P. 1
imunisasi

imunisasi

|Views: 48|Likes:
Published by znises
zns
zns

More info:

Published by: znises on Jun 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

Sections

  • I.1. LATAR BELAKANG
  • I.2.1. Pernyataan Masalah
  • I.2.2. Pertanyaan Masalah
  • II.1.1. Pengertian Imunisasi Dasar
  • II.1.2. Tujuan Program Imunisasi Dasar
  • II.1.3.1. Latar Belakang Vaksinasi
  • II.1.3.2. Tujuan Vaksinasi
  • II.1.3.3. Keuntungan Vaksinasi
  • II.1.3.4. Jenis Imunisasi Dasar
  • II.1.3.5. Kondisi Anak yang Baik untuk Mendapat Imunisasi
  • II.1.3.6. Efek Samping Imunisasi
  • II.1.3.7. Tenaga Pelaksana Imunisasi
  • II.1.3.8. Penatalaksanaan Vaksinasi
  • II.1.4. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)
  • II.1.5. Jadwal dan Cara Pemberian Imunisasi
  • II.1.6. Pencatatan dan Pelaporan
  • II.1.7. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS)
  • II.2.1. Pendidikan
  • II.2.2. Pengetahuan
  • II.2.3. Pekerjaan
  • II.2.4. Pelayanan Kesehatan
  • II.2.5. Kesehatan Bayi
  • II.3. KERANGKA TEORI
  • III.1. Jenis Penelitian
  • III.2. Lokasi Penelitian
  • III.3. Waktu Penelitian
  • III.4. Sasaran Penelitian
  • III.5.1. Populasi
  • III.5.2. Sampel
  • III.6.1. Variabel Bebas (Independent Variable)
  • III.6.2. Variabel Tergantung (Dependent Variable)
  • III.7. Kerangka Konsep
  • III.8.1. Data Primer
  • III.8.2. Data Sekunder
  • III.9. Instrumen Penelitian
  • III.10. Teknik Penelitian / Skoring
  • III.11. Pengolahan Data
  • III.12. Analisa Data
  • IV.1.1. Data Geografis
  • IV.1.2. Data Demografis
  • IV.2. Hasil Penelitian

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada bayi terhadap penyakit tertentu. Guna terwujudnya derajat kesehatan yang tinggi, pemerintah telah menempatkan fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas di setiap kecamatan dan didukung posyandu pada setiap puskesmas.1

Angka kesakitan bayi di Indonesia relatif masih cukup tinggi, meskipun menunjukkan penurunan dalam satu dekade terakhir. Program imunisasi bisa didapatkan tidak hanya di puskesmas atau di rumah sakit saja, akan tetapi juga diberikan di posyandu yang dibentuk masyarakat dengan dukungan oleh petugas kesehatan dan diberikan secara gratis kepada masyarakat dengan maksud program imunisasi dapat berjalan sesuai dengan harapan. Program imunisasi di posyandu telah menargetkan sasaran yang ingin dicapai yakni pemberian imunisasi pada bayi secara lengkap. Imunisasi dikatakan lengkap apabila mendapat BCG 1 kali, DPT 3 kali, Hepatitis 3 kali, Campak 1 kali, dan Polio 4 kali.

Bayi yang tidak mendapat imunisasi secara lengkap dapat mengalami berbagai penyakit, misalnya difteri, tetanus, campak, polio, dan sebagainya. Oleh karena itu, imunisasi harus diberikan dengan lengkap sesuai jadwal. Imunisasi secara lengkap dapat mencegah terjadinya berbagai penyakit tersebut.2

Pemerintah telah memberikan berbagai upaya dan kebijakan dalam bidang kesehatan untuk menekan angka kesakitan, namun masyarakat belum bisa memanfaatkannya secara optimal karena ada sebagian ibu yang memiliki persepsi bahwa tanpa imunisasi anaknya juga dapat tumbuh dengan sehat.3

IMUNISASI

Page 1

Pada dasarnya pengetahuan dan pendidikan ibu merupakan dasar untuk mengambil suatu keputusan dan mengenal kebutuhan, khususnya tentang masalah kesehatan. Semakin tinggi pengetahuan dan pendidikan ibu, maka semakin tinggi pula perhatiannya terhadap kesehatan bayinya.4

Cakupan program imunisasi dasar di Kelurahan Payaroba, cakupan Puskesmas H.A.H Hasan pada tahun 2012 adalah sebagai berikut: BCG 86.8%, DPT-HB1 78.7%, DPT-HB4 76.3%, Polio1 76.7%, Polio4 74.4%, Campak 78%. Cakupan program imunisasi dasar tersebut belumlah mencapai target program imunisasi dasar. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada bayi yang belum mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap.

Kelengkapan imunisasi dasar pada bayi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, kesehatan bayi, dan pelayanan kesehatan. Pengetahuan ibu yang kurang dapat berpengaruh terhadap keluarganya, terutama dalam mengambil keputusan dalam masalah kesehatan. Faktor pekerjaan ibu dengan intensitas pekerjaan yang tinggi atau sibuk mengakibatkan ibu lupa pada kesehatan bayinya. Kesehatan bayi pada bayi yang sakit-sakitan berdampak pada keterlambatan imunisasi atau tidak sesuai dengan jadwal. Faktor pelayanan kesehatan yang dapat mempengaruhi kelengkapan imunisasi dasar pada bayi antara lain lokasi atau tempat imunisasi yang sulit dijangkau dan kurangnya keterlibatan petugas kesehatan dalam hal memotivasi ibu untuk memberikan bayinya imunisasi dasar secara lengkap.5

Beberapa fakta ini menarik minat penulis untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan kelengkapan imunisasi dasar; dan juga mengevaluasi program imunisasi dasar di kelurahan paya roba , wilayah kerja Puskesmas H.A.H HASAN pada tahun 2012.

IMUNISASI

Page 2

I.2. PERUMUSAN MASALAH

I.2.1. Pernyataan Masalah

-

Cakupan program imunisasi dasar di kelurahan Payaroba, wilayah kerja Puskesmas H.A.H Hasan yang belum mencapai target pada tahun 2012.

-

Belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan belum tercapainya target cakupan program imunisasi dasar di kelurahan payaroba, wilayah kerja Puskesmas H.A.H HASAN pada tahun 2012.

I.2.2. Pertanyaan Masalah

1. Berapa besar cakupan program imunisasi dasar di kelurahan payaroba wilayah kerja Puskesmas H.A.H HASAN pada tahun 2012? 2. Faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan rendahnya cakupan program imunisasi dasar di kelurahan payaroba pada tahun 2012? 3. Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dengan kelengkapan imunisasi dasar di kelurahan payaroba pada tahun 2012? 4. Apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar di kelurahan payaroba pada tahun 2012? 5. Upaya apa sajakah yang dapat dilakukan agar cakupan program imunisasi dasar dapat mencapai target?

IMUNISASI

Page 3

1.3. TUJUAN

1.3.1. Tujuan Umum 

Mengetahui cakupan program imunisasi dasar di kelurahan payaroba tahun 2012.

 Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan program imunisasi dasar di kelurahan payaroba tahun 2012.

1.3.2. Tujuan Khusus  Menganalisis sistem program imunisasi dasar di Puskesmas H.A.H Hasan, khususnya di kelurahan Payaroba dan mencari alternatif jalan keluar untuk kesenjangan yang ditemukan.  Mengetahui tingkat hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dengan kelengkapan imunisasi dasar di kelurahan Payaroba pada tahun 2012.  Mengetahui tingkat hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar di kelurahan Payaroba pada tahun 2012?

1.4. MANFAAT PENELITIAN

1.4.1. Bagi peneliti

Sebagai proses pembelajaran dan pematangan dalam melakukan penelitian dan mengaplikasikan pengetahuan teori akademis bagi masyarakat.

1.4.2. Bagi Puskesmas

IMUNISASI

Page 4

Bagi Masyarakat Menjadi bahan informasi bagi masyarakat bahwa program pelayanan imunisasi mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada anak. khususnya kelurahan Payaroba.A. 2. 1.H Hasan sehingga dapat mengoptimalkan hasil yang dicapai. Sebagai masukan mengenai upaya pencapaian target cakupan imunisasi dasar di Puskesmas H. BAB II TINJAUAN PUSTAKA IMUNISASI Page 5 .4.1.4. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan yang berhubungan dengan program imunisasi dasar di wilayah Binjai Barat.

sedangkan istilah vaksinasi dimaksudkan sebagai pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan menderita penyakit tersebut. Sedangkan pengertian imunisasi menurut Departemen Kesehatan RI adalah suatu cara untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit. pedoman. Perlu diketahui bahwa istilah imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. IMUNISASI Page 6 . Imunisasi adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif.1.1. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila ditunjang dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan ketersediaan standar. Imunisasi merupakan salah satu upaya pelayanan kesehatan dasar yang memegang peranan dalam menurunkan angka kematian bayi dan ibu. mortalitas. sistem pencatat-pelaporan serta logistik yang memadai dan bermutu. Dengan demikian imunisasi bermanfaat untuk menurunkan angka morbiditas. Pengertian Imunisasi Dasar Imunisasi berasal dari kata “imun” yang berarti kebal atau resisten. PROGRAM IMUNISASI DASAR II. Upaya pelayanan imunisasi dilakukan melalui kegiatan imunisasi rutin dan tambahan dengan tujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit – penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). jadi pengertian imunisasi adalah tindakan untuk memberi kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia.1. serta bila mungkin didapatkan eradikasi suatu penyakit dari suatu daerah.II.

II. 2. angka kematian bayi sebesar 54 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2007 angka kematian bayi turun menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup.2. 1457/Menkes/SK/2003. pada tahun 2003 diharapkan 50% desa sehat dapat tercapai.Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator utama penentu status kesehatan dan kesejahteraan suatu bangsa. Untuk meningkatkan menetapkan tingkat suatu kesejahteraan Indonesia negara Sehat Indonesia. pada tahun 2005 diharapkan 80 % desa sehat dapat tercapai dan Indonesia Sehat dapat tercapai tahun 2013. Target tercapainya UCI pada tahun 2010 adalah 100% desa/kelurahan sebagaimana tertuang dalam SK Mentri Kesehatan RI No. Tujuan program imunisasi pada anak ada 2. Tahun pemerintah Dalam program 2010. yaitu : 1.1. Tujuan Program Imunisasi Dasar Imunisasi diperlukan untuk mencegah meluasnya penyakit-penyakit tertentu dan menghindari resiko kematian yang diakibatkannya. Indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian cakupan imunisasi rutin pada bayi yang lengkap dan merata adalah Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan. pelaksanaannya dilakukan secara bertahap yaitu tahun 2001 diharapkan bisa dicapai satu desa sehat per puskesmas. Tujuan Khusus IMUNISASI Page 7 . Tujuan Umum Turunnya angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. Pada tahun 1990.

2. yaitu cakupan imunisasi lengkap minimal 80% secara merata pada bayi 100% di desa/kelurahan pada tahun 2011. Tujuan Vaksinasi IMUNISASI Page 8 . namun memproduksi limfosit yang peka antibodi dan sel memori. Vaksin merupakan produk yang rentan dan mudah rusak bila tidak diperlakukan dengan benar. sehingga terjadi kekebalan.1.   Tercapainya pemutusan rantai penularan Poliomyelitis pada tahun 2009 – 2010. Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI).3. Vaksinasi adalah tindakan dengan sengaja memberikan paparan antigen dari suatu patogen yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan sakit.3. Vaksinasi II. serta sertifikasi bebas Polio pada tahun 2011. maka kebutuhan akan vaksin semakin meningkat seiring dengan keinginan dunia untuk mencegah berbagai penyakit yang dapat menimbulkan kecacatan dan kematian.1.1. II. II. Tercapainya Reduksi Campak ( Recam ) pada tahun 2008.1. Sehubungan dengan itu. Latar Belakang Vaksinasi Imunisasi telah diakui sebagai upaya pencegahan penyakit yang paling sempurna dan berdampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat.3. Peningkatan kebutuhan vaksin telah ditunjang pula oleh upaya perbaikan produksi vaksin dengan meningkatkan efektifitas dan keamanan vaksin.

1.Memberikan infeksi ringan yang tidak berbahaya. anak tidak menjadi sakit karena tubuhnya dengan cepat membentuk antibodi dan mematikan antigen dari penyakit tersebut. imunisasi dasar merupakan imunisasi yang dianjurkan bagi bayi berusia 0 – 11 bulan.3. 3. Pemberian imunisasi BCG bertujuan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TB). Pertahanan tubuh yang dibentuk akan bertahan seumur hidup. II. namun cukup untuk menyiapkan respon imun sehingga apabila terjangkit penyakit yang sesungguhnya dikemudian hari. Penelitian untuk menemukan vaksin BCG dimulai sejak tahun 1906. reaksi yang serius sangat jarang terjadi dan jauh lebih jarang daripada komplikasi yang timbul apabila terserang penyakit tersebut secara alamiah. Pemberian imunisasi BCG diberikan hanya sekali sebelum bayi berumur 2 bulan. Jenis Imunisasi Dasar Di Indonesia. Keuntungan Vaksinasi 1.4. Tidak berbahaya. antara lain :  Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin) Vaksin BCG mengandung kuman tuberkulosis yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan. Vaksin ini ditemukan oleh dokter Albert Calmette dan seorang peneliti yang bernama Cameli Guerin pada 4 April 1927.3.3. ketika Guerin menemukan bahwa ketahanan terhadap penyakit TB berkaitan dengan Virus Tuberclebacilli yang hidup didalam darah. II. IMUNISASI Page 9 . Imunisasi ini sendiri terbagi dalam 5 jenis. Murah dan efektif.1. 2.

yaitu: dalam bentuk kemasan tunggal khusus bagi tetanus. dalam bentuk kombinasi DT (Difteri dan Tetanus). Vaksin polio merupakan virus hidup yang dilemahkan yang dapat memberikan kekebalan hingga 90% terhadap serangan penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Pertusis. Penentuan usia 9 bulan untuk suntikan Campak pertama berdasarkan pertimbangan bahwa pada usia tersebut antibodi bayi yang berasal dari ibunya sudah semakin menurun sehingga bayi membutuhkan antibodi tambahan lewat imunisasi. Vaksin Campak mengandung virus hidup yang telah dilemahkan. Tetanus) Imunisasi DPT diberikan kepada bayi dengan tujuan untuk memberikan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteri. pertusis (batuk rejan). dan DPT 3. yaitu: melalui suntikan dan per oral. imunisasi terhadap 3 jenis penyakit tersebut dipasarkan dalam 3 jenis kemasan. dan tetanus. IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Campak pertama pada usia lebih dini 6-9 bulan.  Imunisasi Hepatitis IMUNISASI Page 10 . Imunisasi polio diberikan dengan 2 cara.  Imunisasi Polio Imunisasi Polio diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomietitis. Imunisasi DPT ini biasanya diberikan sebanyak 3 kali yaitu: DPT1. DPT 2. dan dalam bentuk kombinasi DPT (dikenal sebagai vaksin tripel). Imunisasi DPT (Difteri.  Imunisasi Campak Imunisasi Campak diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak (Measles) secara aktif. Di Indonesia.

Imunisasi Hepatitis ini diberikan sebanyak 3 kali yaitu Hepatits B1. Bakteri/virus dan toksin yang digunakan tersebut dimatikan atau dilemahkan terlebih dahulu. Vaksin terbuat dari bagian virus Hepatits B yang dinamakan HbsAG. toksin. Jenis imunisasi ini dapat dikembangkan setelah diteliti bahwa virus Hepatitis B mempunyai kaitan dengan terjadinya penyakit liver. dan Hepatits B3. EPI (Expanded Program on Imunization) menetapkan target untuk memasukkan vaksin Hepatitis B kedalam program imunisasi nasional. Berikut beberapa contoh vaksin dan bahan pembuatnya:  Bakteri yang sudah dimatikan Contoh : Bakteri Bordetella pertusis dalam vaksin DPT  Virus/ bakteri yang sudah dilemahkan Contoh : ` Virus campak dalam vaksin campak Virus polio dalam vaksin polio Bakteri Mycobacterium tuberculosis dalam vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)  Toksin yang diubah menjadi toksoid IMUNISASI Page 11 .Tahun 1991. Pemberian imunisasi Hepatitis ini bertujuan untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit Hepatitis B atau dikenal dalam istilah sehari-hari yaitu penyakit liver. sehingga tidak berbahaya bagi manusia. yang dapat menimbulkan kekebalan tetapi tidak menimbulkan penyakit. Bahan-bahan untuk membuat vaksin antara lain berasal dari bakteri/virus. Hepatits B2. dan hasil bioteknologi (rekayasa genetika).

4. 6. Memiliki penyakit kronis seperti jantung. Gangguan saluran napas dan gangguan saluran cerna.3. Pada prinsipnya. Umur yang tepat untuk pemberian vaksin. Kondisi Anak yang Baik untuk Mendapat Imunisasi Tidak semua ibu yang memiliki balita mengetahui kondisikondisi pada anaknya yang boleh mendapatkan imunisasi atau harus ditunda untuk sementara waktu. paru. 3. Pemberian imunisasi diusahakan sedini mungkin dan diusahakan melengkapi imunisasi sebelum bayi berumur 1 tahun. Penundaan tersebut bertujuan untuk menghindari komplikasi yang merugikan bagi tubuh anak dan agar imunisasi itu sendiri mampu memberi respon yang optimal. 7. Sedang menjalani terapi antibiotik seperti terapi steroid topikal IMUNISASI Page 12 . Khusus untuk campak dimulai segera setelah anak berumur 9 bulan. Riwayat penyakit infeksi. Imunisasi dapat diberikan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut: 1.5. Riwayat kejang dalam keluarga. Pemberian imunisasi campak sebelum umur 9 bulan dapat mengakibatkan pembentukkan zat kekebalan yang berasal dari ibu. Kontak dengan seseorang yang menderita suatu penyakit tertentu.Contoh : Tetanus toksoid dalam vaksin DPT dan TT Difteri toksoid dalam vaksin DPT  Hasil bioteknologi (rekayasa genetika) Contoh : Vaksin Hepatitis B rekombinan II.1. imunisasi atau vaksinasi tidak seharusnya diberikan saat kondisi imunologis atau kekebalan anak menurun. yaitu sebelum bayi mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Kelainan saraf seperti sindrom down. 2. 5. serta penyakit metabolik.

IMUNISASI Page 13 . Setelah 2-3 minggu. pembengkakan akan menjadi abses kecil dan menjadi luka dengan diamater 10 mm. Imunisasi yang tidak boleh diberikan dalam kondisi : 1. II. cacar air. Memiliki alergi yang berat (anafilatik).3. Efek samping yang dapat terjadi antara lain : 1. 8. Keadaan yang seperti ini tidak boleh diberikan vaksin hidup seperti polio oral. 3. Apabila dosis yang diberikan terlalu tinggi maka ulkus yang akan timbul akan lebih besar dan apabila penyuntikkan terlalu dalam maka luka parut yang akan tertarik ke dalam (retacred). Efek Samping Imunisasi Imunisasi terkadang dapat menimbulkan efek samping. tetapi hal ini menandakan bahwa vaksin bekerja secara tepat.(terapi kulit atau mata). Menderita gangguan sistem imun. Setelah bayi mendapatkan imunisasi DPT anak menjadi gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam paska suntikan. 2. Sakit berat dan mendadak demam tinggi. Berat badan lahir rendah. Riwayat kuning pada masa neonatus atau beberapa hari setelah lahir. Setelah bayi diberikan imunisasi BCG akan terjadi pembengkakan kecil dan merah pada tempat suntikan selama 2 minggu. 2. 9. misalnya sedang menjalani pengobatan steroid jangka panjang seperti HIV. MMR.1. Luka akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2-3 bulan dan meninggalkan luka parut.6. BCG.

Reaksi ini akan hilang dalam waktu 2 hari. sakit. demam ringan dan pembengkakan.Biasanya bayi akan demam pada sore hari setelah mendapat imunisasi DPT. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus karena akan sembuh dengan sendirinya. 3. 5.1. Setelah mendapatkan imunisasi campak kemungkinan anak akan diare. 4.7. Setelah mendapatkan imunisasi hepatitis mungkin hanya terjadi keluhan nyeri pada bekas suntikkan. merah dan bengkak ditempat suntikkan. Pada umumnya efek samping paska imunisasi polio sangat jarang ditemukan bahkan hampir tidak memberikan efek samping sama sekali. Untuk mengatasi efek yang timbul dianjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan minum obat penurun panas. II. diare ringan dan sakit otot. Bila gejala tersebut tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak bekerja dengan baik.3. panas dan disertai kemerahan 4-10 hari sesudah suntikkan. demam akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Setelah mendapatkan imunisasi polio sebagian kecil penerima vaksin OPV akan mengalami gejala pusing-pusing. Sebagian besar anak akan merasa nyeri. Tenaga Pelaksana Imunisasi IMUNISASI Page 14 .

mencatat suhu lemari es. Pelatihan teknis diberikan kepada petugas imunisasi di puskesmas. dan merencanakan tindak lanjut. karena sangat bergantung pada jenis alat angkut yang digunakan. mulai dari penerimaan. Penatalaksanaan Vaksinasi Salah satu mata rantai yang paling lemah dalam rantai dingin/cold chain adalah transportasi. mengecek catatan pelayanan imunisasi. maka vaksin memerlukan penanganan khusus. yang tugasnya memberikan pelayanan imunisasi dan penyuluhan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan/atau ketrampilan petugas imunisasi perlu dilakukan pelatihan sesuai dengan modul latihan petugas imunisasi. Pelaksana cold chain adalah tenaga yang berpendidikan minimal SMA atau SMK yang telah mengikuti pelatihan cold chain. rumah sakit dan tempat pelayanan lain. mengatur jadwal pelayanan imunisasi.Standar tenaga pelaksana di tingkat pusksmas adalah petugas imunisasi dan pelaksana cold chain.1. petugas cold chain di semua tingkat. Pelatihan manajerial diberikan kepada para pengelola imunisasi dan supervisor di semua tingkat. yang bertugas membuat perencanaan vaksin dan logistik lain. II.3. Pengelola program imunisasi adalah petugas imunisasi. yang tugasnya mengelola vaksin dan merawat lemari es.8. kendaraan yang digunakan maupun kondisi jalan. membuat dan menganalisis PWS bulanan. mencatat pemasukan dan pengeluaran vaksin serta mengambil vaksin di kabupaten / kota sesuai kebutuhan per bulan. lama perjalanan. membuat dan mengirim laporan ke kabupaten/kota. Petugas imunisasi adalah tenaga perawat atau bidan yang telah mengikuti pelatihan. penyimpangan. pelaksana cold chain atau petugas lain yang telah mengikuti pelatihan untuk mengelola program imunisasi. IMUNISASI Page 15 . Karena vaksin memiliki sifat sangat peka.

Sarana penyimpan vaksin a. 2000). Vaksin yang sudah terpapar akan mengalami penurunan potensi. Kamar dingin Ada 2 macam kamar dingin :   b. sebagian atau seluruhnya walaupun sudah dilakukan perbaikan suhu. sehingga ruang tersebut menjadi dingin. (DepKes RI. Cold chain adalah suatu prosedur dan peralatan yang digunakan dalam pengiriman/penyimpanan vaksin mulai dari pabrik pembuat sampai vaksin diberikan kepada sasaran.pendistribusian serta penanganan di lapangan. dibedakan :  Lemari es buka atas (Top Opening) IMUNISASI Page 16 .  Lemari es absorbsi Lemari es yang menggunakan pemanas (heater) unutk menyerap panas diruang penyimpan. Manfaat dan tujuan cold chain adalah untuk memperkecil kesalahan selama penanganan terhadap vaksin dan dapat diyakini bahwa vaksin yang digunakan berada pada suhu dingin yang ditetapkan dan masih mempunyai potensi yang dapat menimbulkan kekebalan. Suhu 2 ºC sampai 8 ºC (cold room) Suhu – 20 ºC sampai – 25 ºC (freezer room) Lemari es Menurut cara kerjanya ada 2 macam :  Lemari es kompresi Lemari es yang menggunakan kompresor untuk menekan refrigerant (gas pendingin) untuk bersirkulasi di cooling unit. Ada 2 unsur cold chain: sarana penyimpan vaksin dan sarana pembawa vaksin. Menurut bentuk pintunya. guna memperoleh suhu dingin di ruang penyimpan. 1.

Sarana pengangkut cold chain yang dipergunakan progrm : o Cold box o Vaccine carrier Cold pack atau Cool pack II. volume cold pack. 2. Seiring dengan cakupan imunisasi yang tinggi maka penggunaan vaksin juga meningkat dan sebagai akibatnya kejadian yang berhubungan dengan imunisasi juga meningkat. Lemari es buka depan (Front opening) Lemari es dengan pintu buka atas lebih baik daripada buka depan karena suhunya lebih stabil. maka semakin rendah angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).4. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Imunisasi terbukti sebagai satu upaya pencegahan penyakit yang paling efektif dan efisien. Waktu penyimpanan tergantung pada tebal insulasi. Seperti halnya dengan semua tindakan medis. konstruksi (air tight). Dalam menghadapi hal tersebut penting IMUNISASI Page 17 . sarana yang digunakan harus bersifat “air tight” (kedap udara) sehingga dapat mempertahankan suhu yang diinginkan. Dengan semakin banyaknya orang yang diimunisasi.1. Efek samping yang terjadi setelah pemberian imunisasi disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Sarana pembawa vaksin Untuk mengangkut vaksin. resiko terjadinya efek samping selalu ada walaupun kemungkinannya sangat kecil. Udara dingin memiliki berat jenis lebih besar daripada udara biasa sehingga cenderung berada dibagian bawah.

baik berupa reaksi vaksin ataupun efek samping. toksisitas. menderita cacat atau menyebabkan kematian. resiko terjadinya efek samping selalu ada walaupun kemungkinannya sangat kecil. 3) derajat sakit resipien. Pada umumnya makin cepat terjadi KIPI makin berat gejalanya. atau tidak terbukti. kesalahan produksi. KIPI adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi. serta reaksi lainnya. reaksi sensitivitas. koinsidensi. Untuk mengetahui hubungan antara imunisasi dengan KIPI diperlukan pencatatan dan pelaporan semua reaksi simpang yang timbul setelah pemberian imunisasi. Efek samping yang terjadi setelah pemberian imunisasi disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal. 4) apakah penyebab dapat dipastikan. efek farmakologis. Oleh karena itu. 2) sifat kelainan tersebut lokal atau sistemik. atau kesalahan program. sistemik. atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan. dan 5) apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin. atau kesalahan prosedur. diduga.diketahui apakah kejadian tersebut berhubungan dengan vaksin yang telah diberikan ataukah terjadi secara kebetulan. reaksi susunan syaraf pusat. Reaksi simpang yang dikenal sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) adalah semua kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi. untuk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai: 1) besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu. Seperti halnya dengan semua tindakan medis. Tidak semua kejadian KIPI disebabkan oleh imunisasi karena sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. reaksi suntikan. IMUNISASI Page 18 . apakah memerlukan perawatan.

Berapa lama observasi sebenarnya sulit ditentukan. Karena itu toleransi terhadap efek samping vaksin harus lebih kecil daripada obat-obatan untuk orang sakit.1. sehingga dipastikan bahwa tidak terjadi KIPI (reaksi cepat). maka apabila seorang anak telah mendapat imunisasi perlu diobservasi beberapa saat. Tabel II.4. misalnya selulitis.1 Gejala KIPI Reaksi Lokal Gejala KIPI Abses pada tempat suntikan Limfadenitis Reaksi lokal lain yang berat. Mengingat tidak ada satupun jenis vaksin yang aman tanpa efek samping.Baku keamanan suatu vaksin dituntut lebih tinggi daripada obat. Hal ini disebabkan oleh karena pada umumnya produk farmasi diperuntukkan orang sakit sedangkan vaksin untuk orang sehat terutama bayi. tetapi pada umumnya setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi selam 15 menit. BCG-itis SSP Kelumpuhan akut Ensefalopati Ensefalitis Meningitis Kejang IMUNISASI Page 19 .

5.1. edema Reaksi anafilaktoid Syok anafilatik Artralgia Demam tinggi > 38. Jadwal dan Cara Pemberian Imunisasi Gambar II.5. dermatitis. Gambar Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun IMUNISASI Page 20 .5ºC Episode hipotensif-hiporesponsif Osteomielitis Menangis menjerit yang terus menerus (3 jam) Sindrom syok septik II.1.1.Lain-lain Reaksi alergi : urtikaria.

deltoideus dextra Suntikkan intramuskuler atau subkutan dalam di anterolateral paha atas Meneteskan per oral Suntikkan intramuskuler pada paha atas luar atau anterolateral Suntikkan secara subkutan biasanya di lengan kiri bagian atas.5. tempatnya insertio M.05 cc Cara Pemberian Suntikkan intrakutan.Tabel II.7. permasalahan yang ada. Tujuan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan kerja sekarang.6.1. Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan merupakan kegiatan yang sangat penting dalam pelaksanaan program imunisasi.5 cc 0. II. sasaran drop-out dan jumlah dosis yang diberikan setiap bulan.5 cc Polio Hepatitis B 2 tetes 0. IMUNISASI Page 21 . Cara Pemberian Imunisasi Vaksin BCG Dosis 0. belum lengkap diimunisasi atau bahkan yang sudah diimunisasi lengkap. merencanakan kebutuhan vaksin setiap bulan. DPT 0. dan hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki program.1. Rekapitulasi dari hasil dokumentasi tersebut setiap bulan dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program imunisasi di tingkat puskesmas.5 cc Campak II. Tujuan dari pencatatan ini adalah untuk mengetahui sasaran yang belum diimunisasi.1. Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Pemantauan merupakan upaya rutin mulai dari pengumpulan. pengolahan dan analisa data setempat yang hasilnya kemudian untuk perbaikan program imunisasi di tingkat tersebut.1.

Pemantauan ini dilakukan secara teratur dan setiap bulan untuk menghindari hilangnya informasi penting agar tidak terlambat dalam mengambil keputusan. Indikator PWS yang dipergunakan : 1. Prinsip PWS ialah dengan memanfaatkan data yang ada dari cakupan atau laporan cakupan imunisasi. campak untuk mengukur tingkat perlindungan.Dalam program imunisasi telah dikembangan suatu alat pemantau sederhana. Untuk mengukur tingkat perlindungan (efektifitas program) 3. antara lain: DPT/HB1 untuk mengukur jangkauan program/ pemerataan pelayanan. DO = Untuk mengukur manajemen program (efisiensi program) DPT/HB1 – Campak DPT/HB1 X 100 % Target efisiensi program : < 8 % IMUNISASI Page 22 . yaitu PWS (Pemantau Wilayah Setempat). menggunakan indikator yang sederhana untuk masing-masing antigen lain. dan drop out (DO) DPT/HB1-Campak untuk mengukur efisiensi manajemen program. Untuk mengukur jangkauan program (pemeriksaan pelayanan) 2. polio 4 untuk mengukur tingkat perlindungan. Tujuan PWS adalah memanfaatkan data yang paling minimal dengan mengembangkan indikator yang cukup sensitif bagi pemantauan penyelenggaraan program imunisasi sehingga dapat dikatakan secara cepat wilayah mana yang maju dan mana yang belum serta tindakan atau upaya yang diperlukan untuk memperbaikinya.

Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pendidikan sangat penting berpengaruh terhadap cara berpikir juga dengan pendidikan akan dapat mempengaruhi perilaku seseorang khususnya perilaku tentang kesehatan yaitu dalam perawatan dan meningkatkan status kesehatan bayi. LAM terbukti efektif kemudian diakui WHO untuk diperkenalkan di negara lain. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELENGKAPAN IMUNISASI II. II.1.2. II. Orang dengan tingkat pendidikan yang rendah biasanya kurang bisa mengambil keputusan dalam kesehatnnya dan keluarga. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia. Grafik LAM disempurnakan menjadi yang dikenal sekarang dengan PWS.Alat pemantauan ini berfungsi untuk meningkatkan cakupan.2. jadi sifatnya lebih memantau kuantitas program.2. Dipakai pertama kalinya di Indonesia pada tahun 1985 dan dikenal dengan nama Local Area Monitoring (LAM).2. juga kurang dalam pemanfaatan fasilitas kesehatan yang tersedia dalam menjaga dan meningkatkan status kesehatan keluarga tentang bayinya. Pendidikan Pendidikan dalam arti formal sebenarnya adalah suatu proses penyampaian bahan/materi pendidikan oleh pendidik kepada sasaran guna mencapai perubahan tingkah laku. IMUNISASI Page 23 .

Kondisi ibu yang disibukkan oleh pekerjaan akan mempengaruhi berkurangnya perhatian kepada anaknya terutama berkenaan dengan jadwal pemberian imunisasi bayinya.Pengetahuan bisa didapat dari mendengar. khususnya ibu dalam hal mengenal imunisasi. membaca. maka nantinya seseorang tersebut akan dapat mengenal masalah serta mengetahui kebutuhan kesehatan diri dan keluarganya yang pada akhirnya untuk dapat hidup dan menjaga anggota keluarganya. Pengetahuan yang rendah akan mempengaruhi seseorang. Pekerjaan Masyarakat yang sibuk hanya memiliki sedikit waktu untuk memperoleh informasi sehingga pengetahuan yang mereka peroleh berkurang. melihat sebuah fenomena yang ada khususnya tentang kesehatan. II. II.4. dapat dijadikan dasar untuk bertindak dan mengetahui kebutuhan bayi dengan dimanifestasikan ibu mau mengantar bayinya ke posyandu guna mendapatkan imunisasi secara rutin setiap bulan hingga usia 11 bulan.3. karena tidak akan berjalan program imunisasi bila petugas kesehatannya IMUNISASI Page 24 .2. Pelayanan Kesehatan Petugas kesehatan adalah faktor pendukung terselenggaranya kegiatan kedatangan petugas kesehatan ke tempat posyandu adalah komponen utama. atau dapat juga dari sumber – sumber media massa atau bisa juga dari pengalaman. karena kesibukan tertentu yang menyita banyak waktu maka kesempatan waktu untuk mengantar anaknya ke poyandu tidak ada dan akhirnya bayinya tidak bisa mendapatkan imunisasi dengan lengkap.2. Dengan banyak mendengar. Dengan demikian pengetahuan yang tinggi.

Pelayanan Kesehatan 5. Pekerjaan 4.2. Pengetahuan Ibu 2.5. II. petugas harus bekerja secara profesional dan ramah kepada masyarakat. Keadaan bayi yang sakit akan membahayakan bila dilakukan imunisasi mengingat adanya efek samping vaksin sendiri terutama vaksin DPT dan campak yang dapat menimbulkan panas pada bayi setelah diimunisasi. KERANGKA TEORI Faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi bayi: 1. juga harus bisa menyampaikan informasi tentang kesehatan agar masyarakat mengerti khususnya tentang imunisasi sehingga ibu yang mempunyai bayi mau memberikan bayinya imunisasi dengan lengkap. Pendidikan 3.3.kurang aktif datang ke posyandu. II. Kesehatan Bayi Bayi yang Mendapat Imunisasi Dasar IMUNISASI Lengkap Faktor yang mempenga ruhi kelengkap an status imunisasi : Tidak Lengkap Faktor yang mempengaruhi kelengkapan status imunisasi : Page 25 . yaitu pada kondisi yang dikontraindikasikan seperti panas lebih 0 dari 38 C dan mempunyai riwayat kejang demam tidak boleh diberikan imunisasi DPT dan campak. Kesehatan Bayi Kondisi bayi yang sakit-sakitan menghambat dalam pemberian imunisasi.

Walaupun kuisioner sering digunakan di dalam survei. Sasaran Penelitian Orang tua ( ibu ) yang mempunyai balita dikelurahan Paya Roba Binjai IMUNISASI Page 26 .3. Survei penelitian dan kuisioner penelitian bukanlah hal yang sama. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan diwilayah kerja Puskesmas H. III. Survei ini di lakukan untuk mendapatkan informasi sebanyak banyaknya mengenai pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dan hubungannya dengan kelengkapan imunisasi dasar baduta di kelurahan Payaroba Binjai. Survei adalah penelitian yang diadakan untuk memperoleh fakta dari gejalagejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual. bersifat deskriptif kuantitatif. Ada dua karakteristik untuk membedakannya.BAB III METODE PENELITIAN III. Sedangkan kuisioner berdasarkan pengumpulan data.2. pengamatan.H Hasan Kelurahan Paya Roba kecamatan Binjai Barat III. Jenis Penelitian Penelitian menggunakan sistem survei. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 30 April 2013 sampai 16 Mei 20 III. namun tidak selamanya selalu sama.A.1. yaitu format data dan metode analisis data.4. seperti wawancara yang mendalam. analisis data dan sebagainya yang digunakan dalam survei.

Dalam penelitian ini digunakan sampel dari ibu yang memiliki balita berumur 0 – 24 bulan diKelurahan Paya Roba sebanyak 30 orang. Dalam Penelitian ini variabel bebas yang digunakan :   Tingkat pendidikan ibu Pengetahuan ibu tentang imunisasi IMUNISASI Page 27 . lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya penelitian populasi.5. Sampel Sampel adalah bagian dari sebuah populasi yang dianggap dapat mewakili dari populasi tersebut (Notoatmojo. Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel lain.6. atau kausa (Hidayat.III. III.1. 2007). Definisi Operasional Variabel III. Variabel Bebas (Independent Variable) Variabel independen (bebas) yaitu variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).5.6. Untuk menentukan besarnya sampel menurut Arikunto (2002: 112) apabila subjek kurang dari 100. Jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 %.1.2.5. III. Populasi dan Sampel III.2002). variabel mempunyai nama lain yaitu variabel prediktor. Populasi Sulistyo-Basuki (2006 :182) engemukakan populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti. resiko. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki balita berumur 0 bulan sampai 24 bulan di Kelurahan Paya Roba Binjai tahun 2013.

Data Primer Data primer diperoleh melalui kuisioner yang diberikan kepada responden masyarakat Kelurahan Paya Roba . Variabel Tergantung (Dependent Variable) Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas.1.2.H Hasan Kecamatan Binjai Barat. Kerangka Konsep Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dasar (Variabel Bebas) Kelengkapan Imunisasi Dasar (Variabel Terikat) Pendidikan Ibu (Variabel Bebas) III.2.8. 2007).III.6.8.7. Pengumpulan Data III. Dengan cara membagikan kuisioner dan mengumpulkan masyarakat dan membagikan kuisioner. III. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dan di dapatkan dari Puskesmas H. IMUNISASI Page 28 . Variabel ini tergantung dari variabel bebas terhadap perubahan (Hidayat.8. Dalam penelitian ini variabel tergantung yang digunakan :  Kelengkapan Imunisasi dasar III.A.

Instrumen Penelitian Instrumen yang dipakai pada penelitian berupa kuisioner yang terdiri dari 25 pertanyaan berdasarkan tinjauan pustaka sebagai berikut : 12 pertanyaan untuk menilai pengetahuan 7 pertanyaan untuk menilai sikap 6 pertanyaan untuk menilai tindakan III.9. Tingkatan Skala Pengukuran Menurut Hadi Pratomo dan Sudarti (1986) Skor Kategori >75 % jawaban benar dari total nilai kuisioner Baik 45 -75 % jawaban benar dari nilai kuisioner Sedang < 45 % jawaban benar dari total nilai kuisioner Kurang Kuisioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab. yang terbagi atas tiga bagian besar yaitu no.10. Teknik Penelitian / Skoring Skor jawaban dikategorikan berdasarkan tingkatan skala pengukuran menurut Hadi Pratomo dan Sudarti (1986). IMUNISASI Page 29 . Kategori ordinalnya adalah sebagai berikut : Tabel 3. 1-III.101.III.

Benar (0) Salah (1) 12. Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh selanjutnya dikategorikan sebagai berikut : 1. Benar (0) Salah (1) 8. 3. Skor pengetahuan: 1. Benar (1) Salah (0) 2. dan apabila responden menjawab salah diberi nilai 0 IMUNISASI Page 30 . Benar (0) Salah (1) 6.1. Benar (1) Salah (0) 9. Benar (1) Salah (0) 11. Benar (1) Salah (0) 10. Baik : 8-12 (>75 % dari nilai yang tertinggi) Sedang : 4-7 (45-75% dari nilai yang tertinggi) Kurang : 0-3 (<45% dari nilai yang tertinggi) 2. 2. dan jawaban salah diberi nilai 0. Benar (1) Salah (0) 4. Sikap Apabila responden menjawab dengan benar diberi nilai 1. Benar (1) Salah (0) 7. Benar (1) Salah (0) 3. Pengetahuan Apabila jawaban responden benar diberi nilai 1. Benar (0) Salah (1) 5. Benar (1) Salah (0) Jumlah skor pengetahuan adalah 12.

A (1) B (0) C (0) 7. A (1) B (0) C (0) 4. Sudah ( 1 ) 6. Sudah ( 1 ) 4. dan apabila responden menjawab belum diberi nilai 0 Skor Tindakan: 1. A (1) B (0) C (1) 3. Tindakan Apabila jawaban responden sudah diberi nilai 1. Sudah ( 1 ) Belum ( 0 ) Belum ( 0 ) Belum ( 0 ) Belum ( 0 ) Belum ( 0 ) Belum ( 0 ) Tidak Menjawab(0) Tidak Menjawab(0) Tidak Menjawab(0) Tidak Menjawab(0) Tidak Menjawab(0) Tidak Menjawab(0) IMUNISASI Page 31 . Sudah ( 1 ) 3. A (1) B (0) C (0) 2. Sudah ( 1 ) 2. Sudah ( 1 ) 5. 3. Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh selanjutnya dikategorikan sebagai berikut : 1.Skor sikap : 1. Baik Sedang Kurang : 5-7 (>75 % dari nilai yang tertinggi) : 3-4 (45-75% dari nilai yang tertinggi) : 0-2 (<45% dari nilai yang tertinggi) 3. A (1) B (0) C (1) Jumlah skor sikap adalah 7. 2. A (1) B (0) C (0) 6. A (1) B (0) C (0) 5.

Setelah data terkumpul. Coding Memberi kode pada data penelitian. Berdasarkan jumlah skor yang diperoleh selanjutnya dikategorikan sebagai berikut : 1.12. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan beberapa tahapan antara lain: a. c.11.Kurang : 0-2 (<45% dari nilai yang tertinggi) III. sehingga didapatkan besarnya persentase tiap-tiap variabel imunisasi di Kelurahan Paya Roba kecamatan Binjai Barat.Jumlah skor tindakan adalah 6. Analisa Data Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan statistik deskriptif dengan analisis univariant. Tabulating Data yang telah diberikan kode dikelompokkan dalam bentuk tabel dan diagram III. Entry data Memasukkan data kedalam program komputer d. Editing Menyelesaikan data yang diperoleh baik primer maupun sekunder b.Sedang : 3-4 (45-75% dari nilai yang tertinggi) 3. Analisa univariant digunakan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karekteristik setiap variabel penelitian. IMUNISASI Page 32 . kemudian data di analisa sesuai dengan bentuk data.Baik : 5-6 (>75 % dari nilai yang tertinggi) 2.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN IV. Kecamatan Binjai Barat. Timur : Kelurahan Cengkeh Turi.A. Hasan beridiri pada tahun 1986 dan berada di Jalan H. Data Geografis Puskesmas H. Puskesmas H. Deskripsi Wilayah Penelitian IV. Hasan memiliki cakupan wilayah kerja seluas 4 Ha.H.94 Ha IMUNISASI Page 33 .1. Kelurahan Paya Roba.A. Luas wilayah kecamatan Binjai Barat ± 7.H. yaitu: 1. luas wilayah : 1. Barat 4. Puskesmas Suka Ramai. dan menaungi 3 Puskesmas Pembantu untuk menjangkau wilayah kerjanya.22 Ha dengan letak diatas permukaan laut ± 28 m.11 Ha 3. Hasan terletak di daerah Kecamatan Binjai Barat yang mempunyai batas wilayah : 1. : Kelurahan Suka Ramai.1.H. Puskesmas Pembantu Limau Sundai.H. Utara 2.A. Puskesmas Pembantu Limau Mungkur. : Kelurahan Pekan.72 Ha 2.1. : Kelurahan Bandar Sinembah. Puskesmas H. Hasan. luas wilayah : 1. luas wilayah : 0. Selatan 3.A.

A.H.Wilayah Kerja Puskesmas H. 4.8 19 50 21. Kelurahan Limau Sundai : 7 lingkungan.1.2 100 IMUNISASI Page 34 . Kelurahan Paya Roba 2. : 8 lingkungan. Kelurahan Limau Mungkur : 6 lingkungan. Hasan.2.H Hasan No. Kelurahan Suka Ramai 3. Prasarana Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas H. 1 2 3 4 5 6 TK SD/ Sederajat SLTP / Sederajat SLTA / Sederajat Universitas / Akademik Perguruan Tinggi Prasarana Jumlah 1 7 5 7 - Tabel 4. terdiri dari 4 desa. Data Demografis Tabel 4.1.A. IV.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Pendidikan di Kelurahan Paya Roba tahun 2012 Pendidikan Umum Tidak Tamat SD SMP/ SLTP SMA/ SLTA Akademi (D1-D3) Sarjana (S1-S3) Jumlah Sumber : Kelurahan Paya Roba 2012 Jumlah (Jiwa) 65 125 330 141 661 Persentase (%) 9. : 8 lingkungan. yaitu : 1.

Diagram 4. IMUNISASI Page 35 .1 Distribusi Penduduk Berdasarkan Pendidikan di Kelurahan Paya Roba tahun 2012 Keterangan: Dapat dilihat dari tabel dan diagram diatas bahwa tingkat pendidikan penduduk terbanyak adalah SLTA/sederajat dengan jumlah 330 jiwa. Hal ini disebabkan karena sarana pendidikan paling tinggi di Kelurahan Paya Roba yaitu SLTA dan kemungkinan masyarakat enggan untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah dikarenakan faktor ekonomi.

11. 12. 3. 10.7 70. 9.6 77.H Hasan belum mencapai 100%. Bulan BCG HEP-B DPT-HB Polio Campak Jlh Sasaran (y) Cakupan = x/y x 100% <1 1.3 Data Imunisasi Balita di Puskesmas H. 2. 7.5 81.6 82.5 78. Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agus Sept Okt Nov Des 15 16 15 15 13 18 16 15 15 13 151 >1 0-7 >7 1 2 3 1 2 3 4 <1 >1 3 5 7 4 4 3 7 6 5 5 7 3 5 51 9 12 10 8 9 12 10 7 7 12 10 97 14 15 13 15 14 13 14 15 12 15 16 142 13 14 14 14 13 14 14 14 11 14 14 136 14 14 13 14 14 14 13 14 12 14 13 135 15 15 16 15 15 13 18 16 15 15 13 151 14 14 15 15 14 14 14 14 15 14 13 142 13 13 13 13 13 14 13 13 13 13 14 132 13 13 10 13 13 11 13 13 13 13 14 126 13 15 13 14 13 12 15 15 10 15 15 137 0 121 132 121 125 121 124 130 126 113 132 125 1249 160 160 160 160 160 160 160 160 160 160 160 75.1 75.6 82.5 75. Hal ini belum memenuhi SPM untuk Indonesia sehat 2015. IMUNISASI Page 36 .H Hasan tahun 2012 No. 4.Tabel 4. 8.2 78. 6. Hal ini harus terus ditingkatakan guna meningkatkan kualitas hidup generasi penerus Indonesia dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. 5.1 Jumlah total Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa cakupan imunisasi dipuskesmas H.A.A.6 78.

IMUNISASI Page 37 .2 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Responden Di Kelurahan Paya Roba tahun 2013 Keterangan Tabel dan Diagram Dari tabel dan diagram di atas menunjukkan bahwa dari 30 responden dalam penelitian ini .IV. didapatkan responden terbanyak berusia 20 – 30 tahun yaitu 16 ibu ( 53% ) dan paling sedikit berusia 41 – 50 tahun yaitu 3 ibu (10 %). Hasil Penelitian Tabel 4.2.4 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Responden Di Kelurahan Paya Roba tahun 2013 No 1 2 3 Usia 20 .30 tahun 31 – 40 tahun 41 – 50 tahun Jumlah Frekuensi 16 11 3 30 Persentase ( % ) 53 37 10 100 Diagram 4.

Hal ini dikarenakan sebagian besar pekerjaan dari ibu-ibu di kelurahan Paya Roba adalah sebagai Ibu Rumah Tangga. Pekerjaan tidak terlalu berpengaruh terhadap imunisasi.7.Tabel 4. Dari tabel dan diagram di atas didapatkan bahwa sebagian besar pekerjaan responden adalah Ibu Rumah Tangga sebanyak 53%.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Responden Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Keterangan Tabel dan Diagram 4. IMUNISASI Page 38 .5 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Responden Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 No 1 2 3 4 Tingkat Pendidikan PNS Wiraswasta Petani IRT Jumlah Frekuensi 5 6 3 16 30 Presentase ( % ) 17 20 10 53 100 Diagram 4.

didapatkan responden terbanyak adalah yang berpindidikan Tamat SLTA yaitu 15 ibu ( 50 % ). IMUNISASI Page 39 .6 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Responden Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 No 1 2 3 4 Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD – SMP/SLTP SMA/SLTA Akademi (D1-D3) Sarjana (S1-S3) Jumlah Frekuensi 5 8 15 2 30 Presentase ( % ) 17 26 50 7 100 Diagram 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Responden Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Keterangan Tabel dan Diagram Dari tabel dan diagram diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden dalam penelitian ini .Tabel 4.

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Responden tentang Imunisasi Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Keterangan Tabel dan Diagram Dari tabel dan diagram diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden dalam penelitian ini .7 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Responden tentang Imunisasi Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 No 1 2 3 Tingkat Pengetahuan Baik Sedang Kurang Jumlah Frekuensi 17 6 7 30 Presentase ( % ) 57 20 23 100 Diagram 4. didapatkan responden terbanyak adalah yang berpengetahuan baik yaitu 17 ibu ( 57 % ) dan paling sedikit yang berpengetahuan sedang yaitu 6 ibu (20%) IMUNISASI Page 40 .

D3)Sarjana (S1-S3) Jumlah 17 56 6 21 7 23 30 100 2 6 2 6 4 13 3 11 1 3 8 27 1 3 4 13 5 17 % N % N % N % Baik Sedang Kurang Total 3. 11 37 2 7 2 7 15 50 Keterangan : Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa responden dengan tingkat pengetahuan yang baik terhadap Imunisasi terbanyak adalah pada tingkat pendidikan SMA/Sederajat. Pendidikan N Tidak Tamat 1. SD Sekolah Dasar2. SMP/ SLTP SMA/ SLTA Akademi (D14. Maka dari itu informasi tentang Imunisasi perlu ditingkatkan lagi pada ibu-ibu yang pendidikannya lebih rendah.Tabel 4.hal ini menunjukkan adanya pengaruh pendidikan dengan pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar. IMUNISASI Page 41 . sehingga ibuibu tersebut dapat mengetahui tentang imunisasi bagi anak-anak mereka.7 Tabulasi Silang Antara Tingkat Pendidikan dengan Pengetahuan Responden tentang imunisasi di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Pengetahuan Tingkat No.

8 Distribusi Sikap Responden tentang Imunisasi Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 No 1 2 3 Sikap Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi 11 10 9 30 Presentase ( % ) 37 33 30 100 Diagram 4.6 Distribusi Sikap Responden tentang Imunisasi Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Keterangan Tabel dan Diagram Dari tabel dan diagram diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden dalam penelitian ini . didapatkan responden terbanyak adalah yang bersikap baik yaitu 11 ibu ( 37 % ) dan paling sedikit yang bersikap kurang baik 9 ibu (30 %) IMUNISASI Page 42 .Tabel 4.

didapatkan responden terbanyak adalah yang menjawab sudah yaitu 23 ibu (77 %) dan palin sedikit yang tidak menjawab. IMUNISASI Page 43 . Sudah B. Tidak menjawab Jumlah Frekuensi 23 7 0 30 Persentase ( % ) 77 23 0 100 Diagram 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Responden Mengenai Apakah Sudah Membawa Anak ke Posyandu Untuk Imunisasi Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Keterangan Tabel dan Diagram Dari tabel dan diagram diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden dalam penelitian ini . Belum C. 1. 2.Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Tindakan Responden Mengenai Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 No. 3 Jawaban A.

didapatkan responden terbanyak adalah yang tindakan baik yaitu 12 ibu ( 40 % ) dan paling sedikit yang tindakan kurang baik yaitu 8 ibu (27 %) IMUNISASI Page 44 .Tabel 4.8 Distribusi Tindakan Responden tentang Imunisasi Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Keterangan Tabel dan Diagram Dari tabel dan diagram diatas menunjukkan bahwa dari 30 responden dalam penelitian ini .10 Distribusi Tindakan Responden tentang Imunisasi Di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 No 1 2 3 Tindakan Baik Sedang Kurang Jumlah Frekuensi 12 10 8 30 Presentase ( % ) 40 33 27 100 Diagram 4.

11 Tabulasi Silang Antara Tingkat Pendidikan Responden tentang imunisasi dan Tindakan Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Kelengkapan Imunisasi Dasar Tingkat No. D3)Sarjana (S1-S3) Jumlah 23 77 7 23 0 0 30 100 2 7 2 6 6 20 2 7 8 27 1 3 4 13 5 17 % N % N % N % Sudah Belum Tidak jawab Total 3. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pendidikan dengan kelengkapan imunisasi pada anak. 14 47 1 3 - - 15 50 Keterangan : Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa responden yang telah memberikan Imunisasi dasar lengkap terbanyak adalah pada tingkat pendidikan SMA/Sederajat. sehingga ibu-ibu tersebut dapat menglengkapi imunisasi dasar pada anak mereka.Tabel 4. SMP/ SLTP SMA/ SLTA Akademi (D14. Maka dari itu informasi tentang Imunisasi perlu ditingkatkan lagi pada ibu-ibu yang pendidikannya lebih rendah. SD Sekolah Dasar2. Pendidikan N Tidak Tamat 1. IMUNISASI Page 45 .

sehingga ibu-ibu tersebut dapat menglengkapi imunisasi dasar pada anak mereka.12Tabulasi Silang Antara Tingkat Pengetahuan Responden tentang imunisasi dan Tindakan Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak di Kelurahan Paya Roba Tahun 2013 Kelengkapan Imunisasi Dasar Tingkat No. Maka dari itu informasi tentang Imunisasi perlu ditingkatkan lagi pada ibu-ibu yang pengetahuan kurang . Pengetahuan N 1.Tabel 4. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kelengkapan imunisasi pada anak. IMUNISASI Page 46 . 3. Baik Sedang Kurang Jumlah 17 5 1 23 77 1 6 7 23 % N % N 0 % 0 N 17 6 7 30 % 57 20 23 100 Sudah Belum Tidak jawab Total Keterangan : Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa responden yang telah memberikan Imunisasi dasar lengkap terbanyak adalah yang berpengetahuan baik. 2.

6. dan tindakan tentang Imunisasi. Dari kuisioner Tindakan Ibu-ibu tentang ISPA yang kategori KURANG adalah 12 Orang dari 30 responden. 3. Pengetahuan Dari kuisioner didapatkan bahwa Ibu ibu sudah mengetahui apa itu Imunisasi dan semakin tinggi pendidikan semakin bertambah pengetahuan tentang imunisasi IMUNISASI Page 47 . sikap. Dari kuisioner Sikap Ibu ibu tentang Imunisasi yang kategori BAIK adalah 11 orang dari 30 Responden.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil Penelitian tentang Imunisasi di Kelurahan Paya Roba dengan memberikan kuisioner yang berisikan Pengetahuan. 2. Dari Penelitian didapatkan bahwa Pendidikan responden berpengaruh terhadap pengetahuan. SEDANG. Dari Penelitian didapatkan bahwa Pendidikan responden berpengaruh terhadap kelengkapan Imunisasi dasar pada anak. 4. Dari Penelitian didapatkan bahwa Pengetahuan responden berpengaruh terhadap kelengkapan Imunisasi dasar pada anak. Sikap. Dari kuisioner Pengetahuan ibu ibu tentang Imunisasi yang kategori BAIK adalah 17 orang dari 30 Responden. sebagai berikut: 1. 5. dan Tindakan kepada Ibu-ibu yang memiiki balita usia 0 – 24 bulan sebanyak 30 Responden. Dan mendapatkan persentase BAIK. KURANG.

IMUNISASI Page 48 . Sikap Diperlukan sikap yang perduli dan tanggap dalam melengkapi imunisasi dasar Tindakan Mengajak Ibu-ibu untuk membawa anaknya imunisasi keposyandu atau puskesmas terdekat. Tindakan Dari kuisioner didapatkan bahwa Ibu-ibu cukup Baik dalam tindakan melengkapi imunisasi dasar pada anak terutama yang berpendidikan tinggi dan berpengetahuan baik SARAN Pengetahuan Ibu-ibu sudah mengetahui tentang Imunisasi tetapi belum mengetahui secara jelas apa itu Imunisasi maka perlu diadakannya penyuluhan dan pemberian informasi tentang Imunisasi serta meningkatkan pemahaman bagi masyarakat tentang pentingnya imunisasi pada anak.Sikap Dari kuisioner didapatkan bahwa ibu ibu dengan pendidikan terakhir tingkat SMA dan Perguruan Tinggi memiliki sikap BAIK tentang imunisasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->