Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 – 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity),

kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat. Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifatsifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluransaluran air. Disamping itu dengan berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.

Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan (Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 – 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 – 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga

memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

Gambar 1. rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat . Jumlah.

.

pertambangan. maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. Perbandingan antara aliran maksimum. maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana. Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi. industri. . pembangunan kanal. Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. maka dalam pembangunannya pun. 1979). kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup. sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam. tengah dan hilir. perluasan kota / daerah permukiman. perikanan. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS. pertanian. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. kehutanan serta kegiatan lainnya. Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. antara lain. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur. sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill.Gambar 2. perkebunan. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem. transportasi / navigasi. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik. 2. 3. pengembangan tenaga listrik. Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya. Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan. seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. kegiatan pengerukan. Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan.

Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai. penyediaaan air untuk irigasi. maupun kemungkinan terjadinya banjir. (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS. Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia. (2) pembangunan daerah atau wilayah. N.Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi. atau profesinya. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan. Land Degradation. waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. industri . tingkat pendapatan. Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation. 44. hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai. 1979. potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan.S. FAO. diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu. 13 . R. No. tanpa atau dengan benturan yang minimal. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam. pertambangan. 1971. pemasaran hasil. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama. Daftar Pustaka Badrudin M. Setelah perencanaan secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan dapat dilakukan oleh setiap stakeholders sesuai bidang. industri dan air minum. Gill. No. Bull. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. sektor. Direktorat Penyediaan Masalah Air. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. 1978. Di dalam perencanaan yang demikian. akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Pengembangan pertanian di daerah berlereng. FAO Soil Bull. erosi. sedimentasi dan lainnya. harus diperhitungkan. pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. kelembagaan. karakteristik hidrologi DAS. yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional. Soil. berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah. Rauschkolb.

“Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Arsyad. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment. Madison. Publ. Cilegon. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. Soil and Water Cons.. USA. Integrated Land Managementfor Sustainable Agriculture Development in Indonesia. 7(3): 25-29. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off. Indonesia. El. N. (Ed). Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman. Arsyad. Dalam Carpenter R. and J. “Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. Sinukaban. Sinukaban. 1994. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System. Contour Vol. Sinukaban. Swaify. Bern Switzerland. Aust. Proceed of International Seminar on “Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production” 3 – 5 Dec 2004. S. Toward Sustainable Land Use..com/2008/ . H. Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java. N. Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies). S. Lang Druck AG. and Sinukaban.A. Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71. Sinukaban. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. Amstrong and MG Nethery. Amstrong.” Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting). H. 1994. Pawitan. J. Soil erosion by Water.L. Indonesia. 1. J. N. Sumber: Naik Sinukaban (2007). Arsyad. J. Krisnalajati. Suwardjo dan S. S. 1998. 2004. 1998. Mc. millan.wordpress. Pawitan. Natural system for Development What Planners Need To Know. Co:19-161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation).A. N.Sihite. dan P.D Thesis University of Winconsin. Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Lampung. West Java. Sinukaban. N. 1983. Ph. Arsyad. 1985. 1981. VI no. 1983. S.

Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat. Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi. sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas. dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. Namun prinsip desentralisasi bukan hanya mengenai penyerahan wewenang pemerintahan. Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah. Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. sosial. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi. Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. dan politik. Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. kerusakan lingkungan hidup di daerah . menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan . pembagian. Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. Dalam Undang-undang tersebut desentralisasi menyangkut penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di bawahnya. Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi . Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (1966-1998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah. dan lemahnya kelembagaan di daerah. tingginya tingkat kemiskinan di daerah.1999). Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan. dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. meningkatkan peran serta masyarakat. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan.

dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah. ekonomis. 1999). (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien. Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial. Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA. Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. erosi. (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata. Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi. sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besarbesaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah. (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan. Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis. yaitu sumberdaya alam (natural capital). Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir. telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia. dan sosial budaya. sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. sumberdaya buatan manusia (man made capital). Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat. sumberdaya manusia (human capital). Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu. dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo. efektif. dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah. . longsor. (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata. Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA.secara keseluruhan.

dan temporal (waktu). Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggungpunggung bukit/gunung. Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem. dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem. dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Sungai. Rusaknya hutan di . Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang). Selanjutnya OTDA dijadikan alat untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan.Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi. Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya. Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik. Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. abiotik. sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup. pada umumnya berada di tengah DAS. Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi. fungsional. dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi.

Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial.bagian hulu akan menimbulkan banjir. hutan. Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. menyeluruh. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional. Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air. maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar. dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat. dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. Membangun sistem legislasi yang kuat 3. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. fleksibel. Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu. terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya. dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS 4.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir. sedimentasi. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait. efisien. erosi. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem . Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . dan lahan.

Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang. rehabilitasi. maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan. penguasaan. mineral. maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi. dan sosial budaya. pemeliharaan. keputusan presiden. perlindungan. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. pengusahaan. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. air. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA. hutan dan lanskap alam. udara. Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2. pemberian sanksi. sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. penyelesaian konflik dan . Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam. UU No.pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. 22/1999). ekologis. seperti lahan.Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan.

Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. 2000). Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. dan abstrak yang mencakup ideologi. apakah ditetapkan secara individu atau kelompok.al. Oleh karena itu. hak-hak istimewa yang telah diberikan. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. 2000). bahkan Thailand. serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo. Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. . dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo. dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS. aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. rumit. dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya. 1987 dalam Kartodihardjo. et. Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid. hukum. Jepang. adat istiadat. bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya.sebagainya. al. et. sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. 2000). Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS.

walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi. ketidaksinambungan pembinaan program. Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible). one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. Kemampuan petani. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program. Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS.Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik. kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. ketidakefisienan (inefficient). Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu. Prinsip one river. perencana pengelolaan DAS. ketidakadilan (inequitable). longsor. Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya. Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan markup. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom. . Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya.

Stockmayer.S. Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. A. K. 1999. H. dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). R. U. Paradox. Kartodihardjo. (b) membangun sistem legislasi yang kuat. Bogor. UU Otonomi Daerah. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep. dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL). 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 18 Februari 1999. H. Nuryantono. H. DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo. Murtilaksono. PENDAHULUAN . Sudadi. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat.Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1 SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI Tejowulan. 1999. 1999. 2000. serta Upaya Peningkatan Kinerja. dan Masalah. 1999 tentang Pemerintah Daerah. UU No 25 Thn. 22. Undang-undang Otonomi Daerah UU No.S. K3SB Bogor. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. Pasaribu. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS. dan N. UU No 28 Thn 1999.

Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap. dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. . Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin. pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan. atau river basin.Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. Dalam pengelolaannya. hutan. drainage area. Selain itu. (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. tergantung dari gatranya yang diperhatikan. seperti udara. Misalnya. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. hutan dan ikan. berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard. tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. (3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. Atas dasar kehadirannya. Memang ditinjau secara local atau setempat. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik.1974). Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi. dan ikan dapat menyusut atau habis. ekonomi. Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan. sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS. Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam. sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. air tanah. Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable). Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya. ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring). Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia. DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). teknik. Akan tetapi secara keseluruhan. air tanah. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah.

Disamping memiliki ciri penting berupa “organisasi dalam“ (internal organization). Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif. tanah. air (air permukaan dan air tanah). DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability).mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. dan sebagainya. yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja. Namun karena berlainan kepentingan. yang berdaya (affect) batas hidup. panas dan cebakan mineral. (2) Takterbarukan (non-renewable). Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi . DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat. Sebagai contoh. ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang. atau disebut pula dengan “struktur fungsi“ (fungtional structure). dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah. bentuk (form). Sebagai contoh. perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo. 1979). sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari. Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. “Lingkungan” ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external). Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS. 1979. hewan (fauna). Yang dinamakan “sistem” ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir-anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom. DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size). Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan. Spedding. seperti minyak bumi. Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate).1978). maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. hutan kemasyarakatan (HKm). bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated). geologi. ladang. keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. kebun. relief. Arti “terpadu” di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain. DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. tetumbuhan (flora). suatu sistem dipisahkan “batas system“ dari sistem yang lain. Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. kelakuan dan kegunaan masing-masing. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti. Sebagai contoh. atau sumberdaya mineral. penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran. yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya.

Tanpa perencanaan tataguna yang memadai. ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama. mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir. Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi..penggunaan DAS. nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat. penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan. . Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. yaitu atmosfir dan laut. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1. DAS penampung air. 1964). atau lewat peranan DAS. Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung. Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir. yang akhirnya hanya akan saling merugikan. bentuk. karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau). DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk. Gatra-gatra ruang. dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS.

Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions). Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS. Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya. Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. Dasar pengelolaan kedua. Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik. Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS. DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS . dibentuk oleh proses. Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir. Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS. yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala.Setiap DAS cenderung memperluas diri. maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir. Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions).proses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan. bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system). baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu. bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer). Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting.

Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables). Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan “commended area”.Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting. Yang dinamakan “commended area” ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. diperlukan tiga unsur pengarah. relief dan manusia. sumberdaya mineral. akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum. yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives). ini dapat sebuah atau lebih. ruang/luas. kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi. yaitu sumberdaya tanah dan air. DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. Yang ketiga ialah kendala (constraint). dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. sebagai usaha mengendalikan banjir. bentuk. Dalam rencana pengelolaannya. air. Ungkapan “manfaat lengkap” dan “kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu” mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah “watershed” digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah. Untuk mengarahkan pengelolaan. vegetasi. beberapa gatra tertentu manusia. (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir. Adapun anasir yang lain. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan). . ketercapaian dan keterlindasan. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya. seperti iklim. relief. Dalam ungkapan “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian selaras dan lestari. Khusus mengenai pengelolaan DAS. sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah “commanded area”. Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak. yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna. diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. tanah. (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. vegetasi. yang menjadi sumber pembuatan alternatif. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora. (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi.

(6) Penggunaan lahan terkini. (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. jeluk (depth) pukul rata air tanah. jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup. atau kesempatan yang terbuka. termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan. (3) Timbulan makro. . sulfat masam. Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem. pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS. 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan. (6) Penggunaan lahan kini. (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah. jangka waktu dan agihan curah hujan. Sementara itu. dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman. gambut tebal. dan keadaan tanah. karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh. dan mineral mentah. alkali. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi. daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi. ketinggian muka lahan pukul rata.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan. termasuk fisiografi dan hidrologi tanah. dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir.(5) Rupa dan vegetasi penutup. Dari bagian ini tampak.Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora. atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). (4) Intensitas. atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). (4) Meliorasi tanah. sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. Dengan kata lain. dalam pengelolaan DAS hilir. Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan. (4) Intensitas.

keterlindasan (trafficability).DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. dan kemantapan struktur tanah. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah. erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). Misalnya. Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu. yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok. iklim. Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk. Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS. bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth. 1973). sedang. dan hanya dapat diketahui. kebersihan air. lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. Dalam lingkungan iklim kering. Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. Macam data yang sekurangkurangnya harus dikumpulkan ialah: 1. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan. tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. dan keramah tamahan penduduk. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. . Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. permeabilitas tanah. baik) atau dengan nilai tertentu (scoring). Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS.

laju pertambahan penduduk. Keadaan iklim hayati. kemampuan usaha. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. dataran estuarin. Prioritas penanganan segi-segi persoalan. Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah. Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan. 4. memiliki urutan kegiatan yang jelas . 5. 1977). 3. dsb). termasuk tataguna sumberdaya air kini. morfologi karst. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. hidrolika sungai. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi. tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal). dan sistemnya dinamakan “pendekatan sejajar” (ILRI. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif. sedimentasi. seperti lembah. peneplain. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya. 8. yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah. Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi. Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap. tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga. baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya.2. 7. 6. untuk daerah-daerah beriklim kering. maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. 2. 3. dataran banjir. pembentukan delta. dan mobilitas penduduk. baik produktivitas maupun potensialitasnya. 4. menjadi satu sistem analitik. dataran interfluvial. 9. unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah. atau kerangka pendekatan. tingkat kesehatan. Macam dan jumlah masukan yang diperlukan. Kemampuan lahan untuk pertanian. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama). mata pencaharian. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. kesimpulan atau petunjuk tentang : 1. dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). Kerapatan dan distribusi penduduk. Maka system analisa seperti ini disebut pula “pendekatan bertingkat dua”. termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah. bentukan morfologi destruktif. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya.

dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi. maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya. J. Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS. Aspects Watershed Management. (1979). Untuk keperluan pengharkatan lahan. Dent.S. State University. (1978). De Santo. PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. R. karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. Land evaluation for rural purpose. dan Smith. asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. (1970). No. Blackie. Concept of applied ecology. Oleh karena itu. Ltd. Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik. Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini.(1979). Improv.B. ILRI. Sci. 1977). Wageningen. Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa “…professional from the many different disciplines will … work in concert to bring about total watershed managenent”. R. Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya. dan berkelanjutan. Land Recl. Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan. Springer-Verlag.. Wageningen .R.J. bermanfaat. A. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. Symp. Dawes. Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi. terencana.J. New York. (1977). Influence of soil on water yield. FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI). diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah. Appl. & Harrison. London. Mon. DAFTAR PUSTAKA Brinkman. Publ. Interdisc.H. Inter. Proc. M.tanpa langkah-langkah yang saling berhimpitan. ILRI Publ. 17. System simulation in agriculture. memilih pendekatan bertahap (ILRI. pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu. S. Framework for land evaluation. J.

Steele. Wolman. S. 1977. 25-34. Ltd. Fak. I. MG. 1980. Morgan. Ascept Watershed Man. Soil suvey interpretation and iats use. R. A. T.B. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru. Fluvial processes in geomorphology. Sukodarmodjo. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. Spedding. Amsterdam. 1967. Trop. 1976. C. D. J. 8. Freeman and Co. H. WH. ASRA Information Resosurces. Amer. R. 1979. A.E. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. Soil erosion. Tech. Yogyakarta. O. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co.P. Notohadiprawiro. & Nelson. London. Interdisc. Nelson. 1-2. 1970. Agr. & Drajad. R. Wasington.E. Michigan State Univ. / R. Univ. Bogor. H. W. 1979. Proc. Rancangan pertama. Logman. Meinzer. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. 1964.. A. Mon. 1975. Technology of agricultural land development and water management. . K. Fao Soil Bull.. 1973. ___________. Civ.R. Kon. Dalam: Meinzer. Assoc. D. H. M. Bull. National Science Foundation. (1964). S. L. Inst. New Delhi. Dover Publ. 303. M.Leopold. E. M. E. 1973. San Fransisco. Publ. h. Rqy. London. ___________. Seminar Penghijauan P. D. India Publ. Yogyakarta. _______________ 1980. An introduction to agricultural systems. Symp. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. UGM. Soc. 1942. O. Storie. Editor. London. Ltd. P. Tanah. 1979. Geology. Belum diterbitkan. Inc.W.. No. W. New York. C. Satya pakashan. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan. Ground Water. Martin. C. Inst. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. D. K. Pert.L. and society. Oldeman. State Univ. Proc. G. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian. Students Store. G. Calif. XA. 50th Symp. P. J. R. G. Soepraptohardjo. resources. Freeman and Co. Sci. R.. Tawangmangu. Appl. New York. editors. Hydrology. Soil. Berkeley. Handbook of soil evaluation. Tropen. Menard. Introduction. I. & Arora. Ch. 1980. & Drajad. C. San Francisco. Design and management of rural ecosystems. & Robinson. Dep. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. 1974. H. Dan Miller.

Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan. Agroforestry. Tropen Amsterdam. Perubahan situasi. Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama.id ABSTRAK Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. Untuk itu.Wassink. dan Upaya Penerapannya C. een samenspel van land. A. dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya. bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. IBB. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). J. Tanggapan : 1. DISKUSI Pertanyaan : 1. Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam. tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja. tetapi aplikasinya belum. Jln. 2. faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting. 4. Inst. Solo Email: bp2tp@indo. Permasalahan. T. Priyono dan S.net. Makalah ini menguraikan cakupan. permasalahan pengelolaan sumber daya alam. Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan. 3. Memang benar. Nugroho S. 1979. dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai. kondisi. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. 2. Yani – Pabelan. 67e Jaarverslag Kon. Andy Cahyono Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS. but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource . Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi.en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu. ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned.

dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet).000 ha.degradation in the watershed. condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies. This paper discusses the coverage. . dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it.714. pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk. 1999). dan pergeseran paradigma. Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. dan kekeringan. mengumpulkan air hujan. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23. banjir. Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management PENDAHULUAN Persoalan sedimentasi. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9. permasalahan. Sementara itu.632 ha. Ditjen RRL. In the watershed management. kondisi. Makalah ini menguraikan cakupan. Di Indonesia. dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya. CAKUPAN PENGELOLAAN DAS Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima. Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS. sedimen. pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi. the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations. kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12. Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology. Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006). kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat.517. Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis.699. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan. pengetahuan teknis. The current change of situation.000 ha (Soenarno. 2000. permasalahan pengelolaan SDA. penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor. meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan.

pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis. PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS. kemudian meningkat menjadi sekitar 1. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS. laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan.18 juta m3 pada tahun 2003.14 juta m3. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono. 2003). Namun demikian. Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan. Sumber daya hutan Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia.75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52.Oleh karena itu. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input. Sementara itu. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39. pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan. dan air sebagai output. maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia. maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA. kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18. Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS.04 .7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an. Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun. Oleh karena itu. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya.7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan. dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. Sementara itu. 57. DAS sebagai pemroses. sehingga masih ada kekurangan 34. tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi. hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk). Pada tahun 1998. laju kehilangan hutan semakin meningkat. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001).

Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya. diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung. Sementara itu. Selain itu. Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL). Ditinjau dari aspek kualitas..000 ha/tahun lahan pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia. Sumber daya air Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum. .. terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan. Mulyana (1998). Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan.juta m3 (Goldammer et al. konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. Untuk itu. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. dan Cahyono (2001). jumlah air tersedia mencapai 142. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan. Dalam satuan DAS. Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan. sementara pada musim penghujan banjir terjadi di mana-mana. tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat. Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat.3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77. Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas.8 milyar m3/tahun (Kananto et al. The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. Mencermati hal tersebut. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian akan mengancam lahan hutan. diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. Sumber daya lahan Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian. The World Bank (1990) memperkirakan 40. laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997). Di Pulau Jawa. maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. 1999). 2000). Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut. Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al. 1998).. karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian.

daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari. Hasil penelitian Abbas (1997). . penebangan pohon. yaitu: a. Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. Akibatnya. atau Pasang di Sulawesi Selatan. berintegrasi. Misal. Mulyana (1998). Dalam kaitan inilah. Begitu pula dengan tanaman palawija. Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. banjir. pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir. maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS. dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna. kekeringan. Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi. maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. deforestrasi. b. Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait. tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir. dan pemanfaatan lahan secara intensif. Diversifikasi flora fauna Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat. pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain. dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya.Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. meliputi 11% spesies tumbuhan dunia. dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia. meskipun menyebabkan erosi (Donie. dan bersinergi. kebakaran hutan. terjadi penggundulan hutan. 2000). berinteraksi. TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem. maka kehati-hatian sangat diperlukan. padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi. dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. 10% spesies mamalia. 2002). konversi lahan. Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali. Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity. kentang di Dieng Wonosobo. tembakau. dan c. Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia. hortikultura. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi. Degradasi lahan. 2001).

Oleh karena itu. air dan sebagainya.Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan. rekreasi. Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya. sedimentasi. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. Dari sisi ekonomi. tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. Petani dengan pendapatan rendah. Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. tenaga kerja. dan sebagainya. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi. mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002). tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian. Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa. sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. Pertanian merupakan suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan. hasil hutan. maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi. longsor. maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS. Jadi. maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. modal. kehilangan unsur hara. kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. peternakan. . petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut. Untuk itu. dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1).

Gambar 1. 2000). Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad. Sistem Pengelolaan DAS secara umum Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah. sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air. . tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari. Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah.

Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi. 1996. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama.A. Kontroversi Program Konservasi Lahan. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. Arifin. tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi. Cahyono. apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. 1997.Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi. B. semua pihak perlu mengimplementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Jakarta. Bogor. mengingat adanya perubahan tatanan politik. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. DAFTAR PUSTAKA Abbas. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif. Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. Yang penting dalam hal ini adalah. tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. Bogor. S. S. Tesis Magister Sains. kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi. . kelembagaan. Departemen Pertanian Republik Indonesia. 2001. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah. kebijakan. 2000. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. Penerbit IPB Press. Program Pascasarjana. Konservasi Tanah dan Air. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. Institut Pertanian Bogor. dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. S. Arsjad. PENUTUP Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air.

1999. S. and H. Program Pascasarjana. Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. 1998. hlm. Goldammer. Abberger. 2001. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. 2002. A. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. C. Donie. hlm. dan Widayati. Bogor. A. Mastur dan S. W. S.N. Mulyana.. 9 September 2002. 2-3 September 1999. The World Bank. 2003.N. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000.A. Land and Water. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. A. Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah.Cahyono. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia. Cahyono. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. Wonosobo.S dan S. Alami 8(1):1-5. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement. Bogor. W.G. Prilaku bertani masyarakat Dieng. pp. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). 15-39. 21 November 2000. hlm. Jakarta. Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. C. 19 hlm. Donie. 1990. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 1999. A World Bank Country Report. Jakarta. 23 September 1998. 20-23 September 1999. Forest Watch Indonesia. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. Kurnia. Forest Watch Indonesia. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. Sumber: . Daerah Banjir di Indonesia Bertambah. Priyono. Hoffmann. Departemen Kehutanan. Surakarta. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. 2000. U. Schindelle. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. 2002. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Priyono. 2000. Samarinda. Hatmoko. Bogor.S. Soenarno. hlm. Washington. 2000. Bogor. 1998. Info DAS 13: 14-26. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan.A. B. Seibert. Disertasi Doktor. Kananto. Potret Kehutanan Indonesia. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. Indonesia: Sustainable Development of Forest. Institut Pertanian Bogor. J. kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. Jakarta.

serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Pada tahap awal. Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian. The general objectives of the projects were to increase land productivity.SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. 70. and decrease erosion rate. pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects. and farmers’ income. improved variety. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and farmers’ income. The level of technology adoption was partially high enough. the government needs to improve quality of human resources and through the provision of . 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. varietas unggul. budi daya tanaman pakan dan usaha ternak. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi. pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi. khususnya teknologi pola tanam. Jalan A. Yani No. In early stage. and vegetative land conservation. and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. especially cropping pattern. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. Kata kunci: Lahan kering. para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. fodder crop culture. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. pengelolaan daerah aliran sungai. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. 22(4). animal husbandry. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. serta dapat menurunkan laju erosi. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani.

Sukmana et al. Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan.70% selama 14 tahun. . Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6. pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran. topografi curam.408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6. produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994). Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan. dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990). serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II.936.30%) dalam periode yang sama. Namun. perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%). kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000). dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. (1988) mengemukakan bahwa. meningkatkan erosi dan sedimentasi. produktivitas umumnya rendah. Pada tahun 1950. Selain itu. Namun. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim. Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. Di dalam kawasan hutan. Namun. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah). luas lahan kritis justru makin meningkat (16. land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan.subsidy. upaya tersebut belum berhasil.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7. mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya. government needs to encourage private sector in dry land investment. At the development stage. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi. serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. dan Proyek Bangun Desa. Proyek Wonogiri. watershed management.400. upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo. Keywords: Uplands.

serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. akasia. dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. 1986). mangga dan pisang. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1. . Selain itu. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan. seperti DAS Citarum. sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara. dan mahoni. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku. Citanduy. padi gogo. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar. dan menghasilkan pupuk organik. penghasil kayu seperti jati. Cimanuk. Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah. glirisidia. kambing peranakan etawa (PE). Di samping itu. Jratunseluna. serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air. kacang hijau. kaliandra. dan koro pedang sebagai tanaman sela. Tanah dan Air 1985). Namun. dan kacang tunggak. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung.30–2 ha. Dari 80 DAS bermasalah tersebut. Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400. program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian. pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi. ubi kayu. domba gibas. sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai. petani menanam kacang gude. kambing kacang. rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan dan limbah tanaman pangan. turi. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0. pekarangan untuk tanaman tahunan.tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat. koro benguk. juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu. bawang merah. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO). dan tomat. 36 DAS tergolong DAS prioritas. melinjo. Lebih lanjut Hardianto et al. pola tanam yang kurang baik. dan Brantas (Sutadipradja et al. lamtoro merah. menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah. petai. tegalan. Solo. kacang panjang. sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. dan perbukitan. dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa. johar. mentimum. sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah. lahan usaha tani sempit. dan ayam buras. dan flemingia. Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah. sengon. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan. Hardianto et al. kedelai. kacang tanah. Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis.

731.2. atau setara luas Pulau Jawa. yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan). Prawiradiputra et al. maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas. Pada tahun 1975. Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis).000 ha. Departemen Keuangan (pengawas keuangan).970 ha. Departemen Pertanian (bantuan teknis).751.000 ha. tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering. 4. lereng curam. dan pola tanam kurang baik. kondisi sosial ekonomi. Berdasarkan tingkat kekritisan lahan. pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985). Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang. 8/1976). . dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis. lahan kritis di Indonesia mencapai 10. yaitu perbaikan teknologi. 3. perkebunan. Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan. Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan.218. Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar. USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal. tingkat kekritisan lahan. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No. selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan. jenis tanah dan iklim. Di daerah lahan kering. antara lain sumber terjadinya lahan kritis. pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13. tah n 1988 turun menjadi 9. kebijakan yang tepat. Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah. Departemen Kehutanan (perencanaan dan pemantauan). Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan. Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut. Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis. sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan. potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi. dan Bappenas. Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan. dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. Di samping itu. Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis. dan tingkat bahaya erosi.

tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP. kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi. penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985). Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku.Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu. Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. Di Jawa Tengah. saluran irigasi) di bagian hilirnya. tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%.80% dan 76. langkah-langkah. Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95. menurunkan laju erosi. . dan kegiatan pembinaan. ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah. Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani. serta melibatkan ternak. Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan. Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan.220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan. Di Indonesia yang memiliki iklim basah. kemiringan lahan. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991). Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979). Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak. maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan. sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut.90% (Pakpahan et al. Tanah.175/Kpts/RC. kultur teknis. 1992). Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani. Sehubungan dengan itu. dan asas-asas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). rumput pakan pada bibir dan tampingan teras. serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. dan Air 1990).

Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A). Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B. tanaman tahunan. tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah. kepekaan terhadap erosi. sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2). Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan. dan ternak. Pada usaha tani model D. ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah. dan leguminosa pohon. sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan. . rumput dan leguminosa pohon pada guludan. rumput. kedalaman tanah.C. hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan).D) didasarkan pada kemiringan lahan. Pada model B dan C. serta ternak. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu.Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud. atau kemiringan lahan 15−45%. ditanami tanaman tahunan. dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan. dan pola usaha tani. hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak.

.

Pada dua model lainnya (A dan D). dan 5. erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi. serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik.20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6. karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing. yaitu model B sebesar 3. 8.60 t/ha/ tahun untuk model A. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi.40 t/ha/tahun untuk model C.40 t/ ha/tahun pada 1990/91.20 dan 11. Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil. Pemanfaatan Tanaman Tahunan . 10.Setelah tahun ketiga.20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988).40 t/ha/tahun. yaitu berturutturut 20. sedangkan pada model petani relatif tetap. Sembiring et al. Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10. pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil.50 t/ha/tahun untuk model B. tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang.

pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. Tanah. pupuk kompos. dan Air 1987). manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. dan Air 1989). serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya). Namun. penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. Berkaitan dengan itu. seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Namun. yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani.Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. Sebagai contoh. Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi. Selanjutnya. kredit. yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah. Di beberapa daerah. manfaat dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu sama lain. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. Ketiga. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama. getah. seperti diuraikan oleh Lutz et al. dan Air 1988). petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi. Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh. Setiap tingkat kelerengan. Pertama. tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan makanan ternak (Syam et al. swasta). Kedua. nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. baru 2–3 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan. Tanah. 2) dukungan eksternal (penyuluhan. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. (1995). dan Air 1988). di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas). Tanah. (1994) dan Current et al. pemasaran. subsidi. karena dalam periode tersebut. dan 4) ketersediaan . Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi. dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. seperti kayu. 1993). Tanah. tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat. dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan.

pisang. dan model D: jagung. kacang tanah. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. adpokat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani. teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi. Ditinjau dari aspek konservasi tanah. dan 200 kg KCl/ha. lamtoro. konservasi tanah. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani. pertanaman lorong. adpokat. dan harga jualnyapun cukup baik.81−6. seperti kedelai. model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak.000/ha).478. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. pemberian pupuk kandang 10−15 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea. pepaya. karena petani cenderung memberikan . dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama. adpokat. model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak.teknologi. rumput setaria. pisang. Hardianto et al. rumput gajah. rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah. 1991). Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras. ubi kayu. 1992 dan Sembiring et al. Sehubungan dengan hal tersebut. hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al. rumput setaria. Dari keempat pola alternatif tersebut. 1985). dan terendah pada pola II (Rp 120. Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur). Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah. 1991). Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi. Untuk pola II. karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. cabai. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas. rumput gajah. dan bawang merah. dan tanaman pangan. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem. sentro sema. pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1. Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung.350/ha). masing-masing Rp 877.13 t/ha di Trenggalek dan 5. pisang. dan tumpang sari.50 t/ha di Malang (Hendarto et al. demikian juga ternak kambing. komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah. kedelai. pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah. tanaman tahunan/hortikultura. memberikan hasil cabai 4. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi. Tanaman tahunan seperti kelapa. Pada pola III. jati. pepaya. dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan. yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan. 200 kg TSP. pisang. sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan.850/ ha dan Rp 873. dan kacang tanah.525/ha.43−5.

dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang. khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga. Selain itu. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah. dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi. Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai. Abdurachman et al. 3) tingkat partisipasi petani. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek. dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 4−5 ekor. Selain dukungan dari atas. penyuluh. Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan. dan kelompok tani sangat penting.30% dan 12. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani. dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama. perkreditan.20%. aparat desa. rata-rata 44%.90%. 4) sistem pendukung/ pelayanan. Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang. Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi. dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang. C. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani. sedangkan pada petani model B hanya 35. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran. petani model B. masing-masing 105. Keterkaitan antara peneliti. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al. 2) adanya keterkaitan peneliti. peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting.60%. dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang.50% dan 102. dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. tetapi selanjutnya menurun. Di samping itu. kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya. tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56. 1992).60% dan model C 28. penyuluh. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani serta adanya kerja sama antara peneliti. penyuluh dan kelompok tani.pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan. dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing. adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani .

Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek. karena keterbatasan kemampuan. Dalam memasarkan hasil kelapa. dan desakan kebutuhan petani. kondisi tanah (kemiringan. petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. adpokat. dan jeruk. Selanjutnya Syam et al. penanaman tanaman penguat teras. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah.30 ton pipilan kering. waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia). ketebalan solum. seperti teknologi pembuatan teras. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal. Untuk memasarkan hasil tanaman semusim. sifat tanah). kacang hijau. (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras. atau melalui tengkulak yang datang ke desa. Akibatnya . KEPAS (1985) mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. pembuatan saluran pembuangan air (SPA). tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. pengetahuan. perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. dan keinginan petani. yaitu curah hujan. tetapi juga pada petani nonkooperator. melinjo. curah hujan. gaplek. Rachman et al.menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. pasar kecamatan. kacang tanah. Di samping itu. Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan. dan kemampuan petani (biaya. dan aspek sosial ekonomi. kedelai. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani. 1989). masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi. petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya. Di lahan kering DAS. seperti jagung. dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung. 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan. (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator. kacang panjang dan cabai. aspek teknis. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. Aspek teknis Sembiring et al. Namun. Rachman et al. yaitu aspek pemasaran. pola tanam. petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa. dan jagung 0. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif.

atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe. Di masa mendatang. khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar. . Aspek sosial ekonomi Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS. (1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik. 1989). Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. Pada tanah bersolum dangkal. keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif. Modal juga merupakan kendala pengembangan.53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%. gude (Cajanus cajan). Begitu juga Suwardjo et al. Koro pedang dapat berproduksi 1. Koro benguk menghasilkan 0. Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong. serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. Gude menghasilkan 0. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah. terutama pada kelompok usia 35−44 tahun (Rahmanto et al.51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. 1989). dan tanaman penguat teras lepas. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis). Di samping itu. serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau. (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol).36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%. selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. bidang teras bergeser. tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. koro benguk (Mucuna pruriens). Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan. Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas.04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. serta tanah yang bersolum dangkal. Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani.80 t biji/ha dan 0. serta komak menghasilkan 1. Produk tanaman leguminosa tersebut. sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa.bangunan teras sering rusak. dan komak (Dilichos lablab). seperti tampingan teras runtuh. Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah. pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan. air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air.

tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap masih rendah yang antara lain disebabkan oleh:     Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas. Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan. 1991). tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan. Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan pengetahuan. dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol. yaitu 5−6 bulan dalam setahun. Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah. sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial. serta besarnya ketergantungan pada alam. dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. 1993). Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak.Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al. P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas. sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. Namun. dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah. Di samping itu. . baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat. Namun. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem. tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan. lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal. misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti. Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. Setelah panen selesai. karena petak percobaan tersebar). petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. materi kurang seragam. Menurut Kristianto (1985).

Pada tahap perbaikan teknologi. Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat. program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya. dan partisipasi petani. lembaga pelayanan. penyuluh dan petani. Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah. kerja sama peneliti. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. selain meningkatkan produksi. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. petani dan pihak terkait lainnya. 2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah. . formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi. serta sarana/prasarana perhubungan. karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27.Sehubungan dengan hal itu. peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi. kebutuhan. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas. dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh. Pada tahap awal.50% merupakan superprioritas. pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal. tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat. penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi. Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. partisipasi dan aspirasi petani. Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar. Di samping itu. Di DAS Brantas bagian hulu. Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi.

Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. 2000.L. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. D.M. Bagyo. dan A. Adnyana. Badan Litbang Pertanian. Manwan. The World Bank Research Observer 10(2): 151−180. hlm. Toha. A. Bogor. D. 1992. E. Djumali. 1985. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bogor. A. dan N.J. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. 1991. Pengembangan teknologi konservasi tanah pascaNWMCP. Biro Pusat Statistik. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. 1990. Hendarto. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 175/Kpts/RC. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Statistik Indonesia 1994.. Jakarta.S. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda. 1993. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB. Lubis. hlm 1−17. 1993. E. Current. Jilid I. dan H.. Tanah dan Air. 15 hlm. Program pengelolaan DAS di Indonesia. Jakarta. Departemen Pertanian. I. Departemen Pertanian. 1995. Hardianto. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Kusnadi. 65 hlm. 235−248. Hendarto. hlm. Masbula. Lutz. Tanah dan Air.G. hlm. dan N. Statistik Indonesia 1980/81. strategi dan program penelitian pengembangan. Biro Pusat Statistik.. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. dan I. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. Bogor. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan.M. Badan Litbang Pertanian. Scherr. The cost and benefits of agro-forestry to farmers. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai.L. Nurida.. Abdurachman. Biro Pusat Statistik. and S.DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. dan F. Bogor. Prosedur pelaksanaan. Suwardjo. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian.. 1987. Biro Pusat Statistik. Jakarta. hlm. 131 hlm. T. Agus. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. M. 125 hlm. U. hlm 1−21. Jakarta. 1−14. Fagi. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna . 25−38. DHV Consultants. T. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Ismail. 1981. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.O. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. 99−120. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. Nurida. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1988. 1994. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. A. Jakarta. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. R.

Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Jakarta. Jakarta. A. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. The Farmer’s Viewpoint. Laporan Tahunan 1988/89. S. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. B. Badan Litbang Pertanian. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/87–1990/91. Jakarta. Tanah dan Air. 1985. Pakpahan. S. A. Laporan Tahunan 1986/87. Hardono. KEPAS. Jakarta. 89 hlm. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. 185−194. 25−38. Jakarta. Monograph Series No. Tanah dan Air.. dan Air. M. dan Air.5: 98 hlm. Purwoto. A. 1994. Badan Litbang Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Saliem.P. 15−32. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian). Nelson. Laporan Tahunan 1987/88. Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. . 1992. Jakarta. Tanah dan Air. H. dan Air. Syam. N. Yogyakarta. dan G. Kristianto. IMF & World Bank. Prawiradiputra. Badan Litbang Pertanian. Tanah.. Managing Drylands. Tanah. Napitupulu. BPFE. hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Tanah. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS. 11−19. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1991. K.. Finance and Development. Syafa’at. hlm. dan A. 1990. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Bogor. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air. 1985. 1995. 51 hlm. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. hlm. The cost and benefits of soil conservation. Jakarta.dan Brantas. Tanah. 72 hlm. 85 hlm. p. 1989. Sukmana.R.N. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. R. Badan Litbang Pertanian.S. The World Bank Research Observer 9(2): 273−295. Badan Litbang Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1979. Reiche. dan Air. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. 1987. Pagiola. Badan Litbang Pertanian. dan Air. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai. Lutz. Ginting. 83 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. 75 hlm. 1985. 69 hlm. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. E. 1988. and C. Tanah.

S. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu. 14 hlm. H. hlm 21−31. Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. 11−18.L. Syam. dan H. Sembiring. Jakarta. suatu tinjauan sosiologi. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. Tanah dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. A. 1988. M. Badan Litbang Pertanian. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo. Syam. M. A. C. dan H. B. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Suwardjo. S. H.. dan Suwardjo. 1989. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR). Badan Litbang Pertanian. Sembiring. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1979. Sukmana. R. Mustadjab. Kusnadi. A. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. B. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Sofijah. G. H. hlm. Rachman. Badan Litbang Pertanian. Tanah dan Air. A. Jakarta. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. Jakarta. G. 45 hlm.Pusat Pengembangan Agribisnis. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. Prasetyo. hlm. dan U. hlm. U. Sukmana. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 18−24. Soemarno. 1994. Risalah Lokakarya Penelitian . Jakarta. 1989. 257−266. Sembiring. Malang. M. 1989. hlm. Tanah dan Air. Thamrin. dan S.. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. 1985. 24−28. Semaoen. Jakarta. 77−90. Tanah dan Air. dan A. Farid. 1991. Malang. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Setiani. Tanah dan Air. Pusat Pengembangan Agribisnis. Suwardjo. Amir.. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. 1991. Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem.. Badan Litbang Pertanian.. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat. Sukmana. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. P.. 1991. dan A. and I. Bogor. Pengaruh teras. Kartono. A. Rachman. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga. A. hlm. Kartono. Ispandi. Watung.. Proyek Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. Brawidjaja University Research Center. Haryati. Rahmanto. 18−29. hlm. Farid. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. Suwardjo.

A. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. 85 hlm. 1981. O. A. hlm. teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi.. Suwardjo. Blitar. Satjapradja.. 217−224. hlm. Sukmana. Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. Tanah dan Air. Bogor. Nurida 1989. 1993. Bogor. 1988. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi. Kartono. Cisarua.L. Al Sri Bagyo. Syam. 1986. Badan Litbang Pertanian. A. Ginting. E. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Sutadipradja. Disertasi Sekolah Pascasarjana. 15−35. hlm. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu.O. 47−65. Sinukaban. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas. Adnyana. hlm. dan A. dan M. Tulungagung. Jakarta. 27−29 Februari 1984. Kabupaten Malang. 199−222. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Propinsi Jawa Timur. Ispandi. dan Trenggalek. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region. IPB. R. Soediman. Hardianto. Thailand. U. A.N. Chang Mai. Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat Penelitian Tanah. 1984. Syam. Watershed management approaches in Indonesia. 68−82. 21−30 November 1984. hlm. dan N. . G. Kusnadi. H. Barus. Bogor.Sistem Usaha Tani. Tim Survei Tanah DAS Brantas. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Bogor. and Hadipurnomo.31/PPT/1988. Perbandingan teras bangku. S. No. Buku-I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 185 hlm.. N. Suwardjo.