BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Iklim tropis di Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki tanah yang subur dan cocok untuk ditanami berbagai macam jenis tanaman. Dalam upaya meningkatkan mutu dan produktivitas hasil pertanian, penggunaan pestisida untuk membasmi hama tanaman sering tak terhindarkan. Pestisida yang digunakan diharapkan dapat membantu petani dalam mendapatkan keuntungan yang maksimal. Penggunaan pestisida secara berlebihan dan tidak terkendali seringkali memberikan risiko keracunan pestisida bagi petani. Risiko keracunan pestisida ini terjadi karena penggunaan pestisida pada lahan pertanian khususnya sayuran. Penggunaan pestisida dengan dosis besar dan dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan beberapa kerugian, antara lain residu pestisida akan terakumulasi pada produk-produk pertanian, pencemaran pada lingkungan pertanian, penurunan produktivitas, keracunan pada hewan, keracunan pada manusia yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Manusia akan mengalami keracunan baik akut maupun kronis yang berdampak pada kematian. Menurut data yang ada golongan pestisida yang banyak digunakan pertanian Indonesia adalah golongan organofosfat dan karbamat, suatu golongan pestisida yang dikenal sebagai inhibitor untuk enzim cholinesterase. Beberapa zat yang terkandung dalam pestisida (seperti golongan organofosfat dan karbamat) mampu mengurangi kamampuan enzim cholinesterase untuk menghidrolisa asetilcholin, sehingga laju penyampaian rangsangan pada impuls saraf terhambat dan pada akhirnya akan menyebabkan kelainan fungsi sistem saraf (Rasyid, 1995). Jika terjadi keracunan pestisida golongan organofosfat dan karbamat akan menurunkan aktivitas enzim cholinesterase pada tingkat tertentu sesuai dengan tingkat keracunannya. Sebetulnya selain dengan melihat aktivitas enzim cholinesterase, keracunan pestisida dapat diketahui dengan cara melihat gejalagejala yang ditimbulkannya atau keluhan subjektif.

Derajat pengaruh racun pada tubuh seseorang dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain umur; jenis kelamin; derajad kesehatan tubuh; daya tahan; nutrisi; tingkat kelemahan tubuh; faktor genetik; kondisi sinergi bahan kimia; dan status endocrine. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi faktor yang memperberat atau mempercepat timbulnya keracunan atau justru sebagai barier sehingga kasus keracunan tidak sampai terjadi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka permasalahan yang diambil adalah : 1. Apa yang dimaksud cholinesterase dan bagaimana cara pengujiannya? 2. Apakah pengaruh pestisida sintetis terhadap kinerja Enzim Cholinesterase pada tubuh? 3. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya keracunan pestisida pada petani di desa Cibening? 4. Apa dampak dari keracunan pestisida? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah TOKSIKOLOGI LINGKUNGAN 2. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi keracunan 3. Untuk mengetahui tingkat keracunan pestisida. 1.4 Manfaat Praktek uji Cholinesterase ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait di dalamnya antara lain : 1. Bagi Ilmu Pengetahuan Hasil pengujian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan kesehatan

Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan dapat melatih peneliti untuk menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik serta menambah pengetahuan tentang pestisida organofosfat dan karbamat. 2.masyarakat tentang penggunaan pestisida organofosfat dan karbamat serta dampak yang akan terjadi akibat penggunaannya. 3. Bagi Dinas Terkait Hasil uji cholinesterase ini diharapkan dapat membantu Dinas Terkait untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi dan tepat sasaran sehingga dampak negatif dari penggunaan pestisida organofosfat dan karbamat dapat diminimalisir. . 4. Bagi Masyarakat Hasil pengujian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat tentang bahayanya penggunaan pestisida organofosfat dan karbamat jika tidak dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku.

2. atau hasil-hasil pertanian. gulma. bagian tanaman. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman. antara lain sebagai pupuk tanaman dan pestisida. 4. Pestisida merupakan semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan.2 Pestisida Secara harfiah. Dalam bidang pertanian banyak digunakan senyawa kimia. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengevaluasi enzim fungsi hati. pestisida berarti pembunuh hama (pest: hama dan cide: membunuh). The United States Environmental Control Act mendefinisikan pestisida sebagai berikut : 1. binatang pengerat. 3. yang dimaksud dengan pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk beberapa tujuan berikut : 1.1 Cholinesterase Pemeriksaan cholinesterase (CHE) merupakan pengukuran kadar CHE dalam darah.1/Kpts/TP. tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pestisida. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman (tetapi tidak termasuk golongan pupuk). virus. kecuali virus. . Sementara itu. 2. nematoda. serta jasad renik yang dianggap hama. Memberantas rerumputan. CHE adalah enzim esterase non spesifik yang disintesis oleh hati. bakteri. atau jasad renik lain yang terdapat pada hewan dan manusia.BAB II LANDASAN TEORITIS 2.434. Enzim cholinesterase adalah suatu zat berupa cairan yang ada didalam darah yang fungsinya untuk meneruskan pesan dari otak ke seluruh anggota tubuh Jika enzim cholinesterase dalam darah dihambat oleh pestisida maka akan menyebabkan kelumpuhan atau kematian. bakteri. Berdasarkan SK Menteri Pertanian RI No. mencegah atau menangkis gangguan serangga.270/7/2001.

125 berupa rodentisida dan 600 berupa disinfektan.600 bahan aktif pestisida yang telah beredar di pasaran.2. Keracunan pestisida dapat diketahui melalui dua cara. untuk keperluan perlindungan tanaman khususnya untuk pertanian dan kehutanan pada tahun 1986 tercatat 371 formulasi yang telah terdaftar dan diizinkan penggunaannya.2. Di Indonesia. dan 38 formulasi yang baru mengalami proses pendaftaran ulang. yaitu pemeriksaan laboratorium dan dengan melihat gejala-gejala yang ditimbulkannya (keluhan subjektif). 575 berupa herbisida. perdagangan pestisida dewasa ini semakin ramai. Sedangkan ada 215 bahan aktif yang telah terdaftar dan beredar di pasaran. Gejala keracunan (keluhan subjektif) dari Kimia organic Kimia anorganik Senyawa karbon mengandung klorin Senyawa karbon mengandung fosfat Senyawa karbon mengandung asam karbamat Bahan kimia dari mikroorganisme Bahan kimia tanaman 2. Pada dasarnya pestisida bersifat racun. Berdasarkan data pencatatan dari Badan Proteksi Lingkungan Amerika Serikat.1 Penggolongan Jenis Pestisida Berdasarkan Bahan Kimia yang Terkandung Didalamnya Organik Anorganik Organoklor Organofosfat Karbamat Mikrobial Botanikal tubuh Pestisida merupakan bahan kimia yang bersifat bioaktif. Lebih dari 35 ribu formulasi telah dipasarkan di dunia. 610 berupa insektisida.2 Pengaruh pestisida sintetis terhadap kinerja Enzim Cholinesterase pada . Sistem kerja yang sifatnya sebagai racun digunakan untuk membunuh organisme pengganggu tanaman. saat ini lebih dari 2. Sistem kerja pestisida dengan menghambat enzim kholinesterase. Mengingat peranannya yang sangat besar. Pada dasarnya setiap bahan aktif yang terkandung dalam pestisida menimbulkan gejala keracunan yang berbeda-beda.2. 2. Sebanyak bahan aktif tersebut. 670 berupa fungisida dan nematisida. Pestisida merupakan semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan atau mengeringkan tanaman.

Seseorang dengan bertambah usia maka kadar rata-rata kolinesterase dalam darah akan semakin rendah sehingga keracunan akibat pestisida akan semakin cepat terjadi. 2.faktor yang mempengaruhi terjadinya keracunan pestisida Faktor-faktor yang mempengaruhi efek dan gejala keracunan pada manusia. sesak nafas. otot tidak bisa digerakan dan akhirnya pingsan. detak jantung cepat. antara lain : 1. Kebiasaan Jika terbiasa kontak dengan racun dalam jumlah kecil mungkin dapat terjadi toleransi terhadap racun yang sama dalam jumlah relatif besar tanpa menimbulkan gejala keracunan. mencret. air liur banyak keluar. Bentuk dan cara masuk Racun dalam bentuk larutan akan bekerja lebih cepat dibandingkan dengan yang berbentuk padat. muntah¬-muntah.3 Faktor . Jenis Kelamin Jenis kelamin sangat mempengaruhi aktivitas kolinesterase dalam darah. mata berair. Kondisi kesehatan atau Status Gizi Seseorang yang sedang menderita sakit akan mudah terpengaruh oleh efek racun dibandingkan dengan orang yang sehat. 2. 4. Kondisi gizi yang buruk menyebabkan protein yang ada dalam . kejang-kejang. Usia Pada umumnya anak-anak dan bayi lebih mudah terpengaruh oleh efek racun dibandingkan dengan orang dewasa. Jenis kelamin laki-laki memiliki aktivitas kolinesterase lebih rendah dari perempuan karena kandungan kolinesterase dalam darah lebih banyak pada perempuan. mulut berbusa. pusing. Sedangkan racun yang masuk ke dalam tubuh secara intravena dan intramuskular akan memberikan efek lebih kuat dibandingkan dengan melalui mulut.xxi 3. mual. banyak keringat.golongan organofosfat dan karbamat antara lain timbul gerakan otot tertentu. 5. penglihatan kabur. Buruknya keadaan gizi seseorang juga akan berakibat menurunnya daya tahan tubuh dan meningkatnya kepekaan terhadap infeksi.

Pada umumnya dosis racun yang besar akan menyebabkan kematian lebih cepat. khususnya pestisida golongan organofosfat dosis yang dianjurkan adalah 0. Untuk dosis penyemprotan di lapangan. Kejadian kontaminasi lewat kulit merupakan kontaminasi yang paling sering terjadi. Kontaminasi lewat kulit Pestisida yang menempel di permukaan kulit bisa meresap masuk ke dalam tubuh dan menimbulkan keracunan.4 Dampak Penggunaan Pestisida Pestisida merupakan bahan kimia. Partikel pestisida yang masuk ke dalam paru-paru bisa menimbulkan gangguan fungsi paru-paru.3.5 kg/Ha. 6.tubuh sangat terbatas sehingga mengganggu pembentukan enzim kolinesterase. 2. Tingkat Pendidikan Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin kecil peluang terjadinya keracunan pada dirinya karena pengetahuannya mengenai racun termasuk cara penggunaan dan penanganan racun secara aman dan tepat sasaran akan semakin tinggi sehingga kejadian keracunan pun akan dapat dihindari. Terhisap lewat hidung Keracunan karena partikel pestisida atau butiran semprot yang terhisap lewat hidung merupakan kasus terbanyak kedua setelah kontaminasi kulit. 2. 2.5 – 1. Lebih dari 90% kasus keracunan di seluruh dunia disebabkan oleh kontaminasi lewat kulit. yaitu : 1. Dosis racun Jumlah racun sangat berkaitan erat dengan efek yang ditimbulkannya. Partikel pestisida yang menempel di selaput lendir hidung dan kerongkongan akan masuk ke dalam tubuh lewat kulit hidung dan mulut bagian dalam dan atau menimbulkan gangguan pada selaput lendir itu sendiri (iritasi). 7.bahan . meskipun tidak seluruhnya berakhir dengan keracunan akut. Dosis pemakaian pestisida yang banyak akan semakin mempercepat terjadinya keracunan pada pengguna pestisida. atau bahan.1Keracunan Pestisida Pestisida bisa masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui 2 cara. campuran bahan kimia.

ketidakbijaksanaan dalam penggunaan pestisida pertanian bisa menimbulkan dampak negatif. Namun. yaitu : a. Keracunan akut ringan menimbulkan pusing. Keracunan yang sangat berat dapat mengakibatkan pingsan. cacat pada bayi. pestisida itu bersifat racun. Meskipun sangat jarang. Beberapa gangguan kesehatan yang sering dihubungkan dengan penggunaan pestisida diantaranya iritasi mata dan kulit. iritasi kulit ringan. Dalam hal ini. dalam jangka waktu lama mungkin bisa menimbulkan gangguan kesehatan. dan digunakan untuk meracuni organisme pengganggu tanaman (OPT). Bagi Lingkungan Umum 1) Pencemaran lingkungan (air. ginjal dan pernafasan. dijual. misalnya dalam hal konsumen mengkonsumsi produk pertanian yang mengandung residu dalam jumlah besar. keracunan bisa dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu. keracunan kronis dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Dampak bagi Keselamatan Pengguna Penggunaan pestisida bisa mengkontaminasi pengguna secara langsung sehingga mengakibatkan keracunan. 3. Dampak bagi Konsumen Dampak pestisida bagi konsumen umumnya berbentuk keracunan kronis yang tidak segera terasa.Oleh sebab sifatnya sebagai racun pestisida dibuat. Dampak bagi Kelestarian Lingkungan Dampak penggunaan pestisida bagi lingkungan terbagi menjadi 2 kategori. Beberapa dampak negatif dari penggunaan pestisida antara lain : 1. kejang perut. dan udara) . Keracunan akut berat menimbulkan gejala mual. Namun. Keracunan kronis lebih sulit dideteksi karena tidak segera terasa dan tidak menimbulkan gejala serta tanda yang spesifik. Setiap racun berpotensi mengandung bahaya bagi makhluk hidup termasuk manusia. bahkan bisa mengakibatkan kematian. dan denyut nadi meningkat. keracunan akut ringan. pupil mata mengecil. keluar air liur. dan diare.lain yang bersifat bioaktif. kanker. hati. akut berat dan kronis. badan terasa sakit. sakit kepala. 2. pestisida dapat pula menyebabkan keracunan akut. tanah. serta gangguan saraf. sulit bernafas. Oleh karena itu. menggigil. kejangkejang. Pada dasarnya.

Penderita keracunan pestisida karena tidak sengaja. Timbulnya biaya sosial yaitu biaya pengobatan dan hilangnya hari kerja akibat keracunan pestisida. 2) Meningkatnya populasi hama setelah penggunaan pestisida. Penderita yang karena pekerjaannya selalu berhubungan dengan pestisida. . Penderita keracunan pestisida dapat dibedakan menjadi 2 golongan. 3) Terbunuhnya musuh alami hama. 2. penyimpanan dan penggunaan pestisida. Timbulnya hambatan perdagangan karena residu pestisida pada bahan ekspor menjadi tinggi. 3) Terbunuhnya organisme non-target karena pestisida memasuki rantai makanan. b. yaitu : 1. seperti para pekerja dalam proses pembuatan. seperti makan buahbuahan atau sayuran yang masih tercemar pestisida. tidak sengaja memasuki daerah yang sedang disemprot dengan pestisida. Bagi Lingkungan Pertanian 1) OPT menjadi kebal terhadap suatu pestisida (timbul resistensi). 5) Pada kasus pestisida yang persisten (bertahan lama).2) Terbunuhnya organisme non-target karena terpapar secara langsung. 4. dan sebagai akibat penyimpanan pestisida yang kurang baik. 4) Menumpuknya pestisida dalam jaringan tubuh organisme melalui rantai makanan (bioakumulasi). Dampak Sosial Ekonomi a. Penggunaan pestisida yang tidak terkendali menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi. konsentrasi pestisida dalam tingkat trofik rantai makanan semakin ke atas akan semakin tinggi (biomagnifikasi). b. c. 6) Menimbulkan efek negatif terhadap manusia secara tidak langsung melalui rantai makanan. 4) Fitotoksik (meracuni tanaman).

2 Bahan .Botol tempat aquades .Larutan indikator (BTB 0.Tabung 15 ml .112 gram) .Gelas ukur .Lampu spirtus . BAHAN dan PROSEDUR KERJA 3.Tabung volumetric .Botol tempat indikator . Reagent Test .Gelas kimia .3 Prosedur Kerja 1.Sampel darah 2.BAB III ALAT .Aquades bebas CO2 .Botol tempat substrat .1 Alat TINTOMETER KIT -.Autoclic .Autoclic .Pipet otomatis .Kuvet .Test tube CHOLINESTERASE KIT .komparator 2.Aquades .Kertas pembanding .Larutan substrat (ACP 25 gram) .

Blood Blank (Blanko darah)_ Mengambil darah 0.Digunakan untuk menguji larutan apakah masih memenuhi persyaratan atau kadaluarsa Mengambil tabung test lengkap dengan penutupnya menempatkan pada rak yang tersedia Dengan menggunakan pipet pada botol yang berlabel “indicator” menambahkan 0.01 mL pada control person (tdk terpapar organo phosfat) Memasukkan dalam tabung yang telah besisi larutan BTB (indicator) dan bilas Menambahkan 0.5 mm Memasukkan cuvet dalam Comparator Disc di sebelah kanan Memutar comparator sampai hasilnya cocok dengan warna standard Membaca hasil yang diperoleh (hasil harus 12.5 mm dan menempatkan pada comparator sebelah kiri dan jangan dipindah sampai pemeriksaan darah sample. Menentukan waktu time zero dan “match”) Mengambil darah control person 0. biasanya sekitar 20-30 .0 mL aquadest (free CO2) Memindahkan larutan kedalam cuvet 2.5% atau kurang) 2. 3.5 mL Menambahkan larutan ACP 0.5 mL larutan ACP kedalam tabung test Mengocok dengan pelan jangan sampai timbul gelembung Memindahkan larutan dari tabung test ke cuvet 2.01 mL dan memasukkan dalam tabung test yang sudah berisi larutan BTB 0.01 mL darah control person memasukkan dalam tabung test yang telah berisi 1.5 mL indicator solution kedalam tabung test (tutup secepatnya) Mengambil darah perifer 0.5 mL kedalam tabung dan secara bersamaan start “STOP WATCH” disebut time zerro Mengocok hingga larut dan secepatnya memasukkan dalam cuvet dan tempatkan pada comparator sebelah kanan Mengamati perubahan warna larutan dengan sambil memutar disc sampai hasil sesuai dengan warna standar 100% Mencatat waktu yang diperoleh (waktu MATCH).

5 mL larutan indicator (BTB) Menambanhkan 0.menit tergantung dari suhu setempat Waktu yang diperoleh digunakan untuk standar waktu pembacaan pada darah “SAMPLE” 4.5 mL larutan ACP pada tabung dan kocok hingga rata Memindahkan secepatnya ke cuvet dan masukkan ke comparator sebelah kanan Membaca hasil sesuai waktu MATCH .01 mL memasukkan dalam tabung yang telah berisi 0. Uji sample Mengambil darah sample 0.

Tamat SD c. 1 x / tahun b. 40 – 50 tahun 2. > 20 tahun 6 a. Tidak tentu 9 7 8 3 3 3 4 2 1 9 4. Tiap 2 minggu f. Pendidikan JUML AH 0 0 7 11 7 15 4 PERSENTASE 0 0 28 % 44 % 28 % 60 % 16 % 24 % 4% 36 % 28 % 32 % 12 % 12 % 12 % 16 % 8% 4% 36 % c. 2 x / tahun c. Tamat SMA a. 1 x / 1 minggu g. 20 – 30 tahun c. Tiap 2 bulan d. Frekuensi pestisida penggunaan . Tiap 1 bulan e. KRITERIA Umur RENTANG a. < 10 tahun b.BAB IV HASIL PENGAMATAN 4. Tidak tamat 1 sekolah b. < 20 tahun b. > 50 tahun a. 30 – 40 tahun d. Tamat SMP d.1 Tabel Hasil Pemeriksaan Keseluruhan Tabel umum NO 1. Lama jadi petani e. 10 – 20 tahun 3.

83 % 16. 10 – 15 menit c. Meracik pestisida RENTANG a. Kurang . KRITERIA Lama kontak : a.66 % 12.perhitungan pengetahuan = 6. Waktu penyemprotan b. 10 – 15 menit c.24 cukup kurang Tabel Lama Kontak dan Tata Cara NO 1. 15 – 30 menit b. Cukup JUMLAH PERSENTASE 14 6 5 10 9 6 17 4 3 13 11 56 % 24 % 20 % 40 % 36 % 24 % 70. > 15 menit a.33 JUMLAH 17 5 3 25 0 0 PERSENTASE 68 % 20 % 12 % 100 % kurang : < 16 Perhitungan sikap : 12 – 17 : < 12 Baik : 18 . Baik b. > 30 menit a. Penanganan 2. Baik b.66 Baik cukup : 23 – 30 : 16 – 22 = 5. > 60 menit a. 15 – 30 menit c.Tabel Pengetahuan dan Sikap NO KRITERIA Pengetahuan HASIL a. Cukup Nb : c. 5 – 10 menit b. Kurang a. Sikap c.55 % 52 % 44 % . Cukup 1. wadah * Tata cara b. 30 – 60 menit c. Baik b.

5 75 Keterangan N N R T N N N . 2. 1 4% Tabel penggunaan APD PERSENTASE 12 % 12 % 28 % 44 % 4% Tabel hasil praktikum No kuisioner 1. 6. Kurang Nb : *1 responden langsung dibuang perhitungan pengetahuan = 4 : 9 – 13 :<9 KRITERIA HASIL APD lengkap. 11 kadang-kadang 5. menggunakan Tidak menggunakan 1 APD Baik : 14 – 16 cukup kurang NO 1.5 62. selalu 3 menggunakan APD lengkap. 7 selalu menggunakan APD tidak lengkap. 2. 4. Hasil pengamatan 75 87.5 75 87.5 37. 3. 3 kadang-kadang 3. 5. 7. menggunakan APD tidak lengkap. 4.c.

5 75 37. 14. 22. 13. 20.5 N N N N N N N R T N T R N R T R T R 4.5 75 75 75 75 75 75 37.5 37.5 62.5 62. 17. 9. 25 87. 18.5 75 50 37. 11. 10.2 Data Kusioner Responden 2 dan Respomden 5 Data Responden : 2 DATA UMUM RESPONDEN Nama Alamat Umur Jenis Kelamin Lama Menjadi Petani Pendidikan Terakhir Menggunakan Pestisida Nama/Merek Pestisida yang Dipakai Frekuensi Penggunaan : : : : : : : : : Nanang RT 01 RW 05 Desa Sri Mahi 37 tahun Laki-laki 20tahun Tamat SMA 1 bulan yang lalu Puradan 3G 2x / tahun .5 50 37. 15. 19. 24. 21.8. 16. 23. 12.

Lama Kontak 1. Sikap Baik C. Penyuluhan Pengamanan Penggunaan Pestisida . Pengetahuan Baik B. Tata Cara Baik E. kadang-kadang menggunakan. Waktu untuk sekali penyemprotan = 15 .15 menit 2. Peralatan dan Perlengkapan Kerja APD tidak lengkap. F.30 menit 3. Waktu penanganan wadah pestisida = 10-15 menit D. Lama meracik pestisida = 10 .DATA KHUSUS RESPONDEN A.

c 6. Waktu untuk sekali penyemprotan = >60 menit 6.c 3. Lama meracik pestisida = 10 .b.5 % = Normal .1. a 2. a 4. Lama Kontak 4.15 menit 5. Pengetahuan Baik H. Sikap Baik I. a 5. Waktu penanganan wadah pestisida = 10-15 menit : : : : : : : : Iyas A RT 01 RW 01 Desa Sri Mahi 41 tahun Laki-laki 20 tahun Tamat SMA 1 bulan yang lalu Tidak tentu : 87. a. c HASIL PEMERIKSAAN CHOLINESTERASE Data Responden : 5 DATA UMUM RESPONDEN Nama Alamat Umur Jenis Kelamin Lama Menjadi Petani Pendidikan Terakhir Menggunakan Pestisida Nama/Merek Pestisida yang Dipakai DATA KHUSUS RESPONDEN G.

Penyuluhan Pengamanan Penggunaan Pestisida 1. kadang-kadang menggunakan. b HASIL PEMERIKSAAN CHOLINESTERASE : 75% = Normal .J. Tata Cara Baik K. Peralatan dan Perlengkapan Kerja APD tidak lengkap. L.

Sehingga dari perbedaan tersebut juga mempengaruhi hasil pengujian cholinesterase antara responden 2 dan 5.5 % dan Hasil pemeriksaan Responden 5 adalah 75 % Dilihat dari data kusioner yang dimiliki oleh kedua responden tersebut semua responden memiliki pengetahuan yang baik. Untuk Lama kontak responden 2 Lama meracik pestisida = 10 . Hasil pemeriksaan Responden 2 adalah 87.15 menit Waktu untuk sekali penyemprotan = >60 menit Waktu penanganan wadah pestisida = 10-15 menit Untuk lama kontak antara responden 2 dan 5 memiliki perbedaan pada waktu sekali penyemprotan.15 menit Waktu untuk sekali penyemprotan = 15 .sikap yang baik dan tata cara penggunaan pestisida yang baik. Hasil uji responden 2 lebih besar dari pada responden 5 .30 menit Waktu penanganan wadah pestisida = 10-15 menit Untuk Lama kontak responden 5 Lama meracik pestisida = 10 .1 Analisa Hasil Pengamatan Berdasarkan uji cholinesterase yang dilakukan pada Responden 2 dan Responden 5 hasil pemeriksaan dari kedua responden tersebut adalah Normal.BAB V PEMBAHASAN 5.

tingkat racun yng terdapat dalam pestisida yang digunakan.1 Kesimpulan Dari uji Cholinesterase yang dilakukan terhadap 25 Petani di Desa Cibening. 6. selain itu memberikan dampak negatif terhadap kesehatan petani itu disebabkan adanya faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya keracunan seperti : penggunaan APD yang tidak lengkap. Jika petani sudah mengalami keracunan tingkat ringan maupun sedang maka petani harus diistirahatkan dirumah kurang lebih 2 minggu dan ditindak lanjuti kepihak medis(puskesmas maupun rumah sakit setempat) .BAB VI PENUTUP 6. Petani juga harus dibiasakan menggunakan APD yanglengkap untuk mengurangi dan mencegah pemaparan dari pestisida yang digunakan.terdapat 20 % yang terpapar ringan dan 56% Petani tidak keracunan( normal) dari pemeriksaan tersebut berarti terdapat residu pestisida yang masuk kedalam tubuh petani dan mempengaruhi cholinesterase dalam tubuh. lama kontak terhadap pestisida. tingkat pengetahuan.dinas pertanian dan instansi lainnya mengadakan penyuluhan secara barkala pada jangka waktu tertentu kepada warga-warga khususnya petani tentang bagaimana cara menggunakan dan pengelolaan pestisida yang baik dan benar serta dipromosikan pestisida non kimiawi(alami) yang lebih ramah lingkungan serta tidak bahaya bagi kesehatan. dan sikap dari petani itu sendiri. kondisi kesehatan si petani.2 Saran Sebaiknya dari pihak Instansi yang terkait seperti Puskesmas.Bekasi terdapat 24 % Petani yang keracunan .Dinas kesehatan .

pdf/diaksepada19/06/20 13 pukul 11:09 .ac.pdf§/diaksepada19/06/20 1 pukul 10:03 http://journal.undip.indonesian-publichealth.ac.ui.id/index.com/2012/12/cholinestrase-dan-keracunanpestisida.DAFTAR PUSTAKA http://www.php/health/article/download/691/658.id/17532/1/YODENCA_ASSTI_RUNIA.html§/diakse pada 19/06/2013 pukul 09:23 http://eprints.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful