CONTOH PROPOSAL JUDUL; Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisional Di Pandai Sikek Tanah Datar

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM) bermakna strategis bagi pembangunan nasional, karena masa depan bangsa sangat bergantung pada penyelenggaraan pendidikan masa kini. Sejauh mana pendidikan itu diselenggarakan menjadi tolok ukur penyiapan generasi penyambut ’tongkat estapet’ pembangunan. Menurut Ki Hajar Dewantara “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Anakanak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warga negara kita” (Prayitno, 2005:1) Sejalan dengan itu, Mukhtar Buchori (2001:23) menyatakan bahwa “Apa yang terjadi dengan bangsa kita di masa depan, sangat tergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang ini terhadap cara-cara kita mendidik generasi muda, dari pendidikan tingkat TK sampai ke pendidikan tingkat Perguruan Tinggi” Melalui semua jenjang pendidikan tersebut, kelangsungan hidup suatu bangsa dapat terjamin sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, how to live together, dan how to do, tetapi yang amat penting how to be. Oleh karena itu diperlukan transformasi nilai-nilai pendidikan (Daulay, 2007). Dengan demikian, memaknai pendidikan sebagai proses ‘memanusiakan manusia’ harus fokus pada pengembangan potensi manusia itu sendiri, bukan hanya fokus pada pengajaran. Pernyataan

2

‘memanusiakan manusia’ seakan-akan menyatakan bahwa sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik belum menjadi manusia. Pada hal peserta didik adalah manusia, makhluk yang paling sempurna dari sekian makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia. Berbagai bentuk pendidikan yang telah dilakukan bangsa Indonesia bertujuan untuk membangun sumber daya manusia, melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. Penyelenggaraan pendidikan formal dilakukan mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan formal terdiri atas pendidikan anak usia dini, berbentuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA); pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah pendidikan dasar dilanjutkan dengan pendidikan menengah yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA), dan pendidikan menengah kejuruan seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan nonformal berbentuk kursus-kursus singkat (non-ijazah) dan pelatihanpelatihan terorganisir yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal. Sedangkan pendidikan informal merupakan pendidikan sepanjang hayat di mana individu memperoleh pengetahuan, norma-norma, dan keterampilan melalui keluarga, tetangga, dan media masa. Sarana jenis-jenis pendidikan tersebut terkait dengan upaya untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari ketidaktahuan dan

3

Parameter penyelenggaraan pendidikan nasional semestinya tidak sampai melunturkan semangat yang lebih mulia dari sekedar untuk memperoleh tanda lulus dari negara. ada pernyataan yang keras bahwa pendidikan persekolahan kita ‘melahirkan pengangguran yang sistematis’. Berbagai gugatan itu sehubungan dengan tidak baiknya penyelenggaraan pendidikan. Ada kecenderungan pendidikan sekarang ini bersifat serimonial belaka dan lari dari substansi pendidikan itu sendiri. sehingga terkesan bahwa pendidikan sekedar rutinitas belajar. Pendidikan tidak sekedar mengumpulkan dan mengoleksi ijazah sebagai tanda lulus.kebodohan. Diawali pada setiap awal tahun ajaran dengan merima murid baru. politisi. Dengan kondisi seperti itu. melakukan proses pembelajaran sesuai jadwal. lebih terampil. melainkan agar potensi peserta didik dapat dikembangkan dan setelah mengikuti proses pendidikan dia lebih cerdas. Gugatan itu tentu terkait dengan kesadaran dan pemahaman masyarakat yang makin tinggi bahwa pendidikan memiliki nilai strategis dan 4 . lebih bertanggungjawab. sampai dengan seringnya pelajar melakukan tindakan amoral dan kriminal. pantas akhir-akhir ini gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan persekolahan menjadi lazim terdengar. kualitas pendidik yang tidak merata antara perkotaan dengan pedesaan. maupun dari akademisi atau pakar pendidikan sendiri. proses pembelajaran lagi. lebih mampu mengendalikan diri. dan berakhlak mulia. kualitas atau mutu pendidikan yang masih rendah. dan evaluasi akhir (Ujian Nasional) dan pada akhirnya kepada peserta didik yang lulus diberikan ijazah. Selain itu. muatan materi dan pembelajaran yang tidak seimbang antara aspek kognitif dengan aspek lainnya. Mulai dari gugatan sarana prasarana yang tidak memadai. baik dari kalangan masyarakat. evaluasi kenaikan kelas.

Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia 5 . di mana nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan tidak sekedar dibicarakan tetapi juga dipraktekkan. walau dalam tataran ide atau nilai-nilainya patut dipertahankan. riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Namun menurut HAR Tilaar (2000) tidak ada upaya yang jelas dan konkrit baik peraturan-peraturan maupun implementasinya bahwa pendidikan nasional berakar kepada kebudayaan nasional. Pelestarian budaya tradisi tidak berarti wujud fisiknya tidak bisa berubah dan berkembang. Ia juga menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan. Demikian juga dalam PP No 29 tahun 1990 tentang Wawasan Wiyatamandala dinyatakan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan kebudayaan. Kesadaran bahwa melalui pendidikanlah dapat diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki suatu bangsa. tradisi justru dipadukan dengan keanekaragaman perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya.urgent dalam pembentukan karakter bangsa. Menurut Peursen (1988:11-15) tradisi bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah. sehingga betapa pendidikan nasional kita telah tercabut dari akar kebudayaannya. Sebetulnya inti dari pendidikan ada dalam perjalanan hidup manusia karena manusia ingin mencapai hidup yang maju. yang lebih baik dan lebih layak.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional harus dilandasi kebudayaan nasional. Dalam hal ini maka pendidikan menjadi komponen penting bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya dengan melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya. Bila membicarakan pendidikan dan kebudayaan sebenarnya telah ada pegangan kuat yakni Undang-undang No. Ketidaktercabutan dari akar budaya bukan berarti suatu 'tradisi' harus dipertahankan dengan cara tertutup atau defensif.

Bahkan ukiran-ukiran Minangkabau tidak saja bernilai estetis juga memiliki makna yang tinggi dan berkaitan dengan falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam yang 6 . Kebudayaan merupakan ketegangan antara imanensi dengan transendensi sehingga dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia. anyaman. Dari berbagai macam corak dan bentuk budaya itu menurut Koentjaraningrat (1999) ada tujuh unsur kebudayaan universal yakni. sistem peralatan hidup dan teknologi. dan ukiran. tenun. menolaknya. suku ini memiliki berbagai cabang seni. dan audiovisual art .menerimanya. sistem mata pencaharian. seni pertunjukan maupun seni nonpertunjukan (senirupa/kriya) semuanya dimiliki bangsa Indonesia. Dari tujuh unsur itu. mozaik. Berbagai macam bentuk dan corak seni baik yang modern maupun tradisional. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan (imanensi). baik seni yang modern maupun yang tradisional. Sebagai sebuah bangsa yang besar diakui bahwa Indonesia memiliki banyak sekali corak dan ragam budaya. khusus kesenian terdapat pula cabang dan bentuk seni yang dimilki Indonesia. dan benda-benda (artefak). patung. Cabang seni rupa atau seni kriya Minangkabau juga banyak seperti arsitektur. aktivitas. tetapi juga selalu muncul dari arus alam raya itu untuk memiliki alamnya sendiri dan mengubahnya (transendensi). Sebut saja misalnya cabang seni rupa dan seni kriya maka akan ada seni lukis. Masing-masing suku di Indonesia memiliki berbagai bentuk kebudayaan baik dalam wujud konsep atau gagasan. Salah satu suku bangsa Indonesia itu adalah Minangkabau. ornamen. visual arts. audio arts. baik seni pertunjukan maupun nonpertunjukkan. dan kesenian. gerabah. sistem pengetahuan. anyaman. dan seni ukir. gerabah. logam. sistem religi. atau mengubahnya. organisasi sosial. bahasa. seni batik.

Seni ukir Minangkabau dapat dijumpai pada rumah-rumah adat dan rumah-rumah masyarakat.terbentang untuk dipelajari). Falsafah ini dapat dibuktikan dari karya sastra lama. rebung juga bermakna walaupun masih muda namun tetap bermanfaat. Seni ukir juga dapat dijumpai pada bangunan perkantoran dan hotel baik milik pemerintah maupun bangunan milik swasta yang membuat gonjong (atap runcing ciri khas Minangkabau). Motif pucuak rabuang (pucuk rebung/bambu muda) melambangkan waktu muda adalah saat yang baik menuju ke atas (Tuhan dan citacita) tanpa harus banyak cabang. Hampir seluruh motif-motif ukiran mempunyai makna yang berkaitan dengan falsafah hidup orang Minangkabau dengan samboyan belajar dari alam. motif yang diambil dari bentuk alam ini melambangkan wajah ceria dari penghuni rumah atas tamu yang datang. syair. dan rumah ibadah (mesjid dan surau). Selain mempunyai nilai falsafah. akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik (terutama perantau) membuat rumah gadang yang dengan sendirinya rumah tersebut berukir. Selain rumah-rumah adat yang memang harus berukir. semboyan itu sesuai dengan pepatah alam takambang jadi guru. gurindam dan kaba bersumber dari kejadian-kejadian yang dekat dengan kita. kantor-kantor. 1996). pantun. semuanya menampilkan wujud alam flora. melainkan juga sebagai simbol”. Hal itu berkaitan dengan fungsi status sosial pemilik rumah di tengah masyarakat. Menurut Ibenzani Usman (1985) “seni ukir tradisional pada rumah adat Miangkabau. maka penempatan seni ukir Minangkabau mempunyai aturan tertentu. yang tidak berperan sebagai hiasan belaka. Kata-kata yang disusun dalam seni sastra seperti petatah-petitih. Bahkan seni ukir 7 . yaitu alam (Hakimy. Misalnya motif ukiran sikambang manih (bunga/akar yang cantik).

kemenakan. Ketiga daerah itu secara kultural disebut dengan luhak nan tuo (daerah yang tua/asal) yakni Kabupaten Tanah Datar. Pada awalnya. dan Kabupaten Limo Puluh Kota. Agak berbeda dengan daerah lain. Motif ini bermakna bahwa si penghuni rumah panyuko tamu nan tibo (suka dengan tamu yang datang) atau sebagai simbol dari keramahtamahan masyarakat dalam menerima setiap tamu yang datang. Masing-masing daerah ini mempunyai style atau gaya masing-masing. 1985). Misalnya motif kaluek paku (relung pakis) bermakna tanggung jawab sosial seseorang di tengah masyarakat baik kewajiban dan hak terhadap anak. 2000). Gaya tersebut bukan disebabkan perbedaan motif ornamen akan tetapi pengaruh teknik dan peralatan yang digunakan. (Ibenzani. ia mempunyai makna filosofis dan aturan tata letak. dan orang kampung dan bahkan negara. Walaupun masing-masing daerah tidak sama persis tata letak motif ukirannya. Perbedaan itu sebagai kekhasan masing-masing daerah. Waktu muda pakis bergelung ke dalam dan setelah tua bergelung ke luar. Sikambang manih merupakan julukan untuk gadis cantik yang mulai dewasa. hal ini bermakna waktu muda periksa diri sendiri terlebih dahulu dan baru memeriksa orang lain. Misalnya. namun tetap punya ketentuan penempatan motif ukiran. ada tiga daerah di Sumatera Barat yang menggali dan mengembangkan seni ukir Minagkabau.Minangkabau tidak saja dijumpai pada bangunan yang ada di Sumatera Barat melainkan juga di luar daerah. Ukiran Minangkabau tidak sekedar ornamen hias saja. ukiran Pandai Sikek 8 . ukiran Minangkabau tidak hanya terdapat pada perabot rumah tangga tetapi lebih banyak dijumpai pada rumah-rumah adat dan bangunan lainya. Kabupaten Agam. Motif sikambang manih diletakkan pada dinding bagian depan rumah adat. (Sri Sundari.

Kesinambungan seni ukir di Pandai Sikek sekarang ini lebih banyak atas inisiatif masyarakat dan sedikit sekali adanya perhatian dan pembinaan dari pemerintah. Perhatian dari pemerintah diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar berupa pendataan jumlah sanggar dan pengerajin. pembinaan keindustrian dan perdagangan. Daerah yang masih eksis dan cukup baik dalam mewariskan seni ukirnya pada generasi muda hanyalah Pandai Sikek. Dari tiga daerah ini muncul tokoh atau guru yang mengajarkan seni ukir pada murid-muridnya. dan Sabirin Sutan Muncak lahir 1937 di Banuhampu Sungai Puar kabupaten Agam dengan muridnya berjumlah 4 orang. Untuk saat ini. Rangkayo Sati lahir 1917 di Pandai Sikek kabupaten Tanah Datar dengan muridnya sebanyak 7 orang. Beliau-beliau itulah yang pertama sekali mengajarkan seni ukir pada muridnya di sanggar-sanggar ukiran.Tanah Datar akan tampak lebih runcing karena pengaruh penggunaan pahat layanglayang. Sedangkan seni ukir di kabupaten Agam amat sedikit upaya regenerasi. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar tahun 9 . Marzuki Malin Kuniang lahir 1897 di IV Angkek Canduang dengan muridnya berjumlah 5 orang. Menurut Ibenzani Usman (1985) ketiga guru atau tokoh seni ukir itu yakni Ramli Dt. Seni ukir dari kabupaten Lima Puluh Kota hampir-hampir tidak terdengar lagi (punah). sanggar seni ukir daerah ini termasuk IV Angkek Candung sudah banyak beralih ke usaha perabot. Keberlanjutan seni ukir di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar terus berjalan walaupun tidak sebaik pengembangan seni ukir Bali dan Jepara. tidak semua daerah itu yang masih menggali dan mengembangkan seni ukirnya.

2009 terdapat 4 buah sanggar seni ukir di Pandai Sikek dengan jumlah murid (sekaligus pekerja) sekitar 55 orang. Misalnya seorang pendidik atau pelatih yang tidak memahami pilar high-touch (kewibawaan) tentu tidak memahami perbedaan potensi peserta didik. Pembinaan yang telah dilakukan berupa pelatihan disain mobiler dan diikutsertakan dalam pameran perdagangan. dan filosofi seni ukir oleh guru pada muridnya pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. tidak jelas peserta didik harus diberi penguatan. tetapi juga tidak diwariskan kepada genarasi baru. terjadi kecelakaan pendidikan yang melecehkan peserta didik. terhambatnya bahkan hilangnya kesempatan dan hak-hak pendidikan peserta didik. dan pewarisan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni ukir bukan saja tidak bernilai budaya. alangkah baiknya pembinaan dan pelatihan bagi pengukir di Pandai Sikek di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. serta tidak tahu kapan tindakan tegas yang mendidik dilakukan. Secara umum jika prinsip-prinsip ilmu kependidikan tidak diterapkan tentu proses pembelajaran (pelatihan). Di sisi lain diyakini bahwa ada bentuk atau model transformasi keterampilan. Bila dilihat dari ilmu kependidikan. Keyakinan itu berdasarkan masih adanya sanggar seni ukir dan masih ada beberapa generasi muda yang tampak mengukir di sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Sampai saat ini belum ada upaya dinas terkait untuk menelusuri bagaimana model pendidikan atau pelatihan seni ukir sehingga seni ukir Pandai Sikek tatap eksis dan 10 . Karena jika pelatihan dilakukan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan ada kemungkinan yang dilakukan tidak menerapkan prinsip-prinsip ilmu kependidikan. pengetahuan. Menurut Prayitno (2008) ‘pendidikan tanpa ilmu pendidikan’ akan mengkerdilkan kehidupan pendidikan. juga tidak mampu memberikan kasih sayang dan kelembutan.

Ramli Dt. cupak diganti urang panggaleh (jalan ditukar orang yang lewat. Bagaimana model. dan yang mengajarkan seni ukir itu sekarang adalah murid-muridnya. Bila hal ini terjadi ada harapan jalan diasak urang lalu. misalnya untuk mengajarkan falsafah cukup dengan diceramahkan dan didiskusikan sambil mengukir. takaran diganti oleh si pedagang). Untuk belajar falsafah ukir adakalanya dibawa lansung ke objek. dan cara beliau-beliau mengajarkan keterampilan seni ukir pada muridnya belum diketahui. Dahulu ada tahapan-tahapan dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap murid dalam belajar seni ukir. karena semakin hari semakin sedikit saja generasi muda yang mempelajari seni ukir. ia mempunyai kiek-kiek dalam mengajar seni ukir dan kebiasaan beliau itu tidak seluruh dan sepenuhnya diteruskan oleh muri-mridnya. Misalnya seorang yang akan belajar seni ukir harus dengan kesadaran penuh dan disarahkan (diantar lansung) orang tua. seperti membersihkan pekarangan rumah guru.berkembang. Sekarang ini pemebelajaran tidak dilakukan seperti dulu lagi. Rangkayo Sati telah meninggal. Menurut informasi dari salah satu murid Ramli Dt. Guru tuo (pakar/ahli) seni ukir Pandai Sikek. pola. Jika hal ini di biarkan terus-menerus ada kemungkinan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau akan punah. terkadang pekerjaan itu tidak berhubung langsung dengan kegiatan mengukir. Cara-cara pembelajaran di sanggar tardisional seperti ini tampak spesifik. seperti belajar falsafah motif pucuak rabuang maka murid dibawa ke rumpun bambu. Pada tahap awal murid seni ukir hanya membantu-bantu pekerjaan di sanggar. Pada akhirnya bisa jadi seni ukir Minangkabau tidak lagi dikerjakan oleh putra Minangkabau. 11 . Rangkayo Sati.

SMK Negeri 4 Padang. Pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional tidak hanya melatihkan keterampilan tetapi juga diajarkan falsafahnya. Artinya pada sekolah formal murid tidak dipersyaratkankan untuk menjadi tukang ukir. SMK Negeri 8 Padang. dan diberi nilai. Ada tugas-tugas terstruktur yang diberikan pada peserta didik. Metode mengajar yang digunakan guru/dosen umumnya ceramah dan demonstrasi. Evaluasi dilakukan pada pertengan semester dan akhir semester. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. dibuatkan jadwal belajar/kuliah. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. Pembelajaran berlangsung tanpa terikat dengan jadwal yang telah ditentukan dan juga tidak harus 17 12 . Pembelajaran pada sanggar seni ukir diajarkan murid sampai pada mampu menjadi tukang ukir atau mengukir layak jual. Sedangkan di sekolah formal hanya mengajarkan keterampilan mengukir sampai pada batas terpenuhi standar kompetensi atau syarat lulus. kepada peserta didik yang telah memenuhi standar kelulusan diberikan nilai berupa angka atau huruf.Dari pengamatan terdapat perbedaan pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional dengan pembelajaran seni ukir melalui persekolahan. dari isian kurikulum dirinci ke dalam satuan pembelajaran mingguan (sekitar 17 kali tatap muka). Ada beberapa pendidikan formal di Sumetera Barat yang mengajarkan seni ukir yaitu. dilakukan evaluasi atau ujian. Dari pengamatan selintas. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. Filosofi motif dan penempatan motif ukiran juga tidak diajarkan pada sekolah formal. Pembelajaran seni ukir pada pendidikan formal telah ditetapkan tujuan yang akan dicapai setiap semester. INS Kayu Tanam. perlakuan di sekolah formal tidak ditemui pada pendidikan nonformal terutama pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek.

maka usaha atau kegiatan seni ukir cukup baik. mulai mengukir kasar (tingkat dasar). artinya antara satu murid dengan lainnya dapat berbeda-beda materi yang diberikan walaupun mereka dalam satu ruangan.kali pertemuan atau tatap muka. Oleh karena orientasi karya dapat diterima pasar maka pembelajaran pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menyentuh aspek ekonomi. tetapi sekaligus diajarkan enterpreneurship. Sebagai buktinya adalah hasil karya pengukir dari sanggar tradisional Pandai Sikek lebih diminati. Murid tidak dikelompokkan dalam bentuk klasikal. karena keterampilan yang dimilikinya perlu dan bermanfaat untuk dirinya bahkan masyarakat.. misalnya ada yang pada taraf pengenalan alat. Evaluasi tidak ada yang terjadwal dan terstruktur sehingga tidak ada nilai akhir berbentuk huruf atau angka. maka keluaran sanggar tradisional seni ukir lebih terampil dan menguasai falsafah ukiran dibandingkan lulusan sekolah formal. 13 . Jika karya mereka dapat diterima konsumen. Artinya kegiatan pembelajaran tidak hanya pada aspek keterampilan seni ukir dan pewarisan nilai-nilai budaya. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan adalah. Jika dilihat dari hasil akhir. dan ada yang taraf halus. Akan tetapi sebagai sebuah pendidikan nonformal maka dalam penyelenggaraannya tetap memiliki sistem pembelajaran yang terlembaga. Dengan demikian murid yang telah menguasai keterampilan seni ukir ia akan mandiri.. terutama kemapuan mengukir dan memahami falsafah seni ukir. Hasil karya pengukir dari sanggar ukir tradisional lebih diterima pasar atau konsumen. Karya-karya mereka tidak saja disalurkan di daerah Sumatera Barat akan tetapi sampai diberbagai daerah Indonesia bahkan sampai ke Malaysia.

restoran. dan arti motif ukiran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan disebabkan motif ekonomi. Ibenzani Usman (1985) Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. Sri Sundari (2000) meneliti “Seni Ukir Pandai Sikek Dalam Masyarakat Minangkabau yang Berubah” dibahas bahwa ukiran Pandai Sikek tidak hanya untuk rumah adat saja. rumah pribadi. bangsa dan negara”. jenis motif ukiran. Dalam disertasi ini hanya membahas tentang teknik yang meliputi tentang penggunaan bahan. Sehubungan dengan banyaknya aspek yang dapat digali dari seni ukir. dalam penelitian ini juga disebutkan nama-nama motif Minangkabau yang tidak ditempatkan pada rumah adat. SP Gustami (2000) meneliti Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. sekarang sudah untuk kantor. Pola. Penjelasan motif itu terkait dengan nama-nama motif ukiran. perabot rumah tangga. keterampilan yang diperlukan dirinya. dan cenderamata. (a) sejarah 14 . Selain menjelaskan motif yang lazim dalam ukiran pada rumah adat Minangkabau.. Perubahan itu seiring dengan masuknya pariwisata di Sumatera Barat.agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki . dan fungsi ukiran pada rumah adat Minangkabau. dan cara yang berorientasi kepada sistem penalaran Minangkabau (alur dan patut). dan Fungsinya. masyarakat.. Dalam laporan penelitiannya dijelaskan berbagai bentuk motif ukiran yang terdapat pada rumah adat Minangkabau. Penelitian ini dilakukan tahun 1999 dan dicetak menjadi buku tahun 2000 yang membicarakan tentang. toko. Telah ada beberapa peneliti dan penulis yang meneliti tentang seni ukir Minangkabau dan seni ukir daerah lainnya. alat. tentang pola-pola motif seni ukir Minangkabau. Marjani Martamin dan Amir B (1978) meneliti “Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”. maka pewarisan dan pengembangannya sangat diperlukan.

perkembangan seni ukir Jepara mulai dari zaman Belanda sampai zaman orde baru dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kehidupan beragama, (b) peran tokoh-tokoh wanita dalam perkembangan seni kerajinan khususnya seni ukir, seperti peran R.A. Kartini dan Tien Soeharto, (c) proses pelembagaan dan pembauran gaya seni yang berkaitan dengan mebel ukir Jepara, sehingga hadirnya berbagai macam ragam hias, jenis produk, pola penerapan ornamen, teknik mengukir, keragaman disain, dan bentuk mebel yang diproduksi, (d) eksistensi produk mebel ukir Jepara dari lokal menjadi pemasaran global, dan (e) pola perkembangan dan penyebaran yang berkaitan dengan tradisi pewarisan keahlian, pembiasan prilaku perajin, pembinaan dan pengembangan mebel ukir Jepara. Harisman (2001) meneliti “Ukiran Masjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat; Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna”. Dalam tesis ini dijelaskan bahwa bentuk ukiran pada masjid tradisional di Minangkabau tersusun dari kesatuan, kompleksitas, dan intensitas yang merujuk pada pola ukiran rumah adat. Dijelaskan juga bahwa fungsi ukiran merupakan media pendidikan, media pengalaman estetis, pengintegrasian masyarakat, dan fungsi keindahan sebagai kebutuhan masyarakat. Penjelasan pada makna dikaitkan pada persoalan kearifan tradisional dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang tersimpul sebagai makna denotatif dan konotatif. Suardi (2000) meneliti “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid di Kabupaten Kerinci”. Temuannya menjelaskan bahwa ukiran pada bangunan Masjid di Kerinci menggunakan bentuk motif tumbuh-tumbuhan, geometris dan bentuk gabungan tumbuh-tumbuhan dan geometris. Penyusunan dengan pilin ganda, lingkaran, simetris dan asimetris. Penampang ukiran segi tiga, datar dan gabungan segi tiga, datar dan miring. Penggolongan nama motif berasal dari nama tumbuh-tumbuhan,

15

binatang dan alam benda, perwujudan merupakan stilirisasi dan meniru sifat asal nama motif tersebut. Makna motif dikaitkan dengan adat, agama, sosial budaya, dan sosial masyarakat pendukungnya. Ukiran menggunakan teknik ukiran tembus, rendah dan utuh. Nofrial (2009) meneliti “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci; Kajian Estetika dan Budaya”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa secara budaya Kerinci dikelompokkan atas hulu, tengah dan hilir, masing-masingnya memiliki rumah larik yang berukir. Daerah tengah dan hilir lebih kaya seni ukirnya dibandingkan daerah hulu, baik dari jumlah motif, warna dan teknik penggarapan. Akan tetapi motif ukiran mereka sama yakni, sama-sama mengambil bentuk tumbuh-tumbuhan dan geometris, serta unsur atau nama binatang. Dalam hal teknik pembuatan juga hampir sama, yang menghasilkan bentuk ukiran garis, ukiran rendah, ukiran sedang, dan ukiran tinggi, serta sama-sama tidak terdapat ukiran tembus. Beberapa hasil penelitian di atas tidak ada yang membahas lansung tentang model pendidikan atau cara mengajarkan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya. Oleh karena belum adanya penelitian dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan bagaimana seni ukir diajarkan, maka perlu adanya penelitian tentang model pendidikan seni ukir. Hal ini agar seni ukir Minangkabau khususnya seni ukir Pandai Sikek tidak hilang dan jika perlu dapat berkembang. Penelitian ini nanti diharapkan dapat mengukapkan cara mengajarkan seni ukir baik dari segi keterampilan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya kepada generasi muda. Model pendidi seni ukir pada sanggar tradisional yang ada di Pandai Sikek menjadi menarik dan perlu untuk diteliti, karena pewarisan seni ukir daerah ini tetap eksis dan lebih baik dari daerah lain di Sumatera Barat. Bagaimana model yang dilakukan dalam pewarisan seni ukir di Pandai Sikek

16

sehingga dapat bertahan menjadi bahan perbandingan untuk daerah-daerah lain. Pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek juga dapat menjadi model dalam pengembangan cabang-cabang seni lainnya. B. Identifikasi Masalah Dari konteks penelitian yang telah dilakukan tentang seni ukir dan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ternyata banyak persoalan dan masalah yang timbul. Berbagai permasalahan itu terkait dengan model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek Sumatera Barat. Agar permasalahan itu lebih fokus pada pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional Pandai Sikek, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut; 1. Sanggar seni ukir di Pandai Sikek telah ada semenjak beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini ada 4 sanggar seni ukir yang masih aktif dengan sekitar 55 orang murid. Guru yang pertama mengajarkan seni ukir telah meninggal dunia, pendidikan seni ukir dilakukan oleh sebahagian generasi ke dua yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Bahkan ada juga generasi ketiga yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Apakah sama model pendidikan yang diberikan oleh semua guru seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah model pendidikan yang diterima ketika mereka jadi murid sama dengan yang diberikan ketika mereka jadi guru seni ukir? Adakah terdapat inovasi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Guru atau pendidik pada sekolah formal telah dibekali dengan ilmu kependidikan, dan bahkan dilakukan penyegaran dengan berbagai pelatihan, penataran, workshop tentang cara mendidik. Guru bahkan juga dituntut untuk

17

Pada pendidikan formal ada kompetensi tertentu yang harus dicapai atau dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Sedangkan guru seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak tamatan lembaga kependidikan. dipertengahan dan pada akhir kegiatan. Guru memberikan materi dalam beberapa semester agar murid menguasai materi sehingga terampil dalam mengukir. ada teknik evaluasi. dan waktu pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan diawal. Dalam pendidikan formal dilakukan evaluasi guna menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap awal pada pendidikan formal murid diperkenalkan dengan bahan dan alat. Hakikatnya evaluasi untuk mendapatkan sejauh mana penguasaan murid atas materi yang telah disajikan.profesional terutama dalam ilmu kependidikan. kemudian mengukir dasar. Bagaimana model kurikulum seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah ada pentahapan-pentahapan materi atau kompetensi tertentu yang diberikan guru? Apa saja materi pelajaran seni ukir yang diberikan guru pada tahap awal? Kapan materi filosofi seni ukir diberikan pada murid? 4. dan setelah itu baru pemberian tugas-tugas. Pada sanggar seni ukir tradisional Pandai Sikek tentu ada bentuk evaluasi yang diberikan sehingga murid dapat diberikan materi 18 . dijelaskan berbagai motif. Ada acuan evaluasi. Pada sanggar seni ukir tentu juga ada kurikulum dan tahapan-tahapan tertentu sehingga murid mampu menjadi ahli ukir. Materi pendidikan seni ukir pada sekolah formal telah dituntun dengan kurikulum dan silabus. Bagaimana model guru pada sanggar tradisional di Pandai Sikek mentransformasi keterampilan dan ilmu seni ukir pada muridnya? Sejauhmana komponen high-touch dan high-tech diterapkan pada pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 3.

dan post). (1) tahapan proses pembelajaran (pre. Dari sekian banyak permasalahan tersebut maka penelitian ini difokuskan pada bagaimana model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek yang tercakup pada. (3) penerapan high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran. Bagaimana bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan setiap tahapan pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek? 19 . C. Fokus Masalah Berdasarkan tinjauan tentang pentingnya pewarisan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya dan upaya mentransformasikan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya banyak permasalahan yang muncul.selanjutnya. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut. Namun demikian agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaikbaiknya maka perlu dilakukan pembatasan masalah. (2) materi-materi ajar yang diberikan. Bagaimana model evaluasi seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Diyakini masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut dikemukakan dan dapat diteliti sehubungan dengan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek. dan (4) evaluasi hasil belajar untuk dapat ditentukan sebagai pengukir layak jual. Bagaimana pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. while. 1.

mengembangkan dan membina aset budaya khususnya seni ukir daerah lain yang hampir punah pada beberapa daerah di Sumatera Barat. dan Dinas BUDPAR) sebagai salah satu model dalam menumbuhkan. Untuk mengungkap bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek.3. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi. dan Dinas BUDPAR) dalam membina dan mengembangkan seni ukir Pandai Sikek sebagai salah satu aset budaya. F. Dinas PERINDAG. Bagaimana bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek? E. 20 . Untuk mengungkap bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan pada setiap tahapan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Sejauhmana penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 4. Dinas PERINDAG. 3. 2. Pemerintah Tanah Datar (Dinas Pendidikan. Pemerintah Sumatera Barat (Dinas Pendidikan. 4. 2. Untuk mengetahui pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 1. Untuk melihat penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Tujuan Penelitian Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. yakni. 1.

4. Hakikat Pendidikan Negara Indonesia menjamin seluruh rakyatnya secara konstitusi untuk mendapat pendidikan. (3) kebudayaan Minangkabau. Bagi peneliti sendiri sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan sekaligus sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Doktor bidang ilmu pendidikan pada Pasca Sarjana UNP. Untuk itu. secara berturut-turut dikaji tentang. (2) hakikat pembelajaran. melainkan sebagai landasan pijak yang dikaitkan antara fokus penelitian dengan variabel-variabel pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional. (4) seni dan pendidikan seni. hasil penelitian. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pendapat. dan (5) model pendidikan. Lembaga pendidikan formal Sumatera Barat khususnya baik tingkat SLTA maupun perguruan tinggi yang mengajarkan seni ukir sebagai sebuah model perbandingan dalam memberikan materi seni ukir. dan teori yang berkaitan dengan fokus penelitian. Teori-teori yang disajikan tidak dimaksudkan untuk menguji kebenarannya. Isi dari amanat pembukaan UUD 1945 itu adalah bahwa negara berupaya untuk mencerdaskan 21 . Bagi peneliti-peneliti selanjutnya baik dalam bidang seni maupun dalam pendidikan nonformal.3. 1. 6. Jaminan itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945. 5. (1) hakikat pendidikan. Lembaga pengelola pendidikan nonformal sebagai salah satu model dalam membina dan mengembangkan seni tradisional.

keterampilan yang diperlukan dirinya. Artinya proses pendidikan itu harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning). bangsa dan negara”. kepribadian. Dengan demikian. Dalam pasal 1 ayat 1 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan. Pertama pendidikan adalah usaha sadar yang terencana. Untuk mewujudkan amanat pembukaan UUD 1945 tersebut maka dibuatkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendidikan agar rakyat Indonesia dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan. Dari pengertian pendidikan ini ada beberapa hal yang perlu dipahami. murid harus dipandang sebagai organisme yang sedang berkembang dan memiliki potensi. Upaya ini tentu dengan harapan anak bangsa Indonesia pada suatu saat dapat bersaing dan bersanding dengan bangsa lain dalam artian “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan harus memperhatikan proses belajar guna mencapai hasil belajar. dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara seimbang. Dengan demikian. masyarakat. akhlak mulia. pengendalian diri. Kesadaran yang tinggi dari founding father menggambarkan bahwa begitu pentingnya arti pendidikan bagi bangsa Indonesia. Kedua suasana belajar dan pembelajaran diarahkan dalam upaya mengembangkan potensi murid. Proses pendidikan itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. dan informal) bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan. berarti proses pendidikan (formal. Pendidik berkewajiban 22 . nonformal. tetapi proses yang bertujuan.kehidupan bangsa. kecerdasan.

karena orang tua dapat melakukan pewarisan budaya kepada anaknya (Ansyar. pengembangan kecerdasan intelektual. Hal ini berbeda dengan orang primitif yang mendidik anaknya tanpa mendirikan intitusi pendidikan. pengendalian diri. Pewarisan ‘budaya’ itu tidak saja dimaknai sebagai orang tua biologis kepada anak-anak mereka. serta pengembangan keterampilan dan kreativitas murid.mengembangkan potensi yang dimiliki murid. Menurut Suprioyono (2006) bahwa pendidikan pada mulanya adalah upaya mewariskan pengetahuan. tidak sekedar menjejalkan materi ajar atau memaksa mereka dapat menghafal data dan fakta. generasi selanjutnya. Taba (1962) mengemukakan tiga fungsi utama pendidikan. emosional. dan sikap. (a) pendidikan sebagai 23 . Bila dilihat secara antropologis dari dau pendapat ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas pendidikan yang dilakukan suatu masyarakat merupakan kegiatan kebudayaan dalam upaya untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan. Menurut Ansyar (1989:2) “pendidikan bukan saja dimaksudkan masyarakat untuk mewariskan kebudayaan kepada anak-anak generasi penerus mereka itu. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap. yakni. Searah dengan itu. masyarakat. dan sikap orang tua kepada anak-anak mereka. Kemudian ketiga pengertian pendidikan dinyatakan menjadikan murid memiliki kekuatan spritual keagamaan. 1989). serta keterampilan yang diperlukan dirinya. keterampilan. melainkan juga dilakukan oleh generasi yang lebih tua kepada generasi muda dalam sebuah komunitas melalui interaksi keseharian. akhlak mulia. tetapi juga merupakan suatau cara untuk mentransformasikan kebudayaan masyarakat itu”. keterampilan. bangsa dan negara. kepribadian. Transformasi kebudayaan itu tidak saja harus dari orang tua biologis kepada anaknya akan tetapi bisa dari orang yang telah mengetahui. kecerdasan.

Menurut Tilaar (2004:54) bahwa “pendidikan tidak dibatasi sebagai shooling. Berangkat dari tiga fungsi yang dikemukakan oleh Taba. dan (c) pendidikan sebagai alat bagi pengembangan individual anak. Sebagaimana dinyatakan oleh Surjadi (1994) bahwa umumnya masyarakat kurang menghargai pendidikan masyarakat yang diselenggarakan secara lokal. dan melukis. Selain itu ada juga orang tua yang menggugat penyelenggaraan pendidikan persekolahan dengan mendatangkan 24 . Pada akhirnya setiap individu murid yang telah belajar mengukir dapat berguna bagi diri dan masyarakatnya. Orang tua mengikutkan anak-anaknya pada lembaga-lembaga baik untuk tambahan materi ajar persekolahan seperti matematatika. dan bahasa Inggris maupun non materi ajar seperti kursus piano. Dalam mewariskan kemampuan seni ukir terus dilakukan transformasi mengukir dari guru pada muridnya baik yang berkaitan dengan keterampilan maupun falsafah seni ukir. maka kegiatan yang terdapat di sanggar seni ukir tidak lepas dari kegiatan pendidikan. tari. atau dengan kata lain merupakan sebahagian dari kebudayaan”. hal ini tidak lain karena ketergantungan masyarakat pada lembaga pendidikan sekolah atau pendidikan formal masih tinggi. Artinya bahwa terdapat fungsi pemeliharaan kebudayaan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek di mana seni ukir masih ajeg sampai sekarang. Orang tua dan peserta didik tidak puas dan memadai saja pendidikan persekolahan. Namun tingkat ketergantungan sebahagian besar masyarakat Indonesia dengan persekolahan masih tinggi. (b) pendidikan sebagai alat bagi usaha transformasi kebudayaan. sebab pendidikan ternyata tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup masyarakat. fisika. hal ini dapat dilihat bahwa ada kesadaran masyarakat untuk mendapat pendidikan yang lebih baik dan bermutu dari hari ke hari. Pernyataan Surjadi ini tidak sepenuhnya benar.pemelihara dan penerus kebudayaan.

proses penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir seperti di Pandai Sikek termasuk pada bentuk pendidikan nonformal. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya memiliki suatu sistem yang terlembagakan. 2009). learning society. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pendidikan nonformal seperti mass education. Undang-Undang No.guru atau pendidik ke rumah seperti kasus home schooling. Memperhatikan Undang-Undang Sisdiknas ini maka yang termasuk pada pendidikan formal atau juga dinamakan pendidikan persekolahan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai pada pendidikan tinggi baik yang negeri maupun swasta. Untuk pendidikan nonformal di Indonesia berbentuk kursuskursus singkat (non-ijazah) dan pelatihan-pelatihan. Sedangkan pendidikan informal disebut pendidikan sepanjang hayat yang tidak bisa dipisahkan dengan sistem pendidikan formal dan nonformal. lifelong education. melalui kurikulum. dan sumber belajar. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa ada tiga jalur pendidikan yakni jalur pendidikan formal. Pendidikan nonformal seperti kursus menjahit dan kursus montir juga diminati masyarakat. 2009). Menurut Hamojoyo (1973:23) “pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontiniu di luar sistem persekolahan. social education (Mustofa Kamil. (Mustofa Kamil. termasuk belajar mengukir. yang didalamnya terkandung makna bahwa setiap pengembangan pendidikan nonformal perlu perencanaan program yang matang. nonformal. baik yang berbasis agama maupun umum. informal. Dengan demikian. out-of-school education. … untuk membimbing individu. prasarana. adult educaton. kelompok dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial guna meningkatkan taraf hidup di 25 . isi program. sarana. sasaran didik.

Berdasarkan pendapat ini maka kegiatan-kegiatan yang terorganisir dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peserta didik seperti sanggar seni ukir di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. Kurikulum pendidikan nonformal bersifat fleksibel memperhitungkan kondisi daerah (masyarakat). tampak bermacam-macam model pendidikan akan tetapi hakikatnya satu. dan prasarana untuk mewujudkan kesejahteraan hidup baik materi. sosial dan mental peserta didik. isi bersifat individual/keluaran. maka ada beberapa tujuan pendidikan nonformal yang searah dengan kegiatan sanggar seni ukir.bidang materi. Bila dilihat dari segi bentuk dan karakternya. Kemudian kepada murid diberikan kepercayaan untuk dapat kontrol diri sendiri guna membangun diri. Ketiga perlakuan terhadap murid bersifat individual walaupun penyelenggaraan dalam suatu ruangan. Menurut Mustofa Kamil (2009) tujuan dari pendidikan nonformal bersifat jangka pendek dan spesifik bukan asas kepercayaan. Kedua bidang ilmu yang diajarkan punya spesifik yaitu seni ukir lebih khusus seni ukir Minangkabau. sistem rekrutmen siswa menentukan syarat masuk. artinya mempunyai kurikulum. Menurut Prayitno (2008:1) “Pendidikan itu 26 . Pendapat ini dapat dipakai untuk melihat sejauh mana kelembagaan dan perencanaan penyelenggaraan pendidikan pada sanggar tradisional seni ukir di Pandai Sikek sebagai sebuah intitusi pendidikan. sosial dan mental dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial”. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal penyelenggaraannya terlembaga dalam sebuah sistem yang terencana. Pertama waktu penyelenggaraan bersifat jangka pendek artinya pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak sama dengan sekolah formal (tiga tahun). kontrol bersifat membangun diri/demokratis. waktunya relatif singkat/berulang/paruh waktu. Bila merujuk pendapat ini. sarana.

Agar manusia cenderung berkembang ke arah perilaku yang positif atau baik. melakukan analisa secara jernih. maka diperlukan adanya proses pendidikan yang menyentuh terhadap hakikat kemanusiaan itu sendiri. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah dari manusia. Dalam hal pendidikan manusia sekaligus sebagai sumber. serta dengan tenang menghadapi setiap persoalan atau masalah. (Prayitno. maka manusia dalam konteks pendidikan merupakan unsur terpenting. Proses pendidikan memungkinkan potensi seseorang dapat dikembangkan secara optimal sehingga ia dapat berkembang secara utuh dan pada akhirnya dapat eksis di tengah masyarakat dan berhasil menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Dengan demikian manusia memiliki potensi untuk berkembang dan dikembangkan kepada hal-hal yang bersifat positif dan negatif. sarana.bermacam-macam akan tetapi pada hakikatnya satu. Ia dapat sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek pendidikan dan dapat berperan sebagai pelaksana pendidikan (pendidik/guru) dan sekaligus sebagai peserta didik (siswa). 27 . bagi pembentukan manusia yang dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik.. kebutuhan individu untuk hidup layak . yang jelas adalah pendidikan dapat memenuhi semaksimal mungkin keinginan masyarakat.. oleh manusia dan untuk manusia.. Memperhatikan pendapat Prayitno ini. dan pelaksana pendidikan itu sendiri.. Menurut Ansyar (1985) . dan secara matang merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya. 2008). Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk memuliakan harkat martabat manusia. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa salah satu ciri keberhasilan pendidikan dalam mematangkan pribadi adalah apabila seseorang tersebut dapat hidup layak dan baik. yaitu upaya untuk memuliakan kehidupan manusia”.

hewan. dan menentukan keberhasilan pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal. manusia. proses. dan malaikat. Sebegitu pentingnya manusia dalam keterlibatannya pada perencanaan. Kegiatan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal.Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu ada yang berbentuk formal. Manusia dalam hal ini peserta didik dan guru menjadi amat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. baik sebagai makhluk ciptaan tuhan. Kemulian dan kesempurnaan manusia tidak hanya pernyataan manusia saja akan tetapi banyak dijelaskan tuhan dalam firmaNya. padahal harkat dan martabat manusia itulah yang benar-benar membedakan manusia dengan makhlukmakhluk lain. jin. ia dapat sebagai objek dan subjek. di antaranya. a. Kami telah memuliakan anak cucu Adam. Belum banyak kajian yang menjangkau hakikat manusia secara utuh dalam pendidikan. maka perlu dibahas dan dikaji hakikat manusia. dan Kami angkat mereka di darat dan di laut. diri sendiri dan sebagai makhluk sosial. Kajian-kajian para pakar tentang manusia dalam kaitan dengan pendidikan pada umumnya masih berkisar mengenai manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya. Harkat dan Martabat Manusia Ada banyak makhluk yang diciptakan Tuhan seperti. Pemikiran itu belum menjelaskan secara penuh harkat martabat manusia. dan nonformal. informal. air. tumbuhtumbuhan. batu. setan. dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik 28 . Dan sungguh. api. Akan tetapi manusialah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Jika diurut dan dikemukakan sebenarnya sudah banyak kajian pakar tentang manusia dan pendidikan.

dan nafsu. untuk. dan pemilik Hak Azasi Manusia (HAM). makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia juga punya budi nurani yang menjadikan manusia punya rasa. Menurut Prayitno (2008) bahwa kebutuhan dan pengembangan manusia dari. diasah dan dimatangkan. paling tinggi derajatnya. terutama kemampuan kreativitas. Akan tetapi potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik perlu dikembangkan. Selain memandang sisi keduniaannya manusia juga merancang kehidupan akhiratnya. Mempedomani pendapat ini maka pernyataan bahwa ‘pendidikan memanusiakan manusia’ tidaklah tepat. kebebasan berpikir. hati. Berangkat dari pendapat di atas bahwa 29 . Keseluruhan pandangan ini menjadikan manusia memiliki harkat dan martabat. karena manusia tidak sekedar punya kebutuhan akan tetapi dengan akalnya mampu merancang kebutuhannya yang sekarang dan masa depan. Sehingga dengan bekal itu manusia mampu merancang sendiri segala kebutuhannya. (QS 95:4). dan cipta. Maksudnya pemusatan pengembangan potensi individu. penemuan sendiri. karsa. manusia dibekali Tuhan dengan akal. Sejalan dengan itu. dan oleh manusia sendiri. John Dewey dengan gerakan progresifnya mengingikan peranan yang lebih kreatif dari sekolah untuk pengembangan individu. khalifah di muka bumi. serta pengembangan potensi fisik dan mental (Ansyar. Prayitno (2008:19) menyatakan bahwa hakekat manusia adalah makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. 1989). sebab sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik (murid pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek) sebenarnya telah sempurna dan mulia.dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (QS 17: 70) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. Selain dari kesempurnaan fisik.

mensejahterakan dan membahagiakan. akan mencakup harkat dan martabat manusia. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa dari awal penciptaan manusia sampai dengan perjalanannya kembali ke hadapan sang pencipta. saling memberi dan saling menerima serta saling melindungi. Implementasi dari lima konsep dasar yang selalu melekat pada dirinya. yaitu bahwa manusia adalah (1) makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. (4) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kajian tentang hakikat manusia secara menyeluruh. Bekal kesempurnaan dan keindahannya diwujudkan melalui penampilan budaya dan peradaban yang terus berkembang. (2) makhluk yang paling tinggi derajatnya. Tujuan tersebut adalah kesempurnaaan manusia sesuai dengan 30 . Kekhalifahan diselenggarakan melalui penguasaan dan pengelolaan atas sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam alam yang nyaman dan tenteram. kelima butir konsep dasar harkat martabat manusia itu tetap melekat pada dirinya. maka manusia terus berusaha mengembangkan kehidupannya di atas bumi.pendidikan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek merupakan kegiatan pengembangan potensi diri murid. tujuan pendidikan pada dasarnya mengacu pada tujuan hidup manusia. Adanya ketinggian derajat ditampilkan melalui upaya menjaga kehormatan dan menolak hal-hal yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaannya. (5) pemilik hak-hak asasi manusia (Prayitno. Modal keimanan dan ketaqwaannya ditunaikan melalui peribadatan yang tulus dan ikhlas dalam mencapai redhaNya. Menurut Nasution (1995:49). 2008:19). Kreativitas murid-murid pada bidang seni diarahkan pada kegitan mengukir. (3) khalifah di muka bumi. Sedangkan modal hak asasi manusia dipenuhi melalui saling pengertian.

baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Berkaitan dengan pendidikan. learning to live together. Mukhtar (20001:7) menyatakan bahwa pembahasan tentang tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan tentang tujuan hidup manusia sesuai dengan hahikat kemanusiannnya. yaitu kehidupan yang mulia. Dimensi-dimensi itu adalah (1) dimensi kefitrahan. Hal ini sejalan dengan salah satu harapan PBB (UNESCO. (4) dimensi kesusilaan.harkat dan martabat serta ketinggian derajat yang dimilikinya. Dengan teraktualisasikan harkat dan martabatnya. (2) dimensi keindividualan. b. dan sebagai makhluk sosial. Dimensi itu dalam upaya pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya. maka hakikat manusia sangat perlu diketahui guna mencapai tujuan pendidikan. Dengan mempedomani dimensi ini maka pembelajaran pada sanggar seni ukir akan menjadi lebih baik sebab proses pendidikan didasari dengan pemahaman manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. 31 . manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Selajan dengan itu. Kemudian diyakini bahwa pendidikan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan agar manusia dapat memelihara kelanjutan hidupnya (survival). to live with others. dan (5) dimensi keberagamaan. sebagai diri sendiri. (3) dimensi kesosialan. Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan dimensi kemanusiaannya. 1996) bahwa pendidikan untuk semua. Menurut Prayitno (2008:21) dimensidimensi itu berkaitan dengan manusia sebagai hamba tuhan. bermartabat dan membahagiakan. Panca Daya Selain dari konsep dasar tentang harkat dan martabat kemanusian maka ada beberapa dimensi yang melekat pada manusia.

dan fungsi otak. untuk berkembang. fungsi kecerdasan. dan lebih berarti baik dunia maupun akhirat maka manusia juga dibekali dengan kekuatan atau daya pengembangan. Daya cipta bersangkut paut dengan kemampuan akal. dan/atau lingkungan. berbagai jenis pelayanan dan penampilan. Daya rasa mengacu kepada kekuatan perasaan atau emosi dan sering disebut sebagai unsur afektif. Produk-produk yang berupa barang-barang konsumsi. yaitu: (1) daya taqwa. (2) daya cipta. dengan penekanan lebih besar pada unsur-unsur kreativitas. Untuk memungkinkan perkembangan individu ke arah yang dimaksud itu. pikiran. lebih sempurna. manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan. baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. (3) daya karsa. (4) daya rasa. Hal-hal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk ke dalam daya rasa. Daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri. daya taqwa merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan dan Tuhan Yang Maha Esa. dan (5) daya karya. Daya karsa merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu secara dinamis bergerak dan satu posisi ke posisi lain. Kemampuan atau keinginan berbuat dan semangat (termasuk di dalamnya prakarsa) merupakan isi daya karsa. Kajian panca daya ini dapat dijelaskan bahwa. dari 32 . Daya karya juga melahirkan produk yang paling sederhana sampai yang paling canggih. ini seringkali disebut sebagai komponen kognitif pada diri individu.Menurut Prayitno (2008:26) guna merancang hidupnya yang lebih baik. produk keilmuan. untuk berubah dan keluar dan kondisi status quo. yang disebut panca daya. produk-produk teknologi dan seni. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya. Daya cipta. orang lain.

dimensi rasional. Menurut Waras Kamdi (2008) dalam paradigma pendidikan Indonesia manusia tidak dipandang sebagai alat produksi tetapi harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh. Sejalan dengan itu Prayitno (2008) menyatakan bahwa panca daya itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan. Mempedomani ini betapa pentingnya memahami hakikat panca daya terutama dalam penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Kegiatan mengukir di sanggar tradisional di Pandai Sikek merupakan salah satu bentuk kegiatan daya karya manusia. termasuk dalam hal ini produk seni ukir. Dalam kajian dewasa ini. Manusia yang utuh itu sendiri dalam paradigma baru pendidikan Indonesia adalah yang berfikir kreatif. dan intelegensi instrumental. Dapat disimpulkan bahwa. Dengan demikian pendidikan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek perlu memperhatikan harkat dan martabat manusia yang mengandung lima dimensi kemanusiaan dan pancadaya. karena merupakan modal dasar kemanusiaan yang sudah dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan bahkan sejak ia masih berada dalam rahim ibunya. baik untuk kebutuhan pribadi maupun yang komersial. Modal dasar ini yang diarahkan dalam pembetukan manusia yang lebih baik dan 33 . panca daya sering dimanifestasikan sebagai kemampuan dasar yang disebut intelegensi spiritual. Menurut Kavlan (2000) dengan daya karya manusia menghasilkan berbagai produk baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.yang tradisional sampai yang modern. baik untuk komersil maupun untuk pewarisan nilai budaya. dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakat (Tilaar. daya-daya itu sangat diperlukan manusia dalam menghasilkan berbagai produk baik yang modern maupun yang tradisional. 2000:21). intelegensi emosional. yang mandiri.

Paradigma pendidikan (formal. hal ini terlihat dari definisi belajar yang diungkapkannya. termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. (2) belajar sebagai pemerolehan pengetahuan.. Perintah Iqra’ (baca!) dalam konsep Islam bermakna belajar. Meyer (1999) melihat belajar dan tiga pandangan yakni (1) belajar sebagai penguatan respon. Sejauh mana komponenkomponen ini diterapkan akan di lihat pada objek penelitian. dan informal) ke depan haruslah dialihkan pada pemuliaan harkat martabat manusia yang dikemukakan. Manusia seutuhnya adalah sosok individu yang harkat dan martabatnya terwujudkan secara penuh melalui pengembangan hakikat manusia dengan kelima dimensi kemanusiaannya melalui pengaktifan panca daya secara optimal. karena tidak ada pendidikan tanpa belajar. Gage (1984) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Hakikat Belajar Pembahasan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar. Menurut Aunurrahman (2009) belajar merupakan kegiatan penting setiap orang. 2. dan (3) belajar sebagai konstruksi pengetahuan. Pandangan para ahli tentang konsep belajar cukup beragam.niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orangorang yang beriman dan berilmu”. Ketiga paradigma ini adalah paradigma 34 . Dari hasil belajar manusia akan berilmu dan ilmu yang dibarengi dengan iman menjadikan derajat kehidupannya menjadi lebih tinggi. Bila dicermati pandangan Meyer ini.lebih utuh. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Mujadalah ayat 11: “. tanpak bahwa ada 3 paradigma bagaimana konsep belajar diformulasikan.. nonformal.. artinya untuk mendapatkan dan memahami suatu makna hanya didapat dengan cara belajar.

dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk mempertahankan kehidupannya dalam persaingan antar bangsa. Memperhatikan hal ini maka proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dan meneksploitasinya sampai mereka memiliki keterampilan sendiri. dan konstruktivistik. informasi dan faktor-faktor lain. (Aunurrahman. Proses pembelajaran itu sendiri harus berorientasi kepada pengembangan segenap dimensi kemanusiaan. 2009). Menurut pandangan behavionistik belajar adalah perubahan perilaku peserta didik. pengolahan informasi.behavioristik. memilih. retensi. Oleh karena belajar manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lain. Konsepsi utama teori ini adalah stimulus dan respons (S-R) sebagai dasar adanya perubahan perilaku. Menurut Piaget (1971) pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir. Orang dikatakan belajar apabila ada perubahan perilaku yang diakibatkan dan dampak stimulus dan respon sehingga menjadi suatu kebiasaan (Schuman. 1996). 35 . Pandangan kognitivisme belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan. Sedangkan paradigma konstruktivisme melihat pengetahuan tidak terlepas dari proses pembentukan (konstruksi) yang terus menurus berkembang dan berubah. kognitivistik. Bila dikaitkan dengan pembelajaran yang terjadi di sanggar ukir maka ketiga paradigma ini menjadi dasar bagi pembentukan peserta didik. karena belajar juga manusia dapat mengeksploitasi. Menurut Muhibbin (2005) belajar amat penting artinya bagi perkembangan dan kehidupan manusia. akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman baru. stimulus yang diterima disesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman sebelumnya.

akan terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu. Menurut Gagne cara berpikir seseorang tergantung pada keterampilan apa yang telah dimilikinya. Teori belajar yang dianggap pas untuk ini adalah perpaduan antara behaviorisme dan kognitivisme. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal tentu tuntutan terhadap tugas guru/ pendidik menjadi amat penting. Seorang murid yang belajar dalam situasi baik dan kondisi yang disiapkan akan mendapat hasil maksimal. Berdasarkan pendapat ini maka perkembangan berpikir kompleks dan baik tidak akan mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa proses belajar. dalam membahas model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek akan bermanfaat sekali paradigma-paradigma teori belajar yang dikemukan di atas. kondisi eksternal yaitu situasi belajar yang secara sengaja yang diatur oleh pendidik. dan keterampilan serta hirarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas.Menurut Muhibbin (2005) bahwa tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman.L. Sebaliknya pembelajaran yang tidak terencana sulit mendapatkan hasil maksimal. Jadi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa belajar tidak suatu yang terjadi secara alamiah. Kondisi itu menurut Aunurrahman (2009) adalah kondisi internal menyangkut kesiapan peserta didik. Tugas guru adalah menyelenggarakan proses 36 . Artinya perkembangan murid akan didapat dari pembelajaran yang terencana dengan baik. Dalam hal ini (Howe. Thorndike) bahwa jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang ini tidak akan berguna bagi generasi yang akan datang. Dengan demikian kualitas perkembangan manusia amat tergantung dari apa dan bagaimana ia belajar. 1980) menjelaskan pendapat pakar teori S-R Bond (E.

selain interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. dan dinamis. Hubungan yang harmonis dan kondusif antara guru dengan murid memungkinkan pengembangan potensi murid lebih tinggi. maka guru harus dapat menerima siswa secara utuh (phisik dan psikis) dalam menjalin intraksi edukatif dalam proses pembelajaran. Peran Guru Menurut Imam Barnadib (1996). Sejauh mana pemahaman seorang guru terhadap tujuan pendidikan akan berdampak pada penampilannya dalam mengajar. maka sebenarnya tujuan pendidikan syarat dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. guru memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi peserta didik agar mampu kreatif. Pemahaman guru terhadap hakikat manusia sebagai peserta didik menjadi penting dalam proses pembelajaran. Interaksi edukatif antara guru dengan murid akan tejalin dengan harmonis apabila pemahaman guru terhadap tujuan pendidikan baik. karena tidak terdapat pada kegiatan lain. Ada dua kandungan pokok yang terdapat pada hubungan pendidikan itu. Hal ini sesuai dengan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesi. Berdasarkan pendapat Imam Barnabib.pembelajaran agar pada diri peserta didik berkembang suasana belajar. Agar potensinya dapat berkembang secara serasi dan maksimal. terutama dalam perlakuannya terhadap peserta didik (murid). sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan etika pendidikan yang menyatakan: bahwa tanggungjawab puncak pendidik berada di dalam proses pembelajaran. a. oleh karena itu peran seorang guru menjadi sangat penting. Sehubungan dengan komponen-komponen pendidikan tersebut Prayitno (2005 : 15) mengemukakan bahwa interaksi antar komponen pendidikan tersebut terjadi dalam suatu hubungan yang unik. Guru tidak saja 37 . yakni high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan).

mengembangkan keingintahuan. guru juga bertugas untuk memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga tujuan belajar akan tercapai dengan maksimal. Hal ini antara lain dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip belajar yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar dengan melakukan dan mengembangkan kemampuan sosial. karena potensi masing-masing 38 . potensi. mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. keunikannya.berperan sebagai pengajar dalam proses transfer materi. mengembangkan kreativitas dan mengembangkan kerjasama. Menurut Nana Sujana (2002) bahwa dalam proses pembelajaran selain tugasnya sebagai pendidik. Menurut Suke Silverius (2003). Berangkat dari pendapat di atas maka seorang guru harus benar-benar memperhatikan potensi murid dalam proses pembelajaran. perbedaannya. bakat dan potensi yang dilikinya secara lebih optimal. Minat dan bakat murid yang belajar pada sanggar seni ukir mestinya mampu dikembangkan guna mencapai sasaran. dan latarbelakangnya. Peters (1981) mengemukakan bahwa tugas dan tanggungjawab guru antara lain adalah memberikan bimbingan kepada peserta didik melalui penjabaran kurikulum sehingga maknanya dapat mempengaruhi dan terinternalisasikan dalam diri peserta didik dalam rangka pengembangan minat. Dengan demikian tugas mendidik akan terlaksana dengan baik apabila guru benar-benar memahami peserta didik. imajinasi. akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing. dan fitrah bertuhan. Mempedomani pendapat dua pakar ini maka seorang guru seni ukir selayaknya harus memahami potensi yang ada pada muridnya. minat dan bakatnya. kegiatan belajar mengajar harus berorientasi kepada pengembangan dimensi-dimensi kemanusian peserta didik.

ada yang lebih baik dalam matematik. Disadari bahwa proses pembelajaran itu sendiri merupakan kegiatan yang terencana dengan sadar oleh guru guna mencapai tujuan pendidikan. Pilar kewibawaan meliputi (1) pengakuan dan penerimaan. Menurut Prayitno (2008) motto pendidikan nasional yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro ing ngarso sung tuludo. (3) lingkungan pembelajaran. dan panca daya. dimensi kemanusiaan. Dalyono. Menurut M. dan (5) penilaian hasil pembelajaran. Ada murid yang mempunyai potensi dalam bidang olah raga. Perencanaan yang sadar bila seorang guru betul-betul memahami fungsinya sebagai sumber belajar dan sekaligus juga pendidik. (3 alat bantu pembelajaran. dan (5) keteladanan. (2) pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran. tut wuri handayani menjadi jiwa pilar kewibawaan. Untuk itu seorang guru harus memahami hakikat manusia. dimensi kemanusiaan. ada yang baik dalam bahasa. (3) penguatan.murid tidak sama. Maka di samping memahami hakikat kemanusiaan (peserta didik). Menurut Prayitno (2008). (4) tindakan tegas yang mendidik. (2) kasih sayang dan kelembutan. (1996) guru dituntut untuk lebih berperan dalam proses pembelajaran. ing madya mangun karso. proses pembelajaran harus didukung dengan pilar kewibawaan dan kewiyataan. dan ada yang berpotensi dalam seni. maka seorang guru harus menerapkan prinsip high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). Kecepatan untuk menguasai materi ajar antara satu dengan yang lainnya juga berbeda. Perbedaan itu merupakan fitrah manusia dan itulah dimensi kemanusian. Sedangkan pilar kewiyataan yang merupakan perangkat praktik pembelajaran adalah (1) materi pembelajaran yang diturunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya. Mempedomani berbagai pendapat di atas ternyata peran seorang guru dalam proses pembelajaran begitu penting. ia 39 . dan pancadaya.

b. Hal itu tidak saja pendidik pada lembaga formal termasuk pendidikan nonformal seperti di sanggar ukir. salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum. tetapi sebahagian besar setuju . Hal mana setiap guru dan murid sama-sama menjadikan kurikulum sebagai pedoman menuju tujuan yang akan dicapai. baik oleh pengelola maupun penyelenggara. individu.. Menurut Mulyasa (2006). Arti secara harfiah dari kurikulum itu sendiri yang diartikan sebagai “lapangan pertandingan”. Berangkat dari pendapat Ansyar maka setiap orang dapat memberi makna dan maksud berbeda tentang kurikulum. atau gelar kesarjanaan (Zais. Walau terjadi perbedaan pendapat tentang kurikulum namun semunya bersepakat bahwa kurikulum tidak terlepas dari kegiatan pendidikan.. ijazah. Sedangkan falsafah Minangkabau alam takambang jadi guru menjiwai pilar kewiyaaan. masyarakat dan kebudayaan. 1976: 6)... serta teori-teori belajar adalah kekuatan-kekuatan yang 40 . ia mengarah pada pembelajaran dengan teknologi yang tinggi (high tech). Kurikulum juga diartikan berbeda-beda oleh para penulis buku pendidikan. Dengan demikian sebagai pemegang peran penting dalam proses pembelajaran maka kedua pilar ini mesti dikuasai seorang guru. karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan. Kurikulum Menurut Ansyar (1989) kurikulum diartikan berbeda-beda oleh beberapa golongan orang atau masyarakat.kait berkait untuk menjangkau (to touch) kedirian peserta didik. sebagai “arena” dimana pelajar ‘bertanding’ untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai ‘garis finis’ berupa diploma. Ansyar (1989:29) bahwa walau terdapat ketidaksepahaman para ahli mengenai apa yang dimaksud dengan dasar-dasar kurikulum.

Ansyar (1989) memberikan beberapa konsepsi dasar tentang kurikulum. sebagai reproduksi kultural. melainkan seluruh penyelenggaraan pendidikan. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa setiap pengelola dan penyelenggaraan pendidikan mesti memiliki kurikulum oleh karena kurikulum merupakan acuan. sebagai hasil belajar. Konsep dasar yang lebih mendekati maksud kurikulum dalam penelitian ini adalah kurikulum sebagai kegiatan berencana. dan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. yakni sebagai program studi.berpengaruh besar terhadap konsep dan aplikasi kurikulum. 41 . Dengan demikian pendidikan yang berlangsung pada sanggar ukir tradisional di Pandai Sikek diyakini memiliki kurikulum. Disisi lain para ahli melihat kurikulum bukan sekedar perangkat mata pelajaran melainkan sebagai pengalaman belajar. Konsepsi ini memberikan pemahaman bahwa kurikulum dalam pelaksanaan pendidikan dapat dimaknai berbeda namun yang terpenting adalah tidak mungkin sebuah penyelenggaraan pendidikan tanpa kurikulum. Menurut Tyler (1949). Konsepsi dasar yang dikemukan Ansyar tentang kurikulum memberikan gambaran bahwa kegiatan apapun yang sekaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran memerlukan kurikulum. sebagai sistem produksi. tetapi kurikulumnya tentu tidak seperti sekolah formal yang telah tersusun dan terstruktur. Dari banyak difinisi tentang kurikulum. sebagai konten. sebagai reproduksi kultural. pengalaman belajar adalah pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan intraksi mereka dengan konten dan kegiatan belajar. dan sebagai pengalaman belajar. sebagai kegiatan berencana. arahan. Mulyasa sendiri tidak membatasi hanya pendidikan formal saja yang harus memiliki kurikulum.

kemudian dapat 42 . Hal ini sejalan dengan Macdonald (1965) yang mendifinisikan kurikulum sebagai suatu rencana pekerjaan. yaitu rencana yang menuntun pengajran. sikap. sekolah didirikan agar pelajar atau anak didik mendalami pengetahuan.Menurut Ansyar (1989) sebagai kegiatan berencana maka kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. maka menurut Ansyar (1989: 15) banyak orang menganggap sekolah adalah bagian dari kebudayaan. dan nilainilai yang dianut orang tua mereka. Berkaitan dengan pendapat di atas maka ada kurikulum pada setiap sanggar ukir di Pandai Sikek. Konsep dasar ke dua adalah kurikulum sebagai reproduksi kultural. Taba (1962) menyatakan bahwa kurikulum merupakan rencana untuk membelajarkan pelajar. nilai-nilai. namun kegiatan belajar dilakukan sesuai dengan perencanaan guru. Dari pendapat ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum segala perencanaan bahan-bahan atau materi ajar yang akan diajarkan guru dalam proses pembelajaran termasuk ke dalamnya tentang urutan. metode dan teknik penyajian. sikap. serta teknikteknik yang diperlukan anak untuk hidup layak di masyarakat. Perencanan itu meliputi persiapan materi sesuai dengan tahapan belajar masing-masing murid pada sanggar ukir tersebut. Menurut Taba (1962) bahwa sekolah didirikan agar dapat mengajarkan pada anak-anak ilmu pengetahuan. Walaupun perencanaan itu tidak merupakan dokumen tertulis seperti yang terdapat di sekolah formal. Dari perencanaan itu diharapkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan sasaran. Jadi memperhatikan proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek terdapat perencanaan-perencanaan yang dilakukan guru sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai sasaran.

dan segi yang luas (semua pengalaman yang diperoleh di sekolah atau di luar sekolah). Menurut Ansyar (1989) ada dua kelompok yang melihat kurikulum sebagai pengalaman belajar. Kurikulum pada sanggar seni ukir di Pandai 43 . Hal ini berkaitan dengan bagian-bagian tertentu dalam pembelajaran seni ukir tidak senantiasa diperoleh dari aspek-aspek yang direncanakan guru. Kepada generasi muda diajarkan keterampilan dan nilai-nilai seni ukir yang merupakan warisan budaya masyarakat setempat. seperti seorang murid yang sebelumnya tidak bisa mengukir menjadi menguasai cara mengukir dan mampu menciptakan motif-motif baru. Berdasarkan pendapat ini dapat dilihat bahwa kegiatan transformasi seni ukir yang terjadi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan kegiatan reproduksi kultural. yakni konsepsi kurikulum dari segi yang sempit (sebagai suatu pelajaran yang diajarkan). Perubahan itu merupakan hasil bimbingan guru yang terencana. Maka dalam hal ini Foshay (1969) mengkonsepsikan kurikulum yang terdiri dari semua pengalaman belajar di bawah pimpinan guru. Memperhatikan pendapat ini maka setiap apa saja yang memberi pengaruh dari proses belajar pada murid merupakan implikasi dari kurikulum. Zais (1976:8) yakin bahwa semua pengalaman yang sesungguhnya diperoleh pelajar dari penerapan kurikulum sekolah merupakan data yang amat berharga bagi penentuan keberhasilan dan efektifitas kurikulum yang direncanakan. Kelompok yang mengkonsepsikan secara luas sering menyebutnya dengan “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). Bagian ketiga adalah kurikulum sebagai pengalaman belajar.meneruskan dan bertanggung jawab terhadap pengemabangan kebudayaan masyarakat itu.

sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya adalah: (1) pendekatan pembelajaran. strategi.psb-psma. (2) strategi pembelajaran. (http://www. Metode Pembelajaran Ada beberapa istilah yang dalam proses pembelajaran hampir sama artinya. isi yang baik. yang 44 . Jadi pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. menentukan target. kurikulum tersebut dapat mempengaruhi pembentukan pengalaman belajar dan pendidikan. Menurut Abdul Azis Wahab (2008) di Indonesia para guru dan pendidik tidak membedakan pengertian metode.Sikek juga mempunyai dampak nyata tetapi tidak direncanakan seperti kemampuan berwirausaha. dan (5) taktik pembelajaran. diambil 13 Februari 2010). sampai pada prosedur evaluasi untuk mendapatkan aktifitas pembelajaran yang bermakna. Aktifitas belajar yang baik adalah yang melibatkan siswa untuk belajar sendiri melalui pengalaman. Menurut Zais (1976) inti dari kurikulum adalah terselenggaranya aktifitas pembelajaran yang bermakna. 1962). prosedur evaluasi yang runtun (Taba. c. (3) metode pembelajaran. pemahaman adat dan falsafah. dan teknik mengajar walaupun secara gradual ada perbedaan di antara ketiganya karena itu sering digunakan secara interchangable. Menurut Akhmad Sudrajat (2009) istilah yang memiliki kemiripan makna. target yang jelas. bahkan ada yang sulit membedakannya. bersosialisasi. Sedangkan untuk mengantarkan siswa pada pengalaman belajar dapat dilakukan dengan memberikan perhatian yang baik. (4) teknik pembelajaran.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran. Jadi kurikulum yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah sejauh mana guru memberikan perhatian.

Abdul Azis Wahab (2009) menyatakan metode yang cocok untuk mengajar IPS/SS adalah metode ceramah. (6) pengalaman lapangan. terdapat dua jenis pendekatan pembelajaran. menginsiprasi. (9) simposium. (5) laboratorium. (3) diskusi. (8) debat. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Oemar Hamalik (2008) menyatakan strategi pengajaran merupakan penterjemahan filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yang harus ditempuh dalam situasi-situasi khusus atau dalam keadaan tertentu yang spesifik. Dapat disimpulkan bahwa materi yang telah disiapkan guru disampaikan atau diangkat melalui metode pembelajaran. Wina Senjaya. (2008) menyatakan strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Jadi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. (4) simulasi.merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Dengan kata lain. Dilihat dari pendekatannya. metode 45 . diantaranya: (1) ceramah. (2) demonstrasi. strategi merupakan a plan of operation achieving something sedangkan metode adalah a way in achieving something. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. menguatkan. Akhmad Sudrajat (2009) menyatakan terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. di dalamnya mewadahi. (7) brainstorming.

untuk memperbaiki program belajar-mengajar. yang bertujuan antara lain untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa. tidak terkecuali pembelajaran yang berlangsung pada sanggar seni ukir. dan metode simulasi. dan untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan.inkuiri menemukan sendiri dan pemecahan masalah. metode diskusi.. Jadi dari pendapat ini ternyata evaluasi pendidikan merupakan suatu “event” yang ganda. evaluasi menjangkau lebih jauh yaitu untuk mengetahui apa yang terjadi dalam ruang-ruang kelas. Satu sisi merupakan kegiatan untuk 46 . dan psikomotor. d. sikap. Metode apa saja yang digunakan guru dan kapan metode itu diterapkan akan dicermati pada saat penelitian. Menurut Muhibin Syah (2005) evaluasi adalah penilaian terhadap keberhasilan program belajar siswa. Evaluasi Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009) evaluasi menempati kedudukan penting dan bahagian yang utuh dari tahapan dan proses pembelajaran. Diyakani pada proses pembelajaran terdapat berbagai metode yang digunakan guru. metode tanya jawab. Ansyar (1989) . Lebih lanjut dijelaskan Ansyar bahwa evaluasi untuk mengetahui keberhasilan belajar. Jadi evaluasi sangat diperlukan dalam setiap proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek akan digunakan berbagai metode. dari proses pembelajaran diharapkan terjadinya perubahan kognitif. Pemakaian metode guna mengimplementasikan materi yang telah disiapkan guru seni ukir.. Sejauhmana materi-materi yang telah disusun guru seni ukir dapat dikuasai muridnya tentu dilakukan evaluasi sebelum ia memberikan materi lanjutan dan sebelum ia menyatakan muridnya telah menjadi tukang ukir.

Evaluasi kenaikan untuk menseleksi apakah sudah perlu materi lanjutan atau masih tetap materi yang sama. evaluasi kenaikan juga dapat dipakai untuk menyatakan murid telah lulus atau sebagai tukang ukir. Menurut Nurkancana (1986). Evaluasi hanya mungkin akan tercapai apabila dilakukan dengan mengikuti prosedur dan tehnik yang tepat dan benar melalui bermacam jenis evaluasi. Suharsimi Arikunto (2005). Menurut Dimyati (2009) ada evaluasi hasil belajar dan ada evaluasi pembelajran. evaluasi input. Berdasarkan pendapat ini maka paling tidak fungsi evaluasi diagnostik dan kenaikan perlu diterapkan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. untuk seleksi. evaluasi hasil belajar menekankan kepada perolehan informasi tentang pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Evaluasi diagnostik berfungsi untuk mendiagnosa kelemahan dan keunggulan murid guna meningkatkan hasil belajar murid. dan untuk penempatan. Untuk mendapat informasi yang tepat tentang pencapaian tujuan pengajran maka perlu seorang guru memahami tentang teknik dan prosedur evaluasi. Menurut Suharsimi (2005) evaluasi hasil belajar dapat bermanfaat bagi peserta didik. untuk kenaikan kelas. Muhibbin Syah (2005) menyatakan bahwa 47 . seperti evaluasi konteks. Sedangkan evaluasi pembelajaran guna memperoleh keefektifan proses pembelajaran. bagi guru maupun bagi sekolah.mengendalikan mutu pendidikan dan dari sisi lain merupakan upaya untuk pengumpulan informasi tentang pencapaian murid terhadap meteri yang disampaikan pendidik. evaluasi proses dan evaluasi produk. dan Dimyati (2009) fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk diagnostik dan pengembangan. Menurut Imam (2005) evaluasi hasil belajar adalah memberi nilai atau makna tentang kualitas sesuatu yang dipelajari.

untuk memahami tingkat hasil peserta didik dalam belajar. Muri (2005) tes hasil belajar (achievement test) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan guru disekolah atau dosen di perguruan tinggi. Tes prestasi belajar dapat berupa tes baku 48 . Jadi. mungkin pula menggunakan tes objektif yang telah distandarisasikan untuk mengukur hasil belajar peserta didiknya. evaluasi hasil belajar adalah proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi (data) yang telah diperoleh melaui tes pengukuran hasil belajar. mengaplikasikan sesuatu. Seorang guru atau dosen. Menurut A. Sedangkan guru/dosen yang lain menggunakan tes perbuatan. tetapi mencakup aspek yang lebih luas yaitu. menciptakan sesuatu atau melahirkan pikiran secara tertulis. Oleh karena itu tes hasil belajar mungkin saja mengukur kecepatan lari.evaluasi hasil belajar bukanlah sekedar pemberian angka yang berkaitan dengan satu aspek semata. dan psikomotor (ranah karsa). Tes ini dapat disusun dalam bermacam bentuk namun pilihan bentuk yang tepat adalah sesuai dengan tujuan kegiatan pendidkan/pembelajaran yang telah ditetapkan. afektif (ranah rasa). Sedangkan hasil belajar adalah suatu kecakapan nyata yang dapat diukur secara langsung melalui tes. kognitif (ranah cipta). rasa dan karsa. kemampuan mengingat. menilai. baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. pemahaman. Memperhatikan pendapat ini maka evaluasi hasil belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek sangatlah berarti sebab evalusi mencakup pada tiga ranah cipta. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi (penilaian) merupakan proses untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui pengukuran berdasarkan instrumen tes maupun non tes.

Jadi tes hasil belajar dirancang untuk mengukur apa yang telah dipelajari dalam bidang studi yang bersifat formal. gerakan/respon terbiasa. tengah caturwulan. Menurut A. partisipasi. Jadi hasil belajar terhadap sesuatu yang sudah dipelajari akan memberikan gambaran tentang pemahaman dan kesukaran atau kekuatan dan kelemahan sesorang dalam bidang tertentu. afektif dan psikomotor. mekanisme. pemahaman. 2005 . melainkan dapat dilakukan pada tengah semester. Oleh karena itu tes hasil belajar dapat berupa tes hasil belajar yang telah distandarisasikan (standardized achievenment test). aplikasi. tes objektif dan tes perbuatan maupun dengan inventory lainnya. pembentukan pola/karakterisasi nilai. dan (3) psikomotor yang meliputi : persepsi kesiapan (set).Muri (2005) hasil belajar merujuk kepada tingkat hasil peserta didik dalam belajar. adaptasi/penyesuaian pola gerakan. baik berupa tes esai. maupun portofolio yang dikumpulkan. tetapi juga tes formatif. Hasil itu tercermin dalam berbagai aspek antara lain (1) kognitif yang meliputi : mengingat. Dengan 49 . Karena itu evaluasi hasil belajar telah dimulai sejak seseorang mulai belajar. evaluasi dan kreatifitas. dan originalitas. dan tes buatan guru (teacher or locally made test).(standardized test) dan dapat juga dengan tes buatan guru (teacher made test). pengorganisasian nilai (organization).Muri. evaluasi tugas-tugas yang diberikan. Jadi hasil evaluasi bukanlah semata-mata pada akhir semester atau caturwulan maupun naik kelas. mencakup aspek kognitif. 2005). (2) afektif yang meliputi : penerimaan. diagnostik dan penempatan kalau dilihat dari segi fungsinya (A. analisis. 1) Hakikat Evaluasi Hasil Belajar Dari gambaran di atas tampak dengan jelas bahwa tes hasil belajar bukanlah sematamata tes yang dilakukan pada akhir semester/tahun ajaran (tes sumatif). respon terbimbing. Suharsimi. evaluasi/penentuan sikap (valuing).

Guru merancang suatu tes hasil belajar terhadap meteri yang telah lalu. 2) Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar Untuk dapat memberikan gambaran yang maksimmal tentang hasil kegiatan pembelajaran. a) Prinsip-prinsip Umum Evaluasi Belajar Menurut A. baik ditinjau dari komponen evaluasi itu sendiri maupun dari prinsip-prinsip evaluasi yang dipedomani. penilaian berdasarkan data yang mencerminankan kemampuan yang diukur. penilaian berdasarkan pada prosedur dan kreteria yang jelas tanpa dipengaruhi subjektivitas penilai. Walaupun tidak dapat dipungkiri untuk keperluan ini dibutuhkan tes jenis lain seperti “aptitude test” namun tes hasil tidak dapat diabaikan. (d) evaluasi yang baik berpijak pada tujuan yang jelas. (f) evaluasi yang baik hendaknya dilakukan oleh suatu tim. penilaian tidak menguntungkan atau 50 . maka dapat pula dilakukan tes hasil belajar. perlu dilakukan asesmen yang benar. (b) evaluasi hendaklah kontinyu. (c) adil. Prinsip penilaian menurut Zaim (2009) adalah (a) sahih. melainkan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan.demikian apabila guru ingin menempatkan peserta didik dalam kelompok belajar maka guru terlebih dahulu mengetahui seberapa jauhkah hasil peserta didik dalam bidang yang akan ditempatinya itu. (c) evaluasi yang baik bersifat objektif.Muri (2005) beberapa prinsip umum evaluasi belajar yang baik adalah (a) evaluasi yang baik bersifat komprehensif. (b) objektif. Adapun prinsip-prinsip eavaluasi hasil belajar bersifat umum dan khusus. Apabila guru telah menyelesaikan suatu kegiatan atau satuan pelajaran dan ingin mengatahui tentang tingkat hasil peserta didik dan kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. dan (g) evaluasi bukanlah tujuan. (e) evaluasi yang baik menggunakan alat ukur yang ganda dan sahih.

Apakah ada alat evaluasi yang sahih. mencakup semua aspek kompetensi. Jadi berdasarkan pendapat ini maka evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek hendaklah sesuai dengan fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran (penempatan. Menurut Asmawi & Noehi (1995) dan A. dan (i) akuntabel. 51 . sistematis. (e) terbuka. formatif dan sumatif). penilaian berdasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. dan (d) tes hasil belajar hendaklah seterandal mungkin. penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap. Dari prinsip umum ini dapat dilihat bagaimana penilaian yang dilakukan pada proses pendidikan yang dilakukan di sanggar seni ukir pandai Sikek. (b) tes yang disusun merupakan sampel yang representatif dari semua materi pembelajaran. (g) sistematis. penilaian meupakan salah satu komponen pembelajaran. (f) menyeluruh dan berkesinambungan. penilaian dapat dipertanggungjawabkan. (c) bentuk/format tes yang dipilih hendaklah sesuai dengan tujuan yang dicapai.Muri (2005) ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar yakni: (a) tes yang disusun hendaklah betul mengukur tujuan pembelajaran. Tes hendaklah valid dan reliabel. (h) beracuan kriteria. berkesinambungan dan dapat dipertanggungjawabkan. kreteria dan dasar penilaian dapat diketahui pihak berkepentingan. (d) terpadu. prosedur. diagnosis. b) Prinsip-prinsip Khusus Evaluasi Belajar Hasil-hasil belajar akan dapat diungkapkan menurut fungsi yang diharapkan apabila intrumen yang dipakai memenuhi syarat untuk hal tersebut. Untuk itu evaluasi pada proses pendidikan/pembelajaran di sanggar ukir hendaklah terkait dan mampu mengungkapkan tujuan itu.merugikan peserta didik.

Berdasarkan pengukuran ini dapat dilihat bagaimana pengelompok murid sanggar ukir di Pandai Sikek. evaluasi berdasarkan acuan patokan (criterion referenced evaluation) lebih baik dan tepat digunakan sebab guru dapat mengetahui seberapa jauh suatu aspek. Apa bentuk evaluasi itu dalam acuan patokan dan bagaimana bentuk patokan itu akan diobservasi dalam penelitian.Muri (2005) dan Asmawi & Noehi (1995) pengukuran berdasarkan norma kelompok adalah untuk menentukan kedudukan (relatif) peserta didik dibandingkan dengan temannya yang lain dalam kelompok itu atau bagaimana penampilan seseorang dibandingkan dengan temannya dalam kelompok. Ini berarti normanya adalah norma kelompok. Jadi prinsip ini menggambarkan bahwa evaluasi dengan menggunakan acuan patokan dapat digunakan. Tetapi tidak akan menceritakan apa yang dapat dikerjakan seseorang dengan menggunakan kriteria tujuan yang ditetapkan. Bilamana seseorang telah memenuhi patokan tersebut ia dinyakan berhasil. artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan skor di kelompok itu. 52 . Untuk menyatakan seorang murid telah dapat mengukir tentu ada sacuan yang digunakan guru. norma teman-temannya yang lain.Menurut A. Menurut A. Adakah murid dikelompokkan berdasar skor yang diperolehnya atas dasar pembandingan dengan teman-temannya. telah dikuasai peserta didik dibandingkan dengan patokan yang telah ditentukan sebagai kriteria atau standar minimal hasil seseorang dikaitkan dengan tujuan Sejalan dengan itu Asmawi & Noehi (1995) menyatakan bahwa cara ini dibenarkan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan menggunakan sejumlah patokan.Muri (2005) dari segi hasil peserta didik terhadap tujuan pendidikan/pembelajaran atau terhadap kelemahan-kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam aspek tertentu.

(h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. Muri (2005) dinyatakan bahwa beda kedua tipe itu adalah sebagai berikut. (e) informasi yang ada tidak menunjukkan pencapaian tujuan. (a) digunakan untuk mengukur tingkah laku yang dimiliki seseorang dengan merumuskan kawasan tingkah laku itu sebagai patokan atau mengutamakan pengujian hasil (mastery). (e) dapat memberikan informasi apakah tujuan dapat dicapai oleh kelompok. (a) digunakan untuk mengukur pengetahuan. pengukuran berdasarkan patokan (Criterion Referenced Measurement). (d) mempunyai standar tunggal untuk semua sehingga apabila tes itu dilakukan pada tempat yang berbeda. dan (k) tidak cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif. (g) indeks pembeda butir soal merupakan indikator menentukan kualitas soal. (c) lebih terfokus pada kawasan (domain) yang lebih spesifik. (f) semua butir soal yang diberikan untuk memberikan gambaran penampilan yang tepat. (g) indeks pembeda antara kelompok tinggi dan kelompok rendah bukanlah suatu yang penting. 53 . (j) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci sekali. dengan menghormati penampilan tingkah laku orang lain dalam kelompok. (d) dapat menunjukkan rentangan tingkat hasil peserta didik dibandingkan dengan norma kelompok. (i) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci. (b) tidak memperhatikan perbedaan individu.Selanjutnya oleh A. (c) mengukur kategori yang lebih umum. (f) butir soal dipilih agar menyediakan perbedaan diantara individu. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. dan (j) cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif dan mengukur kompetensi. Tingkat hasil individu dibandingkan dengan hasil kelompok. Sedangkan pengukuran berdasarkan norma kelompok ( norma referenced measurement). kemampuan dan tingkah laku peserta didik. (b) perbedaan individu sangat menjadi perhatian. namun patokan adalah sama.

namun senantiasa saja difinisi itu memiliki celah atau ruang diskusi baru. Pencarian tentang hakikat kebudayaan dilakukan oleh Bakker (1984) dalam buku Filsafat Kebudayaan. Berdasarkan pendapat ini maka penilaian pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek mempunyai karakteristik sendiri. Evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek harus memasukkan sejauhmana pengalaman estetis murid. karena kebudayaan bahagian dari kehidupan manusia. Kebudayaan Minangkabau Dua orang pakar A. Diskusi tentang kebudayaan senantiasa menarik. Kluckhohn (pakar antropologi sekaligus juga filsafat kebudayaan) dalam makalahnya yang termasyhur “Culture: a Critical Review of Concepts and Difinitions” tahun 1952 hanya mampu mengklasifikasikan 179 difinisi tentang kebudayaan.Menurut Zaim (2009) keunikan pembelajaran kelompok seni budaya terletak pada kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman estetis melalui dua kegiatan yang saling terkait. kreasi (creation) termasuk di dalamnya performance. Beals dan Hoyer dalam buku An Introduction to Anthropology (1959).L Kroeber dan C. yakni apresiasi (apreciation). Karakteristik penilain itu tidak cukup dengan mempedomani prinsip-prinsip penilaian secara umum maupun prinsip khusus. Tidak ada kepuasan yang pas tentang salah satu difinisi kebudayaan. 3. Hal ini terkait dengan bahwa pembelajaran kelompok seni mencakup pada pemberian pengalaman estetis. dan lebih awal oleh Kroeber dalam buku The Nature of Culture (1952). Difinisi tentang kebudayaan sekarang semakin berkembang sehubungan semakin banyak tantangan dan fenomena baru dalam kehidupan manusia. Banyak pendapat dan difinisi yang dikemukaan tentang kebudayaan. Dari banyak difinisi dan pendapat tentang kebudayaan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan 54 .

Dari pendapat dua pakar tersebut ada beberapa hal yang perlu ditarik yaitu bahwa kebudayaan adalah suatu sistem yang utuh bukan merupakan bagian-bagian. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.adalah milik manusia. Sejalan dengan ini maka menurut Ansyar (1985) ada dua pandangan tentang fungsi sekolah pertama yang mengkonsepsikan sebagai pemelihara dan penerus kebudayaan dan kedua 55 . maka disinilah titik singgung antara budaya dengan pendidikan. Pengertian belajar dalam pandangan kebudayaan adalah sebuah proses yang ada di tengah masyarakat. bahwa kebudayaan didapat dengan belajar. maka difinisi yang ada kaitannya dengan pendidikan adalah pendapat Koentjaraningrat (1990) yaitu keseluruhan sistim gagasan. bahwa kebudayaan bisa dalam bentuk tingkah laku dan dalam bentuk artefak. Kedua-duanya khas insani oleh karenanya kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. di mana segala aspek yang kompleks apakah itu nilai-nilai atau hukum. bahwa kebudayaan hasil prestasi manusia. disinilah afinitas (daya tarik-menarik/gabungan) antara pendidikan dan kebudayaan. Kemudian Edward B. Dengan demikian betapa pentingnya masyarakat dalam proses pendidikan. adat istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. hukum. moral. seni. seni. Dari banyak difinisi tentang kebudayaan. kepercayaan. Menurut Tilaar (2000) tidak mengherankan apabila usaha untuk mencari jawaban terhadap hekikat kebudayaan mampir dalam pertanyaan mencari hakikat manusia. Taylor dalam Primitive Culture yang dikutip Tilaar (2000) menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang meliputi pengetahuan. Oleh karena manusia yang berbudaya dan membudayakan aspek kehidupannya. kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya dapat diperoleh di tengah masyarakat.

pertama kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. Menurut Ardika (1999).sebagai pengembangan individu anak yang terlepas dari kebudayaan. Menyimak pendapat ini maka warisan budaya atau tinggalan budaya patut dilestarikan. Dengan demikian seni ukir sebagai salah satu warisan budaya dan juga sebagai identitas budaya daerah seharusnyalah dilestarikan agar dapat tumbuh dan berkembang pada era global. Mesjid-mesjid kuno. nilai-nilai. rumah-rumah adat. peraturan. malah patut dilestarikan sebagai aset. Koentjaraningrat (1990) mengemukakan tiga wujud kebudayaan. Pembicaraan tentang budaya bukan hanya milik masa sekarang saja. dan seni ukir merupakan tinggalan budaya yang berbentuk artefak. gerabah. kedua kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan 56 . Jangan sampai akar budaya yang telah diwarisi dari leluhur terdahulu tercabut di tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan akibat globalisasi. ada yang berbentuk tingkah laku dan berbentuk artefak. dan sebagainya. gagasan. ide-ide atau gagasan. Menurut Tilaar (2000:190) bahwa gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi khsusunya teknologi komunikasi dapat merupakan bahaya penggerhanaan identitas manusia termasuk hilangnya kebudayaan nasional dan lokal. nilai-nilai. dan kekayaan sebuah bangsa. Berbagai bentuk warisan budaya itu sendiri seperti. Walau pendapat kedua yang menyatakan pendidikan hanya pengembangan individu murid. norma-norma. modal. namun bila dilihat bahwa kebudayaan suatu sistem gagasan yang didapat dari belajar maka dengan sendirinya pendidikan itu adalah bagian dari kebudayaan. sedangkan keterampilan mengukir tinggalan budaya yang berbentuk tingkah laku. pemahaman dan pelestarian terhadap warisan budaya sebagai jati diri suatu etnik dan bangsa tetap menjadi penting dalam era global ini. Banyak hasil budaya masa lalu menjadi menarik untuk didiskusikan saat ini.

pola pembelajaran ukir. disket. Wujud pertama ini ada dalam kepala atau alam pikiran anggota masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. mikro film.J. arsip.Honigmann dalam bukunya The World of Man (1959) bahwa ada tiga gejala kebudayaan.J. Wujud kebudayaan ideal ini sekarang sudah banyak tersimpan dalam buku-buku. penghargaan masyarakat terhadap seni ukir di Pandai Sikek merupakan bahagian dari wujud kebudayaan yang ke dua ini. maka sistem sosial ini sifatnya kongkrit. tak dapat diraba yaitu sistem budaya yang merupakan wujud ide dari kebudayaan. dan (3) artifacts. Wujud kebudayaan ini dapat diamati. gagasangagasan. (2) activities. 57 . yaitu (1) ideas. dan ide-ide yang menggerakkan sehingga menghasilkan berbagai kreativitas ada dalam wujud pertama ini.Honigmann dan Koentjaraningrat dapat dijelaskan bahwa wujud pertama kebudayaan siifatnya abstrak. Keterampilan mengukir.berpola dari manusia dalam masyarakat. difoto. Karena merupakan rangkaian kegiatan manusia dalam masyarakat. Pendapat Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan sama dengan yang dikemukakan oleh J. Inisiatif. berhubungan serta bergaul satu sama lain berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan. dan difilmkan karena ia terjadi di sekeliling kita. Berangkat dari pendapat J. Wujud kedua kebudayaan juga disebut sebagai sistem sosial adalah berkenan dengan pola kelakuan dari manusia atau masyarakat itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri atas kegiatan-kegiatan manusia berintegrasi. tape. dan ketiga kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Berkenaan dengan seni ukir Pandai Sikek maka falsafah motif ukiran termasuk pada wujud kebudayaan inti ini. Ada yang mengistilahkan wujud pertama ini sebagai inti dalam dari kebudayaan. dan komputer dengan adanya kemajuan teknologi.

dan difoto. Ketujuh unsur yang dikemukakan para pakar itu dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia ini termasuk di Indoensia. bangunan kuno lainnya. dan dari aktifitas pola laku itu menghasil karya dalam bentuk benda-benda. diraba. ia meliputi segala aspek kehidupan manusia namun oleh sarjana antropologi dibagi ke dalam beberapa unsur. sistem pengetahuan.Kuckhohn (1953) merumuskannya kepada tujuh unsur kebudayaan. dicium.Wujud ketiga kebudayaan adalah benda-benda budaya atau artefak. Bangunan rumah adat Minangkabau yang penuh dengan ukiran merupakan benda hasil budaya. Kesalingterkaitan wujud budaya itu sangat mudah dilihat dalam bentuk seni. yakni bahasa. 58 . dan dari tingkah laku menghasilkan normanorma baru dan membentuk pemikiran baru lagi. ia merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. wajud ini paling kongkrit jika dibandingkan dengan dua wujud sebelumnya. sistem mata pencaharian hidup. Sebaliknya kebudayaan fisik dapat mengatur tingkah laku masyarakat. Benda-benda budaya itu beragam bentuknya mulai dari yang sederhana sampai ke paling komplek atau rumit cara penciptaannya. organisasi sosial. sistem religi. Koentjaraningrat (1990). dan kesenian. bangunan pencakar langit. Cakupan kebudayaan cukup luas. dan dapat juga karya masa kini seperti pesawat. C. Kebudayaan ide mengatur dan memberi arah kepada perbuatan tingkah laku manusia. Wujud kebudayaan ini dapat dilihat. sistem peralatan hidup dan teknologi. dan seni kotemporer. diamati. seni-seni masa lampau. Jika diperhatikan ternyata ketiga wujud kebudayaan saling berkaitan. Benda-benda budaya itu dapat berupa tinggalan budaya atau hasil karya masa lampau seperti candi.

“…salirik gunuang Marapi. hinggo aia babaliak mudiak. saedaran gunuang Pasaman. Rao jo 59 . saputaran Talang jo Kurinci. ke Riau dan semenanjung Malaka bahagian Timur. dan 50 Kota) kemudian meyebar kedaerah lain yang disebut dengan rantau. sampai ka sipisau-pisau hanyuik. lokasi atau daerah asli masyarakat etnis Minangkabau diceritakan sebagai berikut. Menurut Umar Yunus (1997) daerah asal Minangkabau diperkirakan seluas daerah Propinsi Sumatera Barat sekarang ini. Pembagian khusus itu antara darek (darat) dan pasisie (pesisir) atau rantau. durian ditakuak rajo. Datuk Rajo Panghulu 1997. dengan dikurangi daerah kepulauan Mentawai. hinggo lauik nan sadidiah. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. sajajaran Sago jo Singgalang. ke Jambi dan Bengkulu bahagian selatan. sialang balantak basi. Nenek moyang orang Minangkabau sendiri sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tambo berasal dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua. sailiran Batang Sikilang. Pada awalnya kawasan kebudayaan Minangkabau hanya terdiri dari tiga luhak (Tanah Datar. akan tetapi daerah ini dibagi lagi ke dalam bagian-bagian khusus.Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia mempunyai bentuk budaya sendiri. Minangkabau tidak sama dengan Sumatera Barat walaupun sebahagian besar masyarakat Minangkabau mendiami wilayah Sumatera Barat. dari Sirangkak nan badangkang. ka Timur ranah Aia Bangih. Beberapa penulis (Navis 1984. sampai ka ombak nan badabuak. hinggo buayo putiah daguak. sampai ka pintu rajo ilia. Berdasarkan tambo-tambo/sejarah alam Minangkabau. Agam. Datuk Sanguno 1987. Dari tiga luhak ini kemudian menyebar sampai ke sebahagian Sumatera Utara dan Aceah bahagian utara. Minangkabau merupakan kesatuan budaya sedangkan Sumatera Barat wilayah administratif pemerintahan.

( Dt. sampai ke pintu raja hilir. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya mengisyaratkan ide. masing-masing bebas dengan eksistensinya.. dan Nasrun. ke timur renah (daerah) Aia Bangih. hinggo Taratak Aia Hitam. tempat hidup dan mati. 60 . Kehadirannya tidak sekedar bernilai estetis melainkan sarat dengan muatan filosofis. Dengan demikian motif ukiran Minangkabau sebagai salah satu contoh budaya Minangkabau juga bersumber dari alam.. (Navis. Rajo Panghulu. sampai ke pisau-pisau hanyut. Sialang berbatasan/bertanda besi hingga arah air kembali mudik. Pucuk Jambi Sembilan Lurah). dan saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan. Falsafah yang bersumber pada alam. 1971). Pucuak Jambi Sambilan Lurah. sampai ka Tanjuang Samalidu. Unsur-unsur alam saling berhubungan tapi tidak saling mengikat. dari Kepiting yang keras hingga buaya yang putih dagu. gunung Mahalintang. saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. sekitar gunung Pasaman. Pesisir Bandar Sepuluh. hingga laut yang terasa panas. seputaran gunung Talang dan gunung Kerinci. Pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek bukan sekedar mentranspormasi keterampilan mengukir saja akan tetapi lebih dari itu adalah mewariskan kebudayaan Minangkabau yang berfalsafahkan pada alam. hingga Taratak Aia Hitam. 1984. Pasisia Banda Sapuluah. gunuang Mahalintang. Mamangan (peribahasa) orang Minangkabau menyatakan ‘alam takambang tampek ba guru’ (alam terkembang tempat berguru). sehiliran/ menyusuri Batang Sikilang. Navis. Kebudayaan Minangkabau bersumber dari falsafah hidup dengan nama “falsafah alam”. Unsur alam itu dalam suatu harmoni dan dinamis sesuai dengan hukum dialektika bakarano bakajadian (bersebab berakibat). sampai ke Tanjung Simalidu. sejajaran gunung Sago dan gunung Singgalang. daerah Rao dan Mamat Tunggul. durian ditakah raja. 1977. dan pola laku hidup masyarakat Minangkabau. melainkan juga mempunyai makna yang dalam. Unsur alam memberikan peran yang berbeda.Mapa Tungguah. (. sampai ke ombak yang berdebur.sebaris gunung Merapi. bagi orang Minangkabau alam tidak sekedar tempat lahir dan berkembangan. 1984: 59-60).

dan antara raga dan emosi. Perkembangan diri yang baik adalah adanya keseimbangan antara jasmani dan ruhaniah. Berangkat dari pendapat ini seni dapat dijadikan sebagai pembentukan dan perkembangan manusia. dan ketiga adalah wujud benda yakni hasil karya seniman ukir yaitu benda ukiran. Konsep Seni dan Pendidikan Seni Menurut Yahya (2009) bahwa seni di dalam khasanah pendidikan belum banyak dilirik dan bahkan kedudukannya sering dilupakan. 61 . olah raga. Pertama adalah sebagai ide atau gagasan yakni motif dan falsafah ukiran yang bersumber pada alam. kedua sebagai tingkah laku yakni keterampilan mengukuir dan sikap masyarakat pendukung budaya. Menurut Ramalis (2005:10) pendidikan seni dapat dijadikan pendekatan dalam belajar sehingga keseluruhan peran pendidikan seni dapat terimplementasikan dalam mengembangankan berbagai kemampuan dasar manusia. Ada kecenderungan kehidupan hanya pembentukan pada aspek jasmani saja seperti dengan mengatur pola makan. Hal ini terjadi ketika masyarakat menganggap bahwa seni hanya sebagai objek untuk dinikmati dan diapresiasi belum dipandang sebagai proses pembentukan dan pengembangan diri.Penelitian pendidikan seni ukir pada sanggar ukir akan melihat tiga komponen kebudayaan. dan istirahat. antara fisik dan psikis. Begitu juga dalam perkembangan dan pembentukan otak manusia lebih banyak pada kegiatan pembentukan otak kiri. Kemampuan murid dikembang dari aspek jasmaniah dan ruhaniah. Seni dan Pendidikan Seni a. 4. Pendidikan seni termasuk pada kegiatan seni ukir di pandai Sikek tidak hanya pada pembentukan salah satu aspek saja.

dan dalam hal ini kemampuan murid mesti dikembangkan guna adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan. Otak manusia belahan kiri mengatur kemampuan logika. patung. Kelompok ilmuan neurophsychology menemukan peta kemampuan otak manusia. kinestetik. musik. persepsi. dan spiritual. inter pribadi. dan analitis. dan kecerdasan spasial untuk seni rupa (lukis. Memperhatikan konsep ini maka masing-masing manusia terutama murid semestinya mempunyai kemampuan berkesenian. Dari sembilan kecerdasan ini maka ada manusia yang menonjol pada salah satu kecerdasan. natural. antar pribadi. disain. Masing-masing belahan otak manusia saling berinteraksi. kecerdasan kinestetik untuk seni media gerak (tari. Karya seni 62 . dan kriya) (http//ppgkes/module/ com. spasial. matematik. multilingual. dan multikultural memiliki potensi dalam pengembangan kecerdasan mansia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. dua kecerdasan. dan silat). diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. drama.Menurut Ramalis (2008) bahwa pendidikan seni yang multidimensional. kreativitas. Juga dapat dilihat bahwa ada tiga kecerdasan yang berkaitan dengan seni yakni kecerdasan musik untuk seni musik. Penulis: Oki). Howard Gardner menemukan multi kecerdasan (multiple intellegenius) yang meliputi kecerdasan linguistik. dan emosional. atau tiga kecerdasan.php/ Sabtu. sapcial. rasional. Otak ini akan berinteraksi dengan belahan kanan yang mengatur fungsi intuisi. Menyimak pendapat ini dan bila dilihat kondisi sekarang maka sebahagian pendidik belum banyak yang mengetahui bahwa kegiatan seni berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik manusia. 6 Februari 2010. bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yaitu otak kiri dan otak kanan.

yang membicarakan keindahan objektif. Kreativitas seorang seniman merupakan salah satu kecerdasan yang diolah. Kolompok pemikiran imitasi berorientasi pada estetika dogmatik. Motif ukiran merupakan stilisasi dan simbol dari bentuk alam. dan tampuruang hanyuik (tempurung hanyut). Menurut Sri 63 . rasa dan pikiran Ekspresi Estetika Emosional Subyektif Emosional Wadah ungkapan pengalaman batin Secara umum seni-seni tradisional termasuk seni ukir Pandai Sikek lebih banyak pada konsep seni sebagai imitasi. yang membicarakan keindahan subjektif. Dari konsep ini maka Ramalis (2006: 19) menyajikan dalam bentuk tabel berikut. 1957). sedangkan kelompok pemikiran kedua memandang seni sebagai ekspresi berorientasi estetika perasaan. dan kemampuan memecahkan masalah. Khusus berbicara tentang seni maka ada dua kelompok pemikiran yang mendasari lahirnya konsep seni. Pembentukan dan perkembangan otak kanan diperlukan untuk keseimbangan otak kiri. Konsep A Dasar Sifatnya Strategi Sasaran Imitasi Estetika dogmatis Objektif Rasionalitas Keserasian tangan. Jadi apabila pendidikan seni diberikan pada peserta didik berarti memberi keseimbangan pembentukan pribadinya yang lebih utuh. Berasarkan temuan di atas ternyata karya seni yang kita nikmati merupakan hasil kerja otak.merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. berpikir kreatif. diproses dan tersimpan dari otak kanan. Kelompok pertama yang memandang seni sebagai imitasi dan kelompok kedua menyatakan seni sebagai ekspresi (Wickiser. terutama otak kanannya. makanan dan benda lainya. Motif-motif ukiran merupakan imitasi atau tiruan bentuk alam seperti motif siriah gadang (rangkaian daun sirih). hewan. itiak pulang patang (itik pulang sore).

A Pestalozzi (dalam Ramalis. rasa dan pikiran. Dalam hal ini M. Pendapat di atas menggambar kondisi pada sekolah formal di Indonesia. Bila konsep ini dihubungkan dalam proses pembelajaran terutama pada pendidikan formal di Indonesia. rasa dan pikiran. Jadi bila dilihat cara kerja seni tradisional lebih banyak sebagai simbol atau lambang yang merupakan hasil tiruan alam yang memiliki keindahan objektif.Sundari (2000) bahwa ada 50 macam motif tumbuh-tumbuhan. Konsep strategi rasionalitas ini berkembang di masyarakat berbagai negara termasuk Indonesia. Dasar konsep psikologis bagi strategi rasionalitas sebenarnya dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan secara serasi antara tangan. tentu akan berbeda dengan kondisi pada lembaga non formal yang lebih menekankan pada keterampilan. 32 motif binatang/ hewan. dan 60 motif makanan dan benda lainnya pada ukiran di Pandai Sikek. lebih mengarahkan pada pengembangan pikiran. Di sisi lain menurut Ramalis (2006) bahwa pembelajaran seni disusun dan dipelajari secara sistematis.Zaim (2009) menawarkan adanya perubahan orientasi yakni dari persepsi monokultural menjadi multikultural. Konsep ini menurut J. 2006) ini melahirkan konsep strategi rasionalitas seni. Oleh karena itu fokus kegiatan pembelajarannya adalah pada penguasaan teknis keterampilan tangan yang dapat diukur secara objektif. Pembentukan pemikiran pada sanggar ukir di Pandai Sikek akan didapat pada 64 . rasa dan pikiran. jarang diarahkan pada pengembangan keserasian tangan. Pendidikan seni Indonesia yang tertanam selama ini terutama disistem pendidikan persekolahan berorientasi pada kaidah ‘baik-buruk’ konsepnya seni Barat. logis mengikuti jenjang kesulitan. Sedikit sekali dalam proses pembelajaran yang menyeimbangkan antara keterampilan tangan.

Kaum reformis memandang karya seni sebagai wadah ungkapan pengalaman batin seniman. Raip Wickizer dan Herbert Read. Pembaharuan konsep pendidikan seni utamanya dilandasi oleh alasan filosofis. rasa. Ada banyak ahli yang menyatakan dampak pengalaman dari proses pembelajaran seni. 65 . Kelompok reform yang mempelopori pembaharuan pendidikan seni antara lain Van Prag. psikobogis. Dewey (dalam Read. Wickiser menyatakan dapat membantu perkembangan kepribadian dan pembinaan estetik anak.pemahaman dan penempatan motif. Sejauhmana keseimbangan tangan. pernyatakan Margaret Naumberg dapat digunakan sebagai sarana terapi mental. Sejak itu konsep pendidikan seni mengalami pembaharuan yakni mata pelajaran menggambar berubah menjadi mata pelajaran yang bersifat: ekspresi. Kondisi yang digambarkan di atas terjadi pada berbagai pendidikan seni di sekolah formal Indoesia sekarang ini. dan pikiran dilakukan akan dilihat pada objek sesungguhnya dalam penelitian. antara lain: Lowenfeld menyatakan dapat meningkatkan daya kreativitas anak dan dapat membantu pertumbuhan mental anak melalui penyaluran ekspresi dan kreativitas. 1970) mengatakan seni adalah kulminasi dan pengalaman. Menurut Setjoatmodjo (1981) bahwa konsep pemikiran bahwa seni sebagai ekspresi identik dengan konsep seni moderen yang lahir bersamaan gerakan reformasi. dan sosiologis. Menurut Read (1970) bahwa secara filosofis. seni dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Victor Lowenfeld. Ross menyatakan dapat membantu mengembangkan perasaan anak. menurut Lichwark dan Lange dapat membantu kepekaan anak terhadap karya seni. Jadi konsep pendidikan seni ini lebih mengutamakan dampak pengiring (nurturance effect) dan próses pembelajaran seni. G. Kerchensteiner.

yaitu kecenderungan pelaksanaan pendidikan seni yang didasarkan pada pembenaran esensial dan pembenaran kontekstual (Eisner. konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi. seperti untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan murid. Akan tetapi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional lebih banyak pada aspek keterampilan. kemampuan apresiasi seni. Bentuknya mengarah pada pembinaan dan peningkatan penguasaan berkesenian melalui kegiatan ekspresi diri dan melibatkan pengalaman serta kesadaran estetik. dan 66 . pemahaman teori seni.dan Harbert Read sendiri menyatakan dapat membiri kepekaan cita rasa keindahan anak. Menurut Ramalis (2006) terdapat beberapa pendangan tentang konsep pendidikan seni yang berkembang seperti. sedangkan pembenaran kontekstual terkait pada fungsi untuk mencapai tujuan di luar tujuan pembelajaran seni. 1972). Materi pembelajaran berupa kemampuan keterampilan seni. cara menggunakan pahat. Menurut Ibenzani (1985) keterampilan itu meliputi cara-cara membuat sketsa pada papan ukir. dan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas. Untuk meningkatkan kemampuan seni murid yang berkaitan dengan seni itu sendiri termasuk pada pembenaran esensial. Berdasarkan konsep pendidikan seni yang difungsikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. dan pameran/gelar hasil karya. konsep pendidikan seni untuk apresiasi. Artinya pernyataan Read (1970) yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran seni sebagai alat atau media pendidikan mendapat dukungan dari para ahli pendidikan seni yang lainnya. Merujuk pendapat ini bahwa pembelajaran seni yang bersifat esensial dapat dimaknai sebagai bentuk pendidikan seni. maka dalam aplikasinya memunculkan dua kecenderungan.

5) evaluatif0. apresiasi. Gambar merupakan suatu bentuk bahasa untuk menuangkan ide bahkan ada sauatu kosa kata yang tidak jelas atau ragu biasa divisualisasikan dengan gambar. Konsep-konsep pendidikan seni itu untuk sarana apresiasi. Jadi pembaharuan konsep pendidikan seni dengan mengutamakan kebebasan berekspresi murid bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. untuk pembentukan konsepsi. maupun menghendaki murid belajar dan perbuatan aktif. Menurut Brent G. dan psikomtorik menjadi tujuh dimensi prilaku seni. Wilson (Bloom. Pandangan itu didasari bahwa pendidikan seni dapat mengembangankan berbagai potensi yang ada pada murid. Berdasarkan pendapat ini maka ada tiga pandangan tentang konsep pendidikan seni. Konsep ini juga untuk melatih kedua tangan murid sehingga merangsang syaraf otak kanan dan otak kiri. Konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi dilandasi oleh pemikiran bahwa “salah satu sarana untuk mengungkapkan pikiran adalah menggambar”. dan 7) produksi. dan pameran. yaitu. baik melalui kegiatan menggambar maupun kegiatan observasi lapangan dengan kegiatan mengunjungi obyek-obyek seni seperti galeri. yaitu kognitif. dan membina kreatifitas. Tujuan lain adalah untuk mendewasakan murid baik segi intelektualnya. 2) pengetahuan. afektif. Jadi 67 . Menurut Ramalis (2008) perlu diperhatikan dimensi prilaku agar pembelajaran seni dapat berhasil. 1975) tiga dimensi prilaku. Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget (1952) yang menekankan pentingnya gerakan manusia dalam kaitannya dengan perkembangan pengetahuan.cara merawat alat-alat uikir. 3) pemahaman. 1) persepsi. 4) analisis. Konsep pendidikan seni untuk apresiasi dilandasi pada pemikiran bahwa persepsi murid-murid terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan langsung.

Memperhatikan tujuh tingkatan prilaku motorik ini. dan kreatifitas. melukis. gerak terbimbing. dan mengukir pada dasarnya adalah pengembangan kreatifitas murid. Kegiatan menggambar adalah mengorganisasikan sensasi indrawi sehingga menghasilkan impresi yang dapat diinterpretasikan. 2009). seperti menggambar. Menurut Simpson dalam Aunurrahman (2009) ada tujuh prilaku kemampuan motorik. murid tidak sekedar menirukan bentuk-bentuk yang diajarkan atau dicontohkan guru. menganyam. maka guru harus dapat sampai pada aspek ini.kegiatan menggambar suatu obyek berarti menerjemahkan persepsi ke dalam bahasa visual. dan berpikir (Gagne dalam Aunurrahman. Kegiatan seni sebagai sarana untuk mengembangkan potensi. Sebagaimana dikemukan sebelumnya bahwa kegiatan mengukir termasuk pada kegiatan motorik. Jadi pembentukan konsep dihasilkan dari aktifitas menggambar karena menggambar merupakan kegiatan mental dan pikir. ide dan gagasan murid. Sementara Lowenveld (1982) 68 . penyesuaian. Pengembangan keterampilan dalam aspek pembelajaran tercakup dalam ranah psikomotor. di mana strategi kognitif itu sendiri adalah kemampuan memecahkan masalah-maslah baru dengan jalan mengatur proses internal individu dalam memperhatikan. gerak komplek. gerak terbiasa. Penekanan kemampuan kognitif menjadi titik berat konsep ini. maka kreatifitas merupakan aspek tertinggi dalam pengembangan kemampuan motorik murid. mengingat. kesiapan. Menurut Aunurrahman (2009) kreatifitas adalah kemampuan menciptakan pola baru. Kegiatan seni rupa yang berbentuk praktek. Sedangkan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas dimaksud untuk menjelaskan terjadinya pertumbuhan mental dan kreatifitas yang ada pada diri murid. yaitu persepsi. belajar.

menyatakan bahwa kegiatan seni merupakan sarana bagi processing. Pendidikan seni tidak hanya harus berlangsung di sekolah-sekolah formal tapi dapat berlangsung setiap saat di tengah masyarakat. kemungkinan besar disebabkan minimnya penghargaan terhadap pendidikan seni. persepsi. dan emosional. Pendidikan seni dapat mengasah solidaritas sosial masyarakat. rasional dan analitis. Conny Samiawan (2001) menyatakan bahwa pengkerdilan pendidikan seni yang cukup lama itu salah satunya menghasilkan rendahnya kepekaan sosial masyarakat. sedangkan seni adalah sarananya. Pentingnya Pendidikan Seni Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan seni bagi masyarakat perlu terus dikembangkan. Konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. Akibatnya adalah timbul berbagai kekerasan yang melanda Indonesia. oleh karena itu konsep tersebut cocok diterapkan dan dikembangkan pada sekolah kejuruan seni. Dari kajian filosofi konsep seni dan konsep pendidikan seni tersebut di atas bahwa seni untuk mengisi dan mengasah otak kanan yang berfungsi intuisi. sanggar-sanggar seni atau kursus-kursus seni. Konsep seni imitasi mendasari munculnya filosofi konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. kreativitas. sedangkan konsep seni ekspresi mendasari munculnya filosofi pendidikan seni yang menekankan pada menumbuhkembangkan kepribadian murid. b. Sedangkan konsep pendidikan seni yang menekankan pada penumbuhkembangan kepribadian murid. spasial. murid adalah idealnya. Belahan otak kanan ini akan berintraksi dengan otak kiri yang berfungsi logika. 69 . mengutamakan kualitas hasil karya seni yang didukung oleh kualitas proses kerja skill. mengutamakan dampak dari proses pembelajaran seni dan bukan mengutamakan kualitas hasil karya seni.

Yahya (2006) menyatakan bahwa pendidikan seni juga bersifat multi dimensi karena bertujuan mengembangkan dimensi personal. kecerdasan spitual dan moral (SQ). Menurut Ramalis (2006: 24) bahwa pendidikan seni. 1982). kecerdasan emosional (EQ). Pendidikan seni sebagai upaya pendewasaan dan pembudayaan murid (Wickiser. (1) koordinasi antara berbagai persepsi dan serisasi dalam kaitannya dengan lingkungan. kecerdasan kreatifitas (CQ). Jadi pendidikan seni tidak hanya diberikan sebagai salah satu bidang studi di sekolah formal ada baiknya diberikan pada pendidikan nonformal. Dalam dimensi personal maka pendidikan seni juga membantu menyeimbangkan teknologi yang berorientasi praktis ekonomis dengan kemanusiaan (humanity). Pada dimensi sosial maka pendidikan 70 . dimensi sosial. Pendidikan seni berfungsi sebagai. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan seni merupakan subsistem dalam pendidikan nasional. selain berfungsi untuk pendewasaan dan pembudayaan peserta didik juga memiliki nilai yang berarti sebagai sarana pembentukan pribadi. Pada dimensi personal pendidikan seni membantu mengenbangkan kecerdasan intelektual (IQ). (2) alat untuk mengekspresikan perasaan yang dinyatakan dalam suatu bentuk. Lowenfeld. (3) alat untuk mengekspresikan berbagai pengalaman jiwa atau untuk mengungkapkan sebagian atau seluruh bawah sadar. dan dimensi profesional. dan meningkatkan karsa murid dapat dilakukan dengan pendidikan seni. dan (4) alat untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk (Read. mengasah rasa. 1970: 8). 1957. Apalagi cabang seni yang berakar dan tumbuh di tangah masyarakat akan mudah menjadi sarana untuk mengasah rasa solidaritas sosial. Pendidikan seni merupakan elemen yang esensial dalam membentuk watak. serta jiwa kewirausahaan.Pengembangan pola pikir. kehalusan rasa dan budi.

Ketujuh aspek dimensi perilaku seni ini perlu dilatihkan pada murid secara terus-menerus. 71 . Sedangkan dalam dimensi profesional maka pendidikan seni menekankan pada penguasaan keterampilan. (1) persepsi. Pembelajaran akan berhasil jika dalam pendidikan memperhatikan berbagai dimensi perilaku seni. Wilson (dalam Bloom. kerena dapat menguanakan media. sehingga proporsi bobot dan setiap aspek yang perlu dicapai akan berbeda sesuai dengan tingkatan pendidikan. agar murid dapat mengembangkan jiwa mandiri sebagai bekal hidup di tengah masyarakat. gerak. Untuk itu motivasi dan minat murid terhadap kegiatan seni jangan dimatikan terutama dalam proses pembelajaran. (6) apresiasi. 1975) menerjemahkan perilaku kognitif. (2) pengetahuan. dan suara sebagai bahasa eksperisi maupun keilmuan. Kepekaan rasa dikembangkan dengan memberi kesempatan memahami nilai budaya melalui permainan (Mary. bunyi dan gerak. Pengembangannya disesuaikan dengan perkembangan dengan kebutuhan seni. rupa. Berikan kesempatan dan wadah murid dalam mengembangkan diri untuk mengolah kemampuan kreatif mereka dengan cara mengeksplorasi terhadap beragam kosa rupa. dan (7) produksi. Keseluruhan aspek dalam dimensi ini bersifat berjenjang dan perlu dipelajari murid melalui muatan seni yang beragam.seni membantu mengembangkan sikap toleransi agar mudah bergaul dalam masyarakat luas dan menghargai hak azasi manusia. 1990). serta dapat menghagai keanekaragaman budaya. (3) pemahaman. Pendidikan seni juga dapat bersifat multilingual dan multikultural. Muatan seni tergantung pada karaktersitik bidang seni yang dikembangkan. (4) analisis. afektif. (5) evaluasi. teknis dan materi seni. dan psikomotorik menjadi tujuh dimensi perilaku seni yang meliputi.

bahasa lisan lebih sulit untuk digunakan mengungkapkan 72 . teori metafisis yakni seni hanyalah sebagai tiruan dari ciptaan Ilahi. rasa lapar. sebagai media komunikasi. jika keadaan rasa haus telah berakhir biasanya mengakibatkan rasa gembira yang dinyatakannya dengan senyuman. yakni. panas. Ekspresi tersebut saling berhubungan. dan teori suasana lingkungan yakni seni yang bertalian dengan keadaan masyarakat dan lingkungannya. sebagai media penyaluran bakat/ hobby. dan sebagai media membantu penalaran/ berpikir. sebaliknya jika rasa haus belum terpuaskan maka akan terekspresikan dengan sedih atau menangis. Bagi anak. rasa haus. sebagai media bermaian. Ada lima teori seni yang bertalian dengan kegunaan seni bagi manusia. rasa gembira. Ekspresi anak-anak tersebut ditunjukan untuk mencapai keinginan tertentu misalnya menyatakan keadaan dingin. dan rasa marah. teori pengungkapan yakni seni sebagai sana untuk mengungkapkan perasaan batin. Menurut Ramalis (2006) seringkali anak kurang mampu mengeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan. Seni sebagai media ekspresi telah nampak sejak manusia itu lahir. sebagai media penjelajahan estetis. Kegunaan Seni Jika diklasifikasikan maka ada beberapa kegunaan seni bagi manusia. teori alat yakni seni sebagai sarana untuk keperluan berbagai hal termasuk merangsang berfikir.c. Hal itu tampak ketika bayi menangis dan gerakan-gerakan lainnya yang merupukan eksperisi diri untuk diketahui ibunya. teori permainan yakni seni sebagai sara untuk menyimbangkan energi yang berlebih. Menurut Adirozal (2002) general theory of art terdiri dari teori bentuk yakni seni sebagai pure form (bentuk murni) dan expressed form (bentuk ungkapan). sebagai media eksperisi. dapat pula mengekspresikan sesuatu yang tak mengarah kepada suatu obyek melainkan hanya menyatakan perasaan rasa sakit.

terutama yang dijumpai dalam kegiatan berolah seni. Sebaliknya ekspresi yang tidak kreatif adalah ekspresi yang tidak menghasilkan nilai-nilai kreatif atau merupakan hasil tiruan. Manusia secara alamiah juga terjadi perbedaan antara satu dengan lainya. seni dapat membantu mengekspresikan idenya. Orang dewasa telah mempunyai banyak kosa kata untuk mengungkapkan perasaannya berbeda dengan anak-anak yang terbatas kosa katanya. maka ekspresinya pun juga berbeda. Pengembangan daya ekspresi akan terkait dengan pengembangan kreativitas. Seni sebagai media komunikasi bermakna sebagai penyampaian suatu hasrat sesuatu pada orang lain. patung. Ekspresi kreatif adalah ekspresi yang mengandung kreativitas. Potensi seorang murid dengan murid lainnya tidak sama. Perbedaan potensi ini harus menjadi perhatian seorang guru dalam mendorong eksperisi murid. Ekspresi kreatif inilah yang harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran kesenian. Ekspresi adalah salah satu kebutuhan ruhaniyah/ batiniah individu untuk berhubungan dengan orang lain. Kebutuhan orang dewasa juga berbeda dengan anak-anak. Dalám hal ini pikiran. Berkomunikasi merupakan fitrah bagi mansuia sebagai makhluk 73 . perasaan dan emosi ikut berperan. arsitektur. ada yang lebih kuat dan cekatan pada kemampuan berupa gambar. hasil pengulangan atau hasil jiplakan. Anak-anak lebih banyak dan suka mengeksperisikan disi dengan coretan dan gerak. Oleh karena eksperisi merupakan kebutuhan ruhaniyah manusia maka ekspresi perlu mendapat perhatian dan guru perlu mengembangkannya. Menurut Ramalis (2006) terjadinya ekspresi secara spontan tanpa perintah dari luar.isi hatinya. Sebab ada 2 macam ekspresi dan anak yaitu ekspresi kreatif dan ekspresi yang tidak kreatif. dan kriya lainnya.

seni anyaman. dan pantun. tagak maninjau jarak (duduk berpermainan. berdiri meninjau jarak). dan seni ukir. tenunan. karikatur. Jika ditarik pada ranah seni maka berkomunikasi dengan suara dapat diwujudkan dalam bentuk nyanyian atau musik. dan gambar bisa dalam wujud film. seni tari. Dari kegiatan duduak bapamainan mengahsilkan seni anyaman. Gambar merupakan media komunikasi yang cenderung paling banyak dilakukan oleh anak yang dibentuk dengan bahasa rupa. Sarana berkomunikasi dapat melalui media: suara. tulis. Sebagai media bermain maka seni merupakan bentuk ekspresi bebas yang paling jelas pada anak-anak. pantonim. gerak. orang dewasapun juga dapat melahirkan seni dari cara bermain.sosial. Sebahagian seni di Minangkabau lahir dari pengolahan energi yang berlebih. (Adirozal. drama. seni patung. silat. 74 . eksperisi yang dihasikan oleh anak-anak yang paling murni. gerak dan gambar. Seni yang dihasilkan dari permainan bukanlah milik anak-anak semata. Teori permainan dalam seni rupa lahir dari adanya kelebihan energi dan ide. seni ukir. kelebihan energi inilah yang mendorong manusia untuk menyeimbangkannya dengan cara bermain-main. Berkomunikasi dengan wujud gambar melakirkan seni lukis. dan randai. Sedangkan seni yang dihasilkan dari falsafah tagak maninjau jarak menghasilkan pencak. Berkomunikasi dengan gerak dapat dalam wujud seni tari. dan silat. 2002). novel. Permainan adalah ekspresi tentang hubungan manusia dengan seluruh kehidupan. energi itu dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif sehingga mengahsilkan karya. Berkomunikasi dengan turlisan dalam wujud puisi. Mamangan Minangkabau yang melandasi seni itu adalah duduak ba pamainan. sulaman. dan opera. Berkomunikasi dengan berbagai media atau gabungan media suara.

Sebuah pendidikan seni yang ideal tentu memberikan kesempatan kepada setiap murid yang berbakat untuk memelihara dan mengembangkan bakatnya sejak awal. Bakat yang baik dalam berkesenian tidaklah cukup. Menurut Ramalis (2006) permainan bisa dikembangkan sesuai dengan 4 fungsi mental. Maksud dari estetis di sini adalah keindahan yang berkaitan dengan 75 . Bakat yang terpupuk sejak awal tentu akan jauh lebih baik perkembangannya. dapat dikembangkan dengan cara mengekspresikan diri pada seni disain plastis atau visual. Selain sebagai penyaluran hobi maka seni juga sebagai media untuk penjelajaran pengalaman estetis. dan ada yang seni rupa. permainan dapat dikembanngkan dengan latihan-latihan penjiwaan pada seni drama. Sebagai media pengembangan bakat atau hobi seni.Apapun bentuk aktifitas permainan merupakan gerakan-gerakan yang berupaya mencari perpaduan antara proses mental dan fisik. Ada yang berbakat seni tari. Kegiatan berkesenian menjadi salah satu sarana untuk memupuk dan mengembangkan bakat. ed. hanya saja bentuk dan kadar seninya yang berbeda. ada yang hanya pada tahap penikmat seni dan ada yang sampai sebagai pencipta seni. Adirozal (dalam Yayah Khisbiyah. ada yang seni musik. (3) dari segi sensasi. dan (4) dari segi pikiran. sebab sebaik apapun bakat seseorang tanpa pernah diasah dan dikembangkan maka tidak akan berarti apa-apa. Malah tanpa pernah dikembangkan bakat yang ada akan menjadi pudar dan hilang. banyak orang berpendapat bahwa kemampuan berkesenian merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif ke arah keahlian. (2) dari segi intuisi. 2004) menyatakan sebenarnya setiap manusia mempunyai bakat seni. dikembangkan dengan latihan-latihan ritmis pada seni tari dan musik. yakni (1) dari segi perasaan.

Dengan baiknya cita rasa estetisnya maka dengan sendirinya ia akan mampu menghargai karya seni baik karya seni 76 . Untuk menumbuhkan kepekaan seni adalah dengan mengembangkan sikap dan pengalaman cita rasa keindahan. di antaranya mengajak murid untuk berapresiasi atau menyaksikan dan menghargai karya orang lain. Atau dapat juga murid diajak lansung kepada objek-objek alam dan lingkungan masyarakat sehingga menumbuhkan kepekaan estetisnya. Hasil pengamatan dibahas dengan tujuan murid dapat kesenangan sebagai pengalaman subjektif. Pengalaman keindahan dapat dibangun dengan berbagai cara. Dari banyaknya pengalaman keindahan itu maka ia akan dengan mudah berkarya. Cita rasa keindahan itu terpusat pada kesenangan dan merupakan pengalaman subyektif yang sulit ditentukan tolak ukurnya. di mana semua manusia memiliki cita rasa keindahan. Eastetic experince merupakan pengalaman keindahan yang dimiliki setiap manusia. Potensi dan naluri itu harus diasah dan dikembangkan terus. sebab pengalaman estetis itu sebagai vokabulari bagi anak. Setiap pribadi murid perlu dikembangkan cita rasa keindahan dalam rangka menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. maka naluri tersebut akan “mati”. Adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan akan membuat murid dapat menganalisa dan sekaligus merasa. Bila naluri murid dikembangkan dengan baik maka ia akan memeliki pengalaman estetis yang banyak dan baik. Setiap anak yang telah memiliki kepekaan seni maka cita rasa keindahannya baik. melainkan setiap murid harus memeliki kepekaan seni. Setiap murid memiliki naluri dan potensi cita rasa keindahan. Pernyataan buya Hamka bahwa ‘hidup tanpa seni akan hampa’ tidak dimaksud bahwa setiap manusia/ murid harus mampu melahirkan karya seni. jika naluri ini tidak ditumbuh kembangkan.rasa.

retorika masuk pada tiga serangkai 77 . baik karya bangsa sendiri amaupun karya bangsa asing. Apakah media suara. Karya seni merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. Kelompok seni kaum bangsawan dilindungi oleh dewa sedangkan seni kelas bawahan bersifat kasar. dan kemampuan memecahkan masalah. Seni Ukir Awalnya pengelompokan seni (zaman Yunani) berdasarkan satus sosial. Proses-proses seperti itu akan membantu anak berpikir analisis dan bernalar. Dengan demikian kegiatan berkesenian menempatkan rasio sebagai kontrol. misalnya rupa maka berlanjut pada analisis komposisi. sebelum sebuah karya seni dilahirkan maka terlebih dahulu dilakukan analisa yang terkait dengan media yang tepat karya tersebut diwujudkan. yaitu kelompok seni kaum bangsawan (court-arts) dan kelompok seni kelas bawahan (folkarts). Seni sebagai media membantu kemampuan berfikir atau bernalar hal ini terkait dengan seni merupakan hasil kerja olah otak. Hal ini dapat dilihat dalam proses berkarya seni. proporsi dan bahan yang digunakan. Pengelompokan ini menjadi rancu karena aritmetik. d. bahwa keselarasan antara rasio dan emosi terdapat dalam seni. geometri. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak.dia sendiri atau karya seni orang lain. Bahkan Aristoteles mengatakan. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. dialektik. atau rupa. dan tata bahasa. astronomi masuk bersama musik ke dalam empat serangkai (quadrium). Setelah ditetapkan salah satu medianya. gerak. berpikir kreatif. Pada zaman pertengahan kelompok seni kelas bangsawan disebut dengan liberal arts yang dilawankan dengan vulgar arts.

perhiasan emas. tembikar. Pengelompokkan ini dirasakan juga kurang tepat sebab sebab tidak ada seni yang tidak memiliki ekspresi dan tidak juga ada seni yang tidak terpakai. titik. seni kriya. sulaman. musik dan kesusasteraan. keramik. dan pembuatan medali. dan seni grafis. seni teater. Pembagian seni selanjutnya berdasarkan indera serap manusia yakni visual arts. seni yang tinggi ekspresinya termasuk fine arts dan seni terpakai disebut applied arst. tenunan. seni karawitan. serta seni multi media (drama telivisi dan film). perhiasan perak. seni pahat. Jika mengacu pada konsersium seni Indonesia maka pengelompokan seni terdiri dari seni pertunjukan. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada kapak batu. arsitektur. logam. audio arts. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis. disain eksterior. Seni pertunjukan terdiri dari seni tari. Sedangkan yang masuk pada seni kriya adalah anyaman. seni rupa dan disain. permadani. 78 . dan disain komunikasi visual. 1976). Kelompok seni kasar disebut minor arts terdiri dari perabotan kayu. ukiran manikam. Kelompok seni yang halus disebut dengan manyor arts yang terdiri dari seni lukis. (The Liang Gie. batik. Pengelompokan seni juga pernah dilakukan atas kandungan daya ungkap atau ekspresinya. yakni sekitar tahun 1500 SM. dan lengkungan. Pernah juga pengelompokan seni berdasarkan pada halus dan kasarnya kerja seni. dan audiovisual arts. kerajinan kulit.(trivium). Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. dan ukiran. disain interior. seni patung. Kelompok seni yang masuk pada seni murni adalah seni lukis. Khusus tentang seni ukir maka bangsa Indonesia telah mulai mengenalnya sejak zaman batu muda (neolitik). tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. dan seni musik. Seni rupa terdiri dari seni murni.

Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander. d.30 WIB). Hal ini dapat dilihat dari sejarah seni rupa. Risman Marah (1988) menyatakan ukiran adalah sesuatu yang diukir atau dipahatkan yang tidak bisa dipisahkan dengan motif-motif. batu. Islam. Assyiria. gerak garis dasar. pada pengambilan dan pemilihan suatu motif. Pengertian ukiran menurut Van Houve dalam Ensiklopedia Indonesia adalah ukir mengukir. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor.dengan bahan tanah liat. ciri-ciri ukiran. dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu. dan f. dan Indonesia. serta binatang maupun manusia. kayu. atau bahan-bahan lain. menggoreskan huruf-huruf dan gambar pada plat-plat dari kayu atau logam sedemikian rupa. pilin berganda. perak dan lain sebagainya. Ukiran Minangkabau pada umumnya banyak mengambil nama-nama motif dari bentuk tumbuh- 79 . Babylonia. b. batu. India.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia.blogster. yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. jelas sekali bahwa alam dan segala isinya bentuk dan kurenahnya menjadi sumber ilham bagi para seniman. Lebih lanjut dijelaskan bahwa seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. topeng. kulit. bambu. diambil 8 Maret 2010 pukul 16. Motif ukiran yang mengakat atau menstilisasi dari bentuk alam berlaku di manamana. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu. Tumbijo. seni Mesir kuno. 1985). c. tumpal. (http://www. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yaitu menggunakan bahan perunggu. Hanya saja dalam pengolahan dan penerapannya terdapat perbedaan yakni: a. Persia. penempatan motif. Yunani. ( HB. emas. Dt. baik seni primitif Afrika. penggambaran dan pengukiran motif.

Jadi model pembelajaran merupakan inti atau jantung dari strategi mengajar. Menurut Elizar (2008) model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Kayu yang banyak digunakan di Minangkabau terutama di Pandai Sikek sampai saat ini adalah kayu surian. Walau ada yang ditatahkan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam. dan juga tidak ditujukan untuk menguji model yang telah ada. Dari berbagai difinisi dan teori model itu menjadi acuan dan pedoman untuk melihat atau menemukan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. dan nama makanan. namun dalam hal ini tidak dimaksud untuk membahas bermacam-macam teori model. pisau rencong. pahat sudu (pahat sodok). namun ada juga yang diambil dari kata-kata adat. Menurut Joyce dan Weil (1980) 80 . Model Pembelajaran Beragam difinisi dan teori yang dikemukan mengenai model pembelajaran. Menurut Ibenzani (1985) pahat ukiran Minangkabau yang paling tua usianya bernama pahat rencong. Peralatan ukiran Minangkabau tidaklah sebanyak pahat ukiran Bali dan Jepara.tumbuhan dan binatang. Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. 5. Menurut Zulhelman (2000) motif-motif Minangkabau bersumber dari alam yang berangkat dari falsafah orang Minangkabau yaitu alam takambang jadikan guru (alam terkembang menjadi guru). Alat ukir tradisional Pandai Sikek terdiri dari pahat layang-layang atau pahat siku. Model mempunyai makna yang lebih luas dari sekedar metode dan strategi pembelajaran. pahat korek lubang disamping pahat rencong.

(2) sistem sosial. mengatur tingkah laku siswa. Menurut Mills (1989) model adalah bentuk repsentasi akurat. Suherman (1993) mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas. cara berpikir. keterampilan. Sebauah model akan baik dan berarti jika di dalamnya terdapat lima unsur. dan cara bagaimana belajar.hakekat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi. Walau ada yang menyamakan antara model dengan teori tapi ada perbedaannya yakni bahwa model berasal dari asumsi-asumsi yang disederhanakan. Jadi model merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem. kelima unsur itu menurut Bruce Joyce (1994) adalah: (1) sintaks. dan memfasilitasi potensi-potensi murid. Pembelajaran yang efektif tidak sekedar mengajar dengan baik. yakni menguraikan peranan pendidik (guru) dan peserta didik serta aturan-aturan yang diperlukan dalam interaksi sosio- 81 . nilai. Pendapat Bell ini secara umum dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dapat ditetapkan pada beberapa subjek. memotivasi siswa untuk belajar. Guru harus tahu bagaimana mengadaptasi pengajaran terhadap tingkat pengetahuan siswa. ide. Bell (1981) menyatakan bahwa A teaching/learnng model is a generalized instructional process wich may be used for many different in a variety of subjects . mendorong. Pendidikan dan pembelajaran merupakan aktivitas dalam upaya membangkitkan. sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertintak berdasarkan model itu. Winatapura (2001) menyatakan bahwa model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang dipergunakan untuk mendapatkan pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. yakni urutan kegiatan atau langkah-langkah pembelajaran. membentuk kelompok siswa untuk suatu pelajaran dan memberikan tes kepada siswa.

(4) sistem pendukung. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukan di atas maka model yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan suatu keadaan yang menyeluruh dalam mengorganisasi pendidikan atau pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman guna mencapai tujuan. 5) mengelompokkan data. 7) menyusun draf model. Pendapat. dan 9) menghasilkan model. Menurut Taba (1962) dan Sukmadinata (2005) langkah-langkah itu adalah: 1) menjelaskan fenomena yang berlaku saat sekarang. langkah-langkah dan unsur- 82 . Model yang baik juga hanya akan terwujud ababila disusun berdasarkan kajian-kajian yang kompreherisif terhadap data yang ada dan telah divalidasi. Menurut Bastian (2009) sebuah model dapat dianggap baik apabila mampu memberikan gambaran yang tepat tentang hubungan-hubungan antara fenomena yang terjadi dengan aspek-aspek yang ada pada suatu hal keadaan benda. (3) prinsi-prinsip reaksi. 4) mendeskripsikan keadaan yang terjadi saat ini. yakni pengaruh langsung dan tidak langsung yang dialami peserta didik saat penerapan model. yakni memberikan gambaran kepada pendidik tentang cara memandang atau merespon pertanyaan-pertanyaan siswa. 3) mendeskripsikan aspek-aspek yang terkait dengan masalah yang akan disusun sebagai modelnya. 6) melakukan analisis hubungan antara aspek-aspek.kultural. Dalam menyusunan sebuah model ada langkah-langkah tertentu yang dilakukan. yakni kondisi yang diperlukan agar model dapat terlaksana secara efektif dan efisien. 2) menetapkan tujuan penyusunan model. keadaan dan fenomena yang ada berdasarkan kajian terhadap teori-teori pendukung. dan (5) efek instruksional dan pengiring. 8) melakukan validasi terhadap draf model.

while.unsur yang mesti terkandung dalam penyusunan model yang dikemukan akan dipedomani. post Evaluasi Hasil Belajar Murid yang jadi guru seni ukir Tukang Ukir Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Tujuan Pendidikan Harkat dan Martabat Manusia 83 . Perkiraan Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Harkat dan Martabat Manusia Tujuan Pendidikan Guru Seni Ukir Proses Pembelajaran Murid Penerapan high touch high tech Tahapan Pembelajaran pre.

Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif (kata-kata). Bentuk Penelitian Penelitian ini berbentuk kualitatif yang sering dilawankan dengan penelitian kuantitatif. Hakikat penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1992). interaksionis. Menurut Moleong (1998:3) ada juga yang menyatakan penelitian kualitatif ini dengan istilah inkuiri. (3) data dan sumber data. etnografis. bentuk penelitian. data dan sumber data. analisis data. dan (6) penyajian hasil penelitian A. dan deskriptif. Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. teknik. studi kasus. bukan kuantitatif (angka-angka). (2) lokasi penelitian. ekologis. penentuan lokasi penelitian.METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kualitatif model pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek. interpretif. pada bagian ini dikemukakan pula hal-hal yang berkenaan dengan paradigma penelitian. etnometodologi. dan penyajian hasil penelitian. Moleong (1998) adalah sebagai prosedur 84 . naturalistik atau alamiah. Selain langkah-langkah pokok yaitu pengumpulan data. Adapun metode penelitian yang dimaksud adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penelitian. Untuk mewujudkan hasil penelitian yang baik diperlukan metode penelitian yang tepat. Sejalan dengan itu Nasution (1992:18) menyatakan penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. dan evaluasi pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional itu akan disajikan secara diskriptif. Dalam bab ini secara berturut-turut diuraikan hal-hal tentang (1) bentuk penelitian. Materi. (4) teknik pengumpulan data. fenomenologis. (5) analisis data. perspektif ke dalam. simbolik.

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Selanjutnya Moleong mengutip Jerome Kirk dan Marc L. Miller yang mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasan sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 1998:3). Sugiyono (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif muncul karena adanya perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala. Paradigma realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Paradigma demikian disebut dengan paradigma postpositivisme. Paradigma penelitian sebelumnya disebut positivisme di mana memandang gejala lebih bersifat tunggal, statis, dan konkrit. Paradigma positivisme mengembangkan penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma postpositivisme mengembangkan penelitian kualitatif. Penelitian ‘Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisonal di Pandai Sikek’ tidak dimaksudkan memberikan perlakuan kepada subyek terteliti, tetapi hanya mendiskripsikan hal-hal yang dilakukan oleh subyek terteliti dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari, baik yang dilakukan oleh guru maupun reaksi murid. Diskripsi dilakukan setelah data yang ada terlebih dahulu dikaji dan ditelaah. Pristiwa pembelajaran pada sanggar seni ukir tersebut merupakan perilaku sosial sehari-hari yang dilakukan oleh guru dan murid. Dimyati (1996) mengemukakan bahwa penelitian yang berkaitan dengan peristiwa sosial akan mudah dijaring datanya jika diletakkan pada salah satu kuadran peta paradigma sosiologi Ritzer. Kuadran keempat Ritzer yaitu kuadran untuk melihat suatu

85

peristiwa interaksi sosial terutama perilaku guru dan murid yang terjadi dalam proses pembelajaran seni ukir baik di dalam sanggar maupun di luar sanggar, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Sugiyono (2009:285) bahwa dalam pandangan penelitian kualitatif gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisahpisahkan), tidak ditetapkan berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity). Untuk memperoleh data yang secara holistik maka dilakukan penelitian bentuk diakronis yaitu meneliti dengan melihat perkembangan objek. Proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek telah berlangsung semenjak tahun 1920-an, sedangkan sanggar atau studio seni ukir berdiri pada awal tahun 1970 oleh Ramli Dt. Rangkayo Sati. Data yang dapat dihimpun dimulai semenjak guru sekarang menjadi murid Ramli Dt. Rangkayo Sati, kemudian mereka sebagai guru, dan murid-murid seni ukir sekarang. B. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Sebelum diberlakukannya PERDA Nomor 9 tahun 2001 tentang sistem pemerintahan terendah di Sumatera Barat, maka Pandai Sikek pernah dalam bentuk desa. Sekarang Pandai Sikek merupakan sebuah kenagarian, di samping sebagai daerah teritorial

administrasi pemerintahan terendah maka nagari juga merupakan teritorial budaya/adat. Apa bila desa merupakan satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan di daerah lainnya di Indonesia, maka kenagarian adalah satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan Sumatera Barat. Hal ini dibenarkan dengan diberlakukannya Undangundang No 32 tahun 2004 tentang sistem otonomi daerah.

86

Lokasi penelitian meliputi

kenagarian Pandai Sikek. Ada beberapa alasan

menetapkan kenagarian Pandai Sikek sebagai lokasi penelitian. 1. Penetapan lokasi ini mengingat kenagarian merupakan daerah teritorial sebagai pendukung budaya Minangkabau. Seni ukir sebagai objek penelitian merupakan warisan budaya berada dalam kewilayahan kenagarian Pandai Sikek. Seni ukir yang oleh masyarakatnya dirasakan sebagai milik bersama, walau yang membuatnya tidak seluruh masyarakat Pandai Sikek (empat buah sanggar). Sebagai bukti bahwa seni ukir yang ada pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menjadi budaya masyarakat setempat maka gaya ukiran tersebut dinamakan ‘ukiran Pandai Sikek’ (Ibenzani Usman, 1985) 2. Sebelumnya tiga wilayah seni ukir Sumatera namun Barat sekarang yang memiliki tetap gaya eksis dan atau

mengembangkan

yang

berkesinambungan hanyalah Pandai Sikek. Dua daerah lain yakni gaya IV Angkek Candung ( untuk Payakumbuah) dan gaya Banuhampu Sungai Puar (Agam) tidak terlalu baik pembinaan pendidikannya atau hampir tidak ada generasi muda daerah ini yang belajar seni ukir. Malah sebahagian sanggar seni ukir dua daerah ini telah banyak berubah fungsi pada kegiatan pembuatan perabot. 3. Di daerah Pandai Sikek sampai saat ini masih banyak generasi muda yang berminat dalam mewarisi seni ukir. Ada beberapa generasi muda Pandai Sikek yang masih mau belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 4. Secara historis penduduk Pandai Sikek merupakan satu kesatuan yang sama yakni luhak Tanah Datar. Kenagarian Padai Sikek bahagian dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua di Minangkabau. Sebagaimana dinyatakan

87

Walau mobilitas penduduk di kenagarian cukup tinggi (objek wisata budya) namun penduduk masih homogen. intansi pemerintah (lembaga pendidikan formal yang mengajarkan materi seni ukir). dan tokoh masyarakat. sedangkan data sekunder adalah data yang dikutip atau didapat dari sumber lain. Data primer didapat dari pelaku yang terlibat langsung sebagai pemilik budaya. songket. murid seni ukir. Surakhmad. 1998. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. Kedua data itu saling terkait dalam pengolahan hasil penelitian. Datuk Sanguno 1987. Kenagarian Pandai Sikek menjadi salah satu objek wisata budaya Sumatera Barat. tokoh budaya (adat) setempat. Data primer adalah data yang didapat langsung dari tangan pertama. Sebagai daerah yang terbuka tentu akan banyak perubahanperubahan namun di Pandai Sikek sanggar seni ukir tetap bertahan sebagai salah satu identity etnic. Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini digunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. C. Data primer juga diperoleh dari dinas. (Moleong. karena di daerah ini terdapat berbagai aktivitas kerajinan rakyat seperti tenun. dan lembaga yang pernah membina sanggar seni ukir Pandai Sikek. 5. dan seni ukir.dalam berbagai tambo Minangkabau yang dibahas oleh beberapa penulis (Navis 1984. Datuk Rajo Panghulu 1997. 88 . 1990). guru seni ukir.

secara sistematis dan tidak mencolok. sedangkan studi kepustakaan dilakukan pada perpustakaan resmi dan pribadi. Alat-alat tersebut terlebih dahulu diukur tingkat reabilitas dan validitasnya agar data-data yang diperoleh lewat instrumen itu benar-benar sahih. buku-buku atau literatur baik hasil penelitian maupun tulisan lainnya yang berkenaan dengan pendidikan dan seni ukir. Wawancara juga dilakukan dengan komponen terkait seperti budayawan.Data sekunder diperoleh dari foto. Masing-masing instrumen yang digunakan disesuaikan dengan standar yang berlaku umum. Observasi Teknik observasi atau pengamatan merupakan cara untuk mengamati prilaku dan benda-benda yang berkaitan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. Konsep pengamatan terlibat sama dengan participant observation yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1992:23) yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan diri di dalam lingkungan subjek. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi langsung. dan dinas atau instansi terkait. D. Wawancara dilakukan untuk menggali data yang tidak dapat diamati atau diobservasi. Observasi dan pengamatan dilakukan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. buku catatan. 89 . 1. dan tape recorder. dan studi kepustakaan atau analisis dokumen. camat. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru dan murid yang ada pada sanggar seni ukir. wawancara. Pedoman dan penuntun atau instrumen penelitian dalam melakukan observasi dan wawancara adalah pedoman wawancara. Juga data-data di kantor kanagarian. kamera (photo film). tokoh masyarakat. dan aparatur pemerintah.

SMK Negeri 8 Padang. Teknik ini sangat penting untuk mendapat data yang tidak dapat ditangkap melalui pengamatan. Proses tanyajawab antara peneliti dengan subjek penelitian untuk mendapat data keterangan. guru (pimpinan sanggar) seni ukir. 2. dan wawancara sambil lalu.sehingga tercipta suatu priode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dengan subjeknya. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. Perbedaannya terletak pada pada persiapan oleh peneliti tetang materi dan informan yang 90 . SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. Wawancara Wawancara merupakan teknik yang sangat mendukung dalam pelaksanaan observasi. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. Observasi terlebih dahulu dilakukan pada informan kunci yakni guru seni ukir. oleh Koentjaraningrat (1994) diklasifikasikan ke dalam wawancara berencana. Mei. wawancara tidak berencana. guna memperoleh kepercayaan dari subjek penelitian. Obsevasi yang intensif direncanakan dilakukan pada bulan April. kemudian murid. dan pendirian secara lisan dari subjek dilakukan melalui wawancara. dan Juni 2010. Ada beberapa bentuk wawancara. seperti pandangan dan pendirian manusia. dan setelah itu pada tokoh budaya atau masyarakat yang terlibat pada pembinaan seni ukir. Operasionalisasinya diawali dengan survei lapangan baik sebelum proposal dibuat dan saat pembuatan proposal. pandangan. Survei dilakukan dalam upaya pendekatan atau memperkenalkan diri dengan tokoh masyarakat. Pengamatan dilakukan pada sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek (tempat berlansungnya pembelajaran). pengrajin (murid/karyawan) sanggar seni ukir. Observasi juga dilakukan pada pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir yaitu SMK Negeri 4 Padang.

Pertanyaan yang membatasi jawaban yang diberikan responden termasuk ke dalam tipe pertama. sedangkan tipe ke dua memberi kebebasan kepada reponden untuk menjawab secara luas dengan bahasanya sendiri. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe yang kedua atau terbuka. Teknik wawancara sambil lalu termasuk ke dalam wawancara tidak berencana dan informan juga tidak diseleksi secara ketat terebih dahulu. Informan ditetapkan secara purposive berdasarkan teknik snowball sampling. Pelaku kebudayaan adalah guru dan murid seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. Bangso Rajo di Padangpanjang. dan pelaku pendidikan. Jadi penentuan informan tidak berdasarkan teknik penghitungan secara kuantitatif. yaitu pelaku kebudayaan. Wawancara terencana ditandai dengan adanya daftar pertanyaan yang tersusun untuk diajukan pada responden. Dengan teknik snowball sampling informasi berakhir pada kejenuhan informasi tetang pokok soal yang ingin diketahui. Dalam hal ini termasuk murid-murid Ramli Dt. Rangkayo Sati yang masih hidup dan tidak lagi mengukir di Pandai Sikek. tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui tentang adat dan budaya umumnya dan khususnya seni ukir Sumatera Barat. Pengumpulan data dimulai dari seorang informan pangkal yang dapat memberi petunjuk tetang individu lain yang tepat dan layak untuk diwawancarai sehubungan dengan topik penelitian. Komponen pelaku kebijakan terdiri dari aparat pemerintah yang berperan dalam 91 . Informan dalam penelitian ini dikelompokkan atas tiga komponen. Keseluruhan teknik wawancara dibedakan menjadi wawancara tertutup dan wawancara terbuka. pelaku kebijakan. misalnya JK Dt.akan diwawancarai. Sementara wawancara tidak berencana tidak dilengkapi dengan daftar pertanyaan yang berlaku ketat.

C. Penggalan materi setiap amat lapangan tahapan tergantung • Jumlah 5.mengambil kebijakan sehubungan dengan pembinaan sanggar seni ukir Pandai Sikek. Perbedaan antara mereka amat dengan guru mereka dalam tergantung mengajar dan materi yang kejenuhan data 92 . Rangkayo Sati • Waktu Keterangan Sanggar A. Cara guru mereka dulu ditetapkan seterusnya mengevaluasi/ menentuakan lama tergantung materi tambahan waktumya situasi 4.• Daftar masing sanggar pertanyaan akan disiapkan diobservasi dan • Sangg 1. Rencana jadwal observasi dan wawancara Sasaran Sanggar A. Cara mereka mengevaluasi baik pertemuan untuk menambah materi tidak maupun menentukan telah tamat ditetapkan 5. Tempat mereka dulunya kejenuhan data guru seni ukir belajar dan syarat untuk yang akan 4 orang menjadi murid diambil. Jadwal dan waktu-waktu lama mereka mengajarkan seni ukir waktumya 6. dan D Materi Observasi/ Wawancara Untuk guru seni ukir ketika mereka jadi murid Ramli Dt. Cara guru mereka dulu pertemuan objek mengajar / mentransper materi tidak pertama dan 3. Motivasi mereka mengajarkan masing sanggar seni ukir akan 2. Materi dan tahapan yang mereka lakukan dalam mengajar • 1x 4. diobservasi ketika mereka jadi murid tidak dulunya • Satu kali ditentukan 2. dan D Masing.B. Ketentuan sudah bisa dinyatakan pandai atau ahli ukir Untuk guru-guru seni ukir sekarang • Masing.B. 6.idem 1. Bahan/ materi yang diwawancarai ar ukir yang diterima guru seni ukir sekarang 2 x pertemuan. Cara mereka mengajar/ diobservasi dan mentransper keterampilan diwawancarai mengukir 2 x pertemuan. Sementara komponen pelaku pendidikan adalah guru-guru pada sekolah formal. 3.C.

Motivasi mereka belajar seni ukir 2.B. Kepuasan atas penilaian guru atas prestasi mereka • yang akan diambil. dan D Untuk murid-murid seni ukir sekarang 1. Studi Kepustakaan 93 . • Masin g-masing informan akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Idem Jumlah murid untuk 4 sanggar ukir sebanyak 55 orang • Tokoh 1.C. Harapan mereka terhadap diwawancarai proses pendidikan pada sanggar 1 x pertemuan. Usaha-usaha yang telah lembaga akan pemerin dilakukan diobservasi dan tah 3. Harapan mereka terhadap kesinambungan seni ukir Pandai Sikek Lembaga 1. Masingmasing sanggar akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Cara mereka belajar 3. Pandangan mereka terhadap Masyarakeberadaan seni ukir Pandai kat/ budaSikek yawan 2. Pandangan mereka terhadap proses pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek 3. Lembaga yang dituju dinas-dinas kabupaten Tanah Datar terkait dan lembaga pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir 3. seni ukir di Pandai Sikek 1x pertemuan tidak ditetapkan lama waktumya amat tergantung kejenuhan data yang akan diambil.diberikan Sanggar A. Peran mereka dalam membina • Masin atau sanggar seni ukir Pandai Sikek g-masing intansi 2.

Dokumen tersebut berupa perda-perda. Menurut Wuisman (1996:300). analisis data kualitatif adalah teknik pemadatan data dengan cara mengembangkan taksonomi. Untuk itu dalam analisis ini maka data yang telah didapat terlebih dahulu dipilah dan dipilih atau diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian. program-program. data statistik. tulisan/dokumen. sistem klasifikasi kronologis yang mencakup jumlah keterangan yang terkumpulkan dan menunjukkan 94 . dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian. rekaman terhadap proses dan fenomena sosial yang berkaitan dengan seni ukir Pandai Sikek dijadikan sebagai sumber data. Lebih lanjut dinyatakan bahwa dengan mengorganisasikan data dengan rapi memungkin untuk memperoleh data yang baik. Analisis Data Menurut Syahron (2009) pengolahan dan analisis data dalam penelitian kualitatif sesungguhnya dimulai dengan mengorganisasikan data. dan analisis dokumen termasuk didalamnya. Penggunaan sumber ini karena tidak semua data dapat ditangkap melalui observasi dan wawancara. dan observasi atau pengamatan proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek. Khusus tentang dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah kebijakan yang terkait dengan pembinaan seni ukir di Pandai Sikek. Tulisan-tulisan. E.Studi kepustakaan merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan data penelitian. dan kliping surat kabar. mendokomentasikan analisis. Data yang valid dan relevan dengan penelitian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. Data yang diperlukan adalah yang sehubungan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar di Pandai Sikek. Analisis data menggunakan metode kualitatif terutama yang didapat melalui wawancara.

menghubungkan kategori. aksial (mengorganisasi data dengan cara mengkoneksikan antara kategori. langkah-langkah analisis data yang dimaksud dilakukan dengan reduksi data. Secara operasional. yaitu reduksi data. penyajian data. dan penarikan kesimpulan. Kepekaan teoritis ini dilakukan pada saat menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. analisis data kualitatif dilakukan dengan tiga langkah sistematis secara jalin menjalin (Miles. dan selektif (menyeleksi kategori yang paling mendasar.keterkaitannya secara sistematis. sub kategori). Proses analisis ini dapat digambarkan : Pengumpulan data Penyajian data Reduksi data Simpulan/retifikasi Sebelum penarikan simpulan terlebih dahulu akan dilakukan langkah-langkah yang disarankan oleh Strauss dan Cobin (dalam Syahron. Selain itu juga likakukan pengembangan kepekaan teoritis dengan cara mengembangkan pertanyaan-pertanyaan. dan kalimat. Menurut Syahron (2009) menganalisis data membutuhkan kepekaan teoritis. menganalisis kata. dan memvalidasi hubungan tersebut). penyajian data. 2009) yakni melakukan koding baik terbuka (mengidentifikasi kategori-kategori). yakni memasukkan atau menghubungkaitkan teori-teori yang telah ada atau yang dikemukakan pada bab 2. frase. 1992:19). Sesuai dengan data yang diperlukan dan metode pengumpulan data tersebut. dan penarikan simpulan/retifikasi. karena 95 .

dalam proses menganalisis data. Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentu laporan ilmiah yang berupa disertasi. yang uraiannya terdiri dari beberapa bab. artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori dan kerangka pikiran yang berlaku umum. peneliti sesungguhnya sedang melakukan upaya mengembangkan teori. F. Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif interpretatif. atau berteori. Masing-masing bab terdiri dari beberapa subbab dan beberapa subbab di antaranya terdiri dari sub -subbab yang disesuaikan dengan kebutuhan. 96 .

Pustaka Indonesia. ASKI Padangpanjang.1986. ------. “Pembuatan Gerabah di Desa Galogandang Tanah Datar” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Jakarta : PT. Padang: Pascasarjana UNP Anas Sudijono.DAFTAR PUSTAKA A. No 2 bulan September. Belajar dan Pembelajaran. “Peranan Seni dan Budaya Minangkabau Dalam Pembangunan Pariwisata” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Aunurrahman. Kritik Seni Rupa dan Seni Kriya. Bakhtiar Amsal. 2007. Abdul Azis Wahab. Yogyakarta: B.A Navis. Padang: UNP Press. 2009. Disertasi. Bogdan. 2004. Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. 1987. “Kriya Gerabah Andaleh: antara Pelestarian. 97 . Cultural Studies. Wacana dan Praktek untuk Toleransi Pluralisme Budaya. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bogdan.C and S. “Apresiasi Sekolah Dasar Agama Sumatera Barat” dalam Yayah Khisbiyah (ed).J Taylor 1992.A Navis. ------. 2004. Delaware Departement of Education 2000.5 bulan Mei.C. Muri Yusuf. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Dove. 1984. New York: The Datuk Sangguno Dirajo. ASKI Padangpanjang. 1997. 2002.I. No. The Standar for Fungtional Life Skills Curriculum. Bandung: Alfabeta. Dialektika Minangkabau Dalam Kemelut Sosial dan Politik. A. Gaya Hidup. S. R. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Azhari Abdullah. Seni Kriya dan Kearifan Lokal dalam Lintas Ruang dan Waktu. Metodologi Penelitian. (ed). hal. “Model Pengembangan Kompetesi Guru Melalui Pelatihan Dalam Jabatan”. Filsafat Agama. 1999. Adult Education Procedures. Bukittinggi: CV. Curahan Adat Alam Minangkabau. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. dan Biklen. Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial. Daleware. 2007. Chris. Adirozal. 2009. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Barker. Padang : Genta Singgalang Press A. 2009. 2008. Alam Terkembang Jadi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. dan EkonomiPariwisata” dalam Sri Krisnanto (Ed). ------. Pendidikan Apresiasi Seni. 1982. Raja Grafindo Persada.D ISI Yogyakarta Adolf Bastian. 16-30. Jakarta: Grafiti Prss.K. R. Surakarta: PSB-PS Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hamzah B Uno. Jakarta: Diknas Direktorat Dikdasmen. I Wayan Ardika. Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. -----. 2000. Jakarta: Buku Kompas. dan Fungsinya”. 1983. Bali. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Publishers. “Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik.A.Teresco. Jogyakarta: Kanisius. New York: Harper & Row. Fungsi. How to Design and Evaluate Research In Education. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Psychologi Sosial. -----. New York: McGraw-Hill. Idrus Hakimi Dt. 98 . Jakarta: PT. Karunia. Fasli Jalal (Ed). Surabaya. Wallen. 2008. Jack L. Pola. 1980. “Seni Ukir dan Masalahnya”. Al Quran dan Terjemahannya. “Warisan Budaya dan Globalisasi”. Bandung: P. 2000. Rineka Cipta. Ibenzani Usman.A. Yogyakarta: Pusta Pelajar. Hamka. Semarang: PT Karya Toha Putra Depdiknas (2003). -----. Bandung : Institut Teknologi Bandung. 2002. SP. Denpasar: Universitas Udayana. Michael J. Jakarta: Buni Aksara. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. and Norman E. 1993. 1987. Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Jakarta : Panji Masyarakat. Pendidikan. 1985.A. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. 2001. W. 1999/2000. Hans. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia . Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup di SMP. Materi matrikulasi S2 Kajian Budaya Universitas Udayana. Harisman. Belajar dan Pembelajaran. Djohar. Howe. Jakarta: Adicita Karya Nusa. 2001. Seni Kerajinan Mabel Ukir Jepara. dan Makna”. Frankel. Filsafat Ketuhanan. 1999. UU. -----. (1981). Manusia Kebudayaan dan Lingkungan. 2001. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya.1999.RI. SP. 2005. Islam dan Adat Minangkabau. Yogyakarta: STSRI-ASRI Yogyakarta. 2004. 1997.R Tilaar. Gustami. H. Rajo Panghulu.Departemen Agama Republik Indonesia. Tesis. Gerungan. Propinsi Sumatera Barat: Kajian Bentuk. Membenahi Pendidikan Nasional. Hamka. 2009. 1999. Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural. Jakarta: PT. dan Masyarakat Madani Indonesia. Rineka Cipta. The Psycholgy of Human Learning. “Ukiran Mesjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar. Disertasi. Jakarta: Rineka Cipta. Dimyati dan Mudjiono. 1984. J Daeng. 2000. Kebudayaan. Teori Motivasi dan Pengukuran Analisis di Bidang Pendidikan. Manifesto Pendidikan Nasional. Jakarta: DEPDIKNAS.

Y. M Nasroen. Mohammad Ansyar. 1999. Mills. Kebudayaan Mentalitas Pembangunan. Notes on Educational in Indonesia. P2LPTK. Padang: FKPS IKIP Padang.S dan Guba. Geoffrey G. 2005. Jakarta : PT. 1993. 2006. M. Jakarta: The Jakrta Post & The Asia Fondation. 1985. Lincolc. Teori Budaya. Joice. Basic Crafts. 1971.Zaim.Imam Sodikoen. ----. -----. Kewirausahaan Teori dan Praktek. “Pembelajaran dan Evaluasi Seni”. Bandung : Tarsito. Model of Teaching. Kaplan. 1986.B. Mardjani Martamin. 2009. A. Pengantar Antropologi I dan II. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. Bandung: PT.M. Remaja Rodakarya. Gramedia. 2000. “Catatan-catatan Tentang Minangkabau dari Encylopedia voor Nederlands Oust Indie”. Manajemen Sumbar Daya Manusia. Koentjaraningrat. Nana Sujana. Dasar-dasar Falsafah Adat Minangkabau. Jakarta: Bulan Bintang. Sumatera Barat. Padang : Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang. Pendidikan Formal Pengembangan Melalui PKBM di Indonesia (Sebuah Pembelajaran Dari Komonikan Jepang). Padangpanjang: STSI Padangpanjang. A. Mulyasa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. John R. 1996. Jakarta : Pustaka Binaman. 2009. 99 . 1999. Psikologi Belajar. 1983. 1994. Mustofa Kamil. Metode Penelitian Kualitatif. 1985. “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nasional” Padang: Singgalang Press. “Ragam Ukiran Rumak Gadang Minangkabau”. “Kumpulan Makalah Penilaian dan Evaluasi Pendidikan Dalam Berbagai Seminar dan Pelatihan”. London: Sage Publication. New Jersey: Prensentece Hall Inc. Inc Illinios. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Second Edition Chas. dan Huberman. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Mukhtar Buchori. Kompas Linbeck. 1998. Irawan Prasetya. Jakarta: Depdikbud. Jakarta: PT. Meredith. David dan Albert A. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum.(ed).G. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Naturalistic Inquiry. Moleong. Bennett Co. Bandung: Alfabeta. Museum Aditiawarman 1982. Lexy J. Dirjen PT. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: STIA-LAN PT: Bina Aksara. E. Muhibbin Syah. Gramedia Pustaka Utama. 1976. 2002. 2005. Penilaian Hasil Balajar. Analisis Data Kualitatif (terjemahan) Jakarta: UI Press. Manner 1999. 1979. Muchtar Naim. B dan Marshal Well. 2001. M. makalah.

Nofrial. Metode Penelitian Kualitatif. 1990. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Malang: YA3 Seabury Press.education2. “Pendidikan Seni di masa Depan (Melihat Paradigma baru dalam Pendidikan Seni)”. Yogyakarta: PT. 2009. Sanapiah Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. Pannen. Nasbahry Couto. 2008. Sanapiah Faisal. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. 2005. Skripsi.K. makalah. Jakarta: Proyek Pengembangan Kebudayaan. 2004: “Culture-based Education”. Disertasi. 2008. Surabaya: Citra Wacana Spradley P. 2008. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Levi C. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem . (2000). NWT Teacher Induction. Jakarta: Jemmars. Nasution. DEPDIKBUD. (2001). Pemahaman Bahasa Seni Rupa Modern”.Universitas Negeri Padang Puskur.Nasbahry Couto. Paulina D. Oemar Hamalik. Tesis. Sosiologi Pendidikan. “Tinjauan Seni Kriya (Eropa dan Amerika Serikat). Sugiono. “Strategi Pembelajaran Bidang Studi Kerajinan Tangan dan Kesnian: Studi Multi-situs pada Madrasyah Ibtidaiyah Negeri MalangI. Kurikulum 2004: Kerangka Dasar. 1986. Metode Penelitian Kebudayaan. -----. “Ragam Hias Minangkabau”. 1999. Padang. New York: Basic Books Suardi Sandi.04. dan Sekolah Katolik Mardi Wiyata II Malang”. ca/culture. 1987/1988. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar .N Sumartana. “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid Di Kabupaten Kerinci”. Sastra dan seni. UNP Padang. Structural Antropology. Pengembangan Aktivitas Instruksional..1997. Risman Marah. Sedya Tuwana Sudikan. 2006. Padang: FIP-Universitas Negeri Padang Prayitno. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Padang: Seminar Nasional Jrusan Seni Rpa FBSS UNP.Tiara Wacana Strauss. 2002. Jogyakarta: Institut Seni Indonesia. www. Diambil 5 Januari 2007.newteachersnwt. Evaluasi Pendidikan. 2001.P. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Prayitno. Kajian Estetika dan Budaya”. Padang: FIP. Nurkancana. Ramalis Hakim. 2000. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. Wayan dan P. Bandung: Tarsito. Nasution. 1981. Jakarta: PT Bima Aksara. Surabaya: Usaha Nasional.based. Rusli Amran. Kriya STSI Padangpanjang. 2005. Metode Etnografi. Bandung: Alfabeta. pada Fakultas Bahasa. 1987. 2004. Sosok Keilmuan Pendidikan. Buku 2. Jakarta: DEPDIKNAS.K. Malang: Pascasarjana UNM.html. Jakarta: Sinar Harapan. 100 .1963. Nasution. Sekolah Dasar Negeri Percobaa I malang. Bandung: Jemmars.James. “Gaya Dalam Seni Rupa. Padang. Kriya STSI Padangpanjang. 1992.. “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci. DEPDIKNAS.

Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Winata Putra. PUBIB: Yogyakarta Tyler. Umar Kayam. Suwaji Bastomi. “Pendidikan Seni di Sekolah: Proses Harmonisasi Kecerdasan” makalah. 1981. Robert S. Jakarta: Sinar Harapan. 1977. New York: Happer 7 Row Publishers. dan R&D.unisosdem.. Sumianto A Sayuti. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. The Liang Gie. 2009. Padang: Universitas Negeri Padang. Yogyakarta: ASRI Yogyakarta. 2005.psb-psma. (http://www. Curriculum.blogster. “Pendidikan Dalam Keluarga” dalam Jurnal. “Perkembangan Seni Kriya”.DEPDIKNAS. Zais. Bandung: Alfabeta. Paradigma Baru Pendidikan. 1949. (2006). 1997. Basic Principle of Curriculum and Instrution . MemahamiPenelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Wina Senjaya. Kualitatif. Jakarta: Jembatan. 2008. Jakarta: Bumi Aksara. 2008. Ethaca London: Cornel University Press.. Seni Tradisi Masyarakat.Sugiono.org. Strategi Pembelajaran.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia) 101 . Umar Junus dalam Koentjaraningrat (Ed). ”Penelitian Kualitatif Analisis dan Intrepetasi Data”. Tersedia. 1971. Garis-garis Besar Estetik. Chicago and London: The Unversity of Chicago Press.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran). online: http://www. Pengembangan Sumber Daya Manusia. (http://www. Bahan Kuliah Pada Pascasarjana UNP. Jakarata: Rineka Cipta Yahya. Prenciples and Fundations. 2009. Suharsimi Arikunto. 2009. Potensi Lokal Dalam Proses Kreatif-Apresiatif” makalah. 2009. “Modernization in The Minangkabau World: West Sumatera in The Early Decades of Twenty Century” dalam Claire Holt: Culture and Politics in Indonesia. Ralph W. Waras kamdi. Supriono. 1976. 2001. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. “Pendidikan Seni Dalam Konteks Lokal Genius. 1983.. Syahron Lubis. Taufik Abdullah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.