ISLAM DAN PLURALISME AGAMA Oleh: Abdul Karim Lubis Mahasiswa SPS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta/Guru

PAI SMA Mujahidin Pontianak A. Pendahuluan Pluralisme agama telah menjadi salah satu wacana kontemporer yang sering dibicarakan akhir-akhir abad 20, khususnya di Indonesia. Wacana ini sebenarnya ingin menjembatani hubungan antaragama yang seringkali terjadi disharmonis dengan mengatasnamakan agama, diantaranya kekerasan sesama umat beragama, maupun kekerasan antarumat beragama. Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan. Indonesia merupakan salah satu negara multi etnis, ras, suku, bahasa, budaya dan agama. Agama-agama dan berbagai aliran tumbuh subur oleh karena itu pemahaman tentang pluralisme agama dalam suatu masyarakat yang demikian majemuk sanagat dubuthkan demi untuk terciptanya stabilitas ketertiban dan kenyamanan umat dalam menjalankan ajaran agamanya masing-masing serta untuk mewujudkan kerukunan antarumat sekaligus menghindari terjadinya konflik sosial yang bernuansa syara’. Dialog dan komonikasi antarumat beragama merupakan suatu kebutuhan yang harus dilaksanakan oleh segenap elemen umat beragama, guna untuk menghilangkan kecurigaan, suudzhan dan untuk menjalin hubungan yang harmonis anatarsesama umat beragama. Agama Islam sangat terbuka dan selalu membuka diri untuk berdialog dengan sesama umat beragama sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah pada periode

Madinah, dialog yang dibangun Nabi Muhammad dengan penduduk Madinah kemudian melahirkan suatu perjanjian yang sangat terkenal yaitu “Piagam Madinah”. B. Konsep Dasar Pluralisem Agama Kata “pluralisme agama” berasal dari dua kata, yaitu “pluralisme” dan “agama” dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan “al-ta’ddudiyah” dan dalam bahsa Inggris “religius pluralism”. Dalam bahasa Belanda, merupakan gabungan dari kata plural dan isme. Kata “plural” diartikan dengan menunjukkan lebih dari satu. Sedangkan isme diartikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan paham atau aliran. Dalam bahasa Inggris disebut pluralism yang berasal dari kata “plural” yang berarti lebih dari satu atau banyak. Dalam Kamus The Contemporary Engglish-Indonesia Dictionary, kata “plural” diartikan dengan lebih dari satu/jamak dan berkenaan dengan keaneka ragaman. Jadi pluralisme, adalah paham atau sikap terhadap keadaan majemuk, baik dalam konteks sosial, budaya, politik, maupun agama. Sedangkan kata “agama” dalam agama Islam diistilahkan dengan “din” secara bahasa berarti tunduk, patuh, taat, jalan. Pluralisme agama adalah kondisi hidup bersama antarpenganut agama yang berbeda-beda dalam satu komonitas dengan tetap mempertahankan cirri-ciri spesifik ajaran masing-masing agama. Dengan demikian yang dimaksud “pluralisme agama” adalah terdapat lebih dari satu agama (samawi dan ardhi) yang mempunyai eksistensi hidup berdampingan, saling bekerja sama dan saling berinteraksi antara penganut satu agama dengn penganut agama lainnya, atau dalam pengertian yang lain, setiap penganut agama dituntut bukan saja mengakui keberadan dan menghormati hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan, guna tercapainya kerukunan dalam keragaman. Dalam prepektif sosiologi agama, secara terminology, pluralisme agama dipahami sebagai suatu sikap mengakui dan menerima kenyataan kemajemukan sebagai yang bernilai positif dan merupakan ketentuan dan rahmat Tuhan kepada manusia. Pengakuan terhadap kemajemukan agama tersebut adalah menerima dan meyakini bahwa agama yang kita peluk adalah jalan keselamatan yang paling benar, tetapi bagi penganut agama lain sesuai dengan keyakinan mereka agama mereka pulalah yang paling

Pasal 29 ayat (2) UUD’ 45. dan UUD’45 pasal 29 ayat (2) yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai menurut agama dan kepercayaan masing-masing. baik dalam konteks sosial maupun politik. serta memberi kesempatan kepada orang lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Bahkan pencoretan “tujuh kata” dalam Pancasila. saling menghormati dan menghargai. Indonesia juga merupakan salah satu Negara multikultural terbesar di dunia. Hal ini disadari oleh para founding father kita. Keterpisahan mereka dalam kemanusiaan bertentangan dengan prinsip pluralisme yang merupakan watak dasar masyarakat manusia yang tidak bisa dihindari. Untuk mendukung konsep pluralisme tersebut. Mukti Ali. Indonesia termasuk satu negara yang paling majemuk di dunia. namun dalam kenyataannya. sebgaimana dapat dilihat. bahasa. termasuk di Eropa Barat Amerika dan negara-negara lain. Munculnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 merupakan suatu kesadaran akan perlunya mewujudkan pluralisme ini yang sekaligus dimaksudkan untuk membina persatuan dalam mengahadapi penjajah Belanda. yang kemudian dikenal sebagai cikal-bakal munculnya wawasan kebangsaan Indonesia. diperlukan adanya toleransi antarsesama umat beragama. di samping jaminan kebebasan beragama. Setiap agama tidak terpisah dari yang lainnya dalam kemanusiaan. secara filosofis mengistilahkan dengan agree in disagreement (setujua dalam perbedaan). Hal ini sesuai dengan sila pertama Pncasila “Ketuhanan yang Maha Esa”. . yang terdapat dalam Piagam Jakarta. antar alin dalam siding BPUPKI. Pluralisme ini juga tetap dijunjung tinggi pada waktu persiapan kemerdekaan. Betapa para pendiri republik ini sangat mengahrgai pluralisme. Dilihat dari segi etnis. pun dipahami dalam konteks mengahargai kemajemukan dan pluralisme. Dari kesadaran inlah akan lahir sikap toleran. agama. inklusif. keputusan yang fundamental ini juga merupakaan jaminan tidak ada diskriminasi agama di Indonesia.benar. permasalahan toleransi masih sering muncul dalam suatu masyarakat. Meskipun hampir semua masyarakat yang berbudaya kini sudah mengakui adanya kemajemukan sosial. dan sebagainya. sehingga mereka merumuskan konsep pluralisme ini dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. budaya.

Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan. persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pandangan Isalam Terhadap Pluralisme Agama Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan. Maka oleh karena itu apabila umat Islam ingnin memhami makna pluralisme sesuai dengan konsep Islam. suka tidak suka relitas pluralistik memang menjadi wahana dan wacana bagi kehidupan beragama kita. Sejarah mencatat bahwa Muhammad saw. Sesungguhnya. Yang kedua menyatakan bahwa toleransi itu membutuhkan lebih dari sekedar itu. tapi harus diaflikasikan dengan tindakan dan perbuatan dalam kehidupan nyata. maka jawabannya yang paling tepat adalah kembali kepada al-qur’an. (QS. Ia membutuhkan adanya bantuan dan dukungan terhadap keberadaan orang/kelompok lain. fenomena agama dan beragama telah ada bersamaan dengan keberadaan manusia dan akan terus berlanjut sampai akhir kehidupan manusia. dengan misi universal rahmatallila’alamin sebagaimana tertuang dalam Firman Allah “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. kita harus menelaahnya dari Muhammad saw. Untuk melihat sikap dan ajaran Islam tentang puluralisme. juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. diutus oleh Allah sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir dengan membawa risalah Islamiyah. Al-Anbiya’: 21/107). dipermukaan Bumi ini yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. . dan Islam dalam kehidupan umat manusia. Artinya toleransi itu tidak cukup hanya dalam pemhaman saja. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah. Kita hidup dalam pluralisme agama.Ada dua macam penafsiran tentang konsep toleransi. yakni penafsiran negatif dan penafsiran positif. Di dalam agama Islam konsep dasar pluralisme sudah ada sejak dari awal agama itu di syari’atkan Oleh Allah swt. Yang pertama menyatakan bahwa toleransi itu hanya mensyaratkan cukup dengan membiarkan dan tidak menyakiti orang/kelompok lain. C.

agama dan bangsa. bentuk rupa. Al-Kafirun: 109/6). Islam tidak mempersoalkan lagi mengenai asal ras. Kristen dan agama-agama lainnya baik agama samawi maupun agama ardhi eksistensinya diakui oleh agama Islam. Allah tidak menginginkan hanya ada satu agama walaupun sebenarnya Allah punya kemampuan untuk hal itu bila Ia kehendaki. toleran dan membuka diri terhadap pluralisme agama. mengatakan bahwa . Semua manusia dan makhluk Allah akan mendapatkan prinsip-prinsip rahmat secara universal. Al Baqarah: 2/256). Isyarat-isyarat tentang pluralisme agama sanagat banyak ditemukan di dalam al-qur’an antara lain Firman Allah “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. kekayaan.Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad menjadi pnutup semua ajaran langit (agama samawi) untuk umat manusia. Manusia adalah makhluk yang punya kebebasan untuk memilih dan inilah salah satu keistimewaan manusia dari makhluk lainnya. ras. baik dalam warna kulit. Allah bahkan melukiskan pluralisme ideologi dan agama sebagai rahmat. tetapi jauh dari itu memahami akan substansi ajaran agama orang lain. Pluralisme agama mengajak keterlibatan aktif dengan orang yang berbeda agama ( the religious other) tidak sekedar toleransi. kemudian dengan akal tersebut Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agama yang ia yakini kebenarannya tanpa ada paksaan dan intervensi dari Allah. etnis. Dalam al-qur’an berulang-ulang Allah manyatakan bahwa perbedaan di antara umat manusia. Pluralisme agama dapat berfungsi sebagai paradigma yang efektif bagi pluralisme sosial demokratis di mana kelompok-kelompok manusia dengan latar belakang yang berbeda bersedia membangun sebuah komonitas global. budaya dan bahasa adalah wajar. Allah menganugrahkan nikmat akal kepada manusia. Hud: 11/118). Sebagaimana Firmannya “Tidak ada paksaan dalam agama”.Al-qur’an telah mencapai puncaknya dalam berbicara soal pluralisme ketika menegaskan sikap penerimaan al-qur’an terhadap agama-agama selain Islam untuk hidup bersama dan berdampingan. Yahudi. “Jikalau Tuhanmu menghendaki. (QS. Ini adalah suatu sikap pengakuan yang tidak terdapat di dalam agama lain. Nurkhalis Madjid. tentu dia menjadikan manusia umat yang satu. Pluarlisme agama adalah merupakan perwujudan dari kehenddak Allah swt.” (QS. Agama Islam adalah agama damai yang sangat mengahargai. suku. namun tentunya kebebasa itu adalah kebabsan yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah swt. (QS.

Kristen. Dengan adanya kebebasan inilah.salah satu persyaratan terwujudnya masyarakat modern yang demokratis adalah terwujudnya masyarakat yang mengharagai kemajemukan (pluralitas) masyarakat dan bangsa serta mewujudkan sebagai suatu keniscayaan. Yahudi. akomodatif. yaitu Yudaisme (Yahudi). seperti afala tatafakkarûn (apakah kalian tidak berpikir). Hingga tidak sedikit ayat yang dimulai dari redaksi rasional seperti alam tara (apakah kamu tidak melihat). Al-quran mengakui ekspresi keberagamaan manusia yang berbeda memiliki nilai spiritual interinsik atau nilai perennial. Kristen dan agama Makkah. Al-qur’an melihat kemajemukan agama sebagai misteri ilahi yang harus diterima untuk memungkinkan hubungan antarkelompok dalam wilayah publik.Islam meletakkan prinsip menerima eksistensi agama lain dan memberikan kebebasan kepada pemeluk agama lain untuk menjalankan ajaran agamanya tanpa batasan. Kedatangan al-qur’an ditengah-tengah pluralitas agama tidak serta-merta mendeskriditkan agama-agama yang berkembang pada saat itu. Setidaknya terdapat empat bentuk keyakinan agama yang berkembang dalam masyarakat Arab tempat Muhammad saw. Al-qur’an sangat aspiratif terhadap akal. Menurut Gamal al-Banna. Namun. Bahkan lebih jauh dari itu al-qur’an juga mengakui akan keutamaan umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat dalam ayat. Zoroastrianisme dan agama Makkah sendiri. Kristen mendapatkan kebesannya secara sempurna. mengakui dan membenarkan agama-agama yang datang sebelum al-qur’an diturunkan. alam ta’lam (apakah kamu tidak mengetahui) dan dikahiri dengan redaksi yang sama (rasional). Betapa banyak ayat yang menyampaikan pentingnya penggunaan akal. tapi al-quran sangat bersifat asfiratif. afala ta’qilûn (apakah kalian tidak menggunakan akal) dan lain sebagainya. Tiga di antaranya yang sangat berpengaruh dan senantiasa disinggung oleh al-qur’an dalam berbagai levelnya adalah Yahudi. “ Whai Bani Israil! . menjalankan misi profetkinya sebelum kehadiran Islam. D. Al-qur’an dan Pluralitas Keagamaan Kitab suci al-qur’an diturunkan dalam konteks kesejarahan dan stuasi keagamaan yang pluralistik (plural-religius).

Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Sebagimana dikutip oleh Fazlur Rahman. al-majusi dan yang lainnya. dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di ala mini (pada masa itu)” .” Khutbah ini menggambarkan tentang persamaan derajat umat manusia dihadapan Tuhan. Al-qur’an sebagai sumber normatif bagi satu teologi inklusif-pluralis. tetapi sekaligus secara teologis mempersatukan keragaman tersebut dalam satu umat yang memiliki kitab suci Ilahi. Al-Baqarah: 2/47). Sebagaimana Firman Allah “ . Pengakuan Al-Qur’an Terhadap Pluralisme Agama Pengakuan terhadap plurlisme atau keragaman agama dalam al-qur’an. kakak adek. tidak pula manusia yang berkulit putih terhadap orang yang berkulit hitam. Bagi kaum muslimin. al-nashara. al-Shabi’in. tidak ada perbedaan orang Arab dan non Arab. E. tidak ada teks lain yang mempunyai posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain al-qur’an. juga memberikan kebeasan untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing. utu nashiban min al-Kitab. Maka. dan tidak pula orang yang hitam terhadap yang putih kecuali karena kebajikannya. tergambar suatu sikap pengakuan al-qur’an akan keunggulan dan keutamaan umat-umat terdahulu sebelum umat Islam. masih terikat hubungan kekeluargaan yaitu sama-sama berasal dari nabi Ibrahim as. Ini adalah sebuah konsep yang secara sosiologis dan kultural menghargai keragaman. utu al-Kitab. Dalam ayat ini. yang membedakan hanya tingkat ketakawaan. ketika Nabi menyatakan bahwa. al-ladzina Hadu. “Kamu semua adalah keturunan Adam. eksistensi agama-agama lain. al-qur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep pluralisme agama dalam al-qur’an. mengakui keberadaan. tidak ada kelebihan orang Arab terhadap orang lain. Al-qur’an disamping membenarkan. tidak pula orang selain Arab terhadap orang Arab.Karena memang pada dasarnya tiga agama samawi yaitu Yahudi. ataytum al-Kitab. Kristen dan Islam adalah bersudara. ditemukan dalam banyak terminolgi yang merujuk kepada komonitas agama yang berbeda seperti ahl al-kitab. Pengakuan al-qur’an terhadap pluralisme dipertegas lagi dalam khutbah perpisahan Nabi Muhammad. (QS.

Para sahabat saling membicarakan kenapa Rasul menyuruh untuk melaksanakan shalat bagi seorang raja kafir (ateis). mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. orang-orang Yahudi. Sesungguhnya orang-orang mukmin. Nabi menyuruh kepada sahabatnya untuk melaksanakan shalat jenazah. orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56]. Ibn Abbas. Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman . turun berkenaan dengan kematian raja Najasyi dari Habsah. Qatadah da al-Hasan. Al-qur’an juga secara eksplisit mengakaui jaminan keselamatan bagi komonitas agama-agama yang termasuk Ahl al-Kitab (Yahudi. Shabi’in). hari Kemudian dan beramal saleh[58]. Menurut riwayat Jabir Ibn Abd Allah. Pengakual al-qur’an terhadap ah al-Kitab antara lain: 199. teks surat Ali Imran ayat 199 di atas. Anas. 62. (QS. (QS. Maka turunlah ayat di atas untuk menegaskan spritualitas sebagian ahli Kitab. tidak ada kekhawatiran kepada mereka. Pada saat kematian raja Najasyi. dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Al-Baqarah: 2/62). Al-Hujurat: 49/13). sebagaimana dalam pernyataannya. Ali Imaran : 3/199).Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling takwa”. mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya. Dan Sesungguhnya diantara ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.[57] orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi. siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57]. [56] Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari''at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa. Nasrani.

dan amal shaleh. Kritik dan protes yang dilancarkan gerakan keagamaan Protestan yang dimotori oleh Martin Luther selama 400 tahun lamanya tidak banyak merobah hegemoni kebenaran tunggal yang dimiliki agama ini.kepada Muhammad saw. mulai terasa kepayahan untuk menyatukan langkah gereja-gereja kecil dalam sekte-sekte yang independen dilingkungan iternal agama Protestan. hari akhir. Keselamatan hanya ada dalam agama Katolik. gereja Katolik mulai mengubah cara pandang keagamaannya. Sayyid Husseyn Fadhlullah dalam tafsirnya menjelaskan: Makna ayat ini sangat jelas. Ayat-ayat itu tidak menjelaskan semua kelompok agama benar. Sungguh menarik untuk mencermati dan memahami pengakuan al-qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk ( hudan) dan obat penetram (syifa li mafi al-shudhur) terhadap pluralitas agama. hari akhir dan beramal shaleh. seumur-umur gereja Katolik belum pernah mengakui keselamatan yang ada di luar gereja Katolik.[58] ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam. mereka mendapat pahala dari Allah. Mereka mulai membuka diri mau mengakui adanya pluralitas keselamatan di luar gereja Katolik. atau semua kelompok agama sama. Tidak! Ayat-ayat ini menegaskan semua golongan agama akan selamat selama mereka beriman kepada Allah. Ayat-ayat itu memang sangat jelas itu mendukung pluralisme. Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan pada hari akhir akan dicapai oleh semua kelompok agama ini yang berbeda-beda dalam pemikiran dan pandangan agamanya berkenaan dengan akidah dan kehidupan dengan satu syarat: memnuhi kaidah iman kepada Allah. baik yang berhubungan dengan agama atau tidak. jika ayat-ayat al-qur’an dipahami secara . Baru pada tahun 1965 dalam konsili Vatikan II. Penganut sekte-sekte dalam agama Protestan tidak selamanya dapat akur antara satu dengan yang lainnya. Sikap pengakuan al-qur’an terhadap adanya jaminan keselamatan bagi agama lain diluar Islam sangat kontaras denga prinsip ajaran agama Katolik. percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh.Demikian juga halnya yang terjadi pada agama Protestan yang menurut sejarah kelahirannya merupakan gerakan protes dan pembaharuan terhadap gereja Katolik.

Al-qur’an berulangkali mengakui adanya manusia-manusia yang saleh di dalam kaum-kaum tersebut. merupakan akibat dari proses pendangkalan agama. . semata-mata anugrah Tuhan yang juga berbeda. pluralisme keagamaan merupakan realitas emperis yang tercipta diluar otoritas manusia.Prespektif sosio-historis. dan Shabi’in seperti pengakuannya terhadap adanya manusia-manusia yang beriman di dalam Islam. Pluralisme Agama Keniscayaan Sejarah Agama dan beragama lebih dahulu dari usia sejarah itu sendiri sebab sejarah belum ditulis sedikitpun kecuali setelah manusia mengenal peradaban. yaitu Yahudi. argumen historis yang menunjukkan keniscayaan sejarah akan pluralisme agama ini. al-qur’an dengan tegas menyangkal dan menolak sikap eksklusif dan tuntutan truth claim (klaim kebenaran) secara sepihak yang berlebihan. dikemukakan oleh Ismail Raji al-Faruqi bahwa kebinekaan atau pluralisme agama tersebut disebabkan oleh perbedaan tingkat perkembangan sejarah. seperti biasa melekat pada diri penganut agama-agama. Secara normatif-doktrinal. Karena penyingkapan diri harus berbeda-beda. F. dan jalan-jalan tersebut berbedabeda. tertutup. terbuka. kesadaran akan realitas tersebut dan kesediaan menerima keragaman sebagai suatu hal yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan umat manusia. dan tidak memahaminya secara ideiologispolitis. ilmiah-kritis-hermeneutis. peradaban dan lokasi umat yang menerimanya.utuh. Pluralisme atau kebeinekaan agama merupakan suatu kenyataan aksiomatis (yang tidak bias dibantah) dan merupakan keniscayaan sejarah (historical necessary) yang bersifat universal. dan ketidak mampuan penganut agama dalam memahami serta menghayati nilai dan ajaran agama yang hakiki. Jalan bisa saja berbeda-beda tetapi tujuan harus tetap sama. Dalam bahasa agama. Munculnya klaim kebenaran sepihak itu pada gilirannya akan membawa kepada konflik dan pertentangan yang menurut Abdurrahman Wahid. bahwa setiap agama wahyu adalah sebuah jalan menuju Allah. pluralisme atau kebinekaan merupakan sunnatullah (kepastian hukum Tuhan) yang bersifat abadi (perennial). al-qur’an sangat radikal dan liberal dalam mengahadapi pluralitas agama. termasuk para penganut agama Islam. Kristen. yaitu samasama menuju kepada satu titik yang sama yakni Allah swt. Ibnu ‘Arabi salah seorang Sufi kenamaan mengatakan.

Sayang. sebagai agama terakhir. Hubungan paling buruk terjadi antara Kristen. Sebagaimana firman-Nya “Maka hadapkanlah wajahmu kepada (Allah) dengan lurus (tetaplah) atau fitrah Allah yang telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Yahudi dan Kristen adalah agama-agama yang saling berhubungan. Kristen dan Islam lahir dari satu bapak (Ibrahim).” (QS. Masing-masing menciptakan suasana ketegangan. lokasi. peradaban. kebanyakan manusia tidak mengetahui. disisi lain. pada kenyataannya setiap agama justru mempersempit gerak agama lain. di satu sisi. Bila kita merujuk kepada sejarah agama. Ini yang membuat kita mengerti akan sabda Rasulullah tentang para nabi bahwa mereka dalah “keluarga besar (abna ‘allat)”. Seharusnya. hubungan antara gama yang satu dengan agama yang lainnya adalah hubungan persaudaraan. sedangkan menolak kemajemukan sama saja dengan mengingkari sunnatullah. yang perbedaan-perbedaan di antara ketiganya sangatlah kecil. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. G. harus menentukan sikapnya terhadap agama-agama yang datang mendahuluinya. jika tidak ingin dikatakan suasana permusuhan. dengan Yahudi dan Islam. artinya hanya Allah saja yang Esa (tunggal) sedangkan selain Dia. Sesungguhnya Islam. Secara historis-geografis mereka terikat oleh satu tempat dan waktu yang tidak berjauhan.Ismail Raji al-Faruqi menjelaskan bahwa asal dari agama itu satu karena bersumber pada yang satu (Tuhan). sampai setiap agama itu menyebar ke seluruh benua. Kemahaesaan Allah meniscayakan akan pluralitas selain Dia. Menolak pluralisme berarti pada dasarnya menolak kemajemukan. din al-fitrah tersebut berkembang menjadi suatu agama historis atau tradisi agama yang spesifik dan beraneka plural. dengan Kristen dan Yahudi di sisi lain. Dan hubungan paling ringan adalah hubungan antara Islam. Al-Rum: 30/30). Upaya Memelihara Pluralisme Agama . sejalan dengan tingkat perkembangan sejarah. dan itu tidak mungkin. Yang demikian itu terjadi karena Islam. akan tetapi. adalah plural. di satu sisi. Itulah agama yang benar. Ayah mereka satu dan ibu mereka banyak. yaitu Yahudi. dan kebutuhan umat yang menerimanya. kita menemukan bahwa tiga agama besar. Tetapi kemudian.

sosial. Kesadaran Islam yang cerdas tidak pernah menutup diri dari berbagai kecenderungan yang positif obyektif. Dan pluralisme tidak dimaksudkan sebagai penghapusan kepribadian Islami.Pada dasarnya pluralisme tidak membutuhkan suatu sistem yang baku untuk memeliharanya. akan mampu menjadi perangkat lunak yang akan menjamin terwujudnya pluralisme. Adanya Kesadaran Islam yang Sehat Pluralisme dalam masyarakat Islam memiliki karakter yang berbeda dari pluralisme yang terdapat dalam masyarakat lain. maka pluralisme agama dapat berkembang denga baik yang pada akhirnya akan tercipta kerukunan dan toleransi umat beragama yang baik dan harmonis ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Bahkan kecenderungan itu bisa jadi akan menambah keistimewaan agama Islam itu sendiri. yang dibutuhkan adalah pemhaman masyarakat beragama tentang pluralisme itu sendiri. tanpa ada seorang pun yang berani melakukan kritik dan reformasi sosial. maka akan sangat mungkin tumbuhnya kemungkaran yang tidak terhitung. . Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Pemahaman konsep amar ma’ruf nahi mungkar yang benar. Kesadaran Islam yang sehat akan mampu melihat dengan jernih sisi kebnaran yang terdapa dalam agama lain karena semua agama punya nilai-nilai kebenaran yang bersifat univerasl. antara lain: 1. Jika amar ma’ruf nahi mungkar tidak lagi berjalan dalam masyarakat sebagaiman mestinya. suku. Bila sikap seperti ini dimiliki oleh setiap muslim. budaya dan agama. etnis. Kesadaran Islam yang cerdas merupakan faktor yang menjamin pluralisme dan menjaganya dari penyimpangan dan kesalahan. tidak panatisme agama secara berlebihan dan selalu membuka diri dengan orang lain walupun berbada agama dan keyakinan. 2. Karena amar ma’ruf nahi mungkar memberikan peluang bagi tumbuhnya kebebasan berpikir dan mendorong terwujudnya kondisi demokratis. berbangsa dan bernegara. Namun walaupun demikian ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pluralisme. Ciri khas dalam Islam meniscayakan adanya perbedaan baik itu perbedaan ras. Kondisi seperti ini akan melahirkan sikap anti pluralisme.

Seharusnya bila semua pihak bisa berlapang dada. Agama seharusnya dapat menjadi pendorong bagi umat manusia untuk selalu menegakkan perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia di bumi ini. 3. inilah senjata mereka dalam memberangus orang laing yang memiliki pandangan yang berbeda. apapun agamanya dan siapa pun yang melakukan itu tidak dapat dibenarkan. melakukan perbuatan anarkis. Agama Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan kepada umatnya untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Islam mengajarkan dengan hikmah (arif dan bijaksana). kadang kala karena kesalahpahaman akan konsep amar ma’ruf nahi mungkar. yang terjadi justru amar ma’ruf nahi mungkar menjadi perangkat yang melawan pluralisme bahkan cederung membenarkan tindakan-tindakan anrkis. merupakan salah bentuk penyelwengan makna amar ma’ruf nahi mungkar itu sendiri. bukan dengan cara-cara kekerasan dan menghakimi. Pribadi yang tertutup . saling memahami dan menahan diri itu tidak semestinya terjadi.Agama dengan ajaran yang suci dan mulia tidak layak dijadikan tameng untuk mengeksekusi penganut agama lain yang tidak seagama dalam pergaulan sosial. Dialog Antarumat Beragama Salah satu faktor utama penyebab terjadinya konflik keagamaan adalah adanya paradigma keberagamaan masyarakat yang masih eksklusif (tertutup). Seperti kasus yang terjadi akhir-akhir ini di tanah air yang hangat dibicarakan diberbgai media baik cetak maupun elektronik. Pemahaman keberagamaan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena pemahaman ini dapat membentuk pribadi yang antipati terhadap pemeluk agama lainnya. Ini terjadi ketika konsep amar ma’ruf nahi mungkar berda ditangan orang-orang yang berpandangan totaliter yang memiliki jargon “satu kata” hanya mereka yang benar sedangkan orang lain salah. Suka Bumi dan daerah-daerah lainnya. uswatun hasanah (contoh tauladan yang baik) mau’idzah hasanah (pengajaran yang baik) dan menasehati dengan cara lemah lembut dengan penuh kesabaran dalam mengajak orang lain kepada jalan kebenaran.Sayangnya. apa lagi bila agama dijadikan unsur pembenaran untuk terjadinya konflik sosial antarseasama umat beragama. Menurut analisa penulis kasus ini. yaitu bentrok fisik yang terjadi antar ormas-ormas Islam dengan aliran Ahmadiyah baik di Bogor. hal yang demikian adalah merupakan suatu penistaan terhadap agama.

Kristen dan Yahudi.dan menutup ruang dialog dengan pemeluk agama lainnya. terutama dengan umat Kristen dan Yahudi yang di dalam al-qur’an disebut dengan ungkapan ahl al-Kitab (yang memiliki kitab suci). Isa dan Muhammad) yang bertemua pada Ibrahim sebagai bapak agama tauhid. Persaudaraan antarsesama umat beragama itu hanya dapat dibangun melalui dialog yang serius yang diadasarkan pada ajaran-ajaran normatif masing-masing dan komonikasi yang intens. saling pengertian. sering juga disebut dengan istilah agama-agama semitik atau agama Ibrahim. yaitu toleransi dan pluralisme. Ketiaga agama ini. Pribadi yang selalu merasa hanya agama dan alirannya saja yang paling benar sedangkan agama dan aliran keagamaan lainnya adalah salah dan bahkan dianggap sesat. Dengan terwujudnya rasa persaudaran yang sejati antarsesama umat.Paradigma keberagamaan seperti ini (eksklusif) akan membahayakan stabilitas keamanan dan ketentraman pemeluk agama bagi masyarakat yang multi agama.Kedekatan ketiga agama samawi yang sampai saat ini masih dianut oleh umat manusia itu semakin tampak jika dilihat dari genologi ketiga utusan (Musa. mengindikasikan adanya kedekatan hubungan kekeluargaan antara umat Islam. dialog antarumat beragama mempersiapkan diri untuk melakukan diskusi dengan umat agama lain yang berbeda pandangan tentang kenyataan hidup. dengan dialog dan komonikasi tersebut akan terbangun rasa persudaraan yang sejati. dan saling menimba pengetahuan baru tentang agama mitra dialog. Alwi Sihab mengatakan. Membangun persaudraan antarumat beragama adalah kebutuhan yang mendesak untuk diperjuangkan sepanjang zaman. maka akan sirnalah segala sakwa sangka di antara mereka. Penggunaan kata ahl al-Kitab untuk panggilan umat Kristen dan Yahudi. PENUTUP .Agama Islam sejak semula telah menganjurkan dialog dengan umat lain. Dengan dialog akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan hidup rukun dalam suatu masyarakat. Dialog tersebut dimaksudkan untuk saling mengenal.

Al-qur’an dalam berbagai kesempatan banyak berbicara tentang pluralisme. Agama Islam. Kristen. yaitu toleransi dan pluralisme. DAFTAR PUSTAKA Azyumardi Azra. Pluralisme agama dapat terjaga dan terpelihara dengan baik. ia merupakan bagian prinsip dasar dari agama Islam itu sendiri. 2007. apabila pemahaman agama yang cerdas dimiliki oleh setiap pemeluk agama. Kristen dan Islam yang bersumber dari satu bapak tetapi banyak ibu. Ini adalah suatu sikap pengakuan yang tidak terdapat di dalam agama lain. yang harus diterima oleh semua umat manusia. Yahudi. Sikap pengakuan al-qur’an terhadap pluralisme telah mencapai puncaknya dalam berbicara soal pluralisme ketika menegaskan sikap penerimaan al-qur’an terhadap agama-agama selain Islam untuk hidup bersama dan berdampingan. Kristen dan agama-agama lainnya baik agama samawi maupun agama ardhi eksistensinya diakui oleh agama Islam. karena pluralisme adalah bagian dari otoritas Allah ( sunnatullah) yang tidak dapat dibantah oleh manusia.Konsep pluralisme agama sejak awal sudah ada dalam agama Islam. . Dengan dialog akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan hidup rukun dalam suatu masyarakat. Antar umat beragama perlu membnagun dialog dan komonikasi yang intens guna untuk menjalin hubungan persaudaran yang baik sesama umat beragama. dan Shabi’in seperti pengakuannya terhadap adanya manusia-manusia yang beriman di dalam Islam. hal ini tergambar dalam sejarah tiga agama besar yaitu Yahudi. pluralisme agama adalah keniscayaan sejarah yang tidak dapat dipungkiri. yaitu Yahudi. Yogyakarta: Kanisius. Wallahu A’lam. bahkan al-qur’an berulangkali mengakui adanya manusia-manusia yang saleh di dalam kaum-kaum tersebut. Merawat Kemajemukan Merawat Indonesia. sebagai agama yang mengemban misi rahmatanlilalamin memandang pluralisme atau keragaman dalam beragama merupakan rahmat dari Allah swt. Secara historis.

Jalaluddin Rakhmat. Melampaui Dialog Agama. Jakarta: PT. Alef Theria Wasim dkk (Ed). Jakarta: PT. Jakarta: Prespektif. Isalam dan Realitas Sosial Di Mata Intelektual Muslim Indonesia. 2006. 2002. Peraktik & Pendidikan. . Yogyakarta: Oasis Publisher. Hendra Riyadi. Reposisi Hubungan Agama dan Negara Merajut Kerukunan Antarumat. Agama dan Pembangunan Indonesia. Aloys Budi Purnomo. Jakarta: PT. Doktrin Pluralisme Dalam Al-Qur’an. Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis. 2005. Jakarta: Menara. 2002. 2005 Abd. Bandung: Mizan. Mukti Ali. Jakarta: Edu Indonesia Sinergi. Anis Malik Toha. Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama. Jilid V: Biro Hukum dan Humas Depag: Jakarta. Serambi Ilmu Semesta. Bahtiar Effendy (Ed). Gamal al-Banna. 2006. Jakarta: Kompas. Jakarta: Kompas. 2003. Jakarta: Nuqtah. Agama dan Radikalisme di Indonesia.Azyumardi Azra. Amir Mahmud (Ed). 2007. Alwi Sihab. Wahana Semesta Inetrmedia. Melampaui Pluralisme Etika Al-qur’an tentang Keragaman Agama. A. 2004. 2007. Abdulaziz Sachedina. A’la. 2005. Beda Tapi Setara Pandangan Islam tentang Non-Islam. Serambi Ilmu Semesta. Islam dan Pluralisme Akhlak Quran Menyikapi Perbedaam. Harmoni Kehidupan Beragama: Problem. Membangun Teologi Inklusif-Pluralistik. 1999. Jakarta: Kompas. 1999.

Yudhi R. Yogyakarta: Pustaka SM. Jakarta: Paramadina. 2003. Muhammad Abid Al-Jabiri. Ainul Yaqin. Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman. 1983 Jauhar Azizy (Tesis 2007). Pendidikan Multikultural Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Kebangsaan. 2002. Bandung: Pustaka hidayah. 2007. 2004. Jakarta: Dokpen MAWI. Nomor 6. Menengok Kembali Islam Kita. 2002. Tafsir Tematik Al-Qur’an Tentang Hubungan Sosial Anatarumat Beragama. Hofmann. M. M. Nurkhalis Madjid.J. Murad W. (Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. al-Aql al-Siyasi al-Arabi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Riberu. Haryono. . Islam Agama Kemanusiaan Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Juli-Desember. Amin Abdullah. Muhammadiyah. Tonggak Sejarah Pedoman Arab: Dokumen Konsili Vatikan II . 2003. 2007. Yogyakarta: Pilar Media. Muhamad Ali. Bekasi: Gugus Press. Pluralisme Agama dalam Al-Qur’an: Telaah Terhadap Tafsir Departemen Agama. Bahasa Politik Al-Qur’an Mencurigai Makna Tersembunyi di Balik Teks. M. Cendikiawan dan Religiusitas Masyarakat. Jakarta: Paramadina. Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP. 1999 Nurkhalis Madjid. Nurkhalis Madjid. Jakarta: Kompas. Alqur’an dan Pluralisme dalam Khazanah: Jurnal Ilmu Agama Islam. Volume 1. Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi alArabi. 1991. 2002. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. 2001.

Pengertian di atas melekat (inherent) didalamnya agama sebagai sebuah entitas yang mempunyai keberagaman (pluralitas) dengan karakteristik tersendiri. Dengan demikian pluralitas meniscayakan adanya dialog antar semua umat beragama. 2005 Said Agil Husin Al Munawar. dan sebagainya. Dalam The Oxford English Dictionary. praktisi dan para intelektual berpendapat. melainkan lewat perkembangan pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa. 1973) Pengantar Selama ini.Suarahman Hidayat. 1998. Menurutnya. Atas dasar pandangan di ataslah.Dunia di Genewa. Namun kesadaran semacam ini tentu saja tidak muncul secara tiba-tiba. 2003 Fenomena Pluralitas Agama FENOMENA PLURALITAS AGAMA Oleh : Alif Lukmanul Hakim. iman atau kepercayaan akan berakar pada pengalaman sejarah masing-masing agama. mengandung pengertian : “pluralitas” tidak sama dengan “kemajemukan”. Dengan demikian. S. Swiss). dan pluralitas agama menjadi dasar historis . Islam Pluralisme dan Perdamaian. kelembagaan. banyak para agamawan. Jakarta: Fikr. Sebenarnya pluralitas menurut Diana Eck (Diana Eck adalah seorang guru besar di Harvard University dan juga tokoh wanita dalam kepengurusan Dewan Gereja-gereja se. serta keragaman kepercayaan atau sikap dalam suatu badan. Jakarta: PT. “pluralitas” mengacu pada adanya hubungan saling bergantung antar berbagai hal yang berbeda. Fil Dewasa ini kenyataan pluralisme agama semakin disadari oleh banyak pihak. Sejarah mencatat banyaknya perang dan perebutan kekuasaaan ataupun perebutan pengaruh antara agama-agama di masa lampau. jika berrbicara tentang tema pluralitas atau kemajemukan agama. Said Agil Husin Al Munawar. sedang “kemajemukan” (diversitas) mengacu kepada tidak adanya hubungan seperti itu di antara hal-hal yang berbeda. Jakarta: Ciputat Press. Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani Dalam Sistem Pendidikan Islam. Fikih Hubungan Antar Agama. maka persepsi kita pertama-tama selalu pada usaha untuk menciptakan hubungan dialogis antarumat bergama melalui dialog demi tercapainya kerukunan antarumat beragama. meskipun dalam perspektif pemikiran ∗yang berbeda dari sekarang (Dhavamony. Itu berarti bahwa kemajemukan (keberagaman menurut penulis) agama sudah lama dialami oleh bangsa-bangsa. Ciptuta Press. sangat signifikan dalam konteks kali ini bagi kita untuk melakukan perubahan dalam berteologi. Pluralisme diartikan sebagai Keberadaan atau toleransi keberagaman etnik atau kelompok-kelompok kultural dalam suatu masyarakat atau negara. Dan satu hal yang paling ditonjolkan adalah masalah iman (kepercayaan).

Melalui model dialog antar agama seperti itu diharapkan akan dapat mengantarkan teologi antar agama yang didasarkan atas pemahaman akan adanya hubungan kebenaran relatif dalam agama-agama dengan kebenaran absolut yang melibatkan dan melampaui kebenaran relatif tersebut.bagi terciptanya spirit (semangat) dan dinamika dalam agama-agama untuk tetap eksist dan mampu menjawab isu-isu kontemporer. agama mmembawa dampak yang luas terhadap kehidupan seseorang. Semua agama memiliki kebertujuan — dimensi teleologis – sendiri-sendiri dalam konteks memberikan arah jalan keselamatan bagi pemeluknya. ekonomi. Bisa jadi. politik. budaya. Memang. terdapat sejumlah kesamaan yang cukup berarti di antara mereka. Oleh karena itu sudah menjadi sebuah konsekuensi logis apabila pluralitas harus mengacu kepada adanya kebersamaan dan keutuhan. Orientasi Fenomena Pluralitas dalam Agama Kita harus menetapkan orientasi atau arah tujuan bersama dalam menciptakan kehidupan keberagamaan yang menghargai pluralitas. 1998: 42). tuntutan akan lahir dan munculnya spiritualitas keberagamaan yang sejuk. dan saling me-ngayomi satu sama lain. dan dimensi kehidupan lainnya. mutlak diperlukan adanya toleransi dalam beragama. Dengan demikian kita tidak lagi dapat membatasi diri pada pembicaraan tentang pluralitas itu sendiri. Motif dan karakteristik Pluralitas dalam Agama Secara teologis-normatif – dalam terminologi Amin Abdullah — setiap agama pasti memiliki kepercayaan dan konsep teologisnya sendiri-sendiri. Pada masyarakat plural. Inilah yang dinamakan oleh para ahli studi perbandingan agama (comparative religions) dan para agamawan transformatif sebagai teologi atau konsep inklusif beragama dalam kaitannya dengan hubungan antar agama. ramah. Meskipun hampir semua masyarakat yang berbudaya kini sudah mengakui adanya keberagaman dalam dimensi sosial. Namun bukan berarti agama-agama yang ada tidak akan mendapatkan titik persinggungan atau perjumpaan secara konseptual. salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah membuka pintu . baik dalam hal pemenuhan kebutuhan fisik. politik dan sebagainya. Salah satu indikasinya adalah. yang tak mungkin dipersatukan dengan agama dan atau kepercayaan yang lainnya. multireligius atau interreligius. menjunjung kebersamaan dan menghilangkan sekat-sekat primordialistik dalam beragama. Namun titik-titik persinggungan antar agama ini menurut Alwi Shihab tidak dimaksudkan sebagai sebuah model sinkretis. yakni menciptakan suatu agama baru dengan memadukan unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari berbagai agama untuk dijadikan bagian integral dari agama baru tersebut atau bahkan upaya eklektik. Untuk mewujudkan itu semua. sangatlah didamba-dambakan. Untuk mewujudkan dan mendukung konsep pluralisme dalam beragama tersebut. walaupun terdapat beragam faktor perbedaan di antara agama-agama. Hal ini terbukti ketika pengertian terhadap saling ketergantungan (pluralitas) telah mengukuhkan suatu paradigma atau cara pandang tentang kesatuan dalam bentuknya yang baru. di antara titik-titik persinggungan dan titik pemisah (dimensi-dimensi teologis-normatif) yang terdapat dalam hubungan antaragama lebih banyak titik-titik persinggungannya. melainkan membangun sebuah model atau proses dialog yang “sadar” antar umat agama (Alwi Shihab. pada kenyataannya permasalahan toleransi sebagai salah satu fundamen bagi pluralisme agama masih belum menemukan pijakan yang mantap dan kokoh.

Dalam Revitalisasi Islam. Fenomenologi Agama. BPK GUNUNG MULIA. Arqam. Beberapa tahun yang lalu. Alwi.dialog secara terbuka. 1998. Jakarta: PT. (http://aliflukmanulhakim. Dhavamony. termasuk agama merupakan bagian dari proses perubahan yang saat ini semakin terasa pengaruhnya. Bandung: Mizan. Kuswanjono. Knitter. Titik temu Pemahaman Ketuhanan. Shihab. Mampukah kita mewujudkannya?Semoga. Madrasah dan Tulisan Sekedar Celoteh Ringan Seorang Guru Madrasah Peranan Pendidikan dalam Mewujudkan Pluralisme Agama di Indonesia (Analisa Kritis Terhadap Kurikulum Pendidikan Agama Islam di SMP-SMU) tinggalkan komentar » Pluralitas dalam berbagai bidang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&UGM. Diterjemahkan oleh : Nico A. Diterjemahkan oleh Penerbit Kanisius. Mariasusai. 2001.wordpress. Satu Bumi Banyak Agama. dkk. DAFTAR PUSTAKA . Paul F. dan lepas dari tendensi serta kecurigaan yang tak beralasan. 1973. Likumahuwa. Islam Inklusif. Yogyakarta.com/2008/09/10/fenomena-pluralitas-agama/) Dunia Guru. dalam bukunya Megatrend . 2003. John Naisbitt bersama Patricia. rasional.. Editor : Arqam Kuswanjono..

Pluralitas agama di Indonesia. Wujud keberagaman itu disimbolkan melalui Bhineka Tunggal Ika yang mempunyai makna filosofi dalam kehidupan kebersamaan bagi masyarakat Indonesia. Haedar Nashir dalam bukunya Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern menyebutkan bahwa konflik yang muncul di Indonesia. semakin rentan terhadap terjadinya konflik baik yang sifatnya antar agama maupun antar golongan seagama. bahasa. Menurut Berger.2000. mobilitas keagamaan. pluralisme merupakan dasar dari khilqah (penciptaan) alam dan karenanya pluralisme tidak berpotensi untuk melahirkan konflik. yang melatar belakangi timbulnya perang. . Dan ironisnya seringkali agama dijadikan alat propaganda dan legitimasi terhadap persoalan ekonomi dan politik. prediksi di atas semakin nampak jelas indikasinya. adat istiadat. Sehingga agama kehilangan fungsinya sebagai penjaga cinta kasih dan keselamatan di tengah-tengah sistem sosial yang haus kekayaan dan kekuasaan. sehingga prinsip pluralisme menjadi suatu keharusan untuk dijunjung tinggi. dakwah umat dan keyakinan agama. dari waktu ke waktu memperlihatkan keberagaman yang khas. yang nota bene adalah masyarakat pluralis. suku. maupun agama. Indonesia yang sejak awal merupakan negara pluralis.[1] Dan saat ini. jumlahnya berlipat ganda menjadi ratusan. kepentingan ekonomi dan politik.[5] Bagi masyarakat Indonesia.[6] . melainkan pluralitas masyarakat. karena masing-masing fihak secara emosional mengklaim dirinya paling benar (truth claim) yang kemudian melahirkan sikap untuk mendominasi dan menguasai golongan lain. Akibatnya pluralisme yang diharapkan berpotensi untuk mewujudkan dinamisasi hidup beragama. yang ditandai dengan lahir dan berkembangnya agama atau keyakinan baru -dari denominasi hingga pemujaan.[2] Prinsip pluralisme.[4] Pluralitas agama mempunyai tantangan tersendiri bagi dinamika masyarakat. yang hanya “disadari” dan “difahami” sebagai sebuah wacana tanpa dibarengi dengan wujud kongkrit dalam prilaku kehidupan sehari-hari. Konsep pluralisme tersebut telah menjadi filosofi ketatanegaraan masyarakat dunia saat ini. tantangan besar agama (religiusitas) di masa depan bukanlah modernisasi. Dalam Islam. membuat prediksi tentang kebangkitan agama. faham atau penafsiran agama.tercipta setiap tahun. Dan salah satu persoalan yang menonjol saat ini adalah hubungan antar agama yang tidak rukun.[3] Dengan demikian faktor pemicu konflik. lebih disebabkan karena persoalan agama. kesediaan kita untuk memahami dan berbeda dengan orang lain. Lewat pengajaran agama. Artinya. Konflik agama yanng muncul antara lain. justru sebaliknya. tentu mempunyai tantangan ke depan yang akan jauh lebih kompleks. baik ras. yang seharusnya memberikan “angin segar” di tengah pluralitas agama dalam realitasnya diartikan oleh masing-masing fihak dalam konteks yang berbeda. antara lain dipengaruhi oleh stratifikasi sosial. orang dapat menaburkan bibit kebencian dan menciptakan individu pemeluk agama tertentu masuk dalam bingkai sektarian untuk membenci pemeluk agama lain. yang merupakan konsekwensi dari masyarakat yang hidup di era globalisasi.

Melalui pendidikan. Namun demikian. Di sisi lain pluralitas berpotensi pula terhadap “rapuhnya” keimanan seseorang apabila tidak dibarengi dengan komitmen yang tinggi terhadap agamanya. yang harus diperhatikan. Pendidikan sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan individu dan masyarakat. hubungannya dengan sesama. merupakan salah satu media yang sangat efektif untuk mewujudkan masyarakat yang dinamis di tengah pluralitas agama dan sekaligus dapat menjadi pemicu terhadap terjadinya konflik agama apabila pendidikan dilaksanakan melalui proses yang tidak tepat. Hal ini satu sisi merupakan indikasi “belum berhasilnya” Pendidikan Agama Islam (PAI) terutama di sekolah dalam menanamkan nilai-nilai agama sebagai rahmatan lil’alamin pada anak didik. kebersamaan. dan Tuhannya. manusia diperkenalkan tentang eksistensi diri. seharusnya dapat mengantisipasi dan mencari solusi terhadap terjadinya pertikaian. maka penting untuk memahaminya lebih lanjut. Paling tidak hal ini dapat dilihat dari beberapa kritik yang muncul. antara lain bahwa keilmuan dalam pendidikan Islam hanya terbatas pada kumpulan “doktrin agama Islam” yang ditransmisikan begitu saja pada generasi penerus lewat jalur pendidikan formal maupun informal. yang antara lain berakar dari persoalan agama. tidak ada kerjasama dan tidak akan terjalin kerjasama. dan ciri khas yang berbeda-bedasebaliknya nilai toleransi. dan lainnya. tenggang rasa. pendidikan (baca: Pendidikan Agama Islam) yang berlangsung selama ini. Apabila pluralisme merupakan realitas yang harus dihadapi. kerukunan dan toleransi. Sehingga idealnya. parsial. kenyataan yang muncul selama saat ini benih-benih konflik. Kesadaran tentang adanya perbedaan antara satu dengan lainnya merupakan sikap yang perlu untuk ditanamkan dan dikembangkan dalam masyarakat. selama ini kurang ditonjolkan. saling mengkafirkan. bagaimana nilai-nilai itu diaktualisasikan dalam kehidupan yang lebih riel belum sepenuhnya tersentuh. yang salah satunya disebabkan operasionalisasi dari pendidikan yang hanya cenderung mengarah pada bagaimana menanamkan doktrindoktrin agama dengan hanya menggunakan pendekatan teologis-normatif . sehingga klaim right and wrong is my country tidak perlu terjadi yang berbuntut terjadinya konflik agama dan dapat berkembang menjadi konflik yang lebih luas. saling menyalahkan.[8] Sementara. tidak ada dialog. alam. karakter. agama yang pada hakekatnya mengajarkan tentang kebersamaan. ketika masuk dalam wilayah empiris dan berhadapan dengan berbagai kepentingan-kepentingan manusia menjadi tidak berdaya. Pendapat lain . Memahami agama dengan hanya menggunakan pendekatan ini akan melahirkan sikap keberagamaan yang eksklusif. Di sisi lain.[7] Sehingga yang sering ditonjolkan hanya perbedaannya –walaupun pada dasarnya masingmasing agama mempunyai perbedaan. perselisihan. dan tidak terlihat adanya “kepedulian sosial”. pembunuhan.Pluralitas agama di Indonesia merupakan persoalan crusial. yang dapat membentuk pengkotak-kotakkan umat. bahkan konflik yang muncul apabila ditelusuri lebih lanjut cenderung disebabkan karena persoalan agama dan menjadikan agama sebagai alat yang ampuh untuk menyulut kerusuhan. sehingga memerlukan reinterpretasi untuk lebih dapat mengetahui dan memahami makna dibalik doktrin-doktrin yang ada.

dan inovatif terhadap berbagai persoalan yang terjadi dengan selalu mengupayakan bentuk solusi yang tepat. mustahil pendidikan Islam dapat berperan baik sebagai agent social of change maupun agent social of conservation. yang dilakukan oleh Ibnu Hadjar terhadap para pelajar di tengkat menengah (SMU dan MA) tentang hubungan antara pendidikan agama. Di atas merupakan gambaran dari sebagian realitas pendidikan agama Islam. . pendidikan Islam akan selalu berproses dengan berbagai problematikanya dari waktu ke waktu. Sehingga selama berproses itu pula pendidikan Islam dituntut untuk selalu responsif.[9]. keberagaman. menuntut kita untuk menengok kembali proses pendidikan yang berlangsung selama ini. adaptif. Seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman. dan prasangka terhadap umat Kristen menunjukkan pendidikan agama tidak meningkatkan pemahaman keagamaan dan toleransi kepada kelompok-kelompok yang berbeda. Dalam sebuah penelitian. Untuk mewujudkan harapan tersebut dalam proses pendidikan (pendidikan formal) sangat terkait erat dengan format kurikulum yang harus dirancang secara tepat dan sesuai dengan sasaran yang diinginkan. bagaimana doktrin-doktrin itu diajarkan dan diinterpretasikan dalam kehidupan riel yang terus berubah. Kenyataan adanya konflik agama yang muncul. Hal ini penting karena tanpa upaya-upaya tertentu.mengatakan bahwa pendidikan agama selama ini sedikit yang mengajarkan tentang toleransi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful