Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning

)
Filed under: Model dan Teori Belajar — 1 Komentar 7 Juni 2011

Model Pembelajaran Berbasis Masalah dikembangkan untuk pertama kali oleh Howard Barrows pada awal tahun 70-an dalam pembelajaran Ilmu Pendidikan Medis di Southern Illionis University School (Barrows, 1980). Para siswa mempelajari berbagai kasus yang terjadi pada pasien yang mengidap penyakit kemudian mencari cara atau teknik penyembuhan yang harus dilakukan. Namun pada perkembangan selanjutnya model ini meluas pada pembelajaran ilmu Pengetahuan Alam di perguruan tinggi dan akhirnya dikembangkan di sekolah-sekolah menengah. Model pembelajaran berbasis masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewwey. Menurut Dewwey ( dalam Sudjana 2001 : 19 ) pembelajaran berbasis masalah adalah interaksi antara stimulus dengan respons, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberi masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan system saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik. Definisi: 1) Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, siswa bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) (Major, Claire.H dan Palmer, Betsy, 2001). 2) Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi

yang menyatakan : “PBL promotes metacognition and self regulated learning by asking students to generate their own strategies for problem definition. mengadakan dialog. Untuk lebih jelasnya. Prinsip utama pendekatanmasalah. Dengan demikian untuk memecahkan masalah tersebut siswa akan mengetahui bahwa mereka membutuhkan pengetaahuan baru yang harus dipelajari untuk memecahkan masalah yang diberikan ( Wood dalam Sugalayudhana. 2001). Sesuai dengan yang tertulis dalam artikel tentang PBL yang dalam Website IMSA (Illinois Mathematics and Science Academy). 2000 dalam Karim et. 2007). Prinsip utama pendekatan konstruktivis adalah pengetahuan tidak diterima secara pasif.2007). Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis. Barbara J. comparing these strategies against and sharing them with other students’ and mentors’ strategies ” (dalam Karim et al. tahapan-tahapan dilihat pada tabel berikut: model pembelajaran berbasis masalah dapat .. 2007) mengemukakan bahwa : in problem based learning (PBL). 2005 ). Duch (1995 dalam Karim et al. yang kemudian digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi yang berorientasi pada masalah. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud (Duch J. pemberi fasilitas penelitian..al.dari permasalahan dunia nyata.B. relevant problem ”up front”. karena disini guru hanya berperan sebagai penyaji dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual pada peserta didik. 1995). 3) Pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang merangsang siswa aktif untuk memecahkan permasalahan dalam situasi nyata (Evan Glazer. ( dalam Nurhasanah. So that they can experience for them selves the process of doing science Ibrahim. information gathering. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pengembangan kurikulum dan model pembelajaran. Masalah diberikan kepada siswa. sebelum siswa mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. and hypothesis-building and testing. penanya. students are presented with an interesting. tetapi dibangun secara aktif oleh siswa (Abbas. Dari beberapa uraian mengenai pengertian pembelajaran berbasis masalah. menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual pada peserta didik. dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata ( real world ) untuk memulai pembelajaran. data-analysis. 2007 ) menyatakan bahwa model PBM merupakan pembelajaran yang menyajikan masalah.

Memungkinkan peserta didik menjadi jenuh karena harus berhadapan langsung dengan masalah. c) Banyak solusi. artinya tidak semua yang menghubung dengan tugas yang ditangani telah diketahui. Peserta didik mempunyai kemampuan mempelajari peran orang dewasa. Memungkin peserta didik kesulitan dalam memperoses sejumlah data dan informasi dalam waktu singkat. . sehingga PBL ini membutuhkan waktu yang relatif lama. f) Melibatkan pengajuan diri proses-proses berfikir. Peserta didik dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan independen 5. g) Menentukan makna. siswa dengan guru. Peserta didik mempunyai keterampilan mengatasi masalah. menemukan struktur dalam sesuatu yang tampak tidak beraturan. Peserta didik memiliki keterampilan penyelidikan dan terjadi interaksi yang dinamis diantara guru dengan siswa. artinya mampu berfikir dalam berbagai perspektif atau mampu menggunakan sudut pandang. e) Melibatkan banyak criteria. Kekurangan 1. 3. 2. artinya mampu mengemukakan dan menggunakan berbagai solusi dengan mempertimbangkan keuntungan dan kelemahan masing-masing. menurut Resnick cirri-ciri berfikir tingkat tinggi adalah: a) Bersifat non-algoritmatik. Keterapilan berfikir tingkat tinggi.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN Kelebihan 1. siswa dengan siswa. h) Membutuhkan banyak usaha. d) Melibatkan interpretasi. artinya jalur tindakan tidak sepenuhnya ditetapkan sebelumnya. b) Bersifat kompleks. Mampu mengidentifikasi pola pengetahuan. 2. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful