CONTOH PROPOSAL JUDUL; Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisional Di Pandai Sikek Tanah Datar

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM) bermakna strategis bagi pembangunan nasional, karena masa depan bangsa sangat bergantung pada penyelenggaraan pendidikan masa kini. Sejauh mana pendidikan itu diselenggarakan menjadi tolok ukur penyiapan generasi penyambut ’tongkat estapet’ pembangunan. Menurut Ki Hajar Dewantara “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Anakanak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warga negara kita” (Prayitno, 2005:1) Sejalan dengan itu, Mukhtar Buchori (2001:23) menyatakan bahwa “Apa yang terjadi dengan bangsa kita di masa depan, sangat tergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang ini terhadap cara-cara kita mendidik generasi muda, dari pendidikan tingkat TK sampai ke pendidikan tingkat Perguruan Tinggi” Melalui semua jenjang pendidikan tersebut, kelangsungan hidup suatu bangsa dapat terjamin sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, how to live together, dan how to do, tetapi yang amat penting how to be. Oleh karena itu diperlukan transformasi nilai-nilai pendidikan (Daulay, 2007). Dengan demikian, memaknai pendidikan sebagai proses ‘memanusiakan manusia’ harus fokus pada pengembangan potensi manusia itu sendiri, bukan hanya fokus pada pengajaran. Pernyataan

2

‘memanusiakan manusia’ seakan-akan menyatakan bahwa sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik belum menjadi manusia. Pada hal peserta didik adalah manusia, makhluk yang paling sempurna dari sekian makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia. Berbagai bentuk pendidikan yang telah dilakukan bangsa Indonesia bertujuan untuk membangun sumber daya manusia, melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. Penyelenggaraan pendidikan formal dilakukan mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan formal terdiri atas pendidikan anak usia dini, berbentuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA); pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah pendidikan dasar dilanjutkan dengan pendidikan menengah yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA), dan pendidikan menengah kejuruan seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan nonformal berbentuk kursus-kursus singkat (non-ijazah) dan pelatihanpelatihan terorganisir yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal. Sedangkan pendidikan informal merupakan pendidikan sepanjang hayat di mana individu memperoleh pengetahuan, norma-norma, dan keterampilan melalui keluarga, tetangga, dan media masa. Sarana jenis-jenis pendidikan tersebut terkait dengan upaya untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari ketidaktahuan dan

3

lebih terampil. ada pernyataan yang keras bahwa pendidikan persekolahan kita ‘melahirkan pengangguran yang sistematis’. kualitas pendidik yang tidak merata antara perkotaan dengan pedesaan. dan evaluasi akhir (Ujian Nasional) dan pada akhirnya kepada peserta didik yang lulus diberikan ijazah. lebih mampu mengendalikan diri. Berbagai gugatan itu sehubungan dengan tidak baiknya penyelenggaraan pendidikan. sampai dengan seringnya pelajar melakukan tindakan amoral dan kriminal. Gugatan itu tentu terkait dengan kesadaran dan pemahaman masyarakat yang makin tinggi bahwa pendidikan memiliki nilai strategis dan 4 . Ada kecenderungan pendidikan sekarang ini bersifat serimonial belaka dan lari dari substansi pendidikan itu sendiri. politisi. Pendidikan tidak sekedar mengumpulkan dan mengoleksi ijazah sebagai tanda lulus. melakukan proses pembelajaran sesuai jadwal. Diawali pada setiap awal tahun ajaran dengan merima murid baru. evaluasi kenaikan kelas. pantas akhir-akhir ini gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan persekolahan menjadi lazim terdengar.kebodohan. Mulai dari gugatan sarana prasarana yang tidak memadai. Parameter penyelenggaraan pendidikan nasional semestinya tidak sampai melunturkan semangat yang lebih mulia dari sekedar untuk memperoleh tanda lulus dari negara. dan berakhlak mulia. maupun dari akademisi atau pakar pendidikan sendiri. melainkan agar potensi peserta didik dapat dikembangkan dan setelah mengikuti proses pendidikan dia lebih cerdas. Selain itu. sehingga terkesan bahwa pendidikan sekedar rutinitas belajar. lebih bertanggungjawab. proses pembelajaran lagi. muatan materi dan pembelajaran yang tidak seimbang antara aspek kognitif dengan aspek lainnya. kualitas atau mutu pendidikan yang masih rendah. Dengan kondisi seperti itu. baik dari kalangan masyarakat.

Pelestarian budaya tradisi tidak berarti wujud fisiknya tidak bisa berubah dan berkembang.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional harus dilandasi kebudayaan nasional. Ketidaktercabutan dari akar budaya bukan berarti suatu 'tradisi' harus dipertahankan dengan cara tertutup atau defensif. tradisi justru dipadukan dengan keanekaragaman perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. Demikian juga dalam PP No 29 tahun 1990 tentang Wawasan Wiyatamandala dinyatakan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan kebudayaan.urgent dalam pembentukan karakter bangsa. yang lebih baik dan lebih layak. sehingga betapa pendidikan nasional kita telah tercabut dari akar kebudayaannya. Kesadaran bahwa melalui pendidikanlah dapat diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki suatu bangsa. riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Sebetulnya inti dari pendidikan ada dalam perjalanan hidup manusia karena manusia ingin mencapai hidup yang maju. Namun menurut HAR Tilaar (2000) tidak ada upaya yang jelas dan konkrit baik peraturan-peraturan maupun implementasinya bahwa pendidikan nasional berakar kepada kebudayaan nasional. Ia juga menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan. Dalam hal ini maka pendidikan menjadi komponen penting bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya dengan melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya. di mana nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan tidak sekedar dibicarakan tetapi juga dipraktekkan. Menurut Peursen (1988:11-15) tradisi bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah. Bila membicarakan pendidikan dan kebudayaan sebenarnya telah ada pegangan kuat yakni Undang-undang No. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia 5 . walau dalam tataran ide atau nilai-nilainya patut dipertahankan.

mozaik. sistem peralatan hidup dan teknologi. sistem mata pencaharian. Sebut saja misalnya cabang seni rupa dan seni kriya maka akan ada seni lukis. Kebudayaan merupakan ketegangan antara imanensi dengan transendensi sehingga dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia. organisasi sosial. ornamen. audio arts. tenun. seni pertunjukan maupun seni nonpertunjukan (senirupa/kriya) semuanya dimiliki bangsa Indonesia. gerabah. bahasa. sistem pengetahuan. anyaman. tetapi juga selalu muncul dari arus alam raya itu untuk memiliki alamnya sendiri dan mengubahnya (transendensi). Sebagai sebuah bangsa yang besar diakui bahwa Indonesia memiliki banyak sekali corak dan ragam budaya. dan ukiran. Dari berbagai macam corak dan bentuk budaya itu menurut Koentjaraningrat (1999) ada tujuh unsur kebudayaan universal yakni. logam. patung. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan (imanensi). aktivitas. Dari tujuh unsur itu. suku ini memiliki berbagai cabang seni.menerimanya. Berbagai macam bentuk dan corak seni baik yang modern maupun tradisional. sistem religi. dan audiovisual art . baik seni pertunjukan maupun nonpertunjukkan. Bahkan ukiran-ukiran Minangkabau tidak saja bernilai estetis juga memiliki makna yang tinggi dan berkaitan dengan falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam yang 6 . gerabah. dan kesenian. dan seni ukir. Masing-masing suku di Indonesia memiliki berbagai bentuk kebudayaan baik dalam wujud konsep atau gagasan. menolaknya. seni batik. atau mengubahnya. Salah satu suku bangsa Indonesia itu adalah Minangkabau. khusus kesenian terdapat pula cabang dan bentuk seni yang dimilki Indonesia. anyaman. visual arts. baik seni yang modern maupun yang tradisional. dan benda-benda (artefak). Cabang seni rupa atau seni kriya Minangkabau juga banyak seperti arsitektur.

Motif pucuak rabuang (pucuk rebung/bambu muda) melambangkan waktu muda adalah saat yang baik menuju ke atas (Tuhan dan citacita) tanpa harus banyak cabang. kantor-kantor. Seni ukir Minangkabau dapat dijumpai pada rumah-rumah adat dan rumah-rumah masyarakat. pantun. semuanya menampilkan wujud alam flora. syair. dan rumah ibadah (mesjid dan surau). Menurut Ibenzani Usman (1985) “seni ukir tradisional pada rumah adat Miangkabau. motif yang diambil dari bentuk alam ini melambangkan wajah ceria dari penghuni rumah atas tamu yang datang. melainkan juga sebagai simbol”. akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik (terutama perantau) membuat rumah gadang yang dengan sendirinya rumah tersebut berukir. Falsafah ini dapat dibuktikan dari karya sastra lama. Seni ukir juga dapat dijumpai pada bangunan perkantoran dan hotel baik milik pemerintah maupun bangunan milik swasta yang membuat gonjong (atap runcing ciri khas Minangkabau). Hampir seluruh motif-motif ukiran mempunyai makna yang berkaitan dengan falsafah hidup orang Minangkabau dengan samboyan belajar dari alam. Selain rumah-rumah adat yang memang harus berukir.terbentang untuk dipelajari). semboyan itu sesuai dengan pepatah alam takambang jadi guru. Hal itu berkaitan dengan fungsi status sosial pemilik rumah di tengah masyarakat. 1996). yang tidak berperan sebagai hiasan belaka. Kata-kata yang disusun dalam seni sastra seperti petatah-petitih. yaitu alam (Hakimy. Selain mempunyai nilai falsafah. Bahkan seni ukir 7 . maka penempatan seni ukir Minangkabau mempunyai aturan tertentu. Misalnya motif ukiran sikambang manih (bunga/akar yang cantik). rebung juga bermakna walaupun masih muda namun tetap bermanfaat. gurindam dan kaba bersumber dari kejadian-kejadian yang dekat dengan kita.

Pada awalnya. Walaupun masing-masing daerah tidak sama persis tata letak motif ukirannya. Sikambang manih merupakan julukan untuk gadis cantik yang mulai dewasa. ukiran Minangkabau tidak hanya terdapat pada perabot rumah tangga tetapi lebih banyak dijumpai pada rumah-rumah adat dan bangunan lainya. (Sri Sundari. ada tiga daerah di Sumatera Barat yang menggali dan mengembangkan seni ukir Minagkabau. 1985). Ketiga daerah itu secara kultural disebut dengan luhak nan tuo (daerah yang tua/asal) yakni Kabupaten Tanah Datar. Agak berbeda dengan daerah lain. Ukiran Minangkabau tidak sekedar ornamen hias saja. 2000). Motif sikambang manih diletakkan pada dinding bagian depan rumah adat. Gaya tersebut bukan disebabkan perbedaan motif ornamen akan tetapi pengaruh teknik dan peralatan yang digunakan. Perbedaan itu sebagai kekhasan masing-masing daerah. dan orang kampung dan bahkan negara. namun tetap punya ketentuan penempatan motif ukiran. Masing-masing daerah ini mempunyai style atau gaya masing-masing. Misalnya. dan Kabupaten Limo Puluh Kota. ukiran Pandai Sikek 8 . ia mempunyai makna filosofis dan aturan tata letak. Kabupaten Agam. hal ini bermakna waktu muda periksa diri sendiri terlebih dahulu dan baru memeriksa orang lain. Misalnya motif kaluek paku (relung pakis) bermakna tanggung jawab sosial seseorang di tengah masyarakat baik kewajiban dan hak terhadap anak.Minangkabau tidak saja dijumpai pada bangunan yang ada di Sumatera Barat melainkan juga di luar daerah. (Ibenzani. Motif ini bermakna bahwa si penghuni rumah panyuko tamu nan tibo (suka dengan tamu yang datang) atau sebagai simbol dari keramahtamahan masyarakat dalam menerima setiap tamu yang datang. Waktu muda pakis bergelung ke dalam dan setelah tua bergelung ke luar. kemenakan.

Menurut Ibenzani Usman (1985) ketiga guru atau tokoh seni ukir itu yakni Ramli Dt. Perhatian dari pemerintah diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar berupa pendataan jumlah sanggar dan pengerajin. Dari tiga daerah ini muncul tokoh atau guru yang mengajarkan seni ukir pada murid-muridnya. Kesinambungan seni ukir di Pandai Sikek sekarang ini lebih banyak atas inisiatif masyarakat dan sedikit sekali adanya perhatian dan pembinaan dari pemerintah. Rangkayo Sati lahir 1917 di Pandai Sikek kabupaten Tanah Datar dengan muridnya sebanyak 7 orang. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar tahun 9 . Marzuki Malin Kuniang lahir 1897 di IV Angkek Canduang dengan muridnya berjumlah 5 orang. Untuk saat ini. Beliau-beliau itulah yang pertama sekali mengajarkan seni ukir pada muridnya di sanggar-sanggar ukiran. dan Sabirin Sutan Muncak lahir 1937 di Banuhampu Sungai Puar kabupaten Agam dengan muridnya berjumlah 4 orang. pembinaan keindustrian dan perdagangan. Seni ukir dari kabupaten Lima Puluh Kota hampir-hampir tidak terdengar lagi (punah).Tanah Datar akan tampak lebih runcing karena pengaruh penggunaan pahat layanglayang. Daerah yang masih eksis dan cukup baik dalam mewariskan seni ukirnya pada generasi muda hanyalah Pandai Sikek. Keberlanjutan seni ukir di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar terus berjalan walaupun tidak sebaik pengembangan seni ukir Bali dan Jepara. sanggar seni ukir daerah ini termasuk IV Angkek Candung sudah banyak beralih ke usaha perabot. Sedangkan seni ukir di kabupaten Agam amat sedikit upaya regenerasi. tidak semua daerah itu yang masih menggali dan mengembangkan seni ukirnya.

dan filosofi seni ukir oleh guru pada muridnya pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Karena jika pelatihan dilakukan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan ada kemungkinan yang dilakukan tidak menerapkan prinsip-prinsip ilmu kependidikan. pengetahuan. tetapi juga tidak diwariskan kepada genarasi baru. alangkah baiknya pembinaan dan pelatihan bagi pengukir di Pandai Sikek di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. terjadi kecelakaan pendidikan yang melecehkan peserta didik. Secara umum jika prinsip-prinsip ilmu kependidikan tidak diterapkan tentu proses pembelajaran (pelatihan). terhambatnya bahkan hilangnya kesempatan dan hak-hak pendidikan peserta didik. Pembinaan yang telah dilakukan berupa pelatihan disain mobiler dan diikutsertakan dalam pameran perdagangan.2009 terdapat 4 buah sanggar seni ukir di Pandai Sikek dengan jumlah murid (sekaligus pekerja) sekitar 55 orang. Keyakinan itu berdasarkan masih adanya sanggar seni ukir dan masih ada beberapa generasi muda yang tampak mengukir di sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Sampai saat ini belum ada upaya dinas terkait untuk menelusuri bagaimana model pendidikan atau pelatihan seni ukir sehingga seni ukir Pandai Sikek tatap eksis dan 10 . Bila dilihat dari ilmu kependidikan. dan pewarisan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni ukir bukan saja tidak bernilai budaya. tidak jelas peserta didik harus diberi penguatan. juga tidak mampu memberikan kasih sayang dan kelembutan. serta tidak tahu kapan tindakan tegas yang mendidik dilakukan. Menurut Prayitno (2008) ‘pendidikan tanpa ilmu pendidikan’ akan mengkerdilkan kehidupan pendidikan. Misalnya seorang pendidik atau pelatih yang tidak memahami pilar high-touch (kewibawaan) tentu tidak memahami perbedaan potensi peserta didik. Di sisi lain diyakini bahwa ada bentuk atau model transformasi keterampilan.

dan yang mengajarkan seni ukir itu sekarang adalah murid-muridnya. Ramli Dt.berkembang. seperti membersihkan pekarangan rumah guru. Rangkayo Sati. cupak diganti urang panggaleh (jalan ditukar orang yang lewat. Guru tuo (pakar/ahli) seni ukir Pandai Sikek. Bila hal ini terjadi ada harapan jalan diasak urang lalu. misalnya untuk mengajarkan falsafah cukup dengan diceramahkan dan didiskusikan sambil mengukir. Misalnya seorang yang akan belajar seni ukir harus dengan kesadaran penuh dan disarahkan (diantar lansung) orang tua. ia mempunyai kiek-kiek dalam mengajar seni ukir dan kebiasaan beliau itu tidak seluruh dan sepenuhnya diteruskan oleh muri-mridnya. seperti belajar falsafah motif pucuak rabuang maka murid dibawa ke rumpun bambu. Cara-cara pembelajaran di sanggar tardisional seperti ini tampak spesifik. pola. Dahulu ada tahapan-tahapan dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap murid dalam belajar seni ukir. Bagaimana model. Rangkayo Sati telah meninggal. Menurut informasi dari salah satu murid Ramli Dt. Sekarang ini pemebelajaran tidak dilakukan seperti dulu lagi. Jika hal ini di biarkan terus-menerus ada kemungkinan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau akan punah. takaran diganti oleh si pedagang). dan cara beliau-beliau mengajarkan keterampilan seni ukir pada muridnya belum diketahui. Pada tahap awal murid seni ukir hanya membantu-bantu pekerjaan di sanggar. karena semakin hari semakin sedikit saja generasi muda yang mempelajari seni ukir. Untuk belajar falsafah ukir adakalanya dibawa lansung ke objek. 11 . Pada akhirnya bisa jadi seni ukir Minangkabau tidak lagi dikerjakan oleh putra Minangkabau. terkadang pekerjaan itu tidak berhubung langsung dengan kegiatan mengukir.

Pembelajaran pada sanggar seni ukir diajarkan murid sampai pada mampu menjadi tukang ukir atau mengukir layak jual. Pembelajaran seni ukir pada pendidikan formal telah ditetapkan tujuan yang akan dicapai setiap semester.Dari pengamatan terdapat perbedaan pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional dengan pembelajaran seni ukir melalui persekolahan. INS Kayu Tanam. perlakuan di sekolah formal tidak ditemui pada pendidikan nonformal terutama pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Evaluasi dilakukan pada pertengan semester dan akhir semester. Ada tugas-tugas terstruktur yang diberikan pada peserta didik. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. dari isian kurikulum dirinci ke dalam satuan pembelajaran mingguan (sekitar 17 kali tatap muka). SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. Metode mengajar yang digunakan guru/dosen umumnya ceramah dan demonstrasi. SMK Negeri 8 Padang. dibuatkan jadwal belajar/kuliah. Filosofi motif dan penempatan motif ukiran juga tidak diajarkan pada sekolah formal. Ada beberapa pendidikan formal di Sumetera Barat yang mengajarkan seni ukir yaitu. Pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional tidak hanya melatihkan keterampilan tetapi juga diajarkan falsafahnya. Artinya pada sekolah formal murid tidak dipersyaratkankan untuk menjadi tukang ukir. dilakukan evaluasi atau ujian. Dari pengamatan selintas. Sedangkan di sekolah formal hanya mengajarkan keterampilan mengukir sampai pada batas terpenuhi standar kompetensi atau syarat lulus. dan diberi nilai. SMK Negeri 4 Padang. kepada peserta didik yang telah memenuhi standar kelulusan diberikan nilai berupa angka atau huruf. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. Pembelajaran berlangsung tanpa terikat dengan jadwal yang telah ditentukan dan juga tidak harus 17 12 .

Sebagai buktinya adalah hasil karya pengukir dari sanggar tradisional Pandai Sikek lebih diminati. terutama kemapuan mengukir dan memahami falsafah seni ukir. dan ada yang taraf halus. Evaluasi tidak ada yang terjadwal dan terstruktur sehingga tidak ada nilai akhir berbentuk huruf atau angka. Oleh karena orientasi karya dapat diterima pasar maka pembelajaran pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menyentuh aspek ekonomi. Artinya kegiatan pembelajaran tidak hanya pada aspek keterampilan seni ukir dan pewarisan nilai-nilai budaya.. artinya antara satu murid dengan lainnya dapat berbeda-beda materi yang diberikan walaupun mereka dalam satu ruangan. karena keterampilan yang dimilikinya perlu dan bermanfaat untuk dirinya bahkan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan adalah. misalnya ada yang pada taraf pengenalan alat. Jika dilihat dari hasil akhir. mulai mengukir kasar (tingkat dasar). 13 . Akan tetapi sebagai sebuah pendidikan nonformal maka dalam penyelenggaraannya tetap memiliki sistem pembelajaran yang terlembaga.. Jika karya mereka dapat diterima konsumen. tetapi sekaligus diajarkan enterpreneurship. maka keluaran sanggar tradisional seni ukir lebih terampil dan menguasai falsafah ukiran dibandingkan lulusan sekolah formal. Hasil karya pengukir dari sanggar ukir tradisional lebih diterima pasar atau konsumen. Karya-karya mereka tidak saja disalurkan di daerah Sumatera Barat akan tetapi sampai diberbagai daerah Indonesia bahkan sampai ke Malaysia. maka usaha atau kegiatan seni ukir cukup baik. Dengan demikian murid yang telah menguasai keterampilan seni ukir ia akan mandiri.kali pertemuan atau tatap muka. Murid tidak dikelompokkan dalam bentuk klasikal.

dan Fungsinya. dan arti motif ukiran. bangsa dan negara”.. rumah pribadi. Penelitian ini dilakukan tahun 1999 dan dicetak menjadi buku tahun 2000 yang membicarakan tentang. alat. SP Gustami (2000) meneliti Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Selain menjelaskan motif yang lazim dalam ukiran pada rumah adat Minangkabau. Perubahan itu seiring dengan masuknya pariwisata di Sumatera Barat. Telah ada beberapa peneliti dan penulis yang meneliti tentang seni ukir Minangkabau dan seni ukir daerah lainnya. dan cara yang berorientasi kepada sistem penalaran Minangkabau (alur dan patut). Sri Sundari (2000) meneliti “Seni Ukir Pandai Sikek Dalam Masyarakat Minangkabau yang Berubah” dibahas bahwa ukiran Pandai Sikek tidak hanya untuk rumah adat saja. Dalam disertasi ini hanya membahas tentang teknik yang meliputi tentang penggunaan bahan. toko. keterampilan yang diperlukan dirinya. perabot rumah tangga. tentang pola-pola motif seni ukir Minangkabau. Sehubungan dengan banyaknya aspek yang dapat digali dari seni ukir. Marjani Martamin dan Amir B (1978) meneliti “Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”. (a) sejarah 14 . dalam penelitian ini juga disebutkan nama-nama motif Minangkabau yang tidak ditempatkan pada rumah adat. jenis motif ukiran. Dalam laporan penelitiannya dijelaskan berbagai bentuk motif ukiran yang terdapat pada rumah adat Minangkabau. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan disebabkan motif ekonomi. Ibenzani Usman (1985) Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. sekarang sudah untuk kantor. dan fungsi ukiran pada rumah adat Minangkabau. Penjelasan motif itu terkait dengan nama-nama motif ukiran. Pola. restoran.agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki . masyarakat. maka pewarisan dan pengembangannya sangat diperlukan.. dan cenderamata.

perkembangan seni ukir Jepara mulai dari zaman Belanda sampai zaman orde baru dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kehidupan beragama, (b) peran tokoh-tokoh wanita dalam perkembangan seni kerajinan khususnya seni ukir, seperti peran R.A. Kartini dan Tien Soeharto, (c) proses pelembagaan dan pembauran gaya seni yang berkaitan dengan mebel ukir Jepara, sehingga hadirnya berbagai macam ragam hias, jenis produk, pola penerapan ornamen, teknik mengukir, keragaman disain, dan bentuk mebel yang diproduksi, (d) eksistensi produk mebel ukir Jepara dari lokal menjadi pemasaran global, dan (e) pola perkembangan dan penyebaran yang berkaitan dengan tradisi pewarisan keahlian, pembiasan prilaku perajin, pembinaan dan pengembangan mebel ukir Jepara. Harisman (2001) meneliti “Ukiran Masjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat; Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna”. Dalam tesis ini dijelaskan bahwa bentuk ukiran pada masjid tradisional di Minangkabau tersusun dari kesatuan, kompleksitas, dan intensitas yang merujuk pada pola ukiran rumah adat. Dijelaskan juga bahwa fungsi ukiran merupakan media pendidikan, media pengalaman estetis, pengintegrasian masyarakat, dan fungsi keindahan sebagai kebutuhan masyarakat. Penjelasan pada makna dikaitkan pada persoalan kearifan tradisional dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang tersimpul sebagai makna denotatif dan konotatif. Suardi (2000) meneliti “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid di Kabupaten Kerinci”. Temuannya menjelaskan bahwa ukiran pada bangunan Masjid di Kerinci menggunakan bentuk motif tumbuh-tumbuhan, geometris dan bentuk gabungan tumbuh-tumbuhan dan geometris. Penyusunan dengan pilin ganda, lingkaran, simetris dan asimetris. Penampang ukiran segi tiga, datar dan gabungan segi tiga, datar dan miring. Penggolongan nama motif berasal dari nama tumbuh-tumbuhan,

15

binatang dan alam benda, perwujudan merupakan stilirisasi dan meniru sifat asal nama motif tersebut. Makna motif dikaitkan dengan adat, agama, sosial budaya, dan sosial masyarakat pendukungnya. Ukiran menggunakan teknik ukiran tembus, rendah dan utuh. Nofrial (2009) meneliti “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci; Kajian Estetika dan Budaya”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa secara budaya Kerinci dikelompokkan atas hulu, tengah dan hilir, masing-masingnya memiliki rumah larik yang berukir. Daerah tengah dan hilir lebih kaya seni ukirnya dibandingkan daerah hulu, baik dari jumlah motif, warna dan teknik penggarapan. Akan tetapi motif ukiran mereka sama yakni, sama-sama mengambil bentuk tumbuh-tumbuhan dan geometris, serta unsur atau nama binatang. Dalam hal teknik pembuatan juga hampir sama, yang menghasilkan bentuk ukiran garis, ukiran rendah, ukiran sedang, dan ukiran tinggi, serta sama-sama tidak terdapat ukiran tembus. Beberapa hasil penelitian di atas tidak ada yang membahas lansung tentang model pendidikan atau cara mengajarkan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya. Oleh karena belum adanya penelitian dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan bagaimana seni ukir diajarkan, maka perlu adanya penelitian tentang model pendidikan seni ukir. Hal ini agar seni ukir Minangkabau khususnya seni ukir Pandai Sikek tidak hilang dan jika perlu dapat berkembang. Penelitian ini nanti diharapkan dapat mengukapkan cara mengajarkan seni ukir baik dari segi keterampilan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya kepada generasi muda. Model pendidi seni ukir pada sanggar tradisional yang ada di Pandai Sikek menjadi menarik dan perlu untuk diteliti, karena pewarisan seni ukir daerah ini tetap eksis dan lebih baik dari daerah lain di Sumatera Barat. Bagaimana model yang dilakukan dalam pewarisan seni ukir di Pandai Sikek

16

sehingga dapat bertahan menjadi bahan perbandingan untuk daerah-daerah lain. Pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek juga dapat menjadi model dalam pengembangan cabang-cabang seni lainnya. B. Identifikasi Masalah Dari konteks penelitian yang telah dilakukan tentang seni ukir dan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ternyata banyak persoalan dan masalah yang timbul. Berbagai permasalahan itu terkait dengan model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek Sumatera Barat. Agar permasalahan itu lebih fokus pada pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional Pandai Sikek, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut; 1. Sanggar seni ukir di Pandai Sikek telah ada semenjak beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini ada 4 sanggar seni ukir yang masih aktif dengan sekitar 55 orang murid. Guru yang pertama mengajarkan seni ukir telah meninggal dunia, pendidikan seni ukir dilakukan oleh sebahagian generasi ke dua yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Bahkan ada juga generasi ketiga yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Apakah sama model pendidikan yang diberikan oleh semua guru seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah model pendidikan yang diterima ketika mereka jadi murid sama dengan yang diberikan ketika mereka jadi guru seni ukir? Adakah terdapat inovasi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Guru atau pendidik pada sekolah formal telah dibekali dengan ilmu kependidikan, dan bahkan dilakukan penyegaran dengan berbagai pelatihan, penataran, workshop tentang cara mendidik. Guru bahkan juga dituntut untuk

17

ada teknik evaluasi. Sedangkan guru seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak tamatan lembaga kependidikan. Dalam pendidikan formal dilakukan evaluasi guna menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Guru memberikan materi dalam beberapa semester agar murid menguasai materi sehingga terampil dalam mengukir. Ada acuan evaluasi. Pada sanggar seni ukir tentu juga ada kurikulum dan tahapan-tahapan tertentu sehingga murid mampu menjadi ahli ukir. Pada sanggar seni ukir tradisional Pandai Sikek tentu ada bentuk evaluasi yang diberikan sehingga murid dapat diberikan materi 18 . Pada tahap awal pada pendidikan formal murid diperkenalkan dengan bahan dan alat. kemudian mengukir dasar. Bagaimana model kurikulum seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah ada pentahapan-pentahapan materi atau kompetensi tertentu yang diberikan guru? Apa saja materi pelajaran seni ukir yang diberikan guru pada tahap awal? Kapan materi filosofi seni ukir diberikan pada murid? 4. Materi pendidikan seni ukir pada sekolah formal telah dituntun dengan kurikulum dan silabus. Bagaimana model guru pada sanggar tradisional di Pandai Sikek mentransformasi keterampilan dan ilmu seni ukir pada muridnya? Sejauhmana komponen high-touch dan high-tech diterapkan pada pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 3. dan setelah itu baru pemberian tugas-tugas. Hakikatnya evaluasi untuk mendapatkan sejauh mana penguasaan murid atas materi yang telah disajikan. dan waktu pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan diawal. Pada pendidikan formal ada kompetensi tertentu yang harus dicapai atau dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi (KBK). dijelaskan berbagai motif. dipertengahan dan pada akhir kegiatan.profesional terutama dalam ilmu kependidikan.

dan post). while. (2) materi-materi ajar yang diberikan. Bagaimana bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan setiap tahapan pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek? 19 . Bagaimana model evaluasi seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Diyakini masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut dikemukakan dan dapat diteliti sehubungan dengan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek.selanjutnya. 1. Namun demikian agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaikbaiknya maka perlu dilakukan pembatasan masalah. D. Bagaimana pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. (1) tahapan proses pembelajaran (pre. (3) penerapan high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran. Fokus Masalah Berdasarkan tinjauan tentang pentingnya pewarisan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya dan upaya mentransformasikan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya banyak permasalahan yang muncul. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut. Dari sekian banyak permasalahan tersebut maka penelitian ini difokuskan pada bagaimana model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek yang tercakup pada. dan (4) evaluasi hasil belajar untuk dapat ditentukan sebagai pengukir layak jual. C.

Untuk melihat penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 1. Pemerintah Sumatera Barat (Dinas Pendidikan. yakni. mengembangkan dan membina aset budaya khususnya seni ukir daerah lain yang hampir punah pada beberapa daerah di Sumatera Barat. Pemerintah Tanah Datar (Dinas Pendidikan. Dinas PERINDAG. 1. dan Dinas BUDPAR) dalam membina dan mengembangkan seni ukir Pandai Sikek sebagai salah satu aset budaya. Bagaimana bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek? E. 20 . Dinas PERINDAG. Sejauhmana penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 4. 3. 4. Untuk mengungkap bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan pada setiap tahapan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 2.3. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi. dan Dinas BUDPAR) sebagai salah satu model dalam menumbuhkan. 2. F. Untuk mengungkap bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Tujuan Penelitian Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Untuk mengetahui pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek.

dan teori yang berkaitan dengan fokus penelitian. Lembaga pendidikan formal Sumatera Barat khususnya baik tingkat SLTA maupun perguruan tinggi yang mengajarkan seni ukir sebagai sebuah model perbandingan dalam memberikan materi seni ukir. (4) seni dan pendidikan seni. dan (5) model pendidikan. Jaminan itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pendapat. (2) hakikat pembelajaran. secara berturut-turut dikaji tentang. Hakikat Pendidikan Negara Indonesia menjamin seluruh rakyatnya secara konstitusi untuk mendapat pendidikan. 1. 6. Isi dari amanat pembukaan UUD 1945 itu adalah bahwa negara berupaya untuk mencerdaskan 21 . 4. hasil penelitian. Untuk itu. melainkan sebagai landasan pijak yang dikaitkan antara fokus penelitian dengan variabel-variabel pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional.3. Bagi peneliti-peneliti selanjutnya baik dalam bidang seni maupun dalam pendidikan nonformal. (1) hakikat pendidikan. Teori-teori yang disajikan tidak dimaksudkan untuk menguji kebenarannya. Bagi peneliti sendiri sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan sekaligus sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Doktor bidang ilmu pendidikan pada Pasca Sarjana UNP. Lembaga pengelola pendidikan nonformal sebagai salah satu model dalam membina dan mengembangkan seni tradisional. (3) kebudayaan Minangkabau. 5.

kepribadian. Pendidik berkewajiban 22 . kecerdasan. akhlak mulia. Dari pengertian pendidikan ini ada beberapa hal yang perlu dipahami.kehidupan bangsa. Dengan demikian. murid harus dipandang sebagai organisme yang sedang berkembang dan memiliki potensi. pengendalian diri. Dengan demikian. nonformal. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan harus memperhatikan proses belajar guna mencapai hasil belajar. Untuk mewujudkan amanat pembukaan UUD 1945 tersebut maka dibuatkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendidikan agar rakyat Indonesia dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan. Artinya proses pendidikan itu harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning). Proses pendidikan itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Kedua suasana belajar dan pembelajaran diarahkan dalam upaya mengembangkan potensi murid. Upaya ini tentu dengan harapan anak bangsa Indonesia pada suatu saat dapat bersaing dan bersanding dengan bangsa lain dalam artian “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Kesadaran yang tinggi dari founding father menggambarkan bahwa begitu pentingnya arti pendidikan bagi bangsa Indonesia. Dalam pasal 1 ayat 1 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan. keterampilan yang diperlukan dirinya. dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara seimbang. berarti proses pendidikan (formal. Pertama pendidikan adalah usaha sadar yang terencana. bangsa dan negara”. masyarakat. dan informal) bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan. tetapi proses yang bertujuan.

tidak sekedar menjejalkan materi ajar atau memaksa mereka dapat menghafal data dan fakta. karena orang tua dapat melakukan pewarisan budaya kepada anaknya (Ansyar. tetapi juga merupakan suatau cara untuk mentransformasikan kebudayaan masyarakat itu”. keterampilan. akhlak mulia. dan sikap orang tua kepada anak-anak mereka. pengembangan kecerdasan intelektual. 1989). kepribadian. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap. serta pengembangan keterampilan dan kreativitas murid. dan sikap. Searah dengan itu. Pewarisan ‘budaya’ itu tidak saja dimaknai sebagai orang tua biologis kepada anak-anak mereka. generasi selanjutnya. pengendalian diri. melainkan juga dilakukan oleh generasi yang lebih tua kepada generasi muda dalam sebuah komunitas melalui interaksi keseharian. Taba (1962) mengemukakan tiga fungsi utama pendidikan. yakni. keterampilan. (a) pendidikan sebagai 23 . Hal ini berbeda dengan orang primitif yang mendidik anaknya tanpa mendirikan intitusi pendidikan. emosional. masyarakat. Menurut Ansyar (1989:2) “pendidikan bukan saja dimaksudkan masyarakat untuk mewariskan kebudayaan kepada anak-anak generasi penerus mereka itu.mengembangkan potensi yang dimiliki murid. Kemudian ketiga pengertian pendidikan dinyatakan menjadikan murid memiliki kekuatan spritual keagamaan. kecerdasan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Menurut Suprioyono (2006) bahwa pendidikan pada mulanya adalah upaya mewariskan pengetahuan. bangsa dan negara. Transformasi kebudayaan itu tidak saja harus dari orang tua biologis kepada anaknya akan tetapi bisa dari orang yang telah mengetahui. Bila dilihat secara antropologis dari dau pendapat ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas pendidikan yang dilakukan suatu masyarakat merupakan kegiatan kebudayaan dalam upaya untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan.

sebab pendidikan ternyata tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup masyarakat. Orang tua dan peserta didik tidak puas dan memadai saja pendidikan persekolahan. Pernyataan Surjadi ini tidak sepenuhnya benar. Namun tingkat ketergantungan sebahagian besar masyarakat Indonesia dengan persekolahan masih tinggi. dan melukis. Menurut Tilaar (2004:54) bahwa “pendidikan tidak dibatasi sebagai shooling. Selain itu ada juga orang tua yang menggugat penyelenggaraan pendidikan persekolahan dengan mendatangkan 24 . Berangkat dari tiga fungsi yang dikemukakan oleh Taba. Orang tua mengikutkan anak-anaknya pada lembaga-lembaga baik untuk tambahan materi ajar persekolahan seperti matematatika. maka kegiatan yang terdapat di sanggar seni ukir tidak lepas dari kegiatan pendidikan. (b) pendidikan sebagai alat bagi usaha transformasi kebudayaan. tari.pemelihara dan penerus kebudayaan. hal ini dapat dilihat bahwa ada kesadaran masyarakat untuk mendapat pendidikan yang lebih baik dan bermutu dari hari ke hari. Pada akhirnya setiap individu murid yang telah belajar mengukir dapat berguna bagi diri dan masyarakatnya. hal ini tidak lain karena ketergantungan masyarakat pada lembaga pendidikan sekolah atau pendidikan formal masih tinggi. Artinya bahwa terdapat fungsi pemeliharaan kebudayaan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek di mana seni ukir masih ajeg sampai sekarang. fisika. dan bahasa Inggris maupun non materi ajar seperti kursus piano. Dalam mewariskan kemampuan seni ukir terus dilakukan transformasi mengukir dari guru pada muridnya baik yang berkaitan dengan keterampilan maupun falsafah seni ukir. Sebagaimana dinyatakan oleh Surjadi (1994) bahwa umumnya masyarakat kurang menghargai pendidikan masyarakat yang diselenggarakan secara lokal. atau dengan kata lain merupakan sebahagian dari kebudayaan”. dan (c) pendidikan sebagai alat bagi pengembangan individual anak.

baik yang berbasis agama maupun umum. Pendidikan nonformal seperti kursus menjahit dan kursus montir juga diminati masyarakat. isi program. nonformal. social education (Mustofa Kamil. informal. dan sumber belajar. (Mustofa Kamil. Sedangkan pendidikan informal disebut pendidikan sepanjang hayat yang tidak bisa dipisahkan dengan sistem pendidikan formal dan nonformal. lifelong education. Untuk pendidikan nonformal di Indonesia berbentuk kursuskursus singkat (non-ijazah) dan pelatihan-pelatihan. melalui kurikulum. Memperhatikan Undang-Undang Sisdiknas ini maka yang termasuk pada pendidikan formal atau juga dinamakan pendidikan persekolahan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai pada pendidikan tinggi baik yang negeri maupun swasta. prasarana. Undang-Undang No. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pendidikan nonformal seperti mass education. Menurut Hamojoyo (1973:23) “pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontiniu di luar sistem persekolahan. Dengan demikian. kelompok dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial guna meningkatkan taraf hidup di 25 . 2009). … untuk membimbing individu. 2009). proses penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir seperti di Pandai Sikek termasuk pada bentuk pendidikan nonformal. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa ada tiga jalur pendidikan yakni jalur pendidikan formal. sasaran didik. learning society. yang didalamnya terkandung makna bahwa setiap pengembangan pendidikan nonformal perlu perencanaan program yang matang. sarana. adult educaton.guru atau pendidik ke rumah seperti kasus home schooling. out-of-school education. termasuk belajar mengukir. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya memiliki suatu sistem yang terlembagakan.

isi bersifat individual/keluaran. Ketiga perlakuan terhadap murid bersifat individual walaupun penyelenggaraan dalam suatu ruangan. kontrol bersifat membangun diri/demokratis. Pertama waktu penyelenggaraan bersifat jangka pendek artinya pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak sama dengan sekolah formal (tiga tahun). tampak bermacam-macam model pendidikan akan tetapi hakikatnya satu. sarana.bidang materi. waktunya relatif singkat/berulang/paruh waktu. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal penyelenggaraannya terlembaga dalam sebuah sistem yang terencana. dan prasarana untuk mewujudkan kesejahteraan hidup baik materi. sosial dan mental dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial”. artinya mempunyai kurikulum. maka ada beberapa tujuan pendidikan nonformal yang searah dengan kegiatan sanggar seni ukir. Kedua bidang ilmu yang diajarkan punya spesifik yaitu seni ukir lebih khusus seni ukir Minangkabau. sosial dan mental peserta didik. Bila merujuk pendapat ini. Berdasarkan pendapat ini maka kegiatan-kegiatan yang terorganisir dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peserta didik seperti sanggar seni ukir di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. sistem rekrutmen siswa menentukan syarat masuk. Menurut Prayitno (2008:1) “Pendidikan itu 26 . Pendapat ini dapat dipakai untuk melihat sejauh mana kelembagaan dan perencanaan penyelenggaraan pendidikan pada sanggar tradisional seni ukir di Pandai Sikek sebagai sebuah intitusi pendidikan. Menurut Mustofa Kamil (2009) tujuan dari pendidikan nonformal bersifat jangka pendek dan spesifik bukan asas kepercayaan. Kurikulum pendidikan nonformal bersifat fleksibel memperhitungkan kondisi daerah (masyarakat). Bila dilihat dari segi bentuk dan karakternya. Kemudian kepada murid diberikan kepercayaan untuk dapat kontrol diri sendiri guna membangun diri.

yaitu upaya untuk memuliakan kehidupan manusia”. Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk memuliakan harkat martabat manusia. (Prayitno. Menurut Ansyar (1985) . dan pelaksana pendidikan itu sendiri. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah dari manusia. sarana... melakukan analisa secara jernih. Dengan demikian manusia memiliki potensi untuk berkembang dan dikembangkan kepada hal-hal yang bersifat positif dan negatif. 27 . Ia dapat sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek pendidikan dan dapat berperan sebagai pelaksana pendidikan (pendidik/guru) dan sekaligus sebagai peserta didik (siswa). dan secara matang merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya..bermacam-macam akan tetapi pada hakikatnya satu. Memperhatikan pendapat Prayitno ini.. Proses pendidikan memungkinkan potensi seseorang dapat dikembangkan secara optimal sehingga ia dapat berkembang secara utuh dan pada akhirnya dapat eksis di tengah masyarakat dan berhasil menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. 2008). bagi pembentukan manusia yang dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. oleh manusia dan untuk manusia. kebutuhan individu untuk hidup layak . Dalam hal pendidikan manusia sekaligus sebagai sumber. yang jelas adalah pendidikan dapat memenuhi semaksimal mungkin keinginan masyarakat. serta dengan tenang menghadapi setiap persoalan atau masalah. maka diperlukan adanya proses pendidikan yang menyentuh terhadap hakikat kemanusiaan itu sendiri. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa salah satu ciri keberhasilan pendidikan dalam mematangkan pribadi adalah apabila seseorang tersebut dapat hidup layak dan baik. maka manusia dalam konteks pendidikan merupakan unsur terpenting. Agar manusia cenderung berkembang ke arah perilaku yang positif atau baik.

di antaranya. setan. Kegiatan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. hewan. dan Kami angkat mereka di darat dan di laut. a. Kami telah memuliakan anak cucu Adam. dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik 28 . Sebegitu pentingnya manusia dalam keterlibatannya pada perencanaan. Belum banyak kajian yang menjangkau hakikat manusia secara utuh dalam pendidikan. Kajian-kajian para pakar tentang manusia dalam kaitan dengan pendidikan pada umumnya masih berkisar mengenai manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya. Jika diurut dan dikemukakan sebenarnya sudah banyak kajian pakar tentang manusia dan pendidikan. air. Pemikiran itu belum menjelaskan secara penuh harkat martabat manusia. padahal harkat dan martabat manusia itulah yang benar-benar membedakan manusia dengan makhlukmakhluk lain. tumbuhtumbuhan. jin. Dan sungguh. informal. ia dapat sebagai objek dan subjek. Manusia dalam hal ini peserta didik dan guru menjadi amat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. diri sendiri dan sebagai makhluk sosial. proses. Harkat dan Martabat Manusia Ada banyak makhluk yang diciptakan Tuhan seperti. maka perlu dibahas dan dikaji hakikat manusia. Kemulian dan kesempurnaan manusia tidak hanya pernyataan manusia saja akan tetapi banyak dijelaskan tuhan dalam firmaNya. manusia. batu. baik sebagai makhluk ciptaan tuhan. Akan tetapi manusialah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. dan malaikat. dan menentukan keberhasilan pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal. dan nonformal.Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu ada yang berbentuk formal. api.

Mempedomani pendapat ini maka pernyataan bahwa ‘pendidikan memanusiakan manusia’ tidaklah tepat. dan nafsu. Menurut Prayitno (2008) bahwa kebutuhan dan pengembangan manusia dari. Prayitno (2008:19) menyatakan bahwa hakekat manusia adalah makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. khalifah di muka bumi. dan cipta. penemuan sendiri. Selain memandang sisi keduniaannya manusia juga merancang kehidupan akhiratnya. paling tinggi derajatnya. terutama kemampuan kreativitas. Sehingga dengan bekal itu manusia mampu merancang sendiri segala kebutuhannya. makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maksudnya pemusatan pengembangan potensi individu. (QS 17: 70) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. karsa. sebab sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik (murid pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek) sebenarnya telah sempurna dan mulia. John Dewey dengan gerakan progresifnya mengingikan peranan yang lebih kreatif dari sekolah untuk pengembangan individu. Akan tetapi potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik perlu dikembangkan. karena manusia tidak sekedar punya kebutuhan akan tetapi dengan akalnya mampu merancang kebutuhannya yang sekarang dan masa depan. Keseluruhan pandangan ini menjadikan manusia memiliki harkat dan martabat. manusia dibekali Tuhan dengan akal. untuk. hati. Selain dari kesempurnaan fisik. kebebasan berpikir. Berangkat dari pendapat di atas bahwa 29 . (QS 95:4). diasah dan dimatangkan. Manusia juga punya budi nurani yang menjadikan manusia punya rasa. serta pengembangan potensi fisik dan mental (Ansyar. Sejalan dengan itu.dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. 1989). dan pemilik Hak Azasi Manusia (HAM). dan oleh manusia sendiri.

maka manusia terus berusaha mengembangkan kehidupannya di atas bumi. Kreativitas murid-murid pada bidang seni diarahkan pada kegitan mengukir. Sedangkan modal hak asasi manusia dipenuhi melalui saling pengertian. Tujuan tersebut adalah kesempurnaaan manusia sesuai dengan 30 . mensejahterakan dan membahagiakan. Menurut Nasution (1995:49). (4) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Implementasi dari lima konsep dasar yang selalu melekat pada dirinya. 2008:19). Modal keimanan dan ketaqwaannya ditunaikan melalui peribadatan yang tulus dan ikhlas dalam mencapai redhaNya. saling memberi dan saling menerima serta saling melindungi. akan mencakup harkat dan martabat manusia.pendidikan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek merupakan kegiatan pengembangan potensi diri murid. Kajian tentang hakikat manusia secara menyeluruh. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa dari awal penciptaan manusia sampai dengan perjalanannya kembali ke hadapan sang pencipta. yaitu bahwa manusia adalah (1) makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. tujuan pendidikan pada dasarnya mengacu pada tujuan hidup manusia. kelima butir konsep dasar harkat martabat manusia itu tetap melekat pada dirinya. Adanya ketinggian derajat ditampilkan melalui upaya menjaga kehormatan dan menolak hal-hal yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaannya. (5) pemilik hak-hak asasi manusia (Prayitno. (3) khalifah di muka bumi. Kekhalifahan diselenggarakan melalui penguasaan dan pengelolaan atas sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam alam yang nyaman dan tenteram. (2) makhluk yang paling tinggi derajatnya. Bekal kesempurnaan dan keindahannya diwujudkan melalui penampilan budaya dan peradaban yang terus berkembang.

Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan dimensi kemanusiaannya. sebagai diri sendiri. Hal ini sejalan dengan salah satu harapan PBB (UNESCO. Menurut Prayitno (2008:21) dimensidimensi itu berkaitan dengan manusia sebagai hamba tuhan. Dengan teraktualisasikan harkat dan martabatnya. (4) dimensi kesusilaan. dan (5) dimensi keberagamaan. 1996) bahwa pendidikan untuk semua. Selajan dengan itu. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemudian diyakini bahwa pendidikan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan agar manusia dapat memelihara kelanjutan hidupnya (survival). maka hakikat manusia sangat perlu diketahui guna mencapai tujuan pendidikan. Dimensi-dimensi itu adalah (1) dimensi kefitrahan. (2) dimensi keindividualan. 31 . Mukhtar (20001:7) menyatakan bahwa pembahasan tentang tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan tentang tujuan hidup manusia sesuai dengan hahikat kemanusiannnya. b. learning to live together. Berkaitan dengan pendidikan. Dengan mempedomani dimensi ini maka pembelajaran pada sanggar seni ukir akan menjadi lebih baik sebab proses pendidikan didasari dengan pemahaman manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. bermartabat dan membahagiakan. (3) dimensi kesosialan. manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. yaitu kehidupan yang mulia. to live with others. dan sebagai makhluk sosial.harkat dan martabat serta ketinggian derajat yang dimilikinya. Dimensi itu dalam upaya pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya. Panca Daya Selain dari konsep dasar tentang harkat dan martabat kemanusian maka ada beberapa dimensi yang melekat pada manusia.

dan/atau lingkungan. orang lain. Daya karsa merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu secara dinamis bergerak dan satu posisi ke posisi lain. Daya cipta bersangkut paut dengan kemampuan akal. (4) daya rasa. dan fungsi otak. manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan. Produk-produk yang berupa barang-barang konsumsi. Daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri. untuk berubah dan keluar dan kondisi status quo. ini seringkali disebut sebagai komponen kognitif pada diri individu. (3) daya karsa. produk-produk teknologi dan seni. yaitu: (1) daya taqwa. Kajian panca daya ini dapat dijelaskan bahwa. (2) daya cipta. pikiran. dan lebih berarti baik dunia maupun akhirat maka manusia juga dibekali dengan kekuatan atau daya pengembangan. Kemampuan atau keinginan berbuat dan semangat (termasuk di dalamnya prakarsa) merupakan isi daya karsa. berbagai jenis pelayanan dan penampilan. produk keilmuan. Daya cipta. Hal-hal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk ke dalam daya rasa. dari 32 . Daya karya juga melahirkan produk yang paling sederhana sampai yang paling canggih. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya. Untuk memungkinkan perkembangan individu ke arah yang dimaksud itu. yang disebut panca daya. daya taqwa merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan dan Tuhan Yang Maha Esa. baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. dengan penekanan lebih besar pada unsur-unsur kreativitas. untuk berkembang. fungsi kecerdasan. Daya rasa mengacu kepada kekuatan perasaan atau emosi dan sering disebut sebagai unsur afektif. dan (5) daya karya. lebih sempurna.Menurut Prayitno (2008:26) guna merancang hidupnya yang lebih baik.

termasuk dalam hal ini produk seni ukir. panca daya sering dimanifestasikan sebagai kemampuan dasar yang disebut intelegensi spiritual. 2000:21). dimensi rasional. karena merupakan modal dasar kemanusiaan yang sudah dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan bahkan sejak ia masih berada dalam rahim ibunya. daya-daya itu sangat diperlukan manusia dalam menghasilkan berbagai produk baik yang modern maupun yang tradisional. dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakat (Tilaar. Dapat disimpulkan bahwa. baik untuk komersil maupun untuk pewarisan nilai budaya. Menurut Waras Kamdi (2008) dalam paradigma pendidikan Indonesia manusia tidak dipandang sebagai alat produksi tetapi harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh. dan intelegensi instrumental. Sejalan dengan itu Prayitno (2008) menyatakan bahwa panca daya itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan.yang tradisional sampai yang modern. Dalam kajian dewasa ini. Menurut Kavlan (2000) dengan daya karya manusia menghasilkan berbagai produk baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Kegiatan mengukir di sanggar tradisional di Pandai Sikek merupakan salah satu bentuk kegiatan daya karya manusia. yang mandiri. intelegensi emosional. Dengan demikian pendidikan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek perlu memperhatikan harkat dan martabat manusia yang mengandung lima dimensi kemanusiaan dan pancadaya. Modal dasar ini yang diarahkan dalam pembetukan manusia yang lebih baik dan 33 . Manusia yang utuh itu sendiri dalam paradigma baru pendidikan Indonesia adalah yang berfikir kreatif. baik untuk kebutuhan pribadi maupun yang komersial. Mempedomani ini betapa pentingnya memahami hakikat panca daya terutama dalam penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek.

Bila dicermati pandangan Meyer ini.. termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Dari hasil belajar manusia akan berilmu dan ilmu yang dibarengi dengan iman menjadikan derajat kehidupannya menjadi lebih tinggi. Gage (1984) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. hal ini terlihat dari definisi belajar yang diungkapkannya. Manusia seutuhnya adalah sosok individu yang harkat dan martabatnya terwujudkan secara penuh melalui pengembangan hakikat manusia dengan kelima dimensi kemanusiaannya melalui pengaktifan panca daya secara optimal. 2. karena tidak ada pendidikan tanpa belajar. Hakikat Belajar Pembahasan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar. Perintah Iqra’ (baca!) dalam konsep Islam bermakna belajar. Sejauh mana komponenkomponen ini diterapkan akan di lihat pada objek penelitian. Menurut Aunurrahman (2009) belajar merupakan kegiatan penting setiap orang. Pandangan para ahli tentang konsep belajar cukup beragam. nonformal. dan (3) belajar sebagai konstruksi pengetahuan. dan informal) ke depan haruslah dialihkan pada pemuliaan harkat martabat manusia yang dikemukakan. (2) belajar sebagai pemerolehan pengetahuan.. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Mujadalah ayat 11: “. artinya untuk mendapatkan dan memahami suatu makna hanya didapat dengan cara belajar. Meyer (1999) melihat belajar dan tiga pandangan yakni (1) belajar sebagai penguatan respon..niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orangorang yang beriman dan berilmu”. Paradigma pendidikan (formal. tanpak bahwa ada 3 paradigma bagaimana konsep belajar diformulasikan.lebih utuh. Ketiga paradigma ini adalah paradigma 34 .

informasi dan faktor-faktor lain. memilih. dan konstruktivistik. 35 . Orang dikatakan belajar apabila ada perubahan perilaku yang diakibatkan dan dampak stimulus dan respon sehingga menjadi suatu kebiasaan (Schuman. Sedangkan paradigma konstruktivisme melihat pengetahuan tidak terlepas dari proses pembentukan (konstruksi) yang terus menurus berkembang dan berubah. Konsepsi utama teori ini adalah stimulus dan respons (S-R) sebagai dasar adanya perubahan perilaku. Oleh karena belajar manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lain. Menurut Muhibbin (2005) belajar amat penting artinya bagi perkembangan dan kehidupan manusia. akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman baru. dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk mempertahankan kehidupannya dalam persaingan antar bangsa. stimulus yang diterima disesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman sebelumnya. karena belajar juga manusia dapat mengeksploitasi. Memperhatikan hal ini maka proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dan meneksploitasinya sampai mereka memiliki keterampilan sendiri. pengolahan informasi. retensi. Proses pembelajaran itu sendiri harus berorientasi kepada pengembangan segenap dimensi kemanusiaan. 2009). 1996). Menurut Piaget (1971) pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir.behavioristik. Menurut pandangan behavionistik belajar adalah perubahan perilaku peserta didik. Bila dikaitkan dengan pembelajaran yang terjadi di sanggar ukir maka ketiga paradigma ini menjadi dasar bagi pembentukan peserta didik. (Aunurrahman. kognitivistik. Pandangan kognitivisme belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan.

L. Jadi. Sebaliknya pembelajaran yang tidak terencana sulit mendapatkan hasil maksimal. Teori belajar yang dianggap pas untuk ini adalah perpaduan antara behaviorisme dan kognitivisme. dan keterampilan serta hirarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas. Tugas guru adalah menyelenggarakan proses 36 . Seorang murid yang belajar dalam situasi baik dan kondisi yang disiapkan akan mendapat hasil maksimal. kondisi eksternal yaitu situasi belajar yang secara sengaja yang diatur oleh pendidik. Menurut Gagne cara berpikir seseorang tergantung pada keterampilan apa yang telah dimilikinya. dalam membahas model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek akan bermanfaat sekali paradigma-paradigma teori belajar yang dikemukan di atas. akan terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu. Thorndike) bahwa jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang ini tidak akan berguna bagi generasi yang akan datang.Menurut Muhibbin (2005) bahwa tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. Kondisi itu menurut Aunurrahman (2009) adalah kondisi internal menyangkut kesiapan peserta didik. Lebih lanjut dijelaskan bahwa belajar tidak suatu yang terjadi secara alamiah. Berdasarkan pendapat ini maka perkembangan berpikir kompleks dan baik tidak akan mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa proses belajar. 1980) menjelaskan pendapat pakar teori S-R Bond (E. Artinya perkembangan murid akan didapat dari pembelajaran yang terencana dengan baik. bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal tentu tuntutan terhadap tugas guru/ pendidik menjadi amat penting. Dalam hal ini (Howe. Dengan demikian kualitas perkembangan manusia amat tergantung dari apa dan bagaimana ia belajar.

Hal ini sesuai dengan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesi. Peran Guru Menurut Imam Barnadib (1996). terutama dalam perlakuannya terhadap peserta didik (murid). Berdasarkan pendapat Imam Barnabib. dan dinamis. Ada dua kandungan pokok yang terdapat pada hubungan pendidikan itu. a. yakni high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). Agar potensinya dapat berkembang secara serasi dan maksimal. sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan etika pendidikan yang menyatakan: bahwa tanggungjawab puncak pendidik berada di dalam proses pembelajaran. maka sebenarnya tujuan pendidikan syarat dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Hubungan yang harmonis dan kondusif antara guru dengan murid memungkinkan pengembangan potensi murid lebih tinggi. Interaksi edukatif antara guru dengan murid akan tejalin dengan harmonis apabila pemahaman guru terhadap tujuan pendidikan baik. guru memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi peserta didik agar mampu kreatif. maka guru harus dapat menerima siswa secara utuh (phisik dan psikis) dalam menjalin intraksi edukatif dalam proses pembelajaran.pembelajaran agar pada diri peserta didik berkembang suasana belajar. Pemahaman guru terhadap hakikat manusia sebagai peserta didik menjadi penting dalam proses pembelajaran. karena tidak terdapat pada kegiatan lain. oleh karena itu peran seorang guru menjadi sangat penting. Sejauh mana pemahaman seorang guru terhadap tujuan pendidikan akan berdampak pada penampilannya dalam mengajar. selain interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Sehubungan dengan komponen-komponen pendidikan tersebut Prayitno (2005 : 15) mengemukakan bahwa interaksi antar komponen pendidikan tersebut terjadi dalam suatu hubungan yang unik. Guru tidak saja 37 .

Mempedomani pendapat dua pakar ini maka seorang guru seni ukir selayaknya harus memahami potensi yang ada pada muridnya. Peters (1981) mengemukakan bahwa tugas dan tanggungjawab guru antara lain adalah memberikan bimbingan kepada peserta didik melalui penjabaran kurikulum sehingga maknanya dapat mempengaruhi dan terinternalisasikan dalam diri peserta didik dalam rangka pengembangan minat. minat dan bakatnya. Menurut Suke Silverius (2003). mengembangkan keingintahuan. keunikannya. imajinasi. Minat dan bakat murid yang belajar pada sanggar seni ukir mestinya mampu dikembangkan guna mencapai sasaran. Menurut Nana Sujana (2002) bahwa dalam proses pembelajaran selain tugasnya sebagai pendidik. guru juga bertugas untuk memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga tujuan belajar akan tercapai dengan maksimal. akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing. kegiatan belajar mengajar harus berorientasi kepada pengembangan dimensi-dimensi kemanusian peserta didik. dan latarbelakangnya. perbedaannya. Hal ini antara lain dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip belajar yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar dengan melakukan dan mengembangkan kemampuan sosial. Berangkat dari pendapat di atas maka seorang guru harus benar-benar memperhatikan potensi murid dalam proses pembelajaran.berperan sebagai pengajar dalam proses transfer materi. bakat dan potensi yang dilikinya secara lebih optimal. Dengan demikian tugas mendidik akan terlaksana dengan baik apabila guru benar-benar memahami peserta didik. dan fitrah bertuhan. mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. mengembangkan kreativitas dan mengembangkan kerjasama. karena potensi masing-masing 38 . potensi.

(1996) guru dituntut untuk lebih berperan dalam proses pembelajaran. Menurut M. dan panca daya. (4) tindakan tegas yang mendidik. Ada murid yang mempunyai potensi dalam bidang olah raga. Sedangkan pilar kewiyataan yang merupakan perangkat praktik pembelajaran adalah (1) materi pembelajaran yang diturunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya. Kecepatan untuk menguasai materi ajar antara satu dengan yang lainnya juga berbeda. (2) pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran. Perbedaan itu merupakan fitrah manusia dan itulah dimensi kemanusian. dimensi kemanusiaan. dan (5) penilaian hasil pembelajaran. ada yang lebih baik dalam matematik. Perencanaan yang sadar bila seorang guru betul-betul memahami fungsinya sebagai sumber belajar dan sekaligus juga pendidik. proses pembelajaran harus didukung dengan pilar kewibawaan dan kewiyataan. dan pancadaya. Maka di samping memahami hakikat kemanusiaan (peserta didik). (3) penguatan. Dalyono. maka seorang guru harus menerapkan prinsip high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan).murid tidak sama. Mempedomani berbagai pendapat di atas ternyata peran seorang guru dalam proses pembelajaran begitu penting. dan (5) keteladanan. tut wuri handayani menjadi jiwa pilar kewibawaan. (3 alat bantu pembelajaran. ada yang baik dalam bahasa. Menurut Prayitno (2008) motto pendidikan nasional yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro ing ngarso sung tuludo. dan ada yang berpotensi dalam seni. Untuk itu seorang guru harus memahami hakikat manusia. (3) lingkungan pembelajaran. ing madya mangun karso. (2) kasih sayang dan kelembutan. dimensi kemanusiaan. Pilar kewibawaan meliputi (1) pengakuan dan penerimaan. Disadari bahwa proses pembelajaran itu sendiri merupakan kegiatan yang terencana dengan sadar oleh guru guna mencapai tujuan pendidikan. Menurut Prayitno (2008). ia 39 .

serta teori-teori belajar adalah kekuatan-kekuatan yang 40 .. baik oleh pengelola maupun penyelenggara. salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum Menurut Ansyar (1989) kurikulum diartikan berbeda-beda oleh beberapa golongan orang atau masyarakat. Berangkat dari pendapat Ansyar maka setiap orang dapat memberi makna dan maksud berbeda tentang kurikulum. Walau terjadi perbedaan pendapat tentang kurikulum namun semunya bersepakat bahwa kurikulum tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. Menurut Mulyasa (2006). Hal mana setiap guru dan murid sama-sama menjadikan kurikulum sebagai pedoman menuju tujuan yang akan dicapai.. tetapi sebahagian besar setuju .kait berkait untuk menjangkau (to touch) kedirian peserta didik. Ansyar (1989:29) bahwa walau terdapat ketidaksepahaman para ahli mengenai apa yang dimaksud dengan dasar-dasar kurikulum. sebagai “arena” dimana pelajar ‘bertanding’ untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai ‘garis finis’ berupa diploma. ijazah. Arti secara harfiah dari kurikulum itu sendiri yang diartikan sebagai “lapangan pertandingan”. b. karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan. 1976: 6).. atau gelar kesarjanaan (Zais. Dengan demikian sebagai pemegang peran penting dalam proses pembelajaran maka kedua pilar ini mesti dikuasai seorang guru. ia mengarah pada pembelajaran dengan teknologi yang tinggi (high tech). Kurikulum juga diartikan berbeda-beda oleh para penulis buku pendidikan.. individu. masyarakat dan kebudayaan. Sedangkan falsafah Minangkabau alam takambang jadi guru menjiwai pilar kewiyaaan. Hal itu tidak saja pendidik pada lembaga formal termasuk pendidikan nonformal seperti di sanggar ukir.

sebagai konten. pengalaman belajar adalah pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan intraksi mereka dengan konten dan kegiatan belajar. dan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. sebagai kegiatan berencana. sebagai hasil belajar. Dari banyak difinisi tentang kurikulum. Mulyasa sendiri tidak membatasi hanya pendidikan formal saja yang harus memiliki kurikulum. arahan. Disisi lain para ahli melihat kurikulum bukan sekedar perangkat mata pelajaran melainkan sebagai pengalaman belajar. Dengan demikian pendidikan yang berlangsung pada sanggar ukir tradisional di Pandai Sikek diyakini memiliki kurikulum. Konsepsi ini memberikan pemahaman bahwa kurikulum dalam pelaksanaan pendidikan dapat dimaknai berbeda namun yang terpenting adalah tidak mungkin sebuah penyelenggaraan pendidikan tanpa kurikulum. Ansyar (1989) memberikan beberapa konsepsi dasar tentang kurikulum. 41 . sebagai reproduksi kultural. Konsep dasar yang lebih mendekati maksud kurikulum dalam penelitian ini adalah kurikulum sebagai kegiatan berencana. sebagai sistem produksi. Menurut Tyler (1949). sebagai reproduksi kultural. yakni sebagai program studi.berpengaruh besar terhadap konsep dan aplikasi kurikulum. tetapi kurikulumnya tentu tidak seperti sekolah formal yang telah tersusun dan terstruktur. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa setiap pengelola dan penyelenggaraan pendidikan mesti memiliki kurikulum oleh karena kurikulum merupakan acuan. dan sebagai pengalaman belajar. melainkan seluruh penyelenggaraan pendidikan. Konsepsi dasar yang dikemukan Ansyar tentang kurikulum memberikan gambaran bahwa kegiatan apapun yang sekaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran memerlukan kurikulum.

Berkaitan dengan pendapat di atas maka ada kurikulum pada setiap sanggar ukir di Pandai Sikek. nilai-nilai. sikap.Menurut Ansyar (1989) sebagai kegiatan berencana maka kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. kemudian dapat 42 . sekolah didirikan agar pelajar atau anak didik mendalami pengetahuan. Menurut Taba (1962) bahwa sekolah didirikan agar dapat mengajarkan pada anak-anak ilmu pengetahuan. Konsep dasar ke dua adalah kurikulum sebagai reproduksi kultural. namun kegiatan belajar dilakukan sesuai dengan perencanaan guru. Jadi memperhatikan proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek terdapat perencanaan-perencanaan yang dilakukan guru sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai sasaran. sikap. Dari perencanaan itu diharapkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan sasaran. dan nilainilai yang dianut orang tua mereka. Dari pendapat ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum segala perencanaan bahan-bahan atau materi ajar yang akan diajarkan guru dalam proses pembelajaran termasuk ke dalamnya tentang urutan. Taba (1962) menyatakan bahwa kurikulum merupakan rencana untuk membelajarkan pelajar. Walaupun perencanaan itu tidak merupakan dokumen tertulis seperti yang terdapat di sekolah formal. serta teknikteknik yang diperlukan anak untuk hidup layak di masyarakat. yaitu rencana yang menuntun pengajran. metode dan teknik penyajian. maka menurut Ansyar (1989: 15) banyak orang menganggap sekolah adalah bagian dari kebudayaan. Perencanan itu meliputi persiapan materi sesuai dengan tahapan belajar masing-masing murid pada sanggar ukir tersebut. Hal ini sejalan dengan Macdonald (1965) yang mendifinisikan kurikulum sebagai suatu rencana pekerjaan.

Zais (1976:8) yakin bahwa semua pengalaman yang sesungguhnya diperoleh pelajar dari penerapan kurikulum sekolah merupakan data yang amat berharga bagi penentuan keberhasilan dan efektifitas kurikulum yang direncanakan. Menurut Ansyar (1989) ada dua kelompok yang melihat kurikulum sebagai pengalaman belajar. yakni konsepsi kurikulum dari segi yang sempit (sebagai suatu pelajaran yang diajarkan). dan segi yang luas (semua pengalaman yang diperoleh di sekolah atau di luar sekolah). Kelompok yang mengkonsepsikan secara luas sering menyebutnya dengan “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). Bagian ketiga adalah kurikulum sebagai pengalaman belajar. Perubahan itu merupakan hasil bimbingan guru yang terencana. Berdasarkan pendapat ini dapat dilihat bahwa kegiatan transformasi seni ukir yang terjadi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan kegiatan reproduksi kultural. Kurikulum pada sanggar seni ukir di Pandai 43 . Memperhatikan pendapat ini maka setiap apa saja yang memberi pengaruh dari proses belajar pada murid merupakan implikasi dari kurikulum.meneruskan dan bertanggung jawab terhadap pengemabangan kebudayaan masyarakat itu. Maka dalam hal ini Foshay (1969) mengkonsepsikan kurikulum yang terdiri dari semua pengalaman belajar di bawah pimpinan guru. Hal ini berkaitan dengan bagian-bagian tertentu dalam pembelajaran seni ukir tidak senantiasa diperoleh dari aspek-aspek yang direncanakan guru. seperti seorang murid yang sebelumnya tidak bisa mengukir menjadi menguasai cara mengukir dan mampu menciptakan motif-motif baru. Kepada generasi muda diajarkan keterampilan dan nilai-nilai seni ukir yang merupakan warisan budaya masyarakat setempat.

(3) metode pembelajaran. target yang jelas. sampai pada prosedur evaluasi untuk mendapatkan aktifitas pembelajaran yang bermakna. (4) teknik pembelajaran. bahkan ada yang sulit membedakannya.psb-psma. Jadi pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. (http://www. Jadi kurikulum yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah sejauh mana guru memberikan perhatian. Metode Pembelajaran Ada beberapa istilah yang dalam proses pembelajaran hampir sama artinya. strategi. yang 44 . kurikulum tersebut dapat mempengaruhi pembentukan pengalaman belajar dan pendidikan. diambil 13 Februari 2010). 1962). dan teknik mengajar walaupun secara gradual ada perbedaan di antara ketiganya karena itu sering digunakan secara interchangable. Aktifitas belajar yang baik adalah yang melibatkan siswa untuk belajar sendiri melalui pengalaman. Menurut Akhmad Sudrajat (2009) istilah yang memiliki kemiripan makna.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran. c.Sikek juga mempunyai dampak nyata tetapi tidak direncanakan seperti kemampuan berwirausaha. pemahaman adat dan falsafah. prosedur evaluasi yang runtun (Taba. isi yang baik. sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya adalah: (1) pendekatan pembelajaran. (2) strategi pembelajaran. menentukan target. Menurut Zais (1976) inti dari kurikulum adalah terselenggaranya aktifitas pembelajaran yang bermakna. bersosialisasi. Menurut Abdul Azis Wahab (2008) di Indonesia para guru dan pendidik tidak membedakan pengertian metode. dan (5) taktik pembelajaran. Sedangkan untuk mengantarkan siswa pada pengalaman belajar dapat dilakukan dengan memberikan perhatian yang baik.

(9) simposium. (2008) menyatakan strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain. di dalamnya mewadahi. (2) demonstrasi. (3) diskusi. Dapat disimpulkan bahwa materi yang telah disiapkan guru disampaikan atau diangkat melalui metode pembelajaran. menginsiprasi. (5) laboratorium. strategi merupakan a plan of operation achieving something sedangkan metode adalah a way in achieving something. menguatkan. Jadi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Wina Senjaya. (8) debat. Oemar Hamalik (2008) menyatakan strategi pengajaran merupakan penterjemahan filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yang harus ditempuh dalam situasi-situasi khusus atau dalam keadaan tertentu yang spesifik. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). (4) simulasi. (7) brainstorming. (6) pengalaman lapangan. diantaranya: (1) ceramah. metode 45 . Dilihat dari pendekatannya.merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. terdapat dua jenis pendekatan pembelajaran. Akhmad Sudrajat (2009) menyatakan terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Abdul Azis Wahab (2009) menyatakan metode yang cocok untuk mengajar IPS/SS adalah metode ceramah.

dan metode simulasi. Jadi dari pendapat ini ternyata evaluasi pendidikan merupakan suatu “event” yang ganda. Pemakaian metode guna mengimplementasikan materi yang telah disiapkan guru seni ukir. metode diskusi. Lebih lanjut dijelaskan Ansyar bahwa evaluasi untuk mengetahui keberhasilan belajar. Metode apa saja yang digunakan guru dan kapan metode itu diterapkan akan dicermati pada saat penelitian. Menurut Muhibin Syah (2005) evaluasi adalah penilaian terhadap keberhasilan program belajar siswa. sikap. evaluasi menjangkau lebih jauh yaitu untuk mengetahui apa yang terjadi dalam ruang-ruang kelas. d. dan psikomotor. metode tanya jawab. Ansyar (1989) . tidak terkecuali pembelajaran yang berlangsung pada sanggar seni ukir.. Sejauhmana materi-materi yang telah disusun guru seni ukir dapat dikuasai muridnya tentu dilakukan evaluasi sebelum ia memberikan materi lanjutan dan sebelum ia menyatakan muridnya telah menjadi tukang ukir. Satu sisi merupakan kegiatan untuk 46 . Evaluasi Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009) evaluasi menempati kedudukan penting dan bahagian yang utuh dari tahapan dan proses pembelajaran. Diyakani pada proses pembelajaran terdapat berbagai metode yang digunakan guru. yang bertujuan antara lain untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa. Jadi evaluasi sangat diperlukan dalam setiap proses pembelajaran..inkuiri menemukan sendiri dan pemecahan masalah. dari proses pembelajaran diharapkan terjadinya perubahan kognitif. Dalam proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek akan digunakan berbagai metode. untuk memperbaiki program belajar-mengajar. dan untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan.

Evaluasi hanya mungkin akan tercapai apabila dilakukan dengan mengikuti prosedur dan tehnik yang tepat dan benar melalui bermacam jenis evaluasi. Evaluasi diagnostik berfungsi untuk mendiagnosa kelemahan dan keunggulan murid guna meningkatkan hasil belajar murid. untuk kenaikan kelas. Evaluasi kenaikan untuk menseleksi apakah sudah perlu materi lanjutan atau masih tetap materi yang sama. Suharsimi Arikunto (2005). untuk seleksi. evaluasi proses dan evaluasi produk.mengendalikan mutu pendidikan dan dari sisi lain merupakan upaya untuk pengumpulan informasi tentang pencapaian murid terhadap meteri yang disampaikan pendidik. Untuk mendapat informasi yang tepat tentang pencapaian tujuan pengajran maka perlu seorang guru memahami tentang teknik dan prosedur evaluasi. Menurut Imam (2005) evaluasi hasil belajar adalah memberi nilai atau makna tentang kualitas sesuatu yang dipelajari. evaluasi hasil belajar menekankan kepada perolehan informasi tentang pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. bagi guru maupun bagi sekolah. dan untuk penempatan. evaluasi input. Muhibbin Syah (2005) menyatakan bahwa 47 . dan Dimyati (2009) fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk diagnostik dan pengembangan. evaluasi kenaikan juga dapat dipakai untuk menyatakan murid telah lulus atau sebagai tukang ukir. Menurut Suharsimi (2005) evaluasi hasil belajar dapat bermanfaat bagi peserta didik. Menurut Dimyati (2009) ada evaluasi hasil belajar dan ada evaluasi pembelajran. seperti evaluasi konteks. Menurut Nurkancana (1986). Sedangkan evaluasi pembelajaran guna memperoleh keefektifan proses pembelajaran. Berdasarkan pendapat ini maka paling tidak fungsi evaluasi diagnostik dan kenaikan perlu diterapkan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek.

evaluasi hasil belajar bukanlah sekedar pemberian angka yang berkaitan dengan satu aspek semata. kognitif (ranah cipta). dan psikomotor (ranah karsa). Sedangkan hasil belajar adalah suatu kecakapan nyata yang dapat diukur secara langsung melalui tes. mungkin pula menggunakan tes objektif yang telah distandarisasikan untuk mengukur hasil belajar peserta didiknya. Muri (2005) tes hasil belajar (achievement test) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan guru disekolah atau dosen di perguruan tinggi. Sedangkan guru/dosen yang lain menggunakan tes perbuatan. menciptakan sesuatu atau melahirkan pikiran secara tertulis. mengaplikasikan sesuatu. rasa dan karsa. kemampuan mengingat. menilai. evaluasi hasil belajar adalah proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi (data) yang telah diperoleh melaui tes pengukuran hasil belajar. Memperhatikan pendapat ini maka evaluasi hasil belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek sangatlah berarti sebab evalusi mencakup pada tiga ranah cipta. Jadi. pemahaman. Oleh karena itu tes hasil belajar mungkin saja mengukur kecepatan lari. Tes ini dapat disusun dalam bermacam bentuk namun pilihan bentuk yang tepat adalah sesuai dengan tujuan kegiatan pendidkan/pembelajaran yang telah ditetapkan. tetapi mencakup aspek yang lebih luas yaitu. afektif (ranah rasa). Tes prestasi belajar dapat berupa tes baku 48 . Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi (penilaian) merupakan proses untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui pengukuran berdasarkan instrumen tes maupun non tes. Seorang guru atau dosen. untuk memahami tingkat hasil peserta didik dalam belajar. baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. Menurut A.

adaptasi/penyesuaian pola gerakan. diagnostik dan penempatan kalau dilihat dari segi fungsinya (A.(standardized test) dan dapat juga dengan tes buatan guru (teacher made test). melainkan dapat dilakukan pada tengah semester.Muri. tengah caturwulan. dan originalitas. maupun portofolio yang dikumpulkan. evaluasi tugas-tugas yang diberikan. Jadi tes hasil belajar dirancang untuk mengukur apa yang telah dipelajari dalam bidang studi yang bersifat formal. pembentukan pola/karakterisasi nilai. pemahaman. tes objektif dan tes perbuatan maupun dengan inventory lainnya. tetapi juga tes formatif. aplikasi. afektif dan psikomotor.Muri (2005) hasil belajar merujuk kepada tingkat hasil peserta didik dalam belajar. Hasil itu tercermin dalam berbagai aspek antara lain (1) kognitif yang meliputi : mengingat. Suharsimi. 1) Hakikat Evaluasi Hasil Belajar Dari gambaran di atas tampak dengan jelas bahwa tes hasil belajar bukanlah sematamata tes yang dilakukan pada akhir semester/tahun ajaran (tes sumatif). Karena itu evaluasi hasil belajar telah dimulai sejak seseorang mulai belajar. dan tes buatan guru (teacher or locally made test). partisipasi. mencakup aspek kognitif. evaluasi dan kreatifitas. Menurut A. Oleh karena itu tes hasil belajar dapat berupa tes hasil belajar yang telah distandarisasikan (standardized achievenment test). respon terbimbing. dan (3) psikomotor yang meliputi : persepsi kesiapan (set). analisis. Dengan 49 . gerakan/respon terbiasa. Jadi hasil evaluasi bukanlah semata-mata pada akhir semester atau caturwulan maupun naik kelas. 2005 . mekanisme. Jadi hasil belajar terhadap sesuatu yang sudah dipelajari akan memberikan gambaran tentang pemahaman dan kesukaran atau kekuatan dan kelemahan sesorang dalam bidang tertentu. evaluasi/penentuan sikap (valuing). (2) afektif yang meliputi : penerimaan. pengorganisasian nilai (organization). 2005). baik berupa tes esai.

(d) evaluasi yang baik berpijak pada tujuan yang jelas. (c) evaluasi yang baik bersifat objektif. (c) adil. a) Prinsip-prinsip Umum Evaluasi Belajar Menurut A. dan (g) evaluasi bukanlah tujuan. penilaian berdasarkan data yang mencerminankan kemampuan yang diukur. maka dapat pula dilakukan tes hasil belajar. (e) evaluasi yang baik menggunakan alat ukur yang ganda dan sahih. 2) Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar Untuk dapat memberikan gambaran yang maksimmal tentang hasil kegiatan pembelajaran. (b) evaluasi hendaklah kontinyu. Guru merancang suatu tes hasil belajar terhadap meteri yang telah lalu. Apabila guru telah menyelesaikan suatu kegiatan atau satuan pelajaran dan ingin mengatahui tentang tingkat hasil peserta didik dan kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. baik ditinjau dari komponen evaluasi itu sendiri maupun dari prinsip-prinsip evaluasi yang dipedomani. melainkan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan. perlu dilakukan asesmen yang benar. Adapun prinsip-prinsip eavaluasi hasil belajar bersifat umum dan khusus. Walaupun tidak dapat dipungkiri untuk keperluan ini dibutuhkan tes jenis lain seperti “aptitude test” namun tes hasil tidak dapat diabaikan.demikian apabila guru ingin menempatkan peserta didik dalam kelompok belajar maka guru terlebih dahulu mengetahui seberapa jauhkah hasil peserta didik dalam bidang yang akan ditempatinya itu. penilaian tidak menguntungkan atau 50 . (f) evaluasi yang baik hendaknya dilakukan oleh suatu tim. (b) objektif. Prinsip penilaian menurut Zaim (2009) adalah (a) sahih.Muri (2005) beberapa prinsip umum evaluasi belajar yang baik adalah (a) evaluasi yang baik bersifat komprehensif. penilaian berdasarkan pada prosedur dan kreteria yang jelas tanpa dipengaruhi subjektivitas penilai.

(e) terbuka. Dari prinsip umum ini dapat dilihat bagaimana penilaian yang dilakukan pada proses pendidikan yang dilakukan di sanggar seni ukir pandai Sikek. (b) tes yang disusun merupakan sampel yang representatif dari semua materi pembelajaran. penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap. Apakah ada alat evaluasi yang sahih. prosedur. mencakup semua aspek kompetensi. sistematis. kreteria dan dasar penilaian dapat diketahui pihak berkepentingan. (f) menyeluruh dan berkesinambungan. Tes hendaklah valid dan reliabel. (c) bentuk/format tes yang dipilih hendaklah sesuai dengan tujuan yang dicapai. Menurut Asmawi & Noehi (1995) dan A. 51 . berkesinambungan dan dapat dipertanggungjawabkan. (h) beracuan kriteria. dan (i) akuntabel. diagnosis. Jadi berdasarkan pendapat ini maka evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek hendaklah sesuai dengan fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran (penempatan. formatif dan sumatif). penilaian dapat dipertanggungjawabkan. (g) sistematis. penilaian meupakan salah satu komponen pembelajaran.Muri (2005) ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar yakni: (a) tes yang disusun hendaklah betul mengukur tujuan pembelajaran. (d) terpadu. dan (d) tes hasil belajar hendaklah seterandal mungkin. penilaian berdasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. b) Prinsip-prinsip Khusus Evaluasi Belajar Hasil-hasil belajar akan dapat diungkapkan menurut fungsi yang diharapkan apabila intrumen yang dipakai memenuhi syarat untuk hal tersebut. Untuk itu evaluasi pada proses pendidikan/pembelajaran di sanggar ukir hendaklah terkait dan mampu mengungkapkan tujuan itu.merugikan peserta didik.

artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan skor di kelompok itu. Bilamana seseorang telah memenuhi patokan tersebut ia dinyakan berhasil. Apa bentuk evaluasi itu dalam acuan patokan dan bagaimana bentuk patokan itu akan diobservasi dalam penelitian. Ini berarti normanya adalah norma kelompok. Tetapi tidak akan menceritakan apa yang dapat dikerjakan seseorang dengan menggunakan kriteria tujuan yang ditetapkan. norma teman-temannya yang lain. telah dikuasai peserta didik dibandingkan dengan patokan yang telah ditentukan sebagai kriteria atau standar minimal hasil seseorang dikaitkan dengan tujuan Sejalan dengan itu Asmawi & Noehi (1995) menyatakan bahwa cara ini dibenarkan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan menggunakan sejumlah patokan. Jadi prinsip ini menggambarkan bahwa evaluasi dengan menggunakan acuan patokan dapat digunakan. 52 . evaluasi berdasarkan acuan patokan (criterion referenced evaluation) lebih baik dan tepat digunakan sebab guru dapat mengetahui seberapa jauh suatu aspek. Menurut A.Muri (2005) dan Asmawi & Noehi (1995) pengukuran berdasarkan norma kelompok adalah untuk menentukan kedudukan (relatif) peserta didik dibandingkan dengan temannya yang lain dalam kelompok itu atau bagaimana penampilan seseorang dibandingkan dengan temannya dalam kelompok.Menurut A. Untuk menyatakan seorang murid telah dapat mengukir tentu ada sacuan yang digunakan guru. Berdasarkan pengukuran ini dapat dilihat bagaimana pengelompok murid sanggar ukir di Pandai Sikek. Adakah murid dikelompokkan berdasar skor yang diperolehnya atas dasar pembandingan dengan teman-temannya.Muri (2005) dari segi hasil peserta didik terhadap tujuan pendidikan/pembelajaran atau terhadap kelemahan-kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam aspek tertentu.

(e) dapat memberikan informasi apakah tujuan dapat dicapai oleh kelompok. namun patokan adalah sama. (a) digunakan untuk mengukur pengetahuan. (d) dapat menunjukkan rentangan tingkat hasil peserta didik dibandingkan dengan norma kelompok. 53 . (i) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci. (d) mempunyai standar tunggal untuk semua sehingga apabila tes itu dilakukan pada tempat yang berbeda. pengukuran berdasarkan patokan (Criterion Referenced Measurement). (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. (f) butir soal dipilih agar menyediakan perbedaan diantara individu. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar.Selanjutnya oleh A. dan (j) cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif dan mengukur kompetensi. dan (k) tidak cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif. (c) mengukur kategori yang lebih umum. (j) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci sekali. Sedangkan pengukuran berdasarkan norma kelompok ( norma referenced measurement). (b) tidak memperhatikan perbedaan individu. Muri (2005) dinyatakan bahwa beda kedua tipe itu adalah sebagai berikut. dengan menghormati penampilan tingkah laku orang lain dalam kelompok. (g) indeks pembeda butir soal merupakan indikator menentukan kualitas soal. (g) indeks pembeda antara kelompok tinggi dan kelompok rendah bukanlah suatu yang penting. (c) lebih terfokus pada kawasan (domain) yang lebih spesifik. kemampuan dan tingkah laku peserta didik. (a) digunakan untuk mengukur tingkah laku yang dimiliki seseorang dengan merumuskan kawasan tingkah laku itu sebagai patokan atau mengutamakan pengujian hasil (mastery). (f) semua butir soal yang diberikan untuk memberikan gambaran penampilan yang tepat. Tingkat hasil individu dibandingkan dengan hasil kelompok. (e) informasi yang ada tidak menunjukkan pencapaian tujuan. (b) perbedaan individu sangat menjadi perhatian.

Berdasarkan pendapat ini maka penilaian pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek mempunyai karakteristik sendiri. Tidak ada kepuasan yang pas tentang salah satu difinisi kebudayaan. Hal ini terkait dengan bahwa pembelajaran kelompok seni mencakup pada pemberian pengalaman estetis. Beals dan Hoyer dalam buku An Introduction to Anthropology (1959). Difinisi tentang kebudayaan sekarang semakin berkembang sehubungan semakin banyak tantangan dan fenomena baru dalam kehidupan manusia. namun senantiasa saja difinisi itu memiliki celah atau ruang diskusi baru. Diskusi tentang kebudayaan senantiasa menarik. dan lebih awal oleh Kroeber dalam buku The Nature of Culture (1952). 3. yakni apresiasi (apreciation). Kebudayaan Minangkabau Dua orang pakar A. Dari banyak difinisi dan pendapat tentang kebudayaan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan 54 . Kluckhohn (pakar antropologi sekaligus juga filsafat kebudayaan) dalam makalahnya yang termasyhur “Culture: a Critical Review of Concepts and Difinitions” tahun 1952 hanya mampu mengklasifikasikan 179 difinisi tentang kebudayaan.Menurut Zaim (2009) keunikan pembelajaran kelompok seni budaya terletak pada kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman estetis melalui dua kegiatan yang saling terkait.L Kroeber dan C. kreasi (creation) termasuk di dalamnya performance. Evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek harus memasukkan sejauhmana pengalaman estetis murid. Karakteristik penilain itu tidak cukup dengan mempedomani prinsip-prinsip penilaian secara umum maupun prinsip khusus. Pencarian tentang hakikat kebudayaan dilakukan oleh Bakker (1984) dalam buku Filsafat Kebudayaan. Banyak pendapat dan difinisi yang dikemukaan tentang kebudayaan. karena kebudayaan bahagian dari kehidupan manusia.

Taylor dalam Primitive Culture yang dikutip Tilaar (2000) menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang meliputi pengetahuan. kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya dapat diperoleh di tengah masyarakat. Sejalan dengan ini maka menurut Ansyar (1985) ada dua pandangan tentang fungsi sekolah pertama yang mengkonsepsikan sebagai pemelihara dan penerus kebudayaan dan kedua 55 . Kedua-duanya khas insani oleh karenanya kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. hukum. Kemudian Edward B. kepercayaan. maka disinilah titik singgung antara budaya dengan pendidikan. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. disinilah afinitas (daya tarik-menarik/gabungan) antara pendidikan dan kebudayaan. Menurut Tilaar (2000) tidak mengherankan apabila usaha untuk mencari jawaban terhadap hekikat kebudayaan mampir dalam pertanyaan mencari hakikat manusia. Dengan demikian betapa pentingnya masyarakat dalam proses pendidikan. bahwa kebudayaan didapat dengan belajar. Dari pendapat dua pakar tersebut ada beberapa hal yang perlu ditarik yaitu bahwa kebudayaan adalah suatu sistem yang utuh bukan merupakan bagian-bagian. bahwa kebudayaan hasil prestasi manusia. Pengertian belajar dalam pandangan kebudayaan adalah sebuah proses yang ada di tengah masyarakat. moral. seni. Dari banyak difinisi tentang kebudayaan. seni. di mana segala aspek yang kompleks apakah itu nilai-nilai atau hukum. Oleh karena manusia yang berbudaya dan membudayakan aspek kehidupannya. maka difinisi yang ada kaitannya dengan pendidikan adalah pendapat Koentjaraningrat (1990) yaitu keseluruhan sistim gagasan.adalah milik manusia. bahwa kebudayaan bisa dalam bentuk tingkah laku dan dalam bentuk artefak. adat istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

peraturan. gagasan. norma-norma. ide-ide atau gagasan. Berbagai bentuk warisan budaya itu sendiri seperti. sedangkan keterampilan mengukir tinggalan budaya yang berbentuk tingkah laku. pemahaman dan pelestarian terhadap warisan budaya sebagai jati diri suatu etnik dan bangsa tetap menjadi penting dalam era global ini. Koentjaraningrat (1990) mengemukakan tiga wujud kebudayaan. rumah-rumah adat. Walau pendapat kedua yang menyatakan pendidikan hanya pengembangan individu murid. nilai-nilai. nilai-nilai. pertama kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. dan seni ukir merupakan tinggalan budaya yang berbentuk artefak. Menurut Ardika (1999). dan sebagainya. malah patut dilestarikan sebagai aset. modal. ada yang berbentuk tingkah laku dan berbentuk artefak. Dengan demikian seni ukir sebagai salah satu warisan budaya dan juga sebagai identitas budaya daerah seharusnyalah dilestarikan agar dapat tumbuh dan berkembang pada era global. namun bila dilihat bahwa kebudayaan suatu sistem gagasan yang didapat dari belajar maka dengan sendirinya pendidikan itu adalah bagian dari kebudayaan. Menyimak pendapat ini maka warisan budaya atau tinggalan budaya patut dilestarikan. Pembicaraan tentang budaya bukan hanya milik masa sekarang saja. Jangan sampai akar budaya yang telah diwarisi dari leluhur terdahulu tercabut di tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan akibat globalisasi.sebagai pengembangan individu anak yang terlepas dari kebudayaan. Menurut Tilaar (2000:190) bahwa gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi khsusunya teknologi komunikasi dapat merupakan bahaya penggerhanaan identitas manusia termasuk hilangnya kebudayaan nasional dan lokal. Banyak hasil budaya masa lalu menjadi menarik untuk didiskusikan saat ini. dan kekayaan sebuah bangsa. gerabah. Mesjid-mesjid kuno. kedua kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan 56 .

57 . Inisiatif. Wujud kedua kebudayaan juga disebut sebagai sistem sosial adalah berkenan dengan pola kelakuan dari manusia atau masyarakat itu sendiri. Wujud kebudayaan ini dapat diamati. Berangkat dari pendapat J. disket. dan ide-ide yang menggerakkan sehingga menghasilkan berbagai kreativitas ada dalam wujud pertama ini. difoto. tak dapat diraba yaitu sistem budaya yang merupakan wujud ide dari kebudayaan. Keterampilan mengukir. dan (3) artifacts. Sistem sosial ini terdiri atas kegiatan-kegiatan manusia berintegrasi. Karena merupakan rangkaian kegiatan manusia dalam masyarakat. gagasangagasan. Pendapat Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan sama dengan yang dikemukakan oleh J. Ada yang mengistilahkan wujud pertama ini sebagai inti dalam dari kebudayaan. dan difilmkan karena ia terjadi di sekeliling kita. dan ketiga kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud pertama ini ada dalam kepala atau alam pikiran anggota masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. dan komputer dengan adanya kemajuan teknologi. tape.J. mikro film. arsip. pola pembelajaran ukir. penghargaan masyarakat terhadap seni ukir di Pandai Sikek merupakan bahagian dari wujud kebudayaan yang ke dua ini.Honigmann dalam bukunya The World of Man (1959) bahwa ada tiga gejala kebudayaan.J. Berkenaan dengan seni ukir Pandai Sikek maka falsafah motif ukiran termasuk pada wujud kebudayaan inti ini. Wujud kebudayaan ideal ini sekarang sudah banyak tersimpan dalam buku-buku.berpola dari manusia dalam masyarakat. berhubungan serta bergaul satu sama lain berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan.Honigmann dan Koentjaraningrat dapat dijelaskan bahwa wujud pertama kebudayaan siifatnya abstrak. yaitu (1) ideas. maka sistem sosial ini sifatnya kongkrit. (2) activities.

bangunan kuno lainnya. Wujud kebudayaan ini dapat dilihat. Bangunan rumah adat Minangkabau yang penuh dengan ukiran merupakan benda hasil budaya.Wujud ketiga kebudayaan adalah benda-benda budaya atau artefak. Benda-benda budaya itu beragam bentuknya mulai dari yang sederhana sampai ke paling komplek atau rumit cara penciptaannya. dan kesenian. dan dapat juga karya masa kini seperti pesawat. diamati. sistem mata pencaharian hidup. dan dari aktifitas pola laku itu menghasil karya dalam bentuk benda-benda. bangunan pencakar langit. sistem pengetahuan. organisasi sosial. Benda-benda budaya itu dapat berupa tinggalan budaya atau hasil karya masa lampau seperti candi. dan seni kotemporer. Cakupan kebudayaan cukup luas. C. 58 . dan difoto.Kuckhohn (1953) merumuskannya kepada tujuh unsur kebudayaan. Sebaliknya kebudayaan fisik dapat mengatur tingkah laku masyarakat. Kesalingterkaitan wujud budaya itu sangat mudah dilihat dalam bentuk seni. sistem religi. diraba. Jika diperhatikan ternyata ketiga wujud kebudayaan saling berkaitan. dicium. ia merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. sistem peralatan hidup dan teknologi. yakni bahasa. ia meliputi segala aspek kehidupan manusia namun oleh sarjana antropologi dibagi ke dalam beberapa unsur. Koentjaraningrat (1990). Ketujuh unsur yang dikemukakan para pakar itu dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia ini termasuk di Indoensia. Kebudayaan ide mengatur dan memberi arah kepada perbuatan tingkah laku manusia. dan dari tingkah laku menghasilkan normanorma baru dan membentuk pemikiran baru lagi. seni-seni masa lampau. wajud ini paling kongkrit jika dibandingkan dengan dua wujud sebelumnya.

ka Timur ranah Aia Bangih. akan tetapi daerah ini dibagi lagi ke dalam bagian-bagian khusus. Minangkabau tidak sama dengan Sumatera Barat walaupun sebahagian besar masyarakat Minangkabau mendiami wilayah Sumatera Barat. Pada awalnya kawasan kebudayaan Minangkabau hanya terdiri dari tiga luhak (Tanah Datar. Beberapa penulis (Navis 1984. hinggo aia babaliak mudiak. sajajaran Sago jo Singgalang. sampai ka pintu rajo ilia. dari Sirangkak nan badangkang. Agam. hinggo lauik nan sadidiah. Pembagian khusus itu antara darek (darat) dan pasisie (pesisir) atau rantau. Minangkabau merupakan kesatuan budaya sedangkan Sumatera Barat wilayah administratif pemerintahan. sailiran Batang Sikilang. hinggo buayo putiah daguak. saputaran Talang jo Kurinci. Datuk Sanguno 1987. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. Berdasarkan tambo-tambo/sejarah alam Minangkabau. “…salirik gunuang Marapi. Rao jo 59 . lokasi atau daerah asli masyarakat etnis Minangkabau diceritakan sebagai berikut. Dari tiga luhak ini kemudian menyebar sampai ke sebahagian Sumatera Utara dan Aceah bahagian utara. dan 50 Kota) kemudian meyebar kedaerah lain yang disebut dengan rantau. ke Jambi dan Bengkulu bahagian selatan. Nenek moyang orang Minangkabau sendiri sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tambo berasal dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua. dengan dikurangi daerah kepulauan Mentawai. ke Riau dan semenanjung Malaka bahagian Timur.Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia mempunyai bentuk budaya sendiri. sialang balantak basi. Datuk Rajo Panghulu 1997. Menurut Umar Yunus (1997) daerah asal Minangkabau diperkirakan seluas daerah Propinsi Sumatera Barat sekarang ini. sampai ka sipisau-pisau hanyuik. durian ditakuak rajo. sampai ka ombak nan badabuak. saedaran gunuang Pasaman.

sebaris gunung Merapi. Mamangan (peribahasa) orang Minangkabau menyatakan ‘alam takambang tampek ba guru’ (alam terkembang tempat berguru). Pasisia Banda Sapuluah. (Navis. 1984: 59-60). ( Dt. Navis. sampai ke ombak yang berdebur.. saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. dan pola laku hidup masyarakat Minangkabau.. Unsur-unsur alam saling berhubungan tapi tidak saling mengikat. hingga Taratak Aia Hitam. Pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek bukan sekedar mentranspormasi keterampilan mengukir saja akan tetapi lebih dari itu adalah mewariskan kebudayaan Minangkabau yang berfalsafahkan pada alam. 1977. Pucuak Jambi Sambilan Lurah. sejajaran gunung Sago dan gunung Singgalang. Pucuk Jambi Sembilan Lurah).Mapa Tungguah. sampai ke Tanjung Simalidu. 60 . (. seputaran gunung Talang dan gunung Kerinci. sekitar gunung Pasaman. gunung Mahalintang. dan Nasrun. Unsur alam memberikan peran yang berbeda. ke timur renah (daerah) Aia Bangih. Sialang berbatasan/bertanda besi hingga arah air kembali mudik. 1984. daerah Rao dan Mamat Tunggul. Dengan demikian motif ukiran Minangkabau sebagai salah satu contoh budaya Minangkabau juga bersumber dari alam. gunuang Mahalintang. sampai ke pintu raja hilir. melainkan juga mempunyai makna yang dalam. tempat hidup dan mati. 1971). Nilai-nilai yang terkandung didalamnya mengisyaratkan ide. sampai ke pisau-pisau hanyut. masing-masing bebas dengan eksistensinya. dari Kepiting yang keras hingga buaya yang putih dagu. Pesisir Bandar Sepuluh. durian ditakah raja. hingga laut yang terasa panas. Kebudayaan Minangkabau bersumber dari falsafah hidup dengan nama “falsafah alam”. hinggo Taratak Aia Hitam. bagi orang Minangkabau alam tidak sekedar tempat lahir dan berkembangan. Falsafah yang bersumber pada alam. sehiliran/ menyusuri Batang Sikilang. dan saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan. Rajo Panghulu. Kehadirannya tidak sekedar bernilai estetis melainkan sarat dengan muatan filosofis. sampai ka Tanjuang Samalidu. Unsur alam itu dalam suatu harmoni dan dinamis sesuai dengan hukum dialektika bakarano bakajadian (bersebab berakibat).

antara fisik dan psikis. olah raga. Ada kecenderungan kehidupan hanya pembentukan pada aspek jasmani saja seperti dengan mengatur pola makan. Konsep Seni dan Pendidikan Seni Menurut Yahya (2009) bahwa seni di dalam khasanah pendidikan belum banyak dilirik dan bahkan kedudukannya sering dilupakan.Penelitian pendidikan seni ukir pada sanggar ukir akan melihat tiga komponen kebudayaan. 4. Pertama adalah sebagai ide atau gagasan yakni motif dan falsafah ukiran yang bersumber pada alam. dan antara raga dan emosi. dan istirahat. Hal ini terjadi ketika masyarakat menganggap bahwa seni hanya sebagai objek untuk dinikmati dan diapresiasi belum dipandang sebagai proses pembentukan dan pengembangan diri. Seni dan Pendidikan Seni a. dan ketiga adalah wujud benda yakni hasil karya seniman ukir yaitu benda ukiran. Kemampuan murid dikembang dari aspek jasmaniah dan ruhaniah. Perkembangan diri yang baik adalah adanya keseimbangan antara jasmani dan ruhaniah. kedua sebagai tingkah laku yakni keterampilan mengukuir dan sikap masyarakat pendukung budaya. Menurut Ramalis (2005:10) pendidikan seni dapat dijadikan pendekatan dalam belajar sehingga keseluruhan peran pendidikan seni dapat terimplementasikan dalam mengembangankan berbagai kemampuan dasar manusia. 61 . Begitu juga dalam perkembangan dan pembentukan otak manusia lebih banyak pada kegiatan pembentukan otak kiri. Pendidikan seni termasuk pada kegiatan seni ukir di pandai Sikek tidak hanya pada pembentukan salah satu aspek saja. Berangkat dari pendapat ini seni dapat dijadikan sebagai pembentukan dan perkembangan manusia.

matematik.php/ Sabtu. dan silat). musik. kinestetik. spasial. Memperhatikan konsep ini maka masing-masing manusia terutama murid semestinya mempunyai kemampuan berkesenian. dan multikultural memiliki potensi dalam pengembangan kecerdasan mansia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan. bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yaitu otak kiri dan otak kanan. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. Kelompok ilmuan neurophsychology menemukan peta kemampuan otak manusia. Howard Gardner menemukan multi kecerdasan (multiple intellegenius) yang meliputi kecerdasan linguistik. drama. dan spiritual. dan kecerdasan spasial untuk seni rupa (lukis. dan kriya) (http//ppgkes/module/ com. persepsi. multilingual. dan emosional. kecerdasan kinestetik untuk seni media gerak (tari. Otak ini akan berinteraksi dengan belahan kanan yang mengatur fungsi intuisi. antar pribadi. inter pribadi. sapcial.Menurut Ramalis (2008) bahwa pendidikan seni yang multidimensional. Karya seni 62 . Dari sembilan kecerdasan ini maka ada manusia yang menonjol pada salah satu kecerdasan. atau tiga kecerdasan. disain. dan dalam hal ini kemampuan murid mesti dikembangkan guna adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan. patung. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. natural. kreativitas. Juga dapat dilihat bahwa ada tiga kecerdasan yang berkaitan dengan seni yakni kecerdasan musik untuk seni musik. rasional. dan analitis. dua kecerdasan. 6 Februari 2010. Menyimak pendapat ini dan bila dilihat kondisi sekarang maka sebahagian pendidik belum banyak yang mengetahui bahwa kegiatan seni berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik manusia. Masing-masing belahan otak manusia saling berinteraksi. Otak manusia belahan kiri mengatur kemampuan logika. Penulis: Oki).

merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. diproses dan tersimpan dari otak kanan. Pembentukan dan perkembangan otak kanan diperlukan untuk keseimbangan otak kiri. Motif-motif ukiran merupakan imitasi atau tiruan bentuk alam seperti motif siriah gadang (rangkaian daun sirih). terutama otak kanannya. dan kemampuan memecahkan masalah. Konsep A Dasar Sifatnya Strategi Sasaran Imitasi Estetika dogmatis Objektif Rasionalitas Keserasian tangan. yang membicarakan keindahan subjektif. rasa dan pikiran Ekspresi Estetika Emosional Subyektif Emosional Wadah ungkapan pengalaman batin Secara umum seni-seni tradisional termasuk seni ukir Pandai Sikek lebih banyak pada konsep seni sebagai imitasi. yang membicarakan keindahan objektif. hewan. 1957). makanan dan benda lainya. Jadi apabila pendidikan seni diberikan pada peserta didik berarti memberi keseimbangan pembentukan pribadinya yang lebih utuh. Berasarkan temuan di atas ternyata karya seni yang kita nikmati merupakan hasil kerja otak. Kolompok pemikiran imitasi berorientasi pada estetika dogmatik. dan tampuruang hanyuik (tempurung hanyut). sedangkan kelompok pemikiran kedua memandang seni sebagai ekspresi berorientasi estetika perasaan. Dari konsep ini maka Ramalis (2006: 19) menyajikan dalam bentuk tabel berikut. berpikir kreatif. Menurut Sri 63 . itiak pulang patang (itik pulang sore). Kreativitas seorang seniman merupakan salah satu kecerdasan yang diolah. Khusus berbicara tentang seni maka ada dua kelompok pemikiran yang mendasari lahirnya konsep seni. Kelompok pertama yang memandang seni sebagai imitasi dan kelompok kedua menyatakan seni sebagai ekspresi (Wickiser. Motif ukiran merupakan stilisasi dan simbol dari bentuk alam.

A Pestalozzi (dalam Ramalis. logis mengikuti jenjang kesulitan. rasa dan pikiran. Di sisi lain menurut Ramalis (2006) bahwa pembelajaran seni disusun dan dipelajari secara sistematis. lebih mengarahkan pada pengembangan pikiran. Jadi bila dilihat cara kerja seni tradisional lebih banyak sebagai simbol atau lambang yang merupakan hasil tiruan alam yang memiliki keindahan objektif. Sedikit sekali dalam proses pembelajaran yang menyeimbangkan antara keterampilan tangan.Sundari (2000) bahwa ada 50 macam motif tumbuh-tumbuhan. 32 motif binatang/ hewan. Pendapat di atas menggambar kondisi pada sekolah formal di Indonesia. rasa dan pikiran. dan 60 motif makanan dan benda lainnya pada ukiran di Pandai Sikek. Bila konsep ini dihubungkan dalam proses pembelajaran terutama pada pendidikan formal di Indonesia. Konsep ini menurut J. 2006) ini melahirkan konsep strategi rasionalitas seni.Zaim (2009) menawarkan adanya perubahan orientasi yakni dari persepsi monokultural menjadi multikultural. Pembentukan pemikiran pada sanggar ukir di Pandai Sikek akan didapat pada 64 . Pendidikan seni Indonesia yang tertanam selama ini terutama disistem pendidikan persekolahan berorientasi pada kaidah ‘baik-buruk’ konsepnya seni Barat. Dasar konsep psikologis bagi strategi rasionalitas sebenarnya dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan secara serasi antara tangan. jarang diarahkan pada pengembangan keserasian tangan. Dalam hal ini M. rasa dan pikiran. Oleh karena itu fokus kegiatan pembelajarannya adalah pada penguasaan teknis keterampilan tangan yang dapat diukur secara objektif. tentu akan berbeda dengan kondisi pada lembaga non formal yang lebih menekankan pada keterampilan. Konsep strategi rasionalitas ini berkembang di masyarakat berbagai negara termasuk Indonesia.

Sejak itu konsep pendidikan seni mengalami pembaharuan yakni mata pelajaran menggambar berubah menjadi mata pelajaran yang bersifat: ekspresi. psikobogis. menurut Lichwark dan Lange dapat membantu kepekaan anak terhadap karya seni. Kelompok reform yang mempelopori pembaharuan pendidikan seni antara lain Van Prag. 65 . Ada banyak ahli yang menyatakan dampak pengalaman dari proses pembelajaran seni. Raip Wickizer dan Herbert Read. seni dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Kerchensteiner. 1970) mengatakan seni adalah kulminasi dan pengalaman. antara lain: Lowenfeld menyatakan dapat meningkatkan daya kreativitas anak dan dapat membantu pertumbuhan mental anak melalui penyaluran ekspresi dan kreativitas. Victor Lowenfeld. Sejauhmana keseimbangan tangan. Jadi konsep pendidikan seni ini lebih mengutamakan dampak pengiring (nurturance effect) dan próses pembelajaran seni. Menurut Setjoatmodjo (1981) bahwa konsep pemikiran bahwa seni sebagai ekspresi identik dengan konsep seni moderen yang lahir bersamaan gerakan reformasi. Wickiser menyatakan dapat membantu perkembangan kepribadian dan pembinaan estetik anak. rasa. G. dan sosiologis. Ross menyatakan dapat membantu mengembangkan perasaan anak. Kondisi yang digambarkan di atas terjadi pada berbagai pendidikan seni di sekolah formal Indoesia sekarang ini. Menurut Read (1970) bahwa secara filosofis. pernyatakan Margaret Naumberg dapat digunakan sebagai sarana terapi mental.pemahaman dan penempatan motif. Dewey (dalam Read. dan pikiran dilakukan akan dilihat pada objek sesungguhnya dalam penelitian. Kaum reformis memandang karya seni sebagai wadah ungkapan pengalaman batin seniman. Pembaharuan konsep pendidikan seni utamanya dilandasi oleh alasan filosofis.

pemahaman teori seni. Akan tetapi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional lebih banyak pada aspek keterampilan. Merujuk pendapat ini bahwa pembelajaran seni yang bersifat esensial dapat dimaknai sebagai bentuk pendidikan seni. Materi pembelajaran berupa kemampuan keterampilan seni. 1972). yaitu kecenderungan pelaksanaan pendidikan seni yang didasarkan pada pembenaran esensial dan pembenaran kontekstual (Eisner. Bentuknya mengarah pada pembinaan dan peningkatan penguasaan berkesenian melalui kegiatan ekspresi diri dan melibatkan pengalaman serta kesadaran estetik. Menurut Ramalis (2006) terdapat beberapa pendangan tentang konsep pendidikan seni yang berkembang seperti. Berdasarkan konsep pendidikan seni yang difungsikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Menurut Ibenzani (1985) keterampilan itu meliputi cara-cara membuat sketsa pada papan ukir. konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi. dan pameran/gelar hasil karya. seperti untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan murid. maka dalam aplikasinya memunculkan dua kecenderungan. kemampuan apresiasi seni. sedangkan pembenaran kontekstual terkait pada fungsi untuk mencapai tujuan di luar tujuan pembelajaran seni. Untuk meningkatkan kemampuan seni murid yang berkaitan dengan seni itu sendiri termasuk pada pembenaran esensial. Artinya pernyataan Read (1970) yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran seni sebagai alat atau media pendidikan mendapat dukungan dari para ahli pendidikan seni yang lainnya.dan Harbert Read sendiri menyatakan dapat membiri kepekaan cita rasa keindahan anak. dan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas. konsep pendidikan seni untuk apresiasi. cara menggunakan pahat. dan 66 .

Konsep ini juga untuk melatih kedua tangan murid sehingga merangsang syaraf otak kanan dan otak kiri. untuk pembentukan konsepsi. Konsep-konsep pendidikan seni itu untuk sarana apresiasi. Berdasarkan pendapat ini maka ada tiga pandangan tentang konsep pendidikan seni. Tujuan lain adalah untuk mendewasakan murid baik segi intelektualnya. 4) analisis. Wilson (Bloom. dan 7) produksi. Konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi dilandasi oleh pemikiran bahwa “salah satu sarana untuk mengungkapkan pikiran adalah menggambar”. baik melalui kegiatan menggambar maupun kegiatan observasi lapangan dengan kegiatan mengunjungi obyek-obyek seni seperti galeri. Menurut Ramalis (2008) perlu diperhatikan dimensi prilaku agar pembelajaran seni dapat berhasil. Konsep pendidikan seni untuk apresiasi dilandasi pada pemikiran bahwa persepsi murid-murid terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan langsung. dan pameran. yaitu kognitif. dan membina kreatifitas. dan psikomtorik menjadi tujuh dimensi prilaku seni. 5) evaluatif0. Pandangan itu didasari bahwa pendidikan seni dapat mengembangankan berbagai potensi yang ada pada murid. Jadi pembaharuan konsep pendidikan seni dengan mengutamakan kebebasan berekspresi murid bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Jadi 67 . 2) pengetahuan. afektif. 1975) tiga dimensi prilaku. Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget (1952) yang menekankan pentingnya gerakan manusia dalam kaitannya dengan perkembangan pengetahuan. yaitu. 1) persepsi. Gambar merupakan suatu bentuk bahasa untuk menuangkan ide bahkan ada sauatu kosa kata yang tidak jelas atau ragu biasa divisualisasikan dengan gambar. apresiasi. 3) pemahaman. maupun menghendaki murid belajar dan perbuatan aktif.cara merawat alat-alat uikir. Menurut Brent G.

dan mengukir pada dasarnya adalah pengembangan kreatifitas murid. Sebagaimana dikemukan sebelumnya bahwa kegiatan mengukir termasuk pada kegiatan motorik. kesiapan. penyesuaian. Sedangkan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas dimaksud untuk menjelaskan terjadinya pertumbuhan mental dan kreatifitas yang ada pada diri murid. seperti menggambar. Kegiatan menggambar adalah mengorganisasikan sensasi indrawi sehingga menghasilkan impresi yang dapat diinterpretasikan. mengingat. gerak komplek. maka kreatifitas merupakan aspek tertinggi dalam pengembangan kemampuan motorik murid. melukis. Kegiatan seni rupa yang berbentuk praktek. menganyam. di mana strategi kognitif itu sendiri adalah kemampuan memecahkan masalah-maslah baru dengan jalan mengatur proses internal individu dalam memperhatikan. murid tidak sekedar menirukan bentuk-bentuk yang diajarkan atau dicontohkan guru. Pengembangan keterampilan dalam aspek pembelajaran tercakup dalam ranah psikomotor. maka guru harus dapat sampai pada aspek ini. Menurut Aunurrahman (2009) kreatifitas adalah kemampuan menciptakan pola baru. Memperhatikan tujuh tingkatan prilaku motorik ini. gerak terbimbing. dan berpikir (Gagne dalam Aunurrahman. 2009). ide dan gagasan murid. yaitu persepsi. Kegiatan seni sebagai sarana untuk mengembangkan potensi. dan kreatifitas. Sementara Lowenveld (1982) 68 . Jadi pembentukan konsep dihasilkan dari aktifitas menggambar karena menggambar merupakan kegiatan mental dan pikir. Penekanan kemampuan kognitif menjadi titik berat konsep ini.kegiatan menggambar suatu obyek berarti menerjemahkan persepsi ke dalam bahasa visual. belajar. gerak terbiasa. Menurut Simpson dalam Aunurrahman (2009) ada tujuh prilaku kemampuan motorik.

b. Pentingnya Pendidikan Seni Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan seni bagi masyarakat perlu terus dikembangkan. sedangkan seni adalah sarananya. kemungkinan besar disebabkan minimnya penghargaan terhadap pendidikan seni. Konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. persepsi. Belahan otak kanan ini akan berintraksi dengan otak kiri yang berfungsi logika. Sedangkan konsep pendidikan seni yang menekankan pada penumbuhkembangan kepribadian murid.menyatakan bahwa kegiatan seni merupakan sarana bagi processing. Conny Samiawan (2001) menyatakan bahwa pengkerdilan pendidikan seni yang cukup lama itu salah satunya menghasilkan rendahnya kepekaan sosial masyarakat. Dari kajian filosofi konsep seni dan konsep pendidikan seni tersebut di atas bahwa seni untuk mengisi dan mengasah otak kanan yang berfungsi intuisi. Akibatnya adalah timbul berbagai kekerasan yang melanda Indonesia. oleh karena itu konsep tersebut cocok diterapkan dan dikembangkan pada sekolah kejuruan seni. mengutamakan dampak dari proses pembelajaran seni dan bukan mengutamakan kualitas hasil karya seni. spasial. Pendidikan seni dapat mengasah solidaritas sosial masyarakat. murid adalah idealnya. 69 . sedangkan konsep seni ekspresi mendasari munculnya filosofi pendidikan seni yang menekankan pada menumbuhkembangkan kepribadian murid. sanggar-sanggar seni atau kursus-kursus seni. kreativitas. dan emosional. Konsep seni imitasi mendasari munculnya filosofi konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. mengutamakan kualitas hasil karya seni yang didukung oleh kualitas proses kerja skill. Pendidikan seni tidak hanya harus berlangsung di sekolah-sekolah formal tapi dapat berlangsung setiap saat di tengah masyarakat. rasional dan analitis.

dan dimensi profesional. selain berfungsi untuk pendewasaan dan pembudayaan peserta didik juga memiliki nilai yang berarti sebagai sarana pembentukan pribadi. Yahya (2006) menyatakan bahwa pendidikan seni juga bersifat multi dimensi karena bertujuan mengembangkan dimensi personal. dimensi sosial. 1957. Pada dimensi sosial maka pendidikan 70 . serta jiwa kewirausahaan. Pendidikan seni berfungsi sebagai. dan (4) alat untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk (Read. Menurut Ramalis (2006: 24) bahwa pendidikan seni. Jadi pendidikan seni tidak hanya diberikan sebagai salah satu bidang studi di sekolah formal ada baiknya diberikan pada pendidikan nonformal. Apalagi cabang seni yang berakar dan tumbuh di tangah masyarakat akan mudah menjadi sarana untuk mengasah rasa solidaritas sosial. 1970: 8). Pendidikan seni merupakan elemen yang esensial dalam membentuk watak. mengasah rasa. Dalam dimensi personal maka pendidikan seni juga membantu menyeimbangkan teknologi yang berorientasi praktis ekonomis dengan kemanusiaan (humanity). Lowenfeld. dan meningkatkan karsa murid dapat dilakukan dengan pendidikan seni. kecerdasan kreatifitas (CQ). kehalusan rasa dan budi. (2) alat untuk mengekspresikan perasaan yang dinyatakan dalam suatu bentuk. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan seni merupakan subsistem dalam pendidikan nasional. (3) alat untuk mengekspresikan berbagai pengalaman jiwa atau untuk mengungkapkan sebagian atau seluruh bawah sadar. (1) koordinasi antara berbagai persepsi dan serisasi dalam kaitannya dengan lingkungan. Pada dimensi personal pendidikan seni membantu mengenbangkan kecerdasan intelektual (IQ).Pengembangan pola pikir. kecerdasan emosional (EQ). Pendidikan seni sebagai upaya pendewasaan dan pembudayaan murid (Wickiser. 1982). kecerdasan spitual dan moral (SQ).

sehingga proporsi bobot dan setiap aspek yang perlu dicapai akan berbeda sesuai dengan tingkatan pendidikan. dan psikomotorik menjadi tujuh dimensi perilaku seni yang meliputi. Untuk itu motivasi dan minat murid terhadap kegiatan seni jangan dimatikan terutama dalam proses pembelajaran. Pembelajaran akan berhasil jika dalam pendidikan memperhatikan berbagai dimensi perilaku seni. dan suara sebagai bahasa eksperisi maupun keilmuan. (2) pengetahuan. Keseluruhan aspek dalam dimensi ini bersifat berjenjang dan perlu dipelajari murid melalui muatan seni yang beragam. (5) evaluasi. 1990). (6) apresiasi. Pengembangannya disesuaikan dengan perkembangan dengan kebutuhan seni. Kepekaan rasa dikembangkan dengan memberi kesempatan memahami nilai budaya melalui permainan (Mary. afektif. Sedangkan dalam dimensi profesional maka pendidikan seni menekankan pada penguasaan keterampilan. 1975) menerjemahkan perilaku kognitif. kerena dapat menguanakan media. Pendidikan seni juga dapat bersifat multilingual dan multikultural. 71 . agar murid dapat mengembangkan jiwa mandiri sebagai bekal hidup di tengah masyarakat. (3) pemahaman. (4) analisis. Berikan kesempatan dan wadah murid dalam mengembangkan diri untuk mengolah kemampuan kreatif mereka dengan cara mengeksplorasi terhadap beragam kosa rupa. Muatan seni tergantung pada karaktersitik bidang seni yang dikembangkan. rupa.seni membantu mengembangkan sikap toleransi agar mudah bergaul dalam masyarakat luas dan menghargai hak azasi manusia. teknis dan materi seni. Wilson (dalam Bloom. serta dapat menghagai keanekaragaman budaya. dan (7) produksi. (1) persepsi. Ketujuh aspek dimensi perilaku seni ini perlu dilatihkan pada murid secara terus-menerus. gerak. bunyi dan gerak.

sebagai media penyaluran bakat/ hobby. dapat pula mengekspresikan sesuatu yang tak mengarah kepada suatu obyek melainkan hanya menyatakan perasaan rasa sakit. rasa lapar. panas. teori pengungkapan yakni seni sebagai sana untuk mengungkapkan perasaan batin. Ekspresi anak-anak tersebut ditunjukan untuk mencapai keinginan tertentu misalnya menyatakan keadaan dingin. Kegunaan Seni Jika diklasifikasikan maka ada beberapa kegunaan seni bagi manusia. teori alat yakni seni sebagai sarana untuk keperluan berbagai hal termasuk merangsang berfikir. dan teori suasana lingkungan yakni seni yang bertalian dengan keadaan masyarakat dan lingkungannya. sebagai media penjelajahan estetis. teori metafisis yakni seni hanyalah sebagai tiruan dari ciptaan Ilahi. Menurut Ramalis (2006) seringkali anak kurang mampu mengeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan. jika keadaan rasa haus telah berakhir biasanya mengakibatkan rasa gembira yang dinyatakannya dengan senyuman. sebaliknya jika rasa haus belum terpuaskan maka akan terekspresikan dengan sedih atau menangis. rasa haus. Hal itu tampak ketika bayi menangis dan gerakan-gerakan lainnya yang merupukan eksperisi diri untuk diketahui ibunya. yakni. sebagai media komunikasi. Bagi anak.c. teori permainan yakni seni sebagai sara untuk menyimbangkan energi yang berlebih. Ekspresi tersebut saling berhubungan. sebagai media eksperisi. Seni sebagai media ekspresi telah nampak sejak manusia itu lahir. Menurut Adirozal (2002) general theory of art terdiri dari teori bentuk yakni seni sebagai pure form (bentuk murni) dan expressed form (bentuk ungkapan). sebagai media bermaian. bahasa lisan lebih sulit untuk digunakan mengungkapkan 72 . dan sebagai media membantu penalaran/ berpikir. dan rasa marah. rasa gembira. Ada lima teori seni yang bertalian dengan kegunaan seni bagi manusia.

terutama yang dijumpai dalam kegiatan berolah seni. Dalám hal ini pikiran. Ekspresi adalah salah satu kebutuhan ruhaniyah/ batiniah individu untuk berhubungan dengan orang lain. Ekspresi kreatif inilah yang harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran kesenian. ada yang lebih kuat dan cekatan pada kemampuan berupa gambar. Oleh karena eksperisi merupakan kebutuhan ruhaniyah manusia maka ekspresi perlu mendapat perhatian dan guru perlu mengembangkannya. patung. Orang dewasa telah mempunyai banyak kosa kata untuk mengungkapkan perasaannya berbeda dengan anak-anak yang terbatas kosa katanya. maka ekspresinya pun juga berbeda. hasil pengulangan atau hasil jiplakan. arsitektur. Manusia secara alamiah juga terjadi perbedaan antara satu dengan lainya. Sebaliknya ekspresi yang tidak kreatif adalah ekspresi yang tidak menghasilkan nilai-nilai kreatif atau merupakan hasil tiruan. Ekspresi kreatif adalah ekspresi yang mengandung kreativitas. Potensi seorang murid dengan murid lainnya tidak sama. Menurut Ramalis (2006) terjadinya ekspresi secara spontan tanpa perintah dari luar. dan kriya lainnya.isi hatinya. Sebab ada 2 macam ekspresi dan anak yaitu ekspresi kreatif dan ekspresi yang tidak kreatif. Seni sebagai media komunikasi bermakna sebagai penyampaian suatu hasrat sesuatu pada orang lain. Perbedaan potensi ini harus menjadi perhatian seorang guru dalam mendorong eksperisi murid. perasaan dan emosi ikut berperan. Kebutuhan orang dewasa juga berbeda dengan anak-anak. seni dapat membantu mengekspresikan idenya. Berkomunikasi merupakan fitrah bagi mansuia sebagai makhluk 73 . Pengembangan daya ekspresi akan terkait dengan pengembangan kreativitas. Anak-anak lebih banyak dan suka mengeksperisikan disi dengan coretan dan gerak.

Dari kegiatan duduak bapamainan mengahsilkan seni anyaman. orang dewasapun juga dapat melahirkan seni dari cara bermain. 2002). silat. seni tari. Gambar merupakan media komunikasi yang cenderung paling banyak dilakukan oleh anak yang dibentuk dengan bahasa rupa. dan randai. kelebihan energi inilah yang mendorong manusia untuk menyeimbangkannya dengan cara bermain-main. berdiri meninjau jarak). karikatur. energi itu dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif sehingga mengahsilkan karya. drama. Berkomunikasi dengan turlisan dalam wujud puisi. sulaman. eksperisi yang dihasikan oleh anak-anak yang paling murni.sosial. seni ukir. (Adirozal. Sedangkan seni yang dihasilkan dari falsafah tagak maninjau jarak menghasilkan pencak. Seni yang dihasilkan dari permainan bukanlah milik anak-anak semata. Jika ditarik pada ranah seni maka berkomunikasi dengan suara dapat diwujudkan dalam bentuk nyanyian atau musik. tagak maninjau jarak (duduk berpermainan. Teori permainan dalam seni rupa lahir dari adanya kelebihan energi dan ide. Berkomunikasi dengan berbagai media atau gabungan media suara. dan opera. 74 . novel. dan gambar bisa dalam wujud film. Sarana berkomunikasi dapat melalui media: suara. Sebahagian seni di Minangkabau lahir dari pengolahan energi yang berlebih. Berkomunikasi dengan gerak dapat dalam wujud seni tari. gerak dan gambar. tenunan. tulis. Permainan adalah ekspresi tentang hubungan manusia dengan seluruh kehidupan. pantonim. Sebagai media bermain maka seni merupakan bentuk ekspresi bebas yang paling jelas pada anak-anak. dan seni ukir. dan silat. seni anyaman. dan pantun. gerak. Mamangan Minangkabau yang melandasi seni itu adalah duduak ba pamainan. Berkomunikasi dengan wujud gambar melakirkan seni lukis. seni patung.

dan (4) dari segi pikiran. (3) dari segi sensasi. hanya saja bentuk dan kadar seninya yang berbeda. permainan dapat dikembanngkan dengan latihan-latihan penjiwaan pada seni drama. Maksud dari estetis di sini adalah keindahan yang berkaitan dengan 75 . sebab sebaik apapun bakat seseorang tanpa pernah diasah dan dikembangkan maka tidak akan berarti apa-apa. dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif ke arah keahlian. Ada yang berbakat seni tari. Sebagai media pengembangan bakat atau hobi seni.Apapun bentuk aktifitas permainan merupakan gerakan-gerakan yang berupaya mencari perpaduan antara proses mental dan fisik. ada yang seni musik. Malah tanpa pernah dikembangkan bakat yang ada akan menjadi pudar dan hilang. dikembangkan dengan latihan-latihan ritmis pada seni tari dan musik. Kegiatan berkesenian menjadi salah satu sarana untuk memupuk dan mengembangkan bakat. ada yang hanya pada tahap penikmat seni dan ada yang sampai sebagai pencipta seni. (2) dari segi intuisi. dan ada yang seni rupa. dapat dikembangkan dengan cara mengekspresikan diri pada seni disain plastis atau visual. banyak orang berpendapat bahwa kemampuan berkesenian merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. Selain sebagai penyaluran hobi maka seni juga sebagai media untuk penjelajaran pengalaman estetis. Bakat yang terpupuk sejak awal tentu akan jauh lebih baik perkembangannya. 2004) menyatakan sebenarnya setiap manusia mempunyai bakat seni. Adirozal (dalam Yayah Khisbiyah. ed. Bakat yang baik dalam berkesenian tidaklah cukup. yakni (1) dari segi perasaan. Sebuah pendidikan seni yang ideal tentu memberikan kesempatan kepada setiap murid yang berbakat untuk memelihara dan mengembangkan bakatnya sejak awal. Menurut Ramalis (2006) permainan bisa dikembangkan sesuai dengan 4 fungsi mental.

melainkan setiap murid harus memeliki kepekaan seni. Hasil pengamatan dibahas dengan tujuan murid dapat kesenangan sebagai pengalaman subjektif. Dengan baiknya cita rasa estetisnya maka dengan sendirinya ia akan mampu menghargai karya seni baik karya seni 76 . Cita rasa keindahan itu terpusat pada kesenangan dan merupakan pengalaman subyektif yang sulit ditentukan tolak ukurnya. Pernyataan buya Hamka bahwa ‘hidup tanpa seni akan hampa’ tidak dimaksud bahwa setiap manusia/ murid harus mampu melahirkan karya seni. sebab pengalaman estetis itu sebagai vokabulari bagi anak. Pengalaman keindahan dapat dibangun dengan berbagai cara. di antaranya mengajak murid untuk berapresiasi atau menyaksikan dan menghargai karya orang lain. Eastetic experince merupakan pengalaman keindahan yang dimiliki setiap manusia. Bila naluri murid dikembangkan dengan baik maka ia akan memeliki pengalaman estetis yang banyak dan baik. Setiap murid memiliki naluri dan potensi cita rasa keindahan. Dari banyaknya pengalaman keindahan itu maka ia akan dengan mudah berkarya. Adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan akan membuat murid dapat menganalisa dan sekaligus merasa. Atau dapat juga murid diajak lansung kepada objek-objek alam dan lingkungan masyarakat sehingga menumbuhkan kepekaan estetisnya. maka naluri tersebut akan “mati”. Setiap pribadi murid perlu dikembangkan cita rasa keindahan dalam rangka menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Untuk menumbuhkan kepekaan seni adalah dengan mengembangkan sikap dan pengalaman cita rasa keindahan. di mana semua manusia memiliki cita rasa keindahan. Potensi dan naluri itu harus diasah dan dikembangkan terus.rasa. jika naluri ini tidak ditumbuh kembangkan. Setiap anak yang telah memiliki kepekaan seni maka cita rasa keindahannya baik.

Proses-proses seperti itu akan membantu anak berpikir analisis dan bernalar. sebelum sebuah karya seni dilahirkan maka terlebih dahulu dilakukan analisa yang terkait dengan media yang tepat karya tersebut diwujudkan.dia sendiri atau karya seni orang lain. Seni sebagai media membantu kemampuan berfikir atau bernalar hal ini terkait dengan seni merupakan hasil kerja olah otak. d. Karya seni merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dalam proses berkarya seni. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. gerak. Apakah media suara. Setelah ditetapkan salah satu medianya. dan kemampuan memecahkan masalah. dan tata bahasa. yaitu kelompok seni kaum bangsawan (court-arts) dan kelompok seni kelas bawahan (folkarts). proporsi dan bahan yang digunakan. astronomi masuk bersama musik ke dalam empat serangkai (quadrium). berpikir kreatif. dialektik. atau rupa. Bahkan Aristoteles mengatakan. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. Seni Ukir Awalnya pengelompokan seni (zaman Yunani) berdasarkan satus sosial. misalnya rupa maka berlanjut pada analisis komposisi. Dengan demikian kegiatan berkesenian menempatkan rasio sebagai kontrol. baik karya bangsa sendiri amaupun karya bangsa asing. geometri. Pada zaman pertengahan kelompok seni kelas bangsawan disebut dengan liberal arts yang dilawankan dengan vulgar arts. retorika masuk pada tiga serangkai 77 . Kelompok seni kaum bangsawan dilindungi oleh dewa sedangkan seni kelas bawahan bersifat kasar. bahwa keselarasan antara rasio dan emosi terdapat dalam seni. Pengelompokan ini menjadi rancu karena aritmetik.

arsitektur. keramik. seni yang tinggi ekspresinya termasuk fine arts dan seni terpakai disebut applied arst. permadani. tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. kerajinan kulit. titik. seni rupa dan disain. dan disain komunikasi visual. dan lengkungan. tembikar. dan seni grafis. perhiasan perak. dan audiovisual arts. dan ukiran. Kelompok seni yang masuk pada seni murni adalah seni lukis. Seni pertunjukan terdiri dari seni tari. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada kapak batu. Pembagian seni selanjutnya berdasarkan indera serap manusia yakni visual arts. Sedangkan yang masuk pada seni kriya adalah anyaman. 78 . Pengelompokkan ini dirasakan juga kurang tepat sebab sebab tidak ada seni yang tidak memiliki ekspresi dan tidak juga ada seni yang tidak terpakai. Kelompok seni kasar disebut minor arts terdiri dari perabotan kayu. dan pembuatan medali. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. logam. Khusus tentang seni ukir maka bangsa Indonesia telah mulai mengenalnya sejak zaman batu muda (neolitik). disain interior. Pengelompokan seni juga pernah dilakukan atas kandungan daya ungkap atau ekspresinya. seni teater. seni karawitan. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis. serta seni multi media (drama telivisi dan film).(trivium). audio arts. ukiran manikam. dan seni musik. Seni rupa terdiri dari seni murni. Jika mengacu pada konsersium seni Indonesia maka pengelompokan seni terdiri dari seni pertunjukan. musik dan kesusasteraan. Pernah juga pengelompokan seni berdasarkan pada halus dan kasarnya kerja seni. sulaman. disain eksterior. seni pahat. yakni sekitar tahun 1500 SM. Kelompok seni yang halus disebut dengan manyor arts yang terdiri dari seni lukis. batik. (The Liang Gie. seni patung. tenunan. perhiasan emas. 1976). seni kriya.

pilin berganda. b. Risman Marah (1988) menyatakan ukiran adalah sesuatu yang diukir atau dipahatkan yang tidak bisa dipisahkan dengan motif-motif. d. Hal ini dapat dilihat dari sejarah seni rupa. Motif ukiran yang mengakat atau menstilisasi dari bentuk alam berlaku di manamana.blogster. atau bahan-bahan lain. India. penggambaran dan pengukiran motif. Dt. Ukiran Minangkabau pada umumnya banyak mengambil nama-nama motif dari bentuk tumbuh- 79 . Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor. emas. Yunani.30 WIB). menggoreskan huruf-huruf dan gambar pada plat-plat dari kayu atau logam sedemikian rupa. seni Mesir kuno. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander. diambil 8 Maret 2010 pukul 16. Babylonia. kayu. Islam.dengan bahan tanah liat. dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu. yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. tumpal. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu. penempatan motif. jelas sekali bahwa alam dan segala isinya bentuk dan kurenahnya menjadi sumber ilham bagi para seniman. Pengertian ukiran menurut Van Houve dalam Ensiklopedia Indonesia adalah ukir mengukir. Persia. batu. 1985). ciri-ciri ukiran. (http://www. perak dan lain sebagainya. bambu. Assyiria. serta binatang maupun manusia.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia. topeng. dan f. c. Hanya saja dalam pengolahan dan penerapannya terdapat perbedaan yakni: a. gerak garis dasar. dan Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan bahwa seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yaitu menggunakan bahan perunggu. Tumbijo. kulit. ( HB. batu. pada pengambilan dan pemilihan suatu motif. baik seni primitif Afrika.

Peralatan ukiran Minangkabau tidaklah sebanyak pahat ukiran Bali dan Jepara. 5. Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. pahat sudu (pahat sodok). Walau ada yang ditatahkan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam. Model Pembelajaran Beragam difinisi dan teori yang dikemukan mengenai model pembelajaran. namun dalam hal ini tidak dimaksud untuk membahas bermacam-macam teori model. Jadi model pembelajaran merupakan inti atau jantung dari strategi mengajar. dan nama makanan. pisau rencong. Menurut Zulhelman (2000) motif-motif Minangkabau bersumber dari alam yang berangkat dari falsafah orang Minangkabau yaitu alam takambang jadikan guru (alam terkembang menjadi guru). namun ada juga yang diambil dari kata-kata adat.tumbuhan dan binatang. dan juga tidak ditujukan untuk menguji model yang telah ada. Menurut Elizar (2008) model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Kayu yang banyak digunakan di Minangkabau terutama di Pandai Sikek sampai saat ini adalah kayu surian. Dari berbagai difinisi dan teori model itu menjadi acuan dan pedoman untuk melihat atau menemukan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Menurut Joyce dan Weil (1980) 80 . Menurut Ibenzani (1985) pahat ukiran Minangkabau yang paling tua usianya bernama pahat rencong. Alat ukir tradisional Pandai Sikek terdiri dari pahat layang-layang atau pahat siku. pahat korek lubang disamping pahat rencong. Model mempunyai makna yang lebih luas dari sekedar metode dan strategi pembelajaran.

Bell (1981) menyatakan bahwa A teaching/learnng model is a generalized instructional process wich may be used for many different in a variety of subjects . Pendidikan dan pembelajaran merupakan aktivitas dalam upaya membangkitkan. nilai. membentuk kelompok siswa untuk suatu pelajaran dan memberikan tes kepada siswa. Sebauah model akan baik dan berarti jika di dalamnya terdapat lima unsur. kelima unsur itu menurut Bruce Joyce (1994) adalah: (1) sintaks. Pendapat Bell ini secara umum dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dapat ditetapkan pada beberapa subjek. ide. Jadi model merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem. keterampilan. mendorong. yakni menguraikan peranan pendidik (guru) dan peserta didik serta aturan-aturan yang diperlukan dalam interaksi sosio- 81 . dan memfasilitasi potensi-potensi murid. mengatur tingkah laku siswa. yakni urutan kegiatan atau langkah-langkah pembelajaran. Menurut Mills (1989) model adalah bentuk repsentasi akurat. Pembelajaran yang efektif tidak sekedar mengajar dengan baik. sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertintak berdasarkan model itu. Guru harus tahu bagaimana mengadaptasi pengajaran terhadap tingkat pengetahuan siswa. memotivasi siswa untuk belajar. Suherman (1993) mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas. (2) sistem sosial. Winatapura (2001) menyatakan bahwa model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang dipergunakan untuk mendapatkan pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan.hakekat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi. cara berpikir. Walau ada yang menyamakan antara model dengan teori tapi ada perbedaannya yakni bahwa model berasal dari asumsi-asumsi yang disederhanakan. dan cara bagaimana belajar.

4) mendeskripsikan keadaan yang terjadi saat ini. dan 9) menghasilkan model. 3) mendeskripsikan aspek-aspek yang terkait dengan masalah yang akan disusun sebagai modelnya. Menurut Bastian (2009) sebuah model dapat dianggap baik apabila mampu memberikan gambaran yang tepat tentang hubungan-hubungan antara fenomena yang terjadi dengan aspek-aspek yang ada pada suatu hal keadaan benda. yakni pengaruh langsung dan tidak langsung yang dialami peserta didik saat penerapan model. dan (5) efek instruksional dan pengiring. 2) menetapkan tujuan penyusunan model. yakni kondisi yang diperlukan agar model dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukan di atas maka model yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan suatu keadaan yang menyeluruh dalam mengorganisasi pendidikan atau pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman guna mencapai tujuan.kultural. 8) melakukan validasi terhadap draf model. yakni memberikan gambaran kepada pendidik tentang cara memandang atau merespon pertanyaan-pertanyaan siswa. keadaan dan fenomena yang ada berdasarkan kajian terhadap teori-teori pendukung. 7) menyusun draf model. Dalam menyusunan sebuah model ada langkah-langkah tertentu yang dilakukan. 6) melakukan analisis hubungan antara aspek-aspek. (3) prinsi-prinsip reaksi. Pendapat. langkah-langkah dan unsur- 82 . Model yang baik juga hanya akan terwujud ababila disusun berdasarkan kajian-kajian yang kompreherisif terhadap data yang ada dan telah divalidasi. Menurut Taba (1962) dan Sukmadinata (2005) langkah-langkah itu adalah: 1) menjelaskan fenomena yang berlaku saat sekarang. 5) mengelompokkan data. (4) sistem pendukung.

post Evaluasi Hasil Belajar Murid yang jadi guru seni ukir Tukang Ukir Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Tujuan Pendidikan Harkat dan Martabat Manusia 83 .unsur yang mesti terkandung dalam penyusunan model yang dikemukan akan dipedomani. while. Perkiraan Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Harkat dan Martabat Manusia Tujuan Pendidikan Guru Seni Ukir Proses Pembelajaran Murid Penerapan high touch high tech Tahapan Pembelajaran pre.

dan (6) penyajian hasil penelitian A. Sejalan dengan itu Nasution (1992:18) menyatakan penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. data dan sumber data. studi kasus. Hakikat penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1992). Adapun metode penelitian yang dimaksud adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penelitian. interpretif. perspektif ke dalam. dan deskriptif. (5) analisis data. Selain langkah-langkah pokok yaitu pengumpulan data. dan evaluasi pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional itu akan disajikan secara diskriptif. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif (kata-kata). etnometodologi. (2) lokasi penelitian. Bentuk Penelitian Penelitian ini berbentuk kualitatif yang sering dilawankan dengan penelitian kuantitatif. fenomenologis. Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Moleong (1998) adalah sebagai prosedur 84 .METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kualitatif model pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek. bukan kuantitatif (angka-angka). Materi. teknik. analisis data. Dalam bab ini secara berturut-turut diuraikan hal-hal tentang (1) bentuk penelitian. bentuk penelitian. interaksionis. etnografis. naturalistik atau alamiah. penentuan lokasi penelitian. Menurut Moleong (1998:3) ada juga yang menyatakan penelitian kualitatif ini dengan istilah inkuiri. ekologis. pada bagian ini dikemukakan pula hal-hal yang berkenaan dengan paradigma penelitian. (4) teknik pengumpulan data. simbolik. Untuk mewujudkan hasil penelitian yang baik diperlukan metode penelitian yang tepat. dan penyajian hasil penelitian. (3) data dan sumber data.

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Selanjutnya Moleong mengutip Jerome Kirk dan Marc L. Miller yang mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasan sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 1998:3). Sugiyono (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif muncul karena adanya perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala. Paradigma realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Paradigma demikian disebut dengan paradigma postpositivisme. Paradigma penelitian sebelumnya disebut positivisme di mana memandang gejala lebih bersifat tunggal, statis, dan konkrit. Paradigma positivisme mengembangkan penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma postpositivisme mengembangkan penelitian kualitatif. Penelitian ‘Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisonal di Pandai Sikek’ tidak dimaksudkan memberikan perlakuan kepada subyek terteliti, tetapi hanya mendiskripsikan hal-hal yang dilakukan oleh subyek terteliti dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari, baik yang dilakukan oleh guru maupun reaksi murid. Diskripsi dilakukan setelah data yang ada terlebih dahulu dikaji dan ditelaah. Pristiwa pembelajaran pada sanggar seni ukir tersebut merupakan perilaku sosial sehari-hari yang dilakukan oleh guru dan murid. Dimyati (1996) mengemukakan bahwa penelitian yang berkaitan dengan peristiwa sosial akan mudah dijaring datanya jika diletakkan pada salah satu kuadran peta paradigma sosiologi Ritzer. Kuadran keempat Ritzer yaitu kuadran untuk melihat suatu

85

peristiwa interaksi sosial terutama perilaku guru dan murid yang terjadi dalam proses pembelajaran seni ukir baik di dalam sanggar maupun di luar sanggar, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Sugiyono (2009:285) bahwa dalam pandangan penelitian kualitatif gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisahpisahkan), tidak ditetapkan berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity). Untuk memperoleh data yang secara holistik maka dilakukan penelitian bentuk diakronis yaitu meneliti dengan melihat perkembangan objek. Proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek telah berlangsung semenjak tahun 1920-an, sedangkan sanggar atau studio seni ukir berdiri pada awal tahun 1970 oleh Ramli Dt. Rangkayo Sati. Data yang dapat dihimpun dimulai semenjak guru sekarang menjadi murid Ramli Dt. Rangkayo Sati, kemudian mereka sebagai guru, dan murid-murid seni ukir sekarang. B. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Sebelum diberlakukannya PERDA Nomor 9 tahun 2001 tentang sistem pemerintahan terendah di Sumatera Barat, maka Pandai Sikek pernah dalam bentuk desa. Sekarang Pandai Sikek merupakan sebuah kenagarian, di samping sebagai daerah teritorial

administrasi pemerintahan terendah maka nagari juga merupakan teritorial budaya/adat. Apa bila desa merupakan satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan di daerah lainnya di Indonesia, maka kenagarian adalah satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan Sumatera Barat. Hal ini dibenarkan dengan diberlakukannya Undangundang No 32 tahun 2004 tentang sistem otonomi daerah.

86

Lokasi penelitian meliputi

kenagarian Pandai Sikek. Ada beberapa alasan

menetapkan kenagarian Pandai Sikek sebagai lokasi penelitian. 1. Penetapan lokasi ini mengingat kenagarian merupakan daerah teritorial sebagai pendukung budaya Minangkabau. Seni ukir sebagai objek penelitian merupakan warisan budaya berada dalam kewilayahan kenagarian Pandai Sikek. Seni ukir yang oleh masyarakatnya dirasakan sebagai milik bersama, walau yang membuatnya tidak seluruh masyarakat Pandai Sikek (empat buah sanggar). Sebagai bukti bahwa seni ukir yang ada pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menjadi budaya masyarakat setempat maka gaya ukiran tersebut dinamakan ‘ukiran Pandai Sikek’ (Ibenzani Usman, 1985) 2. Sebelumnya tiga wilayah seni ukir Sumatera namun Barat sekarang yang memiliki tetap gaya eksis dan atau

mengembangkan

yang

berkesinambungan hanyalah Pandai Sikek. Dua daerah lain yakni gaya IV Angkek Candung ( untuk Payakumbuah) dan gaya Banuhampu Sungai Puar (Agam) tidak terlalu baik pembinaan pendidikannya atau hampir tidak ada generasi muda daerah ini yang belajar seni ukir. Malah sebahagian sanggar seni ukir dua daerah ini telah banyak berubah fungsi pada kegiatan pembuatan perabot. 3. Di daerah Pandai Sikek sampai saat ini masih banyak generasi muda yang berminat dalam mewarisi seni ukir. Ada beberapa generasi muda Pandai Sikek yang masih mau belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 4. Secara historis penduduk Pandai Sikek merupakan satu kesatuan yang sama yakni luhak Tanah Datar. Kenagarian Padai Sikek bahagian dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua di Minangkabau. Sebagaimana dinyatakan

87

tokoh budaya (adat) setempat. sedangkan data sekunder adalah data yang dikutip atau didapat dari sumber lain. Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini digunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Kedua data itu saling terkait dalam pengolahan hasil penelitian. karena di daerah ini terdapat berbagai aktivitas kerajinan rakyat seperti tenun. Kenagarian Pandai Sikek menjadi salah satu objek wisata budaya Sumatera Barat. murid seni ukir. intansi pemerintah (lembaga pendidikan formal yang mengajarkan materi seni ukir). Datuk Sanguno 1987. Data primer didapat dari pelaku yang terlibat langsung sebagai pemilik budaya. (Moleong. Data primer adalah data yang didapat langsung dari tangan pertama. 5. Walau mobilitas penduduk di kenagarian cukup tinggi (objek wisata budya) namun penduduk masih homogen. 88 . dan lembaga yang pernah membina sanggar seni ukir Pandai Sikek. Surakhmad. dan tokoh masyarakat. Datuk Rajo Panghulu 1997. Data primer juga diperoleh dari dinas. 1998. 1990). Sebagai daerah yang terbuka tentu akan banyak perubahanperubahan namun di Pandai Sikek sanggar seni ukir tetap bertahan sebagai salah satu identity etnic. songket. guru seni ukir. dan seni ukir.dalam berbagai tambo Minangkabau yang dibahas oleh beberapa penulis (Navis 1984. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. C.

Alat-alat tersebut terlebih dahulu diukur tingkat reabilitas dan validitasnya agar data-data yang diperoleh lewat instrumen itu benar-benar sahih. Konsep pengamatan terlibat sama dengan participant observation yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1992:23) yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan diri di dalam lingkungan subjek. dan studi kepustakaan atau analisis dokumen. sedangkan studi kepustakaan dilakukan pada perpustakaan resmi dan pribadi. dan aparatur pemerintah. Pedoman dan penuntun atau instrumen penelitian dalam melakukan observasi dan wawancara adalah pedoman wawancara. Juga data-data di kantor kanagarian. Wawancara juga dilakukan dengan komponen terkait seperti budayawan. dan dinas atau instansi terkait. tokoh masyarakat.Data sekunder diperoleh dari foto. dan tape recorder. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi langsung. D. Observasi Teknik observasi atau pengamatan merupakan cara untuk mengamati prilaku dan benda-benda yang berkaitan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. Masing-masing instrumen yang digunakan disesuaikan dengan standar yang berlaku umum. secara sistematis dan tidak mencolok. buku catatan. wawancara. buku-buku atau literatur baik hasil penelitian maupun tulisan lainnya yang berkenaan dengan pendidikan dan seni ukir. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru dan murid yang ada pada sanggar seni ukir. Observasi dan pengamatan dilakukan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. 89 . kamera (photo film). Wawancara dilakukan untuk menggali data yang tidak dapat diamati atau diobservasi. camat. 1.

Ada beberapa bentuk wawancara. Proses tanyajawab antara peneliti dengan subjek penelitian untuk mendapat data keterangan. wawancara tidak berencana.sehingga tercipta suatu priode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dengan subjeknya. Teknik ini sangat penting untuk mendapat data yang tidak dapat ditangkap melalui pengamatan. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. Pengamatan dilakukan pada sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek (tempat berlansungnya pembelajaran). guna memperoleh kepercayaan dari subjek penelitian. oleh Koentjaraningrat (1994) diklasifikasikan ke dalam wawancara berencana. SMK Negeri 8 Padang. 2. Wawancara Wawancara merupakan teknik yang sangat mendukung dalam pelaksanaan observasi. Observasi terlebih dahulu dilakukan pada informan kunci yakni guru seni ukir. Obsevasi yang intensif direncanakan dilakukan pada bulan April. guru (pimpinan sanggar) seni ukir. Perbedaannya terletak pada pada persiapan oleh peneliti tetang materi dan informan yang 90 . pandangan. dan pendirian secara lisan dari subjek dilakukan melalui wawancara. kemudian murid. Mei. dan wawancara sambil lalu. dan setelah itu pada tokoh budaya atau masyarakat yang terlibat pada pembinaan seni ukir. seperti pandangan dan pendirian manusia. dan Juni 2010. Operasionalisasinya diawali dengan survei lapangan baik sebelum proposal dibuat dan saat pembuatan proposal. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. pengrajin (murid/karyawan) sanggar seni ukir. Observasi juga dilakukan pada pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir yaitu SMK Negeri 4 Padang. Survei dilakukan dalam upaya pendekatan atau memperkenalkan diri dengan tokoh masyarakat.

Rangkayo Sati yang masih hidup dan tidak lagi mengukir di Pandai Sikek. Teknik wawancara sambil lalu termasuk ke dalam wawancara tidak berencana dan informan juga tidak diseleksi secara ketat terebih dahulu. Dengan teknik snowball sampling informasi berakhir pada kejenuhan informasi tetang pokok soal yang ingin diketahui. misalnya JK Dt. Pelaku kebudayaan adalah guru dan murid seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. pelaku kebijakan. Wawancara terencana ditandai dengan adanya daftar pertanyaan yang tersusun untuk diajukan pada responden. dan pelaku pendidikan. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan atas tiga komponen. Pertanyaan yang membatasi jawaban yang diberikan responden termasuk ke dalam tipe pertama. tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui tentang adat dan budaya umumnya dan khususnya seni ukir Sumatera Barat. Keseluruhan teknik wawancara dibedakan menjadi wawancara tertutup dan wawancara terbuka. yaitu pelaku kebudayaan. Bangso Rajo di Padangpanjang.akan diwawancarai. sedangkan tipe ke dua memberi kebebasan kepada reponden untuk menjawab secara luas dengan bahasanya sendiri. Sementara wawancara tidak berencana tidak dilengkapi dengan daftar pertanyaan yang berlaku ketat. Dalam hal ini termasuk murid-murid Ramli Dt. Jadi penentuan informan tidak berdasarkan teknik penghitungan secara kuantitatif. Informan ditetapkan secara purposive berdasarkan teknik snowball sampling. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe yang kedua atau terbuka. Pengumpulan data dimulai dari seorang informan pangkal yang dapat memberi petunjuk tetang individu lain yang tepat dan layak untuk diwawancarai sehubungan dengan topik penelitian. Komponen pelaku kebijakan terdiri dari aparat pemerintah yang berperan dalam 91 .

Penggalan materi setiap amat lapangan tahapan tergantung • Jumlah 5.• Daftar masing sanggar pertanyaan akan disiapkan diobservasi dan • Sangg 1. Sementara komponen pelaku pendidikan adalah guru-guru pada sekolah formal. 3. Materi dan tahapan yang mereka lakukan dalam mengajar • 1x 4. Jadwal dan waktu-waktu lama mereka mengajarkan seni ukir waktumya 6. Perbedaan antara mereka amat dengan guru mereka dalam tergantung mengajar dan materi yang kejenuhan data 92 . diobservasi ketika mereka jadi murid tidak dulunya • Satu kali ditentukan 2. Bahan/ materi yang diwawancarai ar ukir yang diterima guru seni ukir sekarang 2 x pertemuan. dan D Materi Observasi/ Wawancara Untuk guru seni ukir ketika mereka jadi murid Ramli Dt. Ketentuan sudah bisa dinyatakan pandai atau ahli ukir Untuk guru-guru seni ukir sekarang • Masing. Cara guru mereka dulu pertemuan objek mengajar / mentransper materi tidak pertama dan 3.idem 1. Motivasi mereka mengajarkan masing sanggar seni ukir akan 2.C. Tempat mereka dulunya kejenuhan data guru seni ukir belajar dan syarat untuk yang akan 4 orang menjadi murid diambil. dan D Masing. Cara mereka mengevaluasi baik pertemuan untuk menambah materi tidak maupun menentukan telah tamat ditetapkan 5.C. Cara mereka mengajar/ diobservasi dan mentransper keterampilan diwawancarai mengukir 2 x pertemuan.mengambil kebijakan sehubungan dengan pembinaan sanggar seni ukir Pandai Sikek. Cara guru mereka dulu ditetapkan seterusnya mengevaluasi/ menentuakan lama tergantung materi tambahan waktumya situasi 4. Rangkayo Sati • Waktu Keterangan Sanggar A.B. Rencana jadwal observasi dan wawancara Sasaran Sanggar A. 6.B.

• Masin g-masing informan akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Lembaga yang dituju dinas-dinas kabupaten Tanah Datar terkait dan lembaga pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir 3.C. Studi Kepustakaan 93 . seni ukir di Pandai Sikek 1x pertemuan tidak ditetapkan lama waktumya amat tergantung kejenuhan data yang akan diambil. Harapan mereka terhadap diwawancarai proses pendidikan pada sanggar 1 x pertemuan. Pandangan mereka terhadap Masyarakeberadaan seni ukir Pandai kat/ budaSikek yawan 2. dan D Untuk murid-murid seni ukir sekarang 1. Harapan mereka terhadap kesinambungan seni ukir Pandai Sikek Lembaga 1. Pandangan mereka terhadap proses pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek 3.B. Kepuasan atas penilaian guru atas prestasi mereka • yang akan diambil. Motivasi mereka belajar seni ukir 2. Usaha-usaha yang telah lembaga akan pemerin dilakukan diobservasi dan tah 3. Cara mereka belajar 3. Idem Jumlah murid untuk 4 sanggar ukir sebanyak 55 orang • Tokoh 1.diberikan Sanggar A. Masingmasing sanggar akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Peran mereka dalam membina • Masin atau sanggar seni ukir Pandai Sikek g-masing intansi 2.

Dokumen tersebut berupa perda-perda. Penggunaan sumber ini karena tidak semua data dapat ditangkap melalui observasi dan wawancara. rekaman terhadap proses dan fenomena sosial yang berkaitan dengan seni ukir Pandai Sikek dijadikan sebagai sumber data. program-program. Menurut Wuisman (1996:300). dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian. Data yang valid dan relevan dengan penelitian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. tulisan/dokumen. Khusus tentang dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah kebijakan yang terkait dengan pembinaan seni ukir di Pandai Sikek. Data yang diperlukan adalah yang sehubungan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar di Pandai Sikek. Untuk itu dalam analisis ini maka data yang telah didapat terlebih dahulu dipilah dan dipilih atau diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian. E. Tulisan-tulisan. Analisis data menggunakan metode kualitatif terutama yang didapat melalui wawancara. data statistik. mendokomentasikan analisis.Studi kepustakaan merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan data penelitian. dan kliping surat kabar. dan analisis dokumen termasuk didalamnya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa dengan mengorganisasikan data dengan rapi memungkin untuk memperoleh data yang baik. analisis data kualitatif adalah teknik pemadatan data dengan cara mengembangkan taksonomi. sistem klasifikasi kronologis yang mencakup jumlah keterangan yang terkumpulkan dan menunjukkan 94 . dan observasi atau pengamatan proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek. Analisis Data Menurut Syahron (2009) pengolahan dan analisis data dalam penelitian kualitatif sesungguhnya dimulai dengan mengorganisasikan data.

Sesuai dengan data yang diperlukan dan metode pengumpulan data tersebut. aksial (mengorganisasi data dengan cara mengkoneksikan antara kategori. menghubungkan kategori. dan penarikan simpulan/retifikasi. langkah-langkah analisis data yang dimaksud dilakukan dengan reduksi data. yakni memasukkan atau menghubungkaitkan teori-teori yang telah ada atau yang dikemukakan pada bab 2. Secara operasional. sub kategori). penyajian data. dan memvalidasi hubungan tersebut). Selain itu juga likakukan pengembangan kepekaan teoritis dengan cara mengembangkan pertanyaan-pertanyaan. yaitu reduksi data. frase. karena 95 .keterkaitannya secara sistematis. dan penarikan kesimpulan. Menurut Syahron (2009) menganalisis data membutuhkan kepekaan teoritis. Kepekaan teoritis ini dilakukan pada saat menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. analisis data kualitatif dilakukan dengan tiga langkah sistematis secara jalin menjalin (Miles. 2009) yakni melakukan koding baik terbuka (mengidentifikasi kategori-kategori). dan selektif (menyeleksi kategori yang paling mendasar. 1992:19). Proses analisis ini dapat digambarkan : Pengumpulan data Penyajian data Reduksi data Simpulan/retifikasi Sebelum penarikan simpulan terlebih dahulu akan dilakukan langkah-langkah yang disarankan oleh Strauss dan Cobin (dalam Syahron. penyajian data. menganalisis kata. dan kalimat.

dalam proses menganalisis data. Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif interpretatif. artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori dan kerangka pikiran yang berlaku umum. F. peneliti sesungguhnya sedang melakukan upaya mengembangkan teori. Masing-masing bab terdiri dari beberapa subbab dan beberapa subbab di antaranya terdiri dari sub -subbab yang disesuaikan dengan kebutuhan. yang uraiannya terdiri dari beberapa bab. Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentu laporan ilmiah yang berupa disertasi. 96 . atau berteori.

Jakarta : PT. Gaya Hidup. Padang : Genta Singgalang Press A. Disertasi.C. 2007. 2008. Raja Grafindo Persada.K. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Adat dan Kebudayaan Minangkabau. ------. dan Biklen. Curahan Adat Alam Minangkabau. ASKI Padangpanjang. Aunurrahman. Metodologi Penelitian. Kritik Seni Rupa dan Seni Kriya. New York: The Datuk Sangguno Dirajo. Padang: UNP Press. A.A Navis. Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial. 2002. 97 . Pengantar Evaluasi Pendidikan. Chris. 2009. Surabaya: Usaha Nasional. S. Wacana dan Praktek untuk Toleransi Pluralisme Budaya. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bogdan. No. Jakarta: Grafiti Prss. Adult Education Procedures. 16-30. (ed). No 2 bulan September.DAFTAR PUSTAKA A. 1984. The Standar for Fungtional Life Skills Curriculum. ------. dan EkonomiPariwisata” dalam Sri Krisnanto (Ed). 2004. “Kriya Gerabah Andaleh: antara Pelestarian. Muri Yusuf. ASKI Padangpanjang. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. 2004.1986. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Pendidikan Apresiasi Seni. “Apresiasi Sekolah Dasar Agama Sumatera Barat” dalam Yayah Khisbiyah (ed). Cultural Studies. 1987. “Model Pengembangan Kompetesi Guru Melalui Pelatihan Dalam Jabatan”. Bukittinggi: CV. Yogyakarta: B. Abdul Azis Wahab. Seni Kriya dan Kearifan Lokal dalam Lintas Ruang dan Waktu. Daleware.J Taylor 1992. Alam Terkembang Jadi Guru. Azhari Abdullah. 1999.D ISI Yogyakarta Adolf Bastian. Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. ------. Adirozal. Pustaka Indonesia. Dove. 1997.C and S. 2007.5 bulan Mei. 2009. Filsafat Agama. 1982. Dialektika Minangkabau Dalam Kemelut Sosial dan Politik. Belajar dan Pembelajaran. “Pembuatan Gerabah di Desa Galogandang Tanah Datar” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. R.A Navis. Bogdan. “Peranan Seni dan Budaya Minangkabau Dalam Pembangunan Pariwisata” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Bandung: Alfabeta. R. hal. Bakhtiar Amsal. Bandung: Alfabeta. Padang: Pascasarjana UNP Anas Sudijono. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. 2009. Barker. Delaware Departement of Education 2000.I. Surakarta: PSB-PS Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bandung: P. Frankel.Teresco. Psychologi Sosial. Filsafat Ketuhanan. 1999/2000. Jakarta: PT. Gustami.R Tilaar. Ibenzani Usman. 2005. Jakarta: Adicita Karya Nusa. UU. dan Masyarakat Madani Indonesia. 2008. 1983. (1981). dan Fungsinya”.A. Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural.RI. Materi matrikulasi S2 Kajian Budaya Universitas Udayana. Bali. 2001. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. “Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. Hamzah B Uno. 1984. New York: McGraw-Hill. Jakarta: PT. Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Denpasar: Universitas Udayana. Jakarta: Diknas Direktorat Dikdasmen. Jakarta: Buku Kompas. Gerungan. 2001. Michael J. Fasli Jalal (Ed). New York: Harper & Row. Jakarta : Panji Masyarakat. Jogyakarta: Kanisius. Rineka Cipta. Kebudayaan. Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Hamka. 2002. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. Yogyakarta: Pusta Pelajar.A. Pola. dan Makna”. Djohar. 2004. Idrus Hakimi Dt. Al Quran dan Terjemahannya. I Wayan Ardika. 98 . 1997. Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rajo Panghulu. H. Yogyakarta: STSRI-ASRI Yogyakarta. Disertasi. Hamka. 1993. Surabaya. “Seni Ukir dan Masalahnya”.1999. Bandung : Institut Teknologi Bandung. -----. J Daeng. Jack L. and Norman E. The Psycholgy of Human Learning. Dimyati dan Mudjiono. Karunia. -----. W. 1985. Islam dan Adat Minangkabau. Fungsi. Belajar dan Pembelajaran.Departemen Agama Republik Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Semarang: PT Karya Toha Putra Depdiknas (2003). 1999. Harisman. “Ukiran Mesjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia . Jakarta: DEPDIKNAS. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. 2009.A. SP. 1980. Hans. 2001. Jakarta: Buni Aksara. -----. Wallen. SP. Pendidikan. 2000. Howe. 1999. 1987. Membenahi Pendidikan Nasional. Tesis. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan. Rineka Cipta. 2000. “Warisan Budaya dan Globalisasi”. Publishers. -----. Manifesto Pendidikan Nasional. Teori Motivasi dan Pengukuran Analisis di Bidang Pendidikan. Propinsi Sumatera Barat: Kajian Bentuk. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup di SMP. How to Design and Evaluate Research In Education. 2000. Seni Kerajinan Mabel Ukir Jepara.

1971. Pengantar Antropologi I dan II. New Jersey: Prensentece Hall Inc. Naturalistic Inquiry. dan Huberman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Gramedia Pustaka Utama.Zaim. Muchtar Naim. 1996. Mulyasa. Mills. Y. M. 2005. Bandung: Alfabeta. Irawan Prasetya.B. Geoffrey G. Dasar-dasar Falsafah Adat Minangkabau. Lincolc. Moleong. Second Edition Chas. Jakarta: Rineka Cipta. 1985. 99 . Nana Sujana. 1976. Gramedia. 1999. Joice. Jakarta: Depdikbud. Pendidikan Formal Pengembangan Melalui PKBM di Indonesia (Sebuah Pembelajaran Dari Komonikan Jepang). Bennett Co. Muhibbin Syah. Padang: FKPS IKIP Padang. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Kompas Linbeck. Bandung: PT. Teori Budaya. John R. “Catatan-catatan Tentang Minangkabau dari Encylopedia voor Nederlands Oust Indie”. Bandung : Tarsito. 1999. Sumatera Barat. Manajemen Sumbar Daya Manusia. Kebudayaan Mentalitas Pembangunan. “Ragam Ukiran Rumak Gadang Minangkabau”. M Nasroen. E. Koentjaraningrat. Mohammad Ansyar. David dan Albert A. M. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Jakarta: STIA-LAN PT: Bina Aksara. Penilaian Hasil Balajar. Metode-Metode Penelitian Masyarakat.G. Mardjani Martamin.(ed). 1998. P2LPTK. Metode Penelitian Kualitatif. Lexy J. 1986. Dirjen PT. A. 2009. 1979. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. 1994. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Jakarta : Pustaka Binaman. Psikologi Belajar. 2001. Kaplan. “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nasional” Padang: Singgalang Press. A. Manner 1999. Jakarta: The Jakrta Post & The Asia Fondation.Imam Sodikoen. Museum Aditiawarman 1982. 2006. Inc Illinios. 1985. 2009. 1993. “Kumpulan Makalah Penilaian dan Evaluasi Pendidikan Dalam Berbagai Seminar dan Pelatihan”. Jakarta : PT.S dan Guba. 1983. ----. London: Sage Publication. Analisis Data Kualitatif (terjemahan) Jakarta: UI Press. Basic Crafts. B dan Marshal Well. 2000. Meredith. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.M. Padang : Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang. 2002. “Pembelajaran dan Evaluasi Seni”. Notes on Educational in Indonesia. Mukhtar Buchori. 2005. Mustofa Kamil. Jakarta: Bulan Bintang. Remaja Rodakarya. -----. makalah. Model of Teaching.

1990. 1987/1988. Rusli Amran. 2009. NWT Teacher Induction. -----. Skripsi. 100 . Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Sedya Tuwana Sudikan. 2008. “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci. pada Fakultas Bahasa. UNP Padang..James. “Strategi Pembelajaran Bidang Studi Kerajinan Tangan dan Kesnian: Studi Multi-situs pada Madrasyah Ibtidaiyah Negeri MalangI.N Sumartana. Surabaya: Usaha Nasional. 2008.04. Jakarta: Proyek Pengembangan Kebudayaan. Jakarta: DEPDIKNAS. Yogyakarta: PT. Levi C. 1986. Bandung: Jemmars. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem . Wayan dan P. Kriya STSI Padangpanjang. Sekolah Dasar Negeri Percobaa I malang. Paulina D.Tiara Wacana Strauss. Bandung: Tarsito. Jakarta: Sinar Harapan. Evaluasi Pendidikan. 2008. 1992. DEPDIKBUD. Structural Antropology. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. “Pendidikan Seni di masa Depan (Melihat Paradigma baru dalam Pendidikan Seni)”. makalah.education2. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan.1997. “Gaya Dalam Seni Rupa. Nasution. Metode Etnografi. Nurkancana.based. dan Sekolah Katolik Mardi Wiyata II Malang”. Padang: FIP. 2004. 1999. “Ragam Hias Minangkabau”. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. www. Jakarta: Jemmars. Sastra dan seni. Metode Penelitian Kebudayaan. Bandung: Alfabeta.Nasbahry Couto. Padang: Seminar Nasional Jrusan Seni Rpa FBSS UNP. Sosiologi Pendidikan. 2004: “Culture-based Education”. Diambil 5 Januari 2007. Nasution. “Tinjauan Seni Kriya (Eropa dan Amerika Serikat).1963. Tesis.P. 2005. Sosok Keilmuan Pendidikan. (2001). Kajian Estetika dan Budaya”. Nofrial. 2005. Padang: FIP-Universitas Negeri Padang Prayitno. Kriya STSI Padangpanjang. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid Di Kabupaten Kerinci”. Padang. 2001.. 2006. DEPDIKNAS.newteachersnwt. 2000. Surabaya: Citra Wacana Spradley P. Malang: YA3 Seabury Press. Metode Penelitian Kualitatif. Disertasi. New York: Basic Books Suardi Sandi. Risman Marah. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Pannen. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Prayitno. Kurikulum 2004: Kerangka Dasar. ca/culture.html. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar . Jogyakarta: Institut Seni Indonesia.K.K. Padang. Pengembangan Aktivitas Instruksional. Jakarta: PT Bima Aksara.Universitas Negeri Padang Puskur. 2002. Ramalis Hakim. Nasution. Malang: Pascasarjana UNM. Pemahaman Bahasa Seni Rupa Modern”. Oemar Hamalik. (2000). Sanapiah Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. Buku 2. Sanapiah Faisal. 1981. Nasbahry Couto. 1987. Sugiono.

Prenciples and Fundations. Zais. Winata Putra. Potensi Lokal Dalam Proses Kreatif-Apresiatif” makalah. New York: Happer 7 Row Publishers. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. The Liang Gie. “Pendidikan Seni di Sekolah: Proses Harmonisasi Kecerdasan” makalah. Umar Junus dalam Koentjaraningrat (Ed). Yogyakarta: ASRI Yogyakarta. 2001. Berorientasi Standar Proses Pendidikan.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia) 101 . Umar Kayam. Strategi Pembelajaran.. “Modernization in The Minangkabau World: West Sumatera in The Early Decades of Twenty Century” dalam Claire Holt: Culture and Politics in Indonesia. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. PUBIB: Yogyakarta Tyler.unisosdem. 1983. 2009. ”Penelitian Kualitatif Analisis dan Intrepetasi Data”. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Bandung: Alfabeta. Suwaji Bastomi.psb-psma. 1976.. “Perkembangan Seni Kriya”. Ralph W. Suharsimi Arikunto. Jakarta: Sinar Harapan. Paradigma Baru Pendidikan. Pengembangan Sumber Daya Manusia.blogster. Basic Principle of Curriculum and Instrution . online: http://www. Wina Senjaya. 2009. Jakarta: Bumi Aksara. 2009. Bahan Kuliah Pada Pascasarjana UNP. 2009. 1977. Robert S. Supriono..DEPDIKNAS. Curriculum. Jakarta: Jembatan. (http://www. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Chicago and London: The Unversity of Chicago Press. Garis-garis Besar Estetik. Taufik Abdullah. Kualitatif. Padang: Universitas Negeri Padang.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran). 1997. 2008. “Pendidikan Seni Dalam Konteks Lokal Genius. dan R&D. 1981. MemahamiPenelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. (2006). (http://www. Waras kamdi. 1949. Tersedia. Seni Tradisi Masyarakat. 2005. Jakarata: Rineka Cipta Yahya. 1971. Sumianto A Sayuti.Sugiono.org. 2008. Syahron Lubis. Ethaca London: Cornel University Press. “Pendidikan Dalam Keluarga” dalam Jurnal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful