Polemik Impor Beras Indonesia

29Selasa,Mei
kuliah, pertanian

Polemik Impor Beras Indonesia
Pendahuluan Negara Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Hal ini terbukti dengan keadaan tanah Indonesia yang sangat subur. Negara Indonesia memiliki peran penting sebagai produsen bahan pangan di mata dunia. Indonesia adalah produsen beras terbesar ketiga dunia setelah China dan India. Kontribusi Indonesia terhadap produksi beras dunia sebesar 8,5% atau 51 juta ton. China dan India sebagai produsen utama beras berkontribusi 54%. Vietnam dan Thailand yang secara tradisional merupakan negara eksportir beras hanya berkontribusi 5,4% dan 3,9%. Dalam konteks pertanian umum, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Kelapa sawit, karet, dan coklat produksi Indonesia mulai bergerak menguasai pasar dunia. Namun, dalam konteks produksi pangan memang ada suatu keunikan. Meski menduduki posisi ketiga sebagai negara penghasil pangan di dunia, hampir setiap tahun Indonesia selalu menghadapi persoalan berulang dengan produksi pangan terutama beras. Produksi beras Indonesia yang begitu tinggi belum bisa mencukupi kebutuhan penduduknya, akibatnya Indonesia masih harus mengimpor beras dari Negara penghasil pangan lain seperti Thailand. Salah satu penyebab utamanya adalah jumlah penduduk yang sangat besar. Data statistik menunjukkan pada kisaran 230-237 juta jiwa, makanan pokok semua penduduk adalah beras sehingga sudah jelas kebutuhan beras menjadi sangat besar. Permasalahan 1. Mengapa Indonesia masih mengimpor beras dari luar negri sedangkan Indonesia termasuk salah satu negara dengan kontribusi terhadap produksi beras dunia mencapai 8,5%? 2. Apa solusi untuk menciptakan ketahanan pangan di Indonesia? Pembahasan Penduduk Indonesia merupakan pemakan beras terbesar di dunia dengan konsumsi 154 kg per orang per tahun. Bandingkan dengan rerata konsumsi di China yang hanya 90 kg, India 74 kg, Thailand 100 kg, dan Philppine 100 kg. Hal ini mengakibatkan kebutuhan beras Indonesia menjadi tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan produksi dalam negeri dan harus mengimpornya dari negara lain. Selain itu, Indonesia masih mengimpor komoditas pangan lainnya seperti 45% kebutuhan kedelai dalam negeri, 50% kebutuhan garam dalam negeri, bahkan 70% kebutuhan susu dalam negeri dipenuhi melalui impor. Faktor lain yang mendorong adanya impor bahan pangan adalah iklim, khususnya cuaca yang tidak mendukung keberhasilan sektor pertanian pangan, seperti yang terjadi saat ini. Pergeseran musim hujan dan musim kemarau menyebabkan petani kesulitan dalam menetapkan waktu yang tepat untuk mengawali masa tanam, benih besarta pupuk yang digunakan, dan sistem pertanaman yang digunakan. Sehingga penyediaan benih dan pupuk yang semula terjadwal, permintaanya menjadi tidak menentu yang dapat menyebabkan kelangkaan karena keterlambatan pasokan benih dan pupuk. Akhirnya hasil produksi pangan pada waktu itu menurun. Bahkan terjadinya anomali iklim yang ekstrem dapat secara langsung menyebabkan penurunan produksi tanaman pangan tertentu, karena tidak mendukung lingkungan yang baik

Faktor-faktor di atas yang mendorong dilakukannya impor masih diperparah dengan berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah yang semakin menambah ketergantungan kita akan produksi pangan luar negeri. China. Penyebab impor bahan pangan selanjutnya adalah luas lahan pertanian yang semakin sempit. upaya privatisasi menuju monopoli atau kartel di sektor pangan semakin terbuka. ternyata negara dan rakyat Indonesia tidak lagi punya kedaulatan. 4/2004 tentang Sumber Daya Air. Letter of Intent IMF). kita telah tergantung oleh mekanisme pasar yang dikuasai oleh segelintir perusahaan raksasa. Deregulasi. 2008) dan beras (1998). Walaupun dalam periode waktu yang sama dilakukan percetakan sawah seluas 0. bibit. Liberalisasi. Contohnya saat terjadi anomali iklim El Nino menyebabkan penurunan hasil produksi tanaman tebu. teknologi dan insentif harga). dan deregulasi. maka industri produk pangan akan selalu memiliki ketergantungan impor bahan baku. Faktanya. Sepanjang kepastian pasokan tidak kontinyu dan biaya transportasi tetap tinggi. 25/2007 tentang Penanaman Modal.62 juta Ha di luar Jawa. akar dari masalah ini tidak hanya parsial pada aspek impor dan harga seperti yang sering didengungkan oleh pemerintah dan pers. Bulog dijadikan privat. Dari tahun 1981 sampai tahun 1999 terjadi konversi lahan sawah di Jawa seluas 1 Juta Ha di Jawa dan 0. UU No. beberapa kebijakan sangat dipermudah untuk perusahaan besar yang mengalahkan pertanian rakyat. Privatisasi. distribusi dan konsumsi di sektor pangan.sebagai syarat tumbuh suatu tanaman. Privatisasi ini pun berdampak serius.52 juta ha di Jawa dan sekitar 2. tidak mampu membendung peningkatan ketergantungan Indonesia terhadap beras impor. Di sisi lain. seperti yang sudah terjadi saat ini. disebabkan oleh kebijakan dan praktek yang menyerahkan urusan pangan kepada pasar (1998. Lebih besar dari itu. sehingga negara melalukan impor gula. Mayoritas rakyat Indonesia jika tidak bekerja menjadi kuli di sektor pangan. Privatisasi sektor pangan—yang notabene merupakan kebutuhan pokok rakyat—tentunya tidak sesuai dengan mandat konstitusi RI. . Akibatnya negara dikooptasi menjadi antek perdagangan bebas.7 juta Ha di luar pulau Jawa. pupuk. Ketergantungan impor bahan baku pangan juga disebabkan mahalnya biaya transportasi di Indonesia yang mencapai 34 sen dolar AS per kilometer. Terdapat kecenderungan bahwa konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian mengalami percepatan. namun kenyataannya percetakan lahan sawah tanpa diikuti dengan pengontrolan konversi. UU No. Seperti contoh UU No. 18/2003 Tentang Perkebunan. Saat ini di sektor pangan. pasti menjadi konsumen atau end-user. bahkan hingga 0% seperti kedelai (1998. Market access Indonesia dibuka lebar-lebar. yang menyatakan bahwa “Cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan digunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat”. Seperti kebijakan dan praktek privatisasi. Bandingkan dengan negara lain seperti Thailand. dan Vietnam yang rata-rata sebesar 22 sen dolar AS per kilometer. Negara ini pun melakukan upaya liberalisasi terhadap hal yang harusnya merupakan state obligation terhadap rakyat. Dengan kemudahan regulasi ini. Sementara domestic subsidy untuk petani kita terus berkurang (tanah. irigasi. liberalisasi. Hal ini jelas membunuh petani kita. Perpres 36 dan 65/2006. Indonesia pun dibanjiri barang pangan murah. sehingga pasar dan harga domestik kita hancur. yakni kekuatan dalam mengatur produksi. export subsidy dari negara-negara overproduksi pangan seperti AS dan Uni Eropa beserta perusahaan-perusahaannya malah meningkat. Agreement on Agriculture. dan yang termutakhir UU No. 1/1967 tentang PMA. serta mekanisme perdagangan pertanian yang ditentukan oleh perdagangan bebas (1995. dan industri hilir pangan hingga distribusi (ekspor-impor) dikuasai oleh perusahaan seperti Cargill dan Charoen Phokpand. sehingga berpotensi besar dikuasainya sektor pangan hanya oleh monopoli atau oligopoli (kartel). WTO).

04%). kita langsung terkena dampaknya. Tentunya hal ini sedikit sulit terjadi tanpa adanya dukungan dari pemerintah. data konsumsi beras juga diperkirakan kurang akurat. Bulog berargumen bahwa data produksi oleh BPS tidak bisa dijadikan pijakan sepenuhnya. Pada satu sisi. singkong dan minyak goreng. serta hilangnya sumber daya yang telah terpakai dan beras yang tidak dikonsumsi dan terserap oleh bulog.36%). meningkat 1. Hal ini dikarenakan petani lokal relatif tertinggal dari petani luar negeri terutama dalam bidang teknologi. Surplus yang tejadi pada beberapa daerah ini tentunya dapat dijadikan cadangan oleh Bulog dan untuk didistribusikan ke daerah lain yang mengalami defisit. Bahkan berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) II yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Angka konsumsi beras sebesar 139 kg/kapita/tahun sebenarnya bukan angka resmi dari BPS. Kasus kedelai 2008 ini sebenarnya bukanlah yang pertama. Para petani dituntut untuk berproduksi bukan hanya mengandalkan kuantitas tetapi juga kualitas.15 ribu hektar (2. dan minyak goreng pada tahun 2007). kedelai. Perhitungan produksi beras yang merupakan kerjasama antara BPS dan Kementrian Pertanian ini masih diragukan keakuratannya. Dengan sistem kebijakan dan praktek ini. produksi padi nasional tahun ini diperkirakan mencapai 68. Angka ini underestimate. dan masa panen masih berlangsung di banyak tempat. yakni Jawa Timur. Hal ini akan sedikit banyak serupa pada beberapa komoditas pangan yang sangat vital bagi rakyat yang masih tergantung pada pasar internasional: beras. Data ini kemungkinan besar merupakan data yang underestimate atau overestimate. dan Sulawesi Selatan. Sebenarnya kebijakan impor beras ini juga bisa menjadi tantangan tersendiri bagi petani untuk meningkatkan produksi dan kualitas beras. keputusan importasi beras tersebut berlangsung ketika terjadi kenaikan harga beras saat ini.02 kuintal per hektar (0.59 juta ton (2. Selain itu. Sementara itu. Pemerintah harus memberi kepastian jaminan pasar sebagai peluang mengajak petani bergiat menanam komoditas tanaman pangan. karena ada kasus-kasus sebelumnya (beras pada tahun 1998.40%) dibandingkan tahun 2010 lalu. Perlukah Impor? Pertama. susu pada tahun 2007. bulog mengklaim bahwa mereka mengimpor dengan tujuan mengamankan stok beras dalam negeri. berdasarkan data Kementerian Pertanian. impor beras yang terjadi di tengah produksi berlebih menurut data BPS sekarang ini memiliki dampak negatif yang panjang. distribusi dan konsumsi di sektor pangan. jagung. terdapat tiga provinsi yang mencatat surplus padi.Hal ini semakin parah dengan tidak diupayakannya secara serius pembangunan koperasikoperasi dan UKM dalam produksi. . produksi padi dalam negeri dinyatakan cukup. terutama metode perhitungan luas panen yang dilakukan oleh Dinas Pertanian yang megandalkan metode pandangan mata. Jika merujuk pada data BPS yang didasarkan pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). disinsentif terhadap petani.06 juta ton gabah kering giling. Maka saat terjadi perubahan pola-pola produksi – distribusi – konsumsi secara internasional. Jawa Tengah. karena SUSENAS memang tidak dirancang untuk menghitung nilai konsumsi beras nasional. seperti berkurangnya devisa negara. Selanjutnya. konsumsi beras pada tahun ini mencapai 102 kg/kapita/tahun. dan produktivitas sebesar 0. Indonesia kini tergantung kepada pasar internasional (harga dan tren komoditas). Selanjutnya. gula. Kenaikan produksi diperkirakan terjadi karena peningkatan luas panen seluas 313. Mengapa Tidak Impor? Kebijakan yang dipilih pemerintah untuk membuka kran Impor juga mendatangkan kontra.

kedelai. diperlukan beberapa usaha di antaranya yaitu: 1. Mematok harga dasar pangan yang menguntungkan petani dan konsumen. 7. 4. Menambah produksi pangan secara terproyeksi dan berkesinambungan. 2. Bulog bisa diberikan peran ini. pemerintah diharapkan dapat menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga. jagung. 3.Pemecahan Masalah Untuk mengurangi dampak ketergantungan kita akan bahan pangan impor dan menciptakan ketahanan pangan. Hal ini sebagai jaminan untuk tetap menggairahkan produksi pangan dalam negeri. Selain itu. petani dan pelaku agribisnis serta pengguna lainnya dalam budidaya dan pengembangan tanaman pangan khususnya dan tanaman-tanaman semusim lainnya. Mengatur kembali tata niaga pangan. Pangan harus dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. 5. Hal ini tentunya harus diimbangi dengan manajemen stok yang baik. sehingga dapat tersalurkan ke seluruh penjuru Nusantara dengan harga yang terjangkau sampai ke tangan rakyat. Seharusnya. Ini dapat dilakukan dengan melibatkan lembaga-lembaga penelitian. studi perguruan tinggi. maupun kerjasama bilateral. dengan segera meredistribusikan tanah objek landreform yang bisa segera dipakai untuk pertanian pangan. 10. Hal ini dapat dijalankan bersamaan dengan menggali potensi tanaman tradisional (lokal) yang sudah terbiasa dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Harga harus sesuai dengan ongkos produksi dan keuntungan petani dan kemampuan konsumen. Selanjutnya. 6. Bulog harus lebih agresif menyerap gabah dari petani agar mereka tidak dirugikan. Pemerintah harus berkomitmen kuat mengatasi segala persoalan perberasan nasional secara komprehensif dari hulu ke hilir agar tidak harus selalu bergantung pada impor. Harga tidak boleh tergantung kepada harga internasional karena tidak berkorelasi langsung dengan ongkos produksi dan keuntungan. 9. koperasi. . Memberikan dukungan pelembagaan organisasi petani komoditas pangan. Sehingga rakyat tidak selalu bergantung pada ketersediaan beras. Menyediakan insentif bagi petani komoditas pangan. teknologi dan kepastian beli. Kesimpulan Dalam masalah ini. yakni kelompok tani. Hal ini selain dapat mengamankan stok beras juga dapat menghasilkan pendapatan bagi petani sehingga kesejahteraan petani dapat naik. 8. gula dan minyak goreng) jika terjadi fluktuasi harga. Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan. Menciptakan diversifikasi pangan yang memiliki nilai gizi yang setara dengan beras dan ekonomis terjangkau oleh rakyat. Mengoptimalkan penelitian dan pengembangan benih varietas unggul yang tahan terhadap anomali iklim dan berumur sedang. Memberikan insentif harga kepada petani komoditas pangan (terutama beras. Untuk menunjang budidaya tanaman pangan yang lebih cermat dan akurat perlu didukung dengan ketersediaan data iklim khususnya curah hujan yang secara kontinyu dapat di-update secara otomatis dari stasiun-stasiun iklim yang telah dipasang. dan ormas tani. tapi harus dengan intervensi yang kuat dari Kementerian Pertanian. bulog harus memaksimalkan penyerapan beras dari para petani lokal. adanya proses impor beras dari luar negri disaat nilai produksi beras di Indonesia mengalami surplus memang banyak menimbilkan tanda tanya. Balitklimat telah dan sedang menyusun kalender tanam yang diharapkan dapat membantu Dinas Pertanian. Memperlancar arus distribusi hasil pertanian dengan siklus yang pendek. singkong. pemerintah dalam hal ini khususnya Bulog melakukan manajemen stok yang lebih baik. pupuk. terutama bibit.

Akan tetapi. BPS diharapkan dapat memberikan data yang lebih akurat lagi. . tugas bagi berbagai pihak yang terkait adalah memperbaiki kinerja masing-masing. diperlukan juga kebijaksanaan oleh Bulog agar setiap kebijakan yang diambil tidak merugikan petani lokal yang kesejahteraannya masih rendah tanpa mengorbankan ketahanan pangan Indonesia. Pada akhirnya. Hal ini dikarenakan data produksi dan data konsumsi beras yang masih diragukan keakuratan dalam perhitungannya. Akan tetapi. kebijakan untuk mengimpor beras dengan alasan pengamanan stok oleh Bulog ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful