P. 1
Jiwa Lansia 1

Jiwa Lansia 1

|Views: 29|Likes:
Published by Fitrah Jelita
Keperawatan Jiwa
Keperawatan Jiwa

More info:

Published by: Fitrah Jelita on Jun 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KEJIWAAN PADA LANSIA A. KONSEP DASAR 1.

DEFINISI Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok umur (usia 60 tahun ke atas) pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Pada kelompok yang dikategorikan lansi ini akan terjadi suatu proses yang disebut aging proses. Menurut DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut : 1. Kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS 2. Kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM 3. Kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu : 1. Usia lanjut : 60 - 74 tahun 2. Usia Tua : 75 - 89 tahun 3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun 2. TEORI PENUAAN Gerontologis tidak setuju tentang adaptasi penuaan. Tidak ada satu teoripun dapat memasukan semua variable yang menyebabkan penuaan dan respon individu terhadap hal itu. Secara garis besar teori penuaan dibagi menjadi teori biologis, teori psikologis, dan teori sosiokultural. 1. Teori Biologis a. Biological Programming Theory Teori program biologis merupakan suatu proses sepanjang kehidupan sel yang terjadi sesuai dengan sel itu sendiri. Teori waktu kehiduan makhluk memperlihatkan adanya kemunduran biologis, kognitif, dan fungsi psikomotor

yang tidak dapat dihindari dan diperbaiki, walaupun perubahan diet atau hipotermi dalam waktu yang lama dapat menunda proses tersebut. b. Wear and Tear Theory Teori wear and tear ini menyatakan bahwa perubahan struktur dan fungsi dapat dipercepat oleh perlakuan kejam dan diprlambat oleh perawatan. Masalahmasalah yang berkaitan dengan penuaan merupakan hasil dari akumulasi stres, trauma, luka, infeksi, nutrisi yang tidak adekuat, gangguan metabolik dan imunologi, dan perlakuan kasar yang lama.Konsep penuaan ini memperlihatkan penerimaan terhadap mitos dan stereotif penuaan. c. Stress-Adaptasi Theory Teori adaptasi stres ini menegaskan efek positif dan negatif dari stres pada perkembangan biopsikososial. Sebagai efek positif, stres menstimulasi seseorang untuk melakukan sesuatu yang baru, jalan adaptasi yang lebih efektif. Efek negatif dari stres bisa menjadi ketidakmampuan fungsi karena perasaan yang terlalu berlebihan. Stres sering di asumsikan dapat mempercepat proses penuaan. Stres dapat mempengaruhi kemampuan penerimaan seseorang, baik secara fisiologi, psikologis, sosial dan ekonomi. Hal ini dapat berakibat sakit atau injuri. 2. Teori psikologis a. Erikson’s Stage of Ego Integrity Teori Erikson tentang perkembangan manusia mengidentifikasi tugas yang harus dicapai pada setiap tahap kehidupan. Tugas terakhir, berhubungan dengan refleksi tentang kehidupan seseorang dan pencapaiannya, ini diidentifikasi sebagai integritas ego. Jika ini tidak tercapai maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan. b. Life Review Theory Pada lansia, melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan proses yang normal berkaitan dengan pendekatan terhadap kematian. Reintegrasi yang sukses dapat memberikan arti dalam kehidupan dan mempersiapkan seseorang untuk mati tanpa disertai dengan kecemasan dan rasa takut. Hasil diskusi terakhir

2

tentang proses ini menemukan bahwa melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan salah satu strategi untuk merawat masalah kesehatan jiwa pada lansia.

3

c. Bertolak dari pernyataan maka aspek-aspek manusia dapat dijabarkan sebagai berikut: 4 . Aspek-aspek jiwa yang bisa mempengaruhi segala sikap dan tingkah laku manusia. Terdapat stereotype yang kuat dari teori ini termasuk ide bahwa lansia merasa nyaman bila berhubungan dengan orang lain seusianya. The Family in Later Life Teori keluarga berfokus pada keluarga sebagai unti dasar perkembangan emosi seseorang. Teori ini memperlihatkan efek positif dari aktivitas terhadap kepribadian lansia. Stability of Personality Perubahan kepribadian secara radikal pada lansia dapat mengakibatkan penyakit otak. ASPEK – ASPEK MENTAL Manusia adalah makhluk yang pada dasarnya baik dan selalu ingin kembali pada kebenaran yang sejati. Perubahan peran. dan kepuasan dalam hidup. 3. b. kesehatan jiwa. Activity Theory Teori aktivitas berpendapat bahwa penuaan harus disertai dengan keaktifan beraktifitas sebisa mungkin. Disengagement Theory Postulat pada teori ini menyatakan bahwa lansia dan penarikan diri dari lingkungan sosial merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. 3. Teori Sosiokultural a. emosi. dan sosial dipercaya merupakan repleksi dari masalah negosiasi dan transisi pada siklus kehidupan keluarga. Mayoritas lansia pada studi ini memperlihatkan adaptasi yang efektif terhadap kebutuhan ini. Para peneliti menemukan bahwa periode krisis psikologis pada saat dewasa tidak akan terjadi pada interval regular. perilaku dan situasi membutuhkan respon tingkah laku yang baru. keluar dan perkembangan anggota keluarga. Gejala fisik. karena pada diri manusia mempunyai. Teori ini berpendapat bahwa pusat proses siklus kehidupan adalah perubahan sistem hubungan dengan orang lain untuk medukung fungsi masuk.c.

mempertahankan hak dan hartanya. Merasa : mengalami rangsangan yang mengenai (menyentuh) indra (seperti yang dialamu lidah. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami gangguan psikiatrik seperti depresi. perubahan 5 . perasaan kehilangan. Keinginan untuk lebih dekat kepada Allah merupakan kebutuhan lansia. 1. Aspek psikologi merupakan faktor penting dalam kehidupan seseorang dan menjadi semakin penting dalam kehidupan seorang lansia. dan tidak berguna. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat. mudah tersinggung. meliputi kematian pasangan hidupnya/teman-temannya. tetap berperan sosial.Al Ghazali (1989:7) mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah yang merasa. Masalah tersebut dapat berupa emosi tidak labil. Aspek psikologis ini lebih menonjol daripada aspek materiil dalam kehidupan seorang lansia. 4. dirasakan sebagai beban mental yang cukup berat. psikologik. perubahan peran seorang ayah/ibu menjadi seorang kakek/nenek. ansietas (kecemasan). gampang merasa dilecehkan. dan masuk surga. Pada umumnya. tetap berwibawa. psikosis (kegilaan) atau kecanduan obat. yang mengetahui dan yang mengenal. ASPEK – ASPEK YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN FUNGSI MENTAL PADA LANSIA Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu fisik. sosial dan ekonomi. Aspek sosial yang terjadi pada individu lanjut usia. Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. 2. semangat hidup. kulit/badan). lansia mengharapkan: panjang umur. Proses menua yang tidak sesuai dengan harapan tersebut. 3. kecewa. perubahan dalam hubungan dengan anak karena sudah harus memerhitungkan anak sebagai individu dewasa yang dianggap sebagai teman untuk dimintai pendapat dan pertolongan. tidak bahagia. kematian dalam ketenangan dan diterima di sisi-Nya. dihormati. bekerja dan berpenghasilan) menjadi kemunduran.

Perubahan fisik a. Dalam masyarakat sebagai seorang pensiunan. yaitu “perasaan takut menjadi tua. perubahan ini diawali ketika masa pensiun. kedudukan. 4. Kondisi-kondisi khas yang berupa penurunan kemampuan ini akan memunculkan gejala umum pada individu lanjut usia. dan cairan interseluler menurun b. Persarafan: saraf pancaindera mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan dengan stres. dan harga diri. Berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson. FACTOR-FAKTOR MENTAL 1. kegiatan. karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan. kemampuan memompa darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume). Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya dan sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua. elastisitas pembuluh darah menurun. jabatan.peran dari seorang pekerja menjadi pensiunan yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah pasrah terhadap pensiun. ukuran membesar. status. peran. ada yang takut kehilangan. Sel : jumlah berkurang. serta meningkatnya retensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat c. namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya. cairan tubuh menurun. Dalam kenyataan ada yang menerima. 5. Aspek ekonomi berkaitan dengan status sosial dan prestise.” Pada umumnya. sehingga menyebabkan berkurangnya respon motorik dan reflek YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN 6 . perubahan pendapatan karena hidupnya tergantung dari tunjangan pensiunan. Kardiovaskuler: katup jantung menebal dan kaku.

Hal ini menyebabkan sesuatu yang dibawa dan dipegangnya tertumpah dan jatuh. Pendengaran: membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Terdapat juga penurunan kecepatan dalam bergerak dan lansia cenderung menjadi kaku. seperti pada bagian kepala dengan rambut yang menipis dan berubah menjadi putih atau abu-abu. katarak f. sedangkan ujung tangan tampak mengerut. tubuh yang membungkuk dan tampak mengecil. seperti keluarga dan teman. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan. maka muncul perasaan pada lansia kapan ia akan meninggal. Selain itu. Penglihatan: respon terhadap sinar menurun. yaitu pada kelenturan otot-otot tangan bagian depan dan otot-otot yang menopang tegaknya tubuh. lansia mengalami penurunan kekuatan yang paling nyata. dan kulit yang semakin kering dan mengeras menyebabkan indra peraba di kulit semakin peka. lapang pandang menurun. kehampaan) ketika keluarganya tidak ada yang memperhatikannya. Memori menurun karena proses encoding menurun g. Lansia tidak jarang merasa emptiness (kesendirian. Pada kemampuan motorik. akomodasi menurun. penciuman menjadi kurang tajam. lansia pun cepat merasa lelah. Belajar dan memori: kemampuan belajar masih ada tetapi relatif menurun.d. adaptasi terhadap gelap menurun. ketika ada lansia lainnya meninggal. bagian persendian dengan pangkal tangan menjadi kendur dan terasa berat. 7 . kehilangan kemampuan mendengar bunyi dengan nada yang sangat tinggi. e. penurunan sensitivitas papil-papil pengecap (terutama terhadap rasa manis dan asin). Terjadi banyak perubahan dalam penampilan lansia. 3. Selain itu. fungsi pancaindera terjadi perubahan seperti ada penurunan dalam kemampuan melihat objek. Intelegensi: secara umum tidak berubah 2. Kesehatan umum Keadaan fisik lemah dan tidak berdaya sehingga harus bergantung pada orang lain. Lingkungan Berkaitan dengan lingkungan sekitar.

gangguan obsesif kondlusif. gangguan stress pasca traumatic b. Pengertian Depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen psikologis seperti rasa sedih. Bila penyebabnya tidak jelas dan mendasar. susah. Bicaralah tentang rasa khawatir lansia dan cobalah untuk menentukan penyebab mendasar (dengan memandang lansia secara holistic). Gejala kecemasan Perasaan khawatir atau takut yang tidak rasional terhadap kejadian yang akan terjadi : → Sulit tidur sepanjang malam → Rasa tegang dan cepat marah → Sering mengeluh akan gejala yang ringan atau takut/khawatir terhadap penyakit yang berat. putus asa dan 8 . 2. Kecemasan a. gagal. gangguan stress akut. Tindakan untuk mengatasi kecemasan Cobalah untuk mendapatkan dukungan keluarga dengan rasa kasih saying. merasa tidak berguna. Konsultasikan dengan dokter bila penyebabnya tidak dapat ditentukan atau bila telah dicoba dengan berbagai cara tetapi gejala menetap. berikan alas an-alasan yang dapat diterima olehnya. fobia. Cobalah untuk mengalihkan penyebab dan berikan rasa aman dengan penuh empati. Depresi a. Pengertian Gangguan kecemasan pada lansia adalah berupa gangguan panik. misalnya kanker dan penyakit jantung yang sebenarnya tidak dideritanya → Sering membayangkan hal-hal yang menakutkan → Merasa panic terhadap masalah yang ringan c. gangguan kecemasan umum.6. MASALAH DI BIDANG PSIKOGERATRI 1.

depresi sering disalahartikan sebagai demensia. Memang. → Serotonin dan norepinephrine 9 . Tipe depresi Terdapat 2 tipe depresi yaitu eksogen atau depresi reaktif dan deprsesi endogen. Kadang-kadang dapat dilakukan sesuatu terhadap penyebab depresi yang dialami lansia yang ketakutan untuk kembali ke rumah setelah tinggal dirumah sakit. dan sering kali mencoba bunuh diri. Klien dengan depresi eksogen biasanya mendapat dukungan yang cukup pada stuasi depresi. sedangkan pada klien demensia. Bunuh diri adalah pengalaman yang biasa pada lansia. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan memastikan bahwa mereka mendapat cukup dukungan di rumah. kejadian hidup. c. Depresi adalah kondisi umum yang terjadi pada lansia dan alasan terjadinya kondisi ini dapat dilihat pada saat mengkaji kondisi sosial. berupa penyimpangan perilaku oleh karena cukup banyak lansia yang mengalami peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau cukup berat. Kemampuan mental klien dengan depresi tetap utuh.penyesalan atau berbentuk penarikan diri. kegelisahan atau agitasi (Afda Wahywlingsih dan Sukamto). dan masalah fisik pada lansia. semua ancaman ini harus ditangani dengan serius. Individu dengan depresi endogen betul-betul dapat mengalami gangguan mental bahkan mengalami delusi. b. seperti setelah berduka karena kehilangan atau selama tinggal di rumah sakit. Depresi endogen mungkin akan terjadi pada awitan awal dalam hidupnya. Oleh karena itu. terutama laki-laki. terjadi peningkatan kerusakan kognitif. Penyebab depresi pada lansia: → Penyakit fisik → Penuaan → Kurangnya perhatian dari pihak keluarga → Gangguan pada otak (penyakit cerebrovaskular) → Faktor psikologis.

relasi interpersonal. → Berat badan berubah drastic → Gangguan tidur. atau rekreasi tidak rnemberikan kesenangan. Tantangan yang ada. peristiwa kehidupan seperti berduka. Gejala depresi pada lansia Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. "saya tidak bisa berkonsentrasi". → Keluarnya keringat yang berlebihan. faktor risiko vaskular. kelemahan fisik. stres kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu. kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan. kesulitan ekonomi dan perubahan situasi. Keluhan fisik biasanya terwujud pada perasaan fisik seperti: → Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi merasa kesulitan untuk memfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah untuk jangka waktu tertentu. perubahan struktural otak. hobi. → Sesak napas. → Nyeri (nyeri otot dan nyeri kepala). namun berbeda jika. Factor pencetus depresi pada lansia Faktor biologic. e. Faktor psikologik yaitu tipe kepribadian. d. Neurotransmitter sendiri adalah zat kimia yang membantu komunikasi antar sel-sel otak. sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Keluhan umum yang sering terjadi adalah. misalnya faktor genetik. Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur. → Sulit berkonsentrasi. proyek. kehilangan orang dicintai. 10 . Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk mernecahkan masalah secara efektif.→ Zat-zat kimia didalam otak (neurotransmitter) tidak seimbang. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor penentu. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan.

"saya selalu merasah lelah" atau "saya capai". → Secara biologik dipacu dengan perubahan neurotransmitter. atau diabetes. → Kurang energi. hypoglycemia. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan atau merasa. contohnya: penyalahgunaan alkohol/ narkoba. tidak efektif. terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi gemuk. Dilain pihak. Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. → Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. → Kehilangan secara fisik prang dan benda yang disayangi. makan berlebihan. seringkali terjadi.→ Kejang usus atau kolik. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. → Diare. → Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. nikotin. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna. penyakit sistemik dan penyakit degeneratif. → Merasa putus asa dan tidak berarti. → Perilaku merusak diri tidak langsung. diabetes. seseorang lainnya yang mengalami depresi mungkin akan gampang letih dan lemah. → Berdebar-debar. → Gejala social ditandai oleh kesulitan ekonomi seperti tak punya tempat tinggal. → Muntah. "saya menyia-nyiakan hidup saya" atau “saya tidak bisa rncncapai banyak kemajuan". 11 . dan obat-obat lainnya. Secara psikologik gejalanya: → Kehilangan harga diri/ martabat. Pemikiran seperti. bisa juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung.

atau orangorang di sekelilingnya. terutama intelegensi. seperti depresi dan rasa marah yang ditahan. Paranoid dapat merupakan manifestasi dari masalah lain. Gangguan cemas dan depresi. sehingga lansia melakukan kegiatannya pada malam hari. Sering berkemih pada waktu malam karena banyak minum pada malam hari. Gejala Paranoid Perasaan curiga dan memusuhi anggota keluarga. Pengertian Lansia terkadang merasa bahwa ada orang yang mengancam mereka. Lupa akan barang-barang yang disimpannya kemudian menuduh orang-orang di sekelilingnya mencuri atau menyembunyikan barang miliknya. Pengertian Kebiasaan atau pola tidur lansia dapat berubah. b. Tempat tidur dan suasana kamar kurang nyaman. Infeksi saluran kemih 4. teman-teman. Demensia a. Tertidur sebentar-sebentar sepanjang hari. Paranoid a. yang terkadang dapat mengganggu kenyamanan anggota keluarga lain yang tinggal serumah. disebabkan oleh kerusakan jaringan otak yang tidak dapat kembali lagi 12 . 5.3. Perubahan pola tidur dapat berubah tiak bisa tidur sepanjang malam dan sering terbangun pada malam hari. Penyebab insomnia pada lansia Kurangnya kegiatan fisik dan mental sepanjang hari sehingga mereka masih semangat sepanjang malam. Tindakan yang dapat dilakukan pada lansia dengan paranoid adalah memberikan rasa aman dan mengurangi rasa curiga dengan memberikan alas an yang jelas dalam setiap kegiatan. Konsultasikan dengan dokter bila gejala bertambah berat. Insomnia a. Pengertian Demensia ialah kemunduran fungi mental umum. serta berkomplot ingin melukai atau mencuri barang miliknya b. membicarakan.

E 4) dikromosom 19 terjadi 2 kali lebih banyak pada penderita demensia jenis alzheimer dibanding populasi umum. Tahap Perilaku Afek Perubahan Kognitif Ringan 13 . Bukti untuk teori ini masih sedikit. b. Jenis demensia 1. Adanya plak dan kekusutan tersebut berkaitan dengan sel saraf. Demensia jenis Alzheimer a. demensia adalah suatu kondisi konfusi kronik dan kehilangan kemampuan kognitif secara global dan progresif yang dihubungkan dengan masalah fisik. → Abnormalitas neurotransmiter atau reseptor Kehilangan asetil kolin (neurotransmiter kolinergik mayor) berkaitan dengan gejala-gejala gangguan kognitif (demensia). 1995). c. 14 dan 21. Demensia adalah gangguan progresif kronik yang dicirikan dengan kerusakan berat pada proses kognitif dan disfungsi kepribadian serta perilaku (Isaac. Penyakit ini berkaitan denga gen¬gen abnormal dikromosom 1. → Modal toksin Sebagian peneliti meyakini bahwa akumulasi alumunium pada otak akibat pajanan alat-alat dan produk alumunium dapat menyebabkan demensia jenis alzheimer. Penyebab → Genetika Adanya gen abnormal saja tidak cukup untuk memprediksi demensia jenis alzheimer. Penyakit alzheimer familial memiliki awitan sangat dini (usia 30-40 th) dan bertanggung jawab atas 20% dari semua kasus demensia jenis ini. b. Patofisiologi Otopsi menunjukkan adanya plak amiloid (plak senil atau neuritik) di jaringan otak atau adanya kekusutan neurofibriler (akumulasi simpul filamen saran pada neuron. (peningkatan kadar asetin kolin merupakan dasar untuk terapi obat yang disetujui FDA untuk demensia).(irreversible) (Maramis. Adanya apolipoprotein E 4 (apo. Menurut Roger Watson. hilangnya sambungan antar neuron dan akhimya atrofi serebral. 2004).

berdandan) → Berkeluyuran atau mondar-mandir → Senang menimbun barang-barang → Hiperoralitas → Mengalami gangguan siklus tidur-bangun → Mood labil Datar → Apatis → Agitasi → Katas tropi Paranoia 14 . Tahap perilaku afek Sedang → Perilakunya tidak pantas secara sosial → Kurang perawatan diri (misal mandi. toileting.→ Sulit menyelesaikan tugas → Penurunan aktivitas yang mengarah pada tujuan → Kurang memperhatikan penampilan pribadi dan aktivitas sehari-hari → Menarik diri dari aktivitas social yang biasa → Sering mencari benda-benda karena lupa meletakannya. dapat menuduh orang lain telah mencurinya → Cemas → Depresi → Frustasi → Curiga → Ketakutan → Kehilangan ingatan tentang peristiwa yang baru saja terjadi (lupa akan janji temu dan percakapan) → Disorientasi waktu → Berkurangnya kemampuan konsentrasi → Sulit mengambil keputusan → Kemampuan penilaian buruk d. berpakaian.

2. 2. Klien diketahui mengalami faktor resiko penyakit vaskuler (misalnya hipertensi. aprasia dan afasia. seperti penyakit parkinson. tempat dan orang → Sedikit agnosia. apatis Reaksi Katastropik occasional dapat berlanjut. apraksia dan afasia e. diabetes). Agnosia: kegagalan mengenali atau mengidentifikasi objek atau benda urnurn walaupun fungsi sensoriknya tidak mengalami kerusakan. Tahap perilaku afek Berat → Penurunan kemampuan ambulasi dan aktivitas motorik lainnya → Penurunan kemampuan menelan → Sama sekali tidak bisa mengurus diri (misalnya membutuhkan perawatan yang konstan) → Tidak mengenali lagi keberadaan pemberi asuhan Datar. Afasia: kehilangan kemampuan berbahasa. Gejala demensia 1. penyakit pick. 15 . 3. agnosia. Semua perubahan kognitif berlanjut sejalan dengan meningkatnya amnesia. 3. Demensia yang disebabkan kondisi-kondisi tersebut dicatat sesuai penyakitnya yang spesifik. Jenis demensia yang lain berkaitan dengan kondisi medis umum. kemampuan berbicara memburuk dan klien sulit "menemukan" kata-kata. c. Demensia vaskular (multi-infark) ditandai dengan gejala-gejala demensia pada tahun pertama terjadinya gejala neurologik fokal.→ Kehilangan ingatan tentang hal-hal yang baru atau lama (amnesia) → Konfabulasi → Disprientasi waktu. Apraksia: rusaknya kemampuan melakukan aktivitas motorik sekalipun fungsi sensoriknya tidak mengalami kerusakan. fibrilasi atrium. koreahuntingtown dan penyakit Creutzfeldt-jakob.

Etiologi demensia Faktor-faktor yang berkaitan dengan demensia adalah: 1. Berkurangnya kemampuan berkonsentrasi atau mempelajari materi baru. Kehilangan memori: awalnya hanya kehilangan memori tentang hal-hal yang baru terjadi. 9. Gangguan genetika: koreahuntington atau penyakit pick. 5. d. menyebabkan ensefalopati HIV atau kompleks demensia AIDS 16 . Sundown sindrom: memburuknya disorientasi di malam hari. Sulit mengambil keputusan. seperti hipertensi. Kondisi akut yang tidak diobati atau tidak dapat disembuhkan. dan akhirnya gangguan ingatan masa lalu. 6. 10. 11. 8. 7. Penyakit prior (protein yang terdapat dalam proses infeksi penyakit Creutzfeldt-jakob). 13. Perseveration phenomenon: perilaku berulang. Hiperoralitas: kebutuhan untuk mencicipi dan mengunyah benda-benda yang cukup kecil untuk dimasukkan ke mulut. arteriosklerosis. 2. Reaksi katastrofik: respon takut atau panik dengan potensi kuat inenyakiti diri sendiri atau orang lain. terdapat kemungkinan bahwa kondisi ini akan menjadi kronik dan karenanya dapat dianggap sebagai demensia. 12. 5. Disorientasi waktu. Penilaian buruk: individu ini mungkin tidak mempunyai kewaspadaan lingkungan tentang keamanan dan keselamatan. 6. tempat dan orang. dan aterosklerosis dapat menyebabkan stroke.4. 3. meliputi mengulangi kata-kata orang lain. lnfeksi Human Imunodefisiensi Virus (HIV) dapat menyerang Sistem saraf pusat (SSP). Penyakit vaskuler. Penyakit parkinson: demensia menyerang 40% dari pasien-pasien ini. Konfabulasi: mengisi celah-celah ingatannya dengan fantasi yang diyakini oleh individu yang terkena. 4. Bila kondisi akut yang menyebabkan delirium tidak atau tidak dapat diobati.

Pendekatan psikologis Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia. seperti berdiri disamping klien. perawat dapat berperan sebagai supporter.7. PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik. Pendekatan fisik Perawat mempunyai peranan penting untuk mencegah terjadinya cedera sehingga diharapkan melakukan pendekatan fisik. bantu klien menemukan hal yang salah dalam penempatannya. seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi. spiritual dan sosial. menghilangkan sumber bahaya dilingkungan. 2. Pendekatan Holistik adalah pendekatan yang menggunakan semua upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia. memberikan label gambar atau hal yang diinginkan klien. Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia. secara utuh dan menyeluruh. Pendekatan inilah yang dalam bidang kesehatan jiwa (mental health) disebut pendekatan eklektik holistik. Gangguan struktur jaringan otak. memberikan perhatian dan sentuhan. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. psikologis. seperti tekanan normal. Perawat harus selalu memegang prinsip “Tripple”. simpatik dan service. interpreter terhadap segala sesuatu yang asing. sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif. 6. yaitu sabar. Perubahan-perubahan ini meliputi gejalagejala. 1. akan tetapi juga mencakup aspek psikososial dan lingkungan yang menyertainya. yaitu suatu pendekatan yang tidak tertuju pada pasien semata-mata. hidrocephalus dan cidera akibat trauma kepala. 17 .

perawat harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun keluarga tadi ditinggalkan . tergantung dari kepribadian dan cara dalam mengahadapi hidup ini. Adapun kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga. dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Dalam menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda. perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban. adanya rasa sakit dan kegelisahan kumpul lagi dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. masih ada orang lain yang mengurus mereka. Pendekatan spiritual Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan lansia dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam keadaan sakit atau mendeteksi kematian. jangan menertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa melakukan kesalahan . Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam faktor. Penyakit memberikan 18 . tukar pikiran. Harus diingat kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia. seperti ketidakpastian akan pengalaman selanjutnya. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. 4. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka.berkurangnya kegairahan atau keinginan. perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang. Seorang dokter mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian. dan pergeseran libido. perawat bila melakukannya secara perlahan –lahan dan bertahap. 3. peningkatan kewaspadaan. Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut usia. Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang membosankan. Pendekatan social Mengadakan diskusi.

Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya. psikologis. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab.kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan konunikasi dan melakukan rekreasi. Tidak sedikit klien tidak tidur terasa. hal ini dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama. keluarga yang dirumah sehingga menimbulkan kekecewaan. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia. Pengkajian perawatan total dapat mengidentifikasi gangguan primer. Lansia mungkin merasa kesulitan. a. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia 19 . stress memikirkan penyakitnya. Wawancara Hubungan yang penuh dengan dukungan dan rasa percaya sangat penting untuk wawancara yang positif kepada pasien lansia. KONSEP KEPERAWATAN 1. berkaitan dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal. merasa terancam dan bingung di tempat yang baru atau dengan tekanan. dan sosiokultural yang beruhubungan dengan proses penuaan yang terkadang membuat kesulitan dalam mengidentifikasi masalah keperawatan. B. biaya hidup. Diagnosa keperawatan didasarkan pada hasil observasi pada perilaku pasien dan berhubungan dengan kebutuhan. Lingkungan yang nyaman akan membantu pasien tenang dan focus terhadap pembicaraan. atau hiburan lain. misal jalan pagi. dan rasa kecemasan. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara. ketakutan atau kekhawatiran. PENGKAJIAN Pengkajian pasien lansia menyangkut beberapa aspek yaitu biologis. nonton film. b.

Frekuensi adanya masalah kesehatan fisik dengan confusion. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung. Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien.kesulitan dalam berfikir abstrak. Peningkatan prevalensi demensia dengan usia. seperti pengobatan media. Melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan sumber data yang baik untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan sumber dukungan. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distress yang ada. duduk dan menyentuk pasien. c. Kursi harus dibuat senyaman mungkin. nutrisi atau tingkat cemas. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan atau protocol wawancara pengkajian. Lingkuangan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan. 2. 4. Setting wawancara Tempat yang baru dan asing akan membuat pasien merasa cemas dan takut. d. Data yang dihasilkan dari wawancara pengkajian harus dievaluasi dengan cermat. Adanya gejala klinik confusion dan depresi. 3. Hal ini dapat meningkatkan kecemasan dan stres pasien karena kekurangan informasi. Perawat harus memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara dan faktor lain yang dapat mempengaruhi status. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi. Lingkungan harus dibuat nyaman. 20 . Fungsi Kognitif Status mental menjadi bagian dari pengkajian kesehatan jiwa lansia karena beberapa hal termasuk : 1. Kebutuhan untuk mengidentifikasi area khusus kekuatan dan keterbatasan kognitif .

khususnya kanker lambung. benzodiazepines. dan antihypertensive. durasi. Sakit fisik dapat menyebabkan depresi sekunder. Beberapa pengobatan da[at meningkatkan angka kejadian depresi. Ketika terjadi perubahan perilaku. distress gastrointestinal dan menolak untuk makan atau minum dengan konsekuensi perawatan selama kehidupan. Kebutuhan termasuk skala depresi. f. Hal ini menjadi modal pada faktor lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan pada lansia. kepala. khususnya pada leher. pengkajian harus dilengkapi dengan kondisi lingkungan rumah. kelelahan. punggung atau perut dengan sejarah penyebab fisik. h. dan stroke. frekuensinya. dan faktor presipitasi atau triggers. Mobilisasi 21 . Status Afektif Status afektif merupakan pengkajian geropsikiatrik yang penting. Seseorang yang sedang sakit.e. Dibawah ini merupakan aspek-aspek dalam pengkajian fungsional yang memiliki dampak kuat pada status jiwa dan emosi. Gejala lain pada lansia termasuk kehilangan berat badan. g. Perubahan perilaku merupakan gejala pertama dalam beberapa gangguan fisik dan mental. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan depresi diantaranya gangguan tiroid. Kemampuan fungsional Pengkajian fungsional pada pasien lansia bukan batasan indokator dalam kesehatan jiwa. kanker. termasuk steroid. paranoia. Jika mungkin. Pengkajian tingkah laku termasuk kedalam mendefinisikan tingkah laku. Respon Perilaku Pengkajian perilaku merupakan dasar yang paling penting dalam perencanaan keperawatan pada lansia. ini sangat penting untuk dianalisis. Phenothiazines. Skala Depresi Lansia merupakan ukuran yang sangat reliable dan valid untuk mengukur depresi. pancreas. penyakit Parkinson. dan otak.

Prosedur diagnostic yang dilakukan diantaranya EEG. dan frekuensi tingkah laku dalam masalah kesehatan jiwa. Nutrisi Beberapa pasien lansia membutuhkan bantuan untuk makan atau rencana nutrisi diet. hubungan seksual. adanya deficit sensori. dan mamalihara hubungan dengan orang lain. lumbal. Dalam mengkaji ambulasi . toileting. CT Scan dan MRI. Selain itu. nutrisi dan pengobatan medis juga harus dikaji. ADL ( mandi. berpakaian. serta jumlah dan tipe pertolongan yang dibutuhkan. funksi. Perawat harus secara rutin 22 . Hal yang harus dikaji adalah kemampuan lansia untuk berpindah di lingkungan. partisipasi dalam aktifitas penting. makan.Pergerakan dan kebebasan sangat penting untuk persepsi kesehatan pribadi lansia. dan makan. l. Hal ini sangat penting dalam untuk membantu pasien untuk mandiri sebagaimana penampilan pasien dalam menjalankan ADL. nilai kimia darah. Activities of Daily Living Pengkajian kebutuhan perawatan diri sehari-hari (ADL) sangat penting dalam menentukan kemampuan pasien untuk bebas. Salah satu keuntungan dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi ADL setiap waktu. berpakaian. yang diakhiri evaluasi dan aktivitas rehabilisasi. j. k. The Katz Indeks Angka Katz indeks dependen dibandingkan dengan independen untuk setiap ADL seperti mandi. Fungsi Fisiologis Pengkajian kesehatan fisik sangat penting pada pasien lansia karena interaksi dari beberapa kondisi kronis. adaptasi yang dilakukan. dan aktifitas toilet) merupakan tugas dasar. Kemampuan fungsi i. berpindah tempat . Pasien lansia yang memiliki masalah psikososial memiliki kebutuhan pertolongan dalam makan dan monitor makan. perawat harus mengidentifikasi adanya kehilangan fungsi motorik.

ukuran porsi. Dukungan Sosial Dukungan positif sangat penting untuk memelihara perasaan sejahtera sepanjang kehidupan. dan tingginya harapan hidup untuk semua wanita yang berakibat pada kemampuan keluarga untuk berpartisipasi dalam pemberian perawatan dan dukungan kepada lansia. Pengkajian nutrisi harus dikaji lebih dalam secara perseorangan termasuk pola makan rutin. komplikasi pengobatan.mengevaluasi kebutuhan diet pasien. penurunan angka kelahiran. m. khususnya untuk pasien lansia. Masalah perilaku pada lansia kemungkinan hasil dari ketiakmampuan keluarga untuk menerima kehilangan dan peningkatan kemandirian pada anggota keluarga yang sudah dewasa. makanan kesukaan dan yang tidak disukai. Latar belakang budaya pasien merupakan faktor yang sangat penting dalam mengidentifikasi support system. Pengobatan Medis Empat faktor lansia yang beresiko untuk keracunan obat dan harus dikaji yaitu usia. waktu dalam sehari untuk makan.Keluarga Peningkatan harapan hidup. n. Penyalahgunaan Bahan-bahan Berbahaya Seorang lansia yang memiliki sejarah penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya beresiko mengalami peningkatan kecemasan dan gangguan kesehatan lainnya apabila mengalami kehilangan dan perubahan peran yang signifikan. Keluarga dan teman dapat membantu dalam mengurangi shock dan stres di rumah sakit. Perawat harus mengkaji dukungan sosial pasien yang ada di lingkungan rumah. rumah sakit. Penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya lainnya oleh seseorang akan menyebabkan jarak dari rasa sakit seperti kehilangan dan kesepian. p. polifarmasi. atau di tempat pelayanan kesehatan lainnya. o. Interaksi Pasien. Kebanyakan lansia memiliki waktu yang terbatas untuk berhubungan dengn anaknya. 23 . komorbiditas.

Kurang perawatan diri : hygiene nutrisi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnose keperawatan yang lazim muncul pada lansia dengan gangguan kejiawaan : 1. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi. 3. degenerasi neuron irreversible. dan atau toileting berhubungan dengan ketergantungan fisiologis dan atau psikologis 24 . 2. Gangguan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori. transmisi dan atau integrasi sensori ( defisit neurologis ).2.

dengan keperawatan selama 4 x 15 menit memori. RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN NO 1 TUJUAN / KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN Gangguan proses pikir Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 1.3. rentang perhatian. Tatap wajah klien ketika sedang mengenali 5. di harapakan klien Kriteria hasil : 1. Kembangkan lingkungan yang 1. Bicarakan Catatan: evaluasi orientasi meningkatkan risiko yang . Memberikan intervensi. berbicara dengan klien tentang sebenarnya kejadian saat yang klien perubahan Bicarakan orientasi. seperti evaluasi dan konflik dasar klien-perawat yang terapeutik seperti berfikir. 3. dengan kemarahan. selama 6 jam. Mengurangi kecemasan berhubungan kehilangan degenerasi irreversible. meningkatkan pengembanagan diri yang mengurangi psikologis. 25 DIAGNOSA neuron dapat berpikir rasional. berulang atau dapat tingkat mengatasi 4. Klien tingkah untuk mampu laku anggapan diri yang negative perubahan dalam berfikir atau dan factor mendukung dan hubungan dan emosional. kemampuan positif keluarga mengenai perubahan 2. perilaku. dengan 2. Klien mampu mengembangkan strategi 3. Klien mampu memperlihatkan kemampuan yang kognitif untuk terhadap menjalani konsekuensi kejadian menegangkan emosi dan pikiran tentang diri 2. Gunakan distraksi. perbandingan yang akan datang dan memengaruhi rencana secar negative frustasi. Kaji derajat gangguan kognitif. Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang.

ancaman. Berikan label klien. siklandelat salah atau hal dalam penempatannya. Klien dengan penurunan kognitif mendapatkan penghormatan. 26 pantas . 7. Klien mampu memperlihatkan penurunan tingkah laku yang kebingungan. Lamunan membantu dalam meningkatkan disorientasi. mengungkapkan ide yang salah. Menimbulkan terutama dengan perceptual. Orientasi pada realita perasaan kemuliaan meningkatkan diri dan realita klien. Berikan obat sesuai indikasi seperti. dan 6. Kebisingan jika tidak meningkatkan kecemasan.penyebab 4. 3. klien gangguan sensori berlebihan yang tidak diinginkan. Jangan meningkatkan neuron 4. 8. kebutuhan secara spesifik. merupakan gangguan perhatian. 6. Bantu klien menemukan hal yang gambar diinginkan menentang. penghargaan (kebahagiaan personal). Hormati klien dan evaluasi pada yang 5.

Klien mempengaruhi klien termasuk penglihatan Kriteria hasil : mengalami halusinasi. transmisi dan penurunan atau integrasi sensori ( persepsi defisit neurologis ). Meningkatkan 2 Perubahan sensori dengan persepsi Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 1. dan 7. Membantah akan kepercayaan 8. 1. pada dengan derajat sensori persepsi hal mental atau 1. 2. mengenali rasa lapar atau penurunan 2. Klien mampu mengembangkan pada salah satu sisi tubuh. Keterlibatan dan tersebut atau memperlihatkan yang bersifat menyebabkan kehilangan Klien haus. Menurunkan defensive jika klien menyadari kesalahan. Anjurkan memakai kacamata atau alat bantu dengar sesuai kebutuhan .penghargaan. persepsi. Kaji perubahan selama 6 jam klien tidak terjadi lebih sensori lanjut klien. 27 klien tidak dan mengubah menimbulkan kemarahan kesadaran otak masalah asimetris klien kemampuan tidak dapat berhubungan keperawatan selama 4 x 15 menit gangguan bagaimana penurunan pendengaran. kebahagiaan.

terapi okupasi. Klien menjadi kehilangan 4. Klien sensori. dengan keadaan kelompok tertentu. seperti satu ke satu sosialisasi pada pusat demensia. strategi stress. Memberikan petunjuk pada orientasi realita dengan kalender. Menurunkan partisipasi dengan orang 3 Kurang perawatan diri Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 1. jam. 5. Memberi terhadap kesempatan stimulasi kemampuan kebutuhan mengenali keadaan sekitar mengatur perilaku. dalam 1. atau catatan. mengatasi 3. . Menurunkan akan halusinasi 5. mendemonstrasikan yang sesuai stimulasi. Ajarkan menurunkan masukan kesalahan kekacauan mengurangi 3. Meningkatkan atau mampu realita. Identifikasi : hygiene nutrisi. Pertahankan hubungan orientasi 2. dan keperawatan selama 4 x 15 menit kesulitan lain. respon 4. Memahami penyebab yang mempengaruhi intervensi. mental dan meningkatkan koping terhadap frustasi karena salah persepsi dan disorientasi. 28 berpakaian/ perawatan diri. membatasi atau intepretasi stimulasi.strategi psikososial stress untuk 3. Libatkan dalam aktivitas sesuai indikasi pengunjung.

Identifikasi kebutuhan akan Masalah diminimalkan menyesuaikan memerlukan dari ahli dapat dengan atau konsultasi perkembangan kebutuhan dengan melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan. Mudah frustasi 4. 5. 4. Pekerjaan terhambat penurunan kebersihan dasar mungkin sekali jika terjadi kehilangan tadinya karena kemandirian. Lakukan berikan melakukan kemampuan. Beri 5. Seiring penyakit dilupakan pakaian 3. yang mudah sekarang menjadi motorik dan perubahan kognitif. atau dengan Kriteria hasil : 1. Klien mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber pribadi atau komunitas yang dapat memberikan bantuan. 3. Meningkatkan kepercayaan hidup 29 . Bantu banyak waktu untuk melakukan tugas mengenakan yang rapi dan indah. pengawasan kesempatan sendiri dan untuk ketergantungan fisiologis psikologis dan sesuai 2.atau berhubungan toileting selama 6 jam klien mampu 2. kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan.

Edisi ke-3. 1995. Roger. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Fifth Edition. Annete Glesler. Wahjudi. Carpenito.DAFTAR PUSTAKA Stuart & Sundeen. Edisi ke-6. Edisi ke-2. Jakarta. L. Nugroho. EGC. 2000. EGC. EGC. “Pengkajian Gerontologi”. Leeckenotte. “Perawatan Lansia”. Jakarta 2003 30 . “ Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis”. Jakarta 2000. Watson. Jakarta. “Keperawatan Gerontik”. United State of America : Mosby. Edisi ke-2. EGC. 1997.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->