P. 1
PENGERTIAN AGRESI

PENGERTIAN AGRESI

|Views: 192|Likes:
Published by Kebabb AAssyyemm
PENGERTIAN AGRESi
PENGERTIAN AGRESi

More info:

Published by: Kebabb AAssyyemm on Jun 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2015

pdf

text

original

TUGAS PSIKOLOGI UMUM

“AGRESI”

KARINA AYUDIA VALLENT ANGGER FAULIZAR R J SAFFIRA P S MUHAMMAD FATHONI

125120207111005 125120207111015 125120205111003 125120207111033 125120207111039

Hal ini juga termasuk dalam agresi manusia yang dimaksud adalah siksaan yang diarahkan secara sengaja dari berbagai bentuk kekerasan terhadap orang lain. niat menyakiti orang lain namun tidak berhasil. Sebaliknya.PENGERTIAN AGRESI Agresi adalah tingkah laku yang diarahkan kepada tujuan untuk menyakiti makhluk hidup lainnya yang ingin menghindari perlakuan semacam itu. Rasa sakit akibat tidakan medis misalnya. Dalam hal ini. . Apakah kita mendefinisikan agresi sebagai perilaku melukai. maka perilaku tersebut bukan dikategorikan perilaku agresi. Dalam psikologi dan ilmu sosial lainnya. hal ini dapat dikatakan sebagai perilaku agresi. Definisi yang paling sederhana dan yang paling disukai oleh orang yang menggunakan pendekatan behaviorisme. Agresi dapat dilakukan secara verbal atau fisik. Perilaku yang secara tidak sengaja menyebabkan bahaya atau sakit bukan merupakan agresi. pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. walaupun sengaja dilakukan bukan termasuk agresi. Pengrusakan barang dan perilaku destruktif lainnya juga termasuk dalam definisi agresi. adalah bahwa agresi merupakan perilaku yang melukai orang lain. jika menyakiti orang lain karena unsur ketidaksengajaan. 1. Agresi tidak sama dengan ketegasan Ada tiga perbedaan penting. Keuntungan definisi ini adalah bahwa perilaku itu yang menentukan apakah suatu tindakan bisa dikatakan agresi atau tidak. ataukah mempunyai maksud melukai disebut juga agresi.

Kita menghargai polisi yang telah menembak seorang teroris. 3. Tindakan kriminal seperti membunuh. Psikologi suatu pengantar 1991). Tetapi ada perilaku agresi yang baik. penghinaan.2. FAKTOR PENYEBAB PERILAKU AGRESI A. seperti rasa marah. menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Amarah Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan. Yang menjadi masalah apakah tindakan agresif melanggar atau mendukung norma sosial itu telah disepakati. meninju. Misalnya. tindakan agresif yang timbul dengan maksud untuk melukai seseorang adalah hal yang buruk. Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataannya agresi adalah suatu respon terhadap marah. Antara agresi antisosial dan prososial. Antara perilaku agresi dan perasaan agresi. yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak (Davidoff. tetapi tidak menampakkan usaha untuk melukai orang lain. Biasanya kita menganggap agresi sebagai sesuatu yang buruk. Sedangkan tindakan prososial adalah yang sesuai dengan hukum. atau ancaman . Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi. Memang. sakit fisik. Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang. Bisa saja. seseorang yang merasa sangat marah. kekerasan dan pemukulan jelas melanggar norma sosial disebut antisosial. Perilaku kita yang nampak belum berarti mencerminkan perasaan internal kita. Kekecewaan. seperti disiplin yang diterapkan orangtua atau kepatuhan terhadap komandan perang dianggap penting.

Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. 1991): 1. Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi. Dari penelitian yang dilakukan terhadap binatang. B. Ejekan. Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya. 2. . Faktor Biologis Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi (Davidoff. hinaan dan ancaman merupakan pancingan yang jitu terhadap amarah yang akan mengarah pada agresi. kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan penghancuran (agresi). mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah dipancing amarahnya.sering memancing amarah dan akhirnya memancing agresi. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi. 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami kesenangan. Prescott (Davidoff.

C. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. permasalahan generation gap ini harus diatasi dengan segera. Sedangkan pada wanita yang sedang mengalami masa haid. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteron pada tikus dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Kegagalan komunikasi orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak. Kimia darah. kadar hormon kewanitaan yaitu estrogen dan progresteronmenurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan mereka mudah tersinggung. seks bebas. 2006). Selain itu banyak wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat berlangsungnya siklus haid ini.3. Faktor-faktor kognitif Berbagai aspek lingkungan dapat menyiapkan kita untuk berperilaku secara agresif (Englander. Berkowitz & LePage. mengingat bahwa selain agresi. Dan menurut Leonard Berkowitz (1993. . Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi. tegang dan bermusuhan. dll. masih banyak permasalahan lain yang dapat muncul seperti masalah ketergantungan narkotik. D. kehamilan diluar nikah. Kesenjangan Generasi Adanya perbedaan atau jurang pemisah (Gap) antara generasi anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. gelisah.

dan Lynam. E.7 kali lebih mungkin dibunuh daripada mereka yang tanpa senjata api (Kellerman. 1986). 2006). Et Al. Walaupun pembawa acara berulang kali mengingatkan penonton untuk tidak mencontoh apa yang mereka saksikan namun diyakini bahwa tontonan tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan jiwa penontonnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada saat ini anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga “games” atau pun mainan yang bertema kekerasan. 1993). Selain itu ada pula acara-acara TV yang menyajikan acara khusus perkelahian yang sangat populer dikalangan remaja seperti Smack Down. 2006). Dodge Coie. . Pendapat ini sesuai dengan yang diutarakan Davidoff (1991) yang mengatakan bahwa menyaksikan perkelahian dan pembunuhan meskipun sedikit pasti akan menimbulkan rangsangan dan memungkinkan untuk meniru model kekerasan tersebut. Peran Belajar Model Kekerasan Para pakar teori kognitif sosial meyakini bahwa agresi dipelajari melalui proses penguatan dan belajar dari pengamatan (Englander. Agresi dapat dipelajari dengan menyaksikan orang lain melakukan tindakan agresif (Bandura.1996) telah memperlihatkan bagaimana hanya dengan kehadiran sebuah senjata (seperti pistol) saja dapat memicu pikiran permusuhan dan menghasilkan agresi (Anderson. Benjamin. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun. sampai film laga. 1998). 1999. 1990. Sejalan dengan gagasan Barkowitz. dan Bartholow. UFC (Ultimate Fighting Championship)atau sejenisnya. Berbagai factor kognitif lainnya menentukan apakah individu berespons secara agresif terhadap situasi yang menyakitkan (Baumeister. Berkowitz. sebuah penelitian terkenal pada tahun 1993 menemukan bahwa orang-orang yang tinggal dalam runah tangga dengan senjata api 2. sinetron.

Beberapa individu yang mengalami frustasi menjadi pasif (Miller.F. Belakangan. Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan. Akibatnya mereka menjadi mudah marah dan berperilaku agresi. terhalangnya upaya individu untuk mencapai tujuan. Frustrasi yang berujung pada perilaku agresi sangat banyak contohnya. memicu agresi. Mereka meliputi sakit fisik. hinaan pribadi. Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur. para psikolog menemukan bahwa agresi tidak hanya respons yang mungkin muncul terhadap frustasi. 1941). Namun demikian tidak lama setelah itu. John Dollard dan rekan – rekan sejawatnya (1939) mengajukan bahwa frustasi. dan peristiwa tidak menyenangkan seperti perceraian. pengharapan atau tindakan tertentu. Frustrasi Bertahun-tahun silam. Agresi merupakan salah satu cara berespon terhadap frustrasi. Hal ini menunjukan anak tersebut merasa frustrasi dan penyaluran agresi dilakukan dengan cara menembaki guru-gurunya. keinginan. beberapa waktu yang lalu di sebuah sekolah di Jerman terjadi penembakan guru-guru oleh seorang siswa yang baru di skorsing akibat membuat surat ijin palsu. para psikolog mengenali bahwa cakupan luas pengalaman menyakitkan selain frustasi dapat menyebabkan agresi. Hipotesis frustasi-agresi mereka menyatakan bahwa frustasi selalu mengaruh pada agresi. keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai. Begitu pula tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta ada kemungkinan faktor frustrasi ini memberi sumbangan yang cukup berarti pada terjadinya peristiwa tersebut. kebutuhan. Sebagai contoh banyaknya anak-anak sekolah yang bosan dengan waktu luang yang sangat banyak dengan cara nongkrong-nongkrong di pinggir jalan dan .

ditambah lagi saling ejek mengejek yang bermuara pada terjadinya perkelahian. 1988). Pendidikan disiplin seperti itu akan membuat remaja menjadi seorang penakut. PERSPEKTIF TEORITIS YANG KELIRU Strickland (2001) mengemukakan bahwa perilaku agresi adalah setiap tindakan yang diniatkan untuk melukai. Myers (2002) menjelaskan bahwa agresi merupakan perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai obyek yang menjadi sasaran agresi. kehilangan spontanitas serta inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain. Keluarga dan Keberhasilan Pendidikan. Banyak juga perkelahian disulut oleh karena frustrasi yang diakibatkan hampir setiap saat dipalak (diminta uangnya) oleh anak sekolah lain padahal sebenarnya uang yang di palak adalah untuk kebutuhan dirinya. dan membeci orang yang memberi hukuman. Hubungan dengan lingkungan sosial berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. . tidak ramah dengan orang lain. Secara umum. Pola pendisiplinan tersebut dapat pula menimbulkan pemberontakan. G. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Proses Pendisiplinan yang Keliru Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat sekehendak hatinya. menyebabkan penderitaan. terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi dengan alternatif (cara) lain yang dapat memenuhi kebutuhan yang mendasar (cth: dilarang untuk keluar main. dapat menimbulkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji. dan merusak orang lain. tetapi di dalam rumah tidak diperhatikan oleh kedua orang tuanya karena kesibukan mereka).

Energi destruktif individu dapat dikeluarkan dalam bentuk perilaku yang tidak merusak. Robber Baron menyatakan bahwa agresi merupakan tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut. Sigmund Freud mengemukakan bahwa perilaku agresi merupakan gambaran ekspresi yang sangat kuat dari insting untuk mati (thanatos). 1997). Dengan melakukan agresi. Teori Insting Teori paling klasik tentang perilaku agresi ini mengemukakan bahwa manusia memilki insting bawaan secara genetis untuk berperilaku agresi (Baron&Byrne. 1. maka secara mekanis individu telah berhasil mengeluarkan energi destruktifnya dalam rangka menstabilkan keseimbangan mental antara insting mencintai (eros) dan insting kemaitian (thanatos) yang ada dalam dirinya. Dengan demikian ada 4 unsur dalam agresi : • • • • Mempunyai tujuan untuk mencelakakan Ada individu yang menjadi pelaku Ada individu yang menjadi korban Ketidakinginan korban untuk menerima tingkah laku korban Tokoh Psikoanalis. namun yang hanya bersifat sementara.agresi adalah tanggapan yang mampu memberikan stimulus merugikan atau merusak terhadap organisme lain. Kemudian aliran .

Albert Bandura menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil dari proses belajar sosial (Strickland.Neufreudian merevisi teori-teori tersebut. 2. Hal ini bias disebabkan oleh rasa marah karena terancam atau kebutuhan yang tidak terpenuhi. Belajar sosial adalah belajar melalui mekanisme belajar pengamatan dalam dunia sosial. atau tanda-tanda yang berhubungan dengan perilaku agresi sebagai faktor-faktor yang memfasilitasi perilaku agresi. Teori ini berpendapat bahwa agresi merupakan hasil dari dorongan untuk mengakhiri keadaan frustrasi seseorang sebagai reaksi terhadap peristiwa yang tidak menyenangkan. Teori Belajar Sosial Teori ini menjelaskan bahwa perilaku agresi sebagai perilaku yang dipelajari. Sementara menurut Mc.2001). . Teori Frustasi Agresi Dikemukakan oleh John Dollard dan Neal Miller (1930-an). Misalnya ketakutan terhadap hukuman karena melakukan tindakan agresi secara nyata. Dapat atau tidaknya frustrasi menimbulkan reaksi agresi bergantung pada pengaruh variabel perantara. Konlard Lorens menyatakan bahwa agresi sebagai pemenuhan insting yang bersifat alamiah yang lebih mengarah pada perilaku penyesuaian diri (adaptif) dan bukan karena stimulus atau provokasi dari luar. 3. di dalam diri manusia terdapat insting untuk menyerang dan berkelahi. Dougall. Dalam hal ini frustrasi adalah kendala-kendala eksternal yang menghalangi perilaku seseorang. Dikemukakan oleh Wrighsman&Deaux (1981) menyatakan bahwa agresi adalah bagian dari ego yang berorientasi pada kenyataan sehingga dorongan agresi adalah suatu yang sehat karena bertujuan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang nyata dari menusia.

Dari ketiga informasi tersebut. serta variabel lingkungan dan kognitif sosial yang dapat menjadi penghambat atau fasilitator bagi timbulnya perilaku agresi. sebagai pelopor model transfer eksitasi menyatakan bahwa agresi dapat dipicu oleh rangsangan fisiologis (physicological arousal) yang berasal dari sumber-sember yang netral atau sumber-sumber yang sama sekali tidak berhubungan dengan atribusi rangsangan agresi itu (Krahe. teori belajar sosial ingin menjelaskan bahwa akar perilaku agresi tidak sederhana berasal dari satu atau beberapa faktor tapi hasil dari interaksi banyak faktor. seperti pengalaman masa lalu individu berkenaan dengan perilaku agresi. 4. jenis-jenis perilaku agresi yang mendapat dan hukuman. Zillman. Hukuman .1997). PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN AGRESI A. aliran ini mengemukakan tiga informasi yang perlu diketahui : • • • Cara perilaku agresi diperoleh Ganjaran dan hukuman yang berhubungan dengan suatu perilaku agresi Faktor-faktor sosial dan lingkungan yang memudahkan timbulnya perilaku agresi.Dalam memahami perilaku agresi. Teori Penilaian Kognitif (Cognitive Appraisal) Toeri ini menjelaskan bahwa reaksi individu terhadap stimulus agresi sangat bergantung pada cara stimulus itu diinterpretasikan oleh individu.

dilihat secara keseluruhan. tendensi mereka untuk terlibat dalam tipe agresi yang lebih berbahaya akan berkurang (Dollard dkk. Pertama-tama.cukup kuat untuk dirasa sangat tidak menyenangkan bagi penerimanya. Kondisikondisi apa yang harus dipenuhi sehingga hukuman dapat berhasil ? Empat hal yang penting adalah: (1) Harus segera-harus mengikuti tindakan agresif secepat mungkin. Dan (4) harus dipersepsikan oleh penerimanya sebagai justifikasi atau layak diterima. B. (2) Harus pasti-probabilitas bahwa hukuman akan menyertai agresi haruslah sangat tinggi. dalam berbagai aktivitas yang tidak berbahaya untuk orang lain (misalnya. 1939). faktor-faktor kognitif seringkali membuat . 1979). kita harus perhatikan bahwa. Katarsis Hipotesis katarsis (chatarsis hypothesis) adalah pandangan bahwa jika individu mengekspresikan kemarahan dan hostilitymereka dalam cara yang relatif tidak berbahaya. Dalam hal ini yaitu sebagai suatu teknik untuk mengurangi agresi. berteriak-teriak dalam ruangan kosong) dapat mengurangi keterangsangan emosional yang berasal dari frustasi atau provokasi (Zilmann. efek seperti ini hanya sementara. bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa hukuman dapat berhasil dalam mencegah individu untuk terlibat di banyak bentuk perilaku. dampak seperti ini tidak pasti dan tidak otomatis. Bila hukuman yang diberikan tidak sesuai dengan prinsipprinsip dasar.. maka hukuman dapat menjadi tidak efektif untuk tujuan ini. Keterangsangan emosi yang berasal dari provokasi dapat segera muncul kembali ketika individu mengingat kejadian yang membuat mereka marah (Caprara dkk. Namun. (3) Harus kuat. aktivitas olahraga keras. Sayangnya ternyata. Dengan kata lain. 1994).Hukuman (punishment) yaitu pemberian konsekuensi yang menyakitkan untuk mengurangi perilaku tertentu.

Baron. hasil dari beberapa penelitian. 1987). Ohbuchi & Agarie. Jadi jika Anda merasa bahwa Anda membuat orang lain marah. Weiner dkk. 1999.dampak katarsis. 1976). alasan-alasan yang baik ( good excuses) yang merujuk pada faktor-faktor di luar kontrol pemberi alasan . Sama halnya. tampaklah memungkinkan bahwa pemaparan terhadap perilaku nonagresif menghasilkan dampak yang sebaliknya.juga dapat efektif mengurangi marah dan agresi terbuka dari orang-orang yang telah diprovokasi dalam kadar tertentu (Baron. menunujukkan bahwa hal ini memang benar (misalnya. 1989). 1989b. (2) menyerang objek mati (Bushman. bahkan beberapa temuan menyatakan bahwa agresi dapat ditingkatkan oleh aktivitas ini. Mallick & McCandless. Agresi terbuka tampaknya tidak berkurang dengan (1) melihat adegan kekerasan di media (Geen. Pemaparan terhadap model nonagresif: Pertahanan yang menular Jika pemaparan terhadap tindakan agresif yang dilakukan orang lain di media atau secara langsung dapat meningkatkan agresi. D. 1998). C. Bahkan. Masalah yang dapat Anda hindari membuat ucapan “saya menyesal” menjadi berharga. segeralah minta maaf. . jika ada hanya berumur pendek.. & Stack. atau (3) melakukan agresi verbal terhadap orang lain. 1972b. Intervensi kognitif : Permintaan Maaf dan Mengatasi Defisit Kognitif pengakuan kesalahan-kesalahan yang meliputi permintaan ampun/maaf sesungguhnya seringkali sangat bermanfaat untuk mengurangi agresi (Kameda. Baumeister. 1966). Donnerstein & Donnerstein.

Respons yang tidak tepat. Pelatihan dalam keterampilan sosial: Belajar untuk memiliki hubungan baik dengan orang lain Salah satu alasan mengapa banyak orang yang terlibat dalam tanggapan agresif adalah karena mereka tidak memiliki keterampilan sosial dasar. Mengapa ? Karena tertawa dan afek positif yang dibawanya tidak sesuai dengan perasaan marah dan tindakan agresi. Teknik menyatakan bahwa agresi akan berkurang jika individu dipaparkan pada kejadian atau stimulus yang menyebabkan mereka mengalami keadaan afeksi yang tidak tepat dengan kemarahan atau agresi. jadi membekali orang-orang ini dengan keterampilan sosial yang lebih baik dapat sangat bermanfaat untuk mengurangi agresi. Sulit Untuk Tetap Marah Jika Anda Tersenyum Bayangkan Anda berada dalam situasi dimana Anda merasa diri Anda marah dan kemudian seseorang menceritakan sebuah lelucon yang membuat Anda tertawa. F. 1993b). Hal ini merupakan dasar dari pendekatan lain untuk mengurangi agresi. 1985). Oarangorang yang tidak memiliki keterampilan sosial dasar tampak terlibat dalam kekerasan dengan proporsi yang cukup tinggi di banyak masyarakat (Toch. Kemungkinannya besar bahwa ketika Anda tertawa. Apakah Anda akan tetap marah ? Mungkin tidak. yang dikenal sebagai teknik respons yang tidak tepat (incompatible response techniques) (misalnya. Baron.E. . Anda akan merasa kemarahan Anda berkurang. Mereka tidak mengetahui bagaimana merespons provokasi dari orang lain dalam cara yang akan menenangkan orang lain ini alih-alih mengganggu mereka. Mereka tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat permintaan atau bagaimana caranya untuk menolak permintaan orang lain tanpa membuat orang lain tersebut marah.

serta terjadinya penyimpangan perilaku. Hal ini terjadi supaya kegiatan belajar dan mengajar di dalam ruangan tersebut menjadi lebih efektif. Namun kadang-kadang dalam situasi tertentu ruang kelas yang biasa digunakan untuk satu kelas bertambah jumlahnya menjadi dua kelas sehingga kondisi tersebut mempengaruhi perilaku baik dosen maupun mahasiswa. misalnya lelah. berubahnya suasana hati. timbulnya kenakalan pada mahasiswa. seperti misalnya ruangan dengan kapasitas kecil dengan jumlah mahasiswa yang banyak merasa terganggu dengan adanya suara-suara yang berasal dari internal maupun eksternal kelas. Akibat dari kepadatan yang terjadi didalam ruang tersebut yaitu dari segi sosial. serta meningkatnya emosi yang dapat mengakibatkan tindak agresi. menimbulkan penurunan kondisi fisik. menurunnya kepedulian pada orang sekitar. Sedangkan dari segi psikologis mahasiswa maupun dosen menjadi stress.menurunnya kemampuan individu untuk mengerjakan tugastugas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Stokol dalam teori kendala Perilaku ( Behavioral Constrain Theory ) yaitu kenyataan atau perasaan serta kesan yang terbatas dari manusia oleh lingkungannya. Kepadatan yang terjadi dalam ruang kelas tersebut memiliki dampak yang cukup berpengaruh.CONTOH PERILAKU AGRESI Kondisi ruangan kelas yang memiliki kapasitas kecil biasanya hanya terdiri dari satu kelas dengan jumlah mahasiswa rata-rata 40 orang. . Sedangkan jika kepadatan meningkat. misalnya mahasiswa yang menganggu mahasiswa lainnya yang sedang memperhatikan dosen. Jika kepadatan menurun. sehingga membuat mahasiswa dan dosen sulit untuk berkonsentrasi pada kegiatan tersebut Jumlah mahasiswa yang tidak sesuai dengan kapasitas ruangan tersebut juga dapat menimbulkan kepadatan. kondisi fisik maupun perilaku pada manusia dapat dikatakan normal.

Akibat psikis. menurunkan kemampuan individu dalam mengerjakan tugastugasnya. perasaan sesak yang mula-mula dating dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak. Sesuai dengan salah satu jenis kesesakan yang dikemukakan oleh Stokols yaitu Kesesakan Sosial ( Social Crowding ). Hal ini sesuai dengan teori Beban stimulus yaitu kesesakan terjadi bila stimulus yang diterima . tekanan darah. o menumbuhkan frustasi. mahasiswa maupun dosen berusaha membuat temperatur dalam ruangan menurun atau lebih sejuk namun ia tidak dapat melakukannya. Rasa sesak datang karena jumlah mahasiswa yang terlalu banyak. peningkatan denyut jantung. yaitu : • • • Akibat fisik. menurunnya perilaku menolong. Misalnya pada saat temperatur meningkat atau panas. kemarahan dan dapat menyebabkan tindak agresi. Akibat sosial. o o o o timbulnya stress & perubahan suasana hati.Seperti yang telah dikemukakan oleh Heimstra dan Mc. Mahasiswa maupun dosen dalam ruang tersebut banyak menerima stimulus yang mempengaruhi proses kognitifnya. meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja. Kesesakan yang terjadi dalam ruang kelas tersebut menimbulkan persepsi individu terhadap keterbatasan ruang dan lebih bersifat psikis. dan lain-lain. Farling. kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Laura.e-psikologi. orang cenderung mengabaikan beberapa masukan dan mencurahkan pada hal-hal yang lain. Ketika individu melebihi kapasitas.asp?id=380 King.com/2010/05/06/agresi/ http://www.com/epsi/individual_detail.wordpress. Psikologi Umum (Buku 2). Seperti yang dikemukakan oleh Cohen yaitu manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam memproses informasi.individu terlalu banyak ( melebihi kapasitas kognitif ) sehingga timbul kegagalan dalam memproses stimulus atau info dari lingkungannya. (Jakarta:2010) . DAFTAR PUSTAKA http://novira08.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->