Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa Pendahuluan Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar

(milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalammilieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimi dalam cairan tubuh. Komposisi Cairan Tubuh Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma.

Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Fick’s law of diffusion). Jika tidak dapat menembusnya. sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. 5. Peningkatan luas permukaan difusi. maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali. 3. Jarak yang ditempuh untuk difusi.Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan mereka. terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial. Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut.Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut. Peningkatan permeabilitas. Difusi Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. Dalam keadaan normal. Berat molekul substansi. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. 4. Perpindahan Substansi Antar Kompartmen Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan. Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen. sedangkan transport pasif tidak membutuhkan energi. konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Osmosis Bila suatu substansi larut dalam air. maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut. Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. konsentrasi air akan menurun. Transport aktif membutuhkan energi. 2. maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. . Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut.

seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. . Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Sebaliknya. Pengaturan volume cairan ekstrasel. luas permukaan membran dan permeabilitas membran. eksternal fluid exchange.  Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting. Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar. 1. peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan.Filtrasi Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran. Water turnover dibagi dalam: 1. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan. Internal fluid exchange. Contoh: Pompa Na-K. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik. hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. dan 2. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Transport aktif Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi.

Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam.Selain sistem ReninAngiotensin-Aldosteron. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma. mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR). sedangkan di dalam cairan intrasel. dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. 2. semakin tinggi osmolaritas. seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara: 1. semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah). mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. 2. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel. pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui: . Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. Memeperhatikan keseimbangan garam. Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel. Retensi Na+meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri. ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Seperti halnya keseimbangan air. Tetapi. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air.

perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan. hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II. Sedangkan dalam sistem endokrin. Aldosteron. sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Sebagai kesimpulan.Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. osmoreseptor di hypotalamus. selain itu. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. dan cairan di dalam tubuh kembali normal. Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH). stres. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Perubahan osmolaritas di nefron Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal. maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh. rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus. . ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. Sementara. diet. Dinding tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air. dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus. pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. suhu lingkungan.  Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH) peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). dan penyakit.

Dapar protein. katabolisme zat organik 3. 2. Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber. antara lain: 1. yaitu: 1. mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan 3. Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel. mempengaruhi konsentrasi ion K bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai semula dengan cara: 1. dan jika pH darah >7. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel 3. merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia.45 dan darah vena 7. pH darah arteri 7.35. mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan Ada 4 sistem dapar: 1.Keseimbangan Asam-Basa Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh. Jika pH <7. pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat. mengaktifkan sistem dapar kimia 2.45 dikatakan alkalosis. mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh 3. misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat. merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat . 2. perubahan eksitabilitas saraf dan otot. pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat.35 dikatakan asidosi. Dapar hemoglobin. pH rata-rata darah adalah 7. Dapar bikarbonat. sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas.4.

sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. diare akut. asidosis yang bukan disebabkan oleh gangguan ventilasi paru. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi . Alkalosis metabolik. Hal ini terjadi karena kehilangan ion H karena muntah-muntah dan minum obat-obat alkalis. Alkalosis metabolik. fungsi pernapasan dan ginjal sangat penting. Pembentukkan H2CO3 meningkat. sehingga kadar bikarbonat plasma meningkat. merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel. Asidosis metabolik. Dapar fosfat. 3. disebabkan oleh kehilangan CO2 yang berlebihan akibat hiperventilasi. dan disosiasi asam ini akan meningkatkan konsentrasi ion H. 4. Ketidakseimbangan Asam-Basa Ada 4 kategori ketidakseimbangan asam-basa..4. terjadi penurunan kadar ion H dalam plasma karena defiensi asam non-karbonat. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garan dan mengontrol osmolaritas ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia. diabetes melitus. Pembentukan H2CO3menurun sehingga pembentukkan ion H menurun. Akibatnya konsentrasi bikarbonat meningkat. yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Asidosis respiratori. yaitu: 1. 2. olahraga yang terlalu berat dan asidosis uremia akibat gagal ginjal akan menyebabkan penurunan kadar bikarbonat sehingga kadar ion H bebas meningkat. untuk mengkompensasi gangguan keseimbangan asam-basa tersebut. Hilangnyaion H akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menetralisir bikarbonat. disebabkan oleh retensi CO2 akibat hipoventilasi. KESIMPULAN Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan 2 parameter penting. maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan. Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan. kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut.

lemak. Human Physiology: An Integrated approach. (2004). (2004). letargi. Gangguan 1. San Fransisco: Pearson Education. Cairan intraseluler banyak mengandung ion K. Cairan ekstraseluler merupakan cairan yang terdapat di ruang antarsel (interstitial) sebesar 15% dan plasma sebesar 5%. dll.  www. D. Air dalam tubuh berada di beberapa ruangan. sedangkan pada dewasa wanita 50% BB.U. penyakit Addison Tanda dan Gejala : • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion bikarbonat dalam urine sesuai kebutuhan. oleh sebab itu komposisi elektrolit di luar dan di dalam sel berbeda. Sisanya adalah zat padat seperti protein. muntah. • Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti . gangguan ginjal dan sindroma nefrotik. Hiponatremia Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal (< 135 mEq/L) Causa : CHF. pasien mungkin mual.asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. 3th ed. tetapi zat-zat lain sulit melintasinya atau membutuhkan proses khusus supaya dapat melintasinya. California: Brooks/Cole-Thomson Learning. disorientasi dan koma. karbohidrat. Cairan antarsel khusus disebut cairan transeluler misalnya cairan serebrospinal. • Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam. Human Physiology: From cells to system.com BAGAIMANA KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DALAM TUBUH KITA Komposisi Cairan Tubuh Kandungan air pada saat bayi lahir adalah sekitar 75% BB dan pada saat berusia 1 bulan sekitar 65% BB.  Silverthorn. hipotiroid. sedangkan cairan ekstraseluler banyak mengandung ion Na dan Cl. cairan persendian. Inc.perawatonline. dll. bisa terjadi sakit kepala hebat. 2. cairan peritoneum. Daftar Pustaka  Sherwood. Selain ginjal. yaitu intraseluler sebesar 40% dan ekstraseluler sebesar 20%. Komposisi cairan pada tubuh dewasa pria adalah sekitar 60% BB. Lauralee. Mg dan fosfat. sakit kepala dan keram otot. kejang. 5th ed. Komposisi Elektrolit Air melintasi membran sel dengan mudah. yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengeksresikan ion hidrogen dan CO2 dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh. Syok hipovolemik Keseimbangan Cairan Dehidrasi Gangguan Keseimbangan Elektrolit 1.

diuresis osmotik. sindrom malabsorpsi. kelemahan. mungkin arefleksia. reentry phenomena. atau karena hiperalimentasi dan pemberian cairan hipertonik lain. emboli arteri akut. Sekunder terhadap hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama • Hipoaldosteron Tanda dan Gejala : Efek terpenting adalah perubahan eksitabilitas jantung. Tanda dan Gejala : iritabilitas otot. Hipokalemia Definisi : kadar K+ serum di bawah normal (< 3. misalnya pada gagal ginjal akut atau kronik. Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut ektopik ventrikel. • Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan. defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari osmolalitas darah. Fibrilasi ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. . Sumber eksogen meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam. ataksia. Temuan-temuan lain meliputi parestesi. dan kelainan konduksi. • Beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan trauma (crush injuries). terlihat gelombang T runcing (K+ > 6. hemolisis. amplitudo gelombang P mengecil. • Insufisiensi adrenal • Pseudohiperkalemia. luka bakar. kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L). • Perpindahan dari intra ke ekstraseluler. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial seiring dengan peninggian kalium serum. digitalisasi. EKG sering memperlihatkan gelombang T datar. perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. transfusi darah dan penisilin dosis tinggi juga harus dipikirkan. diuretik hemat kalium. Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. sedot nasogastrik. Hiperkalemia Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5. kejang dan koma yang sekunder terhadap hipernatremia.5 mEq/L). mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi 2. pembedahan mayor.5 mEq/L) Etiologi • Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada muntah-muntah. uropati pasca obstruksi. 3. nefropati hiperkalsemik.5 mEq/L) Etiologi : • Ekskresi renal tidak adekuat. Ini disusul dengan interval PR memanjang. dan depresi segmen ST. misalnya pada asidosis. diare. hipotensi ortostatik. penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus. penyakit Addison). penyalahgunaan pencahar) • Diuretik • Asupan K+ yang tidak cukup dari diet • Ekskresi berlebihan melalui ginjal • Maldistribusi K+ • Hiperaldosteron Tanda dan Gejala : Lemah (terutama otot-otot proksimal). Pada permulaan. sekrosis tubulus akut. tremor. arefleksia dan paralisis ascenden. 4. diabetes insipidus.gagal jantung. penghambat ACE. bingung. Hipernatremia Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L) Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi diuretik. gelombang U.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful