FILSAFAT HUKUM DALAM KASUS NENEK MINA

Disusun Oleh:

1. Univy Hia 2. Jimmy Sianturi 3. Dedy Tambunan 4. Raja T. Purba 5. David Rumapea

NPM : NPM : NPM : NPM : NPM :

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN 2013
1

Kasus Nenek Minah ini dapat menjadi contoh. Dasar hukum tentang pembuktian dalam hukum acara pidana mengacu pada Pasal 183-189 KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana). peran sentral hukum dalam upaya menciptakan suasana yang memungkinkan manusia merasa terlindungi. dimana hakim hanya memvonis 4 tahun penjara dan denda Rp 50 miliar/subsider (sebagai 2 . Hal ini berarti bahwa Indonesia harus menjunjung tinggi hukum serta dalam tindakannya harus didasarkan pada hukum atau peraturan yang diciptakan untuk mengatur suatu tatanan di dalam pemerintahan. Karena mereka membandingkan kasus pencurian 3 buah kakao yang dilakukan Nenek Minah ini dengan kasus besar seperti Kasus Bank Century. hidup berdampingan secara damai dan menjaga eksistensinya didunia telah diakui. Ilmu hukum memiliki penggolongan mengenai hukum dengan berbagai sudut pandang. artinya hakim berkewajiban untuk mendapatkan bukti yang cukup untuk membuktikan tuduhan kepada tertuduh. salah satunya adalah hukum pidana. Sepanjang sejarah peradaban manusia. yang banyak kalangan menganalogikan fenomena penegakan hukum di Indonesia itu seperti pisau. karena bentuk hukum pidana merupakan bagian dari pada keseluruhan hukum yang berlaku disuatu negara. Hakim dalam hukum acara pidana bersifat aktif. Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 amandemen ke III (tiga). Latar Belakang Pada dasarnya kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hukum. Hukum pidana ini bertujuan untuk mencegah atau menghambat perbuatan-perbuatan masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan-aturan hukum yang berlaku. Dalam proses pemeriksan persidangan. termasuk juga warga negaranya.BAB I PENDAHULUAN A. menegaskan bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum. terhadapnya akan dikenakan tindakan melalui proses pemeriksaan persidangan perkara pidana. dibutuhkan suatu alat bukti untuk mengetahui bahwa telah terjadi tindak pidana dan terdakwalah pelakunya. Pelaku tindak pidana. yang dalam hal ini adalah kasus Nenek Minah yang diputus bersalah karena melakukan pencurian sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP. yaitu tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Putusan hakim kerap dianggap tidak memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat.

hakim pemutus perkara tersebut bukanlah hakim yang sama dengan kasus Bank Century ataupun kasus hukum lainnya. 3 . Jika kita menisik lebih dalam. bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual.8 triliun hanya divonis 4 tahun. Vonis itu jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa. bukan pada hati nurani dan keadilan yang dicapai adalah keadilan menurut ukuran undang-undang. Sehingga tidak bisa kita menghujat hakim yang memutus bersalah Nenek Minah tidak memiliki rasa kemanusiaan dan tidak adil hanya karena kita membandingkannya dengan kasus lain yang sekali lagi. Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis. Tokoh aliran positivisme yang paling terkenal adalah Auguste Comte. mereka dituntun paradigmanya masing-masing.8 triliun dan menyebabkan lembaga negara harus mengucurkan dana Rp 6. Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph.gantinya) 5 bulan penjara kepada mantan pemilik sebagian saham PT Bank Century Tbk. Robert Tantular.7 triliun hanya divonis 4 tahun penjara. maka kebenaran diukur pada logika akal semata. justru diseret ke pengadilan. menuntun kita dalam setiap perbuatan. Hal yang tentunya sangat tidak adil jika dibandingkan dengan Nenek tua yang mencuri 3 buah kakao hanya untuk dijadikan bibit karena tidak mampu membelinya. Namun. yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. sementara pernyataan-pernyataan dalam bahasa teoritis tidak mempunyai arti faktual sampai pernyataan-pernyataan itu diterjemahkan ke dalam bahasa observasional dengan kaidah-kaidah korespondensi. Tidak sedikit pengadilan menjatuhkan hukuman hampir maksimum bagi para pelaku pencuri kelas “teri”. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.tetapi mengapa seorang perampok 2. Orang yang menilap uang hingga Rp 2. Bagi seseorang yang merengkuh Paradigma Positivisme dengan aliran Legal Positivisme. lalu divonis 1. Kita lupa bahwa setiap manusia itu memiliki paradigma masing-masing yang dengan adanya hal tersebut.5 bulan. yakni dari 6 bulan hingga 7 tahun. Paradigma itulah yang menuntun para hakim dalam memutus perkara yang diajukan kepadanya. sadarkah kita bahwa para hakim yang memutus perkara tersebut adalah hakim yang berbeda.

Aliran Legal Positivisme yang dipayungi oleh Paradigma Positivisme memiliki konsep hukum yaitu apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Bagaimana Paradigma Positivisme menjelaskan dalam hal dijatuhinya putusan bersalah Nenek Minah karena terbukti mencuri 3 (tiga) buah kakao (lengkap dengan set basic belief ontologi. Paradigma Positivisme. meletakkan dimensi spiritual dengan segala perpektifnya seperti agama.Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktivitas yang berkenaan dengan metafisik. tidak ada hukum kecuali perintah penguasa. Singkatnya. maka penulis merumuskan pokok permasalahannya sebagai berikut : 1. epistemologi dan metodologinya) ? 2. maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik). dia memisahkan secara tegas antara hukum dan moral. B. Tidak mengenal adanya spekulasi. Bagaimana mengukur keadilan jika dihadapkan dengan penegakan kepastian hukum dalam suatu kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan Nenek Minah? 4 . teknosentrik. dan universal. semua didasarkan pada data empiris. yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk. etika dan moralitas sebagai bagian yang terpisah. Positivisme merupakan empirisme. Keadilan hukum bersifat formal dan prosedural. Hukum bercirikan rasionalistik. Oleh karenanya. aliran ini mengindentikkan hukum sebagai undang-undang. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dalam uraian di atas.

Lahan garapan Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao. siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos. Sadar perbuatannya salah. Majelis hakim yang dipimpin Muslih Bambang Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan kepada mandor tersebut. Minah kemudian memetiknya untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. dalam kasus Nenek Minah ini realitasnya adalah hukum. Minah sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo. Namun dugaanya meleset. Rumpun Sari Antan (RSA) adalah hal yang biasa saja. Epistemologi dan Metodologi) Menjelaskan Kasus Nenek Minah Seorang nenek berumur 55 Tahun yang bernama Minah diganjar 1 bulan 15 hari penjara karena menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT. yang seluruhnya atau sebagian milik orang 5 . Desa Darmakradenan. Minah mengaku hal itu perbuatannya. Hukum yang dipaparkan adalah Pasal 362 KUHP yang berbunyi “Barang siapa mengambil sesuatu barang. 3 buah kakao itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian. Mengenai Ontologi dari Paradigma Positivisme. Epistemologi dan Metodologi. Penulis meyakini untuk saat ini merengkuh Paradigma Positivisme yang menuntun setiap pola pikir yang diyakini bahwa Positivisme merupakan paradigma paling baik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Kecamatan Ajibarang. Minah berpikir semua beres dan dia kembali bekerja. Proses hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto. Paradigma Positivisme memiliki set basic belief yaitu Ontologi. pada 2 Agustus 2009. Dari sekadar memandang. Saat itu. Sebab seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Setelah dipetik. mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao yang sudah ranum. Banyumas. Ketika sedang asik memanen kedelai. Mandor itu pun bertanya. Paradigma Positivisme dengan Seperangkat Set Basic Belief (Ontologi. Jawa Tengah. Dan tak lama berselang.BAB II PEMBAHASAN A. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan karena sama saja mencuri. Hukum tersebut berada di luar diri hakim atau sebagai kenyataan yang ada di luar dirinya. lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA.

maka berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas. Barang siapa Maksud dari barang siapa adalah orang yang melakukan perbuatan melawan hukum. kecamatan Ajibarang.9 di Desa Darmakradenan.00 WIB. didapat fakta bahwa tidak ada kekeliruan orang (error in persona) yang disangka telah melakukan tindak pidana tersebut adalah benar Nenek Minah. sebagai pendukung hak dan kewajiban yang identitasnya jelas. unsur ketiga ini telah terbukti. diancam karena pencurian dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah”. unsur kesatu ini terpenuhi. terbukti atau tidak pencurian tersebut. 6 . Terdakwa didakwa oleh Penuntut Umum melakukan tindak pidana melanggar Pasal 362 KUHP yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut: 1. Mengambil sesuatu barang Maksud dari mengambil sesuatu barang adalah memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Maka berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas. telah mengambil 3 (tiga) buah kakao/cokelat dengan cara memetik dari pohon pada perkebunan PT RSA IV Darmakradenan di blok A. Ada atau tidaknya pencurian. kabupaten Banyumas dan tertangkap tangan oleh saksi Tarno Bin Sumanto dan Rajiwan alias Diwan dan akibat perbuatan terdakwa PT RSA IV Darmakradenan mengalami kerugian sekitar Rp 30.00 (tiga puluh ribu rupiah). dengan maksud untuk dimilikinya sendiri secara melawan hukum. Berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan Nenek Minah pada hari minggu tanggal 2 Agustus 2009 sekitar pukul 13. Setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan keterangan terdakwa dipersidangan. 2. tanpa memperhatikan keadaan yang melingkupinya (ketidaktahuan si Nnenek Minah dan kemiskinan yang menjeratnya).lain. 3. diajukan kepersidangan karena telah didakwakan melakukan tindak pidana dan perbuatanya dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. maka unsur kedua ini telah terpenuhi. Berdasarkan pertimbangan hukum di atas. Yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang dihubungkan dengan petunjuk yang diperkuat oleh keterangan terdakwa di muka persidangan maka diperoleh fakta yang bersesuaian bahwa benar terdakwa telah mengambil 3 (tiga) buah kakao atau coklat seluruhnya milik PT RSA IV darmakradenan bukanlah milik terdakwa.000.

maka terdakwa Nenek Minah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tidak pidana pencurian sebagaimana dalam dakwaan. Dengan realitas hukum yang sudah diuraikan di atas.00 (tiga puluh ribu rupiah). Maka dari itu. Dengan maksud memiliki barang dengan melawan hukum Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang dihubungkan dengan petunjuk yang diperkuat oleh keterangan terdakwa dimuka persidangan maka diperoleh fakta yang bersesuaian bahwa benar terdakwa telah mengambil 3 (tiga) buah kakao/cokelat seberat kurang lebih 3 kg yang seluruhnya milik PT RSA IV Darmakradenan dan terdakwa mengambil barang tersebut di atas tanpa izin dan sepengetahuan pemiliknya yaitu PT RSA IV Darmakradenan dengan maksud akan dimiliki untuk bibit tanaman dan perbuatan terdakwa tersebut mengakibatkan PT RSA IV Darmakradenan menderita kerugian Rp 30. KUHP sudah sempurna sehingga tidak perlu memengaruhi realitas di luar yang artinya dalam kasus ini hakim adalah “corong” Undang-Undang. bebas nilai serta bebas bias). Yang menentukan atau deterministik dalam kasus ini bahwa Nenek Minah harus dihukum adalah adanya Undang-Undang (KUHP). memastikan bahwa hukum itu mengandung kepastian. maka dapat ditarik hubungan sebab akibat sebagai berikut. Peneliti dan objek yang diteliti dianggap sebagai entitas yang terpisah yaitu ada dua pihak yang sama-sama independen dan tidak saling memengaruhi (hakim dan kasus hukum dibiarkan menjauh. Kesalahan yang dilakukan oleh Nenek Minah adalah kesengajaan yang bersifat tujuan. sehingga ia tidak melibatkan nilai (baik kemanusiaan ataupun moral) di dalam kasus tersebut karena sesungguhnya realitas atau hukumnya sudah pasti. yaitu si pelaku dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar menghendaki mencapai akibat yang menjadi pokok alasan diadakannya ancaman hukuman pidana (constitutief gevol). unsur keempat ini terpenuhi. Ketika ada 7 . Nenek Minah terbukti bersalah karena perbuatan yang dilakukannya memenuhi unsur Pasal 362 KUHP. Epistemologi dalam hal ini adalah hubungan antara hakim dengan kasus pencurian yang sedang diperiksa tersebut. berdasarkan pertimbangan hukum tersebut di atas. Sifatnya adalah dualis-objektif. merupakan peraturan tertulis sifatnya menentukan. melanggar Pasal 362 KUHP karena itu terdakwa harus dihukum sesuai dengan perbuatannya tersebut.000. maka akibatnya dia harus dihukum.4.Karena semua unsur-unsur yang terkandung dalam Pasal 362 KUHP telah terpenuhi. Sedangkan untuk Metodologi. Unsur-unsur di atas menunjukan kesalahan dari pelaku tindak pidana. adalah eksperimental atau manipulatif. Harus selalu dilakukan uji empiris dan verivikasi yaitu membuktikan bahwa Nenek Minah benar bersalah.

B. sebagai berikut:. Seorang Positivisme. yang diinginkan. Mengukur Keadilan yang Dihadapkan dengan Kepastian Hukum Kasus nenek Minah menurut Paradigma Positivisme adalah sebuah perbuatan yang harus dihukum. Karena itu. 1. yaitu hukum yang diterima tanpa memperhatikan kebaikan atau keburukannya. Menurut Austin. dapat dipidana atau tidaknya suatu perbuatan tergantung pada undang-undang yang mengaturnya. 4. Hukum identik dengan Undang-Undang. menjelaskan tidak ada hukum di luar undang-undang. histories dan penilaian kritis. Paradigma Positivisme yang memayungi aliran Legal Positivisme. karena menurut kacamata Paradigma Positivisme. Penegakan hukum terhadap Nenek Minah harus dilepaskan dari unsur-unsur sosial serta moralitas.dakwaan dari Penuntut Umum. maka perbuatan tersebut bukan perbuatan pidana dan tidak bisa diminta pertanggung jawaban hukumnya menurut hukum 8 . Hukum adalah perintah dari kekuasaan politik yang berdaulat dalam suatu negara. hukum terlepas dari soal keadilan dan terlepas dari soal baik dan buruk. Hart. Hukum sebagaimana diundangkan. tujuan hukum adalah kepastian hukum. Inilah yang dinamakan proses pembuktian dalam kasus tindak pidana pencurian yang melanggar ketentuan hukum Pasal 362 KUHP. Hukum adalah perintah 2. Analisis terhadap konsep-konsep hukum berbeda dengan studi sosiologis. mengemukakan pandangan John Austin tentang kewajiban hukum untuk mematuhi perintah adalah paksaan. 3. ditetapkan. ilmu hukum tugasnya hanyalah menganalisis unsur-unsur yang secara nyata ada dalam sistem hukum modern. keputusan-keputusan dideduksi secara logis dari peraturan-peraturan yang sudah ada lebih dahulu. Yang perlu ditekankan di sini adalah. positum. tanpa adanya kepastian hukum tujuan hukum tidak akan tercapai walaupun harus mengenyampingkan rasa keadilan. tanpa perlu merujuk kepada tujuan-tujuan sosial. kebijaksanaan dan moralitas. itu salah berbagai arti dari positivisme menurut Hart. undang-undang menjadi sumber hukum satu-satunya. Paradigma Positivisme selalu menekankan pada obyektivitas dalam memandang sebuah realitas. selama perbuatan pidana tidak diatur didalam didalam hukum positif. tanpa menghiraukan besar kecil kerugian akibat pencurian yang dilakukannya. Ilmu hukum hanya berurusan dengan hukum positif. hakim harus melakukan verivikasi terhadap keterangan saksi-saksi dan pengajuan alat bukti yang nantinya dicocokkan dengan keterangan terdakwa.Jadi. harus senantiasa dipisahkan dari hukum yang seharusnya diciptakan. Dari bunyi Pasal 1 ayat (1) KUHP menentukan bahwa.

karena tujuan dari aliran ini adalah kepastian hukum. Ketika Nenek Minah kedapatan mengambil 3 buah kakao. yang secara ekonomi nilainya tidak seberapa. nenek Minah harus berurusan dengan hukum. Karena kepastian hukum berasal dari penguasa atau negara yang dapat berupa pasal-pasal dalam undang-undang. Menurut penulis. Menurut Paradigma Positivisme bagaimana pun hukum harus ditegakkan yang keadilannya adalah keadilan menurut Undang-Undang. 9 . karena perbuatan yang dilakukan nenek Minah menurut hukum Pidana termasuk kepada perbuatan pidana yakni tindak pidana pencurian.pidana. Hukum harus dilepaskan dari unsurunsur sosial. Pertimbangan hakim yang dalam setiap kasus-kasus yang ditangani memang memberikan kepastian hukum yang tinggi.

Singkatnya. Ketika semua unsur Pasal 362 terpenuhi. sudah seyogyanya menjaga konsistensi putusan hakim antara putusan yang satu dengan putusan hakim lainnya dalam kasus serupa yang telah diputuskan. kasus hukum yang menjerat Nenek Minah ditelaah dengan menggunakan Paradigma Positivisme. Tidak ada yang melibatkan nilai di sana karena hukum atau realitasnya berada di luar diri hakim. Kedua.BAB III PENUTUP A. Paradigma Positivisme yang memayungi aliran Legal Positivisme. menjelaskan tidak ada hukum di luar undang-undang. Metodologinya. hukum identik dengan Undang-Undang. dapat ditarik beberapa kesimpulan berdasar pembahasan permasalahan disertai dengan uraian penjelasannya. B. Bagaimana pun hukum harus ditegakkan yang keadilannya adalah keadilan menurut Undang-Undang. SARAN Demi kepastian dan penegakkan hukum Indonesia di masa kini dan mendatang. karena terbukti secara sah melakukan pencurian sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP. selalu adanya verivikasi atau uji empiris. Hukum yang dipaparkan adalah Pasal 362 KUHP. yaitu : Pertama. ontologinya adalah sebuah realitas (hukum). apabila untuk kasus serupa terjadi perbedaan 10 . Hakim melakukannya dengan menghadirkan saksi-saksi dan adanya alat bukti yang dicocokkan dengan keterangan Nenek Minah sebagai terdakwa. Hukum harus dipisahkan dari nilai kemanusiaan dan moral demi kepastian hukum. maka Nenek Minah diputus bersalah dan harus dihukum. Paradigma Positivisme selalu menekankan objektivitas. Itulah sebabnya Nenek Minah tetap harus dihukum terlepas dari seberapa besar kerugian yang diderita PT Rumpun Sari Antan.tidak saling memengaruhi (antara hakim dengan kasus hukum yang diperiksanya). pihak-pihak yang independen. Epistemologi yang bersifat dualis-objektif. KESIMPULAN Dari penulisan ini.

hal itu akan menimbulkan ketidakpastian hukum. dalam kurun waktu yang tidak terlalu berbeda tetapi yang satu telah memiliki kekuatan hukum yang tetap.yang besar antara putusan pengadilan satu dengan lainnya. Inilah yang harus dihindari dalam upaya mempertahankan kepastian hukum. 11 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful