CONTOH PROPOSAL JUDUL; Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisional Di Pandai Sikek Tanah Datar

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM) bermakna strategis bagi pembangunan nasional, karena masa depan bangsa sangat bergantung pada penyelenggaraan pendidikan masa kini. Sejauh mana pendidikan itu diselenggarakan menjadi tolok ukur penyiapan generasi penyambut ’tongkat estapet’ pembangunan. Menurut Ki Hajar Dewantara “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Anakanak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warga negara kita” (Prayitno, 2005:1) Sejalan dengan itu, Mukhtar Buchori (2001:23) menyatakan bahwa “Apa yang terjadi dengan bangsa kita di masa depan, sangat tergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang ini terhadap cara-cara kita mendidik generasi muda, dari pendidikan tingkat TK sampai ke pendidikan tingkat Perguruan Tinggi” Melalui semua jenjang pendidikan tersebut, kelangsungan hidup suatu bangsa dapat terjamin sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, how to live together, dan how to do, tetapi yang amat penting how to be. Oleh karena itu diperlukan transformasi nilai-nilai pendidikan (Daulay, 2007). Dengan demikian, memaknai pendidikan sebagai proses ‘memanusiakan manusia’ harus fokus pada pengembangan potensi manusia itu sendiri, bukan hanya fokus pada pengajaran. Pernyataan

2

‘memanusiakan manusia’ seakan-akan menyatakan bahwa sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik belum menjadi manusia. Pada hal peserta didik adalah manusia, makhluk yang paling sempurna dari sekian makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia. Berbagai bentuk pendidikan yang telah dilakukan bangsa Indonesia bertujuan untuk membangun sumber daya manusia, melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. Penyelenggaraan pendidikan formal dilakukan mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan formal terdiri atas pendidikan anak usia dini, berbentuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA); pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah pendidikan dasar dilanjutkan dengan pendidikan menengah yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA), dan pendidikan menengah kejuruan seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan nonformal berbentuk kursus-kursus singkat (non-ijazah) dan pelatihanpelatihan terorganisir yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal. Sedangkan pendidikan informal merupakan pendidikan sepanjang hayat di mana individu memperoleh pengetahuan, norma-norma, dan keterampilan melalui keluarga, tetangga, dan media masa. Sarana jenis-jenis pendidikan tersebut terkait dengan upaya untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari ketidaktahuan dan

3

politisi. melakukan proses pembelajaran sesuai jadwal. sehingga terkesan bahwa pendidikan sekedar rutinitas belajar. maupun dari akademisi atau pakar pendidikan sendiri. Gugatan itu tentu terkait dengan kesadaran dan pemahaman masyarakat yang makin tinggi bahwa pendidikan memiliki nilai strategis dan 4 . evaluasi kenaikan kelas. Selain itu. baik dari kalangan masyarakat. Berbagai gugatan itu sehubungan dengan tidak baiknya penyelenggaraan pendidikan. sampai dengan seringnya pelajar melakukan tindakan amoral dan kriminal. pantas akhir-akhir ini gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan persekolahan menjadi lazim terdengar. muatan materi dan pembelajaran yang tidak seimbang antara aspek kognitif dengan aspek lainnya. lebih mampu mengendalikan diri. Pendidikan tidak sekedar mengumpulkan dan mengoleksi ijazah sebagai tanda lulus. Ada kecenderungan pendidikan sekarang ini bersifat serimonial belaka dan lari dari substansi pendidikan itu sendiri. kualitas pendidik yang tidak merata antara perkotaan dengan pedesaan. lebih terampil. dan evaluasi akhir (Ujian Nasional) dan pada akhirnya kepada peserta didik yang lulus diberikan ijazah. dan berakhlak mulia. melainkan agar potensi peserta didik dapat dikembangkan dan setelah mengikuti proses pendidikan dia lebih cerdas. Mulai dari gugatan sarana prasarana yang tidak memadai. Parameter penyelenggaraan pendidikan nasional semestinya tidak sampai melunturkan semangat yang lebih mulia dari sekedar untuk memperoleh tanda lulus dari negara. Diawali pada setiap awal tahun ajaran dengan merima murid baru.kebodohan. Dengan kondisi seperti itu. lebih bertanggungjawab. kualitas atau mutu pendidikan yang masih rendah. proses pembelajaran lagi. ada pernyataan yang keras bahwa pendidikan persekolahan kita ‘melahirkan pengangguran yang sistematis’.

Namun menurut HAR Tilaar (2000) tidak ada upaya yang jelas dan konkrit baik peraturan-peraturan maupun implementasinya bahwa pendidikan nasional berakar kepada kebudayaan nasional. yang lebih baik dan lebih layak. sehingga betapa pendidikan nasional kita telah tercabut dari akar kebudayaannya. Bila membicarakan pendidikan dan kebudayaan sebenarnya telah ada pegangan kuat yakni Undang-undang No. Ketidaktercabutan dari akar budaya bukan berarti suatu 'tradisi' harus dipertahankan dengan cara tertutup atau defensif. Demikian juga dalam PP No 29 tahun 1990 tentang Wawasan Wiyatamandala dinyatakan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan kebudayaan. tradisi justru dipadukan dengan keanekaragaman perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. Pelestarian budaya tradisi tidak berarti wujud fisiknya tidak bisa berubah dan berkembang. walau dalam tataran ide atau nilai-nilainya patut dipertahankan. riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Ia juga menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan. Sebetulnya inti dari pendidikan ada dalam perjalanan hidup manusia karena manusia ingin mencapai hidup yang maju. Dalam hal ini maka pendidikan menjadi komponen penting bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya dengan melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya. Kesadaran bahwa melalui pendidikanlah dapat diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki suatu bangsa.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional harus dilandasi kebudayaan nasional. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia 5 . di mana nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan tidak sekedar dibicarakan tetapi juga dipraktekkan. Menurut Peursen (1988:11-15) tradisi bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah.urgent dalam pembentukan karakter bangsa.

Bahkan ukiran-ukiran Minangkabau tidak saja bernilai estetis juga memiliki makna yang tinggi dan berkaitan dengan falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam yang 6 . Sebagai sebuah bangsa yang besar diakui bahwa Indonesia memiliki banyak sekali corak dan ragam budaya. dan kesenian. dan audiovisual art . sistem mata pencaharian. patung. anyaman. tetapi juga selalu muncul dari arus alam raya itu untuk memiliki alamnya sendiri dan mengubahnya (transendensi). khusus kesenian terdapat pula cabang dan bentuk seni yang dimilki Indonesia. Salah satu suku bangsa Indonesia itu adalah Minangkabau. Masing-masing suku di Indonesia memiliki berbagai bentuk kebudayaan baik dalam wujud konsep atau gagasan. seni pertunjukan maupun seni nonpertunjukan (senirupa/kriya) semuanya dimiliki bangsa Indonesia. bahasa. ornamen. Sebut saja misalnya cabang seni rupa dan seni kriya maka akan ada seni lukis. anyaman. dan seni ukir. dan benda-benda (artefak). Dari berbagai macam corak dan bentuk budaya itu menurut Koentjaraningrat (1999) ada tujuh unsur kebudayaan universal yakni. sistem peralatan hidup dan teknologi. visual arts. Kebudayaan merupakan ketegangan antara imanensi dengan transendensi sehingga dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia. Dari tujuh unsur itu. seni batik.menerimanya. aktivitas. menolaknya. baik seni yang modern maupun yang tradisional. gerabah. audio arts. gerabah. dan ukiran. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan (imanensi). mozaik. atau mengubahnya. Cabang seni rupa atau seni kriya Minangkabau juga banyak seperti arsitektur. organisasi sosial. suku ini memiliki berbagai cabang seni. Berbagai macam bentuk dan corak seni baik yang modern maupun tradisional. sistem religi. baik seni pertunjukan maupun nonpertunjukkan. logam. tenun. sistem pengetahuan.

pantun. Selain mempunyai nilai falsafah. kantor-kantor. melainkan juga sebagai simbol”. syair. Misalnya motif ukiran sikambang manih (bunga/akar yang cantik). Hampir seluruh motif-motif ukiran mempunyai makna yang berkaitan dengan falsafah hidup orang Minangkabau dengan samboyan belajar dari alam. akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik (terutama perantau) membuat rumah gadang yang dengan sendirinya rumah tersebut berukir. Motif pucuak rabuang (pucuk rebung/bambu muda) melambangkan waktu muda adalah saat yang baik menuju ke atas (Tuhan dan citacita) tanpa harus banyak cabang. Seni ukir juga dapat dijumpai pada bangunan perkantoran dan hotel baik milik pemerintah maupun bangunan milik swasta yang membuat gonjong (atap runcing ciri khas Minangkabau). semboyan itu sesuai dengan pepatah alam takambang jadi guru. Selain rumah-rumah adat yang memang harus berukir. rebung juga bermakna walaupun masih muda namun tetap bermanfaat. Bahkan seni ukir 7 . Menurut Ibenzani Usman (1985) “seni ukir tradisional pada rumah adat Miangkabau. gurindam dan kaba bersumber dari kejadian-kejadian yang dekat dengan kita. Falsafah ini dapat dibuktikan dari karya sastra lama. yang tidak berperan sebagai hiasan belaka. maka penempatan seni ukir Minangkabau mempunyai aturan tertentu. dan rumah ibadah (mesjid dan surau). semuanya menampilkan wujud alam flora. motif yang diambil dari bentuk alam ini melambangkan wajah ceria dari penghuni rumah atas tamu yang datang. Kata-kata yang disusun dalam seni sastra seperti petatah-petitih. Hal itu berkaitan dengan fungsi status sosial pemilik rumah di tengah masyarakat.terbentang untuk dipelajari). Seni ukir Minangkabau dapat dijumpai pada rumah-rumah adat dan rumah-rumah masyarakat. 1996). yaitu alam (Hakimy.

ukiran Pandai Sikek 8 . kemenakan. ia mempunyai makna filosofis dan aturan tata letak. Perbedaan itu sebagai kekhasan masing-masing daerah.Minangkabau tidak saja dijumpai pada bangunan yang ada di Sumatera Barat melainkan juga di luar daerah. Agak berbeda dengan daerah lain. Kabupaten Agam. dan orang kampung dan bahkan negara. Masing-masing daerah ini mempunyai style atau gaya masing-masing. namun tetap punya ketentuan penempatan motif ukiran. Walaupun masing-masing daerah tidak sama persis tata letak motif ukirannya. dan Kabupaten Limo Puluh Kota. ukiran Minangkabau tidak hanya terdapat pada perabot rumah tangga tetapi lebih banyak dijumpai pada rumah-rumah adat dan bangunan lainya. (Ibenzani. hal ini bermakna waktu muda periksa diri sendiri terlebih dahulu dan baru memeriksa orang lain. Ukiran Minangkabau tidak sekedar ornamen hias saja. Waktu muda pakis bergelung ke dalam dan setelah tua bergelung ke luar. Motif sikambang manih diletakkan pada dinding bagian depan rumah adat. Motif ini bermakna bahwa si penghuni rumah panyuko tamu nan tibo (suka dengan tamu yang datang) atau sebagai simbol dari keramahtamahan masyarakat dalam menerima setiap tamu yang datang. Misalnya. (Sri Sundari. Ketiga daerah itu secara kultural disebut dengan luhak nan tuo (daerah yang tua/asal) yakni Kabupaten Tanah Datar. Misalnya motif kaluek paku (relung pakis) bermakna tanggung jawab sosial seseorang di tengah masyarakat baik kewajiban dan hak terhadap anak. Sikambang manih merupakan julukan untuk gadis cantik yang mulai dewasa. 2000). 1985). Gaya tersebut bukan disebabkan perbedaan motif ornamen akan tetapi pengaruh teknik dan peralatan yang digunakan. Pada awalnya. ada tiga daerah di Sumatera Barat yang menggali dan mengembangkan seni ukir Minagkabau.

Beliau-beliau itulah yang pertama sekali mengajarkan seni ukir pada muridnya di sanggar-sanggar ukiran. Seni ukir dari kabupaten Lima Puluh Kota hampir-hampir tidak terdengar lagi (punah). Keberlanjutan seni ukir di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar terus berjalan walaupun tidak sebaik pengembangan seni ukir Bali dan Jepara. Daerah yang masih eksis dan cukup baik dalam mewariskan seni ukirnya pada generasi muda hanyalah Pandai Sikek. Marzuki Malin Kuniang lahir 1897 di IV Angkek Canduang dengan muridnya berjumlah 5 orang. Menurut Ibenzani Usman (1985) ketiga guru atau tokoh seni ukir itu yakni Ramli Dt. Kesinambungan seni ukir di Pandai Sikek sekarang ini lebih banyak atas inisiatif masyarakat dan sedikit sekali adanya perhatian dan pembinaan dari pemerintah.Tanah Datar akan tampak lebih runcing karena pengaruh penggunaan pahat layanglayang. Perhatian dari pemerintah diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar berupa pendataan jumlah sanggar dan pengerajin. sanggar seni ukir daerah ini termasuk IV Angkek Candung sudah banyak beralih ke usaha perabot. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar tahun 9 . dan Sabirin Sutan Muncak lahir 1937 di Banuhampu Sungai Puar kabupaten Agam dengan muridnya berjumlah 4 orang. tidak semua daerah itu yang masih menggali dan mengembangkan seni ukirnya. Sedangkan seni ukir di kabupaten Agam amat sedikit upaya regenerasi. Rangkayo Sati lahir 1917 di Pandai Sikek kabupaten Tanah Datar dengan muridnya sebanyak 7 orang. Untuk saat ini. Dari tiga daerah ini muncul tokoh atau guru yang mengajarkan seni ukir pada murid-muridnya. pembinaan keindustrian dan perdagangan.

tidak jelas peserta didik harus diberi penguatan. terhambatnya bahkan hilangnya kesempatan dan hak-hak pendidikan peserta didik. Pembinaan yang telah dilakukan berupa pelatihan disain mobiler dan diikutsertakan dalam pameran perdagangan. pengetahuan. Misalnya seorang pendidik atau pelatih yang tidak memahami pilar high-touch (kewibawaan) tentu tidak memahami perbedaan potensi peserta didik. Sampai saat ini belum ada upaya dinas terkait untuk menelusuri bagaimana model pendidikan atau pelatihan seni ukir sehingga seni ukir Pandai Sikek tatap eksis dan 10 . serta tidak tahu kapan tindakan tegas yang mendidik dilakukan. alangkah baiknya pembinaan dan pelatihan bagi pengukir di Pandai Sikek di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. Di sisi lain diyakini bahwa ada bentuk atau model transformasi keterampilan. terjadi kecelakaan pendidikan yang melecehkan peserta didik. Menurut Prayitno (2008) ‘pendidikan tanpa ilmu pendidikan’ akan mengkerdilkan kehidupan pendidikan. Karena jika pelatihan dilakukan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan ada kemungkinan yang dilakukan tidak menerapkan prinsip-prinsip ilmu kependidikan.2009 terdapat 4 buah sanggar seni ukir di Pandai Sikek dengan jumlah murid (sekaligus pekerja) sekitar 55 orang. Secara umum jika prinsip-prinsip ilmu kependidikan tidak diterapkan tentu proses pembelajaran (pelatihan). Bila dilihat dari ilmu kependidikan. dan filosofi seni ukir oleh guru pada muridnya pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Keyakinan itu berdasarkan masih adanya sanggar seni ukir dan masih ada beberapa generasi muda yang tampak mengukir di sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek. juga tidak mampu memberikan kasih sayang dan kelembutan. dan pewarisan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni ukir bukan saja tidak bernilai budaya. tetapi juga tidak diwariskan kepada genarasi baru.

11 . karena semakin hari semakin sedikit saja generasi muda yang mempelajari seni ukir. misalnya untuk mengajarkan falsafah cukup dengan diceramahkan dan didiskusikan sambil mengukir. Jika hal ini di biarkan terus-menerus ada kemungkinan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau akan punah. Dahulu ada tahapan-tahapan dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap murid dalam belajar seni ukir. Guru tuo (pakar/ahli) seni ukir Pandai Sikek. seperti membersihkan pekarangan rumah guru. Pada akhirnya bisa jadi seni ukir Minangkabau tidak lagi dikerjakan oleh putra Minangkabau. Cara-cara pembelajaran di sanggar tardisional seperti ini tampak spesifik. Bila hal ini terjadi ada harapan jalan diasak urang lalu. Pada tahap awal murid seni ukir hanya membantu-bantu pekerjaan di sanggar. ia mempunyai kiek-kiek dalam mengajar seni ukir dan kebiasaan beliau itu tidak seluruh dan sepenuhnya diteruskan oleh muri-mridnya.berkembang. takaran diganti oleh si pedagang). dan yang mengajarkan seni ukir itu sekarang adalah murid-muridnya. Menurut informasi dari salah satu murid Ramli Dt. Rangkayo Sati. cupak diganti urang panggaleh (jalan ditukar orang yang lewat. terkadang pekerjaan itu tidak berhubung langsung dengan kegiatan mengukir. pola. Misalnya seorang yang akan belajar seni ukir harus dengan kesadaran penuh dan disarahkan (diantar lansung) orang tua. Bagaimana model. Ramli Dt. Untuk belajar falsafah ukir adakalanya dibawa lansung ke objek. seperti belajar falsafah motif pucuak rabuang maka murid dibawa ke rumpun bambu. dan cara beliau-beliau mengajarkan keterampilan seni ukir pada muridnya belum diketahui. Rangkayo Sati telah meninggal. Sekarang ini pemebelajaran tidak dilakukan seperti dulu lagi.

perlakuan di sekolah formal tidak ditemui pada pendidikan nonformal terutama pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Ada tugas-tugas terstruktur yang diberikan pada peserta didik. SMK Negeri 8 Padang. dari isian kurikulum dirinci ke dalam satuan pembelajaran mingguan (sekitar 17 kali tatap muka). INS Kayu Tanam. Pembelajaran pada sanggar seni ukir diajarkan murid sampai pada mampu menjadi tukang ukir atau mengukir layak jual. Evaluasi dilakukan pada pertengan semester dan akhir semester. dan diberi nilai. kepada peserta didik yang telah memenuhi standar kelulusan diberikan nilai berupa angka atau huruf. Metode mengajar yang digunakan guru/dosen umumnya ceramah dan demonstrasi. Pembelajaran berlangsung tanpa terikat dengan jadwal yang telah ditentukan dan juga tidak harus 17 12 . Sedangkan di sekolah formal hanya mengajarkan keterampilan mengukir sampai pada batas terpenuhi standar kompetensi atau syarat lulus. dibuatkan jadwal belajar/kuliah. Artinya pada sekolah formal murid tidak dipersyaratkankan untuk menjadi tukang ukir. dilakukan evaluasi atau ujian. Ada beberapa pendidikan formal di Sumetera Barat yang mengajarkan seni ukir yaitu.Dari pengamatan terdapat perbedaan pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional dengan pembelajaran seni ukir melalui persekolahan. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. Pembelajaran seni ukir pada pendidikan formal telah ditetapkan tujuan yang akan dicapai setiap semester. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. Filosofi motif dan penempatan motif ukiran juga tidak diajarkan pada sekolah formal. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. Dari pengamatan selintas. Pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional tidak hanya melatihkan keterampilan tetapi juga diajarkan falsafahnya. SMK Negeri 4 Padang.

Hasil karya pengukir dari sanggar ukir tradisional lebih diterima pasar atau konsumen. maka keluaran sanggar tradisional seni ukir lebih terampil dan menguasai falsafah ukiran dibandingkan lulusan sekolah formal. Jika karya mereka dapat diterima konsumen. Dengan demikian murid yang telah menguasai keterampilan seni ukir ia akan mandiri. Sebagai buktinya adalah hasil karya pengukir dari sanggar tradisional Pandai Sikek lebih diminati. mulai mengukir kasar (tingkat dasar). artinya antara satu murid dengan lainnya dapat berbeda-beda materi yang diberikan walaupun mereka dalam satu ruangan. tetapi sekaligus diajarkan enterpreneurship. Karya-karya mereka tidak saja disalurkan di daerah Sumatera Barat akan tetapi sampai diberbagai daerah Indonesia bahkan sampai ke Malaysia.. Oleh karena orientasi karya dapat diterima pasar maka pembelajaran pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menyentuh aspek ekonomi. Evaluasi tidak ada yang terjadwal dan terstruktur sehingga tidak ada nilai akhir berbentuk huruf atau angka. misalnya ada yang pada taraf pengenalan alat. 13 . Murid tidak dikelompokkan dalam bentuk klasikal. Akan tetapi sebagai sebuah pendidikan nonformal maka dalam penyelenggaraannya tetap memiliki sistem pembelajaran yang terlembaga. Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan adalah.kali pertemuan atau tatap muka. Jika dilihat dari hasil akhir. Artinya kegiatan pembelajaran tidak hanya pada aspek keterampilan seni ukir dan pewarisan nilai-nilai budaya. terutama kemapuan mengukir dan memahami falsafah seni ukir. maka usaha atau kegiatan seni ukir cukup baik. dan ada yang taraf halus.. karena keterampilan yang dimilikinya perlu dan bermanfaat untuk dirinya bahkan masyarakat.

Selain menjelaskan motif yang lazim dalam ukiran pada rumah adat Minangkabau. SP Gustami (2000) meneliti Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Penjelasan motif itu terkait dengan nama-nama motif ukiran. toko. dan arti motif ukiran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan disebabkan motif ekonomi. Telah ada beberapa peneliti dan penulis yang meneliti tentang seni ukir Minangkabau dan seni ukir daerah lainnya. bangsa dan negara”. Dalam disertasi ini hanya membahas tentang teknik yang meliputi tentang penggunaan bahan. Sri Sundari (2000) meneliti “Seni Ukir Pandai Sikek Dalam Masyarakat Minangkabau yang Berubah” dibahas bahwa ukiran Pandai Sikek tidak hanya untuk rumah adat saja. dalam penelitian ini juga disebutkan nama-nama motif Minangkabau yang tidak ditempatkan pada rumah adat. Dalam laporan penelitiannya dijelaskan berbagai bentuk motif ukiran yang terdapat pada rumah adat Minangkabau. dan fungsi ukiran pada rumah adat Minangkabau. Penelitian ini dilakukan tahun 1999 dan dicetak menjadi buku tahun 2000 yang membicarakan tentang.agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki . dan cenderamata. (a) sejarah 14 .. maka pewarisan dan pengembangannya sangat diperlukan. dan Fungsinya. Marjani Martamin dan Amir B (1978) meneliti “Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”. Pola. alat. jenis motif ukiran. Perubahan itu seiring dengan masuknya pariwisata di Sumatera Barat. sekarang sudah untuk kantor. perabot rumah tangga. Sehubungan dengan banyaknya aspek yang dapat digali dari seni ukir. Ibenzani Usman (1985) Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. dan cara yang berorientasi kepada sistem penalaran Minangkabau (alur dan patut). tentang pola-pola motif seni ukir Minangkabau. keterampilan yang diperlukan dirinya. rumah pribadi. masyarakat. restoran..

perkembangan seni ukir Jepara mulai dari zaman Belanda sampai zaman orde baru dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kehidupan beragama, (b) peran tokoh-tokoh wanita dalam perkembangan seni kerajinan khususnya seni ukir, seperti peran R.A. Kartini dan Tien Soeharto, (c) proses pelembagaan dan pembauran gaya seni yang berkaitan dengan mebel ukir Jepara, sehingga hadirnya berbagai macam ragam hias, jenis produk, pola penerapan ornamen, teknik mengukir, keragaman disain, dan bentuk mebel yang diproduksi, (d) eksistensi produk mebel ukir Jepara dari lokal menjadi pemasaran global, dan (e) pola perkembangan dan penyebaran yang berkaitan dengan tradisi pewarisan keahlian, pembiasan prilaku perajin, pembinaan dan pengembangan mebel ukir Jepara. Harisman (2001) meneliti “Ukiran Masjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat; Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna”. Dalam tesis ini dijelaskan bahwa bentuk ukiran pada masjid tradisional di Minangkabau tersusun dari kesatuan, kompleksitas, dan intensitas yang merujuk pada pola ukiran rumah adat. Dijelaskan juga bahwa fungsi ukiran merupakan media pendidikan, media pengalaman estetis, pengintegrasian masyarakat, dan fungsi keindahan sebagai kebutuhan masyarakat. Penjelasan pada makna dikaitkan pada persoalan kearifan tradisional dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang tersimpul sebagai makna denotatif dan konotatif. Suardi (2000) meneliti “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid di Kabupaten Kerinci”. Temuannya menjelaskan bahwa ukiran pada bangunan Masjid di Kerinci menggunakan bentuk motif tumbuh-tumbuhan, geometris dan bentuk gabungan tumbuh-tumbuhan dan geometris. Penyusunan dengan pilin ganda, lingkaran, simetris dan asimetris. Penampang ukiran segi tiga, datar dan gabungan segi tiga, datar dan miring. Penggolongan nama motif berasal dari nama tumbuh-tumbuhan,

15

binatang dan alam benda, perwujudan merupakan stilirisasi dan meniru sifat asal nama motif tersebut. Makna motif dikaitkan dengan adat, agama, sosial budaya, dan sosial masyarakat pendukungnya. Ukiran menggunakan teknik ukiran tembus, rendah dan utuh. Nofrial (2009) meneliti “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci; Kajian Estetika dan Budaya”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa secara budaya Kerinci dikelompokkan atas hulu, tengah dan hilir, masing-masingnya memiliki rumah larik yang berukir. Daerah tengah dan hilir lebih kaya seni ukirnya dibandingkan daerah hulu, baik dari jumlah motif, warna dan teknik penggarapan. Akan tetapi motif ukiran mereka sama yakni, sama-sama mengambil bentuk tumbuh-tumbuhan dan geometris, serta unsur atau nama binatang. Dalam hal teknik pembuatan juga hampir sama, yang menghasilkan bentuk ukiran garis, ukiran rendah, ukiran sedang, dan ukiran tinggi, serta sama-sama tidak terdapat ukiran tembus. Beberapa hasil penelitian di atas tidak ada yang membahas lansung tentang model pendidikan atau cara mengajarkan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya. Oleh karena belum adanya penelitian dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan bagaimana seni ukir diajarkan, maka perlu adanya penelitian tentang model pendidikan seni ukir. Hal ini agar seni ukir Minangkabau khususnya seni ukir Pandai Sikek tidak hilang dan jika perlu dapat berkembang. Penelitian ini nanti diharapkan dapat mengukapkan cara mengajarkan seni ukir baik dari segi keterampilan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya kepada generasi muda. Model pendidi seni ukir pada sanggar tradisional yang ada di Pandai Sikek menjadi menarik dan perlu untuk diteliti, karena pewarisan seni ukir daerah ini tetap eksis dan lebih baik dari daerah lain di Sumatera Barat. Bagaimana model yang dilakukan dalam pewarisan seni ukir di Pandai Sikek

16

sehingga dapat bertahan menjadi bahan perbandingan untuk daerah-daerah lain. Pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek juga dapat menjadi model dalam pengembangan cabang-cabang seni lainnya. B. Identifikasi Masalah Dari konteks penelitian yang telah dilakukan tentang seni ukir dan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ternyata banyak persoalan dan masalah yang timbul. Berbagai permasalahan itu terkait dengan model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek Sumatera Barat. Agar permasalahan itu lebih fokus pada pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional Pandai Sikek, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut; 1. Sanggar seni ukir di Pandai Sikek telah ada semenjak beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini ada 4 sanggar seni ukir yang masih aktif dengan sekitar 55 orang murid. Guru yang pertama mengajarkan seni ukir telah meninggal dunia, pendidikan seni ukir dilakukan oleh sebahagian generasi ke dua yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Bahkan ada juga generasi ketiga yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Apakah sama model pendidikan yang diberikan oleh semua guru seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah model pendidikan yang diterima ketika mereka jadi murid sama dengan yang diberikan ketika mereka jadi guru seni ukir? Adakah terdapat inovasi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Guru atau pendidik pada sekolah formal telah dibekali dengan ilmu kependidikan, dan bahkan dilakukan penyegaran dengan berbagai pelatihan, penataran, workshop tentang cara mendidik. Guru bahkan juga dituntut untuk

17

Pada pendidikan formal ada kompetensi tertentu yang harus dicapai atau dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Guru memberikan materi dalam beberapa semester agar murid menguasai materi sehingga terampil dalam mengukir. Ada acuan evaluasi. kemudian mengukir dasar. Pada sanggar seni ukir tradisional Pandai Sikek tentu ada bentuk evaluasi yang diberikan sehingga murid dapat diberikan materi 18 . Materi pendidikan seni ukir pada sekolah formal telah dituntun dengan kurikulum dan silabus. Sedangkan guru seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak tamatan lembaga kependidikan. Dalam pendidikan formal dilakukan evaluasi guna menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Hakikatnya evaluasi untuk mendapatkan sejauh mana penguasaan murid atas materi yang telah disajikan. dan waktu pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan diawal. Pada sanggar seni ukir tentu juga ada kurikulum dan tahapan-tahapan tertentu sehingga murid mampu menjadi ahli ukir. dipertengahan dan pada akhir kegiatan. dijelaskan berbagai motif.profesional terutama dalam ilmu kependidikan. dan setelah itu baru pemberian tugas-tugas. ada teknik evaluasi. Bagaimana model kurikulum seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah ada pentahapan-pentahapan materi atau kompetensi tertentu yang diberikan guru? Apa saja materi pelajaran seni ukir yang diberikan guru pada tahap awal? Kapan materi filosofi seni ukir diberikan pada murid? 4. Bagaimana model guru pada sanggar tradisional di Pandai Sikek mentransformasi keterampilan dan ilmu seni ukir pada muridnya? Sejauhmana komponen high-touch dan high-tech diterapkan pada pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 3. Pada tahap awal pada pendidikan formal murid diperkenalkan dengan bahan dan alat.

1. while. (1) tahapan proses pembelajaran (pre. Bagaimana pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Bagaimana model evaluasi seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Diyakini masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut dikemukakan dan dapat diteliti sehubungan dengan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek. dan post).selanjutnya. (2) materi-materi ajar yang diberikan. Namun demikian agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaikbaiknya maka perlu dilakukan pembatasan masalah. dan (4) evaluasi hasil belajar untuk dapat ditentukan sebagai pengukir layak jual. C. Fokus Masalah Berdasarkan tinjauan tentang pentingnya pewarisan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya dan upaya mentransformasikan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya banyak permasalahan yang muncul. (3) penerapan high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran. Bagaimana bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan setiap tahapan pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek? 19 . D. Dari sekian banyak permasalahan tersebut maka penelitian ini difokuskan pada bagaimana model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek yang tercakup pada. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut.

dan Dinas BUDPAR) sebagai salah satu model dalam menumbuhkan. Pemerintah Tanah Datar (Dinas Pendidikan. 20 . 1. F. 2. mengembangkan dan membina aset budaya khususnya seni ukir daerah lain yang hampir punah pada beberapa daerah di Sumatera Barat. Bagaimana bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek? E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi. 1. Untuk mengungkap bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 2. Untuk mengungkap bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan pada setiap tahapan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Dinas PERINDAG.3. dan Dinas BUDPAR) dalam membina dan mengembangkan seni ukir Pandai Sikek sebagai salah satu aset budaya. Tujuan Penelitian Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Untuk mengetahui pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. yakni. 4. Pemerintah Sumatera Barat (Dinas Pendidikan. Sejauhmana penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 4. Dinas PERINDAG. Untuk melihat penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 3.

1. 5. Teori-teori yang disajikan tidak dimaksudkan untuk menguji kebenarannya. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pendapat. 6. Isi dari amanat pembukaan UUD 1945 itu adalah bahwa negara berupaya untuk mencerdaskan 21 . (3) kebudayaan Minangkabau. Bagi peneliti-peneliti selanjutnya baik dalam bidang seni maupun dalam pendidikan nonformal.3. Lembaga pengelola pendidikan nonformal sebagai salah satu model dalam membina dan mengembangkan seni tradisional. Bagi peneliti sendiri sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan sekaligus sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Doktor bidang ilmu pendidikan pada Pasca Sarjana UNP. dan teori yang berkaitan dengan fokus penelitian. melainkan sebagai landasan pijak yang dikaitkan antara fokus penelitian dengan variabel-variabel pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional. dan (5) model pendidikan. secara berturut-turut dikaji tentang. Jaminan itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Untuk itu. (4) seni dan pendidikan seni. 4. (2) hakikat pembelajaran. Hakikat Pendidikan Negara Indonesia menjamin seluruh rakyatnya secara konstitusi untuk mendapat pendidikan. Lembaga pendidikan formal Sumatera Barat khususnya baik tingkat SLTA maupun perguruan tinggi yang mengajarkan seni ukir sebagai sebuah model perbandingan dalam memberikan materi seni ukir. hasil penelitian. (1) hakikat pendidikan.

dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara seimbang. berarti proses pendidikan (formal. Dengan demikian. Proses pendidikan itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Artinya proses pendidikan itu harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning). murid harus dipandang sebagai organisme yang sedang berkembang dan memiliki potensi. nonformal. Pendidik berkewajiban 22 . tetapi proses yang bertujuan. keterampilan yang diperlukan dirinya. kepribadian. dan informal) bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan. Kesadaran yang tinggi dari founding father menggambarkan bahwa begitu pentingnya arti pendidikan bagi bangsa Indonesia. kecerdasan. masyarakat. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan harus memperhatikan proses belajar guna mencapai hasil belajar. Pertama pendidikan adalah usaha sadar yang terencana. pengendalian diri. Dalam pasal 1 ayat 1 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan. bangsa dan negara”. Untuk mewujudkan amanat pembukaan UUD 1945 tersebut maka dibuatkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendidikan agar rakyat Indonesia dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan. Kedua suasana belajar dan pembelajaran diarahkan dalam upaya mengembangkan potensi murid. Dengan demikian. Upaya ini tentu dengan harapan anak bangsa Indonesia pada suatu saat dapat bersaing dan bersanding dengan bangsa lain dalam artian “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Dari pengertian pendidikan ini ada beberapa hal yang perlu dipahami.kehidupan bangsa. akhlak mulia.

tetapi juga merupakan suatau cara untuk mentransformasikan kebudayaan masyarakat itu”. generasi selanjutnya. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap. bangsa dan negara. serta pengembangan keterampilan dan kreativitas murid. kepribadian. Transformasi kebudayaan itu tidak saja harus dari orang tua biologis kepada anaknya akan tetapi bisa dari orang yang telah mengetahui. tidak sekedar menjejalkan materi ajar atau memaksa mereka dapat menghafal data dan fakta. Hal ini berbeda dengan orang primitif yang mendidik anaknya tanpa mendirikan intitusi pendidikan. Pewarisan ‘budaya’ itu tidak saja dimaknai sebagai orang tua biologis kepada anak-anak mereka. akhlak mulia. karena orang tua dapat melakukan pewarisan budaya kepada anaknya (Ansyar.mengembangkan potensi yang dimiliki murid. Taba (1962) mengemukakan tiga fungsi utama pendidikan. masyarakat. (a) pendidikan sebagai 23 . melainkan juga dilakukan oleh generasi yang lebih tua kepada generasi muda dalam sebuah komunitas melalui interaksi keseharian. Menurut Ansyar (1989:2) “pendidikan bukan saja dimaksudkan masyarakat untuk mewariskan kebudayaan kepada anak-anak generasi penerus mereka itu. dan sikap orang tua kepada anak-anak mereka. emosional. 1989). dan sikap. kecerdasan. keterampilan. Searah dengan itu. Kemudian ketiga pengertian pendidikan dinyatakan menjadikan murid memiliki kekuatan spritual keagamaan. Menurut Suprioyono (2006) bahwa pendidikan pada mulanya adalah upaya mewariskan pengetahuan. pengembangan kecerdasan intelektual. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. yakni. Bila dilihat secara antropologis dari dau pendapat ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas pendidikan yang dilakukan suatu masyarakat merupakan kegiatan kebudayaan dalam upaya untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan. keterampilan. pengendalian diri.

pemelihara dan penerus kebudayaan. Selain itu ada juga orang tua yang menggugat penyelenggaraan pendidikan persekolahan dengan mendatangkan 24 . Menurut Tilaar (2004:54) bahwa “pendidikan tidak dibatasi sebagai shooling. Namun tingkat ketergantungan sebahagian besar masyarakat Indonesia dengan persekolahan masih tinggi. fisika. dan bahasa Inggris maupun non materi ajar seperti kursus piano. (b) pendidikan sebagai alat bagi usaha transformasi kebudayaan. Dalam mewariskan kemampuan seni ukir terus dilakukan transformasi mengukir dari guru pada muridnya baik yang berkaitan dengan keterampilan maupun falsafah seni ukir. tari. Pada akhirnya setiap individu murid yang telah belajar mengukir dapat berguna bagi diri dan masyarakatnya. Artinya bahwa terdapat fungsi pemeliharaan kebudayaan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek di mana seni ukir masih ajeg sampai sekarang. atau dengan kata lain merupakan sebahagian dari kebudayaan”. Orang tua dan peserta didik tidak puas dan memadai saja pendidikan persekolahan. sebab pendidikan ternyata tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup masyarakat. hal ini tidak lain karena ketergantungan masyarakat pada lembaga pendidikan sekolah atau pendidikan formal masih tinggi. Berangkat dari tiga fungsi yang dikemukakan oleh Taba. hal ini dapat dilihat bahwa ada kesadaran masyarakat untuk mendapat pendidikan yang lebih baik dan bermutu dari hari ke hari. dan (c) pendidikan sebagai alat bagi pengembangan individual anak. Pernyataan Surjadi ini tidak sepenuhnya benar. dan melukis. Orang tua mengikutkan anak-anaknya pada lembaga-lembaga baik untuk tambahan materi ajar persekolahan seperti matematatika. Sebagaimana dinyatakan oleh Surjadi (1994) bahwa umumnya masyarakat kurang menghargai pendidikan masyarakat yang diselenggarakan secara lokal. maka kegiatan yang terdapat di sanggar seni ukir tidak lepas dari kegiatan pendidikan.

Memperhatikan Undang-Undang Sisdiknas ini maka yang termasuk pada pendidikan formal atau juga dinamakan pendidikan persekolahan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai pada pendidikan tinggi baik yang negeri maupun swasta. isi program. termasuk belajar mengukir. informal. dan sumber belajar. yang didalamnya terkandung makna bahwa setiap pengembangan pendidikan nonformal perlu perencanaan program yang matang. baik yang berbasis agama maupun umum. Menurut Hamojoyo (1973:23) “pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontiniu di luar sistem persekolahan. … untuk membimbing individu. lifelong education. sarana. Undang-Undang No. Untuk pendidikan nonformal di Indonesia berbentuk kursuskursus singkat (non-ijazah) dan pelatihan-pelatihan. Pendidikan nonformal seperti kursus menjahit dan kursus montir juga diminati masyarakat. melalui kurikulum. 2009). Kemudian ia juga menjelaskan bahwa pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya memiliki suatu sistem yang terlembagakan. 2009). Sedangkan pendidikan informal disebut pendidikan sepanjang hayat yang tidak bisa dipisahkan dengan sistem pendidikan formal dan nonformal. prasarana. adult educaton. proses penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir seperti di Pandai Sikek termasuk pada bentuk pendidikan nonformal. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa ada tiga jalur pendidikan yakni jalur pendidikan formal.guru atau pendidik ke rumah seperti kasus home schooling. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pendidikan nonformal seperti mass education. nonformal. sasaran didik. (Mustofa Kamil. learning society. Dengan demikian. out-of-school education. kelompok dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial guna meningkatkan taraf hidup di 25 . social education (Mustofa Kamil.

tampak bermacam-macam model pendidikan akan tetapi hakikatnya satu. sosial dan mental peserta didik. Kedua bidang ilmu yang diajarkan punya spesifik yaitu seni ukir lebih khusus seni ukir Minangkabau. Pertama waktu penyelenggaraan bersifat jangka pendek artinya pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak sama dengan sekolah formal (tiga tahun). sistem rekrutmen siswa menentukan syarat masuk. artinya mempunyai kurikulum. waktunya relatif singkat/berulang/paruh waktu. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal penyelenggaraannya terlembaga dalam sebuah sistem yang terencana. Menurut Mustofa Kamil (2009) tujuan dari pendidikan nonformal bersifat jangka pendek dan spesifik bukan asas kepercayaan. Berdasarkan pendapat ini maka kegiatan-kegiatan yang terorganisir dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peserta didik seperti sanggar seni ukir di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal.bidang materi. isi bersifat individual/keluaran. Bila merujuk pendapat ini. Ketiga perlakuan terhadap murid bersifat individual walaupun penyelenggaraan dalam suatu ruangan. Kurikulum pendidikan nonformal bersifat fleksibel memperhitungkan kondisi daerah (masyarakat). kontrol bersifat membangun diri/demokratis. sosial dan mental dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial”. sarana. Bila dilihat dari segi bentuk dan karakternya. maka ada beberapa tujuan pendidikan nonformal yang searah dengan kegiatan sanggar seni ukir. Menurut Prayitno (2008:1) “Pendidikan itu 26 . Pendapat ini dapat dipakai untuk melihat sejauh mana kelembagaan dan perencanaan penyelenggaraan pendidikan pada sanggar tradisional seni ukir di Pandai Sikek sebagai sebuah intitusi pendidikan. dan prasarana untuk mewujudkan kesejahteraan hidup baik materi. Kemudian kepada murid diberikan kepercayaan untuk dapat kontrol diri sendiri guna membangun diri.

27 . Memperhatikan pendapat Prayitno ini.bermacam-macam akan tetapi pada hakikatnya satu. yaitu upaya untuk memuliakan kehidupan manusia”.. Ia dapat sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek pendidikan dan dapat berperan sebagai pelaksana pendidikan (pendidik/guru) dan sekaligus sebagai peserta didik (siswa). Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk memuliakan harkat martabat manusia. Dengan demikian manusia memiliki potensi untuk berkembang dan dikembangkan kepada hal-hal yang bersifat positif dan negatif. Proses pendidikan memungkinkan potensi seseorang dapat dikembangkan secara optimal sehingga ia dapat berkembang secara utuh dan pada akhirnya dapat eksis di tengah masyarakat dan berhasil menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. yang jelas adalah pendidikan dapat memenuhi semaksimal mungkin keinginan masyarakat. sarana. maka manusia dalam konteks pendidikan merupakan unsur terpenting... bagi pembentukan manusia yang dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah dari manusia.. maka diperlukan adanya proses pendidikan yang menyentuh terhadap hakikat kemanusiaan itu sendiri. dan pelaksana pendidikan itu sendiri. melakukan analisa secara jernih. oleh manusia dan untuk manusia. Agar manusia cenderung berkembang ke arah perilaku yang positif atau baik. Dalam hal pendidikan manusia sekaligus sebagai sumber. serta dengan tenang menghadapi setiap persoalan atau masalah. (Prayitno. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa salah satu ciri keberhasilan pendidikan dalam mematangkan pribadi adalah apabila seseorang tersebut dapat hidup layak dan baik. dan secara matang merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya. Menurut Ansyar (1985) . 2008). kebutuhan individu untuk hidup layak .

hewan. baik sebagai makhluk ciptaan tuhan. Kegiatan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. a. Dan sungguh. informal. diri sendiri dan sebagai makhluk sosial.Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu ada yang berbentuk formal. Sebegitu pentingnya manusia dalam keterlibatannya pada perencanaan. Kami telah memuliakan anak cucu Adam. di antaranya. dan Kami angkat mereka di darat dan di laut. dan menentukan keberhasilan pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal. dan malaikat. Harkat dan Martabat Manusia Ada banyak makhluk yang diciptakan Tuhan seperti. Manusia dalam hal ini peserta didik dan guru menjadi amat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Belum banyak kajian yang menjangkau hakikat manusia secara utuh dalam pendidikan. dan nonformal. Kemulian dan kesempurnaan manusia tidak hanya pernyataan manusia saja akan tetapi banyak dijelaskan tuhan dalam firmaNya. setan. Akan tetapi manusialah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. maka perlu dibahas dan dikaji hakikat manusia. tumbuhtumbuhan. api. Kajian-kajian para pakar tentang manusia dalam kaitan dengan pendidikan pada umumnya masih berkisar mengenai manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya. padahal harkat dan martabat manusia itulah yang benar-benar membedakan manusia dengan makhlukmakhluk lain. jin. manusia. batu. Pemikiran itu belum menjelaskan secara penuh harkat martabat manusia. proses. air. ia dapat sebagai objek dan subjek. Jika diurut dan dikemukakan sebenarnya sudah banyak kajian pakar tentang manusia dan pendidikan. dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik 28 .

Manusia juga punya budi nurani yang menjadikan manusia punya rasa. Selain memandang sisi keduniaannya manusia juga merancang kehidupan akhiratnya. 1989). kebebasan berpikir. Keseluruhan pandangan ini menjadikan manusia memiliki harkat dan martabat. Maksudnya pemusatan pengembangan potensi individu. khalifah di muka bumi. Akan tetapi potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik perlu dikembangkan. dan oleh manusia sendiri. Selain dari kesempurnaan fisik. penemuan sendiri. (QS 17: 70) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. untuk. manusia dibekali Tuhan dengan akal. (QS 95:4). serta pengembangan potensi fisik dan mental (Ansyar. Mempedomani pendapat ini maka pernyataan bahwa ‘pendidikan memanusiakan manusia’ tidaklah tepat. Prayitno (2008:19) menyatakan bahwa hakekat manusia adalah makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. karsa. Menurut Prayitno (2008) bahwa kebutuhan dan pengembangan manusia dari. dan cipta. hati. dan pemilik Hak Azasi Manusia (HAM). Sejalan dengan itu. John Dewey dengan gerakan progresifnya mengingikan peranan yang lebih kreatif dari sekolah untuk pengembangan individu. makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan nafsu. sebab sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik (murid pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek) sebenarnya telah sempurna dan mulia. paling tinggi derajatnya. terutama kemampuan kreativitas. Sehingga dengan bekal itu manusia mampu merancang sendiri segala kebutuhannya. diasah dan dimatangkan. Berangkat dari pendapat di atas bahwa 29 .dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. karena manusia tidak sekedar punya kebutuhan akan tetapi dengan akalnya mampu merancang kebutuhannya yang sekarang dan masa depan.

Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa dari awal penciptaan manusia sampai dengan perjalanannya kembali ke hadapan sang pencipta. saling memberi dan saling menerima serta saling melindungi. Bekal kesempurnaan dan keindahannya diwujudkan melalui penampilan budaya dan peradaban yang terus berkembang.pendidikan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek merupakan kegiatan pengembangan potensi diri murid. tujuan pendidikan pada dasarnya mengacu pada tujuan hidup manusia. Kajian tentang hakikat manusia secara menyeluruh. 2008:19). yaitu bahwa manusia adalah (1) makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. (4) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. maka manusia terus berusaha mengembangkan kehidupannya di atas bumi. akan mencakup harkat dan martabat manusia. Menurut Nasution (1995:49). (2) makhluk yang paling tinggi derajatnya. Kekhalifahan diselenggarakan melalui penguasaan dan pengelolaan atas sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam alam yang nyaman dan tenteram. Tujuan tersebut adalah kesempurnaaan manusia sesuai dengan 30 . (3) khalifah di muka bumi. Kreativitas murid-murid pada bidang seni diarahkan pada kegitan mengukir. kelima butir konsep dasar harkat martabat manusia itu tetap melekat pada dirinya. Sedangkan modal hak asasi manusia dipenuhi melalui saling pengertian. Modal keimanan dan ketaqwaannya ditunaikan melalui peribadatan yang tulus dan ikhlas dalam mencapai redhaNya. mensejahterakan dan membahagiakan. (5) pemilik hak-hak asasi manusia (Prayitno. Adanya ketinggian derajat ditampilkan melalui upaya menjaga kehormatan dan menolak hal-hal yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaannya. Implementasi dari lima konsep dasar yang selalu melekat pada dirinya.

(4) dimensi kesusilaan. Selajan dengan itu. manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. yaitu kehidupan yang mulia. maka hakikat manusia sangat perlu diketahui guna mencapai tujuan pendidikan. Dengan teraktualisasikan harkat dan martabatnya. Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan dimensi kemanusiaannya. sebagai diri sendiri. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. dan (5) dimensi keberagamaan. dan sebagai makhluk sosial. to live with others. Panca Daya Selain dari konsep dasar tentang harkat dan martabat kemanusian maka ada beberapa dimensi yang melekat pada manusia. b. (3) dimensi kesosialan. learning to live together. (2) dimensi keindividualan. Dimensi itu dalam upaya pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya. Dengan mempedomani dimensi ini maka pembelajaran pada sanggar seni ukir akan menjadi lebih baik sebab proses pendidikan didasari dengan pemahaman manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Berkaitan dengan pendidikan. 31 . Hal ini sejalan dengan salah satu harapan PBB (UNESCO.harkat dan martabat serta ketinggian derajat yang dimilikinya. 1996) bahwa pendidikan untuk semua. Mukhtar (20001:7) menyatakan bahwa pembahasan tentang tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan tentang tujuan hidup manusia sesuai dengan hahikat kemanusiannnya. Menurut Prayitno (2008:21) dimensidimensi itu berkaitan dengan manusia sebagai hamba tuhan. Dimensi-dimensi itu adalah (1) dimensi kefitrahan. Kemudian diyakini bahwa pendidikan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan agar manusia dapat memelihara kelanjutan hidupnya (survival). bermartabat dan membahagiakan.

Kajian panca daya ini dapat dijelaskan bahwa. Produk-produk yang berupa barang-barang konsumsi. Daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri.Menurut Prayitno (2008:26) guna merancang hidupnya yang lebih baik. ini seringkali disebut sebagai komponen kognitif pada diri individu. baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. dan (5) daya karya. Hal-hal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk ke dalam daya rasa. untuk berkembang. Daya cipta. orang lain. untuk berubah dan keluar dan kondisi status quo. Daya rasa mengacu kepada kekuatan perasaan atau emosi dan sering disebut sebagai unsur afektif. dari 32 . Daya karya juga melahirkan produk yang paling sederhana sampai yang paling canggih. (4) daya rasa. dan lebih berarti baik dunia maupun akhirat maka manusia juga dibekali dengan kekuatan atau daya pengembangan. manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan. berbagai jenis pelayanan dan penampilan. yaitu: (1) daya taqwa. (3) daya karsa. fungsi kecerdasan. dan fungsi otak. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya. produk keilmuan. Untuk memungkinkan perkembangan individu ke arah yang dimaksud itu. Daya karsa merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu secara dinamis bergerak dan satu posisi ke posisi lain. pikiran. lebih sempurna. Kemampuan atau keinginan berbuat dan semangat (termasuk di dalamnya prakarsa) merupakan isi daya karsa. Daya cipta bersangkut paut dengan kemampuan akal. produk-produk teknologi dan seni. yang disebut panca daya. dan/atau lingkungan. daya taqwa merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan dan Tuhan Yang Maha Esa. (2) daya cipta. dengan penekanan lebih besar pada unsur-unsur kreativitas.

Dengan demikian pendidikan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek perlu memperhatikan harkat dan martabat manusia yang mengandung lima dimensi kemanusiaan dan pancadaya. baik untuk kebutuhan pribadi maupun yang komersial. Sejalan dengan itu Prayitno (2008) menyatakan bahwa panca daya itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan. baik untuk komersil maupun untuk pewarisan nilai budaya. karena merupakan modal dasar kemanusiaan yang sudah dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan bahkan sejak ia masih berada dalam rahim ibunya. Dalam kajian dewasa ini. daya-daya itu sangat diperlukan manusia dalam menghasilkan berbagai produk baik yang modern maupun yang tradisional. Kegiatan mengukir di sanggar tradisional di Pandai Sikek merupakan salah satu bentuk kegiatan daya karya manusia. 2000:21). panca daya sering dimanifestasikan sebagai kemampuan dasar yang disebut intelegensi spiritual. dan intelegensi instrumental. Manusia yang utuh itu sendiri dalam paradigma baru pendidikan Indonesia adalah yang berfikir kreatif. Mempedomani ini betapa pentingnya memahami hakikat panca daya terutama dalam penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. termasuk dalam hal ini produk seni ukir. intelegensi emosional. dimensi rasional.yang tradisional sampai yang modern. yang mandiri. Dapat disimpulkan bahwa. Menurut Waras Kamdi (2008) dalam paradigma pendidikan Indonesia manusia tidak dipandang sebagai alat produksi tetapi harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh. dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakat (Tilaar. Menurut Kavlan (2000) dengan daya karya manusia menghasilkan berbagai produk baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Modal dasar ini yang diarahkan dalam pembetukan manusia yang lebih baik dan 33 .

Sejauh mana komponenkomponen ini diterapkan akan di lihat pada objek penelitian.. tanpak bahwa ada 3 paradigma bagaimana konsep belajar diformulasikan.. Ketiga paradigma ini adalah paradigma 34 . Pandangan para ahli tentang konsep belajar cukup beragam. Meyer (1999) melihat belajar dan tiga pandangan yakni (1) belajar sebagai penguatan respon. Paradigma pendidikan (formal. termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Bila dicermati pandangan Meyer ini. 2. dan (3) belajar sebagai konstruksi pengetahuan.. artinya untuk mendapatkan dan memahami suatu makna hanya didapat dengan cara belajar. Dari hasil belajar manusia akan berilmu dan ilmu yang dibarengi dengan iman menjadikan derajat kehidupannya menjadi lebih tinggi. Gage (1984) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. hal ini terlihat dari definisi belajar yang diungkapkannya. dan informal) ke depan haruslah dialihkan pada pemuliaan harkat martabat manusia yang dikemukakan.lebih utuh. nonformal. Menurut Aunurrahman (2009) belajar merupakan kegiatan penting setiap orang. Hakikat Belajar Pembahasan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar. karena tidak ada pendidikan tanpa belajar. Manusia seutuhnya adalah sosok individu yang harkat dan martabatnya terwujudkan secara penuh melalui pengembangan hakikat manusia dengan kelima dimensi kemanusiaannya melalui pengaktifan panca daya secara optimal. (2) belajar sebagai pemerolehan pengetahuan.niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orangorang yang beriman dan berilmu”. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Mujadalah ayat 11: “. Perintah Iqra’ (baca!) dalam konsep Islam bermakna belajar.

retensi. (Aunurrahman. Konsepsi utama teori ini adalah stimulus dan respons (S-R) sebagai dasar adanya perubahan perilaku. Menurut Muhibbin (2005) belajar amat penting artinya bagi perkembangan dan kehidupan manusia. Oleh karena belajar manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lain. Bila dikaitkan dengan pembelajaran yang terjadi di sanggar ukir maka ketiga paradigma ini menjadi dasar bagi pembentukan peserta didik. kognitivistik. Proses pembelajaran itu sendiri harus berorientasi kepada pengembangan segenap dimensi kemanusiaan. 35 . Sedangkan paradigma konstruktivisme melihat pengetahuan tidak terlepas dari proses pembentukan (konstruksi) yang terus menurus berkembang dan berubah. Pandangan kognitivisme belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan. memilih. Menurut pandangan behavionistik belajar adalah perubahan perilaku peserta didik. karena belajar juga manusia dapat mengeksploitasi. dan konstruktivistik. 1996). pengolahan informasi. akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman baru. 2009). stimulus yang diterima disesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman sebelumnya. Menurut Piaget (1971) pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir.behavioristik. Orang dikatakan belajar apabila ada perubahan perilaku yang diakibatkan dan dampak stimulus dan respon sehingga menjadi suatu kebiasaan (Schuman. dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk mempertahankan kehidupannya dalam persaingan antar bangsa. Memperhatikan hal ini maka proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dan meneksploitasinya sampai mereka memiliki keterampilan sendiri. informasi dan faktor-faktor lain.

Artinya perkembangan murid akan didapat dari pembelajaran yang terencana dengan baik. akan terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu. Tugas guru adalah menyelenggarakan proses 36 . Teori belajar yang dianggap pas untuk ini adalah perpaduan antara behaviorisme dan kognitivisme. Berdasarkan pendapat ini maka perkembangan berpikir kompleks dan baik tidak akan mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa proses belajar. dan keterampilan serta hirarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas. Jadi. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal tentu tuntutan terhadap tugas guru/ pendidik menjadi amat penting. Seorang murid yang belajar dalam situasi baik dan kondisi yang disiapkan akan mendapat hasil maksimal. kondisi eksternal yaitu situasi belajar yang secara sengaja yang diatur oleh pendidik. Lebih lanjut dijelaskan bahwa belajar tidak suatu yang terjadi secara alamiah. Kondisi itu menurut Aunurrahman (2009) adalah kondisi internal menyangkut kesiapan peserta didik. dalam membahas model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek akan bermanfaat sekali paradigma-paradigma teori belajar yang dikemukan di atas.L.Menurut Muhibbin (2005) bahwa tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. Dengan demikian kualitas perkembangan manusia amat tergantung dari apa dan bagaimana ia belajar. Sebaliknya pembelajaran yang tidak terencana sulit mendapatkan hasil maksimal. 1980) menjelaskan pendapat pakar teori S-R Bond (E. bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman. Thorndike) bahwa jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang ini tidak akan berguna bagi generasi yang akan datang. Menurut Gagne cara berpikir seseorang tergantung pada keterampilan apa yang telah dimilikinya. Dalam hal ini (Howe.

Agar potensinya dapat berkembang secara serasi dan maksimal. Peran Guru Menurut Imam Barnadib (1996). Hal ini sesuai dengan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesi. Sejauh mana pemahaman seorang guru terhadap tujuan pendidikan akan berdampak pada penampilannya dalam mengajar. guru memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi peserta didik agar mampu kreatif. Sehubungan dengan komponen-komponen pendidikan tersebut Prayitno (2005 : 15) mengemukakan bahwa interaksi antar komponen pendidikan tersebut terjadi dalam suatu hubungan yang unik. Berdasarkan pendapat Imam Barnabib. maka guru harus dapat menerima siswa secara utuh (phisik dan psikis) dalam menjalin intraksi edukatif dalam proses pembelajaran. yakni high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). oleh karena itu peran seorang guru menjadi sangat penting. maka sebenarnya tujuan pendidikan syarat dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Ada dua kandungan pokok yang terdapat pada hubungan pendidikan itu. karena tidak terdapat pada kegiatan lain.pembelajaran agar pada diri peserta didik berkembang suasana belajar. selain interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. dan dinamis. Pemahaman guru terhadap hakikat manusia sebagai peserta didik menjadi penting dalam proses pembelajaran. terutama dalam perlakuannya terhadap peserta didik (murid). Guru tidak saja 37 . Interaksi edukatif antara guru dengan murid akan tejalin dengan harmonis apabila pemahaman guru terhadap tujuan pendidikan baik. Hubungan yang harmonis dan kondusif antara guru dengan murid memungkinkan pengembangan potensi murid lebih tinggi. sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan etika pendidikan yang menyatakan: bahwa tanggungjawab puncak pendidik berada di dalam proses pembelajaran. a.

minat dan bakatnya. Peters (1981) mengemukakan bahwa tugas dan tanggungjawab guru antara lain adalah memberikan bimbingan kepada peserta didik melalui penjabaran kurikulum sehingga maknanya dapat mempengaruhi dan terinternalisasikan dalam diri peserta didik dalam rangka pengembangan minat. Dengan demikian tugas mendidik akan terlaksana dengan baik apabila guru benar-benar memahami peserta didik. dan latarbelakangnya. imajinasi. Menurut Nana Sujana (2002) bahwa dalam proses pembelajaran selain tugasnya sebagai pendidik. Minat dan bakat murid yang belajar pada sanggar seni ukir mestinya mampu dikembangkan guna mencapai sasaran. Menurut Suke Silverius (2003). Berangkat dari pendapat di atas maka seorang guru harus benar-benar memperhatikan potensi murid dalam proses pembelajaran. Mempedomani pendapat dua pakar ini maka seorang guru seni ukir selayaknya harus memahami potensi yang ada pada muridnya. mengembangkan kreativitas dan mengembangkan kerjasama. karena potensi masing-masing 38 . potensi. mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing. Hal ini antara lain dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip belajar yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar dengan melakukan dan mengembangkan kemampuan sosial. kegiatan belajar mengajar harus berorientasi kepada pengembangan dimensi-dimensi kemanusian peserta didik. keunikannya.berperan sebagai pengajar dalam proses transfer materi. mengembangkan keingintahuan. dan fitrah bertuhan. guru juga bertugas untuk memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga tujuan belajar akan tercapai dengan maksimal. perbedaannya. bakat dan potensi yang dilikinya secara lebih optimal.

(2) kasih sayang dan kelembutan. ada yang lebih baik dalam matematik. (3) lingkungan pembelajaran. ada yang baik dalam bahasa. dan (5) keteladanan. Sedangkan pilar kewiyataan yang merupakan perangkat praktik pembelajaran adalah (1) materi pembelajaran yang diturunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya. dimensi kemanusiaan. dan (5) penilaian hasil pembelajaran. Mempedomani berbagai pendapat di atas ternyata peran seorang guru dalam proses pembelajaran begitu penting. dan pancadaya. dan panca daya. Perbedaan itu merupakan fitrah manusia dan itulah dimensi kemanusian. dimensi kemanusiaan. ing madya mangun karso. maka seorang guru harus menerapkan prinsip high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). Pilar kewibawaan meliputi (1) pengakuan dan penerimaan. tut wuri handayani menjadi jiwa pilar kewibawaan. (1996) guru dituntut untuk lebih berperan dalam proses pembelajaran. Menurut Prayitno (2008) motto pendidikan nasional yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro ing ngarso sung tuludo. Disadari bahwa proses pembelajaran itu sendiri merupakan kegiatan yang terencana dengan sadar oleh guru guna mencapai tujuan pendidikan. Menurut Prayitno (2008). (3) penguatan.murid tidak sama. proses pembelajaran harus didukung dengan pilar kewibawaan dan kewiyataan. Untuk itu seorang guru harus memahami hakikat manusia. (2) pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran. dan ada yang berpotensi dalam seni. (3 alat bantu pembelajaran. Maka di samping memahami hakikat kemanusiaan (peserta didik). ia 39 . Ada murid yang mempunyai potensi dalam bidang olah raga. Menurut M. (4) tindakan tegas yang mendidik. Kecepatan untuk menguasai materi ajar antara satu dengan yang lainnya juga berbeda. Perencanaan yang sadar bila seorang guru betul-betul memahami fungsinya sebagai sumber belajar dan sekaligus juga pendidik. Dalyono.

Hal mana setiap guru dan murid sama-sama menjadikan kurikulum sebagai pedoman menuju tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian sebagai pemegang peran penting dalam proses pembelajaran maka kedua pilar ini mesti dikuasai seorang guru. ia mengarah pada pembelajaran dengan teknologi yang tinggi (high tech). Arti secara harfiah dari kurikulum itu sendiri yang diartikan sebagai “lapangan pertandingan”. salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum. 1976: 6). Kurikulum Menurut Ansyar (1989) kurikulum diartikan berbeda-beda oleh beberapa golongan orang atau masyarakat. karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan... ijazah. Hal itu tidak saja pendidik pada lembaga formal termasuk pendidikan nonformal seperti di sanggar ukir. masyarakat dan kebudayaan. Sedangkan falsafah Minangkabau alam takambang jadi guru menjiwai pilar kewiyaaan.. tetapi sebahagian besar setuju . b. Kurikulum juga diartikan berbeda-beda oleh para penulis buku pendidikan. serta teori-teori belajar adalah kekuatan-kekuatan yang 40 . atau gelar kesarjanaan (Zais. Walau terjadi perbedaan pendapat tentang kurikulum namun semunya bersepakat bahwa kurikulum tidak terlepas dari kegiatan pendidikan. sebagai “arena” dimana pelajar ‘bertanding’ untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai ‘garis finis’ berupa diploma.kait berkait untuk menjangkau (to touch) kedirian peserta didik. Menurut Mulyasa (2006). Ansyar (1989:29) bahwa walau terdapat ketidaksepahaman para ahli mengenai apa yang dimaksud dengan dasar-dasar kurikulum. individu.. Berangkat dari pendapat Ansyar maka setiap orang dapat memberi makna dan maksud berbeda tentang kurikulum. baik oleh pengelola maupun penyelenggara.

41 . dan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. yakni sebagai program studi. sebagai reproduksi kultural. Konsepsi dasar yang dikemukan Ansyar tentang kurikulum memberikan gambaran bahwa kegiatan apapun yang sekaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran memerlukan kurikulum. Dengan demikian pendidikan yang berlangsung pada sanggar ukir tradisional di Pandai Sikek diyakini memiliki kurikulum. tetapi kurikulumnya tentu tidak seperti sekolah formal yang telah tersusun dan terstruktur. Mulyasa sendiri tidak membatasi hanya pendidikan formal saja yang harus memiliki kurikulum. sebagai reproduksi kultural. sebagai hasil belajar. Dari banyak difinisi tentang kurikulum. Konsepsi ini memberikan pemahaman bahwa kurikulum dalam pelaksanaan pendidikan dapat dimaknai berbeda namun yang terpenting adalah tidak mungkin sebuah penyelenggaraan pendidikan tanpa kurikulum. Disisi lain para ahli melihat kurikulum bukan sekedar perangkat mata pelajaran melainkan sebagai pengalaman belajar. sebagai konten. arahan. Ansyar (1989) memberikan beberapa konsepsi dasar tentang kurikulum. sebagai kegiatan berencana. sebagai sistem produksi. dan sebagai pengalaman belajar. melainkan seluruh penyelenggaraan pendidikan. Menurut Tyler (1949).berpengaruh besar terhadap konsep dan aplikasi kurikulum. pengalaman belajar adalah pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan intraksi mereka dengan konten dan kegiatan belajar. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa setiap pengelola dan penyelenggaraan pendidikan mesti memiliki kurikulum oleh karena kurikulum merupakan acuan. Konsep dasar yang lebih mendekati maksud kurikulum dalam penelitian ini adalah kurikulum sebagai kegiatan berencana.

Dari pendapat ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum segala perencanaan bahan-bahan atau materi ajar yang akan diajarkan guru dalam proses pembelajaran termasuk ke dalamnya tentang urutan. maka menurut Ansyar (1989: 15) banyak orang menganggap sekolah adalah bagian dari kebudayaan. sikap. Jadi memperhatikan proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek terdapat perencanaan-perencanaan yang dilakukan guru sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai sasaran. Dari perencanaan itu diharapkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan sasaran. Perencanan itu meliputi persiapan materi sesuai dengan tahapan belajar masing-masing murid pada sanggar ukir tersebut. Konsep dasar ke dua adalah kurikulum sebagai reproduksi kultural. dan nilainilai yang dianut orang tua mereka. serta teknikteknik yang diperlukan anak untuk hidup layak di masyarakat. metode dan teknik penyajian. Menurut Taba (1962) bahwa sekolah didirikan agar dapat mengajarkan pada anak-anak ilmu pengetahuan. yaitu rencana yang menuntun pengajran. kemudian dapat 42 . Walaupun perencanaan itu tidak merupakan dokumen tertulis seperti yang terdapat di sekolah formal.Menurut Ansyar (1989) sebagai kegiatan berencana maka kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. Berkaitan dengan pendapat di atas maka ada kurikulum pada setiap sanggar ukir di Pandai Sikek. Hal ini sejalan dengan Macdonald (1965) yang mendifinisikan kurikulum sebagai suatu rencana pekerjaan. sekolah didirikan agar pelajar atau anak didik mendalami pengetahuan. namun kegiatan belajar dilakukan sesuai dengan perencanaan guru. nilai-nilai. Taba (1962) menyatakan bahwa kurikulum merupakan rencana untuk membelajarkan pelajar. sikap.

Hal ini berkaitan dengan bagian-bagian tertentu dalam pembelajaran seni ukir tidak senantiasa diperoleh dari aspek-aspek yang direncanakan guru. Maka dalam hal ini Foshay (1969) mengkonsepsikan kurikulum yang terdiri dari semua pengalaman belajar di bawah pimpinan guru. dan segi yang luas (semua pengalaman yang diperoleh di sekolah atau di luar sekolah). Bagian ketiga adalah kurikulum sebagai pengalaman belajar. Berdasarkan pendapat ini dapat dilihat bahwa kegiatan transformasi seni ukir yang terjadi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan kegiatan reproduksi kultural. Kepada generasi muda diajarkan keterampilan dan nilai-nilai seni ukir yang merupakan warisan budaya masyarakat setempat. seperti seorang murid yang sebelumnya tidak bisa mengukir menjadi menguasai cara mengukir dan mampu menciptakan motif-motif baru. Kurikulum pada sanggar seni ukir di Pandai 43 .meneruskan dan bertanggung jawab terhadap pengemabangan kebudayaan masyarakat itu. Menurut Ansyar (1989) ada dua kelompok yang melihat kurikulum sebagai pengalaman belajar. Zais (1976:8) yakin bahwa semua pengalaman yang sesungguhnya diperoleh pelajar dari penerapan kurikulum sekolah merupakan data yang amat berharga bagi penentuan keberhasilan dan efektifitas kurikulum yang direncanakan. Perubahan itu merupakan hasil bimbingan guru yang terencana. Kelompok yang mengkonsepsikan secara luas sering menyebutnya dengan “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). yakni konsepsi kurikulum dari segi yang sempit (sebagai suatu pelajaran yang diajarkan). Memperhatikan pendapat ini maka setiap apa saja yang memberi pengaruh dari proses belajar pada murid merupakan implikasi dari kurikulum.

bahkan ada yang sulit membedakannya. Metode Pembelajaran Ada beberapa istilah yang dalam proses pembelajaran hampir sama artinya. sampai pada prosedur evaluasi untuk mendapatkan aktifitas pembelajaran yang bermakna. dan teknik mengajar walaupun secara gradual ada perbedaan di antara ketiganya karena itu sering digunakan secara interchangable. Aktifitas belajar yang baik adalah yang melibatkan siswa untuk belajar sendiri melalui pengalaman. kurikulum tersebut dapat mempengaruhi pembentukan pengalaman belajar dan pendidikan.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran. menentukan target. sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya adalah: (1) pendekatan pembelajaran. (4) teknik pembelajaran. isi yang baik. pemahaman adat dan falsafah. bersosialisasi. dan (5) taktik pembelajaran. Menurut Zais (1976) inti dari kurikulum adalah terselenggaranya aktifitas pembelajaran yang bermakna. Menurut Akhmad Sudrajat (2009) istilah yang memiliki kemiripan makna. prosedur evaluasi yang runtun (Taba. target yang jelas. (http://www. (3) metode pembelajaran. (2) strategi pembelajaran. yang 44 . Menurut Abdul Azis Wahab (2008) di Indonesia para guru dan pendidik tidak membedakan pengertian metode.psb-psma. c. Jadi kurikulum yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah sejauh mana guru memberikan perhatian.Sikek juga mempunyai dampak nyata tetapi tidak direncanakan seperti kemampuan berwirausaha. Sedangkan untuk mengantarkan siswa pada pengalaman belajar dapat dilakukan dengan memberikan perhatian yang baik. strategi. Jadi pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. diambil 13 Februari 2010). 1962).

Abdul Azis Wahab (2009) menyatakan metode yang cocok untuk mengajar IPS/SS adalah metode ceramah. Dengan kata lain. Akhmad Sudrajat (2009) menyatakan terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. di dalamnya mewadahi. (3) diskusi. terdapat dua jenis pendekatan pembelajaran. (6) pengalaman lapangan. Oemar Hamalik (2008) menyatakan strategi pengajaran merupakan penterjemahan filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yang harus ditempuh dalam situasi-situasi khusus atau dalam keadaan tertentu yang spesifik. menguatkan. Wina Senjaya. Jadi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. strategi merupakan a plan of operation achieving something sedangkan metode adalah a way in achieving something. (5) laboratorium. (4) simulasi. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). Dilihat dari pendekatannya. Dapat disimpulkan bahwa materi yang telah disiapkan guru disampaikan atau diangkat melalui metode pembelajaran. (2) demonstrasi. (2008) menyatakan strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. diantaranya: (1) ceramah. menginsiprasi. (9) simposium. metode 45 . (8) debat. (7) brainstorming.

sikap. tidak terkecuali pembelajaran yang berlangsung pada sanggar seni ukir. Lebih lanjut dijelaskan Ansyar bahwa evaluasi untuk mengetahui keberhasilan belajar. metode tanya jawab. Ansyar (1989) . Pemakaian metode guna mengimplementasikan materi yang telah disiapkan guru seni ukir. Jadi evaluasi sangat diperlukan dalam setiap proses pembelajaran. dan psikomotor. Satu sisi merupakan kegiatan untuk 46 . d. Dalam proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek akan digunakan berbagai metode. Metode apa saja yang digunakan guru dan kapan metode itu diterapkan akan dicermati pada saat penelitian. evaluasi menjangkau lebih jauh yaitu untuk mengetahui apa yang terjadi dalam ruang-ruang kelas. Diyakani pada proses pembelajaran terdapat berbagai metode yang digunakan guru.inkuiri menemukan sendiri dan pemecahan masalah. yang bertujuan antara lain untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa. dan untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan. Sejauhmana materi-materi yang telah disusun guru seni ukir dapat dikuasai muridnya tentu dilakukan evaluasi sebelum ia memberikan materi lanjutan dan sebelum ia menyatakan muridnya telah menjadi tukang ukir. untuk memperbaiki program belajar-mengajar. dari proses pembelajaran diharapkan terjadinya perubahan kognitif. Jadi dari pendapat ini ternyata evaluasi pendidikan merupakan suatu “event” yang ganda. dan metode simulasi. Menurut Muhibin Syah (2005) evaluasi adalah penilaian terhadap keberhasilan program belajar siswa... Evaluasi Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009) evaluasi menempati kedudukan penting dan bahagian yang utuh dari tahapan dan proses pembelajaran. metode diskusi.

Muhibbin Syah (2005) menyatakan bahwa 47 . Berdasarkan pendapat ini maka paling tidak fungsi evaluasi diagnostik dan kenaikan perlu diterapkan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Menurut Imam (2005) evaluasi hasil belajar adalah memberi nilai atau makna tentang kualitas sesuatu yang dipelajari. Menurut Dimyati (2009) ada evaluasi hasil belajar dan ada evaluasi pembelajran. dan untuk penempatan. Evaluasi kenaikan untuk menseleksi apakah sudah perlu materi lanjutan atau masih tetap materi yang sama. Evaluasi hanya mungkin akan tercapai apabila dilakukan dengan mengikuti prosedur dan tehnik yang tepat dan benar melalui bermacam jenis evaluasi. evaluasi hasil belajar menekankan kepada perolehan informasi tentang pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Suharsimi Arikunto (2005). evaluasi input. evaluasi proses dan evaluasi produk. Menurut Suharsimi (2005) evaluasi hasil belajar dapat bermanfaat bagi peserta didik. Menurut Nurkancana (1986). bagi guru maupun bagi sekolah.mengendalikan mutu pendidikan dan dari sisi lain merupakan upaya untuk pengumpulan informasi tentang pencapaian murid terhadap meteri yang disampaikan pendidik. dan Dimyati (2009) fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk diagnostik dan pengembangan. seperti evaluasi konteks. Sedangkan evaluasi pembelajaran guna memperoleh keefektifan proses pembelajaran. Untuk mendapat informasi yang tepat tentang pencapaian tujuan pengajran maka perlu seorang guru memahami tentang teknik dan prosedur evaluasi. Evaluasi diagnostik berfungsi untuk mendiagnosa kelemahan dan keunggulan murid guna meningkatkan hasil belajar murid. evaluasi kenaikan juga dapat dipakai untuk menyatakan murid telah lulus atau sebagai tukang ukir. untuk kenaikan kelas. untuk seleksi.

Muri (2005) tes hasil belajar (achievement test) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan guru disekolah atau dosen di perguruan tinggi. menilai.evaluasi hasil belajar bukanlah sekedar pemberian angka yang berkaitan dengan satu aspek semata. baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. kemampuan mengingat. Oleh karena itu tes hasil belajar mungkin saja mengukur kecepatan lari. pemahaman. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi (penilaian) merupakan proses untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui pengukuran berdasarkan instrumen tes maupun non tes. Jadi. afektif (ranah rasa). Sedangkan hasil belajar adalah suatu kecakapan nyata yang dapat diukur secara langsung melalui tes. untuk memahami tingkat hasil peserta didik dalam belajar. kognitif (ranah cipta). Tes ini dapat disusun dalam bermacam bentuk namun pilihan bentuk yang tepat adalah sesuai dengan tujuan kegiatan pendidkan/pembelajaran yang telah ditetapkan. tetapi mencakup aspek yang lebih luas yaitu. mengaplikasikan sesuatu. Memperhatikan pendapat ini maka evaluasi hasil belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek sangatlah berarti sebab evalusi mencakup pada tiga ranah cipta. Seorang guru atau dosen. Sedangkan guru/dosen yang lain menggunakan tes perbuatan. menciptakan sesuatu atau melahirkan pikiran secara tertulis. Tes prestasi belajar dapat berupa tes baku 48 . mungkin pula menggunakan tes objektif yang telah distandarisasikan untuk mengukur hasil belajar peserta didiknya. dan psikomotor (ranah karsa). rasa dan karsa. Menurut A. evaluasi hasil belajar adalah proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi (data) yang telah diperoleh melaui tes pengukuran hasil belajar.

2005). Menurut A. adaptasi/penyesuaian pola gerakan.Muri (2005) hasil belajar merujuk kepada tingkat hasil peserta didik dalam belajar. afektif dan psikomotor.Muri. analisis. pengorganisasian nilai (organization). tetapi juga tes formatif. Karena itu evaluasi hasil belajar telah dimulai sejak seseorang mulai belajar. (2) afektif yang meliputi : penerimaan. Suharsimi.(standardized test) dan dapat juga dengan tes buatan guru (teacher made test). dan tes buatan guru (teacher or locally made test). partisipasi. respon terbimbing. melainkan dapat dilakukan pada tengah semester. dan (3) psikomotor yang meliputi : persepsi kesiapan (set). diagnostik dan penempatan kalau dilihat dari segi fungsinya (A. mencakup aspek kognitif. evaluasi dan kreatifitas. tes objektif dan tes perbuatan maupun dengan inventory lainnya. Jadi tes hasil belajar dirancang untuk mengukur apa yang telah dipelajari dalam bidang studi yang bersifat formal. 2005 . 1) Hakikat Evaluasi Hasil Belajar Dari gambaran di atas tampak dengan jelas bahwa tes hasil belajar bukanlah sematamata tes yang dilakukan pada akhir semester/tahun ajaran (tes sumatif). tengah caturwulan. pembentukan pola/karakterisasi nilai. mekanisme. Hasil itu tercermin dalam berbagai aspek antara lain (1) kognitif yang meliputi : mengingat. pemahaman. Dengan 49 . Jadi hasil belajar terhadap sesuatu yang sudah dipelajari akan memberikan gambaran tentang pemahaman dan kesukaran atau kekuatan dan kelemahan sesorang dalam bidang tertentu. baik berupa tes esai. evaluasi/penentuan sikap (valuing). maupun portofolio yang dikumpulkan. Oleh karena itu tes hasil belajar dapat berupa tes hasil belajar yang telah distandarisasikan (standardized achievenment test). gerakan/respon terbiasa. aplikasi. dan originalitas. evaluasi tugas-tugas yang diberikan. Jadi hasil evaluasi bukanlah semata-mata pada akhir semester atau caturwulan maupun naik kelas.

(f) evaluasi yang baik hendaknya dilakukan oleh suatu tim. perlu dilakukan asesmen yang benar. penilaian tidak menguntungkan atau 50 . penilaian berdasarkan data yang mencerminankan kemampuan yang diukur. Guru merancang suatu tes hasil belajar terhadap meteri yang telah lalu. penilaian berdasarkan pada prosedur dan kreteria yang jelas tanpa dipengaruhi subjektivitas penilai. Prinsip penilaian menurut Zaim (2009) adalah (a) sahih. baik ditinjau dari komponen evaluasi itu sendiri maupun dari prinsip-prinsip evaluasi yang dipedomani. Apabila guru telah menyelesaikan suatu kegiatan atau satuan pelajaran dan ingin mengatahui tentang tingkat hasil peserta didik dan kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. (e) evaluasi yang baik menggunakan alat ukur yang ganda dan sahih. (c) adil.Muri (2005) beberapa prinsip umum evaluasi belajar yang baik adalah (a) evaluasi yang baik bersifat komprehensif. melainkan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan. (b) evaluasi hendaklah kontinyu. a) Prinsip-prinsip Umum Evaluasi Belajar Menurut A. (c) evaluasi yang baik bersifat objektif. (d) evaluasi yang baik berpijak pada tujuan yang jelas. Adapun prinsip-prinsip eavaluasi hasil belajar bersifat umum dan khusus. Walaupun tidak dapat dipungkiri untuk keperluan ini dibutuhkan tes jenis lain seperti “aptitude test” namun tes hasil tidak dapat diabaikan.demikian apabila guru ingin menempatkan peserta didik dalam kelompok belajar maka guru terlebih dahulu mengetahui seberapa jauhkah hasil peserta didik dalam bidang yang akan ditempatinya itu. dan (g) evaluasi bukanlah tujuan. 2) Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar Untuk dapat memberikan gambaran yang maksimmal tentang hasil kegiatan pembelajaran. maka dapat pula dilakukan tes hasil belajar. (b) objektif.

penilaian dapat dipertanggungjawabkan. penilaian meupakan salah satu komponen pembelajaran. formatif dan sumatif).merugikan peserta didik. penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap. (g) sistematis. (h) beracuan kriteria. Tes hendaklah valid dan reliabel. sistematis. dan (d) tes hasil belajar hendaklah seterandal mungkin. (e) terbuka. Jadi berdasarkan pendapat ini maka evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek hendaklah sesuai dengan fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran (penempatan. prosedur. Untuk itu evaluasi pada proses pendidikan/pembelajaran di sanggar ukir hendaklah terkait dan mampu mengungkapkan tujuan itu. 51 . (d) terpadu. b) Prinsip-prinsip Khusus Evaluasi Belajar Hasil-hasil belajar akan dapat diungkapkan menurut fungsi yang diharapkan apabila intrumen yang dipakai memenuhi syarat untuk hal tersebut.Muri (2005) ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar yakni: (a) tes yang disusun hendaklah betul mengukur tujuan pembelajaran. dan (i) akuntabel. Apakah ada alat evaluasi yang sahih. (f) menyeluruh dan berkesinambungan. (c) bentuk/format tes yang dipilih hendaklah sesuai dengan tujuan yang dicapai. kreteria dan dasar penilaian dapat diketahui pihak berkepentingan. mencakup semua aspek kompetensi. penilaian berdasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. berkesinambungan dan dapat dipertanggungjawabkan. (b) tes yang disusun merupakan sampel yang representatif dari semua materi pembelajaran. diagnosis. Menurut Asmawi & Noehi (1995) dan A. Dari prinsip umum ini dapat dilihat bagaimana penilaian yang dilakukan pada proses pendidikan yang dilakukan di sanggar seni ukir pandai Sikek.

Untuk menyatakan seorang murid telah dapat mengukir tentu ada sacuan yang digunakan guru. telah dikuasai peserta didik dibandingkan dengan patokan yang telah ditentukan sebagai kriteria atau standar minimal hasil seseorang dikaitkan dengan tujuan Sejalan dengan itu Asmawi & Noehi (1995) menyatakan bahwa cara ini dibenarkan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan menggunakan sejumlah patokan. Adakah murid dikelompokkan berdasar skor yang diperolehnya atas dasar pembandingan dengan teman-temannya. Jadi prinsip ini menggambarkan bahwa evaluasi dengan menggunakan acuan patokan dapat digunakan. Tetapi tidak akan menceritakan apa yang dapat dikerjakan seseorang dengan menggunakan kriteria tujuan yang ditetapkan.Muri (2005) dan Asmawi & Noehi (1995) pengukuran berdasarkan norma kelompok adalah untuk menentukan kedudukan (relatif) peserta didik dibandingkan dengan temannya yang lain dalam kelompok itu atau bagaimana penampilan seseorang dibandingkan dengan temannya dalam kelompok. Menurut A. Bilamana seseorang telah memenuhi patokan tersebut ia dinyakan berhasil. Berdasarkan pengukuran ini dapat dilihat bagaimana pengelompok murid sanggar ukir di Pandai Sikek. Ini berarti normanya adalah norma kelompok.Menurut A. norma teman-temannya yang lain. evaluasi berdasarkan acuan patokan (criterion referenced evaluation) lebih baik dan tepat digunakan sebab guru dapat mengetahui seberapa jauh suatu aspek. 52 . Apa bentuk evaluasi itu dalam acuan patokan dan bagaimana bentuk patokan itu akan diobservasi dalam penelitian.Muri (2005) dari segi hasil peserta didik terhadap tujuan pendidikan/pembelajaran atau terhadap kelemahan-kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam aspek tertentu. artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan skor di kelompok itu.

(b) tidak memperhatikan perbedaan individu. (e) informasi yang ada tidak menunjukkan pencapaian tujuan. (a) digunakan untuk mengukur tingkah laku yang dimiliki seseorang dengan merumuskan kawasan tingkah laku itu sebagai patokan atau mengutamakan pengujian hasil (mastery). dan (j) cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif dan mengukur kompetensi. 53 . pengukuran berdasarkan patokan (Criterion Referenced Measurement). (b) perbedaan individu sangat menjadi perhatian. kemampuan dan tingkah laku peserta didik. namun patokan adalah sama. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. (c) mengukur kategori yang lebih umum. Tingkat hasil individu dibandingkan dengan hasil kelompok. dan (k) tidak cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif. Muri (2005) dinyatakan bahwa beda kedua tipe itu adalah sebagai berikut.Selanjutnya oleh A. Sedangkan pengukuran berdasarkan norma kelompok ( norma referenced measurement). dengan menghormati penampilan tingkah laku orang lain dalam kelompok. (e) dapat memberikan informasi apakah tujuan dapat dicapai oleh kelompok. (a) digunakan untuk mengukur pengetahuan. (c) lebih terfokus pada kawasan (domain) yang lebih spesifik. (g) indeks pembeda antara kelompok tinggi dan kelompok rendah bukanlah suatu yang penting. (d) dapat menunjukkan rentangan tingkat hasil peserta didik dibandingkan dengan norma kelompok. (f) butir soal dipilih agar menyediakan perbedaan diantara individu. (d) mempunyai standar tunggal untuk semua sehingga apabila tes itu dilakukan pada tempat yang berbeda. (g) indeks pembeda butir soal merupakan indikator menentukan kualitas soal. (i) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. (f) semua butir soal yang diberikan untuk memberikan gambaran penampilan yang tepat. (j) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci sekali.

namun senantiasa saja difinisi itu memiliki celah atau ruang diskusi baru. Berdasarkan pendapat ini maka penilaian pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek mempunyai karakteristik sendiri. Beals dan Hoyer dalam buku An Introduction to Anthropology (1959). Evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek harus memasukkan sejauhmana pengalaman estetis murid. Dari banyak difinisi dan pendapat tentang kebudayaan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan 54 . Hal ini terkait dengan bahwa pembelajaran kelompok seni mencakup pada pemberian pengalaman estetis. Tidak ada kepuasan yang pas tentang salah satu difinisi kebudayaan. Karakteristik penilain itu tidak cukup dengan mempedomani prinsip-prinsip penilaian secara umum maupun prinsip khusus. dan lebih awal oleh Kroeber dalam buku The Nature of Culture (1952).L Kroeber dan C. Pencarian tentang hakikat kebudayaan dilakukan oleh Bakker (1984) dalam buku Filsafat Kebudayaan. Diskusi tentang kebudayaan senantiasa menarik. Banyak pendapat dan difinisi yang dikemukaan tentang kebudayaan.Menurut Zaim (2009) keunikan pembelajaran kelompok seni budaya terletak pada kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman estetis melalui dua kegiatan yang saling terkait. Kebudayaan Minangkabau Dua orang pakar A. 3. Kluckhohn (pakar antropologi sekaligus juga filsafat kebudayaan) dalam makalahnya yang termasyhur “Culture: a Critical Review of Concepts and Difinitions” tahun 1952 hanya mampu mengklasifikasikan 179 difinisi tentang kebudayaan. Difinisi tentang kebudayaan sekarang semakin berkembang sehubungan semakin banyak tantangan dan fenomena baru dalam kehidupan manusia. karena kebudayaan bahagian dari kehidupan manusia. yakni apresiasi (apreciation). kreasi (creation) termasuk di dalamnya performance.

hukum. Taylor dalam Primitive Culture yang dikutip Tilaar (2000) menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang meliputi pengetahuan.adalah milik manusia. bahwa kebudayaan bisa dalam bentuk tingkah laku dan dalam bentuk artefak. maka disinilah titik singgung antara budaya dengan pendidikan. Dengan demikian betapa pentingnya masyarakat dalam proses pendidikan. bahwa kebudayaan didapat dengan belajar. Kemudian Edward B. disinilah afinitas (daya tarik-menarik/gabungan) antara pendidikan dan kebudayaan. Kedua-duanya khas insani oleh karenanya kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. Dari banyak difinisi tentang kebudayaan. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. bahwa kebudayaan hasil prestasi manusia. Sejalan dengan ini maka menurut Ansyar (1985) ada dua pandangan tentang fungsi sekolah pertama yang mengkonsepsikan sebagai pemelihara dan penerus kebudayaan dan kedua 55 . Dari pendapat dua pakar tersebut ada beberapa hal yang perlu ditarik yaitu bahwa kebudayaan adalah suatu sistem yang utuh bukan merupakan bagian-bagian. Oleh karena manusia yang berbudaya dan membudayakan aspek kehidupannya. kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya dapat diperoleh di tengah masyarakat. Pengertian belajar dalam pandangan kebudayaan adalah sebuah proses yang ada di tengah masyarakat. di mana segala aspek yang kompleks apakah itu nilai-nilai atau hukum. moral. seni. Menurut Tilaar (2000) tidak mengherankan apabila usaha untuk mencari jawaban terhadap hekikat kebudayaan mampir dalam pertanyaan mencari hakikat manusia. adat istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. seni. kepercayaan. maka difinisi yang ada kaitannya dengan pendidikan adalah pendapat Koentjaraningrat (1990) yaitu keseluruhan sistim gagasan.

dan sebagainya. Menurut Tilaar (2000:190) bahwa gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi khsusunya teknologi komunikasi dapat merupakan bahaya penggerhanaan identitas manusia termasuk hilangnya kebudayaan nasional dan lokal. Berbagai bentuk warisan budaya itu sendiri seperti. Menurut Ardika (1999). Mesjid-mesjid kuno. Pembicaraan tentang budaya bukan hanya milik masa sekarang saja. peraturan. kedua kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan 56 .sebagai pengembangan individu anak yang terlepas dari kebudayaan. Dengan demikian seni ukir sebagai salah satu warisan budaya dan juga sebagai identitas budaya daerah seharusnyalah dilestarikan agar dapat tumbuh dan berkembang pada era global. sedangkan keterampilan mengukir tinggalan budaya yang berbentuk tingkah laku. modal. rumah-rumah adat. Koentjaraningrat (1990) mengemukakan tiga wujud kebudayaan. Jangan sampai akar budaya yang telah diwarisi dari leluhur terdahulu tercabut di tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan akibat globalisasi. ada yang berbentuk tingkah laku dan berbentuk artefak. dan kekayaan sebuah bangsa. Banyak hasil budaya masa lalu menjadi menarik untuk didiskusikan saat ini. ide-ide atau gagasan. nilai-nilai. pertama kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. Walau pendapat kedua yang menyatakan pendidikan hanya pengembangan individu murid. dan seni ukir merupakan tinggalan budaya yang berbentuk artefak. nilai-nilai. malah patut dilestarikan sebagai aset. Menyimak pendapat ini maka warisan budaya atau tinggalan budaya patut dilestarikan. gagasan. norma-norma. gerabah. namun bila dilihat bahwa kebudayaan suatu sistem gagasan yang didapat dari belajar maka dengan sendirinya pendidikan itu adalah bagian dari kebudayaan. pemahaman dan pelestarian terhadap warisan budaya sebagai jati diri suatu etnik dan bangsa tetap menjadi penting dalam era global ini.

Wujud kebudayaan ideal ini sekarang sudah banyak tersimpan dalam buku-buku. Wujud kebudayaan ini dapat diamati. Karena merupakan rangkaian kegiatan manusia dalam masyarakat. Wujud pertama ini ada dalam kepala atau alam pikiran anggota masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. tak dapat diraba yaitu sistem budaya yang merupakan wujud ide dari kebudayaan. dan (3) artifacts. disket. Wujud kedua kebudayaan juga disebut sebagai sistem sosial adalah berkenan dengan pola kelakuan dari manusia atau masyarakat itu sendiri. mikro film. (2) activities. arsip. tape.Honigmann dalam bukunya The World of Man (1959) bahwa ada tiga gejala kebudayaan. Sistem sosial ini terdiri atas kegiatan-kegiatan manusia berintegrasi. dan difilmkan karena ia terjadi di sekeliling kita. yaitu (1) ideas. 57 . Pendapat Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan sama dengan yang dikemukakan oleh J. difoto.Honigmann dan Koentjaraningrat dapat dijelaskan bahwa wujud pertama kebudayaan siifatnya abstrak. Berkenaan dengan seni ukir Pandai Sikek maka falsafah motif ukiran termasuk pada wujud kebudayaan inti ini. gagasangagasan. Keterampilan mengukir. dan komputer dengan adanya kemajuan teknologi. berhubungan serta bergaul satu sama lain berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan. Ada yang mengistilahkan wujud pertama ini sebagai inti dalam dari kebudayaan.berpola dari manusia dalam masyarakat. dan ketiga kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.J. Inisiatif. dan ide-ide yang menggerakkan sehingga menghasilkan berbagai kreativitas ada dalam wujud pertama ini.J. pola pembelajaran ukir. maka sistem sosial ini sifatnya kongkrit. penghargaan masyarakat terhadap seni ukir di Pandai Sikek merupakan bahagian dari wujud kebudayaan yang ke dua ini. Berangkat dari pendapat J.

ia merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. dan dari aktifitas pola laku itu menghasil karya dalam bentuk benda-benda. bangunan kuno lainnya. diraba. dan seni kotemporer. wajud ini paling kongkrit jika dibandingkan dengan dua wujud sebelumnya. organisasi sosial. Cakupan kebudayaan cukup luas. ia meliputi segala aspek kehidupan manusia namun oleh sarjana antropologi dibagi ke dalam beberapa unsur. sistem pengetahuan. sistem religi. Wujud kebudayaan ini dapat dilihat. seni-seni masa lampau. diamati. sistem peralatan hidup dan teknologi. sistem mata pencaharian hidup. dicium. Benda-benda budaya itu dapat berupa tinggalan budaya atau hasil karya masa lampau seperti candi. yakni bahasa.Kuckhohn (1953) merumuskannya kepada tujuh unsur kebudayaan. Kebudayaan ide mengatur dan memberi arah kepada perbuatan tingkah laku manusia. dan dapat juga karya masa kini seperti pesawat. C. Bangunan rumah adat Minangkabau yang penuh dengan ukiran merupakan benda hasil budaya. Jika diperhatikan ternyata ketiga wujud kebudayaan saling berkaitan. dan difoto. Ketujuh unsur yang dikemukakan para pakar itu dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia ini termasuk di Indoensia. dan kesenian. Benda-benda budaya itu beragam bentuknya mulai dari yang sederhana sampai ke paling komplek atau rumit cara penciptaannya. 58 . Kesalingterkaitan wujud budaya itu sangat mudah dilihat dalam bentuk seni. dan dari tingkah laku menghasilkan normanorma baru dan membentuk pemikiran baru lagi. Koentjaraningrat (1990). Sebaliknya kebudayaan fisik dapat mengatur tingkah laku masyarakat.Wujud ketiga kebudayaan adalah benda-benda budaya atau artefak. bangunan pencakar langit.

ka Timur ranah Aia Bangih. ke Riau dan semenanjung Malaka bahagian Timur. Agam. dari Sirangkak nan badangkang. Berdasarkan tambo-tambo/sejarah alam Minangkabau. Pembagian khusus itu antara darek (darat) dan pasisie (pesisir) atau rantau. Datuk Rajo Panghulu 1997. hinggo buayo putiah daguak. Pada awalnya kawasan kebudayaan Minangkabau hanya terdiri dari tiga luhak (Tanah Datar. Nenek moyang orang Minangkabau sendiri sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tambo berasal dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua. Datuk Sanguno 1987. Minangkabau tidak sama dengan Sumatera Barat walaupun sebahagian besar masyarakat Minangkabau mendiami wilayah Sumatera Barat. akan tetapi daerah ini dibagi lagi ke dalam bagian-bagian khusus. hinggo aia babaliak mudiak. dengan dikurangi daerah kepulauan Mentawai. “…salirik gunuang Marapi. Rao jo 59 . sialang balantak basi. dan 50 Kota) kemudian meyebar kedaerah lain yang disebut dengan rantau. sampai ka sipisau-pisau hanyuik. durian ditakuak rajo. ke Jambi dan Bengkulu bahagian selatan. saedaran gunuang Pasaman. Beberapa penulis (Navis 1984. sampai ka pintu rajo ilia. sailiran Batang Sikilang. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. lokasi atau daerah asli masyarakat etnis Minangkabau diceritakan sebagai berikut. sajajaran Sago jo Singgalang. sampai ka ombak nan badabuak. Menurut Umar Yunus (1997) daerah asal Minangkabau diperkirakan seluas daerah Propinsi Sumatera Barat sekarang ini. hinggo lauik nan sadidiah. Dari tiga luhak ini kemudian menyebar sampai ke sebahagian Sumatera Utara dan Aceah bahagian utara. saputaran Talang jo Kurinci.Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia mempunyai bentuk budaya sendiri. Minangkabau merupakan kesatuan budaya sedangkan Sumatera Barat wilayah administratif pemerintahan.

gunuang Mahalintang. Kebudayaan Minangkabau bersumber dari falsafah hidup dengan nama “falsafah alam”. (Navis. tempat hidup dan mati. seputaran gunung Talang dan gunung Kerinci. bagi orang Minangkabau alam tidak sekedar tempat lahir dan berkembangan.Mapa Tungguah. 1977. dan Nasrun. Unsur-unsur alam saling berhubungan tapi tidak saling mengikat. sehiliran/ menyusuri Batang Sikilang. Pucuak Jambi Sambilan Lurah. masing-masing bebas dengan eksistensinya. daerah Rao dan Mamat Tunggul. Rajo Panghulu. saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. Unsur alam memberikan peran yang berbeda. Pasisia Banda Sapuluah. gunung Mahalintang. (. Pesisir Bandar Sepuluh. melainkan juga mempunyai makna yang dalam. hingga laut yang terasa panas. sejajaran gunung Sago dan gunung Singgalang. 1984: 59-60). Pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek bukan sekedar mentranspormasi keterampilan mengukir saja akan tetapi lebih dari itu adalah mewariskan kebudayaan Minangkabau yang berfalsafahkan pada alam. Unsur alam itu dalam suatu harmoni dan dinamis sesuai dengan hukum dialektika bakarano bakajadian (bersebab berakibat). Kehadirannya tidak sekedar bernilai estetis melainkan sarat dengan muatan filosofis. sampai ke pintu raja hilir. dari Kepiting yang keras hingga buaya yang putih dagu. Dengan demikian motif ukiran Minangkabau sebagai salah satu contoh budaya Minangkabau juga bersumber dari alam. durian ditakah raja. sampai ka Tanjuang Samalidu. 1984. 60 . Mamangan (peribahasa) orang Minangkabau menyatakan ‘alam takambang tampek ba guru’ (alam terkembang tempat berguru). Sialang berbatasan/bertanda besi hingga arah air kembali mudik. Pucuk Jambi Sembilan Lurah)..sebaris gunung Merapi. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya mengisyaratkan ide. Falsafah yang bersumber pada alam. Navis. sekitar gunung Pasaman. hinggo Taratak Aia Hitam. ke timur renah (daerah) Aia Bangih. sampai ke Tanjung Simalidu. sampai ke pisau-pisau hanyut. dan pola laku hidup masyarakat Minangkabau. dan saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan. hingga Taratak Aia Hitam. ( Dt. sampai ke ombak yang berdebur. 1971)..

Kemampuan murid dikembang dari aspek jasmaniah dan ruhaniah. Ada kecenderungan kehidupan hanya pembentukan pada aspek jasmani saja seperti dengan mengatur pola makan. Seni dan Pendidikan Seni a. Hal ini terjadi ketika masyarakat menganggap bahwa seni hanya sebagai objek untuk dinikmati dan diapresiasi belum dipandang sebagai proses pembentukan dan pengembangan diri. olah raga. 61 . dan ketiga adalah wujud benda yakni hasil karya seniman ukir yaitu benda ukiran. kedua sebagai tingkah laku yakni keterampilan mengukuir dan sikap masyarakat pendukung budaya.Penelitian pendidikan seni ukir pada sanggar ukir akan melihat tiga komponen kebudayaan. Menurut Ramalis (2005:10) pendidikan seni dapat dijadikan pendekatan dalam belajar sehingga keseluruhan peran pendidikan seni dapat terimplementasikan dalam mengembangankan berbagai kemampuan dasar manusia. dan istirahat. Berangkat dari pendapat ini seni dapat dijadikan sebagai pembentukan dan perkembangan manusia. Begitu juga dalam perkembangan dan pembentukan otak manusia lebih banyak pada kegiatan pembentukan otak kiri. antara fisik dan psikis. Pendidikan seni termasuk pada kegiatan seni ukir di pandai Sikek tidak hanya pada pembentukan salah satu aspek saja. Pertama adalah sebagai ide atau gagasan yakni motif dan falsafah ukiran yang bersumber pada alam. dan antara raga dan emosi. 4. Perkembangan diri yang baik adalah adanya keseimbangan antara jasmani dan ruhaniah. Konsep Seni dan Pendidikan Seni Menurut Yahya (2009) bahwa seni di dalam khasanah pendidikan belum banyak dilirik dan bahkan kedudukannya sering dilupakan.

Penulis: Oki). Kelompok ilmuan neurophsychology menemukan peta kemampuan otak manusia. Juga dapat dilihat bahwa ada tiga kecerdasan yang berkaitan dengan seni yakni kecerdasan musik untuk seni musik. Howard Gardner menemukan multi kecerdasan (multiple intellegenius) yang meliputi kecerdasan linguistik. inter pribadi. kreativitas. dan dalam hal ini kemampuan murid mesti dikembangkan guna adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan. Otak manusia belahan kiri mengatur kemampuan logika. disain. bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yaitu otak kiri dan otak kanan. Menyimak pendapat ini dan bila dilihat kondisi sekarang maka sebahagian pendidik belum banyak yang mengetahui bahwa kegiatan seni berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik manusia. antar pribadi. Otak ini akan berinteraksi dengan belahan kanan yang mengatur fungsi intuisi. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. Masing-masing belahan otak manusia saling berinteraksi. dan spiritual. dan silat). Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. musik. kinestetik. sapcial. atau tiga kecerdasan. Karya seni 62 .php/ Sabtu. natural. rasional. spasial. patung. dan emosional. dan kecerdasan spasial untuk seni rupa (lukis. persepsi. drama.Menurut Ramalis (2008) bahwa pendidikan seni yang multidimensional. dan analitis. matematik. 6 Februari 2010. Memperhatikan konsep ini maka masing-masing manusia terutama murid semestinya mempunyai kemampuan berkesenian. dua kecerdasan. multilingual. dan kriya) (http//ppgkes/module/ com. kecerdasan kinestetik untuk seni media gerak (tari. Dari sembilan kecerdasan ini maka ada manusia yang menonjol pada salah satu kecerdasan. dan multikultural memiliki potensi dalam pengembangan kecerdasan mansia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan.

yang membicarakan keindahan objektif. hewan. dan kemampuan memecahkan masalah. Kreativitas seorang seniman merupakan salah satu kecerdasan yang diolah. Kolompok pemikiran imitasi berorientasi pada estetika dogmatik. Konsep A Dasar Sifatnya Strategi Sasaran Imitasi Estetika dogmatis Objektif Rasionalitas Keserasian tangan. itiak pulang patang (itik pulang sore). Jadi apabila pendidikan seni diberikan pada peserta didik berarti memberi keseimbangan pembentukan pribadinya yang lebih utuh. terutama otak kanannya. yang membicarakan keindahan subjektif. Motif ukiran merupakan stilisasi dan simbol dari bentuk alam. Motif-motif ukiran merupakan imitasi atau tiruan bentuk alam seperti motif siriah gadang (rangkaian daun sirih). Khusus berbicara tentang seni maka ada dua kelompok pemikiran yang mendasari lahirnya konsep seni. Pembentukan dan perkembangan otak kanan diperlukan untuk keseimbangan otak kiri. sedangkan kelompok pemikiran kedua memandang seni sebagai ekspresi berorientasi estetika perasaan. Dari konsep ini maka Ramalis (2006: 19) menyajikan dalam bentuk tabel berikut. Berasarkan temuan di atas ternyata karya seni yang kita nikmati merupakan hasil kerja otak.merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. diproses dan tersimpan dari otak kanan. makanan dan benda lainya. Menurut Sri 63 . berpikir kreatif. 1957). rasa dan pikiran Ekspresi Estetika Emosional Subyektif Emosional Wadah ungkapan pengalaman batin Secara umum seni-seni tradisional termasuk seni ukir Pandai Sikek lebih banyak pada konsep seni sebagai imitasi. dan tampuruang hanyuik (tempurung hanyut). Kelompok pertama yang memandang seni sebagai imitasi dan kelompok kedua menyatakan seni sebagai ekspresi (Wickiser.

Konsep strategi rasionalitas ini berkembang di masyarakat berbagai negara termasuk Indonesia. rasa dan pikiran.Zaim (2009) menawarkan adanya perubahan orientasi yakni dari persepsi monokultural menjadi multikultural. Dalam hal ini M. lebih mengarahkan pada pengembangan pikiran. Pembentukan pemikiran pada sanggar ukir di Pandai Sikek akan didapat pada 64 . 32 motif binatang/ hewan. tentu akan berbeda dengan kondisi pada lembaga non formal yang lebih menekankan pada keterampilan. Pendidikan seni Indonesia yang tertanam selama ini terutama disistem pendidikan persekolahan berorientasi pada kaidah ‘baik-buruk’ konsepnya seni Barat. Konsep ini menurut J. Dasar konsep psikologis bagi strategi rasionalitas sebenarnya dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan secara serasi antara tangan. Sedikit sekali dalam proses pembelajaran yang menyeimbangkan antara keterampilan tangan. rasa dan pikiran.Sundari (2000) bahwa ada 50 macam motif tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu fokus kegiatan pembelajarannya adalah pada penguasaan teknis keterampilan tangan yang dapat diukur secara objektif. rasa dan pikiran. logis mengikuti jenjang kesulitan.A Pestalozzi (dalam Ramalis. Bila konsep ini dihubungkan dalam proses pembelajaran terutama pada pendidikan formal di Indonesia. dan 60 motif makanan dan benda lainnya pada ukiran di Pandai Sikek. Pendapat di atas menggambar kondisi pada sekolah formal di Indonesia. Jadi bila dilihat cara kerja seni tradisional lebih banyak sebagai simbol atau lambang yang merupakan hasil tiruan alam yang memiliki keindahan objektif. jarang diarahkan pada pengembangan keserasian tangan. 2006) ini melahirkan konsep strategi rasionalitas seni. Di sisi lain menurut Ramalis (2006) bahwa pembelajaran seni disusun dan dipelajari secara sistematis.

Wickiser menyatakan dapat membantu perkembangan kepribadian dan pembinaan estetik anak. Sejak itu konsep pendidikan seni mengalami pembaharuan yakni mata pelajaran menggambar berubah menjadi mata pelajaran yang bersifat: ekspresi. Kondisi yang digambarkan di atas terjadi pada berbagai pendidikan seni di sekolah formal Indoesia sekarang ini. Pembaharuan konsep pendidikan seni utamanya dilandasi oleh alasan filosofis. Dewey (dalam Read. Kaum reformis memandang karya seni sebagai wadah ungkapan pengalaman batin seniman. Jadi konsep pendidikan seni ini lebih mengutamakan dampak pengiring (nurturance effect) dan próses pembelajaran seni. rasa. psikobogis. Kerchensteiner. Raip Wickizer dan Herbert Read. seni dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. pernyatakan Margaret Naumberg dapat digunakan sebagai sarana terapi mental. dan sosiologis. Menurut Setjoatmodjo (1981) bahwa konsep pemikiran bahwa seni sebagai ekspresi identik dengan konsep seni moderen yang lahir bersamaan gerakan reformasi. G. Ada banyak ahli yang menyatakan dampak pengalaman dari proses pembelajaran seni. Menurut Read (1970) bahwa secara filosofis.pemahaman dan penempatan motif. Victor Lowenfeld. 65 . menurut Lichwark dan Lange dapat membantu kepekaan anak terhadap karya seni. Ross menyatakan dapat membantu mengembangkan perasaan anak. antara lain: Lowenfeld menyatakan dapat meningkatkan daya kreativitas anak dan dapat membantu pertumbuhan mental anak melalui penyaluran ekspresi dan kreativitas. 1970) mengatakan seni adalah kulminasi dan pengalaman. Sejauhmana keseimbangan tangan. dan pikiran dilakukan akan dilihat pada objek sesungguhnya dalam penelitian. Kelompok reform yang mempelopori pembaharuan pendidikan seni antara lain Van Prag.

pemahaman teori seni. 1972). dan 66 . Materi pembelajaran berupa kemampuan keterampilan seni. kemampuan apresiasi seni. Artinya pernyataan Read (1970) yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran seni sebagai alat atau media pendidikan mendapat dukungan dari para ahli pendidikan seni yang lainnya. konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi. Akan tetapi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional lebih banyak pada aspek keterampilan. konsep pendidikan seni untuk apresiasi. Menurut Ibenzani (1985) keterampilan itu meliputi cara-cara membuat sketsa pada papan ukir. Untuk meningkatkan kemampuan seni murid yang berkaitan dengan seni itu sendiri termasuk pada pembenaran esensial. dan pameran/gelar hasil karya. yaitu kecenderungan pelaksanaan pendidikan seni yang didasarkan pada pembenaran esensial dan pembenaran kontekstual (Eisner. Berdasarkan konsep pendidikan seni yang difungsikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. cara menggunakan pahat. maka dalam aplikasinya memunculkan dua kecenderungan. seperti untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan murid. Merujuk pendapat ini bahwa pembelajaran seni yang bersifat esensial dapat dimaknai sebagai bentuk pendidikan seni. sedangkan pembenaran kontekstual terkait pada fungsi untuk mencapai tujuan di luar tujuan pembelajaran seni.dan Harbert Read sendiri menyatakan dapat membiri kepekaan cita rasa keindahan anak. Bentuknya mengarah pada pembinaan dan peningkatan penguasaan berkesenian melalui kegiatan ekspresi diri dan melibatkan pengalaman serta kesadaran estetik. Menurut Ramalis (2006) terdapat beberapa pendangan tentang konsep pendidikan seni yang berkembang seperti. dan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas.

Konsep ini juga untuk melatih kedua tangan murid sehingga merangsang syaraf otak kanan dan otak kiri. Jadi pembaharuan konsep pendidikan seni dengan mengutamakan kebebasan berekspresi murid bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. untuk pembentukan konsepsi. Tujuan lain adalah untuk mendewasakan murid baik segi intelektualnya. Berdasarkan pendapat ini maka ada tiga pandangan tentang konsep pendidikan seni. dan 7) produksi. afektif. 4) analisis. 3) pemahaman. Menurut Ramalis (2008) perlu diperhatikan dimensi prilaku agar pembelajaran seni dapat berhasil. maupun menghendaki murid belajar dan perbuatan aktif. baik melalui kegiatan menggambar maupun kegiatan observasi lapangan dengan kegiatan mengunjungi obyek-obyek seni seperti galeri. Gambar merupakan suatu bentuk bahasa untuk menuangkan ide bahkan ada sauatu kosa kata yang tidak jelas atau ragu biasa divisualisasikan dengan gambar. yaitu kognitif. apresiasi. Pandangan itu didasari bahwa pendidikan seni dapat mengembangankan berbagai potensi yang ada pada murid. Menurut Brent G. Konsep-konsep pendidikan seni itu untuk sarana apresiasi. 2) pengetahuan. dan pameran. Konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi dilandasi oleh pemikiran bahwa “salah satu sarana untuk mengungkapkan pikiran adalah menggambar”. Wilson (Bloom. Konsep pendidikan seni untuk apresiasi dilandasi pada pemikiran bahwa persepsi murid-murid terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan langsung. 5) evaluatif0. 1) persepsi. 1975) tiga dimensi prilaku. dan membina kreatifitas. Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget (1952) yang menekankan pentingnya gerakan manusia dalam kaitannya dengan perkembangan pengetahuan. Jadi 67 .cara merawat alat-alat uikir. yaitu. dan psikomtorik menjadi tujuh dimensi prilaku seni.

gerak komplek. murid tidak sekedar menirukan bentuk-bentuk yang diajarkan atau dicontohkan guru. 2009). yaitu persepsi. seperti menggambar. Kegiatan seni rupa yang berbentuk praktek. Kegiatan menggambar adalah mengorganisasikan sensasi indrawi sehingga menghasilkan impresi yang dapat diinterpretasikan. Pengembangan keterampilan dalam aspek pembelajaran tercakup dalam ranah psikomotor. di mana strategi kognitif itu sendiri adalah kemampuan memecahkan masalah-maslah baru dengan jalan mengatur proses internal individu dalam memperhatikan. Menurut Simpson dalam Aunurrahman (2009) ada tujuh prilaku kemampuan motorik. menganyam. Penekanan kemampuan kognitif menjadi titik berat konsep ini. ide dan gagasan murid. penyesuaian. Kegiatan seni sebagai sarana untuk mengembangkan potensi. gerak terbimbing. Jadi pembentukan konsep dihasilkan dari aktifitas menggambar karena menggambar merupakan kegiatan mental dan pikir. Menurut Aunurrahman (2009) kreatifitas adalah kemampuan menciptakan pola baru. Sementara Lowenveld (1982) 68 . dan berpikir (Gagne dalam Aunurrahman. Sebagaimana dikemukan sebelumnya bahwa kegiatan mengukir termasuk pada kegiatan motorik. kesiapan. maka kreatifitas merupakan aspek tertinggi dalam pengembangan kemampuan motorik murid. dan kreatifitas. melukis.kegiatan menggambar suatu obyek berarti menerjemahkan persepsi ke dalam bahasa visual. Sedangkan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas dimaksud untuk menjelaskan terjadinya pertumbuhan mental dan kreatifitas yang ada pada diri murid. mengingat. dan mengukir pada dasarnya adalah pengembangan kreatifitas murid. belajar. gerak terbiasa. maka guru harus dapat sampai pada aspek ini. Memperhatikan tujuh tingkatan prilaku motorik ini.

spasial. sedangkan seni adalah sarananya. Conny Samiawan (2001) menyatakan bahwa pengkerdilan pendidikan seni yang cukup lama itu salah satunya menghasilkan rendahnya kepekaan sosial masyarakat. kreativitas.menyatakan bahwa kegiatan seni merupakan sarana bagi processing. rasional dan analitis. kemungkinan besar disebabkan minimnya penghargaan terhadap pendidikan seni. Akibatnya adalah timbul berbagai kekerasan yang melanda Indonesia. sanggar-sanggar seni atau kursus-kursus seni. murid adalah idealnya. persepsi. mengutamakan kualitas hasil karya seni yang didukung oleh kualitas proses kerja skill. Konsep seni imitasi mendasari munculnya filosofi konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. Belahan otak kanan ini akan berintraksi dengan otak kiri yang berfungsi logika. dan emosional. oleh karena itu konsep tersebut cocok diterapkan dan dikembangkan pada sekolah kejuruan seni. b. Pendidikan seni tidak hanya harus berlangsung di sekolah-sekolah formal tapi dapat berlangsung setiap saat di tengah masyarakat. mengutamakan dampak dari proses pembelajaran seni dan bukan mengutamakan kualitas hasil karya seni. Dari kajian filosofi konsep seni dan konsep pendidikan seni tersebut di atas bahwa seni untuk mengisi dan mengasah otak kanan yang berfungsi intuisi. 69 . Pendidikan seni dapat mengasah solidaritas sosial masyarakat. Pentingnya Pendidikan Seni Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan seni bagi masyarakat perlu terus dikembangkan. sedangkan konsep seni ekspresi mendasari munculnya filosofi pendidikan seni yang menekankan pada menumbuhkembangkan kepribadian murid. Sedangkan konsep pendidikan seni yang menekankan pada penumbuhkembangan kepribadian murid. Konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni.

Pengembangan pola pikir. serta jiwa kewirausahaan. (3) alat untuk mengekspresikan berbagai pengalaman jiwa atau untuk mengungkapkan sebagian atau seluruh bawah sadar. 1957. dan dimensi profesional. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan seni merupakan subsistem dalam pendidikan nasional. selain berfungsi untuk pendewasaan dan pembudayaan peserta didik juga memiliki nilai yang berarti sebagai sarana pembentukan pribadi. Pada dimensi sosial maka pendidikan 70 . Pada dimensi personal pendidikan seni membantu mengenbangkan kecerdasan intelektual (IQ). kecerdasan spitual dan moral (SQ). Pendidikan seni merupakan elemen yang esensial dalam membentuk watak. kecerdasan kreatifitas (CQ). dan meningkatkan karsa murid dapat dilakukan dengan pendidikan seni. kehalusan rasa dan budi. Pendidikan seni sebagai upaya pendewasaan dan pembudayaan murid (Wickiser. Lowenfeld. Menurut Ramalis (2006: 24) bahwa pendidikan seni. dan (4) alat untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk (Read. dimensi sosial. Dalam dimensi personal maka pendidikan seni juga membantu menyeimbangkan teknologi yang berorientasi praktis ekonomis dengan kemanusiaan (humanity). Apalagi cabang seni yang berakar dan tumbuh di tangah masyarakat akan mudah menjadi sarana untuk mengasah rasa solidaritas sosial. kecerdasan emosional (EQ). (2) alat untuk mengekspresikan perasaan yang dinyatakan dalam suatu bentuk. 1970: 8). Yahya (2006) menyatakan bahwa pendidikan seni juga bersifat multi dimensi karena bertujuan mengembangkan dimensi personal. (1) koordinasi antara berbagai persepsi dan serisasi dalam kaitannya dengan lingkungan. Pendidikan seni berfungsi sebagai. Jadi pendidikan seni tidak hanya diberikan sebagai salah satu bidang studi di sekolah formal ada baiknya diberikan pada pendidikan nonformal. mengasah rasa. 1982).

(6) apresiasi. (4) analisis. Pengembangannya disesuaikan dengan perkembangan dengan kebutuhan seni. dan suara sebagai bahasa eksperisi maupun keilmuan. Keseluruhan aspek dalam dimensi ini bersifat berjenjang dan perlu dipelajari murid melalui muatan seni yang beragam. 1975) menerjemahkan perilaku kognitif. Muatan seni tergantung pada karaktersitik bidang seni yang dikembangkan. kerena dapat menguanakan media. gerak. 71 . Wilson (dalam Bloom. teknis dan materi seni. 1990). Pembelajaran akan berhasil jika dalam pendidikan memperhatikan berbagai dimensi perilaku seni. (1) persepsi. Untuk itu motivasi dan minat murid terhadap kegiatan seni jangan dimatikan terutama dalam proses pembelajaran. Berikan kesempatan dan wadah murid dalam mengembangkan diri untuk mengolah kemampuan kreatif mereka dengan cara mengeksplorasi terhadap beragam kosa rupa. (3) pemahaman. Pendidikan seni juga dapat bersifat multilingual dan multikultural. bunyi dan gerak.seni membantu mengembangkan sikap toleransi agar mudah bergaul dalam masyarakat luas dan menghargai hak azasi manusia. afektif. agar murid dapat mengembangkan jiwa mandiri sebagai bekal hidup di tengah masyarakat. Kepekaan rasa dikembangkan dengan memberi kesempatan memahami nilai budaya melalui permainan (Mary. dan psikomotorik menjadi tujuh dimensi perilaku seni yang meliputi. Ketujuh aspek dimensi perilaku seni ini perlu dilatihkan pada murid secara terus-menerus. serta dapat menghagai keanekaragaman budaya. (5) evaluasi. (2) pengetahuan. dan (7) produksi. Sedangkan dalam dimensi profesional maka pendidikan seni menekankan pada penguasaan keterampilan. sehingga proporsi bobot dan setiap aspek yang perlu dicapai akan berbeda sesuai dengan tingkatan pendidikan. rupa.

dan rasa marah. sebagai media eksperisi. sebagai media komunikasi. jika keadaan rasa haus telah berakhir biasanya mengakibatkan rasa gembira yang dinyatakannya dengan senyuman. sebagai media penjelajahan estetis. Menurut Adirozal (2002) general theory of art terdiri dari teori bentuk yakni seni sebagai pure form (bentuk murni) dan expressed form (bentuk ungkapan). teori permainan yakni seni sebagai sara untuk menyimbangkan energi yang berlebih. teori metafisis yakni seni hanyalah sebagai tiruan dari ciptaan Ilahi. Menurut Ramalis (2006) seringkali anak kurang mampu mengeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan. panas. bahasa lisan lebih sulit untuk digunakan mengungkapkan 72 . sebagai media bermaian. Hal itu tampak ketika bayi menangis dan gerakan-gerakan lainnya yang merupukan eksperisi diri untuk diketahui ibunya. yakni. Bagi anak. teori alat yakni seni sebagai sarana untuk keperluan berbagai hal termasuk merangsang berfikir. dan sebagai media membantu penalaran/ berpikir. sebaliknya jika rasa haus belum terpuaskan maka akan terekspresikan dengan sedih atau menangis. dan teori suasana lingkungan yakni seni yang bertalian dengan keadaan masyarakat dan lingkungannya. Ekspresi anak-anak tersebut ditunjukan untuk mencapai keinginan tertentu misalnya menyatakan keadaan dingin. Kegunaan Seni Jika diklasifikasikan maka ada beberapa kegunaan seni bagi manusia. teori pengungkapan yakni seni sebagai sana untuk mengungkapkan perasaan batin.c. rasa haus. Ekspresi tersebut saling berhubungan. sebagai media penyaluran bakat/ hobby. rasa gembira. dapat pula mengekspresikan sesuatu yang tak mengarah kepada suatu obyek melainkan hanya menyatakan perasaan rasa sakit. Ada lima teori seni yang bertalian dengan kegunaan seni bagi manusia. Seni sebagai media ekspresi telah nampak sejak manusia itu lahir. rasa lapar.

maka ekspresinya pun juga berbeda. dan kriya lainnya. Dalám hal ini pikiran. Berkomunikasi merupakan fitrah bagi mansuia sebagai makhluk 73 . Kebutuhan orang dewasa juga berbeda dengan anak-anak. hasil pengulangan atau hasil jiplakan. Perbedaan potensi ini harus menjadi perhatian seorang guru dalam mendorong eksperisi murid. patung. Ekspresi adalah salah satu kebutuhan ruhaniyah/ batiniah individu untuk berhubungan dengan orang lain. Orang dewasa telah mempunyai banyak kosa kata untuk mengungkapkan perasaannya berbeda dengan anak-anak yang terbatas kosa katanya. arsitektur. Sebaliknya ekspresi yang tidak kreatif adalah ekspresi yang tidak menghasilkan nilai-nilai kreatif atau merupakan hasil tiruan. Ekspresi kreatif adalah ekspresi yang mengandung kreativitas. Pengembangan daya ekspresi akan terkait dengan pengembangan kreativitas. Manusia secara alamiah juga terjadi perbedaan antara satu dengan lainya. terutama yang dijumpai dalam kegiatan berolah seni. Oleh karena eksperisi merupakan kebutuhan ruhaniyah manusia maka ekspresi perlu mendapat perhatian dan guru perlu mengembangkannya. Menurut Ramalis (2006) terjadinya ekspresi secara spontan tanpa perintah dari luar. Ekspresi kreatif inilah yang harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran kesenian. Anak-anak lebih banyak dan suka mengeksperisikan disi dengan coretan dan gerak. Potensi seorang murid dengan murid lainnya tidak sama. perasaan dan emosi ikut berperan. seni dapat membantu mengekspresikan idenya. Sebab ada 2 macam ekspresi dan anak yaitu ekspresi kreatif dan ekspresi yang tidak kreatif. Seni sebagai media komunikasi bermakna sebagai penyampaian suatu hasrat sesuatu pada orang lain.isi hatinya. ada yang lebih kuat dan cekatan pada kemampuan berupa gambar.

Jika ditarik pada ranah seni maka berkomunikasi dengan suara dapat diwujudkan dalam bentuk nyanyian atau musik. Berkomunikasi dengan gerak dapat dalam wujud seni tari. gerak dan gambar. Seni yang dihasilkan dari permainan bukanlah milik anak-anak semata. dan randai. Sebahagian seni di Minangkabau lahir dari pengolahan energi yang berlebih. tagak maninjau jarak (duduk berpermainan. Permainan adalah ekspresi tentang hubungan manusia dengan seluruh kehidupan. gerak. tenunan. (Adirozal. dan seni ukir. silat. sulaman. seni patung. energi itu dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif sehingga mengahsilkan karya. Berkomunikasi dengan turlisan dalam wujud puisi. Sebagai media bermain maka seni merupakan bentuk ekspresi bebas yang paling jelas pada anak-anak. orang dewasapun juga dapat melahirkan seni dari cara bermain. 74 . seni anyaman. Teori permainan dalam seni rupa lahir dari adanya kelebihan energi dan ide. kelebihan energi inilah yang mendorong manusia untuk menyeimbangkannya dengan cara bermain-main. dan opera. berdiri meninjau jarak). Sarana berkomunikasi dapat melalui media: suara. seni tari. dan silat. Berkomunikasi dengan berbagai media atau gabungan media suara. dan gambar bisa dalam wujud film. Berkomunikasi dengan wujud gambar melakirkan seni lukis. eksperisi yang dihasikan oleh anak-anak yang paling murni. Sedangkan seni yang dihasilkan dari falsafah tagak maninjau jarak menghasilkan pencak. 2002). Dari kegiatan duduak bapamainan mengahsilkan seni anyaman. drama. Gambar merupakan media komunikasi yang cenderung paling banyak dilakukan oleh anak yang dibentuk dengan bahasa rupa. seni ukir. Mamangan Minangkabau yang melandasi seni itu adalah duduak ba pamainan. novel. dan pantun. karikatur. tulis. pantonim.sosial.

ada yang hanya pada tahap penikmat seni dan ada yang sampai sebagai pencipta seni.Apapun bentuk aktifitas permainan merupakan gerakan-gerakan yang berupaya mencari perpaduan antara proses mental dan fisik. Malah tanpa pernah dikembangkan bakat yang ada akan menjadi pudar dan hilang. Adirozal (dalam Yayah Khisbiyah. dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif ke arah keahlian. Bakat yang terpupuk sejak awal tentu akan jauh lebih baik perkembangannya. Ada yang berbakat seni tari. yakni (1) dari segi perasaan. (3) dari segi sensasi. ada yang seni musik. permainan dapat dikembanngkan dengan latihan-latihan penjiwaan pada seni drama. hanya saja bentuk dan kadar seninya yang berbeda. banyak orang berpendapat bahwa kemampuan berkesenian merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. Kegiatan berkesenian menjadi salah satu sarana untuk memupuk dan mengembangkan bakat. dikembangkan dengan latihan-latihan ritmis pada seni tari dan musik. 2004) menyatakan sebenarnya setiap manusia mempunyai bakat seni. Menurut Ramalis (2006) permainan bisa dikembangkan sesuai dengan 4 fungsi mental. dan ada yang seni rupa. dan (4) dari segi pikiran. sebab sebaik apapun bakat seseorang tanpa pernah diasah dan dikembangkan maka tidak akan berarti apa-apa. Selain sebagai penyaluran hobi maka seni juga sebagai media untuk penjelajaran pengalaman estetis. Maksud dari estetis di sini adalah keindahan yang berkaitan dengan 75 . Sebagai media pengembangan bakat atau hobi seni. (2) dari segi intuisi. Sebuah pendidikan seni yang ideal tentu memberikan kesempatan kepada setiap murid yang berbakat untuk memelihara dan mengembangkan bakatnya sejak awal. Bakat yang baik dalam berkesenian tidaklah cukup. dapat dikembangkan dengan cara mengekspresikan diri pada seni disain plastis atau visual. ed.

melainkan setiap murid harus memeliki kepekaan seni. Dengan baiknya cita rasa estetisnya maka dengan sendirinya ia akan mampu menghargai karya seni baik karya seni 76 . di mana semua manusia memiliki cita rasa keindahan. maka naluri tersebut akan “mati”. Potensi dan naluri itu harus diasah dan dikembangkan terus. jika naluri ini tidak ditumbuh kembangkan. Atau dapat juga murid diajak lansung kepada objek-objek alam dan lingkungan masyarakat sehingga menumbuhkan kepekaan estetisnya. Setiap anak yang telah memiliki kepekaan seni maka cita rasa keindahannya baik.rasa. di antaranya mengajak murid untuk berapresiasi atau menyaksikan dan menghargai karya orang lain. Setiap pribadi murid perlu dikembangkan cita rasa keindahan dalam rangka menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Cita rasa keindahan itu terpusat pada kesenangan dan merupakan pengalaman subyektif yang sulit ditentukan tolak ukurnya. Pernyataan buya Hamka bahwa ‘hidup tanpa seni akan hampa’ tidak dimaksud bahwa setiap manusia/ murid harus mampu melahirkan karya seni. Adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan akan membuat murid dapat menganalisa dan sekaligus merasa. sebab pengalaman estetis itu sebagai vokabulari bagi anak. Setiap murid memiliki naluri dan potensi cita rasa keindahan. Dari banyaknya pengalaman keindahan itu maka ia akan dengan mudah berkarya. Hasil pengamatan dibahas dengan tujuan murid dapat kesenangan sebagai pengalaman subjektif. Untuk menumbuhkan kepekaan seni adalah dengan mengembangkan sikap dan pengalaman cita rasa keindahan. Pengalaman keindahan dapat dibangun dengan berbagai cara. Eastetic experince merupakan pengalaman keindahan yang dimiliki setiap manusia. Bila naluri murid dikembangkan dengan baik maka ia akan memeliki pengalaman estetis yang banyak dan baik.

retorika masuk pada tiga serangkai 77 . dan kemampuan memecahkan masalah. Seni sebagai media membantu kemampuan berfikir atau bernalar hal ini terkait dengan seni merupakan hasil kerja olah otak. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. Karya seni merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. Seni Ukir Awalnya pengelompokan seni (zaman Yunani) berdasarkan satus sosial. astronomi masuk bersama musik ke dalam empat serangkai (quadrium). gerak. atau rupa. sebelum sebuah karya seni dilahirkan maka terlebih dahulu dilakukan analisa yang terkait dengan media yang tepat karya tersebut diwujudkan.dia sendiri atau karya seni orang lain. baik karya bangsa sendiri amaupun karya bangsa asing. Pada zaman pertengahan kelompok seni kelas bangsawan disebut dengan liberal arts yang dilawankan dengan vulgar arts. geometri. Pengelompokan ini menjadi rancu karena aritmetik. yaitu kelompok seni kaum bangsawan (court-arts) dan kelompok seni kelas bawahan (folkarts). dialektik. Setelah ditetapkan salah satu medianya. Dengan demikian kegiatan berkesenian menempatkan rasio sebagai kontrol. bahwa keselarasan antara rasio dan emosi terdapat dalam seni. Apakah media suara. Proses-proses seperti itu akan membantu anak berpikir analisis dan bernalar. proporsi dan bahan yang digunakan. berpikir kreatif. Bahkan Aristoteles mengatakan. misalnya rupa maka berlanjut pada analisis komposisi. dan tata bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam proses berkarya seni. Kelompok seni kaum bangsawan dilindungi oleh dewa sedangkan seni kelas bawahan bersifat kasar. d.

audio arts.(trivium). dan ukiran. perhiasan emas. seni rupa dan disain. 1976). permadani. seni kriya. Sedangkan yang masuk pada seni kriya adalah anyaman. kerajinan kulit. Pembagian seni selanjutnya berdasarkan indera serap manusia yakni visual arts. logam. musik dan kesusasteraan. Kelompok seni kasar disebut minor arts terdiri dari perabotan kayu. seni patung. seni yang tinggi ekspresinya termasuk fine arts dan seni terpakai disebut applied arst. Khusus tentang seni ukir maka bangsa Indonesia telah mulai mengenalnya sejak zaman batu muda (neolitik). dan lengkungan. Kelompok seni yang halus disebut dengan manyor arts yang terdiri dari seni lukis. sulaman. dan pembuatan medali. dan seni musik. Seni rupa terdiri dari seni murni. keramik. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada kapak batu. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis. 78 . tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. (The Liang Gie. Pengelompokkan ini dirasakan juga kurang tepat sebab sebab tidak ada seni yang tidak memiliki ekspresi dan tidak juga ada seni yang tidak terpakai. titik. dan audiovisual arts. seni karawitan. batik. yakni sekitar tahun 1500 SM. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. ukiran manikam. perhiasan perak. dan seni grafis. Jika mengacu pada konsersium seni Indonesia maka pengelompokan seni terdiri dari seni pertunjukan. dan disain komunikasi visual. Kelompok seni yang masuk pada seni murni adalah seni lukis. serta seni multi media (drama telivisi dan film). Pengelompokan seni juga pernah dilakukan atas kandungan daya ungkap atau ekspresinya. tembikar. disain interior. seni teater. tenunan. Seni pertunjukan terdiri dari seni tari. arsitektur. seni pahat. Pernah juga pengelompokan seni berdasarkan pada halus dan kasarnya kerja seni. disain eksterior.

dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu. Ukiran Minangkabau pada umumnya banyak mengambil nama-nama motif dari bentuk tumbuh- 79 . emas. pada pengambilan dan pemilihan suatu motif. Lebih lanjut dijelaskan bahwa seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. batu. jelas sekali bahwa alam dan segala isinya bentuk dan kurenahnya menjadi sumber ilham bagi para seniman. Babylonia. d. Pengertian ukiran menurut Van Houve dalam Ensiklopedia Indonesia adalah ukir mengukir. c. bambu. Risman Marah (1988) menyatakan ukiran adalah sesuatu yang diukir atau dipahatkan yang tidak bisa dipisahkan dengan motif-motif. serta binatang maupun manusia. topeng. tumpal. Persia. batu. Assyiria.dengan bahan tanah liat. b. atau bahan-bahan lain. Hal ini dapat dilihat dari sejarah seni rupa. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yaitu menggunakan bahan perunggu.30 WIB). dan Indonesia.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia. Tumbijo. penempatan motif. ciri-ciri ukiran. (http://www. India. kayu. Yunani. pilin berganda. 1985). diambil 8 Maret 2010 pukul 16. Hanya saja dalam pengolahan dan penerapannya terdapat perbedaan yakni: a. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor.blogster. kulit. dan f. Dt. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander. Islam. gerak garis dasar. perak dan lain sebagainya. Motif ukiran yang mengakat atau menstilisasi dari bentuk alam berlaku di manamana. penggambaran dan pengukiran motif. menggoreskan huruf-huruf dan gambar pada plat-plat dari kayu atau logam sedemikian rupa. seni Mesir kuno. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu. yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. ( HB. baik seni primitif Afrika.

pahat sudu (pahat sodok). pisau rencong. Alat ukir tradisional Pandai Sikek terdiri dari pahat layang-layang atau pahat siku.tumbuhan dan binatang. Jadi model pembelajaran merupakan inti atau jantung dari strategi mengajar. pahat korek lubang disamping pahat rencong. Menurut Joyce dan Weil (1980) 80 . Walau ada yang ditatahkan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam. Dari berbagai difinisi dan teori model itu menjadi acuan dan pedoman untuk melihat atau menemukan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Menurut Ibenzani (1985) pahat ukiran Minangkabau yang paling tua usianya bernama pahat rencong. namun ada juga yang diambil dari kata-kata adat. dan juga tidak ditujukan untuk menguji model yang telah ada. Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. Menurut Zulhelman (2000) motif-motif Minangkabau bersumber dari alam yang berangkat dari falsafah orang Minangkabau yaitu alam takambang jadikan guru (alam terkembang menjadi guru). namun dalam hal ini tidak dimaksud untuk membahas bermacam-macam teori model. Peralatan ukiran Minangkabau tidaklah sebanyak pahat ukiran Bali dan Jepara. Menurut Elizar (2008) model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Kayu yang banyak digunakan di Minangkabau terutama di Pandai Sikek sampai saat ini adalah kayu surian. 5. Model mempunyai makna yang lebih luas dari sekedar metode dan strategi pembelajaran. Model Pembelajaran Beragam difinisi dan teori yang dikemukan mengenai model pembelajaran. dan nama makanan.

yakni urutan kegiatan atau langkah-langkah pembelajaran. sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertintak berdasarkan model itu. dan memfasilitasi potensi-potensi murid. memotivasi siswa untuk belajar. membentuk kelompok siswa untuk suatu pelajaran dan memberikan tes kepada siswa. Walau ada yang menyamakan antara model dengan teori tapi ada perbedaannya yakni bahwa model berasal dari asumsi-asumsi yang disederhanakan. Pendapat Bell ini secara umum dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dapat ditetapkan pada beberapa subjek. Suherman (1993) mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas. nilai. Jadi model merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem. mengatur tingkah laku siswa. mendorong. ide. Pendidikan dan pembelajaran merupakan aktivitas dalam upaya membangkitkan.hakekat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi. cara berpikir. Bell (1981) menyatakan bahwa A teaching/learnng model is a generalized instructional process wich may be used for many different in a variety of subjects . Menurut Mills (1989) model adalah bentuk repsentasi akurat. kelima unsur itu menurut Bruce Joyce (1994) adalah: (1) sintaks. (2) sistem sosial. yakni menguraikan peranan pendidik (guru) dan peserta didik serta aturan-aturan yang diperlukan dalam interaksi sosio- 81 . dan cara bagaimana belajar. Sebauah model akan baik dan berarti jika di dalamnya terdapat lima unsur. keterampilan. Winatapura (2001) menyatakan bahwa model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang dipergunakan untuk mendapatkan pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. Guru harus tahu bagaimana mengadaptasi pengajaran terhadap tingkat pengetahuan siswa. Pembelajaran yang efektif tidak sekedar mengajar dengan baik.

keadaan dan fenomena yang ada berdasarkan kajian terhadap teori-teori pendukung. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukan di atas maka model yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan suatu keadaan yang menyeluruh dalam mengorganisasi pendidikan atau pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman guna mencapai tujuan.kultural. (3) prinsi-prinsip reaksi. 7) menyusun draf model. dan 9) menghasilkan model. 2) menetapkan tujuan penyusunan model. Dalam menyusunan sebuah model ada langkah-langkah tertentu yang dilakukan. Menurut Taba (1962) dan Sukmadinata (2005) langkah-langkah itu adalah: 1) menjelaskan fenomena yang berlaku saat sekarang. yakni memberikan gambaran kepada pendidik tentang cara memandang atau merespon pertanyaan-pertanyaan siswa. langkah-langkah dan unsur- 82 . yakni kondisi yang diperlukan agar model dapat terlaksana secara efektif dan efisien. 3) mendeskripsikan aspek-aspek yang terkait dengan masalah yang akan disusun sebagai modelnya. 5) mengelompokkan data. Menurut Bastian (2009) sebuah model dapat dianggap baik apabila mampu memberikan gambaran yang tepat tentang hubungan-hubungan antara fenomena yang terjadi dengan aspek-aspek yang ada pada suatu hal keadaan benda. 4) mendeskripsikan keadaan yang terjadi saat ini. Pendapat. yakni pengaruh langsung dan tidak langsung yang dialami peserta didik saat penerapan model. 6) melakukan analisis hubungan antara aspek-aspek. Model yang baik juga hanya akan terwujud ababila disusun berdasarkan kajian-kajian yang kompreherisif terhadap data yang ada dan telah divalidasi. dan (5) efek instruksional dan pengiring. 8) melakukan validasi terhadap draf model. (4) sistem pendukung.

unsur yang mesti terkandung dalam penyusunan model yang dikemukan akan dipedomani. Perkiraan Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Harkat dan Martabat Manusia Tujuan Pendidikan Guru Seni Ukir Proses Pembelajaran Murid Penerapan high touch high tech Tahapan Pembelajaran pre. post Evaluasi Hasil Belajar Murid yang jadi guru seni ukir Tukang Ukir Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Tujuan Pendidikan Harkat dan Martabat Manusia 83 . while.

Sejalan dengan itu Nasution (1992:18) menyatakan penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. analisis data. Adapun metode penelitian yang dimaksud adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penelitian. Selain langkah-langkah pokok yaitu pengumpulan data. (4) teknik pengumpulan data. dan penyajian hasil penelitian. Untuk mewujudkan hasil penelitian yang baik diperlukan metode penelitian yang tepat. naturalistik atau alamiah. Moleong (1998) adalah sebagai prosedur 84 . bentuk penelitian. Hakikat penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1992). perspektif ke dalam. data dan sumber data. dan (6) penyajian hasil penelitian A. etnometodologi. dan evaluasi pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional itu akan disajikan secara diskriptif. interpretif.METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kualitatif model pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek. Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. studi kasus. etnografis. dan deskriptif. Menurut Moleong (1998:3) ada juga yang menyatakan penelitian kualitatif ini dengan istilah inkuiri. interaksionis. Dalam bab ini secara berturut-turut diuraikan hal-hal tentang (1) bentuk penelitian. fenomenologis. (5) analisis data. (2) lokasi penelitian. pada bagian ini dikemukakan pula hal-hal yang berkenaan dengan paradigma penelitian. (3) data dan sumber data. bukan kuantitatif (angka-angka). penentuan lokasi penelitian. teknik. simbolik. ekologis. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif (kata-kata). Bentuk Penelitian Penelitian ini berbentuk kualitatif yang sering dilawankan dengan penelitian kuantitatif. Materi.

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Selanjutnya Moleong mengutip Jerome Kirk dan Marc L. Miller yang mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasan sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 1998:3). Sugiyono (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif muncul karena adanya perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala. Paradigma realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Paradigma demikian disebut dengan paradigma postpositivisme. Paradigma penelitian sebelumnya disebut positivisme di mana memandang gejala lebih bersifat tunggal, statis, dan konkrit. Paradigma positivisme mengembangkan penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma postpositivisme mengembangkan penelitian kualitatif. Penelitian ‘Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisonal di Pandai Sikek’ tidak dimaksudkan memberikan perlakuan kepada subyek terteliti, tetapi hanya mendiskripsikan hal-hal yang dilakukan oleh subyek terteliti dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari, baik yang dilakukan oleh guru maupun reaksi murid. Diskripsi dilakukan setelah data yang ada terlebih dahulu dikaji dan ditelaah. Pristiwa pembelajaran pada sanggar seni ukir tersebut merupakan perilaku sosial sehari-hari yang dilakukan oleh guru dan murid. Dimyati (1996) mengemukakan bahwa penelitian yang berkaitan dengan peristiwa sosial akan mudah dijaring datanya jika diletakkan pada salah satu kuadran peta paradigma sosiologi Ritzer. Kuadran keempat Ritzer yaitu kuadran untuk melihat suatu

85

peristiwa interaksi sosial terutama perilaku guru dan murid yang terjadi dalam proses pembelajaran seni ukir baik di dalam sanggar maupun di luar sanggar, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Sugiyono (2009:285) bahwa dalam pandangan penelitian kualitatif gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisahpisahkan), tidak ditetapkan berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity). Untuk memperoleh data yang secara holistik maka dilakukan penelitian bentuk diakronis yaitu meneliti dengan melihat perkembangan objek. Proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek telah berlangsung semenjak tahun 1920-an, sedangkan sanggar atau studio seni ukir berdiri pada awal tahun 1970 oleh Ramli Dt. Rangkayo Sati. Data yang dapat dihimpun dimulai semenjak guru sekarang menjadi murid Ramli Dt. Rangkayo Sati, kemudian mereka sebagai guru, dan murid-murid seni ukir sekarang. B. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Sebelum diberlakukannya PERDA Nomor 9 tahun 2001 tentang sistem pemerintahan terendah di Sumatera Barat, maka Pandai Sikek pernah dalam bentuk desa. Sekarang Pandai Sikek merupakan sebuah kenagarian, di samping sebagai daerah teritorial

administrasi pemerintahan terendah maka nagari juga merupakan teritorial budaya/adat. Apa bila desa merupakan satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan di daerah lainnya di Indonesia, maka kenagarian adalah satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan Sumatera Barat. Hal ini dibenarkan dengan diberlakukannya Undangundang No 32 tahun 2004 tentang sistem otonomi daerah.

86

Lokasi penelitian meliputi

kenagarian Pandai Sikek. Ada beberapa alasan

menetapkan kenagarian Pandai Sikek sebagai lokasi penelitian. 1. Penetapan lokasi ini mengingat kenagarian merupakan daerah teritorial sebagai pendukung budaya Minangkabau. Seni ukir sebagai objek penelitian merupakan warisan budaya berada dalam kewilayahan kenagarian Pandai Sikek. Seni ukir yang oleh masyarakatnya dirasakan sebagai milik bersama, walau yang membuatnya tidak seluruh masyarakat Pandai Sikek (empat buah sanggar). Sebagai bukti bahwa seni ukir yang ada pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menjadi budaya masyarakat setempat maka gaya ukiran tersebut dinamakan ‘ukiran Pandai Sikek’ (Ibenzani Usman, 1985) 2. Sebelumnya tiga wilayah seni ukir Sumatera namun Barat sekarang yang memiliki tetap gaya eksis dan atau

mengembangkan

yang

berkesinambungan hanyalah Pandai Sikek. Dua daerah lain yakni gaya IV Angkek Candung ( untuk Payakumbuah) dan gaya Banuhampu Sungai Puar (Agam) tidak terlalu baik pembinaan pendidikannya atau hampir tidak ada generasi muda daerah ini yang belajar seni ukir. Malah sebahagian sanggar seni ukir dua daerah ini telah banyak berubah fungsi pada kegiatan pembuatan perabot. 3. Di daerah Pandai Sikek sampai saat ini masih banyak generasi muda yang berminat dalam mewarisi seni ukir. Ada beberapa generasi muda Pandai Sikek yang masih mau belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 4. Secara historis penduduk Pandai Sikek merupakan satu kesatuan yang sama yakni luhak Tanah Datar. Kenagarian Padai Sikek bahagian dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua di Minangkabau. Sebagaimana dinyatakan

87

dan seni ukir. tokoh budaya (adat) setempat.dalam berbagai tambo Minangkabau yang dibahas oleh beberapa penulis (Navis 1984. Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini digunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. Kedua data itu saling terkait dalam pengolahan hasil penelitian. murid seni ukir. Data primer adalah data yang didapat langsung dari tangan pertama. dan lembaga yang pernah membina sanggar seni ukir Pandai Sikek. karena di daerah ini terdapat berbagai aktivitas kerajinan rakyat seperti tenun. 88 . Surakhmad. sedangkan data sekunder adalah data yang dikutip atau didapat dari sumber lain. Data primer didapat dari pelaku yang terlibat langsung sebagai pemilik budaya. Kenagarian Pandai Sikek menjadi salah satu objek wisata budaya Sumatera Barat. Datuk Sanguno 1987. (Moleong. Datuk Rajo Panghulu 1997. dan tokoh masyarakat. 1990). intansi pemerintah (lembaga pendidikan formal yang mengajarkan materi seni ukir). C. Data primer juga diperoleh dari dinas. 1998. Sebagai daerah yang terbuka tentu akan banyak perubahanperubahan namun di Pandai Sikek sanggar seni ukir tetap bertahan sebagai salah satu identity etnic. Walau mobilitas penduduk di kenagarian cukup tinggi (objek wisata budya) namun penduduk masih homogen. 5. guru seni ukir. songket.

Data sekunder diperoleh dari foto. secara sistematis dan tidak mencolok. dan studi kepustakaan atau analisis dokumen. dan dinas atau instansi terkait. dan aparatur pemerintah. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi langsung. Wawancara dilakukan untuk menggali data yang tidak dapat diamati atau diobservasi. Pedoman dan penuntun atau instrumen penelitian dalam melakukan observasi dan wawancara adalah pedoman wawancara. Konsep pengamatan terlibat sama dengan participant observation yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1992:23) yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan diri di dalam lingkungan subjek. camat. Observasi Teknik observasi atau pengamatan merupakan cara untuk mengamati prilaku dan benda-benda yang berkaitan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. kamera (photo film). 89 . Alat-alat tersebut terlebih dahulu diukur tingkat reabilitas dan validitasnya agar data-data yang diperoleh lewat instrumen itu benar-benar sahih. Masing-masing instrumen yang digunakan disesuaikan dengan standar yang berlaku umum. 1. Observasi dan pengamatan dilakukan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. buku-buku atau literatur baik hasil penelitian maupun tulisan lainnya yang berkenaan dengan pendidikan dan seni ukir. dan tape recorder. buku catatan. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru dan murid yang ada pada sanggar seni ukir. Juga data-data di kantor kanagarian. Wawancara juga dilakukan dengan komponen terkait seperti budayawan. sedangkan studi kepustakaan dilakukan pada perpustakaan resmi dan pribadi. wawancara. D. tokoh masyarakat.

pengrajin (murid/karyawan) sanggar seni ukir. SMK Negeri 8 Padang. Survei dilakukan dalam upaya pendekatan atau memperkenalkan diri dengan tokoh masyarakat. dan setelah itu pada tokoh budaya atau masyarakat yang terlibat pada pembinaan seni ukir. guna memperoleh kepercayaan dari subjek penelitian. seperti pandangan dan pendirian manusia. dan pendirian secara lisan dari subjek dilakukan melalui wawancara. wawancara tidak berencana. Proses tanyajawab antara peneliti dengan subjek penelitian untuk mendapat data keterangan. oleh Koentjaraningrat (1994) diklasifikasikan ke dalam wawancara berencana. guru (pimpinan sanggar) seni ukir. dan Juni 2010. Perbedaannya terletak pada pada persiapan oleh peneliti tetang materi dan informan yang 90 . dan wawancara sambil lalu. kemudian murid. Obsevasi yang intensif direncanakan dilakukan pada bulan April. Observasi terlebih dahulu dilakukan pada informan kunci yakni guru seni ukir. Wawancara Wawancara merupakan teknik yang sangat mendukung dalam pelaksanaan observasi. Teknik ini sangat penting untuk mendapat data yang tidak dapat ditangkap melalui pengamatan. Observasi juga dilakukan pada pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir yaitu SMK Negeri 4 Padang. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. 2. Ada beberapa bentuk wawancara. Mei. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP.sehingga tercipta suatu priode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dengan subjeknya. pandangan. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. Operasionalisasinya diawali dengan survei lapangan baik sebelum proposal dibuat dan saat pembuatan proposal. Pengamatan dilakukan pada sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek (tempat berlansungnya pembelajaran).

Pelaku kebudayaan adalah guru dan murid seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe yang kedua atau terbuka. Rangkayo Sati yang masih hidup dan tidak lagi mengukir di Pandai Sikek. yaitu pelaku kebudayaan. Komponen pelaku kebijakan terdiri dari aparat pemerintah yang berperan dalam 91 . Sementara wawancara tidak berencana tidak dilengkapi dengan daftar pertanyaan yang berlaku ketat. Wawancara terencana ditandai dengan adanya daftar pertanyaan yang tersusun untuk diajukan pada responden.akan diwawancarai. Jadi penentuan informan tidak berdasarkan teknik penghitungan secara kuantitatif. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan atas tiga komponen. Pengumpulan data dimulai dari seorang informan pangkal yang dapat memberi petunjuk tetang individu lain yang tepat dan layak untuk diwawancarai sehubungan dengan topik penelitian. tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui tentang adat dan budaya umumnya dan khususnya seni ukir Sumatera Barat. sedangkan tipe ke dua memberi kebebasan kepada reponden untuk menjawab secara luas dengan bahasanya sendiri. Teknik wawancara sambil lalu termasuk ke dalam wawancara tidak berencana dan informan juga tidak diseleksi secara ketat terebih dahulu. pelaku kebijakan. dan pelaku pendidikan. Informan ditetapkan secara purposive berdasarkan teknik snowball sampling. Keseluruhan teknik wawancara dibedakan menjadi wawancara tertutup dan wawancara terbuka. misalnya JK Dt. Dalam hal ini termasuk murid-murid Ramli Dt. Bangso Rajo di Padangpanjang. Dengan teknik snowball sampling informasi berakhir pada kejenuhan informasi tetang pokok soal yang ingin diketahui. Pertanyaan yang membatasi jawaban yang diberikan responden termasuk ke dalam tipe pertama.

Motivasi mereka mengajarkan masing sanggar seni ukir akan 2.C. Ketentuan sudah bisa dinyatakan pandai atau ahli ukir Untuk guru-guru seni ukir sekarang • Masing. Rangkayo Sati • Waktu Keterangan Sanggar A.idem 1. 3. Perbedaan antara mereka amat dengan guru mereka dalam tergantung mengajar dan materi yang kejenuhan data 92 . Cara mereka mengajar/ diobservasi dan mentransper keterampilan diwawancarai mengukir 2 x pertemuan.B. Cara guru mereka dulu pertemuan objek mengajar / mentransper materi tidak pertama dan 3. Materi dan tahapan yang mereka lakukan dalam mengajar • 1x 4. Penggalan materi setiap amat lapangan tahapan tergantung • Jumlah 5. Cara guru mereka dulu ditetapkan seterusnya mengevaluasi/ menentuakan lama tergantung materi tambahan waktumya situasi 4. Jadwal dan waktu-waktu lama mereka mengajarkan seni ukir waktumya 6. dan D Materi Observasi/ Wawancara Untuk guru seni ukir ketika mereka jadi murid Ramli Dt.C. diobservasi ketika mereka jadi murid tidak dulunya • Satu kali ditentukan 2. Tempat mereka dulunya kejenuhan data guru seni ukir belajar dan syarat untuk yang akan 4 orang menjadi murid diambil.B.mengambil kebijakan sehubungan dengan pembinaan sanggar seni ukir Pandai Sikek. Sementara komponen pelaku pendidikan adalah guru-guru pada sekolah formal. Rencana jadwal observasi dan wawancara Sasaran Sanggar A. dan D Masing. 6. Cara mereka mengevaluasi baik pertemuan untuk menambah materi tidak maupun menentukan telah tamat ditetapkan 5. Bahan/ materi yang diwawancarai ar ukir yang diterima guru seni ukir sekarang 2 x pertemuan.• Daftar masing sanggar pertanyaan akan disiapkan diobservasi dan • Sangg 1.

B. Kepuasan atas penilaian guru atas prestasi mereka • yang akan diambil. Pandangan mereka terhadap proses pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek 3.C. dan D Untuk murid-murid seni ukir sekarang 1. Masingmasing sanggar akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Lembaga yang dituju dinas-dinas kabupaten Tanah Datar terkait dan lembaga pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir 3. Harapan mereka terhadap diwawancarai proses pendidikan pada sanggar 1 x pertemuan. Usaha-usaha yang telah lembaga akan pemerin dilakukan diobservasi dan tah 3. Studi Kepustakaan 93 . Idem Jumlah murid untuk 4 sanggar ukir sebanyak 55 orang • Tokoh 1. Harapan mereka terhadap kesinambungan seni ukir Pandai Sikek Lembaga 1. Pandangan mereka terhadap Masyarakeberadaan seni ukir Pandai kat/ budaSikek yawan 2.diberikan Sanggar A. Peran mereka dalam membina • Masin atau sanggar seni ukir Pandai Sikek g-masing intansi 2. Cara mereka belajar 3. Motivasi mereka belajar seni ukir 2. • Masin g-masing informan akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. seni ukir di Pandai Sikek 1x pertemuan tidak ditetapkan lama waktumya amat tergantung kejenuhan data yang akan diambil.

Analisis data menggunakan metode kualitatif terutama yang didapat melalui wawancara. Penggunaan sumber ini karena tidak semua data dapat ditangkap melalui observasi dan wawancara. Analisis Data Menurut Syahron (2009) pengolahan dan analisis data dalam penelitian kualitatif sesungguhnya dimulai dengan mengorganisasikan data. sistem klasifikasi kronologis yang mencakup jumlah keterangan yang terkumpulkan dan menunjukkan 94 . rekaman terhadap proses dan fenomena sosial yang berkaitan dengan seni ukir Pandai Sikek dijadikan sebagai sumber data. mendokomentasikan analisis. E. Menurut Wuisman (1996:300). Data yang diperlukan adalah yang sehubungan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar di Pandai Sikek. data statistik. dan analisis dokumen termasuk didalamnya. Untuk itu dalam analisis ini maka data yang telah didapat terlebih dahulu dipilah dan dipilih atau diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian.Studi kepustakaan merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan data penelitian. program-program. Data yang valid dan relevan dengan penelitian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. Lebih lanjut dinyatakan bahwa dengan mengorganisasikan data dengan rapi memungkin untuk memperoleh data yang baik. tulisan/dokumen. Dokumen tersebut berupa perda-perda. dan observasi atau pengamatan proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek. analisis data kualitatif adalah teknik pemadatan data dengan cara mengembangkan taksonomi. Tulisan-tulisan. Khusus tentang dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah kebijakan yang terkait dengan pembinaan seni ukir di Pandai Sikek. dan kliping surat kabar. dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.

yaitu reduksi data. yakni memasukkan atau menghubungkaitkan teori-teori yang telah ada atau yang dikemukakan pada bab 2. dan selektif (menyeleksi kategori yang paling mendasar. langkah-langkah analisis data yang dimaksud dilakukan dengan reduksi data. menganalisis kata. dan memvalidasi hubungan tersebut). sub kategori). 2009) yakni melakukan koding baik terbuka (mengidentifikasi kategori-kategori). penyajian data. Sesuai dengan data yang diperlukan dan metode pengumpulan data tersebut. Selain itu juga likakukan pengembangan kepekaan teoritis dengan cara mengembangkan pertanyaan-pertanyaan. frase. dan penarikan simpulan/retifikasi. Secara operasional.keterkaitannya secara sistematis. 1992:19). penyajian data. dan kalimat. karena 95 . analisis data kualitatif dilakukan dengan tiga langkah sistematis secara jalin menjalin (Miles. aksial (mengorganisasi data dengan cara mengkoneksikan antara kategori. dan penarikan kesimpulan. Kepekaan teoritis ini dilakukan pada saat menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. menghubungkan kategori. Proses analisis ini dapat digambarkan : Pengumpulan data Penyajian data Reduksi data Simpulan/retifikasi Sebelum penarikan simpulan terlebih dahulu akan dilakukan langkah-langkah yang disarankan oleh Strauss dan Cobin (dalam Syahron. Menurut Syahron (2009) menganalisis data membutuhkan kepekaan teoritis.

96 . Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentu laporan ilmiah yang berupa disertasi. F. peneliti sesungguhnya sedang melakukan upaya mengembangkan teori.dalam proses menganalisis data. atau berteori. yang uraiannya terdiri dari beberapa bab. Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif interpretatif. Masing-masing bab terdiri dari beberapa subbab dan beberapa subbab di antaranya terdiri dari sub -subbab yang disesuaikan dengan kebutuhan. artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori dan kerangka pikiran yang berlaku umum.

Curahan Adat Alam Minangkabau.K. Belajar dan Pembelajaran. 2008. Dialektika Minangkabau Dalam Kemelut Sosial dan Politik. Bukittinggi: CV. Kritik Seni Rupa dan Seni Kriya. “Model Pengembangan Kompetesi Guru Melalui Pelatihan Dalam Jabatan”. 2004. 2007. Filsafat Agama. Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial. ASKI Padangpanjang. ------. 1999. No 2 bulan September. 2002. Padang : Genta Singgalang Press A. “Peranan Seni dan Budaya Minangkabau Dalam Pembangunan Pariwisata” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. ASKI Padangpanjang. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Alam Terkembang Jadi Guru. R. Cultural Studies. Padang: UNP Press. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. 16-30. Yogyakarta: B.DAFTAR PUSTAKA A. 2007. The Standar for Fungtional Life Skills Curriculum. Wacana dan Praktek untuk Toleransi Pluralisme Budaya. 1987.5 bulan Mei. Delaware Departement of Education 2000. 2009. dan EkonomiPariwisata” dalam Sri Krisnanto (Ed). Azhari Abdullah. R. Bandung: Alfabeta. Jakarta : PT. Bogdan. hal. Padang: Pascasarjana UNP Anas Sudijono. Bakhtiar Amsal.J Taylor 1992. 97 . S. Adirozal. Pengantar Evaluasi Pendidikan.A Navis. 1997. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bogdan. 2009. 1982. (ed). Gaya Hidup.1986.C. Seni Kriya dan Kearifan Lokal dalam Lintas Ruang dan Waktu.I.A Navis.C and S. “Kriya Gerabah Andaleh: antara Pelestarian. Pendidikan Apresiasi Seni. Disertasi. Barker. ------.D ISI Yogyakarta Adolf Bastian. Abdul Azis Wahab. Bandung: Alfabeta. ------. 2009. “Apresiasi Sekolah Dasar Agama Sumatera Barat” dalam Yayah Khisbiyah (ed). 2004. “Pembuatan Gerabah di Desa Galogandang Tanah Datar” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. dan Biklen. No. New York: The Datuk Sangguno Dirajo. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Muri Yusuf. Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. Daleware. Jakarta: Grafiti Prss. Raja Grafindo Persada. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Metodologi Penelitian. Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Pustaka Indonesia. Dove. Adult Education Procedures. Surakarta: PSB-PS Universitas Muhammadiyah Surakarta. A. Surabaya: Usaha Nasional. Aunurrahman. Chris. 1984.

Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia .A. 2009.A. H. Frankel. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1997. Jakarta: Rineka Cipta. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. -----. 2005. UU. Pendidikan. Gerungan. Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan. -----. 98 .Departemen Agama Republik Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1983. Karunia.Teresco. Jakarta: Adicita Karya Nusa. 1987. Jakarta: Buni Aksara. Teori Motivasi dan Pengukuran Analisis di Bidang Pendidikan. “Ukiran Mesjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar. Disertasi. 1999. Idrus Hakimi Dt. 1985. SP. Jakarta: Diknas Direktorat Dikdasmen. New York: McGraw-Hill. Denpasar: Universitas Udayana. Howe. Yogyakarta: STSRI-ASRI Yogyakarta. Harisman. Hamzah B Uno.RI. 2002. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. 2000. Psychologi Sosial. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta: Buku Kompas. 1999. W. Rineka Cipta. Jakarta: DEPDIKNAS. Seni Kerajinan Mabel Ukir Jepara. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup di SMP. 2004. Manifesto Pendidikan Nasional. 2001. Gustami. Fasli Jalal (Ed). 2001. “Seni Ukir dan Masalahnya”. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. dan Makna”. and Norman E. Jakarta : Panji Masyarakat. Jogyakarta: Kanisius. Filsafat Ketuhanan. Ibenzani Usman. Wallen. -----. -----. 2001. Bandung : Institut Teknologi Bandung. Hamka. I Wayan Ardika. 2000. Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pola. How to Design and Evaluate Research In Education. Semarang: PT Karya Toha Putra Depdiknas (2003).R Tilaar. Djohar. 1993. Rajo Panghulu. Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural. Michael J. Islam dan Adat Minangkabau. Jack L. Jakarta: PT. Al Quran dan Terjemahannya. Kebudayaan. Yogyakarta: Pusta Pelajar. 1999/2000. Bandung: P. J Daeng. SP. dan Masyarakat Madani Indonesia. “Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. Materi matrikulasi S2 Kajian Budaya Universitas Udayana. 1984. The Psycholgy of Human Learning. “Warisan Budaya dan Globalisasi”. Dimyati dan Mudjiono. Hamka. 2000.A. Publishers. 2008. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. Tesis. Bali. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. (1981). Propinsi Sumatera Barat: Kajian Bentuk. 1980. New York: Harper & Row. dan Fungsinya”. Fungsi. Hans.1999.

Bandung : Tarsito. Sumatera Barat. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. dan Huberman. Jakarta : PT. Teori Budaya. A. Padang: FKPS IKIP Padang. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Gramedia Pustaka Utama. Manner 1999. B dan Marshal Well. Joice. Naturalistic Inquiry. 2001. Dirjen PT. 2002. Muchtar Naim. Mukhtar Buchori. Museum Aditiawarman 1982. Psikologi Belajar. Meredith. Moleong.S dan Guba. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Mustofa Kamil. Padang : Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang. Pengantar Antropologi I dan II. David dan Albert A.B. Koentjaraningrat. “Kumpulan Makalah Penilaian dan Evaluasi Pendidikan Dalam Berbagai Seminar dan Pelatihan”. 2006. M. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Manajemen Sumbar Daya Manusia. ----.G. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1976.(ed). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Zaim. M. Jakarta: Bulan Bintang. Bandung: Alfabeta. Kebudayaan Mentalitas Pembangunan. 1999. Geoffrey G. Mardjani Martamin. 1983. Pendidikan Formal Pengembangan Melalui PKBM di Indonesia (Sebuah Pembelajaran Dari Komonikan Jepang). Lexy J. 1998. Jakarta: Rineka Cipta. Inc Illinios. Mulyasa. 1994. 1986. London: Sage Publication. -----. Nana Sujana. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. P2LPTK. John R. Remaja Rodakarya. 2009. Penilaian Hasil Balajar. Jakarta: STIA-LAN PT: Bina Aksara. Second Edition Chas. Dasar-dasar Falsafah Adat Minangkabau. 1999. Gramedia. Muhibbin Syah. 1996. M Nasroen. Irawan Prasetya. 1985. 2009.Imam Sodikoen. Kompas Linbeck. “Catatan-catatan Tentang Minangkabau dari Encylopedia voor Nederlands Oust Indie”. Mohammad Ansyar. 1993. Jakarta: Depdikbud. Model of Teaching. 1979. E. 2005. 1971. “Pembelajaran dan Evaluasi Seni”. A. Notes on Educational in Indonesia. 1985. Kaplan. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Analisis Data Kualitatif (terjemahan) Jakarta: UI Press. makalah. Metode Penelitian Kualitatif. New Jersey: Prensentece Hall Inc. Y. 99 . Bennett Co.M. Jakarta: The Jakrta Post & The Asia Fondation. Mills. Lincolc. “Ragam Ukiran Rumak Gadang Minangkabau”. Bandung: PT. Jakarta: PT. “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nasional” Padang: Singgalang Press. Basic Crafts. Jakarta : Pustaka Binaman. 2005. 2000.

Skripsi. Jakarta: DEPDIKNAS. Sosok Keilmuan Pendidikan. 1987/1988. Sugiono. Oemar Hamalik. Bandung: Alfabeta. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar . Sedya Tuwana Sudikan. 1981. “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci. Malang: Pascasarjana UNM. 1992. Nofrial. Malang: YA3 Seabury Press. Wayan dan P. Padang. 1987. Rusli Amran.K. 2001. Diambil 5 Januari 2007. Surabaya: Citra Wacana Spradley P. 1999. Padang. 2005. “Tinjauan Seni Kriya (Eropa dan Amerika Serikat). Jakarta: Jemmars. 100 . DEPDIKBUD. ca/culture.based. Bandung: Tarsito. Metode Penelitian Kebudayaan. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Jakarta: Sinar Harapan. Sanapiah Faisal. 2004. Nasbahry Couto.1963. Kurikulum 2004: Kerangka Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. Jakarta: Proyek Pengembangan Kebudayaan. “Ragam Hias Minangkabau”. Bandung: Jemmars. Metode Etnografi. dan Sekolah Katolik Mardi Wiyata II Malang”. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Prayitno. 1990. Evaluasi Pendidikan. Pannen. Pemahaman Bahasa Seni Rupa Modern”. Levi C. Kajian Estetika dan Budaya”. 2008. pada Fakultas Bahasa. makalah. Kriya STSI Padangpanjang. Disertasi. Padang: FIP. Padang: Seminar Nasional Jrusan Seni Rpa FBSS UNP. Sanapiah Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid Di Kabupaten Kerinci”. UNP Padang. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. -----. Jakarta: PT Bima Aksara. Jogyakarta: Institut Seni Indonesia.Tiara Wacana Strauss. Metode Penelitian Kualitatif. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. 2000. Kriya STSI Padangpanjang. 2006.04.1997. 2002.education2.newteachersnwt. Sosiologi Pendidikan. (2000).. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. 2009. “Strategi Pembelajaran Bidang Studi Kerajinan Tangan dan Kesnian: Studi Multi-situs pada Madrasyah Ibtidaiyah Negeri MalangI.Nasbahry Couto. NWT Teacher Induction. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem . Nasution. Buku 2. Pengembangan Aktivitas Instruksional. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP.Universitas Negeri Padang Puskur. Risman Marah.html. (2001). Sastra dan seni. www. “Gaya Dalam Seni Rupa. 2008. Nasution. DEPDIKNAS. 2004: “Culture-based Education”.P. Tesis. “Pendidikan Seni di masa Depan (Melihat Paradigma baru dalam Pendidikan Seni)”.James. 2005. Paulina D. New York: Basic Books Suardi Sandi.K. Yogyakarta: PT. Sekolah Dasar Negeri Percobaa I malang. Padang: FIP-Universitas Negeri Padang Prayitno.. Nurkancana. Structural Antropology. 2008. Ramalis Hakim.N Sumartana. 1986. Nasution. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif.

Umar Junus dalam Koentjaraningrat (Ed). Yogyakarta: ASRI Yogyakarta. (2006). Syahron Lubis.. 1997. 1977. Potensi Lokal Dalam Proses Kreatif-Apresiatif” makalah. Prenciples and Fundations. Winata Putra.Sugiono. 2005. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Zais. dan R&D. Garis-garis Besar Estetik. 1949. Jakarta: Bumi Aksara. Umar Kayam. Pengembangan Sumber Daya Manusia.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia) 101 . Bandung: Alfabeta. Tersedia. Ralph W. Suharsimi Arikunto. Robert S. 2009. online: http://www. Ethaca London: Cornel University Press. MemahamiPenelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Strategi Pembelajaran. ”Penelitian Kualitatif Analisis dan Intrepetasi Data”. (http://www. 2008. PUBIB: Yogyakarta Tyler. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Chicago and London: The Unversity of Chicago Press.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran).blogster. Supriono. Suwaji Bastomi. “Pendidikan Seni Dalam Konteks Lokal Genius. 1981. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Seni Tradisi Masyarakat. The Liang Gie. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.org. Sumianto A Sayuti. 1971. Paradigma Baru Pendidikan. Waras kamdi. “Perkembangan Seni Kriya”.psb-psma.unisosdem. Curriculum. 2009. “Pendidikan Seni di Sekolah: Proses Harmonisasi Kecerdasan” makalah. “Pendidikan Dalam Keluarga” dalam Jurnal.. Kualitatif.. 2008. Taufik Abdullah. Jakarta: Sinar Harapan.DEPDIKNAS. Jakarta: Jembatan. “Modernization in The Minangkabau World: West Sumatera in The Early Decades of Twenty Century” dalam Claire Holt: Culture and Politics in Indonesia. (http://www. Bahan Kuliah Pada Pascasarjana UNP. 2009. 2009. 2001. Basic Principle of Curriculum and Instrution . Jakarta: Kencana Prenada Media Group. New York: Happer 7 Row Publishers. 1983. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. 1976. Jakarata: Rineka Cipta Yahya. Padang: Universitas Negeri Padang. Wina Senjaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.