P. 1
Makalah Fisika Dasar Vektor

Makalah Fisika Dasar Vektor

|Views: 3,064|Likes:
Published by Bayoe Sapoetro

More info:

Published by: Bayoe Sapoetro on Jul 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2014

pdf

text

original

MAKALAH FISIKA DASAR

VEKTOR










Kelompok III
- Muhammad Akid (06111009026)
- Sella Wahidah (06111009003)
- Efrida Br. Sinurat (06101009039)
- Tiara Dwi Putri (06101009009)


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013

Pembahasan
Dalam bidang ilmu fisika seringkali kita berhubungan dengan besaran, yitu
sesuatu yang dapat diukur dan dioperasikan. Besaran-besaran Fisika ditinjau dari
pengaruh arah terhadap besaran tersebut dapat dikelompokkan menjadi :
1. Skalar : besaran yang cukup dinyatakan besarnya saja (tidak tergantung
pada arah). Misalnya : massa, waktu, energi dsb.
2. Vektor : besaran yang tergantung pada arah. Misalnya : kecepatan, gaya,
momentum dsb.

A. Notasi Vektor
Suatu vektor dapat digambarkan dengan anak panah dimana panjangnya
anak panah menyatakan besarnya vektor dan arah anak panah menyatakan arah
vektor. Vektor juga dapat dituliskan dengan sebuah huruf yang dicetak tebal
ataupun dengan huruf yang diatasnya diberi tanda panah ataupun garis. Penulisan
vektor dengan menggunakan lambing panah di atas lebih sering digunakan.
Karena menggunakan tulisan tangan, vektor yang dibubuhi tanda panah lebih
mudah dituliskan daripada dicetak tebal.
Gambar disamping menunjukkan gambar sebuah
B vektor, yang memiliki arah dari A ke B. Vektor
tersebut dapat Dinyatakan sebagai vektor AB
atau vektor c .
A c
Dalam koordinat kartesian vektor arah/vektor satuan adalah vektor yang
besarnya 1 dan arahnya sesuai dengan yang didefinisikan.
Dalam koordinat kartesian i, j, k. yang masing masing menyatakan vektor
dengan arah sejajar sumbu x, sumbu y dan sumbu z. Sehingga:
Vektor
x
y
a
a
| |
=
|
\ .
a dapat ditulis j a i a
y x
+ = a
Vektor
x
y
z
a
a
a
| |
|
=
|
|
\ .
a dapat ditulis= k a j a i a
z y x
+ +

B. Operasi Dasar Pada Vektor
Sama dengan besaran-besaran lainnya dalam fisika, vektor juga dapat
dioperasikan dengan penjumlahan, pengurangan, dan perkalian.
1. Penjumlahan vektor
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan penjumlahan
pada vektor yaitu dengan menggunakan metode jajaran genjang, metode segitiga
dan metode poligonal.






Metode Jajaran Genjang

Vektor hasil (resultant) yaitu a +b diperoleh dari diagonal jajaran genjang
yang dibentuk oleh vektor a dan b setelah titik awal dan titik akhir ditempatkan
berimpit.
Metode Segitiga






Resultan diperoleh dengan menempatkan titik awal salah satu vektor pada
titik ujung vektor yang lain, maka resultannya adalah vektor bertitik awal di titik
awal a dan bertitik ujung di titik ujung b
a
b
a+b
a+b
a
a+b
a
b
Metode Poligon
Metode jajar genjang hanya efektif untuk dua buah vektor. Jika lebih dari
dua vektor, maka dua buah vektor di tentukan resultannya dahulu dan hasilnya
dijumlahkan dengan vektor ketiga baru bisa ditentukan resultan akhirnya. Jika
terdapat lebih dari dua vektor, maka cara paling mudah adalah menggunakan
metode poligon. Pada dasarnya metode poligon adalah pengembangan dari
metode segitiga. Cara menentukan resultan dengan metode jajar genjang adalah
sebagai berikut:
- Lukis vektor pertama yang akan ditentukan reslutannya.
- Lukis vektor kedua dengan pangkal berimpit dengan vektor pertama
- Lukis vektor ketiga dengan pangkal berimpit dengan vektor kedua
- Ulangi langkah di atas hingga semua vektor yang akan dijumlahkan habis
dilukiskan.
- Tarik garis dari pangkal vektor pertama hingga ujung vektor terakhir.
Vektor ini adalah merupakan resultan vektor tersebut

2. Pengurangan Vektor
Memperkurangkan vektor b dari vektor a didefinisikan sebagai menjumlahkan vektor
negatif b pada vektor a dan ditulis : a ÷b = a + (- b ).


a ¬ a b
b a ÷b
- b

Apabila vektor disajikan dalam bentuk komponen (dalam bidang kartesius) maka
pengurangan dapat dilakukan dengan mengurangkan komponen-komponennya.

3. Perkalian Antar Vektor
Perkalian vektor antara a dan b dituliskan sebagai × a b (kadang-kadang
disebut juga perkalian silang) dan didefinisikan sebagai vektor yang mempunyai
besar . .sin ab u , θ adalah sudut yang diapit oleh kedua vektor semula. Arah vektor
hasil kalinya tegak lurus terhadap a dan b sedemikian rupa sehingga a b dan
× a b dalam urutan ini membentuk sistem tangan kanan.

. .sin ab u × = a b
Catatan bahwa arah rotasi × b a berlawanan sehingga vektor hasil kalinya
berarah ke bawah yaitu
( ) × = ÷ × b a a b


Contoh :

Jika vektor A dan B kita nyatakan dalam vektor satuan,
1 2 3
a a a = + + a i j k
dan
1 2 3
b b b = + + b i j k maka
( ) ( )
1 2 3 1 2 3
1 1 1 2 1 3 2 1 2 2 2 3
3 1 3 2 3 3
a a a b b b
a b a b a b a b a b a b
a b a b a b
× = + + × + +
= × + × + × + × + × + ×
+ × + × + ×
a b i j k i j k
i i i j i k j i j j j k
k i k j k k



Karena
(1)(1)sin0 0 0 × = ° = ÷ × = × = × = i i i i j j k k
juga
(1)(1)sin90 1 × = ° = i j dalam arah OZ atau k , dengan kata lain
; ; × = × = × = i j k j k i k i j
ingat juga,
( ) ( ) ( ) ; ; × = ÷ × × = ÷ × × = ÷ × i j j i j k k j k i i k karena arah rotasinya berlawanan.
Dengan menggunakan hasil di atas kita dapat menyederhanakan rumusan
untuk × a b, buang suku-suku yang sama dengan nol dan rapikan sisanya.
( ) ( )
( )
( )
( ) ( ) ( )
1 2 3 1 2 3
1 1 1 2 1 3 2 1 2 2 2 3
3 1 3 2 3 3
2 3 3 2 3 1 1 3 1 2 2 1
(0) ( ) (0)
(0)
a a a b b b
a b a b a b a b a b a b
a b a b a b
a b a b a b a b a b a b
× = + + × + +
= + + ÷ + ÷ + +
+ + ÷ +
= ÷ + ÷ + ÷
a b i j k i j k
k j k i
j i
i j

Suku yang tengah dapat kita ubah susunannya sedikit dan kita tuliskan
kembali sebagai
( ) ( ) ( )
2 3 3 2 1 3 3 1 1 2 2 1
a b a b ab a b ab a b × = ÷ ÷ ÷ + ÷ a b i j
Pola ini merupakan jabaran dari suatu determinan. Jadi kita peroleh
sekarang jika
1 2 3
a a a = + + a i j k dan
1 2 3
b b b = + + b i j k maka
1 2 3
1 2 3
a a a
b b b
× =
i j k
a b



Contoh : Jika 2 4 3 = + + p i j k dan 5 2 = + ÷ q i j k , tentukanlah × p q
( ) ( ) ( )
4 3 2 3 2 4
2 4 3
5 2 1 2 1 5
1 5 2
8 15 4 3 10 4
23 7 6
× = = ÷ +
÷ ÷
÷
= ÷ ÷ ÷ ÷ ÷ + ÷
= ÷ + +
i j k
p q i j k
i j k
i j k


Menentukan Resultan Vektor dengan Metode Analisis
a. Metode grafis
Untuk menentukan resultan vektor dengan metode grafis secara tepat
dipergunakan kertas strimin (bergaris kotak). Cara menentukan resultan vektor
dengan metode grafis adalah sebagai berikut:
(1) Gambarkan vektor pertama sesuai besar dan arahnya (sudutnya supaya
tepat gunakan busur derajad)
(2) Gambarkan vektor berikutnya dengan pangkal diletakkan di ujung
vektor kedua. Pastikan juga vektor kedua sangat sesuai besar dan
arahnya.
(3) Ulangi langkah tersebut hingga semua vektor dilukiskan dengan tepat.
(4) Tarik garis dari pangkal vektor pertama menuju ke ujung vektor
terakhir. Inilah resultan vektor tersebut.
Contoh soal: Vektor a dan b
dilukiskan seperti pada gambar berikut:

Besar resultan adalah … satuan.
Pembahasan: Untuk mengerjakan soal di atas siapkan dulu kertas bergaris,
kemudian pindahkan vektor-vektor hingga seperti berikut:

Jika diperhatikan resultan vektor, pada bagian mendatar(x) terdapat 6 satuan
sedang pada sumbu vertikal (y) terdapat 8 kotak sehingga resultannya adalah:

b. Metode analisis
Metode yang paling tepat untuk menentukan resultan vektor adalah metode
analisis. Metode ini dapat menentukan besar resultan dan arahnya dengan tepat.
Ada dua cara untuk menentukan resultan vektor dengan metode analisis.
Menggunakan rumus kosinus Jika terdapat dua vektor F1 dan F2 saling
membentuk sudut sebesar α, maka besar resultannya dapat ditentukan dengan
rumus kosinus berikut:

Selain dengan rumus kosinus, cara lain menentukan resultan vektor adalah
dengan rumus sinus. Dengan rumus sinus ini kita juga dapat menentukan arah
resultan vektor terhadap salah satu vektor.

Jika vektor disajikan dalam bentuk komponen (dalam bidang kartesius)
maka penjumlahan dapat dilakukan dengan menjumlahkan komponennya.
Misalnya: a =
|
|
.
|

\
|
A
A
y
x
dan b =
|
|
.
|

\
|
B
B
y
x
maka a +b =
|
|
.
|

\
|
+
+
B A
B A
y y
x x



Contoh:
Apabila
|
|
.
|

\
|
÷
=
3
2
a dan
|
|
.
|

\

=
3
4
b maka a +b =
|
|
.
|

\

=
|
|
.
|

\
|
+ ÷
÷ +
0
2
3 3
) 4 ( 2


Diketahui panjang vektor , a , = 2 dan panjang vektor , b , = 4, sudut antara
vektor a danb adalah 60°, maka :

a +b = u Cos b a b 2 a
2 2
+ +
= ° + + 60 . 4 . 2 . 2 4 2
2 2
Cos
=
2
1
. 16 16 4 + +
= 7 2 28 =

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->