P. 1
Manajemen Pemeliharaan Vaname

Manajemen Pemeliharaan Vaname

|Views: 58|Likes:
Published by Main Hope
Salah satu faktor penting dalam mendukung ketiga hal tersebut di atas adalah penyediaan nutrisi. Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik. Penggunaan pakan yang efisien dalam suatu usaha budidaya sangat penting oleh karena pakan merupakan faktor produksi yang paling mahal. Oleh karena itu, upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan perlu dilakukan guna meningkatan produksi hasil budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan, serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan pemahanan tentang nutrisi dan kebutuhan nutrien dari kultivan, teknologi pembuatan pakan, serta kemampuan dalam pengelolaan pakan untuk setiap tipe budidaya dari kultivan tertentu.

Salah satu prinsip yang perlu diketahui dalam penerapan pakan untuk kepentingan budidaya adalah program pemberian pakan secara efektif (effective feeding program). Hal ini memerlukan pengetahuan tentang kebutuhan nutrien dari kultivan yang akan dipelihara, kebiasan dan tingkah laku makan, serta kemampuan kultivan dalam mencerna dan menggunakan nutrien esensial yang diberikan.
Salah satu faktor penting dalam mendukung ketiga hal tersebut di atas adalah penyediaan nutrisi. Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik. Penggunaan pakan yang efisien dalam suatu usaha budidaya sangat penting oleh karena pakan merupakan faktor produksi yang paling mahal. Oleh karena itu, upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan perlu dilakukan guna meningkatan produksi hasil budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan, serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan pemahanan tentang nutrisi dan kebutuhan nutrien dari kultivan, teknologi pembuatan pakan, serta kemampuan dalam pengelolaan pakan untuk setiap tipe budidaya dari kultivan tertentu.

Salah satu prinsip yang perlu diketahui dalam penerapan pakan untuk kepentingan budidaya adalah program pemberian pakan secara efektif (effective feeding program). Hal ini memerlukan pengetahuan tentang kebutuhan nutrien dari kultivan yang akan dipelihara, kebiasan dan tingkah laku makan, serta kemampuan kultivan dalam mencerna dan menggunakan nutrien esensial yang diberikan.

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Main Hope on Jul 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Pakan dalam Akuakultur
  • 1.2. Pakan dan Lingkungan
  • 1.3 Pendekatan Sistem Budidaya yang Berkelanjutan
  • 2.1 Prosentase Pakan (Feeding rate)
  • 2.2 Frekuensi Pemberian Pakan
  • 2.3 Rasio Konversi Pakan (FCR)
  • 2.4 Attraktabilitas dan Palatabilitas
  • 2.5 Penyimpanan Pakan
  • 3.1 Akumulasi Nutrien dan Bahan Organik di Dasar Tambak
  • 3.2 Budget Nutrien dan Padatan (solid) di Tambak
  • 3.3 Alternatif Solusi Pengelolaan Limbah pada Sedimen Tambak
  • 3.4 Perbaikan Formulasi dan Pengelolaan Pakan
  • 3.5 Perbaikan Proses- N di Tambak
  • 3.6 Perbaikan Desain dan Manajemen Limbah di Tambak
  • 3.7 Aplikasi Probiotik dan Feed Additive

i

MANAJEMEN PEMELIHARAAN UDANG VANAME

Oleh : Abidin Nur DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA

Diperbanyak Oleh: PUSAT PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BADAN PENGEMBANGAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 2011 i

ii
SAMBUTAN

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya sehingga Materi Pemantauan Kualitas Tanah dan Air ini dapat diselesaikan. Materi Manajemen Pemeliharaan Udang Vaname ini disusun agar dapat menjadi bahan acuan atau petunjuk untuk masyarakat perikanan khususnya pembudidaya udang vaname yang mempunyai masalah dalam menangani permasalah tentang pemeliharaan dan pembesaran udang yang dapat mempengaruhi produksi perikanan. Materi ini menguraikan Manajemen Pemeliharaan Udang Vaname. Kami berusaha untuk menampilkan yang terbaik dan berharap bahwa informasi dalam Materi ini dapat bermanfaat bagi pembudidaya ikan dan udang khususnya dan dunia perikanan pada umumnya. Penghargaan setinggi-tingginya kami sampaikan kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan Materi ini sehingga dapat diselesaikan. Kami menyadari bahwa Materi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan sumbangan kritik serta saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kemajuan dunia perikanan yang lebih baik.

Jakarta,

November 2011

Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

. ii

iii

DAFTAR ISI
SAMBUTAN ………….…………………………..……………………………..………….. DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………………………… DAFTAR TABEL …………………….……………………………………………………… I. PENDAHULUAN 1.1. 1.2. 1.3. II. Pakan dalam Akuakultur ............................................................................. 2 Pakan dan Lingkungan ................................................................................. 4 Pendekatan Sistem Budidaya yang Berkelanjutan ...................................... 5 ii iii iv v

PENGELOLAAN PAKAN 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. Prosentase Pakan ........................................................................................ Frekuensi Pemberian Pakan ....................................................................... Rasio Konversi Pakan ................................................................................. Attraktabilitas dan Palatabilitas .................................................................... Penyimpanan Pakan .................................................................................... 9 11 11 11 12

III.

PENGELOLAAN PAKAN DAN LINGKUNGAN 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. Akumulasi Nutrien & Bahan Organik di Dasar Tambak ............................... 15 Budget Nutrien dan Padatan (solid) di Tambak ........................................... 17 Alternatif Solusi Pengelolaan Limbah ............................................................ 26 Perbaikan Formulasi dan Pengelolaan Pakan ............................................. 26 Perbaikan Proses- N di Tambak .................................................................. 29 Perbaikan Desain dan Manajemen Limbah di Tambak ................................. 31 Aplikasi Probiotik dan Feed Additive ............................................................ 31

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 33

iii

iv
DAFTAR GAMBAR 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengelolaan budidaya udang intensif dan interaksi kualitas air ............................... 14 Budget nutrien dan total padatan di tambak ............................................................ 18 Budget nitrogen (N) di tambak ................................................................................. 23 Model ekskresi –N .................................................................................................... 25 Budget posfor di tambak ............................................................................................ 26 Skema aktivasi suspensi di tambak ........................................................................... 30

iv

.................................................................v DAFTAR TABEL 1..... 5.................................... Persentase pakan yang diberikan berdasarkan berat udang .... Kebutuhan protein dalam pakan pada berbagai jenis udang ........................................................... 10 16 17 21 22 24 v ........ 6................ 2........ Jumlah nutrien yang terbuang sebagai hasil dari pergantian air tambak ......................... nitrogen dan posfor ................ 3....... Konsentrasi komponen kimia pada dasar tambak dan kolom air ... Komposisi pakan ............. 4..................... Estimasi karbon..........

9% per tahun sejak tahun 1970. teknologi pembuatan pakan. maka produksi budidaya harus bertumbuh hingga lima kali lipat untuk mensuplai kebutuhan populasi. Salah satu faktor penting dalam mendukung ketiga hal tersebut di atas adalah penyediaan nutrisi. Penggunaan pakan yang efisien dalam suatu usaha budidaya sangat penting oleh karena pakan merupakan faktor produksi yang paling mahal. Namun demikian.2 dan 2. Membangun sistem budidaya yang berkelanjutan tanpa merusak lingkungan c. dalam lima dekade mendatang. Membangun sistem budidaya dengan rasio cost/benefit secara rasional guna mendukung kelangsungan budidaya secara ekonomis dan sosial. diperlukan pemahanan tentang nutrisi dan kebutuhan nutrien dari kultivan. Bila dibandingkan dengan sektor perikanan tangkap dan peternakan dalam kurun waktu yang sama masing-masing hanya mencapai 1. PENDAHULUAN Peningkatan produksi perikanan budidaya secara global rata-rata mecapai 8.1 I. Untuk mencapai sasaran tersebut. Perkembangan ini harus mengatasi tiga hal pokok (Avnimelech 2009) sebagai berikut : a. serta kemampuan dalam pengelolaan pakan untuk setiap tipe budidaya dari kultivan tertentu. Memproduksi banyak ikan tanpa meningkatkan penggunaan sumberdaya alam (tanah dan air) secara nyata b. Oleh karena itu.8 % per tahun. upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan perlu dilakukan guna meningkatan produksi hasil budidaya dan mengurangi biaya pengadaan pakan. . Nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya hewan akuatik. serta meminimalkan produksi limbah pada media budidaya.

kualitas pakan pada akhirnya ditentukan oleh tingkat nutrien yang tersedia bagi kultivan. hewan akuatik memerlukan nutrien esensial untuk proses pertumbuhan. serta untuk mempertahankan kondisi kesehatan. kebiasan dan tingkah laku makan. penurunan biaya pengadaan pakan. pemeliharaan dan penggantian jaringan yang telah rusak. Dengan demikian. energi.2 1. Sebaliknya penggunaan pakan yang tidak bermutu berdampak Oleh karena itu. serta mengurangi dampak kerusakan lingkungan. serta dapat menyebabkan kematian. perpaduan antara penggunaan pakan pada respon pertumbuhan yang rendah. pengaturan beberapa fungsi tubuh. serta kemampuan kultivan dalam mencerna dan menggunakan nutrien esensial yang diberikan. maka ketergantungan pada sediaan pakan alami semakin berkurang dan sebaliknya suplai energi semakin banyak ditentukan oleh pakan buatan yang diberikan. mudah terserang penyakit. Salah satu prinsip yang perlu diketahui dalam penerapan pakan untuk kepentingan budidaya adalah program pemberian pakan secara efektif ( effective feeding program). Dalam hal ini diperlukan pakan dengan kadar nutrisi yang seimbang serta pemberian yang cukup untuk mendukung pertumbuhan yang optimal dan pada akhirnya untuk peningkatan pendapatan hasil usaha budidaya. Seiring dengan usaha intensifikasi budidaya. dan mineral. berkualitas tinggi serta tingkat pengelolaan yang lebih baik telah terbukti memperbaiki efisiensi penggunaan pakan.1. Pakan yang diberikan harus mampu menyediakan nutrien yang dibutuhkan oleh kultivan seperti protein dan asam amino esensial. Hal ini penting oleh karena baik ikan maupun udang memerlukan pakan semata hanya untuk memenuhi . Pakan dalam Akuakultur Seperti pada organisme lainnya. Hal ini memerlukan pengetahuan tentang kebutuhan nutrien dari kultivan yang akan dipelihara. lemak dan asam lemak. vitamin.

Selama pembuatan pakan perlu diperhatikan untuk tetap mempertahankan komposisi nutrien dan sekaligus mengeleminir zat anti-nutrisi. kerapu dan snapper. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan bagi kultivan yang dipelihara. . sehingga nilai energi dari suatu pakan turut menetukan tingkat efisiensnya. upaya mengurangi limbah pakan tidak hanya berpengaruh terhadap biaya produksi tetapi juga berdampak pada terpeliharanya lingkungan budidaya.3 kebutuhan energi. Penerapan feeding regime hendaknya disesuaikan dengan tingkah laku ikan. Sebagai contoh. sementara ikan kakap dan udang windu membutuhkan asam lemak dari kelompok n-3 dan n-6. serta perbaikan pengelolaan pakan di tingkat petani terus dilakukan. Kebutuhan nutrien untuk spesies tertentu perlu diketahui. Bandeng membutuhkan asam lemak dari kelompok n-3. kebutuhan protein dari ikan omnivor seperti bandeng. Pengawasan terhadap kualitas pakan dimulai dari pemilihan bahan baku hingga proses produksi dan penyimpanan. Disamping itu. Di bidang pengembangan pakan. dan dimana ikan/udang diberi pakan. atau ikan herbivor seperti pada tilapia umumnya lebih rendah dibandingkan dengan ikan karnivor seperti pada kakap. berapa banyak. serta siklus alat pencernakan guna memaksimalkan penggunaan pakan. upaya perbaikan kualitas bahan baku dan pengurangan biaya pengadaan pakan. Sebaliknya pada ikan tilapia membutuhkan asam lemak n-6. Disamping itu. Dengan demikian. dalam memformulasikan suatu pakan hendaknya didasarkan pada kebutuhan dan tingkat nutrien esensial yang diperlukan dari kultivan tertentu. pengelolaan pakan harus dilakukan sebaik mungkin dengan memperhatikan apa. Setiap ikan juga berbeda mengenai kebutuhan asam lemak esensial. dan terakhir pada pengguna di lapangan juga perlu dilakukan. berapa kali. kapan.

kotoran ikan (feces). protein : energi rasio yang seimbang. seperti nitrogen. urea. dan hidrogen sulfida. fosfor dan hidrogen sulfida. Pakan dan Lingkungan Usaha budidaya berkembang dengan pesat mulai dari sistem ekstensif hingga sistem intensif. Limbah ini akan meningkat seiring dengan konversi pakan yang rendah. Di sisi lain limbah metabolik tersebut akan terakumulasi dalam media budidaya dan pada gilirannya menjadi zat racun yang menghambat pertumbuhan bahkan dapat mematikan organisme yang dipelihara. Hal ini dapat ditempuh dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :  Pakan diformulasi dengan komposisi nutrien yang seimbang (wellbalanced diet) seperti ketersediaan asam amino yang cukup. (b) bahan terlarut. terutama berupa sisa pakan. Pada kondisi ini diperlukan penyesuaian jumlah pakan untuk mencegah terjadinya penumpukan sisa pakan yang dapat meningkatkan polusi baik pada media budidaya. dan sekaligus pada daerah perairan pantai (coastal zone). Nutrien yang tersedia dalam pakan. Limbah hasil budidaya dapat berupa : (a) bahan padatan. hamparan sekitar media peliharaan. . serta koloni bakteri. seperti amoniak. sehingga -N banyak yang terasimilasi dalam tubuh dan sedikit -N yang diekskresikan oleh ikan. Semakin tinggi padat tebar membawa konsekuensi pada peningkatan limbah metabolik yang dihasilkan. Penerapan pakan yang ramah lingkungan merupakan suatu keharusan sebagai upaya untuk berbudidaya yang berkelanjutan. sebagaian besar dapat menjadi polutan pada lingkungan budidaya. fosfor.4 1. Perkembangan ini telah menimbulkan masalah terutama dalam hal usaha budidaya yang berkelanjutan.2. karbondioksida. bahan organik.

3 Pendekatan Sistem Budidaya yang Berkelanjutan Dalam hal usaha budidaya yang berkelanjutan. Penggunaan sumber protein alternatif selain tepung ikan perlu pengkajian lebih lanjut. . Hindari penggunaan bahan baku asing (exotic feedstuff) yang kemungkinan mengandung zat yang dapat menghambat pertumbuhan. kecuali ada metode tertentu untuk mendeteksi dan menghilangkan zat tersebut dalam pakan. Diperlukan adanya upaya untuk mengurangi biaya pakan Pakan merupakan faktor produksi terbesar dari suatu usaha budidaya. dan ketersedian pakan yang ekonomis (cost-effective feed) masih menjadi kendala utama. maka dari sisi nutrisi dan teknologi pakan terdapat beberapa issu penting. Perbaikan stabilitas pakan melalui penggunaan binder yang efisien serta teknologi pembuatan pakan yang baik. 1. seperti mengurangi ketergantungan bahan baku impor dengan memanfaatkan ketersediaan bahan baku lokal. yaitu : a.     Gunakan bahan yang memiliki kecernaan tinggi guna mengurangi limbah organik dari pakan. Bahan baku yang memiliki ketersediaan fosfor yang tinggi lebih baik digunakan. Oleh karena itu. formula pakan harus dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang murah.5  Total fosfor dalam pakan hendaknya disesuaikan dengan organisme yang akan dipelihara.

penggunaan bahan nabati dan limbah hasil pengolahan (by-product) sebaiknya digunakan untuk menghasilkan pakan yang murah. Penerapan bioteknologi memungkinkan untuk memperoleh bahan baku dengan kadar nutrisi yang cukup baik. kebutuhan produk perikanan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk yang pada gilirannya ketersediaan tepung ikan semakin menurun. Beberapa diantaranya menjadi sumber bahan baku potensial oleh karena kadar protein yang tinggi serta kandungan abu yang rendah seperti pada tepung daging. Integrasi antara pakan.6 b. Harga tepung ikan semakin mahal dan ketersediaan semakin langka sebagai akibat dari kebutuhan tepung ikan meningkat serta kompetisi dengan produksi sektor pakan lain. Alternatif penggunaan bahan pengganti tepung ikan Dalam pembuatan pakan. d. dan pemahaman lebih jauh di bidang ini dapat membantu terciptanya sistem pemberian pakan yang efisien. pengelolaan pakan dan kesadaran lingkungan . juga mengandung nutrien yang melebihi dari apa yang dibutuhkan oleh ikan. tepung ikan merupakan bahan yang paling banyak digunakan. Penggunaan pakan supplemen Pakan komersial disamping lebih mahal. Pakan tersebut diformulasikan tanpa mempertimbangkan padat tebar serta ketersediaan pakan alami di tambak. Untuk beberapa spesies akuakultur. Peningkatan produksi hasil budidaya yang diikuti dengan penurunan produksi tepung ikan. Demikian pula halnya dengan bahan baku berupa biji-bijian dan kacangkacangan. Di negara-negara Asia misalnya. c. Produktivitas alami dari suatu media budidaya semakin penting. Konsep penggunaan pakan tambahan berarti masih terdapat ketergantungan terhadap sediaan pakan yang tumbuh secara alami di tambak atau kolam untuk mensuplai sebagian nutrien yang diperlukan oleh kultivan. diperlukan adanya alternatif pengganti sumber protein tersebut.

tingkat kecernaan. Komposisi nutrisi. dan kestabilan pakan merupakan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kualitas air media budidaya. Oleh karena itu. pakan yang dibuat hendaknya ramah lingkungan (environment-friendly). keseimbangan nutrien. .7 Sisa pakan dan hasil metabolik lainnya merupakan sumber polutan utama pada suatu sistem produksi budidaya.

4. 3. diproduksi dengan kualitas baik dimana nutrien yang ada dapat tercerna secara maksimal. antara lain : 1. Pakan berkualitas merupakan hasil formulasi dengan menyediakan nutrien sesuai dengan kebutuhan kultivan yang akan dipelihara. . Beberapa hal penting perlu diperhatikan selama pemberian pakan pada hewan budidaya. serta size/ukuran yang sesuai dengan hewan yang dipelihara.8 II. 2. 6. Program pemberian pakan yang baik sangat diperlukan untuk memperoleh hasil maksimal dalam kegiatan budidaya udang maupun ikan. Distribusikan pakan secara merata pada media budidaya (tambak. Berikan pakan pada kultivan dengan jumlah dan frekuensi yang tepat sesuai dengan jumlah dan ukuran populasi. kolam dsb) sehingga semua udang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pakan. Gunakan pakan yang attraktif. Lakukan pngaturan pakan berdasarkan kualitas air dan nafsu makan udang. PENGELOLAAN PAKAN Pakan merupakan salah satu aspek penting dalam setiap aktivitas budidaya akuatik. Pertahankan kualitas pakan melalui penyimpanan dan penangan yang baik dan benar. palatabilitas tinggi. 5. Pakan merupakan faktor produksi terbesar dan mencapa 50% atau lebih dari total biaya operasional. sehingga perlu dikelola dengan baik agar dapat digunakan secara efisien bagi kultivan.

cuaca. yaitu : jenis pakan.9 2. Suhu di atas atau di bawah kisaran tersebut menyebabkan konsumsi pakan menurun. pertumbuhan dan mortalitas udang. Jika pakan diberikan terlalu sedikit dapat berakibat pertumbuhan lambat. bahkan memicu kanibalisme terutama pada pemeliharaan dengan kepadatan tinggi. suhu air.1 Prosentase Pakan (Feeding rate) Pakan yang diberikan selama periode budidaya berlangsung sangat sulit untuk dikontrol secara tepat baik jumlah maupun waktu. . Oleh karena itu pengaturan jumlah pakan senantiasa dilakukan sesuai dengan tingkat nafsu makan. kualitas air dan status kesehatan udang itu sendiri. Seberapa besar jumlah pakan yang dikonsumsi oleh udang dipengaruhi oleh beberapa faktor. mempunyai efek nyata terhadap konsumsi pakan dan pertumbuhan. pemberian pakan berlebih dapat menimbulkan masalah. sisa pakan dapat menyebabkan penurunan mutu air di tambak. Faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan guna memaksimalkan penggunaan pakan bagi kultivan. padat tebar. Akiyama dan Chwang (1989) merekomendasikan persentase pakan berdasarkan berat udang (Tabel 1) sebagai berikut. Pada udang vannamei. Suhu misalnya. Demikian pula sebaliknya. Selain sebagai limbah. konsumsi pakan mencapai optimal pada suhu 27-31 C. ukuran udang.

. Jumlah anco sekitar 4-6 buah yang dipasang pada sisi tambak. Jumlah sampel minimal 30 ekor.5-2% dari jumlah pakan yang akan diberikan.5%-2% Sebagai Pakan Lengkap 15%-8% 8%-4% 4%-2% Untuk menghitung jumlah pakan harian yang diberikan pada kultivan adalah dengan mengalikan total biomas udang dengan persentase pakan sesuai dengan berat udang seperti tercantum pada Tabel di atas. maka jumlah pakan berikutnya dapat ditingkatkan hingga 5%. Ukuran udang (g) 0-3 3-15 15-40 Sebagai Pakan Tambahan 10%-4% 4%-2. Jika pakan di anco habis dalam waktu lebih singkat. Jumlah pakan yang dimasukkan ke dalam anco sebanyak 1. maka diputuskan untuk mengurangi jumlah pakan pada pemberian berikutnya. Demikian pula sebaliknya.5 jam (udang ukuran besar) dan 2 jam untuk udang berukuran kurang dari 4 gram. Untuk hasil yang lebih baik seharusnya udang ditimbang satu per satu. Total biomas = jumlah populasi udang x berat individu rata-rata Penentuan berat individu diupayakan seakurat mungkin untuk menghindari kesalahan dalam penentuan jumlah pakan harian. Hal ini dilakukan dengan melakukan sampling pertumbuhan tiap 10-14 hari sekali.10 Tabel 1. maka jumlah sampel ditingkatkan dua kali lipat.5% 2. Sejumlah pakan tersebut harus habis dalam waktu 1-1. Tetapi jika variasi ukuran terlalu besar. jika dalam waktu 1-2 jam pakan belum habis. Sebagai alat bantu untuk memonitor respon pakan dapat digunakan anco. Persentase pakan yang diberikan berdasarkan berat udang.

FCR menggambarkan jumlah pakan yang diperlukan untuk menaikkan 1 kg berat udang. Udang makan atas dasar penciuman dan bukan penglihatan. defisiensi nutrien tertentu. Seiring dengan pertumbuhan udang di tambak. Pada saat pakan diberikan.3 Rasio Konversi Pakan (FCR) FCR merupakan salah satu indikator seberapa jauh pakan yang diberikan dapat dimanfaatkan oleh udang untuk mendukung pertumbuhan dan sintasan. Umumnya nilai FCR kurng dari 2 masih dinyatakan baik. FCR yang tinggi kemungkinan disebabkn oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut perlu terus dimonitor. udang stadia post larva diberi pakan setiap 2-3 jam sekali (12-8 kali sehari). serta mengurangi jumlah nutrien yang hilang (leaching). 2. Idealnya. attraktan (asam amino) dari pakan lepas ke air dan dideteksi oleh kemoreceptor yang menyebar di seluruh tubuh udang.2 Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pakan ditentukan berdasarkan tingkat kestabilan pakan dalam air dan laju konsumsi pakan oleh udang. Attraktabilitas dan palatabilitas (cita rasa) pakan menjadi penting untuk setiap pakan yang dihasilkan. frekuensi pakan lebih sering oleh karena laju metabolisme pada saat itu sangat tinggi. sehingga program pemberian pakan lebih efisien. Pada stadia benih. maka pakan digunakan semakin efisien. maka frekuensi pakan dapat dikurangi dan umumnya maksimum 6 kali selama 24 jam. kualitas air yang buruk. Pemberian pakan lebih sering dapat memperbaiki rasio konversi pakan.11 2. Semakin rendah nilai FCR. sehingga pakan harus mengandung attraktan yang baik sehingga . seperti : over feeding. 2.4 Attraktabilitas dan Palatabilitas Formulasi pakan dengan nutrisi seimbang akan sia-sia jika tidak dapat dikonsumsi oleh udang.

palatabilitas (cita rasa) menjadi penting dan menentukan apakah pakan yang diberikan ditelan atau tidak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama penyimpanan pakan adalah sebagai berikut : 1. Pakan termasuk produk yang mudah rusak. nafsu makan udang sering dipacu dengan menambahkan attraktan dari luar seperti penggunaan silase ikan. Namun dalam prakteknya. silase biomas artemia dan sebagainya. tepung cumi dsb) dan sudah tersedia dalam pakan. Pakan harus terhindar dari sinar matahari langsung 4. Pakan harus disimpan ditempat yang kering. dingin dan berventilasi 2. 2. dan tumbuhnya jamur. Pakan yang sudah rusak jangan digunakan. sehingga perlu disimpan dan ditangani dengan baik untuk menghindari terjadinya hilangnya nutrien tertentu. .12 mudah dikenali oleh udang. Attraktan umumnya berasal dari bahan-bahan hewani (tepung ikan. Pakan jangan disimpan lebih dari tiga bulan 5.5 Penyimpanan Pakan Salah aspek penting dalam pengolaan pakan adalah aspek penyimpanan. tepung udang. terjadinya bau tengik. Pakan disimpan di atas rak papan dan jangan simpan di atas lantai secara langsung 3. Pada saat udang mulai mengambil pakan.

Sedimen ini bersumber dari sisa pakan. maka kebutuhan pakan pun juga pasti meningkat. aliran air masuk. . Oleh karenanya tidak mengherankan pada tahun 1990an. air dan sedimen tambak keduanya saling berinteraksi secara terus menenus dan mempengaruhi lingkungan budidaya (Gambar 1). PENGELOLAAN PAKAN DAN LINGKUNGAN Budidaya udang merupakan salah satu industri besar (Rosenberry. Komponen tersebut perlu dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan residu bahan organik yang berlebihan atau pada tingkat yang dapat merusak lingkungan budidaya. 1999 dalam Burford dan Williams. 2001) dengan tingkat produksi sekitar 30 % dari total suplai udang dunia (Browdy.. serta erosi. (2004). Hal ini dipicu oleh penurunan mutu lingkungan budidaya dan terjadinya serangan penyakit.8 % antara tahun 1999-2000 dan mengalami penurunan sekitar 0. (2004) laju pertumbuhan tahunan dari hasil budidaya udang mencapai 6. feses. Avnimelech et al. 1998). al. terjadinya penurunan mutu lingkungan yang pada akhirnya berdampak pada respon pertumbuhan kultivan yang rendah.9% selama tahun 2002.13 III. Terlebih lagi dengan kecenderungan peningkatan produksi udang hasil budidaya. Terkait dengan lingkungan pemeliharaan. Briggs et. Sedimen tambak selanjutnya dapat dipilah menjadi dua bagian besar yaitu dasar dan pematang tambak serta akumulasi sedimen (sludge yang terkumpul selama pemeliharaan). akumulasi bahan organik yang berlebih menjadi pemicu kondisi lingkungan yang anaerob. 75 % produksi udang dunia menggunakan pakan buatan dan sejak itu pakan menjadi faktor produksi terbesar.. tingginya kebutuhan oksigen di sedimen. Tingginya produksi tersebut adalah sebagai konsekuensi dari padat tebar tinggi yang didukung oleh pemberian pakan buatan dalam pemenuhan kebutuhan energi. plankton yang mati.

8->2.14 Di Thailand misalnya. Akan tetapi cara ini tidak berlangsung lama seiring dengan kenyataan bahwa daerah pantai dan estuarin telah . Bahkan pergantian air sangat sering terutama pada separuh waktu pemeliharaan terakhir. diketahui bahwa jika sedimen yang menumpuk tidak dipindahkan atau dihilangkan dari dasar tambak. 1998) Akumulasi sedimen mulai disadari semakin besar pengaruhnya terhadap aktivitas budidaya.0). FCR tinggi (1. produksi tinggi (6-12 ton/ha/MT). Pengelolaan air dilakukan dengan cara kombinasi antara penggantian air baru dan pengelolaan fitoplankton melalui pengamatan warna air. Dari beberapa pengalaman.. Gambar 1. sehingga perlu pengelolaan sebelum siklus berikutnya berlangsung.Pengelolaan budidaya udang intensif dan interaksi kualitas air (Smith dan Briggs. serta sistem pergantian air yang lebih banyak (5-10% per hari hingga panen). sistem budidaya udang intensif pada mulanya dilakukan dengan padat tebar tinggi (50-100 ekor/m2). akan berakibat fatal pada kualitas air terutama pada awal pemeliharaan.

Terbukti bahwa penyakit viral seperti yellowhead melalui perantaraan air. Dari data yang ada diketahui bahwa rerata nutrien yang dapat tertahan dalam tubuh ikan dan udang adalah 13 % carbon. 1997). sehingga aktivitas budidaya dilakukan dengan sistem pergantian air yang terbatas atau sedikit. . Terlepas dari keberadaan patogen atau carrier. dan 16 % posfor. Rendahnya jumlah karbon sebagai konsekuensi dari banyaknya fraksi karbon pakan yang lepas akibat respirasi. Faktor-faktor terkait dengan masalah tersebut perlu diidentifikasi guna pengelolaan lingkungan budidaya yang lebih baik.. 2003). Hal ini didasarkan pada beberapa hal seperti : (1) pakan merupakan faktor produksi yang cukup mahal pada sistem budidaya semi intensif dan intensif (Posadas. Data ini menunjukkan rendahnya retensi nutrien dalam tubuh kultivan. dan (2) pakan merupakan input terbesar yang dapat mempengaruhi akumulasi bahan organik di sedimen dan kualitas air tambak (Boyd. 3. penciptaan kondisi lingkungan prima dalam budidaya perlu dilakukan.15 mengalami kerusakan atau penurunan mutu air.1 Akumulasi Nutrien dan Bahan Organik di Dasar Tambak Ikan dan udang dapat mengakumulasi nutrien dari pakan yang diberikan berkisar 5-40% (Tabel 2). 29 % nitrogen. sedangkan whitespot melalui perantaraan krustase yang masuk pada saat pergantian air dilakukan. 1993) sehingga potensi sebagai sumber polutan jika tidak dikelolah dengan baik akibat kandungan N dan P yang tinggi (Jackson et al. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa sistem pergantian air secara langsung menjadi pemicu serangan penyakit. sehingga sisanya seperti nitrogen (75%) dan posfor (80%) terakumulasi di dasar tambak. Salah satu diantaranya yang sangat penting adalah keberadaan pakan buatan dan implikasinya bagi media budidaya selama pemeliharaan. 1988 dalam Millamena dan Trino.

kandungan organik tanah dasar. Estimasi karbon. dan P pada saat panen (FCR) c 17% pada padat tebar rendah (1 Pl/m 2) dan 34.16 Tabel 2. 2003). nitrogen dan posfor dalam tubuh ikan dan udang yang dinyatakan dalam persentase total budget nutrien (nutrien yang ditambahkan dalam bentuk pakan dan pupuk)a. (Avnimelech dan Ritvo. N. karakter dari akumulasi sedimen sangat ditentukan oleh intensitas budidaya yang diterapkan. dan penerapan sistem pergantian air. Secara umum. Detritus merupakan komponen sedimen yang bersumber dari plankton.6% untuk penebaran 30 Pl/m2 Komponen organik pada akumulasi sedimen merupakan campuran antara kandungan organik tanah dasar dan material berupa detritus. feses udang dan sisa pakan. masalah yang dihadapi pada tanah dasar dan akumulasi sedimen tambak adalah akumulasi bahan organik yang berlebih dan pada akhirnya . a input organik karbon melalui produktivitas primer tidak diperhitungkan b Kalkulasi didasarkan pada jumlah C. Dengan demikian.

Avnimelech dan Ritvo (2003) menyatakan bahwa jumlah nutrien untuk setiap 1 cm lapisan dasar tambak setara dengan 10 kali lipat atau lebih untuk kedalaman tambak 1 meter (Tabel 3).000 1000-20. digunakan tiga jenis tambak yaitu : tambak umur satu tahun. untuk siklus pemeliharaan berikutnya (terutama sistem semi intensif dan intensif).1-10 0. Dalam studinya. Bahkan pada kondisi bahan organik sangat tinggi dan tanah asam dapat berupa hidrogen sulfida. Dengan demikian. nitrogen dan posfor (Gambar 2). Tabel 3.17 akan melepaskan amoniak dan senyawa sulfur organik. pembersihan sedimen sangat diperlukan.01-1 Kisaran konsentrasi Air tambak Dasar tambak 20-80 10.000 1-1000 1000-20. maka sedimen ini akan melepaskan bahan organik yang cenderung menstimulasi perkembangan fitoplankton secara pesat terutama pada bulan pertama pemeliharaan. Komponen Berat Kering Bahan organik Total N Total N-amonia Total P % Mg/kg Mg/kg Ppm Ppm Unit 10-3-10-1 10-100 1-10 0. partikel bahan organik.000 3. Jika tidak.2 Budget Nutrien dan Padatan (solid) di Tambak Sebuah contoh kasus tentang budget nutrien dan padatan di tambak melalui studi yang telah dilakukan oleh Briggs dan Smith (1994 dalam Smith dan Briggs. 2003). Konsentrasi komponen kimia pada dasar tambak dan kolom air (Avnimelech dan Ritvo. Budget ditentukan berdasarkan bahan padatan. dua tahun dengan . 1998) pada tambak dengan tekstur liat.000-200.

Demikian pula halnya dengan komponen pakan memberikan kontribusi bahan organik yang cukup signifikan (31-50%) meskipun kontribusi padatan relatif kecil (4-7%) terhadap . pupuk. pakan dsb). 1998).18 kepadatan tebar berkisar 50-60ekor/m2. kapur. Budget nutrien dan total padatan di tambak (Smith dan Briggs. Hal mendasar yang penting dipahami dari Gambar 2 di bawah ini adalah nilai prosentase yang ditampilkan bukan menjadi ukuran akan tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah proporsi jumlah dari setiap fungsi (aliran air masuk. Kondisi demikian dapat menjadi acuan dalam pengelolaan lingkungan budidaya udang. Gambar 2. Pada Gambar 2 diketahui bahwa erosi tambak merupakan sumber terbesar baik bahan padatan (88-93%) maupun bahan organik (40-60%) di tambak. serta tambak umur satu tahun dengan padat tebar tinggi (80-100 ekor/m2).

aliran air masuk (influent water) merupakan sumber sedimen terbesar. Tambak merupakan media sedimentasi yang cukup efektif sehingga akumulasi sedimen di tambak dapat mencapai 91-94%.19 lingkungan budidaya. kandungan organik dapat mencapai 2-3 kali lipat dari tanah liat (contoh : kandungan organiknya sangat sedikit. Data tersebut di atas menunjukkan bahwa faktor penting dalam budget nutrien dan padatan pada suatu tambak adalah karakter tanah tambak. Sebaliknya. gagal produksi dapat terjadi sebagai akibat dari kemunduran mutu dasar tambak. Pakan tersebut sangat potensial untuk menimbulkan . Setelah satu atau dua siklus musim tanam.7% dan 6. namun demikian pada sistem intensif kontribusinya hanya berkisar 2-3 %. Pergantian air secara rutin akan menghasilkan 4% bahan padatan yang terbuang dan 3 % pada saat panen. pada tanah berpasir Pada tanah mangrove. Tanah yang demikian.1%. kontribusi padatan dan bahan organik sangat sedikit yaitu masing-masing sebesar 0. tanah sawah). Ini penting oleh karena pakan juga menjadi indikator tentang kontribusi kotoran yang dihasilkan oleh udang. kondisi terberat adalah rembesan yang tinggi menyebabkan bahan organik akan masuk ke dalam matrix tanah dimana dekomposisi anaerob dapat terjadi. Sekitar 58-70% dari sedimen tersebut akan mengendap sebagai bahan organik di dasar tambak. Sebaliknya pada udang itu sendiri. Sedangkan kontribusi bahan organik dari aliran air masuk cukup signifikan (7-13%). Bahan padatan yang terbuang tersebut mengandung bahan organik masing-masing 13 dan 9%. Pada tambak sistem ekstensif. Pada tanah berpasir. seringkali dijumpai bahwa penumbuhan awal fitoplankton sangat sulit bahkan seringkali dijumpai adanya kematian massal. Seperti diketahui bahwa pakan merupakan sumber organik terbesar kedua setelah erosi dasar tambak. tetapi tetap lebih rendah bila dibandingkan dengan komponen pakan dan erosi tambak.

kelebihan pakan. antara lain : formulasi kurang optimal dan kualitas bahan baku. hanya 18-27% nitrogen dan 6-11% carbon yang dapat diasimilasikan dalam tubuh udang. . rendahnya retensi nitrogen dalam bentuk biomass udang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Nitrogen tersedia dalam pakan dalam jumlah yang cukup tinggi. jumlah pakan yang diberikan untuk mendukung petumbuhan kultivan hanya sedikit yang terasimilasikan (Tabel 4). sebagian besar (78 %) hanya terbuang ke tambak atau sedikit yang terasimilasi dalam tubuh udang (Gambar 3) sehingga menjadi bahan pupuk yang sangat mahal untuk menstimulasi pertumbuhan plankton dan berbagai komunitas mikrobial. terdapat sejumlah nitrogen dan carbon yang dapat menjadi limbah nutrien. Sebagian dari padanya dapat dikonversi menjadi biomas plankton. menguap ke udara atau tertahan di sedimen. Namun demikian.20 masalah jika tidak dikelolah dengan baik. oleh karena kebutuhan protein bagi udang cukup tinggi yaitu sekitar 27-60% (Tabel 5). Artinya. Dari sejumlah pakan yang diberikan. Burford dan Williams (2001). Hal ini disebabkan oleh karena aktivitas budidaya banyak bergantung pada ketersediaan pakan tambahan. serta rendahnya stabilitas pakan di air. Namun ironisnya.

assimilasi nutrien dan jumlah yang hilang ke lingkungan (Smith dan Stewart.15 41.8-91.3±1.8 3.4 43.2±2.18 1.9±0.3-2.0 1.2 19.5-67.4 23.9 75.5 73.34±0.2±1.2-81.4 90.7-90.1 21. Nutrien Proksimat analisis (%BK) Pakan Protein Lemak Abu Serat Karbohidrat Berat kering Nitrogen Posfor Carbon a Komposisi (g/kg BK) Assimilasi pada FCR 1.8 21.59 1.71 61.6±1.5 4.0±2.2 11.21 Tabel 4.9 2.40a (g/kg assimilasi) % nonAssimilasi 80.3 454 61 128 31 23 70.50±0.0-19.1±0.8 13.65-2.3-90.5-8. Komposisi pakan. 1998).20 43.6 6.3±0.9 (1 kg pakan kering pada FCR 1.16±1.0 46.3-89.2-89.08±0.3±1.5 19.4 5.16 45.2 Udang 54.1-83.8-31.40 menghasilkan 113-165 g kering udang) .19±0.8±0.6 86.2-90.3±0.0 84.9 13.5 12.8 2.4±2.5 86.8-31.0 87.3-86.1±0.65-2. 1996 dalam Smith dan Briggs.5 24.1 7.6 85.6-3.

stylirostris P. Species Penaeus japonicus P. Hal ini mengindikasikan adanya penggunaan protein sebagai sumber energi- . cailorniensis P. macleayi Kebutuhan protein (%) 40-60 45-55 35-50 29-51 34-50 40-43 28-32 30-35 22-27 >44 >40 >30 30 55 27 Lingkungan pemeliharaan (seperti salinitas) juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan pakan. brasiliensis P. 1995. aztecus P. Guillaume 1997 dalam Tacon 2002). setiferus P. indicus P. penicillatus P. monodon P. kerathurus P. Kebutuhan protein dalam pakan pada berbagai jenis udang (Lim and Akiyama. Shiau (1998) melaporkan bahwa udang windu yang dipelihara pada salinitas yang lebih rendah menunjukan eksresi amoniak yang lebih besar dari pada yang dipelihara pada salinitas yang lebih tinggi. merguensis P. vannamei P. duorarum Metapeneus monoceros M.22 Tabel 5.

Pada budidaya dengan sistem terbuka (open system). Hal ini akan berlangsung secara cepat seiring dengan meningkatnya jumlah buangan limbah ke lingkungan dan mengakibatkan terjadinya penurunan mutu air (Martin et al. Sumber -N lainnya adalah dari aliran air masuk (4%) dan pemupukan. Artinya. post larvae sejumlah sejumlah 2%. Tingginya kandungan N hasil buangan akan berdampak pada badan air lainnya (receiving water). dan air buangan (27%). . Budget nitrogen (N) di tambak (Smith dan Briggs. Selebihnya (30% N) diasumsikan lepas ke atmosfir sebagai N2 atau amonia. Jumlah N yang mengendap di dasar tambak (24%). Keterlambatan dalam pergantian air akan menimbulkan masalah seperti blooming fitoplankton dan pada akhirnya mengakibatkan stres pada udang. Gambar 3.. udang yang dipanen (18%). pergantian air tidak menghasilkan buangan –N yang signifikan (17%) (Tabel 12). curah hujan. unsur N tetap tersedia dan terakumulasi seiring dengan meningkatnya jumlah pakan yang diberikan. Sedangkan nitrogen yang dihasilkan dari erosi tambak (konstributor bahan padatan terbesar di tambak) hanya sekitar 16%. 1998).23 bukan lemak pada media pemeliharaan berkadar garam rendah. 1998).

leaching dari pakan. 23%). sedang –N yang dihasilkan dari proses leaching pada feces terdapat dalam bentuk urea. Pada dasarnya ada tiga sumber –N terlarut sebagai hasil dari proses pemberian pakan. Jumlah nutrien yang terbuang sebagai hasil dari pergantian air tambak (Smith dan Briggs.24 Tabel 6. Adapun bentuk –N dari suatu proses budidaya dengan pemberian pakan buatan dapat dilihat pada Gambar 4. Bentuk –N dari pakan berupa amina-amina primer terlarut (dissolved primary amines. yaitu : ekskresi insang. . 1998). dan leaching dari feses. DPA.

sedangkan organik –N terlarut yang dihasilkan dari proses leaching pakan kurang efektif dimanfaatkan oleh bakteria dan hanya terakumulasi di dasar tambak. pakan merupakan sumber posfor terbesar di tambak (Gambar 5). Oleh karenanya.25 Gambar 4. 2001). pemberian pakan 4 x sehari. Dari gambar tersebut diketahui bahwa kebanyakan posfor terakumulasi di tambak. Model ekskresi –N (mmol m-2 d-1) dari insang. Urea ini dapat digunakan oleh komunitas mikroba tambak secara cepat. dan asumsi sisa pakan 10%.Baik pakan maupun feses keduanya secara signifikan berpengaruh terhadap kualitas air tambak khususnya dalam mengakumulasi DON (Dissolved organik N) dan stimulasi pertumbuhan mikrobia. suhu air 28 C. pakan. Burford dan Williams. Selain kandungan –N. . dan feses udang dalam kolom air tambak (assumsi biomass 500 g/m2. sehingga sekali lagi sangat penting untuk mengolah limbah dasar tambak baik selama pemeliharaan maupun setelah pemeliharaan berlangsung. sebagai upaya untuk mengurangi buangan limbah dari tambak perlu dihindari adanya over feeding dan berupaya meningkatkan retensi nutrien dalam tubuh ikan dan udang.

Budget posfor di tambak (Smith dan Briggs. Jumlah dan jenis bahan yang digunakan disesuaikan dengan jumlah nutrien yang dikandungnya. Jika tidak. Peningkatan kecernaan pakan dan retensi/asimilasi dalam tubuh udang perlu dilakukan. Hal ini berarti bahwa kandungan N dalam pakan cukup tinggi seperti dijelaskan sebelumnya. 1998).. (2003) menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan pengelolaan limbah nitrogen di tambak. 3. Namun demikian faktor berupa kecernaan bahan dan harga turut menentukan dalam pembuatan suatu ransum atau formula pakan. (2001) dalam Jackson et al.26 3. Perbaikan proses nitrogen di tambak 3. Pakan udang khususnya. Perbaikan formulasi dan pengelolaan pakan 2. memerlukan protein yang cukup tinggi dalam pakannya. Perbaikan sistem desain dan manajemen limbah di tambak Gambar 5.4 Perbaikan Formulasi dan Pengelolaan Pakan Formulasi pakan dibuat melalui penggunaan berbagai bahan baku guna menghasilkan nutrien dan energi yang sesuai bagi kultivan yang dipelihara.3 Alternatif Solusi Pengelolaan Limbah pada Sedimen Tambak Burford et al. yaitu : 1. sumber N tersebut akan lepas ke lingkungan dan pada ..

Sebagai contoh adalah penggunaan cumi-cumi. Terkait dengan masalah tersebut. kajian formulasi untuk beberapa species diarahkan pada pencarian bahan baku pengganti tepung ikan. Aspek lain adalah pengelolaan pakan secara umum terutama yang terkait dengan jumlah dan frekuensi pemberian. Jumlah pakan harian yang diberikan meningkat seiring dengan bertambahnya lama pemeliharaan. Hasil percobaan (Cordova-Murueta. 1993). Tidak mengherankan jika dalam pembuatan pakan udang penggunaan bahan hewani banyak digunakan seperti tepung ikan. faktor lain adalah bahan hewani memiliki profil asam amino yang lengkap serta mengandung zat attraktan (Tacon. Faktor terpenting untuk mengatasi kelangkaan sumberdaya. Disamping itu. hidrolisis udang kecil (krill) dan beberapa jenis ikan. 2003) menunjukkan bahwa penggunaan ketiga sumber GH tersebut dalam pakan udang menunjukkan respon pertumbuhan yang baik meskipun dalam jumlah relatif sedikit. tepung kepala udang. Hal ini menyebabkan penggunaan tepung ikan menjadi issu penting saat ini oleh karena kelangkaan sumberdaya serta kompetisi penggunaan dengan sektor lain seperti peternakan. et al. faktor kandungan nutrien dan tingkat kecernaan bahan sangat diperlukan. Oleh karenanya. dsb. Upaya ini tidak hanya dimaksudkan lingkungan. bahan hewani memiliki tingkat kecernaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan nabati.. kontribusi protein lebih dominan yaitu sekitar 60% (Goddard. bahkan sebagai sumber protein hewani. tetapi sekaligus menciptakan pakan dengan harga murah (sumber protein cukup mahal) serta ramah . 1994). Pada kenyataannya. Penggunaan growth enhancer (GE) dalam pakan banyak diaplikasikan dengan tujuan meningkatkan asimilasi nutrien dalam tubuh ikan maupun udang. 1996). sebelum membuat suatu formulasi. tepung cumi.27 akhirnya berpegaruh terhadap mutu air tambak. Ketergantungan terhadap penggunaan tepung ikan dalam suatu formulasi pakan cukup tinggi (Lim.

masalah berikut adalah berapa kali pakan diaplikasikan... Setelah penentuan jumlah pakan harian.............. Ada empat perlakuan frekuensi pemberian pakan.. (3) SGR = Laju pertumbuhan spesifik (%/h) Nilai SGR dapat diketahui melalui pertumbuhan udang secara normal yang diamati secara periodik.......28 dalam hal ini adalah estimasi biomass harian dan laju pertumbuhan (SGR) seperti ditunjukkan pada formula berikut ini : Wt = W o x (1 + SGR/100)t JPt = W t x F dimana : Wt Wo JPt F t = Biomass pada hari ke-t (g) = Biomass awal (hari ke-0.. Suatu percobaan telah dilakukan oleh Smith et...6 g/ekor) di bak kapasitas 2500 liter.... g) = Jumlah pakan pada hari ke-t (g) = Prosentase pemberian pakan (%) = Lama pemeliharaan (hari) ........ (1) SGR = ln(W t/W o)/t x 100 .. 4... (2002) dengan simulasi pemeliharaan udang (berat awal 5..... Dari hasil percobaan dilaporkan bahwa frekuensi pemberian pakan lebih dari 3 kali sehari tidak menguntungkan selama pakan itu memiliki kandungan nutrisi yang cukup serta kestabilan dalam air yang tinggi... 5... dan 6 kali sehari...... (2) .. lama pakan dalam air untuk . Frekuensi pemberian pakan dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan pakan bagi udang....... al. Pakan memiliki kestabilan yang terbatas dalam air........ Dalam percobaan ini..... sehingga dalam waktu relatif singkat diharapkan dikonsumsi oleh udang. yaitu : 3.. selain dapat melepaskan nutrien tertentu (leaching). Pakan yang terlalu lama di dasar tambak. juga mudah hancur sehingga sulit untuk ditangkap oleh udang.......

yang menjadi masalah adalah dalam bentuk apa amonia direduksi dan apakah berlangsung lama? (Smith dan Briggs.29 semua perlakuan adalah sama yaitu 12 jam. Pada prinsipnya. Hal ini telah berkembang pada budidaya ikan nila. Prinsip yang sama digunakan pada budidaya udang intensif di Belize. Metode ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada budidaya sistem intensif aerasi dan pencampuran air terjadi .N di Tambak Penggunaan bakteri remedian sudah umum digunakan guna mengurangi kadar amonia. 1999) : Aktivasi suspensi di tambak (Gambar 6) merupakan salah satu alternatif untuk menjadi biofilter. Strategi lain yang dapat dilakukan guna mengurangi inorganik N di tambak adalah dengan cara manipulasi C/N rasio melalui penambahan materi yang mengandung carbon (carbonaceus material). 1998). 3. Disamping itu. bahan organik dan selanjutnya memperbaiki akumulasi sedimen di tambak. Selama proses pertumbuhan. Namun demikian. penambahan sumber karbon di sedimen adalah sebagai sumber makanan bakteri guna menghasilkan energi bagi pertumbuhannya. Liu dan Han (2004) telah melakukan kajian pengolahan limbah hasil pemeliharaan larva udang. mengingat aplikasi pakan di tambak seringkali diberikan dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari. molases. berarti terjadi pembentukan sel-sel baru dalam bentuk protein seperti ditunjukkan dalam diagram berikut (Avnimelech. penambahan sumber karbon (gula. dsb) umum digunakan dengan maksud untuk merubah komoditas bakteri di tambak sehingga meningkatkan aktivitas bakteri heterotropik yang berperan untuk mereduksi amoniak. Dari hasil percobaan diketahui bahwa penambahan bakteri remedian (Bacillus subtilis) dan nutrin berupa glukosa dan atau posfat sangat signifikan terhadap penurunan kadar bahan organik terlarut (DOM) dan total amonia nitrogen (TAN).5 Perbaikan Proses. Kajian ini perlu verifikasi di lapangan.

(2004) telah melakukan percobaan pembesaran udang (P. Proses pencampuran dan pengaerasian merupakan wujud sebagaian besar dari sistem produksi berbasis bioteknologi. sebagai bagian integral dari operasional budidaya.. Hari et al. Skema aktivasi suspensi di tambak. dan selanjutnya digunakan untuk mengolah limbah dan menjamin terciptanya kondisi budidaya yang aman bagi ikan. 2000). 1992).30 terus menerus. Pemeliharan dan pengelolaan limbah berlangsung dalam wadah yang sama (Avnimelech. Rasio ini terkait erat dengan komposisi karbon dan nitrogen masing-masing sebesar 50% dan 10 % berat kering dengan efisiensi assimilasi karbon sekitar 5-10% (Boyd. skaligus mendaur ulang pakan dalam sistem budidaya. Dengan aktivasi suspensi ini terjadi populasi bakteri yang sangat padat pada kondisi optimal. Gambar 6. Organik C CO 2 energi assimilasi C dalam sel-sel mikrobial Untuk sistesa protoplasma mikrobial secara optimal memerlukan C/N rasio sebesar 10 : 1 (Worne.1995). monodon) skala laboratoris dan skala massal di .

2003) menjelaskan bahwa hal penting dan umum dilakukan unuk perbaikan kondisi dasar tambak adalah melalui perlakuan tanah dasar antar siklus pemeliharaan. Terlepas dari cara tersebut.6 Perbaikan Desain dan Manajemen Limbah di Tambak Baik teori. 1999) memformulasikan secara detail bahwa untuk mengimmobilisasi 1 kg TAN diperlukan 20 kg karbon. Ada dua cara secara simultan untuk mengontrol sedimen di tambak. Hal mendasar dalam hal ini adalah bagaimana meminimalkan penutupan dasar tambak oleh sludge.5-8. (faeces udang. 3.31 tambak tentang pengaruh penambahan sumber karbon. yaitu : (1) aerator: yang mengarahkan limbah organik pada daerah atau zona tertentu di dasar tambak sehingga bagian tambak lainnya tetap bersih dari akumulasi sedimen. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan karbohidrat (tepung tapioka) secara signifikan menurunkan TAN dan meningkatkan populasi bakteri heterotropik baik di kolom air maupun di sedimen. Kajian selanjutnya (Avnimelech. 2004) adalah sebagai berikut :  Dalam budidaya udang intensif ( kepadatan tebar ( 30 . eksperimen secara laboratoris dan data lapangan menunjukkan bahwa kondisi dasar tambak sangat penting dalam mendukung keberhasilan produksi udang.0 kg TS/kg udang) . 3. kadar air dan pH optimum untuk proses respirasi dasar tambak adalah masing-masing 12-20% dan 7. baik dengan pengeringan atau dengan mengangkat lapisan sedimen. penimbunan kotoran sisa pakan dan bangkai plankton) didasar cukup cepat selama udang ( 2.5 . pembesaran .>3. (Avnimelech dan Ritvo. dan (2) adanya daerah untuk menangkap sediment di dasar tambak.40 PL/m2 untuk udang windu atau 80-100 PL/m2 udang vanamei. Lebih lanjut Boyd dan Pippopinyo (1994).0.7 Aplikasi Probiotik dan Feed Additive Alasan penggunaan probiotik (Poernomo.

Dengan demikian karakteristik bahan additive harus diketahui. Pengaruh negatif dari hasil pembusukan kotoran ( bahan organik ) tersebut dapat diantisipasi dengan penggunaan ProBiotik secara tepat ( jenis dan cara aplikasi ).    Air sumber banyak terkontaminasi dengan virus dan bakteri pathogen. Hal yang sama juga berlaku pada aplikasi jenis dan jumlah feed additive. Salah satu faktor kunci dalam memilih jenis probiotik yang digunakan adalah probiotik tersebut sudah mendapatkan legalitas melalui pengujian secara saintifik. Udang bisa stress dan lebih peka terhadap penyakit dengan dampak akhir kegagalan budidaya. Penggunaan ProBiotik dapat meningkatkan mutu dan kesehatan lingkungan dan bahan pangan. . Hal ini penting oleh karena sekarang ini jenis probiotik yang beredar di pasaran sangat banyak sehingga selektifitas sangat diperlukan untuk efisiensi faktor produksi. Dalam waktu pembesaran udang selama minimum 4 bulan terjadi proses pembusukan terutama dalam kondisi anaerob yang menghasilkan gas beracun ( H2S. NH3. dll ) yang sangat bahaya bagi udang yang dipelihara.32   Kotoran ini walaupun di bersihkan setiap hari masih banyak tertimbun didalam tambak. NO2. Perlu disadari bahwa udang memiliki pola makan yang berbeda dibandingkan dengan ikan. Sistem makan dengan menggigit makanan secara sedikit demi sedikit memungkinkan adanya pelepasan nutrien (termasuk feed additive yang ditambahkan) ke dalam media budidaya.

M.549-567. Williams.. Y... Appl. April :23-24 Avnimelech.. 79-93. 1995.. Boyd. Pippopinto.. E.C.R. The fate of nitrogenous waste from shrimp feeding. Murrillo-Gurrea. Sulphur Amino Acid Requirement of Juvenile Asian seabass Lates calcarifer. FAO. C. .L. Factors affecting respiration in dry pond soils. and pond aquaculture.E. and Catacutan.M. R. Briggs. R. J. Browdy. M. Boyd. Y .. G. Icthyol.. Phillips.123:125-132.G. D. Nitrogen control and protein recycling : Activated suspension ponds. Cordova-Murueta.. C.. Recent developments in penaeid broodstock and seed production technologies: improving the outlook for superior captive stocks. C. Soc. 1994. and G.3-21. 2004.. World Aquac. 2000. Kocha. Borlongan. 1993. 2004.N. Aquaculture 210.. Carbon/nitrogen ratio as a control element in aquaculture systems.283-293 Boyd. S.G-Carreno.. Nutrive value of squid and hyrolyzed protein supplement in shrimp feed. Aquaculture 220.G.43-58. S.M. stilyrostris in Asia and Pasific.. Ritvo. Aquaculture 120. Y. Nutr.H. and Coloso. easily oxidized material.. 2002. M.xxx-xxx Borlongan.33 DAFTAR PUSTAKA Avnimelech.. M. Ritvo.15(2)54-58. R. Shrimp and fish pond soiln: processes and management. Global Aquaculture Advocate. F. 2003. Subasinghe. Chapman & Hall. 1993. RAP Publication 2004/10. Aquaculture xx. Regional officer for Asia and Pasific. 1999. sediment.. Avnimelech. I. 227-235. Requirements of Milkfish ( Chanos chanos Forsskal ) Juveniles for Essential Amino Acids. Evaluating the active redox and organic fractions in pond bottom soils: EOM. 1999. Wyban. Aquaculture 198. A. Shrimp pond bottom soil and sediment management. I. Funge-Smith. E. 2001.. J. Bangkok. Y. 371-384. and M.. Aquaculture 176. J. Burford. 1998. Bottom soils. Introduction and movement of Penaeus vannamei and P. K.. Avnimelech. Coloso. Aquaculture 164. J (ed). Proceeding of the special session on shrimp farming.

2004. T.. Gaxiola.J. F. Kurup. Perez-Valazquez. Burford. Reuse strategy of wastewater in prawn nursery by microbial remediation. New York.C. SEAFDEC-aQD. 2002. impact on sediment.. M. Preston. Martin. Asian Seabass. J.N. Liu. 2004. Nutr (2)3:129-132. Aquaculture 235 : 513551. 2004. 3 al 6 de Septiembre del 2002. Valine Requirements of Juvenile Marine Shrimp. Nitrogen budget and effluent nitrogen components at an intensive shrimp farm. 241:179-194.. Jackson. J.. In: Feed for smallscale aquaculture (Santiago et al. and Tiger Shrimp. Aquaculture 218. 1998.).34 Cuzon. B. Litopenaeus vannamei. Veran. D. Effects of carbohydrate addition on production in extensive shrimp culture systems. Lawrence. eds.. Pham. Hari . N and D. Mexoco. Chapman and Hall. Kureshy. 1996. M.M. Current status of lipid nutrition of Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei. Advances en Nutricion Acuicola VI.. Aquaculture 204 : 125-143. P. Schrama. Gaxiola-Cortes. 2003. Quintana Roo. Protein requirement for maintanance and maximum weight gain for the Pacific white shrimp... 135-149. Memorias del VI Simposium Internacional de Nutricion Acuicola. growth. Cancun.... Y. Thompson. Goddard.. M. C.. and M.. Future considerations in fish nutrition research. C. A. waste output and their relationships in rearing ponds.L.. N.. Tapia-Salazar. W. M.. Guelorget. and Kanazawa.A. 1994... Feeds and Feeding of Milkfish. Feed management in intensive aquaculture. A.. W. B. J. Nile Tilapia.97 p. O..M. Aquaculture 164. 2002. and M. Aquac. Bautista-Teruel M. In : Cruz-Suarez.. Verdegem. 281-296. O. 1994.G. S.E. N (eds). Millamena.. C. Simoes. J. Nutrition of Litopenaeus vannamei reared in tanks or in ponds. 1996. M. Tigbauan Iloilo Philippines.. Guillaume. SEAFDEC Aquaculture Department. Shrimp rearing : stocking density. 397-411. Gonzales-Felix. Feed Development Section. Philippines. Han. Aquaculture. Varghese. J. RicqueMarie. ... Davis. L. G. Penaeus monodon Fabricius). and D. Aquaculture 230. G. Lim.. Rosas. Iloilo.

1988. Amino Acid Requirements for Growth of Nile Tilapia.. D.. Thakur. 1997. A. S. Smith. NACA. and M. Feed ingredient for warmwater fish : Fish meal and processed feedstuffs. Engeneering. H. Thematic Review of Feed and Feed management Practices in Shrimp Aquaculture. Hazardous Materials Control Resources Institute.102 p.. J. Publised by the Consortium. The effect of feeding frequency on water quality and growth of the black tiger shrimp (Penaeus monodon). 1998.. 69-78. Aquaculture 207. C. WWF and FAO Consortium Program on Shrimp Farming and the Environment.1983.P. S. 1998. K. Report prepared under the World Bank. National Research Council.T. S. Burford. M. A.B. S. Introduction to microbial biotechnology including hazardous waste treatment.Y. Worne.. A. 77-93. Aquaculture 164. 117-133.J. M. Santiago. under semi-intensive and intensive conditions in brackishwater pond. 2002.. D. Work in Progress for Public Discussion. 1993. 2003.. Water quality and budget nutrient in closed shrimp (Penaeus monodon) culture systems. 1992. R. Nutrient requirement of penaeid shrimps.G. Aqua. J.. J. Tacon. O. USA. 125-136. Low-cost feed for Penaeus monodon reared in tanks. Aquaculture 154. 2002. G.. F. R. C. FO-UN. Nutrient Requirements of Warmwater Fishes and Shellfishes. Smith.and Lovell. Academy Press. Nutr 118:1540-1546. P. Ward. J.. Rome. and L.. M. 27:159-176. Trino. T. Aquaculture 164. Tacon. .35 Millamena.. Tabrett. Briggs.. Nutrient budget in intensive shrimp ponds: implications for sustainability.. Shiau. J. Washington DC. Irvin. A. Lin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->