P. 1
dampak sosial pariwisata

dampak sosial pariwisata

|Views: 518|Likes:
Published by Ahmad Rimba
review buku ryan
review buku ryan

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Ahmad Rimba on Jun 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2015

pdf

text

original

PP5202 Dampak Pariwisata Program Magister Perencanaan Kepariwisataan, Institut Teknologi Bandung, 2013

Dampak Sosial Pada Pariwisata
Ahmad Rimba Dirgantara NIM 95712002
Abstrak

Studi pada makalah ini berkaitan dengan dampak yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat, yang terjadi akibat dari adanya kegiatan pariwisata di daerahnya. Tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah atau objek wisata dapat berakibat positif maupun negatif. Untuk mengetahui pertumbuhan pengunjung, digunakan pendekatan teori Bulter sebagai acuan, teori ini merupakan implikasi dari dampak sosial pariwisata. Sedangkan pada dampak yang terlihat secara langsung menurut Ritchie dan Zins (1978) ialah handicraft, pakaian tradisional dan tekstil, bahasa, tradisi, gastronomy, arsitektur, agama, pakaian dan leisure aktivitas. Metode yang digunakan pada makalah ini ialah dengan menggunakan metode deskriptif dengan sumber data melalui data sekunder sebagai penguat argumen. Hasil dari makalah ini, diharapkan dapat dijadikan bahan studi kepariwisatan menyangkut dampak sosial yang dihasilkan oleh pariwisata.
Kata kunci: Dampak sosial, Pariwisata, Tourism life cycle, Bali.

Pendahuluan

Pariwisata telah menjadi sektor yang memberikan kontribusi signifikan dari ekonomi global. Selama tahun 1996 Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) memperkirakan bahwa ada total 592 juta pariwisata kedatangan internasional, meningkat 4,5 persen dari tahun 1995. Pengeluaran dari wisatawan ini berjumlah sekitar $, US423 miliar, atau meningkat 7,6 persen pada tahun sebelumnya. Dari data terbaru UNWTO menyebutkan bahwa kedatangan wisatawan internasional melampaui angka 1 miliar untuk pertama kalinya pada tahun 2012, mencapai total 1,035 miliar turis, 39 juta lebih dari tahun 2011. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan pariwisata sangat pesat. Pesatnya pertumbuhan pariwisata selain berdampak positif juga berdampak negatif. Gee (1989) dalam bukunya yang berjudul “The Travel Industry”, mengatakan bahwa “as tourism grows and travelers increases, so does the potential for both positive and negative impacts ”. (Gee mengatakan adanya dampak atau pengaruh yang positif maupun negatif karena adanya pengembangan pariwisata dan kunjungan wisatawan yang meningkat). Dampak positif bisa terlihat jelas dan dapat diukur pada sektor ekonomi, disamping dampak negatifnya. Sedangkan pada sektor sosial budaya, dampak positif dan negatifnya sulit untuk diukur namun bisa terlihat jelas pada handicraft, pakaian tradisional dan tekstil, bahasa, tradisi, gastronomy, arsitektur, agama, pakaian dan leisure aktivitas. Kedelapan hal itu sebagaimana identifikasi menurut Ritchie dan Zins (1978). Untuk lebih jelas mengetahui dampak pariwista dapat mengacu pada Teori Butler sebagai acuan untuk melihat dampak sosial dari pariwisata. Dalam teori Butler, dimulai dari tahap exploration, involvement, development , consolidation and stagnation, decline or rejuvenation memiliki keterkaitan terhadap sikap masyarakat lokal terhadap wisatawan atau turis. Teori ini merupakan teori siklus destinasi pariwisata disamping teori lain yang berhubungan dengan sikap host communities (masyarakat lokal) terhadap wisatawan. Teori Doxey (1975) dan Milligan (1989) akan memaparkan lebih rinci mengenai sikap dari masyakarat lokal terhadap wisatawan atau turis.
Implikasi teori Butler pada dampak sosial pariwisata

Butler mengidentifikasikan enam tingkatan dalam evolusi area pariwisata, teori ini berhubungan dengan product lifecyle dalam teori marketing. Tingkatannya sebagai berikut: 1. The exploration stage Pada tingkatan satu ini, karakteristik wisatawan senang mengexplorasi atau berpetualang, dimana hanya sebagaian kecil pengunjung. Dalam identifikasi Plog (1977) disebut ‘allocentrics’ sedangkan Cohen (1979c) menyebutnya ‘explorers’, keduanya sama-sama memberi pengertian bahwa tingkatan ini wisatawan memiliki pengaturan tujuan sendiri dan terlihat lebih akrab dengan penduduk lokal. Dan juga wisatawan akan berusaha berbicara dengan bahasa penduduk lokal dan mengidentifikasi budaya setempat. Penduduk lokal akan menerima turis dengan “tangan terbuka”, turis

1

yaitu dengan meminjam dan kepada pengusaha. The development stage Pada tahap ketiga sudah terjadi pengembangan yang terus berjalan. Para wisatawan dalam fase ini cenderung bersifat 'massal' dan ‘psychocentrics’. pasar destinasi pariwisata diambil alih oleh perusahaan besar. Pada periode akhir ini keterlibatan dan tahap awal pengembangan. Dalam perspektif Plog (1977) disebut 'midcentrics' sedangkan pada pendapat Cohen (1979) disebut 'turis institusional' yang akan muncul. Beberapa anggota masyarakat memungkinkan berbagi sebagian tempat tinggalnya dijadikan tempat untuk turis menetap. Setiap aktivitas komersial yang terjadi adalah skala kecil. keterlibatan penduduk lokal semakin berkurang digantikan oleh penduduk dari luar daerah sebagai pekerja hotel dan restoran. Pemilik akomodasi hanya menampilkan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ada kamar kosong. Untuk itu mereka memcari tambahan dana melalui sumber komersial. dan karenanya fase stagnasi tercapai. Butler menjelaskan tahap ini sebagai satu tempat dimana tempat masyarakat menjadi suatu resort wisata. dampak sosial kecil. Isu ini adalah menganggap apakah penduduk lokal tidak mendapatkan pekerjaan dalam pariwisata dan tetap menjadi isu yang ada bagi turis sebagai individu dan industri secara keseluruhan. Rejuvenation or decline 2 . menarik pangsa pasar dari pusat-pusat penduduk. sedangkan pemasaran daerah masih kurang. Resort telah mencapai kapasitas penuh. operator tur mungkin harus memberikan harga yang rendah untuk menarik jumlah wisatawan yang mereka anggap perlu untuk dipertahankan sebagai bahan investasi mereka. Pendapatan yang diperoleh dari wisatawan cenderung turun. Dalam masa ini pertumbuhan industri bergerak lambat. meskipun masih dalam kerangka hubungan kebaikan. pengembangan dipusatkan pada tempattempat yang terdapat banyak turis. Hal ini tidak dapat dihindari bahwasannya hubungan antara penduduk lokal dan pengunjung akan berubah. The consolidation and stagnation stages Pada fase ini ekspansi berhenti. masyarakat mulai menarik minat di luar pariwisata. Hubungan antara turis dan penduduk lokal akan berubah. Sedangkan menurut pendapat Turner dan Ash (1975) wisatawan penjelajah menyenangi sesuatu tempattempat yang baru dan belum teridentifikasi. secara individual atau berbasis keluarga. 4. Tingkat kunjungan turis cukup tinggi. resort kehilangan 'eksklusivitas'nya. pengusaha menjadi semakin 'profesional' dalam melakukan layanan mereka. Proses komersialisasi dapat ditelusuri ke akarnya. dan juga membuat kemungkinan antara penduduk lokal yang berpartisipasi atau ikut serta dalam industri dan bagi yang tidak. Hal ini berimplikasi bahwa hubungan antara pengunjung pada area wisata dan penduduk lokal yang tidak dapat secara langsung ikut dalam kegiatan pariwisata dapat dipertimbangkan. Dari perspektif industri. Dalam rangka untuk mempertahankan jumlah pengunjung. Pada tahap ini hubungan antara masyarakat lokal dan wisatawan masih harmonis. yang kemudian akan meneruskannya kepada teman-teman mereka. Dan juga. dan ada secara efektif tidak ada penerapan strategi pemasaran formal oleh anggota masyarakat lokal. Pada tahap akhir keterlibatan beberapa masyarakat lokal menyadari bahwa pariwisata akan terus tumbuh. 5. dan untuk mengimbanginya membutuhkan perluasan fasilitas. Pengambilalihan dan merger terjadi dalam industri seperti pada transportasi-leisureakomodasi buyout perusahaan terjadi dan struktur industri yang 'rasional' atas dasar pengurangan biaya dan penyerapan keuntungan. Pada bagian awal dari tahap ini. hubungan pelayanan provider masih tetap dengan karakteristik interaksi komersial yang friendly disamping itu profesionalism industri ditingkatkan. Dalam tahap eksplorasi. bahkan mungkin melebihi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. pariwisata akan menjadi sebuah bisnis dan pariwisata tidak lagi menjadi sesuatu yang baru dan menggembirakan. aktivitas kewirausahaan tersebut masih cenderung berbasis keluarga. 3. Strategi perusahaan beralih ke mempertahankan jumlah pengunjung. Tingkat pendapatan yang berasal dari turis mulai meningkat dan menjadi lebih penting bagi pengusaha. Beberapa di antaranya dimiliki oleh warga sekitar dan beberapa oleh negara. Bisnis ritel baru muncul. 2. Masyarakat lokal mulai untuk menanggapi peningkatan jumlah wisatawan dengan membuat beberapa fasilitas tambahan khusus untuk wisatawan. dan para wisatawan masih memiliki keinginan yang tinggi dan simpati dengan cara lokal hidup. ‘pleasure periphery’ beralih. The involvement stage Dalam tahap ini terdapat peningkatan jumlah turis atau wisatawan. dan mungkin kemudian akan mencetak beberapa selebaran leaflet untuk diberikan kepada tamu mereka. begitu pun the niche tour operators.memberikan sesuatu hal yang baru dan tidak menutup kemungkinan untuk lebih menerima penduduk asing dari luar. Hubungan antara host / penduduk dan tamu / pengunjung berubah perlahan dengan penyediakan layanan dan klien. Kombinasi komoditas produk wisata dan perubahaan alami wisatawan. yang memiliki pengalaman ritel atau katering.

1980) memungkinkan serangkaian model hubungan penduduk / pengunjung yang harus dipertimbangkan. perubahan spesifik dalam sikap terjadi dalam masyarakat lokal terhadap pariwisata. dan mereka bekerja di sektor perhotelan dan asosiasi. suatu destinasi pariwisata dapat dilihat evaluasinya selama berkiprah dalam sebuah industri pariwisata. terutama mereka yang 'outsiders' penjelajah. durasi dan sifat pertemuanpertemuan. Tahap yang pertama ialah 'Euphoria'. Dalam model Irridex. Kemungkinan karakter terbesar dapat terlihat pada segi industri sebagai contoh konsumen datang untuk menyediakan pelayanan. Konsep Milligan Sejalan dengan pendapat di atas. penduduk lokal mendapatkan pekerjaan yang layak. Walau bagaimana pun. toko-toko suvenir misalnya yang digunakan sedikit orang lokal. Doxey melihat konsekuensi dari banyak hotel yang memperkerjakan karyawannya dari luar 3 . Konsep wisatawan menurut Doxey dan Milligan A. dan menjadi pengaruh studi Butler ialah studi Doxey pada tahun 1975. dari sikap apathy ke sikap annoyance. penolakan masyarakat lokal bergerak ke arah permusuhan (antagonism). Perubahan dalam suasana fisik tidak bebas nilai. Tujuan Butler Lifecycle (Butler. Guernsey bukan merupakan pengembangan area atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan pertukaran sosial pada tingkat pengalaman individu. Doxey menyarankan bahwa. Langkah-langkah yang berlaku di sini termasuk jumlah interaksi penduduk keluar dengan kedatangan disuatu wilayah. jalan-jalan menjadi macet. dan cara-cara di mana rapat tersebut ditandai dan dievaluasi. Pada tahap ini masyarakat lokal bersikap terbuka terhadap wisatawan. Kurva Konsep wisatawan menurut Doxey dalam Model Doxey Irredex B. Dalam tahap 'Apathy' lambat laun perbandingan antara penduduk lokal dan wisatawan berubah. siklus destinasi dapat diungkap. Akibatnya set perubahan budaya yang timbul dari efek demonstrasi dan afiliasi dapat terjadi yang berdampak pada kohesi sosial masyarakat penduduk dan cara-cara dimana ini diungkapkan. Oleh karena itu makro-dampak sosial mengacu pada pola yang luas dari pola budaya dan sosial dari perilaku. Masalah terjadi dalam kapasitas yang berlebihan merujuk pada tahap stagnasi pada siklus Bulter. Hubungan ini dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. apakah akan terus berjalan (sustainable) ataukah akan ditinggalkan oleh pengunjungnya (wisatawan). Perubahan lingkungan fisik yang didedikasikan untuk turis terlibat pada kegiatan umumnya hedonistik dibebaskan dari kendala yang normal dapat dikatakan berpotensi mewakili satu set spesifik nilai-nilai yang mungkin atau mungkin tidak sama dan sebangun dengan orang-orang dari komunitas penduduk. Konsep Doxey Salah satu studi pertama. Micro-individual interchanges. Milligan (1989) berpendapat bahwa penduduk lokal merasa terganggu dengan kedatangan para wisatawan karena masalah kepadatan yang mereka bawa. kebanyakan dari toko mengubah aturan mereka. Doxey mengamati bahwa hanya sebagian kecil dari masyarakat lokal yang turut andil dalam kegiatan pariwisata. pariwisata dianggap sebagai penyebab perubahan yang ada di daerah mereka. Studi dari Milligan beberapa memiliki perbedaan konteks dengan apa yang di applikasikan oleh Doxey Irredex sebagai Guernsey. Macro-social impacts Hal ini berkaitan dengan cara di mana lingkungan sosial dan fisik mulai berubah dalam menanggapi tingkat pertumbuhan pariwisata. Tidak dapat ditutupi bahwasannya pariwisata telah menjadi bagian signifikan dari Ekonomi Guernsey. masyarakat lokal menjadi kaum yang marginal dalam tempat tinggalnya sendiri. dan juga kemarahan bisa langsung terjadi kepada para wisatawan. dan menganggap pariwisata sebagai sumber pemasukan ekonomi yang menjanjikan. 2. Ketika siklus bergerak ke tahap involvement.Pada tahapan ini. Kepadatan mulai terjadi. tetapi menikmati semua keuntungan yang diterima melalui pajak dengan pengaruhnya terhadap pekerja yang berada pada sektor finansial. Tahap selanjutnya.

bayaran dan prospek karir. Pakaian Tradisional dan Tekstil Pada kriteria ini. dan pada tahun 2002. telah ada beberapa penelitian dari industri tekstil di Amerika Selatan dan keterkaitan dengan pariwisata (misalnya Cohen. Pada dasarnya mereka berpendapat bahwa dalam kedua kasus karya asli suku Maori dan Navajo telah mendapatkan manfaat dari kontak dengan turis.'imported'. 2. Di beberapa tempat skema mengenai merk atau logo 'authentical' mulai diperhitungkan. bar. Dokumentasi tersebut mendefinisikan Maori bentuk seni tidak sepenuhnya oleh desain. bahwasannya pakaian tradisional dinilai telah memberikan pengaruh kepada designer dari studio fashion terbesar. tetapi oleh apakah pekerjaan dipahami dan dilaksanakan oleh Maori. Dua klasifikasi ada Toi iho maori dibuat dan Toi iho maori co-produksi . 2001).1 di bawah ini sebagai perbandingan antara konsep Doxey dan Milligan. bioskop. Perencana berusaha untuk mengendalikan melalui peningkatan infrastruktur daripada membatasi pertumbuhan Terjadi iritasi terhadap ekpresi yang terbuka. tidak hanya turis menyediakan pasar.1 di bawah ini merupakan konsep wisatawan menurut Doxey dan Milligan Doxey Irredex Model Euphoria Pengunjung diterima dengan baik dan yang ada hanya perencanaan kecil Milligan Modification Model Curiosity Seseorang seharusnya mengambil pekerjaan ini karena penduduk lokal menganggap bahwa mereka dibawah turis dalam hal status. tempat produksi yang 'authentic' dalam rangka menarik rute perjalanan wisata mereka. Kebanyakan pekerja berusia muda. Namun. Pariwisata tidak lagi menjadi perhatian penduduk lokal Bertambah gangguan terhadap turis adalah penyebab dari sikap apatis dari pekerja luar yang dilihat sebagai salah satu penyebab memburuknya standar Kedua belah pihak menyadari kebencian dan situasi di antara orang-orang muda yang berubah pendirian. contoh pada Seni suku 4 . menenun dan menempa logam. Namun. dan perencanaan memerlukan perbaikan sebelum promosi ditingkatkan untuk mengimbangi reputasi resort yang memburuk Antagonism Antagonism Delapan hal yang terpengaruh oleh kegiatan pariwisata Menurut pendapat Ritchie dan Zins (1978) terdapat delapan hal yang berdampak secara langsung oleh kegiatan pariwisata. terlepas dari niat baik di balik branding. juga dengan mengadakan pembentukan koperasi atau pameran untuk menjual produk textile dan seni kepada wisatawan. dan mereka berkompetisi di kawasan atau wilayah sebagai penyokong penduduk lokal. harus menghasilkan karya yang jelas untuk suku Maori dan menjadi orang yang berdiri di masyarakat Maori. masalah ini bukan salah satu dari kepatuhan untuk menganggap 'authenticity' tetapi kontrol dan pengakuan dari nilai bentuk seni Maori. dan bukan sebagai penduduk lokal.yang terakhir menerapkan untuk bekerja bersama-diproduksi oleh Maori dan non-Maori. Milligan mengabarkan bahwa mereka dipakai untuk bekerja di beberapa toko. 37 seniman telah dikreditkan dengan hak untuk menggunakan merek tersebut. Lebih tradisional. kebanyakan pekerja tidak bekerja secara lama di Guernsey karena mereka hanya bekerja pada saat bulan-bulan penuh wisatawan. terutama dari mereka yang hanya membayar dengan sejumlah kecil uang. Sebagai contohnya di dalam promosi suatu tempat. seniman sendiri telah memasukkan warna baru dan tema ke dalam pekerjaan mereka. Kriteria untuk pekerjaan pertama adalah bahwa seniman harus membuktikan bahwa ia adalah keturunan Maori. Keyakinan pada perspektif suku Maori. dengan merujuk pada kebudayaan suku Maori dan Navajo. Handicraft Ryan dan Crotts (1997) mengutarakan contoh mengenai hubungan jauh antara pariwisata dan seni memahat. Tentu saja pada tahun 2002 itu akan adil untuk menyatakan bahwa banyak seniman yang disetujui tidak akan melihat diri mereka sebagai memenuhi permintaan terutama dari turis. 1996). Dalam studi ini sering terjadi pengacakan pola distribusi. Untuk memperjelas pemahaman konsep mengenai sikap penduduk lokal terhadap wisatawan dapat mengacu kepada Tabel 1. belum seragam diadopsi atau diterima bahkan dalam komunitas Maori. diskotik dan tempat-tempat hiburan sebagai penduduk lokal. para pekerja luar yang dipersalahkan atas semua itu yang turis tidak dapat bertanggung jawab secara langsung Apathy Annoyance Pengunjung menjadi terbiasa dengan pariwisata dan keadaan menjadi semakin formal Acceptance Kejenuhan mulai terlihat dan masyarakat lokal Annoyance mulai meragukan kegiatan pariwisata. dipublikasikan dalam dokumentasi oleh the Aotearoa Maori Tourism Federation (1995. hanya sebagian kecil saja yang terkena dampak dari masalah sosial pada pariwisata. Tabel 1. dengan memproduksi karya untuk pasar wisata. Kesempatan bagi industri rumahan menjadi terganggu dengan adanya rantai pola distribusi yang lebih cepat melalui outlet ritel pariwisata. Mereka merasakan seperti orang yang 'inferior' karena mereka tidak tinggal menetap. 1. Kekhawatiran dari Aotearoa Maori Pariwisata Federasi bertemu pada tahun 2001 dengan berdirinya label iho toi oleh Selandia Baru Kreatif. dari perspektif studi pariwisata.

Bahasa Bahasa memiliki peran penting tidak hanya sebagai alat komunikasi tetapi bagaimana cara mempersepsikan keadaan dunia. Healy (1994) Poin penting tentang souvenir pakaian dalam pariwisata adalah pada jumlah total pengeluaran para wisatawan dari jumlah proporsi yang kecil namun jumlah itu dapat mengubah akun tingkat pendapatan. Keadaan ini berpengaruh terhadap bangunan ciri khas suatu tempat. Erosi dari bahasa membawa implikasi perubahan norma ekspresi. hotel sekarang menawarkan berbagai hidangan tradisional yang tidak hanya menyediakan pengunjung dengan pengalaman baru. ada untuk menjelaskan budaya masyarakat Indian dataran Amerika Utara yang menempati daerah itu. Ziarah tetap menjadi motif yang kuat untuk melakukan suatu perjalanan. adalah penting bahwa arsitektur berkaitan dengan kebutuhan masyarakat baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. (Belisle. tetapi juga memberikan kesempatan kerja bagi mereka dalam industri makanan lokal. dan ini adalah alasan mengapa kelompok minoritas menjaga kelestarian bahasanya. pembicara Maori di Selandia Baru. terutama mereka yang mungkin berhubungan dengan kedua tontonan dan asmara. Misalnya pembicara Welsh berusaha lama untuk mendapatkan saluran televisi Welsh SC4. Dampak pariwisata terhadap agama sulit untuk dinilai. Arsitektur Dampak pariwisata terhadap arsitektur dapat terlihat dengan jelas. mantan presiden International Union of Architects. Henshall-Momsen. Bahwa masyarakat dari seluruh dunia berbondong-bondong maupun secara individual memungkinan untuk berziarah menuju Mekkah sebagai salah satu dari kewajiban bagi umat yang beragama Muslim. tingkat ketertarikan turis terhadap design pakaian 'authentic' Maori. Sebagai salah satu contoh kawasan jalan braga bandung sebagai tempat bangunan bersejarah yang kini telah hilang ruh ke-khasannya karena banyak dari bangunannya sudah tidak terawat dan tergantikan oleh hotel-hotel. Sebagai contoh. 'story telling' adalah sarana untuk menyampaikan nilai-nilai dan kesamaan yang membantu mengidentifikasi orang. The Prince of Wales. 1986) 6. Tradisi Kegiatan pariwisata dapat membuat lapangan kerja. Sebagian besar kapal yang dibangun pada pergantian abad ketika Amerika mengandalkan kapal berlayar untuk mengangkut kargo berat dari pelabuhan ke pelabuhan. Maine Windjammers Asosiasi mampu mempertahankan armada kapal berlayar untuk menciptakan masa lalu oleh katering untuk perdagangan turis. 3. Erosi dari bahasa membawa implikasi perubahan norma ekspresi. namun terkadang kegiatannya tidak bisa konsisten dalam waktu kerjanya. Sebagai contoh the Inuit memiliki 40 kata untuk mendeskripsikan salju. 5. Tercatat bahwasannya hotel Jamaika memulai menawarkan apa yang diinginkan oleh pengunjung. terletak di mid-coast Maine. Dalam studinya menemukan bahwa 40% dari wisatawan menempelkan beberapa motif lokal yang penting dalam pakaian souvenirnya dan mereka cenderung lebih suka membeli merk dari 'authentic' Maori daripada design dengan merk yang lain. Dengan banyaknya hotel-hotel asing yang berada di daerah tempat wisata menjadi pemandangan yang sangat kontras dengan keadaan sekelilingnya. Rockport dan Rockland. ada keinginan untuk memiliki beberapa 'story telling'. ketika desain dilakukan untuk menafsirkan pusat Wanuskewin di Saskatechewan Kanada. Ini memiliki empat belas kapal yang beroperasi dari Camden. Namun. seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam untuk melakukan perjalanan ke Mekkah dan Madinah.Indian Navajo di Mexico. karena merupakan kewajiban (bagi yang mampu). Asplet dan Cooper (2000) keduanya mensurvei mengenai isu ini. Gastronomy Kegiatan pariwisata menghasilkan permintaan tidak hanya untuk makanan tradisional. Dalam tradisi terutama lisan. dan bahkan hari ini. Seperti Gino Feruci Braga Hotel dan Aston Hotel. Hal ini menyebabkan impor bahan makanan terutama dari Amerika Serikat. seperti HRH. Agama Ryan (2003) Secara historis. dan keberhasilan stasiun itu telah menjadi model bagi orang lain. 7. Contoh. Pakaian dan Leisure aktivitas 5 . Setiap diskusi tentang hubungan antara arsitektur dan pariwisata harus menyadari bahwa hal itu dapat hanya ada dalam konteks yang lebih luas tentang hubungan antara manusia dan lingkungannya. Dalam beberapa kasus kepentingan pariwisata menimbulkan dalam tradisi masa lalu. ada hubungan kuat antara pariwisata dan agama. Untuk pendukung 'gerakan arsitektur masyarakat'. tetapi juga untuk makanan yang baru. 1984. 4. Salah satu souvenir pakaian yang signifikan menarik wisatawan untuk membeli. Bahasa menjadi salah satu komponen yang penting dari keberlangsungan suatu budaya. termasuk misalnya. 8. dan banyak terdaftar Landmark Bersejarah Nasional. kurangnya regulasi mengenai masalah ini menjadikan bangunan di suatu tempat tidak memiliki ciri khasnya. dan Rod Hackney.

Berkembangnya pola hubungan sosial yang lebih bersifat impersonal. Adanya komersialisasi kebudayaan Sementara itu. 6 . Di era 80an. “10 Perubahan Paling Drastis Dalam Masyarakat Bali Per 2013” (http://popbali. serta meruntuhkan sendi-sendi kerjasama dan tolong menolong yang semula kuat di masyarakat. dampak pariwisata khususnya dalam aspek sosial budaya sudah mulai tampak. Tentu saja. Hal ini tercermin dengan adanya pergeseran mata pencaharian pokok masyarakat dari sektor pertanian dalam arti luas ke sektor industri khususnya industri pariwisata. 5. Meningkatnya mobilitas kerja.Tidak semua objek wisata mengizinkan wisatawannya untuk menggunakan pakaian aslinya.Dampak Sosial Pariwisata di Pulau Bali Menurut Setyadi (2007) Di berbagai daerah dan negara. travel. tingkat integrasi mereka ke daerah pariwisata tidak saja terbatas di dalam tingkat komunitas atau tingkat regional. 1994). semua memakai hitungan masa (misalnya: padi baru bisa dipanen setelah berusia 3 bulan. akibat dari perkembangan pariwisata masyarakat Bali sedang mengalami transisi. itupun mungkin jumlahnya sudah sangat sedikit. Berkembangnya konflik antargenerasi. berapa orang yang masih mencantumkan “petani”? Hanya ada di desa-desa sana.com/10-perubahan-paling-drastis-dalam-masyarakat-bali-per-2013/) 1. Berdasarkan penelitian Setyadi (2007) Warga Kuta sebagai representasi dari masyarakat Bali Dataran dan warga Tenganan Pegringsingan sebagai representasi masyarakat Bali Aga yang diteliti. Penelitian Mac. yang menjadi konsekuensi logis dari adanya aktivitas pariwisata. ekonomis. tidak bisa dipercepat). maupun penyakit kelamin. Case Study . mulai dari pengusaha hotel hingga pengusaha café remangremang. mulai dari calo tanah sampai calo perkara. Belakangan ini. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi objek wisata tertentu. Terjadinya gejala social deviance yang meliputi kejahatan. Michelle Obama yang mengunjungi Masjid Istiqlal Jakarta. menunjukkan bahwa masyarakat di daerah pariwisata telah meninggalkan nilai-nilai budayanya. mulai dari tukang parkir sampai tukang tagih ( debt-collector). tetapi sudah mencapai tingkat nasional dan internasional. karena aktivitas bertani memang tidak bisa diburu-buru. Perubahan Mata Pencaharian Sebelum era 70an. 2. mata pencaharian masyarakat Bali lebih banyak sebagai petani dan sebagian kecilnya pedagang. 6. Nanght juga mencatat terjadinya perubahan struktur dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan Tonga sebagai akibat pembangunan kepariwisataan (Pitana. narkotika. Untuk melihat perubahan yang terjadi. pariwisata ditengarai telah merusak nilai-nilai solidaritas dan mengembangkan individualisme. mulai dari pedagang HP hingga pedagang narkoba. 3. Ciri-ciri berubahnya sikap dan perilaku masyarakat tersebut terutama terlihat dari kehidupan sehari-hari sampai pada ritus-ritus keagamaan. pada saat ini masyarakat dan kebudayaannya telah mengalami proses transisi sebagai akibat dari pengaruh pariwisata. Hubungan sosial antarmanusia yang pada mulanya didasari oleh nilai-nilai moral berubah menjadi hubungan yang didasari oleh nilai-nilai ekonomi. berbagai macam profesi di jalani oleh masyarakat Bali. Silahkan periksa status pekerjaan yang tercantum di KTP. 7. mata pencaharian mulai bergeser ke pegawai pariwisata (pegawai hotel. yaitu berubahnya sikap dan perilaku masyarakat yang sebelumnya bersifat ritual komunalistis mengarah pada kehidupan individualistis. sopir travel. dan demokratis. Apabila ditelusuri lebih mendalam. 1. Nilai-nilai tradisional menjadi rusak akibat perkembangan komersialisasi dan materialisme dalam hubungan antarmanusia. khususnya generasi tua dan generasi muda. Adanya pertumbuhan penduduk yang cukup pesat di daerah wisata sebagai akibat dari adanya migrasi penduduk pencari kerja ke wilayah tersebut.1986: 131). dlsb) dan pengerajin. Di lain pihak. menurut Mantra (dalam Setyadi. Sebagai contoh kunjungan Kate Middleton (isteri pangeran inggris) ke Masjid Assyakirin di pusat kota Kuala Lumpur. Penelitian di Malaysia. berikut ini adalah kutipannya. Hal ini disebabkan masyarakat cenderung untuk meniru pola hidup wisatawan dengan kebudayaan yang dibawanya yang dipandang lebih maju dan bernilai tinggi. Mundurnya aktivitas gotong royong. 4. mulai dari moderator talk show sampai key speaker seminar. guide. 2. Pada masyarakat Bali. sebagaimana dilaporkan Geriya (1983). Ini merupakan bentuk penghargaan dari wisatawan sebagai pengunjung terhadap masyarakat lokal dan budaya setempat. dan terjadi komersialisasi kesenian. Hal ini terutama ditandai dengan adanya beberapa indicator berikut. 2007). etos kerja masyarakat Bali mungkin terlihat lamban dan cenderung santai. Perubahan Aktivitas dan Etos Kerja Dalam era dimana sebagian besar masyarakat berstatus petani. sebagaimana dilaporkan Evelyne Hong (dalam Jafari. perubahan atau pergeseran kebudayaan yang terjadi di kedua desa tersebut pada dasarnya berlangsung secara adaptif.

4. Putu Ambrose Kusuma. I Putu Danu. Nengah. Selebihnya. unik. Anak Agung Istri Vedayanti Uttari. ajaib. Sekarang. yang namanya ‘kamen’ (kain) adalah pakaian sehari-hari. Di Era 70-80. Made. Ciri khas nama orang Bali. Wayan. menurut pendapat sebagian orang. di era itu. ngerindik. Dahulu Bali tidak mengenal istilah “nama keluarga (besar)”. main arja. megenjekan. Ida Bagus Krishna Aditama. Misalnya: I Wayan Konten. I Putu Deni. Perubahan Bahasa Sepuluh tahun lalu kita masih sering mendengar percakapan. I Gede Dokar. meniru nama artis ibu kota atau tokoh publik: I Gede Doni (aktor Doni Damara). dahulu banyak orang tua yang dipanggil dengan menggunakan nama si kecil (anaknya). membaca lontar. perubahan penamaan anak sangat drastis. Ni Luh Pujut. Nyoman. AA Putu Keramas. menari. Sehingga. 3. tergolong drastis. hampir sudah tidak ada waktu lagi untuk ‘menyama-braya’. selalu punya waktu untuk aktivitasaktivitas berkesenian dan melestarikan budaya (misalnya: mekekawin. Perubahan Nama Mungkin bisa diperdebatkan. kecuali di desa-desa yang jauh di kaki bukit sana. misalnya: I Gede Batur yang punya anak perempuan Ni Ronji dipanggil “Pan Ronji”. atau nama suami yang dijadikan nama belakang oleh si Istri— layaknya ‘family name’ dalam budaya barat. Perubahan Busana Dahulu. Anak Agung Jhoni (aktor Jhoni Indo). Ada 2 trend yang paling menonjol menurut Pop Bali. Saat ini. Yang tak kalah menariknya. sulit ditemukan. Generasi yang lahir sebelum tahun 70an masih banyak yang menggunakan nama yang menurut masyarakat di luar Bali. Anak Agung Gede Raka. dan Ketut yang masih digunakan.” Semoga. Misalnya: Ayu Michelle Arianta di atas adalah puterinya yang terhormat bapak anggota dewan I Putu Arianta. I Kadek Toni (artis Toni Koeswoyo). sehingga namanya menjadi: Made Joddie Sijatmika. Sehingga bagi orang di luar Bali. Sebagian besar masyarakat Bali sudah lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. menjadi super sibuk. yaitu: • nama yang mengarah ke ‘kebarat-baratan’ (mereka menyebutnya “international name”). itupun sudah bercampur-campur. Ida Ayu Mariana (artis Dina Mariana). Ni Nyoman Ceraki. sekarang kenal. meniup seruling. sejak siaran sinetron TV nasional mulai merambah hingga ke pelosok-pelosok. dewasa ini.Banyaknya waktu luang inilah yang membuat masyarakat Bali. nama Ayah atau keluarga besar (biasanya yang paling terkenal) yang dijadikan nama belakang oleh si anak. pakaian adat Bali menggunakan pakem tertentu. nyaris tak berbekas kecuali Putu. Disamping masalah efektifitas (berbahasa Bali konon “ribet”). Saat ini kamen hanya digunakan dalam acaracara tertentu seperti: persembahyangan atau upacara dan upakara adat. megeguritan. adalah kejadian langka. Luh Cyntia Nugraha. Dahulu. dlsb). etos kerja masayarakt Bali pada saat itu dianggap santai. yang menggunakan bahasa Bali murni tanpa dicampur dengan bahas lain.” kata mereka). SSos. 7 . Putu Gede Budianto. Tutup kantor sekali. “ time-is-money” kata mereka. pria dan wanita Bali sudah seperti layaknya pria dan wanita modern—memakai celana panjang atau pendek. dan istrinya dipanggil “Men Ronji”. atau Nyoman Sri Siva Kemala Devi. dan lain sebagainya. Ayu Michelle Arianta. Konon. kini. meskipun dalam porsi waktu yang sangat minimal. Etos kerja masyarakat Bali saat ini sudah berubah drastis. Beruntung karena sampai saat ini sekolah masih mengajarkan bahasa Bali. Melihat orang bertegur sapa di jalanan. penamaan anak sudah mulai bergeser ke nasional. pelanggan sudah marah-marah. Disebut unik karena benar-benar hanya ada di Bali. atau • nama yang ‘ke-india-indiaan‘ (konon “kembali ke Hindu murni yang berpusat di India”) Yang mungkin menjadi aneh bagi masyarakat di luar Bali—terutama yang pernah tinggal lama di Bali—adalah adanya kecenderungan untuk tidak menggunakan “I” atau “Ni” di depan nama. “supaya kelak si anak siap menyongsong era globalisasi. MM. I Kadek Edi. Satu-satunya wilayah dimana bahasa Bali cukup sering digunakan hanya di desa-desa. Tetapi ini fakta bahwa perubahan penggunaan nama di kalangan masyarakat Bali. megambel. Perubahan ini tentu terjadi akibat perubahan mata pencaharian yang begitu drastis dan ledakan angkatan kerja yang mengakibatkan kempetisi menjadi begitu ketat. jatah antrean nyupir di halaman hotel sudah diambil-alih orang lain. itupun tanpa “I” atau “Ni” di depannya. lebian tutur. Libur sehari untuk menengok upacara keluarga misalnya. banyak juga yang beralasan bahwa menggunakan bahasa Indonesia bisa meminimalkan kesalahan dalam menggunakan bahasa ‘sor-madia-singgih’. 5. I Made Simpen. atau malah dipandang aneh (“terlalu basa-basi. di warung-warung atau terminal. saat ini. Sekarang kebalikannya. setiap detail pakaian mengandung makna simbolis.

Perubahan Makanan dan Minuman Selera makan orang Bali juga sudah banyak mengalami perubahan. Ini jelas representasi dari pergeseran selera makanan. Kesibukan berupacara dan berupakara. Dahulu. Itupun belum cukup bagi masyarakat Bali saat ini. sudah sulit dibedakan dengan pakaian adat Sumtera yang menggunakan ‘Baju Bodo’ atau boleronya Aziz Gagap di acara OVJ. Ajakan “Lan dum pada mebedik” (=meskipun sedikit ayo kita bagi bersama) sudah kian jarang terdengar. banyak merica dan rempah. Gus Tu. tidak harus mengundang banjar. ‘pang kuala menang’ (=yang penting menang). kini lebih sering pergi ke pusat-pusat perbelanjaan. makin pendek siklus. Sudah jauh dari pakem aslinya. dagang bakso dan soto selalu lebih ramai dibandingkan dagang nasi lawar atau siobak Buleleng. Yang namanya ‘berem’. Perubahan ini. Orang Bali dahulu. akhirnya ‘pang kuala misi kenehe’ (=yang penting segala ambisi keturutan). Apa-apa yang penting uang. menempatkan norma di atas segalanya. sulit kita temukan dalam pelaksanaan sehari-hari. Ada juga kasus dimana orang Bali yang dipercaya mengelola perusahaan oleh orang asing. membuat kompetisi hidup di Bali menjadi semakin ketat. tentu tak lepas dari proses industrilisasi secara umum—dimana makin cepat perubahan. 7. Keuntungan diri sendiri dan kelompok adalah segalanya. dan lain sebagainya. 8. Aktivitas dan kehidupan masyarakat Bali di jaman dahulu yang lebih banyak berada di sekitar desa dan balai banjar kini sudah jauh bergeser.Sekarang. Itu sebabnya orang asing senang dan percaya sepenuhnya dengan orang Bali. mereka memegang prinsip “lek” (malu. melainkan karena sangat menghargai pola pikir dan orientasi orang Bali yang jauh dari ketamakan. makin banyak yang bisa diproduksi. cenderung manis atau sedang. makin banyak uang mengalir ke dalam rekening. pakaian pengantin pria Bali misalnya. Individualitis mendominasi kebersamaan. gerai makanan cepat saji seperti ini telah menjamur dan selalu dipadati oleh masyarakat Bali. Ketidaksanggupan ‘ngayah’ (gotong royong) misalnya. yang dikagumi oleh orang barat. Gung De dan Yan Ajus yang dahulu rajin megambel sekarang sudah lebih sering track-trackan di lapangan Renon atau balapa mobil gelap di Bypass Ngurah Rai ala film “Fast and Furious”. yang kerap setengah memaksa turis untuk membeli barang dagangannya. survivalitas kini telah menjadi perioritas utama. yang penting ‘nu maan susuk’ (=masih dapat selisih antara penghasilan dengan bayar denda). Pak Wayan. suara dan dukungan pileg dan pilkada. Bukan karena orang asingnya pelit atau memanfaatkan sifat pemalunya orang Bali jaman dahulu. ‘Pang kuala untung’ (=yang penting untung). di daerah wisata. Entah disadari atau tidak. Masyarakat Balipun tidak terkecuali. Yang namanya ‘saling asah-asih-dan-asuh’. Pak Made dan Pak Ketut yang dahulu sering main Arja sekarang sudah sibuk seminar ini-itu dan sosialiasi ini-itu. hanya bisa di temukan di lontar-lontar atau acara ‘dharma wacana’ (kotbah). Atu Aji. Makanan khas Bali biasanya pedas. Apa-apa yang penting untung. Selera minum orang Bali saat ini adalah beer atau wine. pencurian ‘pretima’. kini sudah lebih sering nongkrong di “Kudeta” atau “Blue Eyes”—untuk entertain relasi bisnis. Perubahan Gaya Hidup dan Pergaulan Mata pencaharian dan profesi yang berubah juga berakibat pada perubahan gaya hidup. sekarang sudah bisa diganti dengan ‘dosa’ dalam bentuk uang. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para pedagang acung. cenderung pragmatis. Diantara masalah-masalah hidup lainnya. saat ini. 8 . Ada pergeseran pola pikir dan orientasi yang sangat drastis di Bali. butiq atau SPA. bahkan sampai mewariskan harta bendanya. banyak orang asing yang mengadopsi orang Bali untuk dijadikan anak atau saudara. Gung Aji dan Pak De yang dahulu selalu punya waktu untuk mekekawin di balai Banjar. sudah jauh merosot dibandingkan dahulu. saat ini. Atu Biyang dan Bik I Luh yang dahulu sering terlihat ‘nyait tamas’. Sekarang. untuk menggalang simpati. bahkan untuk mengambil sesuatu yang menjadi haknya sekalipun. Perubahan Orientasi dan Pola Pikir Ledakan pertumbuhan penduduk ditambah transmigran dari luar pulau. apa-apa menggunakan ukuran normatif. Orang Bali yang sekarang. makin tinggi permintaan. kekaguman dan kepercayaan orang asing terhadap kesederhanaan pola pikir dan orientasi orang Bali saat ini. ‘pang kuala maan pis’ (yang penting dapat uang). sudah langka. kalau sudah urusan uang/harta tak ada istilah “lek”. Contoh lainnya adalah penjualan barang-barang pusaka warisan leluhur. nggak enak). mengambil-alih perusahaan tersebut karena namanya dipakai di dalam akte perusahaan. sudah bisa digantikan oleh event organizer dan catering—yang penting punya uang. Sekarang sudah tidak ada bedanya dengan masakan jawa atau padang. Dahulu orang Bali tak kenal yang namanya ‘kebab turki’ atau ‘sashimi’. 6.

Untuk melihat apa agama yang dianut oleh orang Bali masa kini. Saat ini. plin-plan dan membuat pengecualian-pengecualian untuk kenyamanan diri sendiri. dalam beberapa kasus dampat itu seakan berat untuk dinilai. setiap orang yang menggunakan nama I Putu. tidak cukup hanya mengetahui namanya. seperti biasa banyak wisatawan tiba. masih perlu melihat hal-hal lain. Gusti Ayu. melainkan sebagai pelanggan yang membayar uang sekolah dalam jumlah tinggi. munculnya perbedaan sekte-sekte diantara penganut Hindu sendiri. Figur seorang ‘guru’ (rupaka. Dahulu nyaris tak ada perbedaan sekte-sekte. dapat mengacu pada model Doxey Irredex dan Milligan. justru menimbulkan sekte-sekte. Dengan menggunakan pendekataan dari teori Butler sebagai salah satu cara untuk mengetahui siklus hidup destinasi pariwisata kita akan dapat lebih mudah untuk mengidentifikasi dampak sosial dari kegiatan pariwisata. Guru Rupaka (ayah dan ibu) hanya terhormat bila mampu membelikan berbagai fasilitas yang diinginkan oleh anak. karena ketergantungan berlebih pada industri pariwisata. di luar sekolah sudah tidak dianggap siapa-siapa. orientasi. Bagaimanapun juga mereka banyak mencontoh perilaku sang guru. mengakibatkan tingkatan dampak negatif menjadi semakin besar. Namun. atau Ida Bagus. Sedangkan untuk mengetahui secara lebih rinci tentang sikap dari penduduk sekitar tempat destinasi. Ni Luh. Begitu tidak berkuasa. • Kedua. Otonan sudah digantikan dengan hadiah pesta ulang tahun di cafe. Ada 2 perubahan. Biaya ini berasal dari potensi perubahan budaya radikal didorong oleh kebutuhan dan harapan dari para wisatawan daripada masyarakat lokal. Hal tersebut dapat dilihat pada contoh perubahan di atas. Anak Agung. Dahulu. Guru Pengajian (guru sekolah) hanya disegani di lingkungan sekolah. 2005) Pariwisata membawa manfaat ekonomi tetapi memerlukan biaya sosial-budaya. misalnya: apakah lengannya mengenakan benang ‘Tri Datu’ (gelang benang berwarna ‘merah-hitam-putih’)? Apakah pernah menggunakan ‘bija’ (bijih beras) di dahinya? Howe (2005) Paradoks pariwisata di Bali adalah bahwa. perubahan drastis juga terjadi hingga ke bagian dalam. Perubahan Agama Bukan hanya bagian luar. Murid menjadi tak segan di luar sekolah karena para guru menempatkan anak didik bukan sebagai anak asuh. Konversi yang paling menonjol adalah dari Hindu ke Katolik dan Kristen. dalam Howe. dan datang ke kesimpulan yang sangat berbeda. Kebutuhan akan kehangatan orang tua digantikan dengan benda mati. Dari hasil studi di atas dapat disimpulkan bahwasannya kegiatan pariwisata tidak selalu membawa kebaikan atau dampak positif bagi 9 . Michel Picard (1996: 93. bagi mereka yang ada di luar Bali. etikapun mengalami perubahan yang cukup drastis—baik dari ucapan maupun perilaku. yang menonjol belakangan ini. Perubahan Etika Seiring dengan gaya hidup. pengajian dan wisesa) dahulu adalah sosok yang sangat dihormati di Bali. Anak-anak menjadi tidak mendengar ucapan orang tua karena acapkali ucapan ayah dan ibu tidak bisa dipegang. yaitu: • Pertama. Saat ini? Belum tentu. Kesadaran masyarakat Bali untuk konon “kembali ke Hindu murni” yang berpusat di India. yaitu: agama. Bali yang sekarang sudah sangat kompleks. di dengarkan wejangan dan arahannya. dan pola pikir. Agung Ayu. 9.Sekarang? Jarang atau mungkin memang sudah tidak pernah ada lagi. Kesimpulan Dampak sosial dari pariwisata terkadang dapat untuk dinilai dan diteliti. Bahkan konon ada yang sampai tidak ‘mesebelan’ (berdukacita) ketika ada anggota keluarga beda sekte meninggal. sudah pasti penganut Hindu. sudah tidak dihormati lagi. dimanapun berada. adanya konversi orang Bali yang semula penganut Hindu ke non-Hindu yang juga massif terjadi di Bali. dalam hal agama yang dianut oleh orang Bali. yang kian tajam belakangan ini. Di kalangan orang Bali sendiri banyak yang mengkhawatirkan kemungkinan perubahan status Bali sebagai “pulau seribu Pura” sebentar lagi tinggal kenangan. I Gusti. Guru Wisesa (pemerintah) hanya dihormati saat masih pegang stempel institusi— menjabat. tangisan sedih memprediksi bahwa pariwisata akan menyebabkan disintegrasi budaya Bali yang diimbangi dengan klaim optimis bahwa budaya ini begitu tangguh dan fleksibel yang akan terus bertahan sebagian besar utuh. Padahal yang terjadi sebaliknya. mobil dan ticket berlibur. Tentu degradasi etika ini bukan salah generasi muda semata. 10. Ketika masalah dikonseptualisasikan dengan cara ini tidaklah mengherankan bahwa pengamat menekankan baik manfaat atau biaya. sudah nyaris tanpa batas. Konversi dari Hindu ke Islam pun belakangan ini juga kian meningkat—terutama melalui proses pernikahan. yang ada hanya “Hindu Bali”.

Referensi: Howe. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Ryan. 2003. Toronto. Yulianto Bambang. The Changing World of Bali: Religion. London and New York. dengan mengetahui dampak-dampak itu. Sumber lain: http://popbali. Buffalo. Setyadi. society and tourism.pelakunya. Chris. Leo.com/10-perubahan-paling-drastis-dalam-masyarakat-bali-per-2013/ 10 . Clevedon. Routledge. Recreational Tourism: Demand and Impacts. Channel View Publication. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pariwisata dan Perubahan Nilai-Nilai Sosial Budaya Berdasarkan Lingkungan Tradisi Pada Masyarakat Bali. 2007. diharapkan kita bisa meminimalisirnya dengan cara yang tepat. Sydney. tetapi banyak juga dampak negatif yang ditimbulkannya. 2005.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->