P. 1
Evaluation Of Registration And Documentation Management Based On Museum Directorate Standard, Department Of Culture And Tourism (Study Case: Yogyakarta’s Batik Museum)

Evaluation Of Registration And Documentation Management Based On Museum Directorate Standard, Department Of Culture And Tourism (Study Case: Yogyakarta’s Batik Museum)

|Views: 3,222|Likes:
Published by twichaksono
Discover the harmony between system of management registration and documentation which implemented by the Batik Museum of Yogyakarta with the standard or Directorate Museum, Department Of Culture And Tourism
Discover the harmony between system of management registration and documentation which implemented by the Batik Museum of Yogyakarta with the standard or Directorate Museum, Department Of Culture And Tourism

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: twichaksono on May 08, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

Sections

A. Administrasi, Geografis, dan Lingkungan

1. Letak dan Lokasi Museum Batik Yogyakarta

Museum Batik Yogyakarta terletak di wilayah Kelurahan Bausasran, Kecamatan

Danurejan, Kotamadya Yogyakarta, DIY. Letak ketinggiannya dari permukaan laut

kurang lebih 155 mdpl (Biro Pusat Statistik 2007, 1). Kecamatan Danurejan terdiri

dari tiga kelurahan, yaitu: Kelurahan Suryatmajan, Kelurahan Tegal Panggung, dan

Kelurahan Bausasran. Secara astronomis, Museum Batik Yogyakarta terletak

110°22’38,29’’ Bujur Timur dan 07°47’44,95” Lintang Selatan.

Secara administratif Museum Batik Yogyakarta dibatasi oleh: 1. sebelah utara

Kecamatan Gondokusuman, 2. sebelah timur kecamatan Gondokusuman, 3.

sebelah selatan Kecamatan Pakualaman, 4. sebelah barat Kecamatan Gedong

Tengen. Wilayah Kecamatan Danurejan dilintasi oleh Sungai Code di sisi barat.

2. Iklim

Secara umum, rata-rata curah hujan tertinggi di Kecamatan Danurejan adalah

586 mm/ tahun. Suhu temperatur udara tertinggi di Kecamatan Danurejan adalah

32° c, dan suhu temperatur udara terendah adalah 22° c (Biro Pusat Statistik 2007,

1).

3. Luas Wilayah

Museum Batik Yogyakarta yang terletak di wilayah Kelurahan Bausasran

merupakan wilayah terluas dengan luas 47,38 ha atau sekitar 42,95%. Sedangkan

wilayah kelurahan lain yaitu Kelurahan Suryatmajan memiliki luas 27,87 ha atau

19

25,27% dan Kelurahan Tegal Panggung dengan luas 35,06 ha atau 31,78 % (Biro

Pusat Statistik 2007, 2).

4. Demografi

Kelurahan Bausasran menempati urutan ke-dua dalam hal kepadatan penduduk

di wilayah Kecamatan Danurejan. Dengan luas 0,4738 km2
,

Kelurahan Bausasran

memiliki penduduk sejumlah 12.581 jiwa yang terdiri dari 6.893 pria dan 5.688

wanita (Biro Pusat Statistik 2007, 10). Di dalam Kelurahan Danurejan tersebut

terdapat penyandang masalah kesejahteraan sosial, yaitu fakir miskin 412 jiwa,

rumah tidak layak huni 51 buah, dan anak jalanan sejumlah lima jiwa (Biro Pusat

Statistik 2007, 40). Menurut data di kantor polisi, Kelurahan Danurejan merupakan

wilayah dengan tingkat kejahatan tertinggi, dengan rincian pencurian sembilan

kasus, dan penganiyaan tiga kasus (Biro Pusat Statistik 2007, 41).

B. SEJARAH KAIN BATIK

Data arkeologi yang digunakan untuk mendukung keberadaan kain batik adalah

data artefaktual dan data tekstual. Data artefaktual yang digunakan di antaranya

adalah arca dan relief. Adapun data tekstual adalah data yang berupa tulisan-tulisan

kuno baik yang berupa tulisan-tulisan kuno baik prasasti, dokumen-dokumen kuno,

naskah kesusastraan, ataupun berita Cina. Penggunaan data artefaktual dan

kontekstual tersebut didasarkan pada keberadaan indikasi adanya kain batik.

Kain yang digunakan saat ini merupakan hasil budaya manusia yang

berkembang dari masa ke masa. Indikasi awal keberadaan batik mulai muncul pada

masa klasik. Hal ini dibuktikan dengan adanya kain berwarna dan berornamen yang

disebut dalam prasasti. Dalam beberapa prasasti juga disebutkan bahwa kain

termasuk barang yang dikenai pajak dan menjadi salah satu yang diperdagangkan.

20

Pendapat mengenai asal mula batik dapat dikelompokan menjadi dua. Pertama

adalah anggapan bawa batik berasal dari luar Indonesia (India, Cina) dan yang

kedua adalah pendapat yang mengatakan bahwa batik merupakan produk asli

Indonesia.

Tidak ditemukannya motif-motif tradisional yang sama dengan motif batik di

Indonesia seperti motif ceplok, motif kawung, motif lereng pada daerah Kalingga

merupakan alasan R.M Sucipto Wiryosuparto untuk menolak pernyataan Rouffaer

dan Jaynboll. Motif-motif tersebut adalah motif yang paling terkenal pada abad VIII-

XIII M (Susanto 1980, 307).

Menurut Kern, sebelum kedatangan orang-orang Hindu, Indonesia telah

mengenal sepuluh keterampilan. Keterampilan tersebut di antaranya adalah batik,

wayang, gamelan, pengerjaan logam, mata uang, metrik, teknologi pelayaran,

astronomi, penanaman padi di sawah, dan pemerintahan yang teratur (Ayatrohaedi

1986, 156-159).

Berbagai pengertian tentang batik coba diungkapkan oleh berbagai versi.

Hamzuri (1981, VI) mengatakan batik adalah lukisan atau gambar pada mori yang

dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Orang melukis atau

menggambar atau menulis pada mori memakai canting disebut membatik. Menurut

tim Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001, 112), batik adalah kain bergambar yang

pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada

kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Menurut KRT. Hardjonegoro dalam karya tulis ilmiah Helmi dan Mujiyono (1992,

52-53), batik lahir di dalam kalangan petani. Pada zaman Kerajaan Mataram,

karena adanya perhatian khusus dari keraton, maka batik masuk ke lingkungan

keraton. Masuknya batik ke keraton merupakan manifestasi dari pengabdian

kepada raja. Setelah memasuki lingkungan keraton, teknik pembuatan batik makin

diperhalus, baik motif maupun teknik pewarnaannya. Untuk mendukung hal tersebut

21

perlu diciptakan motif-motif batik bermutu tinggi, sehingga layak dipersembahkan

kepada raja dan keluarga.

Penciptaan motif-motif batik oleh para empu, tidaklah dilakukan dengan jalan

asal mencoret saja. Sama halnya dengan pembuatan keris, pencarian ilham untuk

sebuah motif batik dilakukan dengan meditasi dan mutih. Karena dalam proses

penciptaan motif-motif tersebut tidaklah dengan cara yang mudah, maka dalam

pemakaian batik yang bermotif sesuai dengan hasil ciptaan melalui meditasi, tidak

bisa digunakan oleh sembarang orang karena batik dibuat dengan motif-motif yang

mengandung magis tinggi. Maka pihak keraton dalam hal ini Sri Susuhunan Paku

Buwana III pada tahun 1769 mengeluarkan peraturan tentang larangan

penggunaannya.

1. Data Artefaktual

Motif batik ditinjau dari segi arkeologis sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-

Budha di Pulau Jawa. Data artefaktual ini dapat ditemukan pada relief candi, dan

atribut yang digunakan oleh arca-arca.

Hal ini dapat dilihat dari ragam hias batik di beberapa bangunan, antara lain

(Departemen Perindustrian 1986, 5-28):

a. Motif Dasar Lereng: terdapat pada pakaian Çiwa, di daerah Gemuruh,

Wonosobo, Jawa Tengah.

b. Motif Lereng: terdapat pada gambar pakaian Manjusri dari Ngemplak,

Semarang sekitar abad XX M.

c. Motif Dasar Ceplok: terdapat pada Arca Ganesa dari Candi Banon, dalam

kompleks Candi Borobudur; pada Arca Çiwa dan Arca Durga dari Candi

Singosari (abad XIII M).

d. Motif yang memakai titik-titik digambarkan pada pakaian Padmapani, dari

zaman kebudayaan Jawa Tengah (abad VIII-X M).

22

e. Motif Dasar Kawung terdapat pada Arca Hari-Hara di Blitar, Arca Çiwa di

Candi Singosari, Arca Budha Mahadewa dari Umpang, dan Bhrkuti dari Candi

Jago, Jawa Timur.

f. Motif Dasar Sidomukti, berbentuk segi empat yang diberi isen-isen garuda

pada Arca Ganesa dan Arca Durga di Candi Singosari.

g. Beberapa motif hias pada kain batik yang banyak dijumpai dalam relief antara

lain adalah motif kertas tempel. Penggunaan motif ini pada candi adalah

sebagai motif penghias pada bidang-bidang yang berbentuk persegi panjang.

Motif ini dapat dijumpai pada beberapa dinding candi di Jawa Tengah,

misalnya Candi Sewu, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan.

2. Data Tekstual

Sementara itu, selain terdapat pada bangunan candi, ragam hias batik juga

disebutkan dalam naskah kesusastraan antara lain:

a. Naskah Pararaton yang ditulis antara tahun 1478-1486, disebutkan bahwa

ketika Raden Wijaya hendak maju berperang melawan pasukan dari Cina,

untuk menambah semangat prajuritnya, maka Raden Wijaya membagikan

kain gringsing kepada para prajuritnya sehelai seorang (Pitono dalam

Setiawan 2006, 28). Gringsing adalah motif isen batik klasik khas Yogyakarta.

b. Serat Centhini yang mulai digubah pada tahun 1820 oleh Adipati Anom

Amengku Negara III yang kemudian di sebut Sinuwun Pakubuwana V,

menunjukkan bahwa penggunaan kata mbatik telah digunakan pada masa ini

(Yasandalem Kanjeng Gusti 1985, 58).

Teks (dalam bahasa jawa dengan huruf latin):

21 pangkur

25. Kepek kekalih punika, kang setunggal pan isi
sinjang lurik, warna-warni corekanipun, miwah
sinjang prausan, dhetar tepen renda myang
praosanipun dene kepek satunggil, isi kampuh
gadhung mlathi.

23

34 maskumbang

6. Nyumerepi sawuwaning angi-angi, pon-empon
babakan, eron ingkang maedahi, ngektosi
kanggening karya.
7. Nganlih nenun nyulam nyongket andondomi,
angraronce sekar (m)batik (m)babar adi,
mamantes isining wisma.

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

21 Pangkur
25. Kedua kantung itu, yang satu berisi kain lurikl
bercorak warna-warni dan kain prada, ikat kepala
dengan tepi berenda serta berprada pula,
sedangkan kantung yang satu berisi kampuh (kain
kebesaran ningrat) bermotif gadhung melati.

34 Maskumbang
6. Mengetahui penggunaan segala daun-daun yang
bermanfaat untuk obat-obatan.
7. Bertenun, menyulam, membuat batik sampai
dengan menyelesaikannya menjadi kain yang
bagus, pandai mengatur rumah.

c. Dalam Layar Damarmulan, seperti yang dikutip oleh D. Hinloopen Laberton

dalam buku Ragam Hias dari Masa ke Masa disebutkan bahwa para prajurit

(ksatria-ksatria) Majapahit dan Blambangan dalam peperangan menunggang

kuda mengenakan kampuh khusus untuk punggawa tertentu di suatu kerajaan

Majapahit, dengan ragam hias motif alas-alasan” (Yusuf dkk. 1988, 5).

d. Naskah Sumanasantaka 19.6 dan naskah Maradahana 4.7 dan 25.10, juga

menyebutkan adanya berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan dengan

kain. Penyebutannya adalah anglukis (seniman lukis), anulis (membatik),

asipet (tukang sulam), dan angjahit (tukang jahit) (Pinardi 1992, 211).

e. Undang-undang Manuskrip yang berbahasa Jawa dari Surakarta yang ditulis

oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III pada tahun 1769 berisi tentang peraturan

penggunaan batik di lingkungan keraton. Batik dalam proses penciptaan motif-

motif tersebut tidaklah dengan cara yang mudah sehingga tidak bisa

digunakan oleh sembarang orang karena batik dibuat dengan motif-motif yang

24

mengandung magis yang tinggi. Perundangan ini merupakan sumber tertulis

tertua yang menyebutkan istilah batik yang ditulis dalam Bahasa Jawa

(Soejoko dalam Setiawan 2006, 29).

Teks dalam Bahasa Jawa:

Ana dene kang arupo jajarit kang kalebu ing
laranganingsun batik sawat lan batik parang rusak,

batik cemungkiri kang calacap, madang, bangun

tulak, lenga-teleng, daragem lan tumpal. Ana dene

batik cumangkirang ingkang a calacap lung-lungan

utama

kekembangan,

ingkang

ingsung

kawenangaken

angangoka

pepatih-ingsunlan

sentaningsun, kawula ningsun, wedana.”

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia:

“Adapun yang berupa kain panjang (jarit) yang
termasuk dalam laranganku adalah batik sawat dan
batik parang rusak, batik cemukiran terdiri dari
medang, bangun-tulak, lenga-teleng, daragem dan

tumpal. Adapun batik cemukiran yang terdiri dari

lung-lungan, atau stiliran kembang (bunga). Yang

kuijikan dipakai oleh patih dan kerabatku, hambaku
wedana.”

f. Serat yang dikeluarkan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII, menyebutkan

peraturan tentang penggunaan kain batik. Serat tersebut berisi aturan-aturan

tentang penggunaan busana kebesaran Keraton Yogyakarta Hadiningrat

terutama yang menggunakan ornamen. Serat ini aslinya ditulis dalam bahasa

dan huruf Jawa, kemudian disalin dalam Bahasa Jawa dengan huruf latin.

Teks dalam Bahasa Jawa dengan huruf latin yang terdapat dalam Bab 3

tersebut, kutipannya seperti berikut ini (Nurjanti 1993, 175):

25

Wujude batikan dodot, sarta bebet prajuritan kaya ing ngisor iki:

1. parang rusak barong gedene sak nduwure gendreh,

2. parang rusak gendreh, dene garisan jupuk saka tengah-tengah mlinjon,

nyiku bener ora luwih saka wolung sentimeter,

3. parang rusak klitik, gedene garisan uga kaya dene prang rusak gendreh,

ananging ora keno luwih saka patang sentimeter,

4. semen gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar kang dudu gruda,

6. udan riris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan kang dudu parang rusak, gede cilike garisan hiya

miturut parang rusak,

Sedangkan kutipan yang terdapat dalam Bab 4, adalah sebagai berikut:

1. parang rusak baro,

2. parang rusak gendreh,

3. parang rusak kliti,

4. semen gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar kang dudu gruda,

6. udan liris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan kang dudu parang rusak.

Terjemahan dari kutipan tersebut dalam Bahasa Indonesia adalah sebagai

berikut:

Bab 3

Wujudnya batikan dodot, serta pakaian keprajuritan seperti di bawah ini:

1. parang rusak barong besarnya setinggi(nya) gendreh,

26

2. parang rusak gendreh, (jika) seperti penggaris diambil dari tengah-

tengahnya mlinjon, benar-benar siku tidak lebih dari delapan centimeter,

3. parang rusak klitik, besarnya garis juga seperti parang rusak gendreh,

tetapi tidak boleh lebih dari empat centimeter,

4. semen gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar yang bukan gruda,

6. udan riris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan yang bukan parang rusak, besar kecilnya garis juga

menurut parang rusak.

Bab 4

1. parang rusak barong,

2. parang rusak gendreh,

3. parang rusak klitik,

4. parang gede sawat gruda,

5. semen gede sawat lar yang bukan gruda,

6. udan riris,

7. rujak sente,

8. parang-parangan yang bukan parang rusak.

Motif batik pada arca-arca dan relief candi tersebut membuktikan bahwa pada

abad IX-XVI M bangsa Indonesia telah mendapatkan motif lereng ceplok, kawung,

sidomukti, semen, pemakaian isen-isen cecek dan titik, sedangkan India Selatan

baru dimulai pada tahun 1516 dan mencapai puncaknya pada abad XVII-XIX M.

Pemakaian alat memberikan corak tersendiri pada motif batik. Batik Indonesia

dengan menggunakan canting merupakan salah satu wujud tingginya mutu

kesenian kain batik yang dapat memperlihatkan keindahan yang sama dengan pada

sisi luar maupun dalam. Hal ini tidak terdapat di India Selatan yang memakai

27

stempel sebagai alat pembatik sehingga hanya memperhatikan bagian luar saja

(Tirtaamidjaja 1996, 3).

Teknik penahan warna tidak hanya terdapat pada daerah yang mengalami

pengaruh Hindu saja, tetapi juga terdapat pada daerah seperti Toraja (Sulawesi

Selatan), Flores (NTT), Halmahera (Maluku), bahkan hingga Papua.

Motif batik pada umumnya dipengaruhi dan erat hubungannya dengan beberapa

faktor-faktor, antara lain (Djumena 1990,1):

1. Letak geografis daerah pembuatan batik yang bersangkutan,

2. Sifat dan tata kehidupan daerah yang bersangkutan,

3. Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah bersangkutan,

4. Keadaan alam sekitarnya, termasuk flora dan fauna,

5. Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembatikan.

Sedangkan seni batik dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain: proses

pembatikan atau pembuatan, mutu pembatikan, ragam hias dan tata warna

(Djumena 1990,2).

C. PENGELOMPOKAN JENIS BATIK

Sejak zaman penjajahan Belanda, terdapat pengelompokan besar jenis batik

berdasarkan daerah pembatikan, yaitu:

1. Batik Keraton

Batik-batik dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta menurut G.B.R.A Murywati

Darmokusumo (1990, 31) mempunyai kekhasan dan keasrian masing-masing yang

bisa dibedakan berdasarkan wujudnya. Batik Yogyakarta lebih banyak berlatar putih

cerah dan menampilkan perbedaan warna yang tajam antara biru nila dan coklat

soga yang hangat. Sedangkan latar batik Surakarta putih Gading. Sekalipun

28

demikian keduanya sama-sama mempunyai nilai dan filsafat yang tinggi. Ragam

hias pada batik kraton bersifat simbolis berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa.

Perkembangan teknik yang menghasilkan kain batik bermutu tinggi di keraton-

keraton Jawa ditunjang dengan munculnya canting tulis. Suatu alat membatik yang

terdiri dari wadah kuningan bercorong yang dipasang pada sebuah gagang buluh

bambu kecil. Alat ini mampu menuliskan ragam hias yang paling rumit sesuai

keterampilan dan kemampuan pembatik. Walaupun adanya perkembangan zaman

di mana gaya hidup lama disesuaikan dengan yang baru, seni batik tetap

merupakan suatu lambang tingginya citra budaya yang terdapat dalam keraton-

keraton Jawa (Edleson dan Soedarmadji J.H Damais 1990, 7-8).

Beberapa contoh motif batik keraton dan simbolisme yang melatarbelakanginya

antara lain (Majalah Femina 1985, 8-10):

1.1. Kawung

Foto 2.1: Batik Motif Kawung.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 45)

29

Diinterpretasikan sebagai gambar bunga teratai dengan 4 lembar daun yang

sedang mekar. Bunga teratai melambangkan umur panjang dan kesucian.

Diperuntukkan bagi keluarga bangsawan sampai yang paling rendah yaitu Raden.

1.2. Parang

Motif ini mempunyai pola pedang yang menunjukkan kekuasaan atau kekuatan.

Menurut kepercayaan, motif parang harus dibatik tanpa salah, karena akan

menghilangkan kekuatan gaib dari kain ini. Komposisi miring pada parang

menandakan kekuatan dan gerak cepat, karena para ksatria diharapkan bergerak

dengan gesit. Yang mempunyai daya magis pada motif parang adalah bagian

mlinjon”, yaitu pemisah pada komposisi miring yang berbentuk ketupat.

Foto 2.2: Batik Motif Parang Rusak.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.3. Cemukiran

Mirip motif parang, tetapi mempunyai pola seperti sinar. Pola yang mirip sinar itu

diibaratkan sebagai sinar matahari yang melambangkan kehebatan dan kebesaran

alam semesta atau Batara Guru. Batara Guru menurut kepercayaan Jawa menjelma

30

dalam diri raja. Oleh karena itu hanya raja dan putra mahkota yang boleh

menggunakan motif cemukiran.

Foto 2.3: Batik Motif Cemukiran.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.4. Sawat

Foto 2.4: Batik Motif Sawat.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

31

Motif ini ditandai dengan adanya lukisan sayap, baik sayap pasangan maupun

tunggal. Sayap ini diibaratkan burung garuda. Dalam mitologi Hindu Jawa, garuda

adalah jenis burung yang bertubuh dan berkaki manusia, tetapi bersayap dan

berkepala seperti burung. Garuda ini membawa terbang Dewa Wisnu ke nirwana.

1.5. Udan Liris

Motif ini berarti hujan gerimis. Motif ini adalah lambang kesuburan dan

berhubungan dengan pertanian.

Foto 2.5: Batik Motif Udan Liris.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik hlm. 62)

1.6. Semen

Berasal dari kata semi (bahasa Jawa) yang berarti tumbuh. Motif ini penuh

dengan simbolisme yang menunjukan pujaan terhadap kesuburan dan tata tertib

alam semesta.

32

Foto 2.6: Batik motif Semen Romo.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 73)

Lukisan yang terdapat dalam semen bermacam-macam, tetapi yang utama

adalah pohon atau tanaman dengan akar dan sulur-suluran.

1.7. Alas-alasan

Motif ini mirip dengan motif semen. Perbedaannya adalah banyak terdapat

lukisan hewan. Alas-alasan berarti seperti hutan. Ada motif alas-alasan yang

dilukiskan sebagai pinggiran dodot kembang (polos dengan warna-warna bunga).

Kain semacam ini disebut bangun tulak. Bangun tulak hanya dikenakan oleh Raja

Surakarta pada waktu upacara-upacara kerajaan.

Kain ini juga digunakan oleh para penari tarian kuno Bedoyo Ketawang, yang

merupakan tarian ungkapan percintaan antara Nyai Loro Kidul dengan

Panembahan Senopati.

33

Foto 2.7: Batik motif Alas-Alasan.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Batik Klasik, hlm. 73)

2. Batik Pesisiran

Batik pesisir adalah istilah yang digunakan pada produk-produk dari luar dinding

keraton. Keberadaanya tidak di bawah kendali dan dominasi aristokrasi keraton,

berikut segenap tata aturan, alam pikiran dan filsafat kebudayaan keraton Jawa.

Pertumbuhannya berangkat dari beberapa faktor yaitu masyarakat pelaku

produksinya, yakni rakyat jelata. Sifatnya cenderung merupakan komoditas dagang

berikut segenap dampak yang ditimbulkan pada teknologi produksinya, dan

ikonografi yang sarat dengan pengaruh etnis.

Sebagai produk perdagangan, batik ini banyak mengalami dinamika

perkembangan di kalangan pengusaha Cina dan Muslim, diikuti kelompok

keturunan Belanda (Indo). Bersama-sama mereka melengkapi sejarah

perkembangan perbatikan di wilayah nusantara (Anas dkk. 1997, 82).

Masyarakat nusantara yang beraneka ragam budaya, sebagai konsumen batik

juga turut mempengaruhi ragam hias dan warna, sehingga muncul berbagai

perbedaan ragam hias dan warna pada batik yang dibuat oleh masyarakat perajin

34

yang berbeda tempat. Perbedaan tempat ikut mempengaruhi perbedaan ragam hias

dan warna, karena didasari oleh faktor pengalaman yang dimiliki oleh perajin dan

wirausaha yang pada hakekatnya berbeda. Perbedaan ini dipertajam karena pilihan

segmen pasar dan mutu batik mempengaruhi babaran proses yang berbeda.

Pusat-pusat batik pesisir di Pulau Jawa adalah daerah pembatikan yang terdapat

pada jalur pesisir utara Jawa, dari barat ke timur meliputi kota-kota pembatikan

Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Juana, Rembang, Lasem, Tuban, Sidoarjo,

dan daerah Madura seperti Tanjung Bumi, Sampang, dan Sumenep.

2.1. Indramayu

Desa pembuatan yang dikenal terdapat di daerah Paoman. Teknik yang

digunakan umumnya batik tulis, dengan produk yang paling banyak dipakai untuk

jarit dan sarung. Batik Indramayu dibuat dengan teknik “babar pisan”, artinya hanya

sekali proses pelorodan, tidak ada proses ulang untuk sogan. Warna yang dipakai

umumnya warna gelap (tua) dan terang (putih).

Foto 2.8: Kain Panjang Indramayu.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 95)

35

Ciri yang menonjol dari batik Indramayu adalah langgam flora dan fauna

diungkap secara datar, dengan banyak bentuk lengkung dan garis-garis yang

meruncing (ririan), latar putih dan warna gelap, dan banyak titik yang dibuat dengan

teknik cacahan jarum, serta bentuk isen-isen (sawot) yang pendek dan kaku.

2.2. Cirebon

Daerah pembatikan Cirebon terletak di daerah Trusmi dan Kali Tengah.

Pengusaha Trusmi umumnya membuat batik untuk jarit, sarung dan ikat kepala

serta barang-barang rumah tangga seperti taplak, sarung bantal, dan sebagainya.

Ciri yang sangat menonjol pada batik Cirebon yaitu batik Keraton dan batik Bang-

Biron. Di samping itu, terdapat corak batik yang jarang dipakai untuk pakaian sehari-

hari dengan simbol spiritual, yakni batik yang dihias dengan kaligrafi Arab, berisi

bagian-bagian ayat Al-Quran atau doa-doa dalam bahasa Arab. Batik ini disebut

Kain Besurek yang dalam bahasa Indonesia berarti bersurat dan banyak diminati

oleh orang-orang Sumatera seperti Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi.

Batik keraton Cirebon memiliki ciri warna putih (dasar), biru (indigo), dan coklat

(soga). Ragam hias yang dipilih banyak terkait dengan mitologi yang berkembang di

Cirebon seperti Paksi Naga Liman, Singa Barong, Taman Arum, Naga Seba, dan

sebagainya.

36

Foto 2.9: Batik Cirebon Motif Mega Mendung.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 98)

Tata letak batik Cirebon umumnya tersusun horizontal dalam tiga lajur yang

menggambarkan jajaran atas, tengah, dan bawah. Sekarang pembatik Cirebon

telah banyak menggunakan pewarna buatan yang memungkinkan terciptanya

berbagai kombinasi warna untuk memperkaya ragam hias.

2.3. Pekalongan

Dikenal sebagai kota batik, karena memiliki potensi yang cukup besar sebagai

penghasil batik yang tersebar ke seluruh nusantara. Salah satu motif batik

Pekalongan yang terkenal adalah motif jlamprang yang saat ini sudah jarang

diproduksi lagi. Menurut Ninuk Mardiana Pambudi dalam artikelnya yang berjudul

Perjalanan Panjang Batik (2000, 236-237), motif jlamprang meniru motif patola yang

berasal dari Gujarat. Kehalusan motif yang dihasilkan ikat patola dengan cepat

menarik minat para bangsawan kerajaan Jawa. Namun karena kelangkaan

pasokan, maka para artisan batik dengan cepat meniru motif tersebut.

37

Foto 2.10: Kain Panjang Pekalongan.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 101)

Beberapa daerah pembatikan yang terkenal sebagai penghasil batik dengan ciri

ragam hias dan warna antara lain Kauman, Pesindan, Sampangan, Klego,

Sugihwaras, Keraton, Grogolan, Krapyak, Panjang, Bendan, dan Poncol.

Sedangkan di luar kota Pekalongan antara lain Buaran, Pekajangan, Kedungwuni,

Wonopringgo, Bojong, Wira Desa, Comal, dan Pencongan. Daerah batik di

Kabupaten Batang antara lain Setono, Warung Asem, Sukoharjo, Karanganyar,

Dracik, Kecepak, Klidang, Gamer, dan Slumprit.

Ciri yang menonjol pada batik Pekalongan adalah ragam hias dan tata warnanya

senantiasa silih berganti, dinamis, dan mengikuti perkembangan pasar. Berbagai

teknik pewarnaan diperkenalkan seperti teknik coletan, besutan, sinaran,

pewarnaan radian, formika, dan berbagai pengembangan zat pewarna seperti

naphtol, indigosol, cat basa, cat ergan, cat rapid, dan reaktif.

38

2.4. Lasem

Lasem, kota kecamatan di bagian timur Kabupaten Rembang, terletak kurang

lebih 13 km dari ibu kota kabupaten. Nama Lasem selama ini lebih dikenal

dibandingkan ibu kota kabupatennya sendiri, Rembang. Sebagian besar bus dari

luar daerah selalu transit di terminal Lasem dan menempatkan Lasem sebagai jalur

kendaraan, dan bukan Rembang, misalnya, bus jalur Semarang-Lasem (Nurbiajanti,

2004).

Foto 2.11: Sarung Bang-Biron dari Lasem.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 109)

Batik dari daerah ini memiliki corak khas, terutama pada warna merahnya yang

menyerupai merah darah ayam, yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari

daerah lain. Kekhasan lain terletak pada coraknya yang merupakan gabungan

pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara, dan budaya

keraton (Surakarta dan Yogyakarta).

Perajin di kota ini umumnya keturunan Cina dengan modal yang cukup besar,

sehingga dapat melakukan pembelian bahan-bahan pembatikan secara banyak,

langsung dari pabrik atau pedagang bahan impor, dengan tujuan efisiensi.

39

Ketika membuat desain untuk motif batik produksi mereka, para pengusaha

pembatikan Lasem dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan

legendanya. Ragam hias burung hong dan binatang legendaris Kilin (semacam

singa) dan sebagainya mereka masukkan dalam motif batik produksi mereka.

Bahkan, cerita percintaan klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tay pernah menjadi

motif batik di daerah ini. Tidak mengherankan bila kemudian batik produksi Lasem

sering disebut sebagai batik Encim. Encim adalah sebutan kaum Tionghoa

peranakan untuk wanita yang usianya telah lanjut (Wargatjie, 2003).

2.5. Tuban

Daerah pembatikan Tuban terdapat di beberapa desa di Kecamatan Kerek,

Merak, Urak, dan di kota Tuban sendiri. Batik di ketiga daerah ini memiliki ciri yang

berlainan.

Foto 2.12: Kain Tuban.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 111)

Di Kecamatan Kerek, khususnya di Desa Worgorejo, Kedung Rejo, dan Gaji

serta pembatikan di Kecamatan Warak dan Urak, pembatikan dilakukan diatas kain

gedok tenun tangan dengan benang pintal tangan, sedangkan di Waru Tuban tidak

40

biasa memakain kain gedok untuk batik, melainkan kain dari jenis katun prismissima

dan prima.

2.6. Sidoarjo

Batik Sidoarjo merupakan komuditas dagang yang ditujukan untuk segmen

masyarakat pesisir utara Jawa Timur dan Madura. Corak tradisional batik Sidoarjo

beragam jenis flora dengan paduan warna hitam, coklat, dan merah. Corak ini

terutama digemari oleh orang-orang Madura sehingga disebut batik Maduran. Corak

tradisional ini berpola agak besar-besar dengan isen-isen agak besar.

Pengusaha batik Sidoarjo sebagian besar golongan keturunan Cina, sehingga

kurang memperhatikan kaidah batik tradisional tetapi cenderung mengikuti

perubahan pasar.

2.7. Madura

Foto 2.13: Kain Panjang Madura Motif Buk.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono, reproduksi dari buku Indonesia Indah seri Batik, hlm. 113)

41

Batik Madura terutama dikerjakan oleh perajin batik dari Tanjung Bumi,

Sampang, Pamekasan, dan Bangkalan. Tanjung Bumi merupakan penghasil batik

yang beraneka ragam dan rumit.

2.8. Ciamis dan Tasikmalaya

Ragam hias dan warna batik Tasikmalaya dan Ciamis mendapat pengaruh kuat

dari batik keraton, yakni ragam hias lereng dan kawung dengan pewarnaan krem,

coklat, dan hitam. Belakangan, pengaruh batik pesisiran juga mewarnai batik

Tasikmalaya dan Ciamis, seperti tampak pada corak flora dan tata warnanya yang

menggunakan pewarna sintesis naphtol dan indigosol.

Dalam proses, pembuatan batik diperlukan beberapa peralatan, antara lain:

1. Gawangan

Gawangan ialah perkakas untuk menyangkutkan dan membentangkan mori

sewaktu dibatik. Gawangan dibuat dari bahan kayu atau bambu. Gawangan

dibuat sedemikian rupa, sehingga mudah dipindah-pindah, tetapi harus kuat dan

ringan.

Foto 2.14: Gawangan pada industri batik Plentong.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

42

2. Bandul

Bandul dibuat dari timah atau kayu atau batu yang dikantongi. Fungsi pokok

bandul ialah untuk menahan mori yang baru dibatik agar tidak mudah bergeser

ditiup angin, atau tarikan si pembatik secara tidak disengaja. Jadi tanpa bandul,

pekerjaan tetap dapat dilaksanakan.

3. Wajan

Wajan ialah perkakas untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja,

atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan

diturunkan dari perapian tanpa mempergunakan alat lain. Oleh karena itu wajan

yang dibuat dari tanah liat lebih baik dari pada yang logam, karena tangkainya

tidak mudah panas. Tetapi wajan dari bahan tanah liat lebih lama mencairkan

malam.

4. Anglo

Foto 2.15: Anglo yang biasa digunakan dalam poses membatik.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Anglo dibuat dari tanah liat, atau bahan lain. Anglo ialah alat perapian sebagai

pemanas malam. Apabila mempergunakan anglo, maka bahan untuk membuat

43

api ialah arang kayu. Jika menggunakan kayu bakar, anglo diganti dengan keren.

Keren inilah yang banyak dipergunakan orang di desa-desa. Keren pada

prinsipnya sama dengan anglo, tetapi tidak bertingkat.

5. Tepas

Tepas ialah alat untuk membesarkan api menurut kebutuhan, terbuat dari

bambu. Selain tepas, digunakan juga ilir. Tepas dan ilir pada pokoknya sama,

hanya berbeda bentuk. Tepas berbentuk empat persegi panjang dan meruncing

pada salah satu sisi lebarnya dan tangkainya terletak pada bagian yang runcing

itu. Sedangkan ilir berbentuk bujur sangkar dan tangkainya terletak pada salah

satu sisinya serta memanjang ke samping.

6. Taplak

Taplak ialah kain untuk menutup paha si pembatik supaya tidak kena tetesan

malam panas sewaktu canting ditiup, atau waktu membatik. Taplak biasanya

dibuat dari kain bekas.

Foto 2.16: Anglo, wajan, dan malam serta canting sebagai peralatan membatik.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

44

7. Saringan malam

Saringan ialah alat untuk menyaring malam panas yang sangat banyak

kotorannya. Jika malam disaring, maka kotorannya dapat dibuang, sehingga

tidak menggangu jalannya malam pada cucuk canting sewaktu dipergunakan

untuk membatik.

8. Dingklik

Dingklik atau lincak pada prinsipnya sama, yaitu tempat duduk si pembatik.

Tetapi pembatik juga dapat duduk di atas tikar.

9. Canting

Foto 2.17: Canting dalam berbagai bentuk dan kegunaan.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

Canting adalah alat pokok untuk membatik yang menentukan apakah hasil

pekerjaan itu dapat disebut batik, atau bukan batik. Canting dipergunakan untuk

menulis, membuat motif batik yang diinginkan. Sultan HB X dalam buku Sekaring

Jagad Ngayogyakarta Hadiningrat mengatakan bahwa perkembangan teknik

yang menghasilkan kain batik bermutu tinggi di keraton-keraton Jawa ditunjang

dengan munculnya canting tulis. Suatu alat membatik yang terdiri dari wadah

kuningan bercorong dipasang pada sebuah gagang buluh bambu kecil. Alat ini

45

mampu menghasilkan ragam hias yang paling rumit sesuai keterampilannya dan

kemampuan si pembatik

10. Malam

Malam adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Sebenarnya malam

tidak habis, karena akhirnya diambil kembali pada waktu proses mbabar. Malam

yang dipergunakan untuk membatik macam-macam kualitasnya. Kualitas ini

berpengaruh terutama pada daya serap, warna yang dapat mempengaruhi warna

mori (kain), halusnya cairan, dan sebagainya. Maka harganya pun akan berbeda-

beda, tetapi dalam pemakainnya tergantung pada kebutuhan.

Foto 2.18: Malam sebagai bahan inti dalam teknik penahan warna dalam membatik.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

11. Kain Mori

Mori adalah bahan baku batik dari katun. Kualitas mori bermacam-macam, dan

jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan, karena

kebutuhan mori dari macam-macam kain tidak sama. Jenis-jenis mori antara lain:

(a). mori primisima: merupakan kain mori terbaik dan halus, sering juga disebut

mori sen, (b). mori prima: merupakan kain mori dibawah kualitas mori primisima,

46

tetapi tetap halus, (c). mori biru: merupakan kain mori dengan kualitas dibawah

mori prima.

Untuk menghasilkan kain batik tulis dengan kualitas tinggi memerlukan sembilan

tahap/ proses (Hadisuwito, 2007). Sedangkan untuk pembuatan batik cap, terdapat

beberapa proses yang tidak dilalui, disebabkan proses tersebut telah diambil alih

oleh cap batik. Adapun tahapan membatik adalah:

1. nyorek

Adalah proses memindahkan desain motif batik ke bahan mori.

Foto 2.19: Proses nyorek pada industri batik Plentong.
(difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

2. ngegreng

Adalah menutup desain batik dengan malam, dan masih berupa kosongan.

3. klowongan

Adalah memberi isian dalam motif batik

4. nembok

Adalah menutup motif dengan malam khusus, supaya hasil akhirnya menjadi

putih.

47

5. medel

Adalah memberi warna biru atau indigo. Kain batik direndam dalam cairan

indigo selama 15 menit, kemudian di kerek selama 2 hari secara bergantian.

Foto 2.20: Proses medel pada industri batik Plentong.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

6. dilorot pertama

Adalah proses menghilangkan lilin dengan cara direbus. Pada proses ini batik

sudah setengah jadi.

7. digranit

Adalah proses memberi titik pada garis pensil.

8. mbironi

Adalah proses menutup cecek dengan malam.

48

9. disoga

Adalah proses memberi warna coklat dengan cara direndam.

Foto 2.21: Proses soga pada industri batik Plentong.
(difoto oleh: Tulus Wichaksono)

10. dilorot terakhir

Adalah proses terakhir dengan cara direndam agar semua malam yang masih

melekat sebagai penahan warna hilang.

Foto 2.22: Proses nglorot pada industri batik Plentong.
(difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

49

Pada pembuatan batik cap, proses pembatikannya lebih singkat karena mulai

dari proses nyorek sampai klowongan dikerjakan dengan alat cap yang terbuat dari

kuningan, namun setelah itu dilanjutkan dengan proses seperti layaknya batik tulis.

Foto 2.23: Proses batik cap pada industri batik Plentong.
(difoto oleh: Agustine Dwi Kurniawati)

Dalam pewarnaan batik, dapat menggunakan pewarnaan alami maupun buatan.

Zaman sekarang kebanyakan indutri batik menggunakan pewarna buatan karena

mereka dapat menghewat waktu produksi. Sedangkan pewarna alami tetap

digunakan, namun hanya pada produksi kain batik tertentu saja.

50

Dalam pewarna alami, bahan dari alam yang digunakan antara lain (Setiawan

2006, 46-64):

a. nila atau tom (Indigofera tinctoria L)

b. tingi (Ceriop tagal PEER)

c. jambal (Peltophorum pterocarpum DC)

d. jalawe (Termalia belerica ROXB)

e. soga (Pelthorum pterocarpum backer)

f. mengkudu (Morinda citrilofia L)

g. mahoni (Swetenia mahoni JACO)

h. apokat (Persea Gratisima G)

i. ulin (Eusideroxylon zwageri T)

j. bawang merah (Allium ascalonium L)

k. jati (Tectona grandis L)

l. teh (Acalypha wilkesiana)

m. nangka (Artocarpus integra MEER)

n. kenikir (Sonchus oleracheus LINN)

o. gambir (Uncaria gambir ROXB)

p. mangga (Magifera indica LINN)

q. kepel (Stelechocarpus burahol HOOK)

r. randu (Ceiba pentandra GAERTH)

s. jambu biji (Psidium gujavana L)

t. kesumba (Bixa Orellama L)

u. srigading (Nyctanthes arbor tritis L)

v. tembelekan (Lantana camara L)

w. senggani (melastoma malabathicum
LINN)

x. tegeran (Maclura cochinchinensis
LOUR)

y. kunyit (Curcuma domistica)

z. secang (caesal pinia sappan LINN)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->