ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KEJIWAAN PADA LANSIA A. KONSEP DASAR 1.

DEFINISI Lansia atau lanjut usia merupakan kelompok umur (usia 60 tahun ke atas) pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Pada kelompok yang dikategorikan lansi ini akan terjadi suatu proses yang disebut aging proses. Menurut DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut : 1. Kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS 2. Kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM 3. Kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu : 1. Usia lanjut : 60 - 74 tahun 2. Usia Tua : 75 - 89 tahun 3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun 2. TEORI PENUAAN Gerontologis tidak setuju tentang adaptasi penuaan. Tidak ada satu teoripun dapat memasukan semua variable yang menyebabkan penuaan dan respon individu terhadap hal itu. Secara garis besar teori penuaan dibagi menjadi teori biologis, teori psikologis, dan teori sosiokultural. 1. Teori Biologis a. Biological Programming Theory Teori program biologis merupakan suatu proses sepanjang kehidupan sel yang terjadi sesuai dengan sel itu sendiri. Teori waktu kehiduan makhluk memperlihatkan adanya kemunduran biologis, kognitif, dan fungsi psikomotor

yang tidak dapat dihindari dan diperbaiki, walaupun perubahan diet atau hipotermi dalam waktu yang lama dapat menunda proses tersebut. b. Wear and Tear Theory Teori wear and tear ini menyatakan bahwa perubahan struktur dan fungsi dapat dipercepat oleh perlakuan kejam dan diprlambat oleh perawatan. Masalahmasalah yang berkaitan dengan penuaan merupakan hasil dari akumulasi stres, trauma, luka, infeksi, nutrisi yang tidak adekuat, gangguan metabolik dan imunologi, dan perlakuan kasar yang lama.Konsep penuaan ini memperlihatkan penerimaan terhadap mitos dan stereotif penuaan. c. Stress-Adaptasi Theory Teori adaptasi stres ini menegaskan efek positif dan negatif dari stres pada perkembangan biopsikososial. Sebagai efek positif, stres menstimulasi seseorang untuk melakukan sesuatu yang baru, jalan adaptasi yang lebih efektif. Efek negatif dari stres bisa menjadi ketidakmampuan fungsi karena perasaan yang terlalu berlebihan. Stres sering di asumsikan dapat mempercepat proses penuaan. Stres dapat mempengaruhi kemampuan penerimaan seseorang, baik secara fisiologi, psikologis, sosial dan ekonomi. Hal ini dapat berakibat sakit atau injuri. 2. Teori psikologis a. Erikson’s Stage of Ego Integrity Teori Erikson tentang perkembangan manusia mengidentifikasi tugas yang harus dicapai pada setiap tahap kehidupan. Tugas terakhir, berhubungan dengan refleksi tentang kehidupan seseorang dan pencapaiannya, ini diidentifikasi sebagai integritas ego. Jika ini tidak tercapai maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan. b. Life Review Theory Pada lansia, melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan proses yang normal berkaitan dengan pendekatan terhadap kematian. Reintegrasi yang sukses dapat memberikan arti dalam kehidupan dan mempersiapkan seseorang untuk mati tanpa disertai dengan kecemasan dan rasa takut. Hasil diskusi terakhir

2

tentang proses ini menemukan bahwa melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan salah satu strategi untuk merawat masalah kesehatan jiwa pada lansia.

3

b. c. Teori Sosiokultural a. dan kepuasan dalam hidup. karena pada diri manusia mempunyai.c. Para peneliti menemukan bahwa periode krisis psikologis pada saat dewasa tidak akan terjadi pada interval regular. kesehatan jiwa. 3. Disengagement Theory Postulat pada teori ini menyatakan bahwa lansia dan penarikan diri dari lingkungan sosial merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Terdapat stereotype yang kuat dari teori ini termasuk ide bahwa lansia merasa nyaman bila berhubungan dengan orang lain seusianya. Aspek-aspek jiwa yang bisa mempengaruhi segala sikap dan tingkah laku manusia. dan sosial dipercaya merupakan repleksi dari masalah negosiasi dan transisi pada siklus kehidupan keluarga. The Family in Later Life Teori keluarga berfokus pada keluarga sebagai unti dasar perkembangan emosi seseorang. ASPEK – ASPEK MENTAL Manusia adalah makhluk yang pada dasarnya baik dan selalu ingin kembali pada kebenaran yang sejati. emosi. perilaku dan situasi membutuhkan respon tingkah laku yang baru. Perubahan peran. keluar dan perkembangan anggota keluarga. Gejala fisik. Activity Theory Teori aktivitas berpendapat bahwa penuaan harus disertai dengan keaktifan beraktifitas sebisa mungkin. Bertolak dari pernyataan maka aspek-aspek manusia dapat dijabarkan sebagai berikut: 4 . Stability of Personality Perubahan kepribadian secara radikal pada lansia dapat mengakibatkan penyakit otak. Teori ini memperlihatkan efek positif dari aktivitas terhadap kepribadian lansia. 3. Teori ini berpendapat bahwa pusat proses siklus kehidupan adalah perubahan sistem hubungan dengan orang lain untuk medukung fungsi masuk. Mayoritas lansia pada studi ini memperlihatkan adaptasi yang efektif terhadap kebutuhan ini.

Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami gangguan psikiatrik seperti depresi.Al Ghazali (1989:7) mengemukakan bahwa aspek mental yang ada dalam diri manusia adalah yang merasa. Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. Merasa : mengalami rangsangan yang mengenai (menyentuh) indra (seperti yang dialamu lidah. dihormati. 1. perasaan kehilangan. Aspek psikologi merupakan faktor penting dalam kehidupan seseorang dan menjadi semakin penting dalam kehidupan seorang lansia. mudah tersinggung. psikologik. tetap berperan sosial. dan tidak berguna. dan masuk surga. 4. dirasakan sebagai beban mental yang cukup berat. semangat hidup. lansia mengharapkan: panjang umur. Masalah tersebut dapat berupa emosi tidak labil. mempertahankan hak dan hartanya. Aspek psikologis ini lebih menonjol daripada aspek materiil dalam kehidupan seorang lansia. Pada umumnya. yang mengetahui dan yang mengenal. kulit/badan). ansietas (kecemasan). perubahan peran seorang ayah/ibu menjadi seorang kakek/nenek. meliputi kematian pasangan hidupnya/teman-temannya. gampang merasa dilecehkan. perubahan 5 . perubahan dalam hubungan dengan anak karena sudah harus memerhitungkan anak sebagai individu dewasa yang dianggap sebagai teman untuk dimintai pendapat dan pertolongan. bekerja dan berpenghasilan) menjadi kemunduran. 3. Keinginan untuk lebih dekat kepada Allah merupakan kebutuhan lansia. Aspek sosial yang terjadi pada individu lanjut usia. ASPEK – ASPEK YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN FUNGSI MENTAL PADA LANSIA Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu fisik. psikosis (kegilaan) atau kecanduan obat. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat. tidak bahagia. kecewa. 2. kematian dalam ketenangan dan diterima di sisi-Nya. Proses menua yang tidak sesuai dengan harapan tersebut. sosial dan ekonomi. tetap berwibawa.

kegiatan. cairan tubuh menurun. jabatan. kemampuan memompa darah menurun (menurunnya kontraksi dan volume). perubahan pendapatan karena hidupnya tergantung dari tunjangan pensiunan. ada yang merasa senang memiliki jaminan hari tua dan ada juga yang seolah-olah pasrah terhadap pensiun.peran dari seorang pekerja menjadi pensiunan yang sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Kardiovaskuler: katup jantung menebal dan kaku. namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya. Sel : jumlah berkurang. peran. kedudukan. dan cairan interseluler menurun b. Aspek ekonomi berkaitan dengan status sosial dan prestise. FACTOR-FAKTOR MENTAL 1. Dalam masyarakat sebagai seorang pensiunan. dan harga diri. karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan. elastisitas pembuluh darah menurun. Dalam kenyataan ada yang menerima. Kondisi-kondisi khas yang berupa penurunan kemampuan ini akan memunculkan gejala umum pada individu lanjut usia.” Pada umumnya. Perubahan fisik a. 4. sehingga menyebabkan berkurangnya respon motorik dan reflek YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN 6 . Persarafan: saraf pancaindera mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan dengan stres. status. Reaksi setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya dan sangat tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun. ada yang takut kehilangan. perubahan ini diawali ketika masa pensiun. serta meningkatnya retensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat c. yaitu “perasaan takut menjadi tua. 5. ukuran membesar. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua. Berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson.

Selain itu. Terdapat juga penurunan kecepatan dalam bergerak dan lansia cenderung menjadi kaku. Selain itu. Intelegensi: secara umum tidak berubah 2. Belajar dan memori: kemampuan belajar masih ada tetapi relatif menurun. Pendengaran: membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. akomodasi menurun. penciuman menjadi kurang tajam. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan. lansia pun cepat merasa lelah. Memori menurun karena proses encoding menurun g. penurunan sensitivitas papil-papil pengecap (terutama terhadap rasa manis dan asin). yaitu pada kelenturan otot-otot tangan bagian depan dan otot-otot yang menopang tegaknya tubuh. lapang pandang menurun. ketika ada lansia lainnya meninggal. Pada kemampuan motorik. Penglihatan: respon terhadap sinar menurun. Kesehatan umum Keadaan fisik lemah dan tidak berdaya sehingga harus bergantung pada orang lain. 7 . kehilangan kemampuan mendengar bunyi dengan nada yang sangat tinggi. katarak f. Lansia tidak jarang merasa emptiness (kesendirian. Terjadi banyak perubahan dalam penampilan lansia. Lingkungan Berkaitan dengan lingkungan sekitar. Hal ini menyebabkan sesuatu yang dibawa dan dipegangnya tertumpah dan jatuh. bagian persendian dengan pangkal tangan menjadi kendur dan terasa berat. adaptasi terhadap gelap menurun. tubuh yang membungkuk dan tampak mengecil. dan kulit yang semakin kering dan mengeras menyebabkan indra peraba di kulit semakin peka. lansia mengalami penurunan kekuatan yang paling nyata. seperti keluarga dan teman. kehampaan) ketika keluarganya tidak ada yang memperhatikannya. e.d. 3. sedangkan ujung tangan tampak mengerut. seperti pada bagian kepala dengan rambut yang menipis dan berubah menjadi putih atau abu-abu. fungsi pancaindera terjadi perubahan seperti ada penurunan dalam kemampuan melihat objek. maka muncul perasaan pada lansia kapan ia akan meninggal.

Tindakan untuk mengatasi kecemasan Cobalah untuk mendapatkan dukungan keluarga dengan rasa kasih saying. misalnya kanker dan penyakit jantung yang sebenarnya tidak dideritanya → Sering membayangkan hal-hal yang menakutkan → Merasa panic terhadap masalah yang ringan c. Konsultasikan dengan dokter bila penyebabnya tidak dapat ditentukan atau bila telah dicoba dengan berbagai cara tetapi gejala menetap. berikan alas an-alasan yang dapat diterima olehnya. MASALAH DI BIDANG PSIKOGERATRI 1. Pengertian Gangguan kecemasan pada lansia adalah berupa gangguan panik. Bila penyebabnya tidak jelas dan mendasar. gangguan obsesif kondlusif. Depresi a. Kecemasan a. 2. gagal.6. merasa tidak berguna. Cobalah untuk mengalihkan penyebab dan berikan rasa aman dengan penuh empati. Pengertian Depresi adalah suatu jenis keadaan perasaan atau emosi dengan komponen psikologis seperti rasa sedih. Gejala kecemasan Perasaan khawatir atau takut yang tidak rasional terhadap kejadian yang akan terjadi : → Sulit tidur sepanjang malam → Rasa tegang dan cepat marah → Sering mengeluh akan gejala yang ringan atau takut/khawatir terhadap penyakit yang berat. gangguan kecemasan umum. gangguan stress pasca traumatic b. Bicaralah tentang rasa khawatir lansia dan cobalah untuk menentukan penyebab mendasar (dengan memandang lansia secara holistic). putus asa dan 8 . gangguan stress akut. fobia. susah.

Kadang-kadang dapat dilakukan sesuatu terhadap penyebab depresi yang dialami lansia yang ketakutan untuk kembali ke rumah setelah tinggal dirumah sakit. Tipe depresi Terdapat 2 tipe depresi yaitu eksogen atau depresi reaktif dan deprsesi endogen. terutama laki-laki. dan sering kali mencoba bunuh diri. Oleh karena itu. Bunuh diri adalah pengalaman yang biasa pada lansia. c. semua ancaman ini harus ditangani dengan serius. Klien dengan depresi eksogen biasanya mendapat dukungan yang cukup pada stuasi depresi.penyesalan atau berbentuk penarikan diri. Kemampuan mental klien dengan depresi tetap utuh. kegelisahan atau agitasi (Afda Wahywlingsih dan Sukamto). → Serotonin dan norepinephrine 9 . Hal yang dapat dilakukan adalah dengan memastikan bahwa mereka mendapat cukup dukungan di rumah. seperti setelah berduka karena kehilangan atau selama tinggal di rumah sakit. depresi sering disalahartikan sebagai demensia. b. Depresi adalah kondisi umum yang terjadi pada lansia dan alasan terjadinya kondisi ini dapat dilihat pada saat mengkaji kondisi sosial. Memang. sedangkan pada klien demensia. Penyebab depresi pada lansia: → Penyakit fisik → Penuaan → Kurangnya perhatian dari pihak keluarga → Gangguan pada otak (penyakit cerebrovaskular) → Faktor psikologis. terjadi peningkatan kerusakan kognitif. dan masalah fisik pada lansia. berupa penyimpangan perilaku oleh karena cukup banyak lansia yang mengalami peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan atau cukup berat. Individu dengan depresi endogen betul-betul dapat mengalami gangguan mental bahkan mengalami delusi. kejadian hidup. Depresi endogen mungkin akan terjadi pada awitan awal dalam hidupnya.

Orang yang mengalami depresi tingkat sedang cenderung untuk makan secara berlebihan. Gejala depresi pada lansia Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. → Nyeri (nyeri otot dan nyeri kepala). → Keluarnya keringat yang berlebihan. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk mernecahkan masalah secara efektif. namun berbeda jika. atau rekreasi tidak rnemberikan kesenangan. kesulitan ekonomi dan perubahan situasi. Factor pencetus depresi pada lansia Faktor biologic. Neurotransmitter sendiri adalah zat kimia yang membantu komunikasi antar sel-sel otak. hobi. perubahan struktural otak. e. Keluhan fisik biasanya terwujud pada perasaan fisik seperti: → Distorsi dalam perilaku makan. → Sulit berkonsentrasi. peristiwa kehidupan seperti berduka. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor penentu. proyek. Tantangan yang ada. d.→ Zat-zat kimia didalam otak (neurotransmitter) tidak seimbang. sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. 10 . faktor risiko vaskular. → Berat badan berubah drastic → Gangguan tidur. Keluhan umum yang sering terjadi adalah. Faktor psikologik yaitu tipe kepribadian. kelemahan fisik. Orang yang mengalami depresi merasa kesulitan untuk memfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah untuk jangka waktu tertentu. → Sesak napas. kehilangan orang dicintai. misalnya faktor genetik. kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan. stres kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu. "saya tidak bisa berkonsentrasi". Tetapi dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur. relasi interpersonal.

Seseorang yang mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. makan berlebihan. bisa juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung. diabetes. tidak efektif.→ Kejang usus atau kolik. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. "saya menyia-nyiakan hidup saya" atau “saya tidak bisa rncncapai banyak kemajuan". → Merasa putus asa dan tidak berarti. → Berdebar-debar. → Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. → Perilaku merusak diri tidak langsung. → Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. nikotin. Secara psikologik gejalanya: → Kehilangan harga diri/ martabat. Pemikiran seperti. hypoglycemia. seringkali terjadi. dan obat-obat lainnya. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna. atau diabetes. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan atau merasa. → Secara biologik dipacu dengan perubahan neurotransmitter. 11 . terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi gemuk. → Diare. "saya selalu merasah lelah" atau "saya capai". → Kurang energi. → Kehilangan secara fisik prang dan benda yang disayangi. → Gejala social ditandai oleh kesulitan ekonomi seperti tak punya tempat tinggal. penyakit sistemik dan penyakit degeneratif. Dilain pihak. contohnya: penyalahgunaan alkohol/ narkoba. seseorang lainnya yang mengalami depresi mungkin akan gampang letih dan lemah. → Muntah.

Lupa akan barang-barang yang disimpannya kemudian menuduh orang-orang di sekelilingnya mencuri atau menyembunyikan barang miliknya. Infeksi saluran kemih 4. Pengertian Kebiasaan atau pola tidur lansia dapat berubah. Tertidur sebentar-sebentar sepanjang hari. 5. serta berkomplot ingin melukai atau mencuri barang miliknya b. teman-teman. Insomnia a. Penyebab insomnia pada lansia Kurangnya kegiatan fisik dan mental sepanjang hari sehingga mereka masih semangat sepanjang malam. Gejala Paranoid Perasaan curiga dan memusuhi anggota keluarga.3. sehingga lansia melakukan kegiatannya pada malam hari. b. terutama intelegensi. Pengertian Demensia ialah kemunduran fungi mental umum. Perubahan pola tidur dapat berubah tiak bisa tidur sepanjang malam dan sering terbangun pada malam hari. membicarakan. yang terkadang dapat mengganggu kenyamanan anggota keluarga lain yang tinggal serumah. Demensia a. Gangguan cemas dan depresi. disebabkan oleh kerusakan jaringan otak yang tidak dapat kembali lagi 12 . Sering berkemih pada waktu malam karena banyak minum pada malam hari. Tempat tidur dan suasana kamar kurang nyaman. Tindakan yang dapat dilakukan pada lansia dengan paranoid adalah memberikan rasa aman dan mengurangi rasa curiga dengan memberikan alas an yang jelas dalam setiap kegiatan. Paranoid dapat merupakan manifestasi dari masalah lain. atau orangorang di sekelilingnya. seperti depresi dan rasa marah yang ditahan. Paranoid a. Pengertian Lansia terkadang merasa bahwa ada orang yang mengancam mereka. Konsultasikan dengan dokter bila gejala bertambah berat.

2004). Adanya apolipoprotein E 4 (apo. Jenis demensia 1. b. Demensia jenis Alzheimer a. (peningkatan kadar asetin kolin merupakan dasar untuk terapi obat yang disetujui FDA untuk demensia). Patofisiologi Otopsi menunjukkan adanya plak amiloid (plak senil atau neuritik) di jaringan otak atau adanya kekusutan neurofibriler (akumulasi simpul filamen saran pada neuron. Penyakit alzheimer familial memiliki awitan sangat dini (usia 30-40 th) dan bertanggung jawab atas 20% dari semua kasus demensia jenis ini. b. Menurut Roger Watson. Bukti untuk teori ini masih sedikit. Penyakit ini berkaitan denga gen¬gen abnormal dikromosom 1. → Modal toksin Sebagian peneliti meyakini bahwa akumulasi alumunium pada otak akibat pajanan alat-alat dan produk alumunium dapat menyebabkan demensia jenis alzheimer.(irreversible) (Maramis. Demensia adalah gangguan progresif kronik yang dicirikan dengan kerusakan berat pada proses kognitif dan disfungsi kepribadian serta perilaku (Isaac. E 4) dikromosom 19 terjadi 2 kali lebih banyak pada penderita demensia jenis alzheimer dibanding populasi umum. c. Penyebab → Genetika Adanya gen abnormal saja tidak cukup untuk memprediksi demensia jenis alzheimer. → Abnormalitas neurotransmiter atau reseptor Kehilangan asetil kolin (neurotransmiter kolinergik mayor) berkaitan dengan gejala-gejala gangguan kognitif (demensia). 14 dan 21. demensia adalah suatu kondisi konfusi kronik dan kehilangan kemampuan kognitif secara global dan progresif yang dihubungkan dengan masalah fisik. 1995). Adanya plak dan kekusutan tersebut berkaitan dengan sel saraf. hilangnya sambungan antar neuron dan akhimya atrofi serebral. Tahap Perilaku Afek Perubahan Kognitif Ringan 13 .

berdandan) → Berkeluyuran atau mondar-mandir → Senang menimbun barang-barang → Hiperoralitas → Mengalami gangguan siklus tidur-bangun → Mood labil Datar → Apatis → Agitasi → Katas tropi Paranoia 14 . Tahap perilaku afek Sedang → Perilakunya tidak pantas secara sosial → Kurang perawatan diri (misal mandi. dapat menuduh orang lain telah mencurinya → Cemas → Depresi → Frustasi → Curiga → Ketakutan → Kehilangan ingatan tentang peristiwa yang baru saja terjadi (lupa akan janji temu dan percakapan) → Disorientasi waktu → Berkurangnya kemampuan konsentrasi → Sulit mengambil keputusan → Kemampuan penilaian buruk d. berpakaian. toileting.→ Sulit menyelesaikan tugas → Penurunan aktivitas yang mengarah pada tujuan → Kurang memperhatikan penampilan pribadi dan aktivitas sehari-hari → Menarik diri dari aktivitas social yang biasa → Sering mencari benda-benda karena lupa meletakannya.

penyakit pick. kemampuan berbicara memburuk dan klien sulit "menemukan" kata-kata. apraksia dan afasia e. Semua perubahan kognitif berlanjut sejalan dengan meningkatnya amnesia. 2. 3.→ Kehilangan ingatan tentang hal-hal yang baru atau lama (amnesia) → Konfabulasi → Disprientasi waktu. Agnosia: kegagalan mengenali atau mengidentifikasi objek atau benda urnurn walaupun fungsi sensoriknya tidak mengalami kerusakan. aprasia dan afasia. Jenis demensia yang lain berkaitan dengan kondisi medis umum. c. Gejala demensia 1. diabetes). Klien diketahui mengalami faktor resiko penyakit vaskuler (misalnya hipertensi. Afasia: kehilangan kemampuan berbahasa. 15 . fibrilasi atrium. 2. Demensia vaskular (multi-infark) ditandai dengan gejala-gejala demensia pada tahun pertama terjadinya gejala neurologik fokal. koreahuntingtown dan penyakit Creutzfeldt-jakob. tempat dan orang → Sedikit agnosia. agnosia. Apraksia: rusaknya kemampuan melakukan aktivitas motorik sekalipun fungsi sensoriknya tidak mengalami kerusakan. apatis Reaksi Katastropik occasional dapat berlanjut. Demensia yang disebabkan kondisi-kondisi tersebut dicatat sesuai penyakitnya yang spesifik. seperti penyakit parkinson. 3. Tahap perilaku afek Berat → Penurunan kemampuan ambulasi dan aktivitas motorik lainnya → Penurunan kemampuan menelan → Sama sekali tidak bisa mengurus diri (misalnya membutuhkan perawatan yang konstan) → Tidak mengenali lagi keberadaan pemberi asuhan Datar.

9. 13. terdapat kemungkinan bahwa kondisi ini akan menjadi kronik dan karenanya dapat dianggap sebagai demensia. 5. seperti hipertensi. menyebabkan ensefalopati HIV atau kompleks demensia AIDS 16 . Penilaian buruk: individu ini mungkin tidak mempunyai kewaspadaan lingkungan tentang keamanan dan keselamatan. Reaksi katastrofik: respon takut atau panik dengan potensi kuat inenyakiti diri sendiri atau orang lain. dan aterosklerosis dapat menyebabkan stroke. Hiperoralitas: kebutuhan untuk mencicipi dan mengunyah benda-benda yang cukup kecil untuk dimasukkan ke mulut. tempat dan orang. Konfabulasi: mengisi celah-celah ingatannya dengan fantasi yang diyakini oleh individu yang terkena. 7. arteriosklerosis. Bila kondisi akut yang menyebabkan delirium tidak atau tidak dapat diobati. Perseveration phenomenon: perilaku berulang. 12. Disorientasi waktu. lnfeksi Human Imunodefisiensi Virus (HIV) dapat menyerang Sistem saraf pusat (SSP). Kondisi akut yang tidak diobati atau tidak dapat disembuhkan. Sulit mengambil keputusan. Kehilangan memori: awalnya hanya kehilangan memori tentang hal-hal yang baru terjadi. 6. Berkurangnya kemampuan berkonsentrasi atau mempelajari materi baru. d.4. 2. 3. 11. 5. meliputi mengulangi kata-kata orang lain. Sundown sindrom: memburuknya disorientasi di malam hari. 10. 8. Penyakit vaskuler. 4. Etiologi demensia Faktor-faktor yang berkaitan dengan demensia adalah: 1. Penyakit parkinson: demensia menyerang 40% dari pasien-pasien ini. Penyakit prior (protein yang terdapat dalam proses infeksi penyakit Creutzfeldt-jakob). dan akhirnya gangguan ingatan masa lalu. 6. Gangguan genetika: koreahuntington atau penyakit pick.

Perawat harus selalu memegang prinsip “Tripple”. seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi. sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. perawat dapat berperan sebagai supporter. Perubahan-perubahan ini meliputi gejalagejala. 17 . PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA Dalam pendekatan pelayanan kesehatan pada kelompok lanjut usia sangat perlu ditekankan pendekatan yang dapat mencakup sehat fisik. yaitu sabar. akan tetapi juga mencakup aspek psikososial dan lingkungan yang menyertainya. yaitu suatu pendekatan yang tidak tertuju pada pasien semata-mata. Hal tersebut karena pendekatan dari satu aspek saja tidak akan menunjang pelayanan kesehatan pada lanjut usia yang membutuhkan suatu pelayanan yang komprehensif. 1. Pendekatan psikologis Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia. secara utuh dan menyeluruh. bantu klien menemukan hal yang salah dalam penempatannya. 6. hidrocephalus dan cidera akibat trauma kepala. Pendekatan fisik Perawat mempunyai peranan penting untuk mencegah terjadinya cedera sehingga diharapkan melakukan pendekatan fisik. Pendekatan Holistik adalah pendekatan yang menggunakan semua upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan lanjut usia. 2. seperti berdiri disamping klien. Pendekatan inilah yang dalam bidang kesehatan jiwa (mental health) disebut pendekatan eklektik holistik. seperti tekanan normal. Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas.7. simpatik dan service. interpreter terhadap segala sesuatu yang asing. spiritual dan sosial. memberikan perhatian dan sentuhan. psikologis. menghilangkan sumber bahaya dilingkungan. memberikan label gambar atau hal yang diinginkan klien. Gangguan struktur jaringan otak.

Harus diingat kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. adanya rasa sakit dan kegelisahan kumpul lagi dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut usia. perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang. Dalam menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda. Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam faktor. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian. perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban. jangan menertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa melakukan kesalahan . tukar pikiran. seperti ketidakpastian akan pengalaman selanjutnya. Adapun kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga. perawat harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun keluarga tadi ditinggalkan . peningkatan kewaspadaan. bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia. tergantung dari kepribadian dan cara dalam mengahadapi hidup ini. Penyakit memberikan 18 . 4. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan.berkurangnya kegairahan atau keinginan. Pendekatan social Mengadakan diskusi. 3. Seorang dokter mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. Pendekatan spiritual Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan lansia dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam keadaan sakit atau mendeteksi kematian. dan pergeseran libido. masih ada orang lain yang mengurus mereka. dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang membosankan. perawat bila melakukannya secara perlahan –lahan dan bertahap. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Pengkajian perawatan total dapat mengidentifikasi gangguan primer. Gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia 19 . biaya hidup. Diagnosa keperawatan didasarkan pada hasil observasi pada perilaku pasien dan berhubungan dengan kebutuhan. stress memikirkan penyakitnya. hal ini dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama. misal jalan pagi. PENGKAJIAN Pengkajian pasien lansia menyangkut beberapa aspek yaitu biologis. Wawancara Hubungan yang penuh dengan dukungan dan rasa percaya sangat penting untuk wawancara yang positif kepada pasien lansia. dan sosiokultural yang beruhubungan dengan proses penuaan yang terkadang membuat kesulitan dalam mengidentifikasi masalah keperawatan. atau hiburan lain. a. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia.kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan konunikasi dan melakukan rekreasi. berkaitan dengan pemunduran kemampuan untuk merespon verbal. merasa terancam dan bingung di tempat yang baru atau dengan tekanan. Berikan waktu yang cukup kepada pasien untuk menjawab. Gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya. psikologis. nonton film. Lansia mungkin merasa kesulitan. dan rasa kecemasan. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia. B. Lingkungan yang nyaman akan membantu pasien tenang dan focus terhadap pembicaraan. keluarga yang dirumah sehingga menimbulkan kekecewaan. ketakutan atau kekhawatiran. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Perawat membuka wawancara dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan dan lama wawancara. b. KONSEP KEPERAWATAN 1. Tidak sedikit klien tidak tidur terasa.

Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distress yang ada. Melihat kembali kehidupan sebelumnya merupakan sumber data yang baik untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien dan sumber dukungan. 20 . Perawat harus mengkonsultasikan hasil wawancara kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan atau protocol wawancara pengkajian. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung. 3. Kebutuhan untuk mengidentifikasi area khusus kekuatan dan keterbatasan kognitif . 4. Perawat harus memperhatikan kondisi fisik pasien pada waktu wawancara dan faktor lain yang dapat mempengaruhi status. Hal ini dapat meningkatkan kecemasan dan stres pasien karena kekurangan informasi. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi. Fungsi Kognitif Status mental menjadi bagian dari pengkajian kesehatan jiwa lansia karena beberapa hal termasuk : 1. Setting wawancara Tempat yang baru dan asing akan membuat pasien merasa cemas dan takut. Peningkatan prevalensi demensia dengan usia. Data yang dihasilkan dari wawancara pengkajian harus dievaluasi dengan cermat. duduk dan menyentuk pasien. Kursi harus dibuat senyaman mungkin. Lingkuangan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi lansia yang sensitif terhadap suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan. d. Adanya gejala klinik confusion dan depresi. 2. seperti pengobatan media. Lingkungan harus dibuat nyaman. Frekuensi adanya masalah kesehatan fisik dengan confusion. nutrisi atau tingkat cemas.kesulitan dalam berfikir abstrak. c.

Jika mungkin. Hal ini menjadi modal pada faktor lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan pada lansia. Pengkajian tingkah laku termasuk kedalam mendefinisikan tingkah laku. kanker. termasuk steroid. punggung atau perut dengan sejarah penyebab fisik. dan otak. penyakit Parkinson. durasi. distress gastrointestinal dan menolak untuk makan atau minum dengan konsekuensi perawatan selama kehidupan. Ketika terjadi perubahan perilaku. g. h. paranoia. dan faktor presipitasi atau triggers. pengkajian harus dilengkapi dengan kondisi lingkungan rumah. khususnya kanker lambung. Beberapa pengobatan da[at meningkatkan angka kejadian depresi. kelelahan. khususnya pada leher. kepala. Dibawah ini merupakan aspek-aspek dalam pengkajian fungsional yang memiliki dampak kuat pada status jiwa dan emosi. Seseorang yang sedang sakit. Respon Perilaku Pengkajian perilaku merupakan dasar yang paling penting dalam perencanaan keperawatan pada lansia. f.e. benzodiazepines. ini sangat penting untuk dianalisis. Skala Depresi Lansia merupakan ukuran yang sangat reliable dan valid untuk mengukur depresi. Kemampuan fungsional Pengkajian fungsional pada pasien lansia bukan batasan indokator dalam kesehatan jiwa. pancreas. Mobilisasi 21 . dan antihypertensive. Kebutuhan termasuk skala depresi. Phenothiazines. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan depresi diantaranya gangguan tiroid. Gejala lain pada lansia termasuk kehilangan berat badan. Sakit fisik dapat menyebabkan depresi sekunder. Status Afektif Status afektif merupakan pengkajian geropsikiatrik yang penting. dan stroke. frekuensinya. Perubahan perilaku merupakan gejala pertama dalam beberapa gangguan fisik dan mental.

berpakaian. nutrisi dan pengobatan medis juga harus dikaji. hubungan seksual. makan. dan makan. Activities of Daily Living Pengkajian kebutuhan perawatan diri sehari-hari (ADL) sangat penting dalam menentukan kemampuan pasien untuk bebas. Pasien lansia yang memiliki masalah psikososial memiliki kebutuhan pertolongan dalam makan dan monitor makan. dan mamalihara hubungan dengan orang lain. Hal ini sangat penting dalam untuk membantu pasien untuk mandiri sebagaimana penampilan pasien dalam menjalankan ADL.Pergerakan dan kebebasan sangat penting untuk persepsi kesehatan pribadi lansia. funksi. j. Kemampuan fungsi i. Hal yang harus dikaji adalah kemampuan lansia untuk berpindah di lingkungan. Nutrisi Beberapa pasien lansia membutuhkan bantuan untuk makan atau rencana nutrisi diet. The Katz Indeks Angka Katz indeks dependen dibandingkan dengan independen untuk setiap ADL seperti mandi. nilai kimia darah. dan aktifitas toilet) merupakan tugas dasar. partisipasi dalam aktifitas penting. Fungsi Fisiologis Pengkajian kesehatan fisik sangat penting pada pasien lansia karena interaksi dari beberapa kondisi kronis. Salah satu keuntungan dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi ADL setiap waktu. adaptasi yang dilakukan. Prosedur diagnostic yang dilakukan diantaranya EEG. yang diakhiri evaluasi dan aktivitas rehabilisasi. adanya deficit sensori. Selain itu. lumbal. k. perawat harus mengidentifikasi adanya kehilangan fungsi motorik. berpakaian. ADL ( mandi. Dalam mengkaji ambulasi . CT Scan dan MRI. Perawat harus secara rutin 22 . toileting. berpindah tempat . dan frekuensi tingkah laku dalam masalah kesehatan jiwa. l. serta jumlah dan tipe pertolongan yang dibutuhkan.

makanan kesukaan dan yang tidak disukai. m. waktu dalam sehari untuk makan. Pengkajian nutrisi harus dikaji lebih dalam secara perseorangan termasuk pola makan rutin. 23 . Latar belakang budaya pasien merupakan faktor yang sangat penting dalam mengidentifikasi support system. komplikasi pengobatan. Keluarga dan teman dapat membantu dalam mengurangi shock dan stres di rumah sakit. Penyalahgunaan Bahan-bahan Berbahaya Seorang lansia yang memiliki sejarah penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya beresiko mengalami peningkatan kecemasan dan gangguan kesehatan lainnya apabila mengalami kehilangan dan perubahan peran yang signifikan. Interaksi Pasien. rumah sakit. o. polifarmasi. ukuran porsi. penurunan angka kelahiran. Dukungan Sosial Dukungan positif sangat penting untuk memelihara perasaan sejahtera sepanjang kehidupan. Penyalahgunaan alcohol dan zat-zat berbahaya lainnya oleh seseorang akan menyebabkan jarak dari rasa sakit seperti kehilangan dan kesepian.Keluarga Peningkatan harapan hidup. atau di tempat pelayanan kesehatan lainnya. khususnya untuk pasien lansia. Perawat harus mengkaji dukungan sosial pasien yang ada di lingkungan rumah. Pengobatan Medis Empat faktor lansia yang beresiko untuk keracunan obat dan harus dikaji yaitu usia. komorbiditas. n. p.mengevaluasi kebutuhan diet pasien. dan tingginya harapan hidup untuk semua wanita yang berakibat pada kemampuan keluarga untuk berpartisipasi dalam pemberian perawatan dan dukungan kepada lansia. Kebanyakan lansia memiliki waktu yang terbatas untuk berhubungan dengn anaknya. Masalah perilaku pada lansia kemungkinan hasil dari ketiakmampuan keluarga untuk menerima kehilangan dan peningkatan kemandirian pada anggota keluarga yang sudah dewasa.

Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnose keperawatan yang lazim muncul pada lansia dengan gangguan kejiawaan : 1. dan atau toileting berhubungan dengan ketergantungan fisiologis dan atau psikologis 24 . Gangguan proses pikir berhubungan dengan kehilangan memori. Kurang perawatan diri : hygiene nutrisi.2. 3. transmisi dan atau integrasi sensori ( defisit neurologis ). degenerasi neuron irreversible.

Klien mampu mengembangkan strategi 3.3. Memberikan intervensi. 25 DIAGNOSA neuron dapat berpikir rasional. kemampuan positif keluarga mengenai perubahan 2. Bicarakan Catatan: evaluasi orientasi meningkatkan risiko yang . di harapakan klien Kriteria hasil : 1. RENCANA INTERVENSI KEPERAWATAN NO 1 TUJUAN / KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL KEPERAWATAN Gangguan proses pikir Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 1. Klien tingkah untuk mampu laku anggapan diri yang negative perubahan dalam berfikir atau dan factor mendukung dan hubungan dan emosional. Gunakan distraksi. 3. dengan keperawatan selama 4 x 15 menit memori. Kaji derajat gangguan kognitif. selama 6 jam. Tatap wajah klien ketika sedang mengenali 5. dengan 2. berulang atau dapat tingkat mengatasi 4. Pertahankan lingkungan yang menyenangkan dan tenang. meningkatkan pengembanagan diri yang mengurangi psikologis. perbandingan yang akan datang dan memengaruhi rencana secar negative frustasi. Mengurangi kecemasan berhubungan kehilangan degenerasi irreversible. rentang perhatian. perilaku. dengan kemarahan. berbicara dengan klien tentang sebenarnya kejadian saat yang klien perubahan Bicarakan orientasi. seperti evaluasi dan konflik dasar klien-perawat yang terapeutik seperti berfikir. Klien mampu memperlihatkan kemampuan yang kognitif untuk terhadap menjalani konsekuensi kejadian menegangkan emosi dan pikiran tentang diri 2. Kembangkan lingkungan yang 1.

26 pantas . klien gangguan sensori berlebihan yang tidak diinginkan. 3. Klien mampu memperlihatkan penurunan tingkah laku yang kebingungan. Kebisingan jika tidak meningkatkan kecemasan. Berikan label klien. 6. Hormati klien dan evaluasi pada yang 5. 8. dan 6. mengungkapkan ide yang salah. siklandelat salah atau hal dalam penempatannya. Orientasi pada realita perasaan kemuliaan meningkatkan diri dan realita klien. merupakan gangguan perhatian. penghargaan (kebahagiaan personal). 7. Menimbulkan terutama dengan perceptual. Bantu klien menemukan hal yang gambar diinginkan menentang. Lamunan membantu dalam meningkatkan disorientasi.penyebab 4. kebutuhan secara spesifik. Berikan obat sesuai indikasi seperti. ancaman. Jangan meningkatkan neuron 4. Klien dengan penurunan kognitif mendapatkan penghormatan.

transmisi dan penurunan atau integrasi sensori ( persepsi defisit neurologis ). Meningkatkan 2 Perubahan sensori dengan persepsi Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 1. 27 klien tidak dan mengubah menimbulkan kemarahan kesadaran otak masalah asimetris klien kemampuan tidak dapat berhubungan keperawatan selama 4 x 15 menit gangguan bagaimana penurunan pendengaran. Membantah akan kepercayaan 8. mengenali rasa lapar atau penurunan 2. Anjurkan memakai kacamata atau alat bantu dengar sesuai kebutuhan . kebahagiaan. Keterlibatan dan tersebut atau memperlihatkan yang bersifat menyebabkan kehilangan Klien haus. 1. pada dengan derajat sensori persepsi hal mental atau 1. Kaji perubahan selama 6 jam klien tidak terjadi lebih sensori lanjut klien.penghargaan. 2. dan 7. persepsi. Menurunkan defensive jika klien menyadari kesalahan. Klien mampu mengembangkan pada salah satu sisi tubuh. Klien mempengaruhi klien termasuk penglihatan Kriteria hasil : mengalami halusinasi.

Libatkan dalam aktivitas sesuai indikasi pengunjung. Memahami penyebab yang mempengaruhi intervensi. . Identifikasi : hygiene nutrisi. Ajarkan menurunkan masukan kesalahan kekacauan mengurangi 3. strategi stress. 28 berpakaian/ perawatan diri. mental dan meningkatkan koping terhadap frustasi karena salah persepsi dan disorientasi.strategi psikososial stress untuk 3. Meningkatkan atau mampu realita. terapi okupasi. dengan keadaan kelompok tertentu. Menurunkan partisipasi dengan orang 3 Kurang perawatan diri Tujuan: Setelah dilakukan tindakan 1. atau catatan. jam. mengatasi 3. Menurunkan akan halusinasi 5. seperti satu ke satu sosialisasi pada pusat demensia. Pertahankan hubungan orientasi 2. dan keperawatan selama 4 x 15 menit kesulitan lain. Klien menjadi kehilangan 4. 5. Memberikan petunjuk pada orientasi realita dengan kalender. membatasi atau intepretasi stimulasi. mendemonstrasikan yang sesuai stimulasi. Klien sensori. dalam 1. respon 4. Memberi terhadap kesempatan stimulasi kemampuan kebutuhan mengenali keadaan sekitar mengatur perilaku.

atau berhubungan toileting selama 6 jam klien mampu 2. yang mudah sekarang menjadi motorik dan perubahan kognitif. kebersihan diri dan berikan bantuan sesuai kebutuhan. Klien mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber pribadi atau komunitas yang dapat memberikan bantuan. 3. Meningkatkan kepercayaan hidup 29 . Identifikasi kebutuhan akan Masalah diminimalkan menyesuaikan memerlukan dari ahli dapat dengan atau konsultasi perkembangan kebutuhan dengan melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan. Bantu banyak waktu untuk melakukan tugas mengenakan yang rapi dan indah. atau dengan Kriteria hasil : 1. Pekerjaan terhambat penurunan kebersihan dasar mungkin sekali jika terjadi kehilangan tadinya karena kemandirian. Mudah frustasi 4. 4. 5. Seiring penyakit dilupakan pakaian 3. Lakukan berikan melakukan kemampuan. Beri 5. pengawasan kesempatan sendiri dan untuk ketergantungan fisiologis psikologis dan sesuai 2.

Watson. EGC. EGC. Nugroho. Edisi ke-2. “Pengkajian Gerontologi”. “ Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis”. 2000. EGC. Jakarta 2000. “Keperawatan Gerontik”. Edisi ke-3. Edisi ke-2. Jakarta 2003 30 .DAFTAR PUSTAKA Stuart & Sundeen. Leeckenotte. Wahjudi. Jakarta. Roger. Carpenito. EGC. Annete Glesler. 1997. 1995. Principles and Practice of Psychiatric Nursing Fifth Edition. Jakarta. United State of America : Mosby. L. “Perawatan Lansia”. Edisi ke-6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful