PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI KELAS I-A PADANG

(Neni Vesna Madjid-0921211053) A. LATAR BELAKANG Dalam kehidupan ini manusia mempunyai kebutuhan yang beraneka ragam, untuk dapat memenuhi semua kebutuhan tersebut manusia bekerja, baik pekerjaan yang diusahakan maupun bekerja pada orang lain. Bekerja pada orang lain maksudnya adalah bekerja dengan bergantung pada orang lain, yang memberi perintah dan mengutusnya, karena ia harus tunduk dan patuh pada orang lain yang memberikan pekerjaan tersebut.1 Hal ini melahirkan hubungan perburuhan. Menurut Charles D. Drake dalam Aloysius Uwiyono perselisihan antara pekerja/buruh karena didahului oleh pelanggaran hukum juga dan dapat terjadi karena bukan pelanggaran hukum. Perselisihan perburuhan yang terjadi akibat pelanggaran hukum pada umumnya disebabkan oleh karena: 1.) Terjadi perbedaan paham dalam pelaksanaaan hukum perburuhan. Hal ini tercermin dari tindakan pekerja/buruh atau pengusaha yang melanggar suatu ketentuan hukum. 2.) Tindakan pengusaha yang diskriminatif, misalnya jabatan, jenis pekerjaan, pendidikan, masa kerja yang sama tapi karena perbedaan jenis kelamin lalu diperlakukan berbeda. Sedangkan perselisihan perburuhan yang terjadi tanpa didahului oleh suatu pelanggaran, umumnya disebabkan oleh: 1. Perbedaan dalam menafsirkan hukum perburuhan 2. Terjadi karena ketidaksepemahaman dalam bentuk perubahan syaratsyarat kerja.2 Sistem hukum perburuhan yang berkembang dari industrialisasi di Eropa abad ke-19, yang kemudian diadopsi oleh negara-negara lain di dunia, pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk menertibkan konflik antara majikan dan buruh
1 H. Zainal Asikin, Pengertian, Sifat dan Hakikat Hukum Perburuhan dalam Dasardasar Hukum Perburuhan, PT. Raja Grasindo Persada, 1993, hal. 1. 2 Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan & Diluar Pengadilan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 41-42.

1

kedalam suatu sistem rasionalitas legal. Teori-teori hukum positivis menekankan peran yang netral dari aturan-aturan dalam memelihara kepentingan-kepentingan dari semua kelompok kedalam apa yang didefenisikan sebagai “aturan-aturan permainan” (rules of the game). Sementara institusi pengadilan dan para hakimnya dipandang sebagai wasit atau pengawas dari aturan-aturan permainan ini.3 Peraturan perundangan yang berkaitan dengan proses penyelesaian perburuhan yang pernah diberlakukan di Indonesia adalah melalui UU Darurat Nomor 16 Tahun 1951 yakni melalui perantaraan, memberi putusan yang berupa anjuran kepada pihak-pihak yang berselisih. Jika usaha Menteri Perburuhan itu tidak berhasil, perselisihan diserahkan kembali kepada panitia pusat. Cara penyelesaian perselisihan perburuhan menurut UU No. 22 Tahun 1957 yang berpegang pada suatu asas musyawarah untuk mufakat dengan berpijak pada tahap pertama bila terjadi perselisihan penyelesaiannya diserahkan kepada para pihak yang berselisih. Dalam hal tidak dicapainya perdamaian antara pihak yang berselisih setelah dicari upaya penyelesaian para pihak maka baru diusahakan penyelesaiannya oleh Badan Penyelesaian Perburuhan.4 Di Indonesia, keberadaan pengadilan perburuhan yang dikenal dengan UU Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (UU PHI) telah disetujui dalam rapat paripurna DPR RI pada tanggal 16 Desember 2003. Tepat sebulan kemudian, tanggal 14 Januari 2004, UU PHI diundangkan oleh Presiden menjadi UU No. 2 Tahun 2004, dan akan berlaku secara efektif setahun kemudian. 5 Spirit UU PHI No. 2 Tahun 2004 ini adalah menjamin penyelesaian perselisihan industrial menjadi adil, cepat dan murah. Itulah ungkapan yang keluar dari Menakertrans Erman Suparno dalam peresmian gedung PHI di Padang

Surya Tjandra, Makalah tentang Pengadilan Hubungan Industrial di Indonesia, Quo Vadis? Beberapa Catatan dari Awal Ruang Sidang, disampaikan pada Current Issues on Indonesian Laws Conference, School of Law, The University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, 28 Februari 2007, hal. 1. 4 Zaeni Asyhadie , op.cit, hal. 201. 5 Surya Tjandra dan Jafar Suryomenggolo, Makalah tentang Sekedar Bekerja? Analisis UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Indusrtial: Perspektif Buruh, Jakarta, 19 Maret 2004, hal. 3.

3

2

Veto Menteri Adanya kewenangan Menteri untuk menunda atau membatalkan putusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) melalui Hak Majalah Nakertrans Edisi 01-Februari 2006 dalam Agung Hermawan. Masih Adakah Keadilan Bagi Buruh. 4. 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja pada Perusahaaan Swasta dinyatakan tidak berlaku lagi. Praktek Pengadilan Hubungan Industrial: Panduan Bagi Serikat Buruh. Penyelesaian perselisihan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah belum diatur dalam ketentuan tersebut. Tidak menjamin rasa keadilan bagi pekerja/buruh dan pengusaha karena penyelesaian perselisihan yang ditawarkan hanya melalui jalur non litigasi. 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan. LBH Bandung. Hotel Cemara. 2 Tahun 2004. Fikri Print Production. Tidak mengatur perselisihan antara Serikat Pekerja/Serikat Buruh dalam satu perusahaan. 2007. Jakarta. TURC. 5. 7 Della Feby dkk. disampaikan pada Foccus Group Discussion Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.6 Dengan berlakunya UU No.2. Terkesan kuatnya campur tangan Pemerintah. Ini berarti UU No.7 Selain itu pemberlakuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 dirasakan tidak lagi dapat menampung perkembangan masyarakat dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial. 2. 2 Tahun 2004 menghapus sistem penyelesaian perselisihan melalui P4P/D (Panitia Perselisihan Perselisihan Perburuhan Pusat/Daerah). hal. Jakarta. Hak-hak pekerja/buruh secara perorangan ditempatkan sedemikian rupa sehingga 3. adil dan murah. yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut8 : 1. 6 3 . tepat. April 2008.Sumatera Barat. dan UU No. Tanggungjawab Pemerintah dalam Menegakkan Peraturan dan Menjalankan Pengawasan atas Putusan Lembaga Penyelesaian dalam Perspektif Pengawasan . Dalam hal ini sistem P4P/D dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mekanisme penyelesaian perselisihan yang cepat. tidak dapat diakomodir untuk menjadi pihak dalam perselisihan hubungan industrial. hlm. 38. tanggal 23-24 November 2005. dalam hal : a. maka UU No. 8 MSM Simanihuruk.

10 UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. tetapi juga dari segi susunan majelis hakim yang terdiri hakim biasa (karir) dan hakim adhoc (ahli). http://www. Di PHI pada PN. 2 perkara perlawanan. Kelas I-A Pasal 55 UU No. namun fakta yang terjadi justru sebaliknya. 13. 1 perselisihan kepentingan. dan perselisihan antar serikat buruh dalam satu perusahaan.tempointeractive. yaitu perselisihan hak.3.Veto berdampak pada terbentuknya paradigma masyarakat tentang besarnya campur tangan pemerintah yang seharusnya dikurangi. 10 Website Tempo Interaktif. perselisihan PHK. PHI merupakan Pengadilan khusus yang berada pada lingkup peradilan umum atau biasa disebut Pengadilan Negeri. cara-cara beracara khusus seperti tidak adanya upaya hukum banding dan penjadwalan waktu penyelesaian perkara yang terbatas. 9 4 . namun pembagian keempat macam perselisihan ini membawa konsekuensi yang berbeda satu sama lain dalam tahap penyelesaian berikutnya. 11 Dela Feby dkk. Walaupun telah disyaratkan sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya PHK. op. Keanggotaan P4P dan P4D diangkat tanpa seleksi yang menimbulkan asumsi bahwa lembaga P4D dan P4P tidak independen.11 PHI pada PN.cit. pengertian Pengadilan khusus disini bukan hanya dari obyek perkara yang adalah sengketa perburuhan dalam hubungan perburuhan. UU ini membagi “perselisihan industrial menjadi empat macam. terakhir dikunjungi 7 April 2011 Pk. 101 perkara PHK. b. hal.com. perselisihan kepentingan. Kelas I-A Padang sejak tahun 2006-2010 telah menerima 105 perkara perselisihan hubungan industrial. Hanya ada Pegawai Perantara di bagian Hubungan Industrial dan SyaratSyarat Kerja yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil (tidak memberikan alternatif pilihan penyelesaian melalui konsiliasi dan arbitrase) 6. 9 Sebagaimana disampaikan oleh Ketua MA Bagir Manan. 1 perkara perselisihan hak. 2 Tahun 2004 merombak total sistem penyelesaian perburuhan yang telah ada sebelumnya. Meski pada tahap awal penyelesaian perselisihan diisyaratkan harus menempuh mekanisme bipartit.15 WIB. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 6 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4356.

Untuk mengetahui praktik Pemutusan Hubungan Kerja oleh Pengusaha yang diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas I-A Padang. b. Hubungan Industrial Di Indonesia konsep hubungan Industrial yang dianut adalah Hubungan Industrial Pancasila (HIP) yang lahir dari hasil Lokakarya Nasional yang 5 . D. mau tidak mau memaksa pekerja maupun pengusaha untuk menempuh jalur tersebut. Bagaimana efektivitas Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas I-A Padang dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial di Sumatera Barat ? C. dan biaya ringan”. Rumusan Masalah 1. Pembahasan 1. cepat. sehingga perlu untuk mengukur keefektifan jalur penyelesaian perselisihan perburuhan di lembaga penyelesaian hubungan industrial dengan mengaitkannya dengan ketentuan Pasal 4 ayat 2 UU No. Tujuan Penelitian a. Hubungan Industrial dan Perselisihannya a. Untuk mengetahui efektivitas Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas I A Padang dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial.Padang. Bagaimana praktik Pemutusan Hubungan Kerja oleh Pengusaha yang diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Kelas I-A Padang ? 2. dari 4 (empat) jenis sengketa hubungan industrial. Didorongnya perselisihan perburuhan ke ranah formal pada sebuah lembaga penyelesaian perselisihan perburuhan. sengketa PHK-lah yang mendominasi perkara yang masuk.4 Tahun 2004 tentang Kehakiman yang menyatakan : “Peradilan dilakukan dengan sederhana. B.

op. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselesihan Hubungan Industrial. 2009. sehingga tercipta kondisi kerja yang produktif. Oleh karena Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hukum Perburuhan. organisasi pengusaha. b. PHI secara ringkas dapat diartikan sebagai perbedaan pendapat yang mengakibatkan Lalu Husni. 13 12 6 . hal 23 Adrian Sutedi. Jakarta. Undang-undang ketenagakerjaan telah mengatur prinsip-prinsip dasar yang perlu kita kembangkan dalam bidang hubungan industrial. dan berkeadilan. adil. Perselisihan Hubungan Industrial. konsultasi musyawarah serta berunding ditopang oleh kemampuan dan komitmen yang tinggi dari semua elemen yang ada dalam perusahaan. maka lahirlah Undang-undang No. 12 Hubungan Industrial pada dasarnya adalah proses terbinanya komunikasi. Arahnya adalah untuk menciptakan sistem dan kelembagaan yang ideal. harmonis. tepat. Sinar Grafika. dinamis. dan unsur perguruan tinggi. wakil pemerintah. Perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak dalam sebuah perusahaaan dalam dunia kerja disebut Perselisihan Hubungan Industrial (PHI). sehingga diperlukan institusi dan mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang cepat. masalah perselisihan hubungan industrial menjadi semakin meningkat dan kompleks. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. 13 Dalam dalam era industrialisasi. HIP adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara pelaku dalam proses produksi barang dan jasa yang didasarkan atas nilai-nilai yang merupakan manifestasi dari keseluruhan silasila dari Pancasila dan UUD 1945.cit. yang tumbuh dan berkembang diatas kepribadian bangsa dan kebudayaaan nasional Indonesia. hal 23 14 Landasan menimbang huruf b UU No.diselenggarakan dari tanggal 4 sampai 7 Desember 1974 dan diikuti oleh wakil dari organisasi buruh/pekerja. dan murah14.

11 7 . memeriksa dan memutus: a. Pengadilan Hubungan Industrial bertugas dan berwenang. maka salah satu pihak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Jakarta. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan. Hakim Ad-Hoc. Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri terdiri dari: a. dan Panitera Pengganti. b. Hakim. Proses Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di lembaga Penyelesaian Hubungan Industrial Apabila pada tahap mediasi atau konsiliasi tidak tercapai kesepakatan. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan (Pasal 56 UU PPHI). di tingkat pertama mengenai perselisihan hak.pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau serikat pekerja. Hak-hak pekerja Bila di PHK. d. b. Panitera Muda. hal. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (UU PPHI) disebutkan “Perselisihan Hubungan Industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/ buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak. c. Visi Media. 2. d. 2006. perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan”. Pengadilan Hubungan Industrial adalah Pengadilan khusus yang berada pada lingkungan peradilan umum. di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja. Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Mahkamah Agung (MA) terdiri dari: 15 Libertus Jehani.15 Dalam ketentuan Pasal 1 angka 1 UU No. c. perselisihan kepentingan.

Jika risalah tidak disertakan Pengadilan wajib mengembalikan gugatan kepada penggugat. dan Panitera. d. Gugatan harus mencantumkan pokok-pokok persoalan yang menjadi perselisihan beserta identitas para pihak dan dokumen yang menguatkan gugatan. Gugatan harus dilampiri dengan risalah penyelesaian melalui mediasi atau konsiliasi. c. Op. c. (Pasal 60 UU PPHI) Hukum acara yang berlaku pada Pengadilan Hubungan Industrial adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Putusan Pengadilan Hubungan Industrial yang menyangkut perselisihan hak dan perselisihan PHK dapat langsung dimintakan kasasi ke MA. Apabila perselisihan tersebut menyangkut perselisihan hak/ kepentingan yang diikuti dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja. Secara singkat prosedur pengajuan gugatan dan persidangan di PHI sebagai berikut:16 a. Sedangkan menyangkut perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja/SB dalam satu perusahaan merupakan putusan tingkat pertama dan terakhir yang tidak dapat dimintakan kasasi ke MA. b. Hakim Ad-Hoc pada Mahkamah Agung. pengadilan hubungan industrial memutuskan terlebih dahulu perkara perselisihan hak atau kepentingan (Pasal 87 UU PPHI). Hakim Agung. Apabila proses beracaranya adalah proses cepat sesuai permohonan tertulis salah satu pihak maka dalam tujuh hari kerja setelah permohonan 16 Libertus Jehani.Cit. 8 . b. Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial melalui Pengadilan Hubungan Industrial tidak membuka kesempatan untuk mengajukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi. e. Gugatan diajukan ke PHI yang daerah hukumnya meliputi tempat domisili pekerja. hal. kecuali yang diatur secara khusus dalam UU PPHI (Pasal 57 UU PPHI).a. 25-26.

9 . Selambat-lambatnya 50 hari kerja sejak sidang pertama Majelis Hakim memberikan putusannya. i. tempat. Putusan Majelis Hakim tentang perselisihan kepentingan dan perselisihan antar pekerja dalam satu perusahaan bersifat final. g. dan waktu sidang tanpa prosedur pemeriksaan. hakim Ketua sidang segera menjatuhkan putusan sela yang memerintahkan pengusaha untuk membayar upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima pekerja yang bersangkutan. Apabila pengusaha mengabaikan putusan sela tersebut maka hakim ketua sidang memerintahkan sita jaminan dalam sebuah penetapan Pengadilan Hubungan Industrial. f. Sedangkan putusan Majelis hakim Pengadilan Hubungan Industrial mengenai perselisihan hak dan PHK mempunyai kekuatan hukum yang tetap apabila dalam waktu 14 hari kerja tidak diajukan permohonan kasasi oleh pihak yang hadir atau 14 hari kerja setelah putusan diterima oleh pihak yang tidak hadir. Bila permohonan dikabulkan ketua PN dalam jangka waktu tujuh hari kerja setelah keluar penetapan menentukan majelis hakim. Tenggat waktu untuk jawaban dan pembuktian kedua belah pihak masing-masing ditentukan tidak melebihi 14 hari kerja (Pasal 98 dan Pasal 99 UU PPHI). Apabila dalam sidang pertama secara nyata-nyata pengusaha terbukti tidak melaksanakan kewajibannya untuk membayar upah serta hak-hak lainnya selama menunggu penyelesaian PHK. Ketua majelis akan melakukan sidang pertama. Putusan sela tersebutpun tidak dapat diadakan upaya perlawanan atau upaya hukum (Pasal 96 UUPPHI). hari. h. j. maka dalam waktu paling lama tujuh hari kerja setelah penetapan majelis hakim. Ketua PN mengeluarkan penetapan tentang dikabulkan atau ditolaknya permohonan tersebut. Apabila dengan proses acara biasa.diterima.

Sementara ketentuan Pasal 152 UU No. pekerja/buruh. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) benarbenar tidak menghasilkan persetujuan. c. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dinyatakan: a. Prosedur PHK Oleh Pengusaha PHK yang dilakukan oleh Pengusaha harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja. Dalam hal segala upaya telah dilakukan. Dalam ketentuan Pasal 151 UU No. b. dan pemerintah. tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari. 10 . pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengisyaratkan: (1) Permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara tertulis kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial disertai alasan yang menjadi dasarnya. maka maksud pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh. (2) Permohonan penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diterima oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial apabila telah dirundingkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (2). Pengusaha. tetapi perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.3. serikat pekerja/serikat buruh. (3) Penetapan atas permohonan pemutusan hubungan kerja hanya dapat diberikan oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial jika ternyata maksud untuk memutuskan hubungan kerja telah dirundingkan.

2. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). Tahun 1. Kelas I-A Padang No. 4. 98 perkara PHK dilakukan oleh Pengusaha secara sepihak. 2 kasus PHK yang diminta oleh Pekerja/buruh dengan alasan Pengusaha melanggar ketentuan Pasal 169 Ayat (1) huruf C UU No. Perkara perselisihan hubungan industrial yang masuk di PHI pada PN. Pengusaha maupun pekerja/buruh harus tetap melaksanakan kewajibannya selama belum adanya penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial (Pasal 155 ayat 2 UU No. Pengusaha dapat melakukan penyimpangan selama proses PHK berlangsung dengan menjatuhkan skorsing pada pekerja/buruh dengan tetap membayar upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima buruh (Pasal 155 ayat 3 UU No. Kelas I-A Padang dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 1. 11 . Kelas I-A Padang = PHK 19 16 29 19 18 Jumlah 20 18 30 19 18 105 Dari tabel-tabel diatas tampak bahwa perkara PHK sangat dominan dengan jumlah 101 perkara. 2006 2007 2008 2009 2010 Tidak termasuk jenis perselisihan Hak Kepentingan Antar SP/SB dalam Perlawanan satu perusahaan terhadap sita 1 Jenis perselisihan 1 2 Jumlah total Sumber : PHI pada PN. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan).PHK tanpa penetapan sebagaimana dimaksud Pasal 151 ayat 3 batal demi hukum (Pasal 155 ayat 1 UU No. 5. 13 tahun 2003 yang yang pada intinya menyatakan karena pengusaha tidak membayar upah tepat pada waktu yang telah ditentukan selama 3 (tiga) bulan berturut-turut atau lebih. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). Gambaran Umum Jumlah Perkara Perselisihan Hubungan Industrial tahun 2006-2010 di PHI pada PN. 3. pekerja/buruh dapat mengajukan gugatan ke lembaga PPHI dan 1 perkara PHK yang diajukan Pengusaha.

Ketidakpuasan pengusaha.Dari 105 perkara tersebut. 8. Ada rasa suka dan tidak suka Pengusaha kurang memahami UU No. 20 Tidak harmonis lagi hubungan kerja. 18 Pekerja dianggap melanggar disiplin kerja. 4 (empat) perkara tahun 2009 yaitu Khairul Bakri CS berhadapan dengan PT. Hakim Adhoc PHI pada PN. Pekerja melakukan kejahatan diperusahaan. 2 tahun 2004. Kuasa Hukum Pengusaha. tanggal 30 Juni 19 20 Wawancara dengan Syahril Yakub. Efisiensi. Adapun alasan-alasan PHK yang dilakukan oleh Pengusaha dari kasuskasus yang masuk di PHI pada PN. 2. 4. Ihsan berhadapan dengan Yayasan RS Islam (Yarsi) Sumbar (masih dalam proses Peninjauan Kembali). Basko Minang Plaza (masih dalam proses Peninjauan Kembali). Kelas I-A Padang. tanggal 30 Wawancara dengan Desmon Ramadhan. tanggal 30 Mei 2011 12 . 21 Dikualifikasikan mengundurkan diri oleh perusahaan. 3. Hakim Adhoc PHI pada PN. Kelas I-A Padang. 5. Kelas I-A Padang adalah : 1.19 Tanpa ada kesalahan. tanggal 24 Mei 2011 21 Wawancara dengan Amjelvis Agoes. Kelas I-A Padang. Hakim Adhoc PHI pada PN. 9. 13 tahun 2003 dan UU No. Firsta Cs berhadapan dengan Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional (masih dalam proses Peninjauan Kembali). 10. 6. BPR Sungai Puar (masih dalam proses kasasi)17. Tidak menjalankan tugas. Kelas I-A Padang pertanggal 13 Juli 2011 Wawancara dengan Adri. 7. 1 (satu) perkara tahun 2010 yaitu Tisna Refianti berhadapan dengan PT. Mohd. 22 17 18 Mei 2011 2011 Data PHI pada PN. 6 diantaranya masih diperiksa di Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) yaitu 1 (satu) perkara tahun 2008 atas nama Ermawati Cs berhadapan dengan YSO Adabiah (masih dalam proses Peninjauan Kembali). Basko Minang Plaza (masih dalam proses Peninjauan Kembali). Hendri Marizal CS berhadapan dengan PT.

Pekerja yang di PHK. 24 Pekerja merasa dirugikan dan dibodoh-bodohi. tanggal 29 Juni 2011. namun justru pihak pekerja yang dominan mengajukan gugatan ke PHI pada PN. 25 Wawancara dengan Alvian.23 Menuntut hak dan mengembalikan nama baik. 13 .Dari 10 (sepuluh) alasan diatas. 4. jika ditarik secara umum. Pekerja yang di PHK. Didalam praktek pengusaha biasanya melakukan PHK sepihak. antara lain : 1. 5. Kelas I-A Padang. tanpa terlebih dahulu meminta penetapan ke lembaga PPHI. 22 23 SK berhenti tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Pengusaha biasanya akan membantah dengan keras jika dianggap telah melakukan PHK dengan alasan efisiensi. Merasa tidak ada kesalahan. tanggal 30 Juni 2011. tanggal 20 Juni 2011. Kuasa Hukum Pengusaha. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu dengan alasan efisiensi dan alasan pekerja/buruh melanggar disiplin kerja/peraturan perusahaan/perjanjian bersama. Sehingga menjadi hal yang bisa dimaklumi kenapa kemudian pengusaha enggan untuk membuat SK PHK secara tertulis. Kelas I-A Padang mempunyai berbagai macam alasan.25 Wawancara dengan Amiruddin. PHK dengan alasan efisiensi membawa konsekwensi pengusaha harus membayar uanga pesangon 2 kali lipat kepada pekerja/buruh. apalagi didalam SK PHK dicantumkan “perusahaan mem-PHK karena sedang melakukan efisiensi”. Pekerja/buruh yang menempuh jalur sampai ke PHI pada PN. Sedangkan alasan PHK tanpa penetapan ada 2 yaitu pekerja/buruh mangkir dan melakukan tindak pidana. maka hanya 2 alasan PHK dengan penetapan yang sesuai dengan UU No. 3. Alasan-alasan lain yang mengemuka sama sekali bukanlah alasan-alasan sebagaimana maksud UU No. 2. Pekerja yang di PHK. tanggal 3 Juni 2006 Wawancara dengan Firsta. Tercatat hanya 2 kasus PHK yang diajukan oleh Pengusaha dalam kurun waktu 2006 s/d 2010. Tidak diberi tugas/jadwal. 24 Wawancara dengan Dwi Gusyati. PHK dengan alasan efisiensi yang dilakukan pengusaha tidak dilakukan tertulis.

maka bisa memakan waktu bertahun-tahun. 14 . Kelas I-A Padang bisa selesai dalam waktu sangat singkat. cepat dan biaya ringan. Pekerja yang di PHK. cepat. Sebagai contoh perkara No.27 Dari perkara yang masuk di PHI pada PN. Gaji tidak dibayar oleh Pengusaha diiringi dengan tidak boleh masuk kerja26 Menuntut hak dan kepastian hukum. Efektivitas PHI pada PN. Gugatan pertama pada tanggal 22 Februari 2008. yaitu 6 hari. Demikian juga dengan Firsta Cs yang 3 kali mengajukan gugatan. mendaftarkan gugatan sejak tanggal 5 September 2008 dan sidang pertama tanggal 16 September 2008 sampai saat ini masih menunggu hasil putusan peninjauan kembali yang baru diajukan pengusaha pada tanggal 3 Maret 2011. Firsta Cs memenangkan gugatannya. Wawancara dengan Bambang Irawan.6. 4. tanggal 30 Juni 2011. kedua gugatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima. Kelas I-A Padang dalam penyelesaian perselisihan hubungan industrial dihubungkan dengan asas sederhana. perkara perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN. tanggal 22 Juni 2011. Jika terjadi perdamian. Pekerja yang meminta PHK. dengan 2 kali membayar panjar biaya perkara karena nilai gugatannya diatas Rp. Pada gugatan ke-3 yang diajukan pada 23 Desember 2009. 8. Selanjutnya penjelasan pasal 4 ayat 2 menyebutkan yang dimaksud dengan ”sederhana” adalah pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan dengan acara yang efisien dan efektif. Perkara inipun saat ini masih dalam pemeriksaan peninjauan kembali yang dilakukan pengusaha pada tanggal 8 Maret 2011. gugatan kedua pada tanggal 29 Agustus 2008. Sedangkan jika tidak. Yang dimaksud dengan ”biaya ringan” adalah biaya 26 27 Wawancara dengan Hendri Marizal. 150 juta. Kelas I-A Padang. dan biaya ringan”. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman menyatakan “Peradilan dilakukan dengan sederhana.PDG. Diberhentikan secara lisan tanpa ada uang pesangon karena dianggap melakukan kesalahan berat. 27/G/2008/PHI. Pasal 4 ayat (2) UU No. 7. lamanya proses sampai dilaksanakannya putusan bervariasi.

Proses ini dianggap jauh dari sederhana oleh para buruh. Kelas I-A Padang jika dihubungkan dengan asas peradilan yang sederhana.perkara yang dapat terpikul oleh rakyat Namun demikian. Secara umum praktik penyelesaian perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN. karena walaupun telah didampingi Advokat masih saja perkara yang gugatannya tidak dapat 28 Wawancara dengan Bambang Irawan. Bagi seorang buruh. Praktik penyelesaian perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN. Tahap pra pendaftaran gugatan Karena proses penyelesaian perselisihan di PHI pada PN.28 Hal ini bisa diatasi dengan membayar jasa seorang advokat. pengertian cepat diartikan berkaitan dengan proses beracara yang dapat dilaksanakan secepat mungkin. namun jika dihubungkan dengan asas peradilan yang sederhana. walaupun berlatarbelakang pendidikan sarjana hukum. dalam pemeriksaan dan penyelesaian perkara tidak mengorbankan ketelitian dalam mencari kebenaran dan keadilan.bg hanya memperbolehkan gugatan lisan diajukan hanya oleh orang yang tidak dapat menulis. Kemudian Pasal 5 ayat (2) menyatakan “Pengadilan membantu pencari keadilan dengan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan yang sederhana. semuanya diajukan secara tertulis. Kelas I-A Padang sudah masuk ke ranah hukum formil. Kelas I-A Padang secara teori memang menciptakan kepastian hukum. namun dari seluruh gugatan perkara perselisihan yang masuk di PHI pada PN. bahkan sangat menyulitkan. cepat dan biaya ringan”. namun hal tersebut juga tidaklah menjamin. Walaupun gugatan dapat diajukan secara lisan (Pasal 144 R. Kelas I-A Padang. tanggal 30 Juni 2011. cepat dan biaya ringan maka masih banyak kekurangannya. 15 . maka para pihak biasanya mengajukan secara tertulis. tidak dapat diajukan oleh kuasanya). untuk memformulasikan gugatan bukanlah persoalan yang gampang. Pekerja yang di PHK. cepat dan biaya ringan dapat dilihat sebagai berikut : a.

Hal ini malah menimbulkan masalah baru. Biasanya gugatan difotokopi sekian rangkap (minimal 6 rangkap) dengan melampirkan risalah mediasi/konsoliasi maupun anjuran mediator/ konsiliator. 150 juta. proses menjadi tidak sederhana. Tahap persidangan (pembacaan gugatan sampai putusan) Pada tahap ini para pihak akan hadir dipersidangan 2 kali seminggu. Untuk pihak-pihak berperkara yang berdomisili di Kota Padang. Bagi pekerja/buruh yang tidak didampingi Advokat maka hal ini akan terasa menyulitkan. sehingga mereka cenderung untuk memecah gugatannya menjadi 2 atau lebih gugatan. Bagi seorang buruh hal ini sangat memberatkan. Untuk gugatan yang nilai ganti ruginya dibawah Rp. jarak tempuh yang jauh juga menjadi sebuah hal yang terasa sangat memberatkan buruh/pekerja.-. 150 juta. karena jawaban tersebut bisa saja berdampak gugatan penggugat dinyatakan NO.diterima (NO/Niet van Onkelijke). Disamping itu belum tentu putusannya akan sama pula. NO-nya perkara tersebut bukanlah karena masalah substansi. c. acara selanjutnya adalah replik dan duplik. namun jika nilai ganti ruginya melebihi Rp. biaya yang dikeluarkan untuk transportasi jauh lebih sedikit daripada mereka yang berdomisili di luar Kota Padang. setelah gugatan dibacakan. Hakim Adhoc PHI pada PN. Proses beracara selanjutnya adalah acara jawab menjawab. Hal ini Wawancara dengan Amjelvis Agoes. Kelas I-A Padang. Tahap ini adalah salah satu tahap yang menentukan. b. maka tidak akan dikenakan biaya. maka penggugat harus mengeluarkan biaya. hal yang seharusnya tidak perlu terjadi 29. tanggal 30 Mei 2011. maka tergugat akan mengajukan jawaban. Setelah jawaban. 6000. Kelas I-A Padang dengan dibubuhi materai Rp. Tahap pendaftaran gugatan Gugatan yang telah disusun oleh penggugat kemudian didaftarkan ke PHI pada PN. Disamping adanya biaya transportasi yang lebih. 29 16 .

disamping karena tidak mempunyai sistim dokumentasi yang baik. Walaupun telah digariskan bahwa perkara yang disidangkan harus diputus 50 hari kerja sejak persidangan pertama. Walaupun tidak diwajibkan untuk menyerahkan kesimpulan. Selanjutnya para pihak akan mengajukan alat-lat bukti tertulis sebagai salah satu pembuktian. Kelas I-A Padang. Wawancara dengan Amjelvis Agoes. tanggal 30 Mei 2011. namun bagi pihak yang membuat. Selajutnya para pihak akan mengajukan kesimpulan terhadap seluruh rangkaian proses persidangan secara tertulis. mereka juga kesulitan untuk mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada saksi. Pada proses ini juga ada biaya yang harus dikeluarkan oleh para pihak. Kemudian dilegalisir dibagian kepaniteraan PHI pada PN. Setelah itu diperlihatkan kepada majelis hakim untuk dicocokkan dengan yang aslinya. walaupun telah digariskan tidak dikenakan biaya untuk gugatan yang nilai gantiruginya kurang dari Rp. mereka juga bingung akan mengajukan bukti tertulis yang dapat mendukung dalil-dalil positanya. Belum lagi jika ada upaya hukum sampai dengan Peninjauan Kembali. diberi materai dan stempel di kantor pos. 150 juta. 30 17 . pekerja buruh juga akan kesulitan untuk menghadirkan saksi. Kelas I-A Padang. namun faktanya di PHI pada PN. Kelas I-A Padang masih ada perkara yang diputus melebihi waktu tersebut. Demikian juga pada saat pengajuan saksi. Pada agenda ini bukti-bukti yang akan diajukan terlebih dahulu difotokopi. sebuah perkara bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk memperoleh sebuah kepastian hukum.berimpilikasi kepada pertimbangan putusan karena hakim akan sulit membuat pertimbangan hukum untuk membuat putusannya 30. Hakim Adhoc PHI pada PN. Para pekerja/buruh sering kesulitan dalam proses ini. Kalupun ada mereka juga bingung tentang cara pengajuan kepersidangan walaupun telah diberi arahan oleh majelis hakim. proses ini juga terasa menyulitkan. kalaupun ada.

sebaliknya jika pihak yang dikalahkan tidak mau melaksanakan eksekusi. maka pihak yang dimenangkan akan mengajukan eksekusi. terlebih jika pengusaha menggunakan jasa advokat. Berikut ini pendapat para pihak berkaitan dengan efektivitas PHI dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial : 1. apalagi ada upaya hukum. Dari segi waktu lama. nilai gugatannya yang kurang dari Rp. Tentu akan berdampak terhadap nilai uang/pesangon. 3. soal biaya misalnya harus ada biaya untuk HRD yang mewakili pengusaha. 4. Secara subtansi bisa menyelesaikan persoalan. Kelas I-A Padang Keberadaan PHI lebih menguntungkan bagi pekerja dari segi waktu karena jangka waktunya ditentukan. Pekerja. 20 jt hari ini tentu tidak akan sama dengan nilai 20 juta dua tahun yang akan datang. maka hal tersebut tidaklah akan berlangsung rumit. 5. Jika eksekusi bisa dilakukan secara damai. Hendri Marizal.d. Pekerja. bisa satu-dua kali sidang putus. Kuasa Hukum Pengusaha Dari segi waktu agak lama. Basrul Efendi. Sementara jika menggunakan sistem yang lama P4D. Ada biaya yang harus dikeluarkan. Kalau nilai Rp. Juru sita PHI pada PN. Jadi har apannya agar bisa dikenakan denda. Tahap eksekusi Setelah perkara memiliki kekuatan hukum tetap. maka proses selanjutnya akan rumit.150. Dwi Gusnayati. biaya leges. Di PHI nilai kompensasi lebih banyak menguntungkan pekerja. Di P4D dan P4P justru sebaliknya.000. nilai kompensasi pesangon lebih banyak menguntungkan pengusaha. apalagi kalau ada upaya hukum. Desmon Ramadhan. 18 . Dari segi biaya. tapi demi harga diri semuanya tidak ada masalah. Cuma untuk jangka waktu terlalu lama. biaya sumpah dan biaya bolak-balik sidang.-biaya ditanggung oleh negara. Amiruddin. Kuasa Hukum Pengusaha. 2.

150 juta. 30 hari di MA. kadang pihak datang. Kelas I-A Padang Keberdaaan PHI sudah efektif. cukup efektif karena ada jangka waktu misalnya 50 hari di PHI. terus tidak datang. Pekerja. Tapi seharusnya MA memprioritaskan kasus yang masuk. 8. setelah PHI ada. Bambang Irawan. Pekerja. 6. misalnya soal biaya 10. karena lebih condong memihak dari unsur mana hakim tersebut berasal. seharusnya ini tidak terjadi karena menurut saya kadang bukanlah hal yang substansi sehingga seharusnya ada proses dismisal proses. yang terlihat dari pertanyaaan-pertanyaan yang dilontarkan. Firsta. Pekerja. Hakim Adhoc PHI pada PN. karena merugikan pekerja. Jadi waktunya lebih cepat dari P4D/P4P. Masri. Amjelvis. tidak perlu ada daluarsa untuk mengajukan gugatan terhadap perkara PHK. 19 . Dari segi waktu tidak efektif apalagi kalau ada upaya hukum. buruh /pekerja tidak tahu sehingga tidak bisa dieksekusi. Dari segi waktu agak lama. Adri. dari segi biaya juga karena nilai gugatan dibawah Rp. keindependenan hakim adhoc tidak terjaga. Hakim Adhoc PHI pada PN. Alvian. ditanggung negara. Secara umum hakimnya cukup fair karena memberikan kesempatan yang sama terhadap para pihak. Dari segi waktu agak lama dan agak berbelit-belit. 9. Hakim Adhoc PHI pada PN. baru dilanjutkan dengan kasus limpahan P4D/P$P. 7. 11. Kelas I-A Padang Dari segi waktu. Ada kasus yang NO.Dari segi waktu cukup efektif karena ada jangka waktu 50 hari harus diputus. tapi pemahaman pekerja dan pengusaha masih kurang. Kelas I-A Padang Dari segi waktu cepat dan efektif walaupun kadangkala ada kendala misalnya soal barang yang akan dieksekusi. tapi yang menguntungkan proses di Pengadilan ini lebih transparan ketimbang waktu P4D.

Seluruh rangkaian proses sejak membuat dan mendaftarkan gugatan sampai adanya proses eksekusi bahkan sampai pelelangan menimbulkan kesulitan bagi pihak-pihak yang berpekara. Kelas I-A Padang dikaitkan dengan asas peradilan sederhana. ada beberapa hal berkaitan dengan efektivitas PHI pada PN. Kelebihan lain di PHI kepastian hukum didapat. 20 . Syahrial Yakub. melalui mekanisme P4D/P4P. Waktu pemeriksaan lebih cepat. pengusaha dan pemerintah. Kelas I-A Padang lebih terasa transparan. terutama pihak pekerja. Selain itu. putusannyapun cenderung sesuai dengan peraturan-perundangan (berkaitan dengan uang pesangon). Rusdi Zein. biaya yang harus dikeluarkan juga tinggi. di P4D/P4P kepastian hukum sulit didapat.12. berbeda dengan P4D yang terasa lebih sederhana tapi tidak transparan dan putusannya lebih banyak menguntungkan pengusaha. cepat dan biaya ringan yaitu : 1. Tapi dalam praktek selesainya perkara bisa 1-2 tahun. jika kita berbicara soal sengketa maka yang paling menonjol yang harus dikedepankan adalah aspek keadilan bagi buruh dan pengusaha. di PHI 50 hari. paling lama 2 kali sidang. di MA 30 hari. penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. 13. dari pekerja. Seharusnya Penyelesaian hubungan indusrial kembali pada cara yang lama. PHI tidak efektif karena prosesnya lama. Hakim Adhoc PHI pada PN. Pada P4D/P4P terdapat semua komponen. Kuasa Hukum Pengusaha. Kelas I-A Padang Dari segi aturan waktu cukup efektif. Bahkan majelis hakim yang memeriksa perkara-pun merasa kesulitan ketika akan membuat pertimbangan-pertimbangan putusan jika yang berperkara sama sekali tidak didampingi oleh kuasa hukum. Dari segi biaya lebih murah karena tidak ada biaya untuk hakim dan biaya lain. Kelas I-A Padang yang mengacu pada hukum acara bukanlah sebuah proses yang sederhana. Disisi lain. dengan catatan hak veto menteri dihilangkan. Proses penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. Dari berbagai pendapat narasumber yang penulis wawancarai.

Mekanisme Penyelesaian Hubungan Industrial dilakukan dengan upaya bipartit. Walaupun penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. konsialiasi atau Arbitrase. Jika perkara sampai pada upaya Peninjauan Kembali. proses administrasi di PHI pada PN. Perselisihan antara pengusaha dan pekerja disebabkan karena didahului oleh pelanggaran hukum dan dapat terjadi karena bukan pelanggaran hukum. Hal ini menandakan bahwa biaya berperkara di Pengadilan bagi sebagian orang terutama pekerja masih mahal apalagi jika menggunakan jasa advokat. dari empat perselisihan yang menjadi kewenangan Pengadilan Hubungan Industrial. Kelas I-A Padang dan MA berkaitan dengan pengiriman dan pendaftaran berkas perkara memakan waktu lebih lama. maka akan memakan waktu bertahun-tahun. 150 juta. Untuk menghindari hal ini. Dalam praktek di PHI Padang. pihak yang mengajukan akan dikenakan biaya. namun prakteknya masih ada biaya-biaya yang harus dikeluarkan para pihak. Untuk nilai gugatan diatas Rp. Dari total 105 kasus yang masuk sejak tahun 2006 hingga 21 . Kesimpulan 1. 150 juta tidak akan dikenakan biaya. Kelas I-A Padang secara teori dibatasi oleh UU PPHI selama 50 hari kerja sejak sidang pertama harus diputus dan ditingkat MA diputus 30 hari kerja sejak ada permohonan. E. namun pada prakteknya masih ada perkara yang diputus lebih dari 50 hari kerja sejak sidang pertama. maka biasanya pihak yang mengajukan gugatan akan memecah gugatannya menjadi 2 atau lebih jika hal tersebut memungkinkan. 3. maka salah satu pihak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial dan melakukan upaya hukum sampai ke Mahkamah Agung. PENUTUP a. jika tidak berhasil maka dilanjutkan dengan upaya mediasi. Jika upaya mediasi dan konsiliasi gagal. jika ada upaya hukum.2. perkara perselisihan yang dominan adalah PHK. Dalam teori untuk nilai gugatan di bawah Rp. Disamping itu.

cepat dan biaya ringan. Keberadaan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) sebagai lembaga yang memiliki kewenangan sebagai lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial perlu dikaji ulang. karena sudah dapat dipastikan pula penetapan tersebut akan mencantumkan hak dan kewajiban pengusaha maupun pekerja. Jika telah ada penetapan. 2 perkara perlawanan. 22 . 1 perselisihan kepentingan. Bahwa efektivitas PHI pada PN Kelas I A Padang dalam menyelesaikan perselisihan hubungan industrial belum maksimal karena faktor sumber daya manusia baik dari pekerja. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu dengan meminta penetapan terlebih dahulu dari Lembaga Penyelesaian Perselisihan perburuhan. pengusaha dan fungsionaris pengadilan. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. PHI pada PN Kelas I-A Padang justru terjebak dan menjadi lembaga yang mensyahkan PHK yang tidak sah. agar pengusaha dalam mem-PHK pekerja benar-benar menjalankan ketentuan Pasal 151 ayat 3 UU No. 2 kasus PHK yang diminta oleh Pekerja dengan alasan Pengusaha melanggar ketentuan Pasal 169 Ayat (1) huruf C UU No. 99 perkara PHK dilakukan oleh Pengusaha secara sepihak dan tanpa ada penetapan dari lembaga PHI yang berakibat PHK batal demi hukum. aturan hukum yang tidak jelas dan tegas terutama dalam UU No. Saran 1. dapat dipastikan tidak akan terlalu banyak perkara yang akan masuk ke PHI. Jika pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak dapat lagi dihindarkan. Untuk itu perlu membuat mekanisme yang dapat memenuhi asas tersebut. 2 tahun 2004 tentang PHI. termasuk uang pesangon. b. 2. 1 perkara perselisihan hak. 101 adalah perselisihan PHK.tahun 2010. 2. Dari 101 kasus tersebut. karena PHI tidak mampu melaksanakan asas peradilan yang sederhana.

Quo Vadis? Beberapa Catatan dari Awal Ruang Sidang. 2006. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 23 . Seattle. 2004. Lalu Husni. Hotel Cemara. tanggal 23-24 November 2005. hal. PT. 19 Maret 2004. Makalah tentang Pengadilan Hubungan Industrial di Indonesia. Sifat dan Hakikat Hukum Perburuhan dalam Dasar-dasar Hukum Perburuhan.F. Website Tempo Interaktif. Surya Tjandra dan Jafar Suryomenggolo. disampaikan pada Foccus Group Discussion Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Adrian Sutedi. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 6 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4356. terakhir dikunjungi 7 April 2011 Pk. Zainal Asikin.15 WIB. 28 Februari 2007. Visi Media. disampaikan pada Current Issues on Indonesian Laws Conference. Jakarta. MSM. Della Feby dkk.com. Jakarta.tempointeractive. School of Law. Tanggungjawab Pemerintah dalam Menegakkan Peraturan dan Menjalankan Pengawasan atas Putusan Lembaga Penyelesaian dalam Perspektif Pengawasan. Libertus Jehani. Amerika Serikat. Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan & Diluar Pengadilan. April 2008. Simanihuruk. Fikri Print Production. The University of Washington. TURC. Masih Adakah Keadilan Bagi Buruh. UU No. Praktek Pengadilan Hubungan Industrial: Panduan Bagi Serikat Buruh. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Indusrtial: Perspektif Buruh. Pengertian. UU No. http://www. 38. 1993. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. 2007. Hukum Perburuhan. 2009. Makalah tentang Sekedar Bekerja? Analisis UU No. Surya Tjandra. Majalah Nakertrans Edisi 01-Februari 2006 dalam Agung Hermawan. PT. Jakarta. Sinar Grafika. Jakarta. Jakarta. Raja Grasindo Persada. LBH Bandung. Jakarta. Raja Grafindo Persada. 13. Hak-hak pekerja Bila di PHK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful