Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 – 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity),

kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat. Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifatsifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluransaluran air. Disamping itu dengan berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.

Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan (Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 – 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 – 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga

memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

Jumlah.Gambar 1. rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat .

.

perluasan kota / daerah permukiman. Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS.Gambar 2. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem. kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan. . maka dalam pembangunannya pun. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur. dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik. Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu. 1979). maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup. 3. kegiatan pengerukan. perkebunan. sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas. perikanan. Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi. pertanian. kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. industri. pembangunan kanal. pertambangan. DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill. teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. antara lain. pengembangan tenaga listrik. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya. 2. Perbandingan antara aliran maksimum. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. kehutanan serta kegiatan lainnya. Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan. seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. transportasi / navigasi. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. tengah dan hilir. Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana.

Pengembangan pertanian di daerah berlereng. yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional. benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS. 44. industri dan air minum. Gill. pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan. waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai. FAO Soil Bull. FAO. Setelah perencanaan secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan dapat dilakukan oleh setiap stakeholders sesuai bidang. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation. No. N. No. 1978. penyediaaan air untuk irigasi. tanpa atau dengan benturan yang minimal. (2) pembangunan daerah atau wilayah. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama. 13 . sedimentasi dan lainnya. R. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. pertambangan. diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu. pemasaran hasil.Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. atau profesinya. karakteristik hidrologi DAS. apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai. Bull. Daftar Pustaka Badrudin M. erosi. 1971. tingkat pendapatan. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam. maupun kemungkinan terjadinya banjir. Land Degradation. industri . sektor. Soil. Rauschkolb. akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. 1979. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi. Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia.S. potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan. harus diperhitungkan. kelembagaan. Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. Direktorat Penyediaan Masalah Air. berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. Di dalam perencanaan yang demikian.

H. 1983. Soil and Water Cons. millan. N. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71. “Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies). Sumber: Naik Sinukaban (2007). “Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.A. N.. 1983. Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. Krisnalajati. S. Bern Switzerland. (Ed). Arsyad. Arsyad.D Thesis University of Winconsin. and Sinukaban. Amstrong and MG Nethery. 1985. N.L. Natural system for Development What Planners Need To Know.Sihite. N. Contour Vol. J. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment. Sinukaban. J. Cilegon. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off. Proceed of International Seminar on “Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production” 3 – 5 Dec 2004. 1981. Indonesia. West Java. A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. and J. Ph. Pawitan. S. 1994. H. S. 1998. Arsyad. Sinukaban.A. USA. Toward Sustainable Land Use. J. Aust. 7(3): 25-29. Indonesia. 1994.com/2008/ . 2004. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. Co:19-161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation). Dalam Carpenter R. Madison. Amstrong. Lang Druck AG. Integrated Land Managementfor Sustainable Agriculture Development in Indonesia.. Publ. N. Mc. 1. S. Swaify. Sinukaban. Pawitan. Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Lampung.” Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting). Suwardjo dan S. VI no. Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java. Arsyad. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System.wordpress. Sinukaban. El. Soil erosion by Water. dan P. 1998. Sinukaban. Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman.

Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi. Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi . menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. Namun prinsip desentralisasi bukan hanya mengenai penyerahan wewenang pemerintahan. dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. sosial. sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas. Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. pembagian. Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi.Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah. Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. kerusakan lingkungan hidup di daerah . dan lemahnya kelembagaan di daerah. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan. dan politik. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. meningkatkan peran serta masyarakat. Dalam Undang-undang tersebut desentralisasi menyangkut penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di bawahnya. pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan . Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. tingginya tingkat kemiskinan di daerah. Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat. tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (1966-1998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah.1999). Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan.

. ekonomis. tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis. longsor. Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir. sumberdaya manusia (human capital). Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah. Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah. sumberdaya buatan manusia (man made capital). Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA. terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata. Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu. sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besarbesaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA. Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. efektif. dan sosial budaya. Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat. dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo. (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan. (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata. (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien. yaitu sumberdaya alam (natural capital). Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial. telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia. 1999). Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi. sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah. erosi.secara keseluruhan.

biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi.Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun. abiotik. Sungai. sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. dan temporal (waktu). Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup. dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi. Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Selanjutnya OTDA dijadikan alat untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan. Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem. Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggungpunggung bukit/gunung. Rusaknya hutan di . Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. fungsional. Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem. sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang). Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. pada umumnya berada di tengah DAS. Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi. Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik.

Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. fleksibel. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. sedimentasi. dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional. Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air. sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial.bagian hulu akan menimbulkan banjir. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem . dan lahan. hutan. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. menyeluruh. terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya. dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Membangun sistem legislasi yang kuat 3.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir. maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar. erosi. efisien. dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS 4. Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu. dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS.

penyelesaian konflik dan . atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang. keputusan presiden. seperti lahan.pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi. udara. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah. pengusahaan. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. mineral. perlindungan. sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2. Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. penguasaan. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. dan sosial budaya. UU No. 22/1999).Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan. pemberian sanksi.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam. air. pemeliharaan. maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi. ekologis. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan. rehabilitasi. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. hutan dan lanskap alam. maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi.

hak-hak istimewa yang telah diberikan. Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia.al. sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. et. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS. Jepang. aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya.sebagainya. Oleh karena itu. et. hukum. 1987 dalam Kartodihardjo. . 2000). institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. al. Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat. 2000). Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan. adat istiadat. serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS. apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya. dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya. dan abstrak yang mencakup ideologi. rumit. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid. bahkan Thailand. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. 2000). bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya. batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya.

Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan markup. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom. Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir. longsor.Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. Prinsip one river. kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. ketidaksinambungan pembinaan program. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu. ketidakefisienan (inefficient). Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS. . Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya. perencana pengelolaan DAS. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi. pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. ketidakadilan (inequitable). sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik. Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. Kemampuan petani. Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya. Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible). Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program.

dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL). Kartodihardjo. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1 SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI Tejowulan. UU No 28 Thn 1999. Undang-undang Otonomi Daerah UU No. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. UU No 25 Thn. 1999. K3SB Bogor. 1999. tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN. Sudadi. K. H. 1999. H. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. Pasaribu. 1999 tentang Pemerintah Daerah. (b) membangun sistem legislasi yang kuat. H. R. UU Otonomi Daerah. Nuryantono. PENDAHULUAN . Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. A. dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). 2000. 18 Februari 1999. Murtilaksono. U. 22.S. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS. dan N. DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo. Stockmayer. serta Upaya Peningkatan Kinerja.Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. Bogor.S. Paradox. dan Masalah. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.

ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring). Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. air tanah. pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan. Atas dasar kehadirannya. hutan dan ikan. Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi. Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan. (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. Misalnya. dan ikan dapat menyusut atau habis. berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard. Memang ditinjau secara local atau setempat. Dalam pengelolaannya. Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable).1974). Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam. (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS. Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. hutan. drainage area. (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. tergantung dari gatranya yang diperhatikan. sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. . dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik.Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. ekonomi. air tanah. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah. Akan tetapi secara keseluruhan. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin. seperti udara. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia. teknik. Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap. Selain itu. maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). (3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. atau river basin.

Disamping memiliki ciri penting berupa “organisasi dalam“ (internal organization). Sebagai contoh. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif. Arti “terpadu” di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain. keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. yang berdaya (affect) batas hidup. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya.mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. 1979). manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah. atau sumberdaya mineral. yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). Namun karena berlainan kepentingan. DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat. panas dan cebakan mineral. sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated).1978). Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya. geologi. DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size). hewan (fauna). atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. Sebagai contoh. Sebagai contoh. “Lingkungan” ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external). kelakuan dan kegunaan masing-masing. dan sebagainya. Spedding. relief. DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. (2) Takterbarukan (non-renewable). seperti minyak bumi. relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari. tanah. dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. ladang. Yang dinamakan “sistem” ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir-anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom. suatu sistem dipisahkan “batas system“ dari sistem yang lain. Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. 1979. DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). atau disebut pula dengan “struktur fungsi“ (fungtional structure). Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi . Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan. tetumbuhan (flora). ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability). penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran. yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja. hutan kemasyarakatan (HKm). air (air permukaan dan air tanah). Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti. Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate). perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo. bentuk (form). ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang. maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. kebun. Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS.

dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk. atau lewat peranan DAS. yang akhirnya hanya akan saling merugikan. Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir. Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir. 1964). Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. . menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan. Tanpa perencanaan tataguna yang memadai.. Gatra-gatra ruang. penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1. DAS penampung air. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat. Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau). karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS.penggunaan DAS. bentuk. ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas. yaitu atmosfir dan laut. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama. nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung.

Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions). Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir.proses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan. DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS . yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS. Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. dibentuk oleh proses. Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. Dasar pengelolaan kedua. Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS. Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS. termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala.Setiap DAS cenderung memperluas diri. Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting. Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions). Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer). baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu. Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik. maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir. bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system). ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya.

DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. yaitu sumberdaya tanah dan air. . 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak. ketercapaian dan keterlindasan.Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting. akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum. bentuk. yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama. Yang ketiga ialah kendala (constraint). ruang/luas. yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. Dalam ungkapan “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian selaras dan lestari. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. Khusus mengenai pengelolaan DAS. sumberdaya mineral. kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna. Dalam rencana pengelolaannya. (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan). Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives). dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. Ungkapan “manfaat lengkap” dan “kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu” mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal. yang menjadi sumber pembuatan alternatif. dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. sebagai usaha mengendalikan banjir. beberapa gatra tertentu manusia. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah “watershed” digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah. vegetasi. vegetasi. Adapun anasir yang lain. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya. tanah. seperti iklim. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables). Yang dinamakan “commended area” ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan “commended area”. Untuk mengarahkan pengelolaan. (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim. ini dapat sebuah atau lebih. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. diperlukan tiga unsur pengarah. relief dan manusia. sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah “commanded area”. (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. relief. air.

(4) Intensitas. (6) Penggunaan lahan terkini. dan keadaan tanah. (6) Penggunaan lahan kini. dan mineral mentah. . Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi. dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman.Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora. atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). alkali. bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman. (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah. termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan. 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan. karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. sulfat masam. dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. atau kesempatan yang terbuka.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. gambut tebal. ketinggian muka lahan pukul rata. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan. Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3. (4) Intensitas. sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan.(5) Rupa dan vegetasi penutup. jeluk (depth) pukul rata air tanah. Dari bagian ini tampak. Sementara itu. (3) Timbulan makro. jangka waktu dan agihan curah hujan. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS. Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem. jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup. daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi. atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). Dengan kata lain. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. (4) Meliorasi tanah.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan. dalam pengelolaan DAS hilir. termasuk fisiografi dan hidrologi tanah.

karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat. baik) atau dengan nilai tertentu (scoring). Dalam lingkungan iklim kering. Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS. erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng. Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu. Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. Misalnya. dan kemantapan struktur tanah. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. . permeabilitas tanah. tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. dan keramah tamahan penduduk. Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS. dan hanya dapat diketahui. Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung.DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. 1973). iklim. kebersihan air. Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan. yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth. keterlindasan (trafficability). Macam data yang sekurangkurangnya harus dikumpulkan ialah: 1. Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). sedang. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah.

kesimpulan atau petunjuk tentang : 1. baik produktivitas maupun potensialitasnya. untuk daerah-daerah beriklim kering. dan mobilitas penduduk. hidrolika sungai. menjadi satu sistem analitik. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap. morfologi karst. 4. 3. 9. laju pertambahan penduduk. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi. mata pencaharian. dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). Maka system analisa seperti ini disebut pula “pendekatan bertingkat dua”. atau kerangka pendekatan. baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal). termasuk tataguna sumberdaya air kini. dataran estuarin. 4. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah. pembentukan delta. tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga. Prioritas penanganan segi-segi persoalan. yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah. seperti lembah. dataran banjir. 8. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya.2. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama). 1977). Kemampuan lahan untuk pertanian. Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. peneplain. 6. termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. kemampuan usaha. dan sistemnya dinamakan “pendekatan sejajar” (ILRI. Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan. yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. tingkat kesehatan. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya. 7. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif. erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah. Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi. Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah. Keadaan iklim hayati. tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. sedimentasi. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. memiliki urutan kegiatan yang jelas . Kerapatan dan distribusi penduduk. 3. bentukan morfologi destruktif. dsb). 2. 5. Macam dan jumlah masukan yang diperlukan. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. dataran interfluvial. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan.

dan berkelanjutan. Ltd. Blackie. Sci. Framework for land evaluation. dan Smith. R. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. State University. Untuk keperluan pengharkatan lahan.J. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi. Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini. (1977). Symp. Land evaluation for rural purpose. maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya. (1978). Wageningen . Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya. Inter. Springer-Verlag. terencana. Concept of applied ecology. New York. ILRI. 17. Influence of soil on water yield. Land Recl. No.H. dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya. Appl. London. DAFTAR PUSTAKA Brinkman. (1970).. diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah.(1979). PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan. ILRI Publ. Dent. Wageningen. & Harrison. Interdisc. (1979). FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI). Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik. pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu.R. M. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. memilih pendekatan bertahap (ILRI. Oleh karena itu. 1977). Improv. System simulation in agriculture. Mon. Publ. Aspects Watershed Management. Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi.B. De Santo.tanpa langkah-langkah yang saling berhimpitan. Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa “…professional from the many different disciplines will … work in concert to bring about total watershed managenent”. A. bermanfaat. J. R.S. Dawes. asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. Proc. Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS. J.J. S.

Amer. 8. 1979. R. Dalam: Meinzer. London. Oldeman. Proc. S.W. 50th Symp. Steele. R. K. R. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia.L. 1980. New Delhi. San Fransisco. London. Ltd. Belum diterbitkan. & Arora. O. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru.. Calif. P. J.E. 1976. P. Fluvial processes in geomorphology. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan. Amsterdam. 1979. Michigan State Univ. XA. M.B. Technology of agricultural land development and water management. Dover Publ. Ground Water. D. Univ. & Drajad. Spedding. Satya pakashan. Seminar Penghijauan P. G. 1-2. H. Soil erosion. National Science Foundation.R. Design and management of rural ecosystems. M. Proc. Ascept Watershed Man. ___________. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. State Univ. Soil. L. Hydrology. Dan Miller. Fak. 1979. h. Appl. (1964). Symp. Interdisc. and society. H. & Robinson. G. O. Martin. Yogyakarta. Berkeley. Fao Soil Bull. 1980. New York. C. T. Civ. Ch. 1964. C. San Francisco. Meinzer. Nelson. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. An introduction to agricultural systems. H. K. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. Trop. D. Agr. Students Store.. A. Rancangan pertama. Wolman. J. 1973. 1970. M. 1942. Wasington. Tropen. Inst. W. resources. Bogor. D. MG. Logman. R. Storie. Morgan. 1975. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. Soepraptohardjo. UGM. R. Editor. Dep. ASRA Information Resosurces. WH. editors. S. I. 1973. / R. 1974. Handbook of soil evaluation. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. A. G. . Inc. W. & Nelson. ___________.P. Tanah.E. Inst. Freeman and Co. 1977. Freeman and Co. C. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian. Kon. Soil suvey interpretation and iats use.Leopold. D. Sukodarmodjo. Ltd. H. & Drajad. Menard. No. Assoc. London. Mon. 25-34. Tech. Geology. C. E. _______________ 1980. Publ. A. New York. Introduction. Rqy. Tawangmangu. Yogyakarta. Soc. 303. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co. Notohadiprawiro. 1967... Sci. Pert. E. Bull. I. India Publ.

Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama. Jln. dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai. IBB.Wassink. Tanggapan : 1. T. Solo Email: bp2tp@indo. Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja. Yani – Pabelan. 1979. 4.id ABSTRAK Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. 67e Jaarverslag Kon. Perubahan situasi.net. kondisi. permasalahan pengelolaan sumber daya alam. een samenspel van land. J. Priyono dan S. 2. Untuk itu. tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. Memang benar. bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis. Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan. DISKUSI Pertanyaan : 1. 2. tetapi aplikasinya belum. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. Andy Cahyono Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS. faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting. A. Inst. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). dan Upaya Penerapannya C. Nugroho S. dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya. Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan. ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. 3. Agroforestry. Makalah ini menguraikan cakupan. Tropen Amsterdam. Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam. Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi. but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource . Permasalahan.en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu.

000 ha (Soenarno. Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS. dan pergeseran paradigma. dan kekeringan.517. Makalah ini menguraikan cakupan. pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12. permasalahan pengelolaan SDA. permasalahan. The current change of situation. mengumpulkan air hujan. meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan. Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology. kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat. condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies. banjir. . Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis. pengetahuan teknis. This paper discusses the coverage. penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9. dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management PENDAHULUAN Persoalan sedimentasi. Di Indonesia. Sementara itu.714. dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya. dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006). the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations. CAKUPAN PENGELOLAAN DAS Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima. dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it. Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. Ditjen RRL. dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). kondisi. pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi. sedimen. In the watershed management.000 ha.632 ha. 1999).699. Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk.degradation in the watershed. 2000.

Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis. kemudian meningkat menjadi sekitar 1.7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an.04 . PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS. Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input. tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi. kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya.18 juta m3 pada tahun 2003. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun. 57. hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk). Oleh karena itu. dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. sehingga masih ada kekurangan 34. DAS sebagai pemroses. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001). pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan. 2003). Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS. Sumber daya hutan Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia. Pada tahun 1998. Namun demikian. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia. maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. dan air sebagai output. maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA.14 juta m3. laju kehilangan hutan semakin meningkat.7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan. Sementara itu. kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono. Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun.Oleh karena itu.75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan. Sementara itu.

maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian. 1999).juta m3 (Goldammer et al. Dalam satuan DAS. laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997). Untuk itu. 1998). Sementara itu. dan Cahyono (2001). diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. Ditinjau dari aspek kualitas.000 ha/tahun lahan pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia. . konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS. Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya. Sumber daya lahan Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian.. Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan. Mulyana (1998). tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat.. Di Pulau Jawa. diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut.. Selain itu. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. sementara pada musim penghujan banjir terjadi di mana-mana. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. jumlah air tersedia mencapai 142. Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al. Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat. pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan. Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL). Sumber daya air Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian akan mengancam lahan hutan. Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas. The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. 2000). The World Bank (1990) memperkirakan 40.3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77. Mencermati hal tersebut. selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung.8 milyar m3/tahun (Kananto et al. Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan.

Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem. TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. maka kehati-hatian sangat diperlukan. berintegrasi. konversi lahan. tembakau. Mulyana (1998). pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain. dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia. meskipun menyebabkan erosi (Donie. dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. hortikultura. dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya. . 2000). Misal. yaitu: a. berinteraksi. 2001). Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. Begitu pula dengan tanaman palawija. Degradasi lahan. deforestrasi. Diversifikasi flora fauna Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi. Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir. Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat. b. daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari. sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi. dan pemanfaatan lahan secara intensif. dan c. padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi. 10% spesies mamalia. Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia. dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna. kebakaran hutan. pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir. Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait. Hasil penelitian Abbas (1997). Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity. penebangan pohon. kentang di Dieng Wonosobo. Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali. dan bersinergi. atau Pasang di Sulawesi Selatan. Dalam kaitan inilah. 2002). terjadi penggundulan hutan. maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. banjir. meliputi 11% spesies tumbuhan dunia. maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS. Akibatnya.Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS. kekeringan.

Pertanian merupakan suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan. peternakan. sedimentasi. tenaga kerja. kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian.Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan. petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut. kehilangan unsur hara. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi. Petani dengan pendapatan rendah. tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002). Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian. Untuk itu. dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1). Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. Oleh karena itu. maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS. dan sebagainya. air dan sebagainya. . Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa. mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi. sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya. Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi. hasil hutan. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. Dari sisi ekonomi. modal. Jadi. Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. longsor. rekreasi.

Gambar 1. Sistem Pengelolaan DAS secara umum Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad. tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari. 2000). . sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air. Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah.

Kontroversi Program Konservasi Lahan. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. Bogor. Penerbit IPB Press. 2001. B. Cahyono. apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati. PENUTUP Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air. Bogor. tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. Yang penting dalam hal ini adalah. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi. S. Arsjad.A. kebijakan. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Abbas. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi. 1996. semua pihak perlu mengimplementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Tesis Magister Sains. Arifin. 1997. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait. Institut Pertanian Bogor. kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi. S. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. kelembagaan. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS.Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi. Program Pascasarjana. Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS. Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. . 2000. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. mengingat adanya perubahan tatanan politik. Konservasi Tanah dan Air. Departemen Pertanian Republik Indonesia. tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18. S.

1998. U.A. Program Pascasarjana.S dan S. Land and Water. Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah. 2003. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. Wonosobo. C. hlm. Potret Kehutanan Indonesia. hlm. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. 15-39. Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. A. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. Hoffmann. 2-3 September 1999. Seibert. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. Goldammer. 1999. Info DAS 13: 14-26. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia.N. W. A.N. 2000. Bogor. 23 September 1998. Schindelle. Washington. hlm. 9 September 2002. 2002. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. S. B. Alami 8(1):1-5. Kananto. Forest Watch Indonesia. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. 1990. Soenarno. Departemen Kehutanan. Donie. dan Widayati. 21 November 2000. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. Abberger. Jakarta. Kurnia. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. Priyono. J. Surakarta. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. 20-23 September 1999. The World Bank.A. Bogor.G. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Hatmoko. hlm. and H. Donie. A World Bank Country Report. 2000. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 19 hlm. Jakarta. pp. Disertasi Doktor. Mulyana.. Forest Watch Indonesia. kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. A. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). Cahyono. Samarinda. Institut Pertanian Bogor. W. Daerah Banjir di Indonesia Bertambah.Cahyono. Bogor.S. Prilaku bertani masyarakat Dieng. 1999. Sumber: . 2001. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka. Mastur dan S. C. Priyono. S. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement. 2002. Bogor. 1998. Jakarta. Indonesia: Sustainable Development of Forest. 2000. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. Pada tahap awal. 22(4). khususnya teknologi pola tanam. serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. The level of technology adoption was partially high enough. the government needs to improve quality of human resources and through the provision of . and decrease erosion rate. budi daya tanaman pakan dan usaha ternak. 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi. Yani No. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh. serta dapat menurunkan laju erosi. and vegetative land conservation. pengelolaan daerah aliran sungai. 70. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. animal husbandry. improved variety. The general objectives of the projects were to increase land productivity. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. especially cropping pattern. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor. fodder crop culture. and to support farmers’ participation in land and water resource conservation.SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. In early stage. Kata kunci: Lahan kering. Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian. para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. and farmers’ income. pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. Jalan A. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and farmers’ income. serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. varietas unggul. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi.

dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990).subsidy. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. meningkatkan erosi dan sedimentasi. Sukmana et al. kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II.30%) dalam periode yang sama. At the development stage. upaya tersebut belum berhasil. land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. watershed management. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi. Di dalam kawasan hutan. Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu. produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994). Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya. government needs to encourage private sector in dry land investment. dan Proyek Bangun Desa.936. topografi curam. (1988) mengemukakan bahwa.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7.408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6. . pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran. Namun. Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6. Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan. Keywords: Uplands. perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%). luas lahan kritis justru makin meningkat (16.70% selama 14 tahun. serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. Pada tahun 1950. Proyek Wonogiri. Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan. kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000).400. mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya. Namun. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah). upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo. Namun. kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim. Selain itu. produktivitas umumnya rendah.

petani menanam kacang gude. mentimum. Lebih lanjut Hardianto et al. menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO). Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah. sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. Cimanuk. johar. sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0. kambing peranakan etawa (PE). dan tomat. Solo. Citanduy. domba gibas. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan. penghasil kayu seperti jati. kacang hijau. . ubi kayu. rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan dan limbah tanaman pangan. dan ayam buras.30–2 ha. glirisidia. Selain itu. kaliandra. 36 DAS tergolong DAS prioritas.tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat. Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung. mangga dan pisang. pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi. padi gogo. dan koro pedang sebagai tanaman sela. Di samping itu. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa. serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro. Dari 80 DAS bermasalah tersebut. Namun. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1. dan Brantas (Sutadipradja et al. lamtoro merah. dan menghasilkan pupuk organik. kambing kacang. pekarangan untuk tanaman tahunan. turi. lahan usaha tani sempit. dan mahoni. tegalan. kacang tanah. program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian. sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah. serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. petai. melinjo. seperti DAS Citarum. kacang panjang. dan perbukitan. juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu. pola tanam yang kurang baik. Jratunseluna. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan. sengon. bawang merah. 1986). antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa. sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku. Hardianto et al. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar. Tanah dan Air 1985). Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah. dan flemingia. Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400. dan kacang tunggak. koro benguk. kedelai. akasia.

Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan. Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar. dan Bappenas. Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan. Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang. tah n 1988 turun menjadi 9.000 ha. antara lain sumber terjadinya lahan kritis.218. . Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi. Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis).731.000 ha. 4. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas. Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis. 3.970 ha. lereng curam. yaitu perbaikan teknologi. selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan. Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan. Departemen Keuangan (pengawas keuangan). Di daerah lahan kering. perkebunan. USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal. Departemen Pertanian (bantuan teknis). tingkat kekritisan lahan. Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis. 8/1976). Pada tahun 1975. Departemen Kehutanan (perencanaan dan pemantauan). maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan.2. Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No. yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis. kondisi sosial ekonomi. dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. Berdasarkan tingkat kekritisan lahan. tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering. potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi. dan pola tanam kurang baik. dan tingkat bahaya erosi. jenis tanah dan iklim. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah. pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13. yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan). Prawiradiputra et al. Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut.751. kebijakan yang tepat. dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan. pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985). Di samping itu. lahan kritis di Indonesia mencapai 10. atau setara luas Pulau Jawa.

1992). penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). . dan asas-asas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). kemiringan lahan. serta melibatkan ternak. Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP. sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut.220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan. Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Tanah. Sehubungan dengan itu. Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku. ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah. Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak.175/Kpts/RC. Di Jawa Tengah. langkah-langkah. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991). tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk. saluran irigasi) di bagian hilirnya. Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. Di Indonesia yang memiliki iklim basah. Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985). menurunkan laju erosi. rumput pakan pada bibir dan tampingan teras. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan.80% dan 76. Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan. serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air.90% (Pakpahan et al. Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani. juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani. pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979). dan Air 1990).Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu. dan kegiatan pembinaan. kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi. tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%. Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan. kultur teknis.

serta ternak. dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. Pada usaha tani model D. . Pada model B dan C. dan leguminosa pohon. Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A). rumput. atau kemiringan lahan 15−45%. bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani.Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud. Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B. kepekaan terhadap erosi. rumput dan leguminosa pohon pada guludan. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu. tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan. hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan). Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan.C. sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2). ditanami tanaman tahunan. sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan. tanaman tahunan. ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah.D) didasarkan pada kemiringan lahan. hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak. dan ternak. dan pola usaha tani. sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . kedalaman tanah.

.

20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988). pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil.60 t/ha/ tahun untuk model A. dan 5. Sembiring et al. Pemanfaatan Tanaman Tahunan . Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap.20 dan 11. tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang. karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing.40 t/ha/tahun. 10. sedangkan pada model petani relatif tetap.40 t/ ha/tahun pada 1990/91.20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6.50 t/ha/tahun untuk model B. Pada dua model lainnya (A dan D). 8. serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10. erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi. yaitu model B sebesar 3.40 t/ha/tahun untuk model C. yaitu berturutturut 20.Setelah tahun ketiga. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi. Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil.

karena dalam periode tersebut. pupuk kompos. getah. tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. baru 2–3 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan. kredit. Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Ketiga.Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. Tanah. (1994) dan Current et al. swasta). Kedua. manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi. pemasaran. seperti diuraikan oleh Lutz et al. yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani. Tanah. Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi. dan makanan ternak (Syam et al. (1995). seperti kayu. manfaat dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu sama lain. Berkaitan dengan itu. 1993). Setiap tingkat kelerengan. 2) dukungan eksternal (penyuluhan. subsidi. tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Di beberapa daerah. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama. Pertama. Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan. Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi. yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah. Sebagai contoh. petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. Namun. seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. dan Air 1989). dan 4) ketersediaan . Tanah. di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas). penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. Tanah. pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh. nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. Selanjutnya. dan Air 1988). dan Air 1988). Namun. serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya). tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat. dan Air 1987).

yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan. rumput gajah. pisang. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas. rumput setaria. Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama.teknologi. kedelai. pisang. dan harga jualnyapun cukup baik. Tanaman tahunan seperti kelapa. rumput gajah. model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak. Sehubungan dengan hal tersebut. dan bawang merah. pisang. dan 200 kg KCl/ha.43−5. pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1. karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem. kacang tanah.13 t/ha di Trenggalek dan 5. Dari keempat pola alternatif tersebut. adpokat. masing-masing Rp 877. Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras. pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah. pemberian pupuk kandang 10−15 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea. teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi.350/ha). dan tumpang sari. adpokat. rumput setaria. pisang.525/ha. dan terendah pada pola II (Rp 120. dan tanaman pangan. pepaya. pertanaman lorong. jati. karena petani cenderung memberikan . dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan. cabai. 1992 dan Sembiring et al. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi. seperti kedelai.81−6. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani. tanaman tahunan/hortikultura. dan model D: jagung. Untuk pola II.478. memberikan hasil cabai 4.50 t/ha di Malang (Hendarto et al. hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak. adpokat. Ditinjau dari aspek konservasi tanah. Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur). Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah. konservasi tanah. Pada pola III.850/ ha dan Rp 873. pepaya. lamtoro. demikian juga ternak kambing.000/ha). Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi. 1991). 1991). 1985). 200 kg TSP. dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani. ubi kayu. sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah. dan kacang tanah. sentro sema. komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah. Hardianto et al.

dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. 3) tingkat partisipasi petani. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani serta adanya kerja sama antara peneliti. dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 4−5 ekor. Selain dukungan dari atas. Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan. dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama. sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai. perkreditan. Keterkaitan antara peneliti. sedangkan pada petani model B hanya 35. Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D.90%.50% dan 102. peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting. 2) adanya keterkaitan peneliti. Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi. rata-rata 44%.30% dan 12. masing-masing 105. Di samping itu. Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah. dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. petani model B. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani. 4) sistem pendukung/ pelayanan. C. dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing. penyuluh. Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan. tetapi selanjutnya menurun. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani. adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani . Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al. Abdurachman et al. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. Selain itu. 1992). dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang. penyuluh.20%. dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang.60%.60% dan model C 28. tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56.pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. aparat desa. dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi. kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga. dan kelompok tani sangat penting. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek. penyuluh dan kelompok tani.

atau melalui tengkulak yang datang ke desa. petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa. kedelai. tetapi juga pada petani nonkooperator. aspek teknis. Selanjutnya Syam et al. Dalam memasarkan hasil kelapa. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal. seperti jagung. dan keinginan petani. 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan. yaitu curah hujan. dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung. Namun.30 ton pipilan kering.menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. gaplek. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani. curah hujan. Untuk memasarkan hasil tanaman semusim. kondisi tanah (kemiringan. masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil. sifat tanah). karena keterbatasan kemampuan. dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. dan jagung 0. kacang hijau. ketebalan solum. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek. Di samping itu. kacang tanah. Di lahan kering DAS. adpokat. perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. kacang panjang dan cabai. (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras. pembuatan saluran pembuangan air (SPA). yaitu aspek pemasaran. melinjo. tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. Rachman et al. seperti teknologi pembuatan teras. pasar kecamatan. waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia). Rachman et al. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif. pola tanam. Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan. Aspek teknis Sembiring et al. dan desakan kebutuhan petani. 1989). KEPAS (1985) mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi. dan kemampuan petani (biaya. pengetahuan. Akibatnya . (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator. dan jeruk. penanaman tanaman penguat teras. dan aspek sosial ekonomi.

Koro benguk menghasilkan 0. Modal juga merupakan kendala pengembangan. Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah. 1989). Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani.53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong.80 t biji/ha dan 0. seperti tampingan teras runtuh. Aspek sosial ekonomi Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS. air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air. serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe. terutama pada kelompok usia 35−44 tahun (Rahmanto et al. Produk tanaman leguminosa tersebut. tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa. koro benguk (Mucuna pruriens). pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan.51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif. 1989). Di masa mendatang. dan tanaman penguat teras lepas. khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar. Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan. Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah. Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau.bangunan teras sering rusak. serta komak menghasilkan 1. Koro pedang dapat berproduksi 1. Di samping itu. gude (Cajanus cajan).04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis). serta tanah yang bersolum dangkal. dan komak (Dilichos lablab). sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. Gude menghasilkan 0. Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas. (1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik. Begitu juga Suwardjo et al. selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol). Pada tanah bersolum dangkal.36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%. . bidang teras bergeser.

Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan pengetahuan. tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan. Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan. serta besarnya ketergantungan pada alam. Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. 1993). karena petak percobaan tersebar). Di samping itu. 1991).Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak. data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti. misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu. Namun. dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. materi kurang seragam. Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap masih rendah yang antara lain disebabkan oleh:     Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas. dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al. P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas. . tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. yaitu 5−6 bulan dalam setahun. sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. Setelah panen selesai. varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal. sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial. Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah. Menurut Kristianto (1985). petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat. lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol. Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan. Namun. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem.

Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas. pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal.50% merupakan superprioritas. tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi. karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27. Di samping itu. Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah. Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Di DAS Brantas bagian hulu. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. kebutuhan. yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi. petani dan pihak terkait lainnya. Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. serta sarana/prasarana perhubungan. lembaga pelayanan. program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya. dan partisipasi petani. kerja sama peneliti. . Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat. Pada tahap awal. Pada tahap perbaikan teknologi. penyuluh dan petani. selain meningkatkan produksi. tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh. Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. partisipasi dan aspirasi petani.Sehubungan dengan hal itu. penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi. 2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah. peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi.

dan N. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. strategi dan program penelitian pengembangan. Badan Litbang Pertanian. Program pengelolaan DAS di Indonesia. Masbula. 1992. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan.M. Djumali. Departemen Pertanian. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna . dan F. T. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Pengembangan teknologi konservasi tanah pascaNWMCP. 1993. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian.S. Manwan.. Bogor.G. Hendarto. E. Adnyana. hlm. Nurida. Jakarta. 1990. A. 175/Kpts/RC.. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.M. Bogor. 1985. 1995. D. Abdurachman. Nurida. Hardianto.L.J. Jilid I. Suwardjo.L. U. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda. 65 hlm. Kusnadi. Agus. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB. Jakarta. M. DHV Consultants. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Tanah dan Air. 25−38. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. dan A.DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. Fagi. Scherr. 1991. Statistik Indonesia 1994. hlm. hlm. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Bogor. Lubis.O. Departemen Pertanian. hlm 1−17. 1987. Biro Pusat Statistik. dan H. Hendarto. Bogor. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. Jakarta. A. dan I. 1994. Lutz. Tanah dan Air. Bagyo. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1−14. Toha. T. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. Badan Litbang Pertanian. 1993. Statistik Indonesia 1980/81. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Ismail. Biro Pusat Statistik. 125 hlm. Biro Pusat Statistik.. Biro Pusat Statistik. D. Prosedur pelaksanaan. 2000. The cost and benefits of agro-forestry to farmers. hlm 1−21. A. Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. dan N.. I.. 1988. Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. and S. 1981. 15 hlm. Current. R. The World Bank Research Observer 10(2): 151−180. 99−120. E. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 235−248. 131 hlm. hlm.

and C. Tanah dan Air. Saliem.5: 98 hlm. Yogyakarta. Nelson. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. Badan Litbang Pertanian. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. Kristianto. H. 1994. dan Air. 51 hlm. 11−19. A. A. Jakarta. Jakarta. dan Air. 1985.. hlm. The World Bank Research Observer 9(2): 273−295. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Jakarta. dan G. Tanah. 15−32. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. IMF & World Bank. Prawiradiputra. 1990. Finance and Development.dan Brantas. Sukmana. 1989.. Syafa’at. Pakpahan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 83 hlm. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. dan A. Laporan Tahunan 1987/88. M.P. N. The Farmer’s Viewpoint. Tanah. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/87–1990/91. Purwoto. KEPAS. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 1992. Tanah dan Air. Jakarta. Lutz. dan Air. Hardono. B. The cost and benefits of soil conservation. Laporan Tahunan 1988/89. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. 72 hlm.S. 1985. 89 hlm. hlm. BPFE. Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. 85 hlm.. Tanah. 1988. dan Air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. S. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. 1995. Badan Litbang Pertanian. Napitupulu. Badan Litbang Pertanian. 69 hlm. Monograph Series No. Jakarta. Ginting. Managing Drylands. Jakarta. S.N. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS. Badan Litbang Pertanian. Badan Litbang Pertanian. dan Air. 185−194. Pagiola. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian). 1979. Tanah. A. Reiche. Jakarta. .R. 25−38. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. Syam. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air. Laporan Tahunan 1986/87. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai. p. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Tanah. 1991. 1985. Tanah dan Air. Badan Litbang Pertanian. E. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. hlm. K. R. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 75 hlm. Bogor. 1987.

Badan Litbang Pertanian. Mustadjab. G. Sembiring. Prasetyo. Semaoen. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Brawidjaja University Research Center. Badan Litbang Pertanian. 14 hlm. Sofijah.Pusat Pengembangan Agribisnis. 1989. Farid. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. Pengaruh teras. G. Badan Litbang Pertanian. A. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. M. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Tanah dan Air. Pusat Pengembangan Agribisnis. hlm. Sukmana. Jakarta. Tanah dan Air. Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem. and I. dan H. Tanah dan Air. Malang. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Kartono. sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga. dan A. Risalah Lokakarya Penelitian . Jakarta. Sembiring. C. Kusnadi. 24−28. Tanah dan Air. A. A. A. Bogor. Rachman. dan A. hlm.. P. M. hlm. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS.. dan U. 1985. hlm. 1988. Watung. S. U. Suwardjo. Thamrin. R. Malang. Soemarno. B. dan Suwardjo. Setiani. 1989. hlm. hlm 21−31. 1994. Jakarta. H. Farid. Kartono. Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. Sukmana. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. A. 1979. 77−90. Syam. Bogor. 1991. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. 1989. H. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. S. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR). 1991. 18−24. Suwardjo. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Sembiring... Syam. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. Badan Litbang Pertanian.L. A. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 11−18. dan H. B. 1991.. M.. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Suwardjo. Jakarta. 18−29. suatu tinjauan sosiologi. Sukmana. Rahmanto. hlm. Amir. Rachman. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Proyek Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu. Tanah dan Air. dan S. Jakarta. H. 45 hlm. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat.. Haryati. 257−266. Ispandi.

Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat Penelitian Tanah. E. Hardianto. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas. Kartono. dan A. Perbandingan teras bangku. Bogor. Bogor. Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. hlm. O.. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. Ginting. Suwardjo. Nurida 1989. U. 1981. . Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. dan N. S. 21−30 November 1984. Blitar. Syam. Bogor. 185 hlm. 1984. Satjapradja. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Sutadipradja. Sukmana. 15−35. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Jakarta.O. A. No. dan Trenggalek. 27−29 Februari 1984. Chang Mai. 1986. Barus. Kusnadi. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi. 199−222. Cisarua. G. A.L. hlm. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Propinsi Jawa Timur. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi. Soediman. dan M. N. Tulungagung. A. Bogor. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region. Adnyana. R. Tanah dan Air. Bogor. hlm. Buku-I. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu. 1988..31/PPT/1988. Tim Survei Tanah DAS Brantas. Syam.. Thailand. hlm. IPB. hlm. Al Sri Bagyo. H. 85 hlm. Badan Litbang Pertanian. Sinukaban. A.N. and Hadipurnomo. 1993. 217−224. Suwardjo. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.Sistem Usaha Tani. Kabupaten Malang. 68−82. Ispandi. Watershed management approaches in Indonesia. 47−65.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful