PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS

SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 11 ayat (2), Pasal 16, Pasal 20 ayat (5), Pasal 22 ayat (2), Pasal 24 ayat (3), Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4), dan Pasal 28 ayat (3) UndangUndang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga; : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA.

Mengingat

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. 2. Sampah …

-22. Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Sumber sampah adalah asal timbulan sampah. Produsen adalah pelaku usaha yang memroduksi barang yang menggunakan kemasan, mendistribusikan barang yang menggunakan kemasan dan berasal dari impor, atau menjual barang dengan menggunakan wadah yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam. Tempat penampungan sementara yang selanjutnya disingkat TPS adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu. Tempat pengolahan sampah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) yang selanjutnya disebut TPS 3R adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, dan pendauran ulang skala kawasan. Tempat pengolahan sampah terpadu yang selanjutnya disingkat TPST adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan, dan pemrosesan akhir. Tempat pemrosesan akhir yang selanjutnya disingkat TPA adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan.

3.

4. 5.

6.

7.

8.

9.

10. Orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum. 11. Pemerintah pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 12. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

Pasal 2 …

-3Pasal 2 Pengaturan pengelolaan sampah ini bertujuan untuk: a. menjaga kelestarian fungsi kesehatan masyarakat; dan lingkungan hidup dan

b. menjadikan sampah sebagai sumber daya. Pasal 3 Peraturan Pemerintah ini meliputi pengaturan tentang: a. kebijakan dan strategi pengelolaan sampah; b. penyelenggaraan pengelolaan sampah; c. kompensasi; d. pengembangan dan penerapan teknologi; e. sistem informasi; f. peran masyarakat; dan g. pembinaan. BAB II KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH Pasal 4 (1) (2) Pemerintah menetapkan kebijakan dan strategi nasional dalam pengelolaan sampah. Pemerintah provinsi menyusun dan menetapkan kebijakan dan strategi provinsi dalam pengelolaan sampah. Pemerintah kabupaten/kota menyusun dan menetapkan kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam pengelolaan sampah. Pasal 5 (1) Kebijakan dan strategi dalam pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 paling sedikit memuat: a. arah kebijakan sampah; dan pengurangan dan penanganan

(3)

b. program …

Pasal 6 Kebijakan dan strategi nasional dalam pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) ditetapkan dengan peraturan presiden.-4b. Dalam menyusun kebijakan strategi provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional dalam pengelolaan sampah. program pengurangan dan penanganan sampah. target pengurangan timbulan sampah dan prioritas jenis sampah secara bertahap. Pasal 7 (1) Kebijakan dan strategi provinsi dalam pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) ditetapkan dengan peraturan gubernur. (2) Program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b harus memuat: a. Pasal 8 (1) Kebijakan dan strategi kabupaten/kota dalam pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) ditetapkan dengan peraturan bupati/walikota. dan b. juga menyusun dokumen rencana induk dan studi kelayakan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Dalam menyusun kebijakan strategi kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional serta kebijakan dan strategi provinsi dalam pengelolaan sampah. (2) Rencana … (2) (2) . target penanganan sampah untuk setiap kurun waktu tertentu. Pasal 9 (1) Pemerintah kabupaten/kota selain menetapkan kebijakan dan strategi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3).

pengurangan sampah. (3) pemanfaatan kembali sampah. i.-5(2) Rencana induk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat: a. (2) Setiap orang wajib melakukan pengurangan sampah dan penanganan sampah. BAB III PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN SAMPAH Bagian Kesatu Umum Pasal 10 (1) Penyelenggaraan pengelolaan sampah meliputi: a. pengumpulan sampah. pendauran … . c. g. pemrosesan akhir sampah. penanganan sampah. pendanaan. Bagian Kedua Pengurangan Sampah Pasal 11 (1) Pengurangan sampah meliputi: a. e. pengangkutan sampah. pemilahan sampah. pembatasan timbulan sampah. pengolahan sampah. b. f. b. dan Rencana induk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan untuk jangka waktu paling sedikit 10 (sepuluh) tahun. h. pembatasan timbulan sampah. d. pendauran ulang sampah. dan b.

dan/atau menghasilkan produk dengan menggunakan kemasan yang mudah diurai oleh proses alam dan yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin. Pasal 13 (1) Produsen wajib melakukan pendauran ulang sampah dengan: a. menggunakan bahan yang dapat diguna ulang. b. mengumpulkan dan menyerahkan kembali sampah dari produk dan/atau kemasan yang sudah digunakan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mengumpulkan dan menyerahkan kembali sampah diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. menyusun rencana dan/atau program pembatasan timbulan sampah sebagai bagian dari usaha dan/atau kegiatannya. dan/atau bahan yang mudah diurai oleh proses alam. (2) pemanfaatan kembali sampah.-6b. Pasal 12 Produsen wajib melakukan pembatasan timbulan sampah dengan: a. pendauran ulang sampah. dan/atau menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk didaur ulang. bahan yang dapat didaur ulang. Pengurangan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara: a. menyusun program pendauran ulang sampah sebagai bagian dari usaha dan/atau kegiatannya. b. produsen dapat menunjuk pihak lain. dan/atau b. Dalam melakukan pendauran ulang sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menggunakan bahan baku produksi yang dapat didaur ulang. (2) . dan/atau c. (3) Pihak … c.

Pentahapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. (1) Pasal 15 Penggunaan bahan baku produksi dan kemasan yang dapat diurai oleh proses alam. menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk diguna ulang. dalam melakukan pendauran ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dalam hal pendauran ulang sampah untuk menghasilkan kemasan pangan. Dalam menetapkan peta jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian dan melakukan konsultasi publik dengan produsen. b. pelaksanaan pendauran ulang wajib mengikuti ketentuan peraturan perundangan-undangan di bidang pengawasan obat dan makanan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan sampah diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian dan melakukan konsultasi publik dengan produsen.-7(3) Pihak lain. (4) Pasal 14 Produsen wajib melakukan pemanfaatan kembali sampah dengan: a. Bagian Kedua … (2) (3) (4) . wajib memiliki izin usaha dan/atau kegiatan. dan/atau c. menggunakan bahan baku produksi yang dapat diguna ulang. menyusun rencana dan/atau program pemanfaatan kembali sampah sebagai bagian dari usaha dan/atau kegiatannya sesuai dengan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah. yang menimbulkan sesedikit mungkin sampah. dan yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 sampai dengan Pasal 14 dilakukan secara bertahap persepuluh tahun melalui peta jalan.

sampah yang dapat didaur ulang. dan fasilitas lainnya dalam melakukan pemilahan sampah wajib menyediakan sarana pemilahan sampah skala kawasan. setiap orang pada sumbernya. dan pemrosesan akhir sampah. Pemilahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah yang terdiri atas: a. e. c. b. b. fasilitas sosial. kawasan khusus. c. (3) sampah lainnya. kawasan industri. Pemerintah kabupaten/kota menyediakan pemilahan sampah skala kabupaten/kota. (2) pemerintah kabupaten/kota. pengumpulan. dan fasilitas lainnya. d. kawasan industri. Pasal 17 (1) Pemilahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a dilakukan oleh: a. pengangkutan. sampah yang dapat digunakan kembali. b. d. kawasan komersial. dan e. sampah yang mudah terurai. jumlah … . sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun. dan c. fasilitas sosial. kawasan khusus. fasilitas umum.-8Bagian Kedua Penanganan Sampah Pasal 16 Penanganan sampah meliputi kegiatan: a. kawasan komersial. Pengelola kawasan permukiman. sarana (4) (5) Pemilahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) harus menggunakan sarana yang memenuhi persyaratan: a. fasilitas umum. pemilahan. pengelola kawasan permukiman. pengolahan.

fasilitas umum. TPS dan/atau TPS 3R sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) harus memenuhi persyaratan: a. b. kawasan industri. bahan. dan fasilitas lainnya. dan b. dan c. kawasan komersial. tidak mencemari lingkungan. TPS 3R. fasilitas sosial. dan Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis pengumpulan dan penyediaan TPS dan/atau TPS 3R diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum. b. b. TPS. kawasan industri. dan/atau c.-9a. luas lokasi dan kapasitas sesuai kebutuhan. kawasan khusus. kawasan komersial. Pemerintah kabupaten/kota menyediakan TPS dan/atau TPS 3R pada wilayah permukiman. (3) (4) alat pengumpul untuk sampah terpilah. memiliki jadwal pengumpulan dan pengangkutan. d. (2) Pengelola kawasan permukiman. dan warna wadah. bentuk. fasilitas umum. c. (5) lokasinya mudah diakses. pemerintah kabupaten/kota. tersedia sarana untuk mengelompokkan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah. jumlah sarana sesuai jenis pengelompokan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). e. diberi label atau tanda. Pasal 19 … . pengelola kawasan permukiman. dan fasilitas lainnya dalam melakukan pengumpulan sampah wajib menyediakan: a. Pasal 18 (1) Pengumpulan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b dilakukan oleh: a. kawasan khusus. fasilitas sosial.

Pasal 20 Dalam hal dua atau lebih kabupaten/kota melakukan pengolahan sampah bersama dan memerlukan pengangkutan sampah lintas kabupaten/kota. daur ulang energi. Ketentuan mengenai persyaratan alat angkut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perhubungan.. Pemerintah kabupaten/kota dalam melakukan pengangkutan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. (2) daur ulang materi. pemadatan. Pasal 21 (1) Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf d meliputi kegiatan: a. pengomposan. pemerintah kabupaten/kota dapat menyediakan stasiun peralihan antara. Pengolahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: (2) (4) . menyediakan alat angkut sampah termasuk untuk sampah terpilah yang tidak mencemari lingkungan. c. dan b. pemerintah kabupaten/kota dapat mengusulkan kepada pemerintah provinsi untuk menyediakan stasiun peralihan antara dan alat angkut. melakukan pengangkutan sampah dari TPS dan/atau TPS 3R ke TPA atau TPST. b. (3) Dalam pengangkutan sampah.10 Pasal 19 (1) Pengangkutan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota. dan/atau d.

fasilitas umum. dan fasilitas lainnya. pengelola … permukiman. kawasan khusus. fasilitas lainnya wajib menyediakan sampah skala kawasan yang berupa Pengelola kawasan kawasan industri. (3) pemerintah kabupaten/kota. dan fasilitas pengolahan TPS 3R. pengelola kawasan b. Dalam menyediakan TPA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pemerintah kabupaten/kota: a. TPST. Pasal 22 (1) Pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf e dilakukan dengan menggunakan: a. metode lahan urug terkendali. permukiman. b.11 a. kawasan industri. (2) Pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota. Pasal 23 (1) Dalam melakukan pemrosesan akhir sampah. kawasan komersial. dan/atau d. metode lahan urug saniter. c. teknologi ramah lingkungan. setiap orang pada sumbernya. b. b. (4) Pemerintah kabupaten/kota menyediakan fasilitas pengolahan sampah pada wilayah permukiman yang berupa: a. fasilitas umum.. melakukan pemilihan lokasi sesuai dengan rencana tata ruang wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota. TPS 3R. fasilitas sosial. kawasan khusus. kawasan komersial. pemerintah kabupaten/kota wajib menyediakan dan mengoperasikan TPA. (2) . stasiun peralihan antara. fasilitas sosial. TPA. dan/atau c. dan c.

fasilitas dasar. (3) menyusun rancangan teknis. dan c.12 b. Pasal 25 … (2) (3) .. bukan merupakan daerah banjir periode ulang 25 (dua puluh lima) tahun. Ketentuan lebih lanjut mengenai penutupan dan/atau rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. g. jarak dari lapangan terbang. f. TPA yang disediakan oleh pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilengkapi: a. paling sedikit memenuhi aspek: a. fasilitas perlindungan lingkungan. c. (3) Lokasi … Lokasi TPA sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. c. Pasal 24 (1) Pengoperasian TPA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) harus memenuhi persyaratan teknis pengoperasian TPA yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum. geologi. fasilitas operasi. harus dilakukan penutupan dan/atau rehabilitasi. d. Dalam hal TPA tidak dioperasikan sesuai dengan persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. hidrogeologi. dan d. menyusun analisis biaya dan teknologi. b. (4) kemiringan zona. e. tidak berada dan/atau di kawasan lindung/cagar alam. jarak dari permukiman. fasilitas penunjang.

b. dan pemrosesan akhir sampah. bermitra dengan badan usaha atau masyarakat. (3) uji coba. pemerintah provinsi dapat melakukan pengangkutan. membentuk kelembagaan pengelola sampah. dan c. supervisi.. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas pengolahan dan pemrosesan akhir sampah diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum. dan/atau c.13 - Pasal 25 (1) Kegiatan penyediaan fasilitas pengolahan dan pemrosesan akhir sampah dilakukan melalui tahapan: a. dan c. pembangunan. perencanaan. dan Pasal 28 … . pengolahan. dengan pemerintah kabupaten/kota Kemitraan dan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan. pengolahan. konstruksi. Pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi kegiatan: a. Pasal 26 (1) Dalam melakukan kegiatan pengangkutan. pemerintah kabupaten/kota dapat: a. (2) pengoperasian dan pemeliharaan. (2) bekerjasama lain. Pasal 27 Dalam hal terdapat kondisi khusus. b. b.

Hasil retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk: a. dan pemrosesan akhir sampah wajib memiliki sertifikat kompetensi. dan/atau e. dan volume sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri. pengolahan. d. penyediaan fasilitas pengumpulan sampah. pemerintah kabupaten/kota memungut retribusi kepada setiap orang atas jasa pelayanan yang diberikan. karakteristik. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perhitungan tarif retribusi berdasarkan jenis. Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara progresif berdasarkan jenis. Pasal 28 Sampah yang tidak dapat diolah melalui kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) ditimbun di TPA. penanggulangan keadaan darurat. pemulihan lingkungan akibat kegiatan penanganan sampah. b. kegiatan layanan penanganan sampah. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan menteri sesuai dengan kewenangannya. Pasal 29 (1) Dalam penyelenggaraan penanganan sampah. Pasal 30 (1) Setiap orang yang bertugas melakukan kegiatan pengangkutan. karakteristik. BAB IV … (2) (3) (2) . dan volume sampah. c..14 pemrosesan akhir sampah. (4) peningkatan kompetensi pengelola sampah.

pemulihan lingkungan. Pasal 32 (1) Kompensasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) harus dianggarkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah. c. kompensasi (2) (3) Dalam … . kompensasi dalam bentuk lain. ledakan gas metan. longsor. kebakaran. pencemaran air. pencemaran udara. d. Dalam hal anggaran untuk kompensasi pada pemerintah kabupaten/kota sudah tidak tersedia lagi. f. e.. (3) pencemaran tanah. penyediaan dan/atau e. g. fasilitas sanitasi dan kesehatan.15 - BAB IV KOMPENSASI Pasal 31 (1) Pemerintah kabupaten/kota secara sendiri atau secara bersama dapat memberikan kompensasi sebagai akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan akhir sampah. dan/atau hal lain yang menimbulkan dampak negatif. biaya kesehatan dan pengobatan. b. b. Dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pemrosesan akhir sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakibatkan oleh: a. (2) Bentuk kompensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. c. relokasi penduduk. d.

(3) dan (4) Penelitian dan pengembangan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilakukan dengan mengikutsertakan: a. kegiatan penelitian. perguruan tinggi. dan penerapan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kebijakan dan strategi nasional dalam pengelolaan sampah. (3) Dalam hal anggaran untuk kompensasi pada pemerintah provinsi sudah tidak tersedia lagi. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian kompensasi oleh pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan daerah. penelitian dan pengembangan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kebijakan dan strategi nasional dalam pengelolaan sampah. b. lembaga penelitian dan pengembangan. dan b.16 diberikan oleh pemerintah provinsi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi melakukan fasilitasi: a. dan b. c. pengembangan. pengembangan. BAB V PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI Pasal 33 (1) Dalam rangka mendukung kegiatan pengelolaan sampah. menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. fasilitasi pemerintah daerah dalam penelitian dan pengembangan teknologi ramah lingkungan. pemerintah daerah dalam mengembangkan menerapkan teknologi ramah lingkungan. badan … . (2) Dalam rangka mendukung kegiatan pengelolaan sampah. kompensasi diberikan oleh Pemerintah. menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum melakukan: a..

e. sumber sampah. d. badan usaha. b. Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dapat diakses oleh setiap orang. Informasi pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memberikan informasi mengenai: a. timbulan sampah.17 c. (2) (3) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terhubung sebagai satu jejaring sistem informasi pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang dikoordinasikan oleh menteri yang menyelengarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.. lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pengelolaan sampah. f. komposisi sampah. karakteristik sampah. dan/atau d. (4) BAB VII … . BAB VI SISTEM INFORMASI Pasal 34 (1) Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyediakan informasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. fasilitas pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. dan informasi lain terkait pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang diperlukan dalam rangka pengelolaan sampah. c.

(3) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b disampaikan melalui forum yang keanggotaannya terdiri atas pihak-pihak terkait. pemberian saran dan pendapat dalam perumusan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. pemberian usul. dan pengawasan dalam kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah. c. b. dan pendampingan oleh kelompok masyarakat kepada anggota masyarakat dalam pengelolaan sampah untuk mengubah perilaku anggota masyarakat. pemberian … . penyelenggaraan. pemberian pendidikan dan pelatihan. kampanye. BAB VIII PEMBINAAN Pasal 36 (1) (2) Para menteri secara terkoordinasi melakukan pembinaan kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. dan/atau saran kepada Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dalam kegiatan pengelolaan sampah. Pembinaan sebagaimana dilakukan melalui: dimaksud pada ayat (1) (2) a.18 - BAB VII PERAN MASYARAKAT Pasal 35 (1) Masyarakat berperan serta dalam proses pengambilan keputusan. pelaksanaan kegiatan penanganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang dilakukan secara mandiri dan/atau bermitra dengan pemerintah kabupaten/kota.. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. dan/atau d. pertimbangan.

fasilitasi penyelesaian perselisihan pengelolaan sampah antarkabupaten/kota. c. dan/atau d. diseminasi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan sampah. b. prosedur. e. b. pemberian norma. bimbingan teknis. fasilitasi penyelesaian perselisihan antardaerah. bimbingan teknis. bantuan teknis. standar. d.. badan usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan prasarana dan sarana pengelolaan sampah. BAB IX … . pendidikan dan pelatihan di bidang pengelolaan sampah. f. dan/atau e.19 - a. diseminasi peraturan daerah di bidang pengelolaan sampah. d. Pasal 37 Menteri. b. diseminasi peraturan perundang-undangan dan pedoman di bidang pengelolaan sampah. dan/atau fasilitasi bantuan teknis penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana pengelolaan sampah. c. pendidikan dan pelatihan di bidang pengelolaan sampah. (3) Gubernur melakukan pembinaan kepada pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan sampah melalui: a. gubernur. pendidikan dan pelatihan di bidang pengelolaan sampah. fasilitasi kerja sama pemerintah daerah. dan kriteria. c. dan/atau bupati/walikota dapat melakukan pembinaan kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui: a. bantuan teknis.

BAB X KETENTUAN PENUTUP Pasal 39 Peraturan Pemerintah diundangkan. . . sampah yang dapat didaur ulang. sampah yang dapat didaur ulang.20 BAB IX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 38 (1) Penyediaan fasilitas pemilahan sampah yang terdiri atas sampah yang mudah terurai. Penyediaan fasilitas pemilahan sampah yang terdiri atas sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun. sampah yang mudah terurai. dan sampah lainnya oleh pemerintah kabupaten/kota dilakukan paling lama 3 (tiga) tahun sejak Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku. .. sampah yang dapat digunakan kembali. dan sampah lainnya oleh pemerintah kabupaten/kota dilakukan paling lama 5 (lima) tahun sejak Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku. ini mulai berlaku pada tanggal (2) Agar .

memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ttd AMIR SYAMSUDIN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 188 Salinan sesuai dengan aslinya KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA Asisten Deputi Perundang-undangan Bidang Perekonomian. Lydia Silvanna Djaman . ttd DR. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 12 Oktober 2012 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 15 Oktober 2012 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.. H.21 - Agar setiap orang mengetahuinya.

22 - ..

Kegiatan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tersebut bermakna agar pada saatnya nanti seluruh lapisan masyarakat dapat terlayani dan seluruh sampah yang timbul dapat dipilah. dan pemrosesan akhir sampah. pengangkutan. Lima … . pendauran ulang sampah. diubah dengan pendekatan reduce at source dan resource recycle melalui penerapan 3R. dan pemanfaatan kembali sampah. Dalam Pasal 22 diuraikan lima aktivitas utama dalam penyelenggaraan kegiatan penanganan sampah yang meliputi pemilahan.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 0000 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA I. pengolahan. pengumpulan. proses daur ulang. kebijakan pengelolaan sampah dimulai. Ketiga kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari prinsip pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan yang disebut 3R (reduce. Pasal 20 menguraikan tiga aktivitas utama dalam penyelenggaraan kegiatan pengurangan sampah. Oleh karena itu seluruh lapisan masyarakat diharapkan mengubah pandangan dan memperlakukan sampah sebagai sumber daya alternatif yang sejauh mungkin dimanfaatkan kembali. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya perubahan yang mendasar dalam pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan. Sesuai dengan Pasal 19 UndangUndang Nomor 18 Tahun 2008 tersebut. yaitu pembatasan timbulan sampah. recycle). yaitu pengurangan sampah dan penanganan sampah. Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. diolah. dikumpulkan. maupun proses lainnya. reuse. Kebijakan pengelolaan sampah yang selama lebih dari tiga dekade hanya bertumpu pada pendekatan kumpul-angkut-buang (end of pipe) dengan mengandalkan keberadaan TPA. diangkut. dan diproses pada tempat pemrosesan akhir. pengelolaan sampah dibagi dalam dua kegiatan pokok. baik secara langsung.

Pasal 5 Cukup jelas. pengangkutan. serta mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pasal 3 Cukup jelas. pengolahan. pengumpulan. serta didasarkan pada kebijakan dan strategi yang jelas. Pasal 6 Cukup jelas. dan pemrosesan akhir sampah dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat secara bertahap dan terencana. II. Peraturan Pemerintah ini berperan penting guna melindungi kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Peraturan Pemerintah ini juga diharapkan menjadi rujukan dalam menyusun peraturan daerah. Pasal 4 Cukup jelas.-2Lima tahap penanganan yaitu pemilahan. Pasal 9 … . Sehubungan dengan itu. Pasal 2 Cukup jelas. Selain itu. menekan terjadinya kecelakaan dan bencana yang terkait dengan pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas. Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya memegang peran penting dalam melaksanakan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.

Ayat (2) Cukup jelas. penggunaan barang dan/atau kemasan yang dapat di daur ulang dan mudah terurai oleh proses alam. menghindari penggunaan barang dan/atau kemasan sekali pakai. 2. membatasi penggunaan kantong plastik. Huruf b Yang dimaksud dengan “pendauran ulang sampah” adalah upaya memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna setelah melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu. Ayat (3) Cukup jelas. Huruf c Yang dimaksud dengan “pemanfaatan kembali sampah” adalah upaya untuk mengguna ulang sampah sesuai dengan fungsi yang sama atau fungsi yang berbeda dan/atau mengguna ulang bagian dari sampah yang masih bermanfaat tanpa melalui suatu proses pengolahan terlebih dahulu.Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 11 Ayat (1) Huruf a -3- Yang dimaksud dengan “pembatasan timbulan sampah” adalah upaya meminimalisasi timbulan sampah yang dilakukan sejak sebelum dihasilkannya suatu produk dan/atau kemasan produk sampai dengan saat berakhirnya kegunaan produk dan/atau kemasan produk. Contoh implementasi pembatasan timbulan sampah antara lain: 1. Pasal 10 Cukup jelas. dan/atau 3. Pasal 12 … .

Pasal 16 Huruf a Yang dimaksud dengan “pemilahan” adalah kegiatan mengelompokkan dan memisahkan sampah sesuai dengan jenis. Huruf b … . Huruf e Yang dimaksud dengan “pemrosesan akhir sampah” adalah kegiatan mengembalikan sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. Huruf c Yang dimaksud dengan “pengangkutan” adalah kegiatan membawa sampah dari sumber atau TPS menuju TPST atau TPA dengan menggunakan kendaraan bermotor atau tidak bermotor yang didesain untuk mengangkut sampah.-4Pasal 12 Cukup jelas. Huruf d Yang dimaksud dengan “pengolahan” adalah kegiatan mengubah karakteristik. Pasal 13 Cukup jelas. Huruf b Yang dimaksud dengan “pengumpulan” adalah kegiatan mengambil dan memindahkan sampah dari sumber sampah ke TPS atau TPS 3R. Pasal 17 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. komposisi. Pasal 15 Cukup jelas. dan/atau jumlah sampah.

terminal angkutan umum. panti asuhan. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Huruf b … . stasiun kereta api. kawasan cagar budaya. dan panti sosial. kawasan khusus. perkantoran. Yang dimaksud dengan fasilitas sosial antara lain. taman. dan peralatan elektronik rumah tangga. peralatan listrik. hotel. Yang dimaksud dengan kawasan komersial antara lain. Yang dimaksud dengan “kawasan industri” adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin usaha kawasan industri. pelabuhan laut. Yang dimaksud dengan “kawasan khusus” adalah wilayah yang bersifat khusus yang digunakan untuk kepentingan nasional/berskala nasional. antara lain rumah tahanan. pusat perdagangan. jalan. obat-obatan kadaluarsa. pertokoan. dan pusat kegiatan olahraga. pengembangan industri strategis. fasilitas sosial. kemasan oli. Yang dimaksud dengan fasilitas umum antara lain. pusat kesehatan masyarakat. misalnya. kawasan berikat. rumah sakit. Huruf c Cukup jelas. pelabuhan udara. kawasan pendidikan.Huruf b -5- Yang dimaksud dengan “kawasan permukiman” adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun misalnya kemasan obat serangga. rumah ibadah. dan tempat hiburan. pasar. kawasan industri. dan trotoar. lembaga pemasyarakatan. kemasan obat-obatan. restoran. kawasan pariwisata. Yang dimaksud dengan “fasilitas lainnya” adalah yang tidak termasuk kawasan komersial. taman nasional. fasilitas umum. tempat pemberhentian kendaraan umum. dan pengembangan teknologi tinggi. klinik.

restoran. hewan. Yang dimaksud dengan kawasan komersial antara lain. pertokoan.Huruf b -6- Yang dimaksud dengan sampah yang mudah terurai antara lain sampah yang berasal dari tumbuhan. dan/atau bagian-bagiannya yang dapat terurai oleh makluk hidup lainnya dan/atau mikroorganisme. Ayat (4) Cukup jelas. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. misalnya sampah makanan dan serasah. Ayat (5) Cukup jelas. pasar. pusat perdagangan. Yang dimaksud dengan “kawasan industri” adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin usaha kawasan industri. hotel. Huruf c Cukup jelas. Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan “kawasan permukiman” adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Huruf e Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. dan tempat hiburan. Yang dimaksud … . Huruf d Cukup jelas. perkantoran.

Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. pelabuhan laut.-7Yang dimaksud dengan “kawasan khusus” adalah wilayah yang bersifat khusus yang digunakan untuk kepentingan nasional/berskala nasional. taman. Ayat (4) Cukup jelas. lembaga pemasyarakatan. panti asuhan. kawasan khusus. Yang dimaksud dengan fasilitas umum antara lain. Ayat (2) Cukup jelas. klinik. Ayat (5) Cukup jelas. dan pengembangan teknologi tinggi. kawasan pariwisata. pelabuhan udara. tempat pemberhentian kendaraan umum. fasilitas sosial. jalan. Ayat (2) … . pengembangan industri strategis. kawasan berikat. rumah sakit. dan pusat kegiatan olah raga. Yang dimaksud dengan “fasilitas lainnya” adalah yang tidak termasuk kawasan komersial. terminal angkutan umum. fasilitas umum antara lain rumah tahanan. stasiun kereta api. Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. kawasan industri. Huruf b Cukup jelas. kawasan pendidikan. dan panti sosial. Yang dimaksud dengan fasilitas sosial antara lain. rumah ibadah. dan trotoar. misalnya. kawasan cagar budaya. pusat kesehatan masyarakat. taman nasional.

fasilitas umum antara lain rumah tahanan. kawasan pariwisata. terminal angkutan umum. Ayat (3) Cukup jelas. kawasan berikat. dan pusat kegiatan olahraga. hotel. misalnya. fasilitas sosial. pengembangan industri strategis. Ayat (4) … . kawasan cagar budaya. kawasan industri. pelabuhan udara. klinik. dan pengembangan teknologi tinggi. stasiun kereta api. Yang dimaksud dengan fasilitas umum antara lain. taman nasional. restoran.-8Ayat (2) Huruf a Cukup jelas. dan tempat hiburan. jalan. pasar. Yang dimaksud dengan “fasilitas lainnya” adalah yang tidak termasuk kawasan komersial. pusat perdagangan. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. tempat pemberhentian kendaraan umum. dan panti sosial. taman. dan trotoar. kawasan pendidikan. pertokoan. Yang dimaksud dengan “kawasan industri” adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin usaha kawasan industri. lembaga pemasyarakatan. perkantoran. Huruf b Yang dimaksud dengan “kawasan permukiman” adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Huruf c Cukup jelas. Yang dimaksud dengan fasilitas sosial antara lain. rumah sakit. Yang dimaksud dengan kawasan komersial antara lain. kawasan khusus. pelabuhan laut. panti asuhan. Yang dimaksud dengan “kawasan khusus” adalah wilayah yang bersifat khusus yang digunakan untuk kepentingan nasional/berskala nasional. rumah ibadah. pusat kesehatan masyarakat.

serta penutupan sampah setiap hari. tidak berada di daerah berlahan gambut. Huruf c Cukup jelas. Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas.-9Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dianjurkan berada di daerah lapisan tanah kedap air atau lempung. sebelum mampu menerapkan metode lahan urug saniter (sanitary landfill). Huruf b Yang dimaksud dengan lahan urug saniter (sanitary landfill) yaitu sarana pengurugan sampah ke lingkungan yang disiapkan dan dioperasikan secara sistematis. Huruf b … . tidak berada di zona bahaya geologi misalnya daerah gunung berapi. dengan cara dipadatkan dan ditutup dengan tanah penutup sekurangkurangnya setiap tujuh hari. Pasal 22 Ayat (1) Huruf a Metode lahan urug terkendali (controlled landfill) yaitu metode pengurugan di areal pengurugan sampah. Ayat (3) Huruf a Yang dimaksud dengan “kondisi geologi” adalah kondisi yang tidak berada di daerah sesar atau patahan yang masih aktif. dengan penyebaran dan pemadatan sampah pada area pengurugan. Metode ini merupakan metode yang bersifat antara. tidak berada di daerah karst.

dan kantor. penyebaran vektor penyakit dan aspek sosial.10 Huruf b Yang dimaksud dengan kondisi hidrogeologi antara lain kondisi muka air tanah yang tidak kurang dari tiga meter. Huruf d Yang dimaksud dengan jarak dari lapangan terbang yaitu lokasi TPA berjarak lebih dari 3000 m (tiga ribu meter) untuk lapangan terbang yang didarati pesawat turbo jet dan berjarak lebih dari 1500 m (seribu lima ratus meter) untuk lapangan terbang yang didarati pesawat jenis lain. Ayat (4) Huruf a Fasilitas dasar misalnya jalan masuk. Huruf f Cukup jelas. wilayah penyangga. kondisi kelulusan tanah tidak lebih besar dari 10-6 cm/detik.. Huruf b Fasilitas perlindungan lingkungan misalnya lapisan kedap air. pagar. dan jarak terhadap sumber air minum lebih besar dari 100 m (seratus meter) di hilir aliran. saluran pengumpul dan instalasi pengolahan lindi. Huruf d … . dan penanganan gas. kebauan. sumur uji atau pantau. Huruf c Fasilitas operasi misalnya alat berat serta truk pengangkut sampah dan tanah. Huruf c Yang dimaksud dengan kemiringan zona yaitu kemiringan lokasi TPA berada pada kemiringan kurang dari 20% (dua puluh perseratus). drainase. air bersih. Huruf e Yang dimaksud dengan jarak dari permukiman yaitu jarak lokasi TPA dari pemukiman lebih dari 1 km (satu kilometer) dengan mempertimbangkan pencemaran lindi. Huruf g Cukup jelas. listrik atau genset.

rehabilitasi. bencana nonalam. Pasal 27 Kondisi khusus dalam ketentuan ini misalnya terjadi bencana alam. Huruf c Yang dimaksud dengan “uji coba” adalah kegiatan percobaan pengoperasian prasarana penanganan sampah. Ayat (2) Huruf a Yang dimaksud dengan “konstruksi” adalah kegiatan pembangunan baru. alat pertolongan pertama pada kecelakaan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. tempat pencucian alat angkut dan alat berat. dan tempat parkir. garasi. Pasal 26 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas.11 Huruf d Fasilitas penunjang misalnya bengkel. jembatan timbang. Huruf b Yang dimaksud dengan “supervisi” adalah kegiatan pengawasan pembangunan prasarana penanganan sampah. Pasal 29 … . laboratorium.. dan terjadi perselisihan pengelolaan sampah lintas kabupaten/kota. dan revitalisasi prasarana penanganan sampah meliputi TPA dan/atau TPST. Pasal 28 Cukup jelas.

Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas. Huruf e Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas.12 Pasal 29 Cukup jelas. Huruf b … . Huruf f Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas.. Ayat (3) Huruf a Yang dimaksud dengan “relokasi penduduk” adalah memindahkan penduduk yang terkena dampak negatif ke tempat yang lebih aman. Huruf g Yang dimaksud dengan hal lain yang menimbulkan dampak negatif antara lain sumber penyebaran penyakit. Huruf b Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas.

Huruf d Yang dimaksud dengan penyediaan fasilitas sanitasi dan kesehatan antara lain penyediaan prasarana mandi. cuci. Pasal 35 Cukup jelas. bantuan rehabilitasi rumah tinggal. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas.13 Huruf b Yang dimaksud dengan “pemulihan lingkungan” adalah kegiatan mengembalikan kondisi lingkungan hidup sehingga lingkungan hidup tersebut dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Pasal 39 Pasal 39 … . dan bantuan rehabilitasi jalan.. dan prasarana pengolahan air limbah. Huruf c Yang dimaksud dengan biaya kesehatan dan pengobatan berupa biaya perawatan dan pengobatan di rumah sakit atau puskesmas. Pasal 36 Cukup jelas. sarana air bersih. Pasal 32 Cukup jelas. Pasal 37 Cukup jelas. dan kakus. Pasal 38 Cukup jelas. Huruf e Yang dimaksud dengan kompensasi dalam bentuk lain antara lain biaya pendidikan. beasiswa.

Cukup jelas.14 - TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5347 . .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful