P. 1
METODE KUADRAT

METODE KUADRAT

|Views: 145|Likes:
Published by ahmadali252577

More info:

Published by: ahmadali252577 on Jun 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2013

pdf

text

original

METODE KUADRAT

Disusun oleh : Nama : Andrian Putra Bahari Maman Daud Dwi Prasetya W Saniyatun Mar’atus Solihah Handini Widiyanti Kelompok : 8 Asisten : Anggi Angraeni B1J008018 B1J008021 B1J008022 B1J008024 B1J008028

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN

Analisis vegetasi yang dilakukan pada area luas tertentu umumnya berbentuk segi empat, bujur sangkar, atau lingkaran serta titik-titik. Vegetasi tingkat pohon, tiang, dan sapihan untuk mengalisisnya digunakan metode kuadrat antara lain lingkaran, bujur sangkar, atau segi empat. Adapun untuk tingkat semai serta tumbuhan yang rapat digunakan petak contoh titik atau bentuk kuadrat untuk tumbuhan yang tidak rapat. Variasi ukuran petak contoh tergantung pada homogenitas vegetasi yang ada (Fachrul, 2007). Beberapa metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kuarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode kuadrat. Metode kuadrat, petak contoh dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi. Sistem Analisis dengan metode kuadrat: Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area tersebut. Kerapatan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan kekerapan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Surasana, 1990). Menurut Fachrul (2007), tujuan sampling aspek vegetasi pada ekosistem alami ataupun pada ekosistem yang sudah terganggu, pada umumnya adalah untuk melakukan identifikasi jenis potensial atau untuk mengetahui besarnya mengetahui tingkat kerusakan vegetasi dan perubahan komunitas yang terjadi di sekitar industri yang diakibatkan oleh suatu kegiatan. Pemantauan bertujuan untuk melihat adanya kerusakan fisik tumbuhan berupa kerusakan daun atau pucuk tumbuhan. Perhitungan dan analisis data yang di ambil secara langsung di lapangan meliputi komposisi, struktur, dan jenis vegetasi, nilai INP (Indeks Nilai Penting), H (Indeks Keanekaragaman Jenis), IS (Indeks Kesamaan Komunitas). Adapun pada tingkat kerusakan vegetasi serta perubahan komunitasnya dapat ditunjukan dengan :

1. Perubahan dominansi tumbuhan 2. Perubahan indeks keragaman 3. Perubahan indeks kesamaan jenis tumbuhan Nilai penting merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relatif dari sejumlah variabel yang telah diukur (kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan frekuensi relatif). Jika disusun dalam bentuk rumus maka akan diperoleh: Nilai Penting = Kr + Dr + Fr. Harga relatif ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam tabel. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dua jenis tumbuhan yang memiliki harga nilai penting terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut (Surasana, 1990). Menurut Harun (1993), bahwa metode kuadran adalah metode analisa vegetasi yang menggunakan daerah persegi panjang sebagai sampel uniknya. Ukuran yang digunakan yaitu untuk semak dan pohon digunakan kuadran diameter anti meter. Kerapatan, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area kuadran. Beberapa keadaan, kesulitan dalam menentukan batasan individu tumbuhan, kerapatan dapat ditentukan dengan cara pengelompokan berdasarkan criteria tertentu (kelas kerapatan). Kerimbunan, ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Apabila dalam penentuan kerapatan dijabarkan dalam bentuk kerapatan, maka untuk kerimbunannya pun lebih baik dipergunakan kelas kerimbunan. Frekuensi ditentukan berdasarkan kerapatan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area cuplikan (n), dibandingkan dengan seluruh atau seluruh cuplikan yang dibuat (N), biasanya dalam %. Nilai penting harga ini didapatkan berdasarkan penjumlahan dari relatif dari sejumlah variabel yang telah diukur (kerapatan relatif, kerimbunan relatif dan frekuensi relatif). Harga relatif ini dapat dicari dengan perbandingan antar harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100%. Jenis-jenis tumbuhan dalam tabel disusun berdasarkan harga nilai penting ini yang biasanya dari harga tumbuhan yang besar harga nilai pentingnya dapat dipergunakan untuk menentukan penanaman bentuk vegetasi tadi (Rahardjanto, 2001).

Menurut Fachrul (2007), kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai ukuran. Ukuran tersebut bervariasi dari 10 m2 sampai 100 m2. Bentuk petak sampel dapat persegi, persegi panjang, atau lingkaran. Metode kuadrat ada beberapa jenis : 1. Count/list count quadrat Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada, beberapa batang dari masing-masing spesies didalam petak. Jadi, merupakan suatu daftar spesies yang ada di daerah yang diselidiki. 2. Cover quadrat (basal area kuadrat) Untuk mengetahui penutupan relatif, yaitu presentase tanah yang tertutup vegetasi. Metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area (penutupan relatif) yang diperlukan tiap spesies dan berapa total basal dari vegetasi di suatu daerah. Total basal dari vegetasi merupakan penjumlahan basal area dari beberapa jenis tanaman. Cara umum untuk mengetahui basal area pohon dapat dengan mengukur diameter pohon dengan tinggi 1,375 meter (setinggi dada). 3. Chart quadrat Penggambaran letak atau bentuk tumbuhan disebut pantograf. Metode ini terutama berguna dalam memproduksi secara tepat tepi-tepi vegetasi dan menentukan letak tiap-tiap spesies yang vegetasinya tidak begitu rapat. Alat yang digunakan adalah pantograf dan planimeter.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah jenis-jenis rerumputan yang ada disekitar lingkungan Fakultas Biologi yang berada pada petakan berukuran (1 x 1) m2. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah tali raffia, meteran, patok kayu atau bambu, alat tulis dan label. B. Metode 1. Membuat petak dengan ukuran 1 m2 dengan menggunakan tali rafia. 2. Petak diletakkan pada sampel kemudian hitung jumlah dan jenis spesies yang terdapat pada petak tersebut. 3. Pengambilan sampel dilakukan 5 x secara random (acak) . 4. Membuat tabel metode kuadrat. Gambar Metode kuadrat (5 petak= 5 kali ulangan) 1m 1m

1m

Petak I

1m

Petak X

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Tabel 1. Metode kuadrat Spesies A B C D E F G H I J K L M N O P Q Ulangan 1 43 56 12 23 37 6 2 24 2 12 8 54 34 3 39 27 45 3 7 4 22 18 8 21 6 72 1 11 7 30 28 5 15 89 53 3

Cyperus kyllingia Axonopus compressus Phyllanthus urinaria Commelina diffusa Centella asiatica Croton hirtus Elephantophus scraber Cyperus sanguinolentus Echinochloa colonum Blumea lacera Eleutheranthera ruderalis Tectona grandis Ageratum conyzoides Oxalis barrelieri Hydrocotyle sibthorpioides Alternanthera sessilis Coleus sp.

1. Perhitungan Kerapatan : a. Kerapatan masing-masing spesies rapatan ∑ in ivi u suatu j nis uas s luruh p tak yan i uat

Kerapatan spesies A

Kerapatan spesies B

Kerapatan spesies C

5.6
Kerapatan spesies D

Kerapatan spesies E

Kerapatan spesies F

Kerapatan spesies G

Kerapatan spesies H

Kerapatan spesies I

Kerapatan spesies J

Kerapatan spesies K

Kerapatan spesies L

Kerapatan spesies M

Kerapatan spesies N

Kerapatan spesies O

Kerapatan spesies P

Kerapatan spesies Q

b. Perhitungan Kerapatan Relatif rapatan lati rapatan suatu j nis ∑

Jumlah kerapatan semua jenis = 163.2

2. Perhitungan Frekuensi a. Frekuensi masing-masing spesies

b. Perhitungan Frekuesi relatif

Jumlah frekuensi semua = 6.4

3. Perhitungan Nilai Penting

Nilai Penting = Krelatif + Frelatif NPA = 16.05 + 15.63 = 32.28% NPB = 12.4 + 9.4 = 21.8% NPC = 3.43 + 9.4 = 12.82% NPD = 2.82 + 3.13 = 5.96% NPE = 4.53 + 3.13 = 7.66% NPF = 3.3 + 6.25 = 9.55% NPG = 0.98 + 6.25 = 7.23% NPH = 34.8 + 15.63 = 50.43% NPI = 4.2 + 3.13 = 7.43% NPJ = 0.37 + 3.13 = 3.5% NPK = 0.86 + 3.13 = 3.99% NPL = 0.12 + 3.13 = 3.25% NPM = 1.35 + 3.13 = 4.48% NPN = 0.86 + 3.13 = 3.99% NPO = 10.17 + 6.25 = 16.42% NPP = 3.43 + 3.13 = 6.56% NPQ = 0.37 + 3.13 = 3.5%

Tabel 2. Hasil Analisis Vegetasi dengan Teknik Sampling Kuadrat
Spesies F (Frequency) 1 0,6 0,6 0,2 0,2 0,4 0,4 1 0,2 0,2 0,2 0,2 FR (Relative Frequency) 15,63 % 9,4 % 9,4 % 3,13 % 3,13 % 6,25 % 6,25% 15,63 % 3,13 % 3,13 % 3,13 % 3,13 % K (Density) 26,2 20,2 5,6 4,6 7,4 5,4 1,6 56,8 6,8 0,6 1,4 0,2 KR (Relative Density) 16,05% 12,4% 3,43% 2,82% 4,53% 3,3% 0,98% 34,8% 4,2% 0,37% 0,86% 0,12% NP (Importance Frequency) 32,28% 21,8% 12,82% 5,96% 7,66% 9,55% 7,23% 50,43% 7,43% 3,5% 3,99% 3,25%

A B C D E F G H I J K L

M N O P Q

0,2 0,2 0,2 0,2 0,2

3,13 % 3,13 % 6,25% 3,13 % 3,13 %

2,2 1,4 16,6 5,6 0,6

1,35% 0,86% 10,17% 3,43% 0,37%

4,48% 3,99% 16,42% 6,56% 3,5%

Keterangan : Simbol A B C D E F G H I J K L M N O P Q Spesies

Cyperus kyllingia Axonopus compressus Phyllanthus urinaria Commelina diffusa Centella asiatica Croton hirtus Elephantophus scraber Cyperus sanguinolentus Echinochloa colonum Blumea lacera Eleutheranthera ruderalis
Tectona grandis

Ageratum conyzoides Oxalis barrelieri Hydrocotyle sibthorpioides Alternanthera sessilis Coleus sp.

B. Pembahasan Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan diperoleh data bahwa spesies tumbuhan yang memiliki kerapatan relatif (KR) tertinggi adalah Cyperus sanguinolentus dengan nilai 34,8%, sedangkan yang mempunyai nilai terendah adalah Tectona grandis yaitu 0,12 %. Spesies tumbuhan yang mempunyai frekuensi relatif (FR) tertinggi ada dua spesies yaitu Cyperus kyllingia dan Cyperus sanguinolentus dengan nilai yang sama yaitu 15,63% sedangkan spesies dengan nilai terendah ada sembilan spesies yaitu Commelina diffusa, Echinochloa colonum, Blumea lacera, Eleutheranthera ruderalis, Tectona grandis, Ageratum conyzoides, Oxalis barrelieri, Alternanthera sessilis, dan Coleus sp. yaitu dengan nilai 3,13%. Spesies yang mempunyai nilai penting tertinggi adalah Cyperus sanguinolentus dengan nilai 50,43%, sedangkan yang terendah adalah Tectona grandis dengan nilai 3,25%. Nilai Penting besar karena Cyperus sanguinolentus memiliki kelebihan dibanding dengan spesies lain. Ditinjau dari sifat-sifat biologisnya, tumbuhan ini dapat tumbuh dengan mudah dan menggerombol. Selain itu tumbuhan ini dapat menutupi permukaan tanah sehingga memberikan pengaruh yang dominan dibanding tumbuhan lain yang hidup disekitarnya. Tingkat dominansi yang tinggi menunjukkan kemampuan adaptasi dalam memanfaatkan kondisi lokal habitat, dan kondisi kadar air tanah yang mendukung untuk pertumbuhannya. Nilai Penting kecil yang dimiliki oleh Tectona grandis salah satu penyebabnya adalah faktor lingkungan. Tanaman ini kurang cocok dengan kondisi lingkungan (kondisi suhu tanah, suhu udara, kadar air tanah, dan kondisi permukaan tanah) setempat sehingga pertumbuhannya terbatas (Anonim, 2011). Indeks nilai penting digunakan untuk menetapkan dominansi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain penting menggambarkan kedudukan ekologi suatu jenis dalam komunitas. Indeks nilai penting dihitung berdasarkan penjumlahan Kerapatan Relatif (KR) dan Frekuensi Relatif (FR) (Balai Taman Nasional Baluran, 2010). Teknik sampling kuadrat merupakan suatu teknik survey vegetasi yang sering digunakan dalam semua tipe komunitas tumbuhan : Petak contoh yang dibuat dalam teknik sampling ini bisa berupa petak tunggal atau beberapa petak. Petak tunggal mungkin akan memberikan informasi yang baik bila komunitas vegetasi yang diteliti bersifat homogen.Adapun petak-petak contoh yang dibuat dapat diletakkan secara

random atau beraturan sesuai dengan prinsip-prinsip teknik sampling (Nanang, 2010). Cyperus sanguinolentus Klasifikasi Cyperus sanguinolentus menurut Wikipedia (2011) adalah : Superdivisi Divisi Classis Subclass Ordo Familia Genus Species :Spermatophyta :Magnoliophyta :Liliopsida :Commelinidae :Cyperales :Cyperaceae :Cyperus :Cyperus sanguinolentus

Muncul di garis pantai, parit, 20 m; banyak ditemukan di Asia, Afrika. Cyperus Sanguinolentus dikenal sebagai Cyperus rhizomatous distigmatic di Amerika Serikat bagian timur. Koleksi awal digambarkan sebagai C. Louisianensis diduga endemik, yang terlihat dilapangan dan studi morphometric menunjukkan itu menjadi pengantar dari C. sanguinolentus (Anonim, 2011). Tectona grandis Klasifikasi Tectona grandis menurut Anonim (2011), adalah : Divisi : Magnoliophyta Classis : Magnoliopsida Ordo : Lamiales Familia : Lamiaceae Genus : Tectona Spesies : Tectona grandis Jati (Tectona grandis L.f.) terkenal sebagai kayu komersil bermutu tinggi, termasuk dalam famili Verbenaceae. Penyebaran alami meliputi negara-negara India, Birma, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia jati terdapat di beberapa daerah seperti Jawa, Muna, Buton, Maluku dan Nusa Tenggara. Pohon Jati cocok tumbuh di daerah musim kering agak panjang yaitu berkisar 3-6 bulan pertahun. Besarnya curah hujan yang dibutuhkan rata-rata 1250-1300 mm/tahun dengan temperatur rata-rata tahunan 22-26° C. Daerah-daerah yang banyak ditumbuhi Jati umumnya tanah bertekstur sedang dengan pH netral hingga asam (Irwanto, 2006).

Cyperus kyllingia Klasifikasi Cyperus kyllingia menurut Anonim (2011), adalah : Divisi : Magnoliophyta Classis : Liliopsida Ordo : Cyperales Familia: Cyperaceae Genus : Cyperus Spesies : Cyperus kyllingia Habitat : Gulma di tempat-tempat sampah dan berumput. Kadang-kadang digunakan sebagai rumput rumput di daerah teduh. Sejarah: Berasal dari daerah tropis, terutama ditemukan di Asia. Catatan: Ada berbagai lebih kecil, C. var kyllingia. humilis (Boeck.) Kuk., dengan bunga batang 2 sampai 3 inci tingginya (Anonim, 2011). Commelina diffusa Klasifikasi Commelina diffusa menurut Anonim (2011), adalah : Classis Ordo Familia Genus Species : Angiospermae : Commelinales : Commelinaceae : Commelina : Commelina diffusa

Tanaman ini terdapat di lokasi tropis dan subtropis di seluruh dunia. Hal ini dapat ditemukan di sebagian besar Cina bagian selatan, khususnya di Provinsi Guangdong, Guangxi barat daya, barat daya Guizhou, Hainan, southeasten Xizang dan Yunnan tenggara. Di Jepang tanaman telah dilaporkan dari Yakushima off Kyushu dan juga hadir di Kepulauan Ryukyu dari arah selatan Amami Ōshima. Di Cina ini dapat ditemukan dari permukaan laut hingga 2100 meter, dan biasanya berhubungan dengan hutan, semak, bank sungai dan habitat terbuka dan lembab lainnya. Di Hindia Barat merupakan gulma umum yang terutama berkaitan dengan pinggir jalan, selokan dan tempat sampah basah dan dapat ditemukan dari permukaan laut sampai 1050 meter. Di Amerika Serikat juga khas dari lokasi terganggu, seperti taman, kawasan budidaya dan rumput, tetapi juga dapat ditemukan di hutan dan situasi lembab lainnya (Anonim, 2011). Echinochloa colonum Klasifikasi Echinochloa colonum menurut Anonim (2011), adalah : Superdivisi : Spermatophyta

Divisi Classis Subclassis Ordo Familia Genus Species

: Magnoliophyta : Liliopsida : Commelinidae : Cyperales : Poaceae : Echinochloa :Echinochloa colonum

Habitat : Sepanjang Asia tropis dan Afrika di bidang dan sepanjang pinggir jalan. Kawasan budidaya, alasan limbah, parit dan ladang (Anonim, 2011). Blumea lacera Klasifikasi Blumea lacera menurut Anonim (2011), adalah : Super Divisi: Spermatophyta Divisi Classis : Magnoliophyta : Magnoliopsida

SubClassis : Asteridae Ordo Familia Genus Spesies : Asterales : Asteraceae : Blumea : Blumea lacera Dc Habitat : ditemukan di zona tropis dan sub-tropis di Asia, terutama anak benua India dan Asia Tenggara. Ada beberapa spesies ditemukan di Australia dan masih sedikit di Afrika (Anonim, 2011). Eleutheranthera ruderalis Habitus semak, panjang ± 20 cm. Batang bulat, hijau kekuningan. Daun tunggal, berhadapan, lonjong, ujung dan pangkal runcing, panjang ± 5 cm, lebar ± 3 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga Majemuk, bentuk bulir, di ketiak daun. Akar tunggang, berwarna coklat. Adapun klasifikasi dari Alternanthera sessilis menurut Aonim (2011), adalah: Divisi Classis Ordo Familia Genus Species : Spermatophyta : Dicotyledoneae : Asterales : Asteraceae : Eleutheranthera : Eleutheranthera ruderalis

Oxalis barrelieri Adapun klasifikasi dari Oxalis barrelieri menrut Anonim (2011), adalah: Divisi : Spermatophyta Class : Dicotyledoneae Ordo : Geraniales Famili : Oxalidaceae Genus : Oxalis Species : Oxalis barrelieri Alternanthera sessilis Adapun klasifikasi dari Alternanthera sessilis menurut Anonim (2011) adalah: Divisi Class Ordo Famili Genus Species Coleus sp. Klasifikasi Coleus sp. menurut Anonim (2011), adalah : Divisio Classis Order Family Genus Spesies : Magnoliophyta : Eudicots : Lamiales : Lamiaceae : Coleus : Coleus sp. Tanaman tahunan, asli tropis Afrika, Asia, Australia, Hindia Timur, Kepulauan Melayu, dan Filipina. Lingkungan yang bervariasi dari satu tempat ke tempat lain, dan kebutuhan tumbuhan akan keadaan lingkungan yang khusus mengakibatkan keragaman jenis tumbuhan yang berkembang dapat terjadi menurut perbedaan tempat dan waktu. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan jenis tumbuhan yang berkembang dengan perbedaan tinggi tempat atau perbedaan musim. Selain itu, perbedaan ketinggian tempat di atas permukaan laut (dpl) dapat menimbulkan perbedaan cuaca dan iklim secara keseluruhan pada tempat tersebut, terutama suhu, kelembaban, dan curah hujan. : Spermatophyta : Dicotyledoneae : Caryophytales : Amaranthaceae : Alternanthera : Alternanthera sessilis

Unsur-unsur tersebut banyak dikendalikan oleh letak lintang, ketinggian, jarak dari laut, topografi, jenis tanah dan vegetasi (Suwena, 2007). Penggunaan asosiasi interspesifik untuk memilah kuadrat menjadi kelompokkelompok ini didasarkan pada definisi tentang unit homogen vegetasi sebagai salah satu di mana semua spesies-asosiasi yang tak tentu atau nondata dari Mallee Australia, adalah untuk mengurutkan pada spesies yang paling banyak terlibat dalam asosiasi positif, penyatuan yang residum pada setiap tahap. Sejak statistik metode semacam ini, bagaimanapun, pasti memerlukan komputasi skala besar banyak, perlu baik untuk memeriksa statistik dasar metode apapun yang diusulkan dan untuk menilai apakah informasi ekologi yang diperoleh pada kenyataannya membenarkan waktu dan tenaga kerja yang terlibat. Selanjutnya, analisis masyarakat yang kompleks dapat biasanya hanya dibawa dalam jangkauan ahli ekologi berlatih jika metode diprogram untuk komputer digital, dan kebutuhan ini harus ditanggung terus menerus diingat jika beban penghalang dalam waktu komputasi yang harus dihindari (Williams dan Lambert, 2007). Ekologi telah menggunakan analisis spasial untuk mendeteksi pola dalam komunitas tumbuhan untuk lebih memahami distribusi jenis tumbuhan dan hubungannya dengan faktor lingkungan. Metode analisis yang berbeda spasial umum digunakan dalam ekologi tanaman. Ada banyak metode analisis spasial yang dirancang untuk digunakan dengan dipetakan pola titik. Sebagai contoh, sangat dianjurkan sebagai cara yang efisien untuk mendeteksi pola spasial. Namun, membutuhkan sensus lengkap semua individu di daerah penelitian, yang bisa membuat sulit untuk diterapkan di lapangan. Kesulitan ini, ekologi dan biogeographers sering menggunakan data transek untuk mempelajari tanaman distribusi. Untuk data transek, menghitung kuadrat pendekatan, seperti variansi kuadrat dua istilah lokal (TTLQV), dipasangkan kuadrat varians (PQV) dan baru lokal varians (NLV), yang sering digunakan untuk memeriksa spasial pola dalam komunitas tumbuhan (Qinghua dan Maggi, 2004). Jumlah plot sampel minimal, harus cukup untuk muncul sebagian besar spesies ini. nomor ini dapat ditentukan secara semiobject dengan memetakan kurva spesies area sebagai sampling sedang dilakukan. kurva ini terdiri dari total spesies comulative diplot terhadap jumlah sampel untuk diambil (Goldsmith, 2010).

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Spesies yang memiliki kerapatan relatif (KR) tertinggi adalah Cyperus sanguinolentus dengan nilai 34,8%, spesies tumbuhan yang mempunyai frekuensi relatif (FR) tertinggi ada dua spesies yaitu Cyperus kyllingia dan Cyperus sanguinolentus dengan nilai yang sama yaitu 15,63%, spesies yang mempunyai nilai penting tertinggi adalah Cyperus sanguinolentus dengan nilai 50,43%. 2. Spesies yang mempunyai nilai KR terendah adalah Tectona grandis yaitu 0,12 %, spesies yang mempunyai FR terendah ada sembilan spesies yaitu Commelina diffusa, Echinochloa colonum, Blumea lacera, Eleutheranthera ruderalis, Tectona grandis, Ageratum conyzoides, Oxalis barrelieri, Alternanthera sessilis, dan Coleus sp. yaitu dengan nilai 3,13%. Spesies yang mempunyai indeks nilai penting (INP) terendah adalah Tectona grandis dengan nilai 3,25%. 3. Tinggi rendahnya Nilai Penting (NP) dipengaruhi oleh faktor intrinsik dari spesies itu sendiri seperti morfologi, fisiologi, serta adaptasi dan faktor lingkungan seperti kondisi suhu tanah, suhu udara, kadar air tanah, dan kondisi permukaan tanah.

DAFTAR REFERENSI

Anonim. 2011. toptropicals.com/catalog/uid/Cyperus_sp.htm. Diakses tanggal 23 April 2011. Anonim. 2011. http://greenvenus.indonetwork.net/group+78126/rumputrumputan.htm. Diakses tanggal 23 April 2011. Anonim. 2011. www.plantamor.com/index.php?plant=1696. Diakses tanggal 22 April 2011 Balai Taman Nasional Baluran. 2010. Analisis Vegetasi Di Savana Bekol. balurannationalpark.web.id/wp./04/LabelisasiPohon-Baluran-06-FIX.pdf. Diakses tanggal 22 April 2011. Fachrul, M. F. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara, Jakarta. Goldsmith. 2010. Population and Community Structure: Quadrat Sampling Techniques. Academic Press, New York. Harun, 1993. Ekologi Tumbuhan. Bina Pustaka, Jakarta. Irwanto. 2006. Usaha Pengembangan Jati (Tectona grandis http://www.irwantoshut.com. Diakses tanggal 22 April 2011. L.F).

Nanang. 2010. Sistem Analisis Metode Kuadrat dan Metode Kuarter. http://nanang14045.student.umm.ac.id/sistem-analisis-metode-kuadrat-danmetode-kuarter/. Diakses tanggal 22 April 2011. Qinghua, Guo dan Maggi, Kelly. 2004. Interpretation of scale in paired quadrat variance methods. Journal of Vegetation Science 15: 763-770. Rahardjanto, A. K. 2001. Buku Petunjuk Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. UMM Press. Malang. Surasana. 1990. Teknik Lapangan Ekologi Tumbuhan. Departemen Biologi ITB, Bandung. Suwena, Made. 2007. Keanekaragaman Tumbuhan Liar Edibel Pada Ekosistem Sawah Di Sekitar Kawasan Hutan Gunung Salak Biodiversity Of Edible Wild Plants On Paddy Ecosystem Of Gunung Salak Forest Area. Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Mataram. Williams, W. T and Lambert, J. M. 2007. Multivariate Methods in Plant Ecology: I. Association-Analysis in Plant Communities The Journal of Ecology, Vol. 47, No. 1. pp. 83-101. http://www.jstor.org.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->