P. 1
Aliran Mu'Tazilah

Aliran Mu'Tazilah

|Views: 263|Likes:
Published by Iwel Nagan

More info:

Published by: Iwel Nagan on Jul 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2015

pdf

text

original

ALIRAN MU’TAZILAH

,
(Telaah kritis atas pemikiran aliran Mu’tazilah)

Disusun untuk dipresentasikan dalam seminar kelas pada Mata Kuliah Perkembangan Pemikiran dalam Islam pada program Pasca Sarjana UIN SUSKA Riau

Oleh : Syukron Darsyah NIM : 0804 S2 777

Dosen Pembimbing : DR. Asmal May, MA

KONSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2009

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb Syukur alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah Swt atas karunia dan rahmat-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan dipresentasikan dalam seminar kelas pada Mata Kuliah Perkembangan Pemikiran dalam Islam , di konsentrasi Pendidikan Islam Program Pasca Sarja Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau. Makalah ini membahas dan membicarakan tentang aliran Mu’tazilah sebagai salah satu aliran teologi dalam Islam. Pembahasannya mencakup asal usul kemunculan aliran Mu’tazilah, tokoh-tokohnya serta doktrin dan ajaran pokok aliran ini. selain itu juga dibahas tentang peristiwa mihnah yang merupakan refleksi dari aliran Mu’tazilah. Akhirnya, ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, baik itu referensi buku maupun pandangan, masukan dan diskusi-diskusi yang membangun dengan tema yang diangkat. Kritik dan saran sangat perlu kiranya disampaikan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan dimasa mendatang, baik itu isi, penulisan maupun metodologi yang digunakan. Terima kasih Wassalam Wr. Wb

Pekanbaru, April 2009

2

DAFTAR ISI

HALAMAN

KATA PENGANTAR............................................................................................... DAFTAR ISI.............................................................................................................

1 2

A. Pendahuluan ............................................................................................... B. Asal usul kemunculan Mu’tazilah.............................................................. C. Tokoh-tokoh dan pemuka aliran Mu’tazilah .............................................. D. Doktrin dan ajaran pokok Mu’tazilah......................................................... E. Mihnah, sebuah tinjauan historis................................................................ F. Kemunduran Mu’tazilah............................................................................. G. Penutup.......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

3 4 7 10 14 16 17

Aliran Mu’tazilah,

3

(Sebuah telaah kritis atas pemikiran Mu’tazilah)
A. Pendahuluan Aliran Mu’tazilah merupakan aliran teologi Islam yang tertua dan memainkan peranan yang penting dalamsejarah pemikiran dunia Islam.Aliran ini lahir kurang lebih pada permulaan abad ke dua Hijrah di kota Basrah, sebuah pusat ilmu dan peradaban Islam saat itu. Sebelum Mu’tazilah lahir dan menjadi bagian dari sistem dan corak pemikiran Islam rasional, sebelumnya telah ada berbagai aliran pemikiran yang nantinya akan sangat berpengaruh terhadap Mu’tazilah. Masalah-masalah yang muncul dan diangkat pada waktu itu berkisar pada lingkaran persoalan teologi dan filsafat. Aliran-aliran tersebut diantaranya adalah aliran Musyabbihah (antropomorfiems) yang memahami ayat-ayat al-Qur’an tentang Allah bertangan dan bermata, bersinggasana, melihat, mendengar dan sebagainya. Pendeknya, sesuai dengan namanya, maka aliran ini menyamakan sifat-sifat Allah dengan manusia. Tokoh Aliran ini berasal dari aliran Syiah ekstrem dan ahli hadist Hasyiwiyah yang memahami kulit dan bukan isinya. Aliran lainnya adalah aliran Mujassimah (korporalisme) yang beranggapan bahwa Allah berjism (bertubuh) layaknya manusia. Adapula aliran Syafatiyah yang beranggapan bahwa sifat-sifat Allah adalah azali disamping Zat-Nya yang azali. Adapula diantara mereka yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah sama dengan sifat-sifat manusia.1 Selain itu, ada juga aliran Khawarij. Aliran ini merupakan golongan yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib karena tidak puas dengan hasil tahkim. Khawarij berpendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar menjadi kafir. Kemudia ada lagi aliran Murjiah yang melawan pendapat Khawarij. Mereka berpendapat bahwa orang mukmin yang berdosa besar tetap mukmin, tidak menjadi kafir. Tentang nasibnya kelak dihadapan Allah, diserahkan saja kepada Allah untuk menentukannya diakhirat nanti.
1 A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 58-59

4

Aliran Mu’tazilah muncul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan aliran Murjiah berkenaan tentang orang mukmin yang berdosa besar. Ciri utama yang membedakan aliran ini dari aliran teologi Islam lainnya adalah pandangan-pandangan teologisnya lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil aqliyah dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam. Pada awal perkembangannya, aliran ini tidak mendapat dukungan dan simpati dari umat Islam, khususnya dikalangan masyarakat awam, karena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Mu’tazilah yang bersifat rasional dan filosofis itu. Alasan lain adalah karena kaum Mu’tazilah dinilai tidak teguh berpegang pada sunnah Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Kelompok Mu’tazilah ini baru mendapat dukungan yang luas terutama dikalangan intelektual pada masa pemerintahan khalifah Al-Ma’mun, penguasa Abbasiyah periode 198-218 H/813-833 M. Kedudukan Mu’tazilah menjadi semakin kokoh setelah al-Ma’mun menyatakannya sebagai mazhab resmi negara. Hal ini disebabkan karena al-Ma’mun sejak kecil sudah dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat. B. Asal usul kemunculan Mu’ tazilah Mu’tazilah adalah salah satu nama aliran dalam teologi Islam yang bersikap rasional. Karena itulah banyak orang yang menyebutnya ‘Rasionalisme Islam’. Mu’tazilah lahir pada permulaan abad ke 2 H di Basrah pada pemerintahan Bani Umayyah dan pada saat itu kekuasaan dipegang oleh khalifah Hisyam bin Abdul Malik (101-125 H).2 Term Mu’tazilah merupakan isim fa’il yang berakar dari kata ‘azala– I’tazala yang berarti memisahkan - menyingkir atau memisahkan diri. Maka secara bahasa Mu’tazilah berarti orang yang memisahkan diri. Selama ini, term atau pemberian nama Mu’tazilah sering dan bahkan diketahui hanya pada kejadian atau peristiwa yang terjadi antara Wasil ibn ‘Atha serta temannya ‘Amr
2 Sahilun A Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, (Jakarta: Rajawali Press, 1996), h. 106

5

ibn ‘Ubaid dan Hasan Basri di Basrah. Akan tetapi, menurut Ahmad Amin bahwa nama Mu’tazilah sudah terdapat sebelum adanya peristiwa Wasil dengan Hasan Basri dan sebelum timbulnya pendapat tentang posisi diantara dua posisi. Golongan ini timbul dan mengasingkan diri disaat terjadi pertikaian antara khalifah Ali Bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sofyan dari Bani Umayyah sebagai akibat dari terbunuhnya Khalifah Usman Bin Affan. Pada saat itulah terdapat beberapa orang sahabat Nabi yang tidak ingin terlibat dalam pertikaian tersebut. Mereka tidak memba’iat Ali sebagai Khalifah dan memilih sikat netral. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya adalah Sa’ad ibn Abi Waqaf, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah, Usman bin Zaid dan lain-lain. Penduduk Madinah pada waktu itu juga banyak yang mengikuti jejak mereka. Orang-orang itu disebut kelompok Mu’tazilah, karena mengasingkan diri dari keterlibatan dalam pertikaian politik yang terjadi antara Ali Bin Abi Thalib dengan Muawiyah. Jadi, kata-kata ‘I’tazala dan Mu’tazilah telah dipakai kira-kira seratus tahun sebelum peristiwa Wasil bin ‘Atha dengan Hasan Basri dalam arti golongan yang tidak mau turut campur dalam pertikaian politik yang ada di zaman mereka. Dengan demikian, peristiwa tersebut dapat dikatakan sebagai golongan Mu’tazilah yang pertama dan lebih cenderung mengarah pada persoalan politik. Akan tetapi, jika kata Mu’tazilah disebut dalam konteks aliran-aliran teologi atau filsafat, maka yang dimaksud dengan itu adalah para pengikut yang mengasingkan atau memisahkan diri dari gurunya yang berbeda paham tentang suatu hal. Orang tersebut adalah Wasil ibn ‘Atha yang berbeda pendapat dengan gurunya Hasan Basri. Beberapa versi tentang pemberian nama Mu’tazilah kepada golongan kedua ini berpusat pada peristiwa yang terjadi antara Wasil Ibn Atha serta temannya ‘Amr ibn ‘Ubaid dan Hasan Basri di Basrah. Ketika Wasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Hasan Basri di mesjid Basrah, datanglah seseorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Basri tentang orang yang berdosa besar. Ketika Hasan Basri masih berfikir, Wasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan “Saya berpendapat bahwa orang-orang yang berbuat dosa besar

6

bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, akan tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak pula kafir .” Kemudian Wasil menjauhkan diri dari Hasan Basri dan pergi ketempat lain dilingkungan masjid. Disana Wasil mengulangi pendapatnya dihadapan pengikutnya. Dengan adanya peristiwa ini, Hasan Basri berkata : “Wasil menjauhkan diri dari kita (I’tazaala anna)” Menurut Asy-Syarastani, kelompok yang memisahkan diri pada peristiwa inilah yang dinamakan kaum Mu’tazilah.3 Versi lain dikemukakan oleh Al-Bagdadi dalam bukunya Al-Farq bain AlFarq seperti dikutip oleh Abdul Rozak dan Rosihon Anwar yang mengatakan bahwa Wasil bin ‘Atha dan temannya ‘Amr bin ‘Ubaid diusir oleh Hasan Basri dari majelisnya karena ada pertikaian diantara mereka tentang masalah Qadar dan orang yang berdosa besar. Keduanya menjauhkan diri dari Hasan Basri dan berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak mukmin dan tidak pula kafir. Oleh karena itu, golongan ini dinamakan Mu’tazilah.4 Pendapat lain juga berbeda seperti dikemukakan oleh Tasy Kubra Zadah yang menyatakan bahwa Qatadah bin Da’mah pada suatu hari masuk masjid Basrah dan bergabung dengan majelis ‘Amr bin ‘Ubaid yang disangkanya adalah majelis Hasan Basri. Setelah mengetahui bawa majelis tersebut bukan majelis Hasan Basri, ia berdiri dan meninggalkan tempat sambil berkata, “Ini kaum Mu’tazilah,” sejak itulah kaum tersebut dinamakan Mu’tazilah.5 Sedangkan Al-Mas’udi seperti dikutip Harun Naution memberikan keterangan tentang asal usul kemunculan Mu’tazilah tanpa menyangkut pautkan dengan peristiwa Wasil bin ‘Atha dan Hasan Basri. Mereka diberi nama Mu’tazilah, karena berpendapat bahwa orang yang berdosa bukanlah mukmin dan bukan pula kafir, akan tetapi menduduki tempat diantara kafir dan mukmin (almanzilah bain al-manzilah).6 Dalam artian mereka memberi status orang yang berbuat dosa besar itu jauh dari golongan mukmin dan kafir.

3 Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 2006), h. 78 4 Ibid. 5 Ibid. h. 78 6 Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1983), h. 39

7

Dari keterangan-keterangan yang dikemukakan diatas, untuk mengetahui dengan pasti asal usul yang sebenarnya nama Mu’tazilah memang sulit. Yang jelas, nama Mu’tazilah dikenal sebagai aliran teologi rasional dan liberal dalam Islam yang timbul sesudah peristiwa Wasil bin ‘Atha dengan Hasan Basri dan bahkan lama sebelum terjadinya peristiwa Basrah tersebut telah pula terdapat kata-kata I’tazala dan Mu’tazilah. Selain nama Mu’tazilah, aliran kalam ini juga lazim menyebut diri dengan beberapa nama lain, misalnya biasa menyebut diri dengan ahl al-‘adl, yaitu golongan yang mempertahankan keadilan Tuhan dan Ahl al-Tawhid wa al al-‘Adl, golongan yang mempertahankan kemurnian tauhid dan keadilan Tuhan.7 Sementara pihak lawan atau yang berseberangan dengan paham ini lazim pula menyebut mereka dengan nama al-Qadariyah, penganut paham kebebasan berkehendak dan keleluasaan berbuat bagi manusia; al-Mu’athilat, penganut paham nafyu al-shifat dan sebutan al-Wa’idiah , yaitu penganut paham kepastian berlakunya ancaman-ancaman Tuhan terhadap orang-orang yang tidak patuh. Mereka juga biasa disebut al-Jahmiah, karena mereka menganut paham nafyu alshifat, nafyu al- ru’yat dan kemahlukan al-Qur’an yang sebelumnya pernah diajarkan oleh Jahm Ibn Shafwan.8

C.

Tokoh-tokoh dan Pemuka aliran Mu’tazilah Sejak kelahirannya yang dipelopori oleh Wasil bin Atha, Mu’tazilah terus

berkembang pesat sebagai sebuah sistem kalam satu-satunya didunia Islam pada saat itu. Fenomena ini tentunya tidak terlepas dari tokoh-tokohnya yang cerdas dan brilian yang secara gigih dan estafet menyebarkan ajaran dari zaman kezaman. Ulama atau tokoh-tokoh Mu’tazilah cukup banyak sekali. Namun, yang akan dibahas selanjutnya hanya tokoh-tokoh yang terkemuka saja.

7 Suryan A. Jamrah, Studi Ilmu Kalam, (Pekanbaru: PPS UIN Suska, 2008), h. 114 8 Ibid

8

1.

Wasil bin Atha (81 -133 H / 699-748 M) Menurut sejarah, Washil bin ‘Atha adalah orang yang pertama sekali

meletakkan kerangka dasar faham Mu’tazilah, sebagaimana dikatakan oleh alMas’udi bahwa ia adalah “Syaikh al-Mu’tazilah wa Qadimuha” yakni kepala dan penganut Mu’tazilah yang tertua.9 Ia berasal dari Maula (keturunan budak) dari Bani Dhobah dan dilahirkan di Madinah pada tahun 80 H dan meninggal pada tahun 131 H. Dimadinah ia belajar pada Abu Hasyim Abdullah ibn Muhammad ibn al-Hanifah. Kemudian ia pindah ke Basrah dan belajar pada imam Hasan Basri. Ia adalah orang yang sangat mahir berorator, pandai memilih kata-kata yang mudah diterima pendengarnya. Disamping itu, ia adalah seorang ilmuwan yang menghabiskan waktu siangnya untuk berdiskusi dan waktu malamnya untuk beribadah dalam rangka menyempurnakan firqohnya. Banyak kitab yang dikarangnya, namun tidak satupun yang sampai kepada kita. 2. Abu Huzail (135-235 H / 752-849 M) Nama lengkapnya adalah Abdul Huzail bin al Huzail al-‘Allaf. Sebutan al-‘Allaf diperolehnya karena rumahnya terletak dikampung penjual makanan binatang. Ia lahir pada tahun 135 H di Basrah. Ia tinggal di Basrah dan menetap disana dan belajar pada salah seorang murid Washil bin Atha yang bernama Usman al-Tawil. Puncak kebesarannya dicapai pada masa pemerintahan khalifah al-Ma’mun, karena khalifah al-Ma’mun pernah menjadi murid Abu Huzail dalam perdebatan mengenao persoalan agama dan aliran-aliran pada masa pemerintahannya. Masa hidup Abu Huzail banyak diisi dengan perdebatanperdebatan. Dan menurut riwayat selama hidupnya, tidak kurang dari 3000 orang telah masuk Islam ditangannya.

9 Ahmad Mahmud Subhi, Fi ‘Ilmi al-Kalam, (Kairo: Dar el-Fikr, Maktabah al-Nahdhah, 1969), h. 75

9

3.

Al-Jubba’I (w. 303 H / 915 M) Nama lengkapnya adalah Abu Ali Muhammad bin Ali al-Jubba’i. lahir di

Provinsi Chuzestan Iran dan tidak diketahui tahun kelahirannya. Sebutan alJubba’I diambil dari nama tempat kelahirannya yaitu Jubba. Wafat pada tahun 303 H / 915 M.10 dalam riwayat lain al-Jubba’I wafat pada tahun 295 H / 908 M. Al-Jubbai adalah salah seorang tokoh aliran Mu’tazilah di Basrah yang hidup pada masa pemerintahan khalifah al-Watsiq bin al-Mu’tashim (227-232 H). Al-Jubba’I mempunyai anak bernama Abu Hasyim Abdul Salam al-Jubba’I (w.321 H) dan juga termasuk salah satu tokoh aliran Mu’tazilah di Basrah. Antara al-Jubba’I dan anaknya Abu Hasyim Abdul Salam al-Jubba’I sering dikelirukan orang. Anaknya selain tokoh Mu’tazilah juga pendiri aliran “ Bassyamiyyah” (salah satu firqoh Mu’tazilah). Al-Jubba’I adalah guru dari Imam al-Asy’ari seorang tokoh dan pendiri Asyariyyah 9ahli sunnah wal jamaah) sebelum ia keluar dari aliran Mu’tazilah. Selain itu, aliran Mu’tazilah juga mempunyai basis pergerakan yang dari basis itu memunculkan banyak sekali tokoh dan pengikut aliran ini. Basis tersebut terkonsentrasi pada dua kota yaitu Basrah dan Bagdad. Di Basrah, dibagi menjadi dua generasi. Yaitu generasi pertama pada permulaan abad ke- 2 di pimpin oleh Washil Bin Atha dan ‘Amr bin ‘Ubaid yang kemudian diperkuat oleh murid-muridnya seperti Usman al-Thawi, Hafsah bin Salim, Hasan bin Zakwan, Khalik bin Sofyan dan Ibrahim bin Yahya al-Madani. Sedangkan generasi kedua pada permulaan abad ke- 3 H dipimpin oleh Abu Huzail al-‘Allaf, Ibrahim bin Sayyar al-Nadzam, Abu Bakar al-Marisi, Usman alJahiz, Ibnu al-Mu’tamar dan Abu Ali al-Juba’i. Sedangkan di Bagdad, dipimpin oleh Basyar bin al-Mu’tanar dan dibantu oleh Abu Musa al-Murdan, Ahmad bin Abu Dawud, Ja’afar Bin Mubasysyar dan Ja’afar bin Harib al-Hamdani.11 D. Doktrin dan ajaran pokok Mu’tazilah
10 A. Hanafi, Pengantar Teologi Islam, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995), h. 72 11 Sahilun A Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, h. 109

10

Gerakan Mu’tazilah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi internal pergerakan pemikiran Islam, terutama dalam wacana teologi terhadap peran akal dalam menentukan jalan kehidupan. Bagi Mu’tazilah, akal merupakan sumber kebenaran moral yang sama derajatnya dengan wahyu. Kaum Mu’tazilah melakukan perjuangan yang sangat sengit untuk membela Islam dari serangan Majusi, Yahudi, Gnotisisme dan materialisme. Hal inilah yang mendorong Mu’tazilah merumuskan ajaran yang sistematis dan rasional dalam memahami doktrin keagamaan.12 Mu’tazilah adalah aliran yang pertama sebagai sebuah aliran yang utuh, yang lahir dengan metode rasional dan materi yang komprehensif serta pembahasan yang mendalam. Sebagai aliran yang utuh, Mu’tazilah tampil dengan ajaran yang telah tersusun secara sistematis. Ajaran-ajaran dan doktrin tersebut termaktub dalam lima dasar utama yang dikenal dengan al-Ushul al-Khamsat. Kelima ajaran pokok tersebut adalah al-Tawhid, al-‘Adl, al-Wa’ad wa al-Wa’id, al-Manzilat bain al-Manzilatain dan al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an alMunkar. 1. Al-Tawhid Ajaran yang paling dasar dan terpenting bagi kaum Mu’tazilah adalah tentang tawhid atau ke Maha Esaan Tuhan. Tuhan dalam faham mereka akan betul-betul Maha Esa kalau Tuhan dipahami sebagai suatu zat yang unik, tidak ada yang serupa dengannya dan atau menyerupainya. Kaum Mu’tazilah secara ketat berupaya mempertahankan dan memelihara kemurnian tauhid ini dengan prinsip al-Tanzih. Oleh karena itu, mereka secara tegas menolak paham anthropomorphism, yang menggambarkan dan mempersonifikasikan Tuhan sehingga memiliki keserupaan dengan makhluk-Nya. Mereka juga menolak paham bahwa Allah dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala, karena hal itu akan meniscayakan Tuhan berupa materi yang mengambil tempat.

12 Fazlur Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka, 1990), h. 121-124.

11

Paham mereka yang cukup terkenal dalam upaya memelihara kemurnian akidah tauhid ini adalah paham nafyu as-shifat. Mereka menolak pendapat bahwa Allah mempunyai sifat, karena ini dapat dipandang dapat menimbulkan berbilangnya yang qadim. Padahal satu-satunya yang qadim, yang tidak mempunyai permulaan dan akhir hanyalah Allah. Sifat, dalam pengertian Mu’tazilah adalah sesuatu yang berbeda dengan dan berada diluar zat Allah. Bila dikatakan Allah mempunyai sifat, berarti sifat itu menempel pada zat Allah yang qadim, karenanya sifat itu ikut qadim pula. Secara umum, ajaran tauhid kaum Mu’tazilah mencakup tiga hal utama seperti yang dijelaskan diatas yaitu tentang sifat-sifat Tuhan, al-Qur’an sebagai makhluk Allah dan kemungkinan Allah terlihat oleh mata kepala manusia. Jika melihat pendapat tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa mereka menolak paham eksistensi sifat Allah yang qadim. Namun menurut penulis, bukan berarti mereka menolak tentang keberadaan sifat Allah tersebut secara mutlak, mereka tetap mengakui akan adanya sifat-sifat Allah, akan tetapi sifat-sifat Allah tersebut menyatu dalam zat Allah yang qadim dan tidak berdiri sendiri. Pendirian dasar pemikiran yang menjadi pedoman kaum Mu’tazilah tersebut adalah dalam rangka membersihkan konsep monoteisme dari segala unsur keyakinan tradisional yang menyesatkan. 2. Al-‘Adl Ajaran dasar Mu’tazilah yang kedua adalah al-‘adl, yang berarti Tuhan maha adil. Adil ini merupakan sifat yang paling gamblang untuk menunjukkan kesempurnaan. Karena Tuhan maha sempurna, dia sudah pasti adil. Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil menurut sudut pandang manusia, karena alam semesta ini sesungguhnya diciptakan untuk kepentingan manusia. Tuhan dipandang adil apabila bertindak hanya yang baik (ash-shaleh) dan terbaik (al-Ashlah), dan bukan yang tidak baik. Begitu pula Tuhan itu adil bila tidak melanggar janji-Nya. Dengan demikian, Tuhan terkait dengan janji-Nya. Ajaran tentang keadilan ini terkait erat dengan beberapa hal yaitu tentang perbuatan manusia serta berbuat baik dan terbaik.

12

1. Perbuatan Manusia Manusia menurut Mu’tazilah, melakukan dan menciptakan perbuatannya sendiri, terlepas dari kehendak dan kekuasaan Tuhan, baik secara langsung maupun tidak. Mansia benar-benar bebas untuk menentukan pilihan perbuatannya, baik atau buruk. Tuhan hanya menyuruh dan menghendaki yang baik, bukan yang buruk. Adapun yang disuruh Tuhan pastilah baik dan apa yang dilarang-Nya tentulah buruk. Tuhan berlepas diri dari perbuatan yang buruk. Konsep ini memiliki konsekwensi logis dengan keadilan Tuhan, yaitu apabila yang akan diterima manusia diakhirat merupakan balasan perbuatannya di dunia. Kebaikan akan dibalas kebaikan dan kejahatan akan dibalas keburukan. Dan itulah keadilan. Karena ia berbuat atas kemauannya sendiri dan tidak dipaksa. 2. Berbuat baik dan terbaik Dalam istilah Arab, berbuat baik dan terbaik disebut ash-shalah wa al-ashlah. Maksudnya adalah kewajiban Tuhan untuk berbuat baik bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karena akan menimbulkan kesan Tuhan penjahat dan penganiaya, sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan. Jika Tuhan berlaku jahat kepada seseorang dan berbuat baik kepada orang lain berarti ia tidak adil. Dengan sendirinya maka Tuhan tidak maha Sempurna. 3. Al-Wa’ad wa al-Wa’id Ajaran dasar ketiga yaitu al-Wa’ad wa al-Wa’id atau janji dan ancaman merupakan lanjutan dari ajaran sebelumnya. Tuhan tidak akan disebut adil, jika ia tidak memberi pahala kepada orang yang berbuat baik dan jika tidak menghukum orang yang berbuat buruk. Keadilan menghendaki supaya orang yang bersalah diberi hukuman dan orang yang berbuat baik diberi upah, sebagaimana dijanjikan Tuhan.13 4. Al-Manzilat bain al-Manzilatain

13 Harun Nasution, Teologi Islam, h. 55

13

Inilah ajaran yang mula-mula menyebabkan lahirnya mazhab Mu’tazilah. Ajaran ini terkenal dengan status orang yang beriman (mukmin) yang melakukan dosa besar. Seperti tercatat dalam sejarah, bahwa kaum Khawarij menganggap orang tersebut sebagai kafir bahkan musyrik. Sedangkan Murji’ah berpendapat bahwa orang itu tetap mukmin dan dosanya sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan, boleh jadi dosanya tersebut diampuni oleh Tuhan. Sedangkan pendapat Wasil bin ‘Atha bahwa orang tersebut berada dalam dua posisi (Manzilah bain Manzilatain). Karena ajaran inilah Wasil Bin ‘Atha dan sahabatnya Amr ibn ‘Ubaid harus memisahkan diri (I’tizal) dari majelis gurunya Hasan Basri seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya. Inti pokok ajaran ini adalah bahwa mukmin yang melakukan dosa besar dan belum bertobat bukan lagi mukmin atau kafir, tetapi fasik. Menurut pandangan Mu’tazilah pelaku dosa besar tidak dapat dikatakan sebagai mukmin secara mutlak. Hal ini karena keimanan menuntut adanya kepatuhan kepada Tuhan, tidak cukup hanya pengakuan dan pembenaran. Berdosa besar bukanlah kepatuhan melainkan kedurhakaan. Pelakunya tidak dapat dikatakan kafir secara mutlak karena ia masih percaya kepada Tuhan, Rasul-Nya dan mengerjakan pekerjaan yang baik. Hanya saja kalau meninggal sebelum bertobat, ia masuk kedalam neraka dan kekal didalamnya. Orang mukmin masuk surga dan orang kafir masuk neraka. Orang fasikpun masuk neraka, hanya saja siksaannya lebih ringan dari orang kafir. 5. Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar. Ajaran dasar kelima adalah menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran (al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar) . Ajaran ini menekankan keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan. Hal ini merupakan konsekwensi logis dari keimanan seseorang. Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya dengan menyuruh orang berbuat baik dan mencegahnya dari kejahatan. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mukmin dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar seperti yang dijelaskan salah seorang tokohnya

14

abd al-Jabbar bin Ahmad dalam ‘Syarh al-Ushul al-Khamzah’ seperti dikutip Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, yaitu : 1. Ia mengetahui perbuatan yang disuruh itu memang ma’ruf dan yang dilarang itu memang munkar. 2. Ia mengetahui bahwa kemungkaran telah nyata dilakukan orang. 3. Ia mengetahui bahwa perbuatan amar ma’ruf atau nahi munkar tidak akan membawa mudarat yang lebih besar. 4. Ia mengetahui atau paling tidak menduga bahwa tindakannya tidak akan membahayakan dirinya dan hartanya.14 E. Mihnah, sebuah tinjauan Historis Mihnah dari sisi kebahasaan berakar dari kata mahana yamhanu mahnan yang berarti mencoba atau menguji. Sedangkan mihnah sendiri juga bisa berarti cobaan atau bencana. Adapun mihnah yang dimaksudkan disini adalah ujian keimanan yang dilakukan Mu’tazilah terhadap masyarakat, khususnya para ulama dan cendikiawan dengan memanfaatkan pengaruh mereka pada diri tiga khalifah Abbasiyah yang memerintah pada masanya yaitu Al-Makmun, Al-Mustashim dan al-Watsiq. Pengertian lain tentang Mihnah menurut Joesoef Soe’yib mengartikannya sebagai pemeriksaan, yaitu pemeriksaan terhadap pengertian seseorang tentang kalamAllah dalam hubungannya dengan keyakinan yang dianut tentang keesaan Ilahi. Dan pemeriksaan tersebut dibuat pertama kali ditujukan kepada para pejabat kehakiman, peradilan kemudian dilanjutkan dengan semua kalangan.15 Mihnah ini terjadi sekitar tahun 198–232 H, dimana Mu’tazilah mendapatkan posisi penting di hati khalifah. Bertitik tolak dari salah satu doktrin dari lima doktrin ajaran Mu’tazilah yaitu Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an alMunkar yaitu perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat, menurut kaum Mu’tazilah bahwa Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar sebagai suatu bentuk kontrol sosial yang wajib dijalankan, kalau dapat cukup dengan seruan,

14 Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, h. 86-87 15 Joesoef Soe’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah I, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), h. 194

15

tetapi jika tidak mampu dengan seruan terpaksa dilakukan dengan kekerasan. 16 Inilah prinsip dakwah yang dijalankan oleh kaum Mu’tazilah yang salah satunya diimplementasikan dalam mihnah tersebut. Yang menjadi tokoh sentral peristiwa ini adalah Ahmad ibn Abu Du’ad. Beliau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan khalifah al-Makmun. Dengan kedekatan hubungan itu, dia berusaha mempengaruhi khalifah terutama tentang ide bahwa al-Qur’an adalah makhluk dan menelurkan ide untuk melaksanakan ujian (mihnah). Ajaran atau ide tersebut menentang pandangan ortodoks dengan menegaskan bahwa pada bentuk aktualnya – bahasa Arab - AlQur’an merupakan reproduksi identik dari model aslinya dilangit. Ajaran baru “Al-Qur’an sebagai Makhluk’ tersebut segera menjadi pijakan baru keyakinan uamt Islam saat itu.17 Usaha yang dilakukan oleh Ahmad ibn Abu Du’ad berhasil dan pada tahun 212 H, mulailah khalifah al-Makmun menganut paham “ al-Qur’an makhluk”nya Mu’tazilah. Dan pada tahun 218 H, ketika beliau mengunjungi Damaskus, dia melakukan Mihnah terhadap penduduk Damaskus seputar masalah al-‘Adl (keadilan) dan tauhid yang merupakan dua prinsip pokok dari lima prinsip Mu’tazilah. Setelah itu barulah dilaksanakan ujian tentang permasalahan alQur’an terhadap seluruh qadhi, para saksi dan ulama hadist di Bagdad dengan mengirimkan surat perintah kepada kepala Syurthah, yaitu Ishaq bin Ibrahim untuk melakukannya. Selanjutnya, mulailah Mihnah itu dilakukan oleh Ishaq bin Ibrahim terhadap para ulama termasuk didalamnya Imam Ahmad Ibn Hambal. Selain Imam ibn Hambal, juga terdapat tujuh orang ulama hadist yang terkenal yang dipaksa mengakui bahwa al-Qur’an itu makhluk, yaitu Muhammad bin Sa’ad (w.230 H), Abu Muslim Mustamli Jazid ibn Harun, Yahya bin Ma’in (w.233 H), Zahari bin Harb, Abu Khaisamah (w.234 H), Ismail Ibn Daud dan Ismail Ibn Abi Mas’ud dan Ahmad ibn Ad-Dauraqani.18 Jawaban tersebut dikirim kepada khalifah al16 Harun Nasution, Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, (Bandung: Mizan, 1995), h. 136 17 Philip K. Hitti, History o The Arabs, (Jakarta: Serambi, 2002), h. 542 18 A. Mustofa, Filsafat Islam, h. 84

16

Ma’mun. Jika mereka bertaubat dan mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk maka namanya akan diangkat dan diberi keamanan, akan tetapi barang siapa yang tidak mau bertobat maka akan ditahan dan apabila tetap pada pendiriannya maka akan dilakukan eksekusi mati. Selama beberapa tahun Mu’tazilah menjadi aliran resmi negara, selama itu pula kebijakan mihnah dilaksanakan, dan telah banyak pula tokoh ulama yang mendapat perlakuan kekerasan dan penyiksaan. Demikianlah Mihnah itu berlangsung sampai pada masa kekhalifahan alWatsiq. Mihnah berakhir seiring dengan naiknya al-Mutawakkil sebagai khalifah pada tahun 232 H yang pada akhirnya menjadi titik akhir kemunduran paham dan aliran Mu’tazilah. F. Kemunduran Mu’tazilah Kebijakan mihnah yang dilakukan oleh Mu’tazilah ternyata bukan menjadi jaminan akan bertahannya aliran Mu’tazilah dalam sistem teologi umat Islam, khususnya pada masa bani Abbasiyah pada waktu itu. Seiring dengan naiknya khalifah Al-Mutawakkil menggantikan khalifah al-Wasiq, maka semakin pudar pula pengaruh Mu’tazilah. Dimasa al-Mutawakkil dominasi aliran Mu’tazilah menurun dan menjadi tidak mendapat simpatik dimata masyarakat. Keadaan ini semakin memburuk setelah al-Mutawakkil membatalkan mazhab Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara dan menggantinya dengan aliran As’ariyah. Selama berabad-abad kemudian, Mu’tazilah tersisih dari panggung sejarah dan tergeser oleh aliran Ahli Sunnah wal jamaah. Diantara yang mempercepat hilangnya aliran ini adalah karena buku-buku mereka tidak lagi dibaca dan dipelajari serta dijadikan rujukan di Perguruan tinggi Islam. Selain itu, kemunculan aliran As’ariyah merupakan faktor utama tersisihnya Mu’tazilah dalam panggung pemikiran dan aliran teologi Islam. As’ariyah sendiri didetus oleh Abu Hasan Ali Ibn Ismail al-Asy’ari. Ia tampil dengan sistem ajaran kalamnya sendiri yang segera diterima mayoritas umat Islam waktu itu. Sistem kalam yang baru ini diberi nama aliran As’ariyah yang dinisbatkan kepada tokoh

17

pendirinya. Asy’ari sendiri pada awalnya adalah pengikut setia aliran Mu’tazilah. Bahkan ia merupakan murid al-Jubba’I, tokoh Mu’tazilah yang sangat berpengaruh. Runtuh dan mundurnya Mu’tazilah sebagai sebuah gerakan teologi yang bersifat filosofis, tidak menghalangi munculnya simpatisan yang masih setia menyiarkan aliran ini. hal itu terlihat seperti munculnya golongan AlKhayyatiyyah oleh Abu Hasan al-Khayyat yang dianggap sebagai sumber orisinil aliran Mu’tazilah. 19 Pada abad ke 4 Hijrah tampil Mahmud al-Zamakhsyari (497538) seorang ulama neo Mu’tazilah yang menghasilkan tafsir al-Kasysyaf yang didasari oleh kerangka berfikir dan ajaran Mu’tazilah. Sedangkan aktivitas Mu’tazilah sebagai sebuah gerakan pemikiran teologi Islam terhenti semenjak serangan bangsa Mongol. Pada zaman modern sekarang, yang ditandai oleh pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, ajaran-ajaran Mu’tazilah yang bercorak rasional sudah mulai muncul kembali dikalangan umat Islam terutama pada tingkat elit intelektualnya. Munculnya neo Mu’tazilah dijagat pemikiran Islam belakangan ini merupakan sebuah fenomena yang harus ditanggapi secara bijaksana dan komprehensif oleh umat Islam. G. Kesimpulan Dari pembahasan dan analisa diatas, tentunya dapat ditarik sebuah kesimpulan-kesimpulan tentang aliran Mu’tazilah sebagai sebuah sistem dan corak pemikiran kalam dalam khazanah pemikiran Islam. Mu’tazilah adalah aliran yang secara garis besar sepakat dan mengikuti cara pandang Washil bin Atha dan ‘Amru bin ‘Ubaid dalam masalah-masalah teologi. Atau bisa dikatakan juga bahwa Mu’tazilah adalah aliran teologi yang akar pemikirannya berkaitan dengan pemikiran Wasil bin Atha dan ‘Amr ibn ‘Ubaid. Mu’tazilah merupakan aliran teologis dalam Islam yang bercorak rasional dan berpandangan bahwa nash (wahyu) sejalan dengan rasio akal manusia.
19 As-Syahratsani, Al-Milal wa al-Nihal, (Kairo: Musthafa Bab al-Halaby, 1968), h. 82

18

Namun, dalam perjalanan sejarahnya, mereka banyak terpengaruh dengan metode-metode filsafat asing sehingga hampir saja membawa mereka kepada sikap ‘ekstrim’ dalam menggunakan logika. Aliran Mu’tazilah muncul dengan latar belakang kasus hukum pelaku dosa besar yang telah mulai diperdebatkan oleh kaum Khawarij dan kaum Murjiah. Mereka tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar itu kafir dan tidak juga mukmin, melainkan fasik. Dan jika dia meninggal dunia dalam kondisi belum bertobat, maka dia berada disebuah tempat antara posisi orang mukmin dan orang kafir yang diistilahkan dengan al-manzilah bain manzilatain. Dalam sisi lain perkembangannya, mereka juga masuk kedalam perdebatan antara qadariyah dan jabariyah tentang hakikat perbuatan manusia dan kaitannya dengan takdir Tuhan. Penghargaan yang tinggi terjhadap akal dan logika menyebabkan timbulnya banyak perbedaan pendapat dikalangan Mu’tazilah sendiri. Namun, ide-ide teologis mereka disatukan dalam beberapa hal pokok yang dikenal dengan alUshul al-Khamsah, yaitu al-Tawhid (Kesaan Tuhan), al-‘Adl (Keadilan), alWa’ad wa al-Wa’id,(Janji dan ancaman), al-Manzilat bain al-Manzilatain (Satu tempat diantara dua tempat) dan al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al-Munkar (menegakkan yang makruf dan melarang kemungkaran). Adanya lima pokok ajaran Mu’tazilah tersebut, kita tentunya tidak langsung menghukumi Mu’tazilah sebagai sebuah aliran yang terlarang. Atau mungkin diangap sebagai kafir. Karena yang berhak menentukan hal tersebut bukanlah manusia, melainkan Tuhan. Terlepas dari persepsi-persepsi dan dugaan yang muncul terhadap kelompok Mu’tazilah, gerakan ini telah banyak berjasa terhadap dunia Islam terutama dalam wacana pemikiran dan perkembangan keilmuan. Dengan kekayaan pembahasan logikanya, Mu’tazilah telah banyak memberikan banyak masukan terhadap kekayaan khasanah pemikiran keislaman hingga saat ini.

DAFTAR PUSTAKA

19

As-Syahratsani, As- Al-Milal wa al-Nihal, Kairo: Musthafa Bab al-Halaby, 1968. Hanafi, Ahmad, Pengantar Teologi Islam, Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995. Hitti, Philip K, History o The Arabs, Jakarta: Serambi, 2002. Jamrah, Suryan A, Studi Ilmu Kalam, Pekanbaru: PPS UIN Suska, 2008. Mahmud Subhi, Ahmad, Fi ‘Ilmi al-Kalam, Kairo: Dar el-Fikr, Maktabah alNahdhah, 1969. Mustofa, A, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997. Nasution, Harun, Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran, Bandung: Mizan, 1995. ______________, Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1983. Nasir, Sahilun A, Pengantar Ilmu Kalam, Jakarta: Rajawali Press, 1996. Rozak, Abdul dan Anwar, Rosihon Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2006. Rahman, Fazlur Islam, Bandung: Pustaka, 1990. Soe’yb, Joesoef, Sejarah Daulah Abbasiyah I, Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->