ANALISIS KASUS SENGKETA TANAH BUANA ESTATE

MAKALAH

Dibuat untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Hukum Acara Tata Usaha Negara

Oleh : Rika Berlianti (11218035)

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS BANDAR LAMPUNG 2013

0

Makalah ini memuat tentang contoh kasus TaTa Usaha Negara. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. 1 . Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.KATA PENGANTAR Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan.yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Terima kasih. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Hukum Tata Usaha Negara. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.serta dapat memahami dan mengerti hasil keputusan pengadilan PTUN. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

. . . . . . . . . . . . . . . . 3 1. . .3 RUMUSAN MASALAH . 6 BAB III KESIMPULAN. . . . . . 3 1. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 2. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 BAB II PEMBAHASAN 2. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . 5 2. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .3 MACAM-MACAM KOMPETENSI . . . . .DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1. .2 TUJUAN PENULISAN. . . . . .1 CONTOH KASUS TATA USAHA NEGARA . . . . . . . . 11 2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .1 LATAR BELAKANG MASALAH . . . . . . . .. . 10 BAB IV DAFTAR PUSTAKA. . . . . . . . .2 ANALISA KASUS . . . . . . . . . . .

Tata Usaha Negara adalah administrasi negara yang melaksanakan fungsi untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. 1. Adapun Sengketa TUN.2 TUJUAN PENULISAN Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Hukum Tata Usaha Negara serta agar ingin lebih megkaji dan memahami tentang Hukum Tata Usaha Negara.1 LATAR BELAKANG Peradilan Tata Usaha Negara adalah lingkungan peradilan di bawah Mahkamah Agung yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara. yang bersifat konkret.BAB I PENDAHULUAN 1. baik di pusat maupun di daerah. 1.3 RUMUSAN MASALAH: Apa saja pertimbangan Hakim untuk menentukan keputusan nya ? Apa ada penyelesaiaan sengketa selain melalui jalur pengadilan? 3 . sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara. Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara. TUN sendiri. Keputusan TUN sendiri. dan final. Objek sengketa dalam TUN yaitu Keputusan TUN atau Beschikking. menurut ketentuan pasal 1 ayat 10 UU No 51 Tahun 2009. yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata. menurut ketentuan pasal 1 ayat 9 UU No 51 Tahun 2009 yaitu suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. menurut ketentuan pasal 1 ayat 7 UU No 51 Tahun 2009. individual. termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dolok Sirait selaku penggugat I dan HM Sukandi penggugat II yang diwakili kuasa hukum nya Denny Kailimang menggugat Surat Keputusan Kepala BPN Nomor 9/HGU/ BPN/2006 tentang Pemberian Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di desa Hambalang. Kepala Kantor Pertanahan Bogor (tergugat II) dan PT Buana Estate selaku tergugat II intervensi.BAB II PEMBAHASAN 2. Kamis lalu.75 Ha karena telah memiliki/menguasai tanah tersebut dari penguasaan penggarap 4 .486. sejak awal pihaknya yakin akan dimenangkan PTUN dalam gugatan tersebut karena berada dalam posisi yang benar. Dalam penjelasannya kepada wartawan.1 Contoh Kasus SENGKETA LAHAN: PTUN Tolak Gugatan terhadap Buana Estate JAKARTA (Suara Karya): Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta menolak gugatan Direktur PT Genta Pranata yang diwakili direkturnya Drs Dolok F Sirait terhadap Kepala BPN (tergugat I). Dalam gugatannya. Kecamatan Citeureup. Penggugat juga menyatakan pihak paling yang berhak atas tanah seluas 211. kemarin.117. PTUN menolak gugatan pihak penggugat. Kabupaten Bogor.500 meter persegi yang terletak di desa Hambalang. Terbukti. Jawa Barat.975 M2. kuasa tergugat II intervensi Drs Anim Sanjoyo Romansyah mengatakan. penggugat menyatakan selaku pemilik/pemegang hak atas tanah seluas 2. termasuk dalam bagian tanah obyek Surat keputusan N0 9/HGU/BPN 2006 tentang Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di Kabupaten Bogor atas nama PT Buana Estate. Adapun obyek gugatan dalam perkara tersebut adalah SK Kepala BPN No 9/HGU/BPN/2006 tentang Pemberian Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di Kabupaten Bogor atas nama PT Buana Estate yang diterbitkan tergugat 1 Juni 2006.Sertifikat HGU No 149/Hambalang atas nama PT Buana Estate yang diterbitkan oleh tergugat II pada 15 Juni 2006 atas tanah seluas 4.” katanya menanggapi putusan PTUN Jakarta.

aparatur pemerintah. Namun majelis hakim yang diketuai oleh Kadar Slamet menyatakan penerbitan HGU PT Buana Estate telah sesuai dengan prosedur. atau operasional.2 Analisa kasus Para pihak dalam kasus ini yaitu: 1. Prajudi Atmosudidjo. Atas dasar tersebut majelis hakim menolak gugatan penggugat. 3. dan tindakan administratif. HM Sukandi sebagai penggugat II yang diwakili kuasa hukumnya Denny Kailimang. Ketiga unsur tersebut dapat diwujudkan dalam kenyataan melalui aktivitas pejabat birokrasi atau aparatur negara yang menjalankan tugas administrasi melalui pengambilan keputusan-keputusan administratif yang bersifat individual. 2. manajerial. fungsi atau aktivitas melayani atau sebagai kegiatan pemerintah operasional 3. proses teknis peyelenggaraan undang-undang. Kepala BPN sebagai tergugat I. aparatur negara. informasional. atau institusi politik (kenegaraan) 2. PT Buana Estate sebagai tergugat II intervensi. Majelis hakim juga menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara dan diberi waktu 14 hari untuk menentukan apakah banding atau menerima putusan tersebut. Majelis hakim juga tidak menemukan fakta-fakta penelantaran lahan oleh PT Buana Estate. yaitu: 1.yang telah menguasai dan menggarap lokasi tanah tersebut sejak sekitar tahun 1960. teknis penyelenggaraan. kasual. 2. birokrasi (bureavcracy) atau Administrasi Negara atau tata Usaha Negara (TUN) meliputi tiga hal. faktual. yang bersifat organisasional. demikian juga penerbitan sertifikat tidak cacat hukum. Kepala Kantor Pertanahan Bogor sebagai tergugat II. 2. Menurut S. Direktur PT Genta Pranata sebagai penggugat I yang diwakili direkturnya Drs Dolok F Sirait. 5 . MELAWAN 1.

maka objek dari perkara tersebut berdasarkan pasal 1 angka 9 UU No. Alasan-alasan yang dapat digunakan dalam gugatan sebagaimana dimaksud diatas adalah: 1. melainkan fungsi urusan pemerintah. Adapun yang dikategorikan pejabat birokrasi atau pejabat Tata Usaha Negara (TUN) menurut ketentuan pasal I angka 8 UU No 51 tahun 2009. Maka dengan hal itu. Menurut ketentuan Pasal 53 UU No 5 Tahun 1986 tentang PTUN. dilihat dari macam-macamnya pengadilan menyangkut pemberian kekuasaan untuk mengadili. Dengan demikian yang menjadi patokan bukanlah kedudukan struktural pejabat atau organ yang bersangkutan dalam jajaran pemerintahan dan bukan pula nama resminya. dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi dan atau direhabilitasi. 2.3 Kompetensi Pengadilan TUN terdapat dua macam kompetensi. Agar suatu perkara dapat dikatakan sebagai perkara yang masuk dalam lingkup kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara. yaitu menyangkut pembagian kekuasaan antar badan-badan peradilan. adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara adalah badan atau pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penggugat mengajukan sengketa ini ke PTUN Jakarta. yaitu: 1) Kompetensi Absolut. 2. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik. menyatakan bahwa Orang atau badan hukum perdata yang merasa kepentingannya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada pengadilan yang berwenang yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu dinyatakan batal atau tidak sah. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Keputusan maupun tindakan pejabat birokrasi itu dapat dilawan melalui berbagai bentuk peradilan Administrasi Negara. maka oleh Undang-undang Pengadilan Tata Usaha Negara dianggap sebagai badan atau Pejabat Tata Usaha Negara/ pejabat birokrasi. 51 tahun 2009 haruslah berupa Putusan Tata Usaha Negara yang memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: 6 .

Dalam Kasus pihak yang mengeluarkan keputusan adalah Kepala BPN tentang Pembe-rian Jangka Waktu HGU atas tanah. Kecamatan Citeureup. Kabupaten Bogor. Dalam Kasus isi dari keputusan yang dikeluarkan Kepala Surat Keputusan Kepala BPN tergugat I yang mengeluarkan keputusan tentang Pemberian Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di desa Hambalang. Kabupaten Bogor.a) Penetapan Tertulis Berdasarkan penjelasan pasal ini. Jawa Barat. Dalam Kasus Keputusan Tata Usaha Negara yang dilahirkan oleh Tergugat I bersifat konkrit karena berwujud yaitu Surat Keputusan Kepala BPN Nomor 9/HGU/ BPN/2006 ten-tang Pemberian Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di desa Hambalang. Sehingga unsur ini terpenuhi. Persyaratan tertulis itu diharuskan untuk kemudahan segi pembuktian. c) Berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku Tindakan hukum Tata Usaha Negara adalah perbuatan hukum Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersumber pada suatu ketentuan hukum Tata Usaha Negara yang dapat menimbulkan hak atau kewajiban pada orang lain. d) Bersifat Konkrit Artinya objek yang diputuskan dalam Keputusan Tata Usaha Negara itu tidak abstrak. Jawa Barat. namun yang disyaratkan tertulis bukan bentuk formalnya seperti surat pengangkatan dan sebagainya. Kecamatan Citeureup. Keputusan itu memang diharuskan tertulis. Kabupaten Bogor. tertentu atau dapat ditentukan kepada siapa keputusan TUN tersebut ditujukan. Jawa Barat. Kecamatan Citeureup. 7 . Sehingga dalam Kasus unsur ini terpenuhi. Sehingga dalam Kasus unsur ini telah terpenuhi. Dalam kasusu ini. tetapi berwujud. b) dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara ini berdasarkan penjelasan pasal tersebut adalah Badan atau Pejabat di pusat dan daerah yang melakukan kegiatan yang bersifat ekse-kutif. penetapannya yaitu Surat Keputusan Kepala BPN Nomor 9/HGU/ BPN/2006 tentang Pemberian Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di desa Hambalang. penetapan tertulis yang dimaksud terutama me-nunjuk kepada isi dan bukan kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat TUN.

termasuk dalam bagian tanah obyek Surat keputusan N0 9/HGU/BPN 2006 tentang Jangka Waktu HGU atas tanah yang terletak di Kabupaten Bogor atas nama PT Buana Estate. jabatan. 2. Sehingga unsur ini terpenuhi. 8 . Pasalnya. Kecamatan Citeureup. Setelah merasa terpenuhi kewenangan untuk mengajukan perkara ini ke PTUN. Dalam Kasus keputusan yang dilahirkan oleh Tergugat I bersifat individual karena tidak ditujukan kepada umum melainkan hanya kepada objek tanah yang terletak di desa Hambalang. 5 Tahun 1986 maka Putusan Pengadilan harus memuat: 1. kewarganegaraan. keputusan yang dikeluarkan oleh Tergugat I bersifat final karena tidak memerlukan persetujuan dari instansi atasan maupun instansi lain mengingat kapasitas Tergugat I selaku Kepala BPN. karena penggugat menyatakan selaku pemilik/pemegang hak atas tanah seluas 2. maka jelas dan tepat apabila atas kepu-tusan yang dilahirkan Tergugat I. f) Bersifat Final Artinya sudah defenitif dan karenanya dapat menimbulkan akibat hukum.500 meter persegi yang terletak di desa Hambalang. Kepala BPN ter-sebut telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan menerbitkan secara sepihak SK. Dalam Kasus. Berdasarkan pasal 109 ayat 1 UU No. nama. Pada sidang ini dihadiri oleh penggugat dan tergugat.e) Bersifat individual Artinya Keputusan Tata Usaha Negara tersebut tidak ditujukan untuk umum tetapi tertentu baik alamat maupun hal yang dituju. Kabupaten Bogor. Penggugat mengajukan gugatan ke PTUN. tempat kediaman atau tempat kedudukan para pi-hak yang bersengketa. yaitu mengatur pembagian kekuasaan mengadili antara pengadilan yang serupa tergantung dari tempat tinggalnya tergugat.75 Ha karena telah memiliki/menguasai tanah tersebut dari penguasaan penggarap yang telah menguasai dan menggarap lokasi tanah tersebut sejak sekitar tahun 1960.117. Kepala putusan yang berbunyi: “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Penggugat juga menyatakan pihak paling yang berhak atas tanah seluas 211. Dengan terpenuhinya unsur-unsur tersebut. Jawa Barat. 2) Kompetensi Relatif. ma-ka Drs Dolok F Sirait mengajukan gugatan terhadap Kepala BPN.

Biaya kepaniteraan dan biaya meterai. maka sesuai dengan Pasal 110 UU No. Majelis hakim juga tidak menemukan fak-ta-fakta penelantaran lahan oleh PT Buana Estate.Dalam putusan kasus ini. Hal ini karena penerbitan HGU PT Buana Estate telah sesuai dengan prosedur. 3. 9 . Yang termasuk dalam biaya perkara ialah : 1. Biaya pemeriksaan di tempat lain dari ruangan sidang dan biaya lain yang diperlukan bagi pemutusan sengketa atas perintah Hakim Ketua Sidang. ahli. terhadap ketiga hal diatas telah terpenuhi . dan alih bahasa dengan catatan bahwa pihak yang meminta pemerik-saan lebih dari lima orang saksi harus membayar biaya untuk saksi yang lebih itu meski-pun pihak tersebut dimenangkan. Biaya saksi. Majelis hakim memutuskan dalam perkara ini sebagai berikut:  Majelis hakim menolak gugatan penggugat. yaitu Pihak yang dikalahkan untuk seluruhnya atau sebagian dihukum membayar biaya perkara.  Menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara dan diberi waktu 14 hari untuk menentukan apakah banding atau menerima putusan tersebut. 2. Hal ini dikarenakan pihak penggugat dalam perkara ini merupakan pihak yang kalah. 9 Tahun 2004. demi-kian juga penerbitan sertifikat tidak cacat hukum.

demikian juga penerbitan sertifikat tidak cacat hukum. 10 . Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan alasan-alasan yang dapat digunakan dalam gugatan sebagaimana dimaksud adalah: 1. Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik. 2.BAB III KESIMPULAN Berdasarkan hal diatas dan setelah mempelajari kasus tersebut. Majelis hakim juga tidak menemukan fakta-fakta penelantaran lahan oleh PT Buana Estate. karena jika dilihat alasan Tergugat bahwa HGU PT Buana Estate telah sesuai dengan prosedur. maka saya sependapat dengan putusan Majelis Hakim PTUN Bandung tersebut.

Jakarta: 1999 R. Sinar Harapan. Jakarta: 2008 S. F. Peradilan Tata Usaha Negar. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara. Yogyakarta: 1997 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara 11 . Jakarta: 1986 Indroharto.. S. T.Sinar Grafika.DAFTAR PUSTAKA C. Liberty. Peradilan Administratif Negara dan Upaya Administratif di Indonesi. Balai Pustaka. Kansil. Marbun. Wiyono.