P. 1
obat generik

obat generik

|Views: 78|Likes:
Published by Agus Murdianto

More info:

Published by: Agus Murdianto on Jun 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2013

pdf

text

original

Latar Belakang Masalah Dewasa ini banyak sekali masalah kesehatan masyarakat yang timbul di Indonesia akibat perilaku

masyarakat yang semakin kompleks. Faktor pelayanan kesehatan dari pemerintah sangat menentukan pemecahan solusi yang tepat bagi penangan permasalahan tersebut. Program obat generik merupakan salah satu terobosan yang dikeluarkan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Pemerintah mencanangkan program obat generik dengan maksud untuk memberikan kemudahan dalam akses pelayanan kesehatan masyarakat, karena telah disadari bahwa tingkat perekonomian dan daya beli masyarakat rendah. Di samping itu, tujuan dicanangkannya obat generik ialah untuk memberikan alternatif obat yang terjangkau dan berkualitas kepada masyarakat. Ironis memang ketika ditemukan sejumlah bukti bahwa pelaksanaan program obat generik tidaklah semudah apa yang dicanangkan pemerintah selama ini. Banyak faktor yang justru menimbulkan masalah baru dalam pelaksanaan program obat generik. Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui apa itu obat generik, dan perbedaannya dengan obat yang lainnya. Masyrakat masih menganggap mana mungkin ada obat yang berkhasiat dengan harga yang murah. Banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang obat dan kualitasnya. Ketika mendengar obat generik, umumnya orang akan langsung mengasumsikannya sebagai obat kelas dua, artinya mutunya kurang bagus. Obat generik pun kerap dicap obat bagi kaum tak mampu. Betulkah asumsi ini?[1] Kurangnya informasi seputar obat generik merupakan salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Padahal dengan beranggapan demikian, selain merugikan pemerintah, pihak pasien sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat. Membeli obat tidaklah bisa disamakan dengan membeli barang rumah tangga. Umumnya harga barang rumah tangga sebanding dengan kualitasnya, di mana semakin mahal harganya maka semakin bagus kualitasnya. Edukasi ke masyarakat mengenai obat generik menjadi perlu dan wajib untuk dilakukan.Sosialisasi yang digencarkan pemerintah sepertinya belum mengena di masyrakat luas. Di samping itu harga dari obat generik juga menjadi permasalah dalam pelaksanaan program obat generik yang diagungkan pemerintah. Karena pemerintah dituntut untuk dapat menyediakan obat yang berkualitas dengan harga yang murah. Berdasarkan penjelasan dalam latar belakang masalah tersebut di atas, maka pembahasannya dapat difokuskan dalam 6 permasalahan yaitu sebagai berikut :

Ada dua jenis obat generik. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah dan tenaga medis tentang obat generik. Menurut UU No. Obat paten adalah obat yang baru ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya. Dalam obat generik bermerek. Penulisan karya tulis ini disusun dengan tujuan: Untuk meneliti apa yang menjadi penyebab kekurang efektifannya program obat generik. sedangkan pabrik ”B” memberi nama ”gatoticilin” dan seterusnya. Untuk mengetahui kualitas yang terkandung dalam obat generik. yaitu obat generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan zat aktifnya. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun. dinas kesehatan yang terkait ataupun tenaga medis dalam pelaksanaan program obat generik. Untuk mengevaluasi peranan pemerintah.1 Pengertian Obat Generik Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya. Dari berbagai merek tersebut. Krisis kepercayaan yang menimpa masyarakat dalam penggunaan obat generik. sesuai keinginan pabrik obat. perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Zat aktif amoxicillin misalnya. sehingga dapat diproduksi oleh semua perusahaan farmasi tanpa perlu membayar royalti. Selama 20 tahun itu. kandungan zat aktif itu diberi nama (merek). Ketidakpahaman masyarakat tentang obat generik. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2006-2009. LANDASAN TEORI 2. Fachmi Idris.Kualitas obat generik masih diragukan. . Perusahaan lain tidak diperkenankan untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik paten.[2] Menurut DR. Dr. bahannya sama: amoxicillin. secara internasional obat hanya dibagi menjadi menjadi 2 yaitu obat paten dan obat generik.Kes. M. Untuk memberi solusi yang tepat terhadap pelaksanaan program obat generik. Ketersediaan obat generik berkualitas dan penentuan harga yang tepat masih diragukan. oleh pabrik ”A” diberi merek ”inemicillin”. Program obat generik belum diterapkan secara maksimal.

Oleh karena itu. “Bedanya. Dr. obat generik inipun dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik berlogo dan generik bermerk (branded generic). Proporsi biaya iklan obat dapat mencapai 20-30%.Setelah obat paten berhenti masa patennya. obat paten kemudian disebut sebagai obat generik (generik= nama zat berkhasiatnya). Harga obat generik bisa ditekan karena obat generik hanya berisi zat yang dikandungnya dan dijual dalam kemasan dengan jumlah besar. sehingga biaya iklan obat akan mempengaruhi harga obat secara signifikan.3 Landasan Hukum Menurut dr.2 Sejarah Obat Generik di Indonesia Obat Generik Berlogo (OGB) diluncurkan pada tahun 1991 oleh pemerintah yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah ke bawah akan obat. satu lagi diberi logo” ungkap DR.[3] 2. sejak tahun 1985 pemerintah menetapkan penggunaan obat generik pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah. Fachmi Idris. sedangkan obat generik bermerk yang lebih umum disebut obat bermerk adalah obat yang diberi merk dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya. yang satu diberi merk.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen telah menguraikan apa yang menjadi hak-hak seorang pasien. Harga obat generik dikendalikan oleh pemerintah untuk menjamin akses masyarakat terhadap obat.[4] 2. sehingga tidak diperlukan biaya kemasan dan biaya iklan dalam pemasarannya. peningkatan pemanfaatan obat generik akan memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Mengingat obat merupakan komponen terbesar dalam pelayanan kesehatan. SE. antara lain: Hak untuk informasi yang benar. UU No. Marius Widjajarta. M. Obat generik berlogo yang lebih umum disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat berkhasiatnya dan mencantumkan logo perusahaan farmasi yang memproduksinya pada kemasan obat. Nah. Jenis obat ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang merupakan obat esensial untuk penyakit tertentu. . jelas dan jujur. Tidak ada perbedaan zat berkhasiat antara generik berlogo dengan generik bermerk.Kes.

44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. adil. f) g) mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan. Hak-hak yang diatur oleh perundang-undangan. BAB III METODE PENULISAN . memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. jujur dan jelas maka dokter bisa melanggar UU No. Hak untuk ganti rugi. dan tanpa diskriminasi. Hak untuk memilih. Pasien mempunyai hak untuk memilih pengobatan dan memilih dokter. yaitu: a) memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. memperoleh layanan yang manusiawi.Hak untuk jaminan kemanan dan keselamatan. jujur. Jadi. Hak untuk didengar. hendaknya pasien meminta obat generik ketika berobat ke dokter dan ingatkan dokter bahwa jika dokter tidak memberikan informasi yang benar. Perlindungan hak pasien juga tercantum dalam pasal 32 Undang-Undang No. e) memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi. b) c) d) memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien. Sebagaimana penjelasan tentang sub sistem upaya kesehatan dan sediaan farmasi dalam Sistem Kesehatan Nasional juga mempertegas bahwa pasien berhak menerima upaya kesehatan dengan didukung oleh ketersediaan obat yang berkualitas baik dengan harga yang terjangkau. Hak untuk mendapatkan advokasi. 8 tahun 1999.

karena yang menyembuhkan generiknya. modelnya bajunya beraneka ragam. Marius Widjajarta. Generik kemasannya dibuat biasa. kemudian dibahas secara spesifik dan lebih khusus tentang permasalahan yang timbul di masyarakat terhadap pelaksanaan program obat generik. SE. fungsi dasarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara dingin. browsing di internet maupun literatur-literatur yang berhubungan dengan penulisan karya tulis ini. Obat generik dan obat bermerk yang diregistrasikan ke BPOM harus menunjukkan kesetaraan biologi (BE) dengan obat . karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Marius ini tidak kalah dengan obat bermerk karena dalam memproduksinya perusahaan farmasi bersangkutan harus melengkapi persyaratan ketat dalam Cara-cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. Kualitas obat generik yang disebut ´tidak genit tapi menarik´ oleh dr.Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan. penyusun menggunakan metode deskriptif dan induktif. yang bermerek dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna.” ungkap dr. Menganalisis data yang ada yang bersumber dari artikel-artikel tentang temuan fakta di lapangan. Hanya saja. Padahal generik atau zat berkhasiat yang dikandung obat generik sama dengan obat bermerk. Selain itu juga ada persyaratan untuk obat yang disebut uji Bioavailabilitas/Bioekivalensi (BA/BE). “Orang kan makan generiknya bukan merknya. dan membantu menemukan solusi permasalahan tersebut dengan mencoba melibatkan fungsi dan peranan pemerintah serta dinas kesehatan terkait. Membahas secara deskriptif temuan-temuan yang ada secara umum atau universal.1 Kualitas Obat Generik Berbicara mengenai obat generik tidaklah terlepas dari wacana tentang kualitas dan khasiatnya. Begitu pula dengan obat. Harganya yang terbilang murah membuat masyarakat tidak percaya bahwa obat generik sama berkualitasnya dengan obat bermerk. Kemasan itulah yang membuat obat bermerek lebih mahal. Namun. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN MASALAH 4. Orang sering mengira bahwa mutu obat generik kurang dibandingkan obat bermerk. Ibarat sebuah baju.

maka menurut ilmu psikologi itu akan mempengaruhi motivasi dan emosi seseorang .2 Paradigma Masyarakat Seperti yang telah dibahas di sub bab sebelumnya. gliserilguaiakolat. Fachmi Idris. ditemukan “zat inti berkhasiat terapetik”. Dr. dekstrometorfan.Kes. amoksisilin. Jadi tidak heran. M. Zat ini yang secara umum disebut “generik”. difenhidramin. Permasalahannya ialah obat generik hanya mengandung salah satu manfaat dari yang dikehendakinya saja. Sebenarnya untuk masalah kesembuhan dipengaruhi oleh sistem imun tubuh dan sugesti seseorang dalam melawan penyakitnya. “Namun. Namun untuk masalah khasiat obat generik mempunyai khasiat yang sama dengan obat jenis lainnya. Beberapa contoh nama obat generik yang berdedar di masyarakat paracetamol. bahwa sebenarnya obat generik memiliki kualitas yang sama dan cukup baik dengan obat lainnya. Mereka masih berpikir mana mungkin ada obat dengan harga yang murah namun memiliki kualitas yang bagus. pasien tidak mengalami kesembuhan yang cepat ketika dia mengkonsumsi obat generik. termasuk pengujian BA. Respon terapetik dapat diartikan sebagai hasil kerja obat hingga mencapai efek yang diinginkan dari penggunaan obat tersebut. dari bahan generik ini. chlorpheniramin maleat (CTM). Tapi fakta yang ditemukan ialah kebanyakan masyarakat belum percaya bahwa obat generik memiliki khasiat yang sama dengan obat lainnya. berbeda halnya dengan pasien dengan keluhan yang sama meminum obat paten yang harganya jauh di atas obat generik ia hanya cukup minum beberapa obat saja. Banyak cerita yang ditemukan di lapangan bahwa beberapa kasus. jika seorang pasien penderita flu berat diberikan obat generik oleh sang dokter maka ia harus meminum banyak jenis obat tersebut. 4. yang setelah diteliti sekian lama.” ungkap DR. Berbeda dengan obat paten yang harganya mahal biasanya bersifat multifunction. Seperti misalnya sugesti bahwa obat generik tidaklah manjur. Inovator yang dimaksud adalah obat yang pertama kali dikembangkan dan berhasil muncul di pasaran dengan melalui serangkaian pengujian.[5] Obat dibuat dari bahan-bahan tertentu. namun ketika dia beralih ke obat paten yang harganya jauh di atas obat generik ia langsung merasakan kesembuhan. Setelah disetujui oleh otoritas kesehatan. Studi BA dan atau BE seharusnya telah dilakukan terhadap semua produk obat yang berada di pasaran baik obat bermerk maupun obat generik. bisa dibuat “obat generik”.pembanding inovator. pemerintah dalam hal ini BPOM masih fokus pada pelaksanaan CPOB. eritromisin. hanya yang membedakan sifat obatnya saja. Di samping itu obat generik hanya meningkatkan ambang batas kesakitan saja karena sifatnya yang terapetik. Namun itu semua kembali ke sistem imun tubuh seseorang dalam melawan virus penyakit yang menyerang. gentamisin.

Akhirnya menjadi asumsi bahwa obat generik adalah obat yang berkualitas rendah karena jarang disarankan oleh dokter. Pandangan rendah ini juga berimbas kepada pandangan masyarakat pada pengobatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). begitupun sebaliknya. pihak pasien sendiri menjadi tidak efisien dalam membeli obat. karena kata-kata ‘paten’ dalam keseharian masyarakat bermakna ‘top’ atau ‘paling bagus. masayarakat atau pasien merasa tidak puas terhadap pelayanan kesehatan bila mendapat obat generik. Puskesmas yang menyediakan pelayanan kesehatan terdepan dengan memberikan obat generik dianggap sebagai tempat berobat masyarakat kelas bawah.[6] Kondisi ini menyebabkan banyak orang yang tidak mampu membeli obat. Istilah ‘obat paten’ bagi masyarakat di Indonesia langsung dikaitkan dengan kualitasnya. Namun persepsi masyarakat terhadap obat generik tidak jauh berubah. Dengan memandang rendah mutu obat generik. 4. Pandangan masyakat yang memandang obat paten sebagai obat bagus tentu tidaklah sepenuhnya salah. tetapi menganggap obat generik sebagai obat kelas bawah dan bermutu rendah inilah yang tidak benar.dalam menjalani proses kesembuhannya dan itu tidaklah mereka sadari. Padahal dengan beranggapan demikian.3 Ketidakpahaman Masyarakat Karena Kurangnya Sosialisasi “Buat apa beli mereknya. Sebaliknya mereka berpendapat bahwa obat paten adalah obat yang sangat bagus mutunya bila dibandingkan dengan obat generik. selain merugikan pemerintah. Puskesmas yang .’ Sehingga secara langsung memandang obat paten adalah obat paling bagus dan sebaliknya obat generik adalah obat berkualitas rendah. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan istilah ‘obat paten’ yang salah di masyarakat. Kurangnya informasi seputar obat generik adalah salah satu faktor penyebab obat generik dipandang sebelah mata. Pandangan rendah terhadap obat generik jelas menimbulkan masalah dalam pelayanan kesehatan di tanah air. Masyarakat menganggap pengobatan yang diberikat bukanlah pelayanan maksimal. Masyarakat tetap menganggap bahwa obat generik adalah obat kelas bawah dan bermutu rendah. serta telah mengalami pergeseran makna. yang penting khasiatnya” kata sebuah iklan dalam mempromosikan obat generik. penyakitnya tidak bisa terobati karena lebih mempercayai obat paten. Pandangan rendah masyarakat terhadap obat generik ini diperparah oleh dokter pada preaktek pribadi dan pelayanan swasta yang hampir tidak pernah memberikan informasi apalagi memberikan resep obat generik tersebut.

untuk mengubah citra kurang baik pada obat generik dan Puskesmas harus dilakukan upaya menyeluruh mulai dari pendidikan terhadap masyarakat tentang obat dan pelayanan kesehatan. tetapi datang langsung untuk meminta surat rujukan. Pada sebagian masyarakat. perilaku petugas kesehatan. Pusat Pemberdayaan Masyarakat 3. Masyarakat harus diberikan pemahaman tentang apa dan bagaimana obat generik itu sebenarnya. Juga. Padahal jika kasus yang dirujuk bukanlah penyakit yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut justru akan merugikan pasien itu sendiri. . meskipun penyakitnya hanya pegal-pegal atau batuk pilek biasa. Oleh karena itu. Mereka menilai berobat ke ke RS adalah hak mereka. karena dengan banyaknya kasus dan kunjungan di RS. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Puskesmas diharapkan dapat membina dan memberikan sosialisasi terhadap masyarakat tentang kegunaan obat generik yang sebenarnya. Salah satu usaha untuk memperbaiki pandangan masyarakat terhadap obat generik dan Puskesmas adalah melalui penyuluhan.seharusnya menjadi pusat pelayan kesehatan menyeluruh mulai kedokteran pencegahan dan pengobatan tidak dapat berjalan dengan baik. dokter akan lebih fokus pada kasus-kasus tingkat lanjut. perilaku dan gaya berobat seperti ini merupakan suatu ‘prestise’ dan sebaliknya mereka ‘gengsi’ untuk berobat ke Puskesmas. hingga kebijakan pelayanan. pengobatan yang didapat di RS juga tidak akan jauh berbeda dengan di Puskesmas yang mungkin hanya dengan ‘merek’ obat yang berbeda. Sebagaimana tugas dan fungsi puskesmas dalam melaksanakan Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) ialah: 1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan 2. Tidak lupa dibantu dengan Dinas Kesehatan terkait yang saling bekerja sama dengan puskesmas dan para tenaga medis yang saling terintegrasi di dalamnya. Bahkan harus diusahakan dapat memasyarakatkan penggunaan istilah ‘obat bermerek’ sebagai pengganti istilah obat paten. Masyarakat yang mempunyai biaya yang cukup untuk berobat lebih cenderung untuk berobat langsung ke dokter spesialis atau ke rumah sakit besar. Pada kelompok masyarakat yang mempunyai Asuransi Kesehatan (Askes) yang harus mendapatkan rujukan untuk berobat ke Rumah Sakit (RS) besar tidak jarang datang ke Puskesmas bukan untuk menceritakan keluhannya.

Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat. tidak boleh menambahkan biaya distribusi ke harga obat. Kepulauan Riau. dapat menambahkan biaya distribusi maksimum lima persen. semua komponen masyarakat mulai dari pejabat. Jawa Tengah. dan pasien juga seharusnya dapat menentukan pilihan untuk mendapatkan obat generik. Jawa Barat. Penambahan biaya distribusi hanya diperbolehkan pada penyaluran obat generik ke daerahdaerah yang berada pada regional II. Sementara untuk di regional III seperti Nanggroe Aceh Darussalam.[7] Kementerian Kesehatan telah menerbitkan peraturan baru tentang peresepan dan distribusi obat generik untuk menggalakkan penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan publik. tetapi biasanya obat ini adalah untuk penatalaksanaan penyakit tingkat lanjut. hingga rakyat biasa harus memahami dan menghargai pelayanan kesehatan kepada Puskesmas. Puskesmas harus dihargai sebagai pelayanan kesehatan terdepan bukan hanya bagi masyarakat berekonomi lemah. PBF yang mendistribusikan obat generik ke daerah regional I termasuk DKI Jakarta. Distribusi dan Harga Obat Generik Menurut berita yang dilansir oleh Metronews. Jawa Timur.03.Memang ada beberapa obat yang hanya dipasarkan dengan nama dagang tertentu. karena bila dengan obat generik tentu harus mengkonsumsi lebih dari satu macam obat. objektif dan jelas tentang obat generik pada pasien. Bali. Ketentuan itu tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.com. Namun memandang rendah obat generik adalah suatu kesalahan. Daerah Istimewa Yogyakarta. ada beberapa keuntungan berobat dengan obat bermerek bila obat tersebut merupakan obat kombinasi.01/Menkes/146/I/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang harga obat generik. anggota dewan. dan Sulawesi dapat menambahkan biaya distribusi maksimal 10 persen. Untuk regional II mencakup Pulau Sumatra. Kalimantan. III dan IV. Pemerintah melonggarkan aturan distribusi obat generik dengan memperbolehkan pabrik obat dan atau pedagang besar farmasi (PBF) menambahkan biaya distribusi pada harga obat generik yang disalurkan ke daerah di luar Pulau Jawa dan Bali. Bahkan bila penyakit hanya membutuhkan obat tertentu maka memberikan obat tunggal (non kombinasi) dan obat generik adalah pilihan yang tepat. Lampung dan Banten. 4.4 Ketersediaan. Selanjutnya. Harus diakui juga. Para pelayan kesehatan terutama pada pusat pelayan kesehatan swasta juga harus memberikan informasi yang benar. Hal itu dilakukan karena tingkat penggunaan obat .

php/metromain/news/2010/02/07/10303/AturanDistribusi-Obat-Generik-Diperlonggar [8] Solo Pos. “Obat Generik. Padahal pasar obat nasional meningkat dari Rp 23. Ketersediaan obat esensial generik di sarana pelayanan kesehatan juga baru mencapai 69. penggunaan obat generik mengalami penurunan bermakna dalam beberapa tahun terakhir.590 triliun pada 2005 menjadi Rp 32.generik belum sesuai harapan. 22 Feb 2010.html [7] Metronews. Loc.Kes. “Obat Generik dan Puskesmas: Terlalu Dipandang Rendah.2% dari pasar obat nasional). ” http://metrotvnews. “Obat Generik.com/2008/09/obat-generik-dan-puskesmasterlalu. Untuk sehat tidak harus dengan obat mahal.com/2010/channel/nasional/pemerintah-inspeksi-distribusi-obatgenerik-15420 .blogspot. namun tingkat peresepan obat generik di rumah sakit umum masih 66% sementara di rumah sakit swasta dan apotek hanya 49%. dalam lima tahun terakhir pasar obat generik turun dari Rp 2.com/obat_generik/ [2] Majalah Farmaca. Bahkan menurut catatan Kementerian Kesehatan.solopos.525 triliun (10% dari pasar obat nasional) menjadi Rp 2. Dan obat generik bukan obat murahan. M. Dr.Kes.cit [4] Ibid [5] Ibid [6] Hardisman. Fachmi Idris.” http://wapedia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan. Meski tingkat peresepan obat generik di Puskesmas sudah mencapai 90%. “Pemerintah inspeksi distribusi obat generik” http://www.” http://hardi-dasman.mobi/id/Obat_generik [3] DR.” http://medicastore. tetapi obat yang dijual dengan harga tidak mahal.938 triliun tahun 2009. Harga Murah Tapi Mutu Tidak Kalah. M.[8] Jadi. Badan POM. Fachmi Idris.com/index. [1] DR. Dr.74% dari target 95%.372 triliun (7. “ Aturan Distribusi Obat Generik Diperlonggar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->