cos (x+y)(1)(1/2) = cos (x+y) Lim ∆x → 0 sin ∆x ∆x 2 Lim ∆x → 0 sin ∆x 2 . y + ∆y ) − F ( x.1 ∆x / 2 2 4 .Lim sin( x + ∆x + y ) − sin( x + y ) = ∆ x →0 ∆x 1 1 2 cos ( x + ∆x + y + x + y ) sin ( x + ∆x + y − x − y ) Lim = ∆x →0 2 2 ∆x Lim =2∆ x →0 cos( x + y + ∆x ∆x ) sin 2 2 ∆x ∆ x = 2 Lim cos (x+y+ ) ∆x →0 2 ∆ x = 2 Lim cos (x+y+ ) ∆x →0 2 = 2 cos (x+y)(1)(1/2) = cos (x+y) Lim ∆x → 0 sin ∆x ∆x sin ∆x 2 Lim ∆x → 0 2 .1 ∆x / 2 2 ∂ Z Lim F ( x.

y2   ∂ y 1+ 2  x  2 x = xz - 2x2 x(1 + y 2 ) 5 . y . z + ∆z ) − F ( x. Contoh: y 1. y + ∆y. andaikan W = F(x.z) adalah fungsi tiga peubah yang terdefinisi dalam selang tertentu maka turunan parsial pertama dinyatakan dengan yang secara berturut didefinisikan oleh: ∂ W ∂ W ∂ W . z ) = Lim ∆ y → o ∂y ∆y ∂W F ( x.Untuk memudahkan dalam menentukan turunan parcial dapat dilakukan dengan menggunakan metode sederhana sebagai berikut. dan ∂ x ∂ y ∂ z ∂ z sama artinya dengan menurukan variable y ∂ y ∂W F ( x + ∆x. y .y. z )  y  = yz + a. z ) 1  = xz + b. z ) = Lim ∆x →o ∂x ∆x ∂W F ( x. z ) − F ( x. y . Dengan metode sederhana didapat ∂F ( x.y. y . y . Ditentukan F(x. Andaikan z = F(x. z ) = Lim ∆z →o ∂z ∆z Asalkan limitnya ada. .z) = xyz + 2 tan   x Carilah turunan parsial pertamanya. Demikian pula untuk menentukan dan variable x dianggap konstant lalu diturunkan. y2  − 2  1+ 2  x  ∂x 2 x = yz - 2 yx 2 x 2 (1 + y 2 ) ∂ F ( x. Dengan cara yang sama. y .y) maka untuk menentukan ∂ z sama artinya dengan menurunkan variabel x dan variabel y dianggap konstan dan selanjutnya ∂ x y diturunkan. z ) − F ( x. y.

Dengan menggunakan analogi fungsi satu peubah dapat ditentukan turunan parsial tingkat 2.y) maka: Turunan parsial tingkat dua adalah Demikian pula. dimana m 1. untuk n ≥ 2 turunan parsialnya dinamakan turunan parsial tingkat tinggi. .c. z ) = xy ∂z Selanjutnya turunan parsial fungsi dua peubah atau lebih dapat ditentukan turunan parsial ke n. Banyaknya turunan tingkat ditentukan oleh rumus m banyaknya variabel dan n menunjukkan turunan ke-n Contoh Tentukan 2 ∂ z ∂2 z dan dari fungsi berikut: 2 ∂ y2 ∂ x n .y.z) Turunan parsial tingkat dua adalah ∂2W ∂2W ∂2W ∂2W ∂2W ∂2W ∂2W ∂2W ∂2W . dan 2 2 ∂ y∂ x ∂ x ∂ y ∂ x∂ y Demikian seterusnya. . z = xy x −y Jawab Dari z = ∂z y ( x − y ) − xy (1) xy = . . diperoleh x −y ∂x ( x − y)2 = − y2 ( x − y)2 ∂z x ( x − y ) − xy (−1) = ∂y ( x − y)2 = ∂2 z ∂  ∂z  =   2 ∂x ∂x  ∂x  x2 ( x − y)2 Sehingga 6 . jika W = F(x. . . 3 dan seterusnya. y . . . ∂ x2 ∂ y2 ∂ z2 ∂ x∂ y ∂ x∂ z ∂ y∂ z ∂ y∂ x ∂ z∂ x ∂ z∂ y 2 ∂2 z ∂2 z ∂2 z ∂ z . . Jadi andaikan z = F(x. ∂F ( x. .

dan 2 Sekarang kita lihat apa yang akan kita peroleh bila r dan h diubah bersama-sama.= ∂  − y2  2 ∂x   ( x − y)     = 0( x − y ) 2 − ( −y 2 )(2)( x − y )(1) ( x − y) 4 2 xy 2 − 2 y 3 ( x − y)4 = Dan 2 ∂  x2 ∂ z  = 2 ∂ y2 ∂y   ( x − y)     = 0( x − y ) 2 − x 2 ( 2)( x − y )(−1) ( x − y) 4 = − 2 x 3 − yx 2 ( x − y)4 II. sekali lagi kita tuliskan V= πr2h . dan h menjadi h + . maka di peroleh 7 . Jika r diubah menjadi r + . Telah kita lihat bhwa kita dapat mencari dengan r konstan. maka V akan berubah menjadi V + . Pertambahan Kecil Misalkan kita kembali ke volume silinder pada awal program. Volume yang baru diberikan oleh Kurangi kedua ruas dengan V= πr2h. dengan h konstan.

Jika kita jabarkan ∂z dalam deret pangkat ∂x dan ∂y yang berpangkat lebih tinggi.1 cm. Yakni volumenya bertambah dengan 54. Hasil seperti ini berlaku bukan hanya untuk volume silinder saja. yakni z=f(x. maka pertambahan ∂z akan relative kecil juga. tetapi juga untuk sembarang fungsi dengan dua variable bebas. jika x dan y bertambah sedikit dengan ∂x dan ∂y . Misalkan z adalah fungsi x dan y.96 sentimeter kubik. dengan A dan B adalah fungsi x dan y. Mari kita hitung sebuah contoh numeric untuk melihat bagaimana penggunaan hal ini.2 cm dan h berkurang dengan 0. h = 10 cm.y). tentukanlah harga pendekatan pertambahan volumenya jika r bertambah dengan 0. Contoh. 8 .Karena ∂r dan ∂h kecil dan semua suku yang memiliki derajat kekecilan yang lebih tinggi. Contoh Sebuah silinder memiliki ukuran r = 5 cm.

maka ∂y = 0. yaitu : Jika z = f (x.Jika y dijaga tetap. 9 . y. dengan V = 250 volt dan R = 50 ohm. tidak sulit bagi kita untuk memperluasnya bilamana diperlukan.w) Maka ∴∂z = Jika kita ingat aturan yang berlaku untuk fungsi dengan dua variable bebas. y) maka ∴∂z = Contoh 1 . Hasil ini berlaku umum dan hasil yang serupa berlaku juga untuk fungsi dengan tiga variable bebas.5 ohm. sehingga Ini adalah kunci untuk semua penerapan selanjutnya dan hasil ini akan kita kutip berulang-ulang. tentukanlah perubahan I jika V bertambah sebesar 1 volt dan R bertambah sebesar 0. Jika . Karena itu kita tuliskan sekali lagi: z = f (x.

dan d bertambah 1 persen . sebuah fungsi implisit adalah fungsi yang mana variabel takbebas tidak diberikan secara "eksplisit" dalam bentuk variabel bebas. s. dan ∂R = 0.03 A Contoh 2. jika w bertambah 2 persen. V = 250.5 ∂I = = 0. w. sehingga rumus yang berlaku untuknya adalah Harga ∂w. ∂s. dan d. ∂V = 1. ∂d : III.05 = -0. s berkurang 3 persen. Menyatakan 10 . Perhatikan bahwa dalam hal ini y merupakan fungsi dengan tiga variable. Jika tentukanlah persentasi pertambahan y.02 – 0.03 A Yakni I turun sebesar 0.Sehingga untuk R = 50. Turunan Fungsi Implisit Dalam matematika.

dan sebenarnya mendefinisikan fungsi bernilai ganda. karena pernyataan f jauh lebih rumit dari pernyataan R. Secara formal. sebuah fungsi adalah implisit apabila nilai y didapatkan dari x dengan memecahkan persamaan dalam bentuk: R(x. dapat dilakukan dengan relatif mudah menggunakan fungsi implisit. Selain itu. Bagaimanapun. Definisikan funsi 11 . Dalam keadaan lain.y) = 0 untuk y yang dinyatakan dalam x.y) = 0 Dengan kata lain. sebuah fungsi f:X→Y dikatakan sebagai fungsi implisit apabila fungsi tersebut memenuhi persamaan: R(x. Bahkan bila memungkinkan untuk menyusun ulang persamaan ini untuk memperoleh y sebagai fungsi eksplisit f(x). Dalam menentukan turunan fungsi implisit akan lebih mudah diselesaikan apabila disajikan ke dalam fungsi explisit terlebih dahulu kemudian ditentukan turunannya. seperti turunan. dalam banyak keadaan. .y) = 0 mungkin tidak dapat menyatakan suatu fungsi sama sekali. namun kita tidak diberikan rumus eksplisit untuk suatu variabel dalam bentuk variabel lainnya. Sebagai contoh: tidak dapat dijadikan fungsi eksplisit eksplisit? Berikut adalah langkah-langkah yang kita gunakan apabila menggunakan maple: 1. hal ini boleh jadi tidak diinginkan. Sebaliknya. Namun tidak semua fungsi implisit bias dijadikan fungsi eksplisit. Fungsi implisit sering berguna dalam keadaan yang tidak memudahkan buat memecahkan persamaan dalam bentuk R(x.f(x)) = 0 untuk semua x∈X. dengan R adalah fungsi pada perkalian CartesianX × Y. bekerja dengan fungsi implisit masih dimungkinkan. Fungsi implisit adalah suatu fungsi yang dinyatakan dalam terdapat fungsi eksplisit yaitu suatu fungsi yang dinyatakan dalam . persamaan R(x.sebuah fungsi f secara eksplisit adalah memberikan cara untuk menentukan nilai keluaran dari sebuah fungsi y dari nilai masukan x: y = f(x). Lalu bagaimana caranya mencari turunan Fungsi Implisit apabila kita tidak perlu mengubah fungsi implisit menjadi fungsi . Beberapa teknik dari kalkulus. sebuah variabel dapat menentukan variabel lainnya.

ENTER Contoh: Cari Solusi: dan jika . Ketik formula implicitdiff(f.y) apabila mencari 3.2.x. Lakukan langkah-langkah seperti di atas berikut adalah tampilan pada maple: Maka dengan mudah akan didapatkan hasil sebagai berikut: 12 .y.x) apabila mencari dan implicitdiff(f.

Jika z = x2 + y2. maka z juga merupakan fungsi u dan v. dimana dan . Perubahan Variabel Jika z merupakan fungsi z dan y. Bagaimanakah memperolehnya? Bagilah kedua sisi dengan Jika v dipertahankan konstan untuk sementara. yaitu .• • IV. dan x dan y itu sendiri merupakan fungsi dari dua variabel lainna u dan v. maka ketika menjadi dan menjadi . Catatlah keduanya Inilah contoh untuk pekerjaan ini. carilah dan 13 . Oleh sebab itu kita perlu mencari dan .

Perubahan Variabel 14 . Hasil-hasil penting dari pembahasan tersebut. simbol x dan y dapat digantikan masing-masing oleh . Pertambahan Kecil dan 2. 1.Dan pada kedua hasil ini. Fungsi Implisit 4. Laju Perubahan 3.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mencatat letak benda dari waktu ke waktu secara terus menerus. Ada dua macam laju perubahan nilai fungsi laju perubahan rata-rata dan laju perubahan sesaat. Istilah laju dalam bahasa sehari-hari dapat dirumuskan dalam bahasa matematika sebagai laju perubahan nilai fungsi. Laju Perubahan Laju perubahan nilai fungsi Dalam bahasa sehari-hari sering dijumpai ungkapan-ungkapan seperti laju pertumbuhan ekonomi. laju perkembangan investasi. sepeti ditunjukkan pada tabel: Waktu 06.20 06.75 10 12. A. laju inflasi.15 06. laju pembiakan bakteri dan lain sebagainya.10 06.05 06. Laju peubahan rata-rata.30 Jarak 0 2. Kecepatan gerak suatu benda dapat ditentukan apabila diketahui letak atau posisi benda sebagai fungsi waktu.5 3.00 06. Catatan jarak yang ditempuh setiap 5 menit .00 dan jarak yang ditempuh dicatat setiap 5 menit dengan cara mengamati sepedometer pada motornya. laju pertumbuhan penduduk.V.75 7.25 06.5 15 15 . Sebagai contoh seorang mahasiswa mengendarai motor dari rumah ke kampus yang jaraknya 15 km. Ia berangkat dari rumah pukul 06.

f(t1) dan perubahan waktu ∆t = t2 – t1 Dengan demikian.Berdasarkan tabel tersebut tampak bahwa jarak sejauh 15 km ditempuh dalam waktu 30 menit atau 0. laju perubahan rata-rata nilai fungsi dapat didefinisikan sebagai berikut: Definisi: Misalkan diketahui fungsi y = f(x).5 jam. sehingga perubahan jaraknya ∆s = f(t2) . laju perubahan rata-rata fungsi y = f(x) dalam interval x1 ≤ x ≤ x 2 ditentukan oleh f ( x 2 ) − f ( x1 ) ∆y = ∆x x 2 − x1 16 .5 jam Perhatikan bahwa perubahan rata-rata ditentukan sebagai perbandingan antara perubahan jarak terhadap perubahan waktu. Jadi perubahan x sebesar ∆x= x2 x1mengakibatkan perubahan nilai fungsi y = f(x) sebesar ∆y = f(x2) .f(x1). ketika t = t1 benda berada di f(t1) dan t = t2 benda berada di f(t2) . Dengan demikian. kecepatan rata-rata mahasiswa itu mengendarai motor dari rumah ke kampus adalah vrata −rata = 15 km = 30 km jam 0. kecepatan rata-rata dalam interval waktu t1 ≤ t ≤ t 2 adalah: v rata −rata = f ( t 2 ) − f ( t1 ) ∆s = ∆t t 2 − t1 Laju perubahan rata-rata nilai fungsi Misalnya diketahui fungsi y = f(x) jika x berubah dari x1 ke x2 (x1< x2) maka nilai fungsi f(x) berubah dari f(x1) menjadi f(x2). Dengan demikian. dituliskan vrata −rata = ∆ s ∆ t Dengan ∆s sebagai perubahan jarak dan ∆t sebagai perubahan waktu. Sekarang misalkan letak benda sebagai fungsi diketahui dan dapat dinyatakan sebagai s = f(t).

5 1.1 1.01 . ↓ 1 10. Kecepatan sesaat pada waktu t = 1 detik diharapkan dekat dengan 10 m/detik seperti diperlihatkan pada baris 17 .B. t = waktu yang diperlukan. ↓ 1 t2 1.0 10. dapat pula ditentukan kecepatan rata-rata dalam interval t1 = 1 detik sampai t = t2 detik dengan nilai t2 yang makin mendekati nilai t1 seperti diperlihatkan pada tabel: t1 1 1 1 1 .5 10. . dengan demikian. misalnya benda B jatuh bebas dari ketinggian tertentu. . kecepatan rata-rata gerak benda B dalam interval t = 1 detik sampai t = 2 detik adalah : v rata −rata = s ( 2 ) −s (1) 20 − 5 = = 15 meter/detik 2 −1 1 Dengan cara yang sama.5 11. Sebagai contoh pengenalan masalah untuk memahami kecepatan sesaat.2 1. dinyatakan dalam satuan detik dalam waktu t = 1 detik benda B turun sejauh s(1) 2 = 5(1)2 = 5 meter dan dalam waktu t = 2 detik benda B turun sejauh s(2) = 5(2) 2 = 10 meter. Laju perubahan sesaat. akan dibahas gerak benda jatuh bebas.0 Vrata-rata =(m/detik) 12.05 Jika t2 makin mendekati ke t1 atau ∆t = t2 – t1 semakin kecil maka kecepatan rataratanya juga semakin berkurang dan menuju ke sebuah nilai tertentu. dinyatakan dalam satuan meter. yaitu ketika ∆t mendekati nol adalah interval waktu terbaik untuk menetapkan kecepatan sesaat pada waktu t = 1 detik. Jarak jatuhnya terhadap kedudukan semula sebagai fungsi waktu t di lambangkan dengan rumus: s(t) = 5t2 s = jaak jatuh terhadap kedudukan benda semula. Interval waktu terkeci.

maka kita harus memiliki prosedur sistematis atau langkah-langkah. Misalkan sebuah benda B bergerak sehingga jarak benda s sebagai fungsi waktu t ditentukan oleh persamaan: s = f(t) Pada waktu t = t1 benda berada di f(t1) dan pada waktu t = (t1 + h) benda berada di f(t1 + h). Jadi kecepatan sesaat adalah limit dari kecepatan rata-rata. maka jika diturunkan akan menjadi dy/dt yang disebut laju sesaat perubahan. Jika kita mendapat sebuah soal cerita tentang laju yang berkaitan seperti. Jika didapatkan peubah y yang bergantung kepada nwaktu t. Dan bila y adalah sebuah jarak. maka kita bisa mencari dy/dt karena dy/dt dan dx/dt keduanya berkaitan dan disebut laju yang berkaitan. terdapat juga peubah x dan kita juga mengetahui tentang dx/dt. Dengan demikian. Menentukan kecepatan sesaat sebagai limit dari kecepatan rata-rata. dan laju lainnya.terakhir pada tabel. kecepatan sesaat ditentukan dengan konsep limit sebagai: v sesaat pada t = lim v rata −rata = lim h → 0l h → 0l f ( t1 + h ) − f ( t 1 ) h Turunan (Laju yang Berkaitan) Matematika selalu dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. secara eksak dapat dirumuskan sebagai berikut. Apabila selain peubah y yang berkaitan dengan t. Kali ini akan dibahas tentang Laju yang Berkaitan. seperti penerapan pelajaran Fisika. Langkah 1 : 18 . membesarnya luas pencemaran minyak. Banyak laju yang kita temukan dalam kehidupan kita seharihari seperti laju air masuk ke dalam ember. laju angin yang menerbangkan layang-layang. Tampak bahwa proses perhitungan tersebut mengarah pada konsep limit. maka laju sesaat perubahan disebut sebagai kecepatan. sehingga benda kecepatan rata-rata gerak benda B dalam inteval t1 ≤ t ≤ (t1 − h) adalah v rata −rata = f ( t1 + h ) − f ( t 1 ) f ( t1 + h ) − f ( t1 ) = ( t1 + h ) − t1 h Kecepatan sesaat pada waktu t = t 1 diperoleh apabila nilai h mendekati nol.

walaupun sebenarnya anggapan ini tidak realistis ). dan t menyatakan banyaknya detik saat mengulur benang. walaupun dalam kenyataan tidak lurus) dianggap z. Gambarlah diagram yang berlaku untuk semua t > 0. Selesaikan turunan yang diinginkan. Berikan nama huruf pada besaran yang berubah sesuai waktu. Langkah 4 Diferensialkan persamaan yang ditemukan dalam langkah 3 secara implisit terhadap t. Jawab Langkah 1. bukan hanya pada saat beberapa saat tertentu. Langkah 5 Gantikan persamaan yang ditemukan dalam langkah 4 untuk semua data yang sahih pada saat tertentu untuk mana jawab masalah disyaratkan. sahih untuk semua t > 0. Informasi ini akan berbentuk turunan-turunan terhadap t.Andaikan t menyatakan waktu. Persamaan yang dihasilkan. Soal Latihan : Seorang anak menerbangkan layang-layang. maka didapatkan bahwa kecepatan angin bisa dikatakan bahwa bertambahnya jarak si anak dengan layang-layang. memuat turunan-turunan terhadap t. Dimisalkan jarak antara si anak dengan layang-layang adalah x. dengan nilai-nilai konstanta yang diketahui. tinggi layang-layang dari tanah adalah y. seberapa cepat anak tersebut mengulur benang pada saat panjangnya 150 dm ? ( Anggap benang membentuk sebuah garis. Jika tinggi layang-layang 90 dm di atas tingkat tangan anak itu dan angin meniupnya pada arah mendatar dengan laju 5 dm/detik. yaitu dx/dt. 19 . beri pengenal besaran-besaran yang nilainya tidak berubah bila t bertambah. panjang benang (yang dianggap lurus. dan bubuhkan garis-garis yang sesuai dari gambar dengan peubah-peubah ini Langkah 2 Nyatakan apa yang diketahui dan informasi apa yang diinginkan tentang peubahpeubah. Langkah 3 Tulislah sebuah persamaan yang menghubungkan peubah-peubah yang sahih untuk semua waktu t > 0.

yang dicari adalah kecepatan mengulur benang yaitu dz/dt. z2 = x2 + y2 Langkah 4.Langkah 2. dy/dt samadengan 0 dikarenakan tinggi layang-layang dari tangan si anak tidak berubah tetap 90 dm. Langkah 3. untuk semua t > 0. Diketahui bahwa kecepatan angin 5 dm/s. maka kita mempunyai atau Langkah 5. maka diperoleh 20 . panjang benang saat itu adalah z = 150 dm. Sedangkan pada saat panjang benang 150 dm maka nilai x yaitu jarak anak dengan layanglayang adalah Setelah itu kita ganti data-data di atas ke dalam persamaan langkah 4. Menurut Teorema Phytagoras. maka dx/dt = 5. Tinggi y = 90 dm dikatakan tinggi y tidak berubah dari waktu ke waktu sehingga turunan dy/dt = 0. Dengan mendiferensialkan secara implisit terhadap t dan memakai Aturan Rantai. dx/dt = 5 dan dy/dt = 0.

dan satu atau lebih turunan y terhadap x. Proses Pembentukan Persamaan Diferensial Pengertian Persamaan Diferensial Persamaan diferensial adalah suatu hubungan yang terdapat antara suatu variabel independen x. Contoh: Persamaan Diferensial Orde Satu Persamaan Diferensial Orde Dua Persamaan Diferensial Orde Tiga Proses Pembentukan Persamaan Diferensial Contoh: konstanta sembarang (persamaan diferensial orde-dua) Contoh: Bentuk sebuah persamaan differensial dari fungsi y=x+ 21 . suatu variabel dependen y.Jadi. Inilah salah satu bagian dari Matematika yang juga dipakai dalam pelajaran Fisika.Orde dari suatu persamaan diferensial ditentukan oleh turunan tertinggi dalampersamaan tersebut. kecepatan si anak mengulur benang saat panjang benang 150 dm adalah 4 dm/detik. Persamaan Diferensial I.

Solusi: ∴ Dari persamaan diatas Persamaan diferensial orde satu Contoh: Pembentukan persamaan diferensial untuk Solusi: Substitusi ∴ 22 .

Metode 1 : Dengan integrasi secara langsung Bila persamaan dalam bentuk y’=f(x). kalikan kedua ruas PD (i) dengan faktor dan diturunkan kedua ruas Turunan Aturan Perkalian. misal P(x) = dan Q(x) = maka + P(x) y = Q(x) … (i) untuk menyelesaiakn PD ini. diperoleh : + P(x) y jika diambil y = Q(x) … (ii) . Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 1 Penyelesaian Persamaan Diferensial manipulasi persamaan tersebut sehingga seluruh turunannya hilang dan harga menyisakan hubungan antara x dan y. diperoleh . disini pertama kita akan membahas dengan metode Faktor Integral. maka persamaan tersebut dapat diselesaikan dengan integrasi sederhana Catatan selanjutnya ditulis y ’ ditulis y “ A(x) + B(x) = C(x) disebut PD linier orde 1 jika tiap-tiap suku PD diatas apabila dibagi dengan A(x) maka diperoleh bentuk + y= . maka diperoleh turunan pertamanya (y )= + P(x) y 23 sehingga apabila disubstitusikan ke pers (ii).Catatan: Fungsi dengan 1 konstanta sembarang menghasilkan persamaan orde-satu Fungsi dengan 2 konstanta sembarang menghasilkan persamaan orde-dua II. misal faktor integral nya adalah integralnya.

diperoleh SOLUSI UMUM : y = Q(x) dx + C =1 solusi umum diatas dapat digunakan langsung untuk PD Linier dengan koefesian Contoh : Selesaikan persamaan diferensial dibawah ini : 1. x = y + x3 + 3x2 – 2x Penyelesaian : x – y = x3 + 3x2 – 2x [bagi dengan x] – y = x2 + 3x – 2 24 . + 2xy = 4x Penyelesaian : Perhatikan bentuk PD (i). diperoleh y y y y y = = = =2 4x 4x 2 = Q(x) dx + C +C d(x2) + C +c dx + C y=2+c 2.(y ) = Q(x) kemudian integralkan kedua ruas. maka ambil P(x) = 2x dan Q(x) = 4x Faktor Integral : = Kemudian substitusi ke SOLUSI UMUM.

ambil P(x) = Faktor Integral : dan Q(x) = x2 + 3x – 2 = e-ln x = sehingga penyelesaiannya y y = y = = Q(x) dx + C (x2 + 3x – 2) dx + C (x + 3 – 2 ) dx + C y = x3 + 3x2 – 2x ln x + cx y = x3 + 3x2 – ln x2x + cx 3. xy’ – 2y = x3 ex Penyelesaian : x – 2y = x3 ex [bagi dengan x] – y = x2 e x ambil P(x) = Faktor Integral : sehingga penyelesaiannya y y y y = = = (x2 ex) ex dx + C Q(x) dx + C dx + C dan Q(x) = x2 ex = e-2 ln x = = ex + c y = x2 e x + c x 2 25 .

Kita dapat tulis persamaan (2.2.26) adalah tak linear.2. Contoh 1. Tunjukkan bahwa persamaan adalah persamaan terpisah dan temukan sebuah fungsi yang merupakan kurva inte-gralnya.26) dalam bentuk Adalah selalumungkin untukmengerjakan ini denganmemisalkan M (x.30) ke dalam 26 .29) lebih simetrik dan dapat menghilangkan perbedaan vareabel bebas dan tak bebas. Dalam bagian ini kita akan membahas subklas dari persamaan linear orde satu yang dapat diintegralkan langsung. Jawab. y) = ¡f (x. y) = 1.2.2.III. maka persamaan (2. Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 2 Metode 2 : Dengan Pemisahan Variabel Kadang-kadang akan lebih baik menggunakan x untuk menyatakan vareabel bebas dari pada t dalam persamaan diferensial. maka tidak terdapat metode umum yang dapat dipakai untuk menyelesaikannya. Dalam kasus ini persamaan umum linear orde satu mempunyai bentuk Jika persamaan (2. yakni f tidak linear dalam vareabel bergantung y. Persamaan (2. Dalam kasus M hanya fungsi dari x dan N hanya fungsi dari y. tetapi mungkin cara lain juga bisa.26) menjadi Persamaan ini disebut persamaan terpisah karena dapat dituliskan dalam bentuk kemudian kita dapat memisahkannya dalam ruas yang lain.2. y) dan N (x. Pertama kita tulis kembali persamaan (2.

Sebuah persamaan dari kurva integral yang melalui sebuah titik tertentu (x 0. Periksa bahwa suku pertama persamaan (2.2. Dengan menggunakan cara yang sama untuk persamaan (2.2.31).28) dengan memisalkan H1 dan H2 adalah sembarang fungsi sedemikian sehingga maka persamaan (2.2.2.32) adalah solusi dari persamaan (2. yang merupakan kurva integral dari persamaan (2.2. Jadi persamaan (2.2.30).2.yang mempunyai bentuk seperti persamaan (2. y0) dapat ditemukan dengan mensubstitusikan x0 dan y0 untuk x dan y berturut-turut ke dalam persamaan (2.31) dapat dituliskan sebagai atau Oleh karena itu kita dapatkan dimana c adalah sembarang konstan.28) menjadi Dengan menggunakan aturan rantai maka persamaan (2. oleh karena itu terpisah.2.2.28). Sembarang fungsi terturunkan y = (x) yang memenuhi (2.2.32) dan kita dapat temukan c.34) menjadi 27 .31) yang merupakan turunan dari -x 3/3 dan suku yang ke dua dengan menggunakan aturan rantai merupakan turunan dari y-y3/3 terhadap x.

36) dan catat bahwa maka kita dapatkan Persamaan (2.28) yang memenuhi kondisi awal y(x0) = y0.2. Contoh 2.2.2. Dengan kata lain persamaan (2. Persamaan differensial ini dapat dituliskan sebagai Kita integralkan ruas kiri terhadap y dan ruas kanan terhadap x dan memberikan 28 .36) biasanya diperoleh dari persamaan (2.2.2.2.36) mendefinisikan solusi implisit daripada eksplisit. Setiap fungsi y = (x) yang memenuhi persamaan (2.Dengan mengintegralkan persamaan (2.2.2.35) kita dapatkan dengan c adalah sebarang konstan.2.2.36) dengan mensubstitusikan x = x0 dan y = y0 dan akan didapatkan Substitusikan kembali c ke dalam persamaan (2.28).37) merupakan solusi implisit dari persamaan diferensial (2. Selesaikan masalah nilai awal Jawab. Fungsi-fungsi H1 dan H2 adalah antiturunan dari M dan N berturut-turut. Dalam prakteknya persamaan (2.28) ditambah dengan kondisi awal y(x0) = y0 maka solusinya merupakan solusi dari (2.29) dengan mengintegralkan suku pertama terhadap x dan suku ke dua terhadap y.2.36) adalah solusi dari (2. Jika persamaan (2.

y) = n f (x.y) dx + N (x. y) = x + 3y 29 . yakni Catat bahwa kesalahan yang bertanda positif terletak pada persamaan (2. Langkah-langkah Menentujan Penyelesaian Umum Persamaan Diferensial Homogen .2.42) valid yakni kita harus temukan nilai dibawah tanda akar haruslah positif. Jadi solusi masalah nilai awal dapat diberikan Untuk menyatakan solusi eksplisit dalam persamaan (2. Gantilah u = jika menggunakan transformasi y = u x. y) dengan k adalah konstanta.2. y) disebut fungsi homogen berpangkat n jika memenuhi f(kx. dan u = jika menggunakan transformasi x = u y untuk mendapatkan kembali variable semula. ky) = k n f(x.y)M (x. f(x.41) yang sebetulnya merupakan solusi persamaan diferesial dengan kondisi awalnya y(0) = 3.dengan c adalah sebarang konstan. Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 3 Metode 3: Persamaan homogen f(x.y) dy = 0Syarat persamaan diferensial diatas dikatakan homogeny jika M (x. . Gunakan tranformasi: dy = x du + u◊y = u x dx.2.1.41) memberikan dua solusi. dikatakan homogen berderjat n jika:f (x. atau dy = y dy + u du ◊x = u y . jadi x > -2.2.4. Persamaan diferensial homogeny tereduksi ke Persamaan Diferensial terpisah . Untuk menentukan daerah dimana solusi (2. IV. Contoh : 1. tetapi hanya ada satu yang memenuhi kondisi awal.y) dan N (x. Kemudian kita substitusikan kondisi awal x = 0 dan y = -1 ke dalam persamaan (2.y) adalahhomogeny dan berderajat sama.2. Gunakan aturan persamaan diferensial terpisah untuk mendapatkan solusi umum persamaan diferensial.40) kita pecahkan y sebagai fungsi dari x dan kita dapatkan Persamaan (2.39) didapat c = 3.

ky) = eky/kx + tan (ky/kx) = k0 (ey/x + tan (y/x)). y) = 5x – 7y + 13 bukan fungsi homogen karena F(kx. bukan fungsi homogen karena F(kx. ky) = kx + 3ky = k(x + 3y). ky) = (kx)2 + 2 kx ky + (ky)2 = k2 (x2 + 2xy + y2). dengan u = 30 . ky) kn(4x3 + 3y3 – 6xy) 6. y) maing-masing merupakan fungsi homogen dan berpangkat sama dalam x dan y atau PD tersebut dapat diubah menjadi bentuk M(y/x) dx + N(y/x) dy = 0 atau M(x/y) dx + N(x/y) dy = 0. y) dy = 0. f(x. ky) kn(5x – 7y + 13) 5. Jika M(x. F(x.f(kx. fungsi homogen pangkat n 4. fungsi homogen pangkat 1 2. . y) = x2 + 2xy + y2 f(kx. F(x. y) = ey/x + tan (y/x) f(kx. y) dx + N(x. y) dan N(x.y) = x2 + 5y – 6x2y. ambil u = y = ux dy = u dx + x du M(u) dx + N(u) dy (u dx + x du) = 0 (M(u) + u N(u)) dx + x N(u) du = 0 dx + du = 0 Sehingga solusinya : dx + du = C. bukan fungsi homogen karena F(kx.y) = 4x3 + 3y3 – 6xy. f(x. Jika PD sudah diubah menjadi M(y/x) dx + N(y/x) dy = 0. fungsi homogen pangkat 0 3. F(x. maka untuk menentukan solusi PD tersebut. ky) kn(x2 + 5y – 6x2y) Bentuk umum PD Homogen adalah M(x.

(x2 – xy + y2) dx – xy dy = 0 Penyelesaian : Cek terlebih dahulu apakah PD diatas adalah PD homogen ambil M(x.Contoh : Tentukan penyelesaian dari PD berikut 1. y) = x2 – xy + y2 M(kx. ky) = kx ky = k2(xy) (x2 – xy + y2) dx – xy dy = 0 adalah PD homogen (x2 – xy + y2) dx – xy dy = 0. y) = xy N(kx. diperoleh (1 – + ) dx – dy = 0 … (i) misal : y = ux dy = u dx + x du substitusi ke pers (i) (1 – u + u2) dx – u (u dx + x du) = 0 dx – u dx + u2 dx – u2 dx – ux du = 0 (1 – u) dx – ux du = 0 [bagi dengan x(1 – u)] dx – dx – ln x – ln x – du = 0 du = c1 du = c1 du – du = c1 31 . bagi dengan x2. ky) = (kx)2 – kx ky + (ky)2 = k2(x2 – xy + y2) N(x.

ln x + u + ln (1 – u) = ln C. (1 + 2ex/y) dx + 2ex/y(1 – x/y) dy = 0 Penyelesaian : Cek terlebih dahulu apakah PD tersebut adalah PD homogen ambil M(x. dengan ln C = c1 substitusi kembali u = . sehingga (1 + 2eu) (u dy + y du) + 2eu(1 – u) dy = 0 u dy + y du + u 2eu dy + y 2eu du + 2eu dy – u 2eu dy = 0 u dy + y du + y 2eu du + 2eu dy = 0 (u + 2eu) dy + y(1 + 2eu) du + = 0 [bagi dengan y(u + 2eu)] dy + dy + ln y + du = 0 du = c1 = c1 ln y + ln (u + 2eu) = ln C. sehingga ln x + + ln (1 – ) = ln C 2. ky) = 2ekx/ky(1 – kx/ky) = k0(2ex/y(1 – x/y)) (1 + 2ex/y) dx + 2ex/y(1 – x/y) dy = 0 adalah PD homogen … (i) misal : x = uy dx = u dy + y du substitusi ke pers (i). sehingga 32 . dengan ln C = c1 substitusi kembali u = . y) = 2ex/y(1 – x/y) N(kx. y) = 1 + 2ex/y M(kx. ky) = 1 + 2ekx/ky = k0(1 + 2ex/y) N(x.

y) = x2 – y2 N(kx.ln y + ln (x/y + 2ex/y) = ln C ln (y(x/y + 2ex/y)) = ln C x + 2yex/y = C 3. diperoleh 2u(x du + u dx) + (1 – u2) dx = 0 2ux du + 2u2 dx + dx – u2 dx = 0 2ux du + (u2 + 1) dx = 0 [bagi dengan x(u2 + 1)] 2 2 du+ dx = 0 du+ dx = c1 33 ) dx = 0 … (i) . ky) = (kx)2 – (ky)2 = k2(x2 – y2) 2xy dy + (x2 – y2) dx = 0 adalah PD homogen 2xy dy + (x2 – y2) dx = 0 [bagi x2] dy + (1 – ambil y = ux dy = x du + u dx substitusi ke pers (i). ky) = 2 kx ky = k2(2xy) N(x. 2xyy’ – y2 + x2 = 0 Penyelesaian : Cek terlebih dahulu apakah PD diatas adalah PD homogen 2xy – y2 + x2 = 0 2xy dy + (x2 – y2) dx = 0 ambil M(x. y) = 2xy M(kx.

kita mulai dengan mengalihkan kedua sisi dengan e5x . ini sehingga dihasilkan 34 . Dalam hal ini. Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 4 Metode 4: Persamaan linier Persamaan linier orde satu memiliki bentuk umum ruas kanan ≠ 0 Faktor integrasi: Solusi umum + P(x) y = Q(x) dengan syarat y = Q(x) + -------------------------------------------------------------------------Tinjaulah persamaan + 5y = Persamaan diatas jelas persamaan orde pertama. namun berbeda dari yang kita pelajari selama ini. diperoleh +1= y2 + x2 = Cx y2 + x2 – 2 x + – =0 (y – 0)2 + (x – )2 = V. tidak satupun metode sebelumnya bisa digunakan untuk menyelesaikan persamaan tersebut. Sehingga kita harus menemukan sebuah metode lain untuk menyelesaikannya. dengan ln C = c1 ln (u2 + 1) = -ln x + ln C ln (u2 + 1) = ln u2 + 1 = substitusi kembali u = .2 + dx = c1 ln (u2 + 1) + ln x = ln C.

=∫ y. = +C y. =∫ y.+y = +y = Sekarang diperoleh bahwa sisi kiri merupakan turunan y. )=y + ∴ { y. integrasikan kedua sisi terhadap x : ∫ (y.  (y. ) =∫ dx y. }= Sekarang. = +C y= y= + y= Contoh : +C Tentukan solusi umum dari: 35 .

1) + 4y = x -2x2 2) ′+ = (1+)2 Pembahasan: 1) + 4y = x -2 P(x) = 4 . Q(x) = Faktor Integrasi: Solusi Umum: y = Q(x) +C = = 36 . Q(x) = x – 2 Faktor Integrasi: Solusi Umum: y = Q(x) y= x–2 y=( +C + )+ = = y=( )+ y=( 2) ′+ = ) +y= P(x) = 1 .

P dan Q adalah fungsi dari Cara penyelesaianya yaitu : (atau konstanta). Kemudian kalikan hasil pada semua sisi dengan Sehingga akan menjadi 3. 1. seperti sebelumnya.y= y= + −2 (1+) +2 +C y= −2 (1+ )+2+ VI. Persamaan Diferensial Bernouli Ini adalah persamaan yang mempunyai bentuk umum seperti : Di mana. Dengan menggunakan pemisalan 37 . Bagi bentuk umum persamaan Bernoulli pada semua sisinya dengan Dan akan menjadi 2.

Kemudian persamaan diatas akan menjadi 4.n = 2 z= z= z= –n+1 –2+1 –1 38 . Dengan faktor integrasi 5.Q(x) = . Sehingga PDP nya menjadi 6. Contoh soal dan Pembahasan 1) = P(x) = .

= -y2. = ________________ : -y2 y-1 = –z = Persamaan Linier Orde Satu P(x) = Solusi umum . –2 .–2 .Q(x) = e ∫(1-n) P(x) dx z = ∫(1-n) Q(x) e ∫(1-n) P(x) dx dx + C z=∫ dx + C z = x-1 + C z= x-1 + C 39 .

Maka: Jika persamaan (*) merupakan PD Eksak. Masalah – masalah fisis tersebut dapat dimodelkan dalam bentuk persamaan diferensial.Maka. Jika model matematika berbentuk persamaan diferensial.y) =0. Persamaan Diferensial Eksak Persamaan diferensial eksak adalah salah satu ilmu matematika yang banyak digunakan untuk menjelaskan masalah – masalah fisis. Solusi Umumnya adalah = 1 + Cx VII. Definisi Persamaan Diferensial: Suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa turunan dari suatu fungsi yang tidak diketahui dinamakan persamaan diferensial.untuk lebih jelasnya langsung saja kita cermati dengan contoh di bawah ini. maka berlaku sebagai berikut: 40 . Salah satu contoh lagi dari bentuk diferensial eksak: PD eksak bila ruas kiri adalah diferensial dari f(x.

41 . merupakan PD Eksak.Apabila persamaan (*) seperti gambar di atas.

21. 18. Agus Sumin. 15. 8. 2003 http://arisgunaryati.Pembagian Tugas 1. 5. 4.com/2012/06/kalkulus-lanjut3.wordpress.S. 13. D. 10. Achmad Fahmi Amrullah Aditya Pandu Wijaya Agustin Dwi Kurniawati Angga Among Ari Aulia S Chaula N F A Doni Firmawan Eva Novianingsih Faisal Dwi Kurniawan Fauziah Nur Aini Fitra Setya Amanda Gita Sukma Devyana Jeremy Gabriel Luqmanul Hakim Mentari Tata Jelita M. 14. 20. 16. Purcell. 7.files. Jakarta. 9. 22.. Ghalia Indonesia. 19.. 6.Suryadi H. 11. 3. 23.Edwin J. Kalkulus jilid I.pdf 42 . Ubaidillah Nur Salindri Rafhael Ikhwan Riznatul Nuril Azizah Septian Eka Prasetya Suci Prafitri Winda Prasetianingtyas Yusuf Hanif Abdullah : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 3 : Persamaan Diferensial Eksak : Proses Pembentukan Persamaan Diferensial : Turunan Fungsi Implisit : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 4 : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 1 : Persamaan Diferensial Bernouli : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 4 : Laju Perubahan : Turunan Parsial : Laju Perubahan : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 2 : Persamaan Diferensial Eksak : Perubahan Variabel : Pertambahan Kecil : Perubahan Variabel : Persamaan Diferensial Bernouli : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 1 : Turunan Fungsi Implisit : Pertambahan Kecil : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 3 : Penyelesaian Persamaaan Diferensial Metode 2 : Proses Pembentukan Persamaan Diferensial : Turunan Parsial Referensi Yusuf Yahya. Matematika dasar Untuk Perguruan Tinggi. 17. Erlangga. 2004. 24. 2. 12. Hutama Fahrurrozi M.

id/artikel_detail-4672-umum-persamaan-diferensial-bernoulli.id/files/2011/02/bab-i.id-2013-03-03persamaan-diferensial-linier-orde-satu-danbernoulli http://uuniquee.lecture.edu/Direktori/FPTK/JUR.pdf http://ueu5099.wikipedia/turunanfungsiimplisit.staff.staff.com 43 .ub.web.slideshare.wordpress.ac.wordpress.http://febrizal._PEND.ac.ac.html http://file.pdf http://jihad1810.com/2009/04/09/turunan-laju-yang-berkaitan/ http://sharematematika/turunanfungsiimplisit.upi.blog.ac.ac.com http://syafii.pdf http://www.pdf http://fst09.ub.uns.id/files/2012/07/1.id/files/2013/05/kuliah-2.unair.blog.id/ http://www.unri.files.pdf http://yusronsugiarto.esaunggul._TEKNIK_ELEKTRO/197201192001121 -MAMAN_SOMANTRI/Matematika/diferensiasiPAersial.ac.net/MayaUmami/modul-persamaan-diferensial-1 http://www.com/2010/09/persamaan_differensial_-_dr-_st-_budi_waluya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful