P. 1
askep appendiksitis

askep appendiksitis

|Views: 75|Likes:
Published by M Ghozali

More info:

Published by: M Ghozali on Jul 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/15/2014

pdf

text

original

TUGAS PORTOFOLIO ASKEP APPENDIKSITIS

DI SUSUN OLEH : NAMA : MUAMAR GHOZALI NIM : G2A011032

PRODI S1 KEPERAWATAN UNIVERSITAS MUHAMMADYAH

SEMARANG

2000). Bila infeksi bertambah parah. Apendiksitis adalah radang apendiks. 1995).ASKEP APPENDIKSITIS 1. 1999). (Long. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Apendisitis. suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dzri sekum. 2007) . 1989). lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer. Appendiksitis adalah peradangan pada appendiks yang berbentuk cacing yang berlokasi dekat katub ileocekal. Namun. Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). PENGERTIAN : Appendiksitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis. usus buntu itu bisa pecah. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman. (Anonim. Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Apendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan. Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. 1996 ). obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi (Sabiston.

atau neoplasma. benda asing. 3. fekalit. diapedesis bakteri. tekanan akan terus meningkat. Pada saat ini terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. 2000: Apendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid. striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. 4. sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon. Tumor appendiks. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. edema bertambah. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal. invasi kuman E Coli dan spesibakteroides dari lumen ke lapisan mukosa. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulkan appendiksitis. Obstruksi yang terjadi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. PATOFISIOLOGI : Menurut Mansjoer. ETIOLOGI/PREDISPOSISI : Appendiksitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat : 1. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. . 3. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema. dan ulserasi mukus. nausea. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Hiperplasia dari folikel limfoid. muntah. 2.Suhu tubuh mulai naik. lapisan muskularisa. Bila proses tersebut berjalan lambat. Adanya fekalit dalam lumen appendiks. Adanya benda asing seperti cacing askariasis.Bila sekresi mukus terus berlanjut. Histilitica.2. akan menyebabkan apendisitis perforasi. 5. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabkan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah. Sumbatan menyebabkan nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium. Menurut penelitian. Bila dinding yang telah rapuh pecah. submukosa. Keadaan ini yang kemudian disebut dengan apendisitis supuratif akut. dan akhirnya ke peritoneum parietalis terjadilah peritonitis lokal kanan bawah. namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. dan bakteri akan menembus dinding. Semakin lama mukus semakin banyak. Peradangan apendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark diding apendiks yang diikuti dengan gangren.

Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap.Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang. Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis. Manifestasi klinis menurut Mansjoer. Cecily. dan demam yang tidak terlalu tinggi. kuramg umum pada anak yang lebih besar). Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. mual. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah. Diare. akan semakin meyakinkan diagnosa klinis. Menurut Betz. Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali. Apendisitis akuta (sederhana. psoas. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin progresif. kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah Anoreksia Mual Muntah. Tahapan Peradangan Apendisitis 1. tanpa perforasi) Apendisitis akuta perforate ( termasuk apendisitis gangrenosa. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda Rovsing. Terdapat juga keluhan anoreksia. Iritabilitas. Disuria. Biasanya juga terdapat konstipasi. b). Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi.MANIFESTASI KLINIK : a). Gejala berkembang cepat. dinding apendiks lebih tipis. . dan obturatorpositif. Konstipasi. malaise. karena dinding apendiks sebenarnya sudah terjadi mikroperforasi) 4. tetapi kadang-kadang terjadi diare. 2000 : o o o o o o o o o o o o Sakit. dan muntah. kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama. Nyeri lepas. 2000 : Keluhan apendiks biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. dan denghan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. 2.(tanda awal yang umum.

Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar. b).Operasi: o o o Apendiktomi. Jika dokter menekan daerah ini. yang terdiri dari : Mual. nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. phenergan sebagai anti menggigil.maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. 6. Sebelum operasi: o o o o o o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi Pemasangan kateter untuk control produksi urin. Obat-obatan penurun panas. Demam bisa mencapai 37. lalu timbul mual dan muntah. 5. penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan. KOMPLIKASI :    Perforasi dengan pembentukan abses Peritonitis generalisata. dosis tinggi dan diberikan secara intravena. nyerinya bersifat menyeluruh. Pieloflebitis dan abses hati.Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas. largaktil untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai. .8-38. 2000 : a). Setelah beberapa jam. rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. di semua bagian perut. Bila demam. Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV. Bila usus buntu pecah. Pada orang tua dan wanita hamil. nyeri bisa bertambah tajam.massanya mungkin mengecil.atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Pada bayi dan anak-anak. jika apendiks mengalami perforasi bebas. nyeri dan demam bisa menjadi berat. Rehidrasi Antibiotic dengan spectrum luas. tapi jarang. harus diturunkan sebelum diberi anestesi. muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan. Apendiks dibuang.8° Celsius.PENATAKSANAAN : Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer.

suhu tubuh tidak tinggi lagi. Baringkan pasien dalam posisi semi fowler. suhu tubuh masih tinggi Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri. Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan : o o o o Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih. Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau tanpa peritonitis umum. Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan. puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai dengan : o o o Keadaan umum klien masih terlihat sakit. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x30 menit. selama pasien dipuasakan. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan. lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut.c).Pasca operasi: o o o o o o o o o Observasi TTV. . Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan istirahat di tempat tidur. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang. Bila tindakan operasilebih besar. misalnya pada perforasi. Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam.

mimisan splenomegali. Umur : sering terjadi pada usia tertentu dengan range 20-30 tahun. PEMERIKSAAN PENUNJANG (1). . Suku/bangsa. Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital. 2).  pada appendicular infiltrat. Alamat.muntah. Status perkawinan. Pendidikan. dan kelainan bunyi jantung. Pendapatan. d. peningkatan leukosit. ada tidaknya distensi vena jugularis. pucat. Pemeriksaan darah  leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. Nomor register. mual . edema. Agama. Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan. Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang. LED akan meningkat. DATA TERFOKUS TERKAIT PERUBAHAN POLA FUNGSI DAN PERIKSAAN FISIK 1). 4). 3). RIWAYAT KESEHATAN (TERFOKUS PADA KASUS) : 1) Riwayat Kesehatan saat ini : keluhan nyeri pada luka post operasi apendektomi. peningkatan suhu tubuh. Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan. DEMOGRAFI (TERFOKUS PADA KASUS) Nama. Jenis kelamin. PENGKAJIAN FOKUS > pengkajian yang di fokuskan pada fokus a. sendi dan terdapat fraktur atau tidak. sakit pada tulang. Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah bening.7. 2) Riwayat Kesehatan masa lalu Apakah sebelumnya pasien pernah di rawat di rumah sakit atau pernah mengalami sakit seperti ini c. b. Pekerjaan. Laboratorium (a). 5).

Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik. Barium enema Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. . Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendix (appendectomy). Pemeriksaan urin untuk melihat adanya eritrosit. juga bila dicurigai adanya abses. appendix dapat divisualisasikan secara langsung. Radiologis (a). Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum.(b). leukosit dan bakteri di dalam urin. dapat dilakukan pemeriksaan USG. Laparoscopi Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam abdomen. terutama pada wanita. (d). (c). (e). USG Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan. adnecitis dan sebagainya. (2). CT-Scan Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendicitis. Foto polos abdomen Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah terjadi komplikasi (misalnya peritonitis) tampak :  scoliosis ke kanan  psoas shadow tak tampak  bayangan gas usus kanan bawah tak tampak  garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak  5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak (b).

Resiko kekurangan volume cairan sehubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri. c). b). PATHWAYS : 9. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi. d). Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada abdomen kuadran kanan bawah post operasi appenditomi. .8.DIAGNOSA KEPERAWATAN a).

meningkatkan relaksasi. Menghilangkan nyeri. Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan 10. Intervensi : a). karakteristik dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat. FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL A).perubahan dan karakteristik nyeri. Meningkatkan kormolisasi fungsi organ. Berikan aktivitas hiburan. c). . : Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi appendiktomi Tujuan : Nyeri berkurang / hilang dengan Kriteria Hasil : Tampak rilek dan dapat tidur dengan tepat. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Kaji skala nyeri lokasi. Diagnosa Keperawatan 1. b). c). b). d). g). Dorong ambulasi dini. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. e). e). f). d). Berguna dalam pengawasan dan keefesien obat. Kolborasi tim dokter dalam pemberian analgetika. Rasional : a). Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.e). kemajuan penyembuhan.

Diagnosa Keperawatan 2. b). c). Meningkatkan kormolitas organ sesuiai dengan yang diharapkan. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri Tujuan : Toleransi aktivitas Kriteria Hasil : a). d). Klien dapat bergerak tanpa pembatasan b). Ukur tanda-tanda vital b).B). Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan. Diagnosa Keperawatan 3. Bantu klien dalam melakukan aktivitas yang memberatkan. Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif. Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan. Tidak berhati-hati dalam bergerak. b). Memperbaiki mekanika tubuh. c). catat respon emosi terhadap mobilitas. Intervensi : a). : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi Tujuan : Infeksi tidak terjadi Kriteria Hasil : Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangan Intervensi : a). C). Rasional : a). d). Observasi tanda-tanda infeksi . Berikan aktivitas sesuai dengan keadaan klien.

d). Deteksi dini terhadap infeksi akan mudah c). Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan intra vena Rasional : a). Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik septik dan aseptik d). Awasi vital sign: Evaluasi nadi. Diagnosa Keperawatan 4. turgor kulit dan membran mukosa c).c). : Resiko kekurangan volume cairan berhubungna dengan pembatasan pemasuka n cairan secara oral Tujuan : Kekurangan volume cairan tidak terjadi Intervensi : a). Indikator hidrasi volume cairan sirkulasi dan kebutuhan intervensi c). Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran bakteri. Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka. Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan atau kebutuhan pengganti. pengisian kapiler. D). Ukur dan catat intake dan output cairan tubuh b). Mempertahankan volume sirkulasi bila pemasukan oral tidak cukup dan meningkatkan fungsi ginjal . Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi b). b). Observasi luka insisi Rasional : a).

Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan. 2) Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi. 2). Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan. pembatasan mandi. Intervensi : 1) Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi. 3) Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband. Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya.E). . Rasional : 1). sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh. 3). dan penyembuhan latihan. Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi.

Mengawasi keefektifan secara diet. 3). 2). Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas. Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan. 7). Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien. 8). menganalisa penyebab melaksanakan intervensi. 5). 8) Memberi makanan yang bervariasi Rasional : 1).F). . Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan. 4). Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan 6). jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal 3) Timbang berat badan sesuai indikasi 4) Beri makan sedikit tapi sering 5) Anjurkan kebersihan oral sebelum makan 6) Tawarkan minum saat makan bila toleran. memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan. Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien 2) Perkirakan / hitung pemasukan kalori. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. 7) Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres. Melibatkan pasien dalam perencanaan.

Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi. Rasional : 1). Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman 3). melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan. 2). Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya.G). Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien. Agar badan menjadi segar. Agar keterampilan dapat diterapkan 6). 2) Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. . 4). Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. 6). Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan 5). Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri. 3). 4). Bimbing keluarga / istri klien memandikan. 5). Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene.

Markum.Jakarta : EGC. 2002.com diakses tanggal 1 Juni 2008. Syamsuhidayat. St. Wong.1994. Buku Ajar Bedah. Missouri: Mosby Yearbook. Mansjoer.C.DAFTAR PUSTAKA : Betz. D.Inc. terdapat pada:www. harnawatiarjwordpress. dkk. Edisi 2 . Jakarta: EGC. Sabiston. Marilyn. Buku Ajar Ilmu Bedah.1991. St. Missouri: Mosby Yearbook. Johnson. Jilid 2.Ilmu Kesehatan Anak. Nelson. A. Donna L.dkk 1999.dkk. Kapita Selekta Pediatri. 1996. Nursing Outcome Classification (NOC). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencana Pendokumentasian Perawatan Klien. apendisitis.Vol 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta: EGC. Buku Saku Keperawatan Pediatri. E. Closkey. Louis. 2000. Jakarta: EGC Catzel. Jakarta : EGC. Nursing Intervention Classsification (NIC). Jakarta: EGC ____. Marion. Dongoes. Mc.Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 3. Louis. Kapita Selekta Kedokteran. 1995.1995. 2004. R & De Jong W. . 2007. Jakarta: FKUI. Cecily L. Pedoman Klinis Keperawtan Pediatrik. Edisi 3. Pincus. Jakarta : Media Aesculapius.Inc. 2003. Joanne. Dkk. Edisi 4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->