Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 – 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed, catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity),

kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat. Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah tempat erosi terjadi, dan pada tempat sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifatsifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluransaluran air. Disamping itu dengan berkurangnya kapasitas infiltrasi tanah yang mengalami erosi akan menyebabkan aliran permukaan (run off) meningkat. Peningkatan aliran permukaan dan mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang semakin berat pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir.

Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan (Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 – 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 – 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan (run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri) mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga

memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat .Gambar 1. Jumlah.

.

DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill. 1979). perkebunan. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur. Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan. kegiatan pengerukan. 2. 3. perikanan. rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup. maka dalam pembangunannya pun. Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu. Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi. perluasan kota / daerah permukiman. industri.Gambar 2. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. . dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik. maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana. pertanian. kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan. tengah dan hilir. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan. pertambangan. maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. antara lain. sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. kehutanan serta kegiatan lainnya. Perbandingan antara aliran maksimum. kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS. pengembangan tenaga listrik. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. transportasi / navigasi. seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. pembangunan kanal. teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam.

No. R. harus diperhitungkan. Daftar Pustaka Badrudin M. industri . 13 . Direktorat Penyediaan Masalah Air. berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah. No. Gill. pemasaran hasil. tanpa atau dengan benturan yang minimal. akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. 1971.S. Setelah perencanaan secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan dapat dilakukan oleh setiap stakeholders sesuai bidang. Pengembangan pertanian di daerah berlereng. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. 1979. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation. kelembagaan. Soil. FAO. pertambangan. sedimentasi dan lainnya. Rauschkolb. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam. hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai. diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu. pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai. Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia. 44. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi. Di dalam perencanaan yang demikian. Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. penyediaaan air untuk irigasi. Bull. Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. karakteristik hidrologi DAS. N. yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional. FAO Soil Bull. industri dan air minum. tingkat pendapatan. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama. erosi.Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. maupun kemungkinan terjadinya banjir. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan. (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah. benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS. Land Degradation. potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan. 1978. sektor. atau profesinya. waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. (2) pembangunan daerah atau wilayah.

S. Arsyad. Mc. Co:19-161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation). A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. and Sinukaban. N. 7(3): 25-29. S. 1. Proceed of International Seminar on “Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production” 3 – 5 Dec 2004. Suwardjo dan S. Sinukaban. Toward Sustainable Land Use. S. S. J.D Thesis University of Winconsin. J. Natural system for Development What Planners Need To Know. millan. 2004. Publ. H. Indonesia. 1994. 1985. and J. Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman. Lang Druck AG. Amstrong and MG Nethery. Pawitan. N. Sinukaban. Amstrong.” Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting).A. 1983. West Java.wordpress.. “Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. N. Sinukaban. (Ed). J. Bern Switzerland. Sinukaban. N. Arsyad. Soil erosion by Water. Contour Vol. Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Lampung.A. Dalam Carpenter R. Arsyad. VI no. Arsyad. Swaify. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. 1998. Pawitan.L. Indonesia. Sumber: Naik Sinukaban (2007). Krisnalajati. USA. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System. Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71. 1998. Cilegon. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies). Ph.Sihite. 1983.. Aust. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off. Soil and Water Cons. Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. 1994. Madison. H. El. Integrated Land Managementfor Sustainable Agriculture Development in Indonesia. 1981. Sinukaban. dan P. N. “Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air.com/2008/ . Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java.

Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas. Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (1966-1998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah. dan politik. pembagian. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan. kerusakan lingkungan hidup di daerah . Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi. Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi .1999). tingginya tingkat kemiskinan di daerah. pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan .Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah. Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi. Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat. meningkatkan peran serta masyarakat. terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. Dalam Undang-undang tersebut desentralisasi menyangkut penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di bawahnya. sosial. Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat. Namun prinsip desentralisasi bukan hanya mengenai penyerahan wewenang pemerintahan. Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. dan lemahnya kelembagaan di daerah. Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.

Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat. dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial. sumberdaya buatan manusia (man made capital). Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA. dan sosial budaya. Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. efektif. (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan. Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir. Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata. sumberdaya manusia (human capital). tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis. yaitu sumberdaya alam (natural capital). . longsor. Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA.secara keseluruhan. terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah. telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia. sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besarbesaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). erosi. sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata. ekonomis. sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah. (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien. Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu. dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo. 1999). Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah. Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi.

biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi. sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi. Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik. Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya. sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi. Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup. sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. Rusaknya hutan di . Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggungpunggung bukit/gunung. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. pada umumnya berada di tengah DAS. dan temporal (waktu). Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang). sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem. abiotik. Selanjutnya OTDA dijadikan alat untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan. Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. Sungai.Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun. Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. fungsional. Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem.

Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. erosi. dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem . Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS 4. menyeluruh. Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan. dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya. sedimentasi. Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. efisien. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir. fleksibel. Membangun sistem legislasi yang kuat 3. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. hutan. dan lahan. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar. Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional.bagian hulu akan menimbulkan banjir.

pemberian sanksi. pengusahaan. air. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan “memaksa” publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan. maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi.pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi. rehabilitasi. Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. pemeliharaan. atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. dan sosial budaya. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. ekologis. hutan dan lanskap alam. Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. keputusan presiden. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. 22/1999). sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. penguasaan. perlindungan. penyelesaian konflik dan .Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan. udara. seperti lahan. maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi. mineral. UU No. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota. Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang.

Oleh karena itu. aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. 2000). Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks. adat istiadat. Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. Jepang. sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia. dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS. batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. 2000). Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. 1987 dalam Kartodihardjo. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. bahkan Thailand. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS.al.sebagainya. hukum. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo. et. apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat. dan abstrak yang mencakup ideologi. Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. al. dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya. institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. et. Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat. 2000). Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid. Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya. rumit. serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. hak-hak istimewa yang telah diberikan. .

. Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program. one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan markup. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas lahannya. Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik. Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir. perencana pengelolaan DAS. Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS. serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS.Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. Kemampuan petani. maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Prinsip one river. Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible). longsor. Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. ketidaksinambungan pembinaan program. walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom. pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. ketidakadilan (inequitable). ketidakefisienan (inefficient).

Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. PENDAHULUAN . 1999. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1 SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI Tejowulan. U. H. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS. R.Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA. Sudadi. dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL). Stockmayer. Murtilaksono. 1999. K. UU No 28 Thn 1999. Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. serta Upaya Peningkatan Kinerja. dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. H. DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo. A. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. Nuryantono.S. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaikbaiknya. H. dan N.S. K3SB Bogor. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. 1999 tentang Pemerintah Daerah. 18 Februari 1999. UU Otonomi Daerah. 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Pasaribu. Undang-undang Otonomi Daerah UU No. Kartodihardjo. (b) membangun sistem legislasi yang kuat. dan Masalah. 1999. Bogor. 2000. UU No 25 Thn. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep. Paradox. 22. tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN.

(3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Misalnya. dan ikan dapat menyusut atau habis.Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. drainage area. Atas dasar kehadirannya. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah. teknik. tergantung dari gatranya yang diperhatikan. (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. hutan dan ikan. Memang ditinjau secara local atau setempat. Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. Akan tetapi secara keseluruhan. Dalam pengelolaannya. Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin. Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi. pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia. Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap. maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable). sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan. (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya. seperti udara. sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. atau river basin. dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. ekonomi. berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik. air tanah. . Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS.1974). air tanah. Selain itu. Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam. ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring). Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. hutan.

manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah. bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated). maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja. air (air permukaan dan air tanah). suatu sistem dipisahkan “batas system“ dari sistem yang lain. yang berdaya (affect) batas hidup. 1979. kelakuan dan kegunaan masing-masing. Sebagai contoh. atau disebut pula dengan “struktur fungsi“ (fungtional structure). Sebagai contoh. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang.1978). geologi. atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. Arti “terpadu” di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain. DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat. hewan (fauna). Namun karena berlainan kepentingan. Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi . ladang. Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate). Spedding. keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). kebun. Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan. panas dan cebakan mineral. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif. DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size). Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS. penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran. Yang dinamakan “sistem” ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir-anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom. Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya. Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti. perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo. 1979). “Lingkungan” ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external). yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. relief. seperti minyak bumi. dan sebagainya. atau sumberdaya mineral. tanah. hutan kemasyarakatan (HKm). Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak. Sebagai contoh. ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability). Disamping memiliki ciri penting berupa “organisasi dalam“ (internal organization). tetumbuhan (flora).mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. bentuk (form). (2) Takterbarukan (non-renewable). relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari.

Tanpa perencanaan tataguna yang memadai. mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir. Gatra-gatra ruang. yaitu atmosfir dan laut. atau lewat peranan DAS. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama. penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat.penggunaan DAS. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. yang akhirnya hanya akan saling merugikan. karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS. menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan. dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung. DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS. Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. bentuk. DAS penampung air. 1964).. Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau). Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk. dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut. . Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi.

Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir. ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya. dibentuk oleh proses. Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS. Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions). Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik. Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS. bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system). baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu. Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS. Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting. maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir. Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem.proses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan. DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS . Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions). Dasar pengelolaan kedua. Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer). termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala.Setiap DAS cenderung memperluas diri.

dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives). relief dan manusia. kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi. beberapa gatra tertentu manusia. (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. tanah. vegetasi. (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. Dalam rencana pengelolaannya. . sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah “commanded area”. Khusus mengenai pengelolaan DAS. Ungkapan “manfaat lengkap” dan “kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu” mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal. Yang dinamakan “commended area” ialah daerah-daerah yang secara potensial berpengairan. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum. yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama. Untuk mengarahkan pengelolaan.Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna. (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir. DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya. dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. sumberdaya mineral. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora. diperlukan tiga unsur pengarah. Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan “commended area”. relief. ketercapaian dan keterlindasan. sebagai usaha mengendalikan banjir. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatif-alternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak. air. Adapun anasir yang lain. seperti iklim. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables). ruang/luas. yang menjadi sumber pembuatan alternatif. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah “watershed” digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah. diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. Yang ketiga ialah kendala (constraint). DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan). Dalam ungkapan “sesuai dengan kemampuannya” tersirat pengertian selaras dan lestari. bentuk. vegetasi. yaitu sumberdaya tanah dan air. ini dapat sebuah atau lebih. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim.

daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. gambut tebal.(5) Rupa dan vegetasi penutup. (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan. Dari bagian ini tampak. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan. Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem. (6) Penggunaan lahan kini. dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman. termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan. dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. jeluk (depth) pukul rata air tanah. . sulfat masam. jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup. karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh. (4) Meliorasi tanah. atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. atau kesempatan yang terbuka. dan keadaan tanah.Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora. dan mineral mentah. Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3. dalam pengelolaan DAS hilir. (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS. Sementara itu. sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. (4) Intensitas. (3) Timbulan makro. alkali. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman. termasuk fisiografi dan hidrologi tanah. ketinggian muka lahan pukul rata. jangka waktu dan agihan curah hujan. (4) Intensitas. atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). (6) Penggunaan lahan terkini.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan. Dengan kata lain.

Dalam lingkungan iklim kering. dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan. Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS. erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng. dan keramah tamahan penduduk. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu. bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth. Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung. dan kemantapan struktur tanah. Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah. . iklim. dan hanya dapat diketahui.DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. keterlindasan (trafficability). Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk. karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat. kebersihan air. permeabilitas tanah. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS. yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). Macam data yang sekurangkurangnya harus dikumpulkan ialah: 1. Misalnya. sedang. 1973). baik) atau dengan nilai tertentu (scoring).

termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. hidrolika sungai. dataran interfluvial.2. Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan. tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga. untuk daerah-daerah beriklim kering. 4. dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). bentukan morfologi destruktif. sedimentasi. maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. seperti lembah. Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. tingkat kesehatan. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. 1977). dsb). dan mobilitas penduduk. 7. Macam dan jumlah masukan yang diperlukan. 3. Keadaan iklim hayati. atau kerangka pendekatan. Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah. dataran estuarin. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama). menjadi satu sistem analitik. baik produktivitas maupun potensialitasnya. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal). 4. unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah. tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya. laju pertambahan penduduk. 5. pembentukan delta. kemampuan usaha. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah. morfologi karst. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. 6. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi. Prioritas penanganan segi-segi persoalan. yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. Maka system analisa seperti ini disebut pula “pendekatan bertingkat dua”. dan sistemnya dinamakan “pendekatan sejajar” (ILRI. peneplain. Kerapatan dan distribusi penduduk. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. 2. Kemampuan lahan untuk pertanian. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya. mata pencaharian. yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan. dataran banjir. kesimpulan atau petunjuk tentang : 1. 9. erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. 3. Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi. termasuk tataguna sumberdaya air kini. 8. memiliki urutan kegiatan yang jelas .

Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS. Appl. Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya. Ltd. DAFTAR PUSTAKA Brinkman. Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini. dan berkelanjutan. maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya. dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya.J. (1977). Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi. Blackie. Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan.tanpa langkah-langkah yang saling berhimpitan.(1979). Interdisc. Concept of applied ecology. Inter. FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI). Wageningen . 1977). Aspects Watershed Management. State University. Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik. ILRI. Untuk keperluan pengharkatan lahan. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. Land evaluation for rural purpose. ILRI Publ. System simulation in agriculture. (1979). A. No. karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. Publ. asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. & Harrison.S.R. bermanfaat. Dawes. J. PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. S. R. (1978). R. Improv. (1970). Land Recl. London. 17.. Oleh karena itu. Sci.J. Springer-Verlag. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. Wageningen. Symp. terencana. J. M. Mon. dan Smith. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi. Framework for land evaluation. Influence of soil on water yield. Dent. diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah.B. Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa “…professional from the many different disciplines will … work in concert to bring about total watershed managenent”. memilih pendekatan bertahap (ILRI.H. De Santo. pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu. Proc. New York.

M. & Robinson. P. San Fransisco. 1979. K. C. Yogyakarta. WH. Mon. J. Fak. An introduction to agricultural systems. P. W. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. Freeman and Co. R. Freeman and Co. O. resources. Morgan. XA. Bogor. Wasington. Civ. 303. K. 1975. Yogyakarta. Amsterdam. Oldeman. Editor. M. Proc. 8. Symp. Soil erosion. 1979. E. Logman. & Nelson. A. Tawangmangu. 1970. Sukodarmodjo. Technology of agricultural land development and water management. C. Tropen. Notohadiprawiro. S.B. Dover Publ. . San Francisco. No. Handbook of soil evaluation. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. Rqy. Meinzer. Proc. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan. Satya pakashan. Publ. Fluvial processes in geomorphology. Dalam: Meinzer. National Science Foundation. h. Design and management of rural ecosystems.Leopold. Belum diterbitkan. Storie. Spedding. O. T. Inst. H. Soil. Appl. Ground Water. H. Bull. Hydrology. ___________. A. Wolman. Soil suvey interpretation and iats use. Dan Miller. Inc. Geology. 1980. J. Agr. Amer. Assoc. 1973. E.L.. _______________ 1980. Nelson. 1964. India Publ. Berkeley. I. 1977. New York. Kon. Ascept Watershed Man. I. New Delhi. 1974. Ltd. A. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. D. / R. R.. London. London. Univ. Michigan State Univ. Introduction. & Arora. L. ASRA Information Resosurces. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. Ch. D. Pert. 1967. Tech. New York. S. C. D. Trop. Interdisc. 1979.. & Drajad. R. Fao Soil Bull. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru. G.R. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co. G. G. 1976. (1964). Students Store. D.W. Inst. R. W.E. UGM. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. Ltd. 1973.E. Sci. and society. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. MG. Seminar Penghijauan P. editors. Rancangan pertama. Calif. M. 1942. 25-34. H. ___________. 1-2. London. H. Soc. & Drajad. 50th Symp. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian. C.. 1980.P. R. Menard. Tanah. Dep. Steele. Soepraptohardjo. Martin. State Univ.

kondisi. Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan. dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya. 4. een samenspel van land. Makalah ini menguraikan cakupan. tetapi aplikasinya belum. Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama. Untuk itu. Permasalahan. Jln. Inst.id ABSTRAK Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. 67e Jaarverslag Kon.en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai. Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam.Wassink. T. ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned. Andy Cahyono Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS. Solo Email: bp2tp@indo. 2.net. Yani – Pabelan. dan Upaya Penerapannya C. but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource . Agroforestry. Memang benar. Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan. Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi. diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. J. Nugroho S. DISKUSI Pertanyaan : 1. Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja. bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis. 3. 2. Tanggapan : 1. IBB. Priyono dan S. tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. Tropen Amsterdam. faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting. permasalahan pengelolaan sumber daya alam. A. 1979. Perubahan situasi.

the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations. Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis.517. penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor. Di Indonesia. mengumpulkan air hujan. problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9.632 ha.000 ha (Soenarno. Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk. Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS.000 ha. Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). dan kekeringan. Ditjen RRL. The current change of situation. pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi. CAKUPAN PENGELOLAAN DAS Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima. pengetahuan teknis. This paper discusses the coverage. meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan. Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006). kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat. dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12. kondisi. dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya. In the watershed management. banjir. dan pergeseran paradigma. Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management PENDAHULUAN Persoalan sedimentasi. 2000. dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan. Makalah ini menguraikan cakupan. condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies. sedimen.714. 1999). permasalahan. dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology. Sementara itu. pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966.degradation in the watershed. . permasalahan pengelolaan SDA.699.

Sumber daya hutan Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia. Sementara itu. PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS. Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun. Pada tahun 1998. laju kehilangan hutan semakin meningkat. maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. 57. Namun demikian. maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA. 2003). dan air sebagai output. kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia. pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. kemudian meningkat menjadi sekitar 1. sehingga masih ada kekurangan 34. dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk). Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi. kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya.14 juta m3. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input.75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52. Sementara itu. pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan. tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi.18 juta m3 pada tahun 2003. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001).04 .Oleh karena itu. DAS sebagai pemroses. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS. Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan.7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan. Oleh karena itu.7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an. laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun. Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS.

000 ha/tahun lahan pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia. Sumber daya lahan Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian. selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung. 1999).. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan.. diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997). karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian. Sementara itu. Untuk itu. Mulyana (1998). 1998). jumlah air tersedia mencapai 142. Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL). Di Pulau Jawa.juta m3 (Goldammer et al.3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77. terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan. Sumber daya air Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum. maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. Dalam satuan DAS.. sementara pada musim penghujan banjir terjadi di mana-mana. Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan. Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut. Mencermati hal tersebut. dan Cahyono (2001). konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian akan mengancam lahan hutan. Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al. laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. Ditinjau dari aspek kualitas. The World Bank (1990) memperkirakan 40. Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya.8 milyar m3/tahun (Kananto et al. Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas. tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat. Selain itu. The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. 2000). Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air. pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan. .

Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi. penebangan pohon. kentang di Dieng Wonosobo. 2001). dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya. daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari. 10% spesies mamalia. Dalam kaitan inilah. 2000). dan bersinergi. tembakau. dan c. TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. 2002). berinteraksi. Akibatnya. Begitu pula dengan tanaman palawija. Hasil penelitian Abbas (1997). sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. terjadi penggundulan hutan. Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia. pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir. Misal. pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain. maka kehati-hatian sangat diperlukan. Diversifikasi flora fauna Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity. berintegrasi. padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi. dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. konversi lahan. meliputi 11% spesies tumbuhan dunia. tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir. maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS. kekeringan. dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia. maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. dan pemanfaatan lahan secara intensif. b. Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem. yaitu: a. deforestrasi. Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna.Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS. Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi. . Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali. atau Pasang di Sulawesi Selatan. Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat. Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. Mulyana (1998). Degradasi lahan. kebakaran hutan. banjir. meskipun menyebabkan erosi (Donie. hortikultura.

Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. modal. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya. kehilangan unsur hara. petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut.Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002). Untuk itu. peternakan. dan sebagainya. dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian. rekreasi. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. Jadi. Pertanian merupakan suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi. maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS. sedimentasi. Dari sisi ekonomi. sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi. maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS. Oleh karena itu. longsor. maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian. tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. Petani dengan pendapatan rendah. air dan sebagainya. hasil hutan. dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1). Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. . Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa. tenaga kerja.

Gambar 1. sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air. Sistem Pengelolaan DAS secara umum Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah. tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari. . Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad. 2000). Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah.

. Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. S. kebijakan. 2000. Tesis Magister Sains. S. Konservasi Tanah dan Air. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. 1996. 2001. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS. Arsjad. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama.Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi. 1997. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. Departemen Pertanian Republik Indonesia. kelembagaan. mengingat adanya perubahan tatanan politik. Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS. Yang penting dalam hal ini adalah. kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi. PENUTUP Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air. apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati. Cahyono. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. Program Pascasarjana. B. Institut Pertanian Bogor. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi. Bogor. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi.A. Arifin. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. Jakarta. tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi. S. Kontroversi Program Konservasi Lahan. DAFTAR PUSTAKA Abbas. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif. semua pihak perlu mengimplementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing. pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. Penerbit IPB Press. tetapi juga oleh partisipasi masyarakat. Bogor.

and H. Bogor. Forest Watch Indonesia. Donie. W. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement. 1998. Priyono. Surakarta. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000. A World Bank Country Report. Forest Watch Indonesia. dan Widayati. 2002. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Kananto.Cahyono. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. Goldammer. 2003. Samarinda. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. Jakarta. hlm.A. Disertasi Doktor. Wonosobo. Seibert. Alami 8(1):1-5. C. Bogor. W. Departemen Kehutanan. 1990. Cahyono. 15-39. 2000. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. hlm. Mastur dan S. C. Abberger. Info DAS 13: 14-26. Bogor. 1999. A. 2001. Jakarta. Priyono.N. Land and Water. Institut Pertanian Bogor.. Prilaku bertani masyarakat Dieng. A. Hatmoko. 21 November 2000. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. U. Soenarno. Kurnia. Sumber: . hlm. Indonesia: Sustainable Development of Forest. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka. Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. 1998. Potret Kehutanan Indonesia. Schindelle. 2002. 19 hlm. 2000. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. 9 September 2002. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. B. Hoffmann. The World Bank.S dan S. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta. 23 September 1998. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. 2000.G. Bogor. Jakarta. Program Pascasarjana.A. hlm. 20-23 September 1999. Daerah Banjir di Indonesia Bertambah. Mulyana. Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. 1999. S.N. J. 2-3 September 1999. Washington.S. A. kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. pp. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia. Donie. S. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah.

Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. 22(4). serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. and to support farmers’ participation in land and water resource conservation. The level of technology adoption was partially high enough.SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi. the government needs to improve quality of human resources and through the provision of . dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Yani No. and vegetative land conservation. khususnya teknologi pola tanam. budi daya tanaman pakan dan usaha ternak. In early stage. 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. and farmers’ income. pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects. Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh. and decrease erosion rate. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. serta dapat menurunkan laju erosi. Pada tahap awal. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop productivity and farmers’ income. pengelolaan daerah aliran sungai. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. improved variety. fodder crop culture. Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian. 70. varietas unggul. animal husbandry. Jalan A. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. Kata kunci: Lahan kering. especially cropping pattern. The general objectives of the projects were to increase land productivity.

watershed management. mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya.400. meningkatkan erosi dan sedimentasi. government needs to encourage private sector in dry land investment. At the development stage. topografi curam. pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran. Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah). Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. Sukmana et al. Namun.936. Selain itu. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan.30%) dalam periode yang sama. Namun. Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan. upaya tersebut belum berhasil. .408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6. kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan. produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994). Keywords: Uplands. Namun. serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya.subsidy. Proyek Wonogiri. perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%). Di dalam kawasan hutan.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7. land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi. produktivitas umumnya rendah. (1988) mengemukakan bahwa. dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990). kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II. kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000). Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim.70% selama 14 tahun. serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. luas lahan kritis justru makin meningkat (16. dan Proyek Bangun Desa. Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu. Pada tahun 1950.

bawang merah. padi gogo. Cimanuk. Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis. mangga dan pisang. dan Brantas (Sutadipradja et al. dan kacang tunggak. melinjo. sengon. Solo. Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400. penghasil kayu seperti jati.30–2 ha. antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air. ubi kayu. Lebih lanjut Hardianto et al. Tanah dan Air 1985). Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku. Selain itu. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa. pekarangan untuk tanaman tahunan. domba gibas. Namun. Citanduy. lamtoro merah. dan koro pedang sebagai tanaman sela. Jratunseluna. menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah. glirisidia. sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah. mentimum. dan mahoni. dan ayam buras. dan flemingia. sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai. 36 DAS tergolong DAS prioritas. kacang hijau. dan tomat. kacang panjang. juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu. Dari 80 DAS bermasalah tersebut. kambing peranakan etawa (PE). dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa. rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan dan limbah tanaman pangan. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0. Hardianto et al. pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. akasia. kaliandra. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan.tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat. petani menanam kacang gude. . serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. kambing kacang. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung. kedelai. johar. petai. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1. sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah. pola tanam yang kurang baik. dan menghasilkan pupuk organik. Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah. seperti DAS Citarum. turi. kacang tanah. program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian. 1986). koro benguk. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO). dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. lahan usaha tani sempit. Di samping itu. serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro. dan perbukitan. tegalan.

kebijakan yang tepat. Departemen Keuangan (pengawas keuangan).751. lahan kritis di Indonesia mencapai 10.731.000 ha. Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan. pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13. Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan. selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan. tingkat kekritisan lahan. Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan. lereng curam. perkebunan. yaitu perbaikan teknologi. Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis. dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). 4. . dan pola tanam kurang baik. atau setara luas Pulau Jawa. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas. jenis tanah dan iklim. Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan.218. Departemen Pertanian (bantuan teknis). Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No. Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985). sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan. Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar.000 ha. Prawiradiputra et al. maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan. tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering. tah n 1988 turun menjadi 9. Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi. dan tingkat bahaya erosi. dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis.2. Departemen Kehutanan (perencanaan dan pemantauan). yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi pimpinan). 8/1976). Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah. Berdasarkan tingkat kekritisan lahan. Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis). yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis. antara lain sumber terjadinya lahan kritis. Di samping itu. 3. potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi. dan Bappenas.970 ha. Di daerah lahan kering. USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal. Pada tahun 1975. kondisi sosial ekonomi. Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang.

Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah. tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk. pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979).175/Kpts/RC. Di Indonesia yang memiliki iklim basah. Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan. 1992).80% dan 76. kemiringan lahan. Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). Tanah. Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak. dan asas-asas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku. serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi. serta melibatkan ternak. saluran irigasi) di bagian hilirnya. . Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95.Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu. Sehubungan dengan itu. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP. Di Jawa Tengah. Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No.220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan. juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani. langkah-langkah.90% (Pakpahan et al. penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut. maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan. rumput pakan pada bibir dan tampingan teras. menurunkan laju erosi. Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985). Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani. dan Air 1990). dan kegiatan pembinaan. Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani. tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%. kultur teknis. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991).

Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud. dan ternak. Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A). sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan. kepekaan terhadap erosi. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan. tanaman tahunan. dan leguminosa pohon.D) didasarkan pada kemiringan lahan. tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah. hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak. sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2). hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan). atau kemiringan lahan 15−45%. ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah. dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. . Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan. rumput. Pada model B dan C. kedalaman tanah. sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . ditanami tanaman tahunan. rumput dan leguminosa pohon pada guludan.C. Pada usaha tani model D. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu. Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B. serta ternak. dan pola usaha tani. bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani.

.

Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil.Setelah tahun ketiga. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi. karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing. Pada dua model lainnya (A dan D). pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil. 10.20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988). tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang. yaitu berturutturut 20. dan 5.50 t/ha/tahun untuk model B. serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik.20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6. erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi.60 t/ha/ tahun untuk model A. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi. Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap.40 t/ha/tahun.40 t/ ha/tahun pada 1990/91. Sembiring et al.40 t/ha/tahun untuk model C. yaitu model B sebesar 3. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10. 8. Pemanfaatan Tanaman Tahunan . sedangkan pada model petani relatif tetap.20 dan 11.

Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh. Tanah. (1994) dan Current et al. Tanah. petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan. Di beberapa daerah. Sebagai contoh. tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25–100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. karena dalam periode tersebut. subsidi. seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan.Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. dan Air 1988). nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. Setiap tingkat kelerengan. Berkaitan dengan itu. Ketiga. seperti diuraikan oleh Lutz et al. penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. (1995). dan 4) ketersediaan . Tanah. pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. Tanah. dan makanan ternak (Syam et al. Namun. dan Air 1989). manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat. getah. baru 2–3 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. swasta). manfaat dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu sama lain. manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi. 1993). Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi. Kedua. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama. dan Air 1987). Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi. tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan Air 1988). seperti kayu. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. kredit. yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah. 2) dukungan eksternal (penyuluhan. Selanjutnya. Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan. Pertama. serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya). pemasaran. yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani. di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas). Namun. pupuk kompos.

karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani. pisang.350/ha). model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak. rumput setaria. adpokat. adpokat. cabai. 1992 dan Sembiring et al. sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak. pisang. pisang. pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah. pemberian pupuk kandang 10−15 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea. Tanaman tahunan seperti kelapa. teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi. konservasi tanah. 1991). Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama. dan bawang merah.43−5. seperti kedelai. 200 kg TSP. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas. pertanaman lorong. dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan. dan model D: jagung. Dari keempat pola alternatif tersebut. Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras.525/ha. pepaya. Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung. dan tumpang sari.teknologi. Ditinjau dari aspek konservasi tanah. Sehubungan dengan hal tersebut. Pada pola III. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. lamtoro. Hardianto et al. rumput setaria. masing-masing Rp 877.13 t/ha di Trenggalek dan 5. jati. tanaman tahunan/hortikultura.81−6. 1985).850/ ha dan Rp 873. dan tanaman pangan. rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah. Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi. pepaya. kacang tanah. Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah. Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur). 1991). memberikan hasil cabai 4. demikian juga ternak kambing. karena petani cenderung memberikan . pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1. sentro sema. pisang. dan 200 kg KCl/ha. ubi kayu. rumput gajah. yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan. dan terendah pada pola II (Rp 120. dan harga jualnyapun cukup baik. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem. rumput gajah. dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi.478.000/ha). Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani. Untuk pola II. hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al.50 t/ha di Malang (Hendarto et al. dan kacang tanah. adpokat. kedelai.

dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek. rata-rata 44%. penyuluh dan kelompok tani.20%. kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya. tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56. Selain dukungan dari atas. dan kelompok tani sangat penting. perkreditan. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah.50% dan 102. Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi. masing-masing 105. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. aparat desa. 2) adanya keterkaitan peneliti. khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga. dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing. dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi.60% dan model C 28. 1992). Abdurachman et al. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. sedangkan pada petani model B hanya 35. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani. adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani . tetapi selanjutnya menurun.90%. Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan. petani model B. 3) tingkat partisipasi petani. dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 4−5 ekor. penyuluh. sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai. dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang. Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang.30% dan 12. penyuluh. dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang. 4) sistem pendukung/ pelayanan. peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting. dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama. dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu.pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang.60%. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani serta adanya kerja sama antara peneliti. C. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. Keterkaitan antara peneliti. Asisten lapang dan (3−4 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan. Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D. Selain itu. Di samping itu.

kedelai. karena keterbatasan kemampuan. tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. melinjo. (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras. atau melalui tengkulak yang datang ke desa. pengetahuan. Rachman et al. Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan. waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia). petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul. dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif. sifat tanah). 1989). petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya. pola tanam. Untuk memasarkan hasil tanaman semusim. kacang hijau. yaitu curah hujan. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator. Rachman et al. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani. dan jeruk. dan aspek sosial ekonomi. Dalam memasarkan hasil kelapa. aspek teknis. Di samping itu. curah hujan. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah. yaitu aspek pemasaran. Akibatnya . seperti jagung. pembuatan saluran pembuangan air (SPA). masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. Aspek teknis Sembiring et al. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi. tetapi juga pada petani nonkooperator. kacang panjang dan cabai. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal. kondisi tanah (kemiringan. dan keinginan petani. ketebalan solum.30 ton pipilan kering. perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. kacang tanah.menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung. Di lahan kering DAS. penanaman tanaman penguat teras. dan kemampuan petani (biaya. dan desakan kebutuhan petani. dan jagung 0. seperti teknologi pembuatan teras. 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan. Selanjutnya Syam et al. petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa. KEPAS (1985) mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil. adpokat. gaplek. Namun. pasar kecamatan.

Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa. Produk tanaman leguminosa tersebut. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong. Di samping itu. bidang teras bergeser. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis). gude (Cajanus cajan). Gude menghasilkan 0. sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. Pada tanah bersolum dangkal. serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif. dan tanaman penguat teras lepas.51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. seperti tampingan teras runtuh. dan komak (Dilichos lablab). Begitu juga Suwardjo et al.36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%. Aspek sosial ekonomi Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS. air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air. Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah. serta komak menghasilkan 1. serta tanah yang bersolum dangkal. . 1989).53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%.80 t biji/ha dan 0. koro benguk (Mucuna pruriens). atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe. Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau. (1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik. sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas. 1989). Koro pedang dapat berproduksi 1. Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani.04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. terutama pada kelompok usia 35−44 tahun (Rahmanto et al.bangunan teras sering rusak. selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. Di masa mendatang. (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol). tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. Modal juga merupakan kendala pengembangan. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah. pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan. Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar. Koro benguk menghasilkan 0.

yaitu 5−6 bulan dalam setahun. materi kurang seragam. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem. tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. Namun. sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial. dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al. karena petak percobaan tersebar). Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah. misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu.Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). 1991). Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan. dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. serta besarnya ketergantungan pada alam. Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan. P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas. Di samping itu. data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti. . Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak. Menurut Kristianto (1985). Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan pengetahuan. varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal. misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap masih rendah yang antara lain disebabkan oleh:     Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas. petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. Namun. 1993). baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat. sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol. dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah. Setelah panen selesai. tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan.

Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. kerja sama peneliti. penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24– 69% di bawah batas ambang erosi. formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. Pada tahap perbaikan teknologi. karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27. . penyuluh dan petani. dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh. Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. Di samping itu. 2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah.Sehubungan dengan hal itu. tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas. lembaga pelayanan. selain meningkatkan produksi. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi. Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal. Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat. dan partisipasi petani. kebutuhan. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. Pada tahap awal. Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat. partisipasi dan aspirasi petani. peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya. petani dan pihak terkait lainnya. yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi. tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah. Di DAS Brantas bagian hulu. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar. serta sarana/prasarana perhubungan. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut.50% merupakan superprioritas.

Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. The cost and benefits of agro-forestry to farmers. I. Hardianto. A.. Abdurachman.M. hlm 1−21. 131 hlm. Nurida. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Hendarto. Kusnadi. Agus. Adnyana. 1981. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. 25−38. Departemen Pertanian. Statistik Indonesia 1980/81. hlm. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. hlm.. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. 2000.S. strategi dan program penelitian pengembangan. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Jakarta. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB. T. Lubis. A. 1995. Fagi. R. Nurida.M. Pengembangan teknologi konservasi tanah pascaNWMCP. Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. dan H. Jakarta. dan F. Hendarto. U.. dan I. T. Jakarta. A. hlm 1−17. Scherr. hlm. 1988. M. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan A. dan N. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Manwan. dan N. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 125 hlm. 175/Kpts/RC. D. Jilid I.O. Program pengelolaan DAS di Indonesia. Bogor. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. 1993. Statistik Indonesia 1994. Departemen Pertanian. Biro Pusat Statistik. Lutz. E. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. hlm. 1985. Biro Pusat Statistik. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Suwardjo. 65 hlm. 1993. Prosedur pelaksanaan.. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna . 1991. Bogor. 15 hlm.G. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda. Badan Litbang Pertanian. 1990. 1992. E. Masbula. Jakarta. Tanah dan Air.DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. Badan Litbang Pertanian. D. Toha. 99−120.. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. Bogor. Current. Bogor. Bagyo. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.L. 235−248. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. and S. Biro Pusat Statistik. Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. The World Bank Research Observer 10(2): 151−180. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. Jakarta.J. 1994. 1987.L. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. DHV Consultants. Djumali. 1−14. Tanah dan Air. Biro Pusat Statistik. Ismail.

1985. Badan Litbang Pertanian. Nelson. Jakarta.5: 98 hlm. dan Air. BPFE. Managing Drylands. Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. Laporan Tahunan 1988/89. Prawiradiputra. hlm. 72 hlm. dan Air. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. The World Bank Research Observer 9(2): 273−295. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. dan Air. Tanah.P. Pakpahan. N. Syafa’at. 1990. 83 hlm. Ginting. Badan Litbang Pertanian. Laporan Tahunan 1986/87. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.N. Tanah. 89 hlm. Yogyakarta. Finance and Development. Reiche. p. S. Badan Litbang Pertanian. M. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. dan G. Bogor. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. KEPAS. dan A. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian). K. A. 85 hlm. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. Jakarta. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS. 51 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. IMF & World Bank. Purwoto. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Tanah dan Air. Monograph Series No. Hardono. Jakarta. hlm. Syam.dan Brantas. 185−194. 1992. Tanah dan Air. The Farmer’s Viewpoint. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai.R. 1985. Jakarta. Laporan Tahunan 1987/88. A. 1979. and C. dan Air. 1989. Jakarta. Sukmana. 1994. Jakarta. Saliem.. S. . Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Pagiola. hlm. dan Air.S. 1987. E. 1985. 25−38. A. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/87–1990/91. 1988. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. B. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. The cost and benefits of soil conservation. Tanah. 69 hlm.. H. Badan Litbang Pertanian. Tanah. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Badan Litbang Pertanian. Napitupulu. 1995. Tanah. Kristianto. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air. 15−32. 1991. 75 hlm. Tanah dan Air. Lutz. 11−19. Badan Litbang Pertanian.. R. Jakarta.

C. Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem. Kartono. M. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR). Tanah dan Air. Sukmana. Soemarno. Jakarta. A. H. A. Bogor. Badan Litbang Pertanian. H.. Jakarta. dan H. 24−28. Rachman. 18−24. Suwardjo. Amir. dan A. Badan Litbang Pertanian. 1988. Badan Litbang Pertanian. Watung. Tanah dan Air. U. A. Rachman. hlm. Sofijah. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. 257−266. Malang. B. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS.. Proyek Rehabilitasi Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. H. 1994. 1991. Sembiring. Haryati. Sembiring. Sukmana. 1989. Bogor. Tanah dan Air. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. 1979. Suwardjo. Brawidjaja University Research Center.. dan U. 11−18. dan H. S. Pengaruh teras. A. Badan Litbang Pertanian. Thamrin. Farid. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. dan S. M. Rahmanto. and I. Jakarta. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. Jakarta. A.. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Farid. Kusnadi. suatu tinjauan sosiologi. Mustadjab. Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. hlm. hlm 21−31. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. M. 1989. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Syam. 1991. Prasetyo. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Setiani. Jakarta. hlm. G. dan Suwardjo. R. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu. B. hlm. 77−90.. Pusat Pengembangan Agribisnis. Ispandi. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. G. 45 hlm. 1989..L. sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga. Risalah Lokakarya Penelitian . Suwardjo. Kartono.Pusat Pengembangan Agribisnis. S. Tanah dan Air. dan A. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Syam. 1985. 1991. P. Jakarta. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo.. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat. A. 14 hlm. Semaoen. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Sembiring. Malang. Badan Litbang Pertanian. hlm. hlm. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. 18−29. Tanah dan Air. Sukmana.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Thailand. 217−224. Tim Survei Tanah DAS Brantas.O.31/PPT/1988. 1988. Watershed management approaches in Indonesia. hlm. 27−29 Februari 1984. Syam. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi. Suwardjo. No. 21−30 November 1984. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. and Hadipurnomo. 1981. U. A. Cisarua. 1986. Sinukaban. 1993. Bappeda Tingkat I Jawa Timur–Pusat Penelitian Tanah. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region. A. dan A. Al Sri Bagyo. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Bogor. hlm. S. Satjapradja. 15−35. O. 1984. Bogor. A.. Bogor. Ginting. Tulungagung.L. 185 hlm. Propinsi Jawa Timur. Perbandingan teras bangku. 85 hlm. dan Trenggalek.. Kusnadi. Soediman. Disertasi Sekolah Pascasarjana.. Syam. Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi. Sutadipradja. Bogor. Bogor. Sukmana. R. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. hlm. H. G. hlm. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu. Chang Mai. 68−82.N. Blitar. Nurida 1989. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. Jakarta. dan N. Badan Litbang Pertanian. N. A. Barus. Hardianto. Buku-I. IPB. 47−65.Sistem Usaha Tani. Tanah dan Air. 199−222. Ispandi. Kabupaten Malang. . E. Kartono. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan. Suwardjo. hlm. Adnyana. dan M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful