LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN HALUSINASI

A. Definisi Halusinasi adalah gangguan persepsi panca indra tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh atau baik (DepKes RI, 1998) Halusinasi ialah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada panca indera seorang pasien, yang terjadi dalam kehidupan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikopatik ataupun histerik (Maramis, 2005). Kemudian Sunaryo (2004) menjelaskan bahwa halusinasi merupakan bentuk kesalahan pengamatan tanpa pengamatan objektivitas penginderaan dan tidak disertai stimulus fisik yang adekuat.

B. Etiologi 1. Faktor Predisposisi a. Biologis, lesi pada area frontal, temporal dan limbic, gangguan otak (kerusakan otak, keracunan zat halusinogenik), genetik b. Neurotransmiter, abnormalitas pada dopamin dan serotonin c. Psikologis, Teori psikodinamik untuk terjadinya respon neurobiologist yang maladaptive d. Sosiobudaya, Stress skizofrenia 2. faktor presipitasi Secara fisik klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian induvidu terhadap stressor dan maslah koping dapat mengindikasi (kelliat,2006). kemungkinnan kekambuhan yang menumpuk dapat menunjang awitan

Faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah : a. biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnomalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak akibat ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. b. Sterss lingkungan Ambang toleransi terhadap sress yang berinteraksi terhadap stresor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku. c. sumber koping. Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

C. Jenis - jenis dan Tanda Halusinasi 1. Halusinasi Pendengaran Halusinasi pendengaran adalah ketika mendengar suara atau kebisingan, paling sering mendengar suara orang. Suara berbentuk kebinsingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai ada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan. (stuart,2007) a. Data Objektif 1) Bicara atau tertawa sendiri. 2) Marah-marah tanpa sebab 3) Mengarahkan telinga kea rah tertentu 4) Menutup telinga b. Data Subjektif 1) Mendengar suara atau kegaduhan 2) Mendengar suara yang mengajak bercakap – cakap 3) Mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya

2. Halusinasi Penglihatn Halusinasi pengelihatan adalah stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan biasa yang menyenangkan atau menakut ksn seperti melihat monster. (stuart,2007) a. Data Objektif 1) Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu 2) Ketakutan Kepada sesuatu yang tidak jelas b. Data Objektif 1) Melihat bayangan, sinar bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau monster. 3. Halusinasi Penghidung Halusinasi Penghidung adalah membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya bau-bauan yang tidak menyenang kan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang , atau dimensia. (stuart,2007)

a. Data Objektif 1) Menghidu sedang membaui bau-bauan tertentu 2) Menutup hidung b. Data Subjektif 1) Membaui bau-bauan seperti bau darah, urin, feses kadang-kadang bau itu menyenangkan 4. Halusinasi Pengecap Halusinasi pengecap adalah Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses. (stuart,2007) a. Data Objektif 1) Sering meludah 2) Muntah b. Data Subjektif 1) Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses

5. Halusinasi Perabaan Halusinasi Perabaan adalah mengalami nyeri atau ketidak nyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tesentrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain. (stuart,2007) a. Data Objektif 1) Menggaruk-garuk permukaan kulit b. Data Subjektif 1) Menyatakan ada serangga di permukaan kulit. 2) Merasa tersengat listrik 6. Halusinasi seksual Persepsi tentang alat genital yang palsu, penderita merasa adanya sensasi luar biasa pada alat genitalnya. 7. Halusinasi kinesti Persepsi palsu pada seseorang setelah mengalami operasi besar/ mayor. 8. Agnosia Gangguan persepsi yang ditandai dengan ketidakmampuan mengenal dan menginterpretasikan kesan sensorik.

D. Proses Terjadinya Halusinasi Halusinasi berkembang melalui emat fase, yaitu sebagai berikut : 1. Fase Pertama Disebut juga dengan fase comporting yaitu fase yang menyenangkan. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik. Karakteristik : Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, rasa bersalah, kesepian yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan. Klien melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara. Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respons verbal yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.

Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat. hilang control. tidak berdaya. dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan. menarik diri atau kakatonik. termasuk dalam psikotik ringan. 3. 4. agitasi. Mulai dirasakan adanya bisikan yang tidak jelas. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya. Klien asyik dengan halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas. perilaku kekerasan. memerintah. dan ia tetap dapat mengontrolnya. dan memarahi klien. . dan tidak mampu mematuhi perintah. Perilaku klien : meningkatnya tanda – tanda system saraf otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Termasuk dalam psikotik berat. malamun dan berfikir sendiri menjadi dominan. menguasai dan mengontrol klien. Termasuk kedalam gangguan psikotik. Klien tidak ingin orang lain tahu. suara. Klien menjadi takut. Karakteristik : halusinasinya berubah menjadi mengancam.2. Fase Keempat Adalah fase conquering atau panic yaitu klien lebur dengan halusinasinya. Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi. isi halusinasi semakin menonjol. dan tidak mampu berespons lebih dari satu orang. Fase Kedua Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi menjadi menjijikkan. kecemasan meningkat. rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. tremor. tidak mampu merespons terhadap perintah kompleks. potensi bunuh diri. Karakteristik : pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Fase Ketiga Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa. Karakteristik : bisikan. Perilaku klien : Perilaku teror akibat panik.

masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Umumnya. dinaikkan dosis tiap 2 minggu dan bisa pula dinaikkan sampai mencapai dosis ( stabilisasi ) . Porpenozin 12 – 24 mg / hari dan Triflufirazin 10 – 15 mg / hari. Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. F. dan akibat. Masalah ini dapat pula disebabkan oleh salah satu masalah yang lain. 2. Akibat adalah adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek atau akibat dari masalah utama. Penderita per Individu Farmakotherapi ( anti psikotik ) harus ditinjang oleh psikoterapi seperti Klorpromazin 150 – 600 mg / hari. demikian seterusnya. kemudian diturunkan setiap 2 minggu sampai mencapai dosis pemeliharaan. penyebab. . Obat dimulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran. Haloperidol 5 – 15 mg / hari. Penatalaksanaan 1. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan penyebab masalah utama. Pohon Masalah Resiko Perilaku Kekerasan Core Problem Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran Isolasi Sosial : Menarik Diri Gangguan Konsep diri : Harga Diri Rendah Pohon masalah terdiri dari masalah utama.E.

dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Keliat. tujuan utama perawatan dirumah sakit adalah ikatan efektif antara pasien dan system pendukung masyarakat. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan. d. 1999 : 2000 ). Pengkajian Menurut Stuart dan Laraia pengkajian merupakan tahapan awal dan dasar utama dari proses keperawatan. dikembangkan formulir pengkajian dan petunjuk teknis pengkajian agar memudahkan dalam pengkajian. Kemudian tapering off. faktor presipitasi. Asuhan keperawatan 1. Satu macam pendekatan terapi tidak cukup. Identitas klien Keluhan utama atau alasan masuk Faktor predisposisi Aspek fisik atau biologis Aspek psikososial Status mental Kebutuhan persiapan pulang Mekanisme koping Masalah psikososial dan lingkungan Pengetahuan . Isi pengkajian meliputi : a. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis. dan spiritual. sumber koping. G. j. Data pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi. g. h. c. 2005). 3. i. penilaian terhadap stressor. dosis diturunkan tiap 2 – 4 minggu dan dihentikan. ( Arif Mansjoer. b.Dipertahankan 6 bulan – 2 tahun ( diselingi masa bebas obat 1 – 2 hari / minggu ). atau masalah klien. f. Untuk dapat menjaring data yang diperlukan umunya. psikologis. sosial. e.

Perawat dapat menyimpulkan kebutuhan atau masalah klien dari kelompok data yang dikumpulkan. Aspek medik Kemudian data yang diperoleh dapat dikelompokkan menjadi dua macam sebagai berikut : a) Data objektif ialah data yang ditemukan secara nyata. Klien tidak memerlukan peningkatan kesehatan. sebagai program antisipasi terhadap masalah. umumnya sejumlah masalah klien saling . c) Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan dan perawat langsung merumuskan masalah keperawatan dan masalah kolaboartif. Kemungkinan kesimpulan adalah sebagai berikut : a) Tidak ada masalah tetapi ada kebutuhan 1. b) Ada masalah dengan kemungkinan 1. Klien memerlukan peningkatan kesehatan berupa upaya prevensi dan promosi. dan data yang diambil dari hasil catatan tim kesehatan lain sebagai data sekunder. Menurut FASID pada tahun 1983 dan INJF di tahun 1996. 2. 2. Resiko terjadi masalah karena sudah ada faktor yang dapat menimbulkan masalah. Data ini didapatkan melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat. tetapi hanya memerlukan pemeliharaan kesehatan dan memerlukan tindak lanjut secara periodik karena tidak ada masalah serta klien telah mempunyai pengetahuan untuk antisipasi masalah.k. b) Data subjektif ialah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. Data ini diperoleh melalui wawancara perawat kepada klien dan keluarga. Aktual terjadinya masalah disertai data pendukung. Data yang langsung didapat oleh perawat disebut sebagai data primer.

Gangguan Konsep diri : Harga diri rendah d.berhubungan serta dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Keliat. Isolasi Sosial : Menarik Diri c. 2005). Resiko Perilaku Kekerasan . Gangguan persepsi sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran b. Diagnosa keperawatan a. 3.

Diskusikan dengan klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan situasi. Dorong klien mengungkapkan perasaannya. Adakan kontak sering dan singkat. Diskusikan dengan klien faktor predisposisi terjadinya halusinasi. b. c. e. tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai. Terima halusinasi klien sebagai hal yang nyata bagi klien. b. bersikap empati dan menerima klien apa adanya. Klien dapat mengenal halusinasinya. Klien dapat membina hubungan saling percaya. baik secara verbal maupun non verbal. 2. jelaskan tujuan pertemuan. Dengarkan klien dengan penuh perhatian dan empati. Rencana tindakan keperawatan Dx: Gangguan persepsi sensori halusinasi Tujuan umum: klien tidak mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan Tujuan Khusus : 1. Intervensi : a. jujur dan menepati janji. c. Intervensi : a. . d. Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah. tapi tidak nyata bagi perawat. perkenalkan nama perawat. Observasi segala perilaku klien verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi.4.

. Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya. Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol halusinasinya. Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengontrol halusinasinya. Klien dapat mengontrol halusinasi. Klien dapat memanfaatkan obat dalam mengontrol halusinanya. Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya. 5. d. Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi. 4. Intervensi : a. Intervensi : a. b. Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasinya. Intervensi : Diskusikan dengan klien tentang tindakan yang dilakukan bila halusinasinya timbul. Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi. c. c. b. Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasinya.3.

1. Kaji kemampuan keluarga tentang tindakan yg dilakukan dalam merawat klien bila halusinasinya timbul. selalu berinteraksi dengan klien. anjurkan kepada klien untuk rajin minum obat. Diskusikan juga dengan keluarga tentang cara merawat klien yaitu jangan biarkan klien menyendiri. setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan. 2. .

waktu). Implementasi a. mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi. jenis halusinasi yang dialami pasien. Strategi pelaksanaan klien Sp pasien: SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi (isi.  SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung  dihadapan pasien SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga . mengajarkan bahwa suara itu tidak nyata. bagaimana respon dia. tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien halusinasi. bsagaimana respon orang lain ketika halusinasinya timbul. SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua:bercakap-cakap dengan orang lain SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga: melaksanakan aktivitas terjadwal SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur b. frekuensi.i. menjelaskan cara-cara mengontrol halusinasi. Strategi pelaksanaan keluarga  SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi.

Dukungan keluarga selama pasien di rawat di rumah sakit sangat dibutuhkan sehingga pasien termotivasi untuk sembuh. Evaluasi a.j. Klien juga diharapkan sudah mampu melaksanakan program pengobatan berkelanjutan mengingat sifat penyakitnya yang kronis Evaluasi asuhan keperawatan berhasil jika keluarga klien juga menunjukkan kemampuan menjadi sistem pendukung yang efektif untuk klien mengatasi masalah gangguan jiwanya. Kemampuan merawat di rumah dan menciptakan lingkungan kondusif bagi klien di rumah menjadi ukuran keberhasilan asuhan keperawatan. Keluarga yang mendukung pasien secara konsisten akan membuat pasien mampu mempertahankan program pengobatan secara optimal. Namun demikian jika keluarga tidak mampu merawat pasien. b. Evaluasi keluarga Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi. pasien akan kambuh bahkan untuk memulihkannya lagi akan sangat sulit. Demikian juga saat pasien tidak lagi dirawat di rumah sakit (dirawat di rumah). di samping pemahaman keluarga untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai jika muncul gejala-gejala relaps. Untuk itu perawat harus memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar keluarga mampu menjadi pendukung yang efektif bagi pasien dengan halusinasi baik saat di rumah sakit maupun di rumah. Evaluasi pasien Asuhan keperawatan klien dengan halusinasi berhasil jika klien menunjukkan kemampuan mandiri untuk mengontrol halusinasi dengan cara yang efektif yang dipilihnya. Tindakan keperawatan yang dapat diberikan untuk keluarga pasien halusinasi adalah: .

3) Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien 4) Buat perencanaan pulang dengan keluarga . jenis halusinasi yang dialami pasien. dan cara merawat pasien halusinasi. proses terjadinya halusinasi.1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2) Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi. tanda dan gejala halusinasi.

Ia berkata ada seseorang yang ingin membunuhnya.AR dengan halusinasi di ruang cendrawasih 1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu? Ya 2. FORMAT PENGKAJIAN RUANG RAWAT: Ruang Cenderawasih A. Keluarga sudah membawa pasien tersebut ke dukun untuk diobati tetapi pengobatan itu tidak berhasil. RM : 6 April 2010 TANGGAL RAWAT: 3 April 2010 : 001/RSEB/RM/2010 B. Pasien berteriak dan ketakutan. pasien sering menjerit berkata “tidak” dan “pergi” sambil menutup telinganya kemudian menangis. FAKTOR PREDISPOSISI 1.N Tanggal Pengkajian No. Penganiayaan Aniaya Fisik Aniaya Seksual Penolakan Kurang Berhasil Tidak Berhasil Saksi/Usia Tidak √ Pelaku/Usia Korban/Usia √ √ 23 23 .BAB III APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Nn. Pengobatan sebelumnya? Berhasil 3.AR : 25 tahun : Ny. IDENTITAS KLIEN Inisial Umur Informan : Nn. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT Pasien masuk RS 2 hari yang lalu. C.

3 : Pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu.1. Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri :Harga Diri Rendah 4. Ukur 3. Tanda Vital TD: 100/80 mmHg RR: 24 x/menit 2.KDRT Tindakan Kriminal Penjelasan no. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : Pasien mengatakan sering diintip oleh teman lelaki saat ia berada di dalam kamar mandi sekolah pada saat ia duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dan pasien pernah mengalami aniaya seksual (korban pemerkosaan) pada usia 23 tahun. MASALAH FISIK 1. Masalah Keperawatan : Berduka disfungsional.70 C BB: 47 kg Tidak : Pasien sering mengeluh sakit pada alat kelaminnya saat BAK dan sering mengeluh gatal pada alat kelaminnya pada saat malam hari sehingga pasien takut dan malu . Keluhan Fisik Jelaskan TB: 165 cm Ya √ N: 100 x/menit T: 36. Pasien pernah mengalami aniaya fisik (korban pemerkosaan) pada usia 23 tahun. Gejala Tidak √ Riwayat Pengobatan/Perawatan D. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa? Ya Hubungan Keluarga Masalah Keperawatan : 5. Harga Diri Rendah (HDR).2.

Isolasi Sosial. (buat yang tinggal satu rumah dengan garis putus2) Masalah Keperawatan : Komunikasi inefektif. biasanya tidak dibicarakan kepada seluruh anggota keluarga. PSIKOSOSIAL 1.An) tidak efektif.untuk berinteraksi dan takut untuk diketahui oleh orang lain. E. . Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah. Bila ada masalah dalam keluarga. Setiap anak AR mendapatkan masalah. Ia biasanya hanya memendamnya sendiri. ia tidak pernah mau untuk menceritakan masalah kepada orang tuanya maupun kepada saudara kandungnya. Genogram (3 Generasi) Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Pasien (25 tahun) : Garis Perkawinan : Garis Keturunan Jelaskan : Komunikasi pada keluarga pasien (Nn.

Masalah Keperawatan: Pasien mengalami gangguan gambaran diri. ia merasa kotor dan merasa tidak berguna lagi ia hidup di dunia ini.2. b. pasien tergabung dalam Remaja Islam masjid. Hubungan Sosisl a. : Semenjak kejadian tersebut keluarga pasien jarang mengajak pasien untuk berkomunikasi. c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain (di rumah dan di RS):  Di lingkungan masyarakat: Pasien merasa sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain karena pasien merasa malu dan jijik dengan dirinya dan merasa semua orang membencinya. Orang yang berarti: Ayah dan ibu. Gambaran diri : Pasien merasa jijik dengn dirinya.  Di lingkungan rumah sakit: Pasien merasa sulit untuk berinteraksi dengan pasien lain dan petugas kesehatan karena pasien merasa malu. Di Lingkungan Rumah Sakit: Pasien mau mengikuti kegiatan kelompok yang diadakan oleh perawat seperti TAK. : Pasien merasa sedih karena semenjak kejadian tersebut pasien berhenti kuliah karena merasa malu dengan teman-temannya. Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah dan Isolasi Sosial. b. Harga diri : Pasien bercita-cita ingin menjadi seorang guru SMA. Ideal diri e. Peran : Menyadari bahwa ia terlahir sebagai wanita. dan gangguan harga diri rendah. Konsep Diri a. d. Identitas diri c. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat (dirumah dan di RS):   Di lingkungan masyarakat: Pasien dulu aktif di lingkungan di masyarakat. ideal diri. peran. 3. .

Kegiatan ibadah : (di rumah dan di RS)  Pada saat sebelum kejadian pemerkosaan pasien sangat tekun beribadah namun setelah kejadian itu pasien kadang-kadang beribadah dan kadangkadang tidak. letak kancing tidak benar. mata melotot tertuju pada satu titik. halusinasi . Masalah Keperawatan : defisit perawatan diri 2. Nilai dan Keyakinan : Pasien menganut agama islam. Penampilan √ Tidak Rapi Penggunaan pakaian tidak sesuai Jelaskan Cara berpakaian seperti biasanya : pakaian pasien tidak rapi. lalu tiba-tiba pasien menjerit sambil menutup telinga. Masalah Keperawatan : kerusakan komunikasi verbal (agitasi). Pembicaraan Cepat Apatis Keras Lambat Gagap Membisu √ Agitasi Tidak mampu memulai Pembicaraan Jelaskan : pasien tampak tegang saat berbicara. Spiritual a. dan pakaiannya kusut.  Pada saat dirumah sakit pasien tidak pernah sholat sehingga pasien merasa gelisah dan tidak tenang Masalah Keperawatan : Distress spiritual. STATUS MENTAL 1. b.4. F.

Interaksi selama wawancara Bermusuhan Kontak mata kurang Jelaskan √ Tidak kooperatif Defensif Mudah tersinggung Curiga : Pasien tampak tidak kooperatif ketika menjawab pertanyaan dari perawat. 5. 6. pasien menutup mata dan menutup telinga. Masalah Keparawatan : Kerusakan komunikasi verbal. Masalah Keperawatan : Gangguan alam perasaan :labil. Afek Datar Jelaskan Tumpul √ Labil Tidak sesuai : Pasien kadang tampak diam dan tiba-tiba menjerit dengan mata melotot dan gerakan tangan seperti menghalau sesuatu. Aktifitas Motorik √ Tik Jelaskan Grimsen Tremor Kompulsif : mata tampak melotot dan tertuju pada satu titik dan pasien tampak terlihat ketakutan. .3. Masalah Keperawatan : Gangguan alam perasaan : ketakutan. Masalah Keperawatan : Halusinasi penglihatan 4. bahkan pasien sampai menangis. Alam perasaan Sedih Jelaskan √ Ketakutan Putus asa Khawatir Gembira berlebihan : Pasien tampak ketakutan sambil menutup mata dan telinga serta mengatakan “tidak”.

Proses pikir √ Sirkumstansial Flight of idea Tangensial Blocking Kehilangan asosiasi Pengulangaan pembicaraan/ Preservasi Jelaskan : Ketika menjawab pertanyaan perawat pasien terlihat berbelit-belit (tujuannya sampai) dalam menjawab Perabaan pertanyaan perawat Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir 9. Tangan pasien seperti menghalau sesuatu yang ada di depannya. 8.7. isi halusinasi. Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran dan penglihatan. Persepsi halusinasi √ Pendengaran Pengecapan Jelaskan √ Penglihatan Penghidu : Kapan terjadinya. Isi pikir Obesesi Depolarisasi Waham Agama Somatik Kebesaran √ Curiga √ Phobia Ide yang terkait Hipokondria Pikiran magis . frekuensi halusinasi. lamanya halusinasi. fase halusinasi pasien tampak ketakutan sambil menutup telinga dan memandang pada satu titik lalu berkata “tidak” dan “pergi”.respon pasien terhadap kita saat terjadi halusinasi.

Tingkat kesadaran √ Bingung Disorientasi Waktu Sedasi Stupor Tempat √ Orang Jelaskan : Pasien selalu salah menyebutkan nama orang yang ditunjuk oleh perawat Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir 11. Pasien terlihat bingung dan menggeleng. Memori Gangguan daya ingat jangka panjang Gangguan daya ingat saat ini Jelaskan : Ketika ditanya oleh perawat terhadap aktivitas yang baru saja dilakukan pasien tidak ingat Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir. Dan pasien terlihat curiga terhadap perawat yang mencoba berinteraksi dengannya Masalah Keperawatan : Halusinasi penglihatan dan pendengaran. Waham curiga 10. Tingkat konsentrasi dan berhitung Mudah beralih √ Tidak mampu berkonsentrasi Tidak mampu berhitung sederhana Jelaskan : saat ditanya pasien tidak mampu berkonsentrasi. √ Gangguan daya ingat jangka pendek . 12.Nihilistik Jelaskan Sisip pikir Siar pikir Kontrol pikir : pasien tampak ketakutan dengan mata melotot pada satu titik dan menutup telinga.

Daya tilik diri Mengingkari penyakit yang diderita Jelaskan √ Menyalahkan hal-hal di luar dirinya : pasien menyalahkan orang tuanya yang tidak mau mendengarkan dan membantu menyelesaikan masalahnya. Pasien juga menyalahkan laki-laki yang telah memperkosanya karena kasus perkosaan itu menyebabkan dia merasa kehilangan masa depannya. BAB/BAK Bantuan minimal Bantuan Total .Masalah Keperawatan : Gangguan proses pikir. Kemampuan penilaian √ Gangguan ringan Jelaskan Gangguan bermakna : pasien masih dapat melakukan kegiatan seharihari seperti makan dan minum sendiri (jika diberikan pertanyaan mis. 13. Masalah Keperawatan : Isolasi sosial : menarik diri G. Makan dan minum √ Bantuan minimal Bantuan Total : Pasien masih dibantu dalam hal menyiapkan makan dan minum namun dapat makan dan minum sendiri. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG (dikaji kemampuan pasien selama di RS) 1. 14. Apakah mau mandi dulu apa mau makan dulu). Masalah Keperawatan : gangguan proses pikir. Jelaskan Masalah Keperawatan : 2.

Jelaskan : Pasien dapat melakukan BAB/BAK tanpa bantuan orang lain Masalah Keperawatan : 3. Jelaskan : Tidur siang lamanya 1 jam. Penggunaan obat √ Bantuan minimal Bantuan Total : Pasien selalu diingatkan untuk minum obat. Berpakaian/berhias √ Bantuan minimal Bantuan Total : Pasien masih di bantu untuk menyisir rambut. 5. Istirahat dan tidur √ Tidur siang lamanya: 1 jam √ Tidur malam lamanya: sulit. Jelaskan Masalah Keperawatan : Deficit perawatan diri (berhias). saat tidur malam pasien mengalami kesulitan untuk tidur dan sering mendengar suara-suara yang ingin membunuhnya. 6. kegiatan yang dilakukan pasien sebelum tidur yaitu membaca doa. sering mendengar suara-suara yang ingin membunuhnya. √ Kegiatan sebelum/sesudah tidur: membaca doa. Masalah Keperawatan : Gangguan pola tidur. Mandi Bantuan minimal Jelaskan Bantuan Total : Pasien dapat mandi sendiri tanpa bantuan dari orang lain Masalah Keperawatan : 4. Jelaskan .

Masalah Keperawatan : 9. Dikaji kemampuan pasien yang dapat dilakukan di rumah : 7. Kegiatan di luar rumah Belanja Transportasi Jelaskan Ya √ √ Tidak : Pasien dapat berbelanja namun dengan melihat catatan belanja dan pasien dapat menggunakan transportasi (angkutan umum) untuk berbelanja Masalah Keperawatan : - . Kegiatan di dalam rumah Mempersiapkan makanan Menjaga kerapian rumah Mencuci pakaian Pengaturan keuangan Jelaskan Ya √ √ √ √ Tidak : Pasien tidak dapat melekukan kegiatan didalam rumah seperti mencuci pakaian dan mengatur keuangan. Pemeliharaan kesehatan Perawatan lanjutan Sistem pendukung Jelaskan Ya √ √ Tidak : Pasien dapat mengatasi halusinasinya dengan bantuan keluarga Masalah Keperawatan : 8.Masalah Keperawatan : Ketidakefektifan penatalaksanaan program teraupetik.

.... . . MEKANISME KOPING Adaptif Bicara dengan orang lain Mampu menyelesaikan masalah Teknik Relokasi Aktivitas konstruktif Olahraga Lainnya .. Masalah Keperawatan : Koping individu inefektif.. : Ketika sedang menghadapi masalah pasien lebih sering menghindar dan melupakan masalah tersebut..Pasien mengatakan bahwa ia melihat segerombolan lakilaki yang datang menghampirinya dan akan memperkosanya.... ANALISA DATA DATA SUBJEKTIF .. Jelaskan Maladaptif Minum alkohol Reaksi lambat/berlebih Bekerja berlebihan √ Menghindar Mencederai diri Lainnya ...Pasien mengatakan bahwa ia merasa ketakutan....Pasien mengatakan bahwa Gangguan ada orang yang persepsi sensori: halusinasi MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN akan (pendengaran dan penglihatan) membunuhnya. ....H.....

Pasien tampak berkeringat .  Pasien menyendiri dan ridak mau orang berinteraksi yang dengan terdekat (orangtua maupun saudarasaudaranya).Pasien menggerakan tangan seperti mengusir sesuatu SUBJEKTIF  Pasien mengatakan bahwa Isolasi Sosial : Menarik Diri hidupnya berguna sudah lagi dan tidak kotor setelah diperkosa.  Pasien mengatakan bahwa sering merasakan kesepian dan ditolak oleh orang tua maupun saudara-saudaranya.Pasien tampak ketakutan .  Pasien mengatakan bahwa hubungannya dengan orang lain tidak ada gunanya.OBJEKTIF .Bibir pasien tampak gemetar .Pasien telinga menutup sambil kedua berkata “tidak” dan “pergi”.Pandangan tertuju pada satu titik. OBJEKTIF  Pasien tidak mau bicara. . . .

 Pasien apatis. ASPEK MEDIK Diagnosa medis : Skizofrenia Terapi medik : Dengan pemberian psikofarmakoterapi. Yaitu dengan menggunakan obat-obatan anti psikotik yaitu: .  Pasien mengatakan tidak mau berinteraksi lain.  Pasien berpakaian tidak rapi dan tidak memperdulikan dirinya. SUBJEKTIF  Pasien mengatakan bahwa Gangguan Konsep diri : Harga Diri Rendah hidupnya berguna sudah lagi dan tidak kotor setelah diperkosa. I. Menjawab pertanyaan kurang spontan. OBJEKTIF  Pasien mengejek dan dengan orang mengkritik dirinya.  Pasien tidak berani menatap mata perawat atau orang lain bila diajak berbicara.  Bicara pasien lambat dengan nada suara lemah.

Haldol. Defisit Perawatan diri 6. golongan butiroferon: Haloperidol. J. Pemberian injeksi biasanya cukup 3x24 jam. Serenace. Biasanya diberikan per oral. Setelah klien diberikan obat per oral 3x1. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah 4. dosis dapat dikurangi 1x100 mg pada malam hari saja.5 mg atau 3x5 mg. Isolasi Sosial : Menarik Diri 3. Distress spiritual . Pada kondisi akut biasanya diberikan 3x100 mg. Resiko Perilaku Kekerasan 5. Regimen perawatan tidak efektif 7. Pada kondisi akut biasanya diberikan dalam bentuk injeksi melalui Intramuskular (IM) dengan dosis 3x5 mg. Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran 2.  Golongan fenotiazine: Chlorpromazine/ Largactile/ Promactile. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN 1. Ludomer. Apabila kondisi sudah stabil.

K. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran 2. Gangguan Konsep diri : Harga diri rendah 4. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Isolasi Sosial : Menarik Diri 3. Resiko Perilaku Kekerasan . POHON MASALAH (buat cabang dari masalah keperawatan yang terdapat di pengkajian) Resiko Perilaku Kekerasan Core Problem Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Penglihatan dan Pendengaran Isolasi Sosial : Menarik Diri Gangguan Konsep diri : Harga Diri Rendah L.

Klien -Ekspresi wajah 1.1. perkenalkan nama perawat. saling percaya. dan menepati . membina hubungan tangan. Bina hubungan saling 1. baik secara verbal maupun non verbal. terapeutik yaitu sapa klien klien. tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai. Halusinasi Pendengaran dan penglihatan Perencanaan Tujuan Tujuan Klien berhubungan dengan orang lain untuk mencegah umum: dapat Kriteria Hasil Intervensi Rasional timbulnya halusinasi. membalas salam. janji. dengan ramah. klien nampak percaya dengan klien dengan percaya mau berjabat menggunakan/ komunikasi interaksi dapat tenang. jelaskan jujur tujuan pertemuan. Hubungan sebagai perawat saling dasar dan bersahabat. Tujuan khusus: 1. mau duduk dekat perawat. ANALISA DATA Diagnosa Keperawatan Gangguan persepsi sensori.

-Klien dapat membedakan antara 2. 3. Terima halusinasi klien klien dan rasa percaya sebagai hal yang nyata bagi klien. Mengetahui masalah mengungkapkan perasaannya. 2. Dengarkan klien dengan 3. Observasi segala perilaku 2. 4. Meningkatkan realita halusinasi. diperhatikan. Dorong klien 2. Adakan kontak sering dan 1. Klien dapat nyata. menyebabkan halusinasi. tapi tidak nyata bagi perawat. Halusinasi harus kenal klien verbal dan non verbal terlebih yang berhubungan dahulu agar dengan intervensi efektif 3. nyata dan tidak 1. Menghindari yang waktu dapat timbulnya kosong mengenal halusinasinya. Diskusikan dengan klien membantu . yang dialami oleh klien. singkat. penuh perhatian dan empati. Agar klien merasa 3. Peran serta aktif klien dalam 4.bersikap empati dan menerima klien apa adanya. klien. 2.

intervensi 5.situasi yang menimbulkan dan melakukan tidak menimbulkan situasi. keperawatan. Hasil diskusi sebagai : 2. Dengan diketahuinya faktor predisposisi terjadinya faktor halusinasi. . Dorong klien menyebutkan bukti dari perhatian klien kembali cara memutuskan atas apa yg dijelaskan 3. mengontrol halusinasi. halusinasi. kegiatan lakukan halusinasinya. halusinasi melawan 1. Meningkatkan harga diri reinforcement klien menyapu/mengepel. Berikan . Diskusikan dengan klien cara mau tentang cara memutuskan halusinasi. Mengetahui tindakan 1. Diskusikan dengan klien yang tentang -Klien akan tindakan dilakukan dalam membantu predisposisi dalam mengontrol halusinasi. mengatakan mendengar. dan lapor pada perawat 3. dapat dilakukan bila halusinasinya cara timbul. yang mengontrol halusinasinya. 2. -Klien dapat menyebutkan 3. Klien dapat tindakan dilakukan yang dapat apabila 1. Diskusikan dengan klien 5. halusinasinya timbul. minum obat secara teratur. Meningkatkan menyebutkan memutuskan yaitu suara dengan itu tidak pengetahuan klien tentang memutuskan dengan 1.

Diskusikan dengan klien pengetahuan klien tentang tentang obat untuk mengontrol fungsi obat yang diminum halusinasinya. Kaji kemampuan keluarga yang dilakukan oleh tentang tindakan yg dilakukan keluarga dalam merawat dalam merawat klien bila klien. dalam 1. halusinasinya timbul. klien. Klien kembali cara dapat -Klien mau minum obat memutuskan halusinasinya. agar klien mau minum obat secara teratur. positif atas keberhasilan klien menyebutkan 4. keluarga tentang cara merawat pengetahuan klien yaitu jangan biarkan tentang klien menyendiri.pada saat timbul halusinasi. Meningkatkan halusinanya. cara Meningkatkan keluarga merawat berinteraksi anjurkan kepada klien untuk . mendapat sistem pendukung pendukung keluarga. memanfaatkan obat dengan teratur. 1. dalam mengontrol 1. Klien mendapat -Klien sistem keluarga mengontrol halusinasinya. Diskusikan juga dengan 2. 5. Mengetahui tindakan 1. 2. dengan selalu klien.

Klien menjawab salam dari perawat menggunakan/ komunikasi . Tujuan khusus: 1.Klien menyebutkan nama lengkap dan membina saling percaya. Membina hubungan saling S: hubungan percaya dengan klien dengan . . 2. CATATAN PERKEMBANGAN No Tanggal Diagnosa Keperawatan 1. setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan.rajin minum obat. terapeutik yaitu sapa klien nama panggilannya. Klien dapat 1. 6-4-2010 Gangguan persepsi sensori: Halusinasi Pendengaran dan penglihatan Tujuan umum: Klien dapat Tujuan Implementasi Evaluasi berhubungan dengan orang lain untuk mencegah timbulnya halusinasi.

Klien Pasien mengatakan bahwa ia dan panggilan yang disukai.Klien sudah mau berbicara dan menerima klien apa adanya. 3. mendengar suara-suara perkenalkan nama perawat. mengancam akan membunuhnya. memperkosanya. 2. tanyakan nama lengkap klien .dengan ramah. baik secara - Klien mengatakan dia sering yang verbal maupun non verbal. bersikap empati dan O: .Klien mengulang kegiatan yang telah dilakukan berdasarkan jadwal kegiatan . Mendengarkan dengan penuh perhatian dan . saling percaya dengan perawat Klien mampu mengungkapkan perasaannya. klien A: mengungkapkan perasaannya. P: Pasien: .Klien tidak lagi takut dengan orang lain. datang menghampirinya dan akan jujur dan menepati janji. melihat segerombolan laki-laki yang jelaskan tujuan pertemuan. . Mendorong klien menatap perawat.Klien mampu membina hubungan empati.

1. menimbulkan halusinasi..harian perawat. Mendiskusikan situasi dan yang mengancam akan membunuhnya. Mengobservasi singkat. 4. Menerima halusinasi klien ia melihat segerombolan laki-laki yang sebagai hal yang nyata bagi datang menghampirinya dan akan klien. dengan . Mengadakan kontak sering dan 2. 3. dengan halusinasi. 5. tapi tidak nyata bagi memperkosanya dan juga suara-suara perawat. Mendiskusikan dengan menyebabkan .Pasien dapat menyebutkan frekuensi yang (seberapa sering) dia mengalami klien menimbulkan tidak halusinasi.Pasien menyebutkan yaitu jenis mengenal halusinasinya.Mengevaluasi kegiatan yang telah 2. S: segala .Pasien menyebutkan situasi yang dapat timbulnya halusinasi. Klien dapat dilakukan dan melanjutkan ke rencana tindakan selanjutnya. yang telah dibuat bersama Perawat : .Pasien menyebutkan isi halusinasinya. perilaku klien verbal dan non halusinasinya verbal yang halusinasi berhubungan pedengaran dan penglihatan . yaitu 5 kali dalam sehari. .

Klien mampu mengenal halusinasinya P: Pasien : Menganjurkan pasien untuk mengingat kembali hal-hal apa yang meyebabkan munculnya halusinasi dan kapan waktunya.Pasien mengatakan respon/cara-cara yang digunakannya untuk mengatasi halusinasi yaitu dengan mengusir terjadinya halusinasi. Klien mengulang kegiatan yang telah dilakukan berdasarkan jadwal kegiatan harian yang telah dibuat bersama perawat. O: A: .klien faktor predisposisi yaitu saat dia sendirian di kamar . halusinasinya dengan menutup telinga dan mengusirnya dengan mengatakan “pergi”. Perawat : .

Mendiskusikan dilakukan dan melanjutkan ke rencana tindakan selanjutnya yaitu mengajarkan dengan klien mengontrol halusinasi.3. menyapu. klien A: Klien mampu mengontrol halusinasi melakukan seperti P: mengepel Pasien : Klien mengulang kegiatan yang telah dilakukan (berlatih cara mengontrol halusinasi) berdasarkan jadwal kegiatan . Klien dapat Mengevaluasi kegiatan yang telah mengontrol halusinasi. menyapu dll. lantai dll. . klien tentang tindakan yang dilakukan bila halusinasinya S: .Klien timbul yaitu: Mengajarkan cara halusinasi Mengajarkan untuk klien klien O: Klien mempraktekkan cara menghardik - menghardik halusinasi Klien berbincang-bincang dengan orang lain (perawat atau pasien lain) Klien mengepel lantai. berbincang- bincang dengan orang lain Mengajarkan untuk aktivitas. 1.

O: benar A: Klien mampu mengontrol halusinasi dengan mengkonsumsi obat P: Pasien : Menganjurkan klien untuk mengingat Klien menggunakan obat dengan obat dengan 4 . Perawat: yang telah dibuat bersama memanfaatkan dalam mengontrol 1. Klien menyebutkan tentang cara penggunaan Benar. Mendiskusikan tentang untuk Mengevaluasi kegiatan yang telah halusinanya. Klien menyebutkan indikasi obat Klien dapat menyebutkan efek samping obat. dosis. waktu. mengontrol halusinasi. kepada dilakukan dan melanjutkan ke rencana klien obat penggunaan tindakan selanjutnya. indikasi obat.harian 4. efek samping obat. meliputi: 4 Benar S: (Benar obat. Klien dapat obat perawat. cara penggunaan).

setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan - mengalami halusinasi kembali. Keluarga menyebutkan klien obat cara untuk dalam menganjurkan menggunakan mengontrol halusinasinya O: . pendukung dalam 1. Klien mendapat sistem keluarga mengontrol halusinasinya. anjurkan kepada klien untuk rajin minum obat. Mendiskusikan juga dalam merawat Mengevaluasi kegiatan yang telah bila halusinasinya dilakukan dan melanjutkan ke rencana tindakan selanjutnya. Keluarga mengatasi menyebutkan klien bila cara klien selalu berinteraksi dengan klien. 2.5. dengan keluarga tentang cara S: merawat klien yaitu jangan biarkan klien menyendiri. keluarga tentang tindakan yg Perawat : dilakukan klien timbul. Keluarga menyebutkan tindakan yang harus dilakukan / cara merawat klien. Mengkaji tentang penggunaan obat dan memasukkan jadwal minum obat ke jadwal kegiatan harian yang telah dibuat kemampuan bersama perawat.

- Keluarga merawat dan mendukung klien. Perawat : Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan dan melanjutkan ke rencana tindakan selanjutnya. P: Keluarga : Menganjurkan keluarga mendukung klien dalam mengontrol halusinasi. . A: Keluarga mendukung klien dalam proses perawatan klien dirumah. Keluarga mengatasi klien saat klien mengalami halusinasi.