Pengertian Bank Konvensional dan Definisi Serta Prinsip 1 .

Pengertian Bank Konvensional Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 ‘’ Bank Konvensional adalalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Pada bank konvensional, kepentingan pemilik dana (deposan) adalah memperoleh imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi, sedang kepentingan pemegang saham adalah diantaranya memperoleh spread yang optimal antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman (mengoptimalkan interest difference). Dilain pihak kepentingan pemakai dana (debitor) adalah memperoleh tingkat bunga yang rendah (biaya murah). Dengan demikian terhadap ketiga kepentingan dari tiga pihak tersebut terjadi antagonisme yang sulit diharmoniskan. Dalam hal ini bank konvensional berfungsi sebagai lembaga perantara saja tidak adanya ikatan emosional yang kuat antara Pemegang Saham, Pengelola Bank dan Nasabah karena masing-masing pihak mempunyai keinginan yang bertolak belakang. 2. Prinsip-prinsip bank konvensional Martono (2002) menjelaskan prinsip konvensional yang digunakan bank konvensional menggunakan dua metode, yaitu :

Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan seperti tabungan, deposito berjangka, maupun produk pinjaman (kredit) yang diberikan berdasarkan tingkat bunga tertentu.

Untuk jasa-jasa bank lainnya, pihak bank menggunakan atau menerapakan berbagai biaya dalam nominal atau prosentase tertentu. Sistem penetapan biaya ini disebut fee based.

Yaitu. Selanjutnya Mufti Mesir yang kini menjabat Pimpinan . Pasalnya kita masih belum mampu keluar dari sistem bank konvensional tersebut.Sistem bunga bank konvensional: o Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak bank o Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank o Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik o Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam o Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam o Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi 4. Kalau diikuti. dan seorang bermazhab Hanbali. empat mewakili Mazhab Maliki. menganut sistem bunga yang dianggap riba (haram) oleh pendapat pertama. Di akhir diskusi tersebut. sembilan membolehkan dan seorang belum dapat memberi putusan. ada juga yang berpendapat boleh. Tahun 1976 di Mesir diadakan diskusi yang sangat berbobot dipimpin oleh Syekh Muhammad Faraj As-sanhuri dan dihadiri oleh 14 ulama yang sangat terkemuka. Lima mewakili Mazhab Hanafi. Menurut yang berpendapat haram. Namun. karena dianggap darurat. empat ulama mengharamkan. Bank Indonesia (sebagai induk semua bank di Indonesia) pun masih memakai sistem konvensional. tiga Mazhab Syafi'i.3. untuk penyelenggaraan haji masih banyak jamaah yang menggunakan jasa bank konvensional. Sampai sekarang pun. orang yang bekerja di bank-bank tersebut pun haram hukumnya karena makan gaji dari hasil riba (haram). Hukum bank konvensional Ada yang berpendapat bahwa bank konvensional hukumnya haram.

" Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman. Tahun lalu. janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil. penetapan keuntungan terlebih dahulu bagi mereka yang menginvestasikan harta mereka melalui bank-bank atau selain bank adalah halal dan tanpa syubhat dalam transaksi itu. (QS. mengadakan rapat membahas soal bank konvensional yang dipimpin oleh Syekh Al-Azhar. dengan imbalan keuntungan yang diberikan kepada mereka serta ditetapkan terlebih dahulu pada waktu-waktu yang disepakati bersama orang-orang yang bertransaksi dengannya atas harta-harta itu.Tertinggi Al-Azhar. yang manfaatnya kembali kepada seluruh masyarakat. Kesimpulannya. Menurutnya. cenderung membolehkan bank konvensional/deposito dalam berbagai bentuknya walau dengan penentuan bunga terlebih dahulu. Di samping itu. Syekh Al-Azhar Sayyid Muhammad Thanthawi. dia dapat memperoleh keuntungan dalam banyak transaksi lainnya. selama kedua belah pihak rela dengan bentuk transaksi tersebut. juga karena penetuan bunga dilakukan setelah perhitungan yang teliti. Ini termasuk dalam persoalan "Al-Mashalih Al-Mursalah". Forum itu memutuskan: "Mereka yang bertransaksi dengan atau bank-bank konvensional dan menyerahkan harta dan tabungan mereka kepada bank agar menjadi wakil mereka dalam menginvestasikannya dalam berbagai kegiatan yang dibenarkan. Tetapi (hendaklah) dengan perniagaan yang berdasar kerelaan di antara kamu. perbankan menjadi salah satu pilar utama dari pembangunan ekonomi secara khusus dan pembangunan nasional secara umum. Dengan demikian keuntungan ini dapat menutupi kerugian itu. dalam keadaan rugi dapat saja persoalan dikembalikan kepada pengadilan. Terlebih. tepatnya 27 Ramadhan 1423 H/2 Desember 2002 M. dan terlaksana antara nasabah dengan bank atas dasar kerelaan mereka. maka bagaimana mereka menetapkan keuntungan terlebih dahulu bagi investor? Jawabannya: "Kalau bank itu merugi dalam satu transaksi. an-Nisa': 29). karena tidak ada teks keagamaan di dalam Alquran atau dari Sunnah Nabi yang melarang transaksi di mana ditetapkan keuntungan atau bunga terlebih dahulu. di samping penentuan tersebut menghalangi adanya perselisihan atau penipuan di kemudian hari. maka transaksi dalam bentuk ini adalah halal tanpa syubhat (kesamaran). Dikemukakan juga dalam fatwa tersebut bahwa boleh jadi ada yang berkata: "Bank-bank tersebut dapat merugi. bukannya termasuk persoalan aqidah atau ibadat-ibadat yang tidak boleh dilakukan atas . Majma al-Buhust alIslamiyah salah satu badan tertinggi al-Azhar.

Syekh Jad al-Haq. bank konvensional tidak dapat dipastikan keharamannya. Ini terbukti dengan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang sangat berwewenang itu. Tetapi. . dapat dipastikan sejalan dengan tuntunan agama. Agaknya kita dapat berkata bahwa Bank-bank Syariah yang melaksanakan kegiatannya antara lain dalam bentuk mudharabah dan lain-lain. bahkan dia pun boleh jadi halal. Namun demikian.perubahan atau penggantian. Bekerja dan memperoleh gaji di sana pun masih dapat dibenarkan. Wa ALlah A'lam. Begitu fatwa Mufti Mesir yang lalu. bahkan kendati bankbank konvensiobnal itu melakukan transaksi riba. selama bank tersebut mempunyai aktivitas lain yang sifatnya halal. Memperoleh gaji/honorarium dari bank-bank tersebut dapat dibenarkan. tentu saja ada ulama yang tidak setuju.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.