ASAS-ASAS HUKUM DALAM TEORI DAN PRAKTEK Author: Rahmat Setiabudi Sokonagoro[1] (Hak Cipta dilindungi Undang

-undang) Dalam tinjauan terhadap berlakunya peraturan perundang-undangan, dikenal asas undangundang yang bersifat khusus mengesampingkan adanya undang-undang yang bersifat umum. Penggunaan asas ini sudah bersifat universal. Asas-asas ini dikenal untuk mengantisipasi jika terjadi pertentangan antara dua peraturan perundang-undangan yang sederajat. Misalnya pertentangan antara undang-undang. Sebagaimana kita ketahui dalam hukum tata negara di Indonesia, dikenal adanya hak menguji materiil terhadap peraturan perundang-undangan (toetsingrecht). Hak tersebut dimiliki oleh Mahkamah Agung, untuk menguji pertentangan peraturan perundang-undangan dengan derajat di bawah undang-undang, dengan kata lain, MA berwenang untuk menguji materiil peraturan perundang-undangan dibawah undang undang. Selain MA, kewenangan untuk menguji materiil juga dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi. Hak uji materiil ini dapat dilakukan hanya jika terdapat pertentangan antara Undang-Undang dengan Konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Jadi, dalam kehidupan ketatanegaraan di Indonesia, para pembentuk undang-undang sudah mengatur mengenai permasalahan jika terjadi pertentangan horizontal antara peraturan perundang-undangan dengan derajat di bawah Undang-Undang, dan jika terjadi pertentangan antara Undang-Undang dengan Konstitusi. Namun terhadap pertentangan antar undang-undang, belum diatur menjadi kewenangan siapa hak menguji materiil tersebut. Selama ini, jika terjadi pertentangan antar undang-undang, maka dipergunakan asas hukum antara lain lex speciali derogat legi generali, lex poresteriori derogat legi inferiori, dan lain sebagainya. Nah, permasalahan akan terjadi lagi jika ternyata Undang-Undang tersebut bersifat sektoral. Apakah terhadap hal ini dapat diberlakukan asas-asas hukum tersebut. Mari kita tinjau terhadap asas hukum lex speciali derogat legi generali yang artinya peraturan yang bersifat khusus dikesampingkan oleh peraturan yang bersifat khusus jika pembuatnya sama. Maksud dari asas ini adalah bahwa terhadap peristiwa khusus wajib diperlakukan undangundang yang menyebut peristiwa itu, walaupun untuk peristiwa khusus tersebut dapat pula diperlakukan undang-undang yang menyebut peristiwa yang lebih luas atau lebih umum yang dapat juga mencakup peristiwa khusus tersebut.[2] Contoh pengakuan terhadap asas Lex specialis derogat legi generali dalam bidang hukum pidana materiil dapat kita lihat di dalam isi Pasal 103 KUHP yang menyatakan: “Ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab VII buku ini berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan yang lain diancam pidana, kecuali jika oleh undangundang itu ditentukan lain”. Sedangkan dalam bidang hukum pidana formil, namapak di dalam isi Pasal 284 ayat (2) UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana ” (2) Dalam waktu dua tahun setelah undang-undang ini diundangkan, maka terhadap semua perkara diberlakukan ketentuan undangundang ini, dengan pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu, sampai ada perubahan dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi”. Memang benar bahwa sesuai dengan Pasal 7 ayat (1) butir i Undang-undang

Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, ”(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang: I. mengadakan penghentian penyidikan. Sebagai alasan dari penghentian penyidikan perhatikan isi Pasal 109 ayat (2) yang menyatakan: ”(2) Dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penghentian penyidikan demi hukum (Pasal 76; 77; 78 dan 79 KUHP), maka penyidik memberitahukan kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya. Memang benar sesuai dengan Pasal 14 huruf h dinyatakan bahwa Penuntut umum mempunyai wewenang: h. Menutup perkara demi kepentingan hukum Sebagai alasan dari penghentian penuntutan perhatikan isi Pasal 140 ayat (2) a. Dalam hal penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penunutan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak piada atau perkara ditutup demi hukum penuntutan umum menuangkan dalam surat ketetapan. Dari dua produk hukum tersebut diberikan dasar hukum untuk adanya pengaturan yang berbeda terhadap apa yang telah diatur dalam undang-undang generalisnya. Dapatlah disebut mulai dari Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undangundang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sampai dengan Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang (dalam posisi Lex specialis), kesemuanya mempunyai materi hukum pidana materiil dan hukum pidana formil) yang berbeda dengan apa yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (legi generali). Satu lagi contoh pertentangan antara Undang-Undang yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengembalikan kepada asas hukum lex speciali derogat legi generali. Dalam UndangUndang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, dalam salah satu pasalnya terdapat pertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria yakni pada pasal yang mengatur tentang pemberian hak atas tanah dengan jangka waktu yang lebih lama (dalam UUPM) dibandingkan dengan jangka waktu yang diatur oleh UUPA. Padahal sudah jelas, bahwa Undang-Undang Pokok Agraria, konsepsi awalnya adalah Undang-Undang payung (umbrella act) atau Undang-undang pokok. Undang-undang ini juga bersifat sektoral, dimana terdapat dua sektor yang dapat bertentangan, yakni sektor pertanahan (Badan Pertanahan Nasional) dan sektor Investasi (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Pengaturan masingmasing undang-undang juga tidak membuka kemungkinan untuk merujuk pada suatu aturan yang lebih khusus. Sehingga pasal yang saling bertentangan tersebut menjadi tidak dapat berlaku (invalid). Para ahli hukum juga tidak dapat mempergunakan asas lex speciali karena UndangUndang Penanaman Modal sudah bersifat speciali / khusus. Setiap investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia wajib tunduk kepada aturan UUPM tersebut. Sedangkan Undang-undang Pokok Agraria dan peraturan pelaksananya juga merupakan aturan yang bersifat lex speciali pada bidang hukum pertanahan. Setiap pengurusan hak atas tanah, harus tunduk pada aturan UUPA tersebut. Jika sudah demikian, muncul pertanyaan,siapakah yang berhak melakukan uji materiil, ataukah siapa yang dapat memberikan pendapat yang dapat dipergunakan sebagai acuan bagi para aparatur pemerintah dan investor dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan tersebut. Mahkamah Agung tidak mempunyai kewenangan, karena MA hanya berwenang untuk menguji materiil peraturan di bawah undang-undang. Sedangkan Mahkamah Konstitusi juga tidak

yang kembali di negerinya sendiri tak pernah dianggap sebagai bekas tawanan perang. Rakyat Romawi yang tertangkap sebagai tawanan.[3] Dalam hukum Indonesia. sekadar kepentingannya menghendakinya. Bahkan lebih daripada itu. Diposkan oleh Rahmat Setiabudi Sokonagoro. Soerjono Soekanto. dirubah lagi. lex cornelia (dari Sulla) menentukan bahwa bila seorang rakyat meninggal dalam tawanan perang ia seharusnya dianggap sebagai orang yang meninggal pada saat pengangkatannya.[2] Kata fictie itu biasanya dipakai orang. Akan tetapi. Dalam hal tersebut. rakyat Romawi yang meninggal dalam tawanan dipandang meninggal sebagai budak dan menurut hukum Romawi.berwenang untuk melakukan uji materiil karena kewenangan MK hanya untuk menguji materiil Undang-Undang yang bertentangan dengan Konstitusi (Vertical Judicial Review). Jakarta. Fiksi-fiksi tersebut mempunyai sidat yang tak berbahaya. apa yang tidak benar.B. ia dianggap sebagai tidak pernah ada”. [2] Purnadi Purbacaraka. Sebagai contoh. Jika ia dilahirkan mati. Fictie tersebut yang pada mulanya hanya ditentukan untuk hukum waris kemudian dilakukan untuk segala hubungan hukum dari seorang tawanan. seorang budak tak dapat meninggalkan warisan yanjg sah. Perundang-undangan Dan Yurisprudensi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). sehingga surat wasiatnya berlaku (fictio legis corneliae).B (School of Law. Associates at BER Law Firm. LL. Lihat pasal 3 KUH Perdata yang berbunyi “Anak yang berasal dari seorang perempuan yang hamil. . Fictie atau dusta yang demikian itu memegang peranan yang penting dalam hukum. orang dapat mengatakan bahwa fiksi perundang-undangan itu bukanlah fiksi sebenarnya melainkan dirumuskan belaka sebagai fiksi. dinyatakan sebagai telah lahir. [1] LL. Bandung: Alumni. LL. perkembangan hukum inggris memperlihatkan persamaan dengan hukum Romawi. Apakah Undang-undang tersebut harus diamandemen lagi. 1979. di 22:22 0 komentar Peristilahan Fiksi Hukum (Fictie Hukum) Dalam Teori dan dalam Praktek Disusun Oleh: Rahmat Setiabudi Sokonagoro[1] (Hak Cipta dilindungi Undang-Undang) Fictie ialah bahwa kita menerima sesuatu yang tidak benar sebagai suatu hal yang benar. hal 16-17.M Candidate (Postgraduate Program Universitas Gadjah Mada). fiksi hukum juga diakui. sebagai ada atau yang sebenarnya ada sebagai tidak ada. dan sudah dipakai sejak dahulu. Bangsa Romawi memakai fictie sebagai alat teknik pertolongan untuk perkembangan hukum. Dengan perkataan lain kita menerima apa yang sebenarnya tidak ada. Participant of Coursework International Trade Law and Corporate Finance Law at School of Law. jika orang dengan sadar menerima sesuatu sebagai kebenaran. South Carolina University. Dengan demikian maka surat wasiat yang dibuatnya sebelum ia ditawan menjadi tidak berlaku.

soal geografis adalah pembeda yang paling tajam antara NKRI dengan Negara-negara Eropa daratan yang relatif kecil. atau fiksi hukum yang berarti setiap orang dianggap telah mengetahui adanya suatu Undang-Undang yang telah diundangkan[4] menarik untuk diperbincangkan. dapat menjamin masyarakat mengetahui adanya peraturan yang diundangkan tersebut. Ketidak mampuan pemerintah dan aparaturnya dalam mensosialisasikan peraturan-peraturan yang baru dibentuk dan baru diundangkan juga menjadi salah satu sebab ketidak tahuan masyarakat terhadap peraturan perundang-undangan. Apakah dengan hanya perintah untuk ditempatkan dalam Lembaran Negara. 85 % masyarakat dapat mengetahuinya dan kemudian mematuhi peraturan tersebut. Hal lain yang perlu diperhitungkan adalah bagaimana proses legal making di ruang legislator. Adakalanya juga pembentuk undang-undang memakai fiksi. jadi ia lahir dari ranahnya hukum privat. Permasalahan timbul ketika banyak warga masyarakat melakukan pelanggaran terhadap aturan tersebut. Hukum yang tugasnya mengatur kehidupan masyarakat sebenarnya tidak boleh dijelmakan dalam peraturan-peraturan yang dalamperumusannya jelas bertentangan dengan kenyataan. Luasnya daerah geografis negara Indonesia. dll. Misalnya. dll. Untuk memenuhi generalitas itulah semua orang yang berada dalam satu wilayah negara harus tunduk pada suatu hukum yang dibikin oleh bandan publik. hal itu memberi manfaat agar institusi publik menjadi kuat. pemerintah wajib melakukan sosialisasi secara maksimal. membuat tidak seluruh peraturan perundang-undangan tersebut dapat diketahui oleh masyarakat hanya dengan perintah pencantuman ke dalam Lembaran Negara. Lalu bagaimana kira-kira bila dibandingkan dengan konteks Indonesia? Pertama.Soal “Ignorare Legis est lata Culpa”. Jarang kita melihat fiksi hukum itu dalam konteks waktu dan dimana kelahirannya. Soal akses masyarakat terhadap pembentukan UU itu satu hal saja. buruknya akses masyarakat kepada pemerintahan. Pembeda kedua adalah Identifikasi Sosial masyarakat yang beragam berdasarkan suku dan penerimaannya terhadap hukum negara. Dalam Sejarah Hukum di Eropa daratan. kontrak sosial adalah metamorfosa dari kontrak-kontrak ekonomi masyarakat merkantilis. fiksi yang kita bicarakan ini juga harus dilihat dalam konteks ke-Indonesiaan. Seharusnya. seperti Papua dst. Jadi fiksi perundang-undangan itu sebenarnya bukanlah tidak dapat dibuang. Tambahan Berita Negara. Adalah kewajiban ajaran hukum . banyak masyarakat yang tidak mengerti bahkan tidak mengetahui adanya peraturan perundang-undangan yang baru. karena ketidak tahuannya bahwa perbuatan yang dilakukan tersebut dilarang oleh peraturan perundang-undangan. keterbelakangan wilayah. sehingga paling tidak. padahal pemakaian fiksi itu dapat dihindarinya. Dalam prakteknya. Tambahan Berita Negara. apakah pembuatan UU yang berkaitan dengan pertambangan melibatkan masyarakat adat atau aspirasi masyarakat yang jauh dari pusat kekuasaan. Lembaran Daerah. Akan tetapi bahwa ia sering dipakai terutama dapat dipahami dari sudut hasrat pembentuk undang-undang untuk memperoleh perumusan yang singkat. hukum itu lahir dari kontrak sosial. Negara modern mensyaratkan adanya generalitas dalam sistem hukum yang bersifat publik. Baru abad 18 dengan gejala industrialisasi munculah Negara Modern. sebelum mempergunakan fiksi hukum ini. hal lain yaitu bagaimana sosialisasi pemerintah terhadap UU yang telah diundangkan.

Jakarta. mungkin tidak. fiksi hukum memegang peranan juga dalam pengadilan dan terkadang memegang peran yang sangat berbahaya. Jakarta. Dengan fiksi. karena terbiasa dengan penggunaan fiksi hukum tersebut. Supremasi hukum merupakan suatu keniscayaan agar jalannya pemerintahan bernegara berada dalam koridor hukum. Pemakaian fiksi hukum tersebut mengakibatkan kebiasaan para ahli hukum memakai fiksi dengan tidak semestinya. Karena dalam Undang-undang dan dalam literatur yang bersifat ilmu pengetahuan hukum. Sri Widiyastuti A. South Carolina University. persangkaan mungkin benar. Chandra Dewi Puspitasari. kita dapat menghitamkan yang putih maupun sebaliknya. Associates at BER Law Firm. Akhirnya ahli hukum. Bandung. [4] A. ahli hukum seringkali mempergunakan fiksi. LL. LL. Pradnya Paramita. Fiksi adalah ketidak benaran suatu ciptaan saja. Peranan yang penting yang dipegang oleh persangkaan ini tidak akan ditinjau lebih lanjut. Misalnya dalam persangkaan. L. Itulah sebabnya.B. [1] LL. Refika Aditama.J. fiksi adalah alat yang memikat. Khotibul Umam. Sebenarnya pemakaian fiksi hukum dalam perundang-undangan dan dalam ajaran hukum menyebabkan kerugian yang besar. dengan kata lain. Participant of Coursework International Trade Law and Corporate Finance Law at School of Law. 2001. Diposkan oleh Rahmat Setiabudi Sokonagoro.B (School of Law. mempersiapkan peraturan-peraturan yang sederhana. Afra Roki. Hal ini menunjukkan bahwa hukum merupakan elemen penting adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.M Candidate (Postgraduate Program Universitas Gadjah Mada). Siti Soetami. Pengantar Tata Hukum Indonesia. [3] Ibid. di 22:14 0 komentar MENGGALI MAKNA PERISTILAHAN HUKUM DALAM BAHASA HUKUM INDONESIA Disusun Rahmat Setiabudi Sokonagoro. menjadi sangat lancar mempergunakannya. Hal itu membahayakan dalam proses menemukan kebenaran dan keadilan. 2005. Oleh: .untuk sebanyak mungkin mengeluarkan fiksi dari perundang-undangan. Pengantar Ilmu Hukum. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta). [2] Appledoorn. Untuk hakim. Van. karena fiksi memberikan hakim kemampuan untuk mencapai suatu keadaan yang diinginkannya. LATAR BELAKANG Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Persangkaan harus dipisahkan dari fiksi.

yang kemudian telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi hukum. dan yudikatif. sukar diterapkan. Secara faktual hingga saat ini juga masih banyak dijumpai lembaga-lembaga hukum peninggalan Belanda yang dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. sementara istilah yang sukar penerapannya misalnya adagium lex specialis derogat legi generali. pun beberapa dirasa kurang tepat terutama jika ditinjau dari teori kebenaran dan teori keadilan. Oleh karena itu ketika berbicara tentang hukum orientasi kita adalah pada kebenaran dan keadilan. tegakkanlah hukum meskipun langit akan runtuh (fiat justicia roat coelum). ternyata tidak hanya peristilahan hukum dari bahasa Belanda. Kebenaran dan keadilan merupakan unsur yang hendak dituju oleh hukum. Istilah hukum sendiri sebenarnya berasal dari Bahasa Arab hukm. Dalam bahasa sehari-hari pun sering kita dengar masih familiarnya penggunaan istilah-istilah tentang hukum. dan sebagainya. lebih khusus lagi dalam konteks ini adalah bahasa hukum. dan penggunaan istilah yang tidak logis dan hiperbolis misalnya hukum harus ditegakkan meskipun langit runtuh (fiat justitia roat coelum).Seperti kita ketahui bersama bahwa hukum di Indonesia masih banyak yang materinya berasal dari hukum peninggalan Belanda. selama belum diadakan yang baru menurut UndangUndang Dasar ini. pembiayaan musyarakah. Berbicara mengenai istilah atau peristilahan berarti kita masuk pembahasan mengenai bahasa. dan untuk mencari kebenaran dari . putusan hakim selalu dianggap benar (res judicata pro veritate habetur) dan sebagainya. Penggunaan yang tidak tepat misalnya penyamaan antara MoU dengan perjanjian. bahkan perkembangan terbaru banyak muncul peristilahan dari bahasa Arab yang lebih banyak dipraktikkan dalam Hukum Lembaga Keuangan. baik oleh praktisi hukum maupun masyarakat awam. baik pada sektor legislatif. lebih baik tidak menghukum orang yang bersalah daripada menghukum orang yang tidak bersalah. Kemudian peristilahan dari bahasa Arab yang saat ini ada di masyarakat khusunya di bidang hukum ekonomi dan keuangan misalnya mengenai pembiayaan mudharabah. termasuk juga istilah keadilan dan kemanfaatan. Contoh peristilahan dari bahasa Belanda yang masih perlu dipertanyakan kebenarannya misalnya setiap orang dianggap tahu undang-undang atau yang lebih dikenal dengan fictie hukum. pembiayaan qardh. dimana hal ini mendapatkan pijakan yang kokoh secara hukum melalui Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang menyatakan bahwa segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku. Sementara ketika kita hendak menggali maknanya kita akan masuk ke ranah filsafat ilmu. pembiayaan murabahah. eksekutif. Peristilahan hukum yang muncul saat ini. Anglo Saxon. beberapa dari bahasa lain baik dari negara-negara Eropa Kontinental. lex specialis derogat legi generali. Walaupun demikian terkadang dalam penggunaannya kurang sesuai dengan makna dari istilah yang bersangkutan diukur dari kacamata teori-teori ilmu pengetahuan. Beberapa peristilahan tersebut jika ditinjau makna dan penggunaannya sering kali kurang tepat. Sementara dari Anglo Saxon System dikenal adanya istilah Memorandum of Understanding (MoU) yang dalam realitas empiris sering dipersamakan dengan perjanjian. dan beberapa menjadi tidak logis serta cenderung hiperbolis. riba. Penggunaan-penggunaan istilah dimaksud ada yang tepat ketika diimplementasikan dalam realitas praktik.

[3] Bidang dari filsafat ilmu yang membicarakan ukuran benar atau tidaknya pengetahuan yaitu Epistemologi yang secara etimologis berarti teori pengetahuan. Dengan demikian epistemologi sangat berguna bagi upaya untuk menganalisis kebenaran dari suatu obyek. Adapun obyek material dari epistemologi adalah pengetahuan.istilah dan penggunaannya kita akan menggunakan teori kebenaran. menyusun. teliti. . seragam. menjabarkan ketentuan-ketentuan hukum para ahli hukum demi kepentingan hukum itu sendiri perlu menggunakan kata. Satu hal yang ingin dihindari oleh kebanyakan ilmuwan namun kehadirannya sulit untuk di tolak adalah kekuasaan. yang dalam hal ini adalah peristilahan hukum. Istilah-istilahnya masih belum tetap dan sebagian besar masih merupakan terjemahan belaka dari istilah hukum Belanda. Lanjut Beliau bahwa bahasa hukum berlainan daripada bahasa sehari-hari atau bahasa kesusasteraan. teori kebanaran koherensi. Kekuasaan memainkan peran besar dalam perkembangan ilmu – baik secara langsung maupun tidak – karena para ilmuwan sulit untuk memancangkan bendera otonomi ilmiah di dalam suatu negara yang meletakkan kekuasaan sebagai faktor yang dominan dalam mengambil suatu kebijakan. Sehingga.[1] Karakteristik bahasa hukum Indonesia selain terletak pada komposisi. dan bersistem. istilah atau ungkapanungkapan yang jelas. Dengan demikian istilah atau kalimat Indonesia itu masih mencerminkan pengertian hukum Belanda dan alam pikiran hukum Belanda. tetapi dalam buku yang berjudul Bahasa Hukum Indonesia yang disusun oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional dapat diambil kesimpulan bahwa istilah merupakan satu atau beberapa kata yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah konsep. dapat dikatakan bahwa istilah hukum adalah satu atau beberapa kata yang dipergunakan untuk mengungkapkan sebuah konsep hukum. maka teori keadilan juga akan menjadi pisau analisis beberapa peristilahan hukum tertentu. Kemungkinan timbulnya konflik kepentingan antara ke dua belah pihak-ilmuwan dengan klaim kebenaran (truth claim-nya) berpeluang untuk terjadi. dan teori kebenaran pragmatis. pasti. Mengingat istilah ini dalam konteks istilah hukum. Dalam filsafat ilmu dipertanyakan mengenai apakah ilmu bebas nilai ataukah tidak dan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membawa perdebatan panjang namun hakikat ilmu tidaklah bebas nilai. seperti adanya fiksi hukum bahwa setiap orang dianggap tahu hukumnya dan ketidaktahuan terhadap hukum bukan merupakan alasan pemaaf.[2] Hal ini disebabkan dalam merumuskan. Sementara dengan menggunakan analisis teori kebenaran. maka akan dipakai teori kebenaran korespondensi. Kamus Bahasa Indonesia sendiri tidak memuat secara defenitif mengenai pengertian istilah tersebut. maka konsep yang diungkapkan tesebut merupakan sebuah konsep tentang hukum. juga terletak pada istilah-istilah yang dipakai. sedangkan obyek formalnya adalah hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Menurut Kusumadi Pudjosewojo bahwa bahasa hukum Indonesia masih mencari gayanya sendiri. dan gaya bahasa yang khusus dengan kandungan arti yang khusus. Setelah itu untuk mengetahui dampak dari penggunaan istilah tertentu kita akan menggunakan teori keadilan. Kemudian karena dalam penggunaan peristilahan tertentu sering kali berdampak pada unsur esensial dari hukum yaitu keadilan.

Bahasa Hukum. Rangkaian dari . Bahasa dan hukum merupakan satu kesatuan. dan ada pula yang berbentuk perlambang. fikiran. ada yang berbentuk tulisan. Di samping itu juga karena masih adanya anggapan-anggapan bahwa dunia hukum itu terlalu formal dan kompleks serta adanya ketidakpercayaan terhadap hukum pada umumnya. Bagaimana pemaknaan peristilahan hukum dalam praktik di masyarakat? 2. dan Bahasa Hukum Indonesia Bahasa adalah kata-kata yang digunakan sebagai alat bagi manusia untuk menyatakan atau melukiskan suatu kehendak. PEMBAHASAN 1. misalnya semakin banyaknya istilah hukum dan lembaga hukum dari negara lain yang masuk dan digunakan dalam praktik hukum di Indonesia. pengalaman. selain ahli-ahli bahasa semua ahli yang bergerak dalam bidang pengetahuan semakin memperdalam dirinya dalam mempelajari teori dan praktik bahasa. Sering dikatakan pula bahwa bahasa merupakan penjelmaan dari kehidupan manusia dalam masyarakat. Peristilahan Hukum dalam Praktik di Masyarakat Bahasa.Era reformasi membawa banyak perubahan demikian juga dalam pola pemakaian bahasa dan pemilihan istilah. Sudjito mengungkapkan bahwa diantara simbol-simbol tersebut ada yang berbentuk kata-kata (lisan). Dalam pergaulan manusia bahasa menjadi alat penghubung yang mampu menyampaikan berbagai pesan. Bagaimana jika pemaknaan dimaksud di tinjau dari teori kebenaran dan teori keadilan? C. Rumitnya struktur bahasa hukum ini dipengaruhi oleh bahasa-bahasa asing terutama bahasa Belanda dan juga kurangnya pengetahuan dari pembuat undang-undang akan tata bahasa Indonesia sendiri. sehingga makalah ini Penulis beri judul “Menggali Makna Peristilahan Hukum dalam Bahasa Hukum Nasional”. Bahasa hukum harus memenuhi syarat-syarat serta kaidah-kaidah bahasa karena bahasa hukum mempunyai karakteristik tersendiri yang menyebabkan sulitnya masyarakat untuk memahaminya. Pesan yang disampaikan tersebut berupa simbol-simbol kebahasaan. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut di atas.[4] Berdasarkan pada pemaparan di atas. Dengan demikian akhir-akhir ini makin dirasakan betapa pentingnya fungsi bahasa sebagai media komunikasi. maka Penulis mempunyai ketertarikan untuk membahas mengenai peristilahan hukum dalam konteks bahasa hukum Indonesia.[5] Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. B. maka berbagai masalah dapat dirumuskan antara lain sebagai berikut: 1. perasaan. Pada kenyataannya dewasa ini. terutama dalam hubungannya dengan manusia lain.

simbol-simbol itulah yang kemudian menjadikan sebuah bahasa terbentuk dan mempunyai makna. 3) Sebagai alat menyatakan integrasi dan adaptasi sosial Disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan. bahasa mempunyai hubungan dengan proses-proses sosialisasi suatu masyarakat. 3) Memberikan definisi yang cermat tentang nama. . Tingkah laku itu dapat bersifat terbuka (overt yaitu tingkah laku yang dapat diamati atau diobservasi). sekurang-kurangnya memaklumkan keberadaannya. dapat mempelajari dan mengenal segala adat istiadat. Seluruh kegiatan sosial akan berjalan dengan baik karena dapat diatur dengan menggunakan bahasa. tingkah laku dan tata krama masyarakat lain. mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman tersebut. maupun yang bersifat tertutup (covert yaitu tingkah laku yang tidak dapat diobservasi). bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita. serta belajar berkenalan dengan anggota masyarakat. sifat dan kategori yang diselidikinya untuk menghindari kesimpangsiuran. 2) Obyektif dan menekan prasangka pribadi. maka melalui bahasa pula penggalian. Bahasa yang dipelajari dan dipakai dalam dunia ilmu pengetahuan adalah bahasa ilmiah atau bahasa keilmuan. Bahasa ilmiah mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat sebagaimana dikemukakan Anton M. Moeliono:[8] 1) Lugas dan eksak karena menghindari kesamaran dan ketaksaan. Berkaitan dengan fungsi bahasa secara umum. maka fungsi bahasa secara garis besarnya adalah sebagai berikut :[7] 1) Untuk menyatakan ekspresi diri Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri secara terbuka segala sesuatu yang tersirat dalam diri manusia. Hanya dengan bahasa dan melalui bahasa proses pengenalan dan proses komunikasi dapat berlangsung. Dalam mengadakan kontrol sosial. 4) Sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial Kontrol sosial maksudnya adalah usaha untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang-orang lain. melahirkan perasaan dan memungkinkan manusia menciptakan kerja sama sesama warga. dengan bahasa memungkinkan pula bagi manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka. 2) Sebagai alat komunikasi Sebagai alat komunikasi. penguasaan dan penyebaran ilmu pengetahuan dapat menjadi lebih efektif.[6] Jika dilihat dari sejarah pertumbuhan bahasa sejak awal hingga sekarang.

dan warna tertentu. Sedangkan tujuan . Sebagai ilmu. dalam konteks asal dan aslinya maupun dalam konteks keperluan penafsirnya. baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ciri khas bahasa hukum sebagai pengetahuan keilmuan terletak pada landasan ontologis yang mengacu pada obyek garapan dan apa yang ingin diketahui dari kajian terhadap obyek tersebut. khususnya bahasa hukum. [9] Dengan kata lain. makna dan fungsinya lebih mantap dan stabil daripada yang dimiliki kata biasa. Sebagaimana diketahui bahwa hukum merupakan salah satu sarana untuk menciptakan keteraturan dan ketertiban sosial masyarakat. malahan dianggap sebagai penjelmaan masyarakat dan kebudayaan. Ketentuan hukum tersebut utamanya dirumuskan melalui bahasa. dan harus dapat dikomunikasikan dengan baik pada subyek-subyek hukum yang dituju. meliputi bahasa verbal (lisan). Bahasa hukum adalah bahasa (kata-kata) yang digunakan untuk merumuskan dan menyatakan hukum dalam suatu masyarakat tertentu. benda-benda. bahasa visual (tulisan). 5) Cenderung membakukan makna kata-katanya. sehingga hasil garapan tersebut mempunyai makna dan landasan aksiologis yang menelaah tujuan dari segenap aktivitas keilmuan dan pemanfaatannya. Bahasa dan hukum memiliki kaitan yang erat. 7) Bercorak hemat.[10] Hukum hanya dapat berjalan efektif manakala ia dirumuskan melalui bahasa hukum dengan tegas dan mencerminkan nilai-nilai yang hidup dalam suatu masyarakat. landasan epistemologis yang menentukan metode yang dipakai untuk memperoleh dan menggarap obyek yang ditentukan.4) Tidak beremosi dan menjauhi tafsiran yang bersensasi. hanya kata yang diperlukan yang dipakai. Bahasa dan hukum itu saling berhubungan. ada hubungan yang erat antara bahasa dan hukum. Hal tersebut dapat diketahui dengan mengacu pada pendapat Sutan Takdir Alisyahbana yang dikutip Harkristuti Harkrisnowo bahwa baik bahasa maupun hukum merupakan penjelasan kehidupan manusia dalam masyarakat dan merupakan sebagian dari penjelmaan suatu kebudayaan pada suatu tempat dan waktu. ungkapannya dan gaya paparannya berdasarkan konvensi. [11] Secara garis besar penggarapan metode pengolahan tanda-tanda kebahasaan itu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menyusun. saling pengaruh. merangkai. sehingga kita tahu persis mengenai tujuan dan kemanfaatannya. yang sebaliknya pula dipengaruhi baik oleh bahasa maupun oleh hukum. Obyek garapan bahasa hukum adalah berupa tanda-tanda kebahasaan yang biasa digunakan dalam hukum. bahasa hukum mempunyai obyek. 6) Tidak dogmatik atau fanatik. Bentuk. gerak/isyarat. atau mengorganisisr tanda-tanda kebahasaan tersebut sehingga terwujud sebuah susunan atau bangunan baru yang punya struktur sehingga bisa disebut sebagai bahasa hukum dan berusaha menafsirkan (menangkap atau mencari makna) yang terkandung pada tanda-tanda kebahasaan yang telah ada dan hadir dihadapan kita. metode dan tujuan tertentu.

bahasa hukum adalah menyampaikan pesan tentang kebenaran dan keadilan dari subyek yang menggarap tanda-tanda kebahasaan kepada subyek lain. komposisi. baik dalam pemaknaan maupun penerapan. Hal tersebut dimaksudkan supaya tidak membuka peluang interpretasi ganda. bahasa hukum selayaknya juga mengikuti kaidah bahasa Indonesia secara umum. Bahasa hukum Indonesia merupakan bahasa Indonesia yang dipergunakan dalam bidang hukum.[15] Bahasa hukum Indonesia yang masih dipergunakan hingga saat ini semantik[16] katanya masih belum baik. Pengertian seperti ini bersifat subyektif. Teori Kebenaran dan Teori Keadilan Pengetahuan dipandang dari jenis pengetahuan yang dibangun dapat dibedakan sebagai berikut: [17] 1) Pengetahuan biasa (ordinary knowledge/Common Sense Knowledge). yang mengingat fungsinya mempunyai karakteristik sendiri. tidak menimbulkan multiinterpretasi. maka dalam penggunaannya ia harus tetap.[12] Simposium bahasa dan hukum tahun 1974 yang diselenggarakan Badan Pembinaan Hukum Nasional menghasilkan rumusan mengenai apa yang dimaksud dengan bahasa hukum Indonesia.[14] Sebagai bagian dari bahasa Indonesia. oleh karena itu bahasa hukum Indonesia haruslah memenuhi syarat-syarat dan kaedah-kaedah bahasa Indonesia. Dengan demikian . bahasa Indonesia yang dipakai dalam dunia hukum ternyata seringkali tidak berhasil memancarkan kandungan atau isi hukum dengan baik. serta gaya bahasanya yang khusus dan kandungan artinya yang khusus pula. Bahasa hukum adalah bahasa aturan dan peraturan yang bertujuan untuk mewujudkan ketertiban dan keadilan. Jika melihat kembali pada fungsi dasar bahasa yaitu sebagai alat menyampaikan pesan dan tujuan bahasa hukum yaitu menyampaikan kebenaran dan keadilan. Hal yang disebut terakhir ini sangat penting untuk menghindari agar kepastian hukum dapat dijamin.[13] Jadi. khususnya dalam semantik kata (pemaknaan kata). sehingga tidak menimbulkan kebingungan masyarakat awam. Sebagian besar masyarakat masih merasa bahwa bahasa hukum kita merupakan bahasa yang sulit dimengerti atau sulit dipahami. Namun dikarenakan bahasa hukum adalah bagian dari bahasa Indonesia yang modern. sehingga terkadang ditemukan istilah-istilah yang tidak tetap dan kurang jelas. dapat dikatakan bahwa bahasa hukum Indonesia sebenarnya merupakan bagian dari bahasa Indonesia. Nampaknya memang tidak ada salahnya apabila mulai sekarang bahasa hukum dibuat lebih sederhana. terang. monosemantik dan memenuhi syarat estetika bahasa Indonesia. artinya amat terikat pada subyek yang mengenal. sehingga mengakibatkan seseorang menemui kesulitan menangkap makna hukum dalam sebuah perjanjian atau peraturan. Selain sulit dimengerti atau sulit dipahami. Hal tersebut dapat saja terjadi karena bahasa hukum memiliki karakteristik tersendiri yaitu yang terletak pada istilah-istilah. untuk mempertahankan kepentingan umum dan kepentingan pribadi di dalam masyarakat. maka bahasa hukum Indonesia masih memiliki kekurangsempurnaan.

Dengan demikian sebuah pengetahuan memiliki kadar kebenaran yang berbeda-beda. Sifat pengetahuan ini mendasarkan dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis. Implikasi makna dari kandungan kitab suci itu dapat berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu. dalam artian bisa ditangkap oleh panca indra. 2) Pengetahuan ilmiah. yaitu bahwa sesuatu dianggap benar jika ada kesesuaian dengan fakta empiris. berdasarkan pada pengklasifikasian di atas maka hanya pengetahuan agama yang nilai kebenarannya bersifat absolut. artinya metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan di antara para ahli yang sejenis. Untuk pengetahuan yang sifat kebenarannya relatif ini perlu ditinjau dan dianalisis melalui perangkat tertentu untuk mendapatkan kebenaran yang dituju. . Adapun teori yang berbicara mengenai kebenaran antara lain adalah sebagai berikut: (1) Teori kebenaran korespondensi. (3) Teori kebenaran pragmatis. sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan itu bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.pengetahuan jenis pertama ini memiliki sifat yang selalu benar. Maksudnya ialah nilai kebenaran yang terkandung pada jenis pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan dari seorang filsuf serta selalu mendapat pembenaran dan filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. yaitu pengetahuan yang telah menetapkn obyek yang khas atau spesifik dengan menerapkan pendekatan metodologis yang khas pula. akan tetapi kandungan dimaksud dari ayat kitab suci itu tidak dapat dirubah dan sifatnya absolut. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis. artinya pernyataan dalam suatu agama selalu didasarkan pada keyakinan yang telah tertentu. Dengan demikian. Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relatif. karena kandungan jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi dan diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir. kebenaran dalam pengetahuan ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling akhir dan mendapatkan persetujuan (agreement) oleh para ilmuwan sejenis. 3) Pengetahuan filsafati. Sifat kebenarannya adalah absolut-intersubjektif. teori ini menyatakan bahwa suatu pengetahuan dianggap benar manakala hal tertentu itu bermanfaat secara praktis bagi dirinya sendiri. sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya itu. yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati. (2) Teori kebenaran koherensi. karena berasal dari yang Maha Benar. yaitu menyatakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar manakala berhubungan dengan pernyataan sebelumnya sehingga ada pernyataan berkesinambungan dan terjaga konsistensinya. kritis. yaitu jenis pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan dan ajaran agama tertentu. Sementara untuk pengetahuan jenis lain memiliki kebenaran yang sifatnya relatif. 4) Pengetahuan agama. dan spekulatif.

dan diantara kedua ujung itu ia berada. sedangkan justitia commutativa memberi kepada setiap orang sama banyaknya. supaya sungguh-sungguh berarti sebagai hukum. yang adil itu adalah sekaligus tengah-tengah dan kesebandingan. yaitu justitia distributiva dan justitia commutativa. untuk bersikap secara adil. yaitu bahwa orang yang memiliki keadilan itu mampu menerapkannya terhadap pihak lain dan bukan hanya dalam keadaan yang mengenai dirinya sendiri. [20] Menurut Tasrif.[19] Aristoteles juga membedakan adanya dua macam keadilan. dan adagium hukum yaitu lex specialis derogat legi generali. dalam sifatnya sebagai tengah-tengah. Pernyataan ini ada sangkut pautnya dengan tanggapan bahwa hukum merupakan bagian usaha manusia menciptakan suatu ko-eksistensi etis di dunia ini. harus ada orang-orang tertentu untuk siapa hal itu adil. dalam sifatnya sebagai yang adil.[21] Jadi. yaitu: Pertama. menyatakan bahwa bila orang berbicara tentang keadilan. ada empat syarat minimum agar keadilan mendapat pernyataannya. yaitu memorandum dan understanding. Beberapa istilah hukum yang akan dianalisis pada bagian ini adalah mengenai Memorandum of Understanding (MoU). termasuk bahasa hukum sebagai bagian dari ilmu hukum adalah keadilan. Ukuran keadilan menjadi relatif ketika dihadapkan pada peristiwa konkrit. Ketiga. terjemahan J. [18] Arsitoteles dalam The Ethics of Aristoteles. teori fiksi hukum. ia harus mempunyai dua ujung. Tasrif. Hanya melalui suatu tata hukum yang adil orang-orang dapat hidup dengan damai menuju suatu kesejahteraan jasmani maupun rohani. Justitia distributiva menuntut bahwa setiap orang mendapat apa yang menjadi hak atau jatahnya. Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa istilah hukum yang ditinjau dari dua pisau analisis yaitu teori kebenaran dan teori keadilan. pengertian adil itu menurut Tasrif adalah kebajikan yang sempurna karena ia melaksanakan kebajikan yang sempurna. Pemaknaan Peristilahan Hukum Ditinjau dari Teori Kebenaran dan Teori Keadilan Penggunaan peristilahan hukum terutama yang berasal dari istilah asing sebagaimana telah disebut pada bagian sebelumnya sering kali tidak tepat ditinjau dari maknanya. Mengenai keadilan ini mengalami perkembangan dari masa ke masa. Istilah Memorandum of Understanding berasal dari dua kata. Bahkan ada orang yang berpandangan bahwa hukum harus digabungkan dengan keadilan. dalam sifatnya sebagai yang sebanding dari apa yang dibagi. Kedua. 2. Pertama. bahwa adil bagi orang atau kelompok tertentu belum tentu dirasa adil bagi orang atau kelompok lain. yang mereka anggap secara pasti adalah adanya suatu keadaan pikiran yang mendorong mereka untuk melakukan perbuatanperbuatan yang adil.K Thomson. Hukum sangat erat hubungannya dengan keadilan. Keempat. Dalam Black’s Law Dictionary diartikan memorandum adalah “dasar untuk memulai penyusunan kontrak secara formal pada masa datang” (is to serve as the basis of future . dan untuk tidak menginginkan hal yang tidak adil. dan dampaknya ketika istilah itu digunakan dalam praktik hukum di masyarakat.Unsur berikutnya yang dituju oleh hukum. yang disunting oleh S.A.

dalam hal prospek bisnisnya belum jelas benar. maka dibuatlah MoU yang akan berlaku sementara waktu. baik secara tertulis maupun lisan. daripada tidak ada ikatan apa-apa sebelum ditandatanganinya kontrak tersebut. karena bagaimanapun ada unsur kesepakatan dalam pembuatan MoU. whether written or oral). Isi dari MoU harus dimasukkan ke dalam kontrak. serta dianggap sebagai pembuka suatu kesepakatan. wilayah keberlakuan yang bisa meliputi regional. baik secara lisan maupun secara tertulis” (an implied agreement resulting from the express term of another agreement. misalnya Munir Fuady mengartikan MoU adalah “perjanjian pendahuluan. sehingga dibuatlah MoU yang mudah dibatalkan. Adapun mengenai lain-lain aspek dari MoU relatif sama dengan perjanjianperjanjian lain”. dan apakah kerjasama selanjutnya akan ditindaklanjuti. Secara gramatikal MoU biasa diartikan sebagai nota kesepahaman. .[27] Dalam berbagai peraturan perundang-undangan tidak ditemukan ketentuan yang khusus mengatur tentang MoU. MoU dianggap sebagai kontrak yang simpel dan tidak disusun secara formal. Untuk menghindari kesulitan pembatalan suatu agreement nantinya. substansi MoU adalah kerjasama dalam berbagai aspek. Sedangkan understanding diartikan sebagai “pernyataan persetujuan secara tidak langsung terhadap hubungannya dengan persetujuan lain.formal contract). dalam arti nantinya akan diikuti dan dijabarkan dalam perjanjian lain yang mengaturnya secara detail. tetapi sering dipergunakan dalam praktik. maka dapat disimpulkan bahwa MoU tunduk pada ketentuan perikatan pada umumnya dalam Buku III KUH Perdata.[22] Sehingga dirumuskan pengertian MoU adalah dasar penyusunan kontrak pada masa datang yang didasarkan pada hasil permufakatan para pihak.[24] Erman Rajagukguk mengartikan MoU sebagai “dokumen yang memuat saling pengertian di antara para pihak sebelum perjanjian dibuat. yaitu sebagai berikut: a.[26] MoU sebenarnya tidak dikenal dalam hukum Indonesia. Penandatanganan kontrak masih lama karena masih dilakukan negosiasi yang alot. karena itu MoU berisikan halhal yang pokok saja. maupun internasional.[23] Beberapa pendapat memberi arti yang berbeda pula tentang MoU. sehingga ia mempunyai kekuatan mengikat”. b. Jangka waktunya tertentu.[25] Sehingga dari keseluruhan pengertian tersebut dapat disimpulkan unsur-unsur MoU. namun bila diperhatikan substansi dari MoU sebagai perjanjian pendahuluan. nasional. Misalnya ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat sahnya perjanjian. Karena itu. yaitu: bersifat sebagai perjanjian pendahuluan. dibuat oleh para pihak yang merupakan subjek hukum.[28] MoU dibuat dengan memiliki tujuan-tujuan tertentu antara lain. Selain itu dapat pula dilihat dalam Pasal 1338 KUH Perdata yaitu bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

Adanya keraguan para pihak dan masih perlu waktu untuk pikir-pikir dalam hal penandatanganan suatu kontrak. mengenai peristiwa alam yang tertentu. Akan tetapi bila salah satu pihak tidak memenuhi isi memorandum. bentuk hukum. Adanya berpotensi menimbulkan dampak yuridis yang berkepanjangan.c. pihak lain tidak mempersoalkan hal tersebut. Sehingga para ahli pun belum memiliki jawaban yang pasti tentang kekuatan mengikat MoU. Penggunaan istilah MoU dalam tradisi Kontinental dengan mengkaitkan dengan teori kebenaran lebih masuk ke dalam teori kebenaran pragmatis karena didasarkan pada manfaat secara praktis dan kehadirannya dirasakan mendatangkan manfaat. bangunan hukum.[30] MoU sebagaimana tersebut di atas merupakan lembaga hukum yang berasal dari tradisi Anglo Saxon.[32] Menurut kamus hukum fiksi atau dalam bahasa aslinya (bahasa Latin) Fictio adalah anganangan.[33] Van Apeldoorn memberi pendapat fictie atau fiksi adalah bahwa kita menerima sesuatu yang tidak benar sebagai sesuatu hal yang benar. keputusan yang dijatuhkan hakim kepada terdakwa. patokan (kaidah ketentuan). MoU hanya merupakan suatu gentlement agreement yang tidak mempunyai akibat hukum. dengan demikian pada dasarnya belum mempunyai kekuatan mengikat layaknya perjanjian itu sendiri. Masyarakat kebanyakan masih menyamakan MoU dengan perjanjian. Kedua teori fiksi hukum. Di tinjau secara keilmuan hukum MoU merupakan janji untuk mengadakan perjanjian.[31] Sedangkan hukum diartikan sebagai peraturan resmi yang menjadi pengatur dan dikuatkan oleh pemerintah. undang-undang. kontruksi hukum. MoU merupakan suatu bukti awal telah terjadi atau tercapai saling pengertian mengenai masalah-masalah pokok.[29] Mengingat substansi MoU di mana adanya kesepakatan kehendak untuk membuatnya. Kalau ditinjau secara isi materi muatan yang ada di MoU seringkali secara substansial sudah merupakan perjanjian. sebagai ada atau yang sebenarnya ada sebagai tidak ada. sehingga dalam hal pihak lain tidak melaksanakan apa yang termuat dalam MoU maka padanya seakan-akan dapat menggugat pihak lain tersebut. Ray Wijaya mengemukakan pendapatnya tentang kekuatan mengikat MoU tersebut yaitu bahwa pertama. d. sehingga bisa menimbulkan ketidakadilan dalam masyarakat. MoU dibuat dan ditandatangani oleh pihak eksekutif teras dari suatu perusahaan. Fiksi menurut kamus bahasa Indonesia adalah cerita rekaan. sehingga untuk sementara dibuatlah MoU. paling tidak penggunaannya oleh masyarakat awam. Atau dengan kata lain kita menerima apa yang sebenarnya tidak ada. di samping peraturan undangundang. Penggunaan MoU dalam praktik hukum di masyarakat sebagaimana disinggung di atas seringkali tidak tepat. namun dalam kenyataannya yang dipakai adalah istilah MoU. dan kedua. maka dikatakan MoU mempunyai kekuatan mengikat untuk dilaksanakan layaknya sebuah perjanjian pada umumnya. peraturan. sehingga untuk suatu perjanjian yang lebih rinci harus dirancang dan dinegosiasi khusus oleh staf yang lebih rendah namun lebih menguasai secara teknis. hasil khayalan pengarang.[34] .

padahal pemakaian fiksi itu dapat dihindarinya. Kebenaran penggunaan fiksi hukum patut diragukan jika ditinjau dari teori-teori kebenaran yang ada. ahli hukum seringkali mempergunakan fiksi. mempersiapkan peraturan-peraturan yang sederhana.[36] Hal ini didasarkan pada suatu alasan. melainkan dirumuskan belaka sebagai fiksi. Secara logis adanya juga tidak dapat dibenarkan secara ilmiah. Adakalanya juga pembentuk undang-undang memakai fiksi. Persangkaan harus dipisahkan dari fiksi. Sehingga timbul kesadaran untuk mematuhi peraturan hukum. karena orang yang benar-benar tidak mengetahui peraturannya dikenai hukuman yang sama . Fiksi adalah ketidak benaran suatu ciptaan saja. Pemakaian fiksi hukum tersebut mengakibatkan kebiasaan para ahli hukum memakai fiksi dengan tidak semestinya. Hukum yang tugasnya mengatur kehidupan masyarakat sebenarnya tidak boleh dijelmakan dalam peraturan-peraturan yang dalamperumusannya jelas bertentangan dengan kenyataan. Dengan demikian ketidaktahuan akan undang-undang tidak merupakan alasan pemaaf atau “ignorantia legis excusat neminem”. Untuk hakim.[35] Fiksi hukum yang dikenal adalah “setiap orang dianggap tahu akan undang-undang”. karena fiksi memberikan hakim kemampuan untuk mencapai suatu keadaan yang diinginkannya. Hal itu membahayakan dalam proses menemukan kebenaran dan keadilan. Setiap kepentingan manusia tersebut selalu diancam oleh bahaya di sekelilingnya. Aparat penegak hukum pun mungkin banyak juga yang tidak mengerti mengenai peraturan-peraturan hukum tertentu. bahwa manusia mempunyai kepentingan sejak lahir sampai mati. yang dipenuhi oleh berbagai kaidah sosial yang salah satunya adalah kaidah hukum. persangkaan mungkin benar. Akan tetapi bahwa ia sering dipakai terutama dapat dipahami dari sudut hasrat pembentuk undang-undang untuk memperoleh perumusan yang singkat. menjadi sangat lancar mempergunakannya.Namun sebenarnya bahwa fiksi perundang-undangan itu bukan fiksi sebenarnya. Oleh karena itu manusia memerlukan perlindungan kepentingan. Adalah kewajiban ajaran hukum untuk sebanyak mungkin mengeluarkan fiksi dari perundang-undangan. supaya kepentingannya sendiri terlindungi. karena kenyataannya justru sebaliknya walaupun peraturan hukum dimaksud dituangkan dalam Lembaran Negara. Itulah sebabnya. Jadi fiksi perundang-undangan itu sebenarnya bukanlah tidak dapat dibuang. Peranan yang penting yang dipegang oleh persangkaan ini tidak akan ditinjau lebih lanjut. dengan kata lain. kita dapat menghitamkan yang putih maupun sebaliknya. mungkin tidak. maka harus dipatuhi manusia lainnya. karena jumlahnya yang sangat banyak. Karena kaidah hukum melindungi kepentingan manusia. Fiksi dipahami dari sudut hasrat pembentuk undang-undang untuk memperoleh perumusan yang singkat. Misalnya dalam persangkaan. karena terbiasa dengan penggunaan fiksi hukum tersebut. Ditinjau dari teori keadilan penggunaan fiksi hukum berpeluang menimbulkan ketidakadilan. Karena dalam Undang-undang dan dalam literatur yang bersifat ilmu pengetahuan hukum. Akhirnya ahli hukum. yaitu sebagai alat penolong untuk menghemat jumlah peraturan dan pengertian. Dengan fiksi. fiksi adalah alat yang memikat. Sebenarnya pemakaian fiksi hukum dalam perundang-undangan dan dalam ajaran hukum menyebabkan kerugian yang besar. fiksi hukum memegang peranan juga dalam pengadilan dan terkadang memegang peran yang sangat berbahaya.

maka penyidik memberitahukan kepada penuntut umum. Ketiga. Sedangkan dalam bidang hukum pidana formil. ”(1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang: mengadakan penghentian penyidikan. Memang benar bahwa sesuai dengan Pasal 7 ayat (1) butir i Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. namapak di dalam isi Pasal 284 ayat (2) UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana ” (2) Dalam waktu dua tahun setelah undang-undang ini diundangkan. dengan pengecualian untuk sementara mengenai ketentuan khusus acara pidana sebagaimana tersebut pada undang-undang tertentu. Menutup perkara demi kepentingan hukum Sebagai alasan dari penghentian penuntutan perhatikan isi Pasal 140 ayat (2) a. walaupun untuk peristiwa khusus tersebut dapat pula diperlakukan undang-undang yang menyebut peristiwa yang lebih luas atau lebih umum yang dapat juga mencakup peristiwa khusus tersebut. Dapatlah disebut mulai dari Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. kesemuanya mempunyai materi hukum pidana materiil dan hukum pidana formil) yang berbeda dengan apa yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (legi generali). Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dari dua produk hukum tersebut diberikan dasar hukum untuk adanya pengaturan yang berbeda terhadap apa yang telah diatur dalam undang-undang generalisnya. 78 dan 79 KUHP). tersangka atau keluarganya. sampai ada perubahan dan atau dinyatakan tidak berlaku lagi”. Dalam hal penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penunutan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum penuntutan umum menuangkan dalam surat ketetapan. Satu lagi contoh pertentangan antara undang-undang yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengembalikan kepada asas hukum lex speciali derogat legi generali yakni antara UndangUndang Pokok Agraria dengan Undang-Undang Penanaman Modal. 77. kecuali jika oleh undang-undang itu ditentukan lain”. Maksud dari asas ini adalah bahwa terhadap peristiwa khusus wajib diperlakukan undang-undang yang menyebut peristiwa itu. Memang benar sesuai dengan Pasal 14 huruf h dinyatakan bahwa Penuntut umum mempunyai wewenang: h. asas lex specialis derogat legi generali artinya peraturan yang bersifat umum dikesampingkan oleh peraturan yang bersifat khusus dengan syarat peraturan dimaksud berada dalam hierarki yang sejajar. maka terhadap semua perkara diberlakukan ketentuan undangundang ini. Sebagai alasan dari penghentian penyidikan perhatikan isi Pasal 109 ayat (2) yang menyatakan: ”(2) Dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penghentian penyidikan demi hukum (Pasal 76. dalam salah satu pasalnya terdapat . Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sampai dengan Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang (dalam posisi Lex specialis).dengan orang yang tahu.[37] Contoh pengakuan terhadap asas lex specialis derogat legi generali dalam bidang hukum pidana materiil dapat dilihat dalam Pasal 103 KUHP yang menyatakan: “Ketentuan dalam Bab I sampai dengan Bab VII buku ini berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundangundangan yang lain diancam pidana. Jika ditinjau dari aspek kepastian hukum fiksi hukum ini justru diperlukan sehingga tidak ada peluang seseorang berkelit dari jerat hukum.

Diharapkan pula kalangan praktisi tidak turut melestarikan penggunaan istilah yang salah kaprah. Fenomena ini jika ditinjau dari teori keadilan berpotensi menimbulkan kondisi tidak adil. dimana terdapat dua sektor yang saling bertentangan. Berdasarkan pada kondisi ini tampak bahwa peristilahan hukum berupa asas hukum lex specialis derogat legi generali tidak implementatif ketika diberlakukan. Kesimpulan Berdasarkan pada pembahasan mengenai peristilahan hukum dalam bahasa hukum Indoensia tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: a. misalnya dari kalangan akademisi dan profesional yang memang mengetahui makna istilah tersebut dengan tepat untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat. D. yakni sektor pertanahan (Badan Pertanahan Nasional) dan sektor Investasi (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Saran Beberapa saran yang dapat disampaikan adalah perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk meluruskan istilah yang dimaknai salah dalam praktik. Dari sisi teori kebenaran dan keadilan beberapa peristilahan hukum ada yang dapat dibenarkan. bahwa Undang-Undang Pokok Agraria. Hanya investor dengan capital kuatlah yang akan melakukan eksploitasi terhadap kekayaan bangsa ini. 2. karena kebijakan yang tadinya ditujukan untuk kepentingan rakyat dalam realitas praktis justru hanya menguntungkan investor. Sehingga pasal yang saling bertentangan tersebut menjadi tidak dapat berlaku (invalid). Pemaknaan peristilahan hukum dalam praktik di masyarakat ternyata tidak selalu tepat. namun banyak yang tidak dapat dibenarkan karena sangat kontekstual tergantung dari sudut mana kita memandangnya dan standar apa yang kita pakai untuk mengukur kebenarannya. yaitu untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif sehingga arus investasi akan masuk yang pada akhirnya ditujukan untuk kepentingan pembangunan. Padahal sudah jelas. Di samping itu peran serta masyarakat juga masih diperlukan. konsepsi awalnya adalah Undang-Undang Payung (umbrella act) atau Undang-undang pokok. bahkan ada beberapa istilah yang penggunaannya sama sekalii tidak tepat sehingga makna sesungguhnya menjadi hilang sama sekali. Munculnya Undang-undang Penanaman Modal tersebut untuk alasan praktis dapat dibenarkan. misalnya dengan membuat undangundang sebagai pedoman. Undang-undang ini juga bersifat sektoral. Pengaturan masingmasing undang-undang juga tidak membuka kemungkinan untuk merujuk pada suatu aturan yang lebih khusus. b.pertentangan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria yakni pada pasal yang mengatur tentang pemberian hak atas tanah dengan jangka waktu yang lebih lama (dalam UUPM) dibandingkan dengan jangka waktu yang diatur oleh UUPA. hanya karena . PENUTUP 1.

Filsafat Hukum. Bulaksumur. Bandung: Remaja Karya. Rizal. 1986. Theo. Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia. 2007. Fuady. Dinamika Bahasa Hukum.go. 2001.J. Bahan Ajar Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada. Sudikno. dkk. Cetakan kedua puluh sembilan. Mertokusumo. Bahasa Hukum Indonesia. 1997. Black’s Law Dictionary.dunia praktis sudah terlanjur terus menerus menggunakan suatu istilah dengan tidak tepat. Bandung: Citra Aditya Bakti. 1999. Perundang-undangan dan Yurisprudensi. Shodiq. Bahasa Indonesia Sebagai Sarana Pengembangan Hukum Nasional. Kusumadi. Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktik. (b). Dkk. Sudikno R. Henry Campbell. Teori dan Politik Hukum. Sudjito. Jakarta: Sinar Grafika. Pudjosewojo. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Justru harus ada upaya untuk mendobrak salah kaprah tersebut sehingga masyarakat tidak terjebak dalam kesalahan dan bahkan tidak mengetahui bahwa suatu istilah itu dimaknai dengan salah. Yogyakarta: Liberty. Buku Keempat. Difa Publisher. EM Zul. Pembinaan Bahasa Hukum Indonesia. Cetakan kedelapan. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar).id. Hilman.Harkristuti. DAFTAR PUSTAKA Apeldoorn. L. . Bandung : Penerbit Alumni. Yogyakarta.khn.Kamus Hukum Jakarta: Ghalia Indonesia. 1979. M. Purbacaraka. Andi. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Pradnya Paramita. 1995. 1990. www. Sabarudin. Mahadi. Black. Harkrisnowo. Sixth Edition. Filsafat Ilmu. Mustansyir. Fajri. Hamzah. 1992.M. Van. Dahlan. 15 Desember 2007 di Debating Room FH UGM. Makalah yang disampaikan pada diskusi bulanan dosen-dosen Fakultas Hukum UGM. USA: West Publishing Company. Munir. Tanggal akses 23 Februari 2008. (a). Bandung : Rosda Offset. Hadikusuma. Huijbers. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hukum Alam dan Keadilan. Bandung: Alumni. Mertokusumo. 1979. 1989. 1997. dkk. 2004. Purnadi. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.

Op. Bahasa Hukum Indonesia. Yogyakarta. Jakarta: Sinar Grafika. Hilman. Gorys dalam Mustafa Siregar. Tanggal akses 23 Februari 2008. Salim HS. [3]Mustansyir. dalam Hilman Hadikusuma. 2003. G. Hal 3.id. 2006. Bandung : Penerbit Alumni.cit. 2007. (b). Mustafa. Filsafat Ilmu. Op Cit. Kontrak Dagang Internasional dalam Praktik di Indonesia. [12] Ibid. Dinamika Bahasa Hukum. Bahasa Hukum. Jakarta: Universitas Inonesia. Sabarudin. 2003. Kusumadi. Jakarta: Sinar Grafika. Dkk. Anton M. Ray. [6] Sudjito. Rizal. Hal 1. Cit. 2007. Jakarta: Sinar Grafika. 1979. Hal 194.Rajagukguk. Hal 8-9. Hal 3. 2004. www. Erman. Hal 5. Artikel pada Jurnal Compendium Ilmu Hukum dan Kenotariatan. 15 Desember 2007 di Debating Room FH UGM. Wijaya. Bahasa Indonesia Sebagai Sarana Pengembangan Hukum Nasional. Edisi Revisi. Pembinaan Bahasa Hukum Indonesia. Op. (a). 1997. Cetakan ketiga. Cetakan kedelapan. Hal 8. 1994. [7] Keraf. [2]Siregar. Jakarta: Kasaint Blanc. Salim HS. 1992. Op. [1]Pudjosewojo. Hal 50. H. Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia. Siregar.khn. .go. Op. Artikel pada Jurnal Compendium Ilmu Hukum dan Kenotariatan. Bandung : Rosda Offset. Mustafa. [8] Moeljono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. [10] Mahadi. [4]Siregar. Bahasa Hukum.Harkristuti. Hal 171-172. [11] Sudjito. Perancangan Kontrak dan Memorandum of Understanding (MoU). Cit. I. [9] Harkrisnowo. [5] Hadikusuma. [13] Hadikusuma. Medan. Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak. Hal 1. Program Pasca Sarjana Magister Kenotariatan USU. H. Hukum Kontrak. Hal 2. Hilman. Merancang Suatu Kontrak (Contract Drafting) Teori dan Praktik. 2003. Medan. Program Pasca Sarjana Magister Kenotariatan USU. Bulaksumur. Makalah yang disampaikan pada diskusi bulanan dosen-dosen Fakultas Hukum UGM. Cit. Mustafa. Hal 52.

Henry Campbell. Buku Keempat. Hukum Kontrak. 1999. Hlm 124. 1994. Yogyakarta: Liberty. 2003. (a). Yogyakarta: Penerbit Kanisius. (a). 1986. Op. H. Cit. Hlm 91. Op. Jakarta: Universitas Inonesia. Theo. Cit. 1990. Cetakan ketiga. Cit. M. [17] Ibid. [16] Semantik adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki makna atau arti kata-kata hukum. Munir. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). Filsafat Hukum. Difa Publisher. Op. Hal 25. Edisi Revisi. Hal 12. [29] Fuady. Kontrak Dagang Internasional dalam Praktik di Indonesia. Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak. Jakarta: Sinar Grafika. (b). USA: West Publishing Company. (a). Op.Kamus Hukum Jakarta: Ghalia Indonesia. [15] Siregar. 1989. 1995. Jakarta: Sinar Grafika. [33] Hamzah. Jakarta: Kasaint Blanc. [27] Salim HS. Hal 64.[14]Ibid. [28] Salim HS. [30] Wijaya. 2007. Hlm 4. Black’s Law Dictionary. [32] Ibid. Hlm 102. Hal 26. Shodiq. I. Cit. Andi. [23] Salim HS.Hal 72 [21] Dahlan. Hukum Alam dan Keadilan. H. Hal 3. Erman. [20] Mertokusumo. [31] Fajri. Hlm 91-92. Ray. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Hlm 47. M. Bandung: Remaja Karya. 2006. Mustafa. Sixth Edition. Munir. Perancangan Kontrak dan Memorandum of Understanding (MoU). [26] Ibid. 1997. EM Zul. dkk. [19] Dahlan. [25]Rajagukguk. Shodiq. H. Hal 23-25. Merancang Suatu Kontrak (Contract Drafting) Teori dan Praktik. Hlm 46. Sudikno. [24] Fuady. . [18] Huijbers. G. Bandung: Citra Aditya Bakti. [22] Black. Hlm 48. Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktik.

[37] Purbacaraka. 2001. Jakarta: Pradnya Paramita. Van. Teori dan Politik Hukum. Perundang-undangan dan Yurisprudensi. Cetakan kedua puluh sembilan. (b). 1979. L. Purnadi. Hlm 408-410. Bandung: Alumni.M. Hlm 407. Bahan Ajar Magister Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada. [35] Ibid.[34] Apeldoorn. [36] Mertokusumo. Pengantar Ilmu Hukum.J. Hal 16-17. . dkk. Sudikno R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful