Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 – 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity),

kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat. Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifatsifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluransaluran air. Disamping itu dengan berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.

Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan (Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 – 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 – 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga

memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

Gambar 1. rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat . Jumlah.

.

antara lain. 2. Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS. kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. perluasan kota / daerah permukiman. 3. maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana. Perbandingan antara aliran maksimum. perkebunan. Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. transportasi / navigasi.Gambar 2. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem. kehutanan serta kegiatan lainnya. maka dalam pembangunannya pun. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas. pertambangan. seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya. tengah dan hilir. . Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). industri. DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill. dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik. Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi. sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. pengembangan tenaga listrik. Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan. pertanian. pembangunan kanal. 1979). perikanan. kegiatan pengerukan. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur.

apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai.S. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. Soil. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan. Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. Pengembangan pertanian di daerah berlereng. Di dalam perencanaan yang demikian. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. R. karakteristik hidrologi DAS. sektor. potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan.Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Rauschkolb. N. maupun kemungkinan terjadinya banjir. tanpa atau dengan benturan yang minimal. pertambangan. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. 1971. 13 . akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. FAO. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam. Gill. diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu. FAO Soil Bull. akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. (2) pembangunan daerah atau wilayah. Bull. kelembagaan. Daftar Pustaka Badrudin M. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi. waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. penyediaaan air untuk irigasi. erosi. (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. Setelah perencanaan secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan dapat dilakukan oleh setiap stakeholders sesuai bidang. yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional. hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai. industri dan air minum. benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS. harus diperhitungkan. Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation. 1979. industri . Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia. Land Degradation. tingkat pendapatan. berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah. sedimentasi dan lainnya. No. Direktorat Penyediaan Masalah Air. No. 44. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama. 1978. atau profesinya. pemasaran hasil.

2004. (Ed). USA. Publ. VI no. Toward Sustainable Land Use.com/2008/ . 7(3): 25-29. N. S. Swaify. 1. 1985. A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. Bern Switzerland. Sinukaban. Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off. dan P. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System. Suwardjo dan S.A.” Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting). N.A. and Sinukaban. S. J. millan. Arsyad. 1983.Sihite.. Pawitan. Arsyad. Indonesia. Integrated Land Managementfor Sustainable Agriculture Development in Indonesia. Amstrong. Natural system for Development What Planners Need To Know. S. Sinukaban. J. Mc. H. Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java. Cilegon. Contour Vol. Arsyad. Ph. 1998. 1994. N. Arsyad. Sinukaban. Dalam Carpenter R. Sinukaban. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman.L.D Thesis University of Winconsin. Pawitan. “Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. El. Aust. Madison. 1981. Lang Druck AG.wordpress. Soil erosion by Water. Krisnalajati. H. Co:19-161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation). Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Lampung. West Java. Indonesia. Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies). Proceed of International Seminar on “Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production” 3 – 5 Dec 2004. J. Amstrong and MG Nethery. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. 1983.. 1998. N. N. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment. Soil and Water Cons. and J. 1994. Sumber: Naik Sinukaban (2007). Sinukaban. S. “Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.

meningkatkan peran serta masyarakat. Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi . tingginya tingkat kemiskinan di daerah. dan politik. Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (1966-1998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi.1999). terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan. Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat. dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. dan lemahnya kelembagaan di daerah. kerusakan lingkungan hidup di daerah . Dalam Undang-undang tersebut desentralisasi menyangkut penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di bawahnya. pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan . Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas. Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat. Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi. pembagian. Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. Namun prinsip desentralisasi bukan hanya mengenai penyerahan wewenang pemerintahan.Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah. tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. sosial. Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.

Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA. sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. yaitu sumberdaya alam (natural capital). sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besarbesaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo. Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah. efektif.secara keseluruhan. longsor. erosi. dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. sumberdaya buatan manusia (man made capital). ekonomis. sumberdaya manusia (human capital). terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir. Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial. (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata. Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat. Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA. (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata. dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah. . 1999). Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu. sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah. (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien. (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan. telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia. Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi. dan sosial budaya. tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis. Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. dan temporal (waktu). Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem. Selanjutnya OTDA dijadikan alat untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan. fungsional. Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya. Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik. pada umumnya berada di tengah DAS. Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang). sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi. biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi. sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggungpunggung bukit/gunung. Rusaknya hutan di . Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. abiotik. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem. dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Sungai. Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS.Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun. dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup.

erosi. sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS 4. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional. Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan. Membangun sistem legislasi yang kuat 3.bagian hulu akan menimbulkan banjir. fleksibel. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional. sedimentasi. terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. dan lahan. dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat. Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air. dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. hutan. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. menyeluruh. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait. dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya. Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar. Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem . efisien.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir.

Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. air. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. seperti lahan. UU No. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah. pengusahaan. 22/1999). keputusan presiden. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2. perlindungan.pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi. udara. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA. maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi. hutan dan lanskap alam. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan. penyelesaian konflik dan . pemberian sanksi. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota. sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. pemeliharaan. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. dan sosial budaya. Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. ekologis. maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi. penguasaan.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam. mineral.Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. rehabilitasi. Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang.

Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat. hak-hak istimewa yang telah diberikan. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. et. Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS. et. 1987 dalam Kartodihardjo. batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya. Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya.sebagainya. . Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. al. Jepang. dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. hukum. apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo. adat istiadat. bahkan Thailand. Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks. Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. dan abstrak yang mencakup ideologi. Oleh karena itu. 2000). serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. 2000). Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid. dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya. 2000). institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo. bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya. dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia. sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. rumit. aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan.al.

walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. longsor. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik.Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. Prinsip one river. . Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible). sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya. perencana pengelolaan DAS. Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS. Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program. serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu. one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. ketidaksinambungan pembinaan program. Kemampuan petani. Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir. Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan markup. pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom. Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. ketidakadilan (inequitable). maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi. ketidakefisienan (inefficient).

Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. UU No 25 Thn. K3SB Bogor. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1 SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI Tejowulan. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. PENDAHULUAN .S. UU No 28 Thn 1999. dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL). DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya.Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA. Murtilaksono. Undang-undang Otonomi Daerah UU No. H. Paradox.S. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. U. Kartodihardjo. 1999. dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). dan Masalah. H. DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo. UU Otonomi Daerah. Pasaribu. R. A. H. 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. 1999. 1999 tentang Pemerintah Daerah. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep. 22. K. (b) membangun sistem legislasi yang kuat. dan N. serta Upaya Peningkatan Kinerja. tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN. Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. Sudadi. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS. Bogor. Nuryantono. 18 Februari 1999. 2000. 1999. Stockmayer.

Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah. ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring).Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. Akan tetapi secara keseluruhan. DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. air tanah. Atas dasar kehadirannya. drainage area. hutan dan ikan. Selain itu. Dalam pengelolaannya. Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya. pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan. (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS. sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia. Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap. maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard. Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable). seperti udara.1974). . tergantung dari gatranya yang diperhatikan. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi. sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. dan ikan dapat menyusut atau habis. air tanah. Misalnya. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin. hutan. tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. teknik. ekonomi. atau river basin. Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik. (3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. Memang ditinjau secara local atau setempat.

keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated). hewan (fauna). Disamping memiliki ciri penting berupa “organisasi dalam“ (internal organization). dan sebagainya. ladang. kelakuan dan kegunaan masing-masing. kebun. Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate). perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo. dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. Sebagai contoh. 1979. 1979). DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. Sebagai contoh. hutan kemasyarakatan (HKm). DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size). DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti. Arti “terpadu” di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain. maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. Yang dinamakan “sistem” ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir-anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom. atau sumberdaya mineral. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif. tetumbuhan (flora). bentuk (form). Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan. DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat. suatu sistem dipisahkan “batas system“ dari sistem yang lain. Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS. sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi . Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. Spedding.mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah. seperti minyak bumi. Namun karena berlainan kepentingan. (2) Takterbarukan (non-renewable). atau disebut pula dengan “struktur fungsi“ (fungtional structure). air (air permukaan dan air tanah). yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja. tanah. ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability). panas dan cebakan mineral. penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran. yang berdaya (affect) batas hidup. relief. Sebagai contoh. atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari.1978). ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang. Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya. geologi. “Lingkungan” ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external).

Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama. Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung.penggunaan DAS. DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. bentuk. DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1. yang akhirnya hanya akan saling merugikan. Tanpa perencanaan tataguna yang memadai. Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas. karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk.. yaitu atmosfir dan laut. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi. 1964). menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat. mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir. DAS penampung air. dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. . Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir. Gatra-gatra ruang. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan. nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. atau lewat peranan DAS. dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau).

Dasar pengelolaan kedua. termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala. Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS. dibentuk oleh proses. ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya. yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS . Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions). Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik. baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu. maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir. Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions). bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer).Setiap DAS cenderung memperluas diri. Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS. Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir. Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting. Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS.proses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan. bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system).

sumberdaya mineral. Khusus mengenai pengelolaan DAS. dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. air. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. ketercapaian dan keterlindasan. bentuk. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives). kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi. Dalam ungkapan “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian selaras dan lestari. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya. relief. Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. tanah. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Dalam rencana pengelolaannya. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables). ruang/luas. beberapa gatra tertentu manusia. yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. Untuk mengarahkan pengelolaan. vegetasi. dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. seperti iklim. relief dan manusia. ini dapat sebuah atau lebih. DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan). . Yang ketiga ialah kendala (constraint). Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan “commended area”. 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak. sebagai usaha mengendalikan banjir. Yang dinamakan “commended area” ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. vegetasi. yang menjadi sumber pembuatan alternatif. DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. Ungkapan “manfaat lengkap” dan “kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu” mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. yaitu sumberdaya tanah dan air. Adapun anasir yang lain. diperlukan tiga unsur pengarah.Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting. diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah “commanded area”. (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah “watershed” digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim. (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir. akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum. (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna.

(3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya.(5) Rupa dan vegetasi penutup. atau kesempatan yang terbuka. (6) Penggunaan lahan kini. (6) Penggunaan lahan terkini. pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. dan mineral mentah. 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan.Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS. .(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan. jeluk (depth) pukul rata air tanah. ketinggian muka lahan pukul rata. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan. Sementara itu. gambut tebal. daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi. dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman. Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3. (4) Intensitas. dalam pengelolaan DAS hilir. (4) Intensitas. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan. dan keadaan tanah. atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah. dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi. jangka waktu dan agihan curah hujan. jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup. bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman. (3) Timbulan makro. atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). sulfat masam. termasuk fisiografi dan hidrologi tanah. (4) Meliorasi tanah. karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh. Dengan kata lain. alkali. Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem. termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan. Dari bagian ini tampak. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu.

iklim. kebersihan air. keterlindasan (trafficability).DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. 1973). Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS. baik) atau dengan nilai tertentu (scoring). permeabilitas tanah. dan hanya dapat diketahui. tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). Misalnya. Dalam lingkungan iklim kering. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah. Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk. lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok. Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. . Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu. karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat. Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). dan kemantapan struktur tanah. bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth. dan keramah tamahan penduduk. Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS. sedang. Macam data yang sekurangkurangnya harus dikumpulkan ialah: 1. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng. Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung.

pembentukan delta. 4. Maka system analisa seperti ini disebut pula “pendekatan bertingkat dua”. menjadi satu sistem analitik. Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi. mata pencaharian. baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama). Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah. tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga. dsb). 3. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya. 6. sedimentasi. untuk daerah-daerah beriklim kering. yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal). unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah. baik produktivitas maupun potensialitasnya. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah. peneplain. termasuk tataguna sumberdaya air kini.2. Kemampuan lahan untuk pertanian. maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. hidrolika sungai. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif. atau kerangka pendekatan. Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan. Prioritas penanganan segi-segi persoalan. Kerapatan dan distribusi penduduk. laju pertambahan penduduk. tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). tingkat kesehatan. Keadaan iklim hayati. 3. 4. dataran interfluvial. dataran estuarin. dan mobilitas penduduk. termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. memiliki urutan kegiatan yang jelas . kesimpulan atau petunjuk tentang : 1. Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. 7. erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. seperti lembah. dataran banjir. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. bentukan morfologi destruktif. 9. 2. morfologi karst. yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah. 1977). 8. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. Macam dan jumlah masukan yang diperlukan. dan sistemnya dinamakan “pendekatan sejajar” (ILRI. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi. kemampuan usaha. 5. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap.

Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan. Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik. diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah. No. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. System simulation in agriculture. Mon. Wageningen. (1978). De Santo. State University. Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi. Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS. M. Springer-Verlag. Sci. Untuk keperluan pengharkatan lahan. bermanfaat. (1970). J. dan Smith.R. memilih pendekatan bertahap (ILRI. Dawes. terencana.. karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi. Blackie. New York. R. Publ. Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa “…professional from the many different disciplines will … work in concert to bring about total watershed managenent”. 17. & Harrison. R. Interdisc. A.tanpa langkah-langkah yang saling berhimpitan. S. Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini.J. Wageningen . Framework for land evaluation. Ltd. dan berkelanjutan. (1977). Influence of soil on water yield. Land evaluation for rural purpose. FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI). 1977). Improv. dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya. ILRI Publ. (1979).(1979). asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. DAFTAR PUSTAKA Brinkman. Dent. J. Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya. Concept of applied ecology. London.S. Appl. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. Aspects Watershed Management. Oleh karena itu. ILRI. PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Proc. maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya.H.J. Land Recl. Inter.B. Symp.

1979. & Drajad. Bogor. Soil erosion. 1980. D. H. Bull. Rqy. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. M. Proc. R. Fak. Design and management of rural ecosystems. Geology. E.. Fao Soil Bull. An introduction to agricultural systems. E. Appl.. Soil. Berkeley. UGM. S. & Arora. _______________ 1980. New York. Ltd. 25-34. London. Symp. Handbook of soil evaluation. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. / R. J. W. Yogyakarta. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian. Dep. London. Univ. Oldeman. 1970. State Univ. Steele. . Nelson. G. Civ. Ground Water. Fluvial processes in geomorphology. R. H. National Science Foundation. Belum diterbitkan. Amer. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. Hydrology. Dover Publ. San Francisco. ___________. 1974. O. Martin. ASRA Information Resosurces.B. Trop. H. & Drajad. Agr. M. H. Yogyakarta. G. Soepraptohardjo. Satya pakashan. London. C.R. D. C. L. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. 1-2. T. Wolman. New York. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. A. Inst. A. 1979. 1976. & Nelson. Ltd.P. O. & Robinson. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru. Ch. I. Mon. Spedding. Kon. R. Seminar Penghijauan P. Tech. Freeman and Co. G.E. San Fransisco. 303. 1967. Inc. W. Tawangmangu. D. K.L. Editor. (1964). Publ. No. R. 1973. Inst. Morgan. Rancangan pertama. Dalam: Meinzer. 1975. XA. Students Store. R. Tropen. S. India Publ. ___________. K. Calif. M. Introduction.. C. Pert. Wasington.E. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co. and society. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. 1977. Interdisc.W. Dan Miller. Soil suvey interpretation and iats use. 8. 1964. Meinzer. Freeman and Co. editors. Soc. Amsterdam. I. Sukodarmodjo. Technology of agricultural land development and water management.. P. Michigan State Univ. 1942. 50th Symp. 1973. WH. h. Sci. D. New Delhi. 1979. Ascept Watershed Man. A. Assoc. Proc. Logman. Notohadiprawiro. resources. Tanah. 1980. C. Storie. MG. J. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan. Menard. P.Leopold.

Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja. Solo Email: bp2tp@indo. Andy Cahyono Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS. Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan. T. 1979. Perubahan situasi. dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai. dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya.en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu. dan Upaya Penerapannya C. Memang benar. Inst. DISKUSI Pertanyaan : 1.net. Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). Nugroho S. Makalah ini menguraikan cakupan. Permasalahan. 4. Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi. 2. Tropen Amsterdam.Wassink. Agroforestry. IBB. tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. A. Yani – Pabelan. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. 3. kondisi.id ABSTRAK Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned. Jln. tetapi aplikasinya belum. 2. Tanggapan : 1. Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam. permasalahan pengelolaan sumber daya alam. J. Untuk itu. Priyono dan S. een samenspel van land. 67e Jaarverslag Kon. bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis. but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource . faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting.

banjir. penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor.000 ha (Soenarno. Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology. permasalahan. dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23. pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi. Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS. Sementara itu. dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya. meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan. kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12. pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. CAKUPAN PENGELOLAAN DAS Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima. dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk.000 ha. Di Indonesia. 2000. Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis. condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies. Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management PENDAHULUAN Persoalan sedimentasi.714. Ditjen RRL. The current change of situation. pengetahuan teknis. permasalahan pengelolaan SDA. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations. kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat.699. Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006).632 ha. . kondisi. In the watershed management. dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan. This paper discusses the coverage. dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). dan pergeseran paradigma.degradation in the watershed. sedimen. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. 1999). mengumpulkan air hujan. problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it. dan kekeringan.517. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9. Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. Makalah ini menguraikan cakupan.

14 juta m3. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun. maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. laju kehilangan hutan semakin meningkat. sehingga masih ada kekurangan 34. DAS sebagai pemroses.18 juta m3 pada tahun 2003. maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS. kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18. 2003). pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. Sumber daya hutan Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia. Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun.75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan. Sementara itu. 57. PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS. kemudian meningkat menjadi sekitar 1. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001). kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya. dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. dan air sebagai output.7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an.Oleh karena itu. pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan. Pada tahun 1998. Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS.7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan. hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk).04 . Oleh karena itu. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono. Sementara itu. tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi. Namun demikian. Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi. laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis.

3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77. 1999). Sumber daya lahan Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian..juta m3 (Goldammer et al. diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. Sementara itu.. terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. 2000). tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat. Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas. Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat. selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung. pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan. Selain itu. Mulyana (1998). Untuk itu. Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan. Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya.8 milyar m3/tahun (Kananto et al. Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al. dan Cahyono (2001). Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan. karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian. Dalam satuan DAS. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. . The World Bank (1990) memperkirakan 40. Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL). konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS. 1998).000 ha/tahun lahan pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia.. Ditinjau dari aspek kualitas. Mencermati hal tersebut. Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut. The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. Sumber daya air Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum. diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian akan mengancam lahan hutan. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997). maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan. Di Pulau Jawa. laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. jumlah air tersedia mencapai 142. sementara pada musim penghujan banjir terjadi di mana-mana.

berinteraksi. Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. penebangan pohon. maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. dan pemanfaatan lahan secara intensif. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi. Dalam kaitan inilah. pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain. kekeringan. 2000). Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait. Diversifikasi flora fauna Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. deforestrasi. 2002). Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. Hasil penelitian Abbas (1997). dan bersinergi. padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi. berintegrasi. kentang di Dieng Wonosobo. 2001). 10% spesies mamalia. hortikultura. meliputi 11% spesies tumbuhan dunia. dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna. Misal. sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity. Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem. Degradasi lahan. daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari. Akibatnya. TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir. meskipun menyebabkan erosi (Donie. Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi. tembakau. Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia. kebakaran hutan. maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS. Begitu pula dengan tanaman palawija. banjir. maka kehati-hatian sangat diperlukan. atau Pasang di Sulawesi Selatan. Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali. b. dan c. terjadi penggundulan hutan. konversi lahan. Mulyana (1998). yaitu: a. . dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia. Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat. tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir.Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS. dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya.

maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. Oleh karena itu. dan sebagainya. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002). Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi. sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. kehilangan unsur hara. petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut. Pertanian merupakan suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan. air dan sebagainya. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa. kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi. . Petani dengan pendapatan rendah. peternakan. Untuk itu.Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan. dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya. Dari sisi ekonomi. modal. tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. hasil hutan. tenaga kerja. longsor. dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1). tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian. Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS. Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. Jadi. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. sedimentasi. rekreasi.

Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad. tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari. Sistem Pengelolaan DAS secara umum Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah. sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air.Gambar 1. 2000). Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air. Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah. .

Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah. tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan.A. kebijakan. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. Jakarta. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Arifin.Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. 2000. S. B. Bogor. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. semua pihak perlu mengimplementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Bogor. 1997. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. S. PENUTUP Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. DAFTAR PUSTAKA Abbas. Arsjad. mengingat adanya perubahan tatanan politik. Yang penting dalam hal ini adalah. S. Konservasi Tanah dan Air. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama. Penerbit IPB Press. kelembagaan. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. Kontroversi Program Konservasi Lahan. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. 1996. Institut Pertanian Bogor. 2001. Cahyono. apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati. kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi. . Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS. dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS. pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18.

Donie. and H. hlm. C. Jakarta. Kananto. Samarinda. 9 September 2002. S. The World Bank. 2-3 September 1999. Surakarta. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. Seibert. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. 1998. Alami 8(1):1-5. Wonosobo. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Abberger. Jakarta. Forest Watch Indonesia. hlm. U. A. dan Widayati. Jakarta. 1999. 1998. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah.N. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta. Forest Watch Indonesia. 23 September 1998. Soenarno. W. 2000. Indonesia: Sustainable Development of Forest. Bogor. 2003. Cahyono. Land and Water. Kurnia. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka.A. Donie. 19 hlm.S. Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. Hoffmann.N. Hatmoko. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia. Priyono. A. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement. 2002. 2000. Bogor. C. 21 November 2000. 2001. Mastur dan S. 1999. 2000. Mulyana. 1990. 2002. Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. 20-23 September 1999. A World Bank Country Report. Departemen Kehutanan. W. A. pp. Schindelle. 15-39.. Disertasi Doktor. B. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.G. S. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). hlm. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan.Cahyono. Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah. Priyono. Potret Kehutanan Indonesia. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. Program Pascasarjana.A. Washington. Institut Pertanian Bogor. hlm. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Goldammer. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. Info DAS 13: 14-26. Daerah Banjir di Indonesia Bertambah. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000.S dan S. J. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. Bogor. Sumber: . Prilaku bertani masyarakat Dieng.

pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi. varietas unggul. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi. 22(4). animal husbandry. especially cropping pattern. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian. and decrease erosion rate. The general objectives of the projects were to increase land productivity. Yani No. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and farmers’ income. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. pengelolaan daerah aliran sungai. budi daya tanaman pakan dan usaha ternak. pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects. improved variety. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. 70.SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. fodder crop culture. khususnya teknologi pola tanam. Jalan A. Pada tahap awal. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. and farmers’ income. serta dapat menurunkan laju erosi. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. In early stage. The level of technology adoption was partially high enough. Kata kunci: Lahan kering. 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor. the government needs to improve quality of human resources and through the provision of . Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh. and vegetative land conservation.

government needs to encourage private sector in dry land investment. produktivitas umumnya rendah.936. Keywords: Uplands.subsidy. perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%). Namun. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7. upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo. Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu. Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6. Pada tahun 1950. watershed management. meningkatkan erosi dan sedimentasi. Proyek Wonogiri.408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah). . Namun.30%) dalam periode yang sama. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius.400. Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan. kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan. mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya. kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II. Selain itu. dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000). Sukmana et al. At the development stage. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi.70% selama 14 tahun. topografi curam. produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994). dan Proyek Bangun Desa. pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran. Di dalam kawasan hutan. Namun. dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990). upaya tersebut belum berhasil. land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. luas lahan kritis justru makin meningkat (16. Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan. (1988) mengemukakan bahwa.

Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa. Citanduy. juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu. Selain itu. Namun. ubi kayu. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan. Solo.30–2 ha. pekarangan untuk tanaman tahunan. sengon. serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro. pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi. Hardianto et al. turi. mangga dan pisang. kacang panjang. rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan dan limbah tanaman pangan. Lebih lanjut Hardianto et al. . menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah. akasia. Tanah dan Air 1985). serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. mentimum. kambing kacang. bawang merah. Cimanuk. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara. lamtoro merah. tegalan. glirisidia. dan koro pedang sebagai tanaman sela. koro benguk. 36 DAS tergolong DAS prioritas. lahan usaha tani sempit. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung. kaliandra. dan kacang tunggak. dan mahoni. dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa. dan flemingia. kambing peranakan etawa (PE). Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah. dan ayam buras. dan perbukitan. sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah. petai. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan. domba gibas. petani menanam kacang gude. program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku. seperti DAS Citarum. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan. sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO). Jratunseluna. Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400. kacang tanah. Dari 80 DAS bermasalah tersebut. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0. penghasil kayu seperti jati. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1. dan Brantas (Sutadipradja et al.tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat. kedelai. Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis. sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar. antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air. dan tomat.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. dan menghasilkan pupuk organik. padi gogo. johar. kacang hijau. Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah. dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. melinjo. Di samping itu. pola tanam yang kurang baik. 1986).

yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan). Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis). dan tingkat bahaya erosi. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah.970 ha. Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis. Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan. 8/1976). Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar. Di daerah lahan kering. 3. Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis. Pada tahun 1975. tingkat kekritisan lahan. dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi. dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan. maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan. pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13. Departemen Kehutanan (perencanaan dan pemantauan). perkebunan. lereng curam. Departemen Keuangan (pengawas keuangan). Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan. lahan kritis di Indonesia mencapai 10. kebijakan yang tepat. . Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan.751. Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut.000 ha.000 ha.218. dan pola tanam kurang baik. atau setara luas Pulau Jawa.2. tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering. pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985). Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan.731. antara lain sumber terjadinya lahan kritis. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No. 4. Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. tah n 1988 turun menjadi 9. dan Bappenas. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas. yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis. sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan. Departemen Pertanian (bantuan teknis). yaitu perbaikan teknologi. kondisi sosial ekonomi. Berdasarkan tingkat kekritisan lahan. Di samping itu. USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal. Prawiradiputra et al. jenis tanah dan iklim. potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi. Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang.

Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP. maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan. Di Jawa Tengah. Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No.90% (Pakpahan et al. tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%. penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1992). Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95. tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk. Di Indonesia yang memiliki iklim basah. kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991). rumput pakan pada bibir dan tampingan teras. ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah. dan Air 1990).Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu. Sehubungan dengan itu. serta melibatkan ternak. juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani. serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. . langkah-langkah. pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979). kemiringan lahan. dan kegiatan pembinaan. saluran irigasi) di bagian hilirnya. Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. kultur teknis. Tanah.220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan. Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan.80% dan 76. menurunkan laju erosi. Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985). sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut. Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak. dan asas-asas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan.175/Kpts/RC.

sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . rumput dan leguminosa pohon pada guludan. ditanami tanaman tahunan. tanaman tahunan. atau kemiringan lahan 15−45%. sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2). Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B. hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak.C. rumput. kedalaman tanah. serta ternak. dan ternak.D) didasarkan pada kemiringan lahan. Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A). dan leguminosa pohon. dan pola usaha tani. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu. hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan). dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. kepekaan terhadap erosi. Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan. tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah. . ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah. Pada usaha tani model D. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan. bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani. Pada model B dan C.Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud. sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan.

.

Pemanfaatan Tanaman Tahunan . Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil.60 t/ha/ tahun untuk model A. tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang.50 t/ha/tahun untuk model B. karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing. sedangkan pada model petani relatif tetap. Sembiring et al. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi.Setelah tahun ketiga.20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988). Pada dua model lainnya (A dan D).20 dan 11.40 t/ ha/tahun pada 1990/91. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi.20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6. dan 5.40 t/ha/tahun. erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi. yaitu berturutturut 20. 10. yaitu model B sebesar 3. Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap.40 t/ha/tahun untuk model C. serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik. pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil. 8.

yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani. penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. Tanah. Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan. (1994) dan Current et al. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. Tanah. pemasaran. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. Setiap tingkat kelerengan. dan Air 1988). dan Air 1988). Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi. swasta). dan Air 1989). baru 2–3 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama. tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya). (1995). karena dalam periode tersebut. tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Namun. seperti kayu. dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. Pertama. Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan makanan ternak (Syam et al. seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Di beberapa daerah. manfaat dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu sama lain. Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh. kredit. Tanah. tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat. Tanah. seperti diuraikan oleh Lutz et al. getah.Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. Ketiga. manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi. dan 4) ketersediaan . Sebagai contoh. di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas). pupuk kompos. Berkaitan dengan itu. yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah. 2) dukungan eksternal (penyuluhan. Namun. petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan. Kedua. subsidi. pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi. dan Air 1987). 1993). Selanjutnya.

1985). hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al. 200 kg TSP. dan terendah pada pola II (Rp 120.000/ha). dan bawang merah. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. 1991).teknologi. pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah. Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur). masing-masing Rp 877. dan tanaman pangan. Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung. model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak. Sehubungan dengan hal tersebut. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani. dan 200 kg KCl/ha. rumput gajah. yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan.43−5. memberikan hasil cabai 4. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas.50 t/ha di Malang (Hendarto et al. pisang. Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem. adpokat. pisang. karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. Ditinjau dari aspek konservasi tanah. lamtoro. 1991). sentro sema. dan tumpang sari. Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah.13 t/ha di Trenggalek dan 5. pisang.350/ha). teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi. model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak. jati. seperti kedelai. kedelai. Dari keempat pola alternatif tersebut. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1. Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi.850/ ha dan Rp 873. Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras. pertanaman lorong. pepaya. konservasi tanah. demikian juga ternak kambing. dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan. cabai. kacang tanah. 1992 dan Sembiring et al. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi. Pada pola III. tanaman tahunan/hortikultura. pisang. rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah.525/ha. dan kacang tanah. rumput setaria. sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. adpokat. karena petani cenderung memberikan .81−6.478. adpokat. pemberian pupuk kandang 10−15 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea. rumput setaria. dan harga jualnyapun cukup baik. rumput gajah. komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah. pepaya. Untuk pola II. ubi kayu. Tanaman tahunan seperti kelapa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani. dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Hardianto et al. dan model D: jagung.

Abdurachman et al.90%. penyuluh. tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek. dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 4−5 ekor. Di samping itu. Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang. Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang. perkreditan. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al.pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah. adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani . dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani serta adanya kerja sama antara peneliti. peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting. dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. Keterkaitan antara peneliti. C. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran. tetapi selanjutnya menurun. kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya. rata-rata 44%. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan. Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani. sedangkan pada petani model B hanya 35. dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama. dan kelompok tani sangat penting.30% dan 12. masing-masing 105. 3) tingkat partisipasi petani. petani model B. Selain dukungan dari atas. Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi. 1992). Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D. 4) sistem pendukung/ pelayanan. dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing.20%.60% dan model C 28. aparat desa. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. Selain itu. dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang. penyuluh dan kelompok tani.50% dan 102. dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani. penyuluh.60%. 2) adanya keterkaitan peneliti. khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga.

tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. Rachman et al. adpokat. Di samping itu. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani. dan desakan kebutuhan petani. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah. pembuatan saluran pembuangan air (SPA). dan kemampuan petani (biaya. aspek teknis. kondisi tanah (kemiringan. masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. melinjo. yaitu curah hujan. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. Selanjutnya Syam et al. sifat tanah). kacang tanah. KEPAS (1985) mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan. dan aspek sosial ekonomi. dan jeruk. ketebalan solum. Di lahan kering DAS. Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil. petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa. curah hujan. seperti teknologi pembuatan teras. atau melalui tengkulak yang datang ke desa. tetapi juga pada petani nonkooperator.menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. kedelai. Rachman et al. petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal. pasar kecamatan. perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator. kacang panjang dan cabai. waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia). gaplek. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek. karena keterbatasan kemampuan. pengetahuan. Untuk memasarkan hasil tanaman semusim. yaitu aspek pemasaran. penanaman tanaman penguat teras. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi.30 ton pipilan kering. petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. Dalam memasarkan hasil kelapa. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif. Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan. kacang hijau. Namun. pola tanam. 1989). Akibatnya . dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. dan keinginan petani. dan jagung 0. (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras. seperti jagung. dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung. Aspek teknis Sembiring et al.

Pada tanah bersolum dangkal. keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif.80 t biji/ha dan 0. serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. bidang teras bergeser. Di samping itu. Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas.53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong. Produk tanaman leguminosa tersebut. Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa. Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan. sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe. air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis). pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan. Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani. dan komak (Dilichos lablab). dan tanaman penguat teras lepas. Koro benguk menghasilkan 0. Modal juga merupakan kendala pengembangan.51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. Gude menghasilkan 0. Di masa mendatang. seperti tampingan teras runtuh. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah. serta komak menghasilkan 1. Koro pedang dapat berproduksi 1. 1989).36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%.04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. (1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik. 1989). serta tanah yang bersolum dangkal. (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol).bangunan teras sering rusak. tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar. serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau. koro benguk (Mucuna pruriens). terutama pada kelompok usia 35−44 tahun (Rahmanto et al. Aspek sosial ekonomi Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS. . gude (Cajanus cajan). Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah. Begitu juga Suwardjo et al.

tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan. Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak. . misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan pengetahuan. dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah.Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial. petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al. karena petak percobaan tersebar). Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan. 1991). data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti. dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol. varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal. lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. materi kurang seragam. misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu. 1993). Di samping itu. Namun. P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas. Namun. sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. yaitu 5−6 bulan dalam setahun. Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah. Setelah panen selesai. serta besarnya ketergantungan pada alam. tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap masih rendah yang antara lain disebabkan oleh:     Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas. Menurut Kristianto (1985). Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan. tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat. dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem.

Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27.Sehubungan dengan hal itu. Pada tahap awal. Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi. . kerja sama peneliti. Pada tahap perbaikan teknologi. selain meningkatkan produksi. petani dan pihak terkait lainnya. partisipasi dan aspirasi petani. yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi. Di DAS Brantas bagian hulu. kebutuhan. tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. dan partisipasi petani. Di samping itu. Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya. lembaga pelayanan.50% merupakan superprioritas. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. serta sarana/prasarana perhubungan. penyuluh dan petani. tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat. Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi. pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar. dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh. 2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah.

Nurida. dan N. Kusnadi. T. hlm. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. hlm 1−17. Adnyana. Program pengelolaan DAS di Indonesia. 1995. Abdurachman. strategi dan program penelitian pengembangan. Departemen Pertanian. E. 125 hlm. D. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB. 1993. Bogor. Statistik Indonesia 1994.M.. 175/Kpts/RC. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Departemen Pertanian. Badan Litbang Pertanian. 131 hlm. Lubis.S. Jakarta. Djumali. 235−248. 1988. T. I. Jakarta. dan A. Bogor. Biro Pusat Statistik. 1990. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. hlm. E. 15 hlm. 1991. Ismail. The World Bank Research Observer 10(2): 151−180.. dan N. Toha.L. Suwardjo. 25−38. Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna .. M. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. 1992. 1−14. 1994. 1993.. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. 65 hlm. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 99−120. A.G. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Hardianto. Fagi. Biro Pusat Statistik. Biro Pusat Statistik.J. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. A.. D. 1985. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. Hendarto. Jakarta. DHV Consultants. Jakarta. hlm. Current. Manwan. R. Tanah dan Air. Bogor. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Biro Pusat Statistik. Jilid I. Masbula. Badan Litbang Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Scherr. hlm 1−21. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan F. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.M. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. Hendarto. Statistik Indonesia 1980/81. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. 1987. 2000.DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. 1981. hlm.O. dan H. A. The cost and benefits of agro-forestry to farmers. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. Pengembangan teknologi konservasi tanah pascaNWMCP. Tanah dan Air. and S. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Jakarta.L. Bagyo. U. dan I. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda. Prosedur pelaksanaan. Bogor. Lutz. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Nurida. Agus.

Tanah dan Air. 1990. Jakarta. Finance and Development. The Farmer’s Viewpoint. Laporan Tahunan 1986/87. and C. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air. Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. dan Air. 1992. A. IMF & World Bank. Nelson. 25−38. p. Tanah. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. 1979. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. hlm. hlm. Ginting. The World Bank Research Observer 9(2): 273−295.R. 1985. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.. Napitupulu. Jakarta. Jakarta. Pagiola. N. Monograph Series No. 1989. Badan Litbang Pertanian. K. Jakarta. Reiche. 72 hlm. dan Air. 1985. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Tanah dan Air. 11−19. Laporan Tahunan 1987/88. . 1991. KEPAS. Purwoto.dan Brantas. dan G. 1988. 85 hlm. Managing Drylands. BPFE. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Kristianto. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Lutz. A. Tanah. E. dan Air. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian).. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1994. hlm. 185−194. dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Jakarta. 51 hlm.S. 15−32. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. S. Laporan Tahunan 1988/89. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan Air. Sukmana. Syafa’at. 1985. 75 hlm.N. Hardono. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. Badan Litbang Pertanian. 83 hlm. Jakarta. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. S. Tanah dan Air.5: 98 hlm. Badan Litbang Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/87–1990/91. 69 hlm. Yogyakarta. 1987. A. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai. Tanah. Pakpahan. 89 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. R. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. 1995. B. Syam. Tanah. Prawiradiputra. The cost and benefits of soil conservation. Saliem. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS. Jakarta. M. Bogor.. Badan Litbang Pertanian. dan A. Badan Litbang Pertanian.P. H. Tanah.

Watung. dan A. Mustadjab. Sembiring. Sembiring. Suwardjo. 257−266. hlm. Badan Litbang Pertanian. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu. Pusat Pengembangan Agribisnis. Sofijah. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. Haryati. Soemarno. Tanah dan Air. Bogor. hlm. Risalah Lokakarya Penelitian . G. 1989. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Setiani. 11−18. Jakarta. R. 1985. Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. 1994. M. Semaoen. Amir. M. Tanah dan Air. S. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. Jakarta. H. dan A. hlm 21−31. dan S. 1991. 1989. S. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. Pengaruh teras.. hlm. dan Suwardjo. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. Proyek Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. A. A. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR). Badan Litbang Pertanian. A. Tanah dan Air. Suwardjo. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Rachman. Sukmana. Suwardjo. Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem. Jakarta. Kartono. dan H. P. G. Farid. A. 1988. 77−90.Pusat Pengembangan Agribisnis. Brawidjaja University Research Center. Syam. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Jakarta. 1989. 45 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Malang. Malang. U. Kusnadi.. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1991. 18−24. sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga.. Jakarta. Badan Litbang Pertanian. Rachman. M. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.L. Jakarta. 1991.. suatu tinjauan sosiologi. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Thamrin. H.. dan U. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1979. B.. Syam. Tanah dan Air. Badan Litbang Pertanian. Rahmanto. 24−28. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. hlm. Sukmana. Bogor. C. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. Farid. Tanah dan Air. Badan Litbang Pertanian. hlm. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo. 14 hlm. A. Sukmana. H. Kartono.. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. dan H. A. Prasetyo. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. B. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. hlm. Ispandi. and I. Sembiring. 18−29.

Watershed management approaches in Indonesia. hlm. Thailand.N. R. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 68−82. 21−30 November 1984. Sukmana. Kartono. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region. teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi. Buku-I. S. Kabupaten Malang.. Bogor. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Syam. dan Trenggalek. Nurida 1989.Sistem Usaha Tani. Sutadipradja. G. Bogor. A. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Bogor. Satjapradja. 1984. Suwardjo. 185 hlm. . 1993. Al Sri Bagyo. Propinsi Jawa Timur. Perbandingan teras bangku. Chang Mai. 47−65. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 1981. Ginting. A. A. Cisarua. 199−222. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. 1988. Bogor. Barus. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Soediman. Blitar. Sinukaban. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. 217−224.. Tanah dan Air. Bogor. U. 15−35. E. N. Suwardjo.O. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas. Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat Penelitian Tanah. Jakarta. 85 hlm. 27−29 Februari 1984. hlm. IPB. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Ispandi. Tim Survei Tanah DAS Brantas.. Badan Litbang Pertanian. No. Kusnadi. hlm. dan N. A. Syam. dan M. 1986. dan A. hlm. Tulungagung. Hardianto.31/PPT/1988. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi. H. Adnyana. and Hadipurnomo.L. hlm. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu. O.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful