ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN MORBUS HANSEN

Kelompok : 1. Ayatullah Khumaini T 2. Darwati 3. Fravita D 4. Mei Lia K 5. Nur Fita

PROGRAM STUDI DIPLOMA KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG 2012

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat, serta karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan morbus hansen” ini tanpa ada halangan suatu apapun. Makalah ini kami susun dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai referensi bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai asuhan keperawatan pada pasien morbus hansen dan kita sebagai perawat dapat melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan standart yang telah ditentukan. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karna itu, kami mengharap tegur sapa dan kritik yang membangun dari para pembaca guna perbaikan dan peningkatan untuk karya selanjutnya. Demikian kiranya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan pembaca pada khususnya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jombang , 10 Oktober 2012

Penyusun

...... 1......................... KATA PENGANTAR ..........................................................................6 Komplikasi........................................................................................................... ................................................ 2.....................................................2 Diagnosa keperawatan ......................................................................................................................................................... BAB III ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MORBUS HANSEN 3.......... 3...... 1................................................................................................................................. 2......................................3 Manifestasi klinis ....3 Intervensi ............................. 2.........................................................8 Penatalaksaan Medis .....4 Patofisiologi.. BAB II PEMBAHASAN 2...............................................4 Manfaat................... 2.....................3 Tujuan...........7 Pemeriksaan penunjang..........5 WOC.......................................................................... 2.............................................. 1.... BAB I PENDAHULUAN 1................. 2....................9 Terapi ...................................................................................2 Rumusan Masalah .................1 Latar Belakang .............................. ....................................................... 2.................................................................. 3.............................2 Etiolagi ..................... DAFTAR ISI .......................................... 2........................................................................................1 Pengkajian .............................................1 Definisi ......................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .........................................................................................................................................................................................

............................ ............................1 Simpulan ...... DARTAR PUSTAKA ........................................................................BAB IV PENUTUP 4.........................................

Permasalahan penyakit Morbus Hansen ini bila dikaji secara mendalam merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya. karena masalah-masalah tersebut dapat mengakibatkan penderita morbus hansen menjadi tuna sosial. b. Dalam keadaan ini warga masyarakat berupaya menghindari penderita.2 Tujuan a. 1. .1 LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan milik yang sangat berharga bagi seseorang. Sebagai akibat dari masalah-masalah tersebut akan mempunyai efek atau pengaruh terhadap kehidupan bangsa dan negara.2 Rumusan Masalah 1) Apakah yang menyebabkan penyakit morbus hansen ? 2) Bagaimana gejala dan pengobatan penyakit morbus hansen? 3) Bagaimana asuhan keperwatan penyakit morbus hansen ? 1. Tujuan Umum: Untuk memperoleh gambaran langsung tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengna Morbus Hannsen. tuna wisma. dalam hal ini dapat mempengaruhi social seseorang dalam hidupnya. oleh karena kondisi tubuh terganggu. tuna karya dan ada kemungkinan mengarah untuk melakukan kejahatan atau gangguan di lingkungan masyarakat. Menyadari hal ini maka setiap orang dituntut untuk dapat memiliki daya tahan tubuh yang kuat sehingga tidak akan mudah diserang oleh berbagai macam penyakit menular. Tujuan Khusus: Untuk mengethaui gambaran tentang Pengkajian keperawatan pada klien dengan Morbus Hansen.BAB I PENDAHULUAN 1. tanpa kesehatan berarti segala aktivitas seseorang terhambat. Masalah yang dihadapi pada penderita bukan hanya dari medis saja tetapi juga adanya masalah psikososial sebagai akibat penyakitnya.

Diagnosa Keperawatan dengan Morbus Hansen. 1. 4) Mendapatkan pemahaman tentang Asuhan keperawatan morbus hansen .3 Manfaat Manfaat yang ingin diperoleh dalam penyusunan makalah ini adalah: 1) Mendapatkan pengetahuan tentang definisi morbus hansen 2) Mendapatkan pemahaman tentang penyebab penyakit morbus hansen 3) Mendapatkan pemahaman tentang gejala dan pengobatan penyakit morbus hansen. Mengetahui rencana keperawatan pada klien dengan Morbus Hannsen.

ruang depan mata. Pada penderita yang tidak dilakukan terapi dengan baik akan terjadi peningkatan angka bakteri di kulit (MI). dan testis). nodul. tuberculosis penyebab TBC. kulit dan jaringan tubuh lainnya. Kerusakan saraf terutama saraf tepi. saluran nafas bagian atas. Memiliki sifat obligat intraseluler dan tahan asam.2 ETIOLOGI Myobacterium leprae merupakan penyebab dari penyakit ini. bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. . mukosa traktus respiratorik bagian Atas kemudian menyerang organ-organ kecuali susunan syaraf pusat. disebabkan oleh Mikrobakterium leprae yang obligat intra seluler yang menyerang syaraf perifer. Bakteri lepra akan berkembang biak dengan baik pada jaringan yang lembab (kulit. saraf perifer. Merupakan satu famili dengan M.BAB II PEMBAHASAN 2. Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas.1 DEFINISI Morbus Hansen adalah penyakit infeksi yang kronis. 2. pada beberapa jenis telah mengalami perubahan dari sifat akibat perubahan gen yang menyebabkan bakteri dapat bertahan di lingkungan selama beberapa bulan. media yang paling baik sampai saat ini adalah telapak kaki tikus. Walaupun demikian bakteri ini masih belum dapat di biakan karena sulitnya mencari media yang cocok. papul. 1998) 2. penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi. dan ketebalan bakteri di kulit (BI) hingga 6 kali lipat dibandingkan dengan terapi efektif. (Depkes RI. kulit. Bakteri lepra merupakan salah satu bakteri yang hanya tumbuh dan berkembang pada manusia saja.3 MANIFESTASI KLINIS Menurut WHO (1995) diagnosa kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda kardinal berikut: a. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas Lesi kulit dapat tunggal atau multipel biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga biasanya berupa: makula.

maka tubuh akan bereaksi mengeluarkan makrofag (berasal dari sel monosit darah. beberapa penelitian telah memperlihatkan bahwa yang tersering ialah melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh yang bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. kuman dapat bermigrasi dan beraktivasi. Jadi. di samping itu sel Schwann berfungsi sebagai demielinisasi dan hanya sedikit fungsinya sebagai fagositosis. leprae. sehingga makrofag sanggup menghancurkan kuman. sel mononuklear. . leprae merupakan parasit obligat intraselular yang terutama terdapat pada sel makrofag di sekitar pembuluh darah superfisial pada dermis atau sel Schwann di jaringan saraf. c. waktu regenerasi yang lama. 2. Bila kuman M. leprae masuk ke dalam tubuh. bila terjadi gangguan imunitas tubuh dalam sel Schwann. Bila infeksi ini tidak segera diatasi akan terjadi reaksi berlebinan dan masa epiteloid akan menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan di sekitarnya. parastesi.. serta sifat kuman yang avirulens dan nontoksis. dengan demikian makrofag tidak mampu menghancurkan kuman sehingga kuman dapat bermultiplikasi dengan bebas. Pengaruh.4 PATOGENESIS Meskipun cara masuk M. Sel Schwann merupakan sel target untuk pertumbuhan M. nyeri tekan. makrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak bergerak aktif dan kadangkadang bersatu membentuk sel datia Langhans. kemampuan hidup M. M. Pada kusta tipe TT kemarnpuan fungsi sistem imunitas selulartinggi. M leprae terhadap kulit bergantung pada faktor imunitas seseorang. Sayangnya setelah sernua kuman di fagositosis. Akibatnya aktivitas regenerasi saraf berkurang dan terjadi kerusakan saraf yang progresif.b.Pada kusta tipe LL terjadi kelumpuhan sistem-imunitas. leprae pada. Penebalan saraf tepi. yang kemudian dapat merusak jaringan. suhu tubuh yang rendah. BTA positif Pada beberapa kasus ditemukan BTA dikerokan jaringan kulit. histiosit) untuk memfagositnya. leprae ke dalam tubuh masih belum diketahui dengan pasti.

sering terjadi gejala kulit tak begitu menonjoltetapi gangguan saraf lebh jelas. sering di pipi. Komplikasi saraf serta kecacatan relative lebih sering terjadi sering terjadi dan timbul lebih awal dari bentuk basah. kadang-kadang tepinya meninggi.5 PATOFISIOLOGI Setelah mikobakterium leprae masuk kedalam tubuh. Kalau sistem imunitas seluler tinggi. Bercak tampak kering. Derajat penyakit tidak selalu sebanding dengan derajat infeksi karena imun pada tiap pasien berbeda. Kusta bentuk kering (tipe tuberkuloid) Merupakan bentuk yang tidak menular. . Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat reaksi seluler dari pada intensitas infeksi oleh karena itu penyakit kusta disebut penyakit imonologik. berarti tidak ditemukan adanya kuman penyebab. pantat. Kelainan kulit berupa bercak keputihansebesar uang logam atau lebih. b. Mikobakterium leprae berpredileksi didaerah-daerah yang relatif dingin. Kusta bentuk basah (tipe lepromatosa) Merupakan bentuk menular karena banyak kuman dapat ditemukan baik diselaput lendir hidung.punggung. penyakit berkembang kearah tuberkoloid dan bila rendah berkembang kearah lepromatosa. yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit.Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kusta bentuk kering dan terjadi pada orang yang daya tahan tubuhnya rendah dalam menghadapi kuman kusta. 2. kulit maupun organ tubuh lain. Bentuk ini merupakan yang paling banyak yang ditemukan di Indonesia dan terjadi pda orang yang daya tahan tubuhnya terhadap kuman kusta cukup tinggi. jumlahnya biasanya hanya beberapa. Pemeriksaan bakteriologis sering kali negative.2. Respon setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem imunitas seluler (celuler midialet immune) pasien. Pada tipe ini lebih sering didapatkan kelainan urat saraf tepi. perasaan kulit hilangsama sekali. paha atau lengan. perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang.6 KLASIFIKASI a.

. Pada bentuk yang parah bisa terjadi ”muka singa” (facies leonina). muka dan dauntelinga. bisa kecil-kecil dan tersebar diseluruh badan ataupun sebagai penebalankulit yang luas (infiltrat) yang tampak mengkilap dan berminyak. didapatkan bentuk pertengahan atau perbatasan(tipe borderline) yang gejala-gejalanya merupakan peralihan antara keduanya.Sering disertai rontoknya alis mata. Bila juga sebagaibenjolan-benjolan merah sebesar biji jagung yang sebesar di badan.Diantara kedua bentuk klinis ini. menebalnya cuping telinga dan kadang-kadang terjadi hidung pelana karena rusaknya tulang rawan hidung.Kecacatan padabentuk ini umumnya terjadi pada fase lanjut dari perjalanan penyakit. Bentuk ini dalam pengobatannya dimasukkan jenis kusta basah.Kelainan kulit bisa berupa bercak kamarahan.

7 WOC Infeksi Myobakterium leprae Morbus hansen kulit Saraf tepi Bercak hipopigmentasi / kemerahan motorik otonom sensorik Penebalan dan anestesi N fasialis N ulnaris & N medianus N tibia posterior Gg kelenjar keringat dan minyak Penebalan saraf anastesia legoptalmus Gatal gatal Kemampuan berkedip << Paralisis jari tangan Paralisis jari kaki Kulit kering dan bersisik ulcerasi Terjadi luka MK: resiko cidera Port de entri luka Epitell mata kering Claw hand & claw finger Claw toes MK: Kerusakan integritas kulit MK: resiko infeksi MK: gg persepsi sensori penglihatan MK: intoleransi aktifitas MK: gangguan citra diri .2.

d. Pengobatan obat-obatan umum yang biasa dipakai dalam pengobatan Morbus Hansen: a. yang hasilnya dapat dibaca setelah 3 – 4 minggu kemudian bila timbul infiltrat di tempat penyuntikan berarti lepromim test positif 2.9 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. Pengobatan profilaksis dengan dosis yang lebih rendah dari pada dosis therapeutic. Vaksinasi dengan BCG yang juga mempunyai daya profilaksis terhadap lepra. PB ( Tipe kering ) Pengobatan bulanan :hari pertama : 2 Kapsul Rifampisin I Tablet Dapsone (DDS) Pengobatan harian : hari ke 2 – 28 : tablet Dapsone (DDS) Lama pengobatan : 6 Blister diminum selama 6 – 9 bulan . Denngan menggunakan Vaccinosteil dibuat goresan sampai didermis. Test Mitsuda Berupa penyuntikan lepromin secara intrakutan pada lengan. Secara topografik yang paling baik adalah muka dan telinga. diputar 90 derajat dan dicongkelkan. Penerangan dengan memberikan sedikit penjelasan tentang seluk beluk penyakit lepra pada pasien c. Pada pemeriksaan akan tampak batang-batang merah yang utuh.8 PENATALAKSANAAAN Pencegahan a. terputus-putus atau granuler. b.2.8 KOMPLIKASI Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta baik akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi reaksi kusta 2. dari bahan tadi dibuat sediaan apus dan diwarnai Zeihlnielsen. Pemeriksaan Bakterioskopik Memiliki lesi yang paling aktif yaitu : yang paling erythematous dan paling infiltratif.

MB ( Tipe basah ) Pengobatan bulanan : hari pertama :2 Kapsul Rifampisin 3 Tablet Lamrene 1 Tablet Dapsone pengobatan harian : hari ke 2 – 28 :1 Tablet Lamrene 1 Tablet Dapsone (DDS) lama pengobatan : 12 blister diminum selama 12 – 18 bulan. .b.

neuritis (nyeri tekan pada saraf) kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita (demam ringan) dan adanya Komplikasi pada organ tubuh dan gangguan perabaan ( mati rasa pada daerah yang lesi ) o RKK Morbus hansen merupakan penyakit menular yang menahun yang disebabkan oleh kuman kusta ( mikobakterium leprae) yang masa inkubasinya diperkirakan 2-5 tahun.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN MORBUS HANSEN 3. 2. alamat menentukan tingkat sosial. Identitas Klien Umur memberikan petunjuk mengenai dosis obat yang diberikan. dan perawatan kulit yang tidak terjaga atau dengan kata lain personal higine klien yang kurang baik o RKS Biasanya klien dengan morbus hansen datang berobat dengan keluhan adanya lesi dapat tunggal atau multipel. Jadi salah satu anggota keluarga yang mempunyai penyakit morbus hansen akan tertular 3. ekonomi dan tingkat kebersihan lingkungan. Riwayat Psikososial Klien yang menderita morbus hansen akan malu karena sebagian besar masyarakat akan beranggapan bahwa penyakit ini merupakan penyakit kutukan. anak-anak dan dewasa pemberian dosis obatnya berbeda. Karena pada kenyataannya bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah. Riwayat Kesehatan o RKD Biasanya klien pernah menderita penyakit atau masalah dengan kulit misalnya: penyakit panu. Pekerjaan.1 Pengkajian 1.kurab. sehingga klien .

c. kornea mata anastesi sehingga reflek kedip berkurang jika terjadi infeksi mengakibatkan kebutaan. sehingga klien mengalami gangguan jiwa pada konsep diri karena penurunan fungsi tubuh dan komplikasi yang diderita 4. Sistem penglihatan Adanya gangguan fungsi saraf tepi sensorik.Sistem pernafasan Klien dengan morbus hansen hidungnya seperti pelana dan terdapat gangguan pada tenggorokan. 6. Pola Aktifitas Sehari-hari Aktifitas sehari-hari terganggu karena adanya kelemahan pada tangan dan kaki maupun kelumpuhan. a. Pada morbus hansen tipe II reaksi berat. Lemah karena adanya gangguan saraf tepi motorik. Klien mengalami ketergantungan pada orang lain dalam perawatan diri karena kondisinya yang tidak memungkinkan.akan menutup diri dan menarik diri. reaksi ringan. dan saraf tepi motorik terjadi kelemahan mata akan lagophthalmos jika ada infeksi akan buta. Riwayat Sosial Ekonomi Biasanya klien yang menderita penyakit ini kebanyakan dari golonganmenengah kebawah terutam apada daerah yang lingkungannya kumuh dan sanitasi yang kurang baik 5. Sistem Persyarafan . Sedangkan pause basiler jika ada bercak pada alis mata maka alis mata akan rontok b. Pemeriksaan fisik Keadaan umum klien biasanya dalam keadaan demam karena reaksi berat pada tipe I. berat tipe II morbus hansen. jika terjadi peradangan pada organ-organ tubuh akan mengakibatkan irigocyclitis.

Terjadi gangguan pada kelenjar keringat. Terdapat kelainan berupa hipopigmentasi (seperti panu). Kelainan fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya kurang/ mati rasa.Kerusakan Fungsi Sensorik. Jika ada kerusakan fungsi otonom terjadi gangguan kelenjar keringat. menebal. infiltrat (penebalan kulit). bila terjadi pada mata akan mengakibatkan mata tidak dapat dirapatkan (lagophthalmos). d. kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit kering. Alibat kurang/ mati rasa pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka.Sistem musculoskeletal Adanya gangguan fungsi saraf tepi motorik adanya kelemahan atau kelumpuhan otot tangan dan kaki. e. tebal. Kerusakan fungsi motorik. . mengeras dan pecah-pecah. jika dibiarkan akan atropi. Jari-jari tangan dan kaki menjadi bengkok dan akhirnya dapat terjadi kekakuan pada sendi (kontraktur). mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah. nodul (benjolan). Kerusakan fungsi otonom. bercak eritem (kemerahmerahan). kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering.Sistem Integumen. Rambut: sering didapati kerontokan jika terdapat bercak. Kekuatan otot tangan dan kaki dapat menjadi lemah/ lumpuh dan lama-lama ototnya mengecil (atropi) karena tidak dipergunakan. sedang pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip.

2). Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan proses inflamasi 4) Resiko infeksi berhubungan dengan proses luka 5). Perhatikan sirkulasi.3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik. gerakan. Resiko cidera berhubungan dengan anastesia 3.2 Diagnosa Keperawatan 1).2 Intervensi Keperawatan Diagnosa 1 : Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan kelemahan fisik dapat teratasi dan aktivitas dapat dilakukan Kriteria hasil: 1) Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari 2) Kekuatan otot penuh Intervensi: 1. Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan ketidakmampuan dan kehilangan fungsi tubuh 3). Pertahankan posisi tubuh yang nyaman Rasional: meningkatkan posisi fungsional pada ekstremitas 2. kepekaan pada kulit Rasional: oedema dapat mempengaruhi sirkulasi pada ekstremitas .

Kaji makna perubahan pada pasien Rasional: episode traumatik mengakibatkan perubahan tiba-tiba. Jadwalkan pengobatan dan aktifitas perawatan untuk memberikan periode istirahat Rasional: meningkatkan kekuatan dan toleransi pasien terhadap aktifitas 5. diawali dengan pasif kemudian aktif Rasional: mencegah secara progresif mengencangkan jaringan. ketergantungan dan kemarahan. Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten. . Terima dan akui ekspresi frustasi.3. Perhatikan perilaku menarik diri. meningkatkan pemeliharaan fungsi otot/ sendi 4. Dorong dukungan dan bantuan keluaraga/ orang yang terdekat pada latihan Rasional: menampilkan keluarga / oarng terdekat untuk aktif dalam perawatan pasien dan memberikan terapi lebih konstan Dianosa 2 : Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan ketidakmampuan dan kehilangan fungsi tubuh Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan tubuh dapat berfungsi secara optimal dan konsep diri meningkat Kriteria hasil: 1) Pasien menyatakan penerimaan situasi diri 2) Memasukkan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negative Intervensi: 1. Ini memerlukan dukungan dalam perbaikan optimal 2.

2.Rasional: penerimaan perasaan sebagai respon normal terhadap apa yang terjadi membantu perbaikan 3. Kriteria hasil : 1) Menunjukkan regenerasi jaringan 2) Mencapai penyembuhan tepat waktu pada lesi Intervensi: 1. Kaji / catat warna lesi. Berikan perawatan khusus pada daerah yang terjadi inflamasi . Berikan harapan dalam parameter situasi individu. jangan memberikan kenyakinan yang salah Rasional: Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas 4. Berikan penguatan positif Rasional: kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif 5.perhatikan jika ada jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka Rasional: Memberikan inflamasi dasar tentang terjadi proses inflamasi dan atau mengenai sirkulasi daerah yang terdapat lesi. Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat Rasional: meningkatkan ventilasi perasaan dan memungkinkan respon yang lebih membantu pasien Diagnosa 3 : Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan proses inflamasi Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan proses inflamasi berhenti dan berangsur-angsur sembuh.

Bersihan lesi dengan sabun pada waktu direndam Rasional: Kulit yang terjadi lesi perlu perawatan khusus untuk mempertahankan kebersihan lesi 5. 3.Rasional: menurunkan terjadinya penyebaran inflamasi pada jaringan sekitar. Istirahatkan bagian yang terdapat lesi dari tekanan Rasional: Tekanan pada lesi bisa maenghambat proses penyembuhan Diagnosa 4 : resiko infeksi berhubungan dengan proses luka Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko infeksi karena luka berkurang Kriteria hasil : Tidak terjadi infeksi pada luka Intervensi: 1. Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional: mematikan bakteri penginfeksi . Evaluasi warna lesi dan jaringan yang terjadi inflamasi perhatikan adakah penyebaran pada jaringan sekitar Rasional : Mengevaluasi perkembangan lesi dan inflamasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi. Desinfektan pada daerah luka Rasional: menurunkan resiko infeksi 2. 4.

sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi kognitif pasien Rasional: untuk memenuhi kebutuhan pasien dalam memudahkan mobilisasi 2. Sediakan lingkungan yang aman untuk pasien Rasional: untuk kenyamanan pasien 3.Diagnosa 5 : resiko cidera berhubungan denga anestesia Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan resiko terjadi cedera pada pasien berkurang Kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan cedera semakin berkurang Intervensi: 1. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien. Memindahkan barang barang yang membahayakan Rasional: Untuk menghindari cidera .

Dengan adanya pengetahuan tentang penyakit ini kita diharapkan bisa melakukan pencegahan sebelum benar benar terjadi. Dan bisa menyebabkan kecacatan. .1 Kesimpulan Morbus Hansen adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi. kulit dan jaringan tubuh lainnya.BAB IV PENUTUP 4.

ED : 3 jilid : 1. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.DAFTAR PUSTAKA Corwin. Jakarta Syaifudin. Buku Saku Patofisiologi.blogspot. Lynda Juall. 2006. Jakarta : EGC Carpenitto.com/2012/06/kusta.K. E. EGC : Jakarta. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. EGC.J. 2000. Suproharta. M. Wahyu J. 2000. Anatomi Fisiologi. http://cipoohaku.html 18 . Kapita Selekta Kedokteran. Wlewik S. Arief. 1999.