FILSAFAT HUKUM DALAM KASUS NENEK MINA

Disusun Oleh:

1. Univy Hia 2. Jimmy Sianturi 3. Dedy Tambunan 4. Raja T. Purba 5. David Rumapea

NPM : NPM : NPM : NPM : NPM :

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN 2013
1

Ilmu hukum memiliki penggolongan mengenai hukum dengan berbagai sudut pandang. hidup berdampingan secara damai dan menjaga eksistensinya didunia telah diakui. dimana hakim hanya memvonis 4 tahun penjara dan denda Rp 50 miliar/subsider (sebagai 2 . Putusan hakim kerap dianggap tidak memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat. yang dalam hal ini adalah kasus Nenek Minah yang diputus bersalah karena melakukan pencurian sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP. Sepanjang sejarah peradaban manusia. Latar Belakang Pada dasarnya kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hukum. Kasus Nenek Minah ini dapat menjadi contoh. karena bentuk hukum pidana merupakan bagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku disuatu negara. menegaskan bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum. Hakim dalam hukum acara pidana bersifat aktif. Hal ini berarti bahwa Indonesia harus menjunjung tinggi hukum serta dalam tindakannya harus didasarkan pada hukum atau peraturan yang diciptakan untuk mengatur suatu tatanan di dalam pemerintahan. termasuk juga warga negaranya. artinya hakim berkewajiban untuk mendapatkan bukti yang cukup untuk membuktikan tuduhan kepada tertuduh.BAB I PENDAHULUAN A. Hukum pidana ini bertujuan untuk mencegah atau menghambat perbuatan-perbuatan masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan-aturan hukum yang berlaku. peran sentral hukum dalam upaya menciptakan suasana yang memungkinkan manusia merasa terlindungi. terhadapnya akan dikenakan tindakan melalui proses pemeriksaan persidangan perkara pidana. Pelaku tindak pidana. yang banyak kalangan menganalogikan fenomena penegakan hukum di Indonesia itu seperti pisau. Karena mereka membandingkan kasus pencurian 3 buah kakao yang dilakukan Nenek Minah ini dengan kasus besar seperti Kasus Bank Century. salah satunya adalah hukum pidana. dibutuhkan suatu alat bukti untuk mengetahui bahwa telah terjadi tindak pidana dan terdakwalah pelakunya. Dasar hukum tentang pembuktian dalam hukum acara pidana mengacu pada Pasal 183-189 KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana). yaitu tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Dalam proses pemeriksan persidangan. Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 amandemen ke III (tiga).

Tokoh aliran positivisme yang paling terkenal adalah Auguste Comte.8 triliun hanya divonis 4 tahun. Jika kita menisik lebih dalam. 3 . yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. hakim pemutus perkara tersebut bukanlah hakim yang sama dengan kasus Bank Century ataupun kasus hukum lainnya. Vonis itu jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa. Robert Tantular. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Kita lupa bahwa setiap manusia itu memiliki paradigma masing-masing yang dengan adanya hal tersebut. lalu divonis 1. justru diseret ke pengadilan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.8 triliun dan menyebabkan lembaga negara harus mengucurkan dana Rp 6. Namun.7 triliun hanya divonis 4 tahun penjara. Orang yang menilap uang hingga Rp 2. Hal yang tentunya sangat tidak adil jika dibandingkan dengan Nenek tua yang mencuri 3 buah kakao hanya untuk dijadikan bibit karena tidak mampu membelinya.5 bulan. sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi. Tidak sedikit pengadilan menjatuhkan hukuman hampir maksimum bagi para pelaku pencuri kelas “teri”. Paradigma itulah yang menuntun para hakim dalam memutus perkara yang diajukan kepadanya. maka kebenaran diukur pada logika akal semata.tetapi mengapa seorang perampok 2. bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Sehingga tidak bisa kita menghujat hakim yang memutus bersalah Nenek Minah tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tidak adil hanya karena kita membandingkannya dengan kasus lain yang sekali lagi. bukan pada hati nurani dan keadilan yang dicapai adalah keadilan menurut ukuran undang-undang. Bagi seseorang yang merengkuh Paradigma Positivisme dengan aliran Legal Positivisme. menuntun kita dalam setiap perbuatan. yakni dari 6 bulan hingga 7 tahun. Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual. Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis.gantinya) 5 bulan penjara kepada mantan pemilik sebagian saham PT Bank Century Tbk. mereka dituntun paradigmanya masing-masing. sadarkah kita bahwa para hakim yang memutus perkara tersebut adalah hakim yang berbeda.

tidak ada hukum kecuali perintah penguasa. yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk. teknosentrik. Positivisme merupakan empirisme. etika dan moralitas sebagai bagian yang terpisah. dan universal. meletakkan dimensi spiritual dengan segala perpektifnya seperti agama. Bagaimana mengukur keadilan jika dihadapkan dengan penegakan kepastian hukum dalam suatu kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan Nenek Minah? 4 . dia memisahkan secara tegas antara hukum dan moral. Hukum bercirikan rasionalistik. Keadilan hukum bersifat formal dan prosedural. Paradigma Positivisme. aliran ini mengindentikkan hukum sebagai undang-undang. epistemologi dan metodologinya) ? 2. Singkatnya. maka penulis merumuskan pokok permasalahannya sebagai berikut : 1. maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Bagaimana Paradigma Positivisme menjelaskan dalam hal dijatuhinya putusan bersalah Nenek Minah karena terbukti mencuri 3 (tiga) buah kakao (lengkap dengan set basic belief ontologi.Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktivitas yang berkenaan dengan metafisik. Aliran Legal Positivisme yang dipayungi oleh Paradigma Positivisme memiliki konsep hukum yaitu apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Oleh karenanya. Tidak mengenal adanya spekulasi. semua didasarkan pada data empiris. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik). B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dalam uraian di atas.

Minah berpikir semua beres dan dia kembali bekerja. Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Saat itu. Dengan polos. Sadar perbuatannya salah. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan kepada mandor tersebut. Hukum tersebut berada di luar diri hakim atau sebagai kenyataan yang ada di luar dirinya. Desa Darmakradenan.BAB II PEMBAHASAN A. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan karena sama saja mencuri. Paradigma Positivisme dengan Seperangkat Set Basic Belief (Ontologi. yang seluruhnya atau sebagian milik orang 5 . Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang. mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao yang sudah ranum. Jawa Tengah. 3 buah kakao itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao. Minah sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo. Mengenai Ontologi dari Paradigma Positivisme. Paradigma Positivisme memiliki set basic belief yaitu Ontologi. Sebab seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Epistemologi dan Metodologi) Menjelaskan Kasus Nenek Minah Seorang nenek berumur 55 Tahun yang bernama Minah diganjar 1 bulan 15 hari penjara karena menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT. siapa yang memetik buah kakao itu. Lahan garapan Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao. Minah mengaku hal itu perbuatannya. Minah kemudian memetiknya untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Proses hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto. Penulis meyakini untuk saat ini merengkuh Paradigma Positivisme yang menuntun setiap pola pikir yang diyakini bahwa Positivisme merupakan paradigma paling baik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Majelis hakim yang dipimpin Muslih Bambang Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Hukum yang dipaparkan adalah Pasal 362 KUHP yang berbunyi “Barang siapa mengambil sesuatu barang. Banyumas. Ketika sedang asik memanen kedelai. Dari sekadar memandang. Setelah dipetik. dalam kasus Nenek Minah ini realitasnya adalah hukum. Kecamatan Ajibarang. Dan tak lama berselang. Epistemologi dan Metodologi. Rumpun Sari Antan (RSA) adalah hal yang biasa saja. lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA. Mandor itu pun bertanya. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian. pada 2 Agustus 2009. Namun dugaanya meleset.

telah mengambil 3 (tiga) buah kakao/cokelat dengan cara memetik dari pohon pada perkebunan PT RSA IV Darmakradenan di blok A.00 WIB.lain. Setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa dipersidangan. unsur ketiga ini telah terbukti. terbukti atau tidak pencurian tersebut. tanpa memperhatikan keadaan yang melingkupinya (ketidaktahuan si Nnenek Minah dan kemiskinan yang menjeratnya). diajukan kepersidangan karena telah didakwakan melakukan tindak pidana dan perbuatanya dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. kabupaten Banyumas dan tertangkap tangan oleh saksi Tarno Bin Sumanto dan Rajiwan alias Diwan dan akibat perbuatan terdakwa PT RSA IV Darmakradenan mengalami kerugian sekitar Rp 30.maka berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas. Maka berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas. Terdakwa didakwa oleh Penuntut Umum melakukan tindak pidana melanggar Pasal 362 KUHP yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: 1. Berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan Nenek Minah pada hari minggu tanggal 2 Agustus 2009 sekitar pukul 13. 6 . sebagai pendukung hak dan kewajiban yang identitasnya jelas.000. diancam karena pencurian dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah”. didapat fakta bahwa tidak ada kekeliruan orang (error in persona) yang disangka telah melakukan tindak pidana tersebut adalah benar Nenek Minah. Mengambil sesuatu barang Maksud dari mengambil sesuatu barang adalah memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Barang siapa Maksud dari barang siapa adalah orang yang melakukan perbuatan melawan hukum. maka unsur kedua ini telah terpenuhi. Ada atau tidaknya pencurian. dengan maksud untuk dimilikinya sendiri secara melawan hukum. kecamatan Ajibarang.00 (tiga puluh ribu rupiah).9 di Desa Darmakradenan. 2. Berdasarkan pertimbangan hukum di atas. 3. unsur kesatu ini terpenuhi. Yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang dihubungkan dengan petunjuk yang diperkuat oleh keterangan terdakwa di muka persidangan maka diperoleh fakta yang bersesuaian bahwa benar terdakwa telah mengambil 3 (tiga) buah kakao atau coklat seluruhnya milik PT RSA IV darmakradenan bukanlah milik terdakwa.

Harus selalu dilakukan uji empiris dan verivikasi yaitu membuktikan bahwa Nenek Minah benar bersalah. melanggar Pasal 362 KUHP karena itu terdakwa harus dihukum sesuai dengan perbuatannya tersebut. Kesalahan yang dilakukan oleh Nenek Minah adalah kesengajaan yang bersifat tujuan.4. Ketika ada 7 . maka akibatnya dia harus dihukum. adalah eksperimental atau manipulatif. maka terdakwa Nenek Minah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tidak pidana pencurian sebagaimana dalam dakwaan. Dengan realitas hukum yang sudah diuraikan di atas. Sedangkan untuk Metodologi. Sifatnya adalah dualis-objektif. berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas. Yang menentukan atau deterministik dalam kasus ini bahwa Nenek Minah harus dihukum adalah adanya Undang-Undang (KUHP). maka dapat ditarik hubungan sebab akibat sebagai berikut.000. Peneliti dan objek yang diteliti dianggap sebagai entitas yang terpisah yaitu ada dua pihak yang sama-sama independen dan tidak saling memengaruhi (hakim dan kasus hukum dibiarkan menjauh.00 (tiga puluh ribu rupiah). sehingga ia tidak melibatkan nilai (baik kemanusiaan ataupun moral) di dalam kasus tersebut karena sesungguhnya realitas atau hukumnya sudah pasti. yaitu si pelaku dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar menghendaki mencapai akibat yang menjadi pokok alasan diadakannya ancaman hukuman pidana (constitutief gevol). Dengan maksud memiliki barang dengan melawan hukum Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang dihubungkan dengan petunjuk yang diperkuat oleh keterangan terdakwa dimuka persidangan maka diperoleh fakta yang bersesuaian bahwa benar terdakwa telah mengambil 3 (tiga) buah kakao/cokelat seberat kurang lebih 3 kg yang seluruhnya milik PT RSA IV Darmakradenan dan terdakwa mengambil barang tersebut di atas tanpa izin dan sepengetahuan pemiliknya yaitu PT RSA IV Darmakradenan dengan maksud akan dimiliki untuk bibit tanaman dan perbuatan terdakwa tersebut mengakibatkan PT RSA IV Darmakradenan menderita kerugian Rp 30. memastikan bahwa hukum itu mengandung kepastian. unsur keempat ini terpenuhi. bebas nilai serta bebas bias). Unsur-unsur di atas menunjukan kesalahan dari pelaku tindak pidana. Maka dari itu. KUHP sudah sempurna sehingga tidak perlu memengaruhi realitas di luar yang artinya dalam kasus ini hakim adalah “corong” Undang-Undang. Nenek Minah terbukti bersalah karena perbuatan yang dilakukannya memenuhi unsur Pasal 362 KUHP. Epistemologi dalam hal ini adalah hubungan antara hakim dengan kasus pencurian yang sedang diperiksa tersebut. merupakan peraturan tertulis sifatnya menentukan.Karena semua unsur-unsur yang terkandung dalam Pasal 362 KUHP telah terpenuhi.

Seorang Positivisme. yaitu hukum yang diterima tanpa memperhatikan kebaikan atau keburukannya. maka perbuatan tersebut bukan perbuatan pidana dan tidak bisa diminta pertanggung jawaban hukumnya menurut hukum 8 . itu salah berbagai arti dari positivisme menurut Hart. Inilah yang dinamakan proses pembuktian dalam kasus tindak pidana pencurian yang melanggar ketentuan hukum Pasal 362 KUHP. B. 3. karena menurut kacamata Paradigma Positivisme. Paradigma Positivisme selalu menekankan pada obyektivitas dalam memandang sebuah realitas. ditetapkan. Penegakan hukum terhadap Nenek Minah harus dilepaskan dari unsur-unsur sosial serta moralitas. selama perbuatan pidana tidak diatur didalam didalam hukum positif. Ilmu hukum hanya berurusan dengan hukum positif. Hart.Jadi. tanpa adanya kepastian hukum tujuan hukum tidak akan tercapai walaupun harus mengenyampingkan rasa keadilan. menjelaskan tidak ada hukum di luar undang-undang. tanpa perlu merujuk kepada tujuan-tujuan sosial. Hukum sebagaimana diundangkan. tujuan hukum adalah kepastian hukum. undang-undang menjadi sumber hukum satu-satunya. positum. Hukum identik dengan Undang-Undang. tanpa menghiraukan besar kecil kerugian akibat pencurian yang dilakukannya. 4. Menurut Austin. keputusan-keputusan dideduksi secara logis dari peraturan-peraturan yang sudah ada lebih dahulu. Paradigma Positivisme yang memayungi aliran Legal Positivisme. Yang perlu ditekankan di sini adalah. mengemukakan pandangan John Austin tentang kewajiban hukum untuk mematuhi perintah adalah paksaan. hakim harus melakukan verivikasi terhadap keterangan saksi-saksi dan pengajuan alat bukti yang nantinya dicocokkan dengan keterangan terdakwa. histories dan penilaian kritis. ilmu hukum tugasnya hanyalah menganalisis unsur-unsur yang secara nyata ada dalam sistem hukum modern. yang diinginkan. sebagai berikut:. Dari bunyi Pasal 1 ayat (1) KUHP menentukan bahwa. Mengukur Keadilan yang Dihadapkan dengan Kepastian Hukum Kasus nenek Minah menurut Paradigma Positivisme adalah sebuah perbuatan yang harus dihukum. harus senantiasa dipisahkan dari hukum yang seharusnya diciptakan. Analisis terhadap konsep-konsep hukum berbeda dengan studi sosiologis. Karena itu. Hukum adalah perintah 2. hukum terlepas dari soal keadilan dan terlepas dari soal baik dan buruk. 1. dapat dipidana atau tidaknya suatu perbuatan tergantung pada undang-undang yang mengaturnya. kebijaksanaan dan moralitas. Hukum adalah perintah dari kekuasaan politik yang berdaulat dalam suatu negara.dakwaan dari Penuntut Umum.

karena perbuatan yang dilakukan nenek Minah menurut hukum Pidana termasuk kepada perbuatan pidana yakni tindak pidana pencurian. karena tujuan dari aliran ini adalah kepastian hukum. yang secara ekonomi nilainya tidak seberapa. Menurut Paradigma Positivisme bagaimana pun hukum harus ditegakkan yang keadilannya adalah keadilan menurut Undang-Undang.pidana. Menurut penulis. 9 . Hukum harus dilepaskan dari unsurunsur sosial. Pertimbangan hakim yang dalam setiap kasus-kasus yang ditangani memang memberikan kepastian hukum yang tinggi. Ketika Nenek Minah kedapatan mengambil 3 buah kakao. nenek Minah harus berurusan dengan hukum. Karena kepastian hukum berasal dari penguasa atau negara yang dapat berupa pasal-pasal dalam undang-undang.

B. hukum identik dengan Undang-Undang. ontologinya adalah sebuah realitas (hukum). Tidak ada yang melibatkan nilai di sana karena hukum atau realitasnya berada di luar diri hakim. Hukum yang dipaparkan adalah Pasal 362 KUHP. dapat ditarik beberapa kesimpulan berdasar pembahasan permasalahan disertai dengan uraian penjelasannya. maka Nenek Minah diputus bersalah dan harus dihukum. sudah seyogyanya menjaga konsistensi putusan hakim antara putusan yang satu dengan putusan hakim lainnya dalam kasus serupa yang telah diputuskan. karena terbukti secara sah melakukan pencurian sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP. Hukum harus dipisahkan dari nilai kemanusiaan dan moral demi kepastian hukum. Bagaimana pun hukum harus ditegakkan yang keadilannya adalah keadilan menurut Undang-Undang.BAB III PENUTUP A.tidak saling memengaruhi (antara hakim dengan kasus hukum yang diperiksanya). selalu adanya verivikasi atau uji empiris. Itulah sebabnya Nenek Minah tetap harus dihukum terlepas dari seberapa besar kerugian yang diderita PT Rumpun Sari Antan. SARAN Demi kepastian dan penegakkan hukum Indonesia di masa kini dan mendatang. Epistemologi yang bersifat dualis-objektif. Kedua. pihak-pihak yang independen. Hakim melakukannya dengan menghadirkan saksi-saksi dan adanya alat bukti yang dicocokkan dengan keterangan Nenek Minah sebagai terdakwa. apabila untuk kasus serupa terjadi perbedaan 10 . Paradigma Positivisme yang memayungi aliran Legal Positivisme. Ketika semua unsur Pasal 362 terpenuhi. Singkatnya. yaitu : Pertama. kasus hukum yang menjerat Nenek Minah ditelaah dengan menggunakan Paradigma Positivisme. KESIMPULAN Dari penulisan ini. menjelaskan tidak ada hukum di luar undang-undang. Metodologinya. Paradigma Positivisme selalu menekankan objektivitas.

hal itu akan menimbulkan ketidakpastian hukum. 11 .yang besar antara putusan pengadilan satu dengan lainnya. dalam kurun waktu yang tidak terlalu berbeda tetapi yang satu telah memiliki kekuatan hukum yang tetap. Inilah yang harus dihindari dalam upaya mempertahankan kepastian hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful