P. 1
Perilaku Masyarakat Sehubungan Dengan Kesemerawutan Kota Bogor Ditinjau Dari Antropologi Hukum

Perilaku Masyarakat Sehubungan Dengan Kesemerawutan Kota Bogor Ditinjau Dari Antropologi Hukum

4.67

|Views: 5,374|Likes:
Published by MOHAMAD IRFAN
TUGAS MAKALAH MATA KULIAH ANTROPOLOGI HUKUM - FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PAKUAN
TUGAS MAKALAH MATA KULIAH ANTROPOLOGI HUKUM - FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PAKUAN

More info:

Published by: MOHAMAD IRFAN on May 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

Sections

“ PERILAKU MASYARAKAT SEHUBUNGAN DENGAN KESEMERAWUTAN KOTA BOGOR DITINJAU DARI ANTROPOLOGI HUKUM “

Disusun oleh : MOHAMAD IRFAN 01 01 06 056

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR 2008
1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan Kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah mengenai ” Perilaku Masyarakat Sehubungan Dengan Kesemerawutan Kota Bogor Ditinjau Dari Sosiologi Hukum ” Adapun tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas daripada Mata Kuliah Antropologi Hukum semester V (lima). Tidak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Basariah S.H dan Ibu Soendari S.H selaku Dosen mata kuliah Antropoloi Hukum yang telah memberikan banyak masukan dan bimbingan kepada kami. Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Tapi kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Bogor, Januari 2008

Mohamad Irfan

2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................................i DAFTAR ISI..........................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang............................................................................................1 1.2. 1.3. 1.4. Identifikasi Masalah....................................................................................3 Maksud dan Tujuan.....................................................................................3 Kerangka Pemikiran ...................................................................................5

BAB II TINJAUAN UMUM 2.1. Ruang Lingkup Kota Bogor 2.1.1. Sekilas Kota Bogor.........................................................................6 2.1.2. Tata Ruang Kota Bogor..................................................................6 2.1.3. Populasi Penduduk Kota Bogor......................................................7 2.2. Ruang Lingkup Antropologi Hukum 2.2.1. Kebudayaan Hukum........................................................................8 2.2.2. Budaya Hukum...............................................................................9 2.2.3. Seni Hukum....................................................................................10 2.2.4. Hukum Dalam Perspektif Antropologi...........................................10 2.3. Ruang Lingkup Permasalahan 2.3.1. Kondisi Bogor Saat Ini ...................................................................16 2.3.2. Perilaku Masyarakat .......................................................................18 2.3.3. Penyimpangan Sosial .....................................................................22 BAB III PEMBAHASAN 3.1. Tiga Masalah Krusial

3

3.1.1. Isu Transportasi Dan Kemacetan....................................................24 3.1.2. Isu Kebersihan ..............................................................................26 3.1.3. Isu Pedagang Kaki Lima ................................................................27 3.2. Sosialisasi Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Hukum........40

BAB IV ANALISA ..............................................................................................................43 BAB V PENUTUP 5.1. 5.2. Kesimpulan.................................................................................................47 Saran dan kritik...........................................................................................48

DAFTAR PUSTAKA

4

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Louis Wirth dalam JW Schoort yang mendefinisikan kota sebagai suatu

pemukiman permanen yang cukup besar, padat, heterogen, dan selalu mengedepankan perubahan demi kemajuan warganya, dimana sebuah kota mau tidak mau harus menerima setiap perubahan yang terjadi. Saat ini semakin banyak kota-kota besar di Indonesia yang semakin berkembang seiring tuntutan jaman. Dengan keadaan yang terus berubah, pertumbuhan penduduk pun semakin meningkat dengan adanya peningkatan pertumbuhan penduduk tersebut maka secara otomatis kebutuhan penduduk akan tempat tinggal juga akan semakin mendesak, selain itu juga meningkatnya kebutuhan untuk fasilitas umum dan fasilitas khusus sebagai sarana pendukung. Fasilitas umum dan fasilitas khusus merupakan salah satu faktor penggerak untuk pertumbuhan suatu kota. Suatu strategi terhadap masalah struktur massa perkotaan dan struktur ruang perkotaan perlu diarahkan secara konkret atau nyata pada tiga aspek yaitu memperkuat, mentransformasikan, dan memperkenalkan. Dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang sudah ada didalam suatu kawasan perlu diperkuat supaya kawasan itu lebih jelas dalam realitasnya. Selain itu strategi ini elemen-elemen perkotaan yang masih berbenturan didalam suatu kawasan perlu ditransformasikan supaya kawasan itu lebih mendukung realitasnya, serta dalam strategi ini elemen-elemen perkotaan yang belum ada dalam suatu kawasan perlu diperkenalkan supaya kawasan itu lebih berarti dalam realitasnya. Kota Bogor sebagaimana lazimnya kota-kota lain di Indonesia, memiliki perkembangan yang cukup pesat dalam berbagai hal, pembangunan pun berjalan hampir di segala bidang, baik pembangunan secara fisik maupun non fisik. Dari waktu ke waktu kota Bogor memperlihatkan tingkat perkembangan pembangunan

5

yang semakin pesat. Pembangunan terjadi pada berbagai areal kota yang secara bisnis strategis, termasuk pada areal ataupun bangunan yang bersifat komersil. Wilayah kota Bogor memiliki beberapa keunikan yang cukup memberi pengaruh kepada perkembangan tersebut. Ciri khusus yang disandang oleh kota Bogor tersebut dikarenakan oleh adanya kota Bogor yang memiliki fungsi-fungsi pelayanan yang menjangkau secara keseluruhan, yang digunakan sebagai pemenuh kebutuhan penduduk kota Bogor itu sendiri. Adapun salah satu keunikan yang cukup memberi pengaruh adalah pembagian wilayah atau zona etnis yang sebagaimana diatur dalam peraturan wilayah pada jaman kolonial Belanda. Pembagian zona etnis tersebut dibuat karena adanya peraturan sistem penyerahan hasil bumi kepada kompeni melalui bupati. Disebabkan oleh hal inilah kota Bogor terbagi menjadi beberapa bagian wilayah, karena adanya kemajuan jaman seiring dengan berkembangnya pembangunan secara pesat wilayah-wilayah tersebut lambat laun melebur sehingga ciri suatu zona dari etnis tertentu makin lama semakin memudar akan tetapi masih juga terdapat beberapa wilayah etnis yang terlihat masih memiliki fungsi yang berkesinambungan dengan fungsi awalnya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Bogor dapat dikatakan sebagai daerah pinggiran dari pusat Ibukota Indonesia yaitu Jakarta. Oleh karenanya banyak masyarakat yang berbondong-bondong mencari penghasilan dikota Jakarta tersebut dan tidak sedikit juga dari mereka itu diantaranya yang bertempat tinggal di Bogor. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya masyarakat pendatang yang mengakibatkan kepadatan penduduk serta kesemerawutan di kota Bogor karena ada kemungkinan bahwa di Jakarta sudah tidak sanggup untuk membendung kepadatan penduduk yang akhirnya tumpah ruah ke kota – kota yang bersebelahan seperti Bogor. Dengan adanya pendatang tersebut secara langsung dan tidak langsung dapat mempengaruhi perilaku masyarakat asli daerah terhadap masyarakat pendatang. Selain itu juga akan memberikan dampak (negatif dan positif) bagi perkembangan tata kota Bogor karena banyak pendatang yang berdampak sosial, budaya, politik serta hukum itu sendiri.

6

Tidak sedikit pendatang dan masyarakat asli Bogor yang mencari penghasilan untuk menutupi segala kebutuhannya dengan cara berdagang di pinggiran jalan seperti di sekitar Kebun Raya Bogor, Pusar Grosir Bogor, dan ditrotoar-trotoar sekitar pusat kota. Selain itu juga banyak yang menjadi supir angkutan umum dari berbagai trayek. Jika meninjau lebih jauh lagi bahwa supir angkutan umum ini banyak macamnya. Pertama ada supir yang memiliki surat izin mengemudi (A), dan juga tidak memiliki surat izin mengemudi (A). Kedua ada yang disebut supir tembak, artinya didalam satu mobil angkutan umum memiliki dua supir dengan cara bergantian. Dan ini nyata ada dikehidupan sekitar kita. Semua ini dilakukan karena semakin berkembang pesatnya kota Bogor juga semakin meningkatnya nilai dan harga kebutuhan masyarakat. Seperti kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan lainlain.

1.2.

Identifikasi Masalah
Melihat perkembangan kota Bogor yang cukup pesat dari berbagai hal dan

semakin banyak penduduk Bogor yang beraneka ragam, maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan masalah-masalah vertical dan horizontal. Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan oleh sebab itu kami mengidentifikasikan masalah sebagai berikut : 1. Penyimpangan apa saja yang terjadi terkait kesemarawutan atau ketidakdisiplinan di kota bogor ? 2. Apa penyebab terjadinya kesemerawutan kota Bogor, jika ditinjau dari segi Sosiologi Hukum ? 3. Upaya hukum seperti apa yang digunakan apabila terjadi penyimpangan sosial ?

1.3.

Maksud dan Tujuan
Bertitik tolak dari latar belakang dan identifkasi masalah yang telah

dikemukakan diatas, secara khusus maka maksud dari karya tulis ini adalah untuk

7

meneliti sehingga memperoleh data dan informasi mengenai seberapa besar pengaruh hukum terhadap perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Dan secara umum maksud dan tujuan karya tulis ini adalah : 1. Agar adanya pemahaman dan penggambaran tentang realitas perilaku yang dilakukan masyarakat. 2. Agar dapat membantu program pencegahan atau pengurangan tingkat kesemarwutan atau ketidakdisiplinan di kota Bogor. 3. Dan sebagai masukan-masukan dalam program pembinaan hukum terhadap masyarakat Bogor umumnya, agar terciptanya suatu kondisi yang kondusif seperti yang dicita-citakan oleh masyarakat Bogor. 4.

8

1.4.

Kerangka Pemikiran

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ruang Lingkup Kota Bogor
BOGOR - Kota Bogor mempunyai sejarah yang panjang dalam Pemerintahan, mengingat sejak zaman Kerajaan Pajajaran sesuai dengan buktibukti yang ada seperti dari Prasasti Batu Tulis, nama-nama kampung seperti dikenal dengan nama Lawanggintung, Lawang Saketeng, Jerokuta, Baranangsiang dan Leuwi Sipatahunan diyakini bahwa Pakuan sebagai Ibukota Pajajaran terletak di Kota Bogor. Pakuan sebagai pusat Pemerintahan Pajajaran terkenal pada pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baginda Maharaja) yang penobatanya tepat pada tanggal 3 Juni 1482, yang selanjutnya hari tersebut dijadikan hari jadi Bogor, karena sejak tahun 1973 telah ditetapkan oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor sebagai hari jadi Bogor dan selalu diperingati setiap tahunnya sampai sekarang. Pada masa setelah kemerdekaan, yaitu setelah pengakuan kedaulatan RI Pemerintahan di Kota Bogor namanya menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarakan Udang-undang Nomor 16 Tahun 1950.

2.1.1 Sekilas Kota Bogor

2.1.2 Tata Ruang Kota Bogor
Kota Bogor memiliki luas wilayah 11.850 Ha. Lima jenis penggunaan lahan yang dominan adalah sebagai berikut :  Permukiman  Pertanian  Jalan  Perdagangan dan jasa  Badan sungai/ situ/ danau : 69,88 % : 10,05 % : 5,31% : 3,52 % : 2,89 %

Sesuai dengan karakteristik perkotaan khusus, kondisi tersebut berfungsi sebagai kota pemukiman serta perdagangan dan jasa. Selain itu juga Kota Bogor dibagi ke dalam beberapa bagian, yaitu :

10

Batas – batas administratif Kota Bogor adalah sebagai berikut : • • • Sebelah utara : Kecamatan Sukaraja, Kec. Bojong Gede dan Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Sebelah barat : Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Dramaga, kabupaten Bogor. Sebelah selatan Kabupaten Bogor. • Sebelah timur : Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. : Kecamatan Cijeruk, dan Kecamatan Caringin,

2.1.3 Populasi Penduduk Kota Bogor
Jumlah penduduk di Kabupaten Bogor tahun 2002 sebesar 3. 826.315 juta jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata mencapai 1.065 jwa per km2. Laju pertumbuhan penduduk pertahun selama periode tahun 1990-1999 adalah 1,76 % dan mengalami penurunan tahun 1999 menjadi 1,37 %. Namun dilihat dari table dibawah bahwa pada tahun 1999-2002 terjadi peningkatan jumlah penduduk yang masih dapat disebut normal. Tabel Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Bogor Thun 1990-2002 Pertumbuhan Kepadatan No. Tahun Jumlah Penduduk (%) (jiwa/km2) 1. 1990 3736870 1147 2. 1991 3386350 -9,38 1039 3. 1992 3689431 8,95 1133 4. 1993 3667774 -0,59 1126 5. 1994 3724694 1,55 1143 6. 1995 4415195 18,54 1355 7. 1996 3592646 -18,63 1102 8. 1997 4344800 20,94 1333 9. 1998 4750420 9,34 1458 10. 1999 4843590 1,96 1487 11. 2000 3489746 -27,95 1065 12. 2001 3551862 -0,48 1086

11

13.

2002 3826315 1,61 1174 Sumber : Kabupaten Bogor dalam Angka, BPS, 2002

Sekitar 28,92 % penduduk Kabupaten Bogor merupakan kelompok umur 0 - 14 tahun dengan jumlah 1 009 785 jiwa, penduduk usia 15 - 65 tahun adalah 66,76 % dengan jumlah 2 332 972 jiwa, sedangkan kelompok usia > 65 tahun sekitar 4,32 % dengan Status Kualitas Lingkungan (SoE) Kabupaten Bogor 8 Kabupaten Bogor Jumlah 153 719 jiwa. Bila dilihat dari rata-rata laju pertumbuhan penduduk menurut struktur umur ini terlihat bahwa usia tenaga kerja produktif ini mempunyai laju pertumbuhan yang cukup besar.

2.2.

Ruang Lingkup Antropologi Hukum
Menurut kamus umum Kebudayaan berasal dari kata “Budaya”. Budaya

2.2.1. Kebudayaan Hukum
yang dalam bahasa Inggris disebut “cultural” merupakan kata sifat, kalau kebudayaan bahasa Inggrisnya Culture merupakan kata benda. C. Kluckholn Kebudayaan adalah seluruh cara hidup suatu masyarakat, yang terdiri dari beberapa unsur dan yang oleh ilmu Antropologi disebut dengan cultural universal yaitu bahwa unsur-unsur itu bersifat universal, dengan kata lain ada dan bisa didapatkan didalam semua kebudayaan dan semua bangsa dimana pun didunia ini. C. Kluckholn dalam bukunya ” Universal Categores of Cultural ”(1953), bahwa cultural universal terdiri dari unsure-unsur :  Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (sandang, pangan, papan)  Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian, peternakan, perdagangan, sistem produksi dan distribusi)  Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, sistem hukum, sistem perkawinan)  Bahasa (Lisan dan Tulisan)  Kesenian (seni rupa, seni gerak, dll)  Sistem pengetahuan

12

 Religi Jadi Kebudayaan Hukum adalah Pedoman kehidupan dari masyarakat yang digunakan atau aspek-aspek yang dipergunakan dari masyarakat oleh kekuasaan masyarakat untuk mengatur anggota-anggota masyarakat agar tidak melanggar kaidah-kaidah dalam masyarakat yang bersangkutan.

2.2.2. Budaya Hukum
Ialah tanggapan umum yang sama dari masyarakat tertentu terhadap gejala – gejala hukum. Jadi mengenai budaya-kebudayan dalam masyarakat ini mengandung sistem nilai-nilai yang sangat mempengaruhi, seperti apabila hendak menegakan hukum harus disesuaikan dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Prof Parsudi Suparian, Budaya hukum adalah kekuatan – kekuatan social yang ada dalam masyarakat yang sangat besar pengaruhnya terhadap bekerja atau tidak bekerjanya suatu substansi hukum. Kemampuan budaya hukum dapat : a. menggerogoti hukum, apabila masyarakat tidak menerima hukum tersebut karena dianggap tidak memberikan keadilan, sehingga ada desakan – desakan untuk merivisi atau mengandemenkan hukum tersebut Misalnya : UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang diganti dengan UU No 32 tahun 2004 b. mendukung atau membangun hukum, bila hukum tesebut memberikan keadilan dan dapat mengakomodir kepentingan – kepentingan masyarakat, namun sulit sekali mencari hukum yang benar – benar ideal yang diterima dan didukung oleh masyarakat. Budaya hukum yang merupakan kekuatan social, terdiri dari : • • • norma-norma kebiasaan-kebiasaan standar

13

pandangan tentang sesuatu dalam masyarakat

2.2.3. Seni Hukum
Ialah ungkapan budaya hukum yang bersifat seni yang penjelmaannya dalam bentuk kata – kata atau seni kata ataupun benda. Menurut Herbert Read, seni hukum adalah rasa keindahan hukum yang timbul dari pikiran dan dinyatakan dalam bentuk penjelmaan kata-kata yang bersifat rasa estetika.

2.2.4. Hukum Dalam Perspektif Antropologi
Melalui studi-studi antropologi mengenai sistem pengendalian sosial (social control) di berbagai komunitas masyarakat di dunia, kalangan ahli antropologi memberi kontribusi yang sangat penting dan bermakna dalam pengembangan konsep hukum yang secara nyata berlaku dan dioperasikan dalam kehidupan masyarakat. Anthropologist have focussed upon micro processes of legal action and interaction, they have made the universal fact of legal pluralism a central element in the understanding of the working of law in society, and they have selfconsciously adopted a comparative and historical approach and drawn the necessary conceptual and theoritical conclusion from this choice (Griffiths, 1986:2). Hal ini karena para ahli antropologi mempelajari hukum bukan sematasemata sebagai produksi dari hasil abstraksi logika sekelompok orang yang diformulasikan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, tetapi lebih mempelajari hukum sebagai perilaku sosial (Llewellyn dan Hoebel, 1941; Hoebel, 1954; Black & Mileski, 1973; Moore, 1978; Cotterrel, 1995). Hukum dalam perspektif antropologi dipelajari sebagai bagian yang integral dari kebudayaan secara keseluruhan, dan karena itu hukum dipelajari sebagai produk dari interaksi sosial yang dipengaruhi oleh aspek-aspek kebudayaan yang lain, seperti politik, ekonomi, ideologi, religi, dll. (Pospisil,

14

1971); atau hukum dipelajari sebagai proses sosial yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat (Moore, 1978). Karena itu, hukum dalam perspektif antropologi bukan semata-mata berwujud peraturan perundang-undangan yang diciptakan oleh Negara (state law), tetapi juga hukum dalam wujudnya sebagai peraturan-peraturan lokal yang bersumber dari suatu kebiasaan masyarakat (customary law/folk law), termasuk pula di dalamnya mekanisme-mekansime pengaturan dalam masyarakat (self regulation) yang juga berfungsi sebagai sarana pengendalian sosial (legal order). Studi-studi antropologis mengenai hukum diawali dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan mendasar: apakah hukum itu ?; dan apakah hukum itu terdapat dalam setiap bentuk masyarakat ? (Nader, 1965:4; Bohannan, 1967:4; Hoebel, 1967:187; Roberts, 1979:17). Untuk menjawab pertanyaan di atas menjadi menarik untuk

mengungkapkan diskusi dari dua ahli antropologi ternama, yaitu A.R. RadcliffeBrown dan Bronislaw Malinowski, yang memberikan pandangannya masingmasing mengenai hukum, sebagaimana diuraikan dalam Nader (1965:4-5); Koentjaraningrat (1989:28-9); Moore (1978:218-223) seperti berikut : 1. Di satu sisi, hukum dalam pandangan Radcliffe-Brown adalah suatu sistem pengendalian sosial yang hanya muncul dalam kehidupan masyarakat yang berada dalam suatu bangunan Negara, karena hanya dalam suatu organisasi sosial seperti Negara terdapat pranata-pranata hukum seperti polisi, pengadilan, penjara dan lain-lain. sebagai alat-alat Negara yang mutlak harus ada untuk menjaga keteraturan sosial dalam masyarakat. Karena itu, dalam masyarakatmasyarakat bersahaja yang tidak terorganisasi secara politis sebagai suatu Negara tidak mempunyai hukum. Walaupun tidak mempunyai hukum, ketertiban sosial dalam masyarakat tersebut diatur dan dijaga oleh tradisi-tradisi yang ditaati oleh warga masyarakat secara otomatis-spontan (automaticspontaneous submission to tradition).

15

2.

Di sisi lain, Malinowski berpendapat, bahwa hukum tidak semata-mata terdapat dalam masyarakat yang terorganisasi suatu Negara, tetapi hukum sebagai sarana pengendalian sosial (legal order) terdapat dalam setiap bentuk masyarakat. Hukum dalam kehidupan masyarakat bukan ditaati karena adanya tradisi ketaatan yang bersifat otomatis-spontan, seperti dikatakan Radcliffe-Brown, tetapi karena adanya prinsip timbal-balik (principle of reciprocity) dan prinsip publisitas (principle of publicity). Sistem pertukaran sosial yang berkembang dalam masyarakat Trobriand menjadi pengikat sosial dan daya dinamis yang menggerakkan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat melalui prinsip resiprositas atau timbal-balik dalam bentuk pertukaran benda dan tenaga, menggerakkan hubungan-hubungan ekonomi, pertukaran jasa antar kerabat, menggerakkan kehidupan kekerabatan, sistem pertukaran mas kawin, dan juga menggerakkan hubungan antar kelompok dalam bentuk upacara-upacara bersama. yang berlangsung dalam kehidupan

Dari pandangan 2 ahli antropologi di atas dapat dikatakan, bahwa apabila hukum diberi pengertian yang sempit, hanya sebagai sistem pengendalian sosial yang diciptakan oleh lembaga legislatif dan diterapkan oleh aparat penegakan hukum seperti polisi, pengadilan, jaksa, atau penjara dalam kehidupan organisasi negara, maka hukum diartikan bahwa masyarakat-masyarakat sederhana yang tidak terorganisasi sebagai suatu Negara tidak memiliki hukum. Tetapi, kalau hukum diberi pengertian yang lebih luas, yaitu sebagai proses-proses pengendalian sosial yang didasarkan pada prinsip resiprositas dan publisitas yang secara empiris berlangsung dalam kehidupan masyarakat, maka semua bentuk masyarakat betapapun sederhananya memiliki hukum dalam bentuk mekanisme-mekanisme

16

yang diciptakan untuk menjaga keteraturan sosial atau sebagai sarana pengendalian sosial (Nader, 1965:4; Radfield, 1967:3; Pospisil, 1967:26; Bohannan, 1967:48). Wacana antropologis mengenai hukum dalam perkembangan selanjutnya memperoleh elaborasi dari kalangan antropolog yang lain. Konsep hukum yang dikemukakan Malinowski memperoleh komentar dan kritik dari Bohannan (1967:45-9), yang pada pokoknya menyatakan seperti berikut : 1. Mekanisme resiprositas (reciprocity) dan publisitas (publicity) sebagai kriteria untuk mengatur hak dan kewajiban dalam kehidupan masyarakat pada dasarnya bukanlah merupakan hukum seperti dimaksudkan Malinowski, tetapi hanya merupakan suatu kebiasaan (custom) yang digunakan masyarakat untuk menjaga keteraturan sosial. 2. Pengertian Hukum harus dibedakan dengan tradisi (tradition) atau kebiasaan (custom), atau lebih spesifik norma hukum mempunyai pengertian yang berbeda dengan kebiasaan. Norma hukum adalah peraturan hukum yang mencerminkan tingkah laku yang seharusnya (ought) dilakukan dalam hubungan antar individu. Sedangkan, kebiasaan merupakan seperangkat norma yang diwujudkan dalam tingkah laku dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Kadangkala kebiasaan bisa sama dan sesuai dengan peraturan-peraturan hukum, tetapi kebiasaan bisa juga bertentangan dengan norma-norma hukum. Ini berarti, peraturan hukum dan kebiasaan adalah dua institusi yang sama-sama terwujud dalam bentuk norma-norma yang mengatur perilaku masyarakat dalam hubungan antar individu, dan juga samasama berfungsi sebagai sarana pengendalian sosial dalam kehidupan masyarakat.

17

3.

Kendatipun kebiasaan dan peraturan hukum saling berbeda satu sama lain, karena kebiasaan terwujud sebagai institusi non hukum dan peraturan merupakan institusi hukum, tetapi dalam masyarakat selalu ditemukan kedua bentuk institusi tersebut (institusi hukum dan institusi non hukum). Normanorma hukum dalam masyarakat cenderung mengabaikan atau menggusur atau bahkan sebaliknya memfungsikan keberadaan kebiasaan-kebiasaan sebagai institusi non hukum dalam penyelesaian kasus-kasus sengketa yang terjadi dalam masyarakat.

4.

Peraturan-peraturan hukum juga mengembangkan kebiasaankebiasaan sebagai institusi hukum melalui proses pelembagaan ulang (reinstitutionalized) dan dinyatakan ulang (restated), sehingga peraturan hukum juga dikatakan sebagai suatu kebiasaan yang telah dilembagakan kembali untuk tujuan-tujuan yang ingin dicapai hukum tersebut. Dengan demikian, apabila dihubungkan dengan pengertian hukum yang dikemukakan Malinowski, maka peraturan hukum diartikan sebagai seperangkat kewajiban yang dipandang sebagai hak warga masyarakat dan kewajiban bagi warga masyarakat yang lain, yang telah dilembagakan ulang menjadi institusi hukum, untuk suatu tujuan agar kehidupan masyarakat secara terus menerus dapat berlangsung dan berfungsi dengan keteraturan yang dikendalikan oleh institusi hukum. Karena itu, dikatakan bahwa resiprositas berada pada basis kebiasaan, tetapi kebiasaan yang telah dilembagakan sebagai norma hukum melalui tahapan yang disebut double institutionalization of norms (Bohannan, 1967:48).

18

Lebih lanjut, konsep mengenai hukum yang dikemukakan Malinowski juga memperoleh komentar dan kritik dari Pospisil (1967: 25-41; 1971:39-95), yang pada pokoknya menyatakan seperti berikut : 1. Pengertian hukum yang dikemukakan Malinowski dipandang terlalu luas, sehingga hukum yang dimaksudkan juga mencakup pengertian kebiasaan-kebiasaan (customs), dan bahkan semua bentuk kewajibankewajiban yang berhubungan dengan aspek religi dan juga kewajibankewajiban yang bersifat moral dalam kehidupan masyarakat. 2. Hukum pada dasarnya adalah suatu aktivitas kebudayaan yang mempunyai fungsi sebagai alat untuk menjaga keteraturan sosial atau sebagai sarana pengendalian sosial (social control) dalam masyarakat. Karena itu, untuk membedakan peraturan hukum dengan norma-norma lain, yang sama-sama mempunyai fungsi sebagai sarana pengendalian sosial dalam masyarakat, maka peraturan hukum dicirikan mempunyai 4 atribut hukum (attributes of law), yaitu : (1) Atribut Otoritas (Attribute of Authority), yaitu peraturan hukum adalah keputusan-keputusan dari pemegang atoritas untuk menyelesaikan sengketa atau ketegangan sosial dalam masyarakat, karena adanya ancaman terhadap keselamatan warga masyarakat, keselamatan pemegang otioritas, atau ancaman terhadap kepentingan umum. (2) Atribut dengan Maksud untuk Diaplikasikan secara Universal (Attribut of Intention of Universal Aplication), yaitu keputusankeputusan dari pemegang otoritas tersebut dimaksudkan sebagai keputusan-keputusan yang juga akan diaplikasikan terhadap peristiwa-peristiwa yang sama secara universal. (3) Atribut Obligasio (Attribute of Obligatio), yaitu keputusankeputusan dari pemegang otoritas tersebut mengandung suatu pernyataan bahwa pihak pertama memiliki hak untuk menagih

19

sesuatu dari pihak kedua, dan pihak kedua mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak pihak pertama tersebut sepanjang mereka masih hidup. (4) Atribut Sanksi (Attribute of Sanction), yaitu keputusan-keputusan dari pihak pemegang otoritas tersebut juga disertai dengan penjatuhan sanksi-sanksi, baik berupa sanksi yang bersifat fisik seperti hukuman badan dan penyitaan harta benda, atau sanksi non fisik seperti dipermalukan di depan orang banyak, diasingkan dari pergaulan sosial, dibuat menjadi ketakutan, dan lain-lain. Konsep hukum yang menekankan atribut otoritas dan atribut sanksi juga dikemukakan oleh Hoebel (1954) untuk membedakan antara norma hukum dengan norma-norma lain yang juga mempunyai fungsi sebagai alat pengedalian masyarakat (social control). Basis peraturan hukum adalah norma-norma sosial, dan norma-norma sosial akan berubah menjadi norma hukum apabila setiap pelanggaran atas norma sosial tersebut secara reguler dijatuhi sanksi fisik berdasarkan keputusan pemegang otoritas yang secara sosial diberi wewenang khusus untuk menjatuhkan sanksi tersebut. A social norm is legal if its neglect or infraction is regularly met, in threat or in fact, by the application of phisical force by an individual or group possesing the socially recognized previlege of so acting (Hoebel, 1954:28). Dalam konteks hukum adat di Indonesia, konsep hukum yang semata-mata berdasarkan pada atribut otoritas seperti dimaksud di atas diperkenalkan oleh Ter Haar, dikenal sebagai teori Keputusan (Beslissingenleer/Decision Theory), yang pada pokoknya menyatakan bahwa hukum didefinisikan sebagai keputusankeputusan kepala adat terhadap kasus-kasus sengketa dan peristiwa-peristiwa yang tidak berkaitan dengan sengketa (Hoebel, 1979:33-4; F. von Benda Beckmann, 1979:31; Slaats & Portier, 1992: 14-5).

2.3.

Ruang Lingkup Permasalahan

20

2.3.1. Kondisi Bogor Saat Ini
Kondisi Bogor saat ini semakin lama semakin semerawut karena ada banyak hal yang sampai sekarang belum diatasi secara baik dan sempurna hingga kian masalah tersebut mengakar menjadi masalah krusial. Berangkat dari masalah ekonomi, karena ini merupakan tuntutan hidup tiap masing-masing individu dalam memenuhi kebutuhannya maka banyak dari masyarakat yang berlomba-lomba untuk memenuhinya sekalipun dengan cara yang tak lazim atau dilarang oleh hukum yang berlaku, dalam hal memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan untuk menyambung kelangsungan hidup manusia terkadang sering berbenturan dengan kepentingan-kepentingan pribadi dari individu lain. Hal ini juga sama dengan upaya penegakan hukum yang selalu tidak sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, kesinambungan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Kedua, adalah karena rendahnya sumber daya manusia itu sendiri, yakni yang menyebabkan manusia dalam menyambung hidupnya tidak ada pilihan lain selain menjadi pedagang kaki lima ataupun supir angkutan umum. Sumber daya manusia yang bagus akan menghasilkan hasil yang bagus pula itulah yang dikatakan oleh Hery D. Kurniawan dalam bukunya “Pemberdayaan Komunitas Pedesaan”. Ketiga, manusia dalam berperilaku akan menghasilkan kebiasaan atau adat yang dapat memberikan kontribusi atau masukan terhadap manusia yang lain, oleh karenanya patut ditanamkan bagi tiap-tiap individu manusia untuk berprilaku sopan-santun, baik. Dalam arti kebiasaan atas nilai yang baik atau seyogyanya maka akan menghasilkan produk hukum yang sempurna. Keempat, ini menyangkut tingkat kesadaran masyarakat terhadap hukum. Dari keempat penjelasan tersebut, maka jika dikaitkan dengan kondisi Bogor saat ini yang semerawut merupakan hasil dari ketidakdisiplinan perilaku manusia dalam menyeimbangi keempat hal tersebut. Misalnya, di Bogor; pedagang kaki lima yang ada di sekitar Stasiun, Jembatan Merah, Taman Topi dan di sekitar kawasan Air Mancur. Dari hasil observasi lapangan yang telah dilakukan, maka dapat ditemukan bahwa hampir

21

seluruh pedagang mengemukakan alasan yang sama yaitu untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup. Bahkan ada pedagang kaki lima di sekitar Jembatan Merah yang mengaku berdagang sejak Tahun 1965 dan sampai sekarang sudah tiga generasi. Hal ini sempat menjadi pusat perhatian pemerintah kota Bogor untuk menanggulangi ataupun mengalokasikan para pedagang kaki lima tersebut ke tempat untuk berdagang yang lebih layak, dengan maksud mengembalikan fungsi daripada trotoar atau bahu jalan sebagai sarana untuk pejalan kaki. Namun nyatanya ini hanya sebagai gertakan sambal saja bagi para pedagang kaki lima tersebut, karena mereka berpandangan berdagang dipinggiran jalan lebih efisien dan efektif bagi pembelinya. Ketimbang harus berdagang di dalam ruko-ruko atau supermarket ; dimana mereka harus menyewa tempat dengan biaya mahal. Dibanding berdagang dipinggir jalan, yang dengan hanya membayar iuran murah, dengan itu barang atau jasa yang mereka jualpun murah harganya. Mengapa para PKL ini masih tetap berdagang dipinggiran jalan ?. Ini menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah kota Bogor dan bagi masyarakatnya juga.

Dengan contoh tersebut penulis mengamati bahwa ini adalah salah satu yang menyebabkan kesemerawutan kota Bogor, karena berdagang di bahu-bahu jalan sudah menjadi kebiasaan daripada perilaku para pedagang tersebut. Perilaku masyarakat tersebut ada yang menjadi nilai hukum, nilai norma, nilai aturan yang

22

desepakati oleh individu untuk mencapai keteraturan di masyarakat itu sendiri sehingga meninggkatkan kualitas hidup individu atau masyarakat kelompok tersebut. Untuk lebih jelas mengenai bahasan perilaku, agar dapat di baca dibawah ini.

2.3.2. Perilaku Masyarakat
Perilaku manusia digambarkan sebagai suatu totalitas dari gerak motoris, persepsi dan fungsi kognitif dari manusia. Salah satu unsur dari perilaku tersebut adalah apa yang disebut sebagai gerak sosial yang pada hakikatnya merupakan sistem yang mencakup suatu hierarki pengaturan. Perihal perilaku manusia tersebut secara analistis akan dapat dibedakan antara perilaku belaka dengan perilaku etis (Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto 1979:24, 25). Misalnya : - Tidur siang. Ini merupakan perilaku belaka - Melakukan Jual-Beli. Ini merupakan perilaku etis. Perilaku Kemudian mengenai perilaku etis oleh Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto diberikan penjabaran sebagai berikut : A. Sikap tindak atau perikelakuan ajek, yang mencakup : 1. Sikap tindak atau perikelakuan pribadi dalam bidang-bidang : a. Kepercayaan b. Kesusilaan 2. Sikap tindak atau perikelakuan antara pribadi dalam bidang bidang : a. Kesopanan b. Hukum B. Sikap tindak atau perikelakuan yang unik, yang mencakup : 1. Sikap tindak atau perikelakuan pribadi : a. Kepercayaan b. Kesusilaan 2. Sikap tindak atau perikelakuan antar pribadi : a. Kesopanan

23

b. Hukum Dari kerangka tersebut di atas, yang penting untuk ditelaah lebih lanjut adalah, perilaku antar pribadi, yang secara teknis biasanya disebut interaksi sosial. Mengapa terjadi interaksi sosial yang melibatkan perilaku beberapa pihak, di mana kemudian mungkin terjadi proses saling pengaruh mempengaruhi antar kedua belah pihak ? Interaksi sosial antar pribadi-pribadi, kadang-kadang juga disebut sebagai hubungan interpersonal. Intinya adalah adanya hubungan antara manusia dengan manusia, yang didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan tertentu. Kebutuhan interpersonal, yakni kebutuhan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, yang apabila tidak terlaksana akan menghasilkan gangguan atau keadaan yang tidak menyenangkan bagi pribadi yang bersangkutan. Masyarakat Masyarakat berasal dari kata ”syaraka” (Arab) yang berarti ikut serta atau berpartisipasi. Sedangkan kata “musyarakat” berarti saling bergaul Basrowi, dkk. 2002. Dalam bahasa lain disebut dengan society, atau community. Dalam berbagai literature sosiologi, terdapat banyak sekali pengertian konsep masyarkat, namun bila dikaji secara mendalam hanya terdapat lima pengertian pokok, yaitu sebagai berikut : 1. Masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup bersama dan bekerjasama, sehingga mereka dapat mengorganisasikan dirinya sebagai salah satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu. 2. Masayarakat adalah kelompok manusia yang terbesar, yang mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. 3. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh rasa idenditas bersama.

24

4. Masyarakat

berbeda

dengan

komunitas,

tetapi

komunitas

adalah

masyarakat. Komunitas memiliki ciri khusus, yakni terikat oleh lokasi dan kesadaran wilayah, sedangkan masyarakat bersifat lebih umum. 5. Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang memiliki budaya sendiri dan bertempat tinggal pada wilayah territorial tertentu. Tiap anggota masyarakat memiliki rasa persatuan dan menganggap mereka memiliki rasa identitas tersendiri. Teori – teori tentang masyarakat pada intinya adalah berisi tentang gagasan mengenai bagaimana susunan sebuah masyarakat dan bagaimana ia memelihara kesatuan dan kelangsungannya. Apakah masyarakat sebagai tempat yang hidup merupakan sebuah kebersamaan yang penting dan membantu untuk mencapai tujuan – tujuan pribadi tertentu? Ataukah ada kenyataan sosial yang lebih mendasar di mana manusia tidak bisa hidup diluar sebuah kelompok sosial? Sekalipun manusia meyakini bahwa pandangan tentang masyarakat itu penting, tetapi didasari bahwa masyarakat tetap merupakan sebuah fenomena yang membingungkan. Sejumlah besar orang yang kebetulan terkumpul dalam lokasi yang sama tak akan dapat membentuk sebuah masyarakat. Untuk membentuk masyarkat, para individu mesti berhubungan dengan cara tertentu, di antaranya dengan berkomunikasi satu sama lain dan melakukannya secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikianlah gilirannya akan terbentuk suatu masyarakat.

Kebutuhan Interpersonal
Pada setiap manusia, ada tiga Kebutuhan Interpersonal : 1. Kebutuhan Inklusi, yaitu suatu kebutuhan untuk mengadakan serta mepertahankan hubungan yang memuaskan dengan pihak lain. Dari kebutuhan Inklusi ini menghasilkan perilaku yang cenderung

25

menyesuaikan diri dengan pihak lain, sehingga ada rasa kebersamaan atau menjadi bagian dari suatu kelompok. 2. Kebutuhan Kontrol, yaitu suatu kebutuhan untuk mengadakan dan mempertahankan hubungan dengan pihak lain, untuk memperoleh pengawasan kekuasaan. Dari kebutuhan Kontrol ini menghasilkan perilaku yang bertujuan untuk mempengaruhi pihak lain, memimpinnya ataupun mengaturnya, serta bahkan mendominasi pihak lain tersebut. 3. Kebutuhan Afeksi, yaitu suatu kebutuhan untuk mengadakan serta mempertahankan hubungan dengan pihak lain, untuk memperoleh dan memberikan cinta, kasih saying, serta afeksi. Kebutuhan afeksi ini akan menghasilkan pola perilaku, seperti saling menyukai yang menimbulkan persahabatan, cinta dan seterusnya. Walaupun kebutuhan-kebutuhan interpersonal tersebut di atas

menghasilkan perilaku yang beraneka ragam coraknya, akan tetapi manusia pada dasarnya mempunyai hasrat untuk hidup teratur. Akan tetapi mengenai keteraturan yang menjadi hasratnya itu. Apabila keadaan tersebut dibiarkan, maka akan timbul ketidakaturan, oleh karena masing-masing akan berpegang pada pandangannya mengenai keteraturan tersebut, sesuai dengan kepentingan masing-masing. Apabila ditinjau kenyataan yang digambarkan di muka, maka agar dicapai suatu keteraturan di dalam pergaulan hidup, diperlukan suatu pedoman atau patokan. Menurut Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto Pedoman atau patokan tersebut, memberikan suatu wadah bagi aneka pandangan mengenai keteraturan yang semula merupakan pandangan pribadi. Pedoman atau patokan tersebut dinamakan kaidah atau norma. Kaidah atau norma yang menjadi pedoman hubungan antar pribadi, dibedakan antara kaidah atau norma kesopanan dengan hukum. Kaidah kesopanan bertujuan untuk mencapai kedamaian. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa perilaku manusia berkembang dari dasar-dasar tertentu, di mana kaidah atau norma sebenarnya merupakan suatu

26

abstraksi dari perilaku yang pada akhirnya menjadi pedoman atau patokan bagi perilaku manusia.

2.3.3. Penyimpangan Sosial
Penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang, sadar atau tidak sadar pernah kita alami atau kita lakukan. Penyimpangan sosial dapat terjadi dimanapun dan dilakukan oleh siapapun. Sejauh mana penyimpangan itu terjadi, besar atau kecil, dalam skala luas atau sempit tentu akan berakibat terganggunya keseimbangan kehidupan dalam masyarakat. Suatu perilaku dianggap menyimpang apabila tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat atau dengan kata lain penyimpangan (deviation) adalah segala macam pola perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri (conformity) terhadap kehendak masyarakat. Manusia hidup di dalam suatu lingkungan yang beraneka ragam, antara komponen satu dengan komponen lainnya di dalam lingkungan dan manusia itu sendiri terjalin hubungan yang komplek satu dengan yang lain yang membentuk sumber daya yang berupa sistem aturan perilaku yang dapat mengatur hubungan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya dan antara manusia dengan lingkungannya. Ini biasa disebut juga hukum. Hubungan timbal balik tersebut senantiasa mengarah kepada bentuk keseimbangan yang disebut keseimbangan perilaku. Artinya dalam diri manusia itu sendiri harus seimbang antara sifat egoisme dengan altruisme, yaitu dapat dikatakan bahwa dalam kehidupan sehari haruslah seimbang dalam mementingkan diri sendiri dengan mementingkan orang lain.

27

BAB III PEMBAHASAN
3.3. Tiga Masalah Krusial
Seperti telah sama - sama kita ketahui bahwa tidak ada kota yang bebas macet di Indonesia sekarang ini. Pemandangan keseharian di Kota Bogor menunjukkan adanya perubahan Kota yang cukup mencolok. Angkutan kota dan kendaraan pribadi memenuhi jalan jalan protokol di Kota Bogor,. Pemandangan keseharian yang terlihat di Kota Bogor. Itu bukti dari pesatnya pertumbuhan perekonomian dan pembangunan di Kota Bogor, sehingga hawa dan udara Kota Bogor telah berubah menjadi panas dan sumpek. Memang sudah sejak lama isu transportasi merupakan persoalan besar yang dihadapi Kota Bogor. Bahkan sejak tahun 1984 lalu, saat Kota Bogor dipimpin Wali Kota Ir. H. Muhammad, telah mendapatkan perhatian yang serius. Pada saat itu sudah direncanakan pembangunan sub-sub terminal di 6 wilayah perbatasan Kota dan Kabupaten Bogor yakni di Bubulak, Kedunghalang, Cimahpar, Pamoyanan, dan Cibadak

3.3.1. Isu Transportasi Dan Kemacetan

28

Namun dari rencana pembangunan enam sub terminal itu, yang baru berhasil dibangun yaitu Terminal Bubulak. Penempatan sektor transportasi sebagai pekerjaan rumah (PR) utama yang harus dituntaskan Pemkot Bogor dibawah komando pasangan Wali Kota H. Diani Budiarto dan Wakil Wali Kota H.M. Sahid. Bahkan Gubernur Jabar H. Danny Setiawan ketika melantik pasangan H. Diani Budiarto dan H.M. Sahid menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bogor awal Maret 2004 menegaskan, bahwa persoalan transportasi adalah "PR" Wali kota dan Wakil Wali kota Bogor yang baru. Disatu pihak kita tidak dapat menyalahkan masalah transportasi kepada Pemda terutama DLLAJ (Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan) yang tidak membatasi izin trayek. Padahal sebetulnya tidak mungkin izin trayek dikeluarkan dan ditambah terus. Dari hasil iterview yang kami lakukan dengan salah satu bandar angkutan umum trayek Ciheuleut – Ramayana bahwa pernah ada Peremajaan angkutan umum yang dilakukan oleh pihak DLLAJ. Dalam arti ketika angkutan umum tersebut sudah tidak layak pakai maka oleh pihak DLLAJ diperbaiki setelah diperbaiki lalu seolah-olah angkutan umum itu seperti baru kemudian dikeluarkan dengan trayek yang berbeda dengan trayek awalnya. Dengan demikian angkutan umum yang sebenarnya sudah tidak layak pakai lalu dipakai kembali, hal ini akan menimbulkan polusi udara yang tidak baik bagi udara dikota Bogor khususnya. Selain itu masalah kemacetan lalu lintas di Kota Bogor tidak terlepas keberadaan angkot Kabupaten Bogor yang masuk ke dalam Kota. Padahal menurut aturan harus berhenti dibatas kota.

29

Selain itu juga dikarenakan tidak tertibnya para supir angkutan umum ketika menaikan maupun menurunkan penumpang serta para pengguna jalan kaki yang ingin menyeberang. padahal sudah jelas diatur dalam Pasal 13 (ayat 4 dan 5) Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 6 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Lalu
Lintas Dan Angkutan Jalan

Pasal 13 (4) Fasilitas pejalan kaki sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri dari : a. trotoar; b. tempat penyeberangan berupa marka jalan dan atau rambu-rambu; c. jembatan penyeberangan atau terowongan penyeberangan. (5) Fasilitas pemberhentian angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri dari : a. halte; b. shelter; c. tempat pemberhentian angkutan umum yang dinyatakan dengan marka jalan dan atau rambu-rambu. Kalau berbicara perkotaan, di manapun kota dunia selalu dihadapkan tiga masalah perkotaan yang sangat krusial. Ketiga permasalahan yang dihadapi termasuk persoalan yang dihadapi oleh Kota Bogor yakni manajemen tata ruang terhadap pedagang kaki lima, kebersihan kota dan transportasi. Hanya saja walaupun persoalan yang dihadapinya sama dengan kota- kota lainnya di dunia yang membedakan eskalasi dan persentasenya masalahnya tergantung dari kemampuan yang ada di masing-masing. Bogor menjadi kota macet bukan dari keinginan kita. Tapi, itu merupakan kondisi eksisting yang terbentuk dari beberapa komponen sehingga menjadi kota. Jadi, karena kita adalah kota menghadapi tiga

30

permasalahan itu, ditambah satu persoalan yang dihadapi yaitu masalah kemiskinan.

3.3.2. Isu Kebersihan
Penanganan prioritas yang kedua adalah permasalahan kebersihan yang mengakibatkan terganggunya kebersihan dan keindahan kota. Permasalahan sampah yang terjadi adalah akibat dari timbulan sampah yang belum sepenuhnya dapat terangkut atau dimusnahkan di TPA (baru terangkut sekitar 68% dari jumlah produksi sampah/hari atau sebanyak 1.457 m3/hari dari 2.124 m3 timbulan sampah perharinya ). Hal ini disebabkan : 1. Ketersediaan armada angkutan baik dilihat dari kuantitas (52 dump truck, 17 amroll) dengan kondisi yang masih baik 52% , 46% kurang baik dan 2% rusak berat), serta keterbatasan kemampuan alat berat di TPA yang hanya didukung oleh 2 unit buldozer (1 unit dalam kondisi baik, dan 1 unit rusak), 1 unit truck loader (kurang baik), 1 unit wheel loader (baik) dan 1 unit excavator (baik), padahal untuk mengelola sampah sebanyak 1.457 m3/hari idealnya 5 unit alat berat tersebut mempunyai kemampuan yang sama baiknya. 2. Keterbatasan tenaga operasional petugas kebersihan (pengumpul, penyapu, petugas angkut dan TPA) hanya ada 578 orang bila dibandingkan dengan kebutuhan 2 orang/penduduk. 3. Tidak adanya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan membayar retribusi. 4. Keterbatasan dalam penyediaan sarana pewadahan (tong/bak sampah ) dan pengumpulan (gerobak) ke seluruh wilayah. 5. Belum memasyarakatnya budaya pengurangan sampah sejak dari sumbernya dan pengelompokkan sampah organik dan anorganik. 6. Keberadaan TPA Galuga yang statusnya sangat tergantung kepada Pemerintah Kabupaten Bogor setelah tahun 2005 nanti.

31

3.3.3. Isu Pedagang Kaki Lima Dari tahun ke tahun, Kota Bogor semakin tambah semrawut. Angkutan kota memenuhi jalan–jalan di Kota Bogor, pedagang kaki lima semakin tak terbendung. Trotoar, jembatan, dan badan jalan "diduduki" untuk menggelar dagangannya di pagi hari, sore, malam, dan subuh hingga matahari terbit. Sedangkan rumah toko dan mal tumbuh subur di sudut-sudut kota. Itu semua membuat kemacetan di mana-mana. Kota Bogor kini tidak hanya dikenal sebagai "Kota Sejuta Angkot", melainkan juga "surga" bagi PKL. Sebab, di Kota Bogor para PKL mulai dari yang jual sayuran, pakaian, buah-buahan, VCD bajakan, makanan dan minuman, serta kebutuhan sehari-hari lainnya, sangat padat. Tidak kurang dari 10.000 PKL mencari nafkah di Kota Bogor, mulai yang hanya menggelar dagangannya sampai yang bertenda. Padatnya PKL dan angkot membuat Kota Bogor saat ini tidak nyaman lagi2. Berkaitan dengan tulisan ini, trotoar selalu menjadi ruang konflik. Esensi maknanya sebagai obyek menjadi hilang karena munculnya peristiwa-peristiwa tambahan yang justru mendominasi kegiatan utamanya. Padahal, trotoar adalah salah satu elemen fisik yang penting untuk menjalin hubungan emosional antara warga dengan bentukan fisik kawasan. Jika trotoar merupakan sebuah ruang konflik dalam kawasan, maka sulit untuk mengharapkan terciptanya hubungan emosional antara warga dengan kawasannya. Keberadaan kawasan Kebun Raya sebagai pusat tentu menghasilkan laju populasi kawasan yang meningkat. Bentukan fisik ruang kegiatan dan elemen kawasan ternyata tidak mampu mewadahi kegiatan atau praktek sosial masyarakat yang berlangsung. Dalam tulisan ini, kami berusaha memaparkan bahwa adanya kesenjangan struktur dan elemen fisik kawasan dengan praktek sosial masyarakat yang berlangsung. Fenomena Kaki lima: Apa dan Bagaimana Definisi pedagang kaki lima, menurut Pemerintah Indonesia adalah seseorang yang menjalankan usaha perorangan yang melakukan penjualan barangbarang dengan menggunakan bagian jalan/trotoar dan tempat-tempat untuk kepentingan umum serta tempat lain yang bukan miliknya. Secara garis besar,

32

Pemerintah Indonesia menganggap bahwa keberadaan pedagang kaki lima mengganggu kenyamanan pengguna kota atau kawasan karena melakukan kegiatan ekonomi di kepentingan umum. Namun demikian, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah menyatakan bahwa perlu adanya pemberdayaan usaha mikro dan penataan sektor informal. Hal ini bertujuan untuk memperkuat keberadaan, serta peran usaha mikro dan sektor informal terutama pedagang kaki lima, sehingga dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan kemiskinan. Dengan demikian sebenarnya pemerintah mengakui keberadaan pedagang kaki lima dan perannya untuk memperkuat masyarakat ekonomi lemah. Dalam mengembangkan peran tersebut, pemerintah sebenarnya sudah membentuk undang-undang yang menyatakan bahwa perlunya menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi pemberian lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri dan lokasi yang wajar bagi pedagang kaki lima. Dengan demikian, sulit untuk menghilangkan keberadaan kegiatan perdagangan informal dari jalan atau ruang publik karena keberadaannya didukung oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah kondisi ekonomi makro negara yang belum pulih sejak Krisis Moneter tahun 1997 dan budaya yang tertanam sejak jaman pendudukan Belanda. Faktor internal, menurut kami, muncul dari pemenuhan kebutuhan pokok individu dengan dapat mengatur jumlah pendapatan dan waktu bekerja. Hal ini tentunya berkaitan dengan kondisi dasar manusia, terutama kondisi fisik tubuhnya. Dengan memperbaiki kondisi kerjanya, maka individu tersebut mampu menaikkan tingkat pendapatan dan taraf hidupnya. Berdasarkan pemaparan di atas, sudah seharusnya sector informal seperti pedagang kaki lima, diakui keberadaannya dan perannya sebagai kegiatan penunjang antar kegiatan. Sejalan dengan pendapat Jacobs yang menyatakan bahwa keragaman kegiatan dan kelompok masyarakat merupakan satu-satunya cara menghidupkan sebuah kawasan atau kota secara keseluruhan.

33

Fenomena Kakilima: Sebuah Peristiwa Pasar, sebagai salah satu ruang kegiatan ekonomi, merupakan tempat berkumpul untuk memenuhi kebutuhan pokok setiap individu dalam masyarakat. Pasar lalu berkembang menjadi pusat kegiatan sosial. Hal ini yang menyebabkan pasar sebuah pusat dan menyebar dari pusat tersebut. Sebagai tempat berkumpul, pasar pun berkembang menjadi ruang kesempatan. Individu dari berbagai kelas sosial berusaha untuk memenuhi kebutuhan dengan melakukan pertukaran dalam pasar atau sekitarnya. Pemenuhan kebutuhan tersebut, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, juga untuk memperbaiki kondisi manusianya. Kehadiran pedagang kakilima, sebagai salah satu elemen keberadaan gaya sentripetal, telah berlangsung sejak jaman pemerintahan Belanda. Proses terciptanya fenomena kaki lima disebabkan oleh adanya konsep involution yang dikembangkan oleh

Pemerintah Belanda. Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat mengakibatkan bertambahnya kebutuhan lapangan pekerjaan. Pemerintah kolonial mengambil inisiatif untuk membuka sistem ekonomi bazaar bagi penduduk pribumi. Dengan demikian, pemenuhan lapangan pekerjaan dan kebutuhan pokok dapat diatasi. Setelah pendudukan kolonial, sistem ekonomi bazaar ini terus berkembang dan tidak terkendali sehingga munculnya fenomena pedagang kakilima di perkotaan. Cross menyatakan bahwa kegiatan perdagangan informal seperti kakilima sulit dihentikan karena adanya perbedaan yang mencolok antara daya beli masyarakat dengan harga jual komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan perdagangan formal. Geertz menilai bahwa kegiatan perdagangan jenis ini berusaha menjalin hubungan jual-beli secara personal melalui harga komoditas yang fleksibel. McGee

34

menambahkan, selain faktor perbedaan tersebut, penyebab utama berkembangnya jenis perdagangan informal karena kebebasan pedagang untuk menentukan pendapatannya dan waktu bekerja. Perbedaan tidak dapat dihindari karena polarisasi dalam masyarakat terjadi atas dasar perbedaan tingkat ekonominya. Keberadaan perbedaan ini memang tidak dapat disatukan namun harus diwadahi agar dapat terjalin hubungan simbiosis-mutualisme, bukan simbiosis parasitisme. Masalah kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia juga muncul oleh adanya dualisme prinsip perdagangan. Bocke menyatakan bahwa prinsip kapitalisme modern yang bertujuan mencari keuntungan maksimal dan prinsip ekonomi tradisional seperti tidak terlalu memperhatikan tingkat keuntungan karena kegiatan perdagangan juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan sosial, digunakan secara bersamaan oleh masyarakat Indonesia. Dualisme inilah yang menyebabkan para pelaku kegiatan perdagangan terus mencari pasaran yang menguntungkan (bergerak dinamis) dengan membawa komoditas ke tangan konsumen terakhir. Pergerakan tersebut merupakan wujud prinsip kapitalisme modern dan pertukaran artifak dengan konsumen terakhir sebagai wujud penjalinan hubungan sosial dengan sesamanya. Selain itu, Jacobs menyatakan bahwa teori invisible hands yang dicetuskan oleh Adam Smith juga berlaku bahkan terkadang mampu mengendalikan nilai pasar. Hal ini yang menyebabkan keberadaan sektor ekonomi informal semakin kuat dalam struktur kota atau kawasan. Bahkan tidak jarang terjalin hubungan simbiosis mutualisme antara sector ekonomi formal dan informal.

35

Pemaparan di atas secara tersirat menunjukkan bahwa pertentangan atau munculnya faktor tarik sebenarnya merupakan wujud perebutan ruang sebagai faktor mediasi. Ruang, sebagai faktor mediasi, menjadi komoditas karena memiliki nilai guna dan tukar yang tinggi. Namun faktor nilai guna dan tukar ruang sebagai komoditas, juga ditentukan oleh factor-faktor eksternal seperti nilai nominalnya dan kebutuhan manusia. Hal ini yang turut mempengaruhi munculnya konflik ruang. Konflik urban yang terjadi di dunia ketiga, secara umum, terjadi karena adanya persimpangan antara represi penguasa dan pemberontakan komunitas. Namun demikian, secara umum persimpangan kepentingan tersebut terjadi karena adanya pertentangan kepentingan ekonomi masing-masing pihak. Peristiwaperistiwa tambahan berpa jual-beli pada trotoar menimbulkan konflik, karena tidak ada lagi keselarasan antara ruang yang tercipta dengan peristiwa yang berlangsung. Selain itu, pergerakan dinamis tersebut bertujuan untuk menciptakan peristiwa jual-beli di lokasi yang strategis. Biasanya, para pedagang bergerak menuju simpul kawasan teramai. Tanpa adanya sebuah bentuk organisasi antar pedagang, menyebabkan keberadaan mereka tak terpola.

36

Kini 51 titik di pusat Kota Bogor menjadi prasarana kepentingan tertentu, dengan kata lain menjadi sebuah tempat privat yang dilengkapi dengan proteksi dari berbagai kepentingan untuk memanfaatkan pusat kota. Munculnya PKL sesungguhnya merupakan wujud dualisme pola dan struktur umum kota-kota di Indonesia, yaitu wujud desa-kota. PKL adalah komponen dari pola dan struktur tadi. PKL menjadi jembatan yang akhirnya menjadi stimulus bagi tumbuhnya evolusi personalisasi ruang bagi banyak pihak. Tumbuhnya personalisasi ruang, baik dari PKL maupun aparat pemerintahan, mendudukkan fenomena PKL sebagai implikasi dari pranata sosial yang lahir secara wajar karena konsekuensi politik, ekonomi, dan sosial budaya. Politisasi berbagai masalah mengakibatkan sistem perilaku yang terjadi menjadi sangat terinstitusi dan kompleks. Seperti halnya dalam biaya transaksi yang harus di keluarkan oleh para PKL sangat beragam, tergantung lokasi, jenis komoditi dan waktu berjualan dan minimal adalah Rp 5.000 per hari, yang dikoordinir oleh ketua kelompok kemudian disetorkan kepada masing-masing oknum, dalam bentuk iuran ilegal, hingga praktis untuk masingmasing ruas jalan minimal Rp 12.750.000,00 per hari dana masyarakat yang termanfaatkan oleh oknum yang kita kenal dengan Rent Seeker (mereka tanpa kerja menikmati uang hasil keringat asam para PKL dan mereka membangunan bentuk hubungan Patron-Klien).

37

Aspek pragmatis di sisi positif menunjukkan derajat fleksibilitas yang tinggi dan di sisi negatif menunjukkan kecenderungan yang tidak bertanggung jawab. Kesetiakawanan dan toleransi berdampingan dengan rasa sungkan untuk menegur dan tidak taat aturan untuk saling berinterferensi. Hal inilah yang makin menguatkan terjadinya personalisasi ruang di pusat kota Bogor. Proses hubungan pada PKL di Kota Bogor, dilakukan karena dianggap penting sebagai sarana untuk tolong menolong dalam menghadapi kesukaran hidup yang tidak sanggup diselesaikan secara mandiri, terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup khususnya pangan, sandang dan papan. Hubungan-hubungan yang telah dibangun oleh PKL di sekitar stasiun Kereta Api Bogor, dilakukan untuk dapat tetap bertahan di ruang publik dengan bentuk hubungan persahabatan/pertemanan, perantara dan patron klien yang secara operasional dapat mempertahankan tempat berdagang dan menikmati fasilitas dagang lainnya. Hubungan tersebut dilakukan dengan rekan-rekan pada satu lokasi, bersamaan waktu berjualan, satu atau berbeda komoditi serta hubungan dengan preman atau berbagai oknum yang dapat membuat para PKL tetap bertahan untuk berjualan di lokasi tersebut. Di Kota Bogor yang merupakan Hinterland dari Ibu Kota Jakarta mempunyai persoalan serius tentang keberadaan PKL yang setiap tahunnya mengalami pertambahan jumlah dan terbatasnya lahan untuk menempatkan PKL tersebut. Salah satu contoh di sekitar stasiun kereta api Bogor yang merupakan tempat strategis dan masyarakat kota Bogor yang pulang – pergi dari Bogor ke Jakarta dan Sukabumi menjadi salah satu lokasi yang sangat diminati oleh PKL, sehingga ruang publik di sekitar stasiun kereta api Bogor dimanfaatkan oleh PKL. Ruang publik di sekitar stasiun kereta Bogor yang dimanfaatkan oleh PKL yaitu badan jalan, bahu jalan, trotoar, tempat parkir, emperan toko, emperan kantor dan fasilitas umum lainnya. Istilah lain yang digunakan oleh Prof. Parsudi Suparlan tentang pemanfaatan ruang publik ini lebih pada penyerobotan ruang-ruang publik yang menyebabkan terjadinya alih fungsi penggunan ruang kota yang berakibat menimbulkan kesemrawutan, kemacetan lalu lintas, mengurangi keindahan kota dan 50 titik atau kawasan PKL lain termasuk di sekitar Stasiun Kereata Api, Pasar

38

Bogor, Lawang Saketeng, Pedati, Tanjakan Empang, MA. Salmun-Dewi Sartika, dan lain-lain. Ruang publik yang termasuk fasilitas umum didefinisikan sebagai tempat warga kota melakukan kontak sosial. Keberadaan ruang publik di sekitar stasiun, jembatan merah, MA. Salmun Dewi Sartika, Lawang Saketeng, Jalan Roda, jalan Pedati dan lokasi lainnya yang beralih fungsi karena ditempati PKL diantaranya adalah trotoar tidak bisa digunakan sebagai sarana umum untuk berjalan kaki, bahu dan badan jalan hanya dapat dilewati satu jalur kendaraan, tempat parkir di depan stasiun kereta api yang tidak berfungsi lagi sebagai tempat parkir, dan emperan toko yang telah dipenuhi PKL sehingga sulit untuk berjalan menuju toko, dan pada jalur tempat menungu kereta api (peron), jalur masuk – keluar pintu stasiun dan tempat menunggu angkuta kota (selter) di depan stasiun tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagian besar dimanfaatkan oleh PKL. Ruang publik yang digunakan kegiatan PKL sudah membentuk koridor berlapis tiga sampai lima, sehingga dapat mempersulit pejalan kaki untuk menuju ke stasiun kereta dan atau sebaliknya. Begitu juga yang terjadi pada 50 lokasi lain, kondisinya tidak jauh lebih baik dari kondisi di stasiun kereta api. Kegiatan PKL yang terdapat di 51 lokasi yang menempati ruang publik, menurut Perda Nomor 1 Tahun 1990 tentang K-3 (kebersihan, Keindahan dan Ketertiban), pada pasal 5 dan pasal 8, yaitu badan jalan, trotoar, selokan dan taman tidak diperbolehkan bagi kegiatan lain. Pemberlakuan dan penetapan Peraturan Daerah sudah berlangsung lama, seiring dengan itu keberlangsungan PKL juga terjadi bahkan penambahan jumlah PKL terus meningkat yang berakibat semakin banyaknya ruang publik yang beralih fungsi menjadi ruang kegiatan PKL. Keberlangsungan kegiatan PKL dari waktu ke waktu menunjukkan adanya proses pemantapan menduduki dan menempati ruang publik tersebut, sehingga pada kondisi sekarang menjadi mantap dan dapat dikatakan permanen, hal ini ditandai dengan adanya pembangunan fisik tempat berdagang yang dahulunya hanya menggelar di lapak sekarang sudah berlantai semen dan ditutup atapnya dengan seng atau awning. Secara sepintas pada bentuk bangunan PKL ada yang mirip seperti kios-kios pertokoan yang

39

dibatasi dengan dinding papan bahkan ada yang ditembok dan dilapisi bahan bangunan, kemudian dicat dengan rapi dan menggunakan pengaman pintu roling. Untuk peralatan berdagangnya telah menggunakan rak-rak yang terbuat dari kaca dan alumunium dengan roda yang dapat digeser sesuai kebutuhan dan keinginan penataan ruang tempat berjualan. Kondisi dan keadaan tersebut menandakan adanya proses pemantapan para PKL dengan menempati ruang-ruang publik dan sudah mencirikan adanya kondisi kemantapan PKL menempati ruang-ruang publik perkotaan di sekitar stasiun kereta api, jalan M.A. Salmun- Dewi Sartika, Jalan Jembatan Merah, Lawang Saketeng, Jalan Roda, Jalan Pedati, Jalan Bina Marga, Jambu dua dan lain-lain. Kondisi kemantapan PKL pada 51 lokasi yang ada sangat dimungkinkan adanya keterkaitan dengan prinsip berdagang, yaitu para PKL mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menghitung resiko kerugian yang sekecil-kecilnya dan dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Bagi PKL apapun akan dilakukan selama kegiatan itu akan membawa manfaat bagi dirinya dan kelompoknya, walaupun hal tersebut menyimpang dari peraturan yang ada. Bertahannya PKL menempati ruang publik sebagai konsekuen adanya kelonggaran terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah dan kurangnya pengawasan terhadap aparat pemerintah Kota Bogor, dan beberapa oknum polisi dan militer serta partai politik dan lain-lain, sehingga memungkinkan terjadinya negosiasi-negosiasi melalui komunikasi antara PKL dengan aparat dan pengelola yang menguasai ruang publik, sehingga terbangun interaksi dan hubungan sosial antara PKl dengan aparat, dan oknum-oknum serta lingkungan sekitarnya. Bertahan dan menjadi mantapnya para PKL dengan menempati ruangruang publik di 51 titik di seluruh kota Bogor terjadi karena berkembangnya corak kebudayaan pasar setempat. Menurut Prof. Parsudi Suparlan (2003) , Corak kebudayaan pasar mencirikan egaliter dan tawar menawar, yaitu tawar menawar pada barang, jasa, uang dan kekuatan atau power. Tawar menawar berlaku antara pembeli dan penjual, antara oknum atau preman dengan penjual atau pemilik lapak/toko, antara pemilik toko atau pebisnis dengan pejabat untuk memperoleh

40

fasilitas bisnis yang memadai. Bagi PKL gejala corak kebudayaan pasar nampak kuat sekali dengan dimanfaatkannya ruang publik dan fasilitas umum, hal ini sudah memasuki pranata pemerintahan, keluarga dan seluruh kehidupan suku bangsa pada umumnya. Kebudayaan pasar berlaku secara lokal , dan muncul karena adanya kebutuhan untuk melakukan transaksi ekonomi dan sosial, yang diwujudkan dalam bentuk pasar, pertokoan, jalan, kendaraan umum, taman dan lain-lain, yang kemudian berkembang sebagai konvensi-konvensi sosial yang dibakukan menjadi pranata sosial yang berpedoman pada nilai-nilai budaya yang berlaku di tempat-tempat umum tersebut. Fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia adalah sebagai pedoman bagi kehidupan manusia dalam menghadapai dan memanfaatkan lingkungan beserta isinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai manusia. Sebagai pedoman, kebudayaan berisi pengetahuan dan keyakinan-keyakinan atau nilai-nilai budaya yang menjadi acuan bagi tindakan-tindakannya dan yang menyelimuti atau menjadi inti dari tindakan-tindakannya sehingga secara estetika, etika, dan moral tindakan-tindakan tersebut masuk akal dan benar. Kebudayaan dapat dijadikan acuan untuk memperlihatkan perbedaan antara satu golongan sosial dengan golongan sosial lainnya dan antara satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya, yang secara arbriter diakui batas-batas yang menyebabkan keberadaan dari perbedaan-perbedaan tersebut. Batas-batas sosial-budaya tersebut terwujud dalam kaitannya dengan hasil interaksi yang terjadi antara para pelaku atau orang perorangan, berbagai pranata sosial atau golongan sosial atau kelompok sosial terutama dalam berbagai kepentingan sosial, ekonomi dan politik. Kebudayaan pasar merupakan pedoman yang berlaku bagi tindakantindakan di tempat umum, ada dalam wilayah masyarakat sukubangsa, dalam wilayah antar sukubangsa, antar bangsa. Kebudayaan pasar berlaku dalam wilayah budaya yang mencakup pasar, pertokoan, jalan, trotoar, kendaraan umum, tempattempat untuk fasilitas umum, tempat-tempat hiburan dan pertamanan. Walaupun tempat-tempat tersebut telah ditentukan fungsinya melalui berbagai peraturan perundangan yang dibuat oleh pemerintah kota sesuai dengan fungsinya masing-

41

masing, tetapi dalam kenyataannya aturan-aturan tersebut telah berubah sesuai dengan konvensi sosial yang berlaku dari waktu ke waktu atau karena kebijakan dari pejabat yang menguasai kota (Suparlan, 2003). Untuk kasus PKL di Kota Bogor menunjukkan pemanfaatan ruang publik oleh PKL seperti trotoar, bahu jalan, badan jalan, tempat parkir, peron stasiun, koridor pintu masuk di jalan Nyi Raja Permas, Jalan Roda, Lawang Saketeng, M.A. Salmun Dewi Sartika, Pasar Bogor, Jembatan Merah, dan pintu masuk dan keluar stasiun kereta, emperan toko, dan emperan stasiun kereta. Pemanfaatan ruang publik oleh PKL tersebut, mengakibatkan perubahan fungsi ruang kota, hal ini terjadi dan dapat berkembang karena adanya corak dari kebudayaan pasar. Berbeda dengan kebudayaan nasional atau sukubangsa. Prinsip yang dianut dan ada dalam kebudayaan pasar adalah egaliter atau tawar menawar antara pembeli dan penjual terhadap barang, jasa, uang dan kekuatan. Tawar menawar berlaku antara pembeli dan penjual, antara oknum, preman dengan penjual atau pemilik toko, antara pemilik toko atau pebisnis dengan pejabat untuk memperoleh fasilitas bisnis dan sebagainya. Di tempat-tempat umum dan mengacu pada kebudayaan pasar yang berlaku setempat, dan berbagai transaksi hasil tawar menawar yang dilakukan oleh oknum dengan oknum, antara oknum dengan pejabat, antara preman dengan PKL, atau antara pemilik kios, warung dan pemilik pertokoan dan tempat hiburan. Di tempat umum juga bisa berlangsung tawar menawar dari berbagai kekuatan diantara pengguna tempat-tempat umum, dan antara pejalan kaki dengan pengendara sepeda motor dan mobil. Menurut Suparlan, 2003, hal ini berkembang karena pada dasarnya adalah kebudayaan pasar yang berkembang dan meluas dalam besaran-besaran wilayah budaya yang memasuki pranata pemerintah, pranata keluarga dan kehidupan sukubangsa pada umumnya. Ketiga masalah krusial tersebut sangat bertentangan dengan Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 8 TAHUN 2006 Tentang Ketertiban Umum yang terdapat dalam pasal 6, sebagai berikut :

42

Pasal 6 Setiap orang dan/ atau badan dilarang : a. mengotori dan atau merusak jalan, trotoar, jalur hijau, taman serta fasilitas umum lainnya; b. membuang dan atau membongkar sampah di jalan, trotoar, jalur hijau, taman dan fasilitas umum lainnya; c. menumpuk, menaruh, membongkar bahan bangunan dan atau barang-barang bekas bangunan di jalan dan trotoar yang dapat mengganggu lalu lintas lebih dari 1 X 24 jam, kecuali atas izin Walikota; d. membuang air besar (hajat besar) dan buang air kecil (hajat kecil) di jalan, trotoar, jalur hijau, dan taman; e. menjemur, memasang, menempelkan atau menggantungkan benda-benda di jalan, jalur hijau, taman dan tempat umum lainnya kecuali di tempat yang telah diizinkan oleh Walikota; f. membuat tempat tinggal darurat, bertempat tinggal, atau tidur di jalan, jalur hijau, taman dan tempat-tempat umum lainnya; g. menebang, memotong, mencabut pohon, tanaman, dan tumbuh-tumbuhan di sepanjang jalur hijau, taman-taman rekreasi umum, kecuali atas izin Walikota; h. menempelkan selebaran, poster, slogan, pamflet, kain bendera atau kain bergambar, spanduk dan yang sejenisnya pada pohon, rambu-rambu lalulintas, lampu-lampu penerangan jalan, taman-taman rekreasi, telepon umum, dan pipa-pipa air kecuali di tempat yang telah diizinkan oleh Walikota; i. mencoret atau menggambar pada dinding bangunan pemerintah, bangunan milik orang lain, swasta, tempat ibadah, pasar, jalan raya, dan pagar; j. bermain layangan, ketapel, panah, senapan angin, melempar batu dan bendabenda lainnya di jalan, trotoar, dan taman; k. mempergunakan jalan, trotoar, jalur hijau, dan taman selain untuk peruntukkannya tanpa mendapat izin Walikota; l. membuka, mengambil, memindahkan, membuang dan merusak penutup riul, rambu-rambu lalu lintas, pot-pot bunga, tanda-tanda batas persil, pipa-pipa air,

43

gas, listrik, papan nama jalan, lampu penerangan jalan dan alat-alat semacam itu yang ditetapkan oleh Walikota; m. mengangkut muatan dengan kendaraan terbuka yang dapat menimbulkan pengotoran jalan; n. mengotori dan atau merusak jalan akibat dari suatu kegiatan proyek; o. membakar sampah atau kotoran di jalan, trotoar, jalur hijau, dan taman yang dapat mengganggu ketertiban umum; p. berdiri, duduk, menerobos pagar pemisah jalan, pagar pada jalur hijau dan pagar di taman; q. mencuci mobil, menyimpan, menjadikan garasi, membiarkan kendaraan dalam keadaan rusak, rongsokan memperbaiki kendaraan dan mengecat kendaraan di daerah milik jalan; r. mengotori, merusak, membakar atau menghilangkan tempat sampah yang telah disediakan; s. memarkir kendaraan bermotor di atas trotoar; t. membuat pos keamanan di jalan, trotoar, jalur hijau, taman dan fasilitas umum lainnya tanpa seizin Walikota. 3.4.

Sosialisasi Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Hukum
McQuail (2000:503) merinci pelbagai definisi sosialisasi, antara lain

sebagai ‘pengajaran nilai-nilai dan norma-norma yang dibangun dengan cara memberikan ganjaran dan imbalan simbolik untuk pelbagai jenis perilaku. Sosialisasi dimaksudkan pula sebagai proses pembelajaran di mana kita semua belajar bagaimana berperilaku dalam situasi-situasi tertentu dan mempelajari harapan-harapan yang seiring dengan suatu peran atau status tertentu dalam masyarakat. Jadi sesungguhnya, seperti diungkapkan Potter (2001:284), sosialisasi adalah “... a life-long process ...” Proses yang berlangsung seumur hidup.

44

Sosialisasi dalam hal ini adalah pemberian/peningkatan pengetahuan bagi aparat pemerintahan yang akan menjalankan aturan adalah hal yang mutlak. Ketentuan ini merupakan satu kesatuan dengan materi aturan itu sendiri. Keduanya adalah sebuah rangkaian yang tidak dipisahkan, karena pemahaman yang jelas tentang aturan akan membawa pada pelaksanaan yang lebih efektif dan efisien. Mengenai pengetahuan aparat ini, sering menjadi masalah, karena tingkat pengetahuan yang berbeda, serta materi aturan yang umumnya memerlukan penafsiran lebih lanjut. Sosialisasi ini adalah merupakan salah satu yang efektif untuk bernteraksi langsung meningkatkan pengetahuan dan memberi kesadaran hukum terhadap masyarakat. Selanjutnya dalam hal kesemerawutan ini sosialisasi sebaiknya dilakukan kepada masyarakat Bogor langsung dengan cara mengelompokan masyarakat, misalnya masyarakat pedagang dan pengusaha dari pedagang kecil sampai dengan pengusaha besar, dengan seperti ini apa yang dimaksudkan dari sosialisai atau pembekalan mengenai hukum yang berlaku akan terarah langsung kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan. Secara ringkas untuk sosialisasi dalam upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran aparat dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Melakukan pelatihan-pelatihan teknis sesuai bidang tugas secara komprehensif dan berkelanjutan. Pelatihan ini difokuskan pada pemahaman terhadap materimateri perundang-undangan dan konsep sustainable development. 2. Melakukan sosialisasi berupa dialog dan pertemuan dengan warga masyarakat dan para stakeholder secara rutin dan komprehensif. Pendekatannya adalah dialogis untuk menumbuhkan partisipasi semua kalangan. Harus ditekankan ketentuan-ketentuan pengaturan diri sendiri yang menunjang kelestarian lingkungan. 3. Melakukan sosialiasi secara lintas departemen dan instansi, terutama yang berkaitan dengan kota Bogor. Pendekatannya tidak sektoral, sehingga akan muncul rasa tanggung jawab dari semua pihak yang terlibat. 4. Melibatkan para tokoh masyarakat serta pengusaha dalam sosialisasi peraturan perundang-undangan. Keterlibatan mereka berada di posisi kunci, sehingga

45

muncul sikap tanggung jawab untuk melaksanakan peraturan. Secara tegas diatur pula, jika mereka tidak terlibat akan ada sanksi yang tegas dan jelas. 5. Memasukkan klausul keharusan pemberian sosialisasi dan peningkatan pengetahuan aparat ke dalam materi perundang-undangan. Aturan mengenai jangan hanya masuk dalam peraturan teknis, namun ditegaskan dalam peraturan utama, untuk menjaga terjadinya proses yang diharapkan. Rekomen Kota Bogor di atas harus dilakukan sejalan dengan perbaikan pada materi perundang-undangan, dimana ketentuan-ketentuan tersebut dimasukkan sebagai bagian dari revisi peraturan perundang-undangan. Wilayah Kota Bogor akan dianggap sebagai fokus kajian dengan melibatkan semua stakeholder dan para tokoh masyarakat. Ini menjadi penentu dalam keberhasilan program yang akan dilakukan.

46

BAB IV ANALISA
Pada dasarnya manusia ingin memliki rasa aman, nyaman dan tentram. Namun terkadang untuk memperolehnya harus melewati lika-liku yang merumitkan daripada perbuatan manusia itu sendiri. Dalam tulisannya, Salingaros mengajurkan keberadaan simpul yang sangat heterogen untuk meninggikan dinamika sebuah kawasan. Adanya jalan yang memadai untuk menghubungkan setiap simpul dalam kawasan akan meninggikan tingkat heterogenitas sebuah kawasan sehingga ‘kematian’ beberapa tempat dalam sebuah kawasan dapat dihindari. Namun Gehl menyatakan bahwa secara psikologis, manusia membutuhkan batas dalam menyusuri sebuah jalan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan rasa aman manusia saat berjalan di ruang publik. Dengan demikian, masing-masing elemen tersebut di atas dapat saling menunjang untuk membentuk citra mental warga kota atau kawasan. Adanya konflik perebutan ruang di jalan menyebabkan terkadang berbagai pihak pengguna kehilangan rasa aman untuk mengunakan jalan karena harus terus menerus berebut hak penggunaan ruang jalan. Pemahaman terhadap interaksi sosial yang dilakoni PKL akan sangat berguna untuk memahami berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh para PKL dalam kehidupan bersama. Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidulpan sosial yang dijalani para PKL dan menjadi syarat utama terjadinya

47

aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan aspek perilaku. Dalam interaksi sosial tersebut harus memenuhi dua unsur yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (Cooperations), persiangan (Competitive) dan pertentangan/pertikaian (Conflict). Ketiga bentuk interaksi sosial secara khusus akan menjadi pedoman untuk mengetahui hubungan patron – klien. Hubungan patron – klien mempunyai ciri khusus yang berbeda dari corak hubungan-hubungan sosial lainnya, seperti hubungan pertemanan (friendship) dan hubungan perantara (Brokerage). Perbedaan kedua hubungan tersebut terutama ditandai oleh adanya hubungan timbal balik antara patron dan klien yang tidak seimbang dalam mempertukarkan barang dan jasa. Ketidakseimbangan ini menghasilkan adanya hubungan ketergantungan klien kepada patron. Ketergantungan tersebut berupa ikatan-ikatan yang meluas dan melentur serta bersifat pribadi melampaui batas-batas hubungan yang semula melanda tersujudnya hubungan diantara keduanya. Selanjutnya James Scott (1997) yang dikutip Parsudi Suparlan menyebutkan bahwa “Seorang klien adalah seorang yang menjamin hubungan saling tukar enukar benda dan jasa secara tidak seimbang dengan patronnya, dimana klien tidak mampu membalasnya secara penuh. Klien terlibat dalam suatu hutang budi yang telah mengikat pada patronnya”. Lebih lanjut Parsudi Suparlan menyatakan bahwa hubungan patron-klien tersebut disebabkan oleh adanya unsur-unsur: interaksi tatap muka diantara pelaku yang bersangkutan, adanya pertukaran barang dan jasa yang relatif tetap berlangsung diantara para pelaku, adanya ketidaksamaan dan ketidakseimbangan dalam pertukaran benda dan jasa, dan ketidakseimbangan dan ikatan yang bersifat meluas dan melentur diantara patron dengan klien. Seorang patron mempunyai kelebihan ekonomi dan kekuatan sosial dibandingkan dengan kliennya, karena memiliki kedudukan struktur dalam masyarakat luas. Oleh karena itu muncul adanya hubungan yang tidak seimbang yaitu patron memberikan perlindungan (jasa atau harta) yang dapat digunakan oleh kliennya untuk menolong dirinya dari keterbatasan-keterbatasan karena kimiskinan. Sebaliknya klien tidak dapat

48

mengembalikan benda atau jasa yang telah diperoleh dari patronnya secara penuh. Karena itu klien berada hubungan hutang atau lebih tepat hutang budi kepada patronnya yang sewaktu-waktu dapat ditagih oleh patron. Yang dituntut oleh patron adalah kesetiaan dan pengabdian tenga kerja klien. Sebagai tenaga kerja, dalam beberapa kasus imbalan yang dituntut patron untuk diberikan oleh kliennya adalah uang dan benda. Hubungan patron-klien sebenarnya dapat dilihat sebagai adanya perwujudan hubungan dan pengelompokan kekuatan sosial yang fungsional dalam mengarahkan pendapat umum. Pendapat umum adalah pendapat para klien yang mengutarakan kesetiaan mereka terhadap patronnya. Dari sisi ini patron dapat dilihat sebagai tokoh informal yang muncul dari dan dalam hubungan-hubungan sosial yang berlaku. Patron inilah sebenarnya yang dapat disebut sebagy Key Person atau pemimpin informal yang menjadi tempat sandaran atau panutan para kliennya. Dalam jaringan sosial, patron dilihat sebagai star atau pusat jaringan sosial yang ada. Hubungan patron-klien sebenarnya baru ada atau muncul dalam masyarakat pada saat norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut menuntut adanya hubungan tawar menawar dan saling tukar-menukar benda dan jasa yang dilakukan secara spontan dan pribadi diantara pelaku, yaitu diantara patron dan kliennya. Beberapa kondisi dalam masyarakat yang mendukung kelestarian hubungan patron-klien antara lain sebagai berikut: a) Adanya perbedaan menyolok dalam kekayaan, status dan kekuatan sosial menurut pandangan warga yang bersangkutan, b) Tidak adanya pranata-pranata sosial yang dapat menjamin tetap dipertahankannya status, kekayaan, kekuatan sosial dan keamanan sejumlah warga masyarakat, dan c) Masyarakat tersebut tidak hidup dalam sistem kekerabatan yang berfungsi sebagai sarana untuk enjamin keamanan dan ketertiban serta kesejahteraan hidup pribadi para warganya (Suparlan, 1991).

49

Dalam kondisi masyarakat sebagaimana tersebut di atas, seorang patron dapat mempertahankan eksistensinya dan mengembangkan kekuatan sosialnya dengan cara menambah jumlah kliennya. Kondisi lain yang perlu dimiliki oleh seorang patron agar tetap eksis adalah penguasaan atas sumber daya meliputi pengetahuan dan keahlian, pemilikan atas sumber daya ekonomi dan sosial, pemilikan kekuasaan yang secara moral dan sosial diakui atas orang-orang yang dikontrolnya secara langsung, yaitu orang-orang yang berada dalam strukturstruktur hubungan yang lain di luar struktur patron klien yang dimilikinya.

BAB V PENUTUP
5.3. Kesimpulan
Seperti berkali-kali diungkapkan Wali Kota Diani, mulai tahun 2005 harus sudah melangkah seperti halnya pembenahan masalah transportasi yang telah disusun konsepnya. Walaupun untuk menuntaskan permasalahan lalu lintas belum bisa diselesaikan satu sampai dua tahun, bahkan mungkin dalam jangka waktu 5 tahun tidak akan selesai, begitu pula dengan masalah lainnya seperti PKL (pedagang kaki lima) dan masalah kemiskinan. Persoalan kemacetan lalu lintas sebenarnya ada empat "pemain" di dalamnya yaitu masyarakat, pengusaha angkutan yang tidak disiplin, sopir angkot, pemilik angkot dan aparat sendiri termasuk DLLAJ, polisi dan instasi terkait lainnya. Oleh karena itu untuk bisa lepas dari persoalan ini, keempat pemainnya harus dibenahi. Kalau kita hanya membenahi aparatnya saja tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi, harus bersama-sama membenahinya. Artinya, kesemuanya akan dimulai dari pembenahan-pembenahan mulai dari dalam, mekanisme prioritas, sehingga setahap demi setahap Kota Bogor diharapkan akan bisa lepas dari segala permasalahan kemacetan. Diketahui bahwa di dalam masyarakat ada yang dinamakan Kebudayaan Hukum, Budaya Hukum, dan Seni Hukum. Dimana ketiga elemen ini sangat

50

penting untuk pembentukan norma hukum yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam menerapkan nilai hukum yang sesuai Undang – Undang Dasar 1945. Bertahannya PKL menempati ruang publik sebagai konsekuen adanya kelonggaran terhadap pelaksanaan Peraturan Daerah dan kurangnya pengawasan terhadap aparat pemerintah Kota Bogor, dan beberapa oknum polisi dan militer serta partai politik dan lain-lain, sehingga memungkinkan terjadinya negosiasinegosiasi melalui komunikasi antara PKL dengan aparat dan pengelola yang menguasai ruang publik, sehingga terbangun interaksi dan hubungan sosial antara PKl dengan aparat, dan oknum-oknum serta lingkungan sekitarnya Menjadi sebuah keniscayaan apabila ruang publik menjadi ajang perebutan kekuasaan diantara berbagai oknum yang sangat berperan di dalam ruang kota. Seakan kota menjadi tidak bertuan, dan pemerintah daerah menjadi semakin lemah karena digerogoti oleh berbagai pihak yang menggunakan kekuasaan yang melekat pada masing-masing lembaga. Kota Bogor menjadi ladang premanisme baik yang berdasi maupun tidak, dan semua ruang publik seakan-akan menjadi lahan pertaruhan bagi berbagai pihak, yang menjadi becking bagi tumbuh suburnya PKL di Kota Bogor. Mereka menari diatas penderitaan dan cucuran keringat yang selalu membasahi tubuh para PKL , yang sejak pagi hingga malam bergelut dengan panas dan dinginnya cuaca di Kota Hujan yang kita cintai. 5.4.

Saran dan kritik
Berdasarkan hasil penjelasan diatas oleh karena itu Pemkot Bogor tidak

usah berkecil hati dalam menghadapi persoalan kemacetan lalu -lintas. Namun demikian bukan berarti Pemkot Bogor harus berdiam diri, tanpa mencari solusi pemecahannya. Tapi harus diupayakan dalam mengadapi persoalan yang sangat rumit itu antara lain dilakukan dengan membangun infrastruktur yang dibutuhkan tanpa mengesampingkan perilaku hukum pada masyarakat. Artinya segala sesuatu yang akan dilakukan haruslah hasil dari keinginan masyarakat yang baik. Menjadi suatu keharusan bagi pemerintah dan masyarakat, agar praktek premanisme dalam penggunaan ruang publik dapat dieliminer untuk memberikan kenyamanan bagi

51

masyarakat, dan himbauan bagi PKL agar mau ditata demi kelancaran lalu lintas, kebersihan, ketertiban, keamanan dan keindahan kota tanpa mengurangi aktivitas ekonomi yang ada.

52

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->