P. 1
Peranan Konservasi Tanah Dan Air Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Peranan Konservasi Tanah Dan Air Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

|Views: 642|Likes:
Published by Safar Civil
hidrologi
hidrologi

More info:

Published by: Safar Civil on Jun 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2015

pdf

text

original

Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 – 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity),

kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat. Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifatsifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluransaluran air. Disamping itu dengan berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.

Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan (Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 – 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 – 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga

memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

Gambar 1. Jumlah. rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat .

.

Gambar 2. perkebunan. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya. antara lain. Perbandingan antara aliran maksimum. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur. perluasan kota / daerah permukiman. pembangunan kanal. dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik. 2. perikanan. rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup. kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. 3. 1979). seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas. Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. . Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi. industri. Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu. sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem. teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS. pertambangan. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. kegiatan pengerukan. kehutanan serta kegiatan lainnya. pertanian. DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. maka dalam pembangunannya pun. kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. tengah dan hilir. pengembangan tenaga listrik. maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana. transportasi / navigasi.

industri dan air minum. Pengembangan pertanian di daerah berlereng.Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional. sedimentasi dan lainnya. akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. Setelah perencanaan secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan dapat dilakukan oleh setiap stakeholders sesuai bidang. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam. erosi. No. diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu. Di dalam perencanaan yang demikian. atau profesinya. pemasaran hasil. harus diperhitungkan. Gill. pertambangan. (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. industri . tanpa atau dengan benturan yang minimal. tingkat pendapatan. Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia. FAO. Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini. penyediaaan air untuk irigasi. Soil. 13 . 1979. 44. karakteristik hidrologi DAS. apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai. No. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama. maupun kemungkinan terjadinya banjir. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan. benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS. pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation. (2) pembangunan daerah atau wilayah. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. Daftar Pustaka Badrudin M. hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai. Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. 1978. potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah. R.S. sektor. Rauschkolb. kelembagaan. Direktorat Penyediaan Masalah Air. 1971. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi. FAO Soil Bull. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. Land Degradation. N. Bull.

A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. H. Cilegon.. Sinukaban. Amstrong and MG Nethery. 1998. N.A. Soil and Water Cons. Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. Lang Druck AG.L.Sihite. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System. Suwardjo dan S. Sinukaban. Arsyad. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. USA. West Java. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off. S. Proceed of International Seminar on “Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production” 3 – 5 Dec 2004. N. Aust.” Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting). Sinukaban. and Sinukaban. Arsyad. and J. dan P. VI no. Co:19-161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation).A. 1985. Indonesia. Dalam Carpenter R. Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Lampung. S. Arsyad. Ph.D Thesis University of Winconsin. Pawitan. Amstrong. Publ. Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71.wordpress. Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java.. Sinukaban. N. 7(3): 25-29. Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman. N. “Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Krisnalajati. (Ed).com/2008/ . J. Indonesia. N. millan. Bern Switzerland. Sinukaban. 1981. Arsyad. Swaify. Toward Sustainable Land Use. S. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies). Pawitan. J. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment. S. J. 1983. Mc. “Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. H. 2004. El. 1994. Soil erosion by Water. 1998. 1994. Natural system for Development What Planners Need To Know. Madison. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. 1. Integrated Land Managementfor Sustainable Agriculture Development in Indonesia. 1983. Contour Vol. Sumber: Naik Sinukaban (2007).

Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi. Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat. kerusakan lingkungan hidup di daerah . Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan . tingginya tingkat kemiskinan di daerah. dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. Namun prinsip desentralisasi bukan hanya mengenai penyerahan wewenang pemerintahan.Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah. Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi. dan politik. Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat. Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (1966-1998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah. dan lemahnya kelembagaan di daerah. pembagian. sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas. terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan. dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi . Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. Dalam Undang-undang tersebut desentralisasi menyangkut penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di bawahnya. sosial. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas.1999). meningkatkan peran serta masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota.

dan sosial budaya. telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia. Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir. Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA. dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. . dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). 1999). sumberdaya manusia (human capital). sumberdaya buatan manusia (man made capital). Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial. Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. ekonomis. Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat. dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah. Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi. longsor. Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah. dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo. tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis. Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA. Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu. (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien. (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata.secara keseluruhan. (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan. efektif. terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. yaitu sumberdaya alam (natural capital). erosi. sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besarbesaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata. sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah.

Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggungpunggung bukit/gunung. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup. Sungai. dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi. Rusaknya hutan di . dan temporal (waktu). Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik. Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya. fungsional. dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang). sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. pada umumnya berada di tengah DAS. Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi. sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi. abiotik. Selanjutnya OTDA dijadikan alat untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan. sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom.Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun. Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem.

Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS 4. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem . efisien. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. erosi. fleksibel. Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional. sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. sedimentasi. Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan. Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air. dan lahan. Membangun sistem legislasi yang kuat 3. terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial. dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. menyeluruh. dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya.bagian hulu akan menimbulkan banjir.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir. hutan. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat. maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar. Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus.

pemberian sanksi. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah. hutan dan lanskap alam. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2. Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. seperti lahan. UU No.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. penyelesaian konflik dan . Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang. ekologis. pengusahaan. Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. pemeliharaan. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota. udara. penguasaan.pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi. keputusan presiden. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. mineral. air. 22/1999). Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi. dan sosial budaya. perlindungan. rehabilitasi.Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan.

Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks. bahkan Thailand. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. 2000). Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya. dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia. Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat. institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo. apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS. Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. et. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. adat istiadat. et. sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS. . Oleh karena itu. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo.sebagainya. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS.al. 1987 dalam Kartodihardjo. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. hukum. aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya. 2000). batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. rumit. hak-hak istimewa yang telah diberikan. dan abstrak yang mencakup ideologi. Jepang. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan. 2000). Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. al.

Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom. seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program. maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi. sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. perencana pengelolaan DAS. Kemampuan petani. Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya. ketidakadilan (inequitable). Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu. Prinsip one river. . Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan markup. pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible). Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS. Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. ketidaksinambungan pembinaan program.Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya. ketidakefisienan (inefficient). sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir. serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. longsor.

Nuryantono. 1999. dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep. Undang-undang Otonomi Daerah UU No. R. K3SB Bogor. A. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS. 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Paradox. Pasaribu. Sudadi. 1999 tentang Pemerintah Daerah. U. 2000. H. K. 1999. Stockmayer. PENDAHULUAN . UU No 25 Thn. (b) membangun sistem legislasi yang kuat. Murtilaksono. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. 1999. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.S. tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN. H.Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1 SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI Tejowulan. serta Upaya Peningkatan Kinerja. dan Masalah. Kartodihardjo. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Bogor. dan N. UU No 28 Thn 1999. Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL). 18 Februari 1999.S. 22. DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. UU Otonomi Daerah. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. H.

air tanah.1974). Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. hutan. dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. ekonomi. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin. ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring). (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS. air tanah. tergantung dari gatranya yang diperhatikan. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan. Atas dasar kehadirannya. Memang ditinjau secara local atau setempat. Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable). DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. hutan dan ikan. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik. berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard. sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap. Akan tetapi secara keseluruhan. teknik. (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan.Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya. Misalnya. seperti udara. maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. Selain itu. atau river basin. . (3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. Dalam pengelolaannya. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. drainage area. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah. Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia. dan ikan dapat menyusut atau habis.

Sebagai contoh. geologi. panas dan cebakan mineral. DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat. Sebagai contoh. bentuk (form). yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). Arti “terpadu” di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. relief.1978). penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran. seperti minyak bumi. hutan kemasyarakatan (HKm). 1979. atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. kelakuan dan kegunaan masing-masing. 1979). manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah. kebun. Namun karena berlainan kepentingan. atau disebut pula dengan “struktur fungsi“ (fungtional structure). dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. suatu sistem dipisahkan “batas system“ dari sistem yang lain. relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari. ladang. Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. Spedding. (2) Takterbarukan (non-renewable). Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate). Sebagai contoh. Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan. sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti. “Lingkungan” ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external). Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi . Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif. DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size). yang berdaya (affect) batas hidup. bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated). tanah. Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo. ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability). hewan (fauna). atau sumberdaya mineral. Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya. Yang dinamakan “sistem” ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir-anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom. air (air permukaan dan air tanah). dan sebagainya. ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang. Disamping memiliki ciri penting berupa “organisasi dalam“ (internal organization).mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja. DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS. DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). tetumbuhan (flora).

yang akhirnya hanya akan saling merugikan. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir. DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1.. Tanpa perencanaan tataguna yang memadai. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk.penggunaan DAS. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau). Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. bentuk. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. 1964). dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut. Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS. DAS penampung air. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi. mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir. yaitu atmosfir dan laut. menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan. karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat. ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas. DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. . atau lewat peranan DAS. Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama. penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan. Gatra-gatra ruang. Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi.

Dasar pengelolaan kedua. Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS.proses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan.Setiap DAS cenderung memperluas diri. baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu. Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting. Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. dibentuk oleh proses. yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir. Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir. Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions). DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS . bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system). Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS. Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik. ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya. Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer). Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions). Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS. termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala.

ini dapat sebuah atau lebih. Dalam ungkapan “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian selaras dan lestari. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim. ruang/luas. yang menjadi sumber pembuatan alternatif. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir. beberapa gatra tertentu manusia. yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables). 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak. ketercapaian dan keterlindasan. Dalam rencana pengelolaannya. seperti iklim. yaitu sumberdaya tanah dan air. Khusus mengenai pengelolaan DAS.Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting. relief dan manusia. yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah “watershed” digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah. DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. sumberdaya mineral. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. vegetasi. diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. air. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives). diperlukan tiga unsur pengarah. Yang ketiga ialah kendala (constraint). (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. sebagai usaha mengendalikan banjir. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora. DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan). Adapun anasir yang lain. (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. . tanah. akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum. dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. vegetasi. sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah “commanded area”. relief. Yang dinamakan “commended area” ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan “commended area”. kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi. bentuk. Untuk mengarahkan pengelolaan. Ungkapan “manfaat lengkap” dan “kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu” mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal.

Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3. atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment).Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora. Dengan kata lain. dalam pengelolaan DAS hilir. termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan. (6) Penggunaan lahan terkini. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan. 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan. . jangka waktu dan agihan curah hujan. Sementara itu. dan keadaan tanah. dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. jeluk (depth) pukul rata air tanah. pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. atau kesempatan yang terbuka. (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan. (4) Intensitas. (6) Penggunaan lahan kini. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Dari bagian ini tampak.(5) Rupa dan vegetasi penutup. termasuk fisiografi dan hidrologi tanah. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan. jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup. dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman. alkali. (3) Timbulan makro. (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah. gambut tebal. dan mineral mentah. sulfat masam.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman. daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi. (4) Intensitas. ketinggian muka lahan pukul rata.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS. karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh. atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem. (4) Meliorasi tanah.

tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. . Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS. karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). keterlindasan (trafficability). Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk. Macam data yang sekurangkurangnya harus dikumpulkan ialah: 1. bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth.DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah. dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan. 1973). Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS. Misalnya. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). kebersihan air. dan keramah tamahan penduduk. Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. dan hanya dapat diketahui. Dalam lingkungan iklim kering. baik) atau dengan nilai tertentu (scoring). sedang. erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng. dan kemantapan struktur tanah. Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu. Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. iklim. permeabilitas tanah.

dataran interfluvial. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya. 3. 6. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. laju pertambahan penduduk. tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga. 4. 1977). Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi. baik produktivitas maupun potensialitasnya. atau kerangka pendekatan. kesimpulan atau petunjuk tentang : 1.2. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan. yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. dsb). erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan. 5. seperti lembah. 7. pembentukan delta. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal). dataran banjir. sedimentasi. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. peneplain. Keadaan iklim hayati. morfologi karst. 4. 3. termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. 8. mata pencaharian. baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya. memiliki urutan kegiatan yang jelas . menjadi satu sistem analitik. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif. Maka system analisa seperti ini disebut pula “pendekatan bertingkat dua”. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama). untuk daerah-daerah beriklim kering. dan sistemnya dinamakan “pendekatan sejajar” (ILRI. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap. Prioritas penanganan segi-segi persoalan. termasuk tataguna sumberdaya air kini. Kerapatan dan distribusi penduduk. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah. Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi. Kemampuan lahan untuk pertanian. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya. dan mobilitas penduduk. dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). hidrolika sungai. 2. tingkat kesehatan. unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah. yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. bentukan morfologi destruktif. Macam dan jumlah masukan yang diperlukan. dataran estuarin. tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. 9. Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. kemampuan usaha.

(1978). R. Untuk keperluan pengharkatan lahan. Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa “…professional from the many different disciplines will … work in concert to bring about total watershed managenent”. Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan.. maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya.B. memilih pendekatan bertahap (ILRI. Dawes. New York. London. diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah. State University. DAFTAR PUSTAKA Brinkman. (1977). Sci. & Harrison. (1970). Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS.(1979). PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. System simulation in agriculture. 1977). Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik.R. Mon. Ltd. (1979). ILRI. M. Land Recl. Wageningen . bermanfaat. asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. Proc.J. dan Smith.S.J. Wageningen. Symp. Influence of soil on water yield. Inter. FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI). Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi. Springer-Verlag. 17. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. Land evaluation for rural purpose. No. pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu. Dent. Improv. Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. Oleh karena itu. dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya. Blackie. J. J. A. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi. terencana. Concept of applied ecology. dan berkelanjutan. ILRI Publ. Framework for land evaluation.tanpa langkah-langkah yang saling berhimpitan. karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. S. Aspects Watershed Management. Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya.H. De Santo. Appl. R. Interdisc. Publ.

Design and management of rural ecosystems. Nelson. G. Logman. A. R. Handbook of soil evaluation. A. D. Interdisc. Freeman and Co. Assoc. and society. M. G.B. State Univ. 1979. London. Fak. Mon.R. H. 1977. Soil erosion. Ltd. Soc. Proc. ___________. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. T.. 1973. Ch. Hydrology. D. Ascept Watershed Man. .Leopold. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. 8. h.W. Wasington. R. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian.L. C. Editor. & Arora. 1973. _______________ 1980. P. Kon. Inst. Soil suvey interpretation and iats use. 1967. Fluvial processes in geomorphology. National Science Foundation. Inc. Oldeman. Ground Water. R.P. Sukodarmodjo. Dalam: Meinzer.. 1974. E. Michigan State Univ. Technology of agricultural land development and water management. resources. O. 303. 1970. H. P. 50th Symp. & Drajad. UGM. Dan Miller. J. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. Spedding. G. Bull. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co. Tanah. Amer. C. 1975. Menard. San Francisco. Tawangmangu. 1979. Introduction. Morgan. O. India Publ.. San Fransisco. XA. New Delhi. Belum diterbitkan. Students Store. C. No. & Nelson. ASRA Information Resosurces. A. Storie. W. Rqy. H. Steele. L. Wolman. (1964). I. S. D. Dover Publ. WH. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan. R. Yogyakarta. Satya pakashan. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru. Yogyakarta. 1-2. S. Pert. 1942. Trop. Proc. D. C. Univ. 25-34. H. London. London. ___________. MG. Inst. W. Soil. Sci. Dep. Rancangan pertama. E. Bogor. / R. Agr. Martin. 1980.E. New York. 1964. Tropen. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. 1979. Meinzer. M. Soepraptohardjo. Publ. 1976. Appl. J. & Drajad. Calif. M. New York. editors.. An introduction to agricultural systems. K. Symp. Amsterdam. K. Seminar Penghijauan P. & Robinson. R. Berkeley. Tech. Notohadiprawiro. Fao Soil Bull.E. Civ. Freeman and Co. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. Ltd. Geology. I. 1980.

67e Jaarverslag Kon. bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis. kondisi. Solo Email: bp2tp@indo. Priyono dan S. dan Upaya Penerapannya C. T. 3. Tropen Amsterdam. tetapi aplikasinya belum. Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama. dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya. J. 2. tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. een samenspel van land. Tanggapan : 1. Agroforestry. Inst. 2. IBB. permasalahan pengelolaan sumber daya alam. Permasalahan. Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan. Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja. 1979. Nugroho S. Jln.Wassink. Yani – Pabelan. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. Perubahan situasi. 4.net. Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned.en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu. Andy Cahyono Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS. Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi. Memang benar.id ABSTRAK Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. Makalah ini menguraikan cakupan. DISKUSI Pertanyaan : 1. A. faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting. dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource . Untuk itu. Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam.

dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). Ditjen RRL. The current change of situation. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12. This paper discusses the coverage. Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology. Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk.000 ha (Soenarno. pengetahuan teknis. Di Indonesia. Sementara itu. dan pergeseran paradigma. permasalahan pengelolaan SDA. Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis. pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi.632 ha.517. condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies.000 ha.699. banjir. sedimen. Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006). Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management PENDAHULUAN Persoalan sedimentasi. dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23. 1999). the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations. In the watershed management.714. dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). dan kekeringan. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya. mengumpulkan air hujan. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9. 2000. kondisi. penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor. .degradation in the watershed. pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS. problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it. CAKUPAN PENGELOLAAN DAS Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima. permasalahan. Makalah ini menguraikan cakupan. Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat. meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan. dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan.

14 juta m3. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001). Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun. Sementara itu. Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya. Oleh karena itu. laju kehilangan hutan semakin meningkat. Namun demikian. kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39. pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS. Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi.75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun. Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis. Sumber daya hutan Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia. pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan. sehingga masih ada kekurangan 34. 2003).Oleh karena itu. dan air sebagai output. dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. DAS sebagai pemroses. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Sementara itu. tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input. hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk). Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan.7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an. Pada tahun 1998. kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18.04 . kemudian meningkat menjadi sekitar 1. 57.7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan.18 juta m3 pada tahun 2003. maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA.

3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77. tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997). Untuk itu. Sumber daya air Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum.. konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS. dan Cahyono (2001). Mencermati hal tersebut. Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al. The World Bank (1990) memperkirakan 40.8 milyar m3/tahun (Kananto et al. diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. Di Pulau Jawa. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian akan mengancam lahan hutan. Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL). Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat. sementara pada musim penghujan banjir terjadi di mana-mana. Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan. Selain itu. 1999). terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan. jumlah air tersedia mencapai 142. pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan.juta m3 (Goldammer et al. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian. selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung. The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. Dalam satuan DAS. laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. 1998).. .000 ha/tahun lahan pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia. Sementara itu. maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. 2000). Mulyana (1998). Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut. Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya. Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan. Ditinjau dari aspek kualitas. Sumber daya lahan Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian. Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas..

padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi. Akibatnya. maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. kekeringan. Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity. banjir. 2002). pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir. . deforestrasi. 10% spesies mamalia. 2001). Hasil penelitian Abbas (1997). maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS. daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari. maka kehati-hatian sangat diperlukan. Dalam kaitan inilah. yaitu: a. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi. TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain. dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia. Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. 2000). dan c. berinteraksi. konversi lahan. hortikultura. Mulyana (1998). Degradasi lahan. Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat.Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS. meliputi 11% spesies tumbuhan dunia. Diversifikasi flora fauna Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. dan bersinergi. Misal. sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. kentang di Dieng Wonosobo. tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir. dan pemanfaatan lahan secara intensif. Begitu pula dengan tanaman palawija. Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi. dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya. Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem. b. Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. tembakau. penebangan pohon. berintegrasi. Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. atau Pasang di Sulawesi Selatan. dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. terjadi penggundulan hutan. Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali. Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait. dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna. kebakaran hutan. meskipun menyebabkan erosi (Donie.

kehilangan unsur hara. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian. Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa. sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi. maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. dan sebagainya. dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian. hasil hutan. dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1). Jadi. Petani dengan pendapatan rendah. modal. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. tenaga kerja. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi. maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS. Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. peternakan. petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut. Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi. air dan sebagainya. Dari sisi ekonomi. tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002). Untuk itu. Oleh karena itu. Pertanian merupakan suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan. tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. sedimentasi. longsor. rekreasi. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya. .Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output.

Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah. . Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air. sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air. 2000).Gambar 1. tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad. Sistem Pengelolaan DAS secara umum Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah.

Institut Pertanian Bogor. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi. dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS. pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. PENUTUP Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air. Penerbit IPB Press. mengingat adanya perubahan tatanan politik. kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi. 2000. Tesis Magister Sains. Bogor. apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati. Program Pascasarjana. Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. Konservasi Tanah dan Air. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah. S. Arsjad. tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. Arifin. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. B. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi. kelembagaan. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. . 2001. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. DAFTAR PUSTAKA Abbas. Kontroversi Program Konservasi Lahan. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait. Yang penting dalam hal ini adalah. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama. S. tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan. 1996. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. Bogor. Jakarta. Cahyono.A. 1997. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. semua pihak perlu mengimplementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif.Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi. S. kebijakan. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS.

U. Info DAS 13: 14-26. Sumber: .A. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). Forest Watch Indonesia. Hatmoko. 9 September 2002. Jakarta. S.N. A. Samarinda. Wonosobo. 2002. Schindelle. Prilaku bertani masyarakat Dieng. J. Indonesia: Sustainable Development of Forest. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta. Bogor. 2000. Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. Departemen Kehutanan. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Disertasi Doktor. Abberger. A.N. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. A. hlm. 2002. The World Bank. Hoffmann. 2000. W. 2-3 September 1999. Program Pascasarjana. Priyono. Donie. 1998.A. 19 hlm. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan.S. Surakarta.Cahyono. kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. and H. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka. Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. 2001. Bogor. Forest Watch Indonesia. Priyono. Alami 8(1):1-5. C. hlm. C. hlm. Jakarta. hlm. 1999. Bogor. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. Kurnia. A World Bank Country Report. Goldammer. Donie. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia. Soenarno. 2000. S. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. W. B.S dan S. 20-23 September 1999. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Washington. Mulyana. Jakarta. 2003. dan Widayati. Cahyono. 1998. Potret Kehutanan Indonesia. 15-39.. Mastur dan S. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000. 1999. Seibert.G. pp. 1990. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. Kananto. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. Land and Water. 23 September 1998. Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. 21 November 2000. Daerah Banjir di Indonesia Bertambah.

dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. Yani No. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor. The general objectives of the projects were to increase land productivity. especially cropping pattern. Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects. and farmers’ income. Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh.SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. and decrease erosion rate. serta dapat menurunkan laju erosi. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. 22(4). In early stage. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. pengelolaan daerah aliran sungai. budi daya tanaman pakan dan usaha ternak. The level of technology adoption was partially high enough. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. Jalan A. fodder crop culture. the government needs to improve quality of human resources and through the provision of . and vegetative land conservation. Kata kunci: Lahan kering. para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and farmers’ income. animal husbandry. varietas unggul. improved variety. 70. Pada tahap awal. khususnya teknologi pola tanam. and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif.

upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo. watershed management. upaya tersebut belum berhasil. Sukmana et al. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7.30%) dalam periode yang sama. Keywords: Uplands. kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000). Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. topografi curam. government needs to encourage private sector in dry land investment. serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. Pada tahun 1950. Selain itu. Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan. serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya. Proyek Wonogiri.408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6. pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim. Namun. Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah). Namun. luas lahan kritis justru makin meningkat (16.subsidy. Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6. dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990). Namun. . dan Proyek Bangun Desa.400. meningkatkan erosi dan sedimentasi. mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya.936. Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan. Di dalam kawasan hutan. perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%). produktivitas umumnya rendah. At the development stage.70% selama 14 tahun. kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II. kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan. (1988) mengemukakan bahwa. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994).

dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa. sengon. dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. kacang panjang.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. mentimum. Citanduy. juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu. sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung. antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air.30–2 ha. kacang tanah. serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro. sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai. kambing peranakan etawa (PE). Tanah dan Air 1985). penghasil kayu seperti jati. dan tomat. dan kacang tunggak. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan. lahan usaha tani sempit. dan flemingia. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan. Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah. Dari 80 DAS bermasalah tersebut. pekarangan untuk tanaman tahunan. dan perbukitan. Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400. dan ayam buras. seperti DAS Citarum. pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi. Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah. Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO). 1986). serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. akasia. menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah. Di samping itu. mangga dan pisang. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara. sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah. ubi kayu. kaliandra. turi. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku. dan menghasilkan pupuk organik. lamtoro merah. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0. padi gogo. kacang hijau. bawang merah. sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar. Selain itu.tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat. dan mahoni. Lebih lanjut Hardianto et al. Cimanuk. program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian. glirisidia. Namun. petai. Solo. petani menanam kacang gude. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan. tegalan. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa. pola tanam yang kurang baik. rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan dan limbah tanaman pangan. melinjo. Jratunseluna. dan koro pedang sebagai tanaman sela. kedelai. Hardianto et al. kambing kacang. johar. 36 DAS tergolong DAS prioritas. . dan Brantas (Sutadipradja et al. domba gibas. koro benguk.

218. Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang. 3. Prawiradiputra et al. pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13. Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis. Di samping itu. . USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal. tingkat kekritisan lahan. dan tingkat bahaya erosi. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah. Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar. potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi.731. Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis. Pada tahun 1975. Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut. Di daerah lahan kering. Departemen Kehutanan (perencanaan dan pemantauan). perkebunan. 4. jenis tanah dan iklim.2. dan Bappenas.000 ha. lereng curam. yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan). Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis. tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering.751. Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan. yaitu perbaikan teknologi. selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan.000 ha. dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis). pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985). Departemen Keuangan (pengawas keuangan). atau setara luas Pulau Jawa. tah n 1988 turun menjadi 9. maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan. kebijakan yang tepat. Berdasarkan tingkat kekritisan lahan. Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan. 8/1976). Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan. antara lain sumber terjadinya lahan kritis.970 ha. dan pola tanam kurang baik. Departemen Pertanian (bantuan teknis). sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No. lahan kritis di Indonesia mencapai 10. kondisi sosial ekonomi. Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan. dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi.

dan kegiatan pembinaan. Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan. dan asas-asas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. serta melibatkan ternak. Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani.220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan. kultur teknis. kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi. Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985). rumput pakan pada bibir dan tampingan teras. pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979).90% (Pakpahan et al. Di Jawa Tengah. juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani. Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani. kemiringan lahan. Sehubungan dengan itu. Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). menurunkan laju erosi.80% dan 76. tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan.175/Kpts/RC. maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan.Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu. Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku. saluran irigasi) di bagian hilirnya. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991). 1992). langkah-langkah. Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak. Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Tanah. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP. . Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95. ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah. dan Air 1990). Di Indonesia yang memiliki iklim basah. tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%. sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut.

serta ternak. tanaman tahunan. dan ternak. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu. atau kemiringan lahan 15−45%. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan. hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak. rumput. Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A). . sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan. Pada model B dan C. tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah. hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan). ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah. dan pola usaha tani. kedalaman tanah.C. Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B. Pada usaha tani model D. dan leguminosa pohon. kepekaan terhadap erosi. sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . rumput dan leguminosa pohon pada guludan. ditanami tanaman tahunan.Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud. sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2).D) didasarkan pada kemiringan lahan. Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan. dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani.

.

yaitu berturutturut 20. Pada dua model lainnya (A dan D). tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang.Setelah tahun ketiga. Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap. sedangkan pada model petani relatif tetap. Pemanfaatan Tanaman Tahunan . Sembiring et al.40 t/ha/tahun untuk model C.60 t/ha/ tahun untuk model A. karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing. serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik. Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10. yaitu model B sebesar 3.20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi.20 dan 11.20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988).40 t/ ha/tahun pada 1990/91. pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil. 10. dan 5. 8. erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi.50 t/ha/tahun untuk model B. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi.40 t/ha/tahun.

petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. Tanah. swasta). Ketiga. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. Pertama. Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi. subsidi. manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Namun. (1995). yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah. seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan Air 1987). Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Tanah. penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. dan 4) ketersediaan . PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama. seperti kayu. serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya). (1994) dan Current et al. 1993). Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. seperti diuraikan oleh Lutz et al. tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan Air 1988). Tanah. Berkaitan dengan itu. yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani. getah. Di beberapa daerah. kredit. Tanah. Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan. Setiap tingkat kelerengan.Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi. 2) dukungan eksternal (penyuluhan. pupuk kompos. Selanjutnya. di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas). dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan. pemasaran. tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat. Sebagai contoh. dan makanan ternak (Syam et al. dan Air 1988). Kedua. Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh. baru 2–3 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. Namun. pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. karena dalam periode tersebut. dan Air 1989). manfaat dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu sama lain.

kacang tanah. memberikan hasil cabai 4.50 t/ha di Malang (Hendarto et al. konservasi tanah. Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi. Dari keempat pola alternatif tersebut. rumput gajah.350/ha).13 t/ha di Trenggalek dan 5. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani. Pada pola III. karena petani cenderung memberikan . tanaman tahunan/hortikultura. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas. dan model D: jagung. Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah. pepaya. dan tumpang sari. pertanaman lorong. demikian juga ternak kambing. teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi. dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi. dan tanaman pangan. Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung. pisang. Ditinjau dari aspek konservasi tanah. dan harga jualnyapun cukup baik. seperti kedelai. 1991). pemberian pupuk kandang 10−15 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea. pepaya. jati. hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al. cabai. rumput gajah.43−5. rumput setaria. dan terendah pada pola II (Rp 120. rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah. komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah.525/ha. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. 1991).478. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi. 1985). dan bawang merah. yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan. pisang. ubi kayu.850/ ha dan Rp 873. model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak. pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. pisang. model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak. 200 kg TSP. sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. rumput setaria. Untuk pola II. sentro sema. adpokat. lamtoro. dan 200 kg KCl/ha. adpokat. 1992 dan Sembiring et al. dan kacang tanah. Tanaman tahunan seperti kelapa. Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur). kedelai. adpokat.81−6.000/ha). pisang. Hardianto et al. Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama. masing-masing Rp 877.teknologi. Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras. dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan. pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1. karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. Sehubungan dengan hal tersebut.

rata-rata 44%. Di samping itu.90%. 2) adanya keterkaitan peneliti. masing-masing 105. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani. Keterkaitan antara peneliti. sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai. tetapi selanjutnya menurun. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. penyuluh dan kelompok tani. penyuluh.pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. penyuluh.30% dan 12. dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang. dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing. C. dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 4−5 ekor. dan kelompok tani sangat penting.20%. kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya. dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang. 3) tingkat partisipasi petani. dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang.60% dan model C 28. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek.60%. sedangkan pada petani model B hanya 35. Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan. Selain itu. aparat desa. khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani.50% dan 102. petani model B. adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani . dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama. Abdurachman et al. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah. 1992). Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D. perkreditan. dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al. 4) sistem pendukung/ pelayanan. Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang. Selain dukungan dari atas. tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56. peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting. Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan. Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani serta adanya kerja sama antara peneliti.

seperti teknologi pembuatan teras. kedelai. gaplek. atau melalui tengkulak yang datang ke desa. yaitu curah hujan. Di lahan kering DAS. tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. dan jagung 0. dan desakan kebutuhan petani. 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan. pembuatan saluran pembuangan air (SPA). petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. karena keterbatasan kemampuan. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal. curah hujan. tetapi juga pada petani nonkooperator. kondisi tanah (kemiringan. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif. petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah. (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator. masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. kacang panjang dan cabai. adpokat. Selanjutnya Syam et al. dan kemampuan petani (biaya. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. seperti jagung. petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya. dan jeruk. sifat tanah). waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia).30 ton pipilan kering. Akibatnya . perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. Dalam memasarkan hasil kelapa. Rachman et al. kacang hijau. (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras. pengetahuan. aspek teknis. dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung. 1989). Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan. Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil. dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. pola tanam. melinjo. dan keinginan petani. Di samping itu. penanaman tanaman penguat teras. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani. Namun. yaitu aspek pemasaran. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek. Rachman et al. KEPAS (1985) mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. kacang tanah. Aspek teknis Sembiring et al. Untuk memasarkan hasil tanaman semusim. dan aspek sosial ekonomi. ketebalan solum. pasar kecamatan.menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada.

terutama pada kelompok usia 35−44 tahun (Rahmanto et al. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis). pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan. keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif. 1989). (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol). Di masa mendatang. Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa. Produk tanaman leguminosa tersebut. Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani. seperti tampingan teras runtuh. Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan.53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%. air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air.36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong. Pada tanah bersolum dangkal. Aspek sosial ekonomi Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS. serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau.80 t biji/ha dan 0. Gude menghasilkan 0. Begitu juga Suwardjo et al. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah. Koro benguk menghasilkan 0. Modal juga merupakan kendala pengembangan. dan komak (Dilichos lablab). Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas. (1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik. gude (Cajanus cajan). sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. serta komak menghasilkan 1. koro benguk (Mucuna pruriens). selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. Di samping itu. 1989). serta tanah yang bersolum dangkal.04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. Koro pedang dapat berproduksi 1.51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah. atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe. sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar. . bidang teras bergeser.bangunan teras sering rusak. dan tanaman penguat teras lepas.

tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap masih rendah yang antara lain disebabkan oleh:     Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas.Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). Setelah panen selesai. Menurut Kristianto (1985). Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan. dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas. sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat. sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial. Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak. dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol. Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. materi kurang seragam. lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. Namun. misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. serta besarnya ketergantungan pada alam. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem. petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. Di samping itu. dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah. misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu. Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan pengetahuan. 1993). Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan. Namun. . yaitu 5−6 bulan dalam setahun. 1991). karena petak percobaan tersebar). varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal. data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan. Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah. tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al.

Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat. . petani dan pihak terkait lainnya. Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah. program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya. Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat.50% merupakan superprioritas. Pada tahap perbaikan teknologi. karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar. Pada tahap awal. selain meningkatkan produksi. penyuluh dan petani. peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi. Di samping itu. pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal. kerja sama peneliti. yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi. lembaga pelayanan. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas. 2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. dan partisipasi petani. partisipasi dan aspirasi petani. penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi.Sehubungan dengan hal itu. kebutuhan. serta sarana/prasarana perhubungan. tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. Di DAS Brantas bagian hulu. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh.

. Tanah dan Air. Statistik Indonesia 1980/81. U. A. Biro Pusat Statistik. 2000. strategi dan program penelitian pengembangan. Pengembangan teknologi konservasi tanah pascaNWMCP. Bogor. 1993. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. 1995. Scherr. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. Lutz. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB.. 25−38. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Suwardjo. Hendarto. Jakarta. Djumali. hlm. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.S. E. D.M. Biro Pusat Statistik. Nurida.. Jakarta. Badan Litbang Pertanian. 1992. hlm. Bagyo. 1985. dan A. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda.M. Toha. 235−248. dan N. Adnyana. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Jakarta. The cost and benefits of agro-forestry to farmers. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna . D.J. 125 hlm. Kusnadi. Agus. Jakarta. Departemen Pertanian. Program pengelolaan DAS di Indonesia. Lubis. Hardianto. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. I. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. A. 15 hlm. Nurida. 65 hlm. hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. Fagi. hlm 1−17. M. 1994. Manwan. Ismail. Tanah dan Air. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. 1993. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. hlm 1−21.L. 1981.DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. R. Biro Pusat Statistik. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 1987. Masbula. 1−14.O. A. T. Abdurachman. Biro Pusat Statistik. E. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. The World Bank Research Observer 10(2): 151−180. dan I. Statistik Indonesia 1994. T. dan F. Jilid I. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. DHV Consultants. hlm. Bogor.. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. 1991. dan N. Prosedur pelaksanaan. Bogor. and S. 1990. 131 hlm. Current. dan H. 175/Kpts/RC. 99−120. Bogor. Jakarta. Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas..G. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. 1988. Hendarto. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.L.

The World Bank Research Observer 9(2): 273−295. Badan Litbang Pertanian. dan Air. Badan Litbang Pertanian. IMF & World Bank. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. Bogor. BPFE. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian.5: 98 hlm. Badan Litbang Pertanian. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. 1991. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.S. Kristianto. Purwoto.P. Badan Litbang Pertanian. Sukmana. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS. Jakarta. 1985. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian). A. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air. Tanah. Jakarta. Prawiradiputra. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. p. Tanah. Laporan Tahunan 1987/88. 15−32. The cost and benefits of soil conservation. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. 75 hlm. Tanah dan Air. 85 hlm. Reiche. Tanah. 1994. Monograph Series No. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. S. 1985. Jakarta. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/87–1990/91. Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. 25−38. Jakarta. Tanah. 1992. hlm.. Badan Litbang Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat.. Pakpahan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1990. Syam. 89 hlm. and C. 1989.dan Brantas. Syafa’at. Jakarta. B. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. M. hlm. 1987. 1995. Tanah. H. Badan Litbang Pertanian. Finance and Development. 83 hlm. dan Air. 69 hlm. Jakarta. A. R. S. . Tanah dan Air. KEPAS. Tanah dan Air. Pagiola. 72 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Napitupulu. 11−19. Hardono. Ginting. dan G. A. Laporan Tahunan 1988/89. 185−194. dan Air. hlm. N. Nelson. Laporan Tahunan 1986/87. Saliem. 1979. Yogyakarta. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai. 51 hlm. dan Air. Lutz. K. E.N. dan A. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Managing Drylands. dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1988.. 1985. The Farmer’s Viewpoint. Jakarta.R.

Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo. Tanah dan Air. C. R. M. B. dan A. Proyek Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. 77−90. Tanah dan Air. dan H. A. 11−18. Jakarta. Kartono. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Amir. 1989. Brawidjaja University Research Center. Prasetyo. M. 1979. Malang. Haryati. A. H. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Jakarta. H. dan H. 1988. and I. Tanah dan Air. hlm.. dan A. 24−28. P. A. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan U. Sofijah. 1991. 1991. Badan Litbang Pertanian. S. Badan Litbang Pertanian. Malang. Badan Litbang Pertanian. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Risalah Lokakarya Penelitian . Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem.. 1985. A.. Sembiring. Watung. 18−29. U. Sembiring. Farid. Mustadjab. Badan Litbang Pertanian. Bogor. hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Suwardjo. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat. Jakarta. G. M.. hlm. hlm. dan Suwardjo. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Rahmanto. dan S. Sukmana. Bogor. Soemarno. Suwardjo. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. 1989. S. 1989. Sembiring. hlm. 14 hlm. suatu tinjauan sosiologi. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.L. B. Pusat Pengembangan Agribisnis. Suwardjo. Kusnadi. Farid. A. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. A. sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga. Tanah dan Air. Thamrin.Pusat Pengembangan Agribisnis. H. 1994. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. Tanah dan Air. hlm 21−31. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. G. 1991. 45 hlm. Syam. Jakarta. 18−24. Sukmana. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR). Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. Kartono. Rachman. Setiani. hlm. Syam. Rachman. Jakarta.. Jakarta. Badan Litbang Pertanian. Semaoen. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu.. Sukmana. Ispandi. Pengaruh teras. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS.. 257−266.

217−224. teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi. Perbandingan teras bangku. 185 hlm. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu. Al Sri Bagyo. dan A. hlm. S.O. Blitar. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. A. Chang Mai. N. dan M. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi. . 47−65. Thailand. 1988. IPB. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Sutadipradja. Sinukaban. Soediman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. R. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. A. 1981. Satjapradja. 199−222.N. Hardianto. Sukmana. Suwardjo. Syam. Watershed management approaches in Indonesia. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. No. 1993. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region. Adnyana. 1984. Buku-I. Tulungagung. Barus. hlm. Tim Survei Tanah DAS Brantas. Kartono. Bogor. hlm. 27−29 Februari 1984. Cisarua. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Bogor. 85 hlm. A. Bogor. and Hadipurnomo. Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Tanah dan Air. Kabupaten Malang. hlm. Syam. Badan Litbang Pertanian. dan Trenggalek. Disertasi Sekolah Pascasarjana.31/PPT/1988. Bogor. Propinsi Jawa Timur. Nurida 1989. H. Ginting. 21−30 November 1984. Kusnadi. Ispandi. 15−35. O. E. dan N. Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat Penelitian Tanah. 68−82. 1986. hlm. Jakarta. G... Suwardjo. Bogor.Sistem Usaha Tani. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas.. U. A.L.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->