CONTOH PROPOSAL JUDUL; Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisional Di Pandai Sikek Tanah Datar

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Pendidikan, sebagai salah satu pilar pengembangan sumber daya manusia (SDM) bermakna strategis bagi pembangunan nasional, karena masa depan bangsa sangat bergantung pada penyelenggaraan pendidikan masa kini. Sejauh mana pendidikan itu diselenggarakan menjadi tolok ukur penyiapan generasi penyambut ’tongkat estapet’ pembangunan. Menurut Ki Hajar Dewantara “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Anakanak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warga negara kita” (Prayitno, 2005:1) Sejalan dengan itu, Mukhtar Buchori (2001:23) menyatakan bahwa “Apa yang terjadi dengan bangsa kita di masa depan, sangat tergantung kepada apa yang kita lakukan sekarang ini terhadap cara-cara kita mendidik generasi muda, dari pendidikan tingkat TK sampai ke pendidikan tingkat Perguruan Tinggi” Melalui semua jenjang pendidikan tersebut, kelangsungan hidup suatu bangsa dapat terjamin sebab pendidikan tidak hanya berfungsi untuk how to know, how to live together, dan how to do, tetapi yang amat penting how to be. Oleh karena itu diperlukan transformasi nilai-nilai pendidikan (Daulay, 2007). Dengan demikian, memaknai pendidikan sebagai proses ‘memanusiakan manusia’ harus fokus pada pengembangan potensi manusia itu sendiri, bukan hanya fokus pada pengajaran. Pernyataan

2

‘memanusiakan manusia’ seakan-akan menyatakan bahwa sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik belum menjadi manusia. Pada hal peserta didik adalah manusia, makhluk yang paling sempurna dari sekian makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia. Berbagai bentuk pendidikan yang telah dilakukan bangsa Indonesia bertujuan untuk membangun sumber daya manusia, melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal. Penyelenggaraan pendidikan formal dilakukan mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, jalur pendidikan formal terdiri atas pendidikan anak usia dini, berbentuk Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA); pendidikan dasar, berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Setelah pendidikan dasar dilanjutkan dengan pendidikan menengah yang terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah umum berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA), dan pendidikan menengah kejuruan seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Pendidikan nonformal berbentuk kursus-kursus singkat (non-ijazah) dan pelatihanpelatihan terorganisir yang dilaksanakan di luar sistem pendidikan formal. Sedangkan pendidikan informal merupakan pendidikan sepanjang hayat di mana individu memperoleh pengetahuan, norma-norma, dan keterampilan melalui keluarga, tetangga, dan media masa. Sarana jenis-jenis pendidikan tersebut terkait dengan upaya untuk mengarahkan peserta didik untuk mencapai tahapan yang lebih tinggi dari ketidaktahuan dan

3

proses pembelajaran lagi. Pendidikan tidak sekedar mengumpulkan dan mengoleksi ijazah sebagai tanda lulus. Ada kecenderungan pendidikan sekarang ini bersifat serimonial belaka dan lari dari substansi pendidikan itu sendiri. dan berakhlak mulia. Diawali pada setiap awal tahun ajaran dengan merima murid baru. sehingga terkesan bahwa pendidikan sekedar rutinitas belajar. politisi. Parameter penyelenggaraan pendidikan nasional semestinya tidak sampai melunturkan semangat yang lebih mulia dari sekedar untuk memperoleh tanda lulus dari negara. pantas akhir-akhir ini gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan persekolahan menjadi lazim terdengar. muatan materi dan pembelajaran yang tidak seimbang antara aspek kognitif dengan aspek lainnya. Gugatan itu tentu terkait dengan kesadaran dan pemahaman masyarakat yang makin tinggi bahwa pendidikan memiliki nilai strategis dan 4 . lebih bertanggungjawab. Mulai dari gugatan sarana prasarana yang tidak memadai. sampai dengan seringnya pelajar melakukan tindakan amoral dan kriminal. Berbagai gugatan itu sehubungan dengan tidak baiknya penyelenggaraan pendidikan. dan evaluasi akhir (Ujian Nasional) dan pada akhirnya kepada peserta didik yang lulus diberikan ijazah. baik dari kalangan masyarakat. ada pernyataan yang keras bahwa pendidikan persekolahan kita ‘melahirkan pengangguran yang sistematis’.kebodohan. lebih mampu mengendalikan diri. kualitas atau mutu pendidikan yang masih rendah. lebih terampil. melakukan proses pembelajaran sesuai jadwal. maupun dari akademisi atau pakar pendidikan sendiri. kualitas pendidik yang tidak merata antara perkotaan dengan pedesaan. melainkan agar potensi peserta didik dapat dikembangkan dan setelah mengikuti proses pendidikan dia lebih cerdas. Selain itu. evaluasi kenaikan kelas. Dengan kondisi seperti itu.

Sebetulnya inti dari pendidikan ada dalam perjalanan hidup manusia karena manusia ingin mencapai hidup yang maju. yang lebih baik dan lebih layak. di mana nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan tidak sekedar dibicarakan tetapi juga dipraktekkan. Namun menurut HAR Tilaar (2000) tidak ada upaya yang jelas dan konkrit baik peraturan-peraturan maupun implementasinya bahwa pendidikan nasional berakar kepada kebudayaan nasional. Demikian juga dalam PP No 29 tahun 1990 tentang Wawasan Wiyatamandala dinyatakan bahwa pendidikan haruslah berdasarkan kebudayaan. tradisi justru dipadukan dengan keanekaragaman perbuatan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. Ketidaktercabutan dari akar budaya bukan berarti suatu 'tradisi' harus dipertahankan dengan cara tertutup atau defensif.urgent dalam pembentukan karakter bangsa. Pelestarian budaya tradisi tidak berarti wujud fisiknya tidak bisa berubah dan berkembang. sehingga betapa pendidikan nasional kita telah tercabut dari akar kebudayaannya. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi itu: ia 5 .20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional harus dilandasi kebudayaan nasional. walau dalam tataran ide atau nilai-nilainya patut dipertahankan. riwayat manusia yang selalu memberi wujud baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada. Kesadaran bahwa melalui pendidikanlah dapat diwariskan nilai-nilai luhur yang dimiliki suatu bangsa. Bila membicarakan pendidikan dan kebudayaan sebenarnya telah ada pegangan kuat yakni Undang-undang No. Menurut Peursen (1988:11-15) tradisi bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah. Ia juga menyatakan bahwa kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan. Dalam hal ini maka pendidikan menjadi komponen penting bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya dengan melestarikan dan mengembangkan kebudayaannya.

tenun. dan kesenian. sistem mata pencaharian. bahasa. anyaman. patung. Salah satu suku bangsa Indonesia itu adalah Minangkabau. sistem peralatan hidup dan teknologi. Bahkan ukiran-ukiran Minangkabau tidak saja bernilai estetis juga memiliki makna yang tinggi dan berkaitan dengan falsafah adat Minangkabau yaitu alam takambang jadi guru (alam yang 6 . Dari tujuh unsur itu. audio arts. logam. sistem pengetahuan. baik seni pertunjukan maupun nonpertunjukkan. gerabah. seni batik. Masing-masing suku di Indonesia memiliki berbagai bentuk kebudayaan baik dalam wujud konsep atau gagasan. mozaik. khusus kesenian terdapat pula cabang dan bentuk seni yang dimilki Indonesia. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan (imanensi). menolaknya. aktivitas. visual arts. dan seni ukir. suku ini memiliki berbagai cabang seni. dan benda-benda (artefak). Kebudayaan merupakan ketegangan antara imanensi dengan transendensi sehingga dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia. dan ukiran. Cabang seni rupa atau seni kriya Minangkabau juga banyak seperti arsitektur. Dari berbagai macam corak dan bentuk budaya itu menurut Koentjaraningrat (1999) ada tujuh unsur kebudayaan universal yakni.menerimanya. baik seni yang modern maupun yang tradisional. Sebut saja misalnya cabang seni rupa dan seni kriya maka akan ada seni lukis. seni pertunjukan maupun seni nonpertunjukan (senirupa/kriya) semuanya dimiliki bangsa Indonesia. Sebagai sebuah bangsa yang besar diakui bahwa Indonesia memiliki banyak sekali corak dan ragam budaya. organisasi sosial. anyaman. sistem religi. Berbagai macam bentuk dan corak seni baik yang modern maupun tradisional. tetapi juga selalu muncul dari arus alam raya itu untuk memiliki alamnya sendiri dan mengubahnya (transendensi). atau mengubahnya. ornamen. gerabah. dan audiovisual art .

semboyan itu sesuai dengan pepatah alam takambang jadi guru. Falsafah ini dapat dibuktikan dari karya sastra lama. Selain rumah-rumah adat yang memang harus berukir. Menurut Ibenzani Usman (1985) “seni ukir tradisional pada rumah adat Miangkabau. dan rumah ibadah (mesjid dan surau). Hal itu berkaitan dengan fungsi status sosial pemilik rumah di tengah masyarakat. semuanya menampilkan wujud alam flora. Kata-kata yang disusun dalam seni sastra seperti petatah-petitih.terbentang untuk dipelajari). maka penempatan seni ukir Minangkabau mempunyai aturan tertentu. Hampir seluruh motif-motif ukiran mempunyai makna yang berkaitan dengan falsafah hidup orang Minangkabau dengan samboyan belajar dari alam. motif yang diambil dari bentuk alam ini melambangkan wajah ceria dari penghuni rumah atas tamu yang datang. gurindam dan kaba bersumber dari kejadian-kejadian yang dekat dengan kita. Seni ukir juga dapat dijumpai pada bangunan perkantoran dan hotel baik milik pemerintah maupun bangunan milik swasta yang membuat gonjong (atap runcing ciri khas Minangkabau). Selain mempunyai nilai falsafah. yang tidak berperan sebagai hiasan belaka. pantun. Bahkan seni ukir 7 . Seni ukir Minangkabau dapat dijumpai pada rumah-rumah adat dan rumah-rumah masyarakat. kantor-kantor. yaitu alam (Hakimy. rebung juga bermakna walaupun masih muda namun tetap bermanfaat. Motif pucuak rabuang (pucuk rebung/bambu muda) melambangkan waktu muda adalah saat yang baik menuju ke atas (Tuhan dan citacita) tanpa harus banyak cabang. melainkan juga sebagai simbol”. Misalnya motif ukiran sikambang manih (bunga/akar yang cantik). syair. 1996). akhir-akhir ini ada kecenderungan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi yang baik (terutama perantau) membuat rumah gadang yang dengan sendirinya rumah tersebut berukir.

Motif sikambang manih diletakkan pada dinding bagian depan rumah adat. Misalnya motif kaluek paku (relung pakis) bermakna tanggung jawab sosial seseorang di tengah masyarakat baik kewajiban dan hak terhadap anak. kemenakan. Waktu muda pakis bergelung ke dalam dan setelah tua bergelung ke luar. Walaupun masing-masing daerah tidak sama persis tata letak motif ukirannya. Masing-masing daerah ini mempunyai style atau gaya masing-masing. dan Kabupaten Limo Puluh Kota. ia mempunyai makna filosofis dan aturan tata letak. ukiran Pandai Sikek 8 . 1985). ada tiga daerah di Sumatera Barat yang menggali dan mengembangkan seni ukir Minagkabau. Motif ini bermakna bahwa si penghuni rumah panyuko tamu nan tibo (suka dengan tamu yang datang) atau sebagai simbol dari keramahtamahan masyarakat dalam menerima setiap tamu yang datang. (Sri Sundari. (Ibenzani. Perbedaan itu sebagai kekhasan masing-masing daerah. Sikambang manih merupakan julukan untuk gadis cantik yang mulai dewasa. Agak berbeda dengan daerah lain.Minangkabau tidak saja dijumpai pada bangunan yang ada di Sumatera Barat melainkan juga di luar daerah. Ketiga daerah itu secara kultural disebut dengan luhak nan tuo (daerah yang tua/asal) yakni Kabupaten Tanah Datar. Pada awalnya. hal ini bermakna waktu muda periksa diri sendiri terlebih dahulu dan baru memeriksa orang lain. 2000). Ukiran Minangkabau tidak sekedar ornamen hias saja. dan orang kampung dan bahkan negara. namun tetap punya ketentuan penempatan motif ukiran. Gaya tersebut bukan disebabkan perbedaan motif ornamen akan tetapi pengaruh teknik dan peralatan yang digunakan. Misalnya. ukiran Minangkabau tidak hanya terdapat pada perabot rumah tangga tetapi lebih banyak dijumpai pada rumah-rumah adat dan bangunan lainya. Kabupaten Agam.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar tahun 9 . Untuk saat ini. dan Sabirin Sutan Muncak lahir 1937 di Banuhampu Sungai Puar kabupaten Agam dengan muridnya berjumlah 4 orang.Tanah Datar akan tampak lebih runcing karena pengaruh penggunaan pahat layanglayang. Dari tiga daerah ini muncul tokoh atau guru yang mengajarkan seni ukir pada murid-muridnya. Rangkayo Sati lahir 1917 di Pandai Sikek kabupaten Tanah Datar dengan muridnya sebanyak 7 orang. Marzuki Malin Kuniang lahir 1897 di IV Angkek Canduang dengan muridnya berjumlah 5 orang. Beliau-beliau itulah yang pertama sekali mengajarkan seni ukir pada muridnya di sanggar-sanggar ukiran. Sedangkan seni ukir di kabupaten Agam amat sedikit upaya regenerasi. Keberlanjutan seni ukir di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar terus berjalan walaupun tidak sebaik pengembangan seni ukir Bali dan Jepara. pembinaan keindustrian dan perdagangan. tidak semua daerah itu yang masih menggali dan mengembangkan seni ukirnya. Daerah yang masih eksis dan cukup baik dalam mewariskan seni ukirnya pada generasi muda hanyalah Pandai Sikek. Kesinambungan seni ukir di Pandai Sikek sekarang ini lebih banyak atas inisiatif masyarakat dan sedikit sekali adanya perhatian dan pembinaan dari pemerintah. sanggar seni ukir daerah ini termasuk IV Angkek Candung sudah banyak beralih ke usaha perabot. Seni ukir dari kabupaten Lima Puluh Kota hampir-hampir tidak terdengar lagi (punah). Perhatian dari pemerintah diberikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar berupa pendataan jumlah sanggar dan pengerajin. Menurut Ibenzani Usman (1985) ketiga guru atau tokoh seni ukir itu yakni Ramli Dt.

Di sisi lain diyakini bahwa ada bentuk atau model transformasi keterampilan. tetapi juga tidak diwariskan kepada genarasi baru. Pembinaan yang telah dilakukan berupa pelatihan disain mobiler dan diikutsertakan dalam pameran perdagangan. alangkah baiknya pembinaan dan pelatihan bagi pengukir di Pandai Sikek di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar. tidak jelas peserta didik harus diberi penguatan. Karena jika pelatihan dilakukan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan ada kemungkinan yang dilakukan tidak menerapkan prinsip-prinsip ilmu kependidikan. Sampai saat ini belum ada upaya dinas terkait untuk menelusuri bagaimana model pendidikan atau pelatihan seni ukir sehingga seni ukir Pandai Sikek tatap eksis dan 10 . terjadi kecelakaan pendidikan yang melecehkan peserta didik. Misalnya seorang pendidik atau pelatih yang tidak memahami pilar high-touch (kewibawaan) tentu tidak memahami perbedaan potensi peserta didik. dan pewarisan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam seni ukir bukan saja tidak bernilai budaya. Menurut Prayitno (2008) ‘pendidikan tanpa ilmu pendidikan’ akan mengkerdilkan kehidupan pendidikan. pengetahuan. serta tidak tahu kapan tindakan tegas yang mendidik dilakukan. dan filosofi seni ukir oleh guru pada muridnya pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Secara umum jika prinsip-prinsip ilmu kependidikan tidak diterapkan tentu proses pembelajaran (pelatihan). terhambatnya bahkan hilangnya kesempatan dan hak-hak pendidikan peserta didik.2009 terdapat 4 buah sanggar seni ukir di Pandai Sikek dengan jumlah murid (sekaligus pekerja) sekitar 55 orang. Keyakinan itu berdasarkan masih adanya sanggar seni ukir dan masih ada beberapa generasi muda yang tampak mengukir di sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek. juga tidak mampu memberikan kasih sayang dan kelembutan. Bila dilihat dari ilmu kependidikan.

Sekarang ini pemebelajaran tidak dilakukan seperti dulu lagi. Pada akhirnya bisa jadi seni ukir Minangkabau tidak lagi dikerjakan oleh putra Minangkabau. Menurut informasi dari salah satu murid Ramli Dt. Rangkayo Sati telah meninggal. Dahulu ada tahapan-tahapan dan persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh setiap murid dalam belajar seni ukir. karena semakin hari semakin sedikit saja generasi muda yang mempelajari seni ukir. 11 . pola. dan cara beliau-beliau mengajarkan keterampilan seni ukir pada muridnya belum diketahui. Untuk belajar falsafah ukir adakalanya dibawa lansung ke objek. Bila hal ini terjadi ada harapan jalan diasak urang lalu. Bagaimana model. cupak diganti urang panggaleh (jalan ditukar orang yang lewat. Cara-cara pembelajaran di sanggar tardisional seperti ini tampak spesifik. ia mempunyai kiek-kiek dalam mengajar seni ukir dan kebiasaan beliau itu tidak seluruh dan sepenuhnya diteruskan oleh muri-mridnya. seperti membersihkan pekarangan rumah guru. misalnya untuk mengajarkan falsafah cukup dengan diceramahkan dan didiskusikan sambil mengukir. Pada tahap awal murid seni ukir hanya membantu-bantu pekerjaan di sanggar. dan yang mengajarkan seni ukir itu sekarang adalah murid-muridnya. terkadang pekerjaan itu tidak berhubung langsung dengan kegiatan mengukir.berkembang. Rangkayo Sati. Guru tuo (pakar/ahli) seni ukir Pandai Sikek. Ramli Dt. Jika hal ini di biarkan terus-menerus ada kemungkinan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau akan punah. seperti belajar falsafah motif pucuak rabuang maka murid dibawa ke rumpun bambu. takaran diganti oleh si pedagang). Misalnya seorang yang akan belajar seni ukir harus dengan kesadaran penuh dan disarahkan (diantar lansung) orang tua.

dari isian kurikulum dirinci ke dalam satuan pembelajaran mingguan (sekitar 17 kali tatap muka). Pembelajaran berlangsung tanpa terikat dengan jadwal yang telah ditentukan dan juga tidak harus 17 12 . Dari pengamatan selintas. Ada tugas-tugas terstruktur yang diberikan pada peserta didik. Metode mengajar yang digunakan guru/dosen umumnya ceramah dan demonstrasi.Dari pengamatan terdapat perbedaan pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional dengan pembelajaran seni ukir melalui persekolahan. dilakukan evaluasi atau ujian. perlakuan di sekolah formal tidak ditemui pada pendidikan nonformal terutama pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. SMK Negeri 8 Padang. Pembelajaran pada sanggar seni ukir diajarkan murid sampai pada mampu menjadi tukang ukir atau mengukir layak jual. Sedangkan di sekolah formal hanya mengajarkan keterampilan mengukir sampai pada batas terpenuhi standar kompetensi atau syarat lulus. Artinya pada sekolah formal murid tidak dipersyaratkankan untuk menjadi tukang ukir. SMK Negeri 4 Padang. INS Kayu Tanam. Pembelajaran seni ukir pada pendidikan formal telah ditetapkan tujuan yang akan dicapai setiap semester. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. Ada beberapa pendidikan formal di Sumetera Barat yang mengajarkan seni ukir yaitu. kepada peserta didik yang telah memenuhi standar kelulusan diberikan nilai berupa angka atau huruf. Filosofi motif dan penempatan motif ukiran juga tidak diajarkan pada sekolah formal. Pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional tidak hanya melatihkan keterampilan tetapi juga diajarkan falsafahnya. Evaluasi dilakukan pada pertengan semester dan akhir semester. dan diberi nilai. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP. dibuatkan jadwal belajar/kuliah.

Hal ini sesuai dengan pasal 1 ayat 1 Undang-undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “pendidikan adalah. terutama kemapuan mengukir dan memahami falsafah seni ukir. Dengan demikian murid yang telah menguasai keterampilan seni ukir ia akan mandiri. Jika karya mereka dapat diterima konsumen. karena keterampilan yang dimilikinya perlu dan bermanfaat untuk dirinya bahkan masyarakat. Artinya kegiatan pembelajaran tidak hanya pada aspek keterampilan seni ukir dan pewarisan nilai-nilai budaya. artinya antara satu murid dengan lainnya dapat berbeda-beda materi yang diberikan walaupun mereka dalam satu ruangan. maka keluaran sanggar tradisional seni ukir lebih terampil dan menguasai falsafah ukiran dibandingkan lulusan sekolah formal. tetapi sekaligus diajarkan enterpreneurship. Murid tidak dikelompokkan dalam bentuk klasikal. maka usaha atau kegiatan seni ukir cukup baik. dan ada yang taraf halus. Oleh karena orientasi karya dapat diterima pasar maka pembelajaran pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menyentuh aspek ekonomi. misalnya ada yang pada taraf pengenalan alat.. mulai mengukir kasar (tingkat dasar). Hasil karya pengukir dari sanggar ukir tradisional lebih diterima pasar atau konsumen. Akan tetapi sebagai sebuah pendidikan nonformal maka dalam penyelenggaraannya tetap memiliki sistem pembelajaran yang terlembaga. Jika dilihat dari hasil akhir. Karya-karya mereka tidak saja disalurkan di daerah Sumatera Barat akan tetapi sampai diberbagai daerah Indonesia bahkan sampai ke Malaysia. Sebagai buktinya adalah hasil karya pengukir dari sanggar tradisional Pandai Sikek lebih diminati. 13 ..kali pertemuan atau tatap muka. Evaluasi tidak ada yang terjadwal dan terstruktur sehingga tidak ada nilai akhir berbentuk huruf atau angka.

Dalam disertasi ini hanya membahas tentang teknik yang meliputi tentang penggunaan bahan. Penelitian ini dilakukan tahun 1999 dan dicetak menjadi buku tahun 2000 yang membicarakan tentang. Pola. keterampilan yang diperlukan dirinya. alat. Penjelasan motif itu terkait dengan nama-nama motif ukiran.. rumah pribadi. toko. restoran. Ibenzani Usman (1985) Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. jenis motif ukiran. maka pewarisan dan pengembangannya sangat diperlukan.. dalam penelitian ini juga disebutkan nama-nama motif Minangkabau yang tidak ditempatkan pada rumah adat. sekarang sudah untuk kantor. Perubahan itu seiring dengan masuknya pariwisata di Sumatera Barat. Sri Sundari (2000) meneliti “Seni Ukir Pandai Sikek Dalam Masyarakat Minangkabau yang Berubah” dibahas bahwa ukiran Pandai Sikek tidak hanya untuk rumah adat saja. tentang pola-pola motif seni ukir Minangkabau. dan fungsi ukiran pada rumah adat Minangkabau. Marjani Martamin dan Amir B (1978) meneliti “Ukiran Rumah Adat Minangkabau dan Artinya”. dan Fungsinya. masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan disebabkan motif ekonomi. dan cara yang berorientasi kepada sistem penalaran Minangkabau (alur dan patut).agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki . Telah ada beberapa peneliti dan penulis yang meneliti tentang seni ukir Minangkabau dan seni ukir daerah lainnya. dan cenderamata. SP Gustami (2000) meneliti Seni Kerajinan Mebel Ukir Jepara Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Sehubungan dengan banyaknya aspek yang dapat digali dari seni ukir. dan arti motif ukiran. (a) sejarah 14 . Dalam laporan penelitiannya dijelaskan berbagai bentuk motif ukiran yang terdapat pada rumah adat Minangkabau. Selain menjelaskan motif yang lazim dalam ukiran pada rumah adat Minangkabau. bangsa dan negara”. perabot rumah tangga.

perkembangan seni ukir Jepara mulai dari zaman Belanda sampai zaman orde baru dengan berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan kehidupan beragama, (b) peran tokoh-tokoh wanita dalam perkembangan seni kerajinan khususnya seni ukir, seperti peran R.A. Kartini dan Tien Soeharto, (c) proses pelembagaan dan pembauran gaya seni yang berkaitan dengan mebel ukir Jepara, sehingga hadirnya berbagai macam ragam hias, jenis produk, pola penerapan ornamen, teknik mengukir, keragaman disain, dan bentuk mebel yang diproduksi, (d) eksistensi produk mebel ukir Jepara dari lokal menjadi pemasaran global, dan (e) pola perkembangan dan penyebaran yang berkaitan dengan tradisi pewarisan keahlian, pembiasan prilaku perajin, pembinaan dan pengembangan mebel ukir Jepara. Harisman (2001) meneliti “Ukiran Masjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat; Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna”. Dalam tesis ini dijelaskan bahwa bentuk ukiran pada masjid tradisional di Minangkabau tersusun dari kesatuan, kompleksitas, dan intensitas yang merujuk pada pola ukiran rumah adat. Dijelaskan juga bahwa fungsi ukiran merupakan media pendidikan, media pengalaman estetis, pengintegrasian masyarakat, dan fungsi keindahan sebagai kebutuhan masyarakat. Penjelasan pada makna dikaitkan pada persoalan kearifan tradisional dalam kehidupan masyarakat Minangkabau yang tersimpul sebagai makna denotatif dan konotatif. Suardi (2000) meneliti “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid di Kabupaten Kerinci”. Temuannya menjelaskan bahwa ukiran pada bangunan Masjid di Kerinci menggunakan bentuk motif tumbuh-tumbuhan, geometris dan bentuk gabungan tumbuh-tumbuhan dan geometris. Penyusunan dengan pilin ganda, lingkaran, simetris dan asimetris. Penampang ukiran segi tiga, datar dan gabungan segi tiga, datar dan miring. Penggolongan nama motif berasal dari nama tumbuh-tumbuhan,

15

binatang dan alam benda, perwujudan merupakan stilirisasi dan meniru sifat asal nama motif tersebut. Makna motif dikaitkan dengan adat, agama, sosial budaya, dan sosial masyarakat pendukungnya. Ukiran menggunakan teknik ukiran tembus, rendah dan utuh. Nofrial (2009) meneliti “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci; Kajian Estetika dan Budaya”. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa secara budaya Kerinci dikelompokkan atas hulu, tengah dan hilir, masing-masingnya memiliki rumah larik yang berukir. Daerah tengah dan hilir lebih kaya seni ukirnya dibandingkan daerah hulu, baik dari jumlah motif, warna dan teknik penggarapan. Akan tetapi motif ukiran mereka sama yakni, sama-sama mengambil bentuk tumbuh-tumbuhan dan geometris, serta unsur atau nama binatang. Dalam hal teknik pembuatan juga hampir sama, yang menghasilkan bentuk ukiran garis, ukiran rendah, ukiran sedang, dan ukiran tinggi, serta sama-sama tidak terdapat ukiran tembus. Beberapa hasil penelitian di atas tidak ada yang membahas lansung tentang model pendidikan atau cara mengajarkan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya. Oleh karena belum adanya penelitian dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan bagaimana seni ukir diajarkan, maka perlu adanya penelitian tentang model pendidikan seni ukir. Hal ini agar seni ukir Minangkabau khususnya seni ukir Pandai Sikek tidak hilang dan jika perlu dapat berkembang. Penelitian ini nanti diharapkan dapat mengukapkan cara mengajarkan seni ukir baik dari segi keterampilan maupun nilai-nilai yang terdapat di dalamnya kepada generasi muda. Model pendidi seni ukir pada sanggar tradisional yang ada di Pandai Sikek menjadi menarik dan perlu untuk diteliti, karena pewarisan seni ukir daerah ini tetap eksis dan lebih baik dari daerah lain di Sumatera Barat. Bagaimana model yang dilakukan dalam pewarisan seni ukir di Pandai Sikek

16

sehingga dapat bertahan menjadi bahan perbandingan untuk daerah-daerah lain. Pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek juga dapat menjadi model dalam pengembangan cabang-cabang seni lainnya. B. Identifikasi Masalah Dari konteks penelitian yang telah dilakukan tentang seni ukir dan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, ternyata banyak persoalan dan masalah yang timbul. Berbagai permasalahan itu terkait dengan model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek Sumatera Barat. Agar permasalahan itu lebih fokus pada pembelajaran seni ukir di sanggar tradisional Pandai Sikek, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut; 1. Sanggar seni ukir di Pandai Sikek telah ada semenjak beberapa puluh tahun yang lalu. Saat ini ada 4 sanggar seni ukir yang masih aktif dengan sekitar 55 orang murid. Guru yang pertama mengajarkan seni ukir telah meninggal dunia, pendidikan seni ukir dilakukan oleh sebahagian generasi ke dua yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Bahkan ada juga generasi ketiga yang telah mendirikan sanggar dan menjadi guru seni ukir. Apakah sama model pendidikan yang diberikan oleh semua guru seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah model pendidikan yang diterima ketika mereka jadi murid sama dengan yang diberikan ketika mereka jadi guru seni ukir? Adakah terdapat inovasi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. Guru atau pendidik pada sekolah formal telah dibekali dengan ilmu kependidikan, dan bahkan dilakukan penyegaran dengan berbagai pelatihan, penataran, workshop tentang cara mendidik. Guru bahkan juga dituntut untuk

17

profesional terutama dalam ilmu kependidikan. dijelaskan berbagai motif. Ada acuan evaluasi. Dalam pendidikan formal dilakukan evaluasi guna menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Bagaimana model kurikulum seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Apakah ada pentahapan-pentahapan materi atau kompetensi tertentu yang diberikan guru? Apa saja materi pelajaran seni ukir yang diberikan guru pada tahap awal? Kapan materi filosofi seni ukir diberikan pada murid? 4. Pada sanggar seni ukir tradisional Pandai Sikek tentu ada bentuk evaluasi yang diberikan sehingga murid dapat diberikan materi 18 . ada teknik evaluasi. dipertengahan dan pada akhir kegiatan. Pada pendidikan formal ada kompetensi tertentu yang harus dicapai atau dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Pada tahap awal pada pendidikan formal murid diperkenalkan dengan bahan dan alat. dan setelah itu baru pemberian tugas-tugas. Pada sanggar seni ukir tentu juga ada kurikulum dan tahapan-tahapan tertentu sehingga murid mampu menjadi ahli ukir. Hakikatnya evaluasi untuk mendapatkan sejauh mana penguasaan murid atas materi yang telah disajikan. Guru memberikan materi dalam beberapa semester agar murid menguasai materi sehingga terampil dalam mengukir. Sedangkan guru seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak tamatan lembaga kependidikan. kemudian mengukir dasar. Materi pendidikan seni ukir pada sekolah formal telah dituntun dengan kurikulum dan silabus. Bagaimana model guru pada sanggar tradisional di Pandai Sikek mentransformasi keterampilan dan ilmu seni ukir pada muridnya? Sejauhmana komponen high-touch dan high-tech diterapkan pada pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 3. dan waktu pelaksanaan evaluasi bisa dilakukan diawal.

1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut. (2) materi-materi ajar yang diberikan. (3) penerapan high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran. C. (1) tahapan proses pembelajaran (pre. Bagaimana bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan setiap tahapan pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek? 19 . Bagaimana pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 2. dan post). Namun demikian agar penelitian dapat dilaksanakan dengan sebaikbaiknya maka perlu dilakukan pembatasan masalah.selanjutnya. while. D. Bagaimana model evaluasi seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? Diyakini masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang patut dikemukakan dan dapat diteliti sehubungan dengan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisonal di Pandai Sikek. Dari sekian banyak permasalahan tersebut maka penelitian ini difokuskan pada bagaimana model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek yang tercakup pada. Fokus Masalah Berdasarkan tinjauan tentang pentingnya pewarisan seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya dan upaya mentransformasikan keterampilan mengukir pada generasi selanjutnya banyak permasalahan yang muncul. dan (4) evaluasi hasil belajar untuk dapat ditentukan sebagai pengukir layak jual.

Pemerintah Sumatera Barat (Dinas Pendidikan. 2. F. 3. Untuk melihat penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 2.3. mengembangkan dan membina aset budaya khususnya seni ukir daerah lain yang hampir punah pada beberapa daerah di Sumatera Barat. dan Dinas BUDPAR) dalam membina dan mengembangkan seni ukir Pandai Sikek sebagai salah satu aset budaya. Untuk mengetahui pentahapan proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Untuk mengungkap bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. Pemerintah Tanah Datar (Dinas Pendidikan. Sejauhmana penerapan komponen high-touch dan high-tech dalam proses pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek? 4. yakni. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi. Bagaimana bentuk evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek? E. Tujuan Penelitian Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. 1. 4. 20 . Untuk mengungkap bentuk-bentuk materi ajar seni ukir yang diberikan pada setiap tahapan pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. dan Dinas BUDPAR) sebagai salah satu model dalam menumbuhkan. 1. Dinas PERINDAG. Dinas PERINDAG.

Isi dari amanat pembukaan UUD 1945 itu adalah bahwa negara berupaya untuk mencerdaskan 21 . Lembaga pendidikan formal Sumatera Barat khususnya baik tingkat SLTA maupun perguruan tinggi yang mengajarkan seni ukir sebagai sebuah model perbandingan dalam memberikan materi seni ukir. Hakikat Pendidikan Negara Indonesia menjamin seluruh rakyatnya secara konstitusi untuk mendapat pendidikan. 4. 6. melainkan sebagai landasan pijak yang dikaitkan antara fokus penelitian dengan variabel-variabel pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional. Untuk itu. dan (5) model pendidikan. Teori-teori yang disajikan tidak dimaksudkan untuk menguji kebenarannya. (1) hakikat pendidikan. Jaminan itu tertuang dalam pembukaan UUD 1945. (2) hakikat pembelajaran. dan teori yang berkaitan dengan fokus penelitian. (4) seni dan pendidikan seni. (3) kebudayaan Minangkabau. hasil penelitian. Lembaga pengelola pendidikan nonformal sebagai salah satu model dalam membina dan mengembangkan seni tradisional. Bagi peneliti sendiri sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan sekaligus sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Doktor bidang ilmu pendidikan pada Pasca Sarjana UNP. secara berturut-turut dikaji tentang. KAJIAN PUSTAKA Pada bagian ini akan dikemukakan beberapa pendapat. Bagi peneliti-peneliti selanjutnya baik dalam bidang seni maupun dalam pendidikan nonformal. 5.3. 1.

Dalam pasal 1 ayat 1 UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan. keterampilan yang diperlukan dirinya. Pendidik berkewajiban 22 .kehidupan bangsa. Dari pengertian pendidikan ini ada beberapa hal yang perlu dipahami. berarti proses pendidikan (formal. tetapi proses yang bertujuan. kecerdasan. murid harus dipandang sebagai organisme yang sedang berkembang dan memiliki potensi. Artinya proses pendidikan itu harus berorientasi kepada peserta didik (student active learning). Dengan demikian. dalam pendidikan antara proses dan hasil belajar harus berjalan secara seimbang. Kesadaran yang tinggi dari founding father menggambarkan bahwa begitu pentingnya arti pendidikan bagi bangsa Indonesia. Proses pendidikan itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. dan informal) bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan. Untuk mewujudkan amanat pembukaan UUD 1945 tersebut maka dibuatkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendidikan agar rakyat Indonesia dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam era globalisasi yang sarat dengan persaingan. masyarakat. bangsa dan negara”. akhlak mulia. Hal ini dimaksudkan bahwa pendidikan harus memperhatikan proses belajar guna mencapai hasil belajar. Dengan demikian. Pertama pendidikan adalah usaha sadar yang terencana. Upaya ini tentu dengan harapan anak bangsa Indonesia pada suatu saat dapat bersaing dan bersanding dengan bangsa lain dalam artian “duduk sama rendah tegak sama tinggi”. Kedua suasana belajar dan pembelajaran diarahkan dalam upaya mengembangkan potensi murid. pengendalian diri. kepribadian. nonformal.

generasi selanjutnya. serta pengembangan keterampilan dan kreativitas murid. keterampilan. Menurut Suprioyono (2006) bahwa pendidikan pada mulanya adalah upaya mewariskan pengetahuan. kepribadian. tetapi juga merupakan suatau cara untuk mentransformasikan kebudayaan masyarakat itu”. karena orang tua dapat melakukan pewarisan budaya kepada anaknya (Ansyar. Menurut Ansyar (1989:2) “pendidikan bukan saja dimaksudkan masyarakat untuk mewariskan kebudayaan kepada anak-anak generasi penerus mereka itu. Taba (1962) mengemukakan tiga fungsi utama pendidikan. Hal ini berarti proses pendidikan berujung kepada pembentukan sikap. emosional. kecerdasan. tidak sekedar menjejalkan materi ajar atau memaksa mereka dapat menghafal data dan fakta. Transformasi kebudayaan itu tidak saja harus dari orang tua biologis kepada anaknya akan tetapi bisa dari orang yang telah mengetahui. Bila dilihat secara antropologis dari dau pendapat ini dapat disimpulkan bahwa aktivitas pendidikan yang dilakukan suatu masyarakat merupakan kegiatan kebudayaan dalam upaya untuk mewariskan dan mengembangkan pengetahuan. bangsa dan negara. Hal ini berbeda dengan orang primitif yang mendidik anaknya tanpa mendirikan intitusi pendidikan. pengendalian diri. pengembangan kecerdasan intelektual. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. dan sikap orang tua kepada anak-anak mereka.mengembangkan potensi yang dimiliki murid. melainkan juga dilakukan oleh generasi yang lebih tua kepada generasi muda dalam sebuah komunitas melalui interaksi keseharian. Pewarisan ‘budaya’ itu tidak saja dimaknai sebagai orang tua biologis kepada anak-anak mereka. keterampilan. Kemudian ketiga pengertian pendidikan dinyatakan menjadikan murid memiliki kekuatan spritual keagamaan. masyarakat. yakni. Searah dengan itu. dan sikap. (a) pendidikan sebagai 23 . 1989). akhlak mulia.

atau dengan kata lain merupakan sebahagian dari kebudayaan”. Orang tua mengikutkan anak-anaknya pada lembaga-lembaga baik untuk tambahan materi ajar persekolahan seperti matematatika. (b) pendidikan sebagai alat bagi usaha transformasi kebudayaan. Orang tua dan peserta didik tidak puas dan memadai saja pendidikan persekolahan. tari. Selain itu ada juga orang tua yang menggugat penyelenggaraan pendidikan persekolahan dengan mendatangkan 24 . dan bahasa Inggris maupun non materi ajar seperti kursus piano. Namun tingkat ketergantungan sebahagian besar masyarakat Indonesia dengan persekolahan masih tinggi.pemelihara dan penerus kebudayaan. maka kegiatan yang terdapat di sanggar seni ukir tidak lepas dari kegiatan pendidikan. Artinya bahwa terdapat fungsi pemeliharaan kebudayaan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek di mana seni ukir masih ajeg sampai sekarang. hal ini dapat dilihat bahwa ada kesadaran masyarakat untuk mendapat pendidikan yang lebih baik dan bermutu dari hari ke hari. sebab pendidikan ternyata tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan hidup masyarakat. Sebagaimana dinyatakan oleh Surjadi (1994) bahwa umumnya masyarakat kurang menghargai pendidikan masyarakat yang diselenggarakan secara lokal. Menurut Tilaar (2004:54) bahwa “pendidikan tidak dibatasi sebagai shooling. Dalam mewariskan kemampuan seni ukir terus dilakukan transformasi mengukir dari guru pada muridnya baik yang berkaitan dengan keterampilan maupun falsafah seni ukir. dan (c) pendidikan sebagai alat bagi pengembangan individual anak. Pernyataan Surjadi ini tidak sepenuhnya benar. dan melukis. hal ini tidak lain karena ketergantungan masyarakat pada lembaga pendidikan sekolah atau pendidikan formal masih tinggi. fisika. Berangkat dari tiga fungsi yang dikemukakan oleh Taba. Pada akhirnya setiap individu murid yang telah belajar mengukir dapat berguna bagi diri dan masyarakatnya.

kelompok dan masyarakat agar memiliki sikap dan cita-cita sosial guna meningkatkan taraf hidup di 25 . Memperhatikan Undang-Undang Sisdiknas ini maka yang termasuk pada pendidikan formal atau juga dinamakan pendidikan persekolahan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai pada pendidikan tinggi baik yang negeri maupun swasta. learning society. Undang-Undang No. 2009). out-of-school education. dan sumber belajar. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa ada tiga jalur pendidikan yakni jalur pendidikan formal. sarana. Kemudian ia juga menjelaskan bahwa pendidikan nonformal dalam proses penyelenggaraannya memiliki suatu sistem yang terlembagakan. nonformal. adult educaton. isi program. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut pendidikan nonformal seperti mass education. Menurut Hamojoyo (1973:23) “pendidikan nonformal adalah usaha yang terorganisir secara sistematis dan kontiniu di luar sistem persekolahan.guru atau pendidik ke rumah seperti kasus home schooling. (Mustofa Kamil. Untuk pendidikan nonformal di Indonesia berbentuk kursuskursus singkat (non-ijazah) dan pelatihan-pelatihan. yang didalamnya terkandung makna bahwa setiap pengembangan pendidikan nonformal perlu perencanaan program yang matang. … untuk membimbing individu. Pendidikan nonformal seperti kursus menjahit dan kursus montir juga diminati masyarakat. proses penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir seperti di Pandai Sikek termasuk pada bentuk pendidikan nonformal. social education (Mustofa Kamil. prasarana. lifelong education. melalui kurikulum. 2009). baik yang berbasis agama maupun umum. informal. sasaran didik. Dengan demikian. termasuk belajar mengukir. Sedangkan pendidikan informal disebut pendidikan sepanjang hayat yang tidak bisa dipisahkan dengan sistem pendidikan formal dan nonformal.

bidang materi. isi bersifat individual/keluaran. Bila merujuk pendapat ini. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan nonformal penyelenggaraannya terlembaga dalam sebuah sistem yang terencana. sistem rekrutmen siswa menentukan syarat masuk. Pendapat ini dapat dipakai untuk melihat sejauh mana kelembagaan dan perencanaan penyelenggaraan pendidikan pada sanggar tradisional seni ukir di Pandai Sikek sebagai sebuah intitusi pendidikan. Bila dilihat dari segi bentuk dan karakternya. Pertama waktu penyelenggaraan bersifat jangka pendek artinya pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek tidak sama dengan sekolah formal (tiga tahun). sosial dan mental dalam rangka mewujudkan kesejahteraan sosial”. dan prasarana untuk mewujudkan kesejahteraan hidup baik materi. Menurut Mustofa Kamil (2009) tujuan dari pendidikan nonformal bersifat jangka pendek dan spesifik bukan asas kepercayaan. Berdasarkan pendapat ini maka kegiatan-kegiatan yang terorganisir dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan peserta didik seperti sanggar seni ukir di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. Kurikulum pendidikan nonformal bersifat fleksibel memperhitungkan kondisi daerah (masyarakat). Kemudian kepada murid diberikan kepercayaan untuk dapat kontrol diri sendiri guna membangun diri. Ketiga perlakuan terhadap murid bersifat individual walaupun penyelenggaraan dalam suatu ruangan. sarana. artinya mempunyai kurikulum. maka ada beberapa tujuan pendidikan nonformal yang searah dengan kegiatan sanggar seni ukir. sosial dan mental peserta didik. kontrol bersifat membangun diri/demokratis. waktunya relatif singkat/berulang/paruh waktu. Menurut Prayitno (2008:1) “Pendidikan itu 26 . Kedua bidang ilmu yang diajarkan punya spesifik yaitu seni ukir lebih khusus seni ukir Minangkabau. tampak bermacam-macam model pendidikan akan tetapi hakikatnya satu.

Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa salah satu ciri keberhasilan pendidikan dalam mematangkan pribadi adalah apabila seseorang tersebut dapat hidup layak dan baik. yang jelas adalah pendidikan dapat memenuhi semaksimal mungkin keinginan masyarakat. bagi pembentukan manusia yang dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik. Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk memuliakan harkat martabat manusia. Ia dapat sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek pendidikan dan dapat berperan sebagai pelaksana pendidikan (pendidik/guru) dan sekaligus sebagai peserta didik (siswa). Proses pendidikan memungkinkan potensi seseorang dapat dikembangkan secara optimal sehingga ia dapat berkembang secara utuh dan pada akhirnya dapat eksis di tengah masyarakat dan berhasil menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Memperhatikan pendapat Prayitno ini. sarana.. (Prayitno. 2008). kebutuhan individu untuk hidup layak .. oleh manusia dan untuk manusia. melakukan analisa secara jernih. 27 .bermacam-macam akan tetapi pada hakikatnya satu. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah dari manusia. maka diperlukan adanya proses pendidikan yang menyentuh terhadap hakikat kemanusiaan itu sendiri. dan pelaksana pendidikan itu sendiri.. maka manusia dalam konteks pendidikan merupakan unsur terpenting. Dengan demikian manusia memiliki potensi untuk berkembang dan dikembangkan kepada hal-hal yang bersifat positif dan negatif. serta dengan tenang menghadapi setiap persoalan atau masalah. dan secara matang merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya. Dalam hal pendidikan manusia sekaligus sebagai sumber. yaitu upaya untuk memuliakan kehidupan manusia”. Menurut Ansyar (1985) .. Agar manusia cenderung berkembang ke arah perilaku yang positif atau baik.

maka perlu dibahas dan dikaji hakikat manusia. jin. Kegiatan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek termasuk pada pendidikan nonformal. Kemulian dan kesempurnaan manusia tidak hanya pernyataan manusia saja akan tetapi banyak dijelaskan tuhan dalam firmaNya. Harkat dan Martabat Manusia Ada banyak makhluk yang diciptakan Tuhan seperti. di antaranya. dan menentukan keberhasilan pendidikan baik pendidikan formal maupun nonformal. Belum banyak kajian yang menjangkau hakikat manusia secara utuh dalam pendidikan. dan nonformal. proses. padahal harkat dan martabat manusia itulah yang benar-benar membedakan manusia dengan makhlukmakhluk lain. Pemikiran itu belum menjelaskan secara penuh harkat martabat manusia. diri sendiri dan sebagai makhluk sosial. Akan tetapi manusialah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. a. Dan sungguh. api. manusia. tumbuhtumbuhan. Sebegitu pentingnya manusia dalam keterlibatannya pada perencanaan. setan. batu. ia dapat sebagai objek dan subjek. air. dan malaikat. dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik 28 . hewan. Manusia dalam hal ini peserta didik dan guru menjadi amat penting dalam penyelenggaraan pendidikan.Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu ada yang berbentuk formal. Jika diurut dan dikemukakan sebenarnya sudah banyak kajian pakar tentang manusia dan pendidikan. Kajian-kajian para pakar tentang manusia dalam kaitan dengan pendidikan pada umumnya masih berkisar mengenai manusia dengan diri sendiri dan lingkungannya. Kami telah memuliakan anak cucu Adam. informal. baik sebagai makhluk ciptaan tuhan. dan Kami angkat mereka di darat dan di laut.

Prayitno (2008:19) menyatakan bahwa hakekat manusia adalah makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. (QS 17: 70) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya. John Dewey dengan gerakan progresifnya mengingikan peranan yang lebih kreatif dari sekolah untuk pengembangan individu. makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan oleh manusia sendiri. untuk. Selain memandang sisi keduniaannya manusia juga merancang kehidupan akhiratnya. manusia dibekali Tuhan dengan akal. Manusia juga punya budi nurani yang menjadikan manusia punya rasa. (QS 95:4). dan nafsu.dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. Sehingga dengan bekal itu manusia mampu merancang sendiri segala kebutuhannya. serta pengembangan potensi fisik dan mental (Ansyar. dan pemilik Hak Azasi Manusia (HAM). 1989). Berangkat dari pendapat di atas bahwa 29 . hati. Sejalan dengan itu. Keseluruhan pandangan ini menjadikan manusia memiliki harkat dan martabat. karsa. diasah dan dimatangkan. penemuan sendiri. Selain dari kesempurnaan fisik. terutama kemampuan kreativitas. Mempedomani pendapat ini maka pernyataan bahwa ‘pendidikan memanusiakan manusia’ tidaklah tepat. Menurut Prayitno (2008) bahwa kebutuhan dan pengembangan manusia dari. Akan tetapi potensi-potensi yang ada pada diri peserta didik perlu dikembangkan. Maksudnya pemusatan pengembangan potensi individu. khalifah di muka bumi. sebab sebelum memasuki proses pendidikan peserta didik (murid pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek) sebenarnya telah sempurna dan mulia. dan cipta. karena manusia tidak sekedar punya kebutuhan akan tetapi dengan akalnya mampu merancang kebutuhannya yang sekarang dan masa depan. kebebasan berpikir. paling tinggi derajatnya.

kelima butir konsep dasar harkat martabat manusia itu tetap melekat pada dirinya. Tujuan tersebut adalah kesempurnaaan manusia sesuai dengan 30 . Kekhalifahan diselenggarakan melalui penguasaan dan pengelolaan atas sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk kehidupan yang damai dan sejahtera dalam alam yang nyaman dan tenteram. (3) khalifah di muka bumi. Adanya ketinggian derajat ditampilkan melalui upaya menjaga kehormatan dan menolak hal-hal yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaannya. maka manusia terus berusaha mengembangkan kehidupannya di atas bumi. Kreativitas murid-murid pada bidang seni diarahkan pada kegitan mengukir. yaitu bahwa manusia adalah (1) makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaannya. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa dari awal penciptaan manusia sampai dengan perjalanannya kembali ke hadapan sang pencipta.pendidikan yang berlangsung pada sanggar seni ukir tradisional di Pandai Sikek merupakan kegiatan pengembangan potensi diri murid. 2008:19). Menurut Nasution (1995:49). (2) makhluk yang paling tinggi derajatnya. akan mencakup harkat dan martabat manusia. tujuan pendidikan pada dasarnya mengacu pada tujuan hidup manusia. (5) pemilik hak-hak asasi manusia (Prayitno. (4) makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Implementasi dari lima konsep dasar yang selalu melekat pada dirinya. saling memberi dan saling menerima serta saling melindungi. Kajian tentang hakikat manusia secara menyeluruh. Modal keimanan dan ketaqwaannya ditunaikan melalui peribadatan yang tulus dan ikhlas dalam mencapai redhaNya. Sedangkan modal hak asasi manusia dipenuhi melalui saling pengertian. mensejahterakan dan membahagiakan. Bekal kesempurnaan dan keindahannya diwujudkan melalui penampilan budaya dan peradaban yang terus berkembang.

Mukhtar (20001:7) menyatakan bahwa pembahasan tentang tujuan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan tentang tujuan hidup manusia sesuai dengan hahikat kemanusiannnya. Dengan teraktualisasikan harkat dan martabatnya. maka hakikat manusia sangat perlu diketahui guna mencapai tujuan pendidikan. (4) dimensi kesusilaan. dan (5) dimensi keberagamaan. 1996) bahwa pendidikan untuk semua. sebagai diri sendiri.harkat dan martabat serta ketinggian derajat yang dimilikinya. manusia akan dapat menemukan kehidupan di dunia dan di akhirat sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. dan sebagai makhluk sosial. yaitu kehidupan yang mulia. Menurut Prayitno (2008:21) dimensidimensi itu berkaitan dengan manusia sebagai hamba tuhan. to live with others. Berkaitan dengan pendidikan. bermartabat dan membahagiakan. (2) dimensi keindividualan. Dimensi-dimensi itu adalah (1) dimensi kefitrahan. learning to live together. 31 . b. Kehidupan demikian itu diatur dengan memenuhi hak-hak asasi masing-masing individu dalam keseluruhan dimensi kemanusiaannya. Selajan dengan itu. Dengan mempedomani dimensi ini maka pembelajaran pada sanggar seni ukir akan menjadi lebih baik sebab proses pendidikan didasari dengan pemahaman manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Kemudian diyakini bahwa pendidikan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan agar manusia dapat memelihara kelanjutan hidupnya (survival). Dimensi itu dalam upaya pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya. Panca Daya Selain dari konsep dasar tentang harkat dan martabat kemanusian maka ada beberapa dimensi yang melekat pada manusia. baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. (3) dimensi kesosialan. Hal ini sejalan dengan salah satu harapan PBB (UNESCO.

Daya rasa mengacu kepada kekuatan perasaan atau emosi dan sering disebut sebagai unsur afektif. (3) daya karsa. lebih sempurna. pikiran. dengan penekanan lebih besar pada unsur-unsur kreativitas. dan/atau lingkungan. Daya cipta. Daya karya juga melahirkan produk yang paling sederhana sampai yang paling canggih. dan lebih berarti baik dunia maupun akhirat maka manusia juga dibekali dengan kekuatan atau daya pengembangan. Daya karsa ini mengarahkan individu untuk mengaktifkan dirinya.Menurut Prayitno (2008:26) guna merancang hidupnya yang lebih baik. (4) daya rasa. Daya karsa merupakan kekuatan yang mendorong individu untuk melakukan sesuatu secara dinamis bergerak dan satu posisi ke posisi lain. dan (5) daya karya. Daya karya mengarah kepada dihasilkannya produk-produk yang secara langsung dapat digunakan atau dimanfaatkan baik oleh diri sendiri. Daya cipta bersangkut paut dengan kemampuan akal. Kemampuan atau keinginan berbuat dan semangat (termasuk di dalamnya prakarsa) merupakan isi daya karsa. dan fungsi otak. yaitu: (1) daya taqwa. produk-produk teknologi dan seni. Produk-produk yang berupa barang-barang konsumsi. dari 32 . orang lain. fungsi kecerdasan. yang disebut panca daya. berbagai jenis pelayanan dan penampilan. manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan. ini seringkali disebut sebagai komponen kognitif pada diri individu. untuk berubah dan keluar dan kondisi status quo. Untuk memungkinkan perkembangan individu ke arah yang dimaksud itu. Kajian panca daya ini dapat dijelaskan bahwa. baik dalam arti psikis maupun keseluruhan dirinya. Hal-hal yang terkait dengan suasana hati dan penyikapan termasuk ke dalam daya rasa. produk keilmuan. daya taqwa merupakan basis dan kekuatan pengembangan yang secara hakiki ada pada diri manusia untuk mengimani dan mengikuti perintah dan larangan dan Tuhan Yang Maha Esa. untuk berkembang. (2) daya cipta.

dimensi rasional. karena merupakan modal dasar kemanusiaan yang sudah dibawa oleh manusia sejak ia dilahirkan bahkan sejak ia masih berada dalam rahim ibunya. Menurut Waras Kamdi (2008) dalam paradigma pendidikan Indonesia manusia tidak dipandang sebagai alat produksi tetapi harus dipandang sebagai sumber daya yang utuh.yang tradisional sampai yang modern. 2000:21). termasuk dalam hal ini produk seni ukir. dan intelegensi instrumental. Dapat disimpulkan bahwa. Dengan demikian pendidikan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek perlu memperhatikan harkat dan martabat manusia yang mengandung lima dimensi kemanusiaan dan pancadaya. intelegensi emosional. yang mandiri. baik untuk kebutuhan pribadi maupun yang komersial. Mempedomani ini betapa pentingnya memahami hakikat panca daya terutama dalam penyelenggaraan pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. Menurut Kavlan (2000) dengan daya karya manusia menghasilkan berbagai produk baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. daya-daya itu sangat diperlukan manusia dalam menghasilkan berbagai produk baik yang modern maupun yang tradisional. Kegiatan mengukir di sanggar tradisional di Pandai Sikek merupakan salah satu bentuk kegiatan daya karya manusia. panca daya sering dimanifestasikan sebagai kemampuan dasar yang disebut intelegensi spiritual. dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakat (Tilaar. Modal dasar ini yang diarahkan dalam pembetukan manusia yang lebih baik dan 33 . baik untuk komersil maupun untuk pewarisan nilai budaya. Sejalan dengan itu Prayitno (2008) menyatakan bahwa panca daya itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan. Manusia yang utuh itu sendiri dalam paradigma baru pendidikan Indonesia adalah yang berfikir kreatif. Dalam kajian dewasa ini.

Perintah Iqra’ (baca!) dalam konsep Islam bermakna belajar. Hakikat Belajar Pembahasan tentang pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar. Menurut Aunurrahman (2009) belajar merupakan kegiatan penting setiap orang. hal ini terlihat dari definisi belajar yang diungkapkannya.. Bila dicermati pandangan Meyer ini. termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. dan (3) belajar sebagai konstruksi pengetahuan.niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orangorang yang beriman dan berilmu”.. Paradigma pendidikan (formal. Manusia seutuhnya adalah sosok individu yang harkat dan martabatnya terwujudkan secara penuh melalui pengembangan hakikat manusia dengan kelima dimensi kemanusiaannya melalui pengaktifan panca daya secara optimal. Dari hasil belajar manusia akan berilmu dan ilmu yang dibarengi dengan iman menjadikan derajat kehidupannya menjadi lebih tinggi. artinya untuk mendapatkan dan memahami suatu makna hanya didapat dengan cara belajar.. dan informal) ke depan haruslah dialihkan pada pemuliaan harkat martabat manusia yang dikemukakan. tanpak bahwa ada 3 paradigma bagaimana konsep belajar diformulasikan. (2) belajar sebagai pemerolehan pengetahuan. Meyer (1999) melihat belajar dan tiga pandangan yakni (1) belajar sebagai penguatan respon. Hal ini dinyatakan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Mujadalah ayat 11: “. Gage (1984) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Pandangan para ahli tentang konsep belajar cukup beragam. karena tidak ada pendidikan tanpa belajar.lebih utuh. nonformal. 2. Ketiga paradigma ini adalah paradigma 34 . Sejauh mana komponenkomponen ini diterapkan akan di lihat pada objek penelitian.

Menurut pandangan behavionistik belajar adalah perubahan perilaku peserta didik. karena belajar juga manusia dapat mengeksploitasi. (Aunurrahman. memilih. informasi dan faktor-faktor lain. retensi. kognitivistik. Menurut Muhibbin (2005) belajar amat penting artinya bagi perkembangan dan kehidupan manusia. dan menetapkan keputusan-keputusan penting untuk mempertahankan kehidupannya dalam persaingan antar bangsa. dan konstruktivistik. 2009). stimulus yang diterima disesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman sebelumnya. Memperhatikan hal ini maka proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan upaya untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dan meneksploitasinya sampai mereka memiliki keterampilan sendiri. Orang dikatakan belajar apabila ada perubahan perilaku yang diakibatkan dan dampak stimulus dan respon sehingga menjadi suatu kebiasaan (Schuman. Sedangkan paradigma konstruktivisme melihat pengetahuan tidak terlepas dari proses pembentukan (konstruksi) yang terus menurus berkembang dan berubah. Oleh karena belajar manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lain. Proses pembelajaran itu sendiri harus berorientasi kepada pengembangan segenap dimensi kemanusiaan.behavioristik. Konsepsi utama teori ini adalah stimulus dan respons (S-R) sebagai dasar adanya perubahan perilaku. akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman baru. 35 . Menurut Piaget (1971) pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir. Bila dikaitkan dengan pembelajaran yang terjadi di sanggar ukir maka ketiga paradigma ini menjadi dasar bagi pembentukan peserta didik. 1996). pengolahan informasi. Pandangan kognitivisme belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan.

1980) menjelaskan pendapat pakar teori S-R Bond (E. Lebih lanjut dijelaskan bahwa belajar tidak suatu yang terjadi secara alamiah. Untuk mencapai hasil belajar yang ideal tentu tuntutan terhadap tugas guru/ pendidik menjadi amat penting. Teori belajar yang dianggap pas untuk ini adalah perpaduan antara behaviorisme dan kognitivisme. bahkan mungkin peradaban itu sendiri akan lenyap ditelan zaman. Seorang murid yang belajar dalam situasi baik dan kondisi yang disiapkan akan mendapat hasil maksimal. Menurut Gagne cara berpikir seseorang tergantung pada keterampilan apa yang telah dimilikinya. Thorndike) bahwa jika kemampuan belajar umat manusia dikurangi setengahnya saja maka peradaban yang ada sekarang ini tidak akan berguna bagi generasi yang akan datang. Berdasarkan pendapat ini maka perkembangan berpikir kompleks dan baik tidak akan mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa proses belajar. Dalam hal ini (Howe. Sebaliknya pembelajaran yang tidak terencana sulit mendapatkan hasil maksimal. dan keterampilan serta hirarki apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu tugas.Menurut Muhibbin (2005) bahwa tinggi rendahnya kualitas perkembangan manusia akan menentukan masa depan peradaban manusia itu sendiri. akan terjadi dengan kondisi-kondisi tertentu. Artinya perkembangan murid akan didapat dari pembelajaran yang terencana dengan baik. kondisi eksternal yaitu situasi belajar yang secara sengaja yang diatur oleh pendidik. Dengan demikian kualitas perkembangan manusia amat tergantung dari apa dan bagaimana ia belajar. Jadi. dalam membahas model pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek akan bermanfaat sekali paradigma-paradigma teori belajar yang dikemukan di atas. Tugas guru adalah menyelenggarakan proses 36 .L. Kondisi itu menurut Aunurrahman (2009) adalah kondisi internal menyangkut kesiapan peserta didik.

Pemahaman guru terhadap hakikat manusia sebagai peserta didik menjadi penting dalam proses pembelajaran. Sehubungan dengan komponen-komponen pendidikan tersebut Prayitno (2005 : 15) mengemukakan bahwa interaksi antar komponen pendidikan tersebut terjadi dalam suatu hubungan yang unik. Agar potensinya dapat berkembang secara serasi dan maksimal. Ada dua kandungan pokok yang terdapat pada hubungan pendidikan itu. maka sebenarnya tujuan pendidikan syarat dengan pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Sejauh mana pemahaman seorang guru terhadap tujuan pendidikan akan berdampak pada penampilannya dalam mengajar. karena tidak terdapat pada kegiatan lain. yakni high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). dan dinamis. Interaksi edukatif antara guru dengan murid akan tejalin dengan harmonis apabila pemahaman guru terhadap tujuan pendidikan baik. Guru tidak saja 37 . sebagaimana dikemukakan dalam ketentuan etika pendidikan yang menyatakan: bahwa tanggungjawab puncak pendidik berada di dalam proses pembelajaran. oleh karena itu peran seorang guru menjadi sangat penting. Peran Guru Menurut Imam Barnadib (1996). terutama dalam perlakuannya terhadap peserta didik (murid).pembelajaran agar pada diri peserta didik berkembang suasana belajar. Hubungan yang harmonis dan kondusif antara guru dengan murid memungkinkan pengembangan potensi murid lebih tinggi. Berdasarkan pendapat Imam Barnabib. guru memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan potensi peserta didik agar mampu kreatif. Hal ini sesuai dengan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesi. maka guru harus dapat menerima siswa secara utuh (phisik dan psikis) dalam menjalin intraksi edukatif dalam proses pembelajaran. selain interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. a.

Menurut Suke Silverius (2003). Peters (1981) mengemukakan bahwa tugas dan tanggungjawab guru antara lain adalah memberikan bimbingan kepada peserta didik melalui penjabaran kurikulum sehingga maknanya dapat mempengaruhi dan terinternalisasikan dalam diri peserta didik dalam rangka pengembangan minat. bakat dan potensi yang dilikinya secara lebih optimal.berperan sebagai pengajar dalam proses transfer materi. keunikannya. Hal ini antara lain dapat diwujudkan melalui penerapan prinsip belajar yang berpusat pada peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar dengan melakukan dan mengembangkan kemampuan sosial. imajinasi. Berangkat dari pendapat di atas maka seorang guru harus benar-benar memperhatikan potensi murid dalam proses pembelajaran. Minat dan bakat murid yang belajar pada sanggar seni ukir mestinya mampu dikembangkan guna mencapai sasaran. kegiatan belajar mengajar harus berorientasi kepada pengembangan dimensi-dimensi kemanusian peserta didik. akan tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing. Dengan demikian tugas mendidik akan terlaksana dengan baik apabila guru benar-benar memahami peserta didik. mengembangkan kreativitas dan mengembangkan kerjasama. guru juga bertugas untuk memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga tujuan belajar akan tercapai dengan maksimal. dan latarbelakangnya. karena potensi masing-masing 38 . perbedaannya. minat dan bakatnya. mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Mempedomani pendapat dua pakar ini maka seorang guru seni ukir selayaknya harus memahami potensi yang ada pada muridnya. Menurut Nana Sujana (2002) bahwa dalam proses pembelajaran selain tugasnya sebagai pendidik. mengembangkan keingintahuan. dan fitrah bertuhan. potensi.

Perencanaan yang sadar bila seorang guru betul-betul memahami fungsinya sebagai sumber belajar dan sekaligus juga pendidik. dan (5) penilaian hasil pembelajaran. Kecepatan untuk menguasai materi ajar antara satu dengan yang lainnya juga berbeda. Dalyono. dan pancadaya. Disadari bahwa proses pembelajaran itu sendiri merupakan kegiatan yang terencana dengan sadar oleh guru guna mencapai tujuan pendidikan.murid tidak sama. Ada murid yang mempunyai potensi dalam bidang olah raga. dan panca daya. (3) penguatan. Mempedomani berbagai pendapat di atas ternyata peran seorang guru dalam proses pembelajaran begitu penting. Menurut Prayitno (2008). Sedangkan pilar kewiyataan yang merupakan perangkat praktik pembelajaran adalah (1) materi pembelajaran yang diturunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya. (1996) guru dituntut untuk lebih berperan dalam proses pembelajaran. (3) lingkungan pembelajaran. dan (5) keteladanan. (3 alat bantu pembelajaran. Pilar kewibawaan meliputi (1) pengakuan dan penerimaan. Menurut M. Maka di samping memahami hakikat kemanusiaan (peserta didik). dimensi kemanusiaan. ada yang lebih baik dalam matematik. Perbedaan itu merupakan fitrah manusia dan itulah dimensi kemanusian. (2) kasih sayang dan kelembutan. ing madya mangun karso. tut wuri handayani menjadi jiwa pilar kewibawaan. (4) tindakan tegas yang mendidik. proses pembelajaran harus didukung dengan pilar kewibawaan dan kewiyataan. dan ada yang berpotensi dalam seni. (2) pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran. maka seorang guru harus menerapkan prinsip high-touch (kewibawaan) dan high-tech (kewiyaan). ia 39 . ada yang baik dalam bahasa. Menurut Prayitno (2008) motto pendidikan nasional yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro ing ngarso sung tuludo. Untuk itu seorang guru harus memahami hakikat manusia. dimensi kemanusiaan.

Hal itu tidak saja pendidik pada lembaga formal termasuk pendidikan nonformal seperti di sanggar ukir.. b. karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan. ia mengarah pada pembelajaran dengan teknologi yang tinggi (high tech). 1976: 6). atau gelar kesarjanaan (Zais. Kurikulum Menurut Ansyar (1989) kurikulum diartikan berbeda-beda oleh beberapa golongan orang atau masyarakat. Walau terjadi perbedaan pendapat tentang kurikulum namun semunya bersepakat bahwa kurikulum tidak terlepas dari kegiatan pendidikan.. Ansyar (1989:29) bahwa walau terdapat ketidaksepahaman para ahli mengenai apa yang dimaksud dengan dasar-dasar kurikulum. serta teori-teori belajar adalah kekuatan-kekuatan yang 40 . salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum. Menurut Mulyasa (2006).kait berkait untuk menjangkau (to touch) kedirian peserta didik. sebagai “arena” dimana pelajar ‘bertanding’ untuk menguasai suatu pelajaran guna mencapai ‘garis finis’ berupa diploma. Hal mana setiap guru dan murid sama-sama menjadikan kurikulum sebagai pedoman menuju tujuan yang akan dicapai. tetapi sebahagian besar setuju . Berangkat dari pendapat Ansyar maka setiap orang dapat memberi makna dan maksud berbeda tentang kurikulum.. baik oleh pengelola maupun penyelenggara. ijazah. individu. Kurikulum juga diartikan berbeda-beda oleh para penulis buku pendidikan. Arti secara harfiah dari kurikulum itu sendiri yang diartikan sebagai “lapangan pertandingan”. masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian sebagai pemegang peran penting dalam proses pembelajaran maka kedua pilar ini mesti dikuasai seorang guru.. Sedangkan falsafah Minangkabau alam takambang jadi guru menjiwai pilar kewiyaaan.

Mulyasa sendiri tidak membatasi hanya pendidikan formal saja yang harus memiliki kurikulum.berpengaruh besar terhadap konsep dan aplikasi kurikulum. sebagai reproduksi kultural. sebagai hasil belajar. tetapi kurikulumnya tentu tidak seperti sekolah formal yang telah tersusun dan terstruktur. Ansyar (1989) memberikan beberapa konsepsi dasar tentang kurikulum. Mempedomani pendapat ini dapat disimpulkan bahwa setiap pengelola dan penyelenggaraan pendidikan mesti memiliki kurikulum oleh karena kurikulum merupakan acuan. Konsepsi dasar yang dikemukan Ansyar tentang kurikulum memberikan gambaran bahwa kegiatan apapun yang sekaitan dengan penyelenggaraan pembelajaran memerlukan kurikulum. 41 . melainkan seluruh penyelenggaraan pendidikan. Konsep dasar yang lebih mendekati maksud kurikulum dalam penelitian ini adalah kurikulum sebagai kegiatan berencana. Menurut Tyler (1949). dan sebagai pengalaman belajar. pengalaman belajar adalah pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan intraksi mereka dengan konten dan kegiatan belajar. sebagai sistem produksi. sebagai konten. sebagai reproduksi kultural. Dengan demikian pendidikan yang berlangsung pada sanggar ukir tradisional di Pandai Sikek diyakini memiliki kurikulum. arahan. sebagai kegiatan berencana. yakni sebagai program studi. Konsepsi ini memberikan pemahaman bahwa kurikulum dalam pelaksanaan pendidikan dapat dimaknai berbeda namun yang terpenting adalah tidak mungkin sebuah penyelenggaraan pendidikan tanpa kurikulum. dan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. Disisi lain para ahli melihat kurikulum bukan sekedar perangkat mata pelajaran melainkan sebagai pengalaman belajar. Dari banyak difinisi tentang kurikulum.

Dari perencanaan itu diharapkan kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan sasaran. nilai-nilai. Perencanan itu meliputi persiapan materi sesuai dengan tahapan belajar masing-masing murid pada sanggar ukir tersebut. serta teknikteknik yang diperlukan anak untuk hidup layak di masyarakat. Berkaitan dengan pendapat di atas maka ada kurikulum pada setiap sanggar ukir di Pandai Sikek. dan nilainilai yang dianut orang tua mereka. yaitu rencana yang menuntun pengajran. Dari pendapat ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kurikulum segala perencanaan bahan-bahan atau materi ajar yang akan diajarkan guru dalam proses pembelajaran termasuk ke dalamnya tentang urutan. kemudian dapat 42 . maka menurut Ansyar (1989: 15) banyak orang menganggap sekolah adalah bagian dari kebudayaan. metode dan teknik penyajian. sikap.Menurut Ansyar (1989) sebagai kegiatan berencana maka kurikulum adalah semua kegiatan yang direncanakan tentang apa yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. Taba (1962) menyatakan bahwa kurikulum merupakan rencana untuk membelajarkan pelajar. Hal ini sejalan dengan Macdonald (1965) yang mendifinisikan kurikulum sebagai suatu rencana pekerjaan. namun kegiatan belajar dilakukan sesuai dengan perencanaan guru. Walaupun perencanaan itu tidak merupakan dokumen tertulis seperti yang terdapat di sekolah formal. sekolah didirikan agar pelajar atau anak didik mendalami pengetahuan. sikap. Konsep dasar ke dua adalah kurikulum sebagai reproduksi kultural. Jadi memperhatikan proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek terdapat perencanaan-perencanaan yang dilakukan guru sehingga kegiatan berjalan dengan baik dan mencapai sasaran. Menurut Taba (1962) bahwa sekolah didirikan agar dapat mengajarkan pada anak-anak ilmu pengetahuan.

Berdasarkan pendapat ini dapat dilihat bahwa kegiatan transformasi seni ukir yang terjadi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek merupakan kegiatan reproduksi kultural. Kurikulum pada sanggar seni ukir di Pandai 43 . dan segi yang luas (semua pengalaman yang diperoleh di sekolah atau di luar sekolah).meneruskan dan bertanggung jawab terhadap pengemabangan kebudayaan masyarakat itu. Perubahan itu merupakan hasil bimbingan guru yang terencana. Maka dalam hal ini Foshay (1969) mengkonsepsikan kurikulum yang terdiri dari semua pengalaman belajar di bawah pimpinan guru. Memperhatikan pendapat ini maka setiap apa saja yang memberi pengaruh dari proses belajar pada murid merupakan implikasi dari kurikulum. Zais (1976:8) yakin bahwa semua pengalaman yang sesungguhnya diperoleh pelajar dari penerapan kurikulum sekolah merupakan data yang amat berharga bagi penentuan keberhasilan dan efektifitas kurikulum yang direncanakan. Hal ini berkaitan dengan bagian-bagian tertentu dalam pembelajaran seni ukir tidak senantiasa diperoleh dari aspek-aspek yang direncanakan guru. seperti seorang murid yang sebelumnya tidak bisa mengukir menjadi menguasai cara mengukir dan mampu menciptakan motif-motif baru. Menurut Ansyar (1989) ada dua kelompok yang melihat kurikulum sebagai pengalaman belajar. yakni konsepsi kurikulum dari segi yang sempit (sebagai suatu pelajaran yang diajarkan). Kelompok yang mengkonsepsikan secara luas sering menyebutnya dengan “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum). Kepada generasi muda diajarkan keterampilan dan nilai-nilai seni ukir yang merupakan warisan budaya masyarakat setempat. Bagian ketiga adalah kurikulum sebagai pengalaman belajar.

dan teknik mengajar walaupun secara gradual ada perbedaan di antara ketiganya karena itu sering digunakan secara interchangable. kurikulum tersebut dapat mempengaruhi pembentukan pengalaman belajar dan pendidikan.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran. diambil 13 Februari 2010). menentukan target. pemahaman adat dan falsafah.psb-psma. Menurut Akhmad Sudrajat (2009) istilah yang memiliki kemiripan makna. Metode Pembelajaran Ada beberapa istilah yang dalam proses pembelajaran hampir sama artinya. Aktifitas belajar yang baik adalah yang melibatkan siswa untuk belajar sendiri melalui pengalaman. dan (5) taktik pembelajaran. isi yang baik. prosedur evaluasi yang runtun (Taba. bersosialisasi. Sedangkan untuk mengantarkan siswa pada pengalaman belajar dapat dilakukan dengan memberikan perhatian yang baik. bahkan ada yang sulit membedakannya. (http://www. Menurut Abdul Azis Wahab (2008) di Indonesia para guru dan pendidik tidak membedakan pengertian metode. target yang jelas. Menurut Zais (1976) inti dari kurikulum adalah terselenggaranya aktifitas pembelajaran yang bermakna. sampai pada prosedur evaluasi untuk mendapatkan aktifitas pembelajaran yang bermakna. 1962). c. Jadi kurikulum yang akan dilihat dalam penelitian ini adalah sejauh mana guru memberikan perhatian. strategi. Jadi pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. (2) strategi pembelajaran. (4) teknik pembelajaran.Sikek juga mempunyai dampak nyata tetapi tidak direncanakan seperti kemampuan berwirausaha. (3) metode pembelajaran. sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya adalah: (1) pendekatan pembelajaran. yang 44 .

(5) laboratorium. dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. diantaranya: (1) ceramah. Abdul Azis Wahab (2009) menyatakan metode yang cocok untuk mengajar IPS/SS adalah metode ceramah. Dapat disimpulkan bahwa materi yang telah disiapkan guru disampaikan atau diangkat melalui metode pembelajaran. (2008) menyatakan strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. (7) brainstorming. Akhmad Sudrajat (2009) menyatakan terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran. yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach). (3) diskusi. (6) pengalaman lapangan. (9) simposium. strategi merupakan a plan of operation achieving something sedangkan metode adalah a way in achieving something. terdapat dua jenis pendekatan pembelajaran.merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oemar Hamalik (2008) menyatakan strategi pengajaran merupakan penterjemahan filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yang harus ditempuh dalam situasi-situasi khusus atau dalam keadaan tertentu yang spesifik. Dilihat dari pendekatannya. di dalamnya mewadahi. (8) debat. menginsiprasi. (4) simulasi. (2) demonstrasi. metode 45 . Jadi metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Wina Senjaya. Dengan kata lain. menguatkan.

Dalam proses pembelajaran pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek akan digunakan berbagai metode. Satu sisi merupakan kegiatan untuk 46 . Diyakani pada proses pembelajaran terdapat berbagai metode yang digunakan guru. Metode apa saja yang digunakan guru dan kapan metode itu diterapkan akan dicermati pada saat penelitian. dari proses pembelajaran diharapkan terjadinya perubahan kognitif. tidak terkecuali pembelajaran yang berlangsung pada sanggar seni ukir. untuk memperbaiki program belajar-mengajar. dan metode simulasi. Jadi evaluasi sangat diperlukan dalam setiap proses pembelajaran.. Lebih lanjut dijelaskan Ansyar bahwa evaluasi untuk mengetahui keberhasilan belajar. dan psikomotor.. Menurut Muhibin Syah (2005) evaluasi adalah penilaian terhadap keberhasilan program belajar siswa. evaluasi menjangkau lebih jauh yaitu untuk mengetahui apa yang terjadi dalam ruang-ruang kelas. dan untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan. sikap. d. yang bertujuan antara lain untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai siswa. Pemakaian metode guna mengimplementasikan materi yang telah disiapkan guru seni ukir. Evaluasi Hasil Belajar Menurut Aunurrahman (2009) evaluasi menempati kedudukan penting dan bahagian yang utuh dari tahapan dan proses pembelajaran. metode diskusi.inkuiri menemukan sendiri dan pemecahan masalah. Jadi dari pendapat ini ternyata evaluasi pendidikan merupakan suatu “event” yang ganda. Sejauhmana materi-materi yang telah disusun guru seni ukir dapat dikuasai muridnya tentu dilakukan evaluasi sebelum ia memberikan materi lanjutan dan sebelum ia menyatakan muridnya telah menjadi tukang ukir. Ansyar (1989) . metode tanya jawab.

Evaluasi kenaikan untuk menseleksi apakah sudah perlu materi lanjutan atau masih tetap materi yang sama. Untuk mendapat informasi yang tepat tentang pencapaian tujuan pengajran maka perlu seorang guru memahami tentang teknik dan prosedur evaluasi. Sedangkan evaluasi pembelajaran guna memperoleh keefektifan proses pembelajaran. Berdasarkan pendapat ini maka paling tidak fungsi evaluasi diagnostik dan kenaikan perlu diterapkan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. dan untuk penempatan. Evaluasi diagnostik berfungsi untuk mendiagnosa kelemahan dan keunggulan murid guna meningkatkan hasil belajar murid. untuk seleksi. Menurut Dimyati (2009) ada evaluasi hasil belajar dan ada evaluasi pembelajran. bagi guru maupun bagi sekolah. evaluasi proses dan evaluasi produk. evaluasi kenaikan juga dapat dipakai untuk menyatakan murid telah lulus atau sebagai tukang ukir. Menurut Nurkancana (1986). Muhibbin Syah (2005) menyatakan bahwa 47 . Menurut Imam (2005) evaluasi hasil belajar adalah memberi nilai atau makna tentang kualitas sesuatu yang dipelajari. Evaluasi hanya mungkin akan tercapai apabila dilakukan dengan mengikuti prosedur dan tehnik yang tepat dan benar melalui bermacam jenis evaluasi. evaluasi input. Suharsimi Arikunto (2005). evaluasi hasil belajar menekankan kepada perolehan informasi tentang pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.mengendalikan mutu pendidikan dan dari sisi lain merupakan upaya untuk pengumpulan informasi tentang pencapaian murid terhadap meteri yang disampaikan pendidik. seperti evaluasi konteks. dan Dimyati (2009) fungsi dan tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk diagnostik dan pengembangan. untuk kenaikan kelas. Menurut Suharsimi (2005) evaluasi hasil belajar dapat bermanfaat bagi peserta didik.

kemampuan mengingat. mungkin pula menggunakan tes objektif yang telah distandarisasikan untuk mengukur hasil belajar peserta didiknya. Jadi. Menurut A. pemahaman. baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi (penilaian) merupakan proses untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh melalui pengukuran berdasarkan instrumen tes maupun non tes. Seorang guru atau dosen. Muri (2005) tes hasil belajar (achievement test) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan guru disekolah atau dosen di perguruan tinggi. Oleh karena itu tes hasil belajar mungkin saja mengukur kecepatan lari. menciptakan sesuatu atau melahirkan pikiran secara tertulis. tetapi mencakup aspek yang lebih luas yaitu.evaluasi hasil belajar bukanlah sekedar pemberian angka yang berkaitan dengan satu aspek semata. kognitif (ranah cipta). Tes ini dapat disusun dalam bermacam bentuk namun pilihan bentuk yang tepat adalah sesuai dengan tujuan kegiatan pendidkan/pembelajaran yang telah ditetapkan. Tes prestasi belajar dapat berupa tes baku 48 . Sedangkan hasil belajar adalah suatu kecakapan nyata yang dapat diukur secara langsung melalui tes. menilai. rasa dan karsa. dan psikomotor (ranah karsa). afektif (ranah rasa). evaluasi hasil belajar adalah proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi (data) yang telah diperoleh melaui tes pengukuran hasil belajar. mengaplikasikan sesuatu. Sedangkan guru/dosen yang lain menggunakan tes perbuatan. untuk memahami tingkat hasil peserta didik dalam belajar. Memperhatikan pendapat ini maka evaluasi hasil belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek sangatlah berarti sebab evalusi mencakup pada tiga ranah cipta.

aplikasi. pembentukan pola/karakterisasi nilai.(standardized test) dan dapat juga dengan tes buatan guru (teacher made test). pemahaman. (2) afektif yang meliputi : penerimaan. Jadi tes hasil belajar dirancang untuk mengukur apa yang telah dipelajari dalam bidang studi yang bersifat formal. baik berupa tes esai. respon terbimbing.Muri (2005) hasil belajar merujuk kepada tingkat hasil peserta didik dalam belajar. melainkan dapat dilakukan pada tengah semester. dan (3) psikomotor yang meliputi : persepsi kesiapan (set). evaluasi/penentuan sikap (valuing). dan originalitas. Karena itu evaluasi hasil belajar telah dimulai sejak seseorang mulai belajar. mekanisme. tes objektif dan tes perbuatan maupun dengan inventory lainnya. gerakan/respon terbiasa. adaptasi/penyesuaian pola gerakan. diagnostik dan penempatan kalau dilihat dari segi fungsinya (A. analisis. Menurut A. mencakup aspek kognitif. partisipasi. dan tes buatan guru (teacher or locally made test).Muri. 2005 . Suharsimi. maupun portofolio yang dikumpulkan. 2005). Dengan 49 . Jadi hasil evaluasi bukanlah semata-mata pada akhir semester atau caturwulan maupun naik kelas. Hasil itu tercermin dalam berbagai aspek antara lain (1) kognitif yang meliputi : mengingat. Jadi hasil belajar terhadap sesuatu yang sudah dipelajari akan memberikan gambaran tentang pemahaman dan kesukaran atau kekuatan dan kelemahan sesorang dalam bidang tertentu. Oleh karena itu tes hasil belajar dapat berupa tes hasil belajar yang telah distandarisasikan (standardized achievenment test). tetapi juga tes formatif. evaluasi tugas-tugas yang diberikan. evaluasi dan kreatifitas. tengah caturwulan. pengorganisasian nilai (organization). afektif dan psikomotor. 1) Hakikat Evaluasi Hasil Belajar Dari gambaran di atas tampak dengan jelas bahwa tes hasil belajar bukanlah sematamata tes yang dilakukan pada akhir semester/tahun ajaran (tes sumatif).

a) Prinsip-prinsip Umum Evaluasi Belajar Menurut A. penilaian tidak menguntungkan atau 50 . penilaian berdasarkan pada prosedur dan kreteria yang jelas tanpa dipengaruhi subjektivitas penilai. (c) evaluasi yang baik bersifat objektif. Apabila guru telah menyelesaikan suatu kegiatan atau satuan pelajaran dan ingin mengatahui tentang tingkat hasil peserta didik dan kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. Guru merancang suatu tes hasil belajar terhadap meteri yang telah lalu.demikian apabila guru ingin menempatkan peserta didik dalam kelompok belajar maka guru terlebih dahulu mengetahui seberapa jauhkah hasil peserta didik dalam bidang yang akan ditempatinya itu. (e) evaluasi yang baik menggunakan alat ukur yang ganda dan sahih. melainkan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan. (b) evaluasi hendaklah kontinyu. (d) evaluasi yang baik berpijak pada tujuan yang jelas. (c) adil. Prinsip penilaian menurut Zaim (2009) adalah (a) sahih. dan (g) evaluasi bukanlah tujuan. 2) Prinsip-prinsip Evaluasi Hasil Belajar Untuk dapat memberikan gambaran yang maksimmal tentang hasil kegiatan pembelajaran. (b) objektif.Muri (2005) beberapa prinsip umum evaluasi belajar yang baik adalah (a) evaluasi yang baik bersifat komprehensif. maka dapat pula dilakukan tes hasil belajar. penilaian berdasarkan data yang mencerminankan kemampuan yang diukur. perlu dilakukan asesmen yang benar. (f) evaluasi yang baik hendaknya dilakukan oleh suatu tim. Walaupun tidak dapat dipungkiri untuk keperluan ini dibutuhkan tes jenis lain seperti “aptitude test” namun tes hasil tidak dapat diabaikan. baik ditinjau dari komponen evaluasi itu sendiri maupun dari prinsip-prinsip evaluasi yang dipedomani. Adapun prinsip-prinsip eavaluasi hasil belajar bersifat umum dan khusus.

(g) sistematis. Jadi berdasarkan pendapat ini maka evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek hendaklah sesuai dengan fungsi evaluasi dalam proses pembelajaran (penempatan. dan (d) tes hasil belajar hendaklah seterandal mungkin. dan (i) akuntabel. (d) terpadu. penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap. mencakup semua aspek kompetensi. Tes hendaklah valid dan reliabel. kreteria dan dasar penilaian dapat diketahui pihak berkepentingan. (c) bentuk/format tes yang dipilih hendaklah sesuai dengan tujuan yang dicapai.merugikan peserta didik.Muri (2005) ada beberapa prinsip khusus yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes hasil belajar yakni: (a) tes yang disusun hendaklah betul mengukur tujuan pembelajaran. b) Prinsip-prinsip Khusus Evaluasi Belajar Hasil-hasil belajar akan dapat diungkapkan menurut fungsi yang diharapkan apabila intrumen yang dipakai memenuhi syarat untuk hal tersebut. penilaian berdasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Menurut Asmawi & Noehi (1995) dan A. penilaian meupakan salah satu komponen pembelajaran. Dari prinsip umum ini dapat dilihat bagaimana penilaian yang dilakukan pada proses pendidikan yang dilakukan di sanggar seni ukir pandai Sikek. sistematis. penilaian dapat dipertanggungjawabkan. (e) terbuka. (b) tes yang disusun merupakan sampel yang representatif dari semua materi pembelajaran. formatif dan sumatif). 51 . (f) menyeluruh dan berkesinambungan. diagnosis. (h) beracuan kriteria. prosedur. Apakah ada alat evaluasi yang sahih. berkesinambungan dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu evaluasi pada proses pendidikan/pembelajaran di sanggar ukir hendaklah terkait dan mampu mengungkapkan tujuan itu.

artinya pemberian nilai mengacu pada perolehan skor di kelompok itu. evaluasi berdasarkan acuan patokan (criterion referenced evaluation) lebih baik dan tepat digunakan sebab guru dapat mengetahui seberapa jauh suatu aspek. 52 . Untuk menyatakan seorang murid telah dapat mengukir tentu ada sacuan yang digunakan guru. Tetapi tidak akan menceritakan apa yang dapat dikerjakan seseorang dengan menggunakan kriteria tujuan yang ditetapkan.Menurut A.Muri (2005) dan Asmawi & Noehi (1995) pengukuran berdasarkan norma kelompok adalah untuk menentukan kedudukan (relatif) peserta didik dibandingkan dengan temannya yang lain dalam kelompok itu atau bagaimana penampilan seseorang dibandingkan dengan temannya dalam kelompok. Bilamana seseorang telah memenuhi patokan tersebut ia dinyakan berhasil. Berdasarkan pengukuran ini dapat dilihat bagaimana pengelompok murid sanggar ukir di Pandai Sikek.Muri (2005) dari segi hasil peserta didik terhadap tujuan pendidikan/pembelajaran atau terhadap kelemahan-kelemahan dan kekuatan peserta didik dalam aspek tertentu. Jadi prinsip ini menggambarkan bahwa evaluasi dengan menggunakan acuan patokan dapat digunakan. norma teman-temannya yang lain. Menurut A. Adakah murid dikelompokkan berdasar skor yang diperolehnya atas dasar pembandingan dengan teman-temannya. Apa bentuk evaluasi itu dalam acuan patokan dan bagaimana bentuk patokan itu akan diobservasi dalam penelitian. telah dikuasai peserta didik dibandingkan dengan patokan yang telah ditentukan sebagai kriteria atau standar minimal hasil seseorang dikaitkan dengan tujuan Sejalan dengan itu Asmawi & Noehi (1995) menyatakan bahwa cara ini dibenarkan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan menggunakan sejumlah patokan. Ini berarti normanya adalah norma kelompok.

Selanjutnya oleh A. (e) dapat memberikan informasi apakah tujuan dapat dicapai oleh kelompok. (i) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci. (d) dapat menunjukkan rentangan tingkat hasil peserta didik dibandingkan dengan norma kelompok. (d) mempunyai standar tunggal untuk semua sehingga apabila tes itu dilakukan pada tempat yang berbeda. (b) tidak memperhatikan perbedaan individu. 53 . (g) indeks pembeda butir soal merupakan indikator menentukan kualitas soal. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. (c) mengukur kategori yang lebih umum. (c) lebih terfokus pada kawasan (domain) yang lebih spesifik. Muri (2005) dinyatakan bahwa beda kedua tipe itu adalah sebagai berikut. Tingkat hasil individu dibandingkan dengan hasil kelompok. (a) digunakan untuk mengukur tingkah laku yang dimiliki seseorang dengan merumuskan kawasan tingkah laku itu sebagai patokan atau mengutamakan pengujian hasil (mastery). (j) tujuan dirumuskan lebih khusus dan terinci sekali. dan (k) tidak cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif. (a) digunakan untuk mengukur pengetahuan. (b) perbedaan individu sangat menjadi perhatian. dengan menghormati penampilan tingkah laku orang lain dalam kelompok. (e) informasi yang ada tidak menunjukkan pencapaian tujuan. dan (j) cocok digunakan untuk diagnostik dan formatif dan mengukur kompetensi. kemampuan dan tingkah laku peserta didik. namun patokan adalah sama. (h) skor mentah tiap peserta didik adalah jumlah jawaban yang benar. (f) butir soal dipilih agar menyediakan perbedaan diantara individu. Sedangkan pengukuran berdasarkan norma kelompok ( norma referenced measurement). pengukuran berdasarkan patokan (Criterion Referenced Measurement). (f) semua butir soal yang diberikan untuk memberikan gambaran penampilan yang tepat. (g) indeks pembeda antara kelompok tinggi dan kelompok rendah bukanlah suatu yang penting.

Dari banyak difinisi dan pendapat tentang kebudayaan dapat disimpulkan bahwa kebudayaan 54 . namun senantiasa saja difinisi itu memiliki celah atau ruang diskusi baru. Banyak pendapat dan difinisi yang dikemukaan tentang kebudayaan. Kluckhohn (pakar antropologi sekaligus juga filsafat kebudayaan) dalam makalahnya yang termasyhur “Culture: a Critical Review of Concepts and Difinitions” tahun 1952 hanya mampu mengklasifikasikan 179 difinisi tentang kebudayaan. karena kebudayaan bahagian dari kehidupan manusia. Berdasarkan pendapat ini maka penilaian pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek mempunyai karakteristik sendiri. Pencarian tentang hakikat kebudayaan dilakukan oleh Bakker (1984) dalam buku Filsafat Kebudayaan. Kebudayaan Minangkabau Dua orang pakar A. Hal ini terkait dengan bahwa pembelajaran kelompok seni mencakup pada pemberian pengalaman estetis. Diskusi tentang kebudayaan senantiasa menarik. yakni apresiasi (apreciation).L Kroeber dan C. Beals dan Hoyer dalam buku An Introduction to Anthropology (1959).Menurut Zaim (2009) keunikan pembelajaran kelompok seni budaya terletak pada kegiatan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman estetis melalui dua kegiatan yang saling terkait. Tidak ada kepuasan yang pas tentang salah satu difinisi kebudayaan. Karakteristik penilain itu tidak cukup dengan mempedomani prinsip-prinsip penilaian secara umum maupun prinsip khusus. Difinisi tentang kebudayaan sekarang semakin berkembang sehubungan semakin banyak tantangan dan fenomena baru dalam kehidupan manusia. 3. Evaluasi pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek harus memasukkan sejauhmana pengalaman estetis murid. dan lebih awal oleh Kroeber dalam buku The Nature of Culture (1952). kreasi (creation) termasuk di dalamnya performance.

Pengertian belajar dalam pandangan kebudayaan adalah sebuah proses yang ada di tengah masyarakat. Dari banyak difinisi tentang kebudayaan. kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya dapat diperoleh di tengah masyarakat. moral. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dengan demikian betapa pentingnya masyarakat dalam proses pendidikan. Menurut Tilaar (2000) tidak mengherankan apabila usaha untuk mencari jawaban terhadap hekikat kebudayaan mampir dalam pertanyaan mencari hakikat manusia. disinilah afinitas (daya tarik-menarik/gabungan) antara pendidikan dan kebudayaan. di mana segala aspek yang kompleks apakah itu nilai-nilai atau hukum. Kedua-duanya khas insani oleh karenanya kebudayaan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan. kepercayaan. seni. bahwa kebudayaan didapat dengan belajar. bahwa kebudayaan bisa dalam bentuk tingkah laku dan dalam bentuk artefak. Kemudian Edward B. hukum. Dari pendapat dua pakar tersebut ada beberapa hal yang perlu ditarik yaitu bahwa kebudayaan adalah suatu sistem yang utuh bukan merupakan bagian-bagian. seni. maka disinilah titik singgung antara budaya dengan pendidikan. maka difinisi yang ada kaitannya dengan pendidikan adalah pendapat Koentjaraningrat (1990) yaitu keseluruhan sistim gagasan.adalah milik manusia. adat istiadat serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Taylor dalam Primitive Culture yang dikutip Tilaar (2000) menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang meliputi pengetahuan. Oleh karena manusia yang berbudaya dan membudayakan aspek kehidupannya. Sejalan dengan ini maka menurut Ansyar (1985) ada dua pandangan tentang fungsi sekolah pertama yang mengkonsepsikan sebagai pemelihara dan penerus kebudayaan dan kedua 55 . bahwa kebudayaan hasil prestasi manusia.

Pembicaraan tentang budaya bukan hanya milik masa sekarang saja. pemahaman dan pelestarian terhadap warisan budaya sebagai jati diri suatu etnik dan bangsa tetap menjadi penting dalam era global ini. Jangan sampai akar budaya yang telah diwarisi dari leluhur terdahulu tercabut di tengah kecenderungan homogenitas kebudayaan akibat globalisasi. Banyak hasil budaya masa lalu menjadi menarik untuk didiskusikan saat ini. dan seni ukir merupakan tinggalan budaya yang berbentuk artefak. Koentjaraningrat (1990) mengemukakan tiga wujud kebudayaan. Menurut Tilaar (2000:190) bahwa gelombang globalisasi akibat kemajuan teknologi khsusunya teknologi komunikasi dapat merupakan bahaya penggerhanaan identitas manusia termasuk hilangnya kebudayaan nasional dan lokal. gerabah. sedangkan keterampilan mengukir tinggalan budaya yang berbentuk tingkah laku. ide-ide atau gagasan. modal. dan sebagainya. nilai-nilai. malah patut dilestarikan sebagai aset. ada yang berbentuk tingkah laku dan berbentuk artefak. Dengan demikian seni ukir sebagai salah satu warisan budaya dan juga sebagai identitas budaya daerah seharusnyalah dilestarikan agar dapat tumbuh dan berkembang pada era global. Menurut Ardika (1999). Berbagai bentuk warisan budaya itu sendiri seperti. kedua kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan 56 . norma-norma. pertama kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. Mesjid-mesjid kuno. rumah-rumah adat. Menyimak pendapat ini maka warisan budaya atau tinggalan budaya patut dilestarikan. nilai-nilai.sebagai pengembangan individu anak yang terlepas dari kebudayaan. dan kekayaan sebuah bangsa. peraturan. Walau pendapat kedua yang menyatakan pendidikan hanya pengembangan individu murid. namun bila dilihat bahwa kebudayaan suatu sistem gagasan yang didapat dari belajar maka dengan sendirinya pendidikan itu adalah bagian dari kebudayaan. gagasan.

mikro film. tape. berhubungan serta bergaul satu sama lain berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan. (2) activities.J. yaitu (1) ideas. arsip. Wujud kebudayaan ini dapat diamati. Karena merupakan rangkaian kegiatan manusia dalam masyarakat. dan komputer dengan adanya kemajuan teknologi.berpola dari manusia dalam masyarakat. dan ide-ide yang menggerakkan sehingga menghasilkan berbagai kreativitas ada dalam wujud pertama ini. Berkenaan dengan seni ukir Pandai Sikek maka falsafah motif ukiran termasuk pada wujud kebudayaan inti ini. Sistem sosial ini terdiri atas kegiatan-kegiatan manusia berintegrasi. 57 . Wujud pertama ini ada dalam kepala atau alam pikiran anggota masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Ada yang mengistilahkan wujud pertama ini sebagai inti dalam dari kebudayaan. pola pembelajaran ukir.Honigmann dalam bukunya The World of Man (1959) bahwa ada tiga gejala kebudayaan. Inisiatif.Honigmann dan Koentjaraningrat dapat dijelaskan bahwa wujud pertama kebudayaan siifatnya abstrak. Keterampilan mengukir. dan difilmkan karena ia terjadi di sekeliling kita. Berangkat dari pendapat J. Pendapat Koentjaraningrat tentang wujud kebudayaan sama dengan yang dikemukakan oleh J.J. Wujud kebudayaan ideal ini sekarang sudah banyak tersimpan dalam buku-buku. maka sistem sosial ini sifatnya kongkrit. dan ketiga kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. penghargaan masyarakat terhadap seni ukir di Pandai Sikek merupakan bahagian dari wujud kebudayaan yang ke dua ini. tak dapat diraba yaitu sistem budaya yang merupakan wujud ide dari kebudayaan. gagasangagasan. difoto. dan (3) artifacts. disket. Wujud kedua kebudayaan juga disebut sebagai sistem sosial adalah berkenan dengan pola kelakuan dari manusia atau masyarakat itu sendiri.

Kebudayaan ide mengatur dan memberi arah kepada perbuatan tingkah laku manusia. seni-seni masa lampau. yakni bahasa. ia merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. 58 . Benda-benda budaya itu beragam bentuknya mulai dari yang sederhana sampai ke paling komplek atau rumit cara penciptaannya. Sebaliknya kebudayaan fisik dapat mengatur tingkah laku masyarakat. bangunan kuno lainnya. dan dapat juga karya masa kini seperti pesawat. dan dari tingkah laku menghasilkan normanorma baru dan membentuk pemikiran baru lagi. Benda-benda budaya itu dapat berupa tinggalan budaya atau hasil karya masa lampau seperti candi. dan seni kotemporer. diraba. dicium. sistem peralatan hidup dan teknologi. bangunan pencakar langit. Koentjaraningrat (1990). wajud ini paling kongkrit jika dibandingkan dengan dua wujud sebelumnya. sistem pengetahuan. dan difoto. dan dari aktifitas pola laku itu menghasil karya dalam bentuk benda-benda.Kuckhohn (1953) merumuskannya kepada tujuh unsur kebudayaan. Jika diperhatikan ternyata ketiga wujud kebudayaan saling berkaitan. sistem religi. diamati. organisasi sosial. Ketujuh unsur yang dikemukakan para pakar itu dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia ini termasuk di Indoensia. C. Cakupan kebudayaan cukup luas. Bangunan rumah adat Minangkabau yang penuh dengan ukiran merupakan benda hasil budaya. ia meliputi segala aspek kehidupan manusia namun oleh sarjana antropologi dibagi ke dalam beberapa unsur. Wujud kebudayaan ini dapat dilihat.Wujud ketiga kebudayaan adalah benda-benda budaya atau artefak. sistem mata pencaharian hidup. dan kesenian. Kesalingterkaitan wujud budaya itu sangat mudah dilihat dalam bentuk seni.

Dari tiga luhak ini kemudian menyebar sampai ke sebahagian Sumatera Utara dan Aceah bahagian utara. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. dari Sirangkak nan badangkang. Minangkabau merupakan kesatuan budaya sedangkan Sumatera Barat wilayah administratif pemerintahan. “…salirik gunuang Marapi. Datuk Sanguno 1987. durian ditakuak rajo. Rao jo 59 .Minangkabau salah satu suku bangsa di Indonesia mempunyai bentuk budaya sendiri. Pembagian khusus itu antara darek (darat) dan pasisie (pesisir) atau rantau. hinggo aia babaliak mudiak. sampai ka ombak nan badabuak. ke Riau dan semenanjung Malaka bahagian Timur. ke Jambi dan Bengkulu bahagian selatan. Beberapa penulis (Navis 1984. saedaran gunuang Pasaman. hinggo buayo putiah daguak. ka Timur ranah Aia Bangih. sailiran Batang Sikilang. sampai ka sipisau-pisau hanyuik. Pada awalnya kawasan kebudayaan Minangkabau hanya terdiri dari tiga luhak (Tanah Datar. saputaran Talang jo Kurinci. Berdasarkan tambo-tambo/sejarah alam Minangkabau. Nenek moyang orang Minangkabau sendiri sebagaimana dinyatakan dalam berbagai tambo berasal dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua. sialang balantak basi. sajajaran Sago jo Singgalang. sampai ka pintu rajo ilia. dengan dikurangi daerah kepulauan Mentawai. dan 50 Kota) kemudian meyebar kedaerah lain yang disebut dengan rantau. Agam. Menurut Umar Yunus (1997) daerah asal Minangkabau diperkirakan seluas daerah Propinsi Sumatera Barat sekarang ini. lokasi atau daerah asli masyarakat etnis Minangkabau diceritakan sebagai berikut. akan tetapi daerah ini dibagi lagi ke dalam bagian-bagian khusus. Minangkabau tidak sama dengan Sumatera Barat walaupun sebahagian besar masyarakat Minangkabau mendiami wilayah Sumatera Barat. Datuk Rajo Panghulu 1997. hinggo lauik nan sadidiah.

dan Nasrun. Kebudayaan Minangkabau bersumber dari falsafah hidup dengan nama “falsafah alam”. Mamangan (peribahasa) orang Minangkabau menyatakan ‘alam takambang tampek ba guru’ (alam terkembang tempat berguru). hingga Taratak Aia Hitam. Pesisir Bandar Sepuluh. Rajo Panghulu. sekitar gunung Pasaman. Unsur alam memberikan peran yang berbeda. gunung Mahalintang. tempat hidup dan mati.. 1977. sampai ka Tanjuang Samalidu. ( Dt. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya mengisyaratkan ide. sampai ke ombak yang berdebur. sehiliran/ menyusuri Batang Sikilang. dari Kepiting yang keras hingga buaya yang putih dagu. sampai ke pisau-pisau hanyut. sampai ke pintu raja hilir. Pasisia Banda Sapuluah.Mapa Tungguah. Pucuk Jambi Sembilan Lurah). sampai ke Tanjung Simalidu. dan pola laku hidup masyarakat Minangkabau. ke timur renah (daerah) Aia Bangih. bagi orang Minangkabau alam tidak sekedar tempat lahir dan berkembangan. daerah Rao dan Mamat Tunggul. gunuang Mahalintang. Kehadirannya tidak sekedar bernilai estetis melainkan sarat dengan muatan filosofis. 60 . Unsur-unsur alam saling berhubungan tapi tidak saling mengikat. Dengan demikian motif ukiran Minangkabau sebagai salah satu contoh budaya Minangkabau juga bersumber dari alam. 1984.. Pucuak Jambi Sambilan Lurah. melainkan juga mempunyai makna yang dalam.sebaris gunung Merapi. 1971). Navis. masing-masing bebas dengan eksistensinya. Pembelajaran seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek bukan sekedar mentranspormasi keterampilan mengukir saja akan tetapi lebih dari itu adalah mewariskan kebudayaan Minangkabau yang berfalsafahkan pada alam. hinggo Taratak Aia Hitam. Sialang berbatasan/bertanda besi hingga arah air kembali mudik. (. 1984: 59-60). dan saling mengelompok tapi tidak saling meleburkan. seputaran gunung Talang dan gunung Kerinci. Unsur alam itu dalam suatu harmoni dan dinamis sesuai dengan hukum dialektika bakarano bakajadian (bersebab berakibat). hingga laut yang terasa panas. Falsafah yang bersumber pada alam. saling berbenturan tapi tidak saling melenyapkan. durian ditakah raja. sejajaran gunung Sago dan gunung Singgalang. (Navis.

Seni dan Pendidikan Seni a. Perkembangan diri yang baik adalah adanya keseimbangan antara jasmani dan ruhaniah. kedua sebagai tingkah laku yakni keterampilan mengukuir dan sikap masyarakat pendukung budaya. Kemampuan murid dikembang dari aspek jasmaniah dan ruhaniah. Menurut Ramalis (2005:10) pendidikan seni dapat dijadikan pendekatan dalam belajar sehingga keseluruhan peran pendidikan seni dapat terimplementasikan dalam mengembangankan berbagai kemampuan dasar manusia. Ada kecenderungan kehidupan hanya pembentukan pada aspek jasmani saja seperti dengan mengatur pola makan. Begitu juga dalam perkembangan dan pembentukan otak manusia lebih banyak pada kegiatan pembentukan otak kiri. Konsep Seni dan Pendidikan Seni Menurut Yahya (2009) bahwa seni di dalam khasanah pendidikan belum banyak dilirik dan bahkan kedudukannya sering dilupakan. antara fisik dan psikis. olah raga.Penelitian pendidikan seni ukir pada sanggar ukir akan melihat tiga komponen kebudayaan. 61 . Hal ini terjadi ketika masyarakat menganggap bahwa seni hanya sebagai objek untuk dinikmati dan diapresiasi belum dipandang sebagai proses pembentukan dan pengembangan diri. Pendidikan seni termasuk pada kegiatan seni ukir di pandai Sikek tidak hanya pada pembentukan salah satu aspek saja. Pertama adalah sebagai ide atau gagasan yakni motif dan falsafah ukiran yang bersumber pada alam. dan antara raga dan emosi. Berangkat dari pendapat ini seni dapat dijadikan sebagai pembentukan dan perkembangan manusia. dan ketiga adalah wujud benda yakni hasil karya seniman ukir yaitu benda ukiran. 4. dan istirahat.

dan kriya) (http//ppgkes/module/ com. rasional. Kelompok ilmuan neurophsychology menemukan peta kemampuan otak manusia. persepsi. dan kecerdasan spasial untuk seni rupa (lukis. atau tiga kecerdasan. sapcial. multilingual. inter pribadi. dan multikultural memiliki potensi dalam pengembangan kecerdasan mansia agar mampu bertahan hidup dan mampu tampil secara bermartabat pada masa kini dan masa depan. bahwa otak manusia terdiri atas dua belahan yaitu otak kiri dan otak kanan. kreativitas. Memperhatikan konsep ini maka masing-masing manusia terutama murid semestinya mempunyai kemampuan berkesenian. dan spiritual. Otak ini akan berinteraksi dengan belahan kanan yang mengatur fungsi intuisi. Penulis: Oki). kinestetik. dan analitis. 6 Februari 2010. antar pribadi. drama. dua kecerdasan. musik. disain. dan emosional.php/ Sabtu. Menyimak pendapat ini dan bila dilihat kondisi sekarang maka sebahagian pendidik belum banyak yang mengetahui bahwa kegiatan seni berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik manusia. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. Dari sembilan kecerdasan ini maka ada manusia yang menonjol pada salah satu kecerdasan. matematik. Masing-masing belahan otak manusia saling berinteraksi. spasial. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. dan silat). Juga dapat dilihat bahwa ada tiga kecerdasan yang berkaitan dengan seni yakni kecerdasan musik untuk seni musik.Menurut Ramalis (2008) bahwa pendidikan seni yang multidimensional. dan dalam hal ini kemampuan murid mesti dikembangkan guna adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan. patung. kecerdasan kinestetik untuk seni media gerak (tari. Karya seni 62 . Otak manusia belahan kiri mengatur kemampuan logika. natural. Howard Gardner menemukan multi kecerdasan (multiple intellegenius) yang meliputi kecerdasan linguistik.

rasa dan pikiran Ekspresi Estetika Emosional Subyektif Emosional Wadah ungkapan pengalaman batin Secara umum seni-seni tradisional termasuk seni ukir Pandai Sikek lebih banyak pada konsep seni sebagai imitasi. dan tampuruang hanyuik (tempurung hanyut). Jadi apabila pendidikan seni diberikan pada peserta didik berarti memberi keseimbangan pembentukan pribadinya yang lebih utuh. Pembentukan dan perkembangan otak kanan diperlukan untuk keseimbangan otak kiri. Khusus berbicara tentang seni maka ada dua kelompok pemikiran yang mendasari lahirnya konsep seni. diproses dan tersimpan dari otak kanan. yang membicarakan keindahan objektif. makanan dan benda lainya. hewan.merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. Menurut Sri 63 . Kreativitas seorang seniman merupakan salah satu kecerdasan yang diolah. Kolompok pemikiran imitasi berorientasi pada estetika dogmatik. itiak pulang patang (itik pulang sore). berpikir kreatif. terutama otak kanannya. Berasarkan temuan di atas ternyata karya seni yang kita nikmati merupakan hasil kerja otak. Kelompok pertama yang memandang seni sebagai imitasi dan kelompok kedua menyatakan seni sebagai ekspresi (Wickiser. Motif ukiran merupakan stilisasi dan simbol dari bentuk alam. Konsep A Dasar Sifatnya Strategi Sasaran Imitasi Estetika dogmatis Objektif Rasionalitas Keserasian tangan. Dari konsep ini maka Ramalis (2006: 19) menyajikan dalam bentuk tabel berikut. Motif-motif ukiran merupakan imitasi atau tiruan bentuk alam seperti motif siriah gadang (rangkaian daun sirih). 1957). yang membicarakan keindahan subjektif. sedangkan kelompok pemikiran kedua memandang seni sebagai ekspresi berorientasi estetika perasaan. dan kemampuan memecahkan masalah.

rasa dan pikiran. tentu akan berbeda dengan kondisi pada lembaga non formal yang lebih menekankan pada keterampilan.Zaim (2009) menawarkan adanya perubahan orientasi yakni dari persepsi monokultural menjadi multikultural. 2006) ini melahirkan konsep strategi rasionalitas seni. Pendapat di atas menggambar kondisi pada sekolah formal di Indonesia. Sedikit sekali dalam proses pembelajaran yang menyeimbangkan antara keterampilan tangan. jarang diarahkan pada pengembangan keserasian tangan. rasa dan pikiran. Konsep strategi rasionalitas ini berkembang di masyarakat berbagai negara termasuk Indonesia. Jadi bila dilihat cara kerja seni tradisional lebih banyak sebagai simbol atau lambang yang merupakan hasil tiruan alam yang memiliki keindahan objektif. logis mengikuti jenjang kesulitan. lebih mengarahkan pada pengembangan pikiran. dan 60 motif makanan dan benda lainnya pada ukiran di Pandai Sikek. Dasar konsep psikologis bagi strategi rasionalitas sebenarnya dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan secara serasi antara tangan. Di sisi lain menurut Ramalis (2006) bahwa pembelajaran seni disusun dan dipelajari secara sistematis.Sundari (2000) bahwa ada 50 macam motif tumbuh-tumbuhan. 32 motif binatang/ hewan.A Pestalozzi (dalam Ramalis. Oleh karena itu fokus kegiatan pembelajarannya adalah pada penguasaan teknis keterampilan tangan yang dapat diukur secara objektif. rasa dan pikiran. Dalam hal ini M. Bila konsep ini dihubungkan dalam proses pembelajaran terutama pada pendidikan formal di Indonesia. Konsep ini menurut J. Pembentukan pemikiran pada sanggar ukir di Pandai Sikek akan didapat pada 64 . Pendidikan seni Indonesia yang tertanam selama ini terutama disistem pendidikan persekolahan berorientasi pada kaidah ‘baik-buruk’ konsepnya seni Barat.

dan sosiologis. Kelompok reform yang mempelopori pembaharuan pendidikan seni antara lain Van Prag. 65 . Pembaharuan konsep pendidikan seni utamanya dilandasi oleh alasan filosofis. Raip Wickizer dan Herbert Read. Kaum reformis memandang karya seni sebagai wadah ungkapan pengalaman batin seniman. dan pikiran dilakukan akan dilihat pada objek sesungguhnya dalam penelitian. Wickiser menyatakan dapat membantu perkembangan kepribadian dan pembinaan estetik anak. Ross menyatakan dapat membantu mengembangkan perasaan anak. Sejak itu konsep pendidikan seni mengalami pembaharuan yakni mata pelajaran menggambar berubah menjadi mata pelajaran yang bersifat: ekspresi. Jadi konsep pendidikan seni ini lebih mengutamakan dampak pengiring (nurturance effect) dan próses pembelajaran seni. Menurut Setjoatmodjo (1981) bahwa konsep pemikiran bahwa seni sebagai ekspresi identik dengan konsep seni moderen yang lahir bersamaan gerakan reformasi. Ada banyak ahli yang menyatakan dampak pengalaman dari proses pembelajaran seni. seni dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Menurut Read (1970) bahwa secara filosofis. Dewey (dalam Read. Kondisi yang digambarkan di atas terjadi pada berbagai pendidikan seni di sekolah formal Indoesia sekarang ini. G. Kerchensteiner. 1970) mengatakan seni adalah kulminasi dan pengalaman.pemahaman dan penempatan motif. Victor Lowenfeld. rasa. Sejauhmana keseimbangan tangan. pernyatakan Margaret Naumberg dapat digunakan sebagai sarana terapi mental. antara lain: Lowenfeld menyatakan dapat meningkatkan daya kreativitas anak dan dapat membantu pertumbuhan mental anak melalui penyaluran ekspresi dan kreativitas. menurut Lichwark dan Lange dapat membantu kepekaan anak terhadap karya seni. psikobogis.

dan 66 . yaitu kecenderungan pelaksanaan pendidikan seni yang didasarkan pada pembenaran esensial dan pembenaran kontekstual (Eisner. dan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas.dan Harbert Read sendiri menyatakan dapat membiri kepekaan cita rasa keindahan anak. Menurut Ramalis (2006) terdapat beberapa pendangan tentang konsep pendidikan seni yang berkembang seperti. Materi pembelajaran berupa kemampuan keterampilan seni. Akan tetapi dalam pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional lebih banyak pada aspek keterampilan. konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi. dan pameran/gelar hasil karya. maka dalam aplikasinya memunculkan dua kecenderungan. pemahaman teori seni. Artinya pernyataan Read (1970) yang menyatakan bahwa tujuan pembelajaran seni sebagai alat atau media pendidikan mendapat dukungan dari para ahli pendidikan seni yang lainnya. Merujuk pendapat ini bahwa pembelajaran seni yang bersifat esensial dapat dimaknai sebagai bentuk pendidikan seni. seperti untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan murid. Untuk meningkatkan kemampuan seni murid yang berkaitan dengan seni itu sendiri termasuk pada pembenaran esensial. sedangkan pembenaran kontekstual terkait pada fungsi untuk mencapai tujuan di luar tujuan pembelajaran seni. cara menggunakan pahat. Berdasarkan konsep pendidikan seni yang difungsikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. 1972). Bentuknya mengarah pada pembinaan dan peningkatan penguasaan berkesenian melalui kegiatan ekspresi diri dan melibatkan pengalaman serta kesadaran estetik. kemampuan apresiasi seni. konsep pendidikan seni untuk apresiasi. Menurut Ibenzani (1985) keterampilan itu meliputi cara-cara membuat sketsa pada papan ukir.

Konsep-konsep pendidikan seni itu untuk sarana apresiasi. 4) analisis. Gambar merupakan suatu bentuk bahasa untuk menuangkan ide bahkan ada sauatu kosa kata yang tidak jelas atau ragu biasa divisualisasikan dengan gambar. Jadi 67 . Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget (1952) yang menekankan pentingnya gerakan manusia dalam kaitannya dengan perkembangan pengetahuan. 1) persepsi. afektif. untuk pembentukan konsepsi. Jadi pembaharuan konsep pendidikan seni dengan mengutamakan kebebasan berekspresi murid bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. 1975) tiga dimensi prilaku. yaitu kognitif. Menurut Ramalis (2008) perlu diperhatikan dimensi prilaku agar pembelajaran seni dapat berhasil. baik melalui kegiatan menggambar maupun kegiatan observasi lapangan dengan kegiatan mengunjungi obyek-obyek seni seperti galeri. Menurut Brent G. yaitu. Konsep pendidikan seni untuk apresiasi dilandasi pada pemikiran bahwa persepsi murid-murid terhadap seni dan keindahan perlu dikembangkan melalui penghayatan langsung. Konsep pendidikan seni untuk pembentukan konsepsi dilandasi oleh pemikiran bahwa “salah satu sarana untuk mengungkapkan pikiran adalah menggambar”. dan pameran. apresiasi. Tujuan lain adalah untuk mendewasakan murid baik segi intelektualnya. Pandangan itu didasari bahwa pendidikan seni dapat mengembangankan berbagai potensi yang ada pada murid. 2) pengetahuan. Wilson (Bloom. dan 7) produksi. Konsep ini juga untuk melatih kedua tangan murid sehingga merangsang syaraf otak kanan dan otak kiri. Berdasarkan pendapat ini maka ada tiga pandangan tentang konsep pendidikan seni. 5) evaluatif0. maupun menghendaki murid belajar dan perbuatan aktif. dan membina kreatifitas. dan psikomtorik menjadi tujuh dimensi prilaku seni. 3) pemahaman.cara merawat alat-alat uikir.

gerak terbimbing. belajar. penyesuaian. Kegiatan seni sebagai sarana untuk mengembangkan potensi. dan mengukir pada dasarnya adalah pengembangan kreatifitas murid. Kegiatan menggambar adalah mengorganisasikan sensasi indrawi sehingga menghasilkan impresi yang dapat diinterpretasikan. Memperhatikan tujuh tingkatan prilaku motorik ini. Menurut Simpson dalam Aunurrahman (2009) ada tujuh prilaku kemampuan motorik. dan kreatifitas. Sebagaimana dikemukan sebelumnya bahwa kegiatan mengukir termasuk pada kegiatan motorik. Sementara Lowenveld (1982) 68 . maka kreatifitas merupakan aspek tertinggi dalam pengembangan kemampuan motorik murid. Kegiatan seni rupa yang berbentuk praktek. Pengembangan keterampilan dalam aspek pembelajaran tercakup dalam ranah psikomotor. Jadi pembentukan konsep dihasilkan dari aktifitas menggambar karena menggambar merupakan kegiatan mental dan pikir. seperti menggambar. mengingat. maka guru harus dapat sampai pada aspek ini. murid tidak sekedar menirukan bentuk-bentuk yang diajarkan atau dicontohkan guru. Sedangkan konsep pendidikan seni untuk pertumbuhan mental dan kreatifitas dimaksud untuk menjelaskan terjadinya pertumbuhan mental dan kreatifitas yang ada pada diri murid. dan berpikir (Gagne dalam Aunurrahman.kegiatan menggambar suatu obyek berarti menerjemahkan persepsi ke dalam bahasa visual. melukis. Menurut Aunurrahman (2009) kreatifitas adalah kemampuan menciptakan pola baru. 2009). gerak komplek. menganyam. yaitu persepsi. Penekanan kemampuan kognitif menjadi titik berat konsep ini. ide dan gagasan murid. kesiapan. gerak terbiasa. di mana strategi kognitif itu sendiri adalah kemampuan memecahkan masalah-maslah baru dengan jalan mengatur proses internal individu dalam memperhatikan.

Pendidikan seni tidak hanya harus berlangsung di sekolah-sekolah formal tapi dapat berlangsung setiap saat di tengah masyarakat. sedangkan seni adalah sarananya. 69 .menyatakan bahwa kegiatan seni merupakan sarana bagi processing. murid adalah idealnya. spasial. mengutamakan dampak dari proses pembelajaran seni dan bukan mengutamakan kualitas hasil karya seni. b. Konsep seni imitasi mendasari munculnya filosofi konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. Belahan otak kanan ini akan berintraksi dengan otak kiri yang berfungsi logika. Pentingnya Pendidikan Seni Pemahaman terhadap pentingnya pendidikan seni bagi masyarakat perlu terus dikembangkan. mengutamakan kualitas hasil karya seni yang didukung oleh kualitas proses kerja skill. Konsep pendidikan seni yang menekankan pada penguasaan teori seni dan keterampilan seni. kemungkinan besar disebabkan minimnya penghargaan terhadap pendidikan seni. oleh karena itu konsep tersebut cocok diterapkan dan dikembangkan pada sekolah kejuruan seni. Dari kajian filosofi konsep seni dan konsep pendidikan seni tersebut di atas bahwa seni untuk mengisi dan mengasah otak kanan yang berfungsi intuisi. Akibatnya adalah timbul berbagai kekerasan yang melanda Indonesia. Conny Samiawan (2001) menyatakan bahwa pengkerdilan pendidikan seni yang cukup lama itu salah satunya menghasilkan rendahnya kepekaan sosial masyarakat. persepsi. Pendidikan seni dapat mengasah solidaritas sosial masyarakat. Sedangkan konsep pendidikan seni yang menekankan pada penumbuhkembangan kepribadian murid. dan emosional. sedangkan konsep seni ekspresi mendasari munculnya filosofi pendidikan seni yang menekankan pada menumbuhkembangkan kepribadian murid. sanggar-sanggar seni atau kursus-kursus seni. kreativitas. rasional dan analitis.

1957. Yahya (2006) menyatakan bahwa pendidikan seni juga bersifat multi dimensi karena bertujuan mengembangkan dimensi personal. dimensi sosial. (1) koordinasi antara berbagai persepsi dan serisasi dalam kaitannya dengan lingkungan. Menurut Ramalis (2006: 24) bahwa pendidikan seni. dan dimensi profesional. Dalam dimensi personal maka pendidikan seni juga membantu menyeimbangkan teknologi yang berorientasi praktis ekonomis dengan kemanusiaan (humanity). Pada dimensi personal pendidikan seni membantu mengenbangkan kecerdasan intelektual (IQ). 1970: 8). Pendidikan seni sebagai upaya pendewasaan dan pembudayaan murid (Wickiser. Lowenfeld. kecerdasan kreatifitas (CQ). selain berfungsi untuk pendewasaan dan pembudayaan peserta didik juga memiliki nilai yang berarti sebagai sarana pembentukan pribadi. kecerdasan spitual dan moral (SQ). Pendidikan seni merupakan elemen yang esensial dalam membentuk watak. Apalagi cabang seni yang berakar dan tumbuh di tangah masyarakat akan mudah menjadi sarana untuk mengasah rasa solidaritas sosial. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan seni merupakan subsistem dalam pendidikan nasional. kehalusan rasa dan budi. mengasah rasa. 1982). Jadi pendidikan seni tidak hanya diberikan sebagai salah satu bidang studi di sekolah formal ada baiknya diberikan pada pendidikan nonformal. serta jiwa kewirausahaan. dan (4) alat untuk mengekspresikan ide atau gagasan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk (Read. (3) alat untuk mengekspresikan berbagai pengalaman jiwa atau untuk mengungkapkan sebagian atau seluruh bawah sadar. kecerdasan emosional (EQ).Pengembangan pola pikir. (2) alat untuk mengekspresikan perasaan yang dinyatakan dalam suatu bentuk. Pendidikan seni berfungsi sebagai. Pada dimensi sosial maka pendidikan 70 . dan meningkatkan karsa murid dapat dilakukan dengan pendidikan seni.

1975) menerjemahkan perilaku kognitif. (2) pengetahuan. 1990). dan (7) produksi. rupa. Wilson (dalam Bloom. Sedangkan dalam dimensi profesional maka pendidikan seni menekankan pada penguasaan keterampilan. 71 . Untuk itu motivasi dan minat murid terhadap kegiatan seni jangan dimatikan terutama dalam proses pembelajaran. dan psikomotorik menjadi tujuh dimensi perilaku seni yang meliputi. Kepekaan rasa dikembangkan dengan memberi kesempatan memahami nilai budaya melalui permainan (Mary. Keseluruhan aspek dalam dimensi ini bersifat berjenjang dan perlu dipelajari murid melalui muatan seni yang beragam. dan suara sebagai bahasa eksperisi maupun keilmuan. Pembelajaran akan berhasil jika dalam pendidikan memperhatikan berbagai dimensi perilaku seni. (6) apresiasi. teknis dan materi seni. kerena dapat menguanakan media. Pengembangannya disesuaikan dengan perkembangan dengan kebutuhan seni. Berikan kesempatan dan wadah murid dalam mengembangkan diri untuk mengolah kemampuan kreatif mereka dengan cara mengeksplorasi terhadap beragam kosa rupa.seni membantu mengembangkan sikap toleransi agar mudah bergaul dalam masyarakat luas dan menghargai hak azasi manusia. Pendidikan seni juga dapat bersifat multilingual dan multikultural. serta dapat menghagai keanekaragaman budaya. bunyi dan gerak. Ketujuh aspek dimensi perilaku seni ini perlu dilatihkan pada murid secara terus-menerus. Muatan seni tergantung pada karaktersitik bidang seni yang dikembangkan. (3) pemahaman. agar murid dapat mengembangkan jiwa mandiri sebagai bekal hidup di tengah masyarakat. (4) analisis. (5) evaluasi. (1) persepsi. afektif. sehingga proporsi bobot dan setiap aspek yang perlu dicapai akan berbeda sesuai dengan tingkatan pendidikan. gerak.

panas. sebaliknya jika rasa haus belum terpuaskan maka akan terekspresikan dengan sedih atau menangis. Menurut Ramalis (2006) seringkali anak kurang mampu mengeluarkan isi hatinya lewat bahasa lisan. Ekspresi anak-anak tersebut ditunjukan untuk mencapai keinginan tertentu misalnya menyatakan keadaan dingin. rasa haus. sebagai media eksperisi.c. sebagai media komunikasi. jika keadaan rasa haus telah berakhir biasanya mengakibatkan rasa gembira yang dinyatakannya dengan senyuman. bahasa lisan lebih sulit untuk digunakan mengungkapkan 72 . sebagai media penjelajahan estetis. teori pengungkapan yakni seni sebagai sana untuk mengungkapkan perasaan batin. sebagai media penyaluran bakat/ hobby. rasa lapar. Ekspresi tersebut saling berhubungan. Kegunaan Seni Jika diklasifikasikan maka ada beberapa kegunaan seni bagi manusia. Seni sebagai media ekspresi telah nampak sejak manusia itu lahir. Hal itu tampak ketika bayi menangis dan gerakan-gerakan lainnya yang merupukan eksperisi diri untuk diketahui ibunya. dan teori suasana lingkungan yakni seni yang bertalian dengan keadaan masyarakat dan lingkungannya. sebagai media bermaian. dan sebagai media membantu penalaran/ berpikir. Ada lima teori seni yang bertalian dengan kegunaan seni bagi manusia. yakni. rasa gembira. Menurut Adirozal (2002) general theory of art terdiri dari teori bentuk yakni seni sebagai pure form (bentuk murni) dan expressed form (bentuk ungkapan). dapat pula mengekspresikan sesuatu yang tak mengarah kepada suatu obyek melainkan hanya menyatakan perasaan rasa sakit. dan rasa marah. Bagi anak. teori alat yakni seni sebagai sarana untuk keperluan berbagai hal termasuk merangsang berfikir. teori permainan yakni seni sebagai sara untuk menyimbangkan energi yang berlebih. teori metafisis yakni seni hanyalah sebagai tiruan dari ciptaan Ilahi.

Seni sebagai media komunikasi bermakna sebagai penyampaian suatu hasrat sesuatu pada orang lain. Kebutuhan orang dewasa juga berbeda dengan anak-anak. Dalám hal ini pikiran. Ekspresi kreatif adalah ekspresi yang mengandung kreativitas. Sebaliknya ekspresi yang tidak kreatif adalah ekspresi yang tidak menghasilkan nilai-nilai kreatif atau merupakan hasil tiruan. Menurut Ramalis (2006) terjadinya ekspresi secara spontan tanpa perintah dari luar. Orang dewasa telah mempunyai banyak kosa kata untuk mengungkapkan perasaannya berbeda dengan anak-anak yang terbatas kosa katanya. Berkomunikasi merupakan fitrah bagi mansuia sebagai makhluk 73 . Anak-anak lebih banyak dan suka mengeksperisikan disi dengan coretan dan gerak. hasil pengulangan atau hasil jiplakan. Sebab ada 2 macam ekspresi dan anak yaitu ekspresi kreatif dan ekspresi yang tidak kreatif. Manusia secara alamiah juga terjadi perbedaan antara satu dengan lainya. patung. Potensi seorang murid dengan murid lainnya tidak sama. Ekspresi adalah salah satu kebutuhan ruhaniyah/ batiniah individu untuk berhubungan dengan orang lain. terutama yang dijumpai dalam kegiatan berolah seni. Perbedaan potensi ini harus menjadi perhatian seorang guru dalam mendorong eksperisi murid.isi hatinya. perasaan dan emosi ikut berperan. maka ekspresinya pun juga berbeda. seni dapat membantu mengekspresikan idenya. ada yang lebih kuat dan cekatan pada kemampuan berupa gambar. arsitektur. Pengembangan daya ekspresi akan terkait dengan pengembangan kreativitas. Ekspresi kreatif inilah yang harus dikembangkan dalam setiap pembelajaran kesenian. dan kriya lainnya. Oleh karena eksperisi merupakan kebutuhan ruhaniyah manusia maka ekspresi perlu mendapat perhatian dan guru perlu mengembangkannya.

Berkomunikasi dengan turlisan dalam wujud puisi. energi itu dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif sehingga mengahsilkan karya. karikatur. Berkomunikasi dengan berbagai media atau gabungan media suara. seni ukir. seni patung. tagak maninjau jarak (duduk berpermainan. Permainan adalah ekspresi tentang hubungan manusia dengan seluruh kehidupan. drama. orang dewasapun juga dapat melahirkan seni dari cara bermain. Berkomunikasi dengan wujud gambar melakirkan seni lukis. Teori permainan dalam seni rupa lahir dari adanya kelebihan energi dan ide. Sebahagian seni di Minangkabau lahir dari pengolahan energi yang berlebih. novel. Seni yang dihasilkan dari permainan bukanlah milik anak-anak semata. seni anyaman. pantonim. dan gambar bisa dalam wujud film. gerak. eksperisi yang dihasikan oleh anak-anak yang paling murni. dan pantun. Mamangan Minangkabau yang melandasi seni itu adalah duduak ba pamainan. Jika ditarik pada ranah seni maka berkomunikasi dengan suara dapat diwujudkan dalam bentuk nyanyian atau musik. silat. kelebihan energi inilah yang mendorong manusia untuk menyeimbangkannya dengan cara bermain-main. Sebagai media bermain maka seni merupakan bentuk ekspresi bebas yang paling jelas pada anak-anak. 2002). seni tari. sulaman. tulis. (Adirozal. berdiri meninjau jarak). Sedangkan seni yang dihasilkan dari falsafah tagak maninjau jarak menghasilkan pencak. gerak dan gambar. Gambar merupakan media komunikasi yang cenderung paling banyak dilakukan oleh anak yang dibentuk dengan bahasa rupa. dan seni ukir. 74 . dan silat. Berkomunikasi dengan gerak dapat dalam wujud seni tari. Sarana berkomunikasi dapat melalui media: suara. dan randai. dan opera. tenunan.sosial. Dari kegiatan duduak bapamainan mengahsilkan seni anyaman.

ada yang hanya pada tahap penikmat seni dan ada yang sampai sebagai pencipta seni.Apapun bentuk aktifitas permainan merupakan gerakan-gerakan yang berupaya mencari perpaduan antara proses mental dan fisik. dan (4) dari segi pikiran. Menurut Ramalis (2006) permainan bisa dikembangkan sesuai dengan 4 fungsi mental. Bakat yang terpupuk sejak awal tentu akan jauh lebih baik perkembangannya. Malah tanpa pernah dikembangkan bakat yang ada akan menjadi pudar dan hilang. Adirozal (dalam Yayah Khisbiyah. Sebuah pendidikan seni yang ideal tentu memberikan kesempatan kepada setiap murid yang berbakat untuk memelihara dan mengembangkan bakatnya sejak awal. Kegiatan berkesenian menjadi salah satu sarana untuk memupuk dan mengembangkan bakat. dikembangkan dengan kegiatan-kegiatan konstruktif ke arah keahlian. banyak orang berpendapat bahwa kemampuan berkesenian merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. dan ada yang seni rupa. (3) dari segi sensasi. Sebagai media pengembangan bakat atau hobi seni. hanya saja bentuk dan kadar seninya yang berbeda. 2004) menyatakan sebenarnya setiap manusia mempunyai bakat seni. permainan dapat dikembanngkan dengan latihan-latihan penjiwaan pada seni drama. ed. Bakat yang baik dalam berkesenian tidaklah cukup. (2) dari segi intuisi. Maksud dari estetis di sini adalah keindahan yang berkaitan dengan 75 . Ada yang berbakat seni tari. Selain sebagai penyaluran hobi maka seni juga sebagai media untuk penjelajaran pengalaman estetis. yakni (1) dari segi perasaan. dikembangkan dengan latihan-latihan ritmis pada seni tari dan musik. sebab sebaik apapun bakat seseorang tanpa pernah diasah dan dikembangkan maka tidak akan berarti apa-apa. dapat dikembangkan dengan cara mengekspresikan diri pada seni disain plastis atau visual. ada yang seni musik.

Atau dapat juga murid diajak lansung kepada objek-objek alam dan lingkungan masyarakat sehingga menumbuhkan kepekaan estetisnya. sebab pengalaman estetis itu sebagai vokabulari bagi anak. Eastetic experince merupakan pengalaman keindahan yang dimiliki setiap manusia. melainkan setiap murid harus memeliki kepekaan seni.rasa. Setiap pribadi murid perlu dikembangkan cita rasa keindahan dalam rangka menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya. Pengalaman keindahan dapat dibangun dengan berbagai cara. di mana semua manusia memiliki cita rasa keindahan. Pernyataan buya Hamka bahwa ‘hidup tanpa seni akan hampa’ tidak dimaksud bahwa setiap manusia/ murid harus mampu melahirkan karya seni. di antaranya mengajak murid untuk berapresiasi atau menyaksikan dan menghargai karya orang lain. Setiap murid memiliki naluri dan potensi cita rasa keindahan. Hasil pengamatan dibahas dengan tujuan murid dapat kesenangan sebagai pengalaman subjektif. Dengan baiknya cita rasa estetisnya maka dengan sendirinya ia akan mampu menghargai karya seni baik karya seni 76 . Adanya keseimbangan otak kiri dan otak kanan akan membuat murid dapat menganalisa dan sekaligus merasa. Dari banyaknya pengalaman keindahan itu maka ia akan dengan mudah berkarya. maka naluri tersebut akan “mati”. Bila naluri murid dikembangkan dengan baik maka ia akan memeliki pengalaman estetis yang banyak dan baik. Cita rasa keindahan itu terpusat pada kesenangan dan merupakan pengalaman subyektif yang sulit ditentukan tolak ukurnya. jika naluri ini tidak ditumbuh kembangkan. Setiap anak yang telah memiliki kepekaan seni maka cita rasa keindahannya baik. Untuk menumbuhkan kepekaan seni adalah dengan mengembangkan sikap dan pengalaman cita rasa keindahan. Potensi dan naluri itu harus diasah dan dikembangkan terus.

Pada zaman pertengahan kelompok seni kelas bangsawan disebut dengan liberal arts yang dilawankan dengan vulgar arts. Pengelompokan ini menjadi rancu karena aritmetik. Apakah media suara. geometri. berpikir kreatif. Proses-proses seperti itu akan membantu anak berpikir analisis dan bernalar. Dengan demikian kegiatan berkesenian menempatkan rasio sebagai kontrol. astronomi masuk bersama musik ke dalam empat serangkai (quadrium). Setelah ditetapkan salah satu medianya. Seni sebagai media membantu kemampuan berfikir atau bernalar hal ini terkait dengan seni merupakan hasil kerja olah otak. baik karya bangsa sendiri amaupun karya bangsa asing. atau rupa. Karya seni merupakan produk berpikir level tinggi melalui proses berpikir kritis. Kelompok seni kaum bangsawan dilindungi oleh dewa sedangkan seni kelas bawahan bersifat kasar. dan kemampuan memecahkan masalah. Bahkan Aristoteles mengatakan.dia sendiri atau karya seni orang lain. sebelum sebuah karya seni dilahirkan maka terlebih dahulu dilakukan analisa yang terkait dengan media yang tepat karya tersebut diwujudkan. proporsi dan bahan yang digunakan. Menurut Yahya (2009) bentuk apapun produk seni yang kita rasakan. diterima indera dan disimpan dalam memory saat ini adalah hasil kerja otak. dialektik. dan tata bahasa. retorika masuk pada tiga serangkai 77 . gerak. bahwa keselarasan antara rasio dan emosi terdapat dalam seni. misalnya rupa maka berlanjut pada analisis komposisi. Seni Ukir Awalnya pengelompokan seni (zaman Yunani) berdasarkan satus sosial. Hal ini dapat dilihat dalam proses berkarya seni. d. yaitu kelompok seni kaum bangsawan (court-arts) dan kelompok seni kelas bawahan (folkarts).

tembikar. (The Liang Gie. Sedangkan yang masuk pada seni kriya adalah anyaman. seni yang tinggi ekspresinya termasuk fine arts dan seni terpakai disebut applied arst. disain interior. keramik. Khusus tentang seni ukir maka bangsa Indonesia telah mulai mengenalnya sejak zaman batu muda (neolitik). dan seni grafis. disain eksterior. perhiasan perak. sulaman. logam. dan audiovisual arts. 1976). Seni pertunjukan terdiri dari seni tari. Jika mengacu pada konsersium seni Indonesia maka pengelompokan seni terdiri dari seni pertunjukan. Pembagian seni selanjutnya berdasarkan indera serap manusia yakni visual arts. dan pembuatan medali. 78 . Pernah juga pengelompokan seni berdasarkan pada halus dan kasarnya kerja seni. seni pahat. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis. seni patung. titik. dan seni musik.(trivium). dan lengkungan. tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. seni teater. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. kerajinan kulit. Seni rupa terdiri dari seni murni. serta seni multi media (drama telivisi dan film). seni rupa dan disain. permadani. musik dan kesusasteraan. seni karawitan. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telah membuat ukiran pada kapak batu. dan disain komunikasi visual. batik. tenunan. arsitektur. Pengelompokkan ini dirasakan juga kurang tepat sebab sebab tidak ada seni yang tidak memiliki ekspresi dan tidak juga ada seni yang tidak terpakai. perhiasan emas. Kelompok seni yang masuk pada seni murni adalah seni lukis. Pengelompokan seni juga pernah dilakukan atas kandungan daya ungkap atau ekspresinya. audio arts. yakni sekitar tahun 1500 SM. Kelompok seni yang halus disebut dengan manyor arts yang terdiri dari seni lukis. seni kriya. dan ukiran. ukiran manikam. Kelompok seni kasar disebut minor arts terdiri dari perabotan kayu.

diambil 8 Maret 2010 pukul 16. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yaitu menggunakan bahan perunggu. dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu. Tumbijo. Yunani. serta binatang maupun manusia. penggambaran dan pengukiran motif. Assyiria. tumpal. Risman Marah (1988) menyatakan ukiran adalah sesuatu yang diukir atau dipahatkan yang tidak bisa dipisahkan dengan motif-motif. dan f. Persia. pilin berganda. b. bambu. kulit. Ukiran Minangkabau pada umumnya banyak mengambil nama-nama motif dari bentuk tumbuh- 79 . batu.dengan bahan tanah liat. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor. ciri-ciri ukiran. batu. menggoreskan huruf-huruf dan gambar pada plat-plat dari kayu atau logam sedemikian rupa. Motif ukiran yang mengakat atau menstilisasi dari bentuk alam berlaku di manamana. seni Mesir kuno. yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. India. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander. Lebih lanjut dijelaskan bahwa seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. d. pada pengambilan dan pemilihan suatu motif. perak dan lain sebagainya. (http://www.blogster. baik seni primitif Afrika.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia. gerak garis dasar. Islam. 1985). kayu. Hanya saja dalam pengolahan dan penerapannya terdapat perbedaan yakni: a.30 WIB). Babylonia. Hal ini dapat dilihat dari sejarah seni rupa. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu. penempatan motif. emas. ( HB. jelas sekali bahwa alam dan segala isinya bentuk dan kurenahnya menjadi sumber ilham bagi para seniman. Pengertian ukiran menurut Van Houve dalam Ensiklopedia Indonesia adalah ukir mengukir. topeng. dan Indonesia. atau bahan-bahan lain. Dt. c.

Menurut Joyce dan Weil (1980) 80 . Jadi model pembelajaran merupakan inti atau jantung dari strategi mengajar. namun ada juga yang diambil dari kata-kata adat. 5. Menurut Elizar (2008) model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Model mempunyai makna yang lebih luas dari sekedar metode dan strategi pembelajaran. Peralatan ukiran Minangkabau tidaklah sebanyak pahat ukiran Bali dan Jepara. Dari berbagai difinisi dan teori model itu menjadi acuan dan pedoman untuk melihat atau menemukan model pendidikan seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. namun dalam hal ini tidak dimaksud untuk membahas bermacam-macam teori model. pahat sudu (pahat sodok). pahat korek lubang disamping pahat rencong. Walau ada yang ditatahkan pada logam akan tetapi tidak disebutkan sebagai ukiran melainkan hanya sebagai hiasan kerajinan atau kriya logam. Menurut Ibenzani (1985) pahat ukiran Minangkabau yang paling tua usianya bernama pahat rencong.tumbuhan dan binatang. Kayu yang banyak digunakan di Minangkabau terutama di Pandai Sikek sampai saat ini adalah kayu surian. Model Pembelajaran Beragam difinisi dan teori yang dikemukan mengenai model pembelajaran. pisau rencong. Menurut Zulhelman (2000) motif-motif Minangkabau bersumber dari alam yang berangkat dari falsafah orang Minangkabau yaitu alam takambang jadikan guru (alam terkembang menjadi guru). dan nama makanan. Seni ukir sebagai salah satu kekayaan budaya Minangkabau lebih banyak dipahatkan pada kayu. dan juga tidak ditujukan untuk menguji model yang telah ada. Alat ukir tradisional Pandai Sikek terdiri dari pahat layang-layang atau pahat siku.

Bell (1981) menyatakan bahwa A teaching/learnng model is a generalized instructional process wich may be used for many different in a variety of subjects . Pendidikan dan pembelajaran merupakan aktivitas dalam upaya membangkitkan. membentuk kelompok siswa untuk suatu pelajaran dan memberikan tes kepada siswa. Walau ada yang menyamakan antara model dengan teori tapi ada perbedaannya yakni bahwa model berasal dari asumsi-asumsi yang disederhanakan. nilai. mendorong. mengatur tingkah laku siswa. ide. Winatapura (2001) menyatakan bahwa model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang dipergunakan untuk mendapatkan pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. keterampilan. Pembelajaran yang efektif tidak sekedar mengajar dengan baik. sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertintak berdasarkan model itu. kelima unsur itu menurut Bruce Joyce (1994) adalah: (1) sintaks. yakni urutan kegiatan atau langkah-langkah pembelajaran. dan cara bagaimana belajar. dan memfasilitasi potensi-potensi murid. yakni menguraikan peranan pendidik (guru) dan peserta didik serta aturan-aturan yang diperlukan dalam interaksi sosio- 81 . cara berpikir. Sebauah model akan baik dan berarti jika di dalamnya terdapat lima unsur. Guru harus tahu bagaimana mengadaptasi pengajaran terhadap tingkat pengetahuan siswa. Suherman (1993) mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas. memotivasi siswa untuk belajar. Menurut Mills (1989) model adalah bentuk repsentasi akurat. Jadi model merupakan interpretasi atas hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh dari beberapa sistem.hakekat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi. (2) sistem sosial. Pendapat Bell ini secara umum dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dapat ditetapkan pada beberapa subjek.

(3) prinsi-prinsip reaksi. 8) melakukan validasi terhadap draf model.kultural. Dalam menyusunan sebuah model ada langkah-langkah tertentu yang dilakukan. 6) melakukan analisis hubungan antara aspek-aspek. dan 9) menghasilkan model. yakni pengaruh langsung dan tidak langsung yang dialami peserta didik saat penerapan model. Model yang baik juga hanya akan terwujud ababila disusun berdasarkan kajian-kajian yang kompreherisif terhadap data yang ada dan telah divalidasi. yakni memberikan gambaran kepada pendidik tentang cara memandang atau merespon pertanyaan-pertanyaan siswa. (4) sistem pendukung. 2) menetapkan tujuan penyusunan model. 7) menyusun draf model. 4) mendeskripsikan keadaan yang terjadi saat ini. 3) mendeskripsikan aspek-aspek yang terkait dengan masalah yang akan disusun sebagai modelnya. 5) mengelompokkan data. keadaan dan fenomena yang ada berdasarkan kajian terhadap teori-teori pendukung. Pendapat. langkah-langkah dan unsur- 82 . Menurut Taba (1962) dan Sukmadinata (2005) langkah-langkah itu adalah: 1) menjelaskan fenomena yang berlaku saat sekarang. yakni kondisi yang diperlukan agar model dapat terlaksana secara efektif dan efisien. dan (5) efek instruksional dan pengiring. Dari berbagai pendapat yang telah dikemukan di atas maka model yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu kerangka konseptual yang menggambarkan suatu keadaan yang menyeluruh dalam mengorganisasi pendidikan atau pembelajaran yang berfungsi sebagai pedoman guna mencapai tujuan. Menurut Bastian (2009) sebuah model dapat dianggap baik apabila mampu memberikan gambaran yang tepat tentang hubungan-hubungan antara fenomena yang terjadi dengan aspek-aspek yang ada pada suatu hal keadaan benda.

Perkiraan Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Harkat dan Martabat Manusia Tujuan Pendidikan Guru Seni Ukir Proses Pembelajaran Murid Penerapan high touch high tech Tahapan Pembelajaran pre. post Evaluasi Hasil Belajar Murid yang jadi guru seni ukir Tukang Ukir Model Pendidikan Seni Ukir pada Sanggar Tradisional di Pandai Sikek Tujuan Pendidikan Harkat dan Martabat Manusia 83 . while.unsur yang mesti terkandung dalam penyusunan model yang dikemukan akan dipedomani.

analisis data. teknik. simbolik. Selain langkah-langkah pokok yaitu pengumpulan data. data dan sumber data. Untuk mewujudkan hasil penelitian yang baik diperlukan metode penelitian yang tepat. (4) teknik pengumpulan data. dan penyajian hasil penelitian. fenomenologis. Bentuk Penelitian Penelitian ini berbentuk kualitatif yang sering dilawankan dengan penelitian kuantitatif. Adapun metode penelitian yang dimaksud adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam proses penelitian. dan deskriptif. etnografis. Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. studi kasus. Dalam bab ini secara berturut-turut diuraikan hal-hal tentang (1) bentuk penelitian. pada bagian ini dikemukakan pula hal-hal yang berkenaan dengan paradigma penelitian. Hakikat penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (1992). perspektif ke dalam. etnometodologi. interpretif. ekologis. (2) lokasi penelitian.METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk melihat secara kualitatif model pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional di Pandai Sikek. naturalistik atau alamiah. (5) analisis data. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif (kata-kata). bentuk penelitian. bukan kuantitatif (angka-angka). (3) data dan sumber data. Moleong (1998) adalah sebagai prosedur 84 . dan evaluasi pembelajaran seni ukir pada sanggar-sanggar tradisional itu akan disajikan secara diskriptif. Sejalan dengan itu Nasution (1992:18) menyatakan penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. interaksionis. Menurut Moleong (1998:3) ada juga yang menyatakan penelitian kualitatif ini dengan istilah inkuiri. Materi. penentuan lokasi penelitian. dan (6) penyajian hasil penelitian A.

penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Selanjutnya Moleong mengutip Jerome Kirk dan Marc L. Miller yang mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasan sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 1998:3). Sugiyono (2005) menyatakan bahwa penelitian kualitatif muncul karena adanya perubahan paradigma dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala. Paradigma realitas sosial dipandang sebagai sesuatu yang holistik/utuh, kompleks, dinamis, dan penuh makna. Paradigma demikian disebut dengan paradigma postpositivisme. Paradigma penelitian sebelumnya disebut positivisme di mana memandang gejala lebih bersifat tunggal, statis, dan konkrit. Paradigma positivisme mengembangkan penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma postpositivisme mengembangkan penelitian kualitatif. Penelitian ‘Model Pendidikan Seni Ukir Pada Sanggar Tradisonal di Pandai Sikek’ tidak dimaksudkan memberikan perlakuan kepada subyek terteliti, tetapi hanya mendiskripsikan hal-hal yang dilakukan oleh subyek terteliti dalam melakukan kegiatan pembelajaran sehari-hari, baik yang dilakukan oleh guru maupun reaksi murid. Diskripsi dilakukan setelah data yang ada terlebih dahulu dikaji dan ditelaah. Pristiwa pembelajaran pada sanggar seni ukir tersebut merupakan perilaku sosial sehari-hari yang dilakukan oleh guru dan murid. Dimyati (1996) mengemukakan bahwa penelitian yang berkaitan dengan peristiwa sosial akan mudah dijaring datanya jika diletakkan pada salah satu kuadran peta paradigma sosiologi Ritzer. Kuadran keempat Ritzer yaitu kuadran untuk melihat suatu

85

peristiwa interaksi sosial terutama perilaku guru dan murid yang terjadi dalam proses pembelajaran seni ukir baik di dalam sanggar maupun di luar sanggar, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Sugiyono (2009:285) bahwa dalam pandangan penelitian kualitatif gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisahpisahkan), tidak ditetapkan berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang meliputi aspek tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity). Untuk memperoleh data yang secara holistik maka dilakukan penelitian bentuk diakronis yaitu meneliti dengan melihat perkembangan objek. Proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek telah berlangsung semenjak tahun 1920-an, sedangkan sanggar atau studio seni ukir berdiri pada awal tahun 1970 oleh Ramli Dt. Rangkayo Sati. Data yang dapat dihimpun dimulai semenjak guru sekarang menjadi murid Ramli Dt. Rangkayo Sati, kemudian mereka sebagai guru, dan murid-murid seni ukir sekarang. B. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Sebelum diberlakukannya PERDA Nomor 9 tahun 2001 tentang sistem pemerintahan terendah di Sumatera Barat, maka Pandai Sikek pernah dalam bentuk desa. Sekarang Pandai Sikek merupakan sebuah kenagarian, di samping sebagai daerah teritorial

administrasi pemerintahan terendah maka nagari juga merupakan teritorial budaya/adat. Apa bila desa merupakan satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan di daerah lainnya di Indonesia, maka kenagarian adalah satuan teritorial terkecil dalam sistem pemerintahan Sumatera Barat. Hal ini dibenarkan dengan diberlakukannya Undangundang No 32 tahun 2004 tentang sistem otonomi daerah.

86

Lokasi penelitian meliputi

kenagarian Pandai Sikek. Ada beberapa alasan

menetapkan kenagarian Pandai Sikek sebagai lokasi penelitian. 1. Penetapan lokasi ini mengingat kenagarian merupakan daerah teritorial sebagai pendukung budaya Minangkabau. Seni ukir sebagai objek penelitian merupakan warisan budaya berada dalam kewilayahan kenagarian Pandai Sikek. Seni ukir yang oleh masyarakatnya dirasakan sebagai milik bersama, walau yang membuatnya tidak seluruh masyarakat Pandai Sikek (empat buah sanggar). Sebagai bukti bahwa seni ukir yang ada pada sanggar tradisional di Pandai Sikek menjadi budaya masyarakat setempat maka gaya ukiran tersebut dinamakan ‘ukiran Pandai Sikek’ (Ibenzani Usman, 1985) 2. Sebelumnya tiga wilayah seni ukir Sumatera namun Barat sekarang yang memiliki tetap gaya eksis dan atau

mengembangkan

yang

berkesinambungan hanyalah Pandai Sikek. Dua daerah lain yakni gaya IV Angkek Candung ( untuk Payakumbuah) dan gaya Banuhampu Sungai Puar (Agam) tidak terlalu baik pembinaan pendidikannya atau hampir tidak ada generasi muda daerah ini yang belajar seni ukir. Malah sebahagian sanggar seni ukir dua daerah ini telah banyak berubah fungsi pada kegiatan pembuatan perabot. 3. Di daerah Pandai Sikek sampai saat ini masih banyak generasi muda yang berminat dalam mewarisi seni ukir. Ada beberapa generasi muda Pandai Sikek yang masih mau belajar seni ukir pada sanggar tradisional di Pandai Sikek. 4. Secara historis penduduk Pandai Sikek merupakan satu kesatuan yang sama yakni luhak Tanah Datar. Kenagarian Padai Sikek bahagian dari luhak Tanah Datar yang diakui sebagai negeri tertua di Minangkabau. Sebagaimana dinyatakan

87

1998. dan Amran 1981) menyatakan bahwa penyebaran penduduk di Minangkabau dimulai dari daerah Pariangan dekat Gunung Merapi luhak Tanah Datar kemudian menyebar ke wilayah luhak Agam dan luhak 50 Kota. intansi pemerintah (lembaga pendidikan formal yang mengajarkan materi seni ukir). Data primer didapat dari pelaku yang terlibat langsung sebagai pemilik budaya. murid seni ukir. dan tokoh masyarakat. Datuk Rajo Panghulu 1997. (Moleong. Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini digunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder.dalam berbagai tambo Minangkabau yang dibahas oleh beberapa penulis (Navis 1984. Data primer adalah data yang didapat langsung dari tangan pertama. Surakhmad. Sebagai daerah yang terbuka tentu akan banyak perubahanperubahan namun di Pandai Sikek sanggar seni ukir tetap bertahan sebagai salah satu identity etnic. Walau mobilitas penduduk di kenagarian cukup tinggi (objek wisata budya) namun penduduk masih homogen. 88 . Kenagarian Pandai Sikek menjadi salah satu objek wisata budaya Sumatera Barat. guru seni ukir. Data primer juga diperoleh dari dinas. sedangkan data sekunder adalah data yang dikutip atau didapat dari sumber lain. 1990). tokoh budaya (adat) setempat. Kedua data itu saling terkait dalam pengolahan hasil penelitian. Datuk Sanguno 1987. karena di daerah ini terdapat berbagai aktivitas kerajinan rakyat seperti tenun. dan seni ukir. 5. songket. dan lembaga yang pernah membina sanggar seni ukir Pandai Sikek. C.

sedangkan studi kepustakaan dilakukan pada perpustakaan resmi dan pribadi. tokoh masyarakat. 1. secara sistematis dan tidak mencolok. Masing-masing instrumen yang digunakan disesuaikan dengan standar yang berlaku umum. camat. Wawancara dilakukan untuk menggali data yang tidak dapat diamati atau diobservasi. Wawancara juga dilakukan dengan komponen terkait seperti budayawan. Juga data-data di kantor kanagarian. Observasi dan pengamatan dilakukan pada sanggar seni ukir di Pandai Sikek. kamera (photo film). dan dinas atau instansi terkait.Data sekunder diperoleh dari foto. Teknik Pengumpulan Data Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi langsung. buku-buku atau literatur baik hasil penelitian maupun tulisan lainnya yang berkenaan dengan pendidikan dan seni ukir. dan studi kepustakaan atau analisis dokumen. Pedoman dan penuntun atau instrumen penelitian dalam melakukan observasi dan wawancara adalah pedoman wawancara. dan aparatur pemerintah. buku catatan. Observasi Teknik observasi atau pengamatan merupakan cara untuk mengamati prilaku dan benda-benda yang berkaitan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. 89 . dan tape recorder. Alat-alat tersebut terlebih dahulu diukur tingkat reabilitas dan validitasnya agar data-data yang diperoleh lewat instrumen itu benar-benar sahih. Konsep pengamatan terlibat sama dengan participant observation yang dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor (1992:23) yaitu suatu metode pengumpulan data dengan cara melibatkan diri di dalam lingkungan subjek. wawancara. D. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan guru dan murid yang ada pada sanggar seni ukir.

guru (pimpinan sanggar) seni ukir. pandangan. Pengamatan dilakukan pada sanggar-sanggar seni ukir di Pandai Sikek (tempat berlansungnya pembelajaran). Ada beberapa bentuk wawancara. dan setelah itu pada tokoh budaya atau masyarakat yang terlibat pada pembinaan seni ukir. guna memperoleh kepercayaan dari subjek penelitian. Teknik ini sangat penting untuk mendapat data yang tidak dapat ditangkap melalui pengamatan. Perbedaannya terletak pada pada persiapan oleh peneliti tetang materi dan informan yang 90 . SMK Negeri 8 Padang. pengrajin (murid/karyawan) sanggar seni ukir. Observasi terlebih dahulu dilakukan pada informan kunci yakni guru seni ukir. wawancara tidak berencana. kemudian murid. Mei.sehingga tercipta suatu priode interaksi sosial yang intensif antara peneliti dengan subjeknya. dan Juni 2010. seperti pandangan dan pendirian manusia. oleh Koentjaraningrat (1994) diklasifikasikan ke dalam wawancara berencana. Observasi juga dilakukan pada pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir yaitu SMK Negeri 4 Padang. Wawancara Wawancara merupakan teknik yang sangat mendukung dalam pelaksanaan observasi. Obsevasi yang intensif direncanakan dilakukan pada bulan April. 2. Survei dilakukan dalam upaya pendekatan atau memperkenalkan diri dengan tokoh masyarakat. dan wawancara sambil lalu. Operasionalisasinya diawali dengan survei lapangan baik sebelum proposal dibuat dan saat pembuatan proposal. Jurusan Kriya STSI/ISI Padangpanjang. SMK Negeri I Ampek Angkek Agam. dan pendirian secara lisan dari subjek dilakukan melalui wawancara. Proses tanyajawab antara peneliti dengan subjek penelitian untuk mendapat data keterangan. Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan UNP.

Wawancara terencana ditandai dengan adanya daftar pertanyaan yang tersusun untuk diajukan pada responden. Bangso Rajo di Padangpanjang. Pertanyaan yang membatasi jawaban yang diberikan responden termasuk ke dalam tipe pertama. Pelaku kebudayaan adalah guru dan murid seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek. Jadi penentuan informan tidak berdasarkan teknik penghitungan secara kuantitatif. Informan ditetapkan secara purposive berdasarkan teknik snowball sampling. Dengan teknik snowball sampling informasi berakhir pada kejenuhan informasi tetang pokok soal yang ingin diketahui. dan pelaku pendidikan. Teknik wawancara sambil lalu termasuk ke dalam wawancara tidak berencana dan informan juga tidak diseleksi secara ketat terebih dahulu. Keseluruhan teknik wawancara dibedakan menjadi wawancara tertutup dan wawancara terbuka. Komponen pelaku kebijakan terdiri dari aparat pemerintah yang berperan dalam 91 . Sementara wawancara tidak berencana tidak dilengkapi dengan daftar pertanyaan yang berlaku ketat.akan diwawancarai. Informan dalam penelitian ini dikelompokkan atas tiga komponen. yaitu pelaku kebudayaan. tokoh adat dan masyarakat yang mengetahui tentang adat dan budaya umumnya dan khususnya seni ukir Sumatera Barat. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe yang kedua atau terbuka. pelaku kebijakan. Rangkayo Sati yang masih hidup dan tidak lagi mengukir di Pandai Sikek. Dalam hal ini termasuk murid-murid Ramli Dt. Pengumpulan data dimulai dari seorang informan pangkal yang dapat memberi petunjuk tetang individu lain yang tepat dan layak untuk diwawancarai sehubungan dengan topik penelitian. misalnya JK Dt. sedangkan tipe ke dua memberi kebebasan kepada reponden untuk menjawab secara luas dengan bahasanya sendiri.

C. Sementara komponen pelaku pendidikan adalah guru-guru pada sekolah formal.C. dan D Masing. Rencana jadwal observasi dan wawancara Sasaran Sanggar A. Bahan/ materi yang diwawancarai ar ukir yang diterima guru seni ukir sekarang 2 x pertemuan. Ketentuan sudah bisa dinyatakan pandai atau ahli ukir Untuk guru-guru seni ukir sekarang • Masing. Motivasi mereka mengajarkan masing sanggar seni ukir akan 2. Cara guru mereka dulu ditetapkan seterusnya mengevaluasi/ menentuakan lama tergantung materi tambahan waktumya situasi 4.B. Rangkayo Sati • Waktu Keterangan Sanggar A. Cara mereka mengajar/ diobservasi dan mentransper keterampilan diwawancarai mengukir 2 x pertemuan. Cara guru mereka dulu pertemuan objek mengajar / mentransper materi tidak pertama dan 3. diobservasi ketika mereka jadi murid tidak dulunya • Satu kali ditentukan 2. 3. Penggalan materi setiap amat lapangan tahapan tergantung • Jumlah 5. dan D Materi Observasi/ Wawancara Untuk guru seni ukir ketika mereka jadi murid Ramli Dt.mengambil kebijakan sehubungan dengan pembinaan sanggar seni ukir Pandai Sikek.• Daftar masing sanggar pertanyaan akan disiapkan diobservasi dan • Sangg 1. Materi dan tahapan yang mereka lakukan dalam mengajar • 1x 4.B. Cara mereka mengevaluasi baik pertemuan untuk menambah materi tidak maupun menentukan telah tamat ditetapkan 5.idem 1. Jadwal dan waktu-waktu lama mereka mengajarkan seni ukir waktumya 6. Perbedaan antara mereka amat dengan guru mereka dalam tergantung mengajar dan materi yang kejenuhan data 92 . 6. Tempat mereka dulunya kejenuhan data guru seni ukir belajar dan syarat untuk yang akan 4 orang menjadi murid diambil.

Masingmasing sanggar akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. • Masin g-masing informan akan diobservasi dan diwawancarai 1 x pertemuan. Cara mereka belajar 3. Motivasi mereka belajar seni ukir 2. Peran mereka dalam membina • Masin atau sanggar seni ukir Pandai Sikek g-masing intansi 2. Usaha-usaha yang telah lembaga akan pemerin dilakukan diobservasi dan tah 3. Kepuasan atas penilaian guru atas prestasi mereka • yang akan diambil. Lembaga yang dituju dinas-dinas kabupaten Tanah Datar terkait dan lembaga pendidikan formal yang mengajarkan seni ukir 3. Harapan mereka terhadap diwawancarai proses pendidikan pada sanggar 1 x pertemuan. Idem Jumlah murid untuk 4 sanggar ukir sebanyak 55 orang • Tokoh 1.B.diberikan Sanggar A. Pandangan mereka terhadap proses pendidikan seni ukir pada sanggar di Pandai Sikek 3. Pandangan mereka terhadap Masyarakeberadaan seni ukir Pandai kat/ budaSikek yawan 2.C. dan D Untuk murid-murid seni ukir sekarang 1. Studi Kepustakaan 93 . Harapan mereka terhadap kesinambungan seni ukir Pandai Sikek Lembaga 1. seni ukir di Pandai Sikek 1x pertemuan tidak ditetapkan lama waktumya amat tergantung kejenuhan data yang akan diambil.

analisis data kualitatif adalah teknik pemadatan data dengan cara mengembangkan taksonomi. Menurut Wuisman (1996:300). Data yang valid dan relevan dengan penelitian dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif. tulisan/dokumen. Untuk itu dalam analisis ini maka data yang telah didapat terlebih dahulu dipilah dan dipilih atau diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan penelitian. Analisis data menggunakan metode kualitatif terutama yang didapat melalui wawancara. Dokumen tersebut berupa perda-perda. program-program. E. dan analisis dokumen termasuk didalamnya. Lebih lanjut dinyatakan bahwa dengan mengorganisasikan data dengan rapi memungkin untuk memperoleh data yang baik. mendokomentasikan analisis. Penggunaan sumber ini karena tidak semua data dapat ditangkap melalui observasi dan wawancara. Analisis Data Menurut Syahron (2009) pengolahan dan analisis data dalam penelitian kualitatif sesungguhnya dimulai dengan mengorganisasikan data. dan menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian. Tulisan-tulisan. data statistik. sistem klasifikasi kronologis yang mencakup jumlah keterangan yang terkumpulkan dan menunjukkan 94 . rekaman terhadap proses dan fenomena sosial yang berkaitan dengan seni ukir Pandai Sikek dijadikan sebagai sumber data.Studi kepustakaan merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan data penelitian. Khusus tentang dokumen yang dijadikan sebagai sumber data adalah kebijakan yang terkait dengan pembinaan seni ukir di Pandai Sikek. dan observasi atau pengamatan proses pendidikan seni ukir di Pandai Sikek. dan kliping surat kabar. Data yang diperlukan adalah yang sehubungan dengan pendidikan seni ukir pada sanggar-sanggar di Pandai Sikek.

Secara operasional. yaitu reduksi data.keterkaitannya secara sistematis. sub kategori). analisis data kualitatif dilakukan dengan tiga langkah sistematis secara jalin menjalin (Miles. Proses analisis ini dapat digambarkan : Pengumpulan data Penyajian data Reduksi data Simpulan/retifikasi Sebelum penarikan simpulan terlebih dahulu akan dilakukan langkah-langkah yang disarankan oleh Strauss dan Cobin (dalam Syahron. dan selektif (menyeleksi kategori yang paling mendasar. aksial (mengorganisasi data dengan cara mengkoneksikan antara kategori. menghubungkan kategori. Selain itu juga likakukan pengembangan kepekaan teoritis dengan cara mengembangkan pertanyaan-pertanyaan. dan memvalidasi hubungan tersebut). langkah-langkah analisis data yang dimaksud dilakukan dengan reduksi data. 2009) yakni melakukan koding baik terbuka (mengidentifikasi kategori-kategori). dan kalimat. Sesuai dengan data yang diperlukan dan metode pengumpulan data tersebut. penyajian data. frase. menganalisis kata. 1992:19). dan penarikan kesimpulan. Kepekaan teoritis ini dilakukan pada saat menganalisis data-data yang telah dikumpulkan. karena 95 . dan penarikan simpulan/retifikasi. Menurut Syahron (2009) menganalisis data membutuhkan kepekaan teoritis. penyajian data. yakni memasukkan atau menghubungkaitkan teori-teori yang telah ada atau yang dikemukakan pada bab 2.

peneliti sesungguhnya sedang melakukan upaya mengembangkan teori. F.dalam proses menganalisis data. Masing-masing bab terdiri dari beberapa subbab dan beberapa subbab di antaranya terdiri dari sub -subbab yang disesuaikan dengan kebutuhan. yang uraiannya terdiri dari beberapa bab. Hasil penelitian atau analisis disajikan dalam bentu laporan ilmiah yang berupa disertasi. atau berteori. 96 . artinya hasil analisis dipaparkan sebagaimana adanya dan pada bagian tertentu diinterpretasikan sesuai dengan teori dan kerangka pikiran yang berlaku umum. Penyajian Hasil Analisis Data Hasil analisis data disajikan secara verbal dengan teknik deskriptif interpretatif.

The Standar for Fungtional Life Skills Curriculum. 1987. ------. hal.J Taylor 1992. 2007. A. 1997. Pustaka Indonesia. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Bukittinggi: CV. Dove. ASKI Padangpanjang. “Pembuatan Gerabah di Desa Galogandang Tanah Datar” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Delaware Departement of Education 2000. “Kriya Gerabah Andaleh: antara Pelestarian. (ed). Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. Yogyakarta: Kreasi Wacana Bogdan.1986. Surabaya: Usaha Nasional. 1982. No 2 bulan September. “Peranan Seni dan Budaya Minangkabau Dalam Pembangunan Pariwisata” dalam Jurnal Palanta Seni Budaya. Chris. Gaya Hidup. Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial.D ISI Yogyakarta Adolf Bastian. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Muri Yusuf. Adat dan Kebudayaan Minangkabau. “Apresiasi Sekolah Dasar Agama Sumatera Barat” dalam Yayah Khisbiyah (ed). 2009.DAFTAR PUSTAKA A. Daleware. 16-30. Surakarta: PSB-PS Universitas Muhammadiyah Surakarta. Belajar dan Pembelajaran. Adirozal.A Navis. Disertasi. Padang: Pascasarjana UNP Anas Sudijono. 2009. Jakarta : PT. Barker. 2009. “Model Pengembangan Kompetesi Guru Melalui Pelatihan Dalam Jabatan”. Azhari Abdullah. Abdul Azis Wahab. Aunurrahman. 2007. Kritik Seni Rupa dan Seni Kriya. Bandung: Alfabeta. Curahan Adat Alam Minangkabau. 1984. Bogdan.A Navis. 2004. Adult Education Procedures. ------. Padang : Genta Singgalang Press A. 1999. Jakarta: Grafiti Prss. R. Bandung: Alfabeta.K. R.C and S. Padang: UNP Press. S. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: B. Dialektika Minangkabau Dalam Kemelut Sosial dan Politik. ------. Pendidikan Apresiasi Seni. Filsafat Agama.C. No. Bakhtiar Amsal. 2008. Metode dan Model-Model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Metodologi Penelitian. ASKI Padangpanjang. 97 . dan EkonomiPariwisata” dalam Sri Krisnanto (Ed). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Seni Kriya dan Kearifan Lokal dalam Lintas Ruang dan Waktu. New York: The Datuk Sangguno Dirajo.5 bulan Mei. Wacana dan Praktek untuk Toleransi Pluralisme Budaya. dan Biklen. Alam Terkembang Jadi Guru. Cultural Studies. 2004. Raja Grafindo Persada. 2002.I.

The Psycholgy of Human Learning. Denpasar: Universitas Udayana. 2008. Surabaya. 2000. 2001. Disertasi. SP. (1981). Tesis. Gustami. Seni Kerajinan Mabel Ukir Jepara. “Ukiran Mesjid Tradisional Minangkabau di Tanah Datar. Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural. Hans. Jakarta: Buku Kompas. Jakarta: DEPDIKNAS.A. 2000. Jakarta: PT. Psychologi Sosial. 2009. UU. Gerungan. Propinsi Sumatera Barat: Kajian Bentuk. Filsafat Ketuhanan. Manusia Kebudayaan dan Lingkungan. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. 1983. Jakarta: PT. Materi matrikulasi S2 Kajian Budaya Universitas Udayana. Michael J.Departemen Agama Republik Indonesia. Rajo Panghulu. Yogyakarta: Pusta Pelajar. -----. 1999. 1980. Hamka. 2005. 1999/2000. Jakarta: Buni Aksara.R Tilaar.A. Publishers.1999. “Seni Ukir dan Masalahnya”. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Frankel. 2000. Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Semarang: PT Karya Toha Putra Depdiknas (2003). Rineka Cipta. Bandung : Institut Teknologi Bandung. 1985. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.RI. Jack L. New York: McGraw-Hill. Djohar. dan Masyarakat Madani Indonesia.A. Harisman. I Wayan Ardika. Membenahi Pendidikan Nasional. Bandung: P. Fasli Jalal (Ed). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Diknas Direktorat Dikdasmen. Howe. Hamzah B Uno. 1993. New York: Harper & Row. Kebudayaan. 1997. Kajian Estetik Melalui Pendekatan Multidisiplin. Wallen. Pola. J Daeng. -----. Manifesto Pendidikan Nasional. Dimyati dan Mudjiono. 98 . Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Pendidikan. “Warisan Budaya dan Globalisasi”. 1987. Jakarta: Rineka Cipta. Rineka Cipta. dan Makna”. Bali. Jakarta: Adicita Karya Nusa. 2001. Reformasi dan Masa Depan Pendidikan di Indonesia . Hamka. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau. 1999. 2001. “Seni Ukir Tradisional Pada Rumah Adat Minangkabau: Teknik. How to Design and Evaluate Research In Education. Ibenzani Usman. Idrus Hakimi Dt. Karunia. Jakarta : Panji Masyarakat. 2004. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup di SMP. SP. Yogyakarta: STSRI-ASRI Yogyakarta. Fungsi.Teresco. 1984. and Norman E. -----. Al Quran dan Terjemahannya. W. 2002. Jogyakarta: Kanisius. Islam dan Adat Minangkabau. dan Fungsinya”. H. -----. Teori Motivasi dan Pengukuran Analisis di Bidang Pendidikan.

Moleong. 2005. M. New Jersey: Prensentece Hall Inc. “Pembelajaran dan Evaluasi Seni”. John R. makalah. Notes on Educational in Indonesia. Bandung: PT. Jakarta : PT. 2006. 99 . Y. Basic Crafts. 2009. 2009. Meredith. Irawan Prasetya. London: Sage Publication. 1999.B. Metode Penelitian Kualitatif. Inc Illinios.Imam Sodikoen. M. Mustofa Kamil. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Muchtar Naim. Gramedia. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Bandung : Tarsito. Sumatera Barat. Jakarta: PT. Bennett Co. Kompas Linbeck. 2005. 1998. B dan Marshal Well.S dan Guba. Jakarta: STIA-LAN PT: Bina Aksara. Remaja Rodakarya. Muhibbin Syah. Padang : Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang. 2000. -----. 1976. Dirjen PT. Second Edition Chas. Geoffrey G. Jakarta: Depdikbud. “Catatan-catatan Tentang Minangkabau dari Encylopedia voor Nederlands Oust Indie”. Jakarta: The Jakrta Post & The Asia Fondation. 2002. Bandung: PT Remaja Rosyadakarya. dan Huberman. Naturalistic Inquiry. “Kumpulan Makalah Penilaian dan Evaluasi Pendidikan Dalam Berbagai Seminar dan Pelatihan”. 1999. Model of Teaching. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta : Pustaka Binaman. Jakarta: Bulan Bintang. Padang: FKPS IKIP Padang. Nana Sujana. Lincolc. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. P2LPTK. “Ragam Ukiran Rumak Gadang Minangkabau”. Dasar-dasar Falsafah Adat Minangkabau. 1996. Mukhtar Buchori. Koentjaraningrat. 1979. Analisis Data Kualitatif (terjemahan) Jakarta: UI Press. Mohammad Ansyar. David dan Albert A. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bandung: Alfabeta. Gramedia Pustaka Utama. Kebudayaan Mentalitas Pembangunan. Mardjani Martamin. 1983. Museum Aditiawarman 1982. Psikologi Belajar.G. “Minangkabau dalam Dialektika Kebudayaan Nasional” Padang: Singgalang Press. Manajemen Sumbar Daya Manusia. Manner 1999. Kaplan.M. Penilaian Hasil Balajar.Zaim. E. 1986. 1985. Mulyasa. Lexy J. A. Mills. A. 1994.(ed). 1985. Joice. M Nasroen. 2001. 1993. Pendidikan Formal Pengembangan Melalui PKBM di Indonesia (Sebuah Pembelajaran Dari Komonikan Jepang). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. 1971. ----. Pengantar Antropologi I dan II. Teori Budaya.

1992. 1990.P. 1981.N Sumartana. “Strategi Pembelajaran Bidang Studi Kerajinan Tangan dan Kesnian: Studi Multi-situs pada Madrasyah Ibtidaiyah Negeri MalangI. 2005. 2008. Padang. Rusli Amran. (2000). ca/culture. Kriya STSI Padangpanjang. Wayan dan P. Sastra dan seni. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. 2001. 1999. 2002. Bandung: Tarsito. New York: Basic Books Suardi Sandi. Jogyakarta: Institut Seni Indonesia. Sedya Tuwana Sudikan.1997. (2001). 1987/1988. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Pengembangan Aktivitas Instruksional. Jakarta: DEPDIKNAS.Nasbahry Couto. Surabaya: Usaha Nasional.1963.James. Diambil 5 Januari 2007. Buku 2. DEPDIKNAS.Tiara Wacana Strauss.K. Kajian Estetika dan Budaya”. “Ragam Hias Minangkabau”. Nurkancana. DEPDIKBUD. Skripsi. 2006. Padang: Seminar Nasional Jrusan Seni Rpa FBSS UNP. Sosiologi Pendidikan. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem . 2004: “Culture-based Education”. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. Bandung: Jemmars. “Gaya Dalam Seni Rupa. Pemahaman Bahasa Seni Rupa Modern”. Jakarta: PT Bima Aksara. Sanapiah Penelitian Kualitatif Dasar-dasar dan Aplikasi. Sekolah Dasar Negeri Percobaa I malang. 2000. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Prayitno.based. 2004.. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Malang: YA3 Seabury Press. Sanapiah Faisal. Kriya STSI Padangpanjang. Pannen. Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang. Nasbahry Couto. Ramalis Hakim. Sosok Keilmuan Pendidikan. Risman Marah. Nasution. 2008. 2008. Nasution.K. Sugiono. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar . Kurikulum 2004: Kerangka Dasar. 1986. NWT Teacher Induction. Metode Penelitian Kebudayaan. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. Nasution. Structural Antropology. Padang. Malang: Pascasarjana UNM. UNP Padang.html.04. Padang: FIP. 2005. Metode Etnografi. Surabaya: Citra Wacana Spradley P. Nofrial. www. Disertasi. Paulina D. 100 . Evaluasi Pendidikan. makalah. 1987. Tesis.. Padangpanjang: Senirupa FBSS UNP. “Tinjauan Seni Kriya (Eropa dan Amerika Serikat).newteachersnwt. Jakarta: Sinar Harapan. Oemar Hamalik. dan Sekolah Katolik Mardi Wiyata II Malang”. Levi C. “Seni Ukir Rumah Larik Kerinci. “Pendidikan Seni di masa Depan (Melihat Paradigma baru dalam Pendidikan Seni)”. Jakarta: Proyek Pengembangan Kebudayaan. Jakarta: Jemmars. Padang: FIP-Universitas Negeri Padang Prayitno.education2. “Studi Tentang Ukiran Tradisional Pada Bangunan Masjid Di Kabupaten Kerinci”. Yogyakarta: PT. Bandung: Alfabeta.Universitas Negeri Padang Puskur. -----. pada Fakultas Bahasa.

Supriono. Sumianto A Sayuti. (2006). Garis-garis Besar Estetik. “Pendidikan Seni Dalam Konteks Lokal Genius. 2005. 1971. Bahan Kuliah Pada Pascasarjana UNP. Syahron Lubis. Padang: Universitas Negeri Padang. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. Curriculum.. “Perkembangan Seni Kriya”. Seni Tradisi Masyarakat. “Modernization in The Minangkabau World: West Sumatera in The Early Decades of Twenty Century” dalam Claire Holt: Culture and Politics in Indonesia. Waras kamdi. Suharsimi Arikunto.Sugiono. Basic Principle of Curriculum and Instrution .. Umar Junus dalam Koentjaraningrat (Ed). Tersedia. 2009. 1977. 2009. 1997. 1949. Winata Putra.org. 1976. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.. Jakarta: Bumi Aksara. Bandung: Alfabeta. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Jakarta: Sinar Harapan.blogster. Robert S. Taufik Abdullah. 1981. The Liang Gie. 2001. Potensi Lokal Dalam Proses Kreatif-Apresiatif” makalah. 2009. online: http://www.psb-psma. (http://www. New York: Happer 7 Row Publishers. Ethaca London: Cornel University Press. Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kualitatif. Paradigma Baru Pendidikan. Wina Senjaya. ”Penelitian Kualitatif Analisis dan Intrepetasi Data”. dan R&D. 1983. 2008. Zais. “Pendidikan Dalam Keluarga” dalam Jurnal.com/artbloggue/tentang-seni-ukir-di-indonesia) 101 .unisosdem. 2008. Pengembangan Sumber Daya Manusia. (http://www.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-metode-tekniktaktik-dan-model-pembelajaran). Ralph W. Suwaji Bastomi. Yogyakarta: ASRI Yogyakarta. Jakarata: Rineka Cipta Yahya. Chicago and London: The Unversity of Chicago Press. Strategi Pembelajaran. Prenciples and Fundations. Padangpanjang: STSI Padangpanjang. MemahamiPenelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. 2009. Umar Kayam. “Pendidikan Seni di Sekolah: Proses Harmonisasi Kecerdasan” makalah.DEPDIKNAS. Jakarta: Jembatan. PUBIB: Yogyakarta Tyler.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful