P. 1
61720729 Isi KDK Skabies Print WORD

61720729 Isi KDK Skabies Print WORD

|Views: 15|Likes:
Published by Niszam Arneswari
SKABIES
SKABIES

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Niszam Arneswari on Jun 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/22/2014

pdf

text

original

Sections

  • I.1. Latar Belakang
  • I.2.1. Tujuan umum
  • I.2.2. Tujuan khusus
  • I.3.1. Manfaat untuk keluarga
  • I.3.2. Manfaat untuk dokter muda
  • II.1.1. Definisi
  • II.1.2. Prinsip Pelayanan atau Pendekatan Kedokteran Keluarga
  • II.1.3. Tugas Dokter Keluarga
  • II.1.4. Wewenang Dokter Keluarga
  • II.1.5. Manfaat Kedokteran Keluarga
  • II.1.6. Ruang Lingkup Kedokteran Keluarga
  • II.2.1. Definisi
  • II.2.2. Epidemiologi
  • II.2.3. Etiologi
  • II.2.4. Patogenesis
  • II.2.5. Cara Penularan
  • II.2.6. Gejala Klinis
  • II.2.7. Pemeriksaan Penunjang
  • II.2.8. Diagnosa Skabies
  • II.2.9. Diagnosa Banding
  • II.2.10. Tatalaksana
  • II.3.11. Prognosis
  • III.1.1. Identitas Pasien
  • III.1.2. Identitas Kepala Keluarga
  • III.1.3. Profil Keluarga
  • III.2. Resume Penyakit Dan Penatalaksanaan Yang Sudah Dilakukan
  • III.3. Hasil Kunjungan Rumah
  • III.4. Pembinaan Dan Hasil Kegiatan
  • III.5. Kesimpulan Pembinaan Keluarga
  • IV.1. Kesimpulan
  • IV.2. Saran

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi setiap manusia dan merupakan suatu hal yang sangat berharga yang harus dipelihara dan ditingkatkan melalui suatu upaya kesehatan. Pembangunan kesehatan bertujuan mencapai kehidupan sehat bagi tiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional.1 Menurut Undang-undang No.36 tahun 2009, kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.1 Dalam Sistem Kesehatan Nasional tahun 2004 menggariskan bahwa untuk masa mendatang, apabila sistem jaminan kesehatan nasional telah berkembang, pemerintah tidak lagi menyelenggarakan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata pertama melalui puskesmas. Penyelenggaraan UKP akan diserahkan kepada masyarakat dan swasta dengan menerapkan konsep dokter keluarga, kecuali di daerah yang terpencil.2 Pelayanan dokter keluarga merupakan salah satu upaya penyelenggaraan kesehatan perorangan di tingkat primer untuk memenuhi ketersediaan, ketercapaian, keterjangkauan, kesinambungan dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Diharapkan akan mampu mengatasi permasalahan kesehatan yang hingga sekarang belum terselesaikan karena belum jelasnya bentuk subsistem pelayanan kesehatan dan terkait dengan sub sistem pembiayaan kesehatan.2
1

Dokter keluarga bertanggung jawab melaksanakan pelayanan kesehatan personal, menyeluruh, terpadu, berkesinambungan dan proaktif yang dibutuhkan oleh pasiennya dalam kaitan sebagai anggota dari, satu unit keluarga, komunitas serta lingkungan dimana pasien tersebut berada, serta apabila kebetulan berhadapan dengan suatu masalah kesehatan khusus yang tidak mampu ditanggulangi, bertindak sebagai koordinator dalam merencanakan konsultasi dan atau rujukan yang diperlukan kepada dokter ahli yang sesuai.3 Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau merupakan sesuatu yang esensial. Dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan model dokter keluarga diharapkan dokter keluarga sebagai “ujung tombak” dalam pelayanan kedokteran tingkat pertama, yang dapat berkolaborasi dengan pelayanan kedokteran tingkat kedua dan yang bersinergi dengan sistem lain.2 Penanganan masalah penyakit menular, termasuk penyakit skabies juga menjadi salah satu penyakit yang perlu menggunakan pendekatan oleh dokter keluarga secara holistik. Skabies adalah penyakit kulit akibat infestasi tungau Sarcoptes scabiei. Di beberapa negara berkembang prevalensinya dilaporkan 627% populasi umum dan insidens tertinggi pada anak usia sekolah dan remaja. Di Indonesia, penyakit ini masih menjadi masalah baik di kota besar maupun lingkungan pedesaan. Perkembangan penyakit ini dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi yang rendah, tingkat higiene yang buruk, kurangnya pengetahuan, dan kesalahan dalam diagnosis serta penatalaksanaan.4 Disini pelayanan kesehatan primer memegang peranan penting pada penyakit skabies dalam hal penegakan diagnosis pertama kali, terapi yang tepat, dan edukasi komunitas dalam pencegahan penyakit dan menularnya penyakit ke

2

komunitas, karena penyakit ini mudah sekali menular terutama pada pemukiman yang padat. Transmisi atau perpindahan antar penderita dapat berlangsung melalui kontak kulit langsung dari orang ke orang. Hal tersebut dapat terjadi bila hidup dan tidur bersama, misalnya keluarga dalam satu rumah, hidup dalam satu asrama, atau para perawat. Perpindahan tungau juga dapat terjadi melalui kontak tidak langsung, yaitu melalui pakaian atau alat mandi yang digunakan bersama.4 Pada kasus ini, pasien seorang anak laki laki berusia 11 tahun yang datang dengan keluhan gatal dan telah dua kali berobat di Puskesmas untuk keluhannya, tetapi tidak mengalami penyembuhan. Penatalaksanaan kasus dilakukan di Puskesmas Borobudur oleh dokter muda FK UPN dengan bimbingan dokter Puskesmas Borobudur. Masalah kesehatan yang terkait dengan faktor yang berpengaruh diidentifikasi dengan memperhatikan konsep H.L Bloom

I.2. Tujuan I.2.1. Tujuan umum Penatalaksanaan kasus bertujuan mengidentifikasi masalah klinis pada pasien dan keluarga serta faktor-faktor yang berpengaruh,

menyelesaikan masalah klinis pada pasien dan keluarga, dan mengubah perilaku kesehatan pasien dan keluarga serta partisipasi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dengan pendekatan kedokteran keluarga. I.2.2. Tujuan khusus 1. Meningkatkan kualitas kesehatan seluruh anggota keluarga pasien. 2. Membantu seluruh anggota keluarga untuk mengenali masalah yang ada di dalam keluarga tersebut terkait penyakit skabies.

3

3. Membantu keluarga untuk memahami fungsi-fungsi anggota keluarga secara biologis, psikologis, sosial, ekonomi dan pemenuhan kebutuhan, serta penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi. 4. Membantu keluarga untuk dapat memecahkan permasalahan

kesehatannya secara mandiri. 5. Membentuk perilaku hidup sehat di dalam keluarga guna

meningkatkan derajat kesehatan keluarga. I.3. Manfaat I.3.1. Manfaat untuk keluarga 1. Keluarga menjadi lebih memahami mengenai masalah kesehatan yang ada dalam lingkungan keluarga. 2. Keluarga mampu untuk mengatasi permasalahan kesehatan keluarga secara mandiri. I.3.2. Manfaat untuk dokter muda Dokter muda mendapatkan pengalaman dan menjadi lebih memahami prinsip pendekatan kedokteran keluarga.

4

Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional. dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien juga tidak boleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu. holistik. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam pelayanan kedokteran keluarga. b.1. yaitu pengetahuan klinik yang diimplementasikan pada komunitas 5 . koordinatif. c. Kedokteran Keluarga II. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin.1. menimbang peran keluarga dan lingkungan serta pekerjaannya. dengan mengutamakan pencegahan. usia ataupun jenis penyakitnya.5 Kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap Dokter Keluarga secara garis besarnya ialah: a. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang memusatkan pelayanan kepada keluarga sebagai suatu unit.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Menguasai ketrampilan berkomunikasi. Definisi Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan primer yang komprehensif. kontinu. integratif. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga.1.

keluarga. 2. 3. Bersifat universal terhadap manusia dan lingkungan. 3.1. 2. 5. Pelayanan yang holistik dan komprehensif. Pelayanan yang kontinu. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga. Kedokteran keluarga memiliki kekhususan yaitu :6 Komprehensif dalam ilmu kedokteran. 6. II. namun di samping menganalisis fungsi organ tubuh secara menyeluruh. Komprehensif dalam pelayanan kesehatan. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif. idealnya setiap dokter dan khususnya dokter keluarga. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan. Sasarannya adalah individu yang bermasalah atau yang sakit. sehingga setiap dokter dapat memanfaatkan sesuai kebutuhan. 6 . Prinsip Pelayanan atau Pendekatan Kedokteran Keluarga Prinsip dalam pelayanan atau pendekatan kedokteran keluarga yaitu memberikan : 1. Disusun secara komunal. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum. dalam arti tidak membatasi disiplin ilmu kedokteran tertentu. 7. 1. 4. Dalam memberikan pelayanan.2. 4. menerapkan ilmu ini. dan lingkungan tempat tinggalnya. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari keluarganya. lingkungan kerja. juga fungsi keluarga.

1. 5. Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan sakit. 11. 8. 6. meliputi :5 1. Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyuruh. 2. 7. Bertindak sebagai mitra. Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf kesehatan. Tugas Dokter Keluarga Adapun tugas seorang dokter keluarga. 10. Tetap bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau dirawat di RS. Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan keluarganya. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertangungjawabkan. Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah sakit. Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat. 4. 9.3. penasihat dan konsultan bagi pasiennya. Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien. pengobatan dan rehabilitasi. Menangani penyakit akut dan kronik. 7 . 3. pencegahan penyakit. Memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan. dan bermutu guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan. 9.8. Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu. II.

Terselenggaranya penanganan kasus penyakit sebagai manusia seutuhnya. Mengatasi keadaan gawat darurat pada tingkat awal. Mengobati penyakit akut dan kronik di tingkat primer. 4. 6. Memberikan masukan untuk keperluan pasien rawat inap. 7. Menyelenggarakan rekam Medis yang memenuhi standar. beda minor. II. bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan. antara lain yaitu : 1. 3.5. Melaksanakan tindak pencegahan penyakit. Manfaat Kedokteran Keluarga Manfaat yang dapat dirasakan dengan adanya pelayanan kedokteran keluarga. 13. II. 8 .12. Wewenang Dokter Keluarga Seorang dokter keluarga dalam menjalankan tugasnya memiliki wewenang berupa :5 1. 8. 10. 9. 5. Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi masyarakat. Melakukan perawatan sementara.4. Melakukan tindak prabedah. Menyelenggarakan Rekam Medis yang memenuhi standar. rawat pascabedah di unit pelayanan primer. Menerbitkan surat keterangan medis.1. Memberikan perawatan dirumah untuk keadaan khusus. 2. Melakukan penelitian untuk mengembang ilmu kedokteran secara umum dan ilmu kedokteran keluarga secara khusus.1.

Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang memberatkan biaya kesehatan. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan meringankan biaya kesehatan. Kegiatan yang dilaksanakan 9 . Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam : a. II. Akan dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit. 3. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan maka segala keterangan tentang keluarga tersebut baik keterangan kesehatan ataupun keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai masalah lainnya.6. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis.1. termasuk faktor sosial dan psikologis. 6. 5. pengaturannya akan lebih baik dan terarah. 8. terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan kesehatan saat ini. Terselenggaranya pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin kesinambungan pelayanan kesehatan. 7. 4. Ruang Lingkup Kedokteran Keluarga Ruang lingkup pelayanan dokter keluarga mencakup bidang amat luas sekali.2.

mental dan sosial (secara holistik). Tata cara pelayanan tidak diselenggarakan secara terkotak-kotak ataupun terputus-putus melainkan diselenggarakan secara terpadu (integrated) dan berkesinambungan (continu). 2. Pendekatan pada penyelenggaraan pelayanan tidak didekati hanya dari satu sisi saja. b. 3. melainkan pada penderita sebagai manusia seutuhnya. Sasaran pelayanan Sasaran pelayanan dokter keluarga adalah kelurga sebagai suatu unit. Pusat perhatian pada waktu menyelenggarakan pelayanan kedokteran tidak memusatkan perhatiannya hanya pada keluhan dan masalah kesehatan yang disampaikan penderita saja. Pelayanan dokter keluarga harus memperhatikan kebutuhan dan tuntutan kesehatan keluarga sebagai satu kesatuan. melainkan dari semua sisi yang terkait (comprehensive approach) yaitu sisi fisik. c. harus memperhatikan pengaruhmasalah kesehatan yang dihadapi terhadap keluarga dan harus memperhatikan pengaruh keluarga terhadap masalah kesehatan yang dihadapi oleh setiap anggota keluarga. Batasan pelayanan kedokteran keluarga 10 . Karakteristik CMC : 1. Jenis pelayanan yang diselenggarakan mencakup semua jenis pelayanan kedokteran yang dikenal di masyarakat.Pelayanan yang diselenggarakan oleh dokter keluarga harus memenuhi syarat pokok yaitu pelayanan kedokteran menyeluruh CMC (comprehensive medical services). 4.

Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam : 1. diperkaya dengan ilmu perilaku. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai satu unit. biologi dan ilmu-ilmu klinik. tidak juga oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja. pelayanan konseling serta dapat bertindak sebagai dokter pribadi yang menkoordinasikan seluruh pelayanan kesehatan. Pelayanan kedokteran keluarga Bentuk pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga banyak macamnya. penyelesaian masalah. ilmu kesehatan anak. 2. ilmu kebidanan dan kendungan. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas yang bertitik tolak dari suatu pokok ilmu yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu lainnya terutama ilmu penyakit dalam. dan karenanya mampu mempersiapkan setiap dokter agar mempunyai peranan unik dalam menyelenggarakan penatalaksanaan pasien. Dua diantaranya yang dipandang cukup penting adalah: 1. d. dimana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin.Batasan pelayanan kedokteran keluarga ada banyak macamnya. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan. ilmu bedah serta ilmu kedokteran jiwa yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan yang terpadu. 11 .

yang penularannya terjadi secara kontak langsung dan 12 . pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit. Jika kebetulan pasien tersebut memerlukan pelayanan rawat inap. 2. kunjungan dan perawatan pasien di rumah. kunjungan dan perawatan pasien dirumah. Penyakit Skabies Skabies dalam bahasa Indonesia sering disebut kudis. pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga hanya pelayanan rawat jalan saja. 3. Dokter yang menyelenggarakan praktek dokter keluarga tersebut tidak melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah atau pelayanan rawat inap di rumah sakit. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan. Pelayanan bentuk ini lazimnya dilaksanakan oleh dokter keluarga yang tidak mempunyai akses dengan rumah sakit.2.Pada bentuk ini. Orang jawa menyebutnya gudig. Pada bentuk ini. Gudik merupakan penyakit menular akibat mikroorganisme parasit yaitu Sarcoptes scabei varian hominis. pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di rumah. sedangkan orang sunda menyebutnya budug. serta pelayanan rawat inap di rumah sakit. II. Semua pasien yang membutuhkan pertolongan diharuskan datang ke tempat praktek dokter keluarga.

Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat mikroskopis. bantal. lingkungan yang kurang bersih. yang termasuk dalam kelas Arachnida. handuk.7 Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabei. Penyakit ini mudah menular dari manusia ke manusia. dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Definisi Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya (DERBER 1971). banyak dijumpai pada anak-anak dan orang dewasa dan lanjut usia. 2005). misalnya dalam sebuah keluarga biasanya infeksi dapat mengenai seluruh anggota keluarga. Penyakit skabies sering disebut juga kutu badan.tidak langsung. II. secara langsung misalnya bersentuhan dengan penderita atau tidak langsung misalnya melalui handuk dan pakaian yang dikenakan bersama. Oleh karena itu salah satu syarat dalam pengobatan skabies ialah seluruh anggota dalam satu kelompok yang tinggal bersama harus diobati (termasuk penderita yang hiposensitisasi). air. demografi status perilaku individu (Siregar. Skabies mudah menyebar baik secara langsung yakni sentuhan langsung dengan penderita maupun secara tak langsung melalui baju.1. biasanya di lingkungan rumah jompo. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok. seprai. Penyakit ini dapat mengenai semua umur. insiden sama antara pria dan wanita. Sarcoptes scabei dapat berkembang pada kebersihan perorangan yang jelek.2. atau sisir yang pernah 13 .

hubungan 14 .2.dipergunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih terdapat tungau sarkoptesnya. dijumpai 734 kasus skabies yang merupakan 5. Skabies merupakan penyakit endemik pada banyak masyarakat. dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Interval antara akhir dari suatu endemik dan permulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun (Harahap.6%-12. 2000).7 Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4. Penyakit skabies banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda. Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6%-27% populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja (Sungkar. Penyakit ini dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. hygiene yang buruk. RI. Insiden skabies di negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan.9%. Prevalensi skabies sangat tinggi pada lingkungan dengan tingkat kepadatan penghuni yang tinggi dan kebersihan yang kurang memadai (Depkes.2. Di Bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988.77% dari seluruh kasus baru. 2000). Epidemiologi Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi. 1995). antara lain . sosial elonomi yang rendah. II.9%. Pada tahun 1989 dan 1990 prevalensi skabies adalah 6% dan 3. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini. insidennya sama terjadi pada pria dan wanita.

Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Tungau ini transient. tetapi tidak dapat hidup lama. super famili Sarcoptes. punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. yakni 200-240 x 150-200 mikron.3. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan 15 . kesalahan diagnosis. Selain itu terdapat Sarcoptes scabiei yang lain misalnya pada kambing dan babi. Secara morfologik merupakan tungau kecil. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 x 250-350 mikron. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 .7 II.hominis. kelas Arachnida. Penyakit ini dapat dimasukkan dalam PHS. yang jantan akan mati. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum. berbentuk oval. dan tidak bermata. dan perkembangan dermografik serta ekologik. sedangkan yang jantan lebih kecil. kadangkadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.2. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki. ordo Ackarima. 2 pasang kaki di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut. setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit.7 Varietas pada mamalia lain dapat menginfestasi manusia. Etiologi Sarcoptes Scabiei termasuk filum Arthropoda. kotor. berwarna putih. (Penyakit Akibat Hubungan Seksual).seksual yang sifatnya promiskuitas (ganti-ganti pasangan).

Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.2. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk. Skibala (feses) dihasilkan 16 . urtika dan lain-lain. dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari. Telurnya akan menetas. biasanya dalam waktu 3-5 hari. ekskoriasi. karena seluruh kulitnya masih tipis.8 Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari.4. jantan dan betina. Mereka memakan hasil degradasi jaringan tersebut. 7 Tungau bergerak menembus permukaan kulit dengan cara mensekresikan protease yang mendegradasi stratum korneum. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab. vesikel. menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. dengan 4 pasang kaki. Patogenesis Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies. Pada bayi.7. Dengan garukan dapat timbul erosi. II. tetapi dapat juga keluar. krusta dan infeksi sekunder. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan. tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. maka seluruh badan dapat terserang (Andrianto & Tie. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. 1989).lamanya.

Seluruh area dapat terlibat namun kulit kepala. telur. Pada infestasi inisial. Sisik tebal menjadi lebih verukosa dan akan muncul krusta. gejala klinis dapat muncul hanya dalam hitungan jam saja. lesi akan menyebar cepat dan melibatkan seluruh integumen. Pada hospes yang immunocompromised.seiring perjalanan mereka pada epidermis. dan distrofi. Reaksi hipersensitivitas menyebabkan munculnya rasa gatal yang hebat yang merupakan tanda kardinal penyakit ini.9 Skabies Berkrusta (Skabies Norwegia) Skabies berkrusta dimulai dengan munculnya bercak eritematosa yang berbatas tidak tegas yang cepat berkembang menjadi sisik tebal yang prominen.10 17 . diskolorasi. Onset gejala bergantung pada apakah infestasi merupakan paparan pertama atau relaps atau reinfestasi. atau skibala akan memunculkan gejala klinis setelah 4-6 minggu. sistem imun yang lemah gagal untuk mengkontrol penyakit ini sehingga akan timbul suatu hiperinfestasi fulminan yang dikenal sebagai Skabies Norwegia (scabies berkrusta). tangan dan kaki merupakan area paling rentan. Pada individu yang terinfeksi biasanya akan terdapat kurang dari 100 tungau pada tubuhnya. reaksi hipersensitivitas tipe lambat (tipe IV) terhadap tungau. Jika tidak diobati. Lesi berbau. Hasil keseluruhan perjalanan ini menghasilkan suatu lesi yang berbentuk terowongan yang dikenal sebagai burrow. Rasa gatal ringan ataupun tidak ada sama sekali. Pada individu yang sebelumnya telah tersensitisasi. Kuku biasanya menebal.

dan lain-lain. animalis yang kadang-kadang menulari manusia. Di Amerika Serikat dilaporkan. Dikenal juga Sarcoptes scabiei var. misalnya pakaian.2. kurangnya pemantauan 18 . sprei. derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang. misalnya berjabat tangan. handuk. Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva.II. bantal. Bahkan penyakit ini dapat pula ditularkan melalui hubungan seksual antara penderita dengan orang yang sehat. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit).10 1. Kontak tak langsung (melalui benda). atau apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama disatu tempat yang relatif sempit. tidur bersama dan hubungan seksual. handuk. 2. Cara Penularan Cara penularan (transmisi) :9. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. 1999). Penyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak langsung. dan pakaian.5. bahwa skabies dapat ditularkan melalui hubungan seksual meskipun bukan merupakan akibat utama (Brown. terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan misalnya anjing. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah. Yang paling sering adalah kontak langsung yang saling bersentuhan atau dapat pula melalui alat-alat seperti tempat tidur.

lipat ketiak bagian depan. 1997). akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada (Benneth. areola mammae (wanita). dan perut bagian bawah. Terowongan jarang ditemukan atau tertutup oleh ekskoriasi ataupun infeksi sekunder. faktor lingkungan terutama masalah penyediaan air bersih. genitalia eksterna (pria). siku bagian luar. sekolahsekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan pemondokan. serta kegagalan pelaksanaan program kesehatan yang masih sering kita jumpai. yaitu : sela-sela jari tangan. bokong. pergelangan tangan bagian volar. 2000). serta fasiltas-fasilitas kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan kaki.7. Di Jerman terjadi peningkatan insidensi. Penularan skabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat tidur yang sama di lingkungan rumah tangga.10 Ada 4 tanda kardinal : 7. artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.9 II. Pruritus Nokturna. sebagai akibat kontak langsung maupun tak langsung seperti tidur bersama. Gejala Klinis Lesi berupa papul eritematosa kecil dan biasanya terekskoriasi dan tertutup oleh krusta darah. Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan strartum korneum yang tipis. Faktor lainnya fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama di lingkungan padat penduduk (Meyer. umbilikus. 19 .10 1.2.6.8.kesehatan oleh pemerintah.

pergelangan tangan bagian volar. genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul. yaitu sela-sela jari tangan. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok. siku bagian luar. rata-rata panjang 1 cm. 20 . misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. ekskoriasi dan lain-lain). Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan.2. Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis. pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Dikenal keadaan Hiposensitisasi. lipat ketiak bagian depan. bokong. Penderita ini disebut sebagai pembawa (carrier). merupakan hal yang paling diagnostik. areola mammae (wanita). Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. yang seluruh anggota keluarganya terkena. berbentuk garis lurus atau berkelok. Menemukan tungau. 4. 3. Walaupun mengalami infestasi tungau. tetapi tidak memberikan gejala. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya. sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. umbilicus. Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.

8.11 II. tinea.II. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas puith dan dilihat dengan kaca pembesar.9. pedikulosis korporis. Diagnosa Banding Sebagai diagnosis banding ialah : prurigo. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.2.E. Carilah mula-mula terowongan.8.2. dermatitis seboroik. Tatalaksana 21 . 4.9.2. Caranya : lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan miksroskop cahaya. Pemeriksaan Penunjang Cara menemukan tungau : 1. Diagnosa Skabies Diagnosis skabies dapat ditegakkan dengan ditemukannya 2 tanda dari 4 tanda kardinal disertai pemeriksaan penunjang berupa kerokan kulit pada daerah gatal dan kemerahan. 9.7. lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya.10.10. kemudian pada ujung yang terlihat papul atau vesikel dicogkel dengan jarum dan diletakkan diatas sebuah kaca objek. Dengan membuat biopsi irisan. dermatitis atopik. 2.10.7. II.2. yang dilarutkan dengan larutan KOH 10% dan diperiksa di bawah mikroskop (pembesaran 10-40x). 3.11 II.

Biasanya sekali pemakaian sudah cukup. 2.12 Agen-agen lain yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah : 1. diberikan setiap malam selama 3 hari. Dioleskan di seluruh tubuh dan dibersihkan setiap setelah 24 jam. Preparat ini karena tidak efektif terhadap stadium telur. Ivermectin jangan digunakan pada wanita hamil ataupun menyusui. Kekurangannya yang lain ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi.Mempertimbangkan toksisitas dan efikasi dari berbagai terapi.  Permetrin 5% dalam krim digunakan secara menyeluruh mulai dari leher hingga telapak kaki. Krim harus dibersihkan dengan cara mandi setelah 8-14 jam. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. namun dapat diulangi seminggu kemudian jika belum sembuh. Obat ini sulit diperoleh. dan anak dengan berat kurang dari 15 kg.11. efektif terhadap semua stadium.  Ivermectin oral (200 mcg/kgBB dosis tunggal dan dapat diulang 2 minggu kemudian) sebagai terapi yang ekuivalen dengan permetrin topikal. krim permetrin 5% topikal dan ivermectin oral merupakan terapi lini pertama.10. maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. 30 gram biasanya cukup untuk dosis dewasa. Emulsi benzyl-benzoas (20-25%). daapat dipakai pada bayi berumur kurang daro 2 tahun. Permetrin 5% aman digunakan pada bayi usia kurang dari 1 bulan yang terinfeksi oleh neonatal skabies. 22 .9.

12 Untuk memutuskan rantai penularan. maka penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik. 3.3. seluruh individu yang memiliki riwayat kontak atau tinggal dengan penderita harus diobati secara bersamaan. mulut. karena toksis terhadap susunan saraf pusat.7. dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. mudah digunakan. Pemberiannya cukup sekali. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan. kecuali jika masih ada gejala diulangi seminggu kemudian.11. dan uretra. serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain hygiene).11.sering meberi iritasi.10 II. Obat ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 5 tahun dan wanita hamil.7. 4. Prognosis Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakain obat.7 23 . Pakaian-pakaian harus dicuci bersih dan handuk dan peralatan tidur dijemur dibawah sinar matahari selama minimal 3 kali seminggu. dan jarang member iritasi. termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium. mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal. harus dijauhkan dari mata. Gamma benzene heksa klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1% dalam krim atau losio.

BAB III LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH III. GP : Laki-Laki : 40 tahun : Dusun Jetis Gayuh. Desa Wringin Putih.1.1. Desa Wringin Putih. Kabupaten Magelang. Kecamatan Borobudur.2. Identitas Pasien dan Keluarga III. Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan : Islam : Jawa : SD : - III. MY : Laki-Laki : 11 tahun : Dusun Jetis Gayuh. Identitas Pasien Nama Jenis Kelamin Umur Alamat : An. Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan : Islam : Jawa : S1 : Guru SDN (Olah Raga) 24 . Kabupaten Magelang. Identitas Kepala Keluarga Nama Jenis Kelamin Umur Alamat : Tn.1.1. Kecamatan Borobudur.

Genogram Keluarga Penderita dalam Satu Rumah Tn. MY 11 th An.5th Pasien Skabies Pernah skabies dan sudah sembuh   Bentuk Keluarga Siklus Keluarga : Keluarga inti (nuclear family) : Tahap keluarga dengan anak usia balita dan usia sekolah 25 . GP 40th Ny. GP Ny. N 3. Gambar 1.MY An.1. Nama JK Kedudukan dalam Keluarga 1 2 3 4 5 Tn.3. SR An. AR 13 th An. Daftar Anggota Keluarga (yang tinggal 1 rumah) No. NH L P L L P Kepala keluarga Isteri Anak Anak Anak Usia (th) 40 th 37 th 13 th 11 th 3. Profil Keluarga Tabel 1.III.SR 37 th Keterangan : Laki-laki Perempuan An. AR An.5 th Pendidikan Terakhir S1 D2 SMP kelas 2 SD kelas 6 Guru Guru Sehat Sehat Sehat Sakit Sehat Pekerjaan Ket.

GP. saling memakai handuk bersama.SR selaku ibu dari An. Anamnesis ke-1 dengan Ny.2. bahkan satu keluarga teman bermain anaknya tersebut mengalami gatal-gatal sudah hampir 3 minggu dan belum mendapat pengobatan. Namun setelah 26 .300-15. lalu oleh dokter puskesmas diberikan obat salep 24 dan CTM. dan mulai mengalami keluhan ini sejak anaknya sering bermain dengan teman di lingkungan rumahnya yang memiliki keluhan gatal sebelumnya. Keluhan gatal ini mulai dirasakan sejak awal April. Oleh ibunya. SR dilakukan pada tanggal 6 Mei 2011. pasien juga memiliki kebisaan bermain dan mandi di sungai bersama temantemannya. MY : Gatal 3. Selain itu. kedua sela jari tangan. MY dan auto anamnesis kepada An. GP. Keluhan Tambahan An.MY dilakukan pada tanggal 10 Mei 2011. pasien belum pernah menderita keluhan seperti ini. MY mengeluhkan gatal pada kedua lengan. 2. Resume Penyakit Dan Penatalaksanaan Yang Sudah Dilakukan 1.III. kedua tungkai bawah dan siku. gatal tersebut terutama dirasakan saat malam hari. Riwayat Penyakit Sekarang An. pukul 14. MY. dan jarang mengganti seragam sepulang sekolah serta kebiasaan mandi yang kurang bersih. MY : Tidak dijumpai 4. pasien dibawa berobat ke Puskesmas Borobudur. Keluhan Utama An. pukul 13.30 WIB dirumah Tn. Menurut ibunya. Anamnesa Anamnesa dilakukan secara allo anamnesis dengan Ny. Anemnesis ke-2 dengan An.00-16.30 WIB dirumah Tn.

ibu pasien menanyakan kepada bidan praktek swasta tentang obat yang bagus untuk keluhan anaknya. Menurut ibunya. selama itu juga kebiasaan seperti tidak mengganti seragam sepulang sekolah dan mandi kurang bersih belum berubah. keluhan pada bapak dan kakaknya ditularkan oleh pasien sebab timbulnya beberapa hari kemudian setelah pasien menderita gatal. 6. bapak dan kakaknya sembuh lebih cepat dari pasien. Karena merasa obat yang diberikan tidak menyembuhkan. pasien merasakan keluhan gatalnya berangsur mereda dan keropeng di kulitnya juga mereda. disarankan oleh petugas apotek untuk menggunakan obat Vanquin Plus (berisikan Chloramfenicol dan Hydrocortison asetat). dan diberikan jenis obat yang sama. dan ternyata keluhan belum berkurang. Namun. Riwayat Penyakit Keluarga Anggota keluarga pernah ada yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien. Selain itu. pakaian pasein dicuci bersamaan dengan pakaian anggota keluarga yang lain dan pasien tidur satu ruangan dengan kakaknya. Lalu disarankan untuk membeli obat scabisid cream (gameksan). 27 . Namun.. yaitu bapak dan kakaknya. keluhan pasien belum hilang juga. Selama pengobatan dengan menggunakan obat terakhir. Lalu ibunya membawa pasien kembali berobat ke Puskesmas untuk kedua kalinya.pengobatan dilakukan. pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat Penyakit Dahulu Menurut ibunya. Ibunya berinisiatif menanyakan dan membeli obat di apotek. 5.

nyeri tekan tidak ada. ekspansi gerak baik P : fremitus taktil simetris P : sonor di semua lapang paru A : vesikuler di semua lapang paru. hepar dan lien tidak teraba P : Tympani seluruh lapang perut  Afebris  Batas Normal  Batas Normal  Batas Normal  Tidak ada kelainan  Tidak ada kelainan  Tidak ada kelainan Hasil Tampak sakit ringan GCS 15 Kesan Tidak emergensi Kompos mentis  Abdomen  Tidak ada kelainan 28 . tidak ada retraksi. hernia umbilical tidak ada A : Bising usus ± 8x/ menit P : Massa tidak ada.3. 1. Pemeriksaan Fisik Pasien No. Pemeriksaan Keadaan Umum Kesadaran 2.50C  110/70 mmHg  22x/menit  84x/menit  Normochepal  Pembesaran KGB tidak ada  I : statis/dinamis simetris. Hasil Kunjungan Rumah 1.30 WIB) Tabel 2. nyeri lepas tidak ada. Pemeriksaan Fisik (6 Mei 2011 Pukul 14. Status Generalis  Kepala  Leher  Thoraks  36. mengi tidak ada  I : datar.III. Tanda Vital :  Suhu Tubuh  Tekanan Darah  Pernapasan  Denyut Nadi 3.

 Genitalia  Ekstremitas  Zakar sudah sunat Rambut kemaluan belum tumbuh  Lihat status lokalis  Tidak ada kelainan 4. dan mulai terlihat beberapa tanda efloresensi sekunder akibat garukan. Rencana Penatalaksanaan  Medikamentosa Gamma benzene heksa klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1% dalam krim atau losio. termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium. karena toksis terhadap susunan saraf pusat. Edukasi cara pemakaian obat : 29 . dan kedua tungkai kanan (efloresensi primer)  Skuama. pustul.  Non Medikamentosa a. kecuali jika masih ada gejala diulangi seminggu kemudian. Diagnosa Kerja Skabies 3. krusta pada beberapa tempat (efloresensi sekunder)  Tampak terdapar efloresensi primer masih dominan. 2. dan jarang member iritasi.  Status lokalis (Dermatologis)  Kulit tampak terdapat vesikel. Pemberiannya cukup sekali. papul eritematosa pada pergelangan tangan. kedua sela jari tangan. ekskoriasi. erosi. mudah digunakan. Obat ini tidak dianjurkan pada anak dibawah 5 tahun dan wanita hamil.

2. 3. Mandi dengan bersih 2x/hari. Obat digunakan satu minggu satu kali. bilas dengan cara mandi hingga bersih. Diamkan selama 8-14 jam. Setelah pemakaian mencapai 8-14 jam. Apabila ada keluarga yang memiliki keluhan yang sama. 3. c. 4. menggunakan air panas dan detergen hingga bersih. Sprei kasur. 3. Anggota keluarga tetap menjaga kebersihan diri dengan rutin mandi minimal 2x/hari. selimut. Jaga kebersihan pakaian dengan mencucinya secara terpisah dengan anggota keluarga lainnya. Waktu pemakaian saat sore hari setelah mandi dengan cara mengoleskan krim obat ke selluruh bagian tuhbuh kecuali wajah. jangan kontak dengan air selama pemakaian bila terkena air segera dioleskan kembali. Hindari kontak langsung (kulit) dengan pasien hingga keluhan menghilang. ganti pakaian 4-5x/ hari. 30 . Edukasi terhadap anggota keluarga lain : 1. Mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang untuk mempercepat proses penyembuhan. Edukasi pola hidup bersih dan sehat : 1. b. sarung bantal dicuci bersih sama dengan cara mencuci baju di atas. lebih diutamakan daerah lipatan atau sela-sela baik di kaki maupun tangan. 4. 2. lakukan terapi sesuai pasien.1. 2.

Kesan yang didapat. pada kulit sela jari tangan dan tungkai terlihat luka yang telah mengering (keropeng) berwarna lebih gelap dari daerah sekitar. setelah mendapat edukasi tentang cara pengobatan dan perilaku hidup bersih serta pencegahan penularan penyakit skabies. Pada kulit di daerah sela-sela jari. dan tungkai tampak keropeng (bekas nanah yang telah mongering) menandakan proses penyembuhan. keluhan gatal sudah tidak dirasakan lagi. MY. 31 . cara menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan. Faktor pendukung Timbulnya kesadaran dari ibu penderita untuk mengurangi resiko penularan dari pasien ke anggota keluarga lainnya. Pada kunjungan kedua. Padahal kunci keberhasilan dalam mengobati penyakit skabies adalah penjelasan yang lengkap mengenai pemakaian obat.4. pada saat kunjungan pertama pasien tidak menggunakan obat sesuai anjuran pemakaian dikarenakan tidak mendapat penjelasan secara lengkap tentang pemakaian obat oleh petugas Puskesmas. Hasil Penatalaksanaan Medis Saat ini (12 Mei 2011) kondisi An. Ibu pasien mau menerapkan informasi edukasi yang disampaikan tentang cara pengobatan dan menjaga kebersihan diri pasien. Keluarganya pun sudah memisahkan tempat tidur pasien dengan kakaknya dan pola hidup bersih sudah diterapkan kepada seluruh anggota keluarga terutama pasien. pergelangan tangan. tampak keluhan gatal yang dirasakan pasien sudah sangat berkurang.

. Fungsi Psikologis Pasien tinggal di rumah berukuran 8 x 11 meter. 32 . . 1 kakak laki-laki dan 1 adik perempuan.Kebiasaan pasien tidak mengganti seragam sepulang sekolah.Faktor penghambat .Cara mandi yang kurang bersih. Identifikasi Fungsi-fungsi keluarga a. dapat beraktivitas seperti biasa dan mulai menerapkan pola hidup bersih 5. MY mengalami keluhan gatal-gatal sejak awal April. b. seringkali tangan yang digunakan untuk menggaruk luka juga menggaruk daerah kaki sehingga kulit kaki juga mengalami kondisi yang sama.Kebiasaan mandi di kali bersama teman-teman dan memakai handuk yang sama secara bergantian. Pasien bersifat terbuka dan dekat dengan kedua orang tuanya. selain itu karena kebersihan pasien yang kurang. Awalnya rasa gatal dirasakan pada daerah tangan terutama sela jari dan pasien menghilangkan rasa gatalnya dengan cara menggaruknya. Indikator keberhasilan : Pasien sudah tidak merasakan keluhan gatal. Kebiasaan menggaruk ini berlanjut sehingga menimbulkan luka yang kemudian terjadi infeksi (terdapat nanah). Hubungan dengan seluruh anggota keluarga baik. Fungsi Biologis Dari wawancara dengan pasien diperoleh keterangan bahwa An. dengan ayah dan ibu. sehingga menggaggu aktivitas tidurnya pada malam hari. keluhan ini didapatkan setelah pasien berinteraksi dengan teman main di lingkungan rumahnya yang juga mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

pasien tidak bisa bermain dengan bebas. sehingga ada rasa malu pada pasien selama sakit. Pasien berikap sopan kepada orang sekitar. Menurut kedua orangtuanya. penghasilan mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari dan biaya sekolah anaknya. d.Pada pergaulan sehari-hari pasien bersifat supel. e. biaya hidup ditanggung oleh kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru olah raga (ayah) dan guru mata pelajaran (ibu). Penderita menjalankan ibadah di rumah. Fungsi Sosial Budaya Hubungan antara penderita dengan teman-teman baik di sekolah maupun di lingkungan rumah cukup baik. Fungsi Ekonomi Pasien belum bekerja. Selama pasien sakit. Fungsi Pendidikan Penderita saat ini sedang menjalani pendidikan sekolah dasar (SD) kelas VI. 33 . Penderita juga ikut pengajian anak-anak di musholla dusunnya. Tidak pernah terlibat masalah di lingkungan rumah maupun sekolah. pasien kembali bermain dengan teman-temannya seperti biasa. Dan rencana akan meneruskan ke jenjang sekolah menengah lanjut pertama (SLTP) setelah lulus nanti. Ibunya juga memiliki penghasilan tambahan dengan membuat mainan (kerajinan tangan) dari gabus. f. Karena pasien harus menghindari kontak dengan teman yang lain. c. Fungsi Religius Penderita dan seluruh anggota keluarga beragama islam. sesuai dengan ajaran agamanya. memiliki banyak teman. Setelah kondisinya membaik.

Namun pasien juga sering mandi bersama temantemannya di sungai dan menggunakan handuk yang sama dengan temantemannya. tahu. Apabila belum sembuh. Penderita sering kali tidak langsung mengganti baju seragam setelah pulang sekolah. daging).6. Kebiasaan mandi penderita 2 kali sehari dengan menggunakan sabun mandi. Jarak dari rumah ke puskesmas kurang lebih 1 Km.ayam. Penderita rutin mengkonsumsi susu 2x/hari. Terdapat juga sarana pelayanan kesehatan yang lebih dekat. b. Bila ada anggota keluarga yang sakit maka pertama kali akan minum obat yang dibeli dari warung. namun menurut ibu penderita praktek bidan untuk konsultasi dan periksa kesehatan 34 . maka akan berobat ke dokter di puskesmas. sayurmayur. 7. Identifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan a. yaitu praktek bidan. Pola Konsumsi Makan Penderita Frekuensi makan rata-rata 3x/hari. Hal ini dapat dilihat dari perilaku kebiasaan membuka jendela dan kurang rapi dalam membersihkan rumah. Faktor Perilaku Keluarga Faktor perilaku hidup sehat keluarga pasien masih kurang baik. Faktor Perilaku Penderita Penderita adalah anak yang cukup aktif. Menu makan bervariasi. ikan. sering bernain keluar rumah kontak dengan teman-teman seusianya. menurutnya cara mandinya sudah cukup bersih. nasi. lauk-pauk (tempe. Faktor Non Keluarga dan Non Penderita Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah penderita tidak jauh. c.

Perbandingan luas lantai dengan jendela di ruang tamu > 25%. 1 ruang makan. 6 kamar tidur. jika ada anggota keluarga yang sakit lebih memilih ke Puskesmas atau klinik (dokter praktek). di pemukiman biasa yang tidak terlalu padat. 35 . Fasilitas MCK dengan model leher angsa. letak barang-barang tidak rapih. Listrik 450 watt. kamar dan ruang tengah dengan ukuran 1x1m. karena dapat membaca tanpa bantuan lampu listrik pada siang hari. Ukuran bangunan 8 m x 11 m. sumber air bersih untuk keperluan sehari-hari dari air PDAM. Terdapat jendela pada ruang tamu.pembuangan air limbah di salurkan ke septitank. Identifikasi Lingkungan Rumah Rumah pasien terletak di pinggir jalan. Kebersihan dalam dan luar rumah kurang. 1 ruang dapur. bak mandi dikuras 2 minggu sekali. ventilasi yang terdapat pada ruang tamu sangat kecil dan ditutup potongan bambu. 2 kamar mandi.. Jalan di depan rumah lebarnya 2 meter dan terbuat dari tanah. terdiri dari 2 lantai.reproduksi. Sumber untuk air minum dari air PDAM yang dimasak. Lantai terbuat dari semen. saluran pembuangan kotoran (septitank) berjarak 12 meter. Kebersihan dapur kurang. Kesan kebersihan lingkungan rumah kurang baik. Penerangan dalam rumah cukup. 1 ruang keluarga. dinding terbuat dari tembok dan atap rumah terbuat dari genteng tanpa langit – langit rumah. 1 ruang tamu. Ibu pasien mengatakan bahwa biasa membuang sampah di kebun belakang rumahnya. Rumah terasa lembab. Rumah tampak belum selesai dibangun. 8.

Denah Rumah Pasien 36 .9. Denah dan Peta Rumah a. Denah Rumah : Kamar kerja Kamar Dapur Ruang makan Kamar mandi Kamar Tangga Ruang tengah Garasi Ruang tamu Kamar Lantai 1 Kamar Kamar mandi Kamar Tangga Kamar Ruang keluarga Lantai 2 Gambar 2.

c. Mendapat perhatian cukup dari orang tua. Diagnosis Fungsi Keluarga a. 37 . Denah Jarak Lokasi KDK ke PKM Borobudur Wisata Candi Borobudur Ke Magelang Puskesmas Borobudur Desa Bumiharjo Desa Wringin Putih Rumah An. MY Gambar 3.b. sehingga pemenuhan kebutuhan hidup sehari dapat dipenuhi dengan baik. Penderita sering mengeluh gatal sejak sebulan yang lalu Penderita diketahui menderita skabies sejak sebulan yang lalu. Denah Jarak Lokasi KDK ke PKM Borobudur 10. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan  Pendapatan keluarga cukup. Fungsi Biologis   b. Fungsi Psikologis  Hubungan pasien dengan anggota keluarga lainnya baik.

e. Fungsi Sosial  Hubungan pasien dengan lingkungan sekitar rumah baik. memakai handuk yang sama dengan teman-temannya.Intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam ruang keluarga dan kamar kurang. g. Pasien memiliki banyak teman dan dapat bergaul dengan teman-teman seusianya dengan baik. f. . Diagram Realita yang Ada Pada Keluarga 38 . Faktor Perilaku  Penderita memiliki kebiasaan mandi di sungai. Faktor Non Perilaku  Tidak ada masalah 11.Kebersihan rumah yang kurang Perilaku Pasien mempunyai kebiasaan mandi di sungai dan memakai handuk yang sama dengan teman-temannya Jarang ganti baju . Diagram Realita yang Ada Pada Keluarga Genetik Pelayanan Kesehatan STATUS KESEHATAN Lingkungan Sarana pelayanan kesehatan terjangkau .Jendela cukup dan ventilasi - Gambar 4. jarang ganti baju. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi  Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan berdaptasi pasien baik.d.

pencegahan . Risiko dan Masalah Kesehatan Pasien mempunyai kebiasaan Rencana Pembinaan Memberikan penjelasan kepada pasien tentang pentingnya menjaga kebersihan diri. Permasalahan Pada Pasien dan Keluarganya No 1. penularan. penyebab. Menyarankan agar baju kontak dengan lainnya. kurang rapi dan kurang Memberikan penjelasan kepada keluarga tentang rumah sehat.kakak dan adik pasien dan penatalaksanaannya 2. memakain handuk yang sama dengan temannya. ibu pasien cucian 2.orang tua gejala. Keadaan dalam rumah lembab. Pembinaan Dan Hasil Kegiatan Tabel 4. Memberikan penjelasan . pencahayaan III. Pembinaan dan Hasil Kegiatan Tgl.4.pasien 1. Hasil Kegiatan mengenai Skabies meliputi . 2. Permasalahan Pada Pasien dan Keluarganya Tabel 3. dan manfaatnya terhadap kesehatan pasien. mandi di kali. Menganjurkan pasien agar rajin mandi dengan benar. Kegiatan Yang Dilakukan Keluarga Yang Terlibat 6 Mei 2011 1. 3. mau diobati secara teratur.12. Pasien dan keluarga melakukan prosedur pengobatan dengan baik dan menunjukkan perbaikan kondisi pasien. pasien tanda klinis. Pasien dan keluarga mengetahui dan memahami tentang Skabies. memisahkan pasien menghindari pasien keluarga langsung anggota 39 . jarang ganti baju.

12 Mei 2011 Memberikan leaflet untuk menambah mengenai skabies. keluhan berkurang. pengobatan Pasien Kondisi pasien membaik. Kondisi pasien pada (a) kunjungan pertama. 40 . (a) (b) (c) (d) Gambar 5. (b.9 Mei 2011 Menyarankan pasien terus melanjutkan dengan baik. informasi Pasien dan keluarga Keluarga pasien senantiasa menjaga kesehatan diri dan lingkungan.c.d) kunjungan kedua.

III. Indikator Keberhasilan Pasien dan keluarga mengetahui tentang penyakitnya meliputi gejala. Faktor Penyulit Kondisi rumah yang masih kurang rapi karena pembangunannya belum selesai. Sikap pasien yang kooperatif dan menangkap penjelasan yang diberikan c. b. Tingkat Pemahaman Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik. Faktor Pendukung   Pasien dapat memahami dan menangkap penjelasan yang diberikan. serta cara pengobatannya. d.5. 41 . penyebab. pencegahan dan penatalaksanaannya serta terjadi perubahan perilaku kearah perilaku hidup bersih dan sehat. Pasien dan keluarga sudah memahami hal-hal yang harus dilakukan dalam menanggulangi penularan skabies. Kesimpulan Pembinaan Keluarga a. faktor predisposisi.

42 . Hal ini terlihat dengan adanya perbaikan keluhan dari pasien dan dapat beraktivitas seperti biasa yaitu bermain dengan teman sebaya. SR selalu mengingatkan kepada anakanaknya terutama pasien untuk selalu menjaga kebersihan diri dengan teratur. Diharapkan Tn. b.1. Bagi Keluarga Binaan : a.BAB IV PENUTUP IV. serta sikap seluruh anggota keluarga yang kooperatif sehingga mempunya keinginan untuk mengubah perilaku yang tidak baik bagi kesehatan dan tidak ditemukannya faktor penyulit yang dapat menghambat binaan yang diberikan. Diharapkan Tn. SR selalu tanggap terhadap informasi pengobatan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Tanyakan apabila informasi yang diberikan belum jelas. Diharapkan Tn. cuci. Saran 1. SR memberikan contoh keteladanan dalam hal menjaga kebersihan diri. 2. IV.2. GP dan Ny. c. GP dan Ny. Bagi Masyarakat : a. kakus di sungai. rumah. dan lingkungan. Kesimpulan Kesimpulan dari hasil binaan keluarga ini adalah pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan cukup baik. GP dan Ny. Masyarakat diharapkan ikut mengingatkan kepada anak-anak yang berada di lingkungannya untuk tidak mandi.

termasuk penyakit skabies. namun komunikasi verbal tetap berjalan. sehingga tidak menimbulkan sikap antipati atau diskriminasi. 43 .b. Memperkaya informasi kesehatan melalui PKM atau tenaga kesehatan agar lebih tanggap terhadap penyakit menular. c. Apabila ada warganya yang mengalami sakit seperti pasien maka kontak fisik (kulit dengan kulit) baiknya dihindari.

id/id/UP. Prof. 2003. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. Available from: www. Fakultas kedokteran universitas diponegoro.1_Nur_Asmah _04_08. 1997 6 Anies.idaytsaqif..org/index.ugm. Departemen Kedokteran Komunitas. 44 . Handout : Kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. dr Srisasi. Semarang. Dasar-dasar Manajemen Pelayanan Dokter Keluarga. Dr. Jakarta.mki_dl&smod 5 Azwar Azrul. Jakarta: FK UI.cc/2010/04/dasar-dasar- manajemen-pelayanan-dokter./No. Skabies. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.1998. Adhi Juanda.idionline. dkk. [ cited 2 Juni 2011] Available from: http://www. dr.co.php?uPage=mki. 7 Handoko. (cited 8 Juni 2011 pukul 12. Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Ilmu Penatalaksanaan Skabies Anak Usia Pra-Sekolah. [cited: 2 Juni 2011 pukul 16.pdf 3 Syaqif I.ac.03 WIB).15 WIB].lrckmpk. dkk. Kedokteran Keluarga dan pelayana kedokteran yang berprinsip pencegahan. Gaya Baru. Implementasi pelayanan kesehatan model dokter keluarga di Kota Bontang. 2 Asmah Nur. 8 Gandahusada. 2011. Available from . Ronny P. Prof..html 4 Muchtardun Mansyur. Hal 122-125.Magelang. Jakarta : Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia . mki.DAFTAR PUSTAKA 1 Dinkes Kabupaten Magelang. Parasitologi kedokteran edisi ke-3. 2008.

KM.medscape. Dermatologic Manifestation of Scabies. BJ. BG. (Diakses tanggal 2 Juni 2011) 10 3Goldstein. Dermatologic Manifestation of Scabies: Treatment and Medication.medscape. 11 Chosidow. Scabies. and AO Goldstein. Up To Date literature review version 17. O. N Engl J Med 2006. Diunduh dari: http://emedicine. Robert PD and Moise LL. (Diakses tanggal 2 Juni 2011) 45 .3. N Engl J Med 2010.com/article/1109204-overview. and JS McCarthy. Permethrin and Ivermectin for Scabies.com/article/1109204treatment. 354: 1718-27 12 Currie. Diunduh dari http://emedicine. KM.9 Cordoro. 362:717-25 13 Cordoro. Scabies.

LAMPIRAN 46 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->