P. 1
Interaksi Obat Dalam Resep

Interaksi Obat Dalam Resep

|Views: 9|Likes:
Published by farmasiuh
interaksi yang terjadi di dalam resep
interaksi yang terjadi di dalam resep

More info:

Published by: farmasiuh on Jun 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2014

pdf

text

original

Interaksi Obat Dalam Resep

Yupz, sudah sekitar 1 bulan gak hadir kasih posting-an dan sekarang aku mau ngepost materi kuliah yang sangat..sangat.. aku uhm, "sukai". #senyum kecut (loh? kenapa?! =,=') Interaksi obat merupakan salah satu Drug Related Problem (DRP) yang dapat mempengaruhi outcome terapi pasien. Suatu interaksi obat dapat digambarkan sebagai suatu interaksi antar suatu obat dan unsur lain yang dapat mengubah kerja salah satu atau keduanya, atau kerja obat menjadi lebih atau kurang aktif, kadang-kadang menimbulkan efek samping yang tak diduga. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap interaksi obat: 1. Usia pasien (bayi, anak-anak, dewasa, lansia) 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Farmakogenetik, perbedaaan suku bangsa dapat memberikan perbedaan metabolisme obat dan respon obat. Penyakit yang sedang diderita. Fungsi hati dan ginjal, mempengaruhi metabolisme dan ekskresi obat. Dosis obat. Pemberian obat ganda. Bentuk sediaan obat. Jangka waktu pemberian obat.

9. Urutan pemberian obat. Bentuk interaksi obat ada 3 kelompok, yaitu (a) interaksi farmaseutik: interaksi fis-kim yang tjd pd saat obat mulai diformulasikan sebelum digunakan oleh pasien, (b) interaksi farmakokinetik: interaksi terjadi in vivo, obat mempengaruhi atau mengubah salah satu dari empat proses dasar dalam tubuh, ADME, dan (c) interaksi farmakodinamik: perubahan efek obat karena pengaruhnya terhadap tempat kerja obat sehingga menimbulkan efek sinergis dn antagonis. (Maaf, gak bisa menjabarkan secara detail. Terlalu "njelimett"). Interaksi Obat Dalam Resep Contoh 1: R/ Amiodarone 100 mg, No XXX 2 dd 1 R/ Warfarin 2 mg, No XV 1 dd 1 setiap 2 hari sekali R/ Captopril 25 mg, No XXX 1-0-0 R/ Furosemid No X 1 dd 1 pagi Pro : Tn. Fahri Umur : 44 tahun Dari resep contoh 1, terdapat interaksi obat antara warfarin dengan amiodarone. Level signifikansi 1, yaitu risiko yang ditimbulkan berpotensial mengancam individu atau dapat mengakibatkan kerusakan yang permanen. Memiliki tingkat keparahan mayor. Efek: Kadar warfarin dalam darah meningkat, akan terjadi pendarahan. Mekanisme: Amiodarone menginhibisi enzim yang memetabolisme antikoagulan di hati sehingga akan menghambat metabolisme warfarin. Penatalaksanaan: Dosis warfarin dikurangi 30-50%, monitor waktu pembekuan darah. Contoh 2: Studi kasus. Seorang laki-laki berusia 45 thn datang ke poli penyakit dalam dgn keluhan kepala pusing, tengkuk terasa pegal sakit, muka terasa panas dan merah sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri sering datang setiap saat. Pasien juga pernah dirawat di RS dgn keluhan yg sama. Tidak ada faktor yg mencetuskan timbulnya nyeri dan nyeri tidak menghilang saat makan. Pasien juga mual dan muntah sebanyak 2 kali disertai dgn kembung dan mengatakan sering telat makan. Pasien juga mengeluh adanya gatal-gatal pd paha bagian dalam yg merupakan ekspresi hipersensitivitas thd infeksi jamur. Bagian dalam mulut terlihat warna putih-putih dan terasa sakit seperti sariawan. Diagnosis dokter adalah dispepsia dan candidiasis. Diberikan terapi dgn resep berikut. R/ Lanzoprazol 30 mg, No VII 1x1 R/ Inpepsia syrup 3 x 1 sdm R/ Metoklopramid tab XV 3 x 1/2 R/ Amoxycilin 500, No XV

golongan PPi penghambat sekresi asam lambung yg secara spesifik menghambat H+/K+/ATP-ase dari sel parietal mukosa lambung dgn memblokir enzim H+/K+/ATP-ase yg akan memecah H+/K+/ATP menghasilkan energi yg digunakan untuk mengeluarkan asam HCl dari kanalikuli sel parietal ke dlm lumen lambung shg mencegah pengeluaran asam lambung dr sel kanalikuli. Kemungkinan bekerja melalui pelepasan kutub Al-hidroksida yg berikatan dgn kutub positif molekul protein membentuk lapisan fesikokemikal pd dasar tukak. . dan Ketokonazole. merupakan agonis reseptor dopamine D2 dan antagonis reseptor serotonin 5-HT3 yg juga berguna pd dispepsia fungsional. Cryptococcus. Inpepsia syrup sbg anti dispepsia. pasien menderita dispepsia atau sakit maag dan candidiasis atau infeksi jamur. Ketokonazole sbg antijamur untuk infeksi sistemik. Mekanisme kerja berinteraksi dgn enzim P-450 utk menghambat demetilasi lanosterol mjd ergosterol yg penting utk membran jamur. Sebaiknya diberikan pd pagi hari 1 jam sebelum makan. sebaiknya diberikan pd saat perut kosong utk mencegah ikatan dgn protein dan fosfat. Sukralfat adl pelindung mukosa yg merupakan komplek garam sukrosa dimana gugus hidroksil diganti dgn alumunium hidroksida dan sulfat. Coccodioides immitis. Terdapat interaksi obat yg terjadi dalam resep. menyebabkan pengurangan rasa sakit pasien tukak. 4. Shg dlm resep ini terdapat terapi tanpa indikasi. Aspergillus.   Mekanisme : absorpsi ketokonazole akan berkurang jika tjd peningkatan pH lambung krn lanzoprazol akan meningkatkan pH lambung sehingga akan mengurangi daya larut dan absorpsi ketokonazole yg diberikan secara oral. 2. Amoxycilin sbg antibiotik untuk infeksi bakteri. Penatalaksanaan yg diberikan adalah: 1. Dalam kasus ini sebenarnya tidak perlu diberikan antibiotik krn diagnosis penyakit tdk kaitannya dgn infeksi bakteri. Lanzoprazol sbg anti dispepsia. Memiliki efek samping ekstrapiramidal. Sulcralfat.  Efek : efek ketokonazole akan menurun dengan adanya perubahan pH lambung. efektif thd Candida. yg melindungi tukak dr pengaruh asam dan pepsin.3x1 R/ Ketokonazole No XV 3x1 Dari studi kasus tsb. 2-3 jam setelah pemberian ketokonazole. yaitu antara obat Lanzoprazol. 5. Metoklorpramid sbg anti muntah. 3. Penatalaksanaan : berikan lanzoprazol dan sukralfat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->