P. 1
K1.3, SP2TP.doc

K1.3, SP2TP.doc

|Views: 34|Likes:
Published by sarahwidia
Kesmas
Kesmas

More info:

Published by: sarahwidia on Jun 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2014

pdf

text

original

Sections

  • B. PENGUNJUNG PUSKESMAS
  • C. RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP
  • E. UPAYA PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT

AYUDINDA AURELI PALUPI

SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS (SP3) REVISI II Juni 9, 2012
Filed under: kesehatan — ayudinda79 @ 4:25 am BAB. I PENDAHULUAN Pembangunan upaya kesehatan masyarakat dilakukan diseluruh pelosok Jawa Barat, melalui keberadaan Puskesmas, Puskesmas dengan Ruang Perawatan, Puskesmas pembantu, Puskesmas Keliling dan juga keberadaan Bidan di Desa. Fungsi indtitusi kesehatan terdepan (Puskesmas) tidak sekedar sebagai pemberi pelayanan kesehatan saja, namun juga melaksanakan berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif bahkan terkadang sampai rehabilitasi. Disamping itu pembinaan terhadap sarananya baik milik pemerintah maupun swasta dan penggerakan peran serta masyarakat di bdang kesehatan yang berada di wilayah kerjanya yang menjadi tanggung jawabnya. Semua pelaksanaan kegiatan tersebut diatas perlu dicatat dan dilaporkan secara teratur, tepat waktu dan dengan pengisian data yang benar. Dalam era pembangunan ini keberadaan data dan informasi memegang peran yang sangat penting. Data yang benar-benar akurat, terpecaya, bersinambungan, tepat waktu dan mutakhir, sangat diperlukan dalam pengelolaan program, perencanaan, pemantauanpelakasanan program dan proyek serta kegiatan yang akan dilakukan. Salah satu pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan melalui pengumpulan data di Puskesmas. Dalam gerak pelaksanaannya masih banyak masalah dan kendala yang dihadapi baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun di Provinsi. Upaya pemecahan masalahnya antara lain melalui penyempurnaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) yang merupakan sebagaian kecil dari Sistem Informasi Kesehatan yang telah diakui sebagai sumber data yang berasal dari Puskesmas dan dapat dimanfaatkan diberbagai jenjang administrasi sejak tahun 1981, yang dulunya disebut Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Revisi I mulai dilaksanakan pada tahun 1996, sebagai penyempurnaan terhadap bentuk pelaporan yang ditetapkan pada tahun 1981. Perkembangan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) telah mengalami perubahanperubahan sejak tahun 1996 sampai sekarang dalam upaya pembenahan untuk penyesuaian pemanfaatan data yang selalu berubah-rubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan waktu.

Dari hasil supervisi dan pemantauan yang dilaksanakan oleh tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota ke Puskesmas, masih banyak hal-hal yang menjadi halangan dalam melaksanakan SP3 baik menyangkut tentang pencatatan, pengolahan maupun pelaporannya. Halhal yang berakibatkan laporan SP3 menjadi tidak lengkap, tidak tepat waktu dan kebenarannya yang diragukan dapat diindentifikasikan antara lain meliputi : 1. Data yang dilaporkan tidak semuanya dapat dimanfaatkan baik dari aspek monitoring maupun dari aspek evaluasi; 2. Tidak adanya atau kurang petugas khusus di bidang informasi baik di tingkat Puskesmas maupun ditingkat yang lebih tinggi; 3. Kurangnya sarana dan prasarana untuk pencatatan, pengolahan maupun pelaporan; 4. Kurang trampilnya petugas penyedia, pengumpul dan pengolah data dan pembuat laporan; 5. Kurangnya tingkat kesadaran petugas akan pentingnya dan manfaatnya Data dan Informasi; 6. Semua kegiatan harus dicatat selengkap mungkin, meskipun yang dilaporkan terbatas. Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan informasi, maka tahun 2008, sistem pelaporan ini disempurnakan kembali sebagai Revisi II. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Revisi II merupakan “SP3-Program” yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan para pemegang, pengelola maupun pelaksanaan program di masing-masing tingkatan administrasi. Oleh karena itu bukanlah sesuatu yang mengada-ada kalau dalam penyusunan SP3, para pemegang, pengelola atau pelaksana program disemua tingkatan administrasi mempunyai peran yang sangat penting demi tercapainya “Evidence Based”. Diharapkan pembenahan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas ini dapat menghilangkan faktor masalah yang ada saat ini. Namun masih perlu dipikirkan tentang aspek pelaksanaan dan juga kesediaan pihak swasta untuk melaksanakan pelaporan tersebut dengan tertib. Dalam buku ini disajikan tentang Tujuan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas, Cara Pengisian, Pengertian-pengertian dan batasan-batasan operasional yang dipergunakan.

BAB. II TUJUAN 1. A. TUJUAN UMUM :

Didapatkan semua data hasil kegiatan Puskesmas (termasuk Puskesmas Pembantu, Puskesmas dengan Ruang Perawatan, Puskesmas Keliling, Bidan di desa, Posyandu, dan sebagainya), dan data lainnya yang berkaitan, serta dilaporkan data tersebut kepada jenjang administrasi di atasnya sesuai dengan kebutuhan secara benar, akurat, berkala, teratur guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan masyarakat. 1. B. TUJUAN KHUSUS : 1. Tercatatnya semua data dari hasil kegiatan Puskesmas dan data yang berkaitan dalam format-format yang telah ditentukan dengan benar dan bersinambungan; 2. Terlapornya data tersebut di jenjang administrasi yang lebih tinggi sesuai dengan kebutuhan dan mempergunakan format yang telah ditetapkan secara benar, berkelanjutan dan teratur; 3. Terolahnya data tersebut menjadi informasi di Puskesmas dan disetiap jenjang administrasi di atasnya, sehingga bermanfaat untuk mengetahui permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat serta merumuskan cara penanggulangan secara tepat; 4. Diperolehnya kesamaan pengertian tentang Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3), meliputi Batasan Operasional, tatacara pengisian format, pengolahan data dan informasi dan Mekanisme pelaporannya; 5. Mantapnya pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) disemua jenjang administrasi, sehingga dapat berhasil guna dan berdaya guna dalam pengelolaan upaya kesehatan masyarakat; 6. Diperolehnya satu sumber data yang dapat dipakai, dimanfaatkan data dengan benar, akurat dan sama;

Puskesmas merupakan pusat jaringan informasi di tingkat bawah sebagai ujung tombak segala informasi yang ada. Memelihara Bank Data 5. Memberikan pelayanan data dan Informasi kepada masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya. Puskesmas memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain : 1. Merupakan “Pusat Rujukan Antara” melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dirujuk ke rumah sakit. Shinse Lintas Sektoral LSM . Mengolah Data dan menganalisa menjadi informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan 3.l : . III PENGORGANISASIAN SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS (SP3) A. Membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota 4. Mencatat dan mengumpulkan data baik kegiatan dalam gedung maupun luar gedung dan Lintas Sektoral 2. TINGKAT PUSKESMAS Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas Perawatan adalah Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat berupa tindakan operatif terbatas maupun perawatan sementara di ruangan rawat inap denagn tempat tidur rawat inap. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen Puskesmas 6. Adapun anggota jaringannya meliputi : Puskesmas Pembantu (Pustu) Puskesmas Keliling (Pusling) Bidan Desa ( Bides) Posyandu Pengobatan Tradisional (Batra) Akupuntur. Yayasan Sarana Pelayanan Kesehatan Swasta a.BAB.

Mengadakan pertemuan berkala dengan pelaksana program setiap 1 bulan satu kali untuk mengvalidasikan data dan mengevaluasi pelaksanaan SP3. Koordinator : • • • • • • Mengkoordinir Laporan Setiap Pemegang Program Mengumpulkan dan Mengolah Data Bertanggung-jawab atas kelancaran pelaksanaan SP3 kepada Kepala Puskesmas Mengkoordinir Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program Mengirimkan Laporan ke Kab/Kota Tepat Waktu Distribusikan Format Laporan Ke Pemegang Program . dengan berpendidikan minimal SMA Pelaksana Program Dengan Tugas. RB. Kepala Puskesmas : • • • • • • • • • Penanggung-jawab di Tingkat Puskesmas Bertanggung Jawab terhadap Kualitas Data Bertanggung Jawab terhadap Pengumpulan Dan Pengolahan Data SP3 Bertanggung Jawab terhadap Kebenaran Isi Laporan SP3 Bertanggung Jawab terhadap Validasi Data Bertanggung Jawab terhadap Analisa Data Membimbing Kepada Koordinator dan Para Pelaksana Program Koordinasi dengan fasilitas kesehatan swasta dll . dalam sistem pencatatan dan pelaporan.BP. b. Praktek Dr/Drg/Bidan dll Wahana Polindes Poskestren Organisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) : Penanggung Jawab SP3 Koordinator SP3 Anggota : : : Kepala Puskesmas Seseorang yang ditunjuk oleh kepala Puskesmas.Tugas sebagai berikut : a.

Mencatat dan mengumpulkan data baik dari Puskesmas maupun Lintas Sektoral 2. Mengolah Data dan menganalisa menjadi informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan 3. Memberikan pelayanan data dan Informasi kepada masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya. Membuat Umpan Balik Laporan SP3 ke Puskesmas setiap 3 bulan sekali 4. Organisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) : Penanggung Jawab SP3 Koordinator SP3 : : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Kepala Unit Kerja yang memiliki fungsi pengolahan data dan informasi atau seseorang yang ditunjuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Memelihara Bank Data 6. TINGKAT KABUPATEN / KOTA : Kabupaten/Kota memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain : 1. Membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Provinsi 5. Dan lain-lainnya.• • • Meneliti Kelengkapan Isi Format Mengarsipkan Validasi Data c. (disesuaikan dengan SOTK di Kabupaten/Kota yang . Pemegang Program : • • • • • • • Mencatat setiap kegiatan pada buku catatan register yang ada Menerima laporan dan mengadakan bimbingan terhadap Pustu. Membuat transformasi pengolahan data yang tercatat sebagai kegiatan program dan merekapitulasi data program Mengisi Format Laporan SP3 sesuai kegiatannya dengan Tepat Waktu Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program dan Koordinator Menyajikan Data/Informasi Membantu Kepala Puskesmas dalam Analisisi Data SP3 B. Perawat Desa. Bidan di Desa. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen Kabupaten/Kota 7.Pusling.

Pemegang Program : • Mengadakan validasi dan koreksi data SP3 yang diterima dari koordinator SP3 Kabupaten/Kota. Mengadakan pertemuan berkala setiap 3 bulan sekali untuk melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan SP3 dan pencapaian kegiatan masing-masing program. Koordinator SP3 : • • • • • • • • • • • • • • • Mengkoordinir Laporan SP3 Mengumpulkan Dan Mengolah Data Bertanggung-jawab atas kelancaran pelaksanaan SP3 Bertanggung-jawab atas Kualitas Data SP3 Bertanggung-jawab terhadap Pengumpulan Dan Pengolahan Data Sp3 Bertanggung-jawab terhadap Kebenaran Isi Laporan SP3 Bertanggung-jawab terhadap Validasi Data Bertanggung-jawab terhadap Analisa Data Mengkoordinir Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program Mengirimkan Laporan Ke Propinsi dengan tepat waktu Distribusikan print out Laporan Ke Pemegang Program Membuat umpan balik SP3 secara periodik 3 bulan satu kali ke tingkat Puskesmas. b. pelaksana program baik di Kabupaten/Kota maupun Puskesmas .Anggota : bersangkutan) Pelaksana Program Dengan Tugas.Tugas sebagai berikut : a. Meneliti Kelengkapan Isi Format Mengarsipkan Validasi Data c. . Penanggung Jawab SP3 : • • • Penanggung-jawab terhadap pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas Memberikan bimbingan dan pembinaan kepada koordinator.

Mencatat dan mengumpulkan data baik dari Kabupaten/Kota maupun Lintas Sektoral 2. TINGKAT PROPINSI : Kabupaten/Kota memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan antara lain : 1.Tugas sebagai berikut : a. Mengolah Data dan menganalisa menjadi informasi yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan 3. Membantu kelancaran pelaksanaan SP3 di Puskesmas dan Kabupaten/Kota Mengikuti pertemuan berkala SP3 setiap 3 bulan sekali dan memberikan bahasannya. 1. Memberikan pelayanan data dan Informasi kepada masyarakat dan pihak-pihak berkepentingan lainnya di wilayah kerjanya. Mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen Provinsi 6. Penanggung Jawab SP3 : • • Penanggung Jawab terhadap pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Memberikan bimbingan dan pembinaan kepada koordinator. • • . Membuat Umpan Balik Laporan SP3 ke Kabupaten/Kota setiap 6 bulan sekali 4. Memelihara Bank Data 5.• • • Menganalisis hasil olahan data tersebut dan membuat laporan narative serta melaksanakan tindak lanjut kegiatan sesuai hasil analisa data. Organisasi Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) : Penanggung Jawab SP3 Penanggung Jawab Pelaksana Koordinator SP3 Anggota : : : : Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Kepala Seksi Teknologi Informasi Kesehatan Pelaksana Program Dengan Tugas. pelaksana program di tingkat Propinsi Penanggung Jawab Pelaksana SP3 : Bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan SP3. C. Mengadakan pertemuan berkala setiap 6 bulan sekali untuk melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan SP3 dan pencapaian kegiatan masing-masing program.

c. Pemegang Program : • • • • • Mengadakan validasi dan koreksi data SP3 yang diterima dari koordinator SP3 Kabupaten/Kota. Mengirimkan Laporan Ke Pusat dengan tepat waktu Distribusikan hasil print out Laporan Ke Pemegang Program Membuat umpan balik SP3 secara periodik 6 bulan satu kali ke tingkat Kabupaten/Kota Meneliti Kelengkapan Isi Format Mengarsipkan Validasi Data d. . pelaksana program baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota dalam hal fasilitasi. Koordinator SP3 : • • • • • • • • • • • • • • • • Mengkoordinir Laporan SP3 Mengumpulkan Dan Mengolah Data Bertanggung-jawab atas kelancaran pelaksanaan SP3 Bertanggung-jawab atas Kualitas Data SP3 Bertanggung-jawab Terhadap Pengumpulan Dan Pengolahan Data Sp3 Bertanggung-jawab Terhadap Kebenaran Isi Laporan SP3 Bertanggung-jawab Terhadap Validasi Data Bertanggung-jawab Terhadap Analisa Data Mengkoordinir Entri Data bersama-sama dengan para pemegang program Memberikan bimbingan dan pembinaan teknis dan substantif kepada koordinator.• Memberikan bimbingan dan pembinaan kepada koordinator. Membantu kelancaran pelaksanaan SP3 di Puskesmas dan Kabupaten/Kota Mengikuti pertemuan berkala SP3 setiap 3 bulan sekali dan memberikan bahasannya. pelaksana program baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota dalam hal fasilitasi. Menganalisis hasil olahan data tersebut dan membuat laporan narative serta melaksanakan tindak lanjut kegiatan sesuai hasil analisa data. Mengirimkan hasil koreksinya ke koordinator SP3.

sehingga pencatatan dan pelaporan dilakukan dengan benar dan sama. Perawat Desa. Puskesmas Pembantu dan lainlain. 1. 1. . Untuk berbagai data yang dikumpulkan melalui Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas digunakan Formulir standar yang terdiri dari 6 jenis laporan sebagai berikut yaitu : 1. IV PETUNJUK PENGISIAN Dalam pelaksanaan Sistem Pencatatan dan pelaporan Puskesmas perlu diketahui beberapa batasan tentang istilah yang digunakan untuk mendapatkan kesamaan pengertian. 1. Puskesmas Pembantu. 1. Laporan LB-3 : 1. FREKUENSI LAPORAN. Frekwensi dan Periode disesuaikan dengan Jenis Data yang dikumpulkan : 1. Puskesmas dengan Perawatan.BAB. A. Bidan Desa. Dokter / Bidan Praktek swasta dan unit-unit pelayanan kesehatan lainnya baik pemerintah maupun swasta. Laporan Bulanan (LB-1. Puskesmas Keliling. LSD-3) dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota paling lambat pada tanggal 10 Januari tahun berikutnya. Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas disini sudah mencakup pelayanan kesehatan di puskesmas. Laporan LB-1 : 1. FORMAT LAPORAN . LSD-2. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas adalah pencatatan dan pelaporan yang harus dibuat oleh Puskesmas dan direkapitulasi disetiap tingkatan administrasi dengan waktu tertentu. B. Pada Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas. 1. Laporan Tahunan (LSD-1. LB-4) dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota paling lambat pada tanggal 5 bulan berikutnya 2. Balai pengobatan. Laporan Bulanan mengenai Data Kesakitan Laporan Bulanan Program KIA/KB. LB-3. dan Pemberantasan Pencegahan Penyakit Laporan LB-4 : Laporan Bulanan Kegiatan Puskesmas Laporan LSD-1 : Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai data fasilitas dan data kesehatan lainnya serta data lingkungan kedinasan Puskesmas dan Jejaringnya Laporan LSD-2 : Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai tenaga di Puskesmas baik dengan perawatan maupun tanpa perawatan dan Puskesmas Pembantu. Gizi. Laporan LSD-3 : Laporan Tahunan Sumber Daya mengenai Jumlah dan Jenis Peralatan di Puskesmas baik dengan perawatan maupun tanpa perawatan.

Kasus penyakit yang dilaporkan berbasis Desa/Kelurahan.co.3. 3 digit berikutnya diisi dengan kode Kecamatan yang mengacu kepada kode wilayah dari BPS. 1. Kode Puskesmas adalah kode indentitas Puskesmas yang terdiri atas 11 digit alfanumerik yaitu: • • • • • 1 digit pertama diisi dengan huruf ”P” yang menandakan Puskesmas. pengertian dari variable dijelaskan khusus dalam batasan operasional. berdasarkan penderita yang berobat ke dalam gedung Puskesmas maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. • 1. Agar Data/Informasi yang diperoleh berbasis Desa/Kelurahan. 1 digit beikutnya diisi dengan angka ”1” apabila Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Perawatan dan diisi dengan angka ”2” apabila Puskesmas tersebut adalah Puskesmas Non Perawatan. LAPORAN BULANAN PENYAKIT (LB 1 ) Laporan Bulanan Penyakit (LB 1) merupakan Laporan Bulanan mengenai Data Kesakitan mencakup data di wilayah kerja Puskesmas. Laporan Tahunan tersebut dikirmkan setiap tahun ke Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat tanggal 15 Januari tahun berikutnya melalui disket/CD atau e-mail. PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR LAPORAN. 2 digit berikutnya diisi dengan kode Kabupaten yang mengacu kepada kode wilayah dari BPS. C. Laporan Bulanan tersebut dikirimkan setiap bulan ke Dinas Kesehatan Provinsi paling lambat pada tanggal 15 bulan berikutnya melalui disket/CD atau e-mail dengan alamat : datinjabar@yahoo. Puskesmas mengisi Data per-Desa/Kelurahan yang ada di wilayah kerja dan Luar Wilayah kerja Puskesmas sesuai dengan kunjungan pelayanan kesehatan masyarakat. Penjelasan mengenai arti. 2 digit terakhir menyatakan nomor urut Puskesmas di kecamatan di mana Puskesmas yang bersangkutan berada. maka untuk mengisi Laporan ini.id 4. baik berasal dari wilayah maupun luar wilayah kerja Puskesmas . 2 digit berikutnya diisi dengan kode Provinsi yang mengacu kepada kode wilayah dari BPS. Dalam petunjuk pengisian ini tidak dijelaskan hal-hal yang sudah cukup jelas.

bulan berikutnya 4. LB-1 dilaporkan setiap bulan. diisi dengan nama Puskesmas sesuai dengan SK Puskesmas 6. di posyandu dan melalui Puskesmas Keliling) dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas 12. Nama Puskesmas. Nama Desa/Kelurahan. perawatan dilakukan di rumah. tidak perlu diisi. PETUNJUK KHUSUS . diisi sesuai kode Puskesmas masing-masing 5. Bulan : diisi dengan bulan pelaksanaan kegiatan yang dilaporkan 10. Setiap membuat laporan dituliskan Kode Puskesmas. Laporan ini diisi dengan data yang terkumpul selama 1 bulan. 4. Puskesmas. LB-1 terdiri dari 10 halaman 2. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh Penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. 2. Kode Puskesmas terdiri 8 digit. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu Pelaksana Program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. LB-1 terdiri dari 18 kelompok penyakit dan 224 variabel penyakit 3. Tahun : diisi lengkap tahun berjalan 11. Provinsi asal. rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : • • Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. 7. 8. juga mencakup data kesakitan yang sebelumnya telah dilaporkan baik melalui W1 maupun W2. Nama Kecamatan. di panti. Nama Kabupaten/Kota. PETUNJUK UMUM 1. 3. Kolom yang telah di arsir. LB-1 terdiri dari 10 halaman. Data Kesakitan yang dilaporkan dalam LB-1 juga mencakup data kesakitan yang telah dilaporkan dalam W-1 dan W-2 9. Laporan ini mencakup data dari Puskesmas. Puskesmas Pembantu dalam wilayah kerja Puskesmas. penderita dalam gedung Puskemas maupun luar gedung Puskesmas (pengobatan.Data kesakitan yang dilaporkan dalam LB 1. Nama Bulan dan Tahun yang jelas. Nama-nama penyakit yang dilaporkan disesuaikan dengan nomor ICD X. setiap awal bulan.

menyangkut daftar kategori penyakit 3 angka atau 4 angka dari ICD-10. Penderita berusia 1 tahun sampai dengan 12 bulan kurang 1 hari Penderita berusia 12 bulan sampai dengan 5 tahun kurang sehari Penderita berusia 5 tahun sampai dengan 9 tahun kurang sehari Penderita berusia 10 tahun sampai dengan 14 tahun kurang sehari Penderita berusia 15 tahun sampai dengan 19 tahun kurang sehari Penderita berusia 20 tahun sampai dengan 44 tahun kurang sehari Penderita berusia 45 tahun sampai dengan 54 tahun kurang sehari. disebut juga dengan lansia Penderita 70 tahun atau lebih. .1. merupakan Kasus Baru menurut golongan umur dan jenis kelamin 2. Kolom 30. Kolom 34 . merupakan penjumlahan kolom 30 + kolom 33 7. disebut juga dengan lansia Penderita berusia 60 tahun sampai dengan 69 tahun kurang sehari. Kolom 33. merupakan Jumlah Peserta Keluarga Miskin (GAKIN) 8. kolom 35. merupakan penjumlahan dari Kolom 4 s/d 27 Kasus Baru menurut jenis kelamin 3. Kolom 4 s/d 27 . disebut juga dengan lansia 1. Kolom menurut kelompok umur diisi dengan angka sesuai dengan jumlah penderita yang ditemukan. disebut juga dengan pralansia Penderita berusia 55 tahun sampai dengan 59 tahun kurang sehari. Kolom 29. Kolom 28. dirawat dan berobat jalan di Puskesmas. Kelompok umur dibagi menjadi 12 kelompok umur yaitu 0 – 7 hari 8 – 28 hari 29 hr – 1 thn 1 – 4 thn 5 – 9 tahun 10 – 14 thn 15 – 19 thn 20 – 44 thn 45 – 54 thn 55 – 59 thn 60 – 69 thn ≥ 70 thn : : : : : : : : : : : : Pasien bayi baru lahir sampai dengan berusia 7 hari Termasuk dalam periode Perinatal. merupakan penjumlahan kolom 28 + kolom 29 4. Puskesmas Pembantu. Bila tidak ditemukan penyakit pada kelompok umur tersebut isilah dengan angka 0 (nol). 2. dan Neonatal. Nama dan Kode penyakit diisi sesuai dengan ICD 10. merupakan penjumlahan kolom 33 + kolom 34 6. Kolom 32. merupakan Jumlah Kasus Lama menurut jenis kelamin 5. Penderita berusia 8 hari sampai dengan 28 hari termasuk dalam masa neonatal. Kolom 31. Puskesmas Keliling dan Jejaring Puskesmas pada kelompok umur tersebut.

1. 1. 1. Kelompok Penyakit terdiri dari : 10.N 99 Penyakit Sistem Kemih Kelamin O 00 .G 99 Penyakit Sususnan Saraf H 00 . 1.Y 98 Penyebab Luar dari kesakitan dan Kematian Z 00 . 1. ICD – 10 A 00 – B 99Penyakit Infeksi dan parasit tertentu C 00 – D 48 Penyakit Neoplasma D 50 – D 53 Penyakit Darah dan Orga Pembuat Darah dan beberapa kelainan yang berhubungan dengan mekanisme Kekebalan E 00 – E 90 Penyakit Endokrin.9. 1. 1. 1. 1.H 59 Penyakit Mata dan Adneksa H 60 .K 93 Penyakit Sistim Pencernaan L 00 . 1.R 99 Gejala. 1.T 98 Cedera.H 95 Penyakit Telinga dan Prosesus Mastoid I 00 .ayanan Kesehatan 10.L 99 Penyakit Kulit dan Jaringan Subkutan M 00 – M 99 Penyakit Sistem Muskulosketal dan Jaringan Ikat N 00 . Kelainan Pembentukan dan Khromosom R 00 .Q 99 Kelainan Bawaan. . 1. Keracunan dan Akibat tertentu lainnya oleh Penyebeb dari luar V 01 . Nama dan Kode penyakit diisi sesuai dengan ICD 10.Z 99 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan akses terhadap pe. 1. Nutrisi dan Metabolik F 00 – F 99 Penyakit Gangguan Jiwa dan Perilaku G 00 .I 99 Penyakit Sistim Sirkulasi J 00 . Tanda dan Penemuan Abnormal secara Klinis dan laboratorium yang tidak diklasifikasikan di tempat lain S 00 . 1. 1. 1. 1. menyangkut daftar kategori penyakit 3 angka atau 4 angka dari ICD-10. 1. XVIII. Persalinan dan Masa Nifas P 00 – P 96 Keadaan Tertentu yang Bermula pada Masa Perinatal Q 00 . 1. BAB KODE KATEGORI JENIS PENYAKIT 1.O 99 Kehamilan.J 99 Penyakit Sistim Pernafasan K 00 . 1.

termasuk pelayanan baik di dalam gedung maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. PETUNJUK UMUM . LAPORAN BULANAN KIA/KB. Data yang dilaporkan dalam format laporan LB-3 adalah semua data pelayanan baik dari dalam gedung Puskesmas maupun dari luar gedung Puskesmas (Posyandu. Gizi. Isilah kolom dengan angka. nama Desa/Kelurahan. Bidan di desa. rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. Penyakit Kelamin dan HIV/AIDS) 3. Pes. Diare. Flu Burung /AI. Puskesmas Keliling. Bila tidak ada data makan isilah dengan angka 0 (nol). Gizi. Filariasis. Kusta. . Pengamatan Penyakit Malaria. Pos Immunisasi. Anthraks. bulan dan tahun. Laporan ini diisi dengan data yang tercatat selama satu bulan. ISPA. TBC. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditandatangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. sekolah. Keracunan Makanan. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh kepala Puskesmas. Puskesmas Pembantu) dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas 2. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. GIZI DAN PEMBERANTASAN PENCEGAHAN PENYAKIT (LB 3 ) Laporan bulanan kegiatan Puskesmas (LB 3) merupakan laporan bulanan Program KIA/KB. Pemberantasan Pencegahan Penyakit (Immunisasi. Format laporan LB-3 mencakup laporan kegiatan KIA/KB. Kabupaten/Kota. 3. 2. LB-3 terdiri dari 6 halaman. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas.2. nama Puskesmas. 2. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. Format laporan terdiri dari 6 halaman : ¨ ¨ ¨ Halaman 1 – 2 : Kegiatan KIA/KB Halaman 3 Halaman 4 – 6 : Kegiatan Gizi : Kegiatan Pemberantasan Pencegahan Penyakit 1. 1. Demam berdarah Dengue (DBD). 4. dan Pemberantasan Pencegahan Penyakit. Rabies.

Puskesmas Pembantu) dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas 2. Bila tidak ditemukan isilah dengan angka 0 (nol). Upaya Kesehatan Lingkungan. Pelayanan Di UKGS. PETUNJUK UMUM. Puskesmas Pembantu. Pembinaan Kelompok Khusus/Panti). Puskesmas Keliling dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas.PETUNJUK KHUSUS 1. Pos Immunisasi. rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) . 1. termasuk pelayanan baik di dalam gedung maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 3. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Pembinaan Keluarga Rawan. Rawat Inap. Format laporan LB-4 terdiri dari 4 halaman : 4. Data yang dilaporkan dalam format laporan LB-4 adalah semua data pelayanan baik dari dalam gedung Puskesmas maupun dari luar gedung Puskesmas (Posyandu. merupakan diisi dengan angka sesuai dengan Jumlah per. Format laporan LB-4 mencakup laporan Data Sasaran. Upaya Kesehatan Mata. Pelayanan UKMD). 2. Kolom 3. Kegiatan Laboratorium dan Kegiatan Transfusi Darah. sekolah.Variabel yang ditemukan. Bidan di desa. Gizi. Puskesmas Keliling. Kolom 4. Rawat Jalan. Puskesmas Pembantu. Puskesmas Keliling dan Jejaring Puskesmas yang ada di wilayah kerja Puskesmas. dalam kotak angka yang telah disediakan.Variabel Peserta Keluarga Miskin yang ditemukan. LAPORAN BULANAN KEGIATAN PUSKESMAS (LB 4 ) Laporan bulanan kegiatan Puskesmas (LB 4) merupakan laporan bulanan kegiatan Puskesmas. Bila tidak ditemukan isilah dengan angka 0 (nol). Bila tidak ada datanya maka isilah dengan angka 0 (nol). Kegiatan Pengunjung Puskesmas. Upaya Kesehatan Giigi (Pelayanan Di BP Gigi. 5. dirawat dan berobat jalan di Puskesmas. merupakan merupakan diisi dengan angka sesuai dengan Jumlah per. LB-4 terdiri dari 4 halaman. Isilah kolom dengan angka. Upaya Kesehatan Sekolah. Tindak Lanjut Perawatan Yang Selesai Dibina. dirawat dan berobat jalan di Puskesmas. Upaya Penyuluhan dan JPKM Kesehatan Masyarakat. 3.

1. Dilaporkan pada bulan Januari tahun berikutnya. LSD-1 terdiri dari 3 halaman. . 2. nama Puskesmas. 3. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. LSD-1 merupakan Data yang dilaporkan mencakup : Data Umum. Laporan ini dibuat sekali dalam setahun sekali (data dari bulan Januari s/d Desember). LSD-1 terdiri dari 3 halaman. Data Upaya Kesehatan Sekolah. 3. 4. Data Kesehatan lain dan data fasilitas lainnya. Data Keadaan Sarana Puskesmas dengan Jejaringnya. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. PETUNJUK UMUM . Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas 2. Data Kesehatan Lingkungan. Kabupaten/Kota. LAPORAN SUMBER DAYA PUSKESMAS (LSD 1 ) Laporan Tahunan Sumber Daya Puskesmas (LSD-1) merupakan laporan tahuan kegiatan pelayanan kesehatan Puskesmas. 4. Data Peran Serta Masyarakat. Pustu yang ada dan yang melapor. termasuk pelayanan baik di dalam gedung maupun luar gedung Puskesmas dan Jejaring Puskesmas yang berada di wilayah kerja Puskesmas. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. Laporan ini diisi dengan data selama 1 bulan. LSD-1 Lampiran terdiri dari 2 halaman. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. LSD-1 mencakup 2 kelompok yaitu • • Laporan Tahunan Puskesmas Lampiran LSD1 merupakan Data Lingkungan Kedinasan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu 1.1. bulan dan tahun.

Kolom 1. 3. Kolom 5-9. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Kolom 10-14. Kolom 2. Tenaga Keperawatan. Bidan desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas. Ringan. adalah Dokter Umum dan Dokter Gigi serta Dokter Ahli berbagai spesialisasi dan sub spesialisasi 2. diisi dengan Kondisi Jenis Bangunan dan Tranportasi di Puskesmas Pembantu menurut Fungsinya yaitu Baik. diisi dengan Luas Bangunan untuk setiap Ruangan di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. nama Puskesmas. Sedang. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditandatangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Kabupaten/Kota. nama Desa/Kelurahan. 5. Tenaga Medik. dalam kotak angka yang telah disediakan. 5. PETUNJUK KHUSUS. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. Kolom 3. 1. sekolah bidan dan sekolah juru rawat dan sejenisnya . Berat dan Persetase yang Rusak. yaitu tenaga lulusan sarjana perawat. perawat mahir. 5.2. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. akademi perawat. LAPORAN SUMBER DAYA TENAGA KESEHATAN (LSD 2 ) Laporan Sumber Daya Puskesmas (LSD-2) merupakan laporan Tahunan data Tenaga yang berada di Puskesmas. sekolah perawat. Berat dan Persetase yang Rusak. 6. diisi dengan Jumlah Jenis Ruangan dan Transportasi yang ada di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu 4. 2. Untuk Tenaga Kesehatan di bagi atas 7 kategoti yaitu : 1. Sedang. Kolom 3. 4. 6. Isilah kolom dengan angka. diisi dengan nomor urut. Ringan. Jenis Tenaga Kesehatan dikelompokan menjadi 2 kelompok sesuai dengan PP 32 tahun 1996. Bila tidak ada datanya maka isilah dengan angka 0 (nol). bulan dan tahun. termasuk Puskesmas Pembantu. yaitu Tenaga Kesehatan dan Tenaga Non Kesehatan. diisi dengan Kondisi Jenis Bangunan dan Tranportasi di Puskesmas menurut Fungsinya yaitu Baik. merupakan Jenis Bangunan dan Transportasi 3. LSD-1 Lampiran merupakan Data yang dilaporkan mencakup : Data jenis bangunan dan Transportasi di Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.

Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. 2. Tenaga Gizi 6. Sarjana ( S1) 4.3. 4. 3. Sekolah Menengah Tingkat Atas 6. Sarjana Muda / D 3 / Akademi 5. Laporan ini dibuat Laporan ini dibuat sekali dalam setahun (data dari bulan Januari s/d Desember). Tenaga Kesehatan Masyarakat termasuk sanitarian 5. LSD-2 terdiri dari 2 halaman. Pasca Sarjana (S2) 3. nama Puskesmas. 1. PETUNJUK KHUSUS. bulan dan tahun. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Kabupaten/Kota. Doktoral (S3) 2. 3. Tenaga Keterapian Fisik 7. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. 2. Sekolah Menengah Tingkat Pertama dan SD ke bawah PETUNJUK UMUM. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. . Tenaga Keteknisan Medis Tenaga Non Kesehatan dibagi atas 6 kategori yaitu : 1. Data yang dilaporkan mencakup : Data Jumlah dan Jenis Tenaga Puskesmas yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas. Tenaga efarmasian. yaitu lulusan sarjana farmasi s/d tenaga kefarmasian lainnya 4. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Dilaporkan pada bulan Januari tahun berikutnya.

Kolom 6. Kolom 27 diisi dengan pendidikan tambahan / Diklat yang telah diikuti oleh pegawai tersebut. Kolom 4. Kolom 22. 2. Kolom 24. PETUNJUK UMUM. 14. data terhitung mulai tanggal berapa status tersebut disandang oleh pegawai tersebut. diisi dengan tempat dan tanggal lahir dari masing-masing pegawai. 3. 10. 17. 11. diisi sesuai dengan Jenis Tenaga yang terdapat pada kategori jenis tenaga 4. Puskesmas DTP ( PNS maupun Honorer ). Kolom 1. Puskesmas Pembantu. diisi dengan tanggal mulai bekerja di Puskesmas ini. 7. Bidan desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 6. Kolom 7. Kolom 10 dan 15.diisi Bila tidak ada datanya maka isilah dengan angka 0 (nol) dan sebutkan tahunnya. diisi dengan Pendidikan dari masing-masing pegawai yaitu tentang pendidikan terakhir dan tahun lulusan. 5. diisi dengan NIP (Nomor Induk Pegawai) dan Karpeg yaitu nomor seri dari kartu pegawai tersebut. 15. 18. Kolom 23. Bila Ya datanya maka isilah dengan angka 1 (satu). 19. LAPORAN SUMBER DAYA PERALATAN PUSKESMAS (LSD 3 ) Laporan Sumber Daya Peralatan Puskesmas (LSD-3) merupakan laporan Tahunan data peralatan yang berada di Puskesmas. 9. diisi dengan golongan dan pangkat dari masing-masing pegawai. . diisi dengan nama dari masing-masing pegawai di Puskesmas. diisi dengan Pelatihan Fungsional yang telah diikuti oleh pegawai tersebut. diisi dengan nama Jabatan Fungsional/Struktural/Teknis dari masingmasing pegawai 12. Kolom 5. 21. 6. Kolom 20. diisi dengan nama dimana Tempat kerja di Puskesmas atau Desa dari masing-masing pegawai 13. TMT Golongan dan masa kerja dan diisi dengan tanggal mulai menduduki status tersebut. Kolom 28–46. 9. Kolom 16.1. 8. TMT Golongan diisi dengan tanggal mulai menduduki status tersebut. diisi dengan status kepegawaian PNS dan non PNS. Kolom 3. diisi dengan nomor urut. Kolom 2. diisi dengan jabatan masing-masing pegawai. 8. diisi dengan Jenis Kelamin “P” (Perempuan) atau “L” (Laki-Laki). termasuk Puskesmas Pembantu.

Sekolah dan Posyandu di wilayah kerja Puskesmas 3. Kolom 2. menurut Fungsi. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Laporan harus diisi dengan kode Puskesmas. Sekolah. menurut Fungsi. Dilaporkan pada bulan Januari tahun berikutnya. Pembantu. Puskesmas DTP. 5. 2. nama Puskesmas. diisi dengan nomor urut. dan rangkap 2 (dua) yang masing-masing ditujukan kepada : ¨ ¨ Lembar 1 : Untuk Koordinator SP-3 di Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota Lembar 2 : Untuk Koordinator SP-3 di Puskesmas (arsip) 1. Kolom 12-14. Kabupaten/Kota. LSD-3 terdiri dari 4 halaman. 3. . menurut Fungsi. 2. Laporan ini dibuat Laporan ini dibuat sekali dalam setahun (data dari bulan Januari s/d Desember). Kolom 6-8. 2. Puskesmas Keliling. 4.1. Puskesmas Pembantu. . menurut Fungsi. 6. Bagian yang telah diarsir tidak perlu diisi. Kolom 3-5. PETUNJUK KHUSUS. Kolom 9-11. Cantumkan nama dan NIP dengan jelas. 4. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Kolom 1. Puskesmas Keliling. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas Keliling. Telitilah sebelum ditanda-tangani oleh penanggung jawab dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. Puskesmas Pembantu. bulan dan tahun. kemudian diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelaksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas. Setiap lembar laporan harus diberi tanggal pembuatan dan ditanda-tangani oleh pelapor yaitu pelksana program dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. merupakan Jenis Peralatan yang ada di di Puskesmas. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. 5. 1. Data yang dilaporkan mencakup : Data Peralatan yang ada di Puskesmas. 6. Nama-nama dari peralatan telah dicantumkan di dalam format laporan 3. Puskesmas DTP.

Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. 8. diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Puskesmas. menurut Fungsi. Tidak Berfungsi dan Tidak Ada alat tersebut dan diisi dengan angka jumlah alat tersebut. Kolom 15-17. menurut Fungsi. Kolom 18-20.7. . diisi sesuai dengan Jenis peralatan yang ada di Pos Bersalin Desa (Polindes).

Pemberian nomor Kode Puskesmas terdiri dari 12 angka. Pengunjung terdiri dari 2 kelompok yaitu 1. Kabupaten/Kota. Pengunjung Lama Pengunjung Lama adalah pengunjung yang dating untuk kedua dan seterusnya. tapi dicatat dalam register pendaftaran pasien. Setiap Pengunjung Baru diberikan Nomor Rekam Medik dengan menggunakan register penomoran dan dibuatkan Folder Rekam Medik.BAB.PENGERTIAN Pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) menganut konsep wilayah kerja Puskesmas berbasis Data per-Desa/Kelurahan. Puskesmas Pembantu. Nomor Rekam Medik diberikan hanya 1 (satu) kali seumur hidup 1. . Puskesmas Keliling. PENGERTIAN. Puskesmas dengan Perawatan dan Jejaring Puskesmas termasuk unit pelayanan kesehatan swasta). yang datang ke Puskemsas dengan jejaringnya yang sama atau berbeda sebagai kunjungan lama atau kunjungan baru dengan kasus lama dan kasus baru. Pengunjung Baru Pengunjung Baru adalah pengunjung yang baru pertama kali dating yang akses di Puskesmas . Desa/Kelurahan dan Puskesmas PENGUNJUNG PUSKESMAS Data untuk pengisian banyak Pengunjung Puskesmas diambil dari Buku register Penomoran yang ada pada addmiting office ( Loket penerimaan pasien atau tempat penjualan karcis yang dibuat setiap hari) . oleh karena itu mencakup semua kegiatan yang dilakukan Puskesmas (termasuk bidan desa. V BATASAN OPERASIONAL 1. Tidak mendapat nomor rekam medik lagi. dengan mengikuti pengelompokan Provinsi. Kecamatan. A.

¨ Kotoran seperti cucian air beras. ¨ Gejala Umum : ¨ Sakit kepala. tidak ada nafsu makan. lemah.1. B. ¨ Gejala Umum : ¨ Sakit kepala. ¨ Dalam waktu singkat dapat terjadi dehydrasi dan menimbulkan syok. LAPORAN BULANAN PENYAKIT (LB1) KODE ICD – 10 I A00-A09 A00 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT PENYAKIT INFEKSI DAN PARASIT TERTENTU PENYAKIT INFEKSI USUS Kolera ¨ Diare mendadak dan terus menerus. ¨ Muntah terus menerus. demam selama 2-3 minggu ¨ Demam Tifoid adalah Infeksi Usus yang disebabkan oleh Salmonella Typhi. tidak ada nafsu makan.0 Demam tifoid A01. DEFINISI OPERASIONAL 1. tidak Spesifik . tidak disertai rasa sakit perut. demam selama 2-3 minggu. berbau amis. lemah.4 Demam paratifoid. ¨ Demam Paratifoid adalah Infeksi Usus yang disebabkan A01. ¨ Pemeriksaan laboratorium ditemukan Vibrio Cholerae di tinjanya.

Infeksi usus karena bakteri ¨ Diare. . sakit perut. tinja bercampur darah dan lendir. sering muntah dan bakteri lainnya panas. muntah. pusing dan nyeri perut. pemeriksaan sputum (secara bakteriologi dan histopatologi) positif mengandung bakteri tuberkulosa. sakit kepala Amubiasis. Kejang lainnya tidak spesifik / kaku perut. Keracunan makanan karena ¨ Diare. ¨ Gejala yang mungkin ada pada penderita adalah : p Batuk berdahak 3 minggu atau lebih. mual.KODE ICD – 10 A02 A03 A04 A05 A06 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A08 A09 A02. ¨ Anus terasa pedih. TUBERKULOSIS Tuberkulosa Paru BTA (+) ¨ Penyakit Tuberkulosa Paru dengan/tanpa pemeriksaan yang di diagnosa dengan biakan. A04.0 oleh Salmonella Paratyphi. Infeksi salmonela lainnya ¨ Diare. mual. Infeksi virus dan Infeksi ¨ Diare dan Demam. Penyakit infeksi usus ¨ Diare.A08 A15-A19 A15. tidak sembuh dengan antibiotik p Pernah mengeluarkan dahak bercampur dengan darah. sakit perut. muntah. Shigelosis. mual. Disentri Basiler ¨ Diare dengan tinja berdarah tidak Spesifik dan berlendir. Disentri Amuba ¨ Diare. usus tertentu lainnya Diare dan Gastroenteritis ¨ Penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari melembek hingga cair serta bertambahnya frekuensi buang air besar (lazimnya tiga kali atau lebih dalam sehari). Kejang lainnya / kaku perut. muntah. mual. A07.

p Demam.0 p Nafsu makan berkurang dan Berat Badan menurun.3 -. ¨ Penyakit Tuberkulosa Paru yang tidak berdasarkan pada pemeriksaan secara bakteriologi maupun histopatologi. Tuberkulosis paru lainnya ¨ Demam.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT p Mengalami sesak nafas dan nyeri pada dada. nyeri dada. p Mengalami sesak nafas dan nyeri pada dada. tidak sembuh dengan antibiotik p Pernah mengeluarkan dahak bercampur dengan darah. berkeringat malam hari Tuberkulosis alat nafas ¨ lainnya Meningitis Tuberkulosa ¨ Tuberkulosa pada Selaput Otak.0 Tuberkulosis paru klinis A 15. penurunan berat badan.2 A16. . ¨ Gejala yang ada pada penderita Meningitis Tuberkulosa adalah : p Kesadaran yang menurun / tidak sadar. A16. ¨ Gejala yang mungkin ada pada penderita adalah : p Batuk berdahak 3 minggu atau lebih.1 – A 16. p Nafsu makan berkurang dan Berat Badan menurun.9 A17.

penurunan tekanan darah. abrasi/luka. ¨ Demam tinggi secara mendadak disertai pembesaran kelenjar pada lipat paha dan ketiak atau leher (disebut Bubo). dapat melalui pernapasan (inhalasi) dan melalui mulut karena makan bahan makanan yg tercemar kuman antraks ¨ Gejala awal rasa gatal tanpa disertai rasa sakit dlm kurun waktu 2-3 hari membesar A22 Antraks . kelemahan. tulang. kegelisahan dan kona (tidak sadar) ¨ Mengeluarkan dahak berdarah tanpa didahulukan oleh gejala batuk sebelumnya (Pes type paru-paru sekunder). Misal : usus. nadi cepat dan tidak teratur. shock. Tuberkulosis organ lainnya ¨ Penyakit Tuberkulosa yang terdapat pada organ lain selalin paru. PENYAKIT INFEKSI BAKTERI HEWAN Pes/Sampar ¨ Penyakit ini ditimbukan karena Infeksi yang disebabkan oleh kuman/bakteri yersinia pestis (Pasteurella pestis). ¨ Antraks adalah suatu penyakit zoonosa yang disebabkan oleh bacillus anthracis ditularkan melalui kulit yang lecet. kelenjar lymphe.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A18 A19 A20-A29 A20 p Sering diikuti dengan kejang pada seluruh tubuh. Tuberkulosis Miliaris ¨ Penyakit tuberkulosa yang menyerang pembuluh darah baik pada paru maupun organ lainnya.gangguan mental. yang ditularkan melalui gigitan pinjal.

dengan gejala konstitusi berupa demam yg sedang.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT menjadi vesikel yang berisi cairan kemerahan. suhu meningkat. pembesaran limpheu daerah abdomen (antraks paru-paru) ¨ Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosa yang disebabkan oleh bakteri leptospira ditularkan melalui kontak dengan air. cyanosis. mual. perut membesar dan keras. terjadi pembengkakan lunak pd kelenjar limpha dengan masa inkubasi 1-5 hari (antraks kulit). A27 Leptospirosis . edema subkutan di daerah dada dan leher. ¨ Rasa sakit perut yg hebat. dispneu. malaise jarang ada. lemah. keringat berlebihan. tdk nafsu makan dan suhu badan meningkat. suhu subfebril dan batuk yg non produktif sesuai dg tanda-tanda bronchitis. dalam waktu 2-4 hari timbul gangguan respirasi berat. hematemesis. edema scrotum dengan masa inkubasi 2-5 hari (antraks pencernaan). stridor. lumpur. acites. kelamahan umum. demam. pembesaran kelenjar limfe daerah inguinal/lipat paha. nadi lemah dan cepat. ¨ Lesu. sakit kepala. muntah. terjadi gastroenteritis akut yg kadang-kadang berdarah. tanaman yg dicemari oleh air seni dari rodent (tikus) dan hewan yg mengandung bakteri leptospira. detak jantung lebih cepat.

paha. nyeri kepala.0 ¨ Gejala umum : demam. ¨ Pada daerah bercak tidak ditemukan keringat dan rambut. Tanda-tanda Klinis Kusta MB : ¨ Tampak Makula dalam jumlah yang banyak ¨ Makula tersebar bilateral tetapi asimetris ¨ Permukaan macula halus dan mengkilap ¨ Batas macula tidak tegas / tidak jelas. atau bercak kemerahan (eritema) atau adanya penebalan kulit dan sub kutis (Infitrat) serta adanya nodul atau benjolan di bawah kulit. INFEKSI BAKTERI LAINNYA Kusta I/T (MB) Gejala Umum Kusta : ¨ Bercak putih (Hipopigmentasi) atau Hiperpigmentasi. nyeri otot khususnya di daerah betis. ¨ Hilangnya atau kurangnya rasa = Hypesthesia atai Hypoesthesia pada daerah bercak. ¨ Otot dibangian sebelah bawah bercak cenderung untuk mengecil utamanya otot tangan (telapak tangan) dan tungkai bawah. serta gagal ginjal. ¨ Rasa hypesthesia atau .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A30-A49 A30.

A30. ¨ Dengan distribusi unilateral. ¨ Permukaan macula kering dan kasar ¨ Batas macula jelas dan tegas ¨ Hilang rasa. ¨ Tanda-tanda klinis : A33 Tetanus Neonatorum p Demam. bila ada biasanya terbatas pada daerah makula ¨ Nodul tidak selalu ada. p Bayi lahir hidup dan bisa menyusui tiba-tiba hari ketiga tidak dapat/sulit minum / menyusu. bilateral atau asimetris.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT hypoesthesia tidak jelas ¨ Infiltrat menyebar. ¨ Tetanus neonatorum adalah yang terjadi pada bayi yang baru lahir. p Mulut mencucu seperti mulut . hypesthesia maupun hopoesthesia sangat jelas ¨ Infiltrat tidak selalu ada.5 Kusta B/L (PB) ¨ Nodul tidak selalu ada. Tanda-tanda Klinis Kusta MB : ¨ Makula dapat muncul dalam jumlah yang tidak banyak yaitu 1 – 5 makula.

¨ Adalah Tetanus yang terjadi pada anak (balita. ¨ Penyakit yang timbul karena infeksi Corynebacterium diphtaeria ¨ Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan apus tenggorokan ¨ Tanda-tanda klinis : A36 Difteria p Panas p Terdapat selaput putih (pseudomembrane) pada laring. selain neonatus) dan orang dewasa. p Tidak menangis hanya merintih p Sering diikuti dengan sesak nafas. p Kesadaran menurun. .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT ikan GEJALA PENYAKIT p Kejang-kejang. p Kesadaran menurun p Demam p Kejang p Tidak dapat makan maupun minum. ¨ Tanda-tanda klinis : A35 Tetanus lainnya p Biasanya didahului dengan adanya luka pada tubuh.

p Batuk semakin kuat dan berlangsung terus menerus. sehingga dapat menimbulkan cyanosis. p Didahului dengan batuk ringan. bersin-bersin dan pilek. p Sesak nafas disertai dengan nafas berbunyi disebut sebagai stridor. ¨ Fase Penyembuhan = Konvalesen. Disebut Pertusis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis Tanda-tanda klinis terdiri dari 3 fase yaitu : ¨ Fase Katarak. mata melotot sampai dengan timbul perdarahan sub kunjungtiva. lidah menjulur. p Sakit waktu menelan. A37 Pertusis/Batuk rejan p Berlangsung selama 2 minggu.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT pharing atau tonsil. p Berlangsung pada minggu ke 9 . p Berlangsung pada minngu ke 4 – 6. p Lehermembengkak disebut dengan bulls neck. sulit berhenti. dan menimbulkan kesan sesak nafas hebat. ¨ Fase Paroksismal.

fibrinogen PENYAKIT INFEKSI YANG DITULARKAN MELALUI HUBUNGAN SEKSUAL Sifilis kongenital/bawaan ¨ Sifilis bawaan sejak lahir biasanya pada bayi yang ditularkan oleh ibu yang menderita IMS ¨ Gejala umum : matanya banyak sekret mata sampai tertutup Sifilis dini ¨ Tampak lesi “chancre” pada daerah kemaluan. cutis marmoratae. Pada keadaan lanjut maka akan tampak pembesaran kelenjar Bartholini dan Skene di daerah bibir kecil kemaluan. trombositopenia.KODE ICD – 10 A39 A40-A41 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT A50-A64 A50 A51 A54 A65-A66 A66 – 10. Infeksi Gonokok ¨ Pada Pria : keluarnya cairan abnormal dari alat kelamin berupa nanah yang terjadi secara akut. Infeksi Meningokok ¨ Septisemia ¨ Manifestasi umum infeksi disertai gangguan fungsi organ multipel antara lain berupa hiperpireksi. . Penurunan kadar protrombin. berbentuk buah arbei dengan permukaan basah. menggigil. anemia dan CRP positif. proteinuria ¨ Pemeriksaan penunjang : leukopenia atau leukositosis. PENYAKIT SPIROKAETAL LAINNYA Frambusia ¨ Lesi pertama berbentuk Papiloma akan muncul di daerah dimana Treponema masuk ke dalam tubuh. disertai rasa sakit / panas waktu buang air kecil. granulasi toksik. gaduh gelisah. ¨ Pada Wanita : seringkali tidak tampak adanya gejala.

plak dan nodule. papula. hydraarthosis. maculapapula. ¨ Tampak “Wet Crab” papiloma pada telapak tangan dan kaki. ¨ Ditemukan juga demam. ¨ Hyperkeratosis ¨ Kelainan pada tulang dan sendi yaitu ekstremitas gangosa. mikro-papula. PENYAKIT LAIN KARENA CHLAMYDIA Trakoma ¨ Kedua mata tampak merah dan berair ¨ Penderita sukar melihat cahaya terang dan merasa gatal di matanya ¨ Ditemukan folikel terutama di konjungitiva tarsalis superior dan kornea daerah limbus superior INFEKSI VIRUS PADA SUSUNAN SARAF PUSAT Poliomielitis akut ¨ Demam waktu mulai sakit ¨ Rangsangan pada selaput otak A70-A74 A71 A80-A89 A80 . ¨ Papiloma tersebar disekitar dubur. nyeri tulang dan persendian.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT tidak ada nanah. ¨ Makula. Ulcerasi. module di artikulasi. sakit kepala. ¨ Tampak Gummata. mulut vagina.

¨ ¨ Sulit menelan. Demam tinggi Sakit kepala hebat A82 Rabies ¨ Kelumpuhan mulai dari tungkai menjalar ke atas. demam. Meningitis karena virus ¨ Lesu. ubun-ubun besar menonjol dan tegang DEMAM BERDARAH VIRUS dan DEMAM VIRUS DITULARKAN OLEH ARTROPODA Demam Dengue ¨ Peningkatan suhu mendadak (39 – 40 0C disertai menggigil ¨ Nyeri kepala dan muka kemerahan ¨ Nyeri pada belakang mata apabila mata digerakkan atau A87 A90-A99 A90 . sakit kepala dan anoreksia ¨ Kesadaran menurun. ¨ Kelumpuhan ekstremitas dan biasanya asimetris. ¨ Sulit bernafas dan kesadaran menurun ¨ Keadaan ini terjadi beberapa minggu samapai dengan satu tahun setelah gigitan. kejang. muntah. ¨ ¨ ¨ ¨ Reflek Tendon menurun Rasa raba biasanya normal. Takut air. timbul antara hari ke 3 dan 4.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT ¨ GEJALA PENYAKIT Nyeri otot berat.

keluar darah dari hidung.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT bola mata digerakkan ¨ ¨ ¨ ¨ ¨ Fotofobia Nyeri otot atau sendi Anoreksia Konstipasi. nyeri pada ulu hati.0 Chikungunya B00-B09 B00 ¨ Ruam kemerahan pada kulit INFEKSI VIRUS DENGAN LESI KULIT DAN MEMBRAN MUKOSA Infeksi herpesvirus (herpes ¨ Gejala awal : Demam yang simplex) berlangsung kira-kira 3 minggu . mutah darah. nyeri perut/kolik Nyeri tenggorokan A91 ¨ Depresi pada pasien demam Demam Berdarah Dengue ¨ Demam mendadak 2 – 7 hari tanpa penyebab yang jelas ¨ Gelisah. ¨ Timbul bercak merah “Purpura” dan pendarahan kulit berbentuk bintik-bintik “Ptechiae”. ¨ Pada keadaan lanjut dapat terjadi buang air besar bercampur darah. ¨ Pada keadaan berikutnya dapat terjadi kesadaran menurun sampai syok ¨ Demam ¨ ¨ Persendiaan sakit Nyeri otot A92.

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ¨ Kelainan umumnya berupa vesikel berkelompok diatas kulit yang eritematous. B01 Varisela/Cacar Air B05 Campak B15-B19 B15 HEPATITIS VIRUS Hepatitis A akut (klinis) ¨ ¨ ¨ Demam Badan lemas Mual ¨ Selaput mata berwarna kuning atau air kencing berwarna . ¨ Isi vesikel dapat jernih maupun seropurulen ¨ Pada daerah genitalis sering terjadi infeksi sekunder. ¨ Rasa gatal dan pedih di daerah bintik kemerahan ¨ Demam ¨ Timbul kemerahan pada kulit ¨ Becak koplik pada daerah mukosa mulut bagian bukal. ¨ Radang selaput mata (konjungtiva). ¨ Timbul merah-merah pada kulit seluruh tubuh dan kemudian berisi nanah karena sering disertai dengan infeksi sekunder. sehingga ruamnya dapat berubah menjadi ulserasi ¨ Demam. ¨ Sering diikuti dengan batuk dan pilek.

PENYAKIT VIRUS GANGGUAN DEFISIENSI IMUN PADA MANUSIA Penyakit HIV /AIDS ¨ Gejala : Asimptomatik. muntah dan nyeri otot selama 1-2 hari. onikomikosis. infeksi saluran nafas bagian atas seperti sinusitis bakterialis PENYAKIT VIRUS LAINNYA Parotitis (Gondong) ¨ Masa tunas antara 14-24 hari ¨ Pembekakan parotis yang mula-mula unilateral. limfadenopati generalisata. herpes zoster dalam 5 tahun terakhir. berat badan menurun <10%. biasanya diawali demam sakit kepala. prurigo.KODE ICD – 10 B16 JENIS PENYAKIT Hepatitis B akut GEJALA PENYAKIT seperti air teh ¨ Tidak nafsu makan ¨ ¨ Demam. Pembekakan ini B20-B24 B20-B24 B25-B34 B26 . anoreksia. ulkus oral yang rekuren. ¨ Air kencing berwarna kuning tua seperti air teh dan kental. muntah Pegal linu dan sakit kepala B17-B19 Hepatitis Virus lainnya ¨ Selaput mata berwarna kuning atau air kencing berwarna seperti air teh ¨ Demam ¨ Badan lemah ¨ Mual berkepanjangan sehingga nafsu makan menurun. kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti dermatitis seboroik. kheilitis angularis. mual. ¨ Selaput mata (konjungtiva) berwarna kuning.

demam mendadak hilang timbul. menggigil. demam Tropika) hingga timbul. ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium falciparum. menggigil. ¨ Gejala yang timbul menunjukan ciri khas penyakit malaria. sekit ovale kepala. sekit Falsiparum (Malaria kepala.0 B53. ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium malaria Malaria karena Plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot. demam mendadak hilang timbul. ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium vivax Malaria karena plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot. Malaria karena plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot. menggigil. sekit malaria kepala. sakit kepala terklasifikasikan sampai menggigil.8 B54 nyeri pada perabaan atau pada saat penedrita makan/minum sesuatu yang asam PENYAKIT DISEBABKAN OLEH PROTOSOA Malaria karena plasmodium ¨ Sakit pada otot-otot. demam mendadak hilang timbul. menggigil.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT B50-B64 B50 B51 B52 B53. sakit parasitologik tidak pada otot-otot. ¨ Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan plasmodium ovale Malaria terbukti secara ¨ Demam hilang timbul. tetapi pada pemeriksaan laboratorium ditemukan penyebab penyakit malaria Malaria Klinis ¨ Gejala penyakit malaria dapat diketahui tetapi tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium maupun pada pemeriksaan laboratorium tidak . sering disertai dengan kesadaran menurun. sekit Vivaks (Malaria Tertiana) kepala.

¨ Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenitis) di daerah lipatan paha. Biasanya pembesaran ini dapat berkurang /menghilang setelah serangan akut. panas. gejala sistemik lainnya dapat berupa mual.KODE ICD – 10 B65-B83 B74 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ditemukan penyebab malaria PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH CACING Filariasis ¨ Demam berulang selama 3 – 5 hari. terasa panas dan sakit serta menjalar dari pangkal paha/ketiak kearah ujung (limfangitis retrograd) ¨ Abses (bisul) didaerah lipat paha/ketiak yang dapat pecah. pembesaran menjadi menetap. kemerahan. sakit (stadium dini). timbul ulkus dan setelah sembuh meninggalkan bekas berupa jaringan parut (Skar) ¨ Pembesaran tungkai. medial paha/lengan serta ketiak walaupun tidak ditemukan adanya luka. yang tampak kemerahan. . Biasanya tampak benjolan kemerahan. Bila serangan timbul berulang kali. buah dada. Demam dapat hilang timbul sendiri biasanya berkaitan dengan aktifitas fisik. buah zakar. ¨ Radang saluran getah bening yang teraba seperti tali. muntah. sakit dan panas. lengan. ¨ Kedaan lanjut akan ditemukan Kaki Gajah.

AKARIASIS & GANGGUAN OLEH KUTU LAINNYA Skabies ¨ Lesi Inflamasi umumnya terjadi di daerah genitalia. di antara jari-jari tangan. rongga ¨ mulut. berat badan menurun. diare. TUMOR GANAS/NEOPLASMA GANAS Tumor Ganas bibir. Diagnosis askariasis dan trikhuriasis dengan menemukan telur dalam tinja penderita.lesu/lemas ¨ Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi Askariasis (Penyakit Cacing ¨ Kolik perut. di bawah lipat payudara. badan kurus walaupun banyak makan. lipat ketiak dan daerah lipatan lunak lainnya disertai dengan rasa gatal terutama pada malam hari.KODE ICD – 10 B76 JENIS PENYAKIT Penyakit Cacing tambang GEJALA PENYAKIT B77 B79 B80 B85-B89 B86 II C00-C14 C15-C26 C30-C39 ¨ Perut buncit. mual. sampai dengan Cacing Cambuk) anemia ¨ Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi Enterobiasis ¨ Gejala yang khas adalah gatal-gatal di sekitar anus pada waktu malam hari saat cacing betina keluar dari usus untuk meletakkan telunya di daerah perianal. faring Tumor Ganas saluran ¨ pencernaan Tumor Ganas sistem ¨ Batuk. tidak nafsu makan dan mudah lelah ¨ Pemeriksaan Laboratorium untuk konfirmasi Trikhuriasis (Penyakit ¨ Diare. sedangkan untuk enterobiasis dapat ditegakkan dengan anal swab karena telur E. . sakit perut Gelang) mendadak. vermicularis tidak dikeluarkan bersama tinja penderita. PEDIKULOSIS.

lekas lelah dan sakit kepala D53.9 Tumor Ganas Leher Rahim ¨ C54. D60.9 Anemia Defisiensi Gizi ¨ D51-D58. tempat dan tidak spesifik PENYAKIT DARAH DAN ALAT PEMBENTUK DARAH dan BEBERAPA KELAINAN YANG III BERHUBUNGAN DENGAN MEKANISME KEKEBALAN (IMUN) D50 Anemia Defisiensi Besi ¨ Lemas.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT pernafasan dan alat di sakit dada dan sesak nafas dalam rongga dada C50 Tumor Ganas Payudara ¨ C51-C58 TUMOR GANAS ALAT KELAMIN WANITA C53. rasa baal ¨ Sering haus dan lapar. GIZI DAN IV METABOLIK E14 Diabetes Mellitus tidak ¨ Penderita dengan reduksi spesifik urin positif (benedik atau tes celup dengan kertas lakmus) ¨ Sering mengeluh lemah. sering berdebar. D62-D64 Anemia lainnya ¨ PENYAKIT KELAINAN ENDOKRIN.9 Tumor Ganas Korpus rahim ¨ C56 Tumor ganas indung telur ¨ C60-C63 TUMOR GANAS ALAT KELAMIN PRIA C61 Tumor Ganas Prostat ¨ D10-D36 TUMOR JINAK D36 Tumor Jinak Lainnya dan ¨ tidak spesifik tempatnya TUMOR TERTENTU ATAU TIDAK DIKETAHUI D37-D 48 PERILAKUNYA D48 Tumor tertentu atau tidak ¨ diketahui perilaku lainnya. Sering berkemih ¨ ¨ Berat badan menurun Gatal pada anggota badan .

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT yang kronis ¨ Bisul di kulit atau mungkin keputihan pada wanita ¨ Terjadi edema seluruh tubuh terutama di punggung kaki ¨ Wajah membulat dan sembab. iga gambang. otot mengecil E40 Kwasiorkor E41 E42 E43 E44 E45 E46 E50 E66 E86 V F19 F20. kebingungan. perut cekung. gangguan . wajah seperti orang tua dan kulit keriput Marasmik-Kwasiorkor ¨ Kurang Kalori Protein Berat¨ tidak Spsifik Kurang Kalori Protein ¨ Sedang dan Ringan Gangguan pertumbuhan ¨ karena kurang kalori portein Malnutrisi protein dan ¨ kalori tidak spesifik. perut buncit. Kekurangan Vitamin A ¨ Obesitas ¨ Deplesi volume (dehidrasi) ¨ GANGGUAN JIWA DAN PERILAKU Gangguan jiwa dan perilaku ¨ Gangguan perilaku dan yang disebabkan oleh emosi akibat penggunaaan obat / penggunaan lebih dari satu zat psikoaktif jenis obat dan zat psikoaktif lainnya Skisofrenia ¨ Gangguan kemampuan/daya menilai realitas ¨ Gangguan proses pikir : waham.9 ¨ Pandangan mata sayu dan rambut tipis/kemerahan Marasmus ¨ Badan tampak sangat kurus.

Emosi berubah-ubah dengan perubahan perasaan sementara baik gembira atau gembira yang luar biasa. atau kecemasan dan kerentanan. penciuman.Jika terdapat gejala yang menetap. perubahan dari hari ke hari atau dari jam ke jam.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT daya ingat. Berbagai macam bentuk ini menggambarkan gambaran klinis dari psikosa yang tidak termasuk dalam diagnosa schizoprenia (F20. ¨ Gangguan ini sering terjadi pada onset tiba-tiba. dan kadang-kadang terlihat dalam pemecahan gejala yag cepat tanpa berulang kembali. Gangguan Psikotik akut dan ¨ Gangguan psikosa akut sementara polimorfik tanpa gejala schizoprenia ¨ Gangguan psikosa akuta dimana halusinasi. perabaan. pengecapan. sussana perasaan/afek tumpul atau tidak sesuai F23 ¨ Gangguan persepsi : halusinasi penglihatan.Bouffe delirante tanpa gejala dari schizoprenia atau yang . diagnosa harus digantu menjadi gangguan waham yang menetap (F22.-).-). waham atau gangguan persepsi nyata tetapi bervariasi. meningkat cepat dalam beberapa hari. pendengaran. ¨ Gangguan suasana perasaan/afek. juga biasanya terjadi.

kemunduran psikomotor.tanpa gejala dari schizoprenia atau yang tidak spesifik. atau stupor yang berat.Psikosa sikloid. ¨ Kategori ini harus dimasukkan kedalam satu episode dan ganggua yang berulang .tipe manik. tipe manik: psikosa schizoprenifom.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT tidak spesifik. dimana tidak mungkin melakukan F25 Gangguan Skizoafektif F32 Episode depresif . waham. Psikosa schizoafektif . tipe manik ¨ Gangguan dimana terdapat baik gejala schizoprenik dan manik dominan. sehingga episode penyakit tidak dapat didiagnosis menjadi schizoprenia atau episode mania. Pasien biasanya mengalami depresi tetapi masih dapat beraktivitas ¨ Sedang : Empat atau lebih gejala diatas biasanya ditemukan dan pasien biasanya mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas biasanya ¨ Berat : Episode depresi berat dengan gejala psikosa Episode depresi seperti diatas tetapi disertai adanya halusinasi. ¨ Gangguan Schizoafektif.Dimana episode yang utama adalah schizoafektif. tipe manik Episode depresif : ¨ Ringan : Dua atau tiga gejala yang sudah disebutkan diatas.

berulang kali. dehidrasi. seperti : Depresi.. Disfungsi seksual. Obsesi ¨ Kedaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap yang teruatama oleh F45 Gangguan somatoform F48 Gangguan emosi (neurotik/psisomatik) lainnya F79 Retardasi Mental tidak spesifik . Tidak termasuk: sakit untuk menghindari tugas (rangsangan sadar ) ¨ Gejala utama : anxietas/kecemasan. Halusinasi atau waham yang utama tidak dapat menjadi mood yang sejalan. Jangka waktu singkat (kurang dari dua tahun) dan pola gejala yang kurang menyerang harus diklasifikasikan dalam penyakit badan yang tidak dibedakan. atau kelaparan. dapat membahayakan diri dengan usaha bunuh diri. dan keluarga.gejala dapat ditujukan kepada bagian atau sistem tubuh yang mana saja. yang banyak penyelidikan negatif atau kegagalan operasi telah dilakukan.gejala jasmani dalam waktu sedikitnya dua tahun. Phobia. Gejala. Kebanyakan pasien memiliki sejarah yang panjang dan kompleks dalam hubungan dengan perawatan medis primer dan spesialis. ¨ Kelainan somatisasi Ciri. Kelainan psikomatic banyak.ciri utama adalah banyak. yang dialami atau diekspresikan secara langsung atau diubah menjadi gejala. dan sering bergantinya gejala. dan sering disertai gangguan prilaku sosial. Kejadian pada kelainan kronis dan fluktuatif.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT aktivitas sosial yang umum. beberapa orang.

¨ Mengeluh mual sampai muntah ¨ G98 VII H10. kaku kuduk.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT VI G00 G40-G41 G43-G44 adanya hambatan ketrampilan selama masa perkembangan. jaringan mukosa tipis dan transparant yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian depan sklera sampai limbus dengan bagian liapatan diantaranya . Epilepsi ¨ Kejang yang dimulai dengan hilangnya kesadaran. hilangnya kendali terhadap gerak dan terjadinya kejang tonik atau klonik pada anggota badan ¨ Nafas mendekur. mulut berbusa Migren dan sindrom nyeri ¨ Pada periode awal mungkin kepala lainnya merasa gelisah. tidak nafsu makan dan mudah tersinggung ¨ Nyeri kepala khas berdenyut.9 Gangguan lain pada Susunan Saraf yang tidak terklasifikasikan PENYAKIT PADA MATA DAN ADNEKSA Konjungtivitis ¨ Radang pada conjunctiva. sehingga berpengaruh pada semua tingkat intelegensia yaitu kemampuan kognitif. bahasa. kesadaran menurun reflek patologi positif. motorik dan sosial. kejang klonik. Pemeriksaan laboratorium pada cairan serebrospinal (tulang belakang) dapat ditemukan bakteri penyebab meningitis. PENYAKIT SUSUNAN SARAF Meningitis bakterialis ¨ Panas. unilateral dan bertambah berat setelah aktifitas fisik.

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ¨ Mata merah. penglihatan tidak kabur. terdapat korotan mata (secret). ¨ Kekeruhan lensa mata karena usia lanjut ¨ Penglihatan kabur secara perlahan-lahan. trauman. berair. ¨ Melihat seperti terhalang asap / kabut. H16. silau. kelopak mata bengkak. pedih. Katarak lain tidak spesifik ¨ Kekeruhan lensa karena sebab lain (kongenital. ¨ Penglihatan menjadi kabur atau ketajaman penglihatan menurun. infeksi) ¨ Katarak congenital : sejak lahir pupil berwarna putih dan lensa keruh.9 Keratitis H25 Katarak senilis H26 ¨ Mata tidak merah. ¨ Radang pada kornea ¨ Mata nyeri atau tarasa seperti ada benda asing. ¨ Katarak traumatic : p Penglihatan kabur secara perlahan-lahan p Melihat seperti terhalang asap / kabut p Ada riwayat trauma p Mata tidak merah p Katarak akibat penyakit .

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT sistemik (Misalnya iabetes Militus. ¨ BUTA : Tajam penglihatan <= 3/60 pada mataterbaik dengan koreksi terbaik ¨ RABUN : tajam penglihatan > 3/60 dan < 6/18 pada mata terbaik dengan koreksi terbaik Adalah gangguan mata lainnya : ¨ Pterigium : pertumbuhan selaput di conjunctiva yang dapat H54 Buta dan Rabun H57-H59 Gangguan Mata dan adneksa lainnya . muntahmuntah. mata merah ¨ Penglihatan kabur H40 Glaukoma tidak spesifik H52 Gangguan Refraksi dan Akomodasi ¨ Tekanan bola mata meninggi (palpasi meningkat) ¨ Gangguan pembiasan sinar ¨ Secara fisiologis tidak tampak kelainan mata ¨ Myopia = Rabun Jauh (minus atau Plus) p Penglihatan jauh kabur p Membaca dan menonton Televisi terlalu dekat ¨ Presbyopia = Rabun dekat p Kalau mambaca perlu alat bantu kaca mata plus p Penglihatan dekat terganggu p Kepala pusing p Usia diatas 40 tahun. therafi kortikosteroid) ¨ Sakit kepala.

¨ Hordeolum : radang akut kelenjar minyak kelopak mata ¨ Chalazion : Radang khronis kelenjar minyak kelopak mata ¨ Blepharitis : Radang pinggir dan pada kelopak mata ¨ Uveitis : radang pada selaput pelangi mata ¨ Dacryocystitis : radang pada saluran air mata ¨ Dacryoadenitis : Radang pada kelenjar air mata VIII H60 ¨ Strabismus/juling : kelainan keseimbangan otot bola mata Endhoptalmitis (infeksi yang terjadi pada intraokuler setelah mengalami operasi atau trauma) PENYAKIT TELINGA DAN PROSESUS MASTOIDEUS Otitis eksterna Radang telinga luar akut maupun khronis yang disebabkan karena bakteri. banyak terjadi saat udara panas dan .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT mengenai kornea. merupakan radang folikel rambut yang disebabkan kuman stafilokokus aureus atau. S. jamur maupun virus Klasifikasi Otitis Externa : ¨ Otitis Externa Sirkumskripta (Furunkel) . Albus ¨ Otitis Externa Difus : dikenal sebagai swimmer ear.

banyak terdapat pada penduduk tropis dan penyebabnya aspergillus niger.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT kelembaban tinggi ¨ Otomikosis : merupakan radang karena jamur. antrum dan sel mastoid. candida albicans dan pityrosporum ¨ Otitis Externa Maligna : sering terdapat pada orang tua dengan diabetes mellitus. tidak spesifik missal alergi. Sensasi cairan telinga Tinitus. vertigo (terkadang) H70 Mastoiditis ¨ Pemeriksaan otokopik tampak membran timpani : suram. Radang pada tulang mastoid . cairan ditelingan tengah. unilateral dengan penyebab pseudomonas H65 H66 ¨ Otitis Externa Eksim : merupakan radang khronis yang meluas dari liang telinga ke jaringan sekitranya akibat reaksi kerentanan kulit Otitis Media Nonsupurativa ¨ Peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. inflamasi. Tuba eustachius. ¨ ¨ ¨ Pendengaran terganggu. mobilitas terganggu. ¨ Klasifikasi Otitis media serosa akut (barotrauma) dan Otitis media serosa khronis (Glue Ear) Otitis Media Supurativa ¨ Faktor penyebab non infeksi.

lunak dan nyeri tekan. ¨ Demam tinggi disertai keadaan umum lemah. discharge purulen ¨ Penonjolan pada dinding posterosuperior liang telinga (saging) H72 ¨ Udema daerah postaurikuler. ¨ Otoskopik : membran timpani perforasi. otalgia (nyeri telinga) ¨ Otoskopik : membran timpani merah. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf cochlea dan umumnya terjadi pada 2 telinga H93 .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT akibat komplikasi OMSK ¨ Kegagalan terapi otitis media supuratif akut. menonjol atau perforasi disertai discharge Gangguan telinga lain tidak ¨ Tuli kongenital : tuli pada spesifik bayi yang disebabkan faktor yang mempengaruhi kehamilan maupun saat lahir ¨ Tuli akibat bising (noise induced hearing loss/NIHL) adalah ketulian akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu lama biasanya disebabkan bising lingkungan kerja. Perforasi membran timpani ¨ Pecahnya gendang telinga akibat infeksi atau trauma ¨ Demam.

¨ Bersifat khas. berat/diremas-remas. terbakar ¨ Lama serangan nyeri < 20 menit dan hilang bila istirahat ¨ Pada pemeriksaan EKG didapatkan gambaran depresi atau elevasi segmen ST ¨ Nyeri dada seperti pada angina tetapi lama serangan nyeri > 20 menit dan tidak bisa hilang walaupun beristirahat. yang penyebabnya tidak diketahui/tidak diikuti oleh penyakit lainnya Hipertensi sekunder ¨ Hipertensi yang diakibatkan oleh kelainan/penyakit pada organ-organ tertentu atau penggunaan obat-obat tertentu jangka panjang (obat golongan kortikostreroid. dapat diikuti dengan peningkatan kadar enzim jantung ¨ I21 Infark miokard Akut I23-I25 Penyakit Jantung Iskemik .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT IX I10 I15 I20 ¨ Presbikusis adalah tuli saraf jenis sensorineural (saraf) frekuensi tinggi terutama di atas 2000 Hz. pil kontrasepsi) Angina pektoris ¨ Penderita mengeluh nyeri dada ¨ Keluhan nyeri dada sebelah kiri atau tengah seperti tertekan. terjadi pada usia lanjut simetris 2 telinga PENYAKIT SISTEM PEMBULUH DARAH Hipertensi Primer (esensial) ¨ Meningkatnya tekanan darah sistolic > 140 mmHg dan atau diastolic > 95 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang).

nyeri menelan ¨ Pembesaran kelenjar Limfe leher ¨ Dinding pharynx hyperemis (merah) ¨ Nyeri pada daerah hidung. hemiestesia dengan atau tanpa gangguan sensibilitas yang timbul secara mendadak ¨ Pada progressive stroke. gejala neurologik tidak berkembang lagi ¨ ¨ ¨ Tekanan darah di bawah normal ¨ Penyakit Pembuluh darah lain tidak spesifik PENYAKIT SYSTEM PERNAFASAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS AKUT Nasofaringitis Akuta ¨ Diawali rhinitis (Common Cold) dengan/tanpa conjuctivitis ¨ Demam. ¨ ¨ GEJALA PENYAKIT I 65-I69 I 84 I 95 I 99 X J00-J06 J00 Penyakit Serebrovaskular tidak spesifik Hemoroid (Wasir) Hipotensi tidak spesifik ¨ ¨ Gangguan neurologik berupa kelemahan atau kelumpuhan dapat berupa hemiparese. muka dan sakit kepala J01 Sinusitis Akuta . tidak menyebut perdarahan atau infark. hemiplegia.KODE ICD – 10 I26 I50 I 63 I 64 JENIS PENYAKIT lainnya Emboli paru Penyakit Gagal Jantung (Decompensatio Cordis) Infark serebral Stroke. sakit kepala. meluas dan bertambah berat selama beberapa jam hingga beberapa hari sedangkan pada completed stroke. gejala berkembang.

KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT ¨ Sumbatan hidung. gejala menghebat pada malam hari Penyakit Infeksi Saluran ¨ Didahului oleh infeksi Pernafasan Atas Akut tidak saluran nafas akut spesifik ¨ Batuk khas diikuti oleh sesak napas yang makin berat. menggonggong) non produktif disertai sesak napas. ¨ Tonsil membesar dan kemerahan ¨ Sering disertai pembesaran kelenjar limphe leher. bau mulut. suara sesak (stridor) ¨ Sakit berat. nasal discharge purulent dan berbau ¨ Mukosa kemerahan dan post nasal drip ¨ Udem periorbita (keadaan lanjut) ¨ Infeksi terbatas pada kelenjar limphe faring dan tonsil. sering berasal dari sinusitis ¨ Demam. post nasal drip ¨ Faring merah dan udem ¨ Nyeri menelan. demam. gelisah. duduk . ¨ Sering pada anak umur < 5 thn ¨ Demam Didahului oleh infeksi saluran nafas akut J02 Faringitis Akuta J03 Tonsilitis Akuta J04 Laringitis dan Trakeitis Akuta J06 ¨ Batuk khas (serak. Nyeri telan.

¨ Tenggorokan tampak hyperemia. hidung tersumbat. nyeri otot. bersin dan ingus encer disertai faringitis. • J10-J11 Influenza ¨ Biasanya sembuh sendiri dalam 3 – 5 hari. ¨ Sekret dapat bersifat serius. seromukus atau muko purilen bila ada infeksi sekunder. ¨ Dalam rongga hidung tampak konka yang sembab dan hyperemia.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT J09-J18 J09 posisi tegak diikuti dengan liur menete drooling INFLUENZA DAN PNEUMONIA Suspek Avian Influenza/ ¨ gejala demam (suhu > 38°C). Flu Burung batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau ber-ingus serta dengan salah satu keadaan : • o Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB Flu Burung • o Kontak dengan kasus konfirmasi Flu Burung dalam masa penularan o Bekerja pada satu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita Flu Burung ¨ virus akut yaitu demam. sakit kepala. . nyeri sendi dan nafsu makan hilang disertai gejala local berupa rasa menggelitik sampai nyeri tenggorokan kadang batuk kering.

dispneu. retraksi dinding dada bawah atau nafas cuping hidung. PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAFASAN BAWAH AKUT LAINNYA Infeksi saluran pernafasan ¨ bawah akut tidak spesifik PENYAKIT SALURAN PERNAFASAN LAINNYA Alergi Rhinitis akibat kerja ¨ Sinusitis Kronik ¨ Sakit kepala.3 J 32 J36-J39 J40 . sakit kepala. ¨ Tachypneu. sakit kepala lesu dll. ¨ Batuk yang mungkin kering atau berdahak mukopurulen. sianosis ¨ Batuk yang mungkin kering atau berdahak mukoporulent bahkan mungkin berdarah ¨ Gejala umum infeksi adalah demam. Napas bawah : takipneu.0 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT Broncho Pneumonia tidak ¨ Gejala umum infeksi adalah spesifik demam. ronchi basah halus nyaring pada bronkopneumonia dan bronkofoni positif. sianosis ¨ Tanda Pneumonia : perkusi pekak pada pneumonia lobaris. lesu ¨ Gejala umum penyakit sal. retraksi dinding dada bawah atau napas cuping hidung.KODE ICD – 10 J18. nyeri tekan di daerah sinus Penyakit Saluran ¨ Pernafasan Bagian Atas lainnya Bronchitis tidak ditentukan ¨ Batuk lama akut atau kronik J12-16. purulen bahkan mungkin berdarah. J18.9 Pneumonia J20-J22 J22 J30-J99 J 30. dispneu.

KODE ICD – 10

JENIS PENYAKIT ¨

GEJALA PENYAKIT Sputum produktif

J45

Asma

¨ Lama 3 bulan pertahun, selama 2 tahun berturut-turut ¨ Sesak nafas disertai suara wheezing (mengi) akibat kesulitan ekspirasi cyanosis bila berat ¨ Pada auskultasi terdengar wheezing dan akspirasi memanjang. ¨ Keadaan sesak hebat yang ditandai dengan giatnya otot-otot Bantu pernafasan dan sianosis dikenal sebagai status asmatikus yang dapat berakibat fatal, retraksi intercostals ¨ ¨ ¨ Hipersonor.

J46 J47 J84.9 XI K02

Status Asthmatikus Bronkiektasis dan Bronkiolektasis Penyakit Jaringan ¨ Interstitial Paru lainnya PENYAKIT SISTEM PENCERNAKAN Karies gigi ¨ Awal kerusakan gigi tampak kehitaman dibagian permukaan pit, fssure atau interproksimal gigi. ¨ Pada sondasi tersangkut

¨ Pada kerusakan gigi lebih lanjut, tampak gigi berlubang yang dapat meluas dari lapisan email sampai dentil, tetapi belum mengenai jaringan pulpa. Dapat juga mengenai semen gigi.

KODE ICD – 10

JENIS PENYAKIT

GEJALA PENYAKIT

K04

¨ Penderita tidak selalu mengeluh dengan rangsangan makanan/minuman manis, asam, panas dan dingin Penyakit Pulpa dan jaringan ¨ Gigi berlubang sudah Periapikal mengiritasi jaringan pulpa (Hyperraemi Pulpa). ¨ Terasa nyeri berdenyut terus menerus. ¨ Terasa sakit bila ada rangsangan asam, manis, dingin dan panas atau tanpa rangsangan. ¨ Pada keadaan lanjut kerusakan dapat mengenai jaringan pulpa dan jaringan periapikal (gangren pulpa, periodontitis apikalis). ¨ Jika menguyah terasa sakit dan mengganjal ¨ Pada perkusi / druk terasa sakit. ¨ Radang gusi ¨ ¨ ¨ Gusi berwarna merah Mulut berbau Tampak adanya saku gusi

K05-K06

Penyakit Gusi, jaringan Periodontal dan tulang alveolar

¨ Tidak terasa nyeri kadang terasa gatal ¨ Pada keadaan lanjut terjadi periodontitis marginalis (bukan penyebab gigi karies). ¨ Adanya saku gusi yang dalam dan gusi tampak kotor

KODE ICD – 10

JENIS PENYAKIT

GEJALA PENYAKIT (karang gigi dan stain)

K07

K08

K09

K25 K29.9 K 30 K35

K36 K40 K41 K42 K63 K76 K92 XII L01 L02

¨ Termasuk rdang gusi geraham bungsu (pericoronitis) gejala yang tampak : merah, demam, sukar membuka mulut dan abses. Kelainan dentofasial ¨ Gigi goyang bahkan bisa termasuk maloklusi sampai tanggal akibat penyakit sistemik (antara lain : Diabetes Mellitus). ¨ Gigi tanggal akibat kecelakaan penyakit periodontal. Gangguan Gigi dan jaringan¨ Kista ronga mulut, penyakit penunjang lainnya rahang, kelenjar ludah, stomatitis, penyakit bibir dan mukosa mulut, dan penyakit pada lidah. Penyakit rongga mulut, ¨ kelenjar ludah, rahang dan lainnya. Tukak Lambung ¨ Gastroduodenitis tidak ¨ spesifik Dispepsia ¨ Apendisitis Akuta tidak ¨ Nyeri perut biasanya spesifik dimulai di epigastrium, kemudian berpusat di letak apendiks Apendisitis lainnya ¨ Hernia Inguinalis ¨ Hernia Femoralis ¨ Hernia Umbilikalis ¨ Penyakit Usus Halus ¨ lainnya Penyakit Hati lainnya ¨ Penyakit Sistem Pencernaan ¨ tidak spesifik PENYAKIT KULIT DAN JARINGAN SUBKUTAN Impetigo ¨ Abses, furunkel, karbunkel ¨

5 Low Back Pain (Nyeri Punggung Bawah) ¨ Nyeri biasanya timbul bila udara dingin (pada artritis rematoid) ¨ Low Back Pain adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah. XIII M10 M13 Dermatitis lain. ¨ Adanya nyeri pada punggung bawah yang timbul tak . Ruam kulit ¨ Gatal ¨ Ruam kulit ¨ L30. hangat. merah ¨ ¨ ¨ ¨ Nyeri pada saat bergerak Sendi-sendi kaku Lemah. dengan kulit di atasnya teregang Artritis lainnya ¨ Nyeri sendi. Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah sampai lipat bokong bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbosakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai dan kaki.KODE ICD – 10 L23-L25 JENIS PENYAKIT kutan Dermatitis kontak GEJALA PENYAKIT ¨ Akibat kontak dengan zat kimia. PENYAKIT SISTEM MUSKULOSKELETAL DAN JARINGAN IKAT Gout ¨ Serangan nyeri sendi akut pada satu sendi ¨ Sendi terlihat tampak bengkak. dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. bakteri atau virus ¨ Gatal.9 L98. kemerahan. tidak spesifik (eksema) Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkutan yang tidak terklasifikasikan. protein. bengkak. nafsu makan hilang Kaku seluruh badan M54.

kadang terdapat juga uremia Gagal Ginjal Akuta ¨ Batu sistem ¨ Warna kemih normal / merah kemih(ginjal. Kolik ginjal tidak spesifik ¨ Nyeri hebat di pinggang yang memancar ke kemaluan dan paha disertai mual. kencing keruh kadang merah. tidak spesifik PENYAKIT SISTEM SALURAN KEMIH DAN KELAMIN Sindroma Nefrotik ¨ Udem ¨ Ditemukan proteinuria. muntah. nafsu makan hilang M79. batuk ataupun mengejan. ¨ ¨ Rasa ingin kencing keruh Pada anak sering disertai ¨ Nyeri biasanya timbul bila udara dingin (pada artritis rematoid) ¨ ¨ .1 M79. bengkak. terasa panas dan sakit. ¨ Nyeri sendi. saluran seperti air cucian daging. Sistitis ¨ Sering kencing. kemih bawah) ¨ Reaksi anak kecil terhadap nyeri ini khas sekali: menarik batang penisnya ketika berkemih. hypoalbuminemia dan hyperkolesterolemia.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT tergantung dengan waktu siang atau malam.2 XIV N04 N17 N20-N21 N23 N30 Myalgia Neuralgia dan Neuritis. merah ¨ ¨ ¨ Nyeri pada saat bergerak Sendi-sendi kaku Lemah.0 Rematisme. memberat terutama bila berjalan. keringat dingin.ureter. tidak spesifik M79.

¨ ¨ Kadang kencing berdarah.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT demam ringan. atau keluarnya janin dengan berat kurang dari 1000 gram atau umur kehamilan kurang dari 20 minggu. abortus dapat dibagi menjadi : Abortus Inkompletus dan Abortus Kompletus. N 34 N40-N42 XV O00 O03 Uretritis dan sindrom uretral Gangguan prostat ¨ KEHAMILAN. p Pada pemeriksaan dalam terlihat kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat Pada pemeriksaan dalam terlihat kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau menonjol dari ostium uteri ekstem ¨ Gejala Abortus Kompletus : . ¨ Gejala Abortus Inkompletus: p Perdarahan pervagina pada kehamilan kurang dari 20 minggu dengan sebagian hasil konsepsi telah keluar. ¨ Berdasarkan bagian janin yang keluar dari kandungan. PERSALINAN DAN NIFAS Kehamilan ektopik (di luar ¨ kandungan) Abortus spontan ¨ Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup di luar kandungan.

O04 O05 O10 O13 ¨ Perdarahan masih ditemukan. tetapi jumlahnya tidak banyak. p Pada pemeriksaan dalam terlihat ostium uteri telah menutup. p Uterus telah mengecil.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT p Keluarnya gumpalan darah pervagina pada kehamilan kurang dari 20 minggu. Abortus atas indikasi medis ¨ Abortus lainnya ¨ Hipertensi yang sudah ada ¨ sebelum kehamilan dan menjadi penyulit pada masa kehamilan. Pre-eklamsia ringan ¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan. persalinan dan nifas. ¨ Gejala : p Tekanan darah 140/90 mmHg sampai dengan 160/110 mmHg p Protein dalam urine p Penglihatan kabur p Muntah-muntah. p Eudema pada muka dan tangan .

¨ Gejala : O14. p Eudema pada muka dan tangan (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun.0 Pre-eklamsia sedang p Tekanan darah 140/90 mmHg sampai dengan 160/110 mmHg p Protein dalam urine p Penglihatan kabur p Muntah-muntah. ¨ Gejala : O14. ¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan. ¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan.1 Pre-eklamsia berat p Tekanan darah lebih dari / diatas 160/110 mmHg .

p Eudema pada muka dan tangan (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun. p Kejang-kejang pada Bumil biasanya pada trimester ketiga atau pada saat persalinan / masa . ¨ Gejala : O15. ¨ Keadaan pada masa kehamilan dengan kenaikan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 30 mmHg dan atau kenaikan diastolic lebih dari 15 mmHg yang terjadi akibat kehamilan. p Eudema pada muka dan tangan (tidak selalu ditemukan p Kesadaran menurun. Preeklamsia berat = lebih dari 160/110 mmHg) p Protein dalam urine ( + 2 atau lebih) p Penglihatan kabur p Muntah-muntah.0 Eklamsia selama Kehamilan p Tekanan darah 140/90 mmHg (pre-eklamsia ringan = sampai dengan 160/110 mmHg.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT p Protein dalam urine p Penglihatan kabur p Muntah-muntah.

p Jumlah perdarahan mungkin sedikit atau banyak tergantung luasnya insersi placenta yang . ¨ O16 O21 O24 O25 O42 O46 Eklamsia dalam proses Melahirkan Eklamsia pada Masa Nifas ¨ Eklamsia tidak spesifik ¨ (selama kehamilan atau persalinan atau nifas) Hipertensi Maternal ¨ Muntah berlebihan selama ¨ Muntah berlebihan pada masa kehamilan kehamilan (Hiperemisis) Diabetes Mellitus (Penyakit ¨ Kencing Manis) dalam kehamilan Kehamilan dengan ¨ malnutrisi Ketuban Pecah Dini ¨ Perdarahan Antepartum ¨ Perdarahan pervagina yang terjadi pada kehamilan diantara umur kehamilan 28 minggu sampai sebelum kelahiran bayi ¨ Komplikasi kehamilan ini merupakan keadaan gawat darurat kebidanan.3 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT nifas. karena dapat mengakibatkan kematian ibu maupun janin dalam waktu singkat.2 O15.KODE ICD – 10 O15. ¨ Penyebab perdarahan antepartum pada umumnya karena Plasenta Previa dan Solusio Placenta. ¨ Gejala Placenta Previa : p Perdarahan per-vagina pada kehamilan 28 minggu atau lebih.1 O15.

p Perut tegang dan nyeri perut.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT terlepas. ¨ Keadaan persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam (sejak inpartu) ¨ Gejalanya : O63 Persalinan (Partus) lama p Pembukaan servik tidak bertambah dengan berlalunya waktu yaitu : . tetapi pasien menunjukan tanda-tanda syok). ¨ Gejala Solusio Placenta : p Perdarahan per-vagina pada kehamilan 28 minngu atau lebih. p Jumlah darah yang keluar tidak sesuai dengan keadaan umum penderita (perdarahan yang keluar mungkin sedikit. p Jumlah perdarahan sesuai dengan keadaan umum (bila sedikit keadaan umum pasien baik. p Warna darah merah tua (darah lama). p Bagian-bagian janin sulit dipalpasi. bila banyak keadaan umum pasien memburuk). p Warna darah merah segar. p Perut tidak tegang dan tidak ada nyeri perut.

Sisa Plasenta atau Retensio Plasenta dan Robekan Jalan Lahir. ¨ Gejalanya : p Perdarahan pervagina lebih dari 500ml atau 2 gelas. garis pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis waspada Persalinan dengan penyulit ¨ gawat janin Perdarahan setelah ¨ Perdarahan lebih dari 500 ml persalinan yang terjadi pada Kala III persalinan.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT • GEJALA PENYAKIT Pembukaan serviks tetap 3 cm setelah 8 jam inpartu. yang dapat terjadi sebelum atau setelah lahirnya plasenta. yang terjadi pada Kala III persalinan (setelah anak lahir). p Tekanan darah menurun sampai syok. ¨ Penyebab perdarahan post partum yang paling sering adalah : Atonia Uteri.Merupakan jenis komplikasi perdarahan yang sering terjadi dan merupakan keadaan gawat darurat kebidanan yang menjadi penyebab utama kematian ibu . Pembukaan yang belum lengkap setelah 18 jam inpartu • O68 O72 p Pada partograf. ¨ Keadaan umum ibu melemah dan pucat. Persalinan tunggal spontan ¨ KONDISI TERTENTU YANG BERMULA PADA MASA O80 XVI .

KODE ICD – 10 P05 P 07 JENIS PENYAKIT GEJALA PENYAKIT P21 P22 P29 P 50 P 55 P 58 P 59 P 95 XVII Q 35 PERINATAL Pertumbuhan janin lambat ¨ dan malnutrisi janin Gangguan yang ¨ berhubungan dengan pendeknya masa gestasi (kehamilan) dan berat badan lahir rendah. KELAINAN BAWAAN. tidak terklasifikasikan di tempat lainnya Asfiksia waktu lahir ¨ Bayi yang pada masa lahir mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) yang ditandai dengan nilai APGAR waktu lahir kurang dari 7. tidak bernafas atau tidak ada gerakan). KELAINAN PEMBENTUKAN DAN KHROMOSOM Celah palatum (langit¨ Merupakan kelainan yang . tanpa menunjukan tanda-tanda kehidupan tidak terdengar detik jantung. Sindrome distres saluran ¨ pernafasan (RDS) Gangguan kardiovaskuler ¨ yang berhubungan dengan masa perinatal Kehilangan darah janin ¨ Penyakit hemolitik pada ¨ janin dan bayi baru lahir Jaundis pada bayi baru lahir ¨ disebabkan oleh hemolisis berlebihan Jaundis pada bayi baru lahir ¨ yang disebabkan oleh penyebab tidak spesifik lainnya Lahir Mati ¨ Kelahiran seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu. tidak teraba denyut tali pusat.

mulut dan faring selain celah palatum. atau gangguan pada masa pembentukan rahang janin dalam kandungan. TANDA dan PENEMUAN SECARA KLINIK DAN LABORATORIUM YANG TIDAK DIKLASI FIKASIKAN DI TEMPAT LAIN Nyeri pinggul dan perut ¨ Inkontinensia feses ¨ Retensi urin ¨ Demam yang tidak ¨ diketahui sebabnya Kejang yang tidak ¨ terklasifikasikan di tempat lain Gejala dan tanda umum ¨ lainnya CEDERA. bisa unilateral atau bilateral p – Celah pada langit-langit ( palatum) bisa sederhana atau kompleks. Manifestasi dalam rongga mulut : p Celah pada bibir. lidah. celah bibir dan celah palatum dengan celah bibir GEJALA. KERACUNAN DAN PENYEBAB EKSTERNAL LAIN Cedera pada kepala ¨ Cukup jelas Cedera pada leher ¨ Cukup jelas Cedera pada rongga dada ¨ Cukup jelas (toraks) Cedera pada perut. . tulang belakang.KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT langit) GEJALA PENYAKIT disebabkan oleh bawaan. ¨ Cukup jelas punggung. Q 36 Q 37 Q 38 XVIII R 10 R 15 R 33 R 50 R 56 R 68 XIX S00-S09 S10-S19 S20-S29 S30-S39 Celah bibir Celah palatum dengan celah bibir Kelainan bawaan lain pada Merupakan kelainan bawaan.

diare. diare. telapak kaki S42. S92. baik di dalam maupun di luar gedung .KODE ICD – 10 JENIS PENYAKIT ¨ GEJALA PENYAKIT Cukup jelas dan pinggul S40-S49. A. lutut. S62. S60. LAPORAN BULANAN KIA/KB (LB 3 – KIA / KB) IBU HAMIL 1. S82. lengan bawah.T12 gerak T00-T07 Cedera pada daerah badan multipel T20-T32 Luka bakar dan korosi T36-T50 Keracunan obat dan preparat biologik T51 – Tt50 Efek toksik bahan non medisinal (bukan obat) T61.diare. muntah.S80-S89. pusing. S52.Cedera pada paha.Cedera pada bahu. muntah. T62 Efek toksik bahan beracun lainnya yang dimakan sebagai makanan T60 Keracunan pestisida XXII U04 ¨ Cukup jelas ¨ ¨ ¨ ¨ Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas Cukup jelas ¨ Nek. pusing. muntah. S90. pergelangan dan telapak tangan S70-S79. 1. Fraktur tulang anggota T10. abd cramps. siku. shock ¨ Mual. pusing. lengan S69 atas. kejang PENYAKIT BARU DENGAN ETIMOLOGI YANG BELUM JELAS Severe acute respiratory ¨ Sindroma gangguan syndrome (SARS) pernafasan yang terjadi mendadak dan dapat menjadi berat (hingga dapat menyebabkan kematian) disebabkan oleh virus corona Penyakit Lain-Lainnya 1. S99 kaki bagian bawah. S50-S59. kejang ¨ Mual. Kunjungan Baru Ibu Hamil (K1) Akses adalah jumlah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan tanpa melihat umur kehamilan.

Rumah Sakit Pemerintah/ Swasta dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Rumus perhitungan Cakupan K4 adalah : Jumlah kunjungan ibu hamil keempat (K4) Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 4. Polindes. Kunjungan rumah. Ÿ Pemberian Tablet zat besi (Fe) minimal 90 tablet selama kehamilan. Ÿ ukur Tinggi Fundus Uteri. Penjaringan (deteksi risiko) : X 100% . Ÿ minimal satu kali kontak pada triwulan II. Ÿ ukur Tekanan Darah. Rumus perhitungan Cakupan K1 Murni adalah : Jumlah kunjungan baru ibu hamil (K1) Murni X 100% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 3. Polindes. baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (Posyandu. Ÿ minimal 2 kali kontak pada triwulan III. Kunjungan ibu hamil (K4) adalah jumlah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan ke-4 (atau lebih) baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas (Posyandu. yaitu: Ÿ Timbang Berat badan dan ukur tinggi badan. Rumah Sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan minimal (5T). Kunjungan rumah.Puskesmas (Posyandu. Kunjungan rumah. Kunjungan Baru Ibu Hamil (K1) Murni adalah jumlah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan pada umur kehamilan kurang dari 12 minggu. Rumah Sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai dengan standar yang ditetapkan minimal (5T) dengan syarat : Ÿ minimal satu kali kontak pada triwulan I. Polindes. Ÿ pemberian imunisasi Tetanus Toxoid. Rumus perhitungan Cakupan K1 akses adalah : Jumlah kunjungan baru ibu hamil (K1) akses Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun X 100% 2.

Rumus perhitungan Cakupan adalah : Jumlah ibu hamil beresiko yang ditemukan oleh Nakes X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 1. Penjaringan (deteksi risiko) ibu hamil oleh masyarakat adalah ditemukannya ibu hamil berisiko/ komplikasi oleh masyarakat dan bisa dinilai oleh masyarakat (kader. perawat) baik didalam gedung maupun diluar gedung. Ÿ janin yang besar. Penjaringan (deteksi risiko) ibu hamil oleh tenaga kesehatan adalah ditemukannya ibu hamil berisiko/ komplikasi oleh tenaga kesehatan (dokter. . Ÿ Oedema yang nyata. Ÿ ketuban pecah dini. b. Ÿ infeksi berat/sepsis. bidan. ginjal. a. paru.1. Ÿ Eklampsia ( keracunan kehamilan) dengan gejala kejang-kejang. Ÿ penyakit kronis pada ibu seperti jantung. kesadaran menurun . dll. paraji). tekanan darah tinggi. Ÿ persalinan prematur Ÿ kehamilan ganda. Ÿ perdarahan per vaginum. Ÿ letak lintang pada umur kehamilan >32 mingu. Ÿ letak sungsang pada primigravida. Tekanan darah tinggi (sistole> 140 dan diastole > 90 mmHg). Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu hamil beresiko yang dirujuk oleh dukun bayi/ kader ke tenaga kesehatan X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun Catatan : Ibu Hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi (Pedoman PWS-KIA th 2004) Risiko tinggi/ komplikasi pada kehamilan meliputi : Ÿ Hb< 8 gr % .

g. e. RSIA/RSB. 3. eklamsia) Perdarahan pasca persalinan Infeksi berat/ sepsis Kontraksi dini/ persalinan prematur Kehamilan ganda - Komplikasi dalam nifas : 1. eklamsia) Infeksi nifas .Ÿ riwayat obstetri buruk. 4. 3. 5. ibu bersalin dan ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/ atau bayi Komplikasi dalam kehamilan : 1. b. Penanganan Komplikasi Obstetri (Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani) adalah jumlah ibu hamil. 2. c. 6. d. riwayat bedah sesar dan komplikasi kehamilan Catatan (Draf SPM 2007): Komplikasi kebidanan yang dimaksud adalah kesakitan pada ibu hamil. 6. Perdarahan nifas 5. 5. f. 2. a.RSU. . a. Hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia. 2. Kelainan letak/ presentasi janin Partus macet/ distosia Hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia. Abortus Hiperemesis gravidarum Perdarahan per vaginam Hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia. c. bersalin dan nifas dengan risiko tinggi/ komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar ditingkat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan (polindes. RB. b. 3. e. 7. b. puskesmas PONED. eklamsia) Kehamilan lewat waktu Ketuban pecah dini Komplikasi dalam persalinan : 1. puskesmas. c. 4. RSU PONEK). d. f. a.

puskesmas. Ibu hamil dengan komplikasi ditangani tetapi meninggal adalah jumlah ibu hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan kemudian meninggal baik disarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan. puskesmas. Ibu Hamil dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah ibu hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. RB. puskesmas PONED. puskesmas PONED. nifas) yang ditangani disarana pelayanan kesehatan dasar dan rujukan X 100% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 6. RB.RSU. RSU PONEK) dan selamat Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu hamil yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi yg dilayani di pelayanan dasar & rujukan dan selamat X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 7.RSU. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu hamil yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 8.Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah kasus komplikasi obstetri/kebidanan (bumil. IBU BERSALIN DENGAN KOMPLIKASI OBSTETRI 1. C. RSIA/RSB. RSU PONEK) dan selamat Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu Bersalin yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi yg dilayani di pelayanan dasar & rujukan X 100% dan selamat 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 2. bulin. Ibu bersalin dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah ibu bersalin yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dapat ditangani/ dilayani di pelayanan dasar dan rujukan (polindes. Ibu bersalin dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah ibu bersalin yang mengalami risiko tinggi/komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. RSIA/RSB. . Ibu Hamil dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah ibu hamil yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dapat ditangani/ dilayani di pelayanan dasar dan rujukan (polindes.

Rumus perhitungan adalah : Jumlah ibu Bersalin yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 3. Ibu bersalin dengan komplikasi ditangani tetapi meninggal adalah jumlah ibu bersalin yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan kemudian meninggal baik disarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.

D.

IBU NIFAS DENGAN KOMPLIKASI OBSTETRI

1. Ibu nifas dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah ibu nifas yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dapat ditangani/ dilayani di pelayanan dasar dan rujukan (polindes, puskesmas, puskesmas PONED, RB, RSIA/RSB,RSU, RSU PONEK) dan selamat Rumus perhitungan adalah : Jumlah ibu Nifas yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi yg dilayani di pelayanan dasar & rujukan dan selamat X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun 2. Ibu nifas dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah ibu nifas yang mengalami risiko tinggi/komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu Nifas yg mengalami risiko tinggi/ komplikasi dan dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap X 100% 20% Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun

3. Ibu nifas dengan komplikasi ditangani tetapi meninggal adalah jumlah ibu nifas yang mengalami risiko tinggi/ komplikasi yang ditangani dan kemudian meninggal baik disarana pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan. 4. Jumlah Persalinan berdasarkan Penolong Persalinan 1. a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan kompeten yaitu : dr SpOG, dr umum dan bidan.

Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu bersalin ditolong oleh tenaga kesehatan X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun 1. b. Pertolongan persalinan oleh dukun adalah pelayanan persalinan yang ditolong oleh dukun paraji. Rumus Cakupan perhitungan adalah :

Jumlah ibu bersalin ditolong oleh dukun paraji X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun 1. c. Pertolongan persalinan lain-lain adalah pelayanan persalinan yang ditolong selain oleh tenaga kesehatan kompeten dan dukun. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah ibu bersalin ditolong oleh selain tenaga kesehatan kompeten dan dukun X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun

5.

Jumlah Persalinan Berdasarkan Tempat Persalinan. 1. Jumlah Persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan adalah jumlah persalinan yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti polindes/ poskesdes, pustu, puskesmas, rumah bersalin/klinik bersalin, Bidan Praktek Swasta, Rumah Sakit. 2. Jumlah Persalinan di rumah adalah jumlah persalinan yang dilakukan rumah pasien. 3. Jumlah Persalinan di tempat lain-lain adalah jumlah persalinan yang terjadi selain di fasilitas pelayanan kesehatan dan rumah pasien (seperti di perjalanan dan lain-lain).

6.

Kunjungan nifas (KF 1) adalah pada masa 6 jam setelah persalinan sampai dengan 7 hari.

7. Kunjungan Ibu Nifas (KF Lengkap) adalah kontak ibu nifas dengan tenaga kesehatan yang berkompeten minimal 3 kali sesuai jadwal untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan ibu nifas, baik didalam maupun diluar gedung puskesmas (termasuk bidan desa/polindes dan kunjungan rumah), termasuk pemberian vitamin A 2 kali dan persiapan KB pasca persalinan, dengan ketentuan : 1. Kunjungan nifas (KF 1) pada masa 6 jam setelah persalinan sampai dengan 7 hari. 2. Kunjungan nifas (KF 2) dalam waktu 2 minggu (8-14 hari) setelah persalinan. 3. Kunjungan nifas (KF 3) dalam waktu 6 minggu (35-42) hari setelah persalinan

Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah pelayanan ibu nifas oleh tenaga kesehatan minimal 3 kali sesuai jadwal X 100% Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin dalam satu tahun 8. Jumlah kematian ibu maternal adalah Jumlah kematian ibu yang disebabkan oleh penyebab langsung pada kehamilan, persalinan dan nifas (perdarahan, eklamsia, infeksi) maupun tidak langsung seperti penyakit asma, penyakit jantung, dll. 1. Kematian ibu maternal karena pendarahan : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh pendarahan baik antepartum, intrapartum maupun postpartum. 2. Kematian ibu maternal karena partus lama : Jumlah kematian ibu pada persalinan kala II yang disebabkan karena penanganan yang tidak adekuat. 3. Kematian ibu maternal karena infeksi : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh infeksi 4. Kematian ibu maternal karena eklamsia : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh eklamsia 5. Kematian ibu maternal karena abortus : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh abortus. 6. Kematian ibu maternal karena lain-lain : Jumlah kematian ibu pada kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh keadaan maupun penyakit lainnya D. NEONATAL, BAYI DAN ANAK BALITA 1. Kelahiran Bayi adalah jumlah semua kelahiran bayi di satu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu a. BB Bayi lahir < 2.500 gram adalah jumlah bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang dari 2.500 gram b. BB Bayi lahir ≥ 2.500 gram adalah jumlah bayi yang dilahirkan dengan berat badan lebih dari atau sama dengan 2.500 gram 1. Bayi Lahir hidup : Jumlah bayi lahir hidup baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa, polindes, di rumah, Rumah Sakit pemerintah/ swasta, RB, Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) 2. Bayi Lahir Matiadalah jumlah bayi yang pada waktu dilahirkan sudah dalam keadaan mati atau tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan (tidak terdengar detik jantung, tidak teraba denyut tali pusat, tidak bernafas atau tidak ada gerakan). 1. Bayi Lahir Matiberdasarkan tempat persalinan

Kunjungan neonatal hari ke-1 (KN 1) adalah jumlah neonatus umur ≥ 24 jam – 2 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai dengan standar. Jumlah Bayi Lahir Mati di RS/RB/BPS adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di RS/RB/BPS. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) 2. KN2. Polindes. a. dengan ketentuan : 1. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada umur ≥ 24 jam – 2 hari Jumlah seluruh sasaran bayi dalam satu tahun X 100% 1. Rumah Sakit pemerintah/ swasta. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas) 3. . RB. 2. KN3). RB. Rumah Sakit pemerintah/ swasta. 5. Jumlah Bayi Lahir Mati di Puskesmas adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di puskesmas 4. Kunjungan Neonatal hari ke 1 (KN1) adalah jumlah neonatus umur ≥ 24 jam – 2 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai dengan standar. Kunjungan neonatal hari ke-3 (KN 2) adalah jumlah kunjungan neonatus umur 3-7 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai standar.1. Polindes. Kunjungan neonatal hari ke 8-28 (KN 3) adalah jumlah kunjungan neonatus umur 8-28 hari yang kontak dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal sesuai standar. Polindes. Kunjungan Neonatal Lengkap (KN Lengkap)adalah jumlah neonatal yang mendapatkan pelayanan sesuai standar 3 kali (KN1. Polindes. Jumlah Bayi Lahir Mati di pustu/ polindes adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di pustu/polindes 3. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. c. kunjungan rumah. kunjungan rumah. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. kunjungan rumah. baik di dalam maupun di luar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa. RB. Jumlah Bayi Lahir Mati di rumah adalah bayi lahir mati yang persalinannya dilakukan di rumah. Rumah Sakit pemerintah/ swasta. b.

4. 3. d. . Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah neonatus yang mendapatkan KN Lengkap X 100% Jumlah seluruh sasaran bayi dalam satu tahun 1. Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah neonatus dengan komplikasi yang itangani dari satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu X 100% Sasaran neonatus dgn komplikasi (15% dari jumlah bayi baru lahir) Catatan : jika tidak diketahui jumlah bayi baru lahir maka sasaran neonatus dengan komplikasi dapat dihitung dari CBR X jumlah penduduk (BPS kab/ kota) 1. Kematian Neonatal karena BBLR adalah jumlah kematian neonatus umur 07 hari yang disebabkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (< 2500 gr). Rumah Sakit pemerintah/ swasta. Neonatal dengan komplikasi yang ditangani adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang ditolong dan dilayani oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter dan bidan) di sarana pelayanan kesehatan dasar maupun di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Kematian Neonatal karena Tetanus Neonatorum adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena penyakit tetanus neonatorum (kejang-kejang). yang disebabkan oleh komplikasi neonatus. Kematian Neonatal karena Asphyxia adalah jumlah kematian neonatus 0-7 hari yang disebabkan karena asphyxia (gangguan pernafasan). c. Kematian neonatal dini (0-7 hr)adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari. 2. b. 1. Kematian Neonatal karena infeksi adalah jumlah kematian neonatus umur 07 hari yang disebabkan karena mengalami infeksi. Neonatal dengan komplikasi yang tertangani/ selamat adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang dapat ditolong dan dilayani oleh tenaga kesehatan terlatih (dokter dan bidan) di sarana pelayanan kesehatan dasar maupun di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap dan selamat.kunjungan rumah. Neonatal dengan komplikasi yang meninggal adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang ditangani dan kemudian meninggal baik di sarana pelayanan kesehatan dasar ataupun di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. 2. dan Bidan Praktek Swasta di wilayah kerja puskesmas). a. 4. Neonatal dengan komplikasi yang dirujuk adalah jumlah neonatus dengan komplikasi yang dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap 3. RB.

Kematian Neonatal karena masalah gangguan pemberian ASI adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah gangguan pemberian ASI. gangguan pembekuan darah. Kematian Neonatal karena masalah hematologi adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah hematologi.5. gangguan pembekuan darah. e. tempat penitipan anak. dll 7. g. bidan. 8. posyandu. Kematian Neonatal karena masalah gangguan pemberian ASI adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah gangguan pemberian ASI. misalnya : tersedak. aspirasi pneumonia. dll . Kematian Neonatal karena Tetanus Neonatorum adalah jumlah kematian neonatus umur 8-28 hari yang disebabkan karena penyakit tetanus neonatorum (kejang-kejang). misalnya :kelainan rhesus. g. b. aspirasi pneumonia. dll 7. 5. panti asuhan dan sebagainya melalui kunjungan & pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Kematian Neonatal karena BBLR adalah jumlah kematian neonatus umur 828 hari yang disebabkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (< 2500 gr). 1. misalnya : kelainan rhesus. Kematian Neonatal karena Pneumonia adalah jumlah kematian neonatus 828 hari yang disebabkan karena pneumonia. 2. Pelayanan kesehatan : Ÿ Dalam keadaan sehat . misalnya : tersedak. Pelayanan kesehatan bisa diberikan di sarana pelayanan kesehatan (polindes. perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan minimal 4 kali di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. d. 3. f. e. f. Kematian Neonatal karena lain-lain adalah Jumlah kematian neonatal umur 8-28 hari yang disebabkan selain penyebab diatas tidak termasuk kecelakaan. c. Kematian Neonatal Lanjut (8-28 hr)adalah jumlah kematian neonatus umur 8-28 hari. Kematian Neonatal karena lain-lain adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan selain penyebab diatas 1. RB dan RS pemerintah/ swasta) maupun di rumah. Kematian Neonatal karena masalah hematologi adalah jumlah kematian neonatus umur 0-7 hari yang disebabkan karena masalah hematologi. Kematian Neonatal karena infeksi adalah jumlah kematian neonatus umur 828 hari yang disebabkan karena mengalami infeksi. dll 6. 6. pustu. yang disebabkan oleh komplikasi neonatus. a. Kunjungan Bayi (29 hari – 11 bulan) adalah jumlah kunjungan bayi umur 29 hari-11 bulan yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar oleh dokter. 4. puskesmas.

minimal 4 kali di satu wilayah kerja pada X 100% kurun waktu tertentu Sasaran bayi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu 1. misalnya :atresia ani. misalnya : meningitis. Kematian Bayi karena Kelainan Saluran Cerna adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena kelainan saluran cerna. Kematian Bayi (29 hr-11 bln)adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena sebab-sebab sebagai berikut : 1. Pelayanan yang berikan meliputi : 1. Kematian Bayi karena Kelainan Syaraf adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena kelainan syaraf. obstruksi/ ileus paralitik 6. yaitu dalam warna hijau pada KMS tumbuh kembang) Ÿ Mengalami perkembangan sesuai dengan umurnya (SDIDTK) Ÿ Pemberian Vitamin A pada usia 6-12 bulan Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah bayi umur 1-12 bulan yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar. Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan anak setiap bulan dan tercatat dalam KMS/ Buku KIA .Ÿ Sudah diberi makanan pendamping ASI Ÿ Status imunisasi dasar lengkap Ÿ Gizi baik (BB sesuai umur. Kunjungan anak balitaadalah jumlah kunjungan anak balita (12 bln – 59 bln) yang memperoleh pemantauan pertumbuhan dan pelayanan kesehatan oleh petugas kesehatan sesuai dengan standar baik di dalam gedung ataupun diluar gedung puskesmas. Kematian Bayi karena lain-lain adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln yang disebabkan selain penyebab diatas tidak termasuk kecelakaan. 3. 8. Kematian Bayi karena Campak adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena Campak 4. encephalitis 7. Kematian Bayi Karena Pneumonia adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena Pneumonia 2. Kematian Bayi karena Diare adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena Diare. Kematian Bayi karena Tetanus adalah jumlah kematian bayi umur antara 29 hari – 11 bln karena tetanus 5.

d. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru suntik adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan obat kontrasepsi suntik. 3. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru Kondom adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan alat kontrasepsi kondom. 2. f. b. . a. 5. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif IUD adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih menggunakan alat kontrasepsi IUD dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. h. a. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru lain-lain adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan metode selain cara KB di atas. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru dengan IUD adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan alat kontrasepsi IUD. Peserta KB Akseptor Aktif 1. g. sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali/tahun (setiap 6 bulan) 3. 6. Pemberian Vitamin A dosis tinggi (200. motorik halus. 7. 4. 8. Peserta KB Akseptor Baru 1.2. bahasa. Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik masar. KELUARGA BERENCANA 1. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru Pil adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan obat kontrasepsi Pil. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru dengan MOW adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan metode operasi wanita.000 IU) 2 kali per tahun Rumus Cakupan perhitungan adalah : Jumlah anak balita (12 bln – 59 bln) yang memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu X 100% Sasaran anak balita di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu E. 9. c. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru Implant adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan alat kontrasepsi Implant. Jumlah Peserta KB Akseptor Baru dengan MOP adalah jumlah peserta KB baru yang menggunakan metode operasi pria. e.

Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif MOW adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan cara Metoda Operasi Wanita dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan efek samping Implant adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Implant dan diperiksa oleh tenaga kesehatan.2. c. 5. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif MOP adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan cara Metoda Operasi Pria dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. e. 7. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif Implant adalah jumlah peserta KB yang sampai saat ini masih memakai alat kontrasepsi implant dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan. h. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif lain-lain adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan alat kontrasepsi selain alat kontrasepsi di atas atau cara lain yang dapat mencegah terjadinya konsepsi. b. 6. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif suntik adalah jumlah peserta KB yang sampai saat ini masih memakai alat kontrasepsi suntikan dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan 3. d. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif Kondom adalah jumlah peserta KB yang hingga saat ini masih mempergunakan alat kontrasepsi kondom. Peserta KB dengan efek samping Pil adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Pil dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 2. g. 3. Peserta KB dengan efek samping Suntik adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Suntik dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 9. Peserta KB dengan efek samping 1. 8. . 5. f. Jumlah Peserta KB Akseptor Aktif Pil adalah jumlah peserta KB yang sampai saat ini masih memakai alat kontrasepsi pil dan diperiksa serta dibina oleh tenaga kesehatan 4. Peserta KB dengan efek samping IUD adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi IUD dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan efek samping MOW adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat kontrasepsi MOW dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 4.

Peserta KB dengan komplikasi MOP adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian tindakan kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 7. 8. Peserta KB dengan Komplikasi 1. Peserta KB dengan komplikasi Suntik adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 3. Peserta KB dengan komplikasi Metoda KB lain-lain adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat /obat kontrasepsi selain alat kontrasepsi diatas dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 9. Peserta KB dengan Kegagalan . Peserta KB dengan efek samping Kondom adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakaian alat kontrasepsi Kondom dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan efek samping MOP adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat kontrasepsi MOP dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan komplikasi Kondom adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 8. Peserta KB dengan komplikasi MOW adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat tindakan kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 6. 7. Peserta KB dengan komplikasi Pil adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 4. Peserta KB dengan komplikasi Implant adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat /obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 5. Peserta KB dengan komplikasi IUD adalah Jumlah akseptor yang mengalami komplikasi akibat pemakaian alat /obat kontrasepsi dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 2.6. Peserta KB dengan efek samping Metoda KB lain-lain adalah jumlah akseptor yang mengalami keluhan akibat pemakain alat kontrasepsi selain alat kontrasepsi diatas dan diperiksa oleh tenaga kesehatan 9.

Peserta KB dengan kegagalan MOW adalah jumlah akseptor dengan kontrasepsi MOW tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. f. c. Peserta KB dengan kegagalan Kondom adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Kondom tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 6. Peserta KB dengan kegagalan Implant adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Implant tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Peserta KB dengan kegagalan metode kontrasepsi lain-lain adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi metode lain selain cara diatas tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. Bayi (0 – 11 bl) dengan KMS (K) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang mempunyai KMS bulan ini . g. A. h. 1. 8. 2. b. a. d. 2. Peserta KB dengan kegagalan IUD adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi IUD tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. BAYI 1. 3. e. 4. 7. Peserta KB dengan kegagalan MOP adalah jumlah akseptor dengan kontrasepsi MOP tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. LAPORAN BULANAN GIZI (LB 3 – GIZI) 1.1. Peserta KB dengan kegagalan Suntik adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Suntik tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan. 5. Peserta KB dengan kegagalan Pil adalah jumlah akseptor yang masih memakai alat kontrasepsi Pil tetapi terjadi kehamilan dan diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Berat Badan Naik adalah: ¨ ¨ Berat badannya naik mengikuti pita warna pada KMS Pindah ke pita warna diatasnya 1. Bayi ( 6 – 11 bl) yang mendapatkan Vitamin A dosis tinggi adalah Jumlah bayi umur 6-11 bulan yang mendapat 1 x kapsul vitamin A dengan dosis 100. Bayi (0-11 bl) tidak Naik Berat Badan (T) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang Tidak naik berat badan bulan ini Berat badan tidak naik adalah: ¨ ¨ ¨ Bayi yang berat badannya turun Bayi yang berat badannya tetap Bayi yang berat badannya naik tetapi pindah ke pita warna dibawahnya 1.000 SI (warna biru) pada bulan Februari atau Agustus 6. Bayi dengan ASI Eksklusif adalah Jumlah bayi umur 6 bulan yang mendapatkan ASI saja pada bulan ini 5. Bayi (0-11 bl) yang tidak ditimbang bulan lalu (O) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang ditimbang bulan ini. BALITA 1.2. Bayi (0 – 11 bl) Naik Berat Badan (N) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang Naik berat badannya bulan ini . Anak Umur 12 – 59 bulan dengan KMS (K) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang mempunyai KMS bulan ini . Bayi (0-11 bl) Baru pertama kali ditimbang (B) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang baru pertama kali ditimbang bulan ini 3. B. Bayi (0 – 11 bl) B G M adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang berada pada atau di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS bulan ini 4. tetapi tidak ditimbang bulan lalu 2. (Bentuk makanan bubuk/tepung) 1. Bayi (6-11 bulan) Gakin yang mendapat MP-ASI adalah Jumlah bayi 6-11 bulan dari Keluarga Miskin (Gakin) yg mendapatkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dengan porsi 100 gr/hr selama 90 hari. Bayi (0 – 11 bl) Ditimbang (D) adalah Jumlah bayi umur 0 – 11 bl yang Ditimbang bulan ini 3.

IBU HAMIL 1.2. tetapi tidak ditimbang bulan lalu 2. C. Anak umur 12-59 bulan Baru pertama kali ditimbang (B) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang baru pertama kali ditimbang bulan ini 3. Anak Umur 12 – 59 bulan yang Ditimbang (D) adalah Jumlah anak umur 1259 bl yang Ditimbangbulan ini 1. Balita (12-24 bulan) Gakin yang mendapat MP-ASI adalah Jumlah anak 12-24 bulan dari Keluarga Miskin (Gakin) yg mendapatkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dengan porsi 120 gr/hr selama 90 hari. Ibu Hamil yang mendapatkan Tablet Tambah Darah (Fe-1) adalah Jumlah ibu hamil yang mendapatkan 30 tablet Fe selama periode kehamilannya pada bulan ini . Anak Umur 12 – 59 bulan yang mendapatkan kapsul Vitamin A dosis tinggi adalah Jumlah anak umur 12-59 bulan yang mendapat 2 x kapsul vitamin A dengan dosis 200. Anak Umur 12 – 59 bulan yang Naik Berat Badan (N) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang Naik berat badannya bulan ini Berat Badan Naik adalah: ¨ ¨ Berat badannya naik mengikuti pita warna pada KMS Pindah ke pita warna diatasnya 1. Anak umur 12-59 bulan tidak naik berat badan (T) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang Tidak naik berat badan bulan ini Tidak naik berat badan adalah: ¨ ¨ ¨ Balita yang berat badannya turun Balita yang berat badannya tetap Balita yang berat badannya naik tetapi pindah ke pita warna dibawahnya 1. Anak Umur 12 – 59 bulan yang BGM adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang berada pada atau di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS bulan ini 4. (Bentuk makanan padat) 1.000 SI (warna merah) pada bulan Februari atau Agustus 5. Anak umur 12-59 bulan yang tidak ditimbang bulan lalu (O) adalah Jumlah anak umur 12-59 bl yang ditimbang bulan ini.

pantat kendur (baggy pant). rambut tipis kemerahan (rambut jagung) ¨ Marasmic-kwashiorkor adalah Balita gizi buruk 0 – 59 bln ditandai dengan gabungan dari Marasmus dan Kwashiorkor 1. Ibu Hamil KEK ( Lila < 23.5 cm. perut buncit. 1. kulit keriput. Ibu Hamil yang mendapatkan Tablet Tambah Darah (Fe-3) adalah Jumlah ibu hamil yang mendapatkan minimal 90 tablet Fe selama periode kehamilannya pada bulan ini 3. E.5 cm) adalah Jumlah ibu hamil dengan hasil pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) < 23. Ibu Hamil dengan HB < 11 gram % adalah yaitu ibu hamil dengan hasil pemeriksaan darah. kadar Hb < 11 gr %. iga gambang. perut cekung. Balita gizi buruk yang ditangani adalah Jumlah balita 0 – 59 Bln gizi buruk yang ditangani sesuai standar Tata Laksana Gizi Buruk Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan adalah balita gizi buruk yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi burk di satu wilayah kerja kurun waktu tertentu Rumus Cakupan perhitungan adalah : . Balita Gizi Buruk adalah Jumlah balita (0-59 bulan) dengan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) <-3SD dan atau disertai dengan tanda-tanda klinis marasmus. D. otot mengecil. 4. 1. IBU NIFAS 1.000 SI (kapsul merah) yang diberikan sesaat setelah melahirkan dan setelah 24 jam berikutnya GIZI BURUK 1. wajah seperti orang tua. kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu. Pengukuran dilakukan pada tangan sebelah kiri kecuali pada yang kidal. ¨ Kwashiorkor adalah Balita gizi buruk 0 – 59 bln ditandai dengan : Edema seluruh tubuh terutama di punggung kaki.2. Ibu Nifas yang mendapatkan kapsul Vitamin A dosis tinggi adalah Jumlah ibu nifas yg mendapatkan 2x kapsul Vitamin A dengan dosis 200. ¨ Tanpa gejala klinis adalah Jumlah Balita gizi buruk 0 – 59 bln tanpa gejala klinis yang ditentukan berdasarkan standar Berat badan per tinggi badan (BB/TB) = – 3 SD ¨ Marasmus adalah Balita gizi buruk 0 – 59 bln ditandai dengan : Tampak sangat kurus. wajah membulat (moon face) dan sembab.

Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 4 adalah imunisasi POLIO 4 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari polio 3 6. Demam berdarah Dengue 5. Immunisasi Bayi (0. Immunisasi Bayi (2-11 bl) yang divaksinasi DPT-Hb2 Combo adalah imunisasi DPTHb2combo yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari DPT-Hb1 combo. Immunisasi Bayi (2-11 bl) yang divaksinasi DPT-Hb1 Combo adalah imunisasi DPTHb1combo yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian mulai usia 2 bulan. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 2 adalah imunisasi POLIO 2 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari polio 1 4. 8. . Diare 3. Pneumonia 2. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 1 adalah imunisasi POLIO 1 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian mulai usia 0 bulan 3. Tuberculosis/ TBC B. Malari 4. KEMATIAN 1. DO IMMUNISASI 1. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi POLIO 3 adalah imunisasi POLIO 3 yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari polio 2 5. Immunisasi Bayi (0-11 bl) yang divaksinasi BCG adalah Imunisasi BCG yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian pada usia 0-2 bulan 2.Jumlah Balita yang Dirawat Jumlah Balita Gizi Buruk yang X 100% ditemukan 1. 3. LAPORAN BULANAN PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT (LB 3 – P2P) A.7 hr. 7.7hr ) yang divaksinasi Hb 0 adalah imunisasi Hb uniject yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian mulai usia 0. Penyebab kematian anak balita yang disebabkan oleh : 1. Balita Gizi Buruk yang meninggal adalah Jumlah balita 0 – 59 Bln gizi buruk yang meninggal 1.

MALARIA Malaria merupakan Penyakit yang disebabkan oleh Parasite Malarae (Plasmodium) bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manumur yang ditularkan oleh Nyamuk Malaria (Anopheles) Betina (WHO 1981) 1.9. PENGAMATAN PENYAKIT : 1. 2. 14. 12. Sediaan darah diperiksa PCD adalah Jumlah sediaan darah dengan cara pengambilan pasif/langsung dari penderita klinis malaria di dalam gedung/ di sarana kesehatan (puskesmas. 16. Immunisasi Bayi (9-11 bl) yang divaksinasi Campak adalah imunisasi campak yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan pemberian mulai usia 9 bulan. 13. Ibu Hamil (kehamilan usia 0-8 bl) yang divaksinasi TT-1 adalah jumlah imunisasi TT yang didapatkan pada ibu hamil usia 0 – 8 bl dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. 17. b. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-2 adalah jumlah imunisasi TT-2 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. laboratorium) oleh petugas unit pelayan kesehatan. C. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-5 adalah jumlah imunisasi TT-5 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. 10.. Immunisasi Bayi (2-11 bl) yang divaksinasi DPT-Hb3 Combo adalah imunisasi DPTHb3combo yang diberikan pada bayi usia < 1 tahun dengan jadwal pemberian interval 1 bulan dari DPT-Hb2 combo. . a. Sediaan darah diperiksa ACD adalah Jumlah sediaan darah dengan cara pengambilan aktif/langsung dari penderita klinis malaria di luar gedung/ di luar sarana kesehatan oleh petugas unit pelayan kesehatan/kader yang terlatih (Juru Malaria Desa). Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-3 adalah jumlah imunisasi TT-3 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. 11. rumah sakit. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-1 adalah jumlah imunisasi TT-1 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. Ibu Hamil (kehamilan usia 0-8 bl) yang divaksinasi TT-2 adalah jumlah imunisasi TT yang didapatkan pada ibu hamil usia 0 – 8 bl dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. Wanita Usia Subur (WUS) yang divaksinasi TT-4 adalah jumlah imunisasi TT-4 yang didapatkan pada wanita usia 15-39 tahun dengan melihat riwayat imunisasi TT terdahulu. 15.

yaitu pemberian pengobatan pencegahan pada bumil. follow up penderita dan survey (didaerah endemis). • . yaitu pengobatan yang disesuaikan dengan species parasitnya dengan cara : Plasmodium Falcifarum : Klorokuin : hari I.II. Sediaan darah dari lain-lain adalah Jumlah sediaan darah yang diambil dari penderita klinis oleh petugas pada penyelidikan epidemiologi. e.II. Kasus Unklasifikasi adalah Jumlah kasus yang tidak dapat diidentifikasi dimana penderita tersebut tertular penyakit. i.3. Sediaan darah positif ACD adalah Jumlah sediaan darah malaria positif dari hasil pengambilan aktif/langsung dari penderita klinis malaria di luar gedung/ di luar sarana kesehatan oleh petugas unit pelayan kesehatan/kader yang terlatih (Juru Malaria Desa). Klinis Treatmen adalah pengobatan yang diberikan kepada penderita dengan gejala klinis malaria. kambuhan Kasus Relaps adalah Jumlah kasus malaria 4. dosis dan cara pengobatan : Dosis : obat yang dipakai adalah Klorokuin. c. V Primakuin : hari I. III. Kasus Indigenous adalah jumlah sediaan darah positif malaria yang tertular di daerah setempat atau mendapat transmisi di wilayahnya h.III • Primakuin : hari I. l. II. III IV. 5. Sediaan darah positif dari lain-lain adalah Jumlah hasil pemeriksaan sediaan darah positif yang berasal dari pengambilan sediaan darah oleh petugas pada kegiatan penyelidikan epidemiologi. Sediaan darah positif PCD adalah Jumlah sediaan darah malaria positif dari hasil pengambilan pasif/langsung dari penderita klinis malaria di dalam gedung/ di sarana kesehatan oleh petugas unit pelayan kesehatan f. 9. dosis 5 mg/kg Berat badan atau 2 tablet dosis tunggal 2. 10. 6. II. 7. g. d. j. III • Plasmodium Vivax : Klorokuin : hari I. 1. Bumil yang diprofilaksis adalah Jumlah bumil yang diberikan pengobatan profilaksis. k. Radikal treatmen adalah jumlah penderita malaria yang mendapat pengobatan radikal. 8. follow up penderita dan survey. sebelum pemeriksaan mikroskopis/laboratorium.

• • • • • • • • • • n. Kasus baru penyakit DBD adalah jumlah penderita baru yang berkunjung ke puskesmas dengan tanda-tanda sesuai kriteria diagnosa klinis DBD yaitu panas mendadak 2-7 hari tanpa sebab yang jelas. hipotensi dengan tekanan sistolik < 50 mmm Hg pada anak atau 70 mm Hg pada orang dewasa. 1. jangan diberikan dalam keadaan perut kosong. 2. disertai dengan keringat dingin. tapi disertai salah satu gejala : Penurunan kesadaran pada malaria cerebral (koma) Anemia berat dengan Hb < 5 %. lemah/lesu. gelisah. 2.000/mm3 atau kurang). obat diberikan pada hari yang sama Obat diminum di depan petugas. trombositopeni (trombosit : 100.• Cara pengobatan : Dimulai pada bulan ke-3 kehamilan sampai dengan masa nifas selesai dengan pemberian obat seminggu sekali. Udema paru Hipoglikemia (gula darah < 40 mg %) Pendarahan spontan pada gusi. hidung dan saluran gastro intestinal Gagal sirkulasi (syok). nyeri ulu hati disertai adanya tanda perdarahan di kulit berupa bintikpendarahan (petechiae). lebam (ecchymosis) atau ruam (purpura) dan atau pembesaran hati/hepar. Penderita DBD yang ditangani adalah jumlah penderita DBD yang penanganannya sesuai standar di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Penderita Malaria Berat adalah Jumlah penderita yang pada darahnya ditemukan Plasmodium Falsifarum dalam bentuk aseksual pada pemeriksaan darah.25 atau plasmabikarbonat < 15 mmol/liter Makroskopis hemoglobulinuria Post mortem pada biopsi otak ditemukan parasit sizon atau tropozoit. Penderita Meninggal karena Malaria adalah Jumlah kematian penderita karena malaria dengan konfirmasi laboratorium. kesadaran menurun atau renjatan (shock). hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20 % atau lebih) dan semua penderita panas tanpa sebab jelas diserta tanda-tanda perdarahan. muntah darah. . m. Produksi urine < 400 cc/jam pada orang dewasa atau 12 ml/kg BB/24 jam pada anak setelah dehidrasi dan kreatinin > 3 mg %. sekurang-kurangnya uji torniquet positif. berak darah. DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) 1.nadi kecil dan cepat Kejang-kejang berulang > 2 x 24 jam disamping pendinginan Acidosis : PH darah < 7. kadang-kadang mimisan.

3. lengan dan alat kelamin baik pada perempuan maupun laki-laki. serta tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penyebaran penyakit lebih lanjut. Radang saluran getah bening yang teraba seperti tali. Bila serangan timbul berulang kali. panas. • • • . Pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenitis) di daerah lipatan paha. yang tampak kemerahan. muntah. sakit (stadium dini). Demam dapat hilang timbul sendiri biasanya berkaitan dengan aktifitas fisik. pembesaran menjadi menetap. medial paha/lengan serta ketiak walaupun tidak ditemukan adanya luka. gejala sistemik lainnya dapat berupa mual. kemerahan. Kasus DBD yang di PE adalah kasus DBD yang ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi (PE). 1. Rumah yang diperiksa jentik adalah Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa jentik pada tempat-tempat penampungan air dan tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti 6. Sediaan darah yang diperiksa positif DBD adalah Jumlah sediaan darah DBD yang positif dari hasil pengambilan penderita klinis DBD 5. buah zakar. lengan. Rumah yang diperiksa terdapat jentik adalah Jumlah rumah/bangunan yang diperiksa jentik pada tempat-tempat penampungan air ternyata positif terdapat jentik. timbul ulkus dan setelah sembuh meninggalkan bekas berupa jaringan parut (Skar) Pembesaran tungkai. 7. Sediaan darah yang diperiksa DBD adalah Jumlah sediaan darah dengan cara pengambilan darah dari penderita DBD 4. terasa panas dan sakit serta menjalar dari pangkal paha/ketiak kearah ujung (limfangitis retrograd) Abses (bisul) didaerah lipat paha/ketiak yang dapat pecah. 3. Biasanya tampak benjolan kemerahan. Kasus Klinis Akut Filariasis adalah jumlah kasus dengan gejala : • • Demam berulang selama 3 – 5 hari. buah dada. Penyakit ini bersifat manahun (kronis) dan bila tidak diobati dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki. Biasanya pembesaran ini dapat berkurang /menghilang setelah serangan akut. FILLARIASIS Fillariasis ( penyakit kaki gajah) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. sakit dan panas. yaitu kegiatan pelacakan penderita/tersangka lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular penyakit demam derdarah dengue di rumah penderita/tersangka dan rumah-rumah sekitarnya dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter.

lengan dan payudara. Sediaan Darah Diperiksa Positif Filariasis adalah Jumlah hasil pemeriksaan sediaan darah positif yang diambil dari penderita filariasis klinis dan sekitar penderita yang dilakukan dari rumah ke rumah oleh petugas. Specimen Positif adalah Jumlah specimen positif anthrak hasil pemeriksaan dari laboratorium 1. Data ini didapat dengan mempergunakan formulir survei filariasis lampiran 4 4. Kasus Klinis Akut Filariasis yang Sembuh adalah jumlah penderita Filariasis dengan gejala akut yang telah dinyatakan sembuh dan tidak menjadi kronis/tidak terjadi pembengkakan menetap. kera dan kucing. 3. hari ke 7 1 kali. Sediaan Darah Diperiksa Filariasis adalah Jumlah sediaan darah jari yang diambil dari penderita filariasis klinis dan sekitar penderita dilakukan paling cepat pada pukul 8 malam waktu setempat. kucing. Penderita Meninggal Karena Anthrak adalah Jumlah orang yang meninggal karena anthrak berdasarkan diagnosa klinis dan atau laboratorium . 2. Orang Yang Digigit Hewan Penular Rabies adalah Jumlah orang yang digigit hewan yang dapat menularkan rabies. Orang Yang Diberi Vaksin Anti Rabies adalah orang yang diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) indikasi vaksinasi kepada setiap orang yang diduga tertular rabies melalui gigitan hewan anjing. Jumlah Orang Yang Diberi Vaksin Lengkap adalah orang yang diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) indikasi vaksinasi sebanyak 4 kali dengan interval 0 hr 2 kali.1. 5. kucing dan kera dengan dosis tertentu segera disuntikkan setelah digigit . 2. Kasus Klinis Kronis Hidrokel adalah jumlah penderita Filariasis dengan gejala pembesaran yang menetap didaerah buah zakar/skrotum. seperti anjing. ANTHRAX a. 5. RABIES 1. kepada setiap orang yang diduga tertular rabies melalui gigitan hewan (anjing. hari ke 21 1 kali. dilakukan perawatan mandiri dan dilakukan pemantauan serta evaluasi perkembangan kemajuan penderita. 4. Data ini didapat dengan mempergunakan formulir survei filariasis lampiran 4 6. Kematian Penderita Karena Rabies adalah Jumlah orang yang meninggal karena rabies berdasarkan diagnosa klinis dan specimen laboratorium pada hewan positif rabies. 3. kera) 4. Kasus Klinis Filariasis yang Ditangani adalah jumlah kasus/penderita Filariasis yang mendapatkan pengobatan dosis tunggal. Kasus Klinis Kronis Limphadema adalah jumlah penderita Filariasis dengan gejala pembesaran yang menetap didaerah tungkai bawah dan atas.

misal : Tes HI yang menggunakan antigen H5N1 · Dalam waktu singkat berlanjut menjadi pneumonia/gagal pernafasan/meninggal · Terbukti tidak terdapat penyebab lain d. FLU BURUNG a. Kasus Suspek yang meninggal adalah kasus suspek Flu Burung yang meninggal dunia. Kasus ”Probable” adalah kasus suspek disertai salah satu keadaan : · Bukti laboratorium terbatas yang mengarah kepada virus influenza A (H5N1). Penderita Meninggal Karena Pes adalah Jumlah orang yang meninggal karena Pes berdasarkan diagnosa klinik 7. Bekerja pada satu laboratorium yang sedang memproses spesimen manusia atau binatang yang dicurigai menderita Flu Burung b. Kasus Suspek Flu Burung adalah seseorang yang menderita ISPA dengan gejala demam (suhu > 38°C).6. 1. Kasus ”Probable” yang meninggal adalah jumlah semua penderita yang meninggal dunia yang diduga sebagai kasus ”Probable” Flu Burung e. batuk dan atau sakit tenggorokan dan atau beringus serta dengan salah satu keadaan : § Seminggu terakhir mengunjungi peternakan yang sedang berjangkit KLB Flu Burung. Kasus Konfirmasi Flu Burung adalah jumlah kasus suspek atau ”Probable” didukung oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium : § Kultur virus influenza H5N1 positif § PCR influenza (H5) positif § Peningkatan titer antibody H5 sebesar 4 kali . • • Kontak dengan kasus konfirmasi Flu Burung dalam masa penularan . PES 1.

1 untuk golongan umur 1-<5 tahun. Kasus Konfirmasi Flu Burung yang meninggal adalah jumlah semua kasus konfirmasi Flu Burung yang meninggal dunia 8. Penderita Diare semua gol. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal) 7. Kasus Baru Penyakit Diare Gol. Penderita Diare gol.1. 8. puskesmas keliling. keterangan sama dengan no. 1 untuk semua golongan umur. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal) 5. • Diare : Penderita datang ke sarana kesehatan denga tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan tinja lembek sampai cair. keterangan sama dengan no. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal).f. Penderita Diare Gol.6 dan 7. Umur (1-4 th). Umur (1-4 th) yang meninggal adalah penderita diare golongan umur 1-<5 tahun yang datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat. Kasus Baru Penyakit Diare Gol. 5. Umur <1 th di sarana kesehatan adalah jumlah penderita diare. 1 untuk golongan umur > 5 tahun 3. dirawat tetapi tidak tertanggulangi (meninggal) 6. Umur <1 th yang ditemukan kader adalah Penderita diare. keterangan sama dengan no. Umur (>5 th) yang meninggal adalah penderita diare golongan umur > 5 tahun datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat. Umur (>5 th).2 dan 3 4. Umur <1 th) yang meninggal adalah penderita diare umur 0-<1 tahun yang datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat. Kasus Penyakit Diare semua golongan Umur di sarana kesehatan. puskesmas pembantu. DIARE 1. merupakan penjumlahan no. Kasus Baru Penyakit Diare Gol. disentri dan suspek kolera yang berumur 0 bulan sampai < 1 tahun yang yang datang . Umur yang meninggal adalah penderita diare semua golongan umur datang berobat ke sarana kesehatan dan didiagnosa diare dengan derajat dehidrasi berat. disentri dan suspek Kolera yang berumur 0 bulan sampai <1 tahun yang datang berobat ke sarana kesehatan (Puskesmas. merupakan hasil penjumlahan dari no. frekwensi Buang Air Besar (BAB) bertambah lebih dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) Disentri : Bila dalam tinja penderita terdapat darah dan lendir Suspek kholera : Penderita yang disangka kolera. 2. biasanya terjadi pada saat KLB Diare • • 1. rumah sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas) untuk kunjungan pertama atau kunjungan berikutnya. Penderita Diare gol. Penderita Diare gol.

Umur (>5 th) yang ditemukan kader adalah Penderita diare yang berumur > 5 tahun yang datang berobat atau ditemukan oleh kader dan diberi oralit kemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas 11. semua golongan umur. 9.berobat atau ditemukan oleh kader dan diberi oralit kemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas 9. Pemakaian Oralit di Kader adalah Jumlah oralit yang dikeluarkan oleh kader untuk menanggulangi penderita diare. disentri dan suspek kolera yang berumur umur 1-<5 tahun yang datang berobat atau ditemukan oleh kader diberi oralitkemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas 10. 12. merupakan penjumlahan no. Umur (1-4 th) yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare umur 1-4 tahun 11 bulan 29 hari yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal berdasarkan keterangan keluarga penderita 14. Penderita yang diberikan Oralit adalah Jumlah penderita yang datang ke sarana kesehatan kemudian diberi oralit 17. 21. Penderita Diare gol. Penderita Diare gol. Penderita yang diberikan Oralit oleh kader adalah Jumlah penderita yang datang kepada kader atau ditemukan kader kemudian diberi oralit. Penderita yang diinfus adalah Jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan diagnosa dengan derajat dehidrasi berat kemudian dirawat inap dan diberi infus (RL) 19. yang datang berobat atau ditemukan oleh kader dan diberi oralit kemudian dicatat dan dilaporkan ke puskesmas. 16. Penderita Diare gol. Penderita Diare semua golongan Umur yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare semua golongan umur yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal. merupakan penjumlahan no. Penderita Diare gol. Pemakaian Oralit di sarana kesehatan adalah Jumlah oralit yang dikeluarkan/dipakai di sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita diare 18. Pemakaian RL cukup jelas 20. Umur (>5 th) yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare umur > 5 tahun yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal 15. Umur (1-4 th) yang ditemukan kader adalah Penderita diare. Umur <1 th yang meninggal yang ditemukan kader adalah penderita diare umur 0-<1 tahun yang ditemukan oleh kader sudah dalam keadaan meninggal berdasarkan keterangan keluarga penderita 13. 13. Penderita Diare semua golongan Umur yang ditemukan kader adalah Penderita diare. Penderita Diare gol. 14 dan 15.10 dan 11. .

tinja berdarah atau berlendir warna kehijauhijauan. 24. 23. Penderita TBC BTA Negatif Rontgen (+) yang diobati adalah Penderita yang pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BAT negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. Penderita Baru TBC Paru BTA (+) adalah Penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian) b. haus ingin minum. yaitu bentuk berat dan ringan. Dahak tersangka TBC yang diperiksa adalah Dahak orang yang dicurigai menderita penyakit TBC e. Pemeriksaan suspek adalah Diagnosa TBC Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis f. Pemberian tablet zinc di sarana kesehatan adalah jumlah tablet zinc yang dikeluarkan/dipakai di sarana kesehatan untuk menanggulangi penderita diare 9. Kasus TBC yang diobati paket OAT Kategori 1 . 25. Kasus Diare Dengan Dehidrasi Berat adalah Jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan dengan gejala umum matanya cekung. Penderita Diare yang diberikan tablet zinc di sarana kesehatan adalah jumlah penderita diare akut yang datang ke sarana kesehatan kemudian diberi tablet zinc 26. TBC Paru BTA Negatif rontgen positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. d. Kasus Diare Dengan Dehidrasi Ringan – Sedang adalah Jumlah penderita Diare yang ditandai dengan gejala umum gelisah. kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif c. air mata tidak ada. kulit perut di cubit tidak kembali. Penderita Kambuh TBC BTA (+) adalah Penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh. Kasus Diare tanpa Dehidrasi adalah jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan tanpa mengalami dehidrasi.22. mata cekung. mulut kering. banyak kulit jika dicubit kembalinya lambat. memerlukan infuse dan dirawat di RS. tidak mau makan minum. TBC PARU-PARU a.

pemeriksaan ulang dahak 2 kali berturut-turut m. sendi dan kelenjar adrenalin i. pleuritis eksudativa unilateral. TBC tulang (kecuali tulang belakang). Penderita TBC Paru BTA negatif rontgen positif yang ’’sakit berat ” Penderita TBC Ekstra Paru Berat g. Kasus TBC Teregister yang Meninggal adalah Penderita yang dalam masa pengobatan diketahui meninggal karena sebeb apapun . TBC kulit. yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis).Yang menggunakan OAT ini adalah : • • • Penderita baru TBC Paru BTA Positif. Kasus TBC yang diobati paket OAT Kategori 2 Yang menggunakan OAT ini adalah : • • • Penderita kambuh (relaps) Penderita gagal (failure) Penderita dengan pengobatan setelah lalai(after default) h. Kasus TBC yang diobati 2-3 bulan yang lalu dengan paket OAT kategori 1 telah konversi adalah Penderita ini dapat meneruskan pengobatan dengan tahap lanjutan j. Kasus TBC yang diobati paket OAT Kategori 3 Yang menggunakan OAT ini adalah : • • Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan Penderita ekstra paru ringan. Kasus TBC yangdiobati 2-3 bulan yang lalu dengan paket OAT kategori 2 telah konversi adalah Penderita ini dapat meneruskan pengobatan dengan tahap lanjutan k. Kasus TBC yang Telah Sembuh adalah Bila penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan dahak (follow up) paling sedikit 2 (dua) kali berturut-turut hasilnya negatif yaitu pada AP dan atau sebulan sebelum AP. Kasus TBC Pengobatan Lengkap adalah Penderita yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tapi tidak ada hasil. dan pada satu pemeriksaan follow up sebelumnya) l.

n. Penderita Kusta Type PB anak yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia < 15 tahun yang telah minum obat MDT sesuai dosis selama 6 – 8 bulan 4. Penderita Kusta Type MB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita yang bercaknya > 5 (usia > 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 12 dosis selama 12 bulan 1. Penderita Kusta Type MB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia > 15 tahun yang telah minum obat MDT sesuai dosis selama 12 – 18 bulan. Penderita Kusta Type PB anak yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia < 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 3. Penderita Kusta Type PB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia > 15 tahun telah minum obat MDT sesuai dosis selama 6 – 8 bulan 3. . Kasus TBC yang pindah bulan ini adalah Penderita yang yang pindah berobat ke daerah kabupaten/kota lain o. KUSTA 1. 5. 6. Total Penderita Kusta yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Jumlah penderita kusta Tipe PB dan MB yang telah menyelesaikan Pengobatan sesuai dengan waktunya. Penderita Kusta Type MB anak yang mendapatkan pengobatan MDT dinyatakan RFT adalah Penderita Kusta usia < 15 tahun yang telah minum obat MDT sesuai dosis selama 12 – 18 bulan. Kasus TBC yang telah Default adalah Penderita yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai 10. Penderita Kusta Type PB dewasa yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia > 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 2. Penderita Kusta Type MB anak yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita yang bercaknya > 5 (usia < 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 12 dosis selama 12 bulan 2. Kasus TBC yang Gagal adalah Penderita BTA (+) yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan p.

11. 11. Kasus Baru Penyakit Pneumonia adalah Jumlah kasus baru pneumonia balita yang ditemukan di sarana kesehatan (Puskesmas. sehingga tidak menyelasaikan pengobatan dalam waktu 9 bulan 10. p Manfaat data: dapat mengetahui berapa kali episode bayi balita terkena pneumonia. . puskesmas keliling. Kasus Pneumonia Berat golongan umur 0 – 2 bln : adalah jumlah penderita umur 0-2 bln yang datang ke sarana kesehatan dengan tanda-tanda : nafas cepat (> 60 per menit) dan ada tarikan dinding dada ke dalam. KERACUNAN MAKANAN 1. Kusta Tipe MB yang Droup Out adalah Penerita Kusta Tipe MB yang tidak minum selama 4 bulan berturut-turut atupaun tidak sehingga tidak menyelesaikan pengobatan selama 18 bulan.7. Kusta Tipe PB yang Droup Out adalah Penderita Kusta tipe PB yang tidak minum obat selama 2 bulan baik berturut-turut maupun tidak. tangan dan wajah) 8. 1. Kasus Reaksi pada penderita yang sedang dalam pengobatan adalah Penderita kusta yang belum. 12. Gejala penumonia untuk umur: p 2 – <12 bulan : Tidak ada tarikan dinding dada ke dalam . nafas cepat lebih atau sama dengan 40 per menit. Temuan Cacat Tk II anak adalah Penemuan penderita kusta usia < 15 tahun yang sudah mengalami cacat fisik yang tampak (pada kaki. tangan dan wajah) 9. Kasus Keracunan Makan adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia > 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 1. sedang dan sudah diobati yang mengalami reaksi akut disebakan oleh kuman kusta akibat meningkatnya ketahanan tubuh. PROGRAM ISPA 1. Temuan Cacat Tk II dewasa adalah Penemuan penderita kusta usia > 15 tahun yang sudah mengalami cacat fisik yang tampak (pada kaki. rumah sakit dan praktek swasta di wilayah kerja puskesmas maupun oleh bidan desa. Total Penderita Kusta Yang Drop Out adalah Jumlah Penderita Kusta Tipe PB dan MB yang tidak menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktunya. puskesmas pembantu. nafas cepat lebih atau sama dengan 50 per menit p 1 – < 5 tahun : Tidak ada tarikan dinding ke dalam. Penderita Kusta Type PB anak yang mendapatkan pengobatan MDT adalah Penderita Kusta yang bercaknya < 5 (usia < 15 tahun) diobati dengan MDT sebanyak 6 dosis selama 6 – 9 bulan 12.

4. 2. Kasus AFP Non Polio adalah kasus AFP yang pada pemeriksaan spesimennya tidak ditemukan virus polio liar atau kasus AFP yang ditetapkan oleh tim ahli sebagai kasus AFP non polio dengan kriteria tertentu. 7. Kasus Pneumonia Berat golongan umur 1 – <5 th adalah jumlah penderita umur 1-<5 th yang datang ke sarana kesehatan dengan tanda-tanda : nafas cepat (> 40 per menit) dan ada tarikan dinding dada ke dalam. yang ditemukan di sarana kesehatan maupun lapangan 6.2. Kasus Pneumonia yang ditemukan oleh Kader adalah jumlah penderita pneumonia yang ditemukan oleh kader terlatih dan dirujuk ke Puskesmas. Kasus Pneumonia Berat golongan umur 2 bln – 1 th adalah Jumlah penderita umur 2 bln-1 th yang datang ke sarana kesehatan dengan tanda-tanda : nafas cepat (> 50 per menit) dan ada tarikan dinding dada ke dalam. Kasus bukan pnemonia golongan umur 1 – < 5 tahun adalah kasus yang tidak ditemukan tarikan dinding dada ke dalam dan tidak ada nafas cepat. pustu atau petugas kesehatan. . 9. Kasus bukan pnemonia golongan umur < 1 tahun adalah kasus yang tidak ditemukan tarikan dinding dada ke dalam dan tidak ada nafas cepat. p Manfaat : dapat diketahui keaktifan kader maupun pengetahuan dan keterampilan kader dalam menemukan kasus pneumonia 13. 3. 8. yang ditemukan di sarana kesehatan maupun lapangan. PENYAKIT ACUTE FLACID PARALYSIS (AFP) 1. Pemakaian Kotrimoksasol adalah jumlah kortimoksasol yang diberikan pada anak < 5 tahun yang terkena ISPA ( tablet / sirup ) 10. Pemakaian Parasetamol adalah jumlah paracetamol yang diberikan pada anak < 5 tahun yang terkena ISPA ( tablet / sirup ) 12. Pemakaian Amoksicylin adalah jumlah amoksicylin yang diberikan pada anak < 5 tahun yang terkena ISPA ( tablet / sirup ) 11. Kasus AFP < 15 Tahun adalah semua anak berusia kurang dari 15 tahun dengan kelumpuhan yang sifatnya flacid (layuh) terjadi secara akut (mendadak) dan bukan disebabkan oleh rudapaksa. yang ditemukan di sarana kesehatan maupun lapangan 5. Kasus Pneumonia Golongan Umur 0-1 Th yang Meninggal adalah jumlah penderita umur 0-1 th yang meninggal. Kasus Pneumonia Golongan Umur > 5 Th yang Meninggal adalah jumlah penderita umur >5 th yang meninggal. Kasus Pneumonia Golongan Umur 1 Th-<5 Th yang Meninggal adalah jumlah penderita umur 1 th-<5 th yang meninggal.

Orang yang melakukan Pre Test Konseling adalah Klien yang melakukan pre tes konseling pada tahapan awal proses konseling yang dilakukan oleh konselor profesional/terlatih. Herpes. 10. 4. Orang yang melakukan Post Test Konseling adalah klien yang telah mengetahui hasil test dan melakukan konseling lanjutan. Orang dengan hasil test HIV positif adalah Hasil pemeriksaan laboratorium reaktif HIV dengan 3 kali reagen yang berbeda pada klien tidak bergejala atau 2 kali reagen yang berbeda pada klien dengan risiko tinggi (misal Pengguna napza suntik. Orang yang berkunjung ke layanan VCT adalah Klien yang datang untuk mendapatkan layanan konseling dan testing secara sukarela yang dilakukan oleh seorang konselor profesional/terlatih. dll 8. 3. Pemeriksaan Smear GO Dan STS dari Keluarga Risti adalah Jumlah hasil pemeriksaan smear apabila ada survei GO dan STS pada kelompok risiko tinggi 2.14. ODHA yang mendapat pengobatan Infeksi Opurtinistik adalah Orang dengan HIV AIDS yang mendapat pengobatan infeksi opportunistik seperti Jamur. TB paru. Laki-laki seks dengan laki-laki) 7. Orang yang Ditangani adalah Orang dengan HIV AIDS yang mendapat pelayanan kesehatan dasar. Orang yang melakukan Test HIV adalah Klien yang menyetujui untuk melakukan testing setelah mendapatkan pre test konseling yang dilakukan oleh konselor profesional/terlatih. Penderita yang diperiksa GO adalah Jumlah penderita penyakit kelamin yang diperiksa GO 3. KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) . Penderita yang diperiksa Sifilis adalah Jumlah penderita penyakit kelamin yang diperiksa Sifilis 15. PENYAKIT KELAMIN 1. ODHA yang dirujuk untuk mendapatkan ARV adalah Orang dengan HIV AIDS yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan obat anti retro viral. 9. HIV 1. 2. Orang yang mengambil Test HIV adalah Jumlah orang yang membuka hasil test HIV 5. Penasun yang melakukan LJSS adalah Klien pengguna napza suntik yang mendapatkan layanan jarum suntik steril atau pengguna napza suntik yang melakukan pertukaran jarum suntik steril. Penjaja Seks. 15. 6. Waria.

1. Balita 0 – 59 bln baru adalah balita 0 -59 ini bln yang ditemukan baru bulan 13. 4. • Pengertian kurang dari 24 jam adalah sejak laporan W1 diterima sampai penyelidikan dilakukan dengan catatan selain formulir W1 dapat juga berupa fax atau telepon 1. penyakit karantina atau keracunan makanan • Kejadian luar biasa adalah timbulnya atau meningkatnya timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa /kelurahan dalam waktu tertentu. Frekwensi KLB adalah jumlah terjadinya peningkatan kasus berpotensi KLB. 1. Bayi < 1 tahun baru adalah bayi < 1 Thn yang ditemukan baru bulan ini 8. 2. Anak balita 12 – 59 bln baru adalah anak balita 12 -59 bln yang ditemukan baru bulan ini . Desa/Kelurahan terjadi KLB yang Ditangani < 24 jam adalah Desa/Kelurahan terjadi KLB yang ditangani mencakup penyelidikan dan penanggulangan KLB kurang dari 24 jam. Neonatal baru adalah neonatal yang ditemukan pada bulan ini 7. Ibu hamil baru adalah Ibu hamil baru yang ditemukan bulan ini 3. Ibu nifas baru adalah Ibu nifas baru yang ditemukan bulan ini 5. Bayi 6 – 11 bln baru adalah bayi 6 -11 bln yang ditemukan baru bulan ini 10. Anak 12 – 23 bln baru adalah anak 12 -23 bln yang ditemukan baru bulan ini 11. Bayi 6 bln baru adalah bayi 6 bln yang ditemukan baru bulan ini 9. LAPORAN BULANAN KEGIATAN PUSKESMAS (LB 4) 1. Ibu Bersalin baru adalah Ibu Bersalin baru yang ditemukan bulan ini 4. Anak 24 – 59 bln baru adalah anaki 24 – 69 bln yang ditemukan baru bulan ini 12. DATA SASARAN 2. Desa/Kelurahan terjadi KLB adalah Desa/Kelurahan mengalami KLB bila terjadi peningkatan kesakitan atau kematian penyakit potensi KLB. Ibuu menyusui baru adalah Ibu menyusui baru yang ditemukan bulan ini 6. c.

C. Puskesmas Keliling dsb. tapi dicatat dalam register pendaftaran pasien. Puskesmas Pembantu. Setiap Pengunjung Baru diberikan Nomor Rekam Medik dengan menggunakan register penomoran dan dibuatkan Folder Rekam Medik. b. untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. . Ibu Menyusui dan Balita. Puskesmas Keliling dsb. Pengunjung Lama Pengunjung Lama adalah pengunjung yang dating untuk kedua dan seterusnya. sehingga seumur hidupnya hanya dicatat satu kali kunjungan baru. Pengecualian kedua kategori tersebut pada Ibu Hamil. Kunjungan Baru : Seseorang yang pertama kali dating ke Puskemas/Puskesmas DTP/Puskesmas Pembantu/Puskesmas Keliling dsb. Ada 2 kategori kunjungan : 1. KUNJUNGAN adalah Seseorang datang ke Puskesmas. 1. RAWAT JALAN DAN RAWAT INAP 1. yang kedua kali dan seterusnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. untuk mendpatkan pelayanan kesehatan maupun sekedar mendapatkan surat keterangan sehat atau sakit. a. Kunjungan Lama : Seseorang yang datang ke Puskesmas/Puskesmas DTP/Puskesmas Pembantu. Pengunjung terdiri dari 2 kelompok yaitu 1.B. a. b. Pengunjung Baru Pengunjung Baru adalah pengunjung yang baru pertama kali dating yang akses di Puskesmas. Nomor Rekam Medik diberikan hanya 1 (satu) kali seumur hidup 1. yang datang ke Puskemsas dengan jejaringnya yang sama atau berbeda sebagai kunjungan lama atau kunjungan baru dengan kasus lama dan kasus baru. Tidak mendapat nomor rekam medik lagi. PENGUNJUNG PUSKESMAS Data untuk pengisian banyak Pengnjung Puskesmas diambil dari Buku register Penomoran yang ada pada addmiting office ( Loket penerimaan pasien atau tempat penjualan karcis yang dibuat setiap hari) . Puskesmas DTP.

sedangkan kunjungan kedua dan seterusnya dari tahun yang bersangkutan dicatat sebagai kunjungan lama. Kunjungan Ibu Hamil pada setiap kehamilan dianggap sebagai kunjungan baru. selama periode menyusui 2 tahun dihitung sebagai kunjungan baru. 1. X 100% Ada 2 kategori kasus : 1. tetapi diberlakukan sebagai “Episode Of Iliness”. 2. . Cakupan Rawat Jalan Rumus perhitungan adalah : Jumlah Kunjungan Pasien Baru Rawat Jalan di sarana Kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Jumlah Penduduk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu 2. Kasus Baru : Adalah “ New Episode Of Iliness” yaitu pernyataan pertama kali seseorang menderita penyakit tertentu sebagai hasil diagnosa dokter atau tenaga paramedis. Kunjungan Ibu Menyusui termasuk ibu yang menyelesaikan kehamilannya karena abortus. Jumlah Kunjungan Kasus adalah Kasus Baru ditambah dengan Kasus Lama. Kasus Lama : Adalah kunjungan ke 2 (dua) dari kasus baru yang dinyatakan belum sembuh. sedangkan kunjungan selanjutnya dari kasus lama dalam tahun/periode yang sama (selama belum sembuh) diperhitungkan kunjungan kasus lama. KASUS . sedangkan pada kunjungan kedua seterusnya hanya dihitung sebagai kasus lama dan kunjungan kasus lama. Khusus pada penderita Kusta hanya dikenai kasus baru yaitu saat pertama kali penemuannya. Dengan demikian penetapan kunjungan Ibu hamil tidak ditentukan oleh tahun/periode. Kunjungan Balita setiap tahun (setelah hari ulangtahun) dianggap sebagai kunjungan baru. sedangkan kunjungan kedua dan seterusnya untuk pemeriksaan dianggap sebagai kunjungan lama.1. 1.

12. Kunjungan Rawat Jalan KB adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. didalam dan diluar gedung Puskesmas. 5. Kunjungan Rawat Jalan Gigi adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. 11. Kunjungan Rawat Jalan Lain-lain adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. Kunjungan Rawat Jalan Umum adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. 7. Lama Perawatan adalah total lama dirawat dari pasien yang sudah keluar dari Puskesmas dengan Perawatan (hidup maupun meninggal). didalam dan diluar gedung Puskesmas. Kunjungan Baru adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang pertama kali berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan. 2. Kunjungan Lama adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung berikutnya dari suatu kunjungan baru ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan. Kunjungan Rawat Jalan KIA adalah kunjungan seseorang yang mendapatkan pelayanan pengobatan tanpa perlu rawat inap. Hari Perawatan adalah total hari rawat dari semua pasien yang dirawat selama bulan yang bersangkutan. yang bersumber pada register rawat jalan keluarga berencana. didalam dan diluar gedung Puskesmas. 1. Penderita Keluar Meninggal kurang dari 48 jam adalah jumlah pasien mati kurang dari 48 jam selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. Penderita Keluar Hidup adalah jumlah pasien yang keluar hidup selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. Kunjungan Puskesmasadalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan. yang bersumber pada register rawat jalan kesehatan ibu anak. 4. didalam dan diluar gedung Puskesmas. Penderita Keluar Meninggal adalah jumlah pasien yang keluar meninggal selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. Penderita yang dirawat adalah jumlah pasien yang dirawat di Puskemas dengan Perawatan .1. 8. yang bersumber pada register rawat jalan laian-lainnya. . yang bersumber pada register rawat jalan umum. 3. 9. didalam dan diluar gedung Puskesmas. 10. yang bersumber pada register rawat jalan gigi. 13. 6.

Rujukan dari Kader. 23. Rujukan dari Rumah Sakit ke Puskesmas adalah jumlah rujukan dari Rumah Sakit ke Puskesmas. 1. Peserta Kartu Sehat yang dirujuk ke Rumah Sakit/Puskesmas DTP adalah jumlah peserta yang dirujuk ke Rumah Sakit/Puskesmas DTP yang mempunyai Kartu Sehat. Sekolah dll adalah jumlah penderita yang diterima dari kader. Kunjungan Dokter Ahli adalah kegiatan kunjungan dokter ahli yang datang ke Puskemas yang bersangkutan. Kunjungan peserta Assuransi kesehatan swasta adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/mempergunakan Kartu dari Assuransi kesehatan swasta. Kunjungan Peserta JPKM adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/ mempergunakan JPKM. Kunjungan Peserta Jamsostek adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/ mempergunakan Kartu dari Jamsostek. posyandu. Kunjungan Peserta PT. Kunjungan Kartu Sehat adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/mempergunakan Kartu Sehat.14. 22. 17. Askes adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/m empergunakan Kartu dari PT Askes. Penderita Keluar Meninggal lebih dari 48 jam adalah jumlah pasien mati dalam 48 jam dan lebih selama bulan yang bersangkutan di Puskesmas dengan Perawatan. Posyandu. 26. Penderita yang dirujuk ke Rumah Sakit / Puskesmas DTP adalah jumlah penderita/ pasien yang dikirim dari Puskesmas kepada Rumah Sakit / Puskesmas DTP. UPAYA KESEHATAN GIGI . 25. 21. BP. Peserta Kartu Sehat terdaftar di Puskesmas adalah jumlah peserta yang terdaftar mempunyai kartu sehat. 15. 24. 16. D. Kunjungan peserta Assuransi lainnya adalah seseorang (sehat maupun sakit) yang berkunjung ke Puskesmas untuk memperoleh pelayanan dengan membawa/ mempergunakan Kartu dari Assuransi lainnya. 18. Sekolah. 19. BP. 20.

tumpatan silikat. Kunjungan Baru Rawat Jalan Gigi adalah jumlah kunjungan yang pertama kali penderita penyakit gigi yang mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. 8. 2.1. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen. Tumpatan pada Gigi Tetap adalah jumlah semua tumpatan pada gigi tetap berupa tumpatan amalgam. kuratif yang dilaksanakan di wilayah Puskesmas. 3. 4. baik pelayanan promotif. Tumpatan pada Gigi Tetap adalah jumlah semua tumpatan pada gigi tetap berupa tumpatan amalgam. sehingga terjadi kelainan periodontal (gigi goyang). Tumpatan Gigi Sulung adalah jumlah semua tumpatan pada gigi sulung berupa tumpatan amalgam. Kunjungan di Balai Pengobatan Gigi 1. Gigi Puskesmas termasuk Puskesmas Keliling dan Puskesmas Pembantu. 5. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen yang dilaksanakan di Sekolah. Kunjungan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) 1. 2. tumpatan silikat. Pembersihan Karang Gigi adalah Merupakan tindakan pelayanan berupa scaling dan atau root planing yang dilakukan terhadap geligi yang mengandung karang gigi atau plak . preventif. Pencabutan Gigi Tetap adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi tetap di Sekolah. baik pelayanan promotif. 10. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen. Hari Buka Balai Pengobatan (BP) Gigi adalah jumlah buka praktek/pelayanan BP. Pencabutan Gigi Sulung adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi sulung 7. Kunjungan lama Rawat Jalan Gigi adalah jumlah kunjungan yang kedua dan seterusnya pe penderita penyakit gigi yang mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. preventif. kuratif yang dilaksanakan di wilayah Puskesmas. . 6. tumpatan silikat. Pencabutan Gigi Tetap adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi tetap. Pengobatan Periodontal adalah jumlah kelainan dengan gejala radang gusi (gingivitis). 11. Pengobatan Pulpa adalah jumlah kasus pengobatan pulpa pada perawatan endodontic 9.

8. Sikat gigi masal di SD/MI adalah tindakan menyikat gigi di sekolah yang di lakukan bersama sama si SD. Murid SD UKGS yang mendapat Perawatan adalah jumlah murid SD UKGS dengan kasus yang mendapatkan perawatan. 9. 7. 4. tumpatan glass ionomer (ART) dan synthetic porcelen yang ditambalkan secara permanen di Sekolah.3. Murid SD UKGS adalah jumlah murid kelas I s/d VI SD UKGS yang menjadi sasaran program. 11. 1. Pengobatan Pulpa adalah jumlah kasus pengobatan pulpa pada perawatan endodontik di sekolah 6. Pencabutan Gigi Sulung adalah jumlah pencabutan (ekstraksi) pada gigi sulung di Sekolah.MI 5. 2. Rujukan ke Puskesmas adalah anak sekolah yang tidak bisa diobati atau dilakukan tindakan di sekolah dikirim ke puskesmas. 5. Pembersihan Karang Gigi adalah Merupakan tindakan pelayanan berupa scaling dan atau root planing yang dilakukan terhadap geligi yang mengandung karang gigi atau plak. Penyuluhan di SD/MI adalah Pemberian informasi mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh petugas kesehatan atau pendidik dengan teknik penyuluhan di SD/MI 3. . Pengobatan Periodontal adalah jumlah kasus periodontal yang diobati di sekolah. Pembinaan ke SD UKGS adalah jumlah kunjungan petugas Puskesmas ke SD UKGS dengan tujuan pembinaan program UKGS. tumpatan silikat. Tumpatan Gigi Sulung adalah jumlah semua tumpatan pada gigi sulung berupa tumpatan amalgam. Penyuluhan di TK/RA adalah Pemberian informasi mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh petugas kesehatan atau pendidik dengan teknik penyuluhan di TK/RA 4. 10. Sikat gigi masal di TK/RA adalah tindakan menyikat gigi di sekolah yang di lakukan bersama sama di TK/RA. Murid SD UKGS yang perlu Perawatanadalah jumlah murid SD UKGS dengan kasus yang perlu diatasi dengan tindakan pengobatan.

3. 2.6. Keluarga Rawan Kesehatanadalah keluarga rentan (miskin) dan keluarga dengan kasus/ masalah risiko tinggi dengan prioritas : 1. 7. Keluarga miskin belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas dan jaringannya) dan belum masuk kuota miskin. Pembinaan ke Desa UKGMD adalah jumlah kunjungan petugas Puskesmas ke desa UKGMD dengan tujuan pembinaan program UKGMD. Penduduk yang dirujuk ke puskesmas oeh kader adalah penduduk yang tidak bisa ditangani oleh kader lalu dikirim ke puskesmas. Keluarag miskin sudah memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan mempunyai masalah kesehatan terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan balita. kesehatan reproduksi penyakit menular. 4. Penduduk yang mendapatkan penyuluhan kesehatan gigi oleh kaderAdalah penduduk yang telah mendapatkan penyuluhan tentang kesehatan gigi dan mulut oleh kader di posyandu UKGMD 1. Keluarga Rawan Kesehatan yang dibina adalah keluarga yang pernah dikunjungi oleh petugas kesehatan dan mendapatkan asuhan keperawatan 5. Ibu hamil yang dibina dari keluarga rawan kesehatan adalah Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan keperawatan kesehatan 6. Keluarga tidak termasuk miskin yang mempunyai masalah kesehatan prioritas serta belum memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan. Bayi usia 0 – 11 bulan yang dibina dari keluarga rawan kesehatan adalah Bayi usia 0 – 11 bulan yang mendapatkan pelayanan keperawatan kesehatan . 2.

Keluarga Mandiri Tingkat pertama (KM-I) E. a. Kasus penyakit kronis adalah kasus selain ibu hamil. UPAYA PERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT p Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat p Menerima Pelayanan Keperawatan yang diberikan sesuai rencana perawatan b. Lanjut usia yang dibina adalah jumlah lansia yang dibina di wilayah kerja puskesmas. 12. Tingkat kemandirian : 13. 11.7. Keluarga Mandiri Tingkat Dua (KM-II) p Menerima petugas Perkesmas p Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan p Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar p Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan . Penderita yang perlu tindak lanjut perawatan adalah penderita yang memerlukan asuhan keperawatan setelah rawat inap. Anak balita usia 12 – 59 bulan yang dibina dari keluarga rawan kesehatan adalah Anak balita usia 12 – 59 bulan yang mendapatkan pelayanan keperawatan kesehatan 8. 9. 10. bayi dan anak balita dari keluarga rawan kesehatan yang mendapatkan asuhan keperawatan. Keluarga Rawan Kesehatan yang selesai dibina adalah jumlah keluarga yang telah dibina dan memperoleh asuhan keperawatan 2 sd 6 kali kunjungan.

UPAYA KESEHATAN SEKOLAH 1. 5. c. 6. SMP / MTs yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah SMP / MTs yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan. 3. SD / MI yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah SD/MI yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan. Keluarga Mandiri Tingkat Tiga (KM – III) p Menerima petugas Perkesmas p Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan p Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar p Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif p Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan p Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif 1. Keluarga Mandiri Tingkat Empat (KM – IV) p Menerima petugas Perkesmas p Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan p Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar p Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif p Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang dianjurkan p Melaksanakan tindakan pencegahan dan promotif secara aktif 1. 2. F. Murid SD / MI yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid SD/MI kelas I s/d VI yang diperiksa kesehatannya. 4. . TK/RA yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah TK/RA yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan. Murid SMP / MTs yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid SMP/MTs kelas I s/d III yang diperiksa kesehatannya. SMA / MTs yang melaksanakan Penjaringan adalah jumlah SMA / MTs yang melaksanakan penjaringan kesehatan oleh petugas kesehatan.c.

11. Murid yang mendapatkan Tablet Kecacingan adalah jumlah murid SD/MI yang mendapatkan Tablet Albendazol (kecacingan) pada bulan Mei dan November. 14. Anak Berkelainan (ALB) yang dibina adalah jumlah anak sekolah yang berkelainan yang dibina oleh petugas Puskesmas 18. Murid Sekolah diperiksa dengan Berat Badan sesuai dengan Tinggi Badan adalah jumlah murid sekolah yang diperiksa pengukuran berat badan dan tinggi badannya disesuaikan dengan criteria normal (lihat table rujukan penentuan status gizi anak sekolah) 10. 20. 13. Penyakit Mata yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit gigi. Penyakit TB. 19. 16. Penyakit Kulit yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit kulit. Murid SMA / MTs yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid SMA/MTs kelas I s/d III yang diperiksa kesehatannya. 12. Penyakit ISPA yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Anak Sekolah yang Sakit dirujuk ke Rumah Sakit adalah jumlah murid yang sakit dan dirujuk ke Rumah Sakit . Anak Sekolah yang Sakit berobat di Puskesmas adalah jumlah murid yang sakit dan berobat ke Puskesmas. Penyakit GIGI yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit gigi.7. Penyakit Kusta yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit kusta. Murid PONTREN yang diperiksa Penjaringan adalah jumlah murid Pontren yang diperiksa kesehatannya. Anak Berkelainan (ALB) adalah jumlah anak sekolah yang berkelainan yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas. 15. Paru-Paru yg ditemukan hasil penjaringan adalah jumlah murid yang ditemukan berpenyakit TBC. 17. 8. 9.

1. 6. Mata yang dioperasi adalah jumlah mata yang telah dilakukan operasi pada waktu pelayanan operasi katarak masal tersebut. DinKes Propinsi RS. Cicendo. Deteksi dini tajam penglihatan di SD adalah Deteksi secara dini kelainan tajam penglihatan dimana sinar sejajar yang masuk ke mata tanpa akomodasi tidak tepat jatuh ke retina. Pasien glaukoma yang dirujuk adalah Jumlah kasus glaukoma yang dirujuk di sarana pelayanan rujukan (Rumah Sakit ). 4. Kegiatan Operasi Katarak Individuil adalah jumlah kegiatan pelaksanaan operasi katarak yang dilakukan oleh pasien atas biaya sendiri. 1 minggu dan 1 bulan. Skrening awal penderita katarak adalah Kegiatan skrining awal katarak / pencarian kasus katarak gakin oleh petugas Puskesmas per tahun dengan melibatkan kader. Murid yang memerlukan koreksi dengan kacamata adalah Murid yang mengalami kelainan tajam penglihatan yang harus dikoreksi dengan kaca mata sehingga sinar sejajar yang masuk mata dapat jatuh tepat di retina. Skrening akhir katarak adalah Kegiatan skrining penderita katarak gakin yang dikirim oleh puskesmas / datang sendiri dan diperiksa oleh dokter spesialis mata di tempat operasi per tahun. UPAYA KESEHATAN MATA 1. Perdami dan BKMM). G. 8. 2. Deteksi dini Glaukoma adalah Kegiatan deteksi secara dini keadaan tekanan bola mata yang lebih tinggi dari normal sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada saraf optik dan bila tidak diobati secara dini dapat menimbulkan kebutaan secara perlahan-lahan. perawat dan dokter puskesmas. 5. Komplikasi mata adalah keadaan mata mengalami komplikasi setelah di operasi 1 hari. p LSM langsung ke Puskesmas p Swadaya Masyarakat dengan Pemda setempat.1. . 3. Frekuensi Operasi Katarak Masal adalah jumlah kegiatan operasi katarak yang dilakukan secara masal yang dikoordinir tersendiri oleh Puskesmas atau kerja sama dengan pihak lain. Instansi lainnya. 7. 2. misal : p Forum Koordinasi Penanggulangan kebutaan akibat katarak di Propinsi Jawa Barat (Pemda Propinsi.

Peserta Jamsostek adalah jumlah peserta Jamsostekyang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas. Pengunjung yang mendapatkan Komunikasi interpersonal adalah pemberian informasi dari petugas kesehatan terhadap pengunjung secara perorangan. 6. Frekwensi pembinaan Forum masyarakat desa. Peserta Askeskin adalah Peserta dari keluarga miskin dimana pembiayaan kesehatannya ditanggung oleh pemerintah. . 5. Peserta JPKM (KK) adalah jumlah peserta JPKM yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas. H. 4. 1. Peserta Asuransi Kesehatan swasta adalah jumlah peserta Asusransi kesehatan swasta yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas 6. Rumah yang mendapatkan Kunjungan Rumah adalah rumah yang dikunjungi untuk mendapat penyuluhan. 2. Frekwensi penyuluhan adalah jumlah penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan. p Dana Sehat / JPKM merupakan suatu upaya dari oleh dan untuk masyarakat yang diselenggarakan secara swadaya masyarakat guna menjamin pemeliharaan kesehatan perorangan.1. Peserta Dana Sehat adalah jumlah peserta Dana Sehat di wilayah kerja Puskesmas. Promosi kesehatan di luar gedung adalah pemberian informasi di luar tempat pelayanan kesehatan secara kelompok dengan teknik penyuluhan 5. Peserta Asuransi lainnya adalah jumlah peserta Asusransi lainnya yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas 7. Peserta Askes adalah jumlah peserta Askes yang mendapatkan pelayanan dari Puskesmas di wilayah kerja Puskesmas 3. Materi penyuluhan adalah substansi penyuluhan yang dilaksanakan. 2. sudah jelas . KEGIATAN PENYULUHAN DAN JPKM KESEHATAN MASYARAKAT 1. sudah jelas 8. Frekwensi Penyuluhan adalah jumlah penyuluhan kesehatan yang dilaksanakan. keluarga dan masyarakat melalui peningkatan manajemen pendanaan. 4. 7. Forum masyarakat desa yang melaksanakan pertemuan. 3. Promosi kesehatan di dalam gedung adalah pemberian informasi di dalam tempat pelayanan kesehatan secara kelompok dengan teknik penyuluhan 1.

7. TPM yang memenuhi syarat kesehatan adalah TPM dengan skor hasil Inpeksi Sanitasi / Laik Sehat TPM = 70 %. 9. Industri yang diperiksaadalah Suatu tempat dan segala fasilitasinya meliputi ruangan. bioskop. terminal. bila tersedia sarana kesehatan lingkungan dan keadaan rumah memenuhi syarat. Rumah yang diperiksa secara umum adalah sarana tempat hunian setiap warga negara layak huni. pengrajin makanan dll. tempat ibadah. perkarangan. penggolongan sesuai dengan program. jasa boga. salon. Frekwensi pembinaan UKBM. Industri yang memenuhi syarat kesehatan adalah Industri dengan skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Industri = 80 %. dijual dan disajikan bagi umum. 1. 1. took penjualan makanan. disimpan. TTU (Tempat Tempat Umum) yang diperiksa adalah tempat atau sarana atau jasa pelayanan umum yang memiliki lokasi tetap. TP 3 yang memenuhi syarat kesehatan adalah TP3 yang setelah melalui pemeriksaan sesuai prosedur-prosedur yang ditetapkan ternyata memenuhi criteria program atau standard dari persyaratan kesling /sanitasi yang berlaku. pasar. I. Rumah yang tidak Sehat adalah jumlah rumah yang secara minimal tidak layak huni. pusat belanja. 4. TP 3 (Tempat Pengelolaan Pestisida) yang diperiksa adalah jumlah Tempat Pengelolaan Pestisida yang memiliki lokasi tetap dan memegang izin usaha dari Pemda. diolah. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN 1. TPM (Tempat Pengelolaan Makanan) yang diperiksa adalah jumlah tempattempat/perisahaan makanan dan minuman diproduksi.9. diangkut. . apabila keluarga mempunyai ternak harus mempunyai persyaratan kandang. antara lain seperti hotel. dengan tidak memenuhi persyaratan minimal 9 syarat komponen pada kartu rumah. 2. pemandian umum dll. 6. halaman dan area sekelilingnya yang merupakan bagian atau yang berhubungan dengan tempat untuk memproduksi suatu barang (bukan termasuk industri makanan dan minuman). kecuali bebas jentik. sudah jelas . bebas tikus. 8. TTU yang memenuhi syarat kesehatan adalah TTU dengan skor hasil Inpeksi Sanitasi / Laik Sehat TTU = 70 % – 80 %. 3. restoran dan rumah makan. 5. antara lain seperti : induatri makanan. kebersihan dan pemanfaatan.

Sarana Air Bersih (SAB) yang dinspeksi Sanitasiadalah Sarana air bersih yang terdiri dari : 1. 3. Sarana Air Bersih (SAB) yang mempunyai Risiko . bukan termasuk septic tank. tempat cuci. SPAL yang memenuhi syarat kesehatan adalah SPAL dengan Skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat SPAL = 70 %. Sarana Sumur Pompa Tangan Dangkal/Dalam 3. Sarana Sumur Gali Plus 6. SPAL yang diperiksa adalah Suatu bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan dari kamar mandi. Sekolah yang diperiksa adalah suatu tempat termasuk fasilitasi yang dipergunakan untuk menyelenggarakan pendidikan dasar untuk anak-anak sekolah (SD). Sarana Perlindungan Mata Air / Sumur Artetis 4. Industri yang memiliki IPAL adalah Industri yang memiliki pembuangan air limbah yang memenuhi syarat kesehatan. Sarana Terminal Air 5. Sarana Air bersih yang memenuhi syarat kesehatan adalah Air bersih yang telah dilakukan pemeriksaan secara fisik. Sarana Sumur Gali 2.2. Sarana Hidran Umum. Sekolah yang memenuhi syarat keslingadalah Sekolah dengan skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Sekolah = 70 % 1. dapur dan lain-lain bukan dari jamban atau peturasan yang berasal dari rumah tangga (SPAL Domestik / RT). 6. 7. 8. 5. 4. bakteriologi dan kimiawi.

jenis jaga yang dimaksud adalah jamban leher angsa yang dilengkapi dengan septic tank atau sarana yang lain. 1. No. Penampungan Air Hujan 1. Jamban Keluarga (Jaga) yang diperiksa adalah SPAL dengan Skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat SPAL = 70 %. non organik sesuai dengan PerMenkes RI No. 416/1990. Jaga 0–3 4 – 7 8 – 11 0–3 1. 416 / 1990 dari parameter yang diperiksa (pemeriksaan lengkap / pemeriksaan singkat) hasilnya memenuhi syarat semuanya. Hidran Umum SKOR RESIKO PENCEMARAN Rendah Sedang Tinggi Amat Tinggi 0–2 3–5 6–8 9 – 10 0–2 0–2 0–2 0–2 0–2 0–2 3–5 3–5 3–4 3–5 3–5 3–5 6–7 6–8 5–6 6–8 6–8 6–8 8 9 – 10 7–8 9 – 10 9 – 10 9 – 10 1. Terminal Air 1. 416/1990 untuk parameter total coliform (air perpipaan) : 0 mg/l. Sumur Gali Plus 1. Sarana . 4. p Jamban Keluarga adalah suatu banguan yang dipergunakan untuk membuang tinja / kotoran manusia bagi keluarga yang lazim disebut kakus / WC. 5. Perlindungan Mata Air/ Sumur Artetis 1. TPS yang diperiksa adalah Tempat pembuangan sampah dapat berupa bangunan permanen (bak beton) maupun bak yang mudah diangkat oleh truk kontener. Sampel air secara Bakteriologis memenuhi syarat kesehatan adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara bakteriologi sesuai Per-Menkes RI No. maupun hanya berupa lokasi tempat berkumpulnya gerobak sebelum sampah diangkut oleh truk. Non perpipaan = < 50 mg/l. Sumur Gali 1. non organik sesuai Per-Menkes RI No. Sampel air secara Kimia memenuhi syarat kesehatan adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara kimia organik. SPT Dangkal / Dalam 1. 416/1990. Sampel Air yang diperiksa secara Bakteriologi adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara bakteriologi sesuai dengan Per-menkes RI No.NO SARANA 1. 2. Sampel Air yang diperiksa secara Kimia adalah Sampel air bersih yang diperiksa secara kimia organik. Jamban Keluarga (Jaga) yang memenuhi syarat kesehatan adalah Skor Resiko Pencemaran Memenuhi Syarat Rendah Sedang Buruk 1. 3.

TPA yang memenuhi syarat kesehatan adalah Skor Resiko Pencemaran Memenuhi Syarat Rendah Sedang Buruk 1. 5. GIZI Gol No. TPS memiliki jarak > 15 meter dari sumur terdekat 2.2. Desa Pengrajin Makanan yang memenuhi syarat kesehatan adalah Desa pengrajin dengan Skor hasil Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Desa Pengrajin Makanan = 70 %. TPS 1 – 18 19 – 59 60 – 124 1 – 18 1. TPS yang memenuhi syarat kesehatan adalah Skor Resiko Pencemaran Memenuhi Syarat Rendah Sedang Buruk 1. TPS yang indeks lalatnya < 6 ekor blok grill. 1. Jasaboga yang memenuhi syarat kesehatan adalah No. dengan klasifikasi sebagai berikut : . Sarana 1 Desa / Kelurahan Endemis Yodium adalah Desa/Kelurahan yang sebagian besar penduduknya mengalami pembesaran kelenjar gondok. TPA yang diperiksa adalah Upaya untuk memusnahkan sampah pada tempat tertentu yang disebut Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA). 1 2 3 4 5 Skor Inspeksi Sanitasi / Laik Sehat Minimal Maksimal Memenuhi Syarat Keterangan A1 65 % 70 % 70 % 100 porsi A2 70 % 74 % 70 % 100 – 50 porsi A3 74 % 83 % 70 % > 500 porsi B 83 % 92 % 70 % Khusus C 92 % 100 % 70 % Bandara 1. 2. Jasaboga yang diperiksa adalah Perusahaan atau perorangan yang melakukan pengelolaan makanan yang disajikan di luar tempat usaha atau dasar pemesanan. TPS yang tidak berbau dari rumah terdekat 3. TPS 1 – 18 19 – 59 60 – 124 1 – 18 1. Sarana No. 4. Desa Pengrajin Makanan yang diperiksa adalah Desa yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian pengrajin makanan. 2. J.

• • •

Daerah GAKY Berat, bila TGR > 30 % Daerah GAKY Sedang, bila TGR 20 – 29 % Daerah GAKY Ringan, bila TGR 5 – 19,9%

• Daerah Non Endemic, bila TGR < 5 % 2 Penduduk yang menderita GAKY adalah penduduk yang menderita akibat kekurangan unsure Yodium pada tumbuh kembang manusia secara terus menerus 3 Desa / Kelurahan disurvei Garam Beryodium ; Cukup jelas 4 Desa / Kelurahan dengan Garam Beryodium Baik Garam Beryodium adalah Garam konsumsi yang komponen utamanya Natrium Chorida (NaCL) dan mengandung senyawa Yodium melalui proses Yodisasi serta memenuhi SNI Nomor : 01-3556-1994

1. K.

KEGIATAN LABORATORIUM 1. Pemeriksaaan Specimen Darah adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen darah, meliputi jenis-jenis pemeriksaan, hitunf eritrosit, hirung lekosit, hitung jenis lekosit, laju endapan darah, golongan darah, kadar HB dan malaria. 2. Pemeriksaaan Specimen Air Seni (Urine) adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen air seni / urine, meliputi jenis-jenis pemeriksaan ; makroskopi (warna,kejernihan), berat jenis,PH,sedimen, protein, bilirubin, glukosa/reduksi dan tes kehamilan. 3. Pemeriksaaan Specimen Tinja adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen tinja, meliputi jenis-jenis pemeriksaan; makroskopis (warna, bau, konsistensi, darah, lendir, cacing dewasa), mikroskopi (epitel, eritrosit, lekosit, sisa makanan), telur/larva, cacing, amuba. 4. Pemeriksaaan Specimen Lain-lain adalah jumlah pemeriksaan yang dilakukan terhadap specimen lain-lain, meliputi jenis-jenis pemeriksaan ; TBC (sputum dahak), GO (apus vagina, apus uretra, secret prostat), kusta, jamur permukaan (kerokan kulit, kuku, rambut), trichomonas/candida.

1. L.

KEGIATAN TRANFUSI DARAH 1. Pasien yang di Transfusi Darah adalah Jumlah pasien/ penderita yang mendapatkan tranfusi darah selama satu bulan yang bersangkutan

p Obstetrik/Kebidanan, adalah jumlah pasien obstetrik/kebidanan yang mendapatkan transfusi darah p Cidera (injury), adalah adalah jumlah pasien Cidera (injury) yang mendapatkan transfusi darah p Pasien lain-lainnya darah adalah jumlah pasien Pasien lain-lainnya yang mendapatkan transfusi

1. 5.

LAPORAN SUMBER DAYA PUSKESMAS (LSD-1)

1.Luas Wilayah adalah informasi mengenai berapa luas wilayah kerja Puskesmas

yang dinyatakan dalam satuan kilo meter persegi (km2). 1.Desa/Kelurahan adalah informasi mengenai jumlah desa, kelurahan, dan nagari yang berada di wilayah kerja Puskesmas. 1.Desa/Kelurahan di Perbatasan Kab/Kota/Prov Lain; cukup jelas 1.Desa/Kelurahan Tertinggal / Terpencil adalah Daerah yang sulit dijangkau karena berbagai sebab seperti keadaan geografi (kepulauan, pegunungan, daratan, hutan dan rawa), transportasi dan social budaya. Penyebaran penduduk yang tidak merata dan terisolasi, jsarana dan prasarana transportasi yang terbatas, jarak dengan rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya jauh dan adanya kesulitan dalam hal menarik serta merekrut tenaga kesehatan, secara sosial diakibatkan permasalahan kemiskinan. 1.Desa yang mempunyai Bidan Desa; cukup jelas Bidan di desa yaitu jumlah bidan yang dimiliki Puskesmas yang bersangkutan yang bertugas di desa-desa wilayah kerja Puskesmas tersebut. Bidan di desa adalah tenaga bidan yang ditempatkan di desa dalam rangka meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan Puskesmas secara umum, mempunyai wilayah kerja satu atau dua desa. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan sesuai kompetensi dan sumber daya yang dimiliki, terutama pertolongan persalinan, kesehatan ibu dan dan anak dan membina peran serta masyarakat dalam 5 program terpadu Posyandu yaitu Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi, Imunisasi, pencegahan dan penanggulangan penyakit termasuk penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. 1.Kepala Keluarga/Rumah Tangga adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik atau sensus dan umumnya tinggal bersama serta makan dari satu dapur. Yang dimaksud dengan satu dapur adalah bahwa pembiayaan keperluan jika pengurusan kebutuhan sehari-hari dikelola bersama-sama.

1.Rumah yang ada; cukup jelas 1.Jumlah Penduduk ; cukup jelas 1.Penduduk Laki-laki; cukup jelas 1.Penduduk Perempuan; cukup jelas 1.Keluarga Miskin adalah kelompok keluarga yang dikategorikan miskin atau sangat miskin. pengelompokan ini didasarkan atas pendapatan keluarga dimaksud dalam sebulan. menurut badan pusat statistik (bps), 1.Penduduk Keluarga Miskin adalah Anggota keluarga yang ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar. Batas kecukupan pangan dihitung dari besarnya rupaih yang dikeluarkan untuk makanan yang memenuhi kebutuhan minimum energi 2100 kalori perkapita perhari. (BPS) 1.Bayi ( 0 – < 1 thn) adalah anak berumur 0 – 12 bulan 1.Bayi 6 bulan adalah anak berumur 6 bulan 1.Anak Balita ( 1 – < 5 thn) ; cukup jelas 1.Neonatal ( 0 – 28 hari) ; cukup jelas 1.Batita ( 0 – < 3 thn) adalah anak berumur 0 – 35 tahun 1.Balita ( 0 – < 5 thn ) adalah anak yang berumur 0 – 59 bulan 1.Ibu Bersalin; cukup jelas 1.Penduduk Wanita Usia Subur (WUS)-(15 – < 49 thn) ; cukup jelas 1.Penduduk Produktif ( 15 – 64 thn ) ; cukup jelas 1.Penduduk Usia Remaja ( 10 – 19 thn ) ; cukup jelas 1.Anak Pra Sekolah (4 – 5 tahun) / TK, RA; cukup jelas 1.Anak Sekolah SD Kelas 1 (6 – 7 tahun) / SD, MI; cukup jelas 1.Anak Sekolah (6 – 12 tahun) / SD, MI; cukup jelas 1.Remaja (12 – 15 tahun) / SMP; cukup jelas 1.Remaja (15 – 19 tahun) / SMA; cukup jelas

B K I A 1.Pasangan Usia Subur (PUS) adalah Pasangan yang isterinya berumur antara 1545 tahun.1. cukup jelas c. 1.Praktek Dokter Gigi 1. Lansia umur > 70 tahun. 1.Tempat Tidur Puksesmas DTP 1.Balai Pengobatan . Lansia umur 45 – 59 tahun.Puskesmas Pembantu yaitu informasi mengenai jumlah Puskesmas Pembantu (Pustu) yang dimiliki Puskesmas yang bersangkutan. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1. cukup jelas 1. dalam hal ini termasuk pasangan yang isterinya berumur lebih dari 49 tahun tetapi masih tetap mendapatkan menstruasi 1.Praktek Dokter Umum 1.Wanita Usia Subur (WUS) adalah Wanita dalam usia reproduktif yaitu usia 15-49 tahun baik yang berstatus kawin. 1.Puskesmas Pembantu PHBS adalah jumlah Puskesmas Pembantu yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 15 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS).Praktek Dokter Spesialis 1. Lansia umur 60 – 69 tahun.Praktek Bidan 1.Rumah Bersalin 1.Praktek Gigi Spesialis 1. Pustu adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu memperluas jangkauan Puskesmas dengan melaksanakan kegiatankegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi pelayanan yang disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang tersedia.Puskesmas dengan fasilitas eye center 1. cukup jelas b.Jenis Puskesmas adalah keterangan mengenai jenis dari Puskesmas dimaksud apakah Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Non Perawatan atau lainnya berdasarkan SK Bupati atau SK Wakilkota.Puskesmas Keliling 1. janda maupun yang belum menikah.Lansia : a.

Balai Kesehatan Umum 1. / Cabang Penyalur Alkes 1.Apotik adalah Tempat tertentu. c. Masyarakat Peningkatan Gizi Kesehatan sekolah .Kemampuan 21 Pemeriksaan Laboratorium minimal 1.Toko Obat 1. tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi.Industri Rumah Tangga Makanan 1. I. Masyarakat/Promkes Pencatatan Pelaporan Perawatan Kes.Balai Kesehatan Mata adalah Unit Pelaksana Teknis Departemen Kesehatan atau Dinas Kesehatan Provinsi / Kab / Kota yang menyelenggarakan upaya kesehatan mata untuk mengatasi masalah kesehatan mata masyarakat secara menyeluruh dan terpadu dalam suatu wilayah kerja. e.Laboratorium adalah Sarana Pemeriksaan penunjang diagnostik penyakit yang diwilayah Puskesmas baik Pemda maupun Swasta 1. h.Sarana Penyediaan Air Bersih Utama untuk Puskesmas 1. 1. d.Obat/Narkotika 1. g. perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat 1. j.Optikal adalah sarana kesehatan tempat praktek Refraksionis Optisien 1.Desa di Wilayah Kerja Puskesmas yang sulit terjangkau 1.Pelayanan yang diberikan a. Pengobatan KIA KB P2M Hygiene / Sanitasi / Kesling Penyuluhan Kes.Balai Keluarga Berencana 1.Balai Kesehatan Imunisasi 1.Sub.Balai Kesehatan Gigi 1.1. f. b.Sarana Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan 1.

Kesehatan Tradisional u. Lain – lain 1. Sumur Pompa (SPT) d.k. Kesehatan Telinga r. Kesehatan Olah Raga q.Penduduk yang menggunakan Sarana Air Bersih a. Kesehatan Gigi l. Kesehatan Jiwa m.Keluarga (KK) yang menggunakan Air Limbah 1. Lain-lain 1. Sumur Gali c.Keluarga (KK) yang menggunakan Jamban Keluarga 1. Yankes Remaja ( PKPR ) xx. Ledeng b.TP 3 yang ada 1. Ledeng b.Sarana Air Bersih yang ada a. Poned v. Puskesmas Santun Lansia 1.TTU yang ada 1.Keluarga (KK) yang menggunakan Tempat Sampah 1. PKRE w. Pelayanan Rawat Inap s.TPS yang ada 1. PMA e. Kegawatdaruratan x. Sumur Pompa (SPT) d. Laboratorium Sederhana t. Kesehatan Kerja o. Kesehatan Mata n. PMA e. PAH f.TPM yang ada 1.TPA yang ada . Pelayanan HIV/AIDS y. Sumur Gali c. PAH f.

SD/MI dengan Dokter Kecil f.Posyandu yang ada yaitu jumlah pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan.SMA / MTs yang dilayani UKS 1. Jumlah murid b.SMP / MTs yang dilayani UKS 1. Murid Yang diperiksa UKGS d. dan bersama masyarakat guna memperoleh . untuk.SPAL yang ada 1.SMA / MTs yang ada 1.SD/ Sederajat yang ada a.Jumlah Santri Husada 1.1.SD/MI dengan Sikat Gigi Masal minimal 8 kali setahun 1.MCK yang ada di sekolah 1.Sekolah yang ada Tim Pelaksana UKS 1.Santri Husada 1.Murid SD UKGS 1. Murid yang mendapatkan perawatan (UKGS) e. Kader UKS di SD / MI 1. SD / MI yang dilayani UKS c.Pontren dengan Poskestren 1. Posyandu adalah salah satu wadah peran serta masyarakat yang dikelola dan diselenggarakan dari. oleh.SMP / MTs yang ada 1.Pontren dengan Dana Sehat 1.Sekolah yang melaksanakan Dana Sehat/JPKM 1.Kader Kesehatan Sekolah di SD / MI 1.Pondok Pesantren (Poskestren) 1. Dokter Kecil Sekolah di SD / MI g.

terutama bagi penyakit yang sering terjadi pada masyarakat setempat . pemerintah 1.Pos Obat Desa (POD) yaitu informasi mengenai jumlah pos obat desa (POD) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan.pelayanan kesehatan dasar dan memantau pertumbuhan balita dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara dini. Pos obat desa adalah wujud peran serta masyarakat dalam hal pengobatan sederhana terutama bagi pengobatan sederhana. Purnama adalah Ada program tambahan di Posyandu d. a. Pratama adalah Jumlah kader kurang dari 5.Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) yaitu informasi mengenai jumlah pos kesehatan desa yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan. cakupan < 50% c. Kegiatan tersebut dalam pelaksanaannya didukung oleh unsur-unsur tenaga. Polindes adalah bangunan yang dibangun dengan bantuan dana pemerintah dan partisipasi masyarakat desa untuk tempat pertolongan persalinan dan pemondokan ibu bersalin. Di samping pertolongan persalinan juga dilakukan pelayanan antenatal dan pelayanan kesehatan lain sesuai kebutuhan masyarakat dan kompentensi teknis bidan tersebut. untuk dan bersama masyarakat setempat atas dasar musyawarah. preventif.Pondok Bersalin (Polindes) yaitu informasi mengenai jumlah pondok bersalin desa (Polindes) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan. Pos Kesehatan Desa adalah wujud upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang dibentuk oleh.Tenaga Pengobatan Tradisional yang ada 1. dengan bantuan dari tenaga profesional kesehatan dan dukungan sektor terkait termasuk swasta dalam kerangka desa siaga demi terwujudnya desa sehat.Kader Aktif 1. Kesehatan yang dilaksanakan adalah pelayanan kesehatan dasar. prasarana dan biaya yang dihimpun dari masyarakat.Kader yang ada 1. penimbangan kurang dari 8 kali b. mulai dari upaya promotif. 1. sekaligus tempat tinggal Bidan di desa. penimbangan lebih dari 8.Tenaga Penyuluhan Kesehatan Jiwa 1.Kader Terlatih 1.Posyandu dengan UKGMD 1. kuratif dan rehabilitatif yang dipadukan dengan upaya kesehatan lain yang berwawasan kesehatan dan berbasis masyarakat setempat. swasta. sarana. Mandiri adalah Adanya tambahan dana sehat 1. Madya adalah Jumlah kader 15 orang.Dukun Bayi yang yang ada 1.Dukun Bayi yang terlatih 1.

Adanya upaya menciptakan dan Strata Pratama V V V V Strata Madya V V V V Strata Utama V V V V V* V V* V* V* V V V .1. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat 1. Adanya Sistem Pengamatan Penyakit dan Faktor Resiko berbasis Masyarakat (Surveilans erbasis masyarakat) 1. Adanya Sarana/fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan system rujukan 1. Adanya UKBM Siaga Maternal dan Posyandu yang dikembangkan 1. Pratama b. Madya c.Tanaman Obat Keluarga (Toga) 1. Mandiri 1.Posbindu yang ada a.Kader Lansia yang ada 1.Wahana Pelayanan Kesehatan dasar 1.Kelompok Lansia / Paguyuban / Posbindu yang ada 1. secara mandiri.Panti Wreda yang ada 1. Adanya Sistem Kesiapsiagaan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat 1. Ada 8 Indikator Desa Siaga yaitu : Indikator 1.Keluarga yang Sadar Gizi (Kadarzi) 1. Adanya Forum Masyarakat Desa 1. Purnama d. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya PHBS 1.Desa Siaga / Kelurahan Siaga adalah Desa/Kelurahan yang penduduknya memiliki kesiapansumber daya dan kemampuan kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan bencana dan kegawatdaruratan kesehatan.

surveilance berbasis masyarakat yang meliputi pemantauan pertumbuhan (gizi).Desa dengan Dana Sehat 1. lingkungan dan perilaku sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). teratur. Pos UKK adalah wadah dari serangkaian upaya pemeliharaan kesehatan pekerja yang terencana.Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) yaitu informasi mengenai jumlah pos usaha kesehatan kerja (UKK) yang menjadi binaan Puskesmas yang bersangkutan. penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan.Fasilitator Desa Siaga 1.Mitra Jejaring Promkes 1.Pekerja formal X 100% . 1. penyakit.Badan Penyelenggaraan Dana Sehat 1.Toma/kader Desa Siaga aktif 1.Desa Siaga / Kelurahan Siaga Aktif adalah desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau UKBM lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar.Tokoh Masyarakat desa 1. Cakupan Desa Siaga Aktif : Rumus perhitungan adalah : Jumlah Desa Siaga Yang Aktif Jumlah Desa Siaga yang dibentuk 1.Indikator terwujudnya Kadarzi Keterangan : ¨ Strata Pratama Strata Pratama Strata Madya Strata Utama : Bila memenuhi 4 indikator nominal (indikator 1 s/d 4) : Bila memenuhi 4 indikator minimal dan 2 indikator ¨ Strata Madya tambahan (*) ¨ Strata Utama : Bila memenuhi 8 indikator ( indikator 1 s/d 8 ) 1.Toma / Kader yang dilatih Desa Siaga 1. dan berkesinambungan yang diselenggarakan oleh masyarakat pekerja atau kelompok pekerja yang memiliki jenis kegiatan usaha yang sama.

serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.Pos Saka Bhakti Husada 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 2.Kwaran dengan Saka Bhakti Husada 1.Kwartir ranting 1. serta aktif .Tempat Tempat Umum PHBS adalah Jumlah Tempat – tempat Umum yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 15 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS). Menggunakan Air Bersih 5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 6. 1.Perusahaan formal yang memiliki klinik kesehatan 1.Jumlah Anggota Saka Bhakti Husada 1.1.Pekerja informal yang mendapat pelayanan kesehatan 1. Memberi bayi ASI Eklusif 3.Kantor/Instansi PHBS adalah Jumlah Kantor / Instansi yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 18 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS). Memberantas Jentik di rumah 8.Rumah tangga PHBS adalah Jumlah Rumah Tangga yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 10 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS). Makan buah dan sayura setiap hari 9. Tidak merokok di dalam rumah 1. 1. Menggunakan Jamban Sehat 7. Melakukan Aktifitas fisik setiap hari 10.Perusahaan formal 1.Pekerja Formal yang mendapat pelayan kesehatan 1. Menimbang Bayi dan Balita 4.Pekerja informal 1. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas .

Restoran.Terminal PBHS 1.Pedagang Keliling. cukup jelas 1. cukup jelas 1.didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1. cukup jelas 1.Pasar. cukup jelas 1. cukup jelas 1.Kantor/Intitusi Pelayanan Kesehatan PHBS adalah Jumlah Kantor / Instansipelayanan kesehatan yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 18 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS). cukup jelas 1. cukup jelas 1.Kecamatan yang mencapai UCI 1.Toko Makanan.Rumah Makan. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1. cukup jelas 1. cukup jelas 1.Sekolah PHBS adalah jumlah Sekolah yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 18 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS). cukup jelas 1.Desa yang mencapai UCI 1.Tempat Ibadah PHBS jumlah Tempat Ibadah yang melaksanakan pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat sesuai pendekatan tatanan institusi kesehatan (terdapat 8 variabel perilaku yang menjadi indicator PHBS).Pengrajin Makanan.Industri Makanan. cukup jelas . serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1. serta aktif didalam peran serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas 1.Hotel.Desa/Kelurahan Endemis DBD 1.Kolam Renang/Pemandian Umum.Desa/Kelurahan Sporadis DBD 1.Kantin/Warung Makan.Jasa Boga.

cukup jelas 1.Perkantoran/Balai Desa.Industri yang ada. pengawasan/pengendalian dalam melaksanakan.Terminal. Kualitas data dan informasi tersebut sangat erat hubungannya dengan standarisasi pengertian tentang data yang ada dan data yang dikumpulkan serta dilaporkan . serta penilaian suatu program kesehatan hendaknya tepat guna.1. cukup jelas BAB VI PENUTUP Pedoman Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) dapat bermanfaat apabila semua pihak menyadari bahwa kebutuhan akan data dan informasi untuk penyusunan. cukup jelas 1. tepat waktu dan dapat dipercaya.

Demikian pula — sebagai landasan pijak — koordinasi dan komitmen para stakeholder di pusat dan daerah merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan pendataan Puskesmas. peran dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota dalam pengorganisasian pelaksanaan pendataan Puskesmas menjadi sangat strategis. pedoman ini diakui masih banyak kekurangan dan masih memerlukan penjelasan yang lebih mendalam mengenai berbagai aspek pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas.Betapapun. namun demikian diharapkan pedoman ini dapat diterjemahkan dengan persepsi yang sama dan dapat memberikan gambaran yang jelas dan mengurai salah penafsiran baik oleh pengguna data dan informasi maupun Puskesmas sebagai sumber data. SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PUSKESMAS (SP3) . sehingga dapat dijadikan acuan yang baik dalam pelaksanaan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas di Provinsi Jawa Barat Di sini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->