Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 – 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity),

kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat. Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifatsifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluransaluran air. Disamping itu dengan berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.

Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan (Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 – 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 – 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga

memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

Jumlah. rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat .Gambar 1.

.

1979). kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. pengembangan tenaga listrik. perikanan. tengah dan hilir. perluasan kota / daerah permukiman. pembangunan kanal. dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas. Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu. seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. perkebunan. 2. pertambangan. industri. transportasi / navigasi. Perbandingan antara aliran maksimum. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). 3. sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam. Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan. rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup. teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. antara lain. maka dalam pembangunannya pun. Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya.Gambar 2. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill. kehutanan serta kegiatan lainnya. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana. pertanian. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem. maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. . Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS. Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan. kegiatan pengerukan. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur.

R. benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS. pemasaran hasil. Gill. sektor. No. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan. atau profesinya. Bull. Rauschkolb. tanpa atau dengan benturan yang minimal. Setelah perencanaan secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan dapat dilakukan oleh setiap stakeholders sesuai bidang. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam. diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu.Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional. hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai. apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai. Daftar Pustaka Badrudin M. Soil. industri . Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini. maupun kemungkinan terjadinya banjir. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation.S. No. waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. industri dan air minum. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama. FAO. penyediaaan air untuk irigasi. 1978. berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah. Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. 1979. (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. 1971. potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan. kelembagaan. Direktorat Penyediaan Masalah Air. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. N. pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. harus diperhitungkan. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah. FAO Soil Bull. Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia. Pengembangan pertanian di daerah berlereng. 44. (2) pembangunan daerah atau wilayah. akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. erosi. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. 13 . tingkat pendapatan. pertambangan. sedimentasi dan lainnya. Di dalam perencanaan yang demikian. karakteristik hidrologi DAS. Land Degradation.

Pawitan. Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Lampung.. Dalam Carpenter R.A. 1994. Indonesia. Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman. 1981. Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java.L. 1983. Mc. H. Ph. and Sinukaban. H. 1994. Amstrong. Amstrong and MG Nethery. Aust. 1998. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. S. Arsyad. Soil erosion by Water. Contour Vol. J. N. Sinukaban. Sinukaban. Toward Sustainable Land Use. Swaify. (Ed). Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. Pawitan. Lang Druck AG.” Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting).D Thesis University of Winconsin. Madison.wordpress. Soil and Water Cons. Integrated Land Managementfor Sustainable Agriculture Development in Indonesia. J. N. Bern Switzerland. Co:19-161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation). Cilegon. USA. 1983. Publ. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. Arsyad. S. N. Arsyad. El. VI no. “Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. Indonesia. S. 1998. dan P. “Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. West Java. 2004. Arsyad. 1. Natural system for Development What Planners Need To Know. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment. and J. A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. Sinukaban. Sinukaban. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies).A. Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71. Proceed of International Seminar on “Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production” 3 – 5 Dec 2004. N.. Sinukaban. J. Suwardjo dan S. S. millan. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System.Sihite. 1985.com/2008/ . 7(3): 25-29. N. Sumber: Naik Sinukaban (2007). Krisnalajati.

Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi . menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. sosial. Dalam Undang-undang tersebut desentralisasi menyangkut penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di bawahnya. Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (1966-1998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah. dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan . Namun prinsip desentralisasi bukan hanya mengenai penyerahan wewenang pemerintahan. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan. kerusakan lingkungan hidup di daerah . dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi.1999). tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. dan lemahnya kelembagaan di daerah. pembagian. dan politik. Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat.Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah. sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas. Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. meningkatkan peran serta masyarakat. terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan. tingginya tingkat kemiskinan di daerah. Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.

secara keseluruhan. Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat. Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah. sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. dan sosial budaya. Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. efektif. Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA. sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah. Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial. sumberdaya buatan manusia (man made capital). dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah. Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA. sumberdaya manusia (human capital). Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu. ekonomis. 1999). (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata. longsor. dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo. (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan. Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir. terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi. Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis. erosi. yaitu sumberdaya alam (natural capital). sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besarbesaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia. dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien. (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata. . dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Sungai. Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya. dan temporal (waktu). Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang). biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi. Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup. Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi. Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik. dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem.Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun. abiotik. Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. Rusaknya hutan di . Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem. sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. fungsional. Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggungpunggung bukit/gunung. Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). pada umumnya berada di tengah DAS. sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. Selanjutnya OTDA dijadikan alat untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan. sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi.

dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya. Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat. fleksibel. sedimentasi. dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu. dan lahan. Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial. Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS 4. menyeluruh. efisien. Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. erosi. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait. dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar.bagian hulu akan menimbulkan banjir. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. hutan. Membangun sistem legislasi yang kuat 3. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional. terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem .

penyelesaian konflik dan . Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi. UU No. atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. ekologis. udara. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. mineral. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah. dan sosial budaya. Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. pemberian sanksi. pemeliharaan. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan. rehabilitasi. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. perlindungan. penguasaan. seperti lahan. hutan dan lanskap alam. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik.pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA.Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan. air. pengusahaan. maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi. Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. keputusan presiden. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota. 22/1999). Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat.

et. adat istiadat. Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks. dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya. batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya. 2000). . hak-hak istimewa yang telah diberikan. Jepang. dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS. apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo. 2000). dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia. Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. dan abstrak yang mencakup ideologi. Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya. et. serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. 1987 dalam Kartodihardjo. al.sebagainya. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS. Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat. hukum. aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. Oleh karena itu.al. Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. rumit. bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya. sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. bahkan Thailand. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid. Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. 2000).

serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu. kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. ketidakadilan (inequitable). Prinsip one river. Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS. ketidakefisienan (inefficient). Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan markup. sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya. . Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi. ketidaksinambungan pembinaan program. longsor. pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya.Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. Kemampuan petani. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik. Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. perencana pengelolaan DAS. Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir. sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program. Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible).

S. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. PENDAHULUAN . Nuryantono. H. DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo. UU No 28 Thn 1999. K. 1999. Paradox. R. U. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS. dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL). 1999 tentang Pemerintah Daerah. Undang-undang Otonomi Daerah UU No. dan Masalah. H. 1999. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1 SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI Tejowulan. dan N. dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. 22. 18 Februari 1999.Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN. K3SB Bogor. H. UU No 25 Thn. Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. Pasaribu. serta Upaya Peningkatan Kinerja. (b) membangun sistem legislasi yang kuat. A. Kartodihardjo. Sudadi. UU Otonomi Daerah. Stockmayer. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. Bogor. Murtilaksono. 2000.S. 1999. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep. 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.

pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan. Selain itu. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia. air tanah. Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. air tanah. maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. hutan dan ikan. Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable). (3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi. Dalam pengelolaannya. teknik. drainage area. Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah.Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. dan ikan dapat menyusut atau habis. ekonomi.1974). dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap. . (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. seperti udara. sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. hutan. berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard. ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring). Misalnya. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah. Akan tetapi secara keseluruhan. Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. Memang ditinjau secara local atau setempat. tergantung dari gatranya yang diperhatikan. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin. sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. atau river basin. Atas dasar kehadirannya. DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya.

Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. Disamping memiliki ciri penting berupa “organisasi dalam“ (internal organization). Sebagai contoh. “Lingkungan” ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external). Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi . Arti “terpadu” di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain. seperti minyak bumi. air (air permukaan dan air tanah). Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate). kebun. suatu sistem dipisahkan “batas system“ dari sistem yang lain. manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah. penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran.1978). Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan. (2) Takterbarukan (non-renewable). Namun karena berlainan kepentingan. relief. atau disebut pula dengan “struktur fungsi“ (fungtional structure). ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang. keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. geologi. Sebagai contoh. dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. bentuk (form). atau sumberdaya mineral. Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS.mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti. atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. yang berdaya (affect) batas hidup. Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya. hewan (fauna). Yang dinamakan “sistem” ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir-anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom. DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size). tetumbuhan (flora). 1979). kelakuan dan kegunaan masing-masing. DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat. sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. tanah. yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja. DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. dan sebagainya. Spedding. Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. ladang. ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability). bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated). relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif. yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). panas dan cebakan mineral. hutan kemasyarakatan (HKm). 1979. Sebagai contoh.

atau lewat peranan DAS. Gatra-gatra ruang.penggunaan DAS. Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan.. yang akhirnya hanya akan saling merugikan. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk. yaitu atmosfir dan laut. Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS. DAS penampung air. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan. Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung. Tanpa perencanaan tataguna yang memadai. Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir. . Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi. DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat. DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau). bentuk. karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS. Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi. ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas. nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama. mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir. dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. 1964). dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut.

bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system). Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions). ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya.proses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan. maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir. Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS. DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS . dibentuk oleh proses. termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala. Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik. Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer). Dasar pengelolaan kedua. Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS.Setiap DAS cenderung memperluas diri. Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions). Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS. Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir. Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting. baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu.

DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. vegetasi. yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama. (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir. relief. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives). Ungkapan “manfaat lengkap” dan “kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu” mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal. Dalam rencana pengelolaannya. ruang/luas. yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. Yang dinamakan “commended area” ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum.Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting. Adapun anasir yang lain. sebagai usaha mengendalikan banjir. vegetasi. (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. Untuk mengarahkan pengelolaan. ini dapat sebuah atau lebih. bentuk. yang menjadi sumber pembuatan alternatif. tanah. sumberdaya mineral. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. seperti iklim. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna. yaitu sumberdaya tanah dan air. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables). Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah “commanded area”. Khusus mengenai pengelolaan DAS. beberapa gatra tertentu manusia. diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak. relief dan manusia. kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi. Dalam ungkapan “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian selaras dan lestari. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan “commended area”. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya. . Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah “watershed” digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah. Yang ketiga ialah kendala (constraint). (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan). ketercapaian dan keterlindasan. diperlukan tiga unsur pengarah. air. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim. dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif.

sulfat masam. (6) Penggunaan lahan kini. . (4) Intensitas. alkali. Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3.(5) Rupa dan vegetasi penutup. (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah. Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem. jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup. dan mineral mentah. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. Dari bagian ini tampak. jeluk (depth) pukul rata air tanah. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan. (6) Penggunaan lahan terkini. jangka waktu dan agihan curah hujan. karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh. termasuk fisiografi dan hidrologi tanah. daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi. atau kesempatan yang terbuka. atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). dan keadaan tanah. (4) Intensitas. 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan. dalam pengelolaan DAS hilir. Dengan kata lain. Sementara itu. dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman. termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. ketinggian muka lahan pukul rata.Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora. atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. gambut tebal. sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. (3) Timbulan makro. bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman. (4) Meliorasi tanah. pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu.

Misalnya. iklim. 1973).DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. dan kemantapan struktur tanah. karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat. bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. baik) atau dengan nilai tertentu (scoring). Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. sedang. Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS. Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. . keterlindasan (trafficability). Dalam lingkungan iklim kering. Macam data yang sekurangkurangnya harus dikumpulkan ialah: 1. erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng. dan hanya dapat diketahui. Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah. permeabilitas tanah. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS. yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok. Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. dan keramah tamahan penduduk. kebersihan air.

dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). dataran estuarin. termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. dataran interfluvial. Prioritas penanganan segi-segi persoalan. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama). dataran banjir. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal). Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. memiliki urutan kegiatan yang jelas . bentukan morfologi destruktif. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya. Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi. Keadaan iklim hayati. atau kerangka pendekatan. kesimpulan atau petunjuk tentang : 1. 7. 4. Kerapatan dan distribusi penduduk. kemampuan usaha. tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap. 5. 8. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi. baik produktivitas maupun potensialitasnya. maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya. termasuk tataguna sumberdaya air kini. morfologi karst. erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. untuk daerah-daerah beriklim kering. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. Maka system analisa seperti ini disebut pula “pendekatan bertingkat dua”. tingkat kesehatan. peneplain. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah. baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya. 6. Kemampuan lahan untuk pertanian. 3. dan sistemnya dinamakan “pendekatan sejajar” (ILRI. mata pencaharian. yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah. seperti lembah. hidrolika sungai. menjadi satu sistem analitik. 2. sedimentasi. laju pertambahan penduduk. 3. pembentukan delta. Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. dan mobilitas penduduk. 4. tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. 9. yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. 1977). Macam dan jumlah masukan yang diperlukan.2. dsb). unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah.

(1979). ILRI Publ. Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik. & Harrison. Concept of applied ecology. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi. R. Oleh karena itu. Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya. Mon. No. dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya. FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI). Appl. Sci. Wageningen. R. Aspects Watershed Management. (1978). PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Dawes. terencana. Land evaluation for rural purpose. Interdisc. dan Smith. Springer-Verlag. maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya. bermanfaat. Dent.J. State University. London. dan berkelanjutan. De Santo. Framework for land evaluation.B. Proc. Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan.H. M. diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah. Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa “…professional from the many different disciplines will … work in concert to bring about total watershed managenent”. Blackie. Land Recl. Inter. Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini. A. Wageningen . J. Untuk keperluan pengharkatan lahan. asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. (1977). 1977).tanpa langkah-langkah yang saling berhimpitan. Symp. ILRI. S. Improv.J. (1970). System simulation in agriculture. pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu..R. Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS. Influence of soil on water yield. New York. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. DAFTAR PUSTAKA Brinkman.S. karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. Publ. 17.(1979). J. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. Ltd. Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi. memilih pendekatan bertahap (ILRI.

1-2. Menard. San Francisco. Storie. H. D. T. Kon. Mon. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. Ltd. MG. Rancangan pertama. Rqy. C. Agr. D. 1973.L. G. Symp. Belum diterbitkan. W. 1977. India Publ. S. Inst. O. Berkeley. ___________. Oldeman. (1964). resources. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. Seminar Penghijauan P. Bull. London.E. 1964. C. I. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan.R. Appl. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. UGM. 1976. No. Calif. Morgan. Civ. editors. & Drajad. Tech. P. S. Ascept Watershed Man. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. 1979. Amsterdam. P. Wasington. A. WH. L. h. Soil. New York. 1980. M. E. R. Inc. XA. M. Steele. New Delhi. . Satya pakashan. Assoc. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. National Science Foundation. 1974. 303.Leopold. ___________. Pert. D. W. Soepraptohardjo. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru. Handbook of soil evaluation. 8. Yogyakarta. H. / R. R. H. R. O. Proc. London. A.. & Robinson. Geology. Dep. J.B. 1979. Freeman and Co. H. Freeman and Co. Introduction. Ltd. 1979. Fak. G. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co. Ch. 1980. Students Store. M. Technology of agricultural land development and water management. D. 1967. Sukodarmodjo. Wolman. Sci. G.P. _______________ 1980. Publ. 25-34. 1973. K. San Fransisco. and society. Ground Water. Bogor. C.. E. Soil suvey interpretation and iats use. R. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian. Meinzer. Hydrology. Proc. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. & Arora. Amer. Dan Miller. Spedding. & Drajad. Notohadiprawiro. & Nelson. 1942. London. Fao Soil Bull. Univ. J. Dalam: Meinzer. Martin. Yogyakarta. R. Tanah. A.E. 1975. K. 1970. Editor. 50th Symp. State Univ. Nelson.W. Trop. C. I. Tawangmangu. Soc. Inst.. Michigan State Univ. Design and management of rural ecosystems.. An introduction to agricultural systems. Tropen. Dover Publ. ASRA Information Resosurces. New York. Soil erosion. Logman. Fluvial processes in geomorphology. Interdisc.

Makalah ini menguraikan cakupan. Andy Cahyono Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS. tetapi aplikasinya belum. ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned. Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama. tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. IBB. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis.id ABSTRAK Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. Tanggapan : 1. Yani – Pabelan. 3.net. Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan.en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu. J. 2. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya. 67e Jaarverslag Kon. Nugroho S. Solo Email: bp2tp@indo. dan Upaya Penerapannya C. 2. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. Untuk itu. Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan. but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource .Wassink. Memang benar. een samenspel van land. A. 4. Tropen Amsterdam. Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja. 1979. dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai. Permasalahan. faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting. Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi. Jln. Perubahan situasi. Agroforestry. DISKUSI Pertanyaan : 1. Priyono dan S. Inst. Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam. T. kondisi. permasalahan pengelolaan sumber daya alam.

kondisi. pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi. Di Indonesia. dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya.699.degradation in the watershed. pengetahuan teknis. The current change of situation. Makalah ini menguraikan cakupan. kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12. dan pergeseran paradigma. condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies. Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS. Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk. Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management PENDAHULUAN Persoalan sedimentasi. Ditjen RRL. mengumpulkan air hujan. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9. pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. 1999). Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). CAKUPAN PENGELOLAAN DAS Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima. meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan. dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23. . Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006). problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it. permasalahan. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. In the watershed management. This paper discusses the coverage. kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat.632 ha. 2000. dan kekeringan. banjir. Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology.000 ha. the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations. dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan. Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis.000 ha (Soenarno.714. permasalahan pengelolaan SDA. penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor. dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969.517. sedimen. Sementara itu.

Sementara itu. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya. Namun demikian. kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39. dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. laju kehilangan hutan semakin meningkat. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001). Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input. 57. hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk). kemudian meningkat menjadi sekitar 1. maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA. Sementara itu.7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan. Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis. PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS. Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia. laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan. pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan. Pada tahun 1998. Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi. sehingga masih ada kekurangan 34. Sumber daya hutan Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia. maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan. Oleh karena itu.04 .Oleh karena itu. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun. DAS sebagai pemroses. pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan.18 juta m3 pada tahun 2003. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono.14 juta m3. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS. kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18. tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi. Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. 2003). dan air sebagai output.7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an.75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52.

1998). Selain itu. pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan. Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan. Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya. Di Pulau Jawa. Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat. Dalam satuan DAS. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan. Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL). sementara pada musim penghujan banjir terjadi di mana-mana. selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung. Sumber daya lahan Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian. karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian.. The World Bank (1990) memperkirakan 40. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al.3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. 2000). The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. Ditinjau dari aspek kualitas. laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS.. maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian akan mengancam lahan hutan. Mencermati hal tersebut. tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat.. Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997). Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas. Mulyana (1998). diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. jumlah air tersedia mencapai 142.8 milyar m3/tahun (Kananto et al. dan Cahyono (2001). 1999). .juta m3 (Goldammer et al. Untuk itu. Sumber daya air Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum. terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. Sementara itu. Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut.000 ha/tahun lahan pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia.

10% spesies mamalia. daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari. penebangan pohon. dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia. 2000). Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. dan bersinergi. maka kehati-hatian sangat diperlukan. Begitu pula dengan tanaman palawija. Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem. maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. deforestrasi. TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir. banjir. 2002). Misal. padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi. Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS. Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat. Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi. pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir. tembakau. Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity. sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. meliputi 11% spesies tumbuhan dunia. Hasil penelitian Abbas (1997). Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi. dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya. atau Pasang di Sulawesi Selatan. Dalam kaitan inilah. Akibatnya. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. dan pemanfaatan lahan secara intensif. . pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain. kebakaran hutan. meskipun menyebabkan erosi (Donie. 2001). terjadi penggundulan hutan. berinteraksi. kekeringan. Diversifikasi flora fauna Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Mulyana (1998). Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia. kentang di Dieng Wonosobo. dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna. Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait. konversi lahan.Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS. dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. berintegrasi. yaitu: a. hortikultura. dan c. Degradasi lahan. b.

sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. . tenaga kerja. dan sebagainya. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi. peternakan.Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan. sedimentasi. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian. Pertanian merupakan suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan. Dari sisi ekonomi. maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. longsor. petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut. modal. Untuk itu. Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa. maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. Oleh karena itu. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya. mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi. Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. Jadi. dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1). air dan sebagainya. hasil hutan. dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian. kehilangan unsur hara. rekreasi. tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. Petani dengan pendapatan rendah. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002). maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS.

Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air. Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad. tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari.Gambar 1. 2000). Sistem Pengelolaan DAS secara umum Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah. . sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air.

Penerbit IPB Press. Bogor. 2001. tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan. Arifin. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi. kebijakan. DAFTAR PUSTAKA Abbas. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama.A. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. Arsjad. Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi. kelembagaan. Departemen Pertanian Republik Indonesia. 1996. . Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait.Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi. Program Pascasarjana. Cahyono. Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Konservasi Tanah dan Air. 2000. semua pihak perlu mengimplementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. 1997. pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi. PENUTUP Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air. Kontroversi Program Konservasi Lahan. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah. B. Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. S. Bogor. dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS. S. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif. S. mengingat adanya perubahan tatanan politik. Yang penting dalam hal ini adalah. Tesis Magister Sains. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati.

Bogor. Prilaku bertani masyarakat Dieng. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. Bogor. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. C. 1999.. 15-39.S dan S. dan Widayati. S. B. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta. A. A. Program Pascasarjana. Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. Indonesia: Sustainable Development of Forest. W. pp. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000. 21 November 2000. 23 September 1998. and H. Forest Watch Indonesia. Kurnia. Potret Kehutanan Indonesia. 9 September 2002. The World Bank. Schindelle. Hoffmann. Priyono. Institut Pertanian Bogor. Forest Watch Indonesia. Departemen Kehutanan. Abberger. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka. 2001. hlm. 1998. A World Bank Country Report.Cahyono. 20-23 September 1999. 2000. Donie. J. 1998. 1999. 2003. Jakarta. A. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. hlm. W. Samarinda. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Goldammer. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah.A. U. kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. Donie.S.N. Land and Water. 2002. Surakarta. Jakarta. Hatmoko. Soenarno. Disertasi Doktor. Mastur dan S. Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. Info DAS 13: 14-26. 2000. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. S. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. Washington. Jakarta. Cahyono. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi.A. hlm. Sumber: . Bogor. 19 hlm. Mulyana. Bogor. Alami 8(1):1-5. Wonosobo. 2-3 September 1999.G. Daerah Banjir di Indonesia Bertambah. 1990. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. 2002. Kananto. 2000. C. Priyono.N. hlm. Seibert. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement.

Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Jalan A. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and farmers’ income. In early stage. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects. 22(4). budi daya tanaman pakan dan usaha ternak. animal husbandry. Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian.SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. 70. varietas unggul. and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. Yani No. improved variety. serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. and decrease erosion rate. serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. The general objectives of the projects were to increase land productivity. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. The level of technology adoption was partially high enough. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Kata kunci: Lahan kering. and vegetative land conservation. fodder crop culture. khususnya teknologi pola tanam. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi. pengelolaan daerah aliran sungai. 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. Pada tahap awal. and farmers’ income. pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi. the government needs to improve quality of human resources and through the provision of . especially cropping pattern. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. serta dapat menurunkan laju erosi. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor.

Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu. Sukmana et al.70% selama 14 tahun. (1988) mengemukakan bahwa. dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. Namun. topografi curam. kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. dan Proyek Bangun Desa. upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo. Proyek Wonogiri. At the development stage. mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya. land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian.408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6. watershed management. dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990). serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya. produktivitas umumnya rendah. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim. pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran. . Keywords: Uplands.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7.30%) dalam periode yang sama.400. kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan. produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994). luas lahan kritis justru makin meningkat (16. Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan. Selain itu. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah). meningkatkan erosi dan sedimentasi.subsidy. upaya tersebut belum berhasil. Di dalam kawasan hutan. Namun. government needs to encourage private sector in dry land investment. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000). Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi. serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6. Pada tahun 1950. Namun.936. perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%).

dan tomat. dan flemingia. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan. antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air. Solo. dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa. Hardianto et al. kedelai. kacang panjang. 1986). Tanah dan Air 1985). mentimum. ubi kayu. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan. johar. petani menanam kacang gude. melinjo. sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi. sengon. dan ayam buras. dan koro pedang sebagai tanaman sela. Namun. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku. glirisidia. mangga dan pisang. sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah.tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat. lamtoro merah. pola tanam yang kurang baik. kaliandra. Cimanuk. bawang merah. . dan mahoni. padi gogo. akasia. penghasil kayu seperti jati. domba gibas. seperti DAS Citarum. Dari 80 DAS bermasalah tersebut. koro benguk. sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro. juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu. lahan usaha tani sempit. dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400. kambing kacang. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0. Selain itu. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan. kambing peranakan etawa (PE). 36 DAS tergolong DAS prioritas. petai. Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1. dan kacang tunggak. Citanduy. Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah. Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar. kacang hijau. pekarangan untuk tanaman tahunan. Lebih lanjut Hardianto et al. dan Brantas (Sutadipradja et al. menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah. Jratunseluna. dan perbukitan. rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan dan limbah tanaman pangan. sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. kacang tanah. program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian. tegalan. turi. serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO). dan menghasilkan pupuk organik.30–2 ha. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa. Di samping itu.

.2. yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis. Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis. USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal. potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi. Departemen Keuangan (pengawas keuangan). Prawiradiputra et al. kondisi sosial ekonomi. Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang.218. dan pola tanam kurang baik. dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis. Pada tahun 1975. sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan. Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar. Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No. tingkat kekritisan lahan.731.751. Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi. perkebunan. Berdasarkan tingkat kekritisan lahan. lereng curam. pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13. Di samping itu. maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan. jenis tanah dan iklim. Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis). tah n 1988 turun menjadi 9. tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering. atau setara luas Pulau Jawa. Departemen Kehutanan (perencanaan dan pemantauan). Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas. lahan kritis di Indonesia mencapai 10. Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah.000 ha. antara lain sumber terjadinya lahan kritis. Di daerah lahan kering. Departemen Pertanian (bantuan teknis). pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985).970 ha. dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. 8/1976).000 ha. Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan. Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan. Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. 4. dan tingkat bahaya erosi. dan Bappenas. 3. selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan. yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan). yaitu perbaikan teknologi. kebijakan yang tepat.

Sehubungan dengan itu. dan Air 1990). penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut. tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk. Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani. maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan. kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi.175/Kpts/RC. dan kegiatan pembinaan.90% (Pakpahan et al. Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. langkah-langkah. ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah. dan asas-asas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). serta melibatkan ternak. . rumput pakan pada bibir dan tampingan teras. juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani. Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku. Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985).220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan. pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979).Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu.80% dan 76. tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%. Tanah. menurunkan laju erosi. saluran irigasi) di bagian hilirnya. Di Indonesia yang memiliki iklim basah. kultur teknis. Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991). 1992). Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95. Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No. serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan. Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak. Di Jawa Tengah. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan. kemiringan lahan.

atau kemiringan lahan 15−45%. dan ternak. Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A). bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani. Pada model B dan C. sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2). serta ternak. Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B. dan pola usaha tani.D) didasarkan pada kemiringan lahan. Pada usaha tani model D. rumput dan leguminosa pohon pada guludan. Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan.Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud. dan leguminosa pohon. tanaman tahunan. ditanami tanaman tahunan.C. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu. . rumput. kedalaman tanah. ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan. dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . kepekaan terhadap erosi. tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah. hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak. hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan). sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan.

.

20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi.60 t/ha/ tahun untuk model A. dan 5. 10. Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap. Sembiring et al. Pada dua model lainnya (A dan D). karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10. Pemanfaatan Tanaman Tahunan . serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik. Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi. 8. yaitu model B sebesar 3.40 t/ ha/tahun pada 1990/91. sedangkan pada model petani relatif tetap.Setelah tahun ketiga.40 t/ha/tahun untuk model C. pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil.50 t/ha/tahun untuk model B. tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang. erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi.40 t/ha/tahun.20 dan 11.20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988). yaitu berturutturut 20.

baru 2–3 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. getah. tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan Air 1988). 1993). dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. Tanah. Tanah. petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. 2) dukungan eksternal (penyuluhan. Berkaitan dengan itu. tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat. seperti kayu. manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi. yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani. Tanah. tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi. subsidi. Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi. Selanjutnya. (1995). Namun. Setiap tingkat kelerengan. dan makanan ternak (Syam et al. karena dalam periode tersebut. serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya). swasta). Namun. Sebagai contoh. Ketiga. Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. seperti diuraikan oleh Lutz et al. (1994) dan Current et al. dan Air 1989). manfaat dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu sama lain. pemasaran.Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. Tanah. manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. kredit. dan Air 1988). Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh. Di beberapa daerah. Pertama. di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas). dan 4) ketersediaan . pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah. Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama. dan Air 1987). Kedua. pupuk kompos.

Sehubungan dengan hal tersebut. pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1. dan bawang merah. jati. dan harga jualnyapun cukup baik. Untuk pola II. seperti kedelai. dan tanaman pangan. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani.850/ ha dan Rp 873. Hardianto et al. masing-masing Rp 877.81−6. rumput setaria. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem. rumput gajah. adpokat. rumput gajah. lamtoro. dan tumpang sari. Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi. pepaya. Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah.13 t/ha di Trenggalek dan 5. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. rumput setaria. karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. memberikan hasil cabai 4. adpokat.525/ha. 1992 dan Sembiring et al. ubi kayu. kedelai. pisang.000/ha).50 t/ha di Malang (Hendarto et al. 200 kg TSP. hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al. yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan. pepaya. dan 200 kg KCl/ha. tanaman tahunan/hortikultura. dan kacang tanah. dan terendah pada pola II (Rp 120. Tanaman tahunan seperti kelapa. Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani. 1991). Pada pola III. adpokat. model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak. Ditinjau dari aspek konservasi tanah. pisang. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. demikian juga ternak kambing. karena petani cenderung memberikan . dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama. 1985). pertanaman lorong. komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah. dan model D: jagung. 1991). sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. cabai. teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi. pisang. rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah. dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan. pemberian pupuk kandang 10−15 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea. pisang.43−5. kacang tanah. model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak. Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur). Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung.478.350/ha). pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah. konservasi tanah. sentro sema.teknologi. Dari keempat pola alternatif tersebut. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi.

Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah. rata-rata 44%.90%. Di samping itu. tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56. 4) sistem pendukung/ pelayanan.60% dan model C 28. sedangkan pada petani model B hanya 35. dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang. Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. perkreditan. sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai.pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. penyuluh. dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 4−5 ekor. Abdurachman et al. peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting. Selain itu. petani model B. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek. 3) tingkat partisipasi petani. dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang. Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan.50% dan 102. dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing. aparat desa. dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi. 1992). Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani serta adanya kerja sama antara peneliti. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran. dan kelompok tani sangat penting. dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama. C. khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga. Selain dukungan dari atas.20%. penyuluh dan kelompok tani.30% dan 12. Keterkaitan antara peneliti. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani. masing-masing 105. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani. 2) adanya keterkaitan peneliti. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. tetapi selanjutnya menurun. dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya. Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi. penyuluh. Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang.60%. adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani .

kacang tanah. dan jagung 0. Selanjutnya Syam et al. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani. dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. seperti teknologi pembuatan teras. Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan. dan keinginan petani. ketebalan solum. pola tanam. sifat tanah). (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator. Namun. atau melalui tengkulak yang datang ke desa. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek. (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras.menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. yaitu aspek pemasaran. Rachman et al. petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya. karena keterbatasan kemampuan. petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa. masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi. tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. kacang panjang dan cabai. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah. waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia). Aspek teknis Sembiring et al. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. kondisi tanah (kemiringan. Di lahan kering DAS. Akibatnya . gaplek. Di samping itu. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal. kedelai. 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan. tetapi juga pada petani nonkooperator. dan desakan kebutuhan petani. Dalam memasarkan hasil kelapa. dan aspek sosial ekonomi.30 ton pipilan kering. Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil. KEPAS (1985) mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung. yaitu curah hujan. seperti jagung. Rachman et al. pembuatan saluran pembuangan air (SPA). pengetahuan. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif. dan kemampuan petani (biaya. penanaman tanaman penguat teras. dan jeruk. aspek teknis. kacang hijau. perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. curah hujan. pasar kecamatan. adpokat. melinjo. 1989). Untuk memasarkan hasil tanaman semusim.

Aspek sosial ekonomi Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS. Produk tanaman leguminosa tersebut. atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe. gude (Cajanus cajan). 1989). (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol). dan tanaman penguat teras lepas. bidang teras bergeser. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa. selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. Pada tanah bersolum dangkal. Koro benguk menghasilkan 0.04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. serta komak menghasilkan 1. serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. terutama pada kelompok usia 35−44 tahun (Rahmanto et al. Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah.36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%.51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. seperti tampingan teras runtuh. . keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif. Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas. Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani. Di samping itu.80 t biji/ha dan 0. serta tanah yang bersolum dangkal. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah. sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. 1989). khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis). Modal juga merupakan kendala pengembangan. tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. koro benguk (Mucuna pruriens). serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau. Koro pedang dapat berproduksi 1. pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan. Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. Begitu juga Suwardjo et al. (1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik. dan komak (Dilichos lablab). Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan.53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%.bangunan teras sering rusak. air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air. Gude menghasilkan 0. Di masa mendatang.

serta besarnya ketergantungan pada alam. petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. Menurut Kristianto (1985). sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial. baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat. Namun. data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti. Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak. Namun. . Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah. Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem. lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol. dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al. 1993). Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu. tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. materi kurang seragam. Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan. 1991). Setelah panen selesai. varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal. Di samping itu. sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan pengetahuan. Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan. dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap masih rendah yang antara lain disebabkan oleh:     Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas. dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah. misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan. karena petak percobaan tersebar).Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). yaitu 5−6 bulan dalam setahun. P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas.

2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah. partisipasi dan aspirasi petani. serta sarana/prasarana perhubungan. peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya. Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi. lembaga pelayanan. karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27. tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. kerja sama peneliti. Pada tahap awal. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah. Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat. kebutuhan. dan partisipasi petani. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar. penyuluh dan petani. selain meningkatkan produksi. . Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal. formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi.50% merupakan superprioritas. Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat.Sehubungan dengan hal itu. penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi. Di samping itu. petani dan pihak terkait lainnya. Di DAS Brantas bagian hulu. Pada tahap perbaikan teknologi. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas.

Hendarto.O. Jilid I. Hendarto. The cost and benefits of agro-forestry to farmers.L. 99−120. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. T. 1994. Scherr. hlm. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. Program pengelolaan DAS di Indonesia. Biro Pusat Statistik. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Adnyana. Abdurachman. Fagi. Manwan.G. Jakarta.J. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. D. A. Badan Litbang Pertanian.L. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1991. Agus. 1992. Departemen Pertanian. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. dan F. dan H. DHV Consultants. Current. Bogor. 1981. 1988. hlm 1−21. A.S. Hardianto. 1993. Kusnadi.. hlm. Pengembangan teknologi konservasi tanah pascaNWMCP. Tanah dan Air. Nurida. D. 1987. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna . Jakarta. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan N. 65 hlm.M. R. Departemen Pertanian. Toha. Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. The World Bank Research Observer 10(2): 151−180. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. Bogor. dan N. M. Bagyo. 1993. Jakarta. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. strategi dan program penelitian pengembangan. 131 hlm.. Lubis. 125 hlm. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. hlm. U. Biro Pusat Statistik. Suwardjo. 2000. 1985. 1−14. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. Statistik Indonesia 1994. Bogor.. T. 1995. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB. Badan Litbang Pertanian. Bogor.M. Ismail. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. Jakarta. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda.. Jakarta. dan I. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Lutz. E. Nurida. 25−38. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Masbula. Tanah dan Air. hlm.. 1990. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. hlm 1−17. dan A. Biro Pusat Statistik. 15 hlm. Statistik Indonesia 1980/81. and S. E. I. Biro Pusat Statistik. 235−248. Djumali. Prosedur pelaksanaan. A. 175/Kpts/RC.

1979. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Purwoto. Laporan Tahunan 1987/88.. 72 hlm. Reiche. dan Air. 1985. hlm. Sukmana. 85 hlm. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. hlm. Finance and Development. dan Air.. 1994. Lutz. N. Tanah dan Air. dan Air. Badan Litbang Pertanian. Tanah dan Air. Tanah. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1987. Badan Litbang Pertanian. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. . Jakarta. dan G. E. 1985. 69 hlm. 89 hlm. Syafa’at. The Farmer’s Viewpoint. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan A. Tanah. Jakarta. Tanah. Nelson. 1995. 1989. Bogor. Jakarta. Jakarta. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. Badan Litbang Pertanian. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. Yogyakarta. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. 25−38. 83 hlm.R. KEPAS. Napitupulu. Badan Litbang Pertanian. A. hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Managing Drylands. dan Air. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air.. 51 hlm. dan Air.P. R.N. Syam. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. B. S. Kristianto. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 15−32. Laporan Tahunan 1986/87. Ginting. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/87–1990/91. K. 185−194.S. Monograph Series No. Jakarta. A. A. Tanah dan Air. Badan Litbang Pertanian. 1988. BPFE.dan Brantas. 1985. Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. S. 1992. Pagiola. 11−19. 1990. The cost and benefits of soil conservation. IMF & World Bank. Tanah. Saliem. Prawiradiputra. and C. Hardono. 75 hlm. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian). The World Bank Research Observer 9(2): 273−295. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. p. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS. 1991. Jakarta. Tanah. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Laporan Tahunan 1988/89. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. H. M. Pakpahan.5: 98 hlm.

dan A. 77−90.. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Badan Litbang Pertanian. Kartono. hlm. R. 1991. 1985. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. A. Sukmana. Tanah dan Air. Thamrin. Amir. A. A. sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. dan Suwardjo. B. S. G. Jakarta. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Syam. Jakarta. 1989. Soemarno. dan A. M. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Rahmanto. 1989. Suwardjo.. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu. 1994. Haryati. 1979. dan H. Risalah Lokakarya Penelitian . 11−18. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. Mustadjab. hlm. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Jakarta. dan U.. G. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat. Brawidjaja University Research Center. suatu tinjauan sosiologi. Syam. hlm 21−31. Prasetyo. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Farid... Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. 24−28. hlm. Malang. hlm. Badan Litbang Pertanian. Badan Litbang Pertanian. hlm. H. Ispandi. Sukmana. Jakarta. Sembiring. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. dan S. P. H. Rachman. and I. Sembiring. Badan Litbang Pertanian. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo. Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem.Pusat Pengembangan Agribisnis. H. 1988. Tanah dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Setiani.. hlm. M.. Tanah dan Air. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR). Malang. Pengaruh teras. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. M. 14 hlm. U. 257−266. Tanah dan Air. 1991. C. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. Kusnadi. Watung. S. Proyek Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. Semaoen. Suwardjo. Sembiring. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. A. A. Farid. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Pusat Pengembangan Agribisnis. 1989. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.L. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 18−29. Rachman. 1991. Jakarta. Kartono. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. A. Tanah dan Air. 18−24. B. Sukmana. dan H. Sofijah. 45 hlm. Jakarta. Suwardjo.

Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. 1988. 27−29 Februari 1984. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. Ispandi. Suwardjo. hlm. Barus. Buku-I. A. Tulungagung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.Sistem Usaha Tani. Kartono. Badan Litbang Pertanian. Tim Survei Tanah DAS Brantas. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Syam. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. IPB. 1981. Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat Penelitian Tanah. Kabupaten Malang. Adnyana. Watershed management approaches in Indonesia. N. R. hlm.31/PPT/1988. Sukmana.. teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi. Bogor. Propinsi Jawa Timur. Bogor. Syam. Bogor. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi. Satjapradja.N.. O. Suwardjo. A. Chang Mai. E. H. Blitar. hlm. Sinukaban. and Hadipurnomo. 185 hlm. No. 47−65. dan M. 1984. 1986. Al Sri Bagyo. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Nurida 1989. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu. Bogor. hlm. dan Trenggalek. Thailand. 21−30 November 1984. 15−35. 217−224. Hardianto. 85 hlm. Kusnadi. A..O. Tanah dan Air. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Jakarta. 68−82. G. Bogor. hlm. Cisarua. Soediman. S. . Ginting. dan N. 199−222. A. Perbandingan teras bangku. U. dan A. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. 1993. Sutadipradja.L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful