BUBBLE SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN SAINS SEDERHANA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA 4-5 TAHUN DI AREA SAINS

DI TK PERTIWI 49 SEMARANG

SKRIPSI Diajukan dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata 1 untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: Sri Setiyo Rahayu NIM. 1601408029

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2013

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Lita Latiana, M.H. NIP. 19630417 199903 2001

Edi Waluyo, M.Pd. NIP. 19790425 200501 1001

Mengetahui, Ketua Jurusan PG PAUD FIP UNNES

Edi Waluyo, M.Pd. NIP. 19790425 200501 1001

ii

HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : : Panitia Ujian Skripsi, Ketua, Sekretaris,

Drs. Budiono, M.S. NIP. 19631209 198703 1002

Edi Waluyo, M.Pd. NIP. 19790425 200501 1 001

Penguji I,

Dr. Sri Sularti Dewanti Handayani, M.Pd. NIP.19570611 198403 2 001

Penguji II,

Penguji III,

Dra. Lita Latiana, M.H. NIP. 19630417 199903 2 001

Edi Waluyo, M.Pd. NIP. 19790425 200501 1 001

iii

PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Lengkap NIM Jurusan Fakultas Universitas : Sri Setiyo Rahayu : 1601408029 : PG PAUD : Ilmu Pendidikan : Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri bukan jiplakan dari karya orang lain. Pendapat atau temuan dalam skripsi ini dikutip berdasarkan kode etik ilmiah. Demikian pernyataan ini untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Semarang, Yang menyatakan,

2013

Sri Setiyo Rahayu NIM. 1601408029

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO 1. “Media pembelajaran sains sederhana sebagai tolok ukur keberhasilan anak dalam kemampuan berpikir kritis dan kreatif.” 2. ”Pengalaman di waktu kecil akan selalu diingat anak hingga dewasa, maka kenalkan anak dengan pembelajaran sains sederhana sedini mungkin sebagai bekal pengetahuannya di hari esok.”

PERSEMBAHAN Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT, skripsi ini aku persembahkan untuk : 1. Ibu dan Ayah tercinta yang telah memberikan doa, cinta, kasih sayang, semangat dan motivasi. 2. Kakak serta adik-adikku tersayang. 3. Teman-teman seperjuangan yang telah memberi semangat dan motivasi.

v

ABSTRAK Setiyo Rahayu, Sri. 2013. “Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun di Area Sains di TK Pertiwi 49 Semarang.” Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing : I Dra. Lita Latiana, S.H., M.H.,Pembimbing II: Edi Waluyo, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran sains, media bubble, kemampuan kognitif Pembelajaran sains di TK tetap ada dan terpadu dengan bidang lainnya dalam setiap tema. Pengenalan dan pembelajaran sains yang dilaksanakan di TK bersifat integrated learning/pembelajaran terintegrasi, sehingga pembelajaran sains terintegrasi dengan pengembangan lainnya. Pengembangan pembelajaran sains pada anak termasuk bidang pengembangan lainnya memiliki peran yang sangat penting dalam membantu meletakkan dasar kemampuan dan pembentukan sumber daya manusia yang diharapkan. Berbagai gejala alam seperti hujan, angin, petir, kebakaran, hewan yang beranak, tumbuhan yang berbuah juga menarik perhatian anak. Objek-objek tersebut dipelajari melalui metode ilmiah yang bagi anak TK perlu disederhanakan. Observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi sederhana dapat dilakukan anak. Anak dapat melakukan proses sains lainnya seperti melakukan pencampuran warna dasar, pengukuran, melakukan klasifikasi, dan sebagainya. Produk sains untuk anak TK lebih dominan berupa pengetahuan tentang fakta-fakta dan gejala peristiwa tentang benda-benda alam. Adapun tujuan penelitian ini yaitu: Untuk mengetahui cara dan hasil penggunaan media bubble dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak usia 45 tahun di TK Pertiwi 49 Semarang. Penelitian ini dilakukan di TK Pertiwi 49 Semarang, dengan mengambil sampel seluruh jumlah anak didik 24 anak kelompok A. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan antara lain penelitian pra penelitian, terjun ke lapangan, dan tahap analisis data. Metode pengumpulan data yang digunakan observasi dan dokumentasi. Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan, yaitu cara penggunaan dari media bubble dengan bahan dasar deterjen (rinso), sabun colek Krim Ekonomi, Lifebouy Handwash, sabun bayi batang merk Cussons sabun bayi cair merk Sweetzal dan sampo Sunsilk adalah dengan mencampur warna kuning, merah, atau biru dapat menciptakan warna lain seperti orange, hijau, dan ungu. Dalam permainan bubble, di dalamnya terdapat unsur kegiatan pencampuran warna dasar/primer sehingga dapat menghasilkan warna baru, pengukuran (menakar) deterjen, pengenalan karakteristik zat (cair, padat, dan gas). Proses pembelajaran dengan menggunakan media Bubble pada anak usia 4-5 tahun di Taman Kanak-kanak Pertiwi 49 Semarang dapat meningkatkan kemampuan kognitif baik dalam konsep pengetahuan dan sains maupun konsep bentuk, warna, ukuran dan pola. Peningkatan kemampuan kognitif anak juga meningkat dari 69,37 % menjadi 78,19 %.

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah serta inayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana untuk

Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun di Area Sains di TK Pertiwi 49 Semarang”. Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan dan bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tak langsung. Dalam kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Drs. Harjono, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang, yang telah memberikan izin untuk penelitian. 2. Edi Waluyo, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, FIP Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan berbagai kemudahan dalam penelitian ini. 3. Dra. Lita Latiana, M.H., selaku Dosen Pembimbing I dan Edi Waluyo, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga terselesaikannya skripsi ini. 4. Seluruh Dosen PG PAUD UNNES yang telah banyak membantu dalam studi hingga selesainya skripsi ini. 5. Kepala TK Pertiwi 49 Semarang yang telah memberikan izin dalam kegiatan penelitian. vii

6.

Dewan Guru TK Pertiwi 49 Semarang yang ikut membantu dalam kegiatan penelitian.

7.

Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu dalam penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca dan

dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan dunia pendidikan pada umumnya, dan dunia pendidikan anak usia dini pada khususnya.

Semarang, Penulis

2013

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN .............................................. HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................. ABSTRAK ...................................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... DAFTAR TABEL .......................................................................................... DAFTAR GRAFIK ........................................................................................ DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian ..................................................................................... 1.5 Sistematika Skripsi ..................................................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... 2.1 Media Pendidikan....................................................................................... 2.1.1. Pengertian Media Pembelajaran ............................................................. ix

i ii iii iv v vi vii ix xii xiv xv xvi 1 1 9 9 10 10 12 12 12

2.1.2. Nilai dan Manfaat Media Pembelajaran ................................................. 2.1.3 Klasifikasi dan Karakteristik Media Pembelajaran ................................. 2.1.4 Kriteria Pemilihan Media ........................................................................ 2.2. Pengertian Sains ........................................................................................ 2.3. Pendekatan Pembelajaran Sains di TK ..................................................... 2.4. Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains di TK .................................... 2.5. Hakikat Anak Usia Dini ............................................................................ 2.5.1 Karakteristik Anak Usia Dini .................................................................. 2.5.2 Perkembangan Anak Usia 4-5 Tahun ..................................................... 2.5.3 Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini ................................................ 2.6. Model Pembelajaran Area di TK .............................................................. 2.7. Kerangka Berfikir...................................................................................... BAB 3 METODELOGI PENELITIAN ....................................................... 3.1 Pendekatan Penelitian ............................................................................... 3.2. Desain Penelitian....................................................................................... 3.3. Lokasi Penelitian ....................................................................................... 3.4 Variabel Penelitian ..................................................................................... 3.5 Populasi ...................................................................................................... 3.6 Metode Pengumpulan Data ........................................................................ 3.7 Metode Analisis Data ................................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 4.1. HASIL PENELITIAN ............................................................................... 4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian..................................................................... x

15 18 24 26 28 30 35 38 40 43 61 63 64 64 61 65 65 66 66 67 69 69 69

4.1.2 Cara Penggunaan Media Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana ............................................................. 4.1.3 Kesimpulan Kumulatif dari Proses Pembelajaran dengan Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana.................................................. 4.1.4 Hasil Pengamatan Menggunakan Ceklist................................................ 4.1.4.1. Minggu Pertama .................................................................................. 4.1.4.2 Minggu Kedua ..................................................................................... 4.1.5 Hasil Penggunaan Media Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana di TK ..................................................................................... 4.1.6 Hasil Kemampuan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun Di Area Sains ......... BAB V PENUTUP .......................................................................................... 5.1 Simpulan .................................................................................................... 5.2 Saran........................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN ..................................................................................................... 109 114 119 119 122 123 126 97 98 99 104 70

xi

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Interval Skor .................................................................................. Tabel 4.1 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk 68

Indikator

Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble) .......................................................................................... 99

Tabel. 4.2 Distribusi Frekuensi pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble) .......................................................................................... Tabel 4.3 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk 100

Indikator

Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble) ....................................................................................................... 102

Tabel. 4.4 Distribusi Frekuensi pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble) ....................................................................................................... Tabel 4.5 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk 103

Indikator

Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Pretest (Anak didik sebelum mendapat Media Bubble) ....................................................................................................... xii 104

Tabel. 4.6 Distribusi Frekuensi Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Pretest (Anak didik sebelum mendapat Media Bubble) ....................................................................................................... Tabel 4.7 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk 106

Indikator

Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Dimensi Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Pretest (Anak didik sebelum mendapat Media Bubble)................ 107

Tabel. 4.8 Distribusi Frekuensi Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Dimensi Konsep Bentuk, Warna, Ukuran Dan Pola Kelompok Pretest (Anak didik sebelum mendapat Media Bubble)................ 108

xiii

DAFTAR GRAFIK Grafik 4.1 Perbandingan Perolehan Skor Kemampuan Kognitif Siswa Kelompok Posttest dan Kelompok Pretest Minggu Pertama ........ Grafik 4.2 Perbandingan Perolehan Skor Kemampuan Kognitif Siswa Kelompok Posttest dan Kelompok Pretest Minggu Kedua ........... 117 115

xiv

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 4.1 Guru memberi penjelasan kepada anak tentang warna dasar (merah, kuning dan biru) .......................................................................... 72

Gambar 4.2 Anak menuang warna dasar (merah, kuning dan biru) ke dalam gelas aqua ............................................................................................. Gambar 4.3 Anak menakar deterjen Rinso ..................................................... Gambar 4.4 Anak meniup air deterjen Rinso sehinnga tercipta gelembung .. Gambar 4.5 Lomba membawa piring di atas kepala ...................................... Gambar 4.6 Anak meniup gelembung dengan warna merah dan hijau .......... Gambar 4.7 Anak mencampur warna merah dan kuning ............................... Gambar 4.8 Anak membuat sate buah dengan pola tertentu ............................ Gambar 4.9 Anak meniup air sampo Sunsilk sehingga tercipta bubble .......... Gambar 4.10 Anak menutup gelas aqua dengan kertas HVS .......................... Gambar 4.11 Hasil lukisan bubble dengan warna ungu, hijau dan orange ...... 73 73 74 78 85 88 88 91 92 92

xv

DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1 Surat Keterangan Penelitian ....................................................... Lampiran 2 Pedoman Observasi..................................................................... Lampiran 3 Format Penugasan dan Eksperimen ............................................ Lampiran 4 Format Kegiatan Percakapan ...................................................... Lampiran 5 Format Kegiatan Hasil Karya ...................................................... Lampiran 6 Daftar Nama Anak ..................................................................... Lampiran 7 Jadwal Kegiatan Pembelajaran Kelompok A .............................. Lampiran 8 Rencana Kegiatan Mingguan........................................................ Lampiran 9 Lembar Hasil Evaluasi Minggu Pertama ...................................... Lampiran 10 Lembar Hasil Evaluasi Minggu Kedua ...................................... Lampiran 11 Rencana Kegiatan Harian ........................................................... Lampiran 12 Lembar Pengamatan Data ........................................................... Lampiran 13 Hasil Dokumentasi ..................................................................... 126 127 130 137 141 142 143 149 153 156 158 182 203

xvi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masa kanak-kanak merupakan suatu periode pada saat individu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Banyak ahli menyebut periode ini sebagai golden age (masa emas) dalam kehidupan seseorang. Pada masa ini, semua aspek kecerdasan anak dapat dikembangkan dengan baik dan dapat dengan mudah menerima apa yang disampaikan orang lain. Pada masa ini pula terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Mengingat betapa pentingnya periode kanak-kanak bagi kehidupan seseorang inilah, stimulasi yang tepat sangat diperlukan. Stimulasi yang tepat ini akan membantu anak-anak tumbuh, berkembang dan belajar secara maksimal. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Anak usia dini atau anak yang berada pada usia antara 0-8 tahun merupakan anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis yang meliputi perkembangan intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional. Usia itu sebagai usia penting bagi pengembangan intelegensi permanen dirinya, mereka juga mampu menyerap informasi yang sangat tinggi. Perkembangan kecerdasan pada masa ini, mengalami peningkatan dari 50% 1

2

menjadi 80%. Para peneliti menemukan pula bahwa kemampuan belajar manusia 50% ditentukan dalam empat tahun pertama, 30% kemampuan yang lain dicapai sebelum usia delapan tahun. Menurut Piaget bahwa siswa Taman Kanak-Kanak berada pada masa pra operasional. Pada fase ini anak mulai menyadari bahwa pemahaman tentang benda-benda di sekitarnya yang dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolik. Fase ini memberikan andil yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Pendidikan anak TK pada hakikatnya adalah pendidikan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh dimensi perkembangan anak yang meliputi kognitif, sosial, emosi, fisik dan motorik. Secara psikologis anak berkembang secara holistik atau menyeluruh, artinya terdapat kaitan yang sangat erat antara aspek perkembangan yang satu dengan aspek perkembangan yang lainnya. Mata pelajaran sains memang tidak tercantum di dalam kurikulum TK, tetapi hal ini bukan berarti bahwa sains tidak ada di TK. Sains di TK tetap ada dan terpadu dengan bidang lainnya dalam setiap tema. Pengenalan sains untuk anak Pembelajaran sains yang dilaksanakan di TK bersifat integrated

learning/pembelajaran terintegrasi, sehingga pembelajaran sains terintegrasi dengan pengembangan lainnya. Pengembangan pembelajaran sains pada anak termasuk bidang pengembangan lainnya memiliki peran yang sangat penting

3

dalam membantu meletakkan dasar kemampuan dan pembentukan sumber daya manusia yang diharapkan. Berbagai gejala alam seperti hujan, angin, petir, kebakaran, hewan yang beranak, tumbuhan yang berbuah juga menarik bagi anak. Objek-objek tersebut dipelajari melalui metode ilmiah yang bagi anak TK perlu disederhanakan. Observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi sederhana dapat dilakukan anak. Anak dapat melakukan proses sains lainnya seperti melakukan pencampuran warna dasar, pengukuran, melakukan klasifikasi, dan sebagainya. Produk sains untuk anak TK lebih dominan berupa pengetahuan tentang fakta-fakta dan gejala peristiwa tentang benda-benda alam. (diunduh dari http ://www.pengenalan sains untuk anak TK/Journal.pdf.30 Mei 2012). Kegiatan pembelajaran sains yang terpenting bagi anak adalah anak mengerti proses sains, dari proses sains melahirkan pengalaman belajar dan pembentukan sikap secara simultan dan terpadu. Kegiatan pembelajaran sains yang cocok untuk pengembangan pembelajaran sains adalah dengan penerapan keterampilan proses pada setiap tahapnya. Keterampilan proses sains perlu dimiliki anak agar dapat mengembangkan pengetahuannya. Tentunya dengan mengenalkan sains pada anak sejak dini sesuai dengan tahap perkembangan, karena usia dini merupakan usia fundamental bagi perkembangna individu dan sering disebut golden age/usia emas. Artinya pada masa kanak-kanak, semua aspek perkembangan anak berlangsung sangat cepat sehingga pengalaman-pengalaman yang dijalani anak membentuk pengalaman yang akan dibawa seumur hidup.

4

Berhasil tidaknya proses dan hasil suatu bidang pengembangan (terutama sains) bagi anak usia dini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antara faktor yang fundamental yang turut berpengaruh adalah para pengajar dan pendidik sains. Agar pembelajaran sains pada anak berjalan secara optimal, hendaknya orangorang yang terlibat dalam pendidikan sains betul-betul memahami hakekat sains secara benar, dan memahami hakekat anak secara benar. Pengembangan pembelajaran sains pada anak usia dini, memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu meletakkan dasar kemampuan dan pembentukkan sumber daya menusia yang diharapkan. Kesadaran pentingnya pembekalan sains pada anak akan semakin tinggi apabila menyadari bahwa kita hidup dalam dunia yang dinamis, berkembang dan berubah secara terus-menerus bahkan makin menuju masa depan, semakin memerlukan sains. Hakekat sains perlu dikaji, dipelajari dan ditekuni, anak-anak sebagai generasi yang dipersiapkan untuk mengisi masa depan yang diduga akan semakin rumit, berat dan banyak problemanya perlu dibekali penguasaan sains yang memadai, tepat, bermakna dan fungsional. Secara umum pembelajaran sains di taman kanak-kanak bertujuan agar anak mampu secara aktif mencari informasi mengenai apa yang ada di sekelilingnya. Selain itu melalui eksprlorasi dibidang sains anak mencoba memahami dunianya melalui pengamatan, penyelidikan dan percobaan untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Dalam pembelajaran sains bagi anak bermanfaat untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan akan menimbulkan imajinasi-imajinasi pada anak yang pada akhirnya dapat menambah pengetahuan anak secara alamiah. Apalagi dengan tantangan kehidupan masa

5

depan yang sangat menantang, menuntut semakin strategis bahwa pembekalan sains bagi anak usia dini menjadi mutlak, sehingga sains pada diri anak muncul sebagai suatu cara untuk mencari kebenaran dalam kehidupannya kelak. (http://www.altaf.blogspot.com/2009/1.artikel. Sains Anak Usia TK-B Melalui Seni Rupa.html.) Menurut Yulianti (2010:18) sains adalah produk. Sebagai produk, sains adalah sebatang tubuh pengetahuan yang terorganisir dengan baik mengenai dunia fisik alami. Sebagai proses, sains yang mencakup menelusuri, mengamati, dan melakukan percobaan, sangatlah penting agar anak dapat berpartisipasi ke dalam proses ilmiah, karena keterampilan yang mereka dapatkan dapat dibawa ke perkembangan lainnya dan akan bermanfaat selama hidupnya. Permasalahan yang ada di lapangan dari hasil observasi awal di TK Pertiwi 49 Semarang adalah bahwa pembelajaran sains dengan keterampilan proses masih rendah, terutama pada proses dan hasil belajar anak. Kesulitan pada keterampilan proses sains ini salah satu bersumber dari guru, masih kurang memanfaatkan media yang ada dalam pembelajaran sains, guru kurang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan ide atau gagasannya secara variatif dan original, sehingga jawaban yang dihasilkan anak cenderung sama, kondisi lain dalam pelaksanaan pembelajaran sains berpusat pada guru (teacher centered), sehingga pembelajaran monoton dan pada akhirnya anak merasa bosan. Untuk menarik minat anak dalam mempelajari sains maka guru harus mengemas pembelajaran dengan media yang menarik. Proses pembelajaran akan Pengembangan Pembelajaran

6

berjalan dengan baik dan produktif apabila guru memiliki kemampuan dalam menciptakan suasana belajar siswa yang menyenangkan. Guru harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dalam menyampaikan bahan ajar/tema dengan menggunakan media dan sumber belajar secara terprogram sejalan dengan kompetensi pembelajarannya Untuk mendapatkan hasil pendidikan yang baik, sarana di TK memegang peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses yang sistematis dan terdiri dari berbagai komponen, seperti bahan kegiatan, prosedur didaktik (penggunaan metode), pengelompokan anak didik, dan media pengajaran yang berupa sarana/alat peraga yang digunakan. Oleh sebab itu TK tanpa sarana yang memadai tidak berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang baik, karena kegiatan belajar mengajari TK dilakukan melalui prinsip “bermain sambil belajar” atau belajar seraya bermain. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran anak usia dini. Upaya-upaya pendidikan yang diberikan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Menggunakan strategi, metode, materi/bahan, media yang menarik, serta mudah diikuti oleh anak. Bermain disesuaikan dengan perkembangan anak dimulai dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih besar) ke belajar sambil bermain (unsur belajar lebih besar). Dengan demikian anak didik diharapkan dapat melakukan berbagai kegiatan yang merangsang dan mendorong perkembangan kepribadiannya, baik yang mencakup aspek

keterampilan, kognitif, bahasa, emosi maupun sosialnya.

7

Disadari bahwa guru merupakan garda terdepan pendidikan yang langsung berhubungan dengan anak didik. Sebagai mediator seorang guru dituntut memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan sebagai alat komunikasi dalam proses pembelajaran. Guru harus terampil memilih, menggunakan dan mengusahakan media pendidikan serta mampu menjadi perantara atau (media) dalam hubungan antara siswa dalam proses bermain sambil belajar sains. Sebagai mediator seorang guru hendaknya mampu mengusahakan/ membuat sumber belajar yang yang berguna dan dapat menunjang tercapainya tujuan dan proses belajar sains. Pembelajaran sains di TK perlu didukung dengan dengan berbagai alat atau media pembelajaran yang kaya, apakah itu berupa alat peraga, alat bermain, buku atau berupa media pembelajaran lainya. Dewasa ini, alat dan media pembelajaran yang dapat digunakan semakin kaya dan bervariasi, tidak saja terbatas pada alat-alat atau benda-benda langsung, tapi juga bisa berupa program mainan yang ada dikomputer atau berupa film. Disamping dapat memilih dan memanfaatkan alat-alat atau media-media yang sudah tersedia atau diproduksi oleh para pelaku bisnis, guru sebenarnya dapat membuat dan menciptakan sendiri alat-alat yang diperlukan dengan menggunakan bahan-bahan yang murah atau bahkan barang-barang bekas. Tidak hanya itu saja, guru TK juga dituntut untuk dapat memilih media yang sesuai dengan materi maupun dengan kompetensi yang akan dicapai. Pemilihan media yang tepat juga akan meningkatkan gairah anak TK dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik, sehingga tercipta suasana belajara

8

yang kondusif dan menyenangkan sesuai dengan karakteristik anak TK yang pada dasarnya masih senang bermain. Penggunaan media yang baik tentu saja tidak lepas dari kemampuan dan keahlian guru dalam mendesain, membuat dan mengembangkan media pembelajran. Guru TK dituntut untuk berkreativitas untuk mengatasi hambatan yang dihadapi dalam proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan penyampaian pesan yang sulit dimengerti oleh peserta didik jika di terangkan dengan penjelasan verbal semata. Salah satu langkah strategis untuk dapat membekali anak secara optimal, harus didahului dengan memahami karakteristik dan tujuan pendidikan dan pembelajaran yang akan diterapkan pada anak usia dini termasuk dalam bidang pengembangan sains untuk anak usia dini. Dengan memahami lingkup dan tujuan pendidikan sains tersebut akan membantu para pengajar atau orang dewasa lainnya dalam penguasaan program-program pembelajaran sains untuk anak usia dini yang dianggap tepat. Untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran sains yang tepat dipengaruhi oleh berbagai faktor, faktor yang sangat fundamental adalah para pengajar dan pendidik sains. Untuk mewujudkan pembelajaran sains pada anak usia dini secara optimal, hendaklah para pengajar/pendidik tersebut betul-betul memahami hakekat sains secara benar, lebih-lebih yang dikaitkan dengan karakteristik anak usia dini sebagai sasarannya. Berdasarkan pemikiran di atas, maka perlu melakukan penelitian dengan judul “Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana untuk

9

Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun di Area Sains di TK Pertiwi 49 Semarang.

1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka masalah yang timbul adalah : 1.2.1. Bagaimana cara pembuatan Bubble sebagai media pembelajaran sains sederhana untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun di area sains di TK Pertiwi 49 Semarang? 1.2.2. Apa saja hasil penggunaan Bubble sebagai media pembelajaran sains sederhana untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun di area sains di TK Pertiwi 49 Semarang?

1.3. Tujuan Penelitian Suatu penelitian yang hendak dilakukan pasti mempunyai tujuan sasaran yang ingin dicapai. Bertitik tolak dari rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka penelitian ini mempunyai tujuan : 1.3.1 Untuk mengetahui cara pembuatan Bubble sebagai media pembelajaran sains sederhana untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun di area sains di TK Pertiwi 49 Semarang. 1.3.2 Untuk mengetahui hasil penggunaan Bubble sebagai media pembelajaran sains sederhana untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun di area sains di TK Pertiwi 49 Semarang.

10

1.4. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini yaitu: 1.4.1 Manfaat atau Kegunaan Teoritis Diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan dalam mengkaji aspek-aspek yang terkait dengan penelitian Studi Eksperimen Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Usia 4-5 tahun di Area Sains di TK Pertiwi 49 Semarang. 1.4.2 Manfaat atau Kegunaan Praktis

1.4.2.1 Bagi Penulis Dapat mengetahui penggunaan media bubble sebagai media pembelajaran sains pada TK Pertiwi 49 Semarang. 1.4.2.2 Bagi dunia pendidikan Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bentuk kontribusi dan upaya untuk memacu guru/pendidik dalam pelaksanaa pembelajaran terutama dalam penggunaan media bubble dalam meningkatkan kemampuan dasar kognitif anak.

1.5. Sistematika Skripsi Secara garis besar penelitian ini diterdiri atas lima bab yaitu Bab I Pendahuluan, Bab II Kajian Pustaka, Bab III Metodologi Penelitian, Bab IV Hasil dan Pembahasan, Bab V Penutup. Bab I mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika skripsi. Bab II kajian pustaka mengungkapkan teori-teori dan fakta yang dijadikan alasan untuk berfikir secara ilmiah dalam melakukan kegiatan. Bab III mengulas langkah dan

11

strategi ilmiah yang digunakan untuk mengungkapkan permasalahan penelitian sehingga hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Bab IV membahas hasil penelitian untuk membuktikan permasalahan yang dirumuskan dan merupakan jawaban terhadap permasalahan yang dirumuskan, terdiri atas hasil dan pembahasan penelitian. Bab V mencakup simpulan dan saran. Simpulan merupakan pernyataan singkat yang memberikan jawaban atas permasalahan yang diangkat kedalam penelitian berguna untuk memudahkan pembaca dalam mengetahui hasil penelitian dan masukan bagi pihak terkait sejalan dengan temuan yang diperoleh dalam penelitian serta memungkinkan untuk dilaksanakan oleh pihak-pihak tertentu.

12

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.1. Media Pembelajaran 2.1.1. Pengertian Media Pembelajaran Dalam dunia pendidikan guru memang bukan satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan dan fungsinya dalam proses belajar mengajar sangat penting. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dan perkembangan masyarakat serta budaya pada umumnya, berkembang pula tugas dan peranan guru, seiring dengan berkembangnya jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Sumber belajar yang dapat dilihat dalam lingkungan pendidikan selain guru misalnya buku, radio, majalah, film, bingkai, video, dengan atau tanpa bantuan alat-alat seperti proyektor dan pesawat radio/video. Bahan dan alat yang dikenal dengan istilah software dan hardware ini adalah media pendidikan. Menurut Arief S. Sadiman (2008:11) bahwa proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan yang ada dalam kurikulum. Dalam proses komunikasi tersebut, guru bertindak sebagai komunikator (communicator) yang bertugas menyampaikan pesan pembelajaran (message) kepada penerima pesan (communican), yaitu siswa/anak. Agar pesan-pesan pembelajaran yang disampaikan guru dapat diterima dengan

12

13

baik oleh anak maka dalam proses komunikasi pembelajaran tersebut diperlukan wahan penyalur pesan yang disebut media pembelajaran. Untuk lebih memperjelas pemahaman mengenai pembelajaran sebagai proses komunikasi, dapat dilihat pada gambar berikut ini : Komunikator Guru Pesan Bahan Ajar

Media Pembelajaran Gambar 1. Proses Komunikasi Pembelajaran

Komunikan Anak

Peran media dalam komunikasi pembelajaran di Taman Kanak-kanak semakin penting artinya mengingat perkembangan anak pada saat itu berada pada masa konkret. Oleh karena itu, salah satu prinsip pembelajaran di TK adalah kekonkretan, artinya bahwa anak diharapkan dapat mempelajari sesuatu secara nyata. Prinsip kekonkritan tersebut mengisyaratkan perlunya digunakan media sebagai penyampai pesan dari guru kepada anak didik agar pesan/informasi tersebut dapat diterima atau diserap anak dengan baik. Dariyanto dalam Heinich et.al., 2002; Ibrahim, 1997; Ibrahim et.al., 2001 kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi.

14

Menurut Arief S. Sadiman (2008:6), kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah perantara atau pengantar. Jadi, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkann pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Dalam situasi pembelajaran di TK terdapat pesan-pesan yang harus dikomunikasikan. Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari tema atau topik pembelajaran. Pesan-pesan tersebut disampaikan oleh guru kepada anak melalui suatu media dengan menggunakan prosedur pembelajaran tertentu yang disebut metode. Menurut Oemar Hamalik (1994:12) dalam Edi Waluyo media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Setelah mencermati beberapa pengertian di atas, bahwa media

pembelajaran itu terdiri atas dua unsur penting, yaitu unsur peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan dibawanya (message/software). Unsur pesan (software) adalah informasi atau bahan ajar dalam tema/topik tertentu yang akan disampaikan atau dipelajari anak, sedangkan unsur perangkat keras (hardware) adalah sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyajikan pesan tersebut. Dengan demikian, sesuatu bisa dikatakan media pembelajaran jika sudah memenuhi dua unsur tersebut.

15

Dari uraian tersebut di atas mengenai definisi media pembelajaran dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Media merupakan peralatan yang digunakan dalam peristiwa komunikasi dengan tujuan membuat komunikasi lebih efektif. 2. Media pembelajaran merupakan peralatan pembawa pesan atau wahana dari pesan yang oleh pemberi pesan (guru) untuk diteruskan kepada penerima pesan (anak didik). Pesan yang disampaikan adalah isi pembelajaran dalam bentuk tema/topik pembelajaran Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan atau disediakan oleh guru dimana penggunaannya diintegrasikan ke dalam tujuan dan isi pembelajaran sehingga dapat membantu dalam meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran serta mencapai kompetensi pembelajarannya. Adapun media pembelajaran yang digunakan guru TK untuk

menyampaikan maksud dari tema yang dipelajari pada waktu itu. Dengan penggunaan media dalam proses pembelajaran di TK, anak-anak akan lebih tertarik dalam mengikuti kegiatan belajar melalui bermain. 2.1.2. Nilai dan Manfaat Media Pembelajaran Masih banyak guru saat ini yang menganggap bahwa peran media dalam proses pembelajaran hanya sebatas sebagai alat bantu semata dan boleh diabaikan manakala media itu tidak tersedia di sekolah. Sebagai guru TK yang profesional harus memiliki pandangan sebaliknya, yaitu bahwa media itu merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri, tetapi salung berhunbungan

16

dengan komponen lainnya dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan. Tanpa media maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan efektif. Keefektifan proses pembelajaran akan terjadi apabila ada komunikasi antara sumber pesan (dalam hal ini guru TK) dengan penerima pesan (dalam hal ini anak). Komunikasi tersebut efektif ditandai dengan adanya area of experience atau daerah pengalaman yang sama antara penyalur pesan dengan penerima pesan. Menurut Arief S. Sadiman (2008:17) bahwa media pembelajaran memiliki nilai-nilai dalam mengoptimalkan pencapaian hasil belajar di TK. Nilai-nilai media pembelajaran diantaranya adalah sebagai berikut ini : 1. Mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak. Konsep-konsep yang dirasakan masih bersifat abstrak dan sulit dijelaskan secara langsung kepada anak bisa dikonkretkan atau

disederhanakan melalui pemanfaatan media pembelajaran. Misalnya untuk menjelaskan tentang sistem peredaran darah manusia, arus listrik,

berhembusnya angin, dan sebagainya bisa menggunakan media gambar atau bagan sederhana. Contoh pemanfaatan nilai media di TK adalah untuk

mengenal gajah, guru menggunakan media gambar jadi tidak harus membawa gajah ke ruang kelas. 2. Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar. Misalnya guru menjelaskan dengan menggunakan gambar atau program televisi tentang binatang-binatang buas, seperti harimau.

17

Beruang, gajah, jerapah, atau bahkan hewan-hewan yang sudah punah seperti dinosaurus, dan sebagainya. 3. Menampilkan objek yang terlalu besar. Melalui media, guru dapat menyampaikan gambaran mengenai sebuah kapal laut, pesawat udara, pasar, candi, dan sebagainya di depan kelas. Atau menampilkan objek-objek yang terlalu kecil, seperti bakteri, virus, semut, nyamuk, dan sebagainya. Contoh, guru menggunakan miniatur pesawat, kapal dan kereta api untuk mengenalkan macam-macam kendaraan kepada anak. 4. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat. Dengan menggunakan media film (slow motion) guru bisa memperlihatkan lintasan peluru, melesatnya anak panah, atau memperlihatkan proses suatu ledakan. Demikian juga gerakangerakan yang terlalu lambat. Contoh, guru menggunakan media kecambah yang ditaruh diatas kertas basah untuk mengetahui proses pertumbuhan kecambah sehingga dapat dapat diamati dalam waktu singkat. Selain keempat nilai media pembelajaran di atas, masih terdapat nilai-nilai yang lainnya dari pemanfaatan media pembelajaran, yaitu sebagai berikut ini : 1. Memungkinkan anak berinteraksi secara langsung dengan lingkungannnya. 2. Memungkinkan adanya keseragaman pengamatan atau persepsi belajar pada masing-masing anak. 3. Membangkitkan motivasi belajar anak. 4. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan. 5. Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi seluruh anak.

18

Manfaat dari media juga diungkapkan oleh Nana Sudjana (2010:2), ia mengungkapkan manfaat media dalam proses belajar siswa antara lain : 1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. 2. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran yang lebih baik. 3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi guru mengajar untuk setiap jam pelajaran. 4. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengakan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.

2.1.3. Klasifikasi dan Karakteristik Media Pembelajaran Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem instruksional di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan. Pengertian media masih sering diartikan peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam khazanah pendidikan seperti ilmu cetak-mencetak, tingkah laku (behaviorisme), komunikasi, dan laju perkembangan teknoligi elektronik, media dalam perkembangannya tampil dalam berbagai jenis dan format (modul cetak, film, televisi, film bingkai, film rangkai, program radio, komputer, dan seterusnya) masing-masing dengan ciri-ciri dan kemampuannya

19

sendiri. Dari sini usaha-usaha penataan timbul, yaitu pengelompokan atau klasifikasi menurut kesamaan ciri atau karakteristiknya. Menurut Arief S. Sadiman (2008:27) bahwa media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu media visual, audio, dan audiovisual. Berikut ini secara singkat diuraikan dari masing-masing jenis dan karakteristik media pembelajaran : a. Media Visual Media visual adalah media yang menyampaikan pesan melalui penglihatan pemirsa atau media yang hanya dapat dilihat. Jenis media visual ini nampaknya yang paling sering digunakan oleg guru TK untuk membantu menyampaikan isi dari tema pembelajaran yang sedang dipelajari. Media visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan dan media yang tidak dapat diproyeksikan. Media visual yang diproyeksikan pada dasarnya merupakan media yang menggunakan alat proyeksi yang disebut proyektor, gunanya untuk menayangkan gambar atau tulisan yang akan nampak pada layar (screen). Media proyeksi ini bisa berbentuk media proyeksi diam, misalnya gambar diam (still picture) dan proyeksi gerak, misalnya gambar bergerak (motion picture). Alat proyeksi tersebut membutuhkan aliran listrik dan membutuhkan ruangan tertentu yang cukup memadai, baik dari segi ukuran maupun intensitas cahaya. Media visual yang tidak diproyeksikan terdiri atas media gambar diam/mati, media grafis, media model, dan media realita. Beberapa karakteristik dari masing-masing media tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

20

1. Gambar Diam atau Gambar Mati Gambar diam atau gambar mati adalah gambar-gambar yang disajikan secara fotografik atau seperti fotografik, misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan bahan/isi tema yang diajarkan. Gambar diam ini ada yang sifatnya tunggal ada juga yang berseri, yaitu berupa sekumpulan gambar diam yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Keuntungan yang bisa diperoleh dari media gambar diam ini, diantaranya adalah: a. Media ini dapat menerjemahkan ide/gagasan yang sifatnya abstrak menjadi lebih konkret. b. Banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, surat kabar, kalender, dan sebagainya. c. Mudah menggunakannya dan tidak memerlukan peralatan lain. d. Tidak mahal, bahkan mungkin tanpa mengeluarkan biaya untuk

pengadaannya. e. Dapat digunakan pada setiap tahap pembelajaran dan semua tema. Ada beberapa kelemahan dari media ini, yaitu terkadang ukuran gambar terlalu kecil jika digunakan pada kelas besar. Gambar diam juga merupakan media dua dimensi dan tidak bisa menimbulkan gerak. Contoh media diam di TK adalah gambar binatang, sayur dan buah-buahan, alfabet, angka, dan gambar pahlawan nasional. 2. Media Grafis Media grafis adalah media pandang dua dimensi (bukan fotografik) yang dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan pesan-pesan pembelajaran.

21

Unsur-unsur yang terdapat dalam media grafis ini adalah gambar dan tulisan. Media ini dapat digunakan untuk mengungkapkan fakta atau gagasan melalui penggunaan kata-kata, angka serta bentuk simbol (lambang). Bila akan menggunakan media grafis ini harus memahami dan mengerti arti simbolsimbolnya sehingga media ini akan lebih efektif untuk menyajikan isi tema kepada anak. Karakteristik media ini, sederhana, dapat menarik perhatian, murah, dan mudah disimpan dan dibawa. Jenis-jenis media grafis ini diantaranya adalah grafik, bagan, diagram, poster, kartun, dan komik. Contoh media grafis di TK adalah gambar anak membuang sampah dengan tulisan “Buanglah sampah pada tempatnya” dan gambar rambu-rambu lalu lintas dengan tulisannya. 3. Media Model Media model adalah media tiga dimensi yang sering digunakan dalam pembelajaran di TK, media ini merupakan tiruan dari beberapa objek nyata, seperti objek yang terlalu besar, objek yang terlalu jauh, objek yang terlalu kecil, objek yang terlalu mahal, objek yang jarang ditemukan, atau objek yang terlalu rumit untuk dibawa ke dalam kelas dan sulit dipelajari wujud aslinya. Jenis-jenis media model diantaranya adalah model padat ( solid model), model penampang (cutaway model), model susun (build-up model), model kerja (working model), mock-up dan diaroma. Masing-masing jenis model tersebut ukurannya mungkin persis sama, mungkin juga lebih kecil atau lebih besar dari objek sesungguhnya. Contoh media model di TK adalah miniatur binatang, pesawat, mobil, dan truk.

22

4. Media Realita Media realita merupakan alat bantu visual dalam pembelajaran yang berfungsi memberikan pengalaman langsung (direct experience) kepada anak. Realita ini merupakan benda, yang sesungguhnya contoh penggunaan media realita di TK seperti mata uang, tumbuhan, binatang, yang tidak berbahaya dan sebagainya. b. Media Audio Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan anak untuk mempelajari isi tema. Contoh media audio, adalah program kaset suara dan program radio. Penggunaan media audio dalam kegiatan pembelajaran di TK pada umumnya untuk melatih keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan mendengarkan. Dari sifatnya yang auditif, media ini mengandung kelemahan yang harus diatasi dengan cara memanfaatkan media lainnya. Contoh media audio di TK adalah tape recorder dan radio. Terdapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam menggunakan media audio di TK yaitu sebagai berikut : a. Media ini hanya mampu melayani secara baik mereka yang sudah memiliki kemampuan dalam berpikir abstrak, sedangkan kita mengetahui bahwa anak TK masih dalam proses berpikir konkret kepada berpikir abstrak. Oleh karena itu, media audio untuk anak TK, kita perlu melakukan berbagai modifikasi yang dalam menggunakan disesuaikan dengan kemampuan anak.

23

b. Karena sifatnya yang auditif jika ingin hasil belajar yang dicapai anak lebih optimal, diperlukan juga pengalaman-pengalaman secara visual. Kontrol belajar bisa dilakukan melalui penguasaan perbendaharaan kata-kata, bahasa, dan susunan kalimat. c. Media Audiovisual Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi dari media audio dan media visual atau biasa disebut media pandang-dengar. Dengan menggunakan media audiovisual ini maka penyajian isi tema kepada anak akan semakin lengkap dan optimal. Selain itu media ini dalam batas-batas tertentu dapat menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini guru tidak selalu berperan sebagai penyampai materi karena penyajian materi bisa diganti oleh media. Peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi anak untuk belajar. Contoh dari media audiovisual ini diantaranya program televisi/video pendidikan /instruksional, program slide suara, dan sebagainya. Maksud dari media pembelajaran sederhana adalah jenis media yang memiliki ciri-ciri mudah dibuat, bahan-bahannya mudah diperoleh, mudah digunakan, serta harganya relatif murah. Jenis media yang dapat diklasifikasikan ke dalam media pembelajaran sederhan, yaitu meliputi jenis media visual yang terdiri atas media gambar diam (still picture), kelompok media grafis, media model, dan media realita. Contoh penggunaan media sederhana di TK adalah pesawat dari kertas lipat, gambar binatang yang dibuat sendiri oleh guru dan bunga dari kertas lipat.

24

2.1.4. Kriteria Pemilihan Media Perlu diingat bahwa memilih media yang tepat untuk pembelajaran yang akan dilakukan pada dasarnya merupakan proses pengambilan keputusan dari berbagai alternatif (pilihan) yang ada. Guru bisa menentukan media yang akan digunakan apabila terdapat berbagai media yang dapat diperbandingkan, sedangkan apabila hanya tersedia satu jenis media pembelajaran atau jumlahnya sangat terbatas maka tidak bisa memilih, atau dengan kata lain hanya dapat menggunakan media apa adanya. Menurut Arief S. Sadiman (2008:85) dalam merencanakan dan memilih media pembelajaran harus disesuaikan dengan: 1. Perencanaan pembelajaran di TK, yaitu satuan kegiatan mingguan (SKM) atau satuan kegiatan harian (SKH). 2. Sasaran belajar, yaitu anak yang akan mempelajari tema melalui media pembelajaran tersebut. 3. Tingkat keterbacaan media, maksudnya apakah media tersebut sudah memenuhi syarat-syarat teknis, seperti kejelasan gambar dan hurufnya, pengaturan warna, ukuran, dan sebagainya. 4. Situasi dan kondisi, misalnya tempat atau ruangan yang dipergunakan untuk kegiatan pembelajaran, seperti ukurannya, perlengkapannya, ventilasinya, cahayanya, dan sebagainya. Atau kesesuaian dengan keadaan siswanya seperti jumlah, minat, dan motivasi belajarnya. 5. Objektivitas, maksudnya guru harus menghindari pemilihan media yang didasari oleh kesenangan pribadi semata (subjektif). Unsur subjektivitas ini

25

agak sulit dihindari. Untuk menghindarinya sebaiknya guru selalu meminta pandangan, pendapat, saran, atau koreksi dari teman sejawat (guru lain) atau dari anak. Dalam memilih dan menggunakan media pendidikan harus sesuai dengan kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Tujuan mengajar 2. Bahan pelajaran 3. Metode mengajar 4. Adanya alat yang tersedia 5. Jalan pelajarannya 6. Penilaian hasil belajr 7. Pribadi guru 8. Minat dan kemampuan siswa 9. Situasi pelajaran yang sedang berlangsung Menurut Nana Sudjana (2010:4), dalam memilih media untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut : 1. Ketepatan dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. 2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran. 3. Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.

26

4. Keterampilan guru dalam menggunakannya, apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran. 5. Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung. 6. Sesuai dengan taraf berfikir siswa, dalam memilih media pendidikan harus sesuai dengan taraf berfikir siswa sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami oleh para siswa. Dengan kriteria pemilihan media tersebut, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dalam kegiatan pembelajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tetapi harus sebaliknya yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran.

2.2. Pengertian Sains Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam adalah ilmu yang pokok bahasannya adalah alam dengan segala isinya. Hal yang dipelajari dalam sains adalah sebabakibat, hubungan kausal dari kejadian-kejadian yang terjadi di alam. Menurut Powler (dalam Winataputra 1993), sains adalah ilmu yang sistematis dan dirumuskan dengan mengamati gejala-gejala kebendaan, dan didasarkan terutama atas pengamatan induksi. Adapun pengertian sains menurut Neuman (2010:4) dalam Yulianti, bahwa sains adalah produk dan proses. Sebagai produk, sains adalah sebatang

27

tubuh pengetahuan yang terorganisir dengan baik mengenai dunia fisik alami. Sebagai proses, sains yang mencakup menelusuri, mengamati, dan melakukan percobaan. Selanjutnya Carin dan Sund dalam Yulianti mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang sistematis atau tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Aktivitas dalam sains selalu berhubungan dengan percobaan-percobaan yang membutuhkan

keterampilan dan kerajinan. Secara sederhana, sains dapat juga didefinisikan sebagai apa yang dilakukan oleh para ahli sains. Dengan demikian, sains bukan hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi menyangkut cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah. Ilmuwan sains selalu tertarik dan memperhatikan peristiwa alam, selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam dan hubungan kausalnya. Dalam sains, terdapat tiga unsur utama, yaitu sikap manusia, proses atau metodologi, dan hasil yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Sikap manusia yang selalu ingin tahu tentang benda-benda, makhluk hidup, dan hubungan sebabakibatnya akan menimbulkan permasalahan-permasalahan yang selalu ingin dipecahkan dengan prosedur yang benar. Prosedur tersebut meliputi metode ilmiah. Metode ilmiah mencakup perumusan hipotesis, perancangan percobaan, evaluasi atau pengukuran, dan akhirnya menghasilkan produk berupa fakta-fakta, prinsip-prinsip, teori, hukum, dan sebagainya.

28

2.3. Pendekatan Pembelajaran Sains di TK Pembelajaran Sains pada hakikatnya dapat ditanamkan pada anak sedini mungkin. Selain itu pemahaman anak mengenai sains akan lebih berfungsi, jika dikembangkan dengan seksama melalui kegiatan pembelajaran di TK. Menurut Dwi Yulianti (2010:24) pendekatan pembelajaran sains pada anak usia dini hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip yang berorientasi pada kebutuhan anak dengan memperhatikan hal-hal berikut : 1. Berorientasi pada Kebutuhan dan Perkembangan Anak Salah satu kebutuhan dan perkembangan anak adalah rasa aman. Oleh karena itu, jika kebutuhan fisik anak terpenuhi dan merasa aman secara psikologis, maka anak akan belajar dengan baik. Di smaping itu perlu diperhatikan siklus belajar anak TK adalah berulang dengan memperhatikan perbedaan individu. Minat yang tumbuh akan memotivasi belajarnya, sedangkan anak akan belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak. Tidak terkecuali dalam pembelajaran sains, minat sains anak dapat dibangkitkan melalui bermain sains yang dirancang dengan aman untuk anak, dirancang agar anak bisa bersosialisasi dengan teman, membangkitkan motivasi dan rasa ingin tahu anak. 2. Belajar melalui bermain Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan

pembelajaran pada anak-anak usia dini. Untuk itu dalam memberikan pendidikan

29

pada anak usia dini harus dilakukan dalam situasi yang menyenangkan sehingga anak tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran. Selain menyenangkan, metode, materi dan media yang digunakan harus menarik perhatian serta mudah diikuti sehingga anak akan termotivasi untuk belajar. Melalui kegiatan bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Bermain bagi anak juga merupakan suatu proses kreatif untuk bereksplorasi, mempelajari keterampilan yang baru dan bermain dapat menggunakan simbol untuk menggambarkan dunianya. Pembelajaran harus dirancang sedemikian sehingga melalui bermain anak-anak menemukan konsep dengan suasana yang menyenangkan dan tidak terasa anak telah belajar sesuatu dalam suasana bermain yang menyenangkan. 3. Selektif, Kreatif, dan Inovatif Materi sains yang disajikan dipilih sedemikian rupa sehingga dapat disajikan melalui bermain. Proses pembelajaran yang dilakukan melalui kegiatankegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu, memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya juga dilakukan secara dinamis. Artinya anak tidak hanya dijaidkan sebagai objek, tetapi juga subjek dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi guru dalam menyusun kegiatan pembelajaran sains. Kegiatan belajar di TK dirancang untuk membentuk perilaku dan mengembangkan kemampuan dasar yang ada dalam diri anak Taman KanakKanak, dalam pelaksanaan pembelajaran sains harus disesuaikan dengan tahap-

30

tahap perkembangan anak. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sains di TK, guru harus memahami dan menguasai metode pembelajaran sains yang digunakan. Dengan menguasai metode pembelajaran sains, diharapkan tujuan pendidikan di TK yaitu untuk mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosi, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral dan nilai-nilai agam dapat tercapai secara terpadu optimal. Menurut Suyanto (2005:158) dalam Dwi Yulianti pengenalan sains untuk siswa Taman Kanak-kanak dan Raudlatul Athfal, dilakukan untuk

mengembangkan kemampuan sebagai berikut : a. Eksplorasi dan investigasi, yaitu kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek dan fenomena alam. b. Mengembangkan keterampilan proses sains dasar, seperti melakukan pengamatan, sebagainya. c. Mengembangkan rasa ingin tahu, rasa senang, dan mau melakukan kegiatan inkuiri atau penemuan. d. Memahami pengetahuan tentang berbagai benda, baik ciri, struktur, maupun fungsinya. mengukur, mengkomunikasikan hasil pengamatan, dan

2.4. Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains di TK 2.4.1 Pengertian Bubble atau Gelembung Dalam penelitian ini kata bubble merupakan kata asing, tapi dalam istilah Indonesia gelembung adalah balon sabun yang diisi dengan udara dan terlihat

31

indah. Namun, hanya dapat dinikmati keindahannya dalam waktu yang tidak lama karena gelembung sabun ini ringan dan sangat rapuh. Ketika meniup gelembung sabun, angin dengan kecepatan rendah pun akan menerbangkan gelembung sabun tersebut. Jika meniup gelembung ke udara di dalam ruangan, maka akan segera jatuh dan hilang bahkan sebelum sampai ke lantai. Karena gelembung sabun sangat ringan, maka akan dapat melayang di udara yang hanya sedikit lebih padat daripada udara yang mengisi mereka. (http://dimas-

ardian.blogspot.com/2009/08/bermain-gelembung-sabun_31.html) Menurut Guerrier seorang guru kelompok bermain bahwa media Bubble atau gelembung adalah salah satu kegiatan pembelajaran sains sederhana dari permainan gelembung sabun yang memungkinkan anak untuk melihat hasil percobaan secara langsung. Anak dapat melihat dan mempraktekkan kegiatan secara langsung seperti (meniup menggunakan sedotan) dapat menimbulkan reaksi pada lukisannya (terciptanya gelembung). Pada saat anak meniup air sabun, mereka dapat membuat bentuk gelembung dengan cara menekan kertas sehingga tercipta suatu lukisan. (http://www.colorsforearth.com/PDF-

Files/Classroom/BubblePainting.pdf.) Bubble atau gelembung merupakan salah satu media pembelajaran sains yang bertujuan merangsang anak untuk berfikir tentang bahan-bahan dan karakter gelembung. Pengalaman seperti ini akan membuat anak mulai memahami bahwa udara menempati ruang, walaupun tidak terlihat nyata. Kegiatan ini dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan motorik anak usia dini. Pengalaman

32

yang diperoleh anak dari dapat menambah kemampuan bereksplorasi yang penting untuk perkembangan kognitif anak. Merangsang kreativitas dan perkembangan kognitif anak dengan media Bubble menjadikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik serta dapat memperluas wawasan anak tentang sains sederhana pada saat tahap

perkembangan kemampuan menganalisa, berkomunikasi dan memecahkan masalah. Selain manfaat di atas, anak dapat mengembangkan kemampuan motorik halusnya ketika melakukan kegiatan Bubble atau gelembung dengan cara mengontrol tangan, mulut, dan tenggorokan. Meniup dengan sedotan untuk mengontrol pernapasan, memegang sedotan melatih kemampuan mencengkeram yang pada dasarnya cukup sulit dilakukan untuk tangan kecil anak. Dalam permainan Bubble, di dalamnya terdapat unsur kegiatan pencampuran warna dasar/primer sehingga dapat menghasilkan warna baru,

pengukuran (menakar) deterjen, pengenalan karakteristik zat (cair, padat, dan gas). Mencampur warna kuning, merah, atau biru dapat menciptakan warna lain seperti orange, hijau, dan ungu. Melalui pencampuran warna ini anak dapat menjelaskan warna apa yang digunakan dan warna apa yang tampak pada kertas. Hal ini dapat menjadi dasar pengetahuan anak tentang warna primer dan warna sekunder. Mencampurkan satu warna dengan warna yang lain dapat menciptakan warna baru.

33

2.4.2 Cara Pembuatan Media Bubble Sabun dan deterjen adalah bagian integral dari produk rumah tangga. Sementara itu, anak-anak suka mandi busa, mereka pasti akan menyukai ide membuat gelembung sabun di rumah, tanpa membeli sesuatu dari luar. Cara membuat gelembung dengan sabun cuci piring atau sampo, hal yang menarik untuk belajar. Langkah-langkah untuk membuat bubble atau gelembung adalah sebagai berikut : 1. Air 1 ember, dibagi menjadi 3 dalam wadah yang lumayan besar. 2. Deterjen merk Rinso, sabun colek Krim Ekonomi, sampo, sabun batang, sabun pencuci tangan/handsoap dan sunlight. 3. Pewarna makan atau cat berbahan dasar air yang tidak beracun 3 warna (merah, biru dan kuning). 4. Gelas aqua 5. Sedotan 6. Kertas HVS 7. Serbet 8. Pengaduk dari kayu 9. Sendok teh/sendok kecil Sebelum kegiatan dimulai, ibu guru mengkondisikan anak terlebih dahulu. Kemudian mengajak anak ke area sains untuk melakukan percobaan dengan media bubble/bermain gelembung sabun. Langkah-langkah percobaan ini adalah : 1. Membagi air putih ke dalam tiga wadah yang sama besar.

34

2. Kemudian memasukkan 3 botol pewarna makanan ke dalam wadah yang telah berisi air putih dengan masing-masing warna merah, kuning dan biru. 3. Mengaduk air yang sudah dicampur pewarna dengan pengaduk kayu. 4. Setelah itu masing-masing anak mengambil gelas aqua dan menakar air yang sudah diberi pewarna dengan takaran ¼ gelas warna merah, biru atau kuning sesuai petunjuk guru. 5. Kemudian anak mengambil warna lain, misal merah+kuning supaya menjadi warna orange, biru+kuning supaya menjadi warna hijau dan warna merah biru supaya menjadi warna ungu dengan takaran yang sama yaitu ¼ gelas aqua. 6. Setelah campuran warna dasar dibuat, anak memilih salah satu (sabun colek krim ekonomi/sabun cair/sabun batang/handsoap/sampo/deterjen rinso)

masing-masing percobaan dengan sendok teh/sendok kecil dengan 3 takaran, kemudian diaduk dengan kayu pengaduk. 7. Setelah diaduk larutan deterjen tersebut ditiup menggunakan sedotan sampai berbusa dan busa tersebut meluap sampai keluar dari gelas. 8. Kalau busa yang dihasilkan sudah meluap, gelas segera ditutup dengan kertas HVS dan ditunggu selama kurang lebih 3 menit dan sedotan ditaruh di atas serbet. 9. Menunjukkan cara meletakkan kertas HVS di atas mangkuk kepada anak. Membiarkanya selama beberapa detik, bentuk gelembung aka terlihat dari balik kertas HVS. 10. Anak mengangkat kertas tersebut dan melihat motif hasil hasil yang ada pada kertas tersebut.

35

11. Setelah gambar gelembung mengering, dorong anak untuk mendiktekan beberapa kalimat mengenai gelembung dan membentuk gambar dari lukisan gelembungnya tersebut. 12. Meminta anak untuk membuang sedotan setelah mereka melukis gelembung. (http://www.colorsforearth.com/PDF-Files/Classroom/BubblePainting.pdf.) 2.5. Hakikat Anak Usia Dini Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Menurut Yuliani Nurani (2009:54) bahwa anak usia dini adalah anak berada pada rentang usia 0-8 tahun, dimana pada masa ini anak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Hampir 80% kecerdasan anak mulai terbentuk, tahap awal pertumbuhan dan perkembangan anak dimulai pada masa prenatal. Selanjutnya Montessori dalam Hainstock (1999 :10-11) yang dikutip Yuliani bahwa masa usia dini disebutkan sebagai “masa peka”, yang merupakan masa munculnya berbagai potensi tersembunyi (hidden potency) atau suatu kondisi dimana suatu fungsi jiwa membutuhkan rangsangan tertentu untuk berkembang. Anak usia dini atau anak yang berada pada usia antara 0-6 tahun merupakan anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis yang meliputi perkembangan intelektual, bahasa, motorik dan sosio emosional. Beberapa hakikat anak usia dini yang dapat dipahami antara lain : 1. Setiap anak adalah pribadi yang unik.

36

Tidak ada satu anak pun di dunia ini yang mempunyai jasad dan fikiran serta persaan yang sama, sekalipun keduanya adalah kembar siam. Setiap anak akan menunjukkan pola pandangan, sikap serta perilaku yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pandangan, sikap dan perilaku anak akan dipengaruhi oleh keadaan komponen hidup yang dimilikinya. Berdasarkan kondisi ini, guru akan menjumpai berbagai ragam keunikan anak yang sangat indah dalam proses belajar mengajar. Ada anak yang mempunyai sifat pendiam, ada yang agresif dan tidak mau diam, ada anak yang pemalu, pemberani, pemarah, kemampuan berbahasanya baik tetapi keterampilan motorik halusnya kurang baik, ada anak yang jasmaninya sangat baik tetapi daya pikirnya kurang baik, dan banyak lagi yang tidak dapat dihitung satu persatu. Ragam keunikan tersebut harus mampu diantisipasi dan dihadapi guru pada waktu sebelum, ketika dan setelah melaksanakan pembelajaran. 2. Anak berkembang secara bertahap Setiap anak mengalami suatu proses perubahan pada berbagai aspek atau dimensi (seperti bahasa, motorik, daya pikir, minat). Perubahan pada berbagai aspek tersebut berlangsung secara teratur dan progresif (menuju ke arah yang lebih maju, lebih baik atau lebih sempurna). Keteraturan berbagai perubahan itu dapat diamati dari adanya perubahan yang berlangsung secara bertahap pada setiap anak. Selain itu anak juga memiliki dan menunjukkan tempo serta irama perkembangannya sendiri-sendiri. Ada anak yang cepat mampu memahami

37

dan melaksanakan perintah serta tugas yang diberikan guru. Ada juga anak yang lambat memahami isi tugas, bahkan perlu memperoleh penjelasan yang lebih rinci mengenai tugas yang akan dikerjakannya. 3. Anak adalah pelajar yang aktif Anak bukanlah individu tanpa isi apa-apa (seperti botol kosong). Ia dilahirkan dengan membawa sejumlah potensi (kemampuan dasar untuk berkembang) yang harus dikembangkan lebih lanjut. Sebagai contoh anak usia TK akan muncul suatu potensi (daya) untuk bereksplorasi terhadap lingkungan sekitar. Potensi bereksplorasi akan terlihat antara lain pada seringnya anak mengajukan pertanyaan secara spontan, tertarik pada sesuatu yang baru dilihat serta senang membongkar dan berusaha memasang kembali sesuatu. 4. Anak merupakan suatu sistem energi Setiap anak dapat dipandang sebagai suatu sistem energi. Bagianbagian (komponen) dalam sistem energinya diorganisasikan dalam struktur tubuh dan mental serta dikoordinasikan dalam berbagai fungsi. Sebagi suatu sistem, setiap pandangan, sikap, dan perilaku (gerak motorik) anak selalu berkaitan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Anak adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Mereka memiliki dunia dan karakteristik sendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Ia sangat aktif, dinamis, antusias, dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, serta seolah-olah tidak pernah berhenti belajar.

38

2.5.1. Karakteristik Anak Usia Dini Anak usia dini adalah anak yang berusia dari 0-8 tahun, mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Memiliki rasa ingin tahu yang besar. Anak usia dini sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Pada masa bayi rasa ingin tahu ini ditunjukkan dengan meraih benda yang ada dalam jangkauannnya, kemudian memasukkannnya ke mulutnya. Pada usia 3-4 tahun anak sering membongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Anak juga mulai gemar bertanya meski dalam bahasa yang masih sangat sederhana. b. Merupakan pribadi yang unik Meskipun banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini, setiap anak memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor genetik dan lingkungan. Untuk itu pendidik perlu menerapkan pendekatan individual dalam menangani anak usia dini. c. Suka berfantasi dan berimajinasi Fantasi adalah kemampuan tanggapan baru dengan pertolongan

tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan objek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata (Siti Aisyah, 2008). Anak usia dini sangat senang membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Bahkan terkadang mereka dapat

39

menciptakan adanya teman imajiner. Teman imajiner itu bisa berupa orang, benda, ataupun hewan. d. Masa potensial untuk belajar Masa itu sering juga disebut sebagai “golden age” atau usia emas. Karena pada rentang usia itu anak mengalami pertumbuhan dan

perkembangan yang sangat pesat dalam berbagai aspek. Pendidik perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi mengisinya dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak. e. Menunjukkan sikap egosentris Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu terlihat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis, atau merengek sampai keinginannya terpenuhi. f. Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Perhatian anak akan mudah beralih pada hal lain terutama yang menarik perhatiannya. Sebagai pendidik dalam menyampaikan pembelajaran

hendaknya memperhatikan hal itu. g. Sebagai bagian dari makhluk sosial Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Ia mulai belajar berbagi, mau menunggu giliran, dan mengalah terhadap temannya. Melalui interaksi siosial ini anak membentuk konsep

40

dirinya. Ia mulai belajar bagaimana caranya agar ia bisa diterima lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini anak mulai belajar untuk berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya karena ia mulai merasa membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Selain karakteristik yang unik tersebut perlu ada perhatian pada titik kritis perkembangan yang perlu diperhatikan pada anak usia dini. Titik kritis itu meliputi : a. Membutuhkan rasa aman, istirahat dan makanan yang bergizi. b. Menirukan sesuatu hal yang dilihat dan didengarnya. c. Membutuhkan latihan dan rutinitas. d. Selalu banyak bertanya dan menginginkan jawaban. e. Cara berpikir anak berbeda dengan orang dewasa. f. Membutuhkan pengalaman langsung. g. Trial and error menjadi hal pokok dalam belajar. h. Bermain merupakan dunia anak-anak. Sebagai pendidik anak usia dini dan juga sebagai orang tua kita perlu mengetahui karakteristik anak sehingga kita bisa mendukung perkembangan anak secara optimal. (http://wahyuti4tklarasati.b;ogspot.com/2011/11/karakteristik-

anak-usia-dini.html). 2.5.2. Karakteristik Anak Usia 4-5 Tahun Karakteristik anak pada usia ini, anak mempergunakan ketrampilan gerak dasar (berlari, berjalan, melompat dan sebagianya) sebagai bagian dalam permainan mereka. Mereka masih sangat aktif, tetapi lebih bertujuan dan tidak

41

terlalu mementingkan untuk bisa beraktivitas sendiri. Biasanya mereka sudah berhasil menguasai berbagai ketrampilan baru dengan baik, seperti merangkak maju dan mundur, dan melompat dengan satu kaki. mereka masih

menikmati belajar hal dengan melakukannya sendiri. Kebanyakan mereka mampu memakai dan melepas baju sendiri, mengancingkan dan melepaskan kancing baju, kecuali memakai sepatu. Bisa melakukan kegiatan harian dengan cepat mereka bersedia mengambil resiko untuk mencapai tujuannya. a. Karakteristik Sosial Peningkatan dalam permainan kelompok terjadi pada usia ini, meskipun jumlah anak dalam kelompok permainan masih kecil, mereka mampu

berkomunikasi lebih baik dengan anak lain, manambahkan angka angka baru dengan lebih mudah dan senang. Pada usia ini anak lebih menikmati permainan situasi “kehidupan nyata”. Anak bermain bersama dengan saling memberi dan menerima arahan. Anak mulai mampu berbagi dan bergiliran dengan inisiatif mereka sendiri. Anak menjadi sosialis. b. Perkembangan Emosional Anak usia 4-5 tahun lebih mampu menggunakan bahasa untuk mengartikan tindakan tindakan fisik, di dalam situasi konflik. memahami peraturan dengan lebih baik, bahkan sering menuntut orang atau teman lain untuk matuhi aturan tersebut. Bahkan terkadang menetapkan peraturan tersebut terhadap orang lain., meskipun dia sendiri tidak melaksanakannya. Anak mulai mencari dukungan kepada kelompok san teman temannya. Dia tidak lagi tergantung kepada orang lain untuk persetujuan dan pengakuan dirinya.

42

c. Kemampuan Kognitif Bahasanya telah berkembang, anak mampu menangani secara lebih efektif denagn ide idenya melalui bahasa dan mulai mampu mendeskripsikan konsepkonsep yang lebih abstrak. mereka menikmati kemampuannya menggunakan kata kata dan belajar mengenai makna dan pengaruh dari kata kata tersebut. Anak dalam usia ini mulai bertanya tentang banyak hal. Kata-kata ‘mengapa’ atau ‘bagaimana’ menjadi sangat penting bagi mereka. Skema obyek dan pemikiran menjadi semakin besar dan semakin banyak, ketika mereka mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dan mengembangkan pemikirannya. Contoh, konsep mereka mengenai waktu menjadi semakin luas. Mereka bisa memahami hari, minggu, bahkan bulan. Hal-hal tersebut menjadi sesuatu yang bararti bagi maereka. d. Catatan untuk Guru dan Orang Tua Anak usia 4 -5 tahun dapat di gambarkan sebagai “mobil sport” di bandingkan saat mereka berumur 3 tahun (lebih cepat, tangkas, halus, pamer, dan gerakan praktis). Mereka membutuhkan lebih banyak tempat dan kebebasan untuk menguji kemampuan dan ketrampilan baru mereka. Para orang dewasa seharusnya membantu mereka dalam usahanya mencoba cara-cara baru dan mendukung mereka dalam proses tersebut. (http://pgtkdarunnajah.com/2012/04/25/karakteristik-anak-usia-4-5-tahun/) Selain itu karakteristik anak usia 4-5 tahun adalah : a. Anak sudah mampu menangani masalah secara lebih efektif dengan ideidenya.

43

b. Anak mampu mendeskripsikan konsep-konsep yang bersifat abstrak. c. Anak selalu banyak bertanya dalam segala hal. d. Anak mulai menunjukkan hubungan dan kemampuan bekerja sama yang lebih erat dengan temannya e. Anak memilih teman berdasarkan kesamaan aktivitas dan kesenangannya.anak mampu memahami pembicaraan orang lain.

2.5.3. Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini 2.5.3.1. Pengertian Kognitif Manusia adalah makhluk Tuhan yang telah diciptakan secara sempurna dan istimewa, yang telah dikaruniai akal dan pikiran. Melalui akal dan pikiranlah manusia dapat hidup dan bersosialisasi dengan sesama serta makhluk lainnya. Kemampuan kognitif ini berisikan akal dan pikiran manusia yang harus dikembangkan bersamaan dengan kemampuan lainnya (bahasa, sosial-emosional, moral dan agama). Pamela Minet dalam Diana mendefinisikan bahwa perkembangan intelektual adalah sama dengan perkembangan mental, sedangkan perkembangan kognitif adalah perkembangan pikiran. Pikiran adalah bagian dari proses berpikir otak. Kemampuan kognitif ini berkembang bertahap sejalan dengan

perkembangan fisik dan saraf-saraf yang berada di pusat susunan saraf. Multiple Intelligences (MI) atau Kecerdasan Majemuk adalah salah satu teori tentang kecerdasan yang dikenalkan oleh Dr. Howard Gardner. Teori

44

kecerdasan majemuk dikembangkan berdasarkan pada pandangan bahwa pada teori kecerdasan yang telah dikembangkan sebelumnya hanya melihat kecerdasan manusia dari sisi linguistik dan logika matematika, sedangkan sisi kecerdasan manusia yang lain tidak dilihat. Gardner memandang kecerdasan manusia berdasarkan berbagai peranan yang terdiri dari kemampuan untuk menyelesaikan masalah, atau menciptakan produk yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya masyarakat. Sudut pandang baru tentang kecerdasan ini diyakini lebih manusiawi dan lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan teori kecerdasan sebelumnya. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Gardner dan timnya, maka Gardner mendapatkan 7 kecerdasan. Pada individu normal suatu kecerdasan ini tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berfungsi bersama-sama dengan kecerdasan yang lain. Namun, biasanya pada seseorang akan memiliki beberapa kecerdasan yang terlihat menonjol. (http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1958683multiple-intelligences-kecerdasan-majemuk-teori/#ixzz2L9ANmYPU.

2.5.3.2. Teori Perkembangan Kognitif Menurut Piaget 2.5.3.2.1. Pengertian Kognitif Menurut Piaget Teori yang paling sering digunakan untuk menjelaskan perkembangan kognitif manusia adalah teori perkembangan yang dikemukakan oleh Jean Piaget, seorang ahli dari Swiss. Menurut Soemiarti Patmonodewo (2003:11) bahwa Dalam menyusun teorinya Piaget banyak dipengaruhi oleh ilmu biologi dan epistemologi. Sebelum Piaget, pandangan psikologi terhadap perkembangan

45

kognitif anak didominasi oleh perspektif biologi-maturasi, yang memberikan pengaruh “alam” (nature) pada perkembangan, dan perspektif lingkungan belajar, yang memberikan bobot hampir sepenuhnya pada pengaruh “pengasuhan” (nurture). Sebaliknya, Piaget dalam Catron dan Allen yang dikutip oleh Yuliani (2009 :58) berfokus pada interaksi antara kemampuan naturasi alami anak dan interaksinya dengan lingkungan. Piaget memandang anak sebagai partisipan aktif di dalam proses perkembangan biologis atau rangsang-rangsang eksternal. Piaget memandang anak mencari jawaban dengan melakukan eksperimen terhadap dunia untuk mengetahui apa yang terjadi.

2.5.3.2.2. Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Piaget Perkembangan kognitif berpusat pada perkembangan cara penerimaan dan mental anak. Menurut Piaget (1999 : 10) anak-anak mencoba berusaha memahami hal-hal baru untuk mengembangkan pola pikir anak dan jika pemahaman anak tidak tercapai, maka anak akan berusaha untuk menyesuaikannya dengan cara membatasinya. Perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif. Artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Dengan demikian apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya akan mendapat hambatan.

46

Selanjutnya menurut Soemiarti (2003:28), Piaget membagi perkembangan kognitif ke dalam empat tahap, yaitu tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasional konkrit, dan tahap operasional formal. 1. Tahap Sensorimotor ( usia 0-2 tahun ) Pada masa dua tahun kehidupannya anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya terutama melalui aktivitas sensori (melihat, meraba, merasa, mencium dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerak fisik dan aktivitas yang berkaitan dengan sensori tersebut. Selama dalam tahap ini, pengetahuan bayi tentang dunia adalah terbatas pada persepsi yang diperoleh dari penginderaannya dan kegiatan motoriknya. Perilaku yang dimiliki masih terbatas pada respon motorik sederhana yang disebabkan oleh rangsangan penginderaan. Anak

menggunakan keterampilan dan kemampuannya yang dibawa sejak lahir seperti melihat, menggenggam, dan mendengar untuk mempelajari

lingkungannya. 2. Tahap Praoperasional ( Usia 2-7 tahun ) Pada tahap praoperasional anak mulai menyadari bahwa

pemahamannya tentang benda-benda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor akan tetapi juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolik. Kegiatan simbolik ini dapat berbentuk melakukan percakapan melalui telepon maianan atau berpura-pura menjadi bapak atau ibu dan kegiatan simbolik lainnya. Tahap ini memberikan andil yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Pada tahap praoperasional

47

anak tidak berpikir secara operasional yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan jalan menginternalisasi suatu aktivitas yang memungkinkan anak mengaitkannya dengan kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya. Tahap ini merupakan masa permulaan bagi anak untuk membangun kemampuan dalam menyusun pikirannya. Oleh sebab itu cara berpikir anak pada tahap ini belum stabil dan tidak terorganisasi dengan baik. Tahap praoperasional dapat dibagi ke dalam tiga sub tahap fungsi simbolik, sub tahap berpikir secara egosentris dan intuitif. Sub tahap fungsi simbolik terjadi pada usia 2-4 tahun. Pada masa ini anak telah memiliki kemampuan untuk menggambarkan suatu objek yang secara fisik tidak hadir. Kemampuan ini membuat anak dapat menggunakan balok-balok kecil untuk membangun rumah, menyusun puzzle dan kegiatan lainnya. Pada masa ini anak sudah dpat menggambar manusia secara sederhana. Sub tahap tahap ini juga dikenal dengan sub tahap berpikir egosentris. Berpikir secara egosentris ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspektik atau cara berpikir orang lain. Benar atau tidak benar, bagi anak pada tahap ini ditentukan oleh cara pandangnya sendiri. Sub tahap berpikir secara intuitif terjadi pada usia 4-7 tahun. Masa ini disebut tahap berpikir secara intuitif karena pada saat ini anak kelihatannya mengerti dan mengetahui sesuatu, seperti menyusun balok menjadi rumah, akan tetapi pada hakikatnya ia tidak mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan balok itu dapat disusun menjadi rumah. Dengan kata lain anak

48

belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian. 3. Tahap Operasional Kongkrit (7-12 tahun) Pada tahap operasional kongkrit kemampuan anak untuk berpikir secara logis sudah berkembang, dengan syarat objek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara kongkrit. Kemampuan berpikir logis ini terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan objek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan tata urutnya, kemampuan untuk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif. 4. Tahap Operasional Formal (12 tahun sampai usia dewasa) Tahap operasional formal ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir kongkrit ke cara berpikir abstrak. Kemampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah, yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotsis tersebut.

2.5.3.3. Aspek- aspek Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan anak berpikir dengan penalaran yang semakin canggih seiring dengan bertambahnya usia. Mulai dari anak yang bersifat alami kemudian memiliki ketertarikan terhadap dunia dan secara aktif mencari informasi yang dapat membantu mereka memahami dunia yang semakin maju. Anak pun akan terus-menerus bereksperimen dengan obyek-

49

obyek yang mereka jumpai. Anak-anak tidak hanya sekedar bereksperimen namun mereka juga mengumpulkan hal-hal yang telah mereka pelajari kemudian terisolasi. Piaget mengemukakan bahwa anak-anak mengontruksi keyakinankeyakinan dan pemahaman-pemahaman mereka berdasarkan pengalaman (konstruktivisme). Menurut teori Piaget dalam Ahmad Rifa’i (2009:29), bahwa pada fase -fase perkembangan kognitif dapat diketahui bahwa perkembangan kognitif anak usia dini berada pada fase/tahap praoperasional yang mencakup tiga aspek, yaitu : 1. Berpikir Simbolik Aspek berpikir simbolik adalah kemampuan untuk berpikir tentang obyek dan peristiwa walaupun obyek dan peristiwa tersebut tidak hadir secara fisik (nyata) di hadapan anak. Contoh anak bermain drama dengan memanfaatkan balok kayu sebagai telepon. 2. Berpikir Egosentris Aspek berpikir secara egosentris yaitu cara berpikir tentang benar atau benar, setuju atau tidak setuju berdasarkan sudut pandang sendiri. Oleh sebab itu, anak belum meletakkan cara cara pandangannya di sudut pandang orang lain. Contoh anak melakukan berbicara sendiri ketika guru orang dewasa/guru sedang memberikan penjelasan tentang tema kegiatan hari itu tetapi anak merasa bahwa dirinya itu benar. 3. Berpikir Intuitif Fase berpikir intuitif yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu, seperti menggambar atau menyusun balok, akan tetapi tidak mengetahui

50

dengan pasti alasan untuk melakukannya, anak membuat coretan-coretan di kertas tanpa mengetahui apa yang sedang ditulisnya.

2.5.3.4. Prinsip-Prinsip Perkembangan Kognitif Dalam memahami dunia secara aktif, anak-anak menggunakan skema (kerangka kognitif atau kerangka referensi). Sebuah skema (sctrcmal adalah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Skema bisa merentang mulai dari skema sederhana (seperti skema sebuah mobil) sampai skema kompleks (seperti skema tentang apayang membentuk alam semesta). Anak usia enam tahun yang mengetahui bahwa lima mainan kecil dapat disimpan didalam kotak kecil berukuran sama berarti ia sudah memanfaatkan skema angka atau jumlah. Menurut Piaget yang dikutip Achmad Rifa’i (2009:25) bahwa

perkembangan kognitif anak pada hakikatnya merupakan hasil dari proses asimilasi (assimilation), akomodasi (accomodation) dan ekuilibrium

(aquilibrium). 1. Skema Skema menggambarkan tindakan mental dan fisik dalam mengetahui dan memahami objek. Skema merupakan pengetahuan yang membantu seseorang dalam memahami dan menafsirkan dunianya. Dalam pandangan Piaget, skema meliputi kategori pengetahuan dan proses memperoleh pengetahuan.

51

Dalam kehidupan seseorang, dia selalu mengalami sesuatu, dan informasi yang diperoleh melalui pengalaman itu kemudian digunakan untuk memodifikasi, menambahkan, atau mengubah skema yang telah dimiliki sebelumnya. Misalnya, anak memiliki skema mengenai jenis binatang, misalnya kambing. Apabila anak hanya memilki pengalaman bahwa kambing itu kecil, maka dia akan menggeneralisasikan bahwa semua kambing adalah binatang kecil. Namun, seandainya anak itu menghadapi kambing yang besar, maka anak itu memasukkan informasi baru, memodifikasi skema yang telah dimiliki, yang pada akhirnya dia dapat mengatakan bahwa kambing itu ada yang besar dan ada pula yang kecil. 2. Asimilasi dan Akomodasi Asimilasi berkaitan dengan penyerapan informasi baru ke dalam informasi yang telah ada di dalam skemata (struktur kognitif) anak. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang agak atau sesuai dengan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya. Dengan menggunakan contoh tersebut di atas, dengan melihat kambing kemudian anak itu menamakannya kambing, berarti anak itu telah mengasimilasikan binatang tersebut ke dalam skema kambing yang ada pada anak tersebut. Contoh lain pada waktu anak telah mempunyai skema tentang buah jeruk yaitu bentuknya yang bulat dan namanya. Setelah itu anak tersebut menggenggam jeruk dan menggigitnya. Pada fase ini terjadi proses asimilasi yaitu proses penyerapan informasi baru ke dalam informasi yang telah ada di dalam skema anak, sehingga anak memahami bahwa jeruk harus dikupas dan

52

baru dapat dimakan. Pada tahap ini telah terjadi proses akomodasi karena pengetahuan anak tentang jeruk telah diperluas, yaitu jeruk kalau akan dimakan harus dikupas dulu. Akomodasi merupakan proses mengubah skema yang telah dimilki dengan informasi baru. Akomodasi itu melibatkan kegiatan pengubahan skema, atau gagasan yang telah dimiliki karena adanya informasi atau pengalaman baru. Skema baru itu dikembangkan terus selama dalam proses akomodasi. 3. Ekuilibrium Piaget percaya bahwa setiap anak mencoba memperoleh keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi dengan cara menerapkan mekanisme ekuilibrium. Anak mengalami kemajuan karena adanya perkembangan kognitif, maka penting untuk mempertahankan keseimbangan antara menerapkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (asimilasi) dan mengubah perilaku karena adanya pengetahuan baru (akomodasi).

Ekuilibrium ini menjelaskan bagaimana anak mampu berpindah dari tahapan berpikir ke tahapan berpikir berikutnya. Ekuilibrium berkaitan dengan usaha anak untuk mengatasi konflik yang terjadi dalam dirinya pada waktu ia menghadapi suatu masalah. Untuk memecahkan masalah tersebut, ia menyeimbangkan informasi yang baru yang berkaitan dengan masalah yang dihadapinya dengan informasi yang telah ada di dalam skematanya secara dinamis. Sebagai contoh pada waktu anak diberi buah lain yang berkulit, maka anak akan menyeimbangkan pengetahuannya

53

tentang jeruk dengan cara-cara yang harus dilakukannya agar buah tersebut dapat dimakan.

2.5.3.5. Teori Kognitif Menurut Bruner Dalam kehidupan, anak dihadapkan kepada persoalan yang menuntut adanyapemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya. Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar karena sebagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir. Menurut Achmad Rifa’i (2009:31) bahwa Jerome Bruner dalam menyusun teori perkembangan kognitif memperhitungkan enam hal sebagai berikut ini : 1. Perkembangan intelektual ditandai oleh meningkatnya variasi respon terhadap stimulus. 2. Pertumbuhan tergantung pada perkembangan intelektual dan sistem

pengolahan informasi yang dapat menggambarkan realita. 3. Perkembangan intelektual memerlukan peningkatan kecakapan untuk

mengatakan pada dirinya sendiri dan orang lain, melalui kata-kata atau simbol, mengenai apa yang telah dikrjakan dan apa yang akan dikerjakannya. 4. Interaksi antara guru dengan siswa adalah penting bagi perkembangan kognitif. 5. Bahasa menjadi kunci perkembangan kognitif.

54

6. Pertumbuhan kognitif ditandai oleh semakin meningkatnya kemampuan menyelesaikan berbagai alternatif secara simultan, melakukan berbagai kegiatan secara bersamaan, dan mengalokasikan perhatian secara runtut pada berbagai situasi tertentu. Berbeda dengan Piaget, Bruner dalam memahami karakteristik

perkembangan kognitif tidak didasarkan pada usia tertentu. Kemudian berdasarkan pengamatannya terhadap perilaku anak, Bruner memiliki keyakinan bahwa ada tiga tahap perkembangan kognitif, yaitu : Tahap enaktif. Pada tahap ini anak memahami lingkungannya. Misalnya, tidak ada kata yang membantu orang dewasa ketika mengajar anak berlatih naik sepeda. Belajar naik sepeda berarti lebih mengutamakan kecakapan motorik. Pada tahap ini anak memahami objek sepeda berdasarkan pada apa yang dilakukannya, misalnya dengan memegang, memnggerakkan, memukul, menyentuh dan sebagainya. Tahap ikonik. Pada tahap ini informasi dibawa anak melalui imageri. Anak menjadi tahanan atas dunia perseptualnya. Anak dipengaruhi oleh cahaya yang tajam, gangguan suara, dan gerakan. Karakteristik tunggal pada objek yang diamatai dijadikan sebagai pegangan, dan pada akhirnya anak mengembangkan memori visual. Tahap simbolik. Pada tahap ini tindakan tanpa pemikiran terlebih dahulu dan pemahaman perseptual sudah berkembang. Bahasa, logika, dan matematika memegang peranan penting. Tahap simbolik ini memberikan peluang anak untuk

55

menyusun gagasannnya secara padat, misalnya menggunakan gambar yang saling berhubungan ataupun menggunakan bentuk-bentuk rumus tertentu.

2.5.3.6. Teori Kognitif Menurut Vygotsky Tahap perkembangan anak tidak bisa berpindah ke ketahap berikutnya bila tahap sebelumnya belum selesai dan setiap umur tidak bisa menjadi patokan utama seseorang berada pada tahap tertentu karena tergantung dari ciri perkembangan setiap individu yang bersangkutan. Bisa saja seorang anak akan mengalami tahap praoperasional lebih lama dari pada anak yang lainnya sehingga umur bukanlah patokan utama. Menurut Achmad Rifa’i (2009:34) ada tiga konsep yang dikembangkan dalam teori Vygotsky : 1. Keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental. 2. Kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental 3. Kemampuan kognitif beraal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Vygotsky mengemukakan tentang fungsi alat berpikir (tool of the mind) pada setiap individu berbeda antara satu individu dengan indivisu yang lain. Melalui alat berpikir yang dimiliki oleh setiap individu inilah perkembangan kognitif seseorang berkembang sejak usia dini ke usia dewasa.

56

Secara spesifik Vygotsky mengemukakan beberapa kegunaan dari alat berpikir, diantaranya : 1. Membantu memecahkan masalah Adanya alat berpikir inilah seseorang akan mampu mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapinya. Kerangka berpikir yang terbentuk pada fungsi pikir manusialah yang akan menentukan keputusan yang diambilnya dalam pemecahan masalah yang dihadapi. 2. Memudahkan dalam melakukan tindakan Vigotsky berpendapat bahwa dengan alat berpikirnya setiap individu akan dapat memilih tindakan atau perbuatan yang seefektif dan seefisien mungkin dalam mencapai tujuan. Kepraktisan dalam bertindak yang sering kali ditunjukkan oleh seorang anak dalam melakukan suatu aktivitas merupakan cerminan dari keberfungsian alat berpikirnya. 3. Memperluas kemampuan Berdasarkan keberfungsian dari alat berpikirlah setiap individu akan mampu memperluas wawasan berpikirnya melalui berbagai aktivitas untuk mencari dan menemukan berbagai pengetahuan yang ada di sekitar. Melalui eksplorasi yang dilakukan anak melalui panca inderanya, maka akan dapat semakin banyak hal yang ia ketahui. 4. Melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas alaminya Alat berpikir manusia pada dasarnya akan berkembang secara alamiah mengikuti apa yang terjadi di lingkungannya. Semakin banyak stimulasi yang

57

diperoleh anak saat berinteraksi dengan lingkungannya, maka semakin cepat berkembang fungsi pikir. Vygotsky meningkatkan bahwa peningkatan fungsi-fungsi mental

seseorang terutama berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan sekedar dari individu itu sendiri. Teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme, yaitu suatu proses mengkonstruksi pengetahuan baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya. Konsep-konsep penting teori revolusi-sosiokultural adalah hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development), zona perkembangan proksimal (zone of proksimal development), dan mediasi. Vygotsky percaya bahwa proses kognitif tertinggi yang berkembang anak berada di sekolah adalah saat terjadi interaksi antara anak dan pendidik.

2.5.3.7. Kemampuan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun Pengetahuan akan pertumbuhan dan perkembangan anak sangat penting agar perkembangan anak dapat ditinjau dengan baik. Pertumbuhan seorang anak memang menyesuaikan dengan usia dan menjadi harapan semua orang tua agar anak dapat berkembang sesuai dengan usianya. Usia balita lebih membutuhkan perhatian ekstra dibanding misalnya bayi usia 4-5 bulan. Usia 4-5 bulan lebih dominan pada perkembangan sensor motorik saja. Namun pada usia 1 hingga 5 tahun merupakan tahap yang sangat penting dalam perkembangan secara keseluruhan. Perkembangan otak dan kecerdasan. Selain itu, anak akan

58

mengalami pertumbuhan fisik, perkembangan bahasa, emosional, dan kognitif. Hal ini semakin tampak di usia 4-5 tahun. Perkembangan kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun yaitu : 1. Mengenal fungsi benda dengan benar 2. Mengelompokkan berdasarkan bentuk, warna, ukuran dan fungsi secara sederhana 3. Mencocokkan hingga 11 warna 4. Menunjuk hingga 6 warna yang disebutkan, 5. Menyebutkan 3 warna dasar, 6. Mengenal dan menyebutkan bentuk geometri ( lingkaran, persegi, segitiga) 7. Menunjukkan bentuk geometri yang diminta, 8. Memahami konsep banyak-sedikit, besar-kecil, penuh-kosong, ringan-berat, panjang-pendek, gemuk-kurus, 9. Memahami konsep buka-tutup, depan-belakang, keluar-masuk, atas-bawah 10. Mengklasifikasikan sekitar empat macam benda 11. Mengetahui sedikitnya sembilan fungsi benda 12. Mengerti apa yang harus dilakukan dalam situasi tertentu 13. Menggunakan balok atau benda lain untuk membangun bangunan yang lebih kompleks. Kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini yaitu : 1. Pengetahuan Umum dan Sains

59

a. Mengenal benda berdasarkan fungsi ( pisau untuk memotong, pensil untuk menulis ), b. Menggunakan benda-benda sebagai permainan simbolik ( kursi sebagai mobil ), c. Mengenal gejala sebab akibat yang terkait dengan dirinya, d. Mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari ( gerimis, hujan, gelap, terang, temaram, dsb), e. Mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri 2. Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola a. Mengklasifikasikan benda berdasarkan bentuk atau warna atau ukuran, b. Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis atau kalompok yang berpasangan dengan 2 variasi, c. Mengenal pola AB-AB dan ABC-ABC, d. Mengurutkan benda berdasarkan 5 variasi ukuran atau warna.

2.5.3.8. Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif pada seorang anak tidak serta-merta tumbuh begitu saja. Setiap anak adalah makhlik yang unik. Hal ini berarti bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perkembangan kognitif pada anak yang satu dengan yang lain tidak sama. Perbedaan perkembangna kognitif ini tidak lepas dari beberapa faktor : 2.5.3.8.1. Faktor Hereditas/Keturunan

60

Teori hereditas atau nativisme pertama kali dipelopori oleh seorang ahli filsafat. Dia berpendapat bahwa manusia lahir sudah membawa potensi-potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi lingkungan. 2.5.3.8.2. Faktor lingkungan Jhon Loke berpendapat bahwa manusia dilahirkan sebenarnya suci atau tabularasa. Menurut pendapatnya, perkembangan manusia sangatlah ditentukan oleh lingkungannya. Berdasarkan pendapat Jhon Loke tersebut perkembangan taraf intelegensi sangatlah ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan hidupnya.(http://id.wikipedia.org/wiki/Tabula_rasa) 2.5.3.8.3. Kematangan Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan berhubungan erat dengan usia kronologis (usia kalender). 2.5.3.8.4. Pembentukan Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Pembentukan dapat dibedakan menjadi pembentukan sengaja (sekolah/formal) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam/informal), sehingga manusia berbuat intelejen karena untuk

mempertahankan hidup ataupun dalam bentuk penyesuaian diri. 2.5.3.8.5. Minat dan bakat Minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Apa yang menarik minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik lagi. Sedangkan bakat berarti sebagai

61

kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat tewujud. Bakat seseorang akan mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Artinya seseorang yang memiliki bakat tertentu, maka akan semakin mudah dan cepat mempelajari hal tersebut. 2.5.3.8.6. Kebebasan Kebebasan yaitu kebebasan manusia berpikir divergen (menyebar) yang berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode tertentu dalam memecahkan masalah-masalah juga bebas dalam memilih masalah sesuai dengan kebutuhannya.

2.6. Model Pembelajaran Area di TK Model pembelajaran adalah suatu desain atau rancangan yang

menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan anak berinteraksi dalam pembelajaran, sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri anak. Adapun komponen model pembelajaran meliputi; konsep, tujuan pembelajaran, materi/tema, langkah-langkah/prosedur, metode, alat/sumber belajar, dan teknik evaluasi. Terkait dengan upaya memaksimalkan peran guru dan anak, dewasa ini pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional memperkenalkan model pembelajaran di TK dengan pendekatan area. Dalam pembelajaran dengan pendekatan area, guru dituntut lebih kreatif dan sistematis pada setiap proses pembelajarannya. Ide dan kreasi guru harus selalu muncul agar tidak membosankan.

62

Model pembelajaran berdasarkan area pada dasarnya hampir sama dengan model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan. Model ini lebih memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajarannya dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak dan menghormati keberagaman budaya. Kecuali itu juga menekankan pada pengalaman belajar bagi setiap anak, pilihan-pilihan kegiatan dan pusat-pusat kegiatan serta peran serta keluarga dalam proses

pembelajaran.(http://paudanakceria.wordpress.com/2011/02/17/model-modelpembelajaran-di-taman-kanak-kanak.html). Menurut Yuliani (2009:140), pembelajaran yang berpusat pada anak memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) kegiatan mengikuti minat dan keinginan anak, 2) anak mengemukakan pemikiran dan mengidentifikasikan kegiatannya sendiri, 3) pembelajaran memandang kebutuhan anak sebagai kebutuhan individu yang unik dan bernilai, 4) pengalaman langsung berpusat pada anak. Menurut Coughlin (2000:5) dalam Yuliani, pendekatan yang berpusat pada anak diarahkan : 1) agar anak mampu mewujudkan dan mengakibatkan perubahan, 2) agar anak menjadi pemikir-pemikir yang kritis, 3) agar anak mampu membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya, 4) agar anak mampu menemukan dan menyelesaikan permasalahan secara konstruktif dan inovatif, 5) agar anak menjadi kreatif, imajinatif dan kaya gagasan, dan 6) agar anak memiliki perhatian terhadap masyarakat, negara dan lingkungannya.

63

Sepuluh area yang ada yaitu area seni, area balok, area permainan dramatik, area Ilmu Pengetahuan Alam/sains, area baca, area musik, area matematika/berhitung, area pasir dan area air, serta kegiatan di luar kelas, memberikan keleluasaan anak memilih kegiatan yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Kerjasama antara guru dan anak harus selalu terjalin agar penggunaan sistem area dapat berjalan dengan lancar. Pembelajaran di area sains/IPA bertujuan untuk menyeimbangkan rasa ingin tahu alami anak-anak untuk mencari informasi tentang apa yang ada di lingkungan sekitarnya, dengan melalui proses pengamatan, mengukur,

membandingkan, memperkirakan dan menjelaskan.( http://id.shvoong.com/socialsciences/education/07/03/2011/kegiatan-dalam-area-yang-dipilih.html.

2.7. Kerangka Berfikir Media pendidikan di lingkungan pendidikan anak usia dini harus dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran yang lebih baik. Sebagai guru pendidikan anak usia dini dituntut untuk memiliki keahlian dalam memilih dan membuat media pembelajaran. Media Bubble di area sains adalah sebagai suatu pemanfaatan media dalam proses pembelajaran karena di dalamnya terdapat serangkaian kegiatan dan daya upaya yang dilakukan oleh guru/pendidik baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak tentang cara pembuatan Bubble sebagai media pembelajaran sains dan hasil penggunaan Bubble sebagai media pembelajaran sains sederhana yang dilakukan di area sains pada anak usia 4-5 tahun di Area Sains di TK Pertiwi 49 Semarang.

64

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dilihat dari pendekatan analisisnya, penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data yang diperoleh di lapangan yang diolah dengan metode kuantitatif. Setelah diperoleh hasilnya, kemudian dideskripsikan dengan menguraikan kesimpulan yang didasari oleh data yang diolah dengan metode deskriptif tersebut. 3.2 Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian eksperimen semu (sebab dapat dimanipulasikan terhadap variabel terikat). Dengan desain penelitian menggunakan Pre-experimental Design. Preexperimental Design digunakan karena pada kenyataanya sulit mendapatkan kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian. Dalam penelitian eksperimen menekankan adanya langkah-langkah sebagai berikut : 1) adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti, 2) pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, 3) pembuatan atau pengembangan instrumen, 4) pemilihan desain penelitian, 5) melakukan eksperimen, 6) melakukan analisis data, dan 7) memformulasikan kesimpulan. Ada tiga bentuk desain pre-experimental design, dalam penelitian ini yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest Design yaitu pada design ini

64

65

terdapat pretest, sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.. 3.3 Lokasi Penelitian Lokasi untuk penelitian ini adalah TK Pertiwi 49 Semarang. 3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Identifikasi Variabel Penelitian Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media bubble dan variabel terikatnya adalah perkembangan kognitif anak. 3.4.2 Hubungan Antar Variabel Penelitian Hubungan antar variabel dapat ditunjukan dalam gambar sebagai berikut, dimana (x) adalah variable bebas dan (y) adalah variable tergantung. Media Bubble (x) Keterangan: Perkembangan Kognitif (y)

Berdasarkan keterangan di atas, variabel-variabel itu adalah: 1. Variabel bebas (X) merupakan Media Bubble. Di dalamnya ada sub variabel, yaitu cara pembuatan bubble sebagai media pembelajaran sains dan hasil penggunaan bubble sebagai media pembelajaran sains. 2. Variabel terikat (Y) merupakan perkembangan kognitif anak di TK Pertiwi 49 Semarang. Di dalamnya ada sub variabel, minat/kemauan dalam belajar sains, melakukan tugas belajar, motivasi anak dalam belajar sains.

66

3.5 Populasi 3.5.1 Populasi Penelitian Populasi dari penelitian ini adalah siswa TK A Pertiwi 49 Semarang tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 24 siswa. 3.6 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2009:308). Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. 3.6.1 Observasi Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode observasi

Nonpartisipan, peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. (Sugiyono, 2009:145). Observasi digunakan untuk memperoleh data tentang suatu masalah, sehingga diperoleh suatu pemahaman atau pembuktian

informasi/keterangan yang diperoleh sebelum dan sesudah dilakukan penelitian di TK Pertiwi 49 Semarang. 3.6.2 Dokumentasi Menurut Sugiyono (2009:240) metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, agenda dan sebagainya. Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah. Dokumen yang ada dipelajari untuk memperoleh data dan informasi dalam penelitian ini. Dokumen

67

tersebut digunakan untuk mendapatkan data sekunder yaitu melihat dari raport, proses penilaian belajar siswa, laporan dan atau berbagai artikel dari , prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.(Arikunto, 2010 :274) Penelitian ini menggunakan metode ini untuk mendokumentasikan waktu penelitian dengan cara pengambilan gambar atau foto.

3.7 Metode Analisis Data 3.7.1 Teknik Analisis Diskriptif Presentatif Metode ini digunakan untuk mengkaji deskripsi setiap variabel tersebut terdiri dari beberapa indikator hasil pengamatan yang tertuang dalam lembar observasi. Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan teknik analisis deskriptif adalah sebagai berikut : 1. Membuat Tabel Distribusi Peroleh Skor Merencanakan skor dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan. Untuk skor yang diberikan oleh responden memiliki jawaban maksimal 3 dan minimal 1. a. Penghitungan Skor Total

DP 

n x100% N

Keterangan : DP n f N =Prosentase = jumlah nilai yang diperoleh = frekwensi = jumlah nlai maksimum

b. Hasil yang diperoleh dikonsultasikan dengan tabel kategori

68

Cara menentukan tingkat kriteria adalah sebagai berikut : (1) Presentasi tertinggi diterapkan :

skor maksimal x100% skor mininal
(2) Skor terendah ditetapkan :

skor minimal x100% skor maksimal
(3) Rentang persentase ditetapkan = 100% -33% = 67% (4) Kelas interval persentase ditetapkan = 67%:3 = 22% (5) Membuat tabel interval kognitif anak usia 5-6 tahun Tabel 3.1 Interval Skor No 1 2 3 (Riduwan, 2009:89) Interval presentasi 77,01%-100% 55,01%-77,01% 33,01%-55,01% Kategori Sangat Baik Cukup Baik Kurang Baik

69

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENELITIAN 4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian TK Pertiwi 49 Semarang berdiri sejak tanggal 12 Agustus 1996. TK Pertiwi 49 Semarang berada di bawah pengelolaan Yayasan Harapan Ibu, Dharma Wanita Pemerintah Kota Semarang, dan selama ini Ibu Pariyah, S.Pd. sebagai Kepala TK Pertiwi 49 Semarang hingga sekarang. TK Pertiwi 49 Semarang terletak di Jl. Raya Ngijo No. 2, Kecamatan Gunung Pati, Semarang. Adapun batas wilayah TK Pertiwi 49 Semarang adalah : 1. Batas sebelah utara 2. Batas sebelah barat 3. Batas sebelah timur : Kantor Kelurahan Ngijo : Jalan Raya Ngijo : Rumah warga

4. Batas sebelah selatan : Persawahan TK Pertiwi 49 Semarang memiliki luas tanah 200 m 2 dan luas bangunan 150 m2, yang terdiri dari 2 ruang kelas, yaitu kelas A dan kelas B. Jumlah anak didik TK Pertiwi 49 Semarang sebanyak 45 anak, terdiri dari 24 Anak kelompok A dan 21 anak kelompok B. Dari 45 anak tersebut di bawah pengajaran 3 orang guru, 3 orang guru tersebut terdiri dari Pariah, S.Pd. sebagai

69

70

Kepala TK dan Guru Kelompok A, Reknaningsih, S.T. dan Sri Ismiyati, S.Pd. sebagai Guru Kelompok B.

4.1.2

69 Media Pembelajaran Sains Cara Pembuatan Bubble sebagai

Sederhana Dalam pembuatan bubble ada berbagai macam cara, yaitu dengan bahan sabun, buah lerak, Rinso, sabun colek, sabun bayi, sampo dan sabun pencuci tangan. Dalam penelitian ini, peneliti mengeksperimenkan pembuatan bubble dengan berbagai bahan dasar sabun, yaitu sebagai berikut : 4.1.2.1 Pelaksanaan Hari Ke Satu Pembukaan : ibu guru mengkondisikan anak-anak untuk mengikuti kegiatan upacara bendera. Setelah upacara selesai anak-anak dikondisikan ke dalam kelas untuk mulai pembelajaran. Anak-anak terlihat menyukai cara guru dalam menyampaikan informasi kepada mereka. Apersepsi yang berkaitan dengan materi dan tujuan pembelajaran yang akan diberikan, pembelajaran hari ini dimulai dengan percakapan tentang makanan dan minuman ciptaan Allah dan buatan manusia serta fungsi makanan. Pada kegiatan inti, Ibu guru memberikan penjelasan kepada anak cara membuat bubble/gelembung dengan bahan dasar deterjen Rinso, tujuan pembelajaran di hari pertama adalah anak dapat memahami dan menyebutkan warna dasar (merah, kuning dan biru).

71

Alat dan bahan yang harus dipersiapkan untuk membuat bubble atau gelembung dengan bahan dasar deterjen Rinso adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan air ember ukuran 5 liter. 2. Baskom dengan diameter 25 cm 3 buah, yaitu baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C). 3. Deterjen merk Rinso. 4. Pewarna makanan berbahan dasar air yang tidak beracun 3 warna (merah, biru dan kuning) dengan merk Rajawali. 5. Gelas aqua ukuran 200cc. 6. Sedotan. 7. Serbet. 8. Pengaduk dari kayu. 9. Sendok teh. Sebelum kegiatan dimulai, ibu guru mengkondisikan anak terlebih dahulu. Kemudian mengajak anak ke area sains untuk melakukan percobaan dengan media bubble/bermain gelembung sabun dengan bahan dasar deterjen Rinso. Langkah-langkah percobaan ini adalah : 1. Menyiapkan air putih dalam ember yang berukuran 5 liter kemudian dimasukkan ke dalam 3 buah baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C) dengan diameter 25 cm sama banyak.

72

2. Kemudian memasukkan 3 botol pewarna makanan ke dalam baskom dengan warna yang berbeda-beda, baskom merah (A) untuk warna merah, baskom kuning (B) untuk warna kuning dan baskom biru (C) untuk warna biru. 3. Mengaduk air yang sudah dicampur pewarna dengan pengaduk kayu. 4. Setelah itu masing-masing anak mengambil gelas aqua dan menakar air yang sudah diberi pewarna dengan takaran ¼ gelas atau sekitar 25cc warna merah, biru atau kuning sesuai petunjuk guru. 5. Setelah anak memasukkan air berwarna ke dalam gelas kemudian anak menakar deterjen Rinso dengan sendok teh sebanyak 2 sendok teh dan mengaduknya dengan pengaduk kayu. 6. Setelah itu anak meniup air deterjen tersebut dengan sedotan sehingga terbentuk bubble/gelembung yang berwarna-warni. Setelah semua kegiatan di Area Sains selesai anak-anak latihan Drum band. Waktu istirahat sekitar 30 menit digunakan anak-anak untuk bermain bebas dan berinteraksi dengan teman-temannya. Pada kegiatan ibu guru mengulas kembali kegiatan yang telah dilakukan dengan memberi pertanyaan kepada anak. Anak dapat menyebutkan warna dasar seperti merah, kuning dan biru dari percobaan dengan media Bubble tersebut dan menyebutkan makanan/minuman yang berwarna-warni seperti sirup.

73

Gambar 4.1 Guru memberi penjelasan kepada anak tentang warna dasar (merah, kuning dan biru)

Gambar 4.2 Anak menuang warna dasar (merah, kuning, dan biru) ke dalam gelas aqua

74

Gambar 4.3 Anak menakar deterjen Rinso

75

Gambar 4.4 Anak meniup air sabun sehingga tercipta gelembung Kesimpulan penelitian hari pertama pada proses pembelajaran

menggunakan media Bubble adalah anak dapat mengenal dan menyebutkan warna dasar seperti merah, kuning dan biru serta dapat menyebutkan minuman yang berwarna-warni seperti sirup. 4.1.2.2 Pelaksanaan Hari Kedua Pembukaan : ibu guru mengkondisikan anak-anak untuk berbaris kemudian masuk kelas. Anak-anak dikondisikan ke dalam kelas untuk mulai pembelajaran. Anak-anak terlihat ceria, kemudian ibu guru menyampaikan materi dengan metode bercakap-cakap dengan materi makanan yang mngandung karbohidrat atau sumber tenaga. Alat peraga yang digunakan adalah gambar nasi, jagung dan kentang yang telah disediakan oleh ibu guru. Kegiatan inti : anak-anak sangat bersemangat sekali ketika mereka belajar dengan media Bubble/gelembung dengan bahan dasar sabun colek Krim Ekonomi.

76

Kegiatan ini mencipta bentuk-bentuk geometri (lingkaran, persegi, segitiga, persegi panjang, dan kerucut) dari bubble yang tercipta dari hasil tiupan tersebut pada susunan batang lidi yang dibentuk menjadi bentuk segitiga, persegi dan persegi panjang. Alat dan bahan yang harus dipersiapkan untuk membuat bubble atau gelembung dengan bahan dasar sabun colek Krim Ekonomi adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan air dalam ember ukuran 5 liter. 2. Baskom dengan diameter 25 cm 3 buah (baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C). 3. Sabun colek Krim Ekonomi 4. Pewarna makanan berbahan dasar air yang tidak beracun 3 warna (merah, biru dan kuning) dengan merk Rajawali. 5. Gelas aqua ukuran 200cc. 6. Sedotan. 7. Serbet. 8. Pengaduk dari kayu. 9. Sendok teh. 10. Lidi dengan ukuran 5 cm. 11. Kertas HVS. Sebelum kegiatan dimulai, ibu guru mengkondisikan anak terlebih dahulu. Kemudian mengajak anak ke area sains untuk melakukan percobaan dengan media bubble/gelembung sabun dengan bahan dasar sabun colek Krim Ekonomi.

77

Langkah-langkah pembuatan adalah : 1. Menyiapkan air putih dalam ember yang berukuran 5 liter dimasukkan ke dalam 3 buah baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C) dengan diameter 25 cm sama banyak. 2. Kemudian memasukkan 3 botol pewarna makanan ke dalam baskom dengan warna yang berbeda-beda, baskom (A) warna merah, baskom (B) warna kuning dan baskom (C) warna biru. 3. Mengaduk air yang sudah dicampur pewarna dengan pengaduk kayu. 4. Setelah itu masing-masing anak mengambil gelas aqua dan menakar air yang sudah diberi pewarna dengan takaran ¼ gelas atau sekitar 25cc warna merah, biru atau kuning sesuai petunjuk guru. 5. Setelah anak memasukkan air berwarna ke dalam gelas kemudian anak memasukkan sabun colek Krim Ekonomi 3 colek ke dalam gelas aqua dan mengaduknya dengan pengaduk kayu hingga sabun coleknya larut. 6. Anak menyusun lidi berukuran 5 cm menjadi segitiga, lingkaran dan persegi. 7. Setelah bentuk geometri tersusun anak siap meniup air sabun, apabila telah tercipta gelembung yang banyak dan meluap gelembung-gelembung kecil tersebut di taruh di tengah susunan batang lidi dan tunggu sampai meresap. 8. Setelah meresap kemudian batang lidi diambil dan anak dapat melihat hasil yang tercipta pada kertas, yaitu gambar bubble bentuk geometri (segitiga, persegi, dan persegi panjang).

78

Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermain di luar kelas. Farin, Ilul, dan Rado tetap berada di dalam kelas membatu ibu guru membersikan peralatan yang telah digunakan. Kegiatan penutup dilaksanakan dengan memberikan evaluasi hasil pembelajaran anak-anak dan tanya jawab tentang kegiatan yang telah dilakukan. Ibu guru memmberi pertanyaan tentang bentuk-bentuk geometri yang dihasilkan dari permainan bubble dan anak-anak diminta menyebutkan makanan yang berbentuk geometri, misalnya roti tawar berbentuk persegi, donat berbentuk lingkaran, dan agar-agar yang berbentuk segitiga. Kesimpulan penelitian hari kedua pada proses pembelajaran dengan media bubble adalah bahwa melalui permainan bubble anak dapat menyebutkan bentukbentuk geometri yang tercipta ketika bubble/gelembung ditaruh di tengah susunan lidi yang berbentuk segitiga, persegi dan persegi panjang. 4.1.2.3 Pelaksanaan Hari Ketiga Pembukaan : ibu guru mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan masuk kelas, kemudian berdoa. Lalu anak-anak dikondisikan dalam kegiatan pembelajaran yang dimulai dengan menyanyi lagu “Apa Kabar Mari Bergembira”. Kegiatan fisik motorik yang dilakukan adalah lomba membawa piring di atas kepala. Setelah itu dilanjutkan dengan bercerita sesuai dengan gambar yang telah disediakan guru, yaitu menceritakan gambar anak yang suka jajan sembarangan.

79

Gambar 4.5 Anak lomba membawa piring di atas kepala Kegiata inti : sebelum kegiatan pembelajaran dimulai Ibu guru mengkondisikan anak-anak dan memberi penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan di Area Sains. Pada penelitian hari ketiga ini anak-anak belajar dengan media Bubble dengan tujuan dapat menyebutkan bau dari air biasa, air deterjen(rinso), bau sabun cair Sweetzal, bau sabun colek Krim Ekonomi, bau sabun cuci tangan Lifebuoy Handwash, bau sabun bayi batang merk Cussons, dan bau sampo Sunsilk. Alat dan bahan yang harus dipersiapkan untuk percobaan ini adalah : 1. deterjen(rinso), sabun cair Sweetzal, sabun colek Krim Ekonomi, Lifebuoy Handwash, sabun bayi batang merk Cussons, dan sampo Sunsilk. 2. Air 1 ember ukuran 5 liter. 3. Gelas aqua ukuran 200cc. 4. pengaduk kayu. 5. Sendok teh.

80

6. Serbet. Langkah-langkah percobaan ini adalah : 1. Menyiapkan bahan-bahan seperti, deterjen(rinso), sabun cair Sweetzal, sabun colek Krim Ekonomi, Lifebuoy Handwash, sabun bayi batang merk Cussons, dan sampo Sunsilk. 2. Menyiapkan air dalam ember ukuran 5 liter. 3. Kemudian anak mengambil air dan dimasukkan ke dalam gelas aqua ¼ gelas. 4. Anak diberi kesempatan untuk memasukkan deterjen (rinso) 2 sendok teh, sabun cair sweetzal 2 sendok teh, sabun colek Krim Ekonomi 2 colek, Lifebuoy Handwash 2 sendok teh, sabun bayi batang merk Cussons yang telah disisir sebanyak 2 sendok teh dan sampo Sunsilk 2 sendok teh ke dalam masing-masing gelas berisi air putih yang telah disediakan. 5. Kemuadian air dalam gelas aqua tersebut diaduk dengan pengaduk kayu dan setelah itu anak bisa mencium satu persatu bau dari masing-masing air sabun dengan jenis berbeda. 6. Anak menyebutkan perbedaan bau dari masing-masing air sabun dengan bahan yang bebeda tersebut. 7. Anak dapat meniup air sabun tersebut sehingga tercipta bubble/gelembung. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermain dengan temannya dan makan bekal. Kegiatan penutup dilakukan dengan mengulas kegiatan yang telah dilakukan selama sehari dengan tanya jawab. Ibu guru memberi pertanyaan tentang bahan apa saja yang telah digunakan pada waktu percobaan bubble pada

81

hari itu dan perbedaan bau dari masing-masing air sabun dengan bahan deterjen(rinso), sabun cair Sweetzal, sabun colek Krim Ekonomi, Lifebuoy Handwash, sabun bayi batang merk Cussons, dan sampo Sunsilk. Kesimpulan penelitian hari ketiga dengan media Bubble adalah bahwa anak dapat mengetahui bahwa air biasa itu tidak berbau, air sabun cair Sweetzal lebih wangi daripada air deterjen Rinso, air sampo Sunslik lebih wangi daripada air sabun colek Krim Ekonomi, serta air Lifebuoy Handwash, air sabun bayi batang merk Cussons, dan air sabun cair merk Sweetzal sama-sama berbau harum. 4.1.2.4 Pelaksanaan Hari Keempat Pembukaan : Ibu Guru mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan masuk kelas, kemudian berdoa dilanjut dengan menyanyikan lagu “Tomat Buah yang Berguna”. Setelah itu ibu guru memberi pertanyaan kepada anak -anak apa saja makanan yang diciptakan Allah dan buatan manusia. Anak-anak menjawab dengan jawaban yang sederhana. Kegiatan inti : di Area Sains anak-anak masih tetap belajar dengan media Bubble yaitu anak belajar mengenal tekrtur deterjen (rinso) dan sabun colek krim Ekonomi yang digunakan pada kegiatan pembelajaran. Selain itu anak juga belajar mengecap dengan pelepah pisang buah kesukaan (semangka dan strawberi) serta menghubungkan gambar makanan dengan huruf awalnya (misal, gambar duku dihubungkan dengan huruf “d”, gambar ikan dihubungkan dengan huruf “i”). Dalam menghubungkan gambar dengan huruf ada beberapa anak yang masih belum bisa mengenal huruf.

82

Alat dan bahan yang harus dipersiapkan pada percobaan hari keempat adalah : 1. Air satu ember ukuran 5 liter. 2. Dertejen Rinso. 3. Sabun colek Krim Ekonomi. 4. Piring kecil berdiameter 8 cm. Langkah-langkah percobaan adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan bahan yang diperlukan seperti deterjen Rinso dan sabun colek Krim Ekonomi. 2. Menuang 5 sendok teh deterjen Rinso dan 5 colek sabun colek Krim Ekonomi ke dalam piring berdiameter 8 cm. 3. Setelah kedua bahan ditaruh di atas piring, ibu guru menyuruh anak untuk meraba dan meremas masing-masing bahan tersebut. 4. Kemudian anak disuruh menyebutkan tekstur dari deterjen Rinso dan sabun colek Krim Ekonomi. 5. Setelah itu dalam piring tersebut ditetesi air sekitar 10 sendok, anak mengamati bahan mana yang lebih cepat larut. 6. Kemudian anak menambah air ke dalam piring tersebut, kemudian meniupnya dan membandingkan gelmbung yang dihasilkan paling banyak. Kegiatan penutup dilakukan dengan mengulas kembali kegiatan yang telah dilakukan. Guru memberi pertanyaan kepada anak tentang tekstur deterjen Rinso dan sabun colek Krim Ekonomi, bahan mana yang lebih cepat larut dan menghasilkan bubble/gelembung banyak. Anak dapat menjawap pertanyaan Ibu guru dengan baik bahwa deterjen Rinso bertekstur kasar dan terasa panas di

83

tangan dan sabun colek Krim Ekonomi bertekstur lembek dan lembut, derterjen Rinso lebih cepat larut di dalam air daripada sabun colek Krim Ekonomi yang dalam proses pelarutannya harus diaduk-aduk terlebih dahulu sampai benar-benar hilang sabunnya dan yang terakhir anak dapat menyebutkan gelembung yang dihasilkan paling banyak pada deterjen Rinso. Kesimpulan penelitian hari keempat pada proses pembelajaran di area sains adalah bahwa anak dapat mengetahui dan menyebutkan deterjen Rinso bertekstur kasar dan terasa panas di tangan dan sabun colek Krim Ekonomi bertekstur lembek dan lembut, derterjen Rinso lebih cepat larut di dalam air daripada sabun colek Krim Ekonomi yang dalam proses pelarutannya harus diaduk-aduk terlebih dahulu sampai benar-benar hilang sabunnya dan yang terakhir anak dapat menyebutkan gelembung yang dihasilkan paling banyak pada deterjen Rinso. 4.1.2.5 Pelaksanaan Hari Kelima Pembukaan : Ibu guru mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan masuk kelas. Nugi, adalah salah satu anak yang menangis tidak mau ditinggal sama ibunya. Tapi setelah dibujuk akhirnya Nugi mau masuk kelas juga. Ibu guru mengajak anak-anak untuk berdiri dan melambaikan tangan serta meliukkan badan menirukan pohon tertiup angin. Kegiatan inti : di area Sains anak-anak masih belajar dengan media Bubble dengan bahan dasar Sabun batang merk Cussons. Inti dari percobaan ini adalah anak diminta untuk menceritakan kembali ketika air sabun batang merk Cussons ditiup dengan sedotan, mengelompokkan makanan ciptaan Tuhan dan buatan

84

manusia, serta melakukan percobaan benda-benda yang dapat ditarik magnet (kunci, peniti, staples, kertas, sedotan, paku kecil, gunting, dan penggaris). Alat dan bahan yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan air dalam ember ukuran 5 liter. 2. Sabun batang merk Cussons yang telah disisir. 3. Baskom dengan diameter 25 cm 3 buah, yaitu baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C). 4. Pewarna makanan berbahan dasar air yang tidak beracun 3 warna (merah, biru dan kuning) dengan merk Rajawali. 5. Gelas aqua ukuran 200cc. 6. Sedotan. 7. Serbet. 8. Pengaduk dari kayu. 9. Sendok teh. Langkah-langkah pembuatan bubble/gelembung dengan bahan dasar Sabun batang merk Cussons : 1. Menyiapkan air putih dalam ember yang berukuran 5 liter dimasukkan ke dalam 3 buah baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C) dengan diameter 25 cm sama banyak. 2. Kemudian memasukkan 3 botol pewarna makanan ke dalam baskom dengan warna yang berbeda-beda, baskom merah (A) untuk warna merah, baskom kuning (B) untuk warna kuning dan baskom biru (C) untuk warna biru. 3. Mengaduk air yang sudah dicampur pewarna dengan pengaduk kayu.

85

4. Setelah itu masing-masing anak mengambil gelas aqua dan menakar air yang sudah diberi pewarna dengan takaran ¼ gelas atau sekitar 25cc warna merah, biru atau kuning sesuai petunjuk guru. 5. Setelah anak memasukkan air berwarna (misal merah, kuning atau biru) ke dalam gelas kemudian anak menakar sabun batang merk Cussons yang telah disisir dengan sendok teh sebanyak 2 sendok teh dan mengaduknya dengan pengaduk kayu hingga sabun batang larut dalam air. 6. Setelah itu anak meniup air sabun tersebut dengan sedotan sehingga terbentuk bubble/gelembung yang berwarna-warni. 7. Kemudian pada akhir percobaan anak disuruh menceritakan apa yang terjadi jika air sabun ditiup dengan sedotan. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk makan bekal dan bermain di luar kelas. Kegiatan penutup : ibu guru bertanya kembali tentang kegiatan yang telah dilakukan. Anak-anak dapat menjawab pertanyaan ibu guru dengan bahasa yang sederhana. Anak dapat menceritakan yang terjadi ketika air sabun batang merk Cussons ditiup dengan sedotan akan tercipta bubble/gelembung yang sngat banyak, semakin kuat meniupnya maka akan semakin banyak gelembung yang tercipta. Kesimpulan penelitian hari kelima pada proses pembelajaran dengan media Bubble adalah bahwa anak dapat menceritakan yang terjadi ketika air sabun batang merk Cussons ditiup dengan sedotan akan tercipta bubble/gelembung yang

86

sangat banyak, semakin kuat meniupnya maka akan semakin banyka gelembung yang tercipta.

Gambar 4.6 Anak meniup gelembung dengan warna merah dan hijau 4.1.2.6 Pelaksanaan Hari Keenam Pembukaan : Ibu guru mengkondisikan anak-anak berbaris di halaman untuk senam pagi. Setelah kegiatan senam selesai, anak –anak melanjutkan kegiatan pembelajaran. Sebelumnya ibu guru mengajak anak-anak masuk ke dalam kelas dengan berdiri dengan tumit, berdiri di atas satu kaki dengan seimbang. Kegiatan inti : anak-anak belajar dengan media Bubble, yaitu menceritakan alur percobaan warna (menyiapkan gelas aqua, memasukkan air warna (merah+kuning ke dalam gelas,mengamati hasil pencampuran warna), selain itu anak juga membuat sate buah dan meniup balon kemudian dilepaskan. Anak-anak sangat tertarik dengan kegiatan yang dilakukan. Hanya saja anak-anak

87

masih mengalami kesulitan dalam meniup baoln sehingga masih dibantu ibu guru dalam meniup balon. Alat dan bahan yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan air dalam ember ukuran 5 liter. 2. Sabun bayi cair merk Sweetzal. 3. Baskom dengan diameter 25 cm 3 buah (baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C). 4. Pewarna makanan berbahan dasar air yang tidak beracun 3 warna (merah, biru dan kuning) dengan merk Rajawali. 5. Gelas aqua ukuran 200cc. 6. Sedotan. 7. Serbet. 8. Pengaduk dari kayu. 9. Sendok teh. Langkah-langkah pembuatan bubble/gelembung dengan bahan dasar Sabun bayi cair merk Sweetzal : 1. Menyiapkan air putih dalam ember yang berukuran 5 liter dimasukkan ke dalam 3 buah baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C) dengan diameter 25 cm sama banyak. 2. Kemudian memasukkan 3 botol pewarna makanan ke dalam baskom dengan warna yang berbeda-beda, baskom merah (A) untuk warna merah, baskom kuning (B) untuk warna kuning dan baskom biru (C) untuk warna biru. 3. Mengaduk air yang sudah dicampur pewarna dengan pengaduk kayu.

88

4. Setelah itu masing-masing anak mengambil gelas aqua dan menakar air yang sudah diberi pewarna dengan takaran ¼ gelas atau 25 cc warna (merah+biru, kuning+biru =hijau dan merah+biru=ungu) sesuai petunjuk guru. 5. Anak mengamati hasil pencampuran warna tersebut. 6. Setelah anak mencampur warna kemudian menakar sabun bayi cair merk Sweetzal 2 sendok teh ke dalam air campuran warna tersebut. 7. Setelah itu anak meniup air sabun tersebut dengan sedotan sehingga terbentuk bubble/gelembung yang berwarna-warni. 8. Kemudian pada akhir percobaan anak menceritakan alur proses pembuatan bubble dengan bahan dasar sabun bayi cair merk Sweetzal dengan bahasa anak yang sederhana. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk makan bekal dan bermain bersama teman-teman. Kegiatan penutup : ibu guru bertanya kembali tentang kegiatan yang telah dilakukan. Anak-anak dapat menjawab pertanyaan ibu guru dengan bahasa yang sederhana. Anak dapat menceritakan urutan proses pembuatan bubble/gelembung dengan bahsa anak-anak secara sederhana, mulai dari menyiapkan air, memasukkan air ke dalam gelas aqua, mencampur warna dasar

(merah+kuning=orange, kuning+biru=hijau dan merah+biru=ungu), menambah campuran warna dasar dengan sabun bayi cair merk Sweetzal, mengaduk dengan pengaduk kayu, dan meniup air sabun hingga terbentuk bubble. Kesimpulan penelitian hari keenam pada proses pembelajaran dengan media Bubble adalah bahwa anak dapat menceritakan kembali urutan proses

89

pembuatan bubble/gelembung dengan sabun bayi cair merk Sweetzal, yaitu mulai dari menyiapkan air, memasukkan air ke dalam gelas aqua, mencampur warna (merah+kuning=orange, kuning+biru=hijau dan merah+biru=ungu), menambah campuran warna dasar dengan sabun bayi merkl Sweetzal, mengaduk dengan pengaduk kayu, dan meniup air sabun hingga terbentuk bubble.

Gambar 4.7 anak mencampur warna merah+kuning=orange

Gambar 4.8 Anak Membuat sate buah dengan pola tertentu

90

4.1.2.7 Pelaksanaan Hari Ketujuh Pembukaan : ibu mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan upacara bendera. Setelah selesai upacara anak-anak masuk kelas, kemudian berdoa dilanjut dengan melakukan kegiatan fisik motorik dengan menunjuk gerakan duduk, jongkok, berdiri dan berlari setelah itu anak-anak berlatih drumband. Setelah itu ibu guru memberi pertanyaan kepada anak-anak tentang alat-alat kebersihan. Anak-anak sangat bersemangat menjawab pertanyaan dari ibu guru. Mereka menjawab dengan bahasa yang sederhana. Kegiatan inti : di Area Sains anak-anak masih tetap belajar dengan media Bubble, yaitu anak diharapkan mampu bercerita tentang kegiatan yang telah dilakukan (mencampur warna dasar, menakar sampo Sunsilk, meniup gelembung, dan mencipta lukisan gelembung. Selain itu kegiatan lainnya anak menarik garis alat-alat kebersihan sesuai dengan pasangannya. Alat dan bahan yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan air dalam ember ukuran 5 liter. 2. Sampo Sunsilk 250 ml. 3. Baskom dengan diameter 25 cm 3 buah (baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom biru (C). 4. Pewarna makanan berbahan dasar air yang tidak beracun 3 warna (merah, biru dan kuning) dengan merk Rajawali. 5. Gelas aqua ukuran 200cc. 6. Sedotan.

91

7. Serbet. 8. Pengaduk dari kayu. 9. Sendok teh. Langkah-langkah pembuatan bubble/gelembung dengan bahan dasar Sampo Sunsilk : 1. Menyiapkan air putih dalam ember yang berukuran 5 liter dimasukkan ke dalam 3 buah baskom merah (A), baskom kuning (B) dan baskom (C) dengan diameter 25 cm sama banyak. 2. Kemudian memasukkan 3 botol pewarna makanan ke dalam baskom dengan warna yang berbeda-beda, baskom merah (A) untuk warna merah, baskom kuning (B) untuk warna kuning dan baskom biru (C) untuk warna biru. 3. Mengaduk air yang sudah dicampur pewarna dengan pengaduk kayu. 4. Setelah itu masing-masing anak mengambil gelas aqua dan menakar air yang sudah diberi pewarna dengan takaran ¼ gelas atau sekitar 25cc warna (merah+biru, kuning+biru =hijau dan merah+biru=ungu) sesuai petunjuk guru. 5. Anak mengamati hasil pencampuran warna tersebut. 6. Setelah anak mencampur warna kemudian menakar sampo Sunsilk 2 sendok teh ke dalam air campuran warna tersebut. 7. Setelah itu anak meniup air sabun tersebut dengan sedotan sehingga terbentuk bubble/gelembung yang berwarna-warni hingga gelembung keluar melebihi gelas aqua. 8. Setelah gelembung keluar dari gelas aqua, anak menutup gelas aqua dengan kertas HVS dan membiarkannya kurang lebih 2 menit.

92

9. Anak mengangkat kertas HVS tadi kemudian mengamati hasil lukisan yang tercipta pada kertas HVS itu. 10. Pada kertas HVS tercipta lukisan gel;embung dengan warna orange, hijau dan ungu. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermain di luar kelas dan makan bekal. Kegiatan penutup dilakukan dengan menunjukan hasil karya anak-anak di depan kelas. Guru memberi motivasi pada anak-anak yang hasil karyanya kurang bagus agar lain waktu bisa lebih bagus lagi. Kesimpulan penelitian hari ketujuh pada proses pembelajaran dengan media Bubble adalah bahwa anak mampu bercerita tentang kegiatan yang telah dilakukan mencampur warna dasar, menakar sampo Sunsilk dengan sendok teh, meniup gelembung, dan mencipta lukisan gelembung.

Gambar 4.9 Anak meniup air Sampo Sunsilk sehingga tercipta bubble

93

Gambar 4.10 Anak menutup gelas Aqua dengan kertas HVS

Gambar 4.11 Hasil lukisan bubble dengan warna ungu, hijau dan orange 4.1.2.8 Pelaksanaan Hari Kedelapan Pembukaan : ibu mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan anak-anak masuk kelas, kemudian berdoa dilanjut dengan melakukan kegiatan ekstra menari.

94

Setelah selesai ekstra menari anak-anak belajar kembali. Kemudian itu ibu guru memberi pertanyaan kepada anak-anak tentang peralatan mandi. Anak-anak sangat bersemangat menjawab “sabun, handuk, sikat gigi, pasta gigi, sampo.” Kegiatan inti : di Area Sains anak-anak masih tetap belajar dengan media Bubble yaitu anak diharapkan dapat menyebutkan benda-benda yang yang digunakan saat bermain bubble/gelembung beserta fungsinya (air, sabun, sendok, gelas aqua, pewarna, sedotan, pengaduk, dan kertas. Selain itu anak juga mengukur panjang meja dengan tali, mengukur lemparan dengan langkah dan menggunting bentuk geometri dengan daun pisang. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermain di luar kelas dan makan bekal. Kegiatan penutup dilakukan dengan menunjukan hasil karya anak-anak di depan kelas. Guru memberi motivasi pada anak-anak yang hasil karyanya kurang bagus agar lain waktu bisa lebih bagus lagi. Kesimpulan penelitian hari kedelapan pada proses pembelajaran di area sains adalah bahwa anak dapat menyebutkan benda-benda yang yang digunakan saat bermain bubble/gelembung beserta fungsinya (air, sabun, sendok, gelas aqua, pewarna, sedotan, pengaduk, dan kertas. 4.1.2.9 Pelaksanaan Hari Kesembilan Pembukaan : ibu mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan anak-anak masuk kelas, kemudian berdoa dilanjut dengan melakukan kegiatan fisik motorik

95

dengan merangkak mengambil. Setelah itu ibu guru memberikan penjelasan akan pentingnya menjaga kesehatan badan terutama gigi. Kegiatan inti : di Area Sains anak-anak masih tetap belajar dengan media Bubble,yaitu anak dapat menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hijau). Selain itu anak juga belajar melukis tempat sampah dengan jari serta melakukan eksperimen tangan berkeringat (telapak tangan dibungkus plastik). Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermainj di luar kelas dan makan bekal. Kegiatan penutup dilakukan dengan menunjukan hasil karya anak-anak di depan kelas. Guru memberi motivasi pada anak-anak yang hasil karyanya kurang bagus agar lain waktu bisa lebih bagus lagi. Kesimpulan penelitian hari kesepuluh pada proses pembelajaran di area sains adalah anak dapat menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hijau). 4.1.2.10 Pelaksanaan Hari Kesepuluh Pembukaan : ibu mengkondisikan anak-anak untuk berbaris kemudian anak-anak masuk kelas, kemudian berdoa dilanjut dengan melakukan kegiatan fisik motorik dengan melempar dan menangkap bola kecil. Setelah itu ibu guru melakukan tanya jawab dengan anak-anak tentang cara merawat gigi. Anak-anak dapat menceritakan cara memelihara gigi dengan baik.

96

Kegiatan inti : di Area Sains anak-anak masih tetap belajar dengan media Bubble, yaitu anak diharapkan dapat mengetahui konsep penuh-kosong dengan memasukkan air ke dalam gelas yang berbeda pada percobaan dengan media bubble mewarnai gambar yang jumlahnya lebih banyak dan lebih sedikit, serta menggambar bebas membuat pasta gigi dan sikat gigi dengan arang. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermainj di luar kelas dan makan bekal. Kegiatan penutup dilakukan dengan menunjukan hasil karya anak-anak di depan kelas. Guru memberi motivasi pada anak-anak yang hasil karyanya kurang bagus agar lain waktu bisa lebih bagus lagi. Kesimpulan penelitian hari kesepuluh pada proses pembelajaran di area sains adalah bahwa anak dapat mengetahui konsep penuh-kosong dengan memasukkan air ke dalam gelas yang berbeda pada percobaan dengan media bubble. 4.1.2.11 Pelaksanaan Hari Kesebelas Pembukaan : ibu mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan anak-anak masuk kelas, kemudian berdoa dilanjut dengan menyanyikan lagu keagamaan “Siapa Tuhanmu” dan menghafal doa untuk kedua orang tua dan doa haji. Kegiatan inti : di Area Sains anak-anak masih tetap belajar dengan media Bubble, yaitu anak diharapkan dapat mengetahui konsep banyak sedikit dengan memasukkan air berwarna ke dalam gelas aqua dan menakar deterjen dengan

97

sendok melihat benda-benda kecil dengan kaca pembesar/lup serta menabur gambar pos kamling dengan abu. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermainj di luar kelas dan makan bekal. Kegiatan penutup dilakukan dengan menunjukan hasil karya anak-anak di depan kelas. Guru memberi motivasi pada anak-anak yang hasil karyanya kurang bagus agar lain waktu bisa lebih bagus lagi. Kesimpulan penelitian hari kesebelas pada proses pembelajaran di area sains adalah bahwa anak dapat mengetahui konsep banyak sedikit dengan memasukkan air ke berwarna ke dalam gelas aqua dan menakar deterjen dengan sendok. 4.1.2.12 Pelaksanaan Hari Keduabelas Pembukaan : ibu mengkondisikan anak-anak untuk berbaris dan senam “Irama Ceria” setelah senam anak-anak masuk kelas, kemudian berdoa dilanjut dilanjutkan dengan kegiatan selanjutnya. Kegiatan inti : di Area Sains anak-anak masih tetap belajar dengan media Bubble, yaitu anak diharapkan dapat menyebutkan hasil dari meniup bubble yang terlihat di kertas HVS. Selain itu anak juga belajar menimbang benda dengan timbangan serta praktik menggosok gigi. Waktu istirahat digunakan anak-anak untuk bermainj di luar kelas dan makan bekal.

98

Kegiatan penutup dilakukan dengan menunjukan hasil karya anak-anak di depan kelas. Guru memberi motivasi pada anak-anak yang hasil karyanya kurang bagus agar lain waktu bisa lebih bagus lagi. Kesimpulan penelitian hari kedua belas pad proses pembelajaran di area sains adalah bahwa anak dapat menyebutkan hasil dari meniup bubble yang terlihat di kertas HVS. 4.1.4 Kesimpulan Kumulatif dari Proses Pembelajaran dengan Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana Dalam permainan bubble, di dalamnya terdapat unsur kegiatan pencampuran warna dasar/primer sehingga dapat menghasilkan warna baru, pengukuran (menakar) deterjen, pengenalan karakteristik zat (cair, padat, dan gas). Mencampur warna kuning, merah, atau biru dapat menciptakan warna lain seperti orange, hijau, dan ungu. Melalui pencampuran warna ini anak dapat menjelaskan warna apa yang digunakan dan warna apa yang tampak pada kertas. Hal ini dapat menjadi dasar pengetahuan anak tentang warna primer dan warna sekunder. Mencampurkan satu warna dengan warna yang lain dapat menciptakan warna baru. Merangsang kreativitas dan perkembangan kognitif anak dengan media bubble menjadikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik serta dapat memperluas wawasan anak tentang sains sederhana pada saat tahap

perkembangan kemampuan menganalisa, berkomunikasi dan memecahkan

99

masalah. Pengalaman yang diperoleh anak dapat menambah kemampuan bereksplorasi, hal ini penting untuk perkembangan kognitif anak, dan ini terbukti dengan terlihat indikator pada anak sudah muncul. Sabun dan deterjen adalah bagian integral dari produk rumah tangga. Sementara itu, anak-anak suka mandi busa, mereka pasti akan menyukai ide membuat gelembung sabun di rumah, tanpa membeli sesuatu dari luar. Cara membuat gelembung dengan derjen Rinso, sabun bayi cair, sabun batang, sabun cuci piring atau sampo, hal yang menarik untuk belajar.

4.1.5

Hasil Pengamatan Menggunakan Ceklist Terkait masalah yang melatar belakangi pada penelitian ini maka

direncanakan suatu studi eksperimen dengan menggunakan Bubble sebagai media pembelajaran sains sederhana untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak diusia 4-5 tahun. Penelitian studi eksperimen ini difokuskan pada bagaimana cara dan hasil penggunaan Bubble terhadap kemampuan kognitif pada anak usia 4-5 tahun khusus di area sains. Tempat penelitian dilakukan di TK Pertiwi 49 Semarang Kelurahan Ngijo Kabupaten Semarang. Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan daftar isian ceklist terhadap siswa dalam proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas terlihat jelas bagaimana perbandingan antara siswa yang belajar dengan menggunakan pendekatan media dengan yang tidak. Siswa yang belajar menggunakan pendekatan media terlihat lebih aktif, kreatif, lebih ekspresif dan

100

bisa lebih cepat memahami materi. Jumlah siswa yang diteliti sebanyak 24 siswa, 8 perempuan dan 16 laki-laki. Untuk lebih jelas mengenai hasil pengamatan dengan menggunakan daftar isian ceklist dalam penelitian ini dapat dilihat pada pembahasan berikut: 4.1.5.1 Minggu Pertama 4.1.5.1.1 Kelompok Posttest (Siswa Sesudah mendapat Media Bubble)

4.1.5.1.1.1 Pengetahuan Umum dan Sains dan Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Tabel 4.1 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble)

No . 1.

Skor Indikator 3 Menglompokkan warna dasar (merah, kuning dan biru) Mengelompokkan benda berdasarkan bentuk Mengetahui bau dari suatu benda Membedakan konsep kasarhalus melalui panca indera Menceritakan apa yang terjadi jika air deterjen 2 1

Jml Siswa

Skor diperoleh

Skor maks.

Persentase (%)

8

11

5

24

51

72

70.83

2.

6

13

5

24

49

72

68.06

3.

7

8

9

24

46

72

63.89

4.

10 5

4 13

10 6

24 24

48 47

72 72

66.67 65.28

5.

101

ditiup dengan sedotan 6. Menceritakan percobaan warna yang dicampur Menceritakan kembali sesuatu/peristiws berdasarkan ingatannya Menyebutkan sedikitnya 6 benda berikut fungsinya Menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hiaju) Membedakan konsep penuh-kosong dengan mengisi wadah(gelas) Membedakan konsep banyak-sedikit Anak dapat menyebutkan bentuk dari hasil lukisan bubble JUMLAH

10

7

7

24

51

72

70.83

7.

12

7

5

24

55

72

76.39

8.

5

6

13

24

40

72

55.56

9.

9

5

10

24

47

72

65.28

10.

10

4

10

24

48

72

66.67

11.

8

11

5

24

51

72

70.83

12

9

11 10 0

4

24

53

72

73.61

99

89

586

864

67.82

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan umum dan sains dan konsep bentuk, warna, ukuran dan pola anak didik pada kelompok post-test maka skor ideal atau skor maksimal yang diperoleh dari tabel dengan menggunakan perhitungan rumus 1.

102

DP 

n x100% N 586  x100% 864  67.82%

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh persentase skor sebesar 67.82%. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan sebagaimana digambarkan pada tabel 1 (Bab 3) skor 67.82%.termasuk dalam interval skor 55,01%-77,01% dengan kategori cukup baik. Berikut penulis sajikan distribusi frekuensi untuk menghitung mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains yaitu : Tabel. 4.2 Distribusi Frekwensi Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble)

Skor 40-43 44-47 48-51 52-55 Jumlah

Frekwensi (f) 1 3 5 3 12

Nilai Tengah (ni) 41.5 45.5 47.5 53.5

f x ni 41.5 136.5 237.5 160.5 576

103

Dari tabel 4.2 di atas dapat diketahui mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola yaitu :

M ean 

f x ni f 576  12  48

Dari perhitungan skor yang sudah dijelaskan pada BAB 3 bahwa skor terendah 40 dan skor tertinggi 72. Jadi rata-rata atau maen dari skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 48 dimensi skor lebih mendekati angka 50 (skor minimal). Dengan demikian pengembangan media Bubble untuk kelompok posttest pada aspek pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola cukup baik. Dari hasil analisis perhitungan pada tabel 4.1 dan 4.2 di atas dapat disimpulkan bahwa perolehan persentase skor dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 67.82%, dengan rata-rata atau mean sebesar 48. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan

sebagaimana digambarkan pada tabel 1 bab 3 skor 67.82%. termasuk dalam interval skor 55,01%-77,01% dengan kategori cukup baik. Hasil rata-rata atau mean dimensi skor lebih mendekati angka 50 (skor minimal) dengan kategori cukup baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok posttest kemampuan kognitif pada anak usia 4-5 tahun khusus di area sains memperoleh hasil yang cukup baik.

104

4.1.5.1.2

Kelompok Pretest

4.1.5.1.2.1 Pengetahuan Umum dan Sains dan Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Tabel 4.3 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Pretest (Anak didik sebelum mendapat Media Bubble)

No Indikator 3 1. Menglompokkan warna dasar (merah, kuning dan biru) Mengelompokkan benda berdasarkan bentuk Mengetahui bau dari suatu benda Membedakan konsep kasarhalus melalui panca indera Menceritakan apa yang terjadi jika air deterjen ditiup dengan sedotan Menceritakan percobaan warna yang dicampur Menceritakan kembali sesuatu/peristiws berdasarkan ingatannya

Skor 2 1

Jml Siswa

Skor diperoleh

Skor maks.

Persentase (%)

4

7

13

24

39

72

54.17

2.

6

7

11

24

43

72

59.72

4.

7

5

12

24

43

72

59.72

5.

5

3

16

24

37

72

51.39

6.

1

7

16

24

33

72

45.83

7.

6

7

11

24

43

72

59.72

8.

6

5

13

24

41

72

56.94

105

9.

Menyebutkan sedikitnya 6 benda berikut fungsinya Menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hiaju) Membedakan konsep penuh-kosong dengan mengisi wadah(gelas) Membedakan konsep banyak-sedikit Anak dapat menyebutkan bentuk dari hasil lukisan bubble JUMLAH

5

6

13

24

40

72

55.56

10.

3

5

16

24

35

72

48.61

11.

7

4

13

24

42

72

58.33

12.

7

3

14

24

41

72

56.94

2

8

14 16 2

24

36

72

50.00

59

67

473

864

54.75

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola anak didik kelompok pre-test maka skor ideal atau skor maksimal yang diperoleh dari tabel dengan menggunakan perhitungan rumus 1.

DP 

n x100% N 473  x100% 864  54.75%

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh persentase skor sebesar 54.75%.Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan sebagaimana

106

digambarkan pada tabel 1 (Bab 3) skor 54.75% termasuk dalam interval skor 33,00%-55,01% dengan kategori kurang baik. Berikut penulis sajikan distribusi frekuensi untuk menghitung mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola yaitu: Tabel. 4.4 Distribusi Frekuensi Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Pre-test (Anak didik sebelum mendapar Media Bubble)

Skor 33-36 37-40 41-44 Jumlah

Frekuensi (f) 3 3 6 12

Nilai Tengah (ni) 34.5 38.5 42.5

f x ni 103.5 115.5 255 474

Dari tabel 4.4 di atas dapat diketahui mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola yaitu :

M ean 

f x ni f 474  12  39.5

Dari perhitungan skor yang sudah dijelaskan pada BAB 3 bahwa skor terendah 33 dan skor tertinggi 72. Jadi rata-rata atau maen dari skor untuk dimensi

107

pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 39.50 dimensi skor kurang mendekati angka 50 (skor minimal). Dengan demikian pengembangan media Bubble untuk kelompok pretest pada aspek pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola kurang baik. 4.1.5.2 Minggu Kedua 4.1.5.2.1 4.1.5.2.1.1 Kelompok Posttest Pengetahuan Umum dan Sains dan Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Tabel 4.5 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble)

No Indikator 3 1. Menglompokkan warna dasar (merah, kuning dan biru) Mengelompokkan benda berdasarkan bentuk Mengetahui bau dari suatu benda Membedakan konsep kasarhalus melalui panca indera Menceritakan apa yang terjadi jika air deterjen

Skor 2 1

Jml Siswa

Skor diperoleh

Skor maks.

Persentase (%)

14

9

1

24

61

72

84.72

2.

9

12

3

24

54

72

75.00

3.

11

10

4

25

57

75

76.00

4.

11 9

9 12

4 3

24 24

55 54

72 72

76.39 75.00

5.

108

ditiup dengan sedotan 6. Menceritakan percobaan warna yang dicampur Menceritakan kembali sesuatu/peristiws berdasarkan ingatannya Menyebutkan sedikitnya 6 benda berikut fungsinya Menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hiaju) Membedakan konsep penuh-kosong dengan mengisi wadah(gelas) Membedakan konsep banyak-sedikit Anak dapat menyebutkan bentuk dari hasil lukisan bubble JUMLAH

11

10

3

24

56

72

77.78

7.

12

9

3

24

57

72

79.17

8.

11

9

3

23

54

69

78.26

9.

11

8

5

24

54

72

75.00

10.

13

8

3

24

58

72

80.56

11.

10

11

3

24

55

72

76.39

12.

12 134

8 115

4 39

24

56 671

72 864

77.78 77.66

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola anak didik kelompok post-test maka skor ideal atau skor maksimal yang diperoleh dari tabel di atas dengan menggunakan perhitungan rumus 1.

109

DP 

n x100% N 671  x100% 864  77.66%

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh persentase skor sebesar 77.66%. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan sebagaimana digambarkan pada tabel 1 (Bab 3) skor 77.66%.termasuk dalam interval skor 77,01%-100% dengan kategori sangat baik. Berikut penulis sajikan distribusi frekuensi untuk menghitung mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola yaitu : Tabel. 4.6 Distribusi Frekuensi Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Posttest (Anak didik sesudah mendapat Media Bubble)

Skor 54-56 57-59 60-62 Jumlah

Frekuensi (f) 8 3 1 12

Nilai Tengah (ni) 55 58 61

f x ni 440 174 61 675

Dari tabel 4.6 di atas dapat diketahui mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola yaitu :

110

Mean 

fxni f 675  12  56.25

Dari perhitungan skor yang sudah dijelaskan pada BAB 3 bahwa skor terendah 54 dan skor tertinggi 72.Jadi rata-rata atau maen dari skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 56.25 dimensi skor lebih mendekati angka 50 (skor minimal). Dengan demikian pengembangan media Bubble untuk kelompok posttest pada aspek pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola baik. 4.1.5.2.2 4.1.5.2.2.1 Kelompok Pretest Pengetahuan Umum dan Sains dan Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Tabel 4.7 Perolehan Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Pretest (Anak didik sebelum mendapat Media Bubble)

No Indikator 3 1. Menglompokkan warna dasar (merah, kuning dan biru) Mengelompokkan benda berdasarkan bentuk

Skor 2 1

Jml Siswa

Skor diperoleh

Skor maks.

Persentase (%)

7

5

12

24

43

72

59.72

2.

6

7

11

24

43

72

59.72

111

3.

Mengetahui bau dari suatu benda Membedakan konsep kasarhalus melalui panca indera Menceritakan apa yang terjadi jika air deterjen ditiup dengan sedotan Menceritakan percobaan warna yang dicampur Menceritakan kembali sesuatu/peristiws berdasarkan ingatannya Menyebutkan sedikitnya 6 benda berikut fungsinya Menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hiaju) Membedakan konsep penuh-kosong dengan mengisi wadah(gelas) Membedakan konsep banyak-sedikit Anak dapat menyebutkan bentuk dari hasil lukisan bubble JUMLAH

7

8

9

24

46

72

63.89

4.

6

3

16

25

40

75

53.33

5.

3

6

15

24

36

72

50.00

6.

6

7

11

24

43

72

59.72

7.

4

3

17

24

35

72

48.61

8.

5

6

13

24

40

72

55.56

9.

3

5

16

24

35

72

48.61

10.

7

4

13

24

42

72

58.33

11.

7

3

14

24

41

72

56.94

12.

2 63

8 65

14 161

24

36 480

72 867

50.00 55.36

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola anak didik kelompok pre-test maka skor

112

ideal atau skor maksimal yang diperoleh dari tabel dengan menggunakan perhitungan rumus 1.

DP 

n x100% N 480  x100% 867  55.36%

Dari hasil perhitungan di atas diperoleh persentase skor sebesar 55.36%. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan sebagaimana digambarkan pada table 1 (Bab 3) skor 55.36%. termasuk dalam interval skor 55,01%-77,01% dengan kategori cukup baik. Berikut penulis sajikan distribusi frekuensi untuk menghitung mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola yaitu : Tabel. 4.8 Distribusi Frekuensi Skor pada Aspek Perkembangan untuk Indikator Pengetahuan Umum dan Sains, Konsep Bentuk, Warna, Ukuran dan Pola Kelompok Pre-test (Anak didik sebelum mendapat Media Bubble)

Skor 35-38 39-42 43-46 Jumlah

Frekwensi (f) 4 4 4 12

Nilai Tengah (ni) 36.5 40.5 44.5

f x ni 146 162 178 486

113

Dari tabel 4.8 di atas dapat diketahui mean atau rata-rata skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola yaitu :

Mean 

fxni f 486  12  40.50

Dari perhitungan skor yang sudah dijelaskan pada BAB 3 bahwa skor terendah 35 dan skor tertinggi 72. Jadi rata-rata atau maen dari skor untuk dimensi pengetahuan umum dan sains sebesar 40.50 dimensi skor kurang mendekati angka 50 (skor minimal). Dengan demikian pengembangan media Bubble untuk kelompok pre-test pada aspek pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola kurang baik. 4.1.6 Hasil Penggunaan Media Bubble sebagai Media Pembelajaran Sains Sederhana di TK Bubble atau melukis gelembung adalah salah satu kegiatan pembelajaran sains sederhana yang memungkinkan anak untuk melihat hasil percobaan secara langsung. Anak dapat melihat dan mempraktekkan kegiatan secara langsung seperti (meniup menggunakan sedotan) dapat menimbulkan reaksi pada lukisannya (terciptanya gelembung). Pada saat anak meniup air sabun, mereka dapat membuat bentuk gelembung dengan cara menekan kertas sehingga tercipta suatu lukisan.

114

Mencampur warna kuning, merah, atau biru dapat menciptakan warna lain seperti orange, hijau, dan ungu. Melalui pencampuran warna ini anak dapat menjelaskan warna apa yang digunakan dan warna apa yang tampak pada kertas. Hal ini dapat menjadi dasar pengetahuan anak tentang warna primer dan warna sekunder. Mencampurkan satu warna dengan warna yang lain dapat menciptakan warna baru. Bubble atau melukis gelembung merupakan salah satu media pembelajaran sains yang bertujuan merangsang anak untuk berfikir tentang bahan-bahan dan karakter gelembung. Pengalaman seperti ini akan membuat anak mulai memahami bahwa udara menempati ruang, walaupun tidak terlihat nyata. Kegiatan ini dapat meningkatkan perkembangan kognitif dan motorik anak usia dini. Pengalaman yang diperoleh anak dari dapat menambah kemampuan bereksplorasi yang penting untuk perkembangan kognitif anak. Merangsang kreativitas dan perkembangan kognitif anak dengan media bubble menjadikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik serta dapat memperluas wawasan anak tentang sains sederhana pada saat tahap

perkembangan kemampuan menganalisa, berkomunikasi dan memecahkan masalah. Selain manfaat di atas, anak dapat mengembangkan kemampuan motorik halusnya ketika melakukan kegiatan bubble atau melukis gelembung dengan cara mengontrol tangan, mulut, dan tenggorokan. Meniup dengan sedotan untuk

115

mengontrol pernapasan, memegang sedotan melatih kemampuan mencengkeram yang pada dasarnya cukup sulit dilakukan untuk tangan kecil anak. Dalam permainan Bubble, di dalamnya terdapat unsur kegiatan pencampuran warna dasar atau primer sehingga dapat menghasilkan warna baru, pengukuran (menakar) deterjen, pengenalan karakteristik zat (cair, padat, dan gas). Pengalaman yang diperoleh anak dapat menambah kemampuan

bereksplorasi yang penting untuk perkembangan kognitif anak, ini terbukti dengan terlihat indikator pada anak sudah muncul. Penggunaan media, dalam hal ini media bubble memberikan dampak positif bagi kemampuan kognitif anak, hal ini bisa dilihat dari penjabaran indikator yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu : 1) anak dapat mengenal dan menyebutkan warna dasar seperti merah, kuning dan biru serta dapat menyebutkan minuman yang berwarna-warni seperti sirup, 2) anak dapat menyebutkan bentuk-bentuk geometri yang tercipta ketika bubble/gelembung ditaruh di tengah susunan lidi yang berbentuk segitiga, persegi dan persegi panjang. 3) dapat mengetahui bahwa air biasa itu tidak berbau, air sabun cair Sweetzal lebih wangi daripada air deterjen Rinso, air sampo Sunslik lebih wangi daripada air sabun colek Krim Ekonomi, serta air Lifebuoy Handwash, air sabun bayi batang merk Cussons, dan air sabun cair merk Sweetzal sama-sama berbau harum, 4) anak dapat mengetahui dan menyebutkan deterjen Rinso bertekstur kasar dan terasa panas di tangan dan sabun colek Krim Ekonomi bertekstur lembek dan lembut, derterjen Rinso lebih cepat larut di dalam air daripada sabun colek Krim Ekonomi yang dalam proses pelarutannya harus diaduk-aduk terlebih

116

dahulu sampai benar-benar hilang sabunnya dan yang terakhir anak dapat menyebutkan gelembung yang dihasilkan paling banyak pada deterjen Rinso, 5) anak dapat menceritakan yang terjadi ketika air sabun batang merk Cussons ditiup dengan sedotan akan tercipta bubble/gelembung yang sangat banyak, semakin kuat meniupnya maka akan semakin banyka gelembung yang tercipta, 6) anak dapat menceritakan kembali urutan proses pembuatan bubble/gelembung dengan sabun bayi cair merk Sweetzal, yaitu mulai dari menyiapkan air, memasukkan air ke dalam gelas aqua, mencampur warna (merah+kuning=orange,

kuning+biru=hijau dan merah+biru=ungu), menambah campuran warna dasar dengan sabun bayi merkl Sweetzal, mengaduk dengan pengaduk kayu, dan meniup air sabun hingga terbentuk bubble, 7) anak mampu bercerita tentang kegiatan yang telah dilakukan mencampur warna dasar, menakar sampo Sunsilk dengan sendok teh, meniup gelembung, dan mencipta lukisan gelembung, 8) Anak dapat menyebutkan benda-benda yang yang digunakan saat bermain bubble/gelembung beserta fungsinya (air, sabun, sendok, gelas aqua, pewarna, sedotan, pengaduk, dan kertas, 9) Anak dapat menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hiaju), 10) Anak dapat mengetahui konsep penuh-kosong dengan memasukkan air ke dalam gelas yang berbeda pada percobaan dengan media bubble, 11) Anak dapat mengetahui konsep banyak sedikit dengan memasukkan air berwarna ke dalam gelas aqua dan menakar deterjen dengan sendok dan 12) Anak dapat

menyebutkan hasil dari meniup bubble yang terlihat di kertas HVS. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman anak meningkat dari 67.82% untuk minggu

117

pertama menjadi 77.66% untuk minggu kedua. Ini berarti ada ketertarikan anak pada proses pembelajaran mengunakan media bubble. Indikator tersebut mencakup aspek perkembangan pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola. Pembelajaran media Bubble merupakan salah satu alternatif dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan media sebagai alat peraga. Pembelajaran media Bubble merupakan cara efektif untuk mengenalkan anak untuk melihat hasil percobaan secara langsung. Anak dapat melihat dan mempraktekkan kegiatan secara langsung seperti (meniup menggunakan sedotan) dapat menimbulkan reaksi pada lukisannya (terciptanya gelembung). Pada saat anak meniup air sabun, mereka dapat membuat bentuk gelembung dengan cara menekan kertas sehingga tercipta suatu lukisan. Selain itu anak juga dapat mengembangkan kemampuan motorik halusnya ketika melakukan kegiatan bubble atau melukis gelembung dengan cara mengontrol tangan, mulut, dan tenggorokan. Meniup dengan sedotan untuk mengontrol pernapasan, memegang sedotan melatih kemampuan mencengkeram yang pada dasarnya cukup sulit dilakukan untuk tangan kecil anak.Dalam permainan bubble painting, pada dasarnya terdapat unsur kegiatan pencampuran warna dasar/primer sehingga dapat menghasilkan warna baru, pengukuran (menakar) deterjen, pengenalan karakteristik zat (cair, padat, dan gas). Kemampuan kognitif pada pembelajaran menggunakan media Bubble dapat meningkatkan secara signifikan dan merangsang kreativitas menjadikan

118

anak tumbuh dan berkembang dengan baik serta dapat memperluas wawasan anak tentang sains sederhana pada saat tahap perkembangan kemampuan menganalisa, berkomunikasi dan memecahkan masalah. Berdasarkan diuraikan diatas, maka dalam penelitian ini terbukti bahwa proses pembelajaran media bubble dengan pembelajaran sains sederhana dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak usia 4-5 tahun di area sains di TK Pertiwi 49 Semarang. 4.1.7 Hasil Kemampuan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun Di Area Sains

4.1.7.1 Perbedaan Kemampuan Kognitif Anak Didik Kelompok Posttest dan Kelompok Pretest 4.1.7.1.1 Minggu Pertama

Dari hasil analisis perhitungan pada tabel 4.1 dan 4.2 di atas dapat disimpulkan bahwa perolehan persentase skor dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 67.82%, dengan rata-rata atau mean sebesar 48. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan

sebagaimana digambarkan pada tabel 1 bab 3 skor 67.82%. termasuk dalam interval skor 55,01%-77,01% dengan kategori cukup baik. Hasil rata-rata atau mean dimensi skor lebih mendekati angka 50 (skor minimal) dengan kategori cukup baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok posttest kemampuan kognitif pada anak usia 4-5 tahun khusus di area sains memperoleh hasil yang cukup baik untuk minggu pertama.

119

Untuk analisis perhitungan pada tabel 4.3 dan 4.4 atas dapat disimpulkan bahwa perolehan persentase skor dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 54.75%, dengan rata-rata atau mean sebesar 39.5. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan sebagaimana

digambarkan pada tabel 1 Bab 3 skor 54.75%. termasuk dalam interval skor 33,01%-55,01% dengan kategori kurang baik. Hasil rata-rata atau mean dimensi skor kurang mendekati angka 50 (skor minimal) dengan kategori kurang baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok pretest kemampuan kognitif pada anak usia 4-5 tahun khusus di area sains memperoleh hasil yang kurang baik untuk minggu pertama. Hasil Perbandingan Perolehan Skor Kemampuan Kognitif Siswa Kelompok Posttest dan Kelompok Pretest untuk minggu pertama disajikan dalam grafik dibawah ini :

Grafik 4.1 Perbandingan Perolehan Skor Kemampuan Kognitif Siswa Kelompok Posttest dan Kelompok Pretest Minggu Pertama

120

4.1.7.1.2

Minggu Kedua

Dari hasil analisis perhitungan pada tabel 4.5 dan 4.6 atas dapat disimpulkan bahwa perolehan persentase skor dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 77.66%, dengan rata-rata atau mean sebesar 56.25. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan sebagaimana digambarkan pada tabel 1 bab 3 skor 77.66%. termasuk dalam interval skor 77,01%-100% dengan kategori sangat baik. Hasil rata-rata atau mean dimensi skor lebih mendekati angka 50 (skor minimal) dengan kategori baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok posttest kemampuan kognitif pada anak usia 4-5 tahun khusus di area sains memperoleh hasil yang sangat baik untuk minggu kedua Untuk analisis perhitungan pada tabel 4.7 dan 4.8 atas dapat disimpulkan bahwa perolehan persentase skor dimensi pengetahuan umum dan sains, konsep bentuk, warna, ukuran dan pola sebesar 55.36%, dengan rata-rata atau mean sebesar 40.50. Hasil skor tersebut kemudian diinterprestasikan sebagaimana

digambarkan pada tabel 1 bab 3 skor 40.50%. termasuk dalam interval skor 55,01%-77,01% dengan kategori cukup baik. Hasil rata-rata atau mean dimensi skor kurang mendekati angka 50 (skor minimal) dengan kategori kurang baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelompok pretest kemampuan kognitif pada anak usia 4-5 tahun khusus di area sains memperoleh hasil yang cukup baik untuk minggu kedua.

121

Hasil

Perbandngan

Perolehan Skor Kemampuan Kognitif Siswa

Kelompok Posttest dan Kelompok Pretest untuk minggu kedua disajikan dalam grafik dibawah ini :

Grafik 4.2 Perbandingan Perolehan Skor Kemampuan Kognitif Siswa Kelompok Posttest dan Kelompok Pretest Minggu Kedua Adanya peningkatan perolehan kemampuan kognitif siswa kelompok Posttest dan kelompok Prestest dari minggu pertama ke minggu kedua menunjukan adanya pengaruh peran media terhadap kemampuan sains siswa. Dimana peran media dalam komunikasi pembelajaran di Taman Kanak-kanak semakin penting artinya mengingat perkembangan anak pada saat itu berada pada masa konkret. Oleh karena itu, salah satu prinsip pembelajaran di TK adalah kekonkretan, artinya bahwa anak diharapkan dapat mempelajari sesuatu secara nyata. Prinsip kekonkretan tersebut mengisyaratkan perlunya digunakan media

122

sebagai penyampai pesan dari guru kepada anak didik agar pesan/informasi tersebut dapat diterima atau diserap anak dengan baik. Menurut Carin dan Sund dalam Yulianti mendefinisikan sains sebagai pengetahuan yang sistematis atau tersusun secara teratur, berlaku umum, dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen. Aktivitas dalam sains selalu berhubungan dengan percobaan-percobaan yang membutuhkan

keterampilan dan kerajinan. Secara sederhana, sains dapat juga didefinisikan sebagai apa yang dilakukan oleh para ahli sains. Dengan demikian, sains bukan hanya kumpulan pengetahuan tentang benda atau makhluk hidup, tetapi menyangkut cara kerja, cara berpikir, dan cara memecahkan masalah. Ilmuwan sains selalu tertarik dan memperhatikan peristiwa alam, selalu ingin mengetahui apa, bagaimana, dan mengapa tentang suatu gejala alam dan hubungan kausalnya. Ini bisa dilakukan kalau dalam proses pembelajarannya menggunakan media.

123

BAB 5 PENUTUP

5.1 SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut : 5.1.1. Penggunaan media, dalam hal ini media bubble memberikan dampak positif bagi kemampuan kognitif anak, hal ini bias dilihat dari penjabaran indikator yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni : 1) anak dapat mengenal dan menyebutkan warna dasar seperti merah, kuning dan biru serta dapat menyebutkan minuman yang berwarna-warni seperti sirup, 2) anak dapat menyebutkan bentuk-bentuk geometri yang tercipta ketika bubble/gelembung ditaruh di tengah susunan lidi yang berbentuk segitiga, persegi dan persegi panjang. 3) dapat mengetahui bahwa air biasa itu tidak berbau, air sabun cair Sweetzal lebih wangi daripada air deterjen Rinso, air sampo Sunslik lebih wangi daripada air sabun colek Krim Ekonomi, serta air Lifebuoy Handwash, air sabun bayi batang merk Cussons, dan air sabun cair merk Sweetzal sama-sama berbau harum, 4) anak dapat mengetahui dan menyebutkan deterjen Rinso bertekstur kasar dan terasa panas di tangan dan sabun colek Krim Ekonomi bertekstur lembek dan lembut, derterjen Rinso lebih cepat larut di dalam air daripada sabun colek Krim Ekonomi yang dalam proses pelarutannya harus diaduk-aduk terlebih dahulu sampai benar-benar hilang sabunnya dan yang terakhir anak dapat 122

124

menyebutkan gelembung yang dihasilkan paling banyak pada deterjen Rinso, 5) anak dapat menceritakan yang terjadi ketika air sabun batang merk Cussons ditiup dengan sedotan akan tercipta bubble/gelembung yang sangat banyak, semakin kuat meniupnya maka akan semakin banyka gelembung yang tercipta, 6) anak dapat menceritakan kembali urutan proses pembuatan bubble/gelembung dengan sabun bayi cair merk Sweetzal, yaitu mulai dari menyiapkan air, memasukkan air ke dalam gelas aqua, mencampur warna (merah+kuning=orange, kuning+biru=hijau dan merah+biru=ungu), menambah campuran warna dasar dengan sabun bayi merkl Sweetzal, mengaduk dengan pengaduk kayu, dan meniup air sabun hingga terbentuk bubble, 7) Anak mampu bercerita tentang kegiatan yang telah dilakukan mencampur warna dasar, menakar sampo Sunsilk dengan sendok teh, meniup gelembung, dan mencipta lukisan gelembung, 8) Anak dapat menyebutkan benda-benda yang yang digunakan saat bermain bubble/gelembung beserta fungsinya (air, sabun, sendok, gelas aqua, pewarna, sedotan, pengaduk, dan kertas, 9) Anak dapat menyebutkan hasil pencampuran warna (merah+kening = orange, merah+biru = ungu dan biru+kuning = hiaju), 10) Anak dapat mengetahui konsep penuh-kosong dengan memasukkan air ke dalam gelas yang berbeda pada percobaan dengan media bubble, 11) Anak dapat mengetahui konsep banyak sedikit dengan memasukkan air berwarna ke dalam gelas aqua dan menakar deterjen dengan sendok dan 12) Anak dapat menyebutkan hasil dari

meniup bubble yang terlihat di kertas HVS. Hal ini menunjukkan bahwa

125

pemahaman anak meningkat. Ini berarti ada ketertarikan anak pada proses pembelajaran menggunakan dengan media bubble. Indikator tersebut mencakup aspek perkembangan pengetahuan umum dan sains, serta konsep bentuk, warna, ukuran dan pola. 5.1.2. Hasil penggunaan media Bubble dalam konsep pengetahuan dan sains serta konsep bentuk, ukuran, warna dan pola di minggu pertama pada kelompok posttest mencapai 67.82% kategori cukup baik, dengan mean atau ratarata 48 kategori cukup baik. Sedangkan tingkat kemampuan kognitif anak didik pada kelompok pretest hanya mencapai 54.75% kategori kurang baik, dengan mean/rata-rata 39.5 kategori kurang baik. Selanjutnya hasil penggunaan media di minggu kedua pada kelompok posttest mencapai 77.66% kategori sangat baik, dengan mean atau rata-rata 56 kategori baik. Sedangkan tingkat kemampuan kognitif anak didik pada kelompok pretest hanya mencapai 55.36% kategori cukup baik, dengan mean/rata-rata 40.5 kategori kurang baik.

126

5.2 SARAN Dari hasil penelitian, ada beberapa hal yang dapat peneliti

rekomendasikan, diantaranya(1) Bagi guru/pendidik sebaiknya dalam proses pembelajaran seorang guru/pendidik tidak hanya mengandalkan dari sedikit literatur misalnya majalah saja tetapi diharapkan ada banyak referensi literatur dalam menyajikan media pembelajaran agar ketertarikan siswabisa muncul dalam proses pembelajaran, (2) Diharapkan guru lebih kreatif lagi dalam menggunakan media pembelajaran, khususnya dalam penggunaan media Bubble yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak di area sains, (3) penggunaan media Bubble bisa dijadikan alternatif dalam pemilihan media pembelajaran sains sederhana di area sains.

127

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2010 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Daryanto. 2010. Media Pembelajaran Peranannya Sangat Penting dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran. Yogyakarta : Gava Media. Diana. 2009. Metode Perkembangan Kognitif dan Kreatitivitas. Bahan Ajar. Semarang: UNNES. Gardner, Howard. 2003. Multiple Intellegencies Kecerdasan Majemuk Teori dalam. Praktik Terjemahan Alexander Sindoro. Judul Asli : Multiple Intelligences. Jakarta: Interaksara. Hurlock, Elizabeth B. 1978. Perkembangan Anak Jilid 2. Jakarta : Erlangga. Indrawati, Iing. 2011. Studi Eksperimen Tentang Penggunaan Media Realita dan Replika Terhadap Kemampuan Dasar Berbahasa Anak. Skripsi. PGPAUD. UNNES. Jatmika, Yusep Nur. 2012. Ragam Aktivitas Harian Untuk Playgroup. Yogyakarta :Diva Press. Patmonodewo, Soemiarti. 1995. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta :Rineka Cipta. Rifa’i, Achmad dan Ani, Catharina Tri. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang : UNNES Press. Sadiman, Arief S.(dkk). 2008. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Seefeldt, Carol dan Barbara A. Wasik. 2008. PAUD Menyiapkan Anak Usia 3-4-5 Tahun Masuk Sekolah. Jakarta : PT. Indeks. Sudjana, Nana dan Rivai, Achmad. 2010. Media Pengajaran. Bandung :Sinar Baru Algensindo. Sudjana, Nana. 2009. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah.Bandung :Sinar Baru Algensindo. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

128

Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Pendidikan dan Pelatihan Guru (PLPG) Sertifikasi Guru dalam Jabatan Tahun 2008 Taman Kanak-kanak. Semarang : Universitas Negeri Semarang. Sudibyo, Bambang. 2009. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 tentang StandarPendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT. Indeks. Suyanto, Slamet. Pengenalan Sains untuk Anak TK dengan Pendekatan “Open Inquiry”.Diunduh dari http://www.Journal.Pengenalan Sains untukAnak TK dengan Pendekatan Inquiry.pdf.30/5/2012. Permatasari, Dewi Ayu. 2011. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Alam Sekitar untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Usia 5-6 Tahun di TK Pertiwi Jatibarang Brebes. Semarang : Universitas Negeri Semarang. Waluyo, Edi. 2006.Pemanfaatan Media dan Sumber Belajar dalam Pembelajaran di Taman Kanak-Kanak.Bahan Ajar. Semarang : Universitas Negeri Semarang. Yulianti, Dwi. 2010. Bermain Sambil Belajar Sains di TK. Jakarta :PT. Indeks. 2012. Undang-undang Perlindungan Anak. Bandung : Fokus media. (http://www.altaf.blogspot.com/2009/1/artikel/pengembangan-pembelajaransains-Anal-Usi- TK- B-Melalui-Seni-Rupa.html. http://www.colorsforearth.com/PDF-Files/Classroom/BubblePainting.pdf. http://id.shvoong.com/social-sciences/education/07/03/2011/kegiatan-dalamarea-yang-dipilih.html. http://www.jessicageorge/blogspot.com/8/11/2011/bubble-painting-a-creative-artexperience.html. (http://pgtkdarunnajah.com/2012/04/25/karakteristik-anak-usia-4-5-tahun/)

129

http://www.slametsuyanto.blogspot.com/Pengenalan-Sains-untuk-Anak-TK-dengan-Pendekatan-Inquiry.pdf (http://www.wahyuti4tklarasati.blogspot.com/2011/11/journal.karakteristik-anakusia-dini.html. (http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1958683-multipleintelligences-kecerdasan-majemuk-teori/#ixzz2L9ANmYPU)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful