P. 1
Contoh Proposalcontoh proposal kajaian seni

Contoh Proposalcontoh proposal kajaian seni

|Views: 423|Likes:
Published by yoseminang
merupakan sebuah contoh format proposal tugas akhir pengkajian seni
merupakan sebuah contoh format proposal tugas akhir pengkajian seni

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: yoseminang on Jun 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/10/2014

pdf

text

original

Sections

  • A.Latar Belakang Masalah
  • B.Identifikasi Masalah
  • C.Fokus Masalah
  • D.Rumusan Masalah
  • E.Tujuan Penelitian
  • F.Manfaat Penelitian
  • KAJIAN PUSTAKA
  • 1. Hakikat Pendidikan
  • 2. Hakikat Belajar
  • 1) Hakikat Evaluasi Hasil Belajar
  • 2) Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar
  • 4. Seni dan Pendidikan Seni
  • Konsep A Imitasi Ekspresi
  • 5. Model Pembelajaran
  • METODOLOGI PENELITIAN
  • A. Bentuk Penelitian
  • B. Lokasi Penelitian
  • C. Data dan Sumber Data
  • D. Teknik Pengumpulan Data
  • 1. Observasi
  • 2. Wawancara
  • SasaranMateri Observasi/ Wawancara Waktu Keterangan
  • Untuk guru seni ukir ketika mereka jadi murid Ramli Dt Rangkayo Sati
  • Untuk guru-guru seni ukir sekarang
  • Untuk murid-murid seni ukir sekarang
  • E. Analisis Data
  • Pengumpulan
  • F. Penyajian Hasil Analisis Data
  • DAFTAR PUSTAKA

CONTOH PROPOSAL JUDUL; Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisional Di Pandai Sikek Tanah Datar

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM) bermakna strategis bagi pembangunan nasional, karena masa depan bangsa sangat bergantung pada penyelenggaraan pendidikan masa kini. Sejauh mana pendidikan itu diselenggarakan menjadi tolok ukur penyiapan generasi penyambut ’tongkat estapet’ pembangunan. Menurut Ki Hajar Dewantara “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Anakanak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warga negara kita” (Prayitno, 2005:1) Sejalan dengan itu, Mukhtar Buchori (2001:23) menyatakan bahwa “Apa yang terjadi dengan bangsa kita di masa depan, sangat tergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang ini terhadap cara-cara kita mendidik generasi muda, dari pendidikan tingkat TK sampai ke pendidikan tingkat Perguruan Tinggi” Melalui semua jenjang pendidikan tersebut, kelangsungan hidup suatu bangsa dapat terjamin sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, how to live together, dan how to do, tetapi yang amat penting how to be. Oleh karena itu diperlukan transformasi nilai-nilai pendidikan (Daulay, 2007). Dengan demikian, memaknai pendidikan sebagai proses ‘memanusiakan manusia’ harus fokus pada pengembangan potensi manusia itu sendiri, bukan hanya fokus pada pengajaran. Pernyataan

2

‘memanusiakan manusia’ seakan-akan menyatakan bahwa sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik belum menjadi manusia. Pada hal peserta didik adalah manusia, makhluk yang paling sempurna dari sekian makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia. Berbagai bentuk pendidikan yang telah dilakukan bangsa Indonesia bertujuan untuk membangun sumber daya manusia, melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. Penyelenggaraan pendidikan formal dilakukan mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan formal terdiri atas pendidikan anak usia dini, berbentuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA); pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah pendidikan dasar dilanjutkan dengan pendidikan menengah yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA), dan pendidikan menengah kejuruan seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan nonformal berbentuk kursus-kursus singkat (non-ijazah) dan pelatihanpelatihan terorganisir yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal. Sedangkan pendidikan informal merupakan pendidikan sepanjang hayat di mana individu memperoleh pengetahuan, norma-norma, dan keterampilan melalui keluarga, tetangga, dan media masa. Sarana jenis-jenis pendidikan tersebut terkait dengan upaya untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari ketidaktahuan dan

3

Selain itu. pantas akhir-akhir ini gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan persekolahan menjadi lazim terdengar. sampai dengan seringnya pelajar melakukan tindakan amoral dan kriminal. baik dari kalangan masyarakat. maupun dari akademisi atau pakar pendidikan sendiri. Berbagai gugatan itu sehubungan dengan tidak baiknya penyelenggaraan pendidikan. politisi. Dengan kondisi seperti itu. lebih terampil. melakukan proses pembelajaran sesuai jadwal.kebodohan. lebih bertanggungjawab. sehingga terkesan bahwa pendidikan sekedar rutinitas belajar. dan berakhlak mulia. Pendidikan tidak sekedar mengumpulkan dan mengoleksi ijazah sebagai tanda lulus. kualitas atau mutu pendidikan yang masih rendah. proses pembelajaran lagi. kualitas pendidik yang tidak merata antara perkotaan dengan pedesaan. dan evaluasi akhir (Ujian Nasional) dan pada akhirnya kepada peserta didik yang lulus diberikan ijazah. ada pernyataan yang keras bahwa pendidikan persekolahan kita ‘melahirkan pengangguran yang sistematis’. Parameter penyelenggaraan pendidikan nasional semestinya tidak sampai melunturkan semangat yang lebih mulia dari sekedar untuk memperoleh tanda lulus dari negara. Ada kecenderungan pendidikan sekarang ini bersifat serimonial belaka dan lari dari substansi pendidikan itu sendiri. melainkan agar potensi peserta didik dapat dikembangkan dan setelah mengikuti proses pendidikan dia lebih cerdas. muatan materi dan pembelajaran yang tidak seimbang antara aspek kognitif dengan aspek lainnya. lebih mampu mengendalikan diri. Mulai dari gugatan sarana prasarana yang tidak memadai. evaluasi kenaikan kelas. Diawali pada setiap awal tahun ajaran dengan merima murid baru. Gugatan itu tentu terkait dengan kesadaran dan pemahaman masyarakat yang makin tinggi bahwa pendidikan memiliki nilai strategis dan 4 .

Ketidaktercabutan dari akar budaya bukan berarti suatu 'tradisi' harus dipertahankan dengan cara tertutup atau defensif. Bila membicarakan pendidikan dan kebudayaan sebenarnya telah ada pegangan kuat yakni Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional harus dilandasi kebudayaan nasional. Menurut Peursen (1988:11-15) tradisi bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah. di mana nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan tidak sekedar dibicarakan tetapi juga dipraktekkan. Demikian juga dalam PP No 29 tahun 1990 tentang Wawasan Wiyatamandala dinyatakan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan kebudayaan. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia 5 . Namun menurut HAR Tilaar (2000) tidak ada upaya yang jelas dan konkrit baik peraturan-peraturan maupun implementasinya bahwa pendidikan nasional berakar kepada kebudayaan nasional. tradisi justru dipadukan dengan keanekaragaman perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. walau dalam tataran ide atau nilai-nilainya patut dipertahankan. riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. yang lebih baik dan lebih layak. sehingga betapa pendidikan nasional kita telah tercabut dari akar kebudayaannya. Kesadaran bahwa melalui pendidikanlah dapat diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki suatu bangsa. Dalam hal ini maka pendidikan menjadi komponen penting bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya dengan melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya. Pelestarian budaya tradisi tidak berarti wujud fisiknya tidak bisa berubah dan berkembang.urgent dalam pembentukan karakter bangsa. Ia juga menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan. Sebetulnya inti dari pendidikan ada dalam perjalanan hidup manusia karena manusia ingin mencapai hidup yang maju.

sistem pengetahuan. baik seni yang modern maupun yang tradisional. patung. atau mengubahnya. Salah satu suku bangsa Indonesia itu adalah Minangkabau. Dari tujuh unsur itu. sistem religi. tetapi juga selalu muncul dari arus alam raya itu untuk memiliki alamnya sendiri dan mengubahnya (transendensi). bahasa. anyaman. Berbagai macam bentuk dan corak seni baik yang modern maupun tradisional. dan ukiran.menerimanya. Cabang seni rupa atau seni kriya Minangkabau juga banyak seperti arsitektur. baik seni pertunjukan maupun nonpertunjukkan. sistem peralatan hidup dan teknologi. Sebut saja misalnya cabang seni rupa dan seni kriya maka akan ada seni lukis. audio arts. Bahkan ukiran-ukiran Minangkabau tidak saja bernilai estetis juga memiliki makna yang tinggi dan berkaitan dengan falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam yang 6 . seni batik. Kebudayaan merupakan ketegangan antara imanensi dengan transendensi sehingga dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan (imanensi). Sebagai sebuah bangsa yang besar diakui bahwa Indonesia memiliki banyak sekali corak dan ragam budaya. suku ini memiliki berbagai cabang seni. tenun. logam. dan seni ukir. khusus kesenian terdapat pula cabang dan bentuk seni yang dimilki Indonesia. ornamen. mozaik. Dari berbagai macam corak dan bentuk budaya itu menurut Koentjaraningrat (1999) ada tujuh unsur kebudayaan universal yakni. organisasi sosial. sistem mata pencaharian. gerabah. dan kesenian. dan audiovisual art . menolaknya. Masing-masing suku di Indonesia memiliki berbagai bentuk kebudayaan baik dalam wujud konsep atau gagasan. aktivitas. gerabah. anyaman. dan benda-benda (artefak). seni pertunjukan maupun seni nonpertunjukan (senirupa/kriya) semuanya dimiliki bangsa Indonesia. visual arts.

semuanya menampilkan wujud alam flora. gurindam dan kaba bersumber dari kejadian-kejadian yang dekat dengan kita. Hampir seluruh motif-motif ukiran mempunyai makna yang berkaitan dengan falsafah hidup orang Minangkabau dengan samboyan belajar dari alam. maka penempatan seni ukir Minangkabau mempunyai aturan tertentu. pantun. melainkan juga sebagai simbol”. syair. rebung juga bermakna walaupun masih muda namun tetap bermanfaat. Kata-kata yang disusun dalam seni sastra seperti petatah-petitih. Selain rumah-rumah adat yang memang harus berukir. Menurut Ibenzani Usman (1985) “seni ukir tradisional pada rumah adat Miangkabau. dan rumah ibadah (mesjid dan surau). Selain mempunyai nilai falsafah. Seni ukir Minangkabau dapat dijumpai pada rumah-rumah adat dan rumah-rumah masyarakat. Misalnya motif ukiran sikambang manih (bunga/akar yang cantik). Falsafah ini dapat dibuktikan dari karya sastra lama. semboyan itu sesuai dengan pepatah alam takambang jadi guru. Bahkan seni ukir 7 . akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik (terutama perantau) membuat rumah gadang yang dengan sendirinya rumah tersebut berukir. Hal itu berkaitan dengan fungsi status sosial pemilik rumah di tengah masyarakat. 1996). Seni ukir juga dapat dijumpai pada bangunan perkantoran dan hotel baik milik pemerintah maupun bangunan milik swasta yang membuat gonjong (atap runcing ciri khas Minangkabau).terbentang untuk dipelajari). yang tidak berperan sebagai hiasan belaka. motif yang diambil dari bentuk alam ini melambangkan wajah ceria dari penghuni rumah atas tamu yang datang. yaitu alam (Hakimy. kantor-kantor. Motif pucuak rabuang (pucuk rebung/bambu muda) melambangkan waktu muda adalah saat yang baik menuju ke atas (Tuhan dan citacita) tanpa harus banyak cabang.

dan Kabupaten Limo Puluh Kota. kemenakan. ada tiga daerah di Sumatera Barat yang menggali dan mengembangkan seni ukir Minagkabau. ia mempunyai makna filosofis dan aturan tata letak. Ketiga daerah itu secara kultural disebut dengan luhak nan tuo (daerah yang tua/asal) yakni Kabupaten Tanah Datar. Sikambang manih merupakan julukan untuk gadis cantik yang mulai dewasa. Misalnya motif kaluek paku (relung pakis) bermakna tanggung jawab sosial seseorang di tengah masyarakat baik kewajiban dan hak terhadap anak. (Ibenzani. (Sri Sundari. Waktu muda pakis bergelung ke dalam dan setelah tua bergelung ke luar. Perbedaan itu sebagai kekhasan masing-masing daerah. ukiran Pandai Sikek 8 . hal ini bermakna waktu muda periksa diri sendiri terlebih dahulu dan baru memeriksa orang lain. 2000). dan orang kampung dan bahkan negara. Ukiran Minangkabau tidak sekedar ornamen hias saja. Agak berbeda dengan daerah lain. Gaya tersebut bukan disebabkan perbedaan motif ornamen akan tetapi pengaruh teknik dan peralatan yang digunakan. ukiran Minangkabau tidak hanya terdapat pada perabot rumah tangga tetapi lebih banyak dijumpai pada rumah-rumah adat dan bangunan lainya. Misalnya. Kabupaten Agam. Masing-masing daerah ini mempunyai style atau gaya masing-masing. Motif sikambang manih diletakkan pada dinding bagian depan rumah adat. 1985).Minangkabau tidak saja dijumpai pada bangunan yang ada di Sumatera Barat melainkan juga di luar daerah. Pada awalnya. Walaupun masing-masing daerah tidak sama persis tata letak motif ukirannya. namun tetap punya ketentuan penempatan motif ukiran. Motif ini bermakna bahwa si penghuni rumah panyuko tamu nan tibo (suka dengan tamu yang datang) atau sebagai simbol dari keramahtamahan masyarakat dalam menerima setiap tamu yang datang.

Keberlanjutan seni ukir di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar terus berjalan walaupun tidak sebaik pengembangan seni ukir Bali dan Jepara. Marzuki Malin Kuniang lahir 1897 di IV Angkek Canduang dengan muridnya berjumlah 5 orang. sanggar seni ukir daerah ini termasuk IV Angkek Candung sudah banyak beralih ke usaha perabot. pembinaan keindustrian dan perdagangan. Untuk saat ini. Rangkayo Sati lahir 1917 di Pandai Sikek kabupaten Tanah Datar dengan muridnya sebanyak 7 orang. Seni ukir dari kabupaten Lima Puluh Kota hampir-hampir tidak terdengar lagi (punah). Beliau-beliau itulah yang pertama sekali mengajarkan seni ukir pada muridnya di sanggar-sanggar ukiran. tidak semua daerah itu yang masih menggali dan mengembangkan seni ukirnya. Daerah yang masih eksis dan cukup baik dalam mewariskan seni ukirnya pada generasi muda hanyalah Pandai Sikek. dan Sabirin Sutan Muncak lahir 1937 di Banuhampu Sungai Puar kabupaten Agam dengan muridnya berjumlah 4 orang. Menurut Ibenzani Usman (1985) ketiga guru atau tokoh seni ukir itu yakni Ramli Dt. Perhatian dari pemerintah diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar berupa pendataan jumlah sanggar dan pengerajin.Tanah Datar akan tampak lebih runcing karena pengaruh penggunaan pahat layanglayang. Dari tiga daerah ini muncul tokoh atau guru yang mengajarkan seni ukir pada murid-muridnya. Sedangkan seni ukir di kabupaten Agam amat sedikit upaya regenerasi. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar tahun 9 . Kesinambungan seni ukir di Pandai Sikek sekarang ini lebih banyak atas inisiatif masyarakat dan sedikit sekali adanya perhatian dan pembinaan dari pemerintah.

Secara umum jika prinsip-prinsip ilmu kependidikan tidak diterapkan tentu proses pembelajaran (pelatihan). Sampai saat ini belum ada upaya dinas terkait untuk menelusuri bagaimana model pendidikan atau pelatihan seni ukir sehingga seni ukir Pandai Sikek tatap eksis dan 10 . Menurut Prayitno (2008) ‘pendidikan tanpa ilmu pendidikan’ akan mengkerdilkan kehidupan pendidikan. tidak jelas peserta didik harus diberi penguatan. Keyakinan itu berdasarkan masih adanya sanggar seni ukir dan masih ada beberapa generasi muda yang tampak mengukir di sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek. terjadi kecelakaan pendidikan yang melecehkan peserta didik.2009 terdapat 4 buah sanggar seni ukir di Pandai Sikek dengan jumlah murid (sekaligus pekerja) sekitar 55 orang. Bila dilihat dari ilmu kependidikan. pengetahuan. alangkah baiknya pembinaan dan pelatihan bagi pengukir di Pandai Sikek di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. Misalnya seorang pendidik atau pelatih yang tidak memahami pilar high-touch (kewibawaan) tentu tidak memahami perbedaan potensi peserta didik. dan pewarisan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni ukir bukan saja tidak bernilai budaya. juga tidak mampu memberikan kasih sayang dan kelembutan. Pembinaan yang telah dilakukan berupa pelatihan disain mobiler dan diikutsertakan dalam pameran perdagangan. terhambatnya bahkan hilangnya kesempatan dan hak-hak pendidikan peserta didik. serta tidak tahu kapan tindakan tegas yang mendidik dilakukan. Di sisi lain diyakini bahwa ada bentuk atau model transformasi keterampilan. Karena jika pelatihan dilakukan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan ada kemungkinan yang dilakukan tidak menerapkan prinsip-prinsip ilmu kependidikan. dan filosofi seni ukir oleh guru pada muridnya pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. tetapi juga tidak diwariskan kepada genarasi baru.

Menurut informasi dari salah satu murid Ramli Dt. karena semakin hari semakin sedikit saja generasi muda yang mempelajari seni ukir. misalnya untuk mengajarkan falsafah cukup dengan diceramahkan dan didiskusikan sambil mengukir. Pada akhirnya bisa jadi seni ukir Minangkabau tidak lagi dikerjakan oleh putra Minangkabau. Pada tahap awal murid seni ukir hanya membantu-bantu pekerjaan di sanggar. 11 . pola. takaran diganti oleh si pedagang). ia mempunyai kiek-kiek dalam mengajar seni ukir dan kebiasaan beliau itu tidak seluruh dan sepenuhnya diteruskan oleh muri-mridnya. Guru tuo (pakar/ahli) seni ukir Pandai Sikek. terkadang pekerjaan itu tidak berhubung langsung dengan kegiatan mengukir. Untuk belajar falsafah ukir adakalanya dibawa lansung ke objek. Sekarang ini pemebelajaran tidak dilakukan seperti dulu lagi. Rangkayo Sati telah meninggal. Rangkayo Sati. Bila hal ini terjadi ada harapan jalan diasak urang lalu. Dahulu ada tahapan-tahapan dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap murid dalam belajar seni ukir. dan yang mengajarkan seni ukir itu sekarang adalah murid-muridnya. cupak diganti urang panggaleh (jalan ditukar orang yang lewat. Jika hal ini di biarkan terus-menerus ada kemungkinan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau akan punah. seperti membersihkan pekarangan rumah guru.berkembang. seperti belajar falsafah motif pucuak rabuang maka murid dibawa ke rumpun bambu. Misalnya seorang yang akan belajar seni ukir harus dengan kesadaran penuh dan disarahkan (diantar lansung) orang tua. Cara-cara pembelajaran di sanggar tardisional seperti ini tampak spesifik. Bagaimana model. Ramli Dt. dan cara beliau-beliau mengajarkan keterampilan seni ukir pada muridnya belum diketahui.

SMK Negeri I Ampek Angkek Agam.Dari pengamatan terdapat perbedaan pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional dengan pembelajaran seni ukir melalui persekolahan. Dari pengamatan selintas. kepada peserta didik yang telah memenuhi standar kelulusan diberikan nilai berupa angka atau huruf. Ada tugas-tugas terstruktur yang diberikan pada peserta didik. Pembelajaran berlangsung tanpa terikat dengan jadwal yang telah ditentukan dan juga tidak harus 17 12 . Pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional tidak hanya melatihkan keterampilan tetapi juga diajarkan falsafahnya. Ada beberapa pendidikan formal di Sumetera Barat yang mengajarkan seni ukir yaitu. Sedangkan di sekolah formal hanya mengajarkan keterampilan mengukir sampai pada batas terpenuhi standar kompetensi atau syarat lulus. Pembelajaran seni ukir pada pendidikan formal telah ditetapkan tujuan yang akan dicapai setiap semester. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. SMK Negeri 8 Padang. Metode mengajar yang digunakan guru/dosen umumnya ceramah dan demonstrasi. Filosofi motif dan penempatan motif ukiran juga tidak diajarkan pada sekolah formal. Artinya pada sekolah formal murid tidak dipersyaratkankan untuk menjadi tukang ukir. dan diberi nilai. SMK Negeri 4 Padang. dibuatkan jadwal belajar/kuliah. perlakuan di sekolah formal tidak ditemui pada pendidikan nonformal terutama pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Evaluasi dilakukan pada pertengan semester dan akhir semester. Pembelajaran pada sanggar seni ukir diajarkan murid sampai pada mampu menjadi tukang ukir atau mengukir layak jual. dilakukan evaluasi atau ujian. INS Kayu Tanam. dari isian kurikulum dirinci ke dalam satuan pembelajaran mingguan (sekitar 17 kali tatap muka).

Karya-karya mereka tidak saja disalurkan di daerah Sumatera Barat akan tetapi sampai diberbagai daerah Indonesia bahkan sampai ke Malaysia. karena keterampilan yang dimilikinya perlu dan bermanfaat untuk dirinya bahkan masyarakat. Oleh karena orientasi karya dapat diterima pasar maka pembelajaran pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menyentuh aspek ekonomi. Murid tidak dikelompokkan dalam bentuk klasikal. maka usaha atau kegiatan seni ukir cukup baik. terutama kemapuan mengukir dan memahami falsafah seni ukir. Hasil karya pengukir dari sanggar ukir tradisional lebih diterima pasar atau konsumen.. tetapi sekaligus diajarkan enterpreneurship. misalnya ada yang pada taraf pengenalan alat. maka keluaran sanggar tradisional seni ukir lebih terampil dan menguasai falsafah ukiran dibandingkan lulusan sekolah formal. Dengan demikian murid yang telah menguasai keterampilan seni ukir ia akan mandiri. Sebagai buktinya adalah hasil karya pengukir dari sanggar tradisional Pandai Sikek lebih diminati. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan adalah. 13 . mulai mengukir kasar (tingkat dasar). Evaluasi tidak ada yang terjadwal dan terstruktur sehingga tidak ada nilai akhir berbentuk huruf atau angka. Artinya kegiatan pembelajaran tidak hanya pada aspek keterampilan seni ukir dan pewarisan nilai-nilai budaya. artinya antara satu murid dengan lainnya dapat berbeda-beda materi yang diberikan walaupun mereka dalam satu ruangan. Jika karya mereka dapat diterima konsumen. Akan tetapi sebagai sebuah pendidikan nonformal maka dalam penyelenggaraannya tetap memiliki sistem pembelajaran yang terlembaga.kali pertemuan atau tatap muka. Jika dilihat dari hasil akhir.. dan ada yang taraf halus.

rumah pribadi. Dalam laporan penelitiannya dijelaskan berbagai bentuk motif ukiran yang terdapat pada rumah adat Minangkabau. maka pewarisan dan pengembangannya sangat diperlukan. dalam penelitian ini juga disebutkan nama-nama motif Minangkabau yang tidak ditempatkan pada rumah adat. dan fungsi ukiran pada rumah adat Minangkabau. Perubahan itu seiring dengan masuknya pariwisata di Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan tahun 1999 dan dicetak menjadi buku tahun 2000 yang membicarakan tentang. masyarakat. Pola. Marjani Martamin dan Amir B (1978) meneliti “Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”.. Telah ada beberapa peneliti dan penulis yang meneliti tentang seni ukir Minangkabau dan seni ukir daerah lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan disebabkan motif ekonomi. dan cenderamata. Penjelasan motif itu terkait dengan nama-nama motif ukiran. tentang pola-pola motif seni ukir Minangkabau. dan arti motif ukiran. keterampilan yang diperlukan dirinya.. SP Gustami (2000) meneliti Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. perabot rumah tangga. Ibenzani Usman (1985) Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. (a) sejarah 14 . Sri Sundari (2000) meneliti “Seni Ukir Pandai Sikek Dalam Masyarakat Minangkabau yang Berubah” dibahas bahwa ukiran Pandai Sikek tidak hanya untuk rumah adat saja.agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki . dan Fungsinya. restoran. alat. Dalam disertasi ini hanya membahas tentang teknik yang meliputi tentang penggunaan bahan. sekarang sudah untuk kantor. bangsa dan negara”. toko. jenis motif ukiran. dan cara yang berorientasi kepada sistem penalaran Minangkabau (alur dan patut). Selain menjelaskan motif yang lazim dalam ukiran pada rumah adat Minangkabau. Sehubungan dengan banyaknya aspek yang dapat digali dari seni ukir.

perkembangan seni ukir Jepara mulai dari zaman Belanda sampai zaman orde baru dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kehidupan beragama, (b) peran tokoh-tokoh wanita dalam perkembangan seni kerajinan khususnya seni ukir, seperti peran R.A. Kartini dan Tien Soeharto, (c) proses pelembagaan dan pembauran gaya seni yang berkaitan dengan mebel ukir Jepara, sehingga hadirnya berbagai macam ragam hias, jenis produk, pola penerapan ornamen, teknik mengukir, keragaman disain, dan bentuk mebel yang diproduksi, (d) eksistensi produk mebel ukir Jepara dari lokal menjadi pemasaran global, dan (e) pola perkembangan dan penyebaran yang berkaitan dengan tradisi pewarisan keahlian, pembiasan prilaku perajin, pembinaan dan pengembangan mebel ukir Jepara. Harisman (2001) meneliti “Ukiran Masjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat; Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna”. Dalam tesis ini dijelaskan bahwa bentuk ukiran pada masjid tradisional di Minangkabau tersusun dari kesatuan, kompleksitas, dan intensitas yang merujuk pada pola ukiran rumah adat. Dijelaskan juga bahwa fungsi ukiran merupakan media pendidikan, media pengalaman estetis, pengintegrasian masyarakat, dan fungsi keindahan sebagai kebutuhan masyarakat. Penjelasan pada makna dikaitkan pada persoalan kearifan tradisional dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang tersimpul sebagai makna denotatif dan konotatif. Suardi (2000) meneliti “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid di Kabupaten Kerinci”. Temuannya menjelaskan bahwa ukiran pada bangunan Masjid di Kerinci menggunakan bentuk motif tumbuh-tumbuhan, geometris dan bentuk gabungan tumbuh-tumbuhan dan geometris. Penyusunan dengan pilin ganda, lingkaran, simetris dan asimetris. Penampang ukiran segi tiga, datar dan gabungan segi tiga, datar dan miring. Penggolongan nama motif berasal dari nama tumbuh-tumbuhan,

15

binatang dan alam benda, perwujudan merupakan stilirisasi dan meniru sifat asal nama motif tersebut. Makna motif dikaitkan dengan adat, agama, sosial budaya, dan sosial masyarakat pendukungnya. Ukiran menggunakan teknik ukiran tembus, rendah dan utuh. Nofrial (2009) meneliti “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci; Kajian Estetika dan Budaya”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa secara budaya Kerinci dikelompokkan atas hulu, tengah dan hilir, masing-masingnya memiliki rumah larik yang berukir. Daerah tengah dan hilir lebih kaya seni ukirnya dibandingkan daerah hulu, baik dari jumlah motif, warna dan teknik penggarapan. Akan tetapi motif ukiran mereka sama yakni, sama-sama mengambil bentuk tumbuh-tumbuhan dan geometris, serta unsur atau nama binatang. Dalam hal teknik pembuatan juga hampir sama, yang menghasilkan bentuk ukiran garis, ukiran rendah, ukiran sedang, dan ukiran tinggi, serta sama-sama tidak terdapat ukiran tembus. Beberapa hasil penelitian di atas tidak ada yang membahas lansung tentang model pendidikan atau cara mengajarkan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya. Oleh karena belum adanya penelitian dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan bagaimana seni ukir diajarkan, maka perlu adanya penelitian tentang model pendidikan seni ukir. Hal ini agar seni ukir Minangkabau khususnya seni ukir Pandai Sikek tidak hilang dan jika perlu dapat berkembang. Penelitian ini nanti diharapkan dapat mengukapkan cara mengajarkan seni ukir baik dari segi keterampilan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya kepada generasi muda. Model pendidi seni ukir pada sanggar tradisional yang ada di Pandai Sikek menjadi menarik dan perlu untuk diteliti, karena pewarisan seni ukir daerah ini tetap eksis dan lebih baik dari daerah lain di Sumatera Barat. Bagaimana model yang dilakukan dalam pewarisan seni ukir di Pandai Sikek

16

sehingga dapat bertahan menjadi bahan perbandingan untuk daerah-daerah lain. Pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek juga dapat menjadi model dalam pengembangan cabang-cabang seni lainnya. B. Identifikasi Masalah Dari konteks penelitian yang telah dilakukan tentang seni ukir dan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ternyata banyak persoalan dan masalah yang timbul. Berbagai permasalahan itu terkait dengan model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek Sumatera Barat. Agar permasalahan itu lebih fokus pada pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional Pandai Sikek, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut; 1. Sanggar seni ukir di Pandai Sikek telah ada semenjak beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini ada 4 sanggar seni ukir yang masih aktif dengan sekitar 55 orang murid. Guru yang pertama mengajarkan seni ukir telah meninggal dunia, pendidikan seni ukir dilakukan oleh sebahagian generasi ke dua yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Bahkan ada juga generasi ketiga yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Apakah sama model pendidikan yang diberikan oleh semua guru seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah model pendidikan yang diterima ketika mereka jadi murid sama dengan yang diberikan ketika mereka jadi guru seni ukir? Adakah terdapat inovasi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Guru atau pendidik pada sekolah formal telah dibekali dengan ilmu kependidikan, dan bahkan dilakukan penyegaran dengan berbagai pelatihan, penataran, workshop tentang cara mendidik. Guru bahkan juga dituntut untuk

17

Bagaimana model guru pada sanggar tradisional di Pandai Sikek mentransformasi keterampilan dan ilmu seni ukir pada muridnya? Sejauhmana komponen high-touch dan high-tech diterapkan pada pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 3. dipertengahan dan pada akhir kegiatan. Hakikatnya evaluasi untuk mendapatkan sejauh mana penguasaan murid atas materi yang telah disajikan. Guru memberikan materi dalam beberapa semester agar murid menguasai materi sehingga terampil dalam mengukir. Bagaimana model kurikulum seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah ada pentahapan-pentahapan materi atau kompetensi tertentu yang diberikan guru? Apa saja materi pelajaran seni ukir yang diberikan guru pada tahap awal? Kapan materi filosofi seni ukir diberikan pada murid? 4. Ada acuan evaluasi.profesional terutama dalam ilmu kependidikan. dan waktu pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan diawal. Pada sanggar seni ukir tradisional Pandai Sikek tentu ada bentuk evaluasi yang diberikan sehingga murid dapat diberikan materi 18 . kemudian mengukir dasar. dijelaskan berbagai motif. Pada pendidikan formal ada kompetensi tertentu yang harus dicapai atau dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Pada tahap awal pada pendidikan formal murid diperkenalkan dengan bahan dan alat. ada teknik evaluasi. Pada sanggar seni ukir tentu juga ada kurikulum dan tahapan-tahapan tertentu sehingga murid mampu menjadi ahli ukir. Sedangkan guru seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak tamatan lembaga kependidikan. dan setelah itu baru pemberian tugas-tugas. Materi pendidikan seni ukir pada sekolah formal telah dituntun dengan kurikulum dan silabus. Dalam pendidikan formal dilakukan evaluasi guna menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran.

Fokus Masalah Berdasarkan tinjauan tentang pentingnya pewarisan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya dan upaya mentransformasikan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya banyak permasalahan yang muncul. D. while. dan (4) evaluasi hasil belajar untuk dapat ditentukan sebagai pengukir layak jual. Bagaimana pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. dan post). C. Bagaimana bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan setiap tahapan pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek? 19 . (3) penerapan high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran. (2) materi-materi ajar yang diberikan. (1) tahapan proses pembelajaran (pre. Namun demikian agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaikbaiknya maka perlu dilakukan pembatasan masalah. 1. Bagaimana model evaluasi seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Diyakini masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut dikemukakan dan dapat diteliti sehubungan dengan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek.selanjutnya. Dari sekian banyak permasalahan tersebut maka penelitian ini difokuskan pada bagaimana model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek yang tercakup pada. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut.

Dinas PERINDAG. Sejauhmana penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 4. 1. 2. 3. 2. Tujuan Penelitian Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi. Dinas PERINDAG. dan Dinas BUDPAR) sebagai salah satu model dalam menumbuhkan. Pemerintah Sumatera Barat (Dinas Pendidikan. dan Dinas BUDPAR) dalam membina dan mengembangkan seni ukir Pandai Sikek sebagai salah satu aset budaya. F. 4. Pemerintah Tanah Datar (Dinas Pendidikan. 1. Untuk melihat penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Untuk mengungkap bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 20 . yakni. Bagaimana bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek? E. Untuk mengetahui pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Untuk mengungkap bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan pada setiap tahapan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. mengembangkan dan membina aset budaya khususnya seni ukir daerah lain yang hampir punah pada beberapa daerah di Sumatera Barat.3.

Bagi peneliti sendiri sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan sekaligus sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Doktor bidang ilmu pendidikan pada Pasca Sarjana UNP. hasil penelitian. melainkan sebagai landasan pijak yang dikaitkan antara fokus penelitian dengan variabel-variabel pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional. Jaminan itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945. (1) hakikat pendidikan. 6. 1. Lembaga pendidikan formal Sumatera Barat khususnya baik tingkat SLTA maupun perguruan tinggi yang mengajarkan seni ukir sebagai sebuah model perbandingan dalam memberikan materi seni ukir. Lembaga pengelola pendidikan nonformal sebagai salah satu model dalam membina dan mengembangkan seni tradisional. dan (5) model pendidikan. Untuk itu. 5. Bagi peneliti-peneliti selanjutnya baik dalam bidang seni maupun dalam pendidikan nonformal. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pendapat. (2) hakikat pembelajaran.3. Isi dari amanat pembukaan UUD 1945 itu adalah bahwa negara berupaya untuk mencerdaskan 21 . dan teori yang berkaitan dengan fokus penelitian. Hakikat Pendidikan Negara Indonesia menjamin seluruh rakyatnya secara konstitusi untuk mendapat pendidikan. secara berturut-turut dikaji tentang. Teori-teori yang disajikan tidak dimaksudkan untuk menguji kebenarannya. (3) kebudayaan Minangkabau. 4. (4) seni dan pendidikan seni.

Pertama pendidikan adalah usaha sadar yang terencana. kepribadian. Kesadaran yang tinggi dari founding father menggambarkan bahwa begitu pentingnya arti pendidikan bagi bangsa Indonesia. kecerdasan.kehidupan bangsa. tetapi proses yang bertujuan. Upaya ini tentu dengan harapan anak bangsa Indonesia pada suatu saat dapat bersaing dan bersanding dengan bangsa lain dalam artian “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Dengan demikian. Artinya proses pendidikan itu harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning). nonformal. Pendidik berkewajiban 22 . Untuk mewujudkan amanat pembukaan UUD 1945 tersebut maka dibuatkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendidikan agar rakyat Indonesia dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan. bangsa dan negara”. Dalam pasal 1 ayat 1 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan. berarti proses pendidikan (formal. Dari pengertian pendidikan ini ada beberapa hal yang perlu dipahami. murid harus dipandang sebagai organisme yang sedang berkembang dan memiliki potensi. akhlak mulia. dan informal) bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan. pengendalian diri. Proses pendidikan itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. keterampilan yang diperlukan dirinya. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan harus memperhatikan proses belajar guna mencapai hasil belajar. masyarakat. Dengan demikian. dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara seimbang. Kedua suasana belajar dan pembelajaran diarahkan dalam upaya mengembangkan potensi murid.

bangsa dan negara. melainkan juga dilakukan oleh generasi yang lebih tua kepada generasi muda dalam sebuah komunitas melalui interaksi keseharian. Kemudian ketiga pengertian pendidikan dinyatakan menjadikan murid memiliki kekuatan spritual keagamaan. kecerdasan. keterampilan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. karena orang tua dapat melakukan pewarisan budaya kepada anaknya (Ansyar.mengembangkan potensi yang dimiliki murid. emosional. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap. akhlak mulia. yakni. Searah dengan itu. dan sikap. tidak sekedar menjejalkan materi ajar atau memaksa mereka dapat menghafal data dan fakta. pengendalian diri. masyarakat. pengembangan kecerdasan intelektual. kepribadian. Bila dilihat secara antropologis dari dau pendapat ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas pendidikan yang dilakukan suatu masyarakat merupakan kegiatan kebudayaan dalam upaya untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan. generasi selanjutnya. Transformasi kebudayaan itu tidak saja harus dari orang tua biologis kepada anaknya akan tetapi bisa dari orang yang telah mengetahui. Menurut Suprioyono (2006) bahwa pendidikan pada mulanya adalah upaya mewariskan pengetahuan. serta pengembangan keterampilan dan kreativitas murid. dan sikap orang tua kepada anak-anak mereka. Pewarisan ‘budaya’ itu tidak saja dimaknai sebagai orang tua biologis kepada anak-anak mereka. 1989). tetapi juga merupakan suatau cara untuk mentransformasikan kebudayaan masyarakat itu”. Taba (1962) mengemukakan tiga fungsi utama pendidikan. keterampilan. Menurut Ansyar (1989:2) “pendidikan bukan saja dimaksudkan masyarakat untuk mewariskan kebudayaan kepada anak-anak generasi penerus mereka itu. Hal ini berbeda dengan orang primitif yang mendidik anaknya tanpa mendirikan intitusi pendidikan. (a) pendidikan sebagai 23 .

dan bahasa Inggris maupun non materi ajar seperti kursus piano. Menurut Tilaar (2004:54) bahwa “pendidikan tidak dibatasi sebagai shooling. Orang tua mengikutkan anak-anaknya pada lembaga-lembaga baik untuk tambahan materi ajar persekolahan seperti matematatika.pemelihara dan penerus kebudayaan. dan melukis. maka kegiatan yang terdapat di sanggar seni ukir tidak lepas dari kegiatan pendidikan. Sebagaimana dinyatakan oleh Surjadi (1994) bahwa umumnya masyarakat kurang menghargai pendidikan masyarakat yang diselenggarakan secara lokal. sebab pendidikan ternyata tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup masyarakat. hal ini dapat dilihat bahwa ada kesadaran masyarakat untuk mendapat pendidikan yang lebih baik dan bermutu dari hari ke hari. atau dengan kata lain merupakan sebahagian dari kebudayaan”. Pada akhirnya setiap individu murid yang telah belajar mengukir dapat berguna bagi diri dan masyarakatnya. tari. Orang tua dan peserta didik tidak puas dan memadai saja pendidikan persekolahan. Pernyataan Surjadi ini tidak sepenuhnya benar. dan (c) pendidikan sebagai alat bagi pengembangan individual anak. Dalam mewariskan kemampuan seni ukir terus dilakukan transformasi mengukir dari guru pada muridnya baik yang berkaitan dengan keterampilan maupun falsafah seni ukir. fisika. Selain itu ada juga orang tua yang menggugat penyelenggaraan pendidikan persekolahan dengan mendatangkan 24 . Namun tingkat ketergantungan sebahagian besar masyarakat Indonesia dengan persekolahan masih tinggi. Berangkat dari tiga fungsi yang dikemukakan oleh Taba. (b) pendidikan sebagai alat bagi usaha transformasi kebudayaan. Artinya bahwa terdapat fungsi pemeliharaan kebudayaan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek di mana seni ukir masih ajeg sampai sekarang. hal ini tidak lain karena ketergantungan masyarakat pada lembaga pendidikan sekolah atau pendidikan formal masih tinggi.

2009). sarana. sasaran didik. dan sumber belajar. Memperhatikan Undang-Undang Sisdiknas ini maka yang termasuk pada pendidikan formal atau juga dinamakan pendidikan persekolahan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai pada pendidikan tinggi baik yang negeri maupun swasta. lifelong education. nonformal. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa ada tiga jalur pendidikan yakni jalur pendidikan formal. adult educaton. yang didalamnya terkandung makna bahwa setiap pengembangan pendidikan nonformal perlu perencanaan program yang matang. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya memiliki suatu sistem yang terlembagakan. 2009). termasuk belajar mengukir.guru atau pendidik ke rumah seperti kasus home schooling. Sedangkan pendidikan informal disebut pendidikan sepanjang hayat yang tidak bisa dipisahkan dengan sistem pendidikan formal dan nonformal. Pendidikan nonformal seperti kursus menjahit dan kursus montir juga diminati masyarakat. (Mustofa Kamil. proses penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir seperti di Pandai Sikek termasuk pada bentuk pendidikan nonformal. … untuk membimbing individu. Menurut Hamojoyo (1973:23) “pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontiniu di luar sistem persekolahan. Dengan demikian. Undang-Undang No. Untuk pendidikan nonformal di Indonesia berbentuk kursuskursus singkat (non-ijazah) dan pelatihan-pelatihan. learning society. isi program. informal. kelompok dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial guna meningkatkan taraf hidup di 25 . Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pendidikan nonformal seperti mass education. baik yang berbasis agama maupun umum. prasarana. melalui kurikulum. out-of-school education. social education (Mustofa Kamil.

isi bersifat individual/keluaran. Pertama waktu penyelenggaraan bersifat jangka pendek artinya pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak sama dengan sekolah formal (tiga tahun). sosial dan mental dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial”. maka ada beberapa tujuan pendidikan nonformal yang searah dengan kegiatan sanggar seni ukir. Menurut Prayitno (2008:1) “Pendidikan itu 26 . Pendapat ini dapat dipakai untuk melihat sejauh mana kelembagaan dan perencanaan penyelenggaraan pendidikan pada sanggar tradisional seni ukir di Pandai Sikek sebagai sebuah intitusi pendidikan. Kemudian kepada murid diberikan kepercayaan untuk dapat kontrol diri sendiri guna membangun diri. sistem rekrutmen siswa menentukan syarat masuk. sosial dan mental peserta didik. dan prasarana untuk mewujudkan kesejahteraan hidup baik materi. Berdasarkan pendapat ini maka kegiatan-kegiatan yang terorganisir dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peserta didik seperti sanggar seni ukir di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. kontrol bersifat membangun diri/demokratis. waktunya relatif singkat/berulang/paruh waktu.bidang materi. Menurut Mustofa Kamil (2009) tujuan dari pendidikan nonformal bersifat jangka pendek dan spesifik bukan asas kepercayaan. artinya mempunyai kurikulum. Bila merujuk pendapat ini. Bila dilihat dari segi bentuk dan karakternya. Ketiga perlakuan terhadap murid bersifat individual walaupun penyelenggaraan dalam suatu ruangan. sarana. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal penyelenggaraannya terlembaga dalam sebuah sistem yang terencana. tampak bermacam-macam model pendidikan akan tetapi hakikatnya satu. Kurikulum pendidikan nonformal bersifat fleksibel memperhitungkan kondisi daerah (masyarakat). Kedua bidang ilmu yang diajarkan punya spesifik yaitu seni ukir lebih khusus seni ukir Minangkabau.

Proses pendidikan memungkinkan potensi seseorang dapat dikembangkan secara optimal sehingga ia dapat berkembang secara utuh dan pada akhirnya dapat eksis di tengah masyarakat dan berhasil menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.bermacam-macam akan tetapi pada hakikatnya satu. yang jelas adalah pendidikan dapat memenuhi semaksimal mungkin keinginan masyarakat. Memperhatikan pendapat Prayitno ini. serta dengan tenang menghadapi setiap persoalan atau masalah. oleh manusia dan untuk manusia. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah dari manusia. dan pelaksana pendidikan itu sendiri. yaitu upaya untuk memuliakan kehidupan manusia”.. bagi pembentukan manusia yang dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. sarana. Menurut Ansyar (1985) . Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk memuliakan harkat martabat manusia. Ia dapat sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek pendidikan dan dapat berperan sebagai pelaksana pendidikan (pendidik/guru) dan sekaligus sebagai peserta didik (siswa).. 2008). melakukan analisa secara jernih. maka diperlukan adanya proses pendidikan yang menyentuh terhadap hakikat kemanusiaan itu sendiri. Agar manusia cenderung berkembang ke arah perilaku yang positif atau baik. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa salah satu ciri keberhasilan pendidikan dalam mematangkan pribadi adalah apabila seseorang tersebut dapat hidup layak dan baik.. (Prayitno. 27 . Dengan demikian manusia memiliki potensi untuk berkembang dan dikembangkan kepada hal-hal yang bersifat positif dan negatif. dan secara matang merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya. maka manusia dalam konteks pendidikan merupakan unsur terpenting. kebutuhan individu untuk hidup layak .. Dalam hal pendidikan manusia sekaligus sebagai sumber.

dan menentukan keberhasilan pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal. tumbuhtumbuhan. Kami telah memuliakan anak cucu Adam. hewan. air. Dan sungguh. Kegiatan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. ia dapat sebagai objek dan subjek. Akan tetapi manusialah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Pemikiran itu belum menjelaskan secara penuh harkat martabat manusia.Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu ada yang berbentuk formal. a. maka perlu dibahas dan dikaji hakikat manusia. Kemulian dan kesempurnaan manusia tidak hanya pernyataan manusia saja akan tetapi banyak dijelaskan tuhan dalam firmaNya. dan Kami angkat mereka di darat dan di laut. baik sebagai makhluk ciptaan tuhan. dan malaikat. setan. Sebegitu pentingnya manusia dalam keterlibatannya pada perencanaan. proses. dan nonformal. Jika diurut dan dikemukakan sebenarnya sudah banyak kajian pakar tentang manusia dan pendidikan. informal. jin. padahal harkat dan martabat manusia itulah yang benar-benar membedakan manusia dengan makhlukmakhluk lain. dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik 28 . di antaranya. diri sendiri dan sebagai makhluk sosial. batu. Harkat dan Martabat Manusia Ada banyak makhluk yang diciptakan Tuhan seperti. Kajian-kajian para pakar tentang manusia dalam kaitan dengan pendidikan pada umumnya masih berkisar mengenai manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya. api. Manusia dalam hal ini peserta didik dan guru menjadi amat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Belum banyak kajian yang menjangkau hakikat manusia secara utuh dalam pendidikan. manusia.

1989). serta pengembangan potensi fisik dan mental (Ansyar. Berangkat dari pendapat di atas bahwa 29 .dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. Menurut Prayitno (2008) bahwa kebutuhan dan pengembangan manusia dari. Akan tetapi potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik perlu dikembangkan. manusia dibekali Tuhan dengan akal. (QS 95:4). dan pemilik Hak Azasi Manusia (HAM). Sehingga dengan bekal itu manusia mampu merancang sendiri segala kebutuhannya. penemuan sendiri. John Dewey dengan gerakan progresifnya mengingikan peranan yang lebih kreatif dari sekolah untuk pengembangan individu. Sejalan dengan itu. Prayitno (2008:19) menyatakan bahwa hakekat manusia adalah makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. hati. karena manusia tidak sekedar punya kebutuhan akan tetapi dengan akalnya mampu merancang kebutuhannya yang sekarang dan masa depan. paling tinggi derajatnya. dan oleh manusia sendiri. Keseluruhan pandangan ini menjadikan manusia memiliki harkat dan martabat. (QS 17: 70) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. sebab sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik (murid pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek) sebenarnya telah sempurna dan mulia. khalifah di muka bumi. kebebasan berpikir. makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. diasah dan dimatangkan. dan cipta. Manusia juga punya budi nurani yang menjadikan manusia punya rasa. Selain memandang sisi keduniaannya manusia juga merancang kehidupan akhiratnya. dan nafsu. Selain dari kesempurnaan fisik. untuk. Mempedomani pendapat ini maka pernyataan bahwa ‘pendidikan memanusiakan manusia’ tidaklah tepat. terutama kemampuan kreativitas. karsa. Maksudnya pemusatan pengembangan potensi individu.

Menurut Nasution (1995:49). Kekhalifahan diselenggarakan melalui penguasaan dan pengelolaan atas sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam alam yang nyaman dan tenteram. Tujuan tersebut adalah kesempurnaaan manusia sesuai dengan 30 . Adanya ketinggian derajat ditampilkan melalui upaya menjaga kehormatan dan menolak hal-hal yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaannya. (5) pemilik hak-hak asasi manusia (Prayitno. Kreativitas murid-murid pada bidang seni diarahkan pada kegitan mengukir.pendidikan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek merupakan kegiatan pengembangan potensi diri murid. Sedangkan modal hak asasi manusia dipenuhi melalui saling pengertian. yaitu bahwa manusia adalah (1) makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. maka manusia terus berusaha mengembangkan kehidupannya di atas bumi. Implementasi dari lima konsep dasar yang selalu melekat pada dirinya. (2) makhluk yang paling tinggi derajatnya. Kajian tentang hakikat manusia secara menyeluruh. 2008:19). (3) khalifah di muka bumi. Modal keimanan dan ketaqwaannya ditunaikan melalui peribadatan yang tulus dan ikhlas dalam mencapai redhaNya. tujuan pendidikan pada dasarnya mengacu pada tujuan hidup manusia. saling memberi dan saling menerima serta saling melindungi. mensejahterakan dan membahagiakan. akan mencakup harkat dan martabat manusia. kelima butir konsep dasar harkat martabat manusia itu tetap melekat pada dirinya. (4) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa dari awal penciptaan manusia sampai dengan perjalanannya kembali ke hadapan sang pencipta. Bekal kesempurnaan dan keindahannya diwujudkan melalui penampilan budaya dan peradaban yang terus berkembang.

harkat dan martabat serta ketinggian derajat yang dimilikinya. 31 . Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan dimensi kemanusiaannya. yaitu kehidupan yang mulia. sebagai diri sendiri. Menurut Prayitno (2008:21) dimensidimensi itu berkaitan dengan manusia sebagai hamba tuhan. Berkaitan dengan pendidikan. Panca Daya Selain dari konsep dasar tentang harkat dan martabat kemanusian maka ada beberapa dimensi yang melekat pada manusia. b. Dimensi-dimensi itu adalah (1) dimensi kefitrahan. dan sebagai makhluk sosial. dan (5) dimensi keberagamaan. Dengan teraktualisasikan harkat dan martabatnya. to live with others. (2) dimensi keindividualan. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Mukhtar (20001:7) menyatakan bahwa pembahasan tentang tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan tentang tujuan hidup manusia sesuai dengan hahikat kemanusiannnya. bermartabat dan membahagiakan. learning to live together. Dimensi itu dalam upaya pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya. (4) dimensi kesusilaan. Kemudian diyakini bahwa pendidikan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan agar manusia dapat memelihara kelanjutan hidupnya (survival). Selajan dengan itu. 1996) bahwa pendidikan untuk semua. (3) dimensi kesosialan. Dengan mempedomani dimensi ini maka pembelajaran pada sanggar seni ukir akan menjadi lebih baik sebab proses pendidikan didasari dengan pemahaman manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Hal ini sejalan dengan salah satu harapan PBB (UNESCO. manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. maka hakikat manusia sangat perlu diketahui guna mencapai tujuan pendidikan.

dan fungsi otak. orang lain. ini seringkali disebut sebagai komponen kognitif pada diri individu. untuk berkembang. yang disebut panca daya. untuk berubah dan keluar dan kondisi status quo. berbagai jenis pelayanan dan penampilan. lebih sempurna. dengan penekanan lebih besar pada unsur-unsur kreativitas. Daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri. Kajian panca daya ini dapat dijelaskan bahwa. Produk-produk yang berupa barang-barang konsumsi. pikiran. dan/atau lingkungan. produk-produk teknologi dan seni. Hal-hal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk ke dalam daya rasa. manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan. Daya karsa merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu secara dinamis bergerak dan satu posisi ke posisi lain. Untuk memungkinkan perkembangan individu ke arah yang dimaksud itu. Kemampuan atau keinginan berbuat dan semangat (termasuk di dalamnya prakarsa) merupakan isi daya karsa. Daya rasa mengacu kepada kekuatan perasaan atau emosi dan sering disebut sebagai unsur afektif. fungsi kecerdasan. dan lebih berarti baik dunia maupun akhirat maka manusia juga dibekali dengan kekuatan atau daya pengembangan. daya taqwa merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan dan Tuhan Yang Maha Esa.Menurut Prayitno (2008:26) guna merancang hidupnya yang lebih baik. Daya cipta bersangkut paut dengan kemampuan akal. yaitu: (1) daya taqwa. baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya. Daya cipta. Daya karya juga melahirkan produk yang paling sederhana sampai yang paling canggih. (3) daya karsa. dari 32 . dan (5) daya karya. (2) daya cipta. produk keilmuan. (4) daya rasa.

dimensi rasional. karena merupakan modal dasar kemanusiaan yang sudah dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan bahkan sejak ia masih berada dalam rahim ibunya. termasuk dalam hal ini produk seni ukir. Modal dasar ini yang diarahkan dalam pembetukan manusia yang lebih baik dan 33 . yang mandiri. Menurut Kavlan (2000) dengan daya karya manusia menghasilkan berbagai produk baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Kegiatan mengukir di sanggar tradisional di Pandai Sikek merupakan salah satu bentuk kegiatan daya karya manusia. daya-daya itu sangat diperlukan manusia dalam menghasilkan berbagai produk baik yang modern maupun yang tradisional. Dapat disimpulkan bahwa. baik untuk kebutuhan pribadi maupun yang komersial. Mempedomani ini betapa pentingnya memahami hakikat panca daya terutama dalam penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. panca daya sering dimanifestasikan sebagai kemampuan dasar yang disebut intelegensi spiritual. intelegensi emosional. Dengan demikian pendidikan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek perlu memperhatikan harkat dan martabat manusia yang mengandung lima dimensi kemanusiaan dan pancadaya. dan intelegensi instrumental. Sejalan dengan itu Prayitno (2008) menyatakan bahwa panca daya itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan. 2000:21).yang tradisional sampai yang modern. dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakat (Tilaar. Manusia yang utuh itu sendiri dalam paradigma baru pendidikan Indonesia adalah yang berfikir kreatif. baik untuk komersil maupun untuk pewarisan nilai budaya. Dalam kajian dewasa ini. Menurut Waras Kamdi (2008) dalam paradigma pendidikan Indonesia manusia tidak dipandang sebagai alat produksi tetapi harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh.

hal ini terlihat dari definisi belajar yang diungkapkannya. Menurut Aunurrahman (2009) belajar merupakan kegiatan penting setiap orang. dan informal) ke depan haruslah dialihkan pada pemuliaan harkat martabat manusia yang dikemukakan. 2.lebih utuh. tanpak bahwa ada 3 paradigma bagaimana konsep belajar diformulasikan. dan (3) belajar sebagai konstruksi pengetahuan. artinya untuk mendapatkan dan memahami suatu makna hanya didapat dengan cara belajar. Paradigma pendidikan (formal. nonformal.. Dari hasil belajar manusia akan berilmu dan ilmu yang dibarengi dengan iman menjadikan derajat kehidupannya menjadi lebih tinggi. Hakikat Belajar Pembahasan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar. Sejauh mana komponenkomponen ini diterapkan akan di lihat pada objek penelitian. termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar.niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orangorang yang beriman dan berilmu”. (2) belajar sebagai pemerolehan pengetahuan. Meyer (1999) melihat belajar dan tiga pandangan yakni (1) belajar sebagai penguatan respon. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Mujadalah ayat 11: “. Gage (1984) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.. Ketiga paradigma ini adalah paradigma 34 . Perintah Iqra’ (baca!) dalam konsep Islam bermakna belajar. Bila dicermati pandangan Meyer ini. karena tidak ada pendidikan tanpa belajar. Manusia seutuhnya adalah sosok individu yang harkat dan martabatnya terwujudkan secara penuh melalui pengembangan hakikat manusia dengan kelima dimensi kemanusiaannya melalui pengaktifan panca daya secara optimal.. Pandangan para ahli tentang konsep belajar cukup beragam.

karena belajar juga manusia dapat mengeksploitasi. Sedangkan paradigma konstruktivisme melihat pengetahuan tidak terlepas dari proses pembentukan (konstruksi) yang terus menurus berkembang dan berubah. 2009). Menurut Piaget (1971) pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir. 35 . retensi. Menurut pandangan behavionistik belajar adalah perubahan perilaku peserta didik. Orang dikatakan belajar apabila ada perubahan perilaku yang diakibatkan dan dampak stimulus dan respon sehingga menjadi suatu kebiasaan (Schuman. Konsepsi utama teori ini adalah stimulus dan respons (S-R) sebagai dasar adanya perubahan perilaku. stimulus yang diterima disesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman sebelumnya. pengolahan informasi. Memperhatikan hal ini maka proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dan meneksploitasinya sampai mereka memiliki keterampilan sendiri. 1996). kognitivistik. (Aunurrahman. Proses pembelajaran itu sendiri harus berorientasi kepada pengembangan segenap dimensi kemanusiaan. dan konstruktivistik. informasi dan faktor-faktor lain. dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk mempertahankan kehidupannya dalam persaingan antar bangsa. Menurut Muhibbin (2005) belajar amat penting artinya bagi perkembangan dan kehidupan manusia. Bila dikaitkan dengan pembelajaran yang terjadi di sanggar ukir maka ketiga paradigma ini menjadi dasar bagi pembentukan peserta didik. akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman baru. Oleh karena belajar manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lain. Pandangan kognitivisme belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan.behavioristik. memilih.

Untuk mencapai hasil belajar yang ideal tentu tuntutan terhadap tugas guru/ pendidik menjadi amat penting. 1980) menjelaskan pendapat pakar teori S-R Bond (E. akan terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu. bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman. Seorang murid yang belajar dalam situasi baik dan kondisi yang disiapkan akan mendapat hasil maksimal. Teori belajar yang dianggap pas untuk ini adalah perpaduan antara behaviorisme dan kognitivisme. Lebih lanjut dijelaskan bahwa belajar tidak suatu yang terjadi secara alamiah. Berdasarkan pendapat ini maka perkembangan berpikir kompleks dan baik tidak akan mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa proses belajar. Jadi. Thorndike) bahwa jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang ini tidak akan berguna bagi generasi yang akan datang. Sebaliknya pembelajaran yang tidak terencana sulit mendapatkan hasil maksimal. Dengan demikian kualitas perkembangan manusia amat tergantung dari apa dan bagaimana ia belajar. kondisi eksternal yaitu situasi belajar yang secara sengaja yang diatur oleh pendidik. Menurut Gagne cara berpikir seseorang tergantung pada keterampilan apa yang telah dimilikinya. dan keterampilan serta hirarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas. Artinya perkembangan murid akan didapat dari pembelajaran yang terencana dengan baik.L. Dalam hal ini (Howe.Menurut Muhibbin (2005) bahwa tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. dalam membahas model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek akan bermanfaat sekali paradigma-paradigma teori belajar yang dikemukan di atas. Kondisi itu menurut Aunurrahman (2009) adalah kondisi internal menyangkut kesiapan peserta didik. Tugas guru adalah menyelenggarakan proses 36 .

selain interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. karena tidak terdapat pada kegiatan lain. Sehubungan dengan komponen-komponen pendidikan tersebut Prayitno (2005 : 15) mengemukakan bahwa interaksi antar komponen pendidikan tersebut terjadi dalam suatu hubungan yang unik. Hal ini sesuai dengan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesi. Sejauh mana pemahaman seorang guru terhadap tujuan pendidikan akan berdampak pada penampilannya dalam mengajar. a.pembelajaran agar pada diri peserta didik berkembang suasana belajar. Agar potensinya dapat berkembang secara serasi dan maksimal. Peran Guru Menurut Imam Barnadib (1996). guru memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi peserta didik agar mampu kreatif. maka sebenarnya tujuan pendidikan syarat dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Hubungan yang harmonis dan kondusif antara guru dengan murid memungkinkan pengembangan potensi murid lebih tinggi. Pemahaman guru terhadap hakikat manusia sebagai peserta didik menjadi penting dalam proses pembelajaran. yakni high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan etika pendidikan yang menyatakan: bahwa tanggungjawab puncak pendidik berada di dalam proses pembelajaran. Guru tidak saja 37 . oleh karena itu peran seorang guru menjadi sangat penting. dan dinamis. Interaksi edukatif antara guru dengan murid akan tejalin dengan harmonis apabila pemahaman guru terhadap tujuan pendidikan baik. maka guru harus dapat menerima siswa secara utuh (phisik dan psikis) dalam menjalin intraksi edukatif dalam proses pembelajaran. Ada dua kandungan pokok yang terdapat pada hubungan pendidikan itu. Berdasarkan pendapat Imam Barnabib. terutama dalam perlakuannya terhadap peserta didik (murid).

Dengan demikian tugas mendidik akan terlaksana dengan baik apabila guru benar-benar memahami peserta didik. keunikannya. dan latarbelakangnya. Menurut Suke Silverius (2003). Peters (1981) mengemukakan bahwa tugas dan tanggungjawab guru antara lain adalah memberikan bimbingan kepada peserta didik melalui penjabaran kurikulum sehingga maknanya dapat mempengaruhi dan terinternalisasikan dalam diri peserta didik dalam rangka pengembangan minat. perbedaannya.berperan sebagai pengajar dalam proses transfer materi. guru juga bertugas untuk memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga tujuan belajar akan tercapai dengan maksimal. potensi. Menurut Nana Sujana (2002) bahwa dalam proses pembelajaran selain tugasnya sebagai pendidik. kegiatan belajar mengajar harus berorientasi kepada pengembangan dimensi-dimensi kemanusian peserta didik. minat dan bakatnya. Mempedomani pendapat dua pakar ini maka seorang guru seni ukir selayaknya harus memahami potensi yang ada pada muridnya. mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. dan fitrah bertuhan. Minat dan bakat murid yang belajar pada sanggar seni ukir mestinya mampu dikembangkan guna mencapai sasaran. mengembangkan keingintahuan. Hal ini antara lain dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip belajar yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar dengan melakukan dan mengembangkan kemampuan sosial. imajinasi. mengembangkan kreativitas dan mengembangkan kerjasama. bakat dan potensi yang dilikinya secara lebih optimal. Berangkat dari pendapat di atas maka seorang guru harus benar-benar memperhatikan potensi murid dalam proses pembelajaran. akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing. karena potensi masing-masing 38 .

(2) pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran. dimensi kemanusiaan. Mempedomani berbagai pendapat di atas ternyata peran seorang guru dalam proses pembelajaran begitu penting. (1996) guru dituntut untuk lebih berperan dalam proses pembelajaran. Dalyono. Perencanaan yang sadar bila seorang guru betul-betul memahami fungsinya sebagai sumber belajar dan sekaligus juga pendidik. proses pembelajaran harus didukung dengan pilar kewibawaan dan kewiyataan. dan panca daya. Sedangkan pilar kewiyataan yang merupakan perangkat praktik pembelajaran adalah (1) materi pembelajaran yang diturunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya. (3 alat bantu pembelajaran. dan pancadaya. Perbedaan itu merupakan fitrah manusia dan itulah dimensi kemanusian. ing madya mangun karso.murid tidak sama. (3) lingkungan pembelajaran. Ada murid yang mempunyai potensi dalam bidang olah raga. ada yang lebih baik dalam matematik. dimensi kemanusiaan. maka seorang guru harus menerapkan prinsip high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). Menurut Prayitno (2008) motto pendidikan nasional yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro ing ngarso sung tuludo. Pilar kewibawaan meliputi (1) pengakuan dan penerimaan. Untuk itu seorang guru harus memahami hakikat manusia. Disadari bahwa proses pembelajaran itu sendiri merupakan kegiatan yang terencana dengan sadar oleh guru guna mencapai tujuan pendidikan. dan (5) penilaian hasil pembelajaran. Menurut M. Kecepatan untuk menguasai materi ajar antara satu dengan yang lainnya juga berbeda. Menurut Prayitno (2008). tut wuri handayani menjadi jiwa pilar kewibawaan. (2) kasih sayang dan kelembutan. (3) penguatan. ia 39 . dan (5) keteladanan. (4) tindakan tegas yang mendidik. ada yang baik dalam bahasa. dan ada yang berpotensi dalam seni. Maka di samping memahami hakikat kemanusiaan (peserta didik).

Dengan demikian sebagai pemegang peran penting dalam proses pembelajaran maka kedua pilar ini mesti dikuasai seorang guru. Kurikulum Menurut Ansyar (1989) kurikulum diartikan berbeda-beda oleh beberapa golongan orang atau masyarakat. Walau terjadi perbedaan pendapat tentang kurikulum namun semunya bersepakat bahwa kurikulum tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. atau gelar kesarjanaan (Zais. ijazah. baik oleh pengelola maupun penyelenggara. karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan.. ia mengarah pada pembelajaran dengan teknologi yang tinggi (high tech). Hal mana setiap guru dan murid sama-sama menjadikan kurikulum sebagai pedoman menuju tujuan yang akan dicapai. Kurikulum juga diartikan berbeda-beda oleh para penulis buku pendidikan.. salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum. Menurut Mulyasa (2006). individu. Berangkat dari pendapat Ansyar maka setiap orang dapat memberi makna dan maksud berbeda tentang kurikulum. sebagai “arena” dimana pelajar ‘bertanding’ untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai ‘garis finis’ berupa diploma. 1976: 6).kait berkait untuk menjangkau (to touch) kedirian peserta didik. tetapi sebahagian besar setuju . Ansyar (1989:29) bahwa walau terdapat ketidaksepahaman para ahli mengenai apa yang dimaksud dengan dasar-dasar kurikulum. Arti secara harfiah dari kurikulum itu sendiri yang diartikan sebagai “lapangan pertandingan”. Sedangkan falsafah Minangkabau alam takambang jadi guru menjiwai pilar kewiyaaan. b. masyarakat dan kebudayaan.. serta teori-teori belajar adalah kekuatan-kekuatan yang 40 .. Hal itu tidak saja pendidik pada lembaga formal termasuk pendidikan nonformal seperti di sanggar ukir.

dan sebagai pengalaman belajar. sebagai konten. yakni sebagai program studi. Konsepsi ini memberikan pemahaman bahwa kurikulum dalam pelaksanaan pendidikan dapat dimaknai berbeda namun yang terpenting adalah tidak mungkin sebuah penyelenggaraan pendidikan tanpa kurikulum. dan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Menurut Tyler (1949). Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa setiap pengelola dan penyelenggaraan pendidikan mesti memiliki kurikulum oleh karena kurikulum merupakan acuan. Mulyasa sendiri tidak membatasi hanya pendidikan formal saja yang harus memiliki kurikulum. melainkan seluruh penyelenggaraan pendidikan. arahan. Dari banyak difinisi tentang kurikulum. sebagai hasil belajar. Ansyar (1989) memberikan beberapa konsepsi dasar tentang kurikulum. Disisi lain para ahli melihat kurikulum bukan sekedar perangkat mata pelajaran melainkan sebagai pengalaman belajar. sebagai sistem produksi. sebagai kegiatan berencana. pengalaman belajar adalah pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan intraksi mereka dengan konten dan kegiatan belajar. sebagai reproduksi kultural. Dengan demikian pendidikan yang berlangsung pada sanggar ukir tradisional di Pandai Sikek diyakini memiliki kurikulum.berpengaruh besar terhadap konsep dan aplikasi kurikulum. tetapi kurikulumnya tentu tidak seperti sekolah formal yang telah tersusun dan terstruktur. sebagai reproduksi kultural. Konsep dasar yang lebih mendekati maksud kurikulum dalam penelitian ini adalah kurikulum sebagai kegiatan berencana. Konsepsi dasar yang dikemukan Ansyar tentang kurikulum memberikan gambaran bahwa kegiatan apapun yang sekaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran memerlukan kurikulum. 41 .

Menurut Ansyar (1989) sebagai kegiatan berencana maka kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. Dari perencanaan itu diharapkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan sasaran. Walaupun perencanaan itu tidak merupakan dokumen tertulis seperti yang terdapat di sekolah formal. Menurut Taba (1962) bahwa sekolah didirikan agar dapat mengajarkan pada anak-anak ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan pendapat di atas maka ada kurikulum pada setiap sanggar ukir di Pandai Sikek. Jadi memperhatikan proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek terdapat perencanaan-perencanaan yang dilakukan guru sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai sasaran. Konsep dasar ke dua adalah kurikulum sebagai reproduksi kultural. serta teknikteknik yang diperlukan anak untuk hidup layak di masyarakat. sikap. sekolah didirikan agar pelajar atau anak didik mendalami pengetahuan. dan nilainilai yang dianut orang tua mereka. metode dan teknik penyajian. Dari pendapat ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum segala perencanaan bahan-bahan atau materi ajar yang akan diajarkan guru dalam proses pembelajaran termasuk ke dalamnya tentang urutan. Taba (1962) menyatakan bahwa kurikulum merupakan rencana untuk membelajarkan pelajar. namun kegiatan belajar dilakukan sesuai dengan perencanaan guru. Perencanan itu meliputi persiapan materi sesuai dengan tahapan belajar masing-masing murid pada sanggar ukir tersebut. Hal ini sejalan dengan Macdonald (1965) yang mendifinisikan kurikulum sebagai suatu rencana pekerjaan. yaitu rencana yang menuntun pengajran. sikap. nilai-nilai. kemudian dapat 42 . maka menurut Ansyar (1989: 15) banyak orang menganggap sekolah adalah bagian dari kebudayaan.

yakni konsepsi kurikulum dari segi yang sempit (sebagai suatu pelajaran yang diajarkan). Maka dalam hal ini Foshay (1969) mengkonsepsikan kurikulum yang terdiri dari semua pengalaman belajar di bawah pimpinan guru.meneruskan dan bertanggung jawab terhadap pengemabangan kebudayaan masyarakat itu. Hal ini berkaitan dengan bagian-bagian tertentu dalam pembelajaran seni ukir tidak senantiasa diperoleh dari aspek-aspek yang direncanakan guru. Zais (1976:8) yakin bahwa semua pengalaman yang sesungguhnya diperoleh pelajar dari penerapan kurikulum sekolah merupakan data yang amat berharga bagi penentuan keberhasilan dan efektifitas kurikulum yang direncanakan. Kurikulum pada sanggar seni ukir di Pandai 43 . dan segi yang luas (semua pengalaman yang diperoleh di sekolah atau di luar sekolah). Bagian ketiga adalah kurikulum sebagai pengalaman belajar. Perubahan itu merupakan hasil bimbingan guru yang terencana. Kelompok yang mengkonsepsikan secara luas sering menyebutnya dengan “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). Berdasarkan pendapat ini dapat dilihat bahwa kegiatan transformasi seni ukir yang terjadi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan kegiatan reproduksi kultural. Kepada generasi muda diajarkan keterampilan dan nilai-nilai seni ukir yang merupakan warisan budaya masyarakat setempat. Menurut Ansyar (1989) ada dua kelompok yang melihat kurikulum sebagai pengalaman belajar. seperti seorang murid yang sebelumnya tidak bisa mengukir menjadi menguasai cara mengukir dan mampu menciptakan motif-motif baru. Memperhatikan pendapat ini maka setiap apa saja yang memberi pengaruh dari proses belajar pada murid merupakan implikasi dari kurikulum.

1962). kurikulum tersebut dapat mempengaruhi pembentukan pengalaman belajar dan pendidikan. sampai pada prosedur evaluasi untuk mendapatkan aktifitas pembelajaran yang bermakna. dan teknik mengajar walaupun secara gradual ada perbedaan di antara ketiganya karena itu sering digunakan secara interchangable. Menurut Abdul Azis Wahab (2008) di Indonesia para guru dan pendidik tidak membedakan pengertian metode. Aktifitas belajar yang baik adalah yang melibatkan siswa untuk belajar sendiri melalui pengalaman. Jadi kurikulum yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah sejauh mana guru memberikan perhatian. yang 44 . c. (3) metode pembelajaran. pemahaman adat dan falsafah.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran. prosedur evaluasi yang runtun (Taba. target yang jelas.psb-psma. (http://www.Sikek juga mempunyai dampak nyata tetapi tidak direncanakan seperti kemampuan berwirausaha. diambil 13 Februari 2010). (4) teknik pembelajaran. dan (5) taktik pembelajaran. (2) strategi pembelajaran. Menurut Zais (1976) inti dari kurikulum adalah terselenggaranya aktifitas pembelajaran yang bermakna. Menurut Akhmad Sudrajat (2009) istilah yang memiliki kemiripan makna. strategi. sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya adalah: (1) pendekatan pembelajaran. bahkan ada yang sulit membedakannya. isi yang baik. Jadi pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Sedangkan untuk mengantarkan siswa pada pengalaman belajar dapat dilakukan dengan memberikan perhatian yang baik. menentukan target. bersosialisasi. Metode Pembelajaran Ada beberapa istilah yang dalam proses pembelajaran hampir sama artinya.

diantaranya: (1) ceramah. (2008) menyatakan strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dilihat dari pendekatannya. strategi merupakan a plan of operation achieving something sedangkan metode adalah a way in achieving something. (7) brainstorming. (6) pengalaman lapangan.merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Dengan kata lain. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Akhmad Sudrajat (2009) menyatakan terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. (3) diskusi. Oemar Hamalik (2008) menyatakan strategi pengajaran merupakan penterjemahan filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yang harus ditempuh dalam situasi-situasi khusus atau dalam keadaan tertentu yang spesifik. (9) simposium. metode 45 . terdapat dua jenis pendekatan pembelajaran. Jadi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa materi yang telah disiapkan guru disampaikan atau diangkat melalui metode pembelajaran. menguatkan. Abdul Azis Wahab (2009) menyatakan metode yang cocok untuk mengajar IPS/SS adalah metode ceramah. di dalamnya mewadahi. (5) laboratorium. Wina Senjaya. (8) debat. menginsiprasi. (2) demonstrasi. (4) simulasi. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

inkuiri menemukan sendiri dan pemecahan masalah. dan psikomotor. dari proses pembelajaran diharapkan terjadinya perubahan kognitif. Diyakani pada proses pembelajaran terdapat berbagai metode yang digunakan guru. tidak terkecuali pembelajaran yang berlangsung pada sanggar seni ukir. yang bertujuan antara lain untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa.. dan metode simulasi. Jadi dari pendapat ini ternyata evaluasi pendidikan merupakan suatu “event” yang ganda. dan untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan. Menurut Muhibin Syah (2005) evaluasi adalah penilaian terhadap keberhasilan program belajar siswa. metode tanya jawab. Satu sisi merupakan kegiatan untuk 46 . Metode apa saja yang digunakan guru dan kapan metode itu diterapkan akan dicermati pada saat penelitian. evaluasi menjangkau lebih jauh yaitu untuk mengetahui apa yang terjadi dalam ruang-ruang kelas. Ansyar (1989) . metode diskusi. Jadi evaluasi sangat diperlukan dalam setiap proses pembelajaran. Pemakaian metode guna mengimplementasikan materi yang telah disiapkan guru seni ukir. Lebih lanjut dijelaskan Ansyar bahwa evaluasi untuk mengetahui keberhasilan belajar. Evaluasi Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009) evaluasi menempati kedudukan penting dan bahagian yang utuh dari tahapan dan proses pembelajaran. sikap. untuk memperbaiki program belajar-mengajar. d.. Dalam proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek akan digunakan berbagai metode. Sejauhmana materi-materi yang telah disusun guru seni ukir dapat dikuasai muridnya tentu dilakukan evaluasi sebelum ia memberikan materi lanjutan dan sebelum ia menyatakan muridnya telah menjadi tukang ukir.

evaluasi proses dan evaluasi produk. dan Dimyati (2009) fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk diagnostik dan pengembangan. untuk seleksi. bagi guru maupun bagi sekolah. seperti evaluasi konteks. Menurut Suharsimi (2005) evaluasi hasil belajar dapat bermanfaat bagi peserta didik. dan untuk penempatan. Evaluasi hanya mungkin akan tercapai apabila dilakukan dengan mengikuti prosedur dan tehnik yang tepat dan benar melalui bermacam jenis evaluasi. Untuk mendapat informasi yang tepat tentang pencapaian tujuan pengajran maka perlu seorang guru memahami tentang teknik dan prosedur evaluasi. Muhibbin Syah (2005) menyatakan bahwa 47 . evaluasi input. Berdasarkan pendapat ini maka paling tidak fungsi evaluasi diagnostik dan kenaikan perlu diterapkan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Menurut Imam (2005) evaluasi hasil belajar adalah memberi nilai atau makna tentang kualitas sesuatu yang dipelajari. evaluasi kenaikan juga dapat dipakai untuk menyatakan murid telah lulus atau sebagai tukang ukir. Menurut Nurkancana (1986). Evaluasi diagnostik berfungsi untuk mendiagnosa kelemahan dan keunggulan murid guna meningkatkan hasil belajar murid. Sedangkan evaluasi pembelajaran guna memperoleh keefektifan proses pembelajaran. Evaluasi kenaikan untuk menseleksi apakah sudah perlu materi lanjutan atau masih tetap materi yang sama.mengendalikan mutu pendidikan dan dari sisi lain merupakan upaya untuk pengumpulan informasi tentang pencapaian murid terhadap meteri yang disampaikan pendidik. Suharsimi Arikunto (2005). untuk kenaikan kelas. evaluasi hasil belajar menekankan kepada perolehan informasi tentang pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Menurut Dimyati (2009) ada evaluasi hasil belajar dan ada evaluasi pembelajran.

Tes ini dapat disusun dalam bermacam bentuk namun pilihan bentuk yang tepat adalah sesuai dengan tujuan kegiatan pendidkan/pembelajaran yang telah ditetapkan. Tes prestasi belajar dapat berupa tes baku 48 . dan psikomotor (ranah karsa). Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi (penilaian) merupakan proses untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui pengukuran berdasarkan instrumen tes maupun non tes. pemahaman. mungkin pula menggunakan tes objektif yang telah distandarisasikan untuk mengukur hasil belajar peserta didiknya. Sedangkan hasil belajar adalah suatu kecakapan nyata yang dapat diukur secara langsung melalui tes. untuk memahami tingkat hasil peserta didik dalam belajar. evaluasi hasil belajar adalah proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi (data) yang telah diperoleh melaui tes pengukuran hasil belajar. mengaplikasikan sesuatu. Sedangkan guru/dosen yang lain menggunakan tes perbuatan. kemampuan mengingat. afektif (ranah rasa). Memperhatikan pendapat ini maka evaluasi hasil belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek sangatlah berarti sebab evalusi mencakup pada tiga ranah cipta.evaluasi hasil belajar bukanlah sekedar pemberian angka yang berkaitan dengan satu aspek semata. menciptakan sesuatu atau melahirkan pikiran secara tertulis. Seorang guru atau dosen. Muri (2005) tes hasil belajar (achievement test) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan guru disekolah atau dosen di perguruan tinggi. kognitif (ranah cipta). Jadi. tetapi mencakup aspek yang lebih luas yaitu. Menurut A. Oleh karena itu tes hasil belajar mungkin saja mengukur kecepatan lari. rasa dan karsa. menilai. baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.

dan (3) psikomotor yang meliputi : persepsi kesiapan (set). Suharsimi.(standardized test) dan dapat juga dengan tes buatan guru (teacher made test). mencakup aspek kognitif. adaptasi/penyesuaian pola gerakan. 1) Hakikat Evaluasi Hasil Belajar Dari gambaran di atas tampak dengan jelas bahwa tes hasil belajar bukanlah sematamata tes yang dilakukan pada akhir semester/tahun ajaran (tes sumatif). respon terbimbing. maupun portofolio yang dikumpulkan. Menurut A. Jadi tes hasil belajar dirancang untuk mengukur apa yang telah dipelajari dalam bidang studi yang bersifat formal. Hasil itu tercermin dalam berbagai aspek antara lain (1) kognitif yang meliputi : mengingat. 2005).Muri (2005) hasil belajar merujuk kepada tingkat hasil peserta didik dalam belajar. pemahaman. Jadi hasil belajar terhadap sesuatu yang sudah dipelajari akan memberikan gambaran tentang pemahaman dan kesukaran atau kekuatan dan kelemahan sesorang dalam bidang tertentu. pembentukan pola/karakterisasi nilai. tengah caturwulan. gerakan/respon terbiasa. Karena itu evaluasi hasil belajar telah dimulai sejak seseorang mulai belajar. partisipasi. (2) afektif yang meliputi : penerimaan.Muri. tetapi juga tes formatif. evaluasi dan kreatifitas. Jadi hasil evaluasi bukanlah semata-mata pada akhir semester atau caturwulan maupun naik kelas. afektif dan psikomotor. melainkan dapat dilakukan pada tengah semester. Dengan 49 . baik berupa tes esai. evaluasi tugas-tugas yang diberikan. pengorganisasian nilai (organization). evaluasi/penentuan sikap (valuing). dan originalitas. Oleh karena itu tes hasil belajar dapat berupa tes hasil belajar yang telah distandarisasikan (standardized achievenment test). 2005 . tes objektif dan tes perbuatan maupun dengan inventory lainnya. diagnostik dan penempatan kalau dilihat dari segi fungsinya (A. aplikasi. analisis. mekanisme. dan tes buatan guru (teacher or locally made test).

perlu dilakukan asesmen yang benar. maka dapat pula dilakukan tes hasil belajar. penilaian berdasarkan pada prosedur dan kreteria yang jelas tanpa dipengaruhi subjektivitas penilai. (b) objektif. baik ditinjau dari komponen evaluasi itu sendiri maupun dari prinsip-prinsip evaluasi yang dipedomani. Walaupun tidak dapat dipungkiri untuk keperluan ini dibutuhkan tes jenis lain seperti “aptitude test” namun tes hasil tidak dapat diabaikan. penilaian tidak menguntungkan atau 50 .demikian apabila guru ingin menempatkan peserta didik dalam kelompok belajar maka guru terlebih dahulu mengetahui seberapa jauhkah hasil peserta didik dalam bidang yang akan ditempatinya itu. dan (g) evaluasi bukanlah tujuan. (e) evaluasi yang baik menggunakan alat ukur yang ganda dan sahih. (f) evaluasi yang baik hendaknya dilakukan oleh suatu tim. Adapun prinsip-prinsip eavaluasi hasil belajar bersifat umum dan khusus. (c) evaluasi yang baik bersifat objektif. 2) Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar Untuk dapat memberikan gambaran yang maksimmal tentang hasil kegiatan pembelajaran.Muri (2005) beberapa prinsip umum evaluasi belajar yang baik adalah (a) evaluasi yang baik bersifat komprehensif. penilaian berdasarkan data yang mencerminankan kemampuan yang diukur. melainkan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan. Guru merancang suatu tes hasil belajar terhadap meteri yang telah lalu. (d) evaluasi yang baik berpijak pada tujuan yang jelas. (b) evaluasi hendaklah kontinyu. (c) adil. Prinsip penilaian menurut Zaim (2009) adalah (a) sahih. a) Prinsip-prinsip Umum Evaluasi Belajar Menurut A. Apabila guru telah menyelesaikan suatu kegiatan atau satuan pelajaran dan ingin mengatahui tentang tingkat hasil peserta didik dan kesukaran-kesukaran yang dihadapinya.

Jadi berdasarkan pendapat ini maka evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek hendaklah sesuai dengan fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran (penempatan. berkesinambungan dan dapat dipertanggungjawabkan. (g) sistematis. dan (d) tes hasil belajar hendaklah seterandal mungkin. (h) beracuan kriteria. sistematis. (d) terpadu. Apakah ada alat evaluasi yang sahih. penilaian dapat dipertanggungjawabkan. Tes hendaklah valid dan reliabel. diagnosis. b) Prinsip-prinsip Khusus Evaluasi Belajar Hasil-hasil belajar akan dapat diungkapkan menurut fungsi yang diharapkan apabila intrumen yang dipakai memenuhi syarat untuk hal tersebut. (f) menyeluruh dan berkesinambungan. 51 .Muri (2005) ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar yakni: (a) tes yang disusun hendaklah betul mengukur tujuan pembelajaran. formatif dan sumatif). dan (i) akuntabel. (b) tes yang disusun merupakan sampel yang representatif dari semua materi pembelajaran. (e) terbuka. mencakup semua aspek kompetensi. penilaian meupakan salah satu komponen pembelajaran. penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap. penilaian berdasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Untuk itu evaluasi pada proses pendidikan/pembelajaran di sanggar ukir hendaklah terkait dan mampu mengungkapkan tujuan itu. (c) bentuk/format tes yang dipilih hendaklah sesuai dengan tujuan yang dicapai.merugikan peserta didik. kreteria dan dasar penilaian dapat diketahui pihak berkepentingan. prosedur. Menurut Asmawi & Noehi (1995) dan A. Dari prinsip umum ini dapat dilihat bagaimana penilaian yang dilakukan pada proses pendidikan yang dilakukan di sanggar seni ukir pandai Sikek.

Apa bentuk evaluasi itu dalam acuan patokan dan bagaimana bentuk patokan itu akan diobservasi dalam penelitian.Muri (2005) dan Asmawi & Noehi (1995) pengukuran berdasarkan norma kelompok adalah untuk menentukan kedudukan (relatif) peserta didik dibandingkan dengan temannya yang lain dalam kelompok itu atau bagaimana penampilan seseorang dibandingkan dengan temannya dalam kelompok. Bilamana seseorang telah memenuhi patokan tersebut ia dinyakan berhasil. Ini berarti normanya adalah norma kelompok. 52 . Berdasarkan pengukuran ini dapat dilihat bagaimana pengelompok murid sanggar ukir di Pandai Sikek. Adakah murid dikelompokkan berdasar skor yang diperolehnya atas dasar pembandingan dengan teman-temannya.Menurut A. Menurut A. Tetapi tidak akan menceritakan apa yang dapat dikerjakan seseorang dengan menggunakan kriteria tujuan yang ditetapkan. Untuk menyatakan seorang murid telah dapat mengukir tentu ada sacuan yang digunakan guru. artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan skor di kelompok itu.Muri (2005) dari segi hasil peserta didik terhadap tujuan pendidikan/pembelajaran atau terhadap kelemahan-kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam aspek tertentu. Jadi prinsip ini menggambarkan bahwa evaluasi dengan menggunakan acuan patokan dapat digunakan. telah dikuasai peserta didik dibandingkan dengan patokan yang telah ditentukan sebagai kriteria atau standar minimal hasil seseorang dikaitkan dengan tujuan Sejalan dengan itu Asmawi & Noehi (1995) menyatakan bahwa cara ini dibenarkan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan menggunakan sejumlah patokan. norma teman-temannya yang lain. evaluasi berdasarkan acuan patokan (criterion referenced evaluation) lebih baik dan tepat digunakan sebab guru dapat mengetahui seberapa jauh suatu aspek.

(d) mempunyai standar tunggal untuk semua sehingga apabila tes itu dilakukan pada tempat yang berbeda. Tingkat hasil individu dibandingkan dengan hasil kelompok. (a) digunakan untuk mengukur pengetahuan. kemampuan dan tingkah laku peserta didik. (e) informasi yang ada tidak menunjukkan pencapaian tujuan. (b) tidak memperhatikan perbedaan individu. (f) butir soal dipilih agar menyediakan perbedaan diantara individu. pengukuran berdasarkan patokan (Criterion Referenced Measurement). Sedangkan pengukuran berdasarkan norma kelompok ( norma referenced measurement). (b) perbedaan individu sangat menjadi perhatian. (d) dapat menunjukkan rentangan tingkat hasil peserta didik dibandingkan dengan norma kelompok. (g) indeks pembeda antara kelompok tinggi dan kelompok rendah bukanlah suatu yang penting. (c) mengukur kategori yang lebih umum. dan (j) cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif dan mengukur kompetensi. (e) dapat memberikan informasi apakah tujuan dapat dicapai oleh kelompok. dan (k) tidak cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif. (i) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci. 53 . dengan menghormati penampilan tingkah laku orang lain dalam kelompok.Selanjutnya oleh A. namun patokan adalah sama. (f) semua butir soal yang diberikan untuk memberikan gambaran penampilan yang tepat. (c) lebih terfokus pada kawasan (domain) yang lebih spesifik. (a) digunakan untuk mengukur tingkah laku yang dimiliki seseorang dengan merumuskan kawasan tingkah laku itu sebagai patokan atau mengutamakan pengujian hasil (mastery). (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. (g) indeks pembeda butir soal merupakan indikator menentukan kualitas soal. (j) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci sekali. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. Muri (2005) dinyatakan bahwa beda kedua tipe itu adalah sebagai berikut.

Karakteristik penilain itu tidak cukup dengan mempedomani prinsip-prinsip penilaian secara umum maupun prinsip khusus. Banyak pendapat dan difinisi yang dikemukaan tentang kebudayaan. Beals dan Hoyer dalam buku An Introduction to Anthropology (1959). Berdasarkan pendapat ini maka penilaian pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek mempunyai karakteristik sendiri.Menurut Zaim (2009) keunikan pembelajaran kelompok seni budaya terletak pada kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman estetis melalui dua kegiatan yang saling terkait. Diskusi tentang kebudayaan senantiasa menarik. namun senantiasa saja difinisi itu memiliki celah atau ruang diskusi baru. kreasi (creation) termasuk di dalamnya performance. 3. Evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek harus memasukkan sejauhmana pengalaman estetis murid. yakni apresiasi (apreciation). dan lebih awal oleh Kroeber dalam buku The Nature of Culture (1952). Kebudayaan Minangkabau Dua orang pakar A. Difinisi tentang kebudayaan sekarang semakin berkembang sehubungan semakin banyak tantangan dan fenomena baru dalam kehidupan manusia. karena kebudayaan bahagian dari kehidupan manusia. Hal ini terkait dengan bahwa pembelajaran kelompok seni mencakup pada pemberian pengalaman estetis. Kluckhohn (pakar antropologi sekaligus juga filsafat kebudayaan) dalam makalahnya yang termasyhur “Culture: a Critical Review of Concepts and Difinitions” tahun 1952 hanya mampu mengklasifikasikan 179 difinisi tentang kebudayaan. Dari banyak difinisi dan pendapat tentang kebudayaan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan 54 .L Kroeber dan C. Pencarian tentang hakikat kebudayaan dilakukan oleh Bakker (1984) dalam buku Filsafat Kebudayaan. Tidak ada kepuasan yang pas tentang salah satu difinisi kebudayaan.

maka difinisi yang ada kaitannya dengan pendidikan adalah pendapat Koentjaraningrat (1990) yaitu keseluruhan sistim gagasan. Pengertian belajar dalam pandangan kebudayaan adalah sebuah proses yang ada di tengah masyarakat. Dari banyak difinisi tentang kebudayaan. Oleh karena manusia yang berbudaya dan membudayakan aspek kehidupannya. kepercayaan. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. bahwa kebudayaan hasil prestasi manusia. Sejalan dengan ini maka menurut Ansyar (1985) ada dua pandangan tentang fungsi sekolah pertama yang mengkonsepsikan sebagai pemelihara dan penerus kebudayaan dan kedua 55 . di mana segala aspek yang kompleks apakah itu nilai-nilai atau hukum. bahwa kebudayaan didapat dengan belajar. disinilah afinitas (daya tarik-menarik/gabungan) antara pendidikan dan kebudayaan. hukum. maka disinilah titik singgung antara budaya dengan pendidikan. seni. Kemudian Edward B. seni. kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya dapat diperoleh di tengah masyarakat. Taylor dalam Primitive Culture yang dikutip Tilaar (2000) menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang meliputi pengetahuan. adat istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Tilaar (2000) tidak mengherankan apabila usaha untuk mencari jawaban terhadap hekikat kebudayaan mampir dalam pertanyaan mencari hakikat manusia. Dengan demikian betapa pentingnya masyarakat dalam proses pendidikan.adalah milik manusia. moral. Dari pendapat dua pakar tersebut ada beberapa hal yang perlu ditarik yaitu bahwa kebudayaan adalah suatu sistem yang utuh bukan merupakan bagian-bagian. bahwa kebudayaan bisa dalam bentuk tingkah laku dan dalam bentuk artefak. Kedua-duanya khas insani oleh karenanya kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan.

gerabah. Banyak hasil budaya masa lalu menjadi menarik untuk didiskusikan saat ini. dan kekayaan sebuah bangsa. pertama kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. Walau pendapat kedua yang menyatakan pendidikan hanya pengembangan individu murid. dan seni ukir merupakan tinggalan budaya yang berbentuk artefak. rumah-rumah adat. kedua kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan 56 . Berbagai bentuk warisan budaya itu sendiri seperti. namun bila dilihat bahwa kebudayaan suatu sistem gagasan yang didapat dari belajar maka dengan sendirinya pendidikan itu adalah bagian dari kebudayaan. norma-norma. malah patut dilestarikan sebagai aset. Menyimak pendapat ini maka warisan budaya atau tinggalan budaya patut dilestarikan. Mesjid-mesjid kuno. nilai-nilai. ada yang berbentuk tingkah laku dan berbentuk artefak. Menurut Tilaar (2000:190) bahwa gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi khsusunya teknologi komunikasi dapat merupakan bahaya penggerhanaan identitas manusia termasuk hilangnya kebudayaan nasional dan lokal. Dengan demikian seni ukir sebagai salah satu warisan budaya dan juga sebagai identitas budaya daerah seharusnyalah dilestarikan agar dapat tumbuh dan berkembang pada era global. Menurut Ardika (1999). Jangan sampai akar budaya yang telah diwarisi dari leluhur terdahulu tercabut di tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan akibat globalisasi. pemahaman dan pelestarian terhadap warisan budaya sebagai jati diri suatu etnik dan bangsa tetap menjadi penting dalam era global ini. peraturan. modal. Pembicaraan tentang budaya bukan hanya milik masa sekarang saja. dan sebagainya.sebagai pengembangan individu anak yang terlepas dari kebudayaan. ide-ide atau gagasan. Koentjaraningrat (1990) mengemukakan tiga wujud kebudayaan. gagasan. sedangkan keterampilan mengukir tinggalan budaya yang berbentuk tingkah laku. nilai-nilai.

tape. penghargaan masyarakat terhadap seni ukir di Pandai Sikek merupakan bahagian dari wujud kebudayaan yang ke dua ini. Wujud kedua kebudayaan juga disebut sebagai sistem sosial adalah berkenan dengan pola kelakuan dari manusia atau masyarakat itu sendiri. Wujud kebudayaan ini dapat diamati.J. dan ide-ide yang menggerakkan sehingga menghasilkan berbagai kreativitas ada dalam wujud pertama ini. dan (3) artifacts. gagasangagasan. disket. Pendapat Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan sama dengan yang dikemukakan oleh J. Karena merupakan rangkaian kegiatan manusia dalam masyarakat. maka sistem sosial ini sifatnya kongkrit. yaitu (1) ideas.berpola dari manusia dalam masyarakat. 57 . difoto.Honigmann dan Koentjaraningrat dapat dijelaskan bahwa wujud pertama kebudayaan siifatnya abstrak. tak dapat diraba yaitu sistem budaya yang merupakan wujud ide dari kebudayaan. Inisiatif. Ada yang mengistilahkan wujud pertama ini sebagai inti dalam dari kebudayaan. pola pembelajaran ukir.J. Berkenaan dengan seni ukir Pandai Sikek maka falsafah motif ukiran termasuk pada wujud kebudayaan inti ini. Keterampilan mengukir. mikro film.Honigmann dalam bukunya The World of Man (1959) bahwa ada tiga gejala kebudayaan. (2) activities. berhubungan serta bergaul satu sama lain berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan. Berangkat dari pendapat J. arsip. dan ketiga kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Sistem sosial ini terdiri atas kegiatan-kegiatan manusia berintegrasi. dan difilmkan karena ia terjadi di sekeliling kita. dan komputer dengan adanya kemajuan teknologi. Wujud kebudayaan ideal ini sekarang sudah banyak tersimpan dalam buku-buku. Wujud pertama ini ada dalam kepala atau alam pikiran anggota masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.

Benda-benda budaya itu beragam bentuknya mulai dari yang sederhana sampai ke paling komplek atau rumit cara penciptaannya. Ketujuh unsur yang dikemukakan para pakar itu dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia ini termasuk di Indoensia.Wujud ketiga kebudayaan adalah benda-benda budaya atau artefak. diamati. Benda-benda budaya itu dapat berupa tinggalan budaya atau hasil karya masa lampau seperti candi. dan dapat juga karya masa kini seperti pesawat. seni-seni masa lampau. Jika diperhatikan ternyata ketiga wujud kebudayaan saling berkaitan. dan kesenian. Cakupan kebudayaan cukup luas. Kesalingterkaitan wujud budaya itu sangat mudah dilihat dalam bentuk seni. organisasi sosial. Wujud kebudayaan ini dapat dilihat. sistem pengetahuan. bangunan pencakar langit. 58 . Kebudayaan ide mengatur dan memberi arah kepada perbuatan tingkah laku manusia. dan dari aktifitas pola laku itu menghasil karya dalam bentuk benda-benda. diraba. dan dari tingkah laku menghasilkan normanorma baru dan membentuk pemikiran baru lagi. ia meliputi segala aspek kehidupan manusia namun oleh sarjana antropologi dibagi ke dalam beberapa unsur. dan difoto. sistem religi. wajud ini paling kongkrit jika dibandingkan dengan dua wujud sebelumnya. sistem peralatan hidup dan teknologi. sistem mata pencaharian hidup. dan seni kotemporer. yakni bahasa. bangunan kuno lainnya. C.Kuckhohn (1953) merumuskannya kepada tujuh unsur kebudayaan. Sebaliknya kebudayaan fisik dapat mengatur tingkah laku masyarakat. dicium. Bangunan rumah adat Minangkabau yang penuh dengan ukiran merupakan benda hasil budaya. Koentjaraningrat (1990). ia merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

sampai ka sipisau-pisau hanyuik. Pada awalnya kawasan kebudayaan Minangkabau hanya terdiri dari tiga luhak (Tanah Datar. dari Sirangkak nan badangkang. akan tetapi daerah ini dibagi lagi ke dalam bagian-bagian khusus. Minangkabau merupakan kesatuan budaya sedangkan Sumatera Barat wilayah administratif pemerintahan. hinggo lauik nan sadidiah. lokasi atau daerah asli masyarakat etnis Minangkabau diceritakan sebagai berikut. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. sajajaran Sago jo Singgalang. “…salirik gunuang Marapi. Agam. Nenek moyang orang Minangkabau sendiri sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tambo berasal dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua. sailiran Batang Sikilang. Pembagian khusus itu antara darek (darat) dan pasisie (pesisir) atau rantau. saedaran gunuang Pasaman. ke Riau dan semenanjung Malaka bahagian Timur. Minangkabau tidak sama dengan Sumatera Barat walaupun sebahagian besar masyarakat Minangkabau mendiami wilayah Sumatera Barat. sampai ka ombak nan badabuak. Berdasarkan tambo-tambo/sejarah alam Minangkabau. Menurut Umar Yunus (1997) daerah asal Minangkabau diperkirakan seluas daerah Propinsi Sumatera Barat sekarang ini. dan 50 Kota) kemudian meyebar kedaerah lain yang disebut dengan rantau. Datuk Sanguno 1987. sialang balantak basi. sampai ka pintu rajo ilia. Rao jo 59 . durian ditakuak rajo. saputaran Talang jo Kurinci. Datuk Rajo Panghulu 1997. Dari tiga luhak ini kemudian menyebar sampai ke sebahagian Sumatera Utara dan Aceah bahagian utara. dengan dikurangi daerah kepulauan Mentawai. ka Timur ranah Aia Bangih.Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia mempunyai bentuk budaya sendiri. hinggo aia babaliak mudiak. Beberapa penulis (Navis 1984. hinggo buayo putiah daguak. ke Jambi dan Bengkulu bahagian selatan.

sehiliran/ menyusuri Batang Sikilang. gunung Mahalintang. daerah Rao dan Mamat Tunggul. 1984. masing-masing bebas dengan eksistensinya. hingga laut yang terasa panas. dan pola laku hidup masyarakat Minangkabau. Mamangan (peribahasa) orang Minangkabau menyatakan ‘alam takambang tampek ba guru’ (alam terkembang tempat berguru). hinggo Taratak Aia Hitam. tempat hidup dan mati.. 1971). Navis. Pasisia Banda Sapuluah. Pesisir Bandar Sepuluh. ( Dt. Pucuk Jambi Sembilan Lurah). dan Nasrun. Dengan demikian motif ukiran Minangkabau sebagai salah satu contoh budaya Minangkabau juga bersumber dari alam. Unsur-unsur alam saling berhubungan tapi tidak saling mengikat. sampai ke ombak yang berdebur. dan saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan. 1984: 59-60). sampai ka Tanjuang Samalidu. sampai ke Tanjung Simalidu.Mapa Tungguah. Unsur alam memberikan peran yang berbeda. sampai ke pintu raja hilir. Falsafah yang bersumber pada alam. (. Sialang berbatasan/bertanda besi hingga arah air kembali mudik.. sampai ke pisau-pisau hanyut.sebaris gunung Merapi. Rajo Panghulu. Kehadirannya tidak sekedar bernilai estetis melainkan sarat dengan muatan filosofis. bagi orang Minangkabau alam tidak sekedar tempat lahir dan berkembangan. dari Kepiting yang keras hingga buaya yang putih dagu. hingga Taratak Aia Hitam. seputaran gunung Talang dan gunung Kerinci. Kebudayaan Minangkabau bersumber dari falsafah hidup dengan nama “falsafah alam”. (Navis. 1977. gunuang Mahalintang. durian ditakah raja. ke timur renah (daerah) Aia Bangih. Unsur alam itu dalam suatu harmoni dan dinamis sesuai dengan hukum dialektika bakarano bakajadian (bersebab berakibat). saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. sejajaran gunung Sago dan gunung Singgalang. melainkan juga mempunyai makna yang dalam. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya mengisyaratkan ide. 60 . Pucuak Jambi Sambilan Lurah. sekitar gunung Pasaman. Pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek bukan sekedar mentranspormasi keterampilan mengukir saja akan tetapi lebih dari itu adalah mewariskan kebudayaan Minangkabau yang berfalsafahkan pada alam.

olah raga. Hal ini terjadi ketika masyarakat menganggap bahwa seni hanya sebagai objek untuk dinikmati dan diapresiasi belum dipandang sebagai proses pembentukan dan pengembangan diri. Pertama adalah sebagai ide atau gagasan yakni motif dan falsafah ukiran yang bersumber pada alam.Penelitian pendidikan seni ukir pada sanggar ukir akan melihat tiga komponen kebudayaan. Berangkat dari pendapat ini seni dapat dijadikan sebagai pembentukan dan perkembangan manusia. Konsep Seni dan Pendidikan Seni Menurut Yahya (2009) bahwa seni di dalam khasanah pendidikan belum banyak dilirik dan bahkan kedudukannya sering dilupakan. 4. Pendidikan seni termasuk pada kegiatan seni ukir di pandai Sikek tidak hanya pada pembentukan salah satu aspek saja. Seni dan Pendidikan Seni a. Ada kecenderungan kehidupan hanya pembentukan pada aspek jasmani saja seperti dengan mengatur pola makan. Begitu juga dalam perkembangan dan pembentukan otak manusia lebih banyak pada kegiatan pembentukan otak kiri. dan ketiga adalah wujud benda yakni hasil karya seniman ukir yaitu benda ukiran. Menurut Ramalis (2005:10) pendidikan seni dapat dijadikan pendekatan dalam belajar sehingga keseluruhan peran pendidikan seni dapat terimplementasikan dalam mengembangankan berbagai kemampuan dasar manusia. antara fisik dan psikis. dan antara raga dan emosi. kedua sebagai tingkah laku yakni keterampilan mengukuir dan sikap masyarakat pendukung budaya. Perkembangan diri yang baik adalah adanya keseimbangan antara jasmani dan ruhaniah. dan istirahat. Kemampuan murid dikembang dari aspek jasmaniah dan ruhaniah. 61 .

kinestetik. sapcial. Menyimak pendapat ini dan bila dilihat kondisi sekarang maka sebahagian pendidik belum banyak yang mengetahui bahwa kegiatan seni berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik manusia. patung.Menurut Ramalis (2008) bahwa pendidikan seni yang multidimensional. spasial. natural. Penulis: Oki). persepsi. Karya seni 62 . rasional. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. dan emosional. dan dalam hal ini kemampuan murid mesti dikembangkan guna adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan. disain. drama. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. kecerdasan kinestetik untuk seni media gerak (tari. dan analitis.php/ Sabtu. Howard Gardner menemukan multi kecerdasan (multiple intellegenius) yang meliputi kecerdasan linguistik. dan kriya) (http//ppgkes/module/ com. 6 Februari 2010. Masing-masing belahan otak manusia saling berinteraksi. matematik. atau tiga kecerdasan. Otak manusia belahan kiri mengatur kemampuan logika. Otak ini akan berinteraksi dengan belahan kanan yang mengatur fungsi intuisi. kreativitas. Dari sembilan kecerdasan ini maka ada manusia yang menonjol pada salah satu kecerdasan. dan multikultural memiliki potensi dalam pengembangan kecerdasan mansia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan. musik. dan kecerdasan spasial untuk seni rupa (lukis. dan spiritual. bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yaitu otak kiri dan otak kanan. dua kecerdasan. Kelompok ilmuan neurophsychology menemukan peta kemampuan otak manusia. inter pribadi. dan silat). Memperhatikan konsep ini maka masing-masing manusia terutama murid semestinya mempunyai kemampuan berkesenian. multilingual. Juga dapat dilihat bahwa ada tiga kecerdasan yang berkaitan dengan seni yakni kecerdasan musik untuk seni musik. antar pribadi.

berpikir kreatif. Pembentukan dan perkembangan otak kanan diperlukan untuk keseimbangan otak kiri. dan tampuruang hanyuik (tempurung hanyut). rasa dan pikiran Ekspresi Estetika Emosional Subyektif Emosional Wadah ungkapan pengalaman batin Secara umum seni-seni tradisional termasuk seni ukir Pandai Sikek lebih banyak pada konsep seni sebagai imitasi. itiak pulang patang (itik pulang sore). terutama otak kanannya. Khusus berbicara tentang seni maka ada dua kelompok pemikiran yang mendasari lahirnya konsep seni. Dari konsep ini maka Ramalis (2006: 19) menyajikan dalam bentuk tabel berikut. Kreativitas seorang seniman merupakan salah satu kecerdasan yang diolah. Menurut Sri 63 . Motif-motif ukiran merupakan imitasi atau tiruan bentuk alam seperti motif siriah gadang (rangkaian daun sirih). Kelompok pertama yang memandang seni sebagai imitasi dan kelompok kedua menyatakan seni sebagai ekspresi (Wickiser. diproses dan tersimpan dari otak kanan. Jadi apabila pendidikan seni diberikan pada peserta didik berarti memberi keseimbangan pembentukan pribadinya yang lebih utuh. hewan. sedangkan kelompok pemikiran kedua memandang seni sebagai ekspresi berorientasi estetika perasaan. Konsep A Dasar Sifatnya Strategi Sasaran Imitasi Estetika dogmatis Objektif Rasionalitas Keserasian tangan. Berasarkan temuan di atas ternyata karya seni yang kita nikmati merupakan hasil kerja otak.merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. 1957). makanan dan benda lainya. yang membicarakan keindahan objektif. yang membicarakan keindahan subjektif. Motif ukiran merupakan stilisasi dan simbol dari bentuk alam. Kolompok pemikiran imitasi berorientasi pada estetika dogmatik. dan kemampuan memecahkan masalah.

lebih mengarahkan pada pengembangan pikiran. Konsep ini menurut J. Bila konsep ini dihubungkan dalam proses pembelajaran terutama pada pendidikan formal di Indonesia. rasa dan pikiran. rasa dan pikiran.Sundari (2000) bahwa ada 50 macam motif tumbuh-tumbuhan. Di sisi lain menurut Ramalis (2006) bahwa pembelajaran seni disusun dan dipelajari secara sistematis. dan 60 motif makanan dan benda lainnya pada ukiran di Pandai Sikek. Dasar konsep psikologis bagi strategi rasionalitas sebenarnya dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan secara serasi antara tangan. rasa dan pikiran. jarang diarahkan pada pengembangan keserasian tangan. Sedikit sekali dalam proses pembelajaran yang menyeimbangkan antara keterampilan tangan. 32 motif binatang/ hewan. Jadi bila dilihat cara kerja seni tradisional lebih banyak sebagai simbol atau lambang yang merupakan hasil tiruan alam yang memiliki keindahan objektif. Pendapat di atas menggambar kondisi pada sekolah formal di Indonesia. Konsep strategi rasionalitas ini berkembang di masyarakat berbagai negara termasuk Indonesia.Zaim (2009) menawarkan adanya perubahan orientasi yakni dari persepsi monokultural menjadi multikultural.A Pestalozzi (dalam Ramalis. Oleh karena itu fokus kegiatan pembelajarannya adalah pada penguasaan teknis keterampilan tangan yang dapat diukur secara objektif. 2006) ini melahirkan konsep strategi rasionalitas seni. Dalam hal ini M. logis mengikuti jenjang kesulitan. tentu akan berbeda dengan kondisi pada lembaga non formal yang lebih menekankan pada keterampilan. Pendidikan seni Indonesia yang tertanam selama ini terutama disistem pendidikan persekolahan berorientasi pada kaidah ‘baik-buruk’ konsepnya seni Barat. Pembentukan pemikiran pada sanggar ukir di Pandai Sikek akan didapat pada 64 .

Victor Lowenfeld. Wickiser menyatakan dapat membantu perkembangan kepribadian dan pembinaan estetik anak. Raip Wickizer dan Herbert Read. 65 .pemahaman dan penempatan motif. Kerchensteiner. Pembaharuan konsep pendidikan seni utamanya dilandasi oleh alasan filosofis. Menurut Read (1970) bahwa secara filosofis. Kelompok reform yang mempelopori pembaharuan pendidikan seni antara lain Van Prag. dan sosiologis. Ross menyatakan dapat membantu mengembangkan perasaan anak. Sejauhmana keseimbangan tangan. G. Menurut Setjoatmodjo (1981) bahwa konsep pemikiran bahwa seni sebagai ekspresi identik dengan konsep seni moderen yang lahir bersamaan gerakan reformasi. rasa. Sejak itu konsep pendidikan seni mengalami pembaharuan yakni mata pelajaran menggambar berubah menjadi mata pelajaran yang bersifat: ekspresi. Kaum reformis memandang karya seni sebagai wadah ungkapan pengalaman batin seniman. pernyatakan Margaret Naumberg dapat digunakan sebagai sarana terapi mental. 1970) mengatakan seni adalah kulminasi dan pengalaman. psikobogis. Dewey (dalam Read. antara lain: Lowenfeld menyatakan dapat meningkatkan daya kreativitas anak dan dapat membantu pertumbuhan mental anak melalui penyaluran ekspresi dan kreativitas. Jadi konsep pendidikan seni ini lebih mengutamakan dampak pengiring (nurturance effect) dan próses pembelajaran seni. Ada banyak ahli yang menyatakan dampak pengalaman dari proses pembelajaran seni. menurut Lichwark dan Lange dapat membantu kepekaan anak terhadap karya seni. dan pikiran dilakukan akan dilihat pada objek sesungguhnya dalam penelitian. seni dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Kondisi yang digambarkan di atas terjadi pada berbagai pendidikan seni di sekolah formal Indoesia sekarang ini.

seperti untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan murid. dan pameran/gelar hasil karya. Untuk meningkatkan kemampuan seni murid yang berkaitan dengan seni itu sendiri termasuk pada pembenaran esensial. Berdasarkan konsep pendidikan seni yang difungsikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Menurut Ramalis (2006) terdapat beberapa pendangan tentang konsep pendidikan seni yang berkembang seperti. kemampuan apresiasi seni. maka dalam aplikasinya memunculkan dua kecenderungan. Artinya pernyataan Read (1970) yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran seni sebagai alat atau media pendidikan mendapat dukungan dari para ahli pendidikan seni yang lainnya. konsep pendidikan seni untuk apresiasi. konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi. dan 66 . Menurut Ibenzani (1985) keterampilan itu meliputi cara-cara membuat sketsa pada papan ukir. Akan tetapi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional lebih banyak pada aspek keterampilan. pemahaman teori seni.dan Harbert Read sendiri menyatakan dapat membiri kepekaan cita rasa keindahan anak. dan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas. cara menggunakan pahat. sedangkan pembenaran kontekstual terkait pada fungsi untuk mencapai tujuan di luar tujuan pembelajaran seni. yaitu kecenderungan pelaksanaan pendidikan seni yang didasarkan pada pembenaran esensial dan pembenaran kontekstual (Eisner. Merujuk pendapat ini bahwa pembelajaran seni yang bersifat esensial dapat dimaknai sebagai bentuk pendidikan seni. Bentuknya mengarah pada pembinaan dan peningkatan penguasaan berkesenian melalui kegiatan ekspresi diri dan melibatkan pengalaman serta kesadaran estetik. 1972). Materi pembelajaran berupa kemampuan keterampilan seni.

Pandangan itu didasari bahwa pendidikan seni dapat mengembangankan berbagai potensi yang ada pada murid. 1975) tiga dimensi prilaku.cara merawat alat-alat uikir. yaitu kognitif. afektif. Konsep-konsep pendidikan seni itu untuk sarana apresiasi. 5) evaluatif0. Jadi pembaharuan konsep pendidikan seni dengan mengutamakan kebebasan berekspresi murid bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Gambar merupakan suatu bentuk bahasa untuk menuangkan ide bahkan ada sauatu kosa kata yang tidak jelas atau ragu biasa divisualisasikan dengan gambar. apresiasi. 2) pengetahuan. maupun menghendaki murid belajar dan perbuatan aktif. dan 7) produksi. 1) persepsi. dan psikomtorik menjadi tujuh dimensi prilaku seni. Konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi dilandasi oleh pemikiran bahwa “salah satu sarana untuk mengungkapkan pikiran adalah menggambar”. Menurut Brent G. yaitu. Konsep pendidikan seni untuk apresiasi dilandasi pada pemikiran bahwa persepsi murid-murid terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan langsung. Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget (1952) yang menekankan pentingnya gerakan manusia dalam kaitannya dengan perkembangan pengetahuan. dan pameran. 3) pemahaman. dan membina kreatifitas. Berdasarkan pendapat ini maka ada tiga pandangan tentang konsep pendidikan seni. Jadi 67 . Konsep ini juga untuk melatih kedua tangan murid sehingga merangsang syaraf otak kanan dan otak kiri. 4) analisis. baik melalui kegiatan menggambar maupun kegiatan observasi lapangan dengan kegiatan mengunjungi obyek-obyek seni seperti galeri. Menurut Ramalis (2008) perlu diperhatikan dimensi prilaku agar pembelajaran seni dapat berhasil. Tujuan lain adalah untuk mendewasakan murid baik segi intelektualnya. Wilson (Bloom. untuk pembentukan konsepsi.

Pengembangan keterampilan dalam aspek pembelajaran tercakup dalam ranah psikomotor. belajar. gerak terbiasa. ide dan gagasan murid. Menurut Simpson dalam Aunurrahman (2009) ada tujuh prilaku kemampuan motorik. di mana strategi kognitif itu sendiri adalah kemampuan memecahkan masalah-maslah baru dengan jalan mengatur proses internal individu dalam memperhatikan. gerak terbimbing. murid tidak sekedar menirukan bentuk-bentuk yang diajarkan atau dicontohkan guru. Kegiatan seni sebagai sarana untuk mengembangkan potensi. Memperhatikan tujuh tingkatan prilaku motorik ini. Jadi pembentukan konsep dihasilkan dari aktifitas menggambar karena menggambar merupakan kegiatan mental dan pikir. seperti menggambar. dan mengukir pada dasarnya adalah pengembangan kreatifitas murid. Sebagaimana dikemukan sebelumnya bahwa kegiatan mengukir termasuk pada kegiatan motorik. yaitu persepsi. dan kreatifitas. maka kreatifitas merupakan aspek tertinggi dalam pengembangan kemampuan motorik murid. kesiapan. Menurut Aunurrahman (2009) kreatifitas adalah kemampuan menciptakan pola baru.kegiatan menggambar suatu obyek berarti menerjemahkan persepsi ke dalam bahasa visual. Penekanan kemampuan kognitif menjadi titik berat konsep ini. menganyam. penyesuaian. 2009). Sementara Lowenveld (1982) 68 . melukis. Sedangkan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas dimaksud untuk menjelaskan terjadinya pertumbuhan mental dan kreatifitas yang ada pada diri murid. dan berpikir (Gagne dalam Aunurrahman. Kegiatan menggambar adalah mengorganisasikan sensasi indrawi sehingga menghasilkan impresi yang dapat diinterpretasikan. gerak komplek. maka guru harus dapat sampai pada aspek ini. Kegiatan seni rupa yang berbentuk praktek. mengingat.

sedangkan konsep seni ekspresi mendasari munculnya filosofi pendidikan seni yang menekankan pada menumbuhkembangkan kepribadian murid. Akibatnya adalah timbul berbagai kekerasan yang melanda Indonesia. b. Konsep seni imitasi mendasari munculnya filosofi konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. Pentingnya Pendidikan Seni Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan seni bagi masyarakat perlu terus dikembangkan. Conny Samiawan (2001) menyatakan bahwa pengkerdilan pendidikan seni yang cukup lama itu salah satunya menghasilkan rendahnya kepekaan sosial masyarakat. oleh karena itu konsep tersebut cocok diterapkan dan dikembangkan pada sekolah kejuruan seni. murid adalah idealnya. Pendidikan seni dapat mengasah solidaritas sosial masyarakat. Pendidikan seni tidak hanya harus berlangsung di sekolah-sekolah formal tapi dapat berlangsung setiap saat di tengah masyarakat. Belahan otak kanan ini akan berintraksi dengan otak kiri yang berfungsi logika. mengutamakan dampak dari proses pembelajaran seni dan bukan mengutamakan kualitas hasil karya seni. sanggar-sanggar seni atau kursus-kursus seni.menyatakan bahwa kegiatan seni merupakan sarana bagi processing. sedangkan seni adalah sarananya. mengutamakan kualitas hasil karya seni yang didukung oleh kualitas proses kerja skill. persepsi. 69 . spasial. Sedangkan konsep pendidikan seni yang menekankan pada penumbuhkembangan kepribadian murid. Konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. kreativitas. rasional dan analitis. kemungkinan besar disebabkan minimnya penghargaan terhadap pendidikan seni. Dari kajian filosofi konsep seni dan konsep pendidikan seni tersebut di atas bahwa seni untuk mengisi dan mengasah otak kanan yang berfungsi intuisi. dan emosional.

dan meningkatkan karsa murid dapat dilakukan dengan pendidikan seni. (3) alat untuk mengekspresikan berbagai pengalaman jiwa atau untuk mengungkapkan sebagian atau seluruh bawah sadar. Pada dimensi sosial maka pendidikan 70 .Pengembangan pola pikir. Yahya (2006) menyatakan bahwa pendidikan seni juga bersifat multi dimensi karena bertujuan mengembangkan dimensi personal. 1982). Pendidikan seni berfungsi sebagai. Pendidikan seni merupakan elemen yang esensial dalam membentuk watak. Dalam dimensi personal maka pendidikan seni juga membantu menyeimbangkan teknologi yang berorientasi praktis ekonomis dengan kemanusiaan (humanity). serta jiwa kewirausahaan. 1957. dan dimensi profesional. mengasah rasa. Pada dimensi personal pendidikan seni membantu mengenbangkan kecerdasan intelektual (IQ). Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan seni merupakan subsistem dalam pendidikan nasional. (1) koordinasi antara berbagai persepsi dan serisasi dalam kaitannya dengan lingkungan. selain berfungsi untuk pendewasaan dan pembudayaan peserta didik juga memiliki nilai yang berarti sebagai sarana pembentukan pribadi. dimensi sosial. Menurut Ramalis (2006: 24) bahwa pendidikan seni. dan (4) alat untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk (Read. Apalagi cabang seni yang berakar dan tumbuh di tangah masyarakat akan mudah menjadi sarana untuk mengasah rasa solidaritas sosial. kecerdasan spitual dan moral (SQ). 1970: 8). kecerdasan kreatifitas (CQ). Pendidikan seni sebagai upaya pendewasaan dan pembudayaan murid (Wickiser. kecerdasan emosional (EQ). kehalusan rasa dan budi. Jadi pendidikan seni tidak hanya diberikan sebagai salah satu bidang studi di sekolah formal ada baiknya diberikan pada pendidikan nonformal. Lowenfeld. (2) alat untuk mengekspresikan perasaan yang dinyatakan dalam suatu bentuk.

Muatan seni tergantung pada karaktersitik bidang seni yang dikembangkan. Untuk itu motivasi dan minat murid terhadap kegiatan seni jangan dimatikan terutama dalam proses pembelajaran. Keseluruhan aspek dalam dimensi ini bersifat berjenjang dan perlu dipelajari murid melalui muatan seni yang beragam. (4) analisis. serta dapat menghagai keanekaragaman budaya. (6) apresiasi. (3) pemahaman. dan (7) produksi. (5) evaluasi. (1) persepsi. dan suara sebagai bahasa eksperisi maupun keilmuan. 71 .seni membantu mengembangkan sikap toleransi agar mudah bergaul dalam masyarakat luas dan menghargai hak azasi manusia. teknis dan materi seni. 1975) menerjemahkan perilaku kognitif. afektif. kerena dapat menguanakan media. Kepekaan rasa dikembangkan dengan memberi kesempatan memahami nilai budaya melalui permainan (Mary. dan psikomotorik menjadi tujuh dimensi perilaku seni yang meliputi. (2) pengetahuan. sehingga proporsi bobot dan setiap aspek yang perlu dicapai akan berbeda sesuai dengan tingkatan pendidikan. Wilson (dalam Bloom. Pengembangannya disesuaikan dengan perkembangan dengan kebutuhan seni. gerak. agar murid dapat mengembangkan jiwa mandiri sebagai bekal hidup di tengah masyarakat. rupa. Pendidikan seni juga dapat bersifat multilingual dan multikultural. bunyi dan gerak. Pembelajaran akan berhasil jika dalam pendidikan memperhatikan berbagai dimensi perilaku seni. Berikan kesempatan dan wadah murid dalam mengembangkan diri untuk mengolah kemampuan kreatif mereka dengan cara mengeksplorasi terhadap beragam kosa rupa. Sedangkan dalam dimensi profesional maka pendidikan seni menekankan pada penguasaan keterampilan. Ketujuh aspek dimensi perilaku seni ini perlu dilatihkan pada murid secara terus-menerus. 1990).

rasa haus. rasa gembira. sebagai media penyaluran bakat/ hobby. sebagai media eksperisi. sebagai media penjelajahan estetis. teori alat yakni seni sebagai sarana untuk keperluan berbagai hal termasuk merangsang berfikir. dan rasa marah. Bagi anak. Ekspresi tersebut saling berhubungan. jika keadaan rasa haus telah berakhir biasanya mengakibatkan rasa gembira yang dinyatakannya dengan senyuman. Ada lima teori seni yang bertalian dengan kegunaan seni bagi manusia.c. teori metafisis yakni seni hanyalah sebagai tiruan dari ciptaan Ilahi. rasa lapar. bahasa lisan lebih sulit untuk digunakan mengungkapkan 72 . sebaliknya jika rasa haus belum terpuaskan maka akan terekspresikan dengan sedih atau menangis. Menurut Adirozal (2002) general theory of art terdiri dari teori bentuk yakni seni sebagai pure form (bentuk murni) dan expressed form (bentuk ungkapan). yakni. Kegunaan Seni Jika diklasifikasikan maka ada beberapa kegunaan seni bagi manusia. Seni sebagai media ekspresi telah nampak sejak manusia itu lahir. sebagai media komunikasi. Hal itu tampak ketika bayi menangis dan gerakan-gerakan lainnya yang merupukan eksperisi diri untuk diketahui ibunya. teori permainan yakni seni sebagai sara untuk menyimbangkan energi yang berlebih. dapat pula mengekspresikan sesuatu yang tak mengarah kepada suatu obyek melainkan hanya menyatakan perasaan rasa sakit. sebagai media bermaian. panas. Ekspresi anak-anak tersebut ditunjukan untuk mencapai keinginan tertentu misalnya menyatakan keadaan dingin. dan sebagai media membantu penalaran/ berpikir. Menurut Ramalis (2006) seringkali anak kurang mampu mengeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan. teori pengungkapan yakni seni sebagai sana untuk mengungkapkan perasaan batin. dan teori suasana lingkungan yakni seni yang bertalian dengan keadaan masyarakat dan lingkungannya.

Berkomunikasi merupakan fitrah bagi mansuia sebagai makhluk 73 . Anak-anak lebih banyak dan suka mengeksperisikan disi dengan coretan dan gerak. Ekspresi kreatif inilah yang harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran kesenian.isi hatinya. terutama yang dijumpai dalam kegiatan berolah seni. Seni sebagai media komunikasi bermakna sebagai penyampaian suatu hasrat sesuatu pada orang lain. dan kriya lainnya. hasil pengulangan atau hasil jiplakan. Potensi seorang murid dengan murid lainnya tidak sama. Sebab ada 2 macam ekspresi dan anak yaitu ekspresi kreatif dan ekspresi yang tidak kreatif. Sebaliknya ekspresi yang tidak kreatif adalah ekspresi yang tidak menghasilkan nilai-nilai kreatif atau merupakan hasil tiruan. Kebutuhan orang dewasa juga berbeda dengan anak-anak. arsitektur. Dalám hal ini pikiran. Oleh karena eksperisi merupakan kebutuhan ruhaniyah manusia maka ekspresi perlu mendapat perhatian dan guru perlu mengembangkannya. maka ekspresinya pun juga berbeda. Menurut Ramalis (2006) terjadinya ekspresi secara spontan tanpa perintah dari luar. Ekspresi adalah salah satu kebutuhan ruhaniyah/ batiniah individu untuk berhubungan dengan orang lain. seni dapat membantu mengekspresikan idenya. Perbedaan potensi ini harus menjadi perhatian seorang guru dalam mendorong eksperisi murid. Pengembangan daya ekspresi akan terkait dengan pengembangan kreativitas. patung. Orang dewasa telah mempunyai banyak kosa kata untuk mengungkapkan perasaannya berbeda dengan anak-anak yang terbatas kosa katanya. perasaan dan emosi ikut berperan. ada yang lebih kuat dan cekatan pada kemampuan berupa gambar. Manusia secara alamiah juga terjadi perbedaan antara satu dengan lainya. Ekspresi kreatif adalah ekspresi yang mengandung kreativitas.

dan seni ukir. drama. dan randai. Dari kegiatan duduak bapamainan mengahsilkan seni anyaman. 74 . Gambar merupakan media komunikasi yang cenderung paling banyak dilakukan oleh anak yang dibentuk dengan bahasa rupa. Berkomunikasi dengan wujud gambar melakirkan seni lukis. dan gambar bisa dalam wujud film. tulis. Jika ditarik pada ranah seni maka berkomunikasi dengan suara dapat diwujudkan dalam bentuk nyanyian atau musik. energi itu dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif sehingga mengahsilkan karya.sosial. Berkomunikasi dengan turlisan dalam wujud puisi. dan pantun. seni ukir. Seni yang dihasilkan dari permainan bukanlah milik anak-anak semata. gerak. dan opera. orang dewasapun juga dapat melahirkan seni dari cara bermain. Permainan adalah ekspresi tentang hubungan manusia dengan seluruh kehidupan. Berkomunikasi dengan gerak dapat dalam wujud seni tari. kelebihan energi inilah yang mendorong manusia untuk menyeimbangkannya dengan cara bermain-main. (Adirozal. tenunan. dan silat. sulaman. Teori permainan dalam seni rupa lahir dari adanya kelebihan energi dan ide. Sebagai media bermain maka seni merupakan bentuk ekspresi bebas yang paling jelas pada anak-anak. tagak maninjau jarak (duduk berpermainan. eksperisi yang dihasikan oleh anak-anak yang paling murni. Sedangkan seni yang dihasilkan dari falsafah tagak maninjau jarak menghasilkan pencak. seni tari. Sebahagian seni di Minangkabau lahir dari pengolahan energi yang berlebih. novel. gerak dan gambar. Mamangan Minangkabau yang melandasi seni itu adalah duduak ba pamainan. berdiri meninjau jarak). 2002). pantonim. silat. karikatur. Sarana berkomunikasi dapat melalui media: suara. seni anyaman. Berkomunikasi dengan berbagai media atau gabungan media suara. seni patung.

Adirozal (dalam Yayah Khisbiyah. dapat dikembangkan dengan cara mengekspresikan diri pada seni disain plastis atau visual. Menurut Ramalis (2006) permainan bisa dikembangkan sesuai dengan 4 fungsi mental. dan (4) dari segi pikiran. banyak orang berpendapat bahwa kemampuan berkesenian merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. Ada yang berbakat seni tari. 2004) menyatakan sebenarnya setiap manusia mempunyai bakat seni. (3) dari segi sensasi. Malah tanpa pernah dikembangkan bakat yang ada akan menjadi pudar dan hilang. (2) dari segi intuisi. Sebagai media pengembangan bakat atau hobi seni. ed. Bakat yang terpupuk sejak awal tentu akan jauh lebih baik perkembangannya. Maksud dari estetis di sini adalah keindahan yang berkaitan dengan 75 . ada yang seni musik. yakni (1) dari segi perasaan. Bakat yang baik dalam berkesenian tidaklah cukup. hanya saja bentuk dan kadar seninya yang berbeda. ada yang hanya pada tahap penikmat seni dan ada yang sampai sebagai pencipta seni. Sebuah pendidikan seni yang ideal tentu memberikan kesempatan kepada setiap murid yang berbakat untuk memelihara dan mengembangkan bakatnya sejak awal. Kegiatan berkesenian menjadi salah satu sarana untuk memupuk dan mengembangkan bakat. dikembangkan dengan latihan-latihan ritmis pada seni tari dan musik. Selain sebagai penyaluran hobi maka seni juga sebagai media untuk penjelajaran pengalaman estetis. sebab sebaik apapun bakat seseorang tanpa pernah diasah dan dikembangkan maka tidak akan berarti apa-apa. permainan dapat dikembanngkan dengan latihan-latihan penjiwaan pada seni drama.Apapun bentuk aktifitas permainan merupakan gerakan-gerakan yang berupaya mencari perpaduan antara proses mental dan fisik. dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif ke arah keahlian. dan ada yang seni rupa.

Atau dapat juga murid diajak lansung kepada objek-objek alam dan lingkungan masyarakat sehingga menumbuhkan kepekaan estetisnya. Pengalaman keindahan dapat dibangun dengan berbagai cara. Untuk menumbuhkan kepekaan seni adalah dengan mengembangkan sikap dan pengalaman cita rasa keindahan.rasa. Setiap murid memiliki naluri dan potensi cita rasa keindahan. jika naluri ini tidak ditumbuh kembangkan. sebab pengalaman estetis itu sebagai vokabulari bagi anak. Dari banyaknya pengalaman keindahan itu maka ia akan dengan mudah berkarya. Adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan akan membuat murid dapat menganalisa dan sekaligus merasa. di antaranya mengajak murid untuk berapresiasi atau menyaksikan dan menghargai karya orang lain. Setiap pribadi murid perlu dikembangkan cita rasa keindahan dalam rangka menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Pernyataan buya Hamka bahwa ‘hidup tanpa seni akan hampa’ tidak dimaksud bahwa setiap manusia/ murid harus mampu melahirkan karya seni. melainkan setiap murid harus memeliki kepekaan seni. Dengan baiknya cita rasa estetisnya maka dengan sendirinya ia akan mampu menghargai karya seni baik karya seni 76 . maka naluri tersebut akan “mati”. Potensi dan naluri itu harus diasah dan dikembangkan terus. Bila naluri murid dikembangkan dengan baik maka ia akan memeliki pengalaman estetis yang banyak dan baik. Setiap anak yang telah memiliki kepekaan seni maka cita rasa keindahannya baik. di mana semua manusia memiliki cita rasa keindahan. Eastetic experince merupakan pengalaman keindahan yang dimiliki setiap manusia. Cita rasa keindahan itu terpusat pada kesenangan dan merupakan pengalaman subyektif yang sulit ditentukan tolak ukurnya. Hasil pengamatan dibahas dengan tujuan murid dapat kesenangan sebagai pengalaman subjektif.

d. gerak. baik karya bangsa sendiri amaupun karya bangsa asing. geometri. dan tata bahasa. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. dialektik. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. astronomi masuk bersama musik ke dalam empat serangkai (quadrium). dan kemampuan memecahkan masalah. yaitu kelompok seni kaum bangsawan (court-arts) dan kelompok seni kelas bawahan (folkarts). bahwa keselarasan antara rasio dan emosi terdapat dalam seni. proporsi dan bahan yang digunakan. retorika masuk pada tiga serangkai 77 . Setelah ditetapkan salah satu medianya. sebelum sebuah karya seni dilahirkan maka terlebih dahulu dilakukan analisa yang terkait dengan media yang tepat karya tersebut diwujudkan. atau rupa. Pada zaman pertengahan kelompok seni kelas bangsawan disebut dengan liberal arts yang dilawankan dengan vulgar arts. Dengan demikian kegiatan berkesenian menempatkan rasio sebagai kontrol. Apakah media suara. Hal ini dapat dilihat dalam proses berkarya seni. misalnya rupa maka berlanjut pada analisis komposisi. Proses-proses seperti itu akan membantu anak berpikir analisis dan bernalar.dia sendiri atau karya seni orang lain. Kelompok seni kaum bangsawan dilindungi oleh dewa sedangkan seni kelas bawahan bersifat kasar. Bahkan Aristoteles mengatakan. Seni sebagai media membantu kemampuan berfikir atau bernalar hal ini terkait dengan seni merupakan hasil kerja olah otak. Seni Ukir Awalnya pengelompokan seni (zaman Yunani) berdasarkan satus sosial. Karya seni merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. berpikir kreatif. Pengelompokan ini menjadi rancu karena aritmetik.

kerajinan kulit. Kelompok seni kasar disebut minor arts terdiri dari perabotan kayu. tembikar. perhiasan perak. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis. sulaman. logam. keramik. Seni pertunjukan terdiri dari seni tari. seni pahat. yakni sekitar tahun 1500 SM. titik. 1976). ukiran manikam. Kelompok seni yang masuk pada seni murni adalah seni lukis. permadani. dan audiovisual arts. seni patung. dan lengkungan. seni karawitan. Seni rupa terdiri dari seni murni. batik. seni yang tinggi ekspresinya termasuk fine arts dan seni terpakai disebut applied arst. Pengelompokkan ini dirasakan juga kurang tepat sebab sebab tidak ada seni yang tidak memiliki ekspresi dan tidak juga ada seni yang tidak terpakai. dan pembuatan medali. dan disain komunikasi visual. musik dan kesusasteraan. disain interior. dan seni musik. dan seni grafis. tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. Pernah juga pengelompokan seni berdasarkan pada halus dan kasarnya kerja seni. arsitektur. 78 . (The Liang Gie. Pembagian seni selanjutnya berdasarkan indera serap manusia yakni visual arts. Kelompok seni yang halus disebut dengan manyor arts yang terdiri dari seni lukis. Sedangkan yang masuk pada seni kriya adalah anyaman. seni teater. dan ukiran. tenunan. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Pengelompokan seni juga pernah dilakukan atas kandungan daya ungkap atau ekspresinya. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada kapak batu. seni rupa dan disain. audio arts. disain eksterior. serta seni multi media (drama telivisi dan film). Khusus tentang seni ukir maka bangsa Indonesia telah mulai mengenalnya sejak zaman batu muda (neolitik). Jika mengacu pada konsersium seni Indonesia maka pengelompokan seni terdiri dari seni pertunjukan. perhiasan emas.(trivium). seni kriya.

Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yaitu menggunakan bahan perunggu. bambu. Hal ini dapat dilihat dari sejarah seni rupa. seni Mesir kuno. topeng. Motif ukiran yang mengakat atau menstilisasi dari bentuk alam berlaku di manamana. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor. dan f. kayu. atau bahan-bahan lain. d. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander. Islam. (http://www. kulit. jelas sekali bahwa alam dan segala isinya bentuk dan kurenahnya menjadi sumber ilham bagi para seniman. Hanya saja dalam pengolahan dan penerapannya terdapat perbedaan yakni: a.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia. baik seni primitif Afrika. penempatan motif. Dt. perak dan lain sebagainya. Babylonia. tumpal. Ukiran Minangkabau pada umumnya banyak mengambil nama-nama motif dari bentuk tumbuh- 79 . Yunani. India. gerak garis dasar.blogster. Persia.dengan bahan tanah liat. dan Indonesia. pada pengambilan dan pemilihan suatu motif. Pengertian ukiran menurut Van Houve dalam Ensiklopedia Indonesia adalah ukir mengukir. batu. serta binatang maupun manusia. ciri-ciri ukiran. yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. diambil 8 Maret 2010 pukul 16. penggambaran dan pengukiran motif. c.30 WIB). dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. pilin berganda. menggoreskan huruf-huruf dan gambar pada plat-plat dari kayu atau logam sedemikian rupa. batu. Risman Marah (1988) menyatakan ukiran adalah sesuatu yang diukir atau dipahatkan yang tidak bisa dipisahkan dengan motif-motif. b. ( HB. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu. Assyiria. Tumbijo. emas. 1985).

pisau rencong. pahat korek lubang disamping pahat rencong. Peralatan ukiran Minangkabau tidaklah sebanyak pahat ukiran Bali dan Jepara. namun dalam hal ini tidak dimaksud untuk membahas bermacam-macam teori model. Menurut Elizar (2008) model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Menurut Joyce dan Weil (1980) 80 . dan nama makanan. Model mempunyai makna yang lebih luas dari sekedar metode dan strategi pembelajaran. Alat ukir tradisional Pandai Sikek terdiri dari pahat layang-layang atau pahat siku. Walau ada yang ditatahkan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam. namun ada juga yang diambil dari kata-kata adat. Menurut Ibenzani (1985) pahat ukiran Minangkabau yang paling tua usianya bernama pahat rencong. 5. dan juga tidak ditujukan untuk menguji model yang telah ada. Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. Menurut Zulhelman (2000) motif-motif Minangkabau bersumber dari alam yang berangkat dari falsafah orang Minangkabau yaitu alam takambang jadikan guru (alam terkembang menjadi guru).tumbuhan dan binatang. Jadi model pembelajaran merupakan inti atau jantung dari strategi mengajar. Model Pembelajaran Beragam difinisi dan teori yang dikemukan mengenai model pembelajaran. Dari berbagai difinisi dan teori model itu menjadi acuan dan pedoman untuk melihat atau menemukan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Kayu yang banyak digunakan di Minangkabau terutama di Pandai Sikek sampai saat ini adalah kayu surian. pahat sudu (pahat sodok).

membentuk kelompok siswa untuk suatu pelajaran dan memberikan tes kepada siswa. Bell (1981) menyatakan bahwa A teaching/learnng model is a generalized instructional process wich may be used for many different in a variety of subjects . keterampilan. memotivasi siswa untuk belajar. kelima unsur itu menurut Bruce Joyce (1994) adalah: (1) sintaks. mendorong. Suherman (1993) mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas. Pembelajaran yang efektif tidak sekedar mengajar dengan baik. mengatur tingkah laku siswa. Guru harus tahu bagaimana mengadaptasi pengajaran terhadap tingkat pengetahuan siswa. cara berpikir. Menurut Mills (1989) model adalah bentuk repsentasi akurat. dan memfasilitasi potensi-potensi murid. yakni urutan kegiatan atau langkah-langkah pembelajaran. Pendidikan dan pembelajaran merupakan aktivitas dalam upaya membangkitkan. Sebauah model akan baik dan berarti jika di dalamnya terdapat lima unsur. Walau ada yang menyamakan antara model dengan teori tapi ada perbedaannya yakni bahwa model berasal dari asumsi-asumsi yang disederhanakan. ide. Winatapura (2001) menyatakan bahwa model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang dipergunakan untuk mendapatkan pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. (2) sistem sosial. Pendapat Bell ini secara umum dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dapat ditetapkan pada beberapa subjek.hakekat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi. yakni menguraikan peranan pendidik (guru) dan peserta didik serta aturan-aturan yang diperlukan dalam interaksi sosio- 81 . nilai. dan cara bagaimana belajar. sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertintak berdasarkan model itu. Jadi model merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem.

Menurut Taba (1962) dan Sukmadinata (2005) langkah-langkah itu adalah: 1) menjelaskan fenomena yang berlaku saat sekarang. keadaan dan fenomena yang ada berdasarkan kajian terhadap teori-teori pendukung. (4) sistem pendukung. Dalam menyusunan sebuah model ada langkah-langkah tertentu yang dilakukan. dan 9) menghasilkan model. 3) mendeskripsikan aspek-aspek yang terkait dengan masalah yang akan disusun sebagai modelnya. yakni pengaruh langsung dan tidak langsung yang dialami peserta didik saat penerapan model. 6) melakukan analisis hubungan antara aspek-aspek. Menurut Bastian (2009) sebuah model dapat dianggap baik apabila mampu memberikan gambaran yang tepat tentang hubungan-hubungan antara fenomena yang terjadi dengan aspek-aspek yang ada pada suatu hal keadaan benda. 2) menetapkan tujuan penyusunan model. (3) prinsi-prinsip reaksi. dan (5) efek instruksional dan pengiring. 5) mengelompokkan data.kultural. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukan di atas maka model yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan suatu keadaan yang menyeluruh dalam mengorganisasi pendidikan atau pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman guna mencapai tujuan. 7) menyusun draf model. 4) mendeskripsikan keadaan yang terjadi saat ini. 8) melakukan validasi terhadap draf model. Pendapat. langkah-langkah dan unsur- 82 . yakni memberikan gambaran kepada pendidik tentang cara memandang atau merespon pertanyaan-pertanyaan siswa. yakni kondisi yang diperlukan agar model dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Model yang baik juga hanya akan terwujud ababila disusun berdasarkan kajian-kajian yang kompreherisif terhadap data yang ada dan telah divalidasi.

post Evaluasi Hasil Belajar Murid yang jadi guru seni ukir Tukang Ukir Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Tujuan Pendidikan Harkat dan Martabat Manusia 83 .unsur yang mesti terkandung dalam penyusunan model yang dikemukan akan dipedomani. Perkiraan Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Harkat dan Martabat Manusia Tujuan Pendidikan Guru Seni Ukir Proses Pembelajaran Murid Penerapan high touch high tech Tahapan Pembelajaran pre. while.

penentuan lokasi penelitian. pada bagian ini dikemukakan pula hal-hal yang berkenaan dengan paradigma penelitian. Hakikat penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1992). etnometodologi. Adapun metode penelitian yang dimaksud adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penelitian. perspektif ke dalam. studi kasus. analisis data. simbolik. interaksionis. dan penyajian hasil penelitian. Bentuk Penelitian Penelitian ini berbentuk kualitatif yang sering dilawankan dengan penelitian kuantitatif. Materi. (5) analisis data. etnografis. (4) teknik pengumpulan data. dan (6) penyajian hasil penelitian A. data dan sumber data. Moleong (1998) adalah sebagai prosedur 84 . teknik. Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. bukan kuantitatif (angka-angka). Sejalan dengan itu Nasution (1992:18) menyatakan penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. ekologis. Menurut Moleong (1998:3) ada juga yang menyatakan penelitian kualitatif ini dengan istilah inkuiri. dan evaluasi pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional itu akan disajikan secara diskriptif. Selain langkah-langkah pokok yaitu pengumpulan data. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif (kata-kata). interpretif. fenomenologis. (2) lokasi penelitian. Dalam bab ini secara berturut-turut diuraikan hal-hal tentang (1) bentuk penelitian. bentuk penelitian. dan deskriptif. naturalistik atau alamiah. (3) data dan sumber data. Untuk mewujudkan hasil penelitian yang baik diperlukan metode penelitian yang tepat.METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kualitatif model pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek.

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Selanjutnya Moleong mengutip Jerome Kirk dan Marc L. Miller yang mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasan sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 1998:3). Sugiyono (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif muncul karena adanya perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala. Paradigma realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Paradigma demikian disebut dengan paradigma postpositivisme. Paradigma penelitian sebelumnya disebut positivisme di mana memandang gejala lebih bersifat tunggal, statis, dan konkrit. Paradigma positivisme mengembangkan penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma postpositivisme mengembangkan penelitian kualitatif. Penelitian ‘Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisonal di Pandai Sikek’ tidak dimaksudkan memberikan perlakuan kepada subyek terteliti, tetapi hanya mendiskripsikan hal-hal yang dilakukan oleh subyek terteliti dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari, baik yang dilakukan oleh guru maupun reaksi murid. Diskripsi dilakukan setelah data yang ada terlebih dahulu dikaji dan ditelaah. Pristiwa pembelajaran pada sanggar seni ukir tersebut merupakan perilaku sosial sehari-hari yang dilakukan oleh guru dan murid. Dimyati (1996) mengemukakan bahwa penelitian yang berkaitan dengan peristiwa sosial akan mudah dijaring datanya jika diletakkan pada salah satu kuadran peta paradigma sosiologi Ritzer. Kuadran keempat Ritzer yaitu kuadran untuk melihat suatu

85

peristiwa interaksi sosial terutama perilaku guru dan murid yang terjadi dalam proses pembelajaran seni ukir baik di dalam sanggar maupun di luar sanggar, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Sugiyono (2009:285) bahwa dalam pandangan penelitian kualitatif gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisahpisahkan), tidak ditetapkan berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity). Untuk memperoleh data yang secara holistik maka dilakukan penelitian bentuk diakronis yaitu meneliti dengan melihat perkembangan objek. Proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek telah berlangsung semenjak tahun 1920-an, sedangkan sanggar atau studio seni ukir berdiri pada awal tahun 1970 oleh Ramli Dt. Rangkayo Sati. Data yang dapat dihimpun dimulai semenjak guru sekarang menjadi murid Ramli Dt. Rangkayo Sati, kemudian mereka sebagai guru, dan murid-murid seni ukir sekarang. B. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Sebelum diberlakukannya PERDA Nomor 9 tahun 2001 tentang sistem pemerintahan terendah di Sumatera Barat, maka Pandai Sikek pernah dalam bentuk desa. Sekarang Pandai Sikek merupakan sebuah kenagarian, di samping sebagai daerah teritorial

administrasi pemerintahan terendah maka nagari juga merupakan teritorial budaya/adat. Apa bila desa merupakan satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan di daerah lainnya di Indonesia, maka kenagarian adalah satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan Sumatera Barat. Hal ini dibenarkan dengan diberlakukannya Undangundang No 32 tahun 2004 tentang sistem otonomi daerah.

86

Lokasi penelitian meliputi

kenagarian Pandai Sikek. Ada beberapa alasan

menetapkan kenagarian Pandai Sikek sebagai lokasi penelitian. 1. Penetapan lokasi ini mengingat kenagarian merupakan daerah teritorial sebagai pendukung budaya Minangkabau. Seni ukir sebagai objek penelitian merupakan warisan budaya berada dalam kewilayahan kenagarian Pandai Sikek. Seni ukir yang oleh masyarakatnya dirasakan sebagai milik bersama, walau yang membuatnya tidak seluruh masyarakat Pandai Sikek (empat buah sanggar). Sebagai bukti bahwa seni ukir yang ada pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menjadi budaya masyarakat setempat maka gaya ukiran tersebut dinamakan ‘ukiran Pandai Sikek’ (Ibenzani Usman, 1985) 2. Sebelumnya tiga wilayah seni ukir Sumatera namun Barat sekarang yang memiliki tetap gaya eksis dan atau

mengembangkan

yang

berkesinambungan hanyalah Pandai Sikek. Dua daerah lain yakni gaya IV Angkek Candung ( untuk Payakumbuah) dan gaya Banuhampu Sungai Puar (Agam) tidak terlalu baik pembinaan pendidikannya atau hampir tidak ada generasi muda daerah ini yang belajar seni ukir. Malah sebahagian sanggar seni ukir dua daerah ini telah banyak berubah fungsi pada kegiatan pembuatan perabot. 3. Di daerah Pandai Sikek sampai saat ini masih banyak generasi muda yang berminat dalam mewarisi seni ukir. Ada beberapa generasi muda Pandai Sikek yang masih mau belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 4. Secara historis penduduk Pandai Sikek merupakan satu kesatuan yang sama yakni luhak Tanah Datar. Kenagarian Padai Sikek bahagian dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua di Minangkabau. Sebagaimana dinyatakan

87

Kenagarian Pandai Sikek menjadi salah satu objek wisata budaya Sumatera Barat. sedangkan data sekunder adalah data yang dikutip atau didapat dari sumber lain. dan seni ukir. 1990). karena di daerah ini terdapat berbagai aktivitas kerajinan rakyat seperti tenun. 88 . dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. (Moleong.dalam berbagai tambo Minangkabau yang dibahas oleh beberapa penulis (Navis 1984. Data primer didapat dari pelaku yang terlibat langsung sebagai pemilik budaya. 1998. Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini digunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. murid seni ukir. dan lembaga yang pernah membina sanggar seni ukir Pandai Sikek. Surakhmad. guru seni ukir. songket. Datuk Sanguno 1987. Kedua data itu saling terkait dalam pengolahan hasil penelitian. 5. Walau mobilitas penduduk di kenagarian cukup tinggi (objek wisata budya) namun penduduk masih homogen. Datuk Rajo Panghulu 1997. C. Data primer juga diperoleh dari dinas. Sebagai daerah yang terbuka tentu akan banyak perubahanperubahan namun di Pandai Sikek sanggar seni ukir tetap bertahan sebagai salah satu identity etnic. tokoh budaya (adat) setempat. Data primer adalah data yang didapat langsung dari tangan pertama. dan tokoh masyarakat. intansi pemerintah (lembaga pendidikan formal yang mengajarkan materi seni ukir).

tokoh masyarakat. 1. wawancara. dan aparatur pemerintah. Juga data-data di kantor kanagarian. dan tape recorder. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru dan murid yang ada pada sanggar seni ukir. camat. 89 . Wawancara dilakukan untuk menggali data yang tidak dapat diamati atau diobservasi. Observasi Teknik observasi atau pengamatan merupakan cara untuk mengamati prilaku dan benda-benda yang berkaitan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. D. sedangkan studi kepustakaan dilakukan pada perpustakaan resmi dan pribadi. Konsep pengamatan terlibat sama dengan participant observation yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1992:23) yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan diri di dalam lingkungan subjek. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi langsung. dan dinas atau instansi terkait. Alat-alat tersebut terlebih dahulu diukur tingkat reabilitas dan validitasnya agar data-data yang diperoleh lewat instrumen itu benar-benar sahih. Observasi dan pengamatan dilakukan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. buku-buku atau literatur baik hasil penelitian maupun tulisan lainnya yang berkenaan dengan pendidikan dan seni ukir. Pedoman dan penuntun atau instrumen penelitian dalam melakukan observasi dan wawancara adalah pedoman wawancara. Wawancara juga dilakukan dengan komponen terkait seperti budayawan.Data sekunder diperoleh dari foto. secara sistematis dan tidak mencolok. dan studi kepustakaan atau analisis dokumen. buku catatan. kamera (photo film). Masing-masing instrumen yang digunakan disesuaikan dengan standar yang berlaku umum.

Operasionalisasinya diawali dengan survei lapangan baik sebelum proposal dibuat dan saat pembuatan proposal. kemudian murid. Teknik ini sangat penting untuk mendapat data yang tidak dapat ditangkap melalui pengamatan. oleh Koentjaraningrat (1994) diklasifikasikan ke dalam wawancara berencana. wawancara tidak berencana. Wawancara Wawancara merupakan teknik yang sangat mendukung dalam pelaksanaan observasi. Observasi juga dilakukan pada pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir yaitu SMK Negeri 4 Padang. guna memperoleh kepercayaan dari subjek penelitian. Ada beberapa bentuk wawancara. pengrajin (murid/karyawan) sanggar seni ukir.sehingga tercipta suatu priode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dengan subjeknya. seperti pandangan dan pendirian manusia. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. Pengamatan dilakukan pada sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek (tempat berlansungnya pembelajaran). 2. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. pandangan. SMK Negeri 8 Padang. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. Proses tanyajawab antara peneliti dengan subjek penelitian untuk mendapat data keterangan. Mei. Obsevasi yang intensif direncanakan dilakukan pada bulan April. guru (pimpinan sanggar) seni ukir. Survei dilakukan dalam upaya pendekatan atau memperkenalkan diri dengan tokoh masyarakat. dan Juni 2010. Perbedaannya terletak pada pada persiapan oleh peneliti tetang materi dan informan yang 90 . dan setelah itu pada tokoh budaya atau masyarakat yang terlibat pada pembinaan seni ukir. dan wawancara sambil lalu. Observasi terlebih dahulu dilakukan pada informan kunci yakni guru seni ukir. dan pendirian secara lisan dari subjek dilakukan melalui wawancara.

Rangkayo Sati yang masih hidup dan tidak lagi mengukir di Pandai Sikek. pelaku kebijakan. Dalam hal ini termasuk murid-murid Ramli Dt. yaitu pelaku kebudayaan. misalnya JK Dt. Teknik wawancara sambil lalu termasuk ke dalam wawancara tidak berencana dan informan juga tidak diseleksi secara ketat terebih dahulu. Jadi penentuan informan tidak berdasarkan teknik penghitungan secara kuantitatif. Sementara wawancara tidak berencana tidak dilengkapi dengan daftar pertanyaan yang berlaku ketat. Pelaku kebudayaan adalah guru dan murid seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. Pengumpulan data dimulai dari seorang informan pangkal yang dapat memberi petunjuk tetang individu lain yang tepat dan layak untuk diwawancarai sehubungan dengan topik penelitian. tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui tentang adat dan budaya umumnya dan khususnya seni ukir Sumatera Barat.akan diwawancarai. sedangkan tipe ke dua memberi kebebasan kepada reponden untuk menjawab secara luas dengan bahasanya sendiri. Dengan teknik snowball sampling informasi berakhir pada kejenuhan informasi tetang pokok soal yang ingin diketahui. Pertanyaan yang membatasi jawaban yang diberikan responden termasuk ke dalam tipe pertama. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan atas tiga komponen. Keseluruhan teknik wawancara dibedakan menjadi wawancara tertutup dan wawancara terbuka. Bangso Rajo di Padangpanjang. Wawancara terencana ditandai dengan adanya daftar pertanyaan yang tersusun untuk diajukan pada responden. Informan ditetapkan secara purposive berdasarkan teknik snowball sampling. Komponen pelaku kebijakan terdiri dari aparat pemerintah yang berperan dalam 91 . Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe yang kedua atau terbuka. dan pelaku pendidikan.

B.B. 6. Penggalan materi setiap amat lapangan tahapan tergantung • Jumlah 5. Bahan/ materi yang diwawancarai ar ukir yang diterima guru seni ukir sekarang 2 x pertemuan. Ketentuan sudah bisa dinyatakan pandai atau ahli ukir Untuk guru-guru seni ukir sekarang • Masing. dan D Masing. Rencana jadwal observasi dan wawancara Sasaran Sanggar A. Perbedaan antara mereka amat dengan guru mereka dalam tergantung mengajar dan materi yang kejenuhan data 92 . Motivasi mereka mengajarkan masing sanggar seni ukir akan 2.idem 1.• Daftar masing sanggar pertanyaan akan disiapkan diobservasi dan • Sangg 1.C. Cara mereka mengevaluasi baik pertemuan untuk menambah materi tidak maupun menentukan telah tamat ditetapkan 5.mengambil kebijakan sehubungan dengan pembinaan sanggar seni ukir Pandai Sikek. 3.C. Cara mereka mengajar/ diobservasi dan mentransper keterampilan diwawancarai mengukir 2 x pertemuan. Jadwal dan waktu-waktu lama mereka mengajarkan seni ukir waktumya 6. Cara guru mereka dulu pertemuan objek mengajar / mentransper materi tidak pertama dan 3. Tempat mereka dulunya kejenuhan data guru seni ukir belajar dan syarat untuk yang akan 4 orang menjadi murid diambil. Rangkayo Sati • Waktu Keterangan Sanggar A. Sementara komponen pelaku pendidikan adalah guru-guru pada sekolah formal. diobservasi ketika mereka jadi murid tidak dulunya • Satu kali ditentukan 2. Materi dan tahapan yang mereka lakukan dalam mengajar • 1x 4. Cara guru mereka dulu ditetapkan seterusnya mengevaluasi/ menentuakan lama tergantung materi tambahan waktumya situasi 4. dan D Materi Observasi/ Wawancara Untuk guru seni ukir ketika mereka jadi murid Ramli Dt.

diberikan Sanggar A. Idem Jumlah murid untuk 4 sanggar ukir sebanyak 55 orang • Tokoh 1. seni ukir di Pandai Sikek 1x pertemuan tidak ditetapkan lama waktumya amat tergantung kejenuhan data yang akan diambil. • Masin g-masing informan akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Usaha-usaha yang telah lembaga akan pemerin dilakukan diobservasi dan tah 3. Studi Kepustakaan 93 . Masingmasing sanggar akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. dan D Untuk murid-murid seni ukir sekarang 1.C. Cara mereka belajar 3. Kepuasan atas penilaian guru atas prestasi mereka • yang akan diambil. Lembaga yang dituju dinas-dinas kabupaten Tanah Datar terkait dan lembaga pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir 3. Pandangan mereka terhadap Masyarakeberadaan seni ukir Pandai kat/ budaSikek yawan 2. Pandangan mereka terhadap proses pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek 3. Motivasi mereka belajar seni ukir 2. Harapan mereka terhadap kesinambungan seni ukir Pandai Sikek Lembaga 1. Peran mereka dalam membina • Masin atau sanggar seni ukir Pandai Sikek g-masing intansi 2.B. Harapan mereka terhadap diwawancarai proses pendidikan pada sanggar 1 x pertemuan.

Data yang diperlukan adalah yang sehubungan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar di Pandai Sikek. Lebih lanjut dinyatakan bahwa dengan mengorganisasikan data dengan rapi memungkin untuk memperoleh data yang baik. dan kliping surat kabar. dan analisis dokumen termasuk didalamnya. Analisis Data Menurut Syahron (2009) pengolahan dan analisis data dalam penelitian kualitatif sesungguhnya dimulai dengan mengorganisasikan data. Analisis data menggunakan metode kualitatif terutama yang didapat melalui wawancara.Studi kepustakaan merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan data penelitian. mendokomentasikan analisis. Untuk itu dalam analisis ini maka data yang telah didapat terlebih dahulu dipilah dan dipilih atau diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian. Menurut Wuisman (1996:300). dan observasi atau pengamatan proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek. tulisan/dokumen. data statistik. Dokumen tersebut berupa perda-perda. sistem klasifikasi kronologis yang mencakup jumlah keterangan yang terkumpulkan dan menunjukkan 94 . Khusus tentang dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah kebijakan yang terkait dengan pembinaan seni ukir di Pandai Sikek. rekaman terhadap proses dan fenomena sosial yang berkaitan dengan seni ukir Pandai Sikek dijadikan sebagai sumber data. program-program. analisis data kualitatif adalah teknik pemadatan data dengan cara mengembangkan taksonomi. E. dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian. Penggunaan sumber ini karena tidak semua data dapat ditangkap melalui observasi dan wawancara. Tulisan-tulisan. Data yang valid dan relevan dengan penelitian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif.

Selain itu juga likakukan pengembangan kepekaan teoritis dengan cara mengembangkan pertanyaan-pertanyaan. karena 95 . Kepekaan teoritis ini dilakukan pada saat menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. penyajian data. dan kalimat. menganalisis kata. penyajian data. analisis data kualitatif dilakukan dengan tiga langkah sistematis secara jalin menjalin (Miles. dan memvalidasi hubungan tersebut). dan penarikan simpulan/retifikasi. dan selektif (menyeleksi kategori yang paling mendasar. Secara operasional.keterkaitannya secara sistematis. Menurut Syahron (2009) menganalisis data membutuhkan kepekaan teoritis. Proses analisis ini dapat digambarkan : Pengumpulan data Penyajian data Reduksi data Simpulan/retifikasi Sebelum penarikan simpulan terlebih dahulu akan dilakukan langkah-langkah yang disarankan oleh Strauss dan Cobin (dalam Syahron. langkah-langkah analisis data yang dimaksud dilakukan dengan reduksi data. dan penarikan kesimpulan. 1992:19). 2009) yakni melakukan koding baik terbuka (mengidentifikasi kategori-kategori). sub kategori). yaitu reduksi data. yakni memasukkan atau menghubungkaitkan teori-teori yang telah ada atau yang dikemukakan pada bab 2. menghubungkan kategori. Sesuai dengan data yang diperlukan dan metode pengumpulan data tersebut. frase. aksial (mengorganisasi data dengan cara mengkoneksikan antara kategori.

peneliti sesungguhnya sedang melakukan upaya mengembangkan teori. atau berteori. Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif interpretatif. artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori dan kerangka pikiran yang berlaku umum. F. yang uraiannya terdiri dari beberapa bab. 96 .dalam proses menganalisis data. Masing-masing bab terdiri dari beberapa subbab dan beberapa subbab di antaranya terdiri dari sub -subbab yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentu laporan ilmiah yang berupa disertasi.

Padangpanjang: STSI Padangpanjang. 1984. Metodologi Penelitian. Jakarta: Grafiti Prss. Yogyakarta: B. 2008. Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial. Chris. ASKI Padangpanjang. “Model Pengembangan Kompetesi Guru Melalui Pelatihan Dalam Jabatan”. S. 1997. R. Muri Yusuf. (ed). No 2 bulan September. 2004. 2007. R. Bakhtiar Amsal.J Taylor 1992. “Pembuatan Gerabah di Desa Galogandang Tanah Datar” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Cultural Studies. Bogdan. 2002. Pendidikan Apresiasi Seni. Surabaya: Usaha Nasional.5 bulan Mei.C. Adirozal. 1982. 1999. “Kriya Gerabah Andaleh: antara Pelestarian. Delaware Departement of Education 2000. 2007. 2009. dan EkonomiPariwisata” dalam Sri Krisnanto (Ed). Bandung: Alfabeta. The Standar for Fungtional Life Skills Curriculum. Daleware. No. dan Biklen. Padang: UNP Press. Dialektika Minangkabau Dalam Kemelut Sosial dan Politik. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Padang: Pascasarjana UNP Anas Sudijono. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial.A Navis. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bogdan. Kritik Seni Rupa dan Seni Kriya. Aunurrahman. 2009. Bukittinggi: CV. Barker. ------. Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. 2004. “Apresiasi Sekolah Dasar Agama Sumatera Barat” dalam Yayah Khisbiyah (ed). Seni Kriya dan Kearifan Lokal dalam Lintas Ruang dan Waktu. Raja Grafindo Persada.K. 2009. Curahan Adat Alam Minangkabau.DAFTAR PUSTAKA A. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Filsafat Agama. Wacana dan Praktek untuk Toleransi Pluralisme Budaya.I.A Navis. Padang : Genta Singgalang Press A. Disertasi. Pengantar Evaluasi Pendidikan.D ISI Yogyakarta Adolf Bastian. ASKI Padangpanjang. New York: The Datuk Sangguno Dirajo. Alam Terkembang Jadi Guru. 16-30. Pustaka Indonesia.C and S. ------. Surakarta: PSB-PS Universitas Muhammadiyah Surakarta. “Peranan Seni dan Budaya Minangkabau Dalam Pembangunan Pariwisata” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Jakarta : PT. ------. Dove. Azhari Abdullah. Gaya Hidup. 1987. Adat dan Kebudayaan Minangkabau. hal. 97 . Belajar dan Pembelajaran. Adult Education Procedures. Bandung: Alfabeta. A.1986. Abdul Azis Wahab.

2005. Yogyakarta: Pusta Pelajar. Djohar. Filsafat Ketuhanan.RI. Frankel. Idrus Hakimi Dt. Psychologi Sosial. Jakarta: PT. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. 1999. Propinsi Sumatera Barat: Kajian Bentuk. 2009.1999. 1985. UU. New York: Harper & Row. Wallen. Ibenzani Usman. Disertasi. Karunia. 2008. Manifesto Pendidikan Nasional. 98 . Materi matrikulasi S2 Kajian Budaya Universitas Udayana. How to Design and Evaluate Research In Education. Pola. 1983. Seni Kerajinan Mabel Ukir Jepara. Michael J. Denpasar: Universitas Udayana. W. Jack L. Rajo Panghulu. H. Jakarta: Diknas Direktorat Dikdasmen. 2002. Yogyakarta: STSRI-ASRI Yogyakarta. Dimyati dan Mudjiono. 2001. 1999/2000. “Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. Islam dan Adat Minangkabau.R Tilaar. Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Jakarta : Panji Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. 2001. Publishers. 2000. Tesis. Bandung : Institut Teknologi Bandung. 1997.Departemen Agama Republik Indonesia. 2000. Howe. dan Makna”. Jakarta: Buku Kompas. Jogyakarta: Kanisius.A. Rineka Cipta.Teresco. -----. Hans. 1999. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Buni Aksara. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan. “Warisan Budaya dan Globalisasi”. Gerungan. J Daeng. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia . Hamka. Membenahi Pendidikan Nasional. “Seni Ukir dan Masalahnya”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Belajar dan Pembelajaran. 2004.A. Pendidikan. Fungsi. -----. and Norman E. 1987. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Rineka Cipta. Fasli Jalal (Ed). Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Semarang: PT Karya Toha Putra Depdiknas (2003). Hamka. 2001. dan Masyarakat Madani Indonesia. The Psycholgy of Human Learning. -----. Jakarta: PT. 2000. 1993. Jakarta: DEPDIKNAS. Gustami. Surabaya. SP. Jakarta: Adicita Karya Nusa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.A. (1981). Hamzah B Uno. I Wayan Ardika. Bandung: P. Kebudayaan. Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural. 1980. -----. Harisman. New York: McGraw-Hill. Bali. “Ukiran Mesjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar. 1984. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup di SMP. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Teori Motivasi dan Pengukuran Analisis di Bidang Pendidikan. SP. dan Fungsinya”. Al Quran dan Terjemahannya.

Lincolc. 1986. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Manajemen Sumbar Daya Manusia. Muhibbin Syah. 1976. Jakarta : Pustaka Binaman. Model of Teaching. 2000. 2001.(ed). Teori Budaya. dan Huberman. Notes on Educational in Indonesia. 1979. 2009. 2005. Mohammad Ansyar. 2009. Jakarta: Depdikbud. B dan Marshal Well. Manner 1999. David dan Albert A. Muchtar Naim. Remaja Rodakarya. 1998.S dan Guba. P2LPTK. 1999. M. Basic Crafts. Lexy J. Mustofa Kamil. Jakarta: The Jakrta Post & The Asia Fondation. Joice. 1971. 2006. Second Edition Chas. 2005. M. Bandung: Alfabeta. E. Naturalistic Inquiry. Y. M Nasroen. Psikologi Belajar. 99 . 1999. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Moleong. Mukhtar Buchori. Jakarta: Rineka Cipta. Meredith. Mardjani Martamin. -----. Analisis Data Kualitatif (terjemahan) Jakarta: UI Press. Kewirausahaan Teori dan Praktek. 1993. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Mills. 1983. Penilaian Hasil Balajar. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. Bandung : Tarsito. New Jersey: Prensentece Hall Inc.B. Jakarta: STIA-LAN PT: Bina Aksara. 2002.G. Sumatera Barat. Kompas Linbeck. Gramedia. Metode Penelitian Kualitatif. “Catatan-catatan Tentang Minangkabau dari Encylopedia voor Nederlands Oust Indie”. A. Mulyasa. Padang : Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang. 1985. “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nasional” Padang: Singgalang Press. Nana Sujana. A. Geoffrey G. Koentjaraningrat. “Pembelajaran dan Evaluasi Seni”.Imam Sodikoen. Pengantar Antropologi I dan II. Inc Illinios. Jakarta: PT. Museum Aditiawarman 1982. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Kaplan. Dirjen PT.Zaim. Jakarta : PT. Dasar-dasar Falsafah Adat Minangkabau. London: Sage Publication. John R. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Pendidikan Formal Pengembangan Melalui PKBM di Indonesia (Sebuah Pembelajaran Dari Komonikan Jepang). Jakarta: Bulan Bintang. Bandung: PT. Padang: FKPS IKIP Padang. Gramedia Pustaka Utama. 1985. Irawan Prasetya. 1996. “Kumpulan Makalah Penilaian dan Evaluasi Pendidikan Dalam Berbagai Seminar dan Pelatihan”. Kebudayaan Mentalitas Pembangunan. makalah. “Ragam Ukiran Rumak Gadang Minangkabau”. ----. 1994. Bennett Co.M.

Rusli Amran. makalah. dan Sekolah Katolik Mardi Wiyata II Malang”. 2009. Jakarta: PT Bima Aksara. 2005.newteachersnwt. Sosok Keilmuan Pendidikan. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. ca/culture. Nurkancana. 2008.1963. “Ragam Hias Minangkabau”.. Structural Antropology. (2001). UNP Padang. Tesis. 2001. Jakarta: Proyek Pengembangan Kebudayaan.based.Nasbahry Couto.1997. Kajian Estetika dan Budaya”.Tiara Wacana Strauss. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Bandung: Tarsito. Sekolah Dasar Negeri Percobaa I malang. Oemar Hamalik. -----. 1992.P. Nofrial. Padang. Buku 2. “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci.04. “Gaya Dalam Seni Rupa. 1987. Sedya Tuwana Sudikan. Kriya STSI Padangpanjang. Pannen. Jakarta: DEPDIKNAS. 1981. Padang: FIP. Nasution. Disertasi. Metode Etnografi. Pemahaman Bahasa Seni Rupa Modern”.James. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar . Ramalis Hakim. 2002. “Pendidikan Seni di masa Depan (Melihat Paradigma baru dalam Pendidikan Seni)”. Metode Penelitian Kualitatif. 2006. Sugiono. 100 .education2. Wayan dan P. New York: Basic Books Suardi Sandi. Bandung: Jemmars.K. Padang: FIP-Universitas Negeri Padang Prayitno.Universitas Negeri Padang Puskur. Jogyakarta: Institut Seni Indonesia. Pengembangan Aktivitas Instruksional. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. 2004. Nasbahry Couto. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Prayitno. Jakarta: Sinar Harapan. Metode Penelitian Kebudayaan. “Tinjauan Seni Kriya (Eropa dan Amerika Serikat). Padang: Seminar Nasional Jrusan Seni Rpa FBSS UNP. Evaluasi Pendidikan. Skripsi. DEPDIKNAS. 1986. Sanapiah Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. 2005. 1987/1988. Malang: YA3 Seabury Press. (2000). Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Risman Marah. Nasution. Sanapiah Faisal. Jakarta: Jemmars. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. Diambil 5 Januari 2007.K. 2008. 2008. Kurikulum 2004: Kerangka Dasar. “Strategi Pembelajaran Bidang Studi Kerajinan Tangan dan Kesnian: Studi Multi-situs pada Madrasyah Ibtidaiyah Negeri MalangI. Nasution. “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid Di Kabupaten Kerinci”.html. Sastra dan seni. Padang.. Sosiologi Pendidikan. 1990. Surabaya: Citra Wacana Spradley P. Levi C. DEPDIKBUD. Kriya STSI Padangpanjang. 2004: “Culture-based Education”.N Sumartana. Paulina D. www. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem . Yogyakarta: PT. Bandung: Alfabeta. Malang: Pascasarjana UNM. 2000. pada Fakultas Bahasa. NWT Teacher Induction. 1999. Surabaya: Usaha Nasional. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.

1949. Seni Tradisi Masyarakat. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. “Pendidikan Seni di Sekolah: Proses Harmonisasi Kecerdasan” makalah. (http://www. Potensi Lokal Dalam Proses Kreatif-Apresiatif” makalah. MemahamiPenelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. 1983. Supriono. 1997. Curriculum. Robert S. 1977.Sugiono.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia) 101 .. “Perkembangan Seni Kriya”. New York: Happer 7 Row Publishers.DEPDIKNAS. Paradigma Baru Pendidikan. Yogyakarta: ASRI Yogyakarta. Strategi Pembelajaran. Garis-garis Besar Estetik. (http://www. (2006). Basic Principle of Curriculum and Instrution . Ralph W.org. 2009.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran). 1971. Zais. 2009. online: http://www. 2008.unisosdem. Ethaca London: Cornel University Press. 2009. Wina Senjaya. ”Penelitian Kualitatif Analisis dan Intrepetasi Data”. Tersedia. Jakarata: Rineka Cipta Yahya. Syahron Lubis. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Winata Putra. Jakarta: Sinar Harapan. Umar Kayam. 2008. Jakarta: Jembatan.. Padang: Universitas Negeri Padang. “Modernization in The Minangkabau World: West Sumatera in The Early Decades of Twenty Century” dalam Claire Holt: Culture and Politics in Indonesia. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Suwaji Bastomi. Kualitatif. 2001. Umar Junus dalam Koentjaraningrat (Ed). Jakarta: Bumi Aksara. “Pendidikan Dalam Keluarga” dalam Jurnal. Waras kamdi. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. 1976. Bahan Kuliah Pada Pascasarjana UNP. Chicago and London: The Unversity of Chicago Press. dan R&D.psb-psma. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Prenciples and Fundations.. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Taufik Abdullah.blogster. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. 2009. 2005. PUBIB: Yogyakarta Tyler. Suharsimi Arikunto. Sumianto A Sayuti. Bandung: Alfabeta. The Liang Gie. 1981. “Pendidikan Seni Dalam Konteks Lokal Genius.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->