Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 – 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity),

kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat. Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifatsifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluransaluran air. Disamping itu dengan berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.

Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan (Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 – 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 – 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga

memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

Jumlah. rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat .Gambar 1.

.

Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. pertambangan. tengah dan hilir. transportasi / navigasi. maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik. Perbandingan antara aliran maksimum. antara lain. Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu. 2. . DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas. seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. pembangunan kanal. maka dalam pembangunannya pun. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. perkebunan. teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam. Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya. Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS. 3. sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. pengembangan tenaga listrik. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup. kegiatan pengerukan. 1979). Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan. perluasan kota / daerah permukiman. kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem. pertanian. industri. kehutanan serta kegiatan lainnya. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. perikanan. Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi.Gambar 2. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur.

tanpa atau dengan benturan yang minimal. Daftar Pustaka Badrudin M.Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. maupun kemungkinan terjadinya banjir. 1978. hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai. apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi. R. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah. Pengembangan pertanian di daerah berlereng. atau profesinya. pertambangan. yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional. Gill. penyediaaan air untuk irigasi. No. N. potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan. pemasaran hasil. sedimentasi dan lainnya. kelembagaan. karakteristik hidrologi DAS. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan. 1979. FAO Soil Bull. berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah. pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. sektor. Soil. Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini. No. FAO. diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu. Setelah perencanaan secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan dapat dilakukan oleh setiap stakeholders sesuai bidang. (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. tingkat pendapatan. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam. Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. erosi. 13 . benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS. Direktorat Penyediaan Masalah Air. (2) pembangunan daerah atau wilayah. Bull.S. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. 44. akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama. Rauschkolb. Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia. akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. 1971. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. industri dan air minum. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. Di dalam perencanaan yang demikian. Land Degradation. harus diperhitungkan. industri .

Sinukaban. Arsyad. and Sinukaban. Swaify. VI no. 1998. Ph. Proceed of International Seminar on “Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production” 3 – 5 Dec 2004. Soil and Water Cons. Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java. Arsyad. Bern Switzerland.com/2008/ . Pawitan. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment.A. El. 1994. N. N. Soil erosion by Water. Arsyad. A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. “Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. S. Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. Amstrong and MG Nethery. and J. Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Lampung. Krisnalajati.A.Sihite. J. Sinukaban. West Java. N. “Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air.D Thesis University of Winconsin. Integrated Land Managementfor Sustainable Agriculture Development in Indonesia. Arsyad. Pawitan. Contour Vol. Aust. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. H. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off. 1994. N. (Ed). Lang Druck AG. N. millan. Sinukaban. Indonesia. S. Natural system for Development What Planners Need To Know. 1998.. 7(3): 25-29. 1983. Mc. Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71. Publ. H. J.. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System. Co:19-161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation). S. 1981. Indonesia. 1985. Cilegon. Dalam Carpenter R. Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman. Madison. Amstrong. Suwardjo dan S. USA. Sumber: Naik Sinukaban (2007).L. 1. S. 1983. Toward Sustainable Land Use. 2004. dan P.wordpress. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies). Sinukaban. Sinukaban.” Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting). J.

Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (1966-1998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah. sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas.Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah. Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. tingginya tingkat kemiskinan di daerah.1999). Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. Namun prinsip desentralisasi bukan hanya mengenai penyerahan wewenang pemerintahan. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi. dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. meningkatkan peran serta masyarakat. Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. kerusakan lingkungan hidup di daerah . pembagian. Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi . terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan. dan politik. pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan . Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat. Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. sosial. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan. dan lemahnya kelembagaan di daerah. tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. Dalam Undang-undang tersebut desentralisasi menyangkut penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di bawahnya. Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat.

. (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien. (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata. Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi. terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat. efektif. Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir. Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. erosi. telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia. sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah.secara keseluruhan. ekonomis. Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA. (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata. Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu. sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo. sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besarbesaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial. dan sosial budaya. dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis. sumberdaya manusia (human capital). Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. sumberdaya buatan manusia (man made capital). Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. 1999). yaitu sumberdaya alam (natural capital). longsor. (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan. dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah. Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA. dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah.

Rusaknya hutan di . Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem. Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup. Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggungpunggung bukit/gunung. Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik. fungsional. sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi. sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). dan temporal (waktu). biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi. Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem. Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Selanjutnya OTDA dijadikan alat untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan. Sungai. abiotik. Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya.Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun. pada umumnya berada di tengah DAS. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang).

Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional. maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar. Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS 4. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait.bagian hulu akan menimbulkan banjir. sedimentasi. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air. sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. Membangun sistem legislasi yang kuat 3. dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan. terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya. dan lahan. Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. menyeluruh. hutan. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir. dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. fleksibel. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional. efisien. Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu. dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . erosi. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem .

Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. penyelesaian konflik dan . Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam. pemeliharaan. perlindungan. air. Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan.pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi. sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. penguasaan. Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. 22/1999). Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah. keputusan presiden. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2. udara. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA. pengusahaan. pemberian sanksi. dan sosial budaya. atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. ekologis. maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi. UU No. hutan dan lanskap alam. rehabilitasi. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing.Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan. seperti lahan. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. mineral. Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi.

Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks. apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. et. bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya. 1987 dalam Kartodihardjo. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya. institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo.al. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo. Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. 2000). dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS.sebagainya. dan abstrak yang mencakup ideologi. sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. Oleh karena itu. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. et. bahkan Thailand. hukum. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS. 2000). serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya. Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat. dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia. Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid. al. 2000). aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. Jepang. . dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya. hak-hak istimewa yang telah diberikan. rumit. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. adat istiadat.

Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. . seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir. longsor. serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. ketidakefisienan (inefficient). maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi. Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan markup. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu. Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible). perencana pengelolaan DAS. ketidakadilan (inequitable). Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik. Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program. sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya. Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom.Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. ketidaksinambungan pembinaan program. Prinsip one river. Kemampuan petani.

Undang-undang Otonomi Daerah UU No. serta Upaya Peningkatan Kinerja. Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. H. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. H. Murtilaksono. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. Sudadi. Nuryantono. H. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1 SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI Tejowulan. PENDAHULUAN . 1999 tentang Pemerintah Daerah. (b) membangun sistem legislasi yang kuat. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo.Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep. K3SB Bogor.S. dan N. 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. dan Masalah. 18 Februari 1999. 22. Pasaribu. dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL). tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN. K. 1999. UU No 25 Thn. UU Otonomi Daerah. dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). U. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. Paradox. UU No 28 Thn 1999. A. R. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. 1999. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS.S. 2000. 1999. Stockmayer. Bogor. Kartodihardjo.

ekonomi. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. Selain itu. Misalnya. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya.1974). hutan dan ikan. air tanah. Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. tergantung dari gatranya yang diperhatikan. berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard. Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam. Dalam pengelolaannya. (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS. dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. air tanah. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin. teknik. Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap. (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. Memang ditinjau secara local atau setempat. sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. (3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya.Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. Atas dasar kehadirannya. DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. atau river basin. pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan. maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). drainage area. Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable). Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. Akan tetapi secara keseluruhan. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring). tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. dan ikan dapat menyusut atau habis. . Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. seperti udara. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah. hutan. sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan. Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi.

yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate). seperti minyak bumi. hutan kemasyarakatan (HKm). Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti. tanah. manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah. Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. geologi. atau disebut pula dengan “struktur fungsi“ (fungtional structure). atau sumberdaya mineral. air (air permukaan dan air tanah). Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya. yang berdaya (affect) batas hidup. Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak.1978). 1979). DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang. panas dan cebakan mineral. ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability). Disamping memiliki ciri penting berupa “organisasi dalam“ (internal organization). Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif. relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari. DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat. 1979. kelakuan dan kegunaan masing-masing. bentuk (form). Sebagai contoh. DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. relief. Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran. “Lingkungan” ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external). DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size). Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi . bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated). Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan. Yang dinamakan “sistem” ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir-anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom. maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. ladang. Sebagai contoh. Spedding. (2) Takterbarukan (non-renewable). sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. kebun. keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya.mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. tetumbuhan (flora). atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. dan sebagainya. Sebagai contoh. perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo. dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. suatu sistem dipisahkan “batas system“ dari sistem yang lain. Namun karena berlainan kepentingan. Arti “terpadu” di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain. hewan (fauna). yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja.

Gatra-gatra ruang. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat. Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi. mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir.penggunaan DAS. . DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. yang akhirnya hanya akan saling merugikan. dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama. bentuk.. penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan. Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir. Tanpa perencanaan tataguna yang memadai. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau). yaitu atmosfir dan laut. Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS. ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas. dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut. Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. 1964). DAS penampung air. menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan. atau lewat peranan DAS. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi. DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk. Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung.

Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. dibentuk oleh proses. Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir. yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system). Dasar pengelolaan kedua.proses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan. Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS.Setiap DAS cenderung memperluas diri. Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik. bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer). Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions). Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS. Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS. maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir. Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting. ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya. termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala. DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS . Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions). baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu.

Khusus mengenai pengelolaan DAS. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. . Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan “commended area”. Yang dinamakan “commended area” ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. Untuk mengarahkan pengelolaan. diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah “watershed” digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah. yang menjadi sumber pembuatan alternatif. bentuk. tanah. sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah “commanded area”. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives). (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim. Ungkapan “manfaat lengkap” dan “kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu” mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal. 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak. Dalam ungkapan “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian selaras dan lestari. ini dapat sebuah atau lebih. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. beberapa gatra tertentu manusia.Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting. (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi. yaitu sumberdaya tanah dan air. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables). DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan). (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir. Adapun anasir yang lain. DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. relief. yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. vegetasi. dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. ketercapaian dan keterlindasan. relief dan manusia. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. seperti iklim. yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama. diperlukan tiga unsur pengarah. ruang/luas. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora. vegetasi. sumberdaya mineral. Dalam rencana pengelolaannya. sebagai usaha mengendalikan banjir. Yang ketiga ialah kendala (constraint). Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. air.

Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan. karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh. (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3. dan keadaan tanah. sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan. atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). (4) Meliorasi tanah. jangka waktu dan agihan curah hujan. termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS. . Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem. Dari bagian ini tampak. jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi. pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. alkali. dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan. daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi. (6) Penggunaan lahan terkini. Dengan kata lain. jeluk (depth) pukul rata air tanah. 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan.(5) Rupa dan vegetasi penutup. (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah. sulfat masam. (4) Intensitas. gambut tebal.Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora. Sementara itu. atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). dan mineral mentah. dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. termasuk fisiografi dan hidrologi tanah. atau kesempatan yang terbuka. (3) Timbulan makro. (6) Penggunaan lahan kini. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman. ketinggian muka lahan pukul rata. (4) Intensitas. dalam pengelolaan DAS hilir.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan.

Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS. yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). dan kemantapan struktur tanah. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah. erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng. Dalam lingkungan iklim kering. baik) atau dengan nilai tertentu (scoring). 1973). iklim. dan hanya dapat diketahui. kebersihan air. Macam data yang sekurangkurangnya harus dikumpulkan ialah: 1. Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan.DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS. Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu. Misalnya. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat. . Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. dan keramah tamahan penduduk. bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth. Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. sedang. permeabilitas tanah. keterlindasan (trafficability).

6. dan sistemnya dinamakan “pendekatan sejajar” (ILRI. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya. memiliki urutan kegiatan yang jelas . Macam dan jumlah masukan yang diperlukan. peneplain. Maka system analisa seperti ini disebut pula “pendekatan bertingkat dua”. 1977). termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. baik produktivitas maupun potensialitasnya. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan. hidrolika sungai. 2. mata pencaharian. unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah. Keadaan iklim hayati. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap. dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). kemampuan usaha. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. kesimpulan atau petunjuk tentang : 1. Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. menjadi satu sistem analitik. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. Kerapatan dan distribusi penduduk. tingkat kesehatan. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah. laju pertambahan penduduk. seperti lembah. 3. dsb). termasuk tataguna sumberdaya air kini. 4. erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. morfologi karst. maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi.2. 5. baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya. tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya. Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif. 7. untuk daerah-daerah beriklim kering. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama). dataran interfluvial. yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah. 3. tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan. Kemampuan lahan untuk pertanian. sedimentasi. bentukan morfologi destruktif. atau kerangka pendekatan. 9. yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal). dataran banjir. 4. 8. dan mobilitas penduduk. Prioritas penanganan segi-segi persoalan. pembentukan delta. dataran estuarin.

B. dan Smith. (1978). karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. ILRI. No. R. PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. 1977). R. State University.H. System simulation in agriculture. A. Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi. 17. Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini. Mon. Land evaluation for rural purpose. De Santo. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. ILRI Publ. Dent.S. Influence of soil on water yield. (1979). J. Dawes. Proc. maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya. Publ. New York. terencana. Wageningen .tanpa langkah-langkah yang saling berhimpitan. asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. (1977). Wageningen. Framework for land evaluation. M. pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu. Symp. S. Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan. Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. dan berkelanjutan.R. Concept of applied ecology. DAFTAR PUSTAKA Brinkman. Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya. (1970). Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa “…professional from the many different disciplines will … work in concert to bring about total watershed managenent”. Appl.(1979). dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya. & Harrison. Inter. diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah. Sci. Untuk keperluan pengharkatan lahan. London. Oleh karena itu.J. Springer-Verlag. Improv. Interdisc. Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS. J.J. bermanfaat. Ltd. Blackie. Aspects Watershed Management. FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI).. Land Recl. memilih pendekatan bertahap (ILRI.

Rqy. Proc. h. 303. Symp. MG. H. Bull. Kon. Amer. Students Store. Soil erosion. O. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. K. Tropen. J. Soc. Fao Soil Bull.. Ltd. R. New Delhi. London. New York. Meinzer.. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. 50th Symp. M. Belum diterbitkan.W. Fak. National Science Foundation. Oldeman.Leopold. Technology of agricultural land development and water management. Nelson. R. E. & Drajad. 1979. Tanah. Dover Publ. Introduction. 1977. Notohadiprawiro. O. Tech. 1980. Assoc. A. (1964). Ch. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. & Robinson. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. Ground Water. Appl. Agr. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru. State Univ. Sci. I. and society. Editor. A. Publ. L. Yogyakarta. editors. D.E. C. W. 1975. Logman. 1973. H. Mon. Ltd. _______________ 1980. India Publ. R. Sukodarmodjo. K. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan. Yogyakarta. 1973. XA. R. 1964. Hydrology. I. Inst. Steele. Satya pakashan. Freeman and Co. M. J. Dep. C. Storie. Inst. Soil.E. Morgan. 1970. San Francisco. 1976. Trop. Fluvial processes in geomorphology. Geology. & Drajad. 1967. Univ. E. W. A. Wolman. Calif. Dalam: Meinzer. 1-2. Tawangmangu. London. & Nelson. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. 25-34. Michigan State Univ.. 1979. San Fransisco. 1980. Martin. resources. No. Proc. 8. P. ___________. H. Rancangan pertama. Amsterdam. ___________. Handbook of soil evaluation. S. G. UGM. C. S. P. Interdisc. ASRA Information Resosurces.L. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian. London. Civ. Bogor. Berkeley. Dan Miller.. 1974. An introduction to agricultural systems. Spedding. & Arora.B. C.R. G. . Ascept Watershed Man. Pert. M. Soepraptohardjo. WH. 1942. 1979. Inc. R. Soil suvey interpretation and iats use. D. Wasington. D. Menard. Design and management of rural ecosystems. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co. / R. Seminar Penghijauan P. New York. D. H. Freeman and Co. G. T.P.

Nugroho S.Wassink. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. T. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis. Jln. dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai.net. A. permasalahan pengelolaan sumber daya alam. IBB. faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting. Andy Cahyono Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS. Permasalahan. Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan. Agroforestry. 2. 67e Jaarverslag Kon. Untuk itu. Solo Email: bp2tp@indo. ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned. dan Upaya Penerapannya C. Tropen Amsterdam. J. 1979. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). 4. Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi. Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama. dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya. Perubahan situasi. Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan. Priyono dan S. kondisi. tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. DISKUSI Pertanyaan : 1. Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja. Makalah ini menguraikan cakupan. een samenspel van land. tetapi aplikasinya belum. Inst. 3. 2. Memang benar.id ABSTRAK Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai.en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu. but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource . Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam. Tanggapan : 1. Yani – Pabelan.

Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006).degradation in the watershed. mengumpulkan air hujan. banjir. CAKUPAN PENGELOLAAN DAS Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima. kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12. problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it. permasalahan pengelolaan SDA. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. Makalah ini menguraikan cakupan. dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan. Di Indonesia. pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). 1999).517.699. Ditjen RRL. 2000.632 ha. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies. pengetahuan teknis. pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi. kondisi. the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations.000 ha. Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS.714. sedimen.000 ha (Soenarno. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9. meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan. dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23. Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis. dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). permasalahan. Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. In the watershed management. kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat. Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management PENDAHULUAN Persoalan sedimentasi. penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor. dan pergeseran paradigma. Sementara itu. dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya. . The current change of situation. dan kekeringan. This paper discusses the coverage. Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology. Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk.

Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS. kemudian meningkat menjadi sekitar 1. maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA. Sumber daya hutan Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia. Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi.7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an. dan air sebagai output. 2003). DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. DAS sebagai pemroses. Sementara itu. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan. Namun demikian. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001). hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk).18 juta m3 pada tahun 2003. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS. laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan. dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun.7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input. maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia. Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis. laju kehilangan hutan semakin meningkat.04 . Oleh karena itu. kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39. Pada tahun 1998. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya. Sementara itu. PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS.75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52. sehingga masih ada kekurangan 34. kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18. 57. pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi.14 juta m3. pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan.Oleh karena itu.

. 1998). laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. dan Cahyono (2001). The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat. sementara pada musim penghujan banjir terjadi di mana-mana. Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan. Untuk itu. Selain itu. Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya. 1999).. jumlah air tersedia mencapai 142.000 ha/tahun lahan pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia. Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al.. karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian. diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. Ditinjau dari aspek kualitas. maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan. tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat. terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. Sumber daya air Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum. Dalam satuan DAS. Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut. Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan. 2000). The World Bank (1990) memperkirakan 40. konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS. Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas.. Di Pulau Jawa.8 milyar m3/tahun (Kananto et al. selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian akan mengancam lahan hutan. Sumber daya lahan Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian. pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan. Mencermati hal tersebut. Sementara itu. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997). Mulyana (1998).3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77.juta m3 (Goldammer et al. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL).

2000). maka kehati-hatian sangat diperlukan. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi. atau Pasang di Sulawesi Selatan. yaitu: a. b. Dalam kaitan inilah. sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya. dan bersinergi. banjir. Diversifikasi flora fauna Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait. pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir. kekeringan. terjadi penggundulan hutan. Akibatnya. pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain. Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari. deforestrasi. Begitu pula dengan tanaman palawija. berintegrasi. Degradasi lahan. hortikultura. padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi. Hasil penelitian Abbas (1997). Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem. berinteraksi. konversi lahan. 2002). 10% spesies mamalia. Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi. Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali. dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. Mulyana (1998). penebangan pohon. Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity. kebakaran hutan. meskipun menyebabkan erosi (Donie. maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS. Misal. Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia. Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. 2001). dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna. kentang di Dieng Wonosobo. dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia. . meliputi 11% spesies tumbuhan dunia. dan c. dan pemanfaatan lahan secara intensif. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. tembakau. Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat. tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir.Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS.

rekreasi. petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut. dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1). Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. Untuk itu. tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. Dari sisi ekonomi. Oleh karena itu. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi.Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan. tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. air dan sebagainya. hasil hutan. Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi. modal. Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. kehilangan unsur hara. longsor. mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi. peternakan. Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya. sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002). Petani dengan pendapatan rendah. maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. sedimentasi. Pertanian merupakan suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan. . dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian. maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS. tenaga kerja. dan sebagainya. Jadi.

Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad. tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari. Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah. Sistem Pengelolaan DAS secara umum Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah. sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air.Gambar 1. . 2000).

Bogor. kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi.Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. kebijakan. Jakarta. Arifin. S. PENUTUP Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air. pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. S. Arsjad. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah. tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan. apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi. DAFTAR PUSTAKA Abbas. Tesis Magister Sains. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. Departemen Pertanian Republik Indonesia. mengingat adanya perubahan tatanan politik. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi. tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18. 1996. 2001. Penerbit IPB Press. 1997.A. semua pihak perlu mengimplementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Institut Pertanian Bogor. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. Kontroversi Program Konservasi Lahan. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif. Program Pascasarjana. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi. S. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama. Bogor. Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. 2000. kelembagaan. Cahyono. Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS. Yang penting dalam hal ini adalah. dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait. . B.

.G. and H. 2003. hlm. 21 November 2000. Bogor. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka. S. A. 19 hlm. Mastur dan S. 23 September 1998. A World Bank Country Report. kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. Wonosobo.A. Jakarta. Schindelle. Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. Washington.Cahyono. B. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. The World Bank. Mulyana. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement. Sumber: . Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. A. Samarinda. Potret Kehutanan Indonesia. Abberger. A. Daerah Banjir di Indonesia Bertambah. Donie. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000. Hoffmann. Bogor. Hatmoko. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia. Jakarta. Info DAS 13: 14-26. 2000.N. 1990. 2002. Forest Watch Indonesia. Surakarta. 15-39. 1998. dan Widayati. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Seibert. Alami 8(1):1-5. Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. 1999. Goldammer. S. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. 9 September 2002. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 1999. Program Pascasarjana. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. 2002. Institut Pertanian Bogor. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. 20-23 September 1999.N. C. Priyono. hlm. Donie. W. J. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. 2000. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. W.S dan S. 2001. Departemen Kehutanan. Jakarta. C. Land and Water. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. U. Disertasi Doktor. Soenarno. Priyono.A. 1998. Bogor. Indonesia: Sustainable Development of Forest. Kurnia. Forest Watch Indonesia. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta. 2000. Kananto. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. pp. Prilaku bertani masyarakat Dieng.S. Bogor. 2-3 September 1999. Cahyono. hlm. hlm.

budi daya tanaman pakan dan usaha ternak. Jalan A. varietas unggul. and decrease erosion rate. The level of technology adoption was partially high enough. 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. 22(4). animal husbandry. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi. pengelolaan daerah aliran sungai. and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. the government needs to improve quality of human resources and through the provision of . serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Yani No. serta dapat menurunkan laju erosi. especially cropping pattern. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. The general objectives of the projects were to increase land productivity. pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor.SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. 70. Pada tahap awal. and vegetative land conservation. and farmers’ income. khususnya teknologi pola tanam. Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian. improved variety. para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. fodder crop culture. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and farmers’ income. In early stage. Kata kunci: Lahan kering. pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects.

upaya tersebut belum berhasil. dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990).936. Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan. (1988) mengemukakan bahwa. Selain itu. pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran. Pada tahun 1950. kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000). Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7.30%) dalam periode yang sama. perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%). Sukmana et al. produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994). watershed management. produktivitas umumnya rendah. serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. Proyek Wonogiri. luas lahan kritis justru makin meningkat (16. upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo. topografi curam. dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi. Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu.70% selama 14 tahun. mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan. Keywords: Uplands. government needs to encourage private sector in dry land investment.408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim.400. At the development stage. meningkatkan erosi dan sedimentasi. Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan.subsidy. kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II. Di dalam kawasan hutan. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah). Namun. serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya. dan Proyek Bangun Desa. land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. Namun. Namun. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. .

Selain itu. Di samping itu. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara. koro benguk. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan. kacang hijau. petani menanam kacang gude. Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah. kaliandra. turi. menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah. serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Cimanuk. dan koro pedang sebagai tanaman sela. bawang merah. pola tanam yang kurang baik. pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi. Tanah dan Air 1985). lahan usaha tani sempit. dan flemingia.30–2 ha. sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung. Jratunseluna. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1.tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat. dan tomat. sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air. kacang panjang. mentimum. sengon. serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro. dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa. kambing kacang. domba gibas. tegalan. Citanduy. dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. Namun. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan. petai. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar. dan ayam buras. dan mahoni. . Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis. padi gogo. Solo. sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah. Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400. dan kacang tunggak. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa. kedelai. 1986). Dari 80 DAS bermasalah tersebut. kacang tanah. pekarangan untuk tanaman tahunan. lamtoro merah. penghasil kayu seperti jati. 36 DAS tergolong DAS prioritas. johar. ubi kayu. Lebih lanjut Hardianto et al. seperti DAS Citarum. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan. kambing peranakan etawa (PE). Hardianto et al. dan Brantas (Sutadipradja et al. sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. dan perbukitan. rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan dan limbah tanaman pangan. Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah. dan menghasilkan pupuk organik. melinjo. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0. mangga dan pisang. glirisidia. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO). program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian. akasia.

Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis. Departemen Pertanian (bantuan teknis). jenis tanah dan iklim. lereng curam. yaitu perbaikan teknologi. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No.731. kebijakan yang tepat. lahan kritis di Indonesia mencapai 10. Departemen Keuangan (pengawas keuangan). Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan. yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis.970 ha.2. Berdasarkan tingkat kekritisan lahan. Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis.218. tingkat kekritisan lahan. Di daerah lahan kering. Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. 8/1976). tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering. dan pola tanam kurang baik.000 ha. dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. Di samping itu. selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan. Pada tahun 1975. 3. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas. tah n 1988 turun menjadi 9. Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang.000 ha. kondisi sosial ekonomi. Departemen Kehutanan (perencanaan dan pemantauan). pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985). sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan. Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut. Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan.751. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah. perkebunan. potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi. atau setara luas Pulau Jawa. Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar. maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan. pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13. 4. antara lain sumber terjadinya lahan kritis. . Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan. Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi. yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan). USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal. Prawiradiputra et al. dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). dan Bappenas. dan tingkat bahaya erosi. Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis). Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan.

Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan. pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979). kultur teknis. sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan. .90% (Pakpahan et al. serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak. penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan Air 1990). Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95. langkah-langkah. Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. kemiringan lahan. maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan. juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani.80% dan 76.Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu. Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku. Sehubungan dengan itu.175/Kpts/RC. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP. Tanah. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991). rumput pakan pada bibir dan tampingan teras. Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). Di Indonesia yang memiliki iklim basah. tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk. serta melibatkan ternak. Di Jawa Tengah. saluran irigasi) di bagian hilirnya.220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan. Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani. tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%. dan asas-asas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985). 1992). ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah. menurunkan laju erosi. dan kegiatan pembinaan. kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi.

tanaman tahunan. rumput. hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak. ditanami tanaman tahunan.C. ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah. dan leguminosa pohon. sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan. tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah.D) didasarkan pada kemiringan lahan. atau kemiringan lahan 15−45%. sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan. Pada model B dan C. dan pola usaha tani. Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B. bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani. Pada usaha tani model D. dan ternak.Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud. serta ternak. . rumput dan leguminosa pohon pada guludan. kepekaan terhadap erosi. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu. dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2). kedalaman tanah. hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan). Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A).

.

yaitu model B sebesar 3. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10.20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6. erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi. yaitu berturutturut 20. tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang. Pemanfaatan Tanaman Tahunan . 8. pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil.60 t/ha/ tahun untuk model A. serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik.20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988).40 t/ha/tahun.Setelah tahun ketiga. Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil. 10.40 t/ ha/tahun pada 1990/91. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi.40 t/ha/tahun untuk model C. dan 5. sedangkan pada model petani relatif tetap.20 dan 11. Pada dua model lainnya (A dan D). Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap. Sembiring et al. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi.50 t/ha/tahun untuk model B. karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing.

Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi. dan makanan ternak (Syam et al. dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh. di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas). Kedua. tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. Selanjutnya. penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. kredit. subsidi. Tanah. Namun. Tanah.Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. pemasaran. seperti kayu. 2) dukungan eksternal (penyuluhan. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. Berkaitan dengan itu. tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat. dan Air 1987). yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah. getah. dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan. Namun. Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan. Di beberapa daerah. 1993). dan Air 1988). swasta). manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi. serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya). Sebagai contoh. Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi. yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama. Pertama. dan 4) ketersediaan . dan Air 1988). dan Air 1989). pupuk kompos. (1994) dan Current et al. Setiap tingkat kelerengan. pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. (1995). seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. seperti diuraikan oleh Lutz et al. Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. manfaat dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu sama lain. manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. Tanah. Ketiga. baru 2–3 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. Tanah. karena dalam periode tersebut.

Tanaman tahunan seperti kelapa. Ditinjau dari aspek konservasi tanah. kacang tanah. demikian juga ternak kambing.43−5. pepaya. seperti kedelai. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani. pisang. dan kacang tanah. sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. 1991). Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama. teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi. lamtoro. komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah. rumput gajah. sentro sema. Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah. yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan.850/ ha dan Rp 873.teknologi. dan model D: jagung. model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak. karena petani cenderung memberikan . karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi. ubi kayu.525/ha. kedelai. 1985).350/ha). pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1.50 t/ha di Malang (Hendarto et al.81−6. rumput setaria. rumput setaria. adpokat. memberikan hasil cabai 4. 1991). adpokat. model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak. dan 200 kg KCl/ha. dan bawang merah. dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur). pemberian pupuk kandang 10−15 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea. pisang. dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan. pisang. cabai. Untuk pola II. dan terendah pada pola II (Rp 120. Hardianto et al. pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah. pertanaman lorong. dan harga jualnyapun cukup baik. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas. pisang. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani. Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi. konservasi tanah. Sehubungan dengan hal tersebut. dan tanaman pangan.13 t/ha di Trenggalek dan 5. rumput gajah. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem.478. Dari keempat pola alternatif tersebut. rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah. pepaya. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. jati. hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al. masing-masing Rp 877. Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras. 200 kg TSP. Pada pola III.000/ha). adpokat. Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung. 1992 dan Sembiring et al. dan tumpang sari. tanaman tahunan/hortikultura.

dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 4−5 ekor. Selain itu. sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai. tetapi selanjutnya menurun. C. Selain dukungan dari atas.30% dan 12. adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani . (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani serta adanya kerja sama antara peneliti. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran. dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang.60%. Abdurachman et al. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al. 3) tingkat partisipasi petani. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan. Di samping itu. penyuluh. khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga. Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek.90%. peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting. 1992). Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani. dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. 4) sistem pendukung/ pelayanan. Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D. masing-masing 105. 2) adanya keterkaitan peneliti. kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya.pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. rata-rata 44%. Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah. dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi. Keterkaitan antara peneliti. petani model B.50% dan 102. sedangkan pada petani model B hanya 35. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. penyuluh dan kelompok tani. tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56. aparat desa.60% dan model C 28. dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing. dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama.20%. Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang. dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. dan kelompok tani sangat penting. dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang. perkreditan. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani. penyuluh.

Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan. tetapi juga pada petani nonkooperator.30 ton pipilan kering. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah. Di samping itu. dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. kacang panjang dan cabai. dan kemampuan petani (biaya. Akibatnya . pasar kecamatan. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal. yaitu curah hujan. ketebalan solum. dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung.menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. Dalam memasarkan hasil kelapa. Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil. dan desakan kebutuhan petani. Rachman et al. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi. petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa. KEPAS (1985) mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan. yaitu aspek pemasaran. atau melalui tengkulak yang datang ke desa. dan keinginan petani. karena keterbatasan kemampuan. kacang tanah. melinjo. Untuk memasarkan hasil tanaman semusim. curah hujan. masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator. dan jeruk. pengetahuan. 1989). sifat tanah). gaplek. petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani. perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. adpokat. Selanjutnya Syam et al. pembuatan saluran pembuangan air (SPA). pola tanam. Di lahan kering DAS. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif. tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. kedelai. aspek teknis. Namun. Aspek teknis Sembiring et al. penanaman tanaman penguat teras. seperti jagung. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek. kondisi tanah (kemiringan. Rachman et al. dan aspek sosial ekonomi. waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia). (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras. kacang hijau. dan jagung 0. seperti teknologi pembuatan teras. petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya.

(1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik. Pada tanah bersolum dangkal. terutama pada kelompok usia 35−44 tahun (Rahmanto et al. Koro benguk menghasilkan 0. serta komak menghasilkan 1. Gude menghasilkan 0. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa.53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%.51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. dan tanaman penguat teras lepas. Di samping itu. atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe. sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong. Begitu juga Suwardjo et al. seperti tampingan teras runtuh. . dan komak (Dilichos lablab). Di masa mendatang. Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani.36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%. serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau. koro benguk (Mucuna pruriens). khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar. (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol). Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air. Produk tanaman leguminosa tersebut. selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. Koro pedang dapat berproduksi 1. 1989). serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. bidang teras bergeser. pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis). Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah. tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan.80 t biji/ha dan 0. 1989). Aspek sosial ekonomi Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS. keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif. gude (Cajanus cajan).bangunan teras sering rusak.04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. Modal juga merupakan kendala pengembangan. serta tanah yang bersolum dangkal. Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah.

data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti. Setelah panen selesai. P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem. tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan. Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak. Menurut Kristianto (1985). Namun. Di samping itu. Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah. misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al.Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu. dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol. dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap masih rendah yang antara lain disebabkan oleh:     Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas. varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal. 1993). Namun. Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan. 1991). karena petak percobaan tersebar). . Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. serta besarnya ketergantungan pada alam. yaitu 5−6 bulan dalam setahun. Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan pengetahuan. sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial. baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat. petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. materi kurang seragam. Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan. Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah.

dan partisipasi petani. tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. kebutuhan. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. lembaga pelayanan. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. Di samping itu. penyuluh dan petani. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Di DAS Brantas bagian hulu. pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal. selain meningkatkan produksi. dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh. . formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. 2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah. serta sarana/prasarana perhubungan. Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27. kerja sama peneliti. partisipasi dan aspirasi petani. yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi.Sehubungan dengan hal itu. Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Pada tahap perbaikan teknologi. peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi. Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar. petani dan pihak terkait lainnya. program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya. penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi.50% merupakan superprioritas. Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat. Pada tahap awal. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas. tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat.

1981. 1−14. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB. Jakarta. Jakarta. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.M. hlm. DHV Consultants. Bagyo. Badan Litbang Pertanian. The cost and benefits of agro-forestry to farmers. Adnyana. R. dan I.L. 131 hlm. hlm 1−17. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. T. Nurida.O. Biro Pusat Statistik. 1985. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.G. Biro Pusat Statistik. 1990. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. D.. 175/Kpts/RC. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. 235−248. 1991. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. E. and S. Current. 25−38. 125 hlm. dan A. A.. Jakarta. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Biro Pusat Statistik. Biro Pusat Statistik.M. Agus. 1993. 2000. Jakarta. Pengembangan teknologi konservasi tanah pascaNWMCP. Bogor. Abdurachman. dan N. Program pengelolaan DAS di Indonesia. 1994.L. Masbula. Bogor. hlm. Lubis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. dan N. A. E. Scherr. hlm. D.. The World Bank Research Observer 10(2): 151−180. Badan Litbang Pertanian.S. 1987. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Nurida. I. 1995. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. Kusnadi. 99−120. 1992. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. Toha. Prosedur pelaksanaan. A. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan F. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda. Hendarto. M. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. 1993. Ismail. hlm. U. Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Manwan. Statistik Indonesia 1980/81. Lutz. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna . Tanah dan Air. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Abdurachman.J.. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. Jilid I. Departemen Pertanian. T. Tanah dan Air. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Bogor. Statistik Indonesia 1994. Departemen Pertanian. strategi dan program penelitian pengembangan. 65 hlm. Hardianto. 1988. Fagi. Hendarto. Djumali. hlm 1−21. 15 hlm. dan H. Suwardjo.. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan.

Jakarta. Lutz. Tanah. Jakarta. 1992.dan Brantas.R. Nelson.5: 98 hlm. Finance and Development. 1985. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS.S. BPFE. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. 51 hlm. IMF & World Bank. Jakarta. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. 1988. Jakarta. p. Badan Litbang Pertanian. The Farmer’s Viewpoint. 1990. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air. Pakpahan. Saliem. Tanah. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1985. Badan Litbang Pertanian. dan G. dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Badan Litbang Pertanian. 89 hlm. Tanah dan Air. 85 hlm. Ginting.. Prawiradiputra. 1991. Laporan Tahunan 1986/87. A. Tanah dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. S. dan Air. 83 hlm. Napitupulu. 15−32. The World Bank Research Observer 9(2): 273−295. Tanah. B. Tanah. Pagiola. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. A. . 25−38. 1989. Hardono.. 1987. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian). Jakarta. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. Jakarta. 1994. K. Jakarta. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 69 hlm. hlm. R. E. Laporan Tahunan 1988/89. Reiche. 1995. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. 185−194. 75 hlm. H. hlm.. hlm. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/87–1990/91. Syafa’at. 1979. Badan Litbang Pertanian. The cost and benefits of soil conservation. Laporan Tahunan 1987/88. dan Air. dan Air. Tanah. S. 11−19. Monograph Series No. Yogyakarta. Sukmana. KEPAS. dan Air. Purwoto. Tanah dan Air.N. Managing Drylands. Kristianto. and C.P. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Badan Litbang Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai. 72 hlm. A. Bogor. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. dan A. 1985. M. N. Syam. Badan Litbang Pertanian.

Suwardjo.. dan S. Pengaruh teras. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Kartono. Rachman. Sembiring.. Badan Litbang Pertanian. Sukmana. Risalah Lokakarya Penelitian . Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Tanah dan Air. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Jakarta. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. H. dan Suwardjo. Kartono.. H. Brawidjaja University Research Center. Suwardjo. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. hlm. A. Tanah dan Air. 45 hlm. 1979. Tanah dan Air. Sukmana. hlm. suatu tinjauan sosiologi. R. Watung. G. Amir. U. sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. hlm. Farid. hlm. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem. Pusat Pengembangan Agribisnis. A.Pusat Pengembangan Agribisnis. Bogor. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. dan A. 1994. S. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat. Syam. Setiani. M. Tanah dan Air. Jakarta. A.. H. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR). Farid. 1985. 1989. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Tanah dan Air. Soemarno. Haryati. dan H. S. Jakarta. Malang. B. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Jakarta. Suwardjo. Ispandi. 18−29. 1991. 1991. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. Badan Litbang Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1989. dan U. dan A. Syam. 11−18. Mustadjab. Sukmana. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. P. 24−28.L. hlm. M. hlm. Badan Litbang Pertanian. Sembiring. A. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo. Bogor. 77−90. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. 1989. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi.. and I. 14 hlm. Rahmanto. B. Sofijah. Malang. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. 257−266. Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. A... C. A. Semaoen. G. Jakarta. Badan Litbang Pertanian. 18−24. hlm 21−31. 1988. Rachman. Sembiring. Prasetyo. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu. M. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. 1991. dan H. Thamrin. Proyek Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. Kusnadi.

Kabupaten Malang. Tanah dan Air. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region. hlm. 85 hlm. Ginting. 217−224. R. Ispandi. 185 hlm. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 1993.N. hlm. Suwardjo. 1981. Satjapradja. N. IPB. Cisarua.. Bogor. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi.O. 68−82. Blitar. Bogor.. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. . 27−29 Februari 1984. Soediman. G. Kusnadi. Buku-I. Sutadipradja. Tim Survei Tanah DAS Brantas. U. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. and Hadipurnomo. E. hlm. 21−30 November 1984. Sukmana. Barus.31/PPT/1988..L. Jakarta. hlm. Kartono. A. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. No. 1984. Syam. Perbandingan teras bangku. dan M. Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat Penelitian Tanah. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Tulungagung. A. 1986. Sinukaban. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Bogor. Adnyana. dan Trenggalek. Hardianto. Chang Mai. 47−65. O. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas. Propinsi Jawa Timur. Disertasi Sekolah Pascasarjana.Sistem Usaha Tani. 199−222. Bogor. teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi. 15−35. A. S. H. Syam. Thailand. Al Sri Bagyo. 1988. Watershed management approaches in Indonesia. hlm. Nurida 1989. Badan Litbang Pertanian. Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. Suwardjo. dan A. A. dan N.