BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Nyeri merupakan suatu keadaan yang tidak nyaman dan menyiksa bagi penderitanya, namun terkadang nyeri dapat digunakan sebagai tanda adanya kerusakan jaringan. Inflamasi merupakan manifestasi dari terjadinya kerusakan jaringan, dimana nyeri merupakan salah satu dari gejalanya. Karena dipandang merugikan maka inflamasi memerlukan obat untuk

mengendalikannya. Obat yang dikenal sebagai analgetik-narkotik sangat berguna untuk meredakan dan menghilangkan rasa nyeri. Semua analgesiknarkotik dapat menimbulkan adiksi. maka usaha penyelidik untuk

mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan ( Neal, 2006). Analgesik adalah kelompok obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi rasa nyeri. Efek ini dapat dicapai dengan berbagai cara : menekan kepekaan reseptor nyeri terhadap rangsangan mekanik, termik, listrik, atau kimiawi dipusat atau perifer atau dengan cara menghambat pembentukan prostaglandin sebagai mediator sensasi nyeri (Warsito, 2011). Metode-metode pengujian aktivitas analgesik dilakukan dengan menilai kemampuan zat uji untuk menekan atau menghilangkan ras nyeri yang diinduksi pada hewan percobaan (mencit, tikus, marmot), yang meliputi induksi secara maknik, termik, elekrik, dan secara kimia. Metode pengujian dengan induksi nyeri secara mekanik atau termik lebih sesuai untuk mengevaluasi obat-obat analgetik kuat. Pada umumnya daya kerja analgetika dinilai pada hewan dengan mengukut besarnya peningkatan stimulus nyeri yang harus diberikan sampai ada respon nyeri atau jangka waktu ketahanan hewan terhadap stimulasi nyeri atau juga peranan frekuensi respon nyeri (Kelompok Kerja Phytomedica, 1993).

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa respon yang ditimbulkan oleh bahan kimia pada percobaan mencit? 2. Apa respon yang ditimbulkan oleh obat analgetika pada percobaan mencit? 3. Apa respon yang ditimbulkan oleh reaksi termis (hot plate 51 C) pada percobaan mencit? 4. Apa perbandingan hambatan respon nyeri yang ditimbulkan antara kelompok yang diberi obat dengan kelompok kontrol? 1.3 Tujuan 1. Mengamati respon nyeri pada mencit yang ditimbulkan oleh bahan kimia. 2. Mengamati respon menjilat kaki depan atau meloncat (merupakan respon nyeri pada mencit) yang ditimbulkan reaksi termis menggunakan hot plate 51 C. 3. Mengamati hambatan respon nyeri yang timbul setelah pemberian obat analgesik. 4. Membandingkan hambatan respon nyeri yang timbul pada kelompok yang diberi obat dengan kelompok kontrol. 5. Menjelaskan mekanisme kerja obat- obat analgesik. 1.4 Manfaat 1. Mengetahui respon yang ditimbulkan oleh bahan kimia pada percobaan mencit. 2. Mengetahui respon yang ditimbulkan oleh obat analgetika pada percobaan mencit. 3. Mengetahui respon yang ditimbulkan oleh reaksi termis (hot plate 51 C) pada percobaan mencit. 4. Mengetahui perbandingan hambatan respon nyeri yang ditimbulkan antara kelompok yang diberi obat dengan kelompok kontrol pada percobaan mencit. 5. Mengetahui mekanisme kerja obat- obat analgetika.

BAB 2 ALAT, BAHAN dan CARA KERJA 2.1 Alat dan Bahan : Alat : - Lempeng hot plate - Baskom tempat mencit Bahan: - 2 ekor mencit - Metampiron 100mg/cc - Asam asetat 0.6% - Larutan CMC 1% - Kodein - Larutan PZ 2.2 Cara Kerja : 1. Menimbang mencit dan mengelompokkan sesuai obat yang akan diberikan. Kelompok I (kontrol), Kelompok II (metampiron) dan Kelompok III (kodein) 2. Kelompok I diberi CMC 1% dan kelompok II diberi metampiron 100mg/cc 3. Menunggu 30 menit, setelah itu diberi asam asetat 0.6% secara intra peritoneal kemudian ditunggu selama 5 menit. 4. Setelah 5 menit, mencit dimasukkan ke baskom. Kemudian jumlah liukan mencit dihitung dan dicatat tiap 5 menit selama 30 menit. 5. Untuk mencit kelompok III diberikan kodein per oral, kemudian menunggu 30-45 menit. Kemudian menaruh mencit tersebut ke lempeng hot plate dengan suhu 51o C

Waktu yang tertera di hot plate dicatat dimulai saat mencit diletakkan ke hot plate hingga menjilat kaki .6.

. fenbrufen.1 NSAID 3. merupakan kelompok obat antiinflamasi dan analgesik yang meliputi aspirin. 2009).1 Definisi Non-Steroid Anti-Inflamasi. 2009). prostaglandin dan tromboksan). 2009). memar dan pendarahan kecenderungan (yaitu efek antiplatelet). sulindac .BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Tujuan NSAID adalah untuk menekan peradangan dan nyeri dengan menghambat jalur siklooksigenase dan mencegah pelepasan mediator inflamasi (misalnya prostacyclins. meloxicam. Efek samping dari penggunaan jangka panjang termasuk mengurangi penyembuhan. NSAID. indometasin. difusinal. penyakit arteri perifer dan gagal jantung. tinnitus dan anemia (sekunder untuk perdarahan gastrointestinal) (Jean. ketoprofen) dan obat-obatan serupa (misalnya diklofenak. turunan asam propionat (misalnya ibuprofen. Kontraindikasi NSAID pada penyakit jantung iskemik. iritasi lambung dan / atau ulserasi. etodolac. kekebalan terganggu. peradangan kronis (misalnya terkait dengan osteo-atau rheumatoid arthritis) (Jean. digunakan untuk mengendalikan peradangan akut dan nyeri (misalnya jaringan lunak atau tulang cedera). prioxicam. pasien dengan angina atau penyakit jantung iskemik. edema perifer. 2009). peningkatan kerentanan terhadap infeksi. penyakit serebrovaskular. ketorolac dan asam mefenamat) (Jean. atau mereka yang berisiko kecelakaan serebrovaskular (stroke) disarankan untuk mengambil aspirin 75mg setiap hari. atrofi epidermis (penipisan kulit). NSAID saja mungkin tidak memadai untuk mengontrol nyeri pasca operasi (Jean.

yang merupakan enzim yang mengkatalisis transformasi asam arakidonat menjadi prostaglandin dan tromboksan. et al. Analgesic effect Meskipun NSAID diklasifikasikan sebagai analgesik ringan.3. 3. 2006). Metampiron termasuk salah satu obat derivat metan sulfonat dari amidopyrin yang berkhasiat sebagai analgetik-antipiretik dan antiinflamasi..3 Metampiron Metampiron di Indonesia lebih dikenal dengan nama antalgin. Secara khusus. 2006). et al. Enzim ini memiliki dua bentuk. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivasi sel endotel dan ekspresi molekul adhesi sel berperan dalam sirkulasi sel pada peradangan.1. b. (Dugowson.. Anti-inflammatory effect NSAID menyebabkan efek anti-inflamasi melalui penghambatan prostaglandin G / H sintase. nyeri. a. yang bertanggung jawab untuk memicu hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh selama peradangan. dilihat dari efek yang terjadi pada saat peradangan. NSAID dapat menghambat ekspresi molekul-molekul adhesi sel dan dapat langsung menghambat aktivasi dan fungsi neutrofil. dan demam (Dugowson. c. Analgesik adalah obat untuk menghilangkan rasa nyeri dengan cara meningkatkan nilai ambang nyeri di sistem syaraf pusat tanpa menekan kesadaran. diyakini bahwa peradangan menyebabkan penurunan ambang respon nociceptors polimodal. Penghambatan selektif cox-2 menyebabkan penurunan efek samping GI. yaitu: cox-1 dan cox-2. Antipyretic effect NSAID menyebabkan efek antipiretik mereka dengan penghambatan sintesis prostaglandin E2 (PGE2).2 Mekanisme NSAID Mekanisme NSAID dapat dibagi menjadi tiga. NSAID memiliki efek yang lebih signifikan pada nyeri akibat meningkatnya sensitisasi perifer yang terjadi selama peradangan. atau siklooksigenase.1. sedangkan antipiretik merupakan obat .

3-4 kali sehari. putih atau putih kekuningan.yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi.02 N dan 1 ml besi (III) klorida 5% b/v terjadi warna biru yang jika dibiarkan berubah menjadi merah kemudian tidak berwarna. . Sedangkan antiinflamasi adalah mengatasi inflamasi atau peradangan (Tjay dan Kirana. Dalam perdagangan. 3-4 kali sehari dan untuk anakanak 250-500 mg.H2O : Natrium 2.U.02 N.. Struktur Metampiron Rumus Struktur Nama Kimia : C13H16N3NaO4S. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. (Widodo.37 : Serbuk hablur. 2007).dkk. tambahkan 1 ml sampai 2 ml asam klorida 0. 1993). : Larut dalam air dan HCl 0. biasanya metampiron diformulasikan dalam bentuk tablet dengan dosis untuk dewasa 500-1000 mg.3-dimetil-1-fenil-5-pirazolon-4- metilaminometanasulfonat Berat Molekul Pemerian Kelarutan Identifikasi : 351. Gambar 1. : Pada 3 ml larutan 10% b/v.

Pada pemberian secara oral senyawa diserap cepat dan sempurna dalam saluran cerna.1981). Efek analgetiknya jauh lebih lemah dari efek analgetik opiat. obat ini akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Sebagai antipiretik. Sinonim : Metampiron (Ditjen POM. distribusi.0% C13H16N3NaO4S. 1986). Metampiron mengalami proses ADME yaitu absorpsi.Susut Pengeringan : Tidak lebih dari 5. obat ini tidak menimbulkan ketagihan (adiksi) dan efek samping sentral yang merugikan. metabolisme dan ekskresi yang berjalan secara simultan langsung atau tidak langsung melintasi sel membrane (Anief. 1990). . masa paru dalam plasma 3 jam.0% dan tidak lebih dari 101. Terdapat 60% metampiron yang terikat oleh protein plasma. lakukan pengeringan pada suhu 105°C hingga bobot tetap menggunakan 250 mg zat. Obat ini dimetabolisme di hati menjadi metabolit utama dan diekskresi melalui ginjal (Widodo. dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Bekerja secara sentral di otak dalam menghilangkan nyeri. Farmakodinamika metampiron Sebagai analgetika. Syarat Kadar : Metampiron mengandung tidak kurang dari 99. menurunkan demam dan menyembuhkan rheumatik. obat ini hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang. 1993). misalnya sakit kepala dan juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi.5%. 2006). Farmakologi metampiron Metampiron termasuk derivat metan sulfonat dari amidopyrin yang mudah larut dalam air dan cepat diserap ke dalam tubuh. Farmakokinetik metampiron Fase farmakokinetik adalah perjalanan metampiron mulai titik masuk ke dalam badan hingga mencapai tempat aksinya. Kerja analgetik metampiron lebih besar dibandingkan dengan kerja antipiretik yang dimilikinya. Metampiron mempengaruhi hipotalamus dalam menurunkan sensitifitas reseptor rasa sakit dan thermostat yang mengatur suhu tubuh (Lukmanto. Sedangkan efek antiinflamasinya sangat lemah (Ganiswara.

parsial agonis dan antagonis. Agonis berinteraksi dengan reseptor untuk menghasilkan respon maksimal dari reseptor. Untuk mendeteksi hal tersebut.2. 2007).Efek yang tidak diharapkan Pada pemakaian yang teratur dan untuk jangka waktu yang lama penggunaan obat yang mengandung metampiron kadang-kadang dapat menimbulkan kasus agranulositosis fatal. Analgesik opioid adalah obat yang daya kerjanya meniru opioid endogen dengan memperpanjang aktivasi dari reseptor-reseptor opioid. Efek samping lain yang mungkin terjadi ialah urtikaria. 2006). torus otot meninggi. nalokson). Dengan cara ini opioid dapat dianggap sebagai agonis. trombopenia. Sebaliknya antagonis mengikat reseptor tapi tidak menghasilkan respon fungsional.1 Definisi Analgesik Opioid Analgesik merupakan obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri. selama penggunaan obat ini perlu dilakukan uji darah secara teratur (Lukmanto. Agonis parsial mengikat reseptor tetapi hanya mendapatkan respon fungsional parsial (buprenorphine). rahang menutup.2 Opioid 3. namun obat ini juga dapat menyebabkan efek samping yang sering terjadi apabila obat ini digunakan tanpa ada indikasi klinis. 1993). leukopenia. Terutama pada pasien usia lanjut terjadi retensi Na dan air dengan edema. . Penggunaan analgesik opioid ini pada umumnya yaitu untuk menagani nyeri hebat. 3. yang dapat diakibatkan oleh suatu mediator inflamasi atau suatu rangsangan pada pusat nyeri di sistem saraf pusat (CNS) (Eriksen J et al. kehilangan kesadaran dan serangan kram/kejang cerebral (Widodo. terjadi hipotensi. 1986). Pada kelebihan dosis. misalnya ketergantungan karena opioid dapat meyebabkan suatu sensasi euforia (Hojsted J and Sjogren P. nafas terengah-engah. Opioid dapat diklasifikasikan berdasarkan efek yang dihasilkan setelah mengenai reseptor. sementara pada saat yang sama mencegah agonis mengikatkan diri ke reseptor (misalnya.

edema. rasa nyeri lokal dan kemerahan (eritema lokal). Enzim ini penting dalam proses homeostatik seperti agregasi platelet. penurunan perfusi renal dan perdarahan). Aktifitas COX dihubungkan dengan dua isoenzim. dimana hal ini menghasilkan kedua efek yakni baik yang positif (analgesia. Selain itu juga prostaglandin . Sedangkan analgetik opioid bekerja di sentral dengan cara menempati reseptor di kornu dorsalis medulla spinalis sehingga terjadi penghambatan pelepasan transmitter dan perangsangan ke saraf spinal tidak terjadi (Hutchinson K et al. Golongan obat AINS bekerja diperifer dengan cara menghambat pelepasan mediator sehingga aktifitas enzim siklooksigenase terhambat dan sintesa prostaglandin tidak terjadi.2 Mekanisme Kerja Analgesik Opioid Mekanisme kerja obat analgetik merupakan sebuah mekanisme fisiologis tubuh terhadap zat-zat tertentu. 2007). yaitu di perifer dan sentral. meningkatkan kepekaan ujung-ujung saraf terhadap suatu rangsangan nyeri (nosiseptif) (Hutchinson K et al. Sebaliknya. COX-1 terutama terdapat pada mukosa lambung. 2007). COX-2 bersifat inducible dan diekspresikan terutama pada tempat trauma (otak dan ginjal) dan . Prostaglandin merupakan hasil bentukan dari asam arakhidonat yang mengalami metabolisme melalui siklooksigenase.2. Analgetik opioid (analgetik central) bekerja di SSP. yaitu ubiquitously dan constitutive yang diekspresikan sebagai COX-1 dan yang diinduksikan inflamasi COX-2. 2006). antiinflamasi) maupun yang negatif (ulkus lambung. parenkim ginjal dan platelet. Prostaglandin yang lepas ini akan menimbulkan gangguan dan berperan dalam proses inflamasi. keutuhan mukosa gastrointestinal dan fungsi ginjal. Obat AINS memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin. Obat ini khusus di gunakan untuk penghalau rasa nyeri hebat (Eriksen J et al. memiliki daya penghalang nyeri yang hebat sekali yang bersifat depresan umum (mengurangi kesadaran) dan efek sampingnya dapat menimbulkan rasa nyaman (euforia).3. Enzim siklooksigenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. Obat analgetik bekerja di dua tempat utama.

diyakini menjelaskan efek analgesik. Codein merupakan opioid yang paling sering digunakan degan digabungkan penggunaannya bersama non-opioid untuk mengatasi nyeri. demam.3 Codeine Gambaran Umum Seperti morfin. Ketika diberikan sendiri (tanpa ditambahkan apa-apa). nyeri dan kardiogenesis.menimbulkan inflamasi. codein merupakan jenis opioid yang berasal dari poppy plant. Codein dimetabolisme sebagian morfin. Codein digunakan secara luas sebagai antitussive opioid karena pada dosis antitusive . Codeinn sedikit adiktif dan menyebabkan sedikit euphoria (Welch. 2004). Dalam dosis antitusif biasa.2. 30 mg codein dikombinasikan dengan aspirin sama dengan efek analgesic 65 mg codein. codein memiliki efek analgesic ringan dan efek sedative. Pemberian codein secara intravena mempunyai tendensi lebih hebat untuk merilis histamine dan menyebabkan vasodilatasi dan hipotensi daripada morfin. 2006). inhibisi sistesis prostanoid. 3. Codein merupakan obat reference standard dalm penelitian obat batuk lain. 2008). Codein diindikasikan untuk perawatan nyeri dari tingkat mild (ringan) sampai moderate (sedang) dan digunakan juga untuk antitussive. Oleh karena itu penggunaan codein secara intravena jarang sekali dilakukan. Regulasi COX-2 yang transien di medulla spinalis dalam merespon inflamasi pembedahan mungkin penting dalam sensitisasi sentral (Eriksen J et al. Indikasi Codein digunakan untuk terapi simptomatis batuk non-produktif. Kombinasi dari obat mempunyai keuntungan mengurangi jumlah opioid yang dibutuhkan untuk meringankan rasa nyeri dan penghapusan nyeri lelalui mekasime yang berbeda. dan inhibisi opioid dari transmisi nociceptive. secara oral codein mempunyai sekitar satu sampai lima kali potensi dari morfin untuk mengatasi nyeri. Efek analgesic codein ini dapat dimanfaatkan untuk batuk yang disertai dengan nyeri dan ansietas (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.

Codein (metil morfin) masih merupakan antitusif yang paling banyak digunakan di klinik.mempunyai efek samping yang sedikit dan mempunyai oral bioavailability yang bagus (Welch. . dosis biasa dewasa: 10-30 mg setiap 4-6 jam. gejala-gejala tersebut dapat diterapi dengan pemberian naloxone (Welch 2008). 2008). Overdose pada anak-anak menghasilkan efek yang sama seperti overdose morfin. Farmakokinetik Codein diserap baik pada pemberian oral dan puncak efeknya ditemukan 1 atau 2 jam. 2004). dan 20 mg. yang dianggap terutama karena konversi metabolik parsialnya dengan morfin.5 mg/kg BB/hari dalam dosis terbagi (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2004). Farmakodinamik Kodein bertindak terpusat. Kodein memiliki sekitar seperenam aktifitas analgesik dari morfin (Anonim. Dosis yang lebih besar tidak lagi menambah efek secara proporsional. diekskresi komplet setelah 24 jam. 2005). Efek samping. Interaksi Obat dan Dosis Berlebih Efek samping dan interaksi obat dengan codein sama dengan morfin. miosis. dan diekskresi ke dalam urine dalam bentuk tidak berubah. meskipun codein kurang intens. Sediaan Codein terdapat dalam bentuk tablet codein sulfat atau codein fosfat berisi 10. dan coma . seperti depresi nafas. Dosis anak: 1-1. dan berlangsung selama 4-6 jam. Dalam jumlah kecil ditemukan dalam air susu ibu (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Codein memiliki efek analgesik. Uji klinik terkontrol telah memperlihatkan keefektifan codein dalam batuk eksperimen dan batuk patologik akut dan kronis (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Metabolism terutama di hepar.15. 2004).

pusing. seperti dermatitis. Untuk dapat menimbulkan ketergantungan fisik. Antagonis opioid seperti nalokson dapat bermanfaat untuk terapi kelebihan dosis. nyeri adalah pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya kerusakan aktual . 2004). khususnya penderita dengan retensi CO2. Oeh karena itu. dan terutama harus diperhatikan pada neonaus dengan perkembangan hepar dan ginjal yang belum sempurna atau dengan diuresis yang berkurang sehingga dapat terjadi efek kumulatif yang memperdalam koma atau mempercepat kematian. jarang ditemukan efek samping. anoreksia.3 Nyeri 3. hipotensi ortostatik.3. Depresi pernafasan dapat terlihat pada dosis 60 mg dan depresi nyata terjadi pada dosis 120 mg setiap beberapa jam. vertigo. dan kalau ada tidak lebih tinggi dari placebo.Dosis kecil (10-30 mg) codein sering digunakan sebagai obat batuk. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. hepatitis. 3. Kelebihan dosis paling sering terjadi pada anak-anak. komponen diskriminatori. Efek samping dapat berupa mual. Dosis lebih tinggi (60-80 mg) dapat menimbulkan kegelisahan. mungkin 1 bulan atau lebih (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. sedasi. Dosis lebih besar lagi (100-500 mg) dapat menimbulkan nyeri abdomen atau konstipasi. trombopenia. Secara umum nyeri merupakansuatu rasa yang tidak nyaman.1 Definisi Nyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan serta termasuk suatu komponen sensori. Kadang-kadang timbul reaksi alergi. dan midriasis. Potensi ketergantungan relative rendah dibandingkan jenis opioid lain. respon-respon yang mengantarkan ataupun reaksireaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri. dosis tinggi berbahaya untuk penderita dengan kelemahan pernafasan. codein harus diberikan dalam dosis tinggi setiap beberapa jam untuk jangka waktu lama. dan anafilaksis. Dosis fatal codein ialah 800-1000 mg. dan sakit kepala. baik ringan maupun berat. Menurut International Association for Study of Pain (IASP).

lingkungan dan sosial (Isbagio. dan enzim proteolitik. Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor melepaskan zat-zat kimia.Sel-sel syaraf ini mempunyai reseptor pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan ke sum-sum tulang belakang dan otak. neuron pada sistem asenden harus diaktifkan. yang terdiri dari prostaglandin.maupun potensial. leukotrien. substansi p. Aktivasi terjadi sebagai akibat input dari reseptor nyeri yang terletak dalam kulit dan organ . atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan (Rinaningsih.3. 1997). Kornu dorsalis dari medula spinalis dapat dianggap sebagai tempat memproses sensori. Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini (Rinaningsih. Reseptor-reseptor yang berespon terhadap stimulus nyeri disebut nosiseptor. Pada Pertemuan Ilmiah Nasional I (PB PAPDI). 3. Zat-zat kimia ini akan mensensitasi ujung syaraf dan menyampaikan impuls ke otak (Torrance & Serginson. Agar nyeri dapat diserap secara sadar. Persepsi nyeri sangat bersifat individual. 2003). kognitif. Traktus asenden berakhir pada otak bagian bawah dan bagian tengah dan impuls-impuls dipancarkan ke korteks serebri. bukan hanya merupakan gangguan fisik tetapi merupakan kombinasi dari faktor fisiologis.2 Fisiologi Nyeri Ada tiga jenis sel saraf dalam proses penghantaran nyeri yaitu sel syaraf aferen atau neuron sensori. Juga terdapat interkoneksi antara sistem neural desenden dan traktus sensori asenden. serabut konektor atau interneuron dan sel saraf eferen atau neuron motorik. emosional. bradikinin. menyatakan nyeri sebagai perasaan atau pengalaman emosional yang disebabkan dan berhubungan dengan terjadinya kerusakan jaringan tubuh. patologis. Serabut perifer berakhir disini dan serabut traktus sensori asenden berawal disini. psikologis. Reseptor-reseptor ini sangat khusus dan memulai impuls yang merespon perubahan fisik dan kimia tubuh. 2011). histamin. banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor non fisik. 2011).

1988). Gambar 1. akibatnya sistem yang ada akan menutup gerbang.. yaitu suatu area dari sel-sel khusus pada bagian ujung dorsal serabut saraf sumsum tulang belakang (spinal cord) yang berperan sebagai mekanisme pintu gerbang (gating mechanism).3 Mekanisme Nyeri / Fisiologi Nyeri Teori Gate Control yang dikemukakan Melzack dan Wall merupakan teori yang komprehensif dalam menjelaskan transmisi dan persepsi nyeri. 3. Terdapat interkoneksi neuron dalam kornu dorsalis yang ketika diaktifkan. Namun demikian. Teori Gate Control (Walton.3.internal. Stimulasi dari neuron inhibitor sistem asenden menutup gerbang untuk input nyeri dan mencegah transmisi sensasi nyeri (Torrance & Serginson. Mekanisme pintu gerbang ini dapat memodifikasi dan merubah sensasi nyeri yang datang sebelum sampai di korteks serebri dan menimbulkan persepsi nyeri (Lavelle. menghambat atau memutuskan taransmisi informasi yang menyakitkan atau yang menstimulasi nyeri dalam jaras asenden. 1998) . jika kecendrungan ini berlalu tanpa perlawanan. Seringkali area ini disebut “gerbang”.1 Dalam teori ini dijelaskan bahwa Substansia Gelatinosa (SG). Kecendrungan alamiah gerbang adalah membiarkan semua input yang menyakitkan dari perifer untuk mengaktifkan jaras asenden dan mengaktifkan nyeri. 1997).

serabut delta A diameter kecil serta serabut C. Penderita depresi sering mengeluh adanya rasa nyeri dan sebagian besar penderita nyeri kronik menjadi depresif. Gerbang ini merupakan inhibitor atau fasilitator bagi aktivitas sel Transmisi (T) yang membawa aktivitas lebih jauh sepanjang jalur saraf. penolakan (aversif) dan aspek emosional dari nyeri. 2. Gerbang dipengaruhi oleh derajat relatif dari aktivitas serabut beta A dengan diameter besar. Jalur ini berurusan dengan rasa tidak enak. motivasional dan afektif. Serabut beta A diameter besar diaktifkan oleh stimuli tidak berbahaya dan pada aktifitas serabut aferen besar cenderung menutup gerbang sedangkan aktifitas serabut kecil cenderung membukanya.Derajat mekanisme yang lebih tinggi ini juga memodulasi gerbang. dapat juga berinteraksi dengan kedua sistem asendensini. jalur asendens yang melibatkan informasi retikuler melalui sistem thalamus dan limbus medial. 4. Yang pertama adalah jalur sensoris-diskriminatif. yaitu : (Walton.Prinsip dasar Teori Gate Control (gambar 1). yang bersambung dengan korteks somatosensoris serebri melalui thalamus ventroposterior. 1998) 1. Mekanisme kontrol serabut saraf desendens dari tingkatan yang lebih tinggi di susunan saraf pusat dipengaruhi oleh proses kognitif. Jalur ini memungkinkan penentuan tempat nyeri. 3. selain berpengaruh pada gerbang tanduk dorsal. Terkadang didapatkan kesulitan menemukan penyebab yang primer (seperti masalah nyeri atau masalah depresinya) dan dalam menentukan . Aktivitas di dalam serabut aferen besar tidak hanya cenderung menutup gerbang secara langsung tetapi juga mengaktifkan mekanisme kontrol pusat yang menutup gerbang. dua jalur asendens utama diaktifkan. Jalur desendens. Didapat banyak asosiasi antara rasa nyeri dan depresi. Saat gerbang terbuka dan aktivitas di dalam aferen yang baru masuk cukup untuk mengaktifkan sistem transmisi. Kedua. Masuknya aktivitas saraf aferen dimodulasi oleh mekanisme pembukaan / penutupan gerbang (gating mechanism) di dalam tanduk dorsal korda spinalis dan batangotak.

keracunan toksin atau gangguan metabolik. purin dan sitokin yang dapat mengaktivasi atau mensensitisasi nosiseptor secara langsung maupun tidak langsung. Aktivasi nosiseptor menyebabkan nyeri. misalnya: sakit gigi semakin berat bila terkena air es atau saat makan. 2003).faktor psikologis yang mengeksaserbasi rasa nyeri. Hal ini mempunyai implikasi terapeutik dan memberi dasar rasional terhadap penggunaan obat yang meringankan atau menghilangkan kecemasan. prostaglandin. seperti: bradikinin. Jaringan yang mengalami inflamasi mengeluarkan berbagai mediator inflamasi. sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan. terjadinya nyeri oleh karena stimulasi singkat yang tidak merusak jaringan. 2003). maka terjadi perubahan khususnya pada Serabut Saraf Aferen (SSA) atau fungsi neuron sensorik yang dalam keadaan normal dipertahankan secara aktif oleh keseimbangan antara neuron dengan lingkungannya. Nyeri neuropatik adalah nyeri yang didahului dan disebabkan adanya disfungsi primer ataupun lesi pada sistem saraf yang diakibatkan: trauma. terjadinya nyeri oleh karena stimuli yang sangat kuat sehingga merusak jaringan.4 Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Mekanisme Nyeri 1.3. sendi yang sakit semakin hebat bila digerakkan (Meliala. seperti semakin kuat stimuli maka semakin berat nyeri yang dialami (Meliala. Nyeri inflamasi. Jaringan yang dirusak mengalami inflamasi dan menyebabkan fungsi berbagai komponen nosiseptif berubah. Kebanyakan pasien mengeluhkan nyeri bila jaringan atau organ yang berlesi mendapat stimuli. leukotrin. 2001). Akibat lesi. Ciri khas nyeri sederhana adalah terdapatnya korelasi positif antara kuatnya stimuli dan persepsi nyeri. Gangguan keseimbangan tersebut . kompresi. sedangkan sensitisasi nosiseptor menyebabkan hiperalgesia.Sering hal ini sama efektifnya dengan analgetik dalam menanggulangi rasa nyeri (Lumantobing. Meskipun nyeri merupakan salah satu gejala utama dari proses inflamasi. Nyeri fisiologis. tetapi sebagian besar pasien tidak mengeluhkan nyeri terus menerus. misalnya pukulan ringan akan menimbulkan nyeri yang ringan. 3. 2. 3.

nyeri dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu : 1. Berdasarkan Kemunculan Nyeri Menurut The International Association for the Study of Pain (IASP). Nyeri akut merupakan suatu gejala biologis yang merespon stimuli nosiseptor (reseptor rasa nyeri) karena terjadinya kerusakan jaringan tubuh akibat penyakit atau trauma Nyeri ini biasanya berlangsung sementara. Nyeri kronik. Nyeri somatik. nyeri yang dapat berhubungan ataupun tidak dengan fenomena patofisiologik yang dapat diidentifikasi dengan mudah. 2. Berdasarkan Klasifikasi Nyeri Wajah Nyeri pada wajah ataupun rongga mulut dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu: 1. adanya hubungan yang akurat . karakteristik klinisnya. 2003). Nyeri kronik berhubungan dengan kelainan patologis yang telah berlangsung terus menerus atau menetap setelah terjadi penyembuhan penyakit atau trauma dan biasanya tidak terlokalisir dengan jelas (Meliala. Jika stimulasi bermula dari bagian superfisial tubuh. Contoh nyeri akut ialah nyeri akibat kecelakaan atau nyeri pasca bedah (Isbagio. kemudian akan mereda bila terjadi penurunan intensitas stimulus pada nosiseptor dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. nyeri yang dapat dihasilkan dari stimulasi reseptor-reseptor neural ataupun saraf-saraf periferal. Nyeri akut. berlangsung dalam periode yang lama dan merupakan proses dari suatu penyakit. 2003). 2003) . seperti: nyeri dengan kualitas menstimulasi. nyeri yang biasanya berhubungan dengan kejadian atau kondisi yang dapat dideteksi dengan mudah.dapat melalui perubahan molekuler sehingga aktivasi SSA (mekanisme perifer) menjadi abnormal yang selanjutnya menyebabkan gangguan fungsi sentral (mekanisme sentral) (Meliala.Nyeri wajah atipikal adalah salah satu nyeri kronik (Nuartha. Isbagio. 2003). 2003. lokalisasi nyeri yang tepat.

1988). 1988). motorik dan autonomic (Lavelle. sering menunjukkan efek-efek sekunder dari perangsangan pusat (Lavelle. adanya hubungan yang tertutup diantara lokasi dari nyeri dan lesi. Karakteristik dari nyeri psikogenik. nyeri yang dapat memunculkan intensifikasi nyeri somatik atau neurogenik dan juga merupakan suatu manifestasi psikoneurotik. Nyeri psikogenik. lokalisasi baik. Nyeri neurogenik. Karakteristik klinis dari nyeri neurogenik. tidak diharapkan dan tidak biasa.antara tempat lesi dan sumber nyeri serta cara menghilangkan nyeri yang temporer dengan aplikasi anestesi topikal. 10 Nyeri wajah Atipikal adalah salah satu nyeri . lokasi dari nyeri bisa ataupun tidak berhubungan dengan tempat lesi. tindakan klinis dan respon pada pengobatan mungkin non fisiologis. yaitu: nyeri seperti membakar dengan kualitas menstimulasikan. seperti: nyeri dengan kualitas mendepresikan. psikogenik (Nuartha. pengantaran nyeri mungkin dengan gejala-gejala sensorik. lokalisasi beragam dari nyeri yang menyebar. nyeri yang dihasilkan dalam sistem sarafnya sendiri. 3. reseptor saraf ataupun stimulasi serabut yang tidak diperlukan. 2. Jika stimulasi bermula dari bagian dalam tubuh. 2003). karakteristik klinisnya. seperti: lokasi nyeri selalu tidak mempunyai hubungan dengan suatu penyebab yang mungkin.

BAB 4 HASIL PRAKTIKUM Hasil praktikum percobaan analgetika pada mencit. Percobaan I (Mengamati liukan mencit kontrol dan telah diberi obat) Tiap 5 menit I II III IV V VI Nb : Satuan dalam liukan 2. Jumlah Liukan Kelompok I II III IV V VI JUMLAH Kontrol 97 85 27 94 97 112 512 85.7 detik Mencit Ekor Hijau : 27 detik 3. 1. Hasil Rata-rata Percobaan Tiap kelompok Mencit Kontrol 10 30 20 13 13 8 Mencit Ekor Merah 17 18 15 9 5 I. Percobaan II (Mengalami mencit yang menjilat kaki belakang) Mencit Kontrol : 28.57 .3 Ekor Merah 35 101 22 64 35 101 358 59.

1 30.9 181.II.7 27 29.2 30.5 27 19.05 Ekor Hijau 23 23.5 28. HOT PLATE Kontrol 26.3 28.4 38.4 49.2 Kelompok I II III IV V VI JUMLAH RATA-RATA Nb : dalam satuan detik .6 26.4 168.

Nyeri ini sendiri memberikan stimulus dan menggangu membran sel kemudian masuk ke dalam phospolipid dalam phospolipid stimulasi ini dibantu dengan phospolipase A dirubah menjadi asam arachinodic dan dengan obat ini maka asam arachinodic akan menyerang prostaglandin. Obat ini berinteraksi dengan reseptor opioid sehaingga dapat memberikan efek pada sistem saraf. namun dengan obat NSAID ini maka rangsang yang diberikan akan . yaitu mencit (Mus muscullus). dengan kesadaran tetap. yaitu mencit yang diberi dan Metaphiron. Percobaan ini dilakukan terhadap hewan percobaan. Hal ini merupakan akibat dari mencit yang telah diberikan Metampiron yaitu salah satu obat analgesik yang berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri. Metode rangsang kimia digunakan berdasar atas rangsang nyeri yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia yang digunakan untuk penetapan daya analgetika. Pada hasil dalam kelompok kami. kami telah menguji dua mencit yaitu melalui dua percobaan. Kemudian kedua mencit yang telah diberi obat tersebut kemudian disuntik dengan asam asetat untuk mengetahui efek rasa nyeri pada mencit . Dan setelah dihitung pada saat 5 menit pertama dapat dilihat dari hasil kami bahwa mencit berwarna putih yaitu mencit kontrol sudah mulai meliuk-liuk merasakan nyeri. dan pada hasil kami dapat diketahui liukan mencit sudah ada yaitu10 liukan dan sedangkan mencit yang sudah diberi obat Metampiron pada 5 menit pertama belum merasakan liukan rasa nyeri.1 Pembahasan Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi atau menghalau rasa sakit atau nyeri.BAB 5 PEMBAHASAN 5. Percobaan yang pertama adalah percobaan untuk melihat rasa nyeri yang dialami oleh mencit kontrol dan mencit yang telah diberi obat terlebih dahulu.

antitussive. Suhu dari hot plateadalah 51°C.6 %. Setelah 30 menit. mencit disuntik secara intraperitoneal dengan larutan induksi asam asetat 0. Setelah 5 menit dari pemberian larutan asam asetat 0. Dan laruran asam asetat dikhawatirkan dapat merusak jaringan tubuh jika diberikan melalui rute lain. Dan dapat dilihat juga pada mencit yang telah diberikan Metampiron rasa nyeri yang dirasakan berangsur-angsur berkurang secara lebih cepat dibandingkan dengan mencit yang tidak diberikan obat. Pada percobaan untuk rasa nyeri yang diinduksi dengan hot plate (thermis). Obat yang digunakan adalah kodein per oral. Percobaan menggunakan metode Witkins yang ditujukan untuk melihat respon mencit terhadap asam asetat yang dapat menimbulkan respon menggeliat dari mencit ketika menahan nyeri pada perut. mencit menggeliat dengan ditandai perut kejang dan kaki ditarik ke belakang. dan antidiarrheal. sehingga nyeri yang diberikan stimulus tidak berlangsung sepenuhnya. Langkah pertama yang dilakukan adalah pemberian obat-obat analgetik pada tiap mencit. Pemberian dilakukan secara intraperitoneal karena untuk mrncegah penguraian asam asetat saat melewati jaringan fisiologik pada organ tertentu.6%. karena sifat kerongkongan cenderung bersifat tidak tahan terhadap pengaruh asam. Jumlah geliat mencit dihitung setiap 5 menit selama 30 menit. misalnya per oral. respon nyeri diperlihatkan oleh mencit dengan menjilat telapak kaki. Disini mekanisme kerja kodein dalam menghambat rasa nyeri adalah sebagaimana sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya bahwa kodein merupakan salah satu golongan opioat dimana memberikan efek . Kodein atau methylmorphine merupakan golongan narkotik yang pada umumnya digunakan untuk analgesik. Pengamatan yang dilakukan agak rumit karena praktikan sulit membedakan antara geliatan yang diakibatkan oleh rasa nyeri dari obat atau karena mencit merasa kesakitan akibat penyuntikan intraperitoneal pada perut mencit.dihambat oleh NSAID.

Sedangkan pada mencit yang telah diberi tanda hijau pada bagian ekor telah diberi obat yaitu Kodein. Namun pada percobaan kami. Respetor opiat sendiri ada 3 yaitu. halusinasi. yang kedua alat percobaan hot plate yang kami pakai sudah dimulai pada suhu langsung 500 C sehingga berbeda dengan mencit kontrol . Reseptor µ (mu) : Berperan dalam analgesia supraspinal. yaitu pada mencit berekor putih atau kontrol mencit tidak diberi apa-apa dan dimasukkan ke dalam hot plate bersama-sama dengan ditekannya alat memulai untuk memanaskan kaki mencit.7 detik mencit mulai merasakan nyeri. mencit yang telah diberi Kodein sebelumnya jauh dapat merasakan respon rasa nyeri lebih cepat. terutama di otak tengah dan medulla spinalis. stimulasi pusat vasomotor. Asal obat ini pula berasal dari morphin. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa kodein merupakan obat analgesik yang berperan untuk menghambat rasa nyeri. Reseptor yang memodulasi transmisi nyeri yang kemudian menurunkan persepsi nyeri dengan cara menyekat nyeri pada berbagai tingkat. semisintetik. euforia. dan ketergantungan. ini mungkin dikarenakan karena yang pertama mencit yang kami letakkan tidak bersamaan penghitungannya dengan saat hot plate ditekan. Dan pada mencit kontrol kami didapatkan 28. Mekanisme kerja dari kodein ini adalah berinteraksi dengan reseptor opiat di Sistem Saraf Pusat dan memberikan efek. dan pada reseptor δ (delta) : menyebabkan disforia. Dan pada percobaan Hot plate kali ini dilakukan pada dua mencit. sehingga perhitungan detik dimulai lebih dahulu sebelum mencit diletakkan. dan pada reseptor Ќ (kappa) : berperan dalam analgesia spinal.seperti morfin yang bila diteruskan maka akan mengakibatkan efek adiksi. miosi dan sedasi. Disini akan tampar respon rasa nyeri pada mencit yang diletakkan pada alat percobaan hot plate pada suhu 500 C. dan sintetik. depresi respirasi. Pada suhu ini mencit dapat merasakan rasa nyeri dengan menjilat kaki belakang mencit ini ditandai adanya perbedaan suhu kaki mencit dengan suhu hot plate dimana ketika mencit merasakan respon rasa nyeri mencit akan menjilat kaki belakang mencit dengan maksud untuk menyamakan kembali temperatur kaki mencit pada suhu yang semula.

Rangsang rusak (naksus) apa saja yang dapat menimbulkan rasa nyeri?  Rangsang rusak (naksus) yang dapat menimbulkan rasa nyeri antara lain rangsangan mekanis. mukosa dan jaringan lain. sumsum lanjutan. sehingga pada percobaan dengan rangsang thermal (hot plate) mencit yang diberi . 3. kimiawi atau fisis. Rasa nyeri yang diamati sebenarnya adalah respon nyeri. Hal tersebut dikarenakan metampiron memiliki efek analgesik atau penghambat rasa nyeri. Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri. 5. Dari thalamus impuls kemudian diteruskan ke pusat nyeri di otak besar. 2. dimana impuls dirasakan sebagai nyeri. Dari sini rangsangan di salurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan amat benyak sinaps via sumsumtulang belakang. dan otak tengah.dimana hot plate dimulai pada suhu normal yang kemudian berangsur-angsur naik.2 Dikusi Pertanyaan 1. Sedangkan respon nyeri akibat rangsangan thermal dengan hot plate ditunjukkan oleh mencit dengan menjilat kakinya. Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit. Nocireseptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh. sehingga mencit dapat membiasakan diri terlebih dahulu. kecuali di SSP. Bagaimana hasil percobaan dengan metampiron? Berikan penjelasannya! Apakan perbedaan rasa nyeri pada kelompok I dibandingkan kelompok II?  Pada percobaan dengan metampiron (kelompok I) mencit memperlihatkan respon nyeri yang lebih sedikit dibanding pada mencit kontrol (kelompok II). Respon nyeri apa saja yang dapat terlihat?  Pada percobaan yang telah dilakukan respon nyeri dilihat dengan adanya liukan mencit. Rangsangan tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan.

namun efek anti radang yang dihasilkan rendah. menurunkan demam bila tidak dapat diatasi dengan antipiretik lain dan anti-Inflamasi. tenggorokan serta tremor. b. Jelaskan mekanisme kerja metampiron (NSAID)! . d. tinitus (telingga berdenging). Pada penggunaan teratur dan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan saluran cerna. anemia aplastik atau gangguan / terhambatnya pembentukan sel darah merah. Apakah kegunaan khusus metampiron? Bagaimana cara kerjanya? Apakah efek sampingnya? Apakah kontraindikasinya?  Kegunaan khusus metampiron adalah sebagai analgesik. Bayi 3 bulan pertama atau dengan berat badan dibawah 5 kg. alergi). Kontraindikasi metampiron: a. 4. Pada penderita yang alergi terhadap derivat pirazolon. Wanita hamil terutama 3 bulan pertama dan 6 minggu terakhir. Penderita dengan tekanan darah < 100 mmHg Penderita glaukoma sudut sempit 5. Efek samping metampiron dapat muncul seperti gejala kepekaan (ruam. hidung. Cara kerja: metampiron adalah derivat metansulfonat dan amidopirina yang bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh.suntikan metampiron hanya menunjukkan sedikit respon nyeri dengan menjilat kakinya. Kasus porfiria hati (amat jarang) dan defisiensi bawaan glukosa-6-fosfatdehidrogenase. c. Efek samping lainnya yaitu peradangan mulut. f. untuk mengobati nyeri akut atau kronik hebat bila analgesik lain tidak menolong. Penderita yang hipersensitif. Selain itu metampiron juga memiliki efek farmakodinamik lain seperti antipiretik. syok hingga menimbulkan agranulositosis yaitu berkurangnya jumlah granulosit dalam darah. e.

6. inhibisi gerak peristaltik usus. Jelaskan mekanisme kerja kodein!  Kodein merupakan obat analgesik opioid yang metabolit aktifnya mengikat dan mengaktifkan reseptor myu (µ). stimulasi dari chemoreceptors yang menyebabkan muntah. peningkatan nada kandung kemih dan menekan refleks batuk pada medula oblongata. vasodilasi perifer. juga menyebabkan depresi pernapasan. Kodein merangsang reseptor dalam SSP. Metampiron termasuk dalam non-steroid anti-inflamatory drug (NSAID) yang dapat mengurangi rasa nyeri dengan menghambat enzim siklooksigenase (cox-1 dan cox-2) sehingga tidak terbentuk mediatormediator nyeri yaitu prostaglandin dan tromboksan. .

Metampiron merupakan obat analgesik golongan NSAID yang berperan mengurangi rasa nyeri dengan cara mengambat rangsang nyeri.BAB 6 PENUTUP Kesimulan Analgetika merupakan obat yang digunakan untuk menghalau atau mengurangi rasa sakit atau rasa nyeri. . Sedangkan Kodein merupakan analgesik golongan opioid yang memodulasi transmisi nyeri dan menurunkan persepsi nyeri dengan cara menyekat nyeri pada berbagai tingkat.

London: Butterworth & Co. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Accessed : May. Farmakologi dan Terapi. 11. University of Washington. Anief. Di dalam: Prodjosudjadi W. Jakarta: Yayasan Phytomedica. eds.com. CORE CODEINE PRODUCT INFORMATION. 2003. 1993.asmi. Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drugs.P MD. Kelompok Kerja Phyto Medica. Available from: http://www. Exploring beliefs and practice of opioid prescribing for persistent non-cancer pain by general practitioners European Journal of Pain. Anonim. 2nd ed. Applied oral physiology. 237 4. 29th 2013. M. Modern Pharmacology with Clinical Aplication: Opioid and Nonopioid Analgesics. Division of Rheumatology. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Isbagio H. 3-6. Edisi IV. 215-216 7. hal. Pengujian Fitokimia dan Pengujian Klinis.SP. 1988: 1-11. 6th ed. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. (2006). Halaman 77. Hutchinson K et al. S. Hojsted J and Sjogren P. 2003: 168-79. Halaman 207-210. 2007. Setiati S.. Richmond: Virginia Commonwealth University 321-322 3. 10. Ganiswara. Eriksen J et al.C MD.DAFTAR PUSTAKA 1.Penatalaksanaan nyeri sebagai model pendekatan interdisiplin pada pasien geriatrik. Addiction to opioids in chronic pain patients: A literature review European Journal of Pain . Craig.11: 490-518 8. Alwi I. (1981). Pertemuan Ilmiah Nasional I. 2005. Ditjen POM. 2006. Halaman 25 2. 11: 93–98 9. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Apa yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Critical issues on opioids in chronic non-cancer pain: An epidemiological study Pain.Vol 125 :172–179 6. Lavelle CLB. Welch. 17 (2006) p347–354 5. Penapisan Farmakologi. (1991). 2007. Dugowson.au/industry/PI_codein. 2006 .pdf. 2008.RC. . MPH And Gnanashanmugam. Cara Pembuatan Obat yang Baik.

Kumpulan Data Klinik Farmakologik. dan Kirana.J.pp. Yogyakarta. Tjay. R. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Jean . 15. 1998. Wahyu. 23. Obat-obat Penting. H. 2011. Graha Ilmu. Prinsip dan praktik ilmu endodonsi. T. Lukmanto. Ed. (1993). Obat Tradisional Kekayaan Indonesia. Available: http://repository. 2003. Halaman 313-314 . 18.. 2004. pp: 237-8. Kumpulan Kuliah Farmakologi. 2006 “At a Glance Farmakologi Medis” Edisi V. 13-14. pp. Gramedia. Lumantobing SM. M. Neurogeriatry. 2009 . Winiarti Sidharta. 22.2003. mekanisme dan farmakoterapi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 248. Jakarta: EGC. Illustrated Dictionary of Podiatry and Foot Science . Jakarta. Rinaningsih. Bambang Nursasongko. Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi. 27.. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press. Informasi Akurat Produk Farmasi di Indonesia. Walton RE.2. Edisi II.Nyeri orofasial. hal 65 17. U.id/handle/123456789/24986 19. Edisi VI.ac. Mooney.12. 2001. Nyeri kepala dan wajah. Jakarta. Wasito. Meliala L. Kapita selekta neuralgia. (2007). Halaman 312-315 21. Jakarta: EGC. ©Elsevier Limited 16. Halaman 112 13. pp: 643-59). 2011. Erlangga. 561 20. Jakarta: PT. Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Nuartha AABN. Di dalam: Harsono. (1986). H. eds.usu.. 14. 1(2): 123-8. Neal. Xerostomia Akibat Penggunaan Tramadol.135-57. Widodo. Alih Bahasa: Narlan Sumawinta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful