MANAJEMEN DAN EVALUASI PORTOFOLIO A.

Manajemen Portofolio Portofolio diartikan sebagai serangkaian kombinasi beberapa aktiva yang diinvestasikan dan dipegang oleh pemodal, baik perorangan maupun lembaga. Kombinasi aktiva tersebut bisa berupa aktiva riil, aktiva finansial ataupun keduanya. Seorang pemodal yang menginvestasikan dananya di pasar modal biasanya tidak hanya memilih satu saham saja. Alasannya, dengan melakukan kombinasi saham, pemodal bisa meraih return yang optimal sekaligus akan memperkecil risiko melalui diversifikasi. Manajemen portofolio adalah suatu proses yang dilakukan oleh investor mengatur uangnya yang diinvestasikan dalam bentuk portofolio yang dibuatnya. Manajemen portofolio dipandang sebagai suatu proses sistematik yang dinamis. Karena manajemen portofolio dipandang sebagai suatu proses, maka dapat diaplikasikan kepada setiap investor atau manajer investasi. Tahapan awal dari proses manajemen portofolio adalah perencanaan ( planning). Tahap perencanaan ini memfokuskan pada penentuan input-input yang diperlukan untuk membentuk portofolio. Ada tiga input yang digunakan untuk membentuk portofolio, yaitu: 1) return ekspektasian individual sekuritas (input ini digunakan untuk membentuk return ekspektasian portofolio), 2) varian return individual sekuritas, dan 3) kovarian return individual sekuritas. Varian dan kovarian return individual sekuritas digunakan untuk membentuk varian return atau risiko portofolio. Faktor-faktor yang menentukan input-input ini berasal dari diri investor sendiri (sasaran-sasaran, hambatan-hambatan, dan preferensipreferensi) dan dari pasar modal (dengan mempertimbangkan keadaan ekonomik, sosial, politikal, dan sektor yang relevan). Hasil dari perencanaan ini adalah kebijakankebijakan dan strategi-strategi portofolio serta ekspektasi-ekspektasi pasar yang nantinya dibutuhkan dalam pembentukan portofolionya. Proses manajemen portofolio dimulai dengan menentukan sasaran-sasaran investasi investor. Sasaran-sasaran investasi lebih difokuskan pada pencapaian kombinasi return dan risiko yang terbaik dari sudut pandang investor. Kombinasi ini menunjukkan tukaran (trade off) antara return yang dituntut yang dapat diterima oleh investor dengan tingkat toleransi risiko yang harus dihadapi (risk tolerance).
1

Oleh karena itu memahami perilaku kedua kelompok investor ini cukup penting dalam menentukan sasaran-sasaran investasi kedua kelompok investor ini. Investor Individu:  Mendefinisikan risiko sebagai kehilangan uang  Bercirikan personal  Tujuan berdasarkan apa yang ingin dicapai oleh individu ketika mengivestasikan asetnya  Lebih bebas dalam berinvestasi Investor Institusional:  Lebih menggunakan pendekatan kuantitatif dan umumnya mendefinisikan risiko dalam bentuk penyimpangan atau standar deviasi. perusahaan-perusahaan bukan asuransi jiwa (non life insurance companies). sedangkan untuk investor-investor institusi. Investor Individu Vs Investor Institusional Terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan antara investor individual dengan investor institusional. Perbedaan utama investor individu dengan investor institusional terletak pada tujuan. kebijakan portofolio mereka ditentukan dengan memperhitungkan tujuan yang hendak dicapai. 2 .  Menjadi subyek terkait dengan berbagai hukum dan aturan. hambatan dan pilihan terutama dari sudut pandang kepentingan investor. toleransi risiko umum dari investor-investor yang diwakilinya. dan bersifat lebih jangka panjang. Investor-investor institusi dapat bermacam-macam.  Tujuannya lebih rinci sesuai dengan total paket aset dan kewajibannya. dana sumbangan (endowment funds). batasan dan aturan yang berlaku umum. dan bank-bank. seperti misalnya perusahaan-perusahaan reksadana (mutul funds). dana pensiun (pension funds). Perbedaan-perbedaan tersebut akan mempengaruhi strategi portofolio mereka. perusahaan-perusahaan asuransi jiwa (life insurance companies). Preferensi return dan risiko investor individual lebih ditentukan oleh tujuan dan batasan dari masing-masing pribadi investor.  Mempertimbangkan karakter investasi yaitu mana yang bisa memberikan keuntungan lebih dalam portofolio yang dikelola oleh investasi.1.

maka dampaknya terhadap pilihan investasi disebut dengan self-imposed constraints. Menentukan tujuan utama dari portofolio dengan mempertimbangkan tingkat pengembalian dan toleransi terhadap risiko 2. maka penentuan kebijakan menjadi hal yang penting. Likuiditas –>Kebutuhan likuiditas terkait dengan aset yang bisa yang bisa jual tanpa perubahan yang dratis dalam penetapan harganya. Jangka waktu –>Investor perlu mempertimbangkan berapa lama ia akan berinvestasi karena terkait dengan kebijakan yang akan diambil dan perencanaan yang akan dilakukan 3. Biasanya setara kas (sekuritas pasar uang) memiliki likuiditas tinggi dan biasanya mudah dijual dengan harga mendekati face value. 3 . diuraikan sebagai berikut: 1. Karena dengan menentukan kebijakan yang tepat maka akan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Pajak –>Perlu mempertimbangkan pajak karena akan berdampak pada program investasi yang akan dilakukan terutama untuk investor institusi. tingkat toleransi terhadap risiko. Banyak saham yang memiliki likuiditas bagus tapi ketika dijual baru akan menunjukkan seberapa besar penilaian pasar 2. 1. Mengidentifikasi Hambatan dan Pilihan Detail dari hambatan dan pilhan yang ada tergantung pada portofolio yang hendak diambil karena terkait dengan jaminan.  Investor institusi: sehubungan dengan meningkatnya kompleksitas pengelolaan risiko institusi. Hukum dan Peraturan –>Investor akan berhubungan dengan hukum dan aturan yang berlaku dinegara tertentu 4. hambatan yang muncul ketika berinvestasi dan bagaimana pilihan portofolio yang dilakukan.1 Formulasi Kebijakan Investasi Bagaimana memformulasikan kebijakan investasi baik bagi investor individu maupun institusi dengan pendekatan sebagai berikut: 1.Implikasi proses manajemen portofolio terhadap dua jenis investor ini antara lain:  Investor individu: perbedaan profil keuangan dari masing-masing individu dan terkadang dipengaruhi oleh kebijakan atau faktor-faktor unik yang tergantung dari masing-masing individunya. Tujuan.

tentunya tidak akan bisa mengharapkan tingkat return yang terlalu tinggi. sehingga selalu berusaha memilih investasi yang menawarkan return tertinggi dengan risiko rendah. Investor yang lebih berani akan memilih risiko investasi yang lebih tinggi. Sikap Investor Terhadap Risiko Sikap investor terhadap risiko sangat tergantung kepada preferensi investor tersebut terhadap risiko.  Investor netral terhadap risiko (risk neutral). Tentukan saham atau efek mana yang tersedia untuk pembentukan portofolio 2. Para investor cenderung bersifat menghindari risiko dalam setiap keputusannya. Kelompok investor ini biasanya jika dihadapkan pada pilihan portofolio yang memberikan tingkat pendapatan yang sama.  Investor anti risiko (risk aversion). investor yang tidak mau menanggung risiko yang terlalu tinggi. Investor tipe ini tidak peduli (acuh) terhadap risiko. Pilihan unik dan ruang lingkup –>Ada hal-hal tertentu yang akan dihadapi oleh investor ketika melakukan pilihan tertentu dan berinvestasi dengan menggunakan kategori aset atau aset spesifik.5. Demikian pula sebaliknya. Menurut Tandelilin (2001:7). Artinya investor akan meminta kenaikan tingkat keuntungan yang sama untuk setiap kenaikan risiko Dari ketiga sikap investor tersebut.2 Pengembangan Dan Penerapan Strategi Investasi Proses pembentukan portofolio dapat diilustrasikan sebagai berikut: 1. maka investor ini akan memilih portofolio yang memiliki risiko yang paling kecil atau rendah dari alternatif investasi yang ada. mengatakan bahwa dalam teori portofolio dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis sikap investor apabila dihadapkan pada risiko adalah sebagai berikut:  Investor senang risiko (risk seeking). (1997) dalam Isna. yang diikuti oleh harapan tingkat return yang tinggi pula. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh 4 . Artinya jika dihadapkan pada dua pilihan portofolio yang memiliki tingkat pendapatan yang sama. pada umumnya investor cenderung menjadi Risk Averter. maka investor ini akan memilih portofolio yang memiliki tingkat risiko yang lebih besar. Manfaatkan prosedur yang optimal dalam memilih sekuritas dan tentuka bobot portofolio dengan saham yang dipilih 2. 1. Sharpe et al.

dan Preferensi) Penentuan dari kebijakan portofolio disebut sebagai Pernyataan kebijakan investasi adalah langkah pertama dalam proses investasi. adalah penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang terkait dengan investasi portofolio yang hendak dibentuk. Sebuah poin permulaan baik disini adalah untuk memikirkan dalam hal tradeoff (pilihan) laba-risiko yang dikembangkan. Kelompok anti risiko (risk averter) dan kelompok yang acuh terhadap risiko (risk indeference). Hal tersebut meringkas tujuan. Bagaimana memformulasikan kebijakan investasi baik bagi investor individu maupun institusional dengan pendekatan sebagai berikut: a) Tujuan Tujuan portofolio berfokus pada pertukaran risiko-imbal hasil antara return ekspektasi yang diinginkan investor dan berapa banyak risiko yang bersedia ditanggung investor. deposito. dimana return saham terdiri dari dividen dan capital gain. Bagi investor yang memutuskan berinvestasi di saham khususnya pada saham industri properti dan real estate akan menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan alternatif investasi lain seperti tabungan. Investor mencari laba tetapi harus menanggung risiko untuk mendapatkan peluang untuk mencapatkan laba. Formulasi Kebijakan Investasi (Tujuan. Faktor-faktor tersebut adalah faktor-faktor 5 sebuah pernyataan kebijakan investasi hanyalah untuk menyediakan informasi. Kendala. dan prefrensi bagi investor. batasan.Weston dan Thomas (1991:446) bahwa kelompok investor terdiri dari kelompok pengambil risiko (risk seeker). dan obligasi. Hal ini disebabkan oleh return (pendapatan) yang diharapkan dari investasi pada saham bersifat tidak pasti. dalam urutan berikut. untuk investor manapun – individual . Sebuah pendekatan yang diajukan dalam memformulasikan atau institusional. 3. b) Kendala Dalam mengembangkan strategi dan kebijakan investasi. Tentunya laba dan risiko adalah basis dari semua keputusan finansial secara umum dan keputusan investasi secara khusus. Tujuan portofolio selalu berpusat pada laba dan risiko karena dua aspek ini adalah yang paling diperhatikan oleh investor.

meskipun adalah penting untuk mencatat bahwa batasan antar tahapan tidak sepenuhnya jelas dan bisa membutuhkan bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. mereka mulai mengakumulasi portofolio investasinya. Investor seperti ini umumnya adalah investor yang memiliki preferensi risiko dan tukaran return-risiko pada tingkat moderat. Fasa ini merupakan fasa akhir karir dan pensiun dari investor individual. biaya hidup investor sudah dapat ditutup 6 . Pada awal karirnya. c) Preferensi risiko investor Preferensi risiko investor individual akan sangat ditentukan oleh umur dan tingkat penghasilannya. Faktor ekonomik yang penting dipertimbangkan adalah tingkat suku bunga pasar yang akan terjadi karena suku bunga mempunyai hubungan terbaik signifikan dengan kinerja pasar modal. sosial. Pada fasa ini. investor individual umumnya masih sedikit memiliki kekayaannya. politikal. Umumnya investor ini adalah investor yang masih muda umurnya. Pada fasa ini. Lebih lanjut. Inflasi perlu dipertimbangkan terutama untuk investasi berhorison jangka panjang agar investasi portofolio dikemudian hari tidak kehilangan daya tariknya karena returnnya di bawah inflasi yang terjadi. Fasa ini merupakan fasa pertengahan sampai akhir karir dari investor individu. Faktor ekonomi lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah inflasi. namun masih mempunyai jangka waktu yang panjang untuk mengumpulkannya. Empat tahapan/fasa itu adalah:  Accumulated phase (fasa akumulasi). seorang individual bisa menjadi sebuah komposit dari tahapan ini pada waktu yang bersamaan.  Spending phase (fasa belanja). ketika pendapatan yang diperoleh oleh investor sudah melebihi pengeluaran yang dikeluarkannya untuk menanggung hidupnya. Fasa ini merupakan fasa awal karir investor individual. Faktor-faktor makro yang harus dipertimbangkan adalah faktor-faktor ekonomik. Investor seperti ini umumnya rela dan mau menanggung risiko yang lebih besar untuk memperoleh return yang lebih besar. Pendekatan siklus hidup bisa dilihat pada empat fase yang berbeda dimana investor individual melihat kekayaan mereka.  Consolidation phase (fasa konsolidasi). dan sektor industri.ekspektasi makro (macroexpectational factors) yang dapat mempengaruhi pasar modal.

mengingat kombinasi aktiva inilah yang akan menghasilkan return dan risiko dari portofolio. Reksadana campuran mengalokasikan sebagian besar danannya ke obligasi dan saham. dana alokasi pada tiga tipe aktiva yakni saham. Umumnya untuk investasi keuangan. obligasi. sehingga tukaran return-risikonya berada di tingkat rendah. Fasa ini merupakan fasa akhir dari umur hidup investor. Reksadana terproteksi mengalokasikan sebagian besar dananya ke obligasi yang akan jatuh tempo. Reksadana pendapatan tetap mengalokasikan semua dananya ke sebagian besar dananya ke obligasi.1 Alokasi Aset Terkait dengan keputusan untuk membagi dana yang ada ke beberapa jenis investasi yang dapat dimasukkan ke dalam portofolio. Pada fasa ini. yaitu akan memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah walaupun hanya memperoleh return yang lebih kecil. Umumnya strategi alokasi aktiva didasari pada preferensi dan karakteristik investor. tukaran return-risiko investor berada di tingkat yang sama dengan tukaran return-risiko di fasa belanja.  Gifting phase (fasa memberi). Reksadana ekuitas mengalokasikan sebagian besar dananya ke saham. Reksadana pasar uang mengalokasikan semua dananya ke instrumen pasar uang. dan instrumen pasar uang. Alokasi aktiva merupakan keputusan investasi yang sangat penting. untuk keputusan jangka panjang. Untuk alokasi aktiva strategik (strategic asset allocation) biasanya alokasi aktiva dilakukan sekali tiap beberapa tahun. Investor seperti ini umumnya melakukan investasi yang aman karena sangat menggantungkan hasil dari investasinya untuk menanggung biaya hidupnya. Untuk investasi riil dapat juga diinvestasikan ke tanah. 4. Alokasi aktiva dibagi menjadi dua yakni: agresif (return dan risiko yang tinggi dan konservatif (return dan risiko yang moderat/rendah). Macam-macam reksadana di indonesia juga mencerminkan alokasi aktiva tersebut. Untuk alokasi aktiva taktikal ( tactical asset 7 . bangunan. logam mulia dan lainnya. Implementasi Strategi Investasi (Alokasi Aset dan Optimisasi Portofolio) 4.dari investasi portofolio-portofolio yang telah diakumulasi sebelumnya bukannya dari pendapatan yang diterima yang sudah mulai menurun.

4. Kombinasi optimal ini menunjukkan macam-macam sekuritas yang harus dibeli atau dijual pendek ( short sale) beserta proporsinya masing-masing. • Perubahan dalam horizon waktu Secara tradisional. sementara penurunan dalam kebutuhan pendapatan baru dapat mengarah pada investasi lebih besar dalam saham kecil yang potensinya akan didapatkan bertahun-tahun di masa depan. Hasil dari optimisasi portofolio akan didapatkan kombinasi yang optimal dari sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio. • Perubahan dalam situasi pajak 8 . kita memikirkan investor menjadi menua dan menjadi lebih konservatif dalam pendekatan investasi mereka. maka portofolio ini perlu diimplementasikan dan dieksekusi. untuk merespon kejadian-kejadian tertentu. 5 Monitoring Dan Penyesuaian Portofolio Aktivitas monitoring dan penyesuaian portofolio dapat dilakukan dengan cara:  Memonitor kondisi pasar Kondisi pasar perlu dimonitor karena situasi pasar sangat dinamis dan berdampak pada harga saham dan pendapatan yang diperoleh  Perubahan kondisi investor. Setelah diketahui macam sekuritas dan proporsinya masing-masing. meliputi: • Perubahan dalam kekayaan Sebuah perubahan dalam kekayaan dapat menyebabkan investor untuk berperilaku secara berbeda.2 Optimisasi Portofolio Optimisasi portofolio terkait dengan pemilihan portofolio yang dapat memberikan hasil portofolio yang terbaik. alokasi aktiva dilakukan secara rutin. yaitu membeli atau menjual pendek masing-masing sekuritas. mungkin menerima lebih banyak resiko dalam kasus peningkatan kekayaan dan menjadi lebih menghindari resiko dalam kasus penurunan kekayaan.allocation). • Perubahan dalam kebutuhan likuiditas Sebuah kebutuhan untuk pendapatan yang lebih baru akan meningkatkan penekanan pada saham yang membayar deviden.

Kemampuan dalam memperoleh tingkat pengembalian di atas rata-rata untuk suatu tingkat risiko tertentu. Tahap akhir proses investasi adalah penilaian kinerja portofolio. b. yaitu: a. tunjangan hidup. pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio. waktu dari realisasi dari laba modal bisa menjadi lebih penting. B. Dua variable diatas yaitu tingkat keuntungan dan risiko merupakan variable relevan yang digunakan dalam penilaian kinerja portofolio. politik. bergantung pada banyak faktor ekonomi. kerja besar dikerahkan untuk pembentukan portofolio. Tujuan penilaian kinerja portofolio adalah mengetahui dan menganalisis apakah portofolio yang dibentuk telah dapat meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan investasi dan dapat diketahui portofolio mana yang memiliki kinerja lebih baik. Kemampuna dalam mendiversifikasi portofolio sehingga menghilangkan semua risiko non sistematik. sosial. • Perubahan dalam pertimbangan legal/regulasi Hukum mempengaruhi perubahan investor secara reguler. kesehatan. dan seterusnya. Menurut Husnan (2003:45). Dalam tahap evaluasi. Dan juga. baik hukum pajak atau hukum yang mengatur rekening pensiun. Teori portofolio (portfolio theory) menyatakan bahwa risiko dan pengembalian keduanya harus dipertimbangkan dengan asumsi tersedia kerangka formal untuk mengukur keduanya 9 . baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung. Investor melakukan pemonitoran digunakan untuk melakukan penyesuaian terhadap portofolionya. Menurut John (2005:53). • Perubahan dalam kebutuhan dan situasi unik Investor menghadapi sejumlah kemungkinan perubahan selama hidup mereka. Evaluasi Portofolio Ada dua hal penting yang menjadi syarat dalam menilai performa dari seorang manajer investasi. tidaklah benar jika portofolio yang memberikan keuntungan yang lebih tinggi mesti lebih baik dari portofolio lainnya.Seorang investor yang berpindah ke golongan pajak yang lebih tinggi akan menemukan obligasi pemerintahan kota lebih menarik. dan yang terkait dengan pekerjaan.

ada beberapa teknik atau ukuran yang biasa digunakan. jika ada penambahan atau pengambilan uang selama periode investasi. Hubungan antara risiko yang diterima dan pengembalian yang diharapkan merupakan dasar bagi keputusan pinjaman dan investasi modern. Menghitung return untuk periode satu tahun tanpa setoran tambahan atau pengambilan uang relative mudah. Dengan asumsi tertentu. yaitu: 1.1.Pengukuran yang melibatkan kedua faktor ini disebut dengan return sesuaian risiko (risk adjusted return). Penghitungan return menjadi tidak sederhana lagi untuk investasi lebih dari satu periode. Dalam mengevaluasi kinerja suatu portofolio dalam hal tingkat risiko dan tingkat pengembaliannya. teori portofolio dimulai dengan asumsi bahwa tingkat pengembalian atas efek di masa depan dapat diestimasi dan kemudian menentukan risiko dengan variasi distribusi pengembalian.dalam pembentukkan portofolio. Return Nominal vs Return Riil Secara umum. Teori portofolio mengasumsikan bahwa investor yang rasional menolak untuk meningkatkan risiko tanpa disertai peningkatan pengembalian yang diharapkan. makin besar tingkat pengembalian yang diinginkan untuk menutup risiko tersebut. Dalam bentuk dasarnya. maka kinerja portofolio perlu dihitung dan diukur setiap saat dan dibandingkan dengan benchmark sasaran investor. 10 . atau jika risiko diperhitungkan. Untuk mengetahui apakah sasaran investor masih tercapai. return riil adalah return nominal dikurangi tingkat inflasi. Agar daya beli tidak berkurang. pengukuran portofolio berdasarkan returnnya saja mungkin tidak cukup. karena kita cukup mengurangi investasi akhir dengan investasi awal dan hasilnya dibagi dengan investasi awal. teori portofolio menghasilkan hubungan linear antara risiko dan pengembalian. Makin besar risiko atas investasi atau pinjaman. 1. tetapi harus mempertimbangkan return dan risikonya. return nominal sebuah investasi harus melebihi tingkat inflasi. Karena adanya tukaran (trade-off) antara return dan risiko. Return Nominal Adalah return yang hanya mengukur perubahan nilai uang tetapi tidak mempertimbangkan tingkat daya beli dari nilai uang tersebut.

1. Semakin besar perbedaan return antar periode. return geometric dapat dipastikan lebih rendah daripada return aritmetik sehingga return geometric sering disebut sebagai ukuran return yang lebih konservatif. 11 . RUMUS : RIA = (1 + R ) −1 (1 + IF ) 2.RUMUS : P t −P t −1 P t −1 RETURN = 1.2. Return Riil Adalah return yang disesuaikan dengan tingkat inflasi. 2. Dalam semua keadaan lainnya. semakin besar perbedaan return geometric dan return aritmetik. Return Aritmetrik dan Return Geometrik Return aritmetrik akan sama dengan return geometrik jika dan hanya jika besar return untuk setiap periode adalah sama. Return Aritmatik Digunakan untuk menghitung rata-rata tanpa memperhatikan tingkat pertumbuhan kumulatif dari waktu ke waktu.

. RG = [ (1 + R1 )(1 + R2 ). Return Tertimbang Berdasarkan Uang Cara menghitung return ini adalah sama seperti1menghitung internal Rate of Return ( IRR ) yaitu tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang kas keluar dan nilai sekarang kas masuk.. Risk-Adjusted Return Return yang tinggi saja belum tentu merupakan hasil investasi yang baik.RUMUS : RA = [ R1 + R2 . Return Geometrik Digunakan untuk menghitung RUMUS : rata-rata yang memperhatikan tingkat pertumbuhan kumulatif dari waktu ke waktu. Return ini digunakan untuk mengukur kinerja investasi seorang investor individu yang mempunyai kekuasaan mengendalikan keluar masuk uang investasinya........ Meskipun demikian.. 4. RUMUS: Keterangan i2 = Discount Factor (tingkat bunga) pertama di mana diperoleh NPV negatif : i1 = Discount Factor (tingkat bunga) pertama di mana diperoleh NPV positif..1. return berdasarkan uang tidak tepat untuk mengukur kinerja seorang manajer investasi atau manajer keuangan yang tidak mempunyai kendali atas jumlah uang yang diinvestasikannya..(1 + Rn )] 1 / n−1 3. Return yang rendah juga dapat merupakan hasil investasi yang baik jika return yang 12 . Dimana IRR digunakan untuk mengukur return aktual yang didapatkan pada nilai-nilai portofolio awal dan pada kontribusi netto yang dibuat selama periode tersebut. + Rn ] / n 2...

maka risiko unik (unsystematic risk) dapat diabaikan dan yang masih tertinggal adalah risiko sistematik (systematic risk) yang diukur dengan beta. Treynor membagi return lebih portofolio dengan beta portofolio. Oleh karena itu return yang dihitung perlu disesuaikan dengan risiko yang harus ditanggungnya. Sharpe pada tahun 1986 sebagai berikut: RVAR = TRP .rendah ini disebabkan oleh risiko yang rendah pula. 4) M2.RBR / ϭP Keterangan: 13 TRP . Reward to Variability (Sharpe Measure) Kinerja porotofolio yang dihitung dengan pengukur ini dilakukan dengan membagi return lebih (excess return) dengan variabilitas (variability) return portofolio.RBR / βP Keterangan: RVOL = reward to volality atau pengukur Treynor TRP RBR βP = rata-rata return total portofolio periode tertentu = rata-rata return aktiva bebas risiko periode tertentu = volatilitas yang diukur dengan beta portofolio periode tertentu Nilai RVOL menunjukkan kinerja portofolio. Semakin besar nilai RVOL semakin baik kinerja portofolio. Reward to Volatility (Treynor Measure) Kinerja portofolio yang dihitung dengan pengukuran ini dilakukan dengan membagi return lebih (excess return) dengan volatilitas portofolio. Pengukuran kinerja portofolio ini disebut dengan pengukur Treynor ( treynor measure) atau disebut juga dengan nama reward to volatility (RVOL) yang dikenalkan oleh Jack L. Berbeda dengan Sharpe. Treynor berargumentasi bahwa portofolio yang dibentuk mestinya adalah portofolio optimal. Pengukur kinerja portofolio ini disebut dengan pengukur Sharpe (Sharpe Measure) atau disebut juga dengan nama reward to variability (RVAR) yang dikenalkan oleh Wiliam F. Treynor pada tahun 1966 sebagai berikut: RVOL = TRP .RBR = return lebih (excess return) portofolio . Beberapa model perhitungan return sesuaian risiko (risk-adjusted return) adalah: 1) Reward to Volatility (Treynor Measure). 3) Jensen’s Alpha. 2) Reward to Variability (Sharpe Measure). dan 5) Rasio Appraisal.

Semakin tinggi intersepnya semakin tinggi return portofolionya. pengukur Sharpe dan pengukur Treynor sebenarnya adalah mengukur sudut dari portofolio.RBR = return lebih (excess return) portofolio Nilai RVAR menunjukkan kinerja dari portofolio.RBR) . Selain sudut. Perbandingan Sharpe dan Treynor menggunakan pembagi yang berbeda. sedangkan pengukur Treynor menggunakan pembagi volatilitas yang diukur dengan pengukur risiko sistematik atau beta portofolio (βP). Pengukuran ini disebut dengan nama Jensen’s Alpha.RBR) keterangan: ϭP TRP RBR RM = Jensen’s alpha = rata-rata return portofolio periode tertentu = rata-rata return aktiva bebas risiko periode tertentu = rata-rata return pasar periode tertentu = rata-rata premium risiko portofolio (portofolio risk premium) = rata-rata premium risiko pasar (market risk premium) TRP . Pengukur Sharpe menggunakan pembagi yang berbeda. Semakin besar nilai RVAR semakin baik kinerja dari portofolionya. semakin baik kinerja portofolionya. Jensen’s Alpha Jika diperhatikan. kinerja portofolio juga dapat ditentukan juga oleh intersepnya (intercept).RVAR = reward to variability atau pengukur Sharpe TRP RBR ϭP = rata-rata return total portofolio dalam periode tertentu = rata-rata return aktiva bebas risiko dalam periode tertentu = variabilitas yang diukur dengan deviasi standar dari return portofolio dalam periode tertentu TRP . ϭP = (TRP . Pengukur Sharpe menggunakan pembagi variabilitas yang diukur dengan deviasi standar return portofolio (ϭP). Semakin besar sudut atau slop dari portofolio.βP (RM . Pengukuran intersep ini dikenalkan oleh Micheal C. Pengukuran Sharpe atau RVAR sebenarnya adalah mengukur slop atau sudut dari portofolio yang ditarik dari titik return bebas risiko.RBR Pengukuran M2 14 . Jensen pada tahun 1968.RBR RM .

Rasio Appraisal Rasio Appraisal adalah sebuah rasio pengembalian portofolio atas pengembalian dari patokan ketidakstabilan indeks. Untuk menghitung rasio appraisal dapat dilakukan dengan membagi alfa portofolio dengan risiko sistematik sistematik portofolio. Graham dan Campbell R. tetapi juga mencoba untuk mengidentifikasi konsistensi investor. Jika resiko dari portofolio yang dievaluasi lebih kecil daripada pasar.Pengukur yang lebih mudah untuk membandingkan kinerja portofolio dengan kinerja pasar diusulkan oleh John G. yang bisa dengan mudah dipahami oleh semua orang. Perbatasan yang menggambarkan peluang yang di akses oleh manajer dapat diidentifikasi dengan rasio informasi. Nilai dari M2 adalah sebesar: M2 = (TRP . M2 merupakan ukuran mengenai kinerja yang disesuaikan dengan risiko dimana return yang disesuaikan untuk volatilitas yang memungkinkan perbandingan return diantara portofolio-portofolio Ukuran itu melakukan ini dengan menggunakan Treasury Bills dan portofolio yang dievaluasi. 15 .RBR).ϭM / ϭP + RBR – RM Secara esensial. solvabilitas bisa digunakan untuk meningkatkan volatilitas. Havey pada tahun 1994 dan selanjutnya lebih dipopulerkan oleh Franco Modigliani dengan cucunya yang bernama Leah Modigliani. sehingga dikenal dengan nama pengukur M2. Rasio ini mengukur kemampuan seorang manajer portofolio untuk menghasilkan pengembalian kelebihan relatif terhadap patokan yang digunakan. sebagian dari dana bisa ditempatkan dalam Treasury Bills – dananya bisa didesolvabilitasi agar sesuai dengan volatilitas yang lebih rendah dari pasar. Jika resiko lebih besar daripada pasar. Dalam rasio ini mengukur return abnormal per unit risiko yang secara prinsip dapat dihilangkan dengan memegang portofolio indeks pasar. Rasio ini akan mengidentifiksi apakah manajer telah mengalahkan benchmark yang dalam beberapa bulan atau paling sedikit setiap satu bulan. Karakteristik utama dari rasio informasi adalah sebagai berikut: • • Rasio informasi memperkirakan ex-post nilai tambah dan berhubungan dengan ex-ante peluang yang ada di masa depan. Sebuah keunggulan besar dari M2 adalah bahwa hasilnya dinyatakan dalam bentuk desimal atau persentase.

univpancasila. Referensi: Isna Yuningsih dan Rizky Yudaruddin.php? 16 . Nilai tambah tergantung pada prospek manajer dan agresivitas. No. 1. http://repository. Vol 7.ac. Pengaruh Model Tiga Faktor terhadap Return Saham. September 2007. Akuntabilitas.id/index. ISSN 1412-0240. hal 79-84.• • • Tingkat agresivitas untuk setiap manajer dapat ditentukan oleh rasio informasi Kadang-kadang intuisi dapat memberikan petunjuk yang baik tentang rasio informasi dan penghindaran risiko residu.

Edisi Kelima. Teori Ekonomi Penyesuaian Portofolio. (1999). Sunariyah. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Sriati.y=0&page=1&qual=high&submitval=prev&fname= %2Fjiunkpe%2Fs1%2Feman%2F2000%2Fjiunkpe-ns-s1-2000-31497132-702go_publik-chapter2. Yogyakarta. (Diakses Jogiyanto. Rahardjo. Kinerja Portofolio. http://wartawarga. http://blog.id/sriati/2011/07/11/implikasi-manajemen-portofolio-terhadap-investor/. http://blog.ac. (Diakses Tanggal 19 Maret 2013).option=com_docman&task=doc_download&gid=1214&Itemid=9. Edisi Ketujuh. 2008. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.id/2011/03/teori-ekonomi-penyesuaian-portofolio/ (diakses 11 April 2013) Implikasi Manajemen Portofolio terhadap Investor. Universitas Diponegoro.gunadarma.pdf (diakses 12 April 2013) 17 .petra.stiemce. Tanggal 19 Maret 2013). Penerbit BPFE.id/viewer.x=0&submit. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Portofolio Management & Evaluation.php? submit.stie- mce. Implikasi Manajemen Portofolio terhadap Investor.id/sriati/2011/07/11/implikasi-manajemen-portofolio-terhadap-investor/ (diakses 12 April 2013) Hendra. Shiddiq N.ac. (2012). http://digilib.ac. Yogyakarta. Penerbit UPP STIM YKPN.ac.