i

SKRIPSI

ANALLISIS PROSES PENERAPAN PERHITUNGAN, DAN PELAPORAN PAJAK REKLAME PADA KANTOR DINAS PENDAPATAN DAERAH (DISPENDA) KOTA MAKASSAR

OLEH MARIUS AGUSTINUS LAKI A311 06 629

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

ii

ANALISIS PROSES PENERAPAN PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK REKLAME PADA KANTOR DINAS PENDAPATAN DAERAH (DISPENDA) KOTA MAKASSAR

DIAJUHKAN OLEH

MARIUS AGUSTINUS LAKI A311 O6 629

Skripsi Sarjana Lengkap Untuk Memenuhi Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar.

Makassar, 12 April 2011

Disetujui oleh, Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Rusman Thoeng, M.Com., BAP., Ak NIP. 195611211986031001

Drs. Haerial, Ak NIP.196310051981031002

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis persembahkan kepada Allah yang Kudus di surga melalui Putra-Nya Yesus Kristus, karena atas Berkat, Rahmat dan Anugerah-Nya dari awal masuk kuliah tahun 2006 sampai dengan akhir perkuliahan yaitu dengan menyelesaikan/merampungkan penyusunan Skripsi yang berjudul “Analisia Proses Perhitungan Dan Pelaporan Pajak Reklame Pada Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar”, sebagai persyaratan untuk menyandang gelar sarjana ekonomi. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menemukan banyak hambatan dan tantangan, tapi dengan penyertaan Tuhan, dan dorongan semangat dari kedua orang tua, keluarga besar Fallo Nggalla dan teman-teman semuanya sehingga penulis dapat menyelesaikannya. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini, tidak sedikit hambatan yang dialami penulis. Hal ini terjadi karena kelemahan dan keterbatasan yang dimiliki oleh penulis. Berkaitan dengan bantuan dari berbagai pihak maka kelemahan dan keterbatasan penulis teratasi. Oleh karena itu dengan rendah hati penulis mengucapkan rasa kepada: 1. Ayanda Markus Kami dan Ibunda Maria Alida sebagai sumber kehidupan saya, pembimbing utama hidup saya, pendidik dan pelindung serta membesarkan dan mendidik saya untuk bersifat terbuka, kreatif, berani, sabar, mandiri dan bijakasana yang memiliki peran tak terhingga, sehingga rasa syukur serta terimakasih yang sebesar-besarnya

Kakak Lenty. Pak Jamal. singkatnya yang telah membantu demi kelancaran urusan akademik penulis. M. mulai dari awal masuk kuliah sampai saya menyelesaikan perkuliahan. Pak Asmari.Com. 7. selaku pembimbing I dan Bapak Drs. Haerial. Para pegawai jurusan Akuntansi: Pak Aso. Om Ronny dan Tanta Yolla yang telah banyak membantu saya baik material maupun moril. dan juga adik Minus. 3. 2. Rusman Thoeng. H. 5. Para dosen Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis. Pak Taru. Bapak Drs. menghibur serta nasihat-nasehatnya. khususnya bagian yang mengurus Pajak Reklame terutama Pak Hari yang telah banyak . Kak Nance dan Remi yang telah banyak membantu saya. Ak. dan pegawai akademik Fakultas Ekonomi: Pak Umar. Muis. Saya akan selalu ingat pesan-pesan yang diamanatkan kepada saya. Ak. 4.iv terimakasih ini tidaklah cukup untuk menggambarkan wujud penghargaan saya. Selaku pembimbing II yang telah mengorbankan waktu. 8. 6. Pemimpin dan staf Dinas Pendapatan Daerah Kota Makassar. Pak Akbar. CPA. tenaga dan pikiran dalam membimbing dan mengarahkan penulis. James dan Ronald yang telah menemani dan menghibur saya. Safar. kakak Ell dan adik Liber dan Anssi yang banyak membantu saya dan yang saya sayangi dan terimakasih atas pesan yang diberikan.

12 April 2011 Marius Agustinus Laki Nim: A311 06 629 . Emil. Amin. terimakasih bagi kalian semua. Semua pihak yang tidak sempat penulis sebut satu per satu. Banyak kenangan yang baik dari kalian dan sebaliknya. Akhir kata dengan rendah hati.mudah-mudahan kita semua sukses kelak. Echa. Buat sahabat-sahabat kampus: Imran. masih terdapat banyak kekurangan. semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang berkepentingan.dan semua temanteman angkatan 2006 dan juga Boca-boca Flores Maumere (Moff): Wemppy.v membantu penulis dalam proses penelitian dan kesediaanya memberikan data yang dibutuhkan penulis dalam penyusunan skripsi. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini. Noldi. Nong. Bagas. Jhon. Apri dan Renold yang telah banyak membantu penulis selama saya kuliah di UNHAS. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. 10. Makassar.. 9.

. dan Perhitungan Pajak Reklame..vi DAFTAR ISI HALAMANJUDUL……………………………………………………………..8 Pengertian Otonomi Daerah………………………...1 1.………………….25 2.vi BABIPENDAHULUAN……………………………………………………….…………………12 Pajak Reklame………………………………….3 1.…….21 Objek Pajak Reklame………………….28 2.8 Sistematika Penulisan…………………...22 Bukan Objek Pajak Reklame……………………….20 Dasar Hukum Pemungutan Pajak Reklame………………..………………………….2 Tarif Pajak Reklame……………….…......5 2.ii KATAPENGANTAR………………………………………………………….6 2..8..8.……28 .3 Perhitungan Pajak Reklame…………………………….4 2..1 Dasar Pemungutan Pajak Reklame ………... Tahun Pajak.……………..7 2...….…25 2.………….10 2...2 1..2 2..………………….. Saat terutang Pajak.9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………….1 Pokok Permasalahan …………………………………….4 Masa Pajak.……………..………….24 Dasar Pengenaan...…….………………..1 2..……………10 Pajak Daerah………………………………….3 2....i HALAMANPENGESAHAN…………………………………………………….8.8...…28 2. Tarif.iii DAFTARISI……………………………………………………………………..4 LatarBelakangMasalah……………………….……………………….………7 Tujuan Dan Kegunaan Penelitian……………..1 1..24 Subjek Pajak Dan Wajib Pajak Reklame…………... dan Wilayah Pemungutan pajak Reklame………….

5 Pelaporan Pajak Dan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) ………………………..…………………..2 Proses Penerapan Pajak Reklame yang Dilakukan Oleh DISPENDA Kota Makassar Pada Tahun 2010 dan 2011.2 3......38 Gambaran Umum Pajak Reklame Kota Makassar…………….….4.….…. Subjek.36 4...8.3 Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Reklame dan Cara Pengenaan Pajak Reklame ……..32 Metode Pengumpulan Data………………………………....……….6 Tempat dan Waktu Penelitian………………………………….…………34 Tujuan Penelitian……………………………………….4..2 Struktur Organisasi DISPENDA Kota Makassar…..1.1.4 3..…….....5 3.35 4.vii 2.……..…75 .51 4..3 Proses Pelaporan Pajak Reklame Kota Makassar…….3 3..…………..4 Perhitungan dan Pelaporan dalam Proses Pemungutan Pajak Reklame…………………………….1 Dasar Hukum Pajak Reklame Kota Makassar…………..…………………………..…….32 3.….1 Visi dan Misi DISPENDA Kota Makassar………….3 Uraian Tugas Pada Kantor Dinas Pendapatan Kota Makassar….3..……….50 4.……....1 3.1 Proses Perhitungan Pajak Reklame Kota Makassar….1 Sejarah Singkat DISPENDA Kota Makassar…………...34 BAB IV GAMBARAN UMUMPERUSAHAANDAN PEMBAHASAN…..3..35 4..37 4..33 Unit Analisis dan Unit Observasi………………….....….32 Jenis dan Sumber Data……………………………….59 4.…………32 Metode Analisis…………………………….57 4.4.3..2 4.30 BAB III METODE PENELITIAN……………….59 4.2 Objaek... dan Wajib Pajak Reklame………..…….50 4.66 4.

78 5..…..…………..76 BAB V SIMPULAN DAN SARAN……………………………….5 Kendala atau Hambatan yang Dihadapi Dalam Proses Pajak Reklame Kota Makassar……………….…….80 LAMPIRAN .…….….…….78 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………......viii 4..78 Saran…………………………………………………………….1 5.2 Kesimpulan…………………………….………………….

Dalam melaksanakan pembangunan di setiap daerah. maka penyelenggara pemerintahan daerah dilakukan dengan memberikan kewenangan yang luas.1 LATAR BELAKANG MASALAH Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. nyata. pusat masih memiliki peran dan penyelenggaraan kontrol yang sangat kuat kepada daerah dalam melelui pejabatnya (Gubernur dan pemerintahan Bupati/Walikota) sebagai wakil pusat di daerah. Setelah berlakunya undang-undang tersebut diatas. Hal ini terjadi karena pembiayaan pembangunan itu sendiri sebagian besar dibiayai langsung oleh pemerintah pusat sedangkan pemerintahan daerah hanya bertindak sebagai pelaksana pembangunan semata sehingga mengakibatkan pelaksanaan pembangunan di daerah terkadang tidak lagi sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat setempat.1 BAB I PENDAHULUAN 1. Namun demikian. negara Indonesia dalam penyelenggaraan pemerintahaan daerah menganut sistem Desentralisasi dan dekonsentrasi. Pemerintah Pusat terlibat sangat dominan dalam proses pengambilan keputusan. dan bertanggungjawab kepada daerah dengan memberikan peran yang seluas-luasnya untuk mengatur dan melaksanakan kewenagan atas prakarsa .

Pelaksanaan otonomi daerah tersebut terutama dititik beratkan pada Pemerintah Kabupaten/Kota. jembatan. rumah sakit. Semakin banyak tuntutan. Secara umum terdapat dua kelompok pelayanan yang dihasilkan oleh pemerintah daerah. Yang termasuk dalam public goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan oleh Pemerintah Daerah seperti jalan. untuk menciptakan ketentraman dan ketertiban (law and order) dalam masyarakat. . IMB. Kebutuhan akan berbagai macam jenis pelayanan antara satu daerah dengan daerah lainnya tidaklah sama. dan sebagainya. begitu juga sebaliknya. Adapun jenis pengatur pelaksanaan adalah seperti KTP. yaitu pelayanan publik dan pengaturan (regulation). sekolah. dan lain-lain. Ijin Usaha. maka diharapkan kontrol pemerintah pusat kepada daerah akan semakin berkurang seiring dengan adanya pelimpahan wewenang dari pusat ke daerah. atau yang lebih sering disebut dengan otonomi daerah. maka semakin banyak pula jenis pelayanan yang diinginkan oleh masyarakat.2 sendiri sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat dan potensi setiap daerah. Akte Kelahiran. tergantung dari tuntutan kebutuhan masyarakatnya. Sedangkan dalam kelompok pengaturan (regulation) yang dihasilkan adalah dikeluarkannya berbagai pengaturan untuk mengatur kepentingan umum. Dengan diberlakukannya undang-undang tentang pemerintahan daerah ini. KK. yang diberikan kewenangan daerah otonomi untuk menjalankan roda pemerintahan dan tugas untuk memberikan berbagai macam jenis pelayanan yang sesuai kebutuhan masyarakat.

misalnya: luas wilayah. Oleh karena itu. maka semakin banyak pula biaya yang akan dikeluarkan oleh pemerintah daerah. setiap daerah tentunya memerlukan sumber daya yang tidak sedikit jumlahnya. Meskipun semua daerah diberikan jenis sumber pendapatan yang sama. tetapi bukan berarti setiap daerah memiliki jumlah pendapatan yang sama pula dalam membiayai kewenangannya. . jumlah penduduk. dan lain sebagainya. Penerimaan daerah justru tergantung pada berbagai macam kondisi yang dimiliki oleh tiap daerah. tingkat pertumbuhan perekonomian. kekayaan sumber daya alam. Sumber pendapatan tersebut nantinya akan dipergunakan oleh masing-masing daerah untuk membiayai kewenangan dan tugas yang telah diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Daerah. Semakin banyak kewenagan dan tugas yang dijalankan. pemerintah pusat secara tegas telah memberikan sumber pendapatan bagi daerah yang telah tertuang dalam pasal 157 Undangundang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Berkaitan dengan sumber daya ekonomi.3 Untuk menjalankan kewenangan dan tugas tersebut. Diantara sumber daya yang diperlukan tersebut antara lain adalah sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya ekonomi. diperlukan sumber daya yang mampu memberikan kontribusi langsung dalam melaksanakan kewenangannya tersebut demi tercapainya tujuan perkembangan dan kemajuan daerah serta kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat.

dan sekarang disempurnakan lagi dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. pajak merupakan bukti nyata peran aktif masyarakat dalam membiayai roda pemerintahan dan pembangunan daerahnya. Mengenai hal tersebut. Secara umum pajak merupakan komponen penerimaan negara yang paling besar dan sangat menentukan terutama dalam membiayai pembangunan. Jenis wewenang dalam memungut pajak pusat dilakukan oleh Departemen Keuangan yang dalam hal ini adalah Direktorat Jendral Pajak. Pemerintah pusat secara tegas telah membagi atau mengklasifikasikan kewenangan memungut pajak yakni Pajak Pusat dan Pajak Daerah. Sedangkan bagi daerah. Hal ini dikarenakan pajak dapat dikenakan dan bahkan dipaksakan kepada semua warga negara yang telah memenuhi ketentuan yang berlaku sesuai undangundang. Sekitar 80 persen total penerimaan negara dalam Angaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini disumbang dari penerimaan pajak.4 Salah satu sumber penerimaan daerah diantaranya adalah dari sektor pajak. tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 . Pemerintah Pusat membagi lagi menjadi dua yaitu Pajak Propinsi dan Pajak Kabupaten/Kota. sedangkan kewenangan dalam memungut Pajak Daerah diserahkan kepada Pemerintah Daerah masingmasing. Khusus untuk pajak daerah. Pemerintah Pusat telah menuangkannya dalam bentuk undang-undang yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. yang kemudian disempurnakan dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2000. dimana dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota/Daerah.

e. Pajak Kendaraan Bermotor. Pajak Air Permukaan. dan k. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. dimana dalam pasal dua disebutkan bahwa: 1. . Pajak Hotel. Pajak Parkir. Pajak Restoran. Pajak Reklame. d. d. Pajak Air Tanah. j. Pajak Rokok. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. e. 2. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan. Pajak merupakan iuran wajib yang diberlakukan pada setiap wajib pajak atas obyek pajak yang dimilikinya dan hasilnya diserahkan kepada pemerintah. Pajak Sarang Burung Walet. b. Jenis pajak propinsi terdiri dari: a. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan. Pajak Penerangan Jalan. h. b. c. i. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. c. f.5 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pajak Hiburan . Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri dari: a. g.

Penguasaan terhadap pengaturan perpajakan bagi wajib pajak tentu akan meningkatkan kepatuhan kewajiban perpajakan. tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan disempurnakan lagi dengan ketentuan Nomor 28 Tahun 2009. Pelaporan. tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. perhitungan dan penyetoran yang dilakukan dan mempertanggungjawabkan semua kewajiban itu dipercayakan kepada wajib Pajak. Propinsi Sulawesi Selatan. Seringkali terjadi pelanggaran terhadap pelaksanaan pajak yang diakibatkan oleh ketidaktahuan masyarakat atas aturan perpajakan. Banyak langkah yang dilakukan oleh pengusaha untuk mendapatkan perhatian dari . pengetahuan akan pajak harus dimiliki oleh setiap wajib pajak maupun aparatur pajak khususnya di Kota Makassar.6 Secara umum. Salah satu dampak dari adanya perkembangan perekonomian tersebut adalah dengan dijadikannya Kota Makassar sebagai salah satu sasaran tempat untuk menjual barang dan jasa yang dilakukan oleh pengusaha. kesulitan yang dialami selama ini adalah upaya untuk memasyarakatkan ketentuan pajak itu sendiri. wajib pajak dituntut untuk lebih taat dalam pengelolaan penghitungan dan pelaporan perpajakannya kepada Dinas Pendapatan Kota/Daerah yang memberi kepercayaan penuh pada wajib pajak untuk melaksanakan hak dan kewajiban pajaknya sesuai dengan ketentuan Nomor 34 tahun 2000. Untuk itu. Wajib pajak akan berusaha menjalankan kewajibannya agar terhindar dari sanksisanksi yang berlaku dalam ketentuan umum peraturan perpajakan. Oleh sebab itu.

penulis tertarik untuk membahas yang sesuai dengan jalur konsentrasi pajak untuk dijadikan dalam sebuah karya ilmiah (skripsi) dengan judul “Analisis Proses Penerapan Perhitungan Dan Pelaporan Pajak Reklame Pada Dinas Pendapatan Daerah (DISPENDA) Kota Makassar”. diwajibkan untuk membayar Pajak Reklame. Atas dasar pemikiran tersebut yang menjadi pokok permasalahannya adalah: Apakah aplikasi penghitungan.2 Pokok Permasalahan Melihat potensi pajak reklame yang sedemikian besarnya. dan pelaporan Pajak Reklame pada Dinas Pendapatan Daerah (DISPENDA) Kota Makassar telah sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan Nomor 28 Tahun 2009? . maka Pemerintah Kota Makassar diharapkan mampu dan berupaya terus untuk menjaring seluruh potensi Pajak Reklame tersebut untuk menjadikan sebagai bagian dari sumber Pendapatan Asli Daerah. Dengan adanya pemasangan reklame. Namun tidak sedikit kemungkinan adanya masyarakat (para pengusaha) yang belum tahu bagaimana proses penghitungan.7 masyarakat sebagai calon konsumennya. salah satu diantaranya adalah dengan memasang reklame di jalan–jalan sekitar Kota Makassar. 1. bertolak dari rumusan latar belakang diatas. pelaporan pembayaran pajak reklame dan Undang-Undang yang mengatur tentang Pajak Reklame yang berlaku saat ini. Maka.

3. Sebagai bahan pustaka bagi masyarakat maupun khalayak umum yang tertarik akan masalah perpajakan khususnya Pajak Reklame pada Dinas Pendapatan Kota Makassar. Tujuan Penelitian a. . Kegunaan Penelitian a. Untuk memberi masukan bagi aparat pelaksana yang langsung melakukan penghitungan. dan pelaporan terhadap Pajak Reklame tersebut yaitu berupa masukan konseptual. Untuk mengetahui dan menganalisa kendala atau hambatan yang dihadapi Dinas Pendapatan Kota Makassar dalam proses pelaksanaan proses pengenaan dan pemungutan Pajak Reklame. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. dan pelaporan Pajak Reklame yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar. 2. b. c. Untuk mengetahui aplikasi penghitungan.8 1. Sebagai bahan pertimbangan antara teori yang diperoleh dari perkuliahan dan praktek. b.

metode pengumpulan data. metode analisis. tarif dan perhitungan pajak reklame. BAB 3 METODE PENELITIAN Berisikan mengenai waktu dan tempat penelitian. gambaran umum pajak reklame. dan tujuan penelitian. unit analisis dan unit observasi. pengerian pajak daerah. BAB 4 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN DAN PEMBAHASAN Berisikan mengenai sejarah singkat DISPENDA.4 SISTEMATIKA PENULISAN BAB 1 PENDAHULUAN Berisikan latar belakang masalah. Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA Berisikan kajian pustaka yang berkaitan dengan definisi otonomi daerah. pajak reklame. pelaporan dan hambatan dalam pelaksanan pemungutan pajak reklame kota Makassar. pokok permasalahan.9 1. perhitungan. objek dan subjek pajak reklame. BAB 5 PENUTUP Berisikan kesimpulan dan saran . bukan subjek dan objek pajak reklame serta dasar pengenaan. dasar hukum. jenis dan sumber data. uraian tugas. dan tujuan dan keguanaan penelitian.

Dengan merujuk pada arti kata otonomi diatas. Saat ini Pemerintah Pusat di Indonesia telah menerapkan pemberian otonomi daerah terutama kepada daerah Kabupaten/Kota. zelfuitvoering (melaksanakan sendiri). Otonomi atau autonomy berasal dari bahasa Yunani. otonomi daerah berarti self government atau the condition of living under one’s own laws. karena pada . Dalam kaitannya dengan politik atau pemerintah. zelfrechtspraak (mengadili sendiri). dalam literatur Belanda otonomi ‘berarti pemerintahan sendiri’ (zelfregering) yang oleh Van Vollenhoven dibagi atas zelfwetgeving (membuat undang-undang sendiri). dan zelfpolitie (menindaki sendiri). maka dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah adalah hak. wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.1 Pengertian Otonomi Daerah Seperti yang telah diketahui bahwa perwujudan dari kebijakan desentralisasi adalah otonomi daerah. yaitu auto yang berarti sendiri dan nomous berarti hukum/peraturan.10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Sedangkan. Untuk lebih jelas tentang otonomi daerah. berikut ini penjelasan tentang otonomi daerah. Pemberiaan otonomi daerah diharapkan dapat memberikan keleluasaan kepada daerah dalam pembangunan daerah melalui usaha-usaha sejauh mungkin mampu meningkatkan partisipasi aktif masyarakat.

3. Susunan dari satuan-satuan organisasi. beserta segenap pejabat. 3. Keempat faktor tersebut diatas merupakan komponen yang saling melengkapi dan saling menunjang dalam pelaksanaan otonomi daerah. Meningkatkan kualitas pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat. dan efisien. maka dalam pelaksanaan otonomi daerah terdapat beberapa faktor yang menurut Kaho mempengaruhinya. 4. Sebagai konsekuensi logis dalam mewujudkan otonomi daerah tersebut.11 dasarnya terdapat tiga tujuan utama sehubungan dengan pelaksanaan otonomi daerah. Hampir tidak ada kegiatan pemerintah yang tidak ada membutuhkan biaya. . Manusia pelakasanaanya harus baik. 2. maka pelaksanaan kebijakan otonomi dapat dilaksanakan dengan baik. Setiap benda atau alat yang dipakai guna memperlancar aktifitas pemerintah di daerah berupa peralatan yang baik. praktis. Keuangan harus cukup dan baik. 2. Mamperdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk ikut serta (berpartisipasi) dalam proses pembangunan. Menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah. yaitu: 1. Peralatanya harus cukup dan baik. pembagian tugas serta hubungan antara aparat dalam rangka pencapaian organisasi harus berjalan baik. yaitu: 1. Sehingga apabila suatu daerah telah memiliki keempat factor tersebut. Organisasi dan manajemennya harus baik. Pentingnya factor ini dikarenakan manusia merupakan pelaku utama dalam setiap kegiatan pemerintahan.

Ketiga hal pokok di atas merupakan indikator yang dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk mengetahui bagaimana tingkat kemampuan atau hasil dari satu daerah dalam melaksanakan kebijakan otonomi daerah. yang pemungutanya diselenggarakan oleh daerah didalam wilayah hukumnya. Pajak Daerah bermanfaat untuk membiayai pengeluaran Pemerintahan Daerah. Rindnelli dan Cheema berpendapat bahwa hal tersebut paling tidak ada tiga hal pokok. Meningkatnya produktifitas. 2.12 Sedangkan untuk mengukur hasil dari pelaksanaan kebijakan desentralisasi dalam wujud ekonomi daerah. pendapatan daerah. mobilitas sumber daya dan pelaksanaan. Tercapainya tujuan kebijakan desentralisasi yang berwujud pelaksanaan otonomi daerah.2 Pajak Daerah Dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatannya. 2. 3. Hasil pemungutan Pajak Daerah ini digunakan untuk membiayai pengeluaran daerah sehubungan dengan tugas dan kewajiban mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri . Meningkatnya kemampuan lembaga Pemerintah Daerah dalam hal perencanaan. maka Pemerintah Daerah membutuhkan sumber pendapatan yang cukup. Menurut Soelarno pengertian dari pajak daerah adalah Pajak Asli Daerah atau Pajak Daerah Negara yang diserahkan kepada daerah. Salah satu pendapatan Pemerintah Daerah berasal dari pajak daerah. pelayanan terhadap masyarakat dan peran serta aktif masyarakat melalui penyaluran inspirasi rakyat. antara lain: 1.

Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah di wilayah masing-masing untuk membiayai pengeluaran daerah. Pada kenyataannya semua jenis pajak yang dikenakan kepada masyarakat setempat disuatu daerah dapat dikategorikan sebagai pajak daerah.13 dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila lingup kewenangan dalam pemungutan Pajak berada . Jadi. hal ini tergantung dari siapa yang memiliki kewenangan dalam pemungutannya. yaitu “Pajak yang dipungut daerah berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh daerah tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Mardiasmo mengenai pengertian mengenai pajak daerah. Dalam melaksanakan pemungutan pajak daerah. menurut Soelarno. sedangkan lapangan pajaknya adalah lapangan pajak yang Negara”.” Hal senada juga disampaikan oleh Soetrisno PH mengenai pengertian Pajak Daerah yakni sebagai berikut “Pungutan daerah yang berdasarkan peraturan yang ditetapkan guna belum diusahkan oleh untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga pemerintah daerah pembiayaan pengeluaran-pengeluaran daerah sebagai badan publik. Pemerintah Daerah juga harus mempunyai dasar hukum atau peraturan yang ditetapkan oleh daerah itu sendiri sehingga diharapkan setiap orang yang berada di wilayahnya yang telah memenuhi syarat-syarat kewajiban membayar pajak.

Pajak yang ditetapkan dan atau yang dipungut oleh Pemerintah Daerah. sebagaimana ciri-ciri pada pajak umunya. Hal ini sesuai dengan definisi Pajak daerah menurut Sumyar yakni: “Jenis-jenis pajak yang kewenangan pemungutannya ada pada Pemerintah Daerah. Pajak Daerah dipungut dan diatministrasikan oleh Pemerintah Daerah otonomi. Pajak yang dipungut dan diatministrasikan oleh Pemerintah Pusat tapi hasil pungutannya diberikan kepada. Davey memberi pengertian perpajakan daerah sebagai berikut: 1. 3. Pengertian Pajak Derah menurut Davey tersebut diatas lebih luas dibandingan pengertian Pajak Daerah menurut Soelarno. 4. Sementara itu. . maka hal ini baru bisa disebut sebagai Pajak Daerah. ciri-ciri pajak daerah diantaranya dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan nasional tapi penetapan tarifnya dilakuan oleh Pemerintah Daerah. Dengan melihat beberapa definisi Pajak Daerah yang dikemuakan di atas. atau dibebankan pungutan tambahan oleh Pemerintah Daerah. dan Sumyar. Ini dikarenakan Davey menambahkan masalah peran Pemerintah Pusat dalam menganut dan atau Pajak Daerah. untuk kepentingan pembiayaan rumah tangga Pemerintah Daerah tersebut”. dibagihasilkan dengan. Pajak yang dipungut oleh pemerintah Daerah dengan peraturan dari daerah sendiri. Mardiasmo.14 pada pemerintah Daerah. 2.

2. yaitu: 1. stabilitas dan mudah tidaknya . 3. Pajak daerah didasarkan pada peraturan perundang-undangan. 3. pelayanan masyaraat daerah. Hasil penerimaan Pajak Daerah digunakan untuk membiayai pengeluaranpengeluaran daerah. 4. Pajak daerah yang dipungut oleh daerah berdasarkan kekuatan undangundang dan atau peraturan hukum lainya. yakni peraturan daerah. Untuk menilai apakah suatu jenis pajak Daerah cocok untuk diterapkan disuatu daerah. Hasil pungutan Pajak Daerah diperuntukkan untuk membiayai penyelenggaraan urusan rumah tangga daerah atau untuk membiayai pengeluaran urusan daerah sebagai badan hukum publik. Pajak daerah biasa merupakan pajak Negara yang diserahkan kepada daerah. berdasarkan definisi-definisi yang diberikan oleh para ahli. baik untuk penyelenggaraan Pemerintah Daerah.15 2. Menurut Devas ada beberapa tolak ukur untuk menilai beberapa pajak daerah saat ini. atau pajak yang ditetapkan sendiri oleh Pemerintah Daerah. yaitu: Pertama. Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh daerah. maka diperlukan suatu tolak ukur tertentu. maupaun pembangunan daerah. 5. Kaho secara khusus telah memberikan ciri-ciri mengenai Pajak Daerah. Penyerahanya dilakukan berdasarkan undang-undang. 4. Pajak daerah dapat berasl dari Pajak Negara yang diserahkan kepada daerah sebagai Pajak Daerah. hasil (Yield): memadai tidaknya hasil suatu pajak dalam kaitan dengan berbagai layanan yang dibiayainya.

juga perbandingan hasil pajak dengan biaya pungut. dan memperkecil “beban lebih” pajak. dan sebagainya. artinya kelompok yang memiliki sumber daya ekonomi yang lebih besar memberikan sumbangan yang lebih besar dari pada kelompok yang tidak arti. kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah (suitability as a local revenue source): ini berarti. Kelima. daya guna ekonomi (economic efficiency): pajak hendaknya mendorong (atau setidak-tidaknya tidak menghambat) penggunaan sumber daya secara berdaya guna dalam kehidupan ekonomi. hendaknya tidak ada perbedaanperbedaan besar dan sewenang-wenang dari beban pajak dari suatu daerah ke daerah lain. Keempat. Ketiga. mencegah jangan sampai pilihan konsumen dan pilihan produsen menjadi salah arah atau orang menjadi segan bekerja atau menabung. kecuali perbedaan ini mencerminkan perbedaan dalam cara penyediaan layanan masyarakat. dan elastisitas hasil pajak terhadap inflasi. pajak bersangkutan harus adil secara horizontal. harus adil secara vertikal. kemampuan melaksanakan (ability to implement): suatu pajak haruslah dapat dilaksanakan.16 memperkirakan besar hasil itu. dari sudut kemampuan politik dan kemauan tata usaha. keadilan (equity): dasar pajak dan kewajiban membayar harus jelas dan tidak sewenang-wenang. Kedua. artinya beban pajak haruslah sama besar antara berbagai kelompok yang berbeda tapi dengan keduduan ekonomi yang sama. haruslah jelas kepada daerah mana suatu pajak . pertumbuhan penduduk.

kecukupan dan elastisitas. . pajak tidak mudah dihindari. Meskipun demikian. biaya yang dikeluarkan untuk pelayanan tidaklah statis. menurut Davey ada beberapa kriteria. Jenisnya tidak terlalu banyak. e. f. h. Biasanya pemungutan pajak yang menghasilkan pendapatan yang besar akan digunakan untuk membiayai sebagian besar pengeluaran atas pelayanan yang diberikan. Dasar pengenaan yang sama ditetapkan secara nasional. dan pajak hendaknya tidak menimbulkan beban yang lebih besar dari kemampuan dari tata usaha pajak daerah. dari segi potensi ekonomi masing-masing. g. Beban pajak relatif seimbang. yaitu: Pertama. Pajak tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. c. Sederhana. b. Sementara itu. Biaya administrasinya rendah. dengan cara memindahkan objak pajak dari suatu daerah ke daeraah lain. Tidak boleh bertentangan dengan kebijakasanaan Pemerintah Pusat. dan tempat memungut pajak sedapat mungkin sama dengan tempat akhir beban pajak. Berkembang sejalan dengan perkembangan kemakmuran di daerah tersebut.17 harus dibayarkan. untuk menilai potensi pajak sebagai penerimaan daerah. antara lain: a. Selain lima tolak ukur yang dikemuakan oleh Devas diatas. Lapangan pajaknya tidak mencampuri pajak pusat. terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu Pajak Daerah dapat diterapkan di suatu daerah. d.

18 Kedua. untuk memungkinkan pejabat daerah menyesuaikan tarif tanpa harus mengorbankan basis pajak. menetapkan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. . dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. Ada kalanya dalam melaksanakan suatu pemungutan pajak diperluhkan dana yang besar dan sulit untuk dilaksanakan. tetapi hasil dari pungutannya sangat besar. integritas dan keputusan yang diperlukan dalam administrasinya. Kemauan politis diperlukan dalam mengenakan pajak. (2) keadilan horizontal. Prinsipnya adalah bahwa beban pengeluaran pemerentah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kemampuan masing-masing golongan. ada juga dalam pelaksanaan pemungutan pajak yang memerlukan dana sedikit dan mudah untuk dilaksanaan. menetapkan struktur tarif. Namun. Sumber pendapatan berbeda-beda dalam jumlah. Basis pajak Daerah relatif tidak dapat berpindah. Selain itu pajak juga berbeda-beda dalam watu dan biaya yang diperlukan dalam menetapkan dan pemungutnya dibandingkan dengan hasilnya. kemampuan administratif. keadilan. Keempat. yaitu: a. Keadilan dalam hal perpajakan daerah mempunyai tiga dimensi: (1) pemerataan secara vertikal. (3) keadilan geografis. Menurut Vailancourt terdapat beberapa kriteria tertentu yang harus dipenuhi agar suatu jenis Pajak Daerah mampu memberikan kontribusi yang besar bagi penerimaan daerah. kesepakatan politis. Ketiga. tapi hasil dari pungutannya sedikit. memungut pajak secara fisik.

b. Pembagian hasil pajak-pajak yang dikenakan dan dipungut oleh pemerintah pusat. Pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh Pemerintah Daerah itu sendiri. f. Penerimaan pajak harus relatif stabil dan dapat diproyeksikan dengan baik. Beban pajak harus dapat dilihat untuk kepentingan akuntabilitas. Sebagai salah satu dari sumber penerimaan daerah. Pajak Daerah dapat diperoleh melelui tiga cara. c. Penentuan cara mana yang akan dipilih tentunya memperhatikan segi teknis dari kemudahan administrasi dalam menentukan asal perolehan pajak. Pajak harus dianggap adil oleh Wajib Pajak. untuk lebih . e.19 b. Pendekatan pertama yaitu masing-masing daerah dapat memperoleh bagiannya sesuai dengan jumlah pajak yang berhasil dikumpulkan oleh daerah tersebut. Penerimaan pajak harus dapat menutupi kebutuhan lokal dan bersifat dinamis. Hal lain yang perluh diperhatikan dalam penentuannya adalah sebagai sarana perangsang bagi daerah. c. Pemeritah daerah dapat memperoleh tambahan pembagian pajak atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh pemerintah Pusat. Pendekatan kedua adalah pembagian pajak disesuaikan dengan kriteria dari kebutuhan yang diperluhkan daerah tanpa dihubungkan langsung dengan daerah pajak yang diperoleh. yaitu: a. Pajak harus relatif mudah dikelolah secara efektif dan efisien. d. Pembagian hasil pajak dari Pemerintah Pusat ke Daerah dapat dilakukan melalui dua cara.

3 Pajak Reklame Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 1 angka 26 dan 27. atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenlkan. . atau badan. yang dapat dilihat. dibaca. mempromosikan. atau badan. Keberadaan Pajak Reklame sebagai salah satu jenis pajak kabupaten /kota diatur juga dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. jasa. atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang.20 meningkatan efektifitas adaministrasi pemungutannya dan masalah keinginan politik yang berkembang. perbuatan atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan. jasa. mempromosikan. orang. Pajak Reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame. dirasakan. dan atau dinikmati oleh umum. Sedangkan yang dimaksud dengan Reklame adalah benda. dan atau dinikmati oleh umum. perbuaatan. didengar. Reklame adalah bendah. Untuk dapat dipungut pada suatu daerah kabupaten atau kota. dirasakan. didengar. Dalam pemungutan pajak reklame terdapat beberapa terminology. yang dapat dilihat. 2. menganjurkan. harus terlebih dahulu menerbitkan Peraturan Daerah tentang Pajak Reklame di daerah kabupaten atau kota yang bersangkutan. alat. dibaca. pemerintah daerah. orang. yang dimulai tanggal 1 Januari 2010 menjadi Dasar Hukum Pajak Daerah di Indonesia. alat. yaitu: a. atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang.

Dasar Hukum Pemungutan Pajak Reklame Pemungutan pajak reklame di Indonesia saat ini didasar pada dasar hukum yang jelas dan kuat sehingga harus dipatuhi oleh masyarakat dan pihak yang terkait. e.21 b. Panggung reklame adalah suatu sarana atau tempat pemasangan reklame yang ditetapkan untuk satu atau beberapa buah reklame. Izin adalah izin peyelenggaraan reklame ysng terdiri dari izin tetap dan izin terbatas. Penyelenggara reklame adalah orang atau badan yang menyelenggarakan baik untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.4. Surat Kuasa Untuk Menyetor yang selanjudnya disingkat SKUM adalah nota perhitungan besarnya Pajak Reklame yang harus dibayar oleh Wajib Pajak yang berfungsi sebagai ketetapan pajak. d. g. . h. 2. c. Perusahaan jasa perilklanan/biro reklame adalah badan yang bergerak dibidang periklanan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan berlaku. Surat Permohonan Penyelenggara Reklame yang selanjutnya disingkat APPR adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk mengajukan permohonan penyelenggaraan reklame dan mendaftarkan identitas pemilik data reklame sebagai dasar perhitungan pajak yang terutang. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapanya yang diperuntungkan bagi lalu lintas umum. f. Jalan umum adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun. Dasar pemungutan pajak reklame pada suatu kabupaten atau kota yaitu: 1.

dan sebagainya baik bersinar maupun yang disinari. pagar.5 Objek Pajak Reklame a. dipasang. tiang. kayu. 5. yaitu reklame yang berbentuk lembaran lepas. pohon. digantungkan pada suatu . termasuk kertas. dan difungsikan dengan tenaga listrik. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. tembok. Keputusan Bupati/Walikota yang mengatur tentang Pajak Reklame sebagai aturan pelaksanaan peraturan daerah tentang pajak reklame pada kabupaten/kota yang dimaksud. plastik. 4. dinding. atau bahan yang sejenis dengan itu. karet. Reklame Megatron/Videotron/Large Electric Display (LED) adalah reklame yang menggunakan layar monitor besar berupa program reklame atau iklan bersinar dengan gambar dan tulisan berwarna yang dapat berubah-ubah. 2. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang mengatur tentang Pajak Reklame. b.22 2. termasuk seng. atau bahan lain yang sejenis. c. terprogram. d. Reklame melekat (stiker). Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. diselenggarakan dengan cara disebarkan. Reklame kain adalah reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan bahan kain. Reklame Papan/Billboard adalah reklame yang terbuat dari papan. dipasang atau digantungkan atau dibuat pada bangunan. 3.

Reklame Suara adalah reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan kata-kata yang diucapkan atau dengan suara yang ditimbulkan dari perantaraan alat. e. . ataupun bahan-bahan lain yang sejenis. sebagai alat untuk diproyeksikan dan atau dipancarkan pada layar atau benda lain yang ada di ruangan. laser.23 benda dengan ketentuan luasanya tidak lebih dari 200 cm persegi per lembar. plastik. i. g. Reklame kain adalah reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan bahan kain. f. atau alat lain yang sejenisnya. j. h. Reklame Peragaan adalah reklame yang diselenggarakan dengan cara memperagakan suatu barang dengan atau tanpa disertai suara. termasuk pada kendaraan adalah reklame yang ditempatkan atau ditempelkan pada kendaraan yang diselenggarakan dengan menggunakan kendaraan atau dengan cara dibawa oleh orang. atau bahan yang sejenis dengan itu. Reklame udara adalah reklame yang diselenggarakan di udara dengan menggunakan gas. karet. pesawat. termasuk kertas. Reklame berjalan. Reklame Slide/Film adalah reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan klise berupa kaca atau film.

warta harian. Penyelenggara reklame melalui internet. Label/merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan. radio. keagamaan. b. dan politik tanpa sponsor. 2. Penyelenggaraan reklame lainya yang ditetapkan adakan khusus untuk kegiatan sosial. warta mingguan. yang berfungsi untuk membedakan dari produk sejenis lainya.6 Bukan Objek Pajak Reklame a. pihak ketiga tersebut menjadi pajak reklame.7 Subjek Pajak dan Wajib Pajak Reklame Pada pajak reklame yang menjadi subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan reklame. Reklame yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Apabila reklame diselenggarakan melalaui pihak ke tiga. Nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi yang diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang menggatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut. dan sejenisnya. pendidikan. dan e. . warta bulanan. wajib pajak reklame adalah orang pribadi atau badan tersebut. misalnya perusahaan jasa periklanan. d. televise. c.24 2. Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame. Jika reklame diselenggarakan sendiri secara langsung oleh orang pribadi atau badan.

NSR ditetapkan berdasarkan nilai kontrak reklame. b. dan Perhitungan Pajak Reklame 2.8. Dalam hal NSR tidak diketahui dan atau dianggap tidak wajar. bahan yang digunakan.25 Dalam menjalankan kewajiban perpajakan. jumlah. c. wajib pajak dapat diwakili oleh pihak tertentu yang diperkenankan oleh undang-undang dan peraturan daerah tentang Pajak Reklame. Wakil wajib pajak bertanggung jawab secara pribadi dan atau secara tanggung tentang atas pembayaran pajak terutang. Besarnya biaya pemeliharaan reklame. NSR dihitung dihitung dengan memerhatikan faktor jenis. Selain itu. jangka waktu penyelenggaraan. Sedangkan apabila reklame diselenggarakan sendiri. NSR dapat ditentukan dihitung berdasarkan hal-hal berikut ini: a. 2. Dalam hal reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga. yaitu nilai yang ditetapkan sebagai dasar perhitungan penetapan besarnya Pajak Reklame. Dalam peraturan daerah tentang Pajak Reklame. dan ukuran media reklame. . NSR ditetapkan dengan menggunakan factor-faktor tersebut diatas. Besarnya biaya pemasangan reklame. Cara penghitungan NSR ditetapan dengan peraturan daerah kepala daerah. lokasi penempatan. Lama pemasangan reklame. waktu.8 Dasar Pengenaan. wajib pajak dapat menunjukkan seseorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan.1 Dasar Pengenaan Pajak Reklame Dasar pengenaan pajak reklame adalah nilai sewa reklame (NSR). Tarif.

. dan e. pengecatan. pemasangan dan transportasi pengangkutan. termasuk biaya/harga beli bahan reklame. instalasi listrik. pembayaran/ongkos perakitan. dan lain sebagainya sampai dengan bangunan reklame selesai dipancarkan. diperagakan. Besarnya NJOP dihitung dengan rumus: NJOP= (Ukuran Reklame × Harga dasar Ukuran Reklame) + (Ketinggian (Reklame × Harga Dasar Ketinggian Reklame). Cara perhitungan NSR ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 4 Tahun 1998. ditayangkan dan atau terpasang ditempat yang telah diizinkan. peragaan. Nilai strategis lokasi. penayangan. Jenis reklame. Umumnya peraturan daerah akan menetapkan bahwa NSR ditetapkan oleh Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota yang bersangkutan dengan pedoman pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 170 dan Nomor 171 Tahun 1997. pemancaran.26 d. Nilai sewa reklame dihitung dengan rumus: Nilai Sewa Reklame = Nilai Jual Objek Reklame (NJOR) + Nilai Strategis Pemasangan Reklame (NSPR) Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) adalah keseluruhan pembayaran/ pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik dan atau penyelenggaraan reklame. konstruksi.

sementara apabila terdiri dari dua sisi (dapat dilihat dari sebelah depan maupaun belakang). dihitung dari gambar. NSPR= [{Fungsi Ruang (=Bobot ×Skor} + {Fungsi Jalan (= Bobot ×Skor)} + {Sudut Pandang (= Bobot × Skor)}] × Harga Dasar Nilai Strategis. dan nilai sudaut pandang (NSP). Reklame yang mempunyai bingkai atau batas. kalimat. Besarnya NSP dihitung dengan rumus: NSPR= (NFR + NSP +NFJ) ×Harga Dasar Nilai Strategis. maka dikalikan dua. 2. nilai fungsi jalan (NFJ). Besarnya Pajak Reklame untuk reklame minuman beralkohol dan rokok ditambah dua puluh lima persen dari silai sewa reklame. sehingga merupakan empat persegi. kalimat.27 Nilai strategis Pemasangan Reklame yang selanjudanya disingkat (NSPR) adalah ukuran nilai yang ditetapkan pada titik lokasi pemasangan reklame tersebut. dengan indicator: nilai fungsi ruang (NFR) lokasi pemasangan. atau huruf-huruf tersebut berada didalamnya. Reklame yang tidak berbentuk persegi dan tidak berbingkai. dihitung dari bingkai atau batas paling luar dimana seluruh gambar. dihitung. dan . berdasarkan criteria kepada pemanfaatan tata ruang kota untuk berbagai aspek kegiatan dibidang usaha. Untuk menghitung luas reklame sebagai dasar pengenaan pajak dilakukan dengan cara: 1. dan huruf-huruf yang paling luar dengan jalan menarik garis lurus vertical dan horizontal. Perhitungan diatas berlaku hanya untuk satu sisi saja. Perhitungan nilai strategis didasarkan pada besrnya ukuran reklame.

dan Wilayah Pemungutan Pajak Reklame Pada pajak reklame adalah masa pajak merupakan jangka waktu yang lamanya sama dengan satu bulan takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan keputusan Bupati/Walikota.2 Tarif Pajak Reklame Tarif pajak ditetapkan paling tinggi sebesar dua puluh lima persen dan ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota yang bersangkutan.8.8. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menetapkan tarif pajak yang dipandang sesuai dengan kondisi masing-masing daerah kabupaten/kota. 2. dihitung dengan rumus berdasarkan bentuk benda masing-masing reklame. Tahun Pajak.3 Perhitungan Pajak Reklame Besar Pokok pajak Reklame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. 2. Tahun pajak adalah jangka waktu . Dengan demikian. Dalam pengertian masa pajak bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh.8. asalkan tidak lebih dari dua puluh lima persen. Saat Terutang Pajak. Secara umum perhitungan Pajak Reklame adalah: Pajak Terutang = Tarif Pajak × Dasar Pengenaan Pajak = Tarif Pajak × Nilai Sewa Reklame 2. Reklame yang berbentuk pola. setiap daerah kota/kabupaten diberi kewenangan untuk menetapkan besarnya tarif pajak yang mungkin berbeda dengan kota/ kabupaten lainya.28 3.4 Masa Pajak.

Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya satu kali penyelenggaraan ditetapkan bagi pajak reklame jenis selebaran/brosur/leaflet. Umumnya masa pajak adalah jangka waktu terentu yang lamanya sama dengan jangka waktu penyelenggaraan reklame. Saat pajak terutang dan masa pajak ditentukan menurut keadaan. dalam masa pajak. papan. b. Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya satu tahun ditetapkan bagi pajak reklame jenis megatron. reklame berjalan/kendaraan. billboard/papan (bando jalan. jembatan penyebrangan orang. c. dan reklame peragaan (tidak permanen). film/slide. dan reklame suara/permanen. reklame suara (tidak permanen). Masa pajak untuk jangka yang lamanya satu bulan ditetapkan bagi Pajak Reklame jenis reklame melekat (template. video wall). Masa pajak untuk jangka waktu yang lamanya untuk satu hari ditetapkan bagi pajak reklame jenis baligo dan kain/spanduk/umbul-umbul/banner. .neon box). yaitu pada saat penyelenggaraan reklame. dan stiker). atau dalam tahun pajak menurut ketentuan peraturan daerah tentang pajak reklame yang ditetapkan oleh pemerintahan daerah kabupaten/kota setempat. neon sign. vidiotron (dynamics board. dan reklame peragaan (permanen). reklame udara/balon.29 yang lamanya satu tahun takwim kecuali wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim. Pajak yang terutang merupakan Pajak Reklame yang harus dibayar oleh wajib pajak pada suatu saat. poster. Penetapan masa pajak yang tidak hanya satu bulan takwim contoh: a. d.

SPTPD dianggap tidak dimasukan jika wajib pajak tidak melaksanakan atau tidak sepenuhnya . dalam praktik sehari-hari adalah kepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten/kota.30 Pajak reklame yang terutang dipungut di wilayah kabupaten/kota tempat reklame berlokasi. SPTPD diisi dengan jelas.5 Pelaporan Pajak dan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) Wajib Pajak Reklame wajib melaporkan kepada Bupati/Walikota. tentang perhitungan dan pembayaran pajak reklame yang terutang. dan benar serta ditanda tangani oleh wajib pajak atau kuasanya dan disampaikan kepada Walikota/Bupati atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Bupati/walikota atas permohonan wajib pajak dengan alasan yang sah dan dapat diterima dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPTPD untuk jangka waktu tertentu. Wajib pajak yang telah memiliki NPWPD setiap awal masa pajak wajib pajak mengisi SPTPD. Keterangan dan dokumen yang harus dicantumkan dan atau dilampirkan pada SPTPD ditetapkan oleh Bupati/Walikota. 2. yang teratur dalam peraturan daerah. lengkap.8. Seluruh data perpajakan yang diperoleh dari daftar isian tersebut dihimpun dan dicatat atau dituangkan dalam berkas atau kartu data yang merupakan hasil akhir yang ajan dijadikan sebagai dasar dalam perhitungan dan penetapan pajak yang terutang. Hal ini terkait dengan kewenanganpemerintah kabupaten/kota yang hanya terbatas atas setiap reklame yang berlokasi dan terdaftar dalam lingkup wilayah administrasinya. Umumnya SPTPD harus disampaikan selambat-lambatnya limabelas hari setelah berakhirnya masa pajak.

.31 melaksanakan ketentuan pengisian dan penyampaian SPTPD yang telah yang telah ditetapkan. Wajib pajak yang tidak melaporkan atau melaporkan tidak sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sesuai ketentuan dalam peraturan daerah.

penyetoran dan pelaporan Pajak Reklame.2 Metode Pengumpulan Data Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini. maka metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah : 1.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada Kantor Dinas Pendapatan Kota Makassar dengan pertimbangan bahwa baik data maupun informasi yang dibutuhkan mudah diperoleh serta relevan dengan pokok permasalahan yang menjadi objek pokok penelitian. Data Kualitatif. 3. Jenis Data 2. Interview yaitu dengan melakukan wawancara secara langsung terhadap responden yang dalam hal ini pimpinan dan beberapa pegawai Kantor Dinas Pendapatan Kota Makassar.32 BAB III METODE PENELITIAN 3. 2.3 Jenis dan Sumber Data Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 3. Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap aktivitas pegawai di Kantor Dinas Pendapatan Kota Makassar. . Adapaun waktu penelitian yang dilakukan kurang dari dua bulan yaitu mulai dari bulan januari hingga bulan februari tahun 2011. yaitu data yang berupa keterangan-keterangan secara tertulis seperti sistem perhitungan.

Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari berbagai sumber di luar objek penelitian berupa buku-buku dan literatur yang berkaitan erat dengan masalah yang dibahas. Sumber Data a. 3. Data Kuantitatif yakni data yang berbentuk penjelasan atau uraian yang diperoleh sehingga nantinya masih memerlukan pengolahan lebih lanjut. dan pegawai pada Dinas tata Kota dan Bangunan.5 Unit Analisis dan Unit Observasi Unit Analisis dalam penelitian ini adalah Dinas Pendapatan Kota Makassar.33 3. Sedangkan Unit Observasi dalam Penelitian ini adalah pegawai pada Dinas Pendapatan Kota Makassar.4 Metode Analisis Adapun metode analisis yang digunakan adalah deskriptifkomparatif yakni menggambarkan perbandingan penerapan Aplikasi Penghitungan. 2. b. . dan Unit Kerja Terkait (UKT) yakni Dinas Tata Kota dan Bangunan. Data Primer yaitu data yang diperoleh dari pengamatan langsung pada lokasi penelitian. 3. khususnya pada Kantor Dinas Pendapatan Kota Makassar dan melakukan wawancara langsung dengan staf Kantor Dinas Pendapatan Kota Makassar. dan Pelaporan Pajak Reklame pada Kantor dinas Pendapatan kota Makassar dengan Undang– Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 danSurat Keputusan Walikota Makassar Nomor: 500/423/KEP/IV/09.

Sesuai dengan judul penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu Analisis Proses Perhitungan Dan Pelaporan Pajak Reklame.6 Tujuan Penelitian Berdasarkan pada tujuan penelitian. Peneliatian ini terbatas pada usaha pengungkapan suatu masalah atau keadaan sabagaimana adanya sehingga bersifat sekedar untuk mengungkapkan fakta. . Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya.34 3. penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah penelitian Deskriptif. peneliti ingin menggambarkan bagaimana cara perhitungan dan pelaporan yang dilakukan olah Dinas Pendapatan Kota Makassar. beserta kendala-kendala yang dihadapi Dinas Pendapatan Kota Makassar. Hasil penelitian ditekankan pada memberikan gambaran secara objektif tentang keadaan yang sebenarnya dari objek yang diteliti.

seiring dengan adanya perubahan kotamadya Ujung Pandang menjadi Kota Makassar.1 SEJARAH SINGKAT DINAS PENDAPATAN KOTA MAKASSAR Sebelum terbentuknya Dinas Pendapaatan Kotamadya Tingkat II Makassar. Dinas Pasar. Dengan adanya kekputusan Walikotamadya Keputusan Daerah Tingkat II Ujung Pandang Nomor 74/S/Kep/A/V1977 Tanggal 1 April 1977 bersama dengan surat Edaran Mentri Dalam Negeri Nomor 3/12/43 Tanggal 9 September 1975 dan Instruktur Mentri Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan tanggal 25 Oktober 1975 Nomor Keu/3/22/33 tentang pembentukan Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Ujung Pandang telah disempurnakan dan ditetapkan perubahan namanya menjadi Dinas Penghasilan Daerah yang kemudian menjadi unit-unit yang menangani sumber-sumber keuangan daerah seperti Dinas Perpajakan. secara .35 BAB IV GAMBARAN UMUM PAJAK REKLAME PADA DINASPENDAPATAN DAERAH KOTA MAKASSAR 4. Dinas Air Minum dan Dinas Penghasilan Daerah dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Wilikotamadya Nomor 155/ Kep/A/V/1973Tanggal 24 mei 1973 terdiri dari beberapa Sub Dinas Pemeriksaan Kendaraan Tidak Bermotor dan Sub Dinas Administrasi. Dinas Pasar dan Sub Dinas Pelelangan Ikan dan semua Sub-sub Dinas dalam unit penghasilan daerah yang tergabung dalam unit penghasilan daerah dilebur dan dimsaukan pada unit kerja Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Ujung Pandang.

Menyempurnakan system pengelolaan PAD. dan 9.1 VISI DAN MISI DISPENDA KOTA MAKASSAR a. b. Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Visi DIPSENDA Kota Makassar Dinas Pendapatan.36 otomatis nama Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Ujung Pandang berubah menjadi Dinas Pendapatan Kota Makassar. Meningkatkan pengawasan pengelolahan pendapatan daerah. Menggali sumber-sumber PAD secara optimal. . 2. Meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia. 6. Menyusun/merevisi kembali Peraturan Daerah. Meningkatkan kordinasi. 4. 4. Melakukan evaluasi secara berkala. Meningkatkan penyuluhan. pelayanan. Misi DISPENDA Kota Makassar 1. Prima dalam dalam Pelayanan dan Unggul dalam Pengelolaan Pendapatan Daerah. 5. 7.dan pengawasan agar terbina kesadaran Wajib Pajak/Wajib Retribusi.1. 3. 8.

b. Sub bagian Umum dan Kepegawaian Sub bagian Keuangan dan Perlengkapan 3. Bidang Penetapan Membawahi dua sub bagian yang terdiri dari: a.2 STRUKTUR ORGANISASI DISPENDA KOTA MAKASSAR A. Seksi Pendaftaran dan Pendataan Seksi Dokumentasi dan Pusat Data Elektronik (PDE) 4. b. b. Seksi Analisa dan Perhitungan Seksi Penerbit SKAPD/SKPR .37 4. Bidang Pendataan Membawahi dua sub bagian yang terdiri dari: a. Struktur Organisasi Dinas Pendapatan Kota Makassar Struktur Organisasi Dinas Pendapatan Kota Makassar terdiri dari: 1.1. Bagian Tata Usaha Membawahi dua sub bagian yang terdiri dari: a. Kepala Dinas 2.

38

5.

Bidang Penagihan dan Pembukuan Membawahi dua sub bagian yang terdiri dari: a. b. Seksi Penagihan Seksi Pembukuan

6. Bidang Pengembangan, Peningkatan Pendapatan dan Pengendalian Membawahi dua sub bagian yang terdiri dari: a. b. 7. Seksi Pengembangan, Peningkatan Pendapatan dan pengendalian Seksi Evaluasi, Hukum dan Perundang-undangan UPTD (Unit Pelaksanaan Teknis Daerah)

4.2 URAIAN TUGAS PADA KANTOR DINAS PENDAPATAN KOTA MAKASSAR 1. Kepala Dinas Merencanakan, merumusakan dan mengembangkan, mengkoordinasi,

mengendalikan tugas desentrasi, dekonsentrasi dan tugas pembantu di bidang pendapatan.

39

2. Bagian Tata Usaha a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 1. Bagian tata usaha mempunyai tugas melaksanakan pelayanan administrasi bagi seluruh satuan kerja dilingkungan Dinas Pendapatan 2. Sub Bagian Keuangan dan Perlengkapan menyelenggarakan fungsi: a. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya b. Mengatur pelaksanaan kegiatan sebagian urusan ketatausahaan meliputi surat-menyurat, kearsipan, surat perjalanan dinas, mendistribusi surat sesuai bidang; c. Melaksanakan urusan kerumahtanggaan dinas; d. Melaksanakan usulan kenaikan pangkat, mutasi, dan pensiun; e. Melaksanakan usulan gaji berkala, usul tugas belajar; f. Menghimpun dan mensosialisasi peraturan perundang-undangan dibidang kepegawaian dalam lingkup dinas; g. Menyiapkan bahan penyusunan standarisasi meliputi bidang kepegawaian, pelayanan, organisasi dan ketatalaksanaan; h. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya; i. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan;

40

j. Menyusun laporan lain. b. Sub bagian Keuangan dan Perlengkapan l. Menyusun rencana, membagi tugas, member petunjuk dan menilai pelaksanaan tugas bawahan pada sub bagian keuangan dan perlengkapan serta melaksanakan pelayanan administrasi urusan keuangan dan perlengkapan. 2. Sub Bagian Kuangan Dan Perlengkapan menyelenggarakan Fungsi: a. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya; b. Mengumpulkan dan menyusun Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah; c. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan Penyusunan Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) dan Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DAKS) dari masing-masing satuan kerja sebagai bahan konsultasi Perencanaan ke Bapenda; d. Menyusun realisasi perhitungan anggaran dan administrasi perbendaharaan dinas; e. Menyusun rencana kebutuhan barang perlengkapan Dinas; f. Membuat laporan inventaris barang dan tata administrasi perlengkapan; g. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi dari masing-masing kerja;

. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas. a. Seksi Pendaftaran dan Pendataan 1. 2. Menginventarisir formulir pendaftaran yang telah diisi oleh Wajib Pajak Daerah dan Wajib Retribusi. 3. Seksi pendaftaran dan pendataan mempunyai tugas menyusun rencana memberi petunjuk dan menilai pelaksanaan kegiatan staf serta menyiapkan bahan pendaftaran dan Pendataan Wajib Pajak dan Wajib retribusi daerah sesuai ketentuan yang berlaku. Mendistribusikan formulir dan melaksanakan kegiatan pendaftaraan dan Pendataan Wajib Pajak dan Wajib Retribusi. b. Seksi Pendaftaran dan Pendataan menyelenggarakan fungsi. d. Menyiapkan penyusunan bahan pelaksanaan pendaftaran dan pendataan serta pemeriksaan Wajib Pajak dan Retribusi. c. i. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya.41 h. Bidang Pendataan a. j. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan.

l. b. Melakukan pendaftaran pendataan. Memberikan nomor pendaftaran. Seksi Dokumentasi dan Pusat Data Elektronik (PDE) 1. m. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diberikan oleh atasan. Membuat buku induk pajak dan retribusi daerah dan pendapatan daerah lainnya. Menyiapkan bahan penyimpanan dan pemeliharaan data wajib pajak dan wajib retribusi daerah serta memelihara perangkat pengelolaan data. Menghimpun dan mencatat data objek dan subjek pajak. Membuat laporan tentang formulilr pendaftaran yang belum dan sudah diterima. h. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya. f. g. k. Nomor Pokok Wajib Retribusi Daerah (NPWRD). pemereksaan lapangan objek dan subjek Pajak dan Retribusi Daerah dan pendapatan daerah lainnya. . Mengirim kartu data kebidang penetapan sebagai bahan penerbitan surat ketetapan. retribusi daerah dan pendapatan-pendapatan lainnya.42 e. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas. j. Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD). i.

. c. Menghimpun. 4. Melakukan penyimpanan dan pemeliharaan Kartu Data Wajib Pajak dan Retribusi Daerah lainya. f. mengelolah dan menyusun data pendaftaran dan pendataan wajib pajak dan wajib retribusi daerah baik secara manual maupun elektronik. Dokumentasi dan Pusat Data Elektronik menyelenggarakan fungsi: a. Menyusun rencana. Memelihara Buku Induk Wajib Pajak dan Wajib Retribusi Daerah melalui perangkat data elektronik. b. Seksi analisa dan perhitungan 1. d. Menghimpun dan mencetak data wajib pajak dan wajib retribusi daerah dan pendapatan daerah lainya. Bidang Penetapan a.43 2. Membuat kartu dan memberikan kartu pengenal Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) dan Nomor Pokok Wajib Distribusi Daerah (NPWRD). Melakukan penyimpanan arsip surat-surat perpajakan dan retribusi daerah yang berkaitan dengan pendaftaran dan pendataan. memberikan petunjuk dan penilaian pelaksanaan kegiatan staf serta melakukan analisis perhitungan penetapan pajak dan retribusi daerah serta sumber pendapatan lainnya. g. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya. e.

Meneliti dan menandatangani hasil perhitungan pajak dan retribusi daerah serta sumber pendapatan lainya. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas. Melakukan pembinaan dan evaluasi prestasi kerja staf. g. d. . Menyusun rencana. f. c. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya b. Melakukan analisis terhadap data objek pajak untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang harus dibayar olah wajib pajak dan retribusi daerah serta sumber pendapatan lainnya. 2. memberi petunjuk dan menilai pelaksanaan kegiatan staf serta melaksanakan legalisasi penerbitan Surat Keterangan Pajak Daerah (SKPD) dan Surat Keterangan Retribusi Daerah (SKRD) serta sumber pendapatan lalinnya. a. 1. Seksi Penertiban dan Surat Ketetapan menyelenggarakan fungsi. e. b. Analisa dan perhitungan menyelanggarakan fungsi. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya. Membuat nota perhitungan penetapan atas pajak dan retribusi daerah serta sumber pandapatan lainnya.44 2. Seksi Penerbitan SKPD/SKPR.

g. memberi petunjuk dan menilai pelaksana kegiatan serta melaksanakan pengendalian kegiatan penagihan. c. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan bidang tugasnya. . 2. 5. Menyusun rencana. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas. Mendistribusikan Surat Ketetapan Pajak dan Retribusi Daerah. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya. Melakukan pembinaan dan evaluasi kerja staf. Melakukan legalisasi alat pembayaran/Benda Berharga (BB) Pajak dan Retribusi Daerah. Seksi Penagihan 1. d. e. Melaksanakan penyusunan rencana kerja sesuai tugas pokok dan fungsinya. Bidang Penagihan dan Pembukuan a. f. Mengolah data dan membuat daftar himpunan pokok pajak dan retribusi daerah.45 a. b. a. h. pembinaan dan penegakan hukum. Memberikan surat ketetapan pajak dan retribusi daerah serta sumber pendapatan lainya. Seksi penagihan menyelenggarakan fungsi.

j. Melakukan Pengendalian Penagihan terhadap Wajib Pajak dan Retribusi Daerah. b. Menyusun rencana memberi petunjuk dan menilai pelaksanaan kegiatan Staf serta Atministrasi Pembukuan. i. . Melakukan Penegakan Hukum terhadap Wajib Pajak dan Retribusi Daerah yang melanggar peraturan daerah tentang pajak dan retribusi daerah. d. Seksi Pembukuan menyelenggarakan fungsi. f. Membuat Surat Panggilan. Surat Teguran dan Surat Tagihan Paksa terhadap Wajib Pajak dan Retribusi Daerah yang menunggak. Seksi pembukuan 1. Melayani permohonan keberatan banding dan angsuran. g. c. Melakukan koordinasi dengan unit kerja lain yang berkaitan dengan unit tugasnya. Melakukan pemantauan terhadap wajib pajak dan retribusi daerah yang masa pajaknya telah jatu tempo. Memperingati Wajib Pajak dan Retribusi Daerah yang lalai melaksanakan kewajibannya. 2. h. Melakukan Pembinaan dan Evaluasi terhadap hasil kerja staf.46 b. Menyusun laporan hasil kerja pelaksanaan tugas. e.

47 a. Menyusun rencana. e. Seksi Pengembangan. bagi hasil dan penerimaan daerah lainya serta persediaan benda berharga dan membuat Laporan Tunggakkan Asli Daerah dan tunggakkan lainnya. Membuat dan mengirim laporan realisasi penerimaan pendapatan daerah secara berkala. Peningkatan dan Pengendalian a. 1. Membagi tugas dan memberi petunjuk kepada staf untuk kelancaran Pelaksanaan Tugas. b. Menerima dan mencatat Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD)/ Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD) dan surat ketetapan lainnya yang telah dibayar lunas dan menghitung tunggakkan serta membuat laporan berkala mengenai realisasi penerimaan. pembinaan teknis administrasi. 6. penyususnan program identifiksasi dan ekstensifikasi serta hubungan tata kerja dan pemberian saran pungutan serta pengendalian operasional. Peningkatan Pendapatan dan Pengendalian. memberi petunjuk dan penilaian pelaksanaan tugas ataf dan rencana pendapatan daerah. Menyusun hasil pelaksanaan tugas. d. Membukukan Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD)/Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). c. Bidang Pengembangan. .

d. b. a. . 1. e. 2. Seksi Pengembangan. Hukum dan Perundang-undangan menyelenggarakan fungsi. Menyusun rencana pengawasan dan pengandalian operasional. pengawasan kepada staf untuk kelancaran Membagi pelaksanaan tugas. Menyusun rencana memberi petunjuk dan menilai pelaksanaan tugas kegiatan staf yang menyusun konsep pengawasan dan rencana Peraturan Daerah dibidang pendapatan serta mengevaluasi pelaksanaan. Seksi Evaluasi.48 2. Seksi Evaluasi. Menyusun program identifikasi dan ekstensifikasi dalam mengkoordinasikan kegiatan dalam rangka menyusun perubahan dan perhitungan APBD. b. Menyusun rencana teknis. c. Mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dalam rangka penyusunan konsep/rencana Peraturan Daerah dibidang Pendapatan. Maengumpulkan data potensi pendapatan dalam rangka menyusun rencana pendapatan. Peningkatan Pendapatan dan pengendalian menyelenggarakan fungsi. Membuat analisa laporan serta evaluasi pelaksanaan tugas. b. a. Memberi petunjuk dan bimbingan. Hukum dan Perundang-undangan.

49 c. Mengkoordinasi dengan unit kerja terkait atas suatu peraturan Daerah dibidang pendapatan . Mengkoordinasikan penyelesaiaan hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional. . f. Melaksanakan kegiatan administrasi Pajak Bumi dan Bangunan. mempelajari dan mengevaluasi pelaksanaan peraturan daerah dan ketentuan lainya. Fungsi Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 UPTD Pajak Bumi dan Bangunan meyelenggarakan fungsi: a. Mengkoordinasikan kegiatan pembuatan dan pengiriman laporan realisasi penarikan baik yang dikelolah oleh Dipenda maupun Unit kerja lainnya. b. pelaksanaan teknis dan operasional dalam bidang pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan. 2. Tugas Pokok UPTD Pajak Bumi dan anggunan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dinas dalam menujang kemampuan teknis. e. Melaksanakan rencana kerja dibidang Pajak Bumi dan Bangunan sesuai rencana yang ditetapkan. d. 7. Memantau. UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) 1.

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.3. 2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait. d. Peraturan Walikota Makassar Nomor: 09 Tahun 2010.1 . penagihan dan membantu melaksanakan pendataan serta memereksa objek dan subjek Pajak Bumi dan Bangunan. 4. 3. e. Melaksanakan kegiatan identifikasi dan intensifikasi Pajak Bumi dan Bangunan. menyangkut kegiatan yang berkenaan dengan upaya meningkatkan Pajak Bumi dan Bangunan. Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Retribusi Penggunaan Tanah dan atau Bangunan yang dikuasai Pemerentah Daerah untuk Pemasangan Reklame. antara lain adalah: 1. Tentang Ketentuan Pemansangan Dan Registrasi Reklame Di Atas Tanah Dan Atau Pembangunan Yang Dikuasai Pemerintah Kota Makasssar . 4.3 GAMBARAN UMUM PAJAK REKLAME KOTA MAKASSAR Dasar Hukum Pajak Reklame Kota Makassar Dasar hukum yang melandasi pelaksanaan pemungutan Pajak Reklame di Kota Makassar. 4. Melaksanakan penyuluhan.50 c.

jasa atau . dan Wajib Pajak Reklame Kota Makassar 1.51 5. • Kepala Daerah adalah Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Ujung Pandang. Berdasarkan Nilai Strategis Dan Klasifikasi Pemanfaatan Pemasangan Reklame Dalam Wilayah Kota Makassar. Tentang Penetapan Kembali Nilai Jual Objek Pajak Reklame. alat.2 Objek. 6. Pemerintah Daerah adalah Kepalah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Ujung Pandang. • Reklame adalah benda. Surat Keputusan Walikota Makassar Nomor: 500/423/KEP/IV/09 Tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame KotaMakassar. • Pajak Reklame yang selanjutnya disebut Pajak adalah pungutan derah atas penyelenggaraan reklame. suatu barang. menganjurkan atau memujikan.perbuatan. Surat Keputusan Walikota Makassar Nomor 2 tahun 2003.3. Terminologi pemungutan pajak Kota Makassar: • • Daerah adalah Kotamadya Daerah Tingkat II Ujung Pandang. atau media yang menurut bentuk susunan dan corak ragamnya untuk tujuan komersial. Subjek. • Dinas Pendapatan Daerah adalah Dinas Pendapatan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Ujung Pandang. • Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang Perpajakan Daerah sesuai Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. 4. dipergunakan untuk memperkenalkan.

ataupun untuk menarik perhatian umum kepada suatu barang . dan transportasi pengangkutan dan lain sebagainya sampai dengan bangunan reklame rampung. adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah. atau didengar dan suatu tempat oleh umum. pengecatan. dipancarkan. diperagakan. pembayaran ongkos perakitan. • Kawasan/zona adalah batasan-batasan wilayah tertentu sesuai dengan pemanfaatan wilayah tersebut yang dapat digunakan untuk pemasangan reklame. • Surat Setoran Pajak Daerah. yang selanjudnya disingkat SPTPD. • Nilai JualObjek Pajak Reklame adalah keseluruhan pembayaran.52 orang. pemasangan. pengeluaran biaya yang dikeluarkan oleh pemilik dan atau peyelenggaraan reklame termasuk dalam hal ini adalah biaya/harga beli bahan reklame. yang selanjutnya disingkat SSPD. dibaca. • Surat Pemberitahuan Pajak Daerah. jasa atau orang yang ditempatkan atau yang dapat dilihat. penayangan. pemancaran peragaan. adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau . kecuali yang dilakukian oleh Pemerintah. konstruksi instalasi listrik . • Nilai Strategi Lokasi Reklame adalah ukuran nilai yang ditetapkan pada titik lokasi pemasangan reklame tersebut berdasarkan kriteria kepada atau pemanfaatan tata ruang kota untuk berbagai aspek kegiatan dibidang usaha. ditayangkan dan atau dipasang ditempat yang telah diijinkan.

adalah Surat Keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. • Surat Tagihan Pajak Daerah.53 penyetoran pajak yang terutang ke Kas Daerah atau ketempat lain yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. adalah Surat Keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang. yang selanjutnya disingkat SKPD adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang. adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah sssspajak terutang. yang selanjutnya disingkat STPD. • Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak. • Sutar Ketetapan pajak Daerah Nihil yang selanjutnya disingkat SKPDN . besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar. . yang selanjutnya disingkat SKPDKBT. jumlah kredit pajak. yang selanjutnya disingkat SKPDLB. • Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar. • Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan. yang selanjutnya disingkat SKPDKB. adalah Surat Keputusan yang menentukan jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. • Surat Ketetapan Pajak Daerah. adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau benda.

Jika reklame diselenggarakan sendiri secaara langsung dilaksanakan orang pribadi atau badan.54 2. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelengarakan reklalme. fibre glass. • Reklame Vidiotron adalah jenis reklame yarn memancarkan teks. gambar atau gambar hidup yang terprogram melalui perangkat elektronik seperti videotron. Wajib. batu ataupun bahan lain yang . misalnya perusahaan jasa periklanan. grafik. kaca. yang ditampilkan/ditayangkan pada layar monotir atau sejenisnya. wajib pajak reklame adalah orang pribadi atau badan tersebut. Objek Pajak Reklame Kota Makassar terdiri atas: • Reklame Megatron adalah jenis reklame yang menampilkan teks. sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor: 4 Tahun 1998 tentang Pajak Reklame yaitu: Subjek Pajak Reklame adalah orang atau badan yang menyelenggarakan atau memesan reklame. Wajib dan Objek Pajak Reklame Kota Makassar. grafis. dangambar statis atau bergerak yang terprogram melelui perangkat elektronik seperti megatron yang ditampilkan pada layar monitor atau sejenisnya. pihak ketiga tersebut menjadi Wajib Pajak. Subjek. plastic. Objek Pajak Reklame Kota Makassar: Subjek. • Reklame Billboard adalah jenis reklame yang menggunakan bahan dari kayu dan atau logam. Apabila reklame diselenggarakan melalui pihak ketiga.

baik berdiri sendiri maupun yang dipasang pada bingkai / rangka/panggung. yang berbentuk lembaran lepas. diselenggarakan dengan cara dissebarkan. dinding pagar. • Reklame Berjalan adalah jenis reklame yang diselenggarakan dengan cara membawa reklame berkeliling yang dibawa oleh orang berjalan kaki atau reklame yang ditempatkan. plastic. tiang. fibre glass. digantungkan pada suatu benda milik pribadi atau milik orang lain dengan ketentuan luasanya tidak lebih dari 100 cm persegi perlembar. yang dipasang dengan cara berdiri sendiri atau disandarkan pada penyanggah. plastik. yang berbentuk lembaran lepas. • Reklame Kain adalah jenis reklame yang menggunakan bahan dari kain dan atau plastic. terpal ataupun sejenisnya. karton. atau digantung pada bangunan / alat lain. karton. • Reklame Papan adalah jenis reklame yang menggunakan bahan dari kayu dan atau logam. seperti triplek. atau sejenisnya. dipasang. batu ataupun bahan lain yang dilekat. kertas. ditempel pada bangunan atau menyatu dengan bangunan. yang pemasangannya bersifat sementara. kaca. dilekatkan. .55 dipasang pada tempat yang disediakan. • Reklame Selebaran adalah jenis reklame yang menggunakan bahan dari kertas karton. foto atau sejenisnya. • Reklame Billboard adalah jenis reklame yang menggunakan bahan dari kayu dan atau bahan lain. kertas. • Reklame Melekat atau sticker adalah jenis reklame yang menggunakan bahan dari plastic. ditempelkan pada semua jenis kendaraan baik yang digunakan di darat maupun diatas air. pohon. tembok. karet.

dilekatkan. • Reklame Udara adalah jenis reklame yang diselenggarakan di udara. baik dengan menggunakan balon. • Reklame Suara adalah reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan kata-kata yang diucapkan atau dengan suara yang ditimbulkan dari alat elektronik. diberikan atau diminta untuk ditempelkan. benda lain. termasuk pada layar monitor atau layar televisi. yang diproyeksikan. ditampilkan pada layar.56 diselenggarakan dengan cara disebarkan. digantungkan pada suatu benda milik pribadi atau milik orang lain. dipancarkan. pesawat maupaun alat lainya. dipasang. . dengan ketentuan luasnya tidak lebiah dari 100 cm2 (seratus senti meter persegi) perlembar. baik dengan menggunakan alat peraga maupun orang yang ditempatkan di dalam ruangan yang bersifat sementara atau di luar ruangan. • Reklame Film atau Slide adalah reklame yang diselenggarakan dengan cara menggunakan film negatif atau positif. kaca atau bahan lain. • Reklame Peragaan adalah jenis reklame yang diselenggarakan dengan cara memperagakan suatu barang.

Rumusnya: NSR: NJORP + NS x 20% Nilai Jual Objek Pajak Reklame (NJOPR) adalah keseluruhan pembayaran. peragaan. penayangan.3. dan transportasi/pengangkutan dan lain sebagainya sampai dengan bangunan reklame rampung. pembayaran/ongkos perakitan. B. pengeluaran biaya yang dikeluarkan oleh pemilik dan atau penyelenggaraan reklame yang termasuk dalam hal ini adalah biaya/harga beli bahan reklame. peragakan dan atau terpasang di tempat yang telah diizinkan.3 Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Reklame dan Cara Pengenaan Pajak Reklame pada DISPENDA Kota Makassar Dasar pengenaan pajak (DPP) adalah nilai sewa reklame. pemancaran. pemasangan.dan C). . kontruksi. Ukuran Nilai Strategis dapat ditentukan berdasarkan lokasi (kelas jalan: A. Nilai Sewa Reklame (NSR) adalah menjumlahkan Nilai Jual Objek Pajak Reklame (NJORP) dengan Nilai Strategis (NS) dikalikan 20 (duapuluh persen). instalasi listrik. sudut pandang dan ketinggian. dipancarkan.57 4. Nilai Strategis (NS) adalah ukuran nilai yang telah ditetapkan pada titik lokasi pemasangan reklame tersebut berdasarkan kriteria kepadatan pemanfaatan tata ruang kota untuk berbagai aspek kegiatan di bidang usaha. pengecatan.

dengan ketentuan sebagai berikut: • Nilai Terhadap reklame rokok ditambah 25% (dua puluh lima persen) dari pengenaan pajak. dan C.58 Dasar Pengenaan Pajak Reklame adalah Nilai Sewa Reklame dikali dengan Tarif Pajak yaitu sebesar 20% (dua puluh persen). dan C maka secara otomatis objek pajak reklame tersebut dikategorikan berada pada kategori kelas jalan C. yaitu kelas jalan A . . nama (merek) dikenakan pajak tambahan 20%dari pengenaan pajak. Reklame yang luasnya kurang dari 1 (satu) meter persegi dibulatkan menjadi 1 (satu) meter persegi. Terhadap reklame perubahan visual. B. Reklame yang terpasang di persimpangan jalan ditetapkan 15 (lima belas) meter dari sudut jalan yang dimaksud. dan C dapat dilihat pada bagian lampiran. Adapun untuk nama-nama jalan yagn termasuk dari masing-masing kategori A. B. Pemerintah Kota Makassar telah menetapkan tiga kategori kelas jalan. • Terhadap reklame minuman beralkohol ditambah 25%(dua puluh lima persen) dari pengenaan pajak. B. Apabila terdapat sebuah kasus dimana objek pajak reklamenya berada pada kelas jalan yang tidak terdaftar pada kategori A. NS juga ditentukan berdasarkan lokasi pada setiap kelas jalan/keramaian jalan.

000 = 576.000 Rp.8+0.000(1.440.15 0.000. 200. Reklame Permanen 1.75 Perhitungan Pajak = P x L x NJOPR + NS (L + SP + T)*NSNS(lihat yang diwarna) = 1 x 1 x 1.4.2 0.000 + 200. PELAPORAN DAN HAMBATAN DALAM PROSES PEMUNGUTAN PAJAK REKLAME KOTA MAKASSAR 4. 1.000 x 20 = 288.6 1 Arah 2 Arah 3 Arah 0.0000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) Sudut Pandang Ketinggian Kelas A Kelas B Kelas C 1.4 PERHITUNGAN.000.1 Proses Perhitungan Pajak Reklame Kota Makassar 1.15+0.99m >10m 0.000 + 440.59 4.5 0.45 0-4.99m 5-9.000.25 0.000= 1.000 = 1.8 1.25)= 440.000 (1 muka) (2 muka) . Perhitungan Reklame Megatron/videotron/LED dan Billboard P= L= NJOPR NS: Lokasi Jalan 1 m (P: panjang) 1 m (L: lebar) Rp.3 0.

60 Total 2.25 0.000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) Rp. Rp.000(1.8+0.8 1.25) = 1.99m 5-9.0000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) Sudut Pandang Ketinggian Lokasi Jalan Kelas A Kelas B Kelas C 1.15+0.000 + 200.000 + 440.6 1 Arah 2 Arah 3 Arah 0 0 o 0-4.000/Tahun Reklame Papan (menempel) P= L= NJOPR= NS= 4 m (P: panjang) 1 m (L:lebar) Rp.000/Tahun . 300.000 = 1.99m >10m 0.5 Perhitungan Pajak = P x L x NJOPR + NS (L + SP + T)*NSNS(lihat yang diwarna) = 4 x 1 x 300.000 Total Rp 328.75 0.2 0.000 x 20% = 328. 200.200. 576.640.

050. 125.000 Rp. 25.000 + 50.000 Rp. P= L= Perhitungan Reklame Spanduk/Kain/Binder/umbel-umbul 1 m (P: panjang) 4 m (L: lebar) Rp.000 x 20% = 610.61 2. Reklame Isedentil Perhitungan Baliho 4 m (P:panjang) 6 m (L: lebar) Rp.000 Rp. 50. 610.0000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) NJOPR NS Perhitungan Pajak =P x L x NJOPR + NS x jml lembar x Jml Minggu . a.000 x Total b. 20.000 /minggu/meterpersegi = 3.0000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) P= L= NJOPR NS Perhitungan Pajak =P x =4 x L 6 x NJOPR + NS x jml lembar x JmlMinggu 1x 1 x 125.

000 x Rp.000 Rp.000 1.000 + 20. 24.000 /unit/Thn .000 x Total c.000 8.000 Rp.000 x 20 % = 375. 1.62 =1 x = 120.000 Rp.000 x 20% = 24. 750.600 Total Rp. Perhitungan Reklame Berjalan 1. = = = = = 4 x 25.600 /lembar/Bulan D.000 + + x NS (lihat dibuku table keputusan Walikota) x jml unit 1 750. 6. 1.875.000 /minggu/lembar 1x 1 Perhitungan Reklame Selebaran/Brosusr/Leafleat NJOPR NS NJOPR 6.000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) Rp.125. 2.000 + + NS 2.000 Total Rp.000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) x x jml Lembar 1 20% = 1.125. Mobil = = = = = NJOPR NS NJOPR 1. 375.

63

2. = = = = =

Motor NJOPR NS NJOPR 300.000 375.000 Rp. 300.000 Rp. 75.000 + + x NS x (lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) jml unit 1

75.000 x 20 %= 75.000

Total
3. = = = = = Gerobak NJOPR NS NJOPR 150.000 187.500

Rp. 75.000 /unit/Thn

RP. 150.000 Rp. 37.500 + + x NS x

(lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) jml unit 1

37.500 x

20 % = 37.500

Total e.
= = = Filim/Slide NJOPR NS NJOPR

Rp. 37.500 /unit/thn

Rp.15.000 Rp. 3.750 + NS x

(lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) Jml menit

64

= =

15.000 18.750

+ x

3.750

x

1

20% = 3.750

Total f.
= = = = = Reklame Suara NJOPR NS NJOPR 60.000 80.000

Rp. 3.750 /buah/menit

Rp. 60.000 Rp. 20.000 + + x NS x

(lihat dibuku table keputusan Walikota) (lihat dibuku table keputusan Walikota) jumlah hari 1

20.000 x

20 % = 16.000 /hari

Total g.
= = = = = Udara NJOPR NS NJOPR 1.125.000 1.875.000

Rp. 16.000/hari

Rp. 1.125.000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) Rp. 750.000 + + x NS 750,000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) x x jml buah 1

20 % = 375.000 /bulan/buah

Total

Rp. 375.000 /buah/bulan

65

h.
= = = = =

Peragaan
NJOPR NS NJOPR 1.125.000 1.500.000 Rp. 1.125.000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) Rp. 375.000 + + x NS 375.000 (lihat dibuku table keputusan Walikota) x x jml peragaan 1

20 % = 300.000

Total

Rp. 300.000 /peragaan

Jika digunakan untuk reklme rokok/minuman beralkohol dan/reklame perubahan visual yang tarifnnya masing-masing adalah ditambah 25 dari DPP/NSR maka, perhitungannya sebagai berikut: Contoh: Reklame Papan (pada perhitungan sebelumnya)
DPP/NSR = = Total = 1.640.000 x 20 = 328.000 1.640.000 x 25 = 410.000 Rp. 738.000

alamat Jln.15+0.75 Perhitungannya = = = = = P 6 × × L 3 × × NJOPR + NS (L+SP+T)*NSNS 1.084.620.66 4.15 >10m 0.8 1 Arah 0. REKLAME MEGATRON Pada tanggal 5 Januari 2010 PT. melakukan permohonan izin Reklame Megatron dengan rincian sebagai berikut: L P = = 3 m ( L: lebar) 6 m ( P: panjang) Rp.800.420.000 Rp 6. 1600000 Rp.8+0.000 (1.600.75) 28. 37.000 + 600. Jos Karya Advertising.000 30. 600000 Sudut Pandang Ketinggian NJOPR NS Lokasi Jalan Kelas A 1.000 + 1.2 Proses penerapan pehitungan pajak Reklame yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar pada tahun 2010 dan 2011 1.4.000 × 20% ( 1 muka) . Domba No.

000/ thn Proses perhitungan pajak reklame jenis Megatron yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas. Jos Karya Advertising. 2.000 ( 2 muka) = (3 × 6 × 750 × 365) = Rp. 600000 Sudut Pandang Ketinggian NJOPR NS Lokasi Jalan Kelas A 1.059.500.8 1 Arah 0. melakukan permohonan izin Reklame Billboard dengan rincian sebagai berikut: L P = = 3 m (L: lebar) 2 m (P: panjang) Rp. Domba No.15 >10m 0.168.500 Retribusi Pelataran TITIK REKLAMAE TOTAL = Rp. 1600000 Rp. REKLAME BILLBOARD Pada tanggal 5 Januari 2010 PT.000 = Rp. 4. 37.75 . alamat Jln. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar. 20.67 = Rp 12. 3.927.

000 + 600. 3.620.15+0. 3.000 = Rp. alamat Jln.000 × 20% + 25% (minuman beralkohol) ( 1 muka) (2 muka) = (3 × 2 ×750 × 365) = Rp.000 Retribusi Pelataran TITIK REKLAME TOTAL = Rp.049.500/thn Proses perhitungan pajak reklame jenis Billboard yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas.500 Rp 10.600. REKLAME PAPAN Pada tanggal 5 Januari 2010 PT. 15. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar.098.642. Jos Karya Advertising.75) 9.500.240. Domba No.600.000 11.000 Rp 5.220. melakukan permohonan izin Reklame Papan dengan rincian sebagai berikut: .000 + 1.8+0.000(1. 1. 37.68 Perhitungannya = = = = = = P 2 × × L 3 × × NJOPR + NS(L+SP+T)*NSNS 1.

000 × 20% Rp 822.69 L= P= NJOPR NS 3 m (L: lebar) 4 m (P: panjang) Rp.75) 3.000 + 200.000 Sudut Pandang Ketinggian Lokasi Jalan Kelas A 1.000(1.75 Perhitungannya = = = = = P 4 × × L 3 × × NJOPR + NS(L+SP+T)*NSNS 300. 300.000 Rp.000 + 510.000/ thn Proses perhitungan pajak reklame jenisPapan yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas.000 4.8 1 Arah 0 >10m 0. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar.600. 200.110. .8+ 0 + 0.

alamat Jln. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota . DG.000 × 12 + 50.000 × 6 × 2 3.70 4.320.050.000 = = = = = P 4 × × L 6 × × × × 20% 12 NJOPR + NS × jml lbr × jml minggu 125. Tata. 50. REKLAME BALIHO Pada tanggal 11 Januari 2010 Jhoson Advertising. 7.000 Rp. 125000 = Rp.000 610. melakukan permohonan izin Reklame Baliho dengan rincian sebagai berikut: L P Jml lembar Waktu NJOPR NS Perhitungannya = 6 m (L: lebar) = 4 m (P: pannjang) = 6 lmr = 2 minggu = Rp.000/ mnggu Proses perhitungan pajak reklame jenis Baliho yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas.

000 × × × L 6 × × × × NJOPR × NS × jml lbr × jml minggu 30. 5.000 380. Malengkeri. REKLAME SPANDUK Pada tanggal 10 Januari 2010 perusahaan CV. melakukan permohonan izin Reklame Spanduk dengan rincian sebagai berikut: L P Jml lembar Waktu NJOPR NS Perhitungannya = 6 m (L: lebar) =2 m (P: panjang) = 10 lmr = 2 minggu = Rp.000 76.000 = Rp. 20.000 = = = = = P 2 360. 30.000 × 20 20% .71 Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar.000 × 10 × 2 2 + 20. Sumber Karya alamat Jln.000 + 10 20 × 20.

520. 107. Raja Wali LR.000/ mnggu Proses perhitungan pajak reklame jenis Sepanduk yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas. REKLAME SELEBARAN Pada tanggal 26 Januari 2010 CV Haerul Jaya. melakukan permohonan izin Reklame Megatron dengan rincian sebagai berikut: NJOPR NS Jumlah Lmbr Perhitungannya = = = = = NJOPR 6000 8. 6.72 = Rp 1.29 No.600 × 20% 2000 + + × NS × jml lembar 2000 = Rp 6000 = Rp 2000 = 2000 lmr 2000 × 20 Rp3.000/bln .000 × 1. Jln. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar.200.

37.000 375. 7.000 1. Jos Karya Advertising alamat Jln. REKLAME BERJALAN MOBIL Pada tanggal 9 Februari 2010 PT.500.000 = Rp 750. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar.000/ thn .875.73 Proses perhitungan pajak reklame jenis Selebaran yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas. Domba No.000 × 20% 4 × Rp1. melakukan permohonan izin Reklame Mobil dengan rincian sebagai berikut: NJOPR NS Jmlh unit Masa pajak Perhitungan = = = = = NJOPR 1.000 = 2 unit = 2 bulan 750.125.000 + + × × NS × 2 2 2 × × × 2 2 2 = Rp 1.125.

alamat Jln Bonto Duri No.000 + + × × NS × 2 2 2 × × × 1 1 1 = Rp 1.000 = 2 buah = 1 bulan 750.000 = Rp 750.875.125.000 × 20% 2 × Rp750.000 375. 8.000/bln .000 1. REKLAME UDARA Pada tanggal 5 Januari 2011 Gunamandiri Advertising. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar.125.74 Proses perhitungan pajak reklame jenis Reklame Berjalan Mobil yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas. 11 melakukan permohonan izin Reklame Udara dengan rincian sebagai berikut: NJOPR NS Jmlh unit Masa pajak Perhitungan = = = = = NJOPR 1.

Walikota atas permohonan wajib pajak dengan alasan yang sah dan dapat diterima dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPTPD untuk jangka waktu tertentu. tentang perhitungan dan pembayaran pajak reklame yang terutang. sudah seesuai dengan Keputusan Walikota Makassar Nomor 500/423/Kep/IV/2009 tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar. lengkap. 4. SPTPD dianggap tidak dimasukan jika wajib pajak tidak melaksanakan atau tidak sepenuhnya . Umumnya SPTPD harus disampaikan selambatlambatnya limabelas hari setelah berakhirnya masa pajak. SPTPD diisi dengan jelas. Seluruh data perpajakan yang diperoleh dari daftar isian tersebut dihimpun dan dicatat atau dituangkan dalam berkas atau kartu data yang merupakan hasil akhir yang dijadikan sebagai dasar dalam perhitungan dan penetapan pajak yang terutang. dan benar serta ditandatangani oleh wajib pajak atau kuasanya dan disampaikan kepada Walikota/Bupati atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan. Keterangan dan dokumen yang harus dicantumkan dan atau dilampirkan pada SPTPD ditetapkan oleh Kepala Dinas Pendapatan Kota Makassar. dalam praktik sehari-hari adalah kepada Kepala Dinas Pendapatan Daerah (DIPENDA) kota Makassar. Wajib pajak yang telah memiliki NPWPD setiap awal masa pajak wajib pajak mengisi SPTPD.75 Proses perhitungan pajak reklame jenis Megatron yang dilakukan oleh Dinas Pendapatan Kota Makassar di atas.4. yang teratur dalam peraturan daerah.3 Proses Pelaporan Pajak Reklame Kota Makassar Wajib Pajak Reklame wajib melaporkan kepada bupati/walikota.

4. Cocacola dan lainya. Pertamina. Apabila kewajiban membayar pajak terutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT tidak atau sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan. sebagai berikut: .76 melaksanakan ketentuan pengisian dan penyampaian SPTPD yang telah yang telah ditetapkan. Terutama dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Telkom. Adanya kesengajaan oleh Wajib Pajak untuk tidak/melambatkan pelaporaan pajak reklame kepada kantor Dinas pendapatan Kota Makassar. Wajib pajak yang tidak melaporkan atau melaporkan tidak sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda sesuai kepada Wajib Pajak untuk mengangsur Pajak yang terutang dalam kurun waktu tertentu.5 Kendala atau Hambatan yang dihadapi dalam proses pemungutan Pajak Reklame Pelaksanaan administrasi penerimaan Pajak Reklame yang dilakukan Dinas Pendapatan dan di bantuh oleh Unit Kerja Terkait (UKT) tentunya tidak pernah lepas dari adanya kendala-kendala yang bisa menghambat proses pelaksanaannya. ditagih dengan menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga 2 (dua Persen) per bulan. setelah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Kendala-kendala tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Hal ini sesuai dengan wawancara penulis dengan salah satu pegawai.

akan mengoptimalkan PADKota Makassar. Peraturan tentang Nilai Sewa Reklame yang tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang.77 Bagaimana kesadaran wajib pajak reklame dalam menjalankan kewajiban dalam menghitung dan melaporakan pajaknya yang terutang kepada DIPENDA kotaMakassar? Jawab: Di Makassar jika kami lihat dari tingkat kesadaran oleh wajib pajak maka. jika dinilai lagi sekarang dengan tingkat keramaian yang lebih ramai dan lebih strategis maka jalan tersebut bisa berada pada kategori jalan golongan B atau A. Jika dibandingkan perusahaan besar seperti Coka-cola. Hal ini.dan lainnya biasanya harus ada teguran dari pihak pegawai pajak baru mereka menyelesaikan kewajibanya. 2. Telkom. Tiap kali mereka selalu begitu!. hanya perusahaan-perusahaan kecil dan menegah sajalah yang memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik. . Seperti jalan yang dulunya berada dalam kategori golongan C.

maka dapat disimpulkan seperti bahwa ini: 1. .2 Saran Pada bagian ini peneliti akan memberikan beberapa rekomendasi kepada Dinas Pendapatan dan Unit Kerja Terkaitnya (UKT) yang berkaitan dengan upaya untuk mengoptimalisasikan penerimaan Pajak Reklame di Kota Makassar.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisia yang dilakukan peneliti. 1. 5. 2. Dinas Pendapatan Kota Makassar yang dibantu oleh Unit Kerja Terkait (UKT) dalam penegakan hukum bagi para wajib pajak yang lalai/ terlambat dalam melapor dan menghitung pajak yang terutang belum maksimal.78 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. Menambah jumlah pegawai lapangan yang bertugas untuk menjaring potensipotensi Pajak Reklame yang sampai saat ini belum teridentifikasi. PERDA dan Keputusan Wali Kota Makassar. Hal ini terbukti masih ditemukan praktik-praktik tersebut yang dilakuakn oleh perusahaanperusahaan besar yang ada di Makassar. Dinas Pendapatan Kota Makassar yang dibantu oleh Unit Kerja Terkait (UKT) dalam melaksanakan proses dan Pelaporan Pajak Reklame sudah sesuai denganUndang-undang. tentunya dengan kompetensi yang baik.

3.79 2. Membuat suatu penelitian yang valid terlebih dahulu sebelum menentukan besarnya terget penerimaan Pajak Reklame. sehingga nantinya target yang hendak dicapai benar-benar mencerminkan potensi yang ada di lapangan. . Memberikan sanksi yang tegas kepada WP yang melanggar peraturan tentang Pajak Reklame.

Bird. Koswara. Deddy Supriadi. 2006. Desentralisasi Fiskal di Negara-Negara Berkembang. Pengantar hukum Pajak.80 DAFTAR PUSTAKA Buku: Abdullah. Pengantar Perpajakan. Jakarta: Penerbit PPM. Jakarta: Yayasan Pariba. 2001. 2004. Safri. Josef Riwu. 2003. Otonomi Daerah: Untuk demokrasi dan Kemandirian Rakyat. Gramedia Pustaka Utama. Kuontur. Tunggul Anshari Setia. 2000. 2000. 2004. E. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia: Identifikasi Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Penyelenggaraannya. 2001. RajaGrafindo Persada. Nurmantu. Jakarta: Rajawali Press. Jakarta: PT. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Menggagas Format Otonomi Daerah Masa Depan. Metode Penelitian. Oentarto. Richard M dan F Vailancourt. dan Dadang Solihin. Dodi Riyadmadji. Rozali. Negara. Jakarta: PT. Malang: Bayumedia Publishing. Otonomi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Pelaksanaan Otonomi Luas dan Isu Federalisme sebagai Suatu Alternatif. Jakarta: Granit. Ronny. I Made Suwandi. Kaho. . 2001. Bratakusumah. Jakarta: Samitra Media Utama.

Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Surat Keputusan Walikota Makassar Nomor 2 tahun 2003. Jakarta: Djambatan. 2005. Peraturan Perundang-Undangan: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2000. Surat Keputusan Walikota Makassar Nomor: 500/423/KEP/IV/09 Tentang Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklme KotaMakasar.81 Prasetyo.id . RajaGrafindo Persada. dan Sumber Daya. Dharma Setyawan. dan Lina M Jannah. Undang –undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 Peraturan Walikota Makassar Nomor: 09 Tahun 2010. Berdasarkan Nilai Strategis Dan Klasifikasi Pemanfaatan Pemasangan Reklame Dalam Wilaya Kota Makassar. Jakarta: PT. Nilai. Tentang Penetapan Kembali Nilai Jual Objek Pajak Reklame. Otonomi Daerah dalam Perspektif Lingkungan.www. Bambang.go. 2004.makassar. http. Tentang Ketentuan Pemansangan Dan Registrasi Reklame Di Atas Tanah Dan Atau Pembangunan Yang Dikuasai Pemerintah Kota Makasssar . Salam. Lainnya: Pemerintah Kota Makassar.

82 .

000 Rp 200.99 m² 5 3500000 2250000 Nilai satuan Nilai strategi adalahsebagai berikut: luas Reklame >25² Luas Reklame 5-24.99 m 0-4. Kls.99 m² 1 1 2 Reklame Megatron/videotron/LED Reklame billboard yang melintas di atas jln (bando jln) 3 4 Reklame Billboard Reklame Papan (Menempel) 2 Per tahun Per tahun Per tahun Per tahun 1000000 300000 3 4 3000000 1750000 5-24.A jln./m²) 1-4. REKLAME PERMANEN : Keputusan Walikota Makassar : 500/423/Kep/IV/2009 : 30 Pril 2009 :Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Nilai Strategis Lokasi > 25 m² 6 4000000 2500000 1300000 60000 1600000 800000 jln.99² Rp 600.99 m Ketinggian Bobot=25% 11 Skor 12 3 2 1 Nilai Jual Objek Pajak Reklame NO.83 Lampiran I Lembaran Nomor Tanggal Tentang A. Kls.B jln. Jenis Reklame Masa Pajak Luas Bidang (Rp. Kls.99² Luas Reklame 1-4.C Bobot=60% 7 Skor 8 3 2 1 Sudut Pandang Bobot=15% 9 > dari 4 arah 4 arah 3 arah 2 arah 1arah Skor 10 5 4 3 2 1 > 10 m 5-9.000 Rp 400.000 .

99 m² 6 125000 30000 > 25 m² 7 150000 35000 jln. Kls.84 Lampiran 2 Lembaran Nomor Tanggal Tentang : Keputusan Walikota Makassar : 500/423/Kep/IV/2009 : 30 Pril 2009 :Penetapan Perhitungan Nilai Sewa Reklame Kota Makassar B REKLAME ISEDENTIL No Jenis Reklame masa Pajak Satuan M² 1-4. Kls. Motor c.C 10 20000 10000 1500 NJOPR Reklame Nilai Strategis .A 8 50000 20000 2000 jln. Gerobak 5 6 7 8 Film/Slide Reklame Suara Udara Reklame Peragaan Per bulan -Per bulan Per bulan 1x Peragaan Per buah per menit per buah 1125000 300000 150000 15000 60000 1125000 1125000 -750000 75000 37500 3750 20000 750000 375000 ---2 Per mingggu Per mingggu Per bulan 3 M² M² Per lmbr 4 5 75000 25000 6000 5-24.99 m² 1 1 2 3 Baliho Kain/Spanduk/Umbul-umbul Selebaran/Brosur/Leafleat /Melekat 4 Reklame Berjlan a. Mobile b.B 9 335000 15000 1750 jln. Kls.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful