P. 1
sagu

sagu

|Views: 152|Likes:
Published by Aam Keren's
sagu karbohidrat
sagu karbohidrat

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Aam Keren's on Jul 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $0.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/26/2015

$0.99

USD

pdf

text

original

Bioenergi - Sagu

Pengenalam Tanaman Sagu Sagu merupakan tanaman asli Indonesia. Sagu (Metroxylon sp.) di duga berasal dari Maluku dan Papua. Di tempat tersebut dijumpai keragaman plasma nutfah sagu

yang paling tinggi. Namun hingga saat ini belum ada data yang mengungkapkan sejak kapan awal mula sagu ini dikenal. Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial disamping beras, khususnya bagi masyarakat kawasan timur Indonesia seperti Irian Jaya dan Maluku, yaitu sebagai pangan utama. Potensi sagu sebagai sumber bahan pangan dan bahan industri telah disadari sejak tahun 1970-an, namun sampai sekarang pengembangan tanaman sagu di Indonesia masih jalan di tempat. Klasifikasi tanaman sagu berdasarkan database tanaman dari pelayanan konservasi sumber daya alam (USDA, 2005) menyebutkan bahwa sagu termasuk dalam Famili (Arecaceae-Palm), Genus (Metroxylon) dan Spesies (Metroxylon sagu Rottb). Beccari (1918) menyatakan genus Metroxylon kelompok Eumetroxylon mempunyai 3 spesies (M.sagu Rottb., M rumphii Mart, dan M. Squarossum Becc.) Klasifikasi Beccari didasarkan pada ukuran dan bentuk buah, oleh sebab itu dianggap sebagai klasifikasi yang belum akurat. Tanaman sagu dengan bahasa latin Metroxylon sagu Rottboell, berarti tanaman yang menyimpan pati pada batangnya (Metro : empulur, xylon : xylem, sagu : pati). Menurut Flach (1995) tanaman sagu merupakan tanaman hapaxanthik (berbunga satu kali dalam satu siklus hidup) dan soboliferous (anakan). Satu siklus hidup tanaman sagu dari biji sampai membentuk biji diperlukan waktu hingga 11 tahun dalam empat periode fase pertumbuhan awal atau gerombol (russet) diperlukan waktu 3.75 tahun, fase pembentukan batang diperlukan waktu 4.5 tahun, fase infoloresensia (pembungaan) diperlukan waktu 1 tahun dan fase pembentukan biji diperlukan waktu selama 1 tahun (Flach, 2005) Sagu termasuk tanaman palem dengan tinggi sedang, setelah berbunga mati. Akar berserabut yang ulet, mempunyai akar nafas. Batang berdiameter hingga 60 cm, dengan tinggi hingga 25 m. Batang merupakan tempat penimbunan utama pati yang dihasilkan melalui proses fotosintesis. Batang terbentuk setelah ada russet berakhir yaitu setelah berumur 45 bulan dan kemudian membesar dan memanjang dalam waktu 54 bulan (Flach, 2005). Batang tanaman sagu memiliki kulit luar yang keras (lapisan epidermal) dan empulur tempat menyimpan pati. Bentuk daun menyirip sederhana,
Susi dan Eka Ruriani

1

Bioenergi - Sagu

dengan tangkai daun sangat tegar, melebar pada pangkalnya menuju pelepah yang melekat pada batang, pelepah dan tangkai daun berduri tajam. Perbungaan malai di pucuk, bercabang-cabang sehingga menyerupai payung, bunga muncul dari

percabangan berwarna coklat pada waktu masih muda, gelap dan lebih merah pada waktu dewasa; bunga berpasangan tersusun secara spiral, masing-masing pasangan berisi 1 bunga jantan dan 1 bunga hermafrodit, biasanya sebagian besar bunga jantan gugur sebelum mencapai antesis. Buah pelok membulat-merapat turun sampai mengerucut sungsang, tertutup dengan sisik, mengetupat, kuning kehijauan, berubah menjadi bewarna kuning jerami atau sesudah buah jatuh; bagian dalamnya dengan suatu lapisan bunga karang berwarna putih. Biji setengah membulat, selaput biji merah tua. Tanaman Sagu dikenal dengan nama Kirai di Jawa Barat, bulung, kresula, bulu, rembulung, atau resula di Jawa Tengah; lapia atau napia di Ambon; tumba di Gorontalo; Pogalu atau tabaro di Toraja; rambiam atau rabi di kepulauan Aru. Tanaman sagu masuk dalam Ordo Spadicflorae, Famili Palmae. Di kawasan Indo Pasifik terdapat 5 marga (genus) Palmae yang zat tepungnya telah dimanfaatkan, yaitu Metroxylon, Arenga, Corypha, Euqeissona, dan Caryota. Genus yang banyak dikenal adalah Metroxylon dan Arenga, karena kandungan acinya cukup tinggi.

Budidaya Tanaman Sagu Sagu dapat tumbuh sampai pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut (dpl), namun produksi sagu terbaik ditemukan sampai ketinggian 400 m dpl. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951), tipe iklim A dan B sangat ideal untuk pertumbuhan sagu dengan rata-rata hujan tahunan 2.500−3.000 mm/tahun. Sagu dapat tumbuh baik di daerah 100 LS - 150 LU dan 90 – 180 darajat BT, yang menerima energi cahaya matahari sepanjang tahun. Sagu dapat ditanam di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40%. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhannya adalah 60%. Sedangkan suhu optimal untuk pertumbuhan sagu berkisar antara 24,50−29⁰ C dan suhu minimal 15⁰ C, dengan kelembapan nisbi 90% (Haryanto dan Pangloli 1992 ). Tanaman sagu membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu. Sagu tumbuh di daerah rawa yang berair tawar atau daerah rawa yang bergambut dan di daerah sepanjang aliran sungai, sekitar sumber air, atau di hutan rawa yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi dan tanah mineral di
Susi dan Eka Ruriani

2

Lingkungan yang paling baik untuk pertumbuhannya adalah daerah yang berlumpur.5 – 6. Sagu mampu tumbuh pada lahan yang memiliki keasaman tinggi. hidromorfik kelabu dan tipe-tipe tanah lainnya. besarnya rata-rata. Biji/buah yang diambil tersebut adalah buah yang tidak cacat fisik. fosfat. terutama potasium. penataan bibit dan pembibitan. dimana akar nafas tidak terendam.Bioenergi . diberi naungan agar Tidak terkena cahaya matari langsung dan dilakukan penyiraman. Secara generatif yaitu dengan menggunakan biji yang berasal dari buah yang sudah tua dan rontok dari pohonnya. bibit dipindah ke bedeng pembibitan. Perbanyakan tanaman sagu secara vegetatif dapat dilakukan dengan menggunakan bibit berupa anakan yang melekat pada pangkal batang induknya yang disebut dangkel atau abut (jangan yang berasal dari stolon). dan magnesium. sedangkan bibit secara vegetative setelah diambil dapat langsung ditanam. Perkecambahan dilakukan pada media dari pasir dan serbuk gergaji basah Kelembaban media dijaga antara 80-90%. Sagu paling baik bila ditanam pada tanah yang mempunyai pengaruh pasang surut. podsolik merah kuning. Biji yang digunakan adalah biji yang berasal dari pohon induk yang baik. Bibit yang telah berumur 6-12 bulan dapat dipindah ke kebun atau ke tempat penanaman. dan bernas. andosol. Sagu dapat tumbuh pada tanah vulkanik. tumbuh pada lahan yang wajar serta produksi klon ratarata tinggi. Biji yang digunakan berasal dari buah yang sudah tua dan jatuh/rontok dari pohon induk yang baik. yang subur dan produksinya tinggi. yaitu subur dan produksinya tinggi. Pertumbuhan sagu juga dipengaruhi oleh adanya unsur hara yang disuplai dari air tawar. Secara generatif penyemaian benih tanaman sagu dapat dilakukan dengan cara perkecambahan tidak langsung. alluvial. terutama bila air pasang tersebut merupakan air segar. Setelah umur 1-2 bulan dan sudah berdaun 2-3 lembar. Susi dan Eka Ruriani 3 . Teknologi perbanyakan tanaman sagu dapat dilakuan dengan metode generatif dan vegetatif. Pemeliharaan dilakukan dengan penjarangan setelah 1 bulan. latosol.5. Pertumbuhan sagu yang paling baik adalah pada tanah liat kuning coklat atau hitam dengan kadar bahan organik tinggi. kalsium.Sagu rawa-rawa air tawar dengan kandungan tanah liat > 70% dan bahan organik 30%. penyiapan media. Pertumbuhan yang paling baik terjadi pada tanah yang kadar bahan organiknya tinggi dan bereaksi sedikit asam pH 5.

c. pucuk dan batang. dan tebal batang yang mengandung sagu 50 – 60 cm. Ciri pohon sagu siap panen pada umumnya dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada daun. ditandai dengan menguningnya pelepah daun. Pemupukan dilakukan dengan membenamkan pupuk dalam tanah. b. Pada hutan sagu liar. Berbeda dengan hutan budidaya sagu yang mengejar produktivitas yang optimal. Waktu pemupukan untuk tanaman sagu muda adalah sampai 1 tahun menjelang panen. pemupukan dilakukan 1-2 kali setahun. karena kandungan acinya sangat tinggi. agar tidak terbawa air sebelum terabsorbsi oleh akar tanaman lahan yang berada di daerah rawa/dataran rendah dan pasang surut yang sering yang terjadi luapan air. Daun muda yang terbentuk ukurannya semakin pandek dan kecil. Pada tingkat ini sagu jenis Metroxylon rumphii Martius sudah siap dipanen. diameter 60 – 70 cm. kecuali pada bagian pangkal pelepah masih tertinggal sedikit. antara lain kalsium. Pemupukan dilaksanakan secara melingkar di sekeliling rumpun atau secara lokal di daun sisi rumpun pada jarak sejauh pertengahan antara ujung tajuk dengan pohon/rumpun sagu. kalium dan magnesium. Pemupukan sekali setahun. Tingkat Maputih. duri. Kematangannya belum sempurna dan kandungan acinya masih rendah. Tingkat Maputih masa/masa jantung. atau bila ujung batang mulai membengkak disusul keluarnya selubung bunga dan pelepah daun berwarna putih terutama pada bagian luarnya. dilakukan pada awal musim hujan. tebal kulit luar 10 cm. Cara penentuan pohon sagu yang siap panen di Maluku adalah sebagai berikut : a. Kandungan acinya telah padat mulai dari pangkal batang sampai ujung batang merupakan fase yang tepat untuk panen sagu ihur (Metroxylon sylvester Martius) Susi dan Eka Ruriani 4 . Panen dapat dilakukan umur 6 -7 tahun. maka akan dilakukan pemupukan.Bioenergi . tetapi dalam keadaan terpaksa pohon ini dapat di panen. Tinggi pohon 10 – 15 m. Tingkat Wela/putus duri.Sagu Unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman sagu. yaitu suatu fase dimana sebagian duri pada pelepah daun telah lenyap. duri yang terdapat pada pelepah daun hampir seluruhnya lenyap. pemeliharaan tanaman berupa pemupukan jarang dilakukan. masing – masing dengan ½ dosis. Sedangkan untuk pemupukan dua kali setahun dilakukan pada awal dan akhir musim hujan. yaitu fase dimana semua pelepah daun telah menguning dan kuncup bunga mulai muncul.

sehingga tinggal gelondongan batang sagu sepanjang 6 – 15 meter.Bioenergi .000 hektar hutan sagu dan 224. Berat 1 gelondongan adalah + 120 kg dengan diameter 45 cm dan tebal kulit 3. Selanjutnya diungkapkan bahwa tanaman sagu ditemukan tumbuh secara alami mulai dari sebelah barat Thailand samapai sebelah timur kepulauan Santa Cruz dan dari sebelah utara Mindanao sampai sebelah selatan pulau Timor Indonesia. diperkirakan seluas 1.250. Melanesia. Pembersihan untuk membuat jalan masuk ke rumpun dan pembersihan batang yang akan di potong untuk memudahkan penebangan dan pengangkutan hasil tebangan.200. b. Sagu dipotong sedekat mungkin dengan akarnya. 1997) Susi dan Eka Ruriani 5 . 2005). Pemotongan menggunakan kampak/mesin pemotong (gergaji mesin).Sagu d. di mana kuncup bunga sagu telah mekar dan bercabang menyerupai tanduk rusa dan buahnya mulai terbentuk. dan beberapa pulau di Mikronesia dan Polinesia (McClatchey et al. c. merupakan tingkat kematangan terakhir. Tingkat siri buah.1 cm.000 hektar kebun sagu (Flach.250.000 hektar kebun sagu tersebar di Indonesia dan diperkirakan bahwa di Papua terdapat 1.000 hektar hutan sagu dan 14. Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa sekitar 2. Batang dibersihkan dari pelepah dan sebagian ujung batangnya karena acinya rendah. Luas Penyebaran Tanaman Sagu di Indonesia Palma sagu ditemukan tersebar luas di Asia tenggara.000 hektar hutan sagu dan 148. Gelondongan dipotong – potong menjadi 1-2 meter untuk memudahkan pengangkutan.000 hektar kebun sagu terdapat di dunia. Fase ini merupakan saat yang paling tepat untuk memanen sagu jenis Metroxylon longisipium Martius Cara Panen Langkah-langkah pemanenan sagu adalah sebagai berikut : a.

Sagu Sedangkan Ngudiwaluyo et al. Daerah penyebaran tumbunya tanaman ini sangat luas. (Notohadiprawiro dan Louhenapessy. Gambar 2. Daerah penghasil sagu utama ialah Irian Jaya.5 juta ha (Tabel 1).1950). Jawa Barat dan dan Papua. Maluku (terutama Seram dan Halmahera). Di Jawa sagu tidak terdapat umum dan ditemukan secara terbatas di Banten dan di beberapa tempat sepanjang pantai utara Jawa Tengah. Hutan sagu alam yang luas terdapat di sepanjang dataran rendah pantai dan muara sungai Irian Jaya. Peta penyebaran tanaman sagu di Indonesia (Matanubun dan Maturbongs. Di daerah lain hutan sagu yang ada sekarang kebanyakan merupakan kebun sagu yang meliar menjadi hutan karena tidak ada pemeliharaan (Heyne. Sulawesi. Sulawesi. mengacu Bakosurtanal 1996) menyatakan bahwa sagu di Indonesia menyebar seluas sekitar 1. Susi dan Eka Ruriani 6 . Kalimantan. (1996) dengan mengacu berbagai sumber menyatakan bahwa Indonesia memiliki areal sagu sekitar 1 juta ha. sedangkan Kertopermono (1996).Bioenergi . 2005). Kalimantan (terutama Kalimantan Barat) dan Sumatera (terutama Riau). Halmahera dan Riau. 2006). Nias. Tetapi keduanya sepakat bahwa 90% sebarannya ada di Papua (termasuk Papua Barat). mulai dari Sumatera. Mentawai dan Maluku. Seram. serta beberapa kepulauan seperti kepulauan Riau.

Aru (9.642 ha).137 ha).235 ha). Kep.981 ha). Sumatera Kalimantan Jawa Barat Total 32 3 0.400 ha). Bacan (2. Biak (21. Halmahera (9. Merauke (342.537 ha). Buru (848 ha).537 ha). Laporan BPPT (1980). Sarmi. Jayapura (36. Waropen. Papua Barat) Fakfak (389.Sagu Tabel 1.273 ha). Distribusi Utama Sagu di Indonesia Daerah Papua Barat termasuk Papua Luas (ribu Ha) 1. Bintuni (86.159).670 ha).406 Catatan Sorong (499. Sulawesi Utara (23.3 1.840 ha). Sulawesi Tengah dan Tenggara (13.610 ha).Bioenergi .529 Terutama Riau Pesisir Kalimantan bagian Barat hingga Tenggara. Sulawesi Selatan (8. Salawati (6. Maluku 42 Sulawesi 46 Sumber: Bakosurtanal (1996) dalam Kertopermono (1996) Susi dan Eka Ruriani 7 . (termasuk Mamberamo (21.237 ha).494 ha). Seram (19.762 ha).

Kemampuan tanaman sagu untuk mengakumulasikan tepung pati pada batangnya dapat mencapai 200 sampai 220 kg/pohon (Jong. sagu diketahui mempunyai daya hasil pati tertinggi per satuan luas per satuan waktu. rata-rata hasil pati kering 10 t/ha/th biasa diperoleh.5 1. Hasil pati (t/ha/th) 25 6 5. Dengan perhitungannya sendiri. Dengan demikian. hasil itu masih dapat ditingkatkan menjadi 15 t/ha/th.5 Susi dan Eka Ruriani 8 . sagu dapat terus-menerus berproduksi secara ekonomis tanpa penanaman baru. Namun setelah itu. hasil optimistis yang konsisten mungkin tidak setinggi itu. Komoditas Sagu Padi Jagung Gandum Kentang Ubi kayu Sumber: Ishizaki (1996). Doelle (1998) juga sampai pada angka 25 ton/ ha. Malaysia (Flach 1977).Bioenergi . Ishizaki (1998) pun menunjukkan angka yang sama untuk superioritas sagu dibanding komoditas penghasil pati lain (Tabel 3). secara teoritis. Dari perkebunan sagu yang sehat tetapi dikelola semi-intensif di Riau. Dengan perbaikan teknik budi daya dan pengendalian kehilangan dalam proses panen dan pengolahan. tanaman sagu memiliki kemampuan untuk menghasilkan karbohidrat lebih tinggi dibandingkan tanaman karbohidrat lainnya. 1999). Penelitianpenelitian terbaru memperlihatkan kemampuan beberapa jenis sagu menghasilkan lebih dari 700 kg pati kering per pohon (Yamamoto 2004). Hasil pati setinggi 25 ton/ha/th dilaporkan di perkebunan sagu intensif di Batu Pahat. dengan kemampuan selalu menumbuhkan tunas-tunas baru. sagu mulai berproduksi pada umur sekitar 10 tahun. Daya hasil pati sagu dibanding beberapa komoditas lain.Sagu Data Statistik Sagu Ditinjau dari segi penghasil karbohidrat. Tetapi karena beberapa alasan.5 5 2. Angka tersebut sudah beberapa kali lipat lebih tinggi daripada tanaman penghasil pati lain. Dari penanaman baru. Hingga kini. Tabel 2. setiap hektar dengan 100 pohon dapat menghasilkan 70 ton pati kering sagu. 1995) Produksi pati kering tanaman sagu di Maluku dapat mencapai 345 kg/pohon (Bintoro.

Luas Areal dan Produksi Perkebunan Sagu Indonesia (PR+PBN+PBS) Menurut Jenis Tanaman dan Keadaan Tanaman Tahun 2004-2006 Jenis Perkebunan Rakyat (PR) Tahun TBM Luas Areal/Area (Ha) TM TTM/TR Jumlah Total 45485 9139 93880 47874 9854 99441 48651 8120 94528 1327 0 13930 1327 0 26719 46812 9139 107810 49201 9854 126160 Produksi 15488 16296 14202 8907 11049 24395 27345 Rerata produksi (kg/Ha) 341 340 292 6712 8326 521 556 Jumlah Petani (KK) 132270 123648 83790 0 0 132270 123648 - 2004 39256 2005 41713 2006 37757 Swasta (PBS) 2004 12603 2005 25392 2006 Seluruh 2004 51859 Indonesia 2005 67105 (PBN) 2006 (Departemen Pertanian. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Sagu Rakyat Menurut Jenis Tanaman dan Keadaan Tanaman Tahun 2006 Provinsi TBM Luas Areal/Area (Ha) TM TTM/TR 38 4 4 0 699 486 1506 12 422 0 348 763 2943 895 8120 Produksi Jumlah Total 525 294 26 481 2533 5073 2989 64 3691 15 5304 5608 57619 10306 94528 125 25 3 14 291 746 117 6 498 1 655 621 9124 1976 14202 Rerata produksi (kg/Ha) 363 338 300 230 352 274 244 333 245 200 334 381 279 343 292 Jumlah Petani (KK) 1663 292 160 1883 6670 8155 3289 154 5820 42 14201 1778 16952 22731 83790 Papua 143 344 Maluku Utara 216 74 Maluku 12 10 Sulawesi 420 61 Tenggara Sulawesi Barat 1007 827 Sulawesi Utara 1860 2727 Sulawesi 1004 479 Tengah Gorontalo 34 18 Sulawesi Utara 1237 2032 Kalimantan 10 5 Timur Kalimantan 2997 1959 Selatan Kepulauan Riau 3216 1629 Riau 21954 32722 Nangroe Aceh 3647 5764 Darussalam Total 37757 48651 (Departemen Pertanian. 2006) Keterangan : TBM : Immature TM : Mature TTM/TR : Damaged Susi dan Eka Ruriani 9 .Sagu Tabel 3. 2006) Tabel 4.Bioenergi .

Sagu Pohon Industri Sagu Obat tradisional atap daun dinding Tumang/tempat sagu kerajinan kertas Sagu Partikel board Kulit batang lantai Bahan bakar Salad dressing roti makanan mie Batang sagu Bahan kimia bioetanol biofuel siklodekstrin farmasi Sirup glukosa Pati sagu bioplastik lem plywood Tekstil Asam sitrat Asam laktat Gambar 2.Bioenergi . Pohon Industri Sagu Susi dan Eka Ruriani 10 .

di samping itu juga sebagai bahan baku untuk pembuatan sirup dengan fruktosa tinggi dan etanol. pemanis Pangan Sumber : NTFP. dapat pula digunakan sebagai perekat atau lem kayu lapis. sagu sejak lama digunakan sebagai makanan pokok oleh sebagian penduduknya. Sangat rendahnya pemanfaatan areal sagu yang hanya sekitar 0. antibiotika dan lain-lain Roti. roti. Farmasi.Bioenergi . aseton. Areal sagu seluas ini belum di eksploitasi secara maksimal sebagai penghasil tepung sagu untuk bahan kebutuhan lokal (pangan) maupun untuk komoditi ekspor. bagea atau aneka kue sagu. Indonesia termasuk satu dari 2 negara yang memiliki areal sagu terbesar di dunia selain Papua Nugini. permen. dessert. Asam sitrat. tekstil. dairy. insulasi cat. soun. baterai. lisine. misalnya akusa. Potensi Pemanfaatan Industri Pati Sagu Industri Non pangan Pemanfaatan Lem. terutama di Maluku dan Papua. Selain itu juga digunakan sebagai campuran produk mie. larutan injeksi dekstrose. asam laktat (plastik organik). ethanol.1% dari total areal sagu nasional disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu sebagai akibat dari rendahnya kemampuan dalam memproduksi tepung sagu melebihi kebutuhan masyarakat lokal. 2003 Sagu adalah salah satu sumber karbohidrat yang cukup potensial. dan ampasnya dapat dimanfaatkan sebagai pulp untuk pembuatan kertas atau pakan ternak (Haryanto dan Pangloli 1992. pelepah untuk dinding rumah. salad dressing. Batseba et al.Sagu Pemanfaatan Sagu Saat Ini Di wilayah Indonesia bagian timur. Indonesia memiliki hamparan hutan sagu seluas lebih 1 juta hektar. Daun dari pohon sagu digunakan sebagai atap rumah. mi. Serat sagu dapat dibuat hardboard atau bricket bangunan bila dicampur semen. Pemanfaatan sagu untuk produksi pangan dan non pangan tercantum pada tabel 4. Sampai sekarang pemanfaatan sagu di Indonesia masih dalam bentuk pangan tradisional. kosmetik. misalnya dikonsumsi sebagai makanan pokok dalam bentuk papeda. 2000). penisilin. rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi bentukSusi dan Eka Ruriani 11 . keramik. bakso dan dalam pembuatan kuekue tepung sagu. plywood. Tabel 4.

Sagu tidak hanya menghasilkan pati terbesar. Bahkan dibandingkan dengan jagung dan terigu. Dengan beberapa varietas sagu penghasil pati tinggi seperti para. singkong. Sagu mampu menghasilkan pati kering hingga 25 ton per hektar. dan terigu. Setaip batang menghasilkan sekitar 200 kg tepung sagu basah per tahun. dan kentang.5 ton per hektar.. tetapi juga menghasilkan pati sepanjang tahun. Tinggi batang sagu dewasa mencapai 10 m . kentang. Setiap Susi dan Eka Ruriani 12 . sagu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternative pengganti beras.Bioenergi . kondisi geografis dimana habitat tanaman sagu umumnya berada pada daerah marginal/rawa-rawa yang sukar dijangkau. Produk sampingan berupa empulur muda dapat digunakan sebagai komponen pakan ternak. Sagu juga mengandung pati tidak tercerna yang baik untuk kesehatan pencernaan. jagung. Kadar karbohidrat tersebut setara dengan yang terdapat pada tepung beras.yepha. yaitu mengandung 84. singkong.Sagu bentuk produk lanjutannya. sebagai pupuk organik. Produk sampingan dari tanaman sagu yaitu sebagai pakan ternak. Kandungan energi dalam 100 gram tepung sagu (353 kkal) hampir setara dengan bahan pangan pokok lain berbentuk tepung. Prospek Pemanfaatan Sebagai Bahan Baku Bioenergi Bagian terpenting dalam tanaman sagu adalah batang sagu karena merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang dapat menghasilkan pati sagu. seperti beras. Ukuran dari batang sagu dan kandungan patinya tergantung pada jenis sagu. Pada umur panen sekitar 11 tahun ke atas empulur sagu mengandung pati sekitar 15-20 persen. serta adanya kecenderungan masyarakat menilai bahwa pangan sagu adalah tidak superior seperti halnya beras dan beberapa komoditas karbohidrat lainnya. umur dan habitatnya. maka sagu dapat menjadi komoditi alternative pensubtitusi beras. kandungan karbohidrat sagu relatif lebih tinggi. Nggobe (2005) menyebutkan produk sampingan sagu melalui proses fermentasi dapat digunakan sebagai pakan ternak. Sebagai sumber pangan.7 g per 100 g bahan. bioherbisida dan biogas. Tepung sagu memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. osukul dan folo. jauh melebihi produksi pati beras atau jagung yang masingmasing hanya 6 ton dan 5. Residu empulur sagu dapat menjadi kompos dan residu buangan pengekstrak sagu dapat digunakan sebagai bioherbisida dan biogas.

5 Maks 0.03 0.61 Irja 92. Pati sagu mengandung 27% amilosa dan 73% amilopektin.57 75.82 Kalsel 94.Bioenergi . Data karakteristik mutu pati sagu dari beberapa daerah di Indonesia Standar mutu Persyaratan SNI 01-37291995 Maks 13 Maks 0.96 2. 2008 Susi dan Eka Ruriani 13 .Sagu pohon sagu dapat menghasilkan tepung sagu berkisar antara 50-450 kg tepung sagu basah.76 1.06 3.30 5. dan zat besi yang tinggi.50 0.57 12.75 2.11 1) Ansharullah (1997) 2) Arbakiya et al (1990) 470 1992 Sumber : Yuliasih.33 2) 0. kurang lekat dan mudah menyerap air (higroskopis).82 0.22 75. Kecuali untuk keperluan yang amat khusus. Pati sagu memiliki granula yang berbentuk elips agak terpotong dengan ukuran granula sebesar 20-60 m dan suhu gelatinisasinya berkisar 60-72oC.5 – 6.25 75.26 2.38 1.. sagu berpotensi dijadikan sebagai bahan baku sirup glukosa yang dapat meningkatkan nilai tambah sagu.16 4. Sifat fisikokimia pati sagu dari beberapa daerah di Indonesia diperlihatkan dalam Tabel berikut Tabel 5.13 14.71 13. Semakin tinggi kadar amilosa maka pati bersifat kurang kering. lemak.57 0.00 1.5*) Riau Jabar Kalsel Sulut Irja Kadar air (%) Kadar abu (% bk) Kadar serat kasar (% bk) Kadar gula pereduksi (ppm) pH 12.44 0.14 4.63 2) Riau 92.15 1.19 73.30 1.42 0. Pati sagu bersifat multiguna.17 6.41 *) SIRIM standard MS 470 1992 Sumber : Yuliasih. Sifat fisiko kimia dan fungsional pati sagu dari beberapa daerah di Indonesia Sifat fisiko kimia dan fungsional Kadar pati (%bk) : Amilosa (%) Amilopektin (%) Kadar lemak (% bk) Kadar protein (% bk) Pustaka 96.69 1) 0.37 24. Sagu memiliki kandungan karbohidrat.79 0. 2008 3) Swinkels (1985) 4) SIRIM standard MS Tabel 6.12 26.1 4.37 0.43 73. (1986) suhu gelatinisasi pati sekitar 72-90oC.08 0.04 0. kalsium. Dengan kandungan tersebut.01 4.20 1.11 0. pati sagu dapat menjadi substitusi kebanyakan pati lain.00 Sulut 94.20 0.39 24. protein.32 14.92 Jabar 96.76 0. Sedangkan menurut Wirakartakusumah et al.51 1.93 26.06 24. Perbandingan komposisi kadar amilosa dan amilopektin akan mempengaruhi sifat pati.46 0.

Teknologi kultur jaringan tanaman sagu telah berhasil dikembangkan di Balai Penelitian Susi dan Eka Ruriani 14 . Tentu saja angka tersebut tidak realistis karena sangatlah sulit memanfaatkan seluruh potensi hutan sagu mengingat lokasi tegakan alami sagu yang terpencil dan sulit.19 – 0. 1993). Pertumbuhan batang sagu dapat dihitung berdasarkan jumlah ruas-ruas bekas daun. Apabila bioetanol dapat menggantikan premium sekitar 10% (campuran premium dan etanol 90:10) maka diperlukan etanol sebanyak 1.13%. Bioetanol sebagai campuran premium tidak mengandung timbal dan tidak menghasilkan emisi hidrokarbon sehingga ramah lingkungan. Hasil penelitian Ahmad et al (1999). menunjukkan bahwa komposisi kimia pati sagu dari Asia Tenggara dalam kisaran yaitu kadar air 10.6 – 20%.25%. 1985). setara dengan 15 kiloliter etanol. dari limbah padat organik pertanian. maka pertanaman sagu di Indonesia dapat menghasilkan bioenergi sekitar 0.6 juta kiloliter. Pengembangan perkebunan sagu komersial memerlukan bahan tanam unggul dalam jumlah besar. Etanol yang diperoleh dimurnikan dengan destilasi. sedangkan ukuran granula pati kentang (Swinkels. serat 0. Karena dihasilkan dari tanaman maka bioetanol dari sagu bersifat terbarukan. Jika diambil angka rata-rata pertanaman sagu yang dapat dipanen adalah 30%.43%. Periode pertumbuhan pohon sagu diperkirakan 135 – 141 bulan atau 11.Bioenergi . Apabila tabungan karbohidrat di hutan sagu Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal untuk bioetanol maka dapat diperoleh bioetanol 3 juta kiloliter per tahun dengan asumsi faktor konversi 0. asal dari pati. Ini merupakan kendala utama pada saat ini. Kebutuhan premium nasional diperkirakan sekitar 16 juta kiloliter pertahun.8 – 0. Potensi produksi sagu di Indonesia diperkirakan sekitar 5 juta ton pati kering per tahun. Jong (2007) memperkirakan hanya 20% pertanaman di Indonesia yang dapat dipanen dengan produksi etanol sekitar 10 ton/ha/tahun. Perkebunan sagu yang diusahakan dengan baik dapat menghasilkan pati kering 25 t/ha/tahun. tebu.75 tahun dengan jumlah ruas bekas daun diperkirakan 207 ruas (Flach. Konsumsi pati sagu dalam negeri hanya sekitar 210 ton atau baru 4-5% dari potensi produksi. 1985 di dalam Van Beynum dan Roels.6. dan jagung. dijangkau. dan dari perkebunan sagu komersial.11. gula dan bahan selulosanya. Bentuk dan komposisi granula pati sagu dibandingkan jenis pati yang lainnya mendekati pati ubi kayu.25.32% dan protein kasar 0. abu 0. lemak kasar 0. Hanya saja produksi etanol dengan teknologi sederhana harus diawasi secara ketat untuk menghindari kemungkinan penyalahgunaannya sebagai minuman keras. Sebagian kebutuhan bioetanol bioetanol dapat dipenuhi dari tanaman penghasil karbohidrat lain seperti ubi kayu.26 – 0. Kebutuhan ini sudah dapat dipenuhi dari pati sagu saja. Salah satu alternatif penyediaan bibit unggul sagu adalah dengan teknik kultur jaringan. Pati sagu diubah menjadi gula menggunakan mikroba dan difermentasi lebih lanjut menjadi etanol.06 – 0.058 EJ atau 58 juta GJ / tahun.Sagu Granula pati sagu terdapat pada bagian empulur batang sagu dalam bentuk sel sel (pith).

The Yield Potentials of The Sago Palm and Its Realization. J. Tirajoh. Internet Conf. Tan (ed.Bioenergi .unu.D. Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat. In: E-L. 12:156195 Departemen Pertanian. 1999... Statistik Perkebunan Indonesia. Doubler. karena di Indonesia pemanfaatan lahan-lahan marginal masih kurang sehingga sagu merupakan salah satu bahan berpatipatian yang sangat potensial digunakan sebagai bahan baku produksi bioetanol yang pada nantinya untuk bahan subtitusi bensin. P. Senta (eds. M.Roy. H. Proc. 1918.ias. B. Integrated bio-systems in zero emissions applications. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Foo & T. Alasannya. Physicochemical Caracterization of Sago Starch. M. J. University of Western. 1998. Sydney. Williams. Socio-Economic Microbial Process Strategies for a Sustainable Development Using Environmentally Clean Technologies. Lepidocaryeae. In: K. namun masih ada hambatan dalam aklimatisasi bibit. F. A. Inst.B. 1997. Asiatic Palms.A.W. A. S. Rheological Behavior of Sago Starch During Liquifaction and Sacharification. Renewable Resource: Sagopalm.Food Eng. Prosedur pembentukan embrio somatik dan planlet telah berhasil dengan baik..edu/proceedings/icibs/doelle/paper. Durand.). Caracteristic and Extruction of Metroxylon Sago Starch. Integrated Bio-Systems. p157-77 Susi dan Eka Ruriani 15 . 10 : 610 – 613 Batseba.A. dan Buleon. Jakarta Doelle. Sagu sejatinya bisa dikembangkan tanpa menimbulkan gangguan pada tanaman penghasil karbohidrat lainnya. Beccari O. Teknologi Peningkatan Produktivitas Ayam Buras. 38 : 361-370 Ansharullah. Arbakiya. sagu bisa tumbuh baik pada lahan marginal gambut. Departemen Pertanian. Proc. rawa. PUSTAKA Ahmad. [Thesis].of Advanced Studies.).W. 5-7 July 1976. Nurjehan.Sagu Bioteknologi Perkebunan Indonesia melalui embryogenesis somatik. Carboxylon Polym. payau atau lahan tergenang lainnya. 1990.htm) [21 Maret 2009] Flach. Bot. Asbi dan R. Sago 76.. Tiro. Sago Symp.. UN University (http://www. S. 1977. 2000.. Ann. dan Usman. Gard. J. Calcutta. Jayapura. 1st Int. Sehingga tidak perlu berebutan lahan dengan tanaman pangan utama dan penting lainnya.

2007.sagu. Pekanbaru. 2005..R. M. Domestication. 1995. Indonesia. 2. Indonesia. 9-12 December 1996. Sago: The Future Source of Food and Feed. Jong. Abstracts of The Eight International Sago Symposium in Jayapura.[18 Maret 2009] Susi dan Eka Ruriani 16 .Org.Bioenergi . M. M. 76p Flach. Promoting The Conversation and Use of Underutilized and neglected Crops. Abstracts of The Eight International Sago Symposium in Jayapura.org/books/389 [18 Maret 2009] Flach. Univ. salomonense. Molat-Ambutrub. Jurnal Iptek Tanaman Pangan Vol. ISHS Acta Horticulturee International Sago Palm Symposium.P. Metroxylon amicarum. 2005..182 h Ishizaki. A Simple Growth Model for Sago Palm cv. Pakan Baru 9 – 12 Desember 1996. http://www. 1995. Malaysia. dan P. M. Species Profiles for Pacific Island Agroforestry. and Product.S. Pangloli. 139p Jong. M. A. Pekanbaru. B. Concluding Remarks of The Proc. 1997. Haryanto.) Cultivation in Sarawak. 85p Flach. 1988. and Maturbongs L. Research Priorities for Sago Palm Development in Indonesia and Sarawak. Jong. Kertopermono. Dept. A. warburgii (sago palm). 2005. Biodiversity and SocioCultural Concideration for Industrial Sago Palm Plantation at South Sorong Papua.I. Kuching. Training Center. Malaysia. BPPT. paulcoxii. The Sago Palm. Exploitation. Manner H. Japan Society for Promotion Science. vitiense and M. Research for Development of Sago Palm (Metroxylon sagu Rottb. FS. Sagu Manfaat dan Kegunaannya. Sago Palm Potential. And It’s Applications for Cultivation. Indonesia.. M. McClatchey W. F. Indonesia. IPGRI. and Widjono. Abstracts of The Eight International Sago Symposium in Jayapura. M. 6th International Sago Symp. Japan Society for Promotion Science. 1996. and Elevitch C. 1983. FAO Plant Production and Protection.Sagu Flach. Sagu : Potensi Besar Pertanian Indonesia.. 59-68 Matanubun H. 2005. Rome. Sago Palm Metroxylon sagu Rottb. Sixt International Sago Symposium..actahort. A Crucial Need to Expedite The Commercial Development of The Sago Industry. Inventory and Evaluation of Sago Palm ( Metroxylon sp) Distribution. M.. Japan Society for The Promotion Science. www. 1996. Agriculture. FS. Sarawak. An Agenda for Research.traditionaltree. A.

Metroxylon sagu Rottb. B. J. http://www. Miyazaki A. J..actahort.htm.. Suitability of Sago Starch as a Base for Dual Modification. Sci. The Utilizing By Product of Sago as Feed for Poultry in Papua. Abstracts of The Eight International Sago Symposium in Jayapura. Simposium Sagu Nasional. 1992. Y. 2002. Hazukuri. Starch Accumulation Process and Varietal and/or Regional Difference in Starch Productivity of Sago Palm (M.htm [21 Maret 2009] SNI. Technol. S. UNPATTI. 1995. Riau Univ. 1213 Oktober 1992. T.). Sazuki and s. 2004. A.org/books/389/389-12. Wattanachant.Bioenergi . Invited paper presented at National Sago Conference BPPT. Yoshida T. Di dalam Van Beynum.J.S. 1995. SIRIM. 1992.A. Susi dan Eka Ruriani 17 .M. J... Pekanbaru. 24 (2) : 431 – 438 Swinkels. Muhammad. Dessy. Sago: the future source of food and feed.http://plants. Starch Conversion Technology. and Louhenapessy. Indonesia. Jose & A. Potensi Sagu Dalam Penganekaragaman Bahan Pangan Pokok Ditinjau dari Ketersediaan Lahan. Marcel Dekker Inc. Kamugawa T. It Chemistry and Physics.Ambon.. Ethanol Production from Raw Sago Starch Under un Steril Condition. In: C. Training Center. Songklanakarin.M.[15 Maret 2009] Takeda. New York. 1996. Pemda Maluku. Takeda. SKS.225-30. Y. Source of Starch. S. 1995. Indonesia.. Malaysian Standard. 2005.E.M.A. Japan Society for the Promotion Science.. sagu Rottb. Ngudiwaluyo. Solichien..A. jong F. Hashim dan R.. G.. Roels. December 2004. Food. 1989.org/books/389/389-12. Japan Society for The promotion Science. Natural Resources Conservation service.actahort. Departemen Perindustrian. Pasolon Y.and Tanaka H. dan BPPT. Notohadiprawiro. Pranamuda H. Amos.Sagu Nggobe.Ozawa T.. Abstracts of The Eight International Sago Symposium in Jayapura. Rasyad (eds. M.). Biodiversity and Productivity of Several Sago Varieties in Indonesia. Indonesia. Sago palm. Standar Nasional Indonesia 01-3729 : Pati sagu. and Matanubun H. http://www.. 2005. J. Bogor. 54 (1) : 117-182 USDA.B. dan J. 2005. MS 470 : Spesification for Edible Sago Starch (1st Revision) Standards and Industrial Research Institute of Malaysia. D.. Sc. Sago Starch as a Substrat for Cyclodextrin Production. Rahman.gov:8080/plants/nameSearch?keywordquery=metroxyl on+sagu&mode=sciname [15 Maret 2009] Yamamoto Y. Utilization of Sago in Supporting Food Security. Yamamoto. Jakarta. Structures and Properties of Sago Starch With Low and High Viscocities on Amilograph.usda. p. C. 1985.

2008. sagu Rottb.).Sagu Yamamoto. December 2004. I. Starch Accumulation Process and Varietal and/or Regional Difference in Starch Productivity of Sago Palm (M. Sekolah Pascasarjana IPB. Yuliasih. Susi dan Eka Ruriani 18 . Invited paper presented at National Sago Conference BPPT. Bogor. Y.Bioenergi . Fraksinasi dan Asetilasi Pati Sagu (Metroxylon sagu Rottb) serta Aplikasi Produknya Sebagai bahan Campuran Plastik Sintetik. 2004. Indonesia. Bogor. [Disertasi].

Sagu All Photo by : Purwanto (2009) Susi dan Eka Ruriani 19 .Bioenergi .

Bioenergi .Sagu Susi dan Eka Ruriani 20 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->