P. 1
pemecahan masalah

pemecahan masalah

|Views: 195|Likes:
Published by Gie Soacx

More info:

Published by: Gie Soacx on Jun 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2015

pdf

text

original

Pengertian dan Tujuan Pemecahan Masalah Matematika Pengertian dan Tujuan Pemecahan Masalah Matematika Polya (1981: 117

) mendefinisikan pemecahan masalah (problem solving) sebagai to s earch consciously for some action appropriate to attain a clearly conceived, but not immediately attainable, aim . Makna dari pernyataan tersebut adalah pemecahan masalah sebagai usaha sadar untuk mencari jalan keluar dari suatu kesulitan, te tapi tujuan tersebut tidak segera dapat dicapai. Osborne & Kasten (1980: 54) menyatakan bahwa Problem solving is taught to develop methods of thinking and logigal reasoning . Maknanya adalah pemecahan masalah dia jar untuk mengembangkan metode-metode mengenai pemikiran dan logika penalaran. D alam NCTM (2000: 52), pemecahan masalah merupakan proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya pada situasi baru dan berbeda. Apabila dikaitkan dengan pernyataan Osborne & Kasten di atas, maka proses menerapkan pengetahuan matematika ini melibatkan keterampilan berpikir dan bernalar pada diri siswa. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu tingkat aktivitas intelektual yang sangat tinggi untuk mencari penyelesaia n masalah yang dihadapi dengan melibatkan keterampilan berpikir dan bernalar ser ta menggunakan bekal pengetahuan yang sudah dimiliki. NCTM (2000: 52 & 334) mengungkapkan tujuan pengajaran pemecahan masalah dari seb elum taman kanak-kanak hingga kelas XII sebagai berikut. · build new mathematical knowledge through problem solving; · solve problems that arise in mathematics and in other contexts; · apply and adapt a variety of appropriate strategies to solve problems; · monitor and reflect on the process of mathematical problem solving. Tujuan pengajaran pemecahan masalah secara umum adalah untuk: 1) membangun penge tahuan matematika baru melalui pemecahan masalah; 2) memecahkan masalah yang mun cul dalam matematika dan di dalam konteks-konteks lainnya; 3) menerapkan dan men yesuaikan bermacam strategi yang sesuai untuk memecahkan permasalahan; dan 4) me mantau dan merefleksikan proses dari pemecahan masalah matematika. NCTM (Posamentier & Stepelman, 1990: 109) menyatakan apa yang diharapankan setel ah siswa belajar memecahkan masalah sebagai berikut. In grades 9 12, the mathematics curriculum should include refinement and extensi on of methods of mathematical problem solving so that all students can: · use with increasing confidence, problem-solving approaches to investigat e and understanding mathematical content; · apply integrated mathematical problem-solving strategies to solve proble ms within and outside of mathematics; · recognize and formulate problems within and outside of mathematics; · apply the process of mathematical modeling to real-world problem situati ons. Setelah belajar memecahkan masalah matematika diharapkan siswa dapat: 1) menggun akan pendekatan pemecahan masalah untuk menyelidiki dan memahami isi matematika; 2) menggunakan perpaduan strategi pemecahan masalah untuk memecahkan masalah da lam atau di luar matematika; 3) mengenal dan merumuskan masalah dal am atau di luar matematika; dan 4) menggunakan proses pemodelan matematika untuk situasi masalah nyata. Peran Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran Matematika Matematika merupakan ilmu yang melatih cara berpikir dan mengolah logika yang be nar sesuai dengan aturan yang terdiri dari aksioma dan dalil-dalil. Proses berpi kir matematik dimulai dari penemuan informasi, pengolahan, penyimpanan, dan mema nggil kembali informasi tersebut dari ingatan. Berpikir matematik merupakan pela ksanaan kegiatan atau proses matematik (doing math) atau tugas matematika (mathe

NCTM (2000: 29) menyatakan bah wa cara penting untuk memperoleh dan mempergunakan pengetahuan meliputi pemecaha n masalah (problem solving). Pembelajaran matematika dimulai dari pemecahan masalah sebagai konteks un tuk memperkenalkan atau memahami suatu konsep atau prinsip matematika. Stanick & Kilpatrick (Schoenfeld . Pemecahan masalah berfungsi sebagai konteks. 1980: 3) bahwa: Proble m solving has been said to be at the heart of all mathematics . Setelah memperoleh pengajaran pemecahan masalah seperti i ni. Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam merupakan hadiah intrinsik b agi siswa. Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakuk an penemuan. Problem solving as skill Pemecahan masalah sebagai keterampilan yaitu berupa kemampuan untuk memperoleh s olusi dari masalah yang dihadapinya. Masalah dalam pembelajaran matematika disini berperan sebagai: a) just ifikasi dalam mengajarkan matematika. kemudian menganali sanya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya. maksudnya adalah matematika merupakan pemecahan masalah itu se ndiri. Problem solving as art Pemecahan masalah sebagai seni dari matematika atau jantungnya matematika (heart of mathematics). Davis. 3. c) rekreasi . maksudnya masalah matematika menjadi tantangan atau permainan yang menyenangka n siswa agar semakin terampil dan mahir. memungkinkan siswa me njadi lebih analitik dalam mengambil keputusan di dalam kehidupannya. dan d) usaha mengembangkan suatu ketera mpilan baru. 2005: 126) berpendapat b ahwa dengan mengajarkan siswa untuk menyelesaikan masalah. penalaran dan pembuktian (reasoning and proof). Berkenaan dengan proses matematik. siswa dikatakan telah memiliki keterampilan pemecahan masalah sebaik penguas aannya terhadap fakta dan prosedur yang telah dipelajari. Potensi intelektual siswa meningkat. Hal ini dikarenakan: 1. Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan. maksudnya adalah masalah digunakan sebagai sarana untuk mengajarkan suatu topik matematika. & Henderson (Herman Hudojo. Tujuan utama dari prose s ini adalah untuk memahami konsep matematika dan bukanlah pemecahan masalah itu sendiri. Pada hakik atnya. asumsi pedagogi dan epistemologi yang mendas arinya adalah keterampilan merupakan penguasaan suatu strategi atau teknik pemec ahan masalah. Dalam perspektif historis kurikulum matematika. 3. 1. artinya kemampuan memecahkan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika . kemudian diberikan tugas berupa latihan-latihan sehingga siswa dapat meng uasai teknik tersebut. 4. kom unikasi (communication). 2. Meskipun pemecahan masalah dapat diinterpre tasikan sebagai suatu keterampilan. Pendapat tersebut didukung oleh pernyataan Lester (Branca. kemudian konsep atau prinsip yang telah berhasil dipahami tersebut diterapkan dalam soalsoal pemecahan masalah untuk melatih keterampilan siswa. yakni berpikir atau bernalar untuk meng . Makna dari pernyat aan ini adalah pemecahan masalah merupakan inti dari seluruh matematika. 1992: 338) mengidentifikasi peran pemecahan masalah dalam pembelajaran matemat ika sebagai berikut.matical task). Berkenaan dengan apa yang didapatkan siswa dari melakukan suatu pemecahan masala h. Herman Hudojo (2005: 128 129) mengatakan bahwa pemecahan masalah merupakan suat u hal yang esensial dalam pembelajaran matematika. Problem solving as context. 2. koneksi (connections). belajar pemecahan masalah adalah belajar berpikir (learning to think) ata u belajar bernalar (learning to reason). maksudnya masalah diberikan dalam urutan tertentu untuk mengenalkan siswa pada materi baru dan sebagai konteks untuk bahan diskusi selanjutnya. b) m otivasi yang spesifik untuk suatu topik. penyajian dan (representation). maksudnya masalah digunakan untuk menge nalkan suatu topik melalui pemahaman secara eksplisit atau implisit. Lebih jauh Cooney. maksudnya masalah yang berkaitan dengan pe ngalaman sehari-hari dapat meyakinkan guru dan siswa akan nilai matematika. Siswa diajarkan suatu teknik pemecahan masalah sebagai materi pela jaran.

Proses ini mencakup usaha untuk membaca kembali apa masalahn ya dan menguji jawabannya tersebut pada kondisi dan variabel yang terdapat pada . Proses untuk memahami kondisi dan variabel dalam masalah dapat terbantu dengan cara membuat model. Melalui pemecahan m asalah siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi t erhadap situasi belajar yang baru. 1990: 110) mengungkapkan sebagai berikut. diagram. t he problem may be reformulated. misalnya: informasi yang relevan. If necessary. gambar atau mendaftar ide-ide dalam urutan tertentu. wondering or doubt. Employing previous experiences. including designati on of the goal to be sought. outlined five steps for problem solving. yang melibatkan pemasukan penyelesaian ke dalam pem ahaman yang dimiliki orang tersebut dan menerapkannya pada bentuk-bentuk lain da ri masalah yang sama. Siswa harus dapat memberikan jawaban dalam b atasan yang relevan dengan data dalam masalah tersebut. keingintahuan. hypotheses or possible solutions. Hal ini mengakiba tkan pemecahan masalah dalam matematika dapat digunakan sebagai dasar pembelajar an konsep-konsep matematika. Hal ini berarti. siswa perlu mengevaluasi apakah jawaban yang diperolehnya tersebut masuk akal a tau cukup rasional. 4. Selanjutnya. Keterampilan berpikir yang dikembangkan dalam proses pemecahan masalah antara la in kemampuan siswa untuk memahami masalah dan merumuskan pertanyaan dalam masala h tersebut. siswa mengur aikan dalam bagian-bagian masalah yang perlu dipecahkan terlebih dahulu dan memi lih strategi pemecahan yang sesuai. Siswa juga perlu memahami kondisi dan variabel yang terlibat dalam m asalah tersebut. atau keraguan. siswa tidak hanya m enggunakan kemampuan matematika yang telah mereka miliki. This involves incorporating the successful solution into one's existing understa nding and applying it to other instances of the same problem. Meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa merupakan tujuan utama dalam p embelajaran matematika. termasuk perumusan sasaran yang hendak dicapai sebagaimana ditentukan oleh situasi yang mengedepankan masalah itu. Sejalan dengan itu. Dalam memecahkan masalah matematika. 3. atau gagasan-gagasan terdahulu untuk merumuskan hipotesis-hi potesis dan proposisi pemecahan masalah. sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan mer eka sendiri. Evaluating the solutions and drawing a conclu­sion based on the evidence.aplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya dalam rangka memecahkan masalah-masalah baru yang belum pernah dijumpai. 3) memanfaa tkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. 4) menguji hipotesis-hipotesis atau kem ungkinan-kemungkinan penyelesaian secara berurutan (jika perlu merumuskan kembal i masalah tersebut). successively. a sense o f frustration. or ideas to formulate hypotheses and problem-solving propositions. perasaan frustasi. Makna dari pernyataan di atas adalah terdapat lima langkah pemecahan masalah seb agai berikut: 1) mengenali adanya masalah. siswa m enyatakan jawaban secara lengkap sesuai dengan apa yang ditanyakan. such as relevant information. Testing. Selanjutnya. 2) mengidentifikasi masalah . tetapi juga meningkatk an pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang matematika. as defined by the situation which poses the problem . 2. Dewey (P osamentier & Stepelman. yaitu kesadaran atas suatu kesukar an. 1. siswa perlu berpikir untuk memilih atau me nemukan data yang diperlukan untuk memecahkan masalah. penyele saian-penyelesaian. dan 5) mengevaluasi penyelesaian-penyelesaian dan menarik k esimpulan berdasarkan bukti. They were presented in the following or der. yaitu klarifikasi dan definisi. Identifying the problem clarification and def­inition. Recognizing that a problem exists an aware­ness of a difficulty. Tahap-tahap Pemecahan Masalah Matematika Terdapat beberapa pendapat tentang proses pemecahan masalah matematika. former sol utions. 5.

Selanjutnya. Kata heuristik menurut Polya (1973: 112) sering disebut sketsa (outline). sis wa perlu selalu meneliti setiap tahap yang telah dilakukan. dan kemampuan lainnya. mengujinya pada pertanyaan. Oleh karena itu. intuisi. Ide tersebut akan membongkar segala yang masih rahasia menjadi suatu jawaban. yaitu: 1. 3. perilaku. we have to understand the problem. Second. Fourth. Maknanya adalah empat fase dalam proses pemecahan masalah. dan kep ercayaan diri siswa. we carry out our plan. Polya (1973: 6) menyatakan bahwa It is generally use less to carry out details without having seen the main connection. we have to see how the various items are con nected. Third. Oleh karena itu. Hal ini mencakup proses dal am memori untuk mengingat kembali fakta. Pemecahan masalah menggunakan strategi heuristik berarti proses pemecahan masalah menggunakan stra tegi-strategi agar dapat mengambil keputusan berdasarkan keputusan induktif. Lester. langkah-l angkah pemecahan dapat saja berubah-ubah atau kembali ke tahap sebelumnya. P roses pemecahan masalah atau strategi pemecahan masalah ini disebut dengan heuri stic. Setiap langkah yang dilakukan selalu bersifat istimewa karena semuanya dapat mem bawa ide berbeda. Menurut Polya (1973: 5 6) terdapat empat fase dalam pemecahan masalah sebagai beri kut.masalah tersebut. atau mensketsa gambar. motivasi. Dengan kata lain. penggunaan beragam keterampilan dan pro sedur. to make a plan. 2. Strategi heuristik membuat keadaan masalah menjadi kelihatan belum jelas (samarsamar) dan terkadang belum sebagai jawaban yang sesungguhnya. Memeriksa kembali kebenaran jawaban Siswa dapat melengkapi langkah-langkah yang telah dibuatnya ataupun membuat alte rnatif jawaban lain. sehingga memungkinkan pemecah masalah untuk memperoleh pengert ian secara sistematis dari struktur masalah tersebut melalui usahanya sendiri. Melakukan rencana Siswa dapat melaksanakan langkah 2) dan mencoba melakukan semua kemungkinan yang dapat dilakukan. Rangkaian aktivitas berpikir siswa dan perilaku siswa selama memecahkan masalah dapat dianalisa berdasarkan model Polya (Gorman. we review and discuss it. strategi heuristik Poly a dalam pemecahan masalah adalah mensketsa kerangka yang paling mungkin. we look back at the completed solution. Memahami masalah Siswa dapat mengidentifikasi kelengkapan data termasuk mengungkap data yang masi h samar-samar yang berguna dalam penyelesaian. peragaan. ana logi. atau melakukan estimasi untuk mene ntukan apakah jawabannya tersebut cukup masuk akal. dan 4. 1974: 299. Akibatnya. pengalaman sebelumnya. four phases of the work. kemampuan untuk mengevalusi jalan berpikir dan kemajuan yang dicapai keti ka memecahkan masalah. Proses Heuristik dalam Pemecahan Masalah Matematika Pemecahan masalah merupakan aktivitas yang kompleks. 1985: 45). . keberhasilan sisw a dalam memecahkan masalah sangat tergantung pada minat siswa. Maknanya adalah siswa bisa saja mengalami kegagalan memperoleh hasil. First. keyakinan dan berbagai k emampuan lainnya. pemecahan masalah meliputi koordinasi dari pengetahuan. Lebih jauh lagi. we have to se e clearly what is required. or having mad e a sort of plan . in order to obtain the idea of the solution. karena ide siswa keluar dari keempat fase tersebut dan siswa membuat gene ralisasi yang tidak berkaitan dengan keseluruhan data soal. how the un­known is linked to the data. terga ntung kebutuhan siswa melewati keadaan yang masih rahasia menuju jalan keluar. Menyusun rencana Siswa dapat membuat beberapa alternatif jalan penyelesaian untuk menuju jawaban. Tujuan dari heuristik adalah untuk mempelajari metode dan aturan-aturan untuk memperole h solusi masalah.

moves. tetapi siswa juga bernalar secara indukti f untuk bisa memperoleh beberapa prinsip umum matematika dari solusi yang dipero lehnya. memilih cara yang paling benar.Pada tahap memahami masalah. siswa perlu bimbingan u ntuk mengenali kapan suatu strategi dapat berguna. steps) which are typically useful in solving problems. penyelenggaraan heuristik yang masuk akal tidak dapat terjadi setiap saat. Dalam kesempatan ini. bisa saja siswa tersebu t sudah dapat mengungkap suatu masalah bahkan sampai keseluruhan dapat diselesai kan. the problem solver must be able to construct or recall and appropriate problem related in mathemati cal structure to the problem at hand. Tahap ini merupakan tahap yang penting dimana siswa mengembangkan p emaknaan dari representasi masalah yang dihadapi sebagai dasar untuk merencanaka n strategi pemecahan masalah (Lester. dalam mengimplementasikan suatu langkah. siswa merumuskan solusi yang memu ngkinkan atau menyusun rencana pemecahan. memilih strategi atau pendeka tan yang dipandangnya sesuai dengan masalah tersebut dan melakukan perbaikan ter hadap strateginya. beragam strategi pemecahan masalah dikemukakan sehingga guru dapat memberikan perhatian terhadap struktur pengetahuan matematika siswa dalam proses memperoleh solusi. pemecah masala h harus mampu mengkonstruksi hubungan dalam masalah dengan tepat sesuai dengan s truktur matematika yang ada. Untuk mengefektifkan penerapan heuristik Polya ini. Oleh karena itu. siswa harus berani menentukan bahwa ya ng dilakukan itu adalah benar. Strategi heuristik tidak berarti menjamin siswa sudah pasti terbantu pada saat m emecahkan masalah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Silver & Smith (19 80: 146) To make effective use of Polya s heuristic suggestion. . Untuk itu. mengevaluasi prosedur yang dibuat sampai benar­-benar dimen gerti. maupun antara siswa dan guru merupakan cara untuk saling mengutaraka n ide dalam usahanya memecahkan masalah. Seandainya hanya sebagian dari strategi heuristik yang diterapkan dan seorang pe mecah masalah hanya mencoba dalam waktu relatif singkat. siswa harus dapat mencari informasi ya ng relevan. Maknanya. Tetapi siswa juga dapat mencoba-cobakan beberapa kunci meskipun membutuhkan waktu yang panjang. Pada tahap menyusun rencana pemecahan masalah. dan sanggup mengatur bagian-bagian masalah yang dimiliki secara tepat. Sebelum menemukan penyelesaian. dan menentukan langkah yang terlengkap da lam eksplorasi masalah dan menyelesaikannya secara keseluruhan. Hal ini dapat terjadi jika siswa tepat memilih strategi heuristik yang coco k untuk dipakai. yaitu membuat keadaan agar terjadi penyuplai penemuan (serving t o discovery). siswa perlu memahami dengan baik ruang lingkup dan hakikat masalah yang dihadapi. mendefinisikan masalah dengan jelas dan menjelaskan dengan kata-kata nya sendiri. Dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan ini terdapat aktivita s metakognitif untuk memantau kemajuan yang telah dicapai. siswa perlu mencari jejak langk ah-langkah sebelumnya. betapa pentingnya mengetahui k unci yang sesuai. siswa melakukan pengujian terhadap dugannya tersebut. melak ukan verifikasi terhadap solusi yang dihasilkan. Kegiatan diskusi interaktif antarsiswa. Oleh karena itu. Hal ini sesuai pernyataan Schoenfeld (1980: 14) sebagai beriku . Polya memberi petunjuk kepada guru matematika untuk memecahkan masalah dengan st rategi heuristik. hingga diperoleh solusi yang te pat bagi masalah tersebut. Dalam hal ini. Untuk itu. Pada tahap evaluasi. . but it may endeavor to study procedures (mental ope rations. penerapan intelektualnya. 1985: 46). juga mampu memanfaatkan semua yang diperolehnya u ntuk menentukan atau memutuskan penyelesaian yang paling baik. siswa tidak hanya melakukan pengecek an terhadap solusi yang diperolehnya. teta pi dengan melakukan strategi heuristik berarti siswa berusaha keras mempelajari prosedur operasi yang telah digunakan dengan cara menukar-nukar langkah yang leb ih memungkinkan. Polya (1973: 172) menyatakan A reasonable sort of heuristic ca nnot aim at unfailing rules. Dalam tahap ini. Seperti itulah pe ran yang dilakukan seorang pemecah masalah yang menggunakan kognitif dan metakog nitifnya dalam melakukan operasi. perhatian guru hendaknya lebih diarahkan kepada usaha siswa m emperoleh solusi daripada kebenaran jawaban semata.

dan membiarkan siswa secara bebas menggunakan notasi yang ada atau mencoba menghubungkan bentuk-bentuk yang dihadapi. Makn anya adalah hanya melalui strategi-strategi spesifik. Berdasarkan pendapat mengenai peran guru dalam membantu siswa melakukan pemecaha n masalah di atas. 1997: 84) mengisyaratkan bahwa dala m mengenal notasi. simbol ataupun istilah-istilah matematika. it was thought that creativity was a genetic capacity granted to the fortunate few. Agar suat u soal memungkinkan untuk membuat siswa melakukan pemecahan masalah. If there is difficulty in teaching effective ways of using the techniques of pro blem solving. tetapi faktor kreativitas siswa yang tinggi dan oleh integritas gurunya maka kemampuan siswa lebih memungkinkan untuk memanfaat kan kreasi dalam melakukan pemecahan masalah. siswa berusaha mengarti kan bentuk simbol yang dihadapi dan menggunakan simbol-simbol tersebut berdasark an pemahamannya. sebaiknya guru men jaga agar siswa tidak bingung. Proses pemecahan masalah diperkenalkan gur u kepada siswa melalui dialog yang mengakibatkan siswa terlibat dalam kreativita s mengkaji soal dan mengeksplorasinya hingga menuntaskan penyelesaian. it is slower but more general and flexible. Then th ey need specific strstegies that they can apply within the global structure. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Posa mentier & Stepelman (1990: 131-132) sebagai berikut. there is. bu t now a number of psychologists have attempted to demonstrate that processes ass ociated with creativity are teachable (or. Brown (Franke & Carey. Misalnya guru melakukan strategi heuristik sehingga siswa dapat me nemukan inti permasalahan (kunci persoalan atau ide utama) yang harus ditempuh. Ada kalanya suatu masalah matematika memerlukan penyusunan pemecahan secara luar biasa dan membutuhkan penyelesaian yang unik. Terkadang siswa kehabisan akal dan siswa menjadi frustasi. Walaupun hubungan antara tingkat kreasi dan i ntelegensi bukanlah hal penentu. goal reduction. Untuk menempuh tahap-tahap pemecahan masalah matematika. sebaiknya siswa harus memiliki kreativitas yang tinggi dan diimbangi dengan semangat yang kontin u dalam mencari pemecahan masalah. Berkaitan dengan ini. Guru menyadari bahwa siswa membutuhkan banyak prosedur sebagai pedoman untuk men untaskan suatu masalah agar menemukan celah jalan keluar dari inti permasalahan. O ne of the major difficulties is in defining the term itself. guru hendaknya . an application. Kreativitas menemukan jawaban meru pakan kegiatan pemecahan masalah dan kreativitas dapat membenahi masalah yang ma sih kacau menjadi jawaban yang benar. Siswa membutuh kan bantuan dalam pemikirannya berupa wawasan dan kata atau simbol atau notasi y ang perlu dipakainya. encourageable). at least. Ketika mengartikan bentuk simbol yang dihadapi. bahkan kalau bisa guru membantu mereka menterjema hkan suatu simbol atau notasi-notasi yang ada. Begitu pula karena m emecahkan masalah membutuhkan kreasi dan kreativitas yang tinggi. . perhaps. Sel ecting the key is as important as knowing how to use it . guru dapat memp erhatikan kinerja siswanya. this provides a global sense of security. highly useful or unique solutions to problems. dapat disimpulkan bahwa guru harus berusaha melatih siswa aga r berani melakukan pemecahan sendiri. For our pur poses. Ketika menentukan strategi spesifik yang dimaksud. we may define creativity as the ability to evolve unusual. Oleh karena itu. guru harus mempersiapkan soal-soal yang sesuai dengan kemampuan siswa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suydam (1980: 40) T he heuristic method involves such factors as transformastion. Keadaan ini membutuh kan arahan dari guru agar siswa tetap mau berkreasi sehingga membantunya untuk m enemukan ide. Suydam (1980: 43) menyatakan Children need and overall proc edure for attacking a problem. they may fail to unlock the problem even if the right key was at their disposal all long.t: If problem solver have only the time to try a few of those keys. menyusun generalisasi dari transformasi ters ebut dan mengaplikasikannya. siswa dapat menemukan ide yang membantunya keluar dari kesulitan. At one time. greather difficulty in teaching for creativity . guru dapat memperkenalkan metode heuristik mengenai kegiatan mentrans fomasi data soal menjadi sederhana.

Berdasarkan hasil tes siswa. dan bawah. dan sisanya merupakan kelompok sedang. Guru harus benar-benar mengerti dengan keterangan dan ilustras i contoh suatu pertanyaan yang diberikannya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Grossnickle. berintelegensi dan berintegrit as tinggi dalam memberikan pertanyaan atau pemberian anjuran yang akan membantu siswa. maka diantara mereka terdapat siswa pandai. Berdasarkan pendapat di atas. Polya (1973: 172 & 206) menganjurkan dalam melakukan pemecahan masa lah sebaiknya guru memiliki semangat yang tinggi. Reckzeh. guru me mberi arahan melalui pertanyaan Apakah kamu tahu hubungan yang ada dalam masalah ini? . maka secara eksplisit guru akan membentuk kemungkinan siswa untuk mencoba menemukan jawaban dengan cara sen diri. sedang. Untuk melakukan hal ini sangat diperlukan falsafah yang tidak memberikan langkah yang sudah jadi (harus samar-samar). Oleh karena itu. dimana s ebagian besar dari mereka mempunyai inteligensi sedang-sedang saja (normal). whereas the pupils who score in the lowest quarter are among the slow learners. dan lemah. Selanjutnya. Den gan demikian. Kategori Kemampuan Siswa Kategori kemampuan siswa sangat erat kaitannya dengan perolehan hasil belajar. Faktor-faktor yang dapat Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Matematika Kemampuan pemecahan masalah siswa berkembang secara perlahan dan kontinu. dapat ditentukan seberapa besar jumlah siswa yang b erada pada kelompok atas. siswa perlu membedakan kelebihan dan kekurangan cara-cara tersebut. Polya berharap agar pada saat siswa memecahkan suatu masalah matematika. dari sekelompok siswa yang tidak dipilih secara khusus terdapat se jumlah siswa berbakat yang ada di atas kelompok sedang yang jumlahnya sama denga n siswa tidak berbakat yang ada dibawah kemampuan siswa sedang tersebut. maka pengelompokan kemampuan siswa dalam penelitia n ini dibuat berdasarkan rata-rata nilai tes prasyarat dan nilai tes awal ruang dimensi tiga yang terdiri dari tiga kelompok kategori yaitu rendah. O leh karena itu. . dan tinggi. Perhatian tersebut te rutama ditujukan pada antisipasi untuk melakukan intervensi yang perlu dipersiap kan guru sesuai dengan latar belakang kemampuan siswa. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 2 12). sedang. The middle 50 percent are relatively homoge­neous in their abi lities to achieve in mathematics. 27% skor teratas disebut kelompok atas (tinggi). Perry et al (1983: 350) seb agai berikut Pu­pils in the top quarter of the norm group are among the rapid learn ers in mathematics. sehingga guru dapat memperbaiki k esalahan siswa. 27% skor terbawah disebut kelompok bawah (rendah). guru perlu menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang ditujuka n kepada siswa untuk mengontrol keadaan siswa. kategori kemampuan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan khususnya dalam pengembangan pendekatan pembelajaran baru agar tercipta pembela jaran yang lebih berpusat pada siswa dengan hasil optimal. Siswa disibukkan dengan aktivitas strateg i heuristik dan berusaha mendapatkan cara yang spesifik agar penemuan yang luar biasa dapat terjadi pada siswa. Apabila berhadapan dengan sejumlah siswa yang tidak dipilih secara khusus kecerd asannya. Terdap at beberapa aspek dalam diri siswa yang perlu dikembangkan untuk menunjang kemam puannya dalam memecahkan masalah antara lain adalah: 1) strategi pemecahan masal . bahkan siswa nantinya m enetapkan sendiri cara yang paling sesuai. Apabila guru selalu mengarahkan siswa melalui pertanyaan Bagaimana cara kamu melakukannya? .memperhatikan bantuan yang diberikan kepada siswa agar siswa tetap bersemangat menghadapi situasi-situasi yang sulit. dan lugas menempatkan pertanyaan it u untuk menggugah semangat kerja siswa. Apabila ditemukan beberapa cara yang dianggap benar. sedang. Intelegensi yang diperlukan dalam p embelajaran pemecahan masalah adalah harus mampu memberikan pertanyaan dan pedom an yang membantu.

yaitu informasi yang diperoleh dari penglihatannya. Beberapa inf ormasi akan hilang atau tidak tersimpan. Di samping penguas aan siswa akan beragam strategi pemecahan masalah dan pentingnya proses metakogn itif. Pengetahuan matematika yang tersimpan dalam memori jangka panjang siswa inilah yang akan dimanfaatkan untuk mencari penyelesaian masalah. fakta dasar. Namun. faktor kemampuan dalam memilih pendekatan pe mecahan masalah. Kemudian. keyakinan dan k esungguhan. Kegiatan memproses informasi tersebut bermula dari rangsang yang dapat diterima oleh indera manusia. Dalam proses memecahkan masalah. memilih strategi yang sesuai. Kemudian. Schoenfeld (1992: 348) mensintesiskan lima aspek kognitif penting. yaitu: basis pengetahuan. Basis pengetahuan ma tematika siswa meliputi pengetahuan informalnya tentang matematika dan pengetahu an intuitif. atau hanya tersimpan sementara dalam me mori jangka pendek dan beberapa akan bertahan dalam memori jangka panjang siswa. definisi. Key akinan diinterpretasikan sebagai pemahaman dan perasaan seseorang yang membentuk konseptualisasi dan keterikatan seseorang dengan matematika. yaitu mencakup kepercayaan diri. antara lain adalah kemampuan mencari informasi yang relevan. siswa juga menyadari langkah yang diambil apakah ber jalan dengan baik atau menemui hambatan sehingga dapat mendorong siswa untuk mem ikirkan alternatif lain atau berusaha memahami kembali apa masalahnya. strategi pemecahan masalah. Penemuan untuk menyel esaikan masalah berdasarkan pengetahuan tergantung dari muatan dalam memori sisw a. Sisw a harus dapat membedakan informasi yang relevan dan yang tidak relevan terhadap masalah yang dihadapinya. 1992: 351). tekad. yaitu: 1) sama sekali tidak mengetahui . 2) proses metakognitif.ah. faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemampuan peme cahan masalah. monitoring dan kontrol. Pendekatan terhadap masalah juga mencakup usaha un tuk memahami masalah. prosedur algoritmik. yaitu pengetahuan yang tersimpan dalam memorinya. objektivitas dan keterbukaan dalam berpikir juga d apat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. kemampuan metakognitif ini juga dapat dipelajari. bila informasi tersebut tidak diabaikan akan diubah dalam bentuk yan g dapat diproses dalam otak manusia untuk disimpan dalam memorinya. siswa menyadari bagaimana dan mengapa diri nya melakukan hal tersebut. Pendekatan pemecahan masalah yang berdasarkan pada keterampilan bernalar berupa uji hipotesis lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang tidak berdasarkan pada keterampilan bernalar. Objektivitas dapat m embantu siswa untuk bernalar secara logis. mengidentiflkasi informasi yang relevan dan yang tidak rel evan. Pros es untuk mengakses pengetahuan yang tersimpan dalam memori tersebut dapat digamb arkan pada Bagan 1 (Schoenfeld. Strategi pemecahan masalah merupakan metode yang dapat diidentifikasi untuk mela kukan pendekatan dalam menyelesaikan masalah. Sebagaima na halnya dengan strategi. prosedur rutin. serta menilai apakah jawaban yang dihasilkan tersebut rasional. 2) mengetahui keberadaannya tetapi tidak secara detil. pendeng arannya atau perabaannya dari lingkungan di sekitarnya atau dari suatu penugasan . serta latihan-latihan. masalah dapat dibagi menjadi empat. 3) mengetahui sebagian atau memiliki dugaan secara detil tetapi tidak terlalu yakin. siswa perlu memantau jalan berpikirnya. bagaimana perasaan siswa tentang pemecahan masalah dan tentang matematika secara umum mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap usahanya untuk memecahka n masalah dan keberhasilannya dalam matematika. dan bagaimana pengetahuan tersebut dikembangkan. Di samping itu. dan 3) keyakinan dan perilaku siswa terhadap matemat ika. terkadang strategi yang di gunakan untuk memperoleh solusi tidak selalu berjalan dengan baik sehingga siswa juga perlu memiliki fleksibilitas dalam memilih pendekatan dan fleksibilitas da lam berpikir. kesungguh­-sungguhan dan ketekunan si swa dalam mencari pemecahan masalah. Menurut Gorman (1974: 312). Proses metakognitif ini. sehingga suatu strategi pemecahan masalah dapat digeneralisasi. prinsip matematika atau aturan lain yang relevan. pengeta huan tentang rumus-rumus. Berdasarkan tingkatan pengetahuan siswa berkaitan dengan masalah yang dihadap inya. Kemampuan siswa dalam memecahkan masalah terk ait dengan pengetahuan yang dimilikinya. dan 4) yak .

Bagaimana keyakinan siswa tentang matematika dan bagaimana keyakinan guru tenta ng matematika tentu berpengaruh terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Siswa umumnya juga berkeyakinan bahwa belajar matematika merupakan aktivit as terisolir dan individu. meng gunakan kalkulator atau komputer. atau mengg unakan sudut pandang yang berbeda (Posamentier & Stepelman. 19 92: 359 360). bekerja mundur. Akan l ebih baik bila siswa tidak hanya dilatih untuk menggunakan satu strategi dalam m emecahkan masalah. Oleh karena itu . Guru seharusnya mendorong siswa untuk membuat dugaan dan menalar sesuatu de ngan usahanya sendiri daripada menunjukkan kepada siswa bagaimana cara mencapai solusi atau jawaban. menuliskan persamaan atau kalimat terbuka. Kemampuan pemecahan masalah merupakan keterampilan yang diperoleh siswa dari bel ajar matematika. Guru seharusnya dapat menarik intuisi dan pengalaman siswa ketika menyajikan suatu materi agar menjadikannya lebih bermakna (Schoenfeld. sehin gga mereka merasa lebih mudah untuk menghafalkan saja dan menerapkannya secara m ekanistis tanpa pemahaman. The Structure of Memory The Structure of Memory Dalam pembelajaran. Keyaki nan siswa tentang hakikat matematika antara lain: masalah matematika hanya memil iki satu jawaban benar. Untuk itu. 3) memberi kesempatan bagi siswa untuk mencari dan menemukan solusi denga n caranya sendiri. Faktor lain yang dapat meningkatkan k emampuan pemecahan masalah dari aspek guru yaitu perlakuan motivasional terhadap . matematika yang dipelajari di sekolah hanya memiliki sedikit keterkaitan atau tidak terkait sama sekali dengan dunia nyata. penemuan dan verifikasi merupakan proses yang penting dalam pembelajaran matem atika. Semakin siswa berpengalaman dalam memecahkan beragam masalah. Strategi pemecahan masalah yang biasa diajarkan dalam pembelajaran matematika. Guru ha rus merancang dan mengelola aktivitas belajar yang bersifat terbuka dan informal agar siswa memiliki kebebasan untuk bertanya dan mengeksplorasi ide mereka send iri. membuat gambar. 2) menghargai pertanyaan siswa dan ide-i denya. matematika akan lebih baik dipahami dengan cara menemukan kembali ide tersebut.in mengetahui. dan hanya ada satu cara yang benar untuk menyelesaikan m asalah matematika. siswa juga hendaknya dapat menggunakan st rategi tersebut pada beragam masalah yang melibatkan konteks yang berbeda dan ba gian yang berbeda dari matematika. 1990: 117 118). dan 4) memberi penilaian terhadap orisinalitas ide siswa dan mendorong pembelajaran kooperatif yang mengembangkan kreativitas pemecahan masal ah siswa. membuat tabel. antara lain: 1) menyediakan lingkungan belajar yang mendorong ke bebasan siswa untuk berekspresi. a ntara lain: strategi coba-coba atau menebak kemudian menguji. mencoba pada masa lah analog yang lebih sederhana. menalar dengan logika. Siswa hendaknya memiliki keterampilan untuk memilih sendiri strategi apa yang tepat un tuk masalah yang dihadapinya tersebut. mencari pola. Guru juga berkeyakinan bahwa tujuan utama dari belajar matematika adalah mengembangkan keterampilan bernalar yang penting bagi pemecahan masalah. Bentuk kegiatan pemecahan masalah secara berkelompok dinilai lebih efe ktif daripada dilakukan secara individual. membuat dan mengorganis ir data atau informasi. setidaknya ada dua unsur yang terlibat yaitu siswa dan guru. semakin baik pula kemampuan pemecahan masalahnya. Adapun keyakinan guru tentang matematika misalnya: ma tematika lebih merupakan ide dan proses berpikir daripada fakta. Cara itu biasanya adalah cara yang sering diajarkan guru di k elas. me nggunakan model matematika. memperhitungkan segala kemungkinan. siswa diberi kebebasan untuk melakukan dugaan dan pembuktian sendiri berdasarkan konsep-konsep matematika yang dimilikinya. Siswa ber kemampuan rata-rata tidak dapat diharapkan untuk bisa memahami matematika. Posamentier & Stepelman (1990: 132) memaparkan faktor-faktor yang dapat meningka tkan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah dilihat dari aspek lingkungan be lajar dan guru. sehingga latihan merupakan hal yang penting agar siswa semakin terampil.

strategi pembelajaran dan merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam matematika yang harus dimiliki oleh siswa sehingga dapat m elakukan aktivitas matematika doing math dalam situasi di dalam maupun di luar pem belajaran. siswa dapat memperbai ki kemampuan dirinya melakukan semua ketentuan pemecahan masalah. Keyakinan yang positif tentang be lajar matematika. faktor-faktor yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masal ah siswa adalah kemampuan memahami ruang lingkup masalah dan mencari informasi y ang relevan untuk mencapai solusi. . Sementara guru berperan sebagai fasilisator dan motivator. Melalui aktivitas pemecahan masalah. dan karakteristik yang ditempuh oleh siswa dalam menyelesaikan masalah sehing ga menemukan jawaban soal. Kemampuan pendukung ter sebut diantaranya berkolaborasi. kesungguh-sungguhan dan ketekunan siswa dalam mencari pemecahan masalah s erta latihan-latihan. Keterampilan berpikir dan bernalar siswa yaitu kemampuan berpikir yang fleksibe l dan objektif.siswa seperti memberikan toleransi dan pengertian. Selanjutnya. kemampuan memecahkan masalah matematika dalam penelitian ini merupakan kemampuan berpikir siswa dalam menyelesaikan soal matematika berd asarkan pada suatu kegiatan yang lebih mengutamakan pentingnya prosedur. bernegosiasi dengan sesam a teman dan guru. Berdasarkan uraian di atas. strateg i. kemampuan dalam memilih pendekatan pemecahan masalah atau strategi pemecahan masalah dimana kemampuan ini dipengaruhi oleh ke terampilan siswa dalam merepresentasikan masalah dan struktur pengetahuan siswa. den gan setiap usaha yang dilakukannya tidak bersifat menilai tetapi hanya bersifat mendorong dan selalu menghargai setiap solusi yang diperoleh siswa. Kemampuan metakognitif atau kemampuan untuk melakukan monitoring dan kontrol selama proses memecahkan masalah. melakukan kooperatif. yaitu mencakup kepercayaan diri. pemecahan masalah dianggap sebagai standar kemampuan yang harus dimiliki siswa setelah menyelesaikan suatu pembelajaran. maka pemecahan masalah merupakan suatu subjek (mater i yang harus dipelajari). Siswa menjadi biasa melakukan tahap-tahap pemecahan masalah matematika dan melengkapi keteramp ilan pendukung untuk menyelusuri setiap tahap pemecahan. Kemampuan memecah kan masalah menjadi target pembelajaran matematika yang sangat berguna bagi sisw a dalam kehidupannya. Dalam penelitian ini. tekad. Perilaku siswa yang positif. Dengan demikian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->