CONTOH PROPOSAL JUDUL; Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisional Di Pandai Sikek Tanah Datar

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM) bermakna strategis bagi pembangunan nasional, karena masa depan bangsa sangat bergantung pada penyelenggaraan pendidikan masa kini. Sejauh mana pendidikan itu diselenggarakan menjadi tolok ukur penyiapan generasi penyambut ’tongkat estapet’ pembangunan. Menurut Ki Hajar Dewantara “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Anakanak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warga negara kita” (Prayitno, 2005:1) Sejalan dengan itu, Mukhtar Buchori (2001:23) menyatakan bahwa “Apa yang terjadi dengan bangsa kita di masa depan, sangat tergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang ini terhadap cara-cara kita mendidik generasi muda, dari pendidikan tingkat TK sampai ke pendidikan tingkat Perguruan Tinggi” Melalui semua jenjang pendidikan tersebut, kelangsungan hidup suatu bangsa dapat terjamin sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, how to live together, dan how to do, tetapi yang amat penting how to be. Oleh karena itu diperlukan transformasi nilai-nilai pendidikan (Daulay, 2007). Dengan demikian, memaknai pendidikan sebagai proses ‘memanusiakan manusia’ harus fokus pada pengembangan potensi manusia itu sendiri, bukan hanya fokus pada pengajaran. Pernyataan

2

‘memanusiakan manusia’ seakan-akan menyatakan bahwa sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik belum menjadi manusia. Pada hal peserta didik adalah manusia, makhluk yang paling sempurna dari sekian makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia. Berbagai bentuk pendidikan yang telah dilakukan bangsa Indonesia bertujuan untuk membangun sumber daya manusia, melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. Penyelenggaraan pendidikan formal dilakukan mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan formal terdiri atas pendidikan anak usia dini, berbentuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA); pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah pendidikan dasar dilanjutkan dengan pendidikan menengah yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA), dan pendidikan menengah kejuruan seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan nonformal berbentuk kursus-kursus singkat (non-ijazah) dan pelatihanpelatihan terorganisir yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal. Sedangkan pendidikan informal merupakan pendidikan sepanjang hayat di mana individu memperoleh pengetahuan, norma-norma, dan keterampilan melalui keluarga, tetangga, dan media masa. Sarana jenis-jenis pendidikan tersebut terkait dengan upaya untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari ketidaktahuan dan

3

Diawali pada setiap awal tahun ajaran dengan merima murid baru. politisi. proses pembelajaran lagi. muatan materi dan pembelajaran yang tidak seimbang antara aspek kognitif dengan aspek lainnya. Pendidikan tidak sekedar mengumpulkan dan mengoleksi ijazah sebagai tanda lulus. lebih mampu mengendalikan diri. sampai dengan seringnya pelajar melakukan tindakan amoral dan kriminal. melainkan agar potensi peserta didik dapat dikembangkan dan setelah mengikuti proses pendidikan dia lebih cerdas. sehingga terkesan bahwa pendidikan sekedar rutinitas belajar. Gugatan itu tentu terkait dengan kesadaran dan pemahaman masyarakat yang makin tinggi bahwa pendidikan memiliki nilai strategis dan 4 . kualitas pendidik yang tidak merata antara perkotaan dengan pedesaan. baik dari kalangan masyarakat. Selain itu. Dengan kondisi seperti itu. evaluasi kenaikan kelas. Parameter penyelenggaraan pendidikan nasional semestinya tidak sampai melunturkan semangat yang lebih mulia dari sekedar untuk memperoleh tanda lulus dari negara. Berbagai gugatan itu sehubungan dengan tidak baiknya penyelenggaraan pendidikan. melakukan proses pembelajaran sesuai jadwal. lebih bertanggungjawab. Ada kecenderungan pendidikan sekarang ini bersifat serimonial belaka dan lari dari substansi pendidikan itu sendiri. dan evaluasi akhir (Ujian Nasional) dan pada akhirnya kepada peserta didik yang lulus diberikan ijazah. Mulai dari gugatan sarana prasarana yang tidak memadai. kualitas atau mutu pendidikan yang masih rendah.kebodohan. maupun dari akademisi atau pakar pendidikan sendiri. dan berakhlak mulia. lebih terampil. pantas akhir-akhir ini gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan persekolahan menjadi lazim terdengar. ada pernyataan yang keras bahwa pendidikan persekolahan kita ‘melahirkan pengangguran yang sistematis’.

walau dalam tataran ide atau nilai-nilainya patut dipertahankan. Menurut Peursen (1988:11-15) tradisi bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah. Dalam hal ini maka pendidikan menjadi komponen penting bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya dengan melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya. yang lebih baik dan lebih layak. Bila membicarakan pendidikan dan kebudayaan sebenarnya telah ada pegangan kuat yakni Undang-undang No. sehingga betapa pendidikan nasional kita telah tercabut dari akar kebudayaannya. Demikian juga dalam PP No 29 tahun 1990 tentang Wawasan Wiyatamandala dinyatakan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan kebudayaan. Ketidaktercabutan dari akar budaya bukan berarti suatu 'tradisi' harus dipertahankan dengan cara tertutup atau defensif. Kesadaran bahwa melalui pendidikanlah dapat diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki suatu bangsa. riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Sebetulnya inti dari pendidikan ada dalam perjalanan hidup manusia karena manusia ingin mencapai hidup yang maju.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional harus dilandasi kebudayaan nasional. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia 5 . Pelestarian budaya tradisi tidak berarti wujud fisiknya tidak bisa berubah dan berkembang. Ia juga menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan. di mana nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan tidak sekedar dibicarakan tetapi juga dipraktekkan. Namun menurut HAR Tilaar (2000) tidak ada upaya yang jelas dan konkrit baik peraturan-peraturan maupun implementasinya bahwa pendidikan nasional berakar kepada kebudayaan nasional. tradisi justru dipadukan dengan keanekaragaman perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya.urgent dalam pembentukan karakter bangsa.

Sebut saja misalnya cabang seni rupa dan seni kriya maka akan ada seni lukis. dan kesenian. dan seni ukir. Kebudayaan merupakan ketegangan antara imanensi dengan transendensi sehingga dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia.menerimanya. sistem religi. Masing-masing suku di Indonesia memiliki berbagai bentuk kebudayaan baik dalam wujud konsep atau gagasan. ornamen. menolaknya. aktivitas. Dari berbagai macam corak dan bentuk budaya itu menurut Koentjaraningrat (1999) ada tujuh unsur kebudayaan universal yakni. sistem mata pencaharian. gerabah. anyaman. bahasa. Berbagai macam bentuk dan corak seni baik yang modern maupun tradisional. audio arts. seni batik. logam. baik seni pertunjukan maupun nonpertunjukkan. Cabang seni rupa atau seni kriya Minangkabau juga banyak seperti arsitektur. Salah satu suku bangsa Indonesia itu adalah Minangkabau. Bahkan ukiran-ukiran Minangkabau tidak saja bernilai estetis juga memiliki makna yang tinggi dan berkaitan dengan falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam yang 6 . sistem pengetahuan. tetapi juga selalu muncul dari arus alam raya itu untuk memiliki alamnya sendiri dan mengubahnya (transendensi). baik seni yang modern maupun yang tradisional. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan (imanensi). visual arts. dan ukiran. suku ini memiliki berbagai cabang seni. gerabah. sistem peralatan hidup dan teknologi. khusus kesenian terdapat pula cabang dan bentuk seni yang dimilki Indonesia. anyaman. mozaik. seni pertunjukan maupun seni nonpertunjukan (senirupa/kriya) semuanya dimiliki bangsa Indonesia. patung. tenun. dan benda-benda (artefak). atau mengubahnya. organisasi sosial. Dari tujuh unsur itu. dan audiovisual art . Sebagai sebuah bangsa yang besar diakui bahwa Indonesia memiliki banyak sekali corak dan ragam budaya.

dan rumah ibadah (mesjid dan surau). Seni ukir Minangkabau dapat dijumpai pada rumah-rumah adat dan rumah-rumah masyarakat. rebung juga bermakna walaupun masih muda namun tetap bermanfaat. Misalnya motif ukiran sikambang manih (bunga/akar yang cantik). yang tidak berperan sebagai hiasan belaka. Seni ukir juga dapat dijumpai pada bangunan perkantoran dan hotel baik milik pemerintah maupun bangunan milik swasta yang membuat gonjong (atap runcing ciri khas Minangkabau). Menurut Ibenzani Usman (1985) “seni ukir tradisional pada rumah adat Miangkabau. syair. Selain rumah-rumah adat yang memang harus berukir. akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik (terutama perantau) membuat rumah gadang yang dengan sendirinya rumah tersebut berukir. kantor-kantor. motif yang diambil dari bentuk alam ini melambangkan wajah ceria dari penghuni rumah atas tamu yang datang. Selain mempunyai nilai falsafah. Hal itu berkaitan dengan fungsi status sosial pemilik rumah di tengah masyarakat. semboyan itu sesuai dengan pepatah alam takambang jadi guru. melainkan juga sebagai simbol”. Motif pucuak rabuang (pucuk rebung/bambu muda) melambangkan waktu muda adalah saat yang baik menuju ke atas (Tuhan dan citacita) tanpa harus banyak cabang. Falsafah ini dapat dibuktikan dari karya sastra lama. 1996). semuanya menampilkan wujud alam flora. Bahkan seni ukir 7 . gurindam dan kaba bersumber dari kejadian-kejadian yang dekat dengan kita. maka penempatan seni ukir Minangkabau mempunyai aturan tertentu.terbentang untuk dipelajari). Kata-kata yang disusun dalam seni sastra seperti petatah-petitih. pantun. yaitu alam (Hakimy. Hampir seluruh motif-motif ukiran mempunyai makna yang berkaitan dengan falsafah hidup orang Minangkabau dengan samboyan belajar dari alam.

ukiran Pandai Sikek 8 . Motif sikambang manih diletakkan pada dinding bagian depan rumah adat. Pada awalnya. namun tetap punya ketentuan penempatan motif ukiran. Masing-masing daerah ini mempunyai style atau gaya masing-masing. (Ibenzani. Misalnya motif kaluek paku (relung pakis) bermakna tanggung jawab sosial seseorang di tengah masyarakat baik kewajiban dan hak terhadap anak. Ukiran Minangkabau tidak sekedar ornamen hias saja. Kabupaten Agam. Agak berbeda dengan daerah lain. Walaupun masing-masing daerah tidak sama persis tata letak motif ukirannya. (Sri Sundari. Motif ini bermakna bahwa si penghuni rumah panyuko tamu nan tibo (suka dengan tamu yang datang) atau sebagai simbol dari keramahtamahan masyarakat dalam menerima setiap tamu yang datang. kemenakan.Minangkabau tidak saja dijumpai pada bangunan yang ada di Sumatera Barat melainkan juga di luar daerah. ada tiga daerah di Sumatera Barat yang menggali dan mengembangkan seni ukir Minagkabau. hal ini bermakna waktu muda periksa diri sendiri terlebih dahulu dan baru memeriksa orang lain. Misalnya. 1985). Gaya tersebut bukan disebabkan perbedaan motif ornamen akan tetapi pengaruh teknik dan peralatan yang digunakan. Waktu muda pakis bergelung ke dalam dan setelah tua bergelung ke luar. ia mempunyai makna filosofis dan aturan tata letak. Sikambang manih merupakan julukan untuk gadis cantik yang mulai dewasa. Ketiga daerah itu secara kultural disebut dengan luhak nan tuo (daerah yang tua/asal) yakni Kabupaten Tanah Datar. Perbedaan itu sebagai kekhasan masing-masing daerah. ukiran Minangkabau tidak hanya terdapat pada perabot rumah tangga tetapi lebih banyak dijumpai pada rumah-rumah adat dan bangunan lainya. 2000). dan Kabupaten Limo Puluh Kota. dan orang kampung dan bahkan negara.

Beliau-beliau itulah yang pertama sekali mengajarkan seni ukir pada muridnya di sanggar-sanggar ukiran. Seni ukir dari kabupaten Lima Puluh Kota hampir-hampir tidak terdengar lagi (punah). Kesinambungan seni ukir di Pandai Sikek sekarang ini lebih banyak atas inisiatif masyarakat dan sedikit sekali adanya perhatian dan pembinaan dari pemerintah.Tanah Datar akan tampak lebih runcing karena pengaruh penggunaan pahat layanglayang. Perhatian dari pemerintah diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar berupa pendataan jumlah sanggar dan pengerajin. tidak semua daerah itu yang masih menggali dan mengembangkan seni ukirnya. pembinaan keindustrian dan perdagangan. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar tahun 9 . Marzuki Malin Kuniang lahir 1897 di IV Angkek Canduang dengan muridnya berjumlah 5 orang. Dari tiga daerah ini muncul tokoh atau guru yang mengajarkan seni ukir pada murid-muridnya. sanggar seni ukir daerah ini termasuk IV Angkek Candung sudah banyak beralih ke usaha perabot. Keberlanjutan seni ukir di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar terus berjalan walaupun tidak sebaik pengembangan seni ukir Bali dan Jepara. Sedangkan seni ukir di kabupaten Agam amat sedikit upaya regenerasi. Untuk saat ini. Daerah yang masih eksis dan cukup baik dalam mewariskan seni ukirnya pada generasi muda hanyalah Pandai Sikek. Rangkayo Sati lahir 1917 di Pandai Sikek kabupaten Tanah Datar dengan muridnya sebanyak 7 orang. dan Sabirin Sutan Muncak lahir 1937 di Banuhampu Sungai Puar kabupaten Agam dengan muridnya berjumlah 4 orang. Menurut Ibenzani Usman (1985) ketiga guru atau tokoh seni ukir itu yakni Ramli Dt.

pengetahuan. Di sisi lain diyakini bahwa ada bentuk atau model transformasi keterampilan.2009 terdapat 4 buah sanggar seni ukir di Pandai Sikek dengan jumlah murid (sekaligus pekerja) sekitar 55 orang. dan filosofi seni ukir oleh guru pada muridnya pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. serta tidak tahu kapan tindakan tegas yang mendidik dilakukan. tetapi juga tidak diwariskan kepada genarasi baru. Bila dilihat dari ilmu kependidikan. Sampai saat ini belum ada upaya dinas terkait untuk menelusuri bagaimana model pendidikan atau pelatihan seni ukir sehingga seni ukir Pandai Sikek tatap eksis dan 10 . terhambatnya bahkan hilangnya kesempatan dan hak-hak pendidikan peserta didik. Karena jika pelatihan dilakukan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan ada kemungkinan yang dilakukan tidak menerapkan prinsip-prinsip ilmu kependidikan. dan pewarisan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni ukir bukan saja tidak bernilai budaya. Menurut Prayitno (2008) ‘pendidikan tanpa ilmu pendidikan’ akan mengkerdilkan kehidupan pendidikan. terjadi kecelakaan pendidikan yang melecehkan peserta didik. Pembinaan yang telah dilakukan berupa pelatihan disain mobiler dan diikutsertakan dalam pameran perdagangan. Misalnya seorang pendidik atau pelatih yang tidak memahami pilar high-touch (kewibawaan) tentu tidak memahami perbedaan potensi peserta didik. juga tidak mampu memberikan kasih sayang dan kelembutan. alangkah baiknya pembinaan dan pelatihan bagi pengukir di Pandai Sikek di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. Keyakinan itu berdasarkan masih adanya sanggar seni ukir dan masih ada beberapa generasi muda yang tampak mengukir di sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Secara umum jika prinsip-prinsip ilmu kependidikan tidak diterapkan tentu proses pembelajaran (pelatihan). tidak jelas peserta didik harus diberi penguatan.

Menurut informasi dari salah satu murid Ramli Dt. 11 . takaran diganti oleh si pedagang). Bagaimana model. Untuk belajar falsafah ukir adakalanya dibawa lansung ke objek. karena semakin hari semakin sedikit saja generasi muda yang mempelajari seni ukir. Cara-cara pembelajaran di sanggar tardisional seperti ini tampak spesifik. Bila hal ini terjadi ada harapan jalan diasak urang lalu. pola. seperti membersihkan pekarangan rumah guru. dan cara beliau-beliau mengajarkan keterampilan seni ukir pada muridnya belum diketahui. misalnya untuk mengajarkan falsafah cukup dengan diceramahkan dan didiskusikan sambil mengukir. Misalnya seorang yang akan belajar seni ukir harus dengan kesadaran penuh dan disarahkan (diantar lansung) orang tua. dan yang mengajarkan seni ukir itu sekarang adalah murid-muridnya. Pada tahap awal murid seni ukir hanya membantu-bantu pekerjaan di sanggar. Dahulu ada tahapan-tahapan dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap murid dalam belajar seni ukir. Ramli Dt. Pada akhirnya bisa jadi seni ukir Minangkabau tidak lagi dikerjakan oleh putra Minangkabau. cupak diganti urang panggaleh (jalan ditukar orang yang lewat. Sekarang ini pemebelajaran tidak dilakukan seperti dulu lagi. terkadang pekerjaan itu tidak berhubung langsung dengan kegiatan mengukir. Rangkayo Sati telah meninggal. seperti belajar falsafah motif pucuak rabuang maka murid dibawa ke rumpun bambu. ia mempunyai kiek-kiek dalam mengajar seni ukir dan kebiasaan beliau itu tidak seluruh dan sepenuhnya diteruskan oleh muri-mridnya. Rangkayo Sati. Jika hal ini di biarkan terus-menerus ada kemungkinan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau akan punah. Guru tuo (pakar/ahli) seni ukir Pandai Sikek.berkembang.

Evaluasi dilakukan pada pertengan semester dan akhir semester. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. dibuatkan jadwal belajar/kuliah. Sedangkan di sekolah formal hanya mengajarkan keterampilan mengukir sampai pada batas terpenuhi standar kompetensi atau syarat lulus. Ada beberapa pendidikan formal di Sumetera Barat yang mengajarkan seni ukir yaitu. Filosofi motif dan penempatan motif ukiran juga tidak diajarkan pada sekolah formal. Pembelajaran seni ukir pada pendidikan formal telah ditetapkan tujuan yang akan dicapai setiap semester. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang.Dari pengamatan terdapat perbedaan pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional dengan pembelajaran seni ukir melalui persekolahan. Pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional tidak hanya melatihkan keterampilan tetapi juga diajarkan falsafahnya. SMK Negeri 8 Padang. dilakukan evaluasi atau ujian. Dari pengamatan selintas. SMK Negeri 4 Padang. perlakuan di sekolah formal tidak ditemui pada pendidikan nonformal terutama pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Pembelajaran berlangsung tanpa terikat dengan jadwal yang telah ditentukan dan juga tidak harus 17 12 . Ada tugas-tugas terstruktur yang diberikan pada peserta didik. dari isian kurikulum dirinci ke dalam satuan pembelajaran mingguan (sekitar 17 kali tatap muka). kepada peserta didik yang telah memenuhi standar kelulusan diberikan nilai berupa angka atau huruf. dan diberi nilai. Metode mengajar yang digunakan guru/dosen umumnya ceramah dan demonstrasi. Pembelajaran pada sanggar seni ukir diajarkan murid sampai pada mampu menjadi tukang ukir atau mengukir layak jual. INS Kayu Tanam. Artinya pada sekolah formal murid tidak dipersyaratkankan untuk menjadi tukang ukir.

Artinya kegiatan pembelajaran tidak hanya pada aspek keterampilan seni ukir dan pewarisan nilai-nilai budaya. Hasil karya pengukir dari sanggar ukir tradisional lebih diterima pasar atau konsumen. Jika dilihat dari hasil akhir. Evaluasi tidak ada yang terjadwal dan terstruktur sehingga tidak ada nilai akhir berbentuk huruf atau angka. Murid tidak dikelompokkan dalam bentuk klasikal. Sebagai buktinya adalah hasil karya pengukir dari sanggar tradisional Pandai Sikek lebih diminati. Jika karya mereka dapat diterima konsumen. maka keluaran sanggar tradisional seni ukir lebih terampil dan menguasai falsafah ukiran dibandingkan lulusan sekolah formal. Akan tetapi sebagai sebuah pendidikan nonformal maka dalam penyelenggaraannya tetap memiliki sistem pembelajaran yang terlembaga.. misalnya ada yang pada taraf pengenalan alat. mulai mengukir kasar (tingkat dasar). 13 . artinya antara satu murid dengan lainnya dapat berbeda-beda materi yang diberikan walaupun mereka dalam satu ruangan. Karya-karya mereka tidak saja disalurkan di daerah Sumatera Barat akan tetapi sampai diberbagai daerah Indonesia bahkan sampai ke Malaysia.kali pertemuan atau tatap muka. Oleh karena orientasi karya dapat diterima pasar maka pembelajaran pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menyentuh aspek ekonomi. tetapi sekaligus diajarkan enterpreneurship.. karena keterampilan yang dimilikinya perlu dan bermanfaat untuk dirinya bahkan masyarakat. dan ada yang taraf halus. maka usaha atau kegiatan seni ukir cukup baik. Dengan demikian murid yang telah menguasai keterampilan seni ukir ia akan mandiri. terutama kemapuan mengukir dan memahami falsafah seni ukir. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan adalah.

jenis motif ukiran. dan arti motif ukiran. keterampilan yang diperlukan dirinya. restoran. bangsa dan negara”. tentang pola-pola motif seni ukir Minangkabau. Penjelasan motif itu terkait dengan nama-nama motif ukiran. dan Fungsinya. rumah pribadi. dan cenderamata. Ibenzani Usman (1985) Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. sekarang sudah untuk kantor. alat. Dalam laporan penelitiannya dijelaskan berbagai bentuk motif ukiran yang terdapat pada rumah adat Minangkabau.. masyarakat. SP Gustami (2000) meneliti Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. maka pewarisan dan pengembangannya sangat diperlukan. Selain menjelaskan motif yang lazim dalam ukiran pada rumah adat Minangkabau. dan cara yang berorientasi kepada sistem penalaran Minangkabau (alur dan patut). Pola.agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki . Perubahan itu seiring dengan masuknya pariwisata di Sumatera Barat. Dalam disertasi ini hanya membahas tentang teknik yang meliputi tentang penggunaan bahan. Penelitian ini dilakukan tahun 1999 dan dicetak menjadi buku tahun 2000 yang membicarakan tentang. Sri Sundari (2000) meneliti “Seni Ukir Pandai Sikek Dalam Masyarakat Minangkabau yang Berubah” dibahas bahwa ukiran Pandai Sikek tidak hanya untuk rumah adat saja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan disebabkan motif ekonomi. toko. Marjani Martamin dan Amir B (1978) meneliti “Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”. dan fungsi ukiran pada rumah adat Minangkabau. perabot rumah tangga. Sehubungan dengan banyaknya aspek yang dapat digali dari seni ukir.. dalam penelitian ini juga disebutkan nama-nama motif Minangkabau yang tidak ditempatkan pada rumah adat. Telah ada beberapa peneliti dan penulis yang meneliti tentang seni ukir Minangkabau dan seni ukir daerah lainnya. (a) sejarah 14 .

perkembangan seni ukir Jepara mulai dari zaman Belanda sampai zaman orde baru dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kehidupan beragama, (b) peran tokoh-tokoh wanita dalam perkembangan seni kerajinan khususnya seni ukir, seperti peran R.A. Kartini dan Tien Soeharto, (c) proses pelembagaan dan pembauran gaya seni yang berkaitan dengan mebel ukir Jepara, sehingga hadirnya berbagai macam ragam hias, jenis produk, pola penerapan ornamen, teknik mengukir, keragaman disain, dan bentuk mebel yang diproduksi, (d) eksistensi produk mebel ukir Jepara dari lokal menjadi pemasaran global, dan (e) pola perkembangan dan penyebaran yang berkaitan dengan tradisi pewarisan keahlian, pembiasan prilaku perajin, pembinaan dan pengembangan mebel ukir Jepara. Harisman (2001) meneliti “Ukiran Masjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat; Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna”. Dalam tesis ini dijelaskan bahwa bentuk ukiran pada masjid tradisional di Minangkabau tersusun dari kesatuan, kompleksitas, dan intensitas yang merujuk pada pola ukiran rumah adat. Dijelaskan juga bahwa fungsi ukiran merupakan media pendidikan, media pengalaman estetis, pengintegrasian masyarakat, dan fungsi keindahan sebagai kebutuhan masyarakat. Penjelasan pada makna dikaitkan pada persoalan kearifan tradisional dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang tersimpul sebagai makna denotatif dan konotatif. Suardi (2000) meneliti “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid di Kabupaten Kerinci”. Temuannya menjelaskan bahwa ukiran pada bangunan Masjid di Kerinci menggunakan bentuk motif tumbuh-tumbuhan, geometris dan bentuk gabungan tumbuh-tumbuhan dan geometris. Penyusunan dengan pilin ganda, lingkaran, simetris dan asimetris. Penampang ukiran segi tiga, datar dan gabungan segi tiga, datar dan miring. Penggolongan nama motif berasal dari nama tumbuh-tumbuhan,

15

binatang dan alam benda, perwujudan merupakan stilirisasi dan meniru sifat asal nama motif tersebut. Makna motif dikaitkan dengan adat, agama, sosial budaya, dan sosial masyarakat pendukungnya. Ukiran menggunakan teknik ukiran tembus, rendah dan utuh. Nofrial (2009) meneliti “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci; Kajian Estetika dan Budaya”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa secara budaya Kerinci dikelompokkan atas hulu, tengah dan hilir, masing-masingnya memiliki rumah larik yang berukir. Daerah tengah dan hilir lebih kaya seni ukirnya dibandingkan daerah hulu, baik dari jumlah motif, warna dan teknik penggarapan. Akan tetapi motif ukiran mereka sama yakni, sama-sama mengambil bentuk tumbuh-tumbuhan dan geometris, serta unsur atau nama binatang. Dalam hal teknik pembuatan juga hampir sama, yang menghasilkan bentuk ukiran garis, ukiran rendah, ukiran sedang, dan ukiran tinggi, serta sama-sama tidak terdapat ukiran tembus. Beberapa hasil penelitian di atas tidak ada yang membahas lansung tentang model pendidikan atau cara mengajarkan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya. Oleh karena belum adanya penelitian dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan bagaimana seni ukir diajarkan, maka perlu adanya penelitian tentang model pendidikan seni ukir. Hal ini agar seni ukir Minangkabau khususnya seni ukir Pandai Sikek tidak hilang dan jika perlu dapat berkembang. Penelitian ini nanti diharapkan dapat mengukapkan cara mengajarkan seni ukir baik dari segi keterampilan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya kepada generasi muda. Model pendidi seni ukir pada sanggar tradisional yang ada di Pandai Sikek menjadi menarik dan perlu untuk diteliti, karena pewarisan seni ukir daerah ini tetap eksis dan lebih baik dari daerah lain di Sumatera Barat. Bagaimana model yang dilakukan dalam pewarisan seni ukir di Pandai Sikek

16

sehingga dapat bertahan menjadi bahan perbandingan untuk daerah-daerah lain. Pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek juga dapat menjadi model dalam pengembangan cabang-cabang seni lainnya. B. Identifikasi Masalah Dari konteks penelitian yang telah dilakukan tentang seni ukir dan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ternyata banyak persoalan dan masalah yang timbul. Berbagai permasalahan itu terkait dengan model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek Sumatera Barat. Agar permasalahan itu lebih fokus pada pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional Pandai Sikek, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut; 1. Sanggar seni ukir di Pandai Sikek telah ada semenjak beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini ada 4 sanggar seni ukir yang masih aktif dengan sekitar 55 orang murid. Guru yang pertama mengajarkan seni ukir telah meninggal dunia, pendidikan seni ukir dilakukan oleh sebahagian generasi ke dua yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Bahkan ada juga generasi ketiga yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Apakah sama model pendidikan yang diberikan oleh semua guru seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah model pendidikan yang diterima ketika mereka jadi murid sama dengan yang diberikan ketika mereka jadi guru seni ukir? Adakah terdapat inovasi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Guru atau pendidik pada sekolah formal telah dibekali dengan ilmu kependidikan, dan bahkan dilakukan penyegaran dengan berbagai pelatihan, penataran, workshop tentang cara mendidik. Guru bahkan juga dituntut untuk

17

Bagaimana model kurikulum seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah ada pentahapan-pentahapan materi atau kompetensi tertentu yang diberikan guru? Apa saja materi pelajaran seni ukir yang diberikan guru pada tahap awal? Kapan materi filosofi seni ukir diberikan pada murid? 4. dan waktu pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan diawal. Pada sanggar seni ukir tradisional Pandai Sikek tentu ada bentuk evaluasi yang diberikan sehingga murid dapat diberikan materi 18 . Guru memberikan materi dalam beberapa semester agar murid menguasai materi sehingga terampil dalam mengukir. Pada tahap awal pada pendidikan formal murid diperkenalkan dengan bahan dan alat. kemudian mengukir dasar. Hakikatnya evaluasi untuk mendapatkan sejauh mana penguasaan murid atas materi yang telah disajikan. ada teknik evaluasi. Pada sanggar seni ukir tentu juga ada kurikulum dan tahapan-tahapan tertentu sehingga murid mampu menjadi ahli ukir. Bagaimana model guru pada sanggar tradisional di Pandai Sikek mentransformasi keterampilan dan ilmu seni ukir pada muridnya? Sejauhmana komponen high-touch dan high-tech diterapkan pada pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 3. Ada acuan evaluasi. Materi pendidikan seni ukir pada sekolah formal telah dituntun dengan kurikulum dan silabus. dan setelah itu baru pemberian tugas-tugas.profesional terutama dalam ilmu kependidikan. dijelaskan berbagai motif. Sedangkan guru seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak tamatan lembaga kependidikan. dipertengahan dan pada akhir kegiatan. Dalam pendidikan formal dilakukan evaluasi guna menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Pada pendidikan formal ada kompetensi tertentu yang harus dicapai atau dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

(2) materi-materi ajar yang diberikan. Bagaimana pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut. 1. Fokus Masalah Berdasarkan tinjauan tentang pentingnya pewarisan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya dan upaya mentransformasikan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya banyak permasalahan yang muncul. dan post). D. Bagaimana model evaluasi seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Diyakini masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut dikemukakan dan dapat diteliti sehubungan dengan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek. Bagaimana bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan setiap tahapan pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek? 19 . dan (4) evaluasi hasil belajar untuk dapat ditentukan sebagai pengukir layak jual. (1) tahapan proses pembelajaran (pre. (3) penerapan high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran. C. Dari sekian banyak permasalahan tersebut maka penelitian ini difokuskan pada bagaimana model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek yang tercakup pada. while.selanjutnya. Namun demikian agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaikbaiknya maka perlu dilakukan pembatasan masalah.

Pemerintah Tanah Datar (Dinas Pendidikan. 20 . Sejauhmana penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 4. 2. Dinas PERINDAG. Untuk mengetahui pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 2. Tujuan Penelitian Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. 1. F. dan Dinas BUDPAR) dalam membina dan mengembangkan seni ukir Pandai Sikek sebagai salah satu aset budaya. Pemerintah Sumatera Barat (Dinas Pendidikan. Bagaimana bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek? E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi. Untuk mengungkap bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Dinas PERINDAG. 1. yakni. 4. Untuk melihat penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. dan Dinas BUDPAR) sebagai salah satu model dalam menumbuhkan. mengembangkan dan membina aset budaya khususnya seni ukir daerah lain yang hampir punah pada beberapa daerah di Sumatera Barat. Untuk mengungkap bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan pada setiap tahapan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek.3. 3.

(4) seni dan pendidikan seni. 1. melainkan sebagai landasan pijak yang dikaitkan antara fokus penelitian dengan variabel-variabel pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional. dan (5) model pendidikan. (3) kebudayaan Minangkabau. Bagi peneliti-peneliti selanjutnya baik dalam bidang seni maupun dalam pendidikan nonformal. Lembaga pendidikan formal Sumatera Barat khususnya baik tingkat SLTA maupun perguruan tinggi yang mengajarkan seni ukir sebagai sebuah model perbandingan dalam memberikan materi seni ukir. (1) hakikat pendidikan. Jaminan itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Isi dari amanat pembukaan UUD 1945 itu adalah bahwa negara berupaya untuk mencerdaskan 21 .3. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pendapat. hasil penelitian. 4. Hakikat Pendidikan Negara Indonesia menjamin seluruh rakyatnya secara konstitusi untuk mendapat pendidikan. 5. Lembaga pengelola pendidikan nonformal sebagai salah satu model dalam membina dan mengembangkan seni tradisional. 6. secara berturut-turut dikaji tentang. Teori-teori yang disajikan tidak dimaksudkan untuk menguji kebenarannya. Untuk itu. dan teori yang berkaitan dengan fokus penelitian. (2) hakikat pembelajaran. Bagi peneliti sendiri sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan sekaligus sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Doktor bidang ilmu pendidikan pada Pasca Sarjana UNP.

akhlak mulia. dan informal) bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan. masyarakat. berarti proses pendidikan (formal. bangsa dan negara”. Kedua suasana belajar dan pembelajaran diarahkan dalam upaya mengembangkan potensi murid. tetapi proses yang bertujuan. kecerdasan. Pendidik berkewajiban 22 . keterampilan yang diperlukan dirinya.kehidupan bangsa. Dari pengertian pendidikan ini ada beberapa hal yang perlu dipahami. Kesadaran yang tinggi dari founding father menggambarkan bahwa begitu pentingnya arti pendidikan bagi bangsa Indonesia. pengendalian diri. dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara seimbang. Dengan demikian. Untuk mewujudkan amanat pembukaan UUD 1945 tersebut maka dibuatkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendidikan agar rakyat Indonesia dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan. Upaya ini tentu dengan harapan anak bangsa Indonesia pada suatu saat dapat bersaing dan bersanding dengan bangsa lain dalam artian “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Dengan demikian. Proses pendidikan itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. kepribadian. Dalam pasal 1 ayat 1 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan. murid harus dipandang sebagai organisme yang sedang berkembang dan memiliki potensi. Pertama pendidikan adalah usaha sadar yang terencana. nonformal. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan harus memperhatikan proses belajar guna mencapai hasil belajar. Artinya proses pendidikan itu harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning).

yakni. Hal ini berbeda dengan orang primitif yang mendidik anaknya tanpa mendirikan intitusi pendidikan. Menurut Ansyar (1989:2) “pendidikan bukan saja dimaksudkan masyarakat untuk mewariskan kebudayaan kepada anak-anak generasi penerus mereka itu. serta pengembangan keterampilan dan kreativitas murid. Menurut Suprioyono (2006) bahwa pendidikan pada mulanya adalah upaya mewariskan pengetahuan. pengendalian diri. masyarakat. dan sikap. emosional. kepribadian. kecerdasan. akhlak mulia.mengembangkan potensi yang dimiliki murid. Taba (1962) mengemukakan tiga fungsi utama pendidikan. melainkan juga dilakukan oleh generasi yang lebih tua kepada generasi muda dalam sebuah komunitas melalui interaksi keseharian. 1989). Searah dengan itu. bangsa dan negara. Bila dilihat secara antropologis dari dau pendapat ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas pendidikan yang dilakukan suatu masyarakat merupakan kegiatan kebudayaan dalam upaya untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan. (a) pendidikan sebagai 23 . Pewarisan ‘budaya’ itu tidak saja dimaknai sebagai orang tua biologis kepada anak-anak mereka. karena orang tua dapat melakukan pewarisan budaya kepada anaknya (Ansyar. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. Kemudian ketiga pengertian pendidikan dinyatakan menjadikan murid memiliki kekuatan spritual keagamaan. tidak sekedar menjejalkan materi ajar atau memaksa mereka dapat menghafal data dan fakta. keterampilan. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap. dan sikap orang tua kepada anak-anak mereka. pengembangan kecerdasan intelektual. Transformasi kebudayaan itu tidak saja harus dari orang tua biologis kepada anaknya akan tetapi bisa dari orang yang telah mengetahui. generasi selanjutnya. keterampilan. tetapi juga merupakan suatau cara untuk mentransformasikan kebudayaan masyarakat itu”.

hal ini tidak lain karena ketergantungan masyarakat pada lembaga pendidikan sekolah atau pendidikan formal masih tinggi. dan melukis. Menurut Tilaar (2004:54) bahwa “pendidikan tidak dibatasi sebagai shooling. hal ini dapat dilihat bahwa ada kesadaran masyarakat untuk mendapat pendidikan yang lebih baik dan bermutu dari hari ke hari. maka kegiatan yang terdapat di sanggar seni ukir tidak lepas dari kegiatan pendidikan. tari. Artinya bahwa terdapat fungsi pemeliharaan kebudayaan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek di mana seni ukir masih ajeg sampai sekarang. Namun tingkat ketergantungan sebahagian besar masyarakat Indonesia dengan persekolahan masih tinggi. Selain itu ada juga orang tua yang menggugat penyelenggaraan pendidikan persekolahan dengan mendatangkan 24 . Orang tua dan peserta didik tidak puas dan memadai saja pendidikan persekolahan. fisika. (b) pendidikan sebagai alat bagi usaha transformasi kebudayaan. Orang tua mengikutkan anak-anaknya pada lembaga-lembaga baik untuk tambahan materi ajar persekolahan seperti matematatika. dan bahasa Inggris maupun non materi ajar seperti kursus piano. Sebagaimana dinyatakan oleh Surjadi (1994) bahwa umumnya masyarakat kurang menghargai pendidikan masyarakat yang diselenggarakan secara lokal. Dalam mewariskan kemampuan seni ukir terus dilakukan transformasi mengukir dari guru pada muridnya baik yang berkaitan dengan keterampilan maupun falsafah seni ukir. Berangkat dari tiga fungsi yang dikemukakan oleh Taba.pemelihara dan penerus kebudayaan. Pernyataan Surjadi ini tidak sepenuhnya benar. Pada akhirnya setiap individu murid yang telah belajar mengukir dapat berguna bagi diri dan masyarakatnya. dan (c) pendidikan sebagai alat bagi pengembangan individual anak. sebab pendidikan ternyata tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup masyarakat. atau dengan kata lain merupakan sebahagian dari kebudayaan”.

isi program. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pendidikan nonformal seperti mass education. 2009). Menurut Hamojoyo (1973:23) “pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontiniu di luar sistem persekolahan. learning society. Undang-Undang No. Pendidikan nonformal seperti kursus menjahit dan kursus montir juga diminati masyarakat.guru atau pendidik ke rumah seperti kasus home schooling. Untuk pendidikan nonformal di Indonesia berbentuk kursuskursus singkat (non-ijazah) dan pelatihan-pelatihan. termasuk belajar mengukir. sasaran didik. proses penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir seperti di Pandai Sikek termasuk pada bentuk pendidikan nonformal. baik yang berbasis agama maupun umum. informal. Memperhatikan Undang-Undang Sisdiknas ini maka yang termasuk pada pendidikan formal atau juga dinamakan pendidikan persekolahan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai pada pendidikan tinggi baik yang negeri maupun swasta. dan sumber belajar. nonformal. Sedangkan pendidikan informal disebut pendidikan sepanjang hayat yang tidak bisa dipisahkan dengan sistem pendidikan formal dan nonformal. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa ada tiga jalur pendidikan yakni jalur pendidikan formal. kelompok dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial guna meningkatkan taraf hidup di 25 . (Mustofa Kamil. Dengan demikian. melalui kurikulum. yang didalamnya terkandung makna bahwa setiap pengembangan pendidikan nonformal perlu perencanaan program yang matang. sarana. … untuk membimbing individu. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya memiliki suatu sistem yang terlembagakan. adult educaton. 2009). out-of-school education. social education (Mustofa Kamil. prasarana. lifelong education.

maka ada beberapa tujuan pendidikan nonformal yang searah dengan kegiatan sanggar seni ukir. Bila dilihat dari segi bentuk dan karakternya. dan prasarana untuk mewujudkan kesejahteraan hidup baik materi. kontrol bersifat membangun diri/demokratis. artinya mempunyai kurikulum. Pendapat ini dapat dipakai untuk melihat sejauh mana kelembagaan dan perencanaan penyelenggaraan pendidikan pada sanggar tradisional seni ukir di Pandai Sikek sebagai sebuah intitusi pendidikan. sarana. tampak bermacam-macam model pendidikan akan tetapi hakikatnya satu. Kemudian kepada murid diberikan kepercayaan untuk dapat kontrol diri sendiri guna membangun diri.bidang materi. Menurut Prayitno (2008:1) “Pendidikan itu 26 . Berdasarkan pendapat ini maka kegiatan-kegiatan yang terorganisir dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peserta didik seperti sanggar seni ukir di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. waktunya relatif singkat/berulang/paruh waktu. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal penyelenggaraannya terlembaga dalam sebuah sistem yang terencana. Pertama waktu penyelenggaraan bersifat jangka pendek artinya pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak sama dengan sekolah formal (tiga tahun). Kedua bidang ilmu yang diajarkan punya spesifik yaitu seni ukir lebih khusus seni ukir Minangkabau. Kurikulum pendidikan nonformal bersifat fleksibel memperhitungkan kondisi daerah (masyarakat). Bila merujuk pendapat ini. sosial dan mental peserta didik. isi bersifat individual/keluaran. sosial dan mental dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial”. Menurut Mustofa Kamil (2009) tujuan dari pendidikan nonformal bersifat jangka pendek dan spesifik bukan asas kepercayaan. sistem rekrutmen siswa menentukan syarat masuk. Ketiga perlakuan terhadap murid bersifat individual walaupun penyelenggaraan dalam suatu ruangan.

dan pelaksana pendidikan itu sendiri. 27 . melakukan analisa secara jernih. Dalam hal pendidikan manusia sekaligus sebagai sumber.. kebutuhan individu untuk hidup layak . Dengan demikian manusia memiliki potensi untuk berkembang dan dikembangkan kepada hal-hal yang bersifat positif dan negatif. Agar manusia cenderung berkembang ke arah perilaku yang positif atau baik. bagi pembentukan manusia yang dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa salah satu ciri keberhasilan pendidikan dalam mematangkan pribadi adalah apabila seseorang tersebut dapat hidup layak dan baik.. oleh manusia dan untuk manusia. Proses pendidikan memungkinkan potensi seseorang dapat dikembangkan secara optimal sehingga ia dapat berkembang secara utuh dan pada akhirnya dapat eksis di tengah masyarakat dan berhasil menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.bermacam-macam akan tetapi pada hakikatnya satu. serta dengan tenang menghadapi setiap persoalan atau masalah. 2008). Memperhatikan pendapat Prayitno ini. Ia dapat sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek pendidikan dan dapat berperan sebagai pelaksana pendidikan (pendidik/guru) dan sekaligus sebagai peserta didik (siswa). maka diperlukan adanya proses pendidikan yang menyentuh terhadap hakikat kemanusiaan itu sendiri. yaitu upaya untuk memuliakan kehidupan manusia”. (Prayitno. yang jelas adalah pendidikan dapat memenuhi semaksimal mungkin keinginan masyarakat. maka manusia dalam konteks pendidikan merupakan unsur terpenting. dan secara matang merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya... Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk memuliakan harkat martabat manusia. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah dari manusia. Menurut Ansyar (1985) . sarana.

air. ia dapat sebagai objek dan subjek. batu. padahal harkat dan martabat manusia itulah yang benar-benar membedakan manusia dengan makhlukmakhluk lain. tumbuhtumbuhan. dan menentukan keberhasilan pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal. Jika diurut dan dikemukakan sebenarnya sudah banyak kajian pakar tentang manusia dan pendidikan. Kegiatan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. maka perlu dibahas dan dikaji hakikat manusia. Manusia dalam hal ini peserta didik dan guru menjadi amat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Akan tetapi manusialah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. dan malaikat. diri sendiri dan sebagai makhluk sosial. hewan. api. Harkat dan Martabat Manusia Ada banyak makhluk yang diciptakan Tuhan seperti. dan nonformal. dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik 28 . Pemikiran itu belum menjelaskan secara penuh harkat martabat manusia. Kajian-kajian para pakar tentang manusia dalam kaitan dengan pendidikan pada umumnya masih berkisar mengenai manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya.Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu ada yang berbentuk formal. di antaranya. Kami telah memuliakan anak cucu Adam. Sebegitu pentingnya manusia dalam keterlibatannya pada perencanaan. jin. a. setan. Dan sungguh. manusia. dan Kami angkat mereka di darat dan di laut. Kemulian dan kesempurnaan manusia tidak hanya pernyataan manusia saja akan tetapi banyak dijelaskan tuhan dalam firmaNya. baik sebagai makhluk ciptaan tuhan. proses. informal. Belum banyak kajian yang menjangkau hakikat manusia secara utuh dalam pendidikan.

(QS 95:4). terutama kemampuan kreativitas. Mempedomani pendapat ini maka pernyataan bahwa ‘pendidikan memanusiakan manusia’ tidaklah tepat. 1989). Berangkat dari pendapat di atas bahwa 29 . kebebasan berpikir. Manusia juga punya budi nurani yang menjadikan manusia punya rasa. khalifah di muka bumi. Akan tetapi potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik perlu dikembangkan. makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain memandang sisi keduniaannya manusia juga merancang kehidupan akhiratnya. Sehingga dengan bekal itu manusia mampu merancang sendiri segala kebutuhannya. dan cipta. Sejalan dengan itu. penemuan sendiri. Selain dari kesempurnaan fisik. karsa. Keseluruhan pandangan ini menjadikan manusia memiliki harkat dan martabat. manusia dibekali Tuhan dengan akal. dan oleh manusia sendiri. paling tinggi derajatnya. dan nafsu. serta pengembangan potensi fisik dan mental (Ansyar. sebab sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik (murid pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek) sebenarnya telah sempurna dan mulia. hati. karena manusia tidak sekedar punya kebutuhan akan tetapi dengan akalnya mampu merancang kebutuhannya yang sekarang dan masa depan. Prayitno (2008:19) menyatakan bahwa hakekat manusia adalah makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. (QS 17: 70) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. diasah dan dimatangkan.dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. dan pemilik Hak Azasi Manusia (HAM). untuk. Menurut Prayitno (2008) bahwa kebutuhan dan pengembangan manusia dari. Maksudnya pemusatan pengembangan potensi individu. John Dewey dengan gerakan progresifnya mengingikan peranan yang lebih kreatif dari sekolah untuk pengembangan individu.

(2) makhluk yang paling tinggi derajatnya. Kajian tentang hakikat manusia secara menyeluruh. yaitu bahwa manusia adalah (1) makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. kelima butir konsep dasar harkat martabat manusia itu tetap melekat pada dirinya. saling memberi dan saling menerima serta saling melindungi. (5) pemilik hak-hak asasi manusia (Prayitno. Sedangkan modal hak asasi manusia dipenuhi melalui saling pengertian. Tujuan tersebut adalah kesempurnaaan manusia sesuai dengan 30 . Implementasi dari lima konsep dasar yang selalu melekat pada dirinya. akan mencakup harkat dan martabat manusia. maka manusia terus berusaha mengembangkan kehidupannya di atas bumi. Adanya ketinggian derajat ditampilkan melalui upaya menjaga kehormatan dan menolak hal-hal yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaannya.pendidikan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek merupakan kegiatan pengembangan potensi diri murid. 2008:19). Kekhalifahan diselenggarakan melalui penguasaan dan pengelolaan atas sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam alam yang nyaman dan tenteram. Kreativitas murid-murid pada bidang seni diarahkan pada kegitan mengukir. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa dari awal penciptaan manusia sampai dengan perjalanannya kembali ke hadapan sang pencipta. Bekal kesempurnaan dan keindahannya diwujudkan melalui penampilan budaya dan peradaban yang terus berkembang. tujuan pendidikan pada dasarnya mengacu pada tujuan hidup manusia. Modal keimanan dan ketaqwaannya ditunaikan melalui peribadatan yang tulus dan ikhlas dalam mencapai redhaNya. (3) khalifah di muka bumi. mensejahterakan dan membahagiakan. Menurut Nasution (1995:49). (4) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berkaitan dengan pendidikan. Dimensi itu dalam upaya pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya. Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan dimensi kemanusiaannya. to live with others. (3) dimensi kesosialan. b. (4) dimensi kesusilaan. maka hakikat manusia sangat perlu diketahui guna mencapai tujuan pendidikan. bermartabat dan membahagiakan. 1996) bahwa pendidikan untuk semua. Mukhtar (20001:7) menyatakan bahwa pembahasan tentang tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan tentang tujuan hidup manusia sesuai dengan hahikat kemanusiannnya. (2) dimensi keindividualan. Panca Daya Selain dari konsep dasar tentang harkat dan martabat kemanusian maka ada beberapa dimensi yang melekat pada manusia. dan sebagai makhluk sosial. yaitu kehidupan yang mulia. Dimensi-dimensi itu adalah (1) dimensi kefitrahan. 31 . learning to live together. manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Dengan mempedomani dimensi ini maka pembelajaran pada sanggar seni ukir akan menjadi lebih baik sebab proses pendidikan didasari dengan pemahaman manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.harkat dan martabat serta ketinggian derajat yang dimilikinya. dan (5) dimensi keberagamaan. Menurut Prayitno (2008:21) dimensidimensi itu berkaitan dengan manusia sebagai hamba tuhan. Hal ini sejalan dengan salah satu harapan PBB (UNESCO. Selajan dengan itu. Dengan teraktualisasikan harkat dan martabatnya. Kemudian diyakini bahwa pendidikan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan agar manusia dapat memelihara kelanjutan hidupnya (survival). sebagai diri sendiri.

(2) daya cipta. orang lain. dan fungsi otak.Menurut Prayitno (2008:26) guna merancang hidupnya yang lebih baik. produk-produk teknologi dan seni. produk keilmuan. manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan. pikiran. (4) daya rasa. untuk berubah dan keluar dan kondisi status quo. Kemampuan atau keinginan berbuat dan semangat (termasuk di dalamnya prakarsa) merupakan isi daya karsa. lebih sempurna. dengan penekanan lebih besar pada unsur-unsur kreativitas. Hal-hal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk ke dalam daya rasa. fungsi kecerdasan. dari 32 . Daya cipta. yang disebut panca daya. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya. Kajian panca daya ini dapat dijelaskan bahwa. yaitu: (1) daya taqwa. Daya karsa merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu secara dinamis bergerak dan satu posisi ke posisi lain. Daya rasa mengacu kepada kekuatan perasaan atau emosi dan sering disebut sebagai unsur afektif. Daya karya juga melahirkan produk yang paling sederhana sampai yang paling canggih. dan lebih berarti baik dunia maupun akhirat maka manusia juga dibekali dengan kekuatan atau daya pengembangan. baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. untuk berkembang. Daya cipta bersangkut paut dengan kemampuan akal. dan (5) daya karya. Untuk memungkinkan perkembangan individu ke arah yang dimaksud itu. Daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri. Produk-produk yang berupa barang-barang konsumsi. dan/atau lingkungan. (3) daya karsa. berbagai jenis pelayanan dan penampilan. daya taqwa merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan dan Tuhan Yang Maha Esa. ini seringkali disebut sebagai komponen kognitif pada diri individu.

Manusia yang utuh itu sendiri dalam paradigma baru pendidikan Indonesia adalah yang berfikir kreatif. dimensi rasional. dan intelegensi instrumental. baik untuk kebutuhan pribadi maupun yang komersial. Menurut Kavlan (2000) dengan daya karya manusia menghasilkan berbagai produk baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. baik untuk komersil maupun untuk pewarisan nilai budaya. intelegensi emosional. Dalam kajian dewasa ini. Dengan demikian pendidikan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek perlu memperhatikan harkat dan martabat manusia yang mengandung lima dimensi kemanusiaan dan pancadaya. Menurut Waras Kamdi (2008) dalam paradigma pendidikan Indonesia manusia tidak dipandang sebagai alat produksi tetapi harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh. Dapat disimpulkan bahwa. Kegiatan mengukir di sanggar tradisional di Pandai Sikek merupakan salah satu bentuk kegiatan daya karya manusia.yang tradisional sampai yang modern. yang mandiri. karena merupakan modal dasar kemanusiaan yang sudah dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan bahkan sejak ia masih berada dalam rahim ibunya. 2000:21). daya-daya itu sangat diperlukan manusia dalam menghasilkan berbagai produk baik yang modern maupun yang tradisional. panca daya sering dimanifestasikan sebagai kemampuan dasar yang disebut intelegensi spiritual. Sejalan dengan itu Prayitno (2008) menyatakan bahwa panca daya itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan. Mempedomani ini betapa pentingnya memahami hakikat panca daya terutama dalam penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. termasuk dalam hal ini produk seni ukir. dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakat (Tilaar. Modal dasar ini yang diarahkan dalam pembetukan manusia yang lebih baik dan 33 .

Sejauh mana komponenkomponen ini diterapkan akan di lihat pada objek penelitian. Menurut Aunurrahman (2009) belajar merupakan kegiatan penting setiap orang. 2. nonformal. Meyer (1999) melihat belajar dan tiga pandangan yakni (1) belajar sebagai penguatan respon.. Pandangan para ahli tentang konsep belajar cukup beragam. Manusia seutuhnya adalah sosok individu yang harkat dan martabatnya terwujudkan secara penuh melalui pengembangan hakikat manusia dengan kelima dimensi kemanusiaannya melalui pengaktifan panca daya secara optimal. (2) belajar sebagai pemerolehan pengetahuan.. Perintah Iqra’ (baca!) dalam konsep Islam bermakna belajar. karena tidak ada pendidikan tanpa belajar.niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orangorang yang beriman dan berilmu”. Paradigma pendidikan (formal. hal ini terlihat dari definisi belajar yang diungkapkannya. dan (3) belajar sebagai konstruksi pengetahuan. artinya untuk mendapatkan dan memahami suatu makna hanya didapat dengan cara belajar. Ketiga paradigma ini adalah paradigma 34 .lebih utuh. Bila dicermati pandangan Meyer ini. termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar.. Gage (1984) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Hakikat Belajar Pembahasan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar. dan informal) ke depan haruslah dialihkan pada pemuliaan harkat martabat manusia yang dikemukakan. Dari hasil belajar manusia akan berilmu dan ilmu yang dibarengi dengan iman menjadikan derajat kehidupannya menjadi lebih tinggi. tanpak bahwa ada 3 paradigma bagaimana konsep belajar diformulasikan. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Mujadalah ayat 11: “.

memilih. Menurut Muhibbin (2005) belajar amat penting artinya bagi perkembangan dan kehidupan manusia. 1996). Menurut Piaget (1971) pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir. pengolahan informasi. Bila dikaitkan dengan pembelajaran yang terjadi di sanggar ukir maka ketiga paradigma ini menjadi dasar bagi pembentukan peserta didik. Memperhatikan hal ini maka proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dan meneksploitasinya sampai mereka memiliki keterampilan sendiri. Pandangan kognitivisme belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan. Sedangkan paradigma konstruktivisme melihat pengetahuan tidak terlepas dari proses pembentukan (konstruksi) yang terus menurus berkembang dan berubah. 2009). dan konstruktivistik. Proses pembelajaran itu sendiri harus berorientasi kepada pengembangan segenap dimensi kemanusiaan.behavioristik. Menurut pandangan behavionistik belajar adalah perubahan perilaku peserta didik. informasi dan faktor-faktor lain. akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman baru. stimulus yang diterima disesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman sebelumnya. (Aunurrahman. kognitivistik. Orang dikatakan belajar apabila ada perubahan perilaku yang diakibatkan dan dampak stimulus dan respon sehingga menjadi suatu kebiasaan (Schuman. Konsepsi utama teori ini adalah stimulus dan respons (S-R) sebagai dasar adanya perubahan perilaku. Oleh karena belajar manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lain. retensi. dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk mempertahankan kehidupannya dalam persaingan antar bangsa. 35 . karena belajar juga manusia dapat mengeksploitasi.

Sebaliknya pembelajaran yang tidak terencana sulit mendapatkan hasil maksimal. Seorang murid yang belajar dalam situasi baik dan kondisi yang disiapkan akan mendapat hasil maksimal. bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman. Kondisi itu menurut Aunurrahman (2009) adalah kondisi internal menyangkut kesiapan peserta didik. Jadi. Tugas guru adalah menyelenggarakan proses 36 . Dengan demikian kualitas perkembangan manusia amat tergantung dari apa dan bagaimana ia belajar.Menurut Muhibbin (2005) bahwa tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. Artinya perkembangan murid akan didapat dari pembelajaran yang terencana dengan baik. Thorndike) bahwa jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang ini tidak akan berguna bagi generasi yang akan datang.L. kondisi eksternal yaitu situasi belajar yang secara sengaja yang diatur oleh pendidik. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal tentu tuntutan terhadap tugas guru/ pendidik menjadi amat penting. Dalam hal ini (Howe. Menurut Gagne cara berpikir seseorang tergantung pada keterampilan apa yang telah dimilikinya. Teori belajar yang dianggap pas untuk ini adalah perpaduan antara behaviorisme dan kognitivisme. Berdasarkan pendapat ini maka perkembangan berpikir kompleks dan baik tidak akan mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa proses belajar. dalam membahas model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek akan bermanfaat sekali paradigma-paradigma teori belajar yang dikemukan di atas. dan keterampilan serta hirarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas. Lebih lanjut dijelaskan bahwa belajar tidak suatu yang terjadi secara alamiah. 1980) menjelaskan pendapat pakar teori S-R Bond (E. akan terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu.

Agar potensinya dapat berkembang secara serasi dan maksimal. yakni high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). selain interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. maka sebenarnya tujuan pendidikan syarat dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Sehubungan dengan komponen-komponen pendidikan tersebut Prayitno (2005 : 15) mengemukakan bahwa interaksi antar komponen pendidikan tersebut terjadi dalam suatu hubungan yang unik.pembelajaran agar pada diri peserta didik berkembang suasana belajar. guru memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi peserta didik agar mampu kreatif. sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan etika pendidikan yang menyatakan: bahwa tanggungjawab puncak pendidik berada di dalam proses pembelajaran. Sejauh mana pemahaman seorang guru terhadap tujuan pendidikan akan berdampak pada penampilannya dalam mengajar. Berdasarkan pendapat Imam Barnabib. maka guru harus dapat menerima siswa secara utuh (phisik dan psikis) dalam menjalin intraksi edukatif dalam proses pembelajaran. Pemahaman guru terhadap hakikat manusia sebagai peserta didik menjadi penting dalam proses pembelajaran. Guru tidak saja 37 . a. Hal ini sesuai dengan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesi. Hubungan yang harmonis dan kondusif antara guru dengan murid memungkinkan pengembangan potensi murid lebih tinggi. Peran Guru Menurut Imam Barnadib (1996). karena tidak terdapat pada kegiatan lain. terutama dalam perlakuannya terhadap peserta didik (murid). Interaksi edukatif antara guru dengan murid akan tejalin dengan harmonis apabila pemahaman guru terhadap tujuan pendidikan baik. Ada dua kandungan pokok yang terdapat pada hubungan pendidikan itu. dan dinamis. oleh karena itu peran seorang guru menjadi sangat penting.

mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. karena potensi masing-masing 38 . keunikannya. Berangkat dari pendapat di atas maka seorang guru harus benar-benar memperhatikan potensi murid dalam proses pembelajaran. mengembangkan kreativitas dan mengembangkan kerjasama.berperan sebagai pengajar dalam proses transfer materi. Minat dan bakat murid yang belajar pada sanggar seni ukir mestinya mampu dikembangkan guna mencapai sasaran. mengembangkan keingintahuan. dan fitrah bertuhan. Hal ini antara lain dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip belajar yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar dengan melakukan dan mengembangkan kemampuan sosial. bakat dan potensi yang dilikinya secara lebih optimal. minat dan bakatnya. potensi. Mempedomani pendapat dua pakar ini maka seorang guru seni ukir selayaknya harus memahami potensi yang ada pada muridnya. Peters (1981) mengemukakan bahwa tugas dan tanggungjawab guru antara lain adalah memberikan bimbingan kepada peserta didik melalui penjabaran kurikulum sehingga maknanya dapat mempengaruhi dan terinternalisasikan dalam diri peserta didik dalam rangka pengembangan minat. imajinasi. Menurut Nana Sujana (2002) bahwa dalam proses pembelajaran selain tugasnya sebagai pendidik. akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing. guru juga bertugas untuk memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga tujuan belajar akan tercapai dengan maksimal. perbedaannya. Dengan demikian tugas mendidik akan terlaksana dengan baik apabila guru benar-benar memahami peserta didik. dan latarbelakangnya. Menurut Suke Silverius (2003). kegiatan belajar mengajar harus berorientasi kepada pengembangan dimensi-dimensi kemanusian peserta didik.

Perencanaan yang sadar bila seorang guru betul-betul memahami fungsinya sebagai sumber belajar dan sekaligus juga pendidik. Perbedaan itu merupakan fitrah manusia dan itulah dimensi kemanusian. ada yang baik dalam bahasa. ing madya mangun karso. (2) pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran. Kecepatan untuk menguasai materi ajar antara satu dengan yang lainnya juga berbeda. Sedangkan pilar kewiyataan yang merupakan perangkat praktik pembelajaran adalah (1) materi pembelajaran yang diturunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya.murid tidak sama. Menurut M. Disadari bahwa proses pembelajaran itu sendiri merupakan kegiatan yang terencana dengan sadar oleh guru guna mencapai tujuan pendidikan. tut wuri handayani menjadi jiwa pilar kewibawaan. ada yang lebih baik dalam matematik. dan (5) keteladanan. proses pembelajaran harus didukung dengan pilar kewibawaan dan kewiyataan. (3) lingkungan pembelajaran. Dalyono. (3 alat bantu pembelajaran. maka seorang guru harus menerapkan prinsip high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). (4) tindakan tegas yang mendidik. (2) kasih sayang dan kelembutan. dan panca daya. dan pancadaya. dan (5) penilaian hasil pembelajaran. Ada murid yang mempunyai potensi dalam bidang olah raga. Menurut Prayitno (2008). Mempedomani berbagai pendapat di atas ternyata peran seorang guru dalam proses pembelajaran begitu penting. (3) penguatan. (1996) guru dituntut untuk lebih berperan dalam proses pembelajaran. Menurut Prayitno (2008) motto pendidikan nasional yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro ing ngarso sung tuludo. Untuk itu seorang guru harus memahami hakikat manusia. ia 39 . dimensi kemanusiaan. dan ada yang berpotensi dalam seni. Pilar kewibawaan meliputi (1) pengakuan dan penerimaan. Maka di samping memahami hakikat kemanusiaan (peserta didik). dimensi kemanusiaan.

. ia mengarah pada pembelajaran dengan teknologi yang tinggi (high tech). Kurikulum juga diartikan berbeda-beda oleh para penulis buku pendidikan. ijazah. Dengan demikian sebagai pemegang peran penting dalam proses pembelajaran maka kedua pilar ini mesti dikuasai seorang guru. karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan. Hal mana setiap guru dan murid sama-sama menjadikan kurikulum sebagai pedoman menuju tujuan yang akan dicapai. tetapi sebahagian besar setuju . atau gelar kesarjanaan (Zais. baik oleh pengelola maupun penyelenggara. Hal itu tidak saja pendidik pada lembaga formal termasuk pendidikan nonformal seperti di sanggar ukir. serta teori-teori belajar adalah kekuatan-kekuatan yang 40 . Berangkat dari pendapat Ansyar maka setiap orang dapat memberi makna dan maksud berbeda tentang kurikulum.. Ansyar (1989:29) bahwa walau terdapat ketidaksepahaman para ahli mengenai apa yang dimaksud dengan dasar-dasar kurikulum. individu. Sedangkan falsafah Minangkabau alam takambang jadi guru menjiwai pilar kewiyaaan. salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum Menurut Ansyar (1989) kurikulum diartikan berbeda-beda oleh beberapa golongan orang atau masyarakat. Walau terjadi perbedaan pendapat tentang kurikulum namun semunya bersepakat bahwa kurikulum tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. b.kait berkait untuk menjangkau (to touch) kedirian peserta didik.. Menurut Mulyasa (2006). Arti secara harfiah dari kurikulum itu sendiri yang diartikan sebagai “lapangan pertandingan”. masyarakat dan kebudayaan.. 1976: 6). sebagai “arena” dimana pelajar ‘bertanding’ untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai ‘garis finis’ berupa diploma.

sebagai reproduksi kultural. sebagai reproduksi kultural. Konsepsi dasar yang dikemukan Ansyar tentang kurikulum memberikan gambaran bahwa kegiatan apapun yang sekaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran memerlukan kurikulum. melainkan seluruh penyelenggaraan pendidikan. Konsepsi ini memberikan pemahaman bahwa kurikulum dalam pelaksanaan pendidikan dapat dimaknai berbeda namun yang terpenting adalah tidak mungkin sebuah penyelenggaraan pendidikan tanpa kurikulum. Menurut Tyler (1949). Disisi lain para ahli melihat kurikulum bukan sekedar perangkat mata pelajaran melainkan sebagai pengalaman belajar. Dari banyak difinisi tentang kurikulum. sebagai konten. tetapi kurikulumnya tentu tidak seperti sekolah formal yang telah tersusun dan terstruktur. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa setiap pengelola dan penyelenggaraan pendidikan mesti memiliki kurikulum oleh karena kurikulum merupakan acuan. Konsep dasar yang lebih mendekati maksud kurikulum dalam penelitian ini adalah kurikulum sebagai kegiatan berencana. pengalaman belajar adalah pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan intraksi mereka dengan konten dan kegiatan belajar. sebagai hasil belajar. yakni sebagai program studi. sebagai kegiatan berencana. dan sebagai pengalaman belajar. Ansyar (1989) memberikan beberapa konsepsi dasar tentang kurikulum. Mulyasa sendiri tidak membatasi hanya pendidikan formal saja yang harus memiliki kurikulum. dan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan.berpengaruh besar terhadap konsep dan aplikasi kurikulum. arahan. 41 . Dengan demikian pendidikan yang berlangsung pada sanggar ukir tradisional di Pandai Sikek diyakini memiliki kurikulum. sebagai sistem produksi.

Dari pendapat ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum segala perencanaan bahan-bahan atau materi ajar yang akan diajarkan guru dalam proses pembelajaran termasuk ke dalamnya tentang urutan. Berkaitan dengan pendapat di atas maka ada kurikulum pada setiap sanggar ukir di Pandai Sikek. sekolah didirikan agar pelajar atau anak didik mendalami pengetahuan. Hal ini sejalan dengan Macdonald (1965) yang mendifinisikan kurikulum sebagai suatu rencana pekerjaan. Konsep dasar ke dua adalah kurikulum sebagai reproduksi kultural. metode dan teknik penyajian. namun kegiatan belajar dilakukan sesuai dengan perencanaan guru. maka menurut Ansyar (1989: 15) banyak orang menganggap sekolah adalah bagian dari kebudayaan. serta teknikteknik yang diperlukan anak untuk hidup layak di masyarakat. yaitu rencana yang menuntun pengajran. Jadi memperhatikan proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek terdapat perencanaan-perencanaan yang dilakukan guru sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai sasaran. sikap. sikap. nilai-nilai. Taba (1962) menyatakan bahwa kurikulum merupakan rencana untuk membelajarkan pelajar. kemudian dapat 42 . dan nilainilai yang dianut orang tua mereka.Menurut Ansyar (1989) sebagai kegiatan berencana maka kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. Walaupun perencanaan itu tidak merupakan dokumen tertulis seperti yang terdapat di sekolah formal. Menurut Taba (1962) bahwa sekolah didirikan agar dapat mengajarkan pada anak-anak ilmu pengetahuan. Perencanan itu meliputi persiapan materi sesuai dengan tahapan belajar masing-masing murid pada sanggar ukir tersebut. Dari perencanaan itu diharapkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan sasaran.

Berdasarkan pendapat ini dapat dilihat bahwa kegiatan transformasi seni ukir yang terjadi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan kegiatan reproduksi kultural. Perubahan itu merupakan hasil bimbingan guru yang terencana. Menurut Ansyar (1989) ada dua kelompok yang melihat kurikulum sebagai pengalaman belajar. Kelompok yang mengkonsepsikan secara luas sering menyebutnya dengan “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). seperti seorang murid yang sebelumnya tidak bisa mengukir menjadi menguasai cara mengukir dan mampu menciptakan motif-motif baru. Zais (1976:8) yakin bahwa semua pengalaman yang sesungguhnya diperoleh pelajar dari penerapan kurikulum sekolah merupakan data yang amat berharga bagi penentuan keberhasilan dan efektifitas kurikulum yang direncanakan. yakni konsepsi kurikulum dari segi yang sempit (sebagai suatu pelajaran yang diajarkan). Memperhatikan pendapat ini maka setiap apa saja yang memberi pengaruh dari proses belajar pada murid merupakan implikasi dari kurikulum. Maka dalam hal ini Foshay (1969) mengkonsepsikan kurikulum yang terdiri dari semua pengalaman belajar di bawah pimpinan guru. Kurikulum pada sanggar seni ukir di Pandai 43 .meneruskan dan bertanggung jawab terhadap pengemabangan kebudayaan masyarakat itu. Bagian ketiga adalah kurikulum sebagai pengalaman belajar. Kepada generasi muda diajarkan keterampilan dan nilai-nilai seni ukir yang merupakan warisan budaya masyarakat setempat. dan segi yang luas (semua pengalaman yang diperoleh di sekolah atau di luar sekolah). Hal ini berkaitan dengan bagian-bagian tertentu dalam pembelajaran seni ukir tidak senantiasa diperoleh dari aspek-aspek yang direncanakan guru.

pemahaman adat dan falsafah. bersosialisasi. Sedangkan untuk mengantarkan siswa pada pengalaman belajar dapat dilakukan dengan memberikan perhatian yang baik. Menurut Abdul Azis Wahab (2008) di Indonesia para guru dan pendidik tidak membedakan pengertian metode. sampai pada prosedur evaluasi untuk mendapatkan aktifitas pembelajaran yang bermakna. Menurut Zais (1976) inti dari kurikulum adalah terselenggaranya aktifitas pembelajaran yang bermakna. dan (5) taktik pembelajaran. (2) strategi pembelajaran. bahkan ada yang sulit membedakannya.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran. target yang jelas. (3) metode pembelajaran. strategi. isi yang baik. (http://www. diambil 13 Februari 2010). yang 44 . prosedur evaluasi yang runtun (Taba. c. Metode Pembelajaran Ada beberapa istilah yang dalam proses pembelajaran hampir sama artinya. (4) teknik pembelajaran.psb-psma. Aktifitas belajar yang baik adalah yang melibatkan siswa untuk belajar sendiri melalui pengalaman. dan teknik mengajar walaupun secara gradual ada perbedaan di antara ketiganya karena itu sering digunakan secara interchangable. menentukan target. Jadi pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Menurut Akhmad Sudrajat (2009) istilah yang memiliki kemiripan makna. Jadi kurikulum yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah sejauh mana guru memberikan perhatian. 1962).Sikek juga mempunyai dampak nyata tetapi tidak direncanakan seperti kemampuan berwirausaha. sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya adalah: (1) pendekatan pembelajaran. kurikulum tersebut dapat mempengaruhi pembentukan pengalaman belajar dan pendidikan.

terdapat dua jenis pendekatan pembelajaran. (4) simulasi. Dapat disimpulkan bahwa materi yang telah disiapkan guru disampaikan atau diangkat melalui metode pembelajaran. (2008) menyatakan strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dilihat dari pendekatannya. (3) diskusi. menguatkan. (6) pengalaman lapangan. Akhmad Sudrajat (2009) menyatakan terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. Wina Senjaya. (8) debat. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Jadi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. (5) laboratorium. Dengan kata lain. metode 45 . (9) simposium. di dalamnya mewadahi. diantaranya: (1) ceramah. (7) brainstorming. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. (2) demonstrasi. strategi merupakan a plan of operation achieving something sedangkan metode adalah a way in achieving something. menginsiprasi. Abdul Azis Wahab (2009) menyatakan metode yang cocok untuk mengajar IPS/SS adalah metode ceramah. Oemar Hamalik (2008) menyatakan strategi pengajaran merupakan penterjemahan filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yang harus ditempuh dalam situasi-situasi khusus atau dalam keadaan tertentu yang spesifik.merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.

. Satu sisi merupakan kegiatan untuk 46 . yang bertujuan antara lain untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa. Evaluasi Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009) evaluasi menempati kedudukan penting dan bahagian yang utuh dari tahapan dan proses pembelajaran. evaluasi menjangkau lebih jauh yaitu untuk mengetahui apa yang terjadi dalam ruang-ruang kelas. untuk memperbaiki program belajar-mengajar.inkuiri menemukan sendiri dan pemecahan masalah. sikap. metode diskusi. tidak terkecuali pembelajaran yang berlangsung pada sanggar seni ukir. dan metode simulasi. dari proses pembelajaran diharapkan terjadinya perubahan kognitif. Lebih lanjut dijelaskan Ansyar bahwa evaluasi untuk mengetahui keberhasilan belajar. dan psikomotor. Menurut Muhibin Syah (2005) evaluasi adalah penilaian terhadap keberhasilan program belajar siswa. metode tanya jawab. Diyakani pada proses pembelajaran terdapat berbagai metode yang digunakan guru. d. Metode apa saja yang digunakan guru dan kapan metode itu diterapkan akan dicermati pada saat penelitian. Pemakaian metode guna mengimplementasikan materi yang telah disiapkan guru seni ukir. dan untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan. Sejauhmana materi-materi yang telah disusun guru seni ukir dapat dikuasai muridnya tentu dilakukan evaluasi sebelum ia memberikan materi lanjutan dan sebelum ia menyatakan muridnya telah menjadi tukang ukir. Jadi dari pendapat ini ternyata evaluasi pendidikan merupakan suatu “event” yang ganda. Dalam proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek akan digunakan berbagai metode. Ansyar (1989) . Jadi evaluasi sangat diperlukan dalam setiap proses pembelajaran..

untuk seleksi. Berdasarkan pendapat ini maka paling tidak fungsi evaluasi diagnostik dan kenaikan perlu diterapkan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. evaluasi kenaikan juga dapat dipakai untuk menyatakan murid telah lulus atau sebagai tukang ukir. Evaluasi diagnostik berfungsi untuk mendiagnosa kelemahan dan keunggulan murid guna meningkatkan hasil belajar murid. Untuk mendapat informasi yang tepat tentang pencapaian tujuan pengajran maka perlu seorang guru memahami tentang teknik dan prosedur evaluasi. Menurut Imam (2005) evaluasi hasil belajar adalah memberi nilai atau makna tentang kualitas sesuatu yang dipelajari.mengendalikan mutu pendidikan dan dari sisi lain merupakan upaya untuk pengumpulan informasi tentang pencapaian murid terhadap meteri yang disampaikan pendidik. Sedangkan evaluasi pembelajaran guna memperoleh keefektifan proses pembelajaran. Evaluasi hanya mungkin akan tercapai apabila dilakukan dengan mengikuti prosedur dan tehnik yang tepat dan benar melalui bermacam jenis evaluasi. evaluasi proses dan evaluasi produk. Menurut Nurkancana (1986). bagi guru maupun bagi sekolah. seperti evaluasi konteks. Suharsimi Arikunto (2005). Muhibbin Syah (2005) menyatakan bahwa 47 . evaluasi input. untuk kenaikan kelas. Menurut Dimyati (2009) ada evaluasi hasil belajar dan ada evaluasi pembelajran. dan Dimyati (2009) fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk diagnostik dan pengembangan. Menurut Suharsimi (2005) evaluasi hasil belajar dapat bermanfaat bagi peserta didik. dan untuk penempatan. evaluasi hasil belajar menekankan kepada perolehan informasi tentang pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Evaluasi kenaikan untuk menseleksi apakah sudah perlu materi lanjutan atau masih tetap materi yang sama.

kognitif (ranah cipta). pemahaman. rasa dan karsa. Tes ini dapat disusun dalam bermacam bentuk namun pilihan bentuk yang tepat adalah sesuai dengan tujuan kegiatan pendidkan/pembelajaran yang telah ditetapkan. mengaplikasikan sesuatu. evaluasi hasil belajar adalah proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi (data) yang telah diperoleh melaui tes pengukuran hasil belajar. Oleh karena itu tes hasil belajar mungkin saja mengukur kecepatan lari. Sedangkan guru/dosen yang lain menggunakan tes perbuatan. untuk memahami tingkat hasil peserta didik dalam belajar. Muri (2005) tes hasil belajar (achievement test) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan guru disekolah atau dosen di perguruan tinggi. Seorang guru atau dosen. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi (penilaian) merupakan proses untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui pengukuran berdasarkan instrumen tes maupun non tes. tetapi mencakup aspek yang lebih luas yaitu. Jadi. menciptakan sesuatu atau melahirkan pikiran secara tertulis. afektif (ranah rasa).evaluasi hasil belajar bukanlah sekedar pemberian angka yang berkaitan dengan satu aspek semata. Memperhatikan pendapat ini maka evaluasi hasil belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek sangatlah berarti sebab evalusi mencakup pada tiga ranah cipta. kemampuan mengingat. dan psikomotor (ranah karsa). Menurut A. menilai. baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. Tes prestasi belajar dapat berupa tes baku 48 . Sedangkan hasil belajar adalah suatu kecakapan nyata yang dapat diukur secara langsung melalui tes. mungkin pula menggunakan tes objektif yang telah distandarisasikan untuk mengukur hasil belajar peserta didiknya.

adaptasi/penyesuaian pola gerakan. pengorganisasian nilai (organization).Muri (2005) hasil belajar merujuk kepada tingkat hasil peserta didik dalam belajar. Oleh karena itu tes hasil belajar dapat berupa tes hasil belajar yang telah distandarisasikan (standardized achievenment test). baik berupa tes esai. dan originalitas. Suharsimi. Hasil itu tercermin dalam berbagai aspek antara lain (1) kognitif yang meliputi : mengingat.(standardized test) dan dapat juga dengan tes buatan guru (teacher made test). (2) afektif yang meliputi : penerimaan. respon terbimbing. gerakan/respon terbiasa. 1) Hakikat Evaluasi Hasil Belajar Dari gambaran di atas tampak dengan jelas bahwa tes hasil belajar bukanlah sematamata tes yang dilakukan pada akhir semester/tahun ajaran (tes sumatif).Muri. mencakup aspek kognitif. evaluasi tugas-tugas yang diberikan. pembentukan pola/karakterisasi nilai. evaluasi/penentuan sikap (valuing). diagnostik dan penempatan kalau dilihat dari segi fungsinya (A. aplikasi. Jadi hasil evaluasi bukanlah semata-mata pada akhir semester atau caturwulan maupun naik kelas. evaluasi dan kreatifitas. partisipasi. 2005 . Karena itu evaluasi hasil belajar telah dimulai sejak seseorang mulai belajar. melainkan dapat dilakukan pada tengah semester. afektif dan psikomotor. tetapi juga tes formatif. tes objektif dan tes perbuatan maupun dengan inventory lainnya. maupun portofolio yang dikumpulkan. 2005). tengah caturwulan. pemahaman. dan (3) psikomotor yang meliputi : persepsi kesiapan (set). dan tes buatan guru (teacher or locally made test). Menurut A. Jadi hasil belajar terhadap sesuatu yang sudah dipelajari akan memberikan gambaran tentang pemahaman dan kesukaran atau kekuatan dan kelemahan sesorang dalam bidang tertentu. Dengan 49 . Jadi tes hasil belajar dirancang untuk mengukur apa yang telah dipelajari dalam bidang studi yang bersifat formal. analisis. mekanisme.

penilaian tidak menguntungkan atau 50 .Muri (2005) beberapa prinsip umum evaluasi belajar yang baik adalah (a) evaluasi yang baik bersifat komprehensif. 2) Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar Untuk dapat memberikan gambaran yang maksimmal tentang hasil kegiatan pembelajaran.demikian apabila guru ingin menempatkan peserta didik dalam kelompok belajar maka guru terlebih dahulu mengetahui seberapa jauhkah hasil peserta didik dalam bidang yang akan ditempatinya itu. perlu dilakukan asesmen yang benar. maka dapat pula dilakukan tes hasil belajar. (b) evaluasi hendaklah kontinyu. (c) adil. baik ditinjau dari komponen evaluasi itu sendiri maupun dari prinsip-prinsip evaluasi yang dipedomani. Apabila guru telah menyelesaikan suatu kegiatan atau satuan pelajaran dan ingin mengatahui tentang tingkat hasil peserta didik dan kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. melainkan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan. penilaian berdasarkan data yang mencerminankan kemampuan yang diukur. Adapun prinsip-prinsip eavaluasi hasil belajar bersifat umum dan khusus. Guru merancang suatu tes hasil belajar terhadap meteri yang telah lalu. (b) objektif. dan (g) evaluasi bukanlah tujuan. (f) evaluasi yang baik hendaknya dilakukan oleh suatu tim. Prinsip penilaian menurut Zaim (2009) adalah (a) sahih. (d) evaluasi yang baik berpijak pada tujuan yang jelas. Walaupun tidak dapat dipungkiri untuk keperluan ini dibutuhkan tes jenis lain seperti “aptitude test” namun tes hasil tidak dapat diabaikan. (e) evaluasi yang baik menggunakan alat ukur yang ganda dan sahih. (c) evaluasi yang baik bersifat objektif. a) Prinsip-prinsip Umum Evaluasi Belajar Menurut A. penilaian berdasarkan pada prosedur dan kreteria yang jelas tanpa dipengaruhi subjektivitas penilai.

(g) sistematis. (e) terbuka. diagnosis. berkesinambungan dan dapat dipertanggungjawabkan. Tes hendaklah valid dan reliabel. sistematis. b) Prinsip-prinsip Khusus Evaluasi Belajar Hasil-hasil belajar akan dapat diungkapkan menurut fungsi yang diharapkan apabila intrumen yang dipakai memenuhi syarat untuk hal tersebut. penilaian berdasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Menurut Asmawi & Noehi (1995) dan A. 51 . (d) terpadu. mencakup semua aspek kompetensi. penilaian meupakan salah satu komponen pembelajaran. dan (d) tes hasil belajar hendaklah seterandal mungkin. penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap. kreteria dan dasar penilaian dapat diketahui pihak berkepentingan. Apakah ada alat evaluasi yang sahih. (h) beracuan kriteria. Jadi berdasarkan pendapat ini maka evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek hendaklah sesuai dengan fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran (penempatan. penilaian dapat dipertanggungjawabkan. (b) tes yang disusun merupakan sampel yang representatif dari semua materi pembelajaran. prosedur. (c) bentuk/format tes yang dipilih hendaklah sesuai dengan tujuan yang dicapai.merugikan peserta didik. formatif dan sumatif).Muri (2005) ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar yakni: (a) tes yang disusun hendaklah betul mengukur tujuan pembelajaran. dan (i) akuntabel. (f) menyeluruh dan berkesinambungan. Untuk itu evaluasi pada proses pendidikan/pembelajaran di sanggar ukir hendaklah terkait dan mampu mengungkapkan tujuan itu. Dari prinsip umum ini dapat dilihat bagaimana penilaian yang dilakukan pada proses pendidikan yang dilakukan di sanggar seni ukir pandai Sikek.

artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan skor di kelompok itu. evaluasi berdasarkan acuan patokan (criterion referenced evaluation) lebih baik dan tepat digunakan sebab guru dapat mengetahui seberapa jauh suatu aspek.Muri (2005) dari segi hasil peserta didik terhadap tujuan pendidikan/pembelajaran atau terhadap kelemahan-kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam aspek tertentu. Ini berarti normanya adalah norma kelompok. Berdasarkan pengukuran ini dapat dilihat bagaimana pengelompok murid sanggar ukir di Pandai Sikek. Menurut A. Bilamana seseorang telah memenuhi patokan tersebut ia dinyakan berhasil. Apa bentuk evaluasi itu dalam acuan patokan dan bagaimana bentuk patokan itu akan diobservasi dalam penelitian.Menurut A. Untuk menyatakan seorang murid telah dapat mengukir tentu ada sacuan yang digunakan guru. telah dikuasai peserta didik dibandingkan dengan patokan yang telah ditentukan sebagai kriteria atau standar minimal hasil seseorang dikaitkan dengan tujuan Sejalan dengan itu Asmawi & Noehi (1995) menyatakan bahwa cara ini dibenarkan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan menggunakan sejumlah patokan. Jadi prinsip ini menggambarkan bahwa evaluasi dengan menggunakan acuan patokan dapat digunakan. norma teman-temannya yang lain. Tetapi tidak akan menceritakan apa yang dapat dikerjakan seseorang dengan menggunakan kriteria tujuan yang ditetapkan.Muri (2005) dan Asmawi & Noehi (1995) pengukuran berdasarkan norma kelompok adalah untuk menentukan kedudukan (relatif) peserta didik dibandingkan dengan temannya yang lain dalam kelompok itu atau bagaimana penampilan seseorang dibandingkan dengan temannya dalam kelompok. Adakah murid dikelompokkan berdasar skor yang diperolehnya atas dasar pembandingan dengan teman-temannya. 52 .

(e) dapat memberikan informasi apakah tujuan dapat dicapai oleh kelompok. pengukuran berdasarkan patokan (Criterion Referenced Measurement). (b) tidak memperhatikan perbedaan individu. dan (j) cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif dan mengukur kompetensi. (e) informasi yang ada tidak menunjukkan pencapaian tujuan. (a) digunakan untuk mengukur pengetahuan. Tingkat hasil individu dibandingkan dengan hasil kelompok. (a) digunakan untuk mengukur tingkah laku yang dimiliki seseorang dengan merumuskan kawasan tingkah laku itu sebagai patokan atau mengutamakan pengujian hasil (mastery). (g) indeks pembeda butir soal merupakan indikator menentukan kualitas soal. (d) mempunyai standar tunggal untuk semua sehingga apabila tes itu dilakukan pada tempat yang berbeda. kemampuan dan tingkah laku peserta didik. dan (k) tidak cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif. (j) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci sekali. (i) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar.Selanjutnya oleh A. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. Muri (2005) dinyatakan bahwa beda kedua tipe itu adalah sebagai berikut. (g) indeks pembeda antara kelompok tinggi dan kelompok rendah bukanlah suatu yang penting. Sedangkan pengukuran berdasarkan norma kelompok ( norma referenced measurement). dengan menghormati penampilan tingkah laku orang lain dalam kelompok. namun patokan adalah sama. (d) dapat menunjukkan rentangan tingkat hasil peserta didik dibandingkan dengan norma kelompok. (c) mengukur kategori yang lebih umum. (f) semua butir soal yang diberikan untuk memberikan gambaran penampilan yang tepat. (f) butir soal dipilih agar menyediakan perbedaan diantara individu. 53 . (c) lebih terfokus pada kawasan (domain) yang lebih spesifik. (b) perbedaan individu sangat menjadi perhatian.

Dari banyak difinisi dan pendapat tentang kebudayaan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan 54 . Tidak ada kepuasan yang pas tentang salah satu difinisi kebudayaan.L Kroeber dan C. Pencarian tentang hakikat kebudayaan dilakukan oleh Bakker (1984) dalam buku Filsafat Kebudayaan. dan lebih awal oleh Kroeber dalam buku The Nature of Culture (1952). yakni apresiasi (apreciation). Karakteristik penilain itu tidak cukup dengan mempedomani prinsip-prinsip penilaian secara umum maupun prinsip khusus. Hal ini terkait dengan bahwa pembelajaran kelompok seni mencakup pada pemberian pengalaman estetis.Menurut Zaim (2009) keunikan pembelajaran kelompok seni budaya terletak pada kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman estetis melalui dua kegiatan yang saling terkait. Evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek harus memasukkan sejauhmana pengalaman estetis murid. 3. Diskusi tentang kebudayaan senantiasa menarik. Beals dan Hoyer dalam buku An Introduction to Anthropology (1959). Kebudayaan Minangkabau Dua orang pakar A. kreasi (creation) termasuk di dalamnya performance. Difinisi tentang kebudayaan sekarang semakin berkembang sehubungan semakin banyak tantangan dan fenomena baru dalam kehidupan manusia. karena kebudayaan bahagian dari kehidupan manusia. namun senantiasa saja difinisi itu memiliki celah atau ruang diskusi baru. Kluckhohn (pakar antropologi sekaligus juga filsafat kebudayaan) dalam makalahnya yang termasyhur “Culture: a Critical Review of Concepts and Difinitions” tahun 1952 hanya mampu mengklasifikasikan 179 difinisi tentang kebudayaan. Berdasarkan pendapat ini maka penilaian pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek mempunyai karakteristik sendiri. Banyak pendapat dan difinisi yang dikemukaan tentang kebudayaan.

di mana segala aspek yang kompleks apakah itu nilai-nilai atau hukum. Dari pendapat dua pakar tersebut ada beberapa hal yang perlu ditarik yaitu bahwa kebudayaan adalah suatu sistem yang utuh bukan merupakan bagian-bagian. bahwa kebudayaan hasil prestasi manusia. bahwa kebudayaan bisa dalam bentuk tingkah laku dan dalam bentuk artefak. bahwa kebudayaan didapat dengan belajar. Oleh karena manusia yang berbudaya dan membudayakan aspek kehidupannya. seni. maka difinisi yang ada kaitannya dengan pendidikan adalah pendapat Koentjaraningrat (1990) yaitu keseluruhan sistim gagasan. seni. adat istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. disinilah afinitas (daya tarik-menarik/gabungan) antara pendidikan dan kebudayaan. Taylor dalam Primitive Culture yang dikutip Tilaar (2000) menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang meliputi pengetahuan. Kedua-duanya khas insani oleh karenanya kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. moral. Kemudian Edward B.adalah milik manusia. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Menurut Tilaar (2000) tidak mengherankan apabila usaha untuk mencari jawaban terhadap hekikat kebudayaan mampir dalam pertanyaan mencari hakikat manusia. Dari banyak difinisi tentang kebudayaan. Dengan demikian betapa pentingnya masyarakat dalam proses pendidikan. Sejalan dengan ini maka menurut Ansyar (1985) ada dua pandangan tentang fungsi sekolah pertama yang mengkonsepsikan sebagai pemelihara dan penerus kebudayaan dan kedua 55 . hukum. Pengertian belajar dalam pandangan kebudayaan adalah sebuah proses yang ada di tengah masyarakat. kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya dapat diperoleh di tengah masyarakat. kepercayaan. maka disinilah titik singgung antara budaya dengan pendidikan.

ada yang berbentuk tingkah laku dan berbentuk artefak. Banyak hasil budaya masa lalu menjadi menarik untuk didiskusikan saat ini. rumah-rumah adat. nilai-nilai. dan seni ukir merupakan tinggalan budaya yang berbentuk artefak. peraturan. malah patut dilestarikan sebagai aset. modal. Mesjid-mesjid kuno. kedua kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan 56 . Menurut Tilaar (2000:190) bahwa gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi khsusunya teknologi komunikasi dapat merupakan bahaya penggerhanaan identitas manusia termasuk hilangnya kebudayaan nasional dan lokal. dan sebagainya. Menurut Ardika (1999). dan kekayaan sebuah bangsa. norma-norma. Koentjaraningrat (1990) mengemukakan tiga wujud kebudayaan. gerabah. nilai-nilai. Menyimak pendapat ini maka warisan budaya atau tinggalan budaya patut dilestarikan. Dengan demikian seni ukir sebagai salah satu warisan budaya dan juga sebagai identitas budaya daerah seharusnyalah dilestarikan agar dapat tumbuh dan berkembang pada era global. sedangkan keterampilan mengukir tinggalan budaya yang berbentuk tingkah laku.sebagai pengembangan individu anak yang terlepas dari kebudayaan. gagasan. Jangan sampai akar budaya yang telah diwarisi dari leluhur terdahulu tercabut di tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan akibat globalisasi. ide-ide atau gagasan. namun bila dilihat bahwa kebudayaan suatu sistem gagasan yang didapat dari belajar maka dengan sendirinya pendidikan itu adalah bagian dari kebudayaan. pemahaman dan pelestarian terhadap warisan budaya sebagai jati diri suatu etnik dan bangsa tetap menjadi penting dalam era global ini. Walau pendapat kedua yang menyatakan pendidikan hanya pengembangan individu murid. Pembicaraan tentang budaya bukan hanya milik masa sekarang saja. Berbagai bentuk warisan budaya itu sendiri seperti. pertama kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide.

Honigmann dan Koentjaraningrat dapat dijelaskan bahwa wujud pertama kebudayaan siifatnya abstrak. Karena merupakan rangkaian kegiatan manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan ideal ini sekarang sudah banyak tersimpan dalam buku-buku.Honigmann dalam bukunya The World of Man (1959) bahwa ada tiga gejala kebudayaan. Keterampilan mengukir. arsip. Sistem sosial ini terdiri atas kegiatan-kegiatan manusia berintegrasi.J. penghargaan masyarakat terhadap seni ukir di Pandai Sikek merupakan bahagian dari wujud kebudayaan yang ke dua ini. disket. Wujud pertama ini ada dalam kepala atau alam pikiran anggota masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. dan komputer dengan adanya kemajuan teknologi. dan difilmkan karena ia terjadi di sekeliling kita. berhubungan serta bergaul satu sama lain berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan. maka sistem sosial ini sifatnya kongkrit. Berkenaan dengan seni ukir Pandai Sikek maka falsafah motif ukiran termasuk pada wujud kebudayaan inti ini.J. Wujud kebudayaan ini dapat diamati. Inisiatif. tape. dan ketiga kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. gagasangagasan. Berangkat dari pendapat J. Wujud kedua kebudayaan juga disebut sebagai sistem sosial adalah berkenan dengan pola kelakuan dari manusia atau masyarakat itu sendiri. (2) activities. Pendapat Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan sama dengan yang dikemukakan oleh J. difoto. tak dapat diraba yaitu sistem budaya yang merupakan wujud ide dari kebudayaan. yaitu (1) ideas. mikro film. dan (3) artifacts. pola pembelajaran ukir. Ada yang mengistilahkan wujud pertama ini sebagai inti dalam dari kebudayaan. dan ide-ide yang menggerakkan sehingga menghasilkan berbagai kreativitas ada dalam wujud pertama ini.berpola dari manusia dalam masyarakat. 57 .

seni-seni masa lampau. Sebaliknya kebudayaan fisik dapat mengatur tingkah laku masyarakat. Wujud kebudayaan ini dapat dilihat. 58 . dan difoto. sistem religi. sistem pengetahuan. Kesalingterkaitan wujud budaya itu sangat mudah dilihat dalam bentuk seni. dan dari tingkah laku menghasilkan normanorma baru dan membentuk pemikiran baru lagi. Benda-benda budaya itu dapat berupa tinggalan budaya atau hasil karya masa lampau seperti candi. sistem peralatan hidup dan teknologi. Jika diperhatikan ternyata ketiga wujud kebudayaan saling berkaitan. sistem mata pencaharian hidup. yakni bahasa. dan dari aktifitas pola laku itu menghasil karya dalam bentuk benda-benda. Koentjaraningrat (1990).Kuckhohn (1953) merumuskannya kepada tujuh unsur kebudayaan. dan seni kotemporer. dan dapat juga karya masa kini seperti pesawat. wajud ini paling kongkrit jika dibandingkan dengan dua wujud sebelumnya. Benda-benda budaya itu beragam bentuknya mulai dari yang sederhana sampai ke paling komplek atau rumit cara penciptaannya. ia merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. organisasi sosial. Bangunan rumah adat Minangkabau yang penuh dengan ukiran merupakan benda hasil budaya. bangunan kuno lainnya. ia meliputi segala aspek kehidupan manusia namun oleh sarjana antropologi dibagi ke dalam beberapa unsur. diamati.Wujud ketiga kebudayaan adalah benda-benda budaya atau artefak. Cakupan kebudayaan cukup luas. Kebudayaan ide mengatur dan memberi arah kepada perbuatan tingkah laku manusia. diraba. Ketujuh unsur yang dikemukakan para pakar itu dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia ini termasuk di Indoensia. dicium. C. dan kesenian. bangunan pencakar langit.

dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. Agam. ke Riau dan semenanjung Malaka bahagian Timur. Minangkabau merupakan kesatuan budaya sedangkan Sumatera Barat wilayah administratif pemerintahan. dari Sirangkak nan badangkang. Minangkabau tidak sama dengan Sumatera Barat walaupun sebahagian besar masyarakat Minangkabau mendiami wilayah Sumatera Barat. sailiran Batang Sikilang. sampai ka sipisau-pisau hanyuik. hinggo lauik nan sadidiah. Berdasarkan tambo-tambo/sejarah alam Minangkabau. Datuk Sanguno 1987. sampai ka ombak nan badabuak. hinggo aia babaliak mudiak. ka Timur ranah Aia Bangih. hinggo buayo putiah daguak. akan tetapi daerah ini dibagi lagi ke dalam bagian-bagian khusus. saedaran gunuang Pasaman. Menurut Umar Yunus (1997) daerah asal Minangkabau diperkirakan seluas daerah Propinsi Sumatera Barat sekarang ini. Dari tiga luhak ini kemudian menyebar sampai ke sebahagian Sumatera Utara dan Aceah bahagian utara.Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia mempunyai bentuk budaya sendiri. ke Jambi dan Bengkulu bahagian selatan. durian ditakuak rajo. “…salirik gunuang Marapi. dengan dikurangi daerah kepulauan Mentawai. Datuk Rajo Panghulu 1997. Pada awalnya kawasan kebudayaan Minangkabau hanya terdiri dari tiga luhak (Tanah Datar. Rao jo 59 . Pembagian khusus itu antara darek (darat) dan pasisie (pesisir) atau rantau. saputaran Talang jo Kurinci. sajajaran Sago jo Singgalang. sampai ka pintu rajo ilia. dan 50 Kota) kemudian meyebar kedaerah lain yang disebut dengan rantau. sialang balantak basi. Nenek moyang orang Minangkabau sendiri sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tambo berasal dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua. lokasi atau daerah asli masyarakat etnis Minangkabau diceritakan sebagai berikut. Beberapa penulis (Navis 1984.

Pucuk Jambi Sembilan Lurah). 1977. melainkan juga mempunyai makna yang dalam. Pasisia Banda Sapuluah. 1984. dan saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan. 1971). hingga Taratak Aia Hitam. seputaran gunung Talang dan gunung Kerinci. bagi orang Minangkabau alam tidak sekedar tempat lahir dan berkembangan. gunuang Mahalintang. Kehadirannya tidak sekedar bernilai estetis melainkan sarat dengan muatan filosofis. (. dari Kepiting yang keras hingga buaya yang putih dagu. dan Nasrun. Dengan demikian motif ukiran Minangkabau sebagai salah satu contoh budaya Minangkabau juga bersumber dari alam. ( Dt. Navis. Sialang berbatasan/bertanda besi hingga arah air kembali mudik. tempat hidup dan mati. durian ditakah raja. sejajaran gunung Sago dan gunung Singgalang.sebaris gunung Merapi.. gunung Mahalintang. sekitar gunung Pasaman. 1984: 59-60).. sehiliran/ menyusuri Batang Sikilang. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya mengisyaratkan ide. daerah Rao dan Mamat Tunggul. sampai ka Tanjuang Samalidu. hingga laut yang terasa panas. Falsafah yang bersumber pada alam. sampai ke ombak yang berdebur. Kebudayaan Minangkabau bersumber dari falsafah hidup dengan nama “falsafah alam”. sampai ke pintu raja hilir. saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. Pesisir Bandar Sepuluh. masing-masing bebas dengan eksistensinya. Pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek bukan sekedar mentranspormasi keterampilan mengukir saja akan tetapi lebih dari itu adalah mewariskan kebudayaan Minangkabau yang berfalsafahkan pada alam. Rajo Panghulu. sampai ke pisau-pisau hanyut. sampai ke Tanjung Simalidu. (Navis.Mapa Tungguah. ke timur renah (daerah) Aia Bangih. dan pola laku hidup masyarakat Minangkabau. Unsur alam itu dalam suatu harmoni dan dinamis sesuai dengan hukum dialektika bakarano bakajadian (bersebab berakibat). hinggo Taratak Aia Hitam. Unsur alam memberikan peran yang berbeda. Mamangan (peribahasa) orang Minangkabau menyatakan ‘alam takambang tampek ba guru’ (alam terkembang tempat berguru). 60 . Pucuak Jambi Sambilan Lurah. Unsur-unsur alam saling berhubungan tapi tidak saling mengikat.

Ada kecenderungan kehidupan hanya pembentukan pada aspek jasmani saja seperti dengan mengatur pola makan. kedua sebagai tingkah laku yakni keterampilan mengukuir dan sikap masyarakat pendukung budaya. 4. dan antara raga dan emosi. Berangkat dari pendapat ini seni dapat dijadikan sebagai pembentukan dan perkembangan manusia. 61 . dan istirahat. Pendidikan seni termasuk pada kegiatan seni ukir di pandai Sikek tidak hanya pada pembentukan salah satu aspek saja. dan ketiga adalah wujud benda yakni hasil karya seniman ukir yaitu benda ukiran. Konsep Seni dan Pendidikan Seni Menurut Yahya (2009) bahwa seni di dalam khasanah pendidikan belum banyak dilirik dan bahkan kedudukannya sering dilupakan. Hal ini terjadi ketika masyarakat menganggap bahwa seni hanya sebagai objek untuk dinikmati dan diapresiasi belum dipandang sebagai proses pembentukan dan pengembangan diri. olah raga. Begitu juga dalam perkembangan dan pembentukan otak manusia lebih banyak pada kegiatan pembentukan otak kiri. antara fisik dan psikis. Perkembangan diri yang baik adalah adanya keseimbangan antara jasmani dan ruhaniah.Penelitian pendidikan seni ukir pada sanggar ukir akan melihat tiga komponen kebudayaan. Pertama adalah sebagai ide atau gagasan yakni motif dan falsafah ukiran yang bersumber pada alam. Kemampuan murid dikembang dari aspek jasmaniah dan ruhaniah. Seni dan Pendidikan Seni a. Menurut Ramalis (2005:10) pendidikan seni dapat dijadikan pendekatan dalam belajar sehingga keseluruhan peran pendidikan seni dapat terimplementasikan dalam mengembangankan berbagai kemampuan dasar manusia.

dan multikultural memiliki potensi dalam pengembangan kecerdasan mansia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan. Kelompok ilmuan neurophsychology menemukan peta kemampuan otak manusia. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. persepsi. dan emosional. patung. Masing-masing belahan otak manusia saling berinteraksi.php/ Sabtu. Howard Gardner menemukan multi kecerdasan (multiple intellegenius) yang meliputi kecerdasan linguistik. 6 Februari 2010. natural. Otak ini akan berinteraksi dengan belahan kanan yang mengatur fungsi intuisi.Menurut Ramalis (2008) bahwa pendidikan seni yang multidimensional. dan analitis. dan silat). atau tiga kecerdasan. Penulis: Oki). disain. Menyimak pendapat ini dan bila dilihat kondisi sekarang maka sebahagian pendidik belum banyak yang mengetahui bahwa kegiatan seni berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik manusia. spasial. Juga dapat dilihat bahwa ada tiga kecerdasan yang berkaitan dengan seni yakni kecerdasan musik untuk seni musik. kecerdasan kinestetik untuk seni media gerak (tari. musik. dan spiritual. multilingual. sapcial. Otak manusia belahan kiri mengatur kemampuan logika. Dari sembilan kecerdasan ini maka ada manusia yang menonjol pada salah satu kecerdasan. dan kriya) (http//ppgkes/module/ com. rasional. dan dalam hal ini kemampuan murid mesti dikembangkan guna adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan. drama. matematik. dan kecerdasan spasial untuk seni rupa (lukis. kreativitas. inter pribadi. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. dua kecerdasan. bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yaitu otak kiri dan otak kanan. Karya seni 62 . Memperhatikan konsep ini maka masing-masing manusia terutama murid semestinya mempunyai kemampuan berkesenian. kinestetik. antar pribadi.

dan kemampuan memecahkan masalah. diproses dan tersimpan dari otak kanan. yang membicarakan keindahan subjektif. Motif-motif ukiran merupakan imitasi atau tiruan bentuk alam seperti motif siriah gadang (rangkaian daun sirih). Berasarkan temuan di atas ternyata karya seni yang kita nikmati merupakan hasil kerja otak. dan tampuruang hanyuik (tempurung hanyut). Kolompok pemikiran imitasi berorientasi pada estetika dogmatik. Pembentukan dan perkembangan otak kanan diperlukan untuk keseimbangan otak kiri. Jadi apabila pendidikan seni diberikan pada peserta didik berarti memberi keseimbangan pembentukan pribadinya yang lebih utuh. hewan.merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. Motif ukiran merupakan stilisasi dan simbol dari bentuk alam. sedangkan kelompok pemikiran kedua memandang seni sebagai ekspresi berorientasi estetika perasaan. Kreativitas seorang seniman merupakan salah satu kecerdasan yang diolah. berpikir kreatif. yang membicarakan keindahan objektif. rasa dan pikiran Ekspresi Estetika Emosional Subyektif Emosional Wadah ungkapan pengalaman batin Secara umum seni-seni tradisional termasuk seni ukir Pandai Sikek lebih banyak pada konsep seni sebagai imitasi. itiak pulang patang (itik pulang sore). Konsep A Dasar Sifatnya Strategi Sasaran Imitasi Estetika dogmatis Objektif Rasionalitas Keserasian tangan. Menurut Sri 63 . terutama otak kanannya. Khusus berbicara tentang seni maka ada dua kelompok pemikiran yang mendasari lahirnya konsep seni. 1957). Kelompok pertama yang memandang seni sebagai imitasi dan kelompok kedua menyatakan seni sebagai ekspresi (Wickiser. makanan dan benda lainya. Dari konsep ini maka Ramalis (2006: 19) menyajikan dalam bentuk tabel berikut.

Pembentukan pemikiran pada sanggar ukir di Pandai Sikek akan didapat pada 64 . tentu akan berbeda dengan kondisi pada lembaga non formal yang lebih menekankan pada keterampilan. Oleh karena itu fokus kegiatan pembelajarannya adalah pada penguasaan teknis keterampilan tangan yang dapat diukur secara objektif. logis mengikuti jenjang kesulitan. Sedikit sekali dalam proses pembelajaran yang menyeimbangkan antara keterampilan tangan. rasa dan pikiran. lebih mengarahkan pada pengembangan pikiran.A Pestalozzi (dalam Ramalis. Pendapat di atas menggambar kondisi pada sekolah formal di Indonesia. Konsep ini menurut J. Bila konsep ini dihubungkan dalam proses pembelajaran terutama pada pendidikan formal di Indonesia. 32 motif binatang/ hewan. Pendidikan seni Indonesia yang tertanam selama ini terutama disistem pendidikan persekolahan berorientasi pada kaidah ‘baik-buruk’ konsepnya seni Barat. 2006) ini melahirkan konsep strategi rasionalitas seni. Jadi bila dilihat cara kerja seni tradisional lebih banyak sebagai simbol atau lambang yang merupakan hasil tiruan alam yang memiliki keindahan objektif. jarang diarahkan pada pengembangan keserasian tangan. Dalam hal ini M. dan 60 motif makanan dan benda lainnya pada ukiran di Pandai Sikek. rasa dan pikiran.Zaim (2009) menawarkan adanya perubahan orientasi yakni dari persepsi monokultural menjadi multikultural. rasa dan pikiran. Konsep strategi rasionalitas ini berkembang di masyarakat berbagai negara termasuk Indonesia.Sundari (2000) bahwa ada 50 macam motif tumbuh-tumbuhan. Dasar konsep psikologis bagi strategi rasionalitas sebenarnya dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan secara serasi antara tangan. Di sisi lain menurut Ramalis (2006) bahwa pembelajaran seni disusun dan dipelajari secara sistematis.

Menurut Read (1970) bahwa secara filosofis. menurut Lichwark dan Lange dapat membantu kepekaan anak terhadap karya seni. pernyatakan Margaret Naumberg dapat digunakan sebagai sarana terapi mental. Kondisi yang digambarkan di atas terjadi pada berbagai pendidikan seni di sekolah formal Indoesia sekarang ini. Kerchensteiner. rasa. Victor Lowenfeld. seni dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Dewey (dalam Read. Pembaharuan konsep pendidikan seni utamanya dilandasi oleh alasan filosofis. psikobogis. Kelompok reform yang mempelopori pembaharuan pendidikan seni antara lain Van Prag. 1970) mengatakan seni adalah kulminasi dan pengalaman. Wickiser menyatakan dapat membantu perkembangan kepribadian dan pembinaan estetik anak. dan pikiran dilakukan akan dilihat pada objek sesungguhnya dalam penelitian. Sejauhmana keseimbangan tangan. Raip Wickizer dan Herbert Read. 65 . Sejak itu konsep pendidikan seni mengalami pembaharuan yakni mata pelajaran menggambar berubah menjadi mata pelajaran yang bersifat: ekspresi.pemahaman dan penempatan motif. Menurut Setjoatmodjo (1981) bahwa konsep pemikiran bahwa seni sebagai ekspresi identik dengan konsep seni moderen yang lahir bersamaan gerakan reformasi. Ada banyak ahli yang menyatakan dampak pengalaman dari proses pembelajaran seni. Kaum reformis memandang karya seni sebagai wadah ungkapan pengalaman batin seniman. Jadi konsep pendidikan seni ini lebih mengutamakan dampak pengiring (nurturance effect) dan próses pembelajaran seni. G. dan sosiologis. antara lain: Lowenfeld menyatakan dapat meningkatkan daya kreativitas anak dan dapat membantu pertumbuhan mental anak melalui penyaluran ekspresi dan kreativitas. Ross menyatakan dapat membantu mengembangkan perasaan anak.

Akan tetapi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional lebih banyak pada aspek keterampilan. Bentuknya mengarah pada pembinaan dan peningkatan penguasaan berkesenian melalui kegiatan ekspresi diri dan melibatkan pengalaman serta kesadaran estetik. Merujuk pendapat ini bahwa pembelajaran seni yang bersifat esensial dapat dimaknai sebagai bentuk pendidikan seni. pemahaman teori seni. seperti untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan murid.dan Harbert Read sendiri menyatakan dapat membiri kepekaan cita rasa keindahan anak. dan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas. dan 66 . konsep pendidikan seni untuk apresiasi. dan pameran/gelar hasil karya. kemampuan apresiasi seni. konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi. Artinya pernyataan Read (1970) yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran seni sebagai alat atau media pendidikan mendapat dukungan dari para ahli pendidikan seni yang lainnya. Untuk meningkatkan kemampuan seni murid yang berkaitan dengan seni itu sendiri termasuk pada pembenaran esensial. Berdasarkan konsep pendidikan seni yang difungsikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. yaitu kecenderungan pelaksanaan pendidikan seni yang didasarkan pada pembenaran esensial dan pembenaran kontekstual (Eisner. Menurut Ramalis (2006) terdapat beberapa pendangan tentang konsep pendidikan seni yang berkembang seperti. cara menggunakan pahat. 1972). Menurut Ibenzani (1985) keterampilan itu meliputi cara-cara membuat sketsa pada papan ukir. Materi pembelajaran berupa kemampuan keterampilan seni. sedangkan pembenaran kontekstual terkait pada fungsi untuk mencapai tujuan di luar tujuan pembelajaran seni. maka dalam aplikasinya memunculkan dua kecenderungan.

apresiasi. 2) pengetahuan. Wilson (Bloom. Gambar merupakan suatu bentuk bahasa untuk menuangkan ide bahkan ada sauatu kosa kata yang tidak jelas atau ragu biasa divisualisasikan dengan gambar. baik melalui kegiatan menggambar maupun kegiatan observasi lapangan dengan kegiatan mengunjungi obyek-obyek seni seperti galeri. Jadi pembaharuan konsep pendidikan seni dengan mengutamakan kebebasan berekspresi murid bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Berdasarkan pendapat ini maka ada tiga pandangan tentang konsep pendidikan seni. dan 7) produksi. Jadi 67 . 1975) tiga dimensi prilaku. afektif. untuk pembentukan konsepsi. Konsep ini juga untuk melatih kedua tangan murid sehingga merangsang syaraf otak kanan dan otak kiri. dan pameran. yaitu kognitif. Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget (1952) yang menekankan pentingnya gerakan manusia dalam kaitannya dengan perkembangan pengetahuan.cara merawat alat-alat uikir. maupun menghendaki murid belajar dan perbuatan aktif. 5) evaluatif0. Menurut Ramalis (2008) perlu diperhatikan dimensi prilaku agar pembelajaran seni dapat berhasil. 3) pemahaman. Pandangan itu didasari bahwa pendidikan seni dapat mengembangankan berbagai potensi yang ada pada murid. 1) persepsi. dan membina kreatifitas. Konsep-konsep pendidikan seni itu untuk sarana apresiasi. Menurut Brent G. dan psikomtorik menjadi tujuh dimensi prilaku seni. Tujuan lain adalah untuk mendewasakan murid baik segi intelektualnya. Konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi dilandasi oleh pemikiran bahwa “salah satu sarana untuk mengungkapkan pikiran adalah menggambar”. Konsep pendidikan seni untuk apresiasi dilandasi pada pemikiran bahwa persepsi murid-murid terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan langsung. 4) analisis. yaitu.

ide dan gagasan murid.kegiatan menggambar suatu obyek berarti menerjemahkan persepsi ke dalam bahasa visual. Sebagaimana dikemukan sebelumnya bahwa kegiatan mengukir termasuk pada kegiatan motorik. 2009). dan mengukir pada dasarnya adalah pengembangan kreatifitas murid. gerak terbimbing. kesiapan. belajar. Menurut Simpson dalam Aunurrahman (2009) ada tujuh prilaku kemampuan motorik. Kegiatan seni rupa yang berbentuk praktek. Kegiatan seni sebagai sarana untuk mengembangkan potensi. mengingat. maka guru harus dapat sampai pada aspek ini. Sedangkan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas dimaksud untuk menjelaskan terjadinya pertumbuhan mental dan kreatifitas yang ada pada diri murid. Kegiatan menggambar adalah mengorganisasikan sensasi indrawi sehingga menghasilkan impresi yang dapat diinterpretasikan. Jadi pembentukan konsep dihasilkan dari aktifitas menggambar karena menggambar merupakan kegiatan mental dan pikir. Penekanan kemampuan kognitif menjadi titik berat konsep ini. di mana strategi kognitif itu sendiri adalah kemampuan memecahkan masalah-maslah baru dengan jalan mengatur proses internal individu dalam memperhatikan. penyesuaian. melukis. gerak terbiasa. Menurut Aunurrahman (2009) kreatifitas adalah kemampuan menciptakan pola baru. murid tidak sekedar menirukan bentuk-bentuk yang diajarkan atau dicontohkan guru. yaitu persepsi. seperti menggambar. Pengembangan keterampilan dalam aspek pembelajaran tercakup dalam ranah psikomotor. Memperhatikan tujuh tingkatan prilaku motorik ini. dan kreatifitas. Sementara Lowenveld (1982) 68 . menganyam. dan berpikir (Gagne dalam Aunurrahman. maka kreatifitas merupakan aspek tertinggi dalam pengembangan kemampuan motorik murid. gerak komplek.

sedangkan konsep seni ekspresi mendasari munculnya filosofi pendidikan seni yang menekankan pada menumbuhkembangkan kepribadian murid. sedangkan seni adalah sarananya.menyatakan bahwa kegiatan seni merupakan sarana bagi processing. Conny Samiawan (2001) menyatakan bahwa pengkerdilan pendidikan seni yang cukup lama itu salah satunya menghasilkan rendahnya kepekaan sosial masyarakat. mengutamakan kualitas hasil karya seni yang didukung oleh kualitas proses kerja skill. sanggar-sanggar seni atau kursus-kursus seni. murid adalah idealnya. mengutamakan dampak dari proses pembelajaran seni dan bukan mengutamakan kualitas hasil karya seni. Belahan otak kanan ini akan berintraksi dengan otak kiri yang berfungsi logika. spasial. oleh karena itu konsep tersebut cocok diterapkan dan dikembangkan pada sekolah kejuruan seni. persepsi. 69 . Pendidikan seni tidak hanya harus berlangsung di sekolah-sekolah formal tapi dapat berlangsung setiap saat di tengah masyarakat. Konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. Sedangkan konsep pendidikan seni yang menekankan pada penumbuhkembangan kepribadian murid. b. kreativitas. kemungkinan besar disebabkan minimnya penghargaan terhadap pendidikan seni. Pendidikan seni dapat mengasah solidaritas sosial masyarakat. Akibatnya adalah timbul berbagai kekerasan yang melanda Indonesia. dan emosional. rasional dan analitis. Dari kajian filosofi konsep seni dan konsep pendidikan seni tersebut di atas bahwa seni untuk mengisi dan mengasah otak kanan yang berfungsi intuisi. Konsep seni imitasi mendasari munculnya filosofi konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. Pentingnya Pendidikan Seni Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan seni bagi masyarakat perlu terus dikembangkan.

Jadi pendidikan seni tidak hanya diberikan sebagai salah satu bidang studi di sekolah formal ada baiknya diberikan pada pendidikan nonformal.Pengembangan pola pikir. kehalusan rasa dan budi. Pada dimensi personal pendidikan seni membantu mengenbangkan kecerdasan intelektual (IQ). kecerdasan kreatifitas (CQ). Lowenfeld. 1982). (3) alat untuk mengekspresikan berbagai pengalaman jiwa atau untuk mengungkapkan sebagian atau seluruh bawah sadar. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan seni merupakan subsistem dalam pendidikan nasional. Pada dimensi sosial maka pendidikan 70 . mengasah rasa. Pendidikan seni sebagai upaya pendewasaan dan pembudayaan murid (Wickiser. dan (4) alat untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk (Read. Apalagi cabang seni yang berakar dan tumbuh di tangah masyarakat akan mudah menjadi sarana untuk mengasah rasa solidaritas sosial. 1957. selain berfungsi untuk pendewasaan dan pembudayaan peserta didik juga memiliki nilai yang berarti sebagai sarana pembentukan pribadi. kecerdasan emosional (EQ). (1) koordinasi antara berbagai persepsi dan serisasi dalam kaitannya dengan lingkungan. Pendidikan seni berfungsi sebagai. (2) alat untuk mengekspresikan perasaan yang dinyatakan dalam suatu bentuk. dimensi sosial. Yahya (2006) menyatakan bahwa pendidikan seni juga bersifat multi dimensi karena bertujuan mengembangkan dimensi personal. dan dimensi profesional. Menurut Ramalis (2006: 24) bahwa pendidikan seni. 1970: 8). kecerdasan spitual dan moral (SQ). Pendidikan seni merupakan elemen yang esensial dalam membentuk watak. serta jiwa kewirausahaan. dan meningkatkan karsa murid dapat dilakukan dengan pendidikan seni. Dalam dimensi personal maka pendidikan seni juga membantu menyeimbangkan teknologi yang berorientasi praktis ekonomis dengan kemanusiaan (humanity).

Ketujuh aspek dimensi perilaku seni ini perlu dilatihkan pada murid secara terus-menerus. Pendidikan seni juga dapat bersifat multilingual dan multikultural. (1) persepsi.seni membantu mengembangkan sikap toleransi agar mudah bergaul dalam masyarakat luas dan menghargai hak azasi manusia. (4) analisis. afektif. (3) pemahaman. rupa. Berikan kesempatan dan wadah murid dalam mengembangkan diri untuk mengolah kemampuan kreatif mereka dengan cara mengeksplorasi terhadap beragam kosa rupa. bunyi dan gerak. Kepekaan rasa dikembangkan dengan memberi kesempatan memahami nilai budaya melalui permainan (Mary. (2) pengetahuan. serta dapat menghagai keanekaragaman budaya. dan suara sebagai bahasa eksperisi maupun keilmuan. dan psikomotorik menjadi tujuh dimensi perilaku seni yang meliputi. Pengembangannya disesuaikan dengan perkembangan dengan kebutuhan seni. Muatan seni tergantung pada karaktersitik bidang seni yang dikembangkan. sehingga proporsi bobot dan setiap aspek yang perlu dicapai akan berbeda sesuai dengan tingkatan pendidikan. Untuk itu motivasi dan minat murid terhadap kegiatan seni jangan dimatikan terutama dalam proses pembelajaran. 1990). 71 . agar murid dapat mengembangkan jiwa mandiri sebagai bekal hidup di tengah masyarakat. (6) apresiasi. (5) evaluasi. gerak. dan (7) produksi. Keseluruhan aspek dalam dimensi ini bersifat berjenjang dan perlu dipelajari murid melalui muatan seni yang beragam. teknis dan materi seni. Wilson (dalam Bloom. 1975) menerjemahkan perilaku kognitif. Pembelajaran akan berhasil jika dalam pendidikan memperhatikan berbagai dimensi perilaku seni. Sedangkan dalam dimensi profesional maka pendidikan seni menekankan pada penguasaan keterampilan. kerena dapat menguanakan media.

Menurut Adirozal (2002) general theory of art terdiri dari teori bentuk yakni seni sebagai pure form (bentuk murni) dan expressed form (bentuk ungkapan). dapat pula mengekspresikan sesuatu yang tak mengarah kepada suatu obyek melainkan hanya menyatakan perasaan rasa sakit. panas. dan rasa marah. teori permainan yakni seni sebagai sara untuk menyimbangkan energi yang berlebih. Ekspresi tersebut saling berhubungan.c. Menurut Ramalis (2006) seringkali anak kurang mampu mengeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan. sebagai media bermaian. dan teori suasana lingkungan yakni seni yang bertalian dengan keadaan masyarakat dan lingkungannya. rasa lapar. rasa haus. Ada lima teori seni yang bertalian dengan kegunaan seni bagi manusia. dan sebagai media membantu penalaran/ berpikir. rasa gembira. yakni. Bagi anak. jika keadaan rasa haus telah berakhir biasanya mengakibatkan rasa gembira yang dinyatakannya dengan senyuman. sebagai media komunikasi. teori alat yakni seni sebagai sarana untuk keperluan berbagai hal termasuk merangsang berfikir. sebagai media penjelajahan estetis. teori pengungkapan yakni seni sebagai sana untuk mengungkapkan perasaan batin. bahasa lisan lebih sulit untuk digunakan mengungkapkan 72 . Hal itu tampak ketika bayi menangis dan gerakan-gerakan lainnya yang merupukan eksperisi diri untuk diketahui ibunya. sebagai media eksperisi. sebagai media penyaluran bakat/ hobby. Kegunaan Seni Jika diklasifikasikan maka ada beberapa kegunaan seni bagi manusia. Ekspresi anak-anak tersebut ditunjukan untuk mencapai keinginan tertentu misalnya menyatakan keadaan dingin. Seni sebagai media ekspresi telah nampak sejak manusia itu lahir. teori metafisis yakni seni hanyalah sebagai tiruan dari ciptaan Ilahi. sebaliknya jika rasa haus belum terpuaskan maka akan terekspresikan dengan sedih atau menangis.

Seni sebagai media komunikasi bermakna sebagai penyampaian suatu hasrat sesuatu pada orang lain. ada yang lebih kuat dan cekatan pada kemampuan berupa gambar. Dalám hal ini pikiran. seni dapat membantu mengekspresikan idenya. perasaan dan emosi ikut berperan. Sebaliknya ekspresi yang tidak kreatif adalah ekspresi yang tidak menghasilkan nilai-nilai kreatif atau merupakan hasil tiruan. Manusia secara alamiah juga terjadi perbedaan antara satu dengan lainya. Kebutuhan orang dewasa juga berbeda dengan anak-anak. patung. maka ekspresinya pun juga berbeda. Ekspresi kreatif adalah ekspresi yang mengandung kreativitas. Anak-anak lebih banyak dan suka mengeksperisikan disi dengan coretan dan gerak. dan kriya lainnya. hasil pengulangan atau hasil jiplakan. Ekspresi adalah salah satu kebutuhan ruhaniyah/ batiniah individu untuk berhubungan dengan orang lain. Menurut Ramalis (2006) terjadinya ekspresi secara spontan tanpa perintah dari luar. Potensi seorang murid dengan murid lainnya tidak sama. arsitektur. Berkomunikasi merupakan fitrah bagi mansuia sebagai makhluk 73 . Ekspresi kreatif inilah yang harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran kesenian. terutama yang dijumpai dalam kegiatan berolah seni.isi hatinya. Perbedaan potensi ini harus menjadi perhatian seorang guru dalam mendorong eksperisi murid. Sebab ada 2 macam ekspresi dan anak yaitu ekspresi kreatif dan ekspresi yang tidak kreatif. Pengembangan daya ekspresi akan terkait dengan pengembangan kreativitas. Orang dewasa telah mempunyai banyak kosa kata untuk mengungkapkan perasaannya berbeda dengan anak-anak yang terbatas kosa katanya. Oleh karena eksperisi merupakan kebutuhan ruhaniyah manusia maka ekspresi perlu mendapat perhatian dan guru perlu mengembangkannya.

energi itu dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif sehingga mengahsilkan karya. berdiri meninjau jarak). dan gambar bisa dalam wujud film. Berkomunikasi dengan wujud gambar melakirkan seni lukis. Sebahagian seni di Minangkabau lahir dari pengolahan energi yang berlebih. novel. Mamangan Minangkabau yang melandasi seni itu adalah duduak ba pamainan. Jika ditarik pada ranah seni maka berkomunikasi dengan suara dapat diwujudkan dalam bentuk nyanyian atau musik. orang dewasapun juga dapat melahirkan seni dari cara bermain. gerak. silat. dan silat. Berkomunikasi dengan berbagai media atau gabungan media suara. seni anyaman. eksperisi yang dihasikan oleh anak-anak yang paling murni. kelebihan energi inilah yang mendorong manusia untuk menyeimbangkannya dengan cara bermain-main. seni patung. dan opera. Berkomunikasi dengan turlisan dalam wujud puisi. seni tari. Gambar merupakan media komunikasi yang cenderung paling banyak dilakukan oleh anak yang dibentuk dengan bahasa rupa. dan randai. dan seni ukir. Seni yang dihasilkan dari permainan bukanlah milik anak-anak semata. (Adirozal. Sarana berkomunikasi dapat melalui media: suara. pantonim. tagak maninjau jarak (duduk berpermainan. 2002). tulis. Permainan adalah ekspresi tentang hubungan manusia dengan seluruh kehidupan. tenunan. drama. gerak dan gambar. Sebagai media bermain maka seni merupakan bentuk ekspresi bebas yang paling jelas pada anak-anak. Sedangkan seni yang dihasilkan dari falsafah tagak maninjau jarak menghasilkan pencak. 74 .sosial. dan pantun. sulaman. seni ukir. Dari kegiatan duduak bapamainan mengahsilkan seni anyaman. Teori permainan dalam seni rupa lahir dari adanya kelebihan energi dan ide. karikatur. Berkomunikasi dengan gerak dapat dalam wujud seni tari.

Kegiatan berkesenian menjadi salah satu sarana untuk memupuk dan mengembangkan bakat. Maksud dari estetis di sini adalah keindahan yang berkaitan dengan 75 . yakni (1) dari segi perasaan. ed. (2) dari segi intuisi. sebab sebaik apapun bakat seseorang tanpa pernah diasah dan dikembangkan maka tidak akan berarti apa-apa. permainan dapat dikembanngkan dengan latihan-latihan penjiwaan pada seni drama.Apapun bentuk aktifitas permainan merupakan gerakan-gerakan yang berupaya mencari perpaduan antara proses mental dan fisik. dan (4) dari segi pikiran. Sebagai media pengembangan bakat atau hobi seni. Sebuah pendidikan seni yang ideal tentu memberikan kesempatan kepada setiap murid yang berbakat untuk memelihara dan mengembangkan bakatnya sejak awal. dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif ke arah keahlian. ada yang hanya pada tahap penikmat seni dan ada yang sampai sebagai pencipta seni. Ada yang berbakat seni tari. dikembangkan dengan latihan-latihan ritmis pada seni tari dan musik. Menurut Ramalis (2006) permainan bisa dikembangkan sesuai dengan 4 fungsi mental. Selain sebagai penyaluran hobi maka seni juga sebagai media untuk penjelajaran pengalaman estetis. ada yang seni musik. dan ada yang seni rupa. 2004) menyatakan sebenarnya setiap manusia mempunyai bakat seni. dapat dikembangkan dengan cara mengekspresikan diri pada seni disain plastis atau visual. Bakat yang terpupuk sejak awal tentu akan jauh lebih baik perkembangannya. Malah tanpa pernah dikembangkan bakat yang ada akan menjadi pudar dan hilang. hanya saja bentuk dan kadar seninya yang berbeda. Adirozal (dalam Yayah Khisbiyah. Bakat yang baik dalam berkesenian tidaklah cukup. banyak orang berpendapat bahwa kemampuan berkesenian merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. (3) dari segi sensasi.

Setiap anak yang telah memiliki kepekaan seni maka cita rasa keindahannya baik. maka naluri tersebut akan “mati”. Untuk menumbuhkan kepekaan seni adalah dengan mengembangkan sikap dan pengalaman cita rasa keindahan. Eastetic experince merupakan pengalaman keindahan yang dimiliki setiap manusia. Potensi dan naluri itu harus diasah dan dikembangkan terus. Pernyataan buya Hamka bahwa ‘hidup tanpa seni akan hampa’ tidak dimaksud bahwa setiap manusia/ murid harus mampu melahirkan karya seni. Bila naluri murid dikembangkan dengan baik maka ia akan memeliki pengalaman estetis yang banyak dan baik. melainkan setiap murid harus memeliki kepekaan seni. Cita rasa keindahan itu terpusat pada kesenangan dan merupakan pengalaman subyektif yang sulit ditentukan tolak ukurnya. Setiap pribadi murid perlu dikembangkan cita rasa keindahan dalam rangka menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Dari banyaknya pengalaman keindahan itu maka ia akan dengan mudah berkarya. jika naluri ini tidak ditumbuh kembangkan. di mana semua manusia memiliki cita rasa keindahan. Dengan baiknya cita rasa estetisnya maka dengan sendirinya ia akan mampu menghargai karya seni baik karya seni 76 .rasa. Setiap murid memiliki naluri dan potensi cita rasa keindahan. Hasil pengamatan dibahas dengan tujuan murid dapat kesenangan sebagai pengalaman subjektif. Pengalaman keindahan dapat dibangun dengan berbagai cara. Atau dapat juga murid diajak lansung kepada objek-objek alam dan lingkungan masyarakat sehingga menumbuhkan kepekaan estetisnya. Adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan akan membuat murid dapat menganalisa dan sekaligus merasa. di antaranya mengajak murid untuk berapresiasi atau menyaksikan dan menghargai karya orang lain. sebab pengalaman estetis itu sebagai vokabulari bagi anak.

Karya seni merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. retorika masuk pada tiga serangkai 77 . geometri. Setelah ditetapkan salah satu medianya. Proses-proses seperti itu akan membantu anak berpikir analisis dan bernalar. Apakah media suara. Seni Ukir Awalnya pengelompokan seni (zaman Yunani) berdasarkan satus sosial.dia sendiri atau karya seni orang lain. Pada zaman pertengahan kelompok seni kelas bangsawan disebut dengan liberal arts yang dilawankan dengan vulgar arts. Hal ini dapat dilihat dalam proses berkarya seni. misalnya rupa maka berlanjut pada analisis komposisi. sebelum sebuah karya seni dilahirkan maka terlebih dahulu dilakukan analisa yang terkait dengan media yang tepat karya tersebut diwujudkan. dan kemampuan memecahkan masalah. baik karya bangsa sendiri amaupun karya bangsa asing. bahwa keselarasan antara rasio dan emosi terdapat dalam seni. dialektik. Dengan demikian kegiatan berkesenian menempatkan rasio sebagai kontrol. Seni sebagai media membantu kemampuan berfikir atau bernalar hal ini terkait dengan seni merupakan hasil kerja olah otak. Kelompok seni kaum bangsawan dilindungi oleh dewa sedangkan seni kelas bawahan bersifat kasar. Bahkan Aristoteles mengatakan. astronomi masuk bersama musik ke dalam empat serangkai (quadrium). proporsi dan bahan yang digunakan. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. gerak. d. dan tata bahasa. atau rupa. yaitu kelompok seni kaum bangsawan (court-arts) dan kelompok seni kelas bawahan (folkarts). Pengelompokan ini menjadi rancu karena aritmetik. berpikir kreatif. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak.

seni yang tinggi ekspresinya termasuk fine arts dan seni terpakai disebut applied arst. perhiasan emas. logam. Seni pertunjukan terdiri dari seni tari. keramik. dan disain komunikasi visual. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis. sulaman. disain eksterior. (The Liang Gie. dan seni grafis. musik dan kesusasteraan. Pembagian seni selanjutnya berdasarkan indera serap manusia yakni visual arts. ukiran manikam. Kelompok seni yang halus disebut dengan manyor arts yang terdiri dari seni lukis. Sedangkan yang masuk pada seni kriya adalah anyaman. arsitektur. Kelompok seni yang masuk pada seni murni adalah seni lukis. 1976). Pernah juga pengelompokan seni berdasarkan pada halus dan kasarnya kerja seni. seni rupa dan disain. batik. Seni rupa terdiri dari seni murni. Pengelompokkan ini dirasakan juga kurang tepat sebab sebab tidak ada seni yang tidak memiliki ekspresi dan tidak juga ada seni yang tidak terpakai. Jika mengacu pada konsersium seni Indonesia maka pengelompokan seni terdiri dari seni pertunjukan. yakni sekitar tahun 1500 SM. perhiasan perak. dan ukiran. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Pengelompokan seni juga pernah dilakukan atas kandungan daya ungkap atau ekspresinya. seni kriya. dan lengkungan. seni patung. disain interior. titik. tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. 78 . seni pahat. permadani. kerajinan kulit. Kelompok seni kasar disebut minor arts terdiri dari perabotan kayu. Khusus tentang seni ukir maka bangsa Indonesia telah mulai mengenalnya sejak zaman batu muda (neolitik). seni karawitan. tembikar. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada kapak batu.(trivium). audio arts. dan seni musik. seni teater. tenunan. serta seni multi media (drama telivisi dan film). dan audiovisual arts. dan pembuatan medali.

30 WIB). Lebih lanjut dijelaskan bahwa seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor. pilin berganda. India. tumpal. Motif ukiran yang mengakat atau menstilisasi dari bentuk alam berlaku di manamana. gerak garis dasar.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia. ( HB. seni Mesir kuno. serta binatang maupun manusia. Dt. Pengertian ukiran menurut Van Houve dalam Ensiklopedia Indonesia adalah ukir mengukir. kulit. Islam. dan Indonesia. Risman Marah (1988) menyatakan ukiran adalah sesuatu yang diukir atau dipahatkan yang tidak bisa dipisahkan dengan motif-motif. penempatan motif. batu. Babylonia. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu.dengan bahan tanah liat. Hanya saja dalam pengolahan dan penerapannya terdapat perbedaan yakni: a. Yunani. yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. menggoreskan huruf-huruf dan gambar pada plat-plat dari kayu atau logam sedemikian rupa. baik seni primitif Afrika. Persia. emas. Tumbijo. atau bahan-bahan lain. (http://www. pada pengambilan dan pemilihan suatu motif. ciri-ciri ukiran. batu. diambil 8 Maret 2010 pukul 16. 1985).blogster. b. topeng. d. penggambaran dan pengukiran motif. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander. jelas sekali bahwa alam dan segala isinya bentuk dan kurenahnya menjadi sumber ilham bagi para seniman. kayu. bambu. Ukiran Minangkabau pada umumnya banyak mengambil nama-nama motif dari bentuk tumbuh- 79 . dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu. dan f. perak dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari sejarah seni rupa. Assyiria. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yaitu menggunakan bahan perunggu. c.

Dari berbagai difinisi dan teori model itu menjadi acuan dan pedoman untuk melihat atau menemukan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Walau ada yang ditatahkan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam. Menurut Elizar (2008) model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Kayu yang banyak digunakan di Minangkabau terutama di Pandai Sikek sampai saat ini adalah kayu surian. Model Pembelajaran Beragam difinisi dan teori yang dikemukan mengenai model pembelajaran. 5. namun dalam hal ini tidak dimaksud untuk membahas bermacam-macam teori model. pahat korek lubang disamping pahat rencong. pahat sudu (pahat sodok).tumbuhan dan binatang. pisau rencong. Menurut Zulhelman (2000) motif-motif Minangkabau bersumber dari alam yang berangkat dari falsafah orang Minangkabau yaitu alam takambang jadikan guru (alam terkembang menjadi guru). Menurut Joyce dan Weil (1980) 80 . Jadi model pembelajaran merupakan inti atau jantung dari strategi mengajar. dan nama makanan. Alat ukir tradisional Pandai Sikek terdiri dari pahat layang-layang atau pahat siku. Model mempunyai makna yang lebih luas dari sekedar metode dan strategi pembelajaran. namun ada juga yang diambil dari kata-kata adat. Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. dan juga tidak ditujukan untuk menguji model yang telah ada. Menurut Ibenzani (1985) pahat ukiran Minangkabau yang paling tua usianya bernama pahat rencong. Peralatan ukiran Minangkabau tidaklah sebanyak pahat ukiran Bali dan Jepara.

mendorong. Suherman (1993) mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas. dan cara bagaimana belajar. Pendidikan dan pembelajaran merupakan aktivitas dalam upaya membangkitkan. sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertintak berdasarkan model itu. Bell (1981) menyatakan bahwa A teaching/learnng model is a generalized instructional process wich may be used for many different in a variety of subjects . Pendapat Bell ini secara umum dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dapat ditetapkan pada beberapa subjek. Jadi model merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem. kelima unsur itu menurut Bruce Joyce (1994) adalah: (1) sintaks. Menurut Mills (1989) model adalah bentuk repsentasi akurat. ide. Walau ada yang menyamakan antara model dengan teori tapi ada perbedaannya yakni bahwa model berasal dari asumsi-asumsi yang disederhanakan. Pembelajaran yang efektif tidak sekedar mengajar dengan baik. yakni urutan kegiatan atau langkah-langkah pembelajaran. mengatur tingkah laku siswa. Guru harus tahu bagaimana mengadaptasi pengajaran terhadap tingkat pengetahuan siswa. Winatapura (2001) menyatakan bahwa model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang dipergunakan untuk mendapatkan pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. (2) sistem sosial. dan memfasilitasi potensi-potensi murid.hakekat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi. memotivasi siswa untuk belajar. cara berpikir. Sebauah model akan baik dan berarti jika di dalamnya terdapat lima unsur. yakni menguraikan peranan pendidik (guru) dan peserta didik serta aturan-aturan yang diperlukan dalam interaksi sosio- 81 . keterampilan. membentuk kelompok siswa untuk suatu pelajaran dan memberikan tes kepada siswa. nilai.

langkah-langkah dan unsur- 82 . 5) mengelompokkan data. yakni kondisi yang diperlukan agar model dapat terlaksana secara efektif dan efisien. Menurut Taba (1962) dan Sukmadinata (2005) langkah-langkah itu adalah: 1) menjelaskan fenomena yang berlaku saat sekarang. 3) mendeskripsikan aspek-aspek yang terkait dengan masalah yang akan disusun sebagai modelnya. (4) sistem pendukung. yakni memberikan gambaran kepada pendidik tentang cara memandang atau merespon pertanyaan-pertanyaan siswa. Pendapat. keadaan dan fenomena yang ada berdasarkan kajian terhadap teori-teori pendukung. Dalam menyusunan sebuah model ada langkah-langkah tertentu yang dilakukan. 8) melakukan validasi terhadap draf model.kultural. 7) menyusun draf model. Model yang baik juga hanya akan terwujud ababila disusun berdasarkan kajian-kajian yang kompreherisif terhadap data yang ada dan telah divalidasi. dan (5) efek instruksional dan pengiring. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukan di atas maka model yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan suatu keadaan yang menyeluruh dalam mengorganisasi pendidikan atau pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman guna mencapai tujuan. yakni pengaruh langsung dan tidak langsung yang dialami peserta didik saat penerapan model. 2) menetapkan tujuan penyusunan model. (3) prinsi-prinsip reaksi. Menurut Bastian (2009) sebuah model dapat dianggap baik apabila mampu memberikan gambaran yang tepat tentang hubungan-hubungan antara fenomena yang terjadi dengan aspek-aspek yang ada pada suatu hal keadaan benda. dan 9) menghasilkan model. 6) melakukan analisis hubungan antara aspek-aspek. 4) mendeskripsikan keadaan yang terjadi saat ini.

post Evaluasi Hasil Belajar Murid yang jadi guru seni ukir Tukang Ukir Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Tujuan Pendidikan Harkat dan Martabat Manusia 83 .unsur yang mesti terkandung dalam penyusunan model yang dikemukan akan dipedomani. Perkiraan Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Harkat dan Martabat Manusia Tujuan Pendidikan Guru Seni Ukir Proses Pembelajaran Murid Penerapan high touch high tech Tahapan Pembelajaran pre. while.

(2) lokasi penelitian. Hakikat penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1992). Materi. Sejalan dengan itu Nasution (1992:18) menyatakan penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. Adapun metode penelitian yang dimaksud adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penelitian. Selain langkah-langkah pokok yaitu pengumpulan data. simbolik. Dalam bab ini secara berturut-turut diuraikan hal-hal tentang (1) bentuk penelitian. data dan sumber data. Untuk mewujudkan hasil penelitian yang baik diperlukan metode penelitian yang tepat. interaksionis. dan penyajian hasil penelitian. fenomenologis. naturalistik atau alamiah. teknik. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif (kata-kata). Menurut Moleong (1998:3) ada juga yang menyatakan penelitian kualitatif ini dengan istilah inkuiri. dan evaluasi pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional itu akan disajikan secara diskriptif. (3) data dan sumber data. interpretif.METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kualitatif model pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek. etnometodologi. Bentuk Penelitian Penelitian ini berbentuk kualitatif yang sering dilawankan dengan penelitian kuantitatif. analisis data. Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. (4) teknik pengumpulan data. studi kasus. bukan kuantitatif (angka-angka). dan (6) penyajian hasil penelitian A. penentuan lokasi penelitian. bentuk penelitian. dan deskriptif. perspektif ke dalam. (5) analisis data. Moleong (1998) adalah sebagai prosedur 84 . ekologis. etnografis. pada bagian ini dikemukakan pula hal-hal yang berkenaan dengan paradigma penelitian.

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Selanjutnya Moleong mengutip Jerome Kirk dan Marc L. Miller yang mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasan sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 1998:3). Sugiyono (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif muncul karena adanya perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala. Paradigma realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Paradigma demikian disebut dengan paradigma postpositivisme. Paradigma penelitian sebelumnya disebut positivisme di mana memandang gejala lebih bersifat tunggal, statis, dan konkrit. Paradigma positivisme mengembangkan penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma postpositivisme mengembangkan penelitian kualitatif. Penelitian ‘Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisonal di Pandai Sikek’ tidak dimaksudkan memberikan perlakuan kepada subyek terteliti, tetapi hanya mendiskripsikan hal-hal yang dilakukan oleh subyek terteliti dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari, baik yang dilakukan oleh guru maupun reaksi murid. Diskripsi dilakukan setelah data yang ada terlebih dahulu dikaji dan ditelaah. Pristiwa pembelajaran pada sanggar seni ukir tersebut merupakan perilaku sosial sehari-hari yang dilakukan oleh guru dan murid. Dimyati (1996) mengemukakan bahwa penelitian yang berkaitan dengan peristiwa sosial akan mudah dijaring datanya jika diletakkan pada salah satu kuadran peta paradigma sosiologi Ritzer. Kuadran keempat Ritzer yaitu kuadran untuk melihat suatu

85

peristiwa interaksi sosial terutama perilaku guru dan murid yang terjadi dalam proses pembelajaran seni ukir baik di dalam sanggar maupun di luar sanggar, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Sugiyono (2009:285) bahwa dalam pandangan penelitian kualitatif gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisahpisahkan), tidak ditetapkan berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity). Untuk memperoleh data yang secara holistik maka dilakukan penelitian bentuk diakronis yaitu meneliti dengan melihat perkembangan objek. Proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek telah berlangsung semenjak tahun 1920-an, sedangkan sanggar atau studio seni ukir berdiri pada awal tahun 1970 oleh Ramli Dt. Rangkayo Sati. Data yang dapat dihimpun dimulai semenjak guru sekarang menjadi murid Ramli Dt. Rangkayo Sati, kemudian mereka sebagai guru, dan murid-murid seni ukir sekarang. B. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Sebelum diberlakukannya PERDA Nomor 9 tahun 2001 tentang sistem pemerintahan terendah di Sumatera Barat, maka Pandai Sikek pernah dalam bentuk desa. Sekarang Pandai Sikek merupakan sebuah kenagarian, di samping sebagai daerah teritorial

administrasi pemerintahan terendah maka nagari juga merupakan teritorial budaya/adat. Apa bila desa merupakan satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan di daerah lainnya di Indonesia, maka kenagarian adalah satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan Sumatera Barat. Hal ini dibenarkan dengan diberlakukannya Undangundang No 32 tahun 2004 tentang sistem otonomi daerah.

86

Lokasi penelitian meliputi

kenagarian Pandai Sikek. Ada beberapa alasan

menetapkan kenagarian Pandai Sikek sebagai lokasi penelitian. 1. Penetapan lokasi ini mengingat kenagarian merupakan daerah teritorial sebagai pendukung budaya Minangkabau. Seni ukir sebagai objek penelitian merupakan warisan budaya berada dalam kewilayahan kenagarian Pandai Sikek. Seni ukir yang oleh masyarakatnya dirasakan sebagai milik bersama, walau yang membuatnya tidak seluruh masyarakat Pandai Sikek (empat buah sanggar). Sebagai bukti bahwa seni ukir yang ada pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menjadi budaya masyarakat setempat maka gaya ukiran tersebut dinamakan ‘ukiran Pandai Sikek’ (Ibenzani Usman, 1985) 2. Sebelumnya tiga wilayah seni ukir Sumatera namun Barat sekarang yang memiliki tetap gaya eksis dan atau

mengembangkan

yang

berkesinambungan hanyalah Pandai Sikek. Dua daerah lain yakni gaya IV Angkek Candung ( untuk Payakumbuah) dan gaya Banuhampu Sungai Puar (Agam) tidak terlalu baik pembinaan pendidikannya atau hampir tidak ada generasi muda daerah ini yang belajar seni ukir. Malah sebahagian sanggar seni ukir dua daerah ini telah banyak berubah fungsi pada kegiatan pembuatan perabot. 3. Di daerah Pandai Sikek sampai saat ini masih banyak generasi muda yang berminat dalam mewarisi seni ukir. Ada beberapa generasi muda Pandai Sikek yang masih mau belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 4. Secara historis penduduk Pandai Sikek merupakan satu kesatuan yang sama yakni luhak Tanah Datar. Kenagarian Padai Sikek bahagian dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua di Minangkabau. Sebagaimana dinyatakan

87

dan seni ukir. dan tokoh masyarakat. dan lembaga yang pernah membina sanggar seni ukir Pandai Sikek. 1998. Data primer adalah data yang didapat langsung dari tangan pertama.dalam berbagai tambo Minangkabau yang dibahas oleh beberapa penulis (Navis 1984. 88 . Datuk Sanguno 1987. tokoh budaya (adat) setempat. Walau mobilitas penduduk di kenagarian cukup tinggi (objek wisata budya) namun penduduk masih homogen. C. Data primer juga diperoleh dari dinas. Surakhmad. guru seni ukir. Data primer didapat dari pelaku yang terlibat langsung sebagai pemilik budaya. karena di daerah ini terdapat berbagai aktivitas kerajinan rakyat seperti tenun. 5. Datuk Rajo Panghulu 1997. intansi pemerintah (lembaga pendidikan formal yang mengajarkan materi seni ukir). 1990). sedangkan data sekunder adalah data yang dikutip atau didapat dari sumber lain. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. songket. Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini digunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. (Moleong. Kedua data itu saling terkait dalam pengolahan hasil penelitian. Sebagai daerah yang terbuka tentu akan banyak perubahanperubahan namun di Pandai Sikek sanggar seni ukir tetap bertahan sebagai salah satu identity etnic. murid seni ukir. Kenagarian Pandai Sikek menjadi salah satu objek wisata budaya Sumatera Barat.

Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi langsung. tokoh masyarakat. Alat-alat tersebut terlebih dahulu diukur tingkat reabilitas dan validitasnya agar data-data yang diperoleh lewat instrumen itu benar-benar sahih. Juga data-data di kantor kanagarian. sedangkan studi kepustakaan dilakukan pada perpustakaan resmi dan pribadi. dan tape recorder. dan dinas atau instansi terkait. Pedoman dan penuntun atau instrumen penelitian dalam melakukan observasi dan wawancara adalah pedoman wawancara. Observasi Teknik observasi atau pengamatan merupakan cara untuk mengamati prilaku dan benda-benda yang berkaitan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. wawancara. dan aparatur pemerintah. Observasi dan pengamatan dilakukan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Konsep pengamatan terlibat sama dengan participant observation yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1992:23) yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan diri di dalam lingkungan subjek.Data sekunder diperoleh dari foto. 89 . Wawancara juga dilakukan dengan komponen terkait seperti budayawan. Masing-masing instrumen yang digunakan disesuaikan dengan standar yang berlaku umum. Wawancara dilakukan untuk menggali data yang tidak dapat diamati atau diobservasi. buku-buku atau literatur baik hasil penelitian maupun tulisan lainnya yang berkenaan dengan pendidikan dan seni ukir. buku catatan. 1. secara sistematis dan tidak mencolok. D. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru dan murid yang ada pada sanggar seni ukir. kamera (photo film). dan studi kepustakaan atau analisis dokumen. camat.

Teknik ini sangat penting untuk mendapat data yang tidak dapat ditangkap melalui pengamatan. Operasionalisasinya diawali dengan survei lapangan baik sebelum proposal dibuat dan saat pembuatan proposal. Perbedaannya terletak pada pada persiapan oleh peneliti tetang materi dan informan yang 90 . SMK Negeri 8 Padang. 2. pengrajin (murid/karyawan) sanggar seni ukir. dan pendirian secara lisan dari subjek dilakukan melalui wawancara. Survei dilakukan dalam upaya pendekatan atau memperkenalkan diri dengan tokoh masyarakat. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. Wawancara Wawancara merupakan teknik yang sangat mendukung dalam pelaksanaan observasi. pandangan. Pengamatan dilakukan pada sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek (tempat berlansungnya pembelajaran). guna memperoleh kepercayaan dari subjek penelitian. oleh Koentjaraningrat (1994) diklasifikasikan ke dalam wawancara berencana. seperti pandangan dan pendirian manusia. wawancara tidak berencana. dan setelah itu pada tokoh budaya atau masyarakat yang terlibat pada pembinaan seni ukir. Proses tanyajawab antara peneliti dengan subjek penelitian untuk mendapat data keterangan. Observasi juga dilakukan pada pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir yaitu SMK Negeri 4 Padang. dan Juni 2010.sehingga tercipta suatu priode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dengan subjeknya. Observasi terlebih dahulu dilakukan pada informan kunci yakni guru seni ukir. Ada beberapa bentuk wawancara. Mei. guru (pimpinan sanggar) seni ukir. dan wawancara sambil lalu. kemudian murid. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. Obsevasi yang intensif direncanakan dilakukan pada bulan April. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang.

Komponen pelaku kebijakan terdiri dari aparat pemerintah yang berperan dalam 91 . tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui tentang adat dan budaya umumnya dan khususnya seni ukir Sumatera Barat. Dengan teknik snowball sampling informasi berakhir pada kejenuhan informasi tetang pokok soal yang ingin diketahui. Dalam hal ini termasuk murid-murid Ramli Dt. Sementara wawancara tidak berencana tidak dilengkapi dengan daftar pertanyaan yang berlaku ketat. Pelaku kebudayaan adalah guru dan murid seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. Pengumpulan data dimulai dari seorang informan pangkal yang dapat memberi petunjuk tetang individu lain yang tepat dan layak untuk diwawancarai sehubungan dengan topik penelitian.akan diwawancarai. yaitu pelaku kebudayaan. Teknik wawancara sambil lalu termasuk ke dalam wawancara tidak berencana dan informan juga tidak diseleksi secara ketat terebih dahulu. Keseluruhan teknik wawancara dibedakan menjadi wawancara tertutup dan wawancara terbuka. Rangkayo Sati yang masih hidup dan tidak lagi mengukir di Pandai Sikek. Jadi penentuan informan tidak berdasarkan teknik penghitungan secara kuantitatif. Bangso Rajo di Padangpanjang. Wawancara terencana ditandai dengan adanya daftar pertanyaan yang tersusun untuk diajukan pada responden. dan pelaku pendidikan. Pertanyaan yang membatasi jawaban yang diberikan responden termasuk ke dalam tipe pertama. sedangkan tipe ke dua memberi kebebasan kepada reponden untuk menjawab secara luas dengan bahasanya sendiri. Informan ditetapkan secara purposive berdasarkan teknik snowball sampling. misalnya JK Dt. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan atas tiga komponen. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe yang kedua atau terbuka. pelaku kebijakan.

mengambil kebijakan sehubungan dengan pembinaan sanggar seni ukir Pandai Sikek. Sementara komponen pelaku pendidikan adalah guru-guru pada sekolah formal. 6.B. Ketentuan sudah bisa dinyatakan pandai atau ahli ukir Untuk guru-guru seni ukir sekarang • Masing. Tempat mereka dulunya kejenuhan data guru seni ukir belajar dan syarat untuk yang akan 4 orang menjadi murid diambil. Rangkayo Sati • Waktu Keterangan Sanggar A. Materi dan tahapan yang mereka lakukan dalam mengajar • 1x 4. 3. Penggalan materi setiap amat lapangan tahapan tergantung • Jumlah 5. dan D Masing.B.C. Jadwal dan waktu-waktu lama mereka mengajarkan seni ukir waktumya 6. Cara guru mereka dulu pertemuan objek mengajar / mentransper materi tidak pertama dan 3. Perbedaan antara mereka amat dengan guru mereka dalam tergantung mengajar dan materi yang kejenuhan data 92 .C.• Daftar masing sanggar pertanyaan akan disiapkan diobservasi dan • Sangg 1. Cara guru mereka dulu ditetapkan seterusnya mengevaluasi/ menentuakan lama tergantung materi tambahan waktumya situasi 4. Bahan/ materi yang diwawancarai ar ukir yang diterima guru seni ukir sekarang 2 x pertemuan.idem 1. dan D Materi Observasi/ Wawancara Untuk guru seni ukir ketika mereka jadi murid Ramli Dt. Rencana jadwal observasi dan wawancara Sasaran Sanggar A. Cara mereka mengevaluasi baik pertemuan untuk menambah materi tidak maupun menentukan telah tamat ditetapkan 5. diobservasi ketika mereka jadi murid tidak dulunya • Satu kali ditentukan 2. Motivasi mereka mengajarkan masing sanggar seni ukir akan 2. Cara mereka mengajar/ diobservasi dan mentransper keterampilan diwawancarai mengukir 2 x pertemuan.

Masingmasing sanggar akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. dan D Untuk murid-murid seni ukir sekarang 1. Harapan mereka terhadap kesinambungan seni ukir Pandai Sikek Lembaga 1. Motivasi mereka belajar seni ukir 2. Studi Kepustakaan 93 . Usaha-usaha yang telah lembaga akan pemerin dilakukan diobservasi dan tah 3.C. Pandangan mereka terhadap proses pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek 3. seni ukir di Pandai Sikek 1x pertemuan tidak ditetapkan lama waktumya amat tergantung kejenuhan data yang akan diambil. Idem Jumlah murid untuk 4 sanggar ukir sebanyak 55 orang • Tokoh 1.diberikan Sanggar A. Kepuasan atas penilaian guru atas prestasi mereka • yang akan diambil. Harapan mereka terhadap diwawancarai proses pendidikan pada sanggar 1 x pertemuan. Pandangan mereka terhadap Masyarakeberadaan seni ukir Pandai kat/ budaSikek yawan 2. • Masin g-masing informan akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Peran mereka dalam membina • Masin atau sanggar seni ukir Pandai Sikek g-masing intansi 2.B. Lembaga yang dituju dinas-dinas kabupaten Tanah Datar terkait dan lembaga pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir 3. Cara mereka belajar 3.

Untuk itu dalam analisis ini maka data yang telah didapat terlebih dahulu dipilah dan dipilih atau diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian. rekaman terhadap proses dan fenomena sosial yang berkaitan dengan seni ukir Pandai Sikek dijadikan sebagai sumber data. program-program. Dokumen tersebut berupa perda-perda. dan kliping surat kabar. Analisis Data Menurut Syahron (2009) pengolahan dan analisis data dalam penelitian kualitatif sesungguhnya dimulai dengan mengorganisasikan data. Analisis data menggunakan metode kualitatif terutama yang didapat melalui wawancara. mendokomentasikan analisis. Penggunaan sumber ini karena tidak semua data dapat ditangkap melalui observasi dan wawancara. tulisan/dokumen. data statistik. sistem klasifikasi kronologis yang mencakup jumlah keterangan yang terkumpulkan dan menunjukkan 94 . dan observasi atau pengamatan proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek. E. Data yang diperlukan adalah yang sehubungan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar di Pandai Sikek. Lebih lanjut dinyatakan bahwa dengan mengorganisasikan data dengan rapi memungkin untuk memperoleh data yang baik. Data yang valid dan relevan dengan penelitian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. Menurut Wuisman (1996:300).Studi kepustakaan merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan data penelitian. Tulisan-tulisan. dan analisis dokumen termasuk didalamnya. Khusus tentang dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah kebijakan yang terkait dengan pembinaan seni ukir di Pandai Sikek. analisis data kualitatif adalah teknik pemadatan data dengan cara mengembangkan taksonomi. dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.

aksial (mengorganisasi data dengan cara mengkoneksikan antara kategori. Secara operasional. Menurut Syahron (2009) menganalisis data membutuhkan kepekaan teoritis. 2009) yakni melakukan koding baik terbuka (mengidentifikasi kategori-kategori). Sesuai dengan data yang diperlukan dan metode pengumpulan data tersebut. menghubungkan kategori.keterkaitannya secara sistematis. Kepekaan teoritis ini dilakukan pada saat menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. langkah-langkah analisis data yang dimaksud dilakukan dengan reduksi data. yaitu reduksi data. dan penarikan simpulan/retifikasi. karena 95 . analisis data kualitatif dilakukan dengan tiga langkah sistematis secara jalin menjalin (Miles. dan selektif (menyeleksi kategori yang paling mendasar. dan penarikan kesimpulan. penyajian data. sub kategori). frase. Selain itu juga likakukan pengembangan kepekaan teoritis dengan cara mengembangkan pertanyaan-pertanyaan. menganalisis kata. Proses analisis ini dapat digambarkan : Pengumpulan data Penyajian data Reduksi data Simpulan/retifikasi Sebelum penarikan simpulan terlebih dahulu akan dilakukan langkah-langkah yang disarankan oleh Strauss dan Cobin (dalam Syahron. dan memvalidasi hubungan tersebut). penyajian data. 1992:19). yakni memasukkan atau menghubungkaitkan teori-teori yang telah ada atau yang dikemukakan pada bab 2. dan kalimat.

Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentu laporan ilmiah yang berupa disertasi.dalam proses menganalisis data. Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif interpretatif. Masing-masing bab terdiri dari beberapa subbab dan beberapa subbab di antaranya terdiri dari sub -subbab yang disesuaikan dengan kebutuhan. F. artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori dan kerangka pikiran yang berlaku umum. peneliti sesungguhnya sedang melakukan upaya mengembangkan teori. 96 . yang uraiannya terdiri dari beberapa bab. atau berteori.

hal. “Pembuatan Gerabah di Desa Galogandang Tanah Datar” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Bakhtiar Amsal. Bandung: Alfabeta. Padang : Genta Singgalang Press A. Padang: Pascasarjana UNP Anas Sudijono. ------. New York: The Datuk Sangguno Dirajo. 2002. Disertasi. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.K. Curahan Adat Alam Minangkabau.1986. Azhari Abdullah. Daleware. No. Filsafat Agama. “Apresiasi Sekolah Dasar Agama Sumatera Barat” dalam Yayah Khisbiyah (ed). Aunurrahman. dan EkonomiPariwisata” dalam Sri Krisnanto (Ed). Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Surakarta: PSB-PS Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2007. 1987. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.C. Surabaya: Usaha Nasional. 16-30. 2004. 1999. Delaware Departement of Education 2000. ------. “Kriya Gerabah Andaleh: antara Pelestarian.5 bulan Mei.J Taylor 1992. Pendidikan Apresiasi Seni. Yogyakarta: B. “Peranan Seni dan Budaya Minangkabau Dalam Pembangunan Pariwisata” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. No 2 bulan September. R. Dove. Cultural Studies. 2009. Dialektika Minangkabau Dalam Kemelut Sosial dan Politik. 1997. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Alam Terkembang Jadi Guru. A. Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Padang: UNP Press. 1984. ASKI Padangpanjang. Raja Grafindo Persada. 2009. S. 1982.I.C and S. Gaya Hidup. R. The Standar for Fungtional Life Skills Curriculum.D ISI Yogyakarta Adolf Bastian. Adirozal. Jakarta: Grafiti Prss. Bogdan. Barker. 2004. Jakarta : PT. dan Biklen. Adult Education Procedures. Muri Yusuf.DAFTAR PUSTAKA A.A Navis. Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial. 2009. 97 . “Model Pengembangan Kompetesi Guru Melalui Pelatihan Dalam Jabatan”. 2008. Chris. Metodologi Penelitian. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bogdan. Wacana dan Praktek untuk Toleransi Pluralisme Budaya. ------. Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. Kritik Seni Rupa dan Seni Kriya. Bukittinggi: CV. Seni Kriya dan Kearifan Lokal dalam Lintas Ruang dan Waktu. (ed). 2007. Abdul Azis Wahab. ASKI Padangpanjang. Padangpanjang: STSI Padangpanjang.A Navis. Pustaka Indonesia.

R Tilaar. -----. Bandung : Institut Teknologi Bandung. Jogyakarta: Kanisius. Surabaya. “Ukiran Mesjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar. How to Design and Evaluate Research In Education. Howe. Hans. 2008. Dimyati dan Mudjiono. Rajo Panghulu. 1999. Tesis. “Warisan Budaya dan Globalisasi”. 1985. Pola. I Wayan Ardika. 1980. -----. 1997. Rineka Cipta. 1993. 1984. Rineka Cipta. 2000. Jakarta: Diknas Direktorat Dikdasmen. 2004. Jakarta: Buni Aksara. Hamzah B Uno. Membenahi Pendidikan Nasional. UU. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia . 2000. W. The Psycholgy of Human Learning. 2002. 2000. Ibenzani Usman. 2001. 1999/2000. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta : Panji Masyarakat. Frankel. Michael J. H. Karunia. Denpasar: Universitas Udayana. Filsafat Ketuhanan. Yogyakarta: Pusta Pelajar. Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. Jakarta: Rineka Cipta. 2009.Departemen Agama Republik Indonesia. Jack L. Islam dan Adat Minangkabau. 1983. Propinsi Sumatera Barat: Kajian Bentuk. Fungsi. -----. Bali. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup di SMP. “Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. dan Fungsinya”. Belajar dan Pembelajaran. Psychologi Sosial. “Seni Ukir dan Masalahnya”. Jakarta: Adicita Karya Nusa. Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural. -----. (1981).A. J Daeng. SP. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan. and Norman E. Djohar. Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. SP.A. Hamka. New York: Harper & Row. 2001. Semarang: PT Karya Toha Putra Depdiknas (2003). dan Masyarakat Madani Indonesia. 2005. Yogyakarta: STSRI-ASRI Yogyakarta. Jakarta: PT. Seni Kerajinan Mabel Ukir Jepara. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Teori Motivasi dan Pengukuran Analisis di Bidang Pendidikan. Wallen. Jakarta: Buku Kompas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.A. Fasli Jalal (Ed). Materi matrikulasi S2 Kajian Budaya Universitas Udayana. Idrus Hakimi Dt. Hamka. Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Publishers. Gustami. Gerungan. Al Quran dan Terjemahannya. Bandung: P. Jakarta: PT. dan Makna”. 1987. New York: McGraw-Hill. Harisman. 98 . Manifesto Pendidikan Nasional.1999. Kebudayaan.RI. Disertasi.Teresco. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: DEPDIKNAS. 1999.

Jakarta: PT. Second Edition Chas. Mulyasa. Mukhtar Buchori. “Pembelajaran dan Evaluasi Seni”. Lincolc.Zaim. Mustofa Kamil. Analisis Data Kualitatif (terjemahan) Jakarta: UI Press. Kebudayaan Mentalitas Pembangunan. David dan Albert A. 1983. M Nasroen.S dan Guba. Model of Teaching. Muchtar Naim. Pengantar Antropologi I dan II. 1986. Manner 1999. John R. Teori Budaya. Bandung : Tarsito. Inc Illinios. Jakarta: Rineka Cipta. Joice. 1994. Jakarta: STIA-LAN PT: Bina Aksara. Moleong. Jakarta: Bulan Bintang. -----. Metode Penelitian Kualitatif. Bennett Co. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Nana Sujana. 2005. Jakarta: The Jakrta Post & The Asia Fondation. 2000. 2002. Jakarta : PT. Y. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. 1979. B dan Marshal Well. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. “Ragam Ukiran Rumak Gadang Minangkabau”. 1976. Bandung: Alfabeta. Notes on Educational in Indonesia. Muhibbin Syah. 1999. 2005. Pendidikan Formal Pengembangan Melalui PKBM di Indonesia (Sebuah Pembelajaran Dari Komonikan Jepang). Remaja Rodakarya. Kaplan. P2LPTK. 1993. Mills. Penilaian Hasil Balajar. 1971. New Jersey: Prensentece Hall Inc. Lexy J. 1985. Psikologi Belajar. 99 . Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Bandung: PT. makalah. Dirjen PT. 2009. Geoffrey G. Manajemen Sumbar Daya Manusia. Dasar-dasar Falsafah Adat Minangkabau. Jakarta: Depdikbud. Koentjaraningrat. Gramedia Pustaka Utama. Irawan Prasetya. “Catatan-catatan Tentang Minangkabau dari Encylopedia voor Nederlands Oust Indie”. dan Huberman. Basic Crafts. Padang: FKPS IKIP Padang. E. Mardjani Martamin. “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nasional” Padang: Singgalang Press. London: Sage Publication. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. M. Padang : Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang. Kompas Linbeck. A. Naturalistic Inquiry.B. M. 2006. 2009.Imam Sodikoen. Mohammad Ansyar. 1996. Sumatera Barat. Jakarta : Pustaka Binaman.M. 2001. ----. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. Kewirausahaan Teori dan Praktek. 1999. 1985. A. Meredith. Gramedia. Museum Aditiawarman 1982. “Kumpulan Makalah Penilaian dan Evaluasi Pendidikan Dalam Berbagai Seminar dan Pelatihan”.(ed).G. 1998.

2008. Sedya Tuwana Sudikan. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. (2000). Padang: Seminar Nasional Jrusan Seni Rpa FBSS UNP. Yogyakarta: PT. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. DEPDIKBUD. Bandung: Jemmars. dan Sekolah Katolik Mardi Wiyata II Malang”. Disertasi. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Prayitno.Nasbahry Couto. makalah.James.1997. 100 . Structural Antropology. Paulina D. “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid Di Kabupaten Kerinci”.. Jakarta: Proyek Pengembangan Kebudayaan. 2002. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Sastra dan seni. 2004: “Culture-based Education”. Pannen. Padang. Metode Penelitian Kebudayaan. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem .education2. Nasution. 1987/1988.based. Levi C. Bandung: Tarsito. Risman Marah. Diambil 5 Januari 2007. Malang: YA3 Seabury Press. 2006. Jakarta: DEPDIKNAS. Nofrial. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.. “Gaya Dalam Seni Rupa. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar . NWT Teacher Induction. 1986. Sanapiah Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. Ramalis Hakim. 2005. Metode Etnografi. Kriya STSI Padangpanjang. Wayan dan P. New York: Basic Books Suardi Sandi. Oemar Hamalik. Nasution. “Pendidikan Seni di masa Depan (Melihat Paradigma baru dalam Pendidikan Seni)”. Sosiologi Pendidikan. Nurkancana. Sugiono.html.K.Universitas Negeri Padang Puskur. 2001. ca/culture. Pengembangan Aktivitas Instruksional. Pemahaman Bahasa Seni Rupa Modern”. 1987. Sosok Keilmuan Pendidikan. “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci. 1981. Sekolah Dasar Negeri Percobaa I malang. 2000. “Strategi Pembelajaran Bidang Studi Kerajinan Tangan dan Kesnian: Studi Multi-situs pada Madrasyah Ibtidaiyah Negeri MalangI. DEPDIKNAS. Skripsi. 2008. Malang: Pascasarjana UNM. Nasution. Sanapiah Faisal. Jogyakarta: Institut Seni Indonesia. Rusli Amran. 2008. Bandung: Alfabeta. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.Tiara Wacana Strauss.newteachersnwt. 1999.04. Padang. Padang: FIP-Universitas Negeri Padang Prayitno. 2005. Kriya STSI Padangpanjang. Padang: FIP. 2009. Kurikulum 2004: Kerangka Dasar. Metode Penelitian Kualitatif. 2004. 1990. Jakarta: PT Bima Aksara.N Sumartana. “Tinjauan Seni Kriya (Eropa dan Amerika Serikat). Tesis.K. Jakarta: Jemmars. Kajian Estetika dan Budaya”. pada Fakultas Bahasa. Jakarta: Sinar Harapan.1963. -----. UNP Padang.P. Buku 2. 1992. (2001). “Ragam Hias Minangkabau”. Nasbahry Couto. www. Surabaya: Citra Wacana Spradley P.

Robert S. 1981. 1971. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. The Liang Gie. ”Penelitian Kualitatif Analisis dan Intrepetasi Data”.. (2006). Jakarta: Sinar Harapan. Suwaji Bastomi. Wina Senjaya. Sumianto A Sayuti. 1977. 2005. Suharsimi Arikunto. 1997. 2001. 2009. Jakarta: Bumi Aksara.. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Jakarta: Jembatan. Winata Putra. Paradigma Baru Pendidikan. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Tersedia. 2008. Chicago and London: The Unversity of Chicago Press.DEPDIKNAS. Seni Tradisi Masyarakat.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran). MemahamiPenelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Prenciples and Fundations. Zais. Umar Junus dalam Koentjaraningrat (Ed).com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia) 101 . Yogyakarta: ASRI Yogyakarta.psb-psma. Padang: Universitas Negeri Padang. 1949. PUBIB: Yogyakarta Tyler. online: http://www. (http://www.Sugiono. Syahron Lubis. 2009. “Pendidikan Seni di Sekolah: Proses Harmonisasi Kecerdasan” makalah. Potensi Lokal Dalam Proses Kreatif-Apresiatif” makalah. “Pendidikan Seni Dalam Konteks Lokal Genius. Bahan Kuliah Pada Pascasarjana UNP.. Supriono. Strategi Pembelajaran. “Modernization in The Minangkabau World: West Sumatera in The Early Decades of Twenty Century” dalam Claire Holt: Culture and Politics in Indonesia. 1976.blogster. Jakarata: Rineka Cipta Yahya. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Garis-garis Besar Estetik. Waras kamdi. New York: Happer 7 Row Publishers.unisosdem. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. 2008. Ralph W. Kualitatif. Curriculum. “Pendidikan Dalam Keluarga” dalam Jurnal. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Umar Kayam. (http://www. “Perkembangan Seni Kriya”. Ethaca London: Cornel University Press. Bandung: Alfabeta. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2009. 2009. Taufik Abdullah. Basic Principle of Curriculum and Instrution . dan R&D. 1983.org.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.