BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penggunaan kelambu berinsektisida dalam rangka pemberantasan malaria telah banyak digunakan baik di negara-negara Asia Pasifik, Afrika maupun Amerika Latin.1 Insektisida yang umum digunakan dalam mencelup kelambu adalah insektisida dari kelompok sintetik pyrethroid. Di Indonesia insektisida yang digunakan antara lain permethrine, deltamethrine dan icon.2 Pencampuran deltamethrine ke dalam material pembuat kelambu dimaksudkan agar kelambu permanet walau sudah dicuci berkali-kali masih dapat membunub nyamuk. 3 Sebagaimana kita ketahui, usaha pengendalian dan pemberantasan vektor deemam berdarah telah banyak dilakukan. Namun penggunaan

insektisida yang kurang terkendali akan berakibat terjadinya resistensi nyamuk. Secara prinsip ini akan mencegah insektisida berikatan dengan titik targetnya atau tubuh serangga menjadi mampu mengurai bahan aktif insektisida sebelum sampai titik sasaran. Sedangkan jenis atau tingkatan resistensi itu sendiri meliputi tahap : toleran baru kemudin tahap resisten. Beberapa faktor yang mempengaruhi mekanisme resistensi insektisida pada Aedes aegypti ini, antara lain faktor genetikm, faktor biologis dan faktor operasional. Laju perkembangan resistensi sangat dipengaruhi oleh tingkat seleksi yang diterima oleh suatu nyamuk Aedes aegypti. Pada kondisi yang sama populasi yang menerima tekanan yang lebih keras akan berkembang menjadi populasi yang resistensi dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan nyamuk yang menerima tekanan yang lebih lemah.

Pada dasarnya mekanisme resistensi insektisida dibagi menjadi tiga tahap. Pada tahap pertama terjadi peningkatan detoksifikasi insektisida, sehingga insektisida menjadi tidak beracun (disebabkan pengaruh kerja enzim tertentu). Kemudian terjadi penurunan laju penetrasi insektisida melalui kulit, sehingga menghambat masuknya bahan aktif insektisida dan meningkatkan enzim ditoksifikasi. Pengendalian serangga vektor pada walnya dilakukan dengan teknik yang disebut dengan pemberantasan hama dengan insektisida. Namun seiring dengan perjalanan waktu, penggunaan insektisida makin tidak terkenadalu dan telah memberikan dampak yang tidak diduga sebelumnya yaitu terjadinya resistensi terhadap insektisida, resurjensi hama, peledakan hama, serta terjadinya kontaminasi lingkungan. Deltametrin merupakan insektisida sintetis yang termasuk ke dalam golongan piretroid. Pertama kali diisolasi dari tumbuhan Chrysanthemum sekitar tahun 1800 dan mulai dikenal secara luas di seluruh dunia pada tahun 1851 (Matsumura 1975). Sedangkan deltametrin yang merupakan generasi keempat dari piretroid di sintesa pertama kali pada tahun 1974 dan mulai dipasarkan tahun 1977. Secara umum, insektisida yang termasuk golongan piretroid bersama dengan DDT dan analognya digolongkan kedalam kelompok racun saraf (neurotoksik) terhadap seranggga dan vertebrata ( Miller dan Adams dalam Coats 1988). Deltametrin telah digunakan secara luas pada sektor pertanian dan kesehatan masyarakat. Penggunaan deltametrin dalam pengendalian penyakit malaria terutama ditujukan untuk membunuh nyamuk Anopheles dewasa. Di Cina, deltametrin digunakan secara ekstensif sebagai bahan aktif untuk kelambu celup berinsektisida (impregnated bednet) untuk mencegah gigitan nyamuk Anopheles (Rozendaal 1997). Deltametrin diformulasikan dalam bentuk emulsifiable concentrate (EC) , ultra low-volume concentrate (ULV),

masing isolat untuk membunuh larva Aedes sp. Of the American Mosquitos Control Assotiation 5(4). Ditjen P2M dan PLP.A . 2. WHO/VBC/83. dan selian itu. Manajemen vektor menunjukkan bahwa memperkuat manajemen bebas insektisida adalah hal yang sangat penting. Indonesia. Tujuan uji Bioassay diantaranya untuk mengetahui daya bunuh insektisida. F.nlm.875. Depkes R. Uji bioassay adalah suatu uji daya kemampuan dari masing . Recent Research on Impregnated mosuitos nets. Curtis C. Deteksi resistensi insektisida sebaiknya merupakan hal rutin yang dilakukan sebagai upaya pengendalian nasional untuk menunjukkan bahwa cara pengendalian vektor paling efektif sedang dilakukan. Sebagai perlakuan adalah jenis isolat bakteri dan konsentrasi inokulum mikroba. J. Fleming GA. 1983. http://www. pengembangan pestisida baru merupakan proses yang lama dan cukup mahal. Rozendal. Tidak ada insektisida alternatif yang benar-benar efektif dan efisien selain DDT dan pyrethroids. Pradhan GD.5. 1. . A Village-Scale Trial of Bendiocarb (OMS-1394) for Control of the Malaria Vector Anopheles aconitus in Central Java. dan 1 ml.nih.World Health Organization. 2002 ).1 .ncbi. formulasi tersendiri atau dipadukan dengan insektisida lain. Malaria Vol. J.wettable powder (WP). parameter yang diamati adalah mortalitas larva selama 3 . Sepuluh ekor larva nyamuk Aedes sp dalam 100 ml aquades diinokulasi dengan biakan bakteri dengan konsentrasi 0. (May dan Gheynst. 0.I 3. Bang YH. 4. pada perlakuan diulang sebanyak 3 kali.gov/pmc/articles/PMC3075886/ diakses pada 20 juni 2013 4. 1989. Pengendalian Nyamuk Anopheles.dan untuk mengetahui kualitas/cakupan penyemprotan yang dilakukan. Barodji.5 hari. Shaw RF.

Untuk mengetahui resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida. Tujuan 1. Untuk mengetahui jumlah nyamuk knock down. 2. 3. 2. 3. Mahasiswa dapat mengetahui resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida. B. Manfaat 1.A. Mahasiswa dapat mengetahui efektivitas insektisida efektivitas insektisida terhadap nyamuk aedes aegypti. . Mahasiswa dapat mengetahui jumlah nyamuk knock down. Untuk mengetahui efektivitas insektisida efektivitas insektisida terhadap nyamuk aedes aegypti.

Long-lasting insecticidal nets (LLINs) Long-lasting insecticidal nets (LLINs) adalah kelambu yang mengandung insektisida yang dicampurkan atau dibalutkan ke benangnya dan memiliki daya tahan terhadap berkali-kali pencucian serta tetap memiliki aktivitas biologik sebagai proteksi personal sepanjang masa pemakaiannya. Kulkarni 2006. yang diproduksi oleh Vestergaard Frandsen di Thailand dan Vietnam. . Shaw 2006. Olyset® berbahan polietilen dan mengandung permetrin yang dicampurkan ke dalam benangnya yang setiap saat dapat bermigrasi ke permukaan benang untuk mengganti residu yang hilang akibat pencucian. Olyset® disetujui oleh WHO 12 pada tahun 2001. Kulkarni 2006). PermaNet berbahan poliester dan mengandung deltametrin yang dibalutkan ke benangnya. yaitu Olyset®. Jepang dan dibawah perjanjian transfer teknologi antara Sumitomo dan A to Z Textile Mills di Tanzania. Masa pemakaian LLIN adalah sekitar tiga tahun untuk kelambu poliester dan 5 tahun untuk polietilen. WHO telah merekomendasikan dua jenis LLIN yang pada saat ini telah dikomersialkan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deltamethrin yang terkandung di benang tahan terhadap pencucian. LLINs lain yang direkomendasikan WHO adalah PermaNet. PermaNet disetujui oleh WHO pada tahun 2003 (Guillet 2004. yang diproduksi di China oleh Sumitomo Chemical Company. LLIN yang direkomendasikan oleh World Health Organization Pesticide Evaluation Scheme (WHOPES) saat ini memiliki aktivitas biologik sekurang-kurangnya sampai 20 kali pencucian pada kondisi laboratorium dan tiga tahun pemakaian pada kondisi lapangan (Guillet 2004. Coticelli 2007).

Panjang : . caving. Kelambu Malaria ini sangat ideal di Sumbang ke para Korban Bencana Alam baik Gunung Merapi . dan relawan bencana alam termasuk juga melindungi bayi di rumah. Gambar 1. camping. climbing.Kelambu Berinsektisida Long Lasting atau Long Lasting Insecticide Nets merk PermaNet® adalah Kelambu Malaria yang direkomendasikan WHO/WHOPES .kelambu Malaria PermaNet® cocok juga untuk traveling.Denier : 75 denier . Merk : PermaNet® Spesifikasi : Masa Aktif 4 tahun pemakaian ( minimal 20 kali pencucian ) Bahan Kelambu . Korban Banjir atau Tsunami dan sebagainya.Polyester 100% . diving. off-road.Toleransi penyusutan + 10 % Warna Putih Bentuk Segiempat (Rectangular) Ukuran .Lebar : 160 cm . mountain bike.

Jumlah : 156/inch2 Insektisida Deltamethrin Dosis Target dosis 55 mg/m2 atau minimum 45 mg/m2. sundaicus di Indonesia dan Myanmar yang resisten terhadap DDT. B. A. Iran dan Turki. Pada era tahun 1940-an hanya tujuh spesies serangga yang dilaporkan resisten terhadap DDT. Anopheles yang mengalami proses resistensi tersebut antara lain.180 cm . Sementara itu nyamuk Anopheles yang resisten terhadap . 38% serangga pengganggu kesehatan hewan dan manusia. aconitus di Indonesia juga mulai resisten terhadap organofosfat (Widiarti 2003). tetapi pada era 1980-an jumlahnya meningkat mencapai 447 spesies. A. Resistensi dan Mekanismenya Resistensi merupakan kemampuan kelompok serangga untuk bertahan hidup terhadap suatu dosis insektisida yang dalam keadaan normal dapat membunuh spesies serangga tersebut ( WHO 1992) Kasus resistensi pertama kali dilaporkan pada lalat rumah Musca domestica terhadap DDT di Swedia pada tahun 1947. quadrimaculatus di Meksiko resisten terhadap dieldrin . Dari jumlah tersebut. Dari jumlah tersebut 59% terdiri dari serangga hama. Sacharovi di Lebanon. A. Menurut WHO (1992 ) sampai saat ini lebih dari 100 spesies nyamuk yang telah resisten terhadap satu atau lebih insektisida.Tanpa pintu Mesh .Mempunyai tali untuk menggantungkan pada ke 4 sudut . perusahaan multinasional asal Denmark. A. PermaNet® produksi Vestergaard Frandsen. Perkembangan resistensi semakin cepat setelah ditemukannya bahan sintetik organik sebagai insektisida dan acarisida. 56 spesies di antaranya adalah nyamuk Anopheles dan 39 spesies Culex.Tinggi : 150 cm Kelengkapan . Sedangkan 3% sisanya adalah serangga yang berguna seperti predator dan parasitoid (Georghiou 1986).

1. Hal serupa terjadi pada resistensi siklodien (dieldrin) karena perubahan kode gen nukleotida tunggal pada reseptor gammaaminobutryc acid (GABA). Enzim tersebut menyebabkan terjadinya modifikasi mekanisme resistensi yang paling umum pada serangga dengan aktivitas enzim detoksifikasi eseterase. minimus di Thailand (Chareoviriyaphap et al.piretroid adalah A. Mekanisme detoksifikasi. Mekanisme resistensi secara biokimia dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu (1) Mekanisme target sasaran dan (2) Mekanisme detoksifikasi berbasis enzim ( Brogdon dan McAllister 1998).Target sasaran insektisida organofospat dan karbamat adalah asetilkolinestarase pada sinaps saraf. 2002 ) dan A. Dalam hal ini sejumlah enzim bertanggung jawab terhadap detoksifikasi xenobiotik dari kehidupan organisme dan terekam oleh rumpun multigen besar yang terdiri dari esterase. Sebagian besar . Enzim ini juga punya jangkauan yang luas terhadap metabolisme insektisida. Sedikitnya terdapat lima tempat mutasi asetilkolinesterase yang mengikat target insektisida dan telah diidentifikasi satu per satu 2. oksidas dan gluthatione S-transferase (GST) sehingga mencegah insektisida mencapai target sasaran. Resistensi silang DDT-Piretroid dihasilkan oleh perubahan asam amino tunggal (satu atau kedua target sasaran yang diketahui) dalam ikatan akson yang menjadi sasaran saluran natrium. Resistensi silang tersebut menghasilkan perubahan dalam natrium yang langsung menggerakkan saraf dan menyebabkan sensitivitas piretroid rendah. gambiae di Burkina Faso (Diabate et al. Mekanisme ini terbentuk ketika terjadi modifikasi aktivitas esterase. Mekanisme target sasaran. Mekanisme ini terjadi ketika insektisida tidak terlalu lama mengikat target sasaran. oksidase dan GST. 2002). Sedangkan target sasaran organokhlorin (DDT) dan sintetik piretroid lainnya adalah saluran natrium pada lapisan saraf.

Brown dan Pal (1971). Untuk menentukan status kerentanan nyamuk A. aegypti dewasa terhadap malation dengan konsentrasi 5%. Kecepatan menghasilkan keturunan merupakan faktor yang penting. 1958). Sebagai kelompok dari gen yang mengaktifkan genom dengan cara rekombinasi. dan insektisida yang digunakan. migrasi dan mobilitas dari individu-individu yang bersifat rentan (WHO. jenis kelamin. Anopheles stephensi di Irak hanya membutuhkan waktu selama sekali perlakuan dengan DDT untuk menjadi resistensi terhadap DDT. Pelacakan untuk mengetahui timbulnya galur serangga yang resistensi perlu dilakukan di berbagai tempat secara periodik. spesies serangga sasaran. kelembaban nisbi. Hal ini disebabkan karena waktu timbulnya resistensi tidak dapat diduga dengan tepat sebab tergantung pada tempat.makhluk hidup mempunyai dua atau lebih golongan GST ganda. semakin besar jumlah generasi per tahun yang dihasilkan maka makin cepat terjadi evolusi resistensi. Dalam melacak kemungkinan adanya galur yang resisten. belum ada laporan adanya galur A. jenis insektisida dan stadium hidup serangganya. dan berat badan mempengaruhi kerentanan serangga terhadap insektisida (Bainbridge et al. Faktor fisiologi dan biokimia sangat berpengaruh terhadap laju resistensi suatu populasi serangga. waktu. Faktorfaktor seperti suhu. GST juga mempengaruhi resistensi insektisida DDT. 1982). aegypti yang resisten terhadap senyawa OP. Faktor ekologi yang penting dalam mempengaruhi laju resistensi adalah tingkah laku isolasi. Jumlah gen GST yang resisten -termasuk bentuk ganda pada serangga yang sama-mempunyai karakteristik khusus ketika bersinggungan dengan serangga vektor. WHO (1980) menganjurkan untuk menggunakan dosis diagnosa tentative yang besarnya tergantung pada spesies. mengatakan bahwa hingga akhir dekade enam puluhan. umur. Spesies yang sama di Arab Saudi membutuhkan waktu 5 tahun untuk menjadi resistensi terhadap DDT (Davidson. 1975). Tetapi WHO (1980) telah mencatat adanya galur spesies ini .

misalnya resisten terhadap malathion dan DDT .yang resisten terhadap senyawa OP seperti malathion. 2. Selain itu. 2000. temephos dan fenitrithion di Kepulauan Karibia. 4. 2008). resisten terhadap insektisida tersebut. Sedangkan serangga yang secara alami sudah resisten terhadap suatu insektisida. Soedarto. misalnya resisten terhadap malathion dan diazinon (satu golongan) atau kebal terhadap DDT dan metoksiklor (satu seri). Resistensi didapat Akibat pemberian dosis insektisida yang di bawah dosis lethal dalam waktu yang lama. keturunannya juga akan resisten terhadap insektisida bersangkutan. Thailand dan Vietnam. serangga yang sensitif terhadap suatu insektisida jika mengalami mutasi (yang terjadi satu kali setiap beberapa ratus atau ribu tahun) dapat berkembang menjadi serangga yang resisten terhadap insektisida tersebut. Berdasar atas jenis insektisida yang tidak lagi peka terhadap serangga. 1. serangga target yang sebelumnya sensitif dapat menyesuaikan diri berkembang menjadi 3. Cross resistance Resistensi serangga yang terjadi terhadap dua insektisida yang satu golongan atau satu seri. resistensi dibagi menjadi resistensi bawaan (natural resistancy) dan resistensi yang didapat (acquired resistancy). 5. malation di India. Malaysia. PEMBAGIAN RESISTENSI Menurut Soedarto (2008). Double resistance Resistensi serangga yang terjadi terhadap dua insektisida yang berbeda golongannya atau serinya. resistensi dibedakan menjadi resistensi silang (cross resistance) dan resistensi ganda (double resistance) (Hoedojo & Zulhasril. Resistensi bawaan Serangga yang secara alami sensitif terhadap suatu insektisida akan menghasilkan secara alami keturunan yang juga sensitif terhadap insektisida tersebut.

serta 4) semakin ketatnya kompetisi antar produsen insektisida (Untung. ultra low-volume concentrate (ULV). 1. insektisida harus diganti dengan jenis atau golongan lain atau diciptakan insektisida baru untuk memberantas serangga tersebut (Soedarto. Fleming GA. Karena itu. deltametrin digunakan secara ekstensif sebagai bahan aktif untuk kelambu celup berinsektisida (impregnated bednet) untuk mencegah gigitan nyamuk Anopheles (Rozendaal 1997).World Health Organization. maka dosis insektisida harus dinaikkan. Selective Application of Fenitrothion for Control of the Malaria Vector Anopheles aconitus in Central Java. Jika dosis insektisida terus-menerus dinaikkan. . Shaw RF. 3) peningkatan biaya produksi. C. WHO/VBC/81.(beda golongan) atau DDT dan dieldrin (beda seri). maka pada dosis tertentu akan dapat membahayakan kesehatan manusia dan hewan serta berdampak buruk pada lingkungan hidup. 2004). Supratman. Bang YH. hal ini dapat disebabkan antara lain: 1) peningkatan biaya penelitian untuk menemukan insektisida baru yang memenuhi syarat. Indonesia. Di Cina. 1981. 2) peningkatan biaya dan persyaratan registrasi insektisida yang semakin ketat. Jika satu jenis serangga telah resisten terhadap suatu insektisida. 2008). Deltametrin dan Cara Kerjanya Deltametrin telah digunakan secara luas pada sektor pertanian dan kesehatan masyarakat.822. Saat ini laju penemuan insektisida baru sangat lambat. Sudomo M. Deltametrin diformulasikan dalam bentuk emulsifiable concentrate (EC) . Penggunaan deltametrin dalam pengendalian penyakit malaria terutama ditujukan untuk membunuh nyamuk Anopheles dewasa. Pradhan GD.

Efek ini disebabkan oleh rendahnya penutupan saluran natrium dalam akson saraf. Deltametrin merupakan insektisida sintetis yang termasuk ke dalam golongan piretroid. diperoleh rumus kimia deltametrin C22H19Br2NO3. Deltametrin termasuk jenis insektisida yang relatif aman terhadap mamalia tapi sangat toksik terhadap serangga. Berdasarkan struktur tersebut. Deltametrin berwujud tepung yang tidak berwarna dengan titik didih 98°C -101°C. Target utamanya adalah saluran natrium pada membran saraf yang berinteraksi dengan akson pada sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. sikloheksanon dan xilin.wettable powder (WP). Cara kerja piretroid adalah mempengaruhi sistem saraf serangga atau mamalia dengan merangsang sel-sel saraf untuk menghasilkan efek pengulangan (repetitive) yang berakhir dengan kelumpuhan dan kematian. formulasi tersendiri atau dipadukan dengan insektisida lain.5 x 10 pada suhu 25°C. Deltametrin merupakan insektisida golongan piretroid pertama yang tersusun dari isomer tunggal dari delapan stereoisomer yang dihasilkan dari proses esterifikasi. Pertama kali diisolasi dari tumbuhan Chrysanthemum sekitar tahun 1800 dan mulai dikenal secara luas di seluruh dunia pada tahun 1851 (Matsumura 1975). . Sedangkan deltametrin yang merupakan generasi keempat dari piretroid di sintesa pertama kali pada tahun 1974 dan mulai dipasarkan tahun 1977. sehingga natrium bergerak cepat dalam sel-sel dan merubah fungsi akson saraf. dengan nilai LD50 oral akut 19-34 mg/kg BB pada tikus. Insektisida ini larut dalam air pada suhu 20°C dengan komposisi 2 mg/liter dan juga larut pada hampir semua pelarut organik sepert aseton. Secara umum. serta mempunyai tekanan uap 1. insektisida yang termasuk golongan piretroid bersama dengan DDT dan analognya digolongkan kedalam kelompok racun saraf (neurotoksik) terhadap seranggga dan vertebrata ( Miller dan Adams dalam Coats 1988). etanol.

tidak mengandung gugus kelompok alpa-siano. Ulangan impuls organ saraf yang dihasilkan mengalami rangkaian depresi berkepanjangan. d-penotrin. Rentetan perulangan impuls saraf relatif lebih pendek pada organ indera perasa dan serat saraf sensorik. sedasi. Sebagai kelompok piretroid tipe II. . Berdasarkan ikatan kimia tersebut. (T-syndrome). Sebaliknya. Tipe II adalah piretroid dengan gugus kelompok alpasiano atau (CS-syndrome) (Gammon et al. Lawrence dan Casida 1983. maka akan dihasilkan rangkaian impuls saraf. Hal ini diperoleh dari interaksi spesifik antara deltametrin dengan saluran natrium pada membran saraf. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok alpa-siano berpengaruh terhadap saluran natrium membran saraf dan menyebabkan peningkatan sementara permeabilitas natrium selama berlangsungnya eksitasi. Sebagai bagian perubahan pada permiabilitas dari membran kepada natrium akibat efek pengulangan.Deltametrin berdasarkan ikatan gamma–aminobutyric acid (GABA) receptor-ionophore complex diklasifikasikan sebagai piretroid Tipe II. bergantung pada frekuensi impuls dari urat saraf. Gammon dan Casida 1983. pengeluaran cairan saliva. dispnoea dan kadang disertai dengan badan tremor dan kelumpuhan (McGregor 2000). permetrin dan sismetrin) merupakan penyebab peningkatan sementara permeabilitas natrium membran saraf selama eksitasi (perangsangan) dengan perpanjangan impuls yang moderat. Piretroid tipe I. Karakteristik deltametrin adalah tindakan eksitasi yang kuat pada sistem saraf. Lawrence et al. piretroid sintetis dapat dikelompokkan dalam dua tipe.1982. piretroid tipe II menyebabkan peningkatan sementara permeabilitas natrium dari membran saraf selama eksitasi mengalami perpanjangan yang permanen. deltametrin mempunyai karakter yang dikenal dengan choreoathesis ( coarse tremor progressing to sinuos writhing). Perbedaan mendasar dari kedua tipe tersebut adalah tipe I (termasuk alletrin.1985).

2. Selain itu juga kemampuan beradaptasi dengan tekanan alam seperti pemaparan insektisida dan didukung kecepatan regenerasi yang menyebabkan nyamuk cepat menurunkan generasi yang resiosten. antara lain : 1. dosis dan lama pemakaian. Faktor operasional Faktor ini meliputi bahan kimia yang digunakan aplikasi. Secara prinsip ini akan mencegah insektisida berikatan dengan titik targetnya atau tubuh serangga menjadi mampu mengurai bahan aktif insektisida sebelum sampai titik sasaran. frekuensi. 3. juga dilakukan fogging untuk memutus mata rantai penularan DBD. Namun penggunaan insektisida yang kurang terkendali akan berakibat terjadinya resistensi nyamuk. Faktor genetik Faktor genetik tergantung pada keberadaan gen nyamuk yang mampu mengkode pembentukan enzim tertentu dalam nyamuk. . Beberapa faktor yang mempengaruhi mekanisme resistensi insektisida pada Aedes aegypti ini. Pada kondisi yang sama populasi yang menerima tekanan yang lebih keras akan berkembang menjadi populasi yang resistensi dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan nyamuk yang menerima tekanan yang lebih lemah. usaha pengendalian dan pemberantasan vektor Demam Bedarah telah banyak dilakukan. Enzim ini akan menetralisir keberadaan insektisida (misalnya enzim esterase).D. Resistensi Aedes Aegypti terhadap insektisida Sebagaimana kita ketahui. Laju perkembangan resistensi sangat dipengaruhi oleh tingkat seleksi yang diterima oleh suatu nyamuk Aedes aegypti. Sedangkan jenis atau tingkatan resistensi itu sendiri meliputi tahap : toleran baru kemudin tahap resisten. Faktor biologis Faktor biologis ini merupakan kecepatan regenerasi nyamuk Aedes aegypti. Fogging dimaksudkan sebagai pembasmi nyamuk dewasa Aedes aegypti. Selain dengan menerapkan usaha Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Kemudian terjadi penurunan laju penetrasi insektisida melalui kulit. Struktur kimia deltametrin . Gambar 1. 2006. (Online).Pada dasarnya mekanisme resistensi insektisida dibagi menjadi tiga tahap. Uji Bioassay Uji bioassay adalah suatu uji daya kemampuan dari masing .Muhamad_T 06. Muhamad.ipb.ac. http://repository.2dibromovinil)-2. Sebagai perlakuan adalah jenis isolat bakteri dan konsentrasi inokulum mikroba. sehingga menghambat masuknya bahan aktif insektisida dan meningkatkan enzim ditoksifikasi.pdf?sequence=1 Diakses 20 Juni 2013 E.id/bitstream/handle/123456789/22940/Hasan. Sepuluh ekor larva nyamuk Aedes sp dalam 100 ml aquades .masing isolat untuk membunuh larva Aedes sp. sehingga insektisida menjadi tidak beracun (disebabkan pengaruh kerja enzim tertentu). pada perlakuan diulang sebanyak 3 kali. EFEK PAPARAN INSEKTISIDA DELTAMETRIN PADA KERBAU TERHADAP ANGKA GIGITAN NYAMUK Anopheles vagus PADA MANUSIA. (S)-siano-3-pehoksibenzil (1R)-cis-3-(2. Pada tahap pertama terjadi peningkatan detoksifikasi insektisida.2-dimetilsik lopropan karboksilat Hasan.

kayu. Uji Bioassay dibagi menjadi 3 macam. Tujuan uji Bioassay diantaranya untuk mengetahui daya bunuh insektisida. 3) Aspirator 4) Kerucut plastic 5) Masking tape/ paku/ karet gelang 6) Gelas plastik/kertas 7) Kotak nyamuk 8) Sling hygrometer dan thermometer b.5 hari. parameter yang diamati adalah mortalitas larva selama 3 .5. Uji bioassay kontak langsung (residu) a. maka kematian harus dikoreksi 11) > 20 % kematian kontrol uji bioassay harus diulang 12) Uji bioassay kontak tidak langsung (air bioassay) (residu) . maka angka kematian dapat digunakan 10) 5 %-20 %. 2002 ). 0. nyamuk dipindahkan kedalam gelasbertutup kasa ( hitung nyamuk yang pingsan) 5) Beri larutan gula 10% pada kapas sebagai nutrisi nyamuk 6) Simpan nyamuk dalam kotak penyimpanan selama 24 jam 7) Hitung kematian nyamuk pada perlakuan dan control 8) Jika kematian nyamuk pada pembanding (kontrol) : 9) < 5 %. dan 1 ml. Bahan dan Alat 1) Nyamuk sehat 2) Permukaan dinding yang akan disemprot (tembok. yaitu : 1. Cara kerja : 1) Tempelkan kerucut plastik pada berbagai permukaan (minimal 3) 2) Masukan 10-15 nyamuk kedalam kerucut dengan aspirator 3) Biarkan nyamuk kontak dengan residu insektisida pada permukaan dinding selama 30 menit 4) Setelah waktu pengujian selesai. bambu) yang disemprot.dan untuk mengetahui kualitas/cakupan penyemprotan yang dilakukan.1 .diinokulasi dengan biakan bakteri dengan konsentrasi 0. (May dan Gheynst.

tiap 15 menit/selama pemaparan dihitung nyamuk yang pingsan . kurungan diambil dan nyamukdipindahkan kedalam gelas bertutup kasa dan diberi larutan gula pada kapas dan dihitung berapa nyamuk yang pingsan. dinding) 50 cm. 7) Perhitungan sama dengan BIOASSAY kontak langsung. Uji Bioassay untuk Fogging / ULV Pada prinsipnya sama seperti uji air bioassay. Air Bioassay (contact Tidak Langsung) Tujuan : Untuk mengetahui uap residu insektisida. hanya disini yang diukur adalah efektivitas dari pengasapan / fogging atau penyemprotan ULV. 5) Hasil uji dimasukkan kedalam kotak penyimpanan. Nyamuk dalam kurungan dapat diletakkan dalam ruangan lalu disemprot. 6) Ukur temperatur waktu pengujian dan selama penyimpanan. atau digantung pada jarak tertentu ( didalam atau diluar ruangan ) dari tempat penyemprotan lalu disemprot. Bahan : 1) Nyamuk sehat 2) Kurungan kasa dengan kerangka kawat 3) Ruangan yang telah disemprot insektisida 4) Kotak nyamuk 5) Air gula 10 % b. a. 3) Waktu pemaparan bisa 6-12 jam (disarankan 6 jam) 4) Setelah waktu pemaparan selesai. hidarkan dari semut. Cara kerja : 1) Kurungan kasa diisi dengan nyamuk 20-25 ekor 2) Gantungkan kurungan tersebut disudut ruangan dengan jarak daripermukaan yang disemprot (atap.13) Uji bioassay untuk pengasapan (fogging/ULV) F. Minimum lakukanpada tiga ruangan. G. Waktu pemaparan 1 jam.

and J S Vander Gheynst. c. a. Nyamuk jantan biasa menghisap sari bunga/tumbuhan yang mengandung gula. Selain itu pada tarsus Aedes aegypti terdapat gelang putih (Christophers 1960). Journa of Industrial Microbiology and Biotechnology H.Kepompong ---Nyamuk Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk kurang lebih 9-10 hari 1. Ciri Morfologi Nyamuk Aedes termasuk ke dalam famili Culicidae dengan subfamili Culicinae. juga ditemukan di tempat umum . .Jentik ---. I. Hidup di dalam dan di sekitar rumah. Siklus Hidup dan Perilaku Nyamuk Aedes aegypti Siklus hidup nyamuk Aedes aegypti : Telur ---. Secara morfologi nyamuk Aedes aegypti memilki garis putih yang agak melengkung di bagian thoraksnya sehingga Aedes aegypti dapat dibedakan dengan nyamuk Aedes albopictus. nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. A Predictor Variable for Efficacy of Lagenidium giganteum Produced in Solid — state Cultivacion. 2010).. d. Mampu terbang sampai 100 meter. B A. b. Setiap kali bertelur . Nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan belang-belang (loreng) putih pada seluruh tubuhnya. Nyamuk Aedes Aegypti 1. tetapi sebagian diantaranya dapat hidup 2-3 bulan (Anggraeni. Nyamuk betina aktif menggigit (menghisap) darah pada pagi hari sampai sore hari. Umur nyamuk Aedes aegypti rata-rata 2 minggu. Genus Aedes memilki lebih dari 900 spesies (Kettle 1989).May. e.2002.

11. Nyamuk Aedes aegypti menyenangi area gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah. kaleng bekas dan ban bekas.80 mm. 9. tempurung kelapa.0017. Jentik kecil yang menetas dari telur itu akan tumbuh menjadi besar yang panjangnya 0. tempat minum burung. Telur ini ditempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan.00). vas bunga/pot tanaman air. Kepompong berbentuk koma. 4. Setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk dewasa (Anggraeni.00) dan sore hari (pukul 16. drum.2. Nyamuk ini banyak ditemukan di bawah meja. tempayan. Pada waktu istirahat. 2007). Geraknya berulangulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas (mengambil udara) kemudian turun. Demam berdarah sering menyerang anak-anak karena anak-anak cenderung duduk di dalam kelas selama pagi sampai siang hari (Anggraeni. Telur nyamuk Aedes aegypti berwarna hitam dengan ukuran ± 0.00-10. plastik. 5. Gerakannya lamban. misalnya bak mandi/WC. 3. kamar yang gelap. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari dan barang-barang lain yang memungkinkan air tergenang yang tidak beralaskan tanah. 2010). posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Sering berada di permukaan air. Nyamuk ini menggigit pada siang hari (pukul 09.5-1 cm 6. Telur itu akan menetas menjadi jentik dalam waktu lebih kurang 2 hari setelah terendam air. bangku. kembali ke bawah dan seterusnya. 12. 8. Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. dan lain-lain yang dibuang sembarang tempat (Depkes RI. . 2010). Jentik Aedes aegypti akan selalu begerak aktif dalam air. 10. botol. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong. atau dibalik baju-baju yang digantung. 7.

S.S. 739 hal. Bogor.16. [DINKES] Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Media Komunikasi Pokjanal dan Pokja DBD. hal: 99-136 . Okt-Nov.. Stop Demam Berdarah Dengue. Cambridge At the Univ. Th. New York. Aedes aegypti (L) The Yellow Fever Moquito. 1984. Medical and Veterinary Entomology. D.Anggraini. S. [DEPKES] Departemen Kesehatan R. Cita Insan Madani Christopher. London. 1960. 2007. Press.I. XI. R. No. a wiley-Inter Science Publ. 16 hal. D. 20 Kettle. 2010. S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful